The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Razani Syakira, 2023-10-24 10:20:04

Cerpen Kelompok 2 Putri 9A

Cerpen Kelompok 2 Putri 9A

i HAK CIPTA Kamera Kaia Copyright © 2023 Ratu Zahira Khoirunisa, dkk. Penulis: Razani Athaya Syakira, Meidina Ayu Lestari, Ratu Zahira Khoirunisa, Chalita Hani Hauna, Aurelia Azzahra Putri, Irma Dewi Kemala, Azzahra Amalia Putri. Kata Pengantar: Ratu Zahira Khoirunisa Daftar Isi: Chalita Hani Hauna Ilustrasi Isi: Meidina Ayu Lestari Penulis Biodata: Irma Dewi Kemala Penata Sampul: Aurelia Azzahra Putri Penyelia Naskah: Azzahra Amalia Putri Penata Letak: Razani Athaya Syakira Katalog Dalam Terbitan Hak cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Desain sampul ini menggunakan sumber daya dari internet/freepik


ii KATA PENGANTAR Ratu Zahira Khoirunisa – Kelompok Dua Putri Kelas 9A BISMILLAHIRROHMANIRROHIM. Assalamualaikum wr. wb Tiada kata yang patut diucapkan selain ucapan syukur atas segala nikmat yang diberikan kepada kita semuanya. Tak terasa tahun ini sudah memasuki tahun kedua pembelajaran tatap muka dan di tahun ini pula teman-temanku sekalian yang tahun ini menginjak kelas sembilan sudah memulai menuangkan ide-ide kreatifnya melalui kumpulan karya antalogi cerpen yang bertemakan keberagaman budaya dengan judul “Kamera Kaia”. Alhamdulillah kami peserta didik SMPIT Raudhatul Jannah cilegon tahun ini sudah mulai bisa berkarya mulai dari hal-hal kecil seperti berimajinasi dan menulis cerpen. Pada kurikulum merdeka yang mengedepankan literasi, kumpulan antalogi cerpen ini bisa menjadi awal untuk mengembangkan budaya literasi pada diri peserta didik sekaligus membentuk karakteristik masing-masing peserta didik. Semoga dengan adanya program kumpulan antalogi cerpen ini bisa membuat para generasi sekarang untuk terus berkarya. Dan mudah-mudahan karya kalian semua bisa menjadi inspirasi untuk banyak orang.


iii Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para penulis yang sudah menuliskan cerpen ini sehingga menghasilkan tulisan tangan yang sangat luar biasa. Semoga kedepannya kalian semua mendapat pembelajaran sekaligus pengalaman dari program ini. Selamat atas hasil karya yang sudah kalian tulis. Salam literasi. Wassalamualaikum Wr. Wb. Cilegon, 09 Agustus 2023


iv DAFTAR ISI HAK CIPTA......................................................................................... i KATA PENGANTAR .......................................................................... ii DAFTAR ISI ......................................................................................... iv Kamera Kaia..................................................................................... 1 Razani Athaya Syakira Gema Turun Temurun....................................................................... 11 Meidina Ayu Lestari Ikhlas Yang Paling Dalam............................................................... 21 Ratu Zahira Khoirunisa Strangers............................................................................................ 30 Chalita Hani Hauna Berani Berbeda ................................................................................ 39 Aurelia Azzahra Putri Langkah Yang Tersimpan ............................................................... 51 Irma Dewi Kemala Tarian Untuk Ibu................................................................................ 62 Azzahra Amalia Putri Biodata Penulis ................................................................................. 71


1 Kamera Kaia Razani Athaya Syakira Suara nada dering handphone berbunyi, menandakan sudah waktunya bagi seorang gadis remaja bernama Kaia untuk bangun. Dengan segera, ia mematikan suara bising itu dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuka jendela kamar tempat ia menginap, lalu dihirupnya udara sejuk dari pulau Nusa Penida. Di tengah lamunannya, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Kaia pun membukakan pintu, dan di hadapannya berdiri seorang remaja lelaki yang sedikit lebih tinggi dari dirinya. Dia Kafi, peraih peringkat pertama dengan nilai tertinggi seangkatan. Menurut Kaia, tingkah Kafi sangatlah menyebalkan. Kaia pun tidak kalah pintar, dia peraih peringkat kedua, satu peringkat di bawah Kafi. Saat ini, Kaia, Kafi, beserta beberapa siswa lain dari sekolahnya yang mengikuti klub fotografi sedang mewakilkan sekolah mereka untuk berpartisipasi dalam sebuah pameran foto di Paris. Foto-foto yang akan mereka hadirkan di pameran tersebut adalah foto-foto keindahan alam dari salah satu pulau di Indonesia, yaitu pulau Nusa Penida. Mereka menginap di sini untuk dua hari satu malam. Hari ini adalah hari kedua mereka, jadi nanti siang mereka akan langsung berangkat ke Paris.


2 Memang sangat melelahkan, apalagi bagi Kaia yang harus sekelompok dengan orang yang tidak dia sukai. “Baru bangun, Kai? Ayo, jangan buang-buang waktu. Nanti nggak bisa foto matahari terbit,” ujar Kafi, sepersekian detik setelah Kaia memutar gagang pintu kamarnya. “Sabar, aku ambil kamera dulu,” Kaia berkata sambil kembali masuk ke kamarnya, membiarkan pintunya terbuka. Kafi menunggu dengan sabar di ambang pintu. Begitu Kaia selesai mengambil barang yang dia perlukan, dia langsung keluar dari kamarnya. Kaia pun berjalan mengikuti Kafi yang sudah jalan lebih dulu. “Kita ke pantai, Kai, naik ojek. Namanya pantai Atuh. Hati-hati, jalanannya nggak terlalu bagus. Jangan sibuk sama kamera, kalau jatuh, aku nggak akan bantuin,” ucap Kafi. Ia menoleh sejenak ke arah Kaia yang memang sedang sibuk dengan kamera kesayangannya. Mereka berdua pun menghampiri pangkalan ojek di pinggir jalan, mencari ojek yang siap mengantar mereka ke pantai Atuh.


3 Begitu sampai, Kaia dan Kafi langsung memotret semua hal menarik di sana, seperti matahari yang sedang terbit, para penduduk sekitar yang sedang melakukan aktivitasnya masingmasing, bahkan kucing-kucing liar yang berkeliaran di sana. Ada sebuah rumah makan di pinggir pantai yang menjual hidangan khas Nusa Penida, jadi Kaia dan Kafi mampir ke sana sebentar untuk mencicipi sekaligus memotret makanan tersebut. “Ini namanya bubur Ledok. Bahan dasarnya jagung dan ubi ketela pohon. Pembuatannya memakan waktu yang tidak sedikit, lho,” terang Ibu pemilik warung, “butuh waktu satu jam lebih. Tapi makanan ini sehat sekali, juga bisa mengenyangkan dari siang hingga malam.” Mereka pun lanjut membicarakan hidangan-hidangan lain khas Nusa Penida. Setelah mereka menghabiskan bubur Ledok pesanan mereka, mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan. Karena sebentar lagi rombongan mereka harus berangkat, jadi mereka kembali ke kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk pergi ke Bandara Ngurah Rai di Bali. Jam 10 pagi, rombongan sekolah Kaia sudah sampai di Bandara Ngurah Rai. Mereka beramai-ramai makan di salah satu restoran di sana. Tanpa disengaja, Kaia duduk bersebelahan


4 dengan seorang siswa kelas lain yang bernama Mahesa. Mereka mengobrol sejenak sambil menunggu makanan mereka disajikan. Mereka bahkan saling menunjukkan hasil-hasil foto mereka. Kaia juga sempat mengeluarkan memory card kameranya untuk menunjukkan merknya kepada Mahesa. Selesai makan, tiba waktunya bagi mereka untuk berangkat ke Paris. Dengan terburu-buru, Kaia memasukkan kameranya ke dalam tas hitam miliknya, lalu lanjut mengobrol dengan Mahesa sambil berjalan bersama rombongannya. Di saat percakapan mereka berlangsung, tiba-tiba Kafi muncul dari belakang dan ikut berjalan di tengah-tengah antara Kaia dan Mahesa. “Cepetan jalannya, Kai. Kita sekelompok, harus duduk bersebelahan,” gerutu Kafi. Kaia mendengus kesal, “Iya, iya. Aku duduk di samping jendela, ya,” ujarnya. Kafi mengangguk setuju. Dia pun berjalan mendahului Kaia dan Mahesa. Setelah pamit dengan Mahesa, Kaia langsung berjalan cepat meninggalkan Mahesa, sementara Mahesa menghampiri teman sekelompoknya. Mereka pun berangkat menuju Paris.


5 Setelah perjalanan panjang selama kurang lebih enam belas jam, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di Bandara Charles de Gaulle Paris. Rombongan mereka langsung saja pergi ke hotel untuk beristirahat. Di kamar hotelnya, Kaia memutuskan untuk mengecek kameranya. Awalnya, semua aman-aman saja, sampai Kaia mengecek galeri kameranya. Kosong. Tidak ada satupun foto. Kaia langsung panik dan mengecek slot memory card kameranya. Sama saja seperti galerinya, slot itu kosong. Kaia mengacak-acak isi tasnya, berharap kalau ada memory card-nya di situ. Tapi, hasilnya nihil. Tanpa pikir panjang, Kaia langsung saja keluar dari kamarnya. Dia mengetuk pintu kamar 1004, kamar Kafi yang terletak persis di depan kamar Kaia. Untungnya, tidak membutuhkan waktu lama bagi Kafi untuk membuka pintu. “Kenapa, Kai? Kok belum tidur? Ada setan?” tanya Kafi dengan nada bicaranya yang sedikit mengejek. Tapi, terlihat dari wajah Kafi kalau ia khawatir melihat Kaia yang kelihatan panik.


6


7 Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Kaia. Dia hanya menyodorkan kameranya kepada Kafi. Kafi tidak banyak tanya dan langsung saja mengambil kamera Kaia. Dia menyadari kalau slot memory card-nya terbuka, jadi dia langsung memperhatikan lubang itu. “Mana?” tanya Kafi singkat. Dia sadar kalau lubang itu kosong. “Hilang,” jawab Kaia, sama singkatnya seperti pertanyaan Kafi. “Duh, kok bisa?” Kafi mengacak-acak rambutnya sendiri, bingung harus apa. “Tadi di bandara aku lepas. Tapi, kayaknya lupa kumasukkan lagi.” Kaia menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ke arah Kafi. “Maaf, Kaf.” “Terus, kamu mau bagaimana sekarang?” tanya Kafi. “Udah dicari di tas?” “Udah, nggak ada. Kamu banyak ambil foto di kameramu, kan? Pakai fotomu aja. Boleh, kan?” ucap Kaia sambil mendongak untuk melihat Kafi.


8 “Lumayan banyak, sih,” balas Kafi. “yaudah, pakai fotoku aja. Tapi, nanti kamu nggak dapat nilai tambahan. Gapapa?” Kaia menatap Kafi sinis, “Ya, mau bagaimana lagi, Kafi? Kamu ada solusi lain?” tanyanya. “Nggak ada sih. Tapi, kalau peringkatmu turun jadi peringkat ketiga, gimana, Kaia? Jangan nangis, ya,” ejek Kafi. Dia sedikit memiringkan kepalanya ke samping dan menaikkan kedua alisnya kepada Kaia. Kaia memutar bola matanya, kesal dengan Kafi. Dia langsung memutarbalikkan badannya dan kembali masuk ke kamarnya sendiri. Kafi menunggu sampai terdengar suara Kaia mengunci pintu kamarnya, baru dia masuk dan mengunci pintu kamarnya sendiri. Di kamar, Kaia langsung saja merebahkan tubuhnya di kasur. Ia merasa sangat sedih, tapi ia terlalu lelah untuk menangis saat ini. Mungkin nanti saja, setelah pamerannya selesai. Untuk sekarang, Kaia memutuskan untuk langsung tidur saja. Ia tertidur cukup lelap malam ini. Esok paginya, Kaia terbangun dengan beberapa notifikasi di handphone-nya. Yang pertama, pesan dari Kafi. Ia


9 meminta maaf jika ucapannya tadi malam membuat Kaia kesal, dan sebagai gantinya, ia bilang kalau ia akan membelikan Kaia es krim setelah pameran selesai. Yang kedua, pesan yang disertai dengan sebuah foto dari nomor tak dikenal. Kaia, ini aku, Mahesa. Ini punyamu, bukan? Ada di dalam tasku. Kalau benar punyamu, aku akan mengantarkannya ke kamarmu. Kaia langsung membelalakkan matanya ketika ia melihat foto yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal yang mengaku sebagai Mahesa itu. Di dalam fotonya, terlihat memory card miliknya. Kaia langsung membalas pesan itu, mengonfirmasi bahwa barang itu benar miliknya, disertai dengan kata-kata terima kasih dan sebagainya. Kaia juga langsung mengabarkan hal itu kepada Kafi. Beberapa lama kemudian, Mahesa akhirnya sampai di kamar Kaia. Tak butuh waktu lama, Kaia langsung memasukkan memory card itu ke dalam kameranya dan memilih foto-foto untuk ditampilkan di pameran nanti. Pada jam 8 pagi, rombongan sekolah Kaia sudah berkumpul di lokasi pameran foto. Mereka menampilkan hasil


10 foto mereka yang sangat indah. Pulau Nusa Penida, penduduknya, makanannya, flora dan faunanya, lautnya, langitnya, jalanannya, bangunannya, dan beragam-ragam hal lainnya. Banyak sekali orang yang tertarik dengan hasil foto mereka. Mereka bilang kalau mereka akan berkunjung ke pulau Nusa Penida di liburan musim panas nanti. Kaia merasa sangat senang hari ini, walau tadi malam mungkin adalah malam terburuknya. Kafi pun juga begitu, dan dia menuruti janjinya kepada Kaia. Sepulang dari pameran, ia membelikan Kaia es krim. Kaia dan Kafi juga mengelilingi Paris bersama rombongan mereka. “Makasih ya, Kaf, traktirannya,” lontar Kaia saat mereka tengah menikmati es krim mereka. “Santai aja, Kai. Nanti di Indonesia aku traktir makanan lain, deh, tapi yang murah saja,” Kafi tersenyum lebar. Langit sudah mulai gelap, rombongan mereka pun kembali ke hotel. Mereka sangat bersyukur pameran tadi berlangsung lancar. Mereka juga sangat bangga bisa menarik perhatian orang luar akan keindahan Indonesia. Malam ini, mereka tidur sangat nyenyak, ditemani suara hujan deras yang menghujam kota Paris.


11 Gema Turun Temurun Meidina Ayu Lestari Membuka mata menatap langit nan biru warnanya, angin berhembus lembut dengan sinar matahari yang sangat terang, menciptakan cerahnya pada hari ini. Seorang gadis bernama Ajeng yang tengah keluar rumah pada siang hari untuk melakukan kegiatannya sehari-hari, sebelum itu ia mempersiapkan dirinya sebelum berangkat, serta berpamitan dengan keluarga setempat. Dimulai dari satu langkah menuju luar pintu, gadis tersebut berdoa terlebih dahulu sebelum beraktivitas, ia pergi berjalan kaki menuju pasar di Jalan Malioboro. Di tengah perjalanan, Ajeng menabrak seorang pemuda yang asing, sehingga membuat pertanyaan melintas pikirannya. “Maaf! Aku tak sengaja menabrakmu, apakah kamu baik-baik saja?” Ajeng terkejut, ia berbicara bahasa Indonesia dengan fasihnya. “Aku tak apa-apa, ini juga salahku tergesa-gesa tadi. Namaku Reitsu, kau bisa memanggilku Rei. Mungkin kau terkejut aku bisa berbahasa Indonesia karena aku merupakan seorang blasteran Indonesia dan Jepang. Senang bertemu


12 denganmu! Boleh aku tahu siapa namamu?” Rei mulai bertanya pada Ajeng. “Namaku Ajeng, aku orang asli sini kok. Jangan terlalu sungkan untuk mengobrol ya!” Ajeng menjawab Rei dengan senyum terukir di wajahnya. Ia belum pernah bertemu dengan orang blasteran di kotanya. “Rei? Kenapa kamu tergesa-gesa? Apa ada sesuatu?” tanya Ajeng dengan wajah bingung terukir padanya. “Aku harus membuat resume untuk projekku tentang budaya disini, bisakah kau membantuku?” jawab Rei menjelaskan masalahnya, dan Rei membungkuk kepada Ajeng untuk permohonannya. “Tentu saja! Aku akan membantumu, tiada masalah jika kau ingin mencoba beberapa budaya kami.” Ajeng setuju dengan Rei dan mulai mengajaknya berkeliling. Ajeng mengajak Rei ke pasar untuk melihat suasana yang ramai dengan orang-orang yang menjual makanan, minuman, kerajinan, tumbuhan, bahkan barang antik disana. Ketika mereka membeli sesuatu, mereka dilayani dengan sangat ramah oleh penjual dengan senang hati.


13


14 “Aku menyukai tempat ini, aku bisa mencoba berbagai hal disekitar sini.” Rei menghela nafas panjang. “Syukurlah kamu menyukainya, selanjutnya kita akan pergi ke ‘Rumah Batik & Seni’, di sana kau akan mencoba banyak hal!” jelas Ajeng. Saat mereka tiba, mereka disambut oleh pelayan-pelayan ramah atas kedatangannya, serta mereka mendengar lantunan gamelan dimainkan beserta nyanyian seorang Sinden dengan suara khasnya, ditambah suasana sejuk dengan kerajinan kayu yang nyaman dipandang mata. Di sana, terdapat banyak jenis batik serta busana khas Jawa yang bisa dipakai langsung. Kemudian Ajeng menyapa kenalannya yang bernama Mba Ayu. ‘’Ajeng! Lama tidak bertemu, Nduk! Ada yang ingin kau cari di sini?” tanya Mba Ayu. “Temanku ingin mencoba berpakaian asal sini, dia ingin mencoba Surjan, Mba!” jawab Ajeng dengan senang hati. “Baiklah, saya akan cari baju yang cocok untuknya, kamu tunggu di sini saja, ya. Akan aku pilih yang terbaik di sini. Setelah itu, ikuti saya ke ruang ganti.” jelas Mba Ayu kepada Rei, yang sebelumnya menahan rasa penasaran.


15 Setelah menit berlalu, Rei keluar dari ruang ganti dengan menggunakan Surjan Lurik berwarna khas serta Jarik bermotif batik Parang Tuding, dengan rapih memakai blankon serta membawa sebuah keris. “Rasanya berbeda, aku merasa bahwa aku menjadi satu dengan budaya ini,” Rei mencoba memperlihatkan busananya kepada Ajeng dan Mba Ayu. “seperti orang asli Yogyakarta pada umumnya, itu mengapa aku merasa berbeda,” jelas Rei. “Senang mendengarnya, itu cocok padamu, Rei!” puji Ajeng kepada Rei. Ajeng terpikir pada hal yang ia sudah rencanakan. “Rei, ingin mencoba upacara Patehan? Upacara minum teh tradisional. Ini seperti upacara minum teh hijau di Jepang, kau tertarik?” tanya Ajeng melihat pendamping upacara yang bersiap menuju tempat acara tersebut. “Tentu saja, aku sangat suka minum teh, apalagi masih hangat,” ucap Rei dengan sungguh-sungguh ingin mencobanya. Saat memasuki ruangan, terdapat sebuah meja kecil dengan alas duduk berupa kain tipis di bawahnya. Di meja tersebut terdapat sepasang cangkir di atas piring kecil. Dengan


16 wanginya bunga melati di seluruh ruangan, mereka pun duduk dan menunggu untuk pendamping upacara untuk datang. Pintu terbuka pelan, langkah demi langkah pendamping mulai datang satu persatu, seorang wanita membawa nampan dengan teko berisi kopi dan teko berisi teh, serta sepasang wanita di sampingnya. Diikuti dengan seorang pria membawa payung dan seorang pria berjalan menuju kami, ia berkata, “Sugeng rawuh, apakah nona dan tuan ingin meminum kopi atau teh?” tanya pria tersebut dengan sopan. “Kita meminum teh saja, tolong ya,” balas Rei pada pria tersebut. Kemudian, sepasang wanita membawa teko berisi teh dan menghampiri mereka dengan cara berjalan yang unik. Wanita tersebut membalik posisi kedua cangkir, setelah itu menuang teh manis hangat ke dalam cangkir mereka. Sepasang wanita tersebut menunduk kepala mereka, menyatukan tangannya, angankan berterima kasih. Semua pendamping berpamit dan mengundurkan diri dari ruangan tersebut. Rei meminum teh hangat itu dengan pelan. “Rasanya nyaman sekali, tehnya hangat dan rasa manisnya sesuai takaran.” Rei meminum tegukan terakhirnya. Rasanya


17 meminum teh dengan suasana yang sangat segar. Ajeng tersenyum lega, temannya senang sekali untuk mengikuti budaya mereka. Mereka pun berbincang satu sama lain untuk mengisi waktu senggang mereka. Di tengah berbincang, seseorang yang menurut Ajeng tidak asing menghampiri mereka. Rupanya, seseorang itu adalah Mas Agustian, yang tak lain adalah kakak laki-laki Ajeng. Ajeng juga tampak terkejut melihat kakaknya kembali. “Mas! Aku jarang melihatmu, bagaimana kabar Mas?” Ajeng memeluk kakak kesayangannya, sudah lama ia tak pulang ke rumah karena ia menjadi pengawal di Istana Mangkunegaraan. Ajeng merasa sangat bahagia karena dapat melihat kakaknya kembali. “Aku sehat, Ajeng. Alhamdulillah,” balas kakaknya pada adiknya. Rei terfokus kepada busur yang dipegang Mas Agustian. Busurnya tampak sangat unik dengan ukiran khas pada busur tersebut dan Rei sempat bertanya padanya, “Busurnya besar sekali… Sepertinya Mas juga ikut Kyudo?” tanya Rei dengan rasa penasarannya pada Mas Agustian.


18 “Oh, ini? Olahraga ini bernama Jemparingan, olahraga pada masa Kerajaan Yogyakarta dahulu yang masih dilestarikan sampai saat ini. Ingin mencoba?” tawar Mas Agustian kepada Rei sambil memberikan dirinya busur miliknya. Pada lapangan besar dengan rumput yang sangat hijau disertai angin yang tertiup dengan pelannya, daun-daun berguguran, menciptakan suasana yang sunyi dan meningkatkan daya fokus untuk seorang pemanah. Di sana, banyak pemuda yang sedang berlatih untuk meningkatkan tingkat fokus dan tingkat konsentrasi mereka. “Selamat datang, mari saya perlihatkan tempat ini. Di sini adalah tempat di mana pemanah melatih diri mereka serta mengisi waktu luang mereka. Olahraga ini sudah menjadi turuntemurun di daerah Yogyakarta, karena sudah berada sejak zaman kerajaan Mataram,” jelas Mas Agustian kepada mereka. “Kau pasti pernah mengikuti Kyudo, bukan? Saya berikan kesempatan ini padamu.” Mas Agustian memberikan busur dan anak panah pada Rei, dan ia mencoba sebisa mungkin untuk melakukannya. Rei kemudian mengambil busur tersebut, dengan pengamatannya, pemuda itu duduk bersila di atas matras sebagai


19 penumpu, duduk menyamping dengan tali busur ditarik ke arah kepala dan bersiap untuk mengenai sasaran dengan tepat. Melepas tali, anak panah tersebut menembak mengenai sasaran tepat di tengah. “Fokusmu tinggi juga, saya ucapkan selamat padamu. Ini pertama kalinya saya melihatnya langsung tepat sasaran,” puji Mas Agustian pada Rei. “Kau sangat keren, Rei!” Ajeng ikut memuji. Rei membalas mereka dengan senyuman tulus. “Terima kasih banyak!” Dalam perjalanan pulang, Rei mengajak Ajeng untuk menemui Ibunya di kediamannya sebelum ia kembali pulang. Rei berkata bahwa Ibunya sangat menyukai kerajinan rotan khas Jawa Tengah, maka Ajeng mencoba membuatnya langsung di sana. Beberapa menit berlalu, Ibu Rei membuka pintu dan melihat dua jenis kerajinan rotan di atas meja ruang tamu. “Siapa yang membuat kerajinan ini? Ini bagus sekali! Saat saya berada di Jepang, saya jarang melihat kerajinan rotan di sana,” seru Ibu Rei.


20 “Selamat datang, Bu! Sebenarnya, Ajeng mengajariku semuanya. Ia rajin membuat kerajinan seperti ini, jadi aku juga ingin belajar,” jelas Rei pada Ibunya. “Benarkah? Nak Ajeng, sering-seringlah mampir ya, saya juga ingin melihat bagaimana caranya kamu membuat kerajinan ini. Sebagai tanda terima kasih telah membawa anak saya berkeliling di sekitar sini,” sahut Ibu Rei pada Ajeng. “Aku belajar membuat kerajinan dari nenekku dulu, maka dari itu, aku sudah terbiasa dengan ini. Dan tentu saja! Aku berjanji akan sering berkunjung ketika aku punya waktu luang,” balas Ajeng dengan sebuah senyuman. Ajeng bangga karena dapat memperkenalkan budayanya kepada orang luar. Ia ingin melestarikan budayanya dan juga budaya yang lainnya agar mereka dapat mengenali betapa ragamnya budaya di Indonesia. Tiada salahnya mencoba, bisa saja terjadi suatu kebetulan atau kesalahan dan juga tiada salahnya untuk mencoba lagi.


21 Ikhlas Yang Paling Dalam Ratu Zahira Khoirunisa Sang surya telah muncul dari arah timur, suara burung berkicau dengan merdu. Terdengar pula suara kendaraan yang berlalu-lalang menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan pagi hari, waktu di mana para manusia memulai segala aktivitas mereka. Sedangkan, di sebuah rumah terdapat seorang perempuan yang sedang asyik mendengarkan alunan lagu Bubuy Bulan yang berasal dari provinsi Jawa Barat. Bulan, namanya. Hai, aku Bulan. Aku seorang mahasiswi psikologi yang sangat tertarik pada hal baru. Saat mendengar tentang psikologi, mungkin kata yang terlintas di pikiran kalian adalah hanya orang gila yang membutuhkan seorang psikolog untuk menyembuhkan mentalnya. Dulu, aku juga memiliki pemikiran seperti itu, tetapi semua itu berubah saat usiaku delapan belas tahun. Di mana aku masih bersekolah di salah satu SMA favorit di Bandung kala itu. Aku sekarang tinggal bersama tanteku, alasannya karena orang tuaku meninggal akibat kecelakaan di saat aku baru saja menginjak bangku SMP. Tanteku bernama Tante Lana. Ia orang yang sangat penyayang. Ia berprofesi sebagai fashion designer papan atas. Tante Lana juga memiliki beberapa aset rumah di


22 luar negeri, salah satunya di Amerika Serikat. Saat libur, aku sering sekali pergi ke sana bersama Tante Lana untuk sekadar mencari suasana yang berbeda di antara penatnya pikiran kami. *** Empat tahun yang lalu, hari itu adalah hari libur kelulusan. Aku dan Tante Lana telah sepakat untuk berlibur mengunjungi rumahnya di Amerika Serikat. Awalnya, kami hanya akan berlibur satu minggu di sini. Tetapi, aku bertemu dengan tiga orang teman yang berasal dari Indonesia juga dan memutuskan untuk memperpanjang liburan ku di sini. “Tante Lana, Bulan mau tetap di sini dulu saja,” ucapku. “Kenapa ga langsung ikut tante pulang saja, Lan?” tanya Tante Lana. “Bulan masih mau main sama teman-teman Bulan, Tan,” jawabku. “Oke deh, kalau ada apa-apa bilang saja ke Tante, ya,” ucap Tante Lana. “Iya, Tan,” ucapku. “Ya sudah kalau begitu, nanti Tante jemput minggu depan saja ya,” ucap Tante Lana. “Siap, Tan. Hati-hati di jalan, ya,” ucapku sembari berpamitan dengannya.


23 Aku memang belum lama mengenal teman-temanku di sini, maka dari itu aku memutuskan untuk memperpanjang liburan di sini supaya kami tidak canggung saat aku kembali lagi ke Amerika Serikat. Lagi pula, di Indonesia aku tidak memiliki teman sama sekali. Aku juga kurang tahu alasan kenapa aku dijauhi. Saat itu, matahari bersinar sangat terik, menandakan bahwa sekarang sudah memasuki waktu siang hari. Terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah. Aku bergegas menghampiri pintu dan membukanya. Di depan, terdapat tiga orang perempuan dengan penampilan yang memiliki daya tarik tersendiri. “Lan, hari ini main ke rumahku, yuk!” ucap salah satunya. Orang itu memakai jepitan berwarna merah muda di kepalanya, ia adalah Florence. “Aku dan Cassie juga ikut, kok, sekalian menginap,” sambung salah seorang lainnya. Ia adalah Celine, seorang perempuan berpenampilan tinggi dengan bahu yang lebar. “Harus ikut lho, Lan. Ada princess Cassie ikut, nih,” ucap perempuan terakhir, Cassie. Menurutku, dari semuanya, Cassie adalah anak yang paling ceria. Ia memiliki paras yang sangat cantik dan suka


24 sekali bercanda sembari memanggil dirinya sendiri dengan sebutan princess. “Boleh kok, aku siapkan barang yang mau dibawa dulu ya,” jawabku. Singkat cerita, kami menghabiskan seluruh hari itu di rumah Florence. Mereka merupakan orang yang sangat asyik. Kami membuat jadwal untuk yang akan memasak sarapan besok dan seterusnya, dan kebetulan akulah orang pertama yang akan memasak untuk esok hari. Setelah itu, kami semua pun tertidur dalam suasana malam yang hening. Keesokan harinya, matahari menyinari jendela dapur rumah Florence. Kami sedang berada di sana untuk memasak. Sesuai kesepakatan yang dibuat oleh kami semalam, akulah yang akan memasak sarapan untuk hari ini. Soto Bandung adalah menu yang kupilih. “Kamu sedang masak apa, Lan? Kelihatannya enak,” tanya Cassie. “Ini namanya soto Bandung, makanan khas dari daerahku,” jawabku. “Pakai daging apa itu, Lan?” giliran Celine bertanya. “Kalau sekarang sih, aku pakai daging sapi,” jawabku sambil merebus dagingnya.


25 Soto Bandung berbahan dasar daging sapi. Rasanya tidak usah diragukan lagi, paduan daging berlemak dan kedelai goreng membuat rasanya semakin gurih. Setelah memasak dan menyantapnya, kami semua berkumpul lagi di kamar Florence sampai malam hari. “Makanan yang dibuat Bulan memang juara,” ucap Cassie sembari mengangkat kedua jempolnya. “Iya nih, aku saja sampai nambah terus,” sahut Florence. “Sering-sering masak untuk kita ya, Lan,” ucap Cassie dengan raut wajah yang memelas. “Bagus deh kalau kalian suka, aku ikut senang mendengarnya,” jawabku sambil tersenyum. “Lan, sekalian cuci piring, dong. Dari tadi pagi belum dicuci ternyata,” ucap Florence. “Oke,” jawabku singkat sebelum beranjak pergi menuju dapur. Aku tidak berpikir apa-apa kala itu, yang aku lakukan hanya mencuci piring dan segera kembali ke kamar Florence setelah pekerjaan tersebut selesai. Langkahku terhenti saat mendengar suara yang berasal dari balik pintu kamar Florence. “Mau saja disuruh-suruh itu anak,” ucap salah satu orang di sana, sepertinya itu Celine.


26 “Hahaha, iya, kita kan mengajak dia ke sini memang buat itu,” ucap Florence. “Aku juga sudah muak sok baik di depan dia,” ucap Cassie. Walaupun terdengar samar-samar, tapi aku yakin bahwa itulah yang aku dengar dari balik pintu. Aku yang kesal pun langsung membuka pintu dengan kasar dan menghampiri mereka. “Maksud kalian apa?!” ucapku yang hampir menangis. Aku ingin memarahi mereka, akan tetapi aku tidak bisa melakukan itu, jadi aku hanya bisa menangis karena menahan amarah. “Sudah dengar kan, tadi? Kok masih nanya?” jawab Celine dengan wajah datarnya. “Tahu tuh, dasar cewe aneh.” Cassie memalingkan wajahnya dariku. “Jadi, kalian mengajak aku ke sini cuma buat jadi pembantu kalian doang?” tanyaku dengan menaikkan sedikit nada bicaraku. “Bisa ga sih, gausah nanya kalau udah tahu jawabannya,” kali ini giliran Florence yang berbicara. Dalam perasaan kecewa bercampur kesal, aku pun pergi berlari menjauh dari tiga teman munafik itu. Teman? Mereka


27 bahkan tidak layak aku sebut teman. Tanpa kusadari, aku tiba di sebuah taman, aku menangis dengan leluasa di sana. “Ya Allah, perkataan mereka jahat sekali,” ucapku sambil sesenggukan, “kalau Papa dan Mama masih ada, pasti mereka akan khawatir dan langsung menenangkan Bulan,” lanjutku. “Bulan rindu Papa dan Mama, Bulan masih butuh kalian ada di samping Bulan. Bulan masih ingin jalan-jalan bersama saat libur sekolah, cerita keseharian Bulan ke kalian,” hanya itu yang bisa aku ucapkan dalam hati kala itu. “Pa, Ma, kalian pasti melihat Bulan dari atas sana, kan?” ucapku sembari melihat bintang-bintang di langit. “Kalau kalian sedih karena lihat Bulan begini, harusnya kalian di sini menemani Bulan,” gumamku, “tapi, hal itu ga mungkin terjadi kan Pa, Ma?” lanjutku. “Kalian jangan khawatir, putri kecil kalian ini sekarang sudah besar. Masalah seperti ini masih bisa ditahan, kok. Kalian di sana jaga diri baik-baik, ya. Tunggu Bulan, nanti Bulan menyusul kalian di surga.” hanya itu yang bisa aku katakan kembali di dalam hati. Aku pun tersenyum tipis melihat bintang yang berkelapkelip di langit, seolah orang tuaku membalas perkataanku barusan. Hal itu membuat diriku merasa jauh lebih tenang.


28 “Bulan ga akan menyerah kok Pa, Ma!” teriakku kepada bintang sembari menghapus air mata. Ketika kita kehilangan segalanya, maka kita akan belajar segalanya.


29 Kemudian, aku membuka handphone untuk mengabari Tante Lana bahwa aku akan kembali ke Indonesia malam itu juga. Tante Lana hanya mengiyakan tanpa bertanya. Mungkin, ia sudah memiliki firasat kalau aku tidak nyaman berada di sini. Setelah kejadian itu, aku memiliki trauma tersendiri untuk memiliki teman. Tante Lana menitipkanku pada seorang psikolog. Aku awalnya menolak, berkata bahwa aku tidak gila jadi tidak perlu konsultasi kepada seorang psikolog. Tetapi atas desakan dari Tante Lana, aku pun akhirnya menyetujuinya dengan terpaksa. *** Setelah beberapa saat aku menjalani konseling bersama seorang psikolog, aku merasa bahwa memiliki seorang psikolog bukan berarti orang itu gila. Di sana, aku benar-benar dirawat dengan sangat baik, sehingga sekarang aku sudah bisa bersosialisasi dengan banyak orang baru. Mengenai kabar Florence, Cassie dan Celine, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Aku menyadari bahwa kami memiliki banyak sekali perbedaan sehingga tercipta jarak yang jauh di antara kami berempat. Jika bersamanya aku sakit, lebih baik aku sendiri.


30 Strangers Chalita Hani Hauna Matahari yang mulai memancarkan sinarnya menusuk mata sesosok gadis remaja melalui celah-celah jendela kamarnya, menandakan hari sudah tak lagi pagi. Jam milik gadis itu terus berdering, menunjukan alarm yang sudah berkali-kali tidak direspon oleh pemiliknya. Gadis itu bernama Renjana Adipta, gadis kelahiran Bandung yang memiliki mata kecoklatan. Ia lebih senang dipanggil dengan tiga huruf awal pada namanya, Ren. Ren lahir di keluarga yang bisa dibilang kurang mampu. Ren sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya semenjak umur sepuluh tahun. Ren bersekolah di SMA Nekoma, salah satu SMA favorit di kotanya. Ia bisa masuk SMA Nekoma karena mendapatkan beasiswa. Ren termasuk anak yang sangat pintar, namun ia hanya memiliki satu teman yang bernama Navitas. Ren sering memanggilnya Navi. Navi sedikit kesal dengan orang-orang yang mengira bahwa namanya adalah nama seorang laki-laki, namun Navi memiliki sifat yang sangat baik hati dan sangat taat dalam menjalankan ibadah. Navi lahir dari keluarga yang jauh


31 berbeda dengan Ren. Ayah Navi adalah seorang CEO terkenal. Navi akan melanjutkan pendidikan di luar negeri dengan Ren. Ren mendapatkan itu semua tanpa mengeluarkan uang sedikit pun, ia mendapatkan beasiswa dari SMA sampai kini ia akan berkuliah. Ia mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Singapura. *** Hari ini adalah hari pertama Ren memasuki kuliah. Semua perjuangan yang ia lakukan untuk berkuliah di luar negeri membuahkan hasil. Ia satu perkuliahan dengan Navi, satu-satunya teman yang ia miliki. Hari ini, Ren sudah berjanji akan berangkat bersama Navi. Saat tiba di halte bus, Ren mendengar ada seseorang yang memanggilnya. “Hai, Ren! Aku tidak menyangka bahwa kita akan satu jurusan,” sapa Navitas dengan senyuman ceria. “Hai juga, Nav! Hehe, iya nih, aku juga tidak menyangka,” jawab Ren sambil tersenyum. Sering sekali ia berpikir, kenapa Navitas mau berteman dengannya? Padahal Ren hanya seorang anak beasiswa, sedangkan Navitas adalah seorang anak yang sangat kaya raya.


32 Derajat Navitas jauh lebih tinggi darinya. Setiap ia memikirkan hal itu, Ren berusaha untuk menepis pikiran buruknya itu. Saat tiba di kampus, semua mahasiswa memandang Navitas dengan tatapan kagum. Ren tidak heran karena Navitas memang mempunyai paras yang sangat cantik. Ren menjadi takut, “Apakah Navi akan meninggalkanku?” yang ada di pikiran Ren hanya itu saja. Karena jika Navi meninggalkannya, ia tidak akan mempunyai teman sama sekali. Tanpa terasa, bel masuk pun tiba. Ren segera pergi menuju kelasnya. Akan tetapi saat ia ingin memilih tempat duduk, tidak ada yang ingin duduk bersamanya. Menurut Ren, itu adalah hal yang biasa, sejak saat SMP hingga kuliah selalu saja begitu. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk duduk sendiri di pojok ruang kelas. Bel istirahat berbunyi. Ren berjalan mendekati Navi yang sedang mengobrol bersama teman barunya yang bernama Jeanne. “Navi! Ayo kita ke kantin bareng,” ajak Ren.


33 “Itu teman kamu, Nav?” tanya Jeanne dengan muka heran. “Ah, iya, itu temanku,” jawab Navi. “Kok kamu mau berteman sama orang dekil seperti dia? Kamu ini anak CEO, lho. Kamu juga mempunyai wajah yang cantik,” ucap Jeanne dengan tatapan sinis. Mendengar hal itu, Ren langsung pergi menuju kamar mandi. Saat tiba di kamar mandi, tanpa terasa air mata Ren mulai berjatuhan dan membasahi hijabnya. “Aku sejelek itu ya, di mata mereka?” Ren menangis sesenggukan karena ucapan Jeanne yang tidak memikirkan perasaannya. Walau ini bukan pertama kalinya ia dikatakan begitu, tetap saja omongan Jeanne sangat membuatnya sakit hati. Saat bel pulang sekolah, Ren merasa bingung, jarang sekali Navi tidak mengajaknya pulang bersamanya. Karena ia tidak ingin memperbesar masalah, pada akhirnya ia memutuskan untuk pulang sendiri. Ia langsung pulang menuju indekos tempat ia tinggal. Ren tinggal di Singapura bersama sang Nenek, karena ia tidak ingin sang Nenek hidup sebatang kara di Indonesia. Semua keluarga Ren sudah meninggal dunia, hanya tersisa Ren


34 dan sang Nenek yang menderita penyakit kanker. Kebetulan ia memiliki 2 tiket pesawat gratis untuk pergi ke Singapura. “Ren, bagaimana hari pertama sekolahnya?” tanya sang Nenek yang sedang khawatir dengan cucunya, karena sejak sampai rumah Ren memasang muka cemberut. “Gapapa kok, Nek. Aku hanya capek aja,” jawab Ren dengan sedikit senyuman. Ia tidak ingin menceritakan hal yang terjadi di kampus, karena ia tidak ingin sang Nenek khawatir padanya. *** Sudah dua bulan Navi tidak bermain dengan Ren. Navi hanya bermain dengan teman barunya saja. Penampilan Navi sekarang sangat berbeda jauh dengan penampilannya yang dulu. Dulu, Navi selalu memakai pakaian yang tertutup dan selalu menggunakan hijab. Akan tetapi, sekarang ia selalu menggunakan pakaian yang terbuka. Mungkin ini pengaruh dari kehidupan Navi di Singapura. Saat ini, Navi sering sekali membully Ren. Navi juga sering kali melontarkan kata-kata kasar. Padahal dulu Navi tidak pernah melontarkan kata-kata kasar.


35 Hingga pada suatu hari, Navi mengajak Ren untuk menemuinya di taman belakang rumahnya saat malam hari. Tanpa berpikir panjang, Ren langsung menerima ajakan tersebut, karena yang ada di pikiran Ren hanya, “Mungkin saja Navi akan mengajakku bermain bersamanya, karena aku dan dia sudah lama sekali tidak bermain bersama. Atau, mungkin saja dia ingin meminta maaf karena telah membullyku.” Malam hari pun tiba. Ren bergegas menuju taman belakang rumahnya untuk menemui Navi. Di taman belakang, ia melihat Navi dan Jeanne berada disana. Ren langsung berjalan menghampiri mereka berdua. “Nav, ada apa? Tumben kamu memanggilku ke sini,” tanya Ren dengan heran. “Akhirnya kamu datang juga, anak beasiswa!” ucap Navi dengan nada tinggi. “Ka-kamu kenapa ngomong begitu, Nav? Bukannya kita ini teman?” jawab Ren dengan nada gugup. “Teman?! Kamu bilang kita ini teman?! Aku tidak ingin berteman dengan anak beasiswa seperti kamu!” jawab Navi dengan nada yang ditinggikan.


36 “Renjana, Renjana. Kamu ini tidak sadar diri sekali! Kamu itu tidak pantas berteman dengan Navitas. Navitas itu anak orang kaya, sedangkan kamu? Hanya seorang anak miskin! Lagipula, kamu ini sedang menggunakan pakaian apa?! Pakaian yang sangat kumuh! Tidak enak dipandang,” ucap Jeanne dengan tatapan sinis ke arah Ren yang sedang menggunakan pakaian batik khas dari Indonesia. Saat mendengar ucapan Jeanne tersebut, Navi terdiam sebentar dan ia berkata kepada Jeanne, “Sudahlah, Jeanne. Lebih baik kita tinggalkan saja anak beasiswa ini sendiri!” Pada akhirnya, Navitas dan Jeanne meninggalkan Ren seorang diri di bawah sinar rembulan. “ Sial! Jeanne tidak mempunyai etika sekali, dia sudah menghinaku bahwa aku anak miskin, sekarang ia menghina pakaian tradisional dari negaraku!” Di bawah keheningan malam, hanya ada suara Ren menangis, tangisan itu tidak ingin berhenti dan mulai membasahi bajunya. Ren berlari menuju rumahnya dan berdiam diri di kamar. Saat berada di kamar, ia langsung menangis lagi. Sejak Ren menemui Navitas di taman belakang rumah, ia tidak pernah keluar rumah sama sekali. Tak terasa, Ren sudah


37 tidak keluar rumah selama empat hari, yang ia lakukan hanya berdiam diri di kamar dan keluar hanya saat mandi dan makan. Sang Nenek sangat khawatir dengan keadaan cucunya. *** Suara rintik hujan malam menembus kehampaan kamar Ren yang sedang menatap bayang-bayang cahaya lampu jalanan yang masuk melalui jendela kamarnya. Mata tajamnya itu menatap kosong ke arah atas, tetapi pikiran akan kesepian terus berkecamuk. Ia teringat dengan ucapan Navi pada malam itu. Rasa kesepian dan bosan karena asing dengan teman satusatunya terus menghantui pikirannya. Tanpa ampun ia mengasihani dirinya sendiri dan terus memikirkan takdirnya yang malang itu. Akan tetapi, Ren tidak ingin hidupnya berhenti sampai di situ saja. Pada akhirnya, Ren bangkit kembali, ia mulai memberanikan diri untuk berangkat menuju kampusnya. Ia sekarang sudah tidak peduli dengan orang-orang yang mengejeknya seorang anak beasiswa. Sekarang bagi Ren, menyendiri adalah tempat paling nyaman baginya. Saat Ren sedang jalan-jalan di taman, ia tidak sengaja berpapasan dengan Navitas, dan Ren pun berkata “See you, stranger.”


38


39 Berani Berbeda Aurelia Azzahra Putri Pagi hari yang sibuk di Jepang. Suara kereta-kereta yang lewat, dan suara kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di jalanan. Seorang gadis berlari dengan cepat menuju SMA dia, agar dia tidak terlambat di hari pertamanya setelah libur selama 2 bulan. Dia memasuki kelasnya. “Kai... ohayo,” katanya sambil menyapa Kaiser, teman sekelasnya. “Ohayo Kelia, kau tidak terlambat lagi kali ini.” Gadis itu hanya bisa terkekeh mendengar kata-kata kaiser. Ohayo adalah kata sapaan selamat pagi di jepang. Perkenalkan, nama gadis itu adalah Arkelia Kouzome biasanya teman-teman dekat dia memanggilnya Kelia. Dia seorang anak yang berdarah campuran Jepang-Indonesia. Impiannya dari kecil adalah sekolah di Jepang, dan akhirnya cita-cita nya tercapai. Arkelia bersekolah di Meitoku Gijuku Senior High School. Arkelia senang sekali bisa bersekolah disini


40 dan mendapatkan banyak teman baru dan dia bisa belajar bahasa dan budaya baru. Guru pun masuk ke kelas ketika bel berbunyi, dia memberitahukan tentang acara festival budaya yang akan di adakan dalam waktu kurang dari 3 bulan. “Festival budaya kali ini, kita akan memakai konsep campuran. Seperti budaya dari beberapa negara selain negara Jepang. Kalau tidak salah, disini ada anak dari luar kan? Um… Kouzome-san, benar?” Seketika, anak-anak yang ada dikelas langsung menolehkan kepalanya untuk melihat Arkelia. “Ah, iya benar saya pak,” ucap Arkelia sambil tersenyum canggung. “Baiklah, Kouzume-san yang akan menjadi koordinator kalian di acara festival kali ini, jadi kalian silahkan berdiskusi tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk acara festival. Itu saja. Terima kasih banyak dan mohon bantuannya Kouzumesan,” ucap pak guru sambil meninggalkan kelas. “Kai…ser…” Yang dipanggil hanya menoleh dan tertawa.


41 “Hahaha… Derita kamu sih, tapi tenang aja, Kaiser yang tampan ini akan senantiasa membantu kamu karena aku teman yang baik hati,” kata Kaiser sambil mendekat ke arah Arkelia dan duduk disebelahnya. “Iya deh, iya… Makasih banyak lho, Michael Kaiser yang sangat baik hati.” Kaiser tersenyum miring. Arkelia menatap malas Kaiser dan mengambil laptopnya. Arkelia mulai mengetik dan membuat data-data yang dibutuhkan oleh anak-anak kelas. Selesai membuat data yang diperlukan, Arkelia segera bilang pada Kaiser. “Kai…“ Sebelum mengatakan apa yang ingin Kelia katakan, Kaiser segera bangun dan mengambil laptop milik Kelia dan maju ke depan. “Shh… gua tahu apa yang harus gua lakukan,” ucapnya sambil tersenyum manis. “Hello!!! Dengerin dulu, gua yang jelasin!!!” seru Kaiser sambil meninggikan nada suaranya sehingga semua anak anak yang ada dikelas menengok kearahnya. “Nah, bagus, perhatiin gua dulu, okay? Cuma sebentar kok, paling satu jam-an doang.” Anak anak langsung mengeluh, beberapa dari mereka hanya pasrah dan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Kaiser.


42 “Tema festival kita tentang budaya Indonesia, tempat kelahiran Arkelia. Apa ada yang keberatan dengan ide ini?” Kaiser menjelaskan sambil mengotak-atik proyektor. Ada satu orang anak yang mengangkat tangan. “Tapi Kaiser, memangnya di Indonesia ada budaya apa saja?” tanya anak itu. Kaiser melihat Arkelia seperti berkata ‘aku malas menjelaskannya, kamu saja sini yang jelaskan,’ dengan sedikit gugup, Arkelia bangun dari kursinya dan maju ke depan, berdiri di sebelah Kaiser. “Ujung-ujungnya juga Arkelia yang menjelaskan,” celetuk Sae dari belakang, mendengar ucapan Sae membuat 1 kelas tertawa. Arkelia melihat kearah Kaiser yang sedikit cemberut dan Arkelia merasa itu lucu, karena Arkelia sudah tidak tegang, dia pun mulai berbicara. “Tadi ada yang bertanya, di Indonesia ada budaya apa saja, kan? Sebelum melanjutkan, aku mau tanya dulu deh. Apa yang kalian ketahui tentang Indonesia?” Arkelia mendengarkan rata-rata jawaban mereka hanya Bali dan Jakarta.


43 “Baiklah, baiklah... Kalian benar, tetapi masih banyak lagi selain Bali dan Jakarta. Aku akan menjelaskannya. Tenang saja, hanya ada beberapa budaya di Indonesia kok, paling cuma setengah jam,” katanya sambil mempersiapkan slide powerpoint yang dia buat tadi. Arkelia mulai menjelaskan tentang hari kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus. Kelia berniat memperkenalkan beberapa perlombaan yang sering dilakukan ketika 17 Agustus-an, seperti lomba makan kerupuk, tarik tambang, balap kelereng, dan lain-lain. Beberapa dari mereka ada yang antusias, beberapa juga ada yang biasa saja, dan ada juga yang tidak peduli. Yah, meskipun akhirnya Kaiser memarahi mereka yang tidak mendengarkan Kelia, Arkelia berpikir mungkin dia harus mentraktir Kaiser pada jam istirahat. “Baiklah, segini saja... Apa ada yang mau di tanyakan?” tanya Arkelia sambil menutup laptop nya, dan merapihkan barang-barangnya. “Kouzume-san, tadi kau menjelaskan tentang beberapa tarian, apakah kita akan menampilkan itu?” tanya Chigiri, sepertinya dia tertarik jika itu adalah masalah menari.


44 “Iya, tapi tidak semuanya, kita akan mendiskusikan itu setelah istirahat saja.” Ketika Arkelia berkata seperti itu, bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba, mereka semua bubar untuk istirahat dan Arkelia kembali duduk ke kursi. Arkelia sibuk mengerjakan apa saja yang perlu ia persiapkan untuk 3 bulan ke depan. Terdengar suara berisik dari anak anak yang sedang beristirahat, mungkin karena ini bulan April banyak bunga yang bermekaran di taman kampus, banyak bunga sakura bermekaran. Tidak heran jika Jepang disebut sebagai negeri sakura. Arkelia masih mengetik di laptopnya, sesekali dia menoleh ke arah jendela yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Karena lelah menatap layar laptop Arkelia memutuskan untuk mengajak Kaiser ke kantin bersama, sekalian dia mentraktir Kaiser. Arkelia menoleh kearah belakang dan melihat Kaiser sedang di kerubungi oleh anak-anak cewe dan beberapa anak cowo, karena tidak ingin mengganggu Kaiser, akhirnya Arkelia memutuskan ke kantin sendirian saja. Saat sedang ingin bangun dari kursi, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Arkelia, itu Itoshi Sae.


Click to View FlipBook Version