The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Razani Syakira, 2023-10-24 10:20:04

Cerpen Kelompok 2 Putri 9A

Cerpen Kelompok 2 Putri 9A

45 “Lho, Sae? Kenapa?” tanya Arkelia sambil menurunkan tangan Sae dari pundaknya. “Kantin, yuk! Gua traktir lo,” ucap Sae sambil menarik tangan dia, kebetulan Arkelia juga mau ke kantin, jadi, dia menerima ajakannya. Sesampainya mereka di kantin, Sae bertanya. “Mau beli apa? Gua beliin,” kata Sae sambil memilih makanan ringan. “Um, memang kamu mau beli apa? Aku pesan yang kaya kamu aja deh.” Arkelia merasa tidak enak jika dia memesan makanan yang lebih mahal dibandingkan dengan orang yang mentraktir. “Gua pesan makanan yang pedas, ga usah ikut kayak gua, nanti maag lo kambuh lagi. Ga usah khawatir sama harganya. Gua yang traktir, cepat pesan. Kalau lama, gua tinggalin lo di sini.” Mendengar ucapan Sae, akhirnya Arkelia memesan es krim mochi varian stroberi. Setelah mereka membeli makanan dan kembali ke kelas, banyak anak anak yang sedang berkumpul. Ketika mereka melihat Arkelia masuk, mereka langsung berteriak kepadanya.


46 “Lo pada kenapa teriak teriak ke Arkelia, sih?” Sae heran dengan teman-teman sekelasnya. “Dia mencuri ide kelas sebelah, dia bikin semua idenya berkat dari kelas sebelah,” seru salah satu anak di kelas. “Kapan? Bagian mana yang dia curi dari kelas sebelah?” Sae terdengar sangat kesal. “Kalau itu, gua engga tahu.” suara anak itu terdengar gemetaran. Arkelia yang sedari tadi melihat itu, akhirnya berusaha menenangkan Sae. Arkelia berkata mungkin anak-anak kelas sebelah merasa iri dengan ide kelas mereka, karena itu, mereka membuat rumor yang menjatuhkan harga diri kelas mereka. Akhirnya, anak itu meminta maaf kepada Arkelia dan Sae. Tibatiba, Kaiser membuka pintu kelas dengan keras, sehingga semua orang disana merasa terkejut dan memandangi Kaiser dengan tatapan ‘Bisa engga sih, kalau masuk kelas itu pelan-pelan aja?’ Kaiser hanya terkekeh. “I’m sorry, gua lihat nih ya, suasana kelas kita tuh, tegang banget gitu. Memangnya ada masalah apa?” tanya Kaiser sambil berdiri disebelah Arkelia.


47 “Tadi Arkelia di tuduh copy ide kelas sebelah, ya gua marah lah. Arkelia sudah lelah buat ide bagus, malah dituduh ngecopy ide anak kelas sebelah. Besyukur lo enggak gua jadiin samsak tinju gua.” Sae menjelaskan sambil menatap tajam anak yang menuduh Arkelia. “Kalau gua di posisi lo mah, udah tinggal namanya doang itu anak,” ucap Kaiser yang ikut menatap tajam anak tersebut. “Shh… sudah-sudah, masalahnya sudah selesai, okay? Kaiser, Sae?” Arkelia berusaha menenangkan mereka berdua, mereka hanya menganggukan kepala mereka. Akhirnya mereka semua kembali berbaikan dan melanjutkan diskusi. Setelah beberapa jam mereka berdiskusi, mereka semua sepakat untuk menampilkan tarian piring yang berasal dari Sumatra Barat, Indonesia. Meskipun tadi ada beberapa kendala yang dialami oleh Arkelia, tetapi berkat kerjasama teman-teman sekelasnya, mereka menemukan solusinya. 3 bulan kemudian Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu hari festival budaya. Kelas Arkelia mendapatkan nomor urut ke-3.


48


49 Arkelia yang awalnya gugup menampilkan tari piring, tetapi berkat Kaiser dan Sae, Arkelia jadi percaya diri dan bisa menampilkan tari piring dengan baik. *** Pada sore harinya, kelas mereka mengikuti lomba tarik tambang, sesuai dugaan mereka semua, kelas Arkelia menjadi juara satu di perlombaan itu. Malam harinya, pengumuman tentang pemenang festival budaya pun diumumkan, tidak disangka bahwa kelas mereka yang menjadi juara pertama. “Makasih banyak Sae, Kaiser... Kalau enggak ada kalian, pasti aku tidak bisa tampil dengan baik.” Kaiser dan Sae hanya mengangguk dan tersenyum kepada Arkelia. “Sejujurnya, aku takut kalau budaya di Indonesia tidak sebagus dengan budaya di Jepang. Karena itu, awalnya aku tidak percaya diri,” ucap Arkelia dengan sedikit rasa lega. “Kelia, budaya Indonesia itu bagus tahu. Cuma kamu saja yang masih belum memahami betapa indahnya budayabudaya di Indonesia,” kata Kaiser sambil tersenyum tulus. “Kamu terlalu membanggakan negara Jepang sehingga kamu tidak tahu bahwa negara Indonesia tidak kalah bagusnya dengan Jepang. Budaya di Indonesia tidak seburuk yang kamu pikirkan, buktinya sekarang kita mendapatkan juara 1 karena


50 menampilkan tarian dari Indonesia.” Perkataan Kaiser dan Sae membuat Arkelia menjadi percaya diri. Arkelia mendapatkan hikmah dari acara ini, yaitu bahwa dia harus bangga dengan apa yang dimiliki oleh negara Indonesia, tidak perlu malu dengan budaya di Indonesia. Justru karena budaya di Indonesia yang beragam dan bermacammacam kita semua harus bangga. “Perbedaan budaya seharusnya tidak memisahkan kita satu sama lain, melainkan keragaman budaya membawa kekuatan kolektif yang dapat bermanfaat bagi seluruh manusia.”


51 Langkah Yang Tersimpan Irma Dewi Kemala Dalam keremangan senja, langit terhampar dengan warna-warna indah yang menakjubkan, seolah menciptakan lukisan yang tak terlukiskan. Di tengah panorama tersebut, tersembunyi sebuah kisah menarik. Namaku Daelyn Dafania Tamara, yang akrab dipanggil Daelyn. Aku mempunyai kakak yang gemar menari, beliau adalah kak Dhira. Setiap hari, aku selalu mendengar alunan musik dari dalam kamar. Ya, itu adalah kakakku yang sedang menari. Sepulang dari sekolah, aku melihat kak Dhira dan temantemannya sedang berlatih di dalam kamar. Dua hari lagi mereka akan mengikuti lomba tari di acara festival seni. Aku membuka pintu secara perlahan dan mengamati mereka yang sedang menari. Semua gerakan itu terlihat sempurna di mataku, benarbenar menyatu dengan alunan musik yang ada. Selama beberapa saat aku terpana sampai tiba-tiba mereka berhenti, mereka menyadari kehadiranku dan berbalik lalu tersenyum. "Eh, kamu sudah pulang, Lyn.” kak Dhira mematikan musiknya lalu menghampiriku, aku pun mengangguk.


52 "Iya kak," jawabku singkat, "sudah sore kak, sebaiknya istirahat saja dulu, gerakan kakak dan teman-teman kakak sudah bagus kok.” "Kakak masih harus latihan, Lyn. Supaya lebih luwes," jawab kak Dhira. Tiba-tiba, kak Viona menghampiriku lalu bertanya. "Mengapa kamu berhenti menari?" kak Viona baru saja ingin meletakkan tangannya di pundakku, tapi aku menghindar. Aku berpaling dan segera menuju kamar. Seharusnya kak Viona tidak bertanya seperti itu, karena aku sudah berhenti menari. Aku masuk kamar dan menutup pintu di belakangku. Mataku berkaca-kaca. Aku membanting diriku di atas kasur dan tidur terlentang. Dengan kasar aku mengusap air mataku yang mulai mengalir deras. Ya, aku tidak menari lagi. Ketika aku masih kecil dan belum bisa memutuskan mau jadi apa, aku menari. Aku juga telah memenangkan banyak kejuaraan tari baik secara individu maupun berkelompok. Namun lama-kelamaan kecintaanku pada seni tari memudar. Aku mulai menanggapnya kuno dan jadul. Sebenarnya aku tidak benar-benar membenci seni tari, pada


53 kenyataannya aku masih senang melihat kakak menari. Di mataku, gerakan kakak begitu indah dan gemulai. *** Tibalah hari festival seni yang ditunggu-tunggu. Sesampainya di sana aku bertemu dengan teman lamaku yaitu Kellan. Aku sangat tidak menyangka bisa bertemu dengannya dan ia juga mengingatku. "Hai, Daelyn!" sapa Kellan dengan ramah. "Eh, maaf, kamu siapa?" jawabku kebingungan. "Haha, ini aku, Kellan. Oh iya, kamu di sini sendirian?" tanya Kellan dengan santai. "Astaga Kellan, em, aku di sini sama kakakku. Kamu mau tampil juga, kah?" "Tidak Lyn, aku hanya ingin menonton," jawab Kellan. Tak lama, kak Dhira datang menghampiriku dan aku pun izin untuk berjalan-jalan di pasar tradisional dengan Kellan, kebetulan tempatnya memang tidak jauh dari sini. "Kak, aku pergi ke pasar tradisional dulu ya,” ucap diriku.


54 "Ya sudah, hati-hati di jalan Lyn," kata kak Dhira. Disana, mereka melihat beragam pedagang dari berbagai suku dan etnis, menjual barang-barang yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara. "Kellan, lihat kerajinan tangan ini!" kata Daelyn sambil menunjuk anyaman bambu yang cantik. "Wah, itu adalah karya seni dari suku di pulau Kalimantan. Teknik anyaman mereka sangat indah dan rumit," ucap Kellan. Kellan melirik sebuah patung kayu yang dipahat dengan indah, "Daelyn, patung ini berasal dari suku di Sulawesi, bukan?" "Benar, aku sangat kagum dengan keahlian seniman mereka," ujar Daelyn. Keduanya melanjutkan penjelajahan mereka di pasar. Mereka menemukan pakaian tradisional, makanan khas, dan berbagai kerajinan tangan lainnya. Mereka juga merasa seperti berkeliling Nusantara hanya dalam satu pasar. Karena terlalu sibuk bersenang-senang, aku jadi lupa pada kakakku, sampai kak Viona meneleponku.


55 "Lyn, kakakmu masuk rumah sakit!" ucap kak Viona di telepon genggam. "APAAA?!" Selama beberapa saat aku terdiam, tidak percaya pada ucapan kak Viona, tapi akhirnya aku tersadar dan dengan panik langsung pergi menuju ke rumah sakit bersama Kellan. *** Kak Viona dan yang lain sudah berada di rumah sakit. Sekarang sudah pukul 11.30, sedangkan acara dimulai pukul 15.00, persiapan acara seharusnya sudah matang akan tetapi kakakku tak sadarkan diri. Kak Viona mengatakan kalau ia melihat kakakku pingsan di depan pintu kamar mandi. "Seharusnya aku memang tidak bersenang-senang dahulu," ucapku penuh penyesalan. Tanpa sadar tangisku pecah melihat kak Dhira terbaring di ranjang rumah sakit. Kak Viona menenangkanku, sementara Kellan hanya dapat terdiam. Aku pun bertanya kepada kak Viona, "Jadi... bagaimana dengan pertunjukkannya?"


56


57 "Kita tidak punya pilihan lain, pertunjukan seni tarinya harus dibatalkan," kata kak Viona dengan berat hati. "Em... Daelyn bisa kok menggantikan kak Dhira," kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku. "Sungguh? Kalau begitu, ayo kita kembali ke tempat acara untuk latihan.” Semangat kak Viona kembali menyala setelah mendengar omonganku. Sebenarnya aku tidak percaya kalau aku bisa, apalagi aku sudah lama tidak menari, pasti tubuhku terasa kaku. Tapi aku merasa tidak enak dengan kak Viona dan teman-temannya jika acara yang mereka nantikan harus gagal. *** Sesampainya di tempat acara, kami langsung berlatih di belakang panggung. Sebelum memulai berlatih, aku bertanya kepada kak Viona, "Tari tradisional apa yang akan kita tampilkan?" "Kita akan menampilkan tari piring asal Sumatra Barat," jawab kak Viona.


58 Untung saja tarian itu tidak asing untukku karena dulu aku sering mempelajarinya. Walaupun begitu, tetap saja aku gugup. Aku diajarkan gerakan tari piring oleh kak Viona dan teman-temannya, ternyata ini tidak sesusah yang aku pikirkan. Ternyata tubuhku masih ingat caranya menari. Tak terasa, 10 menit lagi kami tampil, tetapi aku masih belum bisa menghilangkan perasaan gugupku. Bagaimana jika aku malah membuat acaranya menjadi kacau? Kellan pun menghampiri dan menepuk bahuku, "Semangat Daelyn, aku yakin kamu pasti bisa." Kellan tersenyum hangat menyemangatiku. Aku semakin gugup, apalagi saat melihat penampilan peserta lain yang sangat bagus. Panggilan untuk timku Dandelion sudah disuarakan, seketika tubuhku gemetar hebat, tetapi kak Viona mencoba menenangkanku. "Rileks Lyn, kita pasti bisa." Aku mencoba untuk mengatur napasku, aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya dari mulut, begitu seterusnya.


59 Kami pun memasuki panggung dengan penuh keyakinan dan mulai menari. Aku sangat menikmati tariannya. Penonton terpesona oleh keindahan tarian yang kami bawakan, sorak-sorai dan tepuk tangan meriah pun memenuhi udara. Setelah pertunjukan berakhir, Kellan menghampiriku dan menggenggam erat tanganku. "Kamu hebat, Daelyn! Kamu memang benar-benar berbakat, aku sangat bangga padamu." “Terima kasih, Kellan.” aku tersenyum bahagia. Aku mulai menyadari bahwa menari itu seru, tidak seharusnya aku membencinya. Aku sangat lega dan puas dengan penampilan hari ini. Pemenang lomba akan diumumkan malam ini, aku tidak sabar mendengar pengumumannya. Sambil menunggu, aku istirahat sejenak dan menonton pertunjukkan peserta lain. *** Malam hari sudah tiba, sekarang sudah pukul 19.00 dan saatnya pemenang lomba diumumkan. Seketika jantungku berdebar kencang.


60 “Hadirin yang kami hormati, berikut akan kami sampaikan pemenang lomba seni tari,” kata MC. Ingin sekali rasanya memenangkan perlombaan ini, tapi aku tidak yakin akan memenangkannya, perasaanku campur aduk sekarang. “Dan, juara pertama diraih oleh tim Dandelion!” Aku terkejut mendengar pengumuman barusan, aku sangat tidak menyangka akan memenangkan lomba kali ini. Acara pun selesai dilaksanakan, aku langsung mengganti pakaian dan bergegas ke rumah sakit. Sudah tidak sabar ingin bertemu kak Dhira dan mengatakan bahwa aku akan menari lagi, ini atas kemauanku sendiri bukan paksaan dari siapapun. Aku berangkat menuju rumah sakit menggunakan taksi online, sepanjang perjalanan aku tidak bisa berhenti tersenyum. Bapak supir taksi pasti bingung dengan diriku, biarkan saja jika aku ditandai sebagai orang aneh. Perasaanku sangat senang sekarang. ***


61 Sejak saat itu, Daelyn terus menari dan menginspirasi banyak orang dengan seni tari yang indah. Daelyn juga menjadi semakin tekun mengasah bakatnya dalam tari. Ia tahu bahwa tari bukan sekedar gerakan tubuh, tetapi lebih dari itu. Melalui tari, Daelyn membagikan kisah dan makna kehidupan, membawa harmoni dalam gerakan dan menciptakan kenangan yang tak terlupakan bagi siapa pun yang menyaksikan tariannya.


62 Tarian Untuk Ibu Azzahra Amalia Putri Semilir angin menerpa lembut ke arah wajahku yang sedang duduk sendiri dibawah pohon yang rindang sambil menikmati pemandangan senja di sore hari. Kala itu, aku sedang mengingat kembali saat datang pertama kali ke desa yang mengubah kehidupanku. Alyssa, begitulah kedua orang tuaku menamaiku. Aku berusia 15 tahun, saat itu seharusnya aku sudah memasuki Sekolah Menengah Atas. Tetapi, karena kondisi Ibu yang sedang menderita kanker dan tidak ada lagi yang menafkahi keluargaku karena Ayah sudah meninggal dunia sejak 4 tahun yang lalu, pada akhirnya ibu dan aku pun memutuskan untuk pindah menuju rumah kakek dan nenek yang terletak di sebuah pedesaan. Sejak dahulu, aku bercita-cita untuk menjadi seorang penari. Bahkan, dulu saat aku masih SMP aku sempat mengikuti ekskul menari di sebuah sanggar, tetapi semua itu terputus semenjak aku pindah ke desa. Akhirnya, aku melanjutkan sekolahku di desa tersebut, di mana di desa itu perjalanan hidupku menjadi seorang penari pun dimulai. “Perkenalkan, nama saya Alyssa Anindya Salsabila, saya pindahan dari kota Jakarta.” Setelah mendengar perkenalan


63 singkat dariku, semua murid di dalam kelas bertepuk tangan meriah. Selama berada di sekolah, aku merasa tidak memiliki semangat belajar dan bermain dengan teman di kelas, karena aku masih mengingat teman-temanku yang berada di kota. Bahkan, di sekolah pun saat ada seseorang yang ingin berkenalan denganku, aku hanya mengabaikannya dan meninggalkan mereka. Tak terasa, bel pulang pulang sekolah pun berbunyi. Aku segera pulang menuju rumahku. Saat dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah bangunan yang bertuliskan “Sanggar Tari Bougenville”. Karena penasaran, akhirnya aku berniat untuk memasuki sanggar tari tersebut. Saat mulai memasuki sanggar tersebut, aku melihat seorang wanita yang sedang menari dengan memakai selendang hijau dan rambut yang disanggul. Aku pun berniat untuk menyapa Wanita tersebut. “P-permisi.” Wanita itu pun menoleh saat aku menyapanya. “Maaf, saya lancang masuk ke sini. Tadi saya benarbenar terkesima saat melihat ibu menari. Kalau saya boleh tau, apakah sanggar tari ini sudah lama didirikan?” “Sanggar tari ini sudah cukup lama didirikan, Nak. Tetapi, yang berminat sangat sedikit karena rata-rata anak-anak


64 yang seumuran denganmu membantu orang tuanya untuk berkebun atau bertani,” ujar sang ibu tersebut. Aku melihat dan mengamati setiap sudut di sanggar tari tersebut, ingin rasanya mengulang kembali masa-masa di mana aku menggerakkan jari jemari lentikku, bersenandung lagu daerah dengan teman-teman, tertawa bebas bila ada teman yang terjatuh. Ah, sungguh, kenangan itu sangat indah jika harus kulupakan. “Oh iya, Bu, perkenalkan nama saya Alyssa. Kebetulan saya baru pindah ke desa ini,” ucapku sambil memperlihatkan senyuman manisku. “Salam kenal nak Alyssa, nama saya ibu Kasih, biasanya di desa ini ibu lebih dikenal dengan sebutan ibu Asih,” ujar bu Asih sambil membalas senyumanku. “Tadi saat kesini,saya lihat ibu sedang menari memakai selendang hijau, kalau boleh tahu tadi ibu sedang menari tarian apa, ya?” “Ibu tadi sedang menari tarian jaipong nak Alyssa, tarian jaipong itu tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat, tarian ini menjadi salah satu kebanggaan di desa ini. Karena kebetulan di daerah perkotaan masih banyak orang yang tidak mengetahui tarian ini.”


65 “Hmm, begitu ya. Lalu, keunikan dari tarian ini apa ya, Bu?” tanyaku dengan wajah yang terlihat keheranan. “Keunikan tarian ini mempunyai yang khas daripada tarian-tarian tradisional lainnya, seperti gerakan dari tarian ini memberi kesan yang sangat enerjik dan musik yang biasanya dipakai untuk menampilkan tarian ini memiliki iringan yang merdu.” “Kalau saya boleh minta tolong, bisakah ibu Asih mengajari saya bagaimana cara menari tarian jaipong?” tanyaku sambil menundukkan kepala. Bu Asih pun terdiam sejenak saat aku meminta beliau untuk mengajari tarian jaipong. Lalu, ibu Asih pun tersenyum kepadaku sambil berkata, “Tentu saja Alyssa, dengan senang hati ibu akan mengajarimu tarian jaipong.” Saat mendengar perkataan bu Asih, aku pun seketika langsung bersorak gembira lalu mengucapkan terima kasih kepada bu Asih. “Besok sepulang sekolah datanglah ke sanggar ini,” ucap bu Asih. Perlahan matahari terlihat sudah mulai terbenam. Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah karena tidak ingin membuat Ibu khawatir.


66 Setelah mengendarai sepeda sekitar 5 menit, akhirnya aku pun sampai ke rumah. Saat masuk kedalam rumah, aku pun segera mencari keberadaan Ibu, lalu melihat Ibu yang sedang berada di kamarnya yang sedang ingin meraih gelas berisi air putih. Aku mendekat ke arah Ibu, lalu berniat untuk membantunya mengambilkan gelas. “Alyssa, kau sudah pulang, Nak. Bagaimana sekolahmu tadi?” kata Ibu sambil berusaha untuk mendudukkan dirinya di kasur. “Sebenarnya aku tidak suka sekolah disini, bahkan saking tidak sukanya, aku sampai-sampai tidak ingin memiliki teman sama sekali,” ucapku sambil menghembuskan nafas. “Maafkan Ibu ya Nak, mungkin Alyssa butuh beradaptasi dengan lingkungan sekolah di desa ini. Selama ini kan kita selalu tinggal di daerah perkotaan, wajar saja kalau masih tidak nyaman berada disini,” ujar ibu sambil mengelus lembut rambutku. Keesokan harinya setelah aku pulang sekolah, aku pun segera bergegas menuju sanggar untuk berlatih menari dengan bu Asih. “Apa kau sudah siap?” ujar bu Asih sambil memakaikan selendang hijau kepadaku.


67 Bu Asih mulai mengajariku pelan-pelan. Selama aku berlatih menari jaipong, bu Asih memperhatikan gerakanku dengan saksama. “Alyssa, apa kamu sebelumnya pernah ikut menari?” tanya bu Asih kepadaku dengan tatapan serius. “Iya bu, saya pernah mengikuti les menari dan juga saya sempat mengikuti beberapa lomba di kota dulu tempat saya tinggal, tapi saya terpaksa berhenti menari karena kebetulan ekonomi keluarga saya sedang menurun. Dan ayah saya sudah meninggal sejak 4 tahun yang lalu,” ucapku dengan sedih. “Maaf Alyssa, ibu tidak berniat untuk membuatmu sedih. Tadi, ibu memperhatikanmu saat menari, ibu benar-benar kagum dengan keluwesan gerakanmu, Nak. Ibu mau menawari kamu untuk mengikuti lomba tari tradisional tingkat kecamatan Cipatat bulan depan,” kata bu Asih sambil mengeluarkan selembar pamflet yang bertuliskan “Lomba Menari Tingkat Kecamatan Cipatat”. “S-saya akan mengikuti lomba, Bu?” tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri dengan mata yang terbelalak. “Iya, kamu mau kan? Lumayan lho, hadiahnya. Jika kamu menang akan mendapatkan uang dan uang tersebut dapat kamu berikan untuk pengobatan ibumu,” ucap bu Asih.


68 “I-iya, Bu. Saya mau, saya mau sekali mengikuti lomba tersebut.” Aku sangat gembira saat mendengarnya. Aku akan kembali mengikuti lomba menari setelah sekian lamanya. Aku berlatih dengan sangat keras karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang berharga ini. Aku juga sangat ingin menjadi penari terkenal dan memperkenalkan seluruh jenis tarian kepada semua orang. Jika aku memenangkan perlombaan ini, aku akan membawa ibu untuk tinggal di kota bersamaku seperti sedia kala. Seminggu sebelum perlombaan dimulai... “Ibu, bantu doakan Alyssa ya, supaya Alyssa mendapatkan juara 1 dalam ajang perlombaan pekan depan dan dapat membantu ekonomi kita,” ucapku sambil menaruh secangkir teh hangat yang sengaja aku buatkan untuk ibu. “Iya, Nak. Pasti ibu akan selalu mendoakanmu, ibu percaya kalau Alyssa berusaha dengan sungguh-sungguh pasti Alyssa bisa mencapai segala hal yang kau impikan,” ucap ibu dengan nada yang sangat lembut. Hari demi hari, tidak terasa ajang perlombaan akan segera datang. Walaupun aku sibuk untuk berlatih menari, aku tidak lupa mengurus ibuku yang sedang sakit. Aku berjanji di dalam hati akan memenangkan perlombaan ini untuk Ibu.


69 Akhirnya, hari yang kutunggu telah tiba. Aku mulai mempersiapkan diri untuk dipanggil naik ke atas panggung, sambil berharap Ibu dapat datang untuk menonton. Setelah lama menunggu, akhirnya namaku pun dipanggil untuk naik ke atas panggung. Aku bertekad untuk dapat membawakan kemenangan tarian ini untuk ibu. Saat sedang menampilkan tarian diatas panggung, aku melihat sekilas wajah yang tidak asing lagi, wajah Ibu. Seketika, aku pun langsung tersenyum tipis karena memang sangat mengharapkan Ibu datang untuk menonton tarianku. Tak terasa pengumuman pemenang lomba pun tiba, aku tidak menyangka bahwa akan menjadi juara 1, tanpa terasa air mata ini jatuh dan mulai membasahi pipiku. Ibu lalu datang menghampiri seraya mengusap air mataku perlahan dan segera memeluk tubuhku. Betapa bangganya Ibu saat menyaksikan keberhasilanku. Angin yang berhembus kencang membuatku terbangun dari lamunanku. Aku pun tersenyum dan berjanji dalam hati untuk menjadi anak yang membanggakan ibuku.


70


71 TENTANG PENULIS Razani Athaya Syakira. Haaiii semuanya! Namaku Razani Athaya Syakira. Kalian panggil aku Aza saja, ya. Aku lahir di Jakarta pada tanggal 24 April 2009. Aku sangat suka membaca dan mendengarkan lagu. Motto hidupku adalah “Ikuti saja alurnya”. Kalau kalian mau lebih akrab denganku, follow saja instagramku @rznnias ya! Terima kasih! :D Meidina Ayu Lestari. Hai minna-san! Namaku Meidina Ayu Lestari, kalian bisa memanggilku Mei. Saya lahir di Cilegon, Banten pada 13 Mei 2009. Hobiku adalah menggambar dan mengedit grafis. Motto dari saya adalah “Be optimist! Because sometimes It’s a good or bad situation, you must keep it together!”. Jika ingin bermutualan bisa follow instagram saya @ayuaii.me Ratu Zahira Khoirunisa. Haloo! Perkenalkan aku Ratu Zahira Khoirunisa. Kalian bisa panggil aku Zahira. Aku lahir pada tanggal 6 Februari 2009 di Serang. Aku suka banget dengerin musik sama baca komik. Motto hidup aku adalah “Jangan hidup di bayang-bayang orang lain.” Kalau kalian mau lebih akrab sama aku, bisa follow instagramku @_.luvleyraa. Makasi! Chalita Hani Hauna. Hai hai hai! Namaku Chalita Hani Hauna, kalian boleh panggil aku Chalita yaa! Aku lahir di Cilegon tanggal 06 Juni 2009. Kalau kalian tanya hobi aku apa? Hobi aku nonton anime, mendengarkan lagu, dan main ML, kalian kalau mau main sama aku, ini ID aku 1097413807. Motto aku itu “Masa lalu itu menyakitkan, banyak orang yang ingin melupakan masa lalu akan tetapi sedikit orang yang belajar dari masa lalu.” IG aku @yourv.cha makasii! <3


72 Aurelia Azzahra Putri. Hiiii! Aku Aurelia Azzahra Putri, panggilanku Aurel. Aku lahir di Cilegon pada tanggal 7 Januari 2009. Aku mempunyai hobi nonton anime dan membuat cerita Wattpad. Motto hidupku “Jangan terlalu berharap dengan orang lain karena kita tidak tahu sifat asli mereka”. IG ku @arlykrn_ Irma Dewi Kemala. Hai semuanya! Namaku Irma Dewi Kemala. Kalian bisa panggil aku Ima. Aku lahir di Cilegon pada tanggal 02 Mei 2009. Membaca buku dan mendengarkan lagu adalah hobiku. Aku memiliki motto hidup yaitu “Tidak ada kata terlambat untuk memulai”. Yuk kepoin instagramku @irmadewii._ Terima kasih! <3 Azzahra Amalia Putri. Hallo! Aku Azzahra Amalia Putri, kalian bisa memanggilku dengan sebutan Rara. Aku lahir tanggal 29 Maret 2009, di Cilegon. Hobiku mendengarkan lagu. Motto hidupku “Jangan hidup seperti Newton, kebanyakan gaya”. Kalau kalian mau kenal aku lebih dekat, mutualan IG yuk @azhra._ Terima kasih! <3


73 Bercerita tentang perselisihan antara Kaia dan Kafi, dua orang peraih peringkat tertinggi di angkatannya. Karena suatu hal mereka mewakili sekolahnya untuk mengikuti pameran foto di Paris. Kaia kehilangan memory card kameranya yang menyebabkan perdebatan di antara keduanya. Akankah Kaia mendapatkan kembali memory cardnya atau malah kejadian tersebut membuat hubungan pertemanan Kaia dan Kafi semakin merenggang? Baca cerpen ‘Kamera Kaia’ untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Renjana hanya memiliki satu teman akrab yaitu Navitas. Mereka kini tengah melanjutkan belajarnya di salah satu universitas yang berada di Amerika. Karena perbedaan latar belakang di antara keduanya ditambah pengaruh budaya di negara yang mereka tempati kala itu, hubungan persahabatan Renjana dan Navitas mulai merenggang. Akan kah hubungan mereka membaik atau Renjana akan kehilangan sahabat satusatunya itu? Baca cerpen ‘Strangers’ untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Selain cerita ‘Kamera Kaia’ dan ‘Strangers’, masih ada banyak cerita yang tidak kalah menarik. Semua tokoh dalam cerita memiliki kepribadian yang berbeda tetapi perbedaan itu tidak membuat mereka menyerah atas masalah yang mereka hadapi.


Click to View FlipBook Version