dilaksanakan untuk mencapai rujuan ini, dan memperkirakan biaya untuk
melaksanakan tugas-tugas ini.
6. Memutuskan Bauran Komunikasi Pemasaran
Bauran komunikasi pemasaran terdiri atas lima komunikasi utama yaitu:
• Iklan; setiap bentuk presentasi yang bukan dilakukan orang dan promosi gagasan,
barang, dan jasa oleh sponsor yang telah ditentukan.
• Promosi penjualan; berbagai jenis insentif jangka pendek untuk mendorong orang
mencoba atau membeli produk atau jasa.
• Hubungan masyarakat dan pemberitaan; berbagai program yang dirancang untuk
mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.
• Penjualan pribadi; interaksi tatap muka dengan satu atau beberapa calon pembeli
dengan maksud untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan,dan memperoleh
pemesanan.
• Pemasaran langsung dan interaktif; penggunaan surat, telepon, faksimili, e-mail, atau
internet untuk berkomunikasi lansung, meminta tanggapan atau berdialog dengan
pelanggan tertentu dan calon pelanggan.
• Mengukur Hasil Komunikasi
Komunikator harus mengukur dampak atau hasil komunikasi tersebut terhadap
pendengar atau sasaran. Anggota-anggota pendengar atau sasaran ditanyai apakan
mereka mengenali atau mengingat pesan tersebut, berapa kali mereka melihat, apa
saja yang mereka ingat,bagaimana perasaan mereka tentang pesan tersebut dan sikap
mereka sebelum dan sesudahnya terhadap produk dan perusahaan tersebut.
Komunikator juga seharusnya mengumpulkan ukuran perilaku dari tanggapan
pendengar, seperti berapa banyak orang membeli produk tersebut, menyukainya dan
menceritakannya kepada orang lain.
D. Pengelolaan Bauran Komunikasi Pemasaran
Bauran pemasaran disebut juga marketing mix yang merupakan suatu kumpulan dari
variabel-variabel pemasaran. Marketing mix ini bisa digunakan oleh suatu badan usaha
untuk mencapai tujuan pemasaran pada sasaran pasar yang tepat. Bauran pemasaran juga
dimanfaatkan sebagai alat pemasaran suatu perusahaan untuk mencapai target pasar. Tak
hanya itu, bauran pemasaran ini juga terbentuk dari himpunan variabel dan bisa digunakan
maupun dikendalikan oleh suatu perusahaan. Dengan cara demikian produk akan menyasar
101
konsumen dengan tepat. Pengelolaan bauran komunikasi pemasaran dapat dilakukan
dengan cara:
a. Periklanan (Advertising)
Merupakan bentuk komunikasi tidak langsung yang didasari pada informasi tentang
keunggulan atau keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehingga
menimbulkan rasa menyenangkan yang akan mengubah pikiran seseorang untuk
melakukan pembelian.
b. Penjualan Perorangan (Personal Selling)
Merupakan komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk
memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan membentuk pemahaman
pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya.
c. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
Merupakan bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai insentif yang dapat
diatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera dan/atau meningkatkan
jumlah barang yang dibeli pelanggan.
d. Hubungan Masyarakat (Public Relations)
Merupakan upaya komunikasi menyeluruh dari suatu perusahaan untuk mempengaruhi
persepsi, opini, keyakinan, dan sikap berbagai kelompok terhadap perusahaan tersebut.
e. Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Merupakan sistem pemasaran yang bersifat interaktif, yang memanfaatkan satu atau
beberapa media iklan untuk menimbulkan respon yang terukur dan atau transaksi
disembarang lokasi.
E. Perancangan Tenaga Penjual
Perencanaan kegiatan penjualan, diharapkan tenaga penjual dapat bekerjasama agar supaya
target penjualan dapat tercapai.Barker menyatakan bahwa perencanaan kegiatan penjualan
merupakan aktivitas yang perlu dilakukan karena dapat meningkatkan kinerja tenaga
penjual. menerangkan bahwa tenaga penjual yang memiliki kinerja tenaga penjual yang
tinggi bila supervisor mampu merencanakan strategi penjualan bagi pelanggannya dan
merencanakan wilayah penjualan dan pelanggan, merencanakan kunjungan penjualan dan
kegiatan harian bagi tenaga penjual. Bentuk asli dan paling tua pemasaran langsung adalah
kunjungan penjualan lapangan. Saat ini sebagian besar perusahaan industri sangat
bergantung pada tenaga penjualan profesional untuk menemukan tempat calon pelanggan,
mengembangkannya menjadi pelanggan, dan menumbuhkan bisnis, atau mereka
mempekerjakan perwakilan produsen dan agen untuk melaksanakan tugas penjualan
102
langsung. Meskipun tidak ada yang memperdebatkan arti penting tenaga penjualan dalam
program pemasaran, perusahaan sensitif terhadap biaya mengelola tenaga penjualan yang
tinggi dan semakin meningkat termasuk gaji, komisi, bonus, pengeluaran perjalanan, d an
tunjangannya .Istilah perwakilan penjualan mencakup enam posisi, diantaranya:
1. Pengirim, Wiraniaga yang tugas utamanya adalah mengirim produk (air, bahan bakar,
minyak).
2. Pengambil pesanan, Pengambil pesanan dalam (berdiri di belakang konter ) atau
pengambil pesanan luar (menelpon manajer pasar swalayan)
3. Misionaris, Wiraniaga yang tidak diharapkan atau diizinkan mengambil pesanan, tetapi
lebih bertugas untuk membangun citra baik atau mendidik pengguna aktual atau
potensial.
4. Teknisi, Wiraniaga dengan tingkat pengetahuan teknis yang tinggi (wiraniaga teknik
yang terutama menjadi konsultan untuk perusahaan klien).
5. Pencipta permintaan, Wiraniaga yang bergantung pada metode kreatif untuk menjual
produk berwujud (penyedot debu, sikat pembersih, produk rumah tangga, atau produk
tidak berwujud (asuransi, layananiklan atau pendidikan).
6. Penyedia solusi, Wiraniaga yang keahliannya menyelesaikan masalah pelanggan,
seringkali dengan sistem produk dan jasa perusahaan (misalnya, komputer dan sistem
komunikasi).
F. Bauran Promosi
Promosi adalah sebuah upaya dari pemasar (marketer) dalam menginformasikan dan
mempengaruhi orang atau pihak lain untuk tertarik melakukan transaksi atau untuk
melakukan pertukaran produk barang atau jasa yang dipasarkannya Kombinasi spesifik dari
metode-metode promosi yang digunakan untuk sebuah produk atau family product disebut
dengan promotin mix (bauran promosi). Kotler (2001) menyatakan bahwa bauran promosi
adalah tatanan alat-alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan
pemasarannya di dalam pasar sasaran. Sedangkan Swastha dan Irawan (2008:349)
mendefinisikan bahwa promotional mix adalah kombinasi strategi yang paling baik dari
variabel- variabel periklanan, personal selling, dan alat promosi yang lain, yang semuanya
direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan. Menurut Basu Swastha (1999),
promotional mix adalah sebagai berikut:
1. Periklanan, Bentuk presentasi dan promosi non pribadi tentang ide, barang, dan jasa
yang dibayar oleh sponsor tertentu. Iklan merupakan suatu cara untuk menyampaikan
dan menambah kegunaan informasi pada suatu penawaran produk. Jenis-jenis iklan
103
yaitu, media cetak, radio, dan telivisi. Dan fungsi nya itu agar dapat memberikan
informasi, membujuk konsumen, menciptakan kesan, memuaskan keinginan, dan iklan
juga alat dari komunikasi.
2. Personal Selling, Presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan satu calon pembeli
atau lebih yang ditujukan untuk menciptakan penjualan. Personal Selling menurut
Swastha dan Irawan (2008:352) adalah interaksi langsung, saling bertemu muka antara
pembeli dengan penjual. Komunikasi yang dilakukan kedua belah pihak bersifat
individual dan dua arah sehingga penjual dapat langsung memperoleh tanggapan sebagai
umpan balik tentang keinginan dan kesukaan pembeli. Penyampaian berita atau
percakapan yang mereka lakukan sangat fleksibel karena dapat menyesuaikan dengan
situasi yang ada. Jadi dapat kita sadari bahwa kegiatan personal selling tidak hanya
terjadi di tempat pembeli saja, tetapi juga bisa dilakukan di tempat penjual atau toko.
3. Publisitas, Pendorongan permintaan secara non pribadi untuk suatu produk, jasa,atau ide
dengan menggunakan berita komersial didalam media massa dan sponsor tidak dibebani
sejumlah bayaran secara langsung. Pengertian Publisitas menurut Swastha dan Irawan
(2008:352) adalah hubungan masyarakat, dan meliputi usaha-usaha untuk menciptakan
dan mempertahankan hubungan yang menguntungkan antara organisasi dengan
masyarakat, termasuk pemilik perusahaan, karyawan, lembaga pemerintahan, penyalur,
serikat buruh, di samping juga calon pembeli. Komunikasi dengan masyarakat luas
melalui hubungan masyarakat ini dapat mempengaruhi kesan terhadap sebuah
organisasi maupun produk atau jasa yang ditawarkan. Berdasarkan pengertian diatas,
dapat diartikan bahwa hubungan antara konsumen dan produsen harus tetap dijaga guna
terjaga dengan baik hubungan kedua belah pihak tersebut setelah terjadinya proses purna
jual
4. Promosi Penjualan
Kegiatan pemasaran selain personal selling, periklanan, dan publisitas- yang mendorong
pembelian konsumen dan efektivitas pengecer. Pengertian promosi penjualan menurut
Swastha dan Irawan (2008:353) adalah kegiatan promosi selain periklanan, personal
selling, maupun publisitas. Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam promosi penjualan
antara lain: peragaan, pertunjukan dan pameran, demonstrasi dan sebagainya. Baisanya
kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan kegiatan promosi lain, dan biayanya
relatife lebih murah dibandingkan periklanan dan personal selling.
104
-Quotes-
"Status KerenMu Hanya diNikmati olehMu
Kontribusi PositifMu diNikmati oleh Semesta ;
Sibukkan diri dlm Kontribusi bukan Status basabasi ".
# SyaefulBahri #
105
Lampiran Hasil Diskusi
Pertanyaan :
Dalam kegiatan bauran pemasaran dalam hal melakukan promosi lewat personal selling ,
Apakah menurut kelompok kalian kegiatan ini efektif dilakukan dan akan meningkatkan
pemasaran perusahaan secara signifikan? Dan hal apa saja yg perlu dipersiapkan jika
melakukan promosi lewat personal ?
Jawaban :
Jadi menurut kami kegiatan tersebut tentunya sangat efektif, namun tentu harus dibarengi oleh
kegiatan lainnya seperti yang sudah tertera di makalah. karena ketika perusahaan hanya
mengandalkan personal selling maka kegiatan promosi tidak akan berjalan secara maksimal
walaupun sebenarnya personal selling itu merupakan salah satu cara yang efektif untuk
mempromosikan produk secara langsung kepada konsumen. Dan hal yang harus dipersiapkan
saat akan melakukan promosi melalui personal selling yaitu pihak perusahaan/misal penjual
harus memahami kriteria/kelebihan produk yang mereka hasilkan serta kecakapan pengetahuan
dari si produsen untuk meyakinkan calon konsumen agar tertarik untuk membeli produk
tersebut. karena pada dasarnya personal selling itu kan dilakukan melalui presentasi lisan yang
disampaikan langsung kepada calon konsumen.
Dalam Promosi lewat personal selling itu sangat tepat, karena perusahaan dalam memilih
personal selling sebagai salah satu promosi akan sangat berpengaruh terhadap perubahan
tingkat penjualan produk yang ditawarkan oleh perusahaan, karena dalam hal ini tugas dari
personal selling yaitu menawarkan, memperkenalkan dan memperagakan kegunaan dari
produk yang akan dipasarkan.
Pertanyaan :
apa yang harus diperhatikan dalam komunikasi pemasaran?
Jawaban :
jadi dalam melaksanakam komunikasi pemasaran tentunya kita harus memperhatikan siapa
target yang akan diincar, kemudian harus melakukan kejujuran dalam periklanan dan tidak
menyerang kompetitor , memberikan informasi yang tidak berlebihan, memperlakukan
konsumen dengan rasa hormat, dan yang pastinya memperhatikan nilai dan moral.
106
BAB 11
KUNCI SUKSES DALAM PEMASARAN SYARIAH
A. Kunci Sukses Pemasaran Syariah
Menurut Al-Qur’an, kunci sukses itu ialah taqwa, baik untuk di dunia ini maupun untuk di
akhirat nanti. Untuk sukses di dunia, Al-Qur’an mengungkapkan dalam surat Al- A’raf (7)
: 96 dibawah ini :
“Dan kalau kiranya penduduk negeri-negeri ini beriman dan bertakwa, niscaya akan kami
bukakan atas mereka karunia-karunia dari langit dan bumi, tetapi mereka dustakan, maka
kami siksa mereka lantaran apa yang mereka kerjakan.”
Untuk sukses di akhirat nanti, Al – Qur’an mengungkapkan dalam surat Ali Imran (3) : 133
yang artinya:
“dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit Dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
Persepsi yang kerap kali ditemukan oleh masyarakat bahwa pasar konvensional selalu lebih
menguntungkan secara finansial dari pada pasar syari’ah atau pasar Islami yang disebabkan
adanya bunga dan kelipatan keuntungan lainnya (Zainal, Djaelani, Basalamah, Yusran, &
Veithzal, 2018). Khususnya, pada era perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0,
tidak mudah merubah pola piker masyarakat untuk berpindah dari pemasaran konvensional
ke pemasaran syari’ah. Pemasaran syari’ah merupakan pemasaran yang bersifat nilai-nilai
keislaman. Dalam arti lain, cara yang digunakan didalam pemasaran syari’ah
mengedepankan prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran, serta tidak nboleh bertentangan
daripada prinsip-prinsip islam. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasulullah Saw bahwa
kegiatan perdagangan harus berpegang teguh pada kebenaran, kejujuran, dan sikap
amanah, namun tetap memperoleh keuntungan (Zainal, Djaelani, Basalamah, Yusran, &
Veithzal, 2018).
Berkaca dari sejarah, pemasaran syari’ah tidak bisa lepas dari sosok Rasulullah Saw yang
telah memperkenalkan dan mengajarkan kepada kita tentang berdagang dan merupakan
tokoh yang membawa perubahan besar bagi umat manusia.
B. Islam dan skala prioritas dalam bisnis (pemasaran)
Pemasaran Syariah merupakan sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses
penciptaan, penawaran dan perubahan values dari satu inisiator kepada stakeholders nya,
yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akal serta prinsip-prinsip syariah dan
muamalah dalam Islam. Secara umum, Kertajaya menyatakan bahwa pemasaran syariah
107
adalah strategi bisnis, yang harus memayungi seluruh aktivitas dalam sebuah perusahaan,
meliputi seluruh proses, menciptakan, menawarkan, pertukaran nilai, dari seorang
produsen atau satu perusahaan, atau perorangan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Pemasaran Syariah dijalankan berdasarkan konsep keislaman yang telah diajarkan nabi
Muhammad SAW. Nilai inti dari pemasaran syariah adalah integritas dan transparansi,
sehingga marketer tidak boleh bohong dan orang membeli karena butuh dan sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya atau iming-iming hadiah belaka.. Islam
mengajarkan dalam bermuamalah harus didasari dengan rasa suka sama suka, sehingga
tidak ada pihak yang dirugikan satu sama lain. Kedua-duanya sama-sama mendapatkan
manfaat.
Konsep pemasaran Syariah sendiri sebenarnya tidak beda jauh dengan konsep pemasaran
yang kita kenal. Konsep pemasaran yang kita kenal sekarang, pemasaran adalah sebuah
ilmu dan seni yang mengaruh pada proses penciptaan, penyampaian, dan
pengkomunikasian values kepada para konsumen serta menjaga hubungan baik dengan
stakeholder nya. Akan tetapi pemasaran secara umum, sekarang hanya mengacu kepada
laba sehingga terkadang tidak memperhatikan tentang kepuasan pelanggan seperti halnya
dengan cara membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus, sehingga
dapat mengecewakan pelanggannya. Berbeda dengan pemasaran syariah yang
mengajarkan pemasar untuk jujur kepada konsumen atau orang lain.
Dalam hal teknis pemasaran Syariah, salah satunya terdapat strategi pemasaran Syariah
untuk memenangkan mind share. Strategi pemasaran Syariah antara lain dengan
melakukan targeting dan positioning pasar dengan melihat pertumbuhan pasar keunggulan
kompetitif dan situasi persaingan sehingga dapat melihat potensi pasar yang baik agar dapat
memenangkan mind share. Pemasaran Syariah menganggap pesaing bukan sebagai musuh,
justru menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan selalu memelihara hubungan baik dan
kemitraan dengan pesaing pesaing dianggap sebagai mitra sejajar yang mampu memacu
kreativitas dan inovasi perusahaan.
Bagi seorang pelaku bisnis selain dituntut untuk memiliki wawasan yang luas tetapi juga
dituntut memiliki manajemen yang baik. Memiliki manajemen khususnya manajemen
waktu yang tepat merupakan hal yang wajib dimiliki atau diterapkan oleh pelaku bisnis, di
mana jika seseorang mampu mengelola dan menggunakan waktunya dengan tepat maka
akan terhindar dari masalah pada saat menjalankan sebuah bisnisnya. Dengan begitu,
memiliki dan menerapkan manajemen waktu yang tepat dapat membantu dalam meraih
108
kesuksesan berbisnis. Dalam mengelola waktu pelaku bisnis dapat memulai dengan cara
menyusun skala prioritas.
Skala prioritas akan mengatur kegiatan bisnis untuk mencegah penumpukan yang terjadi
dan harus diselesaikan dengan waktu bersamaan, dimana skala prioritas sendiri adalah
suatu daftar yang memuat berbagai macam kegiatan atau kebutuhan yang disusun
berdasarkan tingkat kepentingannya, menyusun skala prioritas dapat bermanfaat dan
penting bagi pelaku bisnis untuk menjaga profesionalitas kerja. Akan tetapi, menyusun
skala prioritas adalah hal yang tidak mudah ada beberapa hal yang harus diperhatikan
sebelum menyusun skala prioritas agar terhindar dari permasalahan yang dapat ditimbulkan
di kemudian hari. Yang harus diperhatikan dalam menyusun skala prioritas diantaranya
yaitu
1) Tingkat kepentingan, Tingkat kepentingan bisnis yang dimaksud disini adalah kita
harus menentukan tingkat kepentingan dari semua kegiatan bisnis yang harus harus
kita kerjakan, pilih kegiatan yang paling mendesak atau yang paling penting terlebih
dahulu baru setelah itu beralih kepada kegiatan yang tidak begitu penting.
2) Masa depan bisnis, Dalam menjalankan sebuah kegiatan bisnis tentu ada berbagai
macam sebab akibatnya, maka dari itu dalam menyusun skala prioritas sebaiknya kita
memperhatikan masa depan bisnis kita. Pilih kegiatan yang tepat untuk dijalankan dan
dijadikan prioritas penting agar dapat membawa dampak positif bagi masa depan bisnis
kita.
3) Kemampuan, Tentunya dalam menyusun skala prioritas akan lebih mudah
menjalankannya jika memperhatikan kemampuan bisnis. Hal itu dilakukan agar skala
prioritas atau kegiatan yang akan dijalankan dapat bisa dan tepat dikerjakan, jika kita
menyusun skala prioritas tidak sesuai dengan kemampuan bisnis kita maka
dikhawatirkan akan mengalami kendala dalam menjalankannya. Jika sudah menyusun
dan menjalankan skala prioritas dalam bisnis maka target yang harus diselesaikan atau
dijalankan dapat selesai dengan tepat waktu. Selain itu, bisnis yang dijalankan akan
mudah dilirik oleh konsumen dan mudah dalam memperoleh rekan bisnis untuk
melakukan kerjasama sehingga dengan begitu bisnis kita dapat meraih kesuksesan.
C. Empat Sifat Rosulullah SAW sebagai Modal penting Strategi Pemasaran Syariah
Rasulullah adalah pelopor bisnis yang menggunakan prinsip kejujuran serta transaksi bisnis
yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya
dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Menurut
Hermawan Kertajaya ada empat hal yang menjadi key success factors (KSF) dalam
109
mengelola bisnis yang merupakan sifat-sifat Rasulullah antara lain, shiddiq, amanah,
fathanah dan tabligh.
1. Shiddiq (benar dan jujur), jika seorang pengusaha senantiasa berperilaku benar dan
jujur dalam sepanjang kegiatannya, jika seorang pemasar bersifat shiddiq haruslah
menjiwai seluruh perilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan
dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam membuat perjanjan
dengan mitra bisnisnya. Sebagaimana Firman Allah SWT berikut ini :
Artinya:“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
merugikan;Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu
merugikan manusia pada hakhaknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi
dengan membuat kerusakan. (QS. asySyu‟araa: 181-183). Dalam ayat diatas dijelaskan
bahwa Allah SWT telah menganjurkan bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi para
pelaku bisnis untuk berlaku jujur dalam menjalankan roda bisnisnya dalam bentuk
apapun.
2. Amanah (terpercaya, kredibel), artinya dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan
kredibel, juga bermakna keinginan untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan.
Diantara nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.
3. Fathanah (cerdas), dapat diartikan sebagai intelektual, kecerdikan atau kebijaksanaan.
Pemimpin yang fathanah adalah pemimpin yang memahami, mengerti, dan menghayati
secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya. Dalam bisnis,
implikasi ekonomi sifat fathanah adalah bahwa segala aktivitas dalam manajemen suatu
perusahaan harus dengan kecerdasan, dengan mengoptimalkan semua potensi akal yang
ada untuk mencapai tujuan.
4. Tabliq (komunikatif), artinya komunikatif dan argumentatif dengan tutur kata yang
tepat dan mudah dipahami. Dalam bisnis, haruslah menjadi seorang yang mampu
mengomunikasikan visi dan misinya dengan benar kepada karyawan dan stakeholder
lainnya. Juga menyampaikan keungulan-keunggulan produknya dengan jujur dan tidak
harus berbohong maupun menipu pelanggan
D. Etika Bisnis Rosulullah SAW
110
Praktik pemasaran syari’ah, tidak bisa lepas dari peranan Nabi Muhammad Saw sebagai
panutan umat Islam, karena peranan sejati seorang Muslim terdapat pada Nabi Muhammad
Saw yang mencerminkan hal-hal yang baik dalam setiap perkataan, perilaku, dan
keputusan. Islam mewajibkan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan melalui cara-
cara yang baik, termasuk dalam berbisnis. Jauh sebelum adanya pembahasan pemasaran
modern tentang etika bisnis dan pemasaran, Islam sudah mengajarkan segala hal-hal yang
berkaitan dengan etika dalam berbisnis dan pemasaran terlebih dahulu (Haque, Khaliq, &
Syeada, 2010) seperti halnya Rasulullah Saw memberikan contoh teladan kepada manusia
untuk bertindak manusiawi tanpa melihat gender, ras, kepercayaan, warna kulit, asal-usul
agama, bangsa, dan negara.
a) Kejujuran menjadi kunci utama dalam praktek bisnis Nabi Muhammad SAW,
kejujuran yang beliau praktekkan adalah dengan menyampaikan kondisi riil barang
dagangannya. Dalam prinsipnya etika bisnis memegang prinsip kejujuran. Kejujuran
etika bisnis Nabi Muhammad SAW dalam hal ini, lebih terspesifikasi dalam kejujuran
yang terwujud dalam mutu barang atau jasa yang ditawarkan dalam etika bisnis
modern. Kejujuran merupakan tonggak dalam kehidupan masyarakat yang beradab.
Kejujuran berarti apa yang dikatakan seseorang itu sesuai dengan hati nuraninya. Jujur
dapat pula diartikan seseorang yang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang
dilarang oleh agama dan hukum.
b) Selanjutnya yang menjadi etika bisnis Rasulullah SAW yaitu suka sama suka.
Permintaan dan penawaran dalam sistem jual beli akan terasa nikmat dan indah jika
dilakukan secara fair dengan konsep ikhlas, di mana kedua belah pihak yang
bertransaksi melakukannya atas dasar suka sama suka. Hal inilah yang dilakukan Nabi
Muhammad SAW, beliau tidak akan melakukan transaksi jual beli kecuali kedua belah
pihak suka sama suka, sehingga beliau sebagai penjual senang dan orang lain sebagai
pembeli lebih senang karena ia mendapat barang yang diinginkannya dengan ikhlas
dan mudah.
c) Keadilan merupakan perlakukan yang seimbang, dalam bisnisnya Nabi Muhammad
SAW selalu menerapkan keseimbangan. Barang yang kering bisa ditukar dengan
barang yang kering. Penukaran barang kering tidak boleh dengan barang yang basah.
Demikian juga dalam penimbangan tersebut seseorang tidak boleh mengurangi
timbangan. Dalam transaksi Rasulullah SAW menjauhi apa yang disebut dengan
muzabana dan muzaqala. Muzabana adalah menjual kurma atau anggur segar (basah)
dengan anggur atau kurma kering dengan cara menimbang. Muzabana pada dasarnya
111
adalah menjual sesuatu yang jumlahnya, berat atau ukurannya tidak diketahui dengan
sesuatu yang jumlahnya, berat atau ukurannya diketahui dengan jelas. Sedang
muhaqala adalah jual beli atau penukaran antara gandum belum dipanen dengan
gandum yang sudah digiling atau menyewakan tanah untuk ditukarkan dengan
gandum.
d) Dalam berbisnis (berdagang), Nabi Muhammad SAW tidak pernah menjelek jelekan
dagangan milik orang lain, justru beliau selalu membantu mempromosikan pedagang
lain jika barang dagangan yang ada pada dirinya tidak tersedia. Hal yang dicontohkan
seperti ini akan menghasilkan sebuah iklim persaingan yang sehat. Karena antara
penjual yang satu dan yang lain tidak menjelek-jelekkan bisnis orang lain. Tindakan
ini sesuai dengan prinsip tidak berbuat jahat (non-maleficence) dan prinsip berbuat
baik (beneficence) pada etika bisnis modern. Dimana Prinsip ini mengarahkan agar
kita secara aktif dan maksimal berbuat baik atau menguntungkan orang lain,
e) Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis tidak pernah melakukan penimbunan barang,
bahkan beliau melarang para pedagang melakukan penimbunan. Hal ini tercermin
dalam berbagai hadits yang ditegaskan beliau tentang larangan dan ancaman bagi
orang yang menimbun. Ketika berbisnis dengan Khadijah Rasulullah SAW selalu
menjual barang dagangannya sampai habis. Namun karena keterbatasan alat
transportasi Rasulullah SAW membawa barang dagangan secukupnya. Penimbunan
barang menjadi tradisi orang-orang jahiliyah, ini mereka jadikan strategi untuk
mendapatkan keuntungan yang besar.
E. Strategi Rosulullah SAW dalam berbisnis/berniaga/pemasaran)
Kesuksesan nabi Muhammad Saw sebagai seorang pekerja dan pedagang merupakan satu
kesatuan yang utuh dari kemandirian dan semangat berwirausaha. Kejujuran, amanah,
kecerdasan dan keterampilan, komunikasi pelayanan yang baik, membangun jaringan dan
kemitraan serta keselarasan dalam bekerja dan beribadah, menjadi faktor penting dalam
menggapai kesuksesan sebagai seorang pedagang. Dan selengkapnya akan diuraikan
sebagai berikut:
Pertama, mandiri dan memiliki semangat yang kuat untuk berwirausaha. Sejak masih kecil,
beliau sudah mandiri dengan bekerja sebagai pengembala kambing dengan upah beberapa
qirath. Kemudian pada usia 12 tahun milai tumbuh semangat untuk belajar berdagang dan
berwirausaha. Untuk itu, ketika pamannya hendak melakukan perjalanan dagang ke Syam,
beliau memaksakan diri untuk ikut. Dengan mengikuti perjalanan dagang itu, beliau
memiliki banyak kesempatan untuk mempelajari seluk-beluk dunia perdagangan. Dan
112
pengalamannya mengikuti misi dagang itulah, ketika berusia 17 tahun beliau mulai berani
membuka usaha sendiri dengan menjadi seorang pedagang. Usahanya kemudian terus
berkembang sehingga beliau mendapat kepercayaan untuk mengelola modal usaha dari
para pengusaha kaya di Mekkah.
Kedua, jujur dan amanah. Dalam berdagang beliau mengutamakan kejujuran dan amanah
dalam menjalankan modal orang lain. Karena kejujuran dan amanah itulah beliau mendapat
gelar “Al-Amin” yang berarti “orang yang dapat dipercaya”. Kejujuran dan amanah yang
beliau miliki itulah yang membuat para pengusaha kaya di Mekkah mempercayakan modal
usahanya untuk dikelola oleh beliau. Para pemilik modal semakin percaya karena beliau
terampil dalam menghasilkan keuntungan bagi pemilik modal, kemudian keuntungan
tersebut dibagi sesuai dengan kesepakatan. Berkat kejujuran dan amanah itu pula, banyak
pedagang yang menjalin kemitraan dengannya.
Ketiga, cerdas dan terampil dalam berdagang. Beliau cerdas dan terampil dalam
menawarkan barang dagangannya, sehingga menghasilkan keuntungan sebagaimana yang
dikehendakinya.
Keempat, komunikasi dan pelayanan yang baik. Beliau merupakan seorang pedagang yang
memahami betapa pentingnya menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan, mitra
kerja dan para pemilik modal. Salah satunya adalah komunikasi yang baik saat melayani
pelanggannya. Dalam berdagang, beliau sangat memperhatikan pelayanan, yaitu dengan
senantiasa murah hati saat menjual, dan juga murah hati saat membeli.
Kelima, bekerja merupakan bagian dari ibadah. Bekerja sebagai pedagang beliau anggap
merupakan bagian dari pengabdian kepada Tuhan sebagaimana firman Allah SWT dalam
QS. Adz-Dzariyaat ayat 56 yaitu:
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.
Keenam, bekerja untuk meraih keuntungan dunia dan akhirat. Beliau bekerja untuk
mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat. Bekerja dan ibadah merupakan satu
kesatuan yang tak terpisahkan. Bekerja bukan hanya mengejar keuntungan duniawi
semata, namun sekaligus meraih keuntungan akhirat.
Ketujuh, membangun jaringan dan kemitraan untuk mengembangkan usaha. Beliau
sangat menyadari pentingnya jaringan dan kemitraan dalam berdagang. Karena itu,
113
beliau membangun jaringan dengan para pemilik modal dan pelanggan serta
membangun kemitraan dengan pedagang lainnya. Dengan memiliki jaringan dengan
pemilik modal seperti Khadijah, beliau memiliki banyak kesempatan untuk meraih
keuntungan melalui sistem bagi hasil keuntungan (mud}a>rabah). Agar modal yang
dipercayakan kepadanya dapat mendatangkan keuntungan, beliau membangun
kemitraan dengan pelanggan dan pedagang lainnya.
Kedelapan, meraih keuntungan dan menyuburkan harta dengan sedekah. Orang yang
telah mengeluarkan sedekah, berarti dia telah berniaga dengan Allah SWT. Karena itu,
Allah SWT akan mengganti harta yang disedekahkan tersebut dengan jalan yang tidak
disangka sangka.
-Quotes-
# Jika engkau TAK mungkin MEMBERI, janganlah MENGAMBIL.
#Jika engkau terlalu SULIT untuk MENGASIHI, setidaknya JANGAN MEMBENCI.
# Jika engkau TAK dapat MENGHIBUR orang lain, setidaknya JANGAN BIKIN
SEDIH*
# Jika engkau TAK bisa MEMUJI setidaknya JANGAN MENGHUJAT.
#Jika engkau TAK dapat MENGHARGAI, JANGAN MENGHINA*
# Dr.H.SyaefulBahri #
114
Lampiran Hasil Diskusi
Pertanyaan :
Apakah tujuan untuk memiliki pangsa pasar yang besar dan tingkat keuntungan yang tinggi
pada praktiknya dapat dijalankan secara bersamaan? Atau hanya dapat diraih salah satu saja?
Jawaban :
Pangsa pasar yang besar dan tingkat keuntungan yang tinggi sangatlah berhubungan erat. Kita
tidak akan dapat memiliki keuntungan yang tinggi jika tidak memiliki pangsa pasar begitu
sebaliknya penguasaan perusahaan pada pangsa pasar yang besar dibandingkan competitor
akan memberikan tingkat keuntungan yang tinggi bagi perusahaan. Kita tidak bisa memilih
salah satu saja dari dua point ini karena kedua point ini saling mendukung. Pangsa pasar adalah
sebuah indicator tentang apa yang dilakukan perusahaan terhadap kompetitornya dengan
dukungan perubahan-perubahan dalam sales. Intinya penguasaan pasar terhadap pangsa pasar
dapat membantu manajemen perusahaan untuk mengevaluasi keberhasilan upayanya dalam
menembus pasar relatif terhadap competitor. Apabila suatu perusahaan mampu menguasai
pangsa pasar terhadap kompetitornya berarti perusahaan berhasil melakukan pertumbuhan
salesnya dengan mendapatkan share sales dari kompetitornya, sehingga peningkatan pangsa
pasar akan meningkatkan keuntungan yang diperoleh perusahaan yang pada akhirnya akan
memuaskan keinginan dari pemegang saham. Kedua point ini memiliki tujuan yang sama yaitu
merupakan upaya dan target yang dilakukan perusahaan demi mencapai kepuasan pemegang
saham. Kedua point ini tidak bisa dilakukan bersamaan karena kedua point ini merupakan alur
proses dimana penguasaan market share yang besar merupakan upaya strategi pemasaran
sedangkan memperoleh keuntungan yang besar merupakan target sasarannya yang pada
akhirnya berakhir dengan pemuasan terhadap para pemegang saham.
Pertanyaan :
Bagaimana strategi marketing dalam menentukan pilihan mengenai pelanggan mana yang akan
dilayani dan bagaimana menciptakan preferensi pelanggan?
Jawaban :
Kunci utama strategi marketing ialah menentukan pilihan mengenai pelanggan mana yang akan
dilayani dan bagaimana menciptakan preferensi pelanggan. Berbagai macam strategi
marketing yang dapat diterapkan untuk setiap target pelanggan yang berbeda dan untuk
115
menciptakan preferensi pelanggan. Perusahaan harus mampu bisa memilih target pelanggan
yang tepat karena hal tersebut merupakan penentu dalam keberhasilan penambahan nilai
perusahaan untuk pemegang saham. Terdapat empat kriteria yang sering digunakan dalam
strategi pemasaran untuk menentukan target pelanggan dan menciptakan preferensi pelanggan
itu sendiri yaitu strategic yang berarti kebutuhan pelanggan bersesuaian dengan kompetensi
inti yang dimiliki perusahaan, significant dalam hal besar dan pertumbuhannya untuk
memberikan dampak terhadap perusahaan, profitable dalam artian sesudah semua biaya
dimasukkan masih memberikan keuntungan yang memadai, dan memiliki potensi untuk
menjadi pelanggan yang loyal dalam jangka panjang.
116
BAB 12
PENGENDALIAN PEMASARAN
A. Pengertian dan tujuan pengendalian pemasaran
Pengendalian pemasaran merupakan dasar yang penting bagi kberhasilan usaha dibidang
pemasaran. Untuk kberhasilan suatu usaha pemimpin harus dapat membuat keputusan, baik
mengnai perencanaan, kegiatan, maupun pelaksanaan kegiatan dan pengndaliannya.
Perencanaan pemasarana merupakan penentuan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan
dalam bidang pemasaran untuk jangka waktu tertentu di masa yangt akan datang dalam
rangka pencapaian tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan atau implementasi merupakan
cara mlaksanakan kegiatan yang tlah direncanakan dalam situasi dan kondisi yang ada,
dengan memberikan pengarahan kpasda tenaga pelaksana. Jadi yang dimaksudkan
pengendalian pemasaran adalah penilaian, pengecekan dan memonitor usaha-usaha
pemasara dan penjualan perusahaan yang telah dilakukan agar sesuai dengan apa yang telah
direncanakan dan digunakan sebagai landasan untuk mengadakan penyesuaian yang
diperlukan.
Strategi pemasaran yang dibuat tentu belum dapat dipastikan menjadi kenyataan. Karena
ada unsur ketidak pastian dalam pelaksanaan, maka strategi yang di susun harus selalu
dikendalikan. Pengendalian pemasaran dilakukan dengan membandingkan realisasi dan
rencana pemasaran yang disusun. Hasil yang tidak sama, baik terlalu besar di atas target,
merupakan penyimpangan yang perlu mendapatkan perhatian. Oleh karena itu
pengendalian pemasaran semata-mata dimaksudkan agar dapat diketahui kemajuan
peiaksanaan, hambatan yang ditemui oleh faktor penunjang apa yang dibutuhkan untuk
kelancaran kegiatan pemasaran. Di samping itu akan dengan cepat diketahui bila ada
penyimpangan, penyebabnya untuk selanjutnya di buat tindakan perbaikan.
B. Ruang lingkup pengendalian pemasaran
a. Pengendalian efektifitas program pemasaran
Pengendalian ini dilakukan secara berkala atau periodik, yang umumnya tahunan atau
kwartalan untuk menilai efektifitas program atau rencana yang telah dibuat, dan bila
diperlukan penyempurnaan atau koreksi. Yang bertaggung jawab atas pengendalian
fektifitas program ini adalah top manajemen dan midle manajemen. Tujuan pngendalian
ini adalah untuk mengetahui apakah sasaran yang telah ditetapkan dapat efektif. Pndekatan
117
yang sring dilakukan adalah analisis penjualan, analisis share pasar, analisis rasio
penjualan dan biaya, analisis keuangan dan evaluasi sikap.
b. Pengendalian strategi pemasaran
Pengendalian strategis adalah tugas untuk menjamin bahwa tujuan, strategi dan sistem
pemasaran perusahaan secara optimal diselaraskan dengan lingkungan pemasaran yang
diramalkan nanti dan yang sekarang. Suatu perangkat yang dikenal sebagai instrumen
untuk menilai efektivitas pemasaran menunjukkan profil efektivitas pemasaran di seluruh
divisi atau perusahaan dalam hal; filsafat pelanggan,organisasi pemasaran, informasi
pemasaran, perencanaan strategis dan efisiensi operasional. Perangkat lain,yang dikenal
sebagai audit pemasaran, merupakan suatu pengamatan berkala, bebas, sistematis dan
menyeluruh terhadap lingkungan, tujuan-tujuan, strategi-strategi dan kegiatan-kegiatan
pemasaran perusahaan. Tujuan audit pemasaran adalah untuk menentukan bidangmasalah
pemasaran dan merekomendasikan rencana tindakan koreksi bersifat jangka panjang
maupun jangka pendek guna meningkatkan efektivitas pemasaran secara menyeluruh dari
organisasi tersebut.
c. Pengendalian kuntungan dan rentabilitas usaha pemasaran
Pengendalian atas profitabilitas adalah tugas untuk menentukan profitabilitas yang
sebenarnya mengenai produk perusahaan, wilayah, pangsa pasar dan saluran niaga.
Analisis kemampuan pemasaran mengungkapkan kegiatan pemasaran yang lebih lemah,
meskipun tidak menunjukkan apakah unit-unit yang lebih lemah itu harus didukung atau
dihilangkan.
d. Pengendalian efisiensi pemasaran
Pengendalian efisiensi merupakan tugas untuk meningkatkan efisiensi kegiatan
pemasaran, seperti misalnya: penjualan personal/perorangan periklanan, promosi
penjualan dan distribusi. Paramanajer harus mengamatirasio-rasio penting tertentu yang
menunjukkan seberapa jauh fungsi-fungsi tadi dilaksanakan secara efektif. Manajer juga
harus memperkenalkan sumber-sumber pemasaran untuk meningkatkan prestasi.
C. Sistem pengendalian pemasaran
Pada dasarnya sistem pengendalian pemasaran ada dua yaitu sistem pengendalian terbuka
( Open system ) dan sistem tertutup ( Clossed Systm ) . dalam sistem pengendalian terbuka
semua pejabat atau pelaksana dibidang pemasaran mempunyai wewenang yang terbatas.
118
Semua masalah yang dihadapi dilaporkan dulu pada atasan, dan atasanlah yang mengambil
keputusan. Oleh karena itu semua hal yang diputuskan oleh atasan yaitu menejer pemsaran,
maka kegiatan atau masalah harus diketahui oleh atasan tersebut.
Sedangakan sistem pengendalian tertutup semua petugas di bidang pemasaran diberikan
wewenang untuk memutuskan ssuai dengan petunjuk atau pengarahan dari atasannya
masing-masing. Jadi tenaga pemasaran diharapkan diharapkan mempu mengatasi
masalahnya sendiri sebelum dilaporkan pada atasannya. yang tidak dapat diputuskan.
Namun pada sudut pandang lain terdapat sistem pengndalian pemasaran lain yakni
Pengendalian pemasaran merupakan lanjutan yang wajar dari perencanaan, organisasi dan
pelaksanaan pemasaran. Meskipun sistem pengendalian harus dibuat sesuai dengan situasi
yang khusus, tetapi sistem pengendalian mengikuti proses dasar yang sama, biasanya
mengikuti enam langakah sebagai berikut :
❖ Menentukan apa yang dikendalikan
❖ Menetapkan standar
❖ Mengukur kinerja
❖ Membandingkan kinerja dengan standar
❖ Menentukan alasan penyimpangan
❖ Melakukan tindakan koreksi
Langkah pertama sistem umpan balik secara sederhana mengukur keluaran dari proses dan
menjadikan masukan dari tindakan korektif untuk memperoleh keluaran yang diinginkan.
Konsekuensi dari penggunaan sistem pengendalian umpan balik adalah bahwa
keberlangsungan kinerja yang tidak memuaskan sampai kesalahan fungsi ditemukan. Salah
satu teknik untuk mengurangi masalah yang berhubungan dengan pengendalian umpan
balik adalah pengendalian umpan ke depan. Sistem umpan ke depan memantau masukan
ke dalam sebuah proses untuk memastikan apakah masukan sesuai dengan yang
direncanakan, jika tidak maka masukan atau mungkin proses diubah agar memperoleh hasil
yang diinginkan.
Langkah kedua dalam proses pengendalian adalah membangun standar. Standar
pengendalian merupakan sebuah target yang terhadapnya kinerja nantinya akan
dibandingkan. Standar merupakan kriteria yang memungkinkan manajer untuk
mengevaluasi tindakan yang lalu, saat ini dan masa depan. Standar merupakan diukur
dalam berbagai cara, mencakup bentuk secara fisik, kuantitatif dan kualitatif. Lima aspek
kinerja dapat dikelola dan dikendalikan, yaitu jumlah, kualitas, waktu, biaya dan perilaku.
119
Masing-masing aspek pengendalian, mungkin membutuhkan pengelompokan tambahan.
General Electric menggunakan delapan jenis standar, yaitu standar profitabilitas, standar
posisi pasar, standar produktivitas, standar kepemimpinan produk, standar pengembangan
sumberdaya manusia, standar sikap karyawan dan standar pertanggungjawaban publik.
Langkah ketiga adalah mengukur kinerja pemasaran. Kinerja aktual harus dibandingkan
dengan standar. Di beberapa tempat, langkah ini kemungkinan diperlukan hanya untuk
pengamatan visual. Di situasi yang lainnya, penentuan secara teliti diperlukan. Banyak
macam pengukuran untuk fungsi pengendalian didasarkan pada beberapa bentuk standar
secara historis
Langkah keempat adalah membandingkan kinerja aktual dengan standar. Jika langkah-
langkah sebelumnya telah berjalan baik, maka membandingkan kinerja dengan standar
akan menjadi lebih mudah. Meskipun, kadang-kadang membandingkan kinerja dengan
standar ini sulit untuk membuat perbandingan yang diperlukan, misalnya standar perilaku.
Beberapa penyimpangan dari standar dapat dibenarkan, karena kondisi lingkungan yang
berubah dan alasan lainnya.
Langkah kelima dari proses pengendalian melibatkan penggalian ”mengapa kinerja
menyimpang dari standar?”. Karena penyimpangan dapat bergeser menuju sasaran
organisasi yang dipilih. Terutama, organisasi membutuhkan untuk mencari penyimpangan
baik yang datang dari internal maupun perubahan eksternal di antara pengendalian
organisasi.
Langkah berikutnya dalam proses pengendalian adalah menentukan kebutuhan untuk
melakukan tindakan koreksi. Paramanajer pemasaran dapat memilih dari tiga hal, yaitu
❖ Tidak melakukan apa-apa
❖ Melakukan revisi standar
❖ Melakukan koreksi kinerja actual
Tidak melakukan apa-apa dapat dilakukan jika kinerja secara meyakinkan sesuai dengan
standar. Bila standar tidak sesuai, maka manajer harus secara hati-hati menilai alasan
mengapa dan mengambil tindakan koreksi. Lebih dari itu, kebutuhan untuk mengecek
standar secara periodik untuk memastikan bahwa standar dan dihubungkan dengan ukuran
kinerja masih relevan untuk masa yang akan datang. Akhirnya manajer harus memutuskan
tindakan untuk mengoreksi kinerja, bila terjadi penyimpangan. Tindakan koreksi
120
bergantung pada penemuan penyimpangan dan kemampuan untuk mengambil tidakan
penting dibutuhkan. Seringkali kasus nyata penyimpangan harus ditemukan sebelum
tindakan koreksi akan diambil. Karena penyimpangan bergeser dari sasaran yang tidak
realistis ke strategi yang salah.
D. Pengendalian Efektivitas Program
Pengendalian efektifitas program pemasaran Pengendalian ini dilakukan secara berkala
atau periodik, yang umumnya tahunan atau kwartalan untuk menilai efektifitas program
atau rencana yang telah dibuat, dan bila diperlukan penyempurnaan atau koreksi. Yang
bertaggung jawab atas pengendalian fektifitas program ini adalah top manajemen dan midle
manajemen. Tujuan pngendalian ini adalah untuk mengetahui apakah sasaran yang telah
ditetapkan dapat efektif. Pndekatan yang sring dilakukan adalah analisis penjualan, analisis
share pasar, analisis rasio penjualan dan biaya, analisis keuangan dan evaluasi sikap.
Pengendalian efektivitas, program yang dilakukan secara berkala atau periodik, yang
umumnya tahunan atau kwartalan untuk menilai efektivitas program atau rencana yang
telah dibuat, dan bila perlu dilakukan penyempurnaan atau koreksi.
E. Pengendalian keuntungan dan rentabilitas usaha pemasaran
Pengendalian keuntungan atau rentabilitas. Usaha merupakan kegiatan utnuk mengukur
keuntungan yang sebenarnya diperoleh dari masing-masing produk, wilayah dan saluran
distribusi. Tujuan pengendalian ini adalah utnuk mengetahui di unit kerja atau organisasi
mana terjadi hal yang merugikan perusahaan. Pendekatan yang selalu digunakan adalah
rentabilitas menurut produk, wilayah niaga, langgaran, dan saluran distribusi.
Pengendalian atas profitabilitas adalah tugas untuk menentukan profitabilitas yang
sebenarnya mengenai produk perusahaan, wilayah, pangsa pasar dan saluran niaga.
Analisis kemampuan pemasaran mengungkapkan kegiatan pemasaran yang lebih lemah,
meskipun tidak menunjukkan apakah unit-unit yang lebih lemah itu harus didukung atau
dihilangkan.
F. Pengendalian efesiensi
Secara sederhana efisiensi dapat diartikan tidak adanya pemborosan. Menurut Arif Suadi
dalam bukunya SistemPengendalian Manajemen menyatakan efisiensi adalahperbandingan
antara keluaran (output) dengan tujuan, hubunganantara keluaran dengan tujuan yang ingin
dicapai, dan kemampuanuntuk mengerjakan dengan benar. Mubyarto dan Edy Suandi
Hamid dalam bukunyaMeningkatkan Efisiensi Nasional mengartikan efisiensi
sebagaisuatu tolak ukur dan digunakan untuk berbagai keperluan,perbandingan antara
121
masukan terhadap keluaran. Apa saja yangdimasukkan dalam masukan, serta bagaimana
angka perbandinganitu diperoleh, akan tergantung dari tujuan penggunaan tolak ukur
tersebut. Walaupun unsur-unsur yang menentukan efisiensi adaberbagai macam, namun
penghematan pada nilai masukan akansesuai dengan pemecahan masalah yang kita hadapi
saat ini. Yotopoulos dan Nugent dalam buku Ekonomi Manajerial karangan Aulia Tasman
dan M. Hafidz Aima menyatakan bahwa efisiensi berhubungan dengan pencapaian output
maksimum dariseperangkat sumber daya, yang terdiri dari atas dua jenis efisiensi,yaitu
efisiensi harga dan teknis.
Pengendalian efisiensi merupakan tugas untuk meningkatkan efisiensi kegiatan pemasaran,
seperti misalnya: penjualan personal/perorangan periklanan, promosi penjualan dan
distribusi. Paramanajer harus mengamatirasio-rasio penting tertentu yang menunjukkan
seberapa jauh fungsi-fungsi tadi dilaksanakan secara efektif. Manajer juga harus
memperkenalkan sumber-sumber pemasaran untuk meningkatkan prestasi.
Pada dasarnya sistem pengendalian pemasaran ada dua yaitu sistem pengendalianterbuka
(Open system) dan sistem tertutup (lossed Systm) dalam sistem pengendalianterbuka
semua pejabat atau pelaksana dibidang pemasaran mempunyai wewenang yangterbatas.
Semua masalah yang dihadapi dilaporkan dulu pada atasan, dan atasanlah yangmengambil
keputusan. Oleh karena itu semua hal yang diputuskan oleh atasan yaitumenejer pemsaran,
maka kegiatan atau masalah harus diketahui oleh atasan tersebut.
Sedangakan sistem pengendalian tertutup semua petugas di bidang pemasaran diberikan
wewenang untuk memutuskan ssuai dengan petunjuk atau pengarahan dariatasannya
masing-masing .jadi tenaga pemasaran diharapkan diharapkan mempumengatasi
masalahnya sendiri sebelum dilaporkan pada atasannya. yang tidak dapatdiputuskan.
Namun pada sudut pandang lain terdapat sistem pengndalian pemasaran lainyakni
Pengendalian pemasaran merupakan lanjutan yang wajar dari perencanaan,organisasi dan
pelaksanaan pemasaran. meskipun sistem pengendalian harus dibuat sesuai dengan situasi
yang khusus, tetapi sistem pengendalian mengikuti proses dasar yang sama, biasanya
mengikuti enam langakah sebagai berikut
❖ menentukan apa yang dikendalikan
❖ menetapkan standar
❖ mengukur kinerja
❖ membandingkan kinerja dengan standar
❖ menentukan alasan penyimpangan
❖ melakukan tindakan koreksi
122
langkah pertama sistem umpan balik secara sederhana mengukur keluaran dari proses dan
menjadikan masukan dari tindakan korektif untuk memperoleh keluaran yangdiinginkan.
konsekuensi dari penggunaan sistem pengendalian umpan balik adalah bahwa
keberlangsungan kinerja yang tidak memuaskan sampai kesalahan fungsi ditemukan. Salah
satu teknik untuk mengurangi masalah yang berhubungan dengan pengendalian umpan
balik adalah pengendalian umpan ke depan. Sistem umpan ke depanmemantau masukan ke
dalam sebuah proses untuk memastikan apakah masukan sesuaidengan yang direncanakan,
jika tidak maka masukan atau mungkin proses diubah agar memperoleh hasil yang
diinginkan.
langkah kedua dalam proses pengendalian adalah membangun standar. Standar
pengendalian merupakan sebuah target yang terhadapnya kinerja nantinya
akandibandingkan. Standar merupakan kriteria yang memungkinkan manajer untuk
menge!aluasi tindakan yang lalu, saat ini dan masa depan. Standar merupakan diukur dalam
berbagai cara, mencakup bentuk secara fisik, kuantitatif dan kualitatif. lima aspek kinerja
dapat dikelola dan dikendalikan, yaitu jumlah, kualitas, waktu, biaya dan perilaku.masing -
masing aspek pengendalian, mungkin membutuhkan pengelompokan tambahan.general
:lectric menggunakan delapan jenis standar, yaitu standar profitabilitas, standar posisi
pasar, standar produkti!itas, standar kepemimpinan produk, standar
pengembangansumberdaya manusia, standar sikap karyawan dan standar
pertanggungjawaban publik.
langkah ketiga adalah mengukur kinerja pemasaran. 8inerja aktual harus dibandingkan
dengan standar. Di beberapa tempat, langkah ini kemungkinan diperlukanhanya untuk
pengamatan !isual. Di situasi yang lainnya, penentuan secara telitidiperlukan. "anyak
macam pengukuran untuk fungsi pengendalian didasarkan pada beberapa bentuk standar
secara historis.
langkah keempat adalah membandingkan kinerja aktual dengan standar. (ikalangkah -
langkah sebelumnya telah berjalan baik, maka membandingkan kinerja denganstandar akan
menjadi lebih mudah. meskipun, kadang-kadang membandingkan kinerja dengan standar
ini sulit untuk membuat perbandingan yang diperlukan, misalnya standar perilaku.
beberapa penyimpangan dari standar dapat dibenarkan, karena kondisilingkungan yang
berubah dan alasan lainnya.
123
langkah kelima dari proses pengendalian melibatkan penggalian ;mengapakinerja
menyimpang dari standar ?;. karena penyimpangan dapat bergeser menujusasaran
organisasi yang dipilih. Terutama, organisasi membutuhkan untuk mencari penyimpangan
baik yang datang dari internal maupun perubahan eksternal di antara pengendalian
organisasi.
langkah berikutnya dalam proses pengendalian adalah menentukan kebutuhanuntuk
melakukan tindakan koreksi. Paramanajer pemasaran dapat memilih dari tiga hal,yaitu
❖ Tidak melakukan apa-apa
❖ melakukan re!isi standar
❖ melakukan koreksi kinerja actual
Tidak melakukan apa-apa dapat dilakukan jika kinerja secara meyakinkan sesuai dengan
standar. bila standar tidak sesuai, maka manajer harus secara hati-hati menilaialasan
mengapa dan mengambil tindakan koreksi. lebih dari itu, kebutuhan untuk mengecek
standar secara periodik untuk memastikan bahwa standar dan dihubungkandengan ukuran
kinerja masih relevan untuk masa yang akan datang. akhirnya manajer harus memutuskan
tindakan untuk mengoreksi kinerja, bila terjadi penyimpangan.Tindakan koreksi
bergantung pada penemuan penyimpangan dan kemampuan untuk mengambil tidakan
penting dibutuhkan. Seringkali kasus nyata penyimpangan harusditemukan sebelum
tindakan koreksi akan diambil. karena penyimpangan bergeser darisasaran yang tidak
realistis ke strategi yang salah.
G. Pengendalian Strategis
Strategis (strategic management) adalah seni dan ilmu untuk memformulasikan,
mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan
organisasi dapat mencapai tujuanya. tahapan dalam manajemen stategis proses manajemen
strategis terdiri dari tiga tahap :
1. Formulasi strategis termasuk mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang
dan ancaman eksternal perusahaan, menentukan kekuatan dan kelemahan internal,
menetapkan tujuan jangka panjang, merumuskan alternative strategi, dan memilih
strategi tertentu yang akan dilaksanakan.
2. Implementasi strategi mensyaratkan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan,
membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasi sd sehingga strategi yang
telah diformulasikan dapat dijalankan.
124
3. Evaluasi strategis tahap final dalam manajemen strategis. tiga aktivitas dasar evaluasi
strategis adalah (1) meninjau ulang factor eksternal dan internal yang menjadi dasar
strategi saat ini. (2) mengukur kinerja (3) mengambil tindakan korektif. istilah penting
dalam manajemen strategis keunggulan kompetitif didefinisikan sebagai segala sesuatu
yang dilakukan dengan sangat baik oleh sebuah perusahaan dibandingkan dengan
pesaingnya
Penyusun strategis adalah individu yang paling bertanggung jawab atas kesuksesan atau
kegagalan organisasi. misalnya ceo, presiden direktur, pemilik dan ketua dewan direksi.
Pernyataan visi dan misi pernyataan visi yang menjawab pertanyaan, ingin menjadi apakah
kita? mengembangkan pernyataan visi sering dianggap sebagai tahap pertama dalam
perencanaan strategis, bahkan mendahului pembuatan pernyataan misi. pernyataan misi
merupakan pernyyataan tujuan jangka panjang yang membedakan satu perusahaan dengan
perusahaan sejenis. peluang dan ancaman eksternal peluang dan ancaman eksternal
mengacu pada ekonomi,social, budaya demografis, lingkungan, politik, hukum, pemerintah,
teknologi, serta tren kompetisi dan kejadian yang secara signifikan dapat menguntungkan
atau membahayakan organisasi dimasa depan. peluang dan ancaman sebagian,besar berada
diluar kendali organisasi, sehingga disebut eksternal. kekuatan dan kelemahan internal
merupakan aktivitas organisasi yang dapat dikontrol yang dijalankan dengan sangat baik
atau sangat buruk. muncul dalam aktivitas manajemen, pemasaran, keuangan/akuntansi,
produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, dan system informasi manajemen dari
sebuah bisnis. tujuan jangka panjang tujuan adalah hasil yang spesifik yang ingin dicapai
suatu organisasi untuk menjalankan misi dasarnya. jangka panjang artinya lebih dari satu
tahun.
Strategi adalah alat untuk mencapai tujuan jangka panjang. strategi bisnis dapat mencakup
ekspansi geografis, diversifikasi, akuisisi, pengembangan produk, penetrasi pasar,
pengurangan bisnis, divestasi, likuidasi, dan join venture. tujuan tahunan merupakan target
jangka pendek yang harus dicapai organisasi untuk mencapai tujuan jangka panjang.
kebijakan kebijakan merupakan alat untuk mencapai tujuan tahunan. kebijakan mencakup
pedoman, peraturan, dan prosedur yang dibuat untuk mendukung usaha mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. manfaat manajemen strategis manfaat finansial bisnis yang
menggunakan konsep manajemen strategis menunjukan perbaikan yang signifikan dalam
penjualan, profitabilitas, dan produktivitas dibandingkan dengan perusahaan tanpa aktivitas
perencanaan yang sistematis. manfaat nonfinansial greenley menyatakan manajemen
strategis memberikan manfaat sebagai berikut :
125
a) Memungkinkan untuk identifikasi, penentuan prioritas, dan eksploitasi
b) Memberikan pandangan objektif atas masalah manajemen
c) Merepresentasikan kerangka kerja untuk aktivitas control dan kordinasi yang baik
d) Meminimalkan efek dari kondisi dan perubahaan yang jelek
e) Memungkinkan agar keputusan besar dapat mendukung dengan baik tujuan yang telah
ditetapkan
f) Memungkinkan alokasi waktu dan sd yang lebih efektif untuk peluang yang telah
teridentifikasi
g) menciptakan kerangka kerja utk komunikasi internal diantara staff
h) Membantu mengintegrasikan perilaku individu ke dalam usaha bersama
i) Memberikan dasar utk mengklarifikasi tanggung jawab individu
j) Mendorong pemikiran ke masa depan
k) Menyediakan pendekatan kooperatif, terintegrasi dan antusias utk menghadapi
masalah dan peluang
l) Mendorong terciptanya sikap positif terhadap perubahan
m) Memberikan tingkat kedisiplinan dan formalitas kepada manajemen suatu bisnis visi
dan misi bisnis visi pernyataan visi seharusnya menjawab pertanyaan mendasar, apa
yang ingin kita capai? visi yang jelas memberikan dasar untuk mengembangkan
pernyataan misi yang komprehensif. pernyataan visi seharusnya singkat, lebih disukai
satu kalimat, dan sebisa mungkin diberikan oleh semua manajer dalam
mengembangkan pernyataan visi. misi drucker mengatakan bahwa mengajukan
pertanyaan apa bisnis kita? adalah sama hal dengan bertanya apa misi kita? Pernyataan
misi adalah deklarasi tentang alasan keberadaan sebuah organisasi. Pentingnya
pernyataan visi dan misi king dan cleland merekomendasikan perusahaan untuk
mengembangkan pernyataan misi karena alas an berikut ini :
1. memastikan tujuan dasar organisasi
2. memberikan basis atau standar utk mengalokasikan sd di organisasi
3. menciptakan kondisi atau iklim organisasi yang umum
4. menjadi titik utama bagi individu dalam mengidentifikasi tujuan dan arah organisasi.
5. memfasilitasi penerjemahan tujuan menjadi struktur kerja yang melibatkan
penungasan hingga elemen tanggung jawab dalam organisasi
6. memberikan tujuan dasar organisasi dan kemungkinan utk menerterjemahkan tujuan
dasar ini menjadi tujuan dalam bentuk sedemikian rupa hingga parameter waktu,
biaya, dan kinerja dapat dievaluasi dan dikontrol. karakteristik pernyataan misi
126
Deklarasi sikap pernyataan misi yang baik memungkinkan untuk perumusan dan
pemikiran alternative tujuan dan strategi yang layak tanpa mengurangi kreativitas
manajemen dan harus cukup luas untuk menyatukan perbedaan secara efektif dan
memiliki daya tarik bagi stakeholder organisasi, individu, atau kelompok individu yang
memiliki investasi khusus atau klaim terhadap perusahaan. ii. orientasi pelanggan
pernyataan misi menjelaskan tujuan dasar organisasi, pelanggan, produk atau jasa,pasar,
filosofi, dan dasar teknologi. iii. deklarasi kebijakan social kebijakan social menempatkan
filosofi dan pemikiran manajerial pada tingkat tinggi dalam organiasi. untuk alas an ini,
kebijakan social mempengaruhi pengembangan pernyataan misi. Komponen pernyataan
misi :
1. Pelanggan, siapa pelanggan perusahaan
2. Produk atau jasa, apa produk atau jasa utama perusahaan
3. Pasar-secara geografis, dimana pasar berkompetisi
4. Teknologi- apakah perusahaan menerapkan teknologi terbar
5. Perhatian akan keberlangsungan, pertumbuhan, dan profitabilitas- apakah perusahaan
berkomitmen untuk pertumbuhan dan kondisi keuangan yang baik
6. Filosofi-apa dasar kepercayaan,nilai, aspirasi, dan prioritas etika perusahaan
7. Konsep diri-apa keunggulan kompetitip perusahaan
8. Perhatian akan citra publk-apakah perusahaan responsive terhadap pemikiran social,
masyarakat dan lingkungan
9. Perhatian atas karyawan- apakah karyawan aset yang berharga untuk perusahaan
H. Audit Pemasaran
Ada beberapa pndapat tntang definisi audit yaitu Kamus Webster’s Ninth Collegiate
Dictoneri mengartikan auditing sebagai berikut : “ suatu pemeriksaan yang resmi atas
perkiraan/buku atau laporan keuangan suatu organisasi atau individu.”
Holmes & Overmyers ( 1975 ) mendifinisikan sebagai berikut : “ Auditing adalah fungsi
penyaksi yang menyangkut pemeriksaan secara objktif terhadap laporan keuangan
perusahaan yang disusun oleh manajemen. “
Komite konsep auditing mendifinisikan auditing sebagai berikut : “ proses sistematis untuk
mendapatkan dan menilai bukti secara objktif yang berkaitan dengan penyaksian tentang
tindakan-tindakan ekonomis dan kejadian-kejadian serta memastikan tingkat kesesuaian
antara penyaksian tadi dengan kriteria yang sudah ada dan menyampaikan hasilnya pada
pemakaianya.”
127
Alvin A. Arens dan James K. Loebbecke ( 1981 ) mendifinisikan audit sebagai berikut : “
auditing adalah satu set prosedur yang sesuai dengan norma pemeriksaan akuntan yang
memberikan informasi sehingga akuntan dapat menyatakan suatu pendapat tentang apakah
laporan keuangan yang dipriksa disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku.” Yang diutarakan oleh alvin yang menjadi pertantyaan adalah standar
kwajaran. Pengadilan di Amerika Serikat yang memutuskan bahwa akuntan publik wajib
melihat hal-hal diluar prinsip akuntnsi yang diterima umum untuk mempertimbangkan
kmungkinan lain yang dapat menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Secara
skematis dapat digambarkan sebagai berikut :
Yang di maksud dengan audit pemasaran adalah pemeriksaan dan penilaian secara kritis,
sistematis dan analisis atas pelaksanaan kebijakan dIbidang pemasaran. Ada empat ciri
utama dari audit pemasaran, yaitu :
1. Pemeriksaan dan penilaian yang bersifat menyeluruh dengan melakukan pengkajian
seluruh lingkungan pemasaran perusahaan, strategi, organisasi dan sistem pmasaran
perusahaan.
2. Pemerikasaan dan penilaian secara sistematis dngan urutan langkah diagnosis
lingkungan pemasaran perusahaan, keadaan intern perusahaan dibidang pemasaran dan
kegiatan pemasaran tertentu dikaji.
3. Pelaksanaan pmerikasaan dan penilaian bersifat indepeden dimana pelakasanaan dan
perumusan hasil tidak terikat atau trgantung pada siapa saja yang ada dalam pemasaran.
4. Pelaksanaan pemriksaan dan penilaian bersifat berkala dan tidak hanya pada waktu-
waktu tertentu dimana perusahaan mengalami krisis dala bidang pemasaran.
Sedangkan tujuan audit pemasaran adalah :
1. Memerikasa dan meninjau kembali kabijakan (policies), rencana, ketentuan strategis,
dan pelaksanaan kegiatan bidang pmasaran dari segi aktifitas pencapaian tujuan
perusahaan.
2. Menilai apakah para pelaksana dibidang melaksanakan kebijakan, rencana, ketentuan,
stratgi yang telah ditetapkan.
3. Sebagai alat manajemen untuk dapat memperoleh rekmendasi dari sgi peningkatan
efektifitas dan efesiensi kegiatan dibidang pemasaran
4. Sebagai alat bagi pengukuran saling keterkaitan dan keterpaduan bidang pemasaran
dengan bidang-bidang lain dalam perusahaan dan lingkungan pemasaran perusahaan,
128
yang tercermin dalam dinamika usaha yang harus diperhatikan agar pelaksanaan
kegiatan pemasaran dapat tratur dan terarah.
Audit pemasaran yang dilakukan sutu perusahaan dapat mencakup:
1. Audit lingkungan pemasaran
Dalam audit lingkungan pemasaran, diperiksa dan dianalisis faktor yang mempengaruhi
pemasaran, pasar, dan konsumen.
2. Audit strategi pemasaran
Dalam audit ini diperiksa dan dianalisis sasaran dan strategi pemasaran yang diambil
yang tidak terlepas dengan keadaan pemasaran.
3. Audit organisasi pemasaran
Dalam audit ini diperiksa dan dianalisis kelemahan dan efektifitas organisasai
pemasaran yang ada.
4. Audit sistem pemasaran
Dalam audit ini pemasaran diperiksa dan dianalisis kelemahan dan efektifitas sistem
pemasaran yang ada.
5. Audit produktivitas pemasaran
Dalam audit ini dipriksa dan dianalisis tingkat produktifitas dari para tenaga atau sumbr
daya manusia dan sumber daya lainnya.
6. Audit fungsi pemasaran
Dalam audit ini diperiksa plaksanaan fungsi pemasaran prusahaan sebagaimana yang
telah ditetapkan.
Quis
1. Berdasarkan Ruanglingkup Pengendalian Pemasaran , Manakah Yg plg Sering
terdapat "deviasi" ? Berikan Argumentasinya
2. Berikanlah Solusi terhadap problem "deviasi" sbgmn jawaban Nomor 1.
# Selamat Mengerjakan Quiz dg Ceria & Menjadi Pecinta Ilmu yg diAmalkan #
129
Lampiran Hasil Diskusi
Pertanyaan :
Bagaimana tindakan seorang manager yang wajib dlm langkah yang selanjutnya jika
pengendalian itu belum terdeteksi saja dg evaluasi beberapa kali juga. Apakah dari karyawan,
barang ataupun dari hal apa ?
Jawaban :
Apabila dalam evaluasi ditemukan penyimpangan-penyimpangan maka pemasar haruslah bisa
menemukan serta menyiapkan rencana rencana cadangan atau solusi untuk mengatasi masalah
tersebut pengendalian pemasaran tersebut dilakukan dengan cara mengamati , memonitori ,
mengecek serta membandingkan kinerja pemasaran dengan strategi pemasaran yang sudah
dibuat sebelumnya.
Pertanyaan :
Adakah hambatan bagi pengusaha dalam melakukan proses pengendalian pemasaran?
Jawaban :
Soal hambatan bagi pengusaha jelas ada. Tidak ada strategi pemasaran yang sempurna
meskipun strategi pemasaran tersebut dibuat oleh orang yang sangat pintar dalam bidang
pemasaran. Contohnya dengan masalah kepercayaan. Seperti para oknum tertentu, transaksi
jual beli online saat ini mendapat stigma negatif di mata sebagian konsumen, terutama orang-
orang yang pernah menjadi korban penipuan secara online. Memang, banyak ?pencuri? yang
telah mengadopsi sistem online untuk mengeruk keuntungan di atas penderitaan orang lain,
entah itu melalui pencurian rekening online, penipuan kualitas produk, atau bahkan investasi
bodong online. Karena adanya hal tersebut jadi yg membuat hambatan kepada perusahaan, dan
hilangnya kepercayaan dari konsumen.
130
BAB I3
TRANSFORMASI BAURAN PEMASARAN BENTUK P MENJADI C
A. Transformasi Bauran Pemasaran Bentu P Menjadi C
Salah satu pendekatan pemasaran yang bisa digunakan untuk membangun dan
mempertahankan loyalitas pelanggan adalah melalui penerapan bauran pemasaran yang
benar.Membuat produk yang baik mencakup manfaat, kemasan dan fitur-fitur yang
menarik (product). How to make a smart price, memilih metode penetapan harga yang
tepat, menetapkan harga yang sesuai dengan segmen pasar yang di tuju (price). Memilih
saluran distribusi yang tepat sehingga memberikan kemudahan pembelian. Pilihannya bisa
menyebarkan produk ke seluruh penyalur baik yang besar maupun kecil (saluran intensif),
menempatkan produk ke beberapa penyalur yang kita pilih (saluran selektif), atau jika
produk termasuk dalam katagori unik maka pilihannya pada penyalur khusus (saluran
eksklusif) (place). Yang terakhir bagaimana mengkomunikasikan produk agar konsumen
mengetahui dan tertarik melalui pilihan bauran promosi yang efektif, seperti: iklan, promosi
penjualan, penjualan personal, pemasaran langsung atau publisitas (promotion). Upaya
produsen dalam mempertahankan loyalitas konsumennya seringkali mengalami kesulitan
oleh karena perubahan perilaku konsumen. Konsumen sekarang semakin pintar, mereka
meminta dilayani secara pribadi, terlibat dalam pengembangan suatu produk, semakin
sensitif dan tidak loyal pada merk tertentu. Mereka juga semakin pintar menghitung nilai
suatu produk yang sesungguhnya demikian menurut Stan Rapp dan Thomas L.
Collins.Perilaku konsumen menjadi sulit untuk diukur layaknya seperti kupu-kupu yang
hinggap di setiap tempat yang mereka mau. Terjadi pergeseran dari marketing oriented
company menjadi customer driven company.
B. Consumer Value
Schiffman dan Kanuk (2004,p.14) mendefinisikan customer value sebagai rasio antara
manfaat yang didapat oleh konsumen baik secara ekonomi, fungsional maupun psikologis
terhadap sumber-sumber (uang, waktu, tenaga, maupun psikologis) yang digunakan untuk
memperoleh manfaat-manfaat tersebut, yaitu manfaat produk berhubungan dengan
keandalan, daya tahan, kinerja dan nilai jual kembali dari produk atau jasa yang ditawarkan.
Manfaat pelayanan adalah sejauh mana produk atau jasa tertentu yang ditawarkan
berhubungan dengan hal penyampaian, pelatihan, serta daya tangkap dalam melayani
pelanggan termasuk ke dalam manfaat karyawan, sedangkan manfaat citra berhubungan
dengan kesan atau opini yang selama ini konsumen dapat mengenai perusahaan yang
131
menghasilkan produk atau jasa tersebut. Di samping manfaat yang dirasakan, terdapat juga
pengorbanan yang harus dikeluarkan oleh pelanggan yang turut menentukan nilai
pelanggan. Adapun pengorbanan tersebut adalah pengorbanan moneter, yaitu pengorbanan
yang harus dikeluarkan pelanggan dalam bentuk unit moneter, yang dalam hal ini adalah
harga dari produk atau jasa tertentu serta pengorbanan non moneter seperti waktu, energy
dan psikologis. Pengorbanan waktu adalah pengorbanan yang harus dikeluarkan oleh
pelanggan sehubungan dengan lamanya waktu yang harus ditempuh pelanggan dalam
mengkonsumsi produk atau jasa tertentu. Pengorbanan energy berhubungan dengan tingkat
kemudahan pelanggan dalam mengkonsumsi produk atau jasa tertentu, sedangkan
pengorbanan psikologis adalah tingkat kekecewaan yang muncul dan harus dihadapi oleh
pelanggan pada waktu mengkonsumsi produk atau jasa tertentu.
Customer value yaitu merupakan segala sesuatu yang diinginkan konsumen dalam produk
atau jasa dengan memaksimalkan kualitas yang diterima konsumen dari biaya yang
dikeluarkan. Customer value juga merupakan sesuatu yang sangat berperan dalam
pembentukan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, konsep penciptaan dan penambahan
nilai memerlukan perhatian penuh dari sebuah restoran ketika mereka ingin menarik dan
mempertahankan pelanggan. Setiap perusahaan harus mempelajari nilai dari sudut pandang
pelanggan (customer value) dan tidak berasumsi bahwa mereka mengetahui nilai apa yang
berharga bagi pelanggan. Sweeney and Soutar (2001:211) membagi customer value
menjadi 4 elemen, yaitu:
1. Nilai fungsional kualitas/kinerja (functional value quality/performance) yaitu utilitas
yang diperoleh dari persepsi terhadap kualitas dan kinerja yang diharapkan atas
produk.
2. Nilai Emosi (Emotional value) yaitu utilitas yang berasal dari perasaan atau
afektif/emosi positif yang ditimbulkan dari mengkonsumsi suatu produk.
3. Nilai Fungsional Harga/Value for money (Functional Value Price/Value for money)
yaitu utilitas yang didapatkan dari produk karena adanya persepsi terhadap harga atau
biaya yang dikeluarkan.
4. Nilai Sosial (Social value)
Social value yaitu utilitas yang didapatkan dari kemampuan produk untuk konsep
dirisosial konsumen. Sweeney and Soutar juga berusaha mengembangkan 19 item
customer perceived value yang kemudian disebut dengan item perceived value. Item
ini dimaksudkan untuk menilai persepsi pelanggan terhadap nilai suatu produk
132
konsumen tahan lama pada level merek. Menurut Weinstein dan Johnson (1999),
value diberikan kepada pelanggan dengan salah satu cara berikut ini :
a. Perusahaan dapat memilih untuk mendapatkan produkyang terbaik.
b. Biaya total yang terbaik (keunggulanoperasional)
c. Solusi total terbaik (keintiman dengan pelanggan)
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa Custemer
value merupakan nilai yang diterima oleh pelanggan yang dihasilkan dari
perbandingan antara manfaat yang diterima yaitu bisa berupa keuntungan dari segi
ekonomi, sosial dan relasional terhadap pengorbananyang dikeluarkan yaitu bisa
berupa biaya yang dikeluarkan, waktu yang diluangkan, usaha yang dilakukan, resiko
yang ditanggung dan kenyamanan yang terganggu.
C. Cost
cost yang dikeluarkan konsumen dalam membeli, menggunakan maupun menyimpan dan
bila perlu menjual kembali produk yang dibeli. Harga murah dari produsen belum tentu
murah bagi konsumen, apabila konsumen masih harus mengeluarkan biaya lain. Salah satu
gejala yang semakin trendy adalah semakin frugalnya konsumen di era informasi ini.
Mereka semakin pintar membandingkan antara cost yang dikeluarkan dan bobot solusi
yang mereka terima. Harga Adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh pengguna
untuk mendapatkan produk. Dengan kata lain seseorang akan membeli barang kita jika
pengorbanan yang dikeluarkan ( Uang dan Waktu) sesuai dengan manfaat yang diperoleh
dari produksi tersebut. Harga dan kebijaksanaan harga adalahelemen yang paling banyak
diperdebatkan dalam pemasaran harga adalah satu-satunya variabel strategi pemasaran
yang berkaitan dengan masuknya pemasukan.
Dalam hal pemasaran jasa, kreatifitas dan keahlianmanajemen paling banyak dibutuhkan
dalam penetapan harga. Ciri-ciri yang dimiliki jasa menyebabkan dampak yang penting
dalam penetapan harga. Hal yang menarik sekali adalah bahwa parapenjual kerap kali
melakukan permintaan in-elastis. Olewh karena itu mereka menetapkan harga yang paling
tinggi. Akan tetapi mereka lalai dalam bertindak sebaliknya, jika jikamenghadapi
permintaan yang elastis walaupun harga lebih rendah akan menaikan penjualan unit,
pendapatan total, penggunaan fasilitas dan mungkin juga menaikan laba bersih.
Prinsip penetapkan harga barang dapat juga diterapkandalam penetapan harga jasa. Secara
singkat prinsip-prinsip penetapan harga menurut Zeithhml dan Bitner ( 19960 adalah
sebagai berikut :
133
1. Perusahaan harus mempertimbangkan sejumlah faktor dalam menetapkan harganya,
yang mencakup : pemilihan tujuan penetapan harga, menentukan tingkat permintaan,
perkiraan biaya, menganalisis harga yang ditetapkan dan produk yang
ditawarkanpesaing, pemilihan mode penetapkan harga ,dan menentukan harga akhir
2. Perusaha tidak selalu harus mencari profitmaksimum dalam penetapkan harga. Saran
lain yang bisa capai adalah mencakup survaivel, memaksimalkan penerimaan
sekarang, memaksimumkan pertembuhan penjualan. Memaksimalkan pengeuasaan(
skeming)pasar dan kepemimpian produk atau kualitas.
3. Para pemasar hendaknya memahami seberapa responsif permintaan terhadap
perubahan harga. Untuk mengevaluasi sensitifitas harga, para pemasar bisa
menghitung elastis permintaan.
4. Berbagai jenis biaya harus sipertimbangkan dalam menetapkan harga, termasuk
didalamnya adalah biaya langsung dan tidak langsung, biaya tetap dan biaya variabel,
biaya tidak langsung yang bisa dilacak, dan biaya-biaya yang teralokasi. Bila suatu
produk atau jasa harus mendatangkan keuntungan bagi perusahaan, harga harusmampu
menutup semua biaya mencakup mark-upnya.
5. Harga-harga para pesaing akan mempengaruhi tingkat permintaan barang dan jasayang
ditawarkan peruasahaan dan karenanya harus dipertimbangkan dalam proses
penetapan harga.
6. Berbagai cara penetapan yang ada mencakup mark-up, sasaran perolehan, nilai yang
bisa diterima, going rate, sealed-bid, dan harga psikologis.
7. Setelah menetapkan struktur harga, perusahaan menyesuikan harganya
denganmenggunakan harga geografis, diskon harga, harga promosi, dan harga
diskrimiasi,serta harga bauran produk.
Dalam situasi tertentu, pengguna melakukan penilaian atau menghitung-hitungtentang apa
yang akan mereka peroleh sebagai balasan dari apa yang mereka berikan.
Dengandemikian, harga merupakan pembatas (trade-of) untuk sejumlah benefit (nilai)
yang akandiberikan oleh suatu produk (barang atau jasa) dengan sejumlah biaya yang
dikaitkan dengansejumlah biaya yang dikaitkan dengan penggunaan produk tersebut
(Yazid), 1999). Pusatinformasi yang menghendaki profit harus mampu menutup semua
biaya yang berkaitandengan proses memproduksi dan memasarkan suatu jasa. Selanjutnya
menetapkan marjinsecukupnya sehingga mampu memberikan keuntungan yang
memuaskan.
134
Yazid (1999) yang mengatakan bahwa, “Harga atau biaya sebuah jasa akan mencakup
harga yang bersifat moneter dan harga yang bersifat non-moneter. Harga yang
bersifatmoneter mempuyai peranan penting bagi bagian pemasaran untuk mengukur
tingkat atau porsi penerimaan dari konsumen”. Selanjutnya dikatakan bahwa, di samping
itu beberapa biaya non-moneter yang mungkin diperhitungkan konsumen ketika
menggunakan suatu jasamencakup:
1. Waktu, Waktu merupakan komoditas utama bagi sejumlah orang, dan bagi seseorang
yangmenawarkan jasa dengan pelayanan yang berbeda kepada setiap individu, tetapi
mempunyaiketerbatasan waktu, mereka akan memperhitungkan biaya terhadap waktu
yang digunakan dalammencari/memburu suatu jasa, karena barangkali waktu yang
terbuang itu sebenarnya dapat digunakanuntuk keperluan lain.
2. Upaya-Upaya Bersifat Fisik, Biaya untuk melakukan upaya-upaya fisik yang
diperlukan unrukmemperoleh sejumlah jasa bisa saja dimasukkan, khususnya bila
penyajian jasa dilakukan secaraswalayan.
3. Biaya-biaya sensor, Biaya-biaya ini bisa saja dikenakan sehubungan dengan adanya
kebisingan, bautidak sedap, aliran udara yang tidak lancar, terlalu panas atau terlalu
dingin ruangannya, tempat dudukyang tidak nyaman, lingkungan yang terkpesan
jorok, bahkan rasa yang tidak mengenakkan.
4. Biaya-biaya psikologis, Biaya-biaya ini kadang-kadang dikenakan untuk penggunaan
suatu jasatertentu, seperti upaya yang bersifat mental (berpikir), perasaan adanya
ketimpangan atau ketidakadilan.
D. Convenience
Refleksi dari timbulnya bermacam- macam cara konsumen membeli produk. Produsen
tidak bisa lagi hanya mengandalkan distributor konvensional, tapi harus memberi berbagai
pilihan bagi konsumen dalam mendapatkan produk bisa melalui direct mail, teleshopping
sampai catalog order. Kenyamanan adalah suatu kegiatan yang ditujukan agar pengguna
mudah untuk mendapatkan produkkita. Kenyamanan dapat dilihat dari tempat atau lokasi,
waktu serta usaha minimal yang terjadi pada saattransaksi. Itulah konvenien dapat diartikan
sebagai dekatnya rumah pembeli, mudah dicapainya oleh alat-alattransportasi, atau
dekatnya dengan tempat dimana pembeli bekerja serta suasana pelayanan itu sendiri. Untuk
bidang jasa konvenien ini ada pertimbangan yang paling efektif untuk masalah
135
kenyaamanan ini yaitu lokasi,umumnya pengguna ingin menempatkan jasa dengan usaha
dan waktu yang minimal serta suasana yangkondusif untuk terjadinya suatu transaksi.
Sistem penyajian jasa ditentukan oleh dua komponen pokok. Pertama komponen interaksi,
keduakomponen geografis (Yazid), 1999). Perlu tidaknya interaksi fisik antara petugas
dengan pengguna dan pelanggan akan menentukan perlu tidaknya mereka datang ke tempat
jasa diproses atau pusat pengelola jasalayanan informasi yang mendatangi tempat
pengguna. Interaksi fisik juga ditentukan oleh dapat atau tidaknyatransaksi jasa
dilaksanakan dengan tanpa kotak langsung. Sedangkan kompoen geografis akan
menentukansebaran outlet tempat pusat informasi dalam melayani pengguna dan
pelanggannya, yaitu apakah hanya di satutempat atau di beberapa lokasi. Pemilihan sistem
pelayanan jasa akan mempunyai implikasi manajemen yangsangat penting dan barang tentu
akan mempengaruhi cara pemasaran jasa.
Implikasi tersebut adalah tinggi rendahnya kenyamanan pengguna dalam menerima jasa,
salah satunyadipengaruhi oleh perlu atau tidaknya mereka itu mendatangi pusat informasi
di sutu tempat tertentu. Pelayanan jasa yang dilakukan di beberapa outlet bisa membuat
pengguna dan pelanggan lebih mudah dalam mengakses jasa, akan tetapi masalah yang
mungkin timbul adalah berkenaan dengan pengawasan kualitas, khususnya bila pusat
informasi ingin mempertahankan konsistensi cara penyampaian layanan jasanya. Dalam,
hal pelayanan, Parasuraman et.al (1985), memberikan 10 standar kualitas pelyanan yang
baik. Kesepuluh kualitas pelayanan tersebut adalah:
1. Reliability, yaitu konsistensi pelayanan sesuai dengan apa yang telah dijanjikankepada
para penggunanya.
2. Reponsiveness, yaitu keinginan dan kesiapan staf dalam memberikan pelayanan.
3. Competence, yaitu memilki keterampian dan pengetahuan untuk memberikan
pelayanan.
4. Access, yaitu kemudahan untuk didekati maupun dihubungi.
5. Courtesy, yaitu kesopanan, hormat, penuh pertimbangan, keramahtamahan staf.
6. Communication, yaitu penyampaian informasi kepada para pengguna dengan bahasa
yang dapat mereka pahami
7. Credibility, yaitu dapat dipercaya, jujur dan memberikan daya tarik tersendiri pada
pengguna.
8. Security, yaitu terbebas dari bahaya, resiko, maupun keraguan.
9. Undesrtanding/knowing the customer, yaitu usaha untuk memahami kebutuhan
pengguna.
136
10. Tangibles, yaitu bukti nyata pelayanan
E. Communication
Hovland (1972) mendefinisikan komunikasi “sebagai proses dimana seseorang
(komunikator) menyampaikan perangsang-perangsang (bisanya lambang-lambang dalam
bentuk kata-kata) untuk merubahtingkah laku orang-orang lain (komunikan)”. Definisi
Hovland tersebut menunjukan bahwa tujuan komunikasi adalah mempelajari dan meneliti
perubahan siakap dan pendapat akibat informasi yang disampaikan seseorangkepada orang
lain atau efek dari suatu komunikasi. Sejalan dengan pemikiran Hovlad, Lasswll (1972)
menerangkan proses dan fungsi komunikasi, bahwacara yang terbaik untuk menerangkan
kegiatan komuikasi ialah dengan menjawab pertanyaan : Who Says WhatIn Which Channel
To Whom With What Effect?.
Kesamaan dengan definisi Hovlad ialah selain unsur-unsurkomunikasi, juga keharusan
adanya efek, yakni perubahan tingkah lakuBanyak strategi komunikasi yang dapat
diterapkan oleh para pemasar. Salah satunya menurut De Saez(1993) adalah strategi
komunikasi yang dapat digunakan di pusat informasi adalah strategi komunikasi
AIDA(Awareness, Interest, Decission, Action). Pada tahapAwareness,pihak pusat
informasi harus sebisa mungkinmenarik perhatian pengguna dan pelanggan untuk
mengetahui siapa yang dimiliki dan dapat ditawarkan oleh pusat informasi. Hal ini bisa
dilakukan berbagai cara, misalnya dengan menyebarkan leaflet, booklet,menyelenggarakan
pameran, publikasi baik di media cetak maupun media eletronik, kerja sama
denganlembaga-lembaga pendidikan dengan mengadakan ceramah, seminar, dan lain-lain
yang tujuannya agar para pengguna dan pelanggan sadar akan sesuatu yang ditawarkan
oleh pusat informasi. Dimulainya komunikasidengan membangkitkan perhatian akan
merupakan awal suksesnya komunikasi. Apabila perhatian komunikantelah terbangkitkan,
hendaknya disusul dengan upaya menumbuhkan minat (Interest), yang merupakan
derajatyang lebih tinggi perhatian. Minat adalah kelanjutan dari perhatian yang merupakan
titik tolak bagi timbulnyahasrat (Desire), yang merupakan derajat yang lebih tinggi
perhatian. Minat adalah kelanjutan dari perhatianyang merupakan suatu kegiatan yang
diharapkan komunikator. Dari rasa ketertarikan tersebut perlu diadakankegiatan lanjutan
demonstrasi berupa ajakan yang mengarah pada atau pengambilan keputusan
(Decission)untuk melakukan atau mengikuti kegiatan yang ditawarkan oleh pusat
informasi tersebut, inilah yang disebuttahapActionatau tindakan.
Komunikasi bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan oleh pusat informasi. Pada hampir
mayoritasstrategi pemasaran, mempengaruhi perilaku merupakan suatu bentuk
137
komunikasi, yaitu menginformasikankepada target audiens tentang alternatif tindakan,
konsekuensi positif dari pemilihan tertentu dan motivasi untuk bertindak (dan kadang
melanjutkan untuk bertindak) dengan cara tertentu. Komunikasi pemasaran di
pusatinformasi dalam penelitian ini adalah pada proses yang dilakukan sehari-hari oleh para
petugas informasidengan para penggunanya. Karena jika kita hanya mengandalkan
evaluasi dari kegiatan komunikasi yang berbentuk periklanan atau publikasi-publikasi
lainnya seringkali kita endapatkan gambaran sukses yang semu,karena begitu kegiatan
periklanan atau publikasi atau ekshibisi usai maka sampai disitu pulalah kesuksesan itu
diraih. Hal tersebut terbukti dari semakin kecilnya pengguna jasa-jasa infromasi yang ada
di PDII-LIPI, padahal pada saat kegiatan pameran berlangsung sepertinya mendapat
sambutan yang baik.
Proses komunikasi menurut Dominick (1990)“At a general level,communication
eventsinvolve the following: a source, a process of encoding, a message, a channel, a
process of decoding, a receiver,the potential for feedback, the chance of noice”Artinya pada
setiap tingkatan, kegiatan komunikasimeliputi elemen: sumber, proses perumusan pesan,
pesan, saluran/media, proses pengalihan pesan, penerima, dan potensi umpan balik serta
adanya hambatan.
Quis
Tulislah Temuan Terpenting Perubahan dari 4P ke 4C#
# Selamat Mengerjakan Quiz dg Ceria & Menjadi Pecinta Ilmu yg diAmalkan #
-Quotes-
Satu kata yg terpenting adalah "change!"; Dua kata terindah di hati manusia, Terima Kasih.;
Tiga Kata yg menghimpit di hati, Aku Sulit Berubah.; Empat kata yg membunuh, aku TIDAK
BISA berubah; Lima kata yg memanggil; Kalau Bukan Aku Lalu Siapa?.
# Dr.H.SyaefulBahri #
138
Lampiran Hasil Diskusi
Pertanyaan :
Faktor-faktor apa saja yang paling mempengaruhi loyalitas konsumen Pada transformasi
bauran pemasaran?
Jawaban :
Faktor yang paling mempengaruhi loyalitas konsumen itu adalah harga dari produk itu, karena
ketika harganya murah kualitasnya bagus maka konsumen pun akan loyal kepada pedagang itu
dan sebaliknya jika harga produknya itu mahal tapi kualitasnya buruk maka konsumen pun
tidak akan membeli barang itu lagi kepada pedagang itu, maka dari itu jika kita ingin menjual
suatu produk maka kita tentukan harganya sesuai dengan kualitas barang itu.
Pertanyaan :
Apa hambatan pengusaha ketika ingin melakukan transformasi bauran pemasaran dari bentuk
P ke C?
Jawaban :
Hambatan Pengusaha ketika ingin melakukan bauran pemasaran dari bentuk p ke c yaitu kan
pada saat bentu p itu penguhasa hanya memikirinkan internalnya bisnis saja konsumen itu
dianggap pasif oleh pebisnis sedangkan pada bentuk c itu pengusaha juga harus memikirkan
konsumen bagimana konsumen itu nyaman dengan kita bagaimana kita bisa berkomonikasi
dengan konsumen.
Pertanyaan :
salah satu yang mencakup biaya non moneter itu kan upaya-upaya bersifat fisik, maksud dari
biaya upaya-upaya fisik tersebut apa?
Jawaban :
Upaya upaya fisik yang dimaksud di makalah itu seperti bahan baku biaya produksi kan disaat
menentukan harga dari suatu barang kita harus memperhitungkan harga bahan baku biaya
produksi agar pada saat kita menentukan harga kita tidak mengalami kerugian.
139
DAFTAR PUSTAKA
Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pekalongan, Ekonomi Syariah (konsep, praktek &penguatan
kelembagaan), Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009.
Ahmad Miftah, “mengenal marketing dan marketers syariah”, islamiconomic, vol 6 no 2, 2015
Dhika Amalia Kurniawan dan Muhammad Zaenal Abidin, Pengantar Pemasaran Islam, (Jawa Timur:
Lembaga Penerbitan Universitas Darussalam Gontor, 2018), hal 70
H.Fauzan, M,Si, Manajemen Pemasaran Syariah Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: CV BILDUNG
NUSANTARA, 2019 )
Hesunida, “PerbedaanPemasaran Syariah danKonvensional“(http://hes.unida.gontor.ac.id/perbedaan-
pemasaran-syariah-dan-konvensional/, Diakses pada 9 September 2021, 1:43)
Choirul Fuad Yusuf "Etika Bisnis Islam: Sebuah Perspektif Lingkungan Global", Ulumul Qur'an. No.
3, Voli. VllI, Tahun 1997.
Muslich, Etika Bisnis Pendekatan Substantif danFungsional, (Yogyakarta: Ekonomia KampusFakultas
Ekonomi UII Yogyakarta, 1998.
Pagut Lubis, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama,2012)
Asnawi, nur dkk, Pemasara syariah teori, filosofi dan isu-isu kontemporer, Depok:Rajawali per, 2017
Haryantini, S,Pd, M.M. Agra Sadya S.E, M.M. Sistem Informasi Pemasaran, UNPAM PRESS, 28 Nov
2019, tangerang Selatan
Maisarah Leli, Strategi Pemasaran Dalam Perspektif Islam, STAI-YAPTIP Pasaman Barat, Juranal At
Tasyri’iy, Vol 2, No 1,2019
Rahayu Triastity, MARKETING PLAN SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN STRATEGI
PEMASARAN PERUSAHAAN JANGKA PANJANG, Fakultas Ekonomi Universitas
Slamet Riyadi Surakarta
Winarso, W. (2017). Analisis Strategi Marketing Dalam Memilih Mengidentifikasi Dan Memilih Pasar
Sasaran Perusahaan. Fakultas Ekonomi (FE), Universitas Bhayangkara Jaya
140
Yuliana, R. (2013). Analisi strategi pemasaran pada produk sepeda motor matik berupa segmentasi,
targeting, dan positioning serta pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen
semarang. Jurnal STEI Semarang. Vol 05, No 02.
Agustini, N. (2003). Segmentasi pasar, penentuan target dan penentuan posisi. Jurnal ekonomi-
manajemen-akuntansi. Vol 01, No 02
Rahayu, B. “Manajemen Pemasaran”. Fakultas Peternakan Universitas Udayan
Tjiptono, Fandy, 2008. Strategi Pemasaran, Yogyakarta : ANDI.
Assauri, Sofyan, 2007. Manajemen Pemasaran : Dasar, Konsep, dan Strategi, Jakarta : PT
Grafindo Persada.
Alma, Buchari, 2004. Manajemen Pemasaran dan pemasaran Islam, Bandung : Alfabeta.
Cannon, Joseph p., William D. Perreault Jr. dan E. Jerome McCharthy, 2008, Pemasaran
Dasar : Pendekatan Manajerial global, Jakarta : Salemba Empat.
Kotler, Philip, dan Gary Amstrong, 2008. Prinsip-Prinsip pemasaran, Jakarta : Erlangga.
Nurhadi, Manajemen Strategi Pemasaran Bauran (Marketing Mix) Perspektif Syariah, Human
Falah, vol 6 No 2, 2019.
Sumantika, Ahsan dan Faizal Ardianto. Analisis Faktor-faktor Bauran Pemasaran yang
Mempengaruhi Keputusan Pelaku Usaha UMKM dalam Pemilihan Pengajuan Kredit
Pada Bank di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jurnal Manajemen, Vol 7 No 2, 2017.
Benyamin, Arie Putra. Strategi Bauran Pemasaran (Marketing Mix Strategy) Di Pasarkita
Pamulang, Jurnal Pemasaran Kompotitif, Vol. 2 No. 3, 2019.
Mohamad, Roni. Strategi Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Dalam Perspektif Syariah,
Mutawazin, Vol. 2 No. 1, 2021.
141
Fauzi, Ahmad. 2021. Analisa Pasar Bisnis dan 10 Perbedaan Pasar Bisnis dan Pasar
Konsumen, Rajamanajemen.
Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prenhallindo.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2008. Manajemen Pemasaran, Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Martina. 2020. Definisi Pasar Bisnis dan Prosesnya serta Ciri Perilaku Pembeli, ukirama.
Putra, Arie Dwi. 2012. Perilaku Pasar Pemerintah, arieblog.
Setiadi, Nugroho, J. 2008. Keputusan Pembelian. Jakarta : Kencana.
Ismanto, Juli. 2020. Manajemen Pemasaran, Tanggerang Selatan : Unpam Press.
Yulianta Restuadhi, Naili Farida, & Agung Budiatmo. Pengaruh Kualitas Pelayanan, Nilai
Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan Hotel Siliwangi Semarang.Universitas
Diponegoro.
Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran Edisi Milenium. Jakarta : Indeks.
Sudrajat, Darjat. Kapabilitas Dinamik, Kinerja Inovasi, dan Kinerja Perusahaan JasaLogistik di
Indonesia. Jurnal Binus Business : 2013.( Vol.4, No.2).
Darudiato, Suparto. Kevin Setiawan. 2013. Knowledge Management: Konsep dan Metodologi.
Jakarta: Jurusan Sistem Informasi, School of Information System, Universitas Bina Nusantara.
Kanaidi, & Ari, K. 2011. Analisis Customer Relationship Management (CRM) pada SBUPos
Admail, Banking and Management Review.
Maulana, Alief. Tito Robby Paryogo. 2020. Enterprise Resource Planning (ERP). Cilegon: Teknik
Elektro Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
142
Sucahyowati, Hari. Vol 13 No. 1 Pebruari 2011. Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain
Management). Gema Maritim: Akademi Maritim Nusantara Cilacap.
Ahmad Riefqi Taufiqi, 2016, Analisis Kinerja Penjualan dan Dampaknya Terhadap Kinerja Pemasaran ,
Sura ba ya .
Alfiyandi dan La Ode Syarfan, Analisis Bauran Promosi, Jurnal Valuta: April 2016. (Vol 2, No 1).
Atom, 2008, Mengembangkan komunikasi pemasaran yang efektif.
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran (Yogyakarta: ANDI, 2008)
Hapsawati Taan, Merancang dan mengelola komunikasi pemasaran terpadu, Gorontalo: Universitas Negeri
Goronta lo.
Nugroho J Setiadi, Perilaku Konsumen (Jakarta : Kharisma Putra Utama, 2010)
Philip Kotler, Prinsip-prinsip Pemasaran (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1999)
Seprianti Eka Putri,Persepsi Konsumen Terhadap Bauran Promosi, Bengkulu
Bakhri, Syaiful , 2012 “SUKSES BERBISNIS ALA RASULULLAH SAW” Jakarta: Erlangga
Zaini, Syahminan, 1965 kunci sukses kehidupan seorang muslim. Jakarta: kalam mulia.
Departemen agama RI, 2011 Al Qur’an dan terjemahan Jakarta: jamunu.
Priansa dkk, 2015 manajemen Bandung:Mizan Pustaka
Sula, dkk 2001 Syariah. Yogyakarta:Mizan,
Yusup , Akhmad,“PERAN ETIKA BISNIS DAN KUNCI SUKSES DALAM PEMASARAN
SYARI’AH”, jurnal hukum ekonomi syariah, Volume 3, Nomor 1, April 2020 : 65-77
Richmuslim, dkk 2010 Cerdas Bisnis Cara Rasulullah, Jakarta:Richmuslim Adikarya Bangsa
143
Rindjin, Ketut 2008 Etika Bisnis dan Implementasinya, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Saifullah Muhammad,“ETIKA BISNIS DALAM PRAKTEK MAL BISNIS MUHAMMAD”, Jurnal
Economica, vol.1/edisi I/November 2010 22-100
Muhammad J. Haryadi dkk, 2011 Bisnisman Ulung, Jakarta: Elex Media Komputindo,
Zukirahilmiah, pengendalian pemasaran, universitas alaudin Makassar2015
Nopirin ,pengantar ilmu ekonomi makro dan mikro , BPFE ygyakarta2000, hlm 276
Arif suadi , sistem pengendalian manjemen , BFPE yogyakarta 1999 ,hlm 6-7
Mubyarto dan edy sunandi hamid , meningkatkan efisiensi nasional , BPFE yogyakarta 1987
Setiawan , manajemen strategi , fakultas eonomi UI 199 .
Michael A hitt dkk , daya saing dan globalisasi , manajemen startegi , salemba 4 2001
Hartono (2018).Analisis Cost To Serve dan Customer Preofitabilitas dengan Timme driven
Activity Based Costing: Jurnal Akuntansi dan Keuangan. vol 5
Logiawan (2014). Analisis Customer Value Terhadap Customer Loyal Dengan Costomer
Satisfacation Sebagai Variabel Intervening Pada Restoran Bandar Djakarta Surabaya:
Jurna Manajemen Pemasaran Petra. Vol 2
Purnama (2019). Pengaruh Service Conveniece Terhadap Customer Loyalty Melalui
Customer Satisfation Sebagai Variabel Mediasi Pada Atlas Sport Club
Surabaya:AGORA. Vol 7
Syafrudin (2014). Redefinisi Buaran Pemasaran ( Marketing Mix). “4P” ke “4C” :Journal Of
Appleid Buisnes and Economics.Vol 1
144