Fileski
KITAB PUISI
NEGERI KERTAS
Penerbit CV Raditeens
Temanggung
Kitab Puisi Negeri Kertas
Temanggung; CV Raditeens, 2016
viii + 92 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan ke Sembilan, November 2016
Penulis : Fileski
Editor : Risky Fitria H
Layouter : Tim Raditeens
Desainer Sampul : Fileski
Email: [email protected]
Facebook : Raditeens Publisher
Website : www.raditeens.com
Twitter : @raditeens_good
Telp/WA: 085230668786/085343818888
ISBN: 978-602-74728-8-4
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin
penerbit.
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
LINGKUP HAK CIPTA
Pasal 2
(1) Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk
mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah
suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
KETENTUAN PIDANA
Pasal 72
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara
masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp
1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepa-
da umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Saya membaca sejumlah puisi di dalam Kitab Puisi
Negeri Kertas, dan menemukan kilatan-kilatan masa
silam petualangan di dalamnya. Buku ini menyiratkan
"Secangkir Kopi Dingin" adalah jejak petualang yang
terlampau sibuk dengan urusan-urusan yang bukan
tentang dirinya sendiri. Sekembali dari urusan itu, ia
tumpaskan kopinya. Selamat berpuisi, Kawan.
Candra Malik
Sufi
Fileski | iii
Mengendapkan puisi-puisi Fileski, seperti menyaksikan
sajian orkestra dengan sayatan jernih menyenangkan
sekaligus menyayat melarakan. Lugas, bernas, lalu
memanas. Itu simpul melodi yang bisa saya dengar dan
rasakan. Teruslah bentangkan sayap untuk
penerbangan-penerbangan kelangit aksara berikutnya.
Badai angin akan semakin melambungkan tinggi
terbangmu Fileski. Eagle fly free!
Kirana Kejora
Novelis Best Seller Film Air Mata Terakhir Bunda
iv | Kitab Puisi Negeri Kertas
Pertemuan saya dengan pengembara ini di Singapura
beberapa waktu silam, melahirkan kerinduan di hati saya
akan lahir karya-karyanya dari pengembaraan hidupnya.
Bagi saya, perjalanan hidup : perih, suka, cinta, dan rindu
yang dijalani langsung oleh penyair akan menjadikan
puisi-puisinya lebih bernas. Tiba-tiba saya dikejutkan
dengan lahirnya antologi puisi pertamanya. Dan benar,
saya menemukan pengembaraan hidupnya di puisi itu.
Selamat Fileski.
Asrizal Nur
Penyair - Puisi Multimedia
Fileski | v
Puisi dalam kadar tertentu mengutamakan musikalitas,
korespondensi, dan intensifikasi. Puisi yang terkoleksi
dalam buku ini secara apik memadupadankan potensi
Fileski dalam hal olah diksi yang berkorespondensi
dengan musikalitas. Dan secara intensif menguak
beragam fenomena yang diabadikan dalam puisi padu-
padat dengan harmonisasi internal dan eksternal.
Dimas Arika Mihardja/Prof. Dr. Sudaryono
Dosen-Sastrawan
vi | Kitab Puisi Negeri Kertas
Jika kehidupan itu kaya oleh fenomena dan peristiwa,
Fileski telah berhasil merangkumnya dalam puisi-puisi
yang telah ditulisnya. Ia tidak hanya menuliskan apa
yang dijumpai, tetapi juga yang dialami dan dirasakan,
dan sekaligus menunjukkan sikap kritisnya terhadap
fenomena atau peristiwa itu. Dengan untaian bahasa
yang lembut, nyaris mirip dengan suara yang
ditimbulkan oleh gesekan biola, puisi-puisi Fileski akan
sampai ke dalam jiwa pembaca.
Tengsoe Tjahjono
Sastrawan
Fileski | vii
Fileski, penyair muda yang hebat. Sebab dia langsung
menjajal alam Internasional dengan membina nama di
Singapura, di samping Indonesia, karena zaman sekarang
banyak kemudahan sarana dan fasilitas, sehingga lebih
memungkinkan. Dan tampaknya dia mulai berhasil. Di
samping beberapa puisinya dimuat di beberapa media
massa, berita mengenai kegiatannya sudah masuk Koran
RADAR SURABAYA, JAWA POS dan bahkan majalah
TEMPO. Sekarang tinggal uji ketahanan, sebab Bung
Fileski akan banyak berhadapan dengan berbagai rasa
jemu, berbagai ujian kehidupan, bahkan akan
menghadapi banyak musuh yang cuma mengandalkan
rasa iri hati. Itu semua juga sudah kulalui Bung! Ayo
Bung maju terus!
Viddy Ad Daery
Penyair, novelis, budayawan dan pembuat film
viii | Kitab Puisi Negeri Kertas
Selepas mengenali Fileski sebagai “pemuzik puisi”, dalam
karya berbentuk lagu-berlirikkan-puisi yang dihasilkan-
nya amatlah menarik sehingga E-Sastera mengeluarkan
anugerah “Musikalisasi Puisi” buat lagu-lagu puisi
ciptaannya sempena majlis Hadiah eSastera.com
(HesCom) 2014. Dan buku ini membuktikan bahawa
Fileski bukan sahaja mempunyai kebolehan mencipta
lagu dan mempersembahkannya di pentas. Malah dia
mempunyai kebolehan menghasilkan sajak-sajak yang
baik. Kelahiran kumpulan sajak Kitab Puisi Negeri
Kertas ini menyerlahkan kepada khalayak bakat menulis
sajak yang ada pada anak muda ini. Syabas saya ucapkan
buat saudara Fileski atas kelahiran buku kumpulan
sajaknya yang sulung ini. Saya doakan semoga beliau
terus maju dalam semua genre sastera yang diceburinya.
Terutama sekali dalam genre lagu puisi yang pada masa
ini, amat menjanjikan dari segi mempromosi karya
sastera kepada generasi masa kini.
Prof. Dr. Irwan Abu Bakar
Presiden, Persatuan Aktivis e-Sastera Malaysia (e-Sastera)
Fileski | ix
Puisi Fileski seperti pengejawantahan suara gesek biola
yang ia mainkan dengan penuh dinamika. Puisi Fileski
seperti mewakili nada-nada biola lewat kata-kata.
Terkadang melengking, menjeritkan tragedi. Tetapi
terkadang mendayu mendendangkan merdu cinta nan
romantis. Fileski adalah 'dua sosok' yang menjelma jadi
satu yaitu: musik yang puitis.
R.Giryadi
Penulis dan Pengelola Majalah Sastra Kalimas
x | Kitab Puisi Negeri Kertas
Beberapa kali saya melihat Fileski di panggung membaca
sekaligus menyanyikan puisi sambil bermain biola. Dan
saya begitu betah menyaksikan keseluruhan
pertunjukannya dalam buku puisinya ini. Yang tentu saja
berbeda cara penikmatannya dengan ketika
dipanggungkan. Saya masih merasakan kebetahan itu
meski dengan kadar yang tak sama.
Dadang Ari Murtono
Penyair & Cerpenis
Fileski | xi
Fileski yang kukenal (melekat sayang di hatiku kerana
usianya yang sebaya dengan cucuku). Kami pernah
bersama bersusah senang dalam mengharungi kembara
untuk menangguk ilham berkisah dengan menaiki bas
atau kereta api, adalah anak yang sabar dengan karenah
kehidupan. Ia pandai merekam peristiwa dengan
kekayaan kata-kata, Komposer yang berbakat dalam
Musik Sastera, sangat mahir dengan gesekan biolanya,
menghasilkan komposisi musik yang diilhami dari karya
puisi, cerpen, dan novel, hingga beliau digelar Poet
Musician. Karyanya yang terbit dari hati, di samping
banyak mendengar, memandang dan menghayati sendiri
secara alami, mencetuskan sentuhan puisi yang
memaparkan kasih sayang dan segala perasaan dan
semuanya terangkum dalam Kitab Puisi Negeri Kertas.
Anie Din
Novelis & Penyair Singapura
xii | Kitab Puisi Negeri Kertas
Saya mengenal Fileski seorang pemuda yang bertalenta.
Semuanya dia lakukan dengan jiwa, menulis dengan
indah. Dengan biolanya, laki-laki ini mengalunkan semua
syair-syairnya tentang mimpi, harapan, yang melambung
juga tentang perdamaian dengan cinta yang hebat.
Fileski selalu menulis dengan hati dan kepekaannya
menyoroti masalah-masalah yang terjadi di sekelilingnya
begitu menyentuh. Buku ini bisa menginspirasi semua
anak muda di negeri ini.
Rini Intama
Penulis, Pendidik
Fileski | xiii
Puisi-puisi Fileski seperti cermin beragam peristiwa.
Merefleksikan cerita cinta, terhadap Tuhan, alam, dan
sesama. Ada keliaran pikir yang kadang ditahan agar
tidak meledak, namun keinginan menuliskannya begitu
melesak. Kadang ritme puisinya lembut, kadang
menghentak, seperti nada dalam gesekan biola yang
sering dimainkannya. Pada beberapa titik, ia perlu juga
berhati-hati dengan diksi, agar sajiannya tetap gurih,
ibarat masakan, tidak kelebihan atau kekurangan garam.
Ratna Ayu Budhiarti
Penulis
xiv | Kitab Puisi Negeri Kertas
Persoalan sastra, persoalan penempatan anak muda
dengan bijak. Kiranya begitulah ungkapan untuk
menggambarkan kesusastraan dan dunianya. Fileski
yang merupakan barisan muda menerbitkan antologi
puisi tunggal dengan tema-tema kekinian. Ini penting
dicatat dan diingat. Hari ini dan hari mendatang, puisi-
puisi yang ia tawarkan semoga memperkaya khazanah
kesusastraan Indonesia.
Muhammad Rois Rinaldi
Penyair
Fileski | xv
Dalam Kitab Puisi Negeri Kertas ini, Fileski menyelami
kerinduan pada yang terkasih, rindu atas negeri, serta
rindu pada Sang Pencipta. Tengoklah larik puisi yang
memukau ini: Nafas huruf-huruf muram
beterbangan/Berjejal mengantri memahatkan diri/Pada
salib-salib kegelapan/Pada rindu yang menyisakan
malam (Musnah). Juga yang ini: Tubuhmu layaknya kapal
karam yang kurengkuh/Dan kembali berlayar (Aku
Budakmu). Buku ini sangat cocok bagi mereka yang
memiliki romantika pada dirinya.
F Aziz Manna
Penyair
xvi | Kitab Puisi Negeri Kertas
Sebuah kumpulan sajak yang setiap katanya nampak
mengalun dari hati. Aura romantisme cinta, sosial
kemanusiaan, sangat terasa dalam detak langkah yang
berirama dan jejak mata pembaca. Serupa gesekan
biolanya yang mampu menggetarkan pendengarnya.
Puisi Fileski adalah puisi gugahan hati yang mampu
bernyanyi pada mereka yang selalu peduli. Merebahkan
hati dalam nurani suci penuh kasih. Kumpulan puisi
Fileski adalah kumpulan nada dengan suara hati atas
cinta, imaji dan realita.
Deny Tri Aryanti
Penyair
Fileski | xvii
Jika ada anak muda yang "ngotot" ingin mengubah dunia
dengan puisi, itu adalah Fileski. Berbekal
kemampuannya menulis puisi, membuat lagu dan
memainkan biola, Fileski pun bergerak di "jalan sunyi"
yang amat sedikit anak muda bersedia melalui jalan yang
dilintasi seniman asal Surabaya ini. Hasil dari
"kengototannya" itu, Fileski pun beroleh banyak
penghargaan, baik berupa apresiasi para peminat sastra
di dalam negeri, maupun penghargaan dari luar negeri,
di mana dirinya melakukan serangkaian pembacaan dan
menyanyikan puisi lintas negara Asia Tenggara. Melalui
antologi berjudul Kitab Puisi Negeri Kertas, Fileski
ingin menegaskan betapa dia telah memilih jalan
susastra bagi dirinya secara bersungguh-sungguh.
Selamat Fileski, selamat bernyanyi dan menulisi langit
dengan puisi-puisimu.
Jodhi Yudono
Musisi Puisi – Penulis Kompas.com
xviii | Kitab Puisi Negeri Kertas
ADA APA DENGAN PUISI?
Bagi saya menulis puisi adalah sebuah syarat
untuk bisa hidup setiap harinya selain makan, tidur,
bermain biola, dan membaca. Membaca apa saja, baik itu
buku-buku ataupun peristiwa sehari-hari yang mengusik
isi kepala mesti saya tulis. Atau kalau tidak, akan
meledak dan membuat kepala saya pecah berhamburan.
Artinya, begitu penting peran puisi dalam kehidupan
saya, bisa disejajarkan dengan kebutuhan bernafas.
Apakah saya adalah penyair atau bukan penyair, saya tak
ambil pusing, sebab keberadaan puisi jauh lebih penting
dari sekedar pengakuan. Siapapun bebas memberikan
sebutan pada saya, entah itu penyair, biolis, vocalis,
composer, ataupun apa saja.
Dalam proses penulisan ini, saya hanya ingin
menuangkan kegelisahan saya sebagai cara bertanggung
jawab atas anugerah kehidupan dengan cara merekam
lewat media kata. Sebab hanya dengan puisi saya bisa
merekam peristiwa yang terjadi pada diri saya, sebuah
catatan yang mampu merekam peristiwa hingga tataran
suasana, warna, emosi jiwa, dan energi yang tak mampu
Fileski | xix
ditangkap oleh alat perekam paling canggih sekalipun.
Dengan alat perekam yang begitu dahsyat ini, saya
pergunakan untuk mencatat jejak setiap jengkal waktu
yang saya lewati sehingga bisa menjadi cermin diri
sebagai kajian refleksi dan evaluasi diri.
Bagaikan anak kandung sendiri, setiap puisi yang
saya tulis akan saya asuh dengah baik dan takkan saya
biarkan terlantar berserakan. Untuk itulah pentingnya
keputusan untuk membukukan kumpulan puisi ini
menjadi satu kitab agar tak tercecer.
Meski tampak sederhana, saya merasa belum
bisa menyelami puisi-puisi ini. Terkadang saya nampak
begitu puitis, terkadang nampak begitu garang dan
berkobar-kobar, terkadang juga terlihat lugu (terlalu
jujur) dalam mencatat peristiwa. Kerap kali saya
terombang ambing oleh puisi yang saya tulis sendiri.
Terkadang puisi nampak begitu gamblang dan terkadang
begitu remang, dalam, dan penuh misteri yang membuat
saya tak pernah selesai menyelaminya.
Maka tidak heran, jika dalam kitab puisi ini
pembaca akan menemui beragam bentuk puisi yang saya
tulis. Jika ada yang menyebut istilah puisi gelap dan puisi
terang, ya, saya mungkin menulis keduanya. Sebagian
xx | Kitab Puisi Negeri Kertas
puisi mungkin begitu mudah dipahami, namun sebagian
sulit dijelaskan namun bisa dirasakan manis getirnya.
Semua mengalir begitu saja, untaian abjad yang mungkin
sulit untuk dipahami namun ia mengalir dalam gurat
nadi sehingga relung hati mampu mengerti apa yang
dimaksudkan dalam arti. Itulah puisi bagi saya, begitu
bebas dan merdeka, bahkan saya rasa, tak ada yang lebih
merdeka dari puisi.
Dulu, saya rasa biola adalah sesuatu yang paling
merdeka, sebab tak ada garis-garis pembatas nada, dan
ia mampu mengeluarkan karakter nada tertentu yang tak
dapat dijangkau instrument lain. Namun ternyata, dalam
fingeringbord sebuah papan mulus tanpa batas nada itu,
ternyata ada satu tatanan nada yang mesti dipatuhi.
Berwujud garis imajiner dalam teknik penjarian bermain
biola. Ini yang membuat saya tergoda pada puisi. Namun
banyak orang berkata, tanpa biola dan puisi maka takkan
pernah ada Fileski, maka hingga ujung usia sepertinya
saya takkan pernah lepas dari keduanya.
Kitab Puisi Negeri Kertas adalah kumpulan
puisi yang terdiri dari puisi-puisi yang pernah saya
publikasikan di buku-buku kumpulan puisi karya
bersama, tersiar di media masa, dan beberapa pernah
Fileski | xxi
saya unggah di media sosial. Kitab Puisi Negeri Kertas
adalah kumpulan kegelisahan saya yang bertumpu pada
tema mimpi, harapan, perdamaian dan cinta. Beberapa
sudah pernah saya gubah menjadi nyanyian puisi, atau
orang biasa menyebutnya musikalisasi puisi. Beberapa
puisi ada yang menyinggung tentang sosial politik, dan
sebagian besar berbicara tentang kerinduan, baik itu
kerinduan kepada kekasih, kepada Tuhan, atau kepada
sebuah negeri utopia yang saya sebut Negeri Kertas.
Ada banyak pihak yang begitu berjasa dalam
mewujudkan keinginan yang sudah lama terpendam ini.
Pertama, saya ucapkan terima kasih pada Allah SWT dan
Rasul-Nya, terimakasih kepada Raditeens Publisher, dan
Risky Fitria Harini, kepada kedua orang tua dan adikku
tersayang, kepada Komunitas Negeri Kertas, kepada
Komunitas Musik & Sastra di seluruh nusantara, kepada
Pak Tengsoe Tjahjono atas kata pengantar sekaligus
restunya, kepada Gus Candra Malik Sang Inspirator,
Mbak Kirana Kejora, abangku Asrizal Nur, Pak Dimas
Arika Mihardja, Pak Viddy Ad Deary, Cak R.Giryadi atas
covernya yang ciamik, Alm. Bapak Johan Budhie Sava,
Dadang Ari Murtono, Bunda Anie Din, F.Aziz Manna,
Mbak Rini Intama, Pak Ananto Sidohutomo, Muhammad
xxii | Kitab Puisi Negeri Kertas
Rois Rinaldi, Deny Tri Aryanti, Mas Jodhi Yudono, Alek
Subairi, dan banyak pihak yang tak bisa saya sebutkan
semuanya disini, beribu terimakasih untuk semuanya.
Jika ada diantara pembaca yang mungkin akrab
dengan puisi saya, tentu karena kerelaan hati untuk
mengakrabinya disela-sela padatnya hari yang teramat
mampat. Kendatipun ada sebuah manfaat dari apa yang
terbaca dari puisi saya, tentu itu di luar kuasa saya dan
puisi saya, sebab yang membuat puisi lebih berarti
adalah imaji dari pembaca.
Demikian sekelumit kata dari saya, kurang
lebihnya saya haturkan beribu maaf.
FILESKI
Fileski | xxiii
xxiv | Kitab Puisi Negeri Kertas
DAFTAR ISI
Ada Apa dengan Puisi --- xvii
Daftar Isi --- xxiii
Sebuah Persembahan Puisi: Kitab Puisi Negeri Kertas
Kedaiamaianku --- 1
Pengembara --- 3
Perahu --- 5
Dalam Asma-Mu --- 6
Masa Lalu --- 7
Wahai Perempuan Sunyi --- 9
Senandungmu --- 11
Aku milikmu --- 13
Dalam Satu Jiwa --- 14
Penghujung Rintihan Musim --- 16
Kekasih Terakhir --- 17
Kapal Terakhir --- 18
Dua Segi Tiga --- 19
Fileski | xxv
Menunggu dalam Jeda --- 20
Buah-Buah Rindu --- 21
Pencarian Rindu --- 22
Rindu Berpaut --- 23
Perjumpaan --- 24
Pagi yang Pekat --- 25
Gejolak --- 26
Isyarat Hujan --- 27
Bunyi Keabadian --- 28
Bukan Salah Hujan --- 30
Tersimpan dalam Sunyi --- 31
Terpendam Sepi --- 32
Rindukan Sunyi --- 33
Musnah Sudah --- 34
Bait-Bait Kenangan --- 35
Debu di Gurat Dahi --- 36
Berikan Kesempatan --- 37
Mencari Jalan Rejeki --- 39
xxvi | Kitab Puisi Negeri Kertas
Tentang Pejalan Nasib --- 40
Kehadiranmu --- 41
Salju dan Sepi --- 43
Tertindih Jiwamu --- 44
Kemelut Maut --- 45
Jalan Puisi --- 46
Pengembara Fatamorgana --- 47
Dirimu adalah Langit Malam --- 48
Keheningan Biru --- 50
Rongga Jiwamu --- 52
Syair Gunung kepada Samudera --- 54
Hanya pada Kematian --- 55
Jalan Pulang --- 57
Jejak Abadi --- 58
Jalan Sunyi --- 59
Kutemukan Keabadian --- 60
Terlahir Pagi --- 61
Hujan --- 62
Fileski | xxvii
Melukis Kasih --- 63
Ibu Pertiwi --- 64
Prasasti Nusantara --- 65
Menjadi Indonesia --- 66
Tentang Penulis --- 67
xxviii | Kitab Puisi Negeri Kertas
Sebuah Persembahan Puisi
“Kitab Puisi Negeri
Kertas”
Kedamaianku
Terlafal sembulan hujat di sana-sini
Pendar dalam senja memar
Gemetar raga terjebak muslihat fana
Menampik hujat yang disumbar kaum pendosa
Membuatku rindu taman bunga kesunyian
Yang ada dalam cerah senyummu
Cahaya pada lahan subur yang menjalar kejernihan
Menautkan nyanyian kedamaian
Engkau yang selalu menarikku pulang
Lambung dari laparku
Tenggorokan bagi hausku
Aku bertanya pada langit tua
Ia hanya bungkam dirimai warna kelabu
Belati langit menerpa jiwaku yang beku
Menangisi bayangmu di bawah lampu
Fileski | 1
Menengadah hatiku menyebut namamu
Bergema seluruh semesta memanggilmu
Surabaya, 2014
2 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Pengembara
Sepanjang perjalananku pergi
Di mana pun aku kini tegak berdiri
Masih di lengkung langit yang sama
Langit yang kau cipta untuk tanda kebesaran
Samudera biru meriak rinduku untuk bertemu
Dalam ombak nadiku bergemuruh namamu
Ayat-ayatmu yang tak hentinya kuderas
dalam lembaran lontar tertulis penuh namamu
Kulepaskan mengalir terbawa desir
Dan sepiku sirna dari lubuk jiwa
Di hati engkau terpahat penuh makna
Setiap namamu telah kupilih maknanya
yang mungkin tak lagi mereka kenali
Aku hanyalah pengembara yang menyusuri sungai
melintasi hujaman terik dan hujan
Fileski | 3
Hanyut aku dalam takdirmu
Hingga kembali menyatu bersamamu
Madiun, 2014
4 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Perahu
Perahu cahayaku datang berkilauan
Kilaunya menyingkap gelisah dalam kalbu
Ingin segera kukayuh dan berlayar
Rasanya tak lama lagi segera bertemu
Telah kusucikan hati, sudah kumantapkan gayungku
Kukayuh sekuat tenaga dan jiwa
Namun masih terasa kerak dalam dada
Hingga perahu ini goyah
Terombang-ambing arah
Dermaga persinggahan luput
Menggigil sendiri dalam kalut
Dalam doa aku termangu, menunggu cahayamu
Madiun, 2014
Fileski | 5
Dalam Asma-Mu
Dzikir yang kuucap malam ini
Terlunta sia-sia entah ke mana
Luruh kelam tak tahu arah tujuan
Semakin kelam asa ingin meraih cahaya
Betapa ingin kulepas segala beban dunia
Setelah sekian lama lemas digelayut ragu
Kularung emas di negeri fatamorgana
Mengurai rahasia sedih yang tak berujar
Ingin kutulis nama-Mu dalam jantungku
Agar berdegub sepanjang waktu menyebut-Mu
Layaknya ayat-ayat yang menyeru rindu
Madiun, 2014
6 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Masa Lalu
Mata senja hembuskan kenangan
Tentang aku dan kamu waktu itu
Awan jingga hamparkan cerita
Tentang pasir yang lepas dari genggaman
Gubuk kecil murung sendiri
Perahu rindu milik siapa
Dermaga terakhir ditelan malam
Tanpa tujuan, tanpa sampan
Samudera mengering di pelupuk mata
Bagai karang kehilangan mutiara
Ombak tenang di akhir hari
Membawa jiwa entah ke mana
Waktu semakin menyeret senja
Dan nyiur itu melukis wajahmu
Yang melambai di detak jantungku
Fileski | 7
Ah ... hanya masa lalu
Meski senja di sini selalu sama
Kali ini hanya tak ada keningmu
12 September 2016
8 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Wahai Perempuan Sunyi
Aku terengah duduk bertabur serbuk kesunyian
Inginkan hangat gugur dan geliat daun tropis
Sementara matahari masih rendah berselimut embun
Usai meraut sosok wajah yang mengulam rindu
Tak terkejar taman khayalmu yang hasrat kugali
Menyisir rimbun perdu bias bayangmu
Jemariku rindu semilir rambutmu
Tawa riuh ringkik di padang rumput
Dan harum angin muson
berpadu aroma roti bakar selai racikanmu
Kita berkelakar pingit mengungkit masa silam
Goreskan cerita pada kertas merang dan pencil arang
Kita lansir puisi tentang kabut dan bulan ranum
Menafsir rindu semuram cuaca, sehangat senja
Wahai perempuan sunyi penopang jiwaku yang pupus
Fileski | 9
Usah berperancah duri mengurai tangismu
Repih doaku melesat hingga langit terujung
Melafal setia hingga ke ajal
Ketika kusapa dirimu dengan puisi
Jangan katupkan pintu dan jendela jiwamu
Jangan sumbat ruang-ruang kesunyianmu
Sebab dirimu tercipta hanya untukku
Surabaya, 2014
10 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Senandungmu
Cerlang pandang mata pujaan menjalar nalar
Menuntunku menatah nisan esok hari
Sayup kudengar malam tergetar senandungmu
Degup dadamu membisikkan kehangatan fajar
Berdua mengeja semesta esok yang misteri
Merangkum rencana yang terujung
di pelupuk mata
Padam sumbu kalbu aroma surga kuhisap
Seharum hawa lembah susu yang melecut
Hembuskan nafsu muara rahasia
Tak henti menelusuri palung nafasmu
Mengembarai jejak detikmu
Menyeka setiap tetes mata air matamu
Kukecup setiap kuncupmu
Kupagut semua kalutmu
Fileski | 11
Kusesap semua ucapmu
Hingga alpa menumbuh-rubuh
Surabaya, 2014
12 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Aku Milikmu
Tubuhku layaknya kapal karam yang kaurengkuh
Dan kembali berlayar penuh gairah
Jiwaku meronta terjamah naluri
Berkilauan aroma jiwamu yang telah kuteguk
Setiap celahnya kuselusupi tanpa menyisakan kosong
Kuhisap pusar rahasiamu hingga terkuak misteri
Kita dilimbur dosa masa gemilang
Sirna bebutir gerimis memperkuyup kecup
Sirna getir tangis dan dengus nafas gugup
Kuhalau beku menggumpal sedu dan sengal
Tipu daya asmara mengidap kita dalam amnesia
Setiaku melayanimu bagai budak rampasan
Surabaya, 2014
Fileski | 13
Dalam Satu Jiwa
Kasih kesah jiwa merangkak menggapai ruhmu
Bertaut ombak pasang
Kubaluri pasir
Menyerpih ceruk jiwamu
Curammu berbuih terhempas terlepas
Fajar segera sirna
Senja segera sampai
Persemayaman duka pengembara
Lorong gulita menerka suara
Peramlah cahaya fajar terujung kaki langit
Kusemat di nafasku
Menyisakan selat menyusut semata kaki
Denyut nafas bersua bukit hening
Menyisakan mata air letih terbaring
Luka pulih segalanya kembali asing
14 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Kita bagai lahan yang tabah
Bersemanyam mekar dua jiwa
Saling butuh menjadi satu jiwa
Surabaya, 2014
Fileski | 15
Penghujung Rintihan Musim
Pada penghujung rintihan musim
Retak bebatuan terjal dan ranting meranggas perlahan
Dedaunan kering menyisir bayangmu
sepanjang tanah kerontang
Kian guratan senyummu redupkan cakrawala terik
Mencuatkan oase surga dalam liang jiwaku yang nanar
Wangimu menyeruak merengkuh kesejukan di tubuhku
Menetaskan guratan puisi yang kutulis pada batu
keabadian
Kau tepiskan retak luka yang remuk dalam jiwa
Siratkan secercah harapan di penghujung perjalananku
Surabaya, 5 Oktober 2014
16 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Kekasih Terakhir
Tubuh yang kurengkuh di saat terakhir
Sekarang kau di mana?
Setiap nafasku memikirkanmu wahai pujaan
Sukmaku berduka selama kau menghilang
Karena kau mengerti,
demi dirimulah kutepis gemerlap dunia
Aku tak langsir sederet laksa gunjing mereka
Karena, kau telah rasuki sebelum dan setelah
kelahiranku
Kisah terakhir bersamamu selalu melintas di kepalaku
Sampai kuhembuskan nafas terakhir
Dan aku tahu, kau kan berduka
Seperti yang selalu kutakutkan selama ini
Dukamu adalah penderitaan terhebat bagiku
Surabaya, 4 Oktober 2014
Fileski | 17
Kapal Terakhir
Dua anak manusia berpeluk mesra
Sebelum berpisah mereka memeluk asa
Lelaki bergumam kebohongan terindah
Tentang sebuah harapan dan rumah masa depan,
Seolah cinta telah digenggam keabadian
Harapan mungkin tanpa cela
Namun tetap saja sang pujaan berduka
Tak berdaya melepas genggaman tangan
Memandang jauh ke arah laut
Kapal pun menghilang dan sirna ditelan kabut
Akankah ujung penantian adalah pertemuan
Gaung klakson dan mesin kapal menderu
Tepat di saat ujung hatinya diterpa ombak dermaga
Surabaya, 2 Oktober 2014
18 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Dua Segi Tiga
Gemercik air di antara kebimbangan
Tanpa kabarmu serasa kehilangan
Rindu mencekam mendung kelabu
Kehampaan arah berpijak yang goyah
Kekasihmu jauh di sana
Kekasihku demikian serupa
Kita sama berpaut
Bercumbu di antara remang kepastian
Dosa terindah menyusup kesetiaan
Takdir ini sebagai bagian perjalanan kisahku,
kau, dan kekasih kita
Terimakasih telah mencumbuku
Meski kau tahu semestinya tak ada kita
Fileski | 19
Menunggu dalam Jeda
Aku menunggu kuncup bunga angsoka di halaman putih
Tanganku meraih angan senja temaram
Semilir pohon nyiur menjinjing tempayan
Lamunanku menjulur tekun mengukir jalur waktu
Nafasmu kudengar sesamar cahaya jingga
Marwah mawar meruap kasih merona lembut
Hirup harummu kalut kalbuku membelai bulan pucat
Gurit rindu lebam sekalem kalammu
Aku dalam jeda jumbuh rengkuh luruh
Surabaya, 2014
20 | Kitab Puisi Negeri Kertas