Buah-Buah Rindu
Sederetkah malam penyeduh ilusi
Malam kesepian merengkut dahaga yang menahun
Membelah halaman kisah percintaan usang
Berderet tebal seonggok doa-doa
Imaji mencengkram tebarkan wangi nafasmu
Sirna larik-larik resah saat engkau hadir
Kumaharkan tangkai yang bermekar buah-buah rindu
Kan selalu menjaga dan meminangnya
Surabaya, 2014
Fileski | 21
Pencarian Rindu
Bulan malam ini pucat membisu
Seorang diri menampung air mata
Di pelupuk matanya tampak sebongkah duka
Bulan sampaikan pesanku di tebing hatinya
Kilau rindu ini teramat mencabik-cabik dada
Sederet bintang masih bersembunyi di balik bukit
Sederet doa dalam pertapaan
Semoga pertemukan pencarian rindu
Surabaya, 2014
22 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Rindu Berpaut
Bercak nafas sendu dalam sepotong puisi
Bersimbah gigir sunyi dalam hati
Kurindukan belukar bakau lautmu yang camar
Merindu canda tawamu yang hingar
Jika kau ada belantara dunia berkelakar
Derap kuusap dadamu bertabur mawar
Gairah rindu berputar geletar menggelepar
Nafas yang menggebu rindu berpaut gusar
Surabaya, 2014
Fileski | 23
Perjumpaan
Dalam dekapan selimut malam
Ringkuk gigil dan berderet igau
Pucuk-pucuk mimpi menyesap senyap
Terbang berkelana ke rona rindu
Ujung perjumpaan adalah ketiadaan
Jejak-jejakmu mencabik kenangan
Semakin pekat dan tersamarkan
Sepi yang mengintai membercak resah
Malam ini bagaikan jawaban
Akhirnya kutemukan
Senyum yang masih seperti dahulu
Merampungkan kemarau rindu
Surabaya, 2014
24 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Pagi yang Pekat
Negeri fajar mengurai rahasia
Berujar ruang kasih menyeru rindu
Dalam percumbuan kudus di pangkal waktu
Terlunta pekat pangkal-ujungnya
Menyergap desah lembut bibirmu
Lemas digelayut sang pujaan
Meriwis garis gerimis dipingit langit
Terurai menjadi desis memanggut kasih
Semburat curah bagai hujan
Surabaya, 2014
Fileski | 25
Gejolak
Tiap kali kupandang titik langit yang jauh
Kurangkum hasrat yang bergejolak
Bersama arah amarah,
Dari wajah senja yang terbelah
Gejolak jiwa mewarnai separuh langit
Namun, ingin kusaksikan lagi keheningan
Ketika jiwaku menyesap di tubuhmu
Sebagai tanda bagi penyatuan semesta
Tanpamu aku terkapar di antara jurang-jurang
Yang berhimpitan di antara reruntuhan kehidupan
Kusangsikan tahun demi tahun yang terlepas
Bagaikan jiwa-jiwa yang kehilangan
26 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Isyarat Hujan
Bersenandunglah di antara gerak rumput-rumput hijau
Atau termenung saja mengamati senja
Siapa tahu pelangi akan muncul menyapamu
Dengan kesedihan bibirnya yang melengkung
Namun yang hendak dikatakannya, adalah suara yang
tersembunyi
Dari yang kau tahu selama ini
Bersenandunglah dalam naungan langit yang menahan
duka
Atau menjajaki belantara kesedihannya
Karena hujan yang pulang adalah kawan dari lautan
Yang membasahi ladang-ladang miliknya
Inilah isyarat
Namun hatimu telah tuli untuk merasakannya
Fileski | 27
Bunyi Keabadian
Layaknya sang naga yang tertidur abadi
Sungai berkelok
Mengalir ke samudera
Di antara lembah dan pucuk barisan cemara
Terlihat berkilau dalam balutan singgasana pagi
Kicauan rimba merantak dari lereng gunung
Jalan setapak menyisir di rentetan pohon asam
Memisahkan dua pemakaman kembar
Dan kesunyian yang merasuk
Menyisakan bunyi keabadian
Seolah menembangkan lagi kematian silam
Kuda meringkik dari ladang peraduannya
Mata jingga yang mendaki
Di balik debur samudera
Seolah mengusir kerlip perhiasan sang malam
28 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Cakrawala berganti jubahnya,
Seiring kibasan sayap sang surya
Namun jiwaku tetap membeku tanpa hadirmu
Tuban, 2013
Fileski | 29
Bukan Salah Hujan
Merasakah aku remuk rapuh,
Terik menyayat peluh setiap kurengkuh
Dan menimang guguran daun keringi
Aku remuk, aku rapuh
Merasakah?
Ragaku terkapar
Terbakar di rimba yang gersang
Resah hanya bisa bergumam pada kemarau
Terkapar dan terdampar
Hujan, jangan murka
Jika saatmu tiba
30 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Tersimpan dalam Sunyi
Bayang sendu hitam rindu menahun
Sejak tanpamu, matahari enggan bernyanyi
Tersimpan rapat dalam sunyi
Tertanam pada palung hati
Dadaku yang terlalu lama mengeja hampa
Tanpa sayap-sayap asmara
Luruh nafasku terseret jejakmu
Mengulam rindu kukekalkan menuju keabadian
Surabaya, 2014
Fileski | 31
Terpendam Sepi
Jiwaku terkapar merindu nyanyianmu
Tanpamu, aku terkurung hening tidak bergeming
Melebur dalam sepi terpendam lorong ilusi
Bersama rindu jiwa menggelepar dahaga
Rontang seakan tak bernyawa
Surabaya, 2014
32 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Rindukan Sunyi
Hati yang lungkrah
Tertancap duri-duri fana
Pucat pasi tersayat fatamorgana
Merindu kesejukan jiwa
Telah lama tergerus bait-bait penantian
Di manakah taman surgamu?
Singgasanaku tuk bersemayam
Menuju jalan keabadian
Surabaya, 2014
Fileski | 33
Musnah Sudah
Segala pertanyaan telah basi
Malam ini karma pembalasan berceceran
Nafas huruf-huruf muram beterbangan
Berjejal mengantri memahat diri
Pada salib-salib kegelapan
Pada rindu yang menyisakan malam perjamuan
Semua musnah, ke mana yang tak kutahu
Berderet kata memenuhi lorong penyesalan
Surabaya, 2014
34 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Bait-Bait Kenangan
Telah berkeping luka menuju kekal
Tiada habisnya hujaman telontar dari bayangmu
Surga dalam hangat dadamu semu belaka
Hatiku koyak, senyummu tiada pasi
Dingin sikapmu menyuburkan imaji duka
Yang memburai di lorong hati
Bait-bait kenangan mencekik hariku
Surabaya, 2014
Fileski | 35
Debu di Gurat Dahi
Di penghujung musim kemarau
Retak tanah dan batang pohonan luruh merantak
Dedaunan bertaburan tersingkap sayap matahari
Debu di gurat dahimu terguris kisah perjalanan panjang
Menahan tetes darah dalam liang luka
Memendam perih nanah dalam gurat tapak kaki
Doamu terbang mengiris langit menjelma hujan
Membasahi anak-anakmu yang ada jauh di sana
Dengan kesejukan dan gelimang deras kesenangan
Entah apakah mereka masih mengingatmu
Kicau sembilu bergaung di bawah terik
Usai letih, kau lanjutkan perjalananmu
Madiun, 2014
36 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Berikan Kesempatan
Wangi senyummu yang kueja kali pertama
Kini, entah di mana
Sering kali aku terhenyak dalam mimpi
Lalu bersedih
Karena engkau tak di sini
Nyanyian timang-timang
Dan lantunan doa dalam bibir yang suci
Selalu kurindu hingga detik ini
Sebab kaulah yang membuka dunia
Dengan harapan dan doa-doa
Menemaniku sebelum ditiupkannya ruhku
Berikan aku kesempatan
Untuk membalas
Dan menjagamu hingga ujung usiamu
Seperti di masa kau menjagaku
Fileski | 37
Mengusir dingin di setiap gulita
Hingga menutup mata dalam lelap
Madiun, 2014
38 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Mencari Jalan Rejeki
Menelusuri trotoar sunyi
Menaklukkan malam dengan jejak mimpi
Kenangan dan hening bunyi menggenangi diri
Berpeluh imaji dalam mencari jalan rejeki
Membakar rindu pada tembikar masa kecil
Jalanan ini akan tetap sama
Hari ini atau sepuluh tahun lagi
Wonokromo, 2014
Fileski | 39
Tentang Pejalan Nasib
Menulusuri rindu jalan cahaya
Waktu yang terkejar tak mampu terkuak
Sederet terang membias semu
Kiasan yang memendar menjelma fatamorgana
Tentang lungkrah menganga di terik kolong waktu
Jejak fajar yang membutakan di awal perjalanan
Malam pekat rupa asap dosa beterbangan
Tentang pejalan nasib yang kelelahan
Merindu cahaya dan pulang ke ladang jiwa
Surabaya, 2014
40 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Kehadiranmu
Suara gemerincing mengusir hening
Bunyi kelu menyeretku terkucil
Melangkah ragu menapak bayang arus waktu
Menderas semu, mengoyak mimpi
Aku menyemai ramai berpijar pujian
Namun hariku memar derit kehampaan
Senyaring senar-senar tajam berdenyar sayat duka
Raung lorong jiwaku belum juga usai
Bunyi-bunyi perih sering timbul dan redup
Hingga datang sosokmu
Di saat jiwaku gagap-gugup dalam sepi
Mendamba kehangatan pengusir sunyi
Membasahi padang gersang dalam sukma
Merangkak lembut mengusir risau
Meracik ringkik nyalakan gairahku lagi
Fileski | 41
Ricik sunyi tepi-tepi senja kini sirna
Kelopak luka kau tutup selamanya
Berpaut rindu merindu hingga ajal tiba
42 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Salju dan Sepi
Sulur cahaya pendar menyisakan isyarat
Lorong-lorong riuh kehilangan lolong
Kendati duka compang-camping bersulam sepi
Merajamkan taring-taring masa silam
Sepi menjalar bergumam
Lidahnya menjilati patung di taman
Peraduan dermaga genangkan mimpi
Meringkuk berselimut kabut pekat
Semilir lembut melantunkan riap
Tunas menyingkap jagat musim semi
Busut-busut salju memuai kusut
Meliur sepi menghambur sunyi
Fileski | 43
Tertindih Jiwamu
Mencecap air di gurat langit
Mengibarkan rindu di bangkai musim
Jejakmu menggaris basuh embun
Tersepuh ranum jatuh dikulum alum
Kekal dalam sajak rekahan kembang
Bangkai hanyut menyusun bukit karang
Beringsut merasuki kelabu kabut
Melambai lesu diperam perih waktu
Nafas dan air payau membeku
Tertindih tumbang jiwamu
Surabaya, 2014
44 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Kemelut Maut
Mengeja asal mula kata
Cermin memantulkan malam buta
Terpejam gaung kata berisak tangis
Hujan murung di senja hari
Rahim rindu menunggu di dermaga terakhir
Berpaut tangan-tangan kubur tua
Mendung menggantung usah ditunggu
Melayang menjelma serbuk-serbuk doa
Butirnya berkilauan di ujung langit
Lentik bertabur milyaran di angkasa
Kemelut maut awal mula keabadian
Surabaya, 2014
Fileski | 45
Jalan Puisi
Hujan berjatuhan dini hari
Kemarau pun kehilangan dahaga
Aku menggeliat dari ringkuk semalam
Pucuk daun berseri kuncup kembang
Bergaun warna-warni gelak dan gerak
Seperti hatimu yang senantiasa terbuka
Yang hendak menyentuh selaput paling peka
Sedang seinsan diri membentang rindu
Hadirmu merawat yang tersayat
Dari sisa luka pecahan pesta lampau
Kutapaki jejak-jejak rahasiamu
Melalui jalan puisi ini
46 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Pengembara Fatamorgana
Rumpun perdu membelai belikat hati
Mekar gemetar layu luka hati
Dirimu terpahat kekal kuingat
Penuh sesal kata memilih maknanya
Lingkar langit bak riak rinduku
Palung dera samudera batinku
Bulan pucat layaknya nubuwat penuh olehmu
Pohon gugur daun mendamba hujan
Masa lalu kuyup menjelma suara
Menggelimang kesepianku menggeliat gamang
Aku bagai penyihir ringkih tertatih
Pengembara yang gampang terkesima
Menyusur alur sungai dalam arus fatamorgana
Mendekap harap akar-akar fana
Surabaya, 2014
Fileski | 47
Dirimu adalah Langit Malam
Awalnya kukira dirimu adalah samudera
Tetapi setelah kuarungi
Dirimu menjelma layaknya langit
Lelah mendakimu hingga jiwa lungkrah
Pesonamu yang tak mampu kusingkap
Dalam hamparan tabur bintang
Kunikmati kerlipmu
Sesaat sebelum dirimu berpaling
Sirna terusir oleh sang mata dewa
Bisikanmu kudapati pada dedaunan yang bersentuhan
Terbuai desir angin malam yang menyingkap
Sekarang aku mengerti,
Usah mengejarmu
Sebab dirimu telah bersemayam dalam jiwa
Tak berjarak namun begitu rekat
48 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Menyatu tetapi tak terjamah
Jika memang dirimu langit malam itu
Sesukaku kan kutelanjangi sepanjang petang
Dengan pandangku hingga desah basah pagi
Surabaya, 1 Oktober 2014
Fileski | 49
Keheningan Biru
Kau kukenal serupa senyum pelangi
Yang selalu bersarang di matamu,
Seperti canda tawa bocah-bocah
Mengejar layang-layang sore hari
Luruh tetesan gerimis
Menampung hujan di bejana
Ternyata, waktu yang melukis kenangan itu
Melebihi kesunyian yang begitu agung
Memeluk malam-malam di sini
Sejenak angin berdesir,
Bara unggun menjelma butiran peri yang terbang
Membentuk garis gugusan senyummu di angkasa
Memecah kebekuan malam ini
Dalam bola matamu, kulihat bocah-bocah
Berlarian, girang mengejar kupu-kupu
50 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Dan bermain di antara ilalang
Sembari memungut ruluh bunga randu
Ingin aku terbentang dan berputar
Seperti kincir angin itu
Selalu bernyanyi untukmu
Mengisi keheningan yang bergemuruh di nadiku
Meski aku tiada pernah sampai
Menyentuh tenun yang dengan sabar kaupintal
Walau hingga benang lunas terentang
Sorot matamu, percik cahaya mengusir kebekuan
Pembakar gulma pengusik lapang pematang
yang jadi penghalang padi-padi tumbuh menjulang
Engkaulah pembakar gigil jiwaku
Nyala api yang membuatku selalu ingin kembali
Surabaya 1 Desember 2013
Fileski | 51
Rongga Jiwamu
Pisau cahayaku melucuti setiap lekuk ragamu
Eksotismu yang kucecap kerap menjelma asap
Memicu ruas-ruas api di nadiku
Aku menyulam nyanyian di setiap ruang kesunyian
Untuk kubisikkan dalam ruang kesendirian
Saat jemariku menyentuh abjad-abjad rautmu
Seakan menelusuri jalan setapak menuju ujung dunia
Hingga akhirnya aku terkikis silau puncak cahaya
Melucuti lekuk tubuhmu dengan jari-jari imaji
Adalah hal yang percuma
Keagunganmu sekedar mampu kuresapi permukaannya
Layaknya asmara yang menghujam seketika, lalu pergi
Aku menyulam cahaya di lorong-lorong kenangan
Kupercikkan di palung hatimu
Kujejakkan tapak tanpa suara
52 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Kurasuki rongga jiwamu yang menganga
Di istana fatamorgana aku menari
Hingga sunyi
Trowulan, 2013
Fileski | 53
Syair Gunung kepada Samudera
Bahkan telah kutabur wangi kembang
Dan kusinari pekatnya rimba
Kupeluk bukit menjulang dan rawa yang pekat
Aku menyusuri jejak perantauanmu semenjak dari hulu
Dalam guratan sang fajar,
dan tapak embun di cakrawala pagi
Bercengkrama tentang angkasa malam
Hingga terlena arak canda tawa
Malam ini, daun-daun menari
Ombak dan bayu bergemuruh dalam pikiranku
Tak perlu kaupacu kereta para pendosa
Campakkan saja bongkahan tubuh-tubuh beku
Dalam relungmu, telah kupijarkan rahasia
Jejak cahaya, sebagai penunjuk arah ke samudera
Mojokerto, 2013
54 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Hanya pada Kematian
Kecuali kematian, aku tak mampu menerka
Keagungan senja dengan mega temaramnya
Bayangan rembulan,
menggores sepanjang sungai yang tertidur
Sembari menapak
Kulepaskan badai untuk ketenangan jiwa
Munajadku merasuk di sela-sela jemari
Termuramkan kalbu oleh wangi fatamorgana
Aku isyaratkan keinginanku pada kerlip cahaya
Yang dipancarkan kehidupan dari seberang
Sang pagi memercikkan sayap
Di balik cakrawala
Dalam jiwaku masih bergejolak ombak samudera
Namun hanya pada kematian,
aku pasrahkan segala munajad
Fileski | 55
Pemujaan suci yang lenyap
Menjadi jelaga dupa
Madiun, 2013
56 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Jalan Pulang
Angin sunyi hadir memanggil gigil
Menerkam kantuk mata menyusup mimpi
Hadir sosokmu yang sunyi dan teduh
Bayangmu menari di putaran waktu
Hingga jarumnya merangkak mencabik malam
Kau adalah pagi sekaligus senja
Pendar cahaya yang menuntunku ke jalan pulang
Surabaya, 2014
Fileski | 57
Jejak Abadi
Senja cakrawala bergelayut jingga
Awan-awan berkejaran dengan angin musim
Kepak sayap ruh membumbung hingga ujung bumi
Setibanya di ujung sunyi ia berpendar sirna
Berbekal puisi, menjadi jejak abadi
Surabaya, 2014
58 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Jalan Sunyi
Kematian telah mengantarku menuju sunyi
Telah lama dimabuk kegilaan mengejar dunia
Sisa kemarau tinggal dahaga merantak senja usia
Dalam bayang malam tersiksa berkayuh sendiri
Suka ria hari itu di antara orgasme yang semu
Angkat aku dari panggung fana
Jalan sunyi ini mengajariku berangan
Menuju kehidupan tanpa kematian
Surabaya, 2014
Fileski | 59
Kutemukan Keabadian
Malam menjadi elegi
Bungkam diam mendobrak tirani
Mengunci pintu dari para serapah
Emosi melaju menenggelam sumpah
Kendatipun memerdekkan nurani yang terjarah
Hampa belaka kulayarkan arah
Pada ujung silau matahari terbit sepotong rindu
Pada kesunyian dan meninggalkan jejak bisu
Di antara belantara kepingan asa
Pahit rinduku sekaram samudera
Rinduku memantik tunas menyisakan napas
Air mataku berhembus, penasaranku tuntas
Dan kutemukan keabadian
Surabaya, 2014
60 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Terlahir Pagi
Sederet jarak antara beku dan terik
Antara kelungkrahan garis senja dan rindu
Menyulam angan mengigau tinggi
Semakin mendaki menyisakan sengal
Sederet waktu rindu mengendap
Seulas senyum teduh yang aku eja sendiri
Di kejauhan dari kesunyian
Sederet harapan bersemayam senja
Pada sosok di balik doa-doa
Kunanti engkau di ujung senja
Dan berharap terlahir pagi
Surabaya, 2014
Fileski | 61
Hujan
Hujan pagi ini menyapa daun-daun yang berderai
Dalam temaram cahaya
Meski tiada kau di sini seperti pagi yang telah lalu
Dalam pekat kabut kuberharap
Semoga kau di sana merasa seperti yang kurasa
Saat kau ada di sini memelukku di bawah hujan
Hujan bawalah aku pergi bersama aliran sungaimu
Yang bermuara di peluknya
Sampaikanlah pesanku kepadanya
Yakinkan dia setia hingga saat bersamanya tiba
62 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Melukis Kasih
Kau pinta aku melukis kasih
Aku tidak mampu memberi makna pasti
dan warna apa yang mesti kupilih
Kutuangkan semua warna surga
Kurangkai goresan tanpa cela
Hingga kutemui kebuntuan di ujung kanvas
Usah lagi memintaku melukis kasih
Rasakan makna dari guratan ini,
walau tak mencakup kesetaraan sosokmu
Karena kasih itulah dirimu,
yang tak sanggup kuungkap
kendati hingga goresan tetes darah terakhir
Surabaya, 3 Oktober 2014
Fileski | 63
Ibu Pertiwi
Engkau adalah ibu pertiwi
Aku adalah benih yang mewarnai tanahmu
Engkau adalah kesuburan
Menjadi berkah atau menjadi abu di masa depan
Tergantung pada apa yang ditanam hari ini
Kucium wajah pagimu dengan wangi kopi terbaik
Kupeluk raut malam dengan semerbak bunga terwangi
Damai seperti ini tak bisa kutemui di lain negeri
Surabaya, 2016
64 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Prasasti Nusantara
Kurun waktu yang luruh
Sang Saka lelah menjuntai
Begawan terpuruk tanpa asa
Pewaris fajar tak tinggal dia
Merangkai cahaya pijar surya
Kini saatnya bangkit
Kami selaras dalam asa
Gambuh di bumi Nusantara
Bila benda serupa prasasti
Jangan jadi pertikaian angkara
Jaga teguh jati diri pertiwi, dengan kesucian hati
Biarkan prasasti jadi kisah abadi
Menemani lahirnya putra-putri Nusantara
Trowulan, 2016
Fileski | 65
Menjadi Indonesia
Siapa yang tak kenal Indonesia
Rangkaian pulau terpisah
Disatukan lautan dan perbedaan
Dalam sanubariku tersimpan kebanggaan yang abadi
Hingga deru ombak terhenti
Hingga surya jingga tak lagi mendaki cakrawala
Nyanyian kedamaian yang disampaikan angin malam
Meringkuk pulas dalam dekapan mantra leluhur
Surga yang membuat para musafir
Enggan melanjutkan kembara
Senyum dan keramahan yang tersiar,
hingga ke penjuru dunia
Inilah negeri tempatku dilahirkan dan bersemayam
Aku bangga menjadi bagian darimu
Indonesia
66 | Kitab Puisi Negeri Kertas
Tentang Penulis
Fileski, lahir di Madiun, Jawa
Timur, 21 Februari 1988, adalah
penulis, penyair, dan juga seorang
composer. Awalnya dikenal melalui
karya-karya puisi yang dipublikasi-
kan di berbagai media massa dan
pertunjukan “Nyanyian Puisi”.
Kerap tampil di berbagai perhelatan
sastra di negara-negara Asia Tenggara.
Selain menulis puisi dan lagu, kini ia merambah
penulisan prosa, telah menghasilkan buku kumpulan
cerpen yang berjudul “Taman Tak Bernama”.
Berbagai pencapaian:
Anugerah HESCOM Musikalisasi Puisi Terbaik dari e-
Sastera Malaysia dua periode berturut-turut.
Anugerah PESTAB dari Brunei Darussalam untuk
composer lagu puisi “Kerinduan”.
Pernah tour Konser Musik Puisi selama satu bulan penuh
di Singapura dalam rangkaian agenda Bulan Bahasa.
Peraih Rekor Musikalisasi Puisi 11 jam Nonstop di Festival
Lanfang.
Redaktur negerikertas.com.
Pendiri Komunitas Negeri Kertas dan Komunitas Musik
Sastra.
Motivator penulis-penulis muda dalam menerbitkan buku
Antologi Negeri Kertas.
Email: [email protected]
Twitter: @Fileski_
Facebook: Fileski
Instagram: Fileski
Punya naskah?
Ayo terbitkan bukumu di
Info lengkap kunjungi :
www.raditeens.com
Raditeens Publisher at Facebook
@raditeens_good at Twitter
Raditeens Tube at You Tube
Email: [email protected]
Whatsapp: 085230668786/085343818888
BBM: 5A9F58D6/57E90B7A
Promo Jasa Penerbitan Buku
(Hanya berlaku sampai dengan November 2016)
Pakai jasa Editing, GRATIS Layout naskah!
Hanya Rp1500/halaman A4
Kami juga melayani jasa penerbitan buku full service
dengan harga terjangkau. Yang meliputi:
● Editing Naskah
● Layout/Setting Naskah
● Pembuatan Desain Cover
● Pembuatan nomor ISBN (dengan syarat
menggunakan nama penerbit kami)
● Cetak buku kualitas terbaik harga terjangkau,
mulai dari 1 eksemplar saja
Hubungi Kami :
085230668786/085343818888 (Whatsapp, Telp, SMS)