1
ii Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Pasal 113 1. Setiap orang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). 4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
iii MENGENAL MASA KOLONIAL DARI SASTRAWAN INDONESIA: KISAH DAN KARYANYA Copyright © 2023 Penulis: Dean Ayu Puspita Septi Rahma Dewi Yunita Della Angraini Zalzabila Tania Devi Penyunting: Septi Rahma Dewi Zalzabila Tania Devi Penata Letak: Yunita Della Anggraini Desain Cover: Dean Ayu Puspita Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Penerbit GALAKSI PUSTAKA Depok, Sleman, Yogyakarta Telp. 081225309406, E-mail: [email protected]
iv KATA PENGANTAR Buku ini merupakan gambaran tentang perjuangan hidup di masa kolonial hingga pasca proklamasi kemerdekaan, baik yang dialami oleh para sastrawan Indonesia maupun yang digambarkan melalui tokoh dalam karyanya. Buku ini ditujukan bagi siswa Sekolah Menengah Pertama. Buku yang berjudul Mengenal Masa Kolonial dari Sastrawan Indonesia: Kisah dan Karyanya ini terdiri atas cerita tentang empat sastrawan. Mereka adalah Pramoedya Ananta Toer, Ratih Kumala, Umar Kayam, dan Ahmad Tohari. Keempat sastrawan tersebut dipilih atas dasar karyanya yang mengkritik masa era kolonial. Melalui karya-karya dari empat sastrawan yang mengkritik masa era kolonial tersebut dapat diketahui tentang gambaran perjuangan hidup di masa kolonial. Perjuangan hidup yang digambarkan berupa perjuangan dalam bidang politik, sosial, budaya, dan bahkan ekonomi yang terjadi.
v Penggambaran perjuangan hidup di masa era kolonial dituliskan dengan cara sederhana dan bahasa seharihari. Buku ini selain berisi gambaran perjuangan di masa kolonial hingga pasca kemerdekaan, buku ini juga menceritakan empat sastrawan Indonesia. Isi yang dituliskan sebagai bentuk pengenalan sastrawan Indonesia. Pengenalan terkait empat sastrawan tersebut berupa biografi sastrawan terkait latar belakang sastrawan, kehidupan masa kecil, kehidupan masa muda, pendidikan, karya-karyanya, perjalanan dalam dunia kesusastraan dan kepenulisan, dan proses kreatif dalam penulisan. Selain itu, buku ini juga menceritakan gambaran isi salah satu karya empat sastrawan yang mengkritik masa kolonial. Melalui buku ini akan diketahui perbedaan proses kreatif dalam penulisan karya-karyanya dari Pramoedya Ananta Toer, Ratih Kumala, Umar Kayam, dan Ahmad Tohari. Keluarnya buku ini diharapkan dapat dijadikan sebagai buku pengetahuan umum berupa buku
vi pendamping dan dapat melengkapi buku-buku yang telah ada. Selain itu, dengan adanya penulisan buku ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar untuk semua terutama bagi siswa Sekolah Menengah Pertama. Buku ini dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk mengenal sastrawan Indonesia dan karyanya yang mengkritik masa era kolonial, kondisi negara Indonesia di era kolonial, bentuk kritikan terhadap era kolonial, dan mengetahui perjuangan hidup pada masa era kolonial. Buku ini ditulis dengan proses yang cukup panjang dan melibatkan beberapa pihak. Oleh karena itu, kepada rekan-rekan yang telah membantu dan terlibat dalam penulisan buku ini kami ucapkan terima kasih. Yogyakarta, 03 Juni 2023 Penulis
vii PRAKATA Alhamdulillah, atas segala curahan hidayah dan puji syukur yang tak terhingga, penulis dapat menyelesaikan buku ini. Setelah bergelut dengan waktu, akhirnya penulis dapat menyusun tulisantulisan yang telah terpikirkan. Hingga akhirnya buku karya yang jauh dari kata sempurna ini berhasil penulis hadirkan kepada pembaca. Buku ini penulis persembahkan untuk anakanak SMP yang mana dapat menambah pengetahuan mengenai zaman era kolonial dan para sastrawannya. Buku ini menghadirkan empat tokoh sastrawan yang karyanya mengkritik atau membahas mengenai zaman kolonial. Buku ini juga penulis persembahkan kepada siapa saja yang senantiasa ingin menambah informasi mengenai para sastrawan dan karyanya yang mengkritik zaman kolonial.
viii Buku yang berada di tangan pembaca ini berisi informasi yang penulis tulis mengenai beberapa tokoh sastrawan dan karyanya pada zaman era kolonial sehingga pembaca bisa mengenal beberapa sastrawan tersebut. Informasi yang ditulis mengharuskan penulis membagikannya kepada pembaca. Kumpulan tulisan ini terbagi menjadi empat bab. Setiap bab berisi mengenai satu sosok sastrawan dilengkapi dengan biografi, kisah hidup, perjuangan, dan karyanya yang mengkritik era kolonial. Bersama dengan terbitnya buku ini, penulis ucapkan terima kasih tak terhingga kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa yang telah memberikan hidayahnya. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Drs. Maman Suryaman M.Pd. yang telah memberikan kritik, masukan, semangat dan motivasi kepada para penulis sehingga buku ini dapat ditulis hingga selesai. Semua kelemahan dan kekurangan dalam buku ini murni kedangkalan ilmu penulis. Untuk itu penulis
ix mohon maaf sebesar-besarnya. Paling akhir, semoga karya sederhana ini dapat sedikit memberikan manfaat, baik kepada penulis dan juga pembaca umumnya. Yogyakarta, 03 Juni 2023 Penulis
x DAFTAR ISI KATA PENGANTAR. ........................................................iv PRAKATA...........................................................................vii DAFTAR ISI.......................................................................... x PRAMOEDYA ANANTA TOER: Menulis sebagai Perlawanan ........................................................................... 1 RATIH KUMALA: Si Gadis Kretek................................. 19 UMAR KAYAM: Menulis sebagai Pembelaan .............. 27 AHMAD TOHARI: Di Balik Cerita Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk ................................................... 47 SUMBER TULISAN ........................................................... 62 GLOSARIUM...................................................................... 65 INDEKS. .............................................................................. 67 PROFIL PENULIS. ............................................................. 69
1 PRAMOEDYA ANANTA TOER: Menulis sebagai Perlawanan Sastrawan kali ini adalah sosok yang namanya setiap tahun tercantum dalam daftar nominasi penerima Nobel sastra. Dari tangannya lahirlah puluhan karya yang elok dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Namanya Pramoedya Ananta Toer atau lebih sering disapa Pram. Sebelum nama tersebut popular, Pramoedya sempat menggunakan nama lain dalam karyanya, yaitu Pramoedya Tr., Ananta Toer, M. Pramoedya Toer, Pr. Toer, Pr. A. Toer, Pramoedya Toer, Pram Ananta Toer, Pramudya Ananta Tur, Pramudya Ananta Toer1. Pramoedya lahir di Blora, 6 Februari 1925. Ia merupakan putra sulung dari pasangan Mastoer dan Oemi Saidah. Pram memiliki tujuh saudara, yaitu Prawito Toer (Walujadi Toer), Koenmarjatoen 1 Diketahui dari berbagai tulisan dalam majalah dan surat kabar yang berhasil dikumpulkan oleh Koesalah Soebagyo Toer.
2 Toer (Ny. Djajoesman), Oemisafaatoen Toer (Ny. Mashoedi), Koesaisah Toer (Ny. Hermanoe Maulana), Koesalah Seobagyo Toer, Soesilo Toer, dan Soesetyo Toer. Tidak hanya aktif menulis, Pram juga tahun 1952-1954, Pram mendirikan dan memimpin Literary dan Features Agency Duta. Selanjutnya, pada tahun 1958, Pram menjadi anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Pram juga pernah menjabat redaktur lentera pada tahun 1962. Selain itu, ia juga bekerja sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Res Publika, Jakarta, dan dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai. Banyak karya Pram yang awalnya dilarang terbit oleh pemerintah, karya tersebut antara lain Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Rumah Kaca (1988), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996), Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999), Larasati (2000), Cerita dari Blora, Perburuan, Korupsi,
3 Keluarga Gerilya, Panggil Aku Kartini Saja, Mangir, Kronik Revolusi I, Kronik Revolusi II, Kronik Revolusi III, Cerita-Cerita dari Digul, dan Perawan dalam Cengkeraman Militer. Dari karya-karyanya tersebut, Pram berhasil menyabet 16 penghargaan, beberapa di antaranya ialah Penghargaan Balai Pustaka (1951), Hadiah Magsaysay dari filipina (1995), PEN International (1998), Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka) Jepang (2000), dan Noerwegian Authors’ Union Award (2004). Pada tahun 1999, Pram mendapatkan gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan. Kehidupan Masa Muda Pramoedya semasa muda lebih dekat dengan ibunya. Ia beberapa kali terlibat konflik dengan ayahnya. Terutama, karena ia tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan ke sekolah MULO swasta (semacam SLP) di Madiun. Ayahnya juga sempat melarang Pram melanjutkan sekolah ketika ia masuk
4 kelas empat dikarenakan Pram pernah tidak naik kelas tiga kali. Meskipun begitu, ibunya berusaha keras agar Pram bisa melanjutkan pelajarannya. Akhirnya, Pram belajar di sekolah kejuruan radio (Radio Vakshool) di Surabaya. Sebelum berangkat ke Surabaya, ibunya memberikan hadiah ringgit perak (dua setengah gulden) untuk membeli sepatu dan kaos kaki. Kemudian, pada pertengahan tahun 1940, Pram berangkat ke Surabaya dan indekos di tempat seorang mantan murid ayahnya. Pram berhasil menyelesaikan tiga semester— berdasarkan kurikulum pada masa itu—dengan hasil yang cukup baik, hanya hasil ujian praktek yang nilainya tidak mencukupi. Namun, pada tanggal 8 Desember 1941, bersamaan dengan hari terakhir ujian, Perang Dunia II berkobar di wilayah Asia Timur dan Lautan Pasifik. Peristiwa tersebut menyebabkan kekacauan di Indonesia, sehingga ijazah sekolah Pram yang seharusnya dikirim dari Bandung tidak pernah sampai.
5 Tidak lama setelah itu, penyakit TBC (Tuberkulosis) yang diderita oleh ibu Pram semakin parah. Hingga akhirnya, meninggal pada tanggal 3 Juni 1942. Satu hari kemudian, Soesanti, anak bungsu yang baru berusia tujuh bulan meninggal. Kematian sosok ibu adalah kehilangan yang paling menyedihkan bagi Pram, terlebih bersamaan dengan kedatangan nenek tirinya dari Rembang yang meminta untuk merawat anak-anak Oemi Saidah. Keesokan harinya, Pram bersama adiknya, Prawito (Waloejadi) berangkat ke Jakarta. Ia tinggal di rumah pamannya, Pak Moedigdo. Setelah itu, Pram mendaftar di lembaga pendidikan Taman Siswa, khususnya Taman Dewasa (SLP) yang diakui oleh pemerintahan Jepang. Pram juga sempat masuk Sekolah Tinggi Islam. Akhirnya, Pram bekerja di kantor berita Jepang Domei sebagai juru ketik. Pada awal tahun 1944, Pram diterima sebagai murid kursus stenografi. Praktek tersebut dimulai dengan melaporkan rapat Chuo-
6 Sangi-in dan Pram berhasil lulus ujian. Sayangnya, Pram tidak memiliki ijazah sekolah menengah, sehingga ia tidak mendapatkan kenaikan pangkat. Beberapa waktu kemudian, ia meminta untuk berhenti karena menurutnya pekerjaannya semakin membosankan. Namun, ia tidak pernah mendapat jawaban dari Adam Malik selaku kepala kantor Domei atas permintaannya untuk berhenti bekerja. Akhirnya, ia memutuskan melarikan diri ke selatan Ngadiluwih, tepatnya desa Tanjung dan tinggal di sana hingga akhir pendudukan Jepang. Setelah mendengar berita kemerdekaan Indonesia, Pram pulang ke Blora dan menyaksikan pertunjukan drama penjajahan Jepang yang berakhir dengan proklamasi 17 Agustus. Setelah itu, ia segera kembali ke Jakarta. Namun, keadaan di Jakarta masih kacau, para tentara Jepang masih berkuasa di sana. Di lain pihak, tentara sekutu mulai berdatangan di Indonesia untuk menjaga ketertiban umum dan melucuti senjata tentara Jepang.
7 Pada bulan Oktober 1945, Pram bergabung dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang kemudian ditempatkan di Cikampek sebagai prajurit II dan meningkat menjadi sersan mayor. Pada tanggal 1 Januari 1947, Pram resmi berhenti sebagai tentara dan bekerja di ‘The Voice of Free Indonesia’ sebagai redaktur bagian penerbitan Indonesia. Alasan Pram berhenti menjadi tentara karena selama tujuh bulan ia tidak mendapatkan gaji. Beberapa bulan kemudian, Pram ditugaskan untuk memimpin bagian penerbitan tersebut, sebab pemimpinnya terlibat dalam Gerakan bawah tanah dan ditangkap NICA. Pada tahun 1947 itulah, Pram mulai menulis. Ia mulai menulis naskah Di Tepi Kali Bekasi, sebuah fragmen dengan judul Krandji Bekasi Djatoeh yang kemudian diterbitkan oleh penerbit tempatnya bekerja. Awalnya, ia menulis untuk mendapatkan uang karena ia harus membiayai adik-adiknya. Atau dengan kata lain, menulis untuk makan. Namun, banyak
8 pembaca yang menyukai tulisannya, jadi ia terus menulis. Pram mulai berkenalan dengan H.B. Jasin, redaktur majalah Pantja Raja, yang menerbitkan dua cerpennya yang berjudul Kemana? dan Si Pandir. Cerita Pram yang berjudul Karena Korek Api juga diterbitkan dalam majalah Minggu Merdeka. Tidak hanya menulis cerita, Pram juga menerjemahkan buku dari atau lewat bahasa Belanda. Dua buku yang ia terjemahkan pada waktu itu ialah roman Lode Zielens yang berjudul Moeder Waarom Leven Wij? (Ibu, Mengapa Kita Hidup?) dan cerita Antoine de St. Exupery yang berjudul Terre des Hommes dalam bahasa Perancis (Bumi Manusia). Nama Pram semakin terkenal dan karyakaryanya semakin laris. Ia juga berhasil memenangkan hadiah pertama sayembara yang diadakan oleh Balai Pustaka. Hadiahnya sebesar seribu rupiah, jumlah yang lebih dari cukup untuk modal pernikahannya. Usai menerima hadiah tersebut, ia melangsungkan pernikahan pada tanggal
9 13 Januari 1950 dengan Arvah, seorang gadis yang pertama kali ia lihat di Cikampek tahun 1946. Dari pernikahan tersebut, Pram dikaruniai tiga orang putri. Tidak lama setelah pernikahannya berlangsung, ayah Pram meninggal pada tanggal 25 Mei 1950. Pram harus bekerja lebih keras untuk menghidupi keluarga kecilnya dan adik-adiknya. Kondisi ekonomi yang kacau setelah ia pulang dari Belanda semakin memperkeruh rumah tangga Pram. Pernikahannya tidak bertahan lama. Pram dan Arvah bercerai. Pram menghabiskan sisa hidupnya bersama Maemunah, seorang wanita yang ia temui di Pekan Buku Gunung Agung, September 1954. Maemunah sendiri adalah putri dari H. A. Thamrin dan keponakan M. H. Thamrin. Pram dikaruniai lima anak dari pernikahannya dengan Maemunah.
10 Hidup Sebagai Tahanan Pramoedya pertama kali merasakan kehidupan sebagai tahanan ialah saat dilancarkannya agresi militer pertama oleh Belanda tahun 1947. Pram menolak kerja paksa, sehingga ia mendapatkan siksaan yang sangat keras. Dalam masa tahanan ini, Pram berhasil melahirkan dua roman yang berjudul Perburuan dan Keluarga Gerilya, kemudian diterbitkan pada tahun 1950. Selama di penjara, Pram aktif menulis, belajar bahasa Inggris, belajar ilmu ekonomi, sosiologi, sejarah filsafat, dan kursus middenstand (memegang buku dan perhitungan dagang). Karya lain yang disusun dalam penjara ialah Tikus dan Manusia, terjemahan dari romance Of Mice and Men karya John Steinbeck. Pada bulan Desember 1949, akhirnya Pram dibebaskan. Pengalamannya selama dua setengah tahun di penjara, ia tuangkan dalam roman panjang yang berjudul Mereka Jang Dilumpuhkan.
11 Pada masa pemerintahan Soekarno, Pram kembali ditahan selama satu tahun, tepatnya pada tahun 1961. Penahanan tersebut sebagai akibat dari esainya yang berjudul Hoa Kiau di Indonesia yang diterbitkan oleh harian Bintang Timoer. Esai tersebut berisi kritikan terhadap peristiwa anti-etnis Tionghoa. Pada masa itu, masyarakat Tionghoa yang berada di Indonesia dilarang berdagang bebas, orang-orang keturunan Tionghoa juga diusir keluar dari desadesanya, bahkan beberapa dari mereka dibunuh. Selanjutnya pada masa Orde Baru, Pramoedya ditahan selama empat belas tahun. Pada tanggal 13 Oktober 1965 ia ditangkap. Selama empat tahun menjadi tahanan, ia sering dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain, mulai dari markas CPM Guntur, lalu ke markas Kodam V, lalu ke penjara Bukit Duri di Jakarta Selatan dan ke penjara Tangerang. Hingga akhirnya, ia ditahan selama sepuluh tahun di Pulau Buru, tepatnya di kamp konsentrasi Pulau Buru.
12 Kejadiannya berawal ketika segerombolan orang terus menyerang rumah Pram. Hingga satu peleton tentara datang dan menyatakan bahwa mereka akan mengamankan Pram. “Mari Bung Pram, kami akan amankan.” Beberapa saat baru Pram menyadari bahwa amankan yang dimaksud adalah ditahan. Semua yang dimiliki Pram dirampas, pakaian hingga jam tangan yang ia pakai. Pada saat penangkapan, istri Pram tidak berada di rumah karena baru saja melahirkan. Ketika mengetahui bahwa Pram ditahan, ia segera pulang ke rumah. Namun, ia tidak bisa masuk ke rumahnya. Ia melihat delapan naskah yang belum diterbitkan serta seluruh isi perpustakaan milik Pram dibakar. Naskah tersebut di antaranya ialah tiga buku Serial Kartini, satu kumpulan tulisan asli Kartini yang tersebar di majalah-majalah di Belanda, sebuah buku sejarah bahasa Indonesia, dan dua volume lanjutan novel Gadis Pantai.
13 Ketika ditangkap oleh tentara, Pram berusaha membawa mesin tik agar bisa menyelesaikan kisah lanjutan dari novel Gadis Pantai. Ia tak lupa membawa seluruh naskah untuk buku ketiganya. Sayangnya, kedua naskah lanjutan tersebut dihancurkan. Selama menjadi tahanan, Pram mendapatkan dukungan moral dari seluruh dunia. Suatu ketika, komandan kampnya mendapatkan perintah untuk membunuh pram, tetapi ia tidak berani melaksanakannya karena mendapat banyak tekanan dari dunia internasional. Selama di Pulau Buru, Pram melakukan kerja paksa. Ia, termasuk ke dalam kelompok pertama yang tiba di Pulau Buru. Kelompok tersebut terdiri dari 500 orang. Mereka harus membangun jalan sepanjang 170 kilometer. Hingga datang tahanan lainnya yang jumlahnya mencapai 14.000 orang. Selain membangun jalan, Pram juga bekerja menggali saluran air, membuat saluran irigasi, dan bekerja di sawah. Banyak temannya di tahanan yang meninggal, baik karena penyakit maupun dibunuh. Pram
14 menuliskan kisah teman-temannya tersebut dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Setelah beberapa tahun menjadi tahanan di Pulau Buru, akhirnya Pram diperbolehkan menulis kembali. Suatu hari di tahun 1973, Jenderal Soemitro, Pangkopkamtib (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), diperintah oleh Soeharto untuk menemui Pram. Ia mengatakan bahwa Pram diperbolehkan menulis kembali, tetapi Pram harus mencari sendiri kertasnya. Semangat Pram kembali bergejolak, ia mendapatkan kertas-kertas dari gereja Katolik. Pram mulai menulis dengan pena dan akhirnya lahirlah ‘Tetralogi Buru’. Pram menulis naskah tersebut dalam beberapa copy dan mengirimkan salinannya ke gereja, ke luar Buru, hingga ke Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. Tidak lupa, Pram juga memberikan salinan naskahnya kepada teman-teman tahanan agar mereka bisa mengingat Pram. Pram melakukan itu semua agar ia dapat menyelamatkan naskah-naskahnya karena ia
15 tahu betul pemerintah akan merampas semua tulisannya. Hal itu benar-benar terjadi, ketika meninggalkan Buru, semua tulisannya dirampas pemerintah. Ide mengenai ‘Tetralogi Buru’ berasal dari kertas kerja yang dibuat oleh para mahasiswa ketika ia mengajar di Universitas Res Publica. Pram meminta para mahasiswanya untuk mempelajari surat kabar dari awal abad dan membuat kertas kerja untuk setiap era dalam sejarah. Menulis baginya adalah bentuk perlawanan. Setelah mengetahui delapan naskahnya dibakar, ia menganggap itu sebagai tantangan, sehingga ia menjawab tantangan tersebut dengan cara terus menulis di penjara. Tulisan-tulisannya adalah jawaban dan untuk menunjukkan bahwa budayanya lebih tinggi daripada mereka yang menghancurkan naskahnaskahnya. “Pembakaran buku sama dengan perbuatan setan. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya budaya mereka. Bertolak belakang dengan
16 budaya menulis karena merupakan kerja kreatif.” Begitu kata Pram. Pram akhirnya dibebaskan pada tahun 1974. Kemudian tahun 1988, tiga orang jaksa dari Kejaksaan Agung datang untuk memeriksa Pram. Pram meminta untuk dibuka pengadilan dengan didampingi seorang jaksa dari negara netral dan mereka setuju, tetapi itu tidak pernah terjadi. Meskipun Pram dipenjara bertahun-tahun, tulisan-tulisannya berhasil menyelamatkan keluarganya. Honor untuk tulisannya dari luar negeri terus mengalir dan mendapat sumbangan dari internasional, sehingga istri dan anak-anaknya dapat bertahan hidup. *** Pernahkah terbayang dalam benak kalian, bagaimana kebiasaan menulis Pram hingga bisa melahirkan karya-karya yang mendunia? Ternyata, Pram hanya bisa menulis sekali jadi untuk karyanya. Setelah karyanya terbit, ia tidak akan membacanya lagi. Ia tidak memiliki waktu khusus untuk menulis.
17 Pram menulis kapan saja ia mau. Ketika tidak ingin menulis, ia tidak akan menulis. Ia tidak pernah memaksakan diri untuk menulis. Dengan begitu, dirinya merasa bebas. Pram juga tidak memiliki jadwal berapa lama untuk menyelesaikan sebuah karya. Hampir semua karya yang ditulis oleh Pram terinspirasi dari kehidupannya. Contohnya, roman Gadis Pantai, terinspirasi dari kisah hidup neneknya. Mastoer, ayah Pramoedya, terlahir dari pasangan Iman Badjoeri dan Sabariyah yang notaben keluarga yang agamis. Sedangkan, ibunya, Oemi Saidah atau Siti Kadarijah terlahir dari pasangan Haji Ibrahim dengan selir Satimah. Setelah melahirkan ibu Pram, Satimah diceraikan dan diusir dari kediaman Haji Ibrahim. Ketidakadilan yang dirasakan neneknya kemudian dituangkan dalam karyanya. Semangat nasionalisme yang dimiliki Pramoedya tampaknya diperoleh dari ayahnya. Mastoer memiliki banyak pengalaman dalam
18 pergerakan nasional karena ia berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mastoer adalah seorang kepala sekolah Boedi Oetomo di Blora. Sebelumnya, Mastoer bekerja sebagai guru di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Kediri. Kemudian, pindah ke Rembang pada tahun 1921. Selama menjadi kepala sekolah, Pak Toer mengalami berbagai pergolakan. Ia terlibat dalam perlawanan ‘Wilde Schoolen Ordonmantie’, sebuah ketetapan pemerintah Hindia-Belanda tentang pemberian kekuasaan kepada penguasa untuk mengurus, mengontrol, melarang, hingga menutup ‘sekolah liar’. Pak Toer juga pernah ditahan oleh Front Demokrasi Rakyat saat pemberontakan Madiun berlangsung. Tidak hanya itu, ketika penjajahan Belanda, Pak Toer juga sempat ditangkap. “Ketika sesuatu menyinggung saya atau membuat saya marah, saya mendapatkan inspirasi untuk melawan.” Begitulah Pram mendapatkan inspirasi untuk menulis. Tulisannya berusaha mengajak pembaca untuk berjuang melawan ketidakadilan.
19 RATIH KUMALA: Si Gadis Kretek Sastrawan kali ini adalah sosok sastrawan perempuan yang namanya mungkin asing di telinga. Meskipun namanya asing didengar tetapi Ratih Kumala pernah mewakili Indonesia pada acara Beijing International Book Fair (BIBF) 2019 yang merupakan pameran buku terbesar di Asia. Ratih Kumala adalah seorang sastrawan perempuan yang lahir di Jakarta pada tanggal 4 Juni 1980. Ia adalah seorang penulis asal Indonesia. Ia mengenyam pendidikan di Fakultas Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Selain sebagai penulis novel dan cerita pendek, Ratih Kumala juga merupakan penulis skenario. Ia pernah bergabung dalam tim penulis program Jalan Sesama, yang merupakan adaptasi dari program Sesame Street untuk televisi Indonesia, serta bekerja sebagai editor naskah drama di sebuah televisi swasta.
20 Sastrawan perempuan ini menghasilkan banyak karya fenomenal. Ratih Kumala telah menerbitkan beberapa karya fiksi, diantaranya Tabula Rasa (Novel) (Pemenang Ketiga Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta, Grasindo, 2004), Genesis (Novel) Insist Press, 2005), Larutan Senja (Kumpulan Cerpen) (Gramedia Pustaka Utama, 2006), Kronik Betawi (Novel) (Cerita Bersambung Harian Republika, Agustus-Desember 2008 & Gramedia Pustaka Utama, 2009), Gadis Kretek (Novel) (Shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2012, Gramedia Pustaka Utama, 2012), Bastian dan Jamur Ajaib (Novel) (Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2015, Gramedia Pustaka Utama, 2015), Wesel Pos (Novel) (Gramedia Pustaka Utama, 2018). Pada tahun 2006, Ratih Kumala menikah dengan Eka Kurniawan seorang novelis di Solo. Ratih Kumala dan Eka Kurniawan merupakan sastrawansastrawan yang kreatif dengan menghasilkan beberapa karya yang sangat fenomenal.
21 Masa Kecil Ratih Kumala Semasa kecil, Ratih Kumala dikenal sebagai anak yang pintar. Ia memang suka menulis dari kecil. Banyak beberapa tulisan yang telah ditulis Ratih Kumala. Ratih senang menulis mulai dari SMP, tetapi lebih banyak untuk konsumsi sendiri. Sama sekali tidak pernah dimuat, cerpen-cerpen yang Ratih buat kadang tidak selesai. Sejak SD, Ratih berlangganan majalah Bobo dan sangat senang sekali dengan cerpen-cerpen yang ada di majalah Bobo. Selain itu, Ratih Kumala memiliki hobi baca buku-bukunya Enid Blyton. Mulai beranjak dewasa Ratih membaca bukubuku karangan Hilman. Saat SMA Ratih Kumala berhenti menulis dan hanya membaca-membaca saja. Saat kuliah Ratih mulai aktif menulis lagi dengan bacaan yang lebih berat. Kebanyakan buku-buku yang ditulis adalah novel, baik itu novel berbahasa Inggris maupun Indonesia, sebagian pengembangan diri juga kumpulan esai.
22 Ratih Kumala paling suka dengan Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohammad. Ia kagum dengan cara bertutur Remy Sylado, dan daya khayal JK Rowling. Bagi Ratih Kumala, menulis adalah untuk diri sendiri, karena pada saat awal-awal menulis, Ratih memiliki banyak kegelisahan, tetapi semakin tulisannya banyak dibaca orang, Ratih baru sadar bahwa tulisan itu bisa hidup dan sekarang Ratih tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang yang mau membacanya. Ratih Kumala merasa dirinya sebagai seorang penulis terbelah menjadi dua. Terkadang Ratih Kumala merasa dirinya sebagai penulis terbelah menjadi dua, yang satu adalah sisi penulis industri dan satu lagi adalah sisi penulis idealis. Hal itu dikarenakan ketika Ratih berada di lingkungan industri ia dituntut deadline. Namun disatu sisi Ratih juga harus memberi makan jiwanya agar tidak kering.
23 Saat Ratih Kumala masih mengenyam pendidikan ia pernah mengikuti salah satu komunitas sastra yang bernama komunitas 'Rumah Baca Bumi Manusia'. Ratih Kumala dan Gadis Kretek Gadis Kretek adalah salah satu judul novel yang ditulis Ratih Kumala pada tahun 2012 dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Novel Gadis Kretek merupakan salah satu karya Ratih yang masuk dalam sepuluh besar penerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2012. Gadis Kretek lebih banyak menggunakan narasi dibandingkan dengan dialog dan mengangkat budaya Jawa khususnya mengenai pergerakan pabrik kretek pada masa awal berdirinya di Indonesia. Ratih melahirkan Gadis Kretek terinspirasi dari kisah tentang pabrik rokok kretek kakeknya. Sang kakek memiliki usaha pabrik kretek rumahan yang gulung tikar sebelum Ratih lahir di daerah Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Perempuan kelahiran 1980
24 itu tidak sempat bertemu dengan sang kakek yang tutup usia saat Ratih di dalam kandungan. Cerita tentang jatuh-bangun usaha pabrik kretek Djagad milik kakeknya itu didapatkan Ratih dari penuturan ibunda dan keluarganya. Salah satu cerita yang paling membekas hingga Ratih dewasa adalah tentang kebiasaan kakeknya melinting sari tembakau yang menempel di telapak tangan setiap kali selesai merajang dan mengolah kretek dengan resep saus keluarga. Setiap sore sang kakek akan membersihkan sari-sari tembakau yang 19 menempel di tangannya. Dia akan membuat lintingan khusus untuk dihisap setiap kali usai bekerja. Konon rasanya jauh lebih nikmat dari kretek lintingan yang dia produksi untuk penjualan.. Novel Gadis Kretek tidak hanya menceritakan sejarah sebuah keluarga dan konflik di masa lalu saja. Namun, bisa juga menjadi “jendela” baru melihat sejarah Indonesia, khususnya masa penjajahan Jepang, pasca-kemerdekaan, dan masa-masa G30S
25 PKI. Cinta segitiga dan persaingan bisnis menjadi aroma utama karya Ratih Kumala ini. Konteks budaya sangat kental dalam novel Gadis Kretek ini. Latar tempatnya banyak di area Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sebagai orang yang besar dengan budaya Jawa, Ratih Kumala tidak sulit membayangkan deskripsi suasana dan latar di novel ini. Riset tentang industri rokok dan kretek Indonesia bukan sembarang aksesoris yang ditempel belaka. Saat membaca deskripsi dan detail yang disisipi Ratih, kita tahu kalau risetnya tentang klobot, kretek, tingwe, pembelian tembakau, pembuatan saus rokok kretek, hingga teknik marketing pada masamasa itu bukan usaha singkat. Ratih Kumala melakukan riset selama empat tahun, pergi ke berbagai pabrik kretek di Jawa Tengah dan Jawa Timur demi menyelesaikan novel ini. Selain itu, dia juga mengoleksi 200 bungkus kretek selama proses risetnya.
26 Novel Gadis Kretek merupakan novel yang isi ceritanya mempunyai hubungan erat dengan kehidupan nyata. seperti dalam kehidupan masyarakat. Novel Gadis Kretek juga menceritakan tentang kehidupan masa lalu atau masa lampau, dari periode penjajahan Belanda hingga pada periode kemerdekaan. Novel Gadis Kretek mengambil setting di Indonesia pada tahun 1965-an. Dimana para tokohnya saling terlibat interaksi di tengah kondisi sosial, politik, dan budaya Indonesia pada masa itu.
27 UMAR KAYAM: Menulis sebagai Pembelaan Sastrawan Indonesia kali ini namanya sudah banyak dikenal dan sudah tidak asing lagi di Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang sudah melahirkan banyak karya dari berbagai genre sastra. Karya-karyanya ditulis begitu elok dan memperhatikan manfaat di setiap tulisannya. Tulisannya sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Jerman, dan Perancis. Namanya Umar Kayam atau lebih sering disapa Uka. Umar Kayam memiliki nama lain yang di dapat dari daerah Papua yaitu dengan nama “Kiwati”. Selain itu, Umar Kayam sebagai priyayi yang memiliki gelar raden mas. Umar Kayam lahir di Ngawi, Jawa Timur, tanggal 30 April 1932. Ia lahir dari keluarga seorang guru dan pendidik. Ayahnya bernama Sastrosoekoso yang merupakan seorang guru di Hollands Islands School (HIS). Ialah yang memberikan nama Umar
28 Kayam. Nama tersebut diambil dari seorang tokoh ahli perbintangan, ahli matematika, sufi, dan filsuf yaitu Omar Khayam. Nama tersebut dipilih dengan harapan bahwa nantinya Umar Kayam menjadi seorang manusia yang cendekia seperti Omar Khayam. Umar Kayam mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Roosliana Hanoum yang merupakan gadis Minang. Rooslina Hanoum atau yang sering disapa Yus Kayam merupakan seorang redaktur majalah Ayahbunda. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai dua orang anak. Umar Kayam termasuk dalam orang yang berhasil dalam bidang pendidikan. Uka menjalankan dan menyelesaikan masa SD dan SMP di sebuah sekolah yang berada di Ngawi. Kemudian, melanjutkan masa SMA di Yogyakarta dan berpindah di SMA Semarang. Uka juga berhasil mendapatkan gelar sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada pada tahun 1955. Pada tahun 1963, Uka juga mendapat gelar M.A. dari Universitas New York, AS. Selanjutnya, pada tahun 1965, Uka mendapat gelar Ph. D. dari Universitas Cornell, AS.
29 Tidak hanya dikenal sebagai penulis, Uka juga dikenal sebagai sastrawan, budayawan, sosiolog, dan akademisi. Uka dalam bidang kepenulisan tidak hanya menulis cerpen dan novel, tetapi juga menulis sebuah esai, kolom, dan karya ilmiah. Selain itu, Uka juga sebagai akademisi berupa dosen dan guru besar di beberapa universitas di Indonesia. Uka pernah menjadi seorang dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, dosen Universitas Indonesia, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada (1988- pensiun). Uka juga pernah menjabat di beberapa bidang, seperti Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966-1969), Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), Direktur Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Hasanuddin (1975-1976), Ketua Dewan Film Nasional (1978- 1979), Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1981), Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (1984), anggota penyantun majalah Horison (1993), dan anggota Akademi Jakarta (1988-seumur hidup).
30 Umar Kayam telah menulis banyak karya yang terkadang sulit untuk dibedakan antara karya fiksi dan nonfiksi. Karya-karya Uka yang ditulis dan telah diterbitkan, seperti Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (Kumpulan Cerpen, 1972), Istriku, Madame Schultz, dan Sang Raksasa, Sybil, Secangkir Kopi dan Sepotong Donat, Chief Sitting Bull, There Goes Tatum, Musim Gugur Kembali di Connecticut, Kimono Biru buat Istri, Sri Sumarah (Novel Pendek, 1975), Bawuk (Novel Pendek, 1975), Para Priyayi (Novel, 1992), dan Jalan Menikung (Novel, 2000). Hasil tulisannya tersebut membuat Uka banyak dikenal orang dan mendapat beberapa penghargaan. Penghargaan yang didapat Uka dari karya-karyanya tersebut, seperti cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan mendapat hadiah majalah Horison tahun 1967, novel Para Priyayi mendapat hadiah Yayasan Buku Utama dari Departemen P dan K pada tahun 1995, mendapat hadiah Sastra ASEAN (SEA Write Award) tahun 1987 dari Kerajaan Thailand, dan masih banyak yang lainnya.
31 Kehidupan Masa Muda Uka semasa mudanya hidup berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lain. Kehidupannya itu dijalankan mengikuti penempatan ayahnya sebagai seorang guru. Hal itu juga diikuti oleh semua keluarganya mulai dari ibunya dan adik-adiknya. Selain itu, Uka juga berpindah-pindah mengikuti keinginan hatinya dalam menempuh pendidikan dan mewujudkan impiannya. Kehidupan dengan berkalikali pindah itu sudah dijalankan sejak Uka masih kecil sampai masa muda. Uka pernah menempati Kota Ngawi yang merupakan tempat kelahirannya. Ia tinggal di Ngawi tidak berlangsung lama. Ia dapat dikatakan hanya menumpang lahir di Kota Ngawi. Selanjutnya, Uka dibesarkan di Wonogiri selama kurang lebih dua tahun. Perpindahan tersebut dilakukan oleh Uka dan keluarganya untuk mengikuti ayahnya. Ayah Uka pada saat itu ditempatkan di kota kecil yang berada di pedesaan. Ayahnya sebagai guru bantu di sekolah desa
32 untuk mengajarkan huruf-huruf latin, mengajarkan membaca, dan menulis. Hal itu mengharuskan keluarganya pindah ke desa kecil di Wonogiri. Selanjutnya, setelah tinggal di Wonogiri selama dua tahun, Uka dan keluarganya pindah ke ibu kota keraton Surakarta. Uka pindah ke Surakarta tepatnya di daerah Bromantakan dekat Puro Mangkunegaran. Uka pindah ke Surakarta tentunya mengikuti perjalanan karir ayahnya yang sebagai guru. Tidak sampai di situ, Uka lagi-lagi melakukan perpindahan ke Mangkunegaran. Di Mangkunegaran, Uka tinggal di rumah yang besar. Uka tinggal di Mangkunegaran selama bertahun-tahun. Mangkunegaran termasuk tempat tinggal yang lama untuk membesarkannya mulai SD sampai pertengahan SMA. Uka menempuh pendidikan pertamanya sebagai anak TK (Taman Kanak-Kanak) di Mangkunegaran. Ia TK di voorklas di lingkungan Mangkunegaran. Selanjutnya, Uka melanjutkan
33 pendidikan SD di sekolah yang berada di depan Puro Mangkunegaran. Sekolah SD yang ditempati untuk menuntut ilmu yaitu H.I.S “Siswo”. Hollands Inland School ini merupakan sekolah dasar untuk anak-anak seorang priyayi. Uka menjalankan pendidikan di H.I.S mulai dari awal SD sampai lulus. Ia bersekolah di H.I.S karena ayahnya juga mengajar di sekolah yang sama itu. Hal tersebut membuat Uka selalu berangkat bersama setiap hari menggunakan sepeda. Namun, terkadang saat pulang sekolah ia menumpang mobil milik kepala sekolahnya. Selama menempuh pendidikan di H.I.S, Uka pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakan. Masa itu masih berada di kedudukan Jepang. Banyak terjadi kejadian yang menyakitkan bagi masyarakat Indonesia. Pada kedudukan Jepang, Uka mengalami penindasan. Penindasan yang dialaminya berupa harus mengikuti aturan-aturan Jepang. Aturan-aturan tersebut harus dijalankan oleh semuanya, seperti setiap pagi sebelum pembelajaran harus melakukan kegiatan olahraga senam atau taisho dan harus
34 melakukan upacara membungkuk ke arah utara atau saikerei. Kegiatan tersebut harus dilakukan setiap hari di sekolah kedudukan Jepang. Masa penindasan tersebut hanya dijadikan sebagai pengalaman bagi Uka. Pada saat menempuh pendidikan di Hollands Inland School, Uka lebih sering berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa kromo. Hal tersebut karena Hollands Inland School merupakan sekolah yang masih menggunakan sistem kejawaan. Dengan demikian, sekolah tersebut mewajibkan muridnya untuk menggunakan bahasa Jawa kromo. Tidak hanya dengan gurunya tetapi juga dengan teman-temannya menggunakan bahasa Jawa kromo. Kewajiban tersebut dijalankan sebagai bentuk pendidikan pekerti untuk murid-muridnya. Uka juga diwajibkan untuk membaca buku cerita-cerita, dongeng-dongeng, dan bercerita di depan teman-temannya. Selain itu, Uka juga belajar bahasa Belanda dengan membaca ceritacerita berbahasa Belanda. Hal tersebut karena pada saat itu masih dalam masa Belanda.
35 Setelah lulus sekolah dasar di Hollands Inland School, Uka melanjutkan jenjang SMP masih di lingkungan Mangkunegaran. Ia menempuh pendidikan SMP di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Di usia remaja sebagai anak SMP, Uka mulai berkenalan dengan sastra. Uka mulai banyak membaca roman-roman yang seharusnya hanya dibaca oleh orang dewasa. Karena keluarganya yang kuat menanamkan pendidikan, maka seringkali Uka dibelikan buku-buku cerita untuk dibacanya. Setelah lulus dari jenjang SMP di lingkungan Mangkunegaran, Uka melanjutkan jenjang SMA di Semarang. Di Semarang, ia menemukan hobi baru menonton film. Hobinya tersebut yang mengantarkannya ke dunia karir. Namun, Uka menempuh pendidikan di Semarang tidak berlangsung lama. Pertengahan SMA, Uka pindah ke SMA bagian A (Sastra-Bahasa) di Yogyakarta. Perpindahan tersebut tentunya karena mengikuti pekerjaan ayahnya yang sebagai guru. Masa SMA di Yogyakarta dengan mengambil Sastra-Bahasa, Uka
36 mulai semangat dalam hal kekritisan dan kepenulisan. Semangat kepenulisan yang dimilikinya membuahkan hasil karya pertamanya. Tulisan pertamanya berjudul “Guru yang Serakah”. Setelah mengenyam pendidikan lanjutan di SMA dengan mengambil bidang Sastra-Bahasa, Uka melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta. Ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Ia mengambil jurusan yang masih berhubungan dengan sastra yaitu Pedagogik Fakultas SPF (Sastra Pedagogik dan Filsafat. Dengan mengambil jurusan yang berhubungan dengan sastra sejak SMA, Uka juga menyukai dunia kesenian sejak kecil. Semangat dan hobi dalam bidang sastra dan kesenian itu mengantarkannya dalam dunia karirnya. Uka mulai mengembangkan hobinya dalam kepenulisan yang berhubungan dengan kesenian Jawa sembari mengemban pendidikan. Kemudian, pada tahun 1963, Uka juga berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar M.A. dari Universitas New York, AS. Selanjutnya, pada tahun 1965, Uka kembali
37 menyelesaikan pendidikan tingginya dan mendapat gelar Ph. D. dari Universitas Cornell, AS. Semasa mudanya, Uka selalu mengembangkan dirinya dengan ilmu yang dimiliki. Ia berkecimpung di berbagai bidang. Bidang yang pertama kali ditekuni dan menjadi karir awalnya yaitu bidang kesenian. Uka mengikuti dunia kesenian khususnya kesenian Jawa seperti kesenian tari. Ia berlatih tari di sebuah sanggar atau rumah latih tari di Yogyakarta. Ketekunannya di bidang kesenian, ia banyak menjabat di berbagai departemen kesenian. Pada tahun 1966, ia menjabat sebagai Dirjen RTF Departemen Penerangan RI di Jakarta. Selanjutnya pada tahun 1969-1973, ia menjadi ketua Dewan Kesenian Djakarta. Tidak hanya itu, Uka juga menggeluti seni peran dan perfilman. Hobi menonton film yang dimiliki sejak masa SMA menjadikannya terjun dalam dunia perfilman. Dalam dunia perfilman, ia menjadi aktor di berbagai judul film. Film yang sudah ia jalankan seperti film “Karmila”, “Kugapai Cintamu”,
38 “Pengkhianatan G30S/PKI”, dan “Canthing”. Uka pernah menjadi pemeran utama yang memiliki pandangan tinggi pada film “Pengkhianatan G30S/PKI” sebagai tokoh Soekarno. Tidak hanya sebagai aktor, Uka dengan hobinya dalam kepenulisan juga dipercaya sebagai penulis skenario. Ia sudah menulis beberapa skenario film, seperti skenario film “Yang Muda Yang Bercinta”, “Jago”, dan “Frustasi Puncak Gunung”. Di usianya yang masih muda, Uka juga menekuni dunia kesusastraan. Uka mulai menulis cerpen, novel, dan esai-esai. Tulisannya banyak dianggap sebagai tulisan yang makna baru di dunia kesusastraan. Ia dalam tulisannya lebih mengkhususkan tulisan yang berhubungan dengan kebudayaan Jawa. Selain itu, Uka yang memiliki keluarga yang mengedepankan pendidikan dan berlatar belakang dunia pendidikan, ia sempat menjadi seorang pendidik. Ia sebagai pendidik di berbagai universitas
39 di Indonesia khususnya di Universitas Gadjah Mada. Pendidikan yang ia ajarkan yaitu berkaitan dengan kesenian dan kesusastraan. Hidup Terkekang Keadaan Umar Kayam sempat mengalami kekangan yang cukup besar di negerinya sendiri. Pada tahun 1965, setelah menyelesaikan pendidikan di Cornell University, Uka mengalami perubahan besar di Indonesia. Perubahan yang tidak disadari dan tidak diinginkan. Perubahan-perubahan yang diakibatkan karena kondisi politik dan kemiliteran di Indonesia. Uka mengalami kebingungan dengan kondisi negerinya yang kocar-kacir dan motar-matir di berbagai bidang. Ia banyak mendapat pengaduan dan penderitaan baik dari masyarakat maupun keluarganya sendiri. Penderitaan di negeri sendiri yang banyak memakan korban dan banyak kekacauan. Umar Kayam mengalami masa-masa di mana terjadi pemberontakan dan peristiwa berdarah. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa
40 G30S/PKI. Kegelisahan-kegelisahan yang sangat besar dirasakan Uka. Kegelisahan akan kekacauan yang terjadi dan mengancam dirinya. Kegelisahan melihat keadaan yang sudah kacau balau. Melihat banyaknya korban yang bergeletakan. Uka juga merasakan kegelisahan akan penangkapan-penangkapan tanpa alasan. Namun, perasaannya mulai menurun karena kondisi negeri yang mulai mereda. Mulai tahun 1966 pada masa Orde Baru dengan pemerintahan Soeharto, kondisi mencekam muncul lagi. Kondisi tersebut terjadi pasca-G30S/PKI. Kondisi dimana terjadi perubahan ideologi dan perubahan besar. Terjadi tindakan pemberantasan berupa penangkapan, penahanan, pelecehan, dan pembunuhan massal kepada orang-orang yang termasuk atau terlibat dalam PKI. Pemberantasan PKI tersebut tanpa pandang bulu. Orang-orang yang hanya memberikan simpati kepada PKI akan dipandang sebagai PKI. Hal itu menjadi sebuah teror dan ketakutan dalam diri Uka dan semua masyarakat.