The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku yang berjudul "Mengenal Masa Kolonial dari Sastrawan Indonesia: Kisah dan Karyanya terdiri atas cerita tentang empat sastrawan. Mereka adalah Promoedya Ananta Toer, Ratih Kumala, Umar Kayam, dan Ahmad Tohari.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by deanayu.2020, 2023-06-05 00:12:06

MENGENAL SASTRAWAN ERA KOLONIAL

Buku yang berjudul "Mengenal Masa Kolonial dari Sastrawan Indonesia: Kisah dan Karyanya terdiri atas cerita tentang empat sastrawan. Mereka adalah Promoedya Ananta Toer, Ratih Kumala, Umar Kayam, dan Ahmad Tohari.

Keywords: sastrawan Indonesia,masa kolonial

41 Menjadi ancaman besar yang selalu terbayang-bayang di pikirannya. Uka yang menanti-nanti adanya pergantian ke Orde Baru dan ideologi baru merasa kecewa dengan kebijakan yang ada. Ia kecewa dengan tindakan penangkapan dan pembantaian kepada orang-orang yang tidak pandang bulu. Pada keadaan yang tertekan dan gelisah, Uka mencoba menulis sebuah karya dengan tema sesuai kondisi yang ada dan sedang dialami. Tema yang diangkat yaitu tragedi 1965. Ia menulis sebuah karya berupa kritikan terhadap pemerintahan di masa Orde Baru. Pada tahun 1969, ia menerbitkan tulisannya dalam genre cerpen yang diberi judul “Musim Gugur Kembali di Connectikut”. Cerpennya itu sebagai bentuk kritikan yang cukup kritis dan keras terhadap pemerintahan Orde Baru. Uka dalam cerpennya menulis kritikan keras terhadap tindakan penangkapan dan pembunuhan kepada semua orang PKI tanpa melakukan pertimbangan terlebih dahulu. Ia menulis juga sebagai protes yang


42 keras terhadap kebijakan Orde Baru terkait tidak adanya pembeda dalam penindasan yang dilakukan. Dalam keadaan yang sama, penuh kekangan dan kegelisahan dari kebijakan Orde Baru, Umar Kayam kembali menulis dan menerbitkan sebuah cerpen yang berjudul “Bawuk”. Uka menulis dengan tema yang sama seperti tulisan sebelumnya. Cerpen ini ditulis sebagai bentuk protes Uka terhadap sikap para pemimpin yang memberantas PKI. Uka melakukan protes melalui tulisan dengan cara halus dan tidak meledak-ledak. Bentuk protesnya itu juga ditulis dengan cara sastrawi yang penuh perlambangan. Hasil tulisan Uka dengan tema tragedi 1965 tersebut menimbulkan pro dan kontra walaupun diberikan kebebasan menulis. Tema yang diangkatnya nyaris dianggap tabu dan hampir tidak disentuh oleh dunia sastra. Hal tersebut karena kebenarannya dijaga dan diawasi secara ketat oleh rezim militeristik pemerintahan Orde Baru.


43 Kondisi tersebut tidak melunturkan semangat menulis Uka. Uka kembali menulis dengan tema yang sama seperti tulisannya sebelumnya. Ia menulis dengan melihat keadaan di negerinya yang kocarkacir di berbagai bidang. Keadaan dimana masih terjadi perselisihan dan pemberontakan besar pascaG30S/PKI. Melihat bahkan mengalami keadaan tersebut, Uka kembali memberanikan menulis dengan tema yang bisa menimbulkan pro dan kontra. Uka menulis sebuah novelet yang berjudul Sri Sumarah. Novelet tersebut ditulis dengan gaya yang berbeda dari tulisan sebelumnya. Uka menulis dengan merepresentasikan tragedi 1965 secara datar. Novelet Sri Sumarah ini bukan merupakan sebuah protes terhadap pemerintahan Orde Baru. Tulisannya itu sebagai bentuk kepasrahan terhadap nasib yang dialami setelah peristiwa pembantaian. Hidup semakin terkekang dan dibatasi oleh berbagai kebijakan-kebijakan yang dibuat. Negeri yang mulai dominan dikuasai oleh angkatan militer. Kebebasan berpendapat dan berorganisasi diawasi


44 dengan ketat dan dibatasi. Melanggar kebijakan akan diberikan tindakan yang membujuk bahkan memaksa. Adanya batasan dalam berpendapat menimbulkan produksi karya sastra menurun. Hal tersebut karena adanya kebijakan larangan mengkritik terhadap pandangan penguasa. Tekanan tersebut lantas tidak menghilangkan semangat Umar Kayam dalam membela kaum komunis melalui sebuah tulisan. Uka kembali menulis dengan tema yang sama dengan sebelumnya. Kali ini Uka menulis sebuah novel yang berjudul Para Priyayi. Pada tulisannya kali ini, kritik terhadap pemerintahan Orde Baru mulai mereda dan tidak menggebu-gebu. Kritik yang disampaikan dalam novel Para Priyayi ini berupa kekuasaan politik dan militer yang kejam dan sewena-wena tanpa pandang bulu. Namun, terdapat juga bentuk kompromi terhadap kekuasaan Orde Baru yang masih ada angkatan militer yang menyelamatkan istri aktivis Lekra. ***


45 Setelah mengetahui kehidupan Umar Kayam dan latar belakang karya-karyanya tersebut kita akan terbayang proses penulisan Umar Kayam untuk menghasilkan karya. Umar Kayam lebih banyak menulis sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan. Uka juga dalam proses penulisan yang akhirnya menghasilkan sebuah karya dengan cara mengamati kondisi sosial lingkungan dan mendengarkan cerita dari orang lain. Melalui cara tersebut, Uka dapat mengeluarkan ide-ide dan gagasan dalam pikirannya. Sebagian dari karya-karyanya terinspirasi dari kehidupannya dan kehidupan orang lain. Penggambaran kondisi kehidupannya dituangkan dalam tulisan yang sederhana. Hal tersebut dilakukan untuk menarik pembaca agar bisa terbawa dan merasakan kehidupannya.


46 Pada awal terjun dalam dunia kesusastraan, Uka menulis sebagai bentuk pembelaan. Pembelaan terhadap kondisi rakyat Indonesia pada era kolonial dan pasca kolonial. Pembelaan terhadap apa yang sedang dirasakannya.


47 AHMAD TOHARI: Di Balik Cerita Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari adalah salah satu sastrawan Indonesia yang sudah dikenali oleh banyak orang. Sastrawan yang lahir pada tanggal 13 Juni 1948 di desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah dan terlahir dari keluarga santri. Tohari lahir dari pasangan bernama Muhammad Diryat dan Saliyem. Ayahnya adalah seorang kiai (pegawai KUA) dan ibunya pedagang kain. Tohari merupakan salah satu alumni di SMAN 2 Purwokerto, kemudian ia melanjutkan kuliah di beberapa jurusan dan kampus, tetapi tidak ada yang ditamatkan. Pertama Tohari kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), pada tahun 1974 sampai 1975. Selanjutnya, ia pindah ke Fakultas Sosial Politik (1975—1976) dan hanya dijalani selama satu tahun, lalu ia pindah ke Fakultas Kedokteran YARSI, Jakarta, tahun 1967 sampai 1970, tetapi tidak tamat juga. Akhirnya, ia memilih untuk


48 tetap tinggal di desanya, Tinggarjaya, mengasuh Pondok Pesantren NU Al Falah. Sejak remaja ia sudah gemar membaca dan menulis. Namun, tidak pernah terpikirkan oleh Tohari bahwa suatu saat akan menjadi seorang penulis. Menulis hanya sekedar hobi dan tidak dijadikan sebuah cita-cita. Saat SMA Tohari sudah sering menulis, namun, karyanya hanya disimpan dalam laci mejanya. Setelah lulus SMA, Tohari baru mencoba untuk mengirim karya tulisannya ke berbagai media massa, salah satunya kompas. Akhirnya karyanya mulai dipublikasikan pada tahun 1970-an. Semasa hidupnya Ahmad Tohari selalu menghasilkan berbagai karya sastra yang mampu menjadikan karya sastra itu memperoleh penghargaan dan dikenal oleh khalayak umum. Ada satu karya cerpen yang ditulisnya yang berjudul “JasaJasa buat Sanwirya” menambah semangat dalam menulis karena mampu memenangi Hadiah Harapan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radio Nederland


49 Wereldomroep (1977). Selain itu, ada beberapa karya yang ditulis Tohari juga mampu memperoleh penghargaan bergengsi, seperti Novel Di Kaki Bukit Cibalak memperoleh salah satu hadiah Sayembara Penulisan Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979. Kubah (novel) yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai bacaan terbaik dalam bidang fiksi tahun 1980. Novel Jantera Bianglala dinyatakan sebagai fiksi terbaik (1986). Beberapa karya yang ditulis oleh Ahmad Tohari, ada yang sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, seperti Ronggeng Dukuh Paruk dan Kubah. Kedua novel tersebut sama-sama pernah diterbitkan dalam bahasa Jepang dan mendapat biaya dari Toyota Ford Foundation oleh Imura Cultural Co. Ltd. Tokyo, Jepang. Selain itu, terdapat pula judul lain yang diterjemahkan bahasa asing, seperti trilogi novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala ke dalam bahasa Belanda dan Jerman.


50 Masa Kehidupan Ahmad Tohari Ahmad Tohari lahir dari orangtua yang bernama Muhammad Diryat dan Saliyem. Keduanya menikah pada tahun 1938 dan dari pernikahan itu dikaruniai 12 anak, yaitu Katisah, Kanturi, Kamirin, Ahmad Tohari, Siti Sulasih, Ahmad Sobri, Nurhayati, Siti Junaenah, Siti Maemunah, Siti Halimah, Siti Khuzaenah, dan Nur Laela. Tohari merupakan anak ke empat. Mereka hidup dalam kesederhanaan, keharmonisan, dan seperti orang desa pada umumnya. Masa kecil Tohari dilewati seperti anak desa pada umumnya. Rasa cinta Tohari terhadap desanya sudah tidak perlu diragukan lagi, seperti kata Tohari “Saya dan desa tak mungkin bisa dipisahkan”. Kalimat itu menunjukkan besarnya rasa cinta Tohari terhadap desanya sampai seperti dirinya dan desanya adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ahmad Tohari memulai awal pendidikannya di bangku SDN Tinggarjaya selama 6 tahun. Kehidupan Tohari selama di SD seperti anak kecil pada umumnya.


51 Saat itu ia tidak mempunyai prestasi di bidang apapun. Orang tuanya tidak pernah mencampuri yang berkaitan dengan sekolahnya. Tohari naik kelas itu sudah cukup senang bagi orang tuanya. Setelah lulus, Tohari melanjutkan pendidikannya di SMP 1 Purwokerto. Ketika di bangku SMP Tohari lebih memilih bergaul dengan teman yang berasa dari kampung. Ia merasa minder sama teman-teman yang berasal dari kota. Tohari bukan benci atau tidak suka dengan orang kota tetapi hanya merasa minder jika berteman dan berada didekatnya. Selama di masa SMP, ia merasa minder terus menerus sehingga membuatnya menjadi rendah diri. Tohari yang berpenampilan sederhana tiba-tiba bersekolah dan masuk ke Purwokerto yang di mana banyak orang berpakaian rapi dan menjadikan Tohari tidak percaya diri akan dirinya. Setelah SMA, Tohari baru bisa mengatasi rasa minder itu dan membuatnya lebih percaya diri. Tohari melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Purwokerto, prestasi yang diperoleh tidak jauh berbeda saat SMP, hanya saja ia sudah bisa lebih


52 percaya diri terhadap dirinya. Saat di sekolah, Tohari tidak begitu aktif di organisasi sekolah, ia hanya mengikuti kegiatan seperti ekstrakurikuler. Ia juga sudah mulai senang membaca novel dan cerpen, sampai berpuluh-puluh jumlahnya. Kehidupan menempuh pendidikan tidak sampai di situ saja. Setelah lulus SMA, Tohari melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi UNSOED Purwokerto pada tahun 1974-1975. Kemudian ia pindah ke Fakultas Sosial Politik dan dijalani selama setahun. Lalu pindah lagi ke Fakultas Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta 1967-1970, namun sayangnya Tohari sudah tidak melanjutkan lagi karena keterbatasan biaya. Sampai akhirnya ia memilih untuk mengasah kemampuannya di bidang menulis. Ahmad Tohari menikah pada tanggal 1 Desember 1970 dengan seorang wanita bernama Syamsiah. Mereka menikah di saat usia masih muda, Tohari umur 22 tahun dan Syamsiah 18 tahun. Umur pernikahan yang belum masih dan menikah saat


53 remaja menjadikan mereka sering menghadapi masalah-masalah keluarga, salah satunya ekonomi, namun masih bisa diatasi. Tohari dan Syamsiah menjalin hubungan sudah lama, yaitu sejak duduk di bangku kelas 4 SD, sedangkan Syamsiah masih baru masuk kelas 1. Pasangan itu dikaruniai 5 orang anak, yaitu Listiya, Widia, Azhar Saputra, Sita Hidayah, dan Din Tahta Alfina. Ke lima anaknya mendapat kasih sayang yang terpenuhi. Tohari selalu berusaha untuk menjadi ayah yang mengayomi dan terbuka. Tohari menanamkan pendidikan keagamaan sejak dini. Ia selalu mengajak keluarganya untuk shalat berjamaah. Tohari selalu memberikan pesan dan motivasi kepada anaknya untuk selalu menjadi orang yang memberi bukan menerima. Rumah Tohari tepat di samping jalan raya, jalur selatan Jatilawang. Di depan rumahnya banyak tanaman buah-buahan, seperti rambutan, nangka, manggis yang menjadikan rumahnya semakin sejuk dan nyaman untuk ditempati. Tohari selalu membuka


54 lebar pintu rumahnya untuk siapa saja, entah orang biasa, pejabat, orang tua, anak kecil, orang miskin kaya, dan lainnya. Tohari tak pernah membedakan tiap orang, ia selalu ramah dan mampu memberikan selipan motivasi dalam dialognya. Setiap berbicara dengan anak muda, ia selalu menggebu-nggebu, selalu semangat untuk mendorong mereka dalam berkarya dan memberikan manfaat pada orang lain. Tohari selalu berpenampilan sederhana, tidak pernah mengikuti tren atau tokoh-tokoh yang sedang terkenal. Tohari hidup di lingkungan yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan, saling tolong menolong, aktif, dan terjalin dengan baik. Makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri. Sehingga, sebagai makhluk sosial harus memiliki kesadaran terhadap rasa saling tolong menolong.


55 Di Balik Karya Ahmad Tohari Novel Kubah adalah salah satu karya yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Cerita yang ditulis terinspirasi dari peristiwa besar yang pernah terjadi di Indonesia yang melibatkan Partai Komunis dan Gerakan 30 September 1965 (G30S PKI). Novel ini menceritakan tentang kekejaman di tahun 1965 terhadap orang yang dituduh sebagai bagian dari Komunis Indonesia (PKI). Kisah ini berdasarkan apa yang dilihat oleh Tohari ketika remaja saat melihat beberapa eksekusi mati terhadap orang yang dituduh PKI. Novel ini berlatarkan masa orde baru yang ditandai dengan pembunuhan dan penculikan yang dilakukan oleh PKI. Novel Kubah mengisahkan tentang berbagai peristiwa yang melibatkan Partai Komunis dan Gerakan 30 September 1965. Novel ini termasuk contoh awal karya sastra yang mengungkap tentang PKI dan G30S. Karena pada saat itu belum banyak karya sastra yang menjelaskan tentang G30S. Dalam novel ini terdapat tokoh bernama Karman yang


56 menjadi anggota partai komunis. Akibatnya Karman menjadi tahanan politik yang diasingkan di Pulau Buru. Setelah Karman bebas, ia menyadari kekeliruan selama ini tentang kesalahan ia masuk dan ikut ke dalam komunitas komunis. Karman bukan hanya merasakan kebebasan secara fisik tetapi juga jiwanya. Jiwanya terasa lebih bebas saat setelah ia membuat kubah untuk bangunan masjid di kampung halamannya. Melalui novel Kubah, Tohari ingin memperlihatkan melalui tokoh Karman bahwa pada realitasnya partai komunis memiliki sisi buruk dan baik. Sisi baik dapat diperlihatkan dari tokoh Karman yang membangun kubah. Itu memunculkan adanya nilai ketuhanan yang luar biasa. Seorang eks PKI tapi memiliki sisi baik. Novel Kubah membutuhkan proses yang relatif panjang, yaitu sekitar 4-5 tahun. Pada awalnya, kubah hanya dari kumpulan-kumpulan catatan lepas yang ditulis oleh Tohari pada tahun 1975. Kemudian pada tahun 1979, Ahmad Tohari baru muncul keinginan


57 untuk mengumpulkan catatan-catatan lepas tersebut dan menyusunnya menjadi sebuah novel. Sampai akhirnya, Tohari menyelesaikan tulisan karya sastra novel Kubah, dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya tahun 1981. Novel ini menjadi karya pertama Ahmad Tohari yang dibukukan. Terciptanya novel Kubah dilatarbelakangi oleh Tohari yang melihat ketidakadilan, terutama dalam peristiwa G30S PKI. Saat itu banyak masyarakat yang sudah tidak memiliki peri kemanusiaan. Sampai akhirnya Tohari memilih untuk memperlihatkan kejadian saat itu melalui sebuah novel Kubah. Oleh karena itu, cerita dalam novel ini memiliki tingkat realitas yang cukup tinggi. Alur dalam cerita Kubah terpengaruh sebuah novel dari Perancis. Inspirasi pemilihan alur dari novel Perancis terjadi karena menurut Tohari alur novel tersebut menarik dan sesuai dengan novel yang sedang disusunnya, sehingga adanya kecocokan di dalamnya. Novel yang membahas tentang G30S PKI diberi judul Kubah karena bentuk visual “kubah”


58 melambangkan puncak tahapan pencarian jati diri seorang manusia. Selain novel Kubah, ada novel lain karya Ahmad Tohari yang lebih banyak dikenal oleh banyak orang, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk. Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah trilogi novel yang terdiri dari 3 buah novel Surat Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan yang pertama, kemudian dilanjutkan Lintang Kemukus Dini Hari, dan terakhir dalam trilogi ini yaitu Jantera Bianglala. Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan catatan jejak kehidupan dan adat istiadat masyarakat Dukuh Paruk. Melalui novel ini dijelaskan Dukuh Paruk adalah sebuah desa yang terpencil di Jawa, sangat miskin, dan terbelakang dalam hal kehidupan ekonomi, budaya maupun pendidikan. Gambaran kemelaratan di desa Dukuh Paruk itu terpelihara secara lestari karena kebodohan dan kemalasan penghuninya.


59 Novel Ronggeng Dukuh Paruk berisi pengalaman hidup Tohari yang dikemas dalam bentuk fiksi. oleh itu, ide penulisan novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan pengalaman pribadi yang dialami Tohari saat remaja. Desa tempat Tohari tinggal, sekitar 70% masyarakatnya adalah orang abangan dengan seni ronggeng dan wayang kulit yang berkembang dengan pesat. Termasuk tokoh ronggeng dalam cerita novel ini, meskipun namanya buka Srintil, tapi itu adalah ilustrasi yang sesuai dengan peristiwa pada masa itu. Kisah ronggeng pada masa lalu persis dengan yang dituliskan oleh Tohari, ditahan dan dijadikan bulan-bulanan penguasa tahanan. Saat Tohari mengalami dan melihat langsung yang dialami ronggeng, ia tidak langsung menuliskan kisah tersebut ke dalam cerita. Butuh sekitar 15 tahun untuk mengumpulkan memori ingatan. Hal itu karena saat kejadian tahun 1965, Tohari masih berusia 17 tahun dan belum memiliki rencana untuk menuangkan ke dalam bentuk buku. Selama satu periode Tohari menunggu sastrawan lain


60 mengungkap peristiwa tahun 1965, tapi tak kunjung ada tulisan sastra yang menuliskan kejadian itu. Sampai akhirnya Tohari mulai menuliskan peristiwa yang dialami dan dilihatnya. Sebagian cerita diambil dan tidak diterbitkan karena harus berhadapan dengan tentara saat itu. Tohari menjadi salah satu saksi mata dalam peristiwa besar itu dan akan menjadi beban jika tidak ditulis. Peristiwa tahun 1965 harus ditulis ke dalam karya sastra Indonesia agar menjadi rekam jejak yang pernah terjadi di Indonesia. Cerita terkait peristiwa tersebut sudah dijelaskan sebelumnya di novel Kubah, tetapi belum mampu mewakili seluruh perasaan Tohari. Masih ada perasaan gelisah dan perlu adanya penjelasan yang panjang akan peristiwa tersebut. Munculnya novel Ronggeng Dukuh Paruk memicu banyak polemik di masyarakat. Hal ini terjadi karena isi novel ini menceritakan tragedi kemanusiaan yang berlatar sejarah komunis 1965. Para penguasa memberi reaksi yang keras dan tidak suka. Akibatnya Tohari sempat ditangkap dan


61 diinterogasi terkait isi novel tersebut. Ahmad Tohari pernah diciduk oleh tentara karena dituding sebagai antek PKI, peristiwa ini terjadi pada tanggal 2 Juli 1986. Setelah ditangkap, ia dibawa ke Kopkamtib. Namun, Tohari memiliki relasi luas yang menyebabkan ia memiliki kenalan orang-orang penting yang mengapresiasi karya, akhirnya Tohari dibebaskan. Kebebasan itu terjadi setelah lima hari penangkapan Tohari. Alasan Tohari dibebaskan karena ia mampu membuktikan saat diminta untuk menuliskan nama orang NU yang dikenal dan dapat dihubungi, sampai akhirnya disimpulkan bahwa Tohari bukan anggota PKI. Nama yang ditulis adalah Gusdur atau Kiai Abdurrahman Wahid, yang merupakan tokoh besar dalam NU.


62 SUMBER TULISAN Ensiklopedia Sastra Indonesia. Ahmad Tohari. Diakses dari https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/ artikel/Ahmad_Tohari. Ensiklopedia Sastra Indonesia. Ronggeng Dukuh Paruk (1982). Diakses dari https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/ artikel/Ronggeng_Dukuh_Paruk. Kumala, R. 2019. Gadis Kretek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Luthfi, A.N. 2007. Manusia Ulang – Alik: Biografi Umar Kayam. Yogyakarta: Eja Pablisher. Oktaviani, Eka Dian. 2016. Riwayat Hidup Ahmad Tohari. FKIP UMP. Diakses dari https://repository.ump.ac.id/971/3/BAB%20 II_EKA%20DIAN%20OKTAVIANI_SEJARAH%2 716.pdf. Pramoedya Ananta Toer. Diakses dari http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/a rtikel/Pramoedya_Ananta_Toer Ratih Kumala. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Ratih_Kumala Safutra, Ilham. 2019. Ahmad Tohari, Puluhan Tahun setelah Ronggeng Dukuh Paruk (2/Habis). Jawa Pos. Diakses dari https://www.jawapos.com/features/0124573


63 6/ahmad-tohari-puluhan-tahun-setelahronggeng-dukuh-paruk-2habis. Suharto, Abdul Wachid Bambang & Endah Kusumaningrum. 2022. Sumber Imajinasi Kreatif Ahmad Tohari dalam Menulis Karya Sastra (Source of Ahmad Tohari's Creative Imagination in Writing Literary Works). Indonesian Language Education and Literature. Vol. 8, No. 1. Halaman 48-58. Diakses dari https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index. php/jeill/article/download/10590/4818. Taum, Y.Y. (2014). Tragedi 1965 dalam KaryaKarya Umar Kayam: Perspektif Antonio Gramsci. Jurnal Ilmiah Kebudayaan: SINTESIS, 8(1), pp: 11-22. https://ejournal.usd.ac.id/index.php/sintesis/ article/download/1015/789 Teeuw. A. 1997. Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer. Jakarta: Pustaka Jaya Toer, K. S. 2006. Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Umar Kayam. Diakses dari https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/ artikel/Umar_Kayam


64 Vltchek, A., & Indira, R. 2006. Saya Terbakar Amarah Sendirian!. Jakarta: Kepustakaan populer Gramedia. Wahyudi, A. 2021. Tanda Cinta Dalam Sepotong Tangan Ratih Kumala. Diakses dari https://sastraindonesia.com/2021/03/tanda-cinta-dalamsepotong-tangan-ratih-kumala/ Wawasan, Insan. 2016. Ahmad Tohari dan Sastra yang Merekam Zaman. Balairung Press. Diakses dari https://www.balairungpress.com/2016/10/a hmad-tohari-dan-sastra-yang-merekamzaman/.


65 GLOSARIUM G30S-PKI: gerakan pemberontakan 30 September oleh Partai Komunis Indonesia yang mengakibatkan gugurnya enam jenderal dan satu perwira pertama militer Indonesia. HIS (Holland Inlandsche School): sekolah dasar pada zaman penjajahan Belanda yang didirikan pada tahun 1914 dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda, diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga bangsawan, tokoh terkemuka, dan pegawai pemerintahan kolonial. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs): sekolah lanjutan HIS atau sekolah menengah pertama pada zaman kolonial Belanda dan berbahasa pengantar bahasa Belanda. NICA (Nederlandsch Indische Civil Administration): badan pemerintahan yang bertugas sebagai penghubung antara pemerintah kolonial Belanda di pengasingan dan komando tertinggi sekutu di pasifik, dibentuk pada tanggal 3 April 1944 di Australia.


66 Orde Baru: masa pemerintahan Presiden Soeharto yang diawali dengan dikeluarkannya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966). PKI (Partai Komunis Indonesia): partai politik yang dibentuk pada tanggal 23 Mei 1914, awalnya sebuah organisasi bernama Indische Social Democratische Vereeniging yang didirikan oleh seorang sosialis Hindia-Belanda.


67 INDEKS Ananta, Pramoedya Toer, 1, 3, 13, 19, 20 Bumi Manusia, 2, 9 Boedi Oetomo, 20 Cerita dari Blora, 3 Cerita-Cerita dari Digul, 3 Dewan Kesenian Jakarta, 23, 34, 43, 55 G30S PKI, 28, 43, 44, 46, 50, 63, Gadis Kretek, 23, 26, 27, 28, 29, Gadis pantai, 14, 19 HIS (Holland Inlandsche School), 20, 32 Jalan Menikung, 35 Kayam, Umar, 31, 32, 34, 45, 46, 48, 51 Kumala, Ratih, 22, 23, 24, 25, 26, 28,29 Kurniawan, Eka, 23, 24 Lintang Kemukus Dini Hari, 56


68 MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), 4, 40 NICA, 8 Nobel Sastra, 1 Orde Baru, 13, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 62 PKI, 47, 48, 49, 62, 63 Pulau Buru, 13, 15, 63 Ronggeng Dukuh Paruk, 56 Sastra ASEAN, 35, 56 Soeharto, 16, 46 Soekarno, 12, 44 Soemitro, 16 Tohari, Ahmad, 53, 54, 56, 57, 60, 62


69 PROFIL PENULIS Dean Ayu Puspita, biasa dan bisa dipanggil Dean. Lahir pada 28 Desember 2001 di Yogyakarta tepatnya Kulon Progo. Pendidikan yang pernah ditempuh sebelumnya adalah SMA Negeri 1 Sentolo. Saat ini ia masih menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 6. Suka buah tapi tidak suka sayur. Punya hobi mendengarkan musik, membaca buku berbagai genre, dan suka jalan-jalan ke tempat baru. Selain itu, ia juga suka nonton drama Korea, dari suka tertawa sampai tersedu sendiri saat menontonnya.


70 Septi Rahma Dewi, biasa dipanggil Septi. Lahir dan tinggal di kota “Lawet” yaitu Kota Kebumen. Lahir pada tanggal 1 September 2002. Ia merupakan alumni dari SMA Negeri 1 Kutowinangun, Kebumen. Tahun 2020, ia berhasil masuk sebagai mahasiswi perguruan tinggi negeri di Yogyakarta yaitu Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini masih mengenyam pendidikan di Fakultas Bahasa Seni dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tercatat sebagai mahasiswi semester 6. Suka memotret tapi tidak begitu suka memotret diri sendiri.


71 Yunita Della Anggraini, biasa dipanggil Della. Lahir dan tinggal di kota “Gaplek” atau bisa disebut Gunungkidul. Lahir pada tanggal 31 Januari 2002. Pendidikan yang pernah ditempuh sebelumnya adalah SMA Negeri 1 Wonosari. Saat ini sedang mengenyam pendidikan di Perguruan Negeri Tinggi Universitas Negeri Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, semester 6. Memiliki hobby jalan-jalan dan suka berfoto-foto. Tidak suka keramaian dan tempat ramai. Suka membaca novel bergenre romantis dan suka minum kopi.


72 Zalzabila Tania Devi, bisa dipanggil Zalza. Lahir dan tinggal di kota ‘Seribu Umbul’, berzodiak virgo dan pecinta makanan pedas. Saat ini sedang mengenyam pendidikan sebagai mahasiswi di Fakultas Bahasa Seni dan Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, semester 6.


73


Click to View FlipBook Version