The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by zeifulsmeser, 2021-04-18 04:56:45

Yakinlah Menghafal Al-Qur'an Itu Mudah

Yakinlah Menghafal Al-Qur'an Itu Mudah

Yakinlah!

Menghafal

al-Quran Itu
Mudah

Dâr ar-Rasâ'il
Digital Publishing 2018

Daftar Isi

Daftar Isi -- 3
1. 16 Alasan Mengapa Kita Harus Menghafal

al-Qur’an -- 5
2. Menghafal Al Qur’an Bukan Sekedar Untuk

Hafal, Tetapi Untuk Semakin Dicintai Allah -- 16
3. Syarat-syarat Menghafal Al-Qur’an -- 22
4. Meluruskan 10 Mitos Seputar Menghafal al-

Quran -- 27
5. Penghalang Terbesar Dalam Menghafal Al-

Qur’an -- 44
6. Beberapa Kesalahan dalam Menghafal Al-Qur’an

-- 48
7. Kiat Menghafal al-Qur’an -- 56
8. Jika Hafalan Al-Qur’an Terasa Susah dan Sulit

3

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Nyantol di Ingatan -- 65
9. 10 Hikmah Positif Sulit Menghafal Al-Qur’an --

70
10. Inilah Alasan Mengapa Harus Tetap Menghafal

Al-Qur’an Meski Sulit -- 75
11. Penyebab Para Penghafal Al-Qur’an Mampu

Menghafal -- 79
12. Kisah Indahnya Menghafal Al-Qur’an -- 86
13. Pelengkap: 27 Manfaat Menghafal Al-Qur’an

bagi Kecerdasan dan Kesehatan -- 91

4

16 Alasan Mengapa Kita
Harus Menghafal
al-Qur’an

Bisa membaca al-Qur’an itu keutamaan. Dan
bisa menghafal al-Qur’an adalah lebih utama.
Bisa memahami al-Qur’an itu adalah kewajiban.
Dan paham ditambah hafal itu jauh lebih afdhal.
Mengamalkan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan
sehari-hari itu adalah tuntutan. Namun, mengamalkan
karena termotivasi karena hafalan adalah lebih aman
setiap saat.

Setidaknya itu yang harus kita renungkan
sama-sama sebagai seorang muslim sejati. Ya,
menghafal al-Qur’an merupakan suatu keniscayaan
dalam kehidupan setiap muslim. Ia tidak akan bisa
menerapkan Islam secara baik tanpa interaksi yang
kuat dengan al-Qur’an sebagaimana para generasi
sahabat dan salaf shaleh dahulu lakukan.

5

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Untuk memotivasi kita agar bisa dekat al-Qur’an
dan berjuang menghafalkan aya-ayatnya, maka
setidaknya ada 16 alasan kenapa kita harus menghafal
al-Qur’an:

1. Menghafal adalah landasan awal ketika
Rasulullah menerima al-Qur’an dari malaikat
Jibril alaihissalam. Allah berfirman dalam al-
Qur’an: “Bahkan al-Qur›an itu adalah ayat-ayat
yang menjelaskan (terdapat) di dalam dada-dada
orang-orang yang diberikan ilmu..” (QS al-Al-
Ankabut: 49).

Sungguh, betapa indahnya ayat ini yang
menjelaskan tentang agungnya aktifitas dada
orang-orang yang menghafal ayat-ayat Allah swt.
Allah mensifatkan bahwa mereka adalah orang-
orang yang diberikan ilmu. Lalu, apakah ada yang
disebut ilmu selain yang termuat dalam al-Qur’an
al-Karim?!

Ayat di atas menjelaskan bahwa Dia akan
memilih dari sekian hamba-hamba-Nya di muka
bumi untuk kemudian dada akan dijadikan
sebagai wadah bagi firman-firman-Nya. Sungguh
ini merupakan keutamaan yang besar.

Malah ketika kita mau memperhatikan
kekhususan yang diberikan kepada umat ini,
- di mana dada para ulamanya penuh dengan
al-Qur’an- kita semua pasti akan mengetahui
berharganya menjadi para penghafal kitab-Nya.

6

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

2. Al-Qur’an adalah sumber dan muara semua
sistem dan undang-undang umat ini.

Karena al-Qur’an ini adalah undang-undang
kita selaku umat Islam, maka kita wajib untuk
berhukum dengannya dan menjadikannya sebagai
sumber hukum bagi orang lain. Darinya referensi
bagi semua persoalan dan tasyri’ (perundang-
undangan). Tidak ada persoalan yang kecil ataupun
besar sekalipun melainkan dijelaskan secara jelas
di dalamnya. Ini sebagaimana firman Allah dalam
ayat-Nya: “Tidaklah Kami berlebih-lebihan (dalam
menjelaskan) di kitab ini sedikitpun..”

Dan firman-Nya: “Dan tidaklah Tuhanmu lupa.”

Al-Qur’an ini adalah cahaya yang dibawa umat
untuk menerangi seluruh manusia agar risalahnya
tersampaikan dengan menyeluruh, layaknya
sebuah umat yang dilahirkan untuk manusia
seluruhnya dan sebagai saksi atas mereka di
dunia dan akhirat.

3. Menghafal al-Qur’an adalah fardhu kifayah.

Sebagian ahli ilmu menegaskan bahwa
menghafal al-Qur’an itu merupakan kewajiban
atas umat ini. Yang apabila telah dilakukan oleh
sebagian kaum, maka akan terbebaslah kaum
yang lain dari dosanya.

Badruddin Zarkasyi mengatakan: “Sahabat-
sahabat kami mengatakan, “Belajar al-Qur’an itu

7

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

hukumnya fardhu kifayah. Dan kegiatan
menghafalkannya adalah wajib atas umat ini.”

4. Menghafal al-Qur’an itu berarti meneladani
Rasulullah saw.

Allah telah menjadikan Rasulullah saw,
Muhammad sebagai teladan yang baik bagi umat
ini. Dan menghafal al-Qur’an itu sendiri adalah
bagian dari meneladani sunnah-sunnahnya. Itu
dikarenakan Rasulullah selalu menghafalkannya,
rajin membacanya dan disimak oleh malaikat Jibril
as. Demikian pula, Rasulullah menyimakkannya
kepada para sahabatnya dan para sahabatnya
menyimakkan kepada beliau.

5. Menghafal al-Qur’an juga sama dengan
meneladani para salaf sholeh.

Menghafal al-Qur’an di masa kanak-kanak
dan masa muda adalah bagian mencontoh salaf
sholeh, menapaki jejak mujahadah (kesungguhan)
mereka dan menempuh contoh jalan hidayah
Allah. Dahulu, salaf sholeh memulai menghafal
al-Qur’an sebelum menghafal ilmu-ilmu lain dan
memberikan perhatian lebih kepadanya sebelum
kepada disiplin keilmuan lainnya. Tidaklah anda
membaca tentang biografi para ulama dahulu
melainkan engkau pasti akan membaca di
dalamnya bahwa ia, “menghafal al-Qur’an dahulu
lalu baru kemudian menuntut ilmu-ilmu keislaman
lainnya.”

8

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

6. Menghafal al-Qur’an adalah karakteristik umat
Rasulullah saw.

Imam Jazari mengatakan: “Dahulu itu, para
ulama menukilkan al-Qur’an melalui dada-dada
dan hati-hati yang dipenuhi hafalan al-Qur’an.
Bukan melalui tulisan mushaf dan kitab-kitab.
Inilah karakteristik yang paling mulia yang Allah
berikan kepada umat ini.”

Sungguh, aktifitas menghafal al-Quran ini
akan senantiasa menjadi syiar bagi umat ini dan
menjadi duri di kerongkongan musuh-musuh
Islam.

Laura Faghliry, wanita orientalis mengatakan:
“Sungguh, hari-hari ini kita tidak bisa
membendung terjangan ombak keimanan ribuan
umat muslim yang mampu mengulang-ngulan
bacaan al-Qur’an dengan hafalan. Di Mesir sendiri
jumlah huffazul qur’an (penghafal al-Qur’an) jauh
melebihi jumlah kaum Nasrani yang mampu
membaca Injil secara hafalan di seluruh Eropa.”

James Minzez, seorang non Islam yang
diharamkan mendapatkan cahaya al-Qur’an
mengatakan: “Mungkin itulah, al-Qur’an
merupakan kitab yang paling banyak dibaca
manusia di atas dunia ini. Sungguh, ia adalah
bacaan yang paling mudah dihafal manusia.”

7. Menghafal al-Qur’an adalah proyek ibadah yang

9

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

tidak mengenal bahasa kegagalan.

Takut gagal dan tidak berhasil saat ini sudah
menjadi rintangan dan sekat yang menghalangi
antara seseorang dan angan-angannya. Dan bisa
jadi semua akhir dari semua proyek manusia
adalah benturan keras yang terjadi karena
sekat kegagalan dan ketidakmampuan untuk
melanjutkan sebuah pekerjaan. Akan tetapi proyek
menghafal al-Qur’an tidak akan pernah mengenal
yang namanya pemikiran tersebut. Ketika seorang
pemuda memulai pekerjaan menghafal al-Qur’an
ini, kemudian berhenti dan melemah tekadnya
sebelumnya selesai menghafal, apakah bisa
dikatakan ia telah gagal sesungguhnya, misalnya
saja ia telah menghafal beberapa juz?! Tentu
saja usahanya tidak sia-sia dalam sekejap. Hanya
saja hafalannya itu hilang sejenak. Seluruh waktu
yang pernah ia kerahkan untuk membaca dan
menghafal yang membuatnya mengorbankan
segala kenikmatan dunia tentu saja adalah bagian
dari ketaatan kepada Allah swt. Bisa dibayangkan,
berapa surat dan berapa ayat yang pernah ia
ulang-ulang?! Sementara setiap huruf akan
dibalas dengan sepuluh kali lipat oleh Allah swt.

8. Menghafal al-Qur’an itu mendapat garansi
kemudahan untuk semua orang.

Banyak orang yang bercita-cita bisa
merealisasikan impiannya dan mengukir prestasi

10

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

yang memuaskan. Namun, seringkali kemampuan
akalnya menjadi penghalang untuk menggapai
itu semua. Tapi tidak untuk al-Qur’an. Bisa kita
saksikan betapa banyak orang-orang yang
memiliki keterbatasan fisik dan lemah dalam
hafalan, tapi mampu menghafal al-Qur’an.

Qurthubi mengatakan tentang ayat: “Sungguh
telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk diambil
pelajaran.”(Qs al-Qomar: 17), yakni, “Kami
mudahkan al-Qur’an ini untuk dihafal, dan
akan Kami bantu mereka yang mau menghafal.
Lalu, adakah orang yang mau menghafal lalu
mendapatkan pertolongan-Nya?”

9. Penghafal al-Qur’an adalah keluarga Allah dan
orang-orang pilihan-Nya.

Di antara penyempurnaan penghormatan
Allah dalam menjaga kitab suci-Nya adalah
dengan menjadi dari hamba-hamba-Nya yang
hafal al-Qur’an. Sungguh itu merupakan sebuah
kehormatan yang tidak ada bandingannya bagi
manusia di dunia ini. Di mana dengan sifat itu
seorang hamba yang fakir dan lemah menjadi
keluarga dan orang-orang pilihan-Nya. Keluarga
dan orang-orang pilihan-Nya itu tent lebih patut
memperoleh rahmat, pemaafan, cinta dan dekat
dengan-Nya tabaroka wata’alaa.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari
Rasulullah saw ia berkata: “Sesungguhnya Allah

11

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

memiliki ‘keluarga’ di antara manusia sekalian.”
Para sahabat bertanya: “Siapa mereka, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah
ahlul qur’an dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR.
Ibnu Majah)

Silahkan saja setiap manusia bangga dengan
predikat yang ia miliki di dunia ini. Entah itu ia ahli
harta, ahli seni ataupun ahli olahraga. Silahkan
pula sebut nama-nama itu semua pada setiap
kamus yang ada dengan sifat dan pujiannya.
Apakah ada yang lebih baik dari pada sifat yang
dimiliki oleh seseorang yang bergelar ‘keluarga
Allah dan hamba pilihan-Nya.’?

10. Menghormati Penghafal al-Qur’an berarti
mengagungkan Allah swt.

Dari Abu Musa al-Asya’ri radiyallahu anhu
ia berkata: Rasululla saw bersabda: “Di antara
bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan
orang tua yang muslim, memuliakan penghafal
al-Qur’an yang taat dan menghormati setiap
pemimpin yang adil.” (HR. Abu Daud). Inilah dalil
tentang ketinggian kedudukannya dan kebesaran
perannya.

11. Akan ditempatkan bersama duta-duta yang mulia
lagi berbakti (para malaikat).

Dari Aisyah radiyallahu anha bahwa nabi
shallahu alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan

12

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

orang yang membaca al-Qur’an sementara ia
hafal akan ditempatkan bersama para duta-duta
Allah yang mulia lagi berbakti. Dan perumpamaan
orang yang membacanya dalam keadaan berat
namun ia tetap berusaha, maka baginya dua
pahala.”(HR. Bukhari).

Sudah tidak bisa pungkiri saat ini manusia
begitu berbangga diri ketika menyandarkan diri
kepada salah seorang pembesar atau seorang
tokoh agama yang penuh dengan ketenaran. Bisa
jadi itu pada bidang olahraga ataupun sia-sia
yang penuh kebatilan. Sungguh itu merupakan
kecelakaan besar karena keteledoran diri. Namun
demikian indah bagi para penghafal al-Qur’an
ketika mereka memilih bersama para duta-duta
Allah yang suci (malaikat).

12. Akan memperoleh syafaat di hari kiamat.

13. Penghafal al-Qur’an orang yang seharusnya diirii
(dalam arti yang positif)

Dalam hidup ini Allah telah melebihkan derajat
satu golongan dengan golongan yang lainnya.

“Dan telah Kami lebihkan sebagian dari
mereka atas sebagian yang lainnya. Dan negeri
akhirat lebih besar derajatnya dan lebih banyak
keutamaannya.”(Qs al-Isra: 21)

Dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma Rasulullah
saw bersabda: “Tidak boleh merasa hasud

13

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

melainkan pada dua golongan: “Seseorang
yang Allah berikan kepadanya al-Qur’an, lalu ia
membacanya siang dan malam. Dan seseorang
yang Allah karuniakan hartan kekayaan lalu ia
menginfakkan hartanya itu siang dan malam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

14. Para penghafal al-Qur’an akan berada di surga
yang paling tinggi.

Rasulullah bersabda: “Akan dihadirkan
penghafal al-Qur’an pada hari kiamat, lalu
dikatakan kepadanya: “Wahai Robb, berikanlah
ia hiasan.” Maka iapun dikalungkan mahkota
kemuliaan.” Lalu dikatakan lagi, “Ya Robb,
tambahkanlah ia.” Maka ditambahkan mahkota
kemuliaan kepadanya. Kemudian dikatakan lagi
kepadanya: “Ya Robb, ridhoilah ia.” Akhirnya
dikatakan kepadanya, “Bacalah dan naiklah.
Sesungguhnya bagimu setiap ayat adalah satu
kebaikan.” (HR. Tirmizi, Hakim dan hadits ini
dihasankan statusnya oleh syekh Albani).

15. Menghafal al-Qur’an di antara sebab-sebab
terbebasnya seseorang dari siksa neraka.

Rasulullah saw bersabda: “Seandainya al-
Qur’an ini diletakkan di hati seorang mukmin,
kemudian dilemparkan ke dalam neraka, niscaya
tidak akan terbakar hatinya.”(HR. Ahmad)

16. Bank Kebaikan.

14

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Sabda nabi Saw: “Barangsiapa yang membaca
satu ayat dalam al-Qur’an maka baginya satu
kebaikan. Dan setiap kebaikan akan dibalas
dengan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan alif
laam miim itu satu huruf. Tapi alif satu huruf, laam
satu huruf dan miim satu huruf.”(HR. Tirmizi, ia
mengatakan hadits ini hasan shahih).
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi
hamba-hamba-Nya yang hafal dan memahami al-
Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari, Amiin Ya Robbal a’lamin.

Sumber:

http://www.bisa.or.id/2015/02/16-alasan-mengapa-kita-harus-
menghafal.html?m=1

15

Menghafal Al Qur’an
Bukan Sekedar Untuk Hafal,

Tetapi Untuk Semakin
Dicintai Allah

Ustadz Deden Deden Makhyaruddin, juara satu
pada Musabaqah Tahfiz, Tajwid, dan Tafsir
Al-Quran (MTQ) Internasional untuk kategori
bergengsi lomba hafalan Qur’an 30 juz dan tafsirnya
dalam memperebutkan Piala Raja Mohammed
VI ke-6, yang diadakan pada 4-7 Februari 2011 di
Casablanca, Maroko. Beliau sudah hafal Quran hanya
dalam waktu 19 hari, hafalan melekat dalam 56
hari. Jadi tidak sampai 2 bulan, hafalan itu melekat.
Penyebabnya, Ustadz Deden menikmati dalam
menghafal Al Qur’an. Berikut ini adalah penuturan
beliau:

Kalau menghafal Al Qur’an tidak nikmat, berarti
tujuannya bukan Allah. Kita menghafal Al Qur’an

16

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

bukan sekedar untuk hafal, tetapi untuk semakin
dicintai Allah. Kalau kita yakin Al Qur’an adalah
kalamullah , mestinya nikmat. Untuk hafal Al Qur’an,
tidak harus memahami, tidak harus berpikir, tapi
cukup seyakin-yakinnya bahwa yang dibaca adalah
kalamullah.

Menghafal Al Qur’an pun syaratnya tidak harus
muda, sebagaimana syarat untuk mati tidak harus
tua. Kalau sudah dapat nikmatnya, maka apapun
yang terjadi, sudah dekatnya dengan Allah melalui
jalur menghafal ini, apapun yang terjadi, apakah
dikasih hafalankah oleh Allah, dikasih mudahkah oleh
Allah, maka semuanya akan sangat menyenangkan.

Tujuan kita semua adalah Allah. Setiap ayat,
ketika kita menghafal Al Qur’an kemudian ayat itu
sulit dihafal, dihafal lalu satu jam lagi lupa, dihafal
lagi lalu sejam kemudian lupa lagi, maka ketahuilah
itu bukan ayat yang sulit, tapi ayat yang sedang
kangen kepada kita.

Kata ayat, “Sudah, jangan pindah dulu, bareng
sama saya saja sebulan deh.” Dan, kalau tujuannya
Allah, saat-saat terdekat seorang penghafal Al Qur’an
dengan Allah adalah saat-saat dikangenin ayat itu.

Menghafal Al Qur’an yang nikmat, pertama,
adalah menghafal Al Qur’an yang menghitung
waktunya, bukan menghitung ayatnya. Bukan berapa
ayat dalam satu waktu, tapi berapa waktu untuk satu
ayat. Menghafal Al Qur’an nikmat. Kalau seseorang

17

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

sudah punya waktu rutin satu hari satu jam saja,
maka bisa hafal Al Qur’an.

Menghafal Al Qur’an yang nikmat adalah ibarat
metode argo taxi. Kalau sedang macet, maka argo
berjalan menghitung menit. Kalau sedang lancar,
maka argo berjalan sesuai kilometernya. Makanya,
selama ada penumpang, supir taxi tidak pernah
stres. Karena semacet apapun argo tetap berjalan.
Menghafal Al Qur’an yang komit dengan waktu, saat
macet pun, yang penting durasinya selesai, misalnya
menghafal satu jam sehari, lalu satu jam tidak dapat
apa-apa, maka bukan masalah, yang penting satu
jam itu penuh untuk menghafal Al Qur’an. Dan tidak
ada ceritanya orang yang komitmen dengan durasi
menghafal Qur’annya, menjadi sulit menghafal.
Banyak keluhan,“Sulit menghafal”, “Sulit istiqomah”,
itu sebenarnya bukan sulit menghafal tapi karena
memang belum bisa menjaga waktunya.

A llah telah mengukur panjangnya malam,
mengukur panjangnya siang, untuk cukup digunakan
durasi Al Qur’an. Kalau orang sibuk, lalu mengaku
tidak punya waktu, “Durasi saya habis ini untuk
pekerjaan-pekerjaan”, maka sebenarnya tidak bisa,
karena sebenarnya Allah sudah mengukurnya.

Bahkan di dalam surat Al Muzzamil ayat 20 ini
dijelaskan, Allah SWT berfirman, “Dia mengetahui
bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang
sakit“ , tetapi sakit bukan alasan untuk mengabaikan

18

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

durasi Qur’annya, durasi sesuai sakitnya. Tentu durasi
orang yang sakit dan orang yang sehat, berbeda.
Yang penting tidak ada alasan untuk mengabaikan
durasi itu.

Bahkan kata Allah dalam Surat Al Muzzamil
pun, “dan orang-orang yang berjalan di muka bumi
mencari sebagian karunia Allah.” Allah pun tahu
diantara kamu akan ada orang yang sibuk sekali.
Keluar kota, berbisnis, tetapi kesibukan berbisnis itu
sama sekali bukan alasan untuk mengabaikan durasi
Al Qur’an. Ada lagi yang sibuk karena berperang di
jalan Allah, berjihad, “ dan orang-orang yang lain
lagi berperang di jalan Allah“. Misalnya, sedang
membantu di Syam, tetapi kesibukan itu, bukan
alasan untuk mengabaikan durasi Al Qur’an.

Kalau sudah punya durasi, komitmen durasi, maka
satu hari satu jam saja. Tetapi satu jam itu durasi untuk
orang sibuk, durasi orang yang sibuk berjihad, bolak
balik keluar kota, untuk mencari rezeki, politisi, da’i,
maka itupun tidak bisa mengabaikan durasinya, dan
durasinya saya kira satu jam itu sudah untuk orang
sibuk (kalau tidak sibuk, bisa lebih lagi durasinya).

Nikmatnya menghafal Al Qur’an, yaitu
menghitung durasi, bukan menghitung ayat. Jadi
setoran program nikmatnya menghafal Al Qur’an,
bukan sekedar setoran jumlah hafalan. Saat
penghafal Al Qur’an akan setoran maka patokannya
bukan jumlah ayat. Kalau seorang peserta penghafal

19

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Al Qur’an, ketika ditanya durasinya satu minggu ini
ternyata bolong-bolong, tetapi ayatnya dapat, maka
itu nilainya merah.

Orang yang menghafal Al Qur’an dengan durasi
yang bolong-bolong, tidak akan bisa istiqomah di
kemudian hari. Tetapi dengan durasi ini maka terlatih
dari awal untuk bisa istiqomah. Bila saat setoran tidak
ada ayat yang hafal, tetapi durasinya alhamdulillah
full, meskipun dalam kesibukan yang luar biasa, nah,
itulah baru yang namanya jempol. Sudah ada darah
hafidz dalam dirinya.

Yang kedua , bukan untuk diburu-buru, bukan
juga untuk ditunda-tunda. Insya Allah mulai hari ini,
sedekahkan waktu satu jam sehari, untuk Al Qur’an.
Kalau kita katakan,”Insya Allah tanpa menunda”, maka
sudah ada darah hafidz, darah quran dalam diri kita
semua.

Menghafal Al Qur’an diburu-buru itu tidak
nikmat. Kenapa kita merasa bosan menghafal Al
Quran, merasa capek, lelah? Karena targetnya bukan
Allah, tapi targetnya ujung ayat. “Saya akan berhasil
menghafal Al Quran apabila selesai sampai ujung
ayat”. Padahal bukan begitu, seharusnya, “Saya akan
berhasil menghafal Al Qur’an apabila sampai sebelum
ujung ayat, saya sudah bertemu Allah.”

“Aku capek” karena sesungguhnya Al Qur’an
adalah ‘alamal Qurana yang menjadikan kita hafal,
bukan kita, tetapi Allah, makanya kalau ingin hafal,

20

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

dekati Allah melalui ayat-ayat itu.

“Sesungguhnya Kamilah Yang berkuasa
mengumpulkan al-Quran itu (dalam dadamu). ” (QS.
Al Qiyamah: 17). Jadi jangan terburu-buru. Santai saja.
Kalau sudah begitu, maka menghafal Al Qur’an ini
akan menjadi sangat nikmat dan ini sebenarnya yang
dilakukan oleh para sahabat dahulu; yang penting
durasinya selesai.

Bahkan ada sebuah riwayat bahwa ada dua
orang sahabat yang sholat malam sepanjang malam,
yang satu, sholat malamnya selesai satu Al Qur’an,
seluruhnya dan yang satu lagi selesai surat Al
Baqarah, tetapi kata Rasul, pahala dua orang yang
mengerjakan sholat malam ini, sama. Padahal yang
satu selesai seluruh Al Qur’an, yang satu lagi, selesai
surat Al Baqarah, tapi pahalanya sama. Rupanya,
pahala dari Allah, untuk orang yang membaca Al
Qur’an itu, bukan jumlah ayatnya saja, tetapi juga
durasinya. Makanya kalau tidak hafal ayat, maksimal
durasinya selesai. Dan memang itulah untuk tetap
istiqomah, yang paling utama adalah durasinya.

Sumber:

https://www.syahida.com/2016/02/21/4046/menghafal-al-quran-
bukan-sekedar-untuk-hafal-tetapi-untuk-semakin-dicintai-allah/
amp/

21

Syarat-syarat Menghafal
Al-Qur’an

Alhamdulillah, setelah sebelumnya kita
membahas tentang persiapan dasar dalam
menghafal Al-Qur’an, kali ini saya sedikit share
tentang syarat-syaratnya jika kita akan menghafal
atau menjadi Hafidz Al-Qur’an. Diantara beberapa hal
yang harus terpenuhi sebelum seseorang memasuki
periode menghafal Al-Qur’an, diantaranya:
1. Mampu Mengosongkan Benaknya dari Fikiran-

fikiran dan Teori-teori, atau permasalahan yang
Sekiranya Akan Mengganggu.

Membersihkan diri daro fikiran, teori, atau
permasalahan yang akan mengganggu proses
hafalan itu sangat penting, ini ditujukan agar
konsentrasi yang telah kita bentu dengan baik
tidak hilang percuma, juga membersihkan diri dari

22

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

segala suatu perbuatan yang akan merendahkan
nilai studinya, kemudian menekuni dengan baik
dengan hati terbuka, lapang dada dan dengan
tujuan yang suci. Kondisi seperti ini akan tercipta
p\apabila kita mampu mengendalikan diri kita
dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti
ujub, riya’, dengki, iri hati, tidak qonaah, tidak
tawakkal dan lain-lain.

2. Niat yang Ikhlas.

Niat yang kuat dan sungguh-sungguh ajan
nengantar seseorang ke tempau tujuan, dan akan
membentengi atau menjadi perisai terhadap
kendala-kendala yang mungkin akan datang
merintanginya.

Niat mempunyai peranan yang sangat penting
dalam melakukan sesuatu, antara lain : sebagai
motor dalam mencapai suatu tujuan. Disamping
itu juga niat berfungsi sebagai pengaman dari
menyimpangnya suatu prosesyang sedang
dilakukan dalam rangka mencapai cita-cita,
termasuk dalam menghafal Al-Qur’an.

Tanpa ada niat yang jelas maka perjalanan
untuk mencapai tujuan itu akan mudah sekali
terganggu dan terpesongkan oleh munculnya
kendala yang setiap saat siap menghancurkannya.
Justru niat bermuatan dan berorientasi ibadah,
dan ikhlas karena semata-mata mencapai ridho-
Nya akan memacu timbulnya kesetiaan dalam

23

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

menghafal Al-Qur’an.

3. Memiliki Keteguhan.

Keteguhan dan kesabaran merupakan faktor-
faktor yang sangat penting bagi orang yang
dalam proses menghafal Al-Qur’an. Hal ini
disebabkan karena dalam proses menghafal Al-
Qur’an akan banyak sekali ditemui bermacam
kendala, mungkin jenuh, mungkin juga gangguan
lingkungan karena bising atau gaduh, atau
mungkin juga gangguan batin, dan mungkin
karena mghadapi ayat-ayat yang dirasa sulit
untuk dihafal, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, untuk senantiasa dapat
melestarikan hafalan perlu keteguhan dan
kesabaran, karena kunci utama keberhasilan
dalam menghafal Al-Qur’an adlah ketekunan
menghafal dan mengulang-ulang ayat-ayat yang
dihafalnya.

4. Istiqamah.

yang dimaksud istiqomah yaitu konsisten,
yakni tetap menjaga keajekan dalam proses
menghafal Al-Qur’an. dengan kata lain, seorang
penghafal harus senantiasa menjaga kontinuitras
dan efisiensi terhadap waktu. Seorang panghafal
yang konsisten akan sangat menghargai waktu,
begitu berharganya waktu baginya. Betapa tidak,
kapan saja dan dimana saja ada waktu terluang,

24

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

intuisinya segera mendorong untuk segera
kembali menghafal Al-Qur’an.

5. Menjauhkan Diri dari Maksiat dan Sifat Tercela.

Perbuatan maksiat dan perbuatan yang
tercela merupakan sesuatu yang harus dijauhi
bukan saja oleh orang yang menghafal Al-Qur’an,
tetapi juga oleh kaum muslimin pada umumnya,
karena keduanya mempunyai pengaruh beasr
dalam perkembangan jiwa dan mengusik
ketenangan hati orang yang sedang menghafal
Al-Qur’an, sehingga menghancurkan isqiiqomah
dan konsentrasi yang telah dibina dan terlatih
sedemikian bagus.

Diantara sifat-sifat yang tercela antara lain:
khianat, bakhil, pemarah, membicarakan aib
orang, memencilkan diri dari pergaulan, iri
hati, memutuskan tali silaturahmi, cinta dunia,
berlebih-labihan, sombong, dusta, ingkar, makar,
riya’, meremehkan orang lain, takabur dan masih
banyak lagi yang ainnya.

Apabila seorang penghafal Al-Qur’an
sudah dihinggapi penyakit-penyakit tersebut,
maka usaha dalam menghafal Al-Qur’an akan
menjadi lemah apabila tidak ada orang lain yang
memperhatikannya. Bagaimanapun sifat-sifat
sepertin ini harus disingkirkan oleh seorang yang
sedang dalam peoses menghafal Al-Qur’an.

25

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

6. Izin Orang Tua, Wali Atau Suami.

Walaupun hal ini tidak merupakan suatu
keharusan secara mutlak, namun harus ada
kejelasan, karena hal demikian akan menciptakan
saling pengertian antara kedua belah pihak, yakni
antara orang tua dengan anak, antara suami
dengan istri, atau antara seorang wali dengan
orang yang berada dibawah perwaliannya.

7. Mampu membaca dengan Baik.

Sebelum seorang penghafal melangkah
pada periode menghafal, seharusnya ia
terlebih dahulu meluruskan dan memperlancar
bacaannya. Sebagian besar ulama bahkan tidak
memperkenankan anak didik yang diampunya
untuk menghafal Al-Qur’an sebelum terlebih
dahulu menghkhatamkan Al-Qur’an bin-nadzar
(dengan membaca). Ini dimaksudkan, agar
aclon penghafal benar-benar lurus dan lancar
dalam membacanya, serta ringan lisannya untuk
mengucapkan fonetik Arab. .

Masalah-masalah diatas mempunyai nilai
fungsional yang penting dalam menunjang tercapai
tujuan menghafal Al-Qur’an dengan mudah.

Wallaahua’lam..

Sumber:

http://pemudahafidzquran.blogspot.com/2013/10/syarat-syarat-
menghafal-al-quran.html?m=1

26

Meluruskan 10 Mitos
Seputar Menghafal

al-Qur’an

Setiap orang yang mau menghafal al-Quran pasti
akan dihantui mitos (keyakinan tak berdasar),
sebelum melangkah. Mitos tersebut kadang
berdampak pada melemahnya motivasi atau harapan
yang berlebihan usai hafal al-Quran nantinya. Sering
terjadi, ketika anak minta izin pada orangtuanya
untuk mulai menghafal al-Quran, orang tua melarang
atau tidak merestuinya akibat perspektif yang salah
tentang dunia hafalan.

Jadi mitos itu bisa meruntuhkan mental diri
sendiri dan juga mampu meruntuhkan mental
orang lain. Kedua dampak tersebut sama-sama
merugikan mereka yang akan menghafal. Anehnya,
mitos tersebut justru muncul dari orang yang belum
memiliki pengalaman menghafal sama sekali. Dengan

27

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

kata lain, mereka telah menyesatkan orang lain akibat
ketidaktahuan mereka. Berikut ini mitos-mitos yang
harus diluruskan. Mitos-mitos tersebut adalah:

1. Menghafal itu banyak cobaan dan godaan

Konon, cobaan orang yang menghafal al-Quran
itu banyak, seperti mengidap penyakit, gangguan
lingkungan, musibah keluarga. Sebenarnya sering
sekali orang yang sedang menghafalkan al-Quran
itu jatuh sakit, tetapi itu lebih diakibatkan faktor
eksternal. Mungkin saja kurang olahraga, sedikit
gerak, makan tidak teratur menjadi penyebabnya.
Jadi, jangan dikaitkan penyakit yang menimpa
dengan proses menghafal.

Bila terpaksa kita harus mencari-cari korelasi
antara penyakit dengan hafalan, maka akan
terjadi lompatan berpikir dan rekayasa logika
yang panjang. Misalnya: “Orang yang menghafal
menghabiskan sebagian besar waktunya dengan
duduk. Duduk dalam jangka waktu lama akan
mengendapkan lemak dan melambatkan sirkulasi
darah. Darah yang terhambat berdampak
pada lemahnya fungsi syaraf dan motorik
organ. Lemahnya fungsi syaraf mengakibatkan
konsentrasi berkurang dan sering pusing. Pusing
dalam kurun waktu lama akan mengakibatkan
instabilitas kinerja organ lainnya. Inilah yang
disebut sakit.” Jika logika itu yang dipakai, maka
aktifitas apapun berpotensi datangnya penyakit.

28

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Tak kalah dahsyatnya, konon penghafal al-
Quran itu selalu mendapat godaan dari lawan jenis
dan maksiat lainnya, terutama saat menghafal
surat an-Nisa (wanita). Ini juga mitos yang sama
sekali tak berdasar. Pengalaman banyak penghafal
al-Quran ternyata tidak mengalami kejadian itu.
Seandainya fakta itu ada, kemungkinan besar orang
yang bersangkutan telah membawa benih-benih
asmara itu sebelum mulai menghafal. Akibatnya,
kejenuhan menghafal atau akumulasi keteledoran
menjadikannya mencari selingan aktifitas lain
sebagai pelarian dan pelampiasan. Menyatukan
dua fokus (bercinta dengan menghafal) jelas
sangat sulit dan memunculkan masalah baru,
yaitu asmara amburadul, hafalan juga hancur.
Semakin amburadul, semakin seseorang mencari
pelampiasan yang lebih dalam lagi.

2. Jangan menghafal, kalau lupa, dosanya besar

Konon pengahafal al-Quran itu dosanya besar,
bila melupakan ayat yang pernah dihafalnya.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan Tirmidzi dari Anas bin Malik:

Saya diperlihatkan dosa umatku, maka saya
tidak melihat dosa yang lebih besar dibanding
dengan surat dan ayat dari al-Quran yang dihafal
oleh seseorang lalu ia melupakannya.

Hadis ini menurut al-Albani tergolong dlaif,
sehingga dia tidak bisa dijadikan pegangan

29

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

untuk landasan hukum (halal dan haram). Meski
demikian, hadis tersebut masih dapat digunakan
untuk motivasi kebaikan (fadlail a’mal). Hadis ini
ditujukan tidak hanya pada mereka yang hafal
30 juz saja, tetapi mereka yang hafal satu surat
pendek pun, bahkan satu ayatpun kena, apabila
pada akhirnya hafalan tersebut dilupakan. Dahulu
ketika masih belajar di TPQ atau MI, MTs begitu
banyak pelajar yang hafalan ayat atau surat,
sebagai persyaratan kelulusan atau penunjang
nilai, bila kini ternyata hafalan itu banyak yang
menguap (tidak hafal lagi), ia juga menjadi
sasaran (khitab) dari hadis tersebut.

Hanya saja, persoalannya tidak sesederhana
itu. Lupa telah menjadi ciri dari makhluk Allah
yang bernama manusia. Pertanyaan adalah lupa
yang seperti apa yang dianggap dosa besar itu?
Adakalanya lupa disengaja, adakalanya juga tidak
disengaja. Disengaja artinya melakukan suatu
kecerobohan/kesembronoan secara sadar lalu
berdampak pada hilangnya ayat/surat dari al-
Quran. Tidak disengaja artinya segala upaya untuk
melanggengkan hafalan telah dilakukan secara
kontinyu, namun masih ada saja huruf yang kurang,
kata yang tak terbaca atau bahkan terlewatinya
satu ayat al-Quran tanpa ada kesengajaan. Jelas
kesalahan karena faktor ketidaksengajaan itu
akan diampuni oleh Allah, karena di luar kekuatan
manusia. Mustahil dijumpai di dunia ini, selain
Rasulullah, orang yang menghafal 30 juz tanpa

30

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

salah/lupa sama sekali. Sementara orang yang
sembrono, mungkin dalam waktu sekian bulan
tidak memurajaah hafalannya, jelas ini sama halnya
menghina Allah. Sang pencipta telah memberi
karunia agung berupa hafal al-Quran, lalu karunia
itu diterlantarkan. Jadi subtansi masalahnya bukan
pada lupanya tapi pada kecerobohannya itu.

Ada logika yang kurang benar pada kata:
jangan menghafal, nanti khawatir lupa. Mestinya
dibalik: menghafallah agar selalu ingat. Begitu
sulitnya kita memurajaah sekian banyak ayat dan
surat yang berserakan (sesuai hafalan acak sejak
masa kecil dulu). Sementara itu, dengan menghafal
keseluruhan, semua ayat yang berserak akan
terhimpun teratur dan tertib dari awal hingga
akhir dan termurajaah secara rutin. Ungkapan:
jangan menghafal, hakikatnya adalah perasaan
pesimis kalah yang ditularkan kepada orang
lain, sebelum peperangan sungguh-sungguh
dimulai. Bisa jadi, orang yang dilarang menghafal
itu punya potensi besar menghafal cepat dan
bagus, sehingga melarang orang lain menghafal
hakikatnya mengkebiri hak orang untuk sukses
menjalani kehidupan dunia dan akherat.

Semestinya anjuran menghafal atau tidak
menghafal harus datang dari kyai atau ustadz
yang sukses menghafal dan memahami persis
psikologi menghafal, bukan kyai atau ustadz
yang belum pernah atau gagal menghafal. Ibarat

31

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

dokter, semakin ia kompeten dan memiliki gelar
spesialis, semakin ia punya kewenangan untuk
mengidentifikasi penyakit tertentu dan memberi
resep, serta pasien juga tidak merasa was-was
ketika ditangani dokter tersebut.

3. Menghafal itu butuh waktu lama

Konon proses menghafal itu butuh waktu yang
sangat lama, betulkah? Sering pertanyaan seputar
durasi waktu menghafalkan seperti ini muncul.
Ternyata jawaban dari pertanyaan tersebut sangat
bervariasi mulai dari yang super cepat (kurang
dari 10 bulan) sampai yang paling lambat di atas
10 tahun, bahkan tidak jarang berakhir dengan
kegagalan. Jika jawabannya bervariasi, maka tidak
bisa diklaim bahwa menghafal itu pasti memakan
waktu lama.

Animo masyarakat muslim terutama di
perkotaan untuk menghafal al-Quran kian besar
dan tak terbendung, sementara pada saat yang
sama mereka dihadapkan pada tuntutan hidup
faktual (bekerja, menikah, membesarkan anak,
meniti karir, melanjutkan studi, berorganisasi).
Lagi-lagi, persoalan yang muncul adalah
cukupkah dalam waktu terbatas (1 tahun, 2 tahun
dst) semua keinginan itu berjalan simultan.

Memang benar, menghafal al-Quran termasuk
kategori Extra Ordinary Memorization (EOM),
proyek menghafal yang luar biasa banyaknya,

32

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

sekitar 600 (full) halaman dengan ratusan kata
yang mirip dan ratusan kata non Arab di dalamnya.
Dibutuhkan kolaborasi antara psikis, fisik, transeden
yang kokoh untuk melakukannya. Ketenangan
psikis dibutuhkan agar kerja otak untuk proses
menghafal tidak terganggu, fokus dan stabil
dalam jangka waktu yang panjang. Fisik yang
sehat ikut juga berkontribusi menjaga stabilitas
psikis, kinerja mekanis tubuh. Menggerakkan
mulut untuk membaca, tangan membuka mushaf
dibutuhkan kinerja mekanis tubuh yang sehat.
Peran transendental (keyakinan/keimanan), meski
kerja di belakang layar, adalah mengatur harmoni
psikis dan fisik sekaligus mensupplay tenaga
yang maha dahsyat. Seringkali aspek transedental
ini mendominasi dan mengambil alih peran psikis
dan fisik. Contoh banyak sekali orang buta yang
hafal al-Quran, tidak jarang orang yang berbaring
sakit sukses menghafal.

Pengalaman membuktikan bahwa perencanaan
yang baik dalam menghafal dapat mempercepat
tuntasnya hafalan. Tak terhitung jumlahnya para
santri tahfidz di Indonesia yang hafal al-Quran
kurang dari satu tahun, bahkan di Saudi Arabia ada
seorang perempuan yang menyelesaikan hafalan
30 dalam waktu satu bulan. Jadi, menghafal itu
tidak harus lama, ia bisa cepat asalkan diorganisir
sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan
antara murajaah hafalan baru dan lama, terjadi
efektifitas pemanfaatan waktu 24 jam dalam

33

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

sehari semalam.

4. Menghafal itu membuat pikiran tumpul dan
lemah dalam pemahaman

Konon penghafal al-Quran itu kecerdasannya
berkurang. Mereka tidak mampu menguasai
kitab kuning, jadi sarjana dll. Mitos tersebut
hanya berlaku bagi mereka yang menjadikan
hafalan sebagai ghayah (tujuan) bukan wasilah
(media/jembatan). Hafalan sebagai tujuan artinya
ketika tujuan itu tercapai maka berhentilah segala
upaya yang terkait menghafal. Bagi mereka yang
penting adalah lancar membaca dan banyak
undangan acara khatmil Quran, sehingga tidak
ada lagi upaya untuk mendalami bacaan (ilmu
qiraat), mempelajari isi kandungannya (tafsir),
menggali hukum yang ada di dalamnya (ayatul
ahkam), atau mengkaitkan ayata-ayat al-Quran
dengan ilmu pengetahuan lain (munasabah).
Penghafal seperti ini jelas kehilangan harapan
untuk menggali khazanah ilmu al-Quran sehingga
kecerdasan otak dan akal menjadi tumpul dan tak
terasah. Apa yang ia baca laksana mantra yang
hebat meski tak memahami isinya.

Berbeda dengan mereka yang menjadikan
hafalan sebagai wasilah saja. Tujuan utama
menghafal bagi mereka adalah menguasai
sumber hukum Islam, menjadikan al-Quran
sebagai sumber inspirasi sekaligus pedoman

34

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

hidup. Kelompok ini tergolong kelompok
mayoritas. Hampir semua ulama besar di Timur
Tengah hafal al-Quran. Ini jelas berbeda dengan
di Indonesia. Seakan di sini ada dikotomi, ulama
al-Quran dan ulama kitab kuning. Juga ada
asumsi bahwa ulama al-Quran kurang kompeten
dalam menguasai kitab kuning, sebaliknya juga
demikian ulama kitab kuning dianggap tidak ada
yang hafal al-Quran.

Menurut Abdud Daim al-Kaheel, orang yang
hafal al-Quran itu pasti otaknya lebih cerdas dan
intelegensinya meningkat. Ia sendiri menceritakan
bisa menjadi cerdas akibat menghafal al-Quran.
Proses menghafal hakikatnya proses pengasahan
otak dalam waktu yang sangat lama. Otak yang
telah terasah ini jelas menjadi lebih cerdas dari
sebelumnya.

5. Penghafal al-Quran itu malas bekerja

Karena ada kekhawatiran hafalannya hilang,
umumnya penghafal al-Quran fokus dalam setiap
waktunya untuk murajaah, sehingga tidak ada
waktu untuk bekerja. Kadang tradisi terbiasa
tidak bekerja itu terbawa sampai masa tua, selalu
merasa canggung untuk bekerja kasar, sehingga
terbentuk opini bahwa penghafal al-Quran
itu priyayi, dan priyayi itu minta dihormati dan
enggan melakukan pekerjaan berat atau kasar.
Betulkah demikian?

35

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Jelas mitos di atas tidak benar meski pada
kenyataannya sebagian kecil masih ada yang
seperti itu. Nama besar seorang “penghafal
al-Quran” kadang membuat silau diri sendiri.
Kesilauan itu akhirnya membebani diri sendiri
secara berlebihan. Beberapa pesantren tahfidz
di Indonesia sudah banyak yang menerapkan
kurikulum tertentu untuk merubah mindset
negatif tersebut dan berupaya menetralisir tabiat
“gede rumongso” di kalangan para santrinya.
Sebagai contoh: alm. KH. Mustain Syamsuri
(pendiri PP. Tahfidz Darul Quran Singosari Malang)
melatih santrinya untuk berwirausaha dengan
cara memperkerjakan mereka sebagai tukang
bangunan, penjual snack keliling, sopir angkot dan
sebagainya seusai setoran al-Quran di pagi hari.
Dari aspek penampilan, para santri diminta untuk
tidak mengenakan simbol kesantriannya (kopiyah,
sarung, sorban, baju koko) ketika mereka sedang
bekerja. Dari kurikulum interpreneurship tersebut,
lahir para alumni yang tidak canggung bekerja
kasar dan keras dalam segala bidang kehidupan.
Di antara mereka ada penjual rokok keliling, juru
parkir, makelar mobil, dosen, guru dan lain. KH.
Mustain pernah berpesan: “ Hafalan al-Quran
itu bukan sumber maisyah (ekonomi), ia semata
karunia tuhan dan hanya dipersembahkan untuk-
Nya. Ketika bermuamalah dengan orang lain,
lupakan status “penghafal al-Quran” itu bergaullah
seperti umumnya orang dari aspek acara bicara,

36

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

cara berpakaian, cara bekerja .”

Jadi penghafal al-Quran itu mestinya memiliki
etos kerja tinggi, pekerja keras. Lalu apa dengan
bekerja itu tidak mengganggu murajaah harian
mereka? Seperti halnya dzikir, murajaah al-Quran
-sesuai ayat al-Quran- itu bisa dilaksanakan
dalam kondisi berdiri, duduk maupun berbaring.
Penghafal al-Quran harus pandai-pandai cari
tempat atau cari waktu untuk murajaah yang
sama sekali tidak mengganggu aktifitas kerja
maupun muamalah. Dengan demikian, hafalan
al-Quran itu tidak menghalangi orang sedikitpun
untuk menjadi orang sukses melalui aktifitas kerja
harian.

6. Membaca dengan hafalan itu mereduksi pahala
mata (untuk melihat tulisan mushaf)

Konon pengahafal al-Quran itu pahalanya
lebih sedikit dibanding pembaca al-Quran dengan
mushaf, karena tidak seluruh anggota tubuh ikut
aktif pada proses membaca. Padahal, masing-
masing peran dari organ tubuh dalam membaca
al-Quran itu mendatangkan pahala sendiri-
sendiri. Mata melihat mushaf ada pahalanya,
telinga mendengar ada pahalanya dan mulut
melantunkan ayat juga ada pahalanya.

Memang benar Imam Ghazali dan Qadli
Husein (tokoh pada madzhab Syafi’I) berpendapat
tentang hal yang sama dengan penjelasan di

37

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

atas bahwa membaca mushaf itu lebih afdal
daripada membaca hafalan. Tetapi yang perlu
juga dipahami, kalau melihat mushaf saja pahala,
bagaimana dengan proses penyimpanan dan
reproduksi memori al-Quran melalui otak, apa
peran otak tidak ada pahalanya? Menurut Imam
Nawawi dalam kitabnya “at-Tibyan” keutamaan
membaca mushaf daripada membaca hafalan
itu terjadi manakala dari aspek kekhusyuan,
perenungan makna itu sama baiknya. Berarti kalau
dengan membaca hafalan itu seseorang semakin
khusu’ dan mampu mentadabburi daripada
membaca mushaf, maka membaca hafalan lebih
afdal, demikian juga sebaliknya.

Dari aspek lain, setiap huruf al-Quran yang
dibaca bernilai sepuluh kebaikan. Jadi semakin
banyak ayat dibaca, semakin banyak pula pahala
yang didapat. Hanya umumnya penghafal al-
Quran frekwensinya baca al-Quran-nya relatif lebih
banyak dibanding dengan mereka yang tidak hafal.
Sebetulnya tidak ada larangan seorang penghafal
itu membaca mushaf, sebagaimana tidak ada
keharaman pembaca mushaf untuk menghafal
al-Quran. Keduanya tidak saling bertentangan,
bila bosan menghafal, ya membaca, Jika bosan
membaca, ya menghafal, begitu seterusnya.

7. Penghafal al-Quran itu bacaanya tidak
bagus (kurang tartil)

38

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Konon penghafal al-Quran itu tidak ada yang
membaca secara tartil, karena terbiasa baca
cepat dan mempercepat putaran 30 juz dalam
beberapa hari saja. Pernyataan tersebut benar
bila tidak digeneralisir. Yakni, memang ada yang
demikian, namun ada juga yang bacaannya
bagus, murottal sebagaimana ditunjukkan oleh
para imam masjid di Mekkah dan Madinah. Di
Indonesia, para peserta MHQ (musabaqah hifdzil
quran) umumnya memiliki hafalan dan bacaan
yang bagus dan murottal.

Bila ukuran penilaian itu dari acara khataman
di kampung-kampung, jelas ini tidak fair karena
hanya kasuistik dan temporer. Motivasi membaca
cepat (hadr) semata memenuhi tuntutan
pengundang agar khatam 30 juz dalam waktu
maksimal 10 jam (3 juz perjam). Guru besar ilmu
qiraat di IIQ Jakarta pernah berpesan: baca cepat
itu boleh asal tidak seringa, hanya sebatas “tombo
kangen” (pelepas dahaga kerinduan).

Dalam tingkatan bacaan (maratib al-Qiraah),
diperbolehkan baca cepat asalkan masih sesuai
kaidah tajwid, inilah yang disebut dengan tingkatan
hadr. Artinya cepat atau lambat itu diperbolekan
bila terbalut dengan prasyarat yang bernama tartil
(segala bacaan yang sesuai kaidah). Imam Ali bin
Abi Thalib berkata: tartil itu memperbaiki bacaan
huruf dan mengetahui tempat wakaf. Kecepatan
membaca yang di luar batas wajar (hadzramah)

39

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

bagaimanapun juga tidak diperkenankan dalam
membaca al-Quran, inilah yang menurut Imam
Nawawi termasuk bacaan yang diharamkan.

8. Menjaga hafalan itu lebih berat dari
menghafal awal

Konon menghafal itu lebih mudah daripada
menjaganya. Sebagian orang termasuk para
orangtua tidak mengizinkan anaknya atau
familinya untuk menghafal al-Quran dengan dalih
menjaga hafalan itu berat, bahkan lebih berat
dari menghafal itu sendiri. Mitos ini bisa menjadi
virus mematikan bagi siapa saja akan menghafal.
Virus ini lebih mengedepankan pesimis daripada
optimisnya. Anehnya virus ini lebih sering
dihembuskan oleh orang yang belum pernah
menghafal, dia hanya memandang dari kejauhan
dan silau sebelum mendekat.

Padahal begitu masifnya penghafal al-Quran
yang merasakan manisnya madu berdzikir al-
Quran, sejuknya dekapan untaian al-Quran.
Ibarat makanan, delapan jam saja kita tidak
mengkosumsinya, tubuh terasa lemah, rindu dan
ingin mendekat. Demikian halnya, bagi penghafal
al-Quran sehari saja bibir mereka tidak basah
dengan nada al-Quran, terasa sangat lapar dan
dahaga. Ia bagai oase di tengah panasnya cuaca
padang pasir, mampu menyejukkan hati yang
gundah serta menyegarkan pikiran yang galau.

40

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

9. Sebelum menghafal itu wajib izin pada orang
tua/guru

Konon sebelum menghafal al-Quran itu wajib
minta restu orang tua/guru, agar mendapatkan
ridlo Allah. Mitos ini mengandung unsur benar
dan juga sekaligus salah. Unsur benarnya adalah
orang tua merasa dihargai dengan permohonan
izin tersebut dan restu mereka menjadikan
langkah anak semakin mantab, serta doa orang
tua/guru memberikan sumbangan energi dahsyat
pada kesuksesan anak/murid. Unsur salahnya
adalah bila segala bentuk kebaikan itu harus
minta izin orang tua, maka begitu beratnya tugas
anak. Seringkali ketidaktahuan orang tua tentang
hal ikhwal hafalan, mematahkan asa anak untuk
menghafal.

Semua orang tua/guru ingin anaknya/
muridnya bahagia dalam belajar (dengan
makan cukup, tidur nyenyak, ibadah nyaman),
sementara menghafal itu proses berat dan
melelahkan, sehingga kadang orang tua/guru
tidak mengizinkan anaknya/muridnya menghafal.
Hindarilah pertanyaan yang apabila dijawab
justru kita berat melaksanakannya, itu pesan al-
Quran. Anak yang minta izin, kemudian orang tua
tidak mengizinkan, tidak etis anak menentang
keputusan orang tua. Kekhawatiran terbesar dari
mitos keharusan izin ini adalah hilangnya motivasi
diri anak/murid untuk menghafal, padahal

41

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

motivasi ini harta berharga yang sulit dicari dan
susah ditumbuhkan kembali ketika memudar dan
tenggelam.

Solusi terbaik adalah jalan tengah, seorang
anak sebaiknya jangan minta izin, tetapi minta
saran, itupun bila dipandang orang tua/guru
tersebut memiliki pengalaman dan pengetahuan
yang memadai tentang seluk beluk menghafal al-
Quran.

10. Penghafal al-Quran itu layak dihormati

Konon orang yang hafal al-Quran itu
kemanapun selalu dihormati orang lain, disanjung
dan dipuja. Seakan rizkinya mengalir deras tanpa
kerja berat. Mitos ini menjadi pemicu motivasi
banyak orang untuk menghafal al-Quran. Hal
ini dilatarbelakangi oleh pengamatan dari orang
yang bersangkutan kepada seorang tokoh yang
dihormati dan kebetulan hafal al-Quran. Sah-sah
saja motivasi awal menghafal seperti itu, namun
sebaiknya dalam perjalanan selanjutnya mitos
tersebut sedikit demi sedikit harus dirubah.

Ada beberapa alasan kenapa harus dirubah,
yaitu: (1) menuntut ilmu dan ibadah harus dilandasi
keikhlasan semata karena Allah, (2) adalah hak
orang lain untuk menilai apakah kita layak atau
tidak untuk dimuliakan, (3) harapan yang berlebihan
dapat mengakibatkan shock berat (stress), bila tidak
tercapai, (4) tidak semua orang yang menghafal

42

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

itu tuntas 30 juz, dan tidak semua yang tuntas itu
berkualitas bagus dan lancar, kualitas hafalan yang
bagus dan lancar, tidak serta merta mendapatkan
pujian atau sanjungan.

Fokus penghafal al-Quran harus diarahkan
untuk ta’abbud dan taqarrub pada Allah, serta
menyelami dalam dan luasnya samudara ilmu Allah
melalui al-Quran. Dapat cercaan tidak emosi dan
terus introspeksi, dapat pujian tetap rendah hati.
Berharaplah pujian dan kemuliaan langsung dari
pemilik al-Quran yaitu Allah swt.

Wallahu a’lamu bis shawab.

Sumber:

https://cahayaqurani.wordpress.com/2012/09/27/meluruskan-10-
mitos-seputar-menghafal-al-quran/

43

Penghalang Terbesar
Dalam Menghafal
Al-Qur’an

Masing-masing kita tentu bercita-cita menjadi
penghafal Alquran. Karena begitu besarnya
kemuliaan bagi penghafal Alquran baik di
dunia apalagi di akhirat. Kita merasakan semangat
dan merasa bahwa kita sebenarnya mampu
menghafalnya dengan cara membacanya secara
konsisten, mengahafal ayat demi ayat, surat pendek
menuju surat panjang, juz demi juz. Namun setelah
itu berbagai gangguan dan bisikan batin membuat
kita malas dan semangat mengendor dengan alasan
banyak surat yang mirip, kata-kata yang sulit, waktu
sempit dan banyak kesibukan.

Parahnya lagi, sesudah itu banyak di antara kita
mengaku lemah dan berkata “Menghafal memang
sulit. Menghafal setiap hari itu mustahil.” Sementara
kita tidak menyadari bahwa kesulitan mengahafal

44

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

Alquran itu bukanlah karena Alquran itu yang sulit.
Padahal Allah telah menjadikan kemudahan dalam
menghafal Alquran. (Al-Qamar: 17)

Berbagai sarana menghafal dan membaca
Alquran sudah kita miliki secara lengkap. Akan tetapi
yang menjadi problemnya adalah cara menggunakan
segala sarana tersebut. Kalau demikian, apa yang
menyebabkan kita menjadi lemah? Apa yang menjadi
penghalang di tengah jalan? Apa yang menghalangi
kita untuk menghafal? Apa yang menghalangi untuk
membaca Alquran?

Dari sekian banyak penghalang menghafal
Alquran, yang paling menonjol adalah maksiat
dan dosa. Dosa-dosa kita kepada Allah itulah yang
menyebabkan kita lemah untuk menghafal. Dosa-
dosa itu pulalah yang mendorong akal kita untuk
mudah lupa, menerbangkan hafalan yang sudah
hafal dan menyebabkan ayat terbolak-balik serta
melenyapkan ayat-ayat mirip. Terkadang kita merasa
puas dengan pernyataan bahwa dosa itu yang
menjadi penghalang. Akan tetapi coba kita bertanya
kepada diri sendiri, “Kenapa anak-anak kecil lebih
mampu menghafal daripada orang dewasa? Apakah
karena otaknya lebih bersih, masih terbebas dari
banyak masalah dan kesedihan atau karena dosanya
belum menumpuk?

Kejernihan otak kadang memang memiliki
peranan. Akan tetapi peran utama justru berasal

45

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

dari jiwa yang belum terkotori maksiat dan belum
bertumpuk dosa. Kita tidak pernah mengaitkan
antara semua perbuatan dengan hasil yang kita capai.
Apakah semua perbuatan itu akan bisa menyebabkan
Allah menjadi ridho atau tidak? Apakah semua
perbuatan termasuk dosa dan maksiat atau tidak

Banyak waktu yang disia-siakan. Banyak harta
yang terbuang. Banyak potensi tercurahkan hanya
untuk mempelajari hal-hal yang sepele. Semua itu
tidak sepenuhnya akan wajar asalkan sesuai porsi
dan kebutuhan. Jangan sampai kita berdalih “sudah
tidak ada lagi waktu untuk membaca dan menghafal
Alquran. Sehingga waktu untuk Alquran tinggal sisa
dan diurutan yang terakhir, mana waktu utama kita
bersama Alquran.

Ketika ada yang mengingatkan tentang Kitabullah
dan untuk menghafalnya, banyak berdalih,”nanti
saya akan menghafal.” Kata-kata itulah yang selalu
diulang-ulang selama bertahun-tahun, padahal usia
kita ada batasnya.

Dalam kitab Shafwatush Shafwah II: 220. Allah
berfirman, “demi keagungan dan kemuliaan-Ku
setiap hamba yang lebih memperturutkan kemauan-
Ku daripada hawa nafsunya, pasti aku lenyapkan
kemurungannya, akan Aku kumpulkan harta
bendanya serta Kubebaskan dari kemiskinan hatinya,
sementara kekanyaan akan Kujadikan di hadapan
matanya. Kujadikan dirinya sebagai saudagar melalui

46

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

setiap pedagang.
Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, setiap

hamba yang lebih memperturutkan hawa nafsunya
daripada kemauan-Ku, pasti akan banyak murung,
akan Kucerai-beraikan harta bendanya, akan Kucabut
kekayaan dari dalam hatinya, kemudian Aku tidak
akan mempedulikan, di lembah mana dia akan
binasa. ”

Wallahu a’lam.

Sumber:

https://www.dakwatuna.com/2015/04/02/66780/penghalang-
terbesar-dalam-menghafal-alquran/amp/

47

Beberapa Kesalahan
dalam Menghafal
Al-Qur’an

Menjadi penghafal Alquran 30 juz (hafidz)
adalah hal yang tidak mungkin dapat
dicapai. Orang yang biasa-biasa saja akan
berpendapat seperti itu. Tapi, tidak bagi orang luar
biasa. Orang yang luar biasa memiliki paradigma
bahwa menjadi hafidz adalah sebuah kemungkinan.
Mengapa saya katakan hanya bagi orang yang luar
biasa? Karena, itu tandanya ia telah yakin terhadap
pesan cinta dari Rabb-Nya yang berbunyi :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan
Alquran untuk diingat…” (QS. Al-Qalam : 17)

Ayat 17 dalam Surat Al-Qalam tersebut
merupakan sebuah paradigma yang ingin Allah
tanamkan kepada hamba-hamba-Nya. Paradigma
bahwa setiap hamba-Nya pasti mampu menjadi

48

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

hafidz Quran secara keseluruhan. Bahkan, paradigma
ini Allah tegaskan berkali-kali di ayat selanjutnya,
yaitu di ayat 22, 32, dan 40 pada surat yang sama.
Hanya saja, terdapat beberapa penghalang atau
kesalahan ketika seseorang berazzam ingin menjadi
hafidz Quran. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Ingin Hafidz 30 juz Secepat Mungkin

Seringkali, beberapa orang ingin menjadi
hafidz dengan segera. Hingga ia-pun memutuskan
untuk mengikuti daurah “tahfizh kilat”, Daurah
Menghafal Alquran dalam Satu Bulan misalnya.
Dengan modal hafalan juz 30 yang dimiliki, ia
pun berangkat menjadi “santri tahfizh kilat”. Hal
ini sangat baik jika ia mengikuti daurah tersebut
dengan niat agar dirinya mampu “lebih intensif”
dalam menghafal Alquran ke depannya. Lebih
intensif yang saya maksudkan adalah adanya
pengingkatan durasi menghafal. Artinya, ia sudah
terbiasa menghafal sebelumnya walaupun hanya
beberapa ayat. Sehingga, mengikuti daurah
sebagai sarana peningkatan saja.

Namun berbeda halnya jika seseorang
mengikuti daurah tersebut agar hafalannya cepat
bertambah. Ia ingin segera mencapai target 30
juz. Maka, akibatnya adalah ia akan “kewalahan”
karena dikejar target karena belum terbiasa
menghafal. Bukannya hafalannya bertambah,
yang ada orang tersebut kebingungan bagaimana

49

Yakinlah! Menghafal Al-Quran Itu Mudah!

untuk mengulang hafalan (muraja’ah ) setelah
daurah berakhir.

Padahal, menghafal bukanlah soal berapa
banyak ayat yang mampu kita ucapkan. Jika
memang niat menghafal adalah untuk hafidz,
setelah ia berhasil mengkhatamkan 30 juz, maka
Allah akan melupakan hafalan dari ingatannya.
Karena pada dasarnya, menghafal adalah
upaya seseorang agar selalu dekat dan mampu
berinteraksi penuh dengan Alquran.

Niatkan pada diri Anda bahwa Anda menghafal
agar Anda menjadi selalu dekat dengan Alquran,
menjadi sahabatnya. Bukankah hanya Alquran
yang mampu menemani Anda saat sepi di
kuburan kelak? Bukankah hanya Alquran yang
mampu mengajak Anda menaiki tangga langit
yang paling atas kelak? Bukankah hanya Alquran
yang mampu membuka tirai wajah-nya Allah
hanya untuk Anda? Iya, hanya seorang sahabat
yang mampu melakukannya. Dialah Alquran.

2. Ingin Hafal Tapi Belum Memiliki Waktu Khusus
untuk Alquran ( Prime Time )

Menghafal adalah upaya seseorang agar
selalu dekat dan mampu berinteraksi penuh
dengan Alquran. Anda harus mengkhususkan
waktu untuk menghafal. Jangan “sisa waktu” yang
Anda berikan untuk Alquran, tapi sediakanlah
waktu khusus untuknya. Semakin lama Anda

50


Click to View FlipBook Version