1 Daftar Isi LEMBAR CEKLIST...........................................................................................................2 LEMBAR PERTANYAAN REFLEKTIF.........................................................................4 BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................5 BAB II ISI.............................................................................................................................6 TOPIK 1 Pendalaman dan Pemahaman CT.....................................................................6 TOPIK 2 CT dalam Kurikulum.........................................................................................13 TOPIK 3 CT dalam Problem Solving................................................................................19 TOPIK 4 CT dan Proyek (STEM).....................................................................................50 TOPIK 5 Integrasi CT dalam Mata Pelajaran.................................................................64 POST-REKONSTRUKSI PORTOFOLIO.......................................................................82
2 Format Checklist Kelengkapan Bahan Portofolio untuk Topik Pendalaman Pemahaman CT No Topik Artefak Apakah artefak portofolio tersedia? (Y/T) 1 Pendalaman pemahaman CT Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan) Y Feedback yang diberikan kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 2 CT dalam Kurikulum Eksplorasi Konsep (hasil pendalaman pembahasan) Y Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan) Y Feedback yang diberikan kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 3 CT dalam problem solving Lembar kerja mahasiswa pada eksplorasi konsep. Y Hasil diskusi dan penilaian pada ruang kolaborasi. Y Hasil pada demonstrasi kontekstual. (Bagian 1-3 diulang sebanyak 3 kali untuk pertemuan 4 hingga 6.) Y Lembar kerja pada koneksi antar materi Y Hasil refleksi pada aksi nyata Y
3 No Topik Artefak Apakah artefak portofolio tersedia? (Y/T) 4 CT dan proyek Hasil Lembar Kerja Reflektif Individual (01.03 dan 02.02). Y Hasil kerja pada Ruang Kolaborasi. Y Feedback yang diberikan dosen lain pada saat Demonstrasi Kontekstual. Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata. Y 5 Integrasi CT dalam mata pelajaran Hasil Lembar Kerja Reflektif Individual (2.3 Y Hasil kerja pada Ruang Kolaborasi. Y Feedback yang diberikan dosen lain pada saat Demonstrasi Kontekstual. Y Hasil lembar kerja pada Koneksi Antar Materi. Y Hasil refleksi dan RPP dari Aksi Nyata. Y
4 Lembar Pertanyaan Reflekif No Pertanyaan Reflektif Jawaban 1. Apakah artefak yang Anda miliki lengkap? Jika tidak lengkap, tuliskan persentase jumlah artefak portofolio yang berhasil Anda kumpulkan. Ya, artefak saya sudah lengkap. Portofolio pembelajaran saya sudah lengkap karena mencakup tugas dari topik satu hingga lima, serta jawaban yang telah terurai dengan runtut. 2. Bacalah kembali capaian pembelajaran yang diberikan pada setiap awal topik. Apakah artefak yang Anda kumpulkan sudah menggambarkan pencapaian tersebut? Jika dikaitkan dengan pencapaian pembelajaran pada setiap topik, tuliskan kelebihan atau kekurangan dari artefak portofolio yang Anda miliki. Jika ada kekurangan, bagian apa saja yang perlu Anda tambahkan atau koreksi? Jika jawaban Anda panjang, kerjakanlah pada lembar terpisah dari tabel ini. Artefak yang saya buat telah menggambarkan pencapaian yang ada pada capaian pembelajaran pada setiap awal topik. Artefak portofolio pembelajaran CT mencerminkan kemampuan seseorang dalam menerapkan konsep-konsep CT. Artefak ini berupa algoritma, kode program, dan dokumentasi pemecahan masalah. Kelebihannya adalah memberikan bukti konkret tentang pemahaman dan penerapan CT, tetapi kekurangannya mungkin terletak pada kejelasan dan kelengkapan penjelasan. Untuk meningkatkan, tambahkan penjelasan mendalam tentang proses berpikir dan refleksi pembelajaran dari setiap pengalaman.
5 BAB I PENDAHULUAN Computational Thinking (CT) merupakan pendekatan dalam memecahkan masalah yang terinspirasi dari ilmu komputer. Fondasi CT terdiri dari beberapa elemen kunci, seperti dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Pada kehidupan sehari-hari, CT memiliki dampak signifikan. Misalnya, dalam pemecahan masalah seperti merencanakan rute perjalanan, CT membantu dalam merumuskan masalah, mengembangkan solusi, dan mengevaluasi opsi yang tersedia. Dalam pengambilan keputusan, CT memungkinkan individu untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data dengan lebih efektif. Penerapannya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, CT juga relevan. Menganalisis teks, CT membantu peserta didik mengidentifikasi struktur teks dan tema utama. Kegiatan menulis, CT membantu peserta didik merencanakan, mengorganisir, dan merevisi tulisan dengan terstruktur. Selain itu, dalam mempelajari tata bahasa dan sastra, CT membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep abstrak dan menggeneralisasikan aturan bahasa. Demikianlah, CT memiliki aplikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan dan mata pelajaran lainnya, menunjukkan relevansinya yang tidak hanya terbatas pada teknologi.
6
7 Nama/No kelompok : SMP Negeri 17 Kota Jambi No induk/ Nama mahasiswa : 1. Chindi Pramudya Wardani 2. Hidayatun Nur Ilmi 3. Jesica Indah Fitri 4. Melisa Sapriani Hasil diskusi secara umum : Computational Thinking (CT) adalah suatu kemampuan berpikir kritis yang mencakup analisis logis, penyelesaian masalah secara sistematis, dan penggunaan algoritma untuk merancang solusi efisien. Pentingnya fondasi CT terletak pada kemampuan membentuk landasan berpikir kritis dan sistematis yang tidak hanya berguna dalam konteks pemrograman dan teknologi, tetapi juga dalam menanggapi tantangan dan masalah kompleks di berbagai bidang kehidupan. Melalui CT, seseorang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah yang efisien, analisis yang mendalam, dan pengambilan keputusan berbasis data. Fondasi ini merangsang kreativitas dan inovasi, memungkinkan individu untuk menciptakan solusi baru untuk masalah yang kompleks. Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai „komputer‟, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT: 1. Menyusun vas bunga di taman 2. Membersihkan rumput di halaman rumah 3. Menyusun menu rumah makan tradisional Penerapan fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari: A. Jawaban yang sudah tepat 1. Dekomposisi : Persiapan pesta ulang tahun, kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang perlu disiapkan untuk persiapan acara pesta ulang tahun 2. Pengenalan pola : Pengenalan pola dalam persiapan pesta ulang tahun melibatkan identifikasi pola atau tren yang sedang terjadi dan dapat diantisipasi dalam persiapan pesta tersebut. Seperti tema superhero, fauna, atau flora. Kemudian tempat pesta di dalam atau luar ruangan. 3. Abstraksi : Menentukan pilihan yang akan digunakan dalam acara pesta ulang tahun. Saya memilih tema superhero dan acara di lakukan di dalam ruangan. 4. Algoritma : Acara dapat berjalan sesuai apa yang diinginkan, mulai dari tamu yang menggunakan kostum superhero kesukaan mereka. Karena acara dilakukan
8 di dalam ruangan sehingga ketika acara hari hujan tidak akan kehujanan. B. Jawaban yang kurang tepat 1. Memperkirakan tayangan apa yang akan muncul pada sosial media kita. Hal ini tidak bisa dilakukan hanya dengan memperkirakan saja, harus menggunakan CT fondasi algoritma agar dapat memberikan hasil yang tepat. Seperti sedang mencari informasi sepatu wanita pada aplikasi belanja Online, maka akan muncul pula dalam media sosial kita dengan sendirinya berkat dari algoritma internet yang ada pada gawai kita.
9 Nama/No. Kelompok: SMP Negeri 17 Kota Jambi No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Chindi Pramudya Wardani 2. Hidayatun Nur Ilmi 3. Jesica Indah Fitri Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi: Pertanyaan dari Aidul Muzaqi: Bagaimana integrasi computational thinking dalam mata pelajaran dapat mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis dan analisis data? Tanggapan/solusi dari Chindi Pramudya Wardani: Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran dapat mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis dan analisis data melalui berbagai cara, seperti yang dijelaskan dalam beberapa artikel dan penelitian. Misalnya, integrasi computational thinking dalam model EDP-STEM telah terbukti meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, computational thinking juga mengasah keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif siswa dalam menyelesaikan masalah. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas siswa selama pembelajaran, kemampuan guru dalam memfasilitasi pembelajaran, dan respons siswa setelah pembelajaran. Dengan demikian, integrasi computational thinking dalam mata pelajaran dapat secara signifikan berkontribusi pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan analisis data siswa. Pertanyaan dari Nurmala Rosanti: Mengapa CT dianggap penting dalam dunia modern Tanggapan/solusi dari Hidayatun Nur Ilmi: Computational Thinking (CT) telah menjadi kunci penting dalam menavigasi dunia modern karena memberikan dasar yang kuat untuk pemecahan masalah yang terstruktur. CT tidak hanya bersifat serbaguna, dapat diterapkan di berbagai konteks, termasuk kehidupan sehari-hari dan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga memberikan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan abad ke-21 yang semakin dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Dengan memberikan pendekatan terstruktur, CT membantu individu merinci masalah kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih dapat
10 diatasi, memfasilitasi pemecahan masalah dengan efisien dan efektif. Pentingnya CT tidak hanya terbatas pada ranah teknologi, tetapi juga membawa dampak positif dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemahaman teknologi, dan peningkatan produktivitas dalam kegiatan sehari-hari. Melalui penerapan CT, individu diberdayakan untuk berpikir kreatif, berinovasi, dan mengatasi kompleksitas situasi dengan lebih baik. Selain itu, CT juga memperkenalkan aspek etika dan keamanan dalam penggunaan teknologi, menciptakan pengguna yang bertanggung jawab dan sadar akan implikasi dari keputusan yang diambil dalam lingkungan digital yang terus berkembang. Pertanyaan dari Tuti Mardianti: Apakah semua orang perlu memahami konsep Computational Thinking? Jika iya kenapa? Jika tidak kenapa? Tanggapan/solusi dari Jesica Indah Fitri: Menurut saya iya, kenapa? Karena dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, pemahaman tentang Computational Thinking menjadi semakin penting. Banyak aspek kehidupan sehari-hari, baik di dunia pekerjaan maupun kehidupan pribadi, terkait erat dengan teknologi dan pemrosesan data. Konsep Computational Thinking, seperti pemecahan masalah dan pemikiran algoritmik, dapat diterapkan dalam berbagai konteks. Ini membantu seseorang dalam menghadapi masalah dan mencari solusi secara sistematis. Selain itu Pemikiran Computational Thinking dapat mendorong inovasi dan kreativitas. Ketika seseorang memahami cara sistem beroperasi dan dapat mengidentifikasi pola, mereka lebih cenderung menemukan solusi baru untuk masalah.
11 Nama : Hidayatun Nur Ilmi Sel.09.2 –T1-8. Aksi Nyata 1. Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini? 2. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT? 3. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda? 4. Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT? 5. Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya? Jawaban : 1. Dalam mengikuti mata kuliah Computational Thinking (CT), harapan dan target saya adalah memperoleh pemahaman yang kuat tentang konsep-konsep dasar CT, seperti dekomposisi, pola pengenalan, abstraksi, dan algoritma. Saya berharap dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip CT ini dalam pemecahan masalah sehari-hari dan mendapatkan pengalaman praktis dalam menerapkan keterampilan berpikir komputasional. Selain itu, target saya termasuk mengembangkan kemampuan untuk menerjemahkan masalah ke dalam bentuk yang dapat dipecahkan oleh komputer, serta meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan analitis melalui latihan-latihan CT. Saya berharap dapat mengenali dan merancang solusi dengan lebih efisien melalui pemikiran komputasional. Saya juga berharap dapat menerapkan konsep CT saat menjadi pendidik kelak. 2. Setelah mempelajari Computational Thinking (CT), saya memperoleh pemahaman baru tentang pendekatan sistematis dalam memecahkan masalah. Saya menyadari bahwa CT bukan hanya tentang penggunaan komputer, tetapi juga mengenai pemikiran kritis, dekomposisi masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, dan merancang solusi melalui algoritma yang terstruktur. Pemahaman baru saya mencakup konsep-konsep seperti abstraksi, di mana saya belajar untuk menyederhanakan kompleksitas dengan fokus pada aspek-aspek yang paling penting. Saya juga mengenali pentingnya pola pengenalan dalam mengidentifikasi tren atau struktur yang dapat diterapkan pada berbagai masalah. 3. Menurut saya Computational Thinking (CT) sangat relevan dan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. CT tidak hanya menjadi keterampilan yang bermanfaat di dunia komputasi dan teknologi, tetapi juga menjadi pendekatan pemecahan masalah yang bernilai dalam
12 kehidupan sehari-hari. Penerapan CT membantu dalam menghadapi dan memecahkan masalah dengan lebih terstruktur dan efisien. Dalam kehidupan sehari-hari, CT dapat digunakan dalam perencanaan, pengelolaan waktu, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah rumit. Pemikiran komputasional memberikan kerangka kerja yang dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks, dari urusan pribadi hingga profesional. 4. Setelah mempelajari Computational Thinking (CT) dalam mata kuliah, saya merasa memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang cara mendekati dan memecahkan masalah. Saya merasa lebih percaya diri dalam menerapkan konsep-konsep CT, seperti dekomposisi, abstraksi, pola pengenalan, dan algoritma, dalam berbagai konteks. Perasaan puas atau bahkan antusias juga dapat muncul karena saya menyadari bahwa CT bukan hanya terkait dengan dunia komputasi, tetapi dapat diterapkan luas dalam kehidupan sehari-hari dan berbagai bidang. 5. Selama mengikuti mata kuliah Computational Thinking (CT), potensi kendala yang mungkin saya hadapi melibatkan pemahaman konsep dan manajemen waktu. Untuk mengatasinya, saya akan aktif berpartisipasi dalam diskusi, memanfaatkan sumber daya tambahan, dan bertanya kepada dosen atau rekan sekelas. Saya juga akan fokus pada proyek dan latihan praktis, membuat jadwal studi efisien, dan berkomunikasi terbuka jika ada kesulitan. Dengan cara ini, saya berharap dapat mengoptimalkan pembelajaran dalam mata kuliah CT.
13
14 EKSPLORASI KONSEP Topik 2 1. Bagi calon guru kelas I sampai VI. Ceritakan dengan kata-kata Anda sendiri terkait peningkatan capaian yang ada pada fase A sampai C. Apakah Anda dapat melihat peningkatan capaian dari fase A-C? Jelaskan jawaban Anda! Ya, tentu ada peningkatan capaian dari fase A-C. Pada fase A (Pra-Pelatihan), peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari yang dialami dengan mengidentifikasi, membandingkan, memilih, memilah, mengelompokkan, dan mengurutkan objek konkrit. Di Fase B (Pelatihan Awal), mereka telah mendapatkan dasar teoritis dan praktis, mulai mengintegrasikan konsep dalam pembelajaran. Pada Fase C (Praktik Profesional), calon guru terlibat dalam pengalaman praktik yang intensif, peserta didik pula sudah mampu menerapkan berpikir komputasional, mengurutkan himpunan data hasil abstraksi yang lebih banyak dan kompleks dengan menggunakan berbagai cara untuk menghasilkan lebih banyak alternatif solusi yang mengintegrasikan berpikir komputasional dalam memanfaatkan perkakas yang digunakannya.. Secara umum, diharapkan adanya peningkatan capaian dari fase A ke C, dengan kematangan calon guru dalam menjadi pendidik yang responsif dan efektif. 2. Bagi calon guru kelas VII-XII. Bacalah kembali dengan seksama CP pada fase yang akan Anda ampu. Apakah ada istilah-istilah atau kata-kata yang belum Anda pahami pada CP tersebut? Tuliskan kata-kata yang belum Anda pahami pada kotak berikut. Anda juga boleh menuliskan istilah-istilah yang menurut Anda menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Ada beberapa istilah yang belum saya pahami, yaitu; data diskrit bervolume kecil serta mendisposisikan, strategi algoritmik standar, data diskrit bervolume besar, justifikasi efisiensi.
SEL.09.2-T2-4. Ruang Kolaborasi 15 Nama/NIM anggota kelompok: 1. Chindi Pramudya Wardani 2. Hidayatun Nur Ilmi 3. Jesica Indah Fitri 4. Melysa Sapriani Putri Fase (A/B/C/D/E/F) Fase D CP Pada akhir fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan data diskrit bervolume kecil serta mendisposisikan berpikir komputasional dalam bidang lain terutama dalam literasi, numerasi, dan literasi sains (computationally literate). Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok: 1. Data Diskrit Bervolume Kecil 2. Mendisposisikan 3. Computationally literate Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikan lebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat eksplorasi konsep! Data diskrit bervolume kecil. (Fase D) Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersama seluruh anggota kelompok! Data diskrit bervolume kecil. (Fase D) Pada hasil pembelajaran Fase D, siswa mampu menganalisis secara kritis beberapa strategi algoritmik, menunjukkan efisiensi, kelebihan, dan keterbatasan setiap alternatif solusi, serta memilih dan menerapkan solusi terbaik, paling efisien dan optimal. Dalam hal ini, data diskrit bervolume kecil digunakan untuk menggambarkan masalah yang lebih mudah diprediksi dan dianalisis, sehingga mendorong pemahaman dan pengembangan keterampilan dalam merancang algoritma yang efisien dan optimal untuk memecahkan masalah komputasi.
SEL.09.2-T2-5. Demonstrasi Kontekstual 16 Nama/NIM: Hidayatun Nur Ilmi/A2G823005 Fase Istilah yang baru diketahui maknanya Makna dari istilah E dan F 1. Strategi algoritmik 2. Justifikasi efisiensi 3. Struktur data 1. Strategi algoritmik adalah kumpulan metode atau teknik dengan mengguynakan urutan langkah-langkah yang sistematis untuk memecahkan suatu masalah. 2. Justifikasi efisiensi adalah pembuktian yang mendukung suatu anggapan atau rancangan usulan secara efisien. 3. Struktur data adalah cara menyimpan dan mengatur data secara terstruktur pada sistem komputer atau pangkalan data sehiungga lebih mudah diakses. Tuliskan pemahaman yang Anda dapat dari presentasi rekan Anda mengenai CP CT pada fase yang berbeda dari fase yang Anda kerjakan dalam kelompok! Fase Pemaknaan CP
SEL.09.2-T2-5. Demonstrasi Kontekstual 17 Fase E dan Fase F Fase E: Pada akhir fase ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk menerapkan metode dengan langkah-langkah yang terstruktur secara sistematis. Kemampuan ini dapat diterapkan dalam pemecahan masalah sehari-hari dan implementasinya dalam konteks sistem komputer. Mereka mampu menghasilkan beberapa solusi untuk berbagai persoalan, terutama yang melibatkan manipulasi data angka dalam bentuk bilangan bulat yang terpisah. Fase F: Pada akhir fase F, peserta didik memiliki keterampilan untuk menganalisis berbagai metode secara kritis dengan mengikuti langkahlangkah dalam menyelesaikan masalah. Mereka dapat menghasilkan sejumlah alternatif solusi, memilih, dan menerapkan solusi terbaik yang paling efisien dan optimal. Selain itu, mereka dapat merancang cara untuk menyimpan dan mengatur data yang lebih kompleks dan abstrak secara terstruktur.
18 1. Bagaimana perasaan Anda saat menelaah lebih lanjut mengenai CP CT dalam pertemuan kuliah ini? Setelah membaca dan menelaah tentang CP CT, saya menyadari bahwa ada beberapa istilah asing yang baru bagi saya. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan literasi untuk memahami arti dari kata-kata asing tersebut yang relevan dengan CP. Setelah saya mempelajari CT dalam kuliah ini, menjadi jelas bahwa pemahaman CT sangat penting bagi peserta didik. Sebaiknya, pengenalan dan pengajaran CT seharusnya dimulai dari fase A hingga fase F. Peserta didik perlu terbiasa dengan penerapan CT dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, mereka akan terlatih untuk menyelesaikan permasalahan dengan menerapkan CT. Implementasi CT dalam proses pembelajaran sebaiknya dilakukan secara bertahap, dengan menerapkan CT dalam aktivitas sehari-hari. 2. Tuliskan pengetahuan-pengetahuan baru yang Anda dapatkan dari pertemuan ini Dari pertemuan ini, saya mendapatkan wawasan baru terkait beberapa hal. Pertama, saya sekarang memahami alasan di balik ketidakajaran CT sebagai mata pelajaran mandiri. Kedua, saya mengetahui hubungan antara CP CT dengan CP Bahasa Indonesia. Terakhir, saya memahami bagaimana CT dapat diterapkan dalam penyelesaian permasalahan. .
1 Aksi Nyata Topik 3
20 Nama : Hidayatun Nur Ilmi, S.Pd. NIM : A2G823005 Soal Latihan Bebras Soal ini diambil dari soal Bebras Memindahkan Dadu untuk jenjang SD dan modifikasi dari soal Bebras Memindahkan Dadu untuk jenjang SMP dan SMA. Judul soal : Memindahkan Dadu Kode soal : I-2017-MY-05 Jenjang : SD, SMP, dan SMA Deskripsi Soal Jack si berang-berang menggulirkan sebuah dadu sepanjang jalan tanpa penggeseran. Untuk memindahkan dadu dari satu petak ke petak berikutnya, Jack memutar dadu sepanjang pinggir yang ada di perbatasan antara dua petak. Dia melakukannya n kali sampai dadu mencapai petak berisi bulatan putih. Masing-masing jenjang (SD, SMP, SMA) menggunakan nilai n yang berbeda. Perhatikan Gambar 3.10 berikut ini! Gambar 3.10: Soal Memindahkan Dadu untuk Jenjang SD, SMP, SMA. Gambar diadaptasi dari (NBO Bebras Indonesia, 2019) Perhatikan bahwa jumlah titik-titik pada dua sisi yang berlawanan di sebuah dadu selalu 7 (1 berlawanan dengan 6; 2 berlawanan dengan 5; 3 berlawanan dengan 4). Pada mulanya, sisi dengan 1 titik (berlawanan dengan sisi 6) ada di dasar dadu, seperti ditunjukkan pada gambar. Setelah memutar dadu sekali ke petak kedua, sisi dengan 2 titik (berlawanan dengan 5) akan berada di dasar dadu.
21 Nama : Hidayatun Nur Ilmi, S.Pd. NIM : A2G823005 Jenjang/ mata pelajaran yang di ampu : SMP/Bahasa Indonesia Judul soal : Memindahkan Dadu No Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk masing-masing soal Penyelesaian untuk masalah dadu dilakukan dengan mengingat instruksi yang diberikan, menguraikan instruksi menjadi rincian yang lebih terperinci. Ini memungkinkan untuk mengingat dan melanjutkan langkah-langkah dadu berikutnya sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
22 2. Tuliskan langkah-langkah berfikir anda hingga mendapatkan solusi masingmasing soal! Jika anda menggunakan 1 cara berfikir, tuliskan pada jenjang mana anda menggunakan cara berfikir tersebut. 1. SMP dengan model fisik 2. Mengingat pasangan membuat pola dari masing-masing titik dengan jumlah 7 (6 dan 1, 2 dan 5, serta 3 dan 4) dapat disimpulkan pasangan titik tersebut akan berkebalikan 3. Mengingat tiga jumlah titik yang tampak pada dadu yang akan digulir, pada SD 6, SMP 6, dan SMA 6. 4. Memahami tiga posisi dadu ketika dilakukan lemparan/guliran, dan memahami posisi dadu pada tahapan berikutnya (kuncinya masih pada jumlah titik ada 7) 5. Ikuti dan coba sambil memikirkan lemparan dadu sampai dengan posisi dadu pada petak bulatan putih. Jenjang SD (n=5) Dalam menjawab soal ini kita dapat mengurutkan terlebih dahulu pola angka berulang yang akan muncul setiap putaran dadu. Maka akan muncul
23 titik dadu yaitu : - Titik di atas dadu pada langkah ke depan = 5-1-2 - Titik di atas dadu pada langkah ke kanan = 4-5 Langkah selanjutnya adalah menggambarkan bentuk posisi awal dari dadu, yaitu posisi 6 di atas. - Kanan 3 - Depan 5 akan berhadapan dengan 2 - Atas 6 - Bawah 1 - Kiri 4 Kita sesuaikan pola dari dadu jika kita gulirkan ke depan yaitu 5-6-2-1 akan sama dengan pola ke depan sehingga jika 3 blok maka kita melangkah tiga angka dari 5 ke arah angka 5, menjadi 2-1-5-6. Berikutnya kita harus menyesuaikan pola dari dadu jika ingin menggulirkan ke kanan yaitu dengan urutan 4-1-3-6 akan sama dengan pola ke kanan, langkah selanjutnya 5-1-2-6. Maka pada titik terakhir akan menunjukkan titik 5. Total ada 2 pola yakni: ke depan dan kanan. Jenjang SMP (n=7) Pada jenjang SMP yaitu kelanjutan dari blok pada jenjang SD ditambah dua langkah, maka dadu menunjukkan: - Titik di atas dadu pada langkah ke belakang = 1. - Titik di atas dadu pada langkah ke kanan = 3. Bertambah blok maka pola juga bertambah menjadi 4 pola (ke arah belakang dan kanan). Jenjang SMA (n=9) Pada jenjang SMA ini jumlah langkah dadu bertambah dua, maka menimbulkan titik dadu menunjukkan: - Titik di atas dadu pada langkah ke belakang = 2 dan 4. Karena bertambah jumlah langkah dadu, maka pola juga bertambah menjadi 5 pada jenjang SMA ini menuju arah belakang.
24 3. Identifikasi 4 pondasi CT yang anda gunakan dalam menyelesaikan persoalan ini. Dekomposisi: Pada memindahkan dadu ini melihat dan mengingat posisi dadu ketika digulir Pengenalan pola: pada pemindahan dadu, kita hanya perlu memperhatikan dadu yang posisinya dibagian atas, karena kembali kepada kunci jumlah dadu 7. Abstrak: membuat tabel, menuliskan secara runtut urutan guliran dadu perkotak sampai mencapai titik putih. Algoritma: langkah-langkah yang telah dilakukan, akan memberikan kesimpulan atau jawaban dari soal yang diberikan. 4. Adakah contoh dalam kehidupan seharihari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini? Guliran dadu yang dilakukan secara berurut dan terus-menerus hingga mencapai titik tujuan yaitu titik putih. Seperti halnya seorang anak yang bersekolah, mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga S1. Kegiatan belajar yang anak lakukan ini secara sistematis dan berurutan selama hampir 16 tahun.
25 5. Tuliskan perbedaan kompleksitas persoalan untuk masing-masing jenjang yang terdapat pada soal ini. 1. Pada jenjang SD hanya terdapat dua pola perpindahan dadu dengan lima perpindahan. 2. Paada jenjang SMP, pola perpindahan dadu bertambah menjadi empat pola dengan jumlah perpindahan yang bertambah. 3. Pada jenjang SMA, terdapat penambahan pola menjadi lima perpindahan dadu, dan jumlah perpindahan pun bertambah. Kesimpulannya : setiap jenjang akan mengahadapi kesulitan yang berbeda dan akan meningkat pada jenjang yang lebih tinggi.
26 RUANG KOLABORASI Computational Thinking T3-3a- SUB TOPIK 1 Tabel 3.1 Penilaian Teman Kelompok Anggota 1 : Chindi Pramudya Wardani Anggota 2 : Jesica Indah Fitri Anggota 3 : Melysa Sapriani Putri Penilaian dari teman kelompok Kriteria Penilaian Chindi Pramudya Wardani Jesica Indah Fitri Melysa Sapriani Putri Apakah cara mengerjakaan soal yang dituliskan mudah dipahami? A A A Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? A A A Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? A A A Apakah 4 fondasi CT yang ditulis sudah benar? A A A Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? A A A Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? A A A Tabel 3.2 Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 1. Cara menjawab soal Harus dijabarkan lebih terperinci agar lebih kompleks 2. Contoh penerapan CT dalam kehidupan sehari-hari Buatlah penjelasan bagian mana saja penggunaan fondasi CT lebih tertata atau sistematis Tabel 3.3 Rubrik penilaian untuk masing-masing kriteria A= sangat baik B= Baik C= Cukup D= Kurang Jika ketiga soal memenuhi kriteria jika hanya 2 soal yang memenuhi kriteria Jika 1 soal yang memenuhi kriteria Jika ketiga-tinganya tidak memenuhi Kriteria
27 PENDIDIKAN PROFESI GURU PRAJABATAN GELOMBANG 2 FAKULATAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI EKSPLORASI KONSEP Computational Thingking TP3-02-04-01 Lembar Kerja Mahasiswa (Literasi Membaca pada Tes PISA) Nama : Hidayatun Nur Ilmi NIM : A2G823005 Jurusan : Bahasa Indonesia Literasi Membaca Mengapa literasi membaca dibutuhkan oleh siswa? Literasi membaca sangat dibutuhkan oleh siswa agar dapat memahami dan mampu meningkatkan kerampilan dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Literasi juga dibutuhkan untuk menemukan strategi yang efektif untuk kemampuan membaca, termasuka didalamnya kemampuan memahami makna dari sebuah bacaan. Dengan memahami sebuah makna dan informasi dari bacaan yang dibacanya, diharapkan siswa mampu menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan literasi siswa berkaitan dengan tuntunan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami, meneliti, dan menerapkan. Literasi membaca menjadi penting karena dapat membangun kesadaran siswa akan pentingnya membaca untuk mendukung pembelajaran yang efektif, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa, menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa, mengembangkan kreativitas siswa dalam mengelola kegiatan literasi di sekolah maupun membuat pojok literasi dikelas.
28 Pengertian dari literasi membaca pada tahun 2018 adalah kemampuan untuk mengerti, menggunakan, merefleksikan teks untuk suatu tujuan. Literasi membaca juga mencakup siswa memeiliki meotivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam konteks literasi membaca? 1. Mengerti Teks: Mengerti teks ialah kemampuan untuk tahu, paham, mampu memahami dan mengidentifikasi informasi inti yang disajikan dalam teks, kemudian mengintegrasikan informasi dari teks dengan pengetahuan yang sudah dimilki sebelumnya. 2. Menggunakan Teks: Setelah mengerti teks, seseorang mampu menggunakan informasi kyang didapatkan dalam teks untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun ke dalam ilmu yang lain. 3. Merefleksikan Teks: Mempertimbangkan faktor-faktor seperti argument dalam teks, sudut pandang penulis dan relevansinya untuk menuju suatu tujuan. 4. Memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks: Penelitian membuktikan bahwa ketertarikan, motivasi, dan kebiasaan membaca berhubungan erat dengan kemampuan membaca. Selain itu, ketekunan membaca juga erat
29 PENDIDIKAN PROFESI GURU PRAJABATAN GELOMBANG 2 FAKULATAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI kaitannya dengan keberhasilan belajar dan prestasi di luar sekolah. Oleh karena itu, motivasi dan ketertarikan seseorang untuk mengerti lebih dalam tentang suatu teks merupakan faktor utama untuk meningkatkan kemampuan membaca. Apa saja jenis teks yang digunakan pada teks PISA untuk literasi membaca? Pada tes PISA 2018, jenis atau tipe teks yang digunakan untuk literasi membaca adalah teks deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, instruksi, formulir, tabel, atau bagan. Terdapat 6 level progses pada literacy. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut. level 1b diberikan sebagai contoh. Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Siswa dapat menemukan sebuah informasi yang mudah didapat dari sebuah teks sederhana. Informasi yang dicari biasanya sering diulang di dalam teks. Informasi yang dicari juga bisa dinyatakan dalam gambar dan grafik sehingga memudahkan siswa menemukan informasi tersebut. Pembaca di Level 1b dapat menempatkan satu bagian informasi yang dinyatakan secara eksplisit di posisi yang strategis dalam teks pendek yang sederhana secara sintaksis dengan konteks dan jenis teks yang sudah dikenal, seperti narasi atau daftar sederhana. Teks dalam tugas pada Level 1b biasanya memberikan dukungan kepada pembaca, seperti pengulangan informasi, gambar, atau simbol yang sudah dikenal. Ada informasi bersaing minimal. Pembaca Level 1b dapat menginterpretasikan teks dengan membuat hubungan sederhana antara potongan informasi yang berdekatan. 1a Siswa dapat menentukan letak informasi eksplisit dalam teks, seperti mengetahui topik utamanya, tujuan penulis membuat teks tersebut, atau membuat keterkaitan sederhana antara teks tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Siswa secara eksplisit diarahkan untuk memikirkan faktor-faktor yang relevan antara tugasnya dan teks yang diberikan. 2 Siswa dapat menemukan, dan dalam beberapa kasus mengenali hubungan antara beberapa potongan informasi yang harus memenuhi berbagai kondisi. Mereka juga dapat mengintegrasikan beberapa bagian teks untuk mengidentifikasi gagasan utama, memahami hubungan, atau menafsirkan makna kata atau frasa 3 Siswa dapat menemukan, dan dalam beberapa kasus mengenali hubungan antara beberapa potongan informasi yang harus memenuhi berbagai kondisi. Mereka juga dapat mengintegrasikan beberapa bagian teks untuk mengidentifikasi gagasan utama, memahami hubungan, atau menafsirkan makna kata atau frasa. 4 Siswa dapat menemukan dan mengatur beberapa informasi yang disematkan. Dalam tugas interpretasi lainnya, siswa mendemonstrasikan pemahaman dan penerapan kategori dalam konteks yang tidak biasa. Selain itu, siswa pada level ini dapat menggunakan pengetahuan formal atau publik untuk berhipotesis atau mengevaluasi secara kritis sebuah teks. 5 Siswa dapat menemukan dan mengatur beberapa potongan informasi yang tertanam secara mendalam, menyimpulkan informasi mana dalam teks yang relevan. Tugas reflektif memerlukan evaluasi kritis atau pembuatan hipotesis, dengan memanfaatkan pengetahuan khusus. Baik tugas interpretasi dan refleksi membutuhkan pemahaman yang lengkap dan terperinci tentang teks yang konten atau bentuknya tidak dikenal.
30 6 Siwa dapat membuat banyak kesimpulan, perbandingan, dan kontras yang mendetail dan tepat. Mereka menunjukkan pemahaman yang lengkap dan rinci dari satu atau lebih teks dan dapat mengintegrasikan informasi lebih dari satu teks. Siswa dapat berhipotesis tentang atau secara kritis mengevaluasi teks yang kompleks pada topik yang tidak dikenal,
31 PENDIDIKAN PROFESI GURU PRAJABATAN GELOMBANG 2 FAKULATAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI dengan mempertimbangkan berbagai kriteria atau perspektif dan menerapkan pemahaman canggih dari luar teks.
32 Computational Thingking TP3-02-04-02 Lembar Kerja Mahasiswa (Literasi Matematika pada Tes PISA) Nama : Hidayatun Nur Ilmi NIM : A2G823005 Jurusan : Bahasa Indonesia Literasi Matematika Mengapa literasi Matematika dibutuhkan oleh siswa? Karena dapat meningkatkan dan menekankan kemampuan peserta didik untuk mampu dalam menganalisis, memberi alasan, dan mengkomunikasikan ide secara efektif pada pecahan masalah berurutan yang mereka temui.
33 Pengertian dari literasi matematika 2012 juga di gunakan pada tahun 2015 dan 2018. Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk memformulasikan sebuah situasi secara matematika, menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika, daan menginterprestasikan hasil matematika untuk berbagai konteks. Apa makna dari masingmasing istilah berikut ini dalam literasi matematika? 1. Memformulasikan sebuah situasi secara matematika : Kata “merumuskan” dalam definisi literasi matematika mengacu pada siswa yang mampu merancang penyelesaian untuk masalah yang disajikan dalam bentuk kontekstual. Dalam proses merumuskan situasi secara matematis, siswa menentukan di mana mereka bisa memilih bagian yang penting dalam menganalisa, mengatur, dan memecahkan masalah. Siswa dapat menerjemahkan dari masalah dunia nyata ke dalam model matematika dan dapat menyelesaikan masalah dunia nyata dengan struktur matematis, dan dalam bentuk representasi. 2. Menggunakan konsep,fakta, prosedur dan penalaran matematika: Kata “menggunakan” dalam definisi literasi matematika mengacu pada individu yang mampu menerapkan matematika konsep, fakta, prosedur, dan penalaran untuk memecahkan masalah yang diformulasikan matematis untuk memperoleh kesimpulan matematika. Dalam proses menggunakan konsep matematika, fakta, prosedur dan alasan untuk memecahkan masalah, siswa melakukan prosedur matematika yang diperlukan untuk mendapatkan hasil dan menemukan solusi matematika (misalnya: melakukan perhitungan aritmatika, memecahkan persamaan, membuat deduksi logis dari asumsi matematis, melakukan manipulasi simbolik, mengekstraksi informasi matematika dari tabel dan grafik, mewakili dan memanipulasi bentuk dalam ruang, dan menganalisis data). 3. Menginterprestasikan hasil matematika: Kata “menafsirkan” yang digunakan dalam definisi literasi matematika berfokus pada kemampuan siswa untuk memikirkan solusi matematika, hasil, atau kesimpulan dan menafsirkannya dalam konteks masalah kehidupan nyata. Hal ini melibatkan menerjemahkan solusi matematika atau penalaran kembali ke konteks masalah dan menentukan apakah hasilnya masuk akal dalam konteks masalah. Siswa yang terlibat dalam proses ini dapat dipanggil untuk membangun dan mengkomunikasikan penjelasan dan argumen dalam konteks masalah, merefleksikan proses pemodelan dan hasilnya. Terdapat 6 level progses pada matematika . Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut. level 1b diberikan sebagai contoh. Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1 Siswa mampu menjawab pertanyaan dengan konteks yang umum serta semua informasi yang relevan tersedia pertanyaan yang jelas. Siswa mampu mengidentifikasi informasi dan menyelesaikan prosedur rutin menurut instruksi yang jelas pada situasi yang ada. Siswa mampu melakukan tindakan sesuai dengan stimulasi yang diberikan.
34 2 Siswa mampu menafsirkan dan mengenali situasi dengan konteks yang memerlukan kesimpulan langsung. Siswa mampu memilah informasi yang relevan dari sumber yang tunggal dan menggunakan cara penyajian tunggal. Mampu menggunakan rumus, melaksanakan prosedur atau kesepakatan dalam memecahkan masalah. Mampu menyimpulkan secara tepat dari hasil penyelesaiannya. 3 Siswa mampu melaksanakan prosedur dengan baik, termasuk prosedur yang memerlukan keputusan yang berurutan. Mampu memilih dan menerapkan strategi memecahkan masalah yang sederhana. 4 Siswa mampu mengerjakan dengan metode tertentu secara efektif dalam situasi yang kompleks tetapi konkret yang mungkin melibatkan hambatan-hambatan atau membuat asumsi-asumsi. Mampu memilih dan mengintegrasikan representasi yang berbeda, dan menghubungkan dengan situasi nyata. 5 Siswa mampu mengembangkan dan bekerja dengan model untuk situasi yang kompleks, mengidentifikasi masalah dan menetapkan asumsi. Mampu memilih, membandingkan dan mengevaluasi strategi untuk memecahkan masalah yang kompleks yang berhubungan dengan model. Mampu menggunakan pemikiran dan penalarannya serta secara tepat menghubungkan representasi simbol dengan situasi yang dihadapi. Mampu menjabarkan dan merumuskan hasil pekerjaannya. 6 Siswa mampu membuat konsep, generalisasi dan menggunakan informasi berdasarkan penelaahan dan pemodelan dalam situasi yang kompleks. Mampu menghubungkan dan menerjemahkan sumber informasi berbeda dengan fleksibel. Mampu menerapkan pemahamannya dengan penguasaan simbol dan operasi matematika, mengembangkan strategi dan pendekatan baru dalam menghadapi situasi baru. Mampu merumuskan hasil pekerjaannya dengan tepat dengan mempertimbangkan penemuannya, penafsiran, pendapat dan ketepatan pada situasi nyata.
35 Computational Thingking TP3-02-04-03 Lembar Kerja Mahasiswa (Literasi Sain pada Tes PISA) Nama : Hidayatun Nur Ilmi NIM : A2G823005 Jurusan : Bahasa Indonesia Literasi Sain Mengapa literasi sain dibutuhkan oleh siswa? Literasi sains membantu membentuk pola pikir, perilaku, dan membangun karakter manusia untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap dirinya, masyarakat, dan alam semesta, serta permasalahan yang dihadapi masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi. Literasi sains di butuhkan bagi peserta didik karena dapat mengajak peserta didik untuk memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi dan banyak permasalahan lainnya yang diperhadapkan kepada masyarakat modern. Apalagi masyarakat modern tidak lepas dari penggunaan teknologi serta perkembangan ilmu pengetahuan selain itu literasi sains dapat meningkatkan sumber daya manusia. Literasi sains penting dikembangkan menurut National Research Council (1996) karena: a) Pemahaman terhadap sains menawarkan kepuasan dan kesenangan pribadi yang muncul setelah memahami dan mempelajari alam. b) Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang membutuhkan informasi dan berpikir ilmiah untuk pengambilan keputusan. c) Setiap orang perlu melibatkan kemampuan mereka dalam wacana publik dan debat mengenai isu-isu penting yang melibatkan sains dan teknologi. d) Literasi sains penting dalam dunia kerja, karena makin banyak pekerjaan yang membutuhkan keterampilan-keterampilan yang tinggi, sehingga mengharuskan orang- orang belajar sains, bernalar, berpikir secara kreatif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah.
36 Literasi sain adalah kemampuan untuk terlibat aktif dalam masalah dan ide yang berhubungan dengan sain. Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang yang memiliki literasi dalam sain adalah kemampuan untuk menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan menginterprestasikan data dan bukti-bukti secara ilmiah. Jelaskan masing-masing kompetensi dibawah ini! 1. Menjelaskan sebuah feomena secara ilmiah: Sains telah berhasil membuat dan mengembangkan seperangkat teori penjelasan yang telah mengubah pemahaman kita tentang dunia alam khusunya dunia sains. Selain itu, pengetahuan tersebut telah memungkinkan pengembangan teknologi yang mendukung kehidupan manusia, seperti perawatan untuk berbagai penyakit dan komunikasi yang cepat di seluruh dunia. Kompetensi untuk menjelaskan fenomena ilmiah dan teknologi dengan demikian tergantung pada pengetahuan tentang ide-ide penjelasan utama sains ini. Namun, menjelaskan beberapa fenomena ilmiah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan untuk mengingat dan menggunakan teori, ide penjelasan, informasi, dan fakta (pengetahuan konten) tetapi dapat menjelaskan fenomena tersebut secara ilmiah sehingga di dapat data yang bersifat empiris dan faktual. 2. Mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah: Peserta didik di awali dengan apersepsi yang berkaitan dengan permasalahan yang muncul, kemudian literasi sains mengharuskan peserta didik untuk memiliki beberapa pemahaman tentang apa yang di lakukan dalam penyelidikan ilmiah dan tujuan penyelidikan ilmiah, yaitu untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat diandalkan tentang pengetahuan alam. Data diperoleh dengan observasi dan eksperimen, baik di laboratorium atau di lapangan, mengarah pada pengembangan model dan hipotesis penjelasan yang memungkinkan prediksi yang kemudian dapat diuji secara eksperimental. 3. Menginterprestasi data dan bukti-bukti secara ilmiah: Menafsirkan atau menginterpretasi data adalah kegiatan inti bagi dalam penyelidikan ilmiah. Biasanya dimulai dengan mencari pola, mungkin melalui membuat tabel sederhana atau visualisasi grafis. Setiap hubungan atau pola dalam data harus dibaca menggunakan pengetahuan tentang pola standar pengukuran. Individu yang melek secara ilmiah harus dapat menilai apakah prosedur ini tepat dan apakah klaim berikutnya dibenarkan. Kompetensi ini juga termasuk mengakses informasi ilmiah, menghasilkan dan mengevaluasi argumen dan kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah. Terdapat 6 level progses pada sains . Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut. level 1b diberikan sebagai contoh. Level Apa yang dapat dilakukan siswa
37 1a Peserta didik mampu menyusun kesimpulan terkait suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari untuk menentukan apakah suatu komentar/ pertanyaan/ pernyataan relevan dengan permasalahan yang di munculkan dalam soal. Kemudian siswa juga mampu membandingkan hal-hal utama (misalnya perbedaan kejadian, prosedur, ciri-ciri benda) dalam permasalahan yang muncul sesuai jenjangnya. 1b Peserta didik mampu mengidentifikasi informasi dan menyelesaikan prosedur rutin menurut instruksi yang jelas pada situasi yang ada. Siswa mampu melakukan tindakan sesuai dengan stimulasi yang diberikan. Dalam hal ini siswa mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah. 2 Peserta didik mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan. Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya: Peserta didik mampu memahami dan menjawab pertanyaan guru terkait sumber energi yang dapat di konversi dalam bentuk lain, seperti contoh energi kinetik dapat di konversi menjadi energi kalor melalui gerakan memukul suatu besi secara berulang-ulang. 3 Peserta didik mampu menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metodemetode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah adalah sebuah proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman. Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep fluida dinamis pada pembuatan pompa air bebas energi dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 4 Peserta didik mampu merincikan atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi. Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari penerapan fluida dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari proses pembelajaran fisika.
38 5 Peserta didik mampu berpikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau berbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah satu hasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat memadukan bagian-bagian permasalahan kemudian mengurutkan secara sistematis proses penyelesaian masalah sehingga membentuk sebuah solusi yang kompleks terkait permasalahan dalam kehidupan sehari-hari 6 Peserta didik mampu membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada. Permasalahan yang timbul kadang memiliki beberapa solusi tetapi siswa disini di haruskan untuk memilih satu solusi yang kompleks dan sistematis terkait permasalahan yang timbul.
39 Computational Thingking TP3-02-04-04 Lembar Kerja Mahasiswa (Literasi Finansial pada Tes PISA) Nama : Hidayatun Nur Ilmi NIM : A2G823005 Jurusan : Bahasa Indonesia Literasi Finansial Mengapa Literasi finansial dibuutuhkan oleh siswa? Seseorang yang memiliki literasi finasial adalah sesorang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial. Selain itu, dia juga memiliki kemampuan, motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahamannya untuk membuat keputusan yang efektif pada berbagai konteks masalahmasalah finansial. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat. Literasi finansial juga memungkinkan sesorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Jelaskan apa makna dari istilah-istilah berikut ini: 1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial: 2. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: 3. Motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengatahuan dan pemahaman finansial: 4. Berbagai konteks masalah-masalah finansial: 5. Meningkat kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat: 6. Memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi:
40 Computational Thingking TP3-02-04-05 LATIHAN SOAL PISA Tabel 3.1 Soal latihan PISA yang di usulkan UNIT NOMOR UNIT JUDUL SOAL LEVEL Literasi Membaca 3 Graffiti 3 Literasi Matematika 7 Speed Of Racing Car 3,3 Nama/ Nim : Hidayatun Nur Ilmi/ A2G823005 Jenjang/ Mata pelajaran yang diampu : PPG PRAJABATAN Gel.2 /BAHASA Unit/no.unit (reading) 3 Judul Soal : Graffiti No Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk soal ini! Persoalan yang dibahas pada soal ini adalah mengenai 2 opini orang mengenai grafiti yang ada di lingkungan sekitar yang cukup mengganggu dan merusak fasilitas publik. Adapun solusi yang bisa dihadirkan untuk mengatasi maraknya grafiti liar yang ada di lingkungan sekitar adalah dengan memberikan pengawasan yang cukup ketat pada lingkungan/fasilitas publik yang ada dengan menggunakan cctv ataupun petugas keamanan yang menjaga daerah/fasilitas tersebut, lalu menindak pelaku grafiti liar. Selain itu, perlu disadari juga bahwa para seniman grafiti liar mungkin kesulitan untuk mencari wadah yang bisa menampung kreativitasnya dalam berkarya, sehingga sebaiknya pemerintah setempat menyediakan wadah untuk seniman tersebut berkarya dan menghargai karya tersebut agar tidak melakukan grafiti liar pada fasilitas/ ruang publik lagi.
41 2. Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini. Langkah berpikir yang dilakukan dalam menemukan solusi pada permasalahan ini adalah sebagai berikut: 1. Memahami permasalahan dengan membaca literatur terkait (yaitu surat opini yang ditulis oleh kedua belah pihak). 2. Menelaah permasalahan dengan membandingkan opini yang telah diberikan 3. Memikirkan solusi yang sekiranya imbang dan tidak memihak satu pihak saja. 3. Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini! Dekomposisi Pada soal adalah mengelompokkan, mengumpulkan data, dan menganalis data lalu memilah bagian-bagian permasalahan mengapa grafitti merusak fasilitas masyarakat, dan juga bumi sehingga dapat di cari solusi dari permasalahan yang timbul. Pengenalan Pola Pengenalan pola dilakukan dengan memahami bagaimana pola pelaku grafiti liar dalam menjalankan aksinya, yaitu dengan melakukan aksi secara diam-diam dan dilakukan pada ruang publik yang kosong seperti dindingdinding yang memungkinkan untuk di grafiti. Abstraksi Abstraksi dilakukan dengan penghapusan grafiti yang ditemukan diruang-ruang publik, dan juga dengan penindakan pelaku grafiti agar ada efek jera bagi pelaku grafiti. Algoritma Di dalam soal adalah bagaimana masalah di selesaikan yaitu dengan memberikan wadah kepada para grafitti liar untuk menunjukkan kreativitasnya dan tentunya hal ini sesuai aturan dan tidak mengganggu masyarakat.
42 Nama/ Nim : Hidayatun Nur Ilmi/ A2G823005 Jenjang/ Mata pelajaran yang diampu : PPG PRAJABATAN Gel.2 /BAHASA Unit/no.unit (reading) 7 Judul Soal : Speed Racing of Car No Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk soal ini! a) Solusi pertanyaan 7.1:1 Dari persoalan ini, diketahui bahwa dari garis start, track lurus terpanjang adalah 1,5 km, sehingga jawabannya adalah opsi B. b) Solusi pertanyan 7,2 : 1 Dari persoalan ini, diketahui bahwa posisi kecepatan terendah pada putaran kedua adalah 1,3 km, sehingga jawaban yang tepat adalah opsi C. c) Solusi Pertanyaan 7,3:1 Dengan melihat kecepatan mobil yang berada pada jarak di antara 2,6 km sampai 2,8 km, maka dapat diketahui bahwa kecepatan mobil bertambah atau naik, sehingga jawaban yang tepat adalah opsi B. d) Solusi Pertanyaan7,4:1 Adapun jawaban yang sesuai pertanyaan adalah opsi B kornea gambar track mobil paling tepat sesuai dengan kecepatan yang terekam pada grafik adalah opsi B. 2. Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini. Langkah berpikir yang dilakukan dalam menemukan solusi pada permasalahan ini adalah sebagai berikut: 1. Membaca grafik dan memahami grafik secara keseluruhan. 2. Memahami persoalan yang ditanyakan pada soal. 3. Mengamati kembali grafik untuk menemukan jawaban yang dicari pada soal. 4. Memilih jawaban yang paling tepat dan sesuai. 3. Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini! a. Dekomposisi Dekomposisi di lakukan dengan membaca dan memhami grafik terlebih dahulu kemudian menganalisis grafik untuk melihat posisi kecepatan yang tinggi. b. Abstraksi Abstraksi dilakukan dengan
43 penghapusan menghilangkan hal-hal yang tidak diperlukan saat penyelesaian masalah, contohnya adalah ketika akan mencari posisi kecepatan terendah, maka tidak perlu melihat posisi kecepatan yang tinggi, begitupun sebaliknya. c. Pengenalan Pola Pengenalan pola yang dilakukan pada penyelesaian masalah ini adalah dengan mengetahui dan memahami pola lintasan yang ada pada soal. d. Algoritma Di dalam soal adalah bagaimana masalah di selesaikan yaitu dengan mengamati grafik, melihat mobil yang memiliki kelajuan naik pada jarak tertentu. Tabel 3.2 Penilaian Teman Kelompok Penilaian Chindi Pramudya Wardani Jesica Indah Fitri Melysa Sapriani Putri Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dapat dipahami? A B A Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? A A A Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? B B B Apakah 4 pondasi CT yang ditulis benar? A A A Apakah 4 fondasi CT yang dilakukan dengan lengkap? A A A Apakah contoh masalah sehari –hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? A A A
44 Tabel 3.3 Perbaikan Yang Perlu Dilakukan No Hal yang Perlu Diperhatikan Masukan dan Saran 1. Proses pengerjaan soal Computational Thinking a. Beberapa pembahasan soal masih sulit di pecah ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana. b. Beberapa soal terkadang tidak sesuai dengan level, ada level pengerjaan yang mudah tetapi di kategorikan ke level sulit dan sebaliknya. 2. Pada jenjang tingkat level rendah harus menggunakan contoh yang konkret dan lebih Gunakan berpikir komputasi dengan jelas dan urut karena computational thinking adalah mudah di pahami dari segi penggunaan bahasa dan tingkat kesulitan soal. Gunakan berpikir komputasi dengan jelas dan urut karena computational thinking adalah penyelesaian masalah secara terstruktur dan teratur dengan cara memecahkan masalah menjadi sub bagian yang lebih kecil, lalu di gunakan fondasi CT untuk penyelesaian masalah secara sistematis. Hasil Penilaian: Baik
45 CT_T3 ST 2_Ruang kolaborasi_Hida Kelompok : SMP Negeri 25 Kota Jambi Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau Saran Perbaikan Bagian jawaban Semua segmen respons telah diselesaikan dengan cermat, mencerminkan tingkat komitmen dan pemahaman yang mendalam terhadap materi yang dibahas. Sebagai penguat, mungkin diperkaya dengan referensi dari artikel atau jurnal. Oleh karena itu, dapat diakui bahwa penyelesaian seluruh bagian jawaban bukan sekadar kepatuhan formal, tetapi juga merupakan dasar yang penting untuk memahami secara menyeluruh suatu isu atau pertanyaan.
46 COMPUTATIONAL THINKING Koneksi Antar MateriTopik 3 Dosen Pengampu: Drs. Maryono, M.Pd. Disusun Oleh Melysa Sapriani Putri, S.Pd. (A2G823001) Hidayatun Nur Ilmi, S.Pd. (A2G823005) Chindi Pramudya W, S. Pd. (A2G823019) Jesica Indah Fitri, S. Pd. (A2G823021) PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) PRAJABATAN GELOMBANG II TAHUN 2023 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI
47 Nama Anggota 1 : Melysa Sapriani Putri NIM Anggota 1 : A2G823001 Nama Anggota 2 : Hidayatun Nur Ilmi NIM Anggota 2 : A2G823005 Nama Anggota 3 : Chindi Pramudya Wardani NIM Anggota 3 : A2G823019 Nama Anggota 4 : Jesica Indah Fitri NIM Anggota 4 : A2G823021 Perbedaan Soal Bebras dan PISA Persamaan Soal Bebras dan PISA A. Bebras 1. Soal-soal bebras sudah dikategorikan sesuai dengan usia atau jenjang pendidikan, baik itu fase A, B, C, D, maupun E. 2. Pengerjaan soal diselesaikan dalam kurun waktu yang singkat, kurang lebih 3 menit karena hanya memiliki satu pertanyaan inti saja. 3. Penyusunan soal bebras berlandaskan pada konsep CT dan informatika. Melalui soal bebras, kemampuan Computational Thinking maupun kemampuan berpikir informatika dapat terasah. B. PISA 1. PISA dibuat untuk peserta didik yang berusia 15 tahun ke atas. Pengerjaan soal PISA diselesaikan dalam kurun waktu yang relatif lebih lama karena memiliki lebih dari satu pertanyaan. 1. Kemampuan berpikir HOTS siswa dapat dilatih dengan cara berpikir CT yang sudah diintegrasikan ke dalam soal Bebras dan juga PISA. 2. Siswa terlatih untuk menghasilkan solusi yang efektif, efisien, dan optimal akan permasalahan yang dijumpai melalui pengerjaan soal Bebras dan PISA. 3. Siswa dibiasakan menggunakan skill dan habbit dalam melihat berbagai permasalahan dengan cara pola berpikir (reaksi otomatis) termasuk pelajaran lain di sekolah. 4. Pelaksanaan soal Bebras dan PISA cukup praktis dimana hanya memerlukan kertas dan pensil. Jika pengerjaan dilakukan secara online, maka software tidak lagi diperlukan.
48 Kesamaan dari langkah penyelesaian kedua jenis persoalan Dari kedua jenis persoalan, baik itu soal bebras maupun soal PISA, keduanya memerlukan cara berpikir komputasional dalam menyelesaikan persoalan. Adapun fondasi yang diterapkan dalampemecahan masalah tersebut adalah sebagai berikut. 1. Dekomposisi, dimana siswa harus membagi soal menjadi beberapa bagian persoalan. Artinya, siswa perlu menyederhanakan hal-hal yang sekiranya penting dalam memecahkan persoalan. 2. Pengenalan pola, dimana pada tahap ini siswa akan melakukan pengamatan atau analisis terhadap hal-hal yang telah ia bagi sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan menemukan gambaran yang didapatkan ketika ia memilih hal tersebut. 3. Abstraksi, dimana siswa akan melakukan pengeliminasian akan hal-hal yang sekiranya tidak penting atau tidak lagi dibutuhkan. Keputusan ini didapatkan setelah siswa melakukan pengamatan. Selain itu, abstraksi juga akan membantu siswa untuk mengambil sebuah keputusan yang paling tepat dalam memecahkan persoalan. 4. Algoritma, dimana siswa akan menyelesaikan persoalan setelah mendapatkan solusi akhiryang telah melewati tahap abstraksi.
49 Computational Thinking Hasil refleksi pada aksi nyata 1. Pengalaman menarik apa saja yang Anda dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan? Anda bisa menceritakan keberhasilan dan kegagalan yang Anda alami dalam mempelajari topik ini Jawaban: Banyak pengalaman yang menarik bagi saya setelah mempelajari CT dan langkahlangkah berpikir CT. Dalam menyelesaikan berbagai persoalan baik dalam literasi, numerasi, sains, dan finansial. Sebelumnya saya mengira bahwa CT hanya untuk menyelesaiakan masalah berkaitan matematika ternyata dalam menyelesaikan masalah literasi juga dapat menggunakan langkah-langkah berpikir CT. Saya menyadari bahwa berpikir sistematis bisa dilakukan untuk segala persoalan baik literasi, numerasi, sains bahkan juga dalam finansial. Baik permasalahan sederhana apalagi kompleks memerlukan pola pikir yang sistematis untuk mendapat solusi terbaik. Keberhasilan saya dalam mempelajari topik ini adalah saya pertama kalinya menyelesaikan soal bebras dan soal pisa. Saya mampu berkolaborasi dengan baik dalam mendiskusikan soal bebras dan soal pisa bersama kelompok terutama soal bebras terkait dadu kemudian soal pisa literasi dan numerasi. Selanjutnya dapat menerapkan CT dalam menyelesaikan soal-soal tersebut. Kegagalan saya dalam mempelajari topik ini yaitu pola pikir saya dalam menyelesaikan soal-soal belum secara utuh mengikuti langkah-langkah CT untuk itu saya akan terus belajar untuk menjadi pemikir yang sistematis dan kreatif. 2. Apakah terjadi perubahan cara berpikir yang Anda alami setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawaban: Saya merasakan ada perubahan cara berpikir setelah mempelajari topik CT dalam problem solving. Mempelajari topik ini dapat merubah cara berpikir dan memandang suatu masalah. Ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan saya menjadi lebih tenang karena pasti ada solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut. Begitu juga dihadapkan dengan soal-soal literasi, numerasi, sains, maupun finansial. Proses berpikir sistematis sangat membantu untuk menemukan solusi terbaik dan menentukan tindakan yang perlu diambil dalam menyelesaikan suatu masalah. 3. Apakah ada perbaikan yang dapat Anda lakukan terhadap cara mengajar Anda nantinya setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawaban: Tentunya akan ada perbaikan yang akan saya lakukan terkait cara mengajar di kelas. Jika menghadapi suatu persoalan atau tantangan terkait peserta didik yang mengalami kesulitan belajar matematika. Saya dapat menggunakan proses berpikir CT untuk menemukan solusi permasalahan tersebut. Selanjutnya dalam proses mengajar kegiatan-kegiatan yang dilakukan harus disusun sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kemudian saya juga ingin mengajarkan cara berpikir CT kepada peserta didik dalam menyelesaikan soal numerasi.