1
51 SEL.09.2-T4-2a. Eksplorasi Konsep Nama Hidayatun Nur Ilmi NIM A2G823005 Judul Proyek STEM yang Dipilih Pembuatan Ecoenzim Sumber Nurhidayanti, N., Nisawati, I., Maulana, D., Huda, M., & Ilyas, N. I. (2023). Sosialisasi dan Pendampingan Pembuatan Eco Enzim dari Limbah Organik bagi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Jayamukti. Lentera Pengabdian, 1(01), 86-96. Deskripsi Singkat tentang Proyek STEM yang Dipilih Proyek pembuatan ecoenzim tidak secara langsung melibatkan CT, karena ecoenzim lebih terkait dengan proses biokimia dan produksi secara biologis. CT biasanya berfokus pada kemampuan untuk memecahkan masalah menggunakan pemikiran algoritma dan konsep-konsep komputational. Pada proyek ini belum menggunakan fondasi algoritma dalam pembuatan ecoenzim, juga sistem berpikir komputational.
52 Question 1 Question 2 SEL.09.2-T4-3. Mulai Dari Diri Berdasarkan apa yang telah Anda pelajari melalui makalah “Infusing Computational Thinking in an Integrated STEM Curriculum: User Reactions and Lessons Learned” (Baek et al., 2021), jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini! Jika Anda memilih proyek STEM yang sudah pernah Anda lakukan, kendala apakah yang Anda hadapi dalam melaksanakan proyek STEM tersebut? Jika Anda memilih proyek STEM yang belum pernah Anda lakukan (mengambil proyek yang ada di media lain seperti buku dan internet), potensi kendala apa yang mungkin dihadapi jika proyek STEM tersebut dilaksanakan? Your answer: Saya mengambil proyek STEM yang pernah saya lakukan, yakni Proyek penerapan panel surya pada rumah di desa yang belum mendapatkan aliran listrik dari pemerintah. Mempelajari efisiensi panel surya, desain, dan implementasi sistem energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga. Kendala yang pernah dihadapi dalam proyek STEM ini adalah ketika pagi sampai sore hari cuaca mendung atau hujan maka sulit untuk mengisi daya panel surya atau hanya terisi sedikit. Itu akan mengakibatkan pada lampu yang hanya dapat menyala beberapa jam saja, sisanya rumah akan gelap. kendala lain, bila panel surya yang dimiliki kecil lalu digunakan untuk beberapa keperluan seperti lampu dan televisi maka akan cepat habis dayanya. Tuliskan usulan Anda untuk mengatasi kendala-kendala yang telah Anda sebutkan di atas! Your answer: Dari kendala yang saya sebutkan di atas, maka cara mengatasinya adalah pandai dalam memanfaatkan waktu. Bila siang hari mendung jadi iritlah dalam menggunakan daya agar tidak cepat kehabisan.
53 SEL.09.2-T4-4.Ruang Kolaborasi Proyek STEM sebelum diintegrasikan dengan CT Anggota Kelompok Melysa Sapriani Putri, S. Pd. ( A2G823001)Hidayatun Nur Ilmi, S. Pd. (A2G823005) Chindi Pramudya Wardani, S. Pd. (A2G823019) Jesica Indah Fitri, S. Pd. (A2G823021) Judul proyek STEM yang dipilih Filtrasi air (penjernihan air) Sumber Internet: https://bisakimia.com/2013/02/05/pemisahan- campuranfiltrasi/ Saidah, A. & Purba, M. 2013. Kimia Bidang Teknologi dan Rekayasa untuk SMK/MAK Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.Sumber bacaan lainnya
54 Deskripsisingkat tentang STEMyang dipilih Filtrasi adalah suatu cara pemisahan yang biasa dilakukan untuk memisahkan suatu pelarut terhadap pengotornya yang berupa padatan atau memisahkan suatu padatan kristal terhadap pelarutnya. Penjernihan Air diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengatasi kurangnya air bersih akibat kekeringan yang terjadi karena kemarau Panjang atau air kotor yang diambil dari sumber air (sungai, waduk, kolam) yang ada, dijernihkan secara kimia dan secara fisika dengan menggunakan alat penjernih air yang dihasilkan melalui pembelajaran STEM. Contoh rancangan alat filtrasi air:
55 Proyek STEM setelah diintegrasikan dengan CT Anggota Kelompok Melysa Sapriani Putri, S. Pd. ( A2G823001) Hidayatun Nur Ilmi, S. Pd. (A2G823005) Chindi Pramudya Wardani, S. Pd. (A2G823019) Jesica Indah Fitri, S. Pd. (A2G823021) Nama Proyek Filtrasi air (penjernihan air) Deskripsi Singkat Proyek Filtrasi adalah suatu cara pemisahan yang biasa dilakukan untuk memisahkan suatu pelarut terhadap pengotornya yang berupa padatan atau memisahkan suatu padatan kristal terhadap pelarutnya. Penjernihan Air diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengatasi kurangnya air bersih akibat kekeringan yang terjadi karena kemarau Panjang atau air kotor yang diambil dari sumber air (sungai, waduk, kolam) yang ada, dijernihkan secara kimia dan secara fisika dengan menggunakan alat penjernih air yang dihasilkan melalui pembelajaran STEM. Contoh rancangan alat filtrasi air:
56 Outline Proyek Pertemuan 1: Mengamati dan mengidentifikasi masalah air yang kotor/keruh yang ada dilingkungan sekitar tempat tinggal berpikir tentang cara melakukan penjernihan air yang kotor/keruh secara efektif dan efisien dengan menggunakan teknik pemisahan campuran. Pertemuan 2: Mempersiapkan alat dan bahan sesuai dengan design yang dibuat Merancang alat filtrasi air Melakukan percobaan penjernihan air, sesuai dengan prosedur yang telah dirancang sebelumnya Menguji kondisi akhir sampel air yang akan diuji, baik secara fisika (warna) maupun Ph Tujuan Pembelajaran Diharapkan dapat mendeskripsikan cara-cara dan prinsip pemisahan campuran dengan benar. Melalui unjuk kerja dapat merangkai alatpenjernih air sederhana sesuai prosedur.
57 Driving Question Bagaimana cara melakukan pemisahan kotoran atau endapan terhadap air yang kotor/ keruh? Produk Akhir Filtrasi air/ saringan penjernihan air Hands-on Activities Perancangan alat filtrasi air dan pengujian filtrasi air terhadap air keruh/ kotor Asesmen Tingkat kejernihan air yang dihasilkan Resources yang Dibutuhkan Alat dan Bahan: - Botol air mineral ukuran 1,5 L - Gelas air mineral ukuran 200 mL - Pisau atau cutter - Sabut kelapa / ijuk - Arang - Bata - Kerikil Sedang/ Kerikil kecil - Campuran air dan pasir - Air sungai / Air keruh - (disesuaikan dengan rancangan) Integrasi CT dalam proyek STEM (Baek et al., 2021) Abstraksi: Mengeliminasi bahan-bahan yang tidak efektif untuk digunakan, seperti kapas dan kain (tidak tahan lama dan mudah rembes) Algoritma: menyiapkan alat dan bahan, lalu menyusun langkah langkah pembuatan filtrasi air. Langkah kerja: 1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Merangkai alat penjernihan airsesuai rancangan yang dibuat. 3. Menuangkan secara perlahan lahan air yang akan
58 dijernihkan kedalam alat penjernihan. 4. Mengulangi langkah diatasterus menerus sampai air yang tertampung menjadi lebih jernih 5. Mengamati tingkat kejernihan hasil air yang dihasilkan melalui alat filtrasi Komunikasi: berdiskusi dengan anggota kelompok dalam merancang proyek filtrasi air dan melakukan presentasi hasil proyek menggunakan berbagai tool. Conditional Logic: penggunaan logika dalam bentuk IF- ELSE untuk mengidentifikasi bahan dan alat yang sesuai untuk menjadi uji coba dalam filtrasi air. Misalnya jika air yang kadar keruhnya sangat keruh, maka alat dan bahan filtrasinya harus di sesuaikan. Pengumpulan Data: mengumpulkan jenis jenis air sebagai hasil uji coba dari alat dan bahan filtrasi air Struktur Data, Analisis dan Representasi Data: menggunakan data hasil uji coba untuk menyimpulkan kefeektifan dari bahan-bahan yang di gunakan dalam filtrasi air Dekomposisi: Mencari alat dan bahan yang bisa digunakan untuk menjernihkan air, yakni kapas. Kain, arang, batu kerikil, dan pasir. Pengenalan Pola: Menganalisis tiap bahan dan cara kerjanya dalam menjernihkan air. a. Kapas Kapas dapat menjernihkan air namun mudah terurai b. Kain
59 Kain dapat menyaring tapi hanya partikel besar. Selain itu, gampang robek c. Arang Sebagai penyerap partikel yang halus, penyerap bau, dan warna yang terdapat di air. d. Batu Kerikil Sebagai bahan penyaring dan membantu aerasi oksigen e. Pasir Pasir digunakan untuk menahan endapan lumpur. Pemodelan dan Simulasi: melaksanakan simulasi uji coba filtrasi air untuk melihat keefektifan bahan yang di gunakan dalam filtrasi air. 3) Perbedaan Proyek STEM sebelum dan sesudah Diintegrasikan dengan CT Sebelum di intergrasikan Sesudah di intergrasikan Tidak memperhatikan 4 pondasi CT Memperhatikan 4 fondasi CT Takaran penggunaan bahan-bahan yang masih kurang sesuai Setelah mempertimbangkan takaran bahan yang di gunakan maka hasil yang di dapatkan air lebih jernih Air di biarkan mengendap dalam waktu yang lama tanpa adanya bantun alat dan bahan tertentu yang di gunakan Adanya penggunaan alat dan bahan seperti Sabut kelapa / ijuk, Arang, Bata, Kerikil Sedang/ Kerikil kecil, Campuran air dan pasir dan Air sungai / Air keruh.
60 SEL.09.2-T4-5. Demonstrasi Kontekstual dan Elaborasi Pemahaman Nomor Kelompok SMP Negeri 17 Kota Jambi Anggota kelompok 1. Melysa Sapriani Putri (A2G823001) 2. Hidayatun Nur Ilmi (A2G823005) 3. Chindi Pramudya Wardani (A2G823019) 4. Jesica Indah Fitri (A2G82302) Nama Proyek Filtrasi Air Catatan catatan yang Perlu Dilakukan Berdasarkan Masukan Dari Dosen dan Kelompok Lain Catatan dari Kelompok SMA Negeri 1 Kota Jambi: 1. Analisis STEM terhadap proyek filtrasi air. SAINS Faktual: terdapat beberapa daerah daerah diluar yang kekurangan air bersih. Konseptual: konsep pemisahan campuran digunakan dalam penjernihan air dan penyediaan air layak konsumsi. Penjernihan secara kimia dapat mengggunakan tawas, pasir zeolite dan kaporit TEKNOLOGI Pemanfaatan alat dan bahan sederhana seperti kerikil, ijuk, botol bekas, bata dll ENGINERING Merancang alat penjernihan air Evaluasi rancangan alat yang
61 telahdiuji coba Penyempurnaan alat penjernih air yang telah diuji coba
62 SEL.09.2-T4-7.Aksi Nyata 1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam proyek STEM? Jawaban: Pengalaman saya dalam mengintegrasikan Computational Thinking (CT) ke dalam proyek STEM telah membuka wawasan baru tentang bagaimana menerapkan fondasi-fondasi CT, seperti dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma, untuk membuat proyek STEM menjadi lebih efektif, efisien, dan menghasilkan hasil yang lebih optimis. Dengan menggunakan pendekatan ini, saya dapat memecah proyek menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, mengidentifikasi pola-pola yang muncul, menyederhanakan kompleksitas, dan merancang langkah-langkah atau prosedur yang sistematis, sehingga meningkatkan kemampuan saya dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek STEM secara holistik dan inovatif. 2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini? Jawaban: Saya senang mengerjakan modul ini, karena saya jadi dapat lebih memahami manfaat dari penerapan Computational Thinking (CT) dalam kehidupan sehari-hari dan penelitian. Dengan menggunakan pendekatan berpikir komputasional, saya dapat melihat bagaimana teknik pemrosesan data dan analisis algoritma yang digunakan dalam CT dapat diterapkan dalam berbagai konteks, mulai dari pengembangan teknologi medis hingga analisis data dalam riset ilmiah. Hal ini membuka cakrawala baru dalam cara saya memahami dan mengaplikasikan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana komputasi memainkan peran penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Jelaskan bagaimana rencana Anda dalam mengintegrasikan CT di dalam proyek STEM di kelas yang Anda ajar kelak. Jawaban: Rencana saya adalah memasukkan Computational Thinking (CT) ke dalam proyek STEM di kelas yang akan saya ajarkan di masa mendatang. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Saya akan menekankan pentingnya berpikir secara komputasional dan terstruktur melalui penerapan CT dalam tugas-tugas kelas
63 mereka. Proyek yang akan dilakukan bisa berskala kecil atau besar, namun yang terpenting adalah mengambil pendekatan yang terukur untuk memastikan langkahlangkah dijalankan secara efektif dan efisien. Demikian, saya berharap dapat mengarahkan mereka menuju hasil yang maksimal, sambil memperkuat pemahaman mereka tentang CT dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis serta kemampuan pemecahan masalah mereka.
64 Computational Thinking (CT) Topik 5 – Eksplorasi Konsep “Integrasi CT dalam Mata Pelajaran”
65 Nama : Hidayatun Nur Ilmi NIM : (A2G823005) Soal : 1. Intisari apa saja yang Anda dapatkan saat mempelajari makalah “Bringing computational thinking to K-12: what is Involved and what is the role of the computer science education community” (Barr & Stephenson, 2011)? Jawaban : Makalah "Bringing computational thinking to K-12: what is Involved and what is the role of the computer science education community" (Barr & Stephenson, 2011) menguraikan esensi dari konsep berpikir komputasional, menegaskan peran penting pendidikan ilmu komputer dalam membawanya ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah (K-12), dan menyoroti implikasi serta tantangan yang terkait. Konsep berpikir komputasional dianggap sebagai keterampilan kunci yang dapat diterapkan di berbagai konteks, termasuk pemecahan masalah, pemodelan data, dan abstraksi. Pendidikan ilmu komputer memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan kurikulum yang memasukkan konsep berpikir komputasional, memberikan pelatihan yang sesuai bagi para guru, dan menggunakan alat serta materi yang mendukung pembelajaran. Meskipun terdapat tantangan seperti kurangnya pemahaman dan sumber daya yang terbatas, makalah menekankan peluang untuk memperluas akses peserta iddik terhadap konsep berpikir komputasional dan meningkatkan relevansi pendidikan mereka di era digital. 2. Tuliskan juga kaitan makalah tersebut dengan mata pelajaran yang Anda ampu! Masing-masing kelompok hanya perlu mengisi satu lembar kerja reflektif. Jawaban : Meskipun makalah "Bringing computational thinking to K-12: what is Involved and what is the role of the computer science education community" (Barr & Stephenson, 2011) lebih berfokus pada pengembangan kurikulum ilmu komputer untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah, ada relevansi yang dapat dijelaskan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Salah satunya adalah dalam mengembangkan keterampilan peserta iddik dalam berpikir kritis dan analitis dengan memasukkan konsep berpikir komputasional ke dalam kurikulum. Mata pelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam menyediakan kesempatan untuk
66 diskusi, analisis, dan refleksi terhadap konsep tersebut melalui pembacaan teks sastra, tulisan, dan presentasi. Di era di mana teknologi informasi semakin berkembang pesat, kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif menjadi keterampilan kunci yang dapat ditingkatkan melalui penerapan konsep berpikir komputasional dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, integrasi konsep tersebut ke dalam kurikulum dapat memberikan manfaat tambahan bagi pemahaman peserta iddik tentang keterampilan berpikir kritis, pemodelan data, dan abstraksi dalam konteks bahasa dan sastra.
67 Computational Thinking (CT) Topik 5 – Eksplorasi Konsep “Integrasi CT dalam Mata Pelajaran” Nama : Hidayatun Nur Ilmi NIM : (A2G823005) Fondasi CT Implementasi pada materi ajar yang sudah pernah dibuat Algoritma Peserta didik melaksanakan semua rancangan terkait proyek mengidentifikasi unsur-unsur yang ada dalam sebuah karya fiksi. Dekomposi si Peserta didik menganalisis hal-hal yang dibutuhkan dalam mengidentifikasi unsur-unsur yang ada dalam sebuah karya fiksi. Pengenalan pola Peserta didik dibimbing guru untuk mencari tahu cara mengidentifikasi unsur-unsur yang ada dalam sebuah karya fiksi. Melalui sumber bacaan yang mereka baca seperti LKS, buku paket, dan sumber tambahan lainnya dari guru. Abstraksi Peserta didik dibantu oleh guru untuk menentukan langkah-langkah praktis dalam mengidentifikasi unsur-unsur yang ada dalam sebuah karya fiksi agar waktu lebih efektif, efisien, dan optimal. Anda boleh menambahkan keterampilan lain yang terdapat pada materi ajar tersebut (contoh: mengacu ke Tabel 6.1 atau sesuai kepentingan persoalan Anda).
68 SEL.09.2-T5-4. Ruang Kolaborasi NIM/nama anggota 1: NIM/nama anggota 2: NIM/nama anggota 3: NIM/nama anggota 4: Melysa Sapriani Putri (A2G823001) Hidayatun Nur Ilmi (A2G823005) Chindi Pramudya Wardani(A2G823019) Jesica Indah Fitri (A2G823021) Mata pelajaran: Bahasa Indonesia Materi ajar: Mengulas Karya Fiksi Tujuan pembelajaran: Peserta didik dapat mengidentifikasi unsur-unsur instrinsik karya fiksi Deskripsi penyampaian materisebelum integrasi CT Sebelum diintegrasikan ke dalam pendekatan Computational Thinking (CT), penyampaian materi ajar tentang karya fiksi masih dilakukan secara konvensional dengan cara biasa, yaitu dengan meminta peserta didik untuk membaca materi tentang apa itu karya fiksi dan unsurunsurnya langsung dari buku teks. Pendekatan ini tidak melibatkan penggunaan media pembelajaran apapun dan hanya berfokus pada metode ceramah yang disampaikan oleh guru. Dampak dari pendekatan ini menjadikan keterampilan peserta didik cenderung menjadi rendah, karena penyampaian materi yang tidak sistematis membuat mereka sulit memahami penjelasan guru dengan baik.
69 Deskripsi penyampaian materisetelah integrasi CT Setelah diintegrasikan ke dalam Computational Thinking (CT), pembelajaran dimulai dengan menggunakan media yang menarik dan mampu menginspirasi peserta didik, serta meningkatkan motivasi mereka untuk belajar. Selanjutnya, guru mengajukan serangkaian pertanyaan yang merangsang pemikiran mengenai materi karya fiksi yang telah dipelajari sebelumnya, bertujuan agar peserta didik dapat mengingat kembali pembelajaran sebelumnya dan siap mengikuti pembelajaran yang akan datang. Peserta didik kemudian diperkenalkan kembali dengan materi karya fiksi dari yang bersifat umum ke khusus, disertai dengan contoh-contohnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memahami dengan lebih mudah. Dalam konteks ini, materi yang dipelajari adalah unsur-unsur intrinsik dalam karya fiksi (cerpen), seperti tema, alur, latar, amanat, tokoh, dan penokohan. Setelah itu, guru mengarahkan peserta didik untuk menemukan hal-hal yang berkaitan dengan materi tersebut sesuai dengan minat masing-masing peserta didik. Peserta didik dan guru bekerja sama dalam mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik dalam karya fiksi (cerpen), dengan tujuan untuk memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep-konsep tersebut. Dalam pelaksanaannya, peserta didik juga dilatih untuk berpikir secara sistematis dengan memberikan tugas yang menerapkan pondasi yang ada dalam computational thinking, sehingga memperkuat keterampilan berpikir kritis mereka.
70 Penjelasan konsep CT yang diintegrasikan pada materi ajar Dekomposisi: Dekomposisi merupakan tahap awal dalam proses memecahkan masalah, masalah-masalah yang kompleks dijadikan bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Pada tahap ini, materi yang disampaikan menggunakan berbagai referensi, seperti buku ajar, video, dan antologi cerita pendek tentang cerita pendek dari daerah Jambi. Materi disajikan menggunakan power point bagi peserta didik dengan gaya belajar visual, sementara bagi peserta didik dengan gaya belajar auditori, materi disampaikan dalam bentuk tulisan. Selanjutnya, peserta didik bersama guru menganalisis atau menguraikan permasalahan terkait unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen, khususnya dalam cerpen “Rintik Hujan di Sungai Batanghari," yang mencakup unsur intrinsik seperti tema, alur, latar, amanat, tokoh, dan penokohan. Peserta didik juga diminta untuk mencari unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerita pendek dan mengisi teka-teki silang mengenai unsur intrinsik di lembar kerja. Setelah pemaparan, peserta didik diminta untuk membagi informasi tersebut menjadi komponenkomponen yang terpisah.
71 Pengenalan Pola: Pengenalan pola dalam hal ini melibatkan proses di mana peserta didik, dengan bimbingan dari guru, diarahkan untuk menemukan kalimat-kalimat yang menunjukkan unsur-unsur intrinsik di dalam cerpen. Peserta didik akan mencari informasi sesuai dengan pengetahuan dan pembelajaran yang telah mereka pelajari sebelumnya. Pada tahap ini, peserta didik bersama guru melakukan pengenalan terhadap unsurunsur yang ada di dalam cerpen "Rintik Hujan di Sungai Batanghari," termasuk pengenalan tema, karakter tokoh, setting/latar, alur, dan konflik yang terdapat dalam cerita. Abstraksi: Pada tahap abstraksi, terjadi proses penyederhanaan di mana informasi yang kompleks dipisahkan atau dieliminasi sehingga menjadi bentuk yang lebih ringkas dan mudah dipahami tanpa menghilangkan makna atau pentingnya. Peserta didik dilengkapi dengan kemampuan untuk merumuskan inti dari informasi yang mereka peroleh dari cerpen "Rintik Hujan di Sungai Batanghari". Dalam proses ini, peran guru sangat penting karena dapat membantu peserta didik dengan memberikan petunjuk atau kisi-kisi kalimat yang menunjukkan unsur-unsur intrinsik di dalam cerita pendek tersebut. Peserta didik akan lebih mudah menjalankan tugas mereka dengan baik dan menyelesaikannya tepat waktu, yang pada akhirnya akan mengoptimalkan hasil pembelajaran mereka. Algoritma: Peserta didik melaksanakan semua langkah-langkah dalam mencari unsur-unsur intrik dalam cerpen “Rintik Hujan di
72 Sungai Batanghari” dan mengisi teka-teki silang di lembar kerja yang diberikan guru. Langkah pertama, peserta didik memahami instruksi yang ada di Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), kemudian memperhatikan unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerita pendek tersebut, mencari informasi dengan membaca cerita pendek dengan teliti, dan mencatat kisi-kisi yang sudah dituliskan sebelumnya. Setelah itu, peserta didik mencari jawaban yang tepat sesuai dengan kisikisi yang telah disediakan. Dengan demikian, hasil akhir dari penyelesaian LKPD peserta didik adalah mereka dapat menemukan dan mencatat semua unsur-unsur yang terkandung di dalam cerita pendek “Rintik Hujan di Sungai Batanghari”, serta menjawab teka-teki silang unsur-unsur intrinsik cerita pendek tersebut. Jawaban yang benar kemudian dapat disimpulkan bersama-sama dengan guru pada akhir pembelajaran.
73 Tuliskan perbedaan yang terdapat pada materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT dan materi ajar yang telah diintegrasikan dengan CT! Perbedaan antara materi Materi ajar “Mengidentifikasi Unsur-Unsur Karya Fiksi” yang belum diintegrasikan dengan Computational Thingking (CT) terdapat pada materi unsur- unsur intrinsik cerpen tanpa integrasi CT cenderung menekankan pada pemahaman konvensional, dengan fokus pada pemahaman terpisah terhadap tema, alur, latar, amanat, tokoh, dan penokohan, sedangankan dengan materi ajar yang telah diintegrasikan CT, materi lebih cenderung diintegrasikan dalam konteks yang lebih tertata, di mana peserta didik tidak hanya memahami unsur-unsur intrinsik secara terpisah, tetapi juga melihatnya dalam hubungan yang lebih luas dan kompleks. Selain itu, materi ajar yang belum terintegrasi CT penggunaan media pembelajaran masih tradisional, pendekatan pembelajaran lebih mengandalkan media pembelajaran tradisional seperti buku teks dan ceramah, tanpa memanfaatkan secara optimal teknologi atau alat bantu pembelajaran interaktif. Jika telah diintegrasikan CT mencakup penggunaan berbagai teknologi atau alat bantu pembelajaran interaktif, seperti menggunkan media laptop/proyektor dll. Dengan bantuan teknologi ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengakses dan menganalisis data dengan cara yang lebih interaktif, memungkinkan mereka untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dan yang lebih penting lagi, materi ajar yang belum diintegrasikan CT membuat peserta didik kurang dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan menganalisis dalam memecahkan masalah, sedangkan materi ajar ajar yang diitegrasikan CT akan membuat peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir komputasional, seperti pemecahan masalah, analisis data, yang secara langsung mendukung pemahaman yang lebih baik t terhadap unsur-unsur intrinsik cerpen.
74 SEL.09.2-T5-5. Demontrasi Kontekstual NIM / Nama anggota Kelompok yang presentasi: Dewi Citra Ardhana (A2G823026) Sinta Yulianti (A2G823010) Tasyah Amil Putri (A2G823011) Qomsiatun (A2G823025) Zulfatul Maula (A2G823004) NIM / Nama anggota Kelompok yang memberikan evaluasi: Melysa Sapriani Putri (A2G823001) Hidayatun Nur Ilmi (A2G823005) Chindi Pramudya Wardani (A2G823019) Jesica Indah Fitri (A2G823021) Mata pelajaran: Bahasa Indonesia Materi ajar: Memaknai Teks Laporan Dari pemaparan yang disampaikan oleh kelompok, ide baru yang kami peroleh sebagai kelompok pembahas adalah memaknai teks laporan dengan tujuan pembelajaran untuk menelaah informasi yang diperoleh dari teks Eksplanasi, terutama mengenai tradisi Lubuk Sejarah, dengan Ide baru yang didapatkan menggunakan konsep CT. CT di sini memiliki peran yang terkait integrasi CT di sangat penting dalam membantu peserta didik untuk dalam mata pelajaran: menganalisis informasi serta memperoleh pemahaman yang mendalam tentang tradisi Lubuk Sejarah. dalam menyiapkan media pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dengan pendekatan berpikir komputasi, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif dan menyenangkan.
75 Evaluasi/saran untuk kelompok yang sedang presentasi: Dari hasil analisis persentase, kelompok telah menyoroti cara yang lebih sederhana bagi peserta didik dalam menelaah informasi yang diperoleh dari teks Eksplanasi, khususnya terkait dengan tradisi Lubuk Sejarah. Dalam konteks ini, kami sebagai kelompok memberikan saran bahwa penjelasan mengenai konsep sebelum dan sesudah penggunaan CT perlu disajikan dengan cara yang lebih terperinci dan ringkas. Hal ini dimaksudkan agar penjelasan tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca tanpa kehilangan hal- hal penting dari materi yang disampaikan.
76 CT NIM/nama anggota 1: NIM/nama anggota 2: NIM/nama anggota 3: NIM/nama anggota 4: SEL.09.2-T5-7. Koneksi Antar Materi Melysa Sapriani Putri, S. Pd. (A2G823001) Hidayatun Nur Ilmi, S, Pd. (A2G823005) Chindi Pramudya Wardani, S. Pd. (A2G823019) Jesica Indah Fitri, S. Pd. (A2G823021) Kesimpulan mengenai integrasi CT ke dalam mata pelajaran: Integrasi Computational Thinking (CT) ke dalam berbagai mata pelajaran telah terbukti memberikan manfaat yang signifikan bagi peserta didik. Kesimpulan dari upaya ini adalah bahwa integrasi CT dalam proses pembelajaran tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan penyelesaian masalah siswa, tetapi juga mendorongpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, integrasi CT mampu membentuk fondasi yang kuat dalam memperkenalkan konsep pola dan algoritma kepada siswa. Melalui pendekatan pembelajaran yangbervariasi seperti problem based learning, project based learning, inquiry, hands-on activity, dan problem solving, guru dapat mengintegrasikan CT secara efektif ke dalam kurikulum. Dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar tentang konsep-konsep CT, tetapi juga diberi kesempatan untuk menerapkannya dalam konteks nyata. Dengan demikian, integrasiCT bukan hanya sekadar tambahan dalam pembelajaran, tetapi menjadi bagian integral dari pengalaman belajar yang holistik dan berkelanjutan.
77 Strategi untuk mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran: Strategi untuk mengintegrasikan Computational Thinking (CT) ke dalammata pelajaran adalah sebagai berikut: 1. Memahami konsep CT: Guru perlu memahami bahwa CT adalah sebuah proses berpikir yang melibatkan keterampilan analisis masalah, penguraian masalah, dan pembuatan algoritma.
78 Computational Thinking (CT) Topik 5 – Aksi Nyata “Integrasi CT dalam Mata Pelajaran” Nama : Hidayatun Nur Ilmi NIM : (A2G823005) Soal : 1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam mata pelajaran yang Anda ampu? Apakah ada kendala yang Anda hadapi? Jawaban : Dalam mengintegrasikan keterampilan CT ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya dapat memperoleh pengalaman berharga dalam mengembangkan pemahaman peserta didik terhadap teks sastra, meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berargumentasi secara logis, memperbaiki kemampuan menulis, serta memperluas pemahaman peserta didik tentang budaya dan masyarakat. Namun, terdapat beberapa kendala yang mungkin dihadapi, termasuk keterbatasan waktu dalam kurikulum yang menghambat kedalaman pembelajaran, keterbatasan sumber daya yang dapat menghalangi akses terhadap materi dan pelatihan yang diperlukan, tantangan dalam mengevaluasi keterampilan berpikir kritis, dan ketidakpastian dalam menentukan pendekatan yang paling efektif dalam mengintegrasikan keterampilan tersebut ke dalam pembelajaran. 2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini? Jawaban : Perasaan saya setelah mengerjakan modul ini saya berkeyakinan bahwa saya mampu mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran yang akan saya ajarkan yakni Bahasa Indonesia. Saya akan berlatih mengintegrasikan CT selama saya PPL di sekolah. Saya juga merasakan modul ini menjadikan saya sering berpikir kritis dan kreatif tentang rancanagn pembelajaran yang relevan untuk peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.
79 SEL.09.2-T5-8a. Aksi Nyata - Unggah Tugas Anda telah melakukan serangkaian aktivitas dan mendapat feedback dari rekan mahasiswa dan dosen. Selanjutnya, sebagai tugas aksi nyata Anda, tuangkan rancangan materi ajar yang telah Anda integrasikan dengan CT dalam bentuk RPP! MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KARYA FIKSI Nama penyusun : Sastri, M.Pd. Satuan pendidikan : SMP Negeri 17 Kota Jambi Tahun : 2024 Kelas : VIII Alokasi Waktu : 3 JP Capaian Pembelajaran Membaca dan Memirsa Peserta didik memahami informasi berupa gagasan, pikiran, pandangan, arahan, atau pesan dari berbagai jenis teks. Misalnya teks deskripsi, narasi, puisi, eksplanasi, dan eksposisi dari teks visual dan audiovisual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat. Peserta didik menginterpretasikan informasi untuk mengungkapkan simpati, kepedulian, empati, atau pendapat pro dan kontra dari teks visual dan audiovisual. Peserta didik menggunakan sumber informasi lain untuk menilai akurasi dan kualitas data serta membandingkan informasi pada teks. Peserta didik mampu mengeksplorasi dan mengevaluasi berbagai topik aktual yang dibaca dan dipirsa. Kompetensi Awal Mengidentifikasi unsur-unsur dalam sebuah karya fiksi dan dapat menguraikannya satu demi satu. Profil Pancasila Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia karena memulai dan mengakhiri pelajaran dengan doa; Berkebinekaan Global karena dalam diskusi munculnya interaksi antar siswa dengan latar 2 belakang,
80 budaya, dan identitas yang berbeda; Bergotong royong karena siswa diharuskan menyelesaikan tugas yang diberikan secara berkelompok; Bernalar kritis karena siswa dituntut bisa membangun kerkaitan berbagai informasi yang didapatnya; dan Mandiri karena siswa diminta membaca secara mandiri terkait topik pembelajaran. Target peserta didik Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar. Model pembelajaran Pembelajaran tatap muka/Discovery Learning dengan penerapan strategi Jigsaw Reading Sarana dan Prasarana Spidol, karton dan lem Sumber Belajar Buku paket, Cerpen, LKPD Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat menentukan unsur-unsur karya fiksi dan menguraikannya dengan baik Pemahaman Bermakna Mengidentifikasi unsur-unsur dalam sebuah karya fiksi dan dapat menguraikannya satu demi satu. Pertanyaan Pemantik Siapa tokoh dalam cerita yang kalian baca tersebut? Di mana lokasi kejadiannya? Kapan kejadian tersebut terjadi? Bagaimana jalan ceritanya? Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan 1. Peserta didik merespon salam dan memulai pembelajaran dengan berdoa; 2. Guru melakukan presensi dan menanyakan suasana hati siswa; 3. Menanyakan pertanyaan pemantik kepada siswa; 4. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, capaian, dan manfaatnya kepada siswa; 5. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Kegiatan Inti Sintaks/Langkah Kegiatan Pemberian Rangsangan 1. Guru memberikan materi pembelajaran kepada setiap kelompok; 2. Siswa membaca materi tersebut secara berkelompok dan
81 menjawab pertanyaan yang terdapat pada materi; Identifikasi masalah 1. Guru memantau setiap kelompok dan memberikan stimulus agar pemikiran kritis siswa terbangun; 2. Siswa memberikan tanggapan tentang materi yang sudah disampaikan dan peserta didik memahami tugas setiap anggota kelompok. Pengumpulan Data 1. Guru memberikan print out Cerpen “Dari Musuh Jadi Sahabat” 2. Masing-masing kelompok diberikan tugas menganalisis 2 unsur intrinsik yang berbeda-beda (Tema, Alur, Latar, Amanat, Tokoh dan Penokohan, Sudut Pandang). Pengolahan Data 1. Masing-masing kelompok menuliskan dan menempel hasil kerjanya di karton kelompok. 2. Peserta didik dibagi beberapa tugas, ada yang berkunjung dan mencari informasi unsur intrinsik yang lain ke kelompok lain dan ada yang memaparkan hasil temuannya. 3. Hasil temuan informasi dari kelompok lain dituliskan di karton kelompok Pembuktian Peserta didik diberikan kesempatan memaparkan hasil diskusi dan temuan informasi di depan kelas, kelompok lainnya menanggapi. Kegiatan Penutup 1. Guru meminta peserta didik menyimpulkan hasil pembelajarannya; 2. Guru menambahkan simpulan yang dijelaskan peserta didik 3. Guru melakukan refleksi bersama siswa 4. Pembelajaran ditutup dengan berdoa
82 POST-REKONSTRUKSI PORTOFOLIO No Pertanyaan Reflektif Jawaban 1. Fondasi CT apa sajakah yang Anda gunakan dalam restrukturisasi portofolio Anda? Jelaskan pada bagian mana saja fondasi CT tersebut dimanfaatkan! Ada 4 fondasi CT yang saya gunakan dalam rekonstruksi portofolio ini. Dekomposisi membantu saya membagi portofolio ke dalam berbagai aset untuk analisis yang lebih mudah. Pengenalan pola digunakan untuk mengidentifikasi tugas apa saja yang bisa dimasukan ke dalam portofolio. Abstraksi memungkinkan saya untuk fokus pada detail penting dan mengabaikan yang tidak relevan, membuat proses pengambilan keputusan lebih efisien. Terakhir, algoritma digunakan untuk merancang strategi yang sistematis dalam mengedit dan menyatujan beberapa file. Secara keseluruhan, keempat fondasi ini sangat penting dalam membuat rekonstruksi portofolio. 2. Secara struktur, apakah portofolio Anda sudah terdekomposisi dengan baik? Ya, portofolio saya sudah terdekomposisi dengan baik. Selanjutnya, saya dapat mengidentifikasi pola dalam kinerja aset, menyaring informasi yang penting dengan abstraksi, dan merancang algoritma untuk mengambil keputusan investasi secara sistematis. 3. Apakah setiap bagian dari portofolio Anda telah terabstraksi dengan baik? Ya, portofolio saya telah terabstraksi dengan baik. Abstraksi dilakukan untuk menyederhanakan materi atau tugas apa saja yang bisa di masukkan ke dalam portofolio ini.
83 No Pertanyaan Reflektif Jawaban 4. Apakah secara keseluruhan portofolio Anda telah terabtrasksi dengan baik? Ya, secara keseluruhan portofolio saya sudah terabstraksi dengan baik. 5. Apakah kalimat, gambar atau sajian lainnya diuraikan secara runut, jelas, sistematis dalam bahasa yang mudah dipahami pembacanya? Ya, sudah saya uraikan secara runtut, jelas, sistematis dan juga dalam bahasa mudah dipahami oleh pembaca. 6. Apakah Anda merasa puas dengan portofolio Anda? Jelaskan alasan dari jawaban Anda! Ya, saya merasa puas dengan portofolio saya karena portofolio saya lengkap dari topik satu sampai topik lima. Isinya juga sudah dijelaskan dengan baik. 7 Hal baru apa saja yang Anda peroleh dari penyusunan portofolio ini? Penyusunan portofolio ini memberikan pemahaman CT, keterampilan pengambilan keputusan, dan pengalaman praktis. Ini merupakan proses pembelajaran yang berharga dalam mengelola berkas data saya. Saya juga belajar desain agar terlihat bagus dan rapi. 8. Mengacu ke mata pelajaran yang akan Anda, ampu, apa rencana tindakan nyata saya dalam penerapan CT dalam mata pelajaran yang saya ampu ? Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya dapat menerapkan pemikiran kritis dalam pengajaran dengan memecah materi menjadi komponenkomponen yang lebih kecil, mengenalkan pola-pola bahasa, dan menyederhanakan konsep-konsep kompleks. Ini membantu peserta didik memahami struktur bahasa dan mengembangkan keterampilan berbahasa dengan lebih baik.