The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 23:33:47

HANDBOOK BUKU SAKU GIZI

HANDBOOK BUKU SAKU GIZI

S.A.F 100 PERHITUNGAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA 1. WISN (Work Load Indikator Staff Need) (Kemenkes 2009) Caranya yaitu : a. Waktu kerja Efektif (G) A Jumlah Hari Kerja dalam 1 tahun B Jumlah Cuti dalam 1 Tahun C Jumlah Hari Libur Nasional dalam 1 tahun D Jumlah Libur Lainnya (pendidikan, pelatihan ,ketidakhadiran dll) dalam 1 tahun F Jumlah jam kerja dalam 1 hari Hari kerja yang ada (H) = A – ( B+C+D) Waktu kerja efektif/tersedia (G) dalam jam = H x F Catatan untuk G dalam menit = (Hx F) x 60 b. SBK (Standar Beban Kerja) SBK per kegiatan = G dalam menit : Rata-rata waktu Kerja Misalkan diketahui G = 100000 menit atau 1666,66 jam Bidang Kerja No Nama Kegiatan Rata-Rata waktu kerja (menit) G (menit) SBK Ahli Gizi 1. PAGT 30 100000 3333.33 2. Keterangan : Rata rata waktu kerja didapatkan dengan cara menjumlahkan waktu yang dibutuhkan dalam melakukan 1 kegiatan (dalam menit). c. Standar Kelonggaran (SK) SK = (Frekuensi (tahun) x waktu(jam)) : G dalam jam Bidang Kerja Kegiatan Frekuensi dalam 1 tahun Waktu (jam) G dalam jam SK Ahli Gizi 1. RAPAT 12 4 1666.66 0,028


S.A.F 101 2. Jumlah Total Standar Kelonggaran (SK) 0,028 Catattan: Standar Kelonggaran adalah waktu diluar kegiatan kerja, contoh rapat, seminar, ISHOMA, pertemuan dirksi, Supervisi dll) d. Kuantitas Kegiatan (KK) Jumlah Total Tiap pekerjaan yang dilakukan dalam 1 tahun No Bidang Kerja Kegiatan Kuantitas kegiatan 1 Ahli Gizi 1.PAGT 1000 2 2. 3 3. Catattan : Kuantitas kegiatan contohnya,total kegiatan PAGT pasien baru dalam 1 tahun 1000 pasien. e. Kebutuhan Tenaga Kerja (KTK) (Kuantitas Kegiatan Pokok : Standar Beban Kerja) + Standar Kelonggran Bidang Kerja Kegiatan KK SBK KTK Ahli Gizi 1. PAGT 1000 3333,33 0,3 2. 3. Total KTK 0,3 SK 0,028 Kebutuhan Tenaga Kerja 0,328 Jika saat ini Ahli Gizi ada 2 orang maka RS belum membutuhkan tenaga baru.


S.A.F 102 2. Rumus perhitungan tenaga kerja menurut hari kerja : A = Jumlah hari dalam 1 tahun B = Jumlah Hari kerja efektif dalam 1 tahun (total hari 1 tahun – (total Libur kerja+Cuti + Libur nasional) C = Jumlah Jam kerja/hari D = total hari kerja dalam 1 tahun E= D*C : A Z = Jumlah Pasien : Jumlah tenaga XY= (Jam Kerja x 60) : Z H = XY x Jumlah Pasien : 60 Kebutuhan Tenaga Kerja = = (A x H) : (B x E) 3. Rumus perhitungan tenaga kerja Menurut RFTE ( Full Time Equivalent) :


S.A.F 103 SUHU PENYIMPANAN No Bahan Makanan < 3 hari ≤ 1 minggu >1 minggu 1 Daging, Ayam, Udang, dan hasil olahannya -5-0C -10 - -50C < -10C 2. Telur, Buah dan hasil olahannya 5-7C -5-0C < -5C 3 Sayur-sayuran, Buah dan Minuman 10C 10C 10C 4 Makanan Kering, Tepung, biji-bijian 25C 25C 25C No Jenis Makanan Disajikan dalam waktu lama Akan segera disajikan Belum akan disajikan 1 Makanan Kering 25-30C 2. Makanan berkuah >60C -10C 3 Makanan Cepat Basi (santan, telur, Susu) ≥65,5C -5-1 C 4 Makanan disajikan dingin 5 – 10 C <10 C STANDAR PELANANAN MINIMAL INDIKATOR MUTU PGRS No Indikator Mutu SPM 1 Ketepatan Waktu Distribusi Makan ≥ 90-100 % 2 Ketepatan Diet 100 % 3 Sisa Makanan ≤20 %


S.A.F 104 CARA MEMBUAT MENU Sebelumnya kita harus mampu membedakan nama dan istileh dalam SPMI : 1. Menu : daftar nama-nama hidangan yang ditawarkan Contoh : Nasi putih, ayam goreng, capcay, semangka. 2. Pola Makan : urutan yang digunakan dalam menulis menu Contoh : makan pagi, makan siang, makan malam 3. Pola Menu : susunan golongan hidangan untuk setiap macam menu setiap kali makan Contoh : Pola menu Indonesia : Nasi , Lauk hewani, Nabati, Sayur, Buah 4. Perencanaan Menu : serangkaian kegiatan Proses merangkai berbagai hidangan agar diperoleh susunan yang indah dan baik. 5. No Tahapan Menyusun Menu 1 Tentukan jenis dan jumlah Klien 2. Tentukan Rata-rata Kebutuhan gizi Klien 3 Buat Perencanaan Biaya 4 Menetapkan spesifikasi Menu 5 Menetapkan Master Menu 6 Menetapkan jenis hidangan 7 Menyusun Pedoman Menu Contoh Penyusunan Menu : b. Buatkan menu Makan siang untuk karyawan pabrik sepatu , 600 orang, harga makanan 8500 . 5 hari kerja ? Jawab: 1. Memperoleh Data Klien Institusi Pabrik Sepatu Rata-rata Kecukupan Makan Siang E: 575 kalori P: 18 gram L : 10 gram KH : 113,2 gr


S.A.F 105 2. Spesifikasi Menu Macam Menu Makan Siang Konsumen Karyawan Pabrik Jenis Menu Standar Siklus Menu 10 siklus Pola Makan Makan siang , jam. 12.00 WIB Pola Menu Nasi, Hewani, sayur, Buah Besar Porsi Nasi : 2 1/2 P Hewani : 1 P Sayur : 1 P Buah : 1 P Harga Rp 8500 3. Sesuaikan dengan Biaya /porsi yang sudah ditentukan. (Unit Cost) Harga yang disepakati ; Rp 8500/porsi. Biaya/Porsi = (Berat kotor : Berat pada Harga) x Harga Catatan : Jika Harga /kg maka satuan = 1000 No Nama Bahan Makanan Berat Bersih Berat Kotor Harga/Kg Biaya/porsi 1 Beras 125 125 10.000 1250 2. Ayam 50 55 20.000 1100 3 Wortel 75 80 8000 640 4 Pepaya 85 100 7000 700 5 Dst Total 3690 Bumbu 20% x 8500 1700 Minyak goreng 360 Unit Cost 5750 % Unit Cost (Unit Cost/harga) x 100 67% 4. Master Menu Bahan bahan kemudian di distribusikan dengan siklus 10 hari. Pola menu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KH Brs Brs Brs Brs Brs Brs Brs Brs Brs Brs Hewn tlr Dsapi aym ikan sosis tlr Dsapi aym ikan sosis Sayr wrtl bym bncis oyg labu wrtl bym bncis oyg labu Buah pep mel pis sem apl pep mel pis sem apl


S.A.F 106 5. Format Menu Sesuaikan dengan master menu lalu buat nama menu Menu 1 Menu 2 Menu 3 Dst...... Nasi Putih Nasi putih ........ Fu yung Hai Gepuk ........ Sayur wortel Sayur bayam ........ Pepaya melon .......... 6. Pedoman Menu Lalu dari format menu buatkan pedoman menunya No Menu 1 Bahan Makanan Berat kotor 1 Nasi Putih Beras 125 2 Fu Yung Hai Telur Ayam Wortel Saus tomat Garam Gula Pasir M. Goreng 1 butir 0,25 10 gr 0,5 gr 0,1 gr 10 gr 3 Sayur Bayam Bayam Garam Gula pasir Salam Bumbu putih 100 gram 0,5 gr 0,5 gr 0,5 lembar 10 gr 4 Buah Pepaya 85 gr 7. Menu Terakhir buat susunan menunya Menu Makan Siang Hari Senin Dst...... Nasi Putih Fuyung Hai Sayur Bayam Buah


S.A.F 107 A. HACCP Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) adalah sistem jaminan mutu keamanan pangan atau produk yang mendasarkan pada kesadaran bahwa bahaya dapat timbul pada setiap titik tahapan produk, namun dapat dilakukan pencegahan melalui pengendalian titik-titik kritis. Secara umum ada tujuh (7) prinsip dalam sistem HACCP: Identifikasi BAHAYA, Penentuan TITIK KENDALI KRITIS Spesifikasi BATAS KRITIS Pembentukan dan penerapan prosedur PEMANTAUAN TINDAKAN KOREKSI / PERBAIKAN VERIFIKASI dokumentasi dan sistem PENYIMPANAN DATA Lankah-langkahnya adalah : 1. FORM 1 : TIM HACCP Rumah Sakit : Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung Produk : No Nama Keahlian dan Pelatihan yang sudah diikuti Tanggung jawab dalam Tim HACCP Tanggung jawab dalam Rumah Sakit/Institusi 1 Ketua 2 Anggota 3 Anggota 4 Anggota 5 Anggota 6 Anggota


S.A.F 108 2. FORM 2 : DESKRIPSI PRODUK No Nama produk 1 Bahan baku yang digunakan 2 Karakteristik produk akhir 3 Metode pengolahan 4 Kondisi penyimpanan 5 Metode transportasi/distribusi 6 Metode penyajian 3. FORM 3 : PENGGUNAAN PRODUK No Nama Produk 1 Deskripsi Cara Konsumsi 2 Pengguna Produk 4. FORM 4 MEMBUAT DIAGRAM ALIR 5. FORM 5 MEMBUAT DIAGRAM ALIR VERIFIKASI 6. FROM 6 : ANALISA BAHAYA, TINDAKAN PENCEGAHAN DAN SIGNIFIKANSI BAHAYA Tahap Proses (M,K,F) Bahaya Jenis Bahaya Penyebab Bahaya Pengendali n/Tindakan Pencegaha an Peluang Keparahan Signifikans i 1. - - - H H S 2. - H M NS 3. - - M M NS 4. - - L H NS H: High, M : medium , L: Low, S : Signifikansi Peluang : peluang terjadinya bahaya Keparahan : keparahan bahaya 7. FORM 7. PENETAPAN CCP


S.A.F 109 Tahap/proses P1 P2 P3 P4 P5 TKK/bukan TKK Catatan TKK (CCP) ditentukan dengan decision tree P1. Apakah mungkin bahan mentah mengandung bahaya pada tingkat yang berbahaya ? P 2. Apakah pengolahan (termasuk cara penggunaan oleh konsumen), dapat menghilangkan atau mengurangi bahaya sampai tingkat yg aman ? 2. Pertanyaan yang diajukan untuk setiap bahaya dan setiap tahap proses P 3. Apakah formulasi / komposisi produk antara /akhir penting untuk mencegah meningkatnya bahaya ? P 4. Apakah kontaminasi ulang dapat muncul? Apakah bahaya yang Y Bukan CCP Tida Bukan Y Tida CCP Y CCP Bukan CCP Tidak


S.A.F 110 mungkin ada akan bertambah P 5. Apakah pengolahan selanjutnya (termasuk cara penggunaan konsumen) dapat menghilangkan ahaya ? P 6. Apakah tahap pengolahan ini bertujuan untukmenghilangkan/mengurangi bahaya sampai tingkat yang aman ? Y Ke P Tidak Bukan CCP Y Tidak CCP Y CCP Bukan CCP Tida Ke P5


S.A.F 111 8. FORM 8. HACCP PLAN Tahapan TKK Batas Kritis Pemantauan Tindakan Koreksi Verifikasi Dokumentasi Apa Dimana Bagaimana Kapan Siapa Apa dan siapa Apa dan siapa


S.A.F 112 A. SKP (Skor Keamanan Pangan) Adalah Skor atau nilai yang menggambarkan kelayakan makanan untuk dikonsumsi, yang merupakan hasil pengataman terhadap pemilihan dan penyimpanana bahan makanan, higiene pengolah, pengolahan, dan distribusi makanan KOMPONEN SKP Pemilihan dan Penyimpanana Bahan Makanan (PPB) 8 sub kompnen Higiene Pengolah (GBP) 8 sub komponen Pengolahan Bahan Makanan (PBM) 27 sub komponen Distribusi Makanan (DPM) 7 sub komponen 2.INTERPRETASI SKP FORM PENILAIAN SKOR KEAMANAN PANGAN (SKP) N O KOMPONEN & SUB KOMPONEN NILAI (1) (2) A. Pemilihan dan Penyimpanan Bahan makanan (PPB) 1. * Bahan makanan yang digunakan masih segar 1 0 2. Bahan makanan yang digunakan tidak rusak 3 0 3. Bahan makanan yang digunakan tidak busuk 3 0 4. Tidak menggunakan wadah / kotak bekas pupuk atau pestisida untuk menyimpan dan membawa bm 3 0 5. Bahan makanan disimpan jauh dari bahan beracun / berbahaya 3 0 O KATAGORI KEAMANAN SKP (%) 1 . B A I K 0,9703 ( 97,03 %) 2 . SEDANG 0,9332-0,9702 (93,32–97,02 %) 3 . RAWAN, TETAPI AMAN DIKONSUMSI 0,6217-0,9331 (62,17–93,31 %) 4 . RAWAN, TIDAK AMAN DIKONSUMSI < 0,6217 ( < 62,17 %)


S.A.F 113 6. * Bahan makanan disimpan pada tempat tertutup 3 0 7. Bahan makanan disimpan pada tempat bersih 3 0 8. Bahan makanan disimpan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung 3 0 JUMLAH NILAI MAKSIMUM UNTUK PPB 22 B. HIGIENE PEMASAK (HGP) 1. Pemasak harus berbadan sehat 3 0 2. Pemasak harus berpakaian bersih 3 0 3. * Pemasak memakai tutup kepala selama memasak 1 0 4. * Pemasak memakai alas kaki selama memasak 1 0 5. Mencuci tangan sebelum dan sesudah memasak 3 0 6. * Mencuci tangan menggunakan sabun sesudah dari WC (buang air) 3 0 7. Ketika bersin tidak menghadap ke makanan 3 0 8. Kuku pemasak selalu bersih dan tidak panjang 3 0 JUMLAH NILAI MAKSIMUM UNTUK HGP 20 C. PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN (PBM) 1. Peralatan memasak yang digunakan harus bersih dan kering 3 0 2. * Peralatan memasak harus dicucui sebelum dan sesudah dipakai memasak 3 0 3. * Peralatan memasak dikeringkan terlebih dahulu setelah dicuci 3 0 4. Peralatan memasak disimpan di tempat yang bersih 3 0 5. Peralatan memasak disimpan di tempat yang jauh dari bahan beracun atau bahan berbahaya 3 0 6. Dapur tempat memasak harus dalam keadaan bersih 3 0 7. * Dapur tempat memasak harus dalam keadaan kering 3 0 8. * Dapur tempat memasak harus mempunyai ventilasi yang cukup 3 0 9. Dapur terletak jauh dari kandang ternak 3 0 10 .* Selalu tersedia air bersih dalam wadah tertutup 3 0


S.A.F 114 11 .* Di dapur tersedia tempat sampah yang tertutup 2 0 12 .* Pembuangan air limbah harus lancar 3 0 13 . Bahan beracun / berbahaya tidak boleh disimpan di dapur 3 0 14 .* Jarak tempat memasak ke tempat distribusi (sekolah) tidak lebih dari satu jam 3 0 15 . Pisau dan telenan yang digunakan harus bersih 3 0 16 .* Bagian makanan yang tidak dimakan tidak ikut dimasak 3 0 17 . Bahan makanan dicusi dengan air bersih 3 0 18 . Meracik / membuat adonan menggunakan alat yang bersih 3 0 19 .* Adonan / bahan makanan yang telah diracik harus segera di masak 3 0 20 .* Makanan segera diangkat setelah matang 2 0 21 . Makanan yang telah matang ditempatkan pada wadah bersih dan terhindar dari debu dan serangga 3 0 22 .* Makanan tidak dibungkus dengan menggunakan pembungkus dari kertas koran dan kertas ketikan 1 0 23 . Makanan dibungkus dgan pembungkus yg bersih, tdak menggunakan bekas pembungkus bhn beracun 3 0 24 .* Memegang makanan yang telah matang menggunakan sendok, garpu, alat penjepit, sarung tangan 3 0 25 . Tidak menyimpan makanan yang matang lebih dari 4 jam terutama makanan berkuah dan bersantan 3 0 26 . Untuk makanan goreng, minyak goreng tidak boleh digunakan jika sudah berwarna coklat tua, atau sudah dipakai setelah 4 kali 3 0 27 . Untuk makanan basah, merebus dan mengukus makanan dalam wadah tertutup 3 0 JUMLAH NILAI MAKSIMUM UNTUK PBM 77 D. DISTRIBUSI MAKANAN (DPM)


S.A.F 115 1. Selama distribusi, makanan ditempatkan dalam wadah yang bersih dan tertutup 3 0 2. Pembawa makanan berpakaian bersih dan mencuci tangan 3 0 3. * Tangan dicuci dengan sabun sebelum membagikan makanan 1 0 4. Makanan tidak boleh berlendir, berubah rasa, atau berbau basi sebelum dibagikan 3 0 5. Makanan ditempatkan dalam tempat yang bersih dan kering 3 0 6. * Mencuci tangan sebelum makan 3 0 7. * Makanan tidak dipegang langsung, enggunakan alat untuk memegang makanan saat membagikan 3 0 JUMLAH NILAI MAKSIMUM UNTUK DMP 19 Sumber : Mudjajanto, 1999. Keterangan : (1) Nilai, jika kriteria terpenuhi ; (2) Nilai, jika kriteria tidak terpenuhi (0) PENERAPAN PERHITUNGAN HASIL PENILAIAN SKP KOM PON EN NILAI YANG DITOLE RIR NILAI HARUS DIPENUH I NILAI KOMPONEN SKOR (1) (2) (3) (4) SKALA 0 – 1,00 (5)= (BOBOT) x (4) PPB 0 22 – 0 = 22 22 : 22 = 1,0000 0,16 x 1,0000 = 0,1600 HGP 0 20 – 0 = 20 20 : 20 = 1,0000 0,15 x 1,0000 = 0,1500 PBM 0 77– 77 = 74 77 : 77 = 1,0000 0,55 x 1,0000 = 0,5500 DMP 0 19 – 0 = 19 19 : 19 = 1,0000 0,14 x 1,0000 = 0,1400 Skor SKP Maksimal = 1


S.A.F 116 Form Food History


S.A.F 117


S.A.F 118


S.A.F 119


S.A.F 120


S.A.F 121 No Nama Mineral Sumber Fungsi Akibat Kelebihan dan Kekurangan Mengkonsumsi 1) Natrium (Na) Garam Dapur · Memelihara keseimbangan cairan tubuh · Memelihara keseimbangan PH dalam sel · Mengatur permeabilitas sel · Mengatur transmisi impuls · Hipertensi (tekanan darah tinggi) · Gangguanpada jantung dan ginjal · Turunnya nilai osmotik cairan sehingga meningkatkan suhu tubuh 2) Kalium (K) Susu, buahbuahan, kacangkacangan, daging dan sayuran · Sebagai kofaktor (komponen kimia untuk membantu kerja enzim) pembentukan karbohidrat dan protein · Membantu konsterasi otot dan memlihara denyut jantung · Mengatur pelepasaninsulin dari pankreas · Transmisi impuls saraf · Kejang otot · Kelemahan otot · Pertumbuhan terhambat · Denyut jantung tidak teratur dan gangguan pernapasan · · Karies (kerusakan gigi) 3) Kalsium (Ca) Ikan, keju, kubis, brokoli. bit, wortel, bijibijian dan kacang- · Mengatur matriks tulang dan gigi · Membantu proses pembekuan darah · Membantu kontraksi otot · Hiperkalsemia (kadar kalsium yang tinggi dalam darah) · Osteoporosis · Rakhitis


S.A.F 122 kacangan · Transmisi impuls saraf (pembengkokan tulang kaki) · Kejang otot · Hipokalsemia (rendahnya kadar kalsium dalam darah) 4) Fosfor (P) Susu, kuning telur, daging dan kacangkacangan · Pembentukan matriks tulang dan gigi · Mengatur kesimbangan asam dan basa dalam tubuh (darah) · Mengerutkan kontraksi otot · Memacu metabolisme · Pengikisan rahang · Kerapuhan tulang dan gigi · Rakhitis 5) Magnesium (Mg) Susu, daging, padi dan kacangkacangan · Respirasi seluler · Biokatalisator · Unsur penting dalam otot, tulang dan eritrosit · Diare · Ganguan sistem saraf · Gangguan ginjal dan kardiovaskuler · Kontrol emosi dan mental turun 6) Klor (Cl) Garam dapur, susu,daging dan telur · Komponen penyusun asam dan lambung · Keseimbangan cairan asam basa, elektrolit dan tekanan osmotik · Gangguan pencernaan · Kontraksi otot abnormal 7) Belerang (S) Telur, susu, daging, keju, buahbuahan, dan kacang- · Komponen penyusun beberapa vitamin, seperti tiamin,biotin dan pantotenat · Menganggu pertumbuhan


S.A.F 123 kacangan · Aktivator enzim 8) Zat Besi (Fe) Daging, ikan,unggas, hati, susu, telur, sayuran hijau dan tepung gandum · Respirasi seluller · Membentuk hemoglobin · Cirrhosiss (pembengkakan karena meningkatnya cairan pada hati) · Lesu, pusing dan anemia 9) Yodium (I) Ikan laut, minyak ikan, sayuan hijau dan garam beryodium · Mebatu fungsi kelenjar troid · Pembentukan hormon tiroksin · Penyakit gondok · Penyakit kretinisme · Tumbuh kerdil 10) Seng (Zn) Ikan laut, kerang, hati, daging, susu, telur dantiram · Membatu metabolisme · Pertumbuhan dan reproduksi · Anemia 11) Fluor (F) Susu, kuning telur, ikan dan garam · Menguatkan tulang dan gigi · Gigi coklat · Impuls saraf terganggu · Periodental (peradangan pada jaringan penyangga gigi) · · Osteoporosis 12) Tembaga (Cu) Kacangkacangan, hati , kerang dan ginjal · Pembentukan hemoglobin dan eritrosit · Memelihara fugsi sistem saraf · · Sintesis hormon · Pusing, lesu dan sakit kepala · Anemia · · Gangguan pada sistem saraf Tabel Vitamin, Sumber & Fungsinya No Nama Vitamin Sumber Fungsi Akibat Kelebihan


S.A.F 124 dan Kekurangan Mengkonsumsi 13) Vitamin B1(tiamin) = C12H17ON4S Hati, ginjal, susu, mentega, kuning telur, ikan, kacangkacangan, dan kulit ari padi · Koenzim dan metabolisme · Metabolisme karbohidrat · Memelihara fungsi sistem saraf · Memelihara sistem pencernaan dan nafsu makan · Nyeri saat perjalanan impuls di saraf perifer · Pembengkakan neuron pada susunan saraf pusat · Beri-beri dan endema · Hilang nafsu makan · Gangguan jantung dan otot · Mata lemah 14) Vitamin B2(riboflavin laktoflavin) = C17H20O6N4 Hati, ginjal, jantung, otak, susu, telur, mentega, sayuran, dan ragi · Transmisi rangsangan cahaya ke saraf mata · Menjaga nafsu makan · Memelihara kulit di sekitar mulut · Luka di sudut bibir (keilosis) · Katarak · Dermatitis · Diare · Kelemahan otot 15) Vitamin B3 (niasin) = C6H5O2N Susu, hati, ikan, telur, dan sayur-sayuran · Pertumbuhan sel · Bersama fosfat membentuk koenzim yang berperan dalam respirasi sel · Penyakit pelagra dengan gejala 3D (radang kulit/dermatitis, diare, dan demensia) 16) Vitamin B5 (asam pantotenat) = C9H17O3N Ragi, hati, kuning telur, daging, buahbuahan dan sayur-sayuran · Memelihara tingkat gula darah yang normal · Komponen struktur koenzimA yang berperan dalam proses · Radang kulit · Nafsu makan menurun · Insomnia


S.A.F 125 oksidasi sel 17) Vitamin B6(piridoksin) = C8H12O2N Sayuran hijau, hati, daging, telur, dan susu · Memelihara keseimbangan unsur P dan K dalam sel · Aktif dalam pembentukan antibodi dan beberapa koenzim dalam metabolisme · Peradangan kulit · Anemia 18) Vitamin B11 (asam folat) = C12H12O6N7 Kacangkacangan, ragi, hati, daging, pisang, lemon, dan sayuran hijau · Pembuatan koenzim untuk produksi eritrosit · Membentuk asam nukleat untuk sintesis protein · Anemia · Diare · Megaloblastosis (membesarnya eritrosis) · Terhambatnya petumbuhan 19) Vitamin B12(sianokobalin = anti anemia pernisiosa) = C63H90O3N2S Daging, unggas, ikan, telur, susu,keju,hati, udang dan kerang · Metabolisme sel dan pertumbuhan jaringan · Pembentukan eritrosit · Kelelahan · Pusing · Anemia · Peradangan saraf 20) Vitamin H (biotin) = C10H16O3N2S Kacangkacangan, hati, dan kuning telur · Koenzim metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein · Depresi · Kurang nafsu makan 21) Vitamin C (asam askrobat = C6H8O6 Jeruk, tomat, nanas, pepaya, semangka, stroberi, hati dan sayursayuran segar · Pembentukan serabut kolagen · Menjaga elastisitas kapiler darah · Menjaga perlekatan akar gigi pada gusi · Koenzim reaksi · Pendarahan pada gusi dan persendian · Otot sakit · Degenerasi (pengurangan) selsel kulit · Skorbut (penyakit karena kekurangna vitamin C)


S.A.F 126 katabolisme karbohidrat dan lemak 22) Vitamin A (retinol = anti seroftalmia) = C20H30O Sayur-sayuran dan buahbuahan, berwarna kuning dan merah (mengandung karoten), hati, susu, dan daging · Memelihara kesehatan mata dan kulit · Pertumbuhan tulang dan gigi · Xeroftalmia (terganggunya kelenjar air mata) · Rabun senja · Kulit kasar · Kelelahan 23) Vitamin D (ergosterol = kalsiferol) = C28H44O Susu, minyak ikan, kuning telur, ragi, dan sinar ultraviolet · Absorpsi fosfor dan kalsium · Pembentukan tulang dan gigi · Rakhitis (pada bayi) · Osteomalasia (melunaknya tulang pada orang dewasa) 24) Vitamin E (tokoferol = antisterilitas)= C29H50O2 Kecambah, susu, kuning telur, kacangkacangan, tumbuhan hijau dan biji gandum · Pembentuka eritrosit · Fungsi reproduksi · Mencegah oksidasi lemak tak jenuh · Penimbunan lemak pada otot · Kemandulan · Pecahnya eritrosit 25) Vitamin K (filokinon = anti hemoragia) = C31H46O2 Sayuran hijau, hati dan daging · Pembekuan darah · Pembentukan protombin dalam hati · Darah sukar membeku · Pendarahan Sumber : Andreklopedia.com


S.A.F 127 C. INSULIN pada pasien DM 1. Insulin Rapid-acting: Jenis insulin yang mulai menurunkan glukosa darah dalam waktu 5 sampai 10 menit setelah injeksi dan memiliki efek terkuat 30 menit sampai 3 jam setelah injeksi, tergantung pada jenis yang digunakan. Jenis: Insulin glulisine (Apidra), lispro insulin (Humalog), dan insulin aspart (Novolog) 2. Insulin Regular atau Short-acting: Biasanya mencapai aliran darah dalam waktu 30 menit setelah injeksi, dengan puncaknya pada 2 sampai 3 jam setelah injeksi, dan efektif untuk sekitar 3 sampai 6 jam. Jenis: Humulin R, Novolin R 3. Insulin Intermediate-acting: biasanya mencapai aliran darah sekitar 2 sampai 4 jam setelah injeksi, dengan puncak pada 4 sampai 12 jam kemudian, dan efektif untuk sekitar 12 sampai 18 jam. Jenis: NPH (Humulin N, Novolin N) 4. Insulin long-acting: mencapai aliran darah beberapa jam setelah injeksi dan cenderung kadar glukosa rendah cukup merata selama periode 24 jam. Jenis: Insulin detemir (Levemir) dan glargine insulin (Lantus) Dosis pemberian unit insulin dengan kadar gula darah Kadar Gula darah Unit Insulin 1 unit insulin untuk 15 gram KH ( 60 kal)


S.A.F 128 PEMBERIAN DOSIS INSULIN DM tipe I, diberikan insulin yang long acting sama rapid / short acting. Sedangkan DM tipe II, diberikan insulin yang intermediate acting sama yang mix. 1. Adapun dosisnya untuk DM yang tipe I adalah :


S.A.F 129 Contoh ada pasien DM I berat badannya 60 kg. Rumusnya adalah 1/2 unit per kg BB. Kemudian 60 kg dibagi 1/2 berarti 30 unit. 30 unit itu dibagi dua, yaitu untuk yang Long Acting Insulin (Fase Basal) sama yang Rapid/Short Acting (Fase Postpandrial). Kalo berdasarkan gambar di atas, untuk yang long acting (basal) itu 40% sehingga diperoleh 12 unit, sedangkan yang rapid/short (pandrial) itu 60% kan jadi dapetnya 18 unit. long acting (basal), diberikan sebelum tidur kan,. Dosisnya ya sesuai dengan pembagian tadi, yaitu 12 unit (menurut gambar di aras atau Cheng and Zinman, 2005) rapid/short (pandrial), diberikan sebelum makan. Jadi dosis yang diperoleh kan tadi 18 unit tu, berarti 18 unit dibagi 3 untuk makan pagi, siang, malam. Hasilnya tiap makan mendapat injeksi insulin sebanyak 6 unit. Itu dosis yang ikut Cheng and Zinman. 2. Adapun dosis untuk yang DM tipe II : Bisa memakai hanya insulin kerja menengah (intermediate) saja, atau campuran insulin cepat dan menengah. Biasanya 2/3 unit diberikan sebelum makan pagi dan 1/3 unit diberikan sebelum makan malam. (medicalstudentnotes.wordpress.com)


S.A.F 130 DM 1100 DM 1300 DM 1500 DM 1700 DM 1900 DM 2100 DM 2300 DM 2500 Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Nasi 0,5 1 1 1 1,5 1,5 1,5 1,5 Ikan 1 1 1 1 1 1 1 1 Nabati 1 1 1 Sayur A s s s s s s s s Minyak 1 1 1 1 2 2 2 2 Snack Pagi Snack Pagi Snack Pagi Snack Pagi Snack Pagi Snack Pagi Snack Pagi Snack Pagi Snack Pagi Buah 1 1 1 1 1 1 1 1 Susu 1 1 Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Nasi 1 1 2 2 2 2,5 3 3 Daging 1 1 1 1 1 1 1 1 Nabati 1 1 1 1 1 1 1 2 Sayur A s s s s s s s s Sayur B 1 1 1 1 1 1 1 1 Buah 1 1 1 1 1 1 1 1 Minyak 1 2 2 2 2 3 3 3 Snack sore Snack sore Snack sore Snack sore Snack sore Snack sore Snack sore Snack sore Snack sore Buah 1 1 1 1 1 1 1 1 Makan Malam Makan Malam Makan Malam Makan Malam Makan Malam Makan Malam Makan Malam Makan Malam Makan Malam Nasi 1 1 1 2 2 2 2,5 2,5 Ikan 1 1 1 1 1 1 1 1 Nabati 1 1 1 1 1 1 1 1 Sayur A s s s s s s s s Sayur B 1 1 1 1 1 1 1 1 Buah 1 1 1 1 1 1 1 1 Minyak 1 1 1 1 2 2 2 2


S.A.F 131


S.A.F 132


S.A.F 133


S.A.F 134


S.A.F 135


S.A.F 136


S.A.F 137


S.A.F 138


S.A.F 139


S.A.F 140


S.A.F 141


S.A.F 142


S.A.F 143 UJI


S.A.F 144


S.A.F 145 STATISTIK dengan SPSS Sebelum Kita sampai ke penelitian tentunya beberapa penelitian ada membutuhkan jumlah sampel dan berikut beberapa rumus menentukan besar sampel tingkat kesalahan 5% (95) ; 1. Rumus Slovin Bisa digunakan jika jumlah Populasinya diketahui : Sampel = Contoh : Populasi = 300 Sampel = = 171 orang 2. Rumus Proportionate Stratified Random Sampling Sampel = x 95 Contoh : total Karyawan Gizi 200, petugas pantry 45. Jika sample yang akan di ambil petugas pantry maka besar samplenya ? Sampel = x 95 Sampel =21,3 ~ 21 orang 3. Tabel krejcie (Sugiono,2005) Tabel ini memudahkan kita untuk menentukan jumlah sample, dan tingkat kepercayaannya 5% (95)


S.A.F 146 Tabel krejcie UJI STATISTIK Selanjutnya kita akan mengenal jenis jenis pengujian dalam statistik diantaranya UJI NORMALITAS DATA Tujuan : untuk menguji apakah data terdistribusi normal atau tidak. Dikatakan data terdistribusi normal bila sebaran datanya mengikuti pola bell-shaped. Kegunaan untuk menentukan jenis analisis yang akan digunakan (parametrik atau non parametrik)


S.A.F 147 Prosedur Analisis : Analyze Descriptive Statistics Explore Plots Hasil analisis dan interpretasi Uji normalitas data menggunakan test “Kolmogorov Smirnof” Ho : Data pretest konsentrasi belajar terdistribusi normal Ha : Data pretest konsentrasi belajar terdistribusi tidak normal Pengambilan keputusan : p ≤ (=0,05) Ho ditolak p > (=0,05) Ho diterima Hasil analisis didapatkan nilai probabilitas (sig)=0,200 bandingkan dengan nilai . Keputusan : Nilai p (sig)=0,200 > (0,05) Ho diterima Kesimpulan Data pretest konsentrasi belajar terdistribusi normal STATISTIK PARAMETRIK Berhubungan dengan inferensi statistik (pengambilan keputusan atas masalah tertentu) yang membahas parameter-parameter populasi, seperti rata-rata, populasi dsb. Skala data yang digunakan Interval dan Rasio Jenis data yang digunakan Numerik dan Kategori Distribusi data (populasi) adalah normal Jumlah sampel cukup besar (n>30) JENIS UJI PARAMETRIK (BIVARIAT) No Jenis Nama uji Jenis Data Var Independen Var Dependen 1 Uji 1 kelompok sampel Uji- Z atau Uji-t (numerik) 2 Uji 2 kelompok sampel Uji-t Independen & Uji-t dependen kategori numerik 3 Uji > 2 kelompok sampel Uji Anova (one way) kategori numerik 4 Uji Korelasi Product Moment numerik numerik


S.A.F 148 Regresi Linier Sederhana Correlation (Korelasi Pearson) 1. UJI 1 KELOMPOK SAMPEL Digunakan untuk menguji apakah data/sampel yang diambil sama/berbeda dengan data pada populasi Contoh soal : Penelitian terdahulu menyatakan bahwa ukuran Lila WUS di Kota Cimahi = 23,5 cm, diambil 50 sampel WUS dan diukur Lila nya. Apakah ada perbedaan ukuran Lila antara sampel dengan penelitian sebelumnya ? Hipoteis Ho : Tidak ada perbedaan ukuran Lila WUS antara sampel dengan populasi Ha : Ada perbedaan ukuran Lila WUS antara sampel dengan populasi Prosedur Analisis : Analyze Compare means One-Sample T test 2. UJI 2 KELOMPOK SAMPEL 2.1. Uji T-Independen (Independent Samples T-test) Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan means 2 kelompok sampel independen (2 kelompok yang berbeda) Contoh soal : Suatu penelitian ingin mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan berat badan bayi lahir. (Kategori : Merokok dan Tidak merokok, Numerik kontinyu : bb bayi lahir) Suatu penelitian ingin mengetahui hubungan antara riwayat hipertensi dengan berat badan bayi lahir. (Kategori : Hipertensi dan hipertensi, Numerik kontinyu : bb bayi lahir) Penyelesaian analisis ini menggunakan 2 langkah : 1. Lakukan Levene test untuk melihat apakah nilai varians ke 2 kelompok tersebut sama atau berbeda


S.A.F 149 2. Lakukan uji t-independen untuk melihat apakah ada perbedaan nilai means diantara 2 kelompok yang berbeda tersebut Prosedur Analisis : Analyze Compare means Independent-Samples T test Hipotesis untuk uji varians Levene test Ho : Tidak ada perbedaan varians bb bayi antara kelompok merokok dan tidak merokok Ha : Ada perbedaan varians bb bayi antara kelompok merokok dan tidak merokok CATATAN : Bila salah dalam pengambilan keputusan pada uji homogenitas varians (Levene test), dapat mengakibatkan kesalahan dalam penggunaan nilai sig.(2-tailed). Contoh hasil analisis berikut memperlihatkan hasil nilai sig.(2-tailed) yang berbeda antara varians sama dan varians berbeda 2.2. Uji T-Dependen (Dependent Samples T-test / Paired Samples T-test) Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan means 2 kelompok berpasangan (before and after test). Uji ini juga digunakan untuk melihat keefektifan suatu intervensi dengan membandingkan 2 nilai means pada 1 kelompok. Contoh soal : Suatu penelitian ingin mengetahui efektifitas tablet tambah darah, dengan teknik random sampling didapatkan 30 sampel ibu. Pada awal penelitian diukur kadar Hb masing-masing sampel, kemudian diberikan tablet tambah darah selama seminggu. Pada akhir penelitian diukur kembali kadar Hb. Apakah efektif pemberian tablet tambah darah untuk meningkatkan kadar Hb ibu ?. Hipotesis Ho : Tidak ada perbedaan kadar Hb sebelum dan setelah pemberian tablet tambah darah Var Dependen (numeric-kontinyu)


Click to View FlipBook Version