The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 23:43:18

KIMIA FARMASI II

KIMIA FARMASI II

Praktikum Kimia Farmasi II 46 Untuk pembuatan dan pembakuan larutan titer, Farmakope telah menguraikan jumlah, jenis zat, dan pelarut yang digunakan. Jumlah senyawa yang harus ditimbang untuk pembuatan larutan titer yang tertera dalam Farmakope tersebut adalah untuk pembuatan larutan sebanyak 1 liter, dengan demikian jumlah sampel yang harus ditimbang disesuaikan dengan volume larutan yang harus dibuat (misalnya untuk membuat 500 ml larutan, maka zat yang harus ditimbang adalah : 500 ml/1000 ml x jumlah zat yang tertera dalam prosedur tersebut). Jumlah zat yang ditimbang tersebut sesuai dengan perhitungan jika kita menggunakan rumus normalitas ataupun molaritas seperti di atas. Misalnya untuk membuat 1 liter larutan natrium hidroksida, maka jumlah natrium hidroksida yang dibutuhkan adalah : N = Massa = N x BE x Volume = 1 grek/liter x 40 g/grek x 1 liter = 40 g Hal ini sesuai dengan yang tertera dalam Farmakope Indonesia disebutkan bahwa larutan NaOH 1 N mengandung 40 g NaOH dalam 1 liter larutan. Jumlah zat baku primer yang digunakan pada pembakuan larutan titer (misalnya natrium karbonat untuk membakukan larutan titer HCl/H2SO4, kalium hidrogen ftalat untuk membakukan larutan titer NaOH) yang tertera dalam Farmakope Indonesia umumnya setara dengan 20 – 25 ml larutan titer. Demikian pula pada penetapan kadar, jumlah larutan titer yang dibutuhkan juga umumnya setara dengan 20 – 25 ml larutan titer.


Praktikum Kimia Farmasi II 47 Topik 1 Penetapan Kadar Asam Salisilat dengan Metode Alkalimetri Praktik yang Anda lakukan kali ini berbeda dengan praktik sebelumnya yang hanya untuk menentukan jenis senyawa tertentu (kualitatif). Praktik yang Anda lakukan ini untuk menentukan kadar senyawa tertentu dalam sediaan farmasi (kuantitatif). A. ASAM SALISILAT Senyawa yang akan Anda tentukan kadarnya dalam percobaan ini adalah asam salisilat yang terdapat dalam sediaan bedak. Asam salisilat telah digunakan sebagai bahan terapi topikal sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Dalam bidang dermatologi, asam salisilat telah lama dikenal dengan khasiat utama sebagai bahan keratolitik. Kandungan asam salisilat yang tinggi dalam sediaan kosmetik ternyata memiliki dampak bagi kesehatan tubuh, mulai dari dampak yang ringan hingga yang berat. Pengetahuan dan informasi akan bahaya kandungan asam salisilat yang terkandung dalam sediaan kosmetik ini tidak sepenuhnya diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian kadar asam salisilat dalam sediaan kosmetik, khususnya didalam sediaan bedak. 1. Uraian Asam Salisilat a. Nama resmi : Acidum Salicylicum b. Nama lain : Asam salisilat c. Struktur kimia : d. Rumus kimia :C7H6O3 e. BM :138,12 f. Pemerian : 1) FI ed III Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih; hampir tidak berbau; atau rasa agak manis dan tajam. 2) FI ed IV Hablur putih; biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur halus putih; rasa agak manis, tajam dan stabil di udara. Bentuk sintetis warna putih dan tidak berbau. Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah jambu dan berbau lemah mirip mentol.


Praktikum Kimia Farmasi II 48 g. Kelarutan : 1) FI ed III Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroformP dan dalam eter P; larut dalam larutan amonium asetat P, dinatrium hidrogen fosfat P, kalium sitrat P dan dalam natrium sitrat P. 2) FI ed IV Sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah larut dalam etanol dan dalam eter; larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam kloroform. 2. Penetapan Kadar Asam Salisilat Untuk menetapkan kadar asam salisilat, Farmakope Indonesia menyatakan bahwa analisis kadar dilakukan secara volumetri menggunakan larutan titer natrium hidroksida 0,1 N. Metode titrasi yang menggunakan larutan titer natrium hidroksida dikenal sebagai metode alkalimetri, cara ini didasarkan pada reaksi netralisasi antara zat uji asam dengan larutan baku basa sebagai larutan titer. Berdasarkan kelarutan asam salisilat yang sukar larut dalam air tetapi lebih mudah larut dalam etanol, sehingga dalam analisisnya asam salisilat dilarutkan dengan etanol agar terjadi reaksi yang sempurna. Oleh karena etanol sedikit bereaksi asam, maka pelarut tersebut harus dinetralkan terlebih dahulu sehingga dalam proses titrasi larutan titer hanya menetralkan larutan sampel. Untuk mengetahui selesainya reaksi maka digunakan indikator, indikator yang digunakan adalah fenolftalein (pp) yang merupakan indikator basa. Interval pH fenolftalein adalah 8,0-10,0, perubahan warna diamati dari tidak berwarna menjadi merah jambu (pink). Sebelum titrasi (tidak berwarna) Titik akhir titrasi (warna pink) B. PRINSIP DAN REAKSI Penentuan kadar asam salisilat dalam percobaan ini dilakukan berdasarkan prinsip reaksi netralisasi menggunakan larutan baku basa (NaOH), reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :


Praktikum Kimia Farmasi II 49 Asam salisilat 1 mol asam salisilat 1 mol NaOH Maka BE asam = BM asam tersebut (lihat kembali materi analisis kuantitatif obat pada Modul 1 Teori Kimia Farmasi). Larutan titer natrium hidroksida yang digunakan terlebih dahulu dibakukan dengan kalium hidrogenftalat, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : Kalium biftalat 1 mol Kalium biftalat 1 mol NaOH, BE K biftalat = BM Tes 1 Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Hitunglah berapa gram NaOH (BM = 40) yang dibutuhkan untuk membuat 250 ml larutan NaOH 0,05 N. 2) Pada pembakuan larutan NaOH soal no 1 di atas, ditimbang kalium biftalat sebanyak 0,1523 g dan dilarutkan dengan 25 ml air suling bebas karbon dioksida. Dititrasi dengan larutan NaOH yang hendak dibakukan menggunakan indikator yang sesuai sampai titik akhir tercapai. Volume larutan titer yang dibutuhkan ternyata sebanyak 15,2 ml. Pertanyaan : a) Tuliskan Indikator apa yang harus digunakan ? dan bagaimana mengamati bahwa titik akhir telah tercapai ? b) Berapa normalitas larutan NaOH hasil pembakuan tersebut ? 3) Pada penetapan kadar asam salisilat dalam dengan metode alkalimetri, ditimbang sampel uji sebanyak 7,0091 g. Ditambahkan 30 ml etanol netral dan 10 ml air suling, dikocok hingga homogen. Ditambah beberapa tetes larutan fenolftalein, kemudian dititrasi dengan larutan baku NaOH di atas, volume larutan titer sebanyak 19,2 ml. Hitunglah berapa % kadar asam salisilat dalam sampel uji tersebut.


Praktikum Kimia Farmasi II 50 PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum a. Mahasiswa dapat membuat larutan baku natrium hidroksida 0,1 N yang diperlukan dalam titrasi b. mahasiswa dapat melakukan pembakuan natrium hidroksida dengan kalium biftalat c. mahasiswa dapat melakukan penentapan kadar asam salsilat dalam sampel bedak dengan metode alkalimetri. 2. Alat dan Bahan a. Alat yang digunakan : 1) Erlenmeyer 250 ml 2) Buret 50 ml 3) Labu ukur 500 ml 4) Gelas ukur 5) Gelas kimia 100 ml 6) Neraca analitik 7) Pipet tetes b. Bahan yang digunakan : 1) Sampel bedak salisilat 2) Natrium hidroksida 3) Kalium biftalat 4) Indikator fenolftalein 5) Etanol 6) Air suling 3. Prosedur Praktikum a. Pembuatan larutan titer natrium hidroksida 0,1 N 1) Timbang 2 g kristal natrium hidroksida dalam gelas kimia 100 ml, larutkan dengan air suling. Masukkan ke dalam labu ukur 500 ml. 2) Bilas gelas kimia beberapa kali dengan airsuling, masukkan bilasan ke dalam labu ukur di atas. Kemudian cukupkan volumenya dengan air suling hingga tanda. b. Pembakuan larutan titer natrium hidroksida 0,1 N 1) Timbang saksama 400 mg kalium biftalat, masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml 2) Larutkan dengan 50 ml air bebas karbondioksida (mintalah sama pengawas di laboratorium). 3) Tambahkan 3 tetes larutan indikator fenolftalein, kocok hingga homogen 4) Titrasi dengan larutan natrium hidroksida hingga warna larutan berubah dari tidak berwarna menjadi merah muda (pink) 5) Ulangi prosedur ini 2 kali lagi.


Praktikum Kimia Farmasi II 51 6) Hitung normalitas larutan titer natrium hidroksida tersebut (normalitas larutan hasil perhitungan ditulis sampai 4 desimal/4 angka di belakang koma), dengan rumus Mgrek NaOH = mgrek KH Ftalat VNaOH x NNaOH = VNaOH x NNaOH = NNaOH = Dimana VNaOH = volume larutan titer yang diperlukan pada proses titrasi (ml). Berat KH Ftalat dibuat dalam satuan berat mg Catatan : Air bebas karbondiioksida dibuat dengan cara air suling dididihkan selama 5 menit (waktu dihitung mulai saat air mendidih). Selama pendinginan dan penyimpanan harus terlindung dari udara (FI edisi III, hal 639). c. Penetapan kadar asam salisilat dalam bedak 1) Timbang saksama sampel uji (bedak salisil) setara dengan 300 mg asam salisilat, masukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml (sampel uji yang ditimbang = x 100 (g) 2) Masukkan ke dalam erlenmeyer, tambahkan 25 ml etanol yang sudah dinetralkan dengan natrium hidroksida 0,1 N (mintalah sama pengawas di laboratorium). 3) Tambahkan 25 ml air suling dan beberapa tetes indikator fenolftalein (untuk memperjelas titik akhir karena adanya talkum, indikator fenolftalein ditambahkan sebanyak 10 tetes) 4) Titrasi hingga warna larutan berubah dari tidak berwarna menjadi pink. Ulangi prosedur ini 2 kali lagi. 5) Hitung kadar asam salisilat dalam sampel uji (hasil perhitungan ditulis sampai 2 desimal/2 angka dibelakang koma), dengan rumus : Mgrek asam salisil = Mgrek NaOH = VNaOH x NNaOH Asam salisil = VNaOH x NNaOH x BE As Salisilat = ....... mg


Praktikum Kimia Farmasi II 52 Kadar asam salisilat dalam sampel : = x 100% Dimana : VNaOH = volume larutan titer yang diperlukan NNaOH = Normalitas NaOH hasil pembakuan BE as salisilat = BM = 138 Catatan : Cara membuat etanol yang dinetralkan dengan natrium hidroksida 0,1 N, yaitu: ukur sejumlah etanol 95% (sesuai kebutuhan percobaan di atas adalah 75 ml), tambahkan 3 tetes indikator fenolftalein. Tambahkan beberapa tetes larutan natrium hidroksida 0,1 N hingga larutan berwarna merah jambu (pink) (FI edisi III, hal 672).


Praktikum Kimia Farmasi II 53 Hasil Pengamatan 1. Pembakuan Larutan NaOH 0,1 N Data Penimbangan dan Titrasi pada Pembakuan No. Berat (g) Pembacaan skala buret Volume titrasi Titik awal titrasi Titik akir titrasi (ml) 1. 2. 3. 2. Penetapan kadar asam salisilat Karakteristik sampel Uji : Merk sampel : ......... No. Batch : ......... Kadar asam salisilat sesuai label : ......... Perhitungan jumlah sampel uji yang harus ditimbang : = x 100 (g) = x 100 (g) = ............... g Data Penimbangan dan Titrasi pada Penetapan Kadar No. Berat (g) Pembacaan skala buret Volume titrasi Titik awal titrasi Titik akir titrasi (ml) 1. 2. 3.


Praktikum Kimia Farmasi II 54 Judul Praktikum : Hari/Tgl praktek : Sampel Uji : No. Batch : Metode : Tim Kerja : 1. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. 2. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. A. TUJUAN PRAKTIKUM B. REAKSI-REAKSI PADA PERCOBAAN INI 1. Reaksi pada pembakuan 2. Reaksi pada penetapan kadar C. PERHITUNGAN PEMBAKUAN 1. Data penimbangan I : Berat KH Ftalat = ............... mg Volume larutan titer (NaOH) = ............... ml NNaOH = N1 = = ................... PELAPORAN HASIL PRAKTIKUM


Praktikum Kimia Farmasi II 55 2. Data penimbangan II Berat KH Ftalat = ............... mg Volume larutan titer (NaOH) = ............... ml NNaOH = N2 = = ................... 3. Data penimbangan III : Berat KH Ftalat = ............... mg Volume larutan titer (NaOH) = ............... ml NNaOH = N3 = = ................... Nrata-rata = = = .............. D. PERHITUNGAN KADAR 1. Data penimbangan I : Berat zat uji = ............. mg Volume larutan titer (NaOH) = ............. ml Asam salisil =VNaOH x NNaOH x BE As Salisil =....... x ............. x 138 = .......... mg Kadar asam salisil dalam sampel : = x 100% = x 100% = ................. % 2. Data penimbangan II : Berat zat uji = ............. mg Volume larutan titer (NaOH) = ............. ml


Praktikum Kimia Farmasi II 56 Asam salisil =VNaOH x NNaOH x BE As Salisil =....... x ............. x 138 = .......... mg Kadar asam salisil dalam sampel : = x 100% = x 100% = ................. % 3. Data penimbangan III : Berat zat uji = ............. mg Volume larutan titer (NaOH) = ............. ml Asam salisil =VNaOH x NNaOH x BE As Salisil =....... x ............. x 138 = .......... mg Kadar asam salisil dalam sampel : = x 100% = x 100% = ................. % Kadar asam salisil rata-rata = = = .......... % E. KESIMPULAN 1. Normalitas larutan titer (NaOH) adalah .................. N 2. Kadar asam salisilat dalam zat uji yang dianalisis adalah ................. % ........................, ..................... 20..... Pengawas/Pembimbing Praktikan (......................................) (..........................................)


Praktikum Kimia Farmasi II 57 Topik 2 Penetapan Kadar Asetosal dengan Metode Asidi-Alkalimetri PENDAHULUAN Berdasarkan kegiatan praktik analisis kuantitatif sebelumnya, pasti Anda merasakan suatu kegiatan yang berbeda dari rutinitas Anda selama ini. Dan ternyata praktik yang Anda lakukan tersebut juga menarik bukan ?, analisis kuantitatif ini dapat Anda aplikasikan loh dalam pekerjaan Anda. Misalnya ada obat tertentu yang kandungannya tidak jelas, sehingga membuat Anda ragu untuk memberikan kepada pasien. Nah, coba lakukan identifikasi dan tentukan kadarnya secara sederhana. Literatur yang dapat Anda jadikan acuan selain modul ini adalah Farmakope Indonesia yang pasti ada di tempat kerja Anda kan. Kali ini kita akan praktik untuk menentukan kadar asetosal dalam sediaan tablet. A. ASETOSAL Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi (peradangan). Badan POM Indonesia menyebutkan bahwa obat ini merupakan analgesik antiinflamasi pilihan pertama. Selain memiliki fungsi seperti diatas asetosal juga memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. Asetosal termasuk dalam salah satu obat komersil yang bisa didapatkan di apotik mana saja. Untuk pemakaian jangka panjang dengan dosis yang sedikit obat ini dapat mencegah penyakit serangan jantung, sedangkan efek sampingnya adalah darah menjadi sukar membeku. Hal ini terjadi karena pada aspirin terkandung zat antikoagulan. Yang kedua adalah konsumsi aspirin dapat menimbulkan sindrom reye terutama terjadi pada anak-anak. Sindrom reye adalah penyait mematikan yang mengganggu fungsi otak dan hati. Karena itu untuk mengantisipasi dan menanggulangi efek samping dari aspirin kita perlu untuk mengetahui berapa kadar aspirin yang boleh kita konsumsi. Uji ini dilakukan untuk mengetahui berapa kadar aspirin pada tablet yang dijual secara komersil, tujuannya adalah agar kita mengetahui apakah kandungan pada tablet itu sudah sesuai atau tidak. Sebagai farmasi untuk kedepannya pengukuran kadar aspirin ini berguna untuk mengetahui dan memantau kadar aspirin pada darah pasien yang sering mengkonsumsi aspirin sehingga efek samping yang timbul dapat diminimalisir.


Praktikum Kimia Farmasi II 58 1. Uraian Asetosal a. Nama resmi : Acidum Acetylosalicylicum b. Nama lain : Asam Asetilsalisilat Asetosal c. Struktur kimia : d. Rumus kimia : C9H8O4 e. BM :180,16 f. Pemerian : 1) FI ed III Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau atau hampir tidak berbau; rasa asam. 2) FI ed IV Hablur putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun, atau serbuk hablur putih; tidak berbau atau berbau lemah. Stabil di udara kering; di dalam udara lembab secara bertahap terhidrolisis menjadi asam salisilat dan asam asetat. g. Kelarutan : 1) FI ed III Agak sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P dan dalam eter P. 2) FI ed IV h. Persyaratan kadar tablet : 1) FI ed III Tablet Asam Asetilsalisilat mengandung Asam Asetlsalisilat C9H8O4 tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. 2) FI ed IV Tablet Asam Asetilsalisilat mengandung Asam Asetilsalisilat, C9H8O4 tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. 2. Penetapan Kadar Asetosal Prosedur penetapan kadar asetosal yang tertera dalam Farmakope Indonesia, menunjukkan bahwa asetosal dapat ditentukan kadarnya dengan metode asidi-alkalimetri. Metode analisis ini merupakan metode titrasi tidak langsung, yang dilakukan dengan mereaksikan asetosal dengan larutan baku natrium hidroksida berlebih. Sisa larutan natrium hidroksida yang belum bereaksi dititrasi dengan larutan asam klorida. Sebagai petunjuk


Praktikum Kimia Farmasi II 59 bahwa titik akhir telah tercapai, digunakan indikator merah fenol dengan perubahan warna dari merah menjadi merah jambu (pH 7-8). Selain merah fenol, indikator lain yang dapat digunakan adalah fenolftalein dengan perubahan warna dari merah menjadi pink muda (hampir tidak berwarna) (pH 8-10). Larutan titer asam klorida dibakukan terlebih dahulu dengan natrim karbonat, pada proses pembakuan ini indikator untuk menunjukkan titik akhir titrasi digunakan metil jingga dengan perubahan warna dari kuning menjadi jingga (pH 5 - 6). Sebelum titrasi (warna kuning) Titik akhir titrasi (warna jingga) 3. Prinsip dan Reaksi Penentuan kadar asetosal ini dilakukan dengan prinsip reaksi netralisasi. Metode titrasi yang digunakan adalah penetapan kadar dengan cara penambahan larutan baku basa (NaOH) berlebih, campuran dipanaskan sehingga asetosal terhidrolisis menjadi asam salisilat dan asam asetat yang ternetralisasi dengan natrium hisroksida. Sisa sisa NaOH yang tidak bereaksi dititrasi kembali dengan larutan baku asam (HCl). Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan larutan asam klorida dengan natrium karbonat adalah : Na2CO3 + 2 HCl 2 NaCl + H2CO3 Reaksi yang terjadi pada penetapan kadar antara asetosal dan natrium hidroksida berlebih adalah : 1 mol asetosal 2 mol NaOH (BE asetosal = ½ BM = ½ x 180 = 90) NaOH sisa + HCl NaCl + H2O


Praktikum Kimia Farmasi II 60 Tes 2 1) Hitunglah berapa gram kandungan HCl murni yang terdapat dalam 250 ml larutan HCl 1 N (BM HCl = 36,5). 2) Pada pembakuan larutan HCl, ditimbang baku primer natrium karbonat anhidrat sebanyak 0,1244 g. Dilarutkan dengan 30 ml air suling, ditambah indikator yang sesuai lalu dititrasi dengan larutan HCl yang hendak dibakukan hingga titik akhir tercapai. Volume larutan titer yang dibutuhkan adalah sebanyak 23,6 ml. a. Tuliskan indikator yang digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. b. Hitung normalitas larutan HCl tersebut. 3) Pada penetapan kadar asetosal dengan metode asidi-alkalimetri, ditimbang serbuk tablet sebanyak 0,1573 g. Dimasukkan ke dalam erlenmeyer, ditambah 25,0 ml larutan NaOH 0,1 N dan 20 ml air suling. Dididihkan selama 5 menit, kemudian dititrasi dengan larutan HCl yang telah dibakukan di atas sampai titik akhir titrasi. Dilakukan pula titrasi blanko. Volume larutan titer pada titrasi sampel = 15,2 ml dan volume larutan titer pada titrasi blanko = 25,2 ml. a. Jelaskan tujuan sampel didihkan terlebih dahulu. b. Senyawa apakah yang dititrasi dengan larutan HCl ? c. Jika diketahui berat 10 tablet asetosal tersebut = 5,2621 g, hitunglah berapa mg kandungan asetosal/tab sampel uji tersebut


Praktikum Kimia Farmasi II 61 PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum a. Mahasiswa dapat membuat larutan baku Asam klorida 0,1 N yang diperlukan dalam titrasi b. mahasiswa dapat melakukan pembakuan asam klorida dengan natrium karbonat c. mahasiswa dapat melakukan penentapan kadar Aspirin dengan menggunakan metode Asidi-alkalimetri. 2. Alat dan Bahan a. Alat yang digunakan : a) Erlenmeyer 250 ml b) Buret 50 ml c) Labu ukur 500 ml d) Gelas ukur e) Gelas kimia 100 ml f) Neraca analitik g) Pipet volum 25 ml h) Pipet tetes b. Bahan yang digunakan : a) Sampel tablet asetosal b) Natrium hidroksida c) Asam klorida d) Natrium karbonat anhidrat e) Indikator fenolftalein f) Indikator jingga metil 3. Prosedur Praktikum a. Pembuatan larutan titer asam klorida 0,1 N a) Ukur 4,2 ml asam klorida P, masukkan ke dalam labu ukur 500 ml. b) Encerkan dengan air suling hingga tanda, kocok hingga homogen b. Pembakuan larutan titer asam klorida 0,1 N a) Timbang saksama 0,5 g natrium karbonat anhidrat, masukkan ke dalam labu ukur 100 ml (karena mulut labu kecil, maka gunakan corong untuk memudahkan zat uji masuk ke dalam labu ukur tersebut). b) Semprot corong dengan lebih kurang 25 ml air suling sehingga seluruh natrium karbonat masuk ke dalam labu ukur, kocok hingga larut sempurna. c) Cukupkan volumenya dengan air suling hingga tanda, kocok hingga homogen.


Praktikum Kimia Farmasi II 62 d) Ukur saksama larutan natrium karbonat tersebut sebanyak 25 ml menggunakan pipet volum, Pindahkan ke dalam erlenmeyr 250 ml, tambahkan 3 tetes larutan indikator jingga metil, kocok hingga homogen e) Titrasi dengan larutan asam klorida hingga warna larutan berubah dari kuning menjadi jingga f) Ulangi prosedur ini 2 kali lagi. g) Hitung normalitas larutan titer asam klorida tersebut, dengan rumus : Mgrek HCl = mgrek Na2CO3 VHCl x NHCl = x VHCl x NHCl = x NHCl = x Dimana : VHCl= volume larutan titer yang diperlukan pada titrasi Karena Natrium karbonat dilarutkan hingga 100 ml, dan larutan yang dititrasi hanya 25 ml. Maka jumlah mg natrium karbonat yang digunakan dalam titrasi adalah x jumlah natrium karbonat yang tertimbang. c. Penetapan kadar asetosal dalam tablet a) Timbang berat 10 sampel tablet asetosal, kemudian hitung berat rata-ratanya. Haluskan sampel tablet tersebut menggunakan lumpang b) Timbang saksama serbuk tablet setara dengan 300 mg asetosal, masukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml (serbuk tablet yang ditimbang = x berat rata-rata (g) c) Tambahkan 30 ml air suling dan 25,0 ml naoh 0,1 n, kocok kuat. d) Didihkan selama 10 menit (untuk mencegah penguapan yang berlebihan, tutup mulut erlenmeyer dengan corong gelas), kemudian dinginkan. e) Tambahkan 3 tetes indikator fenolftalein, kemudian titrasi dengan larutan asam klorida yang telah dibakukan hingga warna larutan berubah dari merah menjadi tepat tidak berwarna (warna merah tepat hilang). f) Ulangi prosedur ini 2 kali lagi. g) Lakukan percobaan blanko dengan cara : 1) Masukkan 30 ml air suling dan 25,0 ml NaOH 0,1 N ke dalam erlemeyr 250 ml, kocok kuat. 2) Didihkan selama 10 menit (untuk mencegah penguapan yang berlebihan, tutup mulut erlenmeyer dengan corong gelas), kemudian dinginkan. 3) Tambahkan 3 tetes indikator fenolftalein, kemudian titrasi dengan larutan asam klorida yang telah dibakukan hingga warna larutan berubah dari merah menjadi tepat tidak berwarna (warna merah tepat hilang). 4) Ulangi prosedur ini 1 kali lagi.


Praktikum Kimia Farmasi II 63 h) Hitung kadar asetosal (mg/tablet) dengan rumus : Mgrek asetosal = (Vblanko – Vsampel) x NHCl Asetosal dlm sampel = (Vblanko – Vsampel) x NHCl x BEasetosal =...... mg mg asetosal pertab = x hasil perhitungan (mg) i) Persen kadar yang diperoleh terhadap kadar yang tertera pada etiket/label obat. Cocokkan kadar yang diperoleh tersebut dengan persyaratan yang tertera pada FI edisi IV. Persen kesesuaian kadar terhadap label dihitung dengan rumus : % kadar zat uji terhadap label = x 100%


Praktikum Kimia Farmasi II 64 Hasil Pengamatan 1. Pembakuan Larutan HCl 0,1 N Berat Na2CO3 = ............... g Data Titrasi pada Pembakuan No. Volume larutan Na2CO3 Pembacaan skala buret Volume titrasi (ml) Titik awal titrasi Titik akir titrasi 1. 2. 3. Volume titrasi rata-rata 2. Penetapan Kadar Asetosal dalam Sampel Tablet Karakteristik sampel uji : Merk sampel : ................... No. Batch : ................... Kadar asetosal/tab sesuai label : ............. mg Berat 10 tablet = ................... g Berat serbuk tab yang harus ditimbang = ................. g Data Penimbangan dan Titrasi pada Penetapan Kadar No. Berat (g) Pembacaan skala buret Volume titrasi Titik awal titrasi Titik akir titrasi (ml) 1. 2. 3. Blanko 1 2 Volume titrasi blangko rata-rata


Praktikum Kimia Farmasi II 65 A. TUJUAN PRAKTIKUM B. REAKSI-REAKSI PADA PERCOBAAN INI 1. Reaksi pada Pembakuan 2. Reaksi pada Penetapan Kadar C. PERHITUNGAN PEMBAKUAN Berat Na2CO3 = ............... g = ............... mg Volume larutan titer HCl rata-rata = .............. ml NHCl = x NHCl = x NHCl = .................... Judul Praktikum : Hari/Tgl praktek : Sampel Uji : No. Batch : Metode : Tim Kerja : 3. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. 4. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. PELAPORAN HASIL PRAKTIKUM


Praktikum Kimia Farmasi II 66 D. PERHITUNGAN KADAR Berat 10 tablet = ................ g Berat rata-rata/tab = = = ............... g 1. Data penimbangan I: Berat sampel uji = ............. mg Volume larutan titer (NaOH) pd titrasi sampel = ............. ml Volume larutan titer pd titrasi blangko = ............ ml Mgrek asetosal = (Vblanko – Vsampel) x NHCl Asetosal dlm sampel = (Vblanko – Vsampel) x NHCl x BEasetosal = (........ - ........) x ............... X 90 =...... mg asetosal pertab = x hasil perhitungan (mg) = x .............. (mg) = ................. mg % kadar asetosal terhadap label = x 100% = x 100% = ............... % 2. Data penimbangan II: Berat sampel uji = ............. mg Volume larutan titer (NaOH) pd titrasi sampel = ............. ml Volume larutan titer pd titrasi blangko = ............ ml Asetosal dlm sampel = (Vblanko – Vsampel) x NHCl x BEasetosal = (........ - ........) x ............... X 90 =...... mg asetosal pertab= x hasil perhitungan (mg) = x .............. (mg) = ................. mg % kadar asetosal terhadap label = x 100% = x 100% = ............... %


Praktikum Kimia Farmasi II 67 3. Data Penimbangan III: Berat sampel uji = ............. mg Volume larutan titer (NaOH) pd titrasi sampel = ............. ml Volume larutan titer pd titrasi blangko = ............ ml Asetosal dlm sampel = (Vblanko – Vsampel) x NHCl x BEasetosal = (........ - ........) x ............... X 90 =...... mg asetosal pertab = x hasil perhitungan (mg) = x .............. (mg) = ................. mg % kadar asetosal terhadap label = x 100% = x 100% = ................ % E. KESIMPULAN 1. Normalitas larutan titer HCl : ..................... N 2. Kadar asetosal pertablet : ..................... mg/tab Kadar kemurnian berdasarkan kadar yang tertera pada label : ............... % Jadi .......................... syarat Farmakope Indonesia edisi III/IV ........................, ..................... 20..... Pengawas/Pembimbing Praktikan (......................................) (..........................................)


Praktikum Kimia Farmasi II 68 Kunci Jawaban Tes Tes 1 1) Soal ini diselesaikan dengan rumus : Normalitas (N) = Massa (g) = N x BE x Volume(liter) Untuk menentukan BE, lihat BM dan jumlah ion OH- yang dilepaskan dalam larutan. 2) Fenolftalein. Titik akhir titrasi tidak berwarna menjadi pink/merah muda Soal ini diselesaikan dengan rumus : mgrek larutan titer = mgrek baku primer mgrek larutan titer (data tersedia dalam bentuk volume/ml) : mgrek = ml x N mgrek baku primer (data tersedia dalam bentuk berat/mgram) : mgrek = Jadi gunakan rumus : VNaOH x NNaOH = Ingatlah, kesetaraan BE baku primer (K biftalat) dengan BM dilihat dari jumlah H+ atau OH- yang ternetralisasi dalam reaksinya (lihat reaksi K biftalat dengan NaOH) 3) Soal ini diselesaikan dengan rumus : = VNaOH x NNaOH Jadi : Asam salisil (mg) = VNaOH x NNaOH x BE As Salisil Kesetaraan BE dengan BM asam salisilat, lihat reaksinya Kadar asam salisil dalam sampel := x 100% Kunci : 0,5 gram Kunci : 0,0491 N Kunci : 1,86%


Praktikum Kimia Farmasi II 69 Tes 2 1) Soal ini diselesaikan dengan rumus : Normalitas (N) = Massa (g) = N x BE x Volume(liter) Untuk menentukan BE, lihat BM dan jumlah ion H+ yang dilepaskan dalam larutan. 2) Metil jingga /metil merah mgrek larutan titer = mgrek baku primer mgrek larutan titer (data tersedia dalam bentuk volume/ml) : mgrek = ml x N mgrek baku primer (data tersedia dalam bentuk berat/mgram) : mgrek = Jadi gunakan rumus : VHCl x NHCl = Kesetaraan BE baku primer (Na2CO3) terhadap BM lihat kembali reaksinya. 3) Baca prinsip dan reaksi pada penetapan kadar asetosal Baca prinsip dan reaksi pada penetapan kadar asetosal Selesaikan menggunakan rumus berikut : Asetosal dlm sampel = (Vblanko – Vsampel) x NHCl x BEasetosal =...... mg Kesetaraan BE asetosal terhadap BM lihat kembali reaksinya. asetosal pertab = x hasil perhitungan (mg) =................. mg % kadar asetosal terhadap label = x 100% = ............... % Kunci : 9,125 g gram Kunci : 0,0995 N Kunci : 299,57 mg


Praktikum Kimia Farmasi II 70 Latihan 1) Asam salisilat dalam sediaan bedak dapat ditetapkan dengan metoda... A. asidimetri B. alkalimetri C. iodimetri D. permanganometri E. kompleksometri 2) Larutan titer yang digunakan pada penetapan asam salisilat dalam bedak adalah... A. Kalium permanganat (KMnO4) B. Asam sulfat C. Natrium hidroksida D. Larutan Iodium E. Na EDTA 3) Indikator yang digunakan pada penetapan kadar asam salisilat dalam bedak adalah... A. Phenoftalein B. KMnO4 C. Metil orange D. Tropeolin OO E. Amilum 4) Reaksi kimia yang terjadi pada penetapan asam salisilat tersebut adalah... A. Pembentukan senyawa kompleks B. Reduksi oksidasi C. Pembentukan garam diazonium D. Pengendapan E. Asam basa 5) Larutan baku primer yang digunakan pada titrasi penetapan asam salisilat dalam bedak adalah... A. Natrium klorida B. Natrium karbonat C. Kalsium karbonat D. K-biftalat E. Asam oksalat 6) Metoda volumetric yang tepat pada penetapan kadar tablet asetosal adalah metoda... A. asidi-alkalimetri B. iodimetri


Praktikum Kimia Farmasi II 71 C. permanganometri D. kompleksometri E. nitrimetri 7) Reaksi yang terjadi pada pemanasan tablet asetosal dalam percobaan diatas adalah... A. menghidrolisis tablet asetosal menjadi asam klorida B. menghidrolisis tablet asetosal menjadi asam asetat C. menghidrolisis tablet asetosal menjadi asam salisilat D. menghidrolisis tablet asetosal menjadi asam salisilat dan asam asetat E. meningkatkan kelarutan asetosal. Petunjuk Jawaban Latihan Untuk dapat menjawab soal-soal latihan di atas, Anda harus mempelajari kembali Topik 1 tentang Identifikasi Golongan Karbohidrat dan Asam.


Praktikum Kimia Farmasi II 72 Kunci Jawaban Tes Latihan 1) B 2) C 3) A 4) E 5) D 6) A 7) D


Praktikum Kimia Farmasi II 73 Daftar Pustaka Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia. Depkes RI,1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta. Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta. Sudjadi, Abd Rohman, 2012, Analisis Farmasi, PustakaPelajar Yogyakarta. Sudjadi, Abd Rohman, 2007, Analisis Kuantitatif Obat, PustakaPelajar Yogyakarta Basset, J., Denney, R C., dkk., 1994, Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, Jakarta: EGC.


Praktikum Kimia Farmasi II 74 BAB III ANALISIS KUANTITATIF OBAT DENGAN TITRASI REAKSI REDUKSI OKSIDASI DAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS DR. Hj. Nurisyah, M.Si, Apt. Dra Harpolia Cartika, M.Farm, Apt. Khairun Nida, S.Si.,M.Biomed.,Apt. PENDAHULUAN Metode Volumetri kali ini tentang titrasi reduksi oksidasi dan pembentukan kompleks. Macam-macam titrasi oksidasi reduksi antara lain : 1. Permanganometri Larutan titer yang digunakan pada metode permanganometri adalah Kalium permanganat (KMnO4) yang umumnya dilakukan dalam suasana asam (asam sulfat encer). KMnO4 merupakan suatu oksidator, sehingga zat yang dianalisis merupakan suatu reduktor. 2. Iodimetri dan Iodometri Larutan titer yang digunakan pada metode Iodimetri adalah larutan Iodium (I2). Iodium merupakan suatu oksidator, sehingga zat yang dianalisis merupakan reduktor. Larutan titer yang digunakan pada metode Iodometri adalah larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3). Natrium tiosulfat merupakan reduktor, namun reaksi dalam metode ini didasarkan pada reaksi iodium (oksidator) dengan larutan titer (natrium tiosulfat). Dimana Iodium merupakan hasil reaksi suatu oksidator (zat uji) dengan kalium iodida (KI). Iodometri juga bisa dilakukan dengan mereaksikan zat uji reduktor dengan larutan iodium berlebih, sisa iodium yang tidak bereaksi dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat (titrasi berlebih). Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Kestabilan dari senyawa kompleks yang terbentuk tergantung dari sifat kation dan pH dari larutan, oleh karena itu titrasi harus dilakukan pada pH tertentu. Untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indikator logam, yaitu indikator yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam seperti Eriochrom Black T (EBT), biru hidroksinaftol, dan jingga xilenol. Titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna ungu menjadi biru. Supaya lebih jelas lagi materi tentang titrasi reduksi oksidasi dan pembentukan kompleks dapat anda pelajari di bab 1 kimia farmasi teori pada topic 3 tentang analisis kuantitatif obat.


Praktikum Kimia Farmasi II 75 Pada Bab 3 ini dirancang untuk 3 topik kegiatan praktikum berdasarkan reaksi reduksi oksidasi dan pembentukan kompleks yaitu : Topik 1. Penetapan Kadar Vitamin C dengan Metode Iodimetri Topik 2. Penetapan Kadar Ferro Sulfat dengan Metode Permanganometri Topik 3. Penetapan Kadar Kalsium Laktat dengan Metode Kompleksometri Analisis kuantitatif pada zat-zat diatas dilakukan terhadap sediaan obat tunggal untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan anda dalam menghitung kadar senyawa obat.


Praktikum Kimia Farmasi II 76 Topik 1 Penetapan Kadar Vitamin C dengan Metode Iodimetri PENDAHULUAN Kekurangan asupan vitamin C dapat menyebabkan penyakit sariawan atau skorbut. Bila terjadi pada anak (6-12 bulan), gejala-gejala penyakit skorbut ialah terjadinya pelembekan tenunan kolagen, infeksi, dan demam. Pada anak yang giginya telah keluar, gusi membengkak, empuk dan terjadi pendarahan. Pada orang dewasa skorbut terjadi setelah beberapa bulan menderita kekurangan vitamin C dalam makanannya. Gejalanya ialah pembengkakan dan perdarahan pada gusi, gingivalis, kaki menjadi empuk, anemia dan deformasi tulang. Akibat yang parah dari keadaan ini ialah gigi menjadi goyah dan dapat lepas. Vitamin C (Asam askorbat) bersifat sangat sensitif terhadap pengaruh-pengaruh luar yang menyebabkan kerusakan seperti suhu, oksigen, enzim, kadar air, dan katalisator logam. Asam askorbat sangat mudah teroksidasi menjadi asam dehidroaskorbat yang masih mempunyai keaktivan sebagai vitamin C. Asam dehidroaskorbat secara kimia sangat labil dan dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam diketogulonat yang tidak memiliki keaktivan vitamin C lagi.Untuk itu, maka perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kadar vitamin C yang terkandung dalam sediaat tablet. Sehingga masyarakat mengkonsumsi jumlah vitamin c sesuai dengan kadar yang tertera pada label sediaan tablet tersebut. 1. Uraian Vitamin C a. Nama resmi : Acidum Ascorbicum b. Nama lain : Asam Askorbat Vitamin C c. Struktur kimia: d. Rumus kimia : C6H8O6 e. BM : 176,13 f. Pemerian :


Praktikum Kimia Farmasi II 77 1) FI ed III Serbuk atau hablur; putih atau kuning; tidak berbau; rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara, dalam cepat teroksidasi. 2) FI ed IV Hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil di udara, dalam larutan cepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang 190o . g. Kelarutan: 1) FI ed III Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam benzena P. 2) FI ed IV Mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam kloroforom, dalam eter dan dalam benzena. h. Persyaratan Sediaan ablet 1) FI ed III Tablet Asam Askorbat Mengandung Asam Askorbat C6H8O4 tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. 2) FI ed IV Tablet Asam Askorbat mengandung Asam Askorbat C6H8O4, tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. 2. Penetapan Kadar Vitamin C Untuk menentukan kadar asam askorbat, Farmakope Indonesia menerapkan metode iodimetri dengan menggunakan larutan baku iodium 0,1 N. Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan larutan iod dalam kalium iodida. Hal ini disebabkan karena iod sangat sukar larut dalam air dan mudah larut dalam larutan pekat iodida, Oleh karena itu, pada pembuatan larutan iod digunakan larutan pekat kalium iodida. Reaksi pelarutan iodium dalam kalium idodida merupakan reaksi bolak balik : I2 +KI KI3, sehingga bentuk reaktifnya adalah ion triiodida (I3 - ). Oleh karena reaksi tersebut bolak balik sehingga dalam reaksi tetap dituliskan sebagai molekul iod (I2). Farmakope Indonesia menggunakan arsen trioksida(hati-hati !, senyawa ini sangat toksik) sebagai baku primer untuk membakukan larutan iod. Arsen trioksida sangat sukar larut dalam air, oleh karena itu pada proses pembakuan terlebih dahulu arsen trioksida dilarutkan dalam larutan alkali (NaOH) membentuk garam arsenit. Kemudian pengasaman larutan dengan HCl diperlukan karena reaksi oksidasi arsen oleh iod berlangsung dalam suasana asam


Praktikum Kimia Farmasi II 78 Deteksi titik akhir titrasi pada iodimetri ini dilakukan dengan menggunakan indikator amilum yang akan memberikan warna biru kehitaman pada saat tercapainya titik akhir titrasi. Sebelum titrasi (tidak berwarna) Titik akhir titrasi (warna biru kehitaman) 3. Prinsip dan Reaksi Penetapan kadar vitamin C ini didasarkan dengan prinsip reaksi redoks menggunakan larutan iodium sebagai oksidator. Sebagai larutan titer iodium terlebih dahulu dibakukan dengan arsen trioksida sebagai baku primer. Reaksi yang terjadi antara arsen trioksida dengan iodium pada proses pembakuan ini adalah sebagai berikut : As2O3 + 6 NaOH 2 Na3AsO3 + 3 H2O Na3AsO3 + 3 HCl H3AsO3 + 3 NaCl ½ Reaksi Oksidasi : AsO3 3- + H2O AsO4 3- + 2 H+ + 2 e ½ reaksi reduksi dari iodium : I2 + 2 e 2 IReaksi redoks : AsO3 3- + I2 + H2O AsO4 3- + 2 I- + 2 H+ Berdasarkan ½ reaksi oksidasi arsen trioksida di atas : 1 mol AsO3 3- 2 mol e 1mol As2O3 2 mol AsO3 3- 4 e BE As2O3 = ¼ BM = ¼ X 197,84 = 49,46


Praktikum Kimia Farmasi II 79 Reaksi yang terjadi antara vitamin C dan larutan titer iodium pada proses penetapan kadar . ½ Reaksi oksidasi : ½ Reaksi reduksi : I2 + 2 e 2 IBerdasarkan ½ reaksi oksidasi vitamin C di atas : 1 ml vitamin c 2 mol e BE vitamin c = ½ x BM = ½ x 176 = 88


Praktikum Kimia Farmasi II 80 PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum a. Mahasiswa dapat membuat larutan baku Iod 0,1 N yang diperlukan dalam titrasi b. Mahasiswa dapat melakukan pembakuan larutan Iod dengan arsen trioksida sebagai baku primer c. Mahasiswa dapat melakukan penetapan kadar vitamin c dengan menggunakan metode iodimetri 2. Alat dan Bahan a. Alat yang digunakan : 1) Erlenmeyer 250 ml 2) Buret 50 ml 3) Labu ukur 500 ml 4) Gelas ukur 5) Gelas kimia 100 ml 6) Neraca analitik 7) Pipet tetes b. Bahan yang digunakan : 1) Sampel tablet vitamin C 2) Arsen trioksida 3) Asam klorida 4) Natrium hidroksida 5) Iodium 6) Indikator kanji 7) Air suling 3. Prosedur Praktikum a. Pembuatan larutan iodium 0,1 N 1) Timbang 6,35 g iodium dalam botol timbang. 2) Timbang 9 g kalium iodida dalam gelas kimia, tambahkan 10 tetes air suling. Aduk hingga larut. 3) Masukkan iodium sedikit-sedikit, aduk hingga kristal iodium tersebut larut. 4) Encerkan dengan air suling, masukkan ke dalam labu ukur 500 ml. 5) Bilas gelas kimia dengan air suling, dan masukkan air bilasan ke dalam labu ukur yang berisi larutan iodium sebelumnya. 6) Lakukan pembilasan sampai gelas kimia tersebut bebas dari larutan iodium, kemudian cukupkan volumenya dengan air suling hingga tanda.


Praktikum Kimia Farmasi II 81 b. Pembakuan larutan titer iodium 1) Timbang saksama 100 mg arsentrioksida, larutkan dalam 20 ml natrium hidroksida 1 N, jika tidak larut hangatkan. 2) Encerkan dengan 40 ml air, tambahkan 2 tetes larutan jingga metl. 3) Tambahkan larutan asam klorida 6 N hingga terjadi warna merah jambu, kemudian tambahkan 2 g natrium bikarbonat, encerkan dengan 50 ml air. 4) Tambahkan 1 ml larutan indikator kanji. 5) Titrasi dengan larutan iodium hingga berwarna biru. 6) Ulangi prosedur ini 2 kali lagi. 7) Hitung normalitas larutan titerIod tersebut (normalitas larutan hasil perhitungan ditulis sampai 4 desimal/4 angka di belakang koma), dengan rumus Mgrek Iod= mgrek As2O3 VIod x NIod = VIod x NIod = NIod = Dimana VIod = volume larutan titer yang diperlukan pada proses titrasi (ml). Berat As2O3 dibuat dalam satuan berat mg c. Penetapan kadar vitamin C tablet 1) Timbang berat 10 tablet, kemudian hitung berat rata-rata pertablet. Haluskan tablet menggunakan lumpang. 2) Timbang saksama serbuk tablet setara dengan 180 mg vitamin C murni, masukkan ke dalam erlenmeyer. 3) Larutkan Dengan 50 Ml Air bebas karbondioksida, kocok. Kemudian tambahkan 25 ml asam sulfat 10 %v/v. 4) Tambahkan 1 ml larutan indikator kanji. 5) Titrasi dengan iodium yang telah dibakukan di atas hingga berwarna biru. 6) Ulangi prosedur ini 2 kali lagi. 7) Hitung kadar vitamin c (mg/tablet) dengan rumus : Mgrek vitamin c =mgrek iod =VIod x NIod mg Vit c dlm sampel =VIod x NIod x BE vit c =...... mg mg vit c pertab = x hasil perhitungan (mg)


Praktikum Kimia Farmasi II 82 8) Persen kadar yang diperoleh terhadap kadar yang tertera pada etiket/label obat. Cocokkan kadar yang diperoleh tersebut dengan persyaratan yang tertera pada FI edisi IV. Persen kesesuaian kadar terhadap label dihitung dengan rumus : % kadar zat uji terhadap label = x 100%


Praktikum Kimia Farmasi II 83 A. TUJUAN PRAKTIKUM B. REAKSI-REAKSI PADA PERCOBAAN INI 1. Reaksi pada pembakuan 2. Reaksi pada penetapan kadar C. PERHITUNGAN PEMBAKUAN 1. Data penimbangan I : Berat As2O3 = ............... mg Volume larutan titer (VIod) = ............... ml NIod = N1 = = ................... Judul Praktikum : Hari/Tgl praktek : Sampel Uji : No. Batch : Metode : Tim Kerja : 5. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. 6. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. PELAPORAN HASIL PRAKTIKUM


Praktikum Kimia Farmasi II 84 2. Data penimbangan II Berat As2O3 = ............... mg Volume larutan titer (VIod) = ............... ml NIod = N2 = = ................... 3. Data penimbangan III : Berat As2O3 = ............... mg Volume larutan titer (VIod) = ............... ml NIod = N3 = = ................... Nrata-rata= = = .............. D. PERHITUNGAN KADAR 1. Data penimbangan I : Berat zat uji = ............. mg Volume larutan titer (VIod) = ............. ml Mgrek vitamin c =mgrek iod = VIod x NIod mg Vit c dlm sampel =VIod x NIod x BE vit c =....... x ............. x 88 =...... mg mg vit c pertab= x hasil perhitungan (mg) = x ....... mg = ................. mg


Praktikum Kimia Farmasi II 85 Kadar terhadap etiket = x 100 % = x 100 % = ............ % 2. Data penimbangan II : Berat zat uji = ............. mg Volume larutan titer (VIod) = ............. ml Mgrek vitamin c =mgrek iod = VIod x NIod mg Vit c dlm sampel =VIod x NIod x BE vit c = ....... x ............. x 88 = ................ mg mg vit c pertab = x hasil perhitungan (mg) = x 100% = ................. % 3. Data penimbangan III : Berat zat uji = ............. mg Volume larutan titer (VIod) = ............. ml Mgrek vitamin c =mgrek iod =VIod x NIod mg Vit c dlm sampel =VIod x NIod x BE vit c =....... x ............. x 88 =...... mg mg vit c pertab = x hasil perhitungan (mg) = x ....... mg = ................. mg Kadar terhadap etiket = x 100 % = x 100 % = ............ %


Praktikum Kimia Farmasi II 86 Kadar asam salisil rata-rata = = = .......... % E. KESIMPULAN 1. Normalitas larutan titer Iod : ..................... N 2. Kadar vitamin c pertablet : ..................... mg/tab Kadar kemurnian berdasarkan kadar yang tertera pada label : .............. % Jadi .......................... syarat Farmakope Indonesia edisi III/IV ........................, ..................... 20..... Pengawas/Pembimbing Praktikan (......................................) (..........................................)


Praktikum Kimia Farmasi II 87 Latihan 1 Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi praktikum di atas, kerjakanlah latihan berikut! 1) Hitunglah berapa gram iodium kristal (BM 254) dibutuhkan untuk membuat 250 ml larutan iodium 0,1 N. 2) Untuk membakukan larutan iod, ditimbang As2O3 sebanyak 0,2992 g. Dilarutkan dengan larutan NaOH 2 N sebanyak 10 ml, dimasukkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 ml. Ditambahkan 3 tetes indikator metil jingga, ditambahkan larutan HCl 6 N hingga berwarna merah. Dicukupkan volumenya hingga tanda dengan air suling, kemudian diukur saksama sebanyak 25 ml, dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Dilakukan pengukuran sebanyak 3 kali (triplo), kemudian dititrasi dengan larutan iod yang akan dibakukan menggunakan indikator yang sesuai sampai titik akhir tercapai. Volume larutan titer rata-rata yang dibutuhkan adalah 15,42 ml. a) Indikator apa yang digunakan, dan bagaimana menentukan titik akhir titrasi telah tercapai b) Alat apa yang harus digunakan untuk mengukur larutan As2O3 tersebut di atas. c) Hitunglah normalitas larutan iod tersebut 3) Pada penetapan kadar vitamin C tablet, maka ditimbang serbuk tablet sebanyak 0,3157 g. Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml, dilarutkan dengan air bebas karbon dioksida dan diasamkan dengan asam sulfat 10%. Dititrasi dengan larutan iodium yang telah dibakukan di atas menggunakan indikator kanji sampai titik akhir tercapai. Diketahui Berat 10 tablet sampel uji = 2,3451 g, volume larutan titer iod yang dibutuhkan = 15,3 ml. Hitunglah berapa mg vitamin c pertablet. Petunjuk Jawaban Latihan Untuk dapat menjawab soal-soal latihan di atas, Anda harus mempelajari kembali Topik 1 tentang Identifikasi Golongan Karbohidrat dan Asam.


Praktikum Kimia Farmasi II 88 Topik 2 Penetapan Kadar Fero Sulfat dengan Metode Permanganometri PENDAHULUAN Tablet besi (II) sulfat atau ferro sulfat merupakan preparat yang digunakan untuk mengatasi anemia terutama anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi untuk eritropoeisis tidak cukup. Zat besi (Fe) sangat diperlukan oleh tubuh antara lain untuk pertumbuhan, bekerjanya berbagai macam enzim dalam tubuh dan yang paling penting digunakan untuk pembentukan hemoglobin. Selain itu kekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan susunan syaraf pusat, dapat mengurangi prestasi kerja, kecerdasan terhambat, menurunnya kekebalan terhadap infeksi. Prevalensi anemia defisiensi besi di Indonesia masih tergolong cukup tinggi, kira – kira sekitar 43% anak-anak dan 51% ibu hamil. Pengobatan anemia dengan perubahan makanan saja tidak cukup sehingga alternatif pengobatan lain diberikan tablet zat besi. Tingginya prevalensi anemia di Indonesia menyebabkan kebutuhan tablet zat besi yaitu ferro sulfat sebagai preparat untuk mengatasi anemia defisiensi besi menjadi meningkat. Hal ini dapat menjadi dorongan bagi industri – industri farmasi untuk meningkatkan produksi besi (II) sulfat. 1. Uraian Ferro Sulfat a. Nama resmi : Ferrosi Sulfas b. Nama lain : Besi (II) Sulfat c. Rumus kimia : FeSO4 d. BM : FeSO4 7H2O = 278,01 FesO4 anjidrat = 151,90 e. Pemerian : 1) FI ed III Serbuk; putih keabuan; rasa logam, sepat 2) FI ed IV Hablur atau granul warna hijau kebiruan, pucat, tidak berbau dan rasa seperti garam. Merekah di udara kering. Segera teroksidasi dalam udara lembab, berbentuk besi (III) sulfat berwarna kuning kecoklatan. Larutan (1 dalam 10) bereaksi asam terhadap lakmus P, pH lebih kurang 3,7. f. Kelarutan : 1) FI ed III Perlahan-lahan larut hampir sempurna dalam air bebas karbondioksida


Praktikum Kimia Farmasi II 89 2) FI ed IV Mudah larut dalam air; tidak larut dalam etanol; sangat mudah larut dalam air mendidih. Persyaratan kadar tablet ferrosi sulfat : Tablet Besi (II) Sulfat mengandung Besi (II) Sulfat. Kadar FeSO4 tidak kurang dari 80,0% dan tidak lebih dari 90% dari jumlah yang tertera pada etiket (FI ed III). 2. Penetapan Kadar Ferro Sulfat Penetapan kadar besi (II) sulfat dapat ditetapkaan dengan banyak metode, salah satunya adalah titrimetri (iodometri, permanganometri, serimetri, dan kompleksometri). Penetapan kadar besi (II) sulfat menurut Farmakope Indonesia edisi IV adalah dengan titrasi serimerti. Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Metode titrasi ini didasarkan pada reaksi reduksi dan oksidasi (redoks) antara KMnO4 dengan bahan tertentu yang bersifat reduktor. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam. Biasanya digunakan pada medium asam 0,1 N. Asam sulfat merupakan asam yang paling cocok digunakan sebagai pelarutnya karena jika digunakan asam klorida maka kemungkinan sebagian permanganatnya digunakan untuk pembentukan klorin seperti reaksi dibawah ini : 2 MnO4 - + 16 H+ + 10 Cl- 2 Mn2+ + 5Cl2 + 8H2O Kalium permanganat telah digunakan sebagai zat pengoksid secara meluas, pereaksi ini mudah diperoleh, murah, dan tidak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Setetes permanganat 0,1 N memberikan warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menyatakan berlebihnya pereaksi yang digunakan (titik akhir telah tercapai). Oleh karena itu, titrasi dengan metode permanganometri tidak diperlukan larutan indikator karena kalium permanganat sendiri berfungsi sebagai autoindikator. Sebelum titrasi (tidak berwarna) Titik akhir titrasi (warna pink)


Praktikum Kimia Farmasi II 90 Titrasi permanganometri harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak terjadi bolak balik, sedangkan potensial elektroda sangat tergantung pada pH. Kalium permanganat dibakukan dengan menggunakan asam oksalat sebagai standar primernya. Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan kalium permanganat adalah: ½ Reaksi oksidasi : C2O4 2- 2 CO2 + 2 e I mol asam oksalat 2 mol e BE asam oksalat = ½ x BM = 12 x 126 = 63 ½ Reaksi reduksi : MnO4 - + 8 H+ + 5 e Mn2+ + 4 H2O 1 mol kalium permanganat 5 ml e BE kalium permanganat = 1/5 x BM = 1/5 x 158 = 31,6) Reaksi redoks : 5 C2O42- + 2 MnO4- + 16 H+ 10 CO2 + 2 Mn2+ +8 H2O Reaksi yang terjadi antara permanganat dengan besi (II) pada proses titrasi permanganometri adalah : ½ Reaksi oksidasi : Fe2+ Fe3+ + e 1 mol Ferro 1 mol e, BE = BM ½ Reaksi reduksi : MnO4 - + 8 H+ + 5 e Mn2+ + 4 H2O Reaksi redoks : 5 Fe2+ + MnO4 - + 8 H+ 5 Fe3+ + Mn2+ + 4 H2O Akhir titrasi ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan kelebihan permanganat


Praktikum Kimia Farmasi II 91 PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum a. Mahasiswa mengetahui cara pembuatan larutan baku kalium permanganat b. Mahasiswa dapat membakukan larutan titer kalium permanganat c. Mahasiswa dapat menentukan kadar ferro sulfat dalam tablet secara permanganometri. 2. Alat dan Bahan a. Alat yang digunakan : 1) Erlenmeyer 250 ml 2) Buret 50 ml 3) Labu ukur 500 ml 4) Gelas ukur 5) Gelas kimia 100 ml 6) Penangas air 7) Termometer 8) Neraca analitik 9) Pipet tetes b. Bahan yang digunakan : 1) Sampel tablet ferro sulfat 2) Kalium permanganat 3) Asam oksalat 4) Asam sulfat 5) Air suling 3. Prosedur Praktikum a. Pembuatan larutan titer kalium permanganat 0,1 N 1) Timbang 1,58 g dalam gelas kimia 100 ml, larutkan dengan 50 ml air suling 2) Saring dengan glaswol, filtrat ditampung ke dalam labu ukur 500 ml. 3) Bilas residu beberapa kali dengan air suling, campur filtrat ke dalam labu ukur di atas. Kemudian cukupkan volumenya dengan air suling hingga tanda. b. Pembakuan larutan titer kalium permanganat 0,1 N 1) Timbang saksama 100 mg asam oksalat, masukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. 2) Larutkan dengan 25 ml air suling, kocok hingga larut. 3) Tambahkan 15 ml asam sulfat 2 N, kocok hingga homogen, panaskan di atas penangas air hingga suhu larutan mencapai 70oC (ukur dengan termometer)


Praktikum Kimia Farmasi II 92 4) Titrasi hingga warna larutan KMnO4 tidak hilang (larutan berubah dari tidak berwarna menjadi pink). 5) Ulangi prosedur ini 2 kali lagi. 6) Hitung normalitas larutan titer KMnO4 tersebut, dengan rumus : Mgrek KMnO4 = mgrek asam oksalat VKmnO4 x NKmnO4 = VKMnO4 x NKMnO4 = NKmnO4 = c. Penetapan kadar ferro sulfat dalam tablet 1) Timbang Berat 10 Sampel Tablet Ferro Sulfat, Kemudian Hitung Berat RataRatanya. Haluskan Sampel Tablet Tersebut Menggunakan Lumpang 2) Timbang Saksama Serbuk Tablet Setara Dengan 300 Mg Ferro Sulfat, Masukkan Ke Dalam Labu Erlenmeyer 250 Ml [Serbuk Tablet Yang Ditimbang = X Berat Rata-Rata (G)] 3) Tambahkan 30 Ml Air Suling Dan 15 Ml Asam Sulfat 2 N, Kocok Kuat. 4) Titrasi Hingga Warna Larutan Berubah Dari Tidak Berwarna Menjadi Pink. Ulangi Prosedur Ini 2 Kali Lagi. 5) Hitung Kadar Ferro Sulfat (Mg/Tablet) Dan Persen Kadar Yang Diperoleh Terhadap Kadar Yang Tertera Pada Etiket/Label Obat. Cocokkan Kadar Yang Diperoleh Tersebut Dengan Persyaratan Yang Tertera Pada Fi Edisi III.


Praktikum Kimia Farmasi II 93 Hasil Pengamatan 1. Pembakuan Larutan KMnO4 0,1 N Data Penimbangan dan Titrasi pada Pembakuan No. Berat (g) Pembacaan skala buret Volume titrasi Titik awal titrasi Titik akir titrasi (ml) 1. 2. 3. 2. Penetapan kadarFerro Sulfat dalam sampel tablet Karakteristik sampel uji : Merk sampel : ................... No. Batch : ................... Kadar ferro sulfat/tab sesuai label : ............. mg Berat 10 tablet = ................... g Berat serbuk tablet yang harus ditimbang : ..................... g Data penimbangan dan titrasi pada penetapan kadar No. Berat (g) Pembacaan skala buret Volume titrasi Titik awal titrasi Titik akir titrasi (ml) 1. 2. 3.


Praktikum Kimia Farmasi II 94 A. TUJUAN PRAKTIKUM B. REAKSI-REAKSI PADA PERCOBAAN INI 1. Reaksi pada pembakuan 2. Reaksi pada penetapan kadar C. PERHITUNGAN PEMBAKUAN 1. Data penimbangan I : Berat asam oksalat = ............... mg Volume larutan titer (KMnO4) = ............... ml NKMnO4 = N1 = = ................... 2. Data penimbangan II Berat asam oksalat = ............... mg Volume larutan titer (KMnO4) = ............... ml Judul Praktikum : Hari/Tgl praktek : Sampel Uji : No. Batch : Metode : Tim Kerja : 7. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. 8. Nama : ............................................................. NIM : ............................................................. PELAPORAN HASIL PRAKTIKUM


Praktikum Kimia Farmasi II 95 NKMnO4 = N2 = = ................... 3. Data penimbangan III : Berat asam oksalat = ............... mg Volume larutan titer (KMnO4) = ............... ml NKMnO4 = N3 = = ................... Nrata-rata = = = .............. D. PERHITUNGAN KADAR Berat 10 tablet = ................ g Berat rata-rata/tab = = = ............... g 1. Data penimbangan I: Berat sampel uji = ............. mg Volume larutan titer (KMnO4) pd titrasi sampel = ............. ml Mgrek Ferro Sulfat = V KMnO4 x NKMnO4 Ferro Sulfat dalam sampel = VKMnO4 x NKMnO4 x BEFerro sulfat = ............ x ............... X 152 = ...... mg Ferro Sulfat pertab = x hasil perhitungan (mg) = x .............. (mg) = ................. mg % kadar ferro sulfat terhadap label = x 100% = x 100% = ............... %


Click to View FlipBook Version