Kementerian Kesehatan RI tahun 2013 Pedoman Peralatan Medik bagi pelayanan KESEHATAN BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA Pengoperasian dan Pemeliharaan 610.28 Ind p
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI 610.28 ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat p Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Pedoman peralatan medik bagi pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita pengoperasian dan pemeliharaan,-- Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2011 ISBN : 978-602-235-096-5 1. Judul I. EQUIPMENT AND SUPPLIES II. HEALTH FACILITY
Kementerian Kesehatan RI tahun 2013 Pedoman Peralatan Medik bagi pelayanan KESEHATAN BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA Pengoperasian dan Pemeliharaan
Pedoman ini bertujuan membantu penggunaan dalam mengoperasionalkan dan memelihara peralatan medik bagi bayi baru lahir, bayi dan balita. Penggunaan diluar tujuan tersebut diluar tanggung jawab Kementerian Kesehatan RI dan kontributor penyusun.
i sambutan direktur jenderal bina gizi dan kia Target pencapaian MDG 4 tahun 2015 adalah menurunkan Angka Kematian Balita (AKBAL) menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup. Data terakhir berdasarkan SDKI tahun 2007, Angka Kematian Balita, Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Bayi Baru Lahir masih 44 per 1.000 kelahiran hidup (KH), 34 per 1.000 KH dan 19 per 1.000 KH. Diperlukan akselerasi dalam upaya pencapaian target MDG 4. Dalam upaya menurunkan kematian bayi baru lahir, bayi dan balita diperlukan berbagai upaya intervensi baik di tingkat keluarga dan masyarakat, pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan. Baik pemerintah, swasta dan profesi mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan berkualitas. Pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan balita di tingkat pelayanan dasar dan rujukan dapat berjalan dengan baik dan memenuhi standar dasar mutu jika ditunjang oleh ketersediaan peralatan medik yang aman dan akurat untuk pelayanan medik sehari-hari, live saving maupun screening. Dari hasil pemantauan di lapangan ternyata banyak ditemukan pemanfaatan peralatan medik bagi pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita belum optimal, bahkan tidak dimanfaatkan sama sekali. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya petunjuk teknis penggunaan dan pemeliharaan peralatan medik. Saya mengharapkan buku “Pedoman Peralatan Medik Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita, Pengoperasian dan Pemeliharaan” ini dapat dijadikan pegangan oleh pemberi pelayanan atau operator (dokter, bidan, perawat) dalam menggunakan peralatan medik sehingga dapat memberikan pelayanan sesuai dengan standar, mengoptimalkan pemanfaatan peralatan medik dan memperpanjang usia pakai. Buku ini juga dapat dipakai oleh teknisi pemula dalam melakukan pemeliharaan dan perbaikan ringan. Khusus untuk peralatan medik yang kompleks, disarankan agar pemeliharaan dan perbaikannya dilakukan oleh tenaga yang kompeten (teknisi elektronik). Terima kasih saya ucapkan pada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku pedoman ini, baik dari lintas program di Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Ahli Teknik Elektronik Indonesia (IKATEMI), profesi terkait peralatan medik dan pelaksana teknik di lapangan. Saya menyadari bahwa buku pedoman ini masih belum sempurna sehingga saran dan masukan untuk upaya perbaikan sangat kami harapkan. Jakarta, 8 April 2013 Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS NIP. 195305231980031006
ii
iii sambutan direktur jenderal bina upaya kesehatan Peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dalam rangka akselerasi pencapaian target MDG 4 membutuhkan ketersediaan peralatan medik yang memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu, keamanan, keselamatan dan layak pakai. Selain itu dibutuhkan tenaga kesehatan penyedia layanan yang mampu mengoperasikan peralatan medik dan tenaga yang mampu melaksanakan tata kelola peralatan medik. Pengelola peralatan medik harus mampu melaksanakan tata kelola peralatan medik termasuk pemeliharaan peralatan medik secara berkala atau sesuai dengan buku manual/petunjuk teknis tiap jenis peralatan medik dan peraturan perundang-undangan. Terbatasnya petunjuk teknis atau tidak tersedianya petunjuk penggunaan dan pemeliharaan alat, seringkali mengakibatkan peralatan medik yang ada tidak dapat digunakan secara optimal atau bahkan tidak digunakan sama sekali serta menyebabkan penyediaan peralatan medik tidak sesuai dengan kebutuhan. Buku pedoman ini berisi tentang cara pengoperasian, pemeliharaan dan pengelolaan peralatan medik, dijelaskan mulai dari siklus perjalanan (live cycle), sistim pemeliharaan (maintenance system) dan tahapan manajemen pemeliharaan. Disamping itu, buku ini juga berisi tentang contoh spesifikasi peralatan medik yang diharapkan dapat membantu para perencana di Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dalam merencanakan kebutuhan peralatan medik bagi bayi baru lahir, bayi dan balita. Buku pedoman ini dapat dipakai sebagai acuan fasilitas pelayanan kesehatan baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Kelas D dan C dalam menyusun prosedur operasional bagi perencana, penyedia, daftar inventaris alat, pengoperasian dan pemeliharaan peralatan medik yang memberikan layanan kesehatan bagi bayi baru lahir, bayi dan balita. Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan pedoman ini yang sangat bermanfaat bagi tenaga kesehatan, pengelola program dan stakeholder terkait lainnya di tingkat pusat dan daerah untuk mewujudkan peningkatan akses dan mutu pelayanan dalam rangka akselerasi pencapaian target penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKBAL) di tahun 2015. Jakarta, 25 April 2013 Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS NIP. 195408112010061001
iv
v UCAPAN TERIMA KASIH Buku “Pedoman Peralatan Medik Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita, Pengoperasian dan Pemeliharaan” disusun untuk mengakomodir kebutuhan akan petunjuk teknis pengoperasian dan pemeliharaan peralatan medis bagi bayi baru lahir, bayi dan balita di Puskesmas termasuk Puskesmas PONED, Rumah Sakit kelas D dan Rumah Sakit kelas C. Proses penyusunan pedoman ini dilakukan dengan meninjau kembali berbagai kepustakaan, pedoman dan buku-buku teknik manajemen peralatan medik yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO) dan American Hospital Association (AHA) dengan melibatkan tim yang berasal dari berbagai pengelola program di Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Ikatan Ahli Teknik Elektronik Indonesia (IKATEMI) serta perwakilan dari beberapa Rumah Sakit di Jakarta, Rumah Sakit Kabupaten dan Puskesmas yang alokasi dananya berasal dari DIPA Direktorat Bina Kesehatan Anak dan Save the Children. Telah dilakukan uji coba draft buku pedoman ini di Kabupaten; Bireun (Aceh), Kutai Timur (Kalimantan Timur), Kepahiang (Bengkulu), SIAK (Riau), Pangkep (Sulawesi Selatan), dan Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat). Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak atas sumbangsih waktu, pikiran dan tenaga yang tercurah untuk menyelesaikan buku pedoman ini. Semoga upaya kita akan memberikan manfaat, utamanya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan balita. Jakarta, 27 Maret 2013 Direktur Bina Kesehatan Anak dr. Kirana Pritasari, MQIH
vi
vii TIM PENYUSUN Penanggung Jawab: dr. Kirana Pritasari, MQIH – Direktur Bina Kesehatan Anak Kontributor (disebutkan dalam urutan abjad): Agus Sasmito, dr.; Agus Komarudin, ST.MT; Anwarul Amin, drg.,MARS; Ariningsih, dr; Azizah, Ir; Penyunting: dr. Erna Mulati, MSc-CMFM – Kasubdit Bina Kelangsungan Hidup Bayi Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Ir. Sodikin Sadek, MKes – RSUP. Fatmawati Jakarta Kesatrya Chandra Meliala, BE, Dipl.IM.MKes – RSAB. Harapan Kita Beluh M. Ginting, ST, MSi.; Cahyanti, dr.; Dina Milana Anwar, dr.; Eka Syarifah Dewi, dr.; Erna Mulati, dr., MSc-CMFM; Fransisca Handy, dr.Sp(A); Gunawan, BE; Hanafi, Ir.,MT; Hendra Marwazi, ST,MT; Hidayati, dr.; Hilda, dr.; Kesatrya Chandra Meliala, BE, Dipl.IM. MKes; Kirana Pritasari, dr. MQIH; Kurniasih, SKep; Lovely Daisy, dr, MKM; Ni Putu Sunadi, dr.; Noverita Dewayani, Ir.; Rinawati Rohsiswatmo, dr. Sp.A(K); Roni Eka Palapa, AMTE; Rudi Kurniawan, ST; Rusmiyati, dr. MQIH; Sarip Hidayat, S.Kep.; Schandra Purnamawati, dr.; Sodikin Sadek, Ir. MKes; Sudono, dr.; Suryono Nugroho, BE, ST, MMT; KM. Taufiq, dr., MMR; Thomas Patria, Ir.; Wahyu P Wulan, drg., MKes; Yenni dr. H. Kuncoro Adhi Purjanto, M.Kes Yuliana, dr.; Yunita Rina Sari, dr.; Yuyun Nailufar, dr.
viii
ix DAFTAR ISI Kata Sambutan Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA ...................................................... i Kata Sambutan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan ........................................... iii UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................................................... v TIM PENYUSUN ............................................................................................................................ vii DAFTAR ISI ................................................................................................................................... ix I. PENDAHULUAN …….……..……………....................……………………………..…………….. 1 1. Latar belakang …….……..…………...………………………….............…………..…… 1 2. Tujuan ………..…..………...…………………………..…………..............…..……………. 2 3. Ruang Lingkup ………..…………………………………….............……………………… 3 4. Sasaran ……….....……………..…………….............……………………….…….……….. 3 5. Manfaat ………....….………………………….............…………………………………….. 3 6. Batasan dan Pengertian ……………................…………………………………….…. 3 II. TATA KELOLA PENINGKATAN OPERASIONAL PERALATAN MEDIK BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA …….……..…..…….………….............………………. 5 1. Siklus hidup (life cycle) peralatan medik ……………...…..………...........……… 5 2. Sistem Pemeliharaan (Maintenance System) peralatan medik ...................... 8 3. Tahapan manajemen pelaksanaan pemeliharaan ............................................. 9 III. PERALATAN MEDIK BAGI PELAYANAN BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA SERTA PEMANFAATANNYA ......................................................….................................……. 11 1. Daftar peralatan medik bagi pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita .................................………………............………………………................. 11 2. Fungsi peralatan medik bagi pelayanan medik bagi pelayanan bayi baru lahir ........................................................................................................... 13 IV. PROSEDUR PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN MEDIK BAGI PELAYANAN BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA ................................................................................. 17 1. Timbangan bayi analog ............................................................................................. 17 2. Timbangan bayi digital ............................................................................................. 18 3. Lampu periksa tipe head lamp .......…….........……………..............…............……... 19 4. Lampu Periksa tipe berdiri .......………........……………........................………….... 19 5. Alat pengukur panjang bayi dan tinggi anak .......……...........………………..... 20 6. Stetoskop Neonatus DAN Pediatrik .......………….......…….........…....................... 20 7. Laringoskop .......…………………….....................…………….............…………........... 21 8. Tensimeter (SPHYGMOMANOMETER) ..................…………….............……................ 22 9. Tabung Oksigen (O2 ) Dan Tabung Udara bertekanan ..............……...………..... 24 10. OKSIGEN SENTRAL .......................................................................................................... 25 11. Low-Flow Flowmeter .......……………………..................................…………............. 26 12. Konsentrator oksigen .......……………………................……….............………….... 26 13. Oksigen Konsentrator ......…………………….................……….............………….... 31 14. Suction Pump Portable (Baterai) .......………......…………….........................….... 32 15. Suction Pump Portable (Tanpa Baterai) .......…....……………............…….......... 33 16. Infant T-Piece Resuscitator dengan ..........……………………..................... 34 17. Infant T-Piece system ..........………....................................……………..................... 36 peep
x 18. CPAP Bayi Lengkap .......…………………….....................……………………............…. 38 19. MANUAL UNTUK BAYI .......................................................................................... 45 20. Oxygent Mixer ......…………………........................………………………...................... 51 21. Inkubator Bayi .......…………….......………............………………………..................... 52 22. Inkubator Bayi Sederhana ......….....…………………............…………..............…... 54 23. Inkubator Bayi .......………………........……...........………………………..................... 55 24. Inkubator Transport .......………..……………............………………….............…… 56 25. Infant Warmer .......……………........………..............…………..............…………....... 57 26. Alat Terapi Sinar/Fototerapi ...........…………..………..........................…………… 59 27. Elektrokardiograf .......………...…...………............…………..............…………….... 60 28. Nebulyzer .......…………...........…………...........…………………..............……............. 62 29. Pulse Oxymeter .......……........………………...........……………..............…………...... 63 30. Syringe Pump .......…….........………………............………………..............………........ 64 31. Infuse Pump .......…………..........…………............………………….............…….......... 68 32. Infant Monitor .......……........………………............…………….............…………...... 69 33. Infant Ventilator .......……....…...…………............……………..............…………..... 70 34. Resuscitation Kit ........................................................................................................ 71 35. Sterilisator Kering .......……...………………............…………….............…………... 74 36. Vaccine Refrigerator ..........………………..…............…………..............…………… 75 37. Vaccine Carrier .......…......…………………............………………..............………....... 77 V. PENUTUP …….……..…………………………….......…………..…….............……….………… 78 LAMPIRAN .................................................................................................................................... 81 CONTOH SPESIFIKASI Peralatan Medik Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir Dan Bayi Balita .................................................................................... 81 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 89 cpap
Pendahuluan 1 Pendahuluan 1. LATAR BELAKANG Upaya pemerintah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat adalah menyediakan pelayanan kesehatan yang optimal, berupa Puskesmas dan jaringannya (Puskesmas pembantu, Pos Kesehatan Desa, Puskemas keliling) dan Rumah Sakit yang didukung oleh SDM, pemenuhan kecukupan sarana dan prasarana, obat-obatan serta peralatan medik sehingga terselenggara pelayanan kesehatan sesuai fungsi sarana pelayanan kesehatan tersebut. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada akhir tahun 2011, terdapat jumlah Puskesmas di Indonesia sebanyak 9.323 unit, Puskesmas Pembantu 23.059 unit dan Poskesdes (Pos Kesehatan Desa) 36.082 unit. Adapun jumlah Rumah Sakit adalah 1.728 unit, yang terdiri dari Rumah Sakit milik pemerintah pusat (vertikal), pemerintah daerah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Rumah Sakit milik TNI/Polri dan RS BUMN serta Rumah Sakit milik swasta. Untuk memberikan pelayanan kesehatan anak (bayi baru lahir, bayi dan balita) sesuai standar di Rumah Sakit Kabupaten/Kota dan Puskesmas Rawat Inap, pada tahun 2006-2008, Kementerian Kesehatan bersama dengan profesi antara lain IDAI, Spesialis THT, Spesialis Bedah Anak, Ahli Farmakologi yang didukung oleh WHO, telah mengadaptasi “Hospital Care for Children, guidelines for management of common illnessess with limited resouces” sehingga dihasilkan buku saku “Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota dan Puskesmas Rawat Inap”. Di dalam buku ini tercantum pula peralatan medik yang digunakan melekat dengan pelayanan yang diberikan. Peralatan medik yang digunakan di Puskesmas, di Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, jika tidak dimanfaatkan secara optimal, maka akan merugikan negara, fasilitas kesehatan dan pasien. Telah banyak alokasi dana untuk pengadaan sarana, prasarana dan peralatan medik, termasuk pengadaan peralatan medik untuk bayi baru lahir, bayi dan balita. Alokasi dana dapat berasal dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota, serta lembaga donor lain untuk membantu area tertentu, di fasilitas pelayanan kesehatan dasar ataupun rujukan. Peralatan medik bagi bayi baru lahir, bayi dan balita diperuntukkan sebagai peralatan penunjang pelayanan medik sehari-hari, live saving maupun untuk screening, namun hasil pemantauan di lapangan ternyata banyak ditemukan permasalahan antara lain : 1. Pemanfaatan peralatan medik bagi bayi baru lahir, bayi dan balita belum optimal, bahkan tidak dimanfaatkan sama sekali. 2. Peralatan medik dinyatakan rusak, tidak dapat digunakan, setelah dilakukan pemeriksaan, dengan mengikuti prosedur operasional pengoperasian alat yang benar, maka peralatan tersebut ternyata masih dapat digunakan. 3. Buku petunjuk pengoperasian (operating manual) tidak dapat dimengerti karena masih berbahasa asing. 1
2 Pendahuluan 4. Kurangnya pelatihan, bimbingan teknis dan monitoring evaluasi terpadu cara mengoperasionalkan dan memelihara alat. 5. Belum adanya sistem pengelolaan peralatan medik yang terpadu, dari mulai proses perencanaan, penganggaran, pengadaan sampai bagaimana melatih cara menggunakan dan memelihara alat. 6. Tidak adanya sistim pemeliharaan peralatan medik khususnya untuk peralatan medik bayi baru lahir, bayi dan balita. Dari permasalahan tersebut di atas, maka perlu disusun buku “Pedoman Peralatan Medik, Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru lahir, Bayi dan Balita; Pengoperasian dan Pemeliharaan”. Pengoperasian dan pemeliharaan alat medik adalah langkah-langkah yang dilakukan agar alat dapat difungsikan dengan benar sesuai dengan prosedur. Lewat adanya buku pedoman ini, diharapkan frekuensi kerusakan dapat berkurang sehingga peralatan medik dapat mencapai umur teknis yang optimal. Dilain pihak untuk menjamin kebenaran nilai luaran atau kinerja dan keselamatan pemakaian peralatan medik, maka setiap alat kesehatan wajib dilakukan pengujian dan/atau kalibrasi secara berkala, sekurangkurangnya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun, hal ini sesuai dengan pasal 2 ayat 1 dari Peraturan Menteri Kesehatan No. 363/Menkes/Per/IV/1998 tentang Pengujian dan Kalibrasi pada Sarana Pelayanan Kesehatan. Penyusunan buku ini juga mengacu pada Standar Pelayanan Kesehatan Anak di Puskesmas dan Rumah Sakit, dan hasil kunjungan ke Puskesmas dan beberapa Rumah Sakit Kabupaten. Buku ini belum mengakomodir semua peralatan medik yang ada sehingga tidak menutup kemungkinan masih ada alatalat lain yang belum tercantum. 2. TUJUAN A. Tujuan Umum : Terselenggaranya pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan balita yang berkualitas dengan mengoptimalkan pemanfaatan peralatan medik yang tersedia. B. Tujuan Khusus : 1. Tersedianya pedoman peralatan medik bagi pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan balita yang digunakan sebagai acuan di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten/Kota. 2. Tersedianya buku Pedoman Peralatan Medik Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita; Pengoperasian dan Pemeliharaan, yang digunakan sebagai acuan di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten/Kota. 3. Meningkatnya pengetahuan tenaga Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten/Kota dalam penggunaan dan pemeliharaan peralatan medik bayi baru lahir, bayi dan balita. 4. Tersedianya peralatan medik bagi pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten/Kota yang selalu dalam keadaan siap pakai dan aman digunakan. 5. Meningkatnya utilisasi/tingkat pemanfaatan peralatan medik bagi pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten/Kota. 6. Meningkatnya usia teknis peralatan medik bayi baru lahir, bayi dan balita di Puskesmas dan Rumah Sakit Kabupaten/Kota.
Pendahuluan 3 3. RUANG LINGKUP Ruang lingkup buku pedoman ini diperuntukkan bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi bayi baru lahir, bayi dan balita. 4. SASARAN 1. Tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit kelas D dan C 2. Penanggung jawab program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat 3. Penanggung jawab program pelayanan kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat 4. Perencana peralatan medik di fasilitas kesehatan. 5. Perencana peralatan medik di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat 5. MANFAAT Buku ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam perencanaan, pengoperasian dan pemeliharaan peralatan medik di fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi bayi baru lahir, bayi dan balita. 6. BATASAN DAN PENGERTIAN Berbagai istilah dalam buku ini, antara lain: 1. Petunjuk pengoperasian Adalah buku yang berisikan langkah-langkah/petunjuk cara menggunakan alat, agar dapat berfungsi baik. 2. Petunjuk pemeliharaan/perbaikan Adalah buku yang berisikan langkah-langkah/petunjuk cara memelihara dan atau memperbaiki alat. 3. Peralatan kesehatan Adalah bahan, instrumen, aparatus, mesin serta implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosa, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. 4. Peralatan medik Adalah peralatan yang digunakan untuk keperluan diagnosa, terapi, rehabilitasi dan penelitian medik baik secara langsung maupun tidak langsung. 5. Peralatan medik esensial bayi baru lahir, bayi dan balita Adalah peralatan medik terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan balita, yang diupayakan tersedia pada fasilitas pelayanan kesehatan. 6. Peralatan penunjang medik esensial bayi baru lahir, bayi dan balita Adalah peralatan penunjang medik terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan balita, yang diupayakan tersedia pada fasilitas pelayanan kesehatan. 7. Spesifikasi teknis Adalah kumpulan data yang menguraikan kemampuan kapasitas, teknologi, sistem, fungsi, aksesoris, keselamatan dan aspek teknis lainnya dari suatu alat.
4 Pendahuluan 8. Instalasi alat Adalah tahapan kegiatan mulai dari penempatan/peletakkan, perakitan, pemasangan, penyetelan, adjusment, pengukuran keluaran sampai alat berfungsi baik. 9. Kalibrasi Adalah kegiatan peneraan untuk menentukan kebenaran nilai penunjukan alat ukur dan/atau bahan ukur. 10. Commisioning Kegiatan melakukan pemastian kemampuan suatu alat yang terdiri dari uji fungsi dan uji coba peralatan medik, yang merupakan suatu bagian dari siklus hidup teknologi peralatan medik. 11. Keselamatan pasien (patient safety) Adalah suatu sistem dimana asuhan pasien lebih aman yang meliputi assesment risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melakukan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Tata Kelola Peningkatan Operasional Peralatan Medik Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita 5 TATA KELOLA PENINGKATAN OPERASIONAL PERALATAN MEDIK BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA Pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan balita dapat berjalan dengan baik bila memenuhi standar mutu yang dilengkapi dengan ketersediaan peralatan medik untuk keperluan diagnosa, terapi dan rehabilitasi. Mengingat alat medik difungsikan untuk keperluan tersebut maka dua faktor yang menjadi persyaratan utama yang tidak boleh diabaikan yaitu keamanan (safety) dan ketepatan (accuracy). Selain itu ketersediaan alat medik di Rumah Sakit, Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya membutuhkan biaya investasi cukup tinggi, oleh karena itu dibutuhkan pengelolaan yang baik agar dapat dimanfaatkan secara aman, akurat dan optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan serangkaian kegiatan sebagai berikut : 1. Siklus hidup (life cycle) peralatan medik 2. Sistem pemeliharaan (maintenance system) peralatan medik 3. Tahapan manajemen pelaksanaan pemeliharaan 1. SIKLUS HIDUP (LIFE CYCLE) PERALATAN MEDIK Siklus perjalanan peralatan medik bagi bayi baru lahir, bayi dan balita, dikelola dengan mengunakan tahapantahapan dari mulai Perencanaan dan Penentuan Kebutuhan (Planning and Assessment), Penganggaran dan Keuangan (Budgeting and Financing), Teknik Penilaian dan Pemilihan (Technology Assessment and Selection), Logistik dan Pengadaan (Procurement and Logistics), instalasi dan commisioning (Instalation and Commisioning), Pelatihan dan Peningkatan Keterampilan (Training and Skill Development), Pengoperasian Alat dan Keselamatan Pengguna (Operation and Safety), Pemeliharaan dan Perbaikan (Maintenance and Repair), Proses penghapusan (Decommisioning and Disposal) sesuai pada gambar 2.1 Gambar 2.1 Healthcare Technology Management Cycle 2 l Create awareness l Monitor and evaluate Decommissioning and Disposal Maintanence and Repair Operation and Safety Training and Skill Development Installation and Commissioning Procurement and Logistic Technology Assessment and Selection Budgeting and Financing Planning and Assessment
6 Tata Kelola Peningkatan Operasional Peralatan Medik Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita Siklus hidup peralatan medik dapat diuraikan sebagai berikut : a. Perencanaan dan Penentuan Kebutuhan (Planning and Assessment). Dalam perencanaan dan penilaian kebutuhan peralatan medik dibagi menjadi 2 (dua) : 1. Perencanaan dengan adanya pengembangan pelayanan kesehatan, artinya diperlukan peralatan yang baru dengan generasi terbaru untuk mendukung pelayanan. Sebagai langkah awal perlu penilaian terhadap peralatan seperti: a). Penilaian dari sisi eksternal yaitu menilai dengan membuat telaahan/kajian dari sisi segi pesaing di sekitar fasilitas pelayanan kesehatan b). Penilaian dari sisi internal yaitu menilai dengan melihat data utilisasi alat setiap harinya baik dari catatan rekam medik atau melalui penelitian, bilamana utilisasi alat cukup tinggi, maka diperlukan tambahan alat baru. 2. Perencanaan yang didasarkan pada penggantian peralatan yang disebabkan karena alat yang ada sudah tidak efisien (sering rusak), karena usia alat sudah diatas usia teknis (over life time), dan alat generasi lama. b. Penganggaran dan Keuangan (Budgeting and Financing) Anggaran dan keuangan untuk penyediaan pemenuhan atau pengembangan serta penggantian peralatan medik disesuaikan dengan kemampuan anggaran. Anggaran dinas kesehatan atau Rumah Sakit untuk pemenuhan dan penggantian alat mempunyai beberapa sumber antara lain : 1. Anggaran yang bersumber dari pendapatan Rumah Sakit (misalnya PNBP) 2. Anggaran yang bersumber dari pemerintah pusat (misalnya APBN) 3. Anggaran yang bersumber dari pemerintah daerah (misalnya APBD) 4. Anggaran sumber lain (misalnya bantuan hibah, bantuan sponsor) Seluruh sumber anggaran di atas untuk memenuhi kebutuhan pemenuhan dan penggantian alat kesehatan yang harus masuk didalam perencanaan atau RAB (Rencana Anggaran Belanja) Rumah Sakit atau dinas kesehatan setiap tahunnya. Anggaran yang tersedia juga harus mencukupi biaya operasional alat dan pemeliharaan peralatan dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. c. Teknik Penilaian dan Pemilihan (Technology Assessment and Selection) Teknik penilaian dan pemilihan maksudnya adalah cara-cara memilih alat yang dibutuhkan dengan membandingkan beberapa speksifikasi yang tersedia sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan. Teknik penilaian dan pemilihan alat melalui tahapan : 1. Ketersediaan anggaran di RAB (Rencana Anggaran Belanja) dinas kesehatan atau Rumah Sakit untuk pemenuhan kebutuhan dan penggantian alat. 2. User (dokter, perawat, bidan dan keteknisian medis), di Rumah Sakit atau Puskesmas, mengajukan minimal 3 merk jenis alat yang diinginkan kepada penanggung jawab perencanaan pemenuhan alat medik. 3. Penanggung jawab perencanaan pemenuhan alat medik membuat speksifikasi alat yang diajukan oleh user, untuk dibuat perbandingan (komparasi) dari alat yang diajukan oleh user tersebut. 4. Speksifikasi alat yang sudah dibuat oleh perencana, segera di ajukan ke logistik dan pengadaan, (Procurement and Logistics)
Tata Kelola Peningkatan Operasional Peralatan Medik Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita 7 d. Logistik dan Pengadaan (Procurement and Logistics) Logistik dan pengadaan meneruskan proses pengadaannya setelah perencana pemenuhan alat medik membuat dan memilih speksifikasi alat dan harga perkiraan sendiri (HPS) untuk segera dilelangkan sesuai Peraturan Presiden No.54 tahun 2010. e. Instalasi dan Commisioning. Setelah pelelangan alat yang dilakukan penanggung jawab pengadaan selesai, maka pemenang lelang (perusahaan) berkewajiban menandatangani kontrak penjualan alat yang berisi antara lain : 1. Menyerahkan alat sesuai spesifikasi yang tercantum dalam kontrak, kepada tim penerima barang 2. Memasang alat (instalasi) di tempat sesuai yang tercantum dalam kontrak 3. Menguji fungsi alat sampai dapat berfungsi 4. Menguji coba alat kepada obyek atau pasien untuk memastikan bahwa alat berfungsi baik, akurat, dan aman digunakan. 5. Memberikan jaminan atau garansi sesuai kontrak yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak. 6. Menyerahkan buku operating manual dan buku service manual f. Pelatihan dan Peningkatan Keterampilan (Training and Skill Development) Selanjutnya setelah dilakukan proses pemasangan, uji fungsi, uji coba (commisioning), maka pemenang lelang berkewajiban sebagai berikut: 1. Training kepada user : Melatih bagaimana cara pengoperasian atau menggunakan alat yang benar dan aman, dan cara pemeliharaan alat yang dapat dilakukan oleh user. 2. Training kepada teknisi. Melatih teknisi bagaimana untuk pemeliharaan preventif rutin terjadwal, pemeliharaan korektif mengganti spare part rutin. g. Pengoperasian Alat dan Keselamatan Pengguna (Operation and Safety) Setelah dilatih cara pengoperasian dan cara pemeliharaannya maka dibuat prosedur tetap (protap) cara pengoperasian dan pemeliharaan, kemudian protap ini disosialisasikan kepada user dan teknisi lain agar dapat melakukan pengoperasian dan pemeliharaan alat sesuai dengan prosedur sehingga tidak terjadi kesalahan dan menjaga alat aman digunakan. h. Pemeliharaan dan Perbaikan (Maintenance and Repair) Pemeliharaan dan perbaikan adalah upaya untuk mempertahankan kondisi teknis alat medik agar siap pakai, aman digunakan, dan berdaya hasil. Pemeliharaan dan perbaikan sesuai dengan prosedur akan menjamin jangka waktu pemakaian peralatan mencapai batas waktu yang optimal. i. Proses Penghapusan (Decommisioning and Disposal) Untuk melaksanakan proses penghapusan peralatan medik perlu didukung dengan ketersediaan data-data peralatan yang akan dihapus, seperti data tahun produksi, utilisasi/pemakaian, riwayat kerusakan dan perbaikan alat. Data tersebut harus mendukung pantas tidaknya peralatan yang akan dihapuskan.
8 Tata Kelola Peningkatan Operasional Peralatan Medik Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita 2. SISTEM PEMELIHARAAN (MAINTENANCE SYSTEM) PERALATAN MEDIK Sistem Pemeliharaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan terus menerus dan terencana. Tujuannya agar peralatan medik dapat dimanfaatkan secara optimal dan layak pakai yaitu aman (safe) dan tepat (accurate). Optimalisasi penggunaan (utility) bertujuan agar usia pakai lebih besar dari biaya investasi (pembelian), sedangkan layak pakai bertujuan agar pengguna alat mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang bermutu. Berdasarkan hasil kunjungan lapangan ke beberapa Rumah Sakit daerah dan Puskesmas, penggunaan, pemeliharaan, dan pengelolaan peralatan medik ternyata belum dilakukan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain: banyak alat rusak, usia pakai rendah, alat tidak terkalibrasi, prosedur tidak lengkap, dokumen tidak lengkap, dll. Tidak berfungsinya peralatan medik dan rendahnya usia pakai menyebabkan kerugian besar dari sisi keuangan dan manfaat. Dari segi keuangan biaya investasi yang dikeluarkan tidak berdaya guna, secara manfaat mengganggu atau terhentinya pemberian pelayanan kesehatan. Sedangkan jika peralatan tidak terkalibrasi, tidak adanya prosedur penggunaan dan pemeliharaan akan membahayakan pengguna alat (pasien atau operator) karena tidak adanya jaminan keselamatan (safety) dan ketepatan (accuracy) yang pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya kesalahan diagnosa, terapi atau rehabilitasi, kondisi ini diakibatkan oleh karena Rumah Sakit dan Puskesmas belum melakukan pemeliharaan secara terencana. Selama ini pengelolaan alat kesehatan hanya terbatas pada kegiatan perbaikan (repair) yang merupakan bagian kecil dari kegiatan pemeliharaan. Untuk menjawab hal tersebut di atas diperlukan konsep cara bagaimana membangun sistem pemeliharaan yang baik dan dapat diterapkan di Rumah Sakit, Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Kegiatan sistem tersebut terdiri dari input, proses, output, outcome dan impact sebagaimana tertera pada gambar berikut ini: INPUT a. Data alkes b. SDM c. Dana d. Prosedur e. Alat kerja f. Data sole agent PROSES PEMELIHARAAN 1. Inventory 2. Assessment 3. Proceduring 4. Scheduling 5. Preventive Maintenance 6. Corrective Maintenance 7. Repair & Trouble shooting 8. Calibration 9. Training 10.Documenting OUTCOME 1. Alat laik pakai (aman, akurat dan handal ) 2. Efisiensi dan utilitas meningkat OUTPUT Tumbuh dan berkembangnya sistem pemeliharaan alat kesehatan IMPACT 1. Mutu pelayanan tinggi 2. Akreditasi RS meningkat Gambar 2.2 Diagram Kerangka Konsep Pemeliharaan Input dari kegiatan ini berupa data alat kesehatan yang ada di fasilitas kesehatan, kemudian sumber daya manusia yang akan melakukan kegiatan pemeliharaan, sumber dana, prosedur yang diperlukan untuk kegiatan pemeliharaan, alat kerja yang digunakan dan data perusahaan yang mensuplai alat kesehatan.
Tata Kelola Peningkatan Operasional Peralatan Medik Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita 9 Proses kegiatan pemeliharaan meliputi; inventarisasi alat kesehatan di pelayanan kesehatan melakukan assessment, menyusun prosedur dan pedoman pemeliharaan, menyusun jadwal kegiatan pemeliharaan. Kemudian melakukan pemeliharaan preventif dan korektif, melakukan repair dan troubleshooting terhadap alat-alat yang rusak. Melakukan kalibrasi, pelatihan kepada sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk melakukan pemeliharaan dan terakhir melakukan dokumentasi terhadap seluruh aktifitas yang dilakukan berikut mengelola dokumen-dokumen teknis pemeliharaan alat. Dari kegiatan tersebut, output yang akan dihasilkan adalah tumbuh dan berkembangnya sistem pemeliharaan alat kesehatan di fasilitas kesehatan yang pada akhirnya Rumah Sakit, Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya dapat menyediakan peralatan medik yang layak pakai (aman dan akurat) dan efisiensi serta utilisasi meningkat. Dengan tersedianya peralatan yang layak pakai serta memiliki efisiensi dan utilisasi tinggi, diharapkan mutu pelayanan dan akreditasi Rumah Sakit akan meningkat. 3. TAHAPAN MANAJEMEN PELAKSANAAN PEMELIHARAAN PERSIAPAN Desain Kegiatan Kompilasi & Verifikasi Kebutuhan Finalisasi draft kebutuhan RS PELAKSANAAN 1. Inventory 2. Assessment 3. Proceduring 4. Scheduling 5. Preventive Maintenance 6. Corrective Maintenance 7. Repair & Trouble shooting 8. Calibration 9. Training 10.Documenting MONITORING Program SDM Biaya Instrumen EVALUASI PELAPORAN Gambar 2.3 Diagram tahapan manajemen pelaksanaan pemeliharaan Kegiatan program pemeliharaan meliputi persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, dan terakhir pelaporan. Kegiatan persiapan diawali dengan mendesain kegiatan, melakukan survey kebutuhan alat yang akan dipelihara, kemudian melakukan kompilasi dan verifikasi kebutuhan alat yang akan dipelihara dan bahan lainnya pada setiap unit kerja/instalasi. Setelah itu disusunlah draft akhir tentang kebutuhan kegiatan pemeliharaan pada setiap unit kerja/instalasi. Selama kegiatan berlangsung dilakukan monitoring dan evaluasi, terutama terhadap program yang telah direncanakan, tenaga yang dilatih, penggunaan anggaran, penyediaan instrumen, penyusunan pedoman dan prosedur serta pengelolaan dokumen. Kegiatan ini dilakukan agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
10 Tata Kelola Peningkatan Operasional Peralatan Medik Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita Agar hal tersebut di atas dapat berjalan diperlukan adanya tenaga analis elektromedis di Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Namun hingga saat ini tenaga teknisi elektromedik masih terbatas baik jumlah maupun distribusinya. Kendala ini semakin dirasakan bilamana dijumpai masalah terkait dengan penggunaan, pemeliharaan alat dan kerusakan pada peralatan medis. Walaupun pedoman ini dirasakan cukup jelas namun untuk beberapa alat dianggap perlu adanya pelatihan mengenai penggunaan dan pemeliharaan alat-alat kesehatan berbasis operator use sebagai upaya memberi pengetahuan dan keterampilan kepada tenaga kesehatan dalam menggunakan dan memelihara alat. Diharapkan tenaga kesehatan ini dapat berbagi pengetahuan dan ketrampilannya kepada rekan sejawat. Metode pembinaan secara berkala dinilai lebih sustainable terlebih lagi dalam tataran tingkat Kabupaten/ in-house training bilamana dianggap sesuai oleh fasilitas pelayanan kesehatan yang bersangkutan. Pembinaan ini bisa dilakukan oleh unit resmi pemerintah seperti Dinas Kesehatan teknik atau instalasi pemeliharaan Rumah Sakit. Adapun kerjasama pelatihan pemeliharaan dapat juga dilakukan dengan pihak swasta atau vendor. Sebagaimana telah disampaikan pada Bab Pendahuluan bahwa untuk menjamin ketelitian dan ketepatan serta keamanaan penggunaan alat maka setiap alat kesehatan yang dipergunakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan wajib dilakukan pengujian dan/atau kalibrasi oleh institusi penguji sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun. Hal ini berdasarkan Permenkes No.363/MENKES/PER/IV/1998 tanggal 8 April 1998. Pada Permenkes ini tercantum pula daftar alat yang wajib di uji dan atau di kalibrasi. Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan (BPFK) adalah unit di Kementerian Kesehatan memiliki peran untuk melaksanakan pengamanan fasilitas kesehatan meliputi sarana, prasarana dan peralatan kesehatan melalui pengujian, kalibrasi dan proteksi radiasi di lingkungan Pemerintah dan swasta. Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan ada di 4 kota yaitu Jakarta, Surabaya, Medan dan Makasar, disamping dikembangkan unit fungsional pengaman fasilitas kesehatan di Solo, Palembang, Banjarmasin dan Jayapura. Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan DKI Jakarta memiliki wilayah kerja Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan dan Lampung. Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan di Surabaya memiliki wilayah kerja Provinsi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Untuk BPFK di Medan memiliki wilayah kerja Provinsi Aceh, Sumatera utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Bengkulu serta BPFK di Makasar memiliki wilayah kerja Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara dan Irian Jaya. Kota, bisa dalam bentuk Provinsi/Kabupaten/Kota yang bekerjasama dengan Rumah Sakit Pemerintah yang memiliki divisi/bagian
Peralatan Medik bagi Pelayanan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita serta Pemanfaatannya 11 3 PERALATAN MEDIK BAGI PELAYANAN BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA SERTA PEMANFAATANNYA BAB ini tentang Daftar Peralatan Medik Bagi Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita serta pemanfaatannya. Daftar peralatan tersebut dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu; Peralatan Medik Esensial, Peralatan Penunjang Medik Esensial, dan Alat Bantu Pelatihan yang digunakan pada pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita. Pada bagian akhir akan dijelaskan fungsi dari setiap peralatan. 1. DAFTAR PERALATAN MEDIK BAGI PELAYANAN BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA Kebutuhan peralatan medik esensial untuk mendukung pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita di puskesmas dan rumah sakit dapat dilihat pada tabel 3-1. Untuk peralatan penunjang medik esensial dan alat bantu pendidikan tertera pada tabel 3-2 dan tabel 3-3. Dari tabel-tabel tersebut dapat dilihat bahwa ada perbedaan kebutuhan peralatan medik esensial, penunjang medik dan alat bantu pendidikan antara puskesmas, rumah sakit kelas D dan rumah sakit kelas C. Hal ini sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan. Pada setiap tabel menerangkan bahwa peralatan yang dibutuhkan diberi tanda √, sedangkan yang tidak diberi tanda -. Tabel 3-1 Peralatan Medik Esensial Peralatan Medik Esensial untuk N Bayi baru lahir Bayi dan balita o Nama alat Puskes RS RS Puskes RS RS mas Kls D Kls C mas Kls D Kls C 1 Timbangan bayi √ √ √ √ √ √ 2 Lampu periksa √ √ √ √ √ √ 3 Alat Pengukur Panjang Bayi dan Tinggi Anak √ √ √ √ √ √ 4 Stetoskop neonatus √ √ √ - - - 5 Stetoskop pediatrik - - - √ √ √ 6 Laringoskop neonatus √ √ √ - - - 7 Laringoskop bayi dan balita - - - √ √ √ 8 Tensimeter anak - - - √ √ √ 9 Termometer klinik √ √ √ √ √ √ 10 Breast pump √ √ √ √ √ √ 11 Flowmeter neonatus (low flow) √ √ √ - - - 12 Flowmeter anak (high flow) - - - √ √ √ 13 Oxygen Concentrator √ √ √ √ √ √ 14 Baby Suction Pump portable √ √ √ √ √ √ 15 Infant T piece resuscitator dengan PEEP √ √ √ - - - 16 Infant T piece System √ √ √ - - - 17 CPAP (Continous Positive Airways Pressure) - - √ - - √
12 Peralatan Medik bagi Pelayanan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita serta Pemanfaatannya Lanjutan tabel 3-1 Peralatan Medik Esensial Peralatan Medik Esensial untuk N Bayi baru lahir Bayi dan balita o Nama alat Puskes RS RS Puskes RS RS mas Kls D Kls C mas Kls D Kls C 18 Oksigen + udara kompres set - √ √ - √ √ 19 Blander - √ √ - √ √ 20 Resusitator bayi (balon mengembang sendiri) √ √ √ √ √ √ 21 infant incubator √ √ √ √ √ √ 22 Incubator transport - - √ - - - 23 Infant warmer sederhana √ √ - - - - 24 Infant warmer lengkap - - √ - - - 25 Terapi Sinar (Fototherapy) √ √ √ - - - 26 Elektrocardiograph (ECG) - √ √ - √ √ 27 Nebulyzer - - √ - √ √ 28 Pulse Oxymeter dengan sensor untuk neonatus/bayi √ √ √ √ √ √ 29 Syringe Pump √ √ √ - √ √ 30 Infuse Pump - √ √ - √ √ 31 Bedside Monitor - √ √ - √ √ 32 Kompresor udara medis - √ √ - √ √ 33 - √ √ - √ √ 34 Sterilisator √ √ √ √ √ √ 35 Vaccine Refrigerator √ √ √ √ √ √ 36 Vaccine carrier √ √ √ √ √ √ Tabel 3-2 Peralatan Penunjang Medik Esensial Peralatan Medik Esensial untuk N Bayi baru lahir Bayi dan balita o Nama alat Puskes RS RS Puskes RS RS mas Kls D Kls C mas Kls D Kls C 1 Glucotest √ √ √ √ √ √ 2 Alat Lab darah rutin √ √ √ √ √ √ 3 Alat Analisa gas darah - - - - √ √ 4 Rapid test untuk malaria √ √ √ √ √ √ 5 Kulkas vaksin √ √ √ √ √ √ 6 Kulkas obat √ √ √ √ √ √ 7 Ultrasonography (USG) neonatus dan pediatrik - - √ - - √ 8 X-ray - - √ - - √ Kit resusitasi
Peralatan Medik bagi Pelayanan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita serta Pemanfaatannya 13 Tabel 3-3 Alat Bantu Pelatihan Peralatan Medik Esensial untuk N Bayi baru lahir Bayi dan balita o Nama alat Puskes RS RS Puskes RS RS mas Kls D Kls C mas Kls D Kls C 1 √ √ √ √ √ √ 2 Maneqin set (boneka Bayi) - √ √ - √ √ 3 Injection training kit - √ √ - √ √ 4 Dll. 2. FUNGSI PERALATAN MEDIK BAGI PELAYANAN MEDIK BAGI PELAYANAN KESEHATAN BAYI BARU LAHIR Setelah disampaikan peralatan medik yang dibutuhkan untuk pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita maka bagian ini akan memberikan penjelasan fungsi dari masing-masing peralatan tersebut. Tabel 3-4 Fungsi Peralatan Medik No Nama Alat Fungsi 1 Timbangan bayi Alat untuk mengukur berat bayi 2 Lampu periksa Lampu untuk pemeriksaan kondisi objek 3 Stetoskop neonatus Alat medik akustik untuk mentransmisikan suara bervolume redah seperti denyut jantung atau intestinal, vena atau suara nafas bayi baru lahir 4 Stetoskop pediatrik Alat medik akustik untuk mentransmisikan suara bervolume redah seperti denyut jantung atau intestinal, vena atau suara nafas bayi dan balita 5 Laringoskop neonatus Alat medik genggam dengan tangkai, penekan lidah yang berbentuk lurus, sumber sinar dan sumber pembesaran untuk menekan lidah pasien serta membuka kerongkongan guna pemeriksaan laring pada neonatus sehingga selang pernapasan dapat dimasukkan atau untuk melakukan prosedur medis lainnya. 6 Laringoskop bayi dan balita Alat medik genggam dengan tangkai, penekan lidah yang berbentuk lurus, sumber sinar dan sumber pembesaran untuk menekan lidah pasien serta membuka kerongkongan guna pemeriksaan laring pada bayi dan balita sehingga slang pernafasan dapat dimasukkan atau untuk melakukan prosedur medis lainnya. 7 Tensimeter anak Alat untuk mengukur tekanan darah anak 8 Low flow flowmeter Alat untuk memberikan aliran rendah gas oksigen yang akan diberikan kepada pasien antara 0 sampai 1000 ml per menit (skala per 100 ml) 9 High flow flowmeter Alat untuk mengukur banyaknya oksigen yang akan diberikan kepada pasien dengan flow 0,1-1l/m 10 Oksigen konsentrator Alat untuk produksi oksigen konsentrasi tinggi dan dengan mengekstrasi nitrogen untuk terapi. KI itresusitasi
14 Peralatan Medik bagi Pelayanan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita serta Pemanfaatannya Lanjutan tabel 3-4 Fungsi Peralatan Medik No Nama Alat Fungsi 11 Baby suction pump portable Alat untuk menghisap lendir/cairan dari bayi 12 Infant T-Piece resuscitator dengan Alat resusitasi bantu napas mekanik untuk bayi dengan tekanan inspirasi puncak dan tekanan positif akhir ekspirasi yang dapat diatur. Dijalankan dengan bantuan sumber gas (sistem sentral gas atau silinder) 13 Infant ventilitator Alat bantu pernapasan bayi mekanik dilengkapi dengan humidifier dan dengan sistem modus lengkap otomatis dan sistem tubing pernapasan dengan heater wire untuk menjaga kelembaban dan kondensasi 14 CPAP (Continous Positive Airways Alat bantu pernapasan bayi baru lahir, bayi dan balita dengan sistem Pressure) Bayi Lengkap aliran gas dan pengaturan tekanan positif akhir ekspirasi. Dilengkapi dengan humidifier untuk menjaga kehangatan dan tingkat kelembaban optimal. 15 Oksigen + udara kompres set Alat untuk membantu pernapasan bayi baru lahir, bayi dan balita dengan perbandingan tertentu antara Oksigen konsentrasi tinggi dan udara 16 Oxygent Mixer/Blander Alat mencampur oksigen dengan udara tekan agar dapat menghasilkan gas dengan kadar oksigen yang dinginkan (antara 21-100% oksigen) 17 Resusitator bayi Alat untuk melakukan resusitasi dengan cara memompa udara ke (balon mengembang sendiri) dalam paru-paru yang dilengkapi dengan masker muka/hidung, tangki udara dan pompa listrik atau pompa manual. 18 Infant Incubator Alat untuk mengontrol lingkungan bayi atau bayi prematur di dalam bilik kotak yang transparan dengan udara di atur temperatur dan kelembapannya. 19 Inkubator transport Alat untuk memindahkan neonatus dengan ditempatkan di dalam bilik kotak yang transparan dengan udara yang tetap terkontrol dengan udara diatur temperatur dan kelembabannya 20 Alat terapi sinar (fototerapi) Alat untuk fototerapi penyakit hiperbilirubin dengan sinar panjang gelombang tertentu atau sinar dengan spektrum yang penuh. 21 EKG Alat untuk mendiagnosa kelainan jantung dan merekam aktifitas listrik dari miokardium guna mendeteksi transmisi impuls jantung melalui jaringan otot yang konduktif. 22 Nebulyzer Alat untuk mengatur dosis pengobatan dalam bentuk kabut ke dalam paru-paru karena cystik fibrosis, asma dan penyakit pernapasan lainnya. 23 Pulse oxymeter Alat untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah pada bayi secara non-invasive dengan menggunakan sensor sinar. Memonitor keadaan bayi apakah oksigenasi sudah tercukupi. Dilengkapi dengan alarm untuk memberitahukan jika terjadi penurunan saturasi oksigen yang dapat membahayakan bayi 24 Syringe Pump Alat untuk menyuntikan cairan obat/nutrisi melalui pembuluh darah dengan diatur volume cairan dan waktunya PEEP portable (PIP)
Peralatan Medik bagi Pelayanan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita serta Pemanfaatannya 15 No Nama Alat Fungsi 25 Infuse pump Alat untuk mengatur cairan, obat/nutrisi kedalam sistem sirkulasi pasien melalui pembuluh darah/intravena dengan diatur volume cairan dan waktunya 26 Infant monitor Alat untuk memonitor fungsi vital pasien sekurang-kurangnya seperti jumlah denyut jantung/menit, tekanan darah, saturasi oksigen dalam darah dan temperatur. 27 Medical air compressor Alat untuk menghasilkan udara tekan kering yang bebas kandungan air, minyak dan kotoran debu dll 28 Kit Resusitasi Seperangkat alat yang dipergunakan untuk resusitasi pada pasien 29 ARI Timer (detik) Alat untuk mengukur frekuensi pernapasan ALAT BANTU PELATIHAN 30 Maneqin set (Boneka Bayi) Boneka dilengkapi dengan alat-alat untuk praktek/pelatihan ketrampilan pelayanan pada bayi baru lahir, bayi dan balita 31 Injection training kit Alat untuk praktek/pelatihan skill pelayanan pemberian suntikan, pemasangan infus pada bayi baru lahir, bayi dan balita melalui vena dan arteri.
16 Peralatan Medik bagi Pelayanan Bayi Baru Lahir, Bayi dan Balita serta Pemanfaatannya
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 17 PROSEDUR PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN PERALATAN MEDIK BAGI PELAYANAN KESEHATAN BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN BALITA Bab ini akan menjelaskan petunjuk cara pengoperasian (penggunaan) dan pemeliharaan peralatan medik yang digunakan pada pelayanan bayi baru lahir, bayi dan balita di pelayanan kesehatan. Petunjuk dalam buku ini merupakan petunjuk umum dan sederhana. Untuk peralatan medik tertentu yang komplek diharapkan memperhatikan buku petunjuk operasional dan pemeliharaan dari pabrik pembuat peralatan. Selain itu ketika mengoperasikan peralatan diharapkan memperhatikan prosedur tetap (protap) pelayanan. Dalam pembahasan cara pengoperasian dan pemeliharaan jika terdapat contoh alat yang menggunakan gambar dari merk tertentu, bukanlah dimaksudkan agar pengguna menggunakan alat merk tersebut. Penggunaan gambar tersebut hanya sebagai contoh saja agar pembaca dapat lebih mudah memahami. Apabila dalam pengoperasian alat-alat di bawah ini ditemui beberapa masalah/kerusakan, kami sarankan agar perbaikan dilakukan oleh tekhnisi berpengalaman. Perbaikan oleh personal yang tidak memiliki kemampuan cukup dapat menimbulkan resiko bahaya dan kerusakan pada alat. 1. TIMBANGAN BAYI ANALOG Gambar 4.1.1a Timbangan bayi analog Gambar 4.1.1b Skala timbangan bayi analog A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Tempatkan timbangan di atas meja datar kuat dan tidak bergoyang di ruang pelayanan b. Lepaskan penutup debu c. Pasang alas bayi d. Pastikan jarum penunjuk pada angka nol (0), jika tidak lakukan penyetelan agar menunjuk angka nol. 2. Pelaksanaan Lakukan penimbangan dengan memperhatikan protap pelayanan 4
18 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik B. Cara Pemeliharaan 1. Bersihkan alat jika telah selesai digunakan 2. Pasang penutup debu 3. Simpan alat pada tempatnya 4. Dikalibrasi sekurang-kurangnya 1 tahun sekali C. Cara Perbaikan Ringan No Permasalahan Solusi perbaikan 1 Jarum tidak menunjuk pada posisi nol Periksa posisi dudukan timbangan apakah sudah rata atau belum Periksa kaki dari timbangannya apakah lengkap 2 Jarum tidak menunjuk sesuai yang Letakkan benda yang sudah diketahui berat jenisnya, diperkirakan apakah jarum menunjuk sesuai dengan berat jenis benda tersebut, bila tidak, dikalibrasi oleh orang yang mempunyai kompetensi alat timbangan tersebut 3 Apabila hasil timbangan yang dilakukan Hubungi teknisi setempat sebelum menghubungi tidak sesuai dengan poin no. 2 supplier dari alat tersebut untuk dilakukan perbaikan. 2. TIMBANGAN BAYI DIGITAL (DENGAN KETELITIAN 10 GRAM) A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Tempatkan timbangan di atas meja datar di ruang pelayanan b. Lepaskan penutup debu c. Pasang alas bayi d. Pastikan display penunjuk angka nol, jika tidak hubungi teknisi 2. Pelaksanaan Lakukan penimbangan dengan memperhatikan protap pelayanan B. Cara Pemeliharaan 1. Bersihkan dan rapikan alat setelah digunakan 2. Pasang penutup debu 3. Simpan alat pada tempatnya 4. Dikalibrasi sekurang-kurangnya satu tahun sekali 5. Bila tidak dipakai, baterai dilepas Gambar 4.2 Timbangan bayi digital
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 19 3. LAMPU PERIKSA TIPE HEAD LAMP Gambar 4.3 Lampu Periksa tipe Head Lamp A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Siapkan baterai Alkalin. b. Periksa kondisi baterai dan kontak positif/negatif baterai c. Masukan baterai ke tempatnya d. Periksa fungsi head lamp dengan menguji kondisi lampu menyala/mati. 2. Pelaksanaan Pasang alat di kepala dan lakukan pemeriksaan sesuai protap pelayanan B. Cara Pemeliharaan 1. Bersihkan dan rapikan alat selesai penggunaan 2. Jika head lamp akan disimpan untuk waktu yang lama sebaiknya baterai dilepas dari tempatnya 3. Simpan alat head lamp pada tempatnya 4. LAMPU PERIKSA TIPE BERDIRI A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Tempatkan lampu periksa pada ruang pelayanan b. Kunci roda bila posisi pemeriksaan sudah tepat c. Masukan tusuk kontak pada kontak kotak sumber listrik 2. Pelaksanaan a. Nyalakan lampu dengan menekan saklar b. Atur ketinggian lampu periksa sesuai kebutuhan dan arahkan sesuai protap pelayanan c. Matikan lampu dan cabut tusuk kontak dari kontak kotak sumber listrik jika selesai digunakan d. Lepaskan kunci roda bila sudah selesai melakukan pemeriksaan e. Tempatkan pada posisi yang aman tidak mengganggu rotasi pelayanan Gambar 4.4 Lampu periksa tipe berdiri ON/OF"F"' " "
20 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik B. Cara Pemeliharaan 1. Bersihkan dan rapikan alat 2. Periksa kondisi kabel catu daya, ganti segera bila terkelupas 3. Periksa tusuk kontak (stop kontak) bila pecah segera untuk diganti atau kencangkan apabila tusuk kontak kendor 4. Bersihkan roda dan berikan pelumas secara rutin 5. Simpan alat pada tempatnya 5. ALAT PENGUKUR PANJANG BAYI DAN TINGGI ANAK A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan Siapkan alat ukur panjang badan bayi dan anak pada ruangan pelayanan 2. Pelaksanaan a. Perhatikan protap pelayanan b. Pasang dan ukur sesuai protap pelayanan B. Cara Pemeliharaan 1. Bersihkan dengan cairan anti septik dan rapikan alat 2. Simpan alat pada tempatnya 3. Dikalibrasi sekurang-kurangnya 1 tahun sekali 6. STETOSKOP NEONATUS DAN PEDIATRIK Gambar 4.6 Stetoskop neonatus dan pediatrik Gambar 4.5a Alat ukur panjang bayi Gambar 4.5b Alat ukur tinggi badan anak Diameter 3 cm
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 21 A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Periksa fungsi stetoskop, pastikan masih berfungsi baik (dengan cara menggesekkan ujung jari pada permukaan membran stetoskop) b. Buka pakaian bayi 2. Pelaksanaan a. Pasang stetoskop sesuai protap pelayanan b. Satu stetoskop hanya digunakan untuk satu bayi. Apabila terpaksa menggunakan stetoskop yang sama untuk lebih dari satu bayi, maka bagian stetoskop yang bersentuhan dengan bayi setiap kali harus dibersihkan dengan cairan antiseptik sebelum digunakan pada bayi lainnya B. Cara Pemeliharaan 1. Jaga jangan sampai membran stetoskop terkena benturan 2. Simpan stetoskop pada tempatnya, hindari penggabungan dengan alat lain karena dapat mengakibatkan benturan 3. Apabila telah selesai digunakan, alat harus dibersihkan menggunakan kain halus yang sudah dilembabkan dengan cairan anti septik. 4. Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit infeksi terhadap neonatus yang sangat rentan, sangat dianjurkan stetoskop tersedia di setiap tempat tidur. 7. LARINGOSKOP Gambar 4.7 Laringoskop dengan lidah lurus dan ukuran yang sesuai untuk neonatus (00 dan 0) dan bayi (1) A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Siapkan baterai b. Periksa kondisi baterai dan kontak posisif/negatif baterai c. Pasang baterai pada gagang laringoskop d. Pasang bagian kepala laringoskop dengan gagangnya sehingga menjadi satu alat laringoskop 2. Pelaksanaan Lakukan pemeriksaan sesuai protap pelayanan
22 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik B. Cara Pemeliharaan 1. Jaga laringoskop jangan sampai terkena benturan 2. Simpan laringoskop pada tempatnya, jangan digabung dengan alat lain yang dapat mengakibatkan benturan 3. Apabila telah digunakan, alat harus dibersihkan menggunakan kain halus yang sudah dilembabkan dengan cairan anti septik, atau menggunakan alkohol 70%. Sangat dianjurkan untuk mensterilkan lidah Laringoskop dengan alat sterilisator (autoclave). Simpan pada tempat yang sudah ditentukan. 4. Bila tidak dipakai, baterai dilepas Permasalahan Solusi Lampu Laringoskop mempunyai jam umur Sebaiknya memiliki lampu cadangan yang disimpan layanan (Life time). dengan baik 8. TENSIMETER (SPHYGMOMANOMETER) Gambar 4.8a Tensimeter Aneroid dan Digital Gambar 4.8b Tensimeter Air Raksa Gambar 4.8c Manset Tensimeter
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 23 A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Tempatkan alat pada ruang tindakan b. Buka tutup Tensimeter c. Buka penutup air raksa d. Posisikan air raksa pada skala nol e. Periksa kondisi : tabung skala, selang, manset, katup dan balon f. Perhatikan protap pelayanan g. Beritahukan kepada pasien/keluarga pasien, mengenai tindakan yang akan dilakukan h. Kosongkan udara pada manset. 2. Pelaksanaan a. Pasang manset yang sesuai (2/3 panjang lengan atas) b. Pasang Stetoskop secara benar c. Tutup katup pada balon d. Pompa manset dengan cara memompa balon, perhatikan tabung skala e. Lakukan pada pembacaan meter air raksa/pada tabung skala, dan detak tekanan nadi pada Stetoskop (nilai sistolik dan diastolik) f. Apabila dipastikan pembacaan nilai tekanan darah telah benar, buka katup perlahan lahan dan catat nilai penunjukan g. Tutup penutup air raksa. 3. Penyimpanan a. Bersihkan manset dari keringat pasien b. Kemas manset, selang dan balon . c. Masukan manset, selang dan bola ke dalam kotak secara benar, pastikan alat tensimeter dalam kondisi baik dan siap difungsikan untuk pemakaian berikutnya d. Simpan alat ke tempat semula e. Catat beban kerja alat dalam jumlah pasien. B. Cara Pemeliharaan 1. Periksa manset, ganti segera apabila ada kebocoran 2. Bersihkan secara rutin manset, dengan cara melepaskan selang dari rumah tensimeter. 3. Cuci permukaan manset dengan sabun dan sikat untuk mencuci pakaian yang halus, jaga air jangan sampai masuk pada selang 4. Periksa kondisi selang 5. Periksa katup pengunci udara dengan memutarnya apakah ada kebocoran atau tidak 6. Bila alat tensimeter digital tidak dipakai, baterai dilepas 7. Semua tensimeter dikalibrasi sekurang-kurangnya setahun sekali
24 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik No. Permasalahan Solusi perbaikan 1 Balon tensimeter dipompa tetapi air. Pastikan bahwa katup pada balon pemompa dalam raksa tidak naik keadaan tertutup Periksa apakah ada kebocoran pada kelengkapan seperti manset, selang manset, balon dan penutup skala pembacaan Ganti kelengkapan yang bocor 2 Manset tidak menggelembung Kemungkinan manset bocor karena usia, dan segera diganti 3 Selang manset bocor Lakukan penggantian satu set dengan manset 4 Balon pemompa bocor Lakukan penggantian pompa balon 5 Lubang udara pada air raksa tertutup Periksa secara teliti dan bersihkan lobang udara yang ada di atas skala meter kain kasa 6 Air raksa berkurang Lakukan penambahan air raksa hingga mencapai batas skala pembacaan terendah. Dan lakukan kalibrasi ulang 9. TABUNG OKSIGEN (O2 ) DENGAN TABUNG UDARA BERTEKANAN/MEDICAL AIR A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Siapkan tabung O2 dan Tabung Udara Tekan/ air pressure/medical air b. Pasang Flow manometer O2 dan Udara tekan c. Masukan air aquades pada tabung flowmeter regulator 2. Pelaksanaan a. Aturlah regulator O2 (Flowmeter) pada alat flowmeter sesuai tekanan yang diperlukan b. Aturlah regulator (Flowmeter) udara tekan sesuai tekanan yang diperlukan c. 2 yang dibutuhkan dengan melihat protap pelayanan. d. Pastikan penempatan tabung O2 dan tabung udara tekan terkunci 3. Penyimpanan a. Simpanlah tabung O2 dan tabung udara tekan jauhkan dari tekanan udara panas baik dari sorotan matahari maupun dari ruangan atau benda panas b. Hati-hati dengan regulator pengatur tekanan O2 dan udara tekan jangan sampai terbentur dan tertabrak B. Cara Pemeliharaan 1. Bersihkan regulator/manometer flowmeter dengan air bersih dan lap kain halus 2. Bersihkan tabung O2 dan tabung udara tekan dengan lap yang lembab. 1). Regulator O2 dan flowmeter perlu dikalibrasi minimal setahun sekali Gambar 4.9 Tabung Oksigen + tabung udara bertekanan Kombinasikan pengeluaran O dan udara tekan sesuai
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 25 Gambar 4.10 Keluaran Oksigen sentral Gambar 4.9 Tabel Persentase campuran oksigen dan udara bertekanan % kons. O2 Udara Bertekanan (liter/menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 41% 37% 34% 32% 31% 30% 29% 28% 2 61% 53% 47% 44% 41% 38% 37% 35% 34% 3 80% 68% 61% 55% 51% 47% 45% 43% 41% 39% 4 84% 74% 66% 61% 56% 52% 50% 47% 45% 44% 5 86% 77% 70% 65% 61% 57% 54% 51% 49% 47% 6 88% 80% 74% 68% 64% 61% 57% 54% 53% 51% 7 90% 82% 76% 71% 67% 64% 61% 58% 56% 54% 8 91% 84% 78% 74% 70% 66% 63% 61% 58% 56% 9 92% 86% 80% 76% 72% 68% 65% 63% 61% 58% 10 93% 87% 82% 77% 74% 70% 67% 65% 63% 61% 10. OKSIGEN SENTRAL A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Pastikan keluaran/outlet sentral sudah tersedia O2 b. Pasanglah flowmeter atau selang lain bila sumber O2 sentral dibutuhkan masuk ke alat lain seperti ventilator dan penggunaan Nebulyzer. c. Pastikan tabung flowmeter sudah dibersihkan, bila O2 akan dimasukan langsung ke pasien. d. Isi flowmeter dengan air aquades. 2. Pelaksanaan a. Pasanglah selang flowmeter kepada pasien atau sesuai pada protap pelayanan medis. b. Atur regulator flowmeter sesuai dengan protap Pelayanan. c. Semua bejana bertekanan tinggi harus dijauhkan dari oli, sinar matahari dan panas d. Pastikan sistem penempatan tabung terkunci B. Cara Pemeliharaan 1. Bersihkan tabung flowmeter dengan sabun, dan lakukan pemasangan dan pelepasan alat 2. Periksa secara rutin setiap outlet/keluaran O2 dengan mencoba memasang dan melepas alat flowmeter dengan cara hati-hati. flowmeter.
26 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 11. LOW FLOWMETER A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Flowmeter 1 liter per menit b. Botol Humidifier c. Gunakan aquades 2. Pelaksanaan a. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan b. Pasangkan flowmeter pada sumber Oksigen di dinding atau tabung c. Pasangkan botol humidifier pada flowmeter d. Sambungkan nasal kanul dengan ukuran yang sesuai ke botol humidifier e. Buka aliran pada flowmeter dengan memutar knob sesuai dengan aliran yang diinginkan f. Cek kondisi bayi secara rutin g. Pada saat menutup aliran flowmeter, putar knob secukupnya sampai bola indikator telah turun sampai 0.1 (tidak perlu memaksa sampai 0), jangan memutar knob sampai habis B. Cara Pemeliharaan a. Buanglah air aquades pada botol humidifier untuk setiap kali penggantian pasien. b. Cucilah botol humidifier dengan air dan sabun keringkan secara alami atau dengan mengelap bagian dalam botol dengan kain kering yang bersih. 12. KONSENTRATOR OKSIGEN Gambar 4.12a Konsentrator Oksigen dan Jaringannya Gambar 4.11 Low flowmeter
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 27 Molecular Sieves Oxygen-Enriched Air to Patient Room Air Intake Filter valves Flowmeter Bacteria Filter Holding Tank (Reservoir) Air Compressor Exhausted Gas Gambar 4.12.b Alur aliran oksigen di dalam alat oksigen konsentrator Keterangan gambar 1. Sakelar ON/OFF (I/0): Menghidupkan atau mematikan alat. 2. Tombol Reset Circuit Breaker (Sakelar Pemutus): Reset alat setelah electrical overload shutdown. 3. Hourmeter Digital: Mencatat total jam operasional alat. 4. Flowmeter/Adjustment Knob (terutama pada Dual Option): Mengontrol dan memperlihatkan laju aliran/flow rate Oksigen dalam liter per menit (lpm). Flowmeter utama (sisi kiri) pada dual flow option. 5. Keluaran/outlet Oksigen (terutama pada Dual Option): Menyediakan sambungan untuk humidifier (bila diperlukan), kanula, atau kateter. Pada unit dengan dual flow option, diatur oleh flowmeter utama. 6. Handle Atas dan Samping: Alat bisa dibawa dengan nyaman. 7. Instruksi Penggunaan: Menjelaskan prosedur menjalankan alat. 8. Flowmeter Kedua (Dual Option): Flowmeter (sisi kanan) pada dual flow option. 9. Oksigen Keluaran/outlet tambahan (Dual Option): Keluaran/outlet oksigen (sisi kanan) pada dual flow Option Dikontrol oleh flowmeter kedua. 10. Air Intake Gross Particle Filter (Filter Partikel Udara Masuk): Mencegah masuknya debu dan partikel lainnya di udara. 11. Kantong Penyimpanan: Kantong aksesori dengan Velcro attachment untuk menyimpan user manual, filter udara masuk ekstra, dan oksigen adapter. 12. Kabel catu daya: Untuk menyambungkan alat ke kotak kontak listrik CAUTION Jangan menggunakan kabel ekstensi untuk alat ini
28 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik A. Cara Pengoperasian a. Letakkan alat di dekat kotak kontak listrik di dalam ruangan dimana anda menghabiskan sebagian besar waktu anda. b. Tempatkan alat jauh dari korden, lobang pengatur panas, pemanas, perapian. Pastikan menempatkan alat sedemikian sehingga semua sisi berjarak paling sedikit 12 inci dari dinding atau penghalang lainnya. Jangan meletakkan alat di tempat tertutup. c. Letakkan alat sedemikian sehingga semua kontrol operasionalnya mudah terjangkau dan masukan udara di belakang alat tidak terganggu. d. Sambungkan aksesori oksigen seperti humidifier (bila perlu), kanula, kateter (dan/atau selang ekstensi ke keluaran/outlet oksigen). e. Lepaskan kabel listrik dari konsentrator, jika dililitkan di konsentrator (Gambar 1b). f. Pasangkan listrik ke socket listrik. g. Carilah Sakelar listrik di bagian depan alat, dan tekan ke posisi I (posisi ON) (Gambar 2) Maka alarm bertenaga baterai akan terdengar keras selama 5 detik menunjukkan bahwa baterai dan alarm dalam keadaan kondisi bagus h. Aplikasi Dual Flow atau High Flow: Set knob pengaturan flowmeter pada lpm (liter per menit) yang diminta, pada kombinasi flow manapun sampai jumlah total 8 lpm untuk unit dual flow 8 lt. (Gambar 3.) Aplikasi Pediatrik/Low Flow: Lihat halaman B-3. Konsentrator sekarang siap untuk dipergunakan. i. Matikan konsentrator, tekan Sakelar I/0 ke posisi 0. j. Jika konsentrator oksigen gagal operasional dengan benar, lihatlah bagian saran teknis di bawah ini. Saran Teknis: Filter Udara masuk ke konsentrator oksigen melalui filter partikel udara masuk yang terletak di bagian belakang alat. Filter ini menghilangkan partikel debu dan pengotor lainnya dari udara. Sebelum anda menjalankan konsentrator oksigen, pastikan agar filter ini bersih dan terpasang dengan benar (Gambar 4). Suplemen oksigen yang dihasilkan oleh Konsentrator oksigen mendapatkan filtrasi tambahan dari sebuah filter yang terletak di dalam alat. Suplier anda akan melakukan maintenance terhadap filter tersebut disamping maintenance terhadap bagian lainnya. Oksigen Tanpa Humidfier Jika dokter anda tidak menyarankan menggunakan humidifier, hubungkan selang oksigen langsung ke keluaran/outlet oksigen alat. Fitting keluaran/outlet tersendiri disediakan untuk koneksi jenis ini (Gambar 5). Oksigen dengan Humidifier Ikuti tahap-tahap berikut jika dokter anda menyarankan menggunakan humidifier oksigen sebagai bagian dari terapi : 1. Lepaskan atau kendorkan botol reservoir dari humidifier. (Jika memiliki pre-filled unit, jangan melakukan tahap ini. Langsung menuju tahap 4.) (gambar 4) (gambar 5) SWITCH ON/OFF (gambar 2) (gambar 3) atau
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 29 2. Isilah reservoir dengan air yang sejuk atau dingin (sangat disarankan menggunakan air suling) sampai pada garis tera pada botol, JANGAN KELEBIHAN. 3. Kencangkan botol reservoir. 4. Di atas humidifier putar threaded nut berlawanan arah jarum jam sementara anda memasang humidifier ke keluaran/outlet oksigen, dan kencangkan (Gambar 6) 5. Sambungkan /selang oksigen dari kanula atau kateter ke fitting keluaran / outlet humidifier (Gambar 7). Penggunaan aksesori & perlengkapan oksigen yang tidak mengurangi kinerja alat. Untuk memudahkan referensi, simpanlah Manual Pasien dan filter udara masuk /air intake particle filter (jika tersedia) di dalam kantong alat. Nasal Kanula Dokter anda telah meresepkan nasal kanula atau Kateter (Gambar 8). Dalam kebanyakan kasus, pihak pabrik telah menyambungkan tube/selang suply oksigen dengan kanula atau kateter. Jika tidak, ikuti instruksi pabrik untuk sambungan yang benar. Sambungkan /selang oksigen ke adapter keluaran/outlet oksigen atau humidifier. Setting Untuk men-set flow/takaran yang benar dari suplemen oksigen, putar adjustment knob ke kiri atau kanan sampai bola kecil di dalam flowmeter berada di tengah-tengah garis flow pada angka yang dianjurkankan oleh dokter anda (Gambar 9). Untuk melihat flowmeter dari sudut pandang yang benar, Perhatikan agar garis belakang dan garis untuk angka di depan nampak sebagai satu garis. B. Cara Pemeliharaan 1. Lepaskan kabel listrik dari kotak kontak listrik sebelum anda membersihkan Kabinet 2. Bersihkan kabinet dan kabel listrik hanya dengan pembersih rumah tangga yang ringan menggunakan kain atau sponge lembab, lalu dilap sampai kering (Gambar 10). 3. Jangan menggunakan cairan secara langsung pada alat. Jangan menggunakan produk berminyak atau pembersih. 4. Jangan mengoperasikan alat tanpa filter partikel masuknya udara (air intake gross particle filter) 5. Setiap minggu bersihkan filter partikel masuknya udara yang terletak di bagian belakang alat. Suplier anda mungkin menyarankan anda untuk membersihkannya lebih sering tergantung dari kondisi di tempat anda. 6. Ikuti langkah-langkah berikut untuk membersihkan filter partikel masuknya udara a. Lepaskan filter dan dicuci di dalam air hangat yang berisi sabun (Gambar 11). b. Bilas filter dengan cermat dan hilangkan kelebihan air dengan lap yang lembut. c. Pasang filter. (gambar 6) (gambar 7) (gambar 8) (gambar 9) (gambar 10) (gambar 11) Flowmeter Oksigen yang benar tube tube flowmeter
30 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik No Permasalahan Kemungkinan Solusi perbaikan Penyebabnya 1 Unit tidak bekerja. Kabel listrik tidak tersambung Periksa kabel listrik pada socket listrik apakah ke socket listrik terpasang dengan benar. Kesalahan listrik menyebabkan Tidak ada arus pada Periksa sumber listrik, Sakelar di dinding, atau alarm bunyi terus-menerus socket listrik. circuit breaker (sakelar pemutus). terdengar Kabel listrik tidak tersambung ke Circuit breaker (sakelar Tekan (jangan ditahan) tombol circuit breaker socket listrik pemutus) pada konsentrator (sakelar pemutus) di bagian depan alat. oksigen diaktifkan. 2 Flow oksigen terbatas Botol humidifier kotor atau Lepaskan botol humidifier (jika menggunakan) terganggu dari keluaran/outlet oksigen. Jika flow kembali normal, bersihkan atau ganti dengan botol humidifier baru. Kerusakan pada nasal kanula, Lepaskan nasal kanula atau kateter dari tube kateter, dan/atau oksigen. Jika flow kembali normal, ganti tube/selang aliran oksigen. dengan nasal kanula atau kateter yang baru. Lepaskan tube aliran oksigen dari keluaran/ outlet oksigen (di bagian depan alat). Jika flow kembali normal, periksa tube oksigen terhadap kekusutan dan gangguan. Ganti bila perlu. 3 Embun terkumpul di dalam tube Alat tidak mendapatkan cukup Pastikan agar alat diletakkan jauh dari korden, oksigen ketika anda ventilasi. Naiknya suhu hot air register, pemanas, dan tungku menggunakan botol humidifier. operasional alat. perapian (sumber atau aliran udara panas). Pastikan menempatkan alat sedemikian sehingga paling sedikit berjarak 12 inci dari dinding atau semua penghalang. Jangan meletakkan alat di daerah yang tertutup Ganti air di botol humidifier dengan air dingin. jangan kelebihan. Tunggu tube oksigen sampai kering, atau ganti dengan tube yang baru 4 Alarm berbunyi setiap satu detik. Alat tidak berfungsi Set Sakelar I/0 ke posisi 0, pergunakan dengan baik. oksigen cadangan anda (jika disediakan), dan segera konsultasi dengan anda. 5 Alarm tidak berbunyi, atau suara Baterai 9-volt lemah. Hubungi anda untuk mengganti alarm lemah terdengar selama bateri 9-volt. 5 detik pada saat alat dihidupkan. 6 Masalah-masalah lainnya Set Sakelar I/0 ke posisi 0, pergunakan suplemen oksigen cadangan anda (jika disediakan), segera hubungi anda. supply supplier supplier supplier
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 31 13. OKSIGEN KONSENTRATOR Keterangan: 1. Handle 2. LCD display 3. ON/OFF 4. Pemutar knob pada flowmeter 5. outlet nasal kanula A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Letakan alat jangan terlalu dekat dengan dinding (minimal 30 cm) b. Isi botol humidifier dengan air aquadest dan pasang kembali pada tempatnya (ada di belakang alat) c. Pasang nasal kanula pada output konektor (no.5) d. Pasang power konektor dari alat ke sumber listrik 2. Pelaksanaan a. Hidupkan mesin Oksigen Konsentrator. Tekan tombol ON/OFF (no.3) b. LCD Display (no.2) akan menyala, berarti alat mulai bekerja c. Atur Flow yang diinginkan dengan memutar knob pada flowmeter (no.4) d. Tunggu 10-15 menit, atau sampai konsentrasi Oksigen tercapai 90 ± 5 % e. Pasang nasal kanula pada pengguna f. Amati indikator flowmeter apakah sudah sesuai yang diinginkan g. Nasal disambungkan pada humidifier B. Pemeliharaan : 1. Kembalikan nilai flowmeter (no.4) kepada posisi O 2. Matikan alat dengan menekan tombol (no.3) 3. Lepaskan Power konektor dari sumber listrik 4. Lepaskan Nasal canulla dan simpan untuk pemakai yang sama 5. Lepaskan humidifier botol dari tempatnya, buang airnya, cuci bersih dan keringkan. Kemudian kembalikan ketempat semula 6. Periksa seluruh badan alat dan bersihkan dengan cukup di lap dengan kain atau kanebo, dan simpan ketempat penyimpanan 7. Perlu dilakukan pengecekan dan penggantian rutin untuk intake filter Gambar 4.13 Oksigen konsentrator ON/OFF
32 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 14. SUCTION PUMP PORTABLE (DENGAN BATERAI) Keterangan: 1. Vaccum gauge 2. Lampu 3. Vaccum control 4. ON/OFF 5. Tombol untuk mengetahui level baterai 6. Power supply connector A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan a. Siapkan alat suction pump b. Hidupkan alat dengan menekan tombol ON/OFF (no.4) c. Cek level baterai dengan menekan tombol 5 untuk mengetahui level baterai, baterai ditunjukan dengan lampu (no.2) semakin berkurang baterai, lampu yang menyalapun berkurang, apabila kondisi baterai hampir habis (lampu no.2 menyala hanya 1 (satu) lampu, artinya harus segera di-charge, pengecasan dilakukan dengan menghubungkan power supply konektor (no.6), saat pengecasan ditunjukan dengan lampu (no.2) yang bergerak naik turun. d. Alat dapat dioperasikan dengan kondisi baterai penuh ataupun dalam kondisi pengecasan. e. Pasang filter (setiap berganti pemakaian, harap diganti. Untuk pengguna yang sama, hanya boleh dipakai ukuran 2x pemakaian. f. Pasang selang-selang konektor pada hose connector (no.7) 2. Pelaksanaan a. Hidupkan alat dengan menekan tombol ON/OFF (no.4) b. Cek daya hisap dengan menekan ibu jari pada ujung selang, kemudian atur vakum kontrol dengan memutar sesuai kevakuman yang diinginkan (nilai kevakuman ditujukan oleh vacuum gauge -no.1) c. Alat siap untuk dipakai d. Saat pelaksanaan tindakan, perhatikan ketinggian cairan dalam botol (tidak melebihi level maksimum) B. Cara Pemeliharaan 1. Kembalikan posisi vakum kontrol (no.3) keposisi minimum 2. Matikan alat dengan menekan tombol OFF (no.4) 3. Lepaskan selang, botol penampungan dan filter. Buang cairan dari botol 4. Buang cairan dari dalam botol, bersihkan dan sterilkan dengan pemanasan 5. Cuci selang dan bersihkan bagian lain dari alat yang kotor dengan cairan disinfektan. 6. Cek kondisi baterai dengan menekan tombol (no.5), apabila baterai sampai habis (ditunjukkan oleh nyala LED indicator-no.2) maka silahkan charge dengan power supply 7. Apabila baterai sudah penuh, simpan alat pada tempatnya kembali Gambar 4.14 Suction Pump Dengan Baterai 1 3 2 5 4 6 7 level
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 33 15. PORTABLE SUCTION PUMP (Tanpa Baterai) Gambar 4.15 Suction pump dengan sumber daya listrik A. Cara Pengoperasian 1 Persiapan a. Siapkan alat suction pump b. Masukan catu daya c. Pastikan tabung penampungan cairan keadaan kosong. 2. Pelaksanaan a. Hidupkan sakelar keposisi ON b. Arahkan selang penghisap pada posisi objek. c. Atur daya hisap sesuai protap pelayanan perhatikan tabung penampungan cairan, hati-hati jangan sampai nunggu penuh. d. Buanglah cairan pada tabung penampungan, jangan sampai menunggu penuh B. Pemeliharaan 1. Bersihkan tabung penampungan air kotoran dengan air panas dan bahan disinfektan atau sabun 2. Sakelar power harus pada posisi OFF 3. Bersihkan body suction pump dengan lap kain lembab yang sudah direndam klorin. power
34 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 16. INFANT T-PIECE RESUSCITATOR DENGAN PEEP A. Cara Pengoperasian 1. Persiapan: a. Alat Infant T-piece resuscitator dengan PEEP b. Gas Supply Line (selang Oksigen) c. T-piece resuscitation set (selang T-piece) f. Lung test e. Resuscitation mask 2. Pelaksanaan: a. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan b. Pasang Gas Supply Line pada Gas Inlet pada alat c. Pasang selang T-piece pada Gas Outlet pada alat d. Pasang test lung ke selang T-piece e. Sambungkan Gas supply line ke flowmeter (Oksigen atau mixer), pastikan tidak ada air dalam bubble humidifier atau gunakan nipple nut f. Atur flow (aliran) gas antara 5-15 LPM g. Untuk pengecekan tekanan maksimum, tutup/blok lubang PEEP lalu putar tombol Inspiratory Pressure sampai habis. Tekanan maksimum akan terlihat di manometer h. Atur maksimum tekanan yang diinginkan dengan memutar tombol Maximum Pressure Relief ke kiri atau ke kanan i. Setting PIP : Tutup lubang pengatur PEEP sambil memutar tombol Inspiratory Pressure Control ke kanan atau ke kiri sesuai dengan yang diinginkan (terlihat di manometer) b d e c b c PIP
Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 35 j. Setting PEEP : Buka pengatur PEEP lalu putar ke kanan atau ke kiri sesuai dengan PEEP yang diinginkan (terlihat di manometer) k. Lepaskan test lung, dan pasang Resuscitation Mask (sungkup) bayi ke T-piece dan letakkan sungkup pada mulut atau hidung bayi atau pasang T-piece pada ET l. Atur resusitasi dengan cara menutup dan membuka jempol pada pengatur PEEP m. Cuci tangan setelah melakukan tindakan n. Bereskan alat seperti semula B. Pemeliharaan 1. Pastikan tidak ada air masuk ke dalam unit 2. Bersihkan alat dari debu dan kotoran dengan kain lembab 3. Cek kabel dan tombol PEEP dan pressure bekerja baik 4. Simpan alat di tempat yang mudah dilihat dan terjangkau
36 Prosedur Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan Medik 17. Infant T- Piece System Keterangan: 1. Selang inspirasi 5. Reservoir bag 2. Selang ekspirasi 6. T-connector 3. Elbow 7. Manometer 4. Paediatric APL (Adjustable Pressure Limiting) valve Accessories Closed tail Paediatric APL Valve Mk. II For 6-9 mm spigots 15F 15F 22F 0.5 litre 0.4 m 30M safety cap Luer lock port 22M/15F 1.8 m 15M 1 2 6 4 5 Manometer 0-60 cm H20 (untuk menilai dan ) Reservoir bag dengan berbagai ukuran : - 0,5 L (PIP max. 30 cm H2 O ). - 1 L (PIP max. >30 cm H2 O), - 2 L - 3 L 3 PIP PEEP