The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E BOOK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA_E BOOK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 00:20:05

E BOOK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA_E BOOK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

E BOOK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA_E BOOK ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

95 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA 2. Sindrom Down Sindrom Down merupakan salah satu kelainan yang menyerang bayi yang disebabkan oleh berlebihnya jumlah kromosom dalam tubuh, untuk manusia normal memiliki jumlah kromosom 46 namun pada penderita penyakit Sindrom down miliki 47 kromosom. Ciri utama daripada bentuk ini adalah dari segi struktur muka dan satu atau ketidakmampuan fisik dan juga waktu hidup yang singkat. Sebagai perbandingan, bayi normal dilahirkan dengan jumlah 46 kromosom (23 pasang) yaitu hanya sepasang kromosom 21 (2 kromosom 21). Pemeriksaan Diagnostik Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain : - Pemeriksaan fisik penderita - Pemeriksaan kromosom - Ultrasonografi (USG) - Ekokardiogram (ECG) - Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling) Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. Lakukan pengkajian fisik. 2. Lakukan pengkajian perkembangan.


96 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA 3. Dapatkan riwayat keluarga, terutama yang berkaitan dengan usia ibu atau anak lain mengalami keadaan serupa. 4. Observasi adanya manifestasi sindrom down : Karakeristik fisik (paling sering terlihat) Tengkorak bulat kecil dengan oksiput datar Lipatan epikantus bagian dalam dan fisura palpebra serong (mata miring ke atas dan keluar) Hidung kecil dengan batang hidung tertekan ke bawah (hidung sadel) Lidah menjulur kadang berfisura Mandibula hipoplastik (membuat lidah tampak besar) Palatum berlengkung tinggi Leher pendek tebal Muskulatur Hipotonik (perut buncit, hernia umbilikus) Sendi hiperfleksibel dan lemas Tangan dan kaki lebar, pandek tumpul. Garis simian (puncak transversal pada sisi telapak tangan) Intelegensia Bervariasi dan retardasi hebat sampai intelegensia normal rendah Umumnya dalam rentang ringan sampai sedang


97 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Kelambatan bahasa lebih berat daripada kelambatan kognitif Anomaly congenital (peningkatan insiden) Penyakit jantung congenital (paling umum) Diagnosa Keperawatan 1. Keterlambatan pertumbuhan dan abnormalitas perkembangan kromosom, kelainan fisik 2. Perubahan nutrisi (pada neonatus) : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kesulitan pemberian makanan karena lidah yang menjulur dan palatum yang tinggi. Rencana Keperawatan - Risiko tinggi infeksi, hipotonia, peningkatan kerentanan terhadap infeksi pernapasan. Tujuan : pasien tidak menunjukkan bukti infeksi pernafasan. Intervensi : Ajarkan keluarga tentang teknik mencuci tangan yang baik. Rasional : Untuk meminimalkan pemajanan pada organisme infektif. Tekankan pentingnya mengganti posisi anak dengan sering, terutama penggunaan postur duduk. Rasional : Untuk mencegah penumpukan sekresi dan memudahkan ekspansi paru. Dorong penggunaan vaporizer uap dingin. Rasional : Untuk mencegah krusta sekresi dan mengeringnya membrane mukosa.


98 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Ajarkan pada keluarga penghisapan hidung dengan spuit tipe-bulb. Rasional : Karena tulang hidung anak tidak berkembang menyebabkan masalah kronis ketidakadekuatan drainase mucus. Dorong kepatuhan terhadap imunisasi yang dianjurkan. Rasional : Untuk mencegah infeksi. Tekankan pentingnya menyelesaikan program antibiotic bila diinstruksikan. Rasional : Untuk keberhasilan penghilangan infeksi dan mencegah pertumbuhan organism resisten - Perubahan nutrisi (pada neonatus) : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kesulitan pemberian makanan karena lidah yang menjulur dan palatum yang tinggi. Tujuan : kesulitan pemberian makan pada masa bayi menjadi minimal. Intervensi : Hisap hidung setiap kali sebelum pemberian makan, bila perlu. Rasional : Untuk menghilangkan mucus. Jadwalkan pemberian makan sedikit tapi sering : biarkan anak untuk beristirahat selama pemberian makan. Rasional : Karena menghisap dan makan sulit dilakukan dengan pernapasan mulut


99 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Berikan makanan padat dengan mendorongnya ke mulut bagian belakang dan samping. Rasional : Karena refleks menelan pada anak dengan sindrom down kurang baik. Hitung kebutuhan kalori untuk memenuhi energy berdasarkan tinggi dan berat badan. Rasional : Memberikan kalori kepada anak sesuai dengan kebutuhan. Pantau tinggi dan BB dengan interval yang teratur. Rasional : Untuk mengevaluasi asupan nutrisi. Rujuk ke spesialis untuk menentukan masalah makanan yang spesifik. Rasional : Mengetahui diet yang tepat. - Risiko tinggi cedera berhubungan dengan hiperekstensibilitas sendi, instabilitas atlantoaksial. Tujuan : mengurangi risiko terjadinya cedera pada pasien dengan sindrom down. Intervensi: Anjurkan aktivitas bermain dan olahraga yang sesuai dengan maturasi fisik anak, ukuran, koordinasi dan ketahanan. Rasional : Untuk menghindari cedera. Anjurkan anak untuk dapat berpartisipasi dalam olahraga yang dapat melibatkan tekanan pada kepala dan leher. Rasional : Menjauhkan anak dari factor resiko cedera.


100 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Ajari keluarga dan pemberi perawatan lain (misalnya : guru, pelatih) gejala instabilitas atlatoaksial. Rasional : Memberikan perawatan yang tepat. Laporkan dengan segera adanya tanda-tanda kompresi medulla spinalis (nyeri leher menetap, hilangnya ketrampilan motorik stabil dan control kandung kemih/usus, perubahan sensasi). - Kurangnya interaksi sosial anak berhubungan dengan keterbatasan fisik dan mental yang mereka miliki. Tujuan : kebutuhan akan sosialisasi terpenuhi Intervensi: Motivasi orang tua agar memberi kesempatan anak untuk bermain dengan teman sebaya agar anak mudah bersosialisasi Rasional : Pertukem anak tidak semakin terhambat Beri keleluasaan / kebebasan pada anak untuk berekspresi. Rasional : Kemampuan berekspresi diharapkan dapat menggali potensi anak. - Defisit pengetahuan (orang tua) berhubungan dengan perawatan anak syndrom down. Tujuan : orang tua/keluarga mengerti tentang perawatan pada anaknya. Intervensi : Berikan motivasi pada orang tua agar memberi lingkungan yang memadai pada anak.


101 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Rasional : lingkungan yang memadai mendukung anak untuk berkembang. Dorong partisipasi orang tua dalam memberi latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa. Rasional : Kemampuan berbahasa pada anak akan terlatih. Beri motivasi pada orang tua dalam memberi latihan pada anak dalam aktivitas sehari-hari. Rasional : Aktivitas sehari-hari akan membantu pertukem anak. Evaluasi 1. Diagnosa 1 Anak tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi atau distress pernafasan. 2. Diagnosa 2 Bayi mengkonsumsi makanan dengan jumlah adekuat yang sesuai dengan usia dan ukurannya. Keluarga melaporkan kepuasan dalam pemberian makanan. Bayi bertambah berat badannya sesuai dengan tabel perkembangan. Keluarga mendapatkan manfaat dari pelayanan spesialis. 3. Diagnosa 3 Anak berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan berolahraga. Anak tidak mengalami cedera yang berkaitan dengan aktivitas fisik.


102 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA 4. Diagnosa 4 Anak mampu bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik sehingga anak dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain/tidak merasa minder. 5. Diagnosa 5 Keluarga mengetahui tentang perawatan pada anak dengan Sindrome Down. Keluarga berpartisipasi aktif dalam perawatan anaknya. B. Asuhan Keperawatan pada Anak Korban Pemerkosaan 1. Definisi Pemerkosaan adalah jenis kekerasan yang paling mendapat sorotan. Diperkirakan 22% perempuan dan 2% laki-laki pernah menjadi korban perkosaan. Untuk di Amerika saja, setiap 2 menit terjadi satu orang diperkosa. Hanya 1 dari 6 perkosaan yang dilaporkan ke polisi. Sebagian besar perkosaan dilakukan oleh orang yang mengenal korban atau orang dekat korban. 2. Pengkajian Menurut pasquali, Arnold, dan De Basio (1989 ) dan craven & Himle ( 1996 ), penggunaan diri secara terapeutik (theurapeutic use of self) sangat penting dalam menciptakan lingkungan tempat kesehatan seksual dipersepsikan sebagai bagian integral dari riwayat menyeluruh klien. Ketepatan pengumpulan data bergantung pada kemampuan


103 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA perawat untuk menciptakan lingkungan yang menunjang suasana wawancara. Berikut ini pedoman wawancara yang baik dalam mengumpulkan data yang berkaitan aspek psikoseksual. - Menggunakan pendekatan yang jujur dan berdasarkan fakta yang menyadari bahwa klien sedang mempunyai pertanyaan atau masalah seksual. - Mempertahankan kontak mata dan duduk dengan klien. - Memberi waktu yang memadai untuk membahas masalah seksual, jangan terburu- buru. - Menggunakan pertanyaaan yang terbuka, umum dan luas untuk mendapatkan informasi mengenai pengetahuan, persepsi dan dampak penyakit berkaitan dengan seksualitas. - Jangan mendesak klien untuk membicarakan mengenai seksualitas, biarkan terbuka untuk dibicarakan pada waktu yang akan datang. - Masalah citra diri, kegiatan hidup sehari- hari dan fungsi sebelum sakit dapat dipakai untuk mulai membahas masalah seksual. - Amati klien selama interaksi, dapat memberi informasi tentang masalah apa yang dibahas, begitu pula masalah apa yang dihindari klien. - Minta klien mengklarifikasi komunikasi verbal dan non verbal yang belum jelas. - Berinisiatif untuk membahas masalah seksual berarti menghargai klien sebagai makhluk


104 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA seksual, memungkinkan timbulnya pertanyaan tentang masalah seksual. Menurut Ellis Nowlis (1994), area yang perlu diperhatikan ketika berinteraksi dengan klien meliputi : Apakah klien memiliki hubungan intim yang berarti baginya ? Apakah orang tersebut penuh perhatian ? Apakah kondisi yang dialami klien mungkin dapat mempengaruhi seksualitasnya ? Apakah obat yang digunakan klien dapat mempengaruhi seksualitasnya ? Apa pola penggunaan obat dan alcohol pada masa lalu dan sekarang ? 3. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan a. Gejala subyektif : - Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain. - Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain. - Respon verbal kurang dan sangat singkat. - Klien mengatakan hubungan tidak berarti dengan orang lain. - Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu dengan orang lain. - Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan. - Klien dapat berguna.


105 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA - Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup. - Klien merasa ditolak. b. Gejala objektif - Klien banyak diam dan tidak mau berbicara. - Klien tidak mau mengikuti kegiatan - Banyak berdiam diri di kamar. - Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang terdekat. - Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal. - Kontak mata kurang - Kurang spontan - Apatis (acuh terhadap lingkungan) - Ekspresi wajah kurang berseri - Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri - Mengisolasi diri - Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar - Masukan makanan dan minuman terganggu - Aktifitas menurun - Kurang energy (tenaga). c. Tindakan Keperawatan - Membina hubungan saling percaya Untuk membina hubungan saling percaya pada pasien isolasi social kadang-kadang perlu waktu yang tidak singkat. Tindakan


106 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA yang perlu dilakukan dalam membina hubungan saling percaya adalah : Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien. Berkenalan dengan pasien : perkenalan nama dan nama panggilan yang saudara sukai, serta tanyakan nama dan nama panggilan klien. Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini. Buat kontrak asuhan : apa yang akan dilakukan bersama klien, berapa lama akan dikerjakan, dan tempatnya di mana. Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasinya yang akan diperoleh untuk kepentingan terapi. Setiap saat tunjukkan sikap empati terhadap klien. Penuhi kebutuhan dasar klien saat berinteraksi. - Membantu klien menyadari perilaku isolasi sosial. Agar klien dapat menyadari bahwa perilaku isolasi social perlu diatasi maka hal yang pertama dilakukan adalah menyadarkan klien bahwa isolasi social merupakan masalah dan perlu diatasi. Hal tersebut dapat digali dengan menanyakan :


107 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Pendapat klien tentang kebiasaan berintraksi dengan orang lain. Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain. Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka. Diskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain. Jelaskan pengaruh isolasi social terhadap kesehatan fisik klien. - Melatih klien cara-cara berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain. Berikan contoh cara berbicara dengan orang lain. Beri kesempatan klien mempraktikkan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan di hadapan perawat. Mulailah bantu klien beriinteraksi dengan satu orang teman/anggota keluarga. Bila klien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan 2, 3, 4 orang dan seterusnya.


108 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh klien. Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan orang lain. Mungkin klien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Beri dorongan terus menerus agar klien tetap semangat meningkatkan interaksinya. Diskusikan dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Inventarisir kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk membangun kepercayaan diri klien dalam pergaulan. Ajarkan pada klien koping mekanisme yang konstruktif. Libatkan klien dalam interaksi dan terapi kelompok secara bertahap. Diskusikan dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang dimulai dengan keluarga terdekat. Eksplorasi keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap pentingnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar.


109 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA BAB 7 PENANGANAN ANAK KORBAN KDRT, KORBAN TRAFFICKING DAN ANAK JALANAN A. Penanganan Anak Korban KDRT Anak Korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), termasuk klasifikasi Child Abuse. Child Abuse merupakan tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973) Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga terhadap anak dapat berupa : 1. Penganiayaan fisik, mulai dari ringan sampai pada trauma neurologic yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun. 2. Penelantaran anak/kelalaian, dapat berupa : Pemeliharaan yang kurang memadai menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan. Kemudian pengawasan yang kurang memadai menyebabkan anak gagal mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa. Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan. Kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya, gagal menyekolahkan atau


110 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah . 3. Penganiayaan emosional. Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain. 4. Penganiayaan seksual, mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada seorang anak untuk mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan sexual yang nyata, sehingga menggambarkan kegiatan seperti : aktivitas seksual (oral genital, genital, anal atau sodomi) termasuk incest. (The Child Abuse & Prevention Act / Public Law 100-294). Asuhan Keperawatan a. Pengkajian Psikososial : 1) Melalaikan diri (neglect), baju dan rambut kotor, bau 2) Gagal tumbuh dengan baik 3) Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif, psikomotor dan psikososial 4) With drawl (memisahkan diri) dari orang-orang dewasa b. Rencana asuhan keperawatan 1) Identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan rusaknya mekanisme koping pada keluarga, usia orang tua, anak ke berapa dalam keluarga, status sosial ekonomi terhadap perkembangan keluarga, adanya support system dan kejadian lainnya.


111 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA 2) Konsultasikan pada pekerja sosial dan pelayanan kesehatan pribadi yang tepat mengenai problem keluarga, tawarkan terapi untuk individu atau keluarga. 3) Dorong anak dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang apa yang mungkin menyebabkan perilaku kekerasan. 4) Ajarkan orang tua tentang perkembangan dan pertumbuhan anak sesuai tingkat umur. Ajarkan kemampuan merawat spesifik dan terapkan tehnik disiplin : Dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang dilakukan intervensi yang dibutuhkan dan penyerahan pada pejabat yang berwenang pada pelayanan kesehatan dan organisasi sosial Keluarga dengan Child Abuse & neglect biasanya memerlukan kerja sama multi disiplin, support kelompok dapat membantu, memecahkan masalah yang spesifik. Dengan mendorong keluarga dengan mendiskusikan masalah mereka maka dapat dicari jalan keluar untuk memodifikasi perilaku mereka. orang tua mungkin mempunyai harapan yang tidak realistis tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, perubahan pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak, psikomotor dan diskusikan hasil test kepada orang tua dan anak.


112 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Melakukan aktivitas (seperti, membaca, bermain sepeda, dan lain-lain) antara orang tua dan anak untuk meningkatkan perkembangan dari penurunan kemampuan kognitif psikomotor dan psikososial. 5) Tentukan tahap perkembangan anak seperti 1 bulan, 2 bulan, 6 bulan dan 1 tahun 6) Libatkan keterlambatan perkembangan dan pertumbuhan yang normal mereka dapat merencanakan tujuan jangka panjang dan jangka pendek. 7) Kekerasan pada anak akan menyebabkan keterlambatan perkembangan. Aktivitas dapat mengkoreksi masalah perkembangan akibat dari hubungan yang terganggu 8) Dengan menentukan tahap perkembangan anak dapat membantu perkembangan yang diharapkan. 9) Program stimulasi dapat membantu meningkatkan perkembangan menentukan intervensi yang tepat 3 10) Resiko perilaku kekerasan oleh anggota keluarga yang lain berhubungan dengan kelakuan yang maladaptive. 11) Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang. 12) Identifikasi perilaku kekerasan, saat menggunakan/ mengkonsumsi alkohol atau obat atau saat menganggur. 13) Selidiki faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kekerasan seperti minum alkohol atau obat-obatan


113 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA 14) Lakukan konsuling kerjasama multidisiplin, termasuk organisasi komunitas dan psikolologis B. Penanganan Anak Korban Trafficking Masalah perdagangan manusia (Human Trafficking) bukan lagi hal yang baru, tetapi sudah menjadi masalah nasional dan internasional yang berlarut-larut, yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tepat, baik oleh pemerintah setiap Negara, maupun oleh organisasiorganisasi internasional yang berwenang dalam menangani masalah perdagangan manusia tersebut. Perdagangan manusia (Human Trafficking) berkaitan erat dengan hubungan antar negara, karena perdagangan tersebut biasanya dilakukan di daerah perbatasan negara dan modus operasi yang dilakukan adalah pengiriman ke berbagai negara penerima. Lemahnya penjagaan dan keamanan daerah perbatasan menjadikan faktor utama perdagangan manusia, sehingga dengan mudah seseorang dapat melakukan transaksi perdagangan tersebut. Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya tindakan human trafficking ini adalah : o Kemiskinan (Permasalahan Ekonomi) Semenjak terjadinya krisis ekonomi mulai tahun 1997, semuanya berdampak kepada seluruh elemen masyarakat. Perekonomian semakin sulit, semakin banyak rakyat yang tidak mampu untuk membiayai keluarganya khususnya anaknya. Mulai dari biaya pendidikan, hingga biaya kehidupan sehari-hari. Himpitan perekonomian itu membuat


114 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA keluarga khususnya orangtua semakin mudah terbujuk rayu oleh agen atau pelaku perdagangan anak dengan iming-iming serta janji palsu akan pekerjaan yang dapat membuat hidup lebih baik lagi dengan gaji yang besar. Ketidakjelasan akan pekerjaan juga membuat orang menjadi pasrah dalam menerima pekerjaan untuk dipekerjakan sebagai apa saja dan hal ini yang membuat para pelaku menargetkan anak sebagai korban. o Kurangnya Pendidikan dan Informasi Pendidikan yang memadai tentunya akan sangat membantu masyarakat agar tidak terjebak dalam kasus perdagangan manusia. Kekurangtahuan akan informasi mengenai perdagangan manusia membuat orang-orang lebih mudah untuk terjebak menjadi korban perdagangan manusia khususnya di pedesaan dan terkadang tanpa disadari pelaku perdagangan manusia tidak menyadari bahwa ia sudah melanggar hukum. Para korban perdagangan biasanya susah untuk mencari bantuan di negara di mana mereka dijual karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa di negara tersebut. o Kurangnya Kepedulian Orang Tua Tidak jarang ditemukan orang tua yang kurang peduli untuk membuat akta kelahiran sang anaknya dengan berbagai alasan. Orang tanpa tanda pengenal yang memadai lebih mudah menjadi korban trafficking karena usia dan kewarganegaraan


115 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA mereka tidak terdokumentasi. Sehingga pelaku dapat melakukan aksinya tanpa khawatir identitas korban tidak mudah terlacak. Anak- anak korban trafficking misalnya, lebih mudah diwalikan ke orang dewasa manapun yang memintanya. Dampak Negatif Perdagangan Manusia (Human Traficking) Banyak dampak negatif yang mereka alami. Korban tidak hanya hanya dalam bentuk fisik seperti luka, cacat, atau meninggal saja tetapi bagi mereka yang terkena pelecahan seksual atau kekerasan tetapi juga dari segi psikologis. Tentu akan ada dampak pada mental mereka yang akan berpengaruh pada kehidupan mereka. Dampak psikologis merupakan luka permanen bagi korban perdagangan manusia daripada dampak yang ditimbulkan dalam hal fisik. Mereka mengalami stress, trauma bahkan depresi setelah apa yang mereka alami. Rasa takut akan sering muncul pada diri korban perdagangan manusia. Ciri lain yang tampak adalah korban terkadang berfikir untuk bunuh diri, kepercayaan dan harga diri yang kurang, selalu merasa bersalah, merasa takut, merasa ketakutan sering mimpi buruk, kehilangan harga diri, kehilangan kontrol atas diri sendiri cenderung korban yang disuntikan narkoba oleh pelaku. Dampak psikologis yang terjadi pada korban trafficking,di antaranya adalah : o Trauma Sebagian besar korban perdagangan manusia akan


116 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA mengalami trauma dari dampak kekerasan atau pengalaman yang tidak menyenangkan bagi mereka. o Pembatasan gerak Yaitu kontrol yang dilakukan oleh para traffickers telah melampaui batas o Multiple Trauma Mengalami beberapa atau kronis peristiwa traumatis atau kasar telah ditemukan memiliki efek yang lebih negatif dari trauma tunggal. Sebuah kecemasan korban dapat diungkap, karena banyak korban yang masih menghadapi bahaya nyata terkait pengalaman perdagangan mereka bahkan setelah terjadi eksploitasi. o Violence Korban perdagangan pasti telah mengalami kekerasan baik sebelum dan selama proses perdagangan. Kekerasan sebelum perdagangan terlihat pada sebagian besar korban perdagangan untuk eksploitasi seksual. o Abuse Hal ini biasanya digunakan oleh para traffickers bagi korban yang kurang pengetahuannya untuk dipengaruhi secara negatif agar mau melaksanakan apa yang dia perintah. o Concurrent Symptoms Setelah mengalami perdagangan sebagian besar wanita memiliki banyak simultan masalah kesehatan fisik dan mental. Di antara korban perdagangan gejala kesehatan fisik menyebabkan mereka merasa


117 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA sakit dan tidak nyaman. Beberapa gejala kesehatan mental mengalami lebih lama. o Physical symptoms Kelelahan dan penurunan berat badan, gejala neurologis, dan gastrointestinal adalah masalah yang paling sering dilaporkan. Banyak korban perdagangan yang hanya memiliki sedikit waktu untuk tidur karena dipaksa untuk melakukan aktivitas terus-menerus. Kurang tidur kronis atau berkepanjangan tidak hanya mempengaruhi kemampuan individu untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih, tetapi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan kemampuan untuk menahan rasa sakit. o Post-traumatic stress disorder (PTSD) PTSD adalah istilah yang menggambarkan gangguan kesehatan mental yang disebabkan, sebagian, oleh satu atau lebih peristiwa traumatis. Gangguan ini berlangsung dalam jangka waktu lama dalam gejala psikologis yang parah dialami oleh mereka yang telah terkena pengalaman yang telah memiliki efek traumatis pada mereka. Hampir semua orang yang memiliki pengalaman traumatis akan memiliki perasaanshock, sedih dan penyesuaian dan tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatis akan menyebabkan PTSD. Karakteristik umum PTSD adalah kecenderungan gejala menurun dari waktu ke waktu di sebagian orang. Studi korban trafficking (khususnya untuk eksploitasi seksual) telah menemukan bahwa korban


118 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA menunjukkan banyak gejala PTSD. Pola penurunan dalam gejala PTSD juga ditemukan dalam korban trafficking. Upaya Untuk Menangani Masalah Human Trafficking Pemerintah Indonesia telah berusaha melakukan berbagai upaya untuk menangani masalah human trafficking yang terjadi di Indonesia. Upaya tersebut dapat dilihat pada : - Dibuatnya undang-undang yang relevan untuk memberikan perlindungan kepada korbantrafficking, UU No.37/1997 tentang Hubungan Luar Negeri : Undang-undang ini dapat digunakan untuk melindungi orang Indonesia yang ter-traffick di luar negeri. - Undang-undang No 21. Tahun 2007, Tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Pasal 1 UU No. 21 Tahun 2007 menegaskan, "Perdagangan orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara


119 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA maupun antarnegara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi." C. Penanganan Anak Jalanan Istilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di Amerika selatan, tepatnya di Brazilia, dengan nama Meninos de Ruas untuk menyebut kelompok anak-anak yang hidup di jalanan dan tidak memiliki ikatan dengan keluarga. Istilah anak jalanan berbeda-beda untuk setiap tempat, misalnya di Columbia mereka disebut “gamin” (urchin atau melarat) dan “chinces” (kutu kasur), “marginais” (criminal atau marjinal) di Rio, “pa’jaros frutero” (perampok kecil) di Peru, “polillas” (ngrengat) di Bolivia, “resistoleros” (perampok kecil) di Honduras, “Bui Doi” (anak dekil) di Vietnam, “saligoman” (anak menjijikkan) di Rwanda. Istilah-istilah itu sebenarnya menggambarkan bagaimana posisi anak-anak jalanan ini dalam masyarakat. Menurut Soedijar (1989) dalam studynya menyatakan bahwa anak jalanan adalah anak usia antara 7 sampai 15 tahun yang bekerja di jalanan dan tempat umum lainnya yang dapat mengganggu ketentraman dan keselamatan orang lain serta membahayakan dirinya sendiri. Menurut Putranto dalam Agustin (2002) dalam studi kualitatifnya mendefinisikan anak jalanan sebagai anak berusia 6 sampai 15 tahun yang tidak bersekolah lagi dan tidak tinggal bersama orang tua mereka, dan bekerja seharian untuk memperoleh penghasilan di jalanan, persimpangan dan tempat-tempat umum.


120 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa “anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan psikis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapat tekanan fisik atau mental dari lingkunganya.” Berdasarkan hasil kajian lapangan, secara garis besar anak jalanan dibedakan dalam tiga kelompok (Surbakti dkk.eds : 1997) : 1. Children on the street Yakni anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi – sebagai pekerja anak di jalan, tetapi masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orangtua mereka. Sebagian penghasilan mereka dijalankan pada kategori ini adalah untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang mesti di tanggung tidak dapat diselesaikan sendiri oleh kedua orang tuanya. 2. Children of the street Yakni anak-anak yang berpartisipasi penuh dijalanan, baik secara social maupun ekonomi. Beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekwensi pertemuan mereka tidak menentu. Banyak di antara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab biasanya kekerasan atau lari dari rumah. 3. Children from family of the street Yakni anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Meski anak-anak ini mempunyai hubungan


121 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang-ambing dari satu tempat ke tempat yang lain dengan segala resikonya (Blanc & Associate, 1990;Irwanto dkk,1995; Taylor & Veale, 1996). Salah satu ciri penting dari kategori ini adalah pemampangan kehidupan jalanan sejak masih bayi bahkan sejak masih dalam kandungan. Di Indonesia kategori ini dengan mudah ditemui di berbagai kolong jembatan, rumah-rumah liar sepanjang rel kereta api dan pinggiran sungai walau secara kwantitatif jumlahnya belum diketahui secara pasti. Walaupun pengertian anak jalanan memiliki konotasi yang negative, namun pada dasarnya dapat juga diartikan sebagai anak-anak yang bekerja di jalanan yang bukan hanya sekedar bekerja di sela-sela waktu luang untuk mendapatkan penghasilan, melainkan anak yang karena pekerjaanya maka mereka tidak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik secara jasmani, rohani dan intelektualnya. Untuk menyelesaikan masalah anak jalanan, kita berharap bahwa Negara mempunyai kewajiban untuk membebaskan mereka dari kemiskinan. Negara harus melindungi mereka dari hak-hak mereka mendapat akses pendidikan dan sebagainya.


122 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA BAB 8 MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA PROFESIONAL KOMUNITAS Keperawatan kesehatan jiwa komunitas atau Community Mental Health Nursing (CMHN) adalah pelayanan keperawatan yang komprehensif, holistik, dan paripurna berfokus pada masyarakat yang sehat jiwa, rentan terhadap stres dan dalam tahap pemulihan serta pencegahan kekambuhan (Keliat, Panjaitan, & Daulima, 2005). Pelayanan keperawatan yang holistik adalah pelayanan yang difokuskan pada aspek bio-psiko-sosiokultural dan spiritual : 1. Aspek fisik dikaitkan dengan kehilangan organ tubuh yang dialami anggota masyarakat akibat bencana yang memerlukan pelayanan dalam rangka adaptasi mereka terhadap kondisi fisiknya. 2. Aspek psikologis dikaitkan dengan berbagai masalah psikologis yang dialami masyarakat seperti ketakutan, trauma, kecemasan maupun kondisi yang lebih berat di mana memerlukan pelayanan agar mereka dapat beradaptasi dengan situasi tersebut. 3. Aspek sosial dikaitkan dengan kehilangan suami/isteri/anak, keluarga dekat, kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, harta benda serta adanya konflik yang berkepanjangan pada masyarakat yang


123 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA memerlukan pelayanan dari berbagai sector terkait agar mereka mampu mempertahankan kehidupan sosial yang memuaskan. 4. Aspek budaya dikaitkan dengan budaya tolong menolong dan kekeluargaan yang dapat digunakan sebagai sistem pendukung sosial dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ditemukan. 5. Aspek spiritual dikaitkan dengan nilai-nilai agama yang kuat di masyarakat yang dapat diberdayakan sebagai potensi masyarakat dalam mengatasi berbagai konflik dan masalah kesehatan yang terjadi. Pelayanan keperawatan komprehensif dapat diberikan pada masyarakat pasca bencana dengan kondisi masyarakat yang sangat beragam dalam rentang sehat-sakit yang memerlukan pelayanan keperawatan pada tingkat pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pelayanan keperawatan kesehatan jiwa yang komprehensif mencakup tingkat pencegahan yaitu : 1. Pencegahan primer Fokus pelayanan keperawatan jiwa pada peningkatan kesehatan dan pencegahan terjadinya gangguan jiwa. Tujuan pelayanan adalah mencegah terjadinya gangguan jiwa, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan jiwa. Target pelayanan yaitu anggota masyarakat yang belum mengalami gangguan sesuai dengan kelompok umur yaitu anakanak, remaja, dewasa dan lanjut usia lanjut. Kegiatan pencegahan primer diarahkan pada populasi sehat, termasuk memberikan informasi dan mengajarkan


124 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA keterampilan pertahanan koping untuk mengurangi stress dengan tujuan menghindari gangguan mental. Perawat dapat mengajarkan keterampilan sebagai orang tua untuk mengasuh anak dengan baik. 2. Pencegahan sekunder Fokus pelayanan keperawatan pada pencegahan sekunder adalah deteksi dini masalah psikososial dan gangguan jiwa serta penanganan dengan segera. Tujuan pelayanan adalah menurunkan kejadian gangguan jiwa. Target pelayanan yaitu anggota masyarakat yang berisiko/memperlihatkan tanda-tanda masalah psikososial dan gangguan jiwa. Perawat dapat melakukan skrining untuk depresi pada tempat kerja. 3. Pencegahan sekunder Fokus pelayanan keperawatan pada peningkatan fungsi dan sosialisasi serta pencegahan kekambuhan pada pasien gangguan jiwa. Perawat dapat memberikan pengobatan jangka panjang di klinik. Tujuan pelayanan adalah mengurangi kecacatan/ketidakmampuan akibat gangguan jiwa. Target pelayanan yaitu anggota masyarakat yang mengalami gangguan jiwa pada tahap pemulihan. 4. Peran Perawat Menurut Effendy (1998), peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat di antaranya adalah : a. Pelaksana pelayanan keperawatan (provider of nursing care )


125 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Peranan yang utama dari perawat kesehatan masyarakat adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit atau yang mempunyai masalah kesehatan apakah itu di rumah, di sekolah, puskesmas, panti, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhannya. Perawat dapat membuat permainan yang menyenangkan untuk merilekskan pikiran dan menenangkan psikologi klien. b. Sebagai pendidik (Health education) Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku sehat sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai tingkat kesehatan yang optimal. c. Sebagai pengamat kesehatan (health monitor) Melaksanakan monitoring terhadap perubahanperubahan yang terjadi pada individu keluarga, kelompok, dan masyarakat yang menyangkut masalah–masalah kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak terhadap status kesehatan, melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan pengumpulan data.


126 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA d. Coordinator pelayanan kesehatan (coordinator of services) Mengkoordinir seluruh kegiatan upaya pelayanan kesehatan masyarakat dalam mencapai tujuan kesehatan melalui kerja sama dengan tim kesehatan lainnya sehingga tercipta keterpaduan dalam sistem pelayanan kesehatan. Dengan demikian pelayanan kesehatan yang diberikan merupakan suatu kegiatan yang menyeluruh dan tidak terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya. e. Sebagai pembaharu (innovator) Perawat kesehatan masyarakat dapat berperan sebagai agen pembaharu terhadap individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, terutama dalam merubah perilaku dan pola hidup yang erat kaitannya dengan peningkatan pemeliharaan kesehatan. f. Pengorganisir pelayanan kesehatan (organisator) Perawat kesehatan masyarakat dapat berperan serta dalam memberikan motivasi dalam rangka meningkatkan keikutsertaan masyarakat individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam setiap upaya pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh masyarakat misalnya kegiatan posyandu, dana sehat, mulai dari tahap perencanaan , pelaksanaan sampai dengan tahap penilaian, sehingga ikut berpartisipasi dalam


127 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA kesehatan pengembangan dan pengorganisasian masyarakat dalam bidang kesehatan. g. Sebagai panutan (role model) Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang baik dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat . h. Sebagai tempat bertanya (fasilitator) Perawat dapat dijadikan tempat bertanya oleh individu, keluarga, kelompok, dam masyarakat untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan yang dihadapi seharihari, dan perawat diharapkan membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah kesehatan yang mereka hadapi. i. Sebagai pengelola (manager) Sebagai pengelola, perawat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan pelayanan kesehatan dengan beban tugas dan tanggung jawab yang diembankan kepadanya.


128 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA BAB 9 TERAPI PSIKOFARMAKA, SOMATIC DAN MODALITAS A. Terapi Psikofarmaka Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang berpengaruh terhadap taraf kualitas hidup klien (Hawari, 2001). Obat psikotropik dibagi menjadi beberapa golongan di antaranya: antipsikosis, anti-depresi, anti-mania, antiansietas, anti-insomnia, anti-panik, dan anti obsesifkompulsif. Pembagian lainnya dari obat psikotropik antara lain : transquilizer, neuroleptic, antidepressants dan psikomimetika (Hawari, 2001). B. Terapi Somatic Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat gangguan jiwa sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu system tubuh lain. Salah satu bentuk terapi ini adalah Electro Convulsive Therapy. Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis pengobatan somatik di mana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus


129 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA tersebut cukup menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik tercapai. Mekanisme kerja ECT sebenarnya tidak diketahui, tetapi diperkirakan bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan biokimia di dalam otak (Peningkatan kadar norepinefrin dan serotinin) mirip dengan obat anti depresan. (Townsend alih bahasa Daulima, B. 2006). C. Terapi Modalitas Terapi modalitas adalah suatu pendekatan penanganan klien gangguan yang bervariasi yang bertujuan mengubah perilaku klien gangguan jiwa dengan perilaku maladaptifnya menjadi perilaku yang adaptif. Ada beberapa jenis terapi modalitas, antara lain: 1. Terapi Individual Terapi individual adalah penanganan klien gangguan jiwa dengan pendekatan hubungan individual antara seorang terapis dengan seorang klien. Suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan klien untuk mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah hubungan yang disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan sistematis (terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan tingkah laku klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan. Hubungan terstruktur dalam terapi individual bertujuan agar klien mampu menyelesaikan konflik yang dialaminya. Selain itu klien juga diharapkan mampu meredakan


130 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA penderitaan (distress) emosional, serta mengembangkan cara yang sesuai dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. 2. Terapi Lingkungan Terapi lingkungan adalah bentuk terapi yaitu menata lingkungan agar terjadi perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptive menjadi perilaku adaptif. Perawat menggunakan semua lingkungan rumah sakit dalam arti terapeutik. Bentuknya adalah memberi kesempatan klien untuk tumbuh dan berubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi. 3. Terapi Kognitif Terapi kognitif adalah strategi memodifikasi keyakinan dan sikap yang mempengaruhi perasaan dan perilaku klien. Proses yang diterapkan adalah membantu mempertimbangkan stressor dan kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi pola berfikir dan keyakinan yang tidak akurat tentang stressor tersebut. Gangguan perilaku terjadi akibat klien mengalami pola keyakinan dan berfikir yang tidak akurat. Untuk itu salah satu memodifikasi perilaku adalah dengan mengubah pola berfikir dan keyakinan tersebut. Fokus asuhan adalah membantu klien untuk reevaluasi ide, nilai yang diyakini, harapanharapan, dan kemudian dilanjutkan dengan menyusun perubahan kognitif.


131 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA 4. Terapi Keluarga Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-fungsi yang dituntut oleh anggotanya. Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi dan kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap munculnya masalah tersebut digali. 5. Terapi Kelompok Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang dibentuk dalam kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku melalui media kelompok. Dalam terapi kelompok perawat berinteraksi dengan sekelompok klien secara teratur. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptive. 6. Terapi Bermain Terapi bermain diterapkan karena ada anggapan dasar bahwa anak-anak akan dapat berkomunikasi dengan baik melalui permainan dari pada dengan ekspresi verbal. Dengan bermain perawat dapat mengkaji tingkat perkembangan, status emosional anak,


132 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA hipotesa diagnostiknya, serta melakukan intervensi untuk mengatasi masalah anak tersebut.


133 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DAFTAR PUSTAKA Ade, Susana; 2011; Terapi Modalitas Keperawatan Kesehatan Jiwa; Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC Ali, Zaidin. 2002. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta : Widya Medika Anna; Panjaitan;Helena. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Ed.2. Jakarta: EGC Dalami, Ernawati; 2010; Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa; CV. Jakarta : Trans InfoMedia Dalami, E., Suliswati., Rochimah., Suryati, K, R. & Lestari, W. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Jakarta : Penerbit Trans Media http://nuryantinoviana.wordpress.com/2010/05/15/prinsipasuhan-keperawatan-jiwa/ Kansas City, Mo.1980. Nursing: a social policy statement. American Nurses Association: The Association. Keliat, Budi Hidayat, A Aziz Alimul. 2002. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Kusumawati, Farida. 2011; Buku Ajar Keperwatan Jiwa; Jakarta : Salemba Medika


134 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA Lestari, W. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. USA : Penerbit: Trans Media, JakartaGeorge, JB (1995), Nursing Theories, 4 Ed, Appleton & Lange Maramis, W, F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press. Nasution, Saidah, S. 2003. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Perubahan Sensori Persepsi: Halusinasi. http://usupress.usu.ac.id. Shives, L.R., 1998. Basic Concepts of Psychiatric Mental Health Nursing. 4th Edition. Philadelphia : Lippincott. Suliswati. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC Stuart, Gail W.2007.Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC. Vidbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Psychiatric mental health nursing. Jakarta : EGC. Yosep, Iyus.2007. Keperawatan Jiwa. Jakarta : PT. Refika Aditama.


135 | ASUHAN KEPERAWATAN JIWA


Click to View FlipBook Version