The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-25 02:11:57

Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan

Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan

Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar Proses Konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan : a. Pembinaan hubungan baik (rapport). b. Penggalian informasi (identifikasi masalah, kebutuhan , perasaan, kekuatan diri) dan pemberian informasi (sesuai kebutuhan). c. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah, perencanaan. d. Menindaklanjuti pertemuan. Jalannya proses konseling sangat tergantung pada alur percakapan konselor-klien/konseling (Deddy Mulyana, 2005) B. Faktor Penghambat Komunikasi Interpersonal dan Konseling Pada Prinsipnya bahwa komunikasi interpersonal dan konseling yang kita lakukan, tidak semua berjalan degan baik, adapun faktor penghambat komunikasi interpersonal dan konseling dapat dibedakan menjadi: 1. Faktor Individual Orientasi kultural (ketertarikan budaya) merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari sebagai berikut. a. Faktor fisik (kepekaan pancaindra, seperti kemampuan untuk menilai dan mendengar). b. Sudut pandang (seperti nilai-nilai, keyakinan seseorang tentang nilai suatu ide atau tingkah laku (Potter & Perry (1987) dalam Arwani, 2002) Nilai yang dimiliki seseorang akan mencerminkan kebutuhan atau keinginan yang dimiliki). c. Faktor sosial (seperti sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial, peran sosial) d. Bahasa 2. Faktor yang Berkaitan dengan Interaksi


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar a. Tujuan dan harapan terhadap komunikasi, b. Sikap terhadap interaksi, c. Pembawaan diri (seperti kehangatan, perhatian, dukungan), d. Sejarah hubungan. 3. Faktor Situasional Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti, lingkungan fisik dan non-fisik atau mental-psikologis. Proses komunikasi akan menjadi lebih efektif jika dilakukan pada kondisi yang nyaman dan kondusif. Kebisingan atau gangguan pembatasan hak pribadi kemungkinan dapat menyebabkan kebingungan, tekanan dan ketidaknyamanan dalam komunikasi. 4. Kompetensi dalam melakukan percakapan (agar efektif suatu ineraksi harus menunjukkan prilaku kompoten dari kedua belah pihak (Depkes RI, 2002): a. Kegagalan menyampaikan informasi penting, b. Perpindahan topik bicara yang tidak lancar, c. Salah pengertian. Ada juga yang mepaparkan tentang faktor-faktor penghambat komunikasi interpersonal dan cara mengatasinya adalah sebagai berikut. 1) Tidak Mengenal Audiens Banyak orang gagal berkomunikasi karena tidak mengenal komunikasi yang menjadi sasaran komunikasi. Jika kita tidak mengenal karakteristik komunikasi, komunikasi yang kita lakukan tidak efektif. Maka, kenalilah audiens Anda. 2) Tidak Tahu Bagaimana Penerimaan Menyerap Komunikasi Selain komunikator tidak mengenal komunikan, faktor lain yang menyebabkan gagalnya komunikasi adalah kita tidak mengetahui


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar bagaimana cara komunikan menyerap informasi yang kita kirimkan. 3) Tidak Tahu Pola Komunikasi Budaya Periksalah diri anda melalui self-concept, keterampilan mana yang paling banyak dibutuhkan kalau anda melakukan komunikasi kesehatan di desa jika dibandingkan di kota? Jika anda berhadapan dengan orang yang datang dari latar belakang Low Context Culture, sementara anda sendiri datang dari High Context Culture, anda tidak perlu menguraikan pesan secara terinci. Keterampilan anda sangat ditentukan oleh bagaimana anda menyampaikan pesan secara ringkas, tak perlu bertele-tele, sehingga maknanya mudah diterima tanpa ada perasaan bosan. Mereka yang berasal dari kebudayaan Low Context Culture tak terlalu suka dengan rincian pesan. Mereka lebih suka kalau pesan yang disampaikan itu hanya garis besarnya saja. Sebaliknya mereka yang berasal dari High Context Culture sangat membutuhkan rincian pesan. Maka, pelajarilah pola-pola komunikasi budaya. 4) Jarang Melakukan Evaluasi Respon Komunikasi Setiap kali anda berkomunikasi, evaluasilah selalu kecepatan respons anda terhadap pesan atau tampilan orang lain. apakah mungkin anda makin mudah berkomunikasi ataukah sulit memahami orang lain. Apakah anda mudah percaya pada isi pesan atau pada orang yang mengemukan suatu gagasan atau informasi. Maka, lakukanlah evaluasi atas respon komunikasi anda. 5) Tidak Tahu Kebiasaan Berkomunikasi Lisan Kebanyakan komunnikasi antarpersonal dalam budaya kita dilakukan secara lisan.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar a. Pengaruh status senioritas dalam komunikasi lisan, apakah orang tua dibiarkan lebih banyak bicara daripada yang muda. b. Perhatikan syarat apa yang boleh dikatakan dan tidak boleh dikatakan. c. Bagaimana cara anda mengatakan (langsung ketujuan, atau berputar-putar. d. Perhatikan dengan siapa anda berkomunikasi antar budaya (to whom you want to say it; to whom are you talking) Maka pelajarilah kebiasaan berkomunikasi lisan. 6) Tidak Terbiasa Mendengarkan Berbagai penelitian tentang kebiasaan mendengarkan menunjukkan bahwa lebih dari separuh perhatian dalam berkomunikasi dicurahkan untuk mendengarkan (53%), 17% untuk membaca, 16% untuk berbicara dan 14% untuk menulis. Lalu apa yang harus kita lakukan? Periksalah sikap mendengarkan Anda apakah termasuk dalam kategori poor listening habits atau active listening habits. Yang dimaksud dengan kebiasaan “miskin mendengarkan” adalah perilaku komunikasi yang tak suka mendengarkan percakapan orang lain. Akibat miskin mendengarkan, maka miskin pula pesan yang dikirim dan diterima, yang dampaknya kita tak memahami makna pesan yang menghasilkan komunikasi kesehatan yang tidak efektif. Maka, biasakan diri mendengarkan dengan aktif. 7) Tidak Bisa Membuka Diri dalam Percakapan Ada dua jenis percakapan: aggressive talk (percakapan agresif) dan regrettable talk (percakapan yang sebetulnya tidak perlu terjadi). Kedua taktik percakapan ini bertujuan untuk membuka diri, namun hal ini sangat tergantung dari asumsi bahwa semua relasi atau komunikasi antarpersonal dibentuk oleh peran


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar komunikator sebagaimana yang diharapkan oleh komunikan (audiens). Ada beberapa hal-hal penting (key point) dalam hubungan interpersonal adalah sebagai berikut. a. Ada berbagai sisi dalam suatu interaksi individu, verbal atau nonverbal. Bidan hendaknya menaruh perhatian betul tidak saja terhadap tanda-tanda verbal, tetapi juga terhadap perilaku nonverbal. b. Tanda-tanda verbal dan nonverbal yang bidan tunjukan kepada klien dapat mempunyai efek panjang terhadap apa yang kita ingin capai. c. Jika kita mengharapkan klien kembali untuk melakukan pemeriksaan, melahirkan dan mendapat asuhan kesehatan lainnya, kita pertama-tama harus mendapat kepercyaan klien dan menunjukkan perhatian terhadap klien. 8) Bidan Perlu Introspeksi Terhadap Perilaku Sendiri Maupun Klien. Indikator hubungan interpersonal yang positif adalah sebagai berikut. a. Menyambut klien dengan cara yang dapat diterima mereka. b. Ramah dan terbuka. c. Menyediakan waktu untuk mendengarkan mereka. d. Menjawab semua pertanyaan dengan benar/ memuaskan. e. Tetap sabar meskipun klien menanyakan hal yang sama berulang-ulang. f. Sikap lain-lain yang memungkinkan untuk lebih berpartisipasi dalam asuhannya, adalah: percaya, memperhatikan, pengertian, saling menghormati, dan kesediaan untuk membantu.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar C. Pengaruh Pemahaman Diri Terhadap Komunikasi Interpersonal dan Konseling Dalam melakukan komunikasi dan konseling dengan orang lain secara interpersonal, penting bagi komunikator memperhatikan halhal sebagai berikut: 1. Memahami Diri Sendiri Pemahaman diri bertujuan untuk mengetahui dan mengenal siapakah diri Anda, apakah persepsi Anda dengan orang lain terhadap diri sendiri sama. Misalnya, Anda merasa ramah, namun menurut orang lain belum. Pemahaman diri meliputi pengetahuan tentang siapa saya, apa kelemahan saya, bagaimana perasaan saya dan apa keinginan saya. Pentingnya pemahaman diri, terutama bagi seorang Bidan, dimana pekerjaan ini dihadapkan dengan berbagai pengalaman dan kondisi biologis, psikologis, sosiologis dari klien. 2. Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap yang Dimiliki Konselor. Perilaku bidan dalam melaksanakan tugas sebagai komunikator maupun konselor dipengaruhi 3 hal, yaitu: Aspek Kognitif (pengetahuan), Psikomotorik (keterampilan), dan Afektif (sikap). a. Pengetahuan (Kognitif) Meliputi pengetahuan tentang : 1) Kesehatan 2) Ilmu kebidanan dan kandungan 3) Masalah yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan pasca persalin dan upaya pencegahan serta penatalaksanaannya. 4) Keyakinan akan adat istiadat dan norma tertentu.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar 5) Alat dan metode kontrasepsi. 6) Hubungan antar manusia. 7) Komunikasi interpersonal dan konseling. 8) Psikologi b. Keterampilan (Psikomotorik) 1) Membantu proses persalinan dan berbagai masalah kesehatan. 2) Menggunakan alat-alat pemeriksaan tubuh klien. 3) Melakukan komunikasi interpersonal dan konseling. 4) Menggunakan alat bantu visual untuk pemberian informasi pada klien. 5) Mengatasi situasi genting yang dihadapi klien. 6) Membantu klien dalam membuat keputusan. Selain itu, seorang bidan juga harus memiliki dan menguasai kompetensi yang meliputi : 1) Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan etika. 2) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluru di masyarakat. 3) Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan. Meliputi, deteksi dini, pengobatan atau rujukan. 4) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan (persalinan bersih, aman dan menangani situasi kegawatdaruratan). 5) Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui 6) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi kepada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar 7) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi kepada bayi dan balita (1 bulan – 5 tahun). 8) Bidan merupakan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat. 9) Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan system reproduksi. c. Sikap (Afektif) 1) Mempunyai motivasi tinggi untuk menolong orang lain 2) Bersikap ramah, sopan dan santun 3) Menerima klien apa adanya 4) Empati terhadap klien 5) Membantu dengan tulus 6) Terbuka terhadap pendapat orang lain. ada 3 kualitas diri (sikap) yang perlu dimiliki oleh seorang konselor agar konseling efektif menurut Carl Rogers, yaitu: 1) Empati, yaitu memandang dengan kerangka berpikir klien, berusaha memahami dan berpikir bersama klien. 2) Autheticity/otentik/kongktruen, yaitu konselor tahu perasaannya sendiri, memahami diri sendiri, yang dialami dan dirasakan tidak selaras, tidak pura-pura. 3) Unconditional Positif Regard atau acceptance, yaitu menerima klien apa adanya, tanpa syarat dan menghormati serta menghargai klien. Seorang bidan perlu memahami bagaiman menghadapi kecemasan, kemarahan, kesedihan dan kegembiraan klien. Bidan harus tahu bagaimana dirinya harus bersikap. Bidan yang tidak memahami dirinya sendiri akan mengalami kesulitan memahami persoalan yang dialami klien (Lindawati, 2014).


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar STRATEGI DALAM MEMBANTU PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLIEN A. Tujuan Umum Untuk mengetahui dan memahami strategi dalam membantu pengambilan keputusan klien B. Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui dan memahami teori inti pengambilan keputusan klien 2) Untuk mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi tipe pengambilan keputusan 3) Untuk mengetahui dan memahami elemen dasar pengambilan keputusan 4) Untuk mengetahui dan memahami pemberian informasi keputusan efektif 5) Untuk mengetahui dan memahami saat-saat sulit dalam penerapan KIP/K kesulitan saat konseling 6) Untuk mengetahui dan memahami upaya untuk mengatasi kesulitan BAB V


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar emampuan dalam mengambil keputusan adalah sangat penting bagi klien untuk menyelesaikan masalah kegawatdaruratan terutama yang berhubungan dengan kebidanan. Dalam konseling pengambilan keputusan mutlak diambil oleh klien, bidan hanya membantu agar keputusan yang diambil klien tepat. Empat strategi membantu klien dalam mengambil keputusan: a. Membantu klien meninjau kemungkinan pilihannya. beri kesempatan klien untuk melihat lagi beberapa alternatif pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pilihannya. b. Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan, dengan melihat kembali keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekuensi negatif. c. Membantu klien mengevaluasi pilihan. Setelah klien menetapkan pilihan, bantu klien mencermati pilihannya. d. Membantu klien menyusun rencana kerja, untuk menyelesaikan A. Teori Inti Pengambilan Keputusan Klien Pola dasar berpikir dalam konteks organisasi meliputi: a. Penilaian situasi (Situational Approach): untuk menghadapi pertanyaan “apa yg terjadi?”. b. Analisis persoalan (Problem Analysis): dari pola pikir sebabakibat. c. Analisis keputusan (Decision Analysis): didasarkan pada pola berpikir mengambil pilihan. d. Analisis persoalan potensial (Potential Problem Analysis): didasarkan pada perhatian peristiwa masa depan, yang mungkin & dapat terjadi. Inti pengambilan keputusan berarti memilih alternatif, alternatif yang terbaik (the best alternative). K


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar Pengambilan keputusan terletak dalam perumusan berbagai alternatif tindakan sesuai dengan yang sedang dalam perhatian dan dalam pemilihan alternatif yang tepat. Pengambilan keputusan tersebut dilakukan setelah evaluasi/penilaian mengenai efektivitasnya dalam mencapai tujuan yang dikehendaki pengambil keputusan. Lingkungan situasi keputusan: Lingkungan eksternal meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, alam dan pembatasan-pembatasan suatu negara berupa “kuota”. Sedangkan lingkungan internal meliputi mutu rendah, kurangnya promosi, pelayanan konsumen tidak memuaskan dan sales/agen tidak bergairah. Pengambilan keputusan yang baik harus mempertimbangkan: kondisi, kehendak, konsekuensinya. Langkah dalam pengambilan keputusan yang baik: 1. Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien. 2. Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan. 3. Untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya (POSITIF dan NEGATIF) Hal-hal yang perlu ditekankan kepada klien dalam pengambilan keputusan menurut Fitramaya (2003): a. Hati-hati dan bersikap bijaksana dalam pengambilan keputusan karena berkaitan dengan masalah kehamilan, persalinan dan masa nifas. Pengambilan keputusan dibuat setelah klien diberi informasi secukupnya untuk menimbang pilihan sesuai dengan situasinya. b. Bantu klien dalam pengambilan keputusan dengan memberikan saran yang sesuai dengan riwayat kesehatannya, keinginan pribadi dan situasi. c. Keputusan merupakan hak dan menjadi tanggung jawab klien. d. Konseling bukan proses informasi, melainkan informasi setelah konselor memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar kebutuhan klien dan informasi yang diberikan sesuai dengan kondisi klien dan kebutuhannya. B. Faktor yang Mempengaruhi Tipe Pengambilan Keputusan Untuk menentukan pilihan dari berbagai teori pengambilan keputusan baik itu rasional, inkremental atau pengamatan terpadu dengan beberapa alternatif pilihan yang tersedia. Tentu masingmasing harus mempunyai dasar (nilai-nilai, norma-norma, atau pedoman tertentu) yang digunakan sebagai landasan dalam menentukan pilihan teori yang tepat. Menurut Terry (1989) dalam blog Komunitas Diamond faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut: a. Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan b. Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi c. Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain d. Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan; e. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik; f. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama; g. Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik h. Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; dan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar i. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya. Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan: a. Fisik Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan. b. Emosional Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjektif. c. Rasional Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya. d. Praktikal Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuannya dalam bertindak. e. Interpersonal Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual f. Struktural Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu. Selanjutnya, John D. Miller dalam Imam Murtono (2009) menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan. Dalam pengambilan suatu keputusan individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian, dan kecenderungan dalam pengambilan risiko. Pertama, nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilainilai ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berpikir untuk menyusun atau menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk menang. Kedua, kepribadian. Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat, seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus objektivitas. Beberapa pengambil keputusan memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi. Ketiga, kecenderungan terhadap pengambilan risiko. Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat keputusan, perawat harus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi risiko, karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. Ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan risiko adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan memiliki pengetahuan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar hasil tindakan walaupun ia tidak dapat mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan di bawah ketidakpastian dibanding di bawah kondisi bahaya. Di bawah ketidakpastian si pengambil keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu strategi atas strategi lainnya. Selanjutnya, dalam judul skripsi pengambilan keputusan yang tepat yang disusun Sumaryanto Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta, dalam pengambilan keputusan ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain: Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan: 1. Fisik Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan. 2. Emosional Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subyektif. 3. Rasional Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya. 4. Praktikal Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuannya dalam bertindak. 5. Interpersonal


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual. 6. Struktural Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu. Selanjutnya, John D. Miller dalam Imam Murtono (2009) menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan. Dalam pengambilan suatu keputusan individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian, dan kecenderungan dalam pengambilan risiko. Pertama, nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilainilai ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berpikir untuk menyusun atau menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk menang. Kedua, kepribadian. Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat, seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus objektivitas. Beberapa pengambil keputusan memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar pada suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi. Ketiga, kecenderungan terhadap pengambilan risiko. Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat keputusan, perawat harus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi risiko, karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. Ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan risiko adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan di bawah ketidakpastian dibanding di bawah kondisi bahaya. Di bawah ketidakpastian si pengambil keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu strategi atas strategi lainnya. Selanjutnya dalam judul skripsi pengambilan keputusan yang tepat yang disusun Sumaryanto Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta, dalam pengambilan keputusan menurut K.M., Rochmah (2002) ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain: 1. Posisi Kedudukan Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat, apakah ia sebagai pembuat keputusan (decision maker), penentu keputusan (decision taker), ataukah staff (staffer). 2. Masalah Masalah atau problem adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan. Sebenarnya, masalah tidak selalu dapat


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar dikenal dengan segera, ada yang memerlukan analisis, ada pula yang bahkan memerlukan riset tersendiri. 3. Situasi Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat. Situasi ini ada yang bersifat tetap dan ada juga yang berubah-ubah. 4. Kondisi Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya. 5. Tujuan Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/telah ditentukan. Tujuan yang telah ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektif. C. Elemen Dasar Pengambilan Keputusan Ada 5 elemen dasar pengambilan keputusan menurut Lestari (2010), yaitu: a. Menetapkan Tujuan Pengambilan keputusan harus memiliki tujuan yang akan mengarahkan tujuannya, apakah spesifik yang dapat diukur hasilnya ataupun sasaran yang bersifat umum. Tanpa penetapan tujuan, pengambil keputusan tidak bisa menilai alternatif atau memilih suatu tindakan. Keputusan pada tingkat individu, tujuan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar ditentukan oleh masing-masing orang sesuai dengan sistem nilai seseorang. Pada tingkat kelompok dan organisasi, tujuan ditentukan oleh pusat kekuasaan melalui diskusi kelompok, konsensus bersama, pembentukan kualisi dan berbagai macam proses yang mempengaruhi. Ditambahkan oleh Wijono, bahwa tujuan harus dibagi menurut pentingnya, ada tujuan yang bersifat harus atau tidak bisa ditawar, dan ada tujuan yang bersifat keinginan, yang mana masih bisa ditawar. b. Mengidentifikasi Permasalahan Proses pengambilan keputusan umumnya dimulai setelah permasalahan diidentifikasi. Permasalahan merupakan kondisi adanya ketidaksamaan antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Permasalahan dalam organisasi dapat berupa rendahnya produktivitas, adanya konflik disfungsional, biaya operasional yang terlalu tinggi, pelayanan tidak memuaskan klien, dan lain-lain. Pengambilan keputusan yang efektif memerlukan adanya identifikasi yang tepat atas penyebab permasalahan. Jika penyebab timbulnya permasalahan tidak dapat diidentifikasi dengan tepat, maka permasalahannya yang ada tidak dapat diselesaikan dengan baik. Ada tiga kesalahan yang sering terjadi dalam mengidentifikasi permasalahan, yaitu mengabaikan permasalahan yang ada, pemusatan perhatian pada gejala dan bukan pada penybab permasalahan yang sebenarnya, serta melindungi diri karena informasi dianggap mengancan harga diri. c. Mengembangkan sejumlah alternatif Setelah permasalahan diidentifikasi, kemudian dikembangkan serangkaian alternatif untuk menyelesaikan permasalahan. Organisasi harus mengkaji berbagai informasi baik interen maupun eksteren untuk mengembangkan serangkaian alternatif yang diharapkan dapat


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar memecahkan permasalahan yang terjadi. Pengembangan sejumlah alternatif memungkinkan seseorang menolak untuk membuat keputusan yang terlalu cepat dan membuat lebih mungkin pencapaian keputusan yang efektif. Proses pengambilan keputusan yang rasional mengharuskan pengambil keputusan untuk mengkaji semua alternatif pemecahan masalah yang potensial. Akan tetapi dalam kenyataannya seringkali terjadi bahwa proses pencarian alternatif pemecahan masalah seringkali terbatas. d. Penilaian dan pemilihan alternatif Setelah berbagai alternatif diidentifikasi, kemudian dilakukan evaluasi terhadap masingmasing alternatif yang telah dikembangkan dan dipilih sebuah alternatif yang terbaik. Alternatif-alternatif tindakan dipertimbangkan berkaitan dengan tujuan yang ditentukan, apakah dapat memenuhi keharusan atau keinginan. Alternatif yang terbaik adalah dalam hubungannya dengan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai. Bidang ilmu statistik dan riset operasi merupakan model yang baik untuk menilai berbagai alternatif yang telah dikembangkan. e. Melaksanakan keputusan jika salah satu dari alternatif yang terbaik telah dipilih, maka keputusan tersebut kemudian harus diterapkan. Sekalipun langkah ini sudah jelas, akan tetapi sering kali keputusan yang baik sekalipun mengalami kegagalan karena tidak diterapkan dengan benar. Keberhasilan penerapan keputusan yang diambil oleh pimpinan bukan semata-mata tanggung jawab dari pimpinan akan tetapi komitmen dari bawahan untuk melaksanakannya juga memegang peranan yang penting. Dalam mengevaluasi dan memilih alternatif suatu keputusan seharusnya juga mempertimbangkan kemungkinan penerapan dari keputusan tersebut. Betapapun baiknya suatu keputusan apabila keputusan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar tersebut sulit diterapkan maka keputusan itu tidak ada artinya. Pengambil keputusan membuat keputusan berkaitan dengan tujuan yang ideal dan hanya sedikit mempertimbangkan penerapan operasionalnya. D. Pemberian Informasi Keputusan Efektif Tentunya kita sebagai pemberi informasi mengharapkan informasi yang kita sampaikan kepada seseorang itu efektif dan efesien. Pemberian informasi dikatakan efektif apabila memenuhi kriteria sabagai berikut: a. Informasi yg diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam mengambil keputusan. b. Informasi disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti. c. Diberikan dengan memperhatikan hal-hal berikut: 1) Singkat dan tepat (pilih hal-hal penting yg perlu diingat klien) 2) Menggunakan bahasa sederhana 3) Gunakan alat bantu visual sewaktu menjelaskan 4) Beri kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal-hal penting. Tiga langkah dasar dalam memberikan nasihat atau penyuluhan pada klien menurut Priyanto (2009): a. memberi penjelasan, misalnya cara memberi salep mata, mengeringkan telinga, mengobati luka di mulut, menyiapkan larutan oralit, atau melegakan tenggorok. b. Memberi contoh, misalnya cara memegang anak pada saat di beri salep mata, menyiapkan sumbu untuk mengeringfkan telinga, cara mencampur satu bungkus oralit dalam air yang benar, cara membubuhi gention violet di mulut anak, cara melegakan tenggorok dengan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar bahan atau obat yang aman dan dapat dibuat sendiri di rumah. c. Memberi kesempatan untuk mempraktikan, misalnya cara membubuhi salep pada mata bayi, mencampur dan melarutkan oralit, memberi dosis pertama anti biotik. E. Saat-saat Sulit dalam Penerapan KIP/K Kesulitan saat Konseling Saat proses komunikasi berlangsung tentunya harapan kita adalah menginginkan proses komunikasi berjalan dengan baik, tanpa ada kendala. Tetapi ada saja saat-saat sulit dalam penerapan KIP/K mengalami kesulitan saat memberikan konseling menurut Wiryanto (2006) sebagai berikut: a. Diam, makna “diam” (tidak bersuara) antara lain: 1) Penolakan atau kebingungan klien. 2) Klien dan konselor telah mencapai akhir suatu ide dan sematamata ragu mengatakan apa selanjutnya. 3) Kebingungan karena kecemasan atau kebencian. 4) Klien mengalami sakit dan tidak siap untuk bicara. 5) Klien mengharapkan sesuatu dari konselor. 6) Klien sedang memikirkan apa yang dikatakan. 7) Klien baru menyadari ucapannya dan merupakan ekspresi emosional sebelumnya. b. Klien Menangis, tenangkan klien dengan menyentuh badan (menepuk-nepuk bahu atau memegang tangan klien) secara hati-hati. c. Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien, biasa terjadi jika konselor tidak dapat memecahkan atau membantu menyelesaikan masalah seperti harapan klien. Misalnya pada kasus remaja putri yang ingin aborsi. Konselor dapat mengatakan pada klien


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar bahwa dia akan selalu menyediakan waktu untuk klien menghadapi saat-saat sulit meskipun konselor tidak dapat mengubah keadaan. d. Konselor melakukan kesalahan, hal terpenting untuk menciptakan hubungan baik adalah jujur. Mengakui bahwa konselor salah dan minta maaf adalah cara untuk menghargai klien. e. Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien, Konselor dapat mengatakan bahwa ia tidak dapat menjawab pertanyaan klien, tetapi akan berusaha mencari informasi tersebut untuk klien. f. Klien menolak bantuan konselor, ditunjukkan dengan klien enggan bicara. Tekankan hal positif, paling tidak klien telah datang dan berkenalan dengan konselor, mungkin klien mau mempertimbangkan kembali. Sarankan untuk melakukan pertemuan lanjutan. g. Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor, konselor sebaiknya mengatasi dengan mengatakan: “orang kadang awalnya merasa lebih nyaman berbicara dengan seseorang yang sama jenis kelaminnya, menurut pengalaman saya semakin lama hal itu semakin tidak penting apabila kita semakin mengenal. Bagaimana kalau kita coba lanjutkan dan lihat bagaimana nantinya”, biasanya klien menerima, dan masalah ini hilang dengan sendirinya bila konselor bersikap penuh perhatian, menghargai klien dan tidak menilai klien. h. Waktu yang dimiliki konselor terbatas. Konselor memberikan informasi beberapa saat sebelum pertemuan, meminta maaf, menjelaskan sebab keterbatasan waktunya, dan menunjukkan konselor berharap bertemu klien pada pertemuan selanjutnya. i. Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik. Konselor meminta pendapat kepada teman sesama petugas klinik untuk mengamati pertemuan dan melihat letak kesulitannya, apakah ada sikap klien yang membuat konselor merasa ditolak klien.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar j. Klien dan konselor sudah saling mengenal. Konselor melayani seperti pada umumnya, tekankan bahwa kerahasiaan akan tetap terjaga, jelaskan bahwa konselor akan bersikap sedikit berbeda dengan sikap diluar konseling terhadap klien sebagai temannya. k. Klien berbicara terus dan yang dibicarakan tidak sesuai topik. Potong pembicaraannya setelah beberapa saat bila klien terus menerus mengulang pembicaraannya. l. Klien bertanya tentang hal-hal pribadi konselor. Nyatakan pada klien bahwa cerita konselor tentang dirinya tidak akan membantu klien, oleh karena itu lebih baik tidak bercerita. m. Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan. Sebaiknya jujur kepada klien, terutama bila konselor bereaksi secara emosional pada klien, karena klien akan mengamati hal itu. n. Keadaan kritis. Komunikasikan dengan tegas tapi sopan keadaan darurat kepada keluarga. Berikan penjelasan dengan singkat tapi jelas langkah-langkah yang harus dilakukan bersama untuk mengatasi keadaan. F. Upaya untuk mengatasi kesulitan a. Tiap individu memahami dirinya, dengan memahami diri sendiri maka akan bisa mengatasi kesulitan-kesulitan bidan sendiri. b. Untuk memperlancar komunikasi siapkan materi, bahan, alat untuk mempermudah penerimaan klien. c. Menguasai ilmu komunikasi, sehingga dapat melakukan konseling pada semua klien dengan bermacam karakter dan keterbatasan mereka. d. Meletakkan kearifan sebagai dasar kepribadian konselor aktif. Kearifan merupakan satu perangkat ciri kognitif dan afektif tertentu


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar yang secara langsung pada keterampilan dan pemahaman hidup. Karakteristik dari kearifan menurut Tyastuti (2010) meliputi: 1) Aspek afektif dan kesadaran meliputi empati, kepedulian, pengenalan rasa, deotomatisasi (menolak kecenderungan kebiasaan, perilaku dan pola berfikir otomatik, menekankan kesadaran tindakan dan pilihan yang bertanggungjawab). 2) Aspek kognitif meliputi penalaran dialetik (mengenal konteks, situasi, berorientasi pada perubahan yang bermanfaat)


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar KETERAMPILAN INTI KOMUNIKASI INTERPERSONAL /KONSELING A. Tujuan Umum Untuk mengetahui dan memahami tentang keterampilan inti komunikasi interpersonal/konseling B. Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui dan memahami pengertian KIP/K 2) Untuk mengetahui dan memahami faktor penghambat KIP/K 3) Untuk mengetahui dan memahami pengaruh pemahaman diri terhadap proses KIP/K 4) Untuk mengetahui dan memahami observasi tingkah laku verbal dan non verbal 5) Untuk mengetahui dan memahami membina hubungan baik 6) Untuk mengetahui dan memahami teknik mendengar aktif, bertanya dan refleksi isi dan perasaan BAB VI


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar A. Pengertian KIP/K Komunikasi interpesonal sangatlah dibutuhkan dalam keadaan tertentu. Komunikasi interpersonal selalu kita terapkan dalam pelayanan kebidanan. Komunikasi interpersonal merupakan proses penyebaran dan berbagi informasi yang dilakukan oleh minimal dua orang secara langsung, tatap muka dan bersifat dua arah. Aspek komunikasi interpersonal meliputi komunikasi satu arah versus dua arah, komunikasi verbal versus non verbal, cara bertanya dan mendengar efektif, serta membuat kesimpulan (Lindawati, 2014) B. Faktor Penghambat KIP Pada saat proses komunikasi berlangsung, biasanya terjadi berbagai hambatan-hambatan yang akan mempengaruhi jalannya komunikasi. Adapun faktor penghambat KIP yang dipaparkan oleh MNH (2002), sebagai berikut: 1) Faktor individual Orientasi budaya (keterkaitan budaya) merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari: faktor fisik, sudut pandang, faktor sosial dan bahasa. 2) Faktor yang berkaitan dengan interaksi Faktor ini meliputi tujuan dan harapan yang ingin dicapai dengan komunikasi, sikap terhadap interaksi, pembawaan diri individu terhadap orang lain yang di tunjukkan melalui kehangantan, perhatian dan dukungan serta sejarah hubungan. 9) Faktor situasional Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda dengan situasi


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar percakapan antara polisi dengan orang-orang yang melanggar lalu lintas. 10) Kompetensi dalam melakukan percakapan Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten dari kedua belah pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah: kegagalan menyampaikan informasi penting,perpindahan bicara/topik yang tidak lancar dan salah pengertian. C. Pengaruh Pemahaman Diri Terhadap Proses KIP/K Proses KIP/K tidak berjalan efektif bila individu/konselor kurang memahami diri sendiri, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tidak cukup serta bertambah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya disarankan untuk membuka diri terhadap pengetahuan diri dan teknologi terkini. Berikut adalah beberapa saran dari IBI (2003) untuk meningkatkan pemahaman diri terhadap proses KIP/K: 1. Klarifikasi Nilai Seperti diketahui bahwa hubungan bidan dengan klien adalah hubungan timbal balik, karenanya kebutuhan klien harus dibutuhkan. Bidan sebaiknya mempunyai sumber kepuasaan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak memnggunakan klien untuk kepuasan dan keamanannya, jika bidan mempunyai konflik dan ketidakpuasan, maka sebaiknya bidan menyadari dan mengklarifikasi agar tidak memengaruhi keberhasilan hubungan bidan-klien. 2. Eksplorasi Perasaan Dalam kondisi ini, bidan perlu terbuka dan sadar terhadap perasaannya dan mengontrolnya agar dapat menggunakan dirinya secara teraupetik, jika bidan terbuka dengan perasaannya, maka ia


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar mendapatkan dua informasi penting; yaitu bagaimana responnya pada klien dan bagaimana penampilannya pada klien. 3. Kemampuan Menjadi Model Alasan penting pemahaman diri adalah karena bidan bekerja berhadapan dengan berbagai pengalaman dan kondisi biologis, psikologis, dan sosiologis darikliennya. Bidan perlu memahami menghadapi kecemasan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan klien. Bidan harus tau bagaimana dirinya sendiri bersikap, apakah mudah cemas, atau mudah tersinggung, sehingga bidan tau keterbatasan diri sewaktu melayani klien. D. Observasi Tingkah Laku Verbal dan Nonverbal Observasi tingkah laku baik dalam verbal maupun nonverbal sangat diperlukan oleh seorang bidan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan. Menurut Nurmala (2016), observasi tingkah laku verbal dan nonverbal meliputi: 1) Keterampilan Observasi Praktik kebidanan memerlukan kecermatan dalam melakukan pengamatan dan penilaian terhadap pasien, dasar penilaian inilah maka tindakan akan dilakukan. Ketetapan tindakan sangat ditentukan oleh kemampuan bidan melakukan observasi menyeluruh baik langsung ataupun tidak langsung kepada pasien. 2) Tingkah Laku Verbal dan Nonverbal Pengamatan dan Penafsiran Tingkah laku verbal merupakan perbuatan atau perilaku yang ditunjukkan melalui bahasa atau kata-kata baik secara lisan maupun tulisan. 3) Perbendaharaan Kata-kata (vocabulary) Komunikasi tidak akan berhasil jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar 4) Kecepatan (racing) Keberhasilan komunikasi verbal dipengaruhi oleh kecepatan bicara dan tempo bicara yang tepat. Tingkah laku nonverbal adalah pesan yang disampaikan dalam komunikasi dikemas dalam bentuk nonverbal tanpa kata-kata. E. Membina Hubungan Baik Keterampilan membina hubungan baik sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan keterampikan merupakan dasar dari proses KIP/K atau dengan kata lain merupakan dasar dalam memberikan bantuan. Agar dapat membina hubungan baik, pertama sekali harus menunjukkan sikap yang hangat, menghormati klien, menerima klien apa adanya, empati dan tulus membantu klien. Menurut Priyanto (2009) ada tiga cara yang membantu klien merasa aman setelah membuka informasi pribadinya, yaitu: a) Mengakhiri pembicaraan secara halus b) Memperhatikan kelangsungan hubungan di masa yang akan datang c) Menunjuk konselor yang lebih kompeten. F. Teknik Mendengar Aktif, Bertanya dan Refleksi Isi dan Perasaan Dalam proses komunikasi, tentunya kita sebagai konselor harus memperhatikan berbagai teknik yang digunakan dalam menyempurnakan serta menunjang jenis konseling yang kita sampaikan. Teknik-teknik yang diperlukan menurut Sunarni (2016), yaitu: 1. Mendengar aktif Adalah sebuah sikap memperhatikan dan mendengarkan setiap perkataan atau perbincangan orang lain. Mendengarkan aktif merupakan sebuah proses yang kompleks, melibatkan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar semua panca indra dan bagian-bagian tubuh lain secara aktif sehingga pesan yang disampaikan menjadi bermakna. a. Diam (mendengar pasif) b. Tanggapan meng-‘iya’-‘kan’ c. Pembuka pintu atau ajakan d. Mendengar aktif 2. Keterampilan mendasar Adalah suatu kemampuan dan kapasitas yang diperoleh melalui usaha yang disengaja, sistematis, dan berkelanjutan untuk secara lancar dan adaptif melaksanakan aktivitas yang kompleks atau fungsi pekerjaan yang melibatkan ide-ide, halhal, dan orang-orang. 3. Jenis pertanyaan Pertanyaan tertutup bertujuan untuk menanyakan riwayat kesehatan, data diri, dan informasi lain yang dibutuhkan. Contoh: berapa jumlah anak ibu? Apakah ibu bekerja? 4. Bertanya efektif a. Tentukan yang anda inginkan dari pertanyaan anda b. Hindari bertanya pertanyaan tertutup c. Gali lebih dalam d. Bertanya dengan lantang dan jelas.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar KETERAMPILAN KOMUNIKASI DALAM KEGIATAN KELOMPOK A. Tujuan Umum Untuk mengetahui dan memahami keterampilan komunikasi dalam kegiatan kelompok B. Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui dan memahami pengantar kegiatan kelompok 2) Untuk mengetahui dan memahami kepemimpinan dalam kelompok 3) Untuk mengetahui dan memahami ciri-ciri kelompok yang kompak 4) Untuk mengetahui dan memahami pengorganisasian kegiatan kelompok 5) Untuk mengetahui dan memahami membangun tim atau kelompok/team building 6) Untuk mengetahui dan memahami strategi bidan untuk membantu kelompok yang negatif sesuai tipe kelompok BAB VII


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar A. Pengantar Kegiatan Kelompok Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial, yang dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari kegiatan interaksi dan komunikasi. Komunikasi merupakan bagian integral kehidupan manusia, apapun statusnya di masyarakat. Sebagai makhluk sosial, kegiatan sehari-hari selalu berhubungan dengan orang lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Angka kematian di Indonesia masih tinggi. Setiap tahun sejumlah 18.000 ibu meninggal dunia, dua nyawa melayang setipa satu jam, karena kehamilan dan atau persalinan. Kematian ibu ternyata tidak hanya diikuti oleh tingginya angka kematian bayi tetapi juga meninkatkan jumlah balita yang piatu baru (± 36.000 setiap tahun). Risiko kematian ibu akibat kehamilan, persalinan, dan nifas serat bayi, dapat dikurangi bila ada upaya persiapan persalinan dan kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Salah satu ujung otmbak pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan bayi adalah bidan. Namun, pada kenyataannya walaupun hampir semua pemeriksaan antenatal datang pada bidan, sebagian besar persalinan masih ditolong oleh dukun beranak. Hal ini menunjukkan bahwa ibu lebih percaya kepada dukun beranak dibandingkan dengan bidan. Salah satu penyebab keadaan tersebut di atas adalah rendahnya kualitas keterampilan komunikasi dan konseling tenaga kesehatan (bidan). Penelitian di Jawa Barat menyimpulkan bahwa keterampilan teknis medis semata tidak cukup untuk memberikan pelayanan yang memuaskan ibu. Kualitas komunikasi bidan yang rendah akan berdampak terhadap transfer pesan kepada klien yang kurang baik, bidan menjadi kurang peka dan kurang mampu menggali kebutuhan dan masalah klien, tidak tanggap terhadap perasaan klien, klien tidak puas dan selanjutnya dapat diperkirankan kredibilitas bidan tersebut


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar diragukan. Dari penelitian di Indonesia dua provinsi yaitu Jabar dan Jateng tentang interaksi bidan-klien menunjukkan bahwa banyak bidan yang tidak menggunakan keterampilan konseling yang baik, misalnya: Para bidan cenderung mendominasi sesi konseling (63% ucapan didominasi oleh bidan), kurang memberi kesempatan kepada klien untuk berbicara panjang lebar atau mengungkapkan keinginan dan perasaannya. Para bidan lebih banyak mengajukan pertanyaan tertutup (pertanyaan yang sifatnya mengarahkan pada jawaban ya dan tidak). 23% ucapan bidan adalah pengulangan kata-kata bidan itu sendiri. Pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K) untuk bidan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bidan dalam bidang komunikasi interpersonal dan konseling sehingga kualitas pelayanan pada ibu hamil dan melahirkan lebih baik. Definisi Komunikasi kelompok adalah suatu bentuk komunikasi antara dua atau lebih orang yang berinteraksi satu dengan yang lain untuk satu tujuan. Orang-orang yang terlibat biasanya mengisi peran-peran dan mentaati peraturan-peraturan serta norma-norma yang secara implisit disetujui para anggotanya (Singgsih, 2003). Komunikasi kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lain dan memandang mereka sebagi bagian dari kelompok tersebut. Contohnya kelompok keluarga, kelompok studi dan kelompok diskusi (Kelompok Sarjana Komunikasi Amerika, 1980) Kegunaan berdasarkan batasan tersebut diatas, kegunaan dalam bidang kebidanan tentulah sangat menunjang tujuan bagi kesehatan ibu dan anak. Utamanya ketika dilakukan suatu kegiatan-kegiatan bagi para bidan dalam sistem komunikasi kelompok tersebut, selama


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar melalui forum tersebut dimanfaatkan seefektif mungkin dalam berbagai bentuk dan tujuan, yakni berfokus pada kesehatan ibu dan anak tersebut (Handy, 1985). Dalam hal ini, Romlah (2016) memberikan pengertian mengenai pentingnya kegunaan komunikasi kelompok, yakni: a. Memenuhi kebutuhan sosial b. Membentuk konsep diri c. Memberi/menerima dukungan dan bantuan d. Berbagai dengan orang lain. B. Kepemimpinan dalam Kelompok Ciri-ciri kepemimpinan dalam kelompok harus mengacu untuk kepentingan bersama. Untuk itu harus menurut Tyastuti (2008), harus memenuhi beberapa persyaratan berikut: 1. Berorientasi pada tugas 2. Menggunakan waktu secara efektif, menentukan prioritas secara jelas dan sering membuat keputusan eksekutif 3. Berorientasi pada orang 4. Lebih peduli pada perasaan-perasaan dan masalah-masalah anggota kelompok. C. Ciri-ciri Kelompok yang Kompak Kemudian setelah kita mengenal ciri-ciri kepemimpinan seperti di atas, maka kita harus tahu bagaimana ciri-ciri kelompok yang kompak itu, ciri-ciri kelompok yang kompak adalah: 1) Organisasi yang baik 2) Hubungan yang baik 3) Riwayat keberhasilan yang baik


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar Adapun salah satu bentuk ketiga ciri tersebut di atas ialah bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam kelompok itu dimulai dengan kelompok pembuat keputusan, ada personal atau tim yang ditunjuk oleh manajer untuk menyelesaikan masalah tertentu. Anggota kelompok yang lain memberikan sumbang saran, cepat, agar terjadi pemahaman dalam penyelesaian masalah. Itulah tanda adanya ciri-ciri kelompok kompak dan prakteknya. Di samping itu, pada kelompok yang kompak memiliki empat dasar pelaksanaan sumbang saran yang harus ditaati, yakni: 1) Tidak boleh dilakukan penilaian pada ide-ide sampai acara selesai 2) Kelompok harus menganggap dirinya sebagai penghasil sejumlah besar ide dan tidak mengkhawatirkan kualitas dari ide-ide 3) Anggota kelompok harus dibiarkan untuk berfikir dengan bebas Ide-ide yang ditawarkan anggota kelompok harus dihargai dan dikembangkan oleh anggota kelompok lain. Gaya kepemimpinan dalam suatu kelompok komunikasi ada dua yakni: 1) Gaya tunggal yaitu berdasarkan pencapaian tugas yang telah ditentukan bagi kelompok 2) Gaya eklektik yaitu berdasarkan gaya-gaya yang berpusat pada anggota kelompok atau berdasarkan pembagian pada tugas Karakteristik kelompok menurut Hargreavest (1975) adalah: 1) Anggotanya memiliki hubungan tatap muka 2) Terdapat lebih dari satu anggota 3) Anggotanya memiliki tujuan atau maksud bersama 4) Anggotanya dibeda-bedakan kedalam struktur 5) Anggotanya menganut sekumpulan norma-norma Sekarang bagaimana kekompakan sutu kelompok didasarkan besar kecilnya kelompok?


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar a. Kekompakan kelompok besar lebih lemah jika dibandingkan dengan kelompok kecil b. Kekompakan kecil mempunyai karakteristik kekompakan yang unik diantar anggotanya Kekompakan besar cenderung lebih resmi Apa kemudian fungsi-fungsi organisasi yang dapat dicapai oleh kelompok agar kelompok tetap kompak? Handy (1985) membagi 10 fungsi fungsi organisasi yang dapat dicapai oleh kelompok yang kompak, yakni: a.Pembagian kerja b.Penyesuaian masalah dan pengambilan keputusan c.Pengolahan informasi d.Pengumpulan informasi dan ide e.Pengelolaan dan pengendalian kerja f. Menguji dan meratifikasi keputusan g.Koordinasi dan penghubung h.Meningkatkan komitmen dan keterlibatan i. Penyelesaian konflik j. Penyelidikan ke masa lalu Sifat dari kelompok Charles H. Cooley membuat penggolongan kelompok sosial dalam penggolongan utama yaitu: 1) Primary Group: kelompok primer lebih intensif dan lebih intensif dan lebih erat antara anggotanya (Face to Face) Kelompok primer penting, karena di sinilah manusia pertama-tama dididik dan berkembang menjadi manusia sosial, memperoleh kerangka untuk mengembangkan sifat-sifat sosial: mengindahkan norma-norma, melepaskan kepentingan diri demi kepentingan kelompok sosialnya, ingin belajar dan bekerja sama dengan orang


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar lain. Sifat komunikasi kelompok bercorak kekeluargaan dan berdasarkan simpati. 2) Secondary Group: kelompok sekunder Komunikasi dalam kelompok sekunder merupakan komunikasi dalam hubungan yang tidak langsung, tidak akrab, kurang bersifat kekurangan dan bersifar formal, lebih objektif. Dalam berkomunikasi kelompok ini ada beberapa prinsip agar efektif: a. Suasana: hendaknya memberi kesan kepada semua anggota bahwa mereka dianggap setaraf. b. Rasa aman atau thred reduction: berkomunikasi dengan rasa aman tanpa ancaman dari anggota yang lain. Kecurigaan dari anggota yang lain akan menghambat produktivitas, oleh karena kecurigaan dan ketakutan menyebabkan seseorang tidak ikut serta dengan seluruh kemmapuannya. c. Kesadaran berkelompok: komunikasi dalam kelompok dengan menimbulkan pengertian akan kebutuhan anggota kelompok masing-masing dalam perannya pada kelompok itu, dan akan memahami kebutuhan teman-temannya, serta dirinya sendiri dalam timbal baliknya hubungan anggota kelompok. Saling pengertian dan saling merasa keperluan anggota lainnya merupakan syarat penting agar tercapai kerjasama yang produktif antara anggota kelompok. Jadi anggota kelompok harus belajar mengerti dan merasakan keperluan anggota lainnya, apabila ingin bekerja secara efektif. Agar kegiatan kelompok bisa efektif bidan perlu mencermati materi yang akan disampaikan sesuai kebutuhan dan bermanfaat bagi anggota kelompok. Para anggota kelompok baik itu ibu-ibu, dukun bayi, toma, kader sdb mereka termasuk orang dewasa. Selain penjelasan yang masuk


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar akal orang dewasa juga sudah berpengalaman dan cenderung menganalisa sesuatu berdasarkan pengalaman mereka. Hal-hal ini perlu disadasari oleh Bidan agar kegiatan berjalan efektif dan diterima kelompok (S Astrid, 1977). D. Pengorganisasian Kegiatan Kelompok Langkah-langkah penyelenggaran kegiatan kelompok: 1) Merencanakan pengorganisasian kegiatan kelompok 2) Evaluasi kegiatan 3) Mempersiapkan tempat 4) Mempersiapkan ruangan dan perlengakapan 5) Persiapan alat tulis, alat bantu visual, materi cetak dalam jumlah yang cukup 6) Pengeras suara baik 7) Meletakkan alat bantu sesuai keinginan 8) Melaksanakan kegiatan Sebuah kegiatan kelompok yang baik harus mempunyai struktur berkesinambungan. Oleh karena itu, menurut Tyastuti (2010), setiap kegiatan kelompok mempunyai bagian-bagian sbb: a. Pembukaan yang Efektif 1) Pembukaan akan menentukan jalannya presentasi/diskusi kelompok pembukaan dapat membuat sukses atau menggagalkan kegiatan tersebut, pembukaann yang baik akan menarik perhatian segera 2) Membina hubungan baik dengan peserta 3) Memperkenalkan topik, tujuan kegiatan dan mengapa penting untuk dibahas 4) Mengantisipasi kelanjutan presentasi/diskusi b. Bagian Utama Kegiatan


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar Mencakup materi-materi utama yang perlu diberikan selama kegiatan c. Bagian Penutup Merupakan bagian terpenting dari seluruh kegiatan. Biasa dilakukan dengan meringkas. Keterampilan mengakhiri merupakan teknik dalam proses konseling. Mengakhiri ini dapat dilakukan dengan cara: 1) Mengatakan bahwa waktu sudah habis 2) Merangkum isi pembicaraan 3) Menunjukkan pada peretemuan yang akan datang 4) Berdiri 5) Isyarat gerak tangan 6) Menunjukkan catatan-catatan singkat 7) Memberikan tugas-tugas tertentu d. Mengevaluasi Kegiatan Evaluasi terjadi pada setiap tahap dari kegiatan kelompok. Merupakan bagian penting dalam komunikasi karena dapat: 1) Mengetahi kebutuhan peserta untuk memeprsiapkan 2) Menganalisa kebutuhan para peserta untuk mempersiapkan pembicaraan di masa mendatang 3) Memperbaiki pelaksanaan kegiatan yang akan datang 4) Mengetahui dampak kegiatan yang akan datang 5) Mengetahui dampak kegiatan kelompok dan menentukan apakah tujuan telah dicapai. E. Membangun Tim atau Kelompok/Team bulding Pengertian 1. Team building adalah suatu upaya yang dibuat secara sadar untuk mengembangkan kerja kelompok dalam suatu organisasi.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar 2. Perlunya membangun tim/team building Pada prinsipnya kita memerlukan team building untuk memperbaiki kinerja kelompok yang kita miliki, namun ada beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan team building antara lain: a. Kondisi kelompok yang memerlukan peningkatan moralitas dan hasil kerja tim b. Puncak pimpinan yang jarang berfikir dan bertindak sebagai bagian sebuah kelompok c. Terjadi kurang pengertian antara sesama anggota kelompok, tidak ada arahan dan semangat kerja yang timbul dalam suatu kelompok sehingga kelompok kehilangan arah kerja d. Dalam kelompok baru terdapat beberapa individu yang menonjol tapi tidak dapat bekerja bersama dalam kelompok e. Kurangnya rasa percaya diri antara sesama tim dan adanya ketidaktahuan akan kemungkinan peluang yang dapat dilakukan oleh anggota tim. 3. Manfaat Membangun Tim/Team Building Team building yang dilakukan secara benar dan berkesinambungan akan memberikan hasil perubahan yang sering kali jauh lebih baik dari dugaan semula. Adapun manfaat team building menurut Wiryanto (2006), sbb: A. Bagi Pimpinan Tim/Kelompok a. Pimpinan tim akan menjadi lebih kuat dan lebih efektif b. Pimpinan tim utama menyesuaikan gaya kepemimpinannya, dengan lebih memperhatikan kepentingan dan tanggung jawab kelompok dibandingkan kepentingan pribadi c. Terdapat apresiasi yang lebih besar dari pimpinan tim terhadap kebutuhan anggota tim dan bagian-bagian dalam tim


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar d. Pimpinan menjadi lebih mampu untuk berkomunikasi secara langsung kepada anggota tim sehingga terjadi hubungan pengertian yang lebih baik antara pimpinan dan anggota tim e. Pimpinan tim memiliki inisiatif untuk lebih memahami prakasa anggotanya f. Pimpinan mempunyai komitmen yang lebih tinggi terhadap sasaran kerja dan memiliki harapan yang lebih besar. B. Bagi Individu Anggota Tim/Kelompok a. Sebagai besar individu memiliki pendekatan yang lebih persuasif, toleransi menjadi lebih tinggi dan memiliki kepercayaan untuk mengajukan argumentasi tanpa terikat oleh hierarki b. Komunikasi dan dialog antar sesama anggota kelompok menjadi lebih bebas dan terbuka, yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam perkembangan kelompok c. Terdapat ‘ruang’ yang lebih terbuka untuk mengakui beberapa kelemahan-kelemahan pribadi, bahkan kadang kala tidak jarang yang mengundurkan diri karena kesadaran sendiri. d. Banyak masalah antara pribadi sesama anggota tim/kelompok selama ini mengganjal dapat dipecahkan dengan lebih mudah karena keterbukaan semua anggota tim C. Bagi Pelaksana Kerja Tim/Kelompok a. Pertemuan tim/kelompok menjadi lebih struktur dan efektif b. Hasil yang diperoleh lebih dapat diterima dan terdistribusi dengan baik kepada sesama peserta c. Terjadi perbaikan kerja dalam mencapai sasaran, peningkatan kemampuan dalam mengevaluasi individu dan kelompok dengan cara yang lebih profesional


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar d. Tingkat komunikasi dalam dan antara kelompok menjadi lebih komprehenshif dan efektif, walaupun dalam kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan e. Komitmen yang lebih kuat terdapat sasaran-saran baru f. Terciptanya otonomi yang lebih besar pada tingkat manajemen g. Lebih banyak waktu digunakan untuk bekerja untuk bekerja sama dengan kolega dan bekerja sama dalam mencapai tujuan. F. Strategi Bidan untuk Membantu Kelompok yang Negatif Sesuai Tipe Kelompok Adapun pendapat para ahli tentang strategi bidan untuk membantu kelompok yang negatif sesuai tipe kelompok adalah sebagai berikut: 1. Menurut Smith dan Bass (1982) a. Menciptakan perasaan yang dimiliki b. Menciptakan lingkungan yang peka c. Mendorong partisipasi dan kontribusi d. Menghargai pendapat yang berbeda e. Menciptakan perasaan komitmen 2. Menurut Tarigan (2002): a. Tipe Pasif Strategi bidan adalah: mengajukan pertanyaan langsung pada peserta; meminta berbagi perasaan dengan pasangannya; meminta untuk menulis komentar; memberikan insentif; mengubah metode penyampaian. b. Tipe Agresif Strategi bidan adalah: mengajukan pertanyaan tentang penyebab agresif; memberi kesempatan untuk mencurahkan perasaan dirinya; tidak menggangap orang tersebut sebagai wakil kelompok; mempresentasikan data; memprakarsai diskusi secara pribadi.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar c. Tipe Banyak Bicara Strategi bidan adalah: memberi tanggung jawab tertentu dan memberikan kesempatan berperan sebagai pemimpin kelompok; menghindarkan pandangan atau menghadapkan tubuh pemandu ke arah peserta lain; beritahu dengan cara yang halus; memberi tugas secara tertulis. d. Tipe Pesimis Strategi bidan adalah: menjadi pendengar yang aktif; memberi jawaban yang positif; menanyakan pendapat anggota lainnya tentang pendapat orang tersebut. Proses Pengorganisasian Langkah-langkah dalam proses pengorganisasian menurut Stoner (1996) dan Deddy Mulyana (2005) terdiri dari lima langkah: a. Merinci seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi b. Membagi beban kerja ke dalam kegiatan-kegiatan yang secara logis dan memadai dapat dilakukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang. c. Mengkombinasi pekerjaan anggota perusahaan dengan cara yang logis dan efisien d. Penetapan mekanisme untuk mengkoordinasi pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis e. Memantau efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar


Bahan Ajar Komunikasi Dalam Praktik Kebidanan Israini Suriati.& Yusnidar KONSEP PENGAMBILAN KEPUTUSAN A. Tujuan Umum Untuk mengetahui dan memahami konsep pengambilan keputusan B. Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari pengambilan keputusan 2) Untuk mengetahui dan memahami teori-teori pengambilan keputusan teori pengambilan keputusan teori pengambilan keputusan 3) Untuk mengetahui memahami dan mempraktikan model pengambilan keputusan model pengambilan keputusan BAB VIII


Click to View FlipBook Version