The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mfairuzulhaq2007, 2022-05-13 06:31:19

ENSIKLOPEDIA ARJATI PEKALONGAN

ENSIKLOPEDIA ARJATI PEKALONGAN

ARJEANTSIIPKELKOAPLEODNIAGAN
(ARAB, JAWA, TIONGHOA)
MUHAMMAD FAIRUZULAQ

ARJEANTSIIPKELKOAPLEODNIAGAN
(ARAB, JAWA, TIONGHOA)
MUHAMMAD FAIRUZULHAQ

Sebuah karya untuk Kota Pekalongan yang multietnis dan secara
geografis terletak di pesisir utara pulau Jawa

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang Republik
Indonesia

KATA PEN

GANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan
karunia kepada penulis sehingga penulisan buku Ensiklopedia Arjati Pekalongan
dapat terselesaikan. Tak lupa penulis ucapkan kepada Ibu Roro Isyawati Permata
Ganggi, S.IP., M.IP. selaku dosen pengampu mata kuliah Praktikum Multimedia
pada prorgam studi Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro, atas semangat dan
motivasi yang telah diberikan kepada penulis selama masa kepenulisan
Ensiklopedia Arjati Pekalongan.

Dalam rangka memenuhi khazanah ilmu pengetahuan di Kota Pekalongan maka
buku Ensiklopedia ini dapat menjadi salah satu bahan pelengkap informasi
mengenai kebudayaan dan etnis yang mendiami Kota Pekalongan hingga saat ini.
Dalam penyusunan isi buku ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
beberapa pihak diantaranya :
1. Asytaq Royyan, Muhammad Addi Syirfan, dan Muhammad Daffa Rifky
Firmansyah selaku rekan kerja selama pengumpulan data dan informasi terkait
kebudayaan di Pekalongan.
2. Muhammad Dirhamsyah selaku pegiat budaya dan sejarah Pekalongan
3. Septantri Herawati selaku seniman Pekalongan
4. Suci Harsana (Pak Ragil) selaku seniman dan budayawan Pekalongan
5. Wiwit Sri Kuncoro selaku seniman Pekalongan

Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga penulis yang
telah memberikan semangat dan motivasi selama dari awal penyusunan buku
Ensiklopedia Arjati Pekalongan.

Penulis berharap dengan adanya buku Ensiklopedia Arjati Pekalongan dapat
memberikan informasi mengenai asal-usul, kesenian, tradisi, dan budaya yang
dimiliki oleh Kota Pekalongan yang dipengaruhi oleh Arab, Jawa, Tionghoa
(Arjati) dan Eropa.

Pekalongan, 11 Mei 2022

Ensiklopedia Arjati Pekalongan Muhammad Fairuzulhaq
iv

SEKAPUR SIRIH

Buku Ensiklopedia Arjati Pekalongan ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Praktikum Multimedia yang mengangkat mengenai kebudayaan masyarakat sekitar
penulis. Karena penulis berasal dari Pekalongan, akhirnya memilih kebudayaan yang
masih minim atau jarang diketahui oleh masyarakat terutama di Pekalongan. Adanya
Ensiklopedia Arjati Pekalongan diharapkan masyarakat Pekalongan mampu dan paham
tentang latar belakang adanya sebuah etnis yang memiliki peran penting dalam tata
kehidupan masyarakat Pekalongan saat ini, selain itu buku ini berusaha mengungkapkan
konsep kebudayaan Arjati (Arab, Jawa, dan Tionghoa) yang sebenarnya memiliki potensi
untuk diketahui oleh khalayak umum.

Penulis berusaha untuk mengungkapkan permata atau potensi kebudayaan Arjati melalui
buku Ensiklopedia Arjati Pekalongan. Tidak sedikit warga Pekalongan yang tahu dan
paham bahwa dahulunya kota ini memiliki ragam budaya dan warisan yang bersifat
multietnis. Buku ini disusun melalui beberapa tahap dari pra produksi hingga akhirnya
menjadi seperti yang dilihat oleh mata pembaca. Diantaranya pengumpulan sumber
informasi yang dikumpulkan melalui wawancara dengan pihak terkait, studi literatur, dan
observasi lapangan. Isi dan susunan buku ini tak lepas dari adanya kesalahan dan
kekurangan, oleh karena itu bagi pembaca yang merasa isi buku dan susunannya kurang
tepat mohon untuk mengoreksi dan memberikan saran terkait kebenaran dan sumber
informasi yang memang mampu dipercaya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada pihak ataupun staf yang
diwawancara yaitu Pak Dirham, Pak Ragil, Pak Wiwit, dan Bu Tantri atas kesediaan waktu
dan tenaga untuk memberikan akses dan informasi seputar ilmu dan pengetahuan terkait
Arjati di Pekalongan. Tanpa mereka penulis tidak bisa menyelesaikan buku ini dengan baik
dan benar. Tak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada rekan penulis atas nama
Addi, Daffa, dan Royyan atas waktu dan kesempatannya yang setia menemani penulis
dalam mengumpulkan dan meluangkan waktunya untuk penulis repotkan dalam
penyusunan buku Ensiklopedia Arjati Pekalongan.

Pekalongan, 11 Mei 2022



Muhammad Fairuzulhaq

v Ensiklopedia Arjati Pekalongan

DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................. i

KATA PENGANTAR .......................................................................... iv

SEKAPUR SIRIH ................................................................................. v

DAFTAR ISI ......................................................................................... vi

BAGIAN 1

ARJATI ( ARAB, JAWA , TIONGHOA)............................................. 1

BAGIAN 2

ARSITEKTUR BERGAYA ARJATI DAN EROPA............................. 12

BAGIAN 3

HASIL CIPTA KARSA MASYARAKAT PEKALONGAN.................21

BAGIAN 4

CORAK BATIK DAN BUDAYA NUANSA ARJATI & EROPA....... 21

BAGIAN 5

TRADISI MASYARAKAT PEKALONGAN PENGARUH ARJATI.. 21

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 21
PENUTUP ............................................................................................. 21
PROFIL PENULIS ...............................................................................21

Ensiklopedia Arjati Pekalongan vi

BAGIAN 1
ARJATI (ARAB JAWA TIONGHOA)

1 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

Peta Kota Pekalongan
(sumber : Buku Pekalongan yang Tak Terlupakan)

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 2

ALUN-ALUN PEKLONGAN
(sumber : dokumen pribadi)

Indonesia adalah negara kepulauan dengan kekayaan alam yang
melimpah dan warisan budaya yang terbentang dari Sabang sampai
Merauke. Terdapat berbagai suku bangsa di dalamnya melahirkan
adat dan budaya yang membuat kekayaan nusantara tidak ada
tandingannya. Indonesia memiliki banyak kekayaan alam, budaya,
suku, etnis, dan adat istiadatnya serta telah menjadi identitas tanah air
yang melekat kental yang tidak dapat dipungkiri keindahannya.
Budaya adalah harta karun bangsa yang tak ternilai oleh apapun hal
tersebut karena identitas bangsa tidak asal diciptakan tapi
mengandung nilai luhur lintas peradaban. Pekalongan merupakan
salah satu tempat yang terletak di ujung utara Jawa Tengah, tepatnya
perlintasan jalan pantura pulau Jawa. Kota ini memiliki berbagai
warisan budaya yang tak sedikit banyak masyarakat Pekalongan tahu
akan warisan budaya yang dimilikinya.

Arjati merupakan sebuah akronim dari Arab, Jawa, dan Tionghoa.
Arab, Jawa, dan Tionghoa sendiri merupakan sebuah etnis yang hidup
di Indonesia hingga saat ini, ketiga etnis ini hidup berdampingan jauh
sebelum masa penjajahan di Indonesia. Etnis Arjati biasanya
ditemukan di sepanjang daerah pantura atau pantai utara pulau Jawa.

3 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

JEMBATAN SUNGAI LOJI
(sumber : dokumen pribadi)

Pribumi adalah penduduk asli suatu PASAR BANJARSARI DEKAT KALI LOJI
wilayah yang telah membangun (sumber : dokumen pribadi)
kebudayaan dengan status asli sebagai
kelompok etnis dan bukan datang dari
daerah lain. Nusantara atau Indonesia
sendiri memiliki etnis/suku asli yang
mendiami pulau Nusantara sejak ratusan
tahun yang lalu, suku itu adalah suku
Melayu. Melayu sendiri terbagi menjadi
dua yaitu Proto Melayu (melayu tua) dan
Deutro Melayu (Melayu muda) keduanya
memiliki ciri yang sama namun memiliki
sifat yang berbeda.

Proto melayu merupakan suku/etnis golongan suku yang suka tidak
mudah terbuka dengan pendatang atau seuatu yang baru biasanya suku ini
tersebar di pulau Nias dan suku Dayak yang terletak di pedalaman
Kalimantan.Sedangkan Deutro Melayu (Melayu muda/modern) merupakan
golongan yang selalu berpindah tempat sehingga memiliki sifat terbuka
dengan hal baru, keturunan Deutro Melayu saat ini tersebar di beberapa
pulau di Indonesia, diantaranya adalah suku Minangkabau, suku Jawa, suku
Makassar, suku Bugis, suku Bali, suku Lombok, suku Batak, suku Aceh,
dan suku lain yang tersebar di berbagai daerah dan pulau di Indonesia.

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 4

Pekalongan sendiri merupakan bagian dari pulau Jawa, yang
tentunya berasal dari keturunan asli bangsa Deutro Melayu. Deutro
Melayu memiliki ciri fisik sebagai berikut :
a. Rambut lurus berwarna hitam
b. Bola mata coklat
c. Kulitnya berwarna sawo matang dan putih
d. Mata sipit
e. Tulang rahang kecil
f. Tubuhnya cenderung kecil

MASYARAKAT JAWA
(sumber : google)

Menurut Pak Ragil seorang seniman yang bertempat tinggal di
Pekalongan, menyatakan bahwa masyarakat pribumi di Pekalongan
biasa disebut dengan masyarakat Jawa, pemukiman yang biasa
dijumpai yaitu daerah Pekalongan di luar daerah Pecinan dan Kampung
Arab. Namun tidak hanya itu mereka yang tinggal di Pekalongan kini
telah berbaur dengan etnis Arab dan Tionghoa (Cina) melalui kegiatan
sosial dan perekonomian. Masuknya etnis Arab dan Tionghoa ke
wilayah nusantara lebih dulu daripada orang-orang barat seperti Eropa
dan Belanda. Berdasarkan catatan sejarah awal mula masuknya orang
Tionghoa ke nusantara tepatnya Abad ke-4 yaitu

5 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

ditandai oleh seorang pendeta Budha Fa-Hsien telah menulis bahwa
dirinya telah masuk ke Jawa, sedangkan masuknya etnis Tionghoa ke
Kota Pekalongan tidak ada bukti, rekaman, atau catatan yang dapat
diketahui dan dipastikan oleh sejarawan maupun budayawan
Pekalongan.

KAWASAN PECINAN Namun berdasarkan catatan naskah kuno
(sumber : dokumen pribadi) dari Cina yaitu “Yitoung Techi” atau yang
disebut dalam bahasa Indonesia yaitu
Geografi Akbar yang telah dibuat pada masa
dinasti Ming yang diperkirakan masuk pada
abad ke-7 Masehi. Dalam naskah tersebut
disebutkan bahwa nama lokasi tersebut
adalah “Pou-Kia-Lung” atau yang sekarang
disebut Pekalongan. Ada beberapa catatan
dan naskah kuno dari Cina yang telah ditulis
terkait etnis tionghoa pertama kali singgah di
Pekalongan, salah satunya adalah catatan Ma
Huan seorang sekretaris Laksamana Ceng Ho
pada abad ke-14 singgah di Kota Pekalongan,
yang menyebutkan pada saat itu orang-orang
cina telah tinggal di kampung Sampangan
yang letaknya di dekat sungai Kupang atau
sekarang biasa dikenal dengan Kali Loji. Saat
itu Pekalongan disebut Whu-Chueh atau
dalam bahasa Indonesia memiliki arti pulau
dengan pemandangan yang indah yang dihuni
oleh etnis tionghoa, arab, dan pribumi
(Dirhamsyah, 2014).

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 6

Etnis Arab dan Tionghoa ini masuk ke Jawa khususnya Pekalongan
melalui pantai dan sungai-sungai yang dekat dengan pantai. Pekalongan
merupakan salah satu kota yang dimasuki oleh etnis Arab dan Tionghoa
melalui sungai Kupang atau yang sekarang biasa dikenal dengan sungai
loji. Dahulunya, sungai loji memiliki pelabuhan kecil sebagai jalur
perdagangan, di dekat jalur tersebut biasanya terdapat sebuah pasar dan
disekitarnya terdapat daerah pecinan (pemukiman orang Tionghoa) dan
Kampung Arab (pemukiman orang Arab) (Harsana, 2022).

Masuknya etnis MASJID WAKAF KAMPUNG ARAB (SUGIHWARAS)
Arab ke Kota (sumber : dokumen pribadi)
Pekalongan
diperkirakan pada Hadramaud yang bertujuan berdagang, mencari
abad ke-15 sudah tempat tinggal baru, dan berdakwah. Pekalongan
datang di Jawa, merupakan sebuah kota yang dinamis karena
mulai abad ke-18 letaknya berada dibagian pesisiran yang mana di
jumlah etnis arab daerah pesisir terdapat pelabuhan perdagangan,
yang masuk sehingga banyak pedagang dari luar Kota
semakin banyak Pekalongan, luar Jawa, bahkan luar negeri juga
dikarenakan datang ke Kota Pekalongan. Tak sedikit dari
majunya sektor mereka memutuskan untuk bermukim dan
perdagangan di melanjutkan kehidupan di Kota ini (Dirhamsyah,
Kota Pekalongan. 2014).
Etnis atau orang
arab yang ada hadir
di Pekalongan rata-
rata berasal dari
kelompok
menengah atas

7 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

EKSISTENSI ETNIS ARJATI SAAT INI

Etnis Arjati di Pekalongan ada hingga saat ini dikarenakan
pengaruhnya yang sangat kuat dari sektor perdagangan yang kini
telah melekat menjadi bagian dari Kota Pekalongan. Etnis
keturunan arab seperti kalangan Hadramaud dan orang arab lainnya
yang tinggal di Pekalongan banyak yang membuka toko, mulai dari
toko batik hingga kebutuhan peribadatan. Tahun 1950 kawasan
kampung arab dikenal sebagai pasar batik yang sangat maju.
Komoditasnta berupa bahan baku batik, tenun, dan tekstil seperti
kain mori dan benang. Sedangkan etnis Cina kurang lebih sama
kuatnya dengan peradaban dagang yang telah dimiliki oleh
pendahulu mereka sebelum hadirnya etnis Arab di Pekalongan.

ASAL AKRONIM ARJATI

Awal mula muncul penamaan Arjati yaitu pada saat mantan
Walikota Pekalongan Alm. Alf Arslan Djunaid sedang berpidato di
sebuah perayaan Pekan Batik Nasional di Pekalongan yang
mengungkapkan bahwa Pekalongan memiliki ciri khas masyarakat
keturunan Arab, Jawa, dan Cina (Arwana) yang pada saat itu
disebutkan oleh Pak Alex menjadi sebuah akronim Arwana. Namun
seiring perkembangan, ada berbagai diskusi antara Pak Wiwit
seorang seniman di Pekalongan dan Pak Karya Budiman
(Almarhum) seorang tokoh DPRD Kota Pekalongan, beliau (Karya
Budiman) merupakan salah satu yang memiliki garis keturunan
Cina/Tionghoa yang mencintai budaya Jawa. Karya Budiman
merupakan sosok keturunan Tionghoa Pekalongan yang mencintai
budaya Jawa termasuk nabuh gamelan Jawa dan kemudian pernah
menciptakan komunitas karawitan Jawa.

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 8

Bertemu dengan Pak Wiwit karena beliau merupakan seorang dalang
dan seorang seniman. Berdasarkan ungkapan Pak Wiwit
kedekatannya sudah seperti bapak dengan anak sehingga sering
mengajak diskusi dan bertukar cerita.

Pada saat itu terjadi diskusi antar keduanya terkait Pak Budiman
membuat karawitan yang multietnis (Arab, Jawa, Cina). Beliau
menyampaikan bahwa istilah Cina di Pekalongan memiliki makna
yang kasar dan konotasinya tidak nyaman. Sejak diskusi saat itu Pak
Wiwit mengganti dan mengubah istilah Cina menjadi Tionghoa,
selain itu beberapa etnis Tionghoa di Pekalongan lebih senang dan
lebih menyukai sebutan Tionghoa daripada Cina. Kemudian dari hasil
diskusi Pak Wiwit mengubah nama Arwana menjadi Arjati sebagai
branding Kota Pekalongan di mata masyarakat luar Pekalongan.
Adanya Ensiklopedia ini harapannya masyarakat Pekalongan dan luar
Pekalongan dapat mengenal budaya dan warisan etnis Arjati yang
hingga saat ini melekat dan menjadi sebuah identitas yang tak ternilai
harganya oleh apapun.

9 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

ICON ARJATI DI PEKALONGAN

Kawasan Pecinan
yang terdapat di sekitar
sungai loji terletak di
Jalan Blimbing dan
Kampung Arab terletak
di Jalan Surabaya daerah
itu bernama Klego,
Sugihwaras, dan Poncol.
Di dekat situ terdapat
salah satu Masjid Wakaf
yang yang memiliki
bentuk menara yang
khas. Masjid tersebut
dibangun pada tahun
1854 oleh Sayid Husein
bin Salim, pedagang asli
Hadramaut, Yaman.

MENARA MASJID WAKAF
KAMPUNG ARAB (SUGIHWARAS)

(sumber : dokumen pribadi)

Tanah tempat dibangunnya masjid tersebut dahulu
merupakan hutan belantara yang dijadikan makan pelaut yang
meninggal dalam perjalanan menuju ke Pekalongn. Tempat
paling iconic kerukunan dan toleransi antar etnis dan agama
yang dimiliki oleh masing-masing etnis Arab, Jawa, atau
Tionghoa terdapat di Jalan Jetayu Kota Pekalongan.

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 10

KAWASAN BUDAYA JETAYU
(sumber : dokumen pribadi)

Tempat tersebut dijadikan pusat kegiatan dan pemerintahan di
Pekalongan, di tengah jalan Jetayu terdapat sebuah lapangan dan
disekitarnya terdapat berbagai rumah ibadah seperti Masjid, Gereja, Pura,
dan Kelenteng. Sub bagian atau daerah yang kini dikenal dengan
Kawasan Pecinan, Kampung Arab, dan pribumi disebabkan oleh masa
pemerintahan Belanda, hal itu dikarenakan agar pemerintah kolonial
dapat mengontrol tingkat kriminalitas di daerah Pekalongan. Hal tersebut
tidak terjadi di Kota Pekalongan saja, namun di beberapa tempat di
Indonesia pasti memiliki tempat dan daerah yang kurang lebih sama
dengan Kota Pekalongan.

11 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

BAGIAN 2
ARSITEKTUR BERGAYA ARJATI DAN EROPA

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 12

OMAH LAWANG SANGA

OMAH LAWANG SANGA
(sumber : dokumen pribadi)

Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas yang
melekat pada suatu tempat yang dipengaruhi oleh berbagai macam
warna dan budaya kemudian menjadi sebuah warisan yang hingga saat
ini menjadi suatu keragaman dan corak kehidupan masyarakat di daerah
tersebut. Adanya masa lalu yang terukir dalam catatan sejarah maupun
saksi bisu peninggalan masa itu budaya akan selalu menjadi bagian
untuk memperkuat rasa memiliki, mempererat rasa satu, dan
menumbuhkan identitas yang kuat namun tetap dinamis dalam menjalin
kerukunan dan toleransi yang melintas antar budaya. Kota Pekalongan
sebagai daerah yang memiliki corak kebudayaan dan etnis yang kini
melekat dan selalu dinamis memiliki seni arsitektur yang dipengaruhi
oleh 3 etnis (Arjati), dan Eropa. Seni arsiterktur ini tervisualisasikan
melalui Omah Lawang Sanga (Rumah Sembilan Pintu). Perpaduan
gaya arsitektur Omah Lawang Sanga mencirikan masyarakat
Pekalongan yang bersifat egalitarian.

13 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

Seni arsiterktur ini tervisualisasikan melalui Omah Lawang Sanga
(Rumah Sembilan Pintu). Perpaduan gaya arsitektur Omah Lawang
Sanga mencirikan masyarakat Pekalongan yang bersifat egalitarian.
Dengan cara tersebut masyarakat Kota Pekalongan menyatakan sikap
bahwa kaum elite banga Hindia Belanda dan Eropa yang pada masa itu
berkuasa di Pekalongan memiliki tempat yang sama dan sejajar dengan
kehidupan lainnya dan tidak ada pembagian kelas antar bangsa atau
etnis di Pekalongan.

OMAH LAWANG SANGA
(sumber : dokumen pribadi)

Omah Lawang Sanga atau beberapa orang Pekalongan biasa
menyebutnya Omah Kaji (rata-rata pemilik dan penghuninya adalah
orang yang sudah melaksanakan haji), Omah Lawang Sanga merupakan
salah satu warisan dan kekayaan lintas budaya Kota Pekalongan.
Menurut seorang budayawan sekaligus seniman di Pekalongan yaitu
Ragil (Suci Harsana) sapaan yang sering didengar oleh masyarakat
Pekalongan, mengungkapkan bahwa dinamakan Omah Lawang Sanga
karena pintu rumahnya memiliki 9 pintu, hal tersebut mencirikan jumlah
lubang yang ada di tubuh manusia. Hal ini dimaknai agar rumah yang
memiliki pintu 9 mengisyaratkan adalah sebatang/seonggok tubuh
manusia. Tubuh tersebut digambarkan memiliki aktivitad dan kehidupan
manusia yang hidup. Tak hanya sekadar hidup tetapi juga memberikan
manfaat serta kegunaan bagi yang lain. Omah Lawang Sanga dibangun
oleh seorang juragan Batik, pada masanya Omah Lawang Sanga ini
menjadi jantung kehidupan batik yang menjadi salah satu
matapencaharian dan budaya Pekalongan yang dihidupkan.

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 14

Menurut Ribut dalam sebuah artikel yang ia tulis tahun 2021
mengungkapkan bahwa Omah Lawang Sanga dibangun sekitar
pertengahan abad ke-19 atau pada tahun 1800-an. Rumah itu didirikan
dengan gaya bangunan Eropa (saat itu sedang tren) serta kedudukan
Pekalongan sebagai Ibukota Karisidenan di Pekalongan. Omah Lawang
Sanga tidak hanya dibangun dengan gaya arsitektur Eropa melainkan juga
gabungan dari 3 etnis yaitu Arjati (Arab, Jawa, dan Tionghoa), hal
tersebut menjadi unik dan pembeda dari ciri bangunan lain yang ada di
daerah lain.

15 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

SENI ARSITEKTUR &
MAKNA LAWANG SANGA

BAGIAN SAMPING OMAH LAWANG SANGA Ornamen-ornamen ini
(sumber : dokumen pribadi) disisipkan pada bagian
kisi-kisi ventilasi jendela
Seni arsitektur Eropa pada Omah Lawang atau pintu. Juga dilekatkan
Sanga terletak pada pintu dan jendela pada bagian penyangga
berbahan kayu dengan ukuran besar. Panel- atap teras rumah
panel pada pintu dan jendela terkesan (Achwandi, 2021).
minimalis, karena tidak menonjolkan motif
ukiran-ukiran yang rumit. Selain itu, PINTU DEPAN OMAH LAWANG SANGA
pemanfaatan pilar-pilar kokoh pada (sumber : dokumen pribadi)
bangunan ini memberi kesan elegan.
Ornamen-ornamen bercorak Arab juga
muncul dalam beberapa elemen bangunan.
Terutama pada panel-panel pilar berbahan
semen dan mozaik kaca bermotif bunga
pada beberapa daun jendela kaca. Beberapa
juga tampak pada daun pintu. Biasanya,
pada bagian pintu depan terdapat pintu
rangkap yang menampilkan ornamen
bergaya Arab. Sedang ornamen bergaya
Cina menjadi pelengkap.

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 16

FUNGSI BAGIAN DAN RUANGAN
OMAH LAWANG SANGA

Dasar pola yang digunakan BAGIAN DEPAN OMAH LAWANG SANGA
dalam arsitektur Omah Lawang (sumber : dokumen pribadi)
Sanga berasal dari Jawa, baik
bentuk maupun pembagian Sementara bagian belakang terdiri atas
ruangan. Secara keseluruhan, dapur (pawon), sumur dan tempat cuci,
Omah Lawang Sanga kamar mandi, dan pranggok (bengkel
merupakan bangunan rumah produksi batik). Sedangkan bagian
limasan ala pesisiran. Sementara samping, terdiri atas lahan terbuka untuk
pembagian ruangan, terbagi ke mepe (menjemur) kain batik di sisi kiri
dalam empat bagian. Yaitu, dan kebun di sisi kanan.
bagian depan, bagian dalam,
bagian samping, dan bagian BAGIAN PRANGGOK OMAH LAWANG SANGA
belakang. Bagian depan terdiri (sumber : youtube budaya.pekalongankota)
atas halaman rumah (latar) dan
teras (jogan). Yang 17 Ensiklopedia Arjati Pekalongan
membedakan antara latar dan
jogan adalah tinggi rendahnya
bangunan. Latar, biasanya
menyatu dengan jalan kampung.
Sementara jogan berupa
susunan anak tangga dan lantai
yang tak terlalu luas di bagian
teras rumah. Bagian dalam
Omah Lawang Sanga terdiri
atas ruang tamu (batur), ruang
tengah/ruang keluarga, dan
ruang kamar.

Pada keadaan lapangan sebuah Omah Lawang Sanga menempati area tanah
yang sangat luas. Karena bangunan dari Omah Lawang Sanga disatukan
dengan pranggok (bengkel produksi batik) yang diletakkan di bagian blakng
rumah, bagian tersebut juga terdapat lahan terbuka untuk area mepe
(menjemur) kain batik yang biasanya ditempatkan di sisi kanan rumah. Luas
bangunan Omah Lawang Sanga tidak lebih luas dari pranggok dan lahan untuk
mepe batik. Bagian luas yang lain juga terletak di area kebun yang difungsikan
sebagai tempat kandang binatang ternak/peliharaan. Keberadaan kebun tersebut
digunakan untuk kegiatan bersosial dengan tetangga, entah hanya sekadar
berinnteraksi atau membicarakan apapun dengan para pekerja batik tak jarang
membicarakan masalah kehidupan masing-masing (Suharsana, 2022).

Keterlibatan tersebut

dimaksudkan oleh sang juragan

agar pihak keluarga dapat

belajar, melatih berbisnis batik

agar suau saat bisa meneruskan

usaha juragan. Selain itu,

keterlibatan keluarga dala

produksi batik juga

BAGIAN RUANG TAMU OMAH LAWANG SANGA dimaksudkan agar pekerjaan
(sumber : youtube budaya.pekalongankota)
yang dilakukan di Omah
Bagian ruang tamu digunakan untuk
menerima tamu atau untuk melakukan Lawang Sanga disemangati
transaksi jual-beli produk batik dari tiap-tiap
rumah. Ruang tengah digunakan sebagai oleh rasa kekeluargaan
ruang keluarga, bagian tersebut juga
digunakan sebagai tempat untuk mengepak (Achwandi, 2021). Bagian
produk batik, hal itu dimaksudkan agar tidak
hanya pekerja batik saja yang kerja namun yang menjadi tempat privasi
pihak keluarga juga ikut terlibat.
dari pemilik Omah Lawang

Sanga adalah kamar tidur,

terdapat 2 kamar tidur di dalam

Omah Lawang Sanga kamar

pertama difungsikan sebagai

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 18

kamar utama yaitu kamar juragan (orang tua) dan kamar kedua sebagai
kamar anak dari sang juragan. Kedua kamar ini disekat oleh koridor menuju
pintu belakang (Harsana, 2022)

MAKNA OMAH LAWANG SANGA

Pintu dalam pandangan orang Pekalongan adalah jalan masuk rezeki.
Semakin banyak pintu berarti pula semakin luas jalan rezeki seseorang.
Rezeki, dalam pandangan orang Pekalongan yang dilandasi pemikiran
agama Islam, tidak hanya berupa kekayaan materi. Akan tetapi, juga
dalam rupa dan bentuk yang beragam. Seperti persaudaraan,
pertemanan, dan sebagainya. Tidak heran jika penempatan pintu lebih
banyak diletakkan di bagian depan dan tengah. Tiga pintu berderet
menyamping di bagian depan. Tiga pintu lagi di bagian tengah. Dua
pintu lagi di sisi kiri-kanan ruang tengah. Dan, satu pintu lagi di bagian
belakang. Penempatan pintu ini memiliki makna khusus. Tiga pintu
bagian depan melambangkan watak ramah. Bahwa orang Pekalongan
sangat terbuka dengan siapa saja. Mereka sanggup menerima
kedatangan siapapun, tanpa memandang perbedaan yang melekat pada
atribut tiap individu. (Harsana, 2022).

Sementara tiga pintu yang dilekatkan pada dinding sekat antara ruang
tamu dan ruang tengah melambangkan kejujuran. Dengan kata lain,
kejujuran menjadi prinsip hidup yang mestinya dipegang teguh oleh
masyarakat Pekalongan. Dalam semua aktivitas dan segala laku hidup,
kejujuran harus dijunjung tinggi. Karena dengan kejujuran itu, nasib
orang akan menjadi mujur.

19 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

Satu pintu di bagian lambung kiri yang berhadapan langsung dengan
aktivitas pekerja batik, dan satu pintu lagi di bagian lambung kanan yang
berhadapan dengan kebun dan rumah tetangga, melambangkan
kepedulian dan rasa empati. Artinya, bahwa segala kekayaan yang
dimiliki para juragan batik adalah hasil dari tetes keringat para pekerja.
Maka, mereka memiliki tanggung jawab atas nasib para pekerjanya. . Di
sisi lain, para juragan juga mesti membuka kesempatan kepada
lingkungan sekitar untuk berbagi. Orang-orang atau tetangga yang tak
memiliki kesempatan bekerja mesti dibukakan pintu agar bisa
mendapatkan mata pencaharian. Sedang makna satu pintu di bagian
belakang, menandai pantangan untuk membuka aib. Hal-hal yang buruk,
baik tentang diri sendiri lebih-lebih orang lain tak boleh disebarluaskan.
Sebaliknya, sesuatu yang buruk mestinya menjadi pelajaran bagi diri
sendiri dan lingkungan keluarga, sebagai introspeksi diri (Harsana,
2022).

Menrut Harsana pada sesi wawancara yang dilakukan penulis, saat ini
Omah Lawang Sanga/Omah Kaji masih dapat ditemukan di berbagai
daerah di Pekalongan, namun kebermanfaatan dan fungsinya sebagian
sudah tidak digunakan. Masyarakat luar dapat menemukan rumah ini di
daerah Kota Pekalongan (Kauman, Sampangan, Pesindon, Sugihwaras,
Tirto, dan beberapa kampung di Kota Pekalongan), daerah utara
Kabupaten Pekalongan (Wonopringgo), dan bagian barat Kabupaten
Batang

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 20

BAGIAN 3
HASIL CIPTA KARSA
MASYARAT PEKALONGAN

21 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

BUDAYA

Setiap warisan dan budaya dari leluhur bangsa
memiliki seni dan karya yang menggambarkan
tipe masyarakatnya. Budaya berasal dari bahasa
sansekerta, yakni buddhayah yang merupakan
turunan dari kata buddhi yang memiliki arti akal.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan
merupakan keseluruhan sistem gagasan, hasil
karya mannusia, dan tidakan dalam rangka
kehidupan yang dijadikan bagian dari manusia
selama belajar.

Kebudayaan merupakan hasil dari cipta, rasa, dan karsa dari suatu
masyarakat. Oleh sebab itu, sebagai tempat yang memiliki masyarakat
multietnis, Pekalongan memiliki beberapa kebudayaan dan tradisi yang
melekat dan menjadi identitas masyarakat Pekalongan hingga saat ini.
Beragamnya etnis yang mempengaruhi tipologi dan topografi manusia di
Pekalongan, maka Pekalongan juga memiliki hasi cipta, rasa, dan karsa
diantaranya yaitu pengaruh etnis Arjati (Arab, Jawa, dan Tionghoa) di
Pekalongan.

Beberapa kebudayaan yang memiliki pengaruh etnis Arjati dan ingin
penulis sampaikan di dalam buku ini sebagai berikut :

1. Tari Arjati
Tari Arjati merupakan tarian khas Pekalongan yang mengangkat

kebudayaan dan etnis Arjati (Arab, Jawa, dan Tionghoa) yang telah hidup
beriringan sejak dahulu.

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 22

Tari ini pertama kali diciptakan pada tahun 2013 saat akan
diadakannya Parade Seni dan Budaya Jawa Tengah. Tari Arjati
merupakan jens tari kreasi baru yang diciptakan oleh Septantri
Herawati sebagai koreografer dan Wiwit Sri Koncoro sebagai
komposer dari iringan musik tari Arjati. Arjati diangkat menjadi sebuah
tarian dikarenakan budaya dan masyarakat Kota Pekalongan
dipengaruhi oleh ketiga etnis tersebut, tari ini awalnya dibuat hanya
sebagai icon budaya di Pekalongan saat Parade, namun seiring
berkembangan kebudayaan tari ini dilestarikan hingga saat ini. Menurut
koreografer yaitu Tantri, tari ini biasanya dipentaskan saat ada
penyambutan tamu di acara atau event besar di Kota Pekalongan. Tari
kreasi baru ini memiliki beragam versi karena sifatnya yang dinamis dan
belum secara resmi informasi dan instrumen musiknya maka tarian ini
beberapa kali mengalami perubahan ungkap sang koreografer dan
komposernya. Beberapa versi tari Arjati berdasarkan ungkapan Tantri
dan Wiwit sebagai berikut :

a. Versi pertama dipentaskan saat Parade Seni dan Budaya Jawa
Tengah, pada saat itu bentuk tari dan iringan musiknya sangat
sederhana. Selain itu tari Arjati pertama kali dipentaskan di Kota
Pekalongan saat launching logo baru pada pemerintahan Walikota
Basyir Ahmad. Jumlah penari yang membawakan tarian ini sangat
banyak karena dipentaskan saat parade dan hanya mengedepankan
gerakan rampak. Iringan musik yang dibawakan juga masih sederhana
yaitu hanya terdiri dari elemen musik Arab (perkusi, marawis, dan
bumbuk), Jawa (gamelan), dan Tionghoa (lirik).
b. Versi terbaru dari tari Arjati kini sudah mengalami penyempurnaan
seiring berkembangan zaman. Tari ini sekarang dimainkan oleh kaum
wanita yang berjumlah 10 orang tau lebih. Iringan musiknya pun juga
mengalami perubahan yang awalnya terdapat solawat namun kini
solawatnya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

23 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

Liriknya pun ada sebagian yang menggambarkan Kota Pekalongan
sebagai kota yang hidup dari industri, budaya, dan karya batik. Makna
dari lirik yang terkandung tentang batik adalah keindahan batik,
mahakarya batik, dan eksotisme batik yang sudah menjamur sejak dari
dulu. Kemudian perubahan yang dialami terdapat dari iringan musiknya
yang kini terdapat alat musik modern seperti elektone.

PENAMPILAN TARI ARJATI DI PANGGUNG GEMBIRA INDOSIAR
(sumber : youtube Indosiar)

Komposisi musik dan gerak tari yang tercipta dari Tari Arjati berasal
dari masing masing etnis seperti :

a. Alat musik
- Arab : perkusi, marawis, dan bumbuk
- Jawa : melodi yang berasal dari gamelan seperti demung
- Tionghoa : bedug dan simbal
b. Gerak tari
- Arab : gerakan pinggul dan sedikit bagian seperti tari sufi yaitu

gerakan
memutar
- Jawa : gerakan khas Pekalongan atau pribumi yaitu membatik.
- Tionghoa : gerakan kontemporer (tidak memiliki ciri yang pakem)

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 24

PENAMPILAN TARI ARJATI DI PANGGUNG GEMBIRA INDOSIAR
(sumber : youtube Indosiar)

• Arab : Celana aladin, dan kain yang mengikat pinggang (rapek)
• Jawa : Kamisol atau kemben
• Tionghoa : Kain kaca, rompi, rambut cepol ada tusuk seperi orang

Tionghoa, dan diberi kiwil.

25 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

BAGIAN 4
CORAK DAN BUDAYA BATIK NUANSA ARJATI & EROPA

KHAS PEKALONGANAN

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 26

SEJARAH BATIK DI PEKALONGAN

Pekalongan dengan

slogannya yang terekenaL

yaitu Kota Batik yang sudah

memiliki branding sejak

lama itu memiliki masa lalu

yang seharusnya generasi

saat ini tahu.

MUSEUM BATIK PEKALONGAN
(sumber : dokumen pribadi)

Pengaruhnya dalam kehidupan bermasayarakat Pekalongan terhadap

batik sudah melekat dari leluhurnya hingga saat ini. Sebagai Kota dengan

julukan Kota Batik dan Kota Kreatif dunia yang diakui oleh UNESCO,

Pekalongan memiliki latar belakang sejarah batik yang sangat kuat.

Berikut beberapa penjelasan terkait Baik di Pekalongan. Kain batik

menurut Matsuo Hiroshi dalam bukunya yang berjudul The Development

Javanese Cotton Industry sudah lama mnjadi pakaian yang biasa

digunakan oleh kalangan bangsawan dan petani sejak zaman Majapahit

sebagai pakaian yang resmi digunakan pada masa kerjaan Hindu di

Mataram. Seorang presiden GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia)

juga mengungkapkan bahwa kain batik erat kaitannya dengan Hindu, hal

tersebut juga merupakan hasil dari kolaborasi peradaban islam yang telah

dibawa pedagang dari India (Gujarat) (Dirhamsyah, 2014).

Perbatikan di Pekalongan sangat berkaitan erat dengan pengaruh
Mataram islam serta penyebaran islam di tanah Jawa yang pada saat itu
dilakukan oleh para wali serta pedagang dari Gujarat. Menurut beberapa
catatan sejarh, batik di Pekalongan telah dimulai pada masa kerajaan
Mataram Islam yaitu sekitar abad ke 17 Masehi.

27 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

Menurut peneliti batik yaitu Ahmad Ilyas alam buku Pekalongan yang tak
terlupakan yang ditulis oleh Dirhamsyah mengungkapkan bahwa dalam
dokumen VOC menyebutkan bahwa pada tahun 1740 pernah terjadi
pengiriman kain sebanyak 20 ribu real Spanyol (mata uang VOC pada
saat itu) per tahun. Kain yang dimaksud merupakan kain batik. Pada
masa pemerintanhan Sultan Agung sudah ada batik buatan Pronocitro,
seorang saudagar batik Pekalonan yang bernama Nyai Singobarong.
Proses membatik di Pekalongan diperkirakan sudah ada pada tahun 1830
atau pasca perang Jawa, yaitu sekitar masa laskar Pangeran Diponegoro
yang menetap dan mengembangkan potensi batik di Pekalongan
(Dirhamsyah, 2014).

Pada saat itu terdapat pemukiman baru sebagai salah satu bagian dari
produksi batik di Pekalongan yang menyebar di daerah Kota Pekalongan
diantaranya adalah wilayah Pekalongan bagian selatan, bagian wilayah
Kedungwuni, dan wilayah barat seperti Wiradesa dan Tirto. Batik juga
berkembang di daerah Pekalongan bagian timur sehingga memunculkan
daerah baru sebagai penghasil batik diantaranya adalah Nglumprit,
Setono, dan Batang. Sejak saat itu Pekalongan mulai dikenal sebagai
daerah perkembangan dan perdagangan batik, sehingga setelah itu
dikunjungi oleh pedagang dari luar seperti Arab, Tionghoa, Eropa, dan
India. Adanya pendatang yang mengunjungi Pekalongan juga merupakan
salah satu penyebab adanya tata warna pada motif batik Pekalongan
(Dirhamsyah, 2014).

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 28

RUANG KOLEKSI MUSEUM BATIK PEKALONGAN
(sumber : Koleksi Museum Batik)

Seiring berkembangan waktu, industri batik Pekalongan memasuki
masa kejayaannya yaitu sekitar tahun 1950-1970. Dalam catatan
sejarah mengungkapkan bahwa terdapat krisis ekonomi dan sosial
masyarakat pada masa kependudukan Jepang. Pada masa itu
pedagang batik dan juragan batik di Pekalongan melakukan sebuah
pertemuan dengan pengrajin batik di Solo untuk membangun sebuah
gabungan koperasi batik Indonesia. Hal tersebut dimaksudkan agar
dapat membantu krisis ekonomi pada saat itu yang disebabkan oleh
Agresi Militer Belanda yang membuat kondisi dan suasana
perekonomian di Pekalongan kurang stabil, pertemuan tersebut
dilakukan pada tahun 1948. Namun seiring dengan perkembangan
zaman batik Pekalongan mengalami masa penurunan, hal ini
disebabkan adanya teknik penciptaan motif batik printing yang
merusak pasaran batik cap dan batik tulis di Pekalongan, selain itu
batik tersebut juga mulai merusak lingkungan sungai di Pekalongan
yang menunjukan adanya pembuangan limbah batik ke sungai.

29 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

Pekalongan dengan letaknya yang berada paling utara di pulau Jawa
tepatnya di Jawa Tengah dan memiliki penduduk yang multienik
serta dinamis dalam perkembangannya memiliki ciri khas yang
melekat dengan corak batik yang dikenal dengan khas pesisiran.
Batik Pekalongan memiliki corak yang khas yaitu hasil dari
akulturasi budaya Pekalongan. Bagian paling menarik untuk dibahas
dari batik Pekalongan adalah adanya perbedaan latar belakang
budaya sehingga menghasilkan corak batik ang berbeda juga. Adanya
hal tersebut mengakibatkan motif batik di Pekalongan beragam akan
corak batik yang dihasilkan. Berbagai macam etnis yang
menghasilkan corak batik Pekalongan yang khas diantaranya
dipengaruhi oleh etnis arab yaitu motif Jlamprang, motif Encim dari
Tionghoa, Motif Buketan dari pengaruh Eropa, serta pengaruh
Jepang yaitu motif Batik Jawa Hokokai. Motif-motif tersebut
memang datang dan dipengaruhi oleh etnis luar, namun masyarakat,
juragan, dan pengrajin batik di Pekalongan tidak meninggalkan
kekhasan yang dimiliki oleh letak geografisnya yang terletak di
daeah pantai utara Jawa yaitu corak batik pesisiran.

Batik pesisiran merupakan ciri dari masyarakat pantai utara di Jawa
yaitu memiliki warna yang cerah namun tetap kontras dan harmonis
dalam segi pewarnaannya. Selain Pekalongan, batik yang bercorak
pesisiran yang tersebar di pulau Jawa diantaranya adalah Indramayu,
Cirebon, Garut, Lasem, Semarang, dan Lasem. Pengaruh dari etnis
Arjati dan Eropa yang terdapat di Pekalongan diantaranya, sebagai
berikut :

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 30

1. Motif batik pengaruh Arab KAIN TENUN PATOLA
Dahulu Pekalongan sebagai (sumber : Google)

tempat perdagangan yang menjadi
tempat singgah orang-orang dari
luar seperti Cina, Arab, dan Eropa.
Motif batik Pekalongan yang
mendapat pengaruh kuat dan
menjadi khas Pekalongan hingga
saat ini adalah motif Jlamprang.
Motif Jlamprang mendapat
pengaruh yang kuat dari pedagang
asal Gujarat, India. Pada saat itu
pedagang dari Gujarat membawa
beberapa jenis kain sutra
diantaranya adalah kain patola,
sembagi, dan polikat.

Kain tenun ganda atau yang disebut patola merupakan barang
dagangan yang sangat diminati oleh golongan masyarakat menengah
ke atas. Kain tersebut memiliki ragam hias yang diberi makna oleh
masyarakat setempat sesuai dengan keyakinan mereka. Kemudian,
saat itu dari Gujarat mengalami kelangkaan atau krisis pasokan kain
patola di pasaran, pengusaha Pekalongan yang berasal dari keturunan
Arab, Cina, dan Jawa (pribumi) menginisasi kain yang beragam hias
kain tenun patola menggunakan proses batik. Kain tersebut kini
disebut dengan batik Jlamprang.

31 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

MOTIF BATIK JLAMPRANG Batik Jlamprang merupakan
(sumber : Google) batik hasil kreasi masyarakat
Pekalongan sebagai warisan
budaya dengan mengetengahkan
ragam hias ceplokan dan
geometri dalam bentuk lung-
lungan dan bunga padma di
tengahnya (Panji, 2017). Motif
batik Jlamprang memiliki
kemiripan dengan motif nitik
yang berasal dari Yogyakarta,
motif ini biasanya disebut juga
dengan motif geometris karena
bentuknya yang lingkaran atau
segitiga. Motif batik Jlampran
diadaptasi dari kain patola yang
dibuat dengan teknik ikat
double.

Selanjutnya masyarakat Pekalongan mengadopsi motif tersebut
menjadi sebuah karya yang berbasis batik dan menyerupai kain tenun.
Motif Jlamprang memiliki bentuk ceplok yang terdiri dari bentuk bujur
sangkar dan persegi panjang dan kemudian disusun menyerepuain
anyaman pada kain patola, kemudian warna yang diberikan pada kain
tersebut adalah warna-warna cerah namun kontras dan harmonis ketika
dilihat oleh mata. Warna tersebut adalah warna khas Batik pesisiran
Pekalongan yang kemudian terciptalah motif Jlamprang yang indah
hingga saat ini.

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 32

Dahulu motif batik Jlamprang digunakan sebagai benda atau bentuk
upacara ritual seperti Sadran atau Nyadran untuk menyatakan syukur
kepada tuhan sebagai penguasa alam. Maksud dari penggunaan kain
batik tersebut digunakan sebagai persembahan kepada Ratu Laut
Utara yaitu Den Ayu Lanjar (Dewi Lanjar). Namun pada saat ini
batik Jlamprang dapat digunakan oleh siapapun tanpa ada sentuhan
magis atau mistis dibaliknya. Motif Jlamprang kini dikenal dengan
motif arab di Pekalongan.

2. Motif Encim (pengaruh etnis Tionghoa)
Batik Encim adalah batik yang dibuat oleh peranakan atau

keturunan Tionghoa yang telah lama tinggal di Pekalongan. Batik
Encim berasal dari seorang wanita yang sudah berkeluarga atau
wanita usia paruh baya dari suku/etnis Tionghoa (Salma, I. R, 2014)
Batik Encim memiliki motif berupa perpaduan harmonis dari unusr
garis lembut pembentuk motif hias pokok beserta isian bidang (isen-
isen) yang rumit. Batik Encim khas Pekalongan condo pada tata
warna porselin famille rose, famille verte, dan sebagainya. Tata
warna tersebut adalah warna yang cerah dan terang, hal itu dapat
dicapai dengan teknik coled dan teknik celup yang biasa digunakan di
Pekalongan (Salma, I.R, 2014).

Motif batik Encim mengandung makna pengharapan dan kebaikan
semacam doa agar kebaikan kebaikan selalu datang dari si pemakai
batik. Menurut Salma dalam Djoemena (1990) batik Encim memiliki
gaya dan ragam hias yang dibagi menjadi 3 diantaranya sebagai
berikut :

33 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

a. Ragam hias Buketan atau motif flora yaitu bunga.

MOTIF BATIK BUKETAN
(sumber : Koleksi Museum Batik)

b. Ragam hias simbolis kebudayaan Tionghoa dengan motif burung
hong (kebahagiaan), naga (kesiagaan), kilin (kekuasaan), banji
(kehidupan abadi), kupu-kupu, dan berbagai jenis motif burung.

MOTIF BATIK BURUNG
(sumber : Koleksi Museum Batik)

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 34

c. Ragam hias bercorak lukisan, yaitu arakan pengantin Tionghoa.

MOTIF BATIK LUKIS
(sumber : Koleksi Museum Batik)

35 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

3. Corak batik pribumi/Jawa di Pekalongan
Batik Pekalongan bercorak Jawa dibuat oleh masayarakat yang

mayoritas orang Jawa. Kreativitas dari pengrajin batik dan juragan
batik di Pekalongan yang sangat banyak mampu menghasilkan dan
menggerakan perekonomian kota. Selain itu batik Pekalongan hingga
saat ini masih dilestarikan dari segi seni dan industrinya, karena batik
sudah menjadi suatu karya, budaya, dan warisan yang menjadi
identitas bagi Kota Pekalongan. Batik Pekalongan sebenarnya
memiliki motif yang mirip dengan daerah kraton atau pedalaman
seperti Surakarta dan Yogyakarta. Yang membedakan adalah dari
segi pewarnaannya, jika batik kraton atau pedalaman memiliki warna
sogan (klasik) sedangkan warna batik Pekalongan adalah cenderung
cerah, terang, dan meriah. Sudah tidak bisa dielakkan lagi bahwa
terdapat sampai 8 warna ceria yang sangat kontras namun secara
keseluruhan batik corak pesisir/Pekalongan memiliki harmonisasi
moti dan tata warna yang menakjubkan (Salma I.R, 2013).

MOTIF BATIK BURUNG WARNA CERAH
(sumber : Koleksi Museum Batik)

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 36

MOTIF BATIK NITIK Corak batik pesisir
(sumber : Google) Pekalongan yang beragam
dan warna-warni juga
mengambarkan sifat dan
lingkungan masyarakat
Pekalongan, warna cerah
dan meriah mengambarkan

keberanian dan kebebasan bagi orang pesisir khususnya pesisir utara
pulau Jawa. Seperti yang disebutkan di atas bahwa batik Pekalongan
dan batik kraton/pedalaman (Surakarta dan Yogyakarta) memiliki
motif yang cenderung mirip seperti ragam hias motif batik nitik dari
Surakarta dan Yogyakarta, yang membedakan adalah hanya corak
warna saja.

MOTIF BATIK JLAMPRANG
(sumber : Koleksi Museum Batik)

37 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

MOTIF BATIK DJAWA HOKOKAI 4. Motif batik Pekalongan khas
(sumber : Koleksi Museum Batik) Eropa
Indonesia merupakan sebuah
negara yang pernah disinggahi oleh
penjajah dari negeri barat di
antaranya adalah Belanda dan
Jepang. Orang luar yang pernah
singgah dan mendiami nusantara
juga memiliki pengaruh kuat dalam
seni dan budaya batik di Kota
Pekalongan. Batik tersebut dibuat
oleh orang-orang Belanda atau
berdasarkan permintaan yang
dibuat juga oleh masyarakat
pribumi di Pekalongan.

Motif batik yang khas dari MOTIF BATIK DJAWA HOKOKAI
Eropa dan Belanda adalah cerita (sumber : Koleksi Museum Batik)
dongengan seperti Batik motif
Putri tidur, Si Topi Merah,
Cinderella, dan Putri Salju.
Ragam hias dari pengaruh
Jepang adalah motif Batik
Djawa Hokokai. Batik tersebut
dibuat berdasakan permintaan
orang Jepang sebagai
busanayang menjadi lambang
politik Jepang diatas budaya
daerah jajahannya (Salma I.R,
2013).

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 38

MOTIF BATIK CERITA DONGENG
(sumber : Koleksi Museum Batik)

Ragam hias dari batik Pekalongan yang tercipta dari latar
belakang etnis yang berbeda telah mencapai corak karaker yang
menjadi identitas atau khas batik Pekalongan dari motif batik lain.
Warna cerah dan menyala yang dimiliki oleh batik pesisiran
Pekalongan merupakan salah satu pengaruh dari budaya Tionghoa.
Corak pesisiran menggambarkan sifat dan lambang kehidupan
masyarakat Pekalongan yang berani dan kebebasan. Masyarakat
Pekalongan sebagai daerah yang dihuni oleh multietnis dan budaya
yang berbeda menjadikan masyarakatnya mencerminkan sikap yang
toleransi antarwarga, hal tesebut juga dijadikan sebagai sarana
berekspresi dan berseni untuk saling berkreasi, menghormati, dan
saling menhargai satu sama lain.

39 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

ELIZA VAN ZUYLEN
PENGRAJIN BATIK MASA EROPA DI PEKALONGAN

Dalam masa pemerintahan FOTO ELIZA VAN ZUYLEN
Belanda terdapat seorang (sumber :Google)
pengrajin batik yang berasal
dari Belanda, karyanya sangat Nama aslinya adalah
otentik dan hingga saat ini
masih dicari oleh seniman dan Eliza Charlotta Niessen,
pecinta batik di Indonesia
maupun mancanegara. Beliau rumahnya di daerah
adalah Eliza Van Zuylen,
warga negara Belanda yang Bugisan yang kemudian
hidup antara tahun 1863 –
1947. berpindah ke Herenstraat.

FOTO TANDA TANGAN ELIZA VAN ZUYLEN Beliau menetap di
(sumber :Google)
Pekalongan karena

mengikuti suaminya

Alphons Van Zuylen yang

merupakan seorang Pejabat

dari Kerajaan Belanda

yang ditugaskan di

Pekalongan pada saat itu.

(Panji, 2016).

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 40

Motif yang dikembangkan Eliza Van Zuylen ialah motif buketan
bunga khas Eropa, karya seni batik beliau dikenal dengan sebutan
“Van Zuylen Bouquet“. Eliza Van Zuylen memulai usaha Batiknya
dari tahun 1890-an, hingga kini jejak karya Beliau masih berbekas di
Kota Pekalongan. Motif buketan yang diciptakan oleh Eliza Van
Zuylen berisikan gambar bunga yang dikombinasikan dengan motif
burung. Motif atau karya dari Eliza Van Zuylen bisa ditemukan di
Kota Pekalongan tepatnya berada di Museum Batik Pekalongan yang
terletak di daerah atau kawasan budaya Jetayu. Yang menjadi ciri
khas dari batik Van Zuylen adalah adanya tanda tangan dari sang
pemilik karya yang menggunakan tinta emas. Karya Eliza Van
Zuylen pada saat itu diakui sebagai mahakrya puncak pengusaha
Belanda. Karena karya batik tersebut memiliki ragam hias yang
detail, memiliki corak serta keanekaragaman warna yang banyak, dan
dari segi motif karya batik Eliza Van Zuylen memiliki motif yang
rumit (Panji, 2016).

41 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

PASAR DAN INDUSTRI BATIK
YANG ADA DI PEKALONGAN

FOTO PASAR BATIK GROSIR SETONO Pekalongan sebagai sentra
(sumber :Google) batik di Indonesia dan
dikenal sebagai Kota Batik
memiliki beragam daerah
dan tempat atau proses
untuk membatik hingga
pasar batik. Hal ini dapat
dilihat dari masing-masing
tempat diantaranya :

1. Produksi Batik : Daerah

Kauman, Pesindon,

Krapyak, Landungsari,

Sampangan, Tirto,

Kedungwuni, daerah

selatan Pekalongan, dan

daerah lainnya yang FOTO KAMPUNG BATIK KAUMAN
(sumber :dokumen pribadi)
terdapat teknik perbatikan.

FOTO KAMPUNG BATIK KAUMAN
(sumber :Google)

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 42

PASR BATIK GROSIR SETONO
(sumber :Google)

2. Pasar Batik yang tersebar di daerah
Pekalongan sebagai berikut :

Pasar Grosir Batik
Setono,
daerah Pringlangu-
Selatan Pekalongan,
dan lainnya.

WISATA BATIK PESINDON
(sumber :Google)

43 Ensiklopedia Arjati Pekalongan

BAGIAN 5
TRADISI MASYARAKAT PEKALONGAN PENGARUH ARJATI

Ensiklopedia Arjati Pekalongan 44


Click to View FlipBook Version