Pekalongan sebagai daerah yang memiliki corak kebudayaan
mutietnis dari segi kehidupannya dan letaknya yang berada di bagian
utara Pulau Jawa, mengakibatkan lahirnya keanekaragaman hasil
cipta, rasa, dan karsa masyarakatnya atau yang disebut dengan
kebudayaan. Lahirnya kebudayaan masyarakat tak terlepas dari
adanya pengaruh tradisi atau kebiasaan hidup masyarakatnya yang
telah tergambarkan dari puluhan tahun yang lalu. Namun, seiring
perkembangannya tradisi dan kebudayaan yang telah lama ada mulai
luntur sebagian di beberapa daerah Indonesia. Hal tersebut
disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat modern yang lebih
bangga dengan kebudayaan orang luar daripada diri sendiri, beberapa
diantaranya juga masyarakat memiliki sikap yang apatis dngan
kehidupan masa lalu. Padahal jika kita lihat sejarah, Bung Karno
pernah mengatakan “Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan
sejarah”.
Kebudayaan sama halnya dengan sejarah, karena adanya sejarah
dan kebudayaan sama halnya membentuk suatu peradaban di suatu
kelompok ataupun tempat tertentu yang didalamnya terdapat
sekumpulan manusia untuk mencapai tujuan hidup yang sama.
Sebagai Kota yang multietnis dan letaknya di daerah pesisir berikut
diantaranya tradisi dan kebudayaan masyarakat Pekalongan yang
hingga saat ini dapat ditemukan pada acara-acara tertentu.
45 Ensiklopedia Arjati Pekalongan
Tradisi Syawalan Krapyak
FESTIVAL LOPIS KRAPYAK Syawalan Krapyak Pekalongan
(sumber : dokumen pribadi) merupakan salah satu tradisi yang rutin
dilakukan oleh masyarakat Kelurahan
FESTIVAL LOPIS KRAPYAK Krapyak Lor dan Krapyak Kidul Kec.
(sumber : dokumen pribadi) Pekalongan Utara, Kota Pekalongan.
Kegiatan ini sudah dimulai sejak ratusan
tahun yang lalu tepatnya pada tahun
1885. Pertama dilakukan dan dipelopori
oleh salah satu keturunan Tumenggung
Bahurekso salah satu senopati kerajaan
Mataram di Pekalongan yang bernama
Kyai Haji Abdullah Sirodj seorang ulama
Pekalongan yang tinggal di daerah
Krapyak (Dirhamsyah, 2014). Awal
mulanya K.H Abdullah Siradj rutin
melakukan puasa Syawal yaitu setiap
setelah 1 Syawal yang berarti dimulai
dari tanggal 2 – 7 Syawal.
Beberapa masyarakat di daerah
Krapyak akhirnya mengikuti kebiasaan
tersebut dan kebiasaan tersebut diketahui
oleh masyarakat luar Krapyak. Sehingga
meski hari raya yang bertepatan pada
tanggal 1 Syawal masyarakat di luar
Krapyak tidak berkunjung atau
melakukan silaturahmi ke daerah
Krapyak, hal ini dilakukan agar
menghormati orang yang ada disana saat
sedang melaksanakan ibadah puasa
Syawal.
Ensiklopedia Arjati Pekalongan 46
Sesuatu yang paling khas dari tradisi FESTIVAL LOPIS KRAPYAK
Syawalan Krapyak adalah tradisi (sumber : dokumen pribadi)
Lopisan. Lopis merupakan sajian
makanan/jajan pasar yang disuguhkan FESTIVAL LOPIS KRAPYAK
kepada para tamu dan terbuat dari (sumber : dokumen pribadi)
beras ketan. Lalu kenapa yang dibuat Ensiklopedia Arjati Pekalongan
waktu Syawalan adalah lopis bukan
ketupat?. Berdasarkan ungkapan
Ustadz Abdurochim dalam buku
Pekalongan yang tak terlupakan
mengungkapkan bahwa hal tersebut
menjadi pembeda antara tanggal 1
Syawal dan 8 Syawal. Lopis yang
dijadikan salah satu simbol Syawalan
di Kota Pekalongan memiliki makna
yang unik yaitu filosofi beras ketan
yang diartikan memiliki makna atau
lambang persatuan warga karena
diyakini lopis yang terbuat dari beras
ketan memiliki daya rekat yang
kuat.
Tradisi ini berlangsung lama hingga
pada tahun 1950 masyarakat Krapyak
mulai membuat Lopis berukuran
raksasa yang dimaksudkan sebagai
hidangan atau kudapan bagi tamu
yang berkunjung di Krapyak.
47
Tradisi Syawalan ataupun Lopisan sejatinya memiliki makna yang
dalam bagi persatuan bangsa yaitu falsafah kebangsaan yang
mengutamakan kesatuan dan persatuan seperti yang diamanatkan
dalam Pancasila sila ke-3 yang berbunyi “Persatuan Indonesia” hal
ini yang menjadi sebuah keunikan dan tradisi yang wajib dilestarikan
hingga saat ini (Dirhamsyah, 2022). Tradisi Syawalan di Pekalongan
menurut Umar Kayam dalam Dirhamsyah (2014) mengngkapkan
bahwa Syawalan merupakan salah satu kreativitas dari adanya
akulturasi budaya Jawa dan Islam (Arab).
Ensiklopedia Arjati Pekalongan 48
Tradisi balon Syawal
FESTIVAL BALON PEKALONGAN
(sumber : dokumen pribadi)
Selain tradisi Syawalan dan Lopisan di Krapyak, Pekalongan juga
memiliki tradisi yang mana juga dilakukan pada tanggal 8 Syawal.
Tradisi melepas balon udara ini awalnya dilakukan oleh warga Indo-
Eropa yang menetap di Kota Pekalongan saat masa penjajahan
Belanda. Tradisi ini biasanya juga ada mercon/petasan yang diikat di
tali balon udara tersebut. Tradisi petasan yang diikat pada balon ini
dipengaruhi oleh warga keturunan Tionghoa, keduanya diadopsi dan
dilakukan secara turun temurun melalui balon Syawal di Pekalongan.
Tradisi balon Syawal kini dijadikan sebagai salah satu Festival di
Pekalongan. Festival tersebut bernama Festival Ballon Tradisional
Pekalongan, pada festival tersebut balon tidak dilepas ke udara
namun hanya diikat atau ditambatkan menggunakan tali yang bisa
dikendalikan arahnya dan ketinggiannya. Hal tersebut diakukan agar
kegiatan transportasi udara di langit pulau Jawa tidak terganggu.
49 Ensiklopedia Arjati Pekalongan
Tradisi ini dahulunya dilakukan di tiap kampung di Pekalongan,
pelaku pembuat balon unik tersebut adalah para pemuda desa yang
kreatif. Mereka bergotong royon membuat balon dengan meminta
sumbangan seikhlasnya
kepada para warga.
Material dari balon udara
tersebut sangat beragam
diantaranya adalah
berbahan plastik dan
kerta warna-warni.
FESTIVAL BALON PEKALONGAN
(sumber : Google)
Tradisi balon udara setiap bulan Syawal ini hanya dilakukan oleh
2 daerah di Jawa Tengah yaitu Pekalongan dan Wonosobo.
FESTIVAL BALON PEKALONGAN
(sumber : dokumen pribadi)
Ensiklopedia Arjati Pekalongan 50
Tradisi Peh Cun
Peh Cun adalah dialek
Hokkian untuk kata pachuan
yang memiliki arti dalam
bahasa Indonesia yaitu
mendayung perahu.
FESTIVAL PEHCUN Walaupun perlombaan
(sumber : Google)
perahu naga bukan lagi
praktik umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun
tetap digunakan untuk menyebut festival ini.Festival ini dirayakan
setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah
berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Perayaan
festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan dan perlombaan
dayung perahu naga. Perayaan Peh Cun ini pada awalnya adalah untuk
mengenang Qu Yuan (339 SM - 277 SM). Dia adalah seorang menteri
negara Chu di zaman negara-negara berperang. Ia adalah seorang
pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya, banyak memberikan
ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi untuk
memerangi negara Qin.
Namun sayang, ia dikritik oleh FESTIVAL PEHCUN
keluarga raja yang tidak (sumber : Google)
senang padanya yang berakhir
pada pengusirannya dari ibu 51 Ensiklopedia Arjati Pekalongan
kota negara Chu. Ia yang sedih
karena kecemasannya akan
masa depan negara Chu
kemudian bunuh diri dengan
melompat ke sungai Miluo. Ini
tercatat dalam buku sejarah
Shi Ji.
FESTIVAL PEHCUN Lalu menurut legenda, ia melompat
(sumber : Google) ke sungai pada tanggal 5 bulan 5.
Rakyat yang kemudian merasa sedih
kemudian mencari-cari jenazah sang
menteri di sungai tersebut. Mereka
lalu melemparkan nasi dan makanan
lain ke dalam sungai dengan maksud
agar ikan dan udang dalam sungai
tersebut tidak mengganggu jenazah
sang menteri. Kemudian untuk
menghindari makanan tersebut dari
naga dalam sungai tersebut maka
mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal
sebagai bakcang sekarang. Para nelayan yang mencari-cari jenazah
sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari
perlombaan perahu naga setiap tahunnya.
Di Kota Pekalongan, perayaan Peh Cun menjadi salah satu agenda
tahunan atraksi budaya. Tahun 2015 ini perayaan digelar selama 3
hari. Dua hari pertama adalah perhelatan pasar malam yang berpusat
di Kelenteng Po An Thian di Jalan Belimbing Kecamatan
Pekalongan Timur yang dikenal sebagai Kawasan Pecinan Kota
Pekalongan. Di pasar malam ini banyak lapak yang menjual kuliner
khas Pekalongan dan khas Tiongkok, khususnya Bakcang yang
adalah ikon kuliner khas Festival Peh Cun. Yang istimewa dalam
pentas seni adalah hadirnya kembali wayang Potehi setelah 30 tahun
tidak diadakan di pekalongan. Wayang potehi adalah wayang boneka
yg telah ada sejak dinasti Jin (264 m).
Ensiklopedia Arjati Pekalongan 52
Dan masuk Indonesia sekitar FESTIVAL PEHCUN
abad 16-19. Wayang ini (sumber : Google)
menampilkan kisah legenda
kepahlawanan dan kepercayaan
Tionghoa. Hari terakhir adalah
kegiatan melarung sesembahan.
Larungan ini diadakan di Pantai
Pasir Kencana diana berbagai
kegiatan diadakan seperti
penampilan Barongsai, Liong,
Lomba mendirikan telur,
Kebaktian, hingga puncaknya
adalah melarung sesembahan. Berbagai sesembahan ditaruh di kapal
naga yang kemudian diarak ke pinggir pantai untuk kemudian
dibakar.
-SELESAI-
53 Ensiklopedia Arjati Pekalongan
DAFTAR PUSTAKA
https://digilib.pekalongankota.go.id/detailbuku-185-
pekalongan-yang-tak-terlupakan.html
https://kotomono.co/omah-lawang-sanga-bangunan-
khas-pekalongan-dari-abad-ke-19/
http://id.dbpedia.org/page/Egalitarianisme
https://kotomono.co/sejarah-tradisi-balon-udara-di-
pekalongan/
http://pariwisatakotapekalongan.blogspot.com/2016/01/p
ehcun.html?m=1
Salma, I. R. (2013). Corak Etnik dan Dinamika Batik
Pekalongan. Dinamika Kerajinan Dan Batik, 30(2), 85–97.
Retrieved from
http://ejournal.kemenperin.go.id/dkb/article/view/1113
Ensiklopedia Arjati Pekalongan 54
PENUTUP
Buku Ensiklopedia Arjati Pekalongan semoga
mampu menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan seputar kebudayaan Pekalongan,
tidak ada target pembaca buku ini karena buku
Ensiklopedia Arjati Pekalongan ditujukan untuk
semua orang tanpa memandang gender ataupun
jenis tertentu. Harapannya setelah bulan Mei buku
ini akan penulis usulkan untuk diterbitkan ke Dinas
Perpustakaan Kota Pekalonga, hal tersebut
dimaksudkan agar masyarakat Kota Pekalongan
dapat megetahui unsur pembentuk dan pengaruh
kehidupan sosial dan masyarakat Pekalongan
hingga saat ini menjadi warisan dan budaya yang
khas akan Kota Pekalongan. Semoga buku ini
mampu terbit dan memberikan manfaat bagi
banyak orang nantinya.
55 Ensiklopedia Arjati Pekalongan
PROFIL PENULIS
Penulis bertempat tinggal di Kota
Pekalongan, lahir pada 20 Juli 2002 di
Kota Pekalongan. Sejak SD-SMA dipanggil
Fariz, Fairuz, Haq. Namun saat kuliah
mengubah nama panggilan menjadi
Zulhaq atau Zul. Memiliki kemampuan
yang kadang diluar batas dan merupakan
MUHAMMAD FAIRUZULHAQ golongan zodiak Cancer. Katanya kalau
Cancer gampang moody-an xixi. Tapi
S1 - Ilmu Perpustakaan kadang bener sih.
Universitas Diponegoro
Buku Ensiklopedia ini ditulis sebagai salah satu pemenuhan tugas
mata kuliah Multimedia, namun di lain sisi penulis menuliskan isi dari
konten ini dikarenakan wujud kecintaan penulis terhadap kota
kelahiran yang memiliki beragam etnis sehingga dapat memiliki
warisan-warisan yang sangat tak ternilai harganya. Informasi yang
terkandung dalam buku ini diharapkan menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan seputar budaya lokal, khususnya budaya di Kota
Pekalongan
Ensiklopedia Arjati Pekalongan 56
ENSIPKELKOAPLEODNIAGAANRJATI
57 Ensiklopedia Arjati Pekalongan
ENSIPKELKOAPLEODNIAGAANRJATI
Pekalongan merupakan salah satu kota yang secara geografis
terletak di ujung utara Pulau Jawa. Kota ini dikenal dengan
istilahnya Kota Batik, dalam sejarah yang panjang Kota ini
menyimpan banyak sekali warisan dan budaya yang tidak
banyak orang tau. Konsep Arjati merupakan konsep
kebudayaan mengenai kebudayaan Pekalongan yang
dipengaruhi oleh 3 etnis yaitu Arab, Jawa, dan Tionghoa.
Muhammad Fairuzulhaq
(2022)