The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by azispurwanto1, 2021-10-06 18:24:48

CELOTEH MURAWI OLEH MURAWI

Celoteh Murawi(Obrolan Pinggir Dalan)

Penulis : Drajat Nurangkoso
ISBN : 978-602-468-395-529-03-18

Editor :Adrianus Yudi Aryanto
Penata Letak : @timsenyum
Desain Sampul : @kholidsenyum


Copyright © Pustaka Media Guru, 2017
iv, 84 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Desember 2017


Diterbitkan oleh
CV. Pustaka MediaGuru
Angota IKAPI
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id



Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru




Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72

Kata Pengantar





S
egala puji hanya kepada Allah, Tuhan sang pemilik
pujian atas segala limpahan karunia‐Nya sehingga saya
bisa menyelesaikan kumpulan coretan sketsa hidup
dalam kumpulan cerita Celoteh Murawi. Kumpulan cerita ini
merupakan tulisan hasil tangkapan saya terhadap cerita‐
cerita yang sedang menghangat di sekitar Banjarnegara
seputar obrolan tentang politik, sosial, maupun kebudayaan.
Celoteh Murawi merupakan kumpulan obrolan pinggir
jalan (diskusi nonformal ) yang mengandung unsur tema
social politik yang terjadi disekitar Sanggar Pintu Kosong,
bengkel, pos ojek dengan kekayaan latar belakang profesi,
pendidikan, serta kedalaman pemahaman tentang politiknya
masing‐ masing. Harapan saya kehadiran Celoteh Murawi
dapat menjadi pencerah bagi pembaca dalam memaknai dan
menjalankan laku sosial politik di kehidupannya.
Terima kasih kepada Radio Swara Banjarnegara dan
majalah Derap Serayu yang telah membantu pengumpulan
coretan ini, juga harian Satelit Pos, serta teman‐teman
komunitas Teater Banjarnegara, komunitas Sanggar Pintu
Kosong, kelompok Ojek Pangkalan SKB Banjarnegara yang
telah banyak menginspirasi tulisan saya. Terima kasih kepada
Tim Media Guru yang telah mensuport kelahiran Celoteh
Murawi 1 ini. Special Thank untuk anakku, Rasmadhanti Drajat
Syahputri dan Rasmadestiyani Drajat Syahfitri yang selalu
menjadi penyemangat hidup, serta Keluarga besar Trah Wirya
dijaya.


Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | iii

Daftar Isi






Kata Pengantar ......................................................................... iii
Daftar Isi .................................................................................... iv
Panggung Teater. ................................................................. 1
Caleg Leg ............................................................................... 7
Daulat Rakyat .......................................................................13
Ndog Wukan........................................................................ 19
Pemilu oh ... Pemilu............................................................. 29
Nyanyian Kali Nyangko ....................................................... 37
Tali Rafia .............................................................................. 45
Tlepong Sapi ........................................................................ 51
Pilkada Oh … Pilkada .......................................................... 57
Coblosan .............................................................................. 63
Slamat Datang Pemimpin Baru ........................................... 71
Naik ...................................................................................... 77
Profil Penulis ............................................................................ 82

























iv | Drajat Nurangkoso

Panggung Teater





ore yang cerah, langit biru dengan semburat merah
S
tembaga memendar dari balik mega‐mega yang diam.
Hari Sabtu. Murawi memacu sepeda motornya.
Sepanjang perjalanan dari Pekasiran Batur dekat Sumur
Jalatunda menuju Sokanandi Banjarnegara melalui Dieng
setelah menjalankan tugasnya sebagai Kepala Sekolah di
SMP Negeri 2 Batur. Sepanjang perjalanaan Murawi ditemani
oleh kenangan ketika pertama meninjau lokasi kerjanya,
kenangan bersama wanita yang sekian lama menjadi
pendorong semangat. Sepanjang jalan dari negeri atas awan
menuju kota Banjarnegara hatinya diliputi perasaan yang
penuh bunga, wajah wanita yang telah membangunkan lagi
harapan dan keberaniannya meletakkan titik perkawinan di
cakrawala hidupnya menemani sepanjang perjalanan pulang.
Wanita itu terus tersenyum lekat di kaca helm.
Turun dari kota Wonosobo panaroma sungai Serayu
dengan hamparan sawah yang sedang menguning, rimbunan
pohon bambu yang melambai‐lambai, dan pohon sengon
nampak putih lurus menegak di antara lembut warna hijau
tua daun salak menyatu dengan komposisi surgawi wajah
wanita yang telah menaklukkan rasa takut dan kebekuan
hatinya.
Jam lima seperempat Murawi sampai di rumah, anak‐
anak Capingli alias Bocah pinggir kali, komunitas Sanggar
Pintu Kosong sedang duduk‐duduk seperti menunggu

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 5

sesuatu. Sumar Jentir sedang memotong rumput dan
merapikan tanaman hias di halaman sanggar itu.
“Nah, kiye lakone teka,” kata Ajikom sambil merapatkan
duduknya bersama barisan anak Capingli seperti murid‐murid
menunggu gurunya di kelas.
“Suwe temen ya, ra ngerti dienteni,” celoteh Sumar
menghentikan pekerjaannya.
“La, diterusna si ngapa nggone motong rumput?”
sambut Murawi sambil melepas helm dan meletakkannya di
meja.
“Gampang....mengko dingin...sing penting ngertine
mengko beres…tanggung rampung, ini sangat penting.”
“Ada apa ya, kok medeni temen, serius temen?”Murawi
menatap satu persatu wajah anak‐anak yang biasa kumpul di
rumahnya. Murawi menangkap ada sesuatu yang tidak
seperti biasanya. Tidak mencair dan minim humor. Asap‐asap
rokok mengepul hambar terhembus dari dada yang

memeram sesuatu. Murawi masuk ke ruang tengah melepas
sepatu dan meletakkan tas, lalu bergegas keluar bergabung
dengan anak‐anak itu.
“Begini ramane, terus terang saja saya lagi nek,”ujar
Sumar sambil membanting gunting rumput . Murawi agak
terkejut karena wajah Sumar benar‐benar serius, bukan main
main. Anak‐anak Capingli juga pating tlenggong tidak
menyangka kalau Sumar mau mbanting gunting, ia tergolong
orang yang sabar dan pandai menahan diri, makanya anak‐
anak benar‐benar terkejut. Murawi menguasai keadaan lalu
mendekati sahabatnya yang sedang marah itu.
“Ana apa, Mar? Gela temenan ketone?”


2 | Drajat Nurangkoso

Sumar diam.
“Marah sama aku apa, Baru dapat cerita dari mana?”
lanjut Murawi.
Murawi terus mencoba mencairkan suasana, dipandangi
satu persatu anak‐anak Capingli yang wajahnya tidak seperti
biasanya.
“Ora, ramane…aku jen mededeg banget, nek ora eling‐
eling,” jawab Sumar.
“Ada masalah apa? Nek,mededeg,dongkol, karena apa,
bro?”
“Masa aku disuruh berhenti kerja sama mandore hanya
karena saya ndak mau ikut dia ngrewangi Panjul jadi caleg.”
“lha, wong kalau manut ndak usah membantah kan jane
enak jadi ndak kedawan‐dawan cerita,” ujar Puji sambil
meniup‐niup kopi panasnya.
“O…. tidak bisa, katanya demokrasi ndak boleh maksa‐
maksa,” balas Sumar sambil mendekat ke Murawi.

“Politik bro…politik,” lanjut Puji.
“Maksudnya?” Sumar nampak kebingungan, bahasa
tubuhnya minta penjelasan Murawi.
“Lah, tanya Puji saja wong yang bilang Puji kok saya yang
ditagih penjelasan,” ujar Murawi sambil tersenyum.
“Puji…? ah, dijamin saya tambah ndak mudeng,Kang,”
sergah Sumar sambil melirikkan mata kearah Puji yang
sedang “nyruput” wedang kopi.
“Yang dimaksud Puji mungkin begini bro, bagaimana
mengambil hati orang yang punya kewenangan agar kita
selamat,” Murawi mencoba mengurai maksud kata politik
yang dilemparkan Puji.

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 3

“Saya tidak bisa berpura‐pura apalagi ini prinsip bahwa
memilih adalah hak yang tidak bisa didikte oleh orang lain,”
kata Sumar berapi‐api.
“Begini bro yang dimaksud Puji bukan begitu, tapi
memaknai politik sebagai suatu cara mencapai tujuan jadi
maksudnya bagaimana kita membuat cara agar tujuan kita
sampai, tujuan dirimu mbok bagaimana agar tidak jadi
diberhentikan oleh bang mandor, kan?”
“Iya si…,Kang, soale kalo saya sampai diberhentikan dari
kerja proyek itu terus saya nyicil Mio dari mana?” lanjut
Sumar.
“Makane cari jalan, cari cara.” Tegas Puji.
“Maksude saya suruh mengiyakan kalau saya besok
pemilu nyoblos Panjul begitu?” sergah Sumar dengan nada
masygul.
“Nyoblos kan langsung, umum, bebas, dan rahasia,” ujar
Puji.

“Lah, tambah mbok mumeti, bagaimana maksudnya?”
Anak‐anak kelompok Capingli yang sedang berada di sanggar
itu senyum‐senyum menyaksikan wajah Sumar yang semakin
tidak jelas ekspresinya.
“Hidup ini teater yang kompleks, teater itu bukan
berpura‐pura tapi seolah‐olah. Maksud saya sekarang kamu
bermain teater saja seolah‐olah menjadi pendukung Panjul,
masalah pilihan kan tergantung hati nurani,” jelas Murawi.
Sumar nampak mengerti apa arti politik yang dilemparkan
Puji, ia nampak berbinar seolah menemukan jalan agar tidak
diberhentikan dari kerja proyek.




4 | Drajat Nurangkoso

Hidup bukan berpura‐pura, kalau berpura‐pura sering
menjadi masalah dengan hati nurani. Menurut Murawi hidup
sebenarnya biar nyaman harus bisa melakoni apa yang
digariskan dengan menjalankan “seolah‐olah “ menjadi peran
tersebut jadi bisa menghayati dengan indah.
“Oke Kang, besok aku akan seolah‐olah menjadi
pendukung Panjul yang maju jadi caleg dapil 1,” ujar Sumar
sambil pamit pergi ke Kedung Jengking mau mencari
bedogol kayu buat kursi antik.










































Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 5

6 | Drajat Nurangkoso

Caleg Leg




H
ari Sabtu selepas Isya suasana ojekan SKB sangat
ramai, Gus kencrung komandan ojek telanjang dada
kepanasan. Perbincangan diawali dengan cerita hasil
pilihan Kepala Desa Sokayasa, saling ejek antara pendukung
Sidi calon incumbent dengan pendukung Kisman penantang
terberat menghangatkan atmosfir pangkalan ojek itu.
Masing‐masing bersuara kencang bukan terbawa emosi,
tetapi untuk mengatasi suara air grujugan kali jugang yang
jatuh ke kali Nyangko. Nur Kolbun dari arah kota memarkir
motor gadeannya di depan warung mie ayam sambil
membawa koran harian pagi.
“Kiye kalo kepingin tau daftar caleg yang akan kita pilih
taun 2014 besok,” celetuk Nur Kolbun sambil meletakkan
koran di atas bangku panjang ojekan itu.
Tanpa diawali dengan dengan doa pembukaan atau
pidato pejabat, seminar uthuk umbrung pinggir ndalanpun
dimulai. Tanggapan mengalir saling menyilang, kadang ada
urat leher yang “metengtheng” tapi segera mencair mengalir
mengatasi waktu seperti aliran air sungai Jogan.
“Jane buat apa si ada pemilu, ya… uang rakyat untuk
kecean ndak keruan,” Yadi Bolot melempar masalah,
mencoba membelah peserta seminar menjadi dua yang
setuju dan tidak setuju adanya pemilu.
“Ealah bocah…ya, buat kita beda dengan kambing,
gajah, singa, dan hewan lainnya, biar demokratis, bukan

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 7

dengan menang‐menangan dan kuat‐kuatan,” Aji Kom
mengambil bagian dalam diskusi itu.
“Tatanan hidup bernegara memang mensyaratkan harus
ada pemilu untuk memilih wakil rakyat karena demokrasi kita
demokrasi kerakyatan bukan demokrasi terpimpin,” Murawi
mulai mengurai kata. Komunitas Capingli nampak serius
menikmati loncatan‐loncatan pendapat dan pengetahuan
kewarganegaraan. Nur Kolbun membuka halaman koran
yang memuat calon‐calon wakil rakyat Banjarnegara.
“Bro…besok Pemilu 2014 milih ini saja, sodaraku dapil 1
partene maen,” tawar Nurkolbun kepada komunitas utuk
umbrung ojek SKB. Sodara Nurkolbun namanya tercantum di
Koran itu, Kang Daplun Parte Putih Bersih Sepanjang Hari
Tiada Henti kecuali kenat lepong sapi. Dapil 1 urut parte 3.
“Daplun nyalon? Bisa apa dia, edaen...,” Gus Kencrung
menanggapi sinis.
“Alah Kang, deneng mikir bisa apa, tidak penting Kang,

mbokan yang penting duitnya?” Nurkolbun mempertahankan
diri, dia bercerita panjang lebar tentang uang setumpuk
guna perjuangan meraih kursi DPRD. Daplun termasuk
golongan berada, sudah pergi haji dua kali, bisnisnya salak
sedang ndedel setelah tragedi Merapi sehingga dapat berkah
dari menyusutnya salak Sleman.
“Jajal kang Murawi, orang berpendidikan seperti
Nurkolbun saja pikirannya seperti itu, lah gimana kira‐kira
yang ndak sekolah seperti kita‐kita ini dalam memilih wakil
rakyat besok,” Gus Kencrung mencoba memaparkan
keadaan “gila” masyarakat yang benar‐benar sudah kronis.





8 | Drajat Nurangkoso

“Bener Kolbun ding, pesta demokrasi ya pesta, nggolet
kodean,” Yadi bolot nylemod mendukung ceramah
Nurkolbun.
Murawi mencoba mencari pangkal untuk mengurai
melakukan pencerahan dan pendidikan politik sesuai dengan
pengetahuan yang ia miliki. Suasana ojekan SKB semakin
ramai, dari utara dan selatan jalan berkumpul sebentar untuk
sharing angka togel yang akan dibeli malam itu.
“Sebenarnya inti dari pemilu adalah memilih wakil kita.
Memilih orang yang dapat dipercaya dan mampu menjadi
wakil kita, dia akan mewakili suara kita dalam rembug
pemerintahan karena demokrasi kita adalah demokrasi
perwakilan,” Murawi mulai mengurai makna dan tujuan
pemilu. Komunitas uthuk umbrung SKB diam seperti disirep
mendengarkan omongan Murawi. Murawi terus mengurai
tentang pentingnya memilih wakil dalam demokrasi seperti
yang dianut bangsa Indonesia. Memilih wakil harus

mendasarkan pada pengetahuan dan pemahaman serta
mengenal dengan jelas siapa yang akan menjadi wakil kita.
“Makanya sekarang jauh hari para calon wakil kita sudah
diinformasikan oleh Komisi Pemilihan Umum biar masyarakat
kenal pada para calon wakilnya. Masyarakat diberi hak
informasi biar tidak beli kucing dalam karung,” Murawi
menarik napas dalam, matanya menerawang masygul, sangat
terlihat oleh kerumunan di pos ojekan itu.
“Lanjut Kang, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal,”
Gus Kencrung mendesak Murawi.
“Aku sudah capek ngomong, kemarin saat pilihan kepala
desa di desaku, aku sengaja pulang menyampaikan

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 9

pengetahuan dari guruku tentang uang yang ditebarkan pada
hal‐hal pilihan seperti itu, kata Romo Kyai uangnya bisa
haram, dimakan nglolodi telak, tapi masyarakat jan sudah
ndak mau memake ajaran bener yang diajarkan lewat kanjeng
Nabi. Ada uang sikat saja tanpa melihat dari mana asal uang
itu.”
“Wis zamane je,Kang,” Nurkolbun menanggapi singkat.
“Zaman?...Sebenarnyasiapa yang membuat zaman?”
“Zaman arep bener apa salah nyalai ajaran lurus, sapa
yang buat?” Murawi menarik napas menahan agar ritme
suranya tidak meninggi karena dibantah.
“Jan nek Kang Murawi serius suasanane dadi ora indah,
tapi bener Kang Murawi, Gusti Allah tidak akan mengubah
nasib suatu kaum tanpa kaum itu sendiri yang
mengubahnya,” ujar Aji Kom mengambil porsi menetralkan
suasana yang menjadi sok ilmiah, spaneng.
“Ora pren, ini memang harus serius, kalo dibiarkan nanti

bisa‐bisa kita mengalami seperti zaman Nabi Nuh atau Nabi
Luth,” ujar Murawi.
“Waduh…medheni temen,Kang …,” Anwar sontak
berdiri mengagetkan komunitas uthuk umbrung sambil
meloncat membuat semua orang tertawa.
“Dablongan, kaget geh, su…,” protes Yadi Bolot.
Suasana tertata kembali, Murawi kembali mengurai
makna demokrasi. Anehnya komunitas uthuk umbrung itu
begitu setia mendengarkan omongan Murawi, entah karena
dari segi umur Murawi tergolong yang paling tua apa karena
omongannya dirasa banyak bermanfaat atau hanya karena
pekewuh, Murawi tidak mau tau yang penting baginya ia


10 | Drajat Nurangkoso

dapat menyampaikan kebenaran walaupun cuma sepotong
ayat‐ayat‐Nya.
“Intinya begini saudaraku, besok kalo mau milih wakil
kita jangan berpatokan pada seberapa uangnya tapi kita
harus “iqra”,membaca. Bacalah rekam jejaknya, bacalah
kepribadiannya apakah dia bisa memegang amanah kita,
bacalah kemampuan intelektualnya apakah dia mampu dan
tidak takut menyampaikan aspirasi kita dalam berbangsa dan
bernegara. Kalo sudah, dengan Bismillah kita pilih, nah nanti
kok sesudah dia jadi wakil kita ternyata ndak sesuai dengan
apa yang kita baca karena mungkin terkontaminasi atau
terbelit lingkaran bayangan Sang Kegelapan, itu semua kita
kembalikan pada sang Maha Berkehendak,” Murawi
mengakhiri tausiahnya.
“Nanti dulu Kang, mau kemana jane, kaya nduwe bojo
baen kesusu temen.” cegah Tikno diamini komunitas itu.
“Wis, pokoke jangan milih karena uang…tapi

Lilahitangala…kabeh merga Gusti Allah. jangan duit
menggantikan Gusti Allah, ingat semua dosa Tuhan maafkan
kecuali menyekutukan‐Nya….mestinya kita yang ngasih uang
pada orang yang mewakili kita, mereka telah bekerja
berjuang demi kita malah kita poroti, jangan salahkan para
wakil kita kalau nanti tidak mewakili kita tapi mewakili diri
sendiri dan partainya…wislah ,”tutup Muwari sedikit
menyerah.
“Pokoke ngesuk ada caleg kerumah kasih duit…leg
aja…untal baen…. separte‐partene…se sapa‐
sapane...mumpung ana sing dundum,” teriak Mad Parto
sambil ngloyor ke selatan rubungan togel.

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 49

12 | Drajat Nurangkoso

Daulat Rakyat





S
udah dua hari ramai di televisi perbincangan tentang
Undang‐Undang Pemilihan Kepala Daerah, sebagian
besar fraksi di rumah rakyat menghendaki gubernur
dan bupati/wali kota dipilih oleh DPRD, sebagian lagi
menghendaki tetap dipilih oleh rakyat aliaspilkada langsung.
Perdebatan di televisi itupun telah menjadi bahan diskusi
Komunitas Kresek bocah‐bocah pinggir kali Nyangko yang
konsisten menjadi anggota “uthuk umbrung” ojekan SKB.
Ada yang sangat setuju dengan anggota Dewan Yang
Terhormat yang sedang memainkan bola politiknya dengan
menggelindingkan ide pilkada tidak langsung, ada yang
berargumen keras mempertahankan pilkada langsung
sebagai bentuk dari daulat rakyat, ada pula yang cuma
cengar‐cengir tidak mikir sama sekali mau pilkada langsung
maupun tidak langsung karena bagi Kribo dan teman‐teman
tidak ada efeknya bagi jumlah tarikan penumpang ojek.
Anak‐anak yang setuju pilkada tidak langsung alias dipilih
oleh para anggota dewan yang terhormat beranggapan bila
pilkada langsung terlalu memboroskan uang rakyat, biaya
sosialnya tinggi, biaya ekonominya tinggi, dan melahirkan
pemimpin yang banyak mendekam di balik jeruji besi karena
terjebak dalam sistem “gila” yang sedang merambat dari
pembiasaan menuju kebiasaan dan lama‐lama menjadi
karakter busuk “beli suara”. Rakyat tidak lagi menyalurkan
suara tetapi menjadi penjual suara alias biting dan siapapun

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 13

yang menang menjadi gubernur, bupati atauwali kota tidak
lagi peduli dengan rakyat tetapi peduli dengan modal yang
telah dikucurkan dan pada ahirnya bermain “gila”.
“Pilihan tidak langsung sangat cocok, itu ide yang bagus
dan perlu kita dukung,” Anwar juru bicara kelompok pro
pilkada tidak langsung memulai perdebatan dengan panjang
dan lebar mengurai kelemahan pilkada langsung oleh rakyat
seperti yang sudah dijalani oleh republik tercinta ini selama
10 tahun. Menurutnya antara manfaat dan mudaratnya lebih
besar mudaratnya, rakyat menjadi “bajingan” kecil‐kecilan,
penipu dan bermuka seribu. Kata Anwar rakyat sudah
kehilangan rasa malu dan harga dirinya karena “dodolan”
amanat,yang paling menyesakkan dada katanya adalah
masyarakat secara umum telah begitu fakir dan miskin,
memilih tidak lagi berdasarkan hati nurani tetapi asal ada
yang ngasih uang, satu dua kilo beras. Pendidikan semakin
maju dan pengetahuan bisa diakses dari mana saja tetapi

kenapa kebanyakan masyarakat menjadi bodoh (apa
membodohkan diri). Memilih pemimpin tidak lagi berprinsip
ibadah tetapi sekadar transaksi “biting”
“Apa waktu pilihan tidak langsung benar‐benar telah
bebas dari politik uang,Bro?” sanggah Sumar.
“ Ya, endak si, tapi ...”
“Tapi apa, itu kan akal‐akalan kelompoknya koalisi gula
klapa karena kalah pilpres terus nyari‐nyari,” Sumar tidak
mau disela.
“Tidak ada hubungannya. Aku dulu pileg menitipkan
suara saya ke PDIP, terus waktu pilpres aku milih kotak‐kotak.
Tapi dalam hal ini ni anying sangat setuju dengan


14 | Drajat Nurangkoso

idepilkadatidak langsung walaupun partai yang saya titipi
amanah tidak setuju,” sanggah Anwar.
Suasana semakin malam semakin hangat, ojekan SKB
penuh orang‐orang pada nongkrong. Ada yang cerita tentang
perkawinan si Irfan Dapong yang mendadak sehingga banyak
yang tidak kondangan, ada yang bercerita menggebu‐gebu
tentang perda miras yang nol persen di Banjarnegara tetapi
cuma sebentuk perda tanpa eksekusi, perda daerah aliran
sungai yang “sami mawon” tanpa eksekusi yang jelas.
Perbincangan tentang pilkada langsung dan tidak langsung
timbul tenggelam malah kadang nyambung dengan masalah
perda miras dan DAS, saling membelit, melengkapi dan
menguatkan argumen masing‐masing.
Murawi berhenti karena dipanggil oleh si Gus komandan
ojek, Murawi baru “tilik” teman‐teman yang sedang
momong murid‐murid mengadakan Persami di SMP 5.
“Mandeg dingin,Kang, belum jam sebelas,” Si Gus

komandan ojek mengajak Murawi masuk dalam lingkaran api
unggun yang dibuat untuk menghangatkan badan.
“Sebetulnya mau tidur gasik, besok naik ke negeri atas
awan, mau lembur akreditasi sekolah.”
“Makanan apa itu kang akreditasi. Lagian besok kan hari
Minggu, jangan terlalu rajin mbok nanti diarani ngolor,”
Tupadi menyela sambil membetulkan kerudung sarungnya.
Murawi menjelaskan apa itu akreditasi sekolah dan
kesibukan apa yang akan dilakukan besok sebagai agenda
lanjutan yang telah dilakukan selama satu minggu dalam
menyiapkan akreditasi. Komunitas Kresek diam
mendengarkan istilah baru dan sangat asing. Murawi dengan

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 15

santai melayani setiap lontaran pertanyaan yang kadang
tidak terduga.
“Ya sudah Kang, kami cuma butuh sebentar saja untuk
mencari penjelasan yang sedang jadi bahan perdebatan
antara yang pro dan kontra pilkada tidak langsung.
Bagaimana menurut sampean?” Si Gus tiba‐tiba menjadi
moderator dan Murawi jadi narasumber dadakan.
“Semua sistem ada positif ada negatifnya. Tinggal apa
dasar kita mau mengubah. Pilkada langsung adalah bentuk
pengakuan daulat rakyat dalam memilih pemimpinnya,”
Murawi memulai memasuki lingkaran diskusi.
“Tapi Pancasila sila ke‐4 mbokan bunyinya kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, artinya tidak salah kalau
diwakilkan,” Anwar tidak sabar menyerobot.
“Bener Weng, tapi maksud dari sila ke‐4 itu tidak harus
semuanya, contohnya dalam membuat perundangan,

peraturan, penganggaran, dan lain‐lain melalui
permusyawaratan/perwakilan,tidak perlu semua rakyat
diminta persetujuan cukup diwakili oleh wakil rakyat,” jelas
Murawi sambil mengurai banyak contoh yang telah
diwakilkan.
“Tapi Kang, kalau pilkada langsung rakyat jadi “bosok”
pikirane dan kelakuane,” Puji menimpali.
“Saya kan tidak sedang setuju dan tidak setuju, saya
sedang bilang kalau pilkada langsung merupakan salah satu
bentuk daulat rakyat dalam memilih pemimpinnya. Pilkada
langsung ada kelemahannya, pilkada tidak langsung juga ada
kelemahannya.”


16 | Drajat Nurangkoso

“Tapi kalau pilkada tidak langsung kan yang “bosok”
sedikit, hanya para anggota dewan terus gampang
diminimalisir dengan menggandeng KPK,coba kalau pilkada
langsung kan lebih sulit membendung “kebosokan” karena
rakyat pemilihnya banyak,” Tikno mendukung Puji.
“Sistem diperbaiki, moral dimurnikan, jangan yang sudah
benar tapi ada ekses buruk lalu diseret ke belakang lagi,”
sanggah Murawi.
“Maksudnya?”
“Begini Bro, pilkada langsung itu mengurut dari sistem
pemerintahan kita yang presidensial, bukan parlementer.
Kalo pilkada lewat DPRD berarti ndak nyekrup dengan yang di
atas, kecuali kita pakai sistem parlementer.” Anak‐anak yang
pro pilkada langsung terlihat bersemangat seolah mendapat
suntikan baru karena sebelum ada Murawi mereka kalah
telak dengan argumen dari kelompok pro pilkada tidak
langsung.

“Mari kita berkaca diri, seberapa berharganya jiwa dan
suara kita dalam demokrasi.” lanjut Murawi sambil
mengungkap fakta‐fakta dari kedua permasalahan itu.
“Jujur Kang, rika setuju mana?” si Gus menyela.
“Aku terserah para wakil rakyat yang terhormat yang
akan memutuskan, disanalah kita gantungkan segala
permasalahan perundangan kita. Kalau DPR setuju langsung
ya, mari kita perbaiki diri kita jangan jadi orang fakir dan
miskin jiwanya agar kita tidak terputar dalam pusaran
“pembenaran” dan gampang menjual ideologi dan jiwa
kita,”lanjut Murawi sambil menyalakan rokok kesukaannya.



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 17

“Kalau DPR setuju kembali pilihannya ke DPRD kita kon
bagaimana,Kang?” tanya Tupadi.
“Kita kawal para wakil kita untuk mengajari berpolitik
yang santun, jujur, dan tidak transaksional, biar yang jadi
gubernur, bupati/wali kota adalah benar‐benar orang yang
punya kompetensi dan dedikasi mewujudkan cita‐cita
bersama, keadilan sosial bagi seluruh warga bangsa ini.”
“Berarti parlementer,Kang?” lanjut Tupadi.
“DPR lebih tahu dari kita, di sana isinya para alim,
pinjaman nama Gusti Allah Al`Alim yang berarti Maha
berilmu,” Murawi mengahiri clemodanya.
“Lho, kok pasrah begitu saja ke DPR, mereka sudah tidak
lagi mewakili kita, mereka hanya memikirkan kepentingannya
sendiri,” ujar si Gus komandan ojek.
“Jangan‐jangan mereka cuma ingin membuktikan adu
kekuatan setelah mereka kalah di pilpres.” Ada yang
menyela, wajahnya tidak kelihatan karena kerudung kain

sarung rapat cuma kelihatan matanya.
“Maksudnya apa?” sergah Anwar.
“O, iya, mungkin benar, setelah saya pikir‐pikir yang lagi
ngotot pilkada tidak langsung adalah koalisi merah putih
ditambah dengan partainya mantan presiden.
Benarkan,Kang?” sahut Tupadi bertanya pada Murawi.
“Mbuhlah…pada dipikir sendiri saja, mari tunggu tanggal
25 September di sidang istimewa para wakil rakyat yang
terhormat. Apakah DPR masih representatif wakil kita,
apakah hanya berpikir untuk keuntungan politik
kelompoknya.” jawab Murawi sambil menuju motor verza
kreditan yang masih kinyis‐kinyis.


18 | Drajat Nurangkoso

Ndog Wukan




M
otor tua buatan Jepang yang di negeri asalnya
sudah dilebur atau dijadikan rumpon udang oleh
Kang Paryo masih dicoba diotak‐atik agar bisa
jalan lagi. Betapa miskin dan terbelakangnya masyarakat kita
bila dibandingkan dengan negara‐negara tetangga, pikir
Murawi. Itu semua besar kemungkinan dikarenakan oleh
masalah pengelolaan pendidikan.Sebabsalah satu faktor
pendorong kemajuan suatu negara adalah dari kemajuan
bidang pendidikannya.
Kita biasa bodoh atau dibodohi atau mau bodoh dan
dibodohi. Setiap hari pembodohan pada masyarakat terus
membombardir seperti roket Paman Sam yang menghujani
negeri dongeng. Murawi terus membiarkan pikirannya
mengembara, meronta, protes dengan keadaan, tapi lama‐
kelamaan ia mulai mengurangi pikiran tentang situasi dan
keadaan negerinya. Biar tidak terus termakan pikirannya
sendiri ia berdiri melangkah menjauh dari motor Jepang itu.
Kang Paryo masih tekun mencari biang dari penyakit
motor tua itu. Sesekali ia menggeleng‐geleng seperti boneka
anak‐anakan Jogja yang ada pernya mentul‐mentul.Ia
berkacak pinggang, jongkok lagi di dekat motor itu. HP‐nya
berdenyit‐denyit, getarnya membunyikan kaca almari
onderdil, Kang Paryo bangkit mengambilnya terus berkacak
pinggang menggeleng‐gelengkan kepalanya lagi pertanda dia



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 19

benar‐benar tidak dapat menaklukkan penyakit motor tua
itu.
“Pakai korek saja,Kang.” Murawi teriak dari seberang
jalan tanpa menoleh kebelakang.
“Paling STNK‐nya kotor apa spionnya terbalik….ha..ha,
jane paling baik ganti STNK saja, motor sudah tidak layak
pakai kok masih dipaksa‐paksa munyeng rodanya.”
“Apa hubungannya sepeda motor ndak bisa jalan dengan
spion terbalik, makanya jangan kebanyakan berseni bisa‐bisa
kenthir lho,Kang.” Turmadi membantu membela Kang Paryo
sambil mendekati rokok yang tergeletak di dekat HP‐nya.
Komunitas Kresek tertawa melihat polah tingkah Kang Paryo
yang sedang stres malah digoda Murawi.
Melihat polah tingkah komunitas bengkel pinggir jalan
Kang Singgih longa‐longo kebingungan, maklumlah ia telah
lama tidak berkumpul dengan komunitas cablaka yang
ceplas‐ceplos, ia telah menjadi perantau yang sukses jadi

juragan dan tuan tanah yang dipenuhi pohon karet di Jambi.
Kang Singgih cuma sesekali ikut nimbrung jarang bicaranya
kecuali tertawanya kepingkel‐pingkel, memang sudah sangat
terkenal dablongan anak‐anak Komunitas Kresek kalau
sedang bercanda.
“Kang, motor ini biar dicari oleh ahli mekanik dari
negara manapun tetap menurutku tidak bakalan ketemu
penyakitnya bahkan seandainyapun dicari oleh orang Jepang
yang mbuat, saya jamin tidak akan bertemu dengan
penyakitnya,” Murawi duduk dekat Kang Singgih yang
sedang klepas‐klepus bercumbu dengan barang makruh
rokok kretek kesukaannya.


20 | Drajat Nurangkoso

”Motor ini seperti negara kita, penyakitnya sulit diobati
karena tidak ketemu sumber penyakitnya.” Kang Singgih
lebih bingung lagi kenapa dari motor beralih menjadi
mengkritisi negeri tercinta warisan leluhur.
“Kang Murawi, kok pas benar analogi yang sampean
sampaikan dalam ngomong tentang negri kita.” Kang Singgih
angkat bicara sambil tertawa, Komunitas Kresek semua ikut
tertawa, terus diam menunggu kelanjutan dari omongan
Murawi.
”Lha, menurut sampean negri kita lagi bodol sebabnya
apa?” Kang Paryo menyela sambil membetulkan letak kaca
matanya yang bertengger di kepala.
“Lho, apa lagi saya, kan tadi saya sudah mengandaikan
bilang seandainya insinyur Jepang yang bikin motor itu saja
saya pastikan tidak tau.”
“Nurut mpean, kira‐kira saja,” Kang Singgih mendesak
diamini orang‐orang di bengkel itu.

“Bisa undang‐undangnya, peraturan‐peraturannya kotor
atau dikotorkan atau dikotor‐kotori, jadi susah dibaca atau
tak terbaca atau bisa dibaca dengan kacamata yang salah,
sengaja disalah‐salahkan. Bisa juga karena kita tidak punya
cermin untuk berkaca sehinga tidak bisa berkaca diri.
Masalahnya kunci dalam memperbaiki diri adalah dengan
berkaca diri.”
“Nah,ruwet kan...tambah bingung kalau tanya sama
Murawi…cerna sendiri,” kata Anggit yang muncul dari balik
pintu rumah Martaja.
”Lho,Kang Taja tumben diam diam baen apa sedang sakit gigi?”



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 21

“Iya…benar‐benar bundas, jontor. Untung aku masih
bisa ngerem keinginan dablongan angob yang tidak ada
pusarnya,”jawab Martaja kalem.
“Lho, apa ndak masuk?” Kali ini Fathon bertanya
setengah meledek karena sebetulnya ia sudah tahu kalau
Martaja gagal menjadi anggota dewan.
“Masuk yang bagaimana, seprapat kursi saja ndak
nyampe. Aku lagi bingung dengan fakta politik masyarakat
kita yang katanya masyarakat beradab penuh sopan santun,”
Martaja terpancing.
“Lho, jangan salahkan masyarakat. Yang salah juga para
caleg‐caleg seperti sampean itu.” Murawi mulai terbawa
diskusi yang dibuka oleh Fathon.
“Salah bagaimana,saya ngedum kaos, mbagi sembako,
mbantu aspal, mbayari bensin, ngasih duit rokok. Apa
menurutmu salah,dimana salahnya?” Martaja mulai naik
tensinya.

“Dasar orang pada tidak punya harga diri dan rasa malu
serta gampang janji palsu. Mereka dengan enaknya
menerima pemberian, mereka dengan santainya mblenjani
janji. Mereka janji mau mendukung saya malah ada yang
bersumpah mau bekerja tanpa pamrih untuk perolehan suara
saya, eh ... masa dia juga bilang hal yang sama pada caleg lain
dari partai lain, coba pantas disebut manusia apa bukan,Kang
Murawi,” Martaja semakin meninggi, wajahnya nampak
tegang.
“Iya kang…malah ada caleg lain yang ngedum uang.
Katanya tidak ada money politic. Gara gara uang lima ribu
membuat jebol tembok yang telah aku bangun selama 3


22 | Drajat Nurangkoso

tahun, dalam semalam hancur semua binaanku. Betapa
murahnya jiwa mereka digadaikan dengan sekadar uang
bakso semangkok.” Turmadi ketua tim suksesnya Martaja
dari partai Pelor Nungseb menimpali obrolan Martaja
sekaligus membela diri kenapa TPS yang diunggulkannya
benar‐benar ambrol perolehan suaranya.
”Menurut Kang Murawi pengaruh apa ya, apa karena kita
memang miskin segala‐galanya?”lanjut Turmadi.
“Hampir semua, termasuk aku sendiri ya tergolong
kategori miskin, tapi alhamdulillah pilihan apa saja belum
pernah aku mau menerima uang bithing... harga dirilah, masa
aku ndak mau milih Martaja tapi karena dia ngasih lima atau
sepuluh ribu terus aku menutup hati nurani. Aku miskin tapi
jangan sampai miskin hati dan idealisme.” Murawi mulai
berapi‐api, urat di lehernya mulai nampak menonjol.
”Seperti yang saya katakan tadi negeri kita memang lagi
sakit, undang‐undang dan peraturan lainnya sedang buram

tidak bisa terbaca dengan baik, kita sedang kena katarak
massal sehingga sering salah baca, kalau ada yang pintar
baca terus semaunya sendiri dalam menafsirkan undang‐
undang dan peraturan itu dengan tafsir pembenaran. Habis
berapa sampean Kang ngone embeg‐embegan parte?”
“Espas kontal. Sekolah di gadean sampai sekarang tidak
bisa nebus. Ndak tahu sekarang jadi mobilnya siapa. Aku
sekarang jadi tambah tidak percaya dengan orang‐orang,”
jawab Martaja.
“Lha, yang mengajari juga siapa Kang, wakil‐wakil rakyat
yang terhormat kan,pandai berbohong, waktu kampanye
monyor‐monyor pangandikane tapi setelah jadi mereka duduk

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 23

ngantuk lupa pada janjinya. Sampean para caleg pada pintar
menipu, lha kita‐kita rakyat kecil juga jadi pintar bohong,”
sergah Anggit.
“Tega‐teganya ya, masa orang kere seperti saya kok
ditipu,” suara Martaja melemah.
“Sampean apik…niate apik…tujuane mulia, tapi kalau
kondisi masyarakat memang sedang sakit atau sedang balas
dendam ya, ndak lihat siapa‐siapanya, pokoknya semua caleg:
kadali saja,” ujar Fathon.
“Saya mau tanya gurune, Kasus seperti ini apa tidak
berdosa mereka yang menerima uang atau kaos dan telah
berjanji tetapi tidak nyoblos yang sudah ngasih kaos?” Kang
Paryo yang sejak tadi cuma jadi pendengar mulai ikut
nimbrung lagi.
“Kalau janji harus ditepati, tergantung waktu menerima
itu ada ikrar janji apa tidak, kalau ada berarti dosa, karena
bohong, bukan karena nyoblosnya. Coba Kang Supar punya

kaos berapa, apa waktu menerima kaos dia berikrar untuk
menyoblos tanda gambar partai yang ngasih kaos?” Tanya
Murawi pada Supar anak grumbul Kebanaran yang baru
bergabung di Komunitas Kresek.
“Sepuluh. Kaos partai yang ikut pemilu aku punya semua,
lumayan buat petelesan apa untuk jaga kesehatan kulit.
Kalau sering ganti kaos maka kesehatan kulit terjamin,”jawab
Supar sambil nyengir.
“Kang Murawi punya berapa kaos?” Supar balik
bertanya.
“Alhamdulillah, tidak satupun ada kaos partai dalam rak
almari saya.”


24 | Drajat Nurangkoso

“Lha pegawai negeri memang tidak boleh.”
“Siapa yang bilang pakai kaos tidak boleh. Netral tidak
bisa dilihat dari kaosnya tapi niat dan kelakuannya. Banyak
orang yang tidak punya kaos kontestan selalu bicara: netral
ayo netral kita pegawai negeri kudu netral. Tapi ternyata dia
mbahnya tidak netral.” Murawi menarik napas panjang.
“Kapan negeri ini maju kala kondisi psikososial dan
pendidikan masyarakat kita memang sebatas isi perut? Politik
yang dibangun untuk menciptakan tatanan berbangsa dan
bernegara saja pincang seperti ini. Tidak pernah ada
pendidikan politik yang diberikan kepada masyarakat dengan
ikhlas,”lanjut Murawi.
“Itu tugas pemerintah,” Kang Singgih melempar bola
kata‐kata menunggu reaksi Komunitas Kresek terutama
Murawi dalam menanggapi omongannya.
“Lho, sampean gimana sih, ya tugas kita, tugas bersama.
Kita satukan visi dan misi dengan substansi yang jelas sebab

visi tanpa substansi tak ada arti.”Komunitas Kresek jidatnya
mengkerut, Murawi meneruskan omongannya sambil
sesekali melirik jam dinding.
”Sekarang kalau sesuatu dipikul bersama akan jadi
mudah. Mikul bersama kalau tidak satu arah juga membuat
kacau dan pincang bahkan mungkin malah jalan ditempat.
Coba sekarang pemerintah mengadakan pendidikan politik
secara besar‐besaran seperti dulu saat pemasyarakatan P4,
tapi sampean para caleg tidak konsisten membelajari
masyarakat, kan ya ambrol tidak kesampaian.” Murawi
menggeser duduknya mendekati Martaja.



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 25

“Tapi kalau ndak ikut edan ndak dapat suara, je,” Martaja
masygul.
“Tujuan sampean nyaleg itu apa sih,Kang, kalau tujuan
sampean adalah ibadah dengan menjadi wakil rakyat itu
sangat bagus.Sebabibadah muamalah itu ya perlu tapi dalam
menuju kursi itu bagaimana. Dalam ikhtiarnya sampean untuk
menjadi wakil rakyat itu bagaimana. Dengan mengedepankan
pemahaman pada masyarakat tentang program yang akan
direalisasikan bila sampean jadi wakil rakyat,sampean sumeh
ngewongna wong, menanam kebajikan, menanam
persaudaraan dengan ikhlas tanpa pamrih, mengerami telur
harapan itu dengan cinta dan kasih dengan suhu tubuh yang
dimiliki sendiri alias tidak neko‐neko,kalau jadi alhamdullilah,
tidak jadi pun tidak masalah karena tidak hutang sana pinjam
sini. Nanti kalau mati kita mau dibawa ke kuburan Pak Lebe
tanya pada para takjiyin: “Sae?” secara spontan para pelayat
bilang “sae”. Benar kan, Kang Paryo?” Muwari berapi‐api,

Kang Paryo ndomblong manggut‐manggut.
“ Uluh...burung kuntul dipinggir kali…betul sekali,”jawab
Kang Paryo.
“Jadi, sore ini lakone apa Kang Paryo?” tanya Faton
sambil mendekat Murawi.
“Apike ceritanya diberi judul ndog wukan alias
kemlekeren,” usul Kang Singgih sambil ngeloyor pergi menuju
rumah Bimbim Toyoto.
“Ya, itung‐itung pengalaman ya Kang Taja. Dan semoga
ndog wukan itu jangan dibanting di mana‐mana, baunya nanti
membuat masyarakat jadi sakit hidung karena saking




26 | Drajat Nurangkoso

kencang dan rapatnya memencet hidung,”imbuh Murawi
mengikuti Kang Singgih.
Satu persatu Komunitas Kresek pinggir dalan itu pergi
dari bengkel. Kang Paryo ditemani Markasan juragan
tembelek ayam yang baru pulang setor dagangannya ke Bau
Simpar. Langit nampak tidak begitu cerah seperti hati
Martaja yang sedang melihat bangkai gaja bilis. Anakan lele
dumbonya pating krampul pada jomod alias mati.












































Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 27

28 | Drajat Nurangkoso

Pemilu oh ... Pemilu





P
emilu leglislatif atau mudahnya pilihan wakil rakyat
untuk anggota DPRD Kabupaten/kota, DPRD Propinsi,
DPR Pusat serta DPD sebentar lagi akan menjadi pesta
demokrasi di Indonesia. Bendera partai sudah pating klebet
aneka warna di sepanjang jalan. Pohon‐pohon menjadi subjek
penderita karena paku tiang bendera yang beraneka rupa.
Spanduk‐spanduk dari yang sederhana sampai yang
mahalnya membuat kalkulator orang kecil tak bisa
menghitung jumlah harga yang dikeluarkan untuk membuat
iklan para caleg yang terpasang besar‐besar di pinggir jalan.
Televisi sebagai bagian pencipta atmosfir kapitalisme
juga tidak kalah ramainya, para tokoh mulai jual kecap, ada
yang mengatakan pengangguran berkurang, dan mengaku‐
aku kemajuan pembangunan adalah karya mereka bahkan
sebuah kebijakan publik yang mestinya adalah sebuah
kebijakan komunal dengan tegas dan tanpa malu diakuinya
sebagai karya mereka dalam mensejahterakan rakyat yang
pada dasarnya belum sejahtera, ada yang mengatakan
kemiskinan meningkat lalu mengajak untuk bangkit bersama
dirinya lalu mencoba menjelekkan pemerintahan yang
berkuasa. Televisi tidak mau tahu itu pembodohan atau
pembelajaran politik masyarakat, yang penting sekali tayang
sekian puluh juta masuk pundi‐pundinya.
Murawi duduk sambil memegang palu kayu dan pahat
ukir, memandang dengan penuh saksama kayu duku yang

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 29

sedang menantang imajinasi artistiknya. Hari Minggu udara
dingin berhembus dari timur menggoyang rumpun bambu
yang tumbuh di grumbul depan sanggarnya.
Dari arah barat anak‐anak Komunitas Kedung Jengking
beriring membawa pancing. Anwar, Yadi Bolot, Niman
Gembrong, Puji Kampleng, Weli Tanduk, Sugi Kucir dan Mad
Parto menghampiri ketua duda sementara yang sedang
membuat patung dari kayu duku.
”Ramane tumben masih di rumah, apa tidak mulang?”
Anwar si Mick Gaevfer Kedung Jengking menghampiri
Murawi, mencabut rokok yang tergeletak di dekat pahat ukir,
tidak lama kemudian isi bungkusan rokok itupun telah
melayang bertengger di mulut‐mulut anak‐anak yang baru
pulang mancing itu. Masih ada sisa dua batang, lalu
diletakkan kembali dekat pahat ukir.
”Ngapura ya Ramane, lha kecute pol ra kuat ngampet je. ”
celetuk Sumar yang baru datang naik sepeda onta

mengambil sebatang rokok Murawi dari bungkusnya.
”Lah, gari loro je ma, ... lah ora urus.” Sumar meletakkan
sebatang rokok dan diselipkan di bibir lalu mendekati Anwar
meminjam geretan.
”Sikat bae, kaya karo sapa, kurang, igin ana bakul.” balas
Murawi sambil menyeka keringat yang menetes membasahi
wajah.
”Jan nyenengi wong sing kaya kiye. Seandenya pean nyaleg
wong sing kaya rika sing tek pilih. ” kali ini Yadi bolot nylekop
agak nyambung.
Dari omongan Yadi bolot tidak terasa forum clemad‐
clemod komunitas pinggir kali kedung jengking yang biasa



30 | Drajat Nurangkoso

nongkrong di sanggarnya Murawi mulai mengalir, semakin
lama semakin mbleketaket. Kental berisi, penuh canda dan
tawa. Sindiran dan senggolan sana sini terus berputar
mengatasi hari Minggu yang mendung. Pembicaraan tentang
pemilu, tentang para caleg yang gambarnya nampang di
pinggir jalan sampai pada omongan tentang boroknya para
caleg yang menurut Anwar tidak boleh karena suudzon
adalah bagian rekayasa setan untuk menggiring kita jauh dari
sifat Illahiah. Tetapi dasar kebiasaan anak‐anak komunitas itu,
sekali sudah keprucut menjadi omongan tidak bisa borok‐
borok para caleg dihentikan dalam putaran clemodan.
Sesekali Murawilah yang meluruskan atau mengendalikan
agar clemodannya tidak ndleder terlalu jauh.
”Ramane, mbok boleh kita membicarakan tentang para
caleg?” Tikno yang kemarin malam diangkat menjadi
komandan satgas partai Banteng Orek‐Orek menyodorkan
pertanyaan pada pemilik sanggar Pintu Kosong. Murawi

belum ngeh dengan diskusi, masih berpikir ribuan kali agar
kualitas kalimat yang keluar dari mulutnya adalah bahasa
yang bisa ikut membelajari teman‐teman yang biasa
nongkrong di rumahnya itu.
“Menurut inyong ya itu hak kita,” Mad Jawa nyambung
mendukung Tikno.
”Jane apa untunge nggorek‐nggorek alaning lian, mbok
masih ada gawean utawa omongan sing lewih apik?” Anwar
yang sejak tadi memosisikan diri menjadi penyanggah
mencoba mempertahanan posisinya.
”Tergantung apa tujuane, betul mbok ramane?” Sumar
menimpali.

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 31

Diskusi ala Kedung Jengking semakin meriah. Murawi
menghentikan pekerjaannya, ia mengambil rokok lalu
menghirup asap bernikotin itu. Sesekali ledakan tawa
komunitas ubrang‐ubrung itu terdengar lepas, lupa pada
masalah keluarga dan beban hidup yang semakin keras
menghimpit.
”Jane ramane nyaleg, mesti akeh sing milih.” Yadi Bolot
memutar kembali lingkaran awal mula terjadinya diskusi yang
meriah itu.
”Bisane, apa karena tadi saya ngasih rokok terus kamu
menilai saya orang yang tepat untuk mewakili kalian?”
Murawi kali ini sudah berniat menceburkan diri pada ajang
diskusi Minggu siang.
”Sebetulnya untuk apa sih ada pemilu, marai nambai
dosa,” pertanyaan Anwar muncrat mengagetkan teman‐
temannya.
”Bagaimana tidak nambai dosa, ingatase Haris ongklok

yang pendiam begini saja jadi ikut‐ikutan metani alaning lian.”
Haris Ongklok yang ditohok Anwar menunduk.
”Tah tidak begitu Wer, Haris tadi ngomong begitu ya
dalam rangka iqra, membaca, membaca orang‐orang yang
katanya mau menjadi wakil kita. Jadi Haris tadi ya, ada
benarnya tapi juga harap hati‐hati jangan usaha kita dalam
iqra yang sebetulnya ibadah malah menjadi bagian dari angin
yang akan menambah mulad‐muladnya geni neraka,” Murawi
memulai ceramahnya.
”Nah, begini yang kami inginkan sejak tadi ngomongnya
irit banget, terus ramane biar kami‐kami ini jadi pinter,”
Ajikom yang sejak tadi diam menjadi pendengar kali ini mulai


32 | Drajat Nurangkoso

ikut menjadi bagian dari diskusi guyon maton ala sanggar
pintu kosong.
Murawi mencoba memberikan sedikit pengetahuannya
tentang pemilu, ia menjelaskan bahwa dalam tahapan
penetapan calon wakil rakyat ada waktu untuk mengajukan
keberatan dari masyarakat terkait dengan kredibilitas para
caleg yang telah diterbitkan oleh Komisi Pemilihan Umum,
masyarakat dipersilakan mengajukan keberatan, masyarakat
dipersilakan untuk membaca, metani, menguliti pantas
tidaknya orang‐orang yang dipasang oleh partai politik untuk
menjadi wakil rakyat sebelum mereka ditetapkan menjadi
calon tetap.
”Oh, jadi tidak apa‐apa?” tanya Puji.
”Ya, tidak asal niat kita baik, jalurnya benar, InsyaAllah
kita namanya sedang beribadah,”lanjut Murawi.
”Metani alaning lian?” Anwar masih penasaran.
”Lho, ya jangan saklek begitu, kita bukan metani alaning

lian, tapi kita sedang membaca agar nanti yang kita pilih
benar‐benar menjadi wakil kita, memperjuangkan
kepentingan rakyat, menjadi penyalur aspirasi kita, pokoknya
menjadi yang terbaik untuk rakyat. Kita menanggapi para
caleg agar kita yang kebetulan mengerti cacatnya para caleg
tidak menjadi bagian dosa pada masyarakat karena kita diam
saja,”terang Murawi kepada Anwar yang masih belum bisa.
”Maksudnya?” Weli dan Puji begitu antusias, apalagi Aji
karena mereka bertiga sedang kebingungan diajak menjadi
tim suksesnya caleg Partai Bintang Mercy yang menurut
mereka tidak pas menjadi wakil rakyat karena kelakuannya
tetapi duitnya banyak.

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 33

”Tentang dosa, ah, jangan diperpanjang karena aku
bukan MUI.” Murawi menarik kata‐katanya.
”Lah, tapi ramane sudah keprucut bicara tentang dosa ya
harus dituntaskan,” celetuk Anwar.
”Ya, maksudku begini. Kalo kita tahu kok kita diam saja
kan namanya kita ndak bener, contohnya di jalan ada duri kita
lihat bukankah salah bila kita tidak menyingkirkannya, kita
tidak termasuk orang yang beriman. Sudah maksud?”
”Nggih, tahu...maksudnya agar kita tidak membeli kucing
dalam karung.” Ajikom beralih menjadi penjelas bagi teman‐
temannya. Komunitas Capingli nampak sudah bisa mengerti
pada apa yang dikatakan Murawi.
”Alah, aku tidak mau tahu yang penting siapa yang
memberi uang akan saya pilih.” Mad Parto yang sejak tadi
cuma cengar‐cengir kali ini bicara yang langsung disetujui
oleh hampir semua peserta diskusi kebonan itu.
Murawi dadanya terasa ampeg, bukan karena dia yang

tidak sama prinsipnya tetapi hatinya sedih bagaimana negeri
Indonesia yang tercinta sudah merdeka lebih dari setengah
abad pola pikir masyarakatnya masih sebatas perut. Dosa
siapakah sebetulnya, mengapa pendidikan politik belum
menyentuh pada masyarakat, apa tugas partai selama lima
tahun, mana tanggung jawab pembelajaran politiknya, mana
keperwiraan partai yang telah menggunakan uang rakyat,
mana tangung jawab moralnya. Murawi unjal ambekan.
Menarik napas dalam‐dalam, membiarkan udara memenuhi
rongga dadanya.
”Selama kita tidak dewasa dan cerdas jangan harap
kemakmuran menjadi kenyataan,” Murawi setengah berbisik.


34 | Drajat Nurangkoso

”Ya...ya...saya maksud,”timpa Anwar.
”Dewasa dan cerdas, hubunganya dengan kemakmuran,
wah aku malah blas ra maksud,” Sumar nampak kebingungan
dengan omongan Murawi.
”Dalam Pemilu mestinya prinsip kita adalah ibadah,
memilih pemimpin adalah ibadah. Itu namanya cerdas. Lalu
memahami bahwa masing‐masing orang punya pilihan sendiri
atau tidak harus sama dengan pilihannya adalah termasuk
dewasa.”
”Lha, hubungannya dengan kemakmuran?” Sumar masih
penasaran.
”Kalau kita memilih dengan prinsip ibadah maka jangan
matre nanti terjadi kapiltalisme politik. Coba bayangkan kalau
semua orang prinsipnya memilih siapa yang ngasih duit, maka
jangan salahkan para wakil rakyat tidak mikirkan rakyat tapi
memikirkan duit, terus kalau kita memaksakan orang lain
untuk sama pilihannya maka akan terjadi kekacauan. Apa bisa

kita menuju kesejahteraan?” Murawi mencoba menjelaskan
rinci pada Sumar.
”Ealah, sudah zamannya bagaimana?” Mad Jawa
nyambung.
”Siapa yang mengubah zaman, bukankah Tuhan tidak
akan mengubah nasib sesuatu kaum tanpa kaum itu sendiri
yang mengubahnya?” Anwar mengeluarkan kata‐kata yang
biasa diomongkan dalam diskusi tentang perubahan.
”Lah aku bingung, kayane aku pan golput bae,” Weli
menyela sambil masuk ke dapur karena mendengar air sudah
mendidih.



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 35

Siang yang lembab udara teras dingin, aroma kopi meliuk
dari dapur Rumah Seni Pintu Kosong.
”Memilih adalah hak, tidak memilih juga hak, tetapi lebih
baik menggunakan hak pilihnya, dengan landasan ibadah,
ikhlas dan niat ikhtiar menjadi bagian dari perubahan dengan
memilih orang yang tepat bukan memilih dengan micek,
hanya karena uang sepuluh apa dua puluh ribu lalu kita mau
menutup hati nurani kita, apa kita tidak kasihan sama jiwa
kita?” Murawi mengkonter kata‐kata Weli.
”Jadi, baiknya kita tetap memilih tetapi memilihnya
dengan Iqra, ora waton tetangga apa kanca apalagi karena
duit, begitu mbok yang dimaksud ramane?” Anwar mencoba
menjelaskan pada teman‐temannya
”Sepertinya untuk mengubah budaya seperti itu sulit,
lho,” Sumar berbicara setengah berbisik, ada nada masygul.
Sebetulnya ia mengakui omongan Murawi benar, tetapi
hatinya belum mau mengubah prinsip, siapa yang ngasih duit

dia yang akan dipilih.
”Kang Sumar, kalau prinsip itu dipakai lalu semua caleg
ngasih duit, lalu siapa yang akan dipilih?” Murawi mencoba
memberi pendidikan politik pada sahabatnya.
”Tek toblos kabeh.”Sontak suara tawa keras terdengar
mendengar jawaban Sumar.
Dari dapur Weli setengah berteriak menawarkan kopi.
Anak‐anak satu persatu masuk ke dalam rumah lalu keluar
dengan segelas kopi hitam. Diskusi terus mengalir, Puji
membawakan teh tubruk untuk Murawi, sedangkan di
tangan kirinya segelas kopi mengepulkan aroma nikmat.




36 | Drajat Nurangkoso

Nyanyian Kali Nyangko




A
spal basah berkilat memantulkan sinar lampu yang
cemlorot dari mobil APV hitam. Malam senyap
selepas gerimis yang cukup membuat basah bumi
Kedung Jengking. Warung mie Mbok Dul masih kencar‐
kencar, uap air yang mendidih dalam subluk tempat merebus
mie kemebul dengan suara air mendidih seperti perut anak‐
anak komunitas Sanggar Pintu Kosong yang baru ngode
memasang baliho gambar caleg.
Mobil APV hitam berhenti dekat gerombolan anak‐anak
Capingli yang sedang berjalan bersenda gurau dekat pos ojek
SKB. Seketika anak‐anak menghentikan langkahnya lalu
dengan wajah lugu menunggu kaca APV hitam turun
menampakan siapa pengendaranya.
”Ealah...rika ya, Gus,” Murawi mendekat ke pintu APV
yang kacanya sedang diturunkan dengan suara angles.
Pengendara mobil itu tersenyum lalu memberi kode kepada
Murawi untuk mendekatinya.
Murawi memutari mobil mendekat kepada pengendara
APV yang disebut Gus olehnya. Laki‐laki gagah masih muda
dengan peci hitam tinggi model Kyai NU menjabat tangan
Murawi.
”Saya ada perlu dengan sampean, jane meh ke rumah
tapi belum ada waktu.” Murawi langsung tanggap dan
maklum dengan kesibukan sahabatnya yang sedang



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 37

mempersiapkan dalam pencalonan anggota DPRD
Banjarnegara itu.
”Ndak masalah Gus ...di sini juga ndak apa‐apa. Kira‐kira
apa yang bisa saya bantu,”tanya Murawi.
”Sampean saya kira sudah tahu.”
”Ya...ya...terus gimana?”
”Saya titipkan 5 juta dan harus netes, sukur‐sukur lebih
dari target.”
”Waduh,Gus... aku kan PNS angel slah‐slahane,”tolak
Murawi.
”Ya, tolong carikan orang yang bisa dipercaya untuk
mengelola duit bithing saya.”
”Kalau begitu mungkin saya bisa carikan, dan kayane
orangnya bisa diandalkan,” Murawi meluruh, batinnya kontra
dengan apa yang sedang ia perjuangkan : Gerilya Budaya
menolak politik uang.

”Baiklah, besok saya tunggu di rumah, bada Isya.”
APV hitam metalik nggleser angles seperti tak bersuara
meninggalkan Murawi. Komunitas ojek kali Jogan
memandang mobil itu sampai hilang ditikungan Slis. Murawi
berjalan menuju ojekan, pembicaraan tentang pengemudi
APV dimulai dari krasak‐krisik yang bernada negatif. Orang‐
orang pinggiran, tukang ojek kali Jogan sangat heran dan
tidak bisa memahami sepak terjang”Gus” pengendara APV
dalam mencari dukungan. Label Gus bagi anak‐anak ojekan
bukan panggilan yang sembarangan, kasta yang sangat tinggi
dalam struktur anak pondok. Gus adalah panggilan khusus
anak Kyai sepuh penguasa pondok. Krasak‐krisik, kasak‐
kusuk


38 | Drajat Nurangkoso

lama‐lama menjadi krosak‐krosak alias sudah menjadi diskusi
terbuka.
”Standar pikirane keprige ya, pak guru?” Gus Kencrung
komandan ojek memulai babakan diskusi ngalor ngidul
pinggir kali Jogan. Murawi yang ditanya sudah mengira pasti
akan menjadi pembicaran tentang Gus sahabatnya yang tadi
naik APV.
”Sesama Gus ndak boleh saling berpikiran buruk
lho,Kang,”ujar Murawi sambil terkekeh.
”Ealah ngenyek temen. Lah, masa aku disamakan sama
wong gedean tunggangane APV,” protes ketua pangkalan
ojek SKB itu.
”Lah,mbokan pean dipanggile juga Gus, kanca‐kanca pada
ngundang kaya kue.”
”Betul sih, tapi gusnya beda. Nek saya memang namanya
Agus, mulane panggilan saya gus, kalau dia dipanggil gus
bukan karena namanya enak dipanggil begitu tapi karena

gelar,” Gus Kencrung menjelaskan sambil nyengir kuda
membuat anak‐anak yang berkumpul di ojekan itu tertawa.
”Gelar?” Murawi seolah‐olah kurang paham dan minta
penjelasan rinci.
”Iya, Mas Guru... itu panggilan kebesaran yang
menunjukkan dia sebagai putra Kyai Sepuh penguasa pondok
pesantren.Eh,... asem kejebak...masa Mas Guru ndak
tahu...asem... masa aku mulang Mas Guru,” Gus Kencrung
menyadari sedang kena ilmu pendolopan.
Suasana malam itu semakin hangat, Komunitas Kresek
berkumpul di pangkalan ojek itu, dari arah selatan warung
Mbok Dul pasukan pemasang atribut kampanye tertawa

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 39

lepas sambil berjalan menuju pangkalan ojek dengan barang
makruh kemebul dari mulutnya. Diskusi pinggir kali Kedung
mulai merambah pada hal‐hal yang kadang tidak terduga dan
tidak sadar dari mana mulai ujungnya.
”Kang Murawi,deneng amleng baen kur mesam‐mesem,
bar olih proyekan mbok tadi dari penunggang APV,”goda Mad
Jawa.
”Sikah... proyekan, dengkulmu bundas,”balas Murawi
enteng.
”Lah, tadi saya lihat sampean dipanggil Guse terus
senyum‐senyum.” Mad Parto nyerocos sambil kedap‐kedip,
cengar‐cengir seperti kethek ditulup. Nurkholban, Sumar,
Wely, Anwar, Husen manggut‐manggut menguatkan
celotehan Mad Parto.
”Iya Ramane, bener mbok tadi mendekati APV?”
pertanyaan Sumar menghentikan sejenak semua suara,
semua orang diam, terkejut. Tidak disangka dari mulut Sumar

meluncur kata‐kata yang seolah menohok dan
menyangsikan. Murawi tersenyum.
”Lah iya memang, apa aku tadi bilang tidak?”
”Nah, ini berarti proyek.” Serentak komunitas Kedung
Jengking itu bersuara seperti paduan suara tanpa dirigen.
”Ah, proyek, ndak gitu teman‐teman yang budiman. Tadi
temanku meminta aku untuk menjadi tim suksesnya dalam
pemilu legislatif sebentar lagi,”jelas Murawi tentang ajakan
sahabatnya yang namanya sudah tercatat di KPUD
Banjarnegara sebagai Caleg.
”Lah, kan berarti proyek,Kang,” Puji menyela.




40 | Drajat Nurangkoso

”Waduh, mengapa masyarakat kita sekarang jadi
materialis begini ya, sedikit‐sedikit proyek...apa‐apa proyek,”
Murawi ambil napas panjang.
”Memang senyatanya begitu mbok, Kang?” sela Anwar
sambil merapatkan duduknya dekat Murawi.
”Betul begitu, aku juga setuju. Sapa yang marah‐marai
jajal kang, mbok para pegawai negeri?” Mad Parto
memanaskan diskusi, Murawi masih tak terpengaruh dengan
kata‐kata Mad Parto, dalam hatinya memang membenarkan
tentang mentalitas para priyagung yang berada dalam dinas
pemerintahan, banyak yang bekerja bila ada proyek bahkan
membuat proyek untuk pekerjaan sambilan. Tapi tidak
semua.
”Tanggaku pegawai dinas apa,mbuh ... nyong ora
mudeng, sugie pol, padahal aku pernah ke kantornya
beliaunya cuma duduk main gamenang ngarep komputer.
Mbarang tek takoni jere anu lagi ora nana proyek,” Wily

Kruwel mengambil porsi diskusi, bagian gratis yang
dipersilakan bagi semua orang yang kumpul di pos ojek itu.
”Sapa kue, dinas apa?” Tanya Mad Parto.
”Dinas terkait apa mbuh dinas apa,” jawab Willy.
”Ndaet...temenan kiye, bisa untuk memperkuat
omonganku. Aku perlu penguat.”
Murawi menerawang kosong pandangannya, dalam
benaknya ingin membenarkan omongan Wily Kruwel. Sering
ia menyaksikan sendiri suasana kantor yang katanya pelayan
masyarakat tapi tidak melayani, ketika dengan iseng ditanya
kenapa ndak ada aktivitas katanya ndak ada proyek,



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 41

bukankah melayani ndak mesti harus ada proyek, ia tepiskan
pikiran itu kemudian larut dalam diskusi kembali.
”Ih, geh...deleng Murawi mblengong kaya ....” Sumar
Kliwir membuyarkan lamunan Murawi.
”Kaya wong kesambet maksude?” Sambung Mad Parto
disusul gelak tawa komunitas Kedung Jengking yang sedang
diskusi uthukumbrung itu.
”Ora...aku sedang mikir, apa bisa ya negarane dewek
bener‐bener mencapai mimpi indah sesuai harapan dalam
proklamasi angger menungsane ajeg baen kelakuane?”
Murawi menghela napas panjang, seperti aliran listrik ribuan
watt komunitas itu terdiam seketika, menanti apa yang akan
keluar dari mulut Murawi.
”Sing arep nyaleg ora cekelan waton, sing duwe kuasa ora
nganggo kuasane kanti bener. Bodol dol isen‐isen negeri kita
ini,” Murawi menggiring diskusi ke jalur awal tentang
penunggang APV, Komunitas Kresek langsung menyambar

menanggapi dengan aneka rupa clemodan bahkan ada yang
sangat ekstrim dalam memberi solusi yang mengatakan
baiknya penduduk Indonesia dimatikan semua, diganti
dengan penduduk dari planet baru akan sembuh dalam
kenthir massalnya.
Benarkah kita sedang mengalami geger budaya,
benarkah kita sedang mengalami geger otak masal dan semi
permanen, mungkinkah bisa melepas dari ketentuan sang
kala zaman. Hati Murawi benar‐benar menjadi resah.
Bagaimana tidak resah, penunggang APV adalah temannya
yang mempunyai gelar ”Gus” dalam hal agama mestinya
ndak kurang suatu apa ilmunya yang diwariskan


42 | Drajat Nurangkoso

oleh orang tuanya kyai sepuh pondok yang termasyhur tetapi
kenapa untuk nyaleg dia masih menggunakan uang dalam
mencari pengaruh dan dukungan. Bagaimana seorang ”Gus”
saja menggunakan uang sebagai ”Dewa” yang akan
menyelamatkan kedudukannya di singgasana wakil rakyat
kursi DPRD apalagi yang tidak mengenal ajaran agama
dengan tuntas. Murawi benar‐benar bingung tadi ia
menyanggupi mencari orang yang dapat dipercaya untuk
ngedum duit sebenarnya hanya memastikan benarkah
clemodane teman‐teman kalo ”Gus” temannya itu yang
putrannya Kyai sepuh ikut bermain dengan uang ketika
pencalegan periode yang lalu, ternyata benar.Murawi benar‐
benar tertegun, mati ngadeg.
Suara grujugan kali Jogan yang jatuh ke kali Nyango
biasanya terdengar sayup‐sayup memelodikan syair‐syair
indah dalam hatinya kali ini terdengar seperti gemuruh air
bah yang menghanyutkan perahu Nabi Nuh.


























Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 43

44 | Drajat Nurangkoso


Click to View FlipBook Version