The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by azispurwanto1, 2021-10-06 18:24:48

CELOTEH MURAWI OLEH MURAWI

Tali Rafia




L
angit di atas grumbul bambu merah tembaga,
semburat sinar indah matahari sore seusai gerimis kecil
menggaris tipis di cakrawala barat, burung‐
burung yang tersisa melintas tergambar siluet hitam lalu
lenyap dari pandangan menyisakan cericit lirih di sebelah
barat rumah Murawi. Rembang petang, suasana sanggar
Pintu Kosong masih sepi. Murawi menghidupkan televisi
nonton acara Jumat Naas untuk Anas. Sendirian menggerutu,
mendesis, berdecak, menggeleng‐gelengkan kepala,
pokoknya begitu lengkap ekspresi Murawi dalam merespon
setiap ulasan dan informasi dari sang berhala yang sedang
menjadi sesembahan masyarakat berkembang. Televisi.
Televisi telah menjadi sesembahan baru bagi masyarakat
Indonesia. Ibu‐ibu yang sudah ketempelan demit sinetron,
anak‐anak yang telah tersihir film kartun, infotaimen yang
telah membelokkan nalar dan menyusupkan paham
pembenaran, bapak‐bapak yang sibuk memancing sahwat
lewat egat‐egotnya pantat kaum wanita. Murawi terpenjara
oleh acara televisi yang sedang menjadi trending topic itu,
kasus Hambalang. Malam itu Murawi tanpa ditemani Husen
seperti biasanya karena Husen sedang hunting barang
rongsokan di gudangnya Samyono.
Udreg‐udregan proyek Hambalang sangat kuat daya
pikatnya. Riuh rendah pemilu kada Jawa Barat pun benar‐
benar tertimbun urugan tanah Hambalang itu. Sepak terjang

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 45

srikandi PDIP “Oneng“ Rike Dyah Pitaloka yang meloncat‐
loncat susah payah mendongkrak elektabilitas, meloncat‐
loncat dengan jurus‐jurus ala Jokowi blusukan mendekati
pemilik sah suara Jawa Barat tak tertangkap oleh lensa
televisi secara massif. Kalemnya Teten yang mengendap‐
endap menarik simpati kaum menengah keatas dan kaum
terpelajar yang senada dengan semangat pemberantasan
korupsi tidak terpublikasikan dengan gencar sehingga dapat
mendorong naiknya elektabilitas “Rieke Teten”. Usaha Teten
kabur seperti debu diterbangkan angin tak dapat menjadi
virus anti korupsi serta genderang perangnya terhadap
koruptor hanya terdengar sayup‐sayup mengaluni tanah
Parahyangan sehingga gagal membangun kesadaran kolektif
untuk berkata “tidak“ pada korupsi. Kesahajaan dan
kedermawanan bupati Indramayu yang diusung partai kuning
tak berkilau seperti padi yang menghampar menjanjikan
kemakmuran para petani. Geliat independen yang mencoba

menjadi pemanis demokrasi atau jangan‐jangan hanya
boneka yang digunakan untuk memecah suara Dede Yusuf
penantang kuat sang incumbent benar‐benar tak terasa dan
tak sampai dokumentasinya pada masyarakat.
Semua…semua…tertimbun tanah Hambalang.
Dede Yusuf yang mempunyai rating tertinggi dalam
survei beberapa lembaga survei menjadi ketir‐ketir tanah
Hambalang akan menimbun segala program yang ditawarkan
dan menjulangkan kelemahannya karena partai
pengusungnya yang sedang tersandra kasus mega proyek
itu. Memang televisi tidak memberitakan keburukan dan
kelemahan Kang Dede karena mereka sibuk dengan


46 | Drajat Nurangkoso

pemberitaan tanah Hambalang akan tetapi gonjang‐ganjing
partai Bintang Mercy dengan sendirinya memiliki efek bola
sodok yang dapat menohok sang pemegang rating survei itu.
Peta survei menjadi kacau, bisa menjungkalbalikkan
keadaan. Dede yang perkasa, santun, dan relatif bersih bisa
terimbas pemberitaan cakar ayam dan ceker‐cekeren seperti
ayam para elit partainya.
“Begja cilaka ora pilih mangsa lan merga” begitulah yang
terjadi minggu ini menurut ramalan Murawi bagi pasangan
calon Gubernur Jawa Barat itu. Berita Hambalang akan
menguntungkan Aher dan sang Jendral Naga Bonar, dengan
adanya pemberitaan Hambalang yang semakin memuncaki
rating acara televisi maka Aher yang sedang bersusah payah
menaiki tangga elektabilitas sedikit teringankan dengan
kasus Hambalang. Hambalang telah melepaskan dia dari
beratnya menaiki tangga dengan nggendong tlepong sapi
kasus impor daging sapi yang sedang menyandera partai

pengusungnya.
Kasus presiden PKS yang terbanting di tlepong sapi telah
menempatkan Aher sebagai elit daerah PKS di Jawa Barat
pada posisi ketiga setelah Dede dan Rieke, tapi sekali lagi tapi
kesahajaan Jendral Naga Bonar Dedi Miswar yang pesinetron
religi itu serta lenyapnya pemberitaan kasus daging sapi
tertimbun urugan tanah Hambalang bisa menjadi sang
incumbent itu mencuri poin. Bila Oneng tidak dapat
memanfatkan keadaan ini untuk menjadi keuntungan bagi
dirinya.
Murawi mematikan televisi dan semua cahaya yang
menyala … lampu, dispenser, cas‐casan hp, laptop, kulkas,

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 47

pokoknya semua yang menyala ia matikan, kemudian ia
merebahkan tubuhnya di lantai separuh tubuhnya berada di
ruang tengah dan separuh lagi di ruang dapur. Seperti biasa
bila ia sedang bimbang sedang kacau, maka ia melakukan
ritual seperti itu. Murawi meluruhkan diri menyentuh lantai
keramik yang dingin, separuh badan dari pusar ke atas ia
rebahkan di dapur, separuhnya dari pusar ke kaki berada di
ruang tengah. Ia tidak tahu apa filosofinya, ia hanya
mengikuti anjuran guru spiritualnya, tanpa protes, ia
mengikuti apa yang dianjurkan gurunya, ia menyerah total
dan ia menemukan kedamean dengan laku seperti itu.
Sampai sekarang kebiasaan itu selalu ia lakukan bila sedang
dilanda kekacauan hati. Sedang ia meluruh dengan sepi
seluruh gambar tentang dirinya, tugasnya, dan derajat
kemanusiaannya terputar dalam batok kepalanya sesaat lalu
…lep ... lenyap semua tinggal dirinya sendirian ditengah
padang ilalang yang sunyi dengan angin semilir dan Matahari

yang sayu.
Murawi terbangun, pintu dapur digedor‐gedor Anwar.
“Ramane si sedang umat apa, bisane umae peteng
ndedet?”
“Lagi melepas diri dari kekacauan. Ada apa, weng?”
“Tuku tali raffia.”
“Nggo ngapa?”
“Ealah,mulane aja turu gasiken ya dadine ora tau berita
heboh.”
“Lah, dah bosen, berita tentang kurikulum baru mbok?”
“Bukan, wis tuku raffia baen.”





48 | Drajat Nurangkoso

“Sihlah…anu nggo ngapa koh?” Murawi mulai tidak
sabar.
“Ketua Partai Demokrat jadi tersangka.”
“Ealah…asem. Maksudmu nggo gantung nang Monas?”
“Iya, ramane.”
“Ndak maulah, mbok kewirangan tiwas sudah ngeter‐ eter
raffia meng monas jebule memang bener ndak ngambil uang.”
“Bisane, wong sudah jelas tersangka,” Anwar masih
berapi‐api.
“Dalam kasus hukum tersangka bukan berarti terpidana,
lho weng, dibuktikan dulu lewat kaidah hukum baru kita
boleh menamai orang itu narapidana apa bukan.”
Murawi menjelaskan panjang lebar kepada sahabatnya
itu. Jumat naas untuk Anas menjadi bagian pendewasaan dan
pembelajaran bersama dalam menegakkan nilai‐nilai, sekali
lagi nilai‐nilai, bukan angka‐angka.Anwar sahabat Murawi itu
manthuk‐manthuk tanda mengerti, ia menjadi apresiatif

terhadap suatu kasus, menjadi berimbang dalam menilai
masalah ketua partai Demokrat itu. Murawi dengan
kelihaiannya telah mencerahkan Anwar dalam menyikapi
suatu berita.
Bunyi perut Murawi nyaring berdendang, Anwar
mengajak ke rumahnya. Si Jum Mae Fais masak daun
singkong kesukaan Muwari. Duda sebatangkara itupun
mengikuti sahabatnya ke rumah untuk makan malam.
Murawi merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa,
makan nasi hangat pakai sambal korek lauk tempe sreng dan
pelas daun singkong.



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 49

50 | Drajat Nurangkoso

Tlepong Sapi




E Tidak ada gairah yang memantik
mpat hari berita televisi mematikan kreativitas anak‐
anak komunitas uthuk umbrung sanggar Pintu
Kosong.
perclemodan. Menurut Sumar badane mrengengeh seperti
mriang melihat tayangan televisi. Murawi sendiri sempat dua
hari ndak doyan makan begitu dengar berita presiden partai
tersangkut masalah impor daging sapi, Murawi ndak doyan
makan bukan karena ndak ada daging sapinya dikarenakan
harga daging yang sayapnya ringan sekali hingga melambung
tak terjangkau rakyat kebanyakan, Murawi ndak doyan
makan karena shok dan terkejut yang melebihi kesamber
bledeg. Bagaimana tidak terkejut, tokoh rakyat presiden
partai dakwah masih terseret masalah yang selama ini
disuarakan di mimbar untuk dihindari.
”Uwis ramane...madang baen, pikir temen ndunya bosok,”
ujar Anwar sambil meletakkan sayur lodeh buatan si Jum
istrinya di meja dalam kamar Murawi.
”Suwun, ya...dadi ngrepoti mae Fais, iya mengko njajal tek
madang mbok gelem mlebu.”
” Lah,wong rika apa‐apa dipikir mbanget...jor kon poran
berita TV, anggep baen hiburan sing fariasi jadine tidak cuma
lihat iklan apa egat‐egote wong wadon nangTV.”
”Mulane kaya nyong baen ndelenge balapan asu apa
balapan jaran,” Husen nyambung dari loteng setelah selesai
jam wajib telepon anaknya yang ditinggal di Indramayu.

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 51

Kedatangan Sumar, Puji, dan Ido menambah suasana jadi
ramai dengan pilihan melihat acara televisi.
”Jane membingungkan ya, mengapa dewek apa‐apa
impor. Bisane apa ya negara kita?” Anwar memulai melempar
tema dalam jibengan unthuk umbrung.
”Hebat cing...teyeng impor berarti sugih, bisa tuku...itu
tandane negara kita negara kaya,” Puji menyela sambil
memarkirkan motor Vega yang baru selesai cicilannya.
”Bagus...saya setuju mbanget dengan
pendapatmu...maen...kita negara kaya bisa tuku, dalam hal
ini saya sangat setuju dengan pendapatmu,Bro,”ujar Ido
mendekati Puji sambil mengusap‐usap punggung sahabatnya
itu.
”Waduh...piyung temen pikirane, ndak pernah lihat televisi
diskusi ya, mulane nek nonton aja kur sinetron tok li jadi ngerti
ruwet rentenge negara,” Anwar meninggi.
”Li ora kena gela...apik koh sinetron,” Ido membela diri.

”Betul Do... ndak lihat sinetron, Apa bedanya, Itu para
politisi, pejabat, bukan sinetron?” Puji menguatkan
argumentasinya.
Diskusi semakin hangat dan sangat demokratis, kadang
methenteng kuat sampai urat leher keluar dalam
mempertahankan pendapat tapi nuansanya tetep berakhir
dengan humor guyon kere.
”Jajal ramane ngomong li jangan cuma diam seperti itu,
malah ngguyu‐ngguyu tok semune menghina.” Sumar
mencoba memancing Murawi untuk ikut larut mewarnai
debat. Murawi diam saja cuma senyum‐senyum seperti laki‐
laki yang sedang melamunkan bidadari. Karena desakan yang



52 | Drajat Nurangkoso

bertubi‐tubi dari Komunitas Kresek akhirnya Murawi angkat
bicara.
”Impor itu logika pemenuhan kebutuhan dengan cara
apapun hingga melahirkan ketersediaan bukan ketahanan.
Ketersediaan akan menjebak pada tipisnya kedaulatan,
ketahanan akan melahirkan kedaulatan.”
”Waduh ora mudeng, disederhanakan jajal ramane ben
nyong mudeng.” Anwar begitu sangat tertarik dengan
masalah impor‐imporan itu.
”Impor itu pola pikir instan, bentuk ekspresi budaya kerja
para pejabat dan politisi yang makan disuapi rakyat tapi ndak
mau kerja maksimal,” Murawi mulai terbawa dalam pusaran
diskusi.
”Jadi, jane beda antara ketersediaan karo ketahanan ya,
bedanya dimana Kang?” Anwar semakin penasaran.
”Beda,nang standar mikire Weng...pikiran akan tercermin
di tindakan,” lanjut Murawi.

”Kue dirungokna Ji, ketahanan udu ketersediaan...ora
impor baen.” Anwar semakin berapi‐api terus memburu
Murawi untuk menguliti masalah impor‐imporan itu, Puji dan
Ido gelagapan
”Kalo ketersediaan kan mbuh ora urus dari mana yang
penting ada, alane nang ndi jajal,” Ido membela diri.
”Aku ndak bilang ala apa apik, tapi pikiran bijak apa ora.”
”Maksude apa maning kue ramane, ngeles?” sergah Puji.
”Sekarang ambil contoh sing lagi anget, impor daging
sapi itu contoh pola pikir dan standar kacau dengan dasar
ketersediaan. Coba kita pikir bersama, betapa luasnya ibu
pertiwi ini, kurang subur apa Gusti Allah berikan tanah ini

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 53

untuk kita?” Murawi mulai memasukkan virus cinta Indonesia
dan pola pikir jalan lurus yang sedang digagasnya. Komunitas
Kresek Khusuk mendengarkan uraian Murawi.
”Ketahanan akan memancarkan kedaulatan, negeri yang
berdaulat pada dirinya sendiri bukan berdaulat pada tuan‐
tuan yang dapat memainkan apa saja untuk menjadikan kita
seperti boneka atau kerbau yang dicucuk hidungnya. Daging
sapi, karena produksi kita masih kurang maka para pejabat
yang diberi badogan oleh rakyat berpikir sederhana saja
...impor. Sebetulnya bukan masalah tabu bila impor itu
transparan dan betul‐betul mikir untuk rakyat,” Murawi mulai
berapi‐api.
”Daging sapi pan sejuta apa sepuluh juta sekilo ora ngaruh
dalam hidup saya, daging sapi saja jadi masalah,” Puji mencoba
mengalihkan alur pembicaraan.Iatidak mau masalah impor
daging sapi terus menjadi sentral pembicaraan masalahnya
sebagai simpatisan partai putih agak risih juga presidennya

teraduk‐aduk terus dalam diskusi uthuk umbrung itu.
”Ya,bener ora ngaruh wong enggane daging sapi sekilo
rong puluh ewu be mbuh bisa tuku mbuh ora ya Ji?” Sumar
ngledek Puji. Yang diledek cuma nyengir kaya kethek kena
tulup.
”Kae nganah presiden partaimu diomongi.” Sumar terus
ngledek semakin dalam.
”Diomongi kepriwe ya, Mir?” Murawi ikut‐ikutan meledek
simpatisan partai putih itu.
”Kon ngrungokna wewalere wong tuwa, aja cedek kebo
gupak mengko kena belete,” jawab Sumar.




54 | Drajat Nurangkoso

”lha,kiye sapi udu kebo ya ndak pas,” kali ini Anwar ikut
menohok.
”Ya,aja cedek sapi gupak, mengko kena ...,” Sumar
memenggal kalimatnya, tanpa dikomando anak‐anak
komunitas itu ramai‐ramai dengan suara bulat dan kompak
sambil ndongsokna kepalane Puji berteriak ....”Tleponge...”
”Singkat cerita...aja cedek sapi gupak mengko kena
tleponge ya,Bro...,” kalimat puji menjadi antiklimaks diskusi
tlepong sapi.
Angin semilir menggoyangkan pohon bambu, kecipak
suara ikan lele di kolam Murawi ramai berebut pelet yang
ditebar Husen ...gemericik suara air pancuran dari alat putar
air menambah syahdu suasana Sokanandi pinggir kali
Nyangko.
































Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 55

56 | Drajat Nurangkoso

Pilkada Oh … Pilkada





S
ore mengalirkan angin semilir yang basah, anak‐anak
komunitas kresek sedang duduk duduk di pos ojekan
SKB. Gus Kencrung sang komandan ojek mengenakan
jaket menutupi kaos yang bergambar salah satu pasangan
calon kepala daerah kota dawet ayu. Ia tidak enak dengan
teman‐temannya karena dalam rembugan malam Jumat
kliwon telah disepakati bila seluruh anggota pengojek dalam
pilkada tahun 2017 sepakat netral. Sebagai ketua ojeker Gus
Kencrung bukan lupa dengan kesepakatannya sehingga ia
mengenakan kaos kandidat bupati dan wakilnya, ia
mengenakan kaos itu semata‐mata karena istrinya belum
mencuci baju lainnya. Ia benar‐benar netral tidak memihak
calon manapun sehingga ia memiliki 3 kaos yang bergambar
masing‐masing pasangan calon yang bertarung di pilkada 15
Februari 2017 nanti.
Menjelang Isya, Murawi membelokkan mobilnya ikut
jagongan di pos ojek SKB setelah mengantar anaknya ke
tempat penjemputan penumpang. Satu persatu komunitas
Kedung Jengking berdatangan, ojekan mulai ramai dan
memulai clemodan tentang harga cabai yang melambung,
kenaikan pertalitedan pertamax sampai seretnya langkah
mencari rezeki. Wajah‐wajah anggota komunitas Kedung
Jengking kelihatan tidak bergairah, aura gelap terpancar dari
bagaimana mereka mengekspresikan uneg‐uneg, semua
merasa terkena dampak kenaikan pertalitedan pertamax.

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 57

Rasa itu semakin diperkuat dengan bumbu tambahan dari
diskusi para pakar ekonomi dan perminyakan serta berita
busuk dari media sosial yang begitu masif menjejali alam
pikiran mereka yang biasanya nrimo ing pandum dan tak
pernah menjelekkan pemerintahan menjadi ikut latah dengan
seribu cara pembenaran untuk “ngedumel.” Tapi ada yang
senyum‐senyum dalam keadaan seperti ini yaitu Mad Gordon
penjual togel berlimpah uang. Dalam satu malam ia bisa
menyetor ke agennya sekitar Rp 15.000.000,00. Uang yang
fantastik, bayangkan saja, andai di kotanya ada 9 apa 10 agen
berarti perputaran uangjudi togel sekitar Rp 150.000.000,00
semalam…semalam…semalam…sungguh ironi, ternyata
mereka tidak miskin, untuk membeli mimpi saja mereka
mampu, mengapa dari mulutnya selalu terdengar keluh‐
kesah seakan Gusti Allah meninggalkan Kasih Cinta‐Nya pada
mereka bahkan sekarang merebak kelatahan yang mengarah
pada proses “desukurisasi” artinya mulai kehilangan nalar

untuk bersyukur.
Bulan benderang, air serayu yang dibelokkan menuju
saluran induk Blimbing atau saluran air yang biasa anak‐anak
namakan dengan kali Jogan berkilauan menjadi nadi bagi
kehidupan Banjarnegara belahan selatan sungai Serayu.
Murawi duduk menikmati teater besar kehidupan di pos
ojekan SKB.
“Kenapa sih,ndadak ada pilian Bupati,mbok diserahkan
saja pilihannya seperti dulu yang bikin bupati dan wakilnya
biar para wakil rakyat saja para anggota dewan yang
terhormat, juahan duit tok ka,” celetuk Anwar yang baru
datang setelah lembur mengerjakan perbaikan talang di



58 | Drajat Nurangkoso

rumah dalang Jono. Seperti bara kecil yang dilempar ke
tumpukan kayu kering kata‐kata Anwar langsung menjadi
pemicu dimulainya diskusi pinggir dalan, ada yang setuju
dengan omongan Anwar tapi banyak juga yang menyangkal
dan tidak sependapat, ada juga yang diam menyimak seperti
orang abstain dalam diskusi. Tiga blok tanpa diseting kini
terbentuk dalam diskusi minggu malam di pos ojek SKB.
“Wah, payah pikirane Anwar, inilah hak rakyat untuk
memilih pemimpinnya. Saya tidak sependapat dan akan
protes keras bila pilihan Bupati diserahkan kepada anggota
DPRD, itu namanya kemunduran,” sanggah Nurkolbun.
“Belum saatnya rakyat diberi hak memilih pemimpinnya.
lah nyatanya mereka memilih juga karena uang,” Gus
Kencrung memperkuat pendapat Anwar.
“Kalau saya setuju yang seperti sekarang, lima tahun
sekali kita berpesta, kalau diserahkan ke anggota DPRD kan
cuma mereka yang berpesta.” Kali ini Mad Parto membela

Nurkolbun.
Malam mulai merangkak, sinar bulan berkilat jatuh di
aspal basah sisa hujan sore tadi. Diskusi masalah pilihan oleh
rakyat apa oleh anggota dewan semakin meriah, kadang ada
yang datang tiba‐tiba ikut masuk dalam putaran diskusi
sehingga tidak nyambung atau mementahkan kembali
argumen, ada juga yang “nglius“ pergi sebentar membeli
nomor togel yang menggelar lapak di depan toko kelontong
kaki Sendar kemudian kembali ke pusaran diskusi sehingga
sudah tertinggal jauh. Anak‐anak yang setuju pilkada tidak
langsung alias dipilih oleh para anggota dewan yang
terhormat beranggapan bila pilkada langsung terlalu

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 59

memboroskan uang rakyat, cost sosialnya tinggi, cost
ekonominya tinggi, dan melahirkan pemimpin yang banyak
mendekam di balik jeruji besi karena terjebak dalam sistem
“gila” yang sedang merambat dari pembiasaan menuju
kebiasaan dan lama‐lama menjadi karakter busuk “beli
suara”. Rakyat tidak lagi menyalurkan suara tetapi menjadi
penjual suara alias biting dan siapapun yang menang menjadi
Gubernur, Bupati atao Wali Kota tidak lagi perduli dengan
rakyat tetapi peduli dengan modal yang telah dikucurkan
ahirnya bermain “gila”.
“Pilihan tidak langsung sangat cocok, ide yang bagus
yang pernah mengemuka dan perlu kita dukung.” Anwar juru
bicara kelompok pro pilkada tidak langsung memulai
perdebatan dengan panjang dan lebar mengurai kelemahan
pilkada langsung oleh rakyat seperti yang sudah dijalani oleh
republik tercinta ini selama 15 tahun. Menurutnya antara
manfaat dan mudaratnya lebih besar mudaratnya, rakyat

menjadi “bajingan” kecil‐kecilan, penipu dan bermuka seribu.
Kata Anwar rakyat sudah kehilangan rasa malu dan harga
dirinya karena “dodolan” amanat. Yang paling menyesakkan
dada katanya adalah masyarakat secara umum telah begitu
fakir dan miskin, memilih tidak lagi berdasarkan hati nurani
tetapi asal ada yang ngasih uang satu dua kilo beras.
Pendidikan semakin maju dan pengetahuan bisa diakses dari
mana saja tetapi kenapa kebanyakan masyarakat menjadi
bodoh (apa membodohkan diri). Memilih pemimpin tidak lagi
berprinsip ibadah tetapi sekedar transaksi “biting”
“Lah, sebenarnya itu sudah berlalu, perdebatan itu sudah
the and. Kita diberi daulat untuk memilih bupati dan


60 | Drajat Nurangkoso

wakilnya. Sekarang mestinya yang kita bicarakan adalah
tentang program‐program dari para kandidat itu lebih
mencerahkan.”
Diskusipun dimulai dengan tema baru. “metani” 3
kandidat pasangan calon bupati dan wakilnya. Nur Kolbun
mati‐matian membela Peno Heni bila calon yang mengusung
tag line Sehati itu dikuliti kelemahanya, ia pun balik menguliti
Wincin Samsudin yang bertag line bisa atau menyerang
Wahyu Saeful yang ber‐tag line bahagia. Gus Kencrung dan
teman pasukan pengojek menjadi penyeimbang karena
mereka sudah bersepakat untuk netral tidak memihak salah
satunya. Jam 10 malam pos ojekan semakin ramai dan diskusi
yang menjurus debat semakin membara dan menyengit
namun masih dalam balutan guyon clemodan khas
Sokanandi.
“Ah, makin malam bukanya makin cerdas tapi makin
primitif, balilah,” kata‐kata Murawi menghentikan debat.

Semua diam menunggu kata‐kata lanjutan dari Murawi.
“Mestinya masing‐masing pendukung tahu program
jagonya, paham visi misinya, jadi kalo diskusi tidak asal dan
hanya mencari‐cari kejelekan kandidat lain.”
“Bagaimana saya bisa tahu program dan visi misi karena
katanyaKang Gus kita dilarang ikut kampanye karena kami
pasukan ojek sepakat netral,” ujar kribo menyela.
“Nah, ini perlu diluruskan pemahamannya. Netral itu
bukan tidak boleh pakai kaos bergambar calon, tidak boleh
ikut mendengarkan pidato para kandidat. Yang tidak boleh
itu kalau sampean munggah panggung berorasi, memberi
dana, membantu logistik maupun sarana pada salah satu

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 61

kandidiat ...itu namanya baru tidak netral. Netral itu bukan
berarti tiga‐tiganya kandidiat sampean toblos. Nah untuk
referensi besok tgl 15 di dalam bilik suara sampean milih salah
satu dari tiga kandidat itu kan perlu tau program dan visi
missinya. Begitu, kan?”
Kribo nampak puas dengan jawaban Murawi sambil
cengar‐cengir meledek sang komandan ia ngeloyor menuju
kerumunan ahli matematika terapan. Ngrumus togel.













































62 | Drajat Nurangkoso

Coblosan




M
atahari pagi redup, sinarnya terhalang gugusan
awan tebal yang hitam, semburat cahaya
sepotong‐sepotong nampak menerobos dari sela‐
sela awan hitam yang diam. Hari Rabu tanggal 15 bulan
Februari angin seperti mampat terpaku, tidak
menggoyangkan pelepah pisang yang merimbun di depan
sanggar Murawi. Hari itu berasa Minggu, hawa malas
menyebar seluruh kampung, entah karena semalam lelah
diguyur hujan atau karena hari itu menjadi hari libur nasional
untuk perhelatan pesta demokrasi. Malam yang senyap tidak
seperti pilkada lima tahun yang lalu dimana malam coblosan
menjadi malam yang penuh hawa keresahan penuh tekanan .
Bagi yang tidak suka dengan cara‐cara politik tebar uang dan
tidak mau menerima uang apapun namanya untuk memilih
salah satu pasangan calon, malam yang seperti malam
coblosan lima tahun yang lalu adalah malam yang mencekam
dan penuh dengan tekanan. Malam “tembakan“menjadikan
suasana kampung menjadi saling curiga dan harus dijaga agar
“Tanduran“ bithing tidak terganggu
Setelah menyelesaiakan kegiatan rutin paginya, nyapu
rumah dan memberi makan kucing kesayangannya Murawi
bergegas melangkah menuju ke Tempat Pemungutan Suara
biasa disingkat dengan TPS. Sambil berjalan melewati semak
di jalan terobosan pikiran Murawi masih diliputi tanda tanya
mengapa pagi itu tidak meriah cerah dengan cericit burung‐

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 63

burung dan orang‐orang yang lalu lalang membeli sarapan
pagi di warung Bu Ripto. Pagi begitu murung seakan
semalam telah terjadi raja pati atao bencana tanah longsor
seperti waktu kejadian di si Jemblung. Atau mungkin benar
semalam telah terjadi raja pati yang sesungguhnya yaitu
matinya hati nurani terbunuh oleh selembar uang kertas lima
puluh ribuan. Jiwa tergoda untuk menyerahkan daulatnya
selama lima tahun, mungkin semalam ketika ia terlelap
amplop‐amplop beterbangan mengetuk‐ngetuk pintu‐pintu
rumah yang sejak sore sudah menunggunya.
Murawi menghampiri Mad Parto, mengajak untuk
berangkat nyoblos bareng. Tiga duda berjalan beriringan,
Murawi, Mad Parto, dan Eko Gondrong adalah tiga duda
kekayan warna kehidupan Kedung Jengking. Pukul 08.30
Murawi sudah memakai tanda pencoblosan di jari kelingking
kanannya. Mad Parto dan Eko masih menunggu giliran.
Murawi keluar dari halama TPQ tempat pemungutan suara. Ia

menuju Nurkholbun yang sedang duduk di teras rumahnya.
Warga pemilik sah suara dalam pilkada mulai berdatangan,
ada yang langsung menuju tempat pemungutan suara ada
yang berhenti dalam kelompok‐kelompok yang tanpa sengaja
tercipta di jalan.
“Ti, sudah mencoblos?” teriak Nurkholbun pada wanita
yang sedang asyik bercengkerama bertukar informasi
tentang pasangan calon yang akan dipilihnya dalam
kelompok orang‐orang yang berdiri di mulut gang menuju
halaman TPQ. Wanita paruh baya yang dipanggil itupun
segera bergegas menuju dimana Nurkolbun duduk sambil
menjawab kenes “Urung, mau nyangoni apa?”


64 | Drajat Nurangkoso

“Wis … gampang, tapi no 1 ya, kalo tidak tah ndak mau,
ora sudi ngewei dlembongan angob.”
“Bener lho Lik, tek noblos, kalo nanti bohong, awas
kubuka kertune meng bojone rika.” Ancam Wati sambil
memonyongkan bibirnya. Bau wangi sampo dari rambut
basah menggelitik kenakalan pikiran Nurkholbun.
“Wuih jan, bar ditoblos sekarang mau noblos.” Goda
Nurkholbun sambil melepas uang lima puluh ribuan dari
dalam dompetnya. Dengan sigap wanita itu menyambarnya.
“O, dasar ngeres.” Ujar Wati sambil memasukkan
selembar uang biru itu ke saku belakang celananya dengan
genit.
“Mangga,Pak Guru, sampun noblos?”
Murawi tergagap sambil melihat wanita paruh baya itu
melangkah dari teras rumah sahabatnya. Ia tidak menjawab,
hanya menunjukkan tanda tinta yang menempel di jari
kelingkingnya. Pikiran Murawi melayang penuh pertanyaan,

bila kejadiannya seperti yang baru saja ia saksikan tentang
pemberian uang apakah hal tersebut termasuk money politic.
Uang yang Nurkholbun berikan adalah uang pribadi, bukan
uang dari pasangan calon no 1, ia melakukan hal tersebut
hanya karena didorong oleh rasa saking cintanya dengan
paslon no 1, demikian juga bila pendukung‐pendukung paslon
no 2 dan no 3 melakukan hal yang sama apakah ini termasuk
dalam katagori money politic. Ah, rumit, dunia politik di
negeri ini semakin rumit.
Pukul sepuluh, Matahari mulai menombakkan sinar
panasnya. Melihat Mad Parto dan Eko keluar dari halaman
TPQ Murawi minta diri. Rencana mau pulang tapi entah

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 65

mengapa Murawi masih terpaku berdiri di depan rumah
Gyoto seakan ngungun melewatkan teater hidup yang
sedang berlangsung di arena coblosan. Saling goda
antarpendukung setelah mencoblos dan intrik yang
dijalankan oleh masing‐masing pendukung untuk
memengaruhi orang‐orang yang baru datang untuk memilih
sungguh ekspresi yang sangat natural yang nikmat untuk
ditonton. Murawi sedang senyum‐senyum melihat polah
tingkah Sumar, Tikno, Waris, Kang Mis, dan Puji menggoda
Mad Parto dan Eko Gondrong.
“Dasar ora cerdas, milih kok gasik temen,” ujar Tikno
“La nunggu apa sih, Kang Murawi be wis nyoblos koh,
berarti kang Murawi ya ora cerdas, ah dapurmu Tik, masa
gurune diarani ora cerdas,” balas Mad Parto. Murawi diam
menunggu reaksi berikutnya. Seperti biasanya ketika bola
dilempar langsung akan bergulung jadi topik yang gurih
untuk diperdebatkan. Gyoto mengajak Murawi masuk rumah

diiringi orang‐orang yang tadi berdiri di depan rumah Gyoto.
Sumar, Tikno, Waris, Kang Mis, Mad Parto, Puji, mereka
melanjutkan cerita detektif‐detektifan semalam, saling intai
antara para pendukung paslon nomor 1, 2, dan nomor 3.
Mereka meronda agar wilayah bithing mereka aman tidak
terkena virus uang.
Cerita semakin seru setelah kedatangan Dower dan
Lebog yang datang berpakaian necis, sepatu mengkilap, baju
rapi dimasukkan. Dower memang jagoan bercerita yang
berapi‐api, semua terkesima mendengar bagaimana ia
semalam kejar‐kejaran menangkap orang tak dikenal mau
membagi amplop dari salah satu pasangan.


66 | Drajat Nurangkoso

“Sudah terpojok di belakang toko Jabar tiba‐tiba,
terdengar kluruk ayam.”
“Sikah, anu ngimpi, o... asem ka,” Ujar Gyoto terkekeh.
“Sana pada nyoblos sudah siang, kasian petugasnya,
kalau yang punya undangan sudah noblos semua kan mereka
bisa istirahat sambil menunggu waktu penghitungan suara.”
“Sante Kang Murawi, sekali kali jadi orang penting.
Ditunggu,” jawab Sumar.
“Saya belum mau noblos kalo belum ada yang
nyangoni,” bahasa Tikno diiyakan oleh Gyoto, Sumar, Tikno,
Puji.
“O, itu rupanya tadi bilang tidak cerdas, rupanya itu.”
Mad Parto membela diri ia mengatakan bila kali ini tidak mau
seperti lima tahun yang lalu dimana ia bertransaksi suara
dengan salah satu pasangan calon dan ahirnya lima tahun ia
merasakan hasil dari pilkada yang transaksional.
“Cerdas, ketempelan demit cerdas ngendi ya, si Mad?”

Murawi memuji, mad Parto yang dipuji bangkit dari risban
terus berdiri bergoyang Inul.
“Lah, ora. Angger ora nana sing dundum amplop nyong ora
pan nyoblos,” teriak si Mu.
“Maning kaki cukup, genah lagi diomongi pak guru kon aja
pada golput aja pada adol bithing, malah ndelak semune
ngenyek,ndak tau apa ada panwas,” hardik Lebog sambil
bergaya menangkap pembagi uang.
“Nyong pan takon. Kalian pingine sapa yang jadi bupati
dan wakilnya kali ini?” tanya Murawi.
Lemparan pertanyaan Murawi langsung disantap jadi
rebutan menjawabnya. Diskusi dadakan tergelar seperti

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 67

biasanya. Gyoto mati‐matian membela Peno Heni, Sumar,
Tikno, Puji bertahan pada harapannya pada Wincin
Syamsudin. Kang Mis pendukung Wahyu Saeful sering
mendapat dukungan penguatan dari Dower. Panas semakin
menaikkan suhu perdebatan, Gyoto yang sendirian sering
mendapatkan cemoohan tetapi ia tetap kuat bertahan,
sesekali membalik menghantam kang Mis dan Dower.
Murawi sesekali meluruskan hal‐hal yang keluar dari koridor,
bila sudah menyerang secara personel bukan program dan
rasis muncul maka buru‐buru Murawi mengarahkan lagi pada
jalur program visi dan misi.
“Intinya kalian kan kepingin punya bupati dan wakil
bupati kan?”
“Bener,Kang,” jawab mereka serentak.
“Nah, bagaimana mungkin kalo kalian‐kalian yang
katanya ingin punya bupati Peno tidak milih Peno, yang ingin
bupati Wahyu tidak pergi nyoblos, yang ingin perubahan

ingin Wincin jadi bupati tapi tidak menggunakan hak pilihnya,
ndadak nunggu ada yang ngasih amplop, makanya sana
nyoblos,” lanjut Muwari.
“Iya hoooo...jere rama kyai kue haram. Dasar lengob,”
sambung si Mu dari balik pintu.
“Lambene, sing mau ndeplak duit mbok dapurmu.”
Kelekar Gyoto.
Diskusi kali ini membelok pada halal dan haramnya duit
amplop bithing. Murawi mulai meras panas, ia keluar rumah
sambil kipas‐kipas.
“Aja lunga kang, kiye diskusine urung pog koh,” pinta
Kang Mis. Si Mu yang biasa dipanggil dengan panggilan kaki


68 | Drajat Nurangkoso

cukup ikut‐ikutan mendorong Murawi masuk kembali dan
duduk di risban.
“Anu bagean mana yang belum tuntas?”
“Itu yang tadi mecodol dari lambene kaki cukup,” jawab
Tikno sambil menyalakan rokok kreteknya.
“Menurutku, ini menurutku lho. Kalo umpamanya Tikno
milih Wincin Syamsudin dasarnya adalah karena cocok sama
program dan visi misinya, nang ati sreg lalau kamu milih
nomor 3 lalu kamu dapat amplop, itu menurutku halal saja
wong diwei rezeki. Tapi sebaliknya, kamu suka dan cocoknya
sama Winchin Sayamsudin terus datang timnya Wahyu Saeful
apa Peno Heni nawarin uang untuk memilih salah satu dari
mereka itu namanya money politic dan menurutku haram
sebab adol ati lan kedaulatan. Tidak cuma itu, kamu malah
martabatnya lebih rendah dari pelacur.” Tikno manggut‐
manggut, Gyoto nampak belum mengerti
“Kang Mis tolong dijelaskan lagi maksude Kang Murawi,

Gyoto nampaknya masih lengob,” goda Dower.
“Sikah, mudeng mudeng, aja kasi ora mudeng anu hal
sepele ka. Oh iya tek terusna permasalahanne. Olih takon Kang
Murawi?”
“Nah, kan cen asline ora mudeng, lengoblah.” Dower
terkekeh
“Kalau begini bagaimana Kang, umpama aku cocokkaro
Peno Heni, terus dikasih uang sama no. 2 apa no. 3 aku tetep
nyoblose Peno Heni prige,Kang?”
“Dosa dobel...dosa dobel...mangas...lewih asor timbang
kewan,” ujar Dower terkekeh‐kekeh.



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 69

“Dobel dosa ngapusi, karo dosa mbadog duit bithing. Ndak
usah Kang Murawi, nyong baen sing tek njelasna ngeneh, apa
wis paham?” lanjut Dower.
“Wis nganah pada nyoblos, wis awan melas petugase TPS.
Bayaran piraha ora li.” Murawi berdiri bersiap mau pulang.
Rombongan orang‐orang belum bertanda tinta di jarinya
beriring menuju TPS. Murawi meninggalkan rumah Gyoto
bersama anak buah angota persatuan duda nusantara sambil
menyisakan senyum getir dan menggelikan tentang
pemilihan kepala daerah tahun 2017. Murawi telah
mengedukasi beberapa orang yang sudah punya hak pilih
yang hampir golput karena tidak ada yang mbagi amplop,
mereka telah menemukan dirinya di dalamnya samudra
pengetahuan dan ajaran lurus dan benar tentang memilih
yang jauh dari sifat transaksional.































70 | Drajat Nurangkoso

Slamat Datang


Pemimpin Baru





H
ujan masih membasahi wilayah kota Dawet Ayu,
Serayu keruh mengalir di tengah kota dengan debit
yang lumayan besar, suaranya bergemuruh, air
kecoklatan dan hiasan sampah nampak berayun
menghantam batu‐batu yang berserak di sepanjang ailiran
sungai dari tuk Bima lukar sampai dam Banjar Cahyana di
utara obyek rekreasi Seruling Mas. Serayu adalah salah satu
nadi yang mendegupkan kehidupan itu nampak letih
menampung sampah dan limpahan air hujan dari parit‐parit
yang berada di sisi selatan dan timur, menggelontorkan
sampah‐sampah desa dan kota. Sebutan sebagai kabupaten
konservasi belum dapat membuat Serayu berkurang
bebannya, masyarakat masih belum sadar akan pentingnya
menjaga sungai demi kelestarian alam dan kehidupan
Angin bertiup sejuk berarak dari atas bukit selatan
membawa partikel‐partikel air sisa hujan yang mengguyur
kota seharian. Bulan malu‐malu menyembul dari balik pohon
yang merimbun di pemakaman desa Sokanandi yang terletak
di sebelah timur pos ojekan SKB. Pemilihan kepala daerah
telah usai tanpa keributan, tanpa ekses yang meresahkan
tidak seperti berita‐berita yang ada di televisi. Pilkada
Banjarnegara berlangsung dengan tenang, tertib, dan lancar
serta damai merupakan prestasi kerja pemerintah daerah,

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 71

dan aparat keamanan yang harus diacungi jempo serta
masyarakat Banjarnegara yang telah membuktikan diri
sebagai demokrat sejati.
Pos ojekan merupakan miniatur kultur masyarakat
Banjarnegara yang ceplas‐ceplos, adem ayem. Tidak
termasuk sumbu pendek. Tahapan‐tahapan pilkada dari
persiapan, penetapan calon, masa kampanye, pencoblosan ,
hingga penetapan pemenang, selalu menjadi topik clemodan
komunitas Kedung jengking diskusi unthuk umbrung pos
ojekan SKB. Orang‐orang yang sering nongkrong di pos
ojekan itu dapat dikatakan sebagai miniatur kultural
masyarakat Banjarnegara karena dalam arena clemodan itu
terdiri dari kelompok pendukung Sehati, Bahagia, dan Bissa
serta satu kelompok netral.
Topik dalam pembicaraan diskusi uthuk umbrung pinggir
kali hari ini masih diwarnai oleh tema kehadiran pemimpin
baru yang telah berhasil menjadi jawara dalam pilkada 2017.

Perolehan suara Bissa yang menggungguli rivalnya begitu
jauh, 54% masyarakat Banjarnegara menghendaki Budi
Sarwono dan Syamsudin untuk menjadi pemimpin dan
pelayan mereka. Kepercayaan dan tentunya amanah yang
begitu besar adalah modal untuk membawa Banjarnegara
yang berubah sesuai keinginan masyarakat pemilih Bissa
yang menginginkan perubahan. Kepercayaan kepada tokoh
pengusaha dan pendidik, mewakili kelompok muda dan tua
seperti Kresna dan Arjuna dalam cerita Mahabarata.
Clemodan pinggir kali diawali oleh desahan Nurkholbun
pendukung kelompok Sehati yang sebentar‐sebentar
mendesiskan kalimat “Bisa‐bisane Peno Heni tepar


72 | Drajat Nurangkoso

ngglangsar.” Tanpa mencari‐cari kelemahan strategi maupun
menghujat‐hujat yang menang dengan dengan tuduhan main
uang karena ia sendiri merasa memberi uang kepada
beberapa pemilih yang mau memberikan dukungan suaranya
untuk pujaan hatinya itu. Pendukung Bissa kali ini sangat irit
bicara takut disebut sombong, arogan dan mentang‐
mentang menang. Mereka hanya sesekali tertawa dan
tertawa, dengan sedikit‐sedikit memberikan pembelaan bila
kelompok Bahagia menghantam dengan tuduhan yang tidak
mendasar. Kelompok Bahagia masih benar‐benar belum bisa
bahagia, belum move on. Dalam perdebatan kali ini struktur
drama benar‐benar kentara. Protagonis dan antagonis serta
penyeimbang juga penyela hadir dalam arena teater hidup
dalam sepotong cerita masyarakat Banjarnegara.Kang Mis
sebagai pendukung Bahagia masih terus mencerca cara‐cara
kemenangan, kelompok pemenang hanya senyum‐senyum
meledek.Perdebatan terus mengalir mengatasi deburan

suara air kali Jogan yang jatuh di kali Nyangko di atas Kedung
Jengking.
“Sudahlah, semua ada curangnya. Pilkada sudah selesai,
kalau memang belum terima ndak usah tanda tangan tadi
ketika penetapan…beres mbok?” Gus Kencrung menengahi.
“Betul Kang Mis, seperti saya saja, terima apa adanya,
nyatane kalah ya wis,” timpa Nurkholbun.
“Jangan menuduh tanpa alasan dan bukti, dan jangan
menisbikan adanya Panwas. Coba kalo sampean yang jadi
Panwas, tersinggung apa tidak kalo dianggap tidak ada?”
Murawi mulai terpancing, lalu menguraikan dasar startegi



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 73

politik sampai letak kedudukan adanya Panwas dalam
demokrasi Indonesia.
“Panwas?Ha…ha ...ha...itu hanya diada‐adakan dan
dijadi‐jadikan.” Sanggah kelompok bahagia tetangga Kribo
dari Kuku Rambut.
Kesimpulan dari kekecewaan diskusi itu tertumpu pada
fungsi Panwas yang pada ahirnya menguliti pribadi satu
persatu anggota Panwas, bukan lagi mendiskusikan tugas
dan fungsinya. Suasana diskusi sudah tidak sehat, Murawi
berinisiatif mencari pembelokan ke tema baru, tetapi belum
ada celah dan belum menemukan apa gerangan yang bisa
digunakan untuk menghentikan “ngomongin orang”.
“Kang Murawi sudah mendengar pidato pak Budi
Sarwono waktu penetapan hasil pilkada?”
Pertanyaan Tikno langsung menjadi ide Murawi untuk
membelokkan diskusi yang sudah mulai menjelekan secara
personal itu. Murawi menangkap dengan cepat lalu

menjawab dan menguraikan, ia tidak menjadi saksi sejarah
tetapi beberapa temannya mengirim video pidato sang
pemenang lewat wa pribadi maupun wa grup. Murawi
mencoba menafsirkan isi pidati Bupati terpilih dari berbagai
sudut pendekatan, baik budaya, pilitik, serta spirit kerja. Dan
yang tidak kalah penting adalah prinsip birokrasi yang
mendasarkan pada kapasitas dan kapabilitas, bukan birokrasi
tutup mata asal mendukung. Poin perubahan dimulai dari
penataan birokrasi yang efektif dan efisien. Meritokrasi akan
diterapkan oleh duet Budi Sarwono dengan Syamsudin.
“Lah, itu belio pidato tidak akan menggunakan yang
bertopeng, maknanya apa?” sanggah Kang Mis.


74 | Drajat Nurangkoso

“Begini, dalam analisa saya beliau tidak suka orang yang
ambigu, tidak suka yang bermuka dua, yang tutup‐tutupan,
tidak transparan. Jangan diartikan sebaliknya kang, rika mesti
ngarani hanya akan menjadikan pejabat pembantunya dari
kelompok pendukungnya saja.”
Teman Kribo nampak mengerutkan kening tanda ada
sesuatu yang ia pikirkan dari jawaban Murawi.
“Lah, maning kang, apa maksude jere mau makaryo
untuk amanah 54 % masyarakat pemilihnya, berarti dia hanya
akan menjadi bupati untuk pendukungnya saja yang 54%? Ujar
teman Kribo.”
“Lho, mana yang salah dari statemen beliau? Memang
benar, kan yang memberi amanat ke Bissa kan 54%, tapi
maksud penafsiranmu itu masih terkena penyakit belum
move on. Kan beliau bilang mau kerja‐kerja untuk
Banjarnegara,” balas Murawi sambil menyalakan barang
makruh yang masih konsisten dinikmatinya.

Kang Mis manggut‐manggut tanda mengerti, begitu pula
temannya Kribo dari Kuku Rambut. Murawi melanjutkan
penjelasan panjang lebar tentang makna demokrasi, tentang
amanah, tentang kepantasan sebagai bagian dalam
membangun diri, tentang gagal move on yang dapat
menghambat cita‐cita perubahan. Murawi memberi contoh‐
contoh kasus gagal move on dari pendukung lawan Jokowi
yang hanya menciptakan kegaduhan, bukan ketentraman.
Murawi mengajak untuk bersama‐sama melebur menjadi satu
Banjarnegara dan Banjarnegara yang satu dalam tujuan dan
gerak mencapai tujuannya. Bersatu dalam kerja, kerja, dan



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 75

kerja seperti ajakan Budi Sarwno dalam pidato penetapannya
sebagai jawara pilkada Banjarnegara 2017.
“Bagaimana, sudah bisa move on?” kalimat akhir
pertanyaan Murawi disambut kata‐kata kompak tanpa
komando...”Bisa”.
“Besok saya mau membuat tulisan besar di atas tempat
nongkrong kita,” potong Kang Mis.
“Apa maning kue?”
“Kang Gus, di depan pos ojekan ini saya mau pasangi
spanduk besar ucapan selamat datang pemimpin baru
Banjarnegara, melebur jadi satu Banjarnegara dan
Banjarnegara yang satu seperti kata‐kata kang Murawi.”
“Bagus kue, duwite sapa sing nggo pesen?” tanya
Nurkholbun.
“Urunan, bantingan...ayo,sapa sing arep ndingini!”
Murawi nampak lega. Komunitas Kedung Jengking sudah
tidak ada lagi kubu‐kubuan, sudah menjadi satu napas

CAPINGLI, alias bocah pinggir kali. Demikian pula harapannya
kepada seluruh warga Banjarnegara kembali menyatu untuk
kerja mengejar ketertinggalan dengan daerah sekitar.




















76 | Drajat Nurangkoso

Naik





S
ejak pemerintah ahirnya mengurangi beban subsidi
BBM yang sudah mau menenggelamkan ekonomi
negara alias undak‐undakan bensin dan solar warung
Mbok Dul sedikit agak sepi, Uwa Salbani juga merasa
dampaknya sudah berkurang dalam mengikat kambing di
patok pasar hewan Punagara maupun Tambakan, Gus
Kencrung komandan ojek SKB juga merasakan hal yang
sama, rejeki seret dan glagepan mengikuti harga‐harga yang
melambung bersayap seperti bermesin jet tak terkejar.
Poster gambar mantan Presiden dengan tulisan yang
provokativ secara tidak terasa mengajak yang membaca,
mengarahkan, dan mempengaruhi yang membaca untuk
berkata bila sekarang tidak enak hidupnya dibanding dari
zaman dulu. Sepertinya mereka tidak sadar bila kelimpahan
rejeki dan nikmat Tuhan sudah begitu murah Tuhan berikan
jaman sekarang. Bayangkan saja andaai Tuhan
mengembalikan kembali hidup kita pada zaman orde baru,
apa kita mampu menanggungnya, informasi dan
telekomunikasi sekarang sudah lebih maju, setiap rumah
hampir memiliki alat telekomunikasi, transportasi lebih
mudah dan merata,sepeda motor sudah bukan menjadi
barang mewah, makanan tersedia melimpah. Murawi
mengingat masa kecil dulu dimana makan lauk tempe saja
harus berbagi dengan saudaranya, makan daging nunggu
lebaran idul fitri, beli baju nunggu lebaran, televisi hanya ada

Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 77

satu di rumahnya pak Lurah, listrik belum ada, jalan belum
beraspa, Murawi heran mengapa ada orang yang menulis
“piye kabare, isih penak jamanku to?”
Tiba‐tiba Murawi mengalami paranoid yang sangat akut,
saban habis solat ia memohon agar Tuhan jangan
membiarkan pikirannya terhasut dan terbawa oleh tulisan di
stiker lebar yang menempel di kendaraan, ia takut Tuhan
mengembalikan kembali ke zaman seperti dulu dimana ia
harus jalan kaki 7km untuk bersekolah tanpa ada uang saku,
bukan karena orang tuanya pelit, tapi karena benar‐benar
tidak ada yang untuk nyangoni. Makan lauk tempe dengan
jatah kuota “siji‐siji” makan peyek dele nunggu malam Jumat
kliwon saat slametan wekton bapaknya.
Hujan keluhan semakin lama semakin deras apalagi
kenaikan BBM bertepatan dengan lebonan anyar anak
sekolah dan datangnya bulan puasa, katanya bulan
romadhon adalah bulan yang penuh berkah, tetapi kenapa

kehadirannya disambut dengan keluhan, apakah mereka
sudah lupa bila Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang
serta Maha pemberi rezeki, apakah mereka sudah lupa
ancaman Tuhan bila manusia tidak bersyukur?, mengeluh
adalah sebagian tanda dari kekufuran.
“Anjrit, gontok‐gontokan BBM ramai kaya asu masa ke
sanga, pol‐pole BBM tetep mundak.” Teriak Denan dari arah
selatan setelah nembak nomer togel.
“Ealah, li ora kena gela..jajal nganah ko dadi pemerintah,”
sahut Dobleh pengagum SBY sang Presiden dari partai yang
jadi pilihannya.




78 | Drajat Nurangkoso

“Kalo nyuruh kaya gitu sama saja nantang gelut…dasar
ora waras.” Sergah Denan.
Suasana di ojekan SKB menjadi tegang, ada yang
membela Denan, ada yang membela Dobleh, masing‐masing
mengeluarkan argumen dan pembelaannya. Puji diam seribu
bahasa takut partai yang menjadi pilihannya menjadi bulan‐
bulanan. Ia ingat kata‐kata Murawi kalo partenya si putih
bersih berseri sepanjang hari tiada henti sayang ternoda
tlepong sapi adalah partai yang berpijak di dua sisi alias
“methangthang”. Orang “methangthang” bila tidak siap
gampang goyah dan ambruk, bila tidak tau ilmu kuda akan
mudah diserang. Puji lebih baik diam dari pada mendapat
ledekan sebagai partai yang lagi nyari pencitraan atau
memulihkan citra, menolak BBM hanya sebagai sabun
mencuci noda tahi sapi.
“Jane ndak perlu pathing pethengtheng, kabeh bener,”
omongan Murawi menghentikan gontok‐gontokan.

Suasana sedikit tenang kemudian Murawi mulai memberi
analisa tentang nalar PDIP dan teman‐teman partai yang
menolak kenaikan BBM. Menurutnya PDIP benar menolak
kenaikan BBM disaat mayarakat sedang kesulitan dan
momennya sedang bagus untuk pertumbuhan ekonomi, kalo
BBM dinaikan pasti akan jadi inflasi tinggi, dunia usaha akan
megap‐megap, rakyat akan semakin tergradasi ke garis
miskin. Subsidi BBM masih diperlukan, pengelolaan keuangan
Negara yang mestinya diperbaiki lebih profesional,
transparan, dan akuntabel. Masih bisa menggali kekurangan
dana untuk subsidi dari sektor penerimaan pajak kalo para



Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 79

pegawai pajak lebih kreatif, jeli, dan tidak rakus. Sisa
anggaran bisa untuk menutup sebagian kekurangan.
Demokrat dan konco‐koncone juga tidak salah bila
mengurangi subsidi sebab bila defisit anggaran karena
banyak yang tersedot ke BBM Negara bisa bangkrut, rakyat
harus mulai diajari untuk mandiri. Murawi yang tidak
sependapat adalah dengan alasan subsidi BBM salah sasaran,
mau kaya mau miskin sama‐sama punya hak. Dalam hal ini tak
ada perbedaan dalam menikmati kemerdekaan dan
kebijakan, orang kaya sudah menyumbang lebih banyak pada
Negara lewat pajak‐pajaknya jadi wajar kalau mereka juga
berhak menikmati fasilitas subsidi BBM, dan ada lagi yang ia
tidak sependapat dengan alasan BBM subsidi banyak
disalahgunakan diselundupkan itu namanya menaifkan kerja
para aparat penegak hukum dan keamanan. Komunitas
mendengar uraian Murawi dengan saksama,kadang disela
interupsi dan guyon seperti biasanya.

“Jadi, setujukah jane rika dengan kenaikan BBM?”tanya
Sumar menyela.
“Ini saatnya bukan setuju dan tidak setuju. Menurut saya
lebih baik BBM dilepas sesuai dengan harga pasar saja lalu
uang subsisi yang besarnya 257 triliun rupiah itu digunakan
untuk jaminan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Jalan‐jalan
pasti akan semulus jalan tol, irigasi akan lancar airnya ndak
pada hilang karena tanggul yang jebol, listrik murah, pupuk
murah hingga petani bisa bersaing dengan produk pertanian
dari negara luar.”
“Tapi wong 6500 perak saja harga‐harga melambung
kaya lagune cah TK…tinggi‐tinggi sekali,” ujar Gus Kencrung.


80 | Drajat Nurangkoso

“Pasti banyak orang mengeluh bahkan lebih dari
mengeluh…menjerit..kang..yakin gologokin sipatsikin… gelem
dekerah asu angger ora,” ujar Sumar disambut gelak tawa
komunitas uthuk umbrung mendengar aksen bahasa
Sokanandian.
“Mengeluh adalah ciri manusia sing ora bersyukur,” sahut
Dobleh sambil membetulkan letak duduknya yang hampir
terjatuh karena sedikit demi sedikit disorong oleh Welli
kruwel dan teman‐teman.
“Kabeh‐kabeh pada mundak, dewek jangan sampe tidak
mundak,” ujar Murawi.
“Ya benar, ndak usah kakean ngangluh, kaya ndak punya
Gusti Allah, rega‐rega pada mundak, mari kita undakna rasa
syukur kita maring paringane Gusti Allah,” tegas Dobleh
melanjutkan omongan Murawi.
“Cangkeme….kae degoleti bojone, jere berase entong,”
ujar Gus Kencrung disambut gelak tawa komunitas uthuk

umbrung ojekan SKB.
Dobleh cengar‐cengir sambil krodong sarung bergegas
pulang karena dicari istrinya.
“Ngapura ya lur, itu tadi sebenarnya bahasanya kang
Murawi yang saya pungut kemarin waktu diskusi di
rumahnya,” ujar Dobleh sambil berlari menyeberang jalan di
depan foto copy Jabar.











Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 81

Profil Penulis





Drajat Nurangkoso, dilahirkan
sebagai anak kampung tepatnya Desa
Lengkong, Kecamatan Rakit,
Kabupaten Banjarnegara tahun 1966.
Besar dalam keluarga pendidik,
mendiang Ibu dan Bapaknya adalah
pensiunan guru Sekolah Dasar, tidak
salah apabila kemudia iapun
melanjutkan profesi orang tuanya.
Menyelesaiakan studi Pascasarjana tahun 2012 dari
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonimi Pariwisata Semarang, kegiatan
belajar mengajarnya tidak membuat dirinya meninggalkan
dunia seni yang telah ia akrabi sejak kecil dan
membesarkannya. Diantara jagat seni yang telah ditorehkan
adalah pengalaman berpameran seni lukis di beberapa kota
di Indonesia. Dalamdunia sastra ia sebagai penerima
penghargaan naskah terpilih lomba penulisan naskah drama
dan penulisan skenario film remaja tingkat Jawa Tengah.
Aktif menulis sejak SMP dan dikuatkan saat bergabung
dalam Unit Kegiatan Mahasiswa UNSTRAT (Unit Studi Sastra
Teater) di IKIP Karang Malang, Yogyakarta. Beberapa
tulisannya selalu hadir di majalah Derap Serayu, koran harian
yang terbit di lokal eks. karesidenan Banyumas. Karya
puisinya masuk dalam antologi puisi Pendapa 6 Jawa
Tengah. dua kumpulan puisi


82 | Drajat Nurangkoso

berjudul Perjalanan Sunyi dan Perjamuan Cinta juga satu
novelet Pelangi di kubah Langit Hatiku sudah diterbitkan.
Kini masih aktif mengajar ( juga sebagai Kepala Sekolah )
sebuah SMP Negeri di Banjarnegara, sebagai seorang yang
menikmati perjalanan hidup dirinya menulis perjalanan‐
perjalanan itu dalam kolom khusus yang dinamai Celoteh
Murawi.
Ia juga sebagai Kamituo Aji Tapak Sesontengan (ATS)
keilmuan Nusantara yang dihidupkan kembali untuk kejayaan
Indonesia. ia membuka layanan terapi di sanggarnya Rt.01
Rw. 06 Kelurahah Sokanandi Banjarnegara dan di gubug
terapi Praya desa Sambong Kecamatan Punggelan
Banjarnegara, kontak 081229429404, amail :
[email protected]
































Celoteh Murawi (Obrolan Pinggir Dalan) | 83

84 | Drajat Nurangkoso




Click to View FlipBook Version