The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MODUL PEMBELAJARAN IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA POLTEKKES KEMENKES MALANG TAHUN 2022 OLEH FITRIA DHENOK PALUPI, S.S.T., M.Gz

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fitria.dhenok, 2022-09-15 03:34:57

MODUL PEMBELAJARAN IPE

MODUL PEMBELAJARAN IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA POLTEKKES KEMENKES MALANG TAHUN 2022 OLEH FITRIA DHENOK PALUPI, S.S.T., M.Gz

Keywords: IPE,GIZI SARJANA TERAPAN

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 i

Kata Pengantar
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga dapat menyelesaikan penyusunan modul Pembelajaran Interprofesional Education
(IPE) Prodi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika Poltekkes Kemenkes Malang. Modul
pembelajaran ini disusun oleh tim fasilitator IPE Prodi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika.
Adapun tujuan penyusunan Pedoman Praktikum ini adalah untuk memberikan arahan
kepada mahasiswa Prodi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika Jurusan Gizi Poltekkes
Kemenkes Malang yang menempuh pembelajaran IPE. Kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses pembuatan Modul IPE ini saya sampaikan terimakasih yang tak
terhingga. Akhir kata, kami haturkan maaf bila masih ada kekurangan dalam penyusunan
Modul IPE ini, semoga bermanfaat. Kami berharap saran dari semua pihak yang dapat
disampaikan langsung kepada saya untuk perbaikan Modul IPE ini di edisi mendatang.

Malang, September 2022
Fitria Dhenok Palupi, S.S.T., M.Gz

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................................... 1
BAB II ETIKA DAN NORMA PROFESI ..................................................................................................... 7
BAB III PERAN DAN TANGGUNGJAWAB PROFESI ............................................................................... 18
BAB IV KOMUNIKASI INTERPROFESI ................................................................................................... 25
BAB V KERJASAMA ANTAR PROFESI.................................................................................................... 34
BAB VI PATIENT CENTER CARE ............................................................................................................ 43
BAB VII PROGRAM IPE KOMUNITAS................................................................................................... 53
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................... 60

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian IPE
Interprofessional Education (IPE) merupakan salah satu konsep pendidikan

terintegrasi melalui proses pelatihan dan kolaborasi pembelajaran antara multi-profesi
atau berbagai mahasiswa tenaga kesehatan yang berinteraksi dan berkolaborasi
antara satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan,
menciptakan, dan menyediakan pelayanan kesehatan yang promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif untuk meningkatkan kompetensi profesional kesehatan. Pendidikan
interprofesi merupakan “an occasion when two or more professions learn with, from
and about each other to improve collaboration and the quality of care” sebagai sarana
untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep dasar dari definisi tersebut diatas adalah
suatu proses pembelajaran yang melibatkan dua atau lebih profesi yang berbeda dan
adanya proses saling interaksi di dalamnya. Proses ini haruslah dibedakan dengan
istilah antar disiplin (interdisipline) dan multi profesi (multiprofesional) yang mana
kedua istilah tersebut hanyalah suatu pembelajaran bersama tetapi tidak ada proses
saling interaksi (terkadang hanya bersifat satu arah) (Fuadah, et al., 2014;
Kusumaningrum & Anggorowati, 2018; Pratiwi, et al., 2018).

Kegiatan IPE ini dilakukan untuk mempersiapkan mahasiswa kesehatan dalam
memberikan pelayanan kesehatan di dalam ruang lingkup lingkungan kolaborasi,
sehingga di masa yang akan datang mahasiswa yang akan menjadi tenaga kesehatan
dapat meningkatkan kualitas pelayanan, mempercepat kesembuhan, dan mengurangi
kesalahan (Asmara, et al., 2019; Sulistyowati, 2019). Dalam program IPE ini,
mahasiswa tenaga kesehatan diajarkan bagaimana dari berbagai profesi dapat saling
belajar bersama untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
diperlukan supaya dapat memecahkan masalah kesehatan, serta bagaimana
mahasiswa dapat belajar untuk memprioritaskan individu dan masyarakat dalam
perilaku dan kompetensi interprofesional (Asmara, et al., 2019; Fuadah, et al., 2012;
Titania, 2018; Wulandari, et al., 2018).

Menurut Muktamiroh, et al. (2019), implementasi IPE dengan mendata nilai
profesionalisme perlu ditambahkan dalam pendidikan akademik supaya mahasiswa
memiliki kemampuan kerjasama dan kolaborasi interprofesi, memodifikasi kegiatan
yang telah dilakukan diinstitusi pendidikan serta memanfatkan beberapa infrakstruktur
yang telah dimiliki dan modal lain yang telah dimiliki sebagai peluang. Hal ini didukung

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 1

oleh penelitian dari Pratiwi, et al. (2018) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang positif dan signifikan antara kemampuan tim dengan kinerja mahasiswa pada
pelaksanaan IPE, dimana mahasiswa memiliki persepsi, keterampilan, sikap, dan
kemampuan yang baik dengan adanya penerapan program IPE dalam pendidikan
akademik. Penelitian yang dilakukan oleh Liaw, et al. (2014) juga menunjukan bahwa
pelatihan interprofesional dalam program sarjana memberikan perkembangan kinerja
kerja dalam tim interprofesional dan kemampuan berkomunikasi yang bermanfaat bagi
keselamatan pasien.

Interprofessional Education merupakan pembelajaran yang dilakukan secara
langsung oleh mahasiswa disiplin ilmu sesuai dengan permasalahan di lapangan,
sehingga mahasiswa dapat menganalisis dan mengambil keputusan secara mandiri
dengan pertimbangan yang tepat melalui sikap kerja yang baik, terampil dan
dilaksanakan dalam usaha yang konsisten (Pratiwi, et al., 2018). Penerapan program
IPE menjadi salah satu dasar dalam pembentukan kolaborasi. Dimana kegiatan IPE
ini diterapkan sebagai media kolaborasi antar professional kesehatan dengan
menanamkan pengetahuan dan keterampilan dasar sedini mungkin antar profesional
melalui proses pendidikan. Selain itu IPE dapat membantu pengembangan konsep
kerja sama antar profesional dengan mempromosikan sikap dan tingkah laku yang
positif antar profesi yang terlibat. Pengembangan program IPE dimulai dengan tujuan
utama yaitu untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang berpusat pada
kesembuhan dan keselamatan pasien. Pendekatan interprofesional akan
memfasilitasi mahasiswa dari satu disiplin ilmu untuk belajar dari disiplin ilmu lainnya,
sehingga dapat meningkatkan keterampilan baru mahasiswa, memperkaya
keterampilan khusus yang dimiliki oleh masing-masing disiplin, dan mampu bekerja
sama lebih baik dalam lingkungan tim yang terintegrasi (Kusumaningrum &
Anggorowati, 2018; Pratiwi et al., 2018). Menurut Anwar & Rosa (2019), IPE memiliki
potensi yang positif dalam mempengaruhi sikap dan persepsi terhadap kolaborasi
antarprofesional dan meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan klinis dan
kualitas perawatan yang lebih baik dan terjamin(Anwar & Rosa, 2019)
B. Tujuan
Tujuan penyelenggaraan interprofessional education (IPE) adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pemahaman materi pembelajaran kepada mahasiswan
2. Memperkenalkan sistem kolaborasi / bekerja sama dengan klien dan anggota

tim antar profesi dalam pelayanan kesehatan
3. Memperkenalkan perbedaan budaya individu yang dimiliki oleh klien dan tim

antar profesi

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 2

4. Mengidentifikasi kebutuhan klien dalam pemberian pelayanan kesehatan
5. Mengidentifikasi karakteristik klien dan tim antar profesi
6. Menghargai keunikan budaya, nilai, peran dan tanggungjawab, serta keahlian

anggota tim antar profesi
7. Meningkatkan mutu pembelajaran pada Poltekkes Kemenkes Malang.
C. Manfaat IPE

Manfaat dari kegiatan IPE adalah mahasiswa dapat belajar berkolaborasi dan
berfungsi didalam suatu tim dan membawa pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang dipelajari ke dalam praktek di masa depan bersama profesi kesehatan yang lain
untuk kesembuhan dan keselamatan pasien. Praktek kolaborasi bukan hanya
diperlukan dalam kesembuhan dan keselamatan pasien, tetapi juga untuk
meningkatkan kepuasan serta terciptanya mutu pelayanan kesehatan yang prima
dan baik (Pratiwi, et al., 2018). Dalam kegiatan ini, mahasiswa juga diajarkan agar
mampu bekerjasama dalam berbagai aspek seperti berkomunikasi, berkolaborasi,
menentukan peran dan tanggung jawab dari masing-masing profesi, memanajemen
konflik, pengambilan keputusan, berbagi pengetahuan dan keterampilan, dan yang
terakhir bagaimana menumbuhkan rasa saling menghormati antar teman (Asmara,
et al., 2019; Fuadah, et al., 2012; Kusumaningrum & Anggorowati, 2018; Romijn, et
al., 2018; Wulandari, et al., 2018).
D. Ruang Lingkup IPE

Interprofessional Education (IPE) pernah dibahas pada sebuah workshoppada
Poltekkes Kemenkes pada tanggal 3 – 5 september 2019. Pertemuan ini dihadiri oleh
pimpinan dan dan civitas dosen Poltekkes Kemenkes dan beberapa perwakilan
jurusan dan prodi di Poltekkes Kemenkes. Pertemuan ini membahas tentang IPE,
elemen-elemen penting dalam IPE 9 (meliputi kerjasama, komunikasi, saling
menghargai, menerapkan ilmu dan skill, saling memberikan ilmu, refleksi diri,
pengalaman interprofesional), tantangan yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan
IPE, serta strategi yang akan dicoba untuk diterapkan. Pelaksanaan IPE di Poltekkes
Kemenkes Malang akan diikuti oleh 4 Jurusan, yaitu jurusan Gizi, Keperawatan,
Kebidanan, dan Rekam Medik dan Informasi Kesehatan (RMIK), dan 23 Program studi

Ruang lingkup penyelenggaraan Interprofessional Education (IPE) di
Poltekkes Kemenkes Malang adalah :
1. Penyelenggaraan Interprofessional Education (IPE) diselenggarakan oleh program

studi pada setiap Jurusan yang standar penyelenggaraannya harus memenuhi
ketentuan peraturan perundangan;
2. Interprofessional Education (IPE) diterapkan dengan cara blended learning dalam
mata kuliah baik dalam program studi reguler maupun non-reguler dengan tetap

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 3

mengacu kepada sistem Satuan Kredit Semester;
3. Interprofessional Education (IPE) diterapkan oleh setiap program studi padasetiap

Jurusan untuk semua jenjang;
4. Penerapan Interprofessional Education (IPE) pada program studi di setiap Jurusan

ditetapkan dengan surat keputusan Direktur Poltekkes Kemenkes Malang.
Tata pamong penyelenggaraan Interprofessional Education (IPE) adalah

sebagai berikut :
1. Poltekkes Kemenkes Malang

Poltekkes Kemenkes Malang dalam melaksanakan standar pengelolaan
pembelajaran Interprofessional Education (IPE) wajib melaksanakan hal-hal
sebagau berikut :
a. Menyusun kebijakan, rencana strategis, rencana operasional, dan

pembiayaan pembelajaran Interprofessional Education (IPE) yang dapat
diakses oleh seluruh civitas akademika dan pemangku kepentingan serta
dapat djadikan pedoman.
b. Menyelenggarakan pembelajaran Interprofessional Education (IPE)
sesuai dengan capaian pembelajaran lulusan
c. Menjaga dan meningkatkan mutu pengelolaa program studi dalam
melaksanakan program pembelajaran Interprofessional Education (IPE)
secara berkelanjutan dengan sasaran yang sesuai dengan visi dan misi
Poltekkes Kemenkes Malang
d. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhada kegiata program studi dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran Interprofessional Education (IPE)
e. Memiliki panduan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengawasan,
penjaminan mutu, dan pengembangan kegiatan pembelajaran
Interprofessional Education (IPE).
2. Jurusan (Unit Pengelola Program Studi)
Jurusan sebagai pengelola program studi wajib melaksanakan hal – hal
sebagai berikut :
a. Menyusun kurikulum dan rencana pembelajaran dalam setiap mata kuliah
yang dilaksanakan dengan pembelajaran Interprofessional Education (IPE).
b. Melakukan kegiatan pemantauan dan evaluasi secara periodic dalam
rangka meningkatkan mutu proses pembelajaran Interprofessional
Education (IPE).
c. Melaporkan secara tertulis hasil program pembelajaran Interprofessional
Education (IPE) secara periodic sebagai sumber data dan informasi dalam

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 4

pengambilan keputusan perbaikan dan pengembangan mutu
pembelajaran.
3. Program Studi
a. Membuat perencanaan program pembelajaran Interprofessional Education
(IPE) sesuai dengan mata kuliah yang akan diinsertkan dengan materi
materi IPE.
b. Menyelenggarakan proses Interprofessional Education (IPE) secara
menyeluruh sesuai dengan kurikulum yang telah disusun dan disepakati
(meliputi ; mata kuliah yang akan diinsertkan, dosen pengampu, masalah
masalah kesehatan yang akan dipecahkan dalam pembelajaran).
c. Melaporkan tertulis hasil program pembelajaran Interprofessional
Education (IPE) secara periodic sebagai sumber data dan informasi dalam
pengambilan keputusan perbaikan dan pengembangan mutu
pembelajaran.
E. Kompetensi IPE
Menurut Kristina et al. (2019) Program IPE ditujukan untuk pencapaian 4 kompetensi
utama yaitu :
1. Understanding Ethics & Value
a) Memahami dan menerapkan etika dan perilaku yang baik terhadap teman
dan dosen seprofesi maupun antar profesi
b) Memahami dan menerapkan etika dan perilaku yang baikterhadap tenaga
kesehatan dan juga kader kesehatan
c) Memahami dan menerapkan etika dan perilaku yang baik terhadap
anggota keluarga yang dikunjungi
2. Roles and Responsibilities
a) Menyadari peran dan tanggung jawab dirinya sebagaimahasiswa calon
profesidokter/ dokter gigi atau tenaga kesehatan lain, misalnya: perawat,
bidan, ahli nutrisi,farmasi.
b) Memahami peran dan tanggung jawab tenaga kesehatan dan kader
kesehatan
c) Menyadari peran keluarga sebagai bagian yang penting dalam sebuah
kolaborasi
3. Communication
a) Mampu berkomunikasi antar teman seprofesi dan profesikesehatan lain
dalam melakukan identifikasi masalah keseharan, intervensi, monitoring
dan evaluasi hasil intervensi serta penyusunan laporan

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 5

b) Mampu berkomunikasi dengan anggota keluarga sebagai unit terkecil dari
masyarakat

c) Mampu berkomunikasi dengan petugas kesehatan maupun kader
kesehatan

4. problem solving and Teamworking
Mampu mengaplikasikan dan berbagi pengetahuan dalambekerja sama untuk:
a) mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko terkait permasalahan
kesehatan keluarga
1) menentukan/ memilih intervensi yang mengutamakanaspek promotif,
preventif dan/ atau pendampingan untuk mengoptimalkan
kesehatan keluarga
2) melakukan intervensi dengan melibatkan peran aktif dari anggota
keluarga dan kader
3) melakukan monitoring dan evaluasi hasil intervensi
b) Mampu mengatasi konflik di dalam tim

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 6

BAB II
ETIKA DAN NORMA PROFESI

Tujuan Pembelajaran :
1. Mahasiswa mampu menempatkan kebutuhan klien dan populasi sebagai pusat dari

kolaborasi antar profesi untuk memberikan pelayanan Kesehatan
2. Mahasiswa mampu memperhatikan perbedaan budaya dan perbedaan individu yang

dimiliki oleh klien, populasi, dan tim antar profesi
3. Mahasiswa mampu menciptakan hubungan saling percaya dengan klien, keluarga klien,

dan tim antar profesi
4. Mahasiswa mampu mengelola dilemma etik yang terjadi pada saat memberikan

pelayanan kepada klien dalam tim antar profesi
5. Mahasiswa mampu berperilaku jujur dan menjaga integritas dalam berinteraksi dengan

klien

A. Pengertian Nilai dan Etik Profesi
Etika adalah bagian pokok ilmu kedokteran dan kesehatan, bukan sebagai

pelengkap“Tidak ada satupun tenaga kesehatan yang melakukan tugas profesinya,
yang tidak pernah menghadapi permasalahan atau dilema etika dalam praktiknya”
Oleh karena itu, penting bagi setiap tenaga kesehatan untuk menguasai ilmu Etika.

Etika adalah ilmu yang mempelajari seni berpikir dalam menentukan
argumentasi terhadap tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh seorang
agen. Secara bahasa etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk
dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); kumpulan asas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak; dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu
golongan atau masyarakat. Topik Pembahasan Etika Profesi dalam Pendidikan
Interprofesional antara lain :
a. Tugas profesi : saling mengenal tugas/ fungsi kerja, batasan, potensi, dan

hambatan pelaksanaan tugas profesi
b. Informed consent : menentukan kapasitas pasien/ klien untuk bertindak otonom,

pendelegasian pengambilan IC, dan aspek legal.
c. Kerahasiaan : siapa yang memiliki kewajiban merahasikan, apa yang harus

dirahasiakan, aspek legal, berbagi informasi vs membuka rahasia
d. Pasien/klien/populasi rentan : definisi dari tiap-tiap profesi, perlindungan pasien

rentan, dan kekerasan dalam rumah tangga
e. Etika penelitian: Ethical clereance, penelitian berbasis komunitas, perlindungan

subjek peneliti yang mengundurkan diri dari penelitian komunitas
MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 7

f. Deliberasi moral/ etik: cara penyusunan argumentasi moral, pengambilan
keputusan kompromistis dalam diskursus moral/ etik, dan menyusun pernyataan
etik (Mahardinata, 2015)
Etika/moral kebajikan menjadi sorotan dalam praktik interprofessional. Etika

ini muncul karena banyaknya pertanyaan seperti apakah praktisi berorientasi pada
praktik yang benar, apakah melakukan hal yang benar kepada pasien, apakah juga
melakukan hal yang benar kepada yang lain, dan apakah menjadi seorang pripadi
praktisi yang benar dan bijak? Etika kebajikan menurut Ewashen etal (2013)
mengelompokkan ke dalam 4 kategori yaitu:
1. Etika untuk berhati-hati pada nilai dan moral (beware of values and morals)

Perlu kiranya praktisi memahami terhadap nilai dan moral yang ada disekitarnya
dan pada pasien/keluarga. Akan ada kesamaan nilai/moral tapi tidak dipungkiri
pula akan ada perbedaan yang ditemui. Kemampuan praktisi untuk menempatkan
hal tersebut pada konteksnya dengan kembali pada prinsip patient-centered care.
2. Etika untuk melakukan refleksi diri dari setiap tindakan yang dilakukan (reflection
in action) Refleksi merupakan suatu kemampuan yang dikembangkan dalam
pendidikan Kesehatan dan kedokteran pada era milenial ini. Refleksi merupakan
suatu bentuk penilaian diri akan apa yang dilakukan. Etika dalam refleksi pada
setiap kegiatan sangat diperlukan agar praktisi terbiasa untuk selalu melakukan
refleksi diri terhadap semua yang dilakukan baik untuk pasien, anggota tim dan
diri sendiri.
3. Etika untuk mengeksplorasi terhadap nilai-nilai yang memicu konflik (explore
conflicting values) Adanya kontak dengan sesama manusia baik dalam berbagai
kegiatan, pasti akan menimbulkan konflik. Konflik ini timbul karena adanya
perbedaan persepsi baik dari nilai/etika atau perilaku/tindakan. Dalam kerjasama
tim dan khususnya praktik interprofessional, etika untuk mengeksplorasi
nilai/value yang dapat menimbulkan konflik perlu dipelajari agar terhindar dari
konflik yang bersifat vertikal atau horizontal.
4. Etika untuk mencari tindakan alternatif untuk tujuan kebaikan bersama (seeks
alternative actions) Praktisi sering dihadapi kebuntuan dalam menyelesaikan
suatu masalah khususnya permasalahan kesehatan baik masalah individu
maupun komunitas. Kemampuan untuk mengembangkan suatu etika yang
bertujuan mencari suatu solusi atau pemecahan masalah adalah perlu juga
dikembangkan agar terbiasa untuk mencari alternative penyelesaian masalah.

Berdasarkan uraian tersebut maka Etika Profesi adalah suatu pelaksanaan
atau Tindakan dalam melaksanakan pekerjaan khusus yang memiliki otoritas yang

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 8

diberikan kepada seseorang atas dasar keahlian khususnya yang dianggap baik dan
benar menurut kaidah-kaidah keilmuannya. Selanjutnya Kode Etik profesi adalah
suatu aturan moral atau etik yang menjadi landasan yang harus yang dipatuhi oleh
para prifessional dalam melakukan orientasinya. Aturan moral atau etik terhadap
masyarakat umum, terhada dirinya sendiri dan hubungannya dengan sesama profesi
serta terhadap klien yang dilayani.

B. Manfaat Nilai/ Etik dalam Kolaborasi Antar Profesi
Etika profesi merupakan bagian dari kebutuhan profesi dalam sistem

pergulatan profesi baik diantara profesi itu sendiri maupun terhadap masyarakat.
Perkembangan masyarakat yang makin majemuk , mengglobal, berkembang maju
baik bidang ekonomi, teknologi, serta bidang yang lain. Komunikasi antar daerah
maupun negara makin cepat membuktikan mobilitas masyarakat makin meninggi dan
tidak terkendali. Seiring dengan hal tersebut maka peran profesi makin dibutuhkan
baik dari segi kualitas maupun kuantitas Kualitas dari profesI harus makin meningkat
guna mengimbangi kemajuan jaman serta kuantitas dari bertambahnya jenis
kebutuhan penanganan oleh profesi akibat kemajuan dari berbagai bidang merupakan
tantangan profesi yang harus didukung perangkat etika profesi yang memadai sebagai
suatu tanggung jawab profesi. Tanggung jawab etika profesi tidakdapat lepas dari
manfaat etika profesi. Adapun manfaat etika profesi dalam perkembangan terdiri dari:
berbagai bidang merupakan tantangan profesi yang harus didukung perangkat etika
profesi yang memadai sebagai suatu tanggung jawab profesi. Tanggung jawab etika
profesi tidak dapat lepas dari manfaat etika profesi. Adapun manfaat etika profesi
adalah :
1. Manfaat terhadap diri sendiri

Penyandang profesi memiliki kesempatan luas untuk mengabdikan diri demi
kepentingan publik.
2. Manfaat terhadap masyarakat
Masyarakat dapat memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhannya
mengingat profesi memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki pihak lain.
3. Manfaat terhadap negara
Penyandang profesi dapat berperan serta memajukan negara dengan keahlian
bidang tertentu yang dimilikinya. Segala bidang dalam aktifitas negara saling
terkait, apabila segala bidang kehidupan dapat berjalan dengan maksimal maka
mekanisme pembangunan dalam segala bidang menjadi maju yang berdampak
pada kemajuan Negara.
4. Manfaat terhadap hukum

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 9

Negara kita adalah negara hukum dan hukum sebagai panglima yang tertinggi.
Profesi pada bidangnya masing-masing tetap hukum menjadi panutan bagi profesi
sesuai pandangan segala segi kehidupan harus berpatokan pada hukum yang
berlaku. Profesi hukum merupakan profesi yang terdepan dalam berupaya
menegakkan yang berlaku. Profesi hukum merupakan profesi yang terdepan
dalam berupaya menegakkan hukum berfungsi sebagai panutan bagi profesi
selain hukum dan masyarakat.

C. Prinsip Dasar Nilai/ Etik Antar Profesi
Prinsip Dasar Etika Profesi adalah yang mendasari pelaksanaan Etika Profesi, yaitu
1. Prinsip Tanggung Jawab
Tiap-tiap professional itu harus bertanggungjawab terhadap pelaksanaan
pekerjaan dan juga terhadap hasilnya. Selain itu, professional juga
bertanggungjawab atas dampak yang mungkin terjadi dari profesinya bagi
kehidupan orang lain atau juga masyarakat umum.
2. Prinsip Keadilan
Tiap-tiap professional itu dituntut untuk mengedepankan keadilan dalam
menjalankan pekerjaannya. Dalam hal tersebut, keadilan itu harus diberikan
kepada siapa saja yang berhak.
3. Prinsip Otonomi
Tiap-tiap professional itu mempunyai wewenang serta juga kebebasan dalam
menjalankan pekerjaan sesuai dengan profesinya. Artinya seorang professional
tersebut berhak untuk dapat melakukan atau tidak melakukan sesuai dengan
mempertimbangkan kode etik.
4. Prinsip Integritas Moral.
Integritas moral ini merupakan kualita kejujuran serta prinsip moral dalam diri
seseorang yang dilakukan dengan secara konsisten dalam menjalankan
profesinya. Artinya seorang professional tersebut harus memiliki komitmen pribadi
untuk dapat menjaga kepentingan profesi, dirinya, serta juga masyarakat.

Menurut Damastuti (2007), terdapat tiga prinsip yang harus dipegang dalam
etika profesi, diantaranya adalah :
1. Tanggung Jawab

Maksud tanggung jawab disini adalah tanggung jawab pelaksanaan (by function)
serta tanggung jawab dampak (by profession).
2. Kebebasan

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 10

Maksud kebebasan disini adalah untuk dapat mengembangkan profesi itu dalam
batas-batas aturan yang berlaku didalam sebuah profesi.
3. Keadilan
Prinsip keadilan ingin membangun satu kondisi yang tidak memihak manaun yang
memungkinkan untuk ditunggangi pihak-pihak yang berkepentingan.

D. Nilai Etik Ahli Gizi
1. Kode Etik Profesi
Ahli Gizi yang melaksanakan profesi gizi mengabdikan diri dalam upaya
memelihara dan memperbaiki keadaan gizi, kesehatan, kecerdasan dan
kesejahteraan rakyat melalui upaya perbaikan gizi, pendidikan gizi, pengembangan
ilmu dan teknologi gizi, serta ilmu-ilmu terkait. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya
harus senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menunjukkan sikap dan
perbuatan terpuji yang dilandasi olehfalsafah dan nilainilai Pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945 serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Ahli Gizi
Indonesia serta etik profesinya.
2. Kewajiban Umum
a) Meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan
kecerdasan dan kesejahteraan rakyat.
b) Menjunjung tinggi nama baik profesi gizi dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan
budi luhur serta tidak mementingkan diri sendiri
c) Menjalankan profesinya menurut standar profesi yang telah ditetapkan.
d) Menjalankan profesinya bersikap jujur, tulus dan adil.
e) Menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan, informasi terkini, dan
dalam
menginterpretasikan informasi hendaknya objektif tanpa membedakan individu
dan dapat menunjukkan sumber rujukan yang benar.
f) Mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan
pihak lain atau membuat rujukan bila diperlukan.
g) Melakukan profesinya mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban
senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang
sebenarnya.
h) Berkerjasama dengan para profesional lain di bidang kesehatan maupun lainnya
berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya.
3. Kewajiban terhadap Klien

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 11

a) Memelihara dan meningkatkan status gizi klien baik dalam lingkup institusi
pelayanan gizi atau di masyarakat umum

b) Menjaga kerahasiaan klien atau masyarakat yang dilayaninya baik pada saat klien
masih atau sudah tidak dalam pelayanannya , bahkan juga setelah klien
meninggal
dunia kecuali bila diperlukan untuk keperluan kesaksian hukum

c) Menjalankan profesinya senantiasa menghormati dan menghargai kebutuhan unik
setiap klien yang dilayani dan peka terhadap perbedaan budaya , dan tidak
melakukan diskriminasi dalam hal suku , agama , ras , status sosial , jenis kelamin,
usia dan tidak menunjukkan pelecehan seksual

d) Memberikan pelayanan gizi prima , cepat , dan akurat
e) Memberikan informasi kepada klien dengan tepat dan jelas , sehingga

memungkinkan klien mengerti dan mau memutuskan sendiri berdasarkan
informasi tersebut
f) Apabila mengalami keraguan dalam memberikan pelayanan berkewajiban
senantiasa berkonsultasi dan merujuk kepada ahli gizi lain yang mempunyai
keahlian bantuan lain dengan sungguh-sungguh demi tercapainya status gizi dan
kesehatan optimal di masyarakat.
g) Mempromosikan atau mengesahkan produk makanan tertentu berkewajiban
senantiasa tidak dengan cara yang salah atau, menyebabkan salah interpretasi
atau menyesatkan masyarakat.
4. Kewajiban terhadap Teman Profesi dan Mitra Kerja
a) Melakukan promosi gizi, memelihara dan meningkatkan status gizi masyarakat
secara optimal, berkewajiban senantiasa bekerja sama dan menghargai berbagai
disiplin ilmu sebagai mitra kerja di masyarakat
b) Memelihara hubungan persahabatan yang harmonis dengan semua organisasi
yang
terkait upaya meningkatkan status gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan
rakyat
c) Menyebarluaskan ilmu pengetahuan kepada sesama profesi maupun mitra kerja
5. Kewajiban terhadap Profesi dan Diri Sendiri
a) Mentaati, melindungi dan menjunjung tinggi ketentuan yang dicanangkan oleh profesi.
b) Memajukan dan memperkaya pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dalam
menjalankan profesinya sesuai perkembangan ilmu dan teknologi terkini serta peka
terhadap perubahan lingkungan.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 12

c) Menunjukan sikap percaya diri, berpengetahuan luas, dan berani mengemukakan
pendapat serta senantiasa menunjukan kerendahan hati dan mau menerima pendapat
orang lain yang benar

d) Menjalankan profesinya berkewajiban untuk tidak boleh dipengaruhi oleh
kepentingan pribadi termasuk menerima uang selain imbalan yang layak sesuai
dengan jasanya, meskipun dengan pengetahuan klien/masyarakat (tempat dimana
ahli gizi diperkerjakan).

e) Tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum, dan memaksa orang lain untuk
melawan hukum.

f) Memelihara kesehatan dan keadaan gizinya agar dapat bekerja dengan baik.
g) Melayani masyarakat umum tanpa memandang keuntungan perseorangan atau

kebesaran seseorang.
h) Selalu menjaga nama baik profesi dan mengharumkan organisasi profesi

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 13

PRAKTIKUM ETIKA DAN NORMA PROFESI

Kegiatan : Saling Mengenal
Waktu : 60 menit
SDM : Fasilitator (1 sd 3 orang) dan Mahasiswa

Rincian kegiatan :
• Fasilitator membuka diskusi dengan Salam dan memperkenalkan nama masing-
masing
• Fasilitator menyebutkan nama panggilan selama diskusi.
• Fasilitator menanyakan kepada mahasiswa apakah sudah ada yang kenal dalam
gruptersebut.
• Fasilitator meminta setiap mahasiswa memperkenalkan nama lengkap, nama
panggilan,yang paling disukai dan yang paling tidak disukai.
• Fasilitator menanyakan secara acak tentang mahasiswa kepada mahasiswa lain :
nama lengkap, nama panggilan, yang paling disukai dan yang paling tidak disukai.

Refleksi :
Setelah kegiatan selesai, fasilitator meminta mahasiswa untuk menyampaikan:

• Makna permainan tersebut
• Kesulitan dalam melakukan permainan tersebut
• Kemudahan dalam melakukan permainan tersebut.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 14

Materi : Nilai-nilai/ Etik Antar Profesi
Tujuan :Peserta mampu menjelaskan konsep nilai-nilai/ etik antar profesi, yaitu

Waktu nilai-nilai/ etik masing-masing profesi
SDM : 60 menit
: Fasilitator (1 sd 3 orang) dan Mahasiswa

Panduan diskusi
a. Persiapan

• Fasilitator membagi peserta menjadi kelompok focus group (sebanyak jenis profesi
yang mengikuti pelatihan)

• Peserta dalam kelompok memilih ketua dan sekretaris.
• Fasilitator menyampaikan maksud tujuan dari pembelajaran
b. Pelaksanaan
Fasilitator memberikan penugasan sebagai berikut:

• Peserta di dalam kelompok diberi tugas untuk mengidentifikasi dan mendiskusikan
nilai-nilai/ kode etik yang dianut di profesinya, serta potensi konflik dan dilema etik
yang mungkin muncul dalam praktik profesinya.

• Setiap peserta membuat catatan hasil diskusi untuk disampaikan dalam diskusi
• Sekretaris kelompok menuliskan hasil diskusi kelompok pada flipchart.
Panduan Role Play
1. Fasilitator membagi peserta menjadi 8 kelompok
2. Peserta kelompok menentukan perannya masing-masing
3. Fasilitator memberikan penugasan kepada peserta untuk memerankan sebagai

berikut:
• Kelompok 1 dan 5 : diberi tugas untuk mengidentifikasi apabila norma dan etika
antar profesi tidak dilaksanakan dengan baik akan berakibat seperti apa,
berikan satu contoh kasus pasien
• Kelompok 2 dan 6 : diberi tugas untuk mengidentifikasi apabila norma dan etika
antar profesi dilaksanakan dengan baik, akibatnya apa, berikan satu contoh
kasus pasien
• Kelompok 3 dan 7 : diberi tugas untuk mengidentifikasi apabila terjadi
perbedaan pendapat atau perspektif terhadap nilai dan norma antar profesi
berakibat seperti apa, berikan contoh kasus pasien
• Kelompok 4 dan 8 : diberi tugas untuk mengidentifikasi strategi untuk
meningkatkan penerapan norma dan nilai etika antar profesi sehingga tidak
terjadi pelanggaran etika, berikan contoh kasus

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 15

PENILAIAN PEMBELAJARAN ETIKA DAN NORMA PROFESI

Fasilitator melakukan observasi terhadap mahasiswa dengan menggunakan item pertanyaan dibawah ini :

Topik : Etika dan Norma Profesi

Fasilitator :

Kelompok :

Berilah tanda (√) pada item pertanyaan yang menurut bapak/ ibu fasilitator/ tutor, mahasiswa telah menguasai komponen
sikap tersebut

Penilaian Mahasiswa

No Item pertanyaan Nama Nama Nama Nama Nama Nama

1. Peduli mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa
2. Saling hormat
3. Adanya kesamaan ide
4. Menyadari hubungan dalam kolaborasi
5. Memberikan keputusan bersama
6. Memberikan kebijakan bersama
7. Saling menghormati
8. Saling percaya
9. Menghormati nilai-nilai peran
10. Saling peduli
11. Tepat waktu dalam mengambil keputusan
12. Menempatkan kepentingan bersama

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 16

Penilaian Mahasiswa

No Item pertanyaan Nama Nama Nama Nama Nama Nama

13. Menjalin hubungan saling percaya mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa
14. Bertindak jujur
15. Menjaga kompetensi dalam masing-masing profesi
TOTAL
Keterangan :
- Setiap skor dikalian 10 / 1,5
- Nilai maksimal = 10 x 15 item/ 1,5 = 100

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 17

BAB III
PERAN DAN TANGGUNGJAWAB PROFESI

Tujuan Pembelajaran :
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dimana lingkup profesinya sendiri dan profesi lain
2. Mahasiswa mampu membuka diri untuk berkontribusi dengan anggota tim lain
3. Mahasiswa menghargai peran, nasihat, dan kontribusi unik dari anggota tim lainnya
4. Mengidentifikasi overlapping keterampilan professional diantara anggota tim
5. Menjelaskan perbedaan perspektif dan pengetahuan dari profesi lain

A. Pengertian Peran dan Tanggungjawab Profesi

Pemahaman akan konsep “peran dan tanggungjawab” (roles and responsibility)
dalam pembelajaran IPE merupakan salah satu konsep yang harus diajarkan secara
sistematika karena pada konteks ini sudah sangat bersinggungan dengan profesi-
profesi yang lain. Pemahaman akan konsep ini akan mengarahkan kepada
ketidakpercayaan diri atau kepercayaan yang berlebihan apabila tidak diajarkan secara
terintegrasi. Dalam pengajaran konsep ini, pendekatan yang dilakukan adalah
mengarahkan semua pemahaman untuk tujuan pelayanan pada pasien/ keluarga/
komunitas dengan pendekatan patient-centered care. Konsep peran dan tanggung
jawab, meliputi 4 hal seperti dalam gambar di bawah ini
B. Penerapan Pembagian Peran dan Tanggungjawab dalam IPE

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 18

Dalam konteks real setting, konsep peran dan tanggung jawab merupakan hal
yang sangat krusial. Seringkali dirasakan dan dialami oleh para praktisi di lapangan
akan adanya tumpang-tindih (overlapping) dan Banyak berbagai mengenai
pemahaman akan peran dan tanggungjawab ini.

C. Indikator Perilaku dalam Memahami Peran Professional lainnya
Menurut MacDonald et.al (2009) Indikator mahasiswa telah mencapai kompetensi “
mengetahui peran professional lainnya” adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan sejauh mana cakupan profesinya sendiri berakhir dan profesi lain
dimulai.
2. Praktik kolaborasi antar professional dalam system pelayanan kesehatan
membuat
optimalisasi.
3. Membuka diri untuk kontribusi anggota tim lain.
4. Mengatasi kesalahpahaman / stereotip di antara anggota tim
5. Menghargai peran, nasihat dan kontribusi unik dari anggota tim lainnya: data
menunjukkan isu-isu dari menghargai, sebagai indikasi telihat dalam komentar
dari praktisi
6. Mengidentifikasi overlapping keterampilan professional diantara anggota tim

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 19

7. Nilai-nilai yang meningkatkan keuntungan dari usaha kolaborasi anggota
timMenjelaskan perbedaan perspektif dan pengetahuan dari profesi lain

D. Kompetensi Peran dan Tanggungjawab Antar Profesi
Hasil dari laporan panel para ahli (2011), maka ditentukan bahwa kompetensi

utama peran dan tanggung jawab kolaborasi antar profesi adalah sebagai berikut :
1. Mengkomunikasikan peran dan tanggung jawab profesi secara jelas kepada

pasien, keluarga dan profesional lainnya.
2. Mengenali keterbatasan profesi dalam keterampilan, pengetahuan dan

kemampuan.
3. Melibatkan profesi kesehatan yang beragam dalam melengkapi keahlian

profesional, serta sumber daya terkait, untuk mengembangkan strategi agar
memenuhi kebutuhan pasien
4. Menjelaskan peran dan tanggung jawab penyedia layanan lain dan bagaimana tim
bekerjasama untuk memberikan pelayanan.
5. Menggunakan lingkup pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang tersedia
dari profesi kesehatan untuk memberikan pelayanan yang aman, tepat waktu,
efisien, efektif dan adil.
6. Berkomunikasi dengan anggota tim untuk mengklarifikasi tanggung jawab setiap
anggota dalam melaksanakan komponen dari rencana pelayanan atau intervensi
Kesehatan.
7. Menjalin hubungan ketergantungan dengan profesi lain untuk meningkatkan
pelayanan pasien dan pembelajaran lanjut.
8. Terlibat dalam pengembangan profesional dan interprofesi berkelanjutan untuk
meningkatkan kinerja tim.
9. Menggunakan kemampuan yang unik dan saling melengkapi dari semua anggota
tim untuk mengoptimalkan pelayanan pasien

E. Teknik Pembelajaran Interprofesi
Tahapan metode pembelajaran dalam pendidikan interprofesi dapat dibagi menjadi
tiga bagian yaitu:
1. Pembelajaran di dalam kelas (classroom-based learning)
Pembelajaran berbasis kelas dapat digunakan pada pendidikan interprofesi
ditahap awal yaitu di level preklinik/akademik, sedangkan pembelajaran berbasis
rumah sakit dan komunitas bermanfaat untuk pendidikan interprofesi di tahap
klinik.
2. Pembelajaran di rumah sakit/klinik (hospital/ clinical-based learning).

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 20

Pada tahap klinik, peserta didik akan berlatih menerapkan pengetahuan dan
keterampilan yang telah mereka peroleh pada situasi nyata dimana kolaborasi dan
kerjasama tim kesehatan diperlukan untuk menangani suatu masalah kesehatan.
3. Pembelajaran di komunitas/ masyarakat (community-based learning).
Setiap tahapan pembelajaran memiliki serangkaian metode yang dapat
dimanfaatkan oleh institusi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak
dicapai. Metode pembelajaran diskusi kelompok (small group learning) dan project
based

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 21

PRAKTIKUM PERAN DAN TANGGUNGJAWAB PROFESI

Materi : Peran dan tanggungjawab profesi

Waktu : 160 menit

SDM : Fasilitator (1 sd 3 orang) dan Mahasiswa

Tujuan :

1. Peserta menghormati budaya yang unik, nilai, peran/ tanggungjawab profesi dan keahlian

profesi Kesehatan lainnya

2. Mengembangkan hubungan saling percaya dengan pasien, keluarga, dan anggota tim

lainnya

3. Mengelola dilema etik tertentu pada pasien/ klien yang menerima pelayanan berbasis

kolaborasi interprofessional

Panduan diskusi
Persiapan :

1. Fasilitator membagi kelas menjadi 8 kelompok (5-6 orang per kelompok)
2. Setiap kelompok memilih ketua dan sekertaris
3. Fasilitator menyampaikan maksud tujuan dan target yang harus diselesaikan

kelompok
Pelaksanaan Kasus 1
Fasilitator memberikan contoh video tentang penerapan peran dan tanggungjawab antar
profesi dari sumber youtube dengan menggunakan link sebagai berikut :
https://www.youtube.com/watch?v=MWJNdsYc5Gg
Diskusi refleksi Kasus 1

1. Bagaimana pendapat anda tentang video tersebut?
2. Apa yang dapat Anda pelajari dari video tersebut?
3. Apakah masalah-masalah yang ada di video pernah Anda temui dalam praktik atau

pendidikan sehari-hari atau pernah dengar dari kerabat Anda?

Pelaksanaan Kasus 2
Seperti kita ketahui, banyak sekali kejadian-kejadian yang diberitakan baik dalam koran,
majalah, TV dan berbagai media komunikasi lainnya tentang berbagai permasalahan yang
ada di seputar kita. Masih ingat kisah tentang seorang bapak yang berkeliling membawa
anaknya yang meninggal karena tidak mempunyai biaya? Bagaimana peristiwa Tsunami di
Aceh telah menggerakkan seluruh dunia untuk bergabung? Berita tentang mal-paktis yang
dilakukan dokter di berbagai rumah sakit? Banyak hal yang positif dan negatif di
seputar kita. Tugas kalian adalah cari informasi yang berhubungan dengan tema/materi kuliah

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 22

di atas dari berbagai media informasi (Koran, majalah, atau internet). Artikel yang dipilih ada
2 buah yaitu POSITIF dan NEGATIF (menurut pandangan kalian sendiri). Kemudian, berilah
pendapat kalian tentang artikel yang telah kalian pilih – hubungkan dengan materi kuliah yang
telah diberikan (Peran dan Tanggungjawab Antar Profesi).

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 23

PENILAIAN PEMBELAJARAN PERAN DAN TANGGUNGJAWAB PROFESI

Fasilitator melakukan observasi terhadap mahasiswa dengan menggunakan item pertanyaan dibawah ini :

Topik : Peran dan Tanggungjawab Antar Profesi

Fasilitator :

Kelompok :

Berilah tanda (√) pada item pertanyaan yang menurut bapak/ ibu fasilitator/ tutor, mahasiswa telah menguasai komponen
sikap tersebut

Penilaian Mahasiswa

No Item pertanyaan Nama Nama Nama Nama Nama Nama

1. Sebagai mitra kerja dengan profesi lain mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa
2. Berpartisipasi dengan tim profesi lain dalam

pemecahan masalah kesehatan
3. Mampu mengambil keputusan dalam bekerjasama

antar profesi
4. Mengetahui peran dan tanggung jawab profesi gizi
5. Mampu mengevaluasi dan bekerja secara tim

TOTAL

Keterangan :
- Setiap skor dikalikan 20
- Nilai maksimal = 20 x 5 item = 100

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 24

BAB IV
KOMUNIKASI INTERPROFESI

Tujuan Pembelajaran :
1. Mahasiswa mampu memilih alat dan teknik komunikasi yang efektif, termasuk teknologi

dan sistem informasi untuk memfasilitasi diskusi dan interaksi antar profesi yang dapat
meningkatkan fungsi tim
2. Mahasiswa mampu mengorganisasikan dan mengkomunikasikan informasi kepada klien,
keluarga dan anggota tim antar profesi dengan cara yang dapat dimengerti dan
menghindari terminologi yang hanya dimengerti oleh profesi sendiri
3. Mendengarkan secara aktif dan mendorong anggota lain untuk mengemukakan ide dan
pendapatnya tentang klien dan perawatannya
4. Menggunakan bahasa yang sesuai dan soapn ketika menghadapi situasi yang sulit,
percakapan yang sensitif dan konfik antar profesi
5. Mengenal keunikan profesi masing-masing termasuk spesialisasi, budaya, pengaruh, dan
hirarki agar tercipta komunikasi yang efektif.
6. Berkomunikasi secara konsisten tentang pentingnya kerja tim dalam pelayanan
berpusat pada klien.

Menurut Berridge (2010), komunikasi interprofesi merupakan faktor yang sangat
berpengaruh dalam meningkatkan keselamatan pasien, karena melalui komunikasi
interprofesi yang berjalan efektif, akan menghindarkan tim tenaga kesehatan dari
kesalahpahaman yang dapat menyebabkan medical error, sehingga perlu adanya
kurikulum pembelajaran IPE yang mampu melatih kemampuan mahasiswa dalam sebuah
kolaborasi interprofesi. Selain itu mahasiswa juga lebih percaya diri untuk berkomunikasi
dengan profesi yang lain ketika berkolaborasi, karena mahasiswa sudah memiliki bekal
pengalaman sebelumnya. Menurut Wagner (2011) menjelaskan dalam penelitiannya
yang berjudul “Developing Interprofessional Communication Skills”, bahwa simulasi IPE
sangat efektif dan diterima dengan baik sebagai inovasi dalam pembelajaran mahasiswa
kesehatan. Simulasi tersebut merupakan langkah awal menuju pengembangan budaya
yang menumbuhkan kerja sama tim interprofessional dalam perawatan kesehatan. Selain
itu, simulasi tersebut adalah cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
melalui pengembangan kolaborasi.

Metode pembelajaran IPE lainnya yang dapat digunakan metode tutorial yang
mengintegrasikan berbagai profesi kesehatan. Metode IPE melalui diskusi tutorial
tersebut berpusat pada berbagai aspek peran profesi kesehatan dan komunikasi antara

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 25

dokter, tenaga keperawatan serta pasien dalam setting managemen perawatan. Mitchell
(2010) menjelaskan dalam penelitiannya yang berjudul “Innovation In Learning – An
Interprofessional Approach To Improving Communication”, bahwa tutorial sangat efektif
untuk memberikan kesadaran akan pentingnya kolaborasi tim interprofesi dalam
perawatan pasien. Selain itu, diskusi yang terjadi selama tutorial dengan profesi yang lain
dapat melatih mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi interprofesi.

a. Definisi komunikasi interprofesi
Komunikasi atau communication menurut bahasa inggris adalah bertukar pikiran,
opini, informasi melalui perkataan, tulisan ataupun tanda-tanda (Hornby et al,
2007). Komunikasi interprofesi adalah bentuk interaksi untuk bertukar pikiran, opini
dan informasi yang melibatkan dua profesi atau lebih dalam upaya untuk menjalin
kolaborasi interprofesi.

b. Tujuan Komunikasi
• Menciptakan pengertian yang sama atas setiap pesan dan lambang yang
disampaikan, dengan maksud apa yang kita sampaikan itu dapat dimengerti
oleh komunikan dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka dapat mengerti
dan mengikuti apa yang kita maksudkan.
• Merangsang pemikiran pihak penerima untuk memikirkan pesan dan
rangsang yang ia terima, supaya gagasan tersebut dapat diterima orang lain
dengan pendekatan persuasif, bukan memaksakan kehendak.
• Melakukan suatu tindakan yang selaras sebagaimana diharapkan, dengan
adanya penyampaian pesan tersebut yaitu untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu.

c. Elemen penting dari komunikasi yang efektif
Komunikasi pada umumnya diartikan sebagai hubungan atau kegiatan-kegiatan
yang kaitannya dengan masalah hubungan atau diartikan pula sebagai saling tukar
menukar pendapat. Komunikasi dapat juga diartikan hubungan kontak antara
manusia baik individu maupun kelompok.

d. Manfaat komunikasi
Komunikasi interprofesi yang sehat menimbulkan terjadinya pemecahan masalah,
berbagai ide, dan pengambilan keputusan bersama (Potter & Perry, 2005). Bila
komunikasi tidak efektif terjadi di antara profesi kesehatan, keselamatan pasien
menjadi taruhannya. Beberapa alasan yang dapat terjadi yaitu kurangnya informasi
yang kritis, salah mempersepsikan informasi, perintah yang tidak jelas melalui
telepon, dan melewatkan perubahan status atau informasi (O‟Daniel and
Rosenstein,2008). Berikut ini adalah karakter dalam komunikasi interprofesi

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 26

kesehatan yang ditemukan melalui serangkaian penelitian ilmiah bersama dengan
profesi dokter, perawat, apoteker dan gizi kesehatan dan telah mendapatkan
validasi oleh pakar komunikasi dari Indonesia maupun Eropa (Claramita, et.al,
2012) :
• Mampu menghormati (Respect) tugas, peran dan tanggung jawab profesi

kesehatan lain, yang dilandasi kesadaran/sikap masing-masing pihak bahwa
setiap profesi kesehatan dibutuhkan untuk saling bekerjasama demi
keselamatan pasien (Patient safety) dan keselamatan petugas kesehatan
(Provider-safety).
• Membina hubungan komunikasi dengan prinsip kesetaraan antar profesi
kesehatan.
• Mampu untuk menjalin komunikasi dua arah yang efektif antar petugas
Kesehatan yang berbeda profesi.
• Berinisiatif membahas kepentingan pasien bersama profesi kesehatan lain.
• Pembahasan mengenai masalah pasien dengan tujuan keselamatan pasien
bisa dilakukan antar individu ataupun antar kelompok profesi kesehatan yang
berbeda.
• Mampu menjaga etika saat menjalin hubungan kerja dengan profesi kesehatan
yang lain.
• Mampu membicarakan dengan profesi kesehatan yang lain mengenai proses
pengobatan (termasuk alternatif/ tradisional)
• Informasi yang bersifat komplimenter/ saling melengkapi: kemampuan untuk
berbagi informasi yang appropriate dengan petugas kesehatan dari profesi
yang berbeda (baik tertulis di medical record, verbal maupun non-verbal).
• Paradigma saling membantu dan melengkapi tugas antar profesi kesehatan
sesuai dengan tugas, peran dan fungsi profesi masing-masing.
• Negosiasi, yaitu kemampuan untuk mencapai persetujuan bersama antar
profesi kesehatan mengenai masalah kesehatan pasien.
• Kolaborasi, yaitu kemampuan bekerja sama dengan petugas kesehatan dari
profesi yang lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan pasien
Dalam garis besarnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah
penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Apabila
dirumuskan, pada dasarnya komunikasi adalah pemberian dan penerimaan informasi
berupa pengetahuan dan pengertian dengan maksud untuk mengubah partisipasi agar
hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama. Jadi dengan singkat dapat
dikatakan bahwa arti penting komunikasi adalah sebagai sarana atau alat untuk

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 27

menciptakan jalinan pengertian yang sama dan serasi serta menimbulkan dasar tindakan
serta dasar terbentuknya kerja sama. Peran dari komunikasi adalah sebagai alat untuk
menciptakan kesamaan pengertian dan alat untuk menggerakkan perbuatan atau reaksi
pesan (komunikator). Konsep dasar komunikasi antara lain
a. Elemen-elemen komunikasi

• Sender-write, speaker, encoder (pengirim, penulis, pembicara, pembuat pesan)
• Message (pesan)
• Medium-letter, memo, report, speech, chart, etc (media surat, memo, laporan, topik

pembicaraan, peta dan sebagainya)
• Receiver-reader, listener, perceiver, decoder (penerima, pembicara, pendengar,

pengamat)
b. Motivasi untuk komunikasi

Individu akan melakukan komunikasi dengan motivasi untuk mengurangi
ketidakpastian, memecahkan amsalah, meningkatkan keyakinan, kontrol situasi, dan
balikan (feedback)
c. Komponen-komponen komunikasi
• Komunikator / Communication yaitu subyek yang menerima pesan / informasi atau

berita.
• Komunikan / Communicate yaitu subyek yang menerima / dituju berita yang

dikirimkan.
• Pesan / berita / warta (message)
• Respon / response yaitu tanggapan.
• Media / tool / technology yaitu alat yang dipergunakan untuk menyampaikan

warta/ pesan.

Menurut Potter dan Perry (2005) keefektifan komunikasi interprofesi dipengaruhi oleh:
1. Persepsi yaitu suatu pandangan pribadi atas hal-hal yang telah terjadi. Persepsi

terbentuk atas apa yang diharapkan dan pengalaman. Perbedaan persepsi antar
profesi yang berinteraksi akan menimbulkan kendala dalam komunikasi.
2. Lingkungan yang nyaman membuat seseorang cenderung dapat berkomunikasi
dengan baik. Kebisingan dan kurangnya kebebasan seseorang dapat membuat
kebingungan, ketegangan atau ketidaknyamanan.
3. Pengetahuan yaitu suatu wawasan akan suatu hal. Komunikasi interprofesi dapat
menjadi sulit ketika lawan bicara kita memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda.
Keadaan seperti ini akan menimbulkan feedback negatif, yaitu pesan menjadi tidak
jelas jika kata-kata yang digunakan tidak dikenal oleh pendengar.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 28

4. Upaya meningkatkan kemampuan komunikasi interprofesi.
Menurut Wagner (2011), IPE merupakan langkah yang penting untuk dilakukan karena
melalui IPE, mahasiswa dapat melatih kemampuan komunikasi interprofesi pada
situasi yang tidak membahayakan pasien tetapi tetap mencerminkan situasi yang
mendekati situasi nyata. Kebutuhan akan strategi pembelajaran untuk meningkatkan
komunikasi interprofesi berkembang. Oleh karena itu, pendidik diharapkan mampu
mengembangkan metode dan strategi pembelajaran yang menggabungkan
kemampuan komunikasi dan budaya pasien serta keterampilan teknis sejak tahap
akademik (Mitchell, 2010). Salah satu model IPE yang dapat diterapkan adalah
simulasi IPE. Melalui simulasi IPE tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan dalam berkomunikasi dengan profesi yang lain.

Menurut Wagner (2011), IPE merupakan langkah yang penting untuk dilakukan karena
melalui IPE, mahasiswa dapat melatih kemampuan komunikasi interprofesi pada situasi yang
tidak membahayakan pasien tetapi tetap mencerminkan situasi yang mendekati situasi nyata.
Kebutuhan akan strategi pembelajaran untuk meningkatkan komunikasi interprofesi
berkembang. Oleh karena itu, pendidik diharapkan mampu mengembangkan metode dan
strategi pembelajaran yang menggabungkan kemampuan komunikasi dan budaya pasien
serta keterampilan teknis sejak tahap akademik (Mitchell, 2010).

Salah satu model IPE yang dapat diterapkan adalah simulasi IPE. Melalui simulasi IPE
tersebut mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam
berkomunikasi dengan profesi yang lain. Selain itu mahasiswa juga lebih percaya diri untuk
berkomunikasi dengan profesi yang lain ketika berkolaborasi dengan profesi yang lain karena
mahasiswa sudah memiliki bekal pengalaman sebelumnya. Wagner (2011) menjelaskan
dalam penelitiannya yang berjudul “Developing Interprofessional Communication Skills”
bahwa simulasi IPE sangat efektif dan diterima dengan baik sebagai inovasi dalam
pembelajaran mahasiswa kesehatan. Simulasi tersebut merupakan langkah awal menuju
pengembangan budaya yang menumbuhkan kerja sama tim interprofessional dalam
perawatan kesehatan.

Selain itu, simulasi tersebut adalah cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan melalui pengembangan kolaborasi interprofesi, karena memberikan kesempatan
setiap kelompok untuk belajar berinteraksi dengan profesi yang lain. Selain melalui simulasi
IPE, pembelajaran IPE juga dapat menggunakan metode tutorial yang mengintegrasikan
berbagai profesi kesehatan. Metode IPE melalui diskusi tutorial tersebut berpusat pada
berbagai aspek peran profesi kesehatan dan komunikasi antara dokter, tenaga
keperawatan serta pasien dalam setting managemen perawatan. Mitchell (2010) menjelaskan
dalam penelitiannya yang berjudul “Innovation In Learning – An Interprofessional Approach

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 29

To Improving Communication”bahwa tutorial sangat efektif untuk memberikan kesadaran
akan pentingnya kolaborasi tim interprofesi dalam perawatan pasien. Selain itu, diskusi yang
terjadi selama tutorial dengan profesi yang lain dapat melatih mahasiswa untuk
mengembangkan kemampuan komunikasi interprofesi. Menurut Berridge (2010), komunikasi
interprofesi merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan keselamatan
pasien, karena melalui komunikasi interprofesi yang berjalan efektif, akan menghindarkan tim
tenaga kesehatan dari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan medical error, sehingga
perlu adanya kurikulum pembelajaran IPE yang mampu melatih kemampuan mahasiswa
dalam sebuah kolaborasi interprofesi.

Berikut ini adalah karakter dalam komunikasi interprofesi Kesehatan yang kami
temukan melalui serangkaian penelitian ilmiah bersama dengan profesi dokter, perawat,
apoteker dan gizi kesehatan dan telah mendapatkan validasi oleh pakar komunikasi dari
Indonesia maupun Eropa (Claramita, et.al, 2012):

1. Mampu menghormati (Respect) tugas, peran dan tanggung jawab profesi kesehatan
lain, yang dilandasi kesadaran/sikap masing-masing pihak bahwa setiap profesi
kesehatan dibutuhkan untuk saling bekerjasama demi keselamatan pasien
(Patientsafety) dan keselamatan petugas Kesehatan (Provider-safety).

2. Membina hubungan komunikasi dengan prinsip kesetaraan antar profesi kesehatan.
3. Mampu untuk menjalin komunikasi dua arah yang efektif antar petugas

kesehatan yang berbeda profesi
4. Berinisiatif membahas kepentingan pasien bersama profesi kesehatan lain
5. Pembahasan mengenai masalah pasien dengan tujuan keselamatan pasien bisa

dilakukan antar individu ataupun antar kelompok profesi kesehatan yang berbeda.
6. Mampu menjaga etika saat menjalin hubungan kerja dengan profesi kesehatan yang

lain.
7. Mampu membicarakan dengan profesi kesehatan yang lain mengenai proses

pengobatan (termasuk alternatif/ tradisional)
8. Informasi yang bersifat komplimenter/ saling melengkapi: kemampuan untuk berbagi

informasi yang appropriate dengan petugas kesehatan dari profesi yang berbeda (baik
tertulis di medical record, verbal maupun non-verbal).
9. Paradigma saling membantu dan melengkapi tugas antar profesi Kesehatan sesuai
dengan tugas, peran dan fungsi profesi masing-masing.
10. Negosiasi: Kemampuan untuk mencapai persetujuan bersama antar profesi kesehatan
mengenai masalah kesehatan pasien.
11. Kolaborasi: Kemampuan bekerja sama dengan petugas kesehatan dari profesi yang lain
dalam menyelesaikan masalah kesehatan

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 30

PRAKTIKUM KOMUNIKASI INTERPROFESI

Judul : Puzzle Sederhana

Tujuan Kegiatan : Memberikan gambaran mengenai betapa pentingnya komunikasi

interpersonal dalam sebuah organisasi.

Bahan yang dibutuhkan :

• Amplop besar

• Puzzle

Kegiatan :

1. Dibagi menjadi beberapa kelompok setiap kelompok terdiri dari 5 orang

2. Setiap orang diberi sebuah amplop besar yang berisi 3 potong puzzle yang

telah diacak sebelumnya.

3. Setiap anggota kelompok harus menyusun puzzle yang mereka miliki menjadi

sebuah bentuk persegi. Dimana dalam menyusun puzzle tersebut mereka

dilarang untuk berbicara dan dengan komunikasi non-verbal seperti kedipan

mata, menunjuk, atau isyarat lain untuk meminta puzzle dari temannnya.

Mereka hanya diperbolehkan untuk memberi puzzle tersebut kepada

temannya dengan cara meletakkannya di wilayah temannya tersebut. Namun,

apabila temannya tidak segera mengambilnya maka puzzle tersebut berhak

untuk diambil pengawas.

4. Game ini selesai ketika sudah kelompok yang berhasil menyusun puzzle

tersebut menjadi 5 buah persegi.

Diskusi Refleksi
Setelah kegiatan selesai, fasilitator meminta mahasiswa untuk menyampaikan:

• Makna permainan tersebut
• Kesulitan dalam melakukan permainan tersebut
• Kemudahan dalam melakukan permainan tersebut.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 31

Materi : Komunikasi Interprofesi
Tujuan :Peserta mampu melakukan cara pembelajaran komunikasi interprofesi
SDM : Fasilitator (1 sd 3 orang) dan Mahasiswa

Panduan diskusi
a. Persiapan

• Fasilitator membagi peserta menjadi kelompok focus group (sebanyak jenis profesi
yang mengikuti pelatihan)

• Peserta dalam kelompok memilih ketua dan sekretaris.
• Fasilitator menyampaikan maksud tujuan dari pembelajaran
b. Pelaksanaan
Fasilitator memberikan penugasan sebagai berikut:

• Peserta di dalam kelompok diberi tugas untuk mengidentifikasi dan mendiskusikan
komunikasi interprofesi yang dianut di profesinya, serta potensi konflik dan dilema
etik yang mungkin muncul dalam praktik profesinya.

• Setiap peserta membuat catatan hasil diskusi untuk disampaikan dalam diskusi
• Sekretaris kelompok menuliskan hasil diskusi kelompok pada flipchart.
Panduan Role Play
1. Fasilitator membagi peserta menjadi 8 kelompok
2. Peserta kelompok menentukan perannya masing-masing
3. Fasilitator memberikan penugasan kepada peserta untuk memerankan sebagai

berikut:
• Kelompok 1 dan 5 : diberi tugas untuk mengidentifikasi apabila komunikasi antar
profesi dilaksanakan tidak baik, bagaimana akibatnya, berikan satu contoh
kasus pasien
• Kelompok 2 dan 6 : diberi tugas untuk mengidentifikasi apabila komunikasi antar
profesi dilaksanakan dengan baik, akibatnya apa, berikan satu contoh kasus
pasien
• Kelompok 3 dan 7 : diberi tugas apabila komunikasi terjadi perbedaan pendapat/
perspektif bagaimana cara mengatasinya. Berikan satu contoh kasus pasien.
• Kelompok 4 dan 8 : diberi tugas untuk melakukan strategi komunikasi untuk
menyampaikan informasi dan mempengaruhi keputusan individu serta
masyarakat yang dapat meningkatkan Kesehatan.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 32

PENILAIAN PEMBELEJARAN KOMUNIKASI INTERPROFESI

Fasilitator melakukan observasi terhadap mahasiswa dengan menggunakan item pertanyaan dibawah ini :

Topik : Komunikasi Interprofesi

Fasilitator :

Kelompok :

Penilaian Mahasiswa

No Item pertanyaan Nama Nama Nama Nama Nama Nama

mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa

1. Membina hubungan komunikasi interprofesi

2. Menjalin komunikasi interprofesi

3. Saling berinisiatif menyelesaikan masalah bersama

4. Membahas masalah bersama

5. Memberikan informasi yang saling melengkapi

6. Saling membantu dan melengkapi tugas

7. Mendengarkan secara aktif ide dalam kelompok

8. Saling memberikan umpan balik masing-masing

peran

TOTAL

Keterangan :
- Setiap skor dikalikan 10 / 0,8
- Nilai maksimal = 10 x 8 item/ 0,8 = 100

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 33

BAB V
KERJASAMA ANTAR PROFESI

Tujuan Pembelajaran :
1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan proses pengembangan tim dan berlatih tentang
tim yang efektif.
2. Mahasiswa mampau melibatkan profesi kesehatan lain yang sesuai apabila diperlukan
untuk situasi tertentu.
3. Mahasiswa mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip kepemimpinan yang mendukung
praktek kolaborasi dan efektifitas tim.
4. Mahasiswa mampu memotivasi diri sendiri dan anggota tim lainya untuk dapat
mengelola ketidaksetujuan secara konstruktif. Ketidak setujuan biasanya berkaitan
dengan nilai, peran, tujuan dan tindakan.
5. Mahasiswa mampu memperlihatkan pencapaian performance yang tinggi secara
individu untuk meningkatkan performan kelompok.
6. Mahasiswa mampu menggunakan teknik atau strategi perbaikan kelompok untuk
meningkatkan efektifitas kerjasama antar profesi.
7. Mahasiswa mampu melakukan kerja tim sesuai peran dan fungsinya di dalam tim di
dalam situasi yang berbeda

A. Pengertian Kerjasama Antar Profesi
Kata dari “group” atau “team” (Douglas (1983); Adair (1986)) dalam beberapa

literatur dipergunakan secara bergantian. Para pakar mengatakan bahwa interaksi yang

terjadi dalam suatu kelompok atau tim adalah sama. Menurut Dauglas (1983)
mengatakan bahwa “Teams are co-operative groups in that they are called into being to
perform a task, a task that cannot be performed by an individual” . Definisi tentang

kerjasama antarprofesi (interprofessional teamwork) mengacu pada beberapa istilah-

istliah dalam kerjasama antarprofesi

Istilah Definisi
Collaboration an active and ongoing partnership, often between people from
diverse backgrounds, who work together to solve problems or
Collaborative provide services.
patient-
centred practice a type of arrangement designed to promote the participation of
Interdisciplinary patients and their families within a context of collaborative practice.
teamwork
relates to the collaborative efforts undertaken by individuals from
different disciplines such as psychology, anthropology,
economics, geography, political science and computer science.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 34

Istilah Definisi
Interprofessional
collaboration a type of interprofessional work which involves different health
and social care professions who regularly come together to solve
Interprofessional problems or provide services.
coordination
a type of work, similar to interprofessional collaboration (see
Interprofessional above) as it involves different health and social care professions.It
education differs as it is a ‘looser’ form of working arrangement whereby
interprofessional communication and discussion may be less
Interprofessional frequent.
interventions
occurs when members (or students) of two or more health and/or
Interprofessional social care professions engage in interactive learning activities to
networks improve collaboration and/or the delivery of care.

Interprofessional involve two or more health and social care professions who learn
teamwork and/or work together to improve their approach to collaboration
(see above).
Multidisciplinary
teamwork loosely organized groups of individuals from different health and
social care professions, who meet and work together on a periodic
basis.

a type of work which involves different health and/or social
professions who share a team identity and work closely together
in an integrated and interdependent manner to solve problems
and deliver services.

an approach like interprofessional teamwork (see above), but
differs as the team members are composed from different
academic disciplines (psychology, sociology, mathematics) rather
than from
different professions such as medicine, nursing and social work.

B. Prinsip Kerjasama Antar Profesi
Pada dasarnya, kerjasama antarprofesi sebagai suatu kegiatan yang didasarkan pada
sejumlah dimensi pokok agar dapat berjalan dengan baik. Kerjasama (teamwork) yang
melibatkan dua atau lebih profesi memiliki kompleksitas yang besar dalam
penerapannya. Menurut Reeves (2010), dimensi kunci dalam kerjasama antar profesi
meliputi beberapa hal:
1. Menetapkan tujuan tim yang jelas. Hal ini sangat diharapkan karena bertujuan untuk
mencegah terjadinya multi-persepsi, tumpang-tindih pemahaman, dan tujuan
pencapaian.
2. Memiliki suatu ciri atau identitas tim bersama. Konteks ini merupakan salah satu
kunci dimensi yang menunjukkan bahwa tim tersebut menunjukkan identitas dari
peleburan berbagai profesi. Kegiatan tim dan performan tim yang ditunjukkan
merupakan suatu ciri dari tim tersebut dan bukan merupakan ciri suatu profesi.
3. Memiliki komitmen tim bersama. Komitmen merupakan suatu realisasi dari rencana
tim untuk mencapai tujuan kelompok. Dalam kerjasama antarprofesi, komitmen yang
dibangun adalah merupakan hasil kesepakatan kelompok yang ditujukan untuk

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 35

mencapai tujuan kelompok dengan mempertimbangkan juga peran dan
tanggungjawab profesi.
4. Peran yang jelas pada setiap profesi. Tidak dapat dipungkiri ataupun dihindari bahwa
menyatukan berbagai profesi yang masing-masing memiliki tugas dan tanggung
jawab yang berbeda akan menghasilkan tumpang tindih peran dan tugas dari
masing-masing profesi. Dengan melalui kesepakatan dalam kelompok, perlu
ditetapkan peran dan tugas masing-masing profesi yang jelas dalam kerjasama
antarprofesi ini.
5. Adanya konsep saling ketergantungan (interdependece). Interdependence dalam
konteks kerjasama antarprofesi merupakan suatu strategi untuk mengurangi atau
menghilangkan dominan antar profesi. Konsep ini dikembangkan untuk menunjukkan
bahwa dalam penyelesaian suatu masalah kesehatan atau penanganan pasien
diperlukan sikap saling ketergantungan antar satu sama lain sehingga keputusan
medis yang diambil merupakan suatu kesepakatan yang ditujukan untuk
menghasilkan outcome atau kesembuhan pasien yang maksimal.
6. Adanya intergrasi diantara anggota tim. Dimensi utama lainnya yaitu integrasi
merupakan suatu penerapan dari seluruh dimensi yang ada. Integrasi dalam
kerjasama tim antarprofesi merupakan lebih ditujukan pada bagaimana pelayanan
pada pasien ataupun penanganan masalah dilaksanakan secara terintegrasi.
Dengan integrasi, bentuk dari pelaksanaan dari suatu kegiatan merupakan hasil dari
kesepakatan dan peleburan dari peran, tugas, dan tanggungjawab dari setiap profesi
dalam menentukan keputusan medis yang diambil dan penatalaksanaan yang akan
dilakukan

Gambar 1. Interprofessional Teamwork (Reeves Scott, Lewin S, Espin S (2010)

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 36

Berdasarkan review yang dilakukan oleh Reeves (2005) menyebutkan
adanya sejumlah factor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengembangan
pendidikan interprofessional dan berkolaborasi. Menurut Oandasan and Reeves
(2005), ada 3 faktor yang mempengaruhi dalam penerapan pendidikan
interprofessional diantaranya adalah
1) micro level (socialization processes)
2) meso level (administrative challenges for learners and faculty that affect the

teaching environment and the role of local leaders)
3) macro level (the need for senior management and government political support)

yang dapat mempengaruhi perkembangan dan keberhasilan penerapan
pendidikan antarprofesi.

Selain itu pada pembentukan collaborative practice skill, Bronstein
menyebutkan adanya 4 faktor yang akan mempengaruhi dalam menerapkan
interdisciplinary collaboration yaitu (1) personal characteristics; (2) professional role;
(3) structural characteristics; dan (4) history of collaboration.

Dalam bukunya yang berjudul “Interprofessional Teamwork” yang diluncurkan
oleh Reeves (2010) digambarkan tentang faktor-faktor utama yang mempengaruhi
kerjasama tim dalam antar profesi seperti pada gambar di bawah ini :

Whats make a team?
Dalam pembentukan sebuah tim, ada beberapa tingkatan kerjasama tim seperti
pada gambar di bawah ini :

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 37

PRAKTIKUM KERJASAMA ANTAR PROFESI

Judul : Merangkai rantai profesi
Tujuan Kegiatan : mengembangkan kebersamaan dalam tim melalui kegiatan “chain

game”

Bahan yang dibutuhkan :

• Kertas origami 8 warna

• Gunting

• Staples kecil

Cara bermain Chain game :

1. Peserta/mahasiswa diberikan paket yang berisi kertas origami, gunting, dan

staples.

2. Langkah 1 Seorang mahasiswa akan ditunjuk untuk membuat rantai satu warna dari

kertas origami selama 5 menit. Setelah 5 menit, hitung berapa rangkaian rantai yang

terbentuk. Mahasiswa yang lain hanya mengamati dan tidak boleh membantu.

3. Langkah 2: Enam (6) orang mahasiswa diminta untuk membuat rantai 4 warna dari

kertas origrami dengan HANYA MENGGUNAKAN TANGAN KANAN selama 5 menit.

Setelah 5 menit, hitung berapa rangkaian rantai yang terbentuk. Mahasiswa yang lain

hanya mengamati dan tidak boleh membantu.

4. Langkah 3: Seluruh mahasiswa dalam kelompok diminta untuk membuat rantai 8

warna dari kertas origami dengan KEDUA BELAH TANGAN selama 5 menit. Setelah

5 menit, hitung berapa rangkaian rantai yang terbentuk

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 38

Diskusi Refleksi
Setelah kegiatan selesai, fasilitator meminta mahasiswa untuk menyampaikan:

• Makna permainan tersebut
• Kesulitan dalam melakukan permainan tersebut
• Kemudahan dalam melakukan permainan tersebut.
• Fasilitator, khusus, meminta mahasiswa yang melakukan Langkah 1 dan Langkah 2

menceritakan pengalamannya dibandingkan dengan Langkah 3

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 39

Materi : Kerjasama Antar Profesi
Tujuan : Peserta mampu bekerjasama dengan profesi lainnya
SDM : Fasilitator (3 sd 5 orang) dan Mahasiswa

Petunjuk praktikum untuk fasilitator :
a. Fasilitator menyampaikan bahwa diskusi saat ini mencakup sasaran yang telah

ditentukan
b. Fasilitator harus menggali pengetahuan awal bila diskusi tidak berjalan (apabila tidak

mampu menyebutkan pengetahuan awal, cukup dicatat saja)
c. Fasilitator mengarahkan mahasiswa untuk dapat membuat list pertanyaan sebanyak

mungkin
d. Fasilitator meminta kelompok membuat analisis masalah dalam bentuk peta konsep/

diagram alur terjadinya masalah. Fasilitator dapat memberikan contoh dengan model
yang lain apabila kelompok masih kesulitan memahami

Petunjuk praktikum untuk mahasiswa :
1. Buatlah kelompok yang berisi 5-8 orang (ada ketua kelompok, sekertaris, dan
anggota)!
2. Identifikasilah kata baru adalah kata yang menurut anggota kelompok sebagai kata
yang baru diketahuinya!
3. Identifikasi fakta-fakta dari pemicu yang dianggap menjadi masalah/ atau bagian dari
masalah!
4. Identifikasi masalah utama yaitu yang menjadi inti utama dari masalah pada pemicu!
5. Identifikasi rumusan masalah yaitu kalimat bertanya yang dirumuskan dengan
mengacu pada masalah utama dan data lain di pemicu!
6. Identifikasi learning issues yang mungkin terjaring (kelompok membuat pertanyaan-
pertanyaan yang bertujuan untuk menjawab/ menyelesaiakan masalah pada pemicu)!
7. Identifikasi analisis masalah (kelompok membuat diagram alir/ peta konsep dari
penyebab dan proses terjadinya masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang
sudah dimiliki dan diskusi kelompok)!
8. Identifikasi hipotesa masalah!
9. Tuliskan referensi terkait penyelesaian masalah!
10. Buatlah solusi/ penanganan dari masing-masing profesi (gizi, keperawatan, promosi
Kesehatan, dokter, rekam medis, dll)!

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 40

Kasus :
Pegawai poltekkes kemenkes Malang dan mahasiswa banyak yang mengalami over
weigth dan obesitas. Banyak pegawai dan mahasiswa yang memiliki aktivitas fisik
sedentary seperti malas menggunakan tangga, menggunakan kendaraan pribadi dan
tidak membawa bekal sehat dari rumah. Penerapan BHBS di tempat kerja juga kurang
diterapkan seperti penerapan kawasan tanpa rokok dan menjaga kebersihan dan
kerapihan tempat kerja beserta seluruh fasilitas tempat kerja belum tampak maksimal.
Padahal sebagian besar waktu pegawai dan mahasiswa banyak dihabiskan di Poltekkes
Kemenkes Malang. Sehingga tidak sedikit banyak pegawai yang mengalami masalah
Kesehatan seperti gangguan otot tulang akibat pajanan ergonomic. Poltekkes adalah
institusi Kesehatan tempat mendidik mahasiswa dan tempat bekerja berbagai profesi
kesehatan yang harus memiliki cara pandang dalam kesehatan kerja yang holistic yaitu
: “Healthy Workplace Model”

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 41

PENILAIAN PEMBELAJARAN KERJASAMA ANTAR PROFESI

Fasilitator melakukan observasi terhadap mahasiswa dengan menggunakan item pertanyaan dibawah ini :

Topik : Kerjasama antar profesi

Fasilitator :

Nama Mahasiswa :

Berilah tanda (√) pada item pertanyaan yang menurut bapak/ ibu fasilitator/ tutor, mahasiswa telah menguasai komponen
sikap tersebut

Penilaian Mahasiswa

No Item pertanyaan Nama Nama Nama Nama Nama Nama

1. Adanya peran masing-masing dalam tim mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa mahasiswa
professional

2. Terlibat aktif dalam penyelesaian masalah kasus
3. Mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman

masing-masing profesi dalam pengambilan
keputusan
4. Sopan terhadap peran anggota tim
5. Berkolaborasi baik dengan anggota tim

TOTAL
Keterangan :

- Setiap skor dikalikan 20
- Nilai maksimal = 20 x 5 item = 100

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 42

BAB VI
PATIENT CENTER CARE

A. PENDAHULUAN
Patient Centered Care (PCC) adalah inovasi pendekatan dalam perencanaan,

pelayanan, dan evalusasi perawatan kesehatan yang berdasarkan pada kemitraan
yang saling menguntungkan antara penyedia pelayanan kesehatan, pasien, dan
keluarga (Keene, n.d.). Institution Of Medicine (IOM) (2001) mendefinisikan Patient
Centered Care (PCC) sebagai "perawatan yang ramah dan responsif terhadap pilihan,
kebutuhan, dan nilai pasien secara individual, dan memastikan pasien membuat
keputusan klinis" (Institute of Medicine (U.S.) and Committee on Quality of Health Care
in America 2001). Hal ini hampir serupa dengan pendapat Lauver dkk. (2002) bahwa
Patient Centered Care adalah sejauh mana profesional perawatan memilih dan
memberikan intervensi yang responsif terhadap kebutuhan individual.

Sedangkan Suhonen, Välimäki, dan LeinoKilpi (2002) mendefinisikan Patient
Centered Care sebagai perawatan komprehensif yang memenuhi kebutuhan fisik,
psikologis, dan sosial setiap pasien. Tak satu pun dari definisi ini mewakili PCC secara
keseluruhan (Suhonen, Välimäki, and Leino-Kilpi, n.d.). Belum ada kesepakatan yang
jelas mengenai konsep dari PCC. Namun beberapa jurnal mencoba untuk memberikan
pendapatnya mengenai konsep dari PCC. Menurut hasil penelitian yang dilakukan
pada tahun 1993 oleh Picker Institute bekerja sama dengan Harvard School of
Medicine menjelaskan bahwa PCC memiliki 8 dimensi yakni (Keene, n.d.) :
a. Menghormati pilihan dan penilaian pasien
b. Dukungan emosional
c. Kenyamanan fisik
d. Informasi dan edukasi
e. Berkelanjutan dan transisi
f. Koordinasi pelayanan
g. Akses pelayanan
h. Melibatkan keluarga dan teman.
Beberapa penelitian lain seperti penelitian yang dilakukan oleh Moreau dan Hudon
menjelaskan bahwa PCC memiliiki enam komponen utama, yakni :
a. mengeksplorasi penyakit dan riwayat penyakit,
b. memahami pasien secara utuh dari perspektif biopsikososial,
c. menemukan penyebab,
d. meningkatkan hubungan dokter-pasien untuk menciptakan hubungan terapeutik,

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 43

e. bersikap realistis, dan
f. menggabungkan pencegahan dan promosi kesehatan (Moreau et al. 2012; Hudon

et al. 2011).
Konsensus tingkat tinggi menyebutkan bahwa terdapat 9 model dan kerangka kerja
untuk mengidentifikasi PCC, 6 elemen inti berikut paling sering dikenali (Shaller 2007):
a. Saling berbagi pengetahuan
b. Melibatkan keluarga dan teman
c. Kolaborasi dan manajemen tim
d. Peka terhadap segi perawatan nonmedis dan spiritual
e. Menghormati kebutuhan dan keinginan pasien
f. Memberi kebebasan dan kemudahan memperoleh informasi
Manfaat Dari berbagai jurnal penelitian mengenai PCC yang penulis dapatkan, PCC
memiliki manfaat sebagai berikut (Shaller 2007; Hudon et al. 2011; Ells, Hunt, and
Chambers-Evans 2011; Suhonen, Välimäki, and Leino-Kilpi, n.d.; Sidani 2008) :
a. Meningkatkan kepuasan pasien
b. Meningkatkan hasil klinis
c. Mengurangi pelayanan medis yang berlebihan dan tidak bermanfaat
d. Mengurangi kemungkinan malpraktek dan keluhan
e. Meningkatkan kepuasan dokter
f. Meningkatkan waktu konsultasi
g. Meningkatkan keadaan emosional pasien
h. Meningkatkan kepatuhan obat
i. Meningkatkan pemberdayaan pasien
j. Mengurangi tingkat keparahan gejala
k. Mengurangi biaya perawatan Kesehatan
PCC sebagai sebuah dimensi kualitas pelayanan Dalam laporannya, Institute of
Medicine (IOM) menguraikan 4 level yang menjadi penentu kualitas pelayanan dan
peran PCC pada pasien perawatan (Keene, n.d.) :
a. Level pengalaman mengacu pada pengalaman individu pasien terhadap perawatan

mereka. Dalam hal ini tingkat, perawatan harus diberikan dengan penuh hormat,
memberi informasi yang jujur dan mendorong partisipasi pasien dan keluarga.
b. Level mikro-sistem klinis mengacu pada tingkat layanan, departemen atau program
pelayanan. Pada tingkat ini, pasien dan penasihat keluarga harus berpartisipasi
dalam keseluruhan desain layanan, departemen atau program; misalnya
perancangan ulang tim dan berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, serta
mengevaluasi perubahan.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 44

c. Level organisasi mengacu pada organisasi secara keseluruhan. Tingkat organisasi
tumpeng tindih dengan tingkat mikro-sistem klinis, dalam hal organisasi terbentuk
berbagai layanan, departemen dan program. Pada tingkat ini, pasien dan keluarga
harus berpartisipasi sebagai anggota penuh dari komite organisasi kunci untuk
subyek seperti keamanan pasien, desain fasilitas, peningkatan kualitas, pendidikan
pasien dan keluarga, etika dan penelitian.

d. Level lingkungan mengacu pada kebijakan sistem Kesehatan

B. Praktikum
Tujuan umum
setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu mengaplikasikan kompetensi
Interprofesional Education (IPE) dengan kasus HIV dan TB.
Tujuan Instruksi khusus :

a. Mahasiswa mampu mengaplikasikan kompetensi etik/ nilai pada pembelajaran IPE
kasus kasus kasus HIV dan TB.

b. Mahasiswa mampu mengaplikasikan kompetensi peran dan tanggungjawab pada
pembelajaran IPE dengan kasus HIV dan TB.

c. Mahasiswa mampu mengaplikasikan kompetensi komunikasi interprofessional pada
pembelajaran IPE dengan kasus HIV dan TB.

d. Mahasiswa mampu mengaplikasikan kompetensi kerjasama tim pada pembelajaran IPE
dengan kasus HIV dan TB.

Petunjuk praktikum untuk mahasiswa :
• Buatlah kelompok yang berisi 5-8 orang (ada ketua kelompok, sekertaris, dan anggota)!
• Identifikasilah kata baru adalah kata yang menurut anggota kelompok sebagai kata yang

baru diketahuinya!
• Identifikasi fakta-fakta dari pemicu yang dianggap menjadi masalah/ atau bagian dari

masalah!
• Identifikasi masalah utama yaitu yang menjadi inti utama dari masalah pada pemicu!
• Identifikasi rumusan masalah yaitu kalimat bertanya yang dirumuskan dengan mengacu

pada masalah utama dan data lain di pemicu!
• Identifikasi learning issues yang mungkin terjaring (kelompok membuat pertanyaan-

pertanyaan yang bertujuan untuk menjawab/ menyelesaikan masalah pada pemicu)!
• Identifikasi analisis masalah (kelompok membuat diagram alir/ peta konsep dari

penyebab dan proses terjadinya masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang sudah
dimiliki dan diskusi kelompok)!

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 45

• Identifikasi hipotesa masalah!
• Tuliskan referensi terkait penyelesaian masalah!
• Buatlah solusi/ penanganan dari masing-masing profesi (gizi, keperawatan, promosi

Kesehatan, dokter, rekam medis, dll)!
o Skenario 1

• SKENARIO 1 : PENYAKIT TBC

• PEMICU • Tn. A berusia 45 tahun datang ke Puskesmas Mawar
• PROFESI Kecamatan Melati dengan keluhan merasa lemas.

• Gizi-Perawat-Promosi Kesehatan

• Probandus / SP • •: Laki-laki

• Situasi • •: Pasien datang ke puskesmas untuk pemeriksaan.

scenario

• Lokasi skenario • :• Puskesmas

• Jenis Kegiatan • :• Pemeriksaan pada pasien yang berobat ke puskesmas

• Alat medis / • :• Tidak ada
BHP • •: 1 (satu) device
• :• Tidak ada kekhususan.
• Alat untuk
daring

• Posisi pasien

• Akting • :• Pasien bercerita dengan jelas dan dengan sedikit
Probandus mengeluh

• Catatan • :• Tidak ada
Khusus

Narasi Skenario
Tn. A berusia 45 tahun datang ke Puskesmas Mawar Kecamatan Melati dengan keluhan
merasa lemas. Pasien mengatakan, awalnya berobat ke Puskesmas dikarenakan batuk
bersputum selama satu bulan. Sputum berwarna kuning dan kental tanpa disertai darah.
Bersamaan dengan batuk, pasien sering merasakan badannya panas selama tujuh hari
dan selalu keringat dingin pada malam hari. Hal ini menyebakan pasien sulit untuk tidur.
Sejak pasien mengalami keluhan tersebut, nafsu makan pasien pun berkurang sehingga
pasien mengalami penurunan berat badan yaitu dari 65 kg menjadi 61 kg selama satu
bulan. Pasien sering merasa dadanya sakit apabila pasien sedang batuk. Di keluarga
tidak ada yang memilikisakit yang sama dengan pasien. Berdasarkan keluhan tersebut
dokter menyarankan untuk periksa laboratorium kepada perawat yang mendampingi
pemeriksaan. Lalu perawat membawa pasien ke laboratorium. Di laboratorium petugas
laboratorium mengambil darah lengkap dan urine serta melakukan pemeriksaan.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 46

• SKENARIO 2

• SKENARIO 2 : PENYAKIT HIV

• PEMICU • Bapak RE 49 tahun datang ke rumah sakit untuk menemui
• PROFESI dokter. Riwayat Bapak Tito sudah menderita infeksi HIV
selama 7 tahun.

• Gizi-Perawat-Promosi Kesehatan

• Probandus / SP • :• Laki-laki
:• Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan
• Situasi •
•: Rumah Sakit
scenario Pemeriksaan pada pasien yang berobat ke rumah sakit
Tidak ada
• Lokasi skenario • 1 (satu) device
Tidak ada kekhususan.
Jenis Kegiatan : Pasien bercerita sangat banyak, interaktif sekali dan
cenderung berbicara banyak di luar konteks penyakit
Alat medis / BHP : Tidak ada

Alat untuk daring :

Posisi pasien :

Akting Probandus :

Catatan Khusus :

Narasi Skenario

Bapak RE 49 tahun datang ke rumah sakit untuk menemui dokter. Riwayat Bapak Tito

sudah menderita infeksi HIV selama 7 tahun, asal Jakarta. Bapak RE konsultasi ke

dokter dengan keluhan rasa tidak nyaman pada perut, nyeri ulu hati berkaitan dengan

membesarnya abdomen. Hasil pemeriksaan TB 180 cm, BB saat ini 92kg, BB biasanya

79 kg; CD 4 660 per mil; lingkar perut 104 cm, lipatan lemak abdomen 3 mm. Diberi

obat : efavirenz dan combovir, rosiglitazone/metformin. Hasil wawancara dengan

dietisien saat konseling gizi terjadi peningkatan berat badan 6 bulan setelah pindah

rumah dan berhenti olahraga di gym rumah lamanya.

Kebiasaan makan:

Pagi : roti tawar 2 iris, scramble egg 2 buah, jus jeruk 1 gelas

Siang : nasi 1 piring, ayam goreng besar 1 ptg, french fries 1 bungkus besar

Malam : Nasi 1 piring, rendang 1 ptg, gulai nangka 1 piring kecil.

Snack pagi dan sore: crackers 5 buah dan coca cola 1 gelas atau kentang goreng 1

bungkus besar.

Suka masak dan pesta bersama keluarga di akhir pekan.

Sudah pernah mendapatkan edukasi gizi terkait HIV AIDS, sehari-hari bapak RE

tinggal bersama istri dan 2 orang anaknya. Bapak RE bekerja di salah satu perusahaan

swasta dan istrinya mempunyai toko dengan pendapatan yang cukup besar. Kedua

anaknya masih sekolah SMP dan SMA.

MODUL IPE PRODI SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA 2022 47


Click to View FlipBook Version