EDISI TABANAN 2022
2022
RENCANA PEMBANGUNAN KAWASAN PEDESAAN
(RPKP)
PANTAI KELATING
DESAIN PENGEMBANGAN DESA WISATA TERINTEGRASI (DEWISRI)
KECAMATAN KERAMBITAN, KABUPATEN TABANAN
TAHUN 2022-2026
TIM KOORDINASI PEMBANGUNAN
KABUPATEN TABANAN
RENCANA PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN (RPKP)
DESAIN PENGEMBANGAN DESA WISATA TERINTEGRASI ( DEWISRI )
KECAMATAN KERAMBITAN, KABUPATEN TABANAN
TAHUN 2022-2026
TIM KOORDINASI PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN
KABUPATEN TABANAN
TABANAN
2022
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Lembar Pengesahan
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Lampiran
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kecamatan Kerambitan merupakan salah satu dari sepuluh kecamatan di Kabupaten
Tabanan dengan luas wilayah 5% dari luas wilayah total kabupaten atau 42,39 km2. Kedudukan
Kecamatan Kerambitan di Kabupaten Tabanan sangatlah strategis karena merupakan salah satu
kecamatan penyangga ibu kota Kabupaten Tabanan. Kecamatan Kerambitan terbagi dalam 15
wilayah desa dinas, yaitu Tibubiu, Kelating, Penarukan, Belumbang, Tista, Kerambitan,
Pangkung Karung, Kukuh, Baturiti, Meliling, Sembung Gede, Samsam, Batuaji, Kesiut dan
Timpag. Kecamatan Kerambitan juga terdiri dari 90 banjar dinas dan 29 desa pakraman. Secara
geografis, Kecamatan Kerambitan dibatasi oleh Kecamatan Selemadeg Timur (sebelah barat),
Kecamatan Penebel (sebelah utara), Kecamatan Tabanan (sebelah timur dan selatan), serta
Samudera Hindia (sebelah selatan). Kawasan Kecamatan Kerambitan sebagian besar merupakan
kawasan pertanian dan perkebunan, sehingga memiliki potensi pengembangan pariwisata
berbasis pertanian atau agrowisata.
Perkembangan sektor pariwisata berbasis pertanian di Kecamatan Kerambitan belum
diikuti oleh struktur industri pariwisata yang kuat sehingga dapat memberikan dampak yang
lebih besar kepada sektor pariwisata. Hal tersebut disebabkan oleh kurang optimalnya integrasi
antara sektor pariwisata dengan sektor terkait lainnya, serta integrasi sektor wisata di antara desa-
desa di Kecamatan Kerambitan. Permasalahan tersebut perlu segera diatasi agar potensi sektor
pariwisata di Kecamatan Kerambitan dapat memberikan peningkatan pada kesejahteraan dan
kualitas hidup masyarakat secara merata dan dapat menguatkan sinergisme antar sektor terkait.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Tabanan mengusulkan Kecamatan Kerambitan sebagai
Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi untuk dimasukkan ke dalam RPJMN 2020-2024. Menurut Peraturan
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi No. 5 Tahun 2016 tentang
Pembangunan Kawasan Perdesaan, yang dimaksud kawasan perdesaan adalah kawasan yang
mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengolahan sumber daya alam dengan susunan
fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial, dan kegiatan ekonomi. Sedangkan pembangunan kawasan perdesaan adalah
pembangunan antardesa yang dilaksanakan dalam upaya mempercepat dan meningkatkan
kualitas pelayanan dan pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan partisipatif yang
ditetapkan oleh Bupati/Walikota.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, menyebutkan bahwa pembangunan
kawasan perdesaan merupakan perpaduan pembangunan antardesa yang dilaksanakan dalam
upaya mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan
masyarakat desa melalui pendekatan pembangunan partisipatif. Lebih lanjut disebutkan bahwa
pembangunan kawasan perdesaan meliputi: a) penggunaan dan pemanfaatan wilayah desa dalam
rangka penetapan kawasan pembangunan sesuai dengan tata ruang Kabupaten/Kota; b)
pelayanan yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan; c)
pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi perdesaan, dan pengembangan teknologi tepat
guna; dan d) pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan akses terhadap pelayanan dan
kegiatan ekonomi. Untuk melaksanakan amanat ini, maka perlu disusun Rancangan
Pembangunan Kawasan Perdesaan yang dibahas bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah
Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Pemerintah Desa.
Kecamatan Kerambitan diusulkan sebagai KPPN dengan tema “Kawasan Perdesaan
Pariwisata berbasis Budaya dan Pertanian” dan selanjutnya disepakati diberi nama Kawasan
Desa Wisata Kerambitan Terintegrasi (DEWISRI). Sebagai tindak lanjut dari penetapan
kawasan perdesaan adalah perencanaan kawasan perdesaan untuk menyediakan rencana
pembangunan jangka menengah yang berlaku selama 5 tahun. Produk perencanaan berupa
dokumen Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) yang di dalamnya memuat
program pembangunan untuk kawasan perdesaan. Program pembangunan kawasan perdesaan
tersebut terdiri dari kegiatan prioritas tahunan yang akan diwujudkan melalui pelaksanaan
pembangunan kawasan perdesaan dengan menggalang hubungan kemitraan yang dilakukan oleh
pemerintah, swasta, dan/atau masyarakat di kawasan perdesaan.
Penyusunan rancangan RPKP dilakukan melalui pendekatan menyeluruh, terpadu dan
komprehensif, dengan melibatkan seluruh stakeholders. Selanjutnya rancangan RPKP tersebut
diverifikasi oleh Tim Koordinasi Pembangunan Kawasan Perdesaan (TKPKP) Kabupaten
sebagai bahan pengusulan kepada Bupati untuk kemudian ditetapkan dengan Peraturan Bupati
menjadi RPKP. RPKP ini akan menjadi acuan dalam menyusun program aksi tahunan berikutnya
bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam menyusun rencana teknis yang
lebih detail maupun business plan sesuai komoditi yang akan dikembangkan
1.2 Maksud dan Tujuan
Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) Pariwisata “DEWISRI”
Kecamatan Kerambitan bermaksud untuk menyediakan dokumen perencanaan yang memuat
program pembangunan dan pengembangan untuk kawasan perdesaan secara partisipatif dan
terpadu sebagai pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mensinergikan
pembangunan kawasan perdesaan Kecamatan Kerambitan yang berbasis pariwisata. Tujuan
penyusunan RPKP Pariwisata “DEWISRI” Kecamatan Kerambitan sebagai berikut:
1. Merumuskan kebijakan pengembangan Kawasan perdesaan strategis yang terpadu antar
sektor, antar wilayah, dan antar tingkat pemerintahan berdasarkan kebutuhan jangka
menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun) untuk meningkatkan fungsi Kawasan
perdesaan.
2. Meningkatkan pemahaman OPD terkait, pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan, dan
pemangku kepentingan lainnya terhadap pembangunan kawasan perdesaaan.
3. Meningkatkan sinergi dan keterpaduan program pembangunan kawasan perdesaan antar
sektor, antar wilayah dan antar tingkat pemerintahan.
1.3 Sasaran
Sasaran penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) Pariwisata
Kecamatan Kerambitan adalah terlaksananya percepatan pembangunan kawasan perdesaan yang
terarah dan terpadu. Dokumen RPKP ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam
meningkatkan pengembangan potensi desa, kualitas pelayanan, pengembangan sektor
perekonomian, serta pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan partisipatif dengan
berpedoman pada kebijakan, rencana, program dan kegiatan pembangunan yang telah disepakati
bersama.
1.4 Lingkup Materi Kegiatan
1.4.1 Lingkup Wilayah Perencanaan
Lingkup wilayah perencanaan dalam RPKP Pariwisata “DEWISRI” Kecamatan
Kerambitan, Kabupaten Tabanan terdiri dari 15 desa dinas, yaitu:
1. Desa Tibubiu
2. Desa Kelating
3. Desa Penarukan
4. Desa Belumbang
5. Desa Tista
6. Desa Kerambitan
7. Desa Pangkung Karung
8. Desa Kukuh
9. Desa Baturiti
10. Desa Meliling
11. Desa Sembung Gede
12. Desa Samsam
13. Desa Batuaji
14. Desa Kesiut
15. Desa Timpag
1.4.2 Lingkup Materi Kegiatan
Lingkup materi kegiatan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan
(RPKP) Pariwisata “DEWISRI” Kecamatan Kerambitan sebagai berikut:
1. Identifikasi kondisi lokasi.
Kegiatan identifikasi kondisi lokasi kawasan pedesaan meliputi:
a. Pengumpulan data sekunder meliputi aspek kondisi kondisi fisik lahan, kependudukan,
sosial budaya, serta sarana dan prasarana kawasan.
b. Analisis data dan pembuatan peta tematik.
2. Pembuatan peta delineasi dan susunan fungsi Kawasan
Pembuatan peta delineasi dan susunan fungsi kawasan dimaksudkan untuk melakukan
verifikasi delineasi kawasan dan sekaligus menetapkan lokasi dan akses pusat kawasan dan
hinterland (pendukung/penyokong) kawasan, serta dari pusat kawasan ke kota terdekatnya.
Sedangkan pembuatan susunan fungsi kawasan mencakup penetapan lokasi dan fungsi
pusat kawasan dan desa-desa pendukung kawasan.
3. Penyusunan model sinergisme
Pembangunan kawasan perdesaan dilaksanakan dengan prinsip antara lain partisipatif,
holistik dan komprehensif, keterpaduan, dan berkesinambungan. Artinya, pembangunan
kawasan perdesaan harus dilaksanakan melalui sinergisme antar berbagai komponen.
Sinergisme merupakan proses kolaborasi atau kerjasama dua entitas atau lebih yang
berkomitmen, membentuk suatu sistem yang saling memengaruhi untuk mencapai tujuan
bersama, dan memberikan perubahan yang lebih baik atau berbeda dari efek masing-
masing. Untuk menjamin terjadinya sinergisme, disusun suatu sistem yang
direpresentasikan dalam model sinergisme. Model sinergisme pembangunan kawasan
merupakan kerangka atau formulasi yang merepresentasikan suatu sistem berupa rangkaian
komponen/entitas pembangunan kawasan yang terstruktur dalam klaster dan antar klaster
yang saling bekerja sama secara teratur dari hulu ke hilir untuk mencapai tujuan
pembangunan kawasan. Penyusunan model sinergisme dilakukan melalui analisis sistem
sinergisme komprehensif dengan tahapan:
a. Perumusan tujuan Bersama pembangunan kawasan yang disepakati oleh seluruh
komponen pembangunan kawasan perdesaan serta memperhatikan peraturan dan tema
kawasan.
b. Perumusan komoditas unggulan/klaster dan sasaran klaster berdasarkan tema kawasan,
RTRW, peluang pasar, dan aspirasi masyarakat.
c. Analisis klaster untuk mengidentifikasi isu-isu strategis, kebutuhan, dan komponen
pembangunan kawasan yang akan berperan dalam jaringan mata rantai sub sistem.
d. Penyusunan kerangka model sinergisme pembangunan kawasan perdesaan (PKP) yang
merepresentasikan sistem sinergisme berupa rangkaian komponen PKP yang terstruktur
dalam klaster dan antar klaster komoditas yang saling bekerjasama secara teratur dari
hulu ke hilir; untuk mencapai tujuan pembangunan kawasan.
e. Menyepakati model sinergisme oleh semua komponen pelaksana yaitu Pemerintah
(lintas sektor), desa dan masyarakat, dan badan usaha. Kesepakatan dituangkan dalam
berita acara yang ditandatangani oleh perwakilan masing-masing
4. Penyusunan matrik kegiatan/program
Setelah model yang memuat sistem, tujuan bersama, sasaran klaster dan peran masing-
masing komponen disepakati, maka disusun matrik kegiatan. Matrik kegitan memuat
komponen pelaksana, kegiatan yang akan dilaksanakan, lokasi (desa), jumlah dan sumber
dana, waktu, dan indikator capaian.
5. Penetapan dokumen RPKP.
Setelah rancangan RPKP dikonsultasikan kepada pemangku kepentingan, selanjutnya
dilakukan perbaikan berdasarkan masukan dari konsultasi publik. Setelah dilakukan
penyempurnaan rancangan RPKP, maka selanjutnya RPKP diajukan kepada Bupati untuk
ditetapkan dalam Peraturan Bupati.
1.5 Kedudukan RPKP
Secara umum, RPKP mengacu dan pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten. Selanjutnya sesuai dengan pasal 124 ayat (3) sampai dengan ayat (9) PP 47 Tahun
2015, program pembangunan kawasan perdesaan yang tertuang dan RPKP akan menjadi asukan
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yaitu:
§ Program pembangunan kawasan perdesaan yang berasal dari Pemerintah dicantumkan
dalam RPJMN dan RKP.
§ Program pembangunan kawasan perdesaan yang berasal dari pemerintah daerah
provinsi dicantumkan dalam RPJMD provinsi dan RKPD provinsi.
§ Program pembangunan kawasan perdesaan yang berasal dari pemerintah daerah
kabupaten dicantumkan dalam RPJMD kabupaten dan RKPD kabupaten.
1.6 Landasan Hukum
Landasan hukum dalam penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP)
Pariwisata “DEWISRI” Kecamatan Kerambitan adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.
2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah.
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
4. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa.
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
10. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 5
Tahun 2016 tentang Pembangunan Kawasawan Perdesaan.
11. Keputusan Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Nomor:
14/DPKP/SK/07/2016 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Kawasan Perdesaan.
12. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Bali Tahun 2009-2029.
13. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2018-2023.
14. Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 11 Tahun 2012 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Tabanan Tahun 2012-2032.
15. Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 11 Tahun 2021 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Semesta Berencana Kabupaten Tabanan
Tahun 2021-2026.
1.7 Sistematika Dokumen RPKP Kawasan Perdesaan (RPKP)
Sistematika penyajian dokumen Rencana Pembangunan
adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Sasaran
1.4 Ruang Lingkup
1.5 Kedudukan RPKP
1.6 Landasan Hukum
1.7 Sistematika Dokumen RPKP
BAB II DESKRIPSI KONDISI KAWASAN PERDESAAN
2.1 Gambaran Umum Kabupaten Tabanan
2.2 Kondisi Fisik Dasar
2.3 Kondisi Sosial Budaya dan Kependudukan
2.4 Kondisi Ekonomi
2.5 Kondisi Sarana dan Prasarana
2.6 Indeks Desa Membangun
BAB III DELINEASI DAN SUSUNAN FUNGSI KAWASAN PERDESAAN
3.1 Delineasi Kawasan Perdesaan
3.2 Susunan Fungsi Kawasan Perdesaan
BAB IV KLASTER DAN SASARAN KLASTER
4.1 Klaster Komoditas
4.2 Klaster Pendukung
BAB V MODEL SINERGISME PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN
5.1 Analisis Klaster
5.2 Kerangka Sistem
BAB VI MATRIKS PROGRAM DAN KEGIATAN
LAMPIRAN
BAB II DESKRIPSI KONDISI KAWASAN PERDESAAN
2.1 Gambaran Umum Kabupaten Tabanan
2.1.1 Kondisi Fisik
Kabupaten Tabanan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Bali yang terletak di
bagian tengah Pulau Bali dengan posisi geografis 08014’30” – 08030’07” LS dan 114054’52” –
115012’57” BT. Batas wilayah Kabupaten Tabanan meliputi:
Utara : Kabupaten Buleleng
Timur : Kabupaten Badung
Selatan : Samudera Indonesia
Barat : Kabupaten Jembrana
Luas wilayah Kabupaten Tabanan adalah 839,33 km2 (83.933 Ha) atau 14,89% dari luas
wilayah Provinsi Bali. Secara administratif, Kabupaten Tabanan terbagi ke dalam 10 (sepuluh)
kecamatan dan terdiri dari 133 desa, 792 banjar adat dan 334 desa adat. Kecamatan di wilayah
Kabupaten Tabanan, yaitu: Salamadeg, Kerambitan, Tabanan, Kediri, Marga, Baturiti, Penebel,
Pupuan, Selemadeg Barat, dan Selemadeg Timur. Kabupaten Tabanan memiliki luas sawah
terbesar di Provinsi Bali sehingga dijuluki Lumbung Pangan Bali. Potensi alam yang dimiliki
turut membangun sektor pariwisata di Pulau Bali. Luas wilayah menurut kecamatan di
Kabupaten Tabanan disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2. 1 Luas wilayah di Kabupaten Tabanan menurut kecamatan
No Kecamatan Jumlah Desa Luas Wilayah (km2)
1 Selemadeg 10 52,05
2 Kerambitan 15 42,39
3 Tabanan 12 51,40
4 Kediri 15 53,60
5 Marga 16 44,79
6 Baturiti 12 99,17
7 Penebel 18 141,98
8 Pupuan 14 179,02
9 Selemadeg Barat 11 120,15
10 Selemadeg Timur 10 54,78
133 839,33
Total
Sumber: BPS, 2020
Gambar 2. 1 Peta administrasi Kabupaten Tabanan
2.1.2 Penduduk dan Ketenagakerjaan
Peningkatan sumber daya manusia menuju Tabanan yang sejahtera, aman, dan berprestasi
menjadi target utama. Tersedianya manusia yang berkualitas, bermoral, dan mau berpikir untuk
kemajuan Tabanan akan mendorong program pembangunan dapat berjalan sesuai harapan.
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020, jumlah penduduk total Kabupaten Tabanan
sebesar 449.172 jiwa dan jumlah penduduk di Kecamatan Kerambitan mencapai 41.766 jiwa
denga rasio jenis kelamin 99,4 dan rata-rata pertumbuhan penduduk dari tahun 2010-2020
mencapai 1%. Struktur kelompok umur di Kecamatan Kerambitan dibagi menjadi 3 kelompok,
yaitu 0-14 tahun (7.091 jiwa), 15-64 atau usia produktif (29.061 jiwa) dan 65 tahun ke atas atau
usia tidak produktif (5.614 jiwa).
Lapangan usaha yang banyak menyerap tenaga kerja di Kabupaten Tabanan adalah di
lapangan usaha pertanian. Pada tahun 2019, pertanian masih merupakan yang paling dominan
dalam menyerap tenaga kerja. Sebanyak 26,70 persen penduduk menggantungkan hidupnya
pada lapangan usaha pertanian dalam arti luas. Hal ini juga sejalan dengan kontribusi lapangan
usaha pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dimana nilai tambah dari
pertanian Kabupaten Tabanan pada tahun 2019 sebagian besar berasal dari pertanian. Kabupaten
Tabanan merupakan daerah agraris, dimana 30,27 persen mata pencaharian penduduknya
bergantung dari di lapangan usaha pertanian. Lapangan usaha berikutnya yang banyak menyerap
tenaga kerja adalah lapangan usaha jasa. Persentase penduduk yang bekerja Kabupaten Tabanan
di lapangan usaha pertanian sebesar 30,27 persen, lapangan usaha manufaktur 25,09 persen dan
lapangan usaha jasa-jasa 44,64 persen. Tenaga kerja di Tabanan tahun 2021 didominasi oleh
buruh/ karyawan/pegawai, yaitu sebanyak 32,71 persen. Sementara itu, sebanyak 39,69 persen
dari total tenaga kerja merupakan pengusaha, dimana yang berusaha sendiri sebesar 13,27
persen, berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar 24,43 persen, dan 1,99 persen berusaha
dibantu buruh tetap/dibayar. Penduduk yang berkecimpung sebagai pekerja bebas baik di sektor
pertanian maupun non pertanian masih ditemukan di Tabanan, walaupun persentasenya kecil
(BPS Kab. Tabanan, 2021).
2.1.3 Perekonomian
Perkembangan struktur perekonomian Kabupaten Tabanan dari tahun ke tahun
menunjukkan kecenderungan pergeseran dari sektor primer (pertanian dan penggalian) ke sektor
tersier (perdagangan, hotel dan restoran, dan jasa-jasa) dan sektor sekunder (industri, listrik, air
minum dan bangunan). Pergeseran tersebut disebabkan oleh meningkatnya alih fungsi lahan
pertanian dan berkembangnya sektor perdagangan dan jasa yang berkaitan dengan pariwisata.
Perekonomian suatu wilayah dapat digambarkan dari kegiatan usaha basis, PDRB, dan
Pendapatan Per Kapita. Meskipun belum tentu kegiatan usaha basis, namun distrbusi persentase
PDRB menjadi indikasi suatu lapangan usaha merupakan kegaiatan usaha basis. Data distribusi
persentase PDRB Kabupaten Tabanan disajikan pada Tabel 2.2. Kegiatan usaha pertanian dalam
arti luas memiliki peran cukup besar (31,50 – 33,74 % ), namun perannya cenderung menurun
dari 33,74 % pada tahun 2008 menjadi 31,50 % pada tahun 2010. Peran kegiatan usaha
perdagangan, hotel, dan restoran cenderung meningkat dari 22,15 % pada tahun 2008 menjadi
23,46 % tahun 2010. Selanjutnya peran jasa-jasa cenderung meningkat dari 18,92 % tahun 2008
menjadi 19,67 % tahun 2010.
Tabel 2. 2 Distribusi persentase PDRB Kabupaten Tabanan
2.2 Kondisi Fisik Dasar Kawasan Perdesaan
2.2.1 Letak Geografis dan Administratif
Kecamatan Kerambitan terletak kurang lebih 4 km di sebelah barat Kota Tabanan. Dimana
wilayahnya terbentang dari -8.470692° LS- -8.582832° LS dan 115.031651° BT -115.121498°
BT. Memiliki luas wilayah 42,39 km² kedudukannya sangat strategis karena merupakan salah
satu kecamatan penyangga ibu kota Kabupaten Tabanan. Dimana secara administratif di sebelah
utara berbatasan dengan Kecamatan Penebel, di sebelah timur berbatasan dengan
KecamatanTabanan dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Selemadeg Timur.
Sedangkan di bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kecamatan
Kerambitan merupakan daerah potensial di bidang agrowisata karena wilayahnya merupakan
kawasan pertanian dan perkebunan yang cukup luas. Secara administratif Kecamatan
Kerambitan dibagi dalam 15 Desa Dinas yang diurutkan abjad sebagai berikut: (1) Desa Batuaji,
(2) Desa Baturiti, (3) Desa Belumbang, (4) Desa Kelating, (5) Desa Kerambitan, (6) Desa
Kesiut, (7) Desa Kukuh, (8) Desa Meliling, (9) Desa Pangkung Karung, (10) Desa Penarukan,
(11) Desa Samsam, (12) Desa Sembung Gede, (13) Desa Tibubiu (14) Desa Timpag, dan (15)
Desa Tista. Kecamatan Kerambitan juga terdiri dari 90 Banjar Dinas dan 28 Desa Pekraman.
Gambar 2.2. menunjukan peta wilayah admintratif Kecamatan Kerambitan.
2.2.2 Kondisi Iklim
Kecamatan Kerambitan beriklim tropis dengan suhu rata-rata tahunan 24-30°C. Memiliki 2
musim yakni musim kemarau dan musim pemghujan. Dimana musim hujan pada tahun 2020
terjadi pada bulan Oktober-Mei, sedangkan untuk musim kemarau pada bulan Juni-Agustus.
Curah hujan tertinggi pada tahun 2020 terjadi pada bulan November dan yang terendah pada
bulan Juni. Data curah hujan pada tahun 2020 di Kecamatan Kerambitan selengkapnya disajikan
pada Tabel 2.3.
Gambar 2. 2 Peta wilayah administrasi Kecamatan Kerambitan
Tabel 2. 3 Curah hujan rata-rata bulan di Kecamatan Kerambitan pada tahun 2020
Bulan Jumlah Hujan Curah
(hari) Hujan (mm)
Januari 17 136,60
246,60
Februari 21 296,10
150,90
Maret 22 300,30
48,10
April 21 125,20
56,00
Mei 16 147,20
433,90
Juni 10 454,20
189,90
Juli 12
Agustus 15
September 12
Oktober 20
November 23
Desember 25
Sumber: BMKG Provinsi Bali
2.2.3 Morfologi, Topografi, dan Kemiringan Lereng
Dibentuk oleh formasi batuan purba Buyan-Bratan, secara morfologi Kecamatan
Kerambitan pada umumnya memiliki kontur yang yang landai. Sebgaian besar wilah memiliki
kelerengan <5%. Akan tetapi beberapa tebing curam dengan kelerengan sampai 40% ditemukan
pada daerah aliran sungai, namum luasnya tidak terlalu signifikan. Wilayah Kecamatan
Kerambitan memiliki titik tertinggi sekitar 300 meter di bagian utara dan timur laut, dan ttitik
terendah pada pantai di bagian Selatan dan Barat Daya. Degan tofografi yang seperti itu,
Kecamatan Kerambitan dikategorikan sebagai dataran rendah sehingga sangat baik untuk
budidaya tanaman pangan padi-padian dan palawija. Gambar 2.3-2.5. berturut-turut
menunjukkan peta morfologi, peta tofografi dan peta kelerengan Kecamatan Kerambitan
Gambar 2. 3 Peta morfologi Kecamatan Kerambitan
Gambar 2. 4 Peta topografi Kecamatan Kerambitan
Gambar 2. 5 Peta lereng Kecamatan Kerambitan
2.2.4 Geologi dan Jenis Tanah
Hampir seluruh wilayah Kecamatan Kerambitan teletak pada formasi batuan Buyan-Bratan
yang ditunjukkan dengan warna coklat (qbb) pada Gambar 2.5. Formasi Buyan-Bratan adalah
formasi batuan purba yang penyusun utamanya adalah tuff dan lahar. Dan Sebagian kecil masuk
ke formasi batuan gunung api Jembrana.
Gambar 2. 6 Peta geologi Kecamatan Kerambitan
2.2.5 Hidrologi
Di wilayah Kabupaten Tabanan terdapat beberapa sungai yang memiliki aliran sepanjang
tahun. Beberapa sungai tersebut memiliki daerah pengaliran sungai yang cukup luas dan
membentuk suatu daerah aliran sungai (DAS), yaitu:
§ Daerah aliran sungai Tukad Yeh Empas luasnya 100,82 km2. Daerah aliran sungai ini
sepenuhnya berada di Kabupaten Tabanan dan bermuara di perbatasan Desa Sudimara dan
Pangkung Tibah.
§ Daerah aliran Tukad Yeh Ho luasnya 135,76 km2. Semua daerah aliran sungai ini terletak
di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di perbatasan Kecamatan Selemadeg
Timur dan Kerambitan.
§ Daerah aliran sungai Tukad Balian luasnya 152,9 km2. Semua daerah aliran sungai terletak
di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di Surabrata, Desa Lalang Linggah
Kecamatan Selemadeg Barat
Gambar 2. 7 Peta sungai di wilayah Kabupaten Tabanan
Sungai-sungai besar lainnya yang bermuara di wilayah Kabupaten Tabanan yaitu Tukad
Yeh Sungi (panjang 40,5 km) bermuara di Desa Beraban (Kecamatan Kediri), Tukad Yeh Abe
(panjang 9,3 km) bermuara di perbatasan Kabupaten Tabanan dan Tabanan.Tukad Yeh Matan
(panjang 13,5 km) bermuara di perbatasan Desa Berembeng dan Tegalmengkeb, dan Tukad Yeh
Otan (panjang 24,0 km) bermuara di Desa Antap. Wilayah Kecamatan Kerambitan termasuk
kedalam wilayah cekungan air tanah (CAT) Denpasar-Tabanan. Dimana terletak pada zona III/
zona aman pada akuifer kedalaman >30m bmt. Pengambilan air tanah dibatasi maksimal 540
m3/hari/sumur. Air tanah pda kedalaman <30m bmt, hanya diperuntukan bagi keperluan rumah
tangga dengan pengambilan maksimal 100m3/bulan/sumur. Sebagian besar wilayah Kabupaten
Tabanan struktur hidrologinya tergolong memiliki akuifer tidak produktif yaitu debit kurang dari
2 lt/detik sehingga tidak memungkinkan dikembangkan sebagai sumber air bersih. Demikian
pula kondisi di wilayah pesisir potensi air tanah secara kualitas tidak sesuai untuk kebutuhan air
bersih. Daerah yang hidrologinya sebagai akuifer produktif tinggi dengan debit lebih dari 10
lt/detik, penyebarannya di Kecamatan Selemadeg Timur, Kerambitan, Tabanan, dan Kediri
Gambar 2. 8 Peta air tanah di Kabupaten Tabanan
2.2.6 Penggunaan Lahan
Bila dilihat dari penguasaan tanahnya, dari luas wilayah yang ada, sekitar 22,562 km2
(26,88 %) wilayah Kabupaten Tabanan merupakan lahan persawahan dan 61,371 km2 (73,12% )
merupakan lahan bukan sawah. Dari 73,12 persen lahan bukan sawah, 99,95 persen diantaranya
merupakan lahan kering yang sebagian besar berupa tegal, kebun, dan hutan negara, sisanya 0,05
persen adalah lahan lainnya seperti kolam, tambak dan rawa-rawa.
Gambar 2. 9 Peta penggunaan lahan Kecamatan Kerambitan
2.2.7 Kebencanaan
Perlu paparan data kebencanaan di kecamatan kerambitan
2.2.8 Kawasan Perlindungan Alam
Perlu paparan data perlindungan alam (dinas terkait)
2.3 Sosial Budaya dan Kependudukan
2.3.1 Penduduk
Pada data tahun 2020, jumlah penduduk Kecamatan Kerambitan adalah 8,79 persen dari
keseluruhan penduduk Kabupaten Tabanan. Total jumlah penduduk sejumlah 41.770 jiwa, yang
terdiri dari 20.949 penduduk perempuan dan 20.817 penduduk laki-laki dengan rasio seks 96,6
penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan. Kepadatan penduduk relatif tinggi yakni
sebesar 985 jiwa/km2 dengan pertumbuhan penduduk 1%. Dari lima belas desa yang ada di
Kerambitan, jumlah penduduk terbesar berada di Desa Sembung Gede dan Desa Samsam dengan
jumlah penduduk masing-masing 4.663 jiwa dan 4.384 jiwa. Desa Sembung Gede juga mencatat
rata-rata pertumbuhan penduduk tertinggi pada 2010-2020 yakni sebesar 2,28%. Sementara desa
dengan jumlah penduduk terkecil yakni Desa Tibubiyu dengan 1.650 jiwa.
Dapat dilihat bahwa banyaknya jumlah penduduk di desa-desa di Kerambitan jumlahnya
tidak merata, demikian juga rata-rata pertumbuhan penduduk. Hal ini lebih banyak disebabkan
oleh mobilitas penduduk dibandingkan tingkat kelahiran dan kematian. Adapun data lebih rinci
mengenai jumlah penduduk di tiap-tiap desa dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 2. 4 Jumlah penduduk di setiap desa di Kecamatan Kerambitan
Desa Jumlah Persentase Rasio Jenis Rata-rata
Kelamin Pertumbuhan
Tibubiyu 1.650 3,95
Kelating 2.533 6,06 97,8 (2020-2020
Penarukan 2.987 7,15 103,5 1,31
Belumbang 2.096 5,02 97,2 0,30
Tista 1.832 4,39 96,4 0,79
Kerambitan 3.042 7,28 95,5 0,53
Pangkung 2.874 6,88 96,6 1,62
Karung 98,5 0,96
Kukuh 2.281 5,46 0,84
104,6
0,84
Desa Jumlah Persentase Rasio Jenis Rata-rata
Kelamin Pertumbuhan
Baturiti 2.860 6,85
100,8 (2020-2020
Meliling 2.621 6,28 102,9
101,9 0,54
Sembung Gede 4.663 11,16 96,5 1,06
99,4
Samsam 4.385 10,50 100,6 2,28
98,6 0,44
Batuaji 2.464 5,90 99,4
1,08
Kesiut 2.088 5,00
1,28
Timpag 3.390 8,12 1,01
Jumlah 41.766 100,00 1,00
Sumber: BPS Kabupaten Tabanan, 2021
2.3.2 Mata Pencaharian
Struktur penduduk menurut mata pencaharian menunjukan bahwa sebagian penduduk
menggantungkan sumber kehidupannya di sektor pertanian ( 44% ) terutama sebagai buruh
sektor perdagangan ( 29%) dan sektor lainnya seperti pegawai negeri sipil, buruh bangunan,
karyawan swasta dari berbagai sektor (27%). (Data belum valid, baru ada 3 desa)
2.3.3 Tingkat Pendidikan
Sebagian besar penduduk merupakan tamatan SMA, sebagian ada yang berpendidikan
sarjana dan diploma (data yang ada baru beberapa desa)
2.3.4 Sosial Budaya
1. Sejarah Kecamatan Kerambitan
Dilihat dari sejarahnya, Kecamatan Kerambitan sebagai kesatuan wilayah dinas bermula
dari wilayah Kerajaan atau Puri Tabanan. Menurut Babad Kaaryanan (Kenceng) Tabanan dan
Kerambitan, Puri Kerambitan yang berdiri pada tahun 1650 ini merupakan pemekaran dari
Kerajaan Tabanan, yakni anugerah dari Raja Tabanan untuk adiknya yang terlahir dari
permaisuri. Wilayah kekuasaannya kemudian diberi otonomi sebagai wilayah di bawah
pemerintahan Puri Kerambitan. Wilayah di bawah Puri Kerambitan ini kemudian berkembang
menjadi beberapa desa yang kemudian bersama beberapa desa di sekitarnya secara kedinasan
berada dalam wilayah Kecamatan Kerambitan.
2. Suku Bangsa dan Agama
Seperti kebanyakan daerah lain di Bali, penduduk Kecamatan Kerambitan sebagian besar
terdiri dari Suku Bali. Suku Bali adalah sekelompok masyarakat dengan kesadaran bersama
akan budayanya yang memiliki berbagai karakteristik dan identitas budaya yang
membedakannya dari masyarakat lainnya. Unsur perekat budaya Bali terutama adalah agama
Hindu dan bahasa Bali. Bahasa Bali masih digunakan dalam berbagai aktivitas keseharian
masyarakat Kerambitan selain bahasa nasional yakni bahasa Indonesia. Bahasa asing, yakni
bahasa Inggris digunakan sewaktu-waktu. Agama Hindu menjiwai berbagai aspek kehidupan
masyarakat baik sistem sosial masyarakat, pengelolaan kawasan, misalnya kawasan suci, seni,
kesusastraan dan berbagai ritual adat dan keagamaan masyarakat. Kepercayaan Hindu Bali
bersumber dari kitab suci Weda dan yang menyerap aspek lokalitas Bali yang umumnya tertuang
dalam lontar. Suku Bali yang tinggal di Kecamatan Kerambitan merupakan orang Bali dataran
yang dibedakan dari orang Bali Mula atau Bali Aga yang bermukim di daerah pegunungan
Sembiran, Sidatapa, Pedawa, Cempaga, Tigawasa di Kabupaten Buleleng, dan desa-desa di
beberapa kabupaten lain yang dipengaruhi budaya Bali awal yang datang lebih dahuu pada jika
dibandingkan oleh Bali Daratan yang banyak dipengaruhi oleh Majapahit . Orang Bali Aga
memiliki dialek bahasa dan budaya yang sedikit berbeda dibanding orang Bali Daratan. Adapun
bahasa Bali sendiri memiliki tingkatan-tingkatan bahasa yang mencerminkan strata sosial
masyarakat Bali yang terbagi menjadi bahasa Bali , madia dan alus. Selain etnis Bali, Kecamatan
Kerambitan juga dihuni etnis lain seperti Jawa dan NTT. Menurut sensus tahun 2013 di
Kecamatan Kerambitan 99 % masyarakat (42.371 orang) memeluk agama Hindu sementara
sisanya menganut agama Islam (223 orang), agama Protestan (42 orang) dan Budha.
Tabel 2. 5 Banyaknya Penduduk Berdasarkan Agama di Kabupaten Tabanan, 2013
3. Aktivitas Sosial Budaya yang Dilakukan
Aktivitas sosial budaya masyarakat Bali sebagian besar berkaitan dengan ritual keagamaan.
Terdapat banyak sekali macam upacara yang dilakukan masyarakat Bali yang amat kompleks,
namun secara garis besar dapat dipetakan berdasarkan tujuannya. Kategori upacara di Bali dapat
dibagi menjadi lima jenis yang disebut sebagai panca yadnya. Kata yadnya berasal dari bahasa
Sansekerta yang berarti persembahan suci, yakni:
a. Manusia yadnya,meliputi upacara siklus hidup dari masa kecil sampai dewasa.
Maksudnya adalah agar manusia selamat sejahtera, menjadi manusia yang berbudi pekerti
baik sehingga kemudian dapat membentuk masyarakat yang susila. Upacara daur hidup
bisa berbeda menurut tempat dan golongan kasta, letapi semua melewati tahap-tahap
penting yang sama, diantaranya seperti berikut ini. (a) upacara lepas tali pusat (kepus
pungsed); (b) upacara saat bayi berumur 12 hari; (c) bayi berusia 42 hari (tutug akambuh)
untuk mengakhiri masa cemar dari sang bayi dan orang tuanya; (d) pada saat bayi berusia
105 hari (tiga sasih) di mana pada saat itu bayi diberi nama; (e) ketika sang bayi berusia
210 hari (paweton atau own) di mana rambutnya dipotong untuk pertama kalinya.
Upacara lain seielah dewasa antara lain upacara menginjak dewasa (upacara nenek kelih),
upacara potong gigi (metatah). Upacara potong gigi ini untuk menghilangkan
keangkaramurkaan dan keserakahan, dengan enam sifat negatif, yaitu nafsu (kama),
marah (krada), loba (loba), durhaka (mada), mabuk (moha), dan iri hati (irsia). Upacara
perkawinan yang disebut masekapan yang diwarnai dengan upacara-upacara sakral dan
pesta meriah, merupakan upacara daur hidup yang dianggap sangat penting.(Melalatoa
Ed.,1977).
b. Pitra yadnya merupakan upacara yang ditujukan kepada ruh-ruh leluhur dan meliputi
upacara-upacara kematian sampai pada upacara penyucian ruh leluhur (ngaben, nyekah,
memukur). Upacara itu merupakan penghormatan kepada leluhur yang mengadakan atau
melahirkan serta memelihara manusia dari bayi sampai dewasa. Disamping itu
mendoakan leluhur agar mendapat tempat yang sebaik-baiknya di alam baka. Upacara ini
memiliki tingkatan beragam tergantung pada latar belakang keluarga dan kemampuan
ekonomi yang bersangkutan.
c. Dewa yadnya, upacara-upacara persembahyangan pada Dewa yang dipercayai
menyelamatkan dunia yang bersemayam di pura-pura, sanggah atau pemerajan yang
memiliki jadwal upacara (odalan) yang berbeda-beda, juga upacara pada hari-hari besar
keagamaan yang jatuh sesuai penanggalan Bali seperti pada hari Purnama, Tilem,
Galungan dan hari suci lainnya.
d. Resi yadnya, upacara-upacara berkenaan dengan pentahbisan pendeta (mediksa) yang
akan memimpin upacara yadnya demi untuk keselamatan bersama.
e. Bhuta yadnya yakni upacara-upacara yang ditujukan kepada kala dan buta, yaitu ruh-ruh
penjaga di sekitar kita berupa pemberian korban suci dalam berbagai bentuk dan
tingkatan yang disebut mecaru.
Selain hari raya Hindu umum yang dirayakan di seluruh pulau, upacara yang dirayakan di
kecamatan Kerambitan terutama pada perayaan piodalan pura Khayangan Tiga di tingkat desa
yaitu Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem.
4. Organisasi Kemasyarakatan
Dalam hal pengaturan masyarakat, terdapat dua pranata yang berlaku di Bali, yakni
lembaga dinas yang terpaut dengan sistem pemerintahan negara Republik Indonesia dan
organisasi yang mengatur adat. Di tingkat desa, kebutuhan masyarakat Bali terakomodasi dalam
desa dinas yang mengatur administrasi kependudukan secara formal kenegaraan dan secara
struktural berada di bawah kecamatan dan desa adat yang mengatur kehidupan adat dan tradisi
penduduk. Selain dari lima belas desa dinas terdapat pula desa adat di Kecamatan Kerambitan.
Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Bali yang memiliki wilayah
wewenang dan aturan-aturannya sendiri berdasarkan tradisi yang diwariskan. Satuan desa adat
ditandai dengan keberadaan kahyangan tiga yang disungsung oleh masyarakat adat. Sistem kerja
masyarakat adat adalah gotong royong terutama dalam pelaksanaan panca yadnya. Di bawah
desa adat terdapat satuan yang lebih kecil yang disebut sebagai banjar adat dengan anggotanya
yang disebut sebagai krama banjar. Krama banjar adalah mereka yang bertempat tinggal dalam
wilayah banjar dan dihitung berdasarkan jumlah keluarga. Pasangan yang telah menikah
otomatis menjadi anggota krama banjar yang baru yang memiliki suara dalam rapat serta
memiliki hak dan kewajiban yang harus dijalankan. Dengan demikian seorang warga yang telah
menikah merupakan anggota sebuah desa adat, desa dinas, banjar dinas, dan banjar adat. Selain
itu, untuk memenuhi kebutuhan individu ataupun kelompok dalam masyaraka dapat pula
dibentuk kelompok-kelompok yang disebut sekaa yang keanggotaannya sukarela. Sekaa dapat
bergerak di bidang ekonomi, sosial, juga adat dan agama, dapat pula merupakan kelompok
hobi. Beberapa sekaa yang ada di Kerambitan misalnya Sekaa Gong Anak-Anak Suara Adi
Yowana, Sekaa Gong Dan Sekaa Joged Rama Dewa yang berada di Desa Kutuh
Selain sekaa, terdapat pula sebuah organisasi kemasyarakatan khas Bali yang disebut
Subak. Organisasi subak merupakan sistem swadaya masyarakat yang berfungsi dalam
manajemen pengairan dan kegiatan pertanian lainnya terutama sawah, walaupun juga terdapat
subak untuk pertanian kering yang disebut sebagai subak abian. Anggota subak adalah pemilik
sawah yang memiliki sumber air yang sama. Selain secara fisik memiliki kepentingan bersama
dalam hal irigasi, organisasi subak juga memiliki keterikatan spiritual. Sebuah subak umumnya
memiliki pura yang disusung anggotanya yakni Pura Uluncarik atau Pura Bedugul, yang khusus
dibangun oleh para pemilik lahan dan petani. Pura tersebut diperuntukkan bagi Dewi Sri yakni
dewi kesuburan dan kemakmuran. Organisasi subak dipimpin oleh seoran pemuka adat yang
disebut Pekaseh. Organisasi tradisional tersebut memiliki aturan yang diwariskan dari generasi
sebelumnya atau juga hasil keputusan bersama yang disebut sebagai awig-awig
5. Kearifan Lokal
Prinsip Tri Hita Karana menjadi pedoman hidup orang Bali, tidak terkecuali di Kecamatan
Kerambitan. Ada tiga aspek yang sangat penting untuk diperhatikan dalam kehidupan keseharian
dan pengambilan keputusan orang Bali yakni : (a) rasa bhakti kepada Hyang Widhi Wasa/Tuhan
Yang Maha Esa; (b) kebersamaan, kepedulian, dan kesetiakawanan/punia antara manusia dengan
sesama; dan (c) keserasian, keselarasan, serta kewelas-asihan/asih manusia terhadap alam dan
lingkungan. Tri Hita Karana bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal Bali, yaitu 6 (enam) sumber
utama kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan masyarakat Bali yang disebut Sad Kerthi, yang
meliputi: penyucian jiwa (atma kerthi), penyucian laut (segara kerthi), penyucian sumber air
(danu kerthi), penyucian tumbuh-tumbuhan (wana kerthi), penyucian manusia (jana kerthi), dan
penyucian alam semesta (jagat kerthi). Prinsip-prinsip ini diturunkan dalam berbagai peraturan
yang disepakati bersama oleh warga desa yang disebut sebagai awig-awig.
Bakti kepada Tuhan diwujudkan oleh masyarakat Kerambitan dengan berbagai upacara
keagamaan baik di tingkat rumah tangga hingga tingkat desa. Keserasian antar manusia
diwujudkan dengan prinsip Nyama Braya atau gotong royong, dan musyawarah mufakat
terutama melalui banjar dan desa adat. Selain itu penghargaan dan bakti terhadap lingkungan
juga tercermin dari peraturan berupa penetapan zona suci, penyucian dan pelestarian mata air dan
juga pepohonan. Sakralisasi mata air misalnya dalam praktik melukat dan melasti, yakni
penyucian sarana upacara, manusia dan desa dengan menggunakan air dari laut atau mata air
mengakibatkan mata air menjadi terjaga. Menjadi keharusan bagi masyarakat Kerambitan untuk
menjaga sumber-sumber air di lingkungannya.
6. Ritual dan Seni Budaya Pertunjukan Khas.
Bali terkenal dengan berbagai ketinggian budaya dan berbagai ragam kesenian yang ada.Di
antara kesenian yang berkembang di Bali, terdapat beberapa kesenian khas yang menjadi penciri
Kecamatan Kerambitan yang dibahas berikut ini:
a. Pertunjukan Tari Andir
Di Desa Tista terdapat sebuah kesenian klasik berupa Tari Andir. Tari Andir adalah sebuah
tari seni klasik yang merupakan bentuk mula dari Tari Legong keraton yang ada sekarang. Andir
ditarikan oleh tiga orang laki-laki tetapi akhir-akhir ini Andir ditarikan oleh perempuan saja.
Andir dikembangkan dari tari uapcara, terutama tari Sanghyang yaitu sebuah tari kerauhan di
Bali. Gerak tari Andir merupakan salah satu dari gerak tari gambuh. Gerak yang sukar dalam tari
Gambuh itu diperhalus dan disesuaikan dengan musik yang sangat dinamis sehingga menjadi tari
Andir yang sangat indah seperti terlihat sekarang. Adapun sekehe Andir yan masih aktif sampai
sekarang ada di Desa Tista Kecamatan Kerambitan Tabanan. Andir ini didukung oleh sekehe
yang berjumlah seratus orang. Pementasan biasanya dilakukan untuk kepentingan upacara adat
atau odalan di pura-pura yang ada disekitarnya misalnya secara rutin Tari Andir dipentaskan
pada Kamis Pon Kuningan di Pura Pempatan, setiap Jumat Wuku Kuningan dipentaskan di Pura
Puseh, setiap Kamis Wuku Paang dipentaskan di Pura Prajapati. Kemudian setiap Selasa Kliwon
Prangbakat dipentaskan di Pura Batu Belig, setiap Sabtu Kliwon Wayang dipentaskan di Pura
Taman, setiap Senin Wage Dukut dipentaskan di Pura Dalem.
b. Daya Tarik Kesenian Okokan
Okokan adalah instrumen semacam bel berukuran
raksasa yang dibuat dari kayu yang dijadikan alat
komunikasi oleh kelompok masyarakat di desa-desa
terpencil. Instrumen yang sama, namun dengan ukuran
yang lebih kecil disebut kroncongan yang biasa dipasang
di atas pohon untuk mengusir binatang– binatang perusak
tanaman kelapa, sebagai kalung ternak (sapi maupun kerbau). Atas prakarsa masyarakat Kukuh
(kabupaten Tabanan) di mana terdapat cukup banyak
instrumen okokan, alat-alat bunyi ini ditata menjadi
sebuah barungan yang disebut Okokan atau kalau di
Indonesiakan menjadi Ombelan I Kayu Bolong yang
artinya suara yang keluar dari kayu yang dilobang, dan
tiada lain OKOKAN. Ada sedikitnya 30 buah okokan
dalam barungan ini. Sejumlah pemain yang memainkan
dengan cara mengocoknya. Selain okokan dalam barungan ini juga dimasukkan dua buah
kendang, 1 buah kajar, 6 buah cengceng dan sejumlah instrumen pukul lainnya. Musik yang
ditimbulkan barungan berukuran besar ini sangat ritmis dan bersuasana magis. Pada jaman dulu
barungan ini digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengusir wabah yang menimpa desa
setempat. Dengan nuansa yg magis dipercaya mampu mengusir hal-hal yg bersifat negatif.
(Sumber: Kecamatan Kerambitan terintegrasi perlu diparafrase)
c. Daya Tarik Kesenian Tektekan & Calonarang
Seni tradisional Tektekan ini berasal dari alat musik sederhana yang terbuat dari batang
bambu, dipadukan dengan sejumlah alat musik tradisional lainnya, mampu menyuguhkan
pementasan seni yang indah, sebuah budaya luhur yang berkembang dengan baik dan masih
terjaga lestari sampai sekarang ini. Kesenian tradisional Tektekan, dari segi etimologi berasal
dari kata “Tek” ini dikarenakan bunyi yang dihasilkan didominasi dari suara tek...tek...tek
sehingga menjadilah Tektekan.
Gambar 2. 10 Kesenian calonarang di Kecamatan Kerambitan
Musik atau kesenian tradisional Bali ini berasal dari alat sederhana, yaitu sebuah
kentongan (kulkul) yang berasal dari batang bambu, kentongan tersebut dipukul menggunakan
pemukul dari bambu ataupun kayu. Untuk menjadi sebuah penampilan seni, maka kentongan
tersebut dimainkan oleh sekitar 30 – 40 orang dengan ritme seperti suara “cak” pada pementasan
tari kecak, tektekan dipadukan dengan alat musik tradisional lainnya seperti ceng-ceng, kendang,
seruling, kempur dan seperangkat alat gamelan lainnya. Drama tari ini biasanya dipenteskan
untuk menghibur para wisatawan dan pentaskan pada malam hari. Diawali dengan menampilkan
dua buah sekaa secara berhadap-hadapan menunjukkan kebolehannya didepan para wisatawan.
Lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu yang bertempo cepat dengan pola-pola gegilakan yang
bergemuruh dipadukan dengan kulkul, ceng-ceng, kopyak, dan okokan sehingga suasana yang
ditimbulkan begitu semarak dan bergemuruh. Gending-gending untuk mengeringi pementasan
drama Tari Calonarang Tektekan mengambil dari gending-gending bebarongan, penggambuhan,
dan penyalonarangan.
d. Daya Tarik Kesenian Leko
Kesenian Leko ini sudah cukup lama ada dari tahun 1910-an di Desa Kukuh, Kerambitan,
Tabanan. Tarian ini dipentaskan di Puri Anyar Kerambitan dengan seorang seniman bernama Ni
Nyoman Manis. Pada waktu itu kesenian ini mengambil dasar tari Sang Hyang Dedari. Pada
mulanya penarinya hanya satu orang, tarian ini sempat redup karena ditarikan pada saat-saat
tertentu di puri. Kemudian, sejalan kemajuan pariwisata kesenian ini dihidupkan lagi sekitar
tahun 1984 oleh seniman dari Desa Kukuh, Kerambitan bernama Made Ladra. Kesenian ini
dipadukan dengan tabuh menggunakan empat buah tingklik dilengkapi sepasang kendang lanang
wadon, satu buah kecek, kelendur, dan empat orang penabuh gebyog dan kepyokan. Kesenian
Bumbung Gebyog Leko terinspirasi dari kehidupan petani di Desa Tabanan yang sangat tekun
mengolah sawah dan menanam padi. Oleh pangelingsir dan tokoh masyarakat, tarian ini juga
terinspirasi dari adanya gangguan dalam memelihara tanaman padi menjelang panen seperti
serangan hama tikus dan burung.
Gambar 2. 11 Tari kesenian Leko
Kesenian ini dipadukan dengan tabuh menggunakan empat buah tingklik dilengkapi
sepasang kendang lanang wadon, satu buah kecek, kelendur, dan empat orang penabuh gebyog
dan kepyokan. Kesenian Bumbung Gebyog Leko terinspirasi dari kehidupan petani di Desa
Tabanan yang sangat tekun mengolah sawah dan menanam padi. Oleh pangelingsir dan tokoh
masyarakat, tarian ini juga terinspirasi dari adanya gangguan dalam memelihara tanaman padi
menjelang panen seperti serangan hama tikus dan burung.
2.4 Ekonomi
2.4.1 Pertanian
Perlu paparan detail tentang Pertanian di Kecamatan Kerambitan
2.4.2 Pariwisata
1. Desa Wisata Kelating
Desa Kelating merupakan salah satu dari 15 Desa yang ada di wilayah Kecamatan
Kerambitan, terletak ± 13 Km Daerah selatan dari pusat kota Tabanan. Desa Kelating memiliki
batas – batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara: Desa Penarukan, Sebelah Timur: Sungai
Yeh Abe, Sebelah Selatan: Samudra Indonesia, Sebelah Barat: Sungai Yeh Lating. Dilihat dari
kondisi geografis, wilayah Desa Kelating merupakan dataran rendah dengan ketinggian ± 500
meter dari permukaan air laut. Suhu udara berkisar antara 28 ºC s.d 34 ºC dengan curah hujan
rata-rata 1.297 mm/tahun. Untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, wilayah Desa
Kelating dibagi menjadi 6 Banjar Dinas, yaitu: Banjar Dinas Dauh Jalan, Banjar Dinas Dangin
Jalan, Banjar Dinas Dukuh, Banjar Dinas Dangin Pangkung, Banjar Dinas Sangging, Banjar
Dinas Pande.
TABEL ISIAN
KARAKTER KEPARIWISATAAN DESA WISATA
DESA KELATING
NO KOMPONEN KETERANGAN
A Daya Tarik Wisata / Atraksi Wisata
1 DTW/ Atraksi Wisata Alam • View Sawah dan Hortikultural
• View Pantai
2 DTW Spiritual -
3 DTW Budaya • Lingkungan Pura Timan Agung
4 DTW Edukasi/Konservasi -
5 DTW Alam Pesisir Pantai Kelating
B Aksesbilitas Pariwisata
1 Akses Jalan Dicapai melalui jalur Kabupaten menuju pantai kelating, kondisi baik
2 Moda Transportasi Moda Angkutan: sepeda motor, mobil, bus
C Fasilitas Usaha Pariwisata
1 Fasilitas dan Usaha Penyedia Akomodasi Pariwisata • Perdana Transport
• BUPDA
2 Fasilitas dan Usaha Penyedia Makanan dan Minuman Rumah Makan Casaoriza dan Kios Desa Pekraman Kelating
3 Fasilitas Pengusahaan Daya Tarik /Atraksi Wisata • CV Timah Agung
• UD Setiawan
4 Usaha Perjalanan Wisata BUPDA Desa Adat Kelating dengan ATV
5 Usaha Pemandu Wisata BUPDA Desa Adat Kelating
6 Usaha Cinderamata -
7 Fasilitas Keamanan Pariwisata Ditangani oleh Pecalang Desa Adat dan Linmas
8 Fasilitas Informasi Pariwisata Kantor BUPDA Desa Adat Kelating
9 Fasilitas Penukaran Uang -
D Kelembagaan Pariwisata
1 Lembaga Pariwisata BUPDA Desa Adat Kelating
E Pemasaran Desa Wisata
1 Ikonik Desa Wisata Wisata Budaya
2 Pasar Pariwisata Internasional dan Domestik
3 Paket Wisata Paket ATV
4 Promosi Pariwisata Malam Budaya, Media Massa dan FB
F Infrastruktur Penunjang
1 Jaringan Jalan Jalan Provinsi, Jalan Kabupaten dan Jalan Desa
2 Air Minum PDAM
3 Energi dan Listrik Tersedia
4 Telekomunikasi Jaringan seluler
5 Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan Sanitasi individu dan sanitasi kelompok (banjar)
G Sarana Pelayanan Umum
1 Fasilitas Pendidikan SD No. 1 Kelating, SD No. 2 Kelating, TK/PAUD dan TK Bermain
2 Fasilitas Kesehatan Puskesmas Pembantu, Tenaga Kesehatan (Posyandu) dan Kader
Kesehatan
3 Fasilitas Perekonomian LPD Desa Pakraman Kelating dan 4 koperasi
4 Fasilitas Olah Raga 1 lapangan bulu tangkis, 1 lapangan voli dan tenis meja di 6 banjar
5 Tempat Suci Pura Khayangan Tiga dan Goa Lawah Enjung Timah Agung
H Potensi Lokal Khas
1 Makanan -
2 Seni Budaya Seni Tari Tektekan, Seni Tari Wayang Wong, Tarian Kreasi dan
Sanggar Budaya
Gambar 2. 12 Peta Potensi DTW Desa Kelating
Daya Tarik Wisata/Atraksi Wisata
Desa Kelating merupakan tipologi desa pesisir dengan hamparan lahan pertanian sawah
yang masih relatif luas. Keberadaan pantai dan hamparan sawah tersebut merupakan perpaduan
komponen lingkungan alam laut dan lingkungan alam daratan yang menjadi potensi utama daya
tarik wisata alam dalam pengembangan kepariwisataan. Ditinjau dari aspek budaya, Desa
Kelating dengan komunitas mayoritas beragama Hindu mempunyai tradisi, budaya dan tata
kehidupan keseharian serta pola permukiman dan tata bangunan yang tidak berbeda dengan desa-
desa tradisional Bali pada umumnya. Keseluruhan komponen-komponen budaya baik bersifat
berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible) dapat menjadi kekuatan sebagai daya
tarik wisata Selanjutnya adanya inisiatif atau prakarsa menjadikan Desa Kelating sebagai pusat
pelatihan dan orientasi budaya Bali bagi warga asing semakin memperkuat karakter budaya
sebuah desa wisata dari aspek pemasaran.
a) Daya Tarik Wisata Pantai, Bentang Laut dan Goa Kelelawar
Desa Kelating memiliki pantai dan bentang laut sebagai daya tarik wisatanya. Morfologi
pantai relatif landai dan ruang pantai yang relatif lebar. Kondisinya relatif stabil dan terbentuk
gumuk pasir kwarsa yang relatif lebar. Pantai ini memiliki panorama pantai dan alam laut yang
indah, terlebih-lebih di sore hari dimana sunset dapat dinikmati dalam suasana yang damai di
pantai ini. Objek wisata pantai Kelating memang menawarkan beragam aktivitas untuk dinikmati
oleh setiap pengunjungnya tidak hanya mereka yang ingin bersantai menunggu sunset atau
berjemur merasakan teriknya matahari. Tetapi juga bagi penggemar rekreasi memancing, banyak
dari mereka menghabiskan waktunya untuk mencoba keberuntungan mendapatkan ikan-ikan
karang.
Di kawasan tempat wisata pantai Kelating ada bukit-bukit kecil dan bebatuan karang yang
membentuk gua-gua kecil, bahkan dalam satu gua terdapat pelinggih (pura kecil) tempat umat
Hindu bersembahyang. Gua tersebut dihuni oleh kelelawar terlihat sangat indah dan natural.
Berbeda dengan kelelawar pada umumnya yang hanya memiliki sayap, di goa yang ada di Pantai
Kelating ini dihuni oleh ribuan kelelawar yang memiliki sayap dan juga ekor meskipun tidak
terlihat jelas karena suasana didalam goa gelap. Kelelawar tersebut memiliki panjang sekitar 2,5
sentimeter berwarna hitam. Tubuh dari kelelawar itu memang lebih kecil daripada tubuh
kelelawar pada umumnya. Dan memiliki warna hitam kecoklat-coklatan. Goa ini merupakan asal
muasal Desa Kelating karena dulu sebelum dinamakan Desa Kelating, desa ini bernama Desa
Goa Gala. Goa tersebut berada di sekitaran enjung bernama Karang Taman Agung. Di bagian
atas goa terdapat Pura Tegal Linggah. Jalan setapak juga tersedia untuk menuju puncak bukit
kecil tersebut, sehingga dari sini wisatawan bisa lebih maksimal menikmati keindahan yang
disuguhkan pantai Kelating. Karena keunikannya keberadaan goa dan kelelawar tersebut menjadi
daya tarik wisatawan sendiri. Baik wisatawan yang sedang bermain ATV sengaja berhenti untuk
foto, begitu pula wisatawan yang kebetulan berlibur di Desa Kelating datang ke kawasan goa
tersebut untuk melihat ribuan kelelawar itu.
Gambar 2. 13 Objek Wisata Pantai di Desa Kelating
Kegiatan wisata dan rekerasi pantai berlokasi di sepanjang pantai. Aktivitas wisata di
pantai ini yaitu relaxing, menikmati keindahan alam laut dan goa, mandi dan rekreasi. Sebagai
daya tarik wisata pantai, telah tersedia beberapa fasilitas daya tarik wisata di pantai ini.
b) Daya Tarik Wisata Sawah
Desa Kelating memiliki hamparan sawah yang tergolong luas. Kegiatan pertanian ini
didukung oleh tersedianya jumlah petani yang cukup besar. Pemandangan hamparan sawah ini
dengan keberadaan petani yang menggarap lahan dan memanen padi menjadi salah satu pesona
desa wisata. Pada hamparan sawah ini juga sangat berpotensi untuk sebagai jalur wisata trekking
yang mempunyai keterhubungan dengan jalur trekking di kawasan pantai.
Gambar 2. 14 Objek Daya Tari Wisata Sawah dan Trekking di Desa Kelating
Desa Kelating di Tabanan, menawarkan wisata ATV berkeliling sekitar desa. Wisatawan
akan diajak mengitari desa dengan pemandangan sawah serta berkeliling Pantai Kelating sembari
menikmati sunset yang menenangkan. Wisata ATV ini adalah merupakan usaha desa atau yang
biasa disebut Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA). Ada tujuh unit ATV yang saat ini
dikelola oleh muda-mudi desa adat Kelating. Awalnya setiap unit ATV dimiliki oleh warga desa
yang kemudian difasilitasi hingga wisata ATV ini menjadi usaha desa setempat. Rute yang
disuguhkan pun ada dua jenis. Pengunjung bisa memilih rute dengan track yang mudah yaitu
mengelilingi sawah di sekitar desa kemudian mengendarai ATV di sekitar Pantai Kelating. Jika
ingin lebih menantang, rute dengan track yang cukup sulit pun ada yaitu mengitari jalan setapak
yang ada di tebing di sekitar pantai.
2. Desa Wisata Tista
Desa Tista berlokasi di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Tista pada mulanya
dari kata ” Ngetis “ Nama tersebut bermula dari pengembaraan seorang putra raja Tabanan.
Pengembaraan beliau tersebut banyak melintasi daerah-daerah pegunungan yang medannya
berbukit-bukit dan melintasi banyak sungai karena pada waktu itu belum ada terbuka jalan-jalan
seperti sekarang ini.
Gambar 2. 15 Peta potensi DTW Desa Tista
Dalam perjalanan tersebut beliau bertemu dengan seorang petapa sakti. Kemudian atas petunjuk
pertapa tersebut beliau melanjutkan perjalanan keselatan akhirnya beliau sampai pada suatu
tempat yang dituju. Oleh karena tempat itu medannya bergelombang maka beliau kembali ke
Utara untuk mencari tempat yang datar untuk mendirikan istana, kemudian dipilihlah tempat
yang sekarang disebut Kerambitan. Di desa tista terdapat area persawahan yang luas dan
digunakan untuk jalur treckking hingga sungai Yeh Ho. Selain digunakan untuk jalur trecking,
lokasi persawahaan ini juga sangat cocok digunakan untuk aktivitas jogging dan bycling di pagi
dan sore hari dengan pemandangan sunset yang indah.
TABEL ISIAN
KARAKTER KEPARIWISATAAN DESA WISATA
DESA TISTA
NO KOMPONEN KETERANGAN
A Daya Tarik Wisata / Atraksi Wisata
1 DTW/ Atraksi Wisata Alam View Sawah dan Sungai
2 DTW Spiritual • Taman Beji
• Pura Prajapati
• Pura Khayangan Tiga
• Batu Gede
3 DTW Budaya Kesenian Tari Andir
4 DTW Edukasi/Konservasi • Pande Besi
• Budidaya Lele
• Hidroponik
5 DTW Alam Pesisir -
B Aksesbilitas Pariwisata
1 Akses Jalan Dicapai melalui jalur Kerambitan – Pasut, kondisi baik
2 Moda Transportasi Moda Angkutan: sepeda motor, mobil, bus menengah (40 seat)
C Fasilitas Usaha Pariwisata
1 Fasilitas dan Usaha Penyedia Akomodasi Pariwisata Homestay (3 kamar)
2 Fasilitas dan Usaha Penyedia Makanan dan Minuman • Warung Nasi Men Juli (local food/Balinese food)
• Warung Puja
• Warung Aira
• Pasar Senggol Kerambitan
3 Fasilitas Pengusahaan Daya Tarik /Atraksi Wisata • Jalur Treking (untuk pejalan kaki maupun sepeda)
• Penyewaan sepeda (5 unit)
• Sanggar Tari Tantra Dewata
4 Usaha Perjalanan Wisata -
5 Usaha Pemandu Wisata Anggota Pokdarwis Desa Wisata Tista
6 Usaha Cinderamata Bumdes Sari Merta Desa Tista
7 Fasilitas Keamanan Pariwisata Terdapat papan petunjuk jalur evakuasi dan tempat titik kumpul,
terdapat tiang pegangan menuju Taman Beji dan alat pemadam
kebakaran
8 Fasilitas Informasi Pariwisata Kantor Pokdarwis Desa Wisata Tista
9 Fasilitas Penukaran Uang -
D Kelembagaan Pariwisata
1 Lembaga Pariwisata Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Tista
E Pemasaran Desa Wisata
1 Ikonik Desa Wisata Patung Penari Andir
2 Pasar Pariwisata Internasional dan Domestik
3 Paket Wisata • The Authentic Tista Tourism Village Trekking
• Tista Adventure Cycling
• Tista Event Package
4 Promosi Pariwisata • Sosial Media:
website: www.desawisatatista.com
youtube: Desa Wisata Tista
FB: @desawisatatista.bali
IG: desawisatatista
• e-commerce: enjoykuta.com, maikebali.com
• Pemerintah: Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan
F Infrastruktur Penunjang
1 Jaringan Jalan Jalan Kerambitan – Pasut dan Jalan Desa
2 Air Minum PDAM dan terdapat Sumber mata air bersih
3 Energi dan Listrik Tersedia
Daya Tarik Wisata/Atraksi Wisata Alam
a) Daya Tarik Wisata Lanskap Persawahan
Sebagai kawasan perdesaan dengan corak kehidupan pertanian yang masih kuat serta
berada di kawasan daerah aliran sungai Yeh Ho, Desa Wisata Tista memiliki potensi daya tarik
wisata alam landskap persawahan yang dapat dijadikan komplementer atraksi wisata arung jeram
yang menjadi unggulan daya tarik/atraksi wisata di desa ini. Sawah-sawah yang dikerjakan
secara tradisional dengan suasana lingkungan perdesaan yang damai dapat menjadi bagian yang
unik dari pengembangan desa wisata Tista. Di siang atau sore hari biasanya ada anak-anak
bermain layang-layang di sekitar sawah-sawah. Jarak antar rumah sangat jauh karena diselingi
sawah-sawahan. Keberadaan daya
tarik wisata ini sangat mendukung
atraksi wisata bersepeda dan
trekking.
b) Wisata Trecking, jogging dan Cycling
Desa Wisata Tista memiliki persawahan
yang luas dan berpotensi untuk dijadikan
wisata sehingga menjadi daya Tarik bagi
wisatawan yang akan berkunjung. Jalur
Trecking ini terletak diantara Banjar Dangin
Pangkung dan Banjar Carik. Jalur Trecking ini
dibagi menjadi dua sport yaitu jalur yang biasa
dan jalkur yang menantang menuju sungai Yeh
Ho. Selain digunakan untuk jalur trecking,
lokasi persawahaan ini juga sangat cocok
digunakan untuk aktivitas jogging dan
bersepeda cyling di pagi dan sore hari dengan pemandangan sunset yang indah. Di jalur trecking
ini juga terdapat bale Subak Buluh sebagai tempat untuk beristirahaan saat beraktivitas trecking,
jogging dan cycling dan bisa berinteraksi dengan para petani yang ramah. Di sekitar jalur
trecking juga terdapat sebuah Gazebo 69 yang menawarkan makanan dan minuman dan juga
sangat cocok untuk tempat beristirahaan sambal menikmati pemandangan sawah dan sunset.
Selain itu juga terdapat pemandangan sawah yang indah. Untuk waktu dibutuhkan kurang lebih 1
jam untuk jalur trecking dengan sport biasa dan dibutuhkan kurang lebih 1,5 jam untuk jalur
trecking dengan sport menantang. Atraksi tour bersepeda ini awalnya melintasi persawahan
berundak. Di sini wisatawan dapat menikmati hamparan persawahan berikut aktivitas para petani
dan pada saat musim panen tur bersepeda ini semakin menarik menyaksikan kegiatan panen padi
dengan peralatan tradisional.
Lepas dari persawahan rute masuk ke perdesaan, menyaksikan berbagai aktivitas penduduk
yang masih mempertahankan tradisi Bali. Wisatawan juga berkesempatan berinteraksi dan
berkomunikasi dengan penduduk memperkaya wawasan dan pengalaman wisata serta
mengabadikan kehidupan mereka.
Daya Tarik Wisata Spiritual, Seni dan Budaya
Di Desa Tista juga terdapat pura Beji. Pura beji tersebut terletak disebelah barat Banjar
Carik. Asal mula pura berdiri karena terdapat sumber air di bawah pura yang dianggap sebagai
sumber kehidupan dan dianggap sakral oleh penduduk Desa Tista. Sumber air ini dari dulu
sampai sekarang dipergunakan untuk keperluan religi seperti menyucikan pertima, arca,
peralatan pura sebelum diupacarai. Dipergunakan juga untuk keperluan mandi, cuci dan minum.
Pura Beji dibagi menjadi tiga tempat yaitu: dipergunakan untuk tempat keagamaan,
dipergunakan untuk tempat khusus mandi perempuan dan laki laki dan dibawah pura terdapat
goa yang memiliki sumber air sehingga dibuat
bak air yang dipergunakan sebagai penampung
air tersebut. Areal tanah yang digunakan untuk
membangun pura tersebut adalah milik
sekelompok keluarga yang mempunyai
tanggung jawab penuh untuk memelihara,
menjaga dan membersihkan pura tersebut.
Namun, semua banjar diberikan untuk ikut
maturan dengan menghanturkan punia sesuai
kemampuan. Setiap ada upacara adat seperti
odalan, ada kewajiban dan setiap banjar untuk
ngayah (berpartisipasi) mempersembahkan Tarian Andir. Disekitar areal Pura Beji terdapat
harapan sawah yang indah dan sangat cocok dikunjungi pagi hari karena pada pagi hari biasa
menikmati embun dan sunrise point. Hingga sekarang fungsi pura tersebut tetap menjadi 2
bagian, yakni
1. Sebagai sumber air yang dianggap sebagai sumber kehidupan karena digunakan untuk
keperluan religi
2. Sebagai sumber untuk keperluan sehari-hari
Seni dan Budaya
Di Desa Tista terdapat sebuah kesenian klasik berupa Tari Andir. Tari Andir adalah sebuah
tari seni klasik yang merupakan bentuk mula dari Tari Legong keraton yang ada sekarang. Andir
ditarikan oleh tiga orang laki-laki tetapi akhir-akhir ini Andir ditarikan oleh perempuan saja.
Andir dikembangkan dari tari uapcara, terutama tari Sanghyang yaitu sebuah tari kerauhan di
Bali. Gerak tari Andir merupakan salah satu dari gerak tari gambuh. Gerak yang sukar dalam tari
Gambuh itu diperhalus dan disesuaikan dengan musik yang sangat dinamis sehingga menjadi tari
Andir yang sangat indah seperti terlihat sekarang. Adapun sekehe Andir yan masih aktif sampai
sekarang ada di Desa Tista Kecamatan Kerambitan Tabanan. Andir ini didukung oleh sekehe
yang berjumlah seratus orang. Pementasan biasanya dilakukan untuk kepentingan upacara adat
atau odalan di pura-pura yang ada disekitarnya.
Gambar 2. 16 Kegiatan Pengembangan Seni Tari di Desa Tista
Selain seni dan budayanya, Desa Tista juga mengembangkan wisata kulinernya berupa
jajanan tradisional, loloh cemcem dan juga makanan olahan dari ikan lele. Perlu diketahui, Loloh
cemcem merupakan salah satu kuliner lokal terkenal di Bali, salah satunya yang berada di desa
Tista Tabanan. Cemcem itu sendiri merupakan salah satu daun-daunan yang memiliki banyak
khasiat yang berguna bagi tubuh. Biasanya daun cemcem banyak dikonsumsi degan cara
dihaluskan untuk mendapatkan sari hujau daun tersebut, seteelah iu dicampurkan dengan air
kelapa muda beserta daging kelapanya dan terakhir dengan campuran bahan lainnya seperti
garam, jeruk nipis, dan bisa ditambah es. Setelah seua bahan-bahan tercampur, minuman yang
dikenal dengan Loloh Cemcem siap dinikmati.
Masyarakat desa Tista juga sudah lama membudidayakan Ikan Lele. Selain dikonsumsi
secara lansung, masyarakat juga memanfaatkannya dengan mengolahnya menjadi barang
konsumsi yang bernilai jual seperti bakso lele dan nugget lele. Seperti namanya, bahan dasar
baletis berasal dari ikan lele dan dicampur dengan bahan lainnya seperti tepung tapioca, bawang
putih, garam, dan air secukupnya. Hingga sekarang, bakso lele diproduksi untuk masyarakat desa
Tista saja yang dilakukan oleh ibu-ibu PKK.
Selain padi, hasil pertanian desa Tista yang masih unggul hingga saat ini adalah ubi ungu.
Banyaknya produksi tanaman ini membuat masyarkat mengolahnya menjadii donat ubi ungu.
Donat ini sama dengan donat pada umumnya hanya bahan dasarnya saja yang berbeda yakni ubi
ungu. Warna donat ini sangat khas, karena warna di luar permukaannya sama dengan donat pada
umumnya yaknik coklat, namun didalamnya berwarna ungu. Teksturnya lebih lembut, tanpa
pengawet dan kandungan zat besi dalam donat menjadikan donat Tista ini sangat khas.
3. Desa Wisata Tibubiu
Desa Tibubiu merupakan salah satu dari 15 desa yang ada di wilayah Kecamatan
Kerambitan, terletak kurang lebih 15 Km kearah Barat dari pusat Kota Tabanan. Luas wilayah
Desa Tibubiu seluas 297 hektar yang mana terdiri dari: Persawahan 226 hektar. Tanah kering
terdiri dari tanah ladang dengan luas 32 hektar, kuburan: 1,5 hektar, sekolah/perkantoran/Pura: 3
hektar dan Pemukiman 34,5 hektar yang memiliki batas – batas sebagai berikut: Sebelah Utara:
Desa Belumbang, Sebelah Selatan: Samudera Indonesia, Sebelah Timur: Tukad Yeh Lating dan
Sebelah Barat: Tukad Yeh Ho. Di lihat dari kondisi geografis, wilayah Desa Tibubiu merupakan
daratan (rendah) dengan ketinggian kurang lebih 20 meter dari permukaan air laut. Suhu udara
berkisar antara 28 derajat Celsius sampai dengan 32 derajat Celsius dengan curah hujan rata –
rata 1.100 mm/ tahun. Untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, wilayah Desa
Tibubiu di bagi menjadi 5 Banjar Dinas yaitu: Banjar Dinas Tibubiu Kaja, Banjar Dinas Tibubiu
Kelod, Banjar Dinas Tegal Temu Kaja, Banjar Dinas Tegal Temu Kelod dan Banjar Dinas Pasut.
Selain pantai, desanya ini juga memiliki kawasan persawahan, yakni Subak Sungsang yang tidak
kalah indahnya untuk aktivitas wisata, seperti untuk jogging track, maupun bersepeda dengan
memanfaatkan jalan subak. Dengan potensi alam meliputi pantai, sawah hingga muara sungai,
Desa Tibubiu di Kecamatan Kerambitan Tabanan cocok dikembangkan menjadi desa wisata.
TABEL ISIAN
KARAKTER KEPARIWISATAAN DESA WISATA
DESA TIBUBIU
NO KOMPONEN KETERANGAN
A Daya Tarik Wisata / Atraksi Wisata
1 DTW/ Atraksi Wisata Alam View Pantai, Sawah dan Sunset
2 DTW Spiritual -
3 DTW Budaya -
4 DTW Edukasi/Konservasi -
5 DTW Alam Pesisir -
B Aksesbilitas Pariwisata
1 Akses Jalan Dicapai melalui jalan kabupaten jalur Kerambitan – Tibubiu, kondisi
baik
2 Moda Transportasi Moda Angkutan: sepeda motor, mobil, bus menengah
C Fasilitas Usaha Pariwisata
1 Fasilitas dan Usaha Penyedia Akomodasi Pariwisata 15 Villa
2 Fasilitas dan Usaha Penyedia Makanan dan Minuman Rumah makan dan minum Pondok Sawah
3 Fasilitas Pengusahaan Daya Tarik /Atraksi Wisata Atraksi ATV dari Pantai, Sawah dan Pemukiman Penduduk
4 Usaha Perjalanan Wisata -
5 Usaha Pemandu Wisata -
6 Usaha Cinderamata -
7 Fasilitas Keamanan Pariwisata Ditangani oleh Desa Adat Tibubiu
8 Fasilitas Informasi Pariwisata Kantor Desa Tibubiu
9 Fasilitas Penukaran Uang -
D Kelembagaan Pariwisata
1 Lembaga Pariwisata -
E Pemasaran Desa Wisata
1 Ikonik Desa Wisata -
2 Pasar Pariwisata -
3 Paket Wisata -
4 Promosi Pariwisata -
F Infrastruktur Penunjang
1 Jaringan Jalan Jalan Kabupaten dan Jalan Desa
2 Air Minum PDAM
3 Energi dan Listrik Tersedia
4 Telekomunikasi Jaringan seluler
5 Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan Pengangkutan Sampah Masyarakat oleh Desa
G Sarana Pelayanan Umum
1 Fasilitas Pendidikan SD No. 1 Tibubiu
2 Fasilitas Kesehatan Puskesmas Pembantu
3 Fasilitas Perekonomian 1 LPD dan 2 koperasi
4 Fasilitas Olah Raga 1 lapangan sepak bola
5 Tempat Suci Pura Khayangan Tiga
H Potensi Lokal Khas
1 Makanan -
2 Seni Budaya • Seni Tari Tektekan, Gender dan Gambang
Daya Tarik Wisata/Atraksi Wisata
Desa Tibubiu, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, adalah desa wisata dengan segala potensi
alam yang eksotik, seperti kawasan pantai, persawahan, hingga muara sungai. Keberadaan pantai
dan hamparan sawah tersebut merupakan perpaduan komponen lingkungan alam laut dan
lingkungan alam daratan yang menjadi potensi utama daya tarik wisata alam dalam
pengembangan kepariwisataan.