The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arief Maulana, 2023-03-31 03:07:04

Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2023

Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2023

Keywords: #poultry indonesia

PT. ROMINDO PRIMAVETCOM Jl. Dr. Saharjo No. 264 – Jakarta 12870 Telp. (021) 8300-300


04 u Edisi Maret 2023 u Bahaya Laten Parasit pada Unggas u Parasit pada Peternakan Unggas Indonesia u Invasi Parasit Gerus Usaha Peternakan u Sigap Cegah Parasit, Keuntungan Melejit DAFTAR ISI ........................................... 04 DARI REDAKSI ..................................... 06 EDITORIAL .......................................... 08 INFO PRODUK .................................... 10 SURAT PEMBACA ................................ 12 TOPIC .................................................. 14 SUDUT KANDANG ............................ 16 SUARA ASOSIASI ................................. 20 PERISTIWA ........................................... 38 INTERNASIONAL ................................ 50 KESEHATAN ........................................ 54 CATATAN HARGA ............................... 64 POJOK OBAT UNGGAS ...................... 66 SUARA MAHASISWA ........................... 70 POULTRY KULINER ............................ 74 LAPORAN KHUSUS ............................ 76 OPINI ................................................... 80 RISET .................................................... 82 AGENDA PETERNAKAN ................... 86 SEPUTAR KITA ..................................... 90 Penerapan Kesejahteraan Hewan dalam RPHU Ibnu Edi Wiyono Ekonom yang Kagum pada Dunia Agrobisnis Merancang Kantin Sekolah Menjadi Sumber Protein Hewani Asal Unggas TATA LAKSANA 60 PASCAPANEN 72 PROFIL 88 LAPORAN UTAMA 21 DAFTAR ISI


Sebagai media referensi terdepan tentang informasi perunggasan baik di tanah air maupun mancanegara, majalah Poultry Indonesia selalu memberikan informasi yang berkualitas dibalut dengan gaya tulisan ilmiah populer. Dikerjakan dengan kerja keras dengan sepenuh hati, setiap konten yang diterbitkan dalam majalah Poultry Indonesia telah melewati serangkaian proses yang dikerjakan oleh seluruh Tim Poultry Indonesia sebagai motor penggerak. Maka dari itu, Poultry Indonesia akan terus sekuat tenaga berjalan bersama dengan para pembaca untuk membangun dunia perunggasan ke arah yang lebih baik dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat perunggasan di Indonesia. Pada penerbitan majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2023, telah disiapkan berbagai artikel menarik yang telah tim redaksi siapkan. Untuk rubrik Laporan Utama edisi Maret 2023, telah disiapkan tulisan menarik tentang “Bahaya Laten Parasit pada Unggas”. Urusan tentang penyakit parasit memang tidak begitu kentara seperti virus dan bakteri, namun potensi kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan akibat penyakit parasit memang nyata adanya. Bagaimana gambaran penyakit parasit di lapangan sekaligus bagaimana cara penanganannya telah siap disajikan dalam rubrik Laporan Utama. Redaksi PEMIMPIN UMUM/PENANGGUNG JAWAB Farah Dite Poernama STAF AHLI Prof. Dr. Drh. I Wayan T. Wibawan, MS. Drh. Desianto B. Utomo, M.Sc. Ph.D. Drh. Paulus Setiabudi, MM., Ph.D. Joko Susilo, S.Pt. PEMIMPIN REDAKSI Muhamad Domi Sattyananda REDAKTUR PELAKSANA Muhammad Sandi Dwiyanto REDAKSI Diana Putri Yoga Kusuma Barata KORESPONDEN LUAR NEGERI Elis Helinna (New York) KORESPONDEN Muhrishol Yafi (Sidoarjo) Ulil Albab (Purwokerto) Ashariah Hapila (Makassar) Muhammad Zainurrohim (Yogyakarta) Dafiq Naskar (Sumatra Barat) ARTISTIK/PRODUKSI Ahmad Juber PEMIMPIN USAHA Iyan Yuliana IKLAN & PROMOSI Bella Viseria Ilham Muhammad SATWA MEDIA TV Nijo Haryanto Wisnu Yoga Permana SIRKULASI Joko Sumarsono KEUANGAN Chatra Ratnayu Dian Arinda PENERBIT PT Kharisma Satwa Media ALAMAT REDAKSI, TU & USAHA/IKLAN Komplek Mangga Dua Square Blok E No. 23 Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 - Jakarta 14430 Telp. (021) 62318153 Fax (021) 62318154 E-mail : [email protected] [email protected] [email protected] Homepage : www.poultryindonesia.com BANK BUMI ARTA Cabang Pembantu Mangga Dua, No. A/C 109 129 0081 Atas Nama: PT. KHARISMA SATWA MEDIA 06 u Edisi Maret 2023 Tulisan menarik lainnya yang telah disiapkan pada edisi Maret 2023, adalah Opini dari Achmad Dawami selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia. Dalam tulisan tersebut Sebagai Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami menyoroti tentang bagaimana gambaran seharusnya tentang National Stock Replacement dilakukan. Beralih ke rubrik lainnya, pada rubrik Kesehatan disiapkan sebuah artikel menarik dari drh. Tony Unandar yang membahas tentang animalcules. Dalam tulisan tersebut membahas tentang animalcules yang mana pada abad pertama, rahib Marcus Terentius Varro seperti yang dituturkan dalam laporan Leclainche pada tahun 1936, membuat suatu hipotesis bahwa ada makhluk tidak kasatmata yang disebutnya sebagai “animalcules” yang memegang peranan penting dalam kasus-kasus penyakit, bukan akibat kutukan. Tulisan tentang animalcules telah disiapkan dalam rubrik Kesehatan untuk menambah referensi masyarakat. Terkait dengan konsisi lapangan yang sedang waspada terkait dengan wabah Avian Influenza, tim redaksi telah menyiapkan tulisan tentang bagaimana stakeholders di Indonesia harus kembali waspada terhadap serangan Avian Influenza. Dengan persebaran yang sangat cepat, wabah yang satu ini telah berhasil menarik atensi publik internasional, mengingat sifatnya yang sangat patogen dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ternak. Maka dari itu, dalam rubrik Laporan Khusus edisi Maret 2023, tim redaksi menyiapkan sebuah tulisan dengan judul Kembali Mewaspadai Ancaman AI untuk menghimbau kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap serangan penyait AI. Tulisan tak kalah menarik lainnya juga telah disiapkan di rubrik lain seperti Aneka Unggas yang membahas tentang ayam chabo, dan Pojok Obat Unggas yang mengangkat tentang Manajemen pemberian antelmintik pada peternakan ayam petelur. Majalah Poultry Indonesia sebagai referensi terdepan untuk industri perunggasan senantiasa berusaha untuk memberikan para pembaca informasi yang bermanfaat, tidak hanya berita kejadian terkini lewat rubrik Peristiwa, namun dari rubrik lainnya yang sudah tersaji dan sudah siap untuk dibaca oleh para pembaca setia Majalah Poultry Indonesia. Akhir kata, selamat membaca! DARI REDAKSI Tim Poultryindonesia saat diterima oleh Asohi untuk berdiskusi tentang perunggasan


08 u Edisi Maret 2023 Saat ini, dunia industri perunggasan di berbagai dunia dijalankan dengan berbagai model. Jika di negara – negara barat, perunggasan dijalankan dengan konsep sustainability atau alur produksi yang berbasis pada keberlanjutan lingkungan. Maka di negara – negara barat, sistem produksi perunggasan dari hulu ke hilir sudah tidak asing lagi dengan perhitungan emisi karbon yang dihasilkan dalam setiap mata rantai produksi. Seperti contoh bagaimana dalam setiap pakan yang diproduksi oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, lebih menyukai bahan pakan yang diproduksi dari pertanian yang berkelanjutan dan memperhatikan lingkungan, di tengah tuntutan efisiensi produksi. Tak hanya di hulu, di hilir yaitu para konsumen produk unggas di negara Eropa dan Amerika Serikat, rela untuk mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli produk telur dan daging yang bersumber dari sistem manajemen pemeliharaan unggas yang dipelihara dengan memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan. Untuk memastikan produksi unggas di Eropa dilakukan dengan berbasis keberlanjutan sekaligus ramah lingkungan, berbagai macam kebijakan dilakukan oleh pemangku kebijakan di Eropa. Berdasarkan informasi dari situs web poultryworld. net, sejak bulan September 2022, salah satu ritel di Inggris yaitu Marks and Spencer menjadi supermarket pertama yang hanya menjual ayam pedaging yang dipelihara dengan cara diumbar. Sedangkan untuk kandang baterai dengan modifikasi tertentu, penggunaannya terus menurun pada akhir 2022, dengan pangsa pasar sebesar 35%. Untuk pemeliharaan dengan metode free range sendiri menguasai sebesar 59%, organik 4%, dan sistem barn sebesar 2%. Sedangkan di Indonesia sendiri, kegiatan pemeliharaan unggas masih berfokus pada bagaimana caranya menghasilkan produksi daging dan telur seefisien mungkin dengan penggunaan kandang closed house yang mendukung genetika dari ayam ras untuk bisa menghasilkan karkas maupun telur dengan optimal. Di sisi lain aspek kesejahteraan hewan pada pemeliharaan di closed house masih menjadi perdebatan dan seringkali dibandingkan dengan free range. Namun beberapa aspek dari kesejahteraan hewan masih bisa dipenuhi oleh kandang closed house terutama dari sisi kebebasan dari rasa sakit dan penyakit yang lebih sulit dipenuhi oleh penggunaan sistem pemeliharaan free range. Terlebih, Indonesia juga merupakan negara yang memiliki segudang tantangan pemeliharaan lapangan karena berada di wilayah tropis. Yang mana ancaman serangan penyakit akan terjadi sepanjang tahun. Karena secara cuaca, iklim tropis disukai oleh mikroorganisme patogen. Jika pemeliharaan tidak dilakukan secara intensif dan menggunakan biosekuriti yang tepat, maka akan mengundang berbagai penyakit untuk menyerang hewan ternak. Melihat dari hal tersebut, orientasi pemeliharaan unggas di setiap belahan dunia memang bisa saja bergerak ke arah yang berbeda, tergantung dengan situasi dan masyarakat yang mengonsumsi unggas itu sendiri. Karena, masyarakat lah yang akan memegang kunci konsumsi per kapita dari produk perunggasan. Untuk masyarakat di negara maju yang memang konsumsi per kapita untuk produk unggas yang sudah cukup tinggi, tuntutan akan produk yang berkualitas diwujudkan dengan perbaikan manajemen pemeliharaan di tingkat hulu hingga on farm. Masyarakat di negara maju, memercayai bahwa jika ayam diperlakukan sesuai dengan tabiat aslinya di alam maka produk yang dihasilkan akan memiliki nilai tambah yang baik jika dikonsumsi oleh masyarakat. Sedangkan untuk masyarakat di negara - negara dengan mayoritas pendapatan masyarakatnya adalah kelas menengah, biasanya berfokus untuk menyediakan komoditas asal unggas yang terjangkau bagi masyarakatnya. Fokusnya adalah bagaimana caranya meningkatkan konsumsi per kapita, mulai dari bagaimana penetrasi pasar komoditas unggas agar bisa menjangkau setiap lapisan konsumen, peningkatan efisiensi produksi unggas di setiap mata rantai untuk memberikan harga yang relatif terjangkau bagi masyarakat. Arah Industri Perunggasan Global EDITORIAL


Dalam penyediaan pakan yang berkualitas baik, PT Malindo Feedmill Tbk terus berupaya dan berkomitmen menghasilkan produk pakan berkualitas didukung oleh akreditasi ISO 9001 dan ISO 22000 Food Safety Management untuk feed plant yang dimiliki Malindo. Fokus terhadap pada kualitas dan keahlian dalam memproduksi pakan memungkinkan Malindo untuk menghasilkan produk berprotein tinggi dengan nilai gizi yang konsisten. Didukung oleh tenaga profesional dan berpengalaman, produk pakan Malindo menjadi pilihan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak unggas, baik itu broiler, layer, bebek dan ternak lainnya. Untuk jenis ternak unggas, Malindo memiliki berbagai jenis produk pakan salah satunya adalah pakan puyuh petelur Malindo 8705 untuk umur puyuh kurang dari 42 hari. Dengan pemilihan bahan baku berkualitas, Malindo menggunakan bahan pakan seperti jagung kuning, bungkil kedelai, DDGS, MBM, CGM, wheat pollard, tepung batu, dan lainnya yang sangat bagus untuk pertumbuhan dan ketahanan puyuh petelur. Pakan puyuh petelur Malindo memiliki kandungan nutrisi yang terdiri dari protein kasar, energi, lemak, serat kasar, fospor, kalsium, dan nutrisi lainnya yang seimbang sesuai dengan kebutuhan puyuh dan juga memenuhi standar SNI pakan. Malindo selalu menerapkan proses kontrol kualitas yang ketat sejak pemilihan bahan pakan untuk memastikan hanya produk dengan kualitas terbaik yang dihasilkan. Dengan kualitas bahan pakan yang terbaik dan teknologi pembuatan pakan yang modern menghasilkan pakan puyuh dengan amonia rendah dan kotoran kering sehingga menunjang untuk kesehatan ternak puyuh. Untuk masalah produksi jangan ditanya lagi, Pakan Puyuh 8705 menghasilkan telur lebih besar dan cangkang lebih tebal dan performa lebih stabil. Bella Untuk informasi lebih lengkap mengenai produk, dapat menghubungi: PT Malindo Feedmill Tbk. Jl. RS. Fatmawati No. 15 Komplek Golden Plaza Blok G, No. 17-22 Jakarta Selatan 12420 Phone : +62 (21) 7661727 Fax : +62 (21) 7661728 E-mail : [email protected] Website : www.malindofeedmill.com 10 u Edisi Maret 2023 SANAVAC CLONE/H120 Vaksin Aktif ND dan IB dari Sanbio Pakan Puyuh Petelur Malindo Kontrol Kualitas Ketat Sejak Pemilihan Bahan Baku INFO PRODUK Sektor perunggasan di Indonesia adalah industri yang sangat berpotensial. Namun, dibutuhkan pemeliharaan unggas yang baik agar ayam sehat. Pemberian vaksin dapat membantu dalam mencegah serangan penyakit. Saat ini, para peternak senantiasa berupaya untuk berproduksi secara efisien dan mencegah ayam terkena penyakit. Atas dasar tersebut PT Sanbio Laboratories selaku spesialisasi dalam produksi dan perkembangan vaksin unggas dengan tim peneliti yang selalu memperbarui strain relevan dan cocok di lapangan, serta terus berupaya menghadirkan produk-produk yang bermanfaat bagi ternak. SANAVAC CLONE/H120 merupakan salah satu produk vaksin aktif kering beku milik PT Sanbio Laboratories yang mengandung virus aktif Newcastle Disease, strain clone dan Infectious Bronchitis, strain H120. Vaksinasi dapat diberikan pada ayam sehat sebagai priming yaitu umur 4 hari atau lebih maupun booster (ulangan) terhadap Newcastle Disease dan Infectious Bronchitis. Dianjurkan untuk tidak digunakan pada ayam yang sakit. Pemberiannya dapat dilakukan melalui air minum, tetes mata atau intranasal (re-vaksinasi untuk ayam layer dewasa). Bella Informasi selengkapnya mengenai produk dapat menghubungi : PT Sanbio Laboratories Mensana Tower Cibubur Lt. 18 Jalan Raya Kranggan No 69 RT 02/ RW 16 Kel. Jatisampurna Kec. Jatisampurna Cibubur-Bekasi Jawa Barat Tel. 021-397 01500 email : [email protected]


12 u Edisi Maret 2023 ayam mutiara, jika lebih luas maka lebih bagus. Semoga jawaban ini membantu. Selamat beternak. Efek Endotoksin Hai. Saya mau bertanya, apakah endotoksin memiliki efek pada ayam? Tritania, Magelang Halo, sdr/i Tritania. Terima kasih atas pertanyaannya. Umumnya, paparan endotoksin akan memengaruhi performa hewan akibat stimulus respons imun berupa inflamasi. Aktivasi sel imun sendiri merupakan proses yang memakan energi, sehingga proses ini mengalihkan energi dan nutrisi dari performa reproduksi dan produksi daging dan telur. Endotoksin dapat mengurangi kadar kalsium dan fosfor serum pada ayam petelur. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi inflamasi yang diinduksi oleh endotoksin LPS dapat memengaruhi metabolisme mineral dan berimbas pada penurunan kualitas kerabang telur. Kemungkinan terburuk yang dapat terjadi jika jumlah endotoksin dalam sirkulasi darah terlampau tinggi adalah syok septik atau bahkan dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, penting untuk mengambil tindakan dalam rangka menekan risiko kejadian endotoksin melalui perbaikan pertahanan usus dengan mencegah atau mengurangi faktor-faktor yang menurunkan fungsi pertahanan usus, seperti perbaikan manajemen pemeliharaan, termasuk manajemen suhu kandang dan pakan. Semoga menjawab. Salam. SURAT PEMBACA Mulai Beternak Ayam Mutiara Halo, Poultry Indonesia. Saya mau beternak ayam mutiara. Kandang seperti apa yang harus saya siapkan? Wiji, Blitar Halo, sdr/i Wiji. Terima kasih atas pertanyaannya. Persiapan kandang memang merupakan langkah penting ketika memutuskan untuk beternak ayam mutiara. Kandang yang ideal adalah yang mampu memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi ternak yang menempatinya. Untuk itu, kandang ayam mutiara harus diatur sedemikian rupa agar menyerupai dengan habitat aslinya. Dalam pemilihan lokasi, kandang ayam mutiara harus terletak jauh dari pusat keramaian. Sifat ayam mutiara yang suka mengeluarkan suara keras dan terdengar sangat nyaring menjadi alasan utamanya. Setidaknya, lokasi kandang ayam mutiara berjarak 100 meter dari permukiman penduduk atau pusat keramaian. Tujuannya agar tidak mengganggu penduduk lain dan terhindar dari dampak sosial. Jika bisa, kegiatan budi daya ayam mutiara harus dilakukan di pelosok desa. Selain itu, mengingat ayam mutiara suka bermain dan berlari-larian, baiknya sediakan tempat umbaran atau ruang terbuka. Rasio antara ruang terbuka dan tertutupnya adalah 1:1. Pembagian ruang yang sama rata ini menjadikan ayam mutiara dapat memilih dimana ia harus menetap dengan kondisi lingkungan yang ada secara naluri alaminya. Untuk luas kandang, sebaiknya berukuran minimal 3,5 x 3,5 meter untuk 15 pasang YANG NETAS


LOOKING FOR HIGH EFFICIENCY NUTRITION SOLUTIONS? NUTRITION SOLUTIONS TO ENHANCE PERFORMANCE PT BEC Feed Solutions Indonesia 021 2278 5095 (Jakarta) 031 9953 2698 (Surabaya) Email [email protected] Scan the QR code to visit our website BEC Feed Solutions supply range of premixes and feed additives are supported by customized formulation and technical support.


14 u Edisi Maret 2023 Latent Dangers of Parasites in Poultry Chicken farming activities always have their challenges, including health. Health problems are one of the factors that affect the productivity of chickens. Both endoparasites and ectoparasites usually cause health problems. Parasite cases usually attack chicken farms with an open cage maintenance system. Poor housing management and negligence in health management cause parasite cases still exist. Considering cage rest activities to reduce the frequency of harvesting, many farmers often abandon it, even though this is the key to all occurrences of the disease in the field. Cleaning the cage bedding and floor is closely related to parasite control because the main challenge is to reduce fecal contamination to reduce exposure to parasite eggs. In addition to the cleaning process, cage density must also be a concern since it is closely related to the spread of diseases. Alas, in modern industrial philosophy, density is a necessity. Anthelmintics, considered to add to the production burden, should also be addressed. In the case of helminthiasis, which is generally not too prominent with a relatively high treatment cost, the production value will be more considered, thus making it a factor why anthelmintics are still often overlooked in farms with unorganized management. However, poor cage and health management become port d’entrée for parasites to attack the chickens. These two factors pave the way for secondary infectious agents, thus increasing the production burden. On the one hand, parasite invasion will reduce productivity, while on the other hand, the treatment for secondary infections skyrockets. In the end, parasite invasion erodes the profits. Poultry Indonesia carries the theme “Latent Dangers of Parasite Threats to Poultry” to provide information on parasite cases often found in Indonesia, the dangers and losses due to parasite invasions, and steps to suppress this incident. Diana Poultry World 2023 Initial Overview The commemoration of National Nutrition Day 2023 is themed Animal Protein Prevents Stunting. Many stunting cases occurring in children due to various factors, including a lack of animal protein intake, motivated this event. In this case, the poultry industry is one of the animal protein suppliers. On the other hand, there are many unpredictable and rapidly changing challenges, coupled with global competition, requiring poultry stakeholders to be able to adapt. Seeing this, the Indonesia Livestock Alliance (ILA) held an online seminar called “Initial Notes for Poultry in 2023” via Zoom on Sunday (19/2). Professor of the Faculty of Animal Husbandry, Gadjah Mada University, Ali Agus, described several problems that have repeatedly struck the national poultry world, especially broilers, as the prolonged live bird (LB) price fluctuations make business people suffer losses. It also raises questions regarding the balance of supply and demand of broiler meat. “On the other hand, we have to admit that our poultry competitiveness is weak. We still have to import our main production inputs. And the cultivation side is still dominated by conventional cages. Apart from that, from the downstream side, consumer preferences are still hot carcasses. Cold supply chains are also not well developed,” he explained. From these various problems, Ali suggested the government adopt policies based on data from professional and independent studies and research, synergizing with multi-stakeholders. It is necessary to have a roadmap for the future broiler industry development, compiled using basic and accurate assumptions of local consumption, production, human resources, technology, and markets. Sandi  Broiler Housing Innovation for Cultivation Efficiency The success of broiler farming activities is inseparable from the maintenance management carried out by breeders. The broilers have undergone continuous development, bringing demands from a housing perspective. The speakers presented the topic at the 26th online seminar of the Poultry Indonesia Forum, titled Latest Innovations in Modern Broiler Housing, held online via Zoom on Wednesday (22/2). Gondo, the Sales Manager of PT Ansell Jaya Indonesia, talked about the development of broiler housing. After the closed-house cage system, the concept of technology and broiler cage equipment were increasingly innovative. One of them is a 2-story concept of an elevated broiler cage. The ground floor is for the chicken feces, while the second floor is for chicken cultivation using a slat as a base. With this system, the chickens won’t have to come into direct contact with their feces, and easier to clean the cage. “Rice hulls are not easy to find, so one of the innovations that came out was the broiler slat, and it is essential because day-old chickens do not need to use hulls. The broiler slat height is 20 cm, making the feces fall directly to the bottom. The advantage is that there is no need to use hulls, making the cage cleaner and the chickens healthier,” said Gondo. The broiler cage system has an innovation called a closed-broiler cage. There are two types of these cages based on the harvesting methods that are manual and automatic harvesting. The system is similar to laying hen cages with slightly different equipment and has more optimal production results when compared to the closed broiler flooring system. “The benefit of the closed broiler cage innovation is that the capacity per square meter increases by 66.3% from the closed-flooring system. Assuming that the closed-broiler flooring can accommodate up to 15 chickens with a total harvest weight of 30kg/m2, then the closed-broiler cage can reach a total harvest weight of 50kg/m2 because it can accommodate more chickens,” he continued. Yoga TOPIC


14 u Edisi Maret 2023 Latent Dangers of Parasites in Poultry Chicken farming activities always have their challenges, including health. Health problems are one of the factors that affect the productivity of chickens. Both endoparasites and ectoparasites usually cause health problems. Parasite cases usually attack chicken farms with an open cage maintenance system. Poor housing management and negligence in health management cause parasite cases still exist. Considering cage rest activities to reduce the frequency of harvesting, many farmers often abandon it, even though this is the key to all occurrences of the disease in the field. Cleaning the cage bedding and floor is closely related to parasite control because the main challenge is to reduce fecal contamination to reduce exposure to parasite eggs. In addition to the cleaning process, cage density must also be a concern since it is closely related to the spread of diseases. Alas, in modern industrial philosophy, density is a necessity. Anthelmintics, considered to add to the production burden, should also be addressed. In the case of helminthiasis, which is generally not too prominent with a relatively high treatment cost, the production value will be more considered, thus making it a factor why anthelmintics are still often overlooked in farms with unorganized management. However, poor cage and health management become port d’entrée for parasites to attack the chickens. These two factors pave the way for secondary infectious agents, thus increasing the production burden. On the one hand, parasite invasion will reduce productivity, while on the other hand, the treatment for secondary infections skyrockets. In the end, parasite invasion erodes the profits. Poultry Indonesia carries the theme “Latent Dangers of Parasite Threats to Poultry” to provide information on parasite cases often found in Indonesia, the dangers and losses due to parasite invasions, and steps to suppress this incident. Diana Poultry World 2023 Initial Overview The commemoration of National Nutrition Day 2023 is themed Animal Protein Prevents Stunting. Many stunting cases occurring in children due to various factors, including a lack of animal protein intake, motivated this event. In this case, the poultry industry is one of the animal protein suppliers. On the other hand, there are many unpredictable and rapidly changing challenges, coupled with global competition, requiring poultry stakeholders to be able to adapt. Seeing this, the Indonesia Livestock Alliance (ILA) held an online seminar called “Initial Notes for Poultry in 2023” via Zoom on Sunday (19/2). Professor of the Faculty of Animal Husbandry, Gadjah Mada University, Ali Agus, described several problems that have repeatedly struck the national poultry world, especially broilers, as the prolonged live bird (LB) price fluctuations make business people suffer losses. It also raises questions regarding the balance of supply and demand of broiler meat. “On the other hand, we have to admit that our poultry competitiveness is weak. We still have to import our main production inputs. And the cultivation side is still dominated by conventional cages. Apart from that, from the downstream side, consumer preferences are still hot carcasses. Cold supply chains are also not well developed,” he explained. From these various problems, Ali suggested the government adopt policies based on data from professional and independent studies and research, synergizing with multi-stakeholders. It is necessary to have a roadmap for the future broiler industry development, compiled using basic and accurate assumptions of local consumption, production, human resources, technology, and markets. Sandi  Broiler Housing Innovation for Cultivation Efficiency The success of broiler farming activities is inseparable from the maintenance management carried out by breeders. The broilers have undergone continuous development, bringing demands from a housing perspective. The speakers presented the topic at the 26th online seminar of the Poultry Indonesia Forum, titled Latest Innovations in Modern Broiler Housing, held online via Zoom on Wednesday (22/2). Gondo, the Sales Manager of PT Ansell Jaya Indonesia, talked about the development of broiler housing. After the closed-house cage system, the concept of technology and broiler cage equipment were increasingly innovative. One of them is a 2-story concept of an elevated broiler cage. The ground floor is for the chicken feces, while the second floor is for chicken cultivation using a slat as a base. With this system, the chickens won’t have to come into direct contact with their feces, and easier to clean the cage. “Rice hulls are not easy to find, so one of the innovations that came out was the broiler slat, and it is essential because day-old chickens do not need to use hulls. The broiler slat height is 20 cm, making the feces fall directly to the bottom. The advantage is that there is no need to use hulls, making the cage cleaner and the chickens healthier,” said Gondo. The broiler cage system has an innovation called a closed-broiler cage. There are two types of these cages based on the harvesting methods that are manual and automatic harvesting. The system is similar to laying hen cages with slightly different equipment and has more optimal production results when compared to the closed broiler flooring system. “The benefit of the closed broiler cage innovation is that the capacity per square meter increases by 66.3% from the closed-flooring system. Assuming that the closed-broiler flooring can accommodate up to 15 chickens with a total harvest weight of 30kg/m2, then the closed-broiler cage can reach a total harvest weight of 50kg/m2 because it can accommodate more chickens,” he continued. Yoga TOPIC


SUDUT KANDANG U ntuk menghasilkan produksi unggas yang sehat dan efisien tentu tidak dihasilkan secara instan. Perlu proses perencanaan sejak dari pembangunan kandang hingga dengan akhir pemasaran sampai pada konsumen. Oleh kerana itu dalam rangkaian proses tersebut tentu saja diperlukan tenaga profesional yang mumpuni dengan kemampuan keilmuan yang dimiliki. Faktor input mulai dari pembuatan pakan, budi daya dan faktor eksternal cuaca ekstrem harus mendapatkan perhatian khusus. Mengutip berita detik.com 10 Oktober 2022, Dalam buku “Prakiraan Musim Hujan 2022/23 di Indonesia” yang dirilis BMKG melalui situs resminya awal September 2022 lalu, BMKG memperkirakan bahwa puncak musim hujan terjadi di bulan Desember 2022 dan Januari 2023. Adapun untuk setiap pulau di Indonesia memiliki Zona Musim (ZOM) yang berbeda-beda. Adapun prediksi Puncak Musim Hujan 2023 di Indonesia untuk Zona Pulau Sumatra akhir musim hujan pada bulan Mei 2023. Beralih ke pulau Jawa, periode Januari 2023 adalah puncak musim hujan dan akhir musim hujan pada bulan April 2023. Untuk wilayah pulau Kalimantan Maret 2023 merupakan akhir musim hujan, sedangkan untuk Pulau Bali dan Nusa Tenggara puncak musim hujan januari 2023 akhir musim hujan maret 2023. Selanjutnya, untuk pulau Sulawesi puncak musim hujan januari 2023, dan akhir musim hujan maret 2023, lalu untuk pulau Maluku dan Papua musim hujan Februari 2023 dan akhir musim hujan April 2023. Dengan kondisi cuaca di berbagai daerah Indonesia tersebut, tentunya membutuhkan strategi dari pelaku usaha peternakan khususnya peternak broiler dan layer untuk menyesuaikan sistem perkandangan dan bahan pembuatan kandang agar dalam pelaksanaan budi daya bisa dilakukan seefisien mungkin. Pemilihan konstruksi kandang dan bahan pemanas untuk masa brooding harus benar-benar menjadi pertimbangan sejak awal Oleh : Joko Susilo* pembangunan kandang, hingga sebelum masuk DOC. Karena hal ini biasanya sangat berpengaruh pada besaran biaya yang akan dikeluarkan dan lama kembalinya modal kerja untuk pembangunan kandang. Belajar dari kebakaran kandang ayam petelur di Nebraska Pada 27 Desember 2022 World Poultry melaporkan adanya perusahaan asuransi yang menuntut sebesar US$25 juta atas kebakaran peternakan ayam petelur yang terjadi pada tahun 2020 di Michael Foods. Tak kurang 40.000 ekor ayam petelur masa produktif hangus terbakar. Perusahaan asuransi yang berbasis di Rhode Island Factory Mutual menggugat perusahaan konstruksi Henning Companies LLC. Lebih lanjut Daniel Berglund, pengacara Factory Mutual, mengklaim bahwa Waldbaum mengalami kerugian senilai US$ 24.908.633 akibat kebakaran tersebut. Menurut Berglund, api bermula dari rakitan kipas penyedot kotoran yang menyulut debu pakan ayam, dan debu lainnya di bagian sisi timur kandang. Hal ini dilatarbelakangi pada 2017, M.G. Waldbaum Company sebagai anak perusahaan Michael Foods, menggunakan 16 u Edisi Maret 2023 Tantangan Usaha Perunggasan dan Perlunya SDM Insinyur Peternakan Dengan berbagai persoalan teknis di lapangan, diperlukan profesi insinyur peternakan yang memiliki kompetensi di bidang perunggasan khususnya mulai dari perencanaan pembangunan kandang sampai keamanan hasil akhir produk yang dihasilkan dari proses budi daya broiler maupun layer. Peran profesi insinyur peternakan sangat diperlukan di industri perunggasan


Henning sebagai kontraktor pembangunan kandang dan fasilitas pendukung proyek di pedesaan Bloomfield, Nebraska. M.G. Factory Mutual yakin Perusahaan Henning melanggar perjanjian dengan Waldbaum terkait desain, konstruksi, pemilihan, penggunaan, dan pemasangan kipas penyedot kotoran/blower. Selain itu, terdakwa Henning dan subkontraktor juga menciptakan kondisi yang memungkinkan api menyebar dengan cepat, kata Berglund dalam gugatan tersebut. Hingga 27 Desember 2022, Henning belum menanggapi gugatan tersebut. Kondisi di Indonesia Kandang berisi belasan ribu ekor ayam di Banjar Susut Kelod, Desa Susut, ludes terbakar Selasa (6/12) malam, demikian Bali Post menurunkan beritanya pada tanggal 7 Desember 2022. Apa yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut? Tentu saja perlunya kewaspadaan dan kehati-hatian terhadap proses rangkaian budi daya di farm, terlebih lagi perlunya audit secara berkala dari pemilik kandang atau operator terlatih dan mengetahui secara pasti kondisi kesiapan kandang beserta peralatan pendukungnya. Terlepas daripada musibah yang menimpa sebuah kebakaran, faktor-faktor penyebab kebakaran dapat dikategorikan karena kesalahan manusia dan faktor peralatan yang dipakai, meliputi bahan pemanas, dan instalasi listrik serta kontruksi kandang. Kesalahan manusia atau operator lebih pada kekurang hati-hatian dalam menggunakan peralatan pemanas pada masa brooding. Sumber pemanas pada masa brooding bisa berasal dari serbuk kayu, kayu bakar, batu bara, minyak tanah/solar atau Gas LPG. Peternak sering mengabaikan sumber pemanas di masa brooding, karena pada intinya sumber pemanas diupayakan seefisien mungkin dari sumber pemanas sehingga biaya akan dapat ditekan, tetapi dampak yang ditimbulkan dari salah memilih bahan pemanas akan berdampak pada terjadinya kejadian kebakaran. Sebagai contoh, sumber pemanas serbuk gergaji dan Edisi Maret 2023 u 17 kayu serta batu bara tidak ada standar bentuk maupun bahan yang digunakan untuk tempat pembakaran, pada umumnya bahan yang digunakan bisa modifikasi dari tong bekas dibelah menjadi dua atau dari kaleng bekas cat. Kalaupun ada dari aluminium dibuat secara khusus untuk batu bara biasanya juga tidak ada standar ketebalan aluminium yang digunakan serta standar alas yang dipakai. Kita sangat memaklumi, biasanya bentuk kandang peternakan UMKM bangunannya berbentuk panggung dengan lantai dari bambu yang sangat mudah terbakar. Perlunya Insinyur Peternakan Untuk menyelesaikan persoalan seperti contoh kejadian di atas diperlukan profesi insinyur peternakan yang memiliki kompetensi di bidang perunggasan khususnya mulai dari perencanaan pembangunan kandang sampai keamanan hasil akhir produk yang dihasilkan dari proses budi daya broiler maupun layer. Profesi insinyur merupakan sebuah tuntutan atas lahirnya Undang-undang nomor 11 tahun 2014, tentang keinsinyuran dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2019 sebagai turunannya. Berdasarkan Undang-undang tersebut, insinyur ditetapkan sebagai gelar profesi, bukan gelar akademik dengan memiliki 3 tingkatan keahlian, yakni Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM) dan Insinyur Profesional Utama (IPU). Apa saja ruang lingkup yang menjadi kewenangan dari profesi insinyur ini tentu saja meliputi teknik pembenihan, pembibitan, dan produksi ternak, teknik pakan, teknik budi daya ternak, teknik peralatan dan permesinan peternakan, serta teknik pemanenan dan pengolahan pasca panen. Dengan melihat kewenangankewenangan tersebut di atas ke depan pemangku kebijakan yang membidangi peternakan sudah selayaknya harus mengambil profesi insinyur meskipun sudah memiliki gelar akademik dari S1 hingga S3. Bagaimana dengan perusahaan peternakan? Tim HRD sudah selayaknya memberikan apresiasi untuk bidang-bidang khusus pada level pimpinan di unit usaha. Sudah seharusnya pada posisi tersebut memiliki gelar profesi Insinyur karena dilindungi oleh undang-undang. Tenaga ahli formulasi pakan, pembibitan serta rancang bangun kandang, peralatan sudah selayaknya harus mengacu pada kewenangan yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki gelar Insinyur sehingga apabila muncul persoalan di kemudian hari maka dapat dipertanggungjawabkan secara keprofesiannya. *Staf ahli PI dan pemerhati bidang Perunggasan Tabel 1. Kejadian Kebakaran Kandang di Indonesia Kejadian Sumber Berita Keterangan Lokasi 6 Desember 2022 Bali Post 15.000 ekor Bali 20 November 2022 Detik Jatim 7.000 ekor Blitar 8 November 2022 Solo Pos 12.000 ekor Wonogiri 4 November 2022 Detik Jatim 33.000 Ekor Ponorogo 02 November 2022 Detik Jatim Selesai Panen Pasuruan 01 Agustus 2022 Detik Jatim Akan Chick in Blitar 22 Juli 2022 Kompas.com 40.000 ekor Tuban 21 April 2022 Detik Jatim 8.500 ekor Kulon Progo 28 Januari 2022 Detik Jatim 12.000 ekor Blitar Sumber : Berbagai media


Sebagai satu-satunya organisasi yang menaungi profesi dokter hewan di Indonesia, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan. Setelah kembali mendapatkan amanah untuk memimpin PDHI, penulis melihat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang menanti organisasi di tahun - tahun kedepan, terutama yang berkaitan dengan keprofesian. Ketika pada periode kepemimpinan pertama penulis lebih berusaha memperkuat internal organisasi, maka untuk periode kepemimpinan kedua, penulis akan lebih fokus memperjuangkan sisi eksternal. Pasalnya banyak hal eksternal yang harus diperjuangkan oleh PDHI, dimana yang menjadi penentu adalah pihak luar. Namun semua hal tersebut tetap untuk pelayanan anggota yang lebih baik. Pembentukan peraturan Undang-Undang (UU) Kedokteran Hewan menjadi pekerjaan rumah pertama yang harus diperjuangkan oleh PDHI. Pasalnya saat ini peraturan terkait kedokteran hewan masih tergabung dalam UU nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Berbeda halnya dengan ranah kesehatan atau kedokteran manusia yang secara khusus telah diatur dalam sebuah Undang-Undang. Tentu dengan peraturan ini, harapannya dapat menjadi payung hukum yang lebih luas kepada aktivitas semua pelayanan kesehatan hewan dan kebijakan-kebijakan kesehatan hewan yang ada di Indonesia. Hal selanjutnya berkaitan dengan surat izin praktik (SIP) dokter hewan yang hingga saat ini menjadi sebuah persoalan. Dengan diwajibkannya dokter hewan praktik harus memiliki SIP, seharusnya mekanisme pengurusannya harus dipermudah. Namun sementara ini, SIP masih menjadi permasalahan panjang dan hal ini menjadi sebuah perjuangan bagi PDHI. Karena kedepannya, hal ini untuk memproteksi semua dokter hewan yang melakukan aktivitas pelayanan kesehatan hewan, sehingga mereka tidak melakukan hal yang illegal dalam beraktivitas. Selain itu, PDHI juga akan memperjuangkan SIP dokter hewan perunggasan yang berprofesi sebagai Technical Sales perusahaan yang hingga kini masih menjadi sebuah persoalan dan belum ada solusinya. Karena dokter hewan yang berprofesi sebagai TS membawahi beberapa daerah, sehingga tidak mungkin pada setiap daerah tersebut harus mempunyai SIP masing-masing. Di sisi lain, dengan semakin berkembangnya klinik-klinik praktik dokter hewan, maka penulis mengingatkan para dokter hewan untuk terus mengembangkan kompetensi serta mengamalkan kode etik yang ada. Pasalnya dengan semakin banyak masyarakat yang menggunakan jasa dokter hewan, maka kedepan akan ada peluang ketidakpuasan atas pelayanan yang diberikan. Dan ini tentu akan menjadi masalah. Untuk itu, peningkatan kompetensi dan sosialisasi terkait kode etik dokter hewan menjadi fokus tersendiri bagi penulis di kepengurusan PB PDHI periode kedua. Hal ini untuk mencegah adanya komplain maupun tuntutan dari masyarakat kepada dokter hewan anggota PDHI akibat kesalahan dalam pelayanan kesehatan hewan. Terkait kompetensi, lulusan kedokteran hewan ini memiliki tingkat kompetensi yang tidak seragam, sehingga hal ini menjadi tantangan serius bagi PDHI. Pasalnya disparitas yang ada harus segera ditangani, sehingga dapat mencegah adanya kekeliruan dalam pelayanan kesehatan hewan di lapangan ketika telah berada di dunia kerja. Untuk itu, PDHI selalu aktif dan harmonis menjadi mitra Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI). Apa pun persoalan pendidikan dan komptensi akan dibicarkan bersama, seperti halnya kurikulum pengajaran. Pasalnya semua lulusan Fakultas Kedokteran Hewan akan masuk PDHI. Dan disinilah PDHI turut berusaha mewujudkan lulusan dokter hewan yang mempunyai kapasitas dan kompetensi. Di akhir tulisan, sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), penulis berpesan bagi seluruh dokter hewan untuk selalu ingat terkait tanggung jawabnya sebagai dokter hewan. Dimana kita disumpah dan harus mengamalkan kode etik. Tolong pahami, resapi dan jalankan kode etik. Karena hal tersebut merupakan sebuah rambu-rambu kita dalam menjalankan pelayanan kesehatan hewan. Sebagai dokter hewan kita dituntut untuk dapat membantu pemerintah dalam melaksanakan hal kesehatan salah satu nya adalah terkait zoonosis. Kita harus menyosialisasikan dan membantu penanganannya. Dokter hewan harus bersatu, maju, profesional, transparan, akuntabel dan modern. Viva Veteriner ! *Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) 20 u Edisi Maret 2023 Oleh : Dr. drh. Muhammad Munawaroh, MM SUARA ASOSIASI Terus Berbenah Mengurai Pekerjaan Rumah Untuk mewujudkan organisasi yang maju, profesional, transparan, akuntabel dan modern, maka masih banyak pekerjaan rumah yang menanti PDHI di tahun - tahun kedepan


Sebagai satu-satunya organisasi yang menaungi profesi dokter hewan di Indonesia, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan. Setelah kembali mendapatkan amanah untuk memimpin PDHI, penulis melihat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang menanti organisasi di tahun - tahun kedepan, terutama yang berkaitan dengan keprofesian. Ketika pada periode kepemimpinan pertama penulis lebih berusaha memperkuat internal organisasi, maka untuk periode kepemimpinan kedua, penulis akan lebih fokus memperjuangkan sisi eksternal. Pasalnya banyak hal eksternal yang harus diperjuangkan oleh PDHI, dimana yang menjadi penentu adalah pihak luar. Namun semua hal tersebut tetap untuk pelayanan anggota yang lebih baik. Pembentukan peraturan Undang-Undang (UU) Kedokteran Hewan menjadi pekerjaan rumah pertama yang harus diperjuangkan oleh PDHI. Pasalnya saat ini peraturan terkait kedokteran hewan masih tergabung dalam UU nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Berbeda halnya dengan ranah kesehatan atau kedokteran manusia yang secara khusus telah diatur dalam sebuah Undang-Undang. Tentu dengan peraturan ini, harapannya dapat menjadi payung hukum yang lebih luas kepada aktivitas semua pelayanan kesehatan hewan dan kebijakan-kebijakan kesehatan hewan yang ada di Indonesia. Hal selanjutnya berkaitan dengan surat izin praktik (SIP) dokter hewan yang hingga saat ini menjadi sebuah persoalan. Dengan diwajibkannya dokter hewan praktik harus memiliki SIP, seharusnya mekanisme pengurusannya harus dipermudah. Namun sementara ini, SIP masih menjadi permasalahan panjang dan hal ini menjadi sebuah perjuangan bagi PDHI. Karena kedepannya, hal ini untuk memproteksi semua dokter hewan yang melakukan aktivitas pelayanan kesehatan hewan, sehingga mereka tidak melakukan hal yang illegal dalam beraktivitas. Selain itu, PDHI juga akan memperjuangkan SIP dokter hewan perunggasan yang berprofesi sebagai Technical Sales perusahaan yang hingga kini masih menjadi sebuah persoalan dan belum ada solusinya. Karena dokter hewan yang berprofesi sebagai TS membawahi beberapa daerah, sehingga tidak mungkin pada setiap daerah tersebut harus mempunyai SIP masing-masing. Di sisi lain, dengan semakin berkembangnya klinik-klinik praktik dokter hewan, maka penulis mengingatkan para dokter hewan untuk terus mengembangkan kompetensi serta mengamalkan kode etik yang ada. Pasalnya dengan semakin banyak masyarakat yang menggunakan jasa dokter hewan, maka kedepan akan ada peluang ketidakpuasan atas pelayanan yang diberikan. Dan ini tentu akan menjadi masalah. Untuk itu, peningkatan kompetensi dan sosialisasi terkait kode etik dokter hewan menjadi fokus tersendiri bagi penulis di kepengurusan PB PDHI periode kedua. Hal ini untuk mencegah adanya komplain maupun tuntutan dari masyarakat kepada dokter hewan anggota PDHI akibat kesalahan dalam pelayanan kesehatan hewan. Terkait kompetensi, lulusan kedokteran hewan ini memiliki tingkat kompetensi yang tidak seragam, sehingga hal ini menjadi tantangan serius bagi PDHI. Pasalnya disparitas yang ada harus segera ditangani, sehingga dapat mencegah adanya kekeliruan dalam pelayanan kesehatan hewan di lapangan ketika telah berada di dunia kerja. Untuk itu, PDHI selalu aktif dan harmonis menjadi mitra Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI). Apa pun persoalan pendidikan dan komptensi akan dibicarkan bersama, seperti halnya kurikulum pengajaran. Pasalnya semua lulusan Fakultas Kedokteran Hewan akan masuk PDHI. Dan disinilah PDHI turut berusaha mewujudkan lulusan dokter hewan yang mempunyai kapasitas dan kompetensi. Di akhir tulisan, sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), penulis berpesan bagi seluruh dokter hewan untuk selalu ingat terkait tanggung jawabnya sebagai dokter hewan. Dimana kita disumpah dan harus mengamalkan kode etik. Tolong pahami, resapi dan jalankan kode etik. Karena hal tersebut merupakan sebuah rambu-rambu kita dalam menjalankan pelayanan kesehatan hewan. Sebagai dokter hewan kita dituntut untuk dapat membantu pemerintah dalam melaksanakan hal kesehatan salah satu nya adalah terkait zoonosis. Kita harus menyosialisasikan dan membantu penanganannya. Dokter hewan harus bersatu, maju, profesional, transparan, akuntabel dan modern. Viva Veteriner ! *Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) 20 u Edisi Maret 2023 Oleh : Dr. drh. Muhammad Munawaroh, MM SUARA ASOSIASI Terus Berbenah Mengurai Pekerjaan Rumah Untuk mewujudkan organisasi yang maju, profesional, transparan, akuntabel dan modern, maka masih banyak pekerjaan rumah yang menanti PDHI di tahun - tahun kedepan Kegiatan budi daya ayam selalu memiliki tantangannya tersendiri, termasuk pada aspek kesehatan. Masalah kesehatan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas ayam. Gangguan kesehatan akibat parasit dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup dalam organ tubuh inangnya, sedangkan ektoparasit merupakan parasit yang hidup di luar tubuh inang. Endoparasit yang seringkali ditemukan pada unggas di Indonesia, baik broiler maupun layer, umumnya terdiri atas cacing Nematoda (Ascaridia galli), Cestoda (Raillietina spp), dan Protozoa (Eimeria spp, Leucocytozoon sp, Plasmodium gallinaceum). Sedangkan ektoparasit yang sering ditemukan pada ayam terdiri dari tungau (Ornithonyssus bursa), kumbang (Alphitobius diaperinus atau kutu frengki), dan berbagai jenis lalat, seperti lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Lucilia sericata), dan lalat daging atau bangkai (Sarcophaga) yang dapat menjadi vektor dari berbagai jenis penyakit. Kasus parasit biasanya lebih sering menyerang peternakan ayam dengan sistem pemeliharaan kandang terbuka. Vektor pembawa parasit, seperti lalat Musca domestica, bebas berlalulalang dan menularkan parasit cacing pita atau Raillietina sp. Selain itu, ancaman ektoparasit, seperti penyakit gurem yang disebabkan oleh tungau Ornithonyssus bursa, juga mengganggu ayam dengan rasa gatal yang hebat. Kumbang kutu Frengki juga menjadi salah satu ancaman, baik pada ayam maupun kandang karena kutu frengki bersifat merusak kandang. Belum lagi, ektoparasit tersebut juga merupakan vektor dari berbagai jenis bakteri dan virus penyebab penyakit lainnya. Manajemen perkandangan yang buruk dan kelalaian dalam manajemen kesehatan menyebabkan kasus parasit terus ditemui. Kegiatan istirahat kandang dinilai mengurangi frekuensi panen karena memakan waktu 14 hari atau bahkan lebih, tergantung tantangan yang ada di lapangan, sehingga lebih sering ditinggalkan meski konsep ini merupakan kunci dari segala kasus penyakit yang ada di lapangan. Pembersihan alas kandang dan lantai kandang berhubungan erat dengan kontrol parasit karena tantangan utamanya adalah bagaimana mengurangi kontaminasi feses guna menekan paparan terhadap telur parasit. Selain proses pembersihan kandang, kepadatan juga harus menjadi perhatian bagi peternak. Kepadatan kandang berhubungan erat dengan penyebaran penyakit, salah satunya koksidiosis. Dalam filosofi industri modern, kepadatan merupakan sebuah keniscayaan. Semakin padat ayam, maka semakin banyak keuntungan yang didapat. Sayangnya, semakin padat ayam dalam kandang, maka semakin besar peluang ayam untuk mengonsumsi ookista yang tinggi per satuan waktu. Hal inilah yang membuat kasus koksidiosis tak berkesudahan. Pemberian preparat anthelmintik juga dianggap menambah beban produksi, sehingga lagi-lagi, seringkali diabaikan. Dalam kasus cacingan, yang mana umumnya tak terlalu menonjol dengan beban pengobatan yang relatif tinggi, maka nilai produksi akan lebih dipertimbangkan, sehingga dapat menjadi faktor mengapa pemberian anthelmintik masih sering diabaikan pada peternakan dengan manajemen yang masih kurang tertata. Namun, manajemen kandang dan kesehatan yang buruk justru menjadi celah bagi parasit untuk menyerang ternak. Kedua faktor ini justru membukakan jalan bagi para agen infeksi sekunder, sehingga menambah beban produksi. Di satu sisi, invasi parasit akan menurunkan produktivitas ternak dan di lain sisi, beban pengobatan untuk infeksi sekunder akan melambung tinggi. Akhirnya, invasi parasit menggerus keuntungan peternak. Berdasarkan latar belakang tersebut, majalah Poultry Indonesia mengangkat tema “Bahaya Laten Ancaman Parasit pada Unggas” guna memberikan informasi mengenai kasus parasit yang seringkali ditemukan di Indonesia, bahaya dan kerugian akibat invasi parasit, dan langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk menekan kejadian ini. Besar harapan kami dalam penerbitan edisi ini dapat mengedukasi serta memberikan solusi kepada pelaku peternakan unggas untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan kesehatan unggas di masa depan. Diana Meski dampaknya tak senyata penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri, namun bahaya laten yang mengintai jauh lebih merugikan secara ekonomi, karena keberadaan parasit menggerus kesehatan ayam secara perlahan. Pada akhirnya, peternak tetap mengalami kerugian. Edisi Maret 2023 u 21 Bahaya Laten Parasit pada Unggas


Dampak dari penyakit akibat parasit pada ayam memang tak senyata penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri. Akan tetapi bahaya laten yang mengintai jauh lebih merugikan secara ekonomi karena keberadaan parasit menggerus kesehatan ayam secara perlahan. Gangguan kesehatan akibat parasit dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup di dalam tubuh inang, sedangkan ektoparasit merupakan parasit yang tumbuh di luar tubuh inang. Dengan sistem pemeliharaan yang terus berkembang, dimana nutrisinya selalu diusahakan terjaga, tak heran jika ayam menjadi salah satu sasaran empuk bagi parasit. Parasit, makhluk yang bergantung pada inang ini seringkali menyebabkan berbagai kerugian dengan menyerap nutrisi inangnya. Alih-alih memberi manfaat, parasit justru dapat menurunkan produktivitas inang yang ditumpanginya. Ragam parasit pada unggas di Indonesia Berdasarkan cara hidupnya, ektoparasit dibedakan menjadi beberapa jenis. Prof. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS, selaku Kadiv. Parasitologi and Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University, mengatakan bahwa ektoparasit pada unggas dibagi menjadi dua, yakni permanen dan temporal. Ektoparasit permanen merupakan parasit yang terus menerus menempel pada tubuh ayam, seperti kutu, pinjal, caplak, dan tungau tertentu. Sedangkan ektoparasit temporal hanya hinggap pada tubuh ayam, seperti nyamuk yang datang hanya untuk menghisap darah dan lalat. “Ektoparasit yang paling sering ditemukan pada ayam adalah kutu, agas (Culicoides), gurem (Ornithonyssus bursa), nyamuk Culex spp. dan Anopheles spp., serta kumbang Alphitobius diaperinus yang lebih dikenal sebagai kutu frengki. Selain itu, ada lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Chrysomia megacephala; Lucilia sericata), dan lalat daging atau bangkai (Sarcophaga) yang juga menjadi vektor dari berbagai jenis penyakit,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia saat ditemui di Laboratorium Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB, Jumat (10/2). Berspesialisasi di bidang ektoparasit, Upik mengatakan bahwa ektoparasit dibagi menjadi dua berdasarkan sifatnya, yakni sebagai pengganggu dengan cara menurunkan produksi dan sebagai vektor penyakit. Dalam hal ini, ektoparasit yang merupakan vektor suatu penyakit adalah yang paling berbahaya. Sebagai contoh, nyamuk Culex spp. dan Anopheles spp. merupakan vektor biologis dari Plasmodium gallinaceum penyebab malaria pada unggas, sedangkan agas Culicoides spp. merupakan vektor Leucocytozoonosis. Selain itu, kumbang atau kutu frengki juga merupakan vektor biologis dari penyakit Marek dan bakteri Salmonella, sehingga ayam yang tidak sengaja termakan kumbang ini akan 22 u Edisi Maret 2023 Parasit pada Peternakan Unggas Indonesia


Dampak dari penyakit akibat parasit pada ayam memang tak senyata penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri. Akan tetapi bahaya laten yang mengintai jauh lebih merugikan secara ekonomi karena keberadaan parasit menggerus kesehatan ayam secara perlahan. Gangguan kesehatan akibat parasit dapat disebabkan oleh endoparasit dan ektoparasit. Endoparasit merupakan parasit yang hidup di dalam tubuh inang, sedangkan ektoparasit merupakan parasit yang tumbuh di luar tubuh inang. Dengan sistem pemeliharaan yang terus berkembang, dimana nutrisinya selalu diusahakan terjaga, tak heran jika ayam menjadi salah satu sasaran empuk bagi parasit. Parasit, makhluk yang bergantung pada inang ini seringkali menyebabkan berbagai kerugian dengan menyerap nutrisi inangnya. Alih-alih memberi manfaat, parasit justru dapat menurunkan produktivitas inang yang ditumpanginya. Ragam parasit pada unggas di Indonesia Berdasarkan cara hidupnya, ektoparasit dibedakan menjadi beberapa jenis. Prof. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS, selaku Kadiv. Parasitologi and Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University, mengatakan bahwa ektoparasit pada unggas dibagi menjadi dua, yakni permanen dan temporal. Ektoparasit permanen merupakan parasit yang terus menerus menempel pada tubuh ayam, seperti kutu, pinjal, caplak, dan tungau tertentu. Sedangkan ektoparasit temporal hanya hinggap pada tubuh ayam, seperti nyamuk yang datang hanya untuk menghisap darah dan lalat. “Ektoparasit yang paling sering ditemukan pada ayam adalah kutu, agas (Culicoides), gurem (Ornithonyssus bursa), nyamuk Culex spp. dan Anopheles spp., serta kumbang Alphitobius diaperinus yang lebih dikenal sebagai kutu frengki. Selain itu, ada lalat rumah (Musca domestica), lalat hijau (Chrysomia megacephala; Lucilia sericata), dan lalat daging atau bangkai (Sarcophaga) yang juga menjadi vektor dari berbagai jenis penyakit,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia saat ditemui di Laboratorium Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB, Jumat (10/2). Berspesialisasi di bidang ektoparasit, Upik mengatakan bahwa ektoparasit dibagi menjadi dua berdasarkan sifatnya, yakni sebagai pengganggu dengan cara menurunkan produksi dan sebagai vektor penyakit. Dalam hal ini, ektoparasit yang merupakan vektor suatu penyakit adalah yang paling berbahaya. Sebagai contoh, nyamuk Culex spp. dan Anopheles spp. merupakan vektor biologis dari Plasmodium gallinaceum penyebab malaria pada unggas, sedangkan agas Culicoides spp. merupakan vektor Leucocytozoonosis. Selain itu, kumbang atau kutu frengki juga merupakan vektor biologis dari penyakit Marek dan bakteri Salmonella, sehingga ayam yang tidak sengaja termakan kumbang ini akan 22 u Edisi Maret 2023 Parasit pada Peternakan Unggas Indonesia terserang Salmonellosis. “Nyamuk dan agas muncul karena adanya genangan air dimana itu merupakan breeding area mereka. Populasi lalat meningkat karena adanya tumpukan feses yang basah pada litter. Kumbang atau kutu frengki biasanya dapat ditemui di area penyimpanan pakan dimana pakan yang berceceran biasanya akan ditumbuhi jamur dan larva dari kumbang ini memakan jamur tersebut. Larva yang tumbuh menjadi dewasa kemudian menginvasi kandang hingga beranak pinak pada sela-sela kayu kandang yang kemudian merusak struktur bangunan,” jelasnya mengenai kemunculan parasit-parasit ini. Sementara itu, Dr. Mufasirin, drh., M.Si., selaku Dosen Departemen Parasitologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, mengungkapkan ada beberapa endoparasit yang menyerang unggas, seperti cacingan (helminthiasis), koksidiosis, dan leucocytozoonosis. Helminthiasis atau cacingan masih sering ditemukan, khususnya pada ayam petelur. Masa hidupnya yang panjang mendukung perkembangan dan siklus hidup cacing, sehingga semakin mudah menyebar ke lingkungan. Salah satu jenis cacing yang paling sering ditemukan adalah infestasi cacing pita Raillietina spp. yang dapat menyebabkan peradangan dan degenerasi vili usus, sehingga timbul gejala klinis berupa gangguan pertumbuhan dan penurunan produksi telur. “Kasus cacingan pada ayam tentu sangat mengganggu karena jumlahnya yang biasanya banyak dan memenuhi usus, sehingga mengganggu fisiologis usus dan menghisap sari makanan. Oleh karena itu, perkembangan ayam yang mengalami kasus cacingan akan terhambat dan tentunya mengganggu produktivitasnya,” tegasnya ketika ditemui tim Poultry Indonesia, Jumat (17/2). Menurutnya, dari sekian banyak endoparasit yang ada, koksidiosis masih menjadi momok bagi peternak. Lingkungan berperan besar dalam mendukung perkembangan bibit penyakit ini. Dengan kelembapan yang tinggi dan suhu yang sesuai, ookista pada Eimeria penyebab koksidiosis mudah berspora di lingkungan, sehingga kasus koksidiosis mudah merebak. Endoparasit lainnya yang seringkali ditemukan adalah protozoa Leucocytozoon caulleryi penyebab leucocytozoonosis atau malaria-like pada unggas dan Plasmodium sp. penyebab plasmodiosis atau malaria pada unggas. Kasus leucocytozoonosis seringkali merebak pada peternakan dengan lingkungan yang banyak semak-semak, terutama di musim hujan. Banyaknya air pada musim hujan menjadi tempat berkembang vektor Leucocytozoon spp., yakni lalat Simulium spp. dan Culicoides sp. “Kasus plasmodiasis hampir sama, tetapi tidak sehebat leucocytozoonosis. Ada dua stadium pada kasus malaria, yakni skizogonie dan gametogoni yang terjadi di tubuh ayam, sedangkan pada kasus malaria-like hanya ada gametogoni. Perkembangan malaria terjadi di dalam dan luar eritrosit, akan tetapi yang menimbulkan dampak lebih hebat adalah yang ada di dalam eritrosit. Leucocytozoon terdapat pada eritrosit, tepatnya di endotel pembuluh darah, sehingga dapat terjadi pendarahan hebat pada ayam. Oleh karena itu, kasus malaria lebih ringan bila dibandingkan dengan malaria-like,” jelasnya. Kasus parasit di lapangan Berdasarkan data yang telah dirangkum oleh tim Technical Education and Consultation PT Medion, drh. Christina Lilis L., selaku Technical Education and Consultation Manager PT Upik Kesumawati Hadi Christina Lilis L Edisi Maret 2023 u 23 Mufassirin


Medion, mengatakan bahwa penyakit akibat endoparasit maupun ektoparasit masih ditemukan setiap tahunnya di lapangan. Tren penyakit parasit unggas dari tahun ke tahun, baik pada broiler maupun layer, masih didominasi oleh endoparasit, seperti cacingan, koksidiosis, dan malaria. Sedangkan kasus ektoparasit yang disebabkan oleh adanya infestasi kutu di tubuh ayam dan lebih sering ditemukan pada layer. Dilihat dari jumlah kasus yang terjadi, penyakit koksidiosis pada broiler mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya dan menempati peringkat 4 besar dari keseluruhan penyakit. Selain itu, kasus malaria pada ayam broiler turut mengalami peningkatan dari tahuntahun sebelumnya. Sedangkan, kasus ektoparasit di ayam pedaging tidak termasuk ke penyakit yang sering terjadi (Grafik 1 dan Grafik 2). “Pada broiler, kasus parasit yang sering terjadi adalah koksidiosis akibat protozoa Eimeria sp. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan bagian usus halus dan sekum dan lebih sering menyerang ayam pada umur 2-3 minggu. Faktor yang mendukung terjadinya penyakit ini adalah kelembapan litter yang tinggi karena akan sangat mendukung perkembangbiakan Eimeria sp.,” jelasnya. Pada layer, terjadi peningkatan jumlah kasus cacingan dari tahun sebelumnya dan menempati peringkat 3 besar dari keseluruhan penyakit. Begitu juga dengan kasus koksidiosis yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dan tetap menempati peringkat 7 besar. Berdasarkan data Medion, kasus ektoparasit pada layer mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya (Grafik 3 dan Grafik 4). “Kasus parasit pada layer yang sering terjadi adalah cacingan, seperti Ascaridia sp., Railietina sp., dan baru-baru ini Acanthocephala sp.. Cacing tersebut termasuk cacing yang biasa ditemukan di usus halus. Ayam tertular cacing ini akibat memakan inang perantara, seperti serangga yang mengandung larva cacing. Faktor yang mendukung terjadinya kasus cacingan adalah sanitasi lingkungan yang kurang baik dan keberadaan vektor cacing di kandang,” terangnya. Baik koksidiosis maupun cacingan dapat menyebabkan terganggunya 24 u Edisi Maret 2023 Grafik 2. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Broiler (2019 - 2022) Grafik 1. Ranking Penyakit Broiler (2019-2022) Grafik 3. Ranking Penyakit Layer (2019-2022) Grafik 4. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Layer (2019 - 2022)


Medion, mengatakan bahwa penyakit akibat endoparasit maupun ektoparasit masih ditemukan setiap tahunnya di lapangan. Tren penyakit parasit unggas dari tahun ke tahun, baik pada broiler maupun layer, masih didominasi oleh endoparasit, seperti cacingan, koksidiosis, dan malaria. Sedangkan kasus ektoparasit yang disebabkan oleh adanya infestasi kutu di tubuh ayam dan lebih sering ditemukan pada layer. Dilihat dari jumlah kasus yang terjadi, penyakit koksidiosis pada broiler mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya dan menempati peringkat 4 besar dari keseluruhan penyakit. Selain itu, kasus malaria pada ayam broiler turut mengalami peningkatan dari tahuntahun sebelumnya. Sedangkan, kasus ektoparasit di ayam pedaging tidak termasuk ke penyakit yang sering terjadi (Grafik 1 dan Grafik 2). “Pada broiler, kasus parasit yang sering terjadi adalah koksidiosis akibat protozoa Eimeria sp. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan bagian usus halus dan sekum dan lebih sering menyerang ayam pada umur 2-3 minggu. Faktor yang mendukung terjadinya penyakit ini adalah kelembapan litter yang tinggi karena akan sangat mendukung perkembangbiakan Eimeria sp.,” jelasnya. Pada layer, terjadi peningkatan jumlah kasus cacingan dari tahun sebelumnya dan menempati peringkat 3 besar dari keseluruhan penyakit. Begitu juga dengan kasus koksidiosis yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dan tetap menempati peringkat 7 besar. Berdasarkan data Medion, kasus ektoparasit pada layer mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya (Grafik 3 dan Grafik 4). “Kasus parasit pada layer yang sering terjadi adalah cacingan, seperti Ascaridia sp., Railietina sp., dan baru-baru ini Acanthocephala sp.. Cacing tersebut termasuk cacing yang biasa ditemukan di usus halus. Ayam tertular cacing ini akibat memakan inang perantara, seperti serangga yang mengandung larva cacing. Faktor yang mendukung terjadinya kasus cacingan adalah sanitasi lingkungan yang kurang baik dan keberadaan vektor cacing di kandang,” terangnya. Baik koksidiosis maupun cacingan dapat menyebabkan terganggunya 24 u Edisi Maret 2023 Grafik 2. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Broiler (2019 - 2022) Grafik 1. Ranking Penyakit Broiler (2019-2022) Grafik 3. Ranking Penyakit Layer (2019-2022) Grafik 4. Jumlah Kasus Penyakit Parasit pada Layer (2019 - 2022)


penyerapan nutrisi hingga menurunnya daya tahan tubuh unggas. Namun, di antara keduanya, penyakit akibat parasit yang mendapat perhatian lebih adalah koksidiosis. Hal ini bisa jadi dikarenakan kasus cacingan pada unggas tidak ada ancaman kematian dan tak ada gejala klinis yang ditunjukkan oleh ayam, sehingga cenderung diabaikan. Berbeda dengan koksidiosis dimana gejala klinis terlihat dan ada ancaman kematian yang mengikuti. “Dampak yang terjadi apabila ayam terserang koksidiosis adalah terhambatnya pertumbuhan, penurunan efisiensi penggunaan ransum, hingga kematian yang beragam. Tingkat kematian akibat koksidiosis dapat mencapai 10% hingga 30% untuk Eimeria sp. yang menyerang usus halus. Serangan koksidiosis juga memiliki efek imunosupresif yang menjadikan ayam lebih rentan terhadap infeksi penyakit lainnya,” terangnya. Menurut Lilis, ayam yang mengalami cacingan akan mengalami penurunan berat badan atau keterlambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur 5-20% dan penurunan kondisi tubuh. Penurunan produksi telur yang terjadi dapat disertai dengan menurunnya berat telur. Meski penanganan koksidiosis lebih ekstra, apabila kedua penyakit ini berlangsung sangat parah dan tidak segera ditangani, maka dapat menyebabkan kematian. “Kasus-kasus parasit yang terjadi pada broiler dan layer disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kepadatan kandang yang terlalu tinggi, kondisi sekam yang basah dan lembap, serta tumpukan feses. Kepadatan kandang berimbas pada kondisi sekam yang lebih cepat basah dan menggumpal, sedangkan tumpukan feses memicu datangnya lalat uang dapat berperan sebagai vektor penyakit seperti cacingan,” ujarnya. Dampak parasit Terkait dampak dari parasit, drh. Fadhillah Yulia Pratama, selaku Product and Registration Assistant Manager PT Vadco Prosper Mega, mengatakan bahwa dalam kasus parasit pada unggas, utamanya kasus cacingan, tidak ada ancaman kematian dan gejala klinis yang ditunjukkan oleh ayam tidak terlihat begitu jelas, sehingga cenderung diabaikan. Meski dampaknya tak separah penyakit akibat bakteri maupun virus, nyatanya kasus parasit pada unggas tetap menimbulkan kerugian jika tidak segera ditangani. “Tren kasus parasit yang paling sering ditemui pada unggas adalah helminthiasis (cacingan) dan koksidiosis. Gejala dari koksidiosis adalah perlambatan pertumbuhan berat badan dan berak darah yang kemudian berdampak terhadap menurunnya produktivitas hingga kematian. Pada kasus cacingan, dapat dilihat bulu ayam kusam, FCR membengkak, dan penyerapan nutrisi menurun. Kasus cacingan, seperti Ascaridia galli, jika sudah parah dan tak segera diobati dapat menyebabkan enteritis yang tentu akan memudahkan penyakit lainnya untuk masuk karena adanya perlukaan pada usus,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia ketika diwawancarai secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, Rabu (8/2). Fadhillah kemudian mengatakan bahwa ektoparasit, seperti gurem dan kutu frengki, juga sering ditemui di lapangan. Ektoparasit sebenarnya sangat mengganggu, akan tetapi masih banyak yang belum sadar akan bahayanya. Infestasi ektoparasit yang parah sangat mengganggu karena menyebabkan rasa gatal pada ayam dan menimbulkan stres. “Imun yang menurun akibat stres karena rasa gatal akan memudahkan penyakit lainnya untuk menyerang. Namun, karena ukuran ektoparasit yang biasa menyerang sangat kecil, dampaknya tidak signifikan, dan mudah dibasmi, maka hal ini tak terlalu dipusingkan, kecuali kutu frengki. Kutu frengki perlu diwaspadai karena selain berperan sebagai vektor penyakit yang memiliki dampak besar pada kesehatan ayam, parasit ini juga merusak kandang, sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar,” terangnya. Masih terkait parasit, Nurul Kawakib, S.Pt., selaku Technical Service PT New Hope Indonesia yang fokus menangani peternakan broiler, mengatakan bahwa di peternakan broiler yang ia supervisi cenderung jarang dan hampir tidak ditemukan penyakit akibat parasit selama beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kasus yang sering ditemukan pada broiler, seperti koksidiosis, berhubungan erat dengan kondisi sekam yang ada dan efeknya pun tidak langsung, melainkan harus dipicu dengan kondisi lain, seperti kondisi imunosupresi akibat faktor lain. 26 u Edisi Maret 2023 Fadhillah Yulia Nurul Kawakib Sinarko Santoso Gambaran infeksi Ascaridia galli pada broiler Sumber Dr. Jean Sander


penyerapan nutrisi hingga menurunnya daya tahan tubuh unggas. Namun, di antara keduanya, penyakit akibat parasit yang mendapat perhatian lebih adalah koksidiosis. Hal ini bisa jadi dikarenakan kasus cacingan pada unggas tidak ada ancaman kematian dan tak ada gejala klinis yang ditunjukkan oleh ayam, sehingga cenderung diabaikan. Berbeda dengan koksidiosis dimana gejala klinis terlihat dan ada ancaman kematian yang mengikuti. “Dampak yang terjadi apabila ayam terserang koksidiosis adalah terhambatnya pertumbuhan, penurunan efisiensi penggunaan ransum, hingga kematian yang beragam. Tingkat kematian akibat koksidiosis dapat mencapai 10% hingga 30% untuk Eimeria sp. yang menyerang usus halus. Serangan koksidiosis juga memiliki efek imunosupresif yang menjadikan ayam lebih rentan terhadap infeksi penyakit lainnya,” terangnya. Menurut Lilis, ayam yang mengalami cacingan akan mengalami penurunan berat badan atau keterlambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur 5-20% dan penurunan kondisi tubuh. Penurunan produksi telur yang terjadi dapat disertai dengan menurunnya berat telur. Meski penanganan koksidiosis lebih ekstra, apabila kedua penyakit ini berlangsung sangat parah dan tidak segera ditangani, maka dapat menyebabkan kematian. “Kasus-kasus parasit yang terjadi pada broiler dan layer disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kepadatan kandang yang terlalu tinggi, kondisi sekam yang basah dan lembap, serta tumpukan feses. Kepadatan kandang berimbas pada kondisi sekam yang lebih cepat basah dan menggumpal, sedangkan tumpukan feses memicu datangnya lalat uang dapat berperan sebagai vektor penyakit seperti cacingan,” ujarnya. Dampak parasit Terkait dampak dari parasit, drh. Fadhillah Yulia Pratama, selaku Product and Registration Assistant Manager PT Vadco Prosper Mega, mengatakan bahwa dalam kasus parasit pada unggas, utamanya kasus cacingan, tidak ada ancaman kematian dan gejala klinis yang ditunjukkan oleh ayam tidak terlihat begitu jelas, sehingga cenderung diabaikan. Meski dampaknya tak separah penyakit akibat bakteri maupun virus, nyatanya kasus parasit pada unggas tetap menimbulkan kerugian jika tidak segera ditangani. “Tren kasus parasit yang paling sering ditemui pada unggas adalah helminthiasis (cacingan) dan koksidiosis. Gejala dari koksidiosis adalah perlambatan pertumbuhan berat badan dan berak darah yang kemudian berdampak terhadap menurunnya produktivitas hingga kematian. Pada kasus cacingan, dapat dilihat bulu ayam kusam, FCR membengkak, dan penyerapan nutrisi menurun. Kasus cacingan, seperti Ascaridia galli, jika sudah parah dan tak segera diobati dapat menyebabkan enteritis yang tentu akan memudahkan penyakit lainnya untuk masuk karena adanya perlukaan pada usus,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia ketika diwawancarai secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, Rabu (8/2). Fadhillah kemudian mengatakan bahwa ektoparasit, seperti gurem dan kutu frengki, juga sering ditemui di lapangan. Ektoparasit sebenarnya sangat mengganggu, akan tetapi masih banyak yang belum sadar akan bahayanya. Infestasi ektoparasit yang parah sangat mengganggu karena menyebabkan rasa gatal pada ayam dan menimbulkan stres. “Imun yang menurun akibat stres karena rasa gatal akan memudahkan penyakit lainnya untuk menyerang. Namun, karena ukuran ektoparasit yang biasa menyerang sangat kecil, dampaknya tidak signifikan, dan mudah dibasmi, maka hal ini tak terlalu dipusingkan, kecuali kutu frengki. Kutu frengki perlu diwaspadai karena selain berperan sebagai vektor penyakit yang memiliki dampak besar pada kesehatan ayam, parasit ini juga merusak kandang, sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar,” terangnya. Masih terkait parasit, Nurul Kawakib, S.Pt., selaku Technical Service PT New Hope Indonesia yang fokus menangani peternakan broiler, mengatakan bahwa di peternakan broiler yang ia supervisi cenderung jarang dan hampir tidak ditemukan penyakit akibat parasit selama beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kasus yang sering ditemukan pada broiler, seperti koksidiosis, berhubungan erat dengan kondisi sekam yang ada dan efeknya pun tidak langsung, melainkan harus dipicu dengan kondisi lain, seperti kondisi imunosupresi akibat faktor lain. 26 u Edisi Maret 2023 Fadhillah Yulia Nurul Kawakib Sinarko Santoso Gambaran infeksi Ascaridia galli pada broiler Sumber Dr. Jean Sander Edisi Maret 2023 u 27 Koksidiosis biasa muncul karena cuaca yang tak menentu yang mana suhu dan kelembapan dalam kandang berfluktuasi. “Selama ini, aman-aman saja dan tidak ada penyakit yang benar-benar berpengaruh. Koksidiosis juga sudah hampir tidak ada dan tidak pernah saya temukan. Ketika suhu dan kelembapan dalam kandang berfluktuasi ayam yang kedinginan akan berkumpul di satu tempat dan sekam yang ditempati biasanya akan basah. Jika operator kandang kurang peka dengan kondisi ini dan penanganannya telat, maka ujung-ujungnya penyakit mudah masuk ketika sekam basah,” terangnya pada tim Poultry Indonesia ketika diwawancarai melalui sambungan telepon, Senin (27/2). Sama seperti koksidiosis, kasus cacing pun sudah tak pernah lagi ia temukan pada peternakan yang ia supervisi. Berbeda dengan layer yang mana masa hidupnya panjang, kasus cacingan pada broiler jarang bahkan tidak pernah ditemukan karena siklus hidup cacing yang lebih lama dari masa hidup broiler hingga dipanen, sehingga tak pernah ada laporan mengenai kasus cacingan. Disisi lain, Sinarko Santoso, selaku peternak layer dan owner dari Peternakan Sumber Mandiri di Kabupaten Karanganyar, mengatakan bahwa kasus endoparasit yang seringkali ditemukan pada peternakan miliknya adalah kasus cacing pita atau Raillietina sp. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah populasi lalat yang meningkat akibat berbagai hal, seperti masalah kebersihan kandang, musim buah tertentu, lingkungan sekitar kandang, pascapanen broiler, dan kotoran ayam yang basah. Sedangkan kasus ektoparasit yang pernah ia alami adalah gurem. “Dampaknya dari kasus cacingan ini lumayan, penurunan produksi bisa mencapai 5%. Kasus koksidiosis juga ada, akan tetapi sangat jarang terjadi. Sedangkan kasus ektoparasit yang pernah saya alami adalah gurem sebanyak 2 kali. Biasanya menyerang ayam yang sedang dalam fase bertelur, baik muda maupun tua. Dampaknya adalah penurunan produksi dan anak kandang yang mengeluh gatal-gatal saat mengumpulkan telur,” jelasnya dalam keterangan tertulis kepada tim Poultry Indonesia, Rabu (1/2). Gurem memang seringkali ditemukan pada peternakan layer dan sangat mengganggu ayam serta peternak dan anak kandang. Gurem disebabkan oleh agas Ornithonyssus bursa. Hampir sama seperti kutu, agas penyebab gurem ini juga menghisap darah ayam sebagai inangnya, sehingga sangat berbahaya apabila menyerang ayam. Pada kasus terparah, gurem dapat menyebabkan kematian. “Tantangan dalam menangani kasus parasit adalah istirahat kandang yang tidak bisa saya lakukan karena sistem pemeliharaan multi-age. Menurut saya, penanganan kasus parasit tidak terlalu sulit, akan tetapi dampaknya terhadap produktivitas memakan waktu dan biaya yang lebih besar untuk mengembalikan performa seperti sedia kala,” pungkasnya. Diana, Yafi Kasus cacingan lebih banyak menyerang layer dengan sistem kandang terbuka


Pengendalian dan penanganan kasus parasit pada unggas di lapangan masih terus menemui tantangannya. Kasus parasit yang terjadi sudah pasti berhubungan erat dengan kelalaian dalam proses pembersihan kandang serta manajemen program penanganan dan pengendaliannya. Proses istirahat kandang dan pembersihannya yang dianggap mengurangi frekuensi panen dan penggunaan anthelmentik yang menambah beban produksi menjadi dua alasan utama mengapa kasus parasit masih terus ada. Kelalaian dalam kebersihan Kebersihan kandang memegang peranan besar dalam usaha peternakan unggas. Upaya untuk membersihkan kandang dari cemaran mikroorganisme, termasuk parasit, adalah dengan istirahat kandang yang merupakan waktu pengosongan kandang mulai dari selesai panen, dibersihkan, dicuci, dan didesinfeksi hingga siap digunakan kembali. Meski terbukti sangat efektif dalam mengurangi mikroorganisme patogen yang ada di sekitar ayam, nyatanya istirahat kandang dianggap merugikan karena mengurangi frekuensi panen, sehingga lebih sering ditinggalkan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), drh. Erry Setiawan, MM, PCAH, MAHM., mengatakan bahwa proses pembersihan kandang sangat berkaitan dengan penanganan parasit, akan tetapi proses pembersihan dan persiapan kandang masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Selama ini, peternak di lapangan menganggap proses istirahat kandang dimulai saat kandang kosong dari ayam, padahal proses ini seharusnya dimulai saat kandang kosong sudah dibersihkan dari material organik, seperti sekam, dan kandang sudah dicuci. “Istirahat kandang yang benar adalah kandang kosong yang telah dibersihkan, dicuci, dan didesinfeksi diistirahatkan selama 14 hari. Durasi istirahat kandang otomatis akan memangkas frekuensi panen, sehingga durasinya seringkali diperpendek. Namun, masalah sebenarnya ada pada ketuntasan, detail, dan ketelitian dalam pembersihan kandang yang biasanya masih kurang optimal. Selama melihat persiapan chick in di lapangan, proses persiapan dan pembersihannya masih belum tuntas dan kurang optimal,” terangnya pada tim Poultry Indonesia ketika diwawancarai secara langsung di Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Kamis (9/2). Istirahat kandang idealnya mulai dihitung setelah dilakukan pembersihan sisa alas kandang, pembersihan lantai kandang yang telah bersih dari sekam, pencucian kandang, proses pengeringan, desinfeksi kandang, proses pengeringan, dengan durasi 14 hari. Meski konsep ini merupakan kunci dari segala kasus penyakit yang ada di lapangan, Erry mengatakan bahwa pemahaman akan proses istirahat kandang di lapangan masih rancu. “Yang banyak dari kita dan peternak salah pahami adalah istirahat kandang yang mulai dari kandang kosong dari ayam. Istirahat kandang yang benar adalah saat kandang sudah selesai dibersihkan dari sekam yang ada, dicuci, didesinfeksi, dan dikeringkan, barulah mulai 14 hari diistirahatkan. Pembersihan alas kandang dan lantai kandang berhubungan erat dengan kontrol parasit karena tantangan utamanya adalah bagaimana mengurangi kontaminasi feses dan sisa pakan yang tercecer serta material organik lainnya guna menekan paparan terhadap telur parasit,” jelasnya. Tantangan feedmill di tahun 2023 adalah bagaimana perkembangan harga pakan dalam rantai ekonomi global 28 u Edisi Maret 2023 Invasi Parasit Gerus Usaha Peternakan Sampai saat ini, kasus parasit pada unggas masih terus mengintai industri peternakan ayam. Mulai dari kondisi lingkungan peternakan yang mendukung keberlangsungan siklus hidup parasit, hingga penanganan dan pencegahan yang masih belum optimal.


Pengendalian dan penanganan kasus parasit pada unggas di lapangan masih terus menemui tantangannya. Kasus parasit yang terjadi sudah pasti berhubungan erat dengan kelalaian dalam proses pembersihan kandang serta manajemen program penanganan dan pengendaliannya. Proses istirahat kandang dan pembersihannya yang dianggap mengurangi frekuensi panen dan penggunaan anthelmentik yang menambah beban produksi menjadi dua alasan utama mengapa kasus parasit masih terus ada. Kelalaian dalam kebersihan Kebersihan kandang memegang peranan besar dalam usaha peternakan unggas. Upaya untuk membersihkan kandang dari cemaran mikroorganisme, termasuk parasit, adalah dengan istirahat kandang yang merupakan waktu pengosongan kandang mulai dari selesai panen, dibersihkan, dicuci, dan didesinfeksi hingga siap digunakan kembali. Meski terbukti sangat efektif dalam mengurangi mikroorganisme patogen yang ada di sekitar ayam, nyatanya istirahat kandang dianggap merugikan karena mengurangi frekuensi panen, sehingga lebih sering ditinggalkan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), drh. Erry Setiawan, MM, PCAH, MAHM., mengatakan bahwa proses pembersihan kandang sangat berkaitan dengan penanganan parasit, akan tetapi proses pembersihan dan persiapan kandang masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Selama ini, peternak di lapangan menganggap proses istirahat kandang dimulai saat kandang kosong dari ayam, padahal proses ini seharusnya dimulai saat kandang kosong sudah dibersihkan dari material organik, seperti sekam, dan kandang sudah dicuci. “Istirahat kandang yang benar adalah kandang kosong yang telah dibersihkan, dicuci, dan didesinfeksi diistirahatkan selama 14 hari. Durasi istirahat kandang otomatis akan memangkas frekuensi panen, sehingga durasinya seringkali diperpendek. Namun, masalah sebenarnya ada pada ketuntasan, detail, dan ketelitian dalam pembersihan kandang yang biasanya masih kurang optimal. Selama melihat persiapan chick in di lapangan, proses persiapan dan pembersihannya masih belum tuntas dan kurang optimal,” terangnya pada tim Poultry Indonesia ketika diwawancarai secara langsung di Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Kamis (9/2). Istirahat kandang idealnya mulai dihitung setelah dilakukan pembersihan sisa alas kandang, pembersihan lantai kandang yang telah bersih dari sekam, pencucian kandang, proses pengeringan, desinfeksi kandang, proses pengeringan, dengan durasi 14 hari. Meski konsep ini merupakan kunci dari segala kasus penyakit yang ada di lapangan, Erry mengatakan bahwa pemahaman akan proses istirahat kandang di lapangan masih rancu. “Yang banyak dari kita dan peternak salah pahami adalah istirahat kandang yang mulai dari kandang kosong dari ayam. Istirahat kandang yang benar adalah saat kandang sudah selesai dibersihkan dari sekam yang ada, dicuci, didesinfeksi, dan dikeringkan, barulah mulai 14 hari diistirahatkan. Pembersihan alas kandang dan lantai kandang berhubungan erat dengan kontrol parasit karena tantangan utamanya adalah bagaimana mengurangi kontaminasi feses dan sisa pakan yang tercecer serta material organik lainnya guna menekan paparan terhadap telur parasit,” jelasnya. Tantangan feedmill di tahun 2023 adalah bagaimana perkembangan harga pakan dalam rantai ekonomi global 28 u Edisi Maret 2023 Invasi Parasit Gerus Usaha Peternakan Sampai saat ini, kasus parasit pada unggas masih terus mengintai industri peternakan ayam. Mulai dari kondisi lingkungan peternakan yang mendukung keberlangsungan siklus hidup parasit, hingga penanganan dan pencegahan yang masih belum optimal.


Manajemen dan penanganan tidak tepat Lebih lanjut, terkait parasit Erry juga menyinggung mengenai koksidia. Berbeda dengan kasus endoparasit lainnya, seperti cacingan yang mana dampaknya tak senyata penyakit akibat virus dan bakteri. Menurut Erry, dampak koksidiosis justru lebih nyata dan patogenesisnya tergantung dari spesies Eimeria yang menyerang. Sebagai contoh, Eimeria acervulina tidak menyebabkan pendarahan meski infestasinya tinggi. Namun, bagi peternak, ada pendarahan maupun tidak, Eimeria tetap merugikan, karena mengganggu integritas saluran pencernaan dan mengganggu efisiensi penggunaan pakan. “Koksidiosis merupakan penyakit yang nyata dan kelihatan gejala klinisnya. Patogenitasnya tergantung dari masingmasing spesies. Ada yang menyebabkan pendarahan, ada yang tidak. Namun, Eimeria jenis apa pun tetap mencuri keuntungan peternak karena sifat koksidia merusak saluran pencernaan, sehingga turut merusak performa dan mengakibatkan ayam kerdil, merusak keseragaman, dan membuat FCR bengkak. Ini cukup mencekik peternak,” ungkapnya. Endoparasit, khususnya koksidia, dikategorikan Erry ke dalam penyakit endemis dan harus dikontrol. Menurutnya, cukup banyak alat kontrol koksidia yang tersedia di pasaran, seperti ionofor, sediaan sintetik lainnya, dan juga vaksin untuk pengendalian. Dengan sediaan kontrol koksidiosis yang ada, baik koksidiosidal dan koksidiostat, seharusnya kasus koksidiosis bisa terkendali. Namun, kasus koksidiosis masih sering ditemukan di lapangan karena ketidakpahaman dalam penggunaan sediaan tersebut. “Seringkali di lapangan, peternak menggunakan 1 sediaan, contohnya ionofor, dan terlena dengan hasil yang bagus, sehingga terus-menerus sediaan tersebut digunakan setiap ada kasus secara sembarangan tanpa perencanaan. Semakin lama, jenis ionofor yang digunakan tersebut tidak akan ampuh lagi karena sudah resisten. Ini terjadi akibat tidak mengerti cara pengendalian dengan sediaan tersebut yang mana memang harus dirotasi dan diberikan dengan benar supaya efektif,” jelasnya. Selain proses istirahat kandang, kepadatan juga harus menjadi perhatian bagi peternak. Kepadatan kandang berhubungan erat dengan penyebaran penyakit, salah satunya koksidiosis. Dalam filosofi industri modern, kepadatan merupakan sebuah keniscayaan. Semakin padat ayam, maka semakin banyak keuntungan yang didapat. Sayangnya, semakin padat ayam dalam kandang, maka semakin besar peluang ayam untuk mengonsumsi ookista yang tinggi per satuan waktu. Hal inilah yang membuat kasus koksidiosis tak berkesudahan. Saat ditemui tim Poultry Indonesia di Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Kamis (9/2), Prof. Makoto Matsubayashi, DVM, Ph.D., selaku peneliti Fakultas Kedokteran Hewan, Osaka Metropolitan University, Jepang mengatakan bahwa kepadatan populasi ayam berperan penting dalam penyebaran koksidiosis dalam sebuah peternakan. Tak berbeda dengan kondisi di Indonesia, masalah kepadatan kandang juga masih menjadi tantangan di lapangan. Kepadatan kandang yang terlalu tinggi akan berdampak pula pada kondisi litter yang akan lebih cepat basah dan menggumpal. “Sama seperti di Jepang, para peternak di Indonesia mengisi kandangnya sebanyak mungkin atas nama keuntungan tanpa mempertimbangkan standar kepadatan kandang, sehingga memudahkan terjadinya transmisi penyakit. Hubungan antara kepadatan kandang dengan potensi penyebaran Eimeria sangat signifikan, sehingga seharusnya peternak tidak memaksakan untuk mengisi kandangnya dalam jumlah yang tinggi, karena dipastikan akan berakibat pada laju penyebaran penyakit, termasuk penularan koksidiosis,” ujarnya. Kondisi litter yang basah dan lembap merupakan lingkungan yang cocok, terutama bagi ookista dari Eimeria sp. penyebab koksidiosis. Ookista tersebut membutuhkan lingkungan yang cocok untuk bersporulasi dan berubah bentuk menjadi infektif. Jika suhu di dalam kandang tidak terlalu tinggi dan kondisi litter sangat lembap maka ookista yang telah bersporulasi dapat bertahan di lingkungan luar hingga berbulanbulan. “Eimeria sangat kuat bertahan di lingkungan dan pemberian desinfektan kimia juga tak selalu efektif. Eimeria bisa langsung mati dengan panas tinggi, seperti air mendidih dan api. Dengan suhu yang lebih rendah, Eimeria bisa saja mati dalam waktu 1 jam. Belum lagi, efektivitas beberapa antikoksi masih memberikan hasil yang bervariasi. Jadi, salah satu strategi yang paling tepat untuk dilakukan dalam mengendalikan koksidiosis adalah mengurangi kepadatan ayam di dalam kandang,” ungkapnya. Antiparasit menambah beban produksi Selain masalah kebersihan yang masih kurang optimal serta penggunaan preparat pengobatan dan pengendalian parasit yang masih kurang tepat, rupanya penanganan kasus parasit juga memiliki tantangan lainnya. Salah satunya adalah preparat antiparasit, khususnya obat cacing atau anthelmintik, yang tak jarang dianggap menambah beban produksi, sehingga seringkali diabaikan. Namun, manajemen Istirahat kandang merupakan proses yang tidak boleh disepelekan 30 u Edisi Maret 2023 Erry Setiawan Makoto Matsubayashi


Manajemen dan penanganan tidak tepat Lebih lanjut, terkait parasit Erry juga menyinggung mengenai koksidia. Berbeda dengan kasus endoparasit lainnya, seperti cacingan yang mana dampaknya tak senyata penyakit akibat virus dan bakteri. Menurut Erry, dampak koksidiosis justru lebih nyata dan patogenesisnya tergantung dari spesies Eimeria yang menyerang. Sebagai contoh, Eimeria acervulina tidak menyebabkan pendarahan meski infestasinya tinggi. Namun, bagi peternak, ada pendarahan maupun tidak, Eimeria tetap merugikan, karena mengganggu integritas saluran pencernaan dan mengganggu efisiensi penggunaan pakan. “Koksidiosis merupakan penyakit yang nyata dan kelihatan gejala klinisnya. Patogenitasnya tergantung dari masingmasing spesies. Ada yang menyebabkan pendarahan, ada yang tidak. Namun, Eimeria jenis apa pun tetap mencuri keuntungan peternak karena sifat koksidia merusak saluran pencernaan, sehingga turut merusak performa dan mengakibatkan ayam kerdil, merusak keseragaman, dan membuat FCR bengkak. Ini cukup mencekik peternak,” ungkapnya. Endoparasit, khususnya koksidia, dikategorikan Erry ke dalam penyakit endemis dan harus dikontrol. Menurutnya, cukup banyak alat kontrol koksidia yang tersedia di pasaran, seperti ionofor, sediaan sintetik lainnya, dan juga vaksin untuk pengendalian. Dengan sediaan kontrol koksidiosis yang ada, baik koksidiosidal dan koksidiostat, seharusnya kasus koksidiosis bisa terkendali. Namun, kasus koksidiosis masih sering ditemukan di lapangan karena ketidakpahaman dalam penggunaan sediaan tersebut. “Seringkali di lapangan, peternak menggunakan 1 sediaan, contohnya ionofor, dan terlena dengan hasil yang bagus, sehingga terus-menerus sediaan tersebut digunakan setiap ada kasus secara sembarangan tanpa perencanaan. Semakin lama, jenis ionofor yang digunakan tersebut tidak akan ampuh lagi karena sudah resisten. Ini terjadi akibat tidak mengerti cara pengendalian dengan sediaan tersebut yang mana memang harus dirotasi dan diberikan dengan benar supaya efektif,” jelasnya. Selain proses istirahat kandang, kepadatan juga harus menjadi perhatian bagi peternak. Kepadatan kandang berhubungan erat dengan penyebaran penyakit, salah satunya koksidiosis. Dalam filosofi industri modern, kepadatan merupakan sebuah keniscayaan. Semakin padat ayam, maka semakin banyak keuntungan yang didapat. Sayangnya, semakin padat ayam dalam kandang, maka semakin besar peluang ayam untuk mengonsumsi ookista yang tinggi per satuan waktu. Hal inilah yang membuat kasus koksidiosis tak berkesudahan. Saat ditemui tim Poultry Indonesia di Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Kamis (9/2), Prof. Makoto Matsubayashi, DVM, Ph.D., selaku peneliti Fakultas Kedokteran Hewan, Osaka Metropolitan University, Jepang mengatakan bahwa kepadatan populasi ayam berperan penting dalam penyebaran koksidiosis dalam sebuah peternakan. Tak berbeda dengan kondisi di Indonesia, masalah kepadatan kandang juga masih menjadi tantangan di lapangan. Kepadatan kandang yang terlalu tinggi akan berdampak pula pada kondisi litter yang akan lebih cepat basah dan menggumpal. “Sama seperti di Jepang, para peternak di Indonesia mengisi kandangnya sebanyak mungkin atas nama keuntungan tanpa mempertimbangkan standar kepadatan kandang, sehingga memudahkan terjadinya transmisi penyakit. Hubungan antara kepadatan kandang dengan potensi penyebaran Eimeria sangat signifikan, sehingga seharusnya peternak tidak memaksakan untuk mengisi kandangnya dalam jumlah yang tinggi, karena dipastikan akan berakibat pada laju penyebaran penyakit, termasuk penularan koksidiosis,” ujarnya. Kondisi litter yang basah dan lembap merupakan lingkungan yang cocok, terutama bagi ookista dari Eimeria sp. penyebab koksidiosis. Ookista tersebut membutuhkan lingkungan yang cocok untuk bersporulasi dan berubah bentuk menjadi infektif. Jika suhu di dalam kandang tidak terlalu tinggi dan kondisi litter sangat lembap maka ookista yang telah bersporulasi dapat bertahan di lingkungan luar hingga berbulanbulan. “Eimeria sangat kuat bertahan di lingkungan dan pemberian desinfektan kimia juga tak selalu efektif. Eimeria bisa langsung mati dengan panas tinggi, seperti air mendidih dan api. Dengan suhu yang lebih rendah, Eimeria bisa saja mati dalam waktu 1 jam. Belum lagi, efektivitas beberapa antikoksi masih memberikan hasil yang bervariasi. Jadi, salah satu strategi yang paling tepat untuk dilakukan dalam mengendalikan koksidiosis adalah mengurangi kepadatan ayam di dalam kandang,” ungkapnya. Antiparasit menambah beban produksi Selain masalah kebersihan yang masih kurang optimal serta penggunaan preparat pengobatan dan pengendalian parasit yang masih kurang tepat, rupanya penanganan kasus parasit juga memiliki tantangan lainnya. Salah satunya adalah preparat antiparasit, khususnya obat cacing atau anthelmintik, yang tak jarang dianggap menambah beban produksi, sehingga seringkali diabaikan. Namun, manajemen Istirahat kandang merupakan proses yang tidak boleh disepelekan 30 u Edisi Maret 2023 Erry Setiawan Makoto Matsubayashi Edisi Maret 2023 u 31 kesehatan yang buruk justru menjadi celah bagi parasit untuk menyerang ternak. drh. Sugiyono, selaku Marketing Manager PT Tekad Mandiri Citra, mengatakan bahwa penanganan kasus cacingan cukup meningkatkan beban produksi. Pada umumnya, infeksi cacing pada ayam bersifat tunggal yang berarti ayam hanya terinfeksi satu jenis cacing. Akan tetapi, faktor pembersihan kandang yang kurang baik, kepadatan kandang, dan sistem multiage yang diterapkan menjadi faktor utama merebaknya infeksi cacing berbagai jenis. Hal ini juga berdampak pada biaya penanganan kasus cacingan yang membengkak, sehingga sering diabaikan. “Dalam kasus cacingan, yang mana umumnya tak terlalu menonjol dan beban pengobatan yang relatif tinggi, maka nilai produksi akan lebih dipertimbangkan, sehingga dapat menjadi faktor mengapa pemberian anthelmintik masih sering diabaikan pada peternakan dengan manajemen yang masih kurang tertata,” tuturnya. Sugiyono kemudian mengatakan infeksi cacing yang terjadi pada ayam umumnya bersifat tunggal atau satu jenis cacing saja. Namun, sistem pemeliharaan multiage yang diterapkan justru merupakan sumber dari masalah cacingan pada ayam karena pada satu farm kandang dapat terjadi infestasi beberapa jenis cacing sekaligus. Hal inilah yang membuat penanganan kasus cacingan menjadi mahal. “Spektrum sediaan obat cacing memang dibuat tunggal, khusus masing-masing jenis cacing, dan sesuai siklus hidupnya. Jika hendak memberantas semua sekaligus, maka harus menggunakan produk yang dikombinasikan, sehingga pasti menambah beban produksi. Peternak pasti merasa terbebani jika harus memberikan beberapa jenis obat cacing setiap beberapa minggu sekali,” terangnya pada tim Poultry Indonesia di kantor pusat PT Tekad Mandiri Citra, Senin (6/2). Sugiyono kemudian menginformasikan bahwa selain kasus cacingan yang biasa ditemukan di lapangan, kasus cacingan lainnya, seperti Acanthocephala, yang akhirakhir ini sering muncul, juga tidak mudah untuk diberantas. Persebarannya memang belum meluas di beberapa daerah, akan tetapi penanganan kasus Acanthocephala memerlukan obat cacing yang berbeda dari biasanya, sehingga biaya lagi-lagi akan membengkak. Melengkapi ancaman dari parasit bagi ayam, drh. Athena Rivierra Dion, selaku Technical Manager PT Agromakmur Sentosa mengatakan bahwa salah satu faktor pemicu dari infestasi parasit yang parah diawali dari sikap abai terhadap indikasi awal yang ditampilkan oleh unggas. Menurutnya, keberadaan parasit pada unggas pada batasan tertentu merupakan hal yang lazim dan tidak mungkin ditiadakan sama sekali. Namun, yang perlu diketahui adalah ancaman yang mengikuti. “Dampak dari invasi parasit bergantung pada bagaimana upaya pencegahan dilakukan, tingkat keparahan, dan kecepatan kecepatan respons peternak dalam mengatasinya. Infestasi ektoparasit yang ekstrem dapat menimbulkan reaksi tidak nyaman yang memicu stres, penurunan berat badan, feather pecking yang mana dapat menyebabkan luka, dan masih banyak hal lainnya. Selain berpotensi menyebabkan penurunan hasil produksi, perilaku feather pecking juga dapat menjadi pemicu perilaku kanibalisme pada unggas,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada tim Poultry Indonesia, Jumat (10/2). Sedangkan pada kasus endoparasit, Athena mengatakan bahwa infestasi cacing tentunya akan mengganggu penyerapan nutrisi dan berpotensi infeksi sekunder oleh bakteri disaluran cerna. Perlukaan pada dinding usus yang disebabkan oleh cacing dapat menjadi pintu masuk dari berbagai penyakti bakterial. “Jika kasus berlangsung lama tanpa adanya penanganan yang sesuai, infestasi cacing akan berdampak pada penurunan berat badan, penurunan hasil produksi, dan tidak menutup kemungkinan dapat menjadi pemicu bagi masuknya penyakit infeksius lainnya yang disebabkan oleh kondisi malnutrisi,” terangnya. Kerusakan jaringan atau luka pada saluran cerna memungkinkan bakteri-bakteri yang sesungguhnya dalam jumlah tertentu merupakan bagian dari flora normal saluran pencernaan, seperti E. coli, Salmonella, dan Clostridium, menjadi berkembang secara eksesif dan menimbulkan penyakit yang memperburuk kesehatan ayam hingga bisa saja meningkatkan angka mortalitas. Beberapa ancaman infeksi sekunder dapat dipicu oleh populasi kutu frengki yang tidak dikendalikan dengan baik. Kutu frengki merupakan vektor bagi bakteri Salmonella dan virus penyebab Gumboro, serta protozoa Leucocytozoon spp. yang menyerang sel darah merah maupun sel darah putih, sehingga sistem kekebalan tubuh lumpuh, dan memudahakan terjadinya penyakit infeksi ikutan lainnya. Kelalaian dalam proses pembersihan kandang dan manajemen kesehatan akan meningkatkan kasus parasit yang terjadi pada unggas dan membukakan jalan bagi para agen infeksi sekunder. Dampaknya tentu akan sangat merugikan. Di satu sisi, invasi parasit akan menurunkan produktivitas ternak. Di sisi lain, beban pemberian obat-obatan untuk infeksi sekunder akan melambung tinggi. Pada akhirnya, invasi parasit akan menggerus keuntungan peternak. Diana Sugiyono Athena Rivierra Sekam basah dapat menjadi sumber dari berbagai macam penyakit, termasuk penyakit akibat parasit. sumber UGA Poultry Housing


32 u Edisi Maret 2023 Beberapa patogen yang dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama antara lain virus penyebab Marek’s Disease, telur cacing, dan spora jamur. Disinilah peran istirahat kandang diandalkan untuk mengurangi keganasan dan mengurangi jumlah parasit pada kandang. “Kalau kita kosongkan kandang dari induk semang, maka patogen yang ada pada kandang akan melemah dan akhirnya mati. Inilah makna dari istirahat kandang. Ketika parasit melemah, maka keganasannya berkurang dan ketika dibiarkan, maka parasit tersebut akan mati dan berkurang jumlahnya. Oleh karena itu, istirahat kandang itu menjadi hal penting dalam mengurangi prevalensi kasus dan keganasannya,” terangnya. Disisi lain Tony menekankan pentingnya kontrol vektor untuk menekan populasi parasit cacing. Lalat sebagai vektor cacing pada ayam, membutuhkan makanan untuk keberlangsungan hidup, air untuk kelembapan, dan oksigen. Beberapa unsur ini dapat ditemukan pada kandang dengan tumpukan feses yang lembap dan basah, sehingga siklus hidup lalat terus berputar. Untuk mengatasi hal ini, Tony memiliki satu trik yang telah ia berhasil aplikasikan pada layer farm di Medan dan Blitar. Trik ini diakuinya dapat mengurangi penggunaan insektisida. “Salah satu cara yang saya mulai lakukan dari tahun 2012 untuk menekan populasi lalat adalah menggunakan predator alaminya, yaitu larva Black Solider Fly. Jadi, caranya adalah dengan menabur maggot dari BSF ke kolong kandang. Maggot BSF akan memakan larva lalat yang ada pada tumpukkan feses. Saya berhasil melakukannya di layer farm Medan dan Blitar. Peternakan-peternakan tersebut Parasit dapat disebut tantangan pada peternakan unggas yang sudah jelas langkah penaganannya. Namun, kondisi kandang di lapangan yang belum sesuai standar terus memberikan kesempatan bagi parasit untuk melanjutkan siklus hidupnya. Solusi yang aplikatif sangat dibutuhkan untuk menekan populasi parasit dan vektornya guna produktivitas serta keuntungan yang melambung tinggi Istirahat kandang dan penanganan parasit Menanggapi tantangan parasit, Tony Unandar, selaku Private Poultry Consultant mengatakan ektoparasit, seperti lalat, kutu, tungau, hingga kumbang frengki berhubungan erat kebersihan kandang. Semakin modern peternakan tersebut, maka penerapan biosekuritinya semakin baik dan populasi ektoparasit di sekitarnya semakin minim. Tony menekankan jika masih ada ektoparasit, maka masalah ada pada kebersihan kandang, proses istirahat kandang yang tidak maksimal, dan biosekuriti yang belum diterapkan dengan tepat. “Parasit, seperti cacing, membutuhkan waktu dan tempat untuk berkembang biak di luar tubuh ayam. Kalau tempat dan kondisinya tidak ideal, maka tidak akan terjadi. Sebagai contoh, populasi cacing pita banyak ditemukan pada peternakan dengan yang tidak menerapkan biosekuriti yang mana ditemukan banyak lalat. Cacing pita juga membutuhkan lalat sebagai vektor mekanis untuk meneruskan siklus hidupnya,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia, Selasa (14/2). Ia menekankan bahwa istirahat kandang merupakan hal yang penting. Menurutnya, agen parasit dan patogen tidak akan bisa hidup tanpa ayam sebagai hospesnya, terlebih dalam waktu lama. Sigap Cegah Parasit, Keuntungan Melejit Parasit merupakan permasalahan pada peternakan unggas yang sudah jelas langkah penaganannya. Namun, solusi aplikatif sangat dibutuhkan untuk menekan populasi parasit dan vektornya guna produktivitas serta keuntungan yang melambung tinggi.


32 u Edisi Maret 2023 Beberapa patogen yang dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama antara lain virus penyebab Marek’s Disease, telur cacing, dan spora jamur. Disinilah peran istirahat kandang diandalkan untuk mengurangi keganasan dan mengurangi jumlah parasit pada kandang. “Kalau kita kosongkan kandang dari induk semang, maka patogen yang ada pada kandang akan melemah dan akhirnya mati. Inilah makna dari istirahat kandang. Ketika parasit melemah, maka keganasannya berkurang dan ketika dibiarkan, maka parasit tersebut akan mati dan berkurang jumlahnya. Oleh karena itu, istirahat kandang itu menjadi hal penting dalam mengurangi prevalensi kasus dan keganasannya,” terangnya. Disisi lain Tony menekankan pentingnya kontrol vektor untuk menekan populasi parasit cacing. Lalat sebagai vektor cacing pada ayam, membutuhkan makanan untuk keberlangsungan hidup, air untuk kelembapan, dan oksigen. Beberapa unsur ini dapat ditemukan pada kandang dengan tumpukan feses yang lembap dan basah, sehingga siklus hidup lalat terus berputar. Untuk mengatasi hal ini, Tony memiliki satu trik yang telah ia berhasil aplikasikan pada layer farm di Medan dan Blitar. Trik ini diakuinya dapat mengurangi penggunaan insektisida. “Salah satu cara yang saya mulai lakukan dari tahun 2012 untuk menekan populasi lalat adalah menggunakan predator alaminya, yaitu larva Black Solider Fly. Jadi, caranya adalah dengan menabur maggot dari BSF ke kolong kandang. Maggot BSF akan memakan larva lalat yang ada pada tumpukkan feses. Saya berhasil melakukannya di layer farm Medan dan Blitar. Peternakan-peternakan tersebut Parasit dapat disebut tantangan pada peternakan unggas yang sudah jelas langkah penaganannya. Namun, kondisi kandang di lapangan yang belum sesuai standar terus memberikan kesempatan bagi parasit untuk melanjutkan siklus hidupnya. Solusi yang aplikatif sangat dibutuhkan untuk menekan populasi parasit dan vektornya guna produktivitas serta keuntungan yang melambung tinggi Istirahat kandang dan penanganan parasit Menanggapi tantangan parasit, Tony Unandar, selaku Private Poultry Consultant mengatakan ektoparasit, seperti lalat, kutu, tungau, hingga kumbang frengki berhubungan erat kebersihan kandang. Semakin modern peternakan tersebut, maka penerapan biosekuritinya semakin baik dan populasi ektoparasit di sekitarnya semakin minim. Tony menekankan jika masih ada ektoparasit, maka masalah ada pada kebersihan kandang, proses istirahat kandang yang tidak maksimal, dan biosekuriti yang belum diterapkan dengan tepat. “Parasit, seperti cacing, membutuhkan waktu dan tempat untuk berkembang biak di luar tubuh ayam. Kalau tempat dan kondisinya tidak ideal, maka tidak akan terjadi. Sebagai contoh, populasi cacing pita banyak ditemukan pada peternakan dengan yang tidak menerapkan biosekuriti yang mana ditemukan banyak lalat. Cacing pita juga membutuhkan lalat sebagai vektor mekanis untuk meneruskan siklus hidupnya,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia, Selasa (14/2). Ia menekankan bahwa istirahat kandang merupakan hal yang penting. Menurutnya, agen parasit dan patogen tidak akan bisa hidup tanpa ayam sebagai hospesnya, terlebih dalam waktu lama. Sigap Cegah Parasit, Keuntungan Melejit Parasit merupakan permasalahan pada peternakan unggas yang sudah jelas langkah penaganannya. Namun, solusi aplikatif sangat dibutuhkan untuk menekan populasi parasit dan vektornya guna produktivitas serta keuntungan yang melambung tinggi.


tidak ada lalat sama sekali dan minim amonia,” jelasnya. Lebih lanjut, Tony mengatakan bahwa dalam membiakkan lalat penetral alami untuk insekta di lingkungan kandang ini membutuhkan perlakuan khusus. Namun, caranya sangatlah mudah. Untuk penggunaan pribadi dan skala kecil hingga menengah, peternak hanya membutuhkan beberapa baskom dengan alas gabus karton serta ditutupi kelambu agar lalat yang tumbuh tidak keluar. Selain itu, sampah organik dan pakan ayam juga dapat digunakan sebagai pakan maggot. Pentingnya mengetahui habitat vektor penyebar endoparasit untuk mempermudah menekan populasinya. Vektor cacing pita, seperti lalat dan siput, harus diberantas dari lingkungan kandang dan ini dapat dilakukan terutama pada saat kosong kandang. Dalam kasus leucocytozoon, sumber air yang menggenang harus ditiadakan karena dapat menjadi tempat nyamuk untuk berkembang biak. Jika tidak ada genangan, maka nyamuk tak bisa berkembang biak dan semakin lama kondisi ini membunuh nyamuk. Melihat kasus koksidiosis yang selalu ada dan menjadi tantangan bagi peternak, Tony optimis antikoksidia yang aman dengan fungsi ganda, yaitu membunuh bibit-bibit koksidia dan juga menstimulasi sistem imun, dapat digunakan di Indonesia. Ia mengatakan bahwa saat ini, sebenarnya sudah ditemukan antikoksidia serupa, berupa zat artemisinin yang terdapat pada beberapa tanaman dalam keluarga Asteracea, seperti kenikir. Zat ini berfungsi membunuh bibit koksi tak hanya di dalam rongga usus, akan tetapi juga di dalam sel epitel, sehingga membunuh bentukan antara ookista dan bangkai ookista tersebut akan menstimulasi sistem imun. “Saat ini, sudah ditemukan antikoksidia dalam bentuk herbal, yakni zat artemisinin dari dari tanaman Artemisia annua yang digunakan sebagai antimalaria pada manusia dan sudah diakui oleh FAO. Semenjak tahun 2015, tanaman ini banyak digunakan untuk penelitian koksidia. Arteminisisn bekerja pada membran sel, dinding sel sporozoit, dan mitokondrianya, sehingga lebih efektif dalam membunuh bibit koksidia,” jelasnya. Tony mengatakan mekanisme kerja zat artemisinin belum ditemukan pada antikoksi yang saat ini beredar. Selain artemisinin, gallic acid atau asam galat yang dapat ditemukan pada 34 u Edisi Maret 2023 daun ek dan anggur juga dapat digunakan sebagai antikoksidia yang bekerja pada tatanan membran sel. Namun, saat ini masih belum dikembangkan di Indonesia. Tony melihat ini sebagai potensi kedepannya. “Produknya saat ini belum masuk Indonesia. Kemungkinan karena di Indonesia ada keharusan mengisolasi bahan aktif dan itu agak sulit dilakukan dengan bahan herbal. Entah mengapa belum ada yang melegalisasi, akan tetapi ini berpotensi menjadi pengganti antikoksidia yang aman karena berbahan dasar herbal. Selain itu, artemisinin juga dapat mengatasi masalah resistensi yang selama ini menjadi tantangan pada antikoksidia dan juga aman untuk manusia,” harapnya. Inovasi tekan kasus parasit Sementara itu, drh. Gowinda Sibit, Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra, meyakini bahwa kasus cacingan atau helminthiasis sangat sulit untuk diberantas. Menurutnya, peternak terkadang berpikir bahwa ayam tersebut masih laku dijual atau masih tetap bertelur, sehingga kasuskasus cacingan sering diabaikan. Akan tetapi, sikap abai ini justru menghilangkan kesempatan untuk mendapat untung yang lebih besar. “Menurut saya, ini disebabkan oleh kasus cacingan yang tidak memiliki ancaman kematian. Karena tidak ada ancaman tersebut, maka seolaholah diabaikan. Kasus cacingan ini hubungannya hanya dengan average daily growth (ADG) pada broiler dan penurunan produksi telur pada layer. Kenapa diabaikan? Karena ayam-ayam tersebut masih bisa dijual atau masih tetap bertelur. Namun, yang disayangkan adalah mereka melepas kesempatan tambahan keuntungan,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia di kantor pusat PT Tekad Mandiri Citra, Senin (6/2). Melihat kasus cacingan yang terus menjadi langganan di peternakan Indonesia, beberapa terobosan diciptakan untuk memberikan penanganan terbaik. Mulai dari obat cacing yang dicampur pada pakan dan air minum, seperti kelompok Benzimidazole yang sangat ampuh untuk mengatasi infestasi cacing pada ternak dari stadium larva hingga dewasa, Tony Unandar Gowinda Sibit Tak putusnya rantai penyakit akibat parasit membuat para praktisi, peneliti, dan perusahaan terus mengembangkan solusi guna kesehatan ayam yang lebih baik lagi.


Edisi Maret 2023 u 35 hingga sediaan berbentuk pasta untuk memudahkan pemberian pada ternaknya. “Penyakit akibat cacingan ini memang betul laten dan kami melihat parasit ini ancaman yang tidak akan ada habisnya, sehingga kami mengembangkan produkproduk antiparasit, mulai dari sediaan dapat dicampur pada pakan dan air minum, hingga sediaan pasta yang dapat diberikan langsung. Dengan banyaknya varian sediaan anthelmentik yang tersedia, kami berharap kasus cacingan mudah ditekan, sehingga peternak tak kehilangan keuntungannya,” harapnya. Beberapa produk yang dikembangkan adalah anthelmintika yang sangat efektif untuk memberantas cacing pita pada ayam, seperti Raillietina spp. Produk ini bekerja dengan cara menghambat proses absorbsi glukosa dan fosforilasi oksidatif dalam mitokondria cacing sehingga terjadi penimbunan asam laktat yang kemudian mematikan cacing. Cacing yang mati akan tercerna dalam usus sehingga tidak ditemukan dalam feces. “Kami juga mengembangkan produk anthelmintika yang efektif digunakan untuk memberantas segala jenis cacing sekaligus meningkatkan fungsi saluran pencernaan ayam. Niclosamide memberantas cacing cestoda, levamisole yang memberantas cacing nematoda, dan selenium berperan sebagai antioksidan pada sel tubuh yang juga sangat dibutuhkan pada fungsi normal kelenjar pankreas dalam menghasilkan enzim-enzim pencernaan,” jelasnya. Selain kombinasi obat cacing dengan selenium, Gowinda juga mengembangkan obat cacing dengan kandungan piperazine citrate yang dapat bekerja sebagai antikolinerjik yang menghasilkan efek paralisa atau kelumpuhan pada otot cacing, sehingga cacing kehilangan motilitas dan kemampuannya untuk mempertahankan posisi di dalam saluran pencernaan. Gowinda juga mengembangkan antikoksidiosis yang ampuh untuk membunuh parasit Eimeria pada ayam, seperti E. acervulina, E. brunetti, E. maxima, E. tenella, E. mitis, E. mivati, E. necatrix, E. praecox, dan E. hagani. “Antikoksidiosis ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan Eimeria pada fase seksual dan fase aseksual pada tahap II schizont. Selain ampuh membunuh beberapa spesies Eimeria yang menyerang ayam, antikoksidiosis ini juga aman digunakan, sehingga diharapkan dapat menekan kasus koksidiosis,” jelasnya. Inovasi untuk endoparasit lainnya, seperti leucocytozoonosis, adalah serbuk larut air yang mengandung sulfamonomethoxine. Serbuk ini dapat digunakan untuk pengobatan dan bekerja dengan cara menghambat sintesis asam folat yang dibutuhkan dalam proses sintesis DNA, sehingga menghambat pertumbuhan Leucocytozoon pada stadium schizogony yang menyebabkan kematian parasit. Selain ampuh, terobosan ini juga aman diberikan pada ayam dan tidak mengganggu pertumbuhan serta produksi telurnya selama diberikan sesuai dengan dosis dan aturan pakai. Sedangkan untuk kasus ektoparasit dan serangga, Gowinda mengembangkan April Hari Wardhana


anti-ektoparasit yang dapat membunuh ektoparasit dan mengendalikan lalat serta serangga pengganggu di lingkungan dan kandang. Anti-ektoparasit ini mengandung zat aktif Deltamethrin yang merupakan senyawa kimia sintetik yang berfungsi sebagai anti-ektoparasit spektrum luas dan bersifat non-sistematik. Dibuat dalam formula khusus, anti-ektoparasit ini memberikan knock down effect yang berarti serangga dan lalat langsung jatuh saat di semprot. “Deltamethrin bekerja secara efektif melalui ingesti maupun kontak langsung dengan ektoparasit dan lalat dengan cara mengganggu sistem impuls dan konduksi syarafnya. Pada akhirnya, zat ini akan menyebabkan paralisa dan kematian pada ektoparasit tersebut. Deltamethrin juga bersifat lipofilik, sehingga mampu melakukan penetrasi jaringan kutikula parasit. Penggunaan secara teratur akan memberikan kenyamanan bagi ternak sehingga mampu bereproduksi secara optimal,” jelasnya. Melihat kasus ini, April Hari Wardhana, SKH, M.Si., Ph.D., selaku peneliti senior di bidang parasit Pusat Riset Veteriner, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melakukan riset pengembangan deteksi spesies Eimeria yang berdistribusi di peternakan unggas di Indonesia. Bermimpi membuat peta penyebaran Eimeria di Indonesia, April dan tim mengembangkan riset untuk deteksi Eimeria spp. bekerja sama dengan Prof. Makoto Matsubayashi dari Osaka Metropolitan University, Jepang, “Selama ini, belum ada laporan atau 36 u Edisi Maret 2023 studi yang memberikan informasi mengenai distribusi spesies Eimeria dalam suatu peternakan. Biasanya, kasus koksidiosis langsung diobati tanpa mereka tahu spesies apa yang menyerang, sedangkan vaksin Eimeria sifatnya spesifik terhadap satu spesies, sehingga penting untuk kita mengetahui spesies apa yang menyerang suatu peternakan. Di samping itu, peternak dapat menentukan strategi pengendalian koksidiosis yang tepat apabila telah mengetahui spesies Eimeria yang terdistribusi dalam peternakannya,” terangnya pada tim Poultry Indonesia ketika ditemui di Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Kamis (9/2). Saat ini, April dan tim sedang fokus melihat persebaran Eimeria di sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam riset yang dilakukannya, ada tiga variabel yang dilihat, yakni oocyst per gram (ookista per gram/OPG) dari sampel feses ayam yang dikoleksi dari berbagai peternakan, spesies dominan yang tersebar di peternakanpeternakan tersebut, dan pengembangan metode deteksi molekular yang sederhana. Dengan banyaknya spesies Eimeria yang kini berpotensi menyebar di suatu peternakan ayam, April mengatakan, saat ini, ia dan tim bereksperimen untuk mencari teknik yang mudah dan cepat dilakukan dengan hasil yang tepercaya. “Apa yang sedang kami lakukan adalah penjajakan pembuatan metode deteksi ke arah spesies. Kami juga mendesain beberapa primer yang diharapkan lebih sensitif untuk mendeteksi spesies Eimeria dan jika memungkinkan, ke depannya kami akan mengembangkan multiplex PCR dengan menggabungkan berbagai jenis primer DNA spesies Eimeria. Jadi, tidak perlu lagi melakukan PCR untuk masingmasing spesies. Satu sampel hanya butuh 3-4 kali PCR saja, kita sudah dapat mengetahui 8 spesies yang berpotensi menyebar di suatu peternakan ayam, sehingga hemat waktu, lebih murah dan strategi pengendalian di lapang dapat ditentukan dengan lebih tepat,” jelasnya. Melihat kasus parasit yang masih sering terjadi di Indonesia, proses pembersihan kandang dalam istirahat kandang, kontrol vektor, serta penggunaan antiparasit atau anthelmentik yang sesuai dengan kebutuhan merupakan solusi yang dapat dilakukan untuk menekan populasi vektor pembawa parasit yang kemudian juga menekan kasus parasit. Penelitian lebih lanjut mengenai antiparasit berbahan dasar herbal serta deteksi spesies Eimeria yang terdistribusi juga dibutuhkan untuk bisa menekan kejadian parasit di peternakan unggas dan demi pengobatan yang lebih efisien guna produktivitas serta keuntungan yang lebih baik lagi. Diana Artemisinin berpotensi sebagai herbal antiparasit yang aman sumber instagram kebun_yan Ragam jenis sediaan anti parasit untuk kemudahan peternak dalam memberikan penanganan terbaik pada kasus parasit.


38 u Edisi Maret 2023 Ajang Silaturahmi Insan Perunggasan Nasional, Smiling Golf Tournament Sukses Digelar PERISTIWA Sebagai ajang pertemuan para stakeholder, supporting company, dan tokoh-tokoh pelaku bisnis perunggasan nasional, Smiling Golf Tournament sukses terselenggara pada Rabu (15/2) di Permata Sentul Golf, Bogor. Dalam acara yang diikuti oleh 109 orang peserta ini, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara. Tampak tergambar jelas antusiasme dan kemeriahan tournament yang dimulai sejak pukul 7 pagi hingga sekitar 1 siang. Selain memperebutkan beberapa kategori kejuaraan golf, dalam acara ini juga dibagikan berbagai macam doorprize menarik yang telah disiapkan oleh CPI dan beberapa supporting acara, antara lain PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT Farmsco Feed Indonesia, PT Napindo Media Ashatama, PT Cita Indonesia dan PT Ceva Animal Health Indonesia. Dalam sambutannya Agoes Haryoko selaku Ketua Panitia Smiling Golf Tournament mengucapkan rasa terima kasihnya kepada semua peserta yang telah hadir untuk memeriahkan acara Smiling Golf Tournament ini. Agoes menambahkan bahwa Smiling Golf pertama kali lahir pada tanggal 29 Agustus 2013, sebagai Ketuanya adalah Bapak Achmad Dawami dan wakilnya Bapak Ardiansyah Gunawan. Seiring perkembangannya, Smiling Golf terus berkembang dan bergabung dengan komunitas golf dari Priangan Timur. “Di umur Smiling Golf yang hampir 10 tahun ini, saya sangat senang melihat perkembangan dan antusias yang ada, Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, mitra CPI, pimpinan perusahaan yang berkenan hadir, kolega dan supporting acara. Semoga kedepan acara Smiling Golf bisa berlangsung lebih meriah lagi,” ujarnya. Sementara itu Achmad Dawami selaku Ketua Smiling Golf menyampaikan bahwa acara ini menjadi sebuah kehormatan dan sesuatu yang sangat membanggakan bagi Smiling Golf. Pasalnya semakin lama peserta dari Smiling Golf Tournament ini semakin banyak. Dirinya mengaku tidak tahu apa penyebabnya, tapi kelihatan bahwa Smiling Golf ini semakin kompak. “Memang awalnya dari para peternak ayam namun akhirnya terus membesar hingga seluruh pengguna ayam gabung ke komunitas ini. Saya yakin semua yang ada disini adalah pemakan ayam. Maka dari itu ayo tingkatkan konsumsi ayam sebanyak mungkin. Selain itu terima kasih untuk semua pihak yang turut serta memeriahkan acara ini, dan yang paling utama bagi sponsor utama Smiling Golf tahun ini yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Untuk para peserta saya berharap selalu menjunjung tinggi sportivitas serta tak lupa selamat bagi para pemenang dan penerima hadiah,” ungkap Dawami. Mewakili tuan rumah Smiling Golf, Suparman Sastrodimedjo selaku Komisaris Independen PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, menyampaikan rasa terima kasih kepada Komunitas Smiling Golf yang telah memberikan kesempatan pada CPI untuk dapat menjadi sponsor utama dalam acara Smiling Golf Tournament kali ini. Semoga pertemuan seperti ini dapat menjadi ajang silaturahmi positif bagi seluruh insan perunggasan nasional, baik peternak, perusahaan hingga seluruh penikmat produk ayam. “Dengan diikuti oleh 109 peseta, menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun insan perunggasan ini semakin berkembang dan guyub. Mudah-mudahan dengan pertemuan semacam ini, masalah perunggasan yang selalu kita hadapi bisa kita pecahkan bersama dengan koordinasi dan kekeluargaan. Mari kita bicara untuk memecahkan permasalahan yang ada. Kita tahu, semua dalam keadaan prihatin, terutama sejak pandemi melanda yang diikuti dengan sederet permasalahan di bisnis perunggasan. Baik peternak maupun perusahaan semua terkena dampak nyatanya. Mudah-mudahan kedepan suasana semakin baik, dan ajang silaturahmi ini dapat menjadi media berdiskusi untuk mencari solusi permasalahan perunggasan, serta semoga kita semua bisa sejahtera bersama,” harap Suparman. Sandi


Edisi Maret 2023 u 39 Tingkatkan Kecernaan Protein Pakan, Kemin Indonesia Meluncurkan KEMZYMETM Protease Pakan menjadi faktor penting dalam sebuah usaha peternakan. Selain berpengaruh langsung terhadap performa produksi, pakan juga menjadi indikator terbesar dalam biaya usaha. Terlebih dengan ketersediaan, kualitas, dan harga bahan pakan (raw material) global yang tidak menentu seperti saat ini. Untuk itu, upaya peningkatan kecernaan nutrisi pakan pada ternak menjadi sebuah hal yang vital. Atas latar belakang tersebut, PT Kemin Indonesia dan PT Satwa Jawa Jaya resmi meluncurkan sebuah produk bernama “KEMZYMETM Protease” yang dilaksanakan di Pullman Ciawi, Bogor, Kamis (23/2). Dalam sambutannya, Hartono Sunardi, Country President of Kemin Indonesia menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada seluruh customer yang telah hadir dan dirinya berharap, produk yang diperkenalkan oleh pihaknya ini dapat menginspirasi dan menjawab tantangan persoalan pakan di lapangan. “Topik yang dibicarakan pada launching ini sangat relevan dengan dinamika industri pakan saat ini. Bagaimana gejolak bahan baku yang tren harganya terus naik menjadi tantangan yang harus dihadapi,” jelasnya. Hal senada disampaikan oleh Harn Ying Cheo, selaku Market Analyst Kemin Animal Nutrition, Asia Pasific. Dalam materinya, Harn menjelaskan bahwa pada beberapa waktu kebelakang pasar raw material pakan global telah mengalami volatilitas yang luar biasa. Meningkatkan kecernaan protein pakan Innovation Project Leader Kemin Animal Nutrition and Health, Dr. Alexandra Wealleans banyak menjelaskan terkait efisiensi formulasi pakan rendah biaya yang membuat performa ternak meningkat dengan penggunaan multi-protease. Pasalnya Alexandra melihat bahwa saat ini masih banyak protein pakan yang tidak mampu dicerna secara maksimal (undigested protein) oleh ternak. Hal ini tentu akan memakan biaya yang cukup tinggi, sehingga diperlukan penambahan enzim terutama protease dalam formulasi pakan. Lebih lanjut, dalam hal ini Alexandra merekomendasikan KEMZYMETM Protease sebagai solusi multi-protease yang dilengkapi dengan teknologi target rilis yang tepat sasaran. Selain itu, produk ini juga mempunyai kompatibilitas bahan spektrum yang luas, stabil pada asam lambung, suhu panas, serta pelepasan asam amino yang lebih baik di seluruh saluran pencernaan. Sementara itu, Dr. Alex Wu selaku Associate Platform Manager Kemin Animal Nutrition, Asia Pasific menambahkan bahwa apabila dilihat dari kandungannya, protein merupakan salah satu komponen yang mahal dalam susunan formulasi pakan. “Untuk itu, upaya peningkatan kecernaan protein menjadi strategi penting dalam pemanfaatan pakan, penghematan biaya serta mengurangi ekskresi nitrogen,” tegasnya. Dimana dirinya memberikan solusi melalui penggunaan KEMZYMETM Protease yang merupakan multi-protease berlapis, campuran dari asam termostabil, protease basa dan netral, yang meningkatkan pencernaan protein pada berbagai tingkat pH saluran pencernaan dan direkayasa agar mampu melepaskan protease di berbagai lokasi usus, sehingga mampu meningkatkan kecernaan protein dan asam amino. Kemudian terkait keuntungan produk, Dr. Alex de Leon selaku Head of Technical Services Kemin Asia Pasific menjelaskan bahwa penggunaan KEMZYMETM Protease dalam pakan berbahan dasar jagung dan kedelai dapat meningkatkan ketersediaan asam amino apabila dibandingkan protease tunggal. “Pada percobaan yang telah dilakukan, pemberian KEMZYMETM Protease dalam formulasi pakan broiler dapat meningkatkan kecernaan asam amino sebesar 3-4%, dan mengurangi ekskresi N pada kotoran sebesar 1 g/hari, dan ekskresi N urine sebesar 1,8 g/hari. Dan untuk mengetahui aplikasi dan nilai matriks yang ideal, silakan menghubungi tim Kemin,” jelasnya. Masih dalam acara yang sama, turut hadir Angeline Gue selaku Senior Customer Laboratory Services (CLS) Associate Kemin Industries (Asia) Pte Ltd menyampaikan bahwa enzim eksogen sangat umum digunakan di industri untuk meningkatkan nilai gizi dari bahan pakan dengan perbaikan daya cerna. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam pemberian enzim pada pakan, maka sangat penting untuk memiliki sistem evaluasi dan pengujian di laboratorium. Setelah sesi diskusi selesai, Hartono Sunardi, Country President of Kemin Indonesia bersama dengan Gerald Girindrawardhana, National Sales Manager PT Satwa Jawa Jaya secara resmi meluncurkan produk KEMZYMETM Protease di Indonesia. Harapannya produk ini dapat menjawab tantangan peningkatan kecernaan protein pakan pada ternak. Adv Hartono Sunardi Harn Ying Cheo Alexandra Wealleans Alex Wu Alex de Leon Angeline Gue


Peringatan Hari Gizi Nasional tahun 2023 mengangkat tema “Protein Hewani Cegah Stunting”. Tema tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus stunting yang terjadi pada anak akibat berbagai faktor, termasuk kurangnya asupan protein hewani. Melihat hal tersebut, Indonesia Livestock Alliance (ILA) menggelar sebuah seminar daring dengan tema “Catatan Awal Tahun Perunggasan 2023” melalui aplikasi Zoom, Minggu (19/2). Guru Besar Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Prof Ali Agus dalam materinya menggambarkan beberapa persoalan yang berulang kali menimpa dunia perunggasan nasional, terutama broiler. Seperti halnya fluktuasi harga livebird (LB) yang berkepanjangan sehingga membuat para pelaku usaha mengalami kerugian. Hal ini pun menimbulkan pertanyaan terkait keseimbangan supply-demand daging broiler (oversupply). “Di sisi lain kita juga harus mengakui bahwa secara global, daya saing perunggasan kita lemah. Yang mana dari input produksi utama kita masih harus impor serta dari sisi budi daya masih didominasi oleh kandang konvensional. Selain itu dari sisi hilir, preferensi konsumen masih ke hot carcass dan rantai pasok dingin juga belum berkembang dengan baik,” jelasnya. Dari berbagai persoalan tersebut, Ali menyarankan agar pemerintah dapat mengambil kebijakan berbasis data hasil kajian dan penelitian yang profesional, independen, dan sinergi multi stakeholders. Kemudian perlu adanya peta jalan pembangunan future broiler industry yang disusun melalui asumsi dasar konsumsi, produksi, local, SDM, teknologi dan pasar yang akurat. Selain itu perlu adanya insentif dan desinsentif bagi pelaku usaha yang loyal and comply dengan kebijakan pemerintah. “Perlu adanya dorongan pasar ekspor bagi pelaku usaha skala besar dengan berbagai insentif yang menarik seperti tax holiday. Dan untuk para pelaku usaha, juga perlu adanya dorongan akselerasi adopsi teknologi manajemen broiler modern serta pengembangan cold chain produk broiler seperti RPHU, cold storage dan infrastruktur logistik,” tegas Ali. Sandi 40 u Edisi Maret 2023 Gambaran Awal Tahun Dunia Perunggasan PERISTIWA Ali Agus Saat ini tantangan yang dihadapi oleh pelaku industri peternakan terkhusus untuk para penyedia bahan aditif pakan adalah bagaimana produk tersebut memiliki standar kualitas internasional dan dapat memberikan nilai tambah pada kesehatan dan produktivitas hewan. Maka dari itu, banyak dari perusahaan melakukan inovasi untuk dapat menjawab tantangan tersebut supaya produk yang dihasilkan dan dikonsumsi merupakan produk yang aman dan memiliki jaminan terkait dengan keamanan dari bahan baku yang diproduksi. Melihat hal tersebut, Trouw terus mengembangkan lini produknya untuk tetap relevan di market dan memberikan jawaban dari tantangan yang dihadapi. Trouw berkomitmen untuk selalu memberikan jaminan keamanan dan kualitas dalam setiap produk yang dipasarkan termasuk dengan produk Selko. Untuk itu, Trouw memiliki program Nutrace untuk menjaga keamanan dan ketertelusuran produk yang dihasilkan secara global. Dengan program Nutrace, Trouw melakukan pengawasan dan seleksi yang ketat mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengiriman ke konsumen. Pada kegiatan media briefing yang diadakan di kantor Trouw Jumat, (24/02) di Jakarta Selatan, Yana Ariana, Perlunya Inovasi untuk Atasi Tantangan Lapangan sebagai Feed Additive & Animal Health Director PT Trouw Nutrition Indonesia mengatakan bahwa perusahaanny menghadirkan Selko® sebagai aditif pakan yang memiliki pabrik di Tiburg, Belanda sejak tahun 1983. Selanjutnya Selko® mengembangkan sayapnya di A.S dengan mengakuisisi Micronutrient pada tahun 2004 dan pada tahun 2022 seluruh lini bisnis feed additive di Nutreco menggunakan merek Selko®. “Di Indonesia sendiri, lini bisnis aditif pakan Trouw telah mengalami perkembangan pesat sejak hadir di tahun 2016, dapat dilihat pertumbuhan volume pada tahun 2022 yang mencapai 54% dibanding tahun 2021. Pada tahun 2023 berambisi menargetkan pertumbuhan sebanyak 56% dibanding tahun 2022,” papar yana. PI


Peringatan Hari Gizi Nasional tahun 2023 mengangkat tema “Protein Hewani Cegah Stunting”. Tema tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus stunting yang terjadi pada anak akibat berbagai faktor, termasuk kurangnya asupan protein hewani. Melihat hal tersebut, Indonesia Livestock Alliance (ILA) menggelar sebuah seminar daring dengan tema “Catatan Awal Tahun Perunggasan 2023” melalui aplikasi Zoom, Minggu (19/2). Guru Besar Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Prof Ali Agus dalam materinya menggambarkan beberapa persoalan yang berulang kali menimpa dunia perunggasan nasional, terutama broiler. Seperti halnya fluktuasi harga livebird (LB) yang berkepanjangan sehingga membuat para pelaku usaha mengalami kerugian. Hal ini pun menimbulkan pertanyaan terkait keseimbangan supply-demand daging broiler (oversupply). “Di sisi lain kita juga harus mengakui bahwa secara global, daya saing perunggasan kita lemah. Yang mana dari input produksi utama kita masih harus impor serta dari sisi budi daya masih didominasi oleh kandang konvensional. Selain itu dari sisi hilir, preferensi konsumen masih ke hot carcass dan rantai pasok dingin juga belum berkembang dengan baik,” jelasnya. Dari berbagai persoalan tersebut, Ali menyarankan agar pemerintah dapat mengambil kebijakan berbasis data hasil kajian dan penelitian yang profesional, independen, dan sinergi multi stakeholders. Kemudian perlu adanya peta jalan pembangunan future broiler industry yang disusun melalui asumsi dasar konsumsi, produksi, local, SDM, teknologi dan pasar yang akurat. Selain itu perlu adanya insentif dan desinsentif bagi pelaku usaha yang loyal and comply dengan kebijakan pemerintah. “Perlu adanya dorongan pasar ekspor bagi pelaku usaha skala besar dengan berbagai insentif yang menarik seperti tax holiday. Dan untuk para pelaku usaha, juga perlu adanya dorongan akselerasi adopsi teknologi manajemen broiler modern serta pengembangan cold chain produk broiler seperti RPHU, cold storage dan infrastruktur logistik,” tegas Ali. Sandi 40 u Edisi Maret 2023 Gambaran Awal Tahun Dunia Perunggasan PERISTIWA Ali Agus Saat ini tantangan yang dihadapi oleh pelaku industri peternakan terkhusus untuk para penyedia bahan aditif pakan adalah bagaimana produk tersebut memiliki standar kualitas internasional dan dapat memberikan nilai tambah pada kesehatan dan produktivitas hewan. Maka dari itu, banyak dari perusahaan melakukan inovasi untuk dapat menjawab tantangan tersebut supaya produk yang dihasilkan dan dikonsumsi merupakan produk yang aman dan memiliki jaminan terkait dengan keamanan dari bahan baku yang diproduksi. Melihat hal tersebut, Trouw terus mengembangkan lini produknya untuk tetap relevan di market dan memberikan jawaban dari tantangan yang dihadapi. Trouw berkomitmen untuk selalu memberikan jaminan keamanan dan kualitas dalam setiap produk yang dipasarkan termasuk dengan produk Selko. Untuk itu, Trouw memiliki program Nutrace untuk menjaga keamanan dan ketertelusuran produk yang dihasilkan secara global. Dengan program Nutrace, Trouw melakukan pengawasan dan seleksi yang ketat mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengiriman ke konsumen. Pada kegiatan media briefing yang diadakan di kantor Trouw Jumat, (24/02) di Jakarta Selatan, Yana Ariana, Perlunya Inovasi untuk Atasi Tantangan Lapangan sebagai Feed Additive & Animal Health Director PT Trouw Nutrition Indonesia mengatakan bahwa perusahaanny menghadirkan Selko® sebagai aditif pakan yang memiliki pabrik di Tiburg, Belanda sejak tahun 1983. Selanjutnya Selko® mengembangkan sayapnya di A.S dengan mengakuisisi Micronutrient pada tahun 2004 dan pada tahun 2022 seluruh lini bisnis feed additive di Nutreco menggunakan merek Selko®. “Di Indonesia sendiri, lini bisnis aditif pakan Trouw telah mengalami perkembangan pesat sejak hadir di tahun 2016, dapat dilihat pertumbuhan volume pada tahun 2022 yang mencapai 54% dibanding tahun 2021. Pada tahun 2023 berambisi menargetkan pertumbuhan sebanyak 56% dibanding tahun 2022,” papar yana. PI Untuk pertama kalinya, salah satu peternakan di Indonesia baru saja mendapatkan sertifikasi Certified Humane® dari Humane Farm Animal Care (HFAC) program sertifikasi nirlaba internasional terkemuka yang memiliki misi untuk meningkatkan kehidupan hewan yang diternakkan dalam produksi makanan. Peternakan Ayam Bahagia, yang berlokasi di Yogyakarta yang melakukan budi daya ayam petelur dengan sistem free range, sehingga memungkinkan mereka untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Sebelum mendapatkan sertifikasi ini, Ayam Bahagia kerap kali berkolaborasi di banyak kesempatan dan acara yang berkaitan dengan isu kesejahteraan satwa, khususnya cage free, dengan Animal Friends Jogja (AFJ) sebuah organisasi non-profit berbasis di Yogyakarta, Indonesia, yang telah lama sangat vokal mengenai isu cage free di Indonesia dan Global Food Partners (GFP) perusahaan konsultan rantai pasokan yang berbasis di Singapura yang menginisiasi pusat pelatihan cage free pertama di Indonesia dan Asia, bersama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Aeres University of Applied Science, Belanda. Ayam Bahagia termasuk dalam deretan produsen dan peternakan terbaru yang bergabung dalam program Certified Humane®, yang mengharuskan para peternak untuk mengikuti Standar Perawatan Hewan HFAC dan menjalani inspeksi dari pihak ketiga untuk mengonfirmasi kepatuhan bagi konsumen. Standar Perawatan Hewan HFAC antara lain mensyaratkan: u Hewan-hewan yang diternakkan untuk diberi makan makanan bernutrisi tanpa antibiotik, pemacu pertumbuhan dan produk olahan hewan. u Mendapatkan tempat berlindung yang memadai, tempat beristirahat, dan ruang yang cukup untuk mendukung perilaku alami. u Memiliki akses ke tempat membuang kotoran, tempat bertengger, dan kotak untuk bersarang, yang mendorong para ayam untuk mandi debu, mencari perlindungan, dan bertelur dengan layak. Sama seperti hewan lainnya, hewan-hewan yang diternakkan, termasuk ayam, pantas terpenuhi kebutuhan emosional dan fisiknya dan dibesarkan dengan cara yang memungkinkan mereka untuk mengekspresikan perilaku alami dalam hidupnya. HFAC bekerja untuk meningkatkan kehidupan para hewan yang diternakkan dengan mendorong permintaan konsumen untuk praktikpraktik peternakan yang lebih welas asih dan bertanggungjawab. “Dengan label Certified Humane® pada kemasan produk hewani, konsumen di Indonesia akhirnya memiliki pilihan, dan membeli produk-produk dari peternakan yang peduli tentang bagaimana hewan-hewan di dalamnya dibesarkan,” ungkap Luiz Mazzon, Direktur HFAC yang bertanggungjawab di wilayah regional. “Dengan tim baru pengawas lokal, kami mampu melaksanakan inspeksi di berbagai peternakan di Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, Vietnam, dan negara-negara sekitarnya,” lanjut Luiz. Produk dengan label Certified Humane® akan menjadi incaran bagi perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia yang telah berkomitmen secara global untuk hanya memasok produk telur dari peternakan bebas kandang baterai. Produk-produk Certified Humane® saat ini tersedia di 55,000 toko di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Chili, Tiongkok, Kolombia, India, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Vietnam, dan saat ini Indonesia. Sejak HFAC diluncurkan pada Mei 2003, lebih dari 200 perusahaan yang mewakili 6,000 peternakan dan 2 miliar hewan yang diternakkan telah bergabung dalam program ini. Didukung oleh lebih dari 70 organisasi pemerhati kesejahteraan hewan, program Certified Humane® diketahui secara luas untuk memberi sertifikasi pada kesejahteraan hewan, dari lahir hingga pemotongan. Adv Untuk informasi lebih lanjut mengenai HFAC dan label Certified Humane®, kunjungi : www.certifiedhumane.org Kontak: Asia Tenggara: Luiz Mazzon, Direktur HFAC, [email protected] +55-48-99156-3208 USA: Mimi Stein, Executive Director, [email protected] +1-703-435- 3883 Permintaan Konsumen Mendorong Label Certified Humane® Pertama untuk Produk Ayam dan Telur di Indonesia Dalam sistem cage-free, ayam dapat mengekspresikan perilaku alaminya dan bergerak bebas. Penyerahan sertifikasi Certified Humane® untuk Peternakan Ayam Bahagia.


Suksesnya kegiatan budi daya broiler tidak terlepas dari manajemen pemeliharaan yang dilakukan oleh para peternak. Saat ini, genetik broiler telah mengalami perkembangan secara terusmenerus, yang juga membawa tuntutan dari segi perkandangan. Hal ini mengemuka pada acara Poultry Indonesia Forum yang ke-26 dengan tema “Inovasi Terkini Perkandangan Broiler Modern”, yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (22/2). Dalam materinya, Gondo selaku Sales Manager PT Ansell Jaya Indonesia menceritakan terkait kondisi perkandangan broiler yang semakin berkembang. Setelah munculnya sistem kandang closed house, teknologi konsep dan peralatan kandang broiler semakin inovatif. Salah satunya adalah konsep broiler elevated dengan penampilan 2 lantai. Lantai dasar menjadi tempat feses ayam, sedangkan lantai kedua adalah tempat budi daya ayam yang menggunakan alas berupa slat. Dengan ini, maka ayam tidak bersentuhan langsung dengan fesesnya dan lebih mudah dalam membersihkan kandang. “Saat ini ketersediaan sekam itu tidak mudah dan bersaing dengan industri lain. Salah satu inovasi yang keluar adalah slat broiler. Alat tersebut sangat membantu peternak karena dari ayam umur 1 hari tidak perlu menggunakan sekam. Tinggi broiler slat ini 20 cm, sehingga feses ayam itu akan langsung turun ke bawah. Kelebihannya karena tidak perlu memakai sekam, maka kandang akan menjadi lebih bersih dan ayam lebih sehat,” papar Gondo. Sistem kandang broiler, lanjut Gondo, terdapat inovasi baru yang disebut dengan “closed broiler cage”. Berdasarkan metode panennya, closed broiler cage terdapat 2 macam yakni panen manual dan otomatis. Sistem tersebut hampir serupa dengan kandang peternakan ayam petelur, namun penggunaan closed broiler cage terdapat peralatan yang sedikit berbeda. Ia meyakini bahwa sistem closed broiler cage memiliki hasil produksi yang lebih optimal dibandingkan sistem closed broiler flooring. “Benefit dari inovasi closed broiler cage adalah kapasitas per meter persegi bertambah 66,3% dari closed flooring system. Kalau asumsi closed broiler flooring dapat menampung 15 ekor ayam dengan total bobot panen 30kg/m2, maka di closed broiler cage mampu mencapai total bobot panen 50kg/m2 karena mampu menampung ayam lebih banyak,” lanjutnya. Kemudian, pemaparan dilanjutkan oleh Didik Kusmanto selaku Senior Engine Consultant PT Kubota Indonesia. Dalam kesempatannya, Didik membawa materi mengenai penggunaan sumber energi alternatif pada kandang broiler dengan menggunakan mesin diesel. Menurutnya, sering ditemui di peternak terkait kematian ayam yang disebabkan oleh faktor kelistrikan. Hal ini lantaran risiko listrik kerap mati akibat cuaca yang tidak dapat diprediksi. “Inovasi penggunaan mesin diesel pada kandang broiler berasal dari survei yang kita lakukan kepada peternak. Di kandang closed house sering terjadi kasus voltase listrik naik-turun, yang menyebabkan blower tidak dapat bergerak,” ucap Didik. Menyadari bahwa mesin diesel tidak dapat intermiten secara otomatis, maka ia merekomendasikan peternak untuk menggunakan energi kombinasi antara listrik dan mesin diesel. Sebab, biaya investasi dan operasional akan lebih murah, serta memiliki risiko lebih rendah khususnya dibanding arus single phase. Disamping itu, peralatan kandang dapat berjalan intermiten secara otomatis. Masih dalam acara yang sama, Prastyo Ruandhito, selaku Chief Executive Officer BroilerX menerangkan mengenai penerapan teknologi digital dalam budi daya broiler. Dirinya mengatakan sebagai modernisasi di sektor budi daya broiler, pemanfaatan teknologi digital menjadi penting. Pasalnya, teknologi digital berperan untuk memudahkan peternak dalam mengambil keputusan yang berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Sebab data yang diperoleh di kandang akan langsung tercatat dan disimpan di cloud server, serta peternak mendapatkan early warning system melalui perangkat yang tersambung ketika ada kendala di kandang. “Melalui teknologi IoT (Internet of Things), kita bisa memantau kondisi kandang dari kapan dan dimana saja peternak berada. Kita bisa memantau mulai dari suhu kandang, kelembapan, amonia, kecepatan angin, konsumsi air, kemudian terdapat kontrol otomatis terhadap kecepatan kipas, pemanas, dan inlet. Melalui sistem ini, akan ada notifikasi muncul di layer handphone yang tersambung apabila terdapat kondisi kandang yang tidak ideal,” terang Prastyo. Yoga PERISTIWA Inovasi Perkandangan untuk Efisiensi Budi Daya Broiler Gondo Didik Kusmanto Prastyo Ruandhito 42 u Edisi Maret 2023


Suksesnya kegiatan budi daya broiler tidak terlepas dari manajemen pemeliharaan yang dilakukan oleh para peternak. Saat ini, genetik broiler telah mengalami perkembangan secara terusmenerus, yang juga membawa tuntutan dari segi perkandangan. Hal ini mengemuka pada acara Poultry Indonesia Forum yang ke-26 dengan tema “Inovasi Terkini Perkandangan Broiler Modern”, yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (22/2). Dalam materinya, Gondo selaku Sales Manager PT Ansell Jaya Indonesia menceritakan terkait kondisi perkandangan broiler yang semakin berkembang. Setelah munculnya sistem kandang closed house, teknologi konsep dan peralatan kandang broiler semakin inovatif. Salah satunya adalah konsep broiler elevated dengan penampilan 2 lantai. Lantai dasar menjadi tempat feses ayam, sedangkan lantai kedua adalah tempat budi daya ayam yang menggunakan alas berupa slat. Dengan ini, maka ayam tidak bersentuhan langsung dengan fesesnya dan lebih mudah dalam membersihkan kandang. “Saat ini ketersediaan sekam itu tidak mudah dan bersaing dengan industri lain. Salah satu inovasi yang keluar adalah slat broiler. Alat tersebut sangat membantu peternak karena dari ayam umur 1 hari tidak perlu menggunakan sekam. Tinggi broiler slat ini 20 cm, sehingga feses ayam itu akan langsung turun ke bawah. Kelebihannya karena tidak perlu memakai sekam, maka kandang akan menjadi lebih bersih dan ayam lebih sehat,” papar Gondo. Sistem kandang broiler, lanjut Gondo, terdapat inovasi baru yang disebut dengan “closed broiler cage”. Berdasarkan metode panennya, closed broiler cage terdapat 2 macam yakni panen manual dan otomatis. Sistem tersebut hampir serupa dengan kandang peternakan ayam petelur, namun penggunaan closed broiler cage terdapat peralatan yang sedikit berbeda. Ia meyakini bahwa sistem closed broiler cage memiliki hasil produksi yang lebih optimal dibandingkan sistem closed broiler flooring. “Benefit dari inovasi closed broiler cage adalah kapasitas per meter persegi bertambah 66,3% dari closed flooring system. Kalau asumsi closed broiler flooring dapat menampung 15 ekor ayam dengan total bobot panen 30kg/m2, maka di closed broiler cage mampu mencapai total bobot panen 50kg/m2 karena mampu menampung ayam lebih banyak,” lanjutnya. Kemudian, pemaparan dilanjutkan oleh Didik Kusmanto selaku Senior Engine Consultant PT Kubota Indonesia. Dalam kesempatannya, Didik membawa materi mengenai penggunaan sumber energi alternatif pada kandang broiler dengan menggunakan mesin diesel. Menurutnya, sering ditemui di peternak terkait kematian ayam yang disebabkan oleh faktor kelistrikan. Hal ini lantaran risiko listrik kerap mati akibat cuaca yang tidak dapat diprediksi. “Inovasi penggunaan mesin diesel pada kandang broiler berasal dari survei yang kita lakukan kepada peternak. Di kandang closed house sering terjadi kasus voltase listrik naik-turun, yang menyebabkan blower tidak dapat bergerak,” ucap Didik. Menyadari bahwa mesin diesel tidak dapat intermiten secara otomatis, maka ia merekomendasikan peternak untuk menggunakan energi kombinasi antara listrik dan mesin diesel. Sebab, biaya investasi dan operasional akan lebih murah, serta memiliki risiko lebih rendah khususnya dibanding arus single phase. Disamping itu, peralatan kandang dapat berjalan intermiten secara otomatis. Masih dalam acara yang sama, Prastyo Ruandhito, selaku Chief Executive Officer BroilerX menerangkan mengenai penerapan teknologi digital dalam budi daya broiler. Dirinya mengatakan sebagai modernisasi di sektor budi daya broiler, pemanfaatan teknologi digital menjadi penting. Pasalnya, teknologi digital berperan untuk memudahkan peternak dalam mengambil keputusan yang berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Sebab data yang diperoleh di kandang akan langsung tercatat dan disimpan di cloud server, serta peternak mendapatkan early warning system melalui perangkat yang tersambung ketika ada kendala di kandang. “Melalui teknologi IoT (Internet of Things), kita bisa memantau kondisi kandang dari kapan dan dimana saja peternak berada. Kita bisa memantau mulai dari suhu kandang, kelembapan, amonia, kecepatan angin, konsumsi air, kemudian terdapat kontrol otomatis terhadap kecepatan kipas, pemanas, dan inlet. Melalui sistem ini, akan ada notifikasi muncul di layer handphone yang tersambung apabila terdapat kondisi kandang yang tidak ideal,” terang Prastyo. Yoga PERISTIWA Inovasi Perkandangan untuk Efisiensi Budi Daya Broiler Gondo Didik Kusmanto Prastyo Ruandhito 42 u Edisi Maret 2023


44 u Edisi Maret 2023 PERISTIWA Sekretariat Bersama (Sekber) Asosiasi Peternak Ayam Broiler yang terdiri dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia, Garda Organisasai Peternakan Ayam Nasional (GOPAN), dan Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) menggelar acara Temu Akbar Peternak bertajuk “50 tahun Eksistensi Peternak Broiler 1973-2023” di Gedung Graha Saba Buana, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (23/2). Acara yang bertema “Perlindungan Hak Usaha & Pemberdayaan Peternak Indonesia” ini dihadiri oleh para peternak broiler dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Lampung hingga Sulawesi. Menurut Sugeng Wahyudi selaku Sekretaris GOPAN menyampaikan bahwa saat ini industri perunggasan nasional sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu peternak berkumpul untuk berkonsolidasi membangun soliditas dan sinergisitas antar peternak, pelaku usaha dan pemangku kebijakan. Dirinya berpesan agar peternak dapat mengabaikan egosektoral, agar eksistensi peternak mandiri UMKM bisa bertahan dari kondisi bisnis yang tidak menguntungkan. “Disini kami menegaskan bahwa para peternak UMKM masih mampu berdiri dan eksis di tengah kondisi industrialisasi perunggasan yang kian beragam. Kita telah merasakan manis, pahit, asam dan asin perjuangan untuk bisa bertahan, hanya satu kata yang bisa menyelamatkan kita yaitu kerjasama. Tentu dalam industri ini ini semua harus taat dan patuh pada aturan yang ada,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Pusat Temu Akbar Peternak ini. PI Setengah Abad Eksis, Peternak Minta Perlindungan dan Pemberdayaan Usaha Soybean meal atau biasa disebut dengan bungkil kedelai menjadi salah satu bahan pakan yang krusial. Pasalnya, bungkil kedelai menyumbang porsi 23-30% dalam total formulasi pakan unggas. Ditambah, hampir sepenuhnya kebutuhan bungkil kedelai nasional diperolah melalui impor. Hal tersebut menuntut para negara produsen bungkil kedelai untuk memberikan jaminan kualitas dengan harga yang tetap kompetitif kepada industri pakan nasional. Berangkat dari hal tersebut, Northern Soy Marketing (NSM) menyelenggarakan seminar yang bertajuk “Essential Amino Acids in Soybean Meal”. Seminar tersebut dilaksanakan di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Jakarta, Kamis (23/2). Turut hadir para pembicara yang ahli di bidangnya, Dr. Robert Swick sebagai Poultry Consultant, Seth Naeve selaku Associate Professor and Soybean Agronomist at the University of Minnesota, Mike McCranie selaku petani kedelai AS, dan Alfred Kompudu sebagai Animal Protein Technical Consultant. Dalam sambutannya, sebagai Project Manager NSM, Katelyn Engquist memperkenalkan NSM lebih dalam. Ia mengatakan bahwa NSM merupakan kolaborasi para tokoh petani yang berada di 5 negara bagian utara AS (Midwest Region) yaitu Minnesota, Nebraska, Dakota Utara, Dakota Selatan, dan Wisconsin. Pada tugasnya, NSM bertanggungjawab dalam mempromosikan kualitas, konsisten, dan keunggalan kedelai dan bungkil kedelai yang ditanam di negara bagian utara AS. “Saat ini, ada lebih banyak permintaan minyak kedelai di AS untuk membuat energi yang berkelanjutan yaitu biodiesel. Produk sampingan dari minyak kedelai tersebut adalah bungkil kedelai. Artinya, AS akan memiliki sediaan bungkil kedelai yang lebih banyak untuk diekspor. Salah satu tujuan ekspor kami adalah Indonesia,” terangnya. Yoga Mengenal Bungkil Kedelai Produksi Negara Bagian Utara AS


44 u Edisi Maret 2023 PERISTIWA Sekretariat Bersama (Sekber) Asosiasi Peternak Ayam Broiler yang terdiri dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia, Garda Organisasai Peternakan Ayam Nasional (GOPAN), dan Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) menggelar acara Temu Akbar Peternak bertajuk “50 tahun Eksistensi Peternak Broiler 1973-2023” di Gedung Graha Saba Buana, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (23/2). Acara yang bertema “Perlindungan Hak Usaha & Pemberdayaan Peternak Indonesia” ini dihadiri oleh para peternak broiler dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Lampung hingga Sulawesi. Menurut Sugeng Wahyudi selaku Sekretaris GOPAN menyampaikan bahwa saat ini industri perunggasan nasional sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu peternak berkumpul untuk berkonsolidasi membangun soliditas dan sinergisitas antar peternak, pelaku usaha dan pemangku kebijakan. Dirinya berpesan agar peternak dapat mengabaikan egosektoral, agar eksistensi peternak mandiri UMKM bisa bertahan dari kondisi bisnis yang tidak menguntungkan. “Disini kami menegaskan bahwa para peternak UMKM masih mampu berdiri dan eksis di tengah kondisi industrialisasi perunggasan yang kian beragam. Kita telah merasakan manis, pahit, asam dan asin perjuangan untuk bisa bertahan, hanya satu kata yang bisa menyelamatkan kita yaitu kerjasama. Tentu dalam industri ini ini semua harus taat dan patuh pada aturan yang ada,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Pusat Temu Akbar Peternak ini. PI Setengah Abad Eksis, Peternak Minta Perlindungan dan Pemberdayaan Usaha Soybean meal atau biasa disebut dengan bungkil kedelai menjadi salah satu bahan pakan yang krusial. Pasalnya, bungkil kedelai menyumbang porsi 23-30% dalam total formulasi pakan unggas. Ditambah, hampir sepenuhnya kebutuhan bungkil kedelai nasional diperolah melalui impor. Hal tersebut menuntut para negara produsen bungkil kedelai untuk memberikan jaminan kualitas dengan harga yang tetap kompetitif kepada industri pakan nasional. Berangkat dari hal tersebut, Northern Soy Marketing (NSM) menyelenggarakan seminar yang bertajuk “Essential Amino Acids in Soybean Meal”. Seminar tersebut dilaksanakan di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Jakarta, Kamis (23/2). Turut hadir para pembicara yang ahli di bidangnya, Dr. Robert Swick sebagai Poultry Consultant, Seth Naeve selaku Associate Professor and Soybean Agronomist at the University of Minnesota, Mike McCranie selaku petani kedelai AS, dan Alfred Kompudu sebagai Animal Protein Technical Consultant. Dalam sambutannya, sebagai Project Manager NSM, Katelyn Engquist memperkenalkan NSM lebih dalam. Ia mengatakan bahwa NSM merupakan kolaborasi para tokoh petani yang berada di 5 negara bagian utara AS (Midwest Region) yaitu Minnesota, Nebraska, Dakota Utara, Dakota Selatan, dan Wisconsin. Pada tugasnya, NSM bertanggungjawab dalam mempromosikan kualitas, konsisten, dan keunggalan kedelai dan bungkil kedelai yang ditanam di negara bagian utara AS. “Saat ini, ada lebih banyak permintaan minyak kedelai di AS untuk membuat energi yang berkelanjutan yaitu biodiesel. Produk sampingan dari minyak kedelai tersebut adalah bungkil kedelai. Artinya, AS akan memiliki sediaan bungkil kedelai yang lebih banyak untuk diekspor. Salah satu tujuan ekspor kami adalah Indonesia,” terangnya. Yoga Mengenal Bungkil Kedelai Produksi Negara Bagian Utara AS Kelembapan yang tinggi pada malam hari atau saat musim hujan menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam proses budi daya, tak terkecuali dalam kandang closed house. Pasalnya kadar kelembapan yang tinggi atau di atas 80% akan berakibat pada penurunan produksi. Hal ini diungkapkan oleh Sofin Faiz selaku General Manager Technical Grandparent Stock PT Janu Putra Abadi (PT JPA) dalam seminar daring yang mengangkat tema “Hal Penting Sebelum Upgrade Kandang Open House ke Closed House”, Selasa (21/2). Dirinya melihat persoalan kelembapan ini dapat disiasati dengan penerapan combi tunnel. Yang mana menurutnya combi tunnel merupakan sistem ventilasi gabungan dari tunnel system seperti yang sudah umum di Indonesia dengan ventilasi side inlet system. Sederhananya, apabila tunnel system berfokus pada kecepatan angina yang membuat wind chill effect untuk ayam, sedangkan side mode inlet ini berfungsi untuk sirkulasi udara. “Nah kedua sistem tersebut disatukan aplikasinya dan disebut combi tunnel. Ketika ayam pada siang hari, dan ayam membutuhkan suhu yang relatif dingin, tunnel system yang akan bekerja. Sebaliknya, ketika suhu di luar jauh lebih dingin dari suhu di dalam kandang saat itulah side mode bekerja, kondisi ini biasanya terjadi saat malam hari menuju pagi. Gambaran ventilasi side mode ini seperti saat masa brooding ya tidak butuh kipas yang banyak, hanya untuk sirkulasi udara saja,” pungkasnya. Yafi Para penerima beasiswa Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA) Batch 4 menghadiri acara Meet & Greet di Hotel Holiday Inn Kemayoran, Sabtu (4/3). Acara ini merupakan ajang bagi para peserta untuk berbagi pengalaman magang sekaligus berkumpulnya kembali peserta CPBSA Batch 4 yang sempat tertunda untuk pemberangkatan saat awal tahun 2020 lalu. Sebelumnya, telah terpilih sebanyak 24 mahasiswa yang berhasil melewati serangkaian tahapan untuk lolos sebagai penerima beasiswa CPBSA Batch 4. Mereka yang terpilih ini merupakan mahasiswa tingkat akhir dari beragam jurusan diantaranya peternakan, kedokteran hewan, agribisnis, teknologi pangan, teknik industri, teknik informatika, statistika, manajemen, serta mikrobiologi yang berasal dari 13 Universitas di tanah air antara lain; Universitas Andalas, Universitas Lampung, Institut Pertanian Bogor, Sekolah Vokasi – IPB, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sebelas Maret, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, Universitas Udayana serta Universitas Hasanuddin. Dalam kesempatan tersebut Tjiu Thomas Effendy, selaku Presiden Direktur PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. hadir dalam acara untuk memberikan welcoming speech kepada para peserta. Dirinya berharap setelah peserta selesai mengikuti masa magang dan Meet & Greet ini dapat seutuhnya menjadi ahli untuk terjun ke dunia kerja. "Kami harap CPBSA ini dapat menciptakan sarjana yang siap bekerja sehingga menciptakan tenaga yang profesional yang diimbangi dengan penerapan teknologi yang baik sehingga industri ini menjadi lebih efisien”, ujar Thomas. Turut hadir Elen Setiadi, S.H., M.S.E. selaku Staf Ahli Bidang Regulasi, Penegakkan Hukum, dan Ketahanan Ekonomi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang diundang secara khusus sebagai keynote speaker dan memberikan pembekalan dalam acara tersebut. Elen menyampaikan bahwa untuk menyongsong Indonesia emas Indonesia harus memiliki SDM yang unggul & kesiapan lapangan kerja. "Kesiapan lapangan kerja saat ini terlihat dari generasi muda yang memiliki usia produktif sebagian besar di generasi Z dan Millenial, dimana mereka adalah anak anak muda yang notabene sudah siap bekerja. Namun, untuk menciptakan lapangan kerja sendiri bukanlah suatu persoalan yang mudah, dimana angka pengangguran lebih banyak daripada yang bekerja,” ujar Elen. Sementara itu, Brigitta Claudia, salah satu awardee CPBSA Batch 4 dari jurusan Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung mengungkapkan antuasiasmenya dengan kelanjutan program CPBSA Batch 4 yang sempat tertunda keberangkatannya. “CPBSA ini adalah program magang yang paling bermanfaat, dimana dengan CPBSA saya banyak mendapatkan pelajaran dan sesuatu hal yang baru, terutama karena saya ditempatkan di sehingga saya menjadi lebih mengetahui bagaimana berjalannya RnD industrial dan saya dapat mengambil dampaknya secara nyata ketika lebih diperdalam,” ujar Claudia. Setelah kegiatan ini, nantinya para peserta diberangkatkan ke negara Thailand pada tanggal 5 – 10 Maret 2023 guna mengikuti studi banding dan mengunjungi pameran peternakan internasional VIV Asia 2023. PI Combi Tunnel untuk Mengatur Kondisi Suhu dalam Kandang Edisi Maret 2023 u 45 Meet & Greet CPBSA Batch 4, Peserta Sangat Antusias


46 u Edisi Maret 2023 PERISTIWA Mengangkat tentang isu kesejahteraan ayam petelur, Animal Friends Jojga (AFJ) menyeleggarakan AFJ F.A.I.R (Animal Friends Jogja - Farmed Animal Initiative Response) pada (25/2) di Yogyakarta. Acara ini direncanakan untuk menjadi acara tahunan, dimana AFJ F.A.I.R mengambil sebuah jargon yaitu Sedulur Care (Semua Dukung Telur Cage-Free) sebagai tema pertama di tahun 2023 ini. AFJ F.A.I.R menyuguhkan talkshow dengan tema “Peran Perusahaan dan Peternak Menuju Indonesia Bebas Kandang Baterai 2030” dan juga acara bazar yang diisi oleh berbagai tenants dari restoran-restoran yang telah berkomitmen menggunakan telur bebas kandang baterai dan restoran vegan, berbagai usaha yang berkelanjutan dan produk kreatif, serta penampilan musik dari musisi ternama di Yogyakarta dan Indonesia. Berhasil menggaet sekitar 500 pengunjung, acara ini memperkenalkan pelaku usaha dan peternak yang sudah berkomitmen beralih menggunakan dan/atau memproduksi telur cage-free (telur bebas kandang baterai), mempertemukan mereka dengan perusahaan dan peternak yang belum beralih AFJ F.A.I.R, Festival Pertama Kesejahteraan Ayam Petelur menggunakan dan/atau memproduksi telur cage-free, dan sekaligus penjangkauan publik. Dalam talkshow yang menghadirkan pemilik usaha yang telah berkomitmen bebas kandang baterai dan peternak yang telah menerapkan sistem cage-free, pemerintah, akademisi, perwakilan Lembaga Konsumen, serta organisasi terkait sebagai pembicara, talkshow ini membahas proses para pemilik usaha sampai akhirnya mengumumkan komitmen bebas kandang baterainya, bagaimana peternak cage-free mempertahankan bisnisnya di tengah banyaknya peternak kandang baterai di Indonesia, hak-hak konsumen, pelatihan bagi peternak yang ingin beralih cage-free, dan sebagainya. PI Malindo Salurkan CSR 464.719 Telur untuk Masyarakat Beresiko Stunting PT Malindo Feedmill Tbk melalui program CSRnya telah menyalurkan 464.719 butir telur atau sekitar 29 ton selama tahun 2022. Telur disalurkan untuk masyarakat beresiko stunting, anak-anak sekolah, pondok pesantren, panti asuhan dan masyarakat pra sejahtera di berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan siaran pers dari Malindo pada Senin (3/6), kegiatan CSR telur Malindo sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir di berbagai lokasi di Sumatera, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan dengan menyasar lokasi yang memang membutuhkan. “Kami mendistribusikan telur sebagai bagian dari kepedulian kami untuk masyarakat sekitar sekaligus mendukung program pemerintah untuk mempercepat penurunan stunting di Indonesia,” ujar Rewin Hanrahan, Direktur PT Malindo Feedmill Tbk. Ia juga berharap masyarakat semakin memahami bahwa memberikan asupan protein hewani yang cukup kepada anak-anak dan ibu hamil sudah menjadi keharusan untuk menghasilkan generasi Indonesia yang sehat dan cerdas. Salah satu pilihan sumber protein hewani dengan harga terjangkau adalah ayam dan telur. Seperti kita ketahui stunting atau gizi buruk adalah kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama. Umumnya hal ini karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Dampak kekurangan asupan protein pada anak akan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. PI


46 u Edisi Maret 2023 PERISTIWA Mengangkat tentang isu kesejahteraan ayam petelur, Animal Friends Jojga (AFJ) menyeleggarakan AFJ F.A.I.R (Animal Friends Jogja - Farmed Animal Initiative Response) pada (25/2) di Yogyakarta. Acara ini direncanakan untuk menjadi acara tahunan, dimana AFJ F.A.I.R mengambil sebuah jargon yaitu Sedulur Care (Semua Dukung Telur Cage-Free) sebagai tema pertama di tahun 2023 ini. AFJ F.A.I.R menyuguhkan talkshow dengan tema “Peran Perusahaan dan Peternak Menuju Indonesia Bebas Kandang Baterai 2030” dan juga acara bazar yang diisi oleh berbagai tenants dari restoran-restoran yang telah berkomitmen menggunakan telur bebas kandang baterai dan restoran vegan, berbagai usaha yang berkelanjutan dan produk kreatif, serta penampilan musik dari musisi ternama di Yogyakarta dan Indonesia. Berhasil menggaet sekitar 500 pengunjung, acara ini memperkenalkan pelaku usaha dan peternak yang sudah berkomitmen beralih menggunakan dan/atau memproduksi telur cage-free (telur bebas kandang baterai), mempertemukan mereka dengan perusahaan dan peternak yang belum beralih AFJ F.A.I.R, Festival Pertama Kesejahteraan Ayam Petelur menggunakan dan/atau memproduksi telur cage-free, dan sekaligus penjangkauan publik. Dalam talkshow yang menghadirkan pemilik usaha yang telah berkomitmen bebas kandang baterai dan peternak yang telah menerapkan sistem cage-free, pemerintah, akademisi, perwakilan Lembaga Konsumen, serta organisasi terkait sebagai pembicara, talkshow ini membahas proses para pemilik usaha sampai akhirnya mengumumkan komitmen bebas kandang baterainya, bagaimana peternak cage-free mempertahankan bisnisnya di tengah banyaknya peternak kandang baterai di Indonesia, hak-hak konsumen, pelatihan bagi peternak yang ingin beralih cage-free, dan sebagainya. PI Malindo Salurkan CSR 464.719 Telur untuk Masyarakat Beresiko Stunting PT Malindo Feedmill Tbk melalui program CSRnya telah menyalurkan 464.719 butir telur atau sekitar 29 ton selama tahun 2022. Telur disalurkan untuk masyarakat beresiko stunting, anak-anak sekolah, pondok pesantren, panti asuhan dan masyarakat pra sejahtera di berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan siaran pers dari Malindo pada Senin (3/6), kegiatan CSR telur Malindo sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir di berbagai lokasi di Sumatera, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan dengan menyasar lokasi yang memang membutuhkan. “Kami mendistribusikan telur sebagai bagian dari kepedulian kami untuk masyarakat sekitar sekaligus mendukung program pemerintah untuk mempercepat penurunan stunting di Indonesia,” ujar Rewin Hanrahan, Direktur PT Malindo Feedmill Tbk. Ia juga berharap masyarakat semakin memahami bahwa memberikan asupan protein hewani yang cukup kepada anak-anak dan ibu hamil sudah menjadi keharusan untuk menghasilkan generasi Indonesia yang sehat dan cerdas. Salah satu pilihan sumber protein hewani dengan harga terjangkau adalah ayam dan telur. Seperti kita ketahui stunting atau gizi buruk adalah kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama. Umumnya hal ini karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Dampak kekurangan asupan protein pada anak akan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. PI


Peternakan unggas tak akan pernah lepas dari kejadian penyakit dan dampaknya pun tak bisa dianggap enteng. Unggas, utamanya ayam merupakan hewan ternak yang sangat rentan dan sensitif, sehingga dalam pemeliharaannya menuntut kenyamanan tingkat tinggi untuk mencapai performa terbaiknya. Ketika sistem pemeliharaan kurang baik, ayam akan mudah mengalami stres, sehingga sistem imunnya terkompromi dan memudahkan patogen untuk menginfeksi. Ada banyak faktor yang menyebabkan kejadian penyakit. Belum ketatnya aturan perwilayahan menjadi salah satu faktor munculnya penyakit pada kandang. Faktor lainnya yang berperan dalam terjadinya infeksi patogen adalah iklim di Indonesia yang cocok bagi mikroorganisme penyebab penyakit pada unggas untuk tumbuh. Penyakit seperti Chronic Respiratory Disease (CRD), Newcastle Disease (ND), dan Avian Influenza (AI) masih memegang gelar juara penyakit viral yang menginfeksi unggas tiap tahunnya. Selain itu, Serangan penyakit bakterial, seperti kolibasilosis, juga menjadi langganan dikala musim hujan. Penyakit lainnya yang juga seringkali menyerang ayam adalah Salmonellosis, Coryza, serta infeksi jamur, seperti Aspergillosis dan Mikotoksikosis. Kejadian penyakit ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, pencegahan penyakit dalam kegiatan budi daya menjadi sebuah kewajiban untuk dilakukan. Jika dibandingkan dengan pengobatan, pencegahan tentu saja lebih mudah dan murah. Selain itu, pencegahan penyakit juga dapat memberikan hasil akhir atau keuntungan yang lebih baik karena kerugian akibat kejadian penyakit dapat ditekan. Unggas yang telanjur terserang penyakit tentu saja produksinya tak akan sama seperti unggas yang sehat. Buku “Pencegahan Penyakit Ternak Unggas” yang disusun oleh Luthfi D. Mahfudz, Dwi Sunarti, Sri Kismiati, Teysar A. Sarjana, dan Maulana H. N. dapat menjadi sumber jawaban bagi pembaca yang ingin menggeluti budi daya unggas, utamanya ayam. Kelima dosen yang sejak mahasiswa sudah mendalami ilmu perunggasan ini membahas secara rinci mengenai pencegahan penyakit pada unggas guna perkembangan dan keuntungan budi daya yang lebih baik. Pada bagian awal buku ini, pembaca akan disuguhkan informasi mengenai sistem kekebalan tubuh unggas. Mulai dari apa yang dimaksud dengan kekebalan tubuh, organ pembentuk kekebalan utama, proses terbentuknya kekebalan, hingga kekebalan aktif dan pasif pada unggas. Bagian selanjutnya dari buku ini membahas mengenai cara pencegahan penyakit. Pada hakekatnya manajemen ternak unggas yang baik dapat mencegah penyakit. Manajemen ternak unggas yang dimaksud adalah bibit, perkandangan, pakan, sanitasi, dan vaksinasi. Bibit yang berasal dari indukan yang baik, kandang yang membuat kondisi unggas nyaman, dan pakan yang sesuai merupakan kiat-kiat pencegahan penyakit yang dapat dilakukan. Panduan manajemen biosekuriti dan vaksinasi yang tepat juga dapat ditemukan pada buku ini. Pada bagian akhir dari buku ini, pembaca dapat menemukan berbagai penyakit, mulai dari penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, hingga penyakit yang ditimbulkan akibat kekeliruan manajemen pemeliharaan dan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit-penyakit tersebut. Kesalahan pada manajemen pemeliharaan unggas juga dapat menjadi gerbang masuknya penyakit, terutama luka. Luka merupakan port de entry utama bagi para agen penyakit. Adanya luka sudah cukup membuat kondisi ayam menurun, ditambah dengan manajemen luka yang kurang baik tentu lebih membahayakan. Selain itu, manajemen pemeliharaan juga dapat menimbulkan kejadian yang bisa menjadi gerbang masuknya agen penyakit, seperti kekurangan protein, energi, dan vitamin yang disebabkan oleh kekurangan zat pada makanan. Selain itu, kelumpuhan, perlemakan yang berlebihan, hingga prolapsus oviduct juga dapat terjadi akibat manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Dengan berbagai informasi yang disampaikan pada buku ini ditambah dengan gambar-gambar penting, terutama pada kasus penyakit, menjadikan pengaplikasian langkah-langkah pencegahan penyakit pada unggas lebih mudah dipahami. Diana 48 u Edisi Marer 2023 Kegiatan budi daya ternak unggas tak akan bisa lepas dari kejadian penyakit. Oleh karena itu, kiatkiat pencegahan penyakit unggas sudah seharusnya dilakukan untuk mengantisipasi kerugian yang disebabkan olehnya. BEDAH BUKU Pencegahan Penyakit Ternak Unggas Judul : Pencegahan Penyakit Ternak Unggas Penulis : Luthfi D. Mahfudz, Dwi Sunarti, Sri Kismiati, Teysar A. Sarjana, dan Maulana H. N. Jumlah Halaman : x + 176 hlm Penerbit : Undip Press Semarang


Peternakan unggas tak akan pernah lepas dari kejadian penyakit dan dampaknya pun tak bisa dianggap enteng. Unggas, utamanya ayam merupakan hewan ternak yang sangat rentan dan sensitif, sehingga dalam pemeliharaannya menuntut kenyamanan tingkat tinggi untuk mencapai performa terbaiknya. Ketika sistem pemeliharaan kurang baik, ayam akan mudah mengalami stres, sehingga sistem imunnya terkompromi dan memudahkan patogen untuk menginfeksi. Ada banyak faktor yang menyebabkan kejadian penyakit. Belum ketatnya aturan perwilayahan menjadi salah satu faktor munculnya penyakit pada kandang. Faktor lainnya yang berperan dalam terjadinya infeksi patogen adalah iklim di Indonesia yang cocok bagi mikroorganisme penyebab penyakit pada unggas untuk tumbuh. Penyakit seperti Chronic Respiratory Disease (CRD), Newcastle Disease (ND), dan Avian Influenza (AI) masih memegang gelar juara penyakit viral yang menginfeksi unggas tiap tahunnya. Selain itu, Serangan penyakit bakterial, seperti kolibasilosis, juga menjadi langganan dikala musim hujan. Penyakit lainnya yang juga seringkali menyerang ayam adalah Salmonellosis, Coryza, serta infeksi jamur, seperti Aspergillosis dan Mikotoksikosis. Kejadian penyakit ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, pencegahan penyakit dalam kegiatan budi daya menjadi sebuah kewajiban untuk dilakukan. Jika dibandingkan dengan pengobatan, pencegahan tentu saja lebih mudah dan murah. Selain itu, pencegahan penyakit juga dapat memberikan hasil akhir atau keuntungan yang lebih baik karena kerugian akibat kejadian penyakit dapat ditekan. Unggas yang telanjur terserang penyakit tentu saja produksinya tak akan sama seperti unggas yang sehat. Buku “Pencegahan Penyakit Ternak Unggas” yang disusun oleh Luthfi D. Mahfudz, Dwi Sunarti, Sri Kismiati, Teysar A. Sarjana, dan Maulana H. N. dapat menjadi sumber jawaban bagi pembaca yang ingin menggeluti budi daya unggas, utamanya ayam. Kelima dosen yang sejak mahasiswa sudah mendalami ilmu perunggasan ini membahas secara rinci mengenai pencegahan penyakit pada unggas guna perkembangan dan keuntungan budi daya yang lebih baik. Pada bagian awal buku ini, pembaca akan disuguhkan informasi mengenai sistem kekebalan tubuh unggas. Mulai dari apa yang dimaksud dengan kekebalan tubuh, organ pembentuk kekebalan utama, proses terbentuknya kekebalan, hingga kekebalan aktif dan pasif pada unggas. Bagian selanjutnya dari buku ini membahas mengenai cara pencegahan penyakit. Pada hakekatnya manajemen ternak unggas yang baik dapat mencegah penyakit. Manajemen ternak unggas yang dimaksud adalah bibit, perkandangan, pakan, sanitasi, dan vaksinasi. Bibit yang berasal dari indukan yang baik, kandang yang membuat kondisi unggas nyaman, dan pakan yang sesuai merupakan kiat-kiat pencegahan penyakit yang dapat dilakukan. Panduan manajemen biosekuriti dan vaksinasi yang tepat juga dapat ditemukan pada buku ini. Pada bagian akhir dari buku ini, pembaca dapat menemukan berbagai penyakit, mulai dari penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, hingga penyakit yang ditimbulkan akibat kekeliruan manajemen pemeliharaan dan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit-penyakit tersebut. Kesalahan pada manajemen pemeliharaan unggas juga dapat menjadi gerbang masuknya penyakit, terutama luka. Luka merupakan port de entry utama bagi para agen penyakit. Adanya luka sudah cukup membuat kondisi ayam menurun, ditambah dengan manajemen luka yang kurang baik tentu lebih membahayakan. Selain itu, manajemen pemeliharaan juga dapat menimbulkan kejadian yang bisa menjadi gerbang masuknya agen penyakit, seperti kekurangan protein, energi, dan vitamin yang disebabkan oleh kekurangan zat pada makanan. Selain itu, kelumpuhan, perlemakan yang berlebihan, hingga prolapsus oviduct juga dapat terjadi akibat manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Dengan berbagai informasi yang disampaikan pada buku ini ditambah dengan gambar-gambar penting, terutama pada kasus penyakit, menjadikan pengaplikasian langkah-langkah pencegahan penyakit pada unggas lebih mudah dipahami. Diana 48 u Edisi Marer 2023 Kegiatan budi daya ternak unggas tak akan bisa lepas dari kejadian penyakit. Oleh karena itu, kiatkiat pencegahan penyakit unggas sudah seharusnya dilakukan untuk mengantisipasi kerugian yang disebabkan olehnya. BEDAH BUKU Pencegahan Penyakit Ternak Unggas Judul : Pencegahan Penyakit Ternak Unggas Penulis : Luthfi D. Mahfudz, Dwi Sunarti, Sri Kismiati, Teysar A. Sarjana, dan Maulana H. N. Jumlah Halaman : x + 176 hlm Penerbit : Undip Press Semarang


Oleh: drh. Istianah Maryam Jamilah., MVS 50 u Edisi Maret 2023 Mulai 1 Januari lalu, di Selandia Baru sudah tidak ada lagi ayam petelur yang dipelihara di kandang baterai. Pada dua bulan pertama pelarangannya, terjadi kegaduhan di masyarakat, pegiat kesejahteraan hewan dan di level peternak. T idak ada lagi kandang baterai di Selandia Baru tahun ini. Tahun 2023 penggunaan kandang baterai pada industri ayam layer adalah ilegal setelah peraturan tentang pelarangan kandang baterai telah dibuat selama 10 tahun sejak tahun 2012 resmi diberlakukan. Kandang baterai di Selandia Baru kini telah digantikan oleh kandang koloni, kandang litter (umbaran), ataupun bebas sangkar yang memenuhi persyaratan kesejahteraan hewan untuk peternakan ayam petelur. Perjalanan usaha pelarangan kandang baterai di Selandia Baru Tahun 2022 adalah tahun terakhir masa transisi dari kandang baterai ke kandang koloni. Kode Kesejahteraan Ayam Petelur atau The Animal Welfare (Layer Hens) Code of Welfare 2012) adalah peraturan yang mengatur pemeliharaan ayam petelur yang sesuai dengan kesejahteraan hewan. Yang mana dalam dokumen ini penggunaan kandang baterai di Selandia Baru tidak dibenarkan. Pemerintah Selandia Baru memberlakukan masa transisi selama 10 tahun yang berakhir pada tahun 2022. Menurut Federasi Peternak Ayam Petelur Selandia Baru (Egg Producers Federation New Zealand), tahun 2012 sekitar 86% ayam petelur dipelihara di kandang baterai. Tahun 2016, proporsi ayam Selandia Baru yang dipelihara di kandang baterai ini turun menjadi 67%. Sedangkan pada Desember 2022 hanya 10% ayam petelur yang dipelihara di kandang baterai, 33% di kandang koloni, 24% di kandang litter dan 33% dipelihara dengan sistem bebas sangkar atau umbaran (free-range). Kini izin penggunaan kandang baterai resmi dihapus pada tanggal 31 Desember 2022. Hal ini membuat per 1 Januari lalu, di Selandia Baru sudah tidak ada lagi ayam petelur yang dipelihara di kandang baterai. Namun, di setiap penetapan kebijakan, pastinya ada pro dan kontra. Di dua bulan pertama pelarangan kandang baterai di Selandia Baru, terjadi kegaduhan di masyarakat, pegiat kesejahteraan hewan dan di level peternak. Ternyata pelarangan ini, berimbas pada kurangnya suplai telur dan kelangkaan telur, harga yang meroket, belum puasnya pegiat kesejahteraan hewan serta perilaku konsumen yang memutuskan untuk beternak ayam sendiri. Kandang koloni belum sepenuhnya bebas sangkar Pelarangan kandang baterai tidak serta merta menjadikan ayam petelur hidup bebas sangkar di Selandia Baru. Peternak masih bisa memelihara ayamnya di kandang koloni, kandang umbaran ataupun free-range (bebas sangkar). Masih diperbolehkannya kandang koloni, berarti ayam tetap berada dalam kandang dan tidak ada akses ke luar kandang. Lingkungan kandang koloni berusaha mempertahankan manfaat dari sistem kandang baterai, namun dimodifikasi agar tercipta kesejahteraan hewan yang lebih baik dari kandang baterai. Setiap kandang koloni, berisi 20-60 ayam, termasuk area sarang, tempat bertengger, dan alas gores. Fasilitas ini memungkinkan ayam petelur dapat mengekspresikan perilaku alami utamanya yaitu bersarang, bertengger dan mencakar. Kandang koloni memiliki 1.) area bersarang yang tertutup, tempat ayam bertelur, 2.) area bertengger juga tersedia untuk semua ayam, 3.) Bantalan untuk menggaruk dan mematuk Gambar 1. Gambaran kandang koloni dengan enrichment untuk ayam petelur. Sumber gambar: Animalagalliance.org Pelarangan Total Kandang Baterai di Selandia Baru 2023 Sebabkan Kelangkaan Telur di Pasaran


Click to View FlipBook Version