The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arief Maulana, 2023-03-31 03:07:04

Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2023

Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2023

Keywords: #poultry indonesia

Edisi Maret 2023 u 51 4.) Makanan dan air selalu tersedia, 5.) Adanya sabuk bergerak yang terus menerus menangkap dan membuang kotoran untuk menjaga kebersihan dan kesejahteraan ayam di kandang (Gambar 1). Kandang koloni juga bisa dibangun bertingkat seperti kandang baterai, sehingga bisa cukup menghemat ruangan dan mengizinkan efisiensi ekonomi. Komite Penasihat Kesejahteraan Hewan Nasional Selandia Baru (NAWAC), yang menyusun Kode Kesejahteraan Ayam Petelur 2012, menganggap kandang koloni sebagai lingkungan yang lebih baik untuk ayam dibanding kandang baterai. NAWAC adalah panel independen yang terdiri dari pakar kesejahteraan hewan yang ditunjuk oleh pemerintah Selandia Baru. Meskipun penggunaan kandang baterai telah dilarang tahun 2023 ini, dan penggunaan kandang koloni telah disetujui oleh NAWAC, para pemerhati kesejahteraan hewan seperti SAFE dan SPCA belum berbahagia dan masih menentang kebijakan pemerintah yang mengizinkan kandang koloni. Para pemerhati kesejahteraan hewan ini berargumen bahwa dengan masih diperbolehkannya pemeliharaan dalam kandang koloni, sejumlah besar ayam petelur masih disimpan di dalam kandang. Kandang koloni menurut mereka adalah kandang baterai dengan versi lebih besar yang mampu menampung lebih banyak ayam. Meskipun langkah besar Selandia Baru untuk melarang penggunaan kandang baterai pada peternakan ayam belum membuat semua pihak bahagia, langkah Selandia Baru tetap perlu diapresiasi, karena peraturan ini hanyalah awal yang baik untuk kesejahteraan ayam petelur. Dimasa depan, diharapkan peraturan ini masih bisa berkembang dan berubah ke arah yang lebih baik, dimana ayam bisa melihat sinar matahari, menghirup udara segar, menapakkan kaki di lantai dan diumbar bebas di padang agar bisa mengekspresikan perilaku alamiahnya. Kelangkaan telur di akhir 2022 hingga awal 2023 Sama seperti halnya negara di berbagai belahan di dunia, peternak Selandia Baru juga terkena beragam masalah seperti, perang di Ukraina-Rusia yang telah menaikkan harga pakan, inflasi yang menyebabkan kenaikan biaya produksi dan pemeliharaan, serta penyakit menular yang masih terus mengganggu jumlah populasi ayam. Masalah-masalah tadi ditambah dengan transisi dari kandang baterai ke kandang koloni yang ternyata menjadikan peternak perlu memikirkan ulang strategi bisnisnya agar tidak merugi. Imbasnya, jumlah ayam petelur di Selandia Baru telah menurun drastis dari 4.2 juta menjadi 3.4 juta dalam waktu 18 bulan. Menurut data Stats NZ, terjadi penurunan produksi telur terbesar dalam hampir 10 tahun terakhir. Melansir infometrics.co.nz produksi telur Selandia Baru turun sebanyak 9,1% pada tahun 2022 produksi telur mencapai lebih dari 92 juta lusin sedangkan tahun 2021 mencapai 101,2 juta lusin. Penurunan ini cukup signifikan dan merupakan tingkat produksi telur terendah sejak tahun 2016 (lihat gambar 2).Tahun 2022 tercatat terjadi kenaikan harga telur yang signifikan hingga 16-26% dari tahun sebelumnya, yaitu sekitar NZD 5 (Sekitar Rp. 47.000,00) per lusin tahun 2021, Tahun 2022 akhir sempat mencapai lebih dari NZD 6 (Sekitar Rp. 56.900,00) per lusin (gambar 3). Suplai yang berkurang tapi permintaan yang justru meningkat, inflasi juga menyebabkan orang memilih sumber protein hewani yang murah seperti telur. Selandia Baru tidak dapat menutup suplai yang berkurang dengan impor telur karena alasan biosekuriti dan penyebaran virus avian influenza. Hal ini menyebabkan harga telur meroket dan terjadi kelangkaan telur di pasaran. Bahkan beberapa supermarket membatasi pembelian telur agar menjaga stok telur di pasar. Kekurangan telur di toko-toko telah memicu kegilaan warga Selandia Baru membeli ayam petelur untuk dipelihara sendiri. Pada bulan Januari 2023, pencarian ayam petelur hidup di situs daring terbesar di Selandia Baru telah meningkat dua kali lipat, dan harganya semakin meningkat yang tadinya sekitar NZD 18 (sekitar Rp.170.000,00) per ekor, kini menjadi NZD$80 (sekitar Rp.758.000,00) per ekor. Kekurangan suplai telur, membuat warga Selandia Baru mencoba beralih memelihara ayam sendiri dan diperkirakan bahkan bisa menjadi surplus dalam beberapa bulan kedepan. Gareth Van Heyden, CEO Better Eggs, mengatakan kepada kantor berita Stuff NZ (18/2) bahwa Better Eggs, salah satu perusahaan yang menyuplai 23% telur di pasar ritel menargetkan akan adanya peningkatan produksi sebesar 20% di tahun 2023 Menurutnya, rak supermarket yang hampir kosong akan penuh telur dalam hitungan bulan. Gareth juga berargumen bahwa kenaikan harga telur di awal tahun memang diperlukan agar petani menghasilkan uang untuk diinvestasikan kembali di tengah naiknya harga produksi dan perubahan sistem peternakan yang melarang kandang baterai. *Koresponden Poultry Indonesia di Selandia Baru, Mahasiswa PhD Animal Production and Welfare di Massey University, New Zealand Gambar 3. Grafik Harga Telur Ayam di Selandia Baru Selama 2010-2022. Garis biru: Harga telur free-range (dipelihara bebas sangkar) untuk isi 6pcs/ tray, Garis oranye: Harga telur di kandang konvensional untuk 12 pcs/tray. Gambar 2. Grafik produksi telur di Selandia Baru sejak 2002 hingga 2022. Sumber: Infometrics.co.nz berdasarkan data Stats NZ. Sumber: Infometrics.co.nz berdasarkan data Stats NZ.


sulfat 1 gram/5 liter air minum selama 3 hari serta nistatin 100 g/ton pakan. Kerugian yang cukup besar akibat kontaminasi jamur ini menyadarkan kita bahwa upaya pencegahan penting untuk dilakukan. Untuk itu, beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan ialah : • Sanitasi dan desinfeksi kandang, gudang ransum, egg tray, peti telur, keranjang ayam sebelum digunakan (Formades, Sporades). • Lakukan pemeriksaan kualitas bahan baku ransum secara rutin, terutama saat kedatangan bahan baku atau pun selama penyimpanan. Apabila teridentifikasi ada jamur yang tumbuh pada bahan baku pakan, segera panaskan (>71-100°C) atau jemur ransum agar jamurnya mati. • Simpan ransum ditempat yang kering dan berikan jarak yang cukup (minimal 50 cm) antara dinding dengan tumpukan ransum. Gunakan pallet untuk alas ransum supaya tidak langsung kontak dengan lantai. • Berikan bahan penghambat pertumbuhan jamur/mold inhibitor (Fungitox). Rekomendasi pemakaian Fungitox dapat digunakan saat beberapa kondisi seperti bahan pakan yang cenderung basah dengan kadar air lebih dari 16%, saat musim hujan dan masa penyimpanan pakan yang lebih dari 1 minggu. Fungitox merupakan sediaan serbuk yang mengandung asam organik dan kompleks mineral silikat. Pemberian asam organik ini berperan dalam menghambat pertumbuhan jamur dan mengoptimalkan kesehatan saluran pencernaan sehingga kesehatan ayam meningkat. Sedangkan kompleks mineral silikat akan mengikat mikotoksin dan mencegah efek negatifnya. • Terapkan sistem first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) pada ransum untuk menghindari penyimpanan ransum yang terlalu lama karena berisiko ditumbuhi jamur. • Perhatikan kebersihan dan kelembapan kandang. Jika sistem kandang postal maka gunakan sekam yang kering dan apabila terdapat sekam basah segera ambil lalu tambah dengan sekam yang baru. • Bersihkan tempat ransum dan tempat minum dengan menyikat serta mencuci lalu direndam dalam larutan Medisep. Apabila menggunakan tempat minum talang berbentuk saluran panjang, setelah disikat lalu dibilas dengan air bersih dan dialirkan larutan desinfektan. Biarkan larutan desinfektan tersebut selama 30 menit lalu dibuang. • Sisa ransum yang basah dan menggumpal di tempat ransum harus segera dibersihkan agar tidak ditumbuhi jamur. Penanganan yang tidak efektif untuk kasus aspergillosis menyebabkan tindakan pencegahan lebih diutamakan. Jangan sampai jamur berhasil mengkontaminasi dan menyerang ayam sehingga berdampak terhadap kesehatan dan produktivitas ayam. Adv Tanya : Ayam saya terserang jamur aspergillosis, ayam susah bernafas, batuk, ngorok. Penanganan apa yang harus saya lakukan? Obat apa yang bisa mengatasi ayam saya? Sdr. Angga Email : [email protected] Jawab: Aspergillosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Aspergillus sp. dan dapat menyerang semua jenis unggas. Penyakit ini menyerang sistem pernapasan dan dikenal dengan beberapa sebutan seperti mycotic pneumonia, brooder pneumonia atau fungal pneumonia. Spesies yang paling sering menyerang ayam adalah Aspergillus flavus dan Aspergillus fumigatus. Jamur penyebab aspergillosis ini juga dapat menghasilkan racun yang disebut mikotoksin. Mikotoksin dapat menyebabkan imunosupresi sehingga menurunkan sistem pertahanan tubuh ayam. Aspergillus sp. akan berkembangbiak dengan pesat di material organik seperti telur dan sekam, peralatan (mesin inkubator) serta pada bahan baku pakan seperti biji-bijian (jagung, kedelai, kacang tanah). Penularan aspergillosis terjadi saat spora yang dihasilkan Aspergillus sp. terhirup oleh ayam, namun penularan tidak terjadi secara langsung antar individu ayam. Selain itu Aspergillus sp. juga dapat mengkontaminasi dan tumbuh di dalam telur. Jamur dapat masuk ke dalam telur selama masa inkubasi dan apabila ayam menetas maka akan dalam keadaan terinfeksi. Dampak Aspergillosis Aspergillosis lebih sering menyerang anak ayam dibanding ayam dewasa. Pada anak ayam kejadian aspergillosis bersifat akut dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, sedangkan pada ayam dewasa bersifat kronis. Gejala saat aspergillosis bentuk akut terjadi pada anak ayam adalah sesak napas, frekuensi napas meningkat, silent gasping (terengah-engah), nafsu makan menurun, lemas dan terlihat mengantuk. Selain itu spora Aspergillus sp. yang memasuki selaput lendir mata akan berkembang membentuk plak di bawah membran niktitan sehingga terjadi peradangan dan mata tertutup cairan kental berwarna kuning. Gejala yang terlihat pada kejadian aspergillosis bentuk kronis di ayam dewasa adalah kehilangan nafsu makan, lesu, bernapas dengan mulut, kekurusan dan dapat berlanjut hingga kematian. Lamanya proses penyakit ini tergantung pada umur dan status kekebalan tubuh ayam. Biasanya ayam akan mengalami gangguan pertumbuhan sehingga keseragaman berat badan menjadi buruk. Selain gejala klinis yang terlihat, dapat ditemukan juga perubahan-perubahan patologi anatomi seperti adanya bungkul-bungkul pada kantung udara dan paru-paru, eksudat pada trachea dan bronchus serta nodul pada hati. Penanganan dan Pencegahan Aspergillosis Secara umum tidak ada terapi yang efektif untuk menangani aspergillosis pada ayam. Usaha yang dapat dilakukan saat Aspergillus menyerang, adalah : • Lakukan culling pada ayam yang kondisinya parah. • Berikan vitamin dosis tinggi (Fortevit) untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. • Berikan antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder (bakterial). Misalnya dengan memberikan Rofotyl selama 3-5 hari berturut-turut. • Untuk membantu meringankan aspergillosis bisa diberikan antijamur cupri JL. Babakan Ciparay 282, Bandung 40223, Indonesia | (+62)22 6030612 | Customer service: 081321057405 | www.medion.co.id Penanganan dan Pencegahan Aspergillosis pada Ayam KONSUL KESEHATAN Bungkul-bungkul di paru-paru Sumber : Natàlia Majó (UAB).


sulfat 1 gram/5 liter air minum selama 3 hari serta nistatin 100 g/ton pakan. Kerugian yang cukup besar akibat kontaminasi jamur ini menyadarkan kita bahwa upaya pencegahan penting untuk dilakukan. Untuk itu, beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan ialah : • Sanitasi dan desinfeksi kandang, gudang ransum, egg tray, peti telur, keranjang ayam sebelum digunakan (Formades, Sporades). • Lakukan pemeriksaan kualitas bahan baku ransum secara rutin, terutama saat kedatangan bahan baku atau pun selama penyimpanan. Apabila teridentifikasi ada jamur yang tumbuh pada bahan baku pakan, segera panaskan (>71-100°C) atau jemur ransum agar jamurnya mati. • Simpan ransum ditempat yang kering dan berikan jarak yang cukup (minimal 50 cm) antara dinding dengan tumpukan ransum. Gunakan pallet untuk alas ransum supaya tidak langsung kontak dengan lantai. • Berikan bahan penghambat pertumbuhan jamur/mold inhibitor (Fungitox). Rekomendasi pemakaian Fungitox dapat digunakan saat beberapa kondisi seperti bahan pakan yang cenderung basah dengan kadar air lebih dari 16%, saat musim hujan dan masa penyimpanan pakan yang lebih dari 1 minggu. Fungitox merupakan sediaan serbuk yang mengandung asam organik dan kompleks mineral silikat. Pemberian asam organik ini berperan dalam menghambat pertumbuhan jamur dan mengoptimalkan kesehatan saluran pencernaan sehingga kesehatan ayam meningkat. Sedangkan kompleks mineral silikat akan mengikat mikotoksin dan mencegah efek negatifnya. • Terapkan sistem first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) pada ransum untuk menghindari penyimpanan ransum yang terlalu lama karena berisiko ditumbuhi jamur. • Perhatikan kebersihan dan kelembapan kandang. Jika sistem kandang postal maka gunakan sekam yang kering dan apabila terdapat sekam basah segera ambil lalu tambah dengan sekam yang baru. • Bersihkan tempat ransum dan tempat minum dengan menyikat serta mencuci lalu direndam dalam larutan Medisep. Apabila menggunakan tempat minum talang berbentuk saluran panjang, setelah disikat lalu dibilas dengan air bersih dan dialirkan larutan desinfektan. Biarkan larutan desinfektan tersebut selama 30 menit lalu dibuang. • Sisa ransum yang basah dan menggumpal di tempat ransum harus segera dibersihkan agar tidak ditumbuhi jamur. Penanganan yang tidak efektif untuk kasus aspergillosis menyebabkan tindakan pencegahan lebih diutamakan. Jangan sampai jamur berhasil mengkontaminasi dan menyerang ayam sehingga berdampak terhadap kesehatan dan produktivitas ayam. Adv Tanya : Ayam saya terserang jamur aspergillosis, ayam susah bernafas, batuk, ngorok. Penanganan apa yang harus saya lakukan? Obat apa yang bisa mengatasi ayam saya? Sdr. Angga Email : [email protected] Jawab: Aspergillosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Aspergillus sp. dan dapat menyerang semua jenis unggas. Penyakit ini menyerang sistem pernapasan dan dikenal dengan beberapa sebutan seperti mycotic pneumonia, brooder pneumonia atau fungal pneumonia. Spesies yang paling sering menyerang ayam adalah Aspergillus flavus dan Aspergillus fumigatus. Jamur penyebab aspergillosis ini juga dapat menghasilkan racun yang disebut mikotoksin. Mikotoksin dapat menyebabkan imunosupresi sehingga menurunkan sistem pertahanan tubuh ayam. Aspergillus sp. akan berkembangbiak dengan pesat di material organik seperti telur dan sekam, peralatan (mesin inkubator) serta pada bahan baku pakan seperti biji-bijian (jagung, kedelai, kacang tanah). Penularan aspergillosis terjadi saat spora yang dihasilkan Aspergillus sp. terhirup oleh ayam, namun penularan tidak terjadi secara langsung antar individu ayam. Selain itu Aspergillus sp. juga dapat mengkontaminasi dan tumbuh di dalam telur. Jamur dapat masuk ke dalam telur selama masa inkubasi dan apabila ayam menetas maka akan dalam keadaan terinfeksi. Dampak Aspergillosis Aspergillosis lebih sering menyerang anak ayam dibanding ayam dewasa. Pada anak ayam kejadian aspergillosis bersifat akut dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, sedangkan pada ayam dewasa bersifat kronis. Gejala saat aspergillosis bentuk akut terjadi pada anak ayam adalah sesak napas, frekuensi napas meningkat, silent gasping (terengah-engah), nafsu makan menurun, lemas dan terlihat mengantuk. Selain itu spora Aspergillus sp. yang memasuki selaput lendir mata akan berkembang membentuk plak di bawah membran niktitan sehingga terjadi peradangan dan mata tertutup cairan kental berwarna kuning. Gejala yang terlihat pada kejadian aspergillosis bentuk kronis di ayam dewasa adalah kehilangan nafsu makan, lesu, bernapas dengan mulut, kekurusan dan dapat berlanjut hingga kematian. Lamanya proses penyakit ini tergantung pada umur dan status kekebalan tubuh ayam. Biasanya ayam akan mengalami gangguan pertumbuhan sehingga keseragaman berat badan menjadi buruk. Selain gejala klinis yang terlihat, dapat ditemukan juga perubahan-perubahan patologi anatomi seperti adanya bungkul-bungkul pada kantung udara dan paru-paru, eksudat pada trachea dan bronchus serta nodul pada hati. Penanganan dan Pencegahan Aspergillosis Secara umum tidak ada terapi yang efektif untuk menangani aspergillosis pada ayam. Usaha yang dapat dilakukan saat Aspergillus menyerang, adalah : • Lakukan culling pada ayam yang kondisinya parah. • Berikan vitamin dosis tinggi (Fortevit) untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. • Berikan antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder (bakterial). Misalnya dengan memberikan Rofotyl selama 3-5 hari berturut-turut. • Untuk membantu meringankan aspergillosis bisa diberikan antijamur cupri JL. Babakan Ciparay 282, Bandung 40223, Indonesia | (+62)22 6030612 | Customer service: 081321057405 | www.medion.co.id Penanganan dan Pencegahan Aspergillosis pada Ayam KONSUL KESEHATAN Bungkul-bungkul di paru-paru Sumber : Natàlia Majó (UAB).


54 u Edisi Maret 2023 Al Quali Versus Animalcules “Dalam sejarah peradaban umat manusia, ajang pertempuran melawan mikroba seolah tak lekang oleh waktu.” Oleh: Tony Unandar* Gambar 1: Pada peternakan ayam modern, seni mendasar dalam perang melawan mikroba (penyakit infeksius) adalah implementasi prinsip-prinsip biosekuriti secara sistematik dan konsisten. Tindakan lainnya seperti tindakan preventif (misalnya vaksinasi, medikasi, reduksi stres) dan atau tindakan kuratif (medikasi) hanya untuk melengkapi dan atau meningkatkan usaha itu mereduksi kerugian atau ledakan kasus infeksius di lapangan. Jadi jangan dibalik. Gambar 2: Untuk memenangkan perang melawan mikroba, siklus transmisi mikroba penyebab kasus infeksius benar-benar mesti dicermati di lapangan, dengan demikian langkah yang akurat dan strategis dapat diambil untuk memutus rantai kontaminasi pada ayam lain yang masih sehat. Dampak lanjutnya adalah kasus yang terjadi tidak bertele-tele dan kerugian bisa direduksi P eternakan ayam modern menuntut efisiensi tingkat dewa dimana perkembangan genetik ayam dan variasi teknologi pemeliharaan ayam terus menjulang. Hal ini menyebabkan jumlah, keragaman jenis, dan keganasan mikroba seakan ikut berpacu seiring dengan usaha peternakan itu sendiri. Pengetahuan akan karakteristik mikroba maupun beberapa disinfektan penting bagi seorang praktisi tentu saja sangat membantu untuk memenangkan babak-babak pertempuran yang terjadi. Manusia dan mikroba Pada abad pertama, rahib Marcus Terentius Varro seperti yang dituturkan dalam laporan Leclainche pada tahun 1936, membuat suatu hipotesis bahwa ada makhluk tidak kasatmata yang disebutnya sebagai “animalcules” yang memegang peranan penting dalam kasus-kasus penyakit, bukan akibat kutukan. Kelak, setelah lebih dari lima belas abad kemudian, wujud-wujud animalcules menjadi jelas, yaitu setelah penemuan Anthony van Leuwenhook, Robert Koch, dan Louis Pasteur mengenai kehidupan mikroorganisme. Kini, baik bakteri, virus, maupun mikroba patogen lainnya tetap menjadi ancaman bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, termasuk ayam. Untuk mengatasi aktivitas mikroba, penggunaan preparat disinfektan ternyata sudah dimulai kira-kira 3.000 tahun sebelum Masehi, yakni ketika kebudayaan Mesir kuno sudah menggunakan anggur dan asam cuka untuk membilas rongga perut mayat yang akan dibalsem sebelum disimpan dalam bentuk mumi. Meski aspek ilmiahnya belum diketahui secara pasti, namun keperkasaan kedua senyawa kimia tersebut sudah terbukti dapat menghambat proses pembusukan. Dalam kebudayaan Arab, penggunaan preparat al quali alias soda untuk mempercepat penyembuhan luka pada ternak sudah dikenal sejak abad pertengahan. Terminologi al quali ini pada akhirnya dikenal sebagai preparat alkali untuk menyatakan sekelompok senyawa kimia yang bersifat basa atau alkalis. Sampai saat ini, senyawa alkali, seperti soda api dan detergen, masih banyak dipakai sebagai disinfektan ataupun antiseptika. Peternakan ayam modern Pada industri perunggasan modern, aspek efisiensi yang telah diterapkan secara luas dapat dengan mudah diamati pada beberapa aspek. Pertama, kepadatan ayam yang sangat tinggi dalam setiap satuan luas kandang. Hal ini akan tampak dengan jelas pada sistem perkandangan yang tertutup (closed house system). Kedua, penerapan sistem operasional yang


Edisi Maret 2023 u 55 Tabel 1: Daya tahan beberapa mikroba di lingkungan ayam Jenis mikroba: Daya tahan di luar tubuh ayam: NDV (Newcastle Disease Virus) Beberapa hari sampai minggu IBV (Infectious Bronchitis Virus) Beberapa bulan IBDV (Infectious Bursal Disease Virus) Beberapa bulan ILTV (Infectious Laryngotracheitis Virus) Beberapa bulan sampai tahun MDV (Marek Disease Virus) Beberapa bulan sampai tahun Pasteurella multocida Beberapa minggu Mycoplasma spp. Beberapa jam sampai hari Hemophillus paragallinarum Beberapa jam sampai hari Clostridium perfringens (spora) Beberapa tahun Eimeria spp. (ookista) Beberapa bulan sampai tahun Diolah dari berbagai sumber Gambar 3: Perkiraan urutan secara teoritis transmisi agen infeksius penyebab penyakit via berbagai rute dengan derajat resiko dari terendah sampai dengan tinggi. bertingkat alias “multi-age system”, sehingga produk akhir akan dihasilkan secara berkesinambungan. Ketiga, waktu istirahat kandang yang semakin singkat, sehingga produktivitas kandang dan tenaga kerja dalam satu tahun akan meningkat. Meski program sanitasi dengan menggunakan disinfektan telah dijalankan dengan rutin, secara tidak sadar, ketiga bentuk efisiensi tersebut akan akan mengakibatkan peningkatan jumlah, variasi, dan keganasan mikroba patogen di sekitar ayam yang dipelihara secara signifikan dari waktu ke waktu. Adanya ledakan kasus penyakit infeksius pada peternakan ayam modern, selain memengaruhi produktivitasnya, juga akan memengaruhi kualitas produk, seperti daging dan telur yang dihasilkannya (Rich dan Perry, 2011), kontaminasi lingkungan area peternakan, dan juga berpotensi terjadi transmisi agen penyebab ke karyawan kandang karena bersifat zoonosis (Dohoo et al., 1998). Manipulasi lingkungan peternakan sebenarnya sudah mampu mereduksi prevalensi ledakan kasus infeksius, misalnya mengurangi kontaminasi manure alias kotoran ayam sekitar lingkungan kandang, mereduksi populasi ayam yang terlalu padat dalam suatu kandang, dan mengeliminasi insekta, rodensia, ataupun hewan liar lainnya yang dapat bertindak sebagai vektor atau karier mikroba tertentu (Daszak et al., 2000; Smith, 2005; Dohoo et al., 2010 dan 2011; Howells et al., 2018; Abdulhameed et al., 2018). Di lapangan, istirahat kandang sering kali dianggap suatu hal yang mubazir. Tanpa istirahat kandang berarti mikroba patogen yang ada selalu mempunyai tempat atau media untuk melangsungkan kehidupan dan berkembangbiak, termasuk beradaptasi dengan induk semang yang ada. Suatu ketika, keganasan mikroba yang adapun akan meningkat nyata. Hal ini berarti perbanyakan jumlah mikroba dan peningkatan keganasan hanya terjadi selama proses pemeliharaan itu berlangsung. Adanya beberapa mikroba patogen yang mempunyai daya tahan yang baik di lingkungan ayam, seperti yang tertera dalam Tabel 1, tentu saja akan membuat kualitas lingkungan ayam semakin buruk. Proses sanitasi kandang dan fasilitas lainnya dengan menggunakan disinfektan tidak bisa menjamin seratus persen bebas dari residu mikroba yang ada. Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu, kesehatan suatu kandang dan fasilitas lainnya secara bertahap akan mengalami penurunan. Kondisi ini tentu saja akan berlangsung dalam waktu yang relatif lebih cepat jika program istirahat kandang tidak ditegakkan. Sebagai ilustrasi, perhatikan Diagram 1 yang menunjukkan status kesehatan kandang dan peralatannya pada sistem pemeliharaan all-in all-out. Secara bertahap namun pasti, penurunan status kesehatan akan tetap terjadi. Diagram 1: Kurva kesehatan kandang dan peralatannya pada pemeliharaan all-in all-out system Disinfektan dan karakteristiknya Agar hasil kerja suatu disinfektan optimal, maka ada beberapa faktor yang memengaruhi efektivitas suatu disinfektan di lapangan yang harus diperhatikan. Pertama, sifat kimiawi dan formulasinya. Sebagai contoh, kelompok amonium kuarterner mempunyai daya bunuh yang rendah, akan tapi mempunyai daya penetrasi yang tinggi ke dalam sel mikroba, sedangkan kelompok aldehida sebaliknya. Penambahan senyawa EDTA sebagai antikoagulan dalam amonium kuarterner akan meningkatkan daya bunuhnya terhadap mikroba patogen. Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah dosis penggunaan. Pada penggunaan disinfektan, dosis penggunaan yang lebih tinggi belum tentu memberikan hasil yang optimal. Pada dosis yang tinggi, disinfektan yang bersifat menurunkan tegangan permukaan (surfaktan) justru akan mengalami kesulitan untuk melakukan penetrasi ke dalam sel mikroba yang sensitif, misalnya kelompok alkohol. Ketiga, waktu kontak. Dibandingkan dengan kelompok


56 u Edisi Januari 2023 Gambar 5: Contoh tahapan pembersihan dan sanitasi kandang sebelum dilakukan istirahat kandang atau downtime. Gambar 4: Dalam praktek perang melawan mikroba penyebab kasus infeksius di lapangan, yang harus juga dicermati dengan teliti adalah pola shedding mikroba tersebut dari ayam yang terpapar, kapan dan melalui apa mikroba itu shedding ke lingkungan ayam. Pola shedding B (seperti koksidia dan Salmonella) dan C (seperti mikoplasma dan Salmonella) sangat sulit diantisipasi di lapangan, karena ayam umumnya belum atau tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas atau khas, tapi hanya gejala umum. fenol, kelompok amonium kuarterner dan halogen mempunyai waktu kontak yang relatif lebih singkat. Oleh sebab itu, kedua kelompok yang terakhir ini mempunyai daya bunuh yang cepat. Selain itu, keberadaan bahan organik juga perlu diperhatikan. Umumnya, keberadaan bahan organik dapat menurunkan potensi suatu disinfektan. Akibatnya, waktu kontak yang dibutuhkan akan lebih lama dan atau dosis yang digunakan akan lebih besar. Miquel Ruano (2001) telah membuktikan bahwa keberadaan bahan organik akan membuat virus ILT atau kuman Pseudomonas aeruginosa sangat resisten terhadap hampir semua disinfektan. Suhu juga menjadi faktor penting dalam memengaruhi efektivitas disinfektan. Kelompok halogen, seperti bromida dan iodide, akan cepat menguap dan efektivitasnya akan menurun dalam suhu yang tinggi. Oleh sebab itu, kelompok halogen ini tidak mempunyai efek residual. Selanjutnya, derajat keasaman pelarut. Disinfektan yang bersifat alkalis seperti detergen dan soda api akan mengalami penurunan potensi pada pH yang air yang asam. Terakhir, kesadahan pelarut. Dalam air yang sadah, amonium kuarterner akan mengalami penurunan potensi, sedangkan kelompok asam kresilat dan senyawa klorin tidak. Bagi kuman, komponen membran luar dari dinding sel merupakan komponen yang paling mudah dirusak atau dihancurkan oleh disinfektan. Komponen membran luar ini sangat kaya dengan senyawa fosfolipid (PPL) dan lipopolisakarida (LPS). Jika suatu preparat disinfektan mampu melarutkan komponen lipid dari PPL atau LPS, misalnya kelompok alkohol, fenol, atau detergen, maka keutuhan membran luar tersebut akan terganggu dan kebocoran sel akan terjadi. Selain itu, beberapa disinfektan, seperti kelompok amonium kuarterner, halogen, dan aldehida mampu men-denaturasi atau merusak komponen protein dari membran atau dinding sel dan komponen protein sel lainnya pada kuman. Kelompok halogen juga mempunyai kemampuan untuk mengganggu transpor elektron proses respirasi yang terjadi dalam mitokondria sel kuman, sedangkan kelompok fenol mampu menginaktivasi enzim yang berperanan dalam proses respirasi tersebut. Bagi virus, keberadaan komponen lipid pada lapisan kapsid akan meningkatkan kepekaannya terhadap hampir semua disinfektan pelarut lemak, misalnya amonium kuarterner, fenol, alkohol, dan formalin. Virus-virus, seperti Marek, Infectious Laryngotracheitis (ILT-V), Newcastle Disease (NDV), Pox, Egg Drop Syndrome (EDS), dan Avian Influenza (AI) merupakan contoh virus yang mempunyai komponen lipid yang tinggi pada kapsidnya. Sedangkan virus Infectious Bursal Disease (IBD), Infectious Bronchitis (IB), Reovirus, dan Avian Encephalomyelitis (AEV) yang tidak mengandung lipid pada komponen kapsidnya akan lebih peka terhadap kelompok aldehida, halogen, dan senyawa asam atau basa kuat. Pencegahan dan kontrol penyakit infeksius dalam lingkungan peternakan ayam modern memang membutuhkan berbagai pendekatan, termasuk memilih jenis dan aplikasi disinfektan yang digunakan, agar kontaminasi dan siklus hidup mikroba patogen tidak berlarut-larut berada dalam lingkungan farm tersebut (Perry dan Grace, 2009; Robertson, 2019). Tampaknya, mirip dengan penggunaan preparat antibiotika, penggunaan disinfektan pun harus mengenal sasaran yang akan dituju. Dengan demikian, efektivitas disinfektan tersebut akan optimal, sehingga kocek peternak tidak dibuat bocor olehnya. *Private Poultry Farm Consultant - Jakarta


56 u Edisi Januari 2023 Gambar 5: Contoh tahapan pembersihan dan sanitasi kandang sebelum dilakukan istirahat kandang atau downtime. Gambar 4: Dalam praktek perang melawan mikroba penyebab kasus infeksius di lapangan, yang harus juga dicermati dengan teliti adalah pola shedding mikroba tersebut dari ayam yang terpapar, kapan dan melalui apa mikroba itu shedding ke lingkungan ayam. Pola shedding B (seperti koksidia dan Salmonella) dan C (seperti mikoplasma dan Salmonella) sangat sulit diantisipasi di lapangan, karena ayam umumnya belum atau tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas atau khas, tapi hanya gejala umum. fenol, kelompok amonium kuarterner dan halogen mempunyai waktu kontak yang relatif lebih singkat. Oleh sebab itu, kedua kelompok yang terakhir ini mempunyai daya bunuh yang cepat. Selain itu, keberadaan bahan organik juga perlu diperhatikan. Umumnya, keberadaan bahan organik dapat menurunkan potensi suatu disinfektan. Akibatnya, waktu kontak yang dibutuhkan akan lebih lama dan atau dosis yang digunakan akan lebih besar. Miquel Ruano (2001) telah membuktikan bahwa keberadaan bahan organik akan membuat virus ILT atau kuman Pseudomonas aeruginosa sangat resisten terhadap hampir semua disinfektan. Suhu juga menjadi faktor penting dalam memengaruhi efektivitas disinfektan. Kelompok halogen, seperti bromida dan iodide, akan cepat menguap dan efektivitasnya akan menurun dalam suhu yang tinggi. Oleh sebab itu, kelompok halogen ini tidak mempunyai efek residual. Selanjutnya, derajat keasaman pelarut. Disinfektan yang bersifat alkalis seperti detergen dan soda api akan mengalami penurunan potensi pada pH yang air yang asam. Terakhir, kesadahan pelarut. Dalam air yang sadah, amonium kuarterner akan mengalami penurunan potensi, sedangkan kelompok asam kresilat dan senyawa klorin tidak. Bagi kuman, komponen membran luar dari dinding sel merupakan komponen yang paling mudah dirusak atau dihancurkan oleh disinfektan. Komponen membran luar ini sangat kaya dengan senyawa fosfolipid (PPL) dan lipopolisakarida (LPS). Jika suatu preparat disinfektan mampu melarutkan komponen lipid dari PPL atau LPS, misalnya kelompok alkohol, fenol, atau detergen, maka keutuhan membran luar tersebut akan terganggu dan kebocoran sel akan terjadi. Selain itu, beberapa disinfektan, seperti kelompok amonium kuarterner, halogen, dan aldehida mampu men-denaturasi atau merusak komponen protein dari membran atau dinding sel dan komponen protein sel lainnya pada kuman. Kelompok halogen juga mempunyai kemampuan untuk mengganggu transpor elektron proses respirasi yang terjadi dalam mitokondria sel kuman, sedangkan kelompok fenol mampu menginaktivasi enzim yang berperanan dalam proses respirasi tersebut. Bagi virus, keberadaan komponen lipid pada lapisan kapsid akan meningkatkan kepekaannya terhadap hampir semua disinfektan pelarut lemak, misalnya amonium kuarterner, fenol, alkohol, dan formalin. Virus-virus, seperti Marek, Infectious Laryngotracheitis (ILT-V), Newcastle Disease (NDV), Pox, Egg Drop Syndrome (EDS), dan Avian Influenza (AI) merupakan contoh virus yang mempunyai komponen lipid yang tinggi pada kapsidnya. Sedangkan virus Infectious Bursal Disease (IBD), Infectious Bronchitis (IB), Reovirus, dan Avian Encephalomyelitis (AEV) yang tidak mengandung lipid pada komponen kapsidnya akan lebih peka terhadap kelompok aldehida, halogen, dan senyawa asam atau basa kuat. Pencegahan dan kontrol penyakit infeksius dalam lingkungan peternakan ayam modern memang membutuhkan berbagai pendekatan, termasuk memilih jenis dan aplikasi disinfektan yang digunakan, agar kontaminasi dan siklus hidup mikroba patogen tidak berlarut-larut berada dalam lingkungan farm tersebut (Perry dan Grace, 2009; Robertson, 2019). Tampaknya, mirip dengan penggunaan preparat antibiotika, penggunaan disinfektan pun harus mengenal sasaran yang akan dituju. Dengan demikian, efektivitas disinfektan tersebut akan optimal, sehingga kocek peternak tidak dibuat bocor olehnya. *Private Poultry Farm Consultant - Jakarta


Mungkin sebagian orang sudah mengenal tentang ayam hias kate. Ayam yang berasal dari Indonesia ini memang menjadi salah satu ayam hias yang memiliki peminat terbanyak di kalangan pecinta ayam hias nasional. Keunikannya terletak pada postur tubuhnya yang sangat kecil, sehingga kata ‘mungil’ sangat cocok disematkan pada ayam kate. Rupanya, ayam kate yang dikenal di Indonesia memiliki saudara jauh yang berasal dari Negeri Sakura, Jepang. Ayam kate di Jepang disebut dengan ayam chabo. Kata ‘chabo’ sendiri dalam bahasa jepang diambil dari kata ‘cha’ yang memiliki arti kerdil dan kata ‘bo’ yang memiliki arti ayam. Secara harfiah, kata ‘chabo’ berarti ayam berpostur kecil yang berasal dari Jepang. Apabila melihat sejarahnya, beberapa sumber mengatakan ayam chabo merupakan hasil pengembangbiakkan ayam yang didatangkan dari luar negara Jepang. Mengutip dari laman japanesebantams.com diyakini bahwa nenek moyang ayam chabo tiba di Jepang dari Tiongkok sekitar tahun 1600 silam, sebelum Jepang menutup perdagangan asing di era Keshogunan Tokugawa pada tahun 1634. Hal ini dibuktikan dengan adanya kesenian Jepang yang pertama kali menampilkan ayam chabo dalam bentuk lukisan pada masa tersebut. Masih dari sumber yang sama, ayam chabo juga mungkin berasal dari Indochina (Vietnam) sekitar 300-400 tahun yang lalu, bahkan mungkin lebih awal. Aktivitas impor ke Jepang tersebut dilakukan oleh pedagang rempah-rempah Belanda yang membawa ayam chabo untuk diperdagangkan atau sebagai hadiah kepada pemerintah Jepang kala itu. Hal tersebut didukung dari salah satu buku yang ditulis oleh penulis Jepang bernama Choken Inagaki yang berjudul “The Chabo and Breeding” pada tahun 1951. Dalam buku tersebut menyatakan bahwa terdapat ayam bantam (ayam berukuran kecil) di Indochina yang berpenampilan sangat mirip dengan ayam chabo. Kemudian sang penulis juga menunjukkan sebuah gambar dari Thailand dan Singapura mengenai kemiripan ayam bantam di daerah tersebut dengan ayam chabo Jepang. Penampilan ayam chabo Sepintas ayam chabo memang memiliki penampilan yang mirip dengan ayam kate. Bahkan, tak sedikit pecinta ayam hias Indonesia yang menyebut ayam chabo dengan ‘ayam kate chabo’. Akan tetapi, kalau dilihat secara detail ternyata ayam chabo dan ayam kate memiliki perbedaan. Seorang pecinta ayam hias, Rangga Firmansyah, menerangkan bahwa ayam kate yang ditemui di Indonesia memiliki penampilan yang amat beragam bila dibandingkan dengan ayam chabo. Selain itu dari bobotnya, ayam kate dibedakan menjadi 2 jenis yaitu kate kerikil dan kate mataraman, sedangkan ayam chabo tidak mewakili kedua jenis ayam kate tersebut. “Secara fisik, ayam chabo lebih stabil dibandingkan ayam kate lokal. Mulai dari bobot tubuh, bentuk tubuh, jengger dan ekor punya ciri khas tersendiri. Dengan melihat saja kita sudah bisa membedakan antara ayam chabo dengan ayam kate. Apabila ayama chabo disandingkan dengan kate kerikil tetap beda secara fisik. Sedangkan ayam chabo disandingkan dengan kate mataraman lebih keliatan perbedaannya,” terang Rangga melalui keterangan tertulis kepada Poultry Indonesia, Rabu (15/2). Ayam chabo dikategorikan sebagai ayam bantam sejati, yang berarti memiliki postur kecil secara alami tanpa rekayasa genetik. Penampilannya secara umum memiliki lekukan tubuh yang rendah dengan ujung sayap hampir menyentuh tanah. 58 u Edisi Maret 2023 Kendati sama-sama berukuran mungil, terdapat beberapa perbedaaan antara ayam chabo dan ayam kate. Ayam chabo mempunyai ciri khas tersendiri pada bobot, bentuk tubuh, jengger serta ekornya. Mengenal Ayam Chabo, Si Mungil dari Negeri Sakura ANEKA UNGGAS Penampilan berbagai varian warna ayam chabo


Mungkin sebagian orang sudah mengenal tentang ayam hias kate. Ayam yang berasal dari Indonesia ini memang menjadi salah satu ayam hias yang memiliki peminat terbanyak di kalangan pecinta ayam hias nasional. Keunikannya terletak pada postur tubuhnya yang sangat kecil, sehingga kata ‘mungil’ sangat cocok disematkan pada ayam kate. Rupanya, ayam kate yang dikenal di Indonesia memiliki saudara jauh yang berasal dari Negeri Sakura, Jepang. Ayam kate di Jepang disebut dengan ayam chabo. Kata ‘chabo’ sendiri dalam bahasa jepang diambil dari kata ‘cha’ yang memiliki arti kerdil dan kata ‘bo’ yang memiliki arti ayam. Secara harfiah, kata ‘chabo’ berarti ayam berpostur kecil yang berasal dari Jepang. Apabila melihat sejarahnya, beberapa sumber mengatakan ayam chabo merupakan hasil pengembangbiakkan ayam yang didatangkan dari luar negara Jepang. Mengutip dari laman japanesebantams.com diyakini bahwa nenek moyang ayam chabo tiba di Jepang dari Tiongkok sekitar tahun 1600 silam, sebelum Jepang menutup perdagangan asing di era Keshogunan Tokugawa pada tahun 1634. Hal ini dibuktikan dengan adanya kesenian Jepang yang pertama kali menampilkan ayam chabo dalam bentuk lukisan pada masa tersebut. Masih dari sumber yang sama, ayam chabo juga mungkin berasal dari Indochina (Vietnam) sekitar 300-400 tahun yang lalu, bahkan mungkin lebih awal. Aktivitas impor ke Jepang tersebut dilakukan oleh pedagang rempah-rempah Belanda yang membawa ayam chabo untuk diperdagangkan atau sebagai hadiah kepada pemerintah Jepang kala itu. Hal tersebut didukung dari salah satu buku yang ditulis oleh penulis Jepang bernama Choken Inagaki yang berjudul “The Chabo and Breeding” pada tahun 1951. Dalam buku tersebut menyatakan bahwa terdapat ayam bantam (ayam berukuran kecil) di Indochina yang berpenampilan sangat mirip dengan ayam chabo. Kemudian sang penulis juga menunjukkan sebuah gambar dari Thailand dan Singapura mengenai kemiripan ayam bantam di daerah tersebut dengan ayam chabo Jepang. Penampilan ayam chabo Sepintas ayam chabo memang memiliki penampilan yang mirip dengan ayam kate. Bahkan, tak sedikit pecinta ayam hias Indonesia yang menyebut ayam chabo dengan ‘ayam kate chabo’. Akan tetapi, kalau dilihat secara detail ternyata ayam chabo dan ayam kate memiliki perbedaan. Seorang pecinta ayam hias, Rangga Firmansyah, menerangkan bahwa ayam kate yang ditemui di Indonesia memiliki penampilan yang amat beragam bila dibandingkan dengan ayam chabo. Selain itu dari bobotnya, ayam kate dibedakan menjadi 2 jenis yaitu kate kerikil dan kate mataraman, sedangkan ayam chabo tidak mewakili kedua jenis ayam kate tersebut. “Secara fisik, ayam chabo lebih stabil dibandingkan ayam kate lokal. Mulai dari bobot tubuh, bentuk tubuh, jengger dan ekor punya ciri khas tersendiri. Dengan melihat saja kita sudah bisa membedakan antara ayam chabo dengan ayam kate. Apabila ayama chabo disandingkan dengan kate kerikil tetap beda secara fisik. Sedangkan ayam chabo disandingkan dengan kate mataraman lebih keliatan perbedaannya,” terang Rangga melalui keterangan tertulis kepada Poultry Indonesia, Rabu (15/2). Ayam chabo dikategorikan sebagai ayam bantam sejati, yang berarti memiliki postur kecil secara alami tanpa rekayasa genetik. Penampilannya secara umum memiliki lekukan tubuh yang rendah dengan ujung sayap hampir menyentuh tanah. 58 u Edisi Maret 2023 Kendati sama-sama berukuran mungil, terdapat beberapa perbedaaan antara ayam chabo dan ayam kate. Ayam chabo mempunyai ciri khas tersendiri pada bobot, bentuk tubuh, jengger serta ekornya. Mengenal Ayam Chabo, Si Mungil dari Negeri Sakura ANEKA UNGGAS Penampilan berbagai varian warna ayam chabo Kemudian, ayam chabo memiliki ekor tegak dan besar, tingginya pun mencapai di atas kepala dan jengger jantan. Bobot ayam chabo sangat ringan. Ayam chabo jantan dewasa memiliki bobot kisaran 500-600 gram. Sedangkan bobot ayam chabo betina dewasan berkisar 400-500 gram, setara dengan bobot broiler berumur 2 minggu. Kemudian untuk tinggi ayam chabo termasuk ekor berkisar 25-30 cm untuk jantan dewasa dan 20-25 cm untuk betina dewasa. Ayam chabo memiliki beragam varian warna. Mulai dari kuning kemerahan, hitam polos, putih, dan putih-hitam. Akan tetapi, warna putih-hitam menjadi warna terpopuler, yang disebut dengan ‘chabo black tail’. Warna putih-hitam pada ayam chabo terbilang unik, di mana tubuhnya yang berwarna putih dikombinasikan dengan ekor cantiknya yang berwarna hitam. Keunikan warna tersebut menorehkan identitas tersendiri di kalangan pecinta ayam hias bahwa idealnya ayam chabo harus memiliki tubuh berwarna putih polos dengan ekor yang berwarna hitam sempurna. Genetik ayam chabo Kita semua sepakat bahwa ayam chabo terlihat imut dan menggemaskan karena memilki postur yang kecil dan berkaki pendek. Akan tetapi, siapa sangka jika genetik pembawa kaki pendek tersebut dapat membawa nasib buruk. Dalam laporan Greg Davies, seorang peneliti dari Australia menerangkan bahwa genetik dominan dari pembawa kaki pendeknya tersebut dapat menyebabkan kematian. Pada dasarnya, memang terdapat sejumlah genetik yang mematikan pada unggas. Namun, pada ayam chabo, genetik mematikan itu berasal dari Gen Creeper (Cp). Genetik tersebut adalah mutasi pemendekan kerangka kaki yang juga ditemukan pada ras ayam berkaki pendek lainnya seperti ayam scots dumpy. Ketika genetik tersebut bersifat homozigot, maka anak ayam tersebut akan mengalami kematian embrio di hari ke-4 pada masa inkubasi. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa ayam chabo yang terdapat di dunia ini memiliki genetik kaki pendek yang bersifat heterozigot. Ketika ayam chabo dikawinkan dengan sesama ayam chabo, maka akan menghasilkan tiga kemungkinan penampilan yang berbeda. Kemungkinan pertama anak ayam chabo tersebut tidak membawa genetik Cp atau kaki pendek, sehingga memiliki kaki yang panjang dan hal ini tidak sesuai dengan standar ayam chabo pada umumnya. Kemungkinan yang kedua adalah kelahiran anak ayam chabo yang membawa genetik Cp. Anak ayam pembawa genetik Cp ini yang dikatakan sebagai ayam chabo yang sesungguhnya. Dengan catatan, jenis ini membawa genetik Cp secara heterozigot. Kemudian, kemungkinan ketiga adalah anak ayam chabo yang membawa genetik Cp secara homozigot. Anak ayam ini dipastikan akan mengalami kematian embrio sebelum menetas. Secara sederhana, setiap hasil perkawinan ayam chabo akan menghasilkan 50 persen ayam berkaki pendek, 25 persen ayam berkaki panjang, dan 25 persen akan mengalami kematian embrio. Masih dalam laporannya, ia mengatakan bahwa banyak peternak yang berlombalomba mengkawinkan ayam chabo untuk menghasilkan genetik yang berkaki pendek. Untuk mengurangi kemungkinan lahirnya ayam chabo yang berkaki panjang dan bergenetik Cp homozigot, disarankan peternak harus mengawinkan sesama ayam chabo yang berkaki pendek. Sebab, telah banyak ditemukan kasus peternak yang melakukan perkawinan asal yang dapat menyebabkan kerusakan pada genetik murni ayam chabo. Yoga Edisi Maret 2023 u 59 Penampilan Kepala Paruh Mata Jengger Pial dan lubang telinga Leher Punggung Dada Badan dan bulu Sayap Ekor Kaki dan jari kaki Jantan Agak besar dan lebar Sangat kuat dan melengkung dengan baik Besar Tunggal, kokoh besar, lurus di kepala, bergerigi rata Pial berukuran besar. Lubang telinga berukuran besar Agak pendek dan melengkung ke belakang secara mencolok Sangat pendek Sangat kokoh, bulat, dan menonjol ke depan. Badan agak pendek dan presisi. Serta memiliki bulu yang pendek. Besar, panjang, dan ujung sayap agak terkulai Sangat besar, agak melebar, posisi tegak sehingga hampir menyentuh bagian belakang kepala. Paha berukuran sedang. Betis berukuran sangat pendek. Memiliki jari kaki lurus. Tidak memiliki bulu di bagian kaki Betina Agak besar dan lebar Sangat kuat dan melengkung dengan baik Besar Tunggal, kokoh besar, lurus di kepala, bergerigi rata Pial berukuran sedang. Lubang telinga juga berukuran sedang Cukup pendek dan melengkung cukup baik pendek Kokoh, bulat, dan cukup menonjol Badan agak pendek dan presisi. Serta memiliki bulu yang pendek Besar, panjang, dan ujung sayap agak terkulai Besar dan cukup tegak Paha berukuran sedang. Betis berukuran sangat pendek. Memiliki jari kaki lurus. Tidak memiliki bulu di bagian kaki Sumber: japanesebantams.com Tabel 1. Penampilan ayam chabo jantan dan betina Tabel 2. Penampilan yang tidak memenuhi standar ayam chabo No Keterangan 1 Memiliki jengger selain jengger tunggal 2 Memiliki warna betis selain berwarwna kuning 3 Ayam jantan chabo dengan bobot lebih dari 0,85 kilogram 4 Ayam betina chabo dengan bobot lebih dari 0,73 kilogram 5 Pullet ayam chabo dengan bobot lebih dari 0,68 kilogram 6 Memiliki warna selain putih-hitam di jenis ayam chabo black tail Ayam chabo di luar standar Sumber: japanesebantams.com


Penerapan kesejahteraan hewan dalam rangkaian proses RPHU akan berpengaruh terhadap kualitas dan masa simpan karkas yg dihasilkan. Untuk itu aspek kesejahteraan hewan yang dimulai dari kedatangan sampai ayam dinyatakan mati setelah penyembelihan perlu diperhatikan. Daging ayam merupakan pangan sumber protein hewani yang kini sangat digandrungi oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Selain kandungan zat gizi yang sangat baik untuk kesehatan dan pertumbuhan manusia, aspek ketersediaan dan harga yang sangat terjangkau membuat jenis pangan ini menjadi menu andalan yang banyak dijumpai di meja makan. Hal ini cukup beralasan, karena selain dari segi suplai yang melimpah, harga protein hewani daging ayam jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan harga protein daging lain, seperti daging sapi. Kandungan protein dalam 100 gr daging sapi adalah 18,8%, dengan harga protein/gr sekitar Rp585,00. Sedangkan kandungan protein dalam 100 gr daging ayam adalah 18,2%, dengan harga protein/gr berkisar Rp165,00. Namun demikian di balik keunggulan yang dimilikinya, daging ayam dikategorikan sebagai pangan yang mudah rusak (perishable food) dan pangan yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan manusia (potentially hazardous food). Untuk itu agar daging tetap bermutu baik, aman dan layak untuk dikonsumsi, maka perlu penanganan yang baik dan aman mulai dari peternakan sampai siap untuk disantap (safe from farm to table). Yang mana pemrosesan di rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) menjadi salah satu tahap krusial yang sangat menentukan kualitas dan keamanan pada daging ayam. Penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan di RPHU harus mencakup aspek higiene, sanitasi, kehalalan, dan kesejahteraan hewan agar menghasilkan daging yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Dari berbagai aspek tersebut, dalam artikel ini penulis akan lebih menjabarkan terkait pentingnya penerapan kesejahteraan hewan dalam rangkaian proses di RPHU. Pasalnya penulis melihat bahwa masih sering dijumpai pelanggaran kesejahteraan hewan di dunia perunggasan terkhusus dalam rangkaian proses di RPHU. Kesejahteraan hewan merupakan segala hal yang berhubungan dengan mental maupun fisik dari hewan, berdasar perilaku alaminya yang perlu diterapkan. Yang mana berdasarkan Office International des Epizooties (OIE) atau saat ini lebih dikenal dengan World Organization of Animal Health (WOAH), terdapat 5 prinsip yang harus dipenuhi yaitu bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit; bebas dari ketidaknyamanan, penganiayaan, dan penyalahgunaan; bebas dari rasa takut dan tertekan; serta bebas untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Di Indonesia persoalan kesejahteraan hewan secara umum diatur dalam Undang-undang RI No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan lebih khusus disempurnakan oleh Peraturan Pemerintah No. 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Oleh : Monika Ramadhani, S.Pt* 60 u Edisi Maret 2023 Penyembelihan dilakukan oleh Juleha secara manual satu per satu dengan pisau yang tajam dengan sekali potong pada 3 saluran Penerapan Kesejahteraan Hewan dalam RPHU


Penerapan kesejahteraan hewan dalam rangkaian proses RPHU akan berpengaruh terhadap kualitas dan masa simpan karkas yg dihasilkan. Untuk itu aspek kesejahteraan hewan yang dimulai dari kedatangan sampai ayam dinyatakan mati setelah penyembelihan perlu diperhatikan. Daging ayam merupakan pangan sumber protein hewani yang kini sangat digandrungi oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Selain kandungan zat gizi yang sangat baik untuk kesehatan dan pertumbuhan manusia, aspek ketersediaan dan harga yang sangat terjangkau membuat jenis pangan ini menjadi menu andalan yang banyak dijumpai di meja makan. Hal ini cukup beralasan, karena selain dari segi suplai yang melimpah, harga protein hewani daging ayam jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan harga protein daging lain, seperti daging sapi. Kandungan protein dalam 100 gr daging sapi adalah 18,8%, dengan harga protein/gr sekitar Rp585,00. Sedangkan kandungan protein dalam 100 gr daging ayam adalah 18,2%, dengan harga protein/gr berkisar Rp165,00. Namun demikian di balik keunggulan yang dimilikinya, daging ayam dikategorikan sebagai pangan yang mudah rusak (perishable food) dan pangan yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan manusia (potentially hazardous food). Untuk itu agar daging tetap bermutu baik, aman dan layak untuk dikonsumsi, maka perlu penanganan yang baik dan aman mulai dari peternakan sampai siap untuk disantap (safe from farm to table). Yang mana pemrosesan di rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) menjadi salah satu tahap krusial yang sangat menentukan kualitas dan keamanan pada daging ayam. Penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan di RPHU harus mencakup aspek higiene, sanitasi, kehalalan, dan kesejahteraan hewan agar menghasilkan daging yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Dari berbagai aspek tersebut, dalam artikel ini penulis akan lebih menjabarkan terkait pentingnya penerapan kesejahteraan hewan dalam rangkaian proses di RPHU. Pasalnya penulis melihat bahwa masih sering dijumpai pelanggaran kesejahteraan hewan di dunia perunggasan terkhusus dalam rangkaian proses di RPHU. Kesejahteraan hewan merupakan segala hal yang berhubungan dengan mental maupun fisik dari hewan, berdasar perilaku alaminya yang perlu diterapkan. Yang mana berdasarkan Office International des Epizooties (OIE) atau saat ini lebih dikenal dengan World Organization of Animal Health (WOAH), terdapat 5 prinsip yang harus dipenuhi yaitu bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit; bebas dari ketidaknyamanan, penganiayaan, dan penyalahgunaan; bebas dari rasa takut dan tertekan; serta bebas untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Di Indonesia persoalan kesejahteraan hewan secara umum diatur dalam Undang-undang RI No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan lebih khusus disempurnakan oleh Peraturan Pemerintah No. 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Oleh : Monika Ramadhani, S.Pt* 60 u Edisi Maret 2023 Penyembelihan dilakukan oleh Juleha secara manual satu per satu dengan pisau yang tajam dengan sekali potong pada 3 saluran Penerapan Kesejahteraan Hewan dalam RPHU


62 u Edisi Maret 2023 Kesejahteraan Hewan. Penerapan kesejahteraan hewan dalam rangkaian proses di RPHU akan sangat berpengaruh terhadap kualitas dan masa simpan karkas yg dihasilkan. Hal ini juga akan diikuti dengan peningkatan keuntungan ekonomi yang diperoleh. Secara teknis pemotongan dengan prinsip kesejahteraan hewan dapat memudahkan penanganan ayam, memperkecil terjadinya kecelakaan ayam, memperoleh kualitas daging yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal), tidak menurunkan kandungan gizi serta tidak membahayakan kesehatan masyarakat yang mengonsumsi daging. Sebaliknya, pemotongan yang tidak menerapkan prinsip kesejahteraan hewan dapat menimbulkan ketakutan, stres dan rasa sakit pada ayam. Hal tersebut dapat membuat karkas mengalami dark firm dry (DFD) yang terjadi akibat dari stres pre-slaughter sehingga terjadi pengosongan persediaan glikogen pada otot. Keadaan ini menyebabkan kadar asam laktat pada otot berkurang dan meningkatkan pH daging melebihi dari normal. Pada kondisi seperti ini, maka proses postmortem tidak berjalan sempurna yang terlihat pada warna daging lebih gelap, kaku dan kering. Selain itu pH daging yang tinggi akan mengakibatkan daging lebih sensitif terhadap tumbuhnya bakteri, sehingga masa simpan pun akan terganggu. Pelaksanaan kesejahteraan hewan Dalam buku “Pedoman Rumah Potong Hewan Unggas (RPH-U) yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menjelaskan bahwa penerapan kesejahteraan hewan di RPHU dimulai dari kedatangan sampai ayam dinyatakan mati setelah penyembelihan. Setelah menempuh perjalanan, ketika sampai di RPHU ayam perlu diistirahatkan terlebih dahulu (sekitar 1 jam) dengan ditempatkan di area yang teduh, berangin, serta terhindar dari panas maupun hujan. Hal ini untuk menghindari ayam stres, panting dan dehidrasi. Untuk menghindari hal tersebut, bisa juga ditambahkan penyiraman dengan air. Kemudian ketika pembongkaran, harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak diperkenankan untuk membanting keranjang. Keranjang yang disarankan terbuat dari plastik dan berpenutup, agar ayam tidak mudah terluka karena goresan dan tidak terjepit di antara tumpukan keranjang. Luas keranjang yang diperlukan dalam pengangkutan minimal 200 cm2/kg berat badan hidup dengan tinggi minimal 28 cm. Hal ini memungkinkan adanya ruang untuk ayam bergerak sehingga tidak berdesakan ataupun saling injak. Kemudian saat pembongkaran, keranjang berisi ayam disiram dengan air dan diberi ruang agar sirkulasi udara terjaga, sehingga ayam tidak kepanasan dan bisa bernapas dengan baik (mencegah panting). Penyiraman ini juga bertujuan untuk membersihkan kotoran ayam selama perjalanan. Dalam proses ini, harus dipisahkan antara ayam sehat dengan ayam mati/sakit. Setelah pembongkaran, ayam ditimbang untuk mengetahui bobot akhir dan susut selama perjalanan. Setelah itu ayam akan melalui conveyor untuk masuk ke area pencahayaan redup (blue room). Area blue room merupakan ruang yang dilengkapi dengan lampu LED (Light-Emitting Diode) berwarna biru agar ayam tenang saat dilakukan proses penggantungan, sehingga meminimalisir cidera, patah dan stres sebelum penyembelihan. Selain itu dalam area blue room ini, ayam akan melalui proses penggantungan (hanging). Teknik penggantungan ke conveyor dilakukan dengan memegang kedua paha ayam sehingga ayam lebih tenang, kaki tidak patah dan tidak mengepakkan sayap yang menyebabkan patah paha, sayap, ataupun memar yang membuat kualitasnya menurun (grade B) ketika telah menjadi karkas. Kemudian ayam akan masuk ke area stunning untuk dilakukan pemingsanan dalam bak air yang sudah dialiri listrik. Stunning bertujuan untuk memingsankan ayam, agar ketika disembelih dan penirisan darah, ayam lebih tenang dan tidak merasakan sakit. Yang harus dicatat ketika proses stunning adalah ayam tidak boleh sampai mati dan terjadi cedera fisik, karena jika mati maka menjadi tidak halal. Setelah proses stunning, ayam disembelih oleh juru sembelih halal (Juleha) secara manual satu per satu dengan pisau yang tajam dengan sekali potong pada 3 saluran, yakni nadi, napas, dan makan. Setelah proses penyembelihan, darah ayam dibiarkan keluar semua dengan waktu minimal 3 menit sebelum proses berikutnya. Darah yang tersisa dapat menurunkan kualitas dan self life pada karkas yang disimpan. Dan untuk catatan, pemeriksaan terhadap kejadian memar pada karkas dapat dilakukan pada pemeriksaan postmortem. Jika kejadian memar ≥ 5%, maka manajemen RPHU harus melakukan evaluasi terhadap penerapan kesejahteraan hewan pada saat pengeluaran ayam dari keranjang dan penggantungan. Selain itu RPHU juga dapat memberikan masukan kepada pemasok ayam terkait proses pemanenan ayam di kandang dan transportasi yang dilakukan. *Supervisor Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), PT Widodo Makmur Unggas Tbk Ketika sampai di RPHU, ayam perlu diistirahatkan terlebih dahulu dengan menempatkan kendaraan di area yang teduh, berangin, serta terhindar dari panas maupun hujan


64 u Edisi Maret 2023 Fluktuasi harga produk asal unggas terus terjadi hingga saat ini. Oversupply disinyalir menjadi salah satu faktor yang membuat hal ini terus terjadi. CATATAN HARGA Usaha perunggasan baik pedaging dan petelur menjadi salah satu komoditas ternak paling strategis dalam upaya pembangunan sumber daya manusia. Keberlanjutan ketersediaan dan keterjangkauan membuat daging dan telur ayam ras banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut juga dibarengi dengan perkembangan yang sangat pesat pada industri pendukungnya. Namun demikian , di tengah potensi dan perkembangannya, masalah klasik fluktuasi harga jual ayam hidup atau livebird (LB) serta telur di tingkat peternak menjadi sebuah pekerjaan rumah yang harus dipikirkan bersama. Seperti kita tahu, bahwa harga suatu komoditas selalu berhubungan dengan hukum permintaan dan penawaran. Hal ini merupakan sebuah kelaziman dalam mekanisme pasar. Begitu pun pada komoditas produk unggas. Seperti contoh, beberapa tahun lalu ketika kasus Covid-19 sedang tinggi dan berhasil mengguncang perekonomian Indonesia, sehingga daya beli masyarakat melemah, serapan dan permintaan produk unggas menurun sehingga membuat harga jatuh. Ataupun saat momen puasa/lebaran, dimana harga produk unggas kecenderungannya naik karena permintaan yang tinggi dari masyarakat. Fluktuasi harga pada 2 komoditas produk unggas pun masih terjadi pada bulan ini. Berdasarkan data yang telah dihimpun oleh Poultry Indonesia melalui asosiasi Pinsar Indonesia memperlihatkan bahwa sepanjang bulan telah terjadi fluktuasi harga telur ayam ras tingkat peternak di berbagai daerah di Indonesia. Gejolak harga cukup nyata terjadi di Blitar sebagai sentra produksi, yang mana pada minggu pertama, harga telur di daerah ini berada di kisaran Rp22.000,00/kg. Dengan demikian harga tersebut berada di bawah harga acuan pembelian/penjualan (HAP) Perbadan no 5 tahun 2022. Memasuki minggu kedua harga mulai naik dan berhasil berada di atas HAP, namun kembali terpuruk pada minggu berikutnya. Kemudian, untuk daerah pantauan lain,, fluktuasi harga juga berlangsung. Kendati tidak sampai berada di bawah HAP, namun gejolaknya juga berlangsung sepanjang bulan. Seperti di daerah Bandung, dengan harga jual tertinggi sebesar Rp24.500,00/kg dan terendah pada level Rp23.200,00/kg. Tak terkecuali bagi daerah di luar pulau Jawa. Seperti Aceh dengan harga jual yang stabil diangka Rp25.600/kg dan di akhir bulan Februari justru tingkat harga jatuh di level Rp20.300/kg. Sedangkan untuk daerah Kalimantan, terkhusus Balikpapan harga telur ayam ras stabil tinggi dikisaran Rp27.000,00-28.000,00/kg. Di sisi lain, gejolak lebih berat dirasakan oleh para pelaku usaha ayam ras pedaging. Berbeda dengan telur yang gejolaknya masih berada di atas atau sedikit di bawah HAP, harga LB bergejolak di bawah HAP, bahkan dengan selisih cukup jauh. Berdasarkan daerah yang dipantau Poultry Indonesia, hampir semua harga LB ditingkat peternak berada di bawah HAP. Bogor sebagai daerah penyangga Ibukota Jakarta harus menerima harga jual yang rendah di kisaran Rp16.500,00-19.250,00/kg. Kemudian Semarang sebagai daerah yang juga berada pulau Jawa juga bernasib serupa, dengan harga jual LB dikisaran Rp15.250,00-17.250,00/kg. Setali tiga uang, kondisi tak jauh berbeda juga terjadi di luar pulau Jawa. Yang mana Lampung dan Makassar sebagai sampel pantauan menerima harga jual LB di kisaran Rp15.000,00- 18.000,00/kg. Kemudian serupa dengan telur, daerah Balikpapan masih perkasa dengan harga yang tinggi mencatatkan harga tertingga Rp27.250,00/kg dan harga terendah Rp20.000,00/kg. Terpuruknya harga jual LB di tingkat peternak ditengarai karena oversupply yang berlebihan dan susah untuk dikendalikan. Dalam sebuah seminar daring, Minggu (19/2) I Gusti Ketut Astawa Berdasarkan prognosa NFA akan terjadi potensi surplus produksi sebesar 538,999 ton di akhir tahun 2023 Harga Berfluktuasi di Tengah Ancaman Kelebihan Produksi Edisi Maret 2023 u 65 Grafik 1. Harga Telur Ayam Ras di Tingkat Peternak Bulan Februari 2023 Sumber : www.pinsarindonesia.com, diolah Poultry Indonesia selaku Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menjelaskan bahwa berdasarkan prognosa daging ayam nasional tahun 2023, menunjukkan bahwa terjadi potensi surplus produksi hampir setiap bulan kecuali pada Maret 2023. Secara keseluruhan pada akhir tahun 2023 terjadi potensi surplus sebesar 538,999 ton. Menurut Ketut hal ini harus diperhatikan, karena apabila posisi setiap bulan seperti ini, maka harga di peternak akan susah untuk diangkat. “Di ayam ras pedaging ini cukup berbeda dengan komoditas pangan lain, seperti halnya beras. Walaupun terjadi surplus di beberapa bulan ketika panen raya, namun terdapat bulan yang produksinya kosong sehingga produksi surplus dapat menutup kebutuhan di bulan lain. Berbeda dengan ayam ras pedaging yang hampir setiap bulan terjadi surplus produksi. Untuk itu, hal inilah yang harus bersama kita cari solusinya,” terang Ketut. Terkait harga, Ketut mengakui bahwa di beberapa wilayah memang masih terdapat tingkat harga yang rendah dan di bawah harga acuan. Seperti halnya di Jawa Tengah, dimana harga LB di tingkat peternak per 17 Februari berada di kisaran Rp18.000,00/Kg. Dirinya melanjutkan beberapa hal yang telah dilakukan NFA untuk menyikapi hal tersebut adalah penetapan Harga Acuan Pembelian atau Penjualan (HAP) berdasarkan Perbadan No 5 Tahun 2022. Hal ini sebagai pedoman intervensi kebijakan yang akan dilakukan oleh NFA apabila terdapat fluktuasi perunggasan. “Selain itu kebijakan jangka pendek yang telah dilakukan oleh NFA untuk mengendalikan harga LB di tingkat farm adalah dengan memfasilitasi mobilisasi daging ayam serta memfasilitasi penyerapan LB oleh BUMN pangan dan perusahaan integrator. Kemudian NFA juga telah menyiapkan beberapa cold storage sebagai stabilisasi pasokan dengan peningkatan umur simpan pangan perishable. Walaupun sistem rantai dingin telah dikembangkan, tapi oversupply berlebihan masih terjadi fenomenanya pun akan sama saja. Untuk itu pengendalian produksi tetap harus berjalan dengan baik,” tambahnya. Masih dalam acara yang sama, Singgih Januratmoko, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Indonesia menyampaikan bahwa selama beberapa tahun terakhir peternak ayam ras pedaging menghadapi gonjang-ganjing yang luar biasa dan menyebabkan banyak peternak yang merugi. Saat ini pun, Singgih melanjutkan peternak banyak mengalami masalah pembayaran dengan pabrik pakan, bahkan ada yang sampai dibawa ke meja pengadilan (PKPU). “Kondisi berat juga dirasakan oleh usaha budi daya breeding, di awal tahun 2023 harga DOC jatuh hingga Rp1.500,00/ekor. Kalau kita melihat kebelakang, seharusnya panen saat ini sudah membaik karena impor GPS nya sudah berkurang. Namun ternyata, praktik di lapangan secara genetik ayam telah bekembang sehingga produksi GPS ke PS dan berlanjut ke FS sudah semakin baik. Jadi hal itu membuat kesalahan hitung dan berlanjut ke oversupply hingga di peternak. Perhitungan ini tentu harus menjadi koreksi. Apabila hal ini tidak segera tertangani dengan baik, maka kondisinya akan sama seperti peternak mandiri yang jumlahnya semakin kecil. Artinya para breeding kecil pun juga akan tidak mampu bertahan apabila kondisi seperti ini terus,” tegasnya. Dirinya juga menyinggung walaupun saat ini juga sudah ada kebijakan cutting dikeluarkan,namun harga LB juga tidak mampu terangkat. Singgih melihat hal ini disebabkan karena hitungannya yang kurang tepat. Dan saat ini, lanjut Singgih berdasarkan info yang didapatkan di cold storage terdapat 200 ribu ton lebih karkas atau setara dengan produksi 1 bulan DOC. Jadi apabila dulu oversupply berada di kandang, tapi sekarang di kandang dan di cold storage. Sandi Grafik 2. Harga Livebird di Tingkat Peternak Bulan Februari 2023 Sumber : www.pinsarindonesia.com, diolah Poultry Indonesia


Edisi Maret 2023 u 65 Grafik 1. Harga Telur Ayam Ras di Tingkat Peternak Bulan Februari 2023 Sumber : www.pinsarindonesia.com, diolah Poultry Indonesia selaku Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menjelaskan bahwa berdasarkan prognosa daging ayam nasional tahun 2023, menunjukkan bahwa terjadi potensi surplus produksi hampir setiap bulan kecuali pada Maret 2023. Secara keseluruhan pada akhir tahun 2023 terjadi potensi surplus sebesar 538,999 ton. Menurut Ketut hal ini harus diperhatikan, karena apabila posisi setiap bulan seperti ini, maka harga di peternak akan susah untuk diangkat. “Di ayam ras pedaging ini cukup berbeda dengan komoditas pangan lain, seperti halnya beras. Walaupun terjadi surplus di beberapa bulan ketika panen raya, namun terdapat bulan yang produksinya kosong sehingga produksi surplus dapat menutup kebutuhan di bulan lain. Berbeda dengan ayam ras pedaging yang hampir setiap bulan terjadi surplus produksi. Untuk itu, hal inilah yang harus bersama kita cari solusinya,” terang Ketut. Terkait harga, Ketut mengakui bahwa di beberapa wilayah memang masih terdapat tingkat harga yang rendah dan di bawah harga acuan. Seperti halnya di Jawa Tengah, dimana harga LB di tingkat peternak per 17 Februari berada di kisaran Rp18.000,00/Kg. Dirinya melanjutkan beberapa hal yang telah dilakukan NFA untuk menyikapi hal tersebut adalah penetapan Harga Acuan Pembelian atau Penjualan (HAP) berdasarkan Perbadan No 5 Tahun 2022. Hal ini sebagai pedoman intervensi kebijakan yang akan dilakukan oleh NFA apabila terdapat fluktuasi perunggasan. “Selain itu kebijakan jangka pendek yang telah dilakukan oleh NFA untuk mengendalikan harga LB di tingkat farm adalah dengan memfasilitasi mobilisasi daging ayam serta memfasilitasi penyerapan LB oleh BUMN pangan dan perusahaan integrator. Kemudian NFA juga telah menyiapkan beberapa cold storage sebagai stabilisasi pasokan dengan peningkatan umur simpan pangan perishable. Walaupun sistem rantai dingin telah dikembangkan, tapi oversupply berlebihan masih terjadi fenomenanya pun akan sama saja. Untuk itu pengendalian produksi tetap harus berjalan dengan baik,” tambahnya. Masih dalam acara yang sama, Singgih Januratmoko, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Indonesia menyampaikan bahwa selama beberapa tahun terakhir peternak ayam ras pedaging menghadapi gonjang-ganjing yang luar biasa dan menyebabkan banyak peternak yang merugi. Saat ini pun, Singgih melanjutkan peternak banyak mengalami masalah pembayaran dengan pabrik pakan, bahkan ada yang sampai dibawa ke meja pengadilan (PKPU). “Kondisi berat juga dirasakan oleh usaha budi daya breeding, di awal tahun 2023 harga DOC jatuh hingga Rp1.500,00/ekor. Kalau kita melihat kebelakang, seharusnya panen saat ini sudah membaik karena impor GPS nya sudah berkurang. Namun ternyata, praktik di lapangan secara genetik ayam telah bekembang sehingga produksi GPS ke PS dan berlanjut ke FS sudah semakin baik. Jadi hal itu membuat kesalahan hitung dan berlanjut ke oversupply hingga di peternak. Perhitungan ini tentu harus menjadi koreksi. Apabila hal ini tidak segera tertangani dengan baik, maka kondisinya akan sama seperti peternak mandiri yang jumlahnya semakin kecil. Artinya para breeding kecil pun juga akan tidak mampu bertahan apabila kondisi seperti ini terus,” tegasnya. Dirinya juga menyinggung walaupun saat ini juga sudah ada kebijakan cutting dikeluarkan,namun harga LB juga tidak mampu terangkat. Singgih melihat hal ini disebabkan karena hitungannya yang kurang tepat. Dan saat ini, lanjut Singgih berdasarkan info yang didapatkan di cold storage terdapat 200 ribu ton lebih karkas atau setara dengan produksi 1 bulan DOC. Jadi apabila dulu oversupply berada di kandang, tapi sekarang di kandang dan di cold storage. Sandi Grafik 2. Harga Livebird di Tingkat Peternak Bulan Februari 2023 Sumber : www.pinsarindonesia.com, diolah Poultry Indonesia


POJOK OBAT UNGGAS 66 u Edisi Maret 2023 Antelmintik yang baik (ideal) sebaiknya mempunyai spektrum yang luas, tidak toksik, batas keamanan lebar, cepat dalam proses metabolisme, mudah digunakan atau diaplikasikan, serta biayanya cukup murah. Berdasarkan cara kerjanya, antelmintik dapat dibagi ke dalam 5 kelas (Bjørn 1992; Permin dan Hansen 1998) yaitu : Kelas I. Benzimidazole dan pro-benzimidazoles. Kelas ini menghambat fungsi mikrotubuli sehingga fungsi seluler cacing rusak dan cacing mati. Contoh dari kelas ini adalah albendazole, thiabendazole, fenbendazole, parbendazole, flubendazole, febantel dan thiophanat. Kelas II. Antelmintik yang bekerja pada neuromuskuler (Neuromuscular acting compounds). Kelas ini bekerja pada reseptor asetilkolin di dalam sistem saraf cacing menyebabkan depolarisasi yang persisten pada sel-sel otot dan terjadi spastic paralysis (kelumpuhan yang disertai dengan kekakuan) pada cacing yang kemudian dapat dikeluarkan oleh gerakan usus. Contoh dari kelas ini levamisol, pirantel dan morantel. Kelas III. Antelmintik yang bekerja pada GABA (GABA acting compounds). Kelas ini bekerja pada sistem saraf yang menyebabkan saraf-saraf presinap dirangsang untuk melepaskan Gamma aminobutyric acid (GABA). Hal tersebut menyebabkan flaccid paralysis (kelumpuhan yang disertai kelemahan) pada cacing dan bisa dikeluarkan oleh gerakan usus. Contoh dari kelas ini terdiri dari jenis yaitu piperazin dan avermectin (ivermectin, doramectin, moxidectin) yang terakhir mempunyai juga efek melawan beberapa ektoparasit seperti tungau. Kelas IV. Salisilanid dan senyawa nitrofenol. Kelas ini khas digunakan melawan parasit penghisap darah karena komponennya setelah diserap melekat erat dengan protein-protein plasma. Contoh dari kelas ini adalah klosantel, niklosamid, disofenol, bromsalan dan lain-lain. Kelas V. Inhibitor Asetilkolin esterase. Kelas ini adalah komponen yang mengandung organofosfat yang digunakan secara terbatas yaitu diklorvos dan neguvon.Kelas IV dan V hanya digunakan pada beberapa keadaan, mungkin karena aktivitas spektrumnya yang sempit. Masalah dalam pengendalian infeksi cacing Ada sejumlah masalah utama dalam pengendalian helminthiasis yang pertama yaitu kurangnya perhatian dan pengetahuan peternak terhadap infeksi cacing karena penyakit ini jarang menimbulkan kematian dalam jumlah yang besar. Cacing parasit merupakan “musuh dalam selimut” yang menggerogoti ternak dari dalam. Walaupun umumnya tidak menyebabkan kematian secara langsung, cacing parasit menyebabkan penurunan berat badan pada hewan dewasa dan hambatan pertumbuhan pada ternak muda. Di samping itu hewan juga mengalami penurunan kondisi, sehingga memungkinkan timbulnya berbagai penyakit, baik bakterial, viral maupun parasiter lainnya. Ternak yang sedang mengalami infeksi cacing yang berat, tidak dapat memberikan respons kebal yang baik terhadap vaksinasi (penurunan titer antibodi) dan dapat menyebabkan kegagalan vaksinasi (Horning dkk., 2003). Menurut Van dkk. (2020), perkembangan ayam sangat dipengaruhi oleh parasit. Penyakit parasit pada ayam menyebabkan kesulitan di dalam pengelolaan dan mengembangkan ayam untuk mencapai produksi yang optimal. Masalah lain dalam usaha pengendalian cacing parasit adalah masalah adanya resistensi terhadap antelmintika. Gejala ini sudah terlihat pada beberapa jenis antelmintik seperti albendazole dan Levamisole. Resistensi terhadap antelmintikmenurut Permin dan Hansen (1998) adalah kenaikan kemampuan individu parasit secara signifikan dalam toleransi dosis pengobatan yang secara umum dapat mematikan sebagian besar individu parasit dalam populasi normal pada spesies hewan yang sama. Resistensi terhadap antelmintik telah menyebar dan meningkatkan masalah dalam program pengendalian penyakit cacing. Penyebab utama timbulnya resistensi ialah tingginya frekuensi pengobatan sebagai akibat derajat infeksi cacing yang selalu tinggi sepanjang tahun. Disamping itu penggunaan satu kelas obat secara terus-menerus juga faktor yang mendorong terjadinya Antelmintik atau obat anti cacing adalah obat yang digunakan untuk memberantas atau mengurangi cacing parasit di dalam lumen usus atau jaringan badan. Oleh : Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, MS* Manajemen Pemberian Antelmintik pada Peternakan Ayam Petelur


resistensi (Ridwan dkk., 2000). Resistensi terhadap antelmintik banyak dilaporkan pada ruminansia terutama domba. Selain terhadap Benzilmidazol, resistensi juga dilaporkan terhadap levamisol. Selain cacing pada domba, resistensi juga ditemukan pada cacing yang menginfeksi kambing, kuda dan babi (Bjørn, 1992). Resistensi terhadap antelmintikpada cacing yang menginfeksi unggas sampai saat ini belum banyak banyak dilaporkan.Akibat resistensi ini berbagai jenis obat cacing tidak lagi efektif terhadap cacing target sehingga untuk mencapai penurunan jumlah cacing yang diinginkan dosis obat harus terus ditingkatkan Faktor-faktor yang mendukung perkembangan resistensi antelmintika Secara teori terdapat serangkaian faktor risiko untuk perkembangan resistensi terhadap antelmintik yang telah diketahui dan banyak yang telah terbukti di dalam prakteknya. Faktor paling penting dari risiko perkembangan resistensi tersebut diantaranya frekuensi pemberian antelmintik, penggunaan kelas yang sama untuk jangka panjang, waktu pengobatan, ukuran dosis, dan sifat farmakokinetik obat. Risiko tertinggi terjadinya perkembangan resistensi antelmintik yaitu dari frekuensi pemberian antelmintik atau seringnya hewan mendapat pengobatan antelmintika. Jika interval pemberian antelmintik mengikuti periode pre-paten cacing, maka perkembangan resistensi akan terjadi dengan cepat, yaitu secepat individu-individu yang tahan terhadap antelmintik akan kawin dan menghasilkan keturunan-keturunan yang resisten. Hal ini mungkin yang menjadi alasan utama kenapa masalah ini menyebar luas terutama pada kuda, domba, dan kambing yang sering mendapat pengobatan antelmintik dengan frekuensi 5-12 kali pertahun. Reisitensi antelmintika juga sangat dipengaruhi oleh penggunaan kelas obat yang sama dalam jangka waktu yang panjang. Walaupun banyak antelmintik dengan berbagai merek, namun sebenarnya hanya ada 5 kelas antelmintika, serta antelmintik di dalam satu kelas mempunyai cara kerja yang sama. Resistensi yang berkembang terhadap satu jenis obat memberi arti bahwa populasi cacing yang resisten juga kemungkinan besar resisten terhadap obat lain dari kelas yang sama (kekebalan silang). Oleh karena itu pengobatan dengan obat yang sama untuk waktu yang lama pada populasi cacing, dapat menyebabkan dorongan terjadinya seleksi tinggi secara konsisten. Hal ini jelas mengakibatkan terjadinya akumulasi yang cepat dari gen-gen resisten dibandingkan jika diberikan antelmintik dengan jenis/kelas obat yang berbeda-beda dengan cara kerja yang berbeda juga. Waktu Pengobatan juga berperan penting terhadap perkembangan resistensi antelmintik. Jika pengobatan bersifat represif contohnya pada unggas yang terinfeksi namun unggas tetap dipelihara di lingkungan yang sudah tercemar dengan derajat tinggi, hal ini akan menyebabkan cacing-cacing yang resisten dan tidak mati dengan pengobatan sekaligus menghasilkan keturunan yang resisten terhadap antelmintika. Sampai saat ini antelmintik dianggap efektif apabila dapat mengeluakan cacing hanya 80-90 persen dari populasi cacing. Sekarang ini ada kesepakatan umum bahwa populasi cacing yang sensitif terhadap antelmintik seluruhnya harus dikeluarkan dengan pengobatan yang benar. Hal ini memperketat kriteria untuk obat yang efisien berdasarkan hal di atas bahwa ada sejumlah cacing yang mampu bertahan pada waktu pemberian obat dan menjadi timbulnya resistensi antelmintika. Hal yang mirip yaitu pemberian antelmintik dengan dosis yang lebih rendah (under dosing) memperlihatkan dapat menjadi faktor risiko yang potensial. Alasan umum kenapa terjadi under dosing karena peternak tidak mengetahui berat ternak seluruhnya, oleh karena itu memakai dosis rata-rata untuk seluruh ternak di dalam satu flok (termasuk ternak yang paling berat), atau peternak menggunakan pengobatan massal dengan mencampur obat ke dalam pakan atau air minum dimana ada kemungkinan beberapa individu mendapat dosis yang terlalu rendah. Faktor sifat farmakokinetik obat juga perlu diperhatikan dalam pemberian antelmintika. Setelah diberikan ke ternak, obat cacing (antelmintika) menunjukkan sifat berbeda-beda. Contoh kapan dan berapa lama konsentrasi obat ada di atas level terapeutik dan ada berapa lama ada di level subterapeutik tapi tetap selektif. Jenis cacing yang ditemukan di peternakan ayam petelur Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di peternakan ayam petelur di Kabupaten Malang berpendapat jenis cacing yang paling sering ditemukan pada ayam petelur yaitu berturut-turut adalah cacing pita (Cestoda) sebesar 77%; cacing pipih (Trematoda) sebesar 9% dan cacing gilik/gelang (Nematoda) 8%; dan.Sedangkan peternak di Kabupaten Jombang berpendapat cacing yang paling sering ditemukan yaitu Nematoda 37%; Cestoda 31% dan Trematoda 19%. Sebagian besar peternak di wilayah Kabupaten Malang, Blitar dan Kediri berpendapat, Cestoda merupakan cacing yang paling sering ditemukan pada peternakan ayam petelur dengan persentase berturut turut adalah 77%; 70,83% dan 66,67%. Hasil tersebut tidak berbeda dengan hasil pemeriksaan cacing pada usus ayam petelur di Kabupaten Bogor memperlihatkan bahwa cacing Cestoda lebih sering ditemukan daripada Nematoda (Zalizar, 2006). Cestoda merupakan cacing yang siklus hidupnya memerlukan inang antara. Inang antara Cestoda antara lain semut, lalat dan kumbang beras, dan sering ditemukan di peternakan ayam yang sanitasinya kurang baik. Penelitian ini dilakukan pada peternakan dengan rataan populasinya 17.433 ekor ayam. Peternakan tersebut termasuk dalam peternakan kategori empat (4) yaitu termasuk peternakan rakyat dengan populasi kurang dari 20.000 ekor dan umumnya dikelola kurang profesional dan tidak terlalu memperhatikan sanitasi kandang dan lingkungan perkandangan. Pendapat peternak Kabupaten Jombang berbeda dengan Malang. Peternak ayam petelur di Kabupaten Jombang yang berpendapat cacing Nematoda lebih sering ditemukan banyak dibandingkan yang berpendapat cacing Cestoda. Cacing Nematoda yang umumnya ditemukan pada usus halus ayam petelur adalah Ascaridia galli (Zalizar, 2006). Siklus hidup 68 u Edisi Maret 2023 POJOK OBAT UNGGAS Gambar 1. Cacing Ascaridia galli dari Usus Ayam Petelur (dokumentasi pribadi)


resistensi (Ridwan dkk., 2000). Resistensi terhadap antelmintik banyak dilaporkan pada ruminansia terutama domba. Selain terhadap Benzilmidazol, resistensi juga dilaporkan terhadap levamisol. Selain cacing pada domba, resistensi juga ditemukan pada cacing yang menginfeksi kambing, kuda dan babi (Bjørn, 1992). Resistensi terhadap antelmintikpada cacing yang menginfeksi unggas sampai saat ini belum banyak banyak dilaporkan.Akibat resistensi ini berbagai jenis obat cacing tidak lagi efektif terhadap cacing target sehingga untuk mencapai penurunan jumlah cacing yang diinginkan dosis obat harus terus ditingkatkan Faktor-faktor yang mendukung perkembangan resistensi antelmintika Secara teori terdapat serangkaian faktor risiko untuk perkembangan resistensi terhadap antelmintik yang telah diketahui dan banyak yang telah terbukti di dalam prakteknya. Faktor paling penting dari risiko perkembangan resistensi tersebut diantaranya frekuensi pemberian antelmintik, penggunaan kelas yang sama untuk jangka panjang, waktu pengobatan, ukuran dosis, dan sifat farmakokinetik obat. Risiko tertinggi terjadinya perkembangan resistensi antelmintik yaitu dari frekuensi pemberian antelmintik atau seringnya hewan mendapat pengobatan antelmintika. Jika interval pemberian antelmintik mengikuti periode pre-paten cacing, maka perkembangan resistensi akan terjadi dengan cepat, yaitu secepat individu-individu yang tahan terhadap antelmintik akan kawin dan menghasilkan keturunan-keturunan yang resisten. Hal ini mungkin yang menjadi alasan utama kenapa masalah ini menyebar luas terutama pada kuda, domba, dan kambing yang sering mendapat pengobatan antelmintik dengan frekuensi 5-12 kali pertahun. Reisitensi antelmintika juga sangat dipengaruhi oleh penggunaan kelas obat yang sama dalam jangka waktu yang panjang. Walaupun banyak antelmintik dengan berbagai merek, namun sebenarnya hanya ada 5 kelas antelmintika, serta antelmintik di dalam satu kelas mempunyai cara kerja yang sama. Resistensi yang berkembang terhadap satu jenis obat memberi arti bahwa populasi cacing yang resisten juga kemungkinan besar resisten terhadap obat lain dari kelas yang sama (kekebalan silang). Oleh karena itu pengobatan dengan obat yang sama untuk waktu yang lama pada populasi cacing, dapat menyebabkan dorongan terjadinya seleksi tinggi secara konsisten. Hal ini jelas mengakibatkan terjadinya akumulasi yang cepat dari gen-gen resisten dibandingkan jika diberikan antelmintik dengan jenis/kelas obat yang berbeda-beda dengan cara kerja yang berbeda juga. Waktu Pengobatan juga berperan penting terhadap perkembangan resistensi antelmintik. Jika pengobatan bersifat represif contohnya pada unggas yang terinfeksi namun unggas tetap dipelihara di lingkungan yang sudah tercemar dengan derajat tinggi, hal ini akan menyebabkan cacing-cacing yang resisten dan tidak mati dengan pengobatan sekaligus menghasilkan keturunan yang resisten terhadap antelmintika. Sampai saat ini antelmintik dianggap efektif apabila dapat mengeluakan cacing hanya 80-90 persen dari populasi cacing. Sekarang ini ada kesepakatan umum bahwa populasi cacing yang sensitif terhadap antelmintik seluruhnya harus dikeluarkan dengan pengobatan yang benar. Hal ini memperketat kriteria untuk obat yang efisien berdasarkan hal di atas bahwa ada sejumlah cacing yang mampu bertahan pada waktu pemberian obat dan menjadi timbulnya resistensi antelmintika. Hal yang mirip yaitu pemberian antelmintik dengan dosis yang lebih rendah (under dosing) memperlihatkan dapat menjadi faktor risiko yang potensial. Alasan umum kenapa terjadi under dosing karena peternak tidak mengetahui berat ternak seluruhnya, oleh karena itu memakai dosis rata-rata untuk seluruh ternak di dalam satu flok (termasuk ternak yang paling berat), atau peternak menggunakan pengobatan massal dengan mencampur obat ke dalam pakan atau air minum dimana ada kemungkinan beberapa individu mendapat dosis yang terlalu rendah. Faktor sifat farmakokinetik obat juga perlu diperhatikan dalam pemberian antelmintika. Setelah diberikan ke ternak, obat cacing (antelmintika) menunjukkan sifat berbeda-beda. Contoh kapan dan berapa lama konsentrasi obat ada di atas level terapeutik dan ada berapa lama ada di level subterapeutik tapi tetap selektif. Jenis cacing yang ditemukan di peternakan ayam petelur Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di peternakan ayam petelur di Kabupaten Malang berpendapat jenis cacing yang paling sering ditemukan pada ayam petelur yaitu berturut-turut adalah cacing pita (Cestoda) sebesar 77%; cacing pipih (Trematoda) sebesar 9% dan cacing gilik/gelang (Nematoda) 8%; dan.Sedangkan peternak di Kabupaten Jombang berpendapat cacing yang paling sering ditemukan yaitu Nematoda 37%; Cestoda 31% dan Trematoda 19%. Sebagian besar peternak di wilayah Kabupaten Malang, Blitar dan Kediri berpendapat, Cestoda merupakan cacing yang paling sering ditemukan pada peternakan ayam petelur dengan persentase berturut turut adalah 77%; 70,83% dan 66,67%. Hasil tersebut tidak berbeda dengan hasil pemeriksaan cacing pada usus ayam petelur di Kabupaten Bogor memperlihatkan bahwa cacing Cestoda lebih sering ditemukan daripada Nematoda (Zalizar, 2006). Cestoda merupakan cacing yang siklus hidupnya memerlukan inang antara. Inang antara Cestoda antara lain semut, lalat dan kumbang beras, dan sering ditemukan di peternakan ayam yang sanitasinya kurang baik. Penelitian ini dilakukan pada peternakan dengan rataan populasinya 17.433 ekor ayam. Peternakan tersebut termasuk dalam peternakan kategori empat (4) yaitu termasuk peternakan rakyat dengan populasi kurang dari 20.000 ekor dan umumnya dikelola kurang profesional dan tidak terlalu memperhatikan sanitasi kandang dan lingkungan perkandangan. Pendapat peternak Kabupaten Jombang berbeda dengan Malang. Peternak ayam petelur di Kabupaten Jombang yang berpendapat cacing Nematoda lebih sering ditemukan banyak dibandingkan yang berpendapat cacing Cestoda. Cacing Nematoda yang umumnya ditemukan pada usus halus ayam petelur adalah Ascaridia galli (Zalizar, 2006). Siklus hidup 68 u Edisi Maret 2023 POJOK OBAT UNGGAS Gambar 1. Cacing Ascaridia galli dari Usus Ayam Petelur (dokumentasi pribadi) Edisi Maret 2023 u 69 cacing tersebut sangat sederhana karena tidak memerlukan inang antara. Telur berembrio yang keluar dari tinja apabila termakan oleh ayam maka akan menetas dan mengeluarkan larva di dalam usus halus ayam dan kemudian berkembang menjadi cacing dewasa Mengingat siklus hidupnya yang langsung (sederhana) tersebut peluang cacing tersebut juga sering ditemukan di peternakan ayam cukup besar. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan penelitian pada ayam kampung bahwa mayoritas cacing yang ditemukan adalah cacing Nematoda Ascaridia galli, Heterakis gallinarum, Capillaria spp dan Cestoda Raillietina sp (Zalizar dkk., 2021). Menurut Kusuma dkk. (2021), di Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur menunjukkan prevalensi infeksi kecacingan pada ayam petelur paling banyak disebabkan oleh Ascaridia galli (60%). Manajemen pemberian antelmintika Manajemen pemberian antelmintk dapat berpengaruh terhadap keberhasilan pengendalian infeksi cacing di peternakan ayam petelur. Manajemen pemberian antelmintik meliputi frekuensi pemberian, jenis antelmintik yang dipilih, kebiasaan peternak memberi obat dengan jenis yang sama dalam waktu yang lama, cara penentuan dosis serta pemakaian obat herbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak menganggap kasus penyakit cacing di peternakan ayam petelur cukup sering terjadi. Empat puluh (40) persen peternak di Kabupaten Malang dan lima puluh tujuh persen (57) di Kabupaten Jombang berpendapat frekuensi kasus kecacingan di peternakan ayam petelur sekitar 4-6 kasus per tahun dengan kata lain cukup sering Untuk mengendalikan infeksi cacing, peternak di Kabupaten Malang yang memberikan antelmintik pada ayam petelur setiap 2 bulan sekali 37%; setiap 3 bulan sekali 32%;setiap 6 bulan sekali 20% dan satu tahun sekali 11%. Sedangkan peternak di Kabupaten Jombang yang memberikan antelmintik setiap 3 bulan sekali mencapai 52%; setiap 6 bulan sekali 24%; setiap satu tahun sekali 7% dan setiap 2 bulan sekali 4% (Tabel 2). Dalam pemberian antelmintika, peternak mempunyai perilaku yang berbeda-beda. Sebagian besar peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar dan Kediri memberikan obat cacing setiap 3 bulan sekali (43,41%) dan 2 bulan sekali (37,21%).Selain itu ada yang 6 bulan sekali (5,43%); 4 bulan sekali (3,88%); 1 bulan sekali (3,10%). Sedangkan yang menjawab 5 bulan sekali, 7 bulan sekali dan 8 bulan sekali masing-masing 0,78%. Jadi yang terbanyak peternak memberikan antelmintik (obat cacing) setiap 2-3 bulan sekali. Pemberian antelmintik sebaiknya disesuaikan dengan derajat infeksi cacing Derajat infeksi adalah banyaknya jumlah telur/larva/ cacing dewasa yang ditemukan di dalam tubuh ternak. Namun sayangnya sebanyak 92 persen peternak ayam petelur di Blitar dan 87 persen di Blitar tidak pernah melakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu untuk mengetahui apakah ternaknya terinfeksi cacing sebelum dilakukan pengobatan. Sedangkan yang lainnya memberikan obat setelah ada pemeriksaan oleh petugas kesehatan ternak atau dokter hewan dengan cara saluran pencernaan ayam dibuka dan ditemukan cacing. Alasan para peternak yang tidak melakukan pemeriksaaan terlebih dahulu karena tidak mempunyai fasilitas laboratorium. Sebenarnya alat-alat dan bahan yang digunakan untuk pemeriksaan derajat infeksi cacing bisa dilakukan oleh benda yang cukup sederhana yaitu berupa mikroskop binokuler, objek glass, kamar hitung telur cacing (whitlock chamber) dan larutan garam jenuh. Apabila jumlah telur cacing tinggi maka perlu diberikan antelmintik agar cacing mati dan tidak menyebabkan gangguan produktivitas atau kematian. Namun apabila jumlah cacing masih sangat sedikit maka tidak perlu diberikan antelmintika, karena adanya antigen cacing dengan jumlah yang sedikit di dalam tubuh ternak akan memicu kekebalan ternak terhadap parasit tersebut. Pemberian antelmintik terus menerus selain tidak ekonomis juga dapat meningkatkan peluang terjadinya resistensi cacing terhadap obat yang diberikan. Siklus hidup cacing umumnya berkisar sekitar satu sampai tiga bulan. Oleh karena itu pemberian antelmintik setiap dua bulan sekali bertujuan untuk memutus siklus hidup cacing. Namun pemberian antelmintik secara rutin tanpa pemeriksaan terlebih dahulu seharusnya tidak dilakukan. Melalui pemeriksaan jumlah telur cacing/larva di dalam tinja dapat diketahui tinggi rendahnya derajat infeksi. Pemberian antelmintik sebaiknya hanya dilakukan jika benarbenar diperlukan yaitu apabila jumlah telur cacing sudah tinggi. Sebagai contoh untuk Ascaridia galli, pengobatan bisa diberikan apabila jumlah telur cacing per gram tinja sudah melebihi 500. *Dosen Program Studi Peternakan dan Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.


Berbicara mengenai bisnis perunggasan, hingga saat ini yang komoditas ayam ras pedaging dan ayam ras petelur memang masih menjadi primadona. Tak bisa dimungkiri, kedua komoditas ini selalu eksis, mengingat minat konsumen terhadap daging ayam dan telur ayam yang tergolong tinggi. Akan tetapi, semakin banyak usaha peternakan ayam ras pedaging dan ayam ras petelur yang dapat dijumpai di seluruh wilayah Indonesia dapat menghadirkan tantangan tersendiri bagi peternak. Semakin melimpahnya ketersediaan akan daging ayam dan telur ayam h dapat memperkecil peluang pasar bahkan ketidakstabilan harga jual. Ditelusuri lebih luas, bisnis dalam dunia peternakan tidak terbatas pada usaha budi daya ayam ras pedaging dan ayam ras petelur saja. Masih banyak lagi komoditas unggas lainnya yang berpotensi menghasilkan peluang pasar yang tak kalah besar, seperti contohnya budi daya puyuh petelur. Peluang usaha budi daya puyuh petelur juga tergolong besar dengan harga jual pasar yang relatif lebih stabil. Hal ini lantaran masih sedikitnya jumlah peternak puyuh di Indonesia jika dibandingkan dengan peternakan unggas lainnya. Tidak hanya itu, pemeliharaan puyuh juga termasuk mudah serta tidak membutuhkan modal awal yang besar. Harga indukan burung puyuh yang siap produksi seharga Rp5.000,00-Rp6.000,00/ekor, sedangkan harga Day Old Quail (DOQ) dihargai Rp300,00-500,00/ekor. Dalam analisis usaha, idealnya memiliki 1.000 ekor burung puyuh untuk mendapatkan keuntungan di luar biaya produksi. Dengan populasi 100-110 ekor puyuh dapat menghasilkan 1 Kg telur puyuh/harinya, sehingga jika dikalkulasikan dengan populasi 1.000 ekor maka setiap harinya peternak dapat memanen sekitar 10 kg telur puyuh. Yang mana harga jual telur puyuh di pasaran bisa dikatakan relatif stabil, yaitu pada kisaran harga Rp30.000,00/kg. Sedangkan harga pakan burung puyuh berada pada kisaran Rp8.000,00/kg. Dengan populasi 1.000 ekor burung puyuh, setiap harinya menghabiskan pakan 20-25 kg, yang berarti dalam satu hari biaya pakan burung puyuh berkisar Rp160.000-Rp200.000,00. Biaya pakan tersebut dapat ditekan jika menggunakan formula pakan sendiri seperti dengan menambahkan dedak, bungkil kedelai, bekatul, atau bahan lainnya yang merupakan kearifan lokal dengan tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi burung puyuh terutama kadar protein. Sebagai gambaran, burung puyuh dari fase starter, grower hingga layer membutuhkan protein kasar sebesar 20-22% untuk mencukupi kebutuhan hidup dan produksinya. Selain memperhatikan jumlah kandungan protein kasar, penambahan mineral pada pakan juga sangat dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan kalsium pada ternak, serta kandungan mineral mikro lainnya. Kalsium berperan besar pada pembentukan cangkang telur, sehingga dapat menghasilkan telur puyuh dengan cangkang telur yang tebal. Pemberian mineral per 50 kg pakan dapat dicampur dengan 1 kg mineral. Harga mineral juga cukup terjangkau yaitu kisaran Rp6.000,00-7.000,00/kg. Penambahan multivitamin pada air minum ternak puyuh juga penting dilakukan untuk menjaga performa ternak. Dalam 1 liter air dapat ditambahkan 1 gram multivitamin. Penambahan multivitamin dapat meningkatkan daya tahan tubuh burung puyuh terhadap penyakit, mengatasi stres hingga meningkatkan kualitas telur puyuh. Selain itu, budi daya burung puyuh tidak membutuhkan tempat yang luas karena kandang burung puyuh yang dapat disusun ke atas. Idealnya 4 susun sehingga tidak menghabiskan banyak tempat. Model kandang puyuh yang umum digunakan serta dianggap lebih efektif adalah model kandang baterai dengan ketentuan per 1 m2 dapat diisi 40- 50 ekor burung puyuh yang telah produksi, sehingga tidak membutuhkan banyak tempat. Melalui ini, penulis melihat bahwa budi daya burung puyuh sangatlah mudah dengan modal awal yang kecil, dan dapat menjadi peluang usaha peternakan potensial yang patut dicoba pada tahun 2023 ini. *Mahasiswa Jurusan Peternakan, Politeknik Pembangunan Pertanian Malang 70 u Edisi Maret 2023 Modal awal yang kecil, harga telur puyuh yang stabil, biaya produksi yang terjangkau, dapat menjadikan puyuh sebagai peluang usaha yang potensial untuk dilakukan. Beternak Puyuh Petelur, Peluang Usaha Potensial Oleh : Andine Santika Bentari* SUARA MAHASISWA


Saat ini pemerintah sedang menggalakkan pemberantasan stunting atau gagal tumbuh pada anak dengan mengintensifkan asupan rutin zat gizi sumber protein hewani, yang bisa dipenuhi dari produk daging dan telur ayam. Kantin sekolah memiliki peran vital dalam pemenuhan asupan zat gizi protein hewani bagi anak sekolah. Oleh Andang S Indartono, S.Pt* 72 u Edisi Maret 2023 Mayoritas anak Indonesia sebagai aset masa depan bangsa, saat ini sedang berada di bangku sekolah. Anak sekolah sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga membutuhkan konsumsi pangan yang cukup untuk pencapaian gizi seimbang. Dan peran vital untuk masa perkembangan tumbuh dan sel otak untuk kecerdasan anak adalah zat gizi sumber protein hewani, sesuai dengan pedoman pemenuhan gizi seimbang. Apalagi, saat ini pemerintah sedang menggalakkan pemberantasan stunting atau gagal tumbuh pada anak dengan mengintensifkan asupan rutin zat gizi sumber protein hewani. Di antara sumber - sumber protein hewani yang tersedia, produk hasil unggas yakni daging dan telur ayam adalah bahan pangan yang paling mudah didapat, harga terjangkau, serta dapat diolah menjadi berbagai hidangan dan jajanan yang baik untuk anak. Oleh karenanya, sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani anak sekolah dari produk hasil unggas tersebut dengan berbagai kreativitas pengolahan, pemasakan, dan penyajiannya. Di sisi lain, asupan zat gizi sumber protein hewani anak sekolah yang diperoleh dari pangan yang disediakan di rumah acapkali kurang mencukupi karena kesibukan orang tua atau adanya faktor lain. Untuk itu pangan jajanan seringkali menjadi sumber makanan yang justru lebih disukai anak dibandingkan makanan yang disediakan di rumah oleh keluarganya. Itulah sebabnya pangan jajanan berperan penting dalam pemenuhan asupan gizi anak usia sekolah. Dan karena mayoritas anak berada di bangku sekolah, maka jajanan yang disediakan di kantin-kantin sekolah memegang peranan penting dalam pemenuhan asupan zat gizi sumber protein hewani. Melihat hal itu, maka edukasi, pemahaman, dan pengawasan keamanan pangan jajanan bagi pengelola dan petugas kantin, serta bagi anak didik harus dilakukan secara holistik agar tercapai pemenuhan zat gizi protein hewaninya, sekaligus aspek keamanan pangannya sebagai titik kritis pemanfaatan sumber protein hewani yang memang rentan terhadap berbagai macam ancaman bahaya keamanan pangan. Pengenalan dan pemahaman seputar keamanan pangan Jajanan Anak usia Sekolah (PJAS) merupakan salah satu program strategis yang berkaitan erat dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) generasi penerus bangsa. Salah satu elemen penting dalam kemandirian sekolah adalah komunitas sekolah yakni kepala sekolah, guru, komite sekolah, siswa, orang tua siswa, pedagang PJAS untuk berpartisipasi aktif dalam mewujudkan program keamanan pangan di sekolah. Kantin atau warung sekolah adalah salah satu tempat anak sekolah untuk jajan. Dengan demikian, kantin sekolah memiliki peran yang sangat vital dalam menyediakan makanan penting sumber protein hewani, misalnya dengan cara menyediakan makanan jajanan berbahan daging dan telur ayam dengan diolah menjadi berbagai jajanan menarik bagi anak seperti sempol ayam, dimsum ayam, ayam krispi, bakso ayam, nugget ayam, kaki naga ayam, pizza telur, pepes ayam, egg chicken roll, telur gulung, chicken katsu, karaage, chicken cordon bleu, steak ayam, oyakodon, pentol ayam, rolling cheese chicken, teriyaki ayam, pok-pok ayam, sosis ayam bakar, aci telur (cilur), dan beraneka ragam jajanan kekinian lainnya. Kantin sekolah diarahkan untuk menjadi salah satu tempat jajanan yang tidak Pangan jajanan anak sekolah yang disediakan di kantin sekolah harus terjaga keamanan pangannya Merancang Kantin Sekolah Menjadi Sumber Protein Hewani Asal Unggas


Edisi Maret 2023 u 73 hanya sehat namun juga mendukung pemenuhan zat gizi protein hewani pengganti di kala tidak sempat sarapan di rumah atau saat makan siang anak sekolah. Dalam hal ini peran guru tentu tidak lepas dari kebijakan sekolah, sehingga diharapkan para kepala sekolah memiliki komitmen yang tinggi untuk melaksanakan manajemen pemenuhan zat gizi protein hewani bagi anak didiknya. Sementara itu PJAS sumber protein hewani yang baik bagi anak yang disediakan di kantin sekolah adalah yang aman, bermutu, dan bergizi serta tentu saja yang disukai oleh anak. Untuk itu, pemilihan PJAS tersebut sebaiknya mengikuti beberapa rambu-rambu seperti yang disarankan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berikut ini: 1. Kenali dan pilih pangan yang aman. Pangan yang aman adalah pangan yang bebas dari bahaya biologis, kimia dan benda lain. Pilih pangan yang bersih, yang telah dimasak, tidak bau tengik, tidak berbau asam. Sebaiknya membeli pangan di tempat yang bersih dan dari penjual yang sehat dan bersih. Pilih pangan yang dipajang, disimpan dan disajikan dengan baik. 2. Jaga kebersihan. Kita harus mencuci tangan sebelum makan karena mungkin tangan tercemar kuman atau bahan berbahaya. Mencuci tangan dan peralatan yang paling baik menggunakan sabun dan air yang mengalir. 3. Baca label dengan saksama. Pada label bagian kemasan, yang diperhatikan adalah nama jenis produk, tanggal kedaluwarsa produk, komposisi dan informasi nilai gizi. Bila PJAS dalam kemasan dan berlabel, pilih yang memiliki nomor pendaftaran seperti P-IRT, MD, atau ML. Jika, pangan tidak berlabel, maka dipilih PJAS yang kemasannya dalam kondisi baik. 4. Perhatikan warna, rasa dan aroma. Hindari PJAS yang ditawarkan yang berwarna mencolok, rasa yang berlebihan seperti terlalu asin, manis, asam, atau aroma yang tengik. Pembentukan tim keamanan pangan Karena penjagaan keamanan pangan zat gizi protein hewani adalah faktor utama yang harus diperhatikan, maka sesuai dengan panduan yang dikeluarkan oleh BPOM, kepala sekolah dapat membentuk Tim keamanan Pangan (TKP) sekolah. Hal bisa dimaksudkan untuk memastikan kantin sekolah dapat menyediakan PJAS sumber protein hewani yang aman, bermutu dan bergizi. Kepala sekolah hendaknya memonitor setiap kemajuan aktivitas TKP tersebut bersama dengan komite sekolah, guru, orang tua, siswa, dan pengelola kantin. Peran TKP di antaranya adalah melakukan pendataan tentang sumbersumber protein hewani sebagai bahan utama PJAS, variasi jajanan berbahan daging dan telur ayam yang dapat dikreasikan, menyosialisasikan keamanan pangan PJAS sumber protein hewani kepada komunitas sekolah, memantau penerapan cara penanganan, pengolahan, dan penyajian yang baik di kantin sekolah, serta memastikan upaya perbaikan yang dilakukan kantin sekolah, termasuk dalam hal penjaminan agar pengelola kantin menggunakan peralatan pengolah atau penyajian PJAS yang baik dan terjaga kebersihannya. Sosialisasi dari pihak sekolah tentang pentingnya zat gizi protein hewani bagi perkembangan anak sekolah, beserta aspek penjagaan keamanan pangannya dapat dilakukan sebagai upaya promotif guna meningkatkan status gizi anak sekolah. Dalam hal ini peran guru di sekolah sangat dibutuhkan untuk memberikan dasar-dasar pemahaman yang benar mengenai pentingnya PJAS sumber protein hewani dan cara penjagaan dan pemilihan yang benar, dengan cara : • Melakukan pengawasan terhadap kantin sekolah dengan memperhatikan variasi jenis PJAS sumber protein hewani yang ditawarkan, serta kebersihan kantin dan petugasnya. • Secara rutin memberikan edukasi bagi pengelola kantin mengenai manfaat zat gizi protein hewani bagi anak sekolah, dan cara benar dalam menjaga keamanan pangannya. • Melakukan monitoring terhadap anak sekolah tentang seberapa cukup asupan zat gizi protein hewani anak sekolah dari PJAS kantin sekolah • Mengomunikasikan kepada orang tua dari murid perihal prinsip-prinsip pentingnya zat gizi protein hewani bagi anak sekolah, beserta pemilihan sumber protein hewani yang mudah diperoleh, harga terjangkau, dan kemudahannya dalam pengolahannya menjadi jajanan yang lezat. • Memotivasi anak sekolah untuk secara rutin mengonsumsi pangan sumber protein hewani yang bermanfaat bagi tumbuh dan kembang anak sekolah tersebut. • Memberi pemahamanan dan pengetahuan yang cukup kepada para anak sekolah tentang memilih PJAS yang sehat dan bermutu, dan dampak negatif yang timbul jika sembarangan memilih PJAS. Bagi pengelola kantin sekolah harus melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh TKP Sekolah, antara lain: memperhatikan kebersihan peralatan pengolah atau penyajian pangan yakni dalam hal penjagaan higiene dan sanitasinya; wajib menyediakan/menjual PJAS yang sesuai; memonitor seluruh kegiatan dalam rangka penyediaan PJAS yang sesuai mulai dari pemilihan dan penyediaan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajiannya; memperhatikan kebersihan fasilitas dan tempat penjualan untuk mencegah kontaminasi silang pada produk serta memperhatikan cara pengolahan pangan yang baik; memperhatikan kebersihan dan kesehatan penjamah PJAS. *Koordinator Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) Produk hasil unggas adalah bahan pangan yang baik untuk diolah menjadi jajanan sumber protein hewani anak sekolah


74 u Edisi Maret 2023 Biasa dijuluki ‘Dragon Chicken’, ayam dong tao (bahasa Vietnam: gà Đông Tảo) merupakan spesies ayam unik dengan ciri khas kaki atau cekernya yang sangat besar. Ayam ini berasal dari desa Đông Tảo di utara Vietnam. Ukuran kakinya memang tak senormal ayam pada umumnya dan bahkan bagi beberapa orang, ayam ini terlihat menyeramkan. Namun, justru ukuran kakinya yang besar inilah yang membuat ayam dong tao menjadi salah satu unggas termahal di dunia. Zaman dahulu, ayam dong tao diternakan secara eksklusif dan olahannya digunakan sebagai persembahan untuk raja atau keluarga kerajaan. Saat ini, harga per ekor ayam dong tao melejit karena termasuk jenis ayam yang sulit diternakan. Sifatnya yang sangat peka terhadap perubahan suhu tentu mempersulit proses budi daya. Belum lagi, ukuran kakinya yang besar juga membuat proses budi daya menjadi lebih sulit karena ayam ini seringkali memecahkan telurnya sendiri, sehingga para peternak di Vietnam biasa menyimpan telurnya di inkubator dan memberikan perhatian lebih untuk menghasilkan anak ayam. Oleh karena itu, tak heran jika harganya meroket. Untuk menghasilkan satu ekor ayam dong tao yang siap disembelih dengan berat 5 hingga 6 kg, dibutuhkan waktu setidaknya 8 bulan hingga 1 tahun. Dari total berat tersebut, berat kaki ayam dong tao bisa mencapai 1 hingga 1,5 kg. Le Van Hien yang sudah beternak ayam dong tao selama 15 tahun, dalam wawancaranya dengan South China Morning Post mengatakan bahwa beberapa orang bahkan rela merogoh kocek lebih, mulai dari Rp644.247,00 hingga Rp1.288.495,00 hanya untuk ceker dong tao. Pengolahannya pun tidak begitu sulit. Ceker ayam dong tao dapat diolah dengan cara direbus, digoreng, maupun dipanggang karena ceker ini tetap nikmat untuk disantap. Ceker ayam mengandung kolagen yang merupakan protein struktural pemberi bentuk, kekuatan, dan ketahanan pada kulit, tendon, otot, tulang, dan ligamen. Dengan banyaknya produk suplemen kolagen di pasaran saat ini, Anda bisa mendapatkan manfaat yang sama dengan rasa yang lebih kaya. Meski ceker goreng dengan olesan saus asam manis terdengar lebih menggiurkan, akan tetapi untuk mendapatkan manfaat kesehatan sepenuhnya, sup ceker ayam merupakan cara paling sehat untuk menikmati ceker ayam. Kali ini, Poultry Kuliner akan memberikan resep memasak sup ceker ayam dong tao yang lezat, kaya akan kolagen, dan pastinya sehat. Selamat mencoba! Diana Bahan: • 2-4 ceker ayam dong tao • 50 g daging ayam tanpa lemak • 1 cangkir kacang • 5-8 buah kurma merah kering • 10 buah lengkeng kering • 2 batang daun bawang • 1 ruas jari jahe, ditumbuk • 1 sdt goji berry • 1 sdt cuka beras Kuliner Sup Ceker Ayam Dong Tao, Unik dan Kaya akan Kolagen Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Santana JCC dkk (2020) melalui analisis ATR-FTIR, setidaknya 70,90% dari total protein pada ceker ayam adalah kolagen. Sebagai protein struktural pemberi bentuk, kekuatan, dan ketahanan pada kulit, tendon, otot, tulang, dan ligamen, Anda bisa mendapatkan manfaatnya dengan rasa yang lebih kaya. Cara Membuat: 1. Cuci ceker ayam dan potong kukunya. 2. Tuang air dalam panci besar. Tambahkan jahe, daun bawang, dan cuka beras. Didihkan. 3. Masukkan ceker ayam dan rebus selama 2 menit. Pindahkan ke wadah lain dan bilas ceker ayam dengan air hangat. 4. Siapkan panci besar kosong. Masukkan ceker ayam, daging tanpa lemak, jahe tumbuk, kurma merah kering, lengkeng, dan goji berry. Tambahkan 4 liter air dan nyalakan api. Biarkan mendidih. 5. Panaskan di atas api selama 10 menit, lalu tutup dan didihkan selama 30 menit. 6. Tuang sup ke dalam mangkuk. Hidangkan.


74 u Edisi Maret 2023 Biasa dijuluki ‘Dragon Chicken’, ayam dong tao (bahasa Vietnam: gà Đông Tảo) merupakan spesies ayam unik dengan ciri khas kaki atau cekernya yang sangat besar. Ayam ini berasal dari desa Đông Tảo di utara Vietnam. Ukuran kakinya memang tak senormal ayam pada umumnya dan bahkan bagi beberapa orang, ayam ini terlihat menyeramkan. Namun, justru ukuran kakinya yang besar inilah yang membuat ayam dong tao menjadi salah satu unggas termahal di dunia. Zaman dahulu, ayam dong tao diternakan secara eksklusif dan olahannya digunakan sebagai persembahan untuk raja atau keluarga kerajaan. Saat ini, harga per ekor ayam dong tao melejit karena termasuk jenis ayam yang sulit diternakan. Sifatnya yang sangat peka terhadap perubahan suhu tentu mempersulit proses budi daya. Belum lagi, ukuran kakinya yang besar juga membuat proses budi daya menjadi lebih sulit karena ayam ini seringkali memecahkan telurnya sendiri, sehingga para peternak di Vietnam biasa menyimpan telurnya di inkubator dan memberikan perhatian lebih untuk menghasilkan anak ayam. Oleh karena itu, tak heran jika harganya meroket. Untuk menghasilkan satu ekor ayam dong tao yang siap disembelih dengan berat 5 hingga 6 kg, dibutuhkan waktu setidaknya 8 bulan hingga 1 tahun. Dari total berat tersebut, berat kaki ayam dong tao bisa mencapai 1 hingga 1,5 kg. Le Van Hien yang sudah beternak ayam dong tao selama 15 tahun, dalam wawancaranya dengan South China Morning Post mengatakan bahwa beberapa orang bahkan rela merogoh kocek lebih, mulai dari Rp644.247,00 hingga Rp1.288.495,00 hanya untuk ceker dong tao. Pengolahannya pun tidak begitu sulit. Ceker ayam dong tao dapat diolah dengan cara direbus, digoreng, maupun dipanggang karena ceker ini tetap nikmat untuk disantap. Ceker ayam mengandung kolagen yang merupakan protein struktural pemberi bentuk, kekuatan, dan ketahanan pada kulit, tendon, otot, tulang, dan ligamen. Dengan banyaknya produk suplemen kolagen di pasaran saat ini, Anda bisa mendapatkan manfaat yang sama dengan rasa yang lebih kaya. Meski ceker goreng dengan olesan saus asam manis terdengar lebih menggiurkan, akan tetapi untuk mendapatkan manfaat kesehatan sepenuhnya, sup ceker ayam merupakan cara paling sehat untuk menikmati ceker ayam. Kali ini, Poultry Kuliner akan memberikan resep memasak sup ceker ayam dong tao yang lezat, kaya akan kolagen, dan pastinya sehat. Selamat mencoba! Diana Bahan: • 2-4 ceker ayam dong tao • 50 g daging ayam tanpa lemak • 1 cangkir kacang • 5-8 buah kurma merah kering • 10 buah lengkeng kering • 2 batang daun bawang • 1 ruas jari jahe, ditumbuk • 1 sdt goji berry • 1 sdt cuka beras Kuliner Sup Ceker Ayam Dong Tao, Unik dan Kaya akan Kolagen Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Santana JCC dkk (2020) melalui analisis ATR-FTIR, setidaknya 70,90% dari total protein pada ceker ayam adalah kolagen. Sebagai protein struktural pemberi bentuk, kekuatan, dan ketahanan pada kulit, tendon, otot, tulang, dan ligamen, Anda bisa mendapatkan manfaatnya dengan rasa yang lebih kaya. Cara Membuat: 1. Cuci ceker ayam dan potong kukunya. 2. Tuang air dalam panci besar. Tambahkan jahe, daun bawang, dan cuka beras. Didihkan. 3. Masukkan ceker ayam dan rebus selama 2 menit. Pindahkan ke wadah lain dan bilas ceker ayam dengan air hangat. 4. Siapkan panci besar kosong. Masukkan ceker ayam, daging tanpa lemak, jahe tumbuk, kurma merah kering, lengkeng, dan goji berry. Tambahkan 4 liter air dan nyalakan api. Biarkan mendidih. 5. Panaskan di atas api selama 10 menit, lalu tutup dan didihkan selama 30 menit. 6. Tuang sup ke dalam mangkuk. Hidangkan.


Saat ini industri perunggasan tengah dihadapkan dengan ancaman global penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI) jenis HPAI subtipe H5N1 clade 2.3.4.4.b dan clade 2.3.2.1.c yang telah menyerang berbagai negara di belahan dunia. Dimana seperti yang kita ketahui bersama bahwa hingga saat ini dikenal dua jenis virus AI yaitu High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang bersifat ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang bersifat kurang ganas. Penyebaran virus tersebut pun sangat sulit untuk dikendalikan karena melibatkan burung-burung liar yang bermigrasi antar wilayah. Dengan persebaran yang sangat cepat, wabah yang satu ini telah berhasil menarik atensi publik internasional, mengingat sifatnya yang sangat patogen dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ternak dan manusia, ketahanan pangan, dan perdagangan internasional di berbagai negara. Wabah ini telah mengakibatkan depopulasi massal unggas di berbagai negara, dan disinyalir telah melampaui jumlah kasus wabah sebelumnya pada kurun waktu 2014-2015. Berdasarkan laporan dari U.S. Department of Agriculture (USDA) menyebutkan bahwa lebih dari 52,3 juta burung di 46 negara bagian Amerika Serikat dimusnahkan akibat wabah HPAI. Sedangkan dalam laporan lain European Food Safety Administration (EFSA) menyebutkan bahwa dalam kurun setahun terakhir lebih dari 48 juta unggas dimusnahkan di Inggris dan Eropa. Kemudian untuk di wilayah Asia sendiri, wabah AI telah terkonfirmasi di beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, India, Nepal, Filipina, Vietnam, Bangladesh, dan Taiwan. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia secara daring, Kamis (23/2) Fauzi Iskandar selaku Veterinary Service Manager Ceva Animal Health Indonesia menyampaikan bahwa dari data yang telah dikumpulkan oleh tim Ceva, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir memang kasus AI cukup banyak terjadi di belahan negara Eropa dan Amerika. Terutama yang terbanyak di tahun 2017 kasus AI khususnya dari H5 itu cukup banyak ditemukan. Kemudian di tahun 2018-2020 itu mereda, dan baru di sekitar bulan November tahun 2021 itu kasusnya meninggi lagi sampai 76 u Edisi Maret 2023 Kembali Mewaspadai Ancaman AI Dunia tengah menghadapi wabah virus AI yang terus mengancam. Perlu adanya kewaspadaan dan kehatihatian para stakeholders perunggasan nasional.


Saat ini industri perunggasan tengah dihadapkan dengan ancaman global penyakit flu burung atau Avian Influenza (AI) jenis HPAI subtipe H5N1 clade 2.3.4.4.b dan clade 2.3.2.1.c yang telah menyerang berbagai negara di belahan dunia. Dimana seperti yang kita ketahui bersama bahwa hingga saat ini dikenal dua jenis virus AI yaitu High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang bersifat ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang bersifat kurang ganas. Penyebaran virus tersebut pun sangat sulit untuk dikendalikan karena melibatkan burung-burung liar yang bermigrasi antar wilayah. Dengan persebaran yang sangat cepat, wabah yang satu ini telah berhasil menarik atensi publik internasional, mengingat sifatnya yang sangat patogen dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan ternak dan manusia, ketahanan pangan, dan perdagangan internasional di berbagai negara. Wabah ini telah mengakibatkan depopulasi massal unggas di berbagai negara, dan disinyalir telah melampaui jumlah kasus wabah sebelumnya pada kurun waktu 2014-2015. Berdasarkan laporan dari U.S. Department of Agriculture (USDA) menyebutkan bahwa lebih dari 52,3 juta burung di 46 negara bagian Amerika Serikat dimusnahkan akibat wabah HPAI. Sedangkan dalam laporan lain European Food Safety Administration (EFSA) menyebutkan bahwa dalam kurun setahun terakhir lebih dari 48 juta unggas dimusnahkan di Inggris dan Eropa. Kemudian untuk di wilayah Asia sendiri, wabah AI telah terkonfirmasi di beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, India, Nepal, Filipina, Vietnam, Bangladesh, dan Taiwan. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia secara daring, Kamis (23/2) Fauzi Iskandar selaku Veterinary Service Manager Ceva Animal Health Indonesia menyampaikan bahwa dari data yang telah dikumpulkan oleh tim Ceva, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir memang kasus AI cukup banyak terjadi di belahan negara Eropa dan Amerika. Terutama yang terbanyak di tahun 2017 kasus AI khususnya dari H5 itu cukup banyak ditemukan. Kemudian di tahun 2018-2020 itu mereda, dan baru di sekitar bulan November tahun 2021 itu kasusnya meninggi lagi sampai 76 u Edisi Maret 2023 Kembali Mewaspadai Ancaman AI Dunia tengah menghadapi wabah virus AI yang terus mengancam. Perlu adanya kewaspadaan dan kehatihatian para stakeholders perunggasan nasional. dengan akhir tahun 2022. “Nah untuk di Eropa dan Amerika sendiri, banyak ditemukan kasus infeksi dari AI H5 yang menyerang unggasunggas liar. Terutama unggas-unggas yang bermigrasi dan biasanya terletak di dekat laut. Bahkan dilaporkan kasus ini menyebabkan kasus kematian yang cukup tinggi pada unggas-unggas laut itu. Jadi, unggas-unggas liar itu tidak sebagai reservoir dan carrier saja, tetapi juga mereka sebagai host specifiknya, sehingga sangat rentan terhadap kasus AI H5 ini. Untuk beberapa negara di Asia seperti Vietnam, Bangladesh, Myanmar kasus AI H5 saat ini sudah banyak merebak juga. Dan untuk Indonesia sendiri termasuk negara yang memang menjadi perlintasan migrasi burung-burung liar. Jadi, beralasan apabila Indonesia menjadi salah satu dari 5 negara yang memiliki kejadian HPAI tertinggi di dunia,” tambahnya. Kondisi AI dalam negeri Melihat berbagai fenomena global yang terjadi, tentu Indonesia juga harus bersiap dan meningkatkan kewaspadaan akan kemungkinan wabah AI yang senantiasa mengancam. Terlebih dengan kondisi perunggasan Indonesia yang terus bergejolak, maka akan menjadi pukulan besar apabila hal ini tidak dapat diantisipasi dan ditangani dengan baik. Masih menurut Fauzi, berdasarkan hasil aktivitas surveilans yang dilakukan oleh Ceva, kasus AI di Indonesia pada akhir tahun 2022 jumlah kasusnya cenderung meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya di tahun yang sama. Memang dari pantauan di lapangan, paling banyak ditemukan subtipe H9 baik itu di broiler maupun layer. Sedangkan untuk H5 itu dibagi menjadi beberapa clade, seperti yang masih banyak kita temukan yaitu clade 2.1.3.2 dan clade 2.3.2.1.c yang tersebar di Indonesia. Kemudian kalau dari H9 nya yang berkembang di Indonesia dari galur G1 yaitu Y280. “Dan untuk sekarang ini clade yang sedang berkembang di berbagai negara Eropa dan Amerika adalah AI H5 clade 2.3.4.4.b yang ditemukan terinfeksi di burung liar atau pun pada ayam yang skalanya industri. Inilah clade yang dikhawatirkan nantinya mungkin bisa masuk ke Indonesia, sehingga memang perlu dilakukan uji tantang. Hal ini juga berkaitan dengan regulasi yang ada di Indonesia, dimana vaksin AI yang beredar di Indonesia harus berasal dari isolat yang berasal dari Indonesia sendiri. Untuk itu sebaiknya produsen-produsen vaksin yang ada di Indonesia segera melakukan uji tantang terhadap isolat yang ditemukan di Indonesia dan juga tentunya untuk mengantisipasi ancaman AI clade tersebut yang telah merebak di Amerika dan Eropa,” tegasnya. Merespon fenomena yang terjadi, melalui Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) No.16183/Pk,320/F/01/2023 yang dikeluarkan pada 16 Januari 2023, pemerintah menghimbau seluruh stakeholders peternakan untuk meningkatkan kewaspadaannya. Terlebih dari SE tersebut, Nasrullah selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) juga mengungkapkan bahwa telah teridentifikasi positif virus H5N1 clade 2.3.4.4.b melalui uji PCR dan sekuensing di peternakan komersial bebek peking di Provinsi Kalimantan Selatan pada bulan Mei 2022. Yang pada waktu sebelumnya telah terjadi peningkatan virus tersebut di dunia. Selain itu, berdasarkan data Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSHIKNAS) telah terindikasi terjadi peningkatan kematian unggas air (bebek dan itik) dalam kurun waktu April – November 2022. Mempertimbangkan fenomena tersebut, Dirjen PKH mengingatkan adanya potensi wabah yang dapat menyebar dengan cepat dan dapat menimbulkan kerugian bagi industri perunggasan nasional. Maka dari itu, melalui SE yang telah diterbitkan Dirjen PKH mengajak seluruh pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan, monitoring dan tindakan antisipatif serta perlunya rencana kontigensi Edisi Maret 2023 u 77 Vaksin AI terus mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan lapangan Wayan T Wibawan Dalmi Triyono Fauzi Iskandar


78 u Edisi Maret 2023 dalam upaya kesiapsiagaan di seluruh daerah. Kemudian dari SE tersebut, pemerintah juga memberikan himbauan kepada para peternak untuk memperkuat biosecuriti dan juga program vaksinasi harus diperketat. Selain itu surveilans AI yang ada di Indonesia diharapkan sebisa mungkin harus segera dilaporkan. Hati-hati, perketat biosekuriti Virus AI secara nyata kembali mengancam perunggasan Indonesia. Sudah barang tentu semua stakeholder harus berhatihati dan meningkatkan kewaspadaannya. Menurut Prof. Wayan Teguh Wibawan saat ditemui di kediamannya yang berlokasi di Kabupaten Bogor, Kamis, (16/2) menyampaikan bahwa sulitnya pengendalian penyakit AI juga disebabkan oleh sifat dari virus AI sendiri yang mutagenik atau mampu bermutasi dengan cepat jika terus menerus diberikan tantangan. “Jadi keunikan dari virus AI ini adalah memiliki sifat mutagenik, sehingga dia mampu melawan sistem kekebalan tubuh untuk menginfeksi sel. Berbeda dengan virus lain seperti cacar yang cukup dengan satu kali vaksinasi bisa memberikan kekebalan seumur hidup karena tidak memiliki kemampuan mutagenik seperti AI,” jelas Wayan. Dirinya melihat bahwa setiap virus AI dari mulai H1Nx sampai H12Nx itu memiliki tingkat mutasi yang tinggi karena memang sifat alamiah dari virus influenza untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dari virus itu sendiri. “Seperti misalnya virus Avian Influenza, Covid-19, Infectious Bronchitis, itu memiliki tingkat mutasi yang tinggi, sedangkan untuk virus seperti Newcastle Disease itu relatif rendah laju mutasinya karena memang hanya memiliki satu serotipe, walaupun terkadang ditemui serangan subklinis untuk ND.” Kemudian Wayan melihat bahwa Avian Influenza memiliki keunikan dimana kemampuan virus tersebut untuk menerobos mekanisme pertahanan tubuh dari ternak, ditentukan oleh seberapa besar faktor tantangan lapangan yang dihadapi oleh virus itu sendiri. “Jadi dengan berbagai teknologi yang dibuat oleh manusia untuk meningkatkan antibodi ternak terhadap AI, maka virus tersebut merespon dengan mempercepat laju mutasi genetiknya sesuai dengan aksi yang diberikan kepada virus tersebut. Jadi tidak heran apabila saat ini banyak sekali ditemukan variasi wabah AI di berbagai belahan dunia,” ucap Wayan. Lebih lanjut, menurut Wayan menyebutkan bahwa virus Avian Influenza merupakan virus yang ditularkan lewat kontak antara vektor pembawa penyakit seperti manusia, serangga, hewan, peralatan yang terkontaminasi dan lainnya, sehingga pencegahan untuk penyakit Avian Influenza dapat dilakukan dengan biosekuriti yang ketat. “Penularan virus AI memang sebagian besar dari kontak antara ternak yang sehat dengan vektor pembawa penyakit, dan bukan airborne. Maka dari itu, kunci dalam pengendalian penyakit AI adalah bagaimana penerapan biosekuriti yang ada di kandang peternak,” ungkapnya. Senada dengan Wayan, Dalmi Triyono selaku Ketua Asosiasi Dokter Hewan Indonesia (ADHPI) menyampaikan bahwa dalam antisipasi ancaman AI, biosekuriti merupakan hal pertama yang harus ditingkatkan. Dimana dirinya menganalogikan biosekuriti menjadi gerbang utama untuk perlindungan ternak. Mungkin hal ini terdengar cukup sederhana, namun dengan mengacu pada komponen utama biosekuriti yaitu isolasi, kontrol lalu lintas, dan sanitasi, maka menurutnya penerapan biosekuriti yang tepat di peternakan menjadi hal yang sangat rumit. “Banyak ahli menyampaikan bahwa AI tidak ditularkan secara airborne. Maka dari itu, penerapan biosekuriti merupakan sebuah kunci untuk mengantisipasi ancaman AI. Dan disini, kami pun juga telah menginformasikan kepada seluruh anggota guna peningkatan kewaspadaan terhadap virus influenza H5N1 clade 2.3.3.4 dan meningkatkan implementasi biosekuriti di peternakan Selain itu, dengan regulasi penggunaan vaksin AI dari isolat lokal, saya melihatnya menjadi hal yang sangat positif. Untuk itu dengan telah terkonfirmasinya kasus H5N1 clade yang sama dengan di Eropa dan Amerika, maka perlu segera diproses dan dibuat master seed untuk vaksinnya. Karena vaksin AI harus terus diperbaharui, karena homologi menjadi hal yang penting. Mudah-mudahan bisa segera dibuat vaksin, sehingga antisipasinya bisa lebih baik lagi. Saya pikir kalau antisipasi ini bisa berjalan dengan baik, maka tidak ada alasan untuk khawatir yang terlalu berlebihan,” tegasnya. Lebih lanjut, menurut Dalmi dengan berbagai pengalaman wabah terdahulu para stakeholders di Indonesia akan lebih siap menghadapi ancaman AI yang saat ini tengah terjadi. Terlebih, dirinya melihat bahwa awareness terkait AI saat ini sudah lebih baik dari pada dulu. Dengan protap yang telah ada, maka penurunan produksi dan kematian bisa ditekan. Selain itu berbagai teknologi tes dan vaksin pun saat ini lebih jauh berkembang. Namun demikian, Dalmi terus mengajak semua stakeholders untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan langkah antisipatif menghadapi ancaman virus AI di lapangan. Sandi, Domi, Yoga Untuk mengantisipasi AI, penerapan biosekuriti di kandang harus ditingkatkan


78 u Edisi Maret 2023 dalam upaya kesiapsiagaan di seluruh daerah. Kemudian dari SE tersebut, pemerintah juga memberikan himbauan kepada para peternak untuk memperkuat biosecuriti dan juga program vaksinasi harus diperketat. Selain itu surveilans AI yang ada di Indonesia diharapkan sebisa mungkin harus segera dilaporkan. Hati-hati, perketat biosekuriti Virus AI secara nyata kembali mengancam perunggasan Indonesia. Sudah barang tentu semua stakeholder harus berhatihati dan meningkatkan kewaspadaannya. Menurut Prof. Wayan Teguh Wibawan saat ditemui di kediamannya yang berlokasi di Kabupaten Bogor, Kamis, (16/2) menyampaikan bahwa sulitnya pengendalian penyakit AI juga disebabkan oleh sifat dari virus AI sendiri yang mutagenik atau mampu bermutasi dengan cepat jika terus menerus diberikan tantangan. “Jadi keunikan dari virus AI ini adalah memiliki sifat mutagenik, sehingga dia mampu melawan sistem kekebalan tubuh untuk menginfeksi sel. Berbeda dengan virus lain seperti cacar yang cukup dengan satu kali vaksinasi bisa memberikan kekebalan seumur hidup karena tidak memiliki kemampuan mutagenik seperti AI,” jelas Wayan. Dirinya melihat bahwa setiap virus AI dari mulai H1Nx sampai H12Nx itu memiliki tingkat mutasi yang tinggi karena memang sifat alamiah dari virus influenza untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dari virus itu sendiri. “Seperti misalnya virus Avian Influenza, Covid-19, Infectious Bronchitis, itu memiliki tingkat mutasi yang tinggi, sedangkan untuk virus seperti Newcastle Disease itu relatif rendah laju mutasinya karena memang hanya memiliki satu serotipe, walaupun terkadang ditemui serangan subklinis untuk ND.” Kemudian Wayan melihat bahwa Avian Influenza memiliki keunikan dimana kemampuan virus tersebut untuk menerobos mekanisme pertahanan tubuh dari ternak, ditentukan oleh seberapa besar faktor tantangan lapangan yang dihadapi oleh virus itu sendiri. “Jadi dengan berbagai teknologi yang dibuat oleh manusia untuk meningkatkan antibodi ternak terhadap AI, maka virus tersebut merespon dengan mempercepat laju mutasi genetiknya sesuai dengan aksi yang diberikan kepada virus tersebut. Jadi tidak heran apabila saat ini banyak sekali ditemukan variasi wabah AI di berbagai belahan dunia,” ucap Wayan. Lebih lanjut, menurut Wayan menyebutkan bahwa virus Avian Influenza merupakan virus yang ditularkan lewat kontak antara vektor pembawa penyakit seperti manusia, serangga, hewan, peralatan yang terkontaminasi dan lainnya, sehingga pencegahan untuk penyakit Avian Influenza dapat dilakukan dengan biosekuriti yang ketat. “Penularan virus AI memang sebagian besar dari kontak antara ternak yang sehat dengan vektor pembawa penyakit, dan bukan airborne. Maka dari itu, kunci dalam pengendalian penyakit AI adalah bagaimana penerapan biosekuriti yang ada di kandang peternak,” ungkapnya. Senada dengan Wayan, Dalmi Triyono selaku Ketua Asosiasi Dokter Hewan Indonesia (ADHPI) menyampaikan bahwa dalam antisipasi ancaman AI, biosekuriti merupakan hal pertama yang harus ditingkatkan. Dimana dirinya menganalogikan biosekuriti menjadi gerbang utama untuk perlindungan ternak. Mungkin hal ini terdengar cukup sederhana, namun dengan mengacu pada komponen utama biosekuriti yaitu isolasi, kontrol lalu lintas, dan sanitasi, maka menurutnya penerapan biosekuriti yang tepat di peternakan menjadi hal yang sangat rumit. “Banyak ahli menyampaikan bahwa AI tidak ditularkan secara airborne. Maka dari itu, penerapan biosekuriti merupakan sebuah kunci untuk mengantisipasi ancaman AI. Dan disini, kami pun juga telah menginformasikan kepada seluruh anggota guna peningkatan kewaspadaan terhadap virus influenza H5N1 clade 2.3.3.4 dan meningkatkan implementasi biosekuriti di peternakan Selain itu, dengan regulasi penggunaan vaksin AI dari isolat lokal, saya melihatnya menjadi hal yang sangat positif. Untuk itu dengan telah terkonfirmasinya kasus H5N1 clade yang sama dengan di Eropa dan Amerika, maka perlu segera diproses dan dibuat master seed untuk vaksinnya. Karena vaksin AI harus terus diperbaharui, karena homologi menjadi hal yang penting. Mudah-mudahan bisa segera dibuat vaksin, sehingga antisipasinya bisa lebih baik lagi. Saya pikir kalau antisipasi ini bisa berjalan dengan baik, maka tidak ada alasan untuk khawatir yang terlalu berlebihan,” tegasnya. Lebih lanjut, menurut Dalmi dengan berbagai pengalaman wabah terdahulu para stakeholders di Indonesia akan lebih siap menghadapi ancaman AI yang saat ini tengah terjadi. Terlebih, dirinya melihat bahwa awareness terkait AI saat ini sudah lebih baik dari pada dulu. Dengan protap yang telah ada, maka penurunan produksi dan kematian bisa ditekan. Selain itu berbagai teknologi tes dan vaksin pun saat ini lebih jauh berkembang. Namun demikian, Dalmi terus mengajak semua stakeholders untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan langkah antisipatif menghadapi ancaman virus AI di lapangan. Sandi, Domi, Yoga Untuk mengantisipasi AI, penerapan biosekuriti di kandang harus ditingkatkan Clean with Kohshin Venus 2.0: Cage cleaning machine Our company's primary goal is to maximize the efficiency of the cleaning process while making it less strenuous and dangerous. Hygiene is the cornerstone of any successful poultry farm, and to ensure the highest standards of cleanliness, we have developed a comprehensive range of cleaning machines, including the Venus Cage Cleaner, Slat Cleaner, Rack Cleaner, Net Cleaner, and Egg Conveyor Cleaner. Can wash both types of slats, with and without legs; Slat Cleaner Rack Cleaner Requires minimal human labor; Able to clean up to 100m of length in a single operation, and its frame can reach up to 4m high Is operated through an app that allows users to set and save desired cleaning patterns for unlimited use; Equipped with four sensors that adjust the trajectory of the machine when it touches any obstacle; Ideal for any poultry house with different specifications; Runs on brushless DC motors for increased efficiency, performance, and wear resistance; Equipped with anti-slip wheels with a wide diameter for improved cleaning performance; The high-pressure pump can reach a pressure of 25MPa; speed ranges from 30-100mm/sec The adjustable conveyor with a pressure of 25Mpa through 16 nozzles; One the average, it takes ~75sec to finish one rack Easy to set up and operate; Able to clean racks The pump can wash at a pressure of 25Mpa; Easy to transport and install; Before Website Facebook YouTube Instagram New Video After Before After Before After


Edisi Februari 2023 S eperti diketahui bahwa industri peternakan terutama ayam ras pedaging (broiler) mengalami problematika yang cukup serius. Apalagi sejak merebaknya penyakit Covid – 19 pada tahun 2019 yang membuat penurunan drastis konsumsi ayam pedaging sehingga menyebabkan hampir lumpuhnya usaha - usaha penunjang perputaran ekonomi mulai dari usaha UMKM sampai dengan perusahan – perusahaan lainnya pada masa pandemi. Dengan dimulainya masa endemi, dimana kesadaran masyarakat akan imunitas tubuh semakin meningkat. Dan salah satu penyangga imunitas tubuh adalah tercukupinya konsumsi protein khususnya protein hewani. Maka perlu disadari oleh seluruh stakeholder perunggasan, inilah saatnya untuk mengembalikan pertumbuhan usaha dengan cara kolaborasi dengan bidang usaha – usaha yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Sektor perunggasan merupakan salah satu sektor penting agar masyarakat bisa tercukupi konsumsi protein hewani untuk kesehatan dan kecerdasan Sumber daya Manusia (SDM) rakyat Indonesia. Kita semua harus memahami bahwa produk perunggasan merupakan produk yang menyokong konsumsi protein hewani nasional sebesar 70%, sehingga menjadikan sektor ini sangat penting dan strategis. Untuk itu, para pelaku industri Oleh : Achmad Dawami* perunggasan harus sangat berhati – hati dalam mengelola bisnis ini dari hulu hingga hilir. Tak hanya itu perlunya perlindungan dalam hal regulasi maupun kebijakan – kebijakan pemerintah yang dapat membuat industri perunggasan semakin berkembang serta kondusif. Dalam hal ini penulis sebagai ketua umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Indonesia merasa bahwa urusan pengelolaan bibit unggas merupakan hal yang sangat krusial, dimana awal mula dari bisnis / industri perunggasan dimulai dari bibit berupa Day Old Chick (DOC). Namun, penulis merasa saat ini sedang terjadi transisi, dimana banyak sekali aturan – aturan pemerintah yang sedang dalam masa penyesuaian. Sebagai contoh yang paling hangat saat ini adalah terkait urusan impor Grand Parent Stock. Penulis sadar memang pemerintah merupakan pengendali, yang memastikan berjalannya Undang – Undang tentang pangan, sehingga perlunya pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan. Telah diinformasikan bahwa, izin terkait importasi GPS yang biasanya (juga kesepakatannya) keluar setiap akhir tahun, namun untuk tahun ini (2023) baru direalisasikan pertengahan Februari. 80 u Edisi Maret 2023 Surat izin terkait importasi GPS tahun 2023 yang baru direalisasikan pada pertengahan Februari tentu akan membawa dampak kontinuitas produksi untuk tahun – tahun mendatang. Perlu adanya upaya bersama untuk meningkatkan konsumsi masyarakat Indonesia OPINI Pentingnya Keseimbangan Supply dan Demand Broiler Kuota importasi GPS tahun 2023 yang baru direalisasikan pada pertengahan Februari tentu akan membawa dampak kontinuitas produksi untuk tahun – tahun setelahnya


Edisi Februari 2023 S eperti diketahui bahwa industri peternakan terutama ayam ras pedaging (broiler) mengalami problematika yang cukup serius. Apalagi sejak merebaknya penyakit Covid – 19 pada tahun 2019 yang membuat penurunan drastis konsumsi ayam pedaging sehingga menyebabkan hampir lumpuhnya usaha - usaha penunjang perputaran ekonomi mulai dari usaha UMKM sampai dengan perusahan – perusahaan lainnya pada masa pandemi. Dengan dimulainya masa endemi, dimana kesadaran masyarakat akan imunitas tubuh semakin meningkat. Dan salah satu penyangga imunitas tubuh adalah tercukupinya konsumsi protein khususnya protein hewani. Maka perlu disadari oleh seluruh stakeholder perunggasan, inilah saatnya untuk mengembalikan pertumbuhan usaha dengan cara kolaborasi dengan bidang usaha – usaha yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Sektor perunggasan merupakan salah satu sektor penting agar masyarakat bisa tercukupi konsumsi protein hewani untuk kesehatan dan kecerdasan Sumber daya Manusia (SDM) rakyat Indonesia. Kita semua harus memahami bahwa produk perunggasan merupakan produk yang menyokong konsumsi protein hewani nasional sebesar 70%, sehingga menjadikan sektor ini sangat penting dan strategis. Untuk itu, para pelaku industri Oleh : Achmad Dawami* perunggasan harus sangat berhati – hati dalam mengelola bisnis ini dari hulu hingga hilir. Tak hanya itu perlunya perlindungan dalam hal regulasi maupun kebijakan – kebijakan pemerintah yang dapat membuat industri perunggasan semakin berkembang serta kondusif. Dalam hal ini penulis sebagai ketua umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Indonesia merasa bahwa urusan pengelolaan bibit unggas merupakan hal yang sangat krusial, dimana awal mula dari bisnis / industri perunggasan dimulai dari bibit berupa Day Old Chick (DOC). Namun, penulis merasa saat ini sedang terjadi transisi, dimana banyak sekali aturan – aturan pemerintah yang sedang dalam masa penyesuaian. Sebagai contoh yang paling hangat saat ini adalah terkait urusan impor Grand Parent Stock. Penulis sadar memang pemerintah merupakan pengendali, yang memastikan berjalannya Undang – Undang tentang pangan, sehingga perlunya pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan. Telah diinformasikan bahwa, izin terkait importasi GPS yang biasanya (juga kesepakatannya) keluar setiap akhir tahun, namun untuk tahun ini (2023) baru direalisasikan pertengahan Februari. 80 u Edisi Maret 2023 Surat izin terkait importasi GPS tahun 2023 yang baru direalisasikan pada pertengahan Februari tentu akan membawa dampak kontinuitas produksi untuk tahun – tahun mendatang. Perlu adanya upaya bersama untuk meningkatkan konsumsi masyarakat Indonesia OPINI Pentingnya Keseimbangan Supply dan Demand Broiler Kuota importasi GPS tahun 2023 yang baru direalisasikan pada pertengahan Februari tentu akan membawa dampak kontinuitas produksi untuk tahun – tahun setelahnya Edisi Februari 2023 Tentu hal ini akan membawa dampak kontinuitas produksi untuk tahun – tahun mendatang. Seperti diketahui bahwa sebaiknya kedatangan GPS dimulai sejak awal tahun dan secara kontinu setiap bulannya bisa merata dalam jumlah / kuantitasnya. Memang, mengatur National replacement schedule / National Stock Replacement perlu koordinasi yang dikoordinir pemerintah dan perlu disupport oleh para industriawan / pengusaha di bidang perunggasan. Agar di kemudian hari produksi PS dan FS nya tidak fluktuatif terlalu tajam yang dapat membuat ketidakstabilan terutama dalam hal harga. Dengan demikian untuk di tahun – tahun mendatang penulis berharap agar setiap akhir tahun sudah ada keputusan tentang impor GPS. Penulis dan anggota asosiasi sebelum direalisasikannya kepastian impor GPS pada pertengahan Februari yang lalu telah berulang kali mencari informasi perihal izin impor yang masih belum disahkan saat itu, dengan terus berkoordinasi pada pemerintah yaitu Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH). Penulis juga memberikan masukan akan dampak yang dapat terjadi di masa yang akan datang, apabila impor GPS mundur dari jadwal yang telah direncanakan Yang mana akan dapat menimbulkan masalah tentang jumlah produksi baik Parent Stock (PS) maupun Final Stock (FS) di kemudian hari, apalagi jika kedatangan GPS tidak merata (perbedaan jumlahnya terlalu tajam) setiap bulannya. Informasi yang penulis dapatkan, permintaan para importir grand parent stock jumlahnya sangat jauh (lebih) dibandingkan dengan perencanaan pemerintah untuk keseimbangan antara demand dan atau konsumsi daging ayam dengan jumlah produksi FS nantinya. Hal ini memang disadari menimbulkan dilematis untuk pengambilan keputusan berapa jumlah GPS yang diperlukan agar tidak menjadi shortage dan atau sebaliknya yaitu oversupply yang berlebihan. Yang mana jika terjadi shortage akan mengancam ketersediaan pangan daging ayam. Sedangkan apabila terjadi oversupply, akan mengancam keberlangsungan industri perunggasan di Indonesia, yang mana industri perunggasan di Indonesia melibatkan tidak kurang dari 10 juta tenaga kerja yang tersebar, terutama di daerah daerah pelosok sebagai alternatif usaha di daerah tersebut. Yang otomatis akan dapat membantu peningkatan pendapatan per kapita yang lebih merata serta mengurangi urbanisasi. Untuk diketahui bersama, saat ini terdapat 22 perusahaan yang mengajukan impor GPS broiler, sedangkan perbandingannya ketika awal tahun 2018 itu hanya sekitar 14 perusahaan. Terlepas dari banyaknya perusahaan baru yang ingin mengimpor GPS, tugas dari pemerintah adalah memastikan dan menjaga keseimbangan Supply and Demand. Saat ini terdapat beberapa opsi yang mungkin bisa diprediksi terkait dengan izin impor yang telah direalisasikan. Dimana Edisi Maret 2023 u 81 informasinya jumlahnya lebih besar dari tahun 2022 sekitar 30.000 GPS yang berarti bahwa untuk pertengahan tahun 2024 dan 2025 ke atas akan ada pertambahan jumlah produksi DOC secara nasional. Hal ini sudah harus diantisipasi sejak sekarang, bagaimana caranya? Tak lain adalah dengan kerja sama antara pemerintah, pengusaha perunggasan, dan bidang pendidikan dapat melakukan usaha untuk meningkatkan konsumsi protein hewani khususnya daging broiler. Akhir kata, saat ini memang sedang terjadi banyak perubahan di industri perunggasan, baik pola produksi di industri perunggasan itu sendiri maupun pola konsumsi di masyarakat, sehingga semua stakeholder industri perunggasan harus bisa mengikuti perubahan dengan membuat terobosan - terobosan dalam mengantisipasi kemauan masyarakat konsumen yang terjadi. Penulis berharap pemerintah dapat sebagai lokomotif utama dalam mengembangkan industri dalam negeri. Dengan menggandeng para pelaku usaha tentang pentingnya konsumsi daging ayam untuk masyarakat Indonesia. Terutama untuk daerah – daerah pelosok yang masih memiliki prevalensi stunting yang tinggi, pemerintah memiliki peran yang penting untuk mendistribusikan produk – produk tersebut ke daerah – daerah yang membutuhkan. Kita perlu menyadari bahwa industri perunggasan bisa tumbuh jika didukung dengan konsumsi yang meningkat di seluruh penjuru lapisan masyarakat dengan menyediakan produk yang berkualitas. Upaya lainnya yang perlu dilakukan agar produk asal unggas bisa dinikmati oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau adalah dengan memotong mata rantai distribusi. Para peternak diharapkan dapat menjual ayamnya sedekat mungkin ke konsumen akhir, sehingga diharapkan harga jual livebird dan daging ayam akan bisa lebih kompetitif. Perlu disadari juga bahwa tujuan konsumsi daging ayam adalah untuk mendapatkan asupan protein, sehingga perlu memperhatikan proses dari farm (produksi) sampai ke meja makan konsumen dilakukan sebaik serta sehigienis mungkin, melalui proses pemotongan yang terstandar sesuai ketentuan pemerintah (NKV dan lainnya), pengemasan, pendistribusian hingga proses lain hingga berada di tangan konsumen. *Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Penting bagi semua pelaku usaha berupaya untuk meningkatkan efisiensinya


82 u Edisi Maret 2023 Ekstrak kopi robusta dari Lampung dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap Salmonella enteritidis melalui peningkatan imunitas seluler sel limfosit T sitotoksik (Tc) CD8+ dan perbaikan kerusakan usus jejunum. Oleh : drh. Dahliatul Qosimah, M.Kes. RISET S almonella enterica serovar enteritidis adalah serotipe Salmonella yang sering diisolasi dari kasus gastroenteritis pada manusia akibat mengonsumsi makanan tercemar (produk hewan). Kejadian infeksi Salmonella pada manusia 75% disebabkan oleh produk makanan yang terkontaminasi yang berasal dari daging sapi, babi, unggas dan telur. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Shah, et al. (2012) ayam adalah inang reservoir terbesar bagi Salmonella enteritidis (S. enteritidis). Melihat dari penyebabnya, ayam dapat terinfeksi bakteri melalui konsumsi pakan yang terkontaminasi di peternakan. Selain itu, Salmonella juga bisa mengontaminasi daging ayam selama proses penyembelihan maupun transportasi. Infeksi Salmonella pada ayam di suatu peternakan dapat menimbulkan sakit karena menembus epitel mukosa usus dan mengakibatkan infeksi sistemik yang bisa merusak organ vital lain. Infeksi akibat S. enteritidis pada ayam muda umur <2 minggu sering mengalami gastroenteritis dan penyakit sistemik dengan berbagai tingkat kematian. Sebagian besar ayam dewasa menjadi karier terhadap S. enteritidis, menjadi pembawa penyakit dengan menunjukkan gejala klinik asimtomatis yaitu diare, yang ditularkan melalui feses. Bakteri S. enteritidis memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam sel-sel usus dengan cara menembus ke epitel mukosa, selanjutnya menyebar ke organ-organ tubuh melalui pembuluh darah menuju ke limpa, hati dan saluran reproduksi. Sebenarnya, dalam sistem pencernaan sudah dilengkapi dengan perangkat sistem kekebalan tubuh alami seperti bakteri flora normal dan pH asam untuk mengusir bakteri patogen yang masuk ke dalam usus. Akan tetapi, jika jumlah bakteri patogen lebih banyak maka sistem pertahanan tubuh tersebut kurang bisa bekerja secara optimal, sehingga terjadi kerusakan organ. Potensi Ekstrak Kopi Robusta untuk Meningkatkan Imunitas dan Mengurangi Kerusakan Usus pada Ayam Petelur


82 u Edisi Maret 2023 Ekstrak kopi robusta dari Lampung dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap Salmonella enteritidis melalui peningkatan imunitas seluler sel limfosit T sitotoksik (Tc) CD8+ dan perbaikan kerusakan usus jejunum. Oleh : drh. Dahliatul Qosimah, M.Kes. RISET S almonella enterica serovar enteritidis adalah serotipe Salmonella yang sering diisolasi dari kasus gastroenteritis pada manusia akibat mengonsumsi makanan tercemar (produk hewan). Kejadian infeksi Salmonella pada manusia 75% disebabkan oleh produk makanan yang terkontaminasi yang berasal dari daging sapi, babi, unggas dan telur. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Shah, et al. (2012) ayam adalah inang reservoir terbesar bagi Salmonella enteritidis (S. enteritidis). Melihat dari penyebabnya, ayam dapat terinfeksi bakteri melalui konsumsi pakan yang terkontaminasi di peternakan. Selain itu, Salmonella juga bisa mengontaminasi daging ayam selama proses penyembelihan maupun transportasi. Infeksi Salmonella pada ayam di suatu peternakan dapat menimbulkan sakit karena menembus epitel mukosa usus dan mengakibatkan infeksi sistemik yang bisa merusak organ vital lain. Infeksi akibat S. enteritidis pada ayam muda umur <2 minggu sering mengalami gastroenteritis dan penyakit sistemik dengan berbagai tingkat kematian. Sebagian besar ayam dewasa menjadi karier terhadap S. enteritidis, menjadi pembawa penyakit dengan menunjukkan gejala klinik asimtomatis yaitu diare, yang ditularkan melalui feses. Bakteri S. enteritidis memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam sel-sel usus dengan cara menembus ke epitel mukosa, selanjutnya menyebar ke organ-organ tubuh melalui pembuluh darah menuju ke limpa, hati dan saluran reproduksi. Sebenarnya, dalam sistem pencernaan sudah dilengkapi dengan perangkat sistem kekebalan tubuh alami seperti bakteri flora normal dan pH asam untuk mengusir bakteri patogen yang masuk ke dalam usus. Akan tetapi, jika jumlah bakteri patogen lebih banyak maka sistem pertahanan tubuh tersebut kurang bisa bekerja secara optimal, sehingga terjadi kerusakan organ. Potensi Ekstrak Kopi Robusta untuk Meningkatkan Imunitas dan Mengurangi Kerusakan Usus pada Ayam Petelur Edisi Maret 2023 u 83 Grafik 1. Jumlah relatif sel Tc CD8+. Notasi a,b menunjukkan terdapat perbedaan nyata antar perlakuan (P<0,05) Latar belakang tersebut mendorong penulis melakukan riset pemanfaatan ekstrak kopi robusta untuk meningkatkan imunitas yang diinfeksi bakteri S. enteritidis. Menurut Saeed et al., (2019), kopi memiliki sifat multifungsi sebagai anti inflamasi, antioksidan, anti obesitas, dan penyakit kardiovaskular serta meningkatan imunitas. Kopi juga memiliki aktivitas antimikroba seperti bakteri, virus dan jamur, serta dapat sebagai prebiotik. Penelitian ini menggunakan ayam ras petelur umur 1 hari. Ayam diberi perlakuan P1, P2 dan P3 dengan dosis ekstrak kopi berturut-turut yaitu 500, 1000 dan 1500 mg/kg BB (berat badan) selama 14 hari dan diinfeksi bakteri S. enteritidis dengan konsentrasi 0,5 x 108 CFU/ml) selama 1 hari. Parameter yang diamati adalah jumlah relatif sel T CD8+ dan performa kerusakan usus secara makroskopis dan histopatologi. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ayam yang diberi ekstrak kopi pada semua dosis menunjukkan adanya penurunan berat badan dibandingkan dengan ayam yang tidak diberi ekstrak kopi. Hal ini disebabkan asam klorogenik dalam kopi dapat memodulasi glukosa, dan metabolisme lemak saat tubuh mengalami gangguan metabolisme melalui hambatan penyerapan dan transformasi lemak dalam usus. Selain itu, kandungan asam klorogenik tinggi dapat menyebabkan perlukaan usus. Kandungan lain seperti kafein, dan senyawa polifenol dapat juga menurunkan penumpukan lemak visceral (Meng et al., 2013). Hasil lain dari penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah relatif sel Tc CD8+ pada semua dosis ekstrak kopi menunjukkan hasil berbeda nyata, dimana kelompok P1 dengan dosis 500 mg/kg BB menunjukkan jumlah relatif sel Tc CD8+ lebih tinggi dibandingkan kelompok P2 dan P3 (Grafik 1). Sel Tc CD8+ adalah sel efektor dari sistem imun dapatan untuk melindungi tubuh terhadap bakteri intraseluler seperti Salmonella. Paparan bakteri Salmonella menyebabkan sel kekebalan tubuh seperti Tc CD8+ menghasilkan sitokin proinflamasi, yaitu jenis molekul sinyal yang dikeluarkan dari selsel kekebalan tubuh untuk melawan masuknya mikroorganisme atau gangguan asing lainnya yang dapat menyebabkan inflamasi. Respon tubuh tersebut ditandai dengan bengkak, kemerahan, nyeri, panas bahkan menyebabkan gangguan fungsi jaringan tubuh seperti IFN-Ƴ dan TNF-α. Secara mekanismenya, pembunuhan mikroba oleh sel T sitotoksik (Tc) CD8+ melalui ikatan MHC-peptida ialah Interaksi reseptor sel T (TCR) menyebabkan lisis sel target melalui jalur yang melibatkan pelepasan protein pori penginduksi perforin, dan granzim yang disekresikan oleh sel Tc CD8 untuk memicu kematian sel bakteri. Pemeriksaan histopatologi jejunum Pemeriksaan histopatologis dari ayam yang sehat menunjukkan bahwa vili di organ jejunum dalam kondisi normal dan memanjang (gambar 1a dan 1b) dibandingkan dengan vili ayam yang terinfeksi bakteri S. enteritidis yang memendek dan erosi epitel usus (Gambar 2a dan 2b). Panjangnya vili berperan dalam perluasan permukaan penyerapan nutrisi, sehingga memengaruhi kenaikan berat badan. Perlakuan P1 (Gambar 3a dan 3b) dan P2 (Gambar 4a dan 4b) memiliki panjang vili usus dan hiperplasia sel epitel yang normal. Sedangkan di P3 (Gambar 5a dan 5b), vili usus lebih pendek dari P1 dan terjadi erosi epitel dan hiperplasia sel goblet. Pada perlakuan P2, vili usus tampak normal dan memanjang dibandingkan dengan P1. Perlakuan P1 dan P2 menunjukkan peningkatan vili usus dibandingkan dengan P3. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak kopi dengan dosis 500 dan 1000 mg/kg BB dapat meningkatkan integritas usus dan meningkatkan panjang vili usus terhadap kerusakan infeksi akibat bakteri S. enteritidis. Secara teori, epitel usus bertindak sebagai penghalang alami untuk bakteri patogen dan zat


84 u Edisi Maret 2023 Gambar 1a: Penampakan organ jejunum pada kontrol negatif (sehat). Organ jejunum tampak vili normal, memanjang, dan ramping (Pembesaran mikroskopik 100x) Gambar 1b: Penampakan organ jejunum pada kontrol negatif. Epitel tampak normal (panah putih) (Pembesaran mikroskopik 400x) Gambar 2a: Penampakan organ jejunum pada kontrol positif. Vili memendek dan epitel mengalami erosi (panah biru) (Pembesaran mikroskopik 100x) Gambar 2b: Penampakan organ jejunum. Epitel hiperplasia atau menumpuk (panah putih) (Pembesaran mikroskopik 400x) Gambar 3a: Organ jejunum pada perlakuan P1 dengan pembesaran mikroskopik 100x. Vili memanjang, sebagian memendek dan normal (panah biru) Gambar 3b: Organ jejunum pada perlakuan P1 dengan pembesaran mikroskopik 400x. Epitel dan sel goblet hiperplasia (panah putih) Gambar 4a: Organ jejunum pada perlakuan P2 dengan pembesaran mikroskopik 100x. Vili memanjang (panah biru) Gambar 4b: Organ jejunum pada perlakuan P2 dengan pembesaran mikroskopik 400x. Epitel dan sel goblet hyperplasia (panah putih) Gambar 5a: Organ jejunum pada perlakuan P3 dengan pembesaran mikroskopik 100x. Vili pada P3 lebih memendek dibanding P1 Gambar 5b: Organ jejunum pada perlakuan P3 dengan pembesaran mikroskopik 400x. Terdapat erosi epitel (panah putih) dan hiperplasia sel goblet beracun dalam lumen usus. Stres, patogen, dan bahan kimia menjadi faktor penyebab gangguan terhadap mikroflora normal atau dalam epitel usus, sehingga dapat mengubah permeabilitas penghalang alami, memfasilitasi invasi patogen dan zat berbahaya, memodifikasi metabolisme, mengurangi kemampuan mencerna dan menyerap nutrisi, dan menyebabkan proses inflamasi kronis pada mukosa usus. Dalam kata lain, epitel usus juga turut andil dalam menjaga sistem imun tubuh. Secara alamiahnya, organ jejunum ayam tumbuh dengan cepat setelah lahir. Dilihat dari morfologinya, panjang usus meningkat dengan cepat dan disertai dengan ketinggian vili sesuai dengan tingkat penyerapan makanan. Dalam kondisi awal kehidupan, perkembangan imunologis utama terjadi di usus. Nutrisi dan antigen luminal mendorong ekspansi dan diferensiasi jaringan epitel dan limfoid usus dalam mengatur respon imun terhadap antigen lingkungan (Schokker et al., 2010). Khasiat ekstrak kopi robusta Selanjutnya, asam klorogenik yang terkandung pada ekstrak kopi robusta mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. entritidis secara in vitro dengan diameter zona hambat 17 mm. Asam klorogenik berfungsi sebagai antimikroba melalui mekanisme peningkatan permeabilitas membran luar dan plasma sehingga menyebabkan kebocoran nukleotida dan melepaskan makromolekul sitoplasma, yang akhirnya menyebabkan kematian sel bakteri (Lou et al., 2011; Mujtaba et al., 2017). Kemudian, menurut laporan dari Akiyama et al., (2001), tanin juga dapat bekerja dengan cara mengikat besi dari media pertumbuhan bakteri. Hal ini dikarenakan mikroorganisme yang tumbuh di bawah kondisi aerobik memerlukan zat besi untuk berbagai fungsi, termasuk pengurangan prekursor DNA ribonukleotida, dan pembentukan hem. Disamping itu, ekstrak kopi robusta juga mengandung senyawa Alkaloid squalamine, yang bekerja dengan cara merusak integritas membran luar dan membran sitoplasma. Secara sistematis, alkaloid bekerja melalui mekanisme sebagai berikut: mengikat lipopolisakarida bakteri dan menyebabkan depolarisasi membran sitoplasma sehingga isi sitoplasma bocor dan bakteri akan mati (Cuhnie et al., 2014). Kemudian, alkaloid juga dapat menghambat perlekatan, pergerakan, dan produksi radikal bebas oleh sel fagosit (Barbosa-Filho et al., 2006). *Dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya RISET


INDONESIA C M Y CM MY CY CMY K Iklan poultry 210 x 280.ai 1 3/3/2023 10:40:31 AM


VIV Asia 8 - 10 Maret 2023 IMPACT Muang Thong Thani, Bangkok, Thailand. [email protected] https://vivasia.nl/ Tel. +66 (0) 2 111 6611 Food Security Asia Congress 23 - 24 Mei 2023 Pullman Jakarta Central Park, Indonesia. [email protected] http://foodsecurityasia.com/ Ildex Philippines 7 - 9 Juni, 2023 SMX Convention Center Manila, Manila, Philippines. [email protected] https://ildex-philippines.com/ Tel. +662 111 6611 ext. 221 Livestock Philippines 5 - 7 Juli, 2023 World Trade Center Metro Manila, Philippines. [email protected] https://www.livestockphilippines.com/ Tel. +63 (2) 8581 1920 Indo Livestock 26 - 28 Juli, 2023 Grand City Convex, Surabaya, Indonesia. [email protected] https://www.indolivestock.com/ Tel. +6221 8644756 SPACE 12 - 14 September 2023 Rennes Parc-Expo, Prancis. [email protected] https://uk.space.fr/ Tel. +02 23 48 28 88 Ildex Indonesia 20 - 22 September 2023 Indonesia Convention Exhibition (ICE), Jakarta, Indonesia. [email protected] https://www.ildex-indonesia.com/ Tel. +66 2111 6611 (VNU Asia Pasific) Livestock Taiwan 1 - 3 November 2023 Taipei Nangang Exhibition Center, Taiwan. [email protected] https://www.agritechtaiwan.com/ Tel. +886-2738 3898 Livestock Malaysia 29 Nov - 1 Desember 2023 Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia. [email protected] https://www.livestockmalaysia.com/ Tel. +60 3 9771 2688 Nama : …………………………………………………………………… Perusahaan : …………………………………………………………………… Alamat : …………………………………………………………………… .......................................... Kode Pos : .............................. Telepon : Kantor .....……................. HP : .............................. Mulai edisi : .………………………….. Banyaknya : ...................... Eks P E M B A Y A R A N L A N G G A N A N Transfer melalui BANK BUMI ARTA A/C. 109 129 0081 a/n PT. Kharisma Satwa Media Bukti transfer dikirim via Email : [email protected] Keterangan lebih lanjut hubungi : MAJALAH POULTRY INDONESIA Setiap hari kerja | Senin - Jumat | 08.00 - 17.00 WIB Komp. Manga Dua Square Blok E 23 Jl. Gunung Sahari No. 1 Jakarta 14430. Telp. (021) 62318153 Fax. (021) 62318154 FORMULIR BERLANGGANAN 12 Rp. 540.000* Jabodetabek *) Harga sudah termasuk ongkos kirim P. Jawa & Bali Rp. 600.000* P. Kalimantan Rp. 640.000* EDISI Lainnya Rp. 650.000* AGENDA PETERNAKAN 86 u Edisi Maret 2023


HOSTED BY ORGANIZED BY KEMENTRIAN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA CO-LOCATED WITH POWERED BY THE 6TH INTERNATIONAL LIVESTOCK, DAIRY, MEAT PROCESSING AND AQUACULTURE EXPOSITION, INDONESIA This Event Include: Trade Show National & International Conferences Technical Seminar Animal Live Show www.ildex-indonesia.com Contact Person : Ms. Radyawanda Priawan ([email protected], Tel: +62 812 1594 1202) www.lynk.id/ildexindonesia Scan Here for Marketing Kit 20-22 September 2023 DATE PLACE Hall 3 and 3A, Indonesia Convention Exhibition (ICE) Jakarta, Indonesia


88 u Edisi Maret 2023 S elepas Ibnu menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, mulailah ia mencari pekerjaan di bursa tenaga kerja surat kabar yang terbit setiap hari Sabtu dan Minggu. Di dalam benak Ibnu dan juga kawan – kawan seperjuangan ekonom dari tempat ia menyelesaikan studi sarjana, memang pekerjaan yang umum terlintas di kalangan ekonom adalah bekerja di Bank, BUMN, dan Kementerian Keuangan. Ibnu lantas menceritakan pengalamannya saat memulai karier di perusahaan agrobisnis multinasional kepada Poultry Indonesia saat berkunjung ke studio podcast Satwa Media Group, Mangga Dua Square, Jakarta Utara, Selasa, (24/1). “Waktu itu sehabis lulus sarjana ekonomi dari UGM, saya melihat lowongan pekerjaan dari koran kompas, karena waktu itu memang untuk pencarian bursa kerja koran kompas sangat bagus. Maka saya berlangganan yang hari Sabtu dan Minggu saja, yang ada lowongan kerja. Kala itu saya melihat sebuah tulisan lowongan pekerjaan dari perusahaan multinasional di bidang agrobisnis membutuhkan ahli ekonomi. Lalu saya merasa bahwa lowongan tersebut menarik, tidak banyak perusahaan yang membutuhkan ekonom, seringnya akuntan atau keuangan,” ungkap Ibnu. Setelah Ibnu melihat lowongan tersebut akhirnya ia mengirimkan sejumlah persyaratan yang diperlukan ke perusahaan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI). Akhirnya perusahaan tersebut memanggil Ibnu ke sesi wawancara lalu ia bercerita tentang bagaimana proses wawancara di perusahaan tersebut. “Saya kirimkan persyaratan serta surat lamaran kerja, dan momennya itu ketika terjadi peristiwa bom bali di Oktober tahun 2002. Saya Apply, dipanggil untuk sesi wawancara, dan menariknya setelah sesi wawancara selesai saya diberi tugas untuk membuat sebuah paper untuk menganalisis dampak ekonomi bom bali dalam 3 halaman, dengan tenggat waktu 3 hari, dan dibuat dalam bahasa inggris,” kenangnya. Ibnu sadar pada awal kelulusannya dari Universitas, ia merasa kemampuan bahasa inggrisnya belum terlalu mumpuni, akan tetapi ia tetap yakin jika memiliki kemauan, maka akan selalu diberikan jalan. “Sebetulnya pada masa itu sebagai mahasiswa yang lulus dari Yogyakarta, saya merasa masih belum fasih dalam berbahasa inggris. Akan tetapi tetap saya buat tulisannya, saya tambahkan analisis ekonomi, statistik dan lain sebagainya, dan ternyata pihak yang merekrut saya merasa cocok dengan tulisan yang PROFIL Ibnu Edi Wiyono Memiliki latar belakang sebagai ekonom membuat Ibnu Edy Wiyono tidak terlalu mengenai sektor agrobisnis. Bahkan pada awalnya, Ibnu merasa aneh sekaligus kagum dengan dunia agrobisnis karena ia melihat sendiri potensi perputaran ekonomi di dalamnya sangatlah besar. Ekonom yang Kagum pada Dunia Agrobisnis


88 u Edisi Maret 2023 S elepas Ibnu menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, mulailah ia mencari pekerjaan di bursa tenaga kerja surat kabar yang terbit setiap hari Sabtu dan Minggu. Di dalam benak Ibnu dan juga kawan – kawan seperjuangan ekonom dari tempat ia menyelesaikan studi sarjana, memang pekerjaan yang umum terlintas di kalangan ekonom adalah bekerja di Bank, BUMN, dan Kementerian Keuangan. Ibnu lantas menceritakan pengalamannya saat memulai karier di perusahaan agrobisnis multinasional kepada Poultry Indonesia saat berkunjung ke studio podcast Satwa Media Group, Mangga Dua Square, Jakarta Utara, Selasa, (24/1). “Waktu itu sehabis lulus sarjana ekonomi dari UGM, saya melihat lowongan pekerjaan dari koran kompas, karena waktu itu memang untuk pencarian bursa kerja koran kompas sangat bagus. Maka saya berlangganan yang hari Sabtu dan Minggu saja, yang ada lowongan kerja. Kala itu saya melihat sebuah tulisan lowongan pekerjaan dari perusahaan multinasional di bidang agrobisnis membutuhkan ahli ekonomi. Lalu saya merasa bahwa lowongan tersebut menarik, tidak banyak perusahaan yang membutuhkan ekonom, seringnya akuntan atau keuangan,” ungkap Ibnu. Setelah Ibnu melihat lowongan tersebut akhirnya ia mengirimkan sejumlah persyaratan yang diperlukan ke perusahaan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI). Akhirnya perusahaan tersebut memanggil Ibnu ke sesi wawancara lalu ia bercerita tentang bagaimana proses wawancara di perusahaan tersebut. “Saya kirimkan persyaratan serta surat lamaran kerja, dan momennya itu ketika terjadi peristiwa bom bali di Oktober tahun 2002. Saya Apply, dipanggil untuk sesi wawancara, dan menariknya setelah sesi wawancara selesai saya diberi tugas untuk membuat sebuah paper untuk menganalisis dampak ekonomi bom bali dalam 3 halaman, dengan tenggat waktu 3 hari, dan dibuat dalam bahasa inggris,” kenangnya. Ibnu sadar pada awal kelulusannya dari Universitas, ia merasa kemampuan bahasa inggrisnya belum terlalu mumpuni, akan tetapi ia tetap yakin jika memiliki kemauan, maka akan selalu diberikan jalan. “Sebetulnya pada masa itu sebagai mahasiswa yang lulus dari Yogyakarta, saya merasa masih belum fasih dalam berbahasa inggris. Akan tetapi tetap saya buat tulisannya, saya tambahkan analisis ekonomi, statistik dan lain sebagainya, dan ternyata pihak yang merekrut saya merasa cocok dengan tulisan yang PROFIL Ibnu Edi Wiyono Memiliki latar belakang sebagai ekonom membuat Ibnu Edy Wiyono tidak terlalu mengenai sektor agrobisnis. Bahkan pada awalnya, Ibnu merasa aneh sekaligus kagum dengan dunia agrobisnis karena ia melihat sendiri potensi perputaran ekonomi di dalamnya sangatlah besar. Ekonom yang Kagum pada Dunia Agrobisnis Edisi Maret 2023 u 89 saya buat dan akhirnya saya diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut.” Pada awal karier Ibnu di bidang agrobisnis, ia mengaku banyak hal yang menarik dari sektor tersebut. Wawasan tentang dunia agrobisnis yang memiliki perputaran ekonomi yang tinggi, sehingga ketika ia menjalani karier di bidang agrobisnis ia sangat terpukau dengan perputaran ekonomi di bidang agrobisnis. “Hal yang menarik ketika saya mengawali karier di CPI, saya baru tahu bahwa CPI itu adalah perusahaan pakan ternak, perusahaan ayam, karena selama saya berkuliah di Yogyakarta, tidak pernah terpikirkan bahwa ada perusahaan agrobisnis sebesar itu. Di lingkungan para ekonom, yang terkenal kala itu adalah bank dari mulai BCA, BNI, BI, Kemenkeu, dan Bank BUMN. Jujur saya terkejut ketika melihat ada perusahaan di bidang agrobisnis yang sangat besar dan membutuhkan ekonom, maka ketika saya bekerja, saya sangat bersemangat untuk mendalami makroekonomi di bidang agrobisnis bersama CPI,” kenang Ibnu. Selanjutnya ia bercerita lebih lanjut tentang bagaimana pengalaman awal kariernya, kala itu memang sedang berlangsung masa - masa pasca krisis moneter yang terjadi di tahun 1998-1999, sehingga banyak perusahaan besar yang memahami pentingnya monitoring indikator makroekonomi. Semisal pergerakan nilai tukar, inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat, dan lainnya. “Tugas utama saya adalah monitoring indikator ekonomi penting yang bisa berdampak ke bisnis perusahaan. Jadi saya setiap hari itu membuat yang namanya update mingguan, update bulanan, kemudian setiap 6 bulan sekali melakukan presentasi dengan mengundang GM dan manajer di perusahaan untuk mendengarkan pemaparan dari ekonom,” ungkap Ibnu. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu karena Ibnu telah menjadi bagian dari perusahaan, maka ia juga dilibatkan dalam studi – studi untuk pengembangan bisnis baru, atau untuk ekspansi wilayah di luar Jawa. Tugas Ibnu kala itu akhirnya difokuskan ke dua indikator, yaitu monitoring makroekonomi dan juga terlibat di kajian – kajian kelayakan bisnis. “Selepas saya di CPI, saya bekerja di Foreign Agriculture Service (FAS), U.S. Embassy Jakarta sebagai Agricultural Specialist. Ada tiga jobdesk utama yaitu memberikan laporan terkait dengan Market Intelligence, Market Access, Market Development. Jadi bos saya itu atase pertanian dan counsellor pertanian di Kedutaan Besar Amerika Serikat,” ujar Ibnu. Yang menarik dari pekerjaannya di FAS Jakarta Kalau bicara tentang market intelligence, maka tugas Ibnu adalah membuat laporan di situs https://fas. usda.gov bagian GAIN Report. Data yang diberikan dalam laporan tersebut isinya berupa data komoditas seperti oilseed, poultry, ataupun grain and feed. “Kami yang membuat laporan tersebut, nantinya data tersebut akan direkap dari data yang dikumpulkan oleh masing masing perwakilan FAS di setiap negara.” Pesan untuk generasi muda Ibnu berpesan kepada para generasi muda bahwasanya peran aktif para generasi muda di bidang pertanian harus ditingkatkan. Menurutnya, sektor agrobisnis baik itu pertanian, perikanan, dan peternakan masih dianggap kegiatan usaha atau pekerjaan yang kurang menarik atau sering dipandang sebelah mata oleh generasi muda. Ia juga mengakui bahwa industri yang berkecimpung di sektor agrobisnis sangat besar sekali dan masih membutuhkan banyak sentuhan dari para generasi muda “Sektor ini memang saya melihat masih belum bisa dikatakan sektor yang diminati, dan belum dipandang seksi oleh generasi muda. Jujur saya mengakui jika saya tidak bergabung dengan CPI, bekerja di FAS, saya tidak akan mengerti bahwa perputaran ekonomi dari bisnis ini sangat tinggi.” Para anak muda juga menurut Ibnu harus mengerti bahwa sektor agrobisnis ini sangat kompleks. Dari kompleksitas tersebut tentunya banyak peluang yang bisa diciptakan untuk mempermudah kegiatan bisnis dengan menggunakan teknologi tinggi, yang seharusnya bisa dengan mudah dilakukan oleh generasi muda. “Industri agrobisnis bukan industri abal – abal, ini adalah industri dengan nilai miliaran dolar, sehingga dibutuhkan keahlian dan kemauan yang tinggi. Maka seharusnya anak muda bisa memanfaatkan hal tersebut sebagai jalan menuju kesuksesan. Sekali lagi, industri ini tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan industri manufaktur, dan industri lainnya,” harap Ibnu. Selain itu, Ibnu juga berpesan kepada generasi muda agar bisa menghargai hasil pertanian yang diperoleh dari budi daya yang berkelanjutan. Seiring dengan tantangan dunia yang cukup tinggi di berbagai aspek kehidupan, maka pola pikir yang ditanamkan adalah bagaimana makanan yang dikonsumsi sehari – hari, tidak hanya sehat bagi diri sendiri melainkan sehat untuk bumi di tempat kita berpijak. “Saya juga berpesan untuk anak muda dimana tantangan dunia saat ini adalah bagaimana menghadapi 3C yaitu Conflict, Covid, Climate. Untuk tantangan konflik (Conflict) itu sifatnya naik dan turun, kadang eskalasinya meningkat, kadang menurun. Untuk Covid-19 sudah memasuki tahap akhir, sedangkan untuk Climate (Iklim) bagaimana peran kita semua untuk memikirkan bahwa pangan yang kita konsumsi sehat untuk diri sendiri juga sehat untuk bumi,” ungkapnya. Maka dari itu, Ibnu mengajak kepada anak muda untuk selalu menghargai hasil pertanian yang diproduksi dari cara budi daya yang ramah lingkungan, peduli konservasi air dan tanah sebagaimana yang telah dilakukan oleh petani kedelai di Amerika Serikat (Sustainability – US Soy), dan lainnya. Hal ini membuat para generasi muda yang bergerak di bidang pertanian betul – betul memiliki kualifikasi keahlian yang tinggi, memiliki niat untuk selalu belajar, dan juga menghargai lingkungan. Domi Kegiatan Ibnu sehari - hari sebagai konsultan teknis


90 u Edisi Maret 2023 Biosekuriti menjadi aspek yang paling penting dalam budi daya perunggasan. Begitu kira-kira kata Gery Buwana seorang peternak layer asal Dramaga, Bogor, Jawa Barat. Saat ditemui tim redaksi Poultry Indonesia di kandangnya, Senin (13/1), ia menyebut bahwa biosekuriti merupakan langkah yang tak boleh dilewatkan. Di kandangnya pun ia telah menerapkan sistem biosekuriti 3 zona, sebuah konsep biosekuriti yang dibagi atas tiga wilayah. “Saya menerapkan biosekuriti 3 zona setelah adanya imbauan terkait penerbitan NKV (Nomor Kontrol Veteriner) dari pemerintah. Saya diberikan pengajaran mengenai biosekuriti 3 zona dan ternyata itu memang efektif untuk menekan biaya produksi terkait obat-obatan. Karena dengan kandang yang bersih ditambah pemberian vaksin yang tepat, membuat penurunan biaya produksi untuk obat cukup banyak,” ujar pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah tersebut. Dalam melaksanakannya, tentu tidak semudah dengan apa yang dipikirkan. Ia menyadari bahwa biosekuriti ini masih sulit diterima oleh sebagian orang, walaupun secara sistem sudah dikenalkan sejak lama. “Tantangan yang sering kali ditemukan dalam biosekuriti 3 zona adalah masih sering ditemukan tamu atau orang lain dari luar mereka tidak tahu biosekuriti 3 zona, kemudian mereka langsung masuk tanpa berkeinginan untuk ganti pakaian, tanpa mau untuk disemprot atau cuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke area kandang,” terang Owner Global Buwana Farm tersebut. Yoga Memiliki lahan kosong mengantarkannya menjadi ‘pahlawan pangan’. Inilah cerita singkat tentang Ivan Natawijaya, seorang pemuda berusia 24 tahun asal Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat yang berprofesi sebagai peternak broiler dan layer sejak tahun 2018 silam. Itu artinya, Ivan memulai usaha kala menginjak usia 19 tahun yang mana merupakan usia yang masih sangat muda. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia di Tangerang, Rabu (18/1), ia mengaku tertarik menggeluti usaha budi daya broiler dan layer karena bersangkutan langsung terhadap ketahanan pangan nasional. Menurutnya, segala bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan primer manusia tidak akan pernah mengalami surut. “Saat itu, saya memperhatikan bahwa harga daging ayam sedang tinggi-tingginya dan berpikir kalau di daerah saya sedang kekurangan stok daging ayam. Dari situ saya mencoba usaha budi daya broiler. Kebetulan saat itu saya memiliki lahan yang tidak terpakai. Tidak lama dari itu, saya juga melihat kendala baru bahwa di daerah saya kekurangan stok telur di pasar, sehingga saya berusaha untuk memenuhi kebutuhan telur di pasar dari beternak layer,” ucap pemilik Anugerah Abadi Farm tersebut. Baginya, peternak saat ini tidak hanya mengandalkan pada penjualan ayam hidup dan telur di farm saja. Melainkan harus berupaya mengarah ke hilirisasi agar tetap eksis di tengah ketidakpastian harga jual ayam hidup dan telur di tingkat peternak. “Jangan sungkan untuk usaha budi daya broiler dan layer karena kebutuhan komoditas tersebut tiap tahun semakin tinggi. Yang terpenting kita memiliki tempat untuk hilirisasi agar produk kita lebih mudah diterima di pasar,” kata Ivan. Yoga Mari berkenalan dengan Mugiyanto, peternak ayam hias yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Pria yang akrab dipanggil Yanto ini mengaku sudah beternak ayam hias sejak tahun 1999. Ia bercerita bahwa merasa familiar dengan ayam hias sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saat itu, ayahnya aktif beternak ayam mutiara dan kalkun, yang kemudian mewariskan hobi dan bisnisnya tersebut kepada Yanto. Berbeda dengan zaman dahulu, yang mana pembeli dan penjual harus bertransaksi secara tatap muka, sekarang Yanto mengembangkan usaha jual-beli ayam hiasnya secara daring melalui portal Hobiternak.com, yang didirikan pada tahun 2013. “Alasan saya bikin Hobiternak.com berawal dari keinginan saya dan teman-teman untuk mengirimkan bibit unggas ke seluruh penjuru Indonesia. Pemikiran tersebut sungguh mendapatkan respons positif, tidak hanya dari peternak di Pulau Jawa, melainkan di luar Pulau Jawa juga antusias. Dengan begitu, mereka menjadi lebih mudah mendapatkan bibit unggas yang diinginkan,” tuturnya ketika dihubungi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Jumat (23/12). Yoga Bangga Menjadi Pahlawan Pangan Biosekuriti, Hal yang Penting IVAN NATAWIJAYA MUGIYANTO Digitalisasi Pasar Ayam Hias SEPUTAR KITA GERY BUWANA


Click to View FlipBook Version