The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arief Maulana, 2023-03-31 04:08:27

Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2023

Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2023

Keywords: #poultry indonesia

04 u Edisi Februari 2023 u Warta Industri Obat Hewan u Kondisi Industri Obat Hewan u Tantangan Industri Obat Hewan u Seribu Jalan Mengembangkan Industri Obat Hewan DAFTAR ISI ........................................... 04 DARI REDAKSI ..................................... 06 EDITORIAL .......................................... 08 INFO PRODUK .................................... 10 SURAT PEMBACA ................................ 12 TOPIC .................................................. 14 SUDUT KANDANG ............................ 16 SUARA ASOSIASI ................................. 20 PERISTIWA ........................................... 36 INTERNASIONAL ................................ 44 CATATAN HARGA ............................... 48 KESEHATAN ........................................ 52 POJOK OBAT UNGGAS ...................... 68 POULTRY KULINER ............................ 74 LIPUTAN DAERAH .............................. 76 RISET .................................................... 80 OPINI ................................................... 82 SUARA MAHASISWA ........................... 86 BEDAH BUKU ..................................... 87 ANEKA UNGGAS ................................ 88 SEPUTAR KITA ..................................... 90 Menyikapi Reaksi Post Vaksinasi pada Ayam Ras Bima Aqila Pemilik Layanan Jasa Keamanan yang Mencintai Dunia Ayam Hias Efektivitas Protein Hewani Asal Unggas untuk Cegah Stunting TATA LAKSANA 62 PASCAPANEN 72 PROFIL 84 LAPORAN UTAMA 21 DAFTAR ISI


WE PROVIDE ONE-STOP SOLUTION Contribution of The Belt and Road The World- Class CITIC- Belarus Feed Project Annual 600,000 tons Feed Production Line 450,000 tons Steel Silo Is On The Way Steel Silo Solutions Powered by A Subsidiary of Zheng Chang Group ZhengChang Group : No.28 Zhengchang Road, Kunlun Development Zone, Liyang, Jiangsu, China : +86 21-6418 4200 Fax : +86 21-6416 3299 : [email protected] : www.zhengchang.com/eng Address Telephone E-mail Website Mr.BIMA +62 8 1130 3992 [email protected] Pellet Mill SZLH Series Vaccum Coater SZPL Series Dryer SHWZ Series Twin-Screw Extruder SPHS Series Micro-pulverizer SWFL Series Mixer SSHJ Series Indonesia Office Bruce Wang +62 812 1012 2602(IDN) +86 150 0081 6766(CHN) [email protected]


P ada awal tahun 2023, bisnis perunggasan masih dihantui dengan ketidakpastian global akibat beragam faktor yang memengaruhi. Akan tetapi, saat ini faktor yang paling memengaruhi bisnis di dalam negeri adalah akibat makroekonomi global yang masih tidak menentu. Bisnis di komoditas juga dipengaruhi oleh banyak faktor dari hulu ke hilir. Bisnis perunggasan di hulu terdiri dari sarana produksi ternak yang meliputi bibit, obat – obatan vaksin dan kimia (OVK), juga peralatan untuk memenuhi standar kegiatan budi daya. Untuk melihat lebih jauh mengenai bagaimana pengaruh dari kondisi perekonomian global terhadap salah satu bisnis di hulu yaitu penyedia sarana kesehatan ternak, akan dibahas dalam rubrik Laporan Utama edisi Februari dengan tema Warta Industri Obat Hewan. Industri obat hewan sangat erat kaitannya dengan industri peternakan khususnya perunggasan. Kegiatan bisnis perunggasan menjadi penyumbang terbesar dari penjualan obat hewan di Indonesia dengan nilai sebesar 9 triliun rupiah pada tahun 2022. Bagaimana para pelaku dan stakeholder di bidang perunggasan menghadapi tantangan bisnis di tahun 2023 telah dirangkum oleh tim Poultry Indonesia pada rubrik Laporan Utama edisi Februari. Redaksi PEMIMPIN UMUM/PENANGGUNG JAWAB Farah Dite Poernama STAF AHLI Prof. Dr. Drh. I Wayan T. Wibawan, MS. Drh. Desianto B. Utomo, M.Sc. Ph.D. Drh. Paulus Setiabudi, MM., Ph.D. Joko Susilo, S.Pt. PEMIMPIN REDAKSI Muhamad Domi Sattyananda REDAKTUR PELAKSANA Muhammad Sandi Dwiyanto REDAKSI Diana Putri Yoga Kusuma Barata KORESPONDEN LUAR NEGERI Elis Helinna (New York) KORESPONDEN Muhrishol Yafi (Sidoarjo) Ulil Albab (Purwokerto) Ashariah Hapila (Makassar) Muhammad Zainurrohim (Yogyakarta) Dafiq Naskar (Sumatra Barat) Kevin Tri Tama (Bali) ARTISTIK/PRODUKSI Ahmad Juber PEMIMPIN USAHA Iyan Yuliana IKLAN & PROMOSI Bella Viseria Ilham Muhammad SATWA MEDIA TV Nijo Haryanto Wisnu Yoga Permana SIRKULASI Joko Sumarsono KEUANGAN Chatra Ratnayu Dian Arinda PENERBIT PT Kharisma Satwa Media ALAMAT REDAKSI, TU & USAHA/IKLAN Komplek Mangga Dua Square Blok E No. 23 Jl. Gunung Sahari Raya No. 1 - Jakarta 14430 Telp. (021) 62318153 Fax (021) 62318154 E-mail : [email protected] [email protected] [email protected] Homepage : www.poultryindonesia.com BANK BUMI ARTA Cabang Pembantu Mangga Dua, No. A/C 109 129 0081 Atas Nama: PT. KHARISMA SATWA MEDIA 06 u Edisi Februari 2023 Foto bersama jurnalis PI dengan peternak layer di Bogor Beralih ke rubrik lainnya, telah disiapkan artikel menarik dalam rubrik Internasional yang membahas seputar pemenuhan konsumsi komoditas asal unggas di berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Daging ayam menjadi salah satu pangan penting bagi masyarakat di Timur Tengah. Kendati demikian, mayoritas negara di kawasan ini harus mengimpor daging ayam untuk memenuhi permintaan yang terus mengalami peningkatan. Bagaimana cara negara-negara ini memenuhi permintaan tersebut dapat dibaca dalam rubrik Internasional edisi Februari. Artikel tak kalah menarik lainnya juga telah disiapkan dalam rubrik Tatalaksana dan kesehatan yang membahas teknik manajemen untuk meningkatkan efisiensi para peternak. Pada rubrik Kesehatan, telah disiapkan tulisan yang apik terkait dengan bagaimana penanganan penyakit gumboro yang masih menjadi ancaman di industri perunggasan. Infectious Bursal Disease (IBD) atau yang biasa disebut gumboro sampai saat ini masih menjadi momok di dunia perunggasan. Penyakit viral akibat Infectious Bursal Disease Virus (IBDV) ini merupakan penyakit akut menular yang sering kali menyerang ayam muda dengan gejala klinis berupa atrofi (penyusutan) pada bursa fabricius serta imunosupresi. Selanjutnya, tulisan yang bermanfaat bagi para pelaku usaha budi daya telah disiapkan pada rubrik Tatalaksana dengan judul Menyikapi Reaksi Post Vaksinasi pada Ayam Ras. Kendati menjadi sebuah hal yang wajar, reaksi post vaksinasi dapat berubah menjadi masalah yang serius apabila terjadi secara berlebihan dan berkepanjangan. Langkah antisipatif harus tetap dipersiapkan sehingga pemberian vaksin tidak menjadi hal yang kontraproduktif. Bagaimana langkah – langkah menyikapi reaksi post vaksinasi dalam pemeliharaan ayam ras telah disiapkan dalam rubrik Tatalaksana. Pada edisi Februari 2023, juga telah disiapkan tulisan mengenai bagaimana perlunya perubahan pola pikir masyarakat dalam melihat dunia perunggasan yang datang dari drh. Paulus Setiabudhi dalam rubrik Sudut Kandang. Di rubrik lainnya Tim Poultry Indonesia telah menyiapkan beragam tulisan untuk tujuan menambah wawasan para pembaca dari rubrik Peristiwa, Pojok Obat Unggas, Liputan Daerah Bogor, Riset, dan lainnya. Selamat Membaca! DARI REDAKSI


08 u Edisi Februari 2023 P ermasalahan terkait dengan harga komoditas perunggasan terutama broiler yang tak kunjung usai dari 5 tahun ke belakang, masih terasa hingga saat ini. Padahal berbagai upaya telah dilakukan di sisi hulu dari mulai jangka pendek seperti langkah cutting HE, penentuan harga acuan pembelian di tingkat peternak, nyatanya masih belum bisa membuat komoditas livebird menjadi lebih kondusif. Kondisi harga jual livebird yang selalu berada di bawah harga acuan Peraturan Badan Pangan Nasional ini berdampak buruk bagi para pelaku usaha. Baik peternak mandiri yang melakukan usaha budi daya, maupun perusahaan inti yang wajib mematuhi harga kontrak yang sudah ditetapkan dengan peternak plasma terguncang dari sisi keuangan. Maka dari itu, semestinya pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah tidak hanya mengatur dari sisi supply atau hulunya saja, tetapi perlu juga upaya khusus agar bagaimana di hilir atau permintaan masyarakat bisa sejalan dengan kebijakan di hulu. Kebijakan regulasi yang telah dilakukan oleh stakeholders di sisi hulu, nyatanya belum bisa menjadi jalan keluar untuk membuat para peternak mendapatkan angin segar dalam melakukan usaha budi daya. Jika dilihat lebih lanjut, produksi yang sudah dilakukan oleh para peternak di Indonesia membuktikan bahwa secara pemeliharaan di tingkat budi daya, sudah bisa dilakukan dengan sangat produktif, dan tidak berbeda jauh dengan pemeliharaan yang dilakukan selayaknya di negara-negara produsen ayam ras. Dengan kemajuan ilmu teknologi yang beredar di lingkup budi daya, para peternak membuktikan bahwa hal tersebut bukanlah menjadi masalah. Namun penyerapan di tingkat masyarakat yang perlu disentuh, agar produksi yang dilakukan oleh para peternak dapat diserap semaksimal mungkin oleh masyarakat. Dari hal ini, tantangan terberat dalam merumuskan jalan keluar ada pada data yang seringkali diperdebatkan oleh para stakeholders yang terlibat di dalamnya. Hal ini diperparah dengan rilis Badan Pusat Statistik tahun 2022 silam yang menyatakan bahwa proporsi keuangan masyarakat untuk pemenuhan pangan masih di bawah kebutuhan lain seperti konsumsi rokok. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi makanan bergizi dalam setiap porsi makanannya, terutama untuk konsumsi protein hewani seperti daging dan telur ayam. Yang mana daging dan telur ayam merupakan pangan yang tinggi protein untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Daging dan telur ayam merupakan sumber protein hewani yang paling mudah untuk didapat dan relatif lebih terjangkau jika dibanding dengan sumber protein hewani lainnya. Apalagi, jika berbicara tentang komoditas telur yang seringkali dijuluki dengan superfood, yang mana banyak sekali terkandung nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Berbeda halnya dengan komoditas ayam ras pedaging, komoditas ayam ras petelur di tahun 2022 memang masih dalam taraf yang aman. Permintaan akan komoditas tersebut memang masih menjanjikan. Terlihat dari harga yang cenderung stabil berada di rentang harga acuan Bapanas. Bahkan bisa dibilang posisi Indonesia baik di regional maupun global memiliki posisi yang strategis. Bagaimana tidak, jika mengutip perkataan dari Thomas M Dixon, Hy-Line International Global Product Manager, dalam acara seminar di Tangerang, Rabu, (18/1) dengan tema CPI Layer Seminar 2023, “Hy-Line Brown Max Advantages Worldwide”, mengatakan bahwa bisnis komoditas telur masih memiliki ruang untuk berkembang jika dilihat dari konsumsi per kapita yang masih rendah. Mengingat telur sangat digemari oleh semua lapisan masyarakat, mulai kelas menengah ke bawah hingga kelas atas. Bahkan Thomas menegaskan bahwa Indonesia memainkan posisi yang sangat penting untuk produksi telur dunia. Yang mana, menurutnya Indonesia merupakan 5 besar produsen telur dunia bahkan bisa jadi keempat terbesar di dunia. Secara global, Indonesia masih memiliki daya tarik tersendiri di bisnis perunggasan. Dengan tingkat konsumsi yang tergolong masih rendah, membuat potensi pertumbuhan pasar perunggasan di Indonesia terbuka lebar. Perlu perhatian lebih serius dalam pembenahan di sisi hilir, bagaimana masyarakat dapat lebih sadar untuk memberikan prioritas lebih terhadap pangan protein hewani yang sangat terjangkau ini. Memang dibutuhkan kerja sama antar stakeholders yang terlibat di dalamnya untuk merumuskan sebuah model yang tepat untuk bisnis ayam ras di Indonesia yang cocok dengan kultur di Indonesia. Dan dibutuhkan komitmen bersama dalam mewujudkan hal tersebut. Perlu Upaya Khusus untuk Tingkatkan Konsumsi Protein Hewani EDITORIAL


Ayam hias merupakan salah satu peluang masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Ayam Hias merupakan unggas yang memiliki keunikan, keindahan dan kelebihan yang dilihat dari segi fisik, tampilan, prilaku dan suara. Dalam pemenuhan nutrisi bagi ayam hias tentu dibutuhkan pakan dengan nutrisi yang seimbang untuk mengeluarkan potensi dari ayam hias. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, memperkenalkan pakan Ayam Hias Aurora dengan kandungan probiotik dan herbal spesial untuk kesehatan organ pencernaan dan imunitas (kekebalan) tubuh. Melalui protein dan mineral yang lengkap dan seimbang untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh juga kualitas bulu baik ketebalan, ketajaman warna dan kelenturannya. Pakan Aurora merupakan pakan unggas hias untuk umur 4 minggu keatas diperkaya dengan vitamin A dan E, trace mineral (Zinc, Selenium, Manganese), probiotik, herbal, dan mengandung asam amino lengkap dan seimbang yang telah diformulasikan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ayam hias dewasa yang dipelihara sebagai hewan kesayangan dan kontes. Pakan Aurora cocok untuk segala jenis unggas hias baik beauty maupun suara. Bella Untuk informasi lebih lengkap mengenai produk, dapat menghubungi: PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk – Jawa Timur Jl. Surabaya-Mojokerto km 26, Desa Keboharan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tel : 0821 57 599 599 10 u Edisi Februari 2023 Medivac Coryza T Chito Protektivitas Tinggi, Reaksi Post Vaksinasi Ringan Pakan Ayam Hias Aurora Penuhi Kebutuhan Nutrisi Ayam Hias INFO PRODUK Medivac Coryza T Chito dalam bentuk larutan biru, bukan emulsi atau suspensi. Adjuvant pada Medivac Coryza T Chito mudah terurai (biodegradable), lebih mudah diserap (biocompatible), dan tidak menyebabkan toksisitas (non toxic) di jaringan sehingga reaksi post vaksinasinya ringan dan aman. PI Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi kami melalui : PT Medion Farma Jaya Jalan Raya Batujajar 29, Cimareme Bandung, 40552 Indonesia Tel : (+622)6866090 Customer : (+62)81321857405 www.medionfarma.co.id Coryza sering menyerang tapi ayam stres setelah divaksin? Kini hadir produk baru inovatif, Medivac Coryza T Chito. Vaksin ini menggunakan adjuvant “Hercules” yang terbuat dari Chitosan yang mampu meningkatkan respon kekebalan tubuh baik secara seluler maupun humoral sehingga vaksinasi lebih efektif. Medivac Coryza T Chito direkomendasikan untuk primovaccination (vaksinasi pertama). Hasil uji pada ayam SPF (Specific Pathogen Free) menunjukkan bahwa vaksinasi dengan Medivac Coryza T Chito sebagai priming dan dikombinasikan dengan Medivac Coryza T Emulsion sebagai booster memberikan proteksi lebih tinggi terhadap tantang bakteri coryza ganas.


12 u Edisi Februari 2023 dan produksi urine, virus yang terikut pada urine juga berpotensi menjadi sumber penyebaran virus yang bermuara pada tinja itik atau entok. Semoga jawaban ini membantu. Salam. Ayam nabati apakah sama dengan ayam organik? Min, apakah ayam nabati itu ayam organik? @amintantara via Instagram Terima kasih atas pertanyaannya. Ayam nabati merupakan produk yang didesain untuk mengimitasi tekstur dan rasa daging. Biasanya, ayam nabati diolah dari produk protein nabati, seperti kacang kedelai, gandum, dan dibentuk seperti daging biasa, giling, maupun nugget. Sedangkan ayam organik merupakan ayam yang dipelihara secara organik, baik dari segi pakan dan pendukungnya. Ayam organik juga mengonsumsi pakan organik yang berarti tidak mengandung by-product dari hewan, antibiotik, serta biji-bijian yang telah dimodifikasi secara genetik maupun yang dalam proses penanamannya menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Dapat disimpulkan kedua ayam tersebut merupakan produk yang berbeda. Semoga menjawab. SURAT PEMBACA Perubahan patologi DVH Halo, Poultry Indonesia. Apa saja perubahan patologi yang disebabkan oleh Duck Viral Hepatitis? Roy, Kendari Halo, Roy. Terima kasih atas pertanyaannya. Beberapa perubahan makropatologi yang ditemukan pada hati itik dan entok berupa pembengkakan, pendarahan titik, hingga ekimosis. Hati ayam mengalami hemoragi dan kongesti pada beberapa permukaan dengan sudut hati tampak sedikit menumpul. Sedangkan perubahan histopatologi terlihat jelas pada beberapa organ tubuh, diantaranya terjadinya degeneratif sel-sel hati atau hepatosit serta proliferasi pada pembuluh empedu. Perubahan histopatologi juga tampak pada otak, yang mana terjadi nekrosis pada sel-sel neuron dan infiltrasi sel-sel limfosit. Peradangan yang hebat terjadi pada selaput otak, yang dipenuhi dengan infiltrasi sel-sel limfosit. Pada jaringan otak, sel-sel neuron tampak mengalami nekrosis disertai proliferasi sel-sel mikroglia. Pankreas mengalami degenerasi dan nekrosis pada sel-selnya. Degenerasi dan nekrosis terjadi pada tubulus dan glomerulus ginjal. Serangan virus pada ginjal, selain mengakibatkan kerusakan pada jaringan organ ginjal yang berfungsi filtrasi YANG NETAS


BEC Feed Solutions range of premixes and feed additives are supported by customized formulation and technical support. LOOKING FOR HIGH QUALITY NUTRITION SOLUTIONS? NUTRITION SOLUTIONS TO ENHANCE PERFORMANCE PT BEC Feed Solutions Indonesia 021 2278 5095 (Jakarta) 031 9953 2698 (Surabaya) Email [email protected] Scan the QR code to visit our website


14 u Edisi Februari 2023 Reports on Poultry Drug Industry The veterinary drug industry is closely related to the livestock industry, especially poultry because veterinary drug plays a big role in the poultry farming business. Vaccines, drugs, feed additives, and feed supplements have become shields in maintaining chicken health and optimal production. Thus, the development of the poultry industry will have implications for the sales value of the veterinary drug industry, no matter how small. The poultry sector is the biggest contributor to the sales value of the Indonesian veterinary drug industry. According to the data of the Indonesian Veterinary Drug Association (ASOHI), of the total sales of veterinary drugs in 2022 with a value of IDR 9 trillion, the poultry pharmaceutical and biological products sector contributed IDR 4.6 trillion, followed by feed additives and feed supplements with a value of IDR 4.3 trillion, and followed by other livestock pharmaceutical and biological products of IDR 144 billion. Though it’s great in value, a small change in the poultry industry could have serious impacts on the veterinary drug industry. It would be very intriguing for Poultry Indonesia magazine to talk about the reports on the poultry drug industry to provide an overview to the public about the condition of the veterinary drug industry, as well as the various efforts that need to be made to enhance the development of the industry in the midst of the existing challenges. Yoga Poultry Diseases in 2023 Poultry Indonesia held the 25th Poultry Indonesia Forum webinar called Poultry Disease Prediction in 2023 to provide an overview of diseases in poultry. Andi Ricki Rosali, a layer and broiler breeder, explained his experience regarding poultry diseases on his farm all throughout 2022. Newcastle Disease, Infectious Bursal Disease, Avian Influenza, and Coryza are often found on his broiler farms. While Infectious Bronchitis, Tetelo, Egg Drop Syndrome, and Coryza are often found on his layer farms. Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, Professor of the School of Veterinary Medicine and Biomedical Science (SKBH) IPB University, said that in disease management, the role of vaccines is substantial. However, considering the use so that the formation of antibodies is optimal is necessary. Immunostimulants, in the form of vitamins and many others, can also be given to reduce the effect of intrinsic stress on modern chickens that grow very fast. “The main determinant of vaccine efficacy is the suitability of the vaccine epitopes used with the field virus epitope. In addition, vaccine preparation and execution accuracy, such as handling, dosage, vaccination program, etc., also determine the effectiveness,” he explained. drh. Fauzi Iskandar, the Veterinary Services Manager of PT Ceva Animal Health Indonesia, said that high density between cages, high flock density, and cages that apply the multi-age principle to layers dominates the challenges of raising chickens in Indonesia. Based on Diseases Surveillance data by Ceva, the diseases that will emerge in 2023 are Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, Infectious Bursal Diseases, Inclusion Body Hepatitis, and Avian Influenza. Fauzi said that Newcastle Disease is still the main focus. Diana Indonesian Ombudsman Discussed Protection and Empowerment for Farmers The meeting initiated by the Ombudsman of the Republic of Indonesia held in the Antonius Sujata Room, Ombudsman RI Building, Kuningan, South Jakarta, Tuesday (17/1) was motivated by an investigation initiated by the Indonesian Ombudsman regarding the solution to the fate of farmers. Hendra Yeka Fatika from the Indonesian Ombudsman, Sugeng Wahyudi from the National Chicken Farmers Organization (GOPAN), and the Director of Breeding and Production from the Directorate General of Livestock and Animal Health of the Ministry of Agriculture, Agung Suganda, all attended this meeting. Yeka then alluded to Government Regulations No. 6 of 2013 concerning the empowerment of breeders, stating in article 1, paragraph 1 that farmer empowerment is all kinds of efforts made by the government from the center to the Regency/City to increase independence, convenience, and business progress, as well as increase the competitiveness and welfare of breeders. “It is clear that the protection of these farmers is the responsibility and duty of the government. The government’s task of protecting breeders is part of public services,” he said. The meeting resulted in a decision that both the Indonesian Ombudsman and the Ministry of Agriculture agreed to carry out a further in-depth study to embody the protection and empowerment of farmers and breeders to realize a realizable program. Domi TOPIC


14 u Edisi Februari 2023 Reports on Poultry Drug Industry The veterinary drug industry is closely related to the livestock industry, especially poultry because veterinary drug plays a big role in the poultry farming business. Vaccines, drugs, feed additives, and feed supplements have become shields in maintaining chicken health and optimal production. Thus, the development of the poultry industry will have implications for the sales value of the veterinary drug industry, no matter how small. The poultry sector is the biggest contributor to the sales value of the Indonesian veterinary drug industry. According to the data of the Indonesian Veterinary Drug Association (ASOHI), of the total sales of veterinary drugs in 2022 with a value of IDR 9 trillion, the poultry pharmaceutical and biological products sector contributed IDR 4.6 trillion, followed by feed additives and feed supplements with a value of IDR 4.3 trillion, and followed by other livestock pharmaceutical and biological products of IDR 144 billion. Though it’s great in value, a small change in the poultry industry could have serious impacts on the veterinary drug industry. It would be very intriguing for Poultry Indonesia magazine to talk about the reports on the poultry drug industry to provide an overview to the public about the condition of the veterinary drug industry, as well as the various efforts that need to be made to enhance the development of the industry in the midst of the existing challenges. Yoga Poultry Diseases in 2023 Poultry Indonesia held the 25th Poultry Indonesia Forum webinar called Poultry Disease Prediction in 2023 to provide an overview of diseases in poultry. Andi Ricki Rosali, a layer and broiler breeder, explained his experience regarding poultry diseases on his farm all throughout 2022. Newcastle Disease, Infectious Bursal Disease, Avian Influenza, and Coryza are often found on his broiler farms. While Infectious Bronchitis, Tetelo, Egg Drop Syndrome, and Coryza are often found on his layer farms. Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, Professor of the School of Veterinary Medicine and Biomedical Science (SKBH) IPB University, said that in disease management, the role of vaccines is substantial. However, considering the use so that the formation of antibodies is optimal is necessary. Immunostimulants, in the form of vitamins and many others, can also be given to reduce the effect of intrinsic stress on modern chickens that grow very fast. “The main determinant of vaccine efficacy is the suitability of the vaccine epitopes used with the field virus epitope. In addition, vaccine preparation and execution accuracy, such as handling, dosage, vaccination program, etc., also determine the effectiveness,” he explained. drh. Fauzi Iskandar, the Veterinary Services Manager of PT Ceva Animal Health Indonesia, said that high density between cages, high flock density, and cages that apply the multi-age principle to layers dominates the challenges of raising chickens in Indonesia. Based on Diseases Surveillance data by Ceva, the diseases that will emerge in 2023 are Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, Infectious Bursal Diseases, Inclusion Body Hepatitis, and Avian Influenza. Fauzi said that Newcastle Disease is still the main focus. Diana Indonesian Ombudsman Discussed Protection and Empowerment for Farmers The meeting initiated by the Ombudsman of the Republic of Indonesia held in the Antonius Sujata Room, Ombudsman RI Building, Kuningan, South Jakarta, Tuesday (17/1) was motivated by an investigation initiated by the Indonesian Ombudsman regarding the solution to the fate of farmers. Hendra Yeka Fatika from the Indonesian Ombudsman, Sugeng Wahyudi from the National Chicken Farmers Organization (GOPAN), and the Director of Breeding and Production from the Directorate General of Livestock and Animal Health of the Ministry of Agriculture, Agung Suganda, all attended this meeting. Yeka then alluded to Government Regulations No. 6 of 2013 concerning the empowerment of breeders, stating in article 1, paragraph 1 that farmer empowerment is all kinds of efforts made by the government from the center to the Regency/City to increase independence, convenience, and business progress, as well as increase the competitiveness and welfare of breeders. “It is clear that the protection of these farmers is the responsibility and duty of the government. The government’s task of protecting breeders is part of public services,” he said. The meeting resulted in a decision that both the Indonesian Ombudsman and the Ministry of Agriculture agreed to carry out a further in-depth study to embody the protection and empowerment of farmers and breeders to realize a realizable program. Domi TOPIC


SUDUT KANDANG Pemasaran ujung tombak dalam bisnis Sekitar 33 tahun yang lalu, penulis sambil tetap bekerja juga belajar di Pascasarjana, Fakultas Ekonomi UGM (FE UGM). Teringat, almarhum pengajar penulis selaku Guru Besar FE UGM, pengajar ilmu pemasaran yang lulusan Haas School of Business, University of California, Berkeley (UCB), USA bercerita dan memberikan ilustrasi singkat tentang usaha industri alas kaki. Yang mana suatu hari Direktur Pemasaran pabrik sepatu di Prancis mengadakan rapat bersama Tim Pemasaran dan Penjualan, serta tim Desain dan Promosi. Dia memberi penjelasan bahwa perusahaan meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah beberapa mesin modern yang canggih, sehingga bisa memproduksi alas kaki dengan lebih banyak, lebih cepat dan lebih banyak model sesuai dengan selera konsumen yang terus berubah. Oleh karena itu pihak Top Management meminta agar pemasaran lebih diperluas dan penjualan ditingkatkan secara maksimal, sebab kapasitas industri nasional dan persaingan bisnis juga terus meningkat. Alhasil perusahaan pun memperluas pemasaran dan penjualan di Prancis dan beberapa negara Eropa (existing market) serta negara di benua lain (new market development). Tak hanya itu, mereka juga merancang target penjualan dan target market area, dengan berbagai strategi pemasaran dan promosi dalam penjualan serta menyusun dan melatih tim pelaksana dalam marketing plan/ business plan. Suatu ketika Sales Manager yang mendapat tugas di suatu negara di benua seberang yang mempunyai masyarakat belum maju (edukasi tertinggal), berdiskusi dengan timnya. Untuk kemudian mengutus tim kecil yang dipimpin oleh seorang Supervisor yang cerdas dalam analisis pasar dan sudah banyak pengalaman dalam pemasaran. Dalam waktu 5 hari, tim kecil tersebut sudah pulang dan memberi laporan bahwa akan sia sia membuka pasar dan menjual produk di negara tersebut, sebab masyarakat sangat tidak teredukasi dan hampir semua masyarakat tidak memakai alas sepatu terutama di daerah yang tertinggal (pedesaan terpencil). Beberapa waktu kemudian Sales Manager tersebut mengutus tim kedua yang dipimpin oleh Supervisor yang juga cerdas dan pandai Oleh : drh. Paulus Setiabudi, MM, PhD* berbicara dan ahli berkomunikasi. Sekitar seminggu kemudian, tim kecil tersebut pulang dan memberi laporan bahwa masyarakat di berbagai daerah tersebut sulit diajak komunikasi, perlu biaya besar dan waktu sangat lama untuk melakukan edukasi masyarakat di negara tersebut untuk memakai alas kaki. Hal ini membuat Sales Manager menjadi kecewa, gelisah, frustrasi sebab mendapat teguran dari Direktur Pemasaran (akan di mutasi atau bahkan mungkin terpaksa dipecat). Beberapa waktu kemudian, datang menghadap seorang Salesman yang masih relatif muda, sabar walaupun tidak pandai seperti kedua Supervisor seniornya untuk mendapat kesempatan meninjau pasar di negara tersebut. Sales Manager pun merasa ragu dan tidak mau untuk mengutus Salesman tersebut, sebab khawatir gagal lagi. Namun Salesman tetap berharap diberi kesempatan dan bersedia dipecat bila gagal. Akhirnya dia diutus bersama 2 orang sales junior untuk melihat dan membuka peluang pasar. Seminggu tidak ada kabar, Sales Manager tidak bisa kontak dan makin gelisah. Lebih dari 2 minggu kemudian mendapat kabar untuk mengirim beberapa pasang sepatu dan sandal model lama. Hampir 2 bulan berlalu, ketiga orang salesman muda tersebut pulang dengan wajah cerah dan sukacita, sebab membawa kabar gembira mendapat puluhan order berbagai macam model sepatu dan sandal dari masyarakat negara itu. Lantas pertanyaannya, apa yang terjadi dalam rencana pengembangan pasar di negara tersebut? Pertama, Sales Supervisor senior yang lulusan S2 dan ahli pemasaran itu merasa hebat dan pandai dalam analisis pasar menilai pasar tidak prospektif, sebab masyarakat yang tidak teredukasi dan adat budaya masyarakat yang sudah lama tidak pakai alas sepatu. Supervisor kedua yang sarjana ilmu komunikasi juga memberikan penilaian dan prediksi tidak ada harapan untuk menjual sepatu di negara itu. Hal ini berdasarkan berbagai informasi yang timnya peroleh dari komunikasi dengan tokoh masyarakat yang ditemui, sehingga perlu biaya besar dan waktu sangat lama untuk edukasi, yang hasilnya pun belum pasti berhasil. Terakhir, Salesman muda yang belum pengalaman itu sabar, gigih, dinamis inovatif dalam melakukan pendekatan pada berbagai tokoh serta banyak lapisan masyarakat di berbagai polosok daerah dan memberi contoh langsung tentang manfaat kesehatan memakai alas kaki, serta bagaimana menambah keindahan kaki terutama pada kaki wanita untuk kebutuhan fashion. Hal ini membuat Direktur Pemasaran dan Sales Manager merasa gembira dan optimis untuk membuka kantor perwakilan di negara tersebut serta menjadikan Salesman muda tersebut sebagai Kepala Penjualan. Pada akhir sesi kuliah, almarhum Guru besar ilmu Marketing memberi tugas pada para mahasiswa untuk membuat penilaian tentang ilustrasi market development tersebut sebagai tools dalam suatu business case study. 16 u Edisi Februari 2023 Pemasaran dalam Industri Perunggasan Tidak peduli seberapa lambat Anda berjalan, yang penting jangan berhenti. Orang pintar akan kalah dengan orang tekun.


Membimbing dan mendidik industri hilir dan konsumen Mengubah dan memperbaiki pola pikir masyarakat dalam berbisnis bukan hal yang mudah. Sekitar 50 tahun lalu, budi daya ayam masih tradisional secara backyard, dengan jenis ayam lokal dan banyak yang belum mengenal ayam ras. Maka perlu upaya keras dan terus menerus untuk memperkenalkan jenis ayam ras tipe petelur dan pedaging yang harus diimpor dari luar negeri (AS dan Eropa). Tidak mudah mengubah cara budi daya tradisional ke peternakan modern dengan berbagai kendala teknis perkandangan, tata laksana budidaya dan upaya menjaga kesehatan ayam agar tidak terserang penyakit. Padahal dulu memelihara ayam kampung tidak perlu membuat kandang, sebab memakai sistem umbaran, tidak perlu diberi vaksin dan obat, tidak perlu sanitasi, tidak usah beli bibit ayam dan pakan, vaksin, obat. Terkesan dulu serba mudah, dan sekarang harus diubah dengan cara baru yang ribet dan perlu modal (itulah kenangan penulis pada waktu mengadakan bimbingan / penyuluhan teknis di berbagai pelosok desa dan kota kabupaten serta tidak jarang bermalam di desa atau pulang pagi sehabis ceramah). Setelah beberapa tahun peternak ayam mulai berhasil dalam budi daya dengan populasi ayam ras semakin besar, kemudian mereka menghadapi kesulitan dalam menjual hasil produksi (telur ayam ras dan apalagi ayam ras pedaging). Kala itu, masyarakat belum terbiasa makan telur dan daging ayam ras. Banyak konsumen yang menolak dengan berbagai argumen yang umum dan wajar, sehingga sebagai petugas perusahaan juga harus membimbing dan melakukan aktivitas promosi makan telur dan daging ayam ‘londo’ /Leghorn/ras. Ketika harga telur dan ayam turun, tidak jarang justru membuat harga doc dan pakan naik, sehingga tim pemasaran juga harus memberi penjelasan pada peternak yang tidak paham dan marah, selain tetap terus membantu promosi makan telur dan daging ayam ras dengan bermacam-macam cara di berbagai daerah di Jawa dan luar pulau. Tidak mudah bagi petugas tim teknis dan pemasaran dalam menghadapi berbagai masalah yang dialami para peternak, pengusaha poultry shop serta mengubah perilaku konsumen akhir dan pedagang ayam, pemilik kios / warung makan yang menjual menu ayam. Dulu mendidik peternak/petani/pengusaha dalam budidaya ayam ras Edisi Februari 2023 u 17 sungguh tidak mudah. Namun yang lebih tidak mudah lagi adalah mengatasi harga telur dan ayam yang jatuh hingga di bawah biaya produksi, padahal harga sapronak justru naik. Itulah kasus zaman dulu yang terus terjadi sampai zaman sekarang ini yang belum bisa diatasi secara tuntas. Industri hulu harus mendidik konsumen Di berbagai negara mana pun, industri perunggasan di hulu (upstream), baik breeding, feedmill dan animal health pharmaceutical pasti mempunyai kemampuan dalam hal manajemen, teknologi, sumber daya manusia, modal, dan berbagai pengalaman di berbagai aspek yang lebih unggul dan kuat apabila dibandingkan para peternak yang bergerak di industri hilir perunggasan (downstream). Dari hal tersebut, sudah seharusnya pihak pelaku perunggasan di hulu mau dan terus membantu, membimbing para peternak di hilir dalam hal budi daya, terutama dalam pemasaran, khususnya dalam memperbesar consumer market size dengan mendorong peningkatan konsumsi telur dan daging ayam. Edukasi masyarakat harus terus dilakukan, sebab dari waktu ke waktu terjadi perubahan perilaku konsumen yang berubah gaya hidupnya, dan karena pergantian generasi baru yang memengaruhi pola pikir mereka. Di negara maju yang populasi penduduknya lebih kecil dari Indonesia, perusahaan perunggasan terus melakukan edukasi, promosi, dan berbagai aktivitas pemasaran untuk meningkatkan konsumsi dalam situasi dan kondisi apa pun. Dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa dan menempati urutan populasi nomor 4 dunia, Indonesia didominasi oleh generasi muda produktif, cerdas, dinamis, namun dinilai masih dalam kondisi prihatin sebab konsumsi telur dan daging ayam per kapita masih rendah. Yang mana seharusnya hal ini bisa lebih besar, bila para pelaku bisnis, asosiasi peternak, pemerintah, serta akademisi peternakan mau bergandeng tangan untuk terus melakukan edukasi, promosi, dan berbagai aktivitas terkait pemasaran. Terlebih, 25% balita di Indonesia masih mengalami stunting akibat kurang gizi sejak dalam kandungan ibu yang hamil, sebab edukasi tentang gizi makanan yang tidak berkesinambungan. Perilaku konsumen Dari waktu ke waktu, perilaku konsumen terus berubah seiring dengan perubahan pola pikir, daya beli, dan gaya hidup masyarakat sebagai makhluk sosial. Populasi dunia yang sudah mencapai sekitar 8 miliar didominasi generasi milenial dan generasi Z yang tentu berbeda dengan generasi tua dalam berbagai pola hidup dan pola makan. Banyak di antara mereka yang belum paham tentang pentingnya gizi suatu bahan pangan misalnya pangan yang mengandung protein, atau karbohidrat dan lemak yang bisa berbahaya akibat tingginya kandungan kolesterol dan trigliceride. Hal ini membuat di negara yang edukasi relatif rendah tentang kesehatan dan nutrisi, masih banyak balita yang mengalami stunting dan juga penyakit obesitas serta serangan jantung, sehingga sangat perlu dilakukan kegiatan edukasi kesehatan dan nutrisi yang berkesinambungan pada masyarakat. Selain itu, peternak ayam pedaging juga perlu memahami bagaimana melakukan budi daya yang lebih baik dan maju bukan hanya dalam hal standar budidaya seperti FCR, Mortality, BW, Growth rate dan IP, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas daging ayam yang dihasilkan. Kita bisa mencontoh China sebagai negara dengan populasi sekitar 1,425 milyar, mampu menjadi negara produsen telur ranking 1 di dunia dan terus meningkatkan produksinya guna memenuhi Edukasi konsumsi ayam dan telur di masyarakat menjadi langkah strategi pemasaran penjualan


kebutuhan masyarakat. Demikian juga produksi daging ayam putih dan berwarna, bebek, daging sapi, babi, dll. Hal ini tak lepas dari kebutuhan pasar yang terus naik, walaupun ekonomi terpuruk akibat wabah Covid 19 yang belum reda. Kemudian India yang populasi masyarakat sekitar 1,428 milyar, beberapa tahun lalu produksi telur ranking 4, dan sekarang sudah menduduki posisi ranking 3 dan akan terus meningkat menggeser posisi Indonesia pada tahun 2019. Namun konsumsi telur per kapita tertinggi tetap didominasi oleh Mexico 409 butir (naik dari 380 butir), Jepang 337 butir dan Columbia 334 butir. Negara Italia menjadi salah satu negara di EU, dengan konsumsi telur yang juga meningkat walaupun masih relatif rendah akibat kondisi ekonomi. Yang mana konsumsi ayam sekitar 69%, kalkun 19%, daging lain 12%. Bentuk daging ayam yang disukai konsumen 34% processed meat, 32% breast fillets, 21% whole chicken meat, 13% cuts chicken. Itulah selera konsumen yang bisa terus berubah, yang harus dipahami produsen. Untuk kasus di Indonesia, harus diakui bahwa penulis sulit mendapat data yang akurat tentang populasi ayam, apalagi data tentang selera konsumen terhadap daging ayam. Bahkan di penghujung tahun ini masyarakat sempat dibuat bingung dengan data produksi beras nasional. Yang mana berdasarkan data dari Kementan beberapa bulan sebelum Presidensi G.20 mengatakan produksi beras surplus dan sudah 3 tahun tidak impor, sehingga pada 14 Agustus 2022 Presiden RI mendapat penghargaan dari IRRI. Namun menjelang akhir Desember 2022 ada kabar Kemendag mengeluarkan izin impor beras yang dilakukan Perum Bulog sekitar 200.000 ton, sebab masih di bawah target cadangan nasional 1,2 juta ton. Akurasi data ini menjadi hal fundamental yang harus dibenahi, sebelum melangkah lebih jauh lagi. Tetap optimis menghadapi tantangan Kita semua sudah tahu bahwa kondisi ekonomi global tahun 2022 tidak dalam keadaan baik baik saja. Mulai dari ancaman inflasi tinggi, stagflasi, resesi, kenaikan suku bunga bank, The FED 4% untuk USD, BI Rate 5,5%, nilai rupiah terdepresiasi sekitar 6 - 9% terhadap berbagai valas, pasar modal masih galau, ancaman krisis energi dan pangan serta konflik geopolitik Rusia vs Ukraina yang masih berlanjut di tahun 2023, Covid 19 varian baru XBB 1.5 di AS naik 40% dan terdeteksi di 70 negara, berbagai berita negatif di media serta suhu politik dalam negeri. Ekonomi China masih terpuruk, PMI Manufaktur turun dibawah index 50 serta kasus pandemi Covid 19 varian BF.7 makin meningkat, bahkan pemerintah RRT menarik program zero case pandemi, untuk memberi kebebasan mobilitas masyarakat di dalam maupun luar negeri (sebab mereka jenuh dikurung). Pemerintah Indonesia per tanggal 30 Desember 2022 juga sudah mencabut PPKM sehingga masyarakat bebas beraktifitas dan merayakan acara tahun baru, wisatawan melonjak naik, tiket pesawat dan biaya hotel naik. Presiden RI pada 30 Desember 2022 juga menandatangani PERPPU No. 2 / 2022 Cipta Kerja (walau ada kontroversi) untuk antisipasi situasi dan kondisi global sekaligus memberikan kepastian hukum guna menjamin terealisasinya target investasi 1.400 triliun sebagai penggerak ekonomi Indonesia sehingga pertumbuhan bisa diatas 5%, cadangan devisa per Desember 2022 sekitar USD 134 milyar, inflasi th 2022 yoy 5,5% . Dengan berbagai dinamika yang terjadi, kita harus bersikap optimis dalam menghadapi situasi seburuk apapun yang mungkin terjadi dengan tetap berdoa memohon pertolongan pada Allah SWT. Tetap waspada dan cerdas mengatur keuangan keluarga secara cermat serta prioritas pangan yang bergizi baik demi untuk kesehatan dan kecerdasan balita dan anak. Industri perunggasan harusnya tetap bisa tumbuh dengan berbagai upaya aktifitas pemasaran yang proaktif, inovatif, dinamis untuk meningkatkan konsumsi masyarakat di berbagai daerah, sehingga harga on farm bisa lebih baik. Perlu juga adanya bantuan dari Pemerintah dan Perbankan bagi peternak UKM yg terpuruk akibat harga ayam hidup yang rendah. Kita tidak boleh pasrah dan menyerah, seperti kata Confucius seorang filsuf China pada 500 tahun SM, yang mengatakan tidak peduli seberapa lambat Anda berjalan, yang penting jangan berhenti. *Staf Ahli Poultry Indonesia, pengamat perunggasan, dan pengajar Global Marketing Management SUDUT KANDANG 18 u Edisi Februari 2023 Tabel 1. Perusahaan penghasil telur teratas di Asia Grafik 1. Peringkat negara penghasil telur teratas di dunia tahun 2020


Before After Hatchet Blade Phone : +81 -52-442-1166 Fax : +81 -52-442-5109 E-mail : info@kohshin -s.jp Web: http://www.kohshin -s.jp/worldwide.html Address: 1 -1 Tsujikiri, Tokuzane, Shippo -Cho, Ama City, Aichi Pref., Japan, 497 -0016 Blower ON Pre-composting pit Compost with Blower Soilath Sensor (Wireless) Oxygen Probe (Wired) Produk unggulan Kohsin sebagai solusi yang lebih baik untuk proses pengolahan manure dari skala kecil hingga besar. Komposter tipe KNLL adalah produk utama kami. Ini dapat menghasilkan produk berkualitas tinggi dalam waktu singkat melalui pengomposan yang efisien. Apa yang membuat komposter ini istimewa? Pedang Kapak! Ini memungkinkan pasokan udara dalam jumlah besar yang efisien yang diperlukan selama agitasi dan dapat dirancang untuk melakukan pengadukan maju dan mundur yang merupakan teknologi kami yang telah dipatenkan. Hatchet Blade adalah kunci untuk menghasilkan produk akhir yang seragam dan berbentuk pelet. Kenyamanan Efisiensi Kualitas Tinggi Hemat waktu Peduli Lingkungan Jadikan pengomposan lebih mudah dengan Sistem Soilath® kami. Sistem Soilath® adalah sistem kontrol aliran udara untuk pra-pengomposan. Ini dirancang dan dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi proses, yang bersama dengan mesin pengomposan, memberikan hasil terbaik. Sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pengomposan tetapi juga meningkatkan kualitas kompos dengan menaikkan suhu dalam waktu singkat dan mempertahankannya. Mengapa Sistem Soilath®? Soilath System ( Pre-composting) Composter Pilihan terbaik Anda untuk :


Mengutip sebuah laporan WattPoultry.com pada 20 Desember 2022, Rabobank membuat 4 prediksi industri perunggasan untuk tahun 2023. Yang mana permintaan unggas global diperkirakan akan meningkat, terutama karena Cina mencabut pembatasan kebijakan nol Covid. Disisi lain, Rabobank optimis mengenai kesehatan industri perunggasan pada tahun 2023, bank yang berbasis di Belanda ini memperkirakan tantangan tahun 2022 akan berlanjut ke tahun 2023 seperti flu burung yang sangat patogen (HPAI), gejolak ekonomi, kekhawatiran geopolitik dan, tentu saja, COVID -19. Apa yang bisa dilakukan pelaku usaha untuk mengatasi tantangan ini, peternak harus fokus pada sisi operasional atau budidaya pada tahun 2023. Oleh karena itu pelaku usaha harus mampu menciptakan efisiensi, sapronak dengan harga wajar, pemilihan jenis pakan dari pabrikan yang terjangkau dengan kualitas yang baik, penangan biosekuriti di area kandang, dan harus cepat tanggap serta fleksibel dalam membuat keputusan dalam kondisi pasar serta harga yang tidak pasti di tahun 2023. Peran generasi muda peternakan Volatilitas ekonomi akan memiliki andil dalam inflasi global termasuk Indonesia, sehingga memengaruhi segalanya mulai dari biaya bahan baku pakan dan tenaga kerja yang harapannya akan mengalami kenaikan upah yang diperoleh. Ditengah mahalnya harga daging merah, pada tahun 2023 ini dapat diperkirakan konsumen akan cenderung membeli ayam dan telur sebagai pilihan protein yang lebih murah. Meskipun kekhawatiran geopolitik terbesar di benak semua orang adalah invasi Rusia ke Ukraina yang akan berdampak pada industri pakan serta iklim ekstrem. Membaca kedua kondisi di atas dan melihat realita pelaku usaha perunggasan saat ini, Regenerasi peternak di Indonesia masih menjadi suatu persoalan yang acap kali diperbincangkan. Pasalnya, banyak pihak yang menilai bahwa perihal regenerasi ini menjadi sebuah permasalahan yang masih mencari sebuah jalan pemecahan. Berdasarkan data hasil Susenas tahun 2022, perkiraan jumlah pemuda (umur 16-30 tahun) sebesar 65,82 juta jiwa atau hampir seperempat dari total penduduk Indonesia (24%). Dari persentase pemuda tersebut, hanya sekitar 18,01% (11,85 juta jiwa) yang bekerja di sektor pertanian, lebih kecil apabila dibandingkan dengan sektor manufaktur 25,16% dan sektor jasa 56,82%. Kemudian, apabila merujuk pada Buku Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2022, menunjukkan bahwa share tenaga kerja peternakan terhadap tenaga kerja pertanian sebesar 14,57% atau sekitar 1,72 juta jiwa pemuda yang bekerja di sub sektor peternakan. Namun demikian secara pandangan lapangan, penulis melihat hal sebaliknya terjadi di dunia perunggasan. Yang mana saat ini terjadi tren peningkatan anak-anak muda yang memutuskan untuk terjun di usaha perunggasan. Terlebih di era disrupsi ini, para generasi mudalah yang lebih melek teknologi, melek perubahan dan bisa mencari sumber informasi dari berbagai media. Generasi muda saat ini bisa ditemui di berbagai daerah sentra produksi perunggasan. Terlebih para generasi muda saat ini mengedepankan semangat kolaborasi, sehingga banyak muncul jaringan-jaringan peternak milenial di berbagai daerah, seperti di Tasikmalaya dan Bandung. Dan perkembangan kandang-kandang closed house yang terus bertambah, disinyalir juga karena adanya andil tenaga-tenaga baru dari golongan muda ini. Jadi apabila melihat fenomenanya, sekarang ini banyak generasi kedua yang terjun ke perunggasan. Sedangkan dengan dinamika perunggasan yang sedemikian berfluktuasi, para senior atau generasi tua saat ini justru sudah takut terjun ke perunggasan dan kecenderungannya lebih mencari aman. Peternak yang saat ini berumur 45 -55 tahun sudah tidak tahan harus ‘sport jantung’ setiap saat. Coba kita lihat para pelaku perunggasan kisaran umur 45-55 sudah pada habis dan tumbang semua atau kalaupun masih bertahan sebagian besar sudah mulai beralih ke usaha budidaya “kemitraan” atau peternak pasif karena kandangnya sudah atau sedang dikontrakan dengan integrator. Adapun peternak aktif yang masih bertahan saat ini, arah usahanya cuma bertahan saja, cenderung sudah tidak menambah populasi. Adapun yang bertambah itu para pemain-pemain baru yang didominasi anak muda yang masih fresh dan tidak punya persoalan keuangan atau “dosa” lama. Dalam mengarungi usaha budi daya perunggasan, penulis melihat bahwa para generasi muda saat ini sudahlah andal. Terlebih dengan penyertaan berbagai teknologi inovasi, membuat performa produksi budi daya dapat lebih optimal. Cuma problemnya, terkadang kebijakan-kebijakan saat ini tidak memberi peluang untuk para peternak menjadi enterpreneurship seutuhnya. Karena narasi perunggasan saat ini diarahkan menuju ke pola kemitraan, dilembagakan nya bahkan diundangkan serta semakin sempitnya ruang gerak menjadi peternak mandiri, menyebabkan peluang untuk generasi muda berusaha secara mandiri itu kecil. Apa yang dimaksud mandiri? Bukan berarti semua bersumber dari diri sendiri, namun bagaimana individu mampu melakukan usaha dan menghasilkan produk serta menjualnya dengan kehendak sendiri. Bagaimana para pemuda bisa menciptakan produk, dan menjual di pasarnya sendiri. Mampu belajar mengelola keuangan karena ada perputaran jual beli serta mengelola aset serta menjaga rantai pasok dari usaha budidaya itu sendiri. Dan kebanyakan pemuda yang saat ini terjun ke perunggasan terjebak pada keterbatasan pasar yang ada. Karena semua fokus pada pasar yang sama dan “dibuang” ke Jakarta sebagai pasar terbesar di Jabotabek. Walaupun pasar untuk daerah Jakarta cukup besar, jika semua berebut disitu maka tidak akan mampu bersaing. Sebagai contoh jaringan peternak milenial yang ada di Bandung, keunggulan UMKM adalah memotong mata rantai penjualan livebird yang panjang sehingga hasil produksi dipasarkan langsung ke user. Meski pasar lokal tidak besar tapi mereka bisa memasarkan ayam-ayamnya di sekitar daerahnya dan bisa terus eksis hingga saat ini dan mendapatkan harga jual yang lebih tinggi dibanding dijual ke luar daerah. Problem peternak itu dari sisi produksi besar tapi market sizenya tidak bertambah. Saat ini, ceruk-ceruk pasar yang ada sangat terbatas. Yang mana dari sisi produksi terus mengalami pertumbuhan yang cepat dan tidak bisa diimbangi dari sisi konsumsi. Untuk itu, para generasi muda ini harus bisa memasarkan produknya ke lingkungan sekitar, sehingga bisa meningkatkan serapan dari daerah dan membuat market size berkembang. Selain itu, untuk bertahan para generasi muda juga harus mulai memikirkan diversifikasi produk, sehingga bisa lebih luas menjangkau pasar. Jangan hanya fokus ke livebird (LB), tapi coba mulai berpikir ke karkas, olahan, rumah makan dll. Memang tidak mudah, namun dengan sifat adaptif, kreatif dan semangat kolaborasi generasi muda, maka hal ini bukan menjadi suatu hal yang mustahil. *Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia 2018 - 2022 (PB ISPI) 20 u Edisi Februari 2023 Peternak Beregenerasi, Harus Tetap Hati-Hati Oleh : Ir. Joko Susilo, S.Pt., IPM* SUARA ASOSIASI


Mengutip sebuah laporan WattPoultry.com pada 20 Desember 2022, Rabobank membuat 4 prediksi industri perunggasan untuk tahun 2023. Yang mana permintaan unggas global diperkirakan akan meningkat, terutama karena Cina mencabut pembatasan kebijakan nol Covid. Disisi lain, Rabobank optimis mengenai kesehatan industri perunggasan pada tahun 2023, bank yang berbasis di Belanda ini memperkirakan tantangan tahun 2022 akan berlanjut ke tahun 2023 seperti flu burung yang sangat patogen (HPAI), gejolak ekonomi, kekhawatiran geopolitik dan, tentu saja, COVID -19. Apa yang bisa dilakukan pelaku usaha untuk mengatasi tantangan ini, peternak harus fokus pada sisi operasional atau budidaya pada tahun 2023. Oleh karena itu pelaku usaha harus mampu menciptakan efisiensi, sapronak dengan harga wajar, pemilihan jenis pakan dari pabrikan yang terjangkau dengan kualitas yang baik, penangan biosekuriti di area kandang, dan harus cepat tanggap serta fleksibel dalam membuat keputusan dalam kondisi pasar serta harga yang tidak pasti di tahun 2023. Peran generasi muda peternakan Volatilitas ekonomi akan memiliki andil dalam inflasi global termasuk Indonesia, sehingga memengaruhi segalanya mulai dari biaya bahan baku pakan dan tenaga kerja yang harapannya akan mengalami kenaikan upah yang diperoleh. Ditengah mahalnya harga daging merah, pada tahun 2023 ini dapat diperkirakan konsumen akan cenderung membeli ayam dan telur sebagai pilihan protein yang lebih murah. Meskipun kekhawatiran geopolitik terbesar di benak semua orang adalah invasi Rusia ke Ukraina yang akan berdampak pada industri pakan serta iklim ekstrem. Membaca kedua kondisi di atas dan melihat realita pelaku usaha perunggasan saat ini, Regenerasi peternak di Indonesia masih menjadi suatu persoalan yang acap kali diperbincangkan. Pasalnya, banyak pihak yang menilai bahwa perihal regenerasi ini menjadi sebuah permasalahan yang masih mencari sebuah jalan pemecahan. Berdasarkan data hasil Susenas tahun 2022, perkiraan jumlah pemuda (umur 16-30 tahun) sebesar 65,82 juta jiwa atau hampir seperempat dari total penduduk Indonesia (24%). Dari persentase pemuda tersebut, hanya sekitar 18,01% (11,85 juta jiwa) yang bekerja di sektor pertanian, lebih kecil apabila dibandingkan dengan sektor manufaktur 25,16% dan sektor jasa 56,82%. Kemudian, apabila merujuk pada Buku Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2022, menunjukkan bahwa share tenaga kerja peternakan terhadap tenaga kerja pertanian sebesar 14,57% atau sekitar 1,72 juta jiwa pemuda yang bekerja di sub sektor peternakan. Namun demikian secara pandangan lapangan, penulis melihat hal sebaliknya terjadi di dunia perunggasan. Yang mana saat ini terjadi tren peningkatan anak-anak muda yang memutuskan untuk terjun di usaha perunggasan. Terlebih di era disrupsi ini, para generasi mudalah yang lebih melek teknologi, melek perubahan dan bisa mencari sumber informasi dari berbagai media. Generasi muda saat ini bisa ditemui di berbagai daerah sentra produksi perunggasan. Terlebih para generasi muda saat ini mengedepankan semangat kolaborasi, sehingga banyak muncul jaringan-jaringan peternak milenial di berbagai daerah, seperti di Tasikmalaya dan Bandung. Dan perkembangan kandang-kandang closed house yang terus bertambah, disinyalir juga karena adanya andil tenaga-tenaga baru dari golongan muda ini. Jadi apabila melihat fenomenanya, sekarang ini banyak generasi kedua yang terjun ke perunggasan. Sedangkan dengan dinamika perunggasan yang sedemikian berfluktuasi, para senior atau generasi tua saat ini justru sudah takut terjun ke perunggasan dan kecenderungannya lebih mencari aman. Peternak yang saat ini berumur 45 -55 tahun sudah tidak tahan harus ‘sport jantung’ setiap saat. Coba kita lihat para pelaku perunggasan kisaran umur 45-55 sudah pada habis dan tumbang semua atau kalaupun masih bertahan sebagian besar sudah mulai beralih ke usaha budidaya “kemitraan” atau peternak pasif karena kandangnya sudah atau sedang dikontrakan dengan integrator. Adapun peternak aktif yang masih bertahan saat ini, arah usahanya cuma bertahan saja, cenderung sudah tidak menambah populasi. Adapun yang bertambah itu para pemain-pemain baru yang didominasi anak muda yang masih fresh dan tidak punya persoalan keuangan atau “dosa” lama. Dalam mengarungi usaha budi daya perunggasan, penulis melihat bahwa para generasi muda saat ini sudahlah andal. Terlebih dengan penyertaan berbagai teknologi inovasi, membuat performa produksi budi daya dapat lebih optimal. Cuma problemnya, terkadang kebijakan-kebijakan saat ini tidak memberi peluang untuk para peternak menjadi enterpreneurship seutuhnya. Karena narasi perunggasan saat ini diarahkan menuju ke pola kemitraan, dilembagakan nya bahkan diundangkan serta semakin sempitnya ruang gerak menjadi peternak mandiri, menyebabkan peluang untuk generasi muda berusaha secara mandiri itu kecil. Apa yang dimaksud mandiri? Bukan berarti semua bersumber dari diri sendiri, namun bagaimana individu mampu melakukan usaha dan menghasilkan produk serta menjualnya dengan kehendak sendiri. Bagaimana para pemuda bisa menciptakan produk, dan menjual di pasarnya sendiri. Mampu belajar mengelola keuangan karena ada perputaran jual beli serta mengelola aset serta menjaga rantai pasok dari usaha budidaya itu sendiri. Dan kebanyakan pemuda yang saat ini terjun ke perunggasan terjebak pada keterbatasan pasar yang ada. Karena semua fokus pada pasar yang sama dan “dibuang” ke Jakarta sebagai pasar terbesar di Jabotabek. Walaupun pasar untuk daerah Jakarta cukup besar, jika semua berebut disitu maka tidak akan mampu bersaing. Sebagai contoh jaringan peternak milenial yang ada di Bandung, keunggulan UMKM adalah memotong mata rantai penjualan livebird yang panjang sehingga hasil produksi dipasarkan langsung ke user. Meski pasar lokal tidak besar tapi mereka bisa memasarkan ayam-ayamnya di sekitar daerahnya dan bisa terus eksis hingga saat ini dan mendapatkan harga jual yang lebih tinggi dibanding dijual ke luar daerah. Problem peternak itu dari sisi produksi besar tapi market sizenya tidak bertambah. Saat ini, ceruk-ceruk pasar yang ada sangat terbatas. Yang mana dari sisi produksi terus mengalami pertumbuhan yang cepat dan tidak bisa diimbangi dari sisi konsumsi. Untuk itu, para generasi muda ini harus bisa memasarkan produknya ke lingkungan sekitar, sehingga bisa meningkatkan serapan dari daerah dan membuat market size berkembang. Selain itu, untuk bertahan para generasi muda juga harus mulai memikirkan diversifikasi produk, sehingga bisa lebih luas menjangkau pasar. Jangan hanya fokus ke livebird (LB), tapi coba mulai berpikir ke karkas, olahan, rumah makan dll. Memang tidak mudah, namun dengan sifat adaptif, kreatif dan semangat kolaborasi generasi muda, maka hal ini bukan menjadi suatu hal yang mustahil. *Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia 2018 - 2022 (PB ISPI) 20 u Edisi Februari 2023 Peternak Beregenerasi, Harus Tetap Hati-Hati Oleh : Ir. Joko Susilo, S.Pt., IPM* SUARA ASOSIASI I ndustri obat hewan sangat erat kaitannya dengan industri peternakan, khususnya perunggasan. Pasalnya, obat hewan merupakan salah satu faktor keberhasilan produksi suatu usaha peternakan unggas. Baik vaksin, obat, feed additive dan feed supplement, menjadi tameng dalam hal menjaga kesehatan unggas, sehingga mampu menghasilkan produksi yang optimal. Dengan demikian, perkembangan industri perunggasan akan berimplikasi terhadap nilai penjualan industri obat hewan. Sekecil apapun dinamika yang terjadi di sektor perunggasan, maka akan sangat berdampak pada industri obat hewan. Sektor perunggasan memang menjadi penyumbang terbesar pada nilai penjualan industri obat hewan Indonesia. Mengutip data dari Asosiasi Obat Hewan Indonesia (Asohi), dari total penjualan obat hewan pada tahun 2022 dengan nilai Rp9 triliun, sektor produk farmasetik dan biologis perunggasan menyokong sebesar Rp4,6 triliun, yang diikuti dengan feed additive dan feed supplement dengan nilai Rp4,3 triliun, dan disusul oleh produk farmasetik dan biologis ternak lainnya Rp144 miliar. Meski memiliki nilai yang besar, rupanya dinamika industri perunggasan juga memberikan dampak yang serius bagi industri obat hewan. Mulai dari masalah klasik, rendahnya daya beli produk protein hewani, yang makin diperparah dengan adanya pandemi Covid-19. Tak cukup sampai disitu, tampaknya industri obat hewan juga diterpa masalah baru. Situasi geopolitik yang saling bersitegang antara Rusia dan Ukraina sukses mengancam perekonomian dunia. Salah satu dampak dari fenomena ini adalah melemahnya nilai rupiah yang mengakibatkan kurs harga bahan pakan impor ikut terkerek naik. Acap kali, kenaikan harga bahan pakan impor berimplikasi pada biaya produksi usaha budi daya unggas. Dinamika ini menjadi salah satu faktor peternak untuk merugi, yang berujung pada depopulasi, sehingga berimbas pada pasar penjualan obat hewan. Disisi lain, Indonesia telah memasuki tahun ke-5 sejak diberlakukannya pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter) melalui Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia (Permentan) Nomor 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Pelarangan AGP dikerahkan untuk mencegah adanya ternak mengalami resistensi terhadap antibiotik. Lebih dalam, pelarangan AGP juga menampik adanya residu antibiotik dalam produk hasil unggas seperti daging ayam dan telur, yang berbahaya bagi manusia sebagai konsumen. Memang sudah sepatutnya pelarangan tersebut dilakukan demi kesehatan manusia dan ternak yang lebih baik di masa yang akan datang. Walaupun aturan ini menjadi sebuah langkah untuk mencegah kemudaratan di kemudian hari, namun dampak cukup besar dirasakan oleh para peternak unggas. Sulitnya menekan biaya pakan dan tingginya mortalitas menjadi akibat yang menyertai pelarangan AGP. Kendati demikian, bagi industri obat hewan hal ini merupakan sebuah peluang untuk melakukan inovasi sebagai alternatif AGP. Saat ini, sudah banyak perusahaan obat hewan yang melakukan riset dan memproduksi produk alternatif AGP, salah satunya adalah herbal. Tanaman herbal sangat berpotensi dikembangkan oleh industri obat hewan. Pasalnya, tanaman herbal sudah seperti warisan nusantara, yang dapat tumbuh sangat baik di Indonesia. Secara turun-temurun, tanaman herbal sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita sebagai pengobatan, karena memiliki sejumlah senyawa aktif yang berkhasiat untuk kesehatan. Mengutip data dari Kebijakan Obat Tradisional (Kotranas), tercatat dari 40.000 spesies tanaman yang ada di dunia, 30.000 spesies diantaranya ada di Indonesia dengan 7.500 spesies diantaranya tergolong sebagai tanaman herbal. Berangkat dari hal tersebut, menjadi sangat menarik jika majalah Poultry Indonesia sebagai majalah perunggasan yang tepercaya membawakan tema “Warta Industri Obat Hewan” sebagai langkah untuk memberikan gambaran kepada publik mengenai kondisi industri obat hewan, serta berbagai upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan perkembangan industri obat hewan di tengahtengah tantangan yang ada. Dalam tulisan ini, penulis bertendensi kepada sektor perunggasan, sebagai pasar terbesar industri obat hewan Indonesia. Yoga Warta Industri Obat Hewan Industri obat hewan optimis tetap tumbuh, mengikuti tren pertumbuhan sektor perunggasan sebagai pasar terbesar industri obat hewan. Edisi Februari 2023 u 21


I ndustri obat hewan akan selalu eksis dan bertumbuh selama ada hewan di muka bumi ini. Bisa dikatakan, industri obat hewan memiliki relevansi yang kuat terhadap populasi ternak dan semakin bertambahnya para pecinta hewan kesayangan. Meski tidak sebesar industri perunggasan, akan tetapi jumlah pecinta hewan kesayangan selalu bertumbuh. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya pameran hewan kesayangan yang sering Secara kuantitatif, jumlah perusahaan obat hewan semakin bertumbuh. Disisi lain, sektor perunggasan masih menjadi primadona pasar obat hewan di tengah segala persoalan yang terjadi. dijumpai di beberapa lokasi. Disamping itu, tak dimungkiri bahwa industri peternakan terkhusus perunggasan menjadi pasar terbesar perusahaan obat hewan. Sebagai penyedia obat-obatan, vaksin, dan suplemen, perusahaan obat hewan memang mempunyai peran penting untuk menyukseskan usaha budi daya peternakan. Pasalnya, kesehatan merupakan bagian dari kesejahteraan hewan yang juga berimplikasi pada hasil produksi yang optimal. Hal ini berkaitan dengan konversi pakan, dimana konsumsi pakan pada hewan ternak yang sakit akan dikonversikan ke daya tahan tubuhnya terlebih dahulu, sehingga pertumbuhan bobot badannya menjadi terhambat. Dengan demikian, perjalanan industri obat hewan selalu dikaitkan dengan perkembangan industri hewan kesayangan dan peternakan, khususnya perunggasan. Apabila nilai penjualan obat hewan terhadap salah satu sektor mengalami penurunan, maka sektor lainnya akan menunjang satu sama lain. Akan tetapi, dalam edisi ini penulis akan lebih membahas kepada sektor perunggasan sebagai pasar terbesar dari industri obat hewan nasional. Situasi umum Berdasarkan keterangan tertulis dari Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), pertumbuhan jumlah perusahaan obat hewan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Perusahaan obat hewan yang sudah terdaftar di Kementerian Pertanian antara lain produsen sebanyak 114 perusahaan, importir sebanyak 280 perusahaan, dan eksportir sebanyak 48 perusahaan. Kemudian untuk perusahaan distributor sekitar 400 perusahaan. Pertumbuhan tersebut tercatat dari tahun 2015 hingga 2022, yang mana jumlah perusahaan produsen mengalami kenaikan sebesar 48%. Hal serupa Kondisi Industri Obat Hewan 22 u Edisi Februari 2023 Grafik 1. Rasio perusahaan produsen, eksportir, importir, dan distributor obat hewan 2022 sumber poultryindiatv.com Sektor unggas mendominasi pasar untuk produk obat hewan


I ndustri obat hewan akan selalu eksis dan bertumbuh selama ada hewan di muka bumi ini. Bisa dikatakan, industri obat hewan memiliki relevansi yang kuat terhadap populasi ternak dan semakin bertambahnya para pecinta hewan kesayangan. Meski tidak sebesar industri perunggasan, akan tetapi jumlah pecinta hewan kesayangan selalu bertumbuh. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya pameran hewan kesayangan yang sering Secara kuantitatif, jumlah perusahaan obat hewan semakin bertumbuh. Disisi lain, sektor perunggasan masih menjadi primadona pasar obat hewan di tengah segala persoalan yang terjadi. dijumpai di beberapa lokasi. Disamping itu, tak dimungkiri bahwa industri peternakan terkhusus perunggasan menjadi pasar terbesar perusahaan obat hewan. Sebagai penyedia obat-obatan, vaksin, dan suplemen, perusahaan obat hewan memang mempunyai peran penting untuk menyukseskan usaha budi daya peternakan. Pasalnya, kesehatan merupakan bagian dari kesejahteraan hewan yang juga berimplikasi pada hasil produksi yang optimal. Hal ini berkaitan dengan konversi pakan, dimana konsumsi pakan pada hewan ternak yang sakit akan dikonversikan ke daya tahan tubuhnya terlebih dahulu, sehingga pertumbuhan bobot badannya menjadi terhambat. Dengan demikian, perjalanan industri obat hewan selalu dikaitkan dengan perkembangan industri hewan kesayangan dan peternakan, khususnya perunggasan. Apabila nilai penjualan obat hewan terhadap salah satu sektor mengalami penurunan, maka sektor lainnya akan menunjang satu sama lain. Akan tetapi, dalam edisi ini penulis akan lebih membahas kepada sektor perunggasan sebagai pasar terbesar dari industri obat hewan nasional. Situasi umum Berdasarkan keterangan tertulis dari Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), pertumbuhan jumlah perusahaan obat hewan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Perusahaan obat hewan yang sudah terdaftar di Kementerian Pertanian antara lain produsen sebanyak 114 perusahaan, importir sebanyak 280 perusahaan, dan eksportir sebanyak 48 perusahaan. Kemudian untuk perusahaan distributor sekitar 400 perusahaan. Pertumbuhan tersebut tercatat dari tahun 2015 hingga 2022, yang mana jumlah perusahaan produsen mengalami kenaikan sebesar 48%. Hal serupa Kondisi Industri Obat Hewan 22 u Edisi Februari 2023 Grafik 1. Rasio perusahaan produsen, eksportir, importir, dan distributor obat hewan 2022 sumber poultryindiatv.com Sektor unggas mendominasi pasar untuk produk obat hewan dengan perusahaan eksportir yang mengalami kenaikan sebesar 153%. Masih dari ASOHI, di Indonesia pada sektor unggas sepanjang lima tahun terakhir, terdapat 5 besar penyakit yakni Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Inflammatory Bowel Disease (IBD), Inclusion Body Hepatitis (IBH) dan Avian Influenza (AI). Keberadaan penyakit ini tentunya membutuhkan bantuan obat hewan. Kemudian, pemulihannya membutuhkan pelengkap pakan yang juga diikuti dengan hadirnya feed additive dan feed supplement. Sementara itu, Ayatullah Natsir selaku Poultry Business Unit Manager Ceva Animal Health Indonesia menuturkan bahwa kondisi penjualan obat hewan di tahun 2022 pada perunggasan tidak berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berbanding terbalik dengan penjualan pada sektor ternak besar yang sempat mengalami lonjakan akibat adanya wabah PMK dan LSD. “Kalau berbicara perunggasan, untuk emergency disease pada 2 atau 3 tahun silam itu tidak ada. Tetapi, kalau di ternak besar itu ada emergency diseasenya. Hal inilah yang membedakan situasi umum antara perunggasan dan ternak besar. Secara garis besar seperti itu, karena kita sebagai penyedia OVK, maka kita berhubungannya dengan penyakit,” ujar Ayat saat berdialog bersama Poultry Indonesia secara daring, Jumat (27/1). Secara runtut, drh. Andi Wijanarko, selaku Wakil Ketua II Asohi, menyebut nilai penjualan industri obat hewan mengalami penurunan sejak tahun 2020-2021. Pandemi Covid-19 menjadi Ayatullah Natsir Andi Wijanarko Edisi Februari 2023 u 23 Grafik 2. Pertumbuhan jumlah perusahaan obat hewan dari tahun 2015-2022 dalang utamanya. Dalam sekejap, pandemi Covid-19 meluluhlantakkan perekonomian global. Terhambatnya pendistribusian menyebabkan gangguan pada seluruh sektor industri, termasuk industri peternakan yang kemudian berimbas pada industri obat hewan. “Disaat industri obat hewan sudah naik sebesar 5% pada tahun 2019-2020, kemudian di tahun 2020 mengalami penurunan yang cukup besar. Masalah pertama adalah pandemi Covid-19 dengan adanya pengurangan jumlah populasi ternak. Harga jual telur dan livebird (LB) juga begitu murah, sehingga para peternak banyak mengalami kebangkrutan. Saat itu populasi ternak menurun drastis. Di tahun 2021 dan 2022, industri obat hewan dalam masa pemulihan,” terang Andi ketika berbincang bersama tim redaksi Poultry Indonesia secara daring via Zoom, pada Kamis (5/1). Tak disangka, adanya wabah PMK di tahun 2022 menjadi peluang yang menguntungkan bagi industri obat hewan. Kewaspadaan peternak akan PMK menyebabkan kebutuhan terhadap produk pengendalian PMK sangat laris. Disisi lain pada perunggasan di tahun 2020-2021, kata Andi, terjadi penurunan penjualan yang cukup besar, yaitu kurang lebih 30%. Kemudian pada tahun 2021- 2022 tidak mengalami pertumbuhan penjualan atau stuck. “Industri obat hewan cukup terbantu berkembang pada saat kasus PMK. Kebutuhan obat-obat injeksi seperti vitamin, antipiretik, anti-inflamasi, dan antibiotik menjadi terangkat sekali hingga terjadi kekosongan di beberapa daerah. Walaupun kita mengalami kesedihan Benny Sukianto Agus Damar


karena adanya wabah PMK, tetapi tidak bisa dipungkiri, industri obat hewan sendiri mengalami lonjakan penjualan yang cukup besar akibat itu,” ungkapnya. Senada dengan Andi, Direktur Sales Nasional Medion, Benny Sukianto, mengatakan bahwa industri perunggasan mempunyai andil yang besar karena termasuk 11 bahan pokok yang dikendalikan negara. Industri perunggasan pada tahun 2022 belum membaik karena masih terjadi oversupply daging dan telur ayam. Hal ini tentunya juga berdampak ke industri peternakan. Meski demikian, kondisi tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berinovasi melakukan pengembangan. “Pada tahun 2022, penjualan di sektor industri peternakan stagnan. Jika menilik dari harga komoditas daging dan telur pada tahun 2020, cenderung berdampak lebih besar ke peternak broiler. Pada akhir tahun 2021, mulai berdampak ke peternakan layer, hingga tahun 2022. Intinya, tren pada sektor peternakan perunggasan selama tiga tahun terakhir, tidak baik. Di tahun 2022, industri peternakan masih terbantukan dengan adanya wabah PMK. Hal ini berdampak positif terhadap industri peternakan karena ada peningkatan kebutuhan produk untuk menanggulangi wabah PMK,” tutur Benny saat diwawancarai tim redaksi Poultry Indonesia secara daring melalui Zoom, Senin (9/1). Bukan hal yang tidak mungkin apabila adanya wabah PMK mampu mendongkrak pasar obat hewan nasional. Pasalnya, saat wabah ini mencuat, pemerintah menggelontorkan dana yang sangat besar untuk program pengendalian PMK. Menurut Asohi, dari produk biologis atau vaksin, pemerintah menyerap 46 juta dosis vaksin dengan nilai sekitar Rp980 miliar. Kemudian, untuk produk obat-obatan dan desinfektan, pemerintah mengeluarkan dana sekitar Rp1,8 triliun. Nilai penjualan produk obat hewan pada sektor perunggasan Tak dapat dimungkiri, sektor perunggasan memang masih mendominasi pasar produk obat hewan. Berdasarkan data Asohi (2022), dari nilai bisnis obat hewan pada tahun 2022 dengan total Rp9,09 triliun, penjualan produk farmasetik dan biologis sektor perunggasan menyumbangkan nilai sebesar Rp4,61 triliun, belum termasuk feed additive dan feed supplement. Angka ini kemudian diikuti oleh jumlah penjualan feed additive dan feed supplement seluruh ternak dengan total Rp4,33 triliun, serta produk farmasetik dan biologis pada sektor babi dan sapi dengan total Rp144 miliar (di luar produk pengendalian PMK). Dengan demikian, tak ayal jika industri obat hewan mempunyai dependensi yang sangat besar terhadap industri perunggasan. Lebih rinci dari produk farmasetik dan biologis sektor perunggasan, penjualan untuk ternak broiler menjadi yang tertinggi. Dengan populasi broiler 2,7 miliar ekor, nilai penjualan terhadap produk farmasetik dan biologisnya menyumbang sebesar Rp2,34 triliun. Kemudian diikuti oleh layer dengan populasi 190 juta ekor memberikan nilai penjualan produk farmasetik dan biologis sebesar Rp1,73 triliun. Sementara itu, nilai penjualan feed additive dan feed supplement juga didominasi pada sektor perunggasan. Dari total penjualan feed additive dan feed supplement, sektor unggas 24 u Edisi Februari 2023 menyumbang di angka Rp4,09 triliun. Secara persentase, sektor unggas menyokong dari total penjualan feed additive sebesar 94,3%, sedangkan feed supplement sebesar 94,5%. Dengan rincian, penjualan feed additive dan feed supplement pada broiler masing-masing sebesar Rp910 miliar dan Rp1,13 triliun. Selanjutnya, disusul oleh layer dengan penjualan feed addtive dan feed supplement masing-masing sebesar Rp665 miliar dan Rp931 miliar. Kemudian, untuk pembibit pada penjualan feed addtive dan feed supplement masing-masing sebesar Rp169 miliar dan Rp285 miliar. Hal tersebut diamini oleh drh. Agus Damar selaku Feed Additive Business Manager PT Romindo Primavetcom, saat ditemui Tim Redaksi Poultry Indonesia di Jakarta Selatan, Rabu (11/1). Ia menyebut bahwa sektor perunggasan masih mengendalikan pasar pada industri obat hewan. Hal tersebut karena sektor unggas memiliki populasi ternak terbanyak dibandingkan dengan ternak lainnya. “Di Romindo sendiri, sektor unggas menyumbang nilai penjualan sekitar 70% dari total keseluruhan penjualan sektor lainnya. Nilai penjualan tersebut termasuk dari produk farmasetik, biologis, feed additive dan feed supplement,” sebut Agus. Yoga Tabel 1. Nilai penjualan produk farmasetik dan biologis pada unggas di tahun 2022 Populasi Biologis/vaksin Farmasetik Total nilai (000 ekor) (Rp/ekor) (Rp/ekor) (Rp 000) Breeder 23.000 11.240 5.455 383.985.000 Broiler 2.700.000 450 420 2.349.000.000 Layer 190.000 5.171 3.975 1.737.740.000 Male 90.000 1.100 480 142.200.000 Total 4.612.925.000 Sumber : ASOHI (2022) Tabel 2. Nilai penjualan feed additive dan feed supplement di tahun 2022 Penjualan Feed Supplement Penjualan Feed Additive (Rp 000) (Rp 000) Broiler 1.134.000.000 910.980.000 Layer 931.000.000 665.000.000 Breeder 285.227.550 169.638.300 Others 136.920.000 105.770.700 2.487.147.550 1.851.389.000 Total 4.338.536.550 Sumber : ASOHI


karena adanya wabah PMK, tetapi tidak bisa dipungkiri, industri obat hewan sendiri mengalami lonjakan penjualan yang cukup besar akibat itu,” ungkapnya. Senada dengan Andi, Direktur Sales Nasional Medion, Benny Sukianto, mengatakan bahwa industri perunggasan mempunyai andil yang besar karena termasuk 11 bahan pokok yang dikendalikan negara. Industri perunggasan pada tahun 2022 belum membaik karena masih terjadi oversupply daging dan telur ayam. Hal ini tentunya juga berdampak ke industri peternakan. Meski demikian, kondisi tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berinovasi melakukan pengembangan. “Pada tahun 2022, penjualan di sektor industri peternakan stagnan. Jika menilik dari harga komoditas daging dan telur pada tahun 2020, cenderung berdampak lebih besar ke peternak broiler. Pada akhir tahun 2021, mulai berdampak ke peternakan layer, hingga tahun 2022. Intinya, tren pada sektor peternakan perunggasan selama tiga tahun terakhir, tidak baik. Di tahun 2022, industri peternakan masih terbantukan dengan adanya wabah PMK. Hal ini berdampak positif terhadap industri peternakan karena ada peningkatan kebutuhan produk untuk menanggulangi wabah PMK,” tutur Benny saat diwawancarai tim redaksi Poultry Indonesia secara daring melalui Zoom, Senin (9/1). Bukan hal yang tidak mungkin apabila adanya wabah PMK mampu mendongkrak pasar obat hewan nasional. Pasalnya, saat wabah ini mencuat, pemerintah menggelontorkan dana yang sangat besar untuk program pengendalian PMK. Menurut Asohi, dari produk biologis atau vaksin, pemerintah menyerap 46 juta dosis vaksin dengan nilai sekitar Rp980 miliar. Kemudian, untuk produk obat-obatan dan desinfektan, pemerintah mengeluarkan dana sekitar Rp1,8 triliun. Nilai penjualan produk obat hewan pada sektor perunggasan Tak dapat dimungkiri, sektor perunggasan memang masih mendominasi pasar produk obat hewan. Berdasarkan data Asohi (2022), dari nilai bisnis obat hewan pada tahun 2022 dengan total Rp9,09 triliun, penjualan produk farmasetik dan biologis sektor perunggasan menyumbangkan nilai sebesar Rp4,61 triliun, belum termasuk feed additive dan feed supplement. Angka ini kemudian diikuti oleh jumlah penjualan feed additive dan feed supplement seluruh ternak dengan total Rp4,33 triliun, serta produk farmasetik dan biologis pada sektor babi dan sapi dengan total Rp144 miliar (di luar produk pengendalian PMK). Dengan demikian, tak ayal jika industri obat hewan mempunyai dependensi yang sangat besar terhadap industri perunggasan. Lebih rinci dari produk farmasetik dan biologis sektor perunggasan, penjualan untuk ternak broiler menjadi yang tertinggi. Dengan populasi broiler 2,7 miliar ekor, nilai penjualan terhadap produk farmasetik dan biologisnya menyumbang sebesar Rp2,34 triliun. Kemudian diikuti oleh layer dengan populasi 190 juta ekor memberikan nilai penjualan produk farmasetik dan biologis sebesar Rp1,73 triliun. Sementara itu, nilai penjualan feed additive dan feed supplement juga didominasi pada sektor perunggasan. Dari total penjualan feed additive dan feed supplement, sektor unggas 24 u Edisi Februari 2023 menyumbang di angka Rp4,09 triliun. Secara persentase, sektor unggas menyokong dari total penjualan feed additive sebesar 94,3%, sedangkan feed supplement sebesar 94,5%. Dengan rincian, penjualan feed additive dan feed supplement pada broiler masing-masing sebesar Rp910 miliar dan Rp1,13 triliun. Selanjutnya, disusul oleh layer dengan penjualan feed addtive dan feed supplement masing-masing sebesar Rp665 miliar dan Rp931 miliar. Kemudian, untuk pembibit pada penjualan feed addtive dan feed supplement masing-masing sebesar Rp169 miliar dan Rp285 miliar. Hal tersebut diamini oleh drh. Agus Damar selaku Feed Additive Business Manager PT Romindo Primavetcom, saat ditemui Tim Redaksi Poultry Indonesia di Jakarta Selatan, Rabu (11/1). Ia menyebut bahwa sektor perunggasan masih mengendalikan pasar pada industri obat hewan. Hal tersebut karena sektor unggas memiliki populasi ternak terbanyak dibandingkan dengan ternak lainnya. “Di Romindo sendiri, sektor unggas menyumbang nilai penjualan sekitar 70% dari total keseluruhan penjualan sektor lainnya. Nilai penjualan tersebut termasuk dari produk farmasetik, biologis, feed additive dan feed supplement,” sebut Agus. Yoga Tabel 1. Nilai penjualan produk farmasetik dan biologis pada unggas di tahun 2022 Populasi Biologis/vaksin Farmasetik Total nilai (000 ekor) (Rp/ekor) (Rp/ekor) (Rp 000) Breeder 23.000 11.240 5.455 383.985.000 Broiler 2.700.000 450 420 2.349.000.000 Layer 190.000 5.171 3.975 1.737.740.000 Male 90.000 1.100 480 142.200.000 Total 4.612.925.000 Sumber : ASOHI (2022) Tabel 2. Nilai penjualan feed additive dan feed supplement di tahun 2022 Penjualan Feed Supplement Penjualan Feed Additive (Rp 000) (Rp 000) Broiler 1.134.000.000 910.980.000 Layer 931.000.000 665.000.000 Breeder 285.227.550 169.638.300 Others 136.920.000 105.770.700 2.487.147.550 1.851.389.000 Total 4.338.536.550 Sumber : ASOHI


L agi-lagi, pandemi Covid-19 memang tak pernah usai dibahas. Kecepatan penyebaran dan keganasan gejala yang ditimbulkan oleh Covid-19 berhasil menggegerkan dunia. Semua pendistribusian terpaksa terhenti dan disusul oleh pembatasan sosial dan aktivitas masyarakat. Hal tersebut bagai cambuk bagi seluruh sektor industri, tak terkecuali industri perunggasan dan obat hewan. Ekonomi dunia pun mengalami kontraksi yang hebat. Adanya kontraksi ekonomi tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat. Daging ayam dan telur seakan menjadi barang superior, dimana permintaan terhadap barang tersebut akan bertambah seiring meningkatnya pendapatan masyarakat, begitu pun sebaliknya. Menurunnya konsumsi daging ayam dan telur sangat menekan peternak. Dinamika perunggasan yang tak kunjung usai memaksa peternak harus depopulasi ternak, bahkan hingga berujung gulung tikar. Pengetatan pasar sektor unggas Industri obat hewan memang sangat erat ketergantungannya dengan industri perunggasan. Seluruh pelaku usaha obat hewan sepakat, bahwa nilai penjualan produk obat hewan unggas di perusahaannya menyumbang persentase kisaran 70-80% dari sektor lainnya. Masalah pertama industri obat hewan muncul saat adanya dinamika yang terjadi pada industri perunggasan. Apapun gejolak yang terjadi pada industri perunggasan, maka akan berpengaruh pula pada pasar industri obat hewan. Mari kita melihat harga jual telur dan LB sepanjang tahun 2022, yang cukup memberatkan peternak unggas. Mengutip dari rubrik ‘Catatan Harga’ majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2023, data yang dikumpulkan dari asosiasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia menyebut harga LB secara keseluruhan pada tahun 2022 di tingkat peternak cenderung rendah. Harga LB di semester pertama tahun 2022 berkisar antara Rp18.000,00-20.000,00/kg dan peternak masih mendapatkan keuntungan walau dengan margin yang tipis. Harga LB mulai anjlok ketika memasuki semester kedua, yang kemudian mulai merangkak naik di bulan November dan Desember. Keadaan serupa juga dialami oleh peternak layer. Pada awal tahun 2022, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami tren penurunan. Di Pulau Jawa, harga telur ayam ras memiliki rata-rata Rp18.000,00/kg. Kondisi penurunan ini mulai berangsur membaik hingga bulan Agustus dengan rata-rata harga Rp26.000,00/kg untuk Pulau Jawa. Pasar mengalami penurunan kembali di bulan September hingga harga telur di beberapa daerah berada di bawah Harga Acuan Perbadan (HAP) dan kemudian mulai melonjak naik memasuki bulan Oktober hingga akhir tahun 2022. Kondisi perunggasan yang bergerak sangat dinamis ini menyebabkan industri obat hewan menjadi was-was. Dewan Pembina Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), drh. Dedy Kusmanagandhi, MM. menyebut bahwa industri obat hewan saat ini sedang dalam perjuangan yang berat. Hal tersebut lantaran pasar terbesar industri obat hewan, yakni peternak broiler mandiri, mengalami kerugian yang besar pada tahun 2022 hingga tak sedikit yang mengalami kebangkrutan. “Permintaan produk obat hewan yang paling besar itu ada di peternakan broiler, akan tetapi sekarang bisnis peternakan broiler sedang sulit. Harga jual LB-nya rendah, sehingga peternak broiler dalam keadaan merugi. Keadaan merugi inilah yang akhirnya berdampak pada pasar obat hewan. Hal ini adalah masalah umum yang terjadi di industri obat hewan,” jelasnya ketika berdiskusi bersama Jurnalis Poultry Indonesia secara daring melalui Zoom, Senin (2/1). Masih dengan akar permasalahan yang sama, Dedy mengatakan bahwa semakin berkurangnya jumlah peternak broiler menyebabkan persaingan usaha industri obat hewan semakin ketat. Secara kuantitatif, jumlah perusahaan obat hewan semakin bertambah, akan tetapi jumlah Tantangan Industri Obat Hewan Secara tidak langsung, dinamika perunggasan dan kondisi ekonomi global memengaruhi pasar industri obat hewan. Begitu pula dengan adanya pelarangan AGP yang masih menjadi tantangan industri obat hewan untuk eksplorasi produk alternatifnya 26 u Edisi Februari 2023 sumber voi.id Dinamika bisnis perunggasan berimplikasi pada pengetatan pasar obat hewan


L agi-lagi, pandemi Covid-19 memang tak pernah usai dibahas. Kecepatan penyebaran dan keganasan gejala yang ditimbulkan oleh Covid-19 berhasil menggegerkan dunia. Semua pendistribusian terpaksa terhenti dan disusul oleh pembatasan sosial dan aktivitas masyarakat. Hal tersebut bagai cambuk bagi seluruh sektor industri, tak terkecuali industri perunggasan dan obat hewan. Ekonomi dunia pun mengalami kontraksi yang hebat. Adanya kontraksi ekonomi tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat. Daging ayam dan telur seakan menjadi barang superior, dimana permintaan terhadap barang tersebut akan bertambah seiring meningkatnya pendapatan masyarakat, begitu pun sebaliknya. Menurunnya konsumsi daging ayam dan telur sangat menekan peternak. Dinamika perunggasan yang tak kunjung usai memaksa peternak harus depopulasi ternak, bahkan hingga berujung gulung tikar. Pengetatan pasar sektor unggas Industri obat hewan memang sangat erat ketergantungannya dengan industri perunggasan. Seluruh pelaku usaha obat hewan sepakat, bahwa nilai penjualan produk obat hewan unggas di perusahaannya menyumbang persentase kisaran 70-80% dari sektor lainnya. Masalah pertama industri obat hewan muncul saat adanya dinamika yang terjadi pada industri perunggasan. Apapun gejolak yang terjadi pada industri perunggasan, maka akan berpengaruh pula pada pasar industri obat hewan. Mari kita melihat harga jual telur dan LB sepanjang tahun 2022, yang cukup memberatkan peternak unggas. Mengutip dari rubrik ‘Catatan Harga’ majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2023, data yang dikumpulkan dari asosiasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia menyebut harga LB secara keseluruhan pada tahun 2022 di tingkat peternak cenderung rendah. Harga LB di semester pertama tahun 2022 berkisar antara Rp18.000,00-20.000,00/kg dan peternak masih mendapatkan keuntungan walau dengan margin yang tipis. Harga LB mulai anjlok ketika memasuki semester kedua, yang kemudian mulai merangkak naik di bulan November dan Desember. Keadaan serupa juga dialami oleh peternak layer. Pada awal tahun 2022, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami tren penurunan. Di Pulau Jawa, harga telur ayam ras memiliki rata-rata Rp18.000,00/kg. Kondisi penurunan ini mulai berangsur membaik hingga bulan Agustus dengan rata-rata harga Rp26.000,00/kg untuk Pulau Jawa. Pasar mengalami penurunan kembali di bulan September hingga harga telur di beberapa daerah berada di bawah Harga Acuan Perbadan (HAP) dan kemudian mulai melonjak naik memasuki bulan Oktober hingga akhir tahun 2022. Kondisi perunggasan yang bergerak sangat dinamis ini menyebabkan industri obat hewan menjadi was-was. Dewan Pembina Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), drh. Dedy Kusmanagandhi, MM. menyebut bahwa industri obat hewan saat ini sedang dalam perjuangan yang berat. Hal tersebut lantaran pasar terbesar industri obat hewan, yakni peternak broiler mandiri, mengalami kerugian yang besar pada tahun 2022 hingga tak sedikit yang mengalami kebangkrutan. “Permintaan produk obat hewan yang paling besar itu ada di peternakan broiler, akan tetapi sekarang bisnis peternakan broiler sedang sulit. Harga jual LB-nya rendah, sehingga peternak broiler dalam keadaan merugi. Keadaan merugi inilah yang akhirnya berdampak pada pasar obat hewan. Hal ini adalah masalah umum yang terjadi di industri obat hewan,” jelasnya ketika berdiskusi bersama Jurnalis Poultry Indonesia secara daring melalui Zoom, Senin (2/1). Masih dengan akar permasalahan yang sama, Dedy mengatakan bahwa semakin berkurangnya jumlah peternak broiler menyebabkan persaingan usaha industri obat hewan semakin ketat. Secara kuantitatif, jumlah perusahaan obat hewan semakin bertambah, akan tetapi jumlah Tantangan Industri Obat Hewan Secara tidak langsung, dinamika perunggasan dan kondisi ekonomi global memengaruhi pasar industri obat hewan. Begitu pula dengan adanya pelarangan AGP yang masih menjadi tantangan industri obat hewan untuk eksplorasi produk alternatifnya 26 u Edisi Februari 2023 sumber voi.id Dinamika bisnis perunggasan berimplikasi pada pengetatan pasar obat hewan Edisi Februari 2023 u 27 peternaknya kian berkurang. Dengan kata lain, jumlah pelanggan perusahaan obat hewan semakin terbatas. Dengan begitu, persaingan pasar dalam negeri menjadi begitu ketat. Lebih jauh, ketegangan antara Rusia dan Ukraina membuat negaranegara di dunia sulit mengembangkan perekonomiannya, bahkan saat pandemi Covid-19 yang telah menimbulkan kontraksi ekonomi di tahun 2020 silam masih membayangi. Konflik geopolitik tersebut menyebabkan harga komoditas pangan hingga energi berfluktuasi. Tak heran jika International Monetary Fund (IMF) memprediksikan tahun 2023 akan terjadi resesi global. Dalam hal ini, tentu saja industri perunggasan dan obat hewan akan terkena dampak yang diturunkan dari resesi global. Pengaruh nyata dari peristiwa resesi global adalah adanya kenaikan harga bahan baku pakan impor seperti meat bone meal dan soybean meal. Hal ini memaksa pabrik pakan harus melakukan adjustment price¸ yang berimbas pada semakin tingginya biaya produksi di tingkat peternak. Oleh karena itu, jangan kaget jika jumlah peternak akan semakin sedikit akibat kerugian yang diderita. Begitu pula dengan industri obat hewan. Disisi lain, adanya resesi global juga berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saat naskah ini ditulis, pada hari Selasa, 17 Januari 2023, dikutip dari Bank Indonesia (2023), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp15.019/USD. Terjadi pelemahan yang signifikan dimulai dari semester II tahun 2022. Menanggapi kasus ini, Dedy menuturkan bahwa pendapatan masyarakat akan turun dan biaya input perunggasan menaik. Turunnya pendapatan masyarakat akan berimbas pada harga beli produk unggas yang diikuti dengan pelemahan serapan. Ketika penyerapan produk unggas menurun, maka harga jual di tingkat peternak juga akan menurun. Belum lagi ditambah dengan biaya input yang semakin mahal, sehingga peternak akan melakukan afkir dini dan mengalami kebangkrutan. Dengan situasi yang ada, industri obat hewan terpaksa harus menelan pil pahit ini. “Harga bahan baku pakan impor akan naik mengikuti kurs dolar yang semakin tinggi harganya. Kemudian akan ada penyesuaian harga untuk melakukan produksi pakan. Tetapi di usaha budi daya unggas, industri obat hewan itu hanya ada 5-6% dari total biaya produksi, kenaikan itu biasanya tidak melebihi 1% dari total biaya produksi budi daya unggas karena yang dominan adalah harga pakan dan DOC menaik. Akan tetapi, secara tidak langsung itu akan memengaruhi pasar obat hewan,” tutur Dedy. Sebagai pelaku usaha importir dan distributor obat hewan, Ivan Alex Sanjaya, selaku Komisaris Utama PT Cahaya Sakti Kimia, juga mengeluhkan adanya peristiwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi tersebut menyebabkan perusahaan yang dinaunginya mengalami penurunan margin keuntungan. Di posisi ini, ia tidak bisa berbuat banyak karena pertaruhan yang dihadapi langsung kepada ekonomi nasional. “Melemahnya nilai tukar rupiah sangat berpengaruh. Ketika kita impor barang, katakanlah dari Cina, maka barang datang paling cepat ke Indonesia adalah 30 hari. Seandainya hari ini kita sudah sepakat bahwa transaksi mengacu pada nilai rupiah yang aktual pada saat itu, kemudian bulan depan ketika barangnya datang itu kursnya sudah berubah, maka saya harus mengalah untuk menambah modal lebih besar. Secara sederhananya, saya bisa saja menaikkan harga jual. Namun, di kondisi saat ini permintaan sudah tidak tinggi, sehingga sangat riskan. Produk saya sudah dibeli saja saya sudah bersyukur. Jika saya menaikkan harga jual, maka saya akan sulit menjualnya dan memperketat persaingan,” keluh Ivan kepada Jurnalis Poultry Indonesia secara daring melalui Zoom, Minggu (8/1). Pasca pelarangan AGP Pemerintah melalui aturan Permentan No. 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan yang di dalamnya berisi larangan penggunaan Antibiotic Growth Promotor (AGP) masih santer diperbincangkan. Pelarangan penggunaan AGP tidak hanya diberlakukan di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia. Dedi Kusmanagandi Halim Natsir Ivan Alex Sanjaya Grafik 1 . Kasus penyakit pencernaan pada ayam pedaging tahun 2017-2021


28 u Edisi Februari 2023 Seluruh negara di kawasan Asia Tenggara sudah menerapkan pelarangan AGP dan mungkin akan diikuti oleh negara Afrika yang belum menerapkannya. Pelarangan penggunaan AGP merupakan acuan dari World Health Organization (WHO) dan World Organization for Animal Health (OIE). Meski sudah berjalan selama 5 tahun, rupanya pelarangan penggunaan AGP masih menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri obat hewan. Pelarangan AGP yang telah dimulai sejak tahun 2018 merupakan suatu langkah yang dilakukan sebagai upaya mencegah resistensi antibiotik. Selain itu, pelarangan AGP juga dilakukan untuk mencegah adanya residu antibiotik dalam produk-produk unggas seperti daging dan telur yang akan berbahaya bagi manusia sebagai konsumen. Oleh karena itu, upaya pelarangan tersebut penting dilakukan demi kesehatan manusia yang lebih baik di masa depan. Namun, pelarangan AGP juga berdampak bagi performa dan kesehatan unggas, karena berpengaruh terhadap tingkat kejadian penyakit pencernaan seperti koksidiosis, kolibasilosis, dan Necrotic Enteritis (NE). Berdasarkan data yang dirangkum oleh tim Technical Education and Consultation Medion melalui keterangan tertulis pada tim redaksi Poultry Indonesia, Selasa (10/1), kasus kolibasilosis, koksidiosis, dan NE pada broiler dan layer mulai dari tahun 2020 mengalami peningkatan dibandingkan sebelum pelarangan AGP. Sependapat dengan data tim Medion, Prof. Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng. selaku Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, ketika diwawancarai Poultry Indonesia secara tertulis, Minggu (22/1), mengungkapkan sejak adanya pelarangan AGP, menyebabkan adanya penurunan produksi terutama oleh koksidiosis pada peternakan unggas. Pada awal pelarangan AGP, telah bermunculan sejumlah produk feed additive berupa probiotik, fitobiotik, acidifier, prebiotik, enzim dan sinbiotik. Dimana feed additive tersebut belum dapat mengatasi permasalahan parasit yang menyebabkan penyakit koksidiosis secara optimal. Disisi lain, produksi menurun dikarenakan kerja dari feed additive alami tersebut memang tidak instan memerlukan waktu yang lebih panjang dalam menunjukkan efek terhadap produksi. Dirinya menjelaskan feed additive pengganti AGP sejak tahun 2018 telah banyak beredar di pasaran dalam rangka untuk menggantikan AGP. Namun, banyak produk pengganti AGP yang ada di pasaran tidak mampu meningkatkan produktivitas unggas yang dipelihara oleh peternakan. Salah satu penyebab kualitas produk pengganti AGP yang kurang bagus adalah proses produksi yang kurang tepat. “Sebagai contoh ada produk fitobiotik difermentasi. Produk fermentasi jika tidak dihentikan maka semakin lama disimpan bukan semakin baik, tetapi membuat efek negatif bagi ayam. Sebab, fermentasi bisa masuk fase kematian atau mengeluarkan toksin. Contoh lain, probiotik cair tanpa teknologi proteksi atau immobilizer, maka pada saat dicampurkan pada air minum yang kualitas jelek atau mengandung klorin menyebabkan probiotik bisa mati,” terang Guru Besar bidang ilmu nutrisi dan teknologi pengolahan pakan unggas itu. Lebih lanjut menurut Halim, setelah 5 tahun pelarangan AGP maka bisa dilihat efeknya pada dua sisi. Pertama dari kualitas produk unggas, menurutnya kualitas produk unggas semakin baik dan sehat dikarenakan hilangnya atau menurunnya residu antibiotik. Akan tetapi, pengecualian pada peternak setelah adanya pelarangan AGP pada pakan, namun tetap menggunakan AGP yang dicampurkan ke dalam air minum. Kedua mengenai produktivitas, dimana produktivitas memang ada penurunan sedikit, hal ini wajar karena sifat kerja dari feed additive tidak instan seperti AGP. Masalah ini yang menjadi alasan peternak merasa berat dengan adanya pelarangan AGP. Hal ini masih menjadi tantangan bagi industri obat hewan. Seluruh produsen obat hewan terus melakukan eksplorasi produk alternatif AGP. Bagaimana para pelaku usaha di obat hewan mampu memberikan produknya yang dapat menjamin kesehatan unggas, pun bisa menjamin kesehatan manusia sebagai konsumen dari produk unggas. Yoga, Diana, Yafi Grafik 2 Kasus penyakit pencernaan pada ayam ras petelur tahun 2017-2021 sumber salinplus.com Pelarangan AGP masih menjadi tantangan sekaligus peluang industri obat hewan


28 u Edisi Februari 2023 Seluruh negara di kawasan Asia Tenggara sudah menerapkan pelarangan AGP dan mungkin akan diikuti oleh negara Afrika yang belum menerapkannya. Pelarangan penggunaan AGP merupakan acuan dari World Health Organization (WHO) dan World Organization for Animal Health (OIE). Meski sudah berjalan selama 5 tahun, rupanya pelarangan penggunaan AGP masih menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri obat hewan. Pelarangan AGP yang telah dimulai sejak tahun 2018 merupakan suatu langkah yang dilakukan sebagai upaya mencegah resistensi antibiotik. Selain itu, pelarangan AGP juga dilakukan untuk mencegah adanya residu antibiotik dalam produk-produk unggas seperti daging dan telur yang akan berbahaya bagi manusia sebagai konsumen. Oleh karena itu, upaya pelarangan tersebut penting dilakukan demi kesehatan manusia yang lebih baik di masa depan. Namun, pelarangan AGP juga berdampak bagi performa dan kesehatan unggas, karena berpengaruh terhadap tingkat kejadian penyakit pencernaan seperti koksidiosis, kolibasilosis, dan Necrotic Enteritis (NE). Berdasarkan data yang dirangkum oleh tim Technical Education and Consultation Medion melalui keterangan tertulis pada tim redaksi Poultry Indonesia, Selasa (10/1), kasus kolibasilosis, koksidiosis, dan NE pada broiler dan layer mulai dari tahun 2020 mengalami peningkatan dibandingkan sebelum pelarangan AGP. Sependapat dengan data tim Medion, Prof. Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng. selaku Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, ketika diwawancarai Poultry Indonesia secara tertulis, Minggu (22/1), mengungkapkan sejak adanya pelarangan AGP, menyebabkan adanya penurunan produksi terutama oleh koksidiosis pada peternakan unggas. Pada awal pelarangan AGP, telah bermunculan sejumlah produk feed additive berupa probiotik, fitobiotik, acidifier, prebiotik, enzim dan sinbiotik. Dimana feed additive tersebut belum dapat mengatasi permasalahan parasit yang menyebabkan penyakit koksidiosis secara optimal. Disisi lain, produksi menurun dikarenakan kerja dari feed additive alami tersebut memang tidak instan memerlukan waktu yang lebih panjang dalam menunjukkan efek terhadap produksi. Dirinya menjelaskan feed additive pengganti AGP sejak tahun 2018 telah banyak beredar di pasaran dalam rangka untuk menggantikan AGP. Namun, banyak produk pengganti AGP yang ada di pasaran tidak mampu meningkatkan produktivitas unggas yang dipelihara oleh peternakan. Salah satu penyebab kualitas produk pengganti AGP yang kurang bagus adalah proses produksi yang kurang tepat. “Sebagai contoh ada produk fitobiotik difermentasi. Produk fermentasi jika tidak dihentikan maka semakin lama disimpan bukan semakin baik, tetapi membuat efek negatif bagi ayam. Sebab, fermentasi bisa masuk fase kematian atau mengeluarkan toksin. Contoh lain, probiotik cair tanpa teknologi proteksi atau immobilizer, maka pada saat dicampurkan pada air minum yang kualitas jelek atau mengandung klorin menyebabkan probiotik bisa mati,” terang Guru Besar bidang ilmu nutrisi dan teknologi pengolahan pakan unggas itu. Lebih lanjut menurut Halim, setelah 5 tahun pelarangan AGP maka bisa dilihat efeknya pada dua sisi. Pertama dari kualitas produk unggas, menurutnya kualitas produk unggas semakin baik dan sehat dikarenakan hilangnya atau menurunnya residu antibiotik. Akan tetapi, pengecualian pada peternak setelah adanya pelarangan AGP pada pakan, namun tetap menggunakan AGP yang dicampurkan ke dalam air minum. Kedua mengenai produktivitas, dimana produktivitas memang ada penurunan sedikit, hal ini wajar karena sifat kerja dari feed additive tidak instan seperti AGP. Masalah ini yang menjadi alasan peternak merasa berat dengan adanya pelarangan AGP. Hal ini masih menjadi tantangan bagi industri obat hewan. Seluruh produsen obat hewan terus melakukan eksplorasi produk alternatif AGP. Bagaimana para pelaku usaha di obat hewan mampu memberikan produknya yang dapat menjamin kesehatan unggas, pun bisa menjamin kesehatan manusia sebagai konsumen dari produk unggas. Yoga, Diana, Yafi Grafik 2 Kasus penyakit pencernaan pada ayam ras petelur tahun 2017-2021 sumber salinplus.com Pelarangan AGP masih menjadi tantangan sekaligus peluang industri obat hewan foryour BETTER&SMARTER farming Bersamaparapeternakkami membangunpeternakanyang lebihbaikdanlebihcerdas dalammenghasilkan produkternakberkualitas.


30 u Edisi Februari 2023 D i tengah dunia perunggasan yang penuh dengan anomali, memaksa industri obat hewan untuk ikut terseret. Mulai dari tingginya biaya input usaha budi daya, hingga rendahnya daya beli produk unggas membuat pelaku usaha obat hewan memutar otak. Belum lagi jika kita berbicara mengenai pengembangan teknologi dan inovasi terkait produk alternatif AGP, yang masih digencarkan untuk menyukseskan kaidah pemerintah terkait pelarangan AGP. Berbagai peluang harus ditangkap oleh pelaku usaha obat hewan untuk dapat bertahan dan mengembangkan industri yang dianggap seksi ini. Strategi dalam menghadapi dinamika perunggasan Dalam menghadapi permasalahan pada ketidakpastian pasar industri obat hewan, Peter Yan selaku Komisaris Medion, mengatakan bahwa efisiensi bisnis merupakan langkah yang bijak. Langkah tersebut diambil agar arah dan tujuan bisnis akan menjadi lebih terstruktur, baik bagi karyawan maupun perusahaan. Upaya yang dilakukan oleh Medion untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan kolaborasi teknologi dan surveilans. “Medion secara aktif berkolaborasi dengan akademisi, distributor, dan pelaku usaha lainnya dari berbagai negara. Medion telah merilis sebuah produk yang inovatif pada adjuvant vaksin yang digunakan. Adjuvant khusus pada produk Medion mampu meningkatkan respon kekebalan tubuh baik secara seluler maupun humoral, mudah terurai, lebih mudah diserap, dan tidak menyebabkan toksisitas di jaringan, sehingga vaksinasi lebih efektif dan aman,” ungkapnya ketika berbincang dengan Poultry Indonesia, secara daring melalui Zoom, Senin (9/1). Selanjutnya, Peter menjelaskan mengenai surveilans atau kajian lapang. Tujuan dari kajian lapang agar pemasaran dan penjualan produk yang dilakukan oleh perusahaan obat hewan tepat sasaran berdasarkan kondisi yang nyata di lapangan. Surveilans dianalogikan seperti CCTV yang memantau kondisi lapangan secara real time sehingga kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi lebih cepat dan tepat. “Program surveilans yang dilakukan oleh Medion diantaranya Avian Influenza Virus (AI). Medion mengomunikasikan hasil surveilans Avian Influenza Virus ke Forum Influenza Virus Monitoring (IVM) Online, sebuah jejaring yang dibangun oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian,” lanjutnya. Masih berkaitan dengan strategi, drh. Muliati Sutandi selaku Vaccine Business Manager PT Romindo Primavetcom menuturkan bahwa perusahaan harus melakukan analisis lapangan agar perusahaan dapat melakukan personal selling. Mekanismenya adalah setelah melakukan seminar besar dan mendapatkan tanggapan dari pelanggan, perusahaan harus langsung bergerak melakukan personal selling di setiap area. Dalam hal ini, perusahaan harus menonjolkan keunggulan produk dan melakukan pelayanan ekstra kepada para peternak. “Kita mengawal dan mengedukasi peternak bahwa harus investasi lebih untuk produk vaksin yang berkualitas. Karena ini sifatnya long investment yang akan menghasilkan produksi yang lebih optimal. Kita harus melakukan kawal ketat mulai dari aplikasinya sampai performans DOC di usia starter dan grower, begitu Seribu Jalan Pengembangan Industri Obat Hewan Sudah sejatinya industri obat hewan berkembang seiring dengan meningkatnya populasi unggas yang ditopang oleh meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat. Suasana kampanye konsumsi protein hewani


30 u Edisi Februari 2023 D i tengah dunia perunggasan yang penuh dengan anomali, memaksa industri obat hewan untuk ikut terseret. Mulai dari tingginya biaya input usaha budi daya, hingga rendahnya daya beli produk unggas membuat pelaku usaha obat hewan memutar otak. Belum lagi jika kita berbicara mengenai pengembangan teknologi dan inovasi terkait produk alternatif AGP, yang masih digencarkan untuk menyukseskan kaidah pemerintah terkait pelarangan AGP. Berbagai peluang harus ditangkap oleh pelaku usaha obat hewan untuk dapat bertahan dan mengembangkan industri yang dianggap seksi ini. Strategi dalam menghadapi dinamika perunggasan Dalam menghadapi permasalahan pada ketidakpastian pasar industri obat hewan, Peter Yan selaku Komisaris Medion, mengatakan bahwa efisiensi bisnis merupakan langkah yang bijak. Langkah tersebut diambil agar arah dan tujuan bisnis akan menjadi lebih terstruktur, baik bagi karyawan maupun perusahaan. Upaya yang dilakukan oleh Medion untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan kolaborasi teknologi dan surveilans. “Medion secara aktif berkolaborasi dengan akademisi, distributor, dan pelaku usaha lainnya dari berbagai negara. Medion telah merilis sebuah produk yang inovatif pada adjuvant vaksin yang digunakan. Adjuvant khusus pada produk Medion mampu meningkatkan respon kekebalan tubuh baik secara seluler maupun humoral, mudah terurai, lebih mudah diserap, dan tidak menyebabkan toksisitas di jaringan, sehingga vaksinasi lebih efektif dan aman,” ungkapnya ketika berbincang dengan Poultry Indonesia, secara daring melalui Zoom, Senin (9/1). Selanjutnya, Peter menjelaskan mengenai surveilans atau kajian lapang. Tujuan dari kajian lapang agar pemasaran dan penjualan produk yang dilakukan oleh perusahaan obat hewan tepat sasaran berdasarkan kondisi yang nyata di lapangan. Surveilans dianalogikan seperti CCTV yang memantau kondisi lapangan secara real time sehingga kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi lebih cepat dan tepat. “Program surveilans yang dilakukan oleh Medion diantaranya Avian Influenza Virus (AI). Medion mengomunikasikan hasil surveilans Avian Influenza Virus ke Forum Influenza Virus Monitoring (IVM) Online, sebuah jejaring yang dibangun oleh Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian,” lanjutnya. Masih berkaitan dengan strategi, drh. Muliati Sutandi selaku Vaccine Business Manager PT Romindo Primavetcom menuturkan bahwa perusahaan harus melakukan analisis lapangan agar perusahaan dapat melakukan personal selling. Mekanismenya adalah setelah melakukan seminar besar dan mendapatkan tanggapan dari pelanggan, perusahaan harus langsung bergerak melakukan personal selling di setiap area. Dalam hal ini, perusahaan harus menonjolkan keunggulan produk dan melakukan pelayanan ekstra kepada para peternak. “Kita mengawal dan mengedukasi peternak bahwa harus investasi lebih untuk produk vaksin yang berkualitas. Karena ini sifatnya long investment yang akan menghasilkan produksi yang lebih optimal. Kita harus melakukan kawal ketat mulai dari aplikasinya sampai performans DOC di usia starter dan grower, begitu Seribu Jalan Pengembangan Industri Obat Hewan Sudah sejatinya industri obat hewan berkembang seiring dengan meningkatnya populasi unggas yang ditopang oleh meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat. Suasana kampanye konsumsi protein hewani Edisi Februari 2023 u 31 konsumsi protein hewani. Program tersebut dinaungi oleh Divisi Stunting Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yang ditunjuk langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk menekan prevalensi stunting dari 24% menuju 14%. Apabila kolaborasi ini dijalankan dengan baik oleh pemerintah dan swasta, maka otomatis daya beli produk unggas akan meningkat. Daya beli produk unggas yang meningkat akan disusul dengan populasi unggas yang meningkat pula, sehingga secara langsung berkontribusi terhadap naik turunnya industri obat hewan. “Pemerintah mempunyai program pun laying-nya. Kita harus melakukan pelayanan ekstra karena peternak zaman sekarang sangat aware terhadap performa ternaknya, sebab mereka harus efisiensi,” tutur Muliati ketika disambangi Poultry Indonesia di kantornya, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (11/1). Kampanye konsumsi produk unggas Untuk mendukung strategi yang disebutkan oleh beberapa narasumber sebelumnya, penggalakkan kampanye konsumsi produk unggas dapat dilakukan. Tak hanya dilakukan oleh stakeholders perunggasan, pengusaha obat hewan pun juga. Pasalnya, rendahnya konsumsi protein hewani masyarakat akan berimplikasi terhadap populasi ternak unggas, yang mana menjadi pasar terbesar industri obat hewan. Mengutip data dari Organization of Economic Cooperation and Development (OECD), konsumsi daging unggas di Indonesia pada tahun 2021 hanya sebesar 8,1 kg/kapita. Sedang, data dari PKH Kementan pada tahun 2022, konsumsi daging unggas nasional sebesar 11,6 kg/ kapita (prognosa). Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata konsumsi daging unggas dunia yang sebesar 14,9 kg/kapita. Fakta pahit ini sudah seharusnya menjadi alasan untuk menggencarkan kampanye konsumsi produk unggas. Baik pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha harus berkolaborasi untuk menyukseskan kampanye ini. Ketua Umum ASOHI, drh. Irawati Fari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/1), mengatakan bahwa ASOHI mendukung program pemerintah untuk meningkatkan Peter Yan Muliati Sutandi Irawati Fari Nasiruddin Miftahul Firdaus meningkatkan konsumsi protein hewani untuk mencegah stunting dan runting untuk masyarakat Indonesia. Dengan program ini, ASOHI dapat berperan dalam membantu industri peternakan lebih menjaga performa ternak, baik dari ketahanan terhadap penyakit maupun efisiensi dan efektivitas produksi. Dengan fokus pada hal-hal tersebut, ASOHI secara tidak langsung juga berperan terhadap perkembangan industri obat hewan di Indonesia,” tulisnya. Dalam kampanye konsumsi protein hewani, hal yang perlu diingat adalah kewajiban sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) pada produk unggas. Kementerian Pertanian RI telah mengeluarkan sertifikasi NKV melalui Permentan No.11 Tahun 2020. Sertifikasi ini menjamin keamanan dan kualitas produk hasil ternak yang dihasilkan karena produk tersebut sudah melalui pengawasan lapang secara ketat dari dokter hewan terkait. Selain memberikan rasa percaya akan keamanan pangan bagi masyarakat, sertifikasi NKV juga akan menguntungkan industri obat hewan. Ketika kesadaran peternak dan masyarakat akan sertifikasi NKV semakin tinggi, maka secara tidak langsung, jasa dokter hewan dan produk obat hewan juga akan ikut meningkat. Oleh karena itu, gerakan gemar makan daging ayam dan telur yang berkualitas harus terus ditingkatkan, baik oleh pemerintah melalui BKKBN, dokter hewan, dan industri obat hewan. Herbal sebagai alternatif AGP Sejak dulu, Indonesia sudah dikenal sebagai suatu daratan yang sangat subur. Letak geografis yang berada di wilayah iklim tropis dan terlintang garis khatulistiwa membuat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah ruah, bahkan termasuk tiga besar dunia. Kekayaan alam yang terkandung dalam bumi pertiwi ini patut disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik oleh kita sebagai bangsa Indonesia. Salah satu komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan adalah tanaman herbal. Tanaman herbal sudah seperti warisan nusantara, yang dapat tumbuh sangat baik di tanah subur ini. Secara turun-temurun, tanaman herbal sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita sebagai pengobatan, yang biasa disebut dengan jamu atau empon-empon. Karena memiliki ketersediaan yang melimpah dan berkhasiat untuk mengobati beberapa jenis penyakit. Mengutip info dari Kebijakan Obat Tradisional (Kotranas), tercatat dari 40.000 spesies tanaman yang ada di dunia,


32 u Edisi Februari 2023 30.000 spesies diantaranya ada di Indonesia dengan 7.500 spesies diantaranya tergolong sebagai tanaman herbal. Selain digunakan untuk kesehatan manusia, ternyata herbal juga dapat dimanfaatkan untuk kesehatan hewan. Senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman herbal dikatakan mampu untuk mengatasi permasalahan pelarangan penggunaan AGP. Saat ini, industri obat hewan sedang aktif menggencarkan produksi herbal. Pengganti AGP dengan herbal pada dasarnya sangat potensial di Indonesia. Baik dari sisi kualitas produk yang dihasilkan semakin sehat juga produktivitas tetap bisa dipertahankan. Selain itu, yang paling penting adalah herbal dapat diproduksi dari bahan baku Indonesia, sehingga tidak memerlukan impor. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia secara daring via Zoom, Senin (9/1), Direktur Marketing & Distribution Medion, Hendra Purnama mengatakan, sudah banyak produk alternatif AGP yang beredar di pasaran, hanya tinggal disesuaikan dengan kebutuhannya. Pada dasarnya, tujuan utama pemberian alternatif ini sama halnya dengan AGP, yaitu memelihara keseimbangan mikroflora usus dan mengoptimalkan proses pencernaan. “Sejak tahun 2013, Medion telah berpartisipasi mencegah resistensi antibiotika dengan menyediakan produk herbal inovatif. Medion selalu berupaya untuk mendukung program pemerintah dalam pelarangan penggunaan AGP. Medion telah berinovasi dengan menyediakan lebih dari 15 produk herbal. Berbagai produk inovatif masih terus dikembangkan oleh tim Research, Innovation & Development Medion untuk memenuhi kebutuhan dan komitmen terhadap kepuasan pelanggan,” papar pria yang akrab disapa Purnama tersebut. Tak kalah, Nasiruddin Miftahul Firdaus selaku Senior Manager Projects Development PT. Ganeeta Formula Nusantara, saat berdialog daring bersama Poultry Indonesia melalui Zoom, Rabu (4/1), menerangkan bahwa penggunaan herbal memiliki manfaat yang baik untuk proses budi daya unggas. Berdasarkan jenisnya, herbal mempunyai 2 tipe yakni sebagai tindakan preventif dan fitofarmaka atau pengobatan. Secara fungsi, herbal juga berkhasiat sebagai imunomodulator, antibakterial, anti inflamasi, antioksidan, kemudian sebagai hepatoprotector. Meski begitu, pemakaian herbal harus dibarengi dengan upaya lain untuk menghasilkan performa yang setara dengan AGP. “Efektivitas herbal saat ini sifatnya komplemen atau sinergi antara beberapa produk. Kalau murni herbal, saya rasa akan masih jauh dibandingkan dengan pemakaian AGP. Akan tetapi, kalau pemakaian kompleks, kita bisa menggunakan feed additive yang lain untuk meningkatkan produktivitas pada ternak tersebut. Kemudian, manajemen kandang yang baik seperti biosekuriti itu sangat dianjurkan, maka saya rasa penggunaan herbal akan jauh lebih baik,” terangnya. Secara prinsip, Nasiruddin menyebut bahwa penggunaan herbal memiliki 4 pilar utama yang berdampak pada unggas. Keempat pilar tersebut antara lain saluran pernapasan, pencernaan, reproduksi, dan pembuluh darah. Dari keempat inilah baik broiler maupun layer mempunyai koridor pilarnya masing-masing. Ia optimis dengan pemberian herbal dapat menjawab tantangan peternak broiler dan layer di lapangan. “Kalau berbicara broiler, Ganeeta mengambil 2 pilar yaitu pencernaan dan pembuluh darah. Pada pilar pembuluh darah, Ganeeta mengoptimalkan jumlah oksigen pada saluran pembuluh darah tersebut. Misal, kolesterol dan asam urat yang terdapat pada ayam tersebut bisa terkontrol dengan herbal. Kemudian pencernaan, Ganeeta memaksimalkan kapasitas serap pada usus halusnya. Karena pemberian herbal bisa memicu dan membantu penebalan dinding usus,” jelas Nasiruddin. Berbeda dengan broiler, pilar pada layer mengarah ke pernapasan dan reproduksi. Senyawa antioksidan yang terkandung pada herbal mampu menjadi antitusif dan ekspektoran, yang menyebabkan saluran pernapasan lancar. Kesederhanaan saluran pernapasan ayam menjadi titik krusial pada kesehatan layer. Apabila mengalami gangguan saluran pernapasan, maka akan terjadi penurunan produksi pada layer, yang bersifat persisten. “Kemudian, penggunaan herbal sangat baik untuk ayam petelur karena pemicu utamanya adalah bagaimana telur yang diproduksi itu bisa optimal. Selain itu, bagaimana caranya agar waktu terpenuhinya telur tidak terhambat dan pertumbuhan folikel bisa sehat. Sebab pada umumnya pertumbuhan folikel tidak seragam, seringkali ada yang besar dan ada juga yang kecil. Dengan penggunan herbal, sebisa mungkin pertumbuhan folikelnya seragam,” pungkas Nasiruddin. Yoga, Diana, Yafi sumber klikdokter.com


32 u Edisi Februari 2023 30.000 spesies diantaranya ada di Indonesia dengan 7.500 spesies diantaranya tergolong sebagai tanaman herbal. Selain digunakan untuk kesehatan manusia, ternyata herbal juga dapat dimanfaatkan untuk kesehatan hewan. Senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman herbal dikatakan mampu untuk mengatasi permasalahan pelarangan penggunaan AGP. Saat ini, industri obat hewan sedang aktif menggencarkan produksi herbal. Pengganti AGP dengan herbal pada dasarnya sangat potensial di Indonesia. Baik dari sisi kualitas produk yang dihasilkan semakin sehat juga produktivitas tetap bisa dipertahankan. Selain itu, yang paling penting adalah herbal dapat diproduksi dari bahan baku Indonesia, sehingga tidak memerlukan impor. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia secara daring via Zoom, Senin (9/1), Direktur Marketing & Distribution Medion, Hendra Purnama mengatakan, sudah banyak produk alternatif AGP yang beredar di pasaran, hanya tinggal disesuaikan dengan kebutuhannya. Pada dasarnya, tujuan utama pemberian alternatif ini sama halnya dengan AGP, yaitu memelihara keseimbangan mikroflora usus dan mengoptimalkan proses pencernaan. “Sejak tahun 2013, Medion telah berpartisipasi mencegah resistensi antibiotika dengan menyediakan produk herbal inovatif. Medion selalu berupaya untuk mendukung program pemerintah dalam pelarangan penggunaan AGP. Medion telah berinovasi dengan menyediakan lebih dari 15 produk herbal. Berbagai produk inovatif masih terus dikembangkan oleh tim Research, Innovation & Development Medion untuk memenuhi kebutuhan dan komitmen terhadap kepuasan pelanggan,” papar pria yang akrab disapa Purnama tersebut. Tak kalah, Nasiruddin Miftahul Firdaus selaku Senior Manager Projects Development PT. Ganeeta Formula Nusantara, saat berdialog daring bersama Poultry Indonesia melalui Zoom, Rabu (4/1), menerangkan bahwa penggunaan herbal memiliki manfaat yang baik untuk proses budi daya unggas. Berdasarkan jenisnya, herbal mempunyai 2 tipe yakni sebagai tindakan preventif dan fitofarmaka atau pengobatan. Secara fungsi, herbal juga berkhasiat sebagai imunomodulator, antibakterial, anti inflamasi, antioksidan, kemudian sebagai hepatoprotector. Meski begitu, pemakaian herbal harus dibarengi dengan upaya lain untuk menghasilkan performa yang setara dengan AGP. “Efektivitas herbal saat ini sifatnya komplemen atau sinergi antara beberapa produk. Kalau murni herbal, saya rasa akan masih jauh dibandingkan dengan pemakaian AGP. Akan tetapi, kalau pemakaian kompleks, kita bisa menggunakan feed additive yang lain untuk meningkatkan produktivitas pada ternak tersebut. Kemudian, manajemen kandang yang baik seperti biosekuriti itu sangat dianjurkan, maka saya rasa penggunaan herbal akan jauh lebih baik,” terangnya. Secara prinsip, Nasiruddin menyebut bahwa penggunaan herbal memiliki 4 pilar utama yang berdampak pada unggas. Keempat pilar tersebut antara lain saluran pernapasan, pencernaan, reproduksi, dan pembuluh darah. Dari keempat inilah baik broiler maupun layer mempunyai koridor pilarnya masing-masing. Ia optimis dengan pemberian herbal dapat menjawab tantangan peternak broiler dan layer di lapangan. “Kalau berbicara broiler, Ganeeta mengambil 2 pilar yaitu pencernaan dan pembuluh darah. Pada pilar pembuluh darah, Ganeeta mengoptimalkan jumlah oksigen pada saluran pembuluh darah tersebut. Misal, kolesterol dan asam urat yang terdapat pada ayam tersebut bisa terkontrol dengan herbal. Kemudian pencernaan, Ganeeta memaksimalkan kapasitas serap pada usus halusnya. Karena pemberian herbal bisa memicu dan membantu penebalan dinding usus,” jelas Nasiruddin. Berbeda dengan broiler, pilar pada layer mengarah ke pernapasan dan reproduksi. Senyawa antioksidan yang terkandung pada herbal mampu menjadi antitusif dan ekspektoran, yang menyebabkan saluran pernapasan lancar. Kesederhanaan saluran pernapasan ayam menjadi titik krusial pada kesehatan layer. Apabila mengalami gangguan saluran pernapasan, maka akan terjadi penurunan produksi pada layer, yang bersifat persisten. “Kemudian, penggunaan herbal sangat baik untuk ayam petelur karena pemicu utamanya adalah bagaimana telur yang diproduksi itu bisa optimal. Selain itu, bagaimana caranya agar waktu terpenuhinya telur tidak terhambat dan pertumbuhan folikel bisa sehat. Sebab pada umumnya pertumbuhan folikel tidak seragam, seringkali ada yang besar dan ada juga yang kecil. Dengan penggunan herbal, sebisa mungkin pertumbuhan folikelnya seragam,” pungkas Nasiruddin. Yoga, Diana, Yafi sumber klikdokter.com


Oleh Claudio Campanelli, Technical Manager APAC di Biochem mbH Bahaya Tersembunyi Endotoksin !! “Musuh Nyata Performa Produksi yang Jarang Diketahui” Gambar 1: Transisi LPS ke lamina propria Gambar 2: Tingkat LPS dalam darah hubungannya dengan kepadatan ternak. Batas Endotoksin (EL) spesifik untuk setiap spesies hewan menurut sensitivitasnya; batas ini dinyatakan dalam Endotoxic Units (EU) per satuan volume (mL) dalam darah E ndotoksin, juga disebut lipopolisakarida (LPS), adalah glikolipid thermostable yang ditemukan di membran sel luar bakteri gram negatif seperti Proteobacteria (mis., Escherichia coli). LPS yang berasal dari mikrobiota (selain bakteri patogen) dapat memicu perkembangan peradangan dan patologi metabolik. Kontrol faktor eksternal yang dapat memengaruhi endotoksemia Langkah penting untuk mengurangi kerugian performa hewan ternak. Lipopolisakarida (LPS) adalah susunan/lapisan utama dari dinding luar sel bakteri gram negatif. Banyak tulisan mengenai bagaimana komponen struktural ini dilepaskan selama destabilisasi dinding sel karena, misalnya, lisis bakteri yang diinduksi oleh antibiotik atau melalui aktivitas mitosis sederhana yang tidak menyebabkan kematian bakteri melainkan replikasi binernya. Begitu mereka tidak lagi terkait dengan struktur bakteri lainnya, LPS bebas memiliki aktivitas patogen yang signifikan. LPS dapat bertindak langsung mengganggu integritas tight junctions dan desmosom serta menciptakan ruang antara enterosit sehingga menjadi jalur masuk untuk bakteri dan virus pathogen. Selain itu, LPS memiliki aktivitas sinergis yang penting dengan toksin lain (seperti mikotoksin dan eksotoksin bakteri) dalam destabilisasi keseluruhan struktur usus dan menurunkan kapasitas pertahanan pada usus. (Antara enterosit; gambar 1). Namun, dalam kedua kasus tersebut, LPS tiba di bagian basolateral usus dan memasuki aliran darah. Faktor stres: Kepadatan ternak (jumlah ternak/m2 ) diketahui sebagai faktor stres pada ayam pedaging dan petelur. Kepadatan yang tinggi dapat membatasi kemampuan unggas untuk bergerak bebas dan secara langsung memengaruhi kompetisi antar hewan, serta kemampuan dalam mengakses pakan dan air. Selain itu, tingkat kepadatan yang tinggi juga mempengaruhi kualitas litter sumber emisi nitrogen yang berlebihan sehingga menimbulkan tingkat amonia yang tinggi. Pengaruh tingkat kepadatan terhadap kadar LPS dalam darah dapat dari salah satu uji coba digunakan untuk melihat efek kepadatan terkait fungsi pertahanan usus dan menemukan korelasi yang jelas antara jumlah hewan per meter persegi dan LPS (dinyatakan sebagai unit endotoksin/ml) dalam darah dari hewan sampel (Gambar 2). Faktor pengobatan dengan antibiotik: Penggunaan antibiotik sangat penting untuk terapi infeksi bakteri pada unggas namun di sisi lain, berdampak pada mikrobioma usus, beberapa bakteri komensal sensitif terhadap beberapa agen antibiotik dan akan mengakibatkan terjadinya lisis dan pelepasan sejumlah besar LPS bebas ke dalam lumen usus. Misalnya, setiap sel E. coli yang mengandung sekitar 100 gen akan menghasilkan lebih dari 3.000.000 LPS per bakteri dan dapat menimbulkan kerusakan karena tingkat LPS dalam aliran darah meningkat secara dramatis. Sebuah penelitian yang dilakukan di pusat penelitian Tsushima menunjukkan berbagai antibiotik yang menyebabkan lisisnya bakteri dan terjadinya pelepasan LPS. Hasilnya menunjukkan pengurangan trombosit secara bersamaan dengan pelepasan LPS (Gambar 3). Pengobatan antibiotik dapat menghasilkan pelepasan LPS bebas yang berlebih di lumen usus dan secara tidak langsung meningkatkan LPS ke dalam aliran darah. Mikotoksin: Mikotoksin tetap menjadi faktor terpenting yang mendukung aktivitas LPS secara sistemik dan selalu ada dalam bahan mentah dan banyak mikotoksin bekerja secara sinergis dengan LPS. Contoh utama adalah deoxynivalenol (DON), trichothecene yang diproduksi oleh Fusarium spp. yang mendukung agresi LPS melalui membran


Gambar 3 : Level LPS dan total platelet pada perlakuan hewan dengan pemberian antibiotik yang berbeda. Gambar 4: Tes ini dilakukan dengan adanya Salmonella tiphimurium dan DON yang bersinergi serta mengevaluasi pelepasan 2 sitokin pro-inflamasi (IL6 dan IL1) oleh makrofag dan monosit pada hewan yang diobati dengan kedua tantangan secara bersamaan dan terpisah. Pelepasan sitokin pro inflamasi merupakan akibat dari stimulasi oleh LPS ke makrofag dan monosit [6]. dengan lebih cepat. Sayangnya, DON bukan satu-satunya mikotoksin yang bekerja sama dengan LPS. Fumonisin, aflatoksin, toksin T2 dan lain-lain memiliki aktivitas tambahan yang terbukti sinergis dengan LPS. Selain itu, beberapa eksotoksin bakteri (misalnya dari E. coli dan Clostridium) juga terbukti memiliki efek yang serupa. Mikotoksin tidak hanya memiliki “penyerapan normal” oleh enterosit, tetapi mikotoksin yang berbeda dapat memiliki efek sinergis. Dan akan merusak penghalang/barrier usus dan mengeksploitasi jalur yang sama dengan LPS yang berakhir di sirkulasi darah. Sehingga sangat bahaya jika terjadi mikotoksikosis ditambah dengan endotoksikosis dari LPS, untuk itu sangat diiperlukan sistem manajemen risiko toksin yang efektif untuk mencegah segala bentuk kontaminasi mikotoksin. Tidak mungkin mengukur LPS dalam darah tanpa analisis darah pada sampel dari hewan hidup atau dalam lumen usus tanpa sampel cairan usus yang diambil selama nekropsi—keduanya bukan praktik umum. Namun, tidak seperti LPS, mikotoksin dapat dengan mudah dianalisis di laboratorium. Oleh karena itu, meskipun adanya bentuk mikotoksin masked1 (topeng/tersembunyi) yang dapat diperkirakan sebagai persentase (misalnya, kita tahu bahwa DON jagung dapat disamarkan antara 30 dan 50%), mikotoksin dapat dikuantifikasi dengan analisis HPLC umum. Sinergi antara mikotoksin dan LPS dapat dengan mudah dipahami. Hasil dari satu pengujian jelas menunjukkan aktivitas sinergis antara DON dan S. Tiphimurium [6]. LPS yang dilepaskan oleh bakteri ini menambah aktivitas DON yang sudah bersifat patogen seperti yang terlihat dengan stimulasi kaskade proinflamasi yang dihasilkan oleh pembentukan sitokin (IL1β dan IL6; gambar 4). Konsekuensi: Apa yang sebenarnya terjadi pada hewan saat tingkat LPS tinggi? apa dampak nyata dari LPS terhadap kinerja produksi? Di bawah ini adalah ringkasan dari gejala utama yang berhubungan dengan unggas, yang dapat menunjukkan adanya endotoksemia : 1. Penurunan feed intake 2. Gangguan penyerapan dan pemanfaatan nutrisi akibat gangguan fungsional epitel usus 3. Penurunan berat badan dan kenaikan FCR karena kebutuhan energi yang lebih besar untuk innate immune system dan proses peradangan 4. Gangguan performa reproduksi 5. Peningkatan stres oksidatif 6. Modulasi kekebalan, penekanan kekebalan akibat paparan endotoksin jangka panjang yang ditunjukkan dengan peningkatan kerentanan terhadap patogen dan/atau penurunan respon vaksinasi. Kesimpulan: Aktivitas LPS dalam darah hewan ternak memiliki dampak yang buruk pada performa produksi ternak dan khususnya menyebabkan kerugian ekonomi. Mengurangi jumlah LPS dalam darah adalah bagian dari manajemen peternakan. Beberapa faktor yang menentukan jumlah LPS dalam darah tidak dapat diukur atau dipengaruhi dan tidak berada di bawah kendali langsung kita. Namun, faktor eksternal lain yang diketahui dapat menentukan peningkatan endotoksemia dapat dikurangi dengan manajemen peternakan yang baik untuk meningkatkan performa produksi dan keuntungan ekonomi produk akhir. Solusi: Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, LPS mampu mengeksploitasi beberapa mikotoksin untuk aksi patogeniknya. Penurunan aktivitas LPS di usus berdampak pada barier usus dan jumlah LPS yang dapat melewati dan masuk ke sirkulasi darah. BioTox adalah pengikat toksin yang mengandung silikat aktif dan yeast cell wall, yang telah dipilih untuk memiliki kapasitas pengikatan toksin yang kuat. Dengan mempertimbangkan semua data diatas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas bahan pengikat (toxin binder) yang efektif dapat menghasilkan pengembalian investasi yang nyata dengan mampu mempertahankan tingkat FCR pakan yang optimal serta menjaga produktivitas hewan ternak. Adv 1) Bentuk masked mikotoksin adalah mikotoksin yang terikat dengan monosakarida atau disakarida (glukosilasi) sehingga tidak dapat dibaca dengan analisis normal dengan HPLC. Ikatan ini akan mudah dipotong oleh bakteri yang ada di usus dan DON akan ditemukan dalam bentuk bebas. Situasi ini mengarah pada risiko memiliki bagian mikotoksin aktif di lumen usus tanpa disadari oleh ahli gizi, karena tidak muncul dalam data analisis laboratorium. Mikotoksin dalam jumlah kecil ini memiliki efek yang sangat besar bila dikombinasikan dengan LPS bebas di lumen usus, terutama pada pelepasan sitokin proinflamasi oleh makrofag atau monosit.


Medion berkomitmen untuk menyediakan solusi yang inovatif dan menyeluruh melalui berbagai program sehingga dapat memberikan nilai tambah dan kontribusi yang optimal untuk semua pemangku kepentingan, termasuk bagi perguruan tinggi. Berkat komitmen dan kontribusinya, Medion mendapatkan penghargaan Itenas MBKM Partner dalam ajang Itenas Awards 2022. Itenas Awards 2022 merupakan penganugerahaan untuk insan Itenas (Institut Teknologi Nasional), seperti dosen, karyawan, mahasiswa, hingga mitra yang bekerja sama dengan baik dalam program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM). Kegiatan yang mengangkat tema “Celebrate the Excellence” ini juga sebagai lanjutan dari rangkaian Dies Natalis Itenas ke-50 yang diselenggarakan pada Kamis, (15/12) di Gedung Serba Guna (GSG) Bale Dayang Sumbi Itenas. Dihadiri oleh 200 orang yang terdiri dari jajaran Rektorat, Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi, dosen, karyawan serta mahasiswa. Penghargaan Itenas MBKM Partner diberikan langsung oleh Rektor Itenas Prof. Meilinda Nurbanasari, Ph.D. dan Ketua Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi Prof. Dr. Iwan Inrawan Wiratmadja kepada Alia Samsiah, HRD Assistant Manager. Apresiasi ini menjadi motivasi bagi Medion untuk terus berkontribusi dan menjalin kerja sama dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. PI 36 u Edisi Februari 2023 Medion Raih Penghargaan dalam Itenas Awards 2022 PERISTIWA Alia Samsiah, HRD Assistant Manager Medion (kedua dari kiri) menerima penghargaan Itenas MBKM Partner dalam Itenas Awards 2022 Dalam rangka merayakan ulang tahun yang ke-14, PT Ansell Jaya Indonesia menggelar acara perayaan 14th Anniversary bertajuk “Grow Better We Can!!” di hotel Aston Tropicana, Sabtu (7/1). Beragam kegiatan dilaksanakan untuk memeriahkan peringatan ulang tahun PT Ansell Jaya Indonesia, mulai dari seremoni ulang tahun dengan meniup dan memotong kue oleh para Jajaran Direksi hingga pemberian penghargaan kepada karyawan yang telah berkarya di PT Ansell Jaya Indonesia selama 5 dan 10 tahun. Selain itu, berbagai penampilan menarik dari para karyawan turut menambah kemeriahan dalam acara tersebut. Terlihat dalam rangkaian perayaan ulang tahun ini, hadir para Jajaran Direksi dan seluruh karyawan serta keluarga PT Ansell Jaya Indonesia. Kemudian, pada tahun ini perusahaan mengusung tema “Grow Better We Can”. Hal ini dilatarbelakangi oleh kiprah perjalanan PT Ansell Jaya Indonesia yang telah lebih dari satu dekade membangun peternakan modern bersama dengan ratusan peternak dari seluruh penjuru Indonesia. Dalam sambutannya, Direktur Utama PT Ansell Jaya Indonesia, Saidi Widjaja mengajak seluruh karyawan untuk PT Ansell Jaya Indonesia Gelar acara 14th Anniversary bertajuk “Grow Better We Can !!” mensyukuri atas perjalanan dan pencapaian perusahaan yang telah menginjak 14 tahun, bahkan mampu bertahan dari guncangan pandemi Covid-19 selama 3 tahun kebelakang. Selain itu, Saidi berharap agar kedepannya perusahaan harus terus bertumbuh. Menurutnya, acara ulang tahun ini merupakan ajang silaturahmi seluruh karyawan beserta keluarganya. “kita bersyukur atas semua ini, khususnya selama 3 tahun terakhir dimana masa pandemi Covid-19 kita masih bisa bertahan. Disaat banyak perusahaan lain harus tutup karena tidak bisa bertahan, jadi kita bersyukur untuk semuanya ini. Dan semua ini bisa terjadi karena anugerah Tuhan yang Maha Esa” Dirinya menambahkan, bersama dengan 13 partner dan para peternak di seluruh Indonesia, PT Ansell Jaya Indonesia berkomitmen untuk terus tumbuh dan berkembang dalam memberikan pelayanan dan kualitas terbaik demi terciptanya produk peternakan yang bermutu tinggi. PI


T epat 8 bulan setelah peletakan batu pertama dilakukan, akhirnya SKHB - JAPFA Poultry Health Research Farm secara sah diresmikan pada hari Selasa (24/01) oleh Rektor IPB University dan turut disaksikan oleh Komisaris Utama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA). SKHB - JAPFA Poultry Health Research Farm merupakan hasil kolaborasi antara Japfa dan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University. Dalam sambutannya, Rektor IPB University, Prof Arif Satria menyampaikan bahwa dengan diresmikannya SKHB - JAPFA Poultry Health Research Farm ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai sarana pendukung penelitian dan eksplorasi mendalam terkait kesehatan unggas. “Tentu hal ini juga sesuai dengan visi IPB University dalam mengedepankan riset dan inovasi, salah satunya di bidang pertanian dan biosains tropika. Pembangunan kandang penelitian ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh segenap civitas akademika untuk melakukan penelitian yang relevan dengan permasalahan ternak atau unggas,” jelasnya. Pada kesempatan yang sama Syamsir Siregar selaku Komisaris Utama JAPFA mengungkapkan bahwa sebagai penyedia protein hewani yang terjangkau dan berkualitas, JAPFA memiliki perhatian yang tinggi terhadap riset dan inovasi, utamanya perunggasan. Hal tersebut diwujudkan salah satunya melalui pembangunan SKHB - JAPFA Poultry Health Research Farm yang diresmikan hari ini. “Dengan adanya kerja sama dengan IPB University, diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama di bidang perunggasan, serta memiliki daya saing unggul di kancah internasional,” tegasnya. Untuk informasi SKHB - JAPFA Poultry Health Research Farm yang diresmikan ini memiliki luas bangunan 288 meter persegi yang dibangun di kawasan kampus IPB University, Dramaga, Bogor, Jawa Barat. Hibah kandang penelitian pemberian JAPFA tersebut ditaksir mencapai Rp 1,5 miliar. PI SKHB - JAPFA Poultry Health Research Farm Sah Diresmikan Menjadi peternak mandiri adalah suatu pilihan. Sebagai pahlawan ketahanan pangan nasional, maka sudah sepantasnya peternak mandiri mendapatkan kesejahteraan. Namun faktanya, saat ini peternak mandiri masih berkutat dengan lingkaran kerugian, yang disebabkan harga jual ayam hidup/livebird (LB) dibawah biaya produksi. Hal ini mengemuka dalam acara talkshow bertema “Peternak Mandiri, Aset Negeri”, yang digelar secara daring via YouTube channel Farmsco Indonesia, Selasa (31/1). Dalam kesempatannya Alvino Antonio selaku Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) mengungkapkan bahwa kondisi peternak mandiri di tahun 2023 masih mengalami kesulitan. Dikala harga sapronak yang tinggi, harga jual LB di tingkat peternak masih di bawah harga pokok produksi (HPP). “Tahun 2022 sampai 2023 ini, peternak mandiri masih mengalami kondisi rugi. Karena harga jual LB masih dibawah HPP. Padahal, kami sudah berupaya untuk meningkatkan performa ayam di kandang. HPP saat ini berada pada kisaran Rp19.000,00-20.000,00, sedangkan harga jual LB di tingkat peternak berada di kisaran Rp17.000-17.500,00/kg,” ungkapnya. Sebagai peternak mandiri, Alvino mengungkapkan, susah untuk mengontrol harga sarana produksi ternak (sapronak). Karena sapronak berkaitan langsung dengan perusahaan besar. Akan tetapi, dirinya bersama KPUN terus berupaya untuk memperjuangkan peningkatan harga jual LB di atas HPP. Salah satunya, KPUN terus aktif melakukan negosiasi kepada instansi yang terkait. “Disaat kondisi harga jual LB dibawah HPP, KPUN akan mendatangi Badan Pangan Nasional untuk meminta bantuan bahwa ayam peternak mandiri dapat diserap dengan harga acuan Perbadan No. 5 tahun 2022. Dengan kunjungan ini, ada juga peternak mandiri yang disubsidi oleh perusahaan-perusahaan tertentu. Memang ayam kami tidak dapat diserap 100%, namun dapat mengurangi nominal kerugian,” kata Alvino. Lebih lanjut, saat ini, harga jual LB di tingkat peternak dapat terjun bebas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat merangkak kembali. Dengan demikian, ia berharap Satuan Tugas Pangan dapat mengawal jalannya peternak mandiri dalam menjual LB di pasaran. Selain itu, ia berharap kepada pemerintah untuk membuat aturan mengenai adanya pemisahan pasar antara peternak kemitraan dengan peternak mandiri. “Peternak itu tidak bisa langsung tembus ke pasar. Karena disitu ada banyak sekali mata rantai yang sudah dikuasai oleh para mafia. Oleh sebab itu, saya berharap Satgas Pangan dapat turun ke pasar untuk stabilisasi harga LB. Karena ketika satgas pangan turun, maka semua mafia akan takut. Kemudian, saya berharap perusahaan integrasi tidak menjual LB, melainkan masuk ke rantai dingin dan sampai ke olahan, yang dimana pasar mereka mencakup hotel, restoran, katering, dan industri. Sedangkan peternak mandiri masuknya ke pasar tradisional,” harap Alvino. Yoga Keluh Kesah Peternak Mandiri Zainal Arifin Alvino Antonio Edisi Februari 2023 u 37


P rogram vaksinasi merupakan salah satu cara bagi para peternak untuk meningkatkan kekebalan tubuh ayam. Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari ayam itu sendiri, vaksin yang digunakan, pengaplikasiannya, hingga kondisi lapangan. Seluruh faktor keberhasilan vaksinasi broiler saling berkaitan satu sama lain. Ketidakseimbangan satu unsur dengan unsur lainnya akan menyebabkan kegagalan vaksinasi dan berimbas pada hasil. Untuk membahas hal ini, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry TechniClass Series #10 dengan tema “Pencegahan Kegagalan Vaksinasi Broiler” secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting, Kamis (26/1). Dalam materinya, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, MP., selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa tujuan vaksinasi adalah untuk memicu terbentuknya sistem kekebalan ayam sebelum ayam kontak dengan bibit penyakit, sehingga kekebalan yang akan dicapai adalah kolektif. Selain itu, vaksinasi juga melindngi ayam terhadap infeksi, mencegah kematian, gejala klinis, gangguan produksi (perumbuhan), hingga mencegah virus dari bereplikasi dan menekan proses shedding. Guna meminimalkan risiko kegagalan vaksinasi, peternak dan vaksinator wajib mengetahui beberapa hal. “Penting untuk kita mengidentifikasi problem penyakit di farm karena data tersebut bermanfaat untuk menentukan jenis vaksin yang akan diberikan, waktu pemberian diberikan, jumlah pemberian, dan apakah rutin atau insidental. Kalau kita sudah tahu penyakit apa yang ada di lapangan, maka kita harus mengerti mengenai vaksinnya. Vaksin harus memiliki proteksi yang baik, disimpan dan diberikan dengan cara yang disarankan,” terangnya. Lebih lanjut, Michael menekankan mengenai pemahaman peternak dan vaksinator akan faktor-faktor dalam strategi vaksin, yakni ayam, agen penyakit, vaksin, vaksinator, dan lingkungan. Ia mengatakan bahwa vaksinasi harus diprogramkan sebelum ayam kontak dengan agen penyakit. Menurutnya, dalam penggunaan vaksin, tugas peternak adalah memastikan informasi yang benar dari supplier mengenai cara penyimpanan dan aplikasinya. Senada dengan Michael, drh. Hari Wahyudi, selaku Technical Service Manager Poultry East Area PT. Boehringer Ingelheim Indonesia, juga mengatakan bahwa dalam kunci keberhasilan vaksinasi, imunitas yang tinggi difaktori oleh ayam, vaksin, dan administrasinya. Hari kemudian menjelaskan beberapa poin untuk melihat kualitas dari vaksin yang baik. Mulai dari efikasi hingga kemudahan aplikasi. Lalu, stabilitas vaksin juga penting untuk diketahui. Potensi vaksin harusnya tidak berkurang selama masa guna yang ditentukan, serta tahan terhadap berbagai kondisi cuaca dan lingkungan. “Oleh karena itu, sangat penting pula untuk mengetahui kemurnian vaksin, yang mana vaksin tidak boleh mengandung agen patogen lainnya agar potensinya tetap sama. Seluruh poin ini kemudian harus dilengkapi dengan kemudahan aplikasi di lapangan dan harga yang terjangkau,” jelas Hari. Diana 38 u Edisi Februari 2023 Cegah Kegagalan Vaksinasi Broiler PERISTIWA


P oultry Indonesia menggelar webinar Poultry Indonesia Forum ke-25 dengan tema “Prediksi Penyakit Unggas 2023” untuk memberikan gambaran kepada publik mengenai penyakit pada unggas. Selain itu hal ini juga sebagai peringatan dini bagi para peternak bahwasanya masalah gangguan kesehatan yang mengganggu kegiatan budi daya masyarakat masih menjadi ancaman nyata, sekaligus memberikan gambaran langkah – langkah yang bisa diambil oleh para peternak untuk meminimalisir kerugian akibat gangguan kesehatan tersebut. Dalam kesempatannya, Andi Ricki Rosali, selaku peternak layer dan broiler, memaparkan pengalamannya mengenai kejadian penyakit unggas di lapangan selama tahun 2022. Beberapa penyakit yang seringkali ditemukan pada peternakan broiler miliknya adalah Tetelo (Newcastle Disease), Gumboro (Infectious Bursal Disease), Avian Influenza (AI), dan Coryza (Snot). Sedangkan penyakit yang seringkali ia temukan pada peternakan layernya adalah Infectious Bronchitis, Tetelo, Egg Drop Syndrome, dan Coryza. “Selaku peternak, yang bisa kami lakukan adalah tindakan preventif sebelum penyakit-penyakit tersebut masuk ke kandang. Lokasi farm yang berdekatan dengan farm lain serta riwayat adanya penyakit di area tersebut juga membuat ayam rentan. terangnya pada acara yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (18/1) tersebut. Sementara itu, Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, selaku Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKBH) IPB University, mengatakan bahwa penyakit pada unggas yang seringkali menyerang adalah penyakit saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Wayan mengatakan bahwa pemeliharaan ternak unggas ditopang oleh 3 pilar, yakni bibit, pakan, dan manajemen, termasuk manajemen pemeliharaan dan penyakit di dalamnya. “Dalam manajemen kesehatan, keseimbangan nutrisi atau kualitas pakan sangat menentukan performa ayam, sehingga saya tekankan jangan terlalu berkompromi dengan kualitas pakan. Stres intrinsik, seperti ayam yang tumbuh cepat, dan stres ekstrinsik dari vaksinasi, kepadatan, suhu, kelembaban, amoniak, dan lainnya, juga memiliki dampaknya sendiri,” ujarnya. Masih dalam acara yang sama, drh. Fauzi Iskandar, selaku Veterinary Services Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, mengatakan bahwa tantangan peternakan di Indonesia masih didominasi oleh kepadatan antar kandang yang tinggi, kepadatan flok yang tinggi, dan kandang yang menerapkan prinsip multi age pada layer. Berdasarkan data Diseases Surveillance oleh Ceva, penyakit yang akan muncul di tahun 2023 adalah Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, Infectious Bursal Diseases, Inclusion Body Hepatitis, dan Avian Influenza. Meski begitu, Fauzi mengatakan bahwa Tetelo masih menjadi fokus utama. “Tetelo atau Newcastle Disease (ND) masih menjadi fokus kami bersama. Ditemukan pada tahun 1926 di Indonesia, jelas saja Indonesia menjadi negara endemis atau high-risk untuk penyakit Tetelo,” pungkasnya. Diana PERISTIWA Waspada Hadapi Penyakit Unggas 2023 I Wayan Teguh Wibawan Andi Ricki Rosali Fauzi Iskandar 40 u Edisi Februari 2023


P oultry Indonesia menggelar webinar Poultry Indonesia Forum ke-25 dengan tema “Prediksi Penyakit Unggas 2023” untuk memberikan gambaran kepada publik mengenai penyakit pada unggas. Selain itu hal ini juga sebagai peringatan dini bagi para peternak bahwasanya masalah gangguan kesehatan yang mengganggu kegiatan budi daya masyarakat masih menjadi ancaman nyata, sekaligus memberikan gambaran langkah – langkah yang bisa diambil oleh para peternak untuk meminimalisir kerugian akibat gangguan kesehatan tersebut. Dalam kesempatannya, Andi Ricki Rosali, selaku peternak layer dan broiler, memaparkan pengalamannya mengenai kejadian penyakit unggas di lapangan selama tahun 2022. Beberapa penyakit yang seringkali ditemukan pada peternakan broiler miliknya adalah Tetelo (Newcastle Disease), Gumboro (Infectious Bursal Disease), Avian Influenza (AI), dan Coryza (Snot). Sedangkan penyakit yang seringkali ia temukan pada peternakan layernya adalah Infectious Bronchitis, Tetelo, Egg Drop Syndrome, dan Coryza. “Selaku peternak, yang bisa kami lakukan adalah tindakan preventif sebelum penyakit-penyakit tersebut masuk ke kandang. Lokasi farm yang berdekatan dengan farm lain serta riwayat adanya penyakit di area tersebut juga membuat ayam rentan. terangnya pada acara yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (18/1) tersebut. Sementara itu, Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, selaku Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKBH) IPB University, mengatakan bahwa penyakit pada unggas yang seringkali menyerang adalah penyakit saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Wayan mengatakan bahwa pemeliharaan ternak unggas ditopang oleh 3 pilar, yakni bibit, pakan, dan manajemen, termasuk manajemen pemeliharaan dan penyakit di dalamnya. “Dalam manajemen kesehatan, keseimbangan nutrisi atau kualitas pakan sangat menentukan performa ayam, sehingga saya tekankan jangan terlalu berkompromi dengan kualitas pakan. Stres intrinsik, seperti ayam yang tumbuh cepat, dan stres ekstrinsik dari vaksinasi, kepadatan, suhu, kelembaban, amoniak, dan lainnya, juga memiliki dampaknya sendiri,” ujarnya. Masih dalam acara yang sama, drh. Fauzi Iskandar, selaku Veterinary Services Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, mengatakan bahwa tantangan peternakan di Indonesia masih didominasi oleh kepadatan antar kandang yang tinggi, kepadatan flok yang tinggi, dan kandang yang menerapkan prinsip multi age pada layer. Berdasarkan data Diseases Surveillance oleh Ceva, penyakit yang akan muncul di tahun 2023 adalah Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, Infectious Bursal Diseases, Inclusion Body Hepatitis, dan Avian Influenza. Meski begitu, Fauzi mengatakan bahwa Tetelo masih menjadi fokus utama. “Tetelo atau Newcastle Disease (ND) masih menjadi fokus kami bersama. Ditemukan pada tahun 1926 di Indonesia, jelas saja Indonesia menjadi negara endemis atau high-risk untuk penyakit Tetelo,” pungkasnya. Diana PERISTIWA Waspada Hadapi Penyakit Unggas 2023 I Wayan Teguh Wibawan Andi Ricki Rosali Fauzi Iskandar 40 u Edisi Februari 2023 Dengan membawa berbagai spanduk berisi tuntutan, sekitar 60 peternak unggas mandiri yang tergabung dalam Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) kembali menggelar aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (10/1). Demonstrasi ini menyasar 3 tempat, yakni Kementerian Perdagangan (Kemendag), Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), serta PT Farmsco Feed Indonesia. Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio mengatakan, harga livebird (LB) mulai turun lagi sejak momen Natal 2022 atau sekitar tanggal 26 Desember 2022 lalu. Yang mana harga LB sempat di angka Rp15.000,00/kg terutama di wilayah Jawa Tengah, yang merupakan pusat populasi ayam ras pedaging. Harga ini tentu berada jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) peternak yaitu Rp 19.500 –20.500 /kg, dan bertahan hingga saat ini. Sedangkan harga karkas di level konsumen cenderung stabil, berkisar Rp33.000, 00–35.000,00/kg. Menurutnya jatuhnya harga LB di Jawa Tengah, membuat harga LB di Jawa Barat tertekan, yang mencapai Rp17.500, 00/ Kembali Demonstrasi, Peternak UMKM Mandiri Minta Livebird Diserap Pemerintah kg. Ketika Jateng tsunami LB, maka berdampak bagi wilayah lain, terutama ayam yang di supply ke Jabodetabek. Penurunan harga di bawah HPP terjadi cukup lama. “Informasi yang kami terima terjadi oversupply, tapi informasinya tidak begitu jelas. Karena kalau oversupply itu ayam di kandang tidak laku, dan ayam itu ada yang dibuang, tetapi hal itu tidak terjadi. Selain itu, masih banyak perusahaan integrator yang melakukan budi daya dan menjual LB nya ke pasar becek. Yang mana pasar ini sama dengan peternak UMKM mandiri. Bahkan para integrator menjual LB dengan harga sangat murah, sampai di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No. 5/2022 yakni Rp21.000,00 –Rp23.000,00/kg di level peternak. Dengan ini maka peternak umkm mandiri tidak akan bisa bersaing,” jelas Alvino. Sandi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendorong pengembangan peternakan modern berbasis teknologi presisi yang mampu memproduksi kebutuhan dalam negeri secara konsisten. Hal ini disampaikan SYL saat membuka Rapat Koordinasi Teknis Nasional (Rakorteknas) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Rabu, (25/1) melalui rilis tertulis kepada awak media. “Peternakan modern harus kita dorong. Misalnya kandangnya tidak bau, setiap hari berproduksi dan kandangnya sudah terintegrasi dengan pengolahan. Soal modal saya berharap bisa menggunakan KUR (kredit usaha rakyat),” katanya. Prioritas 2023, Mentan SYL Dorong Pengembangan Peternakan Modern Berbasis Teknologi Presisi Karena itu, SYL berharap kolaborasi dan sinergitas pemerintah daerah dan pusat terus diperkuat untuk menjaga produksi yang ada dalam menguatkan ketahanan produk ternak Indonesia. Terutama dalam hal pembagian tugas dan fungsi kerja masing-masing unit kerja. “Pembagian tugas sangat penting untuk menentukan langkah apa yang akan kita ambil. Misalnya dirjen apa, gubernur apa, kadis apa, direktur apa, dan lainnya. Berbagi tugas itu penting dan harus dikontrol efektivitasnya. Sekali lagi gunakan semua kekuatan kita untuk menjaga kebutuhan daging Indonesia,” katanya. Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nasrullah mengatakan bahwa pemerintah telah menyusun strategi dalam menghadapi krisis pangan dunia. Di antaranya peningkatan kapasitas produksi pangan untuk komoditas daging sapi, kerbau, ayam ras, ayam buras, dan babi. “Kemudian kita juga melakukan pengembangan terhadap pangan substitusi impor seperti daging domba/kambing dan itik untuk substitusi daging sapi,” katanya. Disisi lain, kementan juga terus meningkatan kapasitas produk dan peningkatan laju ekspor seperti produk sarang burung walet, ayam, dan telur ayam ke berbagai negara di Asia. “Kami akan mengembangkan komoditas ternak prioritas berbasis korporasi, presisi dan terintegrasi melalui sinergi pelaku usaha dengan program penyediaan ternak 10 juta ekor melalui pengembangan kambing atau domba, itik dan ayam,” jelasnya. PI Edisi Februari 2023 u 41


42 u Edisi Februari 2023 PERISTIWA I ndustri ayam pedaging (broiler) merupakan industri peternakan yang memiliki kemajuan yang sangat pesat dibandingkan dengan industri peternakan lainnya. Namun demikian, industri ini tengah mengalami gejolak dan tantangan yang luar biasa. Yang mana harga jual livebird (LB) ditingkat peternak sangat berfluktuatif seperti roller coaster. Hal ini menjadi persoalan nyata yang tengah dialami oleh para peternak. Hal ini diungkapkan secara langsung oleh Prastyo Ruanddhito, Chief Executive Officer (CEO) BroilerX dalam sebuah acara daring melalui media Youtube yang mengangkat tema “Teknologi Tepat Guna Penentu Daya Saing Perunggasan Indonesia,” Rabu (1/2). Menurutnya, kondisi semacam ini juga menjadi konsen bagi BroilerX, bagaimana membantu peternak untuk terus bisa berusaha di tengah tantangan dan persaingan yang luar biasa. Salah satunya adalah dengan melakukan budi daya seefisien mungkin. “Sebagai Penggunaan Teknologi untuk Mencapai Efisiensi langkah awal, kita memulai dari titik manajemen budi daya, dengan menekan biaya sebanyak mungkin dengan terus memperhatikan performa produksi. Jadi efisiensi saat ini menjadi harga mati pada industr ini, dan teknologi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut,” tegasnya dalam acara bertajuk Jumpa Publik, Indonesia Livestock Alliance ini. Prastyo menambahkan, BroilerX memfokuskan diri pada penyediaan teknologi digital untuk perunggasan dengan memiliki berbagai alternatif solusi untuk meningkatkan efisiensi budidaya broiler, seperti BroilerX Apps, IoT dengan Artificial Intelligence dan BroilerX Enterprise Resource Planning (ERP). Selain itu saat ini pihaknya juga sedang mengembangkan smart camera untuk melakukan timbangan secara otomatis dan feed meter untuk melakukan pengukuran konsumsi pakan secara real. Terkait hilirisasi, menurut Prastyo salah satu permasalahan yang seringkali muncul adalah ketepatan bobot badan dalam proses pemanenan. Sedangkan apabila telah mempunyai pasar spesifik, hal tersebut tidak bisa diterima, dan yang ada barang akan direject. “Untuk itu BroilerX telah mengembangkan smart camera, yang mana teknologi ini dapat mengklasifikasi kelompok ayam berdasarkan bobotnya, sehingga ketika dipanen dan menuju pemotongan, ayam telah seragam dan tidak ada lagi reject dari pasar. Dan teknologi ini telah kami terapkan di internal farm kami dalam kurun 4-5 siklus, dan secara selisih deviasi antara real dan penggunaan smart camera hanya antara 1,5-2%. Teknologi ini masih terus kami kembangkan dan pada waktunya akan kami laporkan,” jelas Prastyo. Sandi P ertemuan yang diinisiasi oleh Ombudsman Republik Indonesia yang terselenggara di Ruang Antonius Sujata, Gedung Ombudsman RI, Kuningan, Jakarta Selatan Selasa (17/1) ini dilatarbelakangi atas investigasi yang diprakarsai oleh Ombudsman Republik Indonesia terkait dengan solusi atas nasib para peternak yang mengadu kepada Ombudsman RI. Acara tersebut dihadiri oleh Anggota Ombudsman RI Hendra Yeka Fatika, Sekjen Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi, dan Direktur Perbibitan dan Produksi Ditjen PKH Kementan Agung Suganda. Menurut Yeka Fatika, Ombudsman dalam investigasinya berlandaskan pada 3 aturan yang ada yaitu Pasal 33 ayat 4 UUD 1945 yang disebutkan bahwa bahwa perekonomian nasional diselenggarakan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan Ombudsman RI Bahas Perlindungan dan Pemberdayaan Peternak lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan dan kesatuan ekonomi nasional. “Dalam UU tersebut, disebutkan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan dan kesatuan ekonomi nasional. Inilah dasar filosofi ekonomi yang dibangun Indonesia atas Pasal 33 ayat 4 UUD 1945. Persaingan antara pelaku usaha terintegrasi dengan peternak rakyat atau peternak mandiri ini kalau tidak dijaga tidak akan membuat usaha ini berlanjut. Efisiensi tidak akan bisa dicapai dengan baik, dan prinsip kebersamaan tentunya tidak akan terwujud,” papar Yeka. Domi


42 u Edisi Februari 2023 PERISTIWA I ndustri ayam pedaging (broiler) merupakan industri peternakan yang memiliki kemajuan yang sangat pesat dibandingkan dengan industri peternakan lainnya. Namun demikian, industri ini tengah mengalami gejolak dan tantangan yang luar biasa. Yang mana harga jual livebird (LB) ditingkat peternak sangat berfluktuatif seperti roller coaster. Hal ini menjadi persoalan nyata yang tengah dialami oleh para peternak. Hal ini diungkapkan secara langsung oleh Prastyo Ruanddhito, Chief Executive Officer (CEO) BroilerX dalam sebuah acara daring melalui media Youtube yang mengangkat tema “Teknologi Tepat Guna Penentu Daya Saing Perunggasan Indonesia,” Rabu (1/2). Menurutnya, kondisi semacam ini juga menjadi konsen bagi BroilerX, bagaimana membantu peternak untuk terus bisa berusaha di tengah tantangan dan persaingan yang luar biasa. Salah satunya adalah dengan melakukan budi daya seefisien mungkin. “Sebagai Penggunaan Teknologi untuk Mencapai Efisiensi langkah awal, kita memulai dari titik manajemen budi daya, dengan menekan biaya sebanyak mungkin dengan terus memperhatikan performa produksi. Jadi efisiensi saat ini menjadi harga mati pada industr ini, dan teknologi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut,” tegasnya dalam acara bertajuk Jumpa Publik, Indonesia Livestock Alliance ini. Prastyo menambahkan, BroilerX memfokuskan diri pada penyediaan teknologi digital untuk perunggasan dengan memiliki berbagai alternatif solusi untuk meningkatkan efisiensi budidaya broiler, seperti BroilerX Apps, IoT dengan Artificial Intelligence dan BroilerX Enterprise Resource Planning (ERP). Selain itu saat ini pihaknya juga sedang mengembangkan smart camera untuk melakukan timbangan secara otomatis dan feed meter untuk melakukan pengukuran konsumsi pakan secara real. Terkait hilirisasi, menurut Prastyo salah satu permasalahan yang seringkali muncul adalah ketepatan bobot badan dalam proses pemanenan. Sedangkan apabila telah mempunyai pasar spesifik, hal tersebut tidak bisa diterima, dan yang ada barang akan direject. “Untuk itu BroilerX telah mengembangkan smart camera, yang mana teknologi ini dapat mengklasifikasi kelompok ayam berdasarkan bobotnya, sehingga ketika dipanen dan menuju pemotongan, ayam telah seragam dan tidak ada lagi reject dari pasar. Dan teknologi ini telah kami terapkan di internal farm kami dalam kurun 4-5 siklus, dan secara selisih deviasi antara real dan penggunaan smart camera hanya antara 1,5-2%. Teknologi ini masih terus kami kembangkan dan pada waktunya akan kami laporkan,” jelas Prastyo. Sandi P ertemuan yang diinisiasi oleh Ombudsman Republik Indonesia yang terselenggara di Ruang Antonius Sujata, Gedung Ombudsman RI, Kuningan, Jakarta Selatan Selasa (17/1) ini dilatarbelakangi atas investigasi yang diprakarsai oleh Ombudsman Republik Indonesia terkait dengan solusi atas nasib para peternak yang mengadu kepada Ombudsman RI. Acara tersebut dihadiri oleh Anggota Ombudsman RI Hendra Yeka Fatika, Sekjen Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi, dan Direktur Perbibitan dan Produksi Ditjen PKH Kementan Agung Suganda. Menurut Yeka Fatika, Ombudsman dalam investigasinya berlandaskan pada 3 aturan yang ada yaitu Pasal 33 ayat 4 UUD 1945 yang disebutkan bahwa bahwa perekonomian nasional diselenggarakan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan Ombudsman RI Bahas Perlindungan dan Pemberdayaan Peternak lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan dan kesatuan ekonomi nasional. “Dalam UU tersebut, disebutkan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan dan kesatuan ekonomi nasional. Inilah dasar filosofi ekonomi yang dibangun Indonesia atas Pasal 33 ayat 4 UUD 1945. Persaingan antara pelaku usaha terintegrasi dengan peternak rakyat atau peternak mandiri ini kalau tidak dijaga tidak akan membuat usaha ini berlanjut. Efisiensi tidak akan bisa dicapai dengan baik, dan prinsip kebersamaan tentunya tidak akan terwujud,” papar Yeka. Domi L ebih dari 1.000 peserta mengikuti acara Vet & Family Fun Walk dalam rangka peringatan HUT Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Ke-70 yang terselenggara di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu (29/1). Secara resmi PDHI sebagai organisasi profesi yang menaungi dokter hewan seluruh Indonesia lahir pada 1953. Selain memperingati bertambahnya usia PDHI, acara ini dihelat dalam rangka silaturahmi dan meningkatkan eksistensi. Dalam sambutannya, drh. Ani Juwita Handayani selaku Ketua Panitia HUT PDHI Ke-70 menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut membantu kesuksesan acara ini. Ia menjelaskan bahwa acara jalan sehat ini diikuti oleh 1.000 lebih perserta yang terdiri dari dokter hewan beserta keluarga, mahasiswa dan masyarakat umum. “Acara ini merupakan wujud kecintaan kita pada lingkungan dan satwa. Harapannya kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat nasionalisme, kolaborasi dan kerja sama dokter hewan Indonesia. Semoga acara ini dapat mempererat semangat silaturahmi dan persaudaraan dokter kita dan semoga semangat kekompakan selalu menyertai kita,” harapnya. Sementara itu, Dr. drh. Muhammad Munawaroh, MM. selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) menyampaikan syukur bahwa PDHI tahun ini telah mencapai umur ke-70 tahun. Menurutnya kiprah panjang ini tentu tak bisa lepas dari peran aktif para senior pendahulu. Peringati HUT Ke-70 PDHI, Kobarkan Semangat Sinergi dan Kolaborasi “Alhamdulillah banyak hal yang telah kita perbuat dan torehkan. Namun demikian, PDHI masih punya banyak sekali PR dan kita harus berjuang dan tidak boleh berhenti. Bahwa PDHI harus bisa menjadi organisasi profesi yang mampu memberikan naungan dan perlindungan bagi anggotanya,” jelas pria yang akrab disapa Munawaroh ini pada acara yang bertajuk ‘PDHI Bersinergi dan Berkolaborasi untuk Negeri’. Ia melanjutkan bahwa, pada kesempatan ini dokter hewan boleh berbangga, karena PDHI telah mempunyai rumah yang bernama Graha Dokter Hewan Indonesia. Gedung ini menjadi representasi dokter hewan Indonesia. Selain itu Munawaroh menyebutkan bahwa PDHI telah mempunyai berbagai fasilitas yang sesuai dengan perkembangan zaman, seperti aplikasi myPDHI yang dapat digunakan oleh seluruh dokter hewan Indonesia untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat. “Pada kesempatan ini kami menghimbau dan mengajak untuk bersama membawa PDHI menjadi organisasi yang profesional, transparan, akuntabel, Semarak kemeriahan tergambar dalam peringatan Hari Ulang Tahun Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia yang genap berusia 70 tahun. Semarak sinergi dan kolaborasi dalam acara ini. Edisi Februari 2023 u 43 modern, maju dan selalu memberikan manfaat untuk bangsa dan negara. Selain itu, saya juga memohon doa dukungannya, karena kembali diberi amanah memimpin PDHI hingga 2026. Pada periode ini, kami pengurus mempunyai cita-cita untuk mensejahterakan dokter hewan Indonesia. Disamping itu, kepengurusan baru PDHI juga diisi oleh generasi muda yang bisa melanjutkan kepemimpinan PDHI ke depan. Semoga kepengurusan ini menjadi kepengurusan yang kompak, solid, bersinergi dan berkolaborasi untuk menuju cita-cita bersama,” harapnya. Dalam acara tersebut, PDHI juga memberikan penghargaan kepada beberapa insan yang dinilai memiliki kontribusi positif di dunia kedokteran hewan Indonesia. Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah drh. Jiyono Notokesumo (Alm.) sebagai pencipta Mars Dokter Hewan, yang diwakili oleh sang putra yakni drh R. Nurcahyo. Dirinya mengungkapkan terima kasih dan menyampaikan rasa bangganya kepada PDHI atas penghargaan yang telah diberikan. “Terima kasih kepada PDHI atas penghargaan yang telah diberikan. Semoga PDHI semakin eksis, semakin berkontribusi untuk Indonesia dan semakin jaya. Sangat membanggakan mendengar lagu ciptaan almarhum dinyanyikan oleh ribuan dokter hewan di sini,” tuturnya. Selain itu insan lain yang juga mendapatkan penghargaan dari PDHI adalah artis dan presenter Irfan Hakim. Dirinya dinilai mampu memberikan kontribusi positif sebagai publik figur yang menjadi penggagas edukasi pecinta Hewan di Masyarakat. Irfan juga dinilai membuat profesi dokter hewan semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia melalui kanal youtube deHakims yang tengah dikembangkannya. “Dari kecil saya sudah mencintai dan hidup bersama hewan. Dan saat ini saya memelihara banyak sekali hewan, mulai dari reptil, mamalia, burung, ikan dan hewan lainnya. Nah salah satu tanggung jawab kita, ketika memutuskan untuk memelihara hewan adalah bagaimana menjamin kesejahteraannya, baik makanannya, tempat tinggal dan kesehatannya. Untuk itu dalam kehidupan saya, banyak sekali berinteraksi dengan dokter hewan. Jadi hari ini sangat senang bisa berkumpul dengan para dokter hewan. Di ulang tahun PDHI ke-70, saya ucapkan selamat. Semoga dokter hewan semakin maju, modern, kompak, ilmu dan peralatannya semakin baik,” ujarnya. Selain di Jakarta, kegiatan peringatan HUT PDHI ke-70 diselenggarakan pula diberbagai wilayah Indonesia, seperti di Lampung, Sumatra Selatan, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan wilayah lainnya dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti kegiatan seminar, bakti sosial, pelayanan kesehatan, jalan santai, vet goes to school hingga penanaman pohon. Selamat ulang tahun yang ke-70 PDHI, semoga PDHI menjadi asosiasi profesi yang semakin jaya, solid, dan terus berkontribusi dalam pembangunan peternakan dan perunggasan di Indonesia. PDHI Bersinergi dan Berkolaborasi Untuk Negeri, Viva Veteriner! Adv drh. Munawarah berikan penghargaan kepada Irfan Hakim Vet & Family Fun Walk dalam rangka perayaan HUT PDHI ke-70 digelar di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu (29/1).


Oleh : M Faiq Irfan Maulana* 44 u Edisi Februari 2023 Lika-Liku Pemenuhan Daging Ayam di Kawasan Timur Tengah Daging ayam menjadi salah satu pangan penting bagi masyarakat di Timur Tengah. Kendati demikian, mayoritas negara di kawasan ini harus mengimpor daging ayam untuk memenuhi permintaan yang terus mengalami peningkatan. S ecara geografis, Timur Tengah merupakan wilayah yang terletak di Asia Barat dan memanjang hingga ke wilayah Afrika. Tidak ada daftar pasti negara-negara Timur Tengah. Namun banyak sumber yang mengatakan bahwa kawasan ini terdiri dari 17 negara. Selain kekayaan minyak buminya, kawasan Timur Tengah juga memiliki sejarah panjang terkait peradaban agamanya. Banyak agama besar berasal dari wilayah ini, seperti Kristen, Yudaisme dan tentu saja Islam. Agama Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh penduduk di mayoritas kawasan Timur Tengah. Dari sisi ekonomi, kekuatan perekonomian Timur Tengah sangatlah bervariasi. Pasalnya ada beberapa negara yang sangat kaya, sementara yang lain sangat miskin. Seperti Arab Saudi yang termasuk salah satu negara terkaya, yang mana negara ini merupakan salah satu negara di Timur Tengah dengan sumber daya minyak yang luar biasa, sehingga sektor ekonominya ditopang oleh bidang tersebut. Daerah lain di Timur Tengah, seperti Turki dan Israel, memiliki perekonomian yang jauh lebih beragam seperti tekstil, peternakan, pertanian, kapas, dan perbankan. Melansir laman www. worldpopulationreview.com, menjelaskan bahwa pada tahun 2023 kawasan Timur Tengah diperkirakan memiliki populasi lebih dari 483 juta orang yang tersebar di 17 negara. Angka populasi ini sekitar 6,03% dari total populasi global. Kemudian masih dari sumber yang sama, populasi Timur Tengah diperkirakan akan terus tumbuh pesat di masa mendatang. Di sisi lain, perkembangan jumlah penduduk ini tentunya diikuti dengan tantangan dalam pemenuhan akan pangan masyarakatnya. Dari segi pangan asal hewan, produk perunggasan mempunyai peran penting bagi negara-negara di Timur Tengah. Hal ini tergambar dari tingkat konsumsi masyarakatnya yang tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), menunjukkan perkiraan tingkat konsumsi/kapita/tahun daging ayam negara-negara di Timur Tengah pada tahun 2023, di antaranya Israel 65,8 kg/kapita/tahun ; Saudi Arabia 34,7 kg/ kapita/tahun ; Iran 24,1 kg/kapita/tahun ; Turki 20,1 kg/kapita/tahun ; dan Mesir 11,7 kg/kapita/tahun. Tingkat konsumsi daging ayam masyarakat Timur Tengah yang cukup Tabel 1. Produksi daging unggas di Kawasan Timur Tengah berdasarkan jenisnya Meat Type Production (1000 ton) Share (%) Chicken 8,210.1 96.5 Turkey 170.6 2.0 Duck 77.1 0.9 Goose 31.5 0.4 Other 15.0 0.2 Total 8,504.3 100.0 Sumber : Database Food and Agriculture Organization Gambar 1. Perusahaan penghasil broiler terbesar di Timur Tengah


Oleh : M Faiq Irfan Maulana* 44 u Edisi Februari 2023 Lika-Liku Pemenuhan Daging Ayam di Kawasan Timur Tengah Daging ayam menjadi salah satu pangan penting bagi masyarakat di Timur Tengah. Kendati demikian, mayoritas negara di kawasan ini harus mengimpor daging ayam untuk memenuhi permintaan yang terus mengalami peningkatan. S ecara geografis, Timur Tengah merupakan wilayah yang terletak di Asia Barat dan memanjang hingga ke wilayah Afrika. Tidak ada daftar pasti negara-negara Timur Tengah. Namun banyak sumber yang mengatakan bahwa kawasan ini terdiri dari 17 negara. Selain kekayaan minyak buminya, kawasan Timur Tengah juga memiliki sejarah panjang terkait peradaban agamanya. Banyak agama besar berasal dari wilayah ini, seperti Kristen, Yudaisme dan tentu saja Islam. Agama Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh penduduk di mayoritas kawasan Timur Tengah. Dari sisi ekonomi, kekuatan perekonomian Timur Tengah sangatlah bervariasi. Pasalnya ada beberapa negara yang sangat kaya, sementara yang lain sangat miskin. Seperti Arab Saudi yang termasuk salah satu negara terkaya, yang mana negara ini merupakan salah satu negara di Timur Tengah dengan sumber daya minyak yang luar biasa, sehingga sektor ekonominya ditopang oleh bidang tersebut. Daerah lain di Timur Tengah, seperti Turki dan Israel, memiliki perekonomian yang jauh lebih beragam seperti tekstil, peternakan, pertanian, kapas, dan perbankan. Melansir laman www. worldpopulationreview.com, menjelaskan bahwa pada tahun 2023 kawasan Timur Tengah diperkirakan memiliki populasi lebih dari 483 juta orang yang tersebar di 17 negara. Angka populasi ini sekitar 6,03% dari total populasi global. Kemudian masih dari sumber yang sama, populasi Timur Tengah diperkirakan akan terus tumbuh pesat di masa mendatang. Di sisi lain, perkembangan jumlah penduduk ini tentunya diikuti dengan tantangan dalam pemenuhan akan pangan masyarakatnya. Dari segi pangan asal hewan, produk perunggasan mempunyai peran penting bagi negara-negara di Timur Tengah. Hal ini tergambar dari tingkat konsumsi masyarakatnya yang tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), menunjukkan perkiraan tingkat konsumsi/kapita/tahun daging ayam negara-negara di Timur Tengah pada tahun 2023, di antaranya Israel 65,8 kg/kapita/tahun ; Saudi Arabia 34,7 kg/ kapita/tahun ; Iran 24,1 kg/kapita/tahun ; Turki 20,1 kg/kapita/tahun ; dan Mesir 11,7 kg/kapita/tahun. Tingkat konsumsi daging ayam masyarakat Timur Tengah yang cukup Tabel 1. Produksi daging unggas di Kawasan Timur Tengah berdasarkan jenisnya Meat Type Production (1000 ton) Share (%) Chicken 8,210.1 96.5 Turkey 170.6 2.0 Duck 77.1 0.9 Goose 31.5 0.4 Other 15.0 0.2 Total 8,504.3 100.0 Sumber : Database Food and Agriculture Organization Gambar 1. Perusahaan penghasil broiler terbesar di Timur Tengah Edisi Februari 2023 u 45 tinggi ini tak mayoritas negara di kawasan ini merupakan penganut agama Islam, sehingga tidak ada larangan agama dalam mengonsumsi jenis daging ini. Produksi dan perdagangan daging unggas Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO), pada tahun 2020, 17 negara di kawasan Timur Tengah mampu memproduksi 8,2 miliar ton daging ayam, yang mayoritas berasal dari ayam ras pedaging. Angka ini mendominasi produksi daging unggas di kawasan Timur Tengah dengan proporsi 96,5% dan menyumbang sekitar 6,9% dari produksi daging ayam secara global. Selain itu juga terdapat beberapa produksi unggas lain, seperti kalkun, itik dan angsa, namun produksinya tidak signifikan. Dalam dinamikanya, perkembangan sektor perunggasan di Timur Tengah turut didorong oleh berbagai perusahaan besar yang ada di berbagai negara di kawasan tersebut. Berdasarkan Poultry Trends WATT Global, pada tahun 2022 perusahaan Arab Company for Livestock Development (ACOLID) menyembelih 603,4 juta ekor broiler/tahun. Yang mana ACOLID merupakan perusahaan saham gabungan yang berbasis di Arab Saudi dan dimiliki oleh 12 negara Arab. Melalui beberapa anak perusahaan, ACOLID menjelma sebagai perusahaan terintegrasi dan bergerak di bidang pembibitan, feedmill, produksi hingga pengolahan. Posisi kedua ditempati oleh Al-Watania yang mampu menyembelih sekitar 300,0 juta ekor broiler/tahun. Sama halnya dengan ACOLID, perusahaan ini juga berpusat di Saudi Arabia. Pada gambar 1. ditunjukkan produksi broiler di Timur Tengah. Kemudian, apabila dilihat dari produksi daging ayam setiap negara, Iran (27%) dan Turki (26%) merupakan negara dengan produksi daging ayam terbesar di Kawasan Timur Tengah. Disusul dengan Mesir dan Saudi Arabia menempati posisi berikutnya dengan porsi produksi berturut-turut 16,3% dan 11,0%. Sedangkan Israel, sebagai negara yang mempunyai tingkat konsumsi daging unggas/kapita tertinggi dengan 65,8 kg/tahun, hanya menempati urutan kelima dalam hal produksi dengan proporsi 7%. Disisi lain, berbicara terkait supply demand daging ayam, nampaknya mayoritas negara di kawasan Timur Tengah masih banyak bergantung dari negara luar dalam pemenuhan daging ayamnya. Hal ini seperti artikel yang ditulis oleh Hans-Wilhelm Windhorst, seorang Profesor Tamu di University of Veterinary Medicine Hannover, Jerman dengan judul “Patterns of the poultry industry in the Middle East and Africa (MEA) region”. Dalam tulisannya Hans menyebutkan bahwa kecuali Turki dan Iran, negara-negara di Timur Tengah tidak mampu memenuhi peningkatan permintaan daging ayam dengan produksi dalam negeri. Dalam artian sebagian besar negara di Timur Tengah harus mengimpor daging ayam untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Dalam artikelnya, Hans menjelaskan bahwa total ekspor daging ayam di kawasan Timur Tengah pada tahun 2020 sebesar 692,4 ribu ton. Dari angka ini Turki menjadi negara yang mencatatkan volume ekspor terbesar (75,4%) dan diikuti oleh Iran (7,2%). Selanjutnya yang menarik adalah beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman mengekspor beberapa impor daging ayamnya ke negara-negara yang berdekatan. Sedangkan untuk volume impor daging ayam Timur Tengah memperlihatkan jumlah yang lebih besar, yakni berkisar 2,2 miliar ton selama tahun 2020. Dari jumlah tersebut, Arab Saudi (27.8%) menempati posisi teratas sebagai negara yang paling besar melakukan impor daging ayam, disusul oleh Uni Emirat Arab (21.4%) dan Irak (19.3%). Masih dalam sumber yang sama, dijelaskan bahwa Brasil merupakan negara utama sebagai tujuan impor daging ayam berbagai negara di Timur Tengah. Sedangkan Amerika Serikat, sebagai salah satu produsen daging ayam terbesar di dunia memperoleh pangsa pasar yang lebih tinggi di Uni Emirat Arab. Dengan dinamika yang terjadi, Hans menilai bahwa impor daging ayam akan di Timur Tengah akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya beli yang semakin tinggi akan mengakibatkan permintaan yang terus meningkat. *Alumni AlAzhar University, Kairo, Mesir Gambar 2. Tingkat produksi, import dan export daging ayam di kawasan Timur Tengah (Sumber : Database FAO)


46 u Edisi Februari 2023 Tingkatkan Produksi Tinggi dan Optimal dengan Hy-Line Brown Max Indonesia memiliki peran penting dalam penyediaan telur baik di wilayah regional maupun internasional. K omoditas pangan yang digemari dan banyak di konsumsi oleh masyarakat Indonesia salah satunya ialah telur. Dalam pemenuhan ketersediaan telur diperlukan upaya khusus dari hulu dalam penyediaan telur yang berkualitas bagi masyarakat. Atas dasar hal tersebut, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan HyLine International menyelenggarakan seminar untuk mengedukasi para peternak. Melalui seminar bertemakan CPI Layer Seminar 2023, “Hy-Line Brown Max Advantages Worldwide” menjadi bagian dari rangkaian roadshow PT CPIN dan Hy-Line dalam memperkenalkan strain baru, kegiatan ini diselenggarakan di Bali, Jakarta, Lampung, Makassar, Medan, Semarang dan Surabaya, (9-19/1). Eric C Handoko selaku Regional Head PT CPIN Jawa Barat dan Banten mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan untuk berdiskusi sekaligus memperkenalkan salah satu lini produk baru dari kerjasama antara PT CPIN dan Hy-Line International yaitu HyLine Brown Max. “Saya berharap semoga dalam seminar ini para pembicara, tamu undangan, dan peserta seminar bisa melakukan diskusi yang mendalam tentang teknik pemeliharaan strain baru yaitu HyLine Brown Max dan memberikan manfaat bagi para peserta yang telah memelihara strain HyLine ini maupun bagi pelanggan kami yang baru akan mencoba,”papar Eric di Hotel Mercure Alam Sutera, Rabu, (18/1). Memasuki sesi pemaparan materi, Thomas M Dixon selaku Hy-Line International Global Product Manager membuka sesi pertama presentasi dengan pembahasan mengenai potensi komoditas telur secara global. Menurutnya telur memiliki kandungan gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, sehingga kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi telur setiap hari perlu digugah. Kandungan protein di dalam telur merupakan kandungan yang terbaik, menurut Thomas, telur mengandung zat kolin sebagai nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan manusia. “Berbicara tentang telur maka kita berbicara tentang superfood. Telur juga sangat baik untuk semua kalangan, baik untuk anak kecil hingga lansia,” ucap Thomas. Oleh sebab itu, Thomas menilai bahwa prospek masa depan bisnis telur masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Dengan produksi telur sekitar 250 juta butir per tahunnya menjadikan posisi Indonesia sangat krusial karena menjadi 5 besar produsen telur secara global. “Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang jika dilihat dari konsumsi per kapita yang masih rendah, mengingat telur digemari oleh semua lapisan masyarakat,” papar Thomas. Produksi tinggi dan optimal dengan Hy-Line Brown Max Untuk mendukung penyediaan telur untuk konsumsi masyarakat, maka dibutuhkan dukungan dari ternak yang mampu memberikan produksi telur tinggi, namun tetap menguntungkan bagi masyarakat. Maka untuk menjawab tantangan tersebut Hy-Line International telah menyiapkan strain ayam ras petelur yang tangguh dan mampu berproduksi secara efisien melalui Hy-Line Brown Max, sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang optimal bagi para peternak. Menurut Thomas, Hy-Line Brown Max merupakan strain ayam petelur yang sangat efisien karena didukung oleh seleksi genetik secara terus menerus dan dilakukan oleh para ahli genetik dari Hy-Line International. Dalam 3 tahun terakhir tim ahli genetik dari Hy-Line membuat perubahan yang penting dan signifikan untuk meningkatkan efisiensi dalam melakukan seleksi genetik. “Hy-Line memiliki 3 research farm yang mampu meningkatkan intensitas seleksi genetik, kami menargetkan 3-5% ayam yang terbaik dari yang terbaik. Para ahli genetik terus melakukan research di laboratorium untuk mendapatkan ayam terbaik,” papar Thomas. Masih menurut Thomas, strain Hy-Line Brown Max diklaim memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi lapangan, bahkan jika kondisi lapangan terebut kurang ideal untuk pemeliharaan ayam ras petelur. Strain ini diklaim memiliki tingkat toleransi tinggi terhadap stres, dan cekaman panas. “Selain itu strain kami juga memiliki persentase yang tinggi untuk masa produksi telur. Untuk urusan kerabang, kami menjamin telur yang dihasilkan cukup resisten terhadap benturan untuk ayam yang telah berproduksi setelah umur 50 minggu, dan memiliki warna kerabang yang lebih gelap terutama di umur awal produksi,” jelas Thomas. Tak hanya itu, keunggulan lain dari Hy-Line Brown Max menurut Thomas adalah mampu memproduksi telur dengan bobot 1,5 gram lebih Eric C Handoko Hani Wijaya I Made Dewa Santana Thomas M Dixon Jakarta, 18 Januari 2023 Makassar, 9 Januari 2023


46 u Edisi Februari 2023 Tingkatkan Produksi Tinggi dan Optimal dengan Hy-Line Brown Max Indonesia memiliki peran penting dalam penyediaan telur baik di wilayah regional maupun internasional. K omoditas pangan yang digemari dan banyak di konsumsi oleh masyarakat Indonesia salah satunya ialah telur. Dalam pemenuhan ketersediaan telur diperlukan upaya khusus dari hulu dalam penyediaan telur yang berkualitas bagi masyarakat. Atas dasar hal tersebut, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan HyLine International menyelenggarakan seminar untuk mengedukasi para peternak. Melalui seminar bertemakan CPI Layer Seminar 2023, “Hy-Line Brown Max Advantages Worldwide” menjadi bagian dari rangkaian roadshow PT CPIN dan Hy-Line dalam memperkenalkan strain baru, kegiatan ini diselenggarakan di Bali, Jakarta, Lampung, Makassar, Medan, Semarang dan Surabaya, (9-19/1). Eric C Handoko selaku Regional Head PT CPIN Jawa Barat dan Banten mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan untuk berdiskusi sekaligus memperkenalkan salah satu lini produk baru dari kerjasama antara PT CPIN dan Hy-Line International yaitu HyLine Brown Max. “Saya berharap semoga dalam seminar ini para pembicara, tamu undangan, dan peserta seminar bisa melakukan diskusi yang mendalam tentang teknik pemeliharaan strain baru yaitu HyLine Brown Max dan memberikan manfaat bagi para peserta yang telah memelihara strain HyLine ini maupun bagi pelanggan kami yang baru akan mencoba,”papar Eric di Hotel Mercure Alam Sutera, Rabu, (18/1). Memasuki sesi pemaparan materi, Thomas M Dixon selaku Hy-Line International Global Product Manager membuka sesi pertama presentasi dengan pembahasan mengenai potensi komoditas telur secara global. Menurutnya telur memiliki kandungan gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, sehingga kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi telur setiap hari perlu digugah. Kandungan protein di dalam telur merupakan kandungan yang terbaik, menurut Thomas, telur mengandung zat kolin sebagai nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan manusia. “Berbicara tentang telur maka kita berbicara tentang superfood. Telur juga sangat baik untuk semua kalangan, baik untuk anak kecil hingga lansia,” ucap Thomas. Oleh sebab itu, Thomas menilai bahwa prospek masa depan bisnis telur masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Dengan produksi telur sekitar 250 juta butir per tahunnya menjadikan posisi Indonesia sangat krusial karena menjadi 5 besar produsen telur secara global. “Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang jika dilihat dari konsumsi per kapita yang masih rendah, mengingat telur digemari oleh semua lapisan masyarakat,” papar Thomas. Produksi tinggi dan optimal dengan Hy-Line Brown Max Untuk mendukung penyediaan telur untuk konsumsi masyarakat, maka dibutuhkan dukungan dari ternak yang mampu memberikan produksi telur tinggi, namun tetap menguntungkan bagi masyarakat. Maka untuk menjawab tantangan tersebut Hy-Line International telah menyiapkan strain ayam ras petelur yang tangguh dan mampu berproduksi secara efisien melalui Hy-Line Brown Max, sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang optimal bagi para peternak. Menurut Thomas, Hy-Line Brown Max merupakan strain ayam petelur yang sangat efisien karena didukung oleh seleksi genetik secara terus menerus dan dilakukan oleh para ahli genetik dari Hy-Line International. Dalam 3 tahun terakhir tim ahli genetik dari Hy-Line membuat perubahan yang penting dan signifikan untuk meningkatkan efisiensi dalam melakukan seleksi genetik. “Hy-Line memiliki 3 research farm yang mampu meningkatkan intensitas seleksi genetik, kami menargetkan 3-5% ayam yang terbaik dari yang terbaik. Para ahli genetik terus melakukan research di laboratorium untuk mendapatkan ayam terbaik,” papar Thomas. Masih menurut Thomas, strain Hy-Line Brown Max diklaim memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi lapangan, bahkan jika kondisi lapangan terebut kurang ideal untuk pemeliharaan ayam ras petelur. Strain ini diklaim memiliki tingkat toleransi tinggi terhadap stres, dan cekaman panas. “Selain itu strain kami juga memiliki persentase yang tinggi untuk masa produksi telur. Untuk urusan kerabang, kami menjamin telur yang dihasilkan cukup resisten terhadap benturan untuk ayam yang telah berproduksi setelah umur 50 minggu, dan memiliki warna kerabang yang lebih gelap terutama di umur awal produksi,” jelas Thomas. Tak hanya itu, keunggulan lain dari Hy-Line Brown Max menurut Thomas adalah mampu memproduksi telur dengan bobot 1,5 gram lebih Eric C Handoko Hani Wijaya I Made Dewa Santana Thomas M Dixon Jakarta, 18 Januari 2023 Makassar, 9 Januari 2023 berat dari sebelumnya pada umur 40 minggu untuk urusan feed intake, strain ini mampu mengonsumsi 2 gram pakan per hari lebih banyak, dan memberikan bobot afkir sebesar 50 gram lebih berat, sehingga cocok untuk mengisi ceruk pasar layer afkir di Indonesia. Rambu – rambu dalam pemeliharaan ayam ras petelur Dalam memelihara ayam ras petelur, para peternak perlu memahami pemeliharaan ayam untuk memunculkan potensi genetik terbaiknya. I Made Dewa Santana selaku Hy-Line South East Asian Technical Service Manager menyatakan bahwa peternak perlu memerhatikan beberapa rambu – rambu pemeliharaannya. “Di tiap – tiap umur pertumbuhan ayam ras memiliki peran dan fungsi khusus yang berbeda, sehingga yang perlu diperhatikan oleh para peternak jangan hanya berfokus pada pertambahan berat badan akan tetapi harus juga memerhatikan seluruh kesatuan sistem pada ayam tersebut,” ujar Santana. Tubuh ayam menurut Santana, merupakan sebuah kesatuan sistem yang sangat kompleks, dimana perkembangan saluran pencernaan dan organ imunitas terbentuk pada umur enam minggu. “Bisa dikatakan pada fase brooding merupakan fase untuk perkembangan saluran pencernaan dan sistem imun, tetapi ketika pertumbuhan dalam periode tersebut tidak optimal, maka potensi ternak untuk mengalami gangguan kesehatan akan meningkat,” ungkap Santana. Selanjutnya pada periode pemeliharaan 6 - 16 minggu menurut Santana, sedang terjadi proses pembentukan frame atau jika dianalogikan seperti sebuah pabrik, maka periode tersebut merupakan periode pembentukan besar atau kecilnya sebuah kapasitas produksi pada sebuah pabrik. “Jika pada periode tersebut tidak mencapai target yang sudah ditentukan, maka otomatis frame yang dimiliki oleh ayam tersebut tidak akan optimal, otomatis produksi telur nantinya tidak akan sebesar ayam dengan frame yang sesuai dengan target yang ditentukan. Akan sangat terlihat nantinya di umur 16 sampai dengan masa produksi ketika ayam tersebut tidak mencapai target dari periode 0-16 minggu,” pungkas Santana. Tantangan nutrisi ayam ras petelur Pembicara selanjutnya dalam seminar tersebut yaitu Hani Wijaya selaku nutrisionis dari PT CPIN yang membahas tentang tantangan yang dihadapi saat ini oleh nutrisionis untuk memenuhi kebutuhan ayam ras petelur. Menurutnya tantangan yang mesti diatasi oleh para nutrisionis adalah aspek ketersediaan bahan baku, kecernaan dari pakan itu sendiri, kesesuaian nutrisi dan menekan kehilangan nutrisi, serta meningkatkan efisiensi. “Jadi untuk mengoptimalkan keempat komponen tersebut, maka kami mempersiapkan nutrisi yang ada di dalam pakan dengan menghitung ulang kebutuhan nutrisi dari strain Hy-Line Brown Max supaya bisa berproduksi dengan optimal,” papar Hani. Untuk mendukung periode awal dari masa pemeliharaan menurut Hani kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan adalah energi, begitu pula ketika memasuki fase produksi yang mana banyak sekali membutuhkan kalsium. “Inilah yang kami lakukan dimana kami menghitung ulang nilai kecernaan dari pakan tersebut, dimana setiap kandungan nutrisi akan dievaluasi secara terus menerus menyesuaikan dengan kebutuhan dari layer yang dipelihara,” ungkap Hani. Untuk tantangan dari kecernaan sebuah pakan menurut Hani ada dua upaya yang dilakukan oleh tim formulator pakan. Aspek pertama yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana ukuran partikel dari pakan yang digunakan untuk memaksimalkan kecernaan pakan. “Selain proses pelleting kami juga memiliki beberapa perlakuan khusus terhadap pakan supaya bisa tercerna dengan maksimal, juga memberi perhatian khusus untuk bahan pakan yang berpotensi menimbulkan kendala pada proses pelleting seperti bahan pakan yang tinggi akan kandungan minyak untuk meningkatkan kecernaan,” papar Hani. Adv Budiyanto (Peternak Layer Sukabumi) : Saya mengucapkan terima kasih kepada HyLine karena dengan strain yang disediakan oleh Hy-Line saya bisa mendapat ayam dengan performa yang baik. Ivan Natawijaya (Anugerah Abadi Farm Kabupaten Bogor) Setelah adanya seminar ini, saya sebagai peternak menjadi lebih mengetahui tentang keunggulan dari strain Hy-Line Brown Max dan dapat memaksimalkan performa melalui proses pemeliharaan yang telah banyak dijelaskan. Testimoni Surabaya, 19 Januari 2023 Semarang, 12 Januari 2023 Lampung, 13 Januari 2023 Bali, 11 Januari 2023 Medan, 16 Januari 2023


48 u Edisi Februari 2023 Memasuki tahun baru, tentu harapan perbaikan perunggasan terus dipanjatkan. Tak hanya terkait harga, regulasi perlindungan bagi peternak menjadi sebuah hal yang diperjuangkan. CATATAN HARGA Momentum pergantian tahun selalu menjadi waktu yang ditunggu para pelaku usaha perunggasan. Pasalnya pada waktu tersebut terdapat perayaan Natal dan tahun baru serta bebarengan dengan liburan akhir tahun. Tentu secara psikologis, peternak akan berharap terjadinya peningkatan serapan yang membuat harga telur dan livebird (LB) on farm ikut terkerek naik. Untuk itu memasuki tahun 2023 tentu membawa harapan tersendiri bagi para peternak. Betapa tidak, begitu mirisnya kondisi para peternak ayam ras pedaging selama tahun 2022 di mana permasalahan terkait serapan ayam hidup yang fluktuatif selalu terjadi. Terhitung sejak bulan Juli 2022 terpantau tingkat harga LB terus berfluktuasi dan cenderung berada di level bawah. Dengan kondisi itu tentu harapan baru di tahun baru terus digaungkan oleh para peternak ayam ras pedaging agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan tetap menjalani usaha budi daya dengan penuh semangat. Kondisi berbeda dialami oleh para peternak ayam ras petelur. Walaupun sempat terseok-seok di awal tahun 2022, namun secara perlahan harga telur sudah bisa bangkit dan mencatatkan kestabilan pada pertengahan hingga akhir tahun 2022. Pergerakan harga di permulaan tahun Di awal tahun 2023, harga LB tingkat peternak terpantau masih mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Pinsar Indonesia selama bulan Januari 2023, harga LB di beberapa daerah pantauan masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No 5 tahun 2022 yakni Rp21.000,00 –23.000,00/kg. Seperti halnya yang terjadi di Bogor sebagai salah satu sentra produksi LB di pulau Jawa yang mendapatkan harga jual dikisaran Rp16.500,00-19.000,00/kg. Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Pasalnya harga jual LB di daerah tersebut berada dikisaran Rp14.500- 17.000,00/kg. Tak hanya di Jawa, tren penurunan harga juga terjadi di Medan, Sumatra Utara. Yang mana pada awal bulan Januari tingkat harga di angka Rp24.000,00/ kg, dan terus mengalami penurunan hingga terendah mencapai Rp16.750,00/ kg. Sedangkan wilayah Balikpapan masih mencatatkan harga LB yang stabil tinggi. Sementara itu, harga komoditas telur di tingkat peternak masih mampu mempertahankan posisinya. Yang mana tingkat harga selama bulan Januari 2023 masih sesuai dengan HAP Perbadan No 5 tahun 2022, yakni Rp22.000,00- 24.000,00/kg. Berdasarkan Grafik 2, terlihat beberapa daerah pantauan memiliki tingkat harga yang masih berada di atas rata-rata HAP Perbadan. Harga terendah terjadi di daerah Blitar, sebagai sentra produksi telur di kisaran harga Rp23.450,00/kg. Sedangkan harga tertinggi tercatat di tingkat harga Rp28.50,00/kg terjadi di daerah Balikpapan. Bebasnya persaingan, peternak harapkan perlindungan Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio mengatakan, harga LB mulai turun lagi sejak momen Natal 2022 atau sekitar tanggal 26 Desember 2022 lalu. Yang mana harga LB sempat di angka Rp15.000,00/kg terutama di wilayah Jawa Tengah, yang merupakan pusat populasi ayam ras pedaging. Harga Harga Belum Aman, Peternak Mengharap Perlindungan Peternak ayam ras pedaging masih harus bersabar karena rendahnya harga LB yang terjadi


48 u Edisi Februari 2023 Memasuki tahun baru, tentu harapan perbaikan perunggasan terus dipanjatkan. Tak hanya terkait harga, regulasi perlindungan bagi peternak menjadi sebuah hal yang diperjuangkan. CATATAN HARGA Momentum pergantian tahun selalu menjadi waktu yang ditunggu para pelaku usaha perunggasan. Pasalnya pada waktu tersebut terdapat perayaan Natal dan tahun baru serta bebarengan dengan liburan akhir tahun. Tentu secara psikologis, peternak akan berharap terjadinya peningkatan serapan yang membuat harga telur dan livebird (LB) on farm ikut terkerek naik. Untuk itu memasuki tahun 2023 tentu membawa harapan tersendiri bagi para peternak. Betapa tidak, begitu mirisnya kondisi para peternak ayam ras pedaging selama tahun 2022 di mana permasalahan terkait serapan ayam hidup yang fluktuatif selalu terjadi. Terhitung sejak bulan Juli 2022 terpantau tingkat harga LB terus berfluktuasi dan cenderung berada di level bawah. Dengan kondisi itu tentu harapan baru di tahun baru terus digaungkan oleh para peternak ayam ras pedaging agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan tetap menjalani usaha budi daya dengan penuh semangat. Kondisi berbeda dialami oleh para peternak ayam ras petelur. Walaupun sempat terseok-seok di awal tahun 2022, namun secara perlahan harga telur sudah bisa bangkit dan mencatatkan kestabilan pada pertengahan hingga akhir tahun 2022. Pergerakan harga di permulaan tahun Di awal tahun 2023, harga LB tingkat peternak terpantau masih mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Pinsar Indonesia selama bulan Januari 2023, harga LB di beberapa daerah pantauan masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No 5 tahun 2022 yakni Rp21.000,00 –23.000,00/kg. Seperti halnya yang terjadi di Bogor sebagai salah satu sentra produksi LB di pulau Jawa yang mendapatkan harga jual dikisaran Rp16.500,00-19.000,00/kg. Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Pasalnya harga jual LB di daerah tersebut berada dikisaran Rp14.500- 17.000,00/kg. Tak hanya di Jawa, tren penurunan harga juga terjadi di Medan, Sumatra Utara. Yang mana pada awal bulan Januari tingkat harga di angka Rp24.000,00/ kg, dan terus mengalami penurunan hingga terendah mencapai Rp16.750,00/ kg. Sedangkan wilayah Balikpapan masih mencatatkan harga LB yang stabil tinggi. Sementara itu, harga komoditas telur di tingkat peternak masih mampu mempertahankan posisinya. Yang mana tingkat harga selama bulan Januari 2023 masih sesuai dengan HAP Perbadan No 5 tahun 2022, yakni Rp22.000,00- 24.000,00/kg. Berdasarkan Grafik 2, terlihat beberapa daerah pantauan memiliki tingkat harga yang masih berada di atas rata-rata HAP Perbadan. Harga terendah terjadi di daerah Blitar, sebagai sentra produksi telur di kisaran harga Rp23.450,00/kg. Sedangkan harga tertinggi tercatat di tingkat harga Rp28.50,00/kg terjadi di daerah Balikpapan. Bebasnya persaingan, peternak harapkan perlindungan Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio mengatakan, harga LB mulai turun lagi sejak momen Natal 2022 atau sekitar tanggal 26 Desember 2022 lalu. Yang mana harga LB sempat di angka Rp15.000,00/kg terutama di wilayah Jawa Tengah, yang merupakan pusat populasi ayam ras pedaging. Harga Harga Belum Aman, Peternak Mengharap Perlindungan Peternak ayam ras pedaging masih harus bersabar karena rendahnya harga LB yang terjadi Edisi Februari 2023 u 49 Grafik 1. Harga livebird (LB) di tingkat peternak Januari 2023 Sumber : www.pinsarindonesia.com, diolah Poultry Indonesia ini tentu berada jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) peternak yaitu Rp 19.500 –20.500 /kg, dan bertahan hingga saat ini. Sedangkan harga karkas di level konsumen cenderung stabil, berkisar Rp33.000, 00–35.000,00/kg. Menurutnya jatuhnya harga LB di Jawa Tengah, membuat harga LB di Jawa Barat tertekan, yang mencapai Rp17.500, 00/kg. Ketika Jateng tsunami LB, maka berdampak bagi wilayah lain, terutama ayam yang di supply ke Jabodetabek. Penurunan harga di bawah HPP terjadi cukup lama. “Informasi yang kami terima terjadi oversupply, tapi informasinya tidak begitu jelas. Karena kalau oversupply itu ayam di kandang tidak laku, dan ayam itu ada yang dibuang, tetapi hal itu tidak terjadi. Selain itu, masih banyak perusahaan integrator yang melakukan budi daya dan menjual LB nya ke pasar becek. Yang mana pasar ini sama dengan peternak UMKM mandiri. Bahkan para integrator menjual LB dengan harga sangat murah, sampai di bawah HAP Perbadan No. 5/2022 yakni Rp 21.000 –23.000/kg di level peternak. Dengan ini maka peternak umkm mandiri tidak akan bisa bersaing,” jelas Alvino saat aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (10/1). Kemudian menurut Alvino meskipun integrator menjual murah, namun bagi integrator kerugian cenderung sedikit bahkan tidak mengalami kerugian sama sekali. Hal ini dikarenakan integrator mampu memproduksi DOC, pakan, obatobatan, bahkan channel distribusi sendiri yang tersistem dengan bekerja sama dengan para broker. “Sedangkan kami peternak UMKM mandiri, membeli sapronak DOC dan pakan dari mereka. Tentu dengan harga yang mahal jadi kami kalah bersaing disini. Untuk itu kami mendesak untuk segera membuat draft Rancangan Peraturan Presiden tentang Perlindungan Peternak Rakyat Ayam Ras. Sebagaimana diamanatkan UU No.18/2009 Jo; UU 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pasal 33 ketentuan lebih lanjut mengenai Budidaya sebagaimana dimaksud Pasal 27-Pasal 32 diatur dengan Peraturan Presiden” tegasnya. Sementara itu, Yesi Yuni Astuti selaku Ketua Koperasi Srikandi Blitar Sejahtera menjelaskan bahwa setelah momen Natal dan tahun baru, harga telur arahnya cenderung turun. Yang mana pada akhir tahun 2022, di Blitar harganya masih di atas Rp24.000,00/kg, sedangkan saat ini rata-rata harganya di angka Rp23.300,00- 23.500,00. “Padahal apabila melihat HPP di peternak kita di kisaran Rp23.600,00- 23.900,00/kg. Mungkin karena momen sudah berlalu, dan momen nasional lain belum terjadi. Walaupun di daerah saat ini mulai masuk bulan Rajab dimana banyak yang mengadakan hajatan. Seharusnya tidak ada alasan untuk turun, tapi tidak tahu kenapa harga belum bisa terangkat,” jelasnya saat dihubungi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Rabu (25/1). Lebih lanjut dirinya merasakan bahwa saat ini tantangan di peternak ayam ras petelur adalah terkait regulasi. Hal ini dikarenakan saat ini, banyak perusahaan yang telah ikut main di ranah budidaya. Apabila regulasinya tidak kuat dalam melindungi peternak mandiri kecil, maka persaingannya akan tidak seimbang. “Tentu peternak seperti kami akan kalah. Makanya kami berharap adanya aturan main yang jelas. Misal untuk perusahaan besar, main di pasar ekspor. Biar pasar nasional ini dipenuhi oleh peternak UMKM seperti kami. Mungkin hal ini seperti yang terjadi di bisnis pedaging, dan di bisnis petelur yang saya lihat arahnya kesana. Dan hal ini merupakan ancaman yang serius,” jelasnya. Yesi berharap kepada pemangku kebijakan untuk segera melakukan revisi HAP. Karena menurutnya Perbadan yang saat ini berlaku, dikeluarkan sebelum kenaikan BBM. Dengan adanya kenaikan BBM seharusnya HAP nya juga diubah. Karena semua sudah pada naik, dan faktanya seperti itu, sedangkan kalau peternak ikut menaikkan harga maka akan ada ancaman operasi pasar. “Untuk itu saya berharap HAP ini bisa direvisi mengikuti kenaikan BBM. Selain itu, kami juga berharap segera adanya regulasi perlindungan peternak UMKM, sehingga aturan mainnya jelas dan kompetisinya sehat. Untuk itu perlu adanya peran pemerintah sebagai wasit dan pengatur pembangunan perunggasan nasional ini,” harap Yesi. Sandi Grafik 2. Harga telur ayam ras di tingkat peternak Januari 2023 Sumber : www.pinsarindonesia.com, diolah Poultry Indonesia


Gumbonal sebagai antiseptik saluran kemih selama 3-5 hari supaya dapat mengurangi angka kematian. Selain itu, ayam yang terinfeksi Gumboro akan mengalami imunosupresif sehingga rentan terjadi infeksi sekunder. Apabila disertai dengan infeksi bakterial maka berikan antibiotik yang tidak memperberat kerja ginjal (Neo Meditril/Proxan-S). Sedangkan jika disertai dengan infeksi koksidiosis dapat diberikan tambahan antikoksidia yang aman untuk ginjal bengkak (Toltradex/Therapy). Langkah terakhir adalah dengan menurunkan jumlah agen infeksi di lapangan dengan melakukan desinfeksi kandang dan peralatan menggunakan Neo Antisep/Antisep. Strategi Pencegahan Gumboro Kunci utama untuk mengendalikan penyakit viral seperti Gumboro adalah meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan meminimalkan tantangan bibit penyakit di lapangan. Berikut adalah beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan: • Lakukan kosong kandang dengan optimal dimulai dengan mengeluarkan tempat pakan, minum dan sekam. Kemudian tempat pakan dan minum dicuci lalu didesinfeksi. Untuk kandang juga perlu dicuci menggunakan detergen hingga keseluruhan kandang bersih. Selanjutnya desinfeksi menggunakan Formades dan waktu kosong kandang yang disarankan minimal 14 hari terhitung sejak kandang bersih. Namun apabila pada periode pemeliharaan sebelumnya terjadi kasus Gumboro, maka waktu kosong kandang memerlukan waktu yang lebih lama karena virus Gumboro dapat bertahan lama di lingkungan. • Vaksinasi yang tepat ikut menentukan keberhasilan pencegahan kasus Gumboro. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan vaksinasi Gumboro yaitu ketepatan jadwal program vaksinasi, pemilihan vaksin dan aplikasi vaksinasi. Pilihan program vaksinasi yang pertama dapat menggunakan vaksin imun kompleks (Medivac Gumboplex) pada umur 0-1 hari secara injeksi subkutan. Pilihan vaksin lainnya adalah menggunakan vaksin live konvensional (Medivac gumboro A/Medivac Gumboro B) melalui tetes mulut atau air minum. Dalam menentukan jadwal vaksinasi pertama dengan vaksin ini dapat dibantu dengan pengujian antibodi maternal terhadap Gumboro sehingga lebih akurat dalam melihat penurunan antibodi maternal. Serta dapat dibantu dengan mempertimbangkan riwayat kasus sebelumnya. Pada ayam pedaging vaksinasi cukup dilakukan satu kali, namun untuk ayam petelur perlu dilakukan pengulangan kembali dengan jarak 10-14 hari dari vaksinasi pertama mengguanakan Medivac Gumboro A/Medivac Gumboro B. • Penerapan biosecurity yang tepat perlu dilakukan untuk meminimalkan bibit penyakit di lingkungan. Biosecurity menjadi benteng utama untuk mencegah suatu penyakit masuk ke dalam peternakan. Terapkan tiga zona biosecurity di peternakan serta juga prinsip isolasi, pembatasan lalu lintas dan sanitasi. Bersihkan dan desinfeksi kandang dan peralatan secara rutin serta kendalikan keberadaan vektor seperti kumbang franky dengan Delatrin. • Optimalkan manajemen pemeliharaan mulai dari brooding. Brooding membawa pengaruh yang sangat besar terhadap performa ayam dan terjadinya infeksi penyakit seperti Gumboro. Manajemen brooding yang baik akan mempengaruhi perkembangan organ tubuh ayam baik pencernaan, kekebalan, maupun pengaturan termoregulasi. Adv Tanya Bagaimana penanganan ayam terkena Gumboro? Umur ayam 3 minggu, sudah 3 hari ini terkena Gumboro, total kematian sudah lebih dari 100 ekor dalam 3 hari ini. Sdr. Rika P Email : [email protected] Jawab: Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan. Gumboro atau Infectious Bursal Disease merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari famili Birnaviridae, genus Avibirnavirus. Biasanya penyakit ini menyerang ayam muda berumur 3 – 6 minggu pada saat bursa Fabricius berkembang optimal karena target utamanya adalah sel limfoid bursa Fabricius yang sudah matang. Beberapa faktor predisposisi dari penyakit ini adalah manajemen brooding dan biosecurity yang kurang optimal, adanya faktor imunosupresan, keberadaan vektor, program vaksinasi kurang tepat serta waktu istirahat kandang yang kurang optimal. Penularan Gumboro terjadi secara horizontal dari ayam yang sakit melalui leleran tubuh atau kotoran (feses) baik secara langsung atau tidak langsung. Selain itu keberadaan kumbang franky dapat menjadi vektor mekanik yang menularkan Gumboro. Umumnya rute infeksi terjadi melalui oral bersama pakan yang terkontaminasi virus dan masuk ke dalam sistem pencernaan. Kemudian virus akan bereplikasi di sel target pada bursa Fabricius dan menyebabkan peradangan. Gejala klinis apabila ayam terserang Gumboro adalah gemetar, demam, bulu kusam, nafsu makan turun, lesu dan diare putih. Ayam yang bertahan hidup setelah terinfeksi akan mengalami pertumbuhan yang terhambat dan sering kali ditemukan infeksi sekunder karena Gumboro bersifat imunosupresif. Beberapa penyakit yang seringkali menyerang bersama Gumboro adalah chronic respiratory disease, colibacillosis, coryza, ND dan koksidiosis. Lalu apabila dilakukan nekropsi, akan terlihat adanya peradangan pada batas proventriculus dengan ventriculus, peradangan bursa Fabricius, perdarahan pada otot paha dan ginjal yang bengkak. Penanganan Gumboro Upaya penanganan Gumboro yang dapat dilakukan adalah dengan mencegah penularan meluas dan mengurangi angka kematian. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah isolasi ayam yang menunjukkan gejala karena dapat menjadi sumber penularan. Kemudian berikan air gula 2-5% atau Gingertol untuk memberikan energi karena ayam yang terserang Gumboro biasanya akan lemah. Vitamin (Fortevit/Vita Stress) juga dapat diberikan untuk meningkatkan kondisi tubuh ayam. Salah satu gejala yang dialami ayam apabila terinfeksi Gumboro adalah demam yang merupakan tanda bahwa tubuh ayam sedang melawan infeksi. Pemberian Paramed-S dengan kandungan parasetamol yang bersifat antipiretik dan analgetik dapat membantu meringankan gejala demam serta mengurangi rasa nyeri pada ayam ketika terinfeksi Gumboro. Paramed-S yang diberikan selama 5 hari dapat meningkatkan persentase kesembuhan dan juga menurunkan skor lesi pada bursa Fabricius. Gejala lain yang perlu ditangani adalah kebengkakan pada ginjal. Berikan PO. BOX 1221 Bandung, Telp: 022-6030612, Web: www.medion.co.id, Email: [email protected], Customer service: 081321057405 Strategi Penanganan dan Pencegahan Penyakit Gumboro Gejala klinis dan perubahan anatomi penyakit Gumboro KONSUL KESEHATAN


Click to View FlipBook Version