The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arief Maulana, 2023-03-31 04:08:27

Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2023

Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2023

Keywords: #poultry indonesia

Jl. Raya Batujajar 29, Cimareme, Bandung, 40552 Indonesia | (+62) 22 686 6090 (+62) 813 2185 7405 medionfarma.co.id


52 u Edisi Februari 2023 Outbreak Avian Influenza H9N2 di Sulawesi Selatan S ulawesi Selatan, dengan ibukota Makassar merupakan pintu gerbang menuju Kawasan Timur Indonesia. Dengan perkembangan penduduk yang terjadi, otomatis disertai dengan tuntutan penyediaan pangan yang cukup. Tak terkecuali pangan asal hewan. Yang mana telur ayam ras menjadi primadona dan bahan pangan asal hewan yang menjadi unggulan di daerah ini. Menurut data Kementerian Pertanian (Kementerian Pertanian) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, total populasi ayam ras petelur (layer) di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 12.982.642 ekor dan proyeksi produksi telur ayam ras Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2022 sebanyak 188.248 ton, sehingga terdapat surplus sebanyak 13.215 ton. Disisi lain, perkembangan populasi ayam juga berarti tingkat pencegahan penyakit harus lebih dimaksimalkan. Salah satu penyakit yang sering menyerang ayam dan sedang marak di wilayah Sulawesi Selatan adalah Avian Influenza (AI), terutama AI subtipe H9N2. Beberapa faktor penyebab AI antara lain adanya perubahan dari musim kemarau ke penghujan, serta perbedaan suhu ekstrem pada siang dan malam hari yang membuat ayam rentan terhadap serangan penyakit. Avian Influenza (AI) atau yang juga kerap disebut sebagai flu burung merupakan penyakit viral akut pada unggas yang disebabkan oleh virus ss-RNA yang tergolong ke dalam famili Orthomyxoviridae. Semua jenis unggas dapat terserang virus influenza, akan tetapi wabah AI lebih sering menyerang ayam dan bebek. Avian Influenza H9N2 di Sulawesi Selatan Kasus penyakit Avian Influenza H9N2 di Sulawesi Selatan terjadi di Kabupaten Sidrap pada ayam petelur mulai tanggal 1 Oktober 2016 sampai tanggal 2 Februari 2017 (Muflihanah et al., 2017). Muflihanah melaporkan kasus tersebut diikuti dengan gejala klinis berupa gangguan pada saluran pernafasan yang ditandai dengan muka bengkak, sesak nafas, discharge dari hidung, nafsu makan yang menurun, dan feses yang berwarna kehijauan. Berdasarkan laporannya, Muflihanah mengatakan bahwa kejadian penyakit AI terjadi dalam kurun waktu 3 – 14 hari dengan tingkat mortalitas rata-rata di bawah 5 % dan terjadi penurunan produksi telur sebanyak 50 - 78%. Berdasarkan laporan dan investigasi, kejadian kasus kematian unggas bermula dari Desa Tanete, Kecamatan Maritengnga, Desa Bulo dan Desa Cipotakari, Kecamatan Pancarijang, serta Desa Talawe, Kecamatan Watangsidenreng. Laporan terakhir kasus yang sama telah menyebar di sentra peternakan di Desa Allakuang, Kecamatan Maritenggae, dan Desa Teteaji, Kecamatan Tellulimpoe (Muflihanah et al., 2017). Hasil investigasi dan indektifikasi dari Balai Besar Veteriner Maros (BBVet Maros), Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Dengan memantau perkembangan virus avian influenza terkini yang menyerang unggas pada umumnya, diharapkan para peternak unggas khususnya layer dan broiler dapat menyesuaikan program kesehatan ayamnya dengan perkembangan terkini guna mencapai hasil produksi yang maksimal. Tabel 1. Laporan Kematian Ayam secara keseluruhan di Kabupaten Sidrap No Bulan Kematian Jumlah Kematian 1. Oktober 2016 150 2. November 2016 536 3. Desember 2016 1070 4. Januari 2017 2905 Total 4661 Sumber : Muflihanah et al., 2017


52 u Edisi Februari 2023 Outbreak Avian Influenza H9N2 di Sulawesi Selatan S ulawesi Selatan, dengan ibukota Makassar merupakan pintu gerbang menuju Kawasan Timur Indonesia. Dengan perkembangan penduduk yang terjadi, otomatis disertai dengan tuntutan penyediaan pangan yang cukup. Tak terkecuali pangan asal hewan. Yang mana telur ayam ras menjadi primadona dan bahan pangan asal hewan yang menjadi unggulan di daerah ini. Menurut data Kementerian Pertanian (Kementerian Pertanian) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, total populasi ayam ras petelur (layer) di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 12.982.642 ekor dan proyeksi produksi telur ayam ras Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2022 sebanyak 188.248 ton, sehingga terdapat surplus sebanyak 13.215 ton. Disisi lain, perkembangan populasi ayam juga berarti tingkat pencegahan penyakit harus lebih dimaksimalkan. Salah satu penyakit yang sering menyerang ayam dan sedang marak di wilayah Sulawesi Selatan adalah Avian Influenza (AI), terutama AI subtipe H9N2. Beberapa faktor penyebab AI antara lain adanya perubahan dari musim kemarau ke penghujan, serta perbedaan suhu ekstrem pada siang dan malam hari yang membuat ayam rentan terhadap serangan penyakit. Avian Influenza (AI) atau yang juga kerap disebut sebagai flu burung merupakan penyakit viral akut pada unggas yang disebabkan oleh virus ss-RNA yang tergolong ke dalam famili Orthomyxoviridae. Semua jenis unggas dapat terserang virus influenza, akan tetapi wabah AI lebih sering menyerang ayam dan bebek. Avian Influenza H9N2 di Sulawesi Selatan Kasus penyakit Avian Influenza H9N2 di Sulawesi Selatan terjadi di Kabupaten Sidrap pada ayam petelur mulai tanggal 1 Oktober 2016 sampai tanggal 2 Februari 2017 (Muflihanah et al., 2017). Muflihanah melaporkan kasus tersebut diikuti dengan gejala klinis berupa gangguan pada saluran pernafasan yang ditandai dengan muka bengkak, sesak nafas, discharge dari hidung, nafsu makan yang menurun, dan feses yang berwarna kehijauan. Berdasarkan laporannya, Muflihanah mengatakan bahwa kejadian penyakit AI terjadi dalam kurun waktu 3 – 14 hari dengan tingkat mortalitas rata-rata di bawah 5 % dan terjadi penurunan produksi telur sebanyak 50 - 78%. Berdasarkan laporan dan investigasi, kejadian kasus kematian unggas bermula dari Desa Tanete, Kecamatan Maritengnga, Desa Bulo dan Desa Cipotakari, Kecamatan Pancarijang, serta Desa Talawe, Kecamatan Watangsidenreng. Laporan terakhir kasus yang sama telah menyebar di sentra peternakan di Desa Allakuang, Kecamatan Maritenggae, dan Desa Teteaji, Kecamatan Tellulimpoe (Muflihanah et al., 2017). Hasil investigasi dan indektifikasi dari Balai Besar Veteriner Maros (BBVet Maros), Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Dengan memantau perkembangan virus avian influenza terkini yang menyerang unggas pada umumnya, diharapkan para peternak unggas khususnya layer dan broiler dapat menyesuaikan program kesehatan ayamnya dengan perkembangan terkini guna mencapai hasil produksi yang maksimal. Tabel 1. Laporan Kematian Ayam secara keseluruhan di Kabupaten Sidrap No Bulan Kematian Jumlah Kematian 1. Oktober 2016 150 2. November 2016 536 3. Desember 2016 1070 4. Januari 2017 2905 Total 4661 Sumber : Muflihanah et al., 2017 Obat Hewan (BBPMSOH), Bogor, dan laboratorium rujukan AI Nasional, Balai Besar Veteriner Wates (BBVet Wates), menyatakan bahwa gejala klinis dan patologis berupa penurunan produksi telur dan mortalitas pada ayam petelur yang terjadi disebabkan oleh virus LPAI subtipe H9N2. Peningkatan angka mortalitas kemungkinan bisa terjadi disebabkan oleh adanya infeksi sekunder bakteri, sehingga memperparah derajat penyakit pada unggas. Dalam keterangannya, drh. Zainal Abidin Kholilullah, selaku Konsultan Perunggasan dan Dosen Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, mengatakan bahwa AI dibedakan menjadi beberapa subtipe berdasarkan protein antigen yang melapisi permukaan virus, yaitu Haemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA), sehingga penamaan subtipe berdasarkan HA dan NA, yaitu HxNx, contohnya H5N1, H9N2 dan lain-lain. Strain H9N2 sendiri dapat menyebabkan penurunan produksi sehingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Patogenisitas AI dapat dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) (Hewajuli dan Dharmayanti 2008; Swayne and Halvorson 2008, OIE 2015). “Tanda-tanda klinis yang terlihat pada individu yang terinfeksi H9N2 adalah gangguan pernapasan, seperti susah bernapas (dyspnea) dan ngorok. Selain itu, ayam terlihat loyo, mengalami penurunan berat badan, ditemukan adanya nasal discharge, pembesaran abdomen, kotoran yang encer, gangguan saraf (tortikolis), dan kelumpuhan,” ujarnya saat diwawancarai oleh tim Poultry Indonesia melalui via sambungan telepon, Kamis (15/12). Lebih lanjut, Zainal menambahkan gambaran klinis yang dapat ditemukan setelah nekropsi adalah adanya eksudat pada rongga hidung, trakea, dan bronkus, serta perdarahan fokal pada faring, proventrikulus, ventrikulus, duodenum, ileum, ginjal, ovarium, oviduk, serta ditemukannya perdarahan berbentuk titik-titik (ptechiae). Edisi Februari 2023 u 53 Pada kasus ini juga ditemukan saluran telur yang penuh dengan kuning telur, penghitaman pada limpa, pembesaran jantung, dan penyumbatan otak. Penyebaran Virus Avian Influenza H9N2 Niken Respati (2021), dalam jurnalnya yang berjudul “Deteksi dan karakterisasi molekuler fragmen Gen HA virus Avian Influenza subtype H9N2 yang diisolasi dari lingkungan pasar unggas hidup di wilayah Jabodetabek”, menjelaskan berdasarkan analisis genetik dan topografi filogenetiknya, virus AI termasuk dalam CVI (Cina, Vietnam, Indonesia) lineage dan subclade H9.4.2.5. Hal tersebut menunjukkan bahwa virus AI H9N2 yang beredar di Indonesia merupakan virus yang bersirkulasi dari wilayah Cina dan Vietnam. Mengenai penularan, Zainal menjelaskan tentang penularan AI H9N2 dapat melalui secara horizontal dan vertikal. Penularan secara horizontal dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. “Penularan secara langsung dapat berupa kontak langsung dari unggas yang terinfeksi dan unggas peka melalui saluran pernafasan, konjungtiva, dan feses, serta melalui udara (aerosol). Jika ada individu yang terinfeksi dan menunjukkan gejala dengan mengeluarkan eksudat, maka akan menularkan ke individu lainnya melalui udara atau lewat leleran hidung,” jelasnya. Zainal mengatakan bahwa penularan secara tidak langsung dapat terjadi melalui media pembawa virus, baik ayam sakit, burung, hewan lainnya, pakan, kotoran ayam, pupuk, alat transportasi, rak telur (egg tray), serta peralatan kandang yang tercemar. Sedangkan penularan secara Gambar 1. Lesi ayam yang terinfeksi H9N2. (a) Perdarahan ringan di trakea; (b) Diffuse congestion pada mukosa trakea; (c) Fibrino nekrotik di lumen trakea; (d) Kongesti paru ringan (Waheed, 2022) drh Zainal Abidin


54 u Edisi Februari 2023 vertikal terjadi melalui induk ayam yang menularkan virusnya melalui telur. “Virus ini bisa meluas dan tersebar ke mana-mana karena penyakit influenza pada unggas sifatnya umum pada unggas, baik unggas air dan unggas liar dan yang hidup berkelompok maupun individu. Rata-rata unggas air dan unggas liar mengidap AI H9N2, akan tetapi tidak menunjukkan gejala. Unggas-unggas inilah yang membawa virus tersebut kemana-mana, bahkan hingga menyebar ke seluruh pulau dan negara,” tegasnya. Pasar unggas hidup (PUH) sangat potensial sebagai sumber penularan dari virus AI H9N2 karena pada lokasi tersebut terdapat beragam spesies unggas pada waktu yang bersamaan, misalnya ayam pedaging, ayam petelur, bebek, angsa, kalkun, dan lainnya, sehingga memudahkan adanya virus genome re-assortment dan interspecies transfer. Penerapan prinsip biosekuriti yang buruk dan pencampuran unggas dari berbagai sumber menimbulkan risiko tinggi penyebaran virus AI di pasar unggas. Kondisi terkini di lapangan Lebih lanjut, Zainal menceritakan kondisi terkini kejadian AI-H9N2 di wilayah Sulawesi Selatan. Menurutnya, laporan akan kejadian AI-H9N2 kini sudah mulai berkurang. Meski laporan berkurang, dirinya tidak menjamin kejadiannya pasti berkurang karena wabah ini diibaratkan seperti gunung es. Dia mengatakan bahwa di Sulawesi Selatan sendiri para peternaknya menganut prinsip massiri (re: malu), sehingga peternak malu mengatakan kalau ayamnya sakit. Kejadian sakitnya ayam biasanya mereka rahasiakan dan ayamnya langsung dibuang ke sungai, tapi secara umum kejadiannya rendah. Zainal juga mengatakan bahwa kasus infeksi virus flu burung di Indonesia akhirakhir ini didominasi oleh infeksi LPAI (H9N2) dibandingkan dengan infeksi HPAI (H5N1). Virus H5N1 yang ada saat ini mengalami perubahan (mutasi) sehingga berbeda dengan virus H5N1 saat terjadi wabah tahun 1997 maupun 2001, sehingga tingkat serangan (attack rate) dan tingkat kesakitan (morbidity rate) saat ini tidak setinggi seperti saat wabah terjadi. Bahkan saat ini virus H5N1 sudah dapat dianggap virus endemik. Bahkan fatalitas pada manusia pun saat ini berangsur menurun. “Virus H9N2 mendapat perhatian serius karena virus ini memiliki tingkat prevalensi yang tinggi, ikut menyebar bersama strain virus yang lain dan dapat menjadi donor bagi gen internal virus yang lain (terutama H5N1 dan H7N9) yang turut andil dalam proses yang dikenal sebagai reassortment, yang dapat meningkatkan patogenitas strain virus yang lain tersebut atau dengan kata lain dapat menjadi prekursor virus influenza yang lain menjadi lebih ganas,” tegasnya. Kunci pencegahan Avian Influenza H9N2 Kunci utama dari pengendalian Avian Influenza adalah dengan meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh unggas melalui vaksinasi. Penyakit AI hampir ada dimana-mana, sehingga solusinya harus diberikan vaksinasi. Desinfeksi rutin juga dapat menjadi langkah antisipasi sebelum penyakit menjangkit. “Pencegahan dapat dilakukan dengan memperkuat biosekuriti, vaksinasi, dan desinfeksi. Biosekuriti sangat penting untuk mencegah wabah masuk, baik wabah yang sudah ada maupun yang baru. Penerapan prinsip biosekuriti yang baik tentu akan memberikan ketahanan yang lebih bagus dan tidak memberikan kesempatan virus untuk masuk, bereplikasi, dan bermutasi di dalam flok,” tegas Zainal. Pihak lainnya, seperti pemerintah dan para stakeholder di sektor peternakan, juga berperan penting dalam hal pencegahan ini. Meningkatkan kewaspadaan dengan memperhatikan laju keluar masuk unggas dalam dan luar negeri untuk mencegah masuknya H9N2 wilayah Indonesia merupakan salah satu kewajibannya. “Kita bisa melakukan trik-trik dalam mengatasi penyakit tersebut. Untuk mengembalikan tubuh ayam kembali fit seperti semula, saya kira perlu diberikan feed supplement, baik multivitamin, asam amino, maupun mineral agar staminanya kembali naik. Kemudian, perlu juga diberikan antiviral alami dari tumbuh-tumbuhan, seperti ekstrak bawang putih. Langkah selanjutnya yang tetap harus dilakukan vaksinasi,” ucap Zainal. Dengan memantau perkembangan virus Avian Influenza terkini yang menyerang unggas pada umumnya, diharapkan para peternak unggas dapat menyesuaikan program kesehatan ayamnya dengan perkembangan terkini guna mencapai hasil produksi yang maksimal. PI Gambar 2. Perubahan Patologi pada Ayam (A) Pendarahan pada Organ Vicceral, (B) Pendarahan pada Usus, (C) Pendarahan pada Otak, (D) Pendarahan pada Ovarium (Muflihanah et al., 2017) A B C D


Oleh : drh. Dahliatul Qosimah, Mkes* 56 u Edisi Februari 2023 Kutu Frengki Vektor Pembawa Penyakit Unggas Ancaman bahaya kutu frengki di dalam kandang tak boleh dianggap remeh oleh peternak. Biosekuriti dengan manajemen pengelolaan kandang dan lingkungan unggas yang baik melalui sanitasi di tiap siklus pertumbuhan ayam harus dilakukan. K umbang ulat bambu (lesser mealworms atau litter beetle) atau yang selama ini dikenal sebagai kutu frengki memiliki nama ilmiah Alphitobius diaperinus. Kutu frengki merupakan hama serangga yang saat ini menjadi momok bagi para peternak unggas. Serangga ini muncul di waktu malam hari, sehingga disebut sebagai hama nokturnal (Dinev et al., 2013). Berasal dari daerah subSahara, kutu frengki menyebar di seluruh dunia lewat perdagangan internasional bahan makanan seperti beras dan sereal (Renault dan Colinet, 2021). Di dalam kandang, kutu frengki sering dijumpai pada alas kandang yang lembap dan berdebu. Larva kutu frengki dapat memadatkan tanah alas kandang hingga kedalaman 80 cm. Kutu frengki juga biasa dijumpai di dekat air minum, pakan, maupun fasilitas gudang yang berbahan kayu, yang mana kutu ini dapat menyebabkan kerusakan bangunan dengan membuat terowongan di celah-celah lantai dan dinding sebagai tempat metamorfosis larva untuk menjadi pupa (Dzik dan Mituniewicz, 2020). Larva kutu ini memakan kayu, kertas, feses, unggas mati, pecahan kulit telur, dan kutu yang lebih kecil. Suhu dan kelembapan udara yang tinggi, kondisi kandang yang gelap, serta tersedianya makanan menyebabkan naiknya jumlah populasi kutu frengki di lingkungan. Sifatnya yang mudah beradaptasi di lingkungan membuat kutu ini dapat berkembang biak dengan cepat dan jumlahnya yang tinggi pada kandang dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi, hingga 67% karena menyebabkan kerusakan infrastruktur kandang (Arena et al., 2020). Selain merusak kandang, kutu ini juga dapat mengkontaminasi bahan baku pakan, seperti tepung, sereal, dan biji-bijian, seperti gandum, beras, dan kedelai (Dinev et al., 2013). Karakteristik dan siklus hidup Karakteristik kutu frengki berbeda tiap fase kehidupannya. Tahap hidup kutu frengki adalah telur, larva, pupa, kemudian dewasa. Telur kutu frengki berbentuk lonjong, berwarna terang, dan melingkar dengan panjang 1 mm. Sedangkan larvanya berbentuk memanjang dengan panjang sekitar 12–19 mm, ujung perut lancip dan licin, serta eksoskeleton yang mengkilap tanpa rambut atau duri yang jelas. Larva kutu frengki memiliki kepala, sepasang mata imatur, antena, bagian mulut, dan tiga pasang toraks, yakni prothorax, mesothorax, dan metathorax untuk bergerak (Gambar 1). Bagian abdomennya bersegmen dan dilengkapi dengan kaki dan spina. Larva baru memiliki warna putih dan berubah menjadi cokelat dengan area kuning-cokelat muda setelah delapan kali ganti kulit. Pupa kutu frengki berwarna putih krem hingga cokelat terang dan tidak memiliki kemampuan bergerak. Kutu frengki dewasa berbentuk oval, agak cembung, berwarna cokelat tua atau hitam mengkilap dengan panjang sekitar 5,5–8 mm dan lebar 2,5–3,2 mm, serta rambut kuning pendek (Rumbos et al., 2018). Kutu frengki dewasa memiliki kepala, mata, antena pendek, mulut, dengan bagian thoraks pronotum dan prosternum yang berbulu dan terletak sepanjang hypomeron. Kutu frengki dewasa juga memiliki thoracic legs yang termasuk bagian femur, tibia, dan tarsus. Selain itu, kutu frengki dewasa juga memiliki elytral suture pada bagian perutnya, sayap belakang, dan ventrites di bagian sternum yang terlihat dari luar (Gambar 2) (Soares et al., 2018). Pada kutu frengki betina, terdapat mesothoracic tibial spurs atau bulu pendek, tebal, dan berbentuk pasak yang sejajar satu sama lain di sepanjang sumbu longitudinal tibia. Sedangkan mesothoracic tibial spurs pada kutu frengki jantan tidak sejajar satu sama lain. Kutu frengki betina juga memiliki urogomphus atau struktur yang tumbuh dari segmen tubuh terakhir dan menonjol keluar, serta pygopod di dekat celah dubur yang menonjol. Sedangkan kutu frengki jantan hanya memiliki urogomphus dan tidak memiliki pygopod (Esquivel et al., 2012). Siklus hidup kutu frengki berkisar antara 3 hingga 12 bulan. Kutu dewasa bertelur pada alas kandang, celah kandang, feses, sekam, dan di bawah saluran pakan dan air minum (Dinev et al., 2013). Kutu betina bertelur sekitar 6 hingga 10 hari setelah kawin. Kutu frengki betina menelurkan setidaknya 1.000-1.800 butir sepanjang hidupnya. Telur yang menetas akan menjadi larva dalam waktu 3 hingga 10 hari pada suhu berkisar 15-38°C. Tahapan larva berlangsung selama 1 hingga 3 bulan dimana larva melewati 6 hingga 11 kali pergantian kulit, tergantung pada suhu dan makanan yang ada. Larva selanjutnya berpindah ke tempat kering dan hangat dengan membuat terowongan di bawah tanah, alas kandang, dan insulasi bangunan, serta celah-celah dinding bangunan untuk membentuk


Oleh : drh. Dahliatul Qosimah, Mkes* 56 u Edisi Februari 2023 Kutu Frengki Vektor Pembawa Penyakit Unggas Ancaman bahaya kutu frengki di dalam kandang tak boleh dianggap remeh oleh peternak. Biosekuriti dengan manajemen pengelolaan kandang dan lingkungan unggas yang baik melalui sanitasi di tiap siklus pertumbuhan ayam harus dilakukan. K umbang ulat bambu (lesser mealworms atau litter beetle) atau yang selama ini dikenal sebagai kutu frengki memiliki nama ilmiah Alphitobius diaperinus. Kutu frengki merupakan hama serangga yang saat ini menjadi momok bagi para peternak unggas. Serangga ini muncul di waktu malam hari, sehingga disebut sebagai hama nokturnal (Dinev et al., 2013). Berasal dari daerah subSahara, kutu frengki menyebar di seluruh dunia lewat perdagangan internasional bahan makanan seperti beras dan sereal (Renault dan Colinet, 2021). Di dalam kandang, kutu frengki sering dijumpai pada alas kandang yang lembap dan berdebu. Larva kutu frengki dapat memadatkan tanah alas kandang hingga kedalaman 80 cm. Kutu frengki juga biasa dijumpai di dekat air minum, pakan, maupun fasilitas gudang yang berbahan kayu, yang mana kutu ini dapat menyebabkan kerusakan bangunan dengan membuat terowongan di celah-celah lantai dan dinding sebagai tempat metamorfosis larva untuk menjadi pupa (Dzik dan Mituniewicz, 2020). Larva kutu ini memakan kayu, kertas, feses, unggas mati, pecahan kulit telur, dan kutu yang lebih kecil. Suhu dan kelembapan udara yang tinggi, kondisi kandang yang gelap, serta tersedianya makanan menyebabkan naiknya jumlah populasi kutu frengki di lingkungan. Sifatnya yang mudah beradaptasi di lingkungan membuat kutu ini dapat berkembang biak dengan cepat dan jumlahnya yang tinggi pada kandang dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi, hingga 67% karena menyebabkan kerusakan infrastruktur kandang (Arena et al., 2020). Selain merusak kandang, kutu ini juga dapat mengkontaminasi bahan baku pakan, seperti tepung, sereal, dan biji-bijian, seperti gandum, beras, dan kedelai (Dinev et al., 2013). Karakteristik dan siklus hidup Karakteristik kutu frengki berbeda tiap fase kehidupannya. Tahap hidup kutu frengki adalah telur, larva, pupa, kemudian dewasa. Telur kutu frengki berbentuk lonjong, berwarna terang, dan melingkar dengan panjang 1 mm. Sedangkan larvanya berbentuk memanjang dengan panjang sekitar 12–19 mm, ujung perut lancip dan licin, serta eksoskeleton yang mengkilap tanpa rambut atau duri yang jelas. Larva kutu frengki memiliki kepala, sepasang mata imatur, antena, bagian mulut, dan tiga pasang toraks, yakni prothorax, mesothorax, dan metathorax untuk bergerak (Gambar 1). Bagian abdomennya bersegmen dan dilengkapi dengan kaki dan spina. Larva baru memiliki warna putih dan berubah menjadi cokelat dengan area kuning-cokelat muda setelah delapan kali ganti kulit. Pupa kutu frengki berwarna putih krem hingga cokelat terang dan tidak memiliki kemampuan bergerak. Kutu frengki dewasa berbentuk oval, agak cembung, berwarna cokelat tua atau hitam mengkilap dengan panjang sekitar 5,5–8 mm dan lebar 2,5–3,2 mm, serta rambut kuning pendek (Rumbos et al., 2018). Kutu frengki dewasa memiliki kepala, mata, antena pendek, mulut, dengan bagian thoraks pronotum dan prosternum yang berbulu dan terletak sepanjang hypomeron. Kutu frengki dewasa juga memiliki thoracic legs yang termasuk bagian femur, tibia, dan tarsus. Selain itu, kutu frengki dewasa juga memiliki elytral suture pada bagian perutnya, sayap belakang, dan ventrites di bagian sternum yang terlihat dari luar (Gambar 2) (Soares et al., 2018). Pada kutu frengki betina, terdapat mesothoracic tibial spurs atau bulu pendek, tebal, dan berbentuk pasak yang sejajar satu sama lain di sepanjang sumbu longitudinal tibia. Sedangkan mesothoracic tibial spurs pada kutu frengki jantan tidak sejajar satu sama lain. Kutu frengki betina juga memiliki urogomphus atau struktur yang tumbuh dari segmen tubuh terakhir dan menonjol keluar, serta pygopod di dekat celah dubur yang menonjol. Sedangkan kutu frengki jantan hanya memiliki urogomphus dan tidak memiliki pygopod (Esquivel et al., 2012). Siklus hidup kutu frengki berkisar antara 3 hingga 12 bulan. Kutu dewasa bertelur pada alas kandang, celah kandang, feses, sekam, dan di bawah saluran pakan dan air minum (Dinev et al., 2013). Kutu betina bertelur sekitar 6 hingga 10 hari setelah kawin. Kutu frengki betina menelurkan setidaknya 1.000-1.800 butir sepanjang hidupnya. Telur yang menetas akan menjadi larva dalam waktu 3 hingga 10 hari pada suhu berkisar 15-38°C. Tahapan larva berlangsung selama 1 hingga 3 bulan dimana larva melewati 6 hingga 11 kali pergantian kulit, tergantung pada suhu dan makanan yang ada. Larva selanjutnya berpindah ke tempat kering dan hangat dengan membuat terowongan di bawah tanah, alas kandang, dan insulasi bangunan, serta celah-celah dinding bangunan untuk membentuk Edisi Februari 2023 u 57 Kutu Frengki Vektor Pembawa Penyakit Unggas rongga. Selanjutnya larva akan berkembang menjadi pupa. Tahapan dari pupa hingga menjadi kutu frengki dewasa berlangsung selama 4 hingga 14 hari, tergantung suhu lingkungan (Rumbos et al., 2018). Untuk berkembangbiak, kutu frengki membutuhkan suhu 30-33°C dan kelembapan udara sekitar 90%. Total siklus hidup kutu frengki dari telur hingga dewasa adalah 89 hari pada suhu 22°C dan 26 hari pada 31°C. Inilah yang menyebabkan mengapa kutu frengki betah hidup dalam kandang unggas, karena tempatnya ideal untuk berkembangbiak (Dinev et al., 2013). Peran sebagai vektor penyakit dan dampak yang muncul Penelitian tentang kutu frengki di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kutu frengki, baik dalam bentuk larva maupun dewasa, tertarik pada feromon dari alas kandang unggas, atau kombinasi dari feromon dan feses ayam, sehingga kutu banyak dijumpai berkumpul di lingkungan kandang. Larva kutu frengki juga tertarik dengan bau dari sumber makanan. Hal ini dapat menjadi penyebab ayam terinfeksi secara horizontal. Parahnya, hal ini dapat mengarah ke perkembangan penyakit epizootik (Hassemer et al., 2019). Ayam dengan pakan terbatas akan memilih untuk makan serangga ini. Anak ayam atau ayam dewasa yang memakan kutu frengki dapat mengalami penurunan kesehatan karena adanya lesi atau luka pada organ pencernaannya yang ditandai dengan diare, sehingga berat badannya menurun. Ayam yang memakan kutu frengki akan mengalami kondisi stres nutrisi karena ayam atau unggas pada umumnya memiliki keterbatasan aktivitas kitinolitik (mencerna kitin) dalam saluran cernanya. Daya cerna kitin pada ayam broiler adalah 18-24%, sehingga enzim kitinase ayam memiliki keterbatasan untuk mencerna kitin yang terdapat di permukaan tubuh kutu. Kitin bersifat antinutrisi, sehingga dapat menurunkan nilai gizi lain yang masuk dalam tubuh. Masuknya kutu frengki ke dalam tubuh ayam dapat menyebabkan peningkatan sekresi cairan pencernaan, penurunan nafsu makan, penurunan pH saluran pencernaan, hingga obstruksi usus ayam (Dzik dan Mituniewicz, 2020). Selain itu, kutu frengki, baik larva maupun dewasa, juga dapat menyebabkan lesi kulit pada unggas, sehingga unggas yang terpapar menunjukkan tanda-tanda stres dan penurunan produktivitas (Arena et al., 2020). Belum lagi, kutu frengki berpotensi sebagai vektor mikroba patogen pada unggas. Kutu frengki dapat menjadi vektor bagi virus penyebab Marek’s Disease, Gumboro, Newcastle Disease, Avian Influenza, dan leukemia (Dzik dan Mituniewicz, 2020). Lebih lanjut, kutu frengki juga dapat menjadi vektor bagi beberapa jenis bakteri, seperti Clostridium sp., Bacillus sp., Campylobacter sp., Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella sp., dan Staphylococcus sp. (Arena et al., 2020). Kutu frengki juga dapat menjadi vektor bagi jamur Aspergillus spp., serta parasit, seperti protozoa Eimeria dan bertindak sebagai hospes perantara bagi cacing nematoda, Hadjelia truncata (Alves et al., 2015). Bakteri patogen yang berada dalam tubuh kutu, selanjutnya kutu masuk ke dalam tubuh ayam maka akan dapat menginfeksi usus ayam dalam jangka waktu lama. Salmonella dapat ditemukan di dalam saluran pencernaan dan hemolimfe kutu frengki setelah paparan selama 30-120 menit. Penelitian yang dilakukan oleh Crippen et al. (2017) menunjukkan bahwa bakteri Salmonella dengan konsentrasi 105 hingga 107 cfu/ml dapat bertahan hidup di dalam tubuh kutu frengki larva atau dewasa selama 24 jam hingga 8 hari, sehingga jika kutu tersebut tertelan oleh ayam, maka ayam tersebut akan terinfeksi secara persisten. Kutu frengki yang membawa bakteri ini bisa keluar bersama feses ayam, dan bakteri dapat bertahan dalam feses selama 8 hari di lingkungan hingga kemudian menginfeksi kelompok ayam sehat yang lain (Donoso et al., 2020). Ookista dari genus Eimeria yang tertelan kutu frengki juga dapat menginfeksi ayam dan menyebabkan koksidiosis. Hadjelia truncata merupakan cacing nematoda yang dapat menyebabkan lesi pada lapisan gizzard atau tembolok, akan tetapi cacing ini hanya terbukti patogen terhadap burung merpati hingga menyebabkan kematian. Kutu frengki juga kemungkinan berperan sebagai penyebab hypoglycemia spiking mortality syndrome (HSMS) pada ayam broiler umur kurang lebih 6-21 hari. Sindrom ini ditandai dengan tremor kepala, ataksia, dan hipoglikemia akut dengan kadar glukosa plasma rendah kurang dari 150 mg/dl hingga kebutaan. Selain itu, sindrom ini juga dapat disebabkan oleh infeksi virus (Yatim et al., 1999), seperti viral


enteritis complex penyebab Runting Stunting Syndrome, yang dapat menyerang ayam pada umur 5-12 hari yang ditandai dengan penurunan berat badan. Kutu frengki juga dapat menyebabkan masalah kesehatan manusia dengan memproduksi kuinon yang dihasilkan dari kelenjar perutnya sebagai bentuk perlindungan diri. Kuinon sangat reaktif terhadap sistem imunitas manusia dan berbahaya jika terpapar dalam waktu lama (Zafeiriadis et al., 2021). Gejala klinis yang tampak pada manusia yang digigit kutu frengki antara lain menunjukkan tanda-tanda asma, sakit kepala, dermatitis, alergi, rinitis, eritema (kemerahan) dan pembentukan papula serta konjungtivitis dan ulserasi kornea (Dinev et al., 2013). Pengendalian dan pemberantasan Pengendalian kutu frengki dapat dilakukan melalui biosekuriti dengan manajemen pengelolaan kandang dan lingkungan unggas yang baik melalui sanitasi di tiap siklus pertumbuhan ayam (Carlos et al., 2018). Langkah-langkah kontrol biosekuriti harus memperhatikan patogen yang ada, vektor serangga atau biologis lain, komponen dalam kandang seperti alas kandang dan feses, serta unggas itu sendiri guna keberhasilan sistem biosekuriti. Pengendalian lainnya adalah dengan pemberian insektisida kimia yang diaplikasikan pada feses unggas. Pemberian desinfektan dan insektisida pada kandang dan lingkungan dapat dilakukan pada 14 hari masa kosong kandang. Insektisida dapat disemprotkan ke kandang setidaknya 2 hari sebelum ayam masuk kandang dan juga disemprotkan setiap 7–14 minggu pada kandang ayam petelur. Pilihan insektisida untuk mengendalikan populasi kutu frengki antara lain organoposfat (tetrachlorvinphos), neonikotinoid (acetamiprid, imidacloprid) atau pyrethroid (cyfluthrin, permethrin). Kerentanan kutu larva dan dewasa dalam populasi broiler terhadap insektisida seperti sipermetrin dan klorpirifos dapat bervariasi. Kutu frengki di Brasil dan India sudah resisten terhadap banyak insektisida, termasuk bifenthrin, cyfluthrin, imidacloprid, permethrin, dan tetrachlorvinphos (Renault dan Colinet, 2021). Permetrin merupakan insektisida piretroid sintetik yang digunakan untuk membasmi kutu frengki pada semua fase hidupnya. Insektisida ini bekerja dengan cara melumpuhkan sistem saraf serangga sehingga menyebabkan terjadinya kontraksi otot hingga kematian. Tidak semua insektisida efektif untuk membasmi kutu frengki karena keterbatasan mencapai tempat persembunyiannya, misalnya celahcelah dinding dan lantai. Saat ini, sudah banyak juga ditemukan resistensi insektisida kimia terhadap serangga, seperti fenitrothion dan permetrin di Inggris pada tahun 1996; carbaryl, methoxychlor, dichlorodiphenyltrichloroethane, cyfluthrin, permethrin, sipermetrin, dan klorpirifos di Amerika Utara dan Selatan (Dzik dan Mituniewicz, 2020). Insektisida kombinasi dari bahan aktif adulticidal, yaitu pyrethroid dan larvicidal dapat menurunkan jumlah kutu frengki. Pyrethroid mengandung cyfluthrin dengan dosis pemberian 0.2 g/50 ml/m2 yang disemprotkan pada dinding kandang, sedangkan larvicidal menggunakan insect growth regulator [IGR] yang mengandung 25% triflumuron dengan dosis pemberian 2 g/200 ml/m2 dan disemprotkan pada litter. Turunan benzoilfenilurea juga dapat mencegah molting pada serangga dengan mengganggu biosintesis kutikula. Langkah alternatif dalam pengendalian kutu frengki adalah dengan pemberian insektisida alami, bubuk lembam (kapur terhidrasi dan tanah diatom), dan nematoda entomopatogen (Alves et al., 2015). Campuran 600 g kapur/m2 dengan 3 liter air dapat menurunkan aktivitas air (water activity) dan meningkatnya pH dimana pH di atas 9.5 dapat mengganggu hidup bakteri 58 u Edisi Februari 2023 patogen. Jamur entomopatogen juga dapat dikatakan menjanjikan sebagai alternatif mycoinsecticide untuk pengendalian populasi kutu frengki pada kandang broiler. Pemberian pakan pelet broiler yang dicampur dengan dua isolat jamur Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae dengan konsentrasi 0,2 g konidia/54 g pakan selama 11 hari terbukti menyebabkan kematian larva 87 hingga 98%. Konidia jamur akan menempel pada permukaan tubuh kutu frengki dan kemudian melakukan germinasi, penetrasi, dan proliferasi. Setelah itu, konidia jamur akan menjadi granula di seluruh permukaan tubuh kutu sehingga menyebabkan kutu mati (Rice et al., 2019). Insektisida alami lainnya yang dapat digunakan adalah minyak esensial dari tanaman Aloysia polystachya, Citrus sinensis (jeruk manis), Eucalyptus globulus (kayu putih), Origanum vulgare (oregano), dan Syzygium aromaticum (cengkih) (Arena et al., 2020). Penggunaan gas ozon (O3) sebanyak 40 ppm selama 36 jam dapat menyebabkan 100% kematian kutu frengki larva dan dewasa (Carlos et al., 2018). Namun, seluruh tindakan pengendalian kutu frengki melalui insektisida juga harus didukung dengan pemberian pakan bernutrisi secara teratur untuk mencegah ayam iseng makan kutu frengki. Selain itu, menjaga kebersihan kandang dan lingkungan melalui tindakan cleaning dan desinfeksi serta mengontrol penyimpanan pakan juga menjadi langkah penting dalam pengendalian hama ini. *Dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya Sumber Magno Borges


enteritis complex penyebab Runting Stunting Syndrome, yang dapat menyerang ayam pada umur 5-12 hari yang ditandai dengan penurunan berat badan. Kutu frengki juga dapat menyebabkan masalah kesehatan manusia dengan memproduksi kuinon yang dihasilkan dari kelenjar perutnya sebagai bentuk perlindungan diri. Kuinon sangat reaktif terhadap sistem imunitas manusia dan berbahaya jika terpapar dalam waktu lama (Zafeiriadis et al., 2021). Gejala klinis yang tampak pada manusia yang digigit kutu frengki antara lain menunjukkan tanda-tanda asma, sakit kepala, dermatitis, alergi, rinitis, eritema (kemerahan) dan pembentukan papula serta konjungtivitis dan ulserasi kornea (Dinev et al., 2013). Pengendalian dan pemberantasan Pengendalian kutu frengki dapat dilakukan melalui biosekuriti dengan manajemen pengelolaan kandang dan lingkungan unggas yang baik melalui sanitasi di tiap siklus pertumbuhan ayam (Carlos et al., 2018). Langkah-langkah kontrol biosekuriti harus memperhatikan patogen yang ada, vektor serangga atau biologis lain, komponen dalam kandang seperti alas kandang dan feses, serta unggas itu sendiri guna keberhasilan sistem biosekuriti. Pengendalian lainnya adalah dengan pemberian insektisida kimia yang diaplikasikan pada feses unggas. Pemberian desinfektan dan insektisida pada kandang dan lingkungan dapat dilakukan pada 14 hari masa kosong kandang. Insektisida dapat disemprotkan ke kandang setidaknya 2 hari sebelum ayam masuk kandang dan juga disemprotkan setiap 7–14 minggu pada kandang ayam petelur. Pilihan insektisida untuk mengendalikan populasi kutu frengki antara lain organoposfat (tetrachlorvinphos), neonikotinoid (acetamiprid, imidacloprid) atau pyrethroid (cyfluthrin, permethrin). Kerentanan kutu larva dan dewasa dalam populasi broiler terhadap insektisida seperti sipermetrin dan klorpirifos dapat bervariasi. Kutu frengki di Brasil dan India sudah resisten terhadap banyak insektisida, termasuk bifenthrin, cyfluthrin, imidacloprid, permethrin, dan tetrachlorvinphos (Renault dan Colinet, 2021). Permetrin merupakan insektisida piretroid sintetik yang digunakan untuk membasmi kutu frengki pada semua fase hidupnya. Insektisida ini bekerja dengan cara melumpuhkan sistem saraf serangga sehingga menyebabkan terjadinya kontraksi otot hingga kematian. Tidak semua insektisida efektif untuk membasmi kutu frengki karena keterbatasan mencapai tempat persembunyiannya, misalnya celahcelah dinding dan lantai. Saat ini, sudah banyak juga ditemukan resistensi insektisida kimia terhadap serangga, seperti fenitrothion dan permetrin di Inggris pada tahun 1996; carbaryl, methoxychlor, dichlorodiphenyltrichloroethane, cyfluthrin, permethrin, sipermetrin, dan klorpirifos di Amerika Utara dan Selatan (Dzik dan Mituniewicz, 2020). Insektisida kombinasi dari bahan aktif adulticidal, yaitu pyrethroid dan larvicidal dapat menurunkan jumlah kutu frengki. Pyrethroid mengandung cyfluthrin dengan dosis pemberian 0.2 g/50 ml/m2 yang disemprotkan pada dinding kandang, sedangkan larvicidal menggunakan insect growth regulator [IGR] yang mengandung 25% triflumuron dengan dosis pemberian 2 g/200 ml/m2 dan disemprotkan pada litter. Turunan benzoilfenilurea juga dapat mencegah molting pada serangga dengan mengganggu biosintesis kutikula. Langkah alternatif dalam pengendalian kutu frengki adalah dengan pemberian insektisida alami, bubuk lembam (kapur terhidrasi dan tanah diatom), dan nematoda entomopatogen (Alves et al., 2015). Campuran 600 g kapur/m2 dengan 3 liter air dapat menurunkan aktivitas air (water activity) dan meningkatnya pH dimana pH di atas 9.5 dapat mengganggu hidup bakteri 58 u Edisi Februari 2023 patogen. Jamur entomopatogen juga dapat dikatakan menjanjikan sebagai alternatif mycoinsecticide untuk pengendalian populasi kutu frengki pada kandang broiler. Pemberian pakan pelet broiler yang dicampur dengan dua isolat jamur Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae dengan konsentrasi 0,2 g konidia/54 g pakan selama 11 hari terbukti menyebabkan kematian larva 87 hingga 98%. Konidia jamur akan menempel pada permukaan tubuh kutu frengki dan kemudian melakukan germinasi, penetrasi, dan proliferasi. Setelah itu, konidia jamur akan menjadi granula di seluruh permukaan tubuh kutu sehingga menyebabkan kutu mati (Rice et al., 2019). Insektisida alami lainnya yang dapat digunakan adalah minyak esensial dari tanaman Aloysia polystachya, Citrus sinensis (jeruk manis), Eucalyptus globulus (kayu putih), Origanum vulgare (oregano), dan Syzygium aromaticum (cengkih) (Arena et al., 2020). Penggunaan gas ozon (O3) sebanyak 40 ppm selama 36 jam dapat menyebabkan 100% kematian kutu frengki larva dan dewasa (Carlos et al., 2018). Namun, seluruh tindakan pengendalian kutu frengki melalui insektisida juga harus didukung dengan pemberian pakan bernutrisi secara teratur untuk mencegah ayam iseng makan kutu frengki. Selain itu, menjaga kebersihan kandang dan lingkungan melalui tindakan cleaning dan desinfeksi serta mengontrol penyimpanan pakan juga menjadi langkah penting dalam pengendalian hama ini. *Dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya Sumber Magno Borges Think Twice Recent scientific research proves a combination of AviPro® MG F live vaccine followed by AviPro® 104 MG BACTERIN affords outstanding control of Mycoplasma gallisepticum. 1,2 There’s a significant advantage to combining AviPro® live and inactivated mycoplasma vaccines1,2. For further information, contact your Elanco representative. 1. Elanco. Data on file. 2. Elanco. Data on file 3. Summary of product characteristics AviPro® MG F. 4. Summary of product characteristics AviPro® 104 MG BACTERIN. AviPro, Elanco and the diagonal bar logo are trademarks of Elanco or its affiliates. ©2021 Elanco. h Introducing the new standard for Mycoplasma control STRONGER Protection REDUCED Replication Kementan RI No. I.12094361 VKS Kementan RI No. I. 11084130 VTC PM-ID-21-0099


60 u Edisi Februari 2023 Perkembangan Pencegahan Gumboro Infectious Bursal Disease (IBD) atau yang biasa disebut gumboro sampai saat ini masih menjadi momok di dunia perunggasan. Penyakit viral akibat Infectious Bursal Disease Virus (IBDV) ini merupakan penyakit akut menular yang sering kali menyerang ayam muda dengan gejala klinis berupa atrofi (penyusutan) pada bursa fabricius serta imunosupresi. Meski gejala klinis lebih terlihat dan lebih parah pada ayam berumur 3 hingga 6 minggu, akan tetapi gumboro dapat menyerang ayam di berbagai umur dan semakin muda ayam, maka akan semakin parah dampaknya. Penyakit yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Avibirnavirus dan famili Birnaviridae menyerang limfosit B yang masih belum matang pada bursa fabricius yang kemudian menyebabkan terjadinya imunosupresi. Imunosupresi yang terjadi tentu membukakan jalan bagi patogen oportunis untuk menyebabkan infeksi sekunder. Selain itu, virus ini juga menjadikan respon ayam terhadap vaksinasi suboptimal. Meskipun beragam upaya telah dilakukan selama beberapa dekade belakangan, gumboro masih menjadi ancaman utama bagi industri perunggasan di seluruh dunia. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh virus IBD sendiri yang memang sangat resisten terhadap berbagai desinfektan dan faktor lingkungan lainnya. Virus IBD dapat bertahan setidaknya berbulan-bulan pada kandang yang terkontaminasi dan mingguan dalam air, pakan, maupun feses ayam. Dalam kejadian penyakit gumboro diperlukan pengendalian yang efektif. Saat ini, vaksin hidup yang dilemahkan (live vaccine), vaksin inaktif, maupun vaksin immune-complex (Icx) merupakan beberapa cara pendekatan terapeutik imun yang digunakan untuk mengendalikan kejadian gumboro di lapangan. Pengaplikasian vaksin tentu harus dilengkapi dengan biosekuriti yang memadai, meski dengan keterbatasan dan meskipun ada berbagai tingkat keberhasilan hasil akhirnya. Ayam ras modern yang ada kini telah mengalami kemajuan perkembangan genetik sehingga lebih cepat tumbuh. Namun, perkembangan ini juga diikuti oleh kelemahan, yakni kerentanan terhadap stres. Siapa sangka, pengaplikasian vaksin sebagai pencegahan suatu penyakit juga dapat menjadi sumber stres bagi ayam. Oleh karena itu, dikembangkanlah teknologi vaksinasi, seperti program vaksinasi yang dilakukan di hatchery, untuk perlindungan yang lebih dini sekaligus menghindari stres akibat perlakuan vaksinasi di kandang. Teknologi vaksinasi memang terus berkembang, baik dari segi konsep maupun cara pemberian, dengan tujuan menunjang kesehatan unggas. Bagaimana tidak, vaksinasi merupakan perangkat penting dalam pencegahan dan pengendalian gumboro. Berbagai vaksin hidup termodifikasi (modified live vaccines/MLV) telah dikembangkan dan diklasifikasikan sebagai vaksin ringan (mild), intermediate, dan intermediate plus, menurut tingkat pelemahan virus. Technical Service Manager West Area PT Boehringer Ingelheim Indonesia, drh. Titis Wahyudi, mengatakan bahwa salah satu teknologi vaksinasi yang mengalami perkembangan signifikan adalah vaksin gumboro. Perkembangan vaksin gumboro tentu sangat dibutuhkan untuk efikasi dan efisiensi yang lebih baik. Vaksin gumboro generasi pertama diberikan melalui air minum. Namun, vaksin ini memiliki banyak kelemahan, baik dari segi penyimpanan, waktu vaksinasi, maupun kualitas air. Untuk menghasilkan antibodi yang baik, maka vaksin harus diberikan pada waktu yang tepat, yakni saat level antibodi indukan atau maternal antibody (MAb) rendah. Keefektifan vaksin memang bergantung pada kemampuannya menembus antibodi yang berasal dari induk (maternally derived antibodies/ MDA), karena MDA dapat mengganggu pemberian vaksin dini (Muller et at., 2012). Oleh karena itu, pemberian vaksin yang tepat waktu sangatlah penting untuk mengaktivasi sel kekebalan pada anak ayam. “Pembentukkan antibodi yang membutuhkan waktu tentu membutuhkan vaksin yang bekerja dengan cepat dan tepat. Vaksin yang gagal mengantisipasi virus akan menyebabkan kerusakan pada bursa fabricius. Oleh karena itu, dikembangkan vaksin generasi kedua Gumboro masih menjadi ancaman di industri perunggasan. Pengembangan vaksin sebagai pencegahan Gumboro dan penerapan biosekuriti tentu menjadi solusi. Gambar 1. Pemberian vaksin melalui air minum Sumber Poultry World


60 u Edisi Februari 2023 Perkembangan Pencegahan Gumboro Infectious Bursal Disease (IBD) atau yang biasa disebut gumboro sampai saat ini masih menjadi momok di dunia perunggasan. Penyakit viral akibat Infectious Bursal Disease Virus (IBDV) ini merupakan penyakit akut menular yang sering kali menyerang ayam muda dengan gejala klinis berupa atrofi (penyusutan) pada bursa fabricius serta imunosupresi. Meski gejala klinis lebih terlihat dan lebih parah pada ayam berumur 3 hingga 6 minggu, akan tetapi gumboro dapat menyerang ayam di berbagai umur dan semakin muda ayam, maka akan semakin parah dampaknya. Penyakit yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Avibirnavirus dan famili Birnaviridae menyerang limfosit B yang masih belum matang pada bursa fabricius yang kemudian menyebabkan terjadinya imunosupresi. Imunosupresi yang terjadi tentu membukakan jalan bagi patogen oportunis untuk menyebabkan infeksi sekunder. Selain itu, virus ini juga menjadikan respon ayam terhadap vaksinasi suboptimal. Meskipun beragam upaya telah dilakukan selama beberapa dekade belakangan, gumboro masih menjadi ancaman utama bagi industri perunggasan di seluruh dunia. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh virus IBD sendiri yang memang sangat resisten terhadap berbagai desinfektan dan faktor lingkungan lainnya. Virus IBD dapat bertahan setidaknya berbulan-bulan pada kandang yang terkontaminasi dan mingguan dalam air, pakan, maupun feses ayam. Dalam kejadian penyakit gumboro diperlukan pengendalian yang efektif. Saat ini, vaksin hidup yang dilemahkan (live vaccine), vaksin inaktif, maupun vaksin immune-complex (Icx) merupakan beberapa cara pendekatan terapeutik imun yang digunakan untuk mengendalikan kejadian gumboro di lapangan. Pengaplikasian vaksin tentu harus dilengkapi dengan biosekuriti yang memadai, meski dengan keterbatasan dan meskipun ada berbagai tingkat keberhasilan hasil akhirnya. Ayam ras modern yang ada kini telah mengalami kemajuan perkembangan genetik sehingga lebih cepat tumbuh. Namun, perkembangan ini juga diikuti oleh kelemahan, yakni kerentanan terhadap stres. Siapa sangka, pengaplikasian vaksin sebagai pencegahan suatu penyakit juga dapat menjadi sumber stres bagi ayam. Oleh karena itu, dikembangkanlah teknologi vaksinasi, seperti program vaksinasi yang dilakukan di hatchery, untuk perlindungan yang lebih dini sekaligus menghindari stres akibat perlakuan vaksinasi di kandang. Teknologi vaksinasi memang terus berkembang, baik dari segi konsep maupun cara pemberian, dengan tujuan menunjang kesehatan unggas. Bagaimana tidak, vaksinasi merupakan perangkat penting dalam pencegahan dan pengendalian gumboro. Berbagai vaksin hidup termodifikasi (modified live vaccines/MLV) telah dikembangkan dan diklasifikasikan sebagai vaksin ringan (mild), intermediate, dan intermediate plus, menurut tingkat pelemahan virus. Technical Service Manager West Area PT Boehringer Ingelheim Indonesia, drh. Titis Wahyudi, mengatakan bahwa salah satu teknologi vaksinasi yang mengalami perkembangan signifikan adalah vaksin gumboro. Perkembangan vaksin gumboro tentu sangat dibutuhkan untuk efikasi dan efisiensi yang lebih baik. Vaksin gumboro generasi pertama diberikan melalui air minum. Namun, vaksin ini memiliki banyak kelemahan, baik dari segi penyimpanan, waktu vaksinasi, maupun kualitas air. Untuk menghasilkan antibodi yang baik, maka vaksin harus diberikan pada waktu yang tepat, yakni saat level antibodi indukan atau maternal antibody (MAb) rendah. Keefektifan vaksin memang bergantung pada kemampuannya menembus antibodi yang berasal dari induk (maternally derived antibodies/ MDA), karena MDA dapat mengganggu pemberian vaksin dini (Muller et at., 2012). Oleh karena itu, pemberian vaksin yang tepat waktu sangatlah penting untuk mengaktivasi sel kekebalan pada anak ayam. “Pembentukkan antibodi yang membutuhkan waktu tentu membutuhkan vaksin yang bekerja dengan cepat dan tepat. Vaksin yang gagal mengantisipasi virus akan menyebabkan kerusakan pada bursa fabricius. Oleh karena itu, dikembangkan vaksin generasi kedua Gumboro masih menjadi ancaman di industri perunggasan. Pengembangan vaksin sebagai pencegahan Gumboro dan penerapan biosekuriti tentu menjadi solusi. Gambar 1. Pemberian vaksin melalui air minum Sumber Poultry World yang merupakan immune-complex. Pemberian vaksin immune-complex dapat dilakukan secara in ovo maupun pada hatchery,” ujarnya dalam webinar Poultry TechniClass #09, Rabu (24/11). Titis mengatakan bahwa keunggulan vaksinasi generasi kedua ini adalah pembentukan antibodi terjadi pada waktu yang tepat. Antibody complex yang terkandung dalam vaksin tidak akan dinetralkan oleh antibodi indukan (maternal antibody/MAb) Gumboro seperti layaknya vaksin tradisional, melainkan mulai bekerja pada saat MAb gumboro melemah untuk selanjutnya menggertak kekebalan adaptif terhadap Gumboro. “Vaksin akan beredar di dalam darah menuju target organ, seperti bursa fabricius. Vaksin akan ditangkap dan diikat oleh folikel-folikel sel B melalui reseptor Fc dan C3, sehingga memungkinkan vaksin untuk diam dalam waktu yang lama pada bursa Fabricius. Setelah MDA (maternally derived antibodies) cukup rendah untuk tidak menetralkan strain vaksin, barulah intermediate plus virus mulai bereplikasi, kira-kira 10 hari pasca vaksinasi,” jelasnya. Kemampuannya untuk bekerja saat MAb gumboro melemah dan memastikan pengembangan kekebalan aktif pada anak ayam dengan pelepasan virus secara terus menerus oleh sel dendritik dan makrofag sampai MDA menghilang menjadikan vaksin immune-complex (Icx) vaksin cerdas. Keunggulan lainnya dari vaksin Icx adalah, selain terbukti aman dan efisien, juga terbukti melindungi terhadap serangan virus lapang, seperti IBD klasik, IBD virulen, dan IBD sangat virulen. Meski begitu, vaksin Icx masih memiliki kekurangan, yakni masih adanya immunity gap. Selain itu, sediaan vaksin immunecomplex biasanya berasal dari virus IBD yang dilemahkan dari tipe intermediate plus. Efikasi intermediate plus memang tinggi, akan tetapi jenis vaksin ini dapat menyebabkan kerusakan pada bursa Fabricius. “Kemudian dikembangkan vaksin generasi ketiga yang bukan merupakan virus utuh dari gumboro, melainkan proteinnya yang ditransfer ke dalam sel Turkey herpesvirus (HVT) yang merupakan sel virus Marek’s Disease. Vaksin ini dapat diberikan baik di hatchery, secara in ovo, maupun pada hari pertama pemeliharaan,” terangnya. Vaksin generasi ketiga ini disebut juga sebagai vaksin vektor. Vaksin vektor merupakan hasil rekayasa genetika, yang mana gen dari satu genom organisme (donor) dimasukkan ke dalam genom organisme lain (vektor) untuk menghasilkan respons imun aktif terhadap kedua agen (Dertzbaugh, 1998). Pada vaksin vektor Gumboro, ada beberapa virus yang telah digunakan sebagai vektor protein kapsid VP2, seperti Baculovirus, Avian adenoviruses, dan Herpesvirus of turkey (HVT). Virus HVT terbukti efektif kerjanya, bahkan ketika masih ada antibodi dari indukan. Vaksin HVTIBD bukan merupakan virus utuh, melainkan proteinnya, maka proteksi dini akan didapatkan dari kekebalan yang diinduksi oleh bagian protein VP2 dari virus IBD. Karena vaksin ini tidak dikenali sebagai virus utuh, maka tidak ada interferensi dari Edisi Februari 2023 u 61 antibodi indukan (MAb), sehingga keefektifan vaksin tentu lebih baik dibandingkan jenis vaksin lainnya. “Selama proses replikasi, sel HVT yang ada dalam vaksin tidak merusak sel-sel bursa fabricius. Hal ini tentu merupakan sebuah keunggulan karena sel bursa fabricius yang tetap utuh, baik efektifitasnya maupun jumlahnya, memiliki efek kekebalan di atas level minimal. Selain itu, vaksin generasi ini juga tidak memiliki isu immunity gap,” ujar Titis. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Prandini et at. (2016) yang mempelajari efek vaksin vektor HVT (vHVT-IBD) pada sel B yang bersirkulasi dan kemampuan untuk menginduksi perlindungan terhadap aplikasi tantangan vvIBDV pada pullet komersial. Hasilnya, kelompok yang divaksin dengan vaksin IBD live menunjukkan persentase sel B yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang diberikan vaksin HVT-IBD, sehingga virus HVT lebih dipilih untuk digunakan sebagai vektor protein kapsid VP2. Adanya HVT sebagai live vector pada vaksin ini juga memberikan proteksi sistemik yang bagus dan luas terhadap dua penyakit sekaligus, yakni Marek’s Disease dan gumboro. Replikasi vektor HVT juga menstimulasi antigenik jangka panjang yang konsisten untuk proteksi jangka panjang, sehingga vaksin HVT-IBDV merupakan alternatif paling cocok untuk vaksin IBD karena tidak mengganggu kekebalan induk dan memiliki keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan vaksin live. Meskipun berbagai jenis vaksin telah dikembangkan selama bertahun-tahun, kejadian gumboro selalu ditemukan. Solusi terbaik adalah melakukan skrining guna menilai varian IBD yang dominan di suatu wilayah beserta virus imunosupresif lainnya. Hasil skrining dapat digunakan sebagai panduan untuk pemilihan jenis vaksin dan pengaplikasiannya. Pemberian vaksin yang tepat ditambah dengan penerapan biosekuriti berstandar tinggi tampaknya dapat menekan kejadian gumboro. Diana Gambar 2. Teknologi vaksinasi in ovo yang dilakukan di hatchery


Kendati menjadi sebuah hal yang wajar, reaksi post vaksinasi dapat berubah menjadi masalah yang serius apabila terjadi secara berlebihan dan berkepanjangan. Langkah antisipatif harus tetap dipersiapkan sehingga pemberian vaksin tidak menjadi hal yang kontraproduktif. Mencegah lebih baik daripada mengobati, merupakan frasa sederhana namun dalam akan makna. Semboyan ini tentunya juga relevan dengan usaha budi daya ayam ras. Yang mana dalam proses produksinya, peternak tidak bisa abai akan ancaman serangan penyakit yang senantiasa mengintai. Pasalnya dilihat dari sisi ekonomi, biaya kesehatan untuk pencegahan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pengobatan kala ayam sudah terserang suatu penyakit. Dalam hal pencegahan, vaksinasi menjadi salah satu cara andalan yang biasa dilakukan peternak untuk menangkal ancaman penyakit yang menyerang. Vaksinasi merupakan sebuah langkah pencegahan serangan penyakit dengan merangsang pembentukan antibodi dari dalam tubuh ayam terhadap suatu penyakit tertentu dengan memasukkan agen penyakit yang telah dilemahkan. Hal ini dikarenakan, normalnya bibit penyakit selalu berusaha menginfeksi ayam, dan sebaliknya antibodi ayam pun akan selalu berusaha mencegah bibit penyakit masuk. Ketidakseimbangan bibit penyakit dan kondisi antibodi ayam ini lah yang dapat menyebabkan ayam mudah terinfeksi. Oleh karena itu terbentuknya antibodi atas rangsangan vaksin ini, dapat meminimalkan risiko masuknya infeksi penyakit ke dalam tubuh ayam. Berdasarkan sifat hidup agen infeksi yang terkandung di dalamnya, vaksin dibedakan menjadi dua jenis yaitu vaksin aktif (live vaccine) dan vaksin inaktif (killed vaccine). Vaksin aktif merupakan vaksin yang mengandung virus hidup yang telah dilemahkan. Cara pemberian vaksin aktif dapat secara massal dengan air minum dan spray maupun secara individu melalui tetes mata/hidung/mulut. Kemudian untuk vaksin inaktif merupakan vaksin yang berisi agen infeksi yang telah dimatikan, namun masih bersifat imunogenik atau mampu merangsang pembentukan antibodi. Berbeda dengan vaksin aktif, setelah masuk ke dalam tubuh ayam, vaksin jenis ini tidak perlu bereplikasi atau multiplikasi. Namun langsung menggertak jaringan limfoid untuk membentuk antibodi. Sedangkan untuk pengaplikasian vaksin inaktif melalui suntikan intramuskular atau subkutan. Munculnya reaksi post vaksinasi Dalam prosesnya, seringkali vaksinasi pada ayam juga diikuti dengan adanya berbagai reaksi post vaksinasi yang membuat peternak bingung, bahkan khawatir. Hal ini tak jauh beda dengan yang terjadi di manusia. Kala beberapa waktu lalu, juga sempat ramai diperbincangkan timbulnya efek samping tertentu pada masyarakat pasca mendapatkan vaksin Covid-19, atau biasa disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Pada dasarnya munculnya reaksi setelah vaksinasi merupakan hal yang wajar, terutama pada vaksin aktif. Hal ini merupakan pertanda bahwa tubuh ayam merespons vaksin melalui pembentukan sistem antibodi. Sebaliknya, jika tidak ditemukan reaksi post vaksinasi bisa mengindikasikan vaksin tidak bekerja atau respons tubuh ayam untuk membentuk kekebalan tidak optimal. Setelah pemberian vaksin aktif, biasanya muncul reaksi gangguan pernapasan ringan pada ayam, seperti pilek dan ngorok (vaksin Menyikapi Reaksi Post Vaksinasi pada Ayam Ras Oleh : Syaiful Jati Anhardika, S.Pt* 62 u Edisi Februari 2023 Reaksi post vaksinasi merupakan hal yang wajar selama tidak terjadi secara berlebihan dan berkepanjangan


ND, IB dan IBD) serta mata berair (vaksin ILT), sebagai wujud respons tubuh ayam terhadap proses vaksinasi. Biasanya reaksi post vaksinasi muncul setelah 2-3 hari pasca pemberian vaksin aktif, dan setelah seminggu gejalanya akan hilang. Sedangkan penulis melihat bahwa untuk pemberian vaksin inaktif, relatif tidak menimbulkan reaksi post vaksinasi. Memang biasanya muncul gejala lumpuh dan bengkak saat suntik intramuskuler. Namun hal ini bukan merupakan akibat mikroorganisme yang terkandung dalam vaksin, melainkan karena proses pemberian vaksin yang kurang tepat. Bahkan kesalahan penyuntikan saat vaksinasi dapat menyebabkan ayam mati. Hal ini biasanya terjadi karena jarum vaksin yang tumpul atau tidak pernah diganti, teknik vaksinasi atau posisi yang disuntik tidak tepat sasaran, atau bisa juga proses thawing vaksin yang kurang sempurna. Kendati menjadi sebuah hal wajar, namun akan menjadi masalah apabila gejala reaksi post vaksinasi ini muncul secara berlebihan atau berkepanjangan (lebih dari seminggu) sehingga menimbulkan stres pada ayam, nafsu makan dan produktivitas menurun, bahkan sampai menimbulkan kematian. Gejala reaksi post vaksinasi yang terjadi berkepanjangan ini biasa disebut dengan istilah rolling reaction. Hal ini biasanya diakibatkan karena ayam tidak menerima dosis vaksin yang seragam, sehingga menyebabkan terjadinya shedding atau pengeluaran virus hasil multiplikasi dari vaksin live dari ayam-ayam yang mendapatkan satu dosis ke ayam lain yang dosis vaksinasinya kurang atau belum divaksin. Kondisi ini menyebabkan ayam-ayam yang dosis kurang seperti mendapatkan vaksinasi lagi dan terjadi lagi reaksi post vaksinasi. Mengurangi reaksi post vaksinasi Agar tidak menjadi hal yang kontraproduktif, penting bagi peternak untuk memperhatikan proses pemberian vaksin serta kondisi ternak yang akan divaksin. Hal ini untuk mencegah reaksi post vaksinasi yang berlebihan, sehingga tujuan awal dari pemberian vaksin untuk pencegahan penyakit bisa tercapai. Bagaimana kondisi ternak yang hendak di vaksin menjadi hal pertama yang harus diperhatikan. Sebelum melakukan vaksinasi, peternak harus memastikan ternaknya dalam kondisi sehat, nyaman dan tidak stres. Pada ayam yang sakit atau stres, sistem kekebalan tubuh ayam akan menurun, sehingga dapat meningkatkan risiko reaksi post vaksinasi yang lebih parah. Faktor kedua yang perlu diperhatikan adalah proses pemberian vaksin yang tepat. Hal ini meliputi dosis yang diberikan harus seragam, serta cara pemberiannya pun harus sesuai. Dalam pemberian vaksin, dosis yang diterima oleh setiap ayam harus seragam dan diberikan secara serentak serta habis dalam waktu maksimal 2 jam per botol atau vial. Saat ayam memperoleh dosis vaksin aktif yang tidak seragam, maka akan memicu munculnya rolling reaction seperti yang dijelaskan sebelumnya. Kemudian sebelum digunakan, alat vaksin termasuk jarum vaksin harus bersih dari sisa pemakaian vaksin sebelumnya, atau dalam kondisi steril. Pemakaian alat suntik yang tidak steril bisa menyebabkan peradangan pada area bekas penyuntikan. Selain itu, proses thawing vaksin juga harus tepat dengan suhu per botol kurang lebih 27 oC. Hal berikutnya yang juga tak kalah penting adalah menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman bagi ayam. Jika kondisi lingkungan tidak nyaman, akan memicu reaksi post vaksinasi menjadi lebih parah dan meningkatkan risiko ancaman infeksi penyakit. Oleh karena itu, kondisi kandang harus optimal, baik dari kepadatan kandang, sistem ventilasi, jadwal pembersihan feses ayam maupun penerapan biosekuriti yang ketat. Masih berkaitan dengan kandang, juga penting bagi peternak untuk meminimalisir ancaman bibit penyakit dengan melakukan penyemprotan kandang minimal 2 kali seminggu. Kemudian pemberian terapi suportif dengan multivitamin sebelum dan sesudah vaksinasi juga dapat menekan reaksi post vaksinasi. Pemberian multivitamin ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh ayam, serta mampu menekan stres akibat vaksinasi. Harapannya, tubuh ayam mampu merespons pembentukan antibodi, sehingga akan terbentuk antibodi yang protektif (mampu melindungi ayam dari infeksi penyakit). Dari seluruh uraian di atas, sedikit benang merah yang diambil adalah reaksi post vaksinasi merupakan sebuah kewajaran yang menandakan bahwa tubuh ayam sedang merespons vaksin dengan membentuk antibodi. Namun demikian reaksi post vaksinasi akan menjadi sebuah masalah apabila terjadi secara berlebihan dan berkepanjangan. Untuk itu peternak perlu mengantisipasi hal tersebut, sehingga proses vaksinasi tidak menjadi hal yang kontraproduktif. *Technical Sales Representatif Medion Area Binjai, Medan, Sumatra Utara Edisi Februari 2023 u 63 Aplikasi pemberian vaksin yang tepat menjadi hal yang sangat penting Syaiful Jati Anhardika


Keberhasilan manajemen pemeliharaan akan ternodai apabila proses pemanenan dan pengangkutan livebird dilakukan secara asal-asalan. D ewasa ini, usaha budi daya broiler diharuskan untuk berjalan semakin efisien. Tak hanya karena potensi genetik ayam yang semakin membaik dan menuntut banyak hal, namun perubahan iklim yang semakin santer dibicarakan juga menjadi faktor yang harus diperhatikan. Di sisi lain, persaingan usaha di dalam bisnis ini terlihat semakin ketat, sehingga efisiensi usaha untuk mencapai daya saing tak bisa dielakan. Hal ini nampaknya telah disadari oleh para peternak. Upgrade kandang dari open house ke semi closed house maupun closed house menjadi salah satu gambaran ikhtiar para peternak untuk dapat meningkatkan efisiensi usahanya. Selain itu perbaikan manajemen budi daya secara perlahan juga telah dijalankan. Pasalnya kegiatan usaha budi daya merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan sangat bergantung pada bagaimana peternak melakukan manajemen pemeliharaan yang tepat terhadap ternaknya. Dimulai dari proses kosong kandang, sanitasi, persiapan chick in, dilanjut ke penggemukan ayam, sampai pada tahap akhir yaitu proses pemanenan ayam. Semua proses tersebut saling berkait dan memengaruhi dalam keberhasilan proses budi daya. Tak terkecuali manajemen akhir pemeliharaan yaitu masa panen. Masa panen adalah masa di mana broiler sudah siap dipanen dan menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh peternak. Pasalnya proses pemanenan inilah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya usaha budi daya yang dijalankannya. Seefisien apapun proses budi daya yang dilakukan, maka hal tersebut akan ternodai apabila tidak diikuti dengan proses pemanenan yang tepat. Persiapan dan pemanenan Tahap awal, dimulai dari penentuan keputusan waktu panen yang tepat. Peternak tidak boleh asal-asalan dalam menentukan waktu atau umur panen pada broiler. Pasalnya, ketepatan waktu panen sangat memengaruhi besaran keuntungan yang akan didapatkan oleh peternak. Hal pertama yang dapat menjadi bahan pertimbangan peternak dalam menentukan umur panen adalah nilai konversi ransum atau feed convertion ratio (FCR). FCR merupakan nilai yang menunjukkan perbandingan antara jumlah kilogram ransum yang dikonsumsi ayam untuk menghasilkan 1 kg berat badan. Semakin besar nilai FCR berarti efisiensi penggunaan ransum pun semakin kurang baik, begitu pula sebaiknya. Standar nilai FCR ini telah ditentukan oleh perusahaan pembibit (breeder) Pemanenan dan Pengangkutan Kunci Akhir Penentu Keuntungan Oleh : Muhammad Sandi Dwiyanto S.Pt 64 u Edisi Februari 2023 Pemanenan merupakan rangkaian akhir penentu keuntungan peternak dan sebagai acuan bagi peternak dalam pemantauan produksi setiap minggunya. Biasanya nilai FCR optimum (mendekati rentang standar breeder) terjadi pada kisaran umur 4-6 minggu, dan pada umur 7-8 minggu pertambahan bobot badan sudah melambat dan tidak optimal lagi. Pertumbuhan yang telah melambat pada umur tertentu ini, membuat FCR membengkak, sehingga nilai keuntungan pun tertekan. Untuk itu, penting bagi peternak untuk dapat menyesuaikan umur panen dengan nilai FCR broiler. Biasanya, para peternak melakukan panen broiler ± umur 35 hari, atau dengan bobot badan 1 – 2 kg. Namun demikian, hal ini bukanlah sebuah keharusan. Pasalnya banyak peternak yang melakukan panen berdasarkan waktu umur pencapaian bobot badan ayam yang digemari oleh konsumen. Untuk pasar konsumen rumah tangga kebanyakan lebih menyukai ayam dengan ukuran kecil antara bobot 1-1,5 kg. Selain itu, pangsa pasar ukuran ayam ini juga dipengaruhi oleh jenis kuliner yang hendak menyerapnya. Seperti bobot 0,8-1 kg biasanya akan digunakan oleh rumah makan padang, bobot 1 – 1,2 untuk opor, 1,6-1,8 untuk ayam tepung dan sejenisnya, serta di atas 1,8 biasanya akan dijadikan produk filet dan bahan baku industri pengolahan daging ayam yang menghasilkan produk seperti sosis, nugget, dan bakso. Kemudian, fluktuasi harga livebird juga menjadi faktor penting yang digunakan peternak dalam menentukan waktu panen. Saat momentum tertentu seperti menjelang hari raya idulfitri, natal dan tahun baru, biasanya harga di pasar akan meningkat, sehingga periode pemeliharaan bisa dipersingkat dan dijual lebih awal agar keuntungan yang diperoleh lebih besar. Sebaliknya apabila harga jual sedang rendah, maka peternak bisa memperpanjang periode pemeliharaan, dengan catatan harus tetap mempertimbangkan nilai FCR ternaknya. Disisi lain, pada kasus adanya serangan penyakit tak jarang peternak melakukan panen lebih dini. Hal ini karena penurunan keuntungan dan meningkatnya biaya pengobatan serta biaya ransum selama ayam sakit. Belum lagi, adanya risiko penurunan bobot badan dan kematian. Sebelum panen dimulai, penanggungjawab kandang harus memastikan ternak yang akan dipanen sudah memasuki withdrawal time dari jenis antibiotik yang diberikan. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kemungkinan residu antibiotik yang masih tertinggal dalam karkas maupun jeroan ayam. Jika konsumen memakan ayam yang mengandung residu antibiotik tersebut, dikhawatirkan akan terjadi resistensi antibiotik terhadap bakteri yang ada di dalam tubuh manusia yang mengonsumsi ayam tersebut. Untuk waktu pemanenan akan lebih baik bila ayam ditangkap ketika pagi, sore, atau malam hari. Hal ini bertujuan agar ayam tidak begitu stres. Pasalnya pada waktu tersebut, intensitas panas dari matahari tidak begitu tinggi, dan suhu lingkungan kandang juga cukup rendah. Selain itu, setidaknya 12 jam atau minimal 8 jam sebelum dilakukan pemanenan, ayam tidak diberikan pakan. Karena pakan yang diberikan pada ayam sesaat sebelum pemanenan belum dapat tercerna secara sempurna, sehingga setelah pemotongan akan terlihat banyak sekali sisa pakan yang masih berada di tembolok dan terbuang. Aspek lainnya yang perlu diperhatikan yaitu ayam yang diberikan pakan sesaat sebelum panen, akan memiliki bobot yang tinggi saat dilakukan penimbangan di kandang. Namun dikhawatirkan akan terjadi susut yang besar ketika dilakukan penimbangan ulang di RPHU, karena pakan belum terkonsumsi secara sempurna. Namun peternak masih boleh memberikan air minum biasa atau air minum bervitamin pada ayam. Hal ini dapat menimbulkan protes dari pelanggan. Sebelum dilakukan penangkapan, sebaiknya petugas membuat sekat sesuai urutan ayam yang akan ditangkap. Hal ini untuk menghindari ayam yang belum ditangkap menjadi lemas. Saat menangkap ayam, pegang kaki ayam secara perlahan dan pegang bagian dada sembari menariknya ke atas. Hindari menangkap ayam dengan kasar dan memegang salah satu sayapnya terlebih dahulu, karena ayam akan berontak, stres dan membuat sayap akan memar. Saat panen, umumnya setiap pekerja kandang bisa memegang 3-5 ekor ayam sekaligus. Setelah ditangkap, kedua kaki ayam diikat dengan tali agar bisa ditimbang secara berkelompok (sekitar 3-5 ekor bersamaan) dan segera catat bobot hidupnya. Setelah dilakukan penimbangan, ayam dimasukkan ke dalam keranjang. Sesuaikan juga kapasitas keranjang pengangkut dengan timbangan ternak. Kapasitas keranjang pengangkut ayam dengan dimensi 97x57x28 cm untuk 25 kg ayam dengan maksimal populasi/keranjang 25-30 ekor. Jika lebih dari itu, maka risiko kematian saat pengangkutan akan tinggi. Ambil sebuah contoh panen dengan ukuran ayam 1 kg, maka maksimum jumlah ekor yang disarankan dalam satu keranjang adalah 25 ekor. Jika kurang dari 1 kg, maka jumlah ayam yang bisa masuk ke dalam keranjang bisa ditambah hingga maksimal 30 ekor. Namun jika ukuran ayam lebih dari 1 kg, disarankan untuk Edisi Februari 2023 u 65 Proses pemanenan merupakan penentu terakhir keberhasilan budi daya broiler


dan sebagai acuan bagi peternak dalam pemantauan produksi setiap minggunya. Biasanya nilai FCR optimum (mendekati rentang standar breeder) terjadi pada kisaran umur 4-6 minggu, dan pada umur 7-8 minggu pertambahan bobot badan sudah melambat dan tidak optimal lagi. Pertumbuhan yang telah melambat pada umur tertentu ini, membuat FCR membengkak, sehingga nilai keuntungan pun tertekan. Untuk itu, penting bagi peternak untuk dapat menyesuaikan umur panen dengan nilai FCR broiler. Biasanya, para peternak melakukan panen broiler ± umur 35 hari, atau dengan bobot badan 1 – 2 kg. Namun demikian, hal ini bukanlah sebuah keharusan. Pasalnya banyak peternak yang melakukan panen berdasarkan waktu umur pencapaian bobot badan ayam yang digemari oleh konsumen. Untuk pasar konsumen rumah tangga kebanyakan lebih menyukai ayam dengan ukuran kecil antara bobot 1-1,5 kg. Selain itu, pangsa pasar ukuran ayam ini juga dipengaruhi oleh jenis kuliner yang hendak menyerapnya. Seperti bobot 0,8-1 kg biasanya akan digunakan oleh rumah makan padang, bobot 1 – 1,2 untuk opor, 1,6-1,8 untuk ayam tepung dan sejenisnya, serta di atas 1,8 biasanya akan dijadikan produk filet dan bahan baku industri pengolahan daging ayam yang menghasilkan produk seperti sosis, nugget, dan bakso. Kemudian, fluktuasi harga livebird juga menjadi faktor penting yang digunakan peternak dalam menentukan waktu panen. Saat momentum tertentu seperti menjelang hari raya idulfitri, natal dan tahun baru, biasanya harga di pasar akan meningkat, sehingga periode pemeliharaan bisa dipersingkat dan dijual lebih awal agar keuntungan yang diperoleh lebih besar. Sebaliknya apabila harga jual sedang rendah, maka peternak bisa memperpanjang periode pemeliharaan, dengan catatan harus tetap mempertimbangkan nilai FCR ternaknya. Disisi lain, pada kasus adanya serangan penyakit tak jarang peternak melakukan panen lebih dini. Hal ini karena penurunan keuntungan dan meningkatnya biaya pengobatan serta biaya ransum selama ayam sakit. Belum lagi, adanya risiko penurunan bobot badan dan kematian. Sebelum panen dimulai, penanggungjawab kandang harus memastikan ternak yang akan dipanen sudah memasuki withdrawal time dari jenis antibiotik yang diberikan. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kemungkinan residu antibiotik yang masih tertinggal dalam karkas maupun jeroan ayam. Jika konsumen memakan ayam yang mengandung residu antibiotik tersebut, dikhawatirkan akan terjadi resistensi antibiotik terhadap bakteri yang ada di dalam tubuh manusia yang mengonsumsi ayam tersebut. Untuk waktu pemanenan akan lebih baik bila ayam ditangkap ketika pagi, sore, atau malam hari. Hal ini bertujuan agar ayam tidak begitu stres. Pasalnya pada waktu tersebut, intensitas panas dari matahari tidak begitu tinggi, dan suhu lingkungan kandang juga cukup rendah. Selain itu, setidaknya 12 jam atau minimal 8 jam sebelum dilakukan pemanenan, ayam tidak diberikan pakan. Karena pakan yang diberikan pada ayam sesaat sebelum pemanenan belum dapat tercerna secara sempurna, sehingga setelah pemotongan akan terlihat banyak sekali sisa pakan yang masih berada di tembolok dan terbuang. Aspek lainnya yang perlu diperhatikan yaitu ayam yang diberikan pakan sesaat sebelum panen, akan memiliki bobot yang tinggi saat dilakukan penimbangan di kandang. Namun dikhawatirkan akan terjadi susut yang besar ketika dilakukan penimbangan ulang di RPHU, karena pakan belum terkonsumsi secara sempurna. Namun peternak masih boleh memberikan air minum biasa atau air minum bervitamin pada ayam. Hal ini dapat menimbulkan protes dari pelanggan. Sebelum dilakukan penangkapan, sebaiknya petugas membuat sekat sesuai urutan ayam yang akan ditangkap. Hal ini untuk menghindari ayam yang belum ditangkap menjadi lemas. Saat menangkap ayam, pegang kaki ayam secara perlahan dan pegang bagian dada sembari menariknya ke atas. Hindari menangkap ayam dengan kasar dan memegang salah satu sayapnya terlebih dahulu, karena ayam akan berontak, stres dan membuat sayap akan memar. Saat panen, umumnya setiap pekerja kandang bisa memegang 3-5 ekor ayam sekaligus. Setelah ditangkap, kedua kaki ayam diikat dengan tali agar bisa ditimbang secara berkelompok (sekitar 3-5 ekor bersamaan) dan segera catat bobot hidupnya. Setelah dilakukan penimbangan, ayam dimasukkan ke dalam keranjang. Sesuaikan juga kapasitas keranjang pengangkut dengan timbangan ternak. Kapasitas keranjang pengangkut ayam dengan dimensi 97x57x28 cm untuk 25 kg ayam dengan maksimal populasi/keranjang 25-30 ekor. Jika lebih dari itu, maka risiko kematian saat pengangkutan akan tinggi. Ambil sebuah contoh panen dengan ukuran ayam 1 kg, maka maksimum jumlah ekor yang disarankan dalam satu keranjang adalah 25 ekor. Jika kurang dari 1 kg, maka jumlah ayam yang bisa masuk ke dalam keranjang bisa ditambah hingga maksimal 30 ekor. Namun jika ukuran ayam lebih dari 1 kg, disarankan untuk Edisi Februari 2023 u 65 Proses pemanenan merupakan penentu terakhir keberhasilan budi daya broiler


memuat keranjang tersebut kurang dari 25 ekor ayam. Semakin besar ukuran ayam membuat ayam sangat rentan dengan cekaman panas saat proses pengangkutan. Untuk ayam dengan ukuran 1 kg lebih, perlu adanya penyiraman keranjang yang sudah diangkut dalam truk untuk mengurangi cekaman panas. Perhatikan pengangkutan Menurut Buku yang berjudul Pedoman Penerapan Kesrawan pada Pengangkutan Hewan Edisi Pertama yang diterbitkan oleh Ditkesmavet tahun 2020, menjelaskan bahwa alat pengangkutan yang digunakan untuk mengangkut ternak unggas didesain aman dan nyaman bagi ternak serta lingkungannya dengan memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan. Pengangkutan unggas di Indonesia melalui jalur darat menggunakan alat pengangkutan berupa truk, mobil pickup, juga kendaraan bermotor yang dilengkapi box atau keranjang. Sebagai contoh pemenuhan aspek kesejahteraan hewan dalam pengangkutan terkait desain kendaraan seperti kebersihan alat pengangkutan, penerangan yang cukup untuk melakukan pengamatan, dilengkapi atap pelindung dari gangguan cuaca, memberikan akses minum jika pengangkutan lebih dari 12 jam, menggunakan pelindung cuaca dari bagian sisi truk bila diperlukan. Untuk menjaga ternak agar sesuai dengan prinsip kesejahteraan dan kebebasan hewan, maka kendaraan yang digunakan untuk pengangkutan ayam dari kandang ke tempat pemotongan hewan harus sesuai dengan prinsip dan kaidah kesejahteraan hewan. Saat diangkut oleh kendaraan pengangkut, unggas menjaga keseimbangan suhu tubuhnya dengan seoptimal mungkin. Oleh karena itu pentingnya menyesuaikan desain kotak atau box yang digunakan sesuai dengan spesies, umur, dan memperhatikan kondisi cuaca. Jika box yang digunakan terlalu longgar maupun terlalu padat, dapat menyebabkan benturan, cedera, patah kaki, sayap, dan asfiksia. Desain alat pengangkutan unggas harus memenuhi prinsip kesejahteraan hewan seperti truk yang dirancang untuk mengangkut hewan bersih, memberikan perlindungan terhadap cuaca, sekaligus situasi selama perjalanan. Diberikan penutup atau terpal memudahkan pengangkutan dan dapat disesuaikan dengan kondisi dilapangan. Saat cuaca dingin di tutup dan saat panas dapat dibuka. Selanjutnya pengangkutan unggas menggunakan truk besar tertutup atau mobil box wajib menggunakan extra fan atau kipas untuk sirkulasi udara. Fungsi dari kipas tambahan yaitu untuk menghindari panas di ruang angkut, membuang uap air yang berlebih, menghilangkan bau tak sedap, mencegah masuknya serangga, dan mencegah timbunan gas berbahaya. Box tertutup yang digunakan harus terbuat dari bahan yang kuat, padat, aman, bersih, dengan bagian bawah yang tidak licin, dapat mengkondisikan keadaan kotoran. Wadah yang rusak tidak boleh digunakan karena dapat membahayakan unggas di dalamnya. Kendaraan pengangkut unggas juga harus memiliki penerangan cukup untuk melakukan kegiatan inspeksi saat di pemberhentian terutama pengangkutan malam hari. Selain itu, kendaraan hendaknya juga memiliki penutup samping dan belakang, terutama bagian belakang yang lebih berpotensi terkena stres dingin, serta memiliki pencegahan untuk meminimalkan kebocoran air yang dapat membasahi bulu unggas. Kemudian, untuk perjalanan yang memakan waktu lama, kendaraan harus mempunyai akses pakan yang dilengkapi dengan sistem air minum yang cukup. Selanjutnya kendaraan pengangkut Lebih lanjut, penempatan keranjang pengangkut ayam harus disusun dengan benar untuk mencegah guncangan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam mengatasi kondisi darurat, pintu angkutan harus memiliki akses dari sisi samping kendaraan. Pintu akses besar kendaraan cukup untuk memungkinkan dilewati dalam menumpuk box saat pemuatan. Box atau keranjang ternak harus dilengkapi dengan pintu geser atas yang besar, bagian bawah mencegah jari-jari keluar, lubang tidak terlalu besar sehingga kepala tidak keluar, juga celah penutup pintu yang tidak menimbulkan kemungkinan terjepit. Pengemudi juga harus memiliki kemampuan untuk memperhatikan perilaku unggas yang diangkut dan mengutamakan keselamatan dalam berkendara. Kecepatan pengemudi juga memengaruhi aspek kesejahteraan hewan, hewan yang diangkut dengan kecepatan konstan (misalnya 80 km/jam) akan lebih nyaman dibanding yang diangkut dengan kecepatan tidak merata misalnya (100 km/ jam, kemudian 60 km/jam, kemudian 85 km/jam dst) hal ini dapat mengakibatkan stres yang memengaruhi kualitas daging. *Jurnalis Majalah Poultry Indonesia 66 u Edisi Februari 2023 Hindari menangkap ayam dengan memegang sayapnya, karena dapat mengakibatkan memar


RE-EVALUASI STRATEGI NUTRISI TRACE MINERALS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK Penulis: Kinasih Sekarlangit Trace Minerals Program Manager Trouw Nutrition Indonesia Sebuah sumber trace mineral hanya akan berarti bagi ternak ketika mineral yang ada dapat secara efisien diserap ke aliran darah melalui dinding saluran pencernaan. Ternak akan mampu memanfaatkan mineral untuk mendukung perkembangan, produktivitas, reproduksi, serta fungsi imunitas dan lainnya ketika mineral dapat diserap secara sempurna. Pastikan Anda mendapatkan yang terbaik Beberapa sumber trace minerals tertentu (khususnya inorganic) merupakan substansi yang reaktif, khususnya saat berada pada saluran pencernaan bagian atas. Reaksi tersebut dipicu oleh tingkat solubilitas yang tinggi, di mana dapat mempengaruhi integritas saluran pencernaan dan stabilitas serta ketersediaan nutrisi penting lainnya (vitamin, fats, AAs, probiotik, dsb.) yang telah kita formulasikan pada pakan. Dua kategori trace mineral yang lebih baik Didasari oleh adanya efek negatif yang timbul dari inorganic trace minerals sehingga berpotensi menurunkan produktivitas ternak, dikembangkanlah sumber trace minerals yang lebih berkualitas dan aman bagi ternak. Dua kategori sumber trace minerals yang berhasil dikembangkan yaitu organic trace minerals di mana telah tersedia di market dalam kurun waktu cukup lama seperti proteinate trace minerals, asam amino trace minerals dan glycinate trace minerals. Saat ini, generasi terbaru trace mineral, yaitu IntelliBond® telah tersedia di market, khususnya di Indonesia. IntelliBond® trace minerals IntelliBond® milik Selko (merek feed additive milik Trouw Nutrition) dikembangkan dan diperkenalkan pada akhir tahun 1990-an di mana product tersebut dikembangkan menggunakan teknologi trace mineral terbaru dan diklasifikasikan sebagai kategori hydroxy trace mineral. Setiap IntelliBond® (Zinc, Manganese, dan Copper) memiliki metal crystals yang stabil saat berada pada lingkungan dengan pH di atas 4.0. Hal ini kemudian memberikan kemampuan stabilitas yang kuat saat dicampurkan pada pakan dan saat berada di saluran pencernaan bagian atas. Hanya pada saat hydroxy metal crystals berada pada lingkungan pH rendah (< 4.0) layaknya pH pada stomach, gizzard, atau abomasum, maka metal crystals akan mulai merilis ion metalnya secara perlahan dan secara sempurna dirilis pada saat berada di usus halus untuk kemudian diserap oleh dinding usus halus. Dengan memiliki kemampuan stabilitas yang kuat serta proses rilis secara perlahan, re-evaluasi strategi nutrisi trace minerals menggunakan IntelliBond® dapat menjadi sebuah strategi sumber trace minerals yang aman bagi ternak dan memiliki tingkat relative bioavailability (RBV) yang tinggi dan bahkan bersaing dengan kategori organic trace minerals (Gambar 1 dan 2) sehingga mampu mendukung produktivitas ternak dengan secara optimal. Memperhitungkan profit atas investasi trace minerals IntelliBond® dapat digunakan dengan biaya minimal dan memungkinkan untuk mengganti sumber inorganic trace minerals yang reaktif atau bahkan organic trace minerals sekalipun. Apabila dibandingkan dengan beberapa data organic trace minerals yang ada di market, IntelliBond® mampu memberikan biaya yang lebih terjangkau dengan nilai ekonomis yang lebih baik sekitar 50 – 60% tanpa mengurangi efektivitas pemanfaatan trace minerals oleh ternak dan bahkan mampu memberikan efektivitas yang lebih baik. Dengan penjelasan di atas, akan lebih baik apabila kita mampu melakukan re-evaluasi pemilihan sumber suplementasi trace minerals dengan mengingat beberapa kriteria yang telah disebutkan guna memaksimalkan profit atas investasi dari trace minerals yang kita gunakan. Gambar 1. Relative bioavailability IntelliBond Z vs Zinc Sulfate dan Zinc Organic Gambar 2. Relative bioavailability IntelliBond C vs Copper Sulfate Tibia zinc, g/tibia h ZnSO4 IntelliBond Z Organic TM Supplemental Zn, ppm 60 56 52 45 44 40 36 32 28 24 20 0 3 6 9


68 u Edisi Februari 2023 POJOK OBAT UNGGAS J amur adalah organisme eukariotik, bereproduksi secara seksual dan aseksual, tidak mempunyai klorofil, mengambil nutrisi dengan cara absorpsi, berdinding sel kompleks umumnya kitin, ergosterol, mannan, dan glukan. Selain itu, senyawa ergosterol merupakan penyusun utama dan sel membran dari jamur. Umumnya kasus-kasus mikosis pada hewan terjadi karena infeksi jamur, juga faktor disposisi pemakaian antibiotik yang berlebihan, serta manajemen pemeliharaan dan kesehatan yang buruk. Infeksi jamur patogenik (mikosis) pada hewan umumnya adalah khamir dan kapang saja, sedangkan pada manusia akan lebih banyak jamur yang menginfeksi seperti khamir sejati (Cryptococcus Sp). Sedangkan untuk miselium sejati umumnya dimiliki oleh kapang (Aspergillus Sp, Trichophyton Sp, Epidermophyton Sp, Microsporum Sp). Selain itu juga dengan jamur dimorfik ( jamur yang mempunyai fase pertumbuhan berbeda dalam keadaan suhu yang berbeda) seperti Histoplasma Sp, Blastomyces Sp, Coccidiosis Sp. Infeksi jamur secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu, superficial atau topikal dengan contoh penyakit candidiasis, ringworm/dermatofitosis dan lain – lainnya. Kemudian untuk contoh sistemik dengan seperti penyakit Aspergillosis, Histoplasmosis, Blastomikosis dan lainnya. Pada unggas, jamur candida umum menyerang saluran pencernaan (proventrikulus dan tembolok), sedangkan pada hati juga sering dijumpai jamur Aspergillus sp, dan bagian saluran pernapasan umumnya terserang jamur Aspergillosis adalah kantung udara dalam paru - paru. Obat antijamur lebih populer dengan sebutan antijamur atau antifungi. Antijamur dapat dibuat dari bahan kimia dan tanaman tradisional. Antijamur berbahan kimiawi terbagi menjadi antijamur sistemik (amfoterisin B, flusitosin, golongan azole dll) dan antijamur topikal (nistatin, tolnaftat dan naftitin, asam undesilenat, dll). Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, maka antijamur terus mengalami perkembangan. Hal ini tentunya bertujuan agar antijamur lebih efektif dan efisien ketika diaplikasikan pada objek yang ditargetkan dan dituju. Dari perkembangan tersebut, juga ditemukan berbagai macam klasifikasi kelas dan jenis obat antijamur (Gambar 1). Kemudian, apabila dilihat perkembangan anti jamur pada kedokteran manusia lebih berkembang dengan cepat dibandingkan pada kedoteran hewan. Pasalnya penyakit jamur pada manusia lebih dianggap berbahaya dan penting untuk difokuskan dibandingkan pada hewan. Beberapa penyakit bersifat imunosupresif, sehingga infeksi jamur sangat berat dan sulit disembuhkan dan sering mengakibatkan kematian. Namun di dalam kedokteran hewan, belum banyak penelitian tentang infeksi jamur ini, dan umumnya ditemukan di hewan kesayangan peliharaan seperti anjing dan kucing. Mekanisme obat antijamur secara umum. Mekanisme kerja obat antijamur yang umum dapat terjadi adalah dengan memengaruhi sterol membran plasma sel jamur, sintesis asam nukleat jamur, dan dinding sel jamur, yaitu kitin, β glukan, dan mannoprotein. Mekanisme pertama melalui sterol membran plasma yang berhubungan dengan ergosterol dan sintesis ergosterol. Ergosterol merupakan komponen utama penting yang menjaga integritas membran sel jamur dengan cara mengatur fluiditas dan keseimbangan dinding membran sel jamur. Kerja obat antijamur secara langsung (golongan polien) adalah menghambat sintesis ergosterol di mana obat ini mengikat secara langsung ergosterol dan saluran ion di membran sel jamur, hal ini menyebabkan gangguan permeabilitas berupa kebocoran ion kalium dan menyebabkan kematian sel. Sedangkan kerja antijamur secara tidak langsung (golongan azol) adalah mengganggu biosintesis ergosterol dengan cara mengganggu demetilasi ergosterol pada jalur sitokrom P450 (demetilasi prekursor ergosterol) Kemudian kerja obat antijamur yang mengganggu sintesis asam nukleat adalah dengan cara menterminasi secara dini rantai RNA dan menginterupsi sintesis DNA. Sebagai contoh obat antijamur yang mengganggu sintesis asam nukleat adalah 5 flusitosin (5FC), di mana 5 FC masuk ke dalam inti sel jamur Sebelum mengetahui antijamur, ada baiknya pembaca menyegarkan ingatan tentang jamur. Sel Jamur lebih kompleks daripada bakteri, karena sel jamur bersifat eukariotik, sedangkan bakteri bersifat prokariotik. Antijamur pada Mikosis Unggas Oleh: Riza Zainuddin Ahmad*


68 u Edisi Februari 2023 POJOK OBAT UNGGAS J amur adalah organisme eukariotik, bereproduksi secara seksual dan aseksual, tidak mempunyai klorofil, mengambil nutrisi dengan cara absorpsi, berdinding sel kompleks umumnya kitin, ergosterol, mannan, dan glukan. Selain itu, senyawa ergosterol merupakan penyusun utama dan sel membran dari jamur. Umumnya kasus-kasus mikosis pada hewan terjadi karena infeksi jamur, juga faktor disposisi pemakaian antibiotik yang berlebihan, serta manajemen pemeliharaan dan kesehatan yang buruk. Infeksi jamur patogenik (mikosis) pada hewan umumnya adalah khamir dan kapang saja, sedangkan pada manusia akan lebih banyak jamur yang menginfeksi seperti khamir sejati (Cryptococcus Sp). Sedangkan untuk miselium sejati umumnya dimiliki oleh kapang (Aspergillus Sp, Trichophyton Sp, Epidermophyton Sp, Microsporum Sp). Selain itu juga dengan jamur dimorfik ( jamur yang mempunyai fase pertumbuhan berbeda dalam keadaan suhu yang berbeda) seperti Histoplasma Sp, Blastomyces Sp, Coccidiosis Sp. Infeksi jamur secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu, superficial atau topikal dengan contoh penyakit candidiasis, ringworm/dermatofitosis dan lain – lainnya. Kemudian untuk contoh sistemik dengan seperti penyakit Aspergillosis, Histoplasmosis, Blastomikosis dan lainnya. Pada unggas, jamur candida umum menyerang saluran pencernaan (proventrikulus dan tembolok), sedangkan pada hati juga sering dijumpai jamur Aspergillus sp, dan bagian saluran pernapasan umumnya terserang jamur Aspergillosis adalah kantung udara dalam paru - paru. Obat antijamur lebih populer dengan sebutan antijamur atau antifungi. Antijamur dapat dibuat dari bahan kimia dan tanaman tradisional. Antijamur berbahan kimiawi terbagi menjadi antijamur sistemik (amfoterisin B, flusitosin, golongan azole dll) dan antijamur topikal (nistatin, tolnaftat dan naftitin, asam undesilenat, dll). Sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, maka antijamur terus mengalami perkembangan. Hal ini tentunya bertujuan agar antijamur lebih efektif dan efisien ketika diaplikasikan pada objek yang ditargetkan dan dituju. Dari perkembangan tersebut, juga ditemukan berbagai macam klasifikasi kelas dan jenis obat antijamur (Gambar 1). Kemudian, apabila dilihat perkembangan anti jamur pada kedokteran manusia lebih berkembang dengan cepat dibandingkan pada kedoteran hewan. Pasalnya penyakit jamur pada manusia lebih dianggap berbahaya dan penting untuk difokuskan dibandingkan pada hewan. Beberapa penyakit bersifat imunosupresif, sehingga infeksi jamur sangat berat dan sulit disembuhkan dan sering mengakibatkan kematian. Namun di dalam kedokteran hewan, belum banyak penelitian tentang infeksi jamur ini, dan umumnya ditemukan di hewan kesayangan peliharaan seperti anjing dan kucing. Mekanisme obat antijamur secara umum. Mekanisme kerja obat antijamur yang umum dapat terjadi adalah dengan memengaruhi sterol membran plasma sel jamur, sintesis asam nukleat jamur, dan dinding sel jamur, yaitu kitin, β glukan, dan mannoprotein. Mekanisme pertama melalui sterol membran plasma yang berhubungan dengan ergosterol dan sintesis ergosterol. Ergosterol merupakan komponen utama penting yang menjaga integritas membran sel jamur dengan cara mengatur fluiditas dan keseimbangan dinding membran sel jamur. Kerja obat antijamur secara langsung (golongan polien) adalah menghambat sintesis ergosterol di mana obat ini mengikat secara langsung ergosterol dan saluran ion di membran sel jamur, hal ini menyebabkan gangguan permeabilitas berupa kebocoran ion kalium dan menyebabkan kematian sel. Sedangkan kerja antijamur secara tidak langsung (golongan azol) adalah mengganggu biosintesis ergosterol dengan cara mengganggu demetilasi ergosterol pada jalur sitokrom P450 (demetilasi prekursor ergosterol) Kemudian kerja obat antijamur yang mengganggu sintesis asam nukleat adalah dengan cara menterminasi secara dini rantai RNA dan menginterupsi sintesis DNA. Sebagai contoh obat antijamur yang mengganggu sintesis asam nukleat adalah 5 flusitosin (5FC), di mana 5 FC masuk ke dalam inti sel jamur Sebelum mengetahui antijamur, ada baiknya pembaca menyegarkan ingatan tentang jamur. Sel Jamur lebih kompleks daripada bakteri, karena sel jamur bersifat eukariotik, sedangkan bakteri bersifat prokariotik. Antijamur pada Mikosis Unggas Oleh: Riza Zainuddin Ahmad* melalui sitosin permease. Di dalam sel jamur 5FC diubah menjadi 5 fluoro uridin trifosfat yang menyebabkan terminasi dini rantai RNA. Trifosfat ini juga akan berubah menjadi 5 fluoro deoksiuridin monofosfat yang akan menghambat timidilat sintetase sehingga akhirnya memutus sintesis DNA . Cara kerja selanjutnya adalah melalui dinding sel jamur yang mempunyai unsur utama glukans. Dinding sel jamur memiliki ciri yang spesifik karena tersusun atas mannoproteins, kitin, dan α dan β glukan yang menyelenggarakan berbagai fungsi, diantaranya menjaga rigiditas dan bentuk sel, metabolisme, pertukaran ion pada membran sel. Sebagai unsur penyangga adalah β glukan. Contoh spesifik untuk antijamur golongan ekinokandin menghambat pembentukan β1, 3 glukan tetapi tidak secara kompetitif. Sehingga apabila β glukan tidak terbentuk, integritas struktural dan morfologi sel jamur akan mengalami lisis. Resistensi anti jamur Resistensi antijamur didefinisikan sebagai adaptasi atau penyesuaian sel jamur yang stabil, didapat akibat obat-obat antijamur, sehingga mengakibatkan sensitivitas terhadap antijamur tersebut berkurang dibandingkan dengan keadaan normal. Secara umum, jamur dapat mengalami resistensi secara intrinsik terhadap obat-obat antijamur (resistansi primer) atau resistansi dapat terjadi sebagai respons terhadap pajanan obat antijamur selama pengobatan (resistansi sekunder). Kegagalan respons klinis merupakan kegagalan terapi yang sesuai untuk indikasi tertentu dalam menghasilkan respons klinis. Penyebab kegagalan klinis dapat berupa resistensi antijamur, namun penyebab lain misalnya gangguan fungsi imunitas, bioavailabilitas yang buruk dari obat yang diberikan atau peningkatan metabolisme obat dapat menjadi penyebab dari kegagalan terapi. Obat fungistatik akan lebih mempercepat resistansi dibandingkan dengan obat fungisidal. Dosis obat antijamur, termasuk kuantitas, frekuensi, jadwal pemberian, dan dosis kumulatif juga dapat berperan dalam keberhasilan pengobatan infeksi jamur. Pemberian obat antijamur bersamaan dengan obat lain juga dapat mengubah efektivitas obat anti jamur. Beberapa faktor dari jamur dapat berpengaruh terhadap kejadian resistansi, misalnya jenis spesies atau galur serta tipe sel yang dapat mengubah efektivitas terapi. Beberapa jamur termasuk Candida albicans dan Candida glabrata, menunjukkan mekanisme switch phenotypes sehingga mempunyai beberapa morfologi yang dapat berubah-ubah tergantung lokasi infeksi yang dapat meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan pejamu. Beberapa jamur juga mempunyai biofilm yang dapat menyebabkan jamur tersebut kurang suseptibel terhadap obat-obat antijamur. Populasi bottlenecks (pengurangan secara drastis jumlah populasi yang dapat disebabkan oleh karena berbagai kejadian misalnya bencana alam yang berakibat pada penurunan gen pool dari populasi karena banyak alel atau varian gen yang dulunya didapatkan pada populasi awal menjadi hilang) juga dapat memengaruhi kepekaan terhadap infeksi. Sejalan dengan perkembangan zaman, dengan faktor predisposisi pengobatan tidak tepat dalam pemilihan jenis obat, waktu, dosis dan lama pengobatan dapat mengakibatkan terjadinya resistensi mikroba terhadap obat. Resistensi mikroba (AMR), adalah ketika mikroba berevolusi menjadi lebih resisten atau sepenuhnya resisten terhadap antimikroba yang sebelumnya dapat mengeliminasinya. Akibat pemakaian penyalahgunaan anti mikroba yang berlebihan dan tidak terkendali pada hewan dapat menyebabkan terjadinya gen resisten pada hewan yang sangat mudah menyebar. Perbandingan antijamur kimiawi dengan tanaman tradisional Obat antijamur yang digunakan sebagai terapi terhadap infeksi jamur terbatas, dan hanya ada sedikit produk berlisensi untuk hewan. Namun, ada beberapa golongan obat antijamur yang dapat digunakan dalam pengobatan hewan dan manusia, yaitu : 1. Azol yang menargetkan biosintesis ergosterol, 2. Echinocandins yang menghambat biosintesis dinding sel jamur, 3. Poliena yang berikatan dengan ergosterol pada sel jamur. Membran, menyebabkan lisis sel, 4. Pirimidin, analog nukleosida yang mengganggu metabolisme pirimidin dalam inti sel jamur, 5. Alilamina menghambat biosintesis ergosterol.Untuk mikosis superfisial terutama infeksi yang disebabkan oleh dermatofita, azol, alilamina merupakan obat yang paling efektif. Edisi Februari 2023 u 69 Gambar.1 Klasifikasi obat jamur kebutuhan beserta dengan target yang diinginkan.


70 u Edisi Februari 2023 POJOK OBAT UNGGAS Nama tanaman Gambar Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) Mimba (Azadirachta indica) Kunyit (curcuma longa linn). Lengkuas (Alpina galanga Linn) Lengkuas merah (Alpinia purpurata K.Schum) Binahong (Anredera cordifolia) Daun sirih (Piper betlee) Bagian tanaman yang di pakai Buah Daun Rimpang Rimpang Rimpang Daun Daun Senyawa anti jamur flavonoid, triterpenoid, Azadirachtin, tannin, saponin,flavonoid dan terpenoid. Curcumin, fenol, flavonoid, alkaloid, terpenoid dan tanin sineol, flavonoid, fenol dan terpenoid. eugenol, flavonoid, fenol, terpenoid saponin dan alkaloid Eugenol, linalool, Carvacrol, saponin, tanin, Tabel.2. Tanaman tradisional sebagai antijamur Pemilihan bahan baku kimiawi umumnya mudah didapatkan dengan harga relatif normal, tetapi risiko suatu kali stok habis khususnya yang bahan baku impor sehingga akan mahal. Risiko lain adalah efek resistensi obat bahan kimia dan efek residu pada produk pangan asal hewani yang yang dikonsumsi manusia, sehingga berakibat penyakit dikemudian hari. Kemudian meski banyak antijamur asal tanaman tradisional, terpilih 7 contoh tanaman Indonesia yang berpotensi sebagai bakal obat antijamur khususnya untuk unggas (tabel 2). Pemilihan antijamur dengan memanfaatkan tanaman tradisional Indonesia harus dilakukan dengan saksama dan teliti, yang harus diperhatikan efek toksik dan khasiat, ambang batasnya harus besar atau lebar, bila kecil dan sempit jangan di pilih. Selain itu, tanaman tersebut mudah dicari dan murah harganya. Beberapa perusahaan jamu sudah berkolaborasi dengan produsen obat hewan. Meski demikian peluang untuk mengembangkan usaha ini masih cukup luas. Obat jamur berbahan baku tanaman tradisional untuk unggas masih jarang, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan di suatu saat bila dibutuhkan. Keunggulan khusus dari penggunaan tanaman tradisional adalah kecil sekali efek residu dan resistensi kalaupun ada, biasa bahan baku harganya murah dan mudah didapat serta dengan persediaan bahan baku dapat terjamin dengan manajemen penanaman tanaman yang baik. Ada 13 macam senyawa khasiat tanaman yang ada di Indonesia, dapat dipilih sesuai keperluan antijamur baik itu untuk desinfektan lingkungan maupun untuk unggas peliharaan dan liar, semua tergantung tujuan yang akan dicapai. Tidak ada kekhawatiran konsumen akan efek residu untuk mengonsumsi protein hewani yang diobati dengan tanaman obat tradisional. Bila dipelajari dari segala aspek mulai ketersediaan, harga, efek resistansi, efek residu, persaingan pasar di dalam menyediakan obat antijamur, maka lebih menguntungkan bila mengambil bahan baku asal tanaman tradisional Indonesia. Antijamur dari tanaman tradisional belum banyak dikembangkan dan dipasarkan di pasaran. Pengobatan penyakit unggas, berbeda dengan anti jamur dari bahan kimiawi yang sudah sangat banyak dan umum dipakai dan dikenal. Tetapi karena risiko resisten dan efek residu, peternak mulai takut dan beralih ke bahan alamiah termasuk obat bahan baku tradisional, sehingga peluang mengembangkan antijamur dari bahan baku tanaman tradisional amat baik. Selain itu, karena asli ada Indonesia, pengaturan ketersediaan bahan obat lebih aman, terjamin, dan relatif terkendali dibandingkan dengan antijamur berbahan baku kimiawi. Efek resistansi dari dampak pemakaian obat antijamur pada manusia sudah banyak terjadi, pada hewan sudah mulai terjadi pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Di unggas mungkin sudah terjadi namun sedikit atau belum ada pelaporan dan publikasinya. Resistensi antijamur pada hewan dapat menyebarkan isolat resisten anti jamur kemanusia dan mencemari lingkungan. Penemuan antijamur yang baru terus berjalan untuk mengatasi masalah resistansi tersebut. Untuk itu peluang membuat anti jamur berbahan baku tanaman tradisional lebih cerah dan menjanjikan dibandingkan anti jamur berbahan baku kimiawi. *Seorang Peneliti Veteriner, Mikolog, anggota ADHPI.


Peringatan Hari Gizi pada tahun 2023 yang mengusung tema ‘Cegah Stunting dengan Protein Hewani’, menjadi momentum yang baik untuk mengingatkan kembali tentang peran penting daging dan telur ayam sebagai zat gizi sumber protein hewani utama masyarakat Indonesia. Oleh Andang S Indartono, S.Pt* 72 u Edisi Februari 2023 Efektivitas Protein Hewani Asal Unggas untuk Cegah Stunting Gizi merupakan tantangan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia dalam rangka pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang sehat dan berkualitas. Hal itu disebabkan karena SDM adalah faktor utama penentu kesejahteraan suatu bangsa, sekaligus menjadi faktor penggerak efektif pertumbuhan ekonomi masyarakat. Salah satu masalah gizi bangsa Indonesia yang perlu mendapat perhatian besar dan harus segera ditangani adalah kasus stunting pada anak bawah lima tahun (balita) yang masih tinggi. Hal itu antara lain ditunjukkan oleh data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, World Health Organization) pada 2018, yang memperlihatkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan prevalensi stunting tertinggi ketiga di kawasan Asia setelah Timor Leste dan India. Tingginya angka Indonesia tersebut terutama disebabkan oleh kurangnya asupan protein, khususnya protein hewani. Melihat hal itu, maka dalam perayaan Hari Gizi Nasional (HGN) pada 25 Januari 2023 lalu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI mengangkat tema ”Cegah Stunting dengan Protein Hewani”. Tema tersebut diiringi dengan dua slogan utama, yakni ‘protein hewani setiap makan’ dan ‘isi piringku kaya protein hewani’. Penekanan pada sumber protein hewani sebagai zat gizi utama pencegah stunting didasarkan pada fakta bahwa jika dibandingkan dengan protein nabati (protein asal tumbuh-tumbuhan), maka pangan hewani lebih unggul, yakni zat gizi asam amino yang lebih lengkap, bahkan zat gizinya memiliki kualitas yang lebih baik, yakni berjumlah lebih banyak dan mudah diserap tubuh oleh seseorang yang mengonsumsinya. Dari tema yang diangkat tersebut, Kemenkes ingin menunjukkan bahwa stunting menjadi prioritas utama dalam pembangunan manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas. Peringatan Hari Gizi Nasional tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat luas dan para pemangku kepentingan tentang pentingnya gizi seimbang untuk pertumbuhan janin dan balita, terutama konsumsi protein hewani setiap hari. Peringatan tersebut sekaligus seharusnya menjadi momentum penting bagi seluruh komponen bangsa untuk semakin meningkatkan kerja sama sinergis dan kolaboratif untuk mempercepat angka penurunan stunting di Indonesia. Stunting atau tengkes atau gagal tumbuh, merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak. Kondisi ini berefek jangka panjang hingga usia dewasa bahkan lanjut usia. Hal utama yang menjadi penyebab terjadinya stunting ialah kekurangan gizi sejak anak berada dalam kandungan dan dengan rentan waktu yang cukup lama. Dampak stunting adalah pertumbuhan otak dan organ lain pada anak akan terganggu, sehingga mengakibatkan anak lebih berisiko terkena diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Karena tidak hanya menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik, namun juga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan otak pada anak, maka ancaman stunting memiliki dampak dalam jangka panjang terhadap pendidikan, gizi, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa mendatang. Akan sia-sia program pendidikan dijalankan jika anak-anak tidak sehat atau mengalami stunting. Awal mula kehidupan Dalam upaya mencegah stunting sejak awal, maka perlu diketahui tentang teori gizi dalam kaitannya dengan pertumbuhan tulang Sumber protein hewani yang populer dan mudah diakses oleh hampir semua lapisan masyarakat adalah produk hasil unggas.


Edisi Februari 2023 u 73 dan peran protein hewani di dalamnya. Pangan hewani sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin dan balita, terutama dalam hal pertumbuhan tulang. Awal mula pertumbuhan tulang manusia adalah dari pembentukan tulang rawan saat masih di kandungan (Hardinsyah, 2023). Jadi, pada mulanya adalah pembentukan tulang rawan untuk kemudian terbentuk menjadi tulang keras. Pada janin atau dalam kandungan ibu, kebutuhan protein hewani ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan protein hewani pada bayi (setelah lahir). Adapun komponen pembentuk tulang rawan adalah kolagen atau protein, mineral dan protein. Kolagen disusun dari berbagai asam amino, yakni prolina, hydroxyproline, glisina, glutamat, aspartat, arginin, alain. Dan sejumlah asam amino yang lengkap lebih banyak terkandung dalam bahan pangan protein hewani (Hardinsyah, 2023). Dari fakta itu, maka tidaklah berlebihan jika Kemenkes menggaungkan ‘Cegah Stunting dengan Protein Hewani’ karena besarnya peran protein hewani dalam pertumbuhan dan perkembangan awal seorang anak manusia. Dalam hal asupan protein hewani tersebut, sebenarnya untuk dapat mengonsumsi rutin sumber protein hewani tak harus mahal. Protein hewani yang efektif mencegah stunting adalah yang dapat diakses masyarakat dengan harga terjangkau, mudah diolah dan tersedia di sekitar, yaitu protein hewani asal unggas: daging dan telur ayam. Apalagi menurut data dari Kementerian Pertanian RI, kontribusi pemenuhan sumber protein hewani sebanyak 65% berasal dari daging dan telur ayam. Produk hasil unggas tersebut memiliki sejumlah kelebihan dibanding sumber protein hewani lainnya, yakni dapat terjangkau di hampir semua lapisan masyarakat, harga relatif murah, mudah diolah menjadi berbagai hidangan lezat, dan yang tak kalah penting adalah memiliki sumber zat gizi yang lengkap dan mudah diserap oleh tubuh manusia yang mengonsumsinya. Daging dan telur ayam juga memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh dan zat besi, yang mana kedua zat gizi tersebut sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh janin, bayi dan balita. Oleh karenanya, konsumsi protein hewani sangat disarankan dikonsumsi rutin sejak 100 hari sebelum menikah, untuk dapat dihasilkan kualitas sperma dan ovum (sel telur) yang prima. Selanjutnya, ibu hamil juga dianjurkan untuk mengonsumsi protein hewani sebagai bagian dari menu masakan hariannya. Konsumsi harian protein hewani itu sangat penting untuk menjaga asupan asam amino asal protein hewani bagi janin yang dikandungnya. Ketika melahirkan, seorang ibu juga dianjurkan untuk untuk melanjutkan mengonsumsi daging dan telur ayam agar kualitas air susu ibu (ASI) sebagai sumber utama zat gizi bagi bayi tercukupi. Dalam hal konsumsi daging dan telur ayam pada bayi, para ahli gizi telah secara tegas menyatakan bahwa pangan sumber protein hewani itu hanya boleh diberikan setelah bayi berumur 6 bulan dalam bentuk makanan pendamping air susu ibu (MPASI). Pengenalan sumber pangan dari daging dan telur ayam sejak usia dini manusia, dalam bentuk MPASI perlu dilakukan karena sejumlah penelitian tentang gizi memperlihatkan banyaknya kasus kekurangan empat zat gizi mikro, yakni besi, seng, kalsium, dan niasin. Dengan pemberian MPASI dengan bahan utama dari pangan sumber protein hewani, maka tidak hanya zat gizi mikro bagi bayi tercukupi, namun secara jangka panjang juga dapat berperan penting dalam pemberantasan stunting di Indonesia. *Koordinator Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI)


74 u Edisi Februari 2023 Dikenal sebagai Serambi Mekkah Indonesia, Aceh merupakan tempat dimulainya penyebaran Islam di tanah air dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Oleh karena itu, jangan heran jika provinsi ini memiliki persentase penduduk beragama Islam tertinggi di Indonesia. Dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, Aceh sangat menjunjung tinggi nilai agama dan menjalankan hidup sesuai dengan syariat Islam. Meski provinsi paling barat di Indonesia ini terdengar berbeda, Aceh juga sama seperti wilayah lainnya di Indonesia yang kaya akan seni budaya dan berbagai hidangan khas. Beberapa hidangan khas Aceh antara lain timphan, gulai pliek, meuseukat, kue adè, martabak durian, sate matang, sop sumsum, gulai ikan sembilang, lompong sagu, hingga kuliner khasnya yang mendunia, yakni mi Aceh. Selain mi kuning basah yang diracik dengan bumbu khas nan pedas, Aceh juga memiliki hidangan khas lainnya yang lazim dikonsumsi dan dapat ditemukan di daerah lain, yakni ayam tangkap. Ayam tangkap merupakan hidangan ayam goreng khas Aceh yang gurih dan harumnya juara karena diolah dengan bumbu dan rempah khas. Penggunaan rempah yang berlimpah memang sudah menjadi ciri khas sajian Aceh. Hidangan khas daerah yang terletak di ujung utara pulau Sumatra ini biasanya dibuat menggunakan ayam kampung segar yang direndam atau dimarinasi dengan bumbu sebelum digoreng saat akan dinikmati. Konon katanya, nama ayam tangkap sendiri diambil dari kebiasaan masyarakat Aceh yang harus menangkap ayam di pekarangan mereka sebelum memasaknya. Oleh karena itu, hidangan ini seringkali menggunakan ayam kampung. Sajian ini juga menggunakan daun, di antaranya daun kari, daun pandan, dan daun salam koja. Wanginya daun kari dan daun pandan yang digunakan pada resep masakan ini seakan melengkapi kenikmatan ayam tangkap. Rahasia kelezatannya terletak pada teknik menggorenganya. Dedaunan yang digunakan digoreng bersamaan dengan ayam dan menutupi sajian ayam tangkap pada setangkup piring. Ayam tangkap sangat cocok disajikan selagi hangat karena, selain untuk menimbulkan aroma yang khas, dedaunan yang digunakan juga dapat dijadikan lalapan kering. Ditambah dengan nasi hangat, lezatnya hidangan ini bagai tak ada duanya. Kali ini Poultry Kuliner akan memberikan resep mudah mengolah ayam tangkap khas Aceh yang ditulis oleh Odilia WS melalui detikFood. Selamat mencoba! Diana Bahan: ● 1 ekor ayam kampung ● 2 buah jeruk nipis ● 1 liter minyak goreng ● 8 tangkai daun kari/salam koja ● 4 lembar daun pandan, iris kasar ● 200 ml air matang ● 5 buah cabai hijau keriting ● 3 siung bawang merah, iris tipis Bumbu: ● 2 sdm air asam Jawa ● 3 siung bawang putih ● 3 buah bawang merah ● 5 buah cabai rawit merah ● 2 cm kunyit ● 2 cm jahe ● 2 sdt garam Kuliner Ayam Tangkap, Hidangan Khas Tanah Rencong Selain menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus, nyatanya Aceh juga kaya akan budaya dan sajian khas daerahnya. Cara Membuat: 1. Potong ayam menjadi 24 potongan kecil, kemudian cuci bersih. 2. Remas-remas dengan air jeruk nipis. 3. Haluskan bawang putih, bawang merah, cabai rawit merah, kunyit, jahe, dan garam. Campur bumbu halus dengan 200 ml air matang. 4. Masukkan potongan ayam ke dalam bumbu dan rendam selama minimal 15 menit. 5. Panaskan minyak banyak di wajan besar sampai benarbenar mendidih. Goreng ayam hingga kering dan berwarna kecokelatan. 6. Saat ayam mulai matang, masukkan irisan bawang merah, daun kari/salam koja, daun pandan, dan cabai hijau. 7. Goreng terus sekitar 3 menit hingga aroma harum keluar. 8. Angkat, tiriskan, dan sajikan dalam keadaan panas bersama daun rempahnya. Ayam tangkap siap dihidangkan. Sumber www.masakapahariini.com


74 u Edisi Februari 2023 Dikenal sebagai Serambi Mekkah Indonesia, Aceh merupakan tempat dimulainya penyebaran Islam di tanah air dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Oleh karena itu, jangan heran jika provinsi ini memiliki persentase penduduk beragama Islam tertinggi di Indonesia. Dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, Aceh sangat menjunjung tinggi nilai agama dan menjalankan hidup sesuai dengan syariat Islam. Meski provinsi paling barat di Indonesia ini terdengar berbeda, Aceh juga sama seperti wilayah lainnya di Indonesia yang kaya akan seni budaya dan berbagai hidangan khas. Beberapa hidangan khas Aceh antara lain timphan, gulai pliek, meuseukat, kue adè, martabak durian, sate matang, sop sumsum, gulai ikan sembilang, lompong sagu, hingga kuliner khasnya yang mendunia, yakni mi Aceh. Selain mi kuning basah yang diracik dengan bumbu khas nan pedas, Aceh juga memiliki hidangan khas lainnya yang lazim dikonsumsi dan dapat ditemukan di daerah lain, yakni ayam tangkap. Ayam tangkap merupakan hidangan ayam goreng khas Aceh yang gurih dan harumnya juara karena diolah dengan bumbu dan rempah khas. Penggunaan rempah yang berlimpah memang sudah menjadi ciri khas sajian Aceh. Hidangan khas daerah yang terletak di ujung utara pulau Sumatra ini biasanya dibuat menggunakan ayam kampung segar yang direndam atau dimarinasi dengan bumbu sebelum digoreng saat akan dinikmati. Konon katanya, nama ayam tangkap sendiri diambil dari kebiasaan masyarakat Aceh yang harus menangkap ayam di pekarangan mereka sebelum memasaknya. Oleh karena itu, hidangan ini seringkali menggunakan ayam kampung. Sajian ini juga menggunakan daun, di antaranya daun kari, daun pandan, dan daun salam koja. Wanginya daun kari dan daun pandan yang digunakan pada resep masakan ini seakan melengkapi kenikmatan ayam tangkap. Rahasia kelezatannya terletak pada teknik menggorenganya. Dedaunan yang digunakan digoreng bersamaan dengan ayam dan menutupi sajian ayam tangkap pada setangkup piring. Ayam tangkap sangat cocok disajikan selagi hangat karena, selain untuk menimbulkan aroma yang khas, dedaunan yang digunakan juga dapat dijadikan lalapan kering. Ditambah dengan nasi hangat, lezatnya hidangan ini bagai tak ada duanya. Kali ini Poultry Kuliner akan memberikan resep mudah mengolah ayam tangkap khas Aceh yang ditulis oleh Odilia WS melalui detikFood. Selamat mencoba! Diana Bahan: ● 1 ekor ayam kampung ● 2 buah jeruk nipis ● 1 liter minyak goreng ● 8 tangkai daun kari/salam koja ● 4 lembar daun pandan, iris kasar ● 200 ml air matang ● 5 buah cabai hijau keriting ● 3 siung bawang merah, iris tipis Bumbu: ● 2 sdm air asam Jawa ● 3 siung bawang putih ● 3 buah bawang merah ● 5 buah cabai rawit merah ● 2 cm kunyit ● 2 cm jahe ● 2 sdt garam Kuliner Ayam Tangkap, Hidangan Khas Tanah Rencong Selain menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus, nyatanya Aceh juga kaya akan budaya dan sajian khas daerahnya. Cara Membuat: 1. Potong ayam menjadi 24 potongan kecil, kemudian cuci bersih. 2. Remas-remas dengan air jeruk nipis. 3. Haluskan bawang putih, bawang merah, cabai rawit merah, kunyit, jahe, dan garam. Campur bumbu halus dengan 200 ml air matang. 4. Masukkan potongan ayam ke dalam bumbu dan rendam selama minimal 15 menit. 5. Panaskan minyak banyak di wajan besar sampai benarbenar mendidih. Goreng ayam hingga kering dan berwarna kecokelatan. 6. Saat ayam mulai matang, masukkan irisan bawang merah, daun kari/salam koja, daun pandan, dan cabai hijau. 7. Goreng terus sekitar 3 menit hingga aroma harum keluar. 8. Angkat, tiriskan, dan sajikan dalam keadaan panas bersama daun rempahnya. Ayam tangkap siap dihidangkan. Sumber www.masakapahariini.com


K etika menyebut nama “Bogor” mungkin hal pertama yang tercetus dipikiran masyarakat adalah suasananya yang sejuk. Hal ini cukup beralasan karena walaupun secara letak sangat dekat dengan Ibu Kota Jakarta yang terkenal cukup panas, namun secara geografis daerah Bogor didominasi oleh kawasan dataran tinggi, perbukitan maupun pegunungan. Selain itu, Bogor juga sangat populer dijuluki sebagai kota hujan, karena daerah ini memang mempunyai curah hujan yang lebih tinggi daripada wilayah Indonesia lainnya. Salah satu faktor yang membuat curah hujan di Bogor lebih tinggi adalah karena daerah ini dikelilingi oleh beberapa gunung, seperti gunung Salak, gunung Pangrango, dan gunung Gede. Secara otonomi, Bogor dibagi menjadi Kota Bogor dengan 6 kecamatan dan Kabupaten Bogor dengan 40 kecamatan. Menariknya, Kabupaten Bogor merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, yakni 5.327.131 jiwa (2022). Tingginya jumlah penduduk ini tentu juga dibarengi dengan tingginya kebutuhan pangan yang harus dipenuhi. Tak terkecuali pada pangan asal unggas. Hal ini membuat perunggasan di Bogor, terutama Kabupaten Bogor mengalami dinamika bisnis yang sangat menarik untuk dibahas. Hal ini tak lepas dari Kabupaten Bogor menjadi daerah yang sangat potensial untuk bisnis perunggasan. Selain mempunyai lahan yang luas dan mendukung untuk usaha budi daya, letak geografisnya sangat dekat dengan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara yang mempunyai pasar konsumsi yang sangat besar. Terlebih kemajuan infrastruktur jalan juga mendukung perkembangan perunggasan di daerah Kabupaten Bogor. Hal itu membuat para investor banyak menginvestasikan modalnya untuk membuka kandang di daerah tersebut. Guru Besar Fakultas Peternakan, IPB University, Prof Muladno saat dihubungi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (19/1) menjelaskan bahwa kabupaten Bogor menjadi daerah yang menarik sebagai bisnis perunggasan karena secara geografis sangat dekat dengan Jakarta sebagai pasar sentra konsumen. Selain karena dekat dengan pasar, lahan di Bogor juga cukup luas dengan cuaca yang sejuk menjadi faktor pendukung tersendiri. Namun, dirinya menyayangkan potensi perunggasan yang besar ini tidak dibarengi dengan tata kelola bisnis yang tepat, sehingga terjadi kompetisi yang luar biasa dan membuat banyak peternak yang tidak mampu bertahan. “Saya kira Kabupaten Bogor ini juga bisa menjadi cerminan perunggasan nasional, terutama untuk bisnis broiler. Seperti halnya di nasional, saat ini di Bogor juga sedang terjadi perang gajah. Yang besar perang dengan yang besar, tidak peduli lagi dengan yang 76 u Edisi Februari 2023 Letaknya yang sangat dekat dengan pusat pasar konsumen, membuat Kabupaten Bogor menjadi pilihan utama para pelaku usaha perunggasan untuk mendirikan kandang di daerah ini. LIPUTAN DAERAH Meniti Jalan Perunggasan di Kota Hujan


K etika menyebut nama “Bogor” mungkin hal pertama yang tercetus dipikiran masyarakat adalah suasananya yang sejuk. Hal ini cukup beralasan karena walaupun secara letak sangat dekat dengan Ibu Kota Jakarta yang terkenal cukup panas, namun secara geografis daerah Bogor didominasi oleh kawasan dataran tinggi, perbukitan maupun pegunungan. Selain itu, Bogor juga sangat populer dijuluki sebagai kota hujan, karena daerah ini memang mempunyai curah hujan yang lebih tinggi daripada wilayah Indonesia lainnya. Salah satu faktor yang membuat curah hujan di Bogor lebih tinggi adalah karena daerah ini dikelilingi oleh beberapa gunung, seperti gunung Salak, gunung Pangrango, dan gunung Gede. Secara otonomi, Bogor dibagi menjadi Kota Bogor dengan 6 kecamatan dan Kabupaten Bogor dengan 40 kecamatan. Menariknya, Kabupaten Bogor merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, yakni 5.327.131 jiwa (2022). Tingginya jumlah penduduk ini tentu juga dibarengi dengan tingginya kebutuhan pangan yang harus dipenuhi. Tak terkecuali pada pangan asal unggas. Hal ini membuat perunggasan di Bogor, terutama Kabupaten Bogor mengalami dinamika bisnis yang sangat menarik untuk dibahas. Hal ini tak lepas dari Kabupaten Bogor menjadi daerah yang sangat potensial untuk bisnis perunggasan. Selain mempunyai lahan yang luas dan mendukung untuk usaha budi daya, letak geografisnya sangat dekat dengan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara yang mempunyai pasar konsumsi yang sangat besar. Terlebih kemajuan infrastruktur jalan juga mendukung perkembangan perunggasan di daerah Kabupaten Bogor. Hal itu membuat para investor banyak menginvestasikan modalnya untuk membuka kandang di daerah tersebut. Guru Besar Fakultas Peternakan, IPB University, Prof Muladno saat dihubungi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (19/1) menjelaskan bahwa kabupaten Bogor menjadi daerah yang menarik sebagai bisnis perunggasan karena secara geografis sangat dekat dengan Jakarta sebagai pasar sentra konsumen. Selain karena dekat dengan pasar, lahan di Bogor juga cukup luas dengan cuaca yang sejuk menjadi faktor pendukung tersendiri. Namun, dirinya menyayangkan potensi perunggasan yang besar ini tidak dibarengi dengan tata kelola bisnis yang tepat, sehingga terjadi kompetisi yang luar biasa dan membuat banyak peternak yang tidak mampu bertahan. “Saya kira Kabupaten Bogor ini juga bisa menjadi cerminan perunggasan nasional, terutama untuk bisnis broiler. Seperti halnya di nasional, saat ini di Bogor juga sedang terjadi perang gajah. Yang besar perang dengan yang besar, tidak peduli lagi dengan yang 76 u Edisi Februari 2023 Letaknya yang sangat dekat dengan pusat pasar konsumen, membuat Kabupaten Bogor menjadi pilihan utama para pelaku usaha perunggasan untuk mendirikan kandang di daerah ini. LIPUTAN DAERAH Meniti Jalan Perunggasan di Kota Hujan kecil. Dengan perang gajah maka yang dikejar adalah efisiensi dan penjualan, sehingga kemitraan menjadi semakin banyak. Banyak orang ingin investasi di perunggasan, karena iming-iming yang semakin menarik. Namun bagi pemitra-pemitra lama juga mulai khawatir, karena situasinya semakin tidak membaik, karena jumlah nya semakin banyak. Dan yang kecil, karena hanya bergerak di budi daya lama-lama akan habis. Yang besar akan semakin besar dan yang kecil akan semakin kecil,” tegasnya. Begitupun pada bisnis layer, Muladno melihat kecenderungannya akan mengikuti perang gajah pada bisnis broiler. Yang mana pemain besar-besar mulai ikut mengarah ke bisnis layer, dan harus dicegah. Dalam dunia bisnis, Muladno melanjutkan ketika kebutuhan akan suatu barang banyak, maka akan membuat para pebisnis terjun ke dalamnya. Begitu potensi menguntungkan, otomatis pebisnis akan lari ke sana. Untuk itu model bisnisnya harus diubah, yang besar seperti apa dan yang kecil seperti apa. “Untuk itu integrasi horizontal melalui koperasi merupakan kata kunci untuk menyelamatkan yang kecil. Dan dalam hal ini tidak bisa dilakukan oleh peternak saja. Perlu kerja sama antara akademisi, koperasi peternak dan pemerintah daerah untuk mewujudkannya. Hal ini mutlak dan masing-masing haru berperan dengan hebat dan solid. Ketika hal ini terwujud maka yang besarpun juga akan hormat,” tambahnya. Menyambung Muladno, hal ini secara langsung dirasakan oleh Sugeng Wahyudi seorang peternak Broiler dari Kabupaten Bogor. Menurutnya dari segi bisnis broiler, Kabupaten Bogor Edisi Februari 2023 u 77 bisa merepresentasikan kondisi nasional. Letak geografisnya yang strategis membuat banyaknya para pengusaha dan investor membuat kandang di daerah ini. Bahkan Sugeng melihat bahwa hampir semua perusahaan perunggasan yang bermain pada lini budi daya mempunyai kandang di Bogor. Hal ini tak lepas dari referensi konsumen yang hingga saat ini masih bertumpu ke ayam segar, sehingga letak Bogor yang dekat dengan Jakarta sebagai pusat pasar konsumen pun menjadi pilihan banyak perusahaan. “Untuk saat ini yang saya lihat supply dari peternak mandiri broiler yang berbasis di Bogor itu berkurang, baik dari sisi jumlah dan pelakunya. Artinya para peternak ini lari peternak ke kemitraan dan itu perusahaan atau tidak melanjutkan usahanya. Bisa dilihat dari jumlah peternak yang tergabung dan suka kumpul dalam asosiasi dulu mencapai ratusan, sekarang paling hanya sekitar 20 peternak. Hal ini tak lepas dari rendahnya harga end produk yang terus terjadi sejak 4 tahun terakhir,” jelas Sugeng saat ditemui Poutry Indonesia di Bogor, Selasa (18/1). Berbeda halnya dengan degradasi jumlah peternak mandiri broiler, justru terjadi perkembangan pasar broiler di Kabupaten Bogor. Yang mana, saat ini menurut Sugeng mulai tumbuh pasarpasar alternatif baik berupa lapak-lapak hingga kios modern di berbagai daerah di Kabupaten Bogor mulai dari perumahan, pinggir jalan hingga pusat keramain lainnya. Hal ini membuat pasar broiler lebih beragam dan tidak bertumpu pada pasar tradisional lagi. Dan untuk peternak sendiri, selain mendistribusikan produknya ke sekitaran daerah Bogor, juga memasarkannya hingga Jabodetabek. “Mungkin antara pasar Bogor dan Jabodetabek itu porsinya 50% : 50.%. Disisi lain ironisnya dengan pasar yang berkembang, justru jumlah peternak mandirinya malah berkurang. Yang artinya supply nya dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang melakukan budi daya, baik lewat kemitraan maupun internal farm,” ujarnya. Terkait tantangan, Sugeng yang juga merupakan Ketua Koperasi Broiler Wira Sakti Utama ini mengaku bahwa terlalu ketatnya persaingan pasar yang terjadi di Bogor membuat para peternak berguguran. Hal ini berkaitan dengan perang harga yang membuat seringkali harga jatuh bahkan sampai di bawah biaya produksi. Belum lagi apabila berbicara ayam dari luar daerah yang masuk ke Bogor dan Jabodetabek membuat persaingan pasar semakin ketat dan berat. Dengan pasar yang lebih bervariasi Bogor memiliki ironi dari sisi jumlah peternak mandiri yang semakin menipis Muladno Sugeng Wahyudi Gerry Buwana Prasetyo


Hal sedikit berbeda dirasakan oleh Gerry Buwana, seorang peternak layer di daerah Dramaga, Kabupaten Bogor. Kendati sempat terguncang di awal tahun 2022, namun secara perlahan kondisi mulai membaik. Apabila dilihat dari harga, Gerry melihat bahwa di awal tahun 2023 ini harga jual telur di peternak bisa dikatakan cukup lumayan baik. Hal ini tak lepas karena di awal tahun 2022 harga telur cukup rendah bahkan di bawah HPP, sehingga banyak peternak yang mengurangi populasi dan ada juga yang berhenti beternak. Imbas dari kejadian itu membuat harga telur saat ini masih mampu bertahan cukup baik, karena untuk recovery dan produksi lagi membutuhkan waktu cukup lama. “Aktualnya saat ini HPP di daerah Bogor sekitar Rp22.000,00- 23.000,00 per kilogram tergantung efisiensi peternakannya, dan untuk harga jual di kisaran Rp24.000,00 per kilogram. Dan untuk bisnis layer di Bogor sendiri, saya kira sudah berkembang dan peternaknya cukup banyak. Peredaran telur dipasaran pun cukup melimpah, sehingga agen dan pedagang dapat membandingkan harga dari satu peternak dan peternakan yang lain. Hal ini secara langsung juga membuat persaingan meningkat. Selain itu dengan semakin bagusnya infrastruktur membuat distribusi telur semakin mudah dan lancar. Ini merupakan sesuatu yang baik. Namun disisi lain membuat telur dari daerah lain pun akan semakin mudah masuk ke Bogor dan Jabodetabek. Misal telur dari Sumatra atau Jatim, semakin banyak dan semakin cepat mencapai sini, sehingga gejolak yang terjadi juga akan semakin cepat,” tutur Gerry saat berbincang dengan Poultry Indonesia di area kandangnya, Kamis (12/1). Untuk itu, saat ini dan kedepan arahnya adalah bagaimana menaikkan konsumsi di masyarakat. Terlebih apabila melihat dinamika pasar telur, Gerry melihat belum sebaik prapandemi atau mungkin saat ini baru 80%. Hal ini disinyalir karena masih ada masyarakat yang terimbas dampak pandemi atau mungkin juga karena kehati-hatian masyarakat dengan adanya kemungkinan resesi di tahun 2023. Sedangkan, untuk menjawab tingginya persaingan di bisnis layer Gerry mempunyai strateginya sendiri. Yaitu dengan lebih mendekatkan produknya ke pasar. “Ya saat ini kami mempunyai tim marketing telur yang menawarkan telur-telur ke hotel, rumah makan maupun katering Hal ini untuk membuat produk kita sedekat-dekatnya kepada konsumen sehingga margin yang didapat bisa terjaga. Atau kata lain kita lebih jemput bola. Selain itu di Bogor ini juga telah tumbuh jaringan kios-kios yang tersebar di pedesaan. Walaupun secara jumlah serapan tidak banyak, namun pengambilannya sering dan itu cukup bisa menjadi strategi penjualan juga,” tambahnya. Sementara itu pada kesempatan lain, Prasetyo selaku General Manager Sales Marketing PT Farmsco Feed Indonesia menggambarkan bahwa kondisi berbeda terjadi pada 2 bisnis ayam ras di Kabupaten Bogor. Yang mana nampak perkembangan pada bisnis layer di Kabupaten Bogor, sehingga segmen pasarnya terbuka lebar untuk para perusahaan pakan (feedmill). Menurutnya mulai dari daerah Parung, Rumpin sampai Jasinga, merupakan daerah bisnis layer Kabupaten Bogor berada. Sedangkan kondisi berbeda pada bisnis layer. Pasalnya jumlah peternak mandiri, yang merupakan target pasar feedmill jumlahnya semakin menipis. “Sebagai feedmill yang tidak mempunyai internal farm final stock, kemitraan, dan bermain di free market, kami melihat bahwa pasar di bisnis broiler Bogor ini semakin kecil. Pasalnya peternak mandiri broiler sudah tidak seperti dulu. Baik internal farm maupun kemitraan kecil dari peternak mandiri dulu banyak sekali, namun seiring berjalannya waktu semakin habis dan berguguran. Jadi sangat berkurang pasarnya. Tapi bukan berarti tidak ada, marketnya tetap ada namun tidak sebesar dulu. Sedangkan untuk bisnis layer, saya lihat marketnya masih sangat terbuka lebar,” ceritanya saat berbincang dengan Poultry Indonesia, di daerah Cibubur, Kamis (19/1). Lebih lanjut Prasetyo melihat bahwa dengan letaknya yang sangat strategis membuat kompetisi feedmill di Kabupaten Bogor sangatlah tinggi. Terlebih di bisnis layer, hampir semua feedmill masuk ke segmen ini seiring dengan dinamika dan harga telur yang relatif stabil dan di atas biaya produksi. Hal ini membuat para feedmill berlombalomba masuk ke segmen pakan layer dengan berbagai macam promosi hingga perang harga. “Sedangkan pada bisnis broiler, peternak free market di Bogor jumlahnya tidak banyak. Untuk itu feedmill akan melakukan seleksi terutama dalam hal financial. Kemudian dari beberapa peternak yang lolos seleksi inilah yang akan dijadikan rebutan oleh feedmill untuk penetrasi pasar. Kondisi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi feedmill. Karena dengan harga end produk broiler cenderung rendah maka akan mengganggu cash flow dari peternak. Hal itu pun secara langsung akan berpengaruh ke feedmill juga. Dan pengaruhnya cukup besar. Jadi sudah tidak menjadi rahasia kalau feedmill pun mengalami permasalahan financial. Jadi tantangannya bagaimana kita menjembatani kebutuhan peternak dan kebijakan perusahaan, itu harus kita sinkronkan sehingga bisa jalan keduanya,” tegasnya. Sandi 78 u Edisi Februari 2023 LIPUTAN DAERAH Bisnis layer di Bogor terus mengalami perkembangan


Hal sedikit berbeda dirasakan oleh Gerry Buwana, seorang peternak layer di daerah Dramaga, Kabupaten Bogor. Kendati sempat terguncang di awal tahun 2022, namun secara perlahan kondisi mulai membaik. Apabila dilihat dari harga, Gerry melihat bahwa di awal tahun 2023 ini harga jual telur di peternak bisa dikatakan cukup lumayan baik. Hal ini tak lepas karena di awal tahun 2022 harga telur cukup rendah bahkan di bawah HPP, sehingga banyak peternak yang mengurangi populasi dan ada juga yang berhenti beternak. Imbas dari kejadian itu membuat harga telur saat ini masih mampu bertahan cukup baik, karena untuk recovery dan produksi lagi membutuhkan waktu cukup lama. “Aktualnya saat ini HPP di daerah Bogor sekitar Rp22.000,00- 23.000,00 per kilogram tergantung efisiensi peternakannya, dan untuk harga jual di kisaran Rp24.000,00 per kilogram. Dan untuk bisnis layer di Bogor sendiri, saya kira sudah berkembang dan peternaknya cukup banyak. Peredaran telur dipasaran pun cukup melimpah, sehingga agen dan pedagang dapat membandingkan harga dari satu peternak dan peternakan yang lain. Hal ini secara langsung juga membuat persaingan meningkat. Selain itu dengan semakin bagusnya infrastruktur membuat distribusi telur semakin mudah dan lancar. Ini merupakan sesuatu yang baik. Namun disisi lain membuat telur dari daerah lain pun akan semakin mudah masuk ke Bogor dan Jabodetabek. Misal telur dari Sumatra atau Jatim, semakin banyak dan semakin cepat mencapai sini, sehingga gejolak yang terjadi juga akan semakin cepat,” tutur Gerry saat berbincang dengan Poultry Indonesia di area kandangnya, Kamis (12/1). Untuk itu, saat ini dan kedepan arahnya adalah bagaimana menaikkan konsumsi di masyarakat. Terlebih apabila melihat dinamika pasar telur, Gerry melihat belum sebaik prapandemi atau mungkin saat ini baru 80%. Hal ini disinyalir karena masih ada masyarakat yang terimbas dampak pandemi atau mungkin juga karena kehati-hatian masyarakat dengan adanya kemungkinan resesi di tahun 2023. Sedangkan, untuk menjawab tingginya persaingan di bisnis layer Gerry mempunyai strateginya sendiri. Yaitu dengan lebih mendekatkan produknya ke pasar. “Ya saat ini kami mempunyai tim marketing telur yang menawarkan telur-telur ke hotel, rumah makan maupun katering Hal ini untuk membuat produk kita sedekat-dekatnya kepada konsumen sehingga margin yang didapat bisa terjaga. Atau kata lain kita lebih jemput bola. Selain itu di Bogor ini juga telah tumbuh jaringan kios-kios yang tersebar di pedesaan. Walaupun secara jumlah serapan tidak banyak, namun pengambilannya sering dan itu cukup bisa menjadi strategi penjualan juga,” tambahnya. Sementara itu pada kesempatan lain, Prasetyo selaku General Manager Sales Marketing PT Farmsco Feed Indonesia menggambarkan bahwa kondisi berbeda terjadi pada 2 bisnis ayam ras di Kabupaten Bogor. Yang mana nampak perkembangan pada bisnis layer di Kabupaten Bogor, sehingga segmen pasarnya terbuka lebar untuk para perusahaan pakan (feedmill). Menurutnya mulai dari daerah Parung, Rumpin sampai Jasinga, merupakan daerah bisnis layer Kabupaten Bogor berada. Sedangkan kondisi berbeda pada bisnis layer. Pasalnya jumlah peternak mandiri, yang merupakan target pasar feedmill jumlahnya semakin menipis. “Sebagai feedmill yang tidak mempunyai internal farm final stock, kemitraan, dan bermain di free market, kami melihat bahwa pasar di bisnis broiler Bogor ini semakin kecil. Pasalnya peternak mandiri broiler sudah tidak seperti dulu. Baik internal farm maupun kemitraan kecil dari peternak mandiri dulu banyak sekali, namun seiring berjalannya waktu semakin habis dan berguguran. Jadi sangat berkurang pasarnya. Tapi bukan berarti tidak ada, marketnya tetap ada namun tidak sebesar dulu. Sedangkan untuk bisnis layer, saya lihat marketnya masih sangat terbuka lebar,” ceritanya saat berbincang dengan Poultry Indonesia, di daerah Cibubur, Kamis (19/1). Lebih lanjut Prasetyo melihat bahwa dengan letaknya yang sangat strategis membuat kompetisi feedmill di Kabupaten Bogor sangatlah tinggi. Terlebih di bisnis layer, hampir semua feedmill masuk ke segmen ini seiring dengan dinamika dan harga telur yang relatif stabil dan di atas biaya produksi. Hal ini membuat para feedmill berlombalomba masuk ke segmen pakan layer dengan berbagai macam promosi hingga perang harga. “Sedangkan pada bisnis broiler, peternak free market di Bogor jumlahnya tidak banyak. Untuk itu feedmill akan melakukan seleksi terutama dalam hal financial. Kemudian dari beberapa peternak yang lolos seleksi inilah yang akan dijadikan rebutan oleh feedmill untuk penetrasi pasar. Kondisi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi feedmill. Karena dengan harga end produk broiler cenderung rendah maka akan mengganggu cash flow dari peternak. Hal itu pun secara langsung akan berpengaruh ke feedmill juga. Dan pengaruhnya cukup besar. Jadi sudah tidak menjadi rahasia kalau feedmill pun mengalami permasalahan financial. Jadi tantangannya bagaimana kita menjembatani kebutuhan peternak dan kebijakan perusahaan, itu harus kita sinkronkan sehingga bisa jalan keduanya,” tegasnya. Sandi 78 u Edisi Februari 2023 LIPUTAN DAERAH Bisnis layer di Bogor terus mengalami perkembangan VIV Asia 8 - 10 Maret 2023 IMPACT Muang Thong Thani, Bangkok, Thailand. [email protected] https://vivasia.nl/ Tel. +66 (0) 2 111 6611 Food Security Asia Congress 23 - 24 Mei 2023 Pullman Jakarta Central Park, Indonesia. [email protected] http://foodsecurityasia.com/ Ildex Philippines 7 - 9 Juni, 2023 SMX Convention Center Manila, Manila, Philippines. [email protected] https://ildex-philippines.com/ Tel. +662 111 6611 ext. 221 Livestock Philippines 5 - 7 Juli, 2023 World Trade Center Metro Manila, Philippines. [email protected] https://www.livestockphilippines.com/ Tel. +63 (2) 8581 1920 Indo Livestock 26 - 28 Juli, 2023 Grand City Convex, Surabaya, Indonesia. [email protected] https://www.indolivestock.com/ Tel. +6221 8644756 SPACE 12 - 14 September 2023 Rennes Parc-Expo, Prancis. [email protected] https://uk.space.fr/ Tel. +02 23 48 28 88 Ildex Indonesia 20 - 22 September 2023 Indonesia Convention Exhibition (ICE), Jakarta, Indonesia. [email protected] https://www.ildex-indonesia.com/ Tel. +66 2111 6611 (VNU Asia Pasific) Livestock Taiwan 1 - 3 November 2023 Taipei Nangang Exhibition Center, Taiwan. [email protected] https://www.agritechtaiwan.com/ Tel. +886-2738 3898 Livestock Malaysia 29 Nov - 1 Desember 2023 Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia. [email protected] https://www.livestockmalaysia.com/ Tel. +60 3 9771 2688 Nama : …………………………………………………………………… Perusahaan : …………………………………………………………………… Alamat : …………………………………………………………………… .......................................... Kode Pos : .............................. Telepon : Kantor .....……................. HP : .............................. Mulai edisi : .………………………….. Banyaknya : ...................... Eks P E M B A Y A R A N L A N G G A N A N Transfer melalui BANK BUMI ARTA A/C. 109 129 0081 a/n PT. Kharisma Satwa Media Bukti transfer dikirim via Email : [email protected] Keterangan lebih lanjut hubungi : MAJALAH POULTRY INDONESIA Setiap hari kerja | Senin - Jumat | 08.00 - 17.00 WIB Komp. Manga Dua Square Blok E 23 Jl. Gunung Sahari No. 1 Jakarta 14430. Telp. (021) 62318153 Fax. (021) 62318154 FORMULIR BERLANGGANAN 12 Rp. 540.000* Jabodetabek *) Harga sudah termasuk ongkos kirim P. Jawa & Bali Rp. 600.000* P. Kalimantan Rp. 640.000* EDISI Lainnya Rp. 650.000* AGENDA PETERNAKAN Edisi Februari 2023 u 79


80 u Edisi Februari 2023 Ayam walik haplotipe H1 lebih rentan cekaman panas, sedangkan ayam walik haplotipe H1’ lebih banyak melepaskan panas melalui permukaan tubuh di area kaki Cekaman Panas Akut dan Respons Fiosologis Ayam KUB dan Ayam Walik Oleh: Dr. Any Aryani, S.Si., M.Si.,* dan Dr. Rudi Afnan, S.Pt., M.Sc.Agr. IPM* I ndonesia memiliki keragaman rumpun ayam lokal yang tinggi, dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber ketahanan pangan nasional, namun pemanfaatannya belum optimal. Salah satu rumpun ayam lokal Indonesia adalah ayam walik atau rintit yang memiliki bulu keriting (terbalik, frizzle). Ayam walik banyak ditemukan di daerah Jawa barat, khususnya Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Budidaya ayam walik di Indonesia masih sangat terbatas, dan umumnya dipelihara secara semi-intensif. Bentuk dan perawakan tubuh ayam walik ini hampir sama dengan ayam kampung. Warna bulunya pun beraneka ragam, mulai dari cokelat kemerahan, hitam, putih, dan kecokelatan. Secara aklimatisasi, ayam walik dewasa cukup tahan terhadap perubahan cuaca, sebaliknya anak ayam walik kurang tahan terhadap suhu rendah dan udara lembap. Selain ayam walik, terdapat juga ayam KUB (Kampung Unggul Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) yang merupakan galur murni (pure line) betina hasil seleksi selama 6 generasi dari ayam kampung (Gallus-gallus domesticus) yang berasal dari daerah Cianjur, Depok, Majalengka, dan Bogor. Karakteristik warna bulu ayam KUB beragam seperti ayam kampung pada umumnya. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI No. 274/Kpts/SR.120/2/2014, ayam KUB memiliki beberapa keunggulan seperti, produksi telur tinggi dan sebagian besar tidak mengeram. Ayam KUB ini telah menyebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Ayam merupakan hewan homeotermis, dengan tubuh ditutupi bulu dan tidak memiliki kelenjar keringat. Suhu lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan ayam mengalami cekaman panas. Cekaman panas merupakan salah satu masalah utama dalam industri peternakan ayam ras, terutama pada saat musim kemarau dan semakin meningkatnya suhu lingkungan karena pemanasan global. Cekaman panas yang intens (akut) atau cekaman panas yang berlangsung dalam waktu lama (kronis) dapat memengaruhi pertumbuhan, penurunan produksi telur, dan bahkan menyebabkan kematian ayam. Hingga saat ini belum ada laporan tentang kasus kematian pada ayam lokal akibat cekaman panas, terutama pada musim kemarau. Walaupun demikian, peningkatan suhu lingkungan karena pemanasan global, perlu diantisipasi dengan melakukan penelitian yang komprehensif untuk mendapatkan database tentang keragaman genetik ayam lokal Indonesia yang resisten terhadap cekaman panas. Beberapa gen pada ayam diketahui berasosiasi dengan sifat ketahanan terhadap cekaman panas, di antaranya: gen nakedneck (Na), gen frizzle (F), dan gen dwarf (dw). Di sisi lain, salah satu senyawa yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi cekaman panas adalah heat shock protein 70 (HSP70). Gen HSP70 bekerja sebagai chaperone, bertugas mengatur pelipatan kembali (refolding) protein-protein secara benar, sehingga dapat melindungi sel dari kerusakan akibat cekaman panas. Menurut penelitian Archana et at (2017), gen HSP70 dianggap sebagai penanda biologi ideal terhadap cekaman panas pada hewan ternak. Asosiasi antara polimorfisme gen HSP70 dengan resistensi cekaman panas telah dijadikan sebagai penanda dalam proses seleksi untuk menghasilkan jenis ayam yang tahan terhadap suhu tinggi. Namun, penelitian keragaman gen HSP70 dan respons fisiologis terhadap cekaman panas pada ayam lokal Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian yang telah dilakukan penulis bertujuan untuk mengevaluasi respons fisiologis cekaman panas akut pada ayam KUB dan ayam walik dengan haplotipe gen HSP70 berbeda (H1’, H1, H2, dan H3). Hal ini guna menentukan haplotipe ayam yang tahan cekaman panas. Parameter yang diamati meliputi pengukuran suhu rektal, distribusi suhu permukaan tubuh (area kepala, leher, badan, dan kaki), dan konsentrasi hormon (kortikosteron dan triiodotironin), serta waktu mulai panting. Ayam KUB dan ayam walik yang digunakan dalam penelitian ini merupakan ayam yang telah diidentifikasi haplotipenya berdasarkan keragaman gen HSP70. Sampel untuk uji tantang dicuplik secara purposive sampling dengan menggunakan sebaran haplotipe yang sama (equal) pada rumpun ayam KUB dan ayam walik. Sebanyak empat ekor ayam betina dewasa masing-masing dari ayam KUB dan ayam walik dengan haplotipe berbeda (H1’, H1, H2, dan H3) selanjutnya diuji tantang untuk mengukur respons fisiologis terhadap cekaman panas akut pada suhu 35°C selama satu jam dengan menggunakan heat chamber. Waktu mulai panting diukur pada saat cekaman panas, sedangkan suhu rektal, suhu permukaan tubuh (area kepala, leher, badan, dan kaki), dan konsentrasi hormon kortikosteron dan triiodotironin diukur sebelum dan sesudah cekaman panas. Data RISET


80 u Edisi Februari 2023 Ayam walik haplotipe H1 lebih rentan cekaman panas, sedangkan ayam walik haplotipe H1’ lebih banyak melepaskan panas melalui permukaan tubuh di area kaki Cekaman Panas Akut dan Respons Fiosologis Ayam KUB dan Ayam Walik Oleh: Dr. Any Aryani, S.Si., M.Si.,* dan Dr. Rudi Afnan, S.Pt., M.Sc.Agr. IPM* I ndonesia memiliki keragaman rumpun ayam lokal yang tinggi, dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber ketahanan pangan nasional, namun pemanfaatannya belum optimal. Salah satu rumpun ayam lokal Indonesia adalah ayam walik atau rintit yang memiliki bulu keriting (terbalik, frizzle). Ayam walik banyak ditemukan di daerah Jawa barat, khususnya Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Budidaya ayam walik di Indonesia masih sangat terbatas, dan umumnya dipelihara secara semi-intensif. Bentuk dan perawakan tubuh ayam walik ini hampir sama dengan ayam kampung. Warna bulunya pun beraneka ragam, mulai dari cokelat kemerahan, hitam, putih, dan kecokelatan. Secara aklimatisasi, ayam walik dewasa cukup tahan terhadap perubahan cuaca, sebaliknya anak ayam walik kurang tahan terhadap suhu rendah dan udara lembap. Selain ayam walik, terdapat juga ayam KUB (Kampung Unggul Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) yang merupakan galur murni (pure line) betina hasil seleksi selama 6 generasi dari ayam kampung (Gallus-gallus domesticus) yang berasal dari daerah Cianjur, Depok, Majalengka, dan Bogor. Karakteristik warna bulu ayam KUB beragam seperti ayam kampung pada umumnya. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI No. 274/Kpts/SR.120/2/2014, ayam KUB memiliki beberapa keunggulan seperti, produksi telur tinggi dan sebagian besar tidak mengeram. Ayam KUB ini telah menyebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Ayam merupakan hewan homeotermis, dengan tubuh ditutupi bulu dan tidak memiliki kelenjar keringat. Suhu lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan ayam mengalami cekaman panas. Cekaman panas merupakan salah satu masalah utama dalam industri peternakan ayam ras, terutama pada saat musim kemarau dan semakin meningkatnya suhu lingkungan karena pemanasan global. Cekaman panas yang intens (akut) atau cekaman panas yang berlangsung dalam waktu lama (kronis) dapat memengaruhi pertumbuhan, penurunan produksi telur, dan bahkan menyebabkan kematian ayam. Hingga saat ini belum ada laporan tentang kasus kematian pada ayam lokal akibat cekaman panas, terutama pada musim kemarau. Walaupun demikian, peningkatan suhu lingkungan karena pemanasan global, perlu diantisipasi dengan melakukan penelitian yang komprehensif untuk mendapatkan database tentang keragaman genetik ayam lokal Indonesia yang resisten terhadap cekaman panas. Beberapa gen pada ayam diketahui berasosiasi dengan sifat ketahanan terhadap cekaman panas, di antaranya: gen nakedneck (Na), gen frizzle (F), dan gen dwarf (dw). Di sisi lain, salah satu senyawa yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi cekaman panas adalah heat shock protein 70 (HSP70). Gen HSP70 bekerja sebagai chaperone, bertugas mengatur pelipatan kembali (refolding) protein-protein secara benar, sehingga dapat melindungi sel dari kerusakan akibat cekaman panas. Menurut penelitian Archana et at (2017), gen HSP70 dianggap sebagai penanda biologi ideal terhadap cekaman panas pada hewan ternak. Asosiasi antara polimorfisme gen HSP70 dengan resistensi cekaman panas telah dijadikan sebagai penanda dalam proses seleksi untuk menghasilkan jenis ayam yang tahan terhadap suhu tinggi. Namun, penelitian keragaman gen HSP70 dan respons fisiologis terhadap cekaman panas pada ayam lokal Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian yang telah dilakukan penulis bertujuan untuk mengevaluasi respons fisiologis cekaman panas akut pada ayam KUB dan ayam walik dengan haplotipe gen HSP70 berbeda (H1’, H1, H2, dan H3). Hal ini guna menentukan haplotipe ayam yang tahan cekaman panas. Parameter yang diamati meliputi pengukuran suhu rektal, distribusi suhu permukaan tubuh (area kepala, leher, badan, dan kaki), dan konsentrasi hormon (kortikosteron dan triiodotironin), serta waktu mulai panting. Ayam KUB dan ayam walik yang digunakan dalam penelitian ini merupakan ayam yang telah diidentifikasi haplotipenya berdasarkan keragaman gen HSP70. Sampel untuk uji tantang dicuplik secara purposive sampling dengan menggunakan sebaran haplotipe yang sama (equal) pada rumpun ayam KUB dan ayam walik. Sebanyak empat ekor ayam betina dewasa masing-masing dari ayam KUB dan ayam walik dengan haplotipe berbeda (H1’, H1, H2, dan H3) selanjutnya diuji tantang untuk mengukur respons fisiologis terhadap cekaman panas akut pada suhu 35°C selama satu jam dengan menggunakan heat chamber. Waktu mulai panting diukur pada saat cekaman panas, sedangkan suhu rektal, suhu permukaan tubuh (area kepala, leher, badan, dan kaki), dan konsentrasi hormon kortikosteron dan triiodotironin diukur sebelum dan sesudah cekaman panas. Data RISET Edisi Februari 2023 u 81 suhu rektal, suhu permukaan tubuh, dan konsentrasi hormon dianalisis berdasarkan delta (Δ) atau perubahan pengukuran sesudah dan sebelum cekaman panas pada setiap haplotipe (H1’, H1, H2, dan H3) berdasarkan rumpun ayam (ayam KUB dan ayam walik) dengan menggunakan ANOVA (analysis of variance) satu arah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa respons fisiologis (waktu mulai panting, suhu rektal, suhu permukaan tubuh, dan konsentrasi hormon) pada semua haplotipe ayam KUB (H1’, H1, H2, dan H3) tidak berbeda signifikan. Sebaliknya respons fisiologis berbeda signifikan pada ayam walik haplotipe H1 untuk suhu rektal dan ayam walik haplotipe H1’ untuk suhu permukaan di area kaki. Analisis waktu mulai panting tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada setiap haplotipe dalam rumpun ayam KUB dan ayam walik. Berdasarkan hasil penelitian Tamzil et at. (2013), dan Komalasari (2014), ayam ras petelur memulai panting lebih cepat daripada ayam kampung. Hal ini terjadi karena, suhu lingkungan yang tinggi akan menyebabkan tertimbunnya panas dalam tubuh, sehingga ayam akan mengalami cekaman panas. Pada saat suhu lingkungan tinggi, kestabilan suhu tubuh dipertahankan dengan menyeimbangkan antara produksi panas dengan pelepasan panas. Berbagai cara yang dilakukan ayam untuk mengurangi beban panas tersebut, di antaranya dengan radiasi, konduksi, dan konveksi (sensible heat loss) melalui permukaan tubuh. Apabila radiasi, konduksi, dan konveksi tidak mampu mengatasi cekaman panas, maka mekanisme yang bekerja adalah evaporasi (insensible heat loss). Panting merupakan mekanisme utama pelepasan panas secara evaporasi melalui saluran napas pada saat suhu lingkungan meningkat. Saat terjadi panting, ayam terlihat bernapas pendek (tersengal-sengal) sambil membuka paruhnya. Frekuensi panting bertambah seiring dengan meningkatnya suhu lingkungan. Pada saat panting, laju pernapasan meningkat hingga 200x/menit. Peningkatan suhu rektal tertinggi pada ayam walik haplotipe H1 mengindikasikan bahwa ayam ini tidak tahan terhadap cekaman panas. Pada ayam petelur, suhu tubuhnya dipengaruhi oleh umur, kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan malam, serta makanan yang dikonsumsi. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa ayam ras lebih cepat merespons cekaman panas, dibandingkan dengan ayam kampung dan ayam arab (Tamzil et at. 2013). Suhu rektal mencerminkan suhu tubuh ayam. Suhu rektal merupakan manifestasi dalam upaya mencapai keseimbangan antara panas yang diproduksi dengan panas yang dikeluarkan. Perubahan suhu rektal merupakan salah satu pengaruh dari mekanisme termoregulasi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan suhu tubuhnya. Umumnya suhu tubuh ayam dewasa berkisar antara 41,11° dan 41,67°C. Kemampuan adaptasi ayam dengan panas juga sangat memengaruhi respons fisiologisnya. Suhu tinggi dengan kelembapan tinggi lebih mengganggu dibandingkan dengan suhu tinggi dengan kelembapan rendah. Oleh sebab itu, suhu rektal dapat digunakan sebagai indikator ayam tahan cekaman panas. Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan tingginya peningkatan suhu permukaan di area kaki ayam walik haplotipe H1’. Hal ini mengindikasikan bahwa panas yang dilepaskan di area kaki lebih banyak dibandingkan dengan di area tubuh lainnya. Pengukuran suhu permukaan tubuh (jengger, pial, dan kaki, serta bulu punggung) menunjukkan bahwa ayam kampung lebih toleran terhadap suhu tinggi dibandingkan dengan ayam ras (Komalasari 2014). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Nääs et at. (2010) dan Nascimento et at. (2011), yang menyatakan bahwa area tubuh ayam yang minim bulu atau featherless (jengger, mata, telinga, pial, palang sayap, dan kaki) memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan area tubuh ayam yang tertutupi bulu (kepala, leher, punggung, sayap terbang, dada, paha, bagian bawah, dan ekor). Dengan demikian, daerah yang minim bulu lebih menguntungkan bagi unggas terutama dalam hal membuang kelebihan panas tubuh dan meningkatkan ketahanan terhadap cekaman panas. Konsentrasi hormon triiodotironin dan kortikosteron sebelum dan sesudah cekaman panas pada setiap haplotipe ayam KUB dan ayam walik tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Hingga saat ini belum ada referensi yang menyebutkan besarnya konsentrasi kedua hormon tersebut pada ayam KUB atau ayam walik. Pada ayam kampung dan ayam arab, konsentrasi kortikosteron meningkat setelah cekaman panas (Tamzil et at. 2013). Sebaliknya konsentrasi triiodotironin menurun signifikan pada broiler yang tercekam panas akut dengan suhu 40°C dan kelembapan 40% selama dua jam. Penelitian ini perlu dilanjutkan pada rumpun ayam lokal Indonesia lainnya, dengan melengkapi data analisis profil darah, ekspresi gen HSP70 (analisis RNA), dan asosiasi antara sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif yang terkait dengan performa produktivitas ayam. Database yang diperoleh dijadikan dasar seleksi dan persilangan ayam untuk pembentukan galur ayam lokal Indonesia yang tahan cekaman panas. *Dosen Program Studi Biologi, Departemen Pendidikan Biologi, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, **Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pengukuran respons fisiologis terhadap cekaman panas dalam menggunakan heat chamber Kondisi ketika ayam panting


Edisi Februari 2023 S ertifikasi halal rumah potong ayam (RPA) menjadi prioritas dalam penyelenggaraan Jaminan Produk halal (JPH) dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Hal ini dilansir dari situs resmi BPJPH (5/7/2022). RPA menjadi pemasok daging ayam konsumsi masyarakat, sehingga dengan adanya sertifikat halal dapat meningkatkan kualitas daging yang aman dan sehat sebagai upaya peningkatan dalam menghadapi persaingan pasar. Islam mengajarkan untuk mengonsumsi makanan dengan jaminan halal sesuai dengan standar gizi makanan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) (Kholili, 2021). Permasalahan yang dihadapi oleh RPA skala kecil untuk mendapatkan sertifikasi halal adalah kurangnya peralatan pendukung dan kompetensi penyembelih dalam menjamin kehalalan produk (Anwar, 2018). RPA halal ini harus bisa membawa Indonesia sebagai produsen terbesar produk halal dunia dan dapat menyeimbangkan antara impor dan ekspor daging ayam. Kewajiban sertifikasi halal produk peternakan di Indonesia yang Oleh : Ina Nurtanti, S.Pt., M.Pt* diawasi oleh LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, ObatObatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) Sertifikasi halal rumah potong ayam (RPA) merupakan upaya peningkatan kualitas produk ayam yang efektif (Anwar, 2020). BPJPH menjelaskan titik kritis kehalalan yang harus diperhatikan oleh pelaku usaha. RPA halal harus didukung dengan bahan baku, juru sembelih halal (JULEHA) yang berkompeten, serta proses produksi/peralatan yang tidak terkontaminasi benda nonhalal, proses pengemasan dan transportasi distribusi kepada konsumen juga harus dipastikan halal. Penulis berpendapat jika produk yang dihasilkan merupakan produk yang telah melalui berbagai tahapan hingga mendapatkan sertifikat halal, otomatis produk tersebut juga memiliki jaminan berupa kualitas produk yang dihasilkan. Serangkaian proses pemotongan yang dilakukan di RPA untuk menghasilkan produk yang halal akan menghasilkan sebuah produk yang berkualitas karena dalam proses pemotongan halal telah mempertimbangkan juga berbagai aspek kesehatan. Salah satu contoh aspek kesehatan di dalam pemotongan yang halal adalah apakah darah sudah keluar dengan sempurna ketika ayam selesai disembelih. Ketika proses tersebut dilakukan secara benar, maka otomatis secara teori daya simpan produk yang telah melalui serangkaian prose pemotongan halal akan lebih lama dengan produk yang tidak dipotong di RPA halal. Kemudian dalam prosedur pelaksanaan RPA halal pelaku usaha harus mengajukan permohonan sertifikasi halal kepada BPJPH melalui laman https:// 82 u Edisi Februari 2023 Tantangan industri global perunggasan di Indonesia menemui persaingan yang semakin ketat, tidak hanya produk, rumah potong ayam(RPA) saat ini juga harus memiliki sertifikat halal. OPINI Tantangan Global RPA Halal Gambar 1. Konsep Halal dari Hulu ke Hilir


Edisi Februari 2023 S ertifikasi halal rumah potong ayam (RPA) menjadi prioritas dalam penyelenggaraan Jaminan Produk halal (JPH) dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Hal ini dilansir dari situs resmi BPJPH (5/7/2022). RPA menjadi pemasok daging ayam konsumsi masyarakat, sehingga dengan adanya sertifikat halal dapat meningkatkan kualitas daging yang aman dan sehat sebagai upaya peningkatan dalam menghadapi persaingan pasar. Islam mengajarkan untuk mengonsumsi makanan dengan jaminan halal sesuai dengan standar gizi makanan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) (Kholili, 2021). Permasalahan yang dihadapi oleh RPA skala kecil untuk mendapatkan sertifikasi halal adalah kurangnya peralatan pendukung dan kompetensi penyembelih dalam menjamin kehalalan produk (Anwar, 2018). RPA halal ini harus bisa membawa Indonesia sebagai produsen terbesar produk halal dunia dan dapat menyeimbangkan antara impor dan ekspor daging ayam. Kewajiban sertifikasi halal produk peternakan di Indonesia yang Oleh : Ina Nurtanti, S.Pt., M.Pt* diawasi oleh LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, ObatObatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) Sertifikasi halal rumah potong ayam (RPA) merupakan upaya peningkatan kualitas produk ayam yang efektif (Anwar, 2020). BPJPH menjelaskan titik kritis kehalalan yang harus diperhatikan oleh pelaku usaha. RPA halal harus didukung dengan bahan baku, juru sembelih halal (JULEHA) yang berkompeten, serta proses produksi/peralatan yang tidak terkontaminasi benda nonhalal, proses pengemasan dan transportasi distribusi kepada konsumen juga harus dipastikan halal. Penulis berpendapat jika produk yang dihasilkan merupakan produk yang telah melalui berbagai tahapan hingga mendapatkan sertifikat halal, otomatis produk tersebut juga memiliki jaminan berupa kualitas produk yang dihasilkan. Serangkaian proses pemotongan yang dilakukan di RPA untuk menghasilkan produk yang halal akan menghasilkan sebuah produk yang berkualitas karena dalam proses pemotongan halal telah mempertimbangkan juga berbagai aspek kesehatan. Salah satu contoh aspek kesehatan di dalam pemotongan yang halal adalah apakah darah sudah keluar dengan sempurna ketika ayam selesai disembelih. Ketika proses tersebut dilakukan secara benar, maka otomatis secara teori daya simpan produk yang telah melalui serangkaian prose pemotongan halal akan lebih lama dengan produk yang tidak dipotong di RPA halal. Kemudian dalam prosedur pelaksanaan RPA halal pelaku usaha harus mengajukan permohonan sertifikasi halal kepada BPJPH melalui laman https:// 82 u Edisi Februari 2023 Tantangan industri global perunggasan di Indonesia menemui persaingan yang semakin ketat, tidak hanya produk, rumah potong ayam(RPA) saat ini juga harus memiliki sertifikat halal. OPINI Tantangan Global RPA Halal Gambar 1. Konsep Halal dari Hulu ke Hilir Edisi Februari 2023 ptsp.halal.go.id. Selanjutnya BPJPH akan melakukan pemeriksaan dokumen permohonan dan menetapkan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) berdasarkan pilihan pemohon. Setelah itu, LPH melakukan pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk yang hasilnya disampaikan kepada BPJPH. Kemudian BPJPH menyampaikan hasil pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk kepada MUI dan MUI menetapkan kehalalan produk melalui sidang fatwa halal. Hasil penetapan kehalalan produk tersebut, lalu disampaikan kepada BPJPH. Proses terakhir adalah penerbitan sertifikasi halal oleh BPJPH. Alur proses dan dokumen permohonan sertifikasi halal dijelaskan pada Gambar 2. RPA halal dapat mewujudkan visi Indonesia menjadi pengekspor produk halal. Menurut Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin dalam pameran Indonesia Industrial Moslem Exhibition (In2Motion) 2021 menyampaikan bahwa Indonesia dikenal penghasil produk muslim yang cukup besar, hal ini disebabkan populasi muslim terbesar berada di Indonesia dengan populasi mencapai 229 juta jiwa atau 87,2% penduduk Indonesia. Merujuk pada Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam Opening Ceremony In2Motion, Teten mengungkapkan ekspor produk halal Indonesia saat ini berkisar 3,8% dari total pasar produk halal dunia. RPA Halal Indonesia ini diharapkan dapat mendomplang peningkatan jumlah produk halal ekspor. Hal ini perlu adanya kontribusi dari beberapa instansi baik dari pendidikan, pemerintah maupun industri terkait. Adanya kerja sama antara instansi ini diharapkan dapat meningkatkan upaya strategis penyelenggaraan program RPA halal. Kesadaran dari industri sangat penting dalam mewujudkan program RPA halal ini. Hal tersebut juga didukung oleh sumber daya manusia yang berkecimpung di RPA halal dimana salah satu persyaratan dari pemotongan RPA halal itu mesti dilakukan oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) yang telah memiliki sertifikat. Sehingga, jika sebuah RPA halal sudah mengantongi izin untuk beroperasi, maka sudah dipastikan produk yang dihasilkan dari kegiatan pemotongan di unit RPA tersebut adalah RPA halal. Akan tetapi, ancaman dari RPA halal tersebut adalah RPA – RPA yang tidak memiliki izin usaha yang menjamur di berbagai tempat. Selain memberikan ketidakadilan bagi para pelaku usaha yang telah mengantongi izin, RPA yang Edisi Februari 2023 u 83 tidak memiliki izin operasi tersebut berpotensi untuk mencemari lingkungan dari limbah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Sebagaimana diketahui bersama bahwa limbah yang dihasilkan dari kegiatan RPA seperti darah, bulu, dan lainnya merupakan limbah yang bisa membahayakan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Namun, penulis merasa bahwa tantangan yang mesti dihadapi oleh para pelaku usaha RPA halal adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pemotongan ayam yang halal. Penanganan unggas dalam rumah potong merupakan salah satu titik vital kehalalan suatu produk unggas. Sehingga perlu diperhatikan bersama - sama bagaimana penanganan produk unggas yang baik, agar produk yang dihasilkan memenuhi standar ASUH. Selain itu tantangan yang harus diperhatikan oleh para pelaku RPA halal adalah bagaimana menjaga aspek lingkungan. Selama masa izin yang sudah dimiliki oleh pelaku usaha masih berlaku, para pelaku usaha harus terus memonitor sistem pembuangan limbah dari kegiatan usahanya supaya tidak menimbulkan konflik di masyarakat. Ketika sudah terjadi konflik, maka yang dirugikan adalah masyarakat secara umum, tidak hanya pelaku usaha, tetapi juga para pedagang yang membutuhkan supply dari kegiatan usaha RPA tersebut. Upaya lain yang dapat dilakukan oleh instansi pemerintah dan pendidikan diantaranya adalah penyuluhan untuk menciptakan dorongan kepada RPA untuk segera memperoleh sertifikat Halal MUI. Pemerintah dapat memberikan fasilitas pendampingan sehingga Industri tidak merasa kesulitan dalam memperoleh sertifikat halal tersebut. Pemberian sertifikat Halal terhadap RPA ini menjadi upaya perbaikan mutu dan kualitas pada sistem penyembelihan ayam. Program ini yang dapat meningkatkan ekspor halal produk Indonesia ke berbagai negara. Pemberian label halal pada setiap produk broiler halal yang diproduksi lebih merasa aman dan terbebas dari zat nonhalal makanan. Labelisasi halal ini akan meningkatkan kualitas pangan sesuai norma agama. Pencapaian halal produk ini juga harus memiliki tiga aspek penunjang yaitu zero limit, zero defect dan zero risk. Dengan demikian produk ini dapat dipastikan tidak memberikan risiko terhadap konsumennya. *Dosen Universitas Muhammadiyah Karanganyar Gambar 2. Alur proses dan dokumen permohonan sertifikasi halal sumber:www.halal.go.id


84 u Edisi Februari 2023 Bima Aqila, Pemilik Layanan Jasa Keamanan yang Mencintai Dunia Ayam Hias K eseharian Kurnia Rahmat atau yang terkenal dengan panggilan Bima Aqila, selalu disibukkan dengan mengurusi keperluan kliennya yang membutuhkan layanan jasa keamanan. Saat ini, Bima memiliki sekitar 500 orang yang bernaung di bawah bendera Big Guard Indonesia Security Services. Namun siapa yang menyangka bahwa jauh sebelum menjadi direktur sebuah perusahaan penyedia jasa keamanan, pria kelahiran Oktober 1980 ini sudah jatuh cinta kepada ayam hias sedari kecil. Semasa kecil, Bima mengaku menyukai ayam kampung dan terus menekuni kegiatan pemeliharaan ayam kampung. Bahkan ia mengklaim bahwa dengan kegiatannya memelihara ayam kampung mampu menolong kondisi perekonomiannya untuk bisa menamatkan sekolah semasa SMA. “Sebetulnya saya dari kecil sudah ada ketertarikan ke ayam. Hanya dulu sewaktu saya masih SD itu masih sebatas ayam kampung. Lalu beranjak ke kelas 1 SMP saya mulai tertarik ke ayam kate. Dunia ayam ini justru membantu untuk ekonomi saya semasa SMA dari jual beli ayam kampung,” kenang Bima kepada tim Poultry Indonesia, Selasa (17/1) melalui sambungan telepon. Selanjutnya Bima bercerita bahwa apa yang ia capai saat ini telah melalui proses yang panjang. Ia bercerita bahwa semasa muda, ia pernah merasakan bekerja sebagai buruh operator pabrik. “Sebetulnya dulu saya sempat bekerja sebagai buruh operator pabrik dari 2000-2008. Setelah itu saya melanjutkan menjadi marketing motor tetapi hanya bertahan satu bulan. Akhirnya saya diminta tolong oleh rekan saya untuk meneruskan perusahaan dari kawan kakak saya di bidang jasa keamanan di sekitar tahun 2009,” ungkapnya. Semenjak itulah Bima melanjutkan merintis karier di bidang layanan jasa keamanan, dan pada tahun 2013 Bima mencetuskan sebuah pemikiran bahwa jika menjadi karyawan terus – menerus, maka dari segi finansial secara pribadi juga akan sulit untuk naik ke tahap selanjutnya. “Saya berpikir di tahun 2013, karena dari tahun 2009 saya bekerja, dan kalau jadi karyawan terus, kapan saya bisa menutupi kebutuhan hidup saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka jasa security sendiri hingga akhirnya berkembang sampai sekarang”. Totalitas untuk ayam hias Bima mulai masuk dan menekuni dunia ayam hias lebih dalam semenjak tahun 2013 dan ketertarikannya terhadap ayam hias dimulai dari memelihara hingga mengimpor ayam serama. Kala itu ia bercerita bahwa ia menemukan ayam serama dari lingkungan terdekat terlebih dahulu, dan akhirnya merambah ke media sosial seperti Facebook untuk mencari informasi terkait ayam hias, dan juga saling berbagi pengalaman antar penghobi ayam hias. “Masuk ke ayam hias itu baru di tahun 2013 dan ayam hias pertama saya adalah ayam serama. Dari mulai mencoba impor dan sebagainya, akhirnya saya bertemu dengan teman-teman sehobi dari lingkungan terdekat terlebih dahulu, lalu bertemu di media sosial seperti facebook dan sebagainya. Dari situ banyak silaturahmi terutama di Facebook, sampai akhirnya bertemu dengan kawan–kawan importir ayam hias dari media sosial tersebut.” Setelah berjalannya waktu, pada tahun 2013 Bima akhirnya dipercaya menjadi ketua dari komunitas Sahabat Serama Indonesia Crew (SSIC). Dari situlah akhirnya Bima bersama rekan rekan komunitasnya mengikuti kontes sampai ke kediri. “Karena pada saat itu di Kediri kontesnya sudah sampai taraf regional ASEAN. Waktu tahun 2015 atau 2014 kalau tidak salah seringkali diadakan kontes di tingkat nasional bahkan sampai tingkat regional se – ASEAN,” jelas Bima. Beranjak ke periode selanjutnya yaitu pada tahun 2016 akhirnya Bima bertemu dengan kawan-kawan di Asosiasi Pecinta Ayam Hias (APAH). Pada momen itulah ia mulai menaruh perhatian lebih untuk aneka ragam ayam hias, termasuk merak dan Dunia ayam hias merupakan dunia hobi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Nilai jual seekor ayam hias memang bervariatif, antara ratusan ribu bahkan hingga ratusan juta. Namun dibalik nilai ekonomi dari ayam hias, terdapat keindahan yang seringkali tidak dapat dinilai oleh materi belaka. PROFIL Bima Aqila bersama merak peliharaannya


Edisi Februari 2023 u 85 pheasant. “Awalnya saya itu di komunitas serama, kemudian saya dari situ mulai berkenalan dengan penghobi juga dari ayam hias yang berbeda jenis, lalu akhirnya mendirikan Asosiasi Pecinta Ayam Hias (APAH) Indonesia. Untuk APAH sendiri memang merupakan gabungan dari beragam asosiasi atau komunitas pecinta ayam hias dari berbagai jenis, mulai dari ayam hias lokal maupun impor.” Awalnya dalam komunitas tersebut, Bima menjelaskan bahwa semangat yang diusung adalah menjadi asosiasi yang bermanfaat bagi anggota. Salah satunya diisi dengan kegiatan sosialisasi setiap bulannya, edukasi dan saling bertukar informasi terkait bagaimana manajemen kandang yang baik, kemudian pembuatan pakan probiotik, hingga pembuatan mesin tetas. “Dari kegiatan itulah, banyak dari kawan–kawan yang lain ikut tertarik untuk bergabung dengan APAH karena dari kegiatan yang dilakukan oleh APAH ternyata dirasa bermanfaat bagi para penghobi. Akhirnya APAH di awal kemunculannya memutuskan untuk mencoba menggabungkan komunitas yang memang memiliki kesamaan visi dan misi dalam sebuah kontes. Selanjutnya dari kontes yang pertama kali diadakan tersebut, semakin banyak komunitas yang mau untuk bergabung kedalam APAH,” paparnya. Pesan dari Bima sebagai ketua APAH untuk kawan–kawan yang memang memiliki hobi yang sama di bidang ayam hias, supaya tidak hanya sekadar bermimpi untuk menjadi pebisnis sukses di bidang ayam hias, akan tetapi yang paling penting adalah silaturahmi di bidang ayam hias. “Kami sebagai penghobi disini memiliki kawan–kawan dari beragam golongan, mulai dari buruh, pekerja lepas, sampai ke akademisi juga ada. Banyak sekali peluang bisnis dan kerja sama yang bisa terjalin dari silaturahmi antar anggota. Jadi saya menghimbau agar tidak perlu ragu dan malu untuk bergabung dengan kami. Namun perlu diingat, tujuan utamanya adalah mendahulukan silaturahmi, jangan hanya datang untuk mencari peluang bisnis saja. Saya berbicara seperti ini karena memang sudah terbukti bahwa mereka yang hanya bertujuan untuk bisnis, akhirnya relatif tidak lama dalam menggeluti hobi ini,” kata Bima. Tantangan pemeliharaan Menurut Bima, tantangan pemeliharaan tersulit untuk ayam serama itu bagaimana menjaga anatomi serama supaya bisa dikatakan normal untuk ukuran serama, contohnya seperti ekor bengkok, dan panggul miring. Untuk diketahui bahwa ayam serama memang terkadang memiliki postur yang cukup ekstrem. ”Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan tindakan operasi dengan pendekatan alternatif tradisional. Kami disini memang ada kawan–kawan yang bisa melakukan tindakan alternatif tersebut. Pada periode itu memang kami sebagai penghobi ayam serama belum mampu mengakses dokter hewan. Karena memang kami berpikir bahwa sifatnya lebih ke estetika, bukan penyakit yang serius hingga mengancam nyawa hewan maupun penyakit menular yang berbahaya,” ungkap Bima. Serangan penyakit juga pernah menjadi pengalaman yang memilukan untuk Bima. Bagaimana tidak, ayam hias yang Bima pelihara sempat terkena wabah kolera dan membuat ratusan ayam mati. “Kami sebagai penghobi, rata-rata paham bagaimana mengantisipasi penyakit yang cukup umum seperti Newcastle Disease. Sedangkan waktu itu saya kurang menjaga kebersihan pakan dan air minum sehingga terkena wabah kolera, bahkan sampai ratusan ayam saya itu mati akibat penyakit tersebut dan hanya menyisakan indukan. Untuk kasus yang terjadi baru – baru ini sekitar tahun 2021 saya pernah kecolongan untuk merak yang saya pelihara terserang kolera. Maka dari itu, pada tahun 2022 itu saya mulai merintis lagi untuk merak dan pheasant,” Bima menyadari bahwa edukasi kepada para peternak dan penghobi juga penting untuk menjaga nilai keekonomian dari ayam hias. Alasannya, ketika ayam hias itu terserang penyakit, maka peternak akhirnya akan menurunkan harga, dan Bima paham betul ketika hal tersebut terjadi maka akan muncul kondisi saling banting harga antar penghobi. “Akhirnya kami juga mencoba di sosmed untuk memberikan edukasi kepada para peternak untuk menjaga kualitas ayam itu sendiri. Tujuannya, ketika ayam yang dijual itu memang bagus dari segi kualitas semisal ayamnya sehat, fisiknya bagus, maka tidak ada peternak yang saling banting harga akibat kualitas ayam yang dijual kurang baik. Akhirnya para peternak juga setelah diedukasi tersadar bahwa memang menjaga kualitas ayam itu sangat perlu untuk dilakukan untuk menjaga kestabilan harga,” tegas Bima. Peran pemerintah menurut Bima juga diperlukan supaya dunia ayam hias ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian masyarakat terutama di pedesaan. “Kami juga berharap kepada pemerintah karena dunia hobi ini bisa menggerakkan roda perekonomian di kalangan peternak. Tolong rangkul kami, karena kami disini bukan ingin meminta sesuatu, tetapi hanya ingin bermitra dengan pemerintah untuk sama – sama menyejahterakan lingkungan yang ada di sekitar kami,” ucapnya. Domi Merak merupakan salah satu ayam hias yang disukai oleh Bima Bima Aqila bersama para tamu undangan dan pihak sponsor dalam acara Indonesian Fowl Show 2022


Industri perunggasan di Indonesia menjadi sektor utama bagi perekonomian nasional, yang memasok 65% protein hewani dan mempekerjakan 10% tenaga kerja nasional (Ferlito dan Respatiadi, 2019). Kendati demikian, industri perunggasan dihadapkan beberapa tantangan, seperti potensi terjadinya resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR). Antimicrobial Resistance merupakan permasalahan global yang berkaitan dengan kesehatan manusia dan hewan. Antimicrobial Resistance terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit tidak lagi merespon obat-obatan. Hal tersebut menyebabkan infeksi lebih sulit diobati, meningkatkan risiko penyebaran penyakit, keparahan penyakit, hingga kematian. Menurut WHO (2021), kejadian AMR merupakan salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global yang dihadapi manusia. Penggunaan antimikroba pada peternakan dapat mengakselerasi proses resistensi antimikroba. Tak terkecuali di Indonesia, yang masih banyak ditemukan penggunaan antimikroba dengan tujuan pencegahan penyakit, walaupun telah dilarang sejak tahun 2018. Antibiotik merupakan salah satu jenis antimikroba yang melawan bakteri. Faktor yang menyebabkan berkembangnya resistensi antibiotik yaitu pemberian antibiotik secara terus menerus tanpa mengetahui penyebab infeksi dan pemberian antibiotik secara berlebihan dalam jangka waktu lama. Lebih dari itu, penggunaan antibiotik dapat meninggalkan residu antibiotik dalam jaringan. Residu antibiotik pada produk asal ternak unggas dapat masuk ke tubuh manusia bagi yang mengonsumsinya dan berakibat pada kejadian AMR. Gejala klinis yang ditimbulkan terkadang belum tampak, akan tetapi menjadi ancaman kesehatan di masa depan. Oleh karenanya, pengawasan residu dan cemaran mikroba dalam bahan pangan asal unggas sangat penting untuk melindungi kesehatan dan keamanan masyarakat. Menurut Civas (2016), jenis antibiotik yang umum digunakan pada peternakan ayam antara lain adalah enrofloxacin, oxytetracycline, tetracycline, erythromycin, neomycin, bacitracin, doxycycline, ciprofloxacin, amoxicillin, lincomycin, sulfadiazine, dan trimethoprim. Resistensi antibiotik yang bersifat patogen pada unggas dapat mengakibatkan kegagalan pengobatan yang berakibat pada kerugian ekonomi, menjadi sumber resistensi bakteri (termasuk bakteri zoonosis) yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Noor, dkk. (2017), beberapa bakteri yang sudah resisten antara lain adalah Escherichia coli dan Salmonella spp. yang resisten terhadap generasi ke-3 dan ke-4 sefalosporin dan fluorokuinolon. Kemudian, Campylobacter spp. yang resisten terhadap makrolida dan fluorokuinolon, serta Staphylococcus aureus yang resisten terhadap beta-laktam, enterococci resisten terhadap vancomycin. Selain itu, penggunaan antibiotik dalam industri perunggasan sangat penting untuk memperhatikan waktu henti antibiotik (withdrawal time). Dalam menghadapi tantangan AMR pada industri perunggasan membutuhkan peran penting dari dokter hewan dan berbagai pihak seperti pemerintah, pihak swasta, akademisi, praktisi, dan organisasi profesi yang berbasis one health. Upaya pencegahan dan pengendalian terjadinya AMR dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman peternak mengenai resistensi antimikroba serta dampak yang ditimbulkan. Kegiatan surveillance juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan AMR. Pemerintah juga telah mengeluarkan peraturan untuk mengantisipasi penyalahgunaan penggunaan antibiotika yang dapat menimbulkan residu pada daging yang diproduksi, melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/PERMENTAN/ PK.350/5/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Peraturan tersebut menjelaskan bahwa obat hewan dilarang digunakan sebagai antibiotik imbuhan pakan baik berupa produk jadi imbuhan pakan atau bahan baku obat hewan yang dicampurkan dalam pakan. Berbagai upaya tersebut apabila dapat dilaksanakan dengan baik dan didukung pengetahuan peternak maka akan menghasilkan produk pangan asal unggas yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) serta mampu menghadapi tantangan AMR pada peternakan unggas. *Mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya 86 u Edisi Februari 2023 Pengawasan residu dan cemaran mikroba dalam bahan pangan asal unggas sangat penting untuk melindungi kesehatan dan keamanan masyarakat. Menghadapi Tantangan Antimicrobial Resistance (AMR) pada Peternakan Unggas Oleh: Siti Mukharomah* SUARA MAHASISWA


B isnis perunggasan sangat prospektif untuk dikembangkan, salah satunya bisnis peternakan ayam petelur. Ayam petelur modern diciptakan dari hasil rekayasa genetik dengan potensi mampu menghasilkan telur dalam jumlah banyak, bertahan lama (persistensi produksi telur optimal) serta memiliki efisiensi ransum yang baik. Kenyataan di lapangan, masih banyak peternak ayam layer yang mengeluhkan sulitnya mencapai standar performa ayam sesuai dengan standar guideline tiap strain-nya. Berbagai permasalahan yang biasa dikemukakan seperti produksi tidak mencapai puncak, produksi cepat turun, berat telur di bawah standar sehingga mengakibatkan konversi ransum yang membengkak dan pada akhirnya mengganggu laju pendapatan. Menjalankan budidaya ayam tak ayalnya seperti mendirikan bangunan, selain pondasinya (kualitas bibit DOC, pakan, dan lingkungan) harus baik, manajemen pemeliharaan yang menjadi pembangunannya juga harus baik. Bahasan manajemen ini disajikan dalam buku “Pedoman Beternak Layer Modern”. Buku ini ditulis oleh tim ahli Medion, yaitu Jonas Jahja, Budi Purwanto, Lilis Lestariningsih serta dibantu tim personil lapangan Medion yang telah berpengalaman memahami manajemen dan kesehatan ternak di lapangan. Manajemen Pemeliharaan Ayam Layer Pengembangan usaha peternakan ayam layer di Indonesia memiliki prospek yang terbuka lebar. Hal ini karena telur merupakan salah satu produk yang dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. Secara garis besar parameter keberhasilan usaha ini ditentukan dari 2 aspek, yaitu aspek pencapaian performa produktivitas dan keuntungan finansial. Untuk mencapai kedua parameter keberhasilan tersebut, maka performa produksi telur, yang dilihat dari kuantitas dan kualitasnya, harus mampu dicapai dengan maksimal. Performa ayam dipengaruhi dari empat faktor, yaitu kualitas DOC, kondisi cuaca/ lingkungan, kualitas ransum, dan manajemen pemeliharaan. Acuan performa ayam layer umumnya dapat melihat persentase hen day, berat dan kualitas telur, feed intake serta mortalitas. Dalam hal ini manajemen pemeliharaan merupakan faktor terbesar (sekitar 70%) dan terpenting yang mempengaruhi performa ayam. Ayam modern saat ini memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suhu lingkungan sehingga membawa dampak terhadap pencapaian pertumbuhan dan perkembangan ayam salah satunya pada pemeliharaan masa pullet. Terlebih lagi, pertumbuhan pullet tidak dapat dikompensasi. Setiap pertumbuhan organ tubuh dan kerangka ada waktunya masing-masing dan harus dicapai pada waktu yang tepat sehingga kesiapan masa produksi telur yang baik dapat tercapai. Berpedoman pada peran penting manajemen itulah, maka bahasan pada buku ini mengupas tuntas segala aspek manajemen yang perlu diterapkan peternak. Hasil peningkatan performa akan lebih baik jika mutu manajemen pemeliharaan bisa dimaksimalkan. Lengkap, Aplikatif, dan Berwarna Buku ini mengurai secara lengkap mengenai sejarah, potensi, dan teknis pemeliharaan ayam layer modern yang mudah diaplikasikan. Teknis pemeliharaan meliputi perkandangan, manajemen pemeliharaan fase pullet (periode pembesaran) hingga laying (periode bertelur), ransum dan tatalaksana pemberiannya yang mendalam, hasil produksi yaitu telur, panduan pengendalian penyakit, serta penerapan proses sertifikasi NKV. Pada setiap bab bahasan disajikan pula tips-tips yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan sehari-hari. Di akhir bahasan, kami juga menyertakan kisah sukses beberapa peternak yang bisa semakin menambah motivasi bisnis bagi para pembaca. Buku ini dilengkapi dengan data rinci dan gambar berwarna sehingga memudahkan pemahaman sebagai referensi bagi para peternak, praktisi perunggasan, dokter hewan, mahasiswa peternakan dan jurusan lain yang terkait, peneliti, serta pebisnis yang berkecimpung di dunia peternakan khususnya unggas. Selain uraian yang lengkap dan praktis, isi buku ini mudah diaplikasikan di lapangan. Selamat membaca. PI Menyajikan informasi lengkap mengenai sejarah, potensi, dan teknis pemeliharaan ayam petelur modern sehingga dapat menjadi panduan yang praktis dan aplikatif. BEDAH BUKU Pedoman Beternak Layer Modern Judul buku : Pedoman Beternak Layer Modern Penulis : Dr. (H.C.), apt., Drs. Jonas Jahja drh. Budi Purwanto drh. Ch. Lilis Lestariningsih Penerbit : Medion Cetakan : Pertama 2023 Jumlah Halaman : xxx + 130 halaman Ukuran Buku : 26,5 x 20 cm Edisi Februari 2023 u 87


Dunia ayam hias memang tidak pernah mengecewakan. Jenisnya yang beragam berhasil menarik perhatian bagi siapa saja yang melihatnya. Maka tak heran jika penggemar ayam hias terus bertambah hingga detik ini. Setiap jenis ayam hias saling mempunyai penampilan yang menonjol mulai dari warna, morfologi, hingga ukurannya yang tak biasa. Jika di Indonesia kita mengenal ayam kate yang berukuran mini, ternyata ayam hias berukuran besar juga tidak kalah populernya. Sebut saja ayam brahma. Ayam hias berbadan besar ini memang terlihat unik. Badannya yang besar membuat dirinya terlihat sangat gagah, ditambah bulu yang tumbuh di kakinya menambah kesan cantik pada ayam brahma. Warna bulu ayam brahma pun tak kalah cantik. Setidaknya, ada enam jenis ayam brahma yang diklasifikasikan berdasarkan warna bulunya, yaitu colombian light yang berwarna dasar putih dengan bintik hitam; light brahma, sama seperti colombian light namun dengan warna yang lebih terang; dark brahma, memiliki warna dasar hitam dan perpaduan putih di bagian leher; isabel, memiliki warna abu-abu cerah dan sedikit perpaduan kuning; salmon, warna dasar abu-abu dengan perpaduan kemerahan; serta blue brahma dengan warna abu-abu kebiruan. Salah satu peternak ayam hias dari Magelang, Mugiyanto mengakui keunikan dan keindahan ayam brahma. Selain penampilannya, dirinya mengatakan bahwa ayam brahma memiliki perangai yang kalem dan jinak, sehingga sangat cocok dijadikan hewan peliharaan. Padahal, di luar negeri ayam brahma kerap diproduksi sebagai pedaging dan petelur. Walaupun produksinya tidak sebagus ayam petelur umumnya, namun ayam brahma tetap dapat diperhitungkan. Beberapa sumber mengatakan bahwa ayam brahma mampu memproduksi telur sebanyak 150 butir/tahun, berbeda dengan ayam hias lainnya yang hanya memproduksi 100-120 butir /tahun. “Di antara semua jenis ayam hias, ayam brahma memiliki badan yang paling besar. Ayam brahma jantan di peternakan saya pernah mencapai 5 kg pada usia 1 tahun. Walaupun badannya terlihat besar, ayam brahma tidak menakutkan sama sekali karena sifatnya tenang, sehingga cocok dipelihara di perkarangan rumah. Di Amerika dan Eropa, ayam brahma biasa dijadikan sebagai pedaging, tetapi kalau di Indonesia tidak cocok dengan harganya, karena terlalu mahal,” tutur Mugiyanto ketika berbincang bersama tim redaksi Poultry Indonesia melalui telepon WhatsApp, Jumat (23/12). Sebagai peternak ayam hias senior, Mugiyanto menceritakan awal dirinya mengetahui ayam brahma masuk ke Indonesia. Ia mengaku bahwa pertama kali melihat ayam brahma ketika dikenalkan oleh rekannya pada tahun 2013. Saat itu, ayam brahma memang dijadikan sebagai hewan peliharaan yang memiliki harga selangit, berbeda dengan sekarang yang harganya sudah turun 90%. “Pertama kali mengenal ayam brahma pada tahun 2013 ketika ada rekan yang impor dari luar negeri masuk ke Indonesia. Saat itu saya membeli anakan ayam brahma dengan 88 u Edisi Februari 2023 Memiliki postur badan yang sangat besar, bukan berarti manajemen pemberian pakan dan pemeliharaannya sulit. Inilah ayam brahma, sang ‘King of Chicken”. Mengkaji Sejarah dan Gambaran Pemeliharaan Ayam Brahma ANEKA UNGGAS Mugiyanto


Dunia ayam hias memang tidak pernah mengecewakan. Jenisnya yang beragam berhasil menarik perhatian bagi siapa saja yang melihatnya. Maka tak heran jika penggemar ayam hias terus bertambah hingga detik ini. Setiap jenis ayam hias saling mempunyai penampilan yang menonjol mulai dari warna, morfologi, hingga ukurannya yang tak biasa. Jika di Indonesia kita mengenal ayam kate yang berukuran mini, ternyata ayam hias berukuran besar juga tidak kalah populernya. Sebut saja ayam brahma. Ayam hias berbadan besar ini memang terlihat unik. Badannya yang besar membuat dirinya terlihat sangat gagah, ditambah bulu yang tumbuh di kakinya menambah kesan cantik pada ayam brahma. Warna bulu ayam brahma pun tak kalah cantik. Setidaknya, ada enam jenis ayam brahma yang diklasifikasikan berdasarkan warna bulunya, yaitu colombian light yang berwarna dasar putih dengan bintik hitam; light brahma, sama seperti colombian light namun dengan warna yang lebih terang; dark brahma, memiliki warna dasar hitam dan perpaduan putih di bagian leher; isabel, memiliki warna abu-abu cerah dan sedikit perpaduan kuning; salmon, warna dasar abu-abu dengan perpaduan kemerahan; serta blue brahma dengan warna abu-abu kebiruan. Salah satu peternak ayam hias dari Magelang, Mugiyanto mengakui keunikan dan keindahan ayam brahma. Selain penampilannya, dirinya mengatakan bahwa ayam brahma memiliki perangai yang kalem dan jinak, sehingga sangat cocok dijadikan hewan peliharaan. Padahal, di luar negeri ayam brahma kerap diproduksi sebagai pedaging dan petelur. Walaupun produksinya tidak sebagus ayam petelur umumnya, namun ayam brahma tetap dapat diperhitungkan. Beberapa sumber mengatakan bahwa ayam brahma mampu memproduksi telur sebanyak 150 butir/tahun, berbeda dengan ayam hias lainnya yang hanya memproduksi 100-120 butir /tahun. “Di antara semua jenis ayam hias, ayam brahma memiliki badan yang paling besar. Ayam brahma jantan di peternakan saya pernah mencapai 5 kg pada usia 1 tahun. Walaupun badannya terlihat besar, ayam brahma tidak menakutkan sama sekali karena sifatnya tenang, sehingga cocok dipelihara di perkarangan rumah. Di Amerika dan Eropa, ayam brahma biasa dijadikan sebagai pedaging, tetapi kalau di Indonesia tidak cocok dengan harganya, karena terlalu mahal,” tutur Mugiyanto ketika berbincang bersama tim redaksi Poultry Indonesia melalui telepon WhatsApp, Jumat (23/12). Sebagai peternak ayam hias senior, Mugiyanto menceritakan awal dirinya mengetahui ayam brahma masuk ke Indonesia. Ia mengaku bahwa pertama kali melihat ayam brahma ketika dikenalkan oleh rekannya pada tahun 2013. Saat itu, ayam brahma memang dijadikan sebagai hewan peliharaan yang memiliki harga selangit, berbeda dengan sekarang yang harganya sudah turun 90%. “Pertama kali mengenal ayam brahma pada tahun 2013 ketika ada rekan yang impor dari luar negeri masuk ke Indonesia. Saat itu saya membeli anakan ayam brahma dengan 88 u Edisi Februari 2023 Memiliki postur badan yang sangat besar, bukan berarti manajemen pemberian pakan dan pemeliharaannya sulit. Inilah ayam brahma, sang ‘King of Chicken”. Mengkaji Sejarah dan Gambaran Pemeliharaan Ayam Brahma ANEKA UNGGAS Mugiyanto harga 3 juta/ekor di umur 3 bulan. Saat ini harganya sudah terjun bebas. Harga ayam brahma di umur 1 bulan kisaran Rp300,00- 350.00,00/ekornya. Sementara itu, awalnya harga indukan kisaran 10 juta, kalau sekarang harganya berkisar 2-2,5 juta,” beber Mugiyanto Meski saat ini sudah banyak jenis ayam hias yang beredar, namun sepertinya ayam brahma tetap menjadi salah satu favorit para penggemar ayam hias. Walau begitu, sepertinya hampir sebagian penggemarnya tidak mengetahui sejarah dari ayam yang memiliki julukan “King of Chicken” ini. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mengkaji sejarah dari beberapa sudut pandang yang berbeda, sehingga pembaca dapat meresapi nilai budaya yang terdapat pada ayam brahma. Selain itu, penulis juga menyajikan gambaran umum pemeliharaan ayam brahma untuk para pembaca yang ingin mulai memeliharanya sebagai sahabat di pekarangan rumah. Sejarah ayam brahma Secara internasional, sebenarnya sejarah ayam brahma memiliki perdebatan yang cukup rumit. Sebab, tidak ada standar pendaftaran klasifikasi dan asosiasi unggas sebelum abad ke-19. Dalam perdebatan ini, beberapa pendapat mengatakan bahwa nenek moyang ayam brahma berasal dari sekitaran sungai di India yang bernama Brahmaputra. Sebab, bentuk kepala dan jenggernya menunjukkan kalau ayam brahma merupakan hasil perkawinan silang ayam lokal India dengan burung Chittagong dari Bengal, yang sekarang menjadi daerah Bangladesh. Pandangan sebaliknya, American Poultry Association (APA) menyatakan bahwa ayam brahma berasal dari Cina, yang kemudian dikirim dan dikembangbiakkan di Amerika Serikat pada tahun 1843. Pada tahun tersebut, pemerintahan Cina kala itu menandatangani perjanjian yang membuka jalur perdagangan ekspor-impor melalui pelabuhan mereka. Beberapa varian ayam hias dari Cina mendarat di Amerika Serikat dan diperdagangkan di sekitar pelabuhan. Mengutip dari artikel National Geographic (2015), perhatian publik Amerika Serikat terhadap ayam brahma muncul ketika seorang penulis sekaligus penggemar ayam Amerika bernama George Pickering Burnham mengirim sembilan ayam brahma terbaiknya kepada Ratu Victoria dari Inggris sebagai hadiah pada tahun 1852. Saat itu, Ratu Victoria memang gemar koleksi ayam hias yang didatangkan dari Asia, tetapi baginya ayam brahma merupakan ayam yang berbeda. Harga ayam brahma pun seketika melejit, yang tadinya berkisar 12 dolar/pasang menjadi 100 dolar/pasang. Tanpa menunggu waktu yang lama, antusiasme terhadap ayam brahma pun menyebar ke publik Amerika Serikat. Warga Amerika Serikat terpesona dan terobsesi untuk mempunyai ayam brahma. Peristiwa ini disebut “Hen Fever” atau demam ayam eksotis. Tak memandang status sosial, profesi, dan jabatan, setiap orang di Amerika Serikat seketika menggemari ayam hias eksotis, termasuk ayam brahma. Melihat fenomena ini, George Pickering Burnham menyebut pertama kalinya dalam sejarah manusia, ayam dianggap hal yang penting. Meski ada masanya ayam brahma dijadikan sebagai ayam pedaging di Amerika Serikat, tetapi fenomena “Hen Day” menyadarkan peternak kala itu bahwa ayam brahma memiliki nilai yang lebih tinggi berkat unsur sosial budayanya. Inilah dampak dari sejarah sosial budaya yang dapat menghantarkan suatu barang untuk meningkatkan nilai ekonominya. Hingga saat ini, ayam brahma dijadikan sebagai “Heritage Breed” atau galur warisan di Amerika Serikat oleh American Poultry Association. Gambaran umum pemeliharaan ayam brahma Menurut Mugiyanto, walaupun terlihat lebih besar dengan ayam pada umumnya, namun pemberian pakan ayam brahma rupanya tidak jauh berbeda dengan ayam lainnya. Pemberian pakan ayam pedaging komersial sebanyak 2 kali sehari sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan ayam brahma. Penggunaan bahan pakan tambahan berbasis protein juga dianjurkan oleh Mugiyanto bagi yang menginginkan warna bulunya lebih mengkilap. “Brahma itu memang dasarnya ayam berukuran gede, tetapi untuk pakan sebenarnya mirip dengan ayam pada umumnya. Bahkan masih lebih banyak pakan ayam kalkun. Dari umur anakan sampai dewasa, saya hanya memberikan pakan ayam pedaging komersial, tinggal disesuaikan berdasarkan umurnya. Ketika memasuki masa produksi, harus menambahkan bahan pakan tambahan agar kualitas telurnya bagus,” terang pemilik dari kanal hobiternak.com tersebut. Kemudian berkaitan dengan kandang, Mugiyanto menjelaskan bahwa ayam brahma tidak membutuhkan kandang yang rumit layaknya pheasant. Tidak memerlukan tangkringan, karena ayam brahma tidak dapat terbang, sehingga komponen yang paling penting menurutnya adalah sekat pembatas antar ruang. Sebab, ayam brahma jantan mudah berkelahi satu sama lain. Kemudian komponen yang harus diperhatikan adalah litter yang harus dijaga agar tetap dalam kondisi kering. “Untuk ukuran ayam brahma dewasa, luas kandang 2 x 3 meter sudah cukup. Dalam luas tersebut, saya beri rasio jantan 1 dengan betina 4-5 ekor. Titik krusialnya terletak pada alas kandang, jangan sampai lembap atau basah. Untuk itu saya menggunakan pasir sebagai alas kandangnya. Pasir lebih mudah dibersihkan, kalau ada kotoran sudah terserap sama pasir, kandang juga tidak bau. Jika kotorannya sudah menumpuk dalam kondisi kering, maka disapu saja, kotoran yang kering akan ikut tersapu tanpa membawa alas pasir yang lainnya. Selain mudah dibersihkan, ayam brahma juga gemar mandi pasir, sehingga dapat meminimalisir tingkat stres,” pungkas Mugiyanto. Yoga Edisi Februari 2023 u 89 Kandang ayam brahma dewasa


90 u Edisi Februari 2023 P ria asal Bekasi bernama Sendhi Thias Willy ini adalah seorang content creator yang sering menampilkan itik kesayangannya. Bersama Tim Redaksi Poultry Indonesia di acara Indonesian Fowl Show 2022, Bandung, Minggu (11/12), Sendhi bercerita bahwa mulanya dia memiliki peternakan itik pedaging yang berlokasi di Bogor. Namun dalam perjalanannya, dirinya heran terhadap salah satu itiknya karena memiliki penampilan yang tak biasa. Jika biasanya itik berjambul hanya di atas kepala, tetapi salah satu itik milik Sendhi ini memiliki jambul di atas kepala dan samping wajahnya. Itik unik itu dia beri nama Charity. Pikiran untuk menjadi content creator terbesit di kepalanya setelah dia membawa Charity ke rumah YouTuber sekaligus artis papan atas tanah air, yakni Irfan Hakim. “Saya pernah membawa Charity ke rumah Irfan Hakim. Dengan harapan, Charity dapat dipelihara baik oleh Irfan Hakim yang memang sudah terkenal memiliki aviary paling bagus di Jakarta. Tetapi, Irfan Hakim menyarankan kalau Charity sebaiknya dipelihara oleh saya kembali. Kemudian dari situ saya terbesit ide untuk membuat kanal YouTube bersama Charity. Dan saya ingin orang-orang dapat memandang itik layaknya hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. Karena kalau itik benar-benar dirawat khusus, maka tidak kalah lucu dengan hewan kesayangan lainnya,” begitu kira-kira kata pria kelahiran tahun 1994 tersebut. Yoga Mari berkenalan dengan Guntur Ginanjar selaku peternak ayam mutiara asal Magelang. Ketika berbincang dengan Tim Redaksi Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Senin (7/11), dirinya mengaku sangat suka dengan ayam mutiara karena motif bulunya yang unik seperti perhiasan mutiara dan perangainya yang lincah dan berisik. Menurutnya hal ini membuat ayam mutiara sangat cocok dipelihara di sebuah rumah yang berada di pelosok desa. Menariknya, Guntur tidak hanya menjual ayam mutiara hidup, melainkan limbah bulu dari proses mabung pun turut dijualnya. “Saya sering mengirim bulu ayam mutiara ke Bali. Di sana, bulu ayam mutiara dijadikan hiasan kepala untuk kegiatan upacara tertentu. Ayam mutiara setahun sekali mengalami molting atau mabung. Bulu inilah yang saya ambil. Hitungan bulu ayam mutiara adalah per helai. Harga jualnya berkisar Rp500,00 sampai Rp1.000,00 per helai. Perlu dicatat, hal ini juga tergantung dari bulu bagian apa. Jika bulu bagian sayap itu biasanya dikenakan Rp1.000,00 , sedangkan bulu bagian badan dikenakan Rp500,00,” ujar pemilik dari Ayamkalkun.com tersebut. Yoga B agi sebagian orang, bekerja di bidang peternakan adalah sesuatu yang kurang enak didengar. Entah karena stigma jorok seperti banyaknya feses atau lingkungan kandang yang kurang sedap bila dipandang mata. Namun berbeda dengan M. Nurul Kawakib, pria asal Lamongan yang kini bekerja sebagai Supervisor PT New Hope Indonesia. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia, di Karawang, Jawa Barat, Jumat (18/11), dirinya mengaku bahwa kegiatan beternak adalah aktivitas yang menyenangkan. Melihat segala tingkah laku dan tumbuh kembang ayam membuat dirinya sudah cukup senang. “Dari kecil saya sudah menyukai hewan, khususnya hewan ternak entah itu sapi, ayam, atau kambing. Dari hobi itu, kemudian saya memutuskan untuk mengambil Program Studi Peternakan di Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2015. Setelah lulus di awal tahun 2019, saya memulai karier sebagai Kepala Kandang, karena saya sangat menginginkan memegang peternakan ayam hingga akhirnya saat ini saya sebagai Supervisor,” ungkapnya. Yoga Penghobi Itik Jambul yang Beranjak Viral Manfaatkan Limbah Selagi Menguntungkan GUNTUR GINANJAR M. NURUL KAWAKIB Pekerjaan yang Menyenangkan SEPUTAR KITA SENDHI THIAS WILLY


Click to View FlipBook Version