The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by vivisulviana, 2021-09-27 03:08:34

DIA BUKAN PENCURI

DIA BUKAN PENCURI

Keywords: gendissewu,diabukanpencuri

Dia Bukan Pencuri |i
GENDIS SEWU BERKARYA

DIA BUKAN PENCURI

KUMPULAN KARYA ANAK MUDA CERDAS

Karya 10 bibit penulis Dispusip :
Oriza Nazhifa Zalfa, Gadis Indah Kurnia, Juwita Herwinda, dkk

D i a B u k a n P e n c u r i | ii
DIA BUKAN PENCURI
Kumpulan Karya Anak Muda Cerdas

Penulis : Oriza Nazhifa Zalfa, Gadis
Indah Kurnia, Juwita
Ilustrator Herwinda, dkk
Penyunting
Penyunting Akhir : TIM Kecamatan Asemrowo

: Editor Penulis Dispusip
: Faradila Elifin dan Vivi

Sulviana

Diterbitkan pada tahun 2021 oleh Tim Penulis Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Surabaya.
Jl. Rungkut Asri Tengah 5-7 Surabaya.

Buku ini merupakan kumpulan karya dari Bibit Gendis Sewu,
sebagaimana penghargaan atas partisipasi yang telah diberikan
dalam gerakan Melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta dilindungi Undang-undang.

D i a B u k a n P e n c u r i | iii

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kami

mengucap rasa syukur pada Allah SWT,

yang telah melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya yang begitu besar,

sehingga dapat menyelesaikan

penyusunan e-book ini sebagai bentuk

apresiasi kepada para bibit penulis yang

mengikuti Gerakan Melahirkan 1000

Penulis dan 1000 Pendongeng (Gendis

Sewu) dengan baik dan lancar.

Dalam penyusunan e-book ini,

kami mengucapkan terima kasih

sebesar-besarnya kepada pihak-pihak

terkait yang telah membantu,

membimbing, dan mengarahkan kami.

Dengan kerendahan hati, kami

menyampaikan terima kasih sebesar-

besarnya kepada yang terhormat :

D i a B u k a n P e n c u r i | iv

1. Ir. Musdiq Ali Suhudi, M.T selaku
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya.
2. Imam Budi Prihanto, S.IP, MM selaku
Kepala Bidang Informasi dan Layanan, Kepala
Seksi Informasi dan Layanan Perpustakaan
3. Para Bibit Penulis Gendis Sewu
4. Kapten Tim Penulis
5. Editor Tim Penulis:
a. Tutor Kelas Reguler Tingkat
Kecamatan
b. Tutor Kelas Khusus Minat dan Bakat
(MinBak) Tingkat Kota
6. Segenap pegawai Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Surabaya
7. Ilustrator

Dia Bukan Pencuri |v

Kami menyadari bahwa sebuah
karya memiliki ketidaksempurnaan.
Apabila dalam penyusunan e-book ini
masih jauh dari kesempurnaan dan
masih ada kekurangan kami mengharap
kritik dan saran yang bisa membangun
dari segenap pembaca e-book ini.

Semoga e-book ini dapat
bermanfaat bagi perkembangan karya
tulis anak bangsa khususnya di Kota
Surabaya dan seluruh Indonesia pada
umumnya.

Surabaya, 23 Juli 2021
Tim Penulis Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya

D i a B u k a n P e n c u r i | vi

KATA SAMBUTAN

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya

Kita panjatkan rasa syukur

kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang

telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan

inayah-Nya, hanya dengan

kemurahanNya kita selalu dapat

berikhtiar untuk berkarya dalam ikut serta
membangun Kota Surabaya yang kita
cintai.

Kita patut bangga dan memberi

apreasiasi kepada para bibit penulis

Gendis Sewu (Gerakan Melahirkan 1000

Bibit Penulis Dan 1000 Bibit

Pendongeng), para editor penulis

D i a B u k a n P e n c u r i | vii

Dispusip, dan Petugas TBM di Kota

Surabaya yang telah bekerja keras

membuat karya tulis yang berjudul Dia

Bukan Pencuri. E-book ini merupakan

Kumpulan Cerpen Karya Anak-Anak

Cerdas. Para anak cerdas merupakan

bibit penulis Gendis Sewu yang telah

melalui proses sangat panjang dan

berjenjang melalui kelas reguler maupun

kelas khusus minat bakat dalam platform

Tempat Menampung Karya Literasi

Masyarakat (TAMAN KALIMAS).

E-book para bibit Gendis Sewu ini

sangat layak dinikmati karena

merupakan karya-karya imajinatif dengan

gaya bahasa menarik dan mudah

D i a B u k a n P e n c u r i | viii

dipahami oleh anak-anak, serta penuh
dengan pesan moral. Semoga kelak hal
ini akan memicu tumbuh kembangnya
budaya literasi untuk berbagai kalangan
usia, terutama di Kota Surabaya.

Saya selaku Kepala Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya menyampaikan penghargaan
setinggi-tingginya kepada semua pihak
yang terlibat.

Akhir kata, kita semua patut
memberi dukungan secara terus
menerus kepada para bibit penulis
Gendis Sewu agar selanjutnya semakin
produktif dalam berkarya.

Surabaya, 23 Juli 2021
Kepala Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya,

Ir. Musdiq Ali Suhudi, M.T.

D i a B u k a n P e n c u r i | ix

SEKAPUR SIRIH

Kapten Tim Penulis Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Surabaya

Alhamdulillah, dengan menyebut
nama Allah SWT Yang Maha Pengasih

lagi Maha Penyayang. Kami sangat
bersyukur atas kehadirat-Nya, hanya

dengan kemurahan Allah SWT, kami
dapat menghimpun berbagai karya tulis

para bibit penulis Gendis Sewu dan

menerbitkannya dalam sebuah e-book

kumpulan cerpen dengan judul Dia
Bukan Pencuri.

E-book Dia Bukan Pencuri ini ialah

kumpulan karya tulis hasil dari 10 bibit

Dia Bukan Pencuri |x

penulis Gendis Sewu yang

diselenggarakan oleh Dinas

Perpustakaan dan Kearsipan Kota

Surabaya.

Dari hasil ketekunan para bibit

Gendis Sewu yang didampingi oleh para

petugas Taman Bacaan Masyarakat,

dimentori oleh para Tim Inti Penulis,

disunting oleh Editor Area (Dira), dan

penyunting akhir yang semuanya adalah

pegawai Dinas Perpustakaan dan

Kearsipan Kota Surabaya.

Kegiatan Gendis Sewu

memanfaatkan platform buatan Dinas

Perpustakaan dan Kearsipan Kota

Surabaya yang bernama TAMAN

KALIMAS.

TAMAN KALIMAS yang

merupakan singkatan dari Tempat

Menampung Karya Literasi Masyarakat

D i a B u k a n P e n c u r i | xi

memberikan layanan literasi yang di
dalamnya terdapat tiga layanan
sekaligus, antara lain layanan Taman
Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas
Karya dan Taman Kalimas Publikasi.

Para bibit penulis Gendis Sewu
terlebih dahulu didaftarkan untuk
mengikuti kelas berjenjang dari mulai
kelas reguler Taman Kalimas di tingkat
kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan
mendapatkan reward naik ke kelas
khusus minat dan bakat setelah itu
karyanya akan dibuat e-book dan
dipublikasikan.

Saya mengapresiasi bangga
kepada para bibit penulis Gendis Sewu
yang memiliki semangat literasi dengan
tidak hanya menjadi pembaca pasif
melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu
selain membaca juga mampu menulis.

D i a B u k a n P e n c u r i | xii

Saya juga mengucapkan terima
kasih kepada Tim Gendis Sewu dan Tim
Inti Penulis Dispusip yang terdiri dari
para tutor kelas reguler di tingkat
kecamatan, para editor area (Dira), para
penyunting akhir hingga e-book ini
terselesaikan secara baik.

E-book adalah jawaban nyata atas
kinerja para Tim Inti Penulis Dispusip
yang berkolaborasi dengan petugas
Taman Bacaan Masyarakat Kota
Surabaya.

Membangun kota maka perlu
disertai 'membangun' manusia di
dalamnya. Tentu tidak lah mudah, karena
awal membangun seringkali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan.
Walaupun begitu, tetap terus
'membangun' karena 'membangun'
manusia melalui literasi adalah sebuah

D i a B u k a n P e n c u r i | xiii

investasi jangka panjang untuk kota
tercinta kita Kota Surabaya.
Salam Literasi,

Surabaya, 23 Juli 2021
Kapten Tim Penulis
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya

Vegasari Yuniati

D i a B u k a n P e n c u r i | xiv

DAFTAR ISI

1. Kata Pengantar........................................................ iii
2. Kata Sambutan Kepala Dinas .................................. vi
3. Sekapur Sirih Kapten Tim Penulis............................ ix
4. Daftar Isi .................................................................xiv
5. Impian Menjadi Kenyataan ...................................... 1
6. Ibuku Matahariku..................................................... 7
7. Sahabat Sejati, Sahabat Sehati............................... 14
8. Kelemahanku Bukan Masalah ................................ 21
9. Teman Yang Baik .................................................... 28
10. Akibat Terlalu Banyak Bermain Handphone .......... 35
11. Nasywa Yang Tak Bersuara ...................................... 43
12. Berlibur Ke Taman Safari Prigen .............................. 51
13. Dia Bukan Pencuri .................................................... 58
14. Sebuah Buku............................................................. 66

Dia Bukan Pencuri |1

Dia Bukan Pencuri |2

IMPIAN MENJADI KENYATAAN

Oleh Gadis Indah Kurnia

Suatu hari hiduplah keluarga yang tinggal di
kota Senpade. Keluarga itu mempunyai seorang
anak bernama Bayu, Bayu ingin sekali menjadi
seorang TNI. Saat kecil, Bayu senang sekali
bermain perang-perangan seperti penjajahan
Belanda dan Jepang.

Bayu masuk SMP dan menjalani masa
sekolah dengan sangat baik. Bayu terpilih sebagai
pemimpin upacara di sekolahnya, Bayu sangat
senang saat terpilih menjadi pemimpin upacara
untuk pertama kalinya. Saat pulang, Bayu langsung
menceritakan ke orang tuanya bahwa ia terpilih
sebagai pemimpin upacara di sekolahnya. Orang
tuanya sangat bahagia dan bangga sekali dengan
Bayu.

“Kita sangat bangga padamu, Nak,” kata
Mama Bayu.

Hari Senin itu pun tiba, hari yang ditunggu-
tunggu oleh Bayu untuk menyiapkan upacara.
Setelah upacara selesai, Bayu merasa senang dan

Dia Bukan Pencuri |3

bangga. Namun pada saat istirahat, Bayu
dirundung oleh teman-temannya.

“Dasar sok tegas, sok pintar,” kata teman-
teman Bayu.

“Tidak apa-apa kok, silahkan kalian
merundungku sekarang, aku menerimanya. Tapi
ingat suatu hari nanti kalian akan menyesal,” balas
Bayu yang tidak marah sama sekali.

Waktu pun berlalu, akhirnya Bayu lulus SMP
dan masuk ke salah satu sekolah SMA favorit di
kotanya. Pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS)
banyak penampilan dari ekstrakurikuler (ekskul).

Bayu memilih dan mendaftar ekskul
paskibra. Bayu sering sibuk latihan paskibra,
namun Bayu tak pernah lupa belajar. Bayu sangat
giat sekali berlatih tanpa lelah, hingga Bayu terpilih
mengikuti tes paskibra untuk upacara peringatan
hari kemerdekaan di Istana Negara.

Tiba saat pengumuman, Bayu terpilih
menjadi pemimpin upacara hari kemerdekaan di
Istana Negara. Bayu mewakili sekolah dan kotanya.
Orang tua Bayu tidak percaya ketika Bayu

Dia Bukan Pencuri |4

menceritakan bahwa ia terpilih menjadi pemimpin
upacara di Istana Negara. Orang tua Bayu
menangis bahagia karena mereka sangat bangga
padanya.

Bayu tidak sombong atau pamer ke teman-
temannya. Semua teman Bayu memberi selamat
kepada Bayu. Mereka bangga pada Bayu.

“Akhirnya sekolah ini terpilih untuk mewakili
upacara kemerdekaan di Istana Negara. Bayu
berhasil terpilih menjadi pemimpin upacara. Kamu
menjadi orang pertama yang mewakili sekolah ini.
Selamat ya, kita sebagai gurumu sangat bangga
padamu. Pertahankan prestasimu itu, Bayu,” kata
Bu Ida salah satu guru Bayu.

Bayu berlatih dengan sangat giat agar tidak
terjadi kesalahan dan membuat malu dirinya,
sekolah bahkan orang tuanya. Bayu adalah contoh
baik sosok pemuda yang tak kenal lelah, untuk
mewujudkan cita-citanya yang diimpikan selama ini
menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dia Bukan Pencuri |5

Waktu upacara pun tiba, Bayu menjadi
sangat gugup karena akan bertemu dan bertatap
langsung dengan Presiden Indonesia.

“Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun, aku
tidak ingin membuat malu diriku sendiri, sekolah
dan orang tuaku. Aku akan tunjukkan bahwa aku
bisa.” kata Bayu dalam hati.

Upacara kemerdekaan pun usai tanpa ada
kesalahan sedikitpun. Perasaan Bayu sangat lega
dan senang. Akhirnya sedikit demi sedikit dia akan
berhasil mewujudkan impiannya.

Bayu pun lulus SMA, dia memilih untuk
mendaftar di Akademi Militer sesuai impiannya dari
kecil. Bayu berhasil diterima sebagai salah satu
anggota baru Akademi Militer. Secara tidak
sengaja, Bayu bertemu dengan salah satu teman
SMP yang pernah merundungnya dulu.

Bayu mampu membuktikan bahwa Bayu
berhasil mewujudkan impiannya dengan usaha dan
kerja keras. Teman Bayu pun menyesal atas
perbuatannya dan meminta maaf pada Bayu,
mereka tak percaya bahwa impian Bayu menjadi

Dia Bukan Pencuri |6

kenyataan. Mereka kini ikut bangga padanya.
Begitu pun orang tuanya, mereka sangat bangga
dengan Bayu yang bisa mewujudkan impiannya
dengan sungguh-sungguh dan kerja kerasnya
selama ini.

Dia Bukan Pencuri |7

Dia Bukan Pencuri |8

IBUKU MATAHARIKU

Oleh Juwita Herwinda

Kecil, terbuat dari kayu dan bambu, kamar
mandi seadanya, tempat tidur yang beralaskan
tikar, serta ruang yang sempit. Tempat tinggal
sederhana yang di dalamnya terdapat keluarga
kecil dengan tiga anggota keluarga terdiri dari Ibu,
Bapak, dan Reva, anak tunggalnya. Keluarga
sederhana yang tiap harinya selalu bahagia dan
mensyukuri apa yang dimiliki.

“Bapak, adik, ayo makan! Nanti keburu
dingin makanannya,” panggil Ibu.

“Iya, tunggu sebentar! Bapak masih mandi,”
sahut Bapak dari dalam kamar mandi.

“Ibu masak apa hari ini?“ tanya Reva.
“Sayur asem dengan lauk tahu dan tempe,
Nak.
“Mereka bertiga makan dengan lahap
diselingi dengan candaan dan gurauan dari Ayah.
“Pak, Bu!” panggil Reva dengan santun

Dia Bukan Pencuri |9

“Ya, Nak. Ada apa?” jawab mereka
serempak.

“Aku malu sering diejek oleh teman-teman di
sekolah karena sepatuku yang sudah berlubang
dan seragam yang sudah tidak muat, Pak, Bu.”
Reva menundukkan kepala dan memasang raut
muka sedih.

“Kamu harus kuat dan sabar ya, Nak! Nanti
kalau Bapak dan Ibu ada rezeki pasti kami akan
membelikan sepatu dan seragam yang baru untuk
kamu,” jawab Ibu dengan lemah lembut.

“Kapan, Bu? Aku malu karena mereka selalu
mengejekku setiap hari,“ ujar Reva dengan
menundukkan kepalanya dan menangis
sesenggukan.

Reva memang setiap hari sering diejek oleh
teman-temannya karena sepatu usangnya sudah
rusak dan seragam sekolahnya yang sudah tak
layak pakai. Seragam Reva sudah penuh dengan
jahitan di semua sisinya dan warnanya sangat
kusam. Saat teman-teman mengejeknya, Reva

D i a B u k a n P e n c u r i | 10

hanya bisa tertunduk sedih karena orang tuanya
belum ada rezeki untuk membelikannya yang baru.

Tiap pulang sekolah, Reva selalu bermuka
masam karena teringat ejekan dari teman-
temannya. Setibanya di rumah, Ibu mendapati
Reva sedang murung di dalam kamar.

“Reva, anakku sayang kamu kenapa?” tanya
Ibu.

“Aku malu, Bu. Tadi, aku diejek teman-
temanku lagi,” jawab Reva sambil menyeka air
matanya.

“Cup … cup … cup …. anak Ibu yang paling
cantik. Kamu harus kuat dan tetap semangat dalam
menempuh pendidikan agar impian dan cita-citamu
bisa tercapai. Jangan dengarkan omongan teman-
temanmu yang sering mengejek karena
kesuksesan serta pencapaian seseorang tidak
dilihat dari apa yang dia gunakan sehari-hari,”
jawab Ibu sambil mengelus kepala Reva.

Ibu memberikan motivasi dan perhatian
yang membuat Reva merasa lebih baik dan lebih
bersemangat untuk menjalani hari-hari yang baru.

D i a B u k a n P e n c u r i | 11

“Ibu seperti matahari yang selalu menerangi
jalanku di saat aku merasa terpuruk dan senantiasa
menuntunku ke jalan yang benar,” batin Reva
sambil tersenyum melihat Ibunya.

*****
“Reva, ayo bangun dan segera mandi agar
tidak terlambat ke sekolah!” teriak Ibu dari dapur.
“Hoaamm,” Reva menguap dan
menggeliatkan tubuhnya di atas kasur.
“Iya, Bu. Ini Reva sudah bangun,” jawab
Reva dari dalam kamar.
“Setelah mandi segera sarapan ya, Sayang!“
perintah Ibu dengan nada lembut.
Reva segera bergegas bangun dan
menuju kamar mandi. Usai mandi, Reva mencari
seragam sekolahnya di dalam lemari. Reva tidak
menemukannya dan kebingungan mencarinya.
“Ibu, seragam sekolahku kok tidak ada di
lemari, ya?” tanya Reva kebingungan.
“Coba cari lagi, mungkin ada di dalam tas
sekolahmu, Nak!“ jawab Ibu sembari tersenyum
simpul pada putrinya.

D i a B u k a n P e n c u r i | 12

Reva bingung dan bertanya-tanya tentang
keberadaan seragamnya. Reva pun segera
mengecek tas sekolahnya. Betapa terkejutnya
Reva melihat isi di dalam tasnya. Reva segera
mengambil seragam dan sepatu baru yang ada di
dalam tasnya. Reva segera berlari ke arah Ibu dan
langsung memeluknya.

“Ibu, terima kasih kejutannya!” ucap Reva
sambil memeluk Ibunya.

“Sama-sama, Nak. Ibu berharap kamu bisa
lebih semangat dan giat belajar supaya semua
impian dan cita-citamu bisa tercapai. Sekarang,
kamu tidak perlu malu lagi pergi ke sekolah.
Jangan hiraukan perkataan jelek dari teman-teman
kamu! Kamu harus tetap semangat bersekolah dan
selalu lihat ke depan!” Ibu memberikan nasihatnya
pada Reva sambil memeluknya.

“Iya, Ibu. Aku janji akan lebih giat belajar,”
jawab Reva dengan mata berkaca-kaca.

Ada perjuangan seorang Ibu dibalik sepatu
dan seragam baru yang dihadiahkan untuk Reva.
Ibu Reva diam-diam berkeliling menjajakan kue dan

D i a B u k a n P e n c u r i | 13

minuman dingin mulai pagi hari hingga siang hari
selama beberapa bulan belakangan ini.

Kerja keras dan kemauan tinggi untuk
memenuhi keinginan putrinya, membuat jualan Ibu
Reva selalu terjual habis setiap harinya. Bapak
Reva yang mengetahui kerja keras Ibu Reva,
sesekali turut membantu Ibu Reva membuat kue
dan mempersiapkan jualannya.

Kondisi keluarga yang serba kekurangan
karena Bapak Reva yang hanya bekerja sebagai
satpam komplek perumahan. Penghasilannya
yang hanya cukup untuk kebutuhan makan
sehari-hari dan biaya sekolah Reva membuat Ibu
Reva turut berperan dalam mencukupi kebutuhan
ekonomi mereka.

Selain itu, Ibu Reva juga memiliki peranan
penting dengan menuntun putrinya ke jalan yang
benar walaupun dalam keadaan sulit dan akan
selalu menyinari langkah sang anak agar terus
melangkah ke depan walaupun banyak rintangan
menanti.

Dialah Ibu. Ibuku Matahariku

D i a B u k a n P e n c u r i | 14

D i a B u k a n P e n c u r i | 15

SAHABAT SEJATI, SAHABAT SEHATI

Oleh Keyscielo Grace T

Dua orang sahabat yaitu Rusa dan Keledai
tinggal di hutan yang sangat lebat. Persahabatan
mereka sudah terjalin sangat lama. Sejak kecil,
mereka sudah berteman. Mereka selalu pergi
bersama-sama, termasuk saat akan mencari
makanan di hutan. Setiap ada Keledai pasti di sana
juga ada Rusa, begitu pula sebaliknya. Mereka dua
sahabat yang tak pernah terpisahkan.

Pagi ini, mentari bersinar cerah. Keledai dan
Rusa bermain-main di tepi danau. Mereka
bersendau gurau, berlari ke sana kemari sampai
lupa sudah lama bermain di sana. Dahaga pun
mulai terasa di tenggorokan mereka.

“Keledai, aku haus sekali” kata Rusa.
“Kita istirahat di sini saja! Lihat air danau itu
segar sekali,” ujar Keledai.

D i a B u k a n P e n c u r i | 16

Mereka akhirnya beristirahat di tepi danau
dan menikmati segarnya air danau untuk
menghilangkan dahaga.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari
kejauhan. Tak disangka, pemburu tiba-tiba datang
dan ingin menangkap Rusa. Mereka terkejut dan
langsung berlari sangat kencang. Namun sialnya,
Rusa yang terlalu asyik berlari tidak melihat sekitar.

Ternyata pemburu sudah menyiapkan
perangkapnya. Rusa pun masuk dalam perangkap
pemburu itu.

“Aaaaaaahhhh….” Rusa berteriak dengan
keras.

Keledai mengabaikan Rusa dan tetap berlari
kencang hingga tak terlihat lagi. Rusa yang
tertangkap oleh pemburu merasa kesal dengan
Keledai karena merasa jika Keledai tidak mau
membantu Rusa melepaskan diri dari perangkap
pemburu.

Setibanya di rumah dengan napas yang
memburu, Keledai berpikir di mana Rusa sekarang
dan bagaimana cara membantu Rusa. Setelah

D i a B u k a n P e n c u r i | 17

berpikir cukup lama, Keledai memutuskan untuk
mencari Rusa ke pemukiman.

Tiba saat Keledai di ujung hutan yang dari
sana terlihat pemukiman penduduk. Keledai ragu
untuk masuk ke dalam pemukiman itu, tapi
akhirnya dengan niat ingin membantu Rusa,
Keledai pun memasuki pemukiman itu.

Setelah berjalan cukup lama dengan penuh
rasa khawatir, akhirnya Keledai melihat Rusa yang
berada di dalam kandang. Keledai berjalan
perlahan-lahan dan menyelinap di balik
rerumputan.

“Rusa … Rusa ….” Keledai berusaha
memanggil Rusa dengan suara pelan.

Rusa terkejut begitu melihat kedatangan
Keledai.

“Tolong aku, Keledai! Lepaskan aku!” ujar
Rusa.

Keledai mencoba mencari cara untuk
melepaskan Rusa dari perangkap pemburu.

“Rusa, bagaimana caranya untuk membuka
kandang itu?” tanya Keledai kebingungan.

D i a B u k a n P e n c u r i | 18

“Keledai, tadi aku berpura-pura tidur ketika
pemburu memasukkanku dalam kandang ini,” kata
Rusa.

“Bagaimana? Ayo, cepat sebelum pemburu
sadar aku ada di sini!” ujar Keledai.

“Kamu pindahkan kayu besar itu dari pintu
kandang!”

Keledai dengan sigap menggeser kayu yang
menutupi pintu kandang dengan tubuhnya.

“Kayu ini berat sekali, Rusa,” kata Keledai
sambil tetap berusaha memindahkan kayu besar
yang terasa berat itu.

Kayu itu mulai bergeser sedikit demi sedikit.
Setelah berhasil menggeser kayu tersebut, Keledai
segera membuka pintu kandang. Keledai dan Rusa
segera kabur meninggalkan rumah pemburu.

Mereka berlari sangat kencang untuk
menjauhi pemukiman dan memasuki hutan.
Setelah dirasa aman, mereka berhenti dan
menghela napas panjang. Mereka beristirahat
sejenak sebelum melakukan perjalanan menuju
rumah mereka.

D i a B u k a n P e n c u r i | 19

“Rusa, kenapa kamu menangis?” tanya
Keledai kebingungan.

“Aku merasa bersalah kepadamu, Keledai,”
ujar Rusa sambil sesenggukan.

“Kenapa, Rusa ?” tanya Keledai.
“Tadi, saat aku tertangkap. Aku berpikir
kamu tidak peduli denganku. Kamu tidak
menolongku. Ternyata aku salah, kamu peduli
denganku. Kamu berusaha menolongku sampai
rela memasuki pemukiman penduduk yang dapat
membahayakan kamu sendiri,” jawab Rusa.
“Tidak mungkin aku setega itu, Rusa. Kita
sudah bersahabat sangat lama. Sejak kecil kita ke
mana-mana bersama. Pasti aku akan menolongmu
ketika dalam bahaya. Kita harus merasakan
senang dan duka bersama-sama,” ujar Keledai.
“Kamu memang sahabat sejatiku,” kata
Rusa.
Rusa berjalan di samping Keledai dengan
raut muka yang riang. Rusa merasa beruntung
bersahabat dengan Keledai yang sangat peduli

D i a B u k a n P e n c u r i | 20

terhadapnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan
menuju ke rumah untuk beristirahat.

D i a B u k a n P e n c u r i | 21

D i a B u k a n P e n c u r i | 22

KELEMAHANKU BUKAN MASALAH

Oleh Romi

Pagi yang cerah. Beni terbangun dari
mimpinya yang sangat indah. Karena mimpi itu,
mukanya yang senang kini menjadi sedih. Setelah
terbangun dari mimpinya ia melihat kakinya beda
dari yang lain. Beni hanya bisa menangis dan
mengingat masa lalu di saat dia masih kecil.

Saat masih kecil, Beni sering dimanja. Selalu
ditanya setelah pulang sekolah. Menceritakan
tentang olahraga yang memotivasi Beni. Sekarang
ia hanya sendiri. Orang tua Beni sudah meninggal
dunia semua karena kecelakaan waktu Beni masih
kecil.

Lalu Beni melihat jam yang menunjukkan
pukul 04.00 subuh. Secepatnya Beni merapikan
tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi.
15 menit, Beni sudah keluar dari kamar mandi dan
segera wudu untuk melaksanakan salat subuh.

D i a B u k a n P e n c u r i | 23

Setelah salat subuh selesai, Beni segera ke
dapur untuk memasak nasi goreng. Seperti biasa,
Beni setiap hari memasak nasi goreng untuk dijual
ke tetangga, teman, dan gurunya. Setiap
bungkus ia jual lima ribu rupiah. Setiap hari ia
memasak 100 bungkus. Masakan Beni sangat
enak. Setelah Beni memasak 100 bungkus, ia
langsung mengganti baju dan pergi ke sekolah.

Jam 06.00, Beni telah sampai di sekolah.
“Hei, Beni! Kenapa engkau sekolah? Lebih
baik kau ke rumah diam diri lebih baik,” ejek
Satriya.
Beni masa bodoh. Beni melanjutkan
jalannya sambil menawarkan nasi gorengnya.
Alhamdulillah nasi goreng Beni telah terjual 85
bungkus. Uang yang dikumpulkan Beni adalah Rp
425.000.
Bel masuk sudah berbunyi. Beni segera
masuk ke kelas. Akan tetapi, Beni bertemu dengan
seorang siswi baru. Beni terkejut melihat siswi itu
membantu Beni membawa nasi gorengnya. Beni
tidak sungkan menyapa siswi baru tersebut.

D i a B u k a n P e n c u r i | 24

“Hai, nama kamu siapa?” tanya Beni.
“Namaku Aulia. Nama kamu siapa?” tanya
Aulia.
“Namaku Beni. Kenapa kamu pindah
sekolah?” tanya Beni.
“Karena ayahku ditugaskan ke Surabaya ini
dan aku tertarik dengan nama kota Surabaya.
Karena di sini banyak cerita waktu masih perang
dulu. Dan di sini tempat lahirnya presiden pertama
Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Dan masih banyak
cerita lagi deh…,” jelas Auila.
“Oh…,” jawab Beni dengan raut wajah
sedikit sedih.
“Kenapa kamu, Ben?” tanya Aulia.
“Enak ya Lia, kamu sekarang masih punya
ayah,” kata Beni
“Emangnya ayahmu kemana?” tanya Aulia.
“Ayah dan Ibuku sudah meninggal dunia
waktu aku masih SD. Karena ayahku tidak
menghiraukan lampu merah lalu mobil kita ditabrak
oleh...,” kata Beni terputus.

D i a B u k a n P e n c u r i | 25

“Oh… maaf ya Ben. Aku tidak mengetahui
masalah ini. Maaf ya!” kata Aulia yang terkejut lalu
meminta maaf atas pertanyaannya tadi.

“Kalau begitu kita ke kelas, yuk!” lanjut Aulia.
“Ayo,” jawab Beni dengan penuh semangat.
Akhirnya Aulia dan Beni segera menuju ke
kelas mereka.
Saat pelajaran berlangsung, tiba-tiba suara
pengumuman berbunyi.
“Selamat pagi. Saya umumkan kepada anak
kelas 2 yang bernama Beni dan Aulia segera menju
ke lapangan untuk latihan Lari. Makasih.”
Beni dan Aulia bergegas ke lapangan
sekolah dan meminta ijin kepada guru mereka.
Setelah Beni dan Aulia ke lapangan bertemu
guru olahraga, mereka bertanya-tanya kenapa
cuma 2 orang. Yang lain kan juga ingin ikut lomba
lari. Akhirnya Aulia dan Beni bertanya kepada Pak
Kusrio.
“Pak Kusrio, mengapa hanya kita saja yang
mengikuti lomba lari?” tanya Beni dan Aulia.

D i a B u k a n P e n c u r i | 26

“Hmmm…, kalian masih bertanya-tanya kan
mengapa saya hanya memilih kalian untuk
diikutkan lomba lari? Alasan yang pertama adalah
karena saya mempunyai keyakinan tinggi terhadap
kalian. Alasan kedua adalah saya melihat raport
kamu Aulia bahwa kamu pernah mengikuti
lomba lari dan memenangkan juara 2. 3. Saya
yakin kalau Beni bisa lari, karena saya diam-
diam mengamati Beni saat Beni berusaha sendiri
untuk jalan, berusaha belajar lari walaupun
jaraknya hanya dekat. Tapi saya yakin kalau kamu
bisa juara dalam lomba lari tersebut.

“Oke sekarang langsung pemanasan lalu
jogging jarak pendek. Untuk Beni sementara saya
akan mendampingi kamu untuk belajar berdiri dan
berlari. OK? Ready?” kata Pak Kusrio.

“Siap pak,” jawab Beni dan Aulia dengan
penuh semangat. Hari menjadi bulan, bulan
menjadi tahun. Dan di saat ini Beni dan Aulia
mengikuti lomba lari.

“1, 2, 3, PRIITTTT….” suara wasit terdengar
di telinga Beni.

D i a B u k a n P e n c u r i | 27

Beni secepatnya lari dan membalap
lawannya. Di dalam hati ia merenung.

Ayah, Ibu doakan aku menang. Biar orang-
orang yang mengejek aku merasakan rasa malu.
Kali ini kaki aku sudah sembuh Yah, Bu. Beni
anakmu ini akan membalas dendamkan temanku
yang sudah mengejekku, kini kubalas dengan
lomba lariku ini.

Setelah Beni dan lawannya sudah
menyelesaikan lomba tersebut, kini semua peserta
tegang.

“Untuk juara 1 dimenangkan oleh Beni.
Juara 2 dimenangkan oleh Clarinta. Juara 3
dimenangkan oleh Koyi. Untuk nama yang sudah
disebutkan harap maju ke depan dan penyerahan
medali, sertifikat dan uang.”

Beni pun bersorak gembira. Cita-citanya
tercapai.

D i a B u k a n P e n c u r i | 28

D i a B u k a n P e n c u r i | 29

TEMAN YANG BAIK

Oleh Muzawiratul Fillah

Di sebuah desa, tinggal dua orang sahabat
yang bernama Dodi dan Dudu. Mereka masih
bersekolah di SDN Mekar Sari. Mereka terkenal
sebagai anak-anak yang nakal dan jahil karena
mereka suka membuang sampah sembarangan
dan menganggu teman-temannya.

Suatu hari, mereka berbuat ulah kembali.
Mereka membuang bungkus jajan yang mereka
makan di taman sekolah. Namun ada yang melihat
perbuatan mereka dan mengahampiri mereka. Tika
adalah anak yang memergoki Dodi dan Dudu
membuang sampah sembarangan. Tika mulai
menegur Dodi dan Dudu.

“Dodi, Dudu, jangan membuang sampah
sembarangan, karena itu adalah perbuatan yang
tidak baik. Sekolah kita bisa menjadi kotor dan
membuat kita nantinya tidak nyaman belajar dan
bermain,” ujar Tika.

D i a B u k a n P e n c u r i | 30

“Oh iya, terima kasih sudah mengingatkan
kita,” jawab Dodi tak peduli.

“Ayo, Di kita ke kelas! Buat apa
mendengarkan Si Cerewet itu,” kata Dudu sambil
melangkah menuju kelas mendahului Dodi.

“Eh, tunggu aku Du!” ujar Dodi setengah
berlari mengejar Dudu.

“Lah mereka malah pergi. Kalian itu dikasih
tahu malah enggak mau denger. Ya udah deh
terserah kalian,” kata Tika dengan sedikit kesal.

Di kelas ramai dengan anak yang bermain.
Ada yang bermain congklak, ada yang bermain
bola bekel, dan ada juga yang bermain kartu. Dodi
dan Dudu memasuki kelas. Dudu membisiki telinga
Dodi.

“Di, ayo kita ganggu anak-anak yang
sedang main congklak itu!” ajak Dudu dengan
semangat.

“Gangguin gimana Du?” tanya Dodi.
“Udah, kamu ikutin aku aja,” kata Dudu sambil
menghampiri Gisela dan Yuni yang sedang
bermain congklak.

D i a B u k a n P e n c u r i | 31

Tiba-tiba Dudu mendorong tubuh Dodi ke
depan papan congklak yang dimainkan Gisela dan
Yuni. Dodi menabrak papan congklak itu dan
membuat semua bijinya berhamburan. Gisela dan
Yuni kaget dan berdiri menghindari kekacauan
yang telah dibuat Dodi dan Dudu. Saat
menyadari permainan mereka jadi berantakan.
Gisela dan Yuni marah dan menghampiri Dodi.

“Kamu itu ngapain sih? Mainan kita jadi
berantakan,” kata Gisela dengan kesal.

“Tau nih, gangguin aja,” tambah Yuni.
“Eh aku enggak sengaja tadi, itu si Dudu yang
dorong aku tadi,” kata si Dodi membela diri sambil
menunjuk arah si Dudu tadi berdiri. Tapi sayang
Dudu sudah hilang entah kemana. Dodi merasa
dikhianati. Gisela dan Yuni semakin kesal karena
menyangka Dodi telah berbohong.
“Udah deh kamu jangan bohong. Ayo
sekarang kamu beresin mainan kami!” kata Yuni
dengan galak.
“Eh eh, aku enggak bohong kok tadi itu Dudu
yang dorong aku,” ujar Dodi tetap membela diri.

D i a B u k a n P e n c u r i | 32

“Kamu itu Di, salah tapi enggak mau ngaku,”
kata Gisela.

“Ya udah kalau kalian gak percaya. Aku
beresin deh mainan kalian,” kata Dodi menyerah
dan mulai membersihkan mainan Gisela dan Yuni.

Setelah itu Dodi pergi keluar kelas dan duduk
di bangku taman sekolah. Tika melihat Dodi yang
tiba-tiba murung menjadi bingung dan memutuskan
untuk menghampirinya.

“Ada apa Di? Kok kelihatannya sedih gitu?”
tanya Tika.

“Gak papa kok Tik,” jawab Dodi dengan
lemas.

“Gak papa tapi kok lemas gitu? Udah cerita
aja, kali aja aku bisa bantu,” kata Tika berusaha
meyakinkan Dodi.

“Emm, gini Tik, tadi di kelas Dudu mendorong
aku di depan Gisela dan Yuni yang sedang bermain
congklak. Mainannya jadi berantakan dan aku yang
disalahkan. Dudu kabur begitu aja. Aku sedih, aku
kira kita sahabat. Tapi ternyata Dudu berbuat
seperti itu,” cerita Dodi panjang lebar.

D i a B u k a n P e n c u r i | 33

“Oh begitu ceritanya. Menurutmu teman yang
baik itu seperti apa, Di?” tanya Tika tiba-tiba.

“Teman yang baik? Teman yang baik
menurutku itu yang selalu mendukung kita apapun
yang kita lakukan.”

“Oh, pantesan kamu selalu mendukung Dudu
kalau dia berbuat nakal,ya?” goda Tika.

“Ehh, iya ya. Salah, ya itu? Emang menurut
kamu, teman yang baik itu seperti apa,Tik?” tanya
Dodi ingin mengalihkan topik.

“Teman yang baik menurutku adalah tidak
hanya mendukung kita tapi juga harus
mencegah kalau kita berbuat salah. Dia akan selalu
menasehati kita dan peduli pada kita walaupun dia
kadang tidak peduli sama nasihat kita. Aku ingin
menjadi teman seperti itu. Teman yang mencegah
temannya untuk berbuat salah,” ujar Tika sambil
tersenyum.

Dodi terkesima, dia diam tak bisa berkata
apa-apa. Dia baru tahu ternyata teman yang baik
itu seperti apa.

D i a B u k a n P e n c u r i | 34

“Terima kasih Tika, sudah menjadi temanku
yang baik,” kata Dodi dengan tulus sambil
tersenyum.

Tika kaget lalu menjawab “Iya Di, sama-sama.
Kamu juga mau kan jadi temanku yang baik?”

“Tentu saja.”
Lalu mereka pun tertawa bersama.


Click to View FlipBook Version