D i a B u k a n P e n c u r i | 35
D i a B u k a n P e n c u r i | 36
AKIBAT TERLALU BANYAK BERMAIN
HANDPHONE
Oleh Naufal Kemal Ahmad Prabowo
Naufal Kemal adalah nama lengkapku dan
teman-temanku biasa memanggilku Naufal. Aku
siswa kelas lima di salah satu sekolah dasar di
Surabaya. Aku termasuk siswa yang berprestasi di
kelas. Tidak hanya di bidang pelajaran, tetapi juga
bidang olahraga. Sudah selama tiga tahun berturut-
turut, aku mendapat juara taekwondo tingkat Kota
Surabaya. Orang tuaku sangat bangga kepadaku.
Kenaikan kelas kemarin ayahku memberiku
hadiah sebuah handphone karena nilaiku bagus.
Aku sangat senang. Hampir setiap hari aku dan
teman-temanku bermain game dan melihat film-film
di youtube. Terkadang aku juga chatting bersama
teman-temanku lewat whatsapp atau instagram.
Inilah awal aku mulai mengenal media sosial. Aku
paling sering melakukan chatting dengan temanku
bernama Udin. Udin adalah teman yang sangat
menyenangkan bagiku. Kebetulan Udin juga
D i a B u k a n P e n c u r i | 37
baru mempunyai handphone. Wah, jadi seru
sekali.
“Din, yuk kita main game online bareng,”
ajakku kepada Udin melalui chat whatsapp.
“Oke, Fal. Mulai, ya,” balas Udin.
Karena game yang kami mainkan ini ada
fitur chatnya juga, sampai-sampai kami lupa waktu.
Aku sudah mulai banyak berubah setelah memiliki
handphone. Rasanya selalu ingin bermain
handphone terus. Buku pelajaran jadi jarang aku
sentuh. Buku-buku cerita kesukaanku mulai jarang
aku baca lagi, dan saat itu pula Mamaku tidak
bosan mengingatkan. Karena tidak hanya itu, aku
juga jadi sering terlambat mandi, makan, berangkat
mengaji, dan sering tidur larut malam.
“Naufaaalll... Berhenti main gamenya!!!”
seru Mama.
“Sebentar, Ma, 5 menit lagi.”
“Katanya 5 menit lagi kok malah 1 jam,
gimana sih? Mana handphonenya biar Mama yang
pegang!” seru Mama dengan nada yang tinggi.
D i a B u k a n P e n c u r i | 38
“Maaf, Ma. Naufal tadi keasyikan main
game,” ucapku sedikit cemberut.
“Tuh kan keasyikan main game, sekarang
langsung mandi, makan terus belajar!”
“Iya, Ma,” langkahku gontai.
Belajar pun sekarang sudah tidak begitu
semangat lagi. Yang terpikir hanya ingin bermain
handphone saja. Sepertinya bermain handphone
adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagiku
saat ini. ucapku sepulang
“Assalamualaikum,“
sekolah.
“Waalaikumsalam. Eh, Naufal, kok kamu
langsung pegang handphone memangnya tidak
ada PR?” tanya mama.
“Punya sih, tetapi nanti aku selesaikan
secepatnya kok,” ucapku sambil melihat
handphone.
“Janji, ya, sama Mama, nanti kalau sudah
mengerjakan PR langsung tidur, ya.”
“Mama tinggal ke dapur dulu, ya.”
“Iya, Ma.”
D i a B u k a n P e n c u r i | 39
Satu jam kemudian.
“Naufaaalllllll… katanya mengerjakan PR
kok masih main game sih, mana handphonenya
sini!” seru mama dengan marah.
Aku pun memberikannya kepada mama.
“Kerjakan PRnya tidak usah tidur,” ucap
mama.
“Iya, Ma,” ucapku cemberut.
Setelah itu aku pun mengerjakan PR di
kamar tidur dan tidak sengaja tertidur. Keesokan
harinya aku berangkat ke sekolah. Setibanya di
sekolah, bel pun berbunyi. Itu tanda kelas sudah
masuk. Di awal pelajaran, ibu guru menyuruh kami
mengeluarkan PR. Ibu guruku bernama Bu Ida.
Beliau adalah guru yang baik dan sabar. Meskipun
sabar, Bu Ida adalah guru yang disiplin dalam
mengajar. Apalagi kalau masalah PR. Bu Ida
benar-benar sangat jeli. Sepertinya beliau punya
indra keenam. Beliau sudah paham dengan wajah-
wajah siswa yang tidak mengerjakan PR. Memang
sih, wajahku sedikit gugup dan salah tingkah.
D i a B u k a n P e n c u r i | 40
Beliau menatapku dengan tajam. Setelah itu Bu Ida
menghampiriku.
“Naufal mana PRnya?”
“Hmmm… maaf Bu, saya lupa tidak
mengerjakan PR”
“Kenapa kamu tidak mengerjakan PR?”
“Semalam saya ketiduran, Bu.”
“Cepat kamu berdiri di depan kelas,” tegas
Bu Ida.
Aku harus menjalani hukuman yang selama
ini sudah kami sepakati bersama ketika ada siswa
yang tidak mengerjakan PR. Aku malu sekali,
karena baru kali ini aku tidak mengerjakan PR.
Teman-temanku berbisik-bisik dan menertawaiku.
Benar-benar pengalaman yang memalukan karena
harus berdiri di depan kelas dengan hukuman. Kulit
wajahku terasa mengelupas karena rasa malu itu.
Sesampainya di rumah, aku pun mengucapkan
salam. Mama pun
“Assalamualaikum,”
membukakan pintu.
D i a B u k a n P e n c u r i | 41
“Waalaikumsalam. Lho, kenapa Naufal kamu
kok cemberut dan lesu begitu?”
“Tadi Naufal disuruh berdiri di depan kelas
karena kemarin Naufal tidak mengerjakan PR jadi
dihukum”.
“Hmmm, tuh kan,” ucap Mama sambil
melotot.
“Tetapi masih untung, Ma. Naufal tidak
didenda,” kataku membela diri.
“Itu akibatnya kamu kemarin main game
saja.”
“Maafin Naufal, Ma. Naufal sudah kapok,
Naufal akan berubah dari sekarang.”
“Yang benar, sudah kapok?” tanya Mama
belum percaya.
“Iya, Ma. Naufal malu sekali dan benar-
benar kapok. Maaf ya, Ma,” kataku memohon.
“Iya, sudah Mama maafin kok,” sambil
mengelus kepalaku.
“Makan dulu sana, nanti mama mau bicara.”
Setelah makan, mama pun berbicara
kepadaku.
D i a B u k a n P e n c u r i | 42
“Naufal boleh bermain handphone, tetapi
Naufal harus ingat waktu. Sebaiknya Naufal
sekarang membuat jadwal kegiatan dari pagi
hingga malam. Naufal harus berusaha menaati
jadwal itu. Dengan jadwal itu Naufal jadi bisa
membagi waktu mana untuk belajar, mengaji, salat,
makan, dan bermain handphone. Naufal paham
sekarang?”
“Iya, Ma, sekarang Naufal paham. Naufal
akan ingat pesan Mama bahwa bermain
handphone terlalu sering itu banyak sekali ruginya.
Kita boleh bermain handphone seperlunya saja
jangan sampai mengganggu belajar”.
“Pintar.”
“Ya sudah, tidur dulu sana!” perintah Mama.
“Iya, Ma,” jawabku lega.
Dalam hati, aku berjanji untuk menjadi lebih
baik lagi serta bijaksana dalam menggunakan
handphone dan media sosial.
D i a B u k a n P e n c u r i | 43
D i a B u k a n P e n c u r i | 44
NASYWA YANG TAK BERSUARA
Oleh Nisrina Bilqis
Ini lebaran keempatku tanpa Ayah. Tapi aku
sudah tidak sedih lagi karena aku selalu dikelilingi
orang-orang yang begitu menyayangiku. Terutama
di bulan Ramadan seperti ini. Seperti tahun-tahun
sebelumnya di sekolah, guru agamaku Pak Ahmad,
mengundang semua anak yatim piatu tanpa
terkecuali. Kami berkumpul di halaman sekolah
menunggu untuk kemudian berangkat bersama-
sama ke rumah Pak Ahmad.
Aku, Bintang, dan Keisya duduk di bangku
bagian barat halaman sekolah kami. Seperti biasa
kami mengobrol santai sana sini.Tapi kali ini ada
pemandangan tidak biasa. Ada seorang anak
bersama ibunya di kursi dekat tempat kami bertiga
duduk. Anak itu menangis sambil menarik baju
ibunya. Lamat-lamat aku mendengar suara ibunya
sedang berbicara dengan si anak.
Aku pun menghampiri mereka sambil
tersenyum.
D i a B u k a n P e n c u r i | 45
“Sini Dek, sama Kakak. Jangan menangis
lagi,ya!” kemudian ibunya menarik tangan anak itu,
mengulurkannya padaku.
“Ayo kenalan dulu, ini namanya Nasywa
kak,” ucap ibunya tersenyum ramah walau anak itu
masih cemberut.
“Halo Nasywa, namaku Nisa,” ujarku sambil
mengulurkan tangan padanya.
Spontan aku memanggil Bintang dan Keisya.
Berharap kami bisa membujuknya agar ia tidak
menangis lagi. Beberapa saat tangisan Nasywa
pun mulai reda, namun ia tetap terdiam, belum
berkata sepatah kata pun. Sampai akhirnya tiba
waktu kami berangkat. Nasywa pun akhirnya mau
berangkat bersama kami.
Sepanjang perjalanan aku sama sekali tidak
berhasil membuat Nasywa berbicara. Terpikir
olehku, apakah Nasywa tunawicara? Tetapi
sekolah kami sekolah umum, tidak mungkin
rasanya menerima anak tunawicara. Yang jelas dia
bukan tunarungu, karena dia selalu tahu ketika aku
berbicara padanya.
D i a B u k a n P e n c u r i | 46
Sesampainya di rumah Pak Ahmad kami
pun mulai mengaji, masih dengan rasa penasaran
aku melirik Nasywa. Aku melihat bibirnya bergerak,
tapi lagi-lagi tidak ada suara yang terdengar dari
mulutnya. Acara demi acara pun berlanjut. Buka
puasa, salat magrib, sampai acara pemberian
bingkisan sudah kami lalui dengan penuh suka cita.
Seperti biasa, kami merasa sangat kenyang.
Maklum, makanannya selalu enak-enak. Sayang
rasanya jika kami lewatkan makanan itu.
Tiba saat pulang, kami beranjak naik
kendaraan. Nasywa duduk di sampingku lagi. Ya
sepanjang acara, Nasywa tidak pernah jauh dariku.
Bahkan tadi aku sempat membantunya mengambil
makanan, karena badannya terlalu kecil untuk bisa
menggapai makanan itu.
Emmm, sepertinya dia sudah nyaman
denganku batinku.
Setibanya di sekolah, kami pun bergegas
turun. Kami sibuk dengan bingkisan kami masing-
masing, karena cukup banyak bawaan kami. Aku
berjalan menuju sepedaku, ingin segera
D i a B u k a n P e n c u r i | 47
meletakkan barang-barang di keranjang. Aku
tuntun sepedaku menuju gerbang sekolah. Aku
lihat Nasywa berdiri di pojok gerbang. Ibunya belum
menjemputnya. Aku buru-buru menghampiri.
“Nasywa...!” seruku.
Nasywa setengah melompat menggandeng
tanganku. Kelihatan sangat gembira. Padahal tadi
sekilas aku melihat matanya yang berkaca-kaca
dengan raut muka yang penuh kekhawatiran.
“Nasywa belum dijemput?” tanyaku dan
Nasywa membalasnya dengan menggelengkan.
“Ayo duduk sini dulu sambil menunggu ibu!”
dia menurut.
Sekolah sudah sepi. Tinggal kami berdua.
Beberapa saat kemudian, Ibu Nasywa
datang menjemput dengan penuh kekhawatiran.
“Nasywa maaf, ban sepedanya bocor.
Nasywa tidak apa-apa?”
Nasywa mengangguk.
Ibu Nasywa mengelus kepalaku, “Makasih
ya Mbak Nisa, sudah menemani Nasywa sampai
ibu datang,”
D i a B u k a n P e n c u r i | 48
“Iya sama-sama Bu,” jawab Nisa.
Beberapa hari berlalu sejak acara itu,
memang aku tidak pernah ketemu Nasywa. Aku
pikir itu hal yang wajar karena dia anak kelas 1
sedangkan aku kelas 5. Jam pulang kami berbeda.
“Mbak Nisa, ya? Masih ingat ibu?”
Lho ini kan ibunya Nasywa batinku.
“Iya bu, ada apa?”
“Ibu mau minta tolong, bisa nggak mbak
Nisa mampir ke rumah Nasywa sebentar. Nasywa
lagi sakit,” pinta ibu Nasywa.
“Oooh iya bu,” sahutku.
Aku pun mengikuti ibu Nasywa pulang.
Sesampainya di sana aku diantar ke kamarnya.
Nasywa terbaring di tempat tidur.
“Badannya demam beberapa hari. Ibu sudah
periksakan ke dokter, tapi belum tahu sakit apa.
Tadi Nasywa menanyakan Mbak Nisa. Katanya
kangen. Ibu heran, tidak pernah Nasywa seperti ini
sebelumnya,” kata ibu Nasywa kepada Nisa.
D i a B u k a n P e n c u r i | 49
“Nasywa, Mbak Nisa datang,” Nasywa pun
menengok ke arahku, dia bangun dan tersenyum,
lalu menggapai tanganku.
“Mbak Nisa sini,” pinta Nasywa.
Aku mengambil kursi dan duduk di
sebelahnya.
“Nasywa sakit apa?”
“Nasywa tidak sakit,” jawabnya.
“Nasywa, sudah ketemu Mbak Nisa, kan?
Mbak Nisa baru pulang sekolah, kasihan biar
pulang dulu, ya?” Nasywa mengangguk.
Ibu Nasywa mengantarkan aku ke depan.
Namun sebelum pulang Ibu Nasywa meraih
tanganku.
“Ibu mau cerita sebentar,ya Mbak Nisa.
Nasywa belum lama ditinggal Ayah dan Kakaknya.
Kakaknya seusia Mbak Nisa ini. Mereka
kecelakaan, Mbak. Sejak saat itu, Nasywa menjadi
sangat pendiam, dia jarang berbicara bahkan
kepada Ibu. Dia sangat terpukul, apalagi Nasywa
dan Kakaknya begitu dekat. Entah kenapa kemarIn
D i a B u k a n P e n c u r i | 50
sejak bertemu Mbak Nisa, Nasywa jadi lebih ceria,”
jelas ibu.
“Ooo begitu, ya bu. Kalau begitu besok Nisa
main ke sini lagi ya Bu. Nisa minta izin dulu sama
Ibu Nisa biar bisa main agak lama,” balas Nisa.
Dan begitulah, beberapa hari berikutnya
Nisa selalu main ke rumah Nasywa sampai dia
sembuh dan bersekolah kembali. Nasywa yang
sebelumnya nyaris tak bersuara perlahan-lahan
berubah menjadi anak yang ceria. Nisa pun
bersyukur.
D i a B u k a n P e n c u r i | 51
D i a B u k a n P e n c u r i | 52
BERLIBUR KE TAMAN SAFARI PRIGEN
Oleh Oktavia Tri Hapsari
Libur sekolah telah tiba. Aku, Kakak, dan Ibu
diajak oleh Ayah berlibur ke Taman Safari Prigen.
Ini kali pertama aku pergi ke Taman Safari Prigen.
Kami sekeluarga berangkat dari rumah sekitar
pukul 06.00. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2
jam.
Sampailah kami di gerbang pertama Taman
Safari yang berbentuk gading gajah. Itu tampak
menawan. Di sepanjang perjalanan banyak orang
berjualan wortel di pinggir jalan.
“Ayah, kenapa banyak sekali orang yang
berjualan wortel di pinggir jalan?” tanyaku.
“Itu untuk memberi makan hewan-hewan di
dalam Taman Safari nanti, Dik,” sahut kakak.
“Nanti aku mau memberi makan hewan-
hewan di dalam, ya, Yah?” pintaku.
“Ah, si Adek ini, emangnya kamu berani
memberi makan hewan-hewan itu? Bagaimana
D i a B u k a n P e n c u r i | 53
kalau nanti jari-jarimu ikut termakan?” sahut Kakak
sedikit mengejekku.
Ayah mengabulkan permintaanku. Kami
membeli dua ikat wortel. Harganya tidak terlalu
mahal. Seikat wortel hanya sepuluh ribu rupiah.
Kemudian, Ayah melanjutkan perjalanan menuju ke
Taman Safari.
Di sepanjang perjalanan, aku sudah
membayangkan keseruan berkeliling Taman Safari
melihat hewan-hewan yang hidup bebas tanpa
dimasukkan ke kandangnya. Meskipun sedikit ngeri
karena aku membayangkan betapa mencekamnya
suasana ketika melewati tempat hewan-hewan
buas.
Akhirnya, sampailah kami di loket masuk
Taman Safari. Karena kami pergi di waktu liburan,
jadi harga tiket cukup mahal. Lokasinya sangat
ramai pengunjung. Ayah membelikan kami tiket
„terusan‟. Jadi, setelah berkeliling dengan mobil
melihat hewan-hewan yang hidup bebas di alam,
kami bisa melanjutkan melihat atraksi atau
pertunjukan-pertunjukan yang ada sesuai
D i a B u k a n P e n c u r i | 54
jadwalnya. Kami juga bisa berenang gratis di
Taman Safari.
“Ayo, Ayah ... ayooo ...! Aku sudah tidak
sabar!” teriakku.
Ayah dan Ibu tersenyum menengok ke
arahku. Aku membalas senyuman. Dibalik tawa
riang dan antusiasku kali ini, ada rasa bersalah
yang menghantuiku. Aku telah berbohong kepada
mereka. Sesekali tatapanku menerawang jauh ke
luar jendela. Aku benar-benar merasa bersalah,
tapi aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
Liburan kali ini tak seperti liburan-liburan
sebelumnya, yang aku bisa menikmati setiap waktu
tanpa beban. Ternyata keluargaku pun merasa ada
yang beda denganku di liburan sekarang. Tanpa
aku sadari, ternyata mereka memperhatikan aku
yang sesekali melamun dan melihat ke arah
jendela, seperti menyembunyikan suatu hal.
“Adik, kenapa melamun?” tanya Ibu. Aku
hanya terdiam terpaku, tak bergeming sedikit pun.
“Dik, ditanya Ibu tuh,” kata Kakak sambil
menyenggol tanganku.
D i a B u k a n P e n c u r i | 55
Seketika itu baru aku melihat ke arah Ibu.
Kemudian, pandanganku beralih pada Ayah. Tiba-
tiba kedua mataku berkaca-kaca.
“Huuu … huhuhu … huuu … huhuhu ….”
Aku menangis tersedu-sedu. Ayah dan Ibu
terlihat sangat bingung dengan sikapku. Ayah
memberhentikan mobil di pinggir jalan sebelum
memulai perjalanan mengelilingi area hewan-
hewan.
“Adik, kenapa menangis? Coba cerita ke Ibu
dan Ayah,” kata Ibu.
“Maafkan aku, Ayah, Ibu,” kataku sambil
terisak dan merundukkan kepala.
Aku menceritakan kepada mereka penyebab
kumenangis. Aku sangat bersedih dan bersalah
karena nilai ujianku kali ini ada beberapa yang di
bawah rata-rata. Aku merasa malu sehingga aku
menyembunyikan hasil ujianku dari mereka.
“Dik, sudah hapus air matamu! Kalau adik
menyesal, berarti adik harus lebih rajin lagi belajar!”
kata Ayah padaku sambil tersenyum.
D i a B u k a n P e n c u r i | 56
“Tapi ingat, ya, Adik harus mengurangi jam
mainmu!” sahut Ibu.
“Baik Ayah, Ibu. Adik janji akan lebih
meningkatkan belajar dan mengurangi main,”
kataku lembut.
“Ayo, kita lanjut perjalanan berkeliling Taman
Safari,” teriak ayah menyemangatiku kembali.
“Seruuuu ... sangat seruuu!” teriak Kakak
penuh semangat mencairkan suasana kembali,
“sekarang saatnya kita bersenang-senang lagi.”
Aku sangat beruntung karena memiliki
keluarga yang sangat baik. Mereka memaafkan
kesalahanku. Pastinya, aku akan menjadikan
semua itu pelajaran. Aku harus rajin belajar dan
mengurangi main. Sama seperti yang dikatakan
Ayah dan Ibu padaku. Akhirnya, aku bisa kembali
tersenyum dan menikmati liburanku kali ini.
Ayah kembali menjalankan mobilnya. Aku
memperhatikan sekelilingku. Kubaca tulisan pada
papan yang dipasang di depan gerbang setiap jenis
binatang. Tibalah di depan gerbang yang
bertuliskan „Area Binatang Buas‟. Ayah mengunci
D i a B u k a n P e n c u r i | 57
semua pintu dan mengingatkan kami untuk tidak
membuka jendela mobil. Ini area yang kunanti-
nantikan.
DAG ... DIG ... DUG ....
Jantungku rasanya berdebar kencang.
Bagaimana kalau tiba-tiba singa merasa terusik
karena melihat banyak sekali mobil yang melewati
wilayah mereka, ya? kataku dalam hati. Untunglah
di setiap area ada beberapa petugas yang berjaga.
Mengasyikkan dong menyaksikan hewan buas
secara langsung.
Akhirnya, selesai sudah mengelilingi area
hewan yang ada di alam bebas. Ayah memarkirkan
mobil. Saatnya kami melihat pertunjukan-
pertunjukan yang ada sesuai jadwal. Mulai dari
melihat pertunjukan gajah, lumba-lumba, harimau,
burung, dan yang terakhir pertunjukan Temple Of
Terror. Semuanya sangat berkesan. Liburanku kali
ini sungguh menyenangkan. Kami pun kembali
melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
D i a B u k a n P e n c u r i | 58
D i a B u k a n P e n c u r i | 59
DIA BUKAN PENCURI
Oleh Oriza Nazhifa Zalfa
“Dia bukan pencuri!” teriakku.
Semua orang menoleh padaku terutama
mereka, trio gadis populer yang selama ini
menguasai kelas. Trio gadis itu menatapku tajam,
menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap apa
yang baru saja aku lakukan. Namaku Aline, entah
keberanian dari mana yang kudapatkan hari ini.
Mereka sudah keterlaluan. Perundungan yang
dilakukan kepada Wenie mengusik nuraniku.
Kejadian ini bermula saat Anne, Celine, dan
Bonie, tiga siswi paling populer dan berkuasa di
sekolah ini, mengaku tidak suka dengan
keberadaan Wenie. Mereka menganggap Wenie
sebagai serangga menjijikkan yang tak pantas
bersekolah di St. Clair Antonique, sekolah dengan
pilar-pilar megah tempat para anak orang kaya
berkumpul untuk mejalin jejaring komunikasi.
Sedangkan Wenie, hanyalah seorang gadis yatim
piatu dari panti asuhan kecil di Guadalajara,
D i a B u k a n P e n c u r i | 60
pinggiran kota Meksiko. Ia berhasil masuk sekolah
ini berkat beasiswa dan rekomendasi Paus Gereja
yang melihat potensi kecerdasannya.
Seperti biasa, saat bel istirahat berbunyi,
seluruh siswa bersiap ke kantin. Mereka saling
bergerombol membentuk kelompok-kelompok kecil,
mencari meja untuk menyantap makan siang yang
disediakan oleh sekolah. Tapi tidak dengan Wenie,
ia selalu duduk sendirian di meja paling pojok.
Tidak ada yang menemaninya makan. Tidak ada
yang mau berteman dengannya. Itu semua karena
Anne, Celine, dan Bonie melarang semua anak
mendekati Wenie.
Siang ini pun Wenie makan sendirian. Aku
tahu ia sedih dan kesepian. Nuraniku mengatakan
ini salah, aku ingin berteman dengannya tapi aku
tak berdaya. Ada rasa takut jika nanti mereka
berbalik ikut memusuhiku. Dari jauh aku
mengamati meja Wenie. Ketiga gadis paling
populer di St. Clair Antonique tampak berjalan
mendekati mejanya. Jelas mereka hendak
mengganggu. Dengan sengaja, mereka
D i a B u k a n P e n c u r i | 61
menjatuhkan nampan makanan yang ada di meja.
Semua anak menoleh. Melihat Anne dan kedua
temannya tertawa, maka semua ikut tertawa.
Wenie hanya diam terisak. Bahkan untuk berbalik
melawan pun ia tak bisa. Semua orang berusaha
menutup mata untuk tak peduli. Seperti yang saat
ini kulakukan.
Hari ini, kelas kami ada pelajaran olahraga.
Semua anak tampak bersiap-siap untuk berganti
pakaian. Di sekolah ini memang terdapat ruang
ganti khusus untuk perempuan. Semua anak
bergegas ke luar kelas kecuali aku. Dari jauh
kulihat Anne sedang berbisik-bisik dengan Celine
dan Bonie. Merasa diamati, mereka tiba-tiba
menoleh ke arahku. Aku segera berpaling dan
pergi dari sana.
Selama pelajaran olahraga pun, Anne tak
berhenti mengganggu Wenie. Saat pelatih
menyuruh kami berlari mengelilingi lapangan, Anne
dengan sengaja mendorong Wenie sampai ia
hampir terjatuh. Tentu saja, kejadian itu luput dari
D i a B u k a n P e n c u r i | 62
pengamatan pelatih karena pelatih sedang sibuk
berbicara dengan seseorang di pinggir lapangan.
Kejadian itu terus berulang. Tapi tak satu
pun dari semua anak tergerak untuk membelanya.
Wenie berdiri, mungkin sudah tak tahan lagi.
Tampak air mata sudah menggenang di matanya.
Bibirnya hendak mengatakan sesuatu, tapi ia
urungkan. Ia memilih berlari masuk tanpa
berpamitan.
Terdengar ribut-ribut di dalam kelas saat aku
kembali dari ruang ganti pakaian setelah selesai
berolahraga. Kulihat Anne dan teman-temannya
sedang mengelilingi Wenie.
“Dasar pencuri! Sudah kuduga, gadis miskin
sepertimu akan berakhir sebagai pencuri di sekolah
ini!” Anne tampak mengintimidasi.
“Aku tidak mencuri. Aku tidak pernah
mengambil apapun yang bukan milikku. Apalagi
dompet Lussy, aku tak akan berani,” kali ini Wenie
berusaha untuk membela diri. Jika biasanya dia
hanya diam dan menangis, kali ini Wenie berusaha
berbicara.
D i a B u k a n P e n c u r i | 63
“Bohong! Hanya kau yang tadi kembali ke
kelas sebelum jam olahraga berakhir!” Lussy turut
tersulut.
Ia ikut menyudutkan Wenie karena termakan
omongan Anne dan kawan-kawannya.
“Aku bersumpah, aku tak mengambil
dompetmu. Aku bahkan tidak kembali ke kelas
setelah kejadian tadi.”
“Sudahlah, yang paling miskin di kelas ini
hanya kamu, Wenie! Tentu kamu yang paling
membutuhkan uang. Dasar pencuri!” potong Anne.
Semua orang tampak percaya dengan apa
yang dikatakan oleh Anne.
“Bukan! Dia bukan pencuri!” aku berteriak
lantang.
Kini perhatian semua tertuju kepadaku.
Anne, Celine, dan Bonie menatapku tak suka.
Dengan gugup aku berusaha berbicara.
“Aku melihat pencuri yang sebenarnya.
Wenie hanya dijebak!”
Semua orang saling berpandangan,
berkasak-kusuk, berspekulasi siapa yang
D i a B u k a n P e n c u r i | 64
sekiranya tega menjebak seseorang degan kasus
pencurian. Dengan rasa takut, pandangan beralih
ke Anne dan kedua temannya.
“Apa yang kalian lihat!” Anne berteriak.
Kasak-kusuk kembali terdengar.
“Apa yang mendasarimu berkata demikian!
Dasar bocah sok tahu!” sahut Bonie.
“Aku melihat kalian berbisik-bisik saat
semua orang bergegas ke ruang ganti! Aku sudah
merasa curiga. Diam-diam dari luar aku mengintip,
Celine mengambil dompet dari tas Lussy!”
“Apa benar itu? Mengapa kalian begitu tega
padaku. Apa salahku?” tuntut Wenie.
“Diam kau! Kehadiranmu di sini sudah
merupakan kesalahan!” kata Anne yang kini mulai
berbicara.
Pernyataan Anne itu membuat semua orang
geram. Perbuatan mereka sudah keterlaluan.
Salah satu teman, bergegas ke ruang guru
melaporkan kejadian ini. Setelah penyelidikan yang
dilakukan oleh guru, terbukti jika ketiga anak
tersebut memang bersalah. Mereka dihukum
D i a B u k a n P e n c u r i | 65
selama dua minggu tidak boleh masuk sekolah.
Semua anak meminta maaf kepada Wenie atas
rasa tidak peduli mereka selama ini.
D i a B u k a n P e n c u r i | 66
D i a B u k a n P e n c u r i | 67
SEBUAH BUKU
Oleh Putri Martasya
Di sebuah perpustakaan terjadi
pertengkaran antara Nana dan Sia. Sia dan
Nana adalah murid kelas 5. Keduanya adalah
murid cerdas dan berprestasi, juga telah
bersahabat sejak masuk sekolah dasar. Mereka
berdua adalah murid yang terkenal saling bersaing
dalam pelajaran. Mereka selalu tidak mau kalah
satu sama lain.
“Sia, aku yang terlebih dahulu menemukan
buku ini,” kata Nana menjelaskan.
Tapi Sia pun tidak mau kalah.
“Tidak! Aku lah yang menemukan buku ini,
bukan kamu. Jadi kamu cari buku yang lain saja,”
balas Sia tegas tak mau kalah.
Tiba-tiba datang Tanaya, teman sekelas Sia
dan Nana.
“Teman-teman, kenapa kalian bertengkar?
Kalian kan sudah bersahabat sejak dulu,” tanya
Tanaya dengan raut muka bingung setengah mati.
D i a B u k a n P e n c u r i | 68
“Sia merebut buku yang telah aku temukan,
dan dia tak mau mengalah,” jawab Nana mulai
agak kesal.
“Teman-teman, tidak ada manfaatnya kalau
kalian bertengkar dan tidak akan menyelesaikan
masalah. Kalau kalian ingin buku ini, bagaimana
kalau kalian membaca buku bersama-sama?”
Tanaya menawarkan. Ia mencoba dengan tabah
menjelaskan panjang lebar.
“Baiklah,” jawab mereka serentak. Akhirnya
mereka pun membaca buku bersama-sama dan
mendapatkan manfaatnya. Sejak saat itu,
mereka sering membaca bermacam-macam buku
dan mendapatkan ilmu pengetahuan karena buku
adalah jembatan ilmu.
KRING... KRING... KRING....
“Anak-anak, hari Senin nanti kita akan UAS.
Jangan lupa belajar, ya…” kata bu Guru.
Ulangan tahun kemarin, Nana dan Sia
mendapatkan nilai-nilai yang kurang memuaskan
meskipun sebenarnya nilainya sangat bisa
dikatakan bagus untuk ukuran kelasnya.
D i a B u k a n P e n c u r i | 69
“Nana, kita harus lebih giat membaca buku
dan belajar,” kata Sia bersemangat.
“Tentu saja, Sia. Mari kita bertanding siapa
yang akan mendapat nilai yang lebih baik,” jawab
Nana.
Saat pelajaran dimulai, sedikit demi sedikit
nilai mereka semakin bagus. Saat penerimaan
rapor semester satu, Nana mendapatkan peringkat
dua dan Sia mendapatkan peringkat tiga mereka
sangat senang. Saat liburan, mereka tak lupa
belajar meskipun mereka sedang berlibur. Mereka
tidak hanya belajar tentang materi sekolah tapi
mereka juga belajar tentang kesenian, adat istiadat,
dan lain-lain. Tidak terasa liburan pun telah habis
dan waktunya masuk sekolah.
“Sia, tidak terasa liburan kita sudah habis,
ya?” tanya Nana.
“Iya,” jawab Sia.
KRING... KRING... KRING....
“Sia, Nana, bisa tolong Bu Guru untuk
merapikan perpustakaan?”
“Baik, Bu,” jawab mereka serentak.
D i a B u k a n P e n c u r i | 70
Akhirnya mereka menuju ruang
perpustakaan. Setelah merapikan buku, Sia melihat
buku yang sobek.
“Nana, lihat! Ada buku yang sobek.
Bagaimana kalau kita perbaiki buku yang rusak ini
agar bisa dibaca kembali?” tanya Sia.
“Ide yang bagus. Ayo kita kerjakan
bersama-sama dan kita harus membuat tulisan
jagalah buku karena buku adalah jembatan ilmu
supaya tidak ada lagi orang yang merusak buku,”
jawab Nana.
Mereka pun mengerjakan bersama-sama
agar cepat selesai.
KRING... KRING... KRING....
Bel masuk pun berbunyi. Nana dan Sia
segera kembali ke kelas. Bu Guru akan memulai
kembali pelajaran. Sebelum itu, Bu Guru berterima
kasih kepada Nana dan Sia karena sudah
merapikan dan memperbaiki buku yang rusak.
Teman-teman, kita harus menjaga buku agar
tidak rusak.