karena.
Contoh:
Seharusnya Indonesia telah menerapkan Negara kesejahteraan sejak
awal kemerdekaan. Program jamsostek baru dimulai pada 1976 sehingga
Indonesia tertinggal membentuk tabungan nasional. Padahal, Malaysia sudah
memulainya sejak 1959. Akibatnya, saat krisis melanda Asia pada 1997/1998,
Indonesia paling sulit bangkit lagi, oleh karena itu. Indonesia perlu melakukan
reformasi penyeleggaraan program jaminan sosial.
f) Teknik Definisi
Pengembangan paragraf dengan definisi adalah suatu model
pengembangan paragraf yang dilakukan dengan cara memberikan definisi atau
pengertian terhadap masalah yang sedang dibahas. Kata-kata yang digunakan
dalam mengembangkan paragraf dengan cara definisi adalah: ialah, yaitu, dan
adalah.
Contoh:
Apakah psikologi itu? R.S Woodworth berpendapat, “Psikologi ialah ilmu
jiwa”, sedangkan menurut Crow dan Crow “Psikologi adalah kejiwaan manusia
dalam berinteraksi dengan dunia sekitarnya.” Sementara itu, Santian
mengemukakan bahwa psikologi merupakan perwujudan tingkah laku
manusia.
g) Teknik Klasifikasi
Pengembangan dengan klasifikasi yang dimaksud dalam hal ini adalah
pengembangan paragraf dengan cara mengklasifikasikan atau
mengelompokkan masalah yang dikemukakan.
Contoh:
Penyelidikan tentang temperamen dan watak manusia telah dilakukan
sejak dahulu kala. Hippo Crates dan Galenus megemukakan bahwa manusia
dapat dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat-zat cair yang ada
di dalam tubuhnya. Empat golongan tersebut yaitu sanguitis (banyak darah)
yang sifatnya periang, gembira, optimis dan lekas berubah-ubah. Kemudian
kolerisi (banyak empedu kuning) adalah manusia yang memiliki sifat garang,
hebat lekas marah,dan agresif. Selanjutnya, flogmatis (banyak lendirnya)
adalah manusia yang sifatnya tenang, tidak mudah berubah, dan lamban.
Terakhir, melankolis (banyak empedu hitam) memiliki sifat muram, tidak
gembira dan pesimistis.
h) Teknik Fakta
Pengembangan paragraf dengan fakta merupakan suatu jenis
pengembangan paragraf yang dilakukan dengan cara menyertakan sejumah
43
fakta atau bukti-bukti untuk memperkuat pendapat yang dikemukakan.
Contoh:
Para petani di daerah pada umunya sangat rajin. Setiap pagi ketika
beberapa pegawai kantor sedang berangkat kerja, para petani sudah
bermandikan keringat di sawah-ladangnya masing-masing. Mereka berangkat
sejak fajar hingga matahari hampir terbenam.
i) Teknik Proses
Sebuah paragraf dikatakan memakai metode atau dengan cara proses
apabila isi alinea atau paragraf tersebut menguraikan suatu proses.
Contoh:
Proses pembuatan kue donat adalah sebagai berikut. Mula-mula
disiapkan adonan terigu di campur dengan telur dan gula dengan perbandingan
tertentu yang ideal sesuai dengan banyaknya kue donat yang akan dibuat.
Kemudian adonan dicetak dalam bentuk gelang-gelang. Setelah itu, gelang-
gelang tadi digoreng sampai berwarna kuning kecoklatan. Lalu gorengan itu
diolesi mentega, diberi taburan coklat warna warni, atau ditaburi tepung gula.
Kini donat siap disantap.
E. Menulis Artikel Ilmiah
Untuk menulis artikel ilmiah secara lengkap, langkah-langkah yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi Artikel Ilmiah
Adapun hal-hal yang perlu dianalisis dari sebuah karya ilmiah, mencakup
hal-hal berikut.
a. Informasi artikel ilmiah.
b. Tujuan artikel ilmiah.
a. Hal-hal penting dalam artikel ilmiah.
2. Menentukan Topik
Langkah awal menulis artikel ilmiah adalah menentukan masalah atau
sesuatu yang menimbulkan problem ditengah-tengah masyarakat, sebagai
suatu pertanyaan besar yang menuntut penyelesaian.
3. Menganalisis Sistematika Artikel Ilmiah
Secara umum, sistematika artikel ilmiah yang sering digunakan di
44
kalangan akademik adalah sebagai berikut.
a. Bagian awal
Secara umum, bagian awal sebuah artikel ilmiah terdiri atas hal-hal
berikut.
1) judul,
2) identitas penulis,
3) abstrak,
4) kata kunci.
b. Bagian Isi
Adapun bagian isi sebuah karya ilmiah, terdiri atas beberapa hal,
sebagai berikut.
1) pendahuluan yang mencakup: rumusan masalah dan landasan teori,
2) metode (prosedur penelitian)
3) hasil dan pembahasan (rangkaian argumen (pembahasan masalah)
berdasarkan fakta.
4) simpulan (simpulan rekomendasi/penegasan ulang).
c. Bagian Akhir (Daftar pustaka)
4. Menganalisis Kebahasaan Artikel Ilmiah
a. Diksi
1) Kata baku
Kata baku adalah kata yang cara pengucapannya ataupun penulisannya
sesuai dengan kaidah-kaidah standar atau kaidah-kaidah yang dibakukan.
Kaidah standar yang dimaksud adalah berupa Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI).
2) Makna Lugas
Makna lugas atau makna denotatif adalah makna yang tidak mengalami
perubahan ataupun penambahan. Makna tersebut sesuai dengan makna
aslinya atau makna sebenarnya.
3) Penggunan istilah
Istilah adalah kata atau kelompok kata yang pemakaiannya terbatas pada
bidang tertentu. Perbedaan istilah dengan kata terletak pada bidang
pemakaiannya. Jika kata dapat digunakan dalam berbagai bidang
kehidupan, maka istilah hanya digunakan pada bidang-bidang tertentu saja.
45
b. Struktur Kalimat
Struktur kalimat berarti fungsi bagi unsur kalimat itu sendiri. Struktur
kalimat tidak selalu berurutan S, P, O, K dan Pelengkap, tapi banyak kalimat
yang urutan unsurnya menyimpang dari pola urutan tersebut.
1) Subjek
Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh,
sosok (benda), sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok
pembicaraan. Subjek pada umumnya diisi oleh jenis kata atau frasa benda
(nomina), klausa, atau frasa verba. 1982: 159).
Adapun ciri-ciri subjek sebagai berikut
a. Jawaban atas pertanyaan apa atau siapa
Penentuan subyek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas
pertanyaan apaatau siapa yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk
subyek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata
tanya siapa.
b. Biasanya disertai kata itu, ini, yang dan tersebut (sebagai pembatas
antara subyek dan predikat)
c. Didahului kata bahwa
Kata bahwa merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya
adalah anak kalimat pengisi fungsi subyek. Di samping itu,
kata bahwa juga merupakan penanda subyek yang berupa anak kalimat
pada kalimat yang menggunakan kata adalah atau ialah.
d. Mempunyai keterangan pewatas/atribut yang
Kata yang menjadi subyek suatu kalimat dapat diberi keterangan lebih
lanjut dengan menggunakan penghubung yang. Keterangan ini
dinamakan keterangan pewatas.
e. Tidak didahului preposisi
Subyek tidak didahului preposisi,
seperti dari, dalam, di, ke, kepada, pada. Kebanyakn penulis sering
memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata tersebut sehingga
menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak bersubyek.
f. Berupa kata benda atau frase kata benda
46
Subyek kebanyakan berupa kata benda atau frase kata benda. Di
samping kata benda, subyek dapat berupa kata kerja atau kata sifat,
biasanya, disertai kata penunjuk itu.
2) Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan
(tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku, toko, atau
benda di dalam suatu kalimat). Selain memberi tahu tindakan atau
perbuatan subjek, predikat juga dapat menyatakan sifat, situasi, status, ciri,
atau jati diri subjek. Termasuk juga sebagai predikat dalam kalimat adalah
pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki subjek. Predikat dapat
berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau ajektiva, tetapi
dapat pula numeralia, nomina atau frasa nomina.
Adapun ciri-ciri predikat sebagai berikut.
a. Jawaban atas pertanyaan mengapa atau bagaimana
Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas
pertanyaan mengapa atau bagaimana adalah predikat. Pertanyaan
sebagai apa atau jadi apa dapat digunakan untuk menentukan predikat
yang berupa kata benda penggolong (identifikasi). Kata
tanya berapa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa
numeralia (kata bilangan) atau frase numeralia.
b. Kata adalah atau ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Predikat terutama
digunakan jika subyek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga
batas antara subyek dan pelengkap tidak jelas.
c. Dapat diingkarkan
Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran
yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini
digunakan untuk predikat yang berupa kata kerja atau kata sifat. Di
samping tidak sebagai penanda predikat, kata bukan juga
merupakan penanda predikat yang berupa kata benda atau predikat
kata merupakan.
d. Dapat disertai kata-kata aspek atau modalitas
47
Kalimat yang berupa kata kerja atau kata sifat dapat disertai kata-
kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-
kata itu terletak di depan kata kerja atau kata sifat. Kalimat yang
subyeknya berupa kata benda bernyawa dapat juga disertai
modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subyek),
seperti ingin, hendak, dan mau.
e. Unsur pengisi predikat
Predikat suatu kalimat dapat berupa:
(1) Kata, misalnya kata kerja, kata sifat, atau kata benda.
(2) Frase, misalnya frase kata kerja, frase kata sifat, frase kata
benda, frase numeralia (bilangan).
3) Obyek
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada
umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak objek selalu
dibelakang predikat yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut
wajib hadirnya objek.
Adapun ciri-ciri obyek sebagai berikut.
a. Dapat menjadi subyek kalimat pasif
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subyek
dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan
perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subyek dalam
kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk kata kerja
predikatnya.
b. Tidak didahului preposisi
Objek yang selalu menempati posisi di belakang predikat dan tidak
didahului preposisi. Dengan kata lain, di antara predikat dan objek tidak
dapat disisipkan preposisi.
c. Kategori katanya kata benda/ frase kata benda
d. Dapat dinganti dengan –nya
e. Didahului kata bahwa
f. Anak kalimat pengganti kata benda ditandai oleh kata bahwa dan
anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.
48
g. Sebagian besar kata kerja berawalan ber- atau ter- tidak memerlukan
objek (intransitif)
h. Sebagian besar kerja berawalan me- memerlukan objek (transitif).
4) Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang
melengkapi P. Letak Pel umumnya dibelakang P yang berupa verba. Posisi
tersebut juga di tempati O dan jenis kata yang mengikuti Pel dan O juga
sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun,
antara Pel dan O terdapat perbedaan.
Adapun ciri-ciri pelengkap sebagai berikut.
a. Terletak di belakang predikat, Ciri ini sama dengan objek.
Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan
pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek.
b. Tidak didahului preposisi
Seperti objek, pelengkap tidak didahului preposisi. Unsur kalimat yang
didahului preposisi disebut keterangan.
c. Kategori katanya dapat berupa kata benda, kata kerja, atau kata sifat.
5) Keterangan
Keterangan (Ket) adalah bagian dari kalimat yang menerangkan
berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket ini dapat
menerangkan S, P, O dan Pel. Ket ini memiliki posisi manasuka, atrinya
posisi Ket dapat berasa di awal, di tengah atau di akhir kalimat. Pengisi Ket
adalah frasa nominal, frasa preposional, adverbia, atau klausa.
Adapun ciri-ciri keterangan sebagai berikut.
a. Bukan unsur utama (bersifat manasuka)
Berbeda dari subyek, predikat, objek, dan pelengkap, keterangan
merupakan unsur tambahan yang kehadirannya dalam struktur dasar
kebanyakan tidak bersifat wajib.
b. Dapat dipindah-pindah posisi/letaknya bebas
Di dalam kalimat, keterangan merupakan unsur kalimat yang memiliki
kebebasan tempat. Keterangan dapat menempati posisi di awal atau
49
akhir kalimat, atau di antara subyek dan predikat. Jika tidak dapat di
pindah-pindahkan, maka unsur tersebut tidak termasuk keterangan.
c. Umumnya di dahului oleh kata depan, seperti, di, dari, ke,
d. Jenis Paragraf
Paragraf adalah bagian dari sebuah karangan yang terdiri dari
beberapa kalimat, yang berisikan tentang informasi dari penulis untuk
pembaca dengan pikiran utama sebagai pusatnya dan juga pikiran penjelas
sebagai pendukungnya. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang
berhubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang
menghasilkan sebuah informasi. Paragraf juga dapat disebut sebagai
penuangan ide dari penulis melalui beberapa kalimat yang berkaitan dan
memiliki satu tema. Paragraf juga dapat disebut sebagai karangan yang
singkat.
1) Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi merupakan paragraf yang bertujuan untuk
menginformasikan sesuatu sehingga memperluas pengetahuan pembaca.
Paragraf eksposisi bersifat ilmiah/nonfiksi. Sumber untuk penulisan
paragraf ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian atau
pengalaman.
Paragraf eksposisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
(a) Penjelasannya bersifat informatif.
(b) Pembahasan masalah bersifat objektif.
(c) Tidak mempengaruhi pembaca.
(d) Penjelasan dinyatakan dengan bukti yang konkret (tidak mengada-
ada).
(e) Pembahasannya bersifat logis dan sistematis.
2) Paragraf Deskripsi
Paragraf deskripsi berisi gambaran mengenai suatu objek atau suatu
keadaan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera. Paragraf ini
bertujuan untuk memberikan kesan/impresi kepada pembaca terhadap
objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin
disampaikan penulis (Suladi, 2014:62-63).
50
Paragraf deskripsi memiliki ciri sebagai berikut.
(a) Isinya menggambarkan suatu benda, tempat, makhluk hidup, atau sesama
tertentu.
(b) Penggambaran dilakukan dengan pancaindra, diantaranya indra
penglihatan, indra pendengaran, indra penciuman, indra pengecapan,
atau indra perabaan.
(c) Orang-orang yang membaca atau yang diceritakan ikut merasakan dan
melihat sendiri objek yang dimaksud.
3) Paragraf Persuasi
Paragraf persuasi adalah paragraf yang berisi ajakan. Paragraf
persuasi bertujuan untuk membujuk pembaca agar mau melakukan
sesuatu sesuai dengan keinginan penulisnya. Artinya, jika ingin tujuan
tercapai, penulis harus mampu menyampaikan bukti dengan data dan fakta
pendukung (Suladi, 2014:72).
Paragraf persuasi memiliki ciri sebagai berikut.
(a) Harus menimbulkan kepercayaan pendengar/ pembacanya.
(b) Bertolak atas pendirian bahwa pikiran manusia dapat diubah.
(c) Menciptakan persesuaian melalui kepercayaan antara penulis dan
pembaca.
(d) Menghindari konflik agar kepercayaan tidak hilang dan tujuan tercapai.
(e) Harus ada fakta dan data yang mendukung.
4) Paragraf Argumentasi
Paragraf argumentasi atau paragraf bahasan adalah suatu corak
paragraf yang bertujuan membuktikan pendapat penulis agar pembaca
menerima pendapatnya. Dalam paragraf ini penulis menyampaikan
pendapat yang disertai penjelasan dan alasan yang kuat dan meyakinkan
dengan maksud agar pembaca bisa terpengaruh.
Paragraf argumentasi memiliki ciri sebagai berikut.
(a) Mengandung bukti dan kebenaran.
(b) Memiliki alasan kuat.
(c) Menggunakan bahasa denotatif.
(d) Analisis rasional (berdasarkan fakta).
51
(e) Unsur subjektif dan emosional sangat dibatasi (sedapat mungkin
tidak ada).
5) Paragraf Narasi
Narasi merupakan gaya pengungkapan yang bertujuan
menceritakan atau mengisahkan rangkaian kejadian atau peristiwa (baik
peristiwa kenyataan maupun peristiwa rekaan) atau pengalaman hidup
berdasarkan perkembangannya dari waktu ke waktu sehingga tampak
seolah-olah pembaca mengalami sendiri peristiwa itu.
Ciri Paragraf Narasi
Menurut Keraf (2000:136) yang menjadi ciri dari karangan narasi adalah:
1) Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
2) Dirangkai dalam urutan waktu.
3) Berusaha menjawab pertanyaan (apa yang terjadi?).
5. Proses Menulis Artikel Ilmiah
a. Menulis Secara Grup
Adapun beberapa kegiatan dalam tahap menulis secara grup ini,
sebagai berikut.
1) Pengumpulan bahan /data
Penulis mengumpulkan data-data penting dari laporan hasil penelitian dan
dari berbagai sumber pendukung.
2) Pengelompokkan
Hal yang dilakukan pada tahap ini adalah memilah gagasan untuk
dikelompokkan
3) Pembuatan kerangka tulisan
Gagasan yang telah dikelompokkan tersebut kemudian disusun
membentuk sebuah kerangka tulisan
4) Pengembangan kerangka tulisan
Pada tahap ini, penulis mengembangkan topik/gagasan yang telah
dikelompokkan sebelumnya sesuai dengan keinginan dan kemampuan
penulis tanpa memperhatikan kesalahan-kesalahan pengurutan gagasan
atau kaidah bahasa dalam bentuk paragraf. Semua ide yang muncul di
dalam benak penulis segera dituangkan apa adanya. Cara ini berguna
52
untuk melatih kelancaran di dalam menulis disamping meningkatkan
kecakapan di dalam mengolah orisinalitas ide.
5) Pengembangan Gagasan
Dalam tahap ini penulis mulai mengembangkan gagasan-gagasannya.
Penulis juga memusatkan perhatian pada isi kaidah kebahasaan, seperti
ejaan, tanda baca, diksi, struktur kalimat, dan struktur paragraf.
6) Penilaian Teman Sejawat
Pada tahap ini draf kasar hasil aktivitas menulis diberikan kepada orang lain
atau teman sejawat untuk memperoleh umpan balik berupa kritik dan saran
untuk penyempurnaan tulisan yang dibuat.
7) Perbaikan dan penyuntingan
Pada tahap ini dilakukan perbaikan semua kesalahan ejaan, tanda baca,
dan tata bahasa berdasarkan umpan balik yang diperoleh. Pada tahap ini
juga dilakukan pergantian ide, pemilihan kata, penggunakan kalimat efektif,
penyusunan isi dan penyesuaian sistematika.
8) Penulisan kembali
Draft hasil perbaikan selanjutnya ditulis kembali dengan memperhatikan
susunan isi, sistematika, dan bahasa hasil penyunyingan. Hasil pada proses
ini harus lebih baik dari pada penulisan sebelumnya.
9) Pengevaluasian
Evaluasi merupakan tahap pemeriksaan untuk memastikan bahwa penulis
telah menyelasaikan proses penuangan ide-ide yang yang direncanakan
dan yang ingin disampaikan.
10) Publikasi
b. Menulis Secara Independen/Mandiri
Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini, sama dengan
langkah-langkah pada tahap sebelumnya yaitu menggunakan 10 langkah
dalam menulis, sebagai berikut.
1) Pengumpulan bahan/data
2) Pengelompokan
3) Pembuatan kerangka tulisan
4) Pengembangan kerangka tulisan
5) Pengembangan paragraph
53
6) Penilaian teman sejawat
7) Perbaikan dan penyuntingan
8) Penulisan kembali
9) Pengevaluasian
10) Publikasi
54
DAFTAR PUSTAKA
Dalman. (2014). Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Rajawali Pers.
Indriati, Etty. (2001). Menulis Karya Ilmiah: Artikel, Skripsi, dan Disertasi.
Jakarta: Gramedia.
Karsana, Ano. (1986). Buku Materi Pokok Keterampilan Menulis. Jakarta:
Karunika Jakarta UT.
Keraf, Gorys. (2000). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Kosasih, E. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Yrama Widya.
Kosasih, E .2014. Jenis-Jenis Teks Analisis Fungsi, Struktur, Kaidah, serta
Langkah Penulisannya dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.
Bandung: Yrama Widya.
Kurniasari, Anna Nurlaila. 2014. Sarikata Bahasa dan Sastra Indonesia.
Yogyakarta: Solusi Distribusi.
Nursisto. 1999. Penuntun Mengarang. Yogyakarta: Adi Cita.
Rahardi, Kunjana. (2009). Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang-
Mengarang. Jakarta: Erlangga.
Semi, M.A. (2007). Dasar-Dasar Ketrampilan Menulis. Bandung: Angkasa.
Sitepu, B. (2016). Pedoman Menulis Jurnal (2nd ed.). Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Sujanto. (1988). Ketrampilan Berbahasa Membaca-Menulis-Berbicara untuk
Mata Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Suladi. (2014). Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf. Jakarta: Badan
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Suparno dan Mohammad Yunus. (2007). Ketrampilan Menulis. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Tukan, Paulus. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia 3. Jakarta Timur: Yudistira.
Wijayanti, Sri Hapsari, dkk. (2013). Bahasa Indonesia: Tulisan dan Penyajian
Alinea. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Wiyanto, Asul. (2006). Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.
55
Model Pembelajaran Menulis Artikel Ilmiah
Berbasis
Contextual Teaching and Learning
(Buku Petunjuk untuk Mahasiswa)
Afif Rofii, M.Pd.
Dr. Fathiaty Murtadho, M.Pd.
Prof. Dr. Aceng Rahmat, M.Pd.
i
Kata Pengantar
Puji syukur penulis sampaikan kepada Allah Swt., atas rahmat dan
hidayahnya penyusunan buku pedoman model pembelajaran menulis artikel
ilmiah untuk mahasiswa ini dapat terselesaikan dengan baik. Buku ini
merupakan bagian dari buku utama yaitu buku Model Pembelajaran Menulis
Artikel Ilmiah Berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning). Buku ini
dirancang untuk memudahkan mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah
menggunakan model pembelajaran menulis artikel ilmiah berbasis CTL.
Buku ini berisi materi-materi terkait pembelajaran menulis artikel ilmiah,
yang kemudian dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut. Pada bagian
pertama (A), disajikan materi terkait artikel ilmiah yang meliputi: pengertian
artikel ilmiah, isi artikel ilmiah, ciri-ciri artikel ilmiah, kaidah kebahasaan artikel
ilmiah, dan struktur artikel ilmiah. Pada Bagian kedua (B), disajikan materi
terkait diksi atau pilihan kata dalam artikel ilmiah yang meliputi: pengertian diksi
atau pilihan kata, makna kata dalam kalimat, fungsi diksi atau pilihan kata,
kriteria ketepatan diksi atau pilhan kata, dan kompetensi yang harus dikuasi
oleh seorang penulis. Selanjutnya pada bagian ketiga (C), disajikam materi
terkait dengan pengembangan kalimat dalam artikel ilmiah, yang, meliputi:
pengertian kalimat efektif, ciri-ciri kalimat efektif, syarat kalimat efektif, dan
pengembangan kalimat efektif. Selanjutnya pada bagian keempat, (D) disajikan
materi terkait dengan pengembangan paragraf dalam artikel ilmiah yang
meliputi: pengertian paragraf, fungsi paragraf, struktur paragraf, ciri-ciri
paragraf, syarat paragraf yang baik, dan pola pengembangan parafraf. Pada
bagian kelima (E) disajikan materi tentang menulis artikel ilmiah yang meliputi:
mengidentifikasi artikel ilmiah, menentukan topik, menganalisis kebahasaan
artikel ilmiah, dan proses menulis atikel ilmiah.
Penulis menyadari bahwa penyusunan buku ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik, dan saran dari
berbagai pihak. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi
mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran menulis artikel ilmiah.
Jakarta, Januari 2022
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar .......................................................................................... i
Daftar Isi..................................................................................................... i
A. Artikel Ilmiah ........................................................................................ 1
1. Pengertian Artikel Ilmiah................................................................. 1
2. Isi Artikel Ilmiah .............................................................................. 2
3. Ciri-ciri Artikel Ilmiah....................................................................... 2
4. Kaidah Kebahasaan Artikel Ilmiah.................................................. 2
5. Struktur Artikel Ilmiah ..................................................................... 3
a. Bagian Awal .............................................................................. 3
1) Judul .................................................................................... 3
2) Identitas Penulis .................................................................. 4
3) Abstrak ................................................................................ 4
4) Kata Kunci ........................................................................... 5
b. Bagian Isi .................................................................................. 5
1) Pendahuluan........................................................................ 5
2) Metode................................................................................. 7
3) Hasil dan Pembahasan........................................................ 8
4) Simpulan............................................................................ 10
c. Bagian Akhir............................................................................ 11
B. Diksi atau Pilihan Kata dalam Artikel Ilmiah....................................... 11
1. Pengertian Diksi atau Pilihan Kata ............................................... 11
a. Pilihan Kata dalam Kaidah Sintaksis....................................... 12
b. Pilihan Kata dalam Kaidah Makna .......................................... 13
c. Pilihan Kata dalam Kaidah Sosial ........................................... 15
2. Makna Kata dalam Kalimat........................................................... 15
3. Fungsi Diksi (Pilihan Kata) ........................................................... 15
4. Kriteria Ketepatan Diksi (Pilihan Kata) ......................................... 16
a. Tepat Konsep.......................................................................... 16
b. Tepat Nilai Rasa...................................................................... 17
iii
c. Tepat Konteks ......................................................................... 17
5. Kompetensi yang Harus Dikuasai Penulis.................................... 18
a. Membedakan dengan Cermat Kata-Kata yang Hampir
Bersinonim .............................................................................. 18
b. Membedakan Kata-Kata yang Ejaanya Mirip .......................... 18
c. Menghindari Kata-Kata Ciptaan Sendiri .................................. 19
d. Mengetahui Pasangan Kata yang Tepat ................................. 19
e. Membedakan Secara Cermat Kata Umum dan Kata Khusus . 20
f. Menghindari Kata-Kata Mubazir.............................................. 20
g. Membedakan Kata Baku dan Tidak Baku ............................... 21
h. Membedakan Ungkapan Ideomatik......................................... 21
i. Membedakan dengan Cermat Kata Pengubung ..................... 22
C. Pengembangan Kalimat Efektif dalam Artikel Ilmiah ......................... 24
1. Pengertian Kalimat Efektif ............................................................ 24
2. Ciri-Ciri Kalimat Efektif.................................................................. 24
a. Gramatikal............................................................................... 24
b. Sesuai dengan Tuntutan Bahasa Baku................................... 24
c. Jelas........................................................................................ 25
d. Lugas ...................................................................................... 25
e. Adanya Hubungan yang Baik (Koherensi) .............................. 25
f. Kalimat Tidak Baku ................................................................. 25
g. Tidak Ada Unsur yang Tidak Berfungsi................................... 25
3. Syarat Kalimat Efektif ................................................................... 25
a. Penekanan .............................................................................. 25
b. Kesejajaran ............................................................................. 27
c. Kehematan.............................................................................. 28
d. Keterbacaan............................................................................ 30
e. Kevariasian ............................................................................. 32
4. Pengembangan Kalimat Efektif .................................................... 32
D. Pengembangan Paragraf dalam Artikel Ilmiah................................... 34
a. Pengertian Paragraf ..................................................................... 34
b. Fungsi Paragraf ............................................................................ 34
c. Struktur Paragraf .......................................................................... 35
d. Ciri-Ciri Paragraf........................................................................... 35
iv
e. Syarat Paragraf yang Baik............................................................ 35
1) Kesatuan Paragraf .................................................................. 36
2) Keefektifan Kalimat ................................................................. 36
3) Kejelasan ............................................................................... 37
4) Kekompakan ........................................................................... 38
f. Pengembangan Paragraf ............................................................. 39
1) Pola Pengembangan Paragraf ................................................ 39
a) Paragraf Perbandingan ..................................................... 39
b) Paragraf Pertanyaan.......................................................... 39
c) Paragraf Sebab Akibat....................................................... 40
d) Paragraf Contoh ............................................................... 40
e) Paragraf Perulangan.......................................................... 40
f) Paragraf Definisi ................................................................ 41
2) Teknik Pengembangan Paragraf............................................. 41
a) Teknik Pertentangan ......................................................... 41
b) Teknik Perbandingan......................................................... 41
c) Teknik Analogi ................................................................... 42
d) Teknik Contoh.................................................................... 42
e) Teknik Sebab Akibat.......................................................... 42
f) Teknik Definisi ................................................................... 43
g) Teknik Klasifikasi ............................................................... 43
h) Teknik Fakta ...................................................................... 43
i) Teknik Proses .................................................................... 44
E. Menulis Artikel Ilmiah ......................................................................... 44
1. Mengidentifikasi Artikel Ilmiah ...................................................... 44
2. Menentukan Topik ........................................................................ 44
3. Menganalisis Sistematika Artikel Ilmiah........................................ 44
4. Menganalisis Kebahasaan Artikel Ilmiah ...................................... 45
5. Proses Menulis Artikel Ilmiah ....................................................... 52
a. Menulis Secara Berkelompok/Grup......................................... 52
b. Menulis Secara Independen/Mandiri ...................................... 53
Daftar Pustaka.............................................................................................. 55
Lampiran ..................................................................................................... 56
v
Daftar Lampiran
Lampiran 1. Artikel Ilmiah “Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita
Rakyat Asal-Usul Watu Dodol” ................................................. 56
Lampiran 2. Artikel Ilmiah“Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Babad
Tanah Jawa”............................................................................. 57
Lampiran 3. Contoh Kerangka Tulisan ......................................................... 58
Lampiran 4. Contoh Pengembangan Kerangka Tulisan ............................... 59
vi
Artikel Ilmiah
A. Artikel Ilmiah
1. Pengertian Artikel Ilmiah
Pemikiran cerdas seseorang ataupun hasil penelitian yang telah
dilakukan akan lebih bermanfaat apabila dituangkan ke dalam suatu karya
ilmiah baik itu berupa artikel populer ataupun artikel jurnal. Dengan karya lmiah
tersebut masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai bahan rujukan untuk
berbagai kepentingan dan kegiatan ilmiah seperti seminar ataupun penelitian.
Artikel adalah salah satu jenis karya naskah atau karya tulis dalam
bentuk prosa yang berisi pikiran atau gagasan penulisnya (Sitepu, 2016).
Artikel merupakan suatu teks yang membahas suatu topik tertentu sepertsi
sosial, ekonomi, agama, politik hukum, bahasa, sastra atau budaya. Artikel
membahas sejumlah fakta dan opini yang dapat memperluas pemahaman
pembacanya secara utuh. Kosasih dan Kurniawan (2019;36) menyatakan
bahwa artikel ialah tulisan lengkap yang membahas topik tertentu secara
aktual, lugas: menyampaikan ide-ide atau fakta-fakta secara objektif. Artikel
bersifat informatif dan faktual yang mengungkapkan informasi berdasarkan
suatu penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan. Artikel yang ditulis
berdasarkan hasil penelitian disebut dengan artikel ilmiah atau artikel jurnal.
Artikel ilmiah adalah tulisan tentang hasil penelitian yang dipublikasikan
dalam jurnal ilmiah. Artikel ilmiah ditulis berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah,
dicetak, diterbitkan dan disebarluaskan khusunya di kalangan masyarakat
ilmiah. Artikel ilmiah merupakan salah satu jenis naskah ilmiah. Isi artikel ilmiah
dapat dipergunakan oleh peminat di bidang yang sama sebagai rujukan untuk
penelitian lebih lanjut berkaitan dengan masalah, metode, hasil atau
rekomendasi penelitian (Sitepu, 2016).
Tujuan artikel ilmiah adalah mengkomunikasikan kebaruan temuan
ilmiah dari sebuah penelitian pada suatu bidang ilmu. Oleh karena itu, artikel
ilmiah disajikan menggunakan bahasa yang lugas dan efektif dengan kata-kata
yang sarat makna dengan jelas, sederhana, dan terstruktur baik, sehingga
mampu mengomunikasikan temuan baru penelitian. Artikel ilmiah berfungsi
sebagai sarana untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran di dalam ilmu
1
tertentu. Temuan, pemikiran, teori, dan sejenisnya dapat menjadi sumber ilmu
pengetahuan baru bagi masyarakat. Seseorang ataupun kelompok masyarakat
tertentu akan lebih luas wawasan dan keilmuannya dengan membaca berbagai
artikel ilmiah yang merupakan sarana diseminasi.
2. Isi Artikel Ilmiah
Artikel ilmiah berisi informasi baru dan penting tentang suatu
kajian/penelitian secara komprehensif, sistematis, dan koheren. Dalam artikel
dikemukakan masalah yang diteliti, tujuan penelitian, alasan dan mafaat
penelitian, prosedur pengumpulan dan pengolahan data, hasil serta analisis,
dan simpulan penelitian.
3. Ciri-ciri Artikel Ilmiah
Ciri-ciri artikel ilmiah dapat dilihat dari kaidah yang dipergunakan dalam
penulisannya. Adapun ciri-ciri artikel ilmiah sebagai berikut:
1. berfokus pada masalah tertentu;
2. merupakan kajian objektif berdasarkan fakta;
3. disajikan secara sistematis;
4. dapat dipertanggungjwabkan dari segi keilmuan;
5. ditulis untuk diterbitkan;
6. panjangnya antara 4000-15000 kata.
4. Kaidah Kebahasaan Artikel Ilmiah
Salah satu ciri karya ilmiah adalah bersifat objektif. Adapun objektivitas
suatu karya ilmiah antara lain ditandai dengan pilihan katanya yang bersifat
impersonal. Hal ini berbeda dengan teks lain yang bersifat nonilmiah, misalnya
bahasa yang digunakan dalam karya sastra (cerpen/novel). Kata ganti yang
digunakan dalam karya ilmiah harus bersifat umum, misalnya menggunakan
kata ganti penulis atau peneliti atau justru menggunakan keknik pasivasi
sehingga kata ganti dalam penulisannya tidak dicantumkan.
Karya ilmiah memerlukan kelugasan dalam pembahasannya. Karya
ilmiah menghindari penggunaan kata atau kalimat yang bermakna ganda.
Bahasa dalam artikel ilmiah mensyaratkan ragam yang memberikan keajegan
dan kepastian makna. Ragam bahasa yang digunakan dalam artikel ilmiah
harus lugas (bermaknan denotative). Makna yang terkandung dalam kata-
2
katanya harus diungkapkan secara eksplisit guna mencegah timbunya
pemaknaan ganda. Kata bakupun digunakan dalam artikel ilmiah untuk
menunjukkan bahwa artikel ilmiah tersebut bersifat formal. Seain kata baku,
istilah pun akan banyak muncul berkaitan dengan isi sebuah artikel ilmiah.
Dalam artikel ilmiah banyak digunakan kata kerja mental seperti diduga,
dianalisis, dipahami dan sebagainya. Kata-kata tersebut digunakan terkait
dengan kepentingan deskripsi data beserta analisisnya.
5. Struktur Artikel Ilmiah
Secara umum artikel ilmiah terdiri atas tiga bagian utama yaitu bagian
awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal terdiri atas: judul, identitas
penulis, abstrak dan kata kunci. Bagian isi terdiri atas: pendahuluan, metode,
hasil, pembahasan dan simpulan. Bagian akhir terdiri atas daftar pustaka.
a. Bagian Awal
1) Judul
a) Membuat Judul Artikel Ilmiah
Judul artikel ilmiah dapat dibuat mengacu pada judul laporan penelitian,
tetapi tidak harus persis sama. Dalam artikel ilmiah, judul dapat dimodivikasi
dengan mengangkat topik yang paling penting dan inovatif yang terdapat pada
hasil penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat judul artikel
ilmiah adalah sebagai berikut.
(1) Judul harus mencerminkan isi tulisan.
(2) Judul harus singkat, jelas, padat, dan spesifik.
(3) Judul harus mudah dimengerti.
(4) Judul harus menarik motivasi pembaca.
(5) Judul dapat berbentuk pernyataan, atau pertanyaan.
(6) Judul dapat menggunakan subjudul.
(7) Judul harus memuat kata kunci.
(8) Judul berbentuk frase, dan ditulis seringkas mungkin.
b) Hal-hal yang Perlu Dihindari dalam Merumuskan Judul
Dalam merumuskan judul artikel ilmiah, sebaiknya hindari hal-hal berikut.
(1) Kata-kata yang mengurangi bobot tulisan.
(2) Kata-kata yang tidak perlu.
3
(3) Singkatan atau akronim yang belum diketahui secara umum atau
bermakna ganda.
(4) Rumusan judul yang terlalu umum.
(5) Panjang judul lebih dari 14 kata.
b. Identitas Penulis
Di bawah judul biasanya dicantumkan identitas penulis. Identitas penulis
terdiri atas nama penulis, alamat surat elektronik (email), dan nama instansi.
Cara menuliskan identitas penulis artikel ilmiah sebagai berikut.
a) Nama Penulis
Penulisan nama penulis mengikuti kriteria sebagai berikut:
(1) nama penulis ditulis secara lengkap;
(2) tanpa mencantumkan gelar atau jabatan;
(3) jika penulis lebih dari satu orang, maka semua nama penulis
dicantumkan.
b) Alamat Surat Elektronik (email)
Penulisan alamat surat elektronik (email) mengikuti kriteria sebagai berikut:
(1) alamat email ditulis secara lengkap; dan
(2) apabila penulis terdiri atas lebih dari satu orang, maka alamat surat
elektronik dicantumkan masing-masing.
c) Nama Instansi
Penulisan nama instansi atau nama lembaga/sekolah dituliskan tanpa
alamat.
2) Abstrak
Abstrak adalah ringkasan singkat isi artikel ilmiah. Abstrak disajikan sesudah
identitas penulis dan sebelum bagian isi artikel ilmiah. Abstrak memiliki
beberapa fungsi. Adapun fungsi abstrak sebagai berikut.
(a) Abstrak berfungsi untuk memberikan gambaran umum tentang isi artikel.
(b) Abstrak berfungsi untuk menggugah rasa ingin tahu pembaca atas isi
artikel.
(c) Abstrak berfungsi untuk memotivasi pembaca untuk membaca artikel
secara keseluruhan.
Abstrak memberikan informasi singkat mengenai hal-hal berikut:
(a) latar belakang,
4
(b) masalah,
(c) metode penelitian,
(d) kesimpulan, dan
(e) saran.
Dalam menulis abstrak sebaiknya memperhatikan beberapa ketentuan
berikut.
(a) Abstrak ditulis dalam satu paragraf.
(b) Panjang paragraf abstrak berkisar antara 150-250 kata.
(c) Kalimat-kalimat dalam paragraf disusun secara terintegrasi/koheren.
(d) Abstrak diakhiri dengan tiga kata kunci (tiga frase).
Hal-hal yang perlu dihindari dalam menulis abstrak, sebagai berikut.
(a) Abstrak memuat terlalu banyak latar belakang penelitian.
(b) Masalah penelitian tidak tercantum atau tidak jelas.
(c) Tujuan penelitian dalam abstrak tidak jelas.
(d) Metode penelitian dalam abstrak terlalu rinci.
(e) Abstrak memuat rumus dan angka-angka statistik.
(f) Hasil penelitian dalam abstrak tidak jelas.
(g) Abstrak memuat singkatan atau akroim yang tidak umum.
3) Kata Kunci
Kata kunci dapat dituliskan dengan memedomai kriteria berikut ini.
(a) Kata kunci dapat berbentuk kata atau gabungan kata (frasa).
(b) Kata kunci merupakan konsep-konsep penting yang digunakan dalam
artikel.
(c) Kata kunci berfungsi melengkapi informasi dalam abstrak.
(d) Kata kunci dipilih dari konsep/teori yang digunakan.
c. Bagian Isi
1) Pendahuluan
Pendahuluan ditulis dengan bahasa yang jelas, lugas, dan komunikatif.
Isi antarparagraf saling berkaitan dan secara keseluruhan koheren.
5
a) Rumusan Masalah
Bagian ini mencakup latar belakang masalah, identifikasi masalah,
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat
atau kegunaan penelitian.
(1) Latar Belakang Masalah
Uraian pada latar belakang masalah dimaksudkan untuk menjelaskan
alasan timbulnya masalah dan pentingnya masalah tersebut untuk dibahas,
baik itu dari segi pengembangan ilmu, kemasyarakata, ataupun dalam kaitan
dengan kehidupan pada umumnya.
(2) Perumusan masalah
Perumusan masalah adalah persoalan yang dianggap membingungkan
oleh penulis, yang pada umumnya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
mengapa dan bagaimana. Berangkat adari pernyataan tersebut, penulis
menganggap perlu untuk melakukan langkah-langkah pemecahan melalui
penelitian. Masalah itu pula yang nanti mejadi focus dalam pembahasan di
dalam artikel ilmiah.
(3) Tujuan penulisan karya ilmiah
Tujuan penulisan merupakan pernyataan mengenai fokus pembahasan
di dalam penulisan artikel ilmiah tersebut, berdasarkan masalah yang telah
dirumuskan. Dengan demikian, tujuan tersebut harus sesuai dengan masalah
yang dirumuskan pada artikel ilmiah tersebut.
(4) Manfaat
Manfaat dalam artikel ilmiah berisi pemaparan dampak positif yang
muncul setelah dilakukan penelitian. Pembaca perlu diyakinkan pula tentang
manfaat atau kegunaan dari penulisan artikel ilmiah tersebut, misalnya untuk
pengembangan suatu bidang ilmu ataupun untuk pihak atau lembaga lembaga
tertentu.
Hal-hal yang perlu dihindari dalam menulis pendahuluan artikel ilmiah,
sebagai berikut.
(a) Latar belakang terlalu banyak dan kurang informasi.
(b) Rumusan masalah terlalu umum dan kurang jelas.
(c) Memuat kajian teoretis dengan banyak kutipan langsung.
6
(d) Tidak mengaitkan dengan penelitian yang relevan.
(e) Tidak menjelaskan alasan dan manfaat penelitian.
(f) Gagasan antarparagraf tidak koheren.
b) Landasan Teori
Landasan teori atau disebut juga dengan kajian pustaka/kerangka
teoretis, berisi tentang teori teori yang relevan dengan topik penelitian. Dalam
menuangkan teori, dilakukan pengkajian terhadap penelitian-penelitian yang
telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Hal ini penting dilakukan guna
menambah dan memperoleh wawasan atau pengetahuan baru yang telah ada
sebelumnya. Disamping untuk menghindari duplikasi yang sia-sia, langkah ini
juga akan memberikan perspektif yang lebih jelas mengenai hakikat dan
kegunaan penelitiannya tersebut dalam perkembangan ilmu secara
keseluruhan.
Landasan teori biasanya bersifat opsional (pilihan) tergantung template
masing-masing jurnal. Ada jurnal yang mencantumkan landasan teori sebagai
subjudul tersendiri dan ada juga jurnal yang mengintegrasikan landasan teori
pada bagian pendahuluan. Jika landasan terintegrasi pada bagian
pendahuluan maka hindari pembahasan teori seperti menjelaskan kajian
teoretis pada laporan asli penelitian. Akan tetapi teori atau konsep dasar yang
dipakai dalam kerangka berpikir dapat dituliskan dalam bentuk paragraf dengan
bahasa sendiri dan bukan merupakan kutipan langsung.
2) Metode
Metode penelitian merupakan prosedur atau tahap-tahap pemerolehan
data dan pengolahannya sampai pada pelaporannya. Metode penelitian
dituliskan dalam bentuk paragraf. Adapun hal-hal yang perlu dituliskan dalam
metode penelitian, sebagai berikut:
a) tempat dan waktu penelitian,
b) jenis penelitian,
c) sumber data (populasi jika menggunakan),
d) jenis data,
e) teknik pengambilan sampel (jika menggunakan),
f) instrumen pengumpulan data, dan
7
g) teknik analisis data.
Hal-hal yang perlu dihindari dalam menuliskan metode penelitian dalam artikel
ilmiah, sebagai berikut.
a) Terlalu banyak atau kurang informasi tentang metode yang dipergunakan.
b) Metode memuat rujukan/kutipan teori.
c) Metode memuat informasi yang telah disebutkan pada pendahuluan.
d) Metode memuat data hasil penelitian.
e) Paragraf dalam metode tidak koheren.
3) Hasil dan Pembahasan
a) Hasil
Hasil penelitian berisi hasil pengolahan data yang didasarkan pada
pertanyaan penelitian. Uraian pada hasil dapat dilengkapi dengan tabel, grafik,
atau diagram untuk mendukung hasil penelitian. Pada bagian ini belum
terdapat analisis penulis.
Data yang disajikan pada hasil hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut.
a) Data yang disajikan relevan dengan inti masalah.
b) Data yang disajikan bersifat tkurat.
c) Data yang disajikan bukan data mentah.
d) Data yang disajikan merupakan data hasil pengolahan data.
e) Data yang disajikan merupakan rekapitulasi.
f) Data yang disajikan harus konsisten.
g) Data yang disajikan logis.
Setiap data yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik, atau diagram
diberi nomor dan judul serta ditempatkan sesuai dengan letak uraian data yang
dijelaskan dalam uraian hasil. Tabel, grafik, atau diagram dibuat secara jelas,
rapi, sederhana, mudah dibaca dan dipahami. Hindari memuat tabel, grafik dan
diagram yang tidak terkait dengan uraian yang dijelaskan dalam tulisan.
Hal-hal yang perlu dihindari dalam menuliskan hasil penelitian, sebagai
berikut.
a) Hasil penelitian tidak menampilkan data.
b) Data yang ditampilkan dalam hasil penelitian terlalu rinci.
c) Data yang ditampilkan dalam hasil penelitian bukan merupakan rekapitulasi
data.
8
d) Data yang ditampilkan bukan merupakan data hasil penelitian.
e) Data yang sama disajikan dalam berbagai tampilan (tabel diagram dan
grafik)
f) Data yang ditampilkan dalam hasil penelitian kurang relevan dengan inti
masalah.
g) Data yang ditampilkan dalam hasil penelitian sudah dibahas.
h) Hasil penelitian memuat informasi metode penelitian.
b) Pembahasan
Pembahasan merupakan analisis penulis/peneliti tentang data yang
dipaparkan sebagai hasil penelitian. Penulis mengaitkan bagaimana ia
menanggapi dan memaknai data yang ada, antara lain dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut.
a) Sejauh mana hasil penelitian menjawab pertanyaan penelitian yang
diajukan?
b) Apakah hipotesis penelitian dibuktikan (untuk penelitian kuantitaif)?
c) Mengapa hasil penelitian demikian?
d) Seharusnya bagaimanakah hasil penelitian yang dihasilkan?
e) Apa perbedaan dan keterkaitan hasil penelitian yang dihasilkan, dengan
penelitian sejenis lainnya?
f) Apa implikasi hasil penelitian?
Pada bagian pembahasan difokuskan pada hal hal berikut.
a) Masalah yang menurut penulis penting dan menarik.
b) Salah satu atau lebih dari pertanyaan penelitian.
c) Tidak semua pertanyaan penelitan pada laporan penelitian dibahas dalam
artikel.
d) Impilkasi hasil penelitian.
e) Apa keterbatasan/kelemahan penelitian?
Uraian pada bagian pembahasan dapat dikembangan oleh penulis
secara lebih luas, lebih tajam, dan lebih kritis daripada uraian pembahasan
pada laporan lengkap penelitian. Untuk memperkuat urain pembahasan,
penulis dapat menggunakan rujukan teori dan hasil penelitian lain. Isi uraian
pembahasan menunjukkan posisi penulis atas hasil penelitian yang telah
dilakukan. Uraian pembahasan ditulis secara kritis, jelas lugas, dan koheren.
9
Penulis dapat pula menyebutkan kelemahan atau keterbatasan penelitian.
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis dalam
menuliskan uraian pada pembahasan, sebagai berikut.
a) Uraian pembahasan terlalu umum dan tidak fokus.
b) Uraian pembahasan tidak kritis.
c) Uraian pembahasan kurang/tidak relevan dengan masalah.
d) Argumen pada uraian pembahasan tidak didukung dengan data atau
rujukan teori.
e) Uraian pembahasan tidak selaras dengan hasil penelitian.
f) Interpretasi penulis pada uraian pembahasan bersifat subjektif.
g) Uraian pembahasan tidak membahas implikasi
h) Uraian pembahasan tidak menyebutkamn keterbatasan penelitian
i) Mencampuradukkan antara uraian pembahasan dan hasil penelitian
sehingga membingungkan.
4) Simpulan
Bagian ini berisi pemaknaan kembali, simpulan atau sintesis dari
keseluruhan unsur penulisan artikel ilmiah, yang meliputi penentuan masalah,
metode serta pembahasannya. Simpulan terdiri atas kesimpulan dan saran
yang merupakan hasil pembahasan sebelumnya dengan tetap mengacu pada
masalah atau pertanyaan penelitian secara konsisten. Hindari kesimpulan dan
saran yang tidak terkait dengan masalah penelitian dan pembahasan
sebelumnya.
Kesimpulan dan saran ditulis dalam bentuk paragraf yang kohenen dan
bukan dalam bentuk butir butir (pointer). Kesimpulan merupakan hasil
pembahasan dari data-data yang diperoleh dalam penelitian. Saran
dirumuskan seoperasional mungkin mengacu kepada kesimpulan. Pada
bagian ini perlu dikemukakan pula berbagai implikasi yang mungkin
ditimbulkan. Implikasi tersebut misalnya berupa pengembangan ilmu
pengetahuan atau kegunaan yang bersifat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan dalam penulisan simpulan,
sebagai berikut.
a) Simpulan berisi data hasil penelitian yang bukan sintesis pembahasan.
b) Simpulan berisi teori yang dijadikan rujukan.
10
c) Simpulan tidak terkait dengan pembahasan.
d) Simpulan tidak terkait dengan masalah atau pertanyaan penelitian.
e) Simpulan terlalu general/umum.
f) Pada simpulan masih terdapat pembahasan.
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan dalam penulisan saran,
sebagai berikut.
a) Saran yang diberikan terlalu umum.
b) Saran yang diberikan tidak terkait dengan simpulan.
c) Saran yang diberikan tidak terkait dengan masalah/hasil penelitian.
d) Saran yang diberikan tidak memunculkan gagasan baru.
e) Saran yang diberikan tidak tepat sasaran.
d. Bagian Akhir
Bagian akhir artikel terdiri atas catatan akhir/endnotes (jika diperlukan)
dan daftar pustaka. Dalam penulisan daftar pustaka, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut.
a) Tidak semua rujukan pada daftar pustaka laporan penelitian dicantumkan
sebagai daftar pustaka artikel ilmiah.
b) Hanya rujukan yang disebut dalam artikel saja yang dicantumkan pada
daftar pustaka.
c) Daftar pustaka yang digunakan sebaiknya menggunakan sumber sumber
terkini.
d) Tata cara penulisan daftar pustaka mengikuti sistem yang diatur pada
petunjuk penulisan (template) masing-masing jurnal.
B. Diksi atau Pilihan Kata dalam Artikel Ilmiah
Seorang penulis harus memperhitungkan ketepatan penggunaan kata.
Ketepatan dalam hal ini adalah menyangkut makna, logika, kesamaan maksud.
Kesesuaian, yaitu kecocokan dengan konteks sosial, artinya apakah kata-kata
yang dipilih atau dipakai dapat diterima oleh masyarakat, pendengar atau
pembaca.
1. Pengertian Diksi atau Pilihan Kata
Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk
menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik
11
dalam dunia karang mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam
memilih kata yang tepat untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari
dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang
pemakaian kata-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan.
Pemilihan kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan
dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di
samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat
penggunaan kata-kata tersebut. Pilihan kata berhubungan dengan tutur dan
tata tulis untuk mewadahi pikiran. Untuk memilih kata dengan tepat, diperlukan
penguasaan kosa kata yang memadai. Kata yang dipilih harus dapat memberi
ketepatan makna karena pada masyarakat tertentu sebah kata sering
mempunyai makna yang baik, dan pada masyarakat lain memberikan makna
yang kurang baik. Penggunaan kata harus disesuaikan dengan norma
kebahasaan suatu kalangan masyarakat. Agar tidak salah, gunakan kamus
sebagai pedoman pilihan kata.
Dengan kata lain diksi atau pilihan kata adalah kata-kata yang dihasilkan
dari proses membedakan secara tepat makna yang ingin disampaikan, dan
kemampuan untuk menemukan bentuk yang cocok dengan situasi dan nilai
rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pembaca atau pendengar. Untuk itu,
diperlukan penguasaan kosa kata yang banyak sehingga tersedia pilihan kata
untuk digunakan.
a. Pilihan Kata dalam Kaidah Sintaksis
Kaidah sisntaksis mensyaratkan pilihan kata yang tepat, saksama dan
lazim. Tepatnya berarti penempatan kata sesuai dengan kelompoknya dalam
sintaksis, saksama berhubungan dengan kesesuaian antara makna dan
pikiran, dan lazim berarti kata yang sudah menjadi milik bahasa Indonsesia.
Contoh: besar, agung, raya, tinggi merupakan kata yang bersamaan
maknanya. Kita dapat membentuk hari raya, hari besar (tepat dan lazim) tetapi
tidak bisa jaksa raya, jaksa besar, (tidak seksama dan tidak lazim)
Kaidah frase dalam pilihan kata yang mensyaratkan adanya
kedayagunaan dan keberterimaan secara logis. Pemakai bahasa mengenal
kata-kata yang seakan-akan benar dan saling bersaing, padahal bisa diteliti
secara logis, kata-kata tersebut ada yang tidak benar.
12
Contoh: bukan terdiri dari
Terdiri atas bukan antara… dengan
antara ….dan bukan disebabkan karena
disebabkan oleh
b. Pilihan Kata dalam Kaidah Makna
Kata adalah lambang objek, pengertian, atau konsep. Kata adalah apa
yang diucapkan atau didengar. Kalau kita membaca atau mendengar sebuah
kata, dalam benak kita akan muncul atau timbul gambaran terhadap kata
tersebut.
1) Sinonim, Homofoni, dan Homograf
Dalam melambangkan konsep dengan kata, idealnya satu konsep untuk
satu kata, hal ini akan mengurangi kesulitan berkomunikasi. Tetapi
kenyataanya tidak demikian akibatnya hubungan kata dan makna sering
menjadi rumit.
a) Sinonim ialah kelompok kata yang mempunyai kesamaan makna. Misalnya:
muka, paras, wajah dan tampang.
b) Homofoni ialah kelompok kata yang mempunyai kesamaan huruf sekaligus
kesamaan bunyi.
Misalnya: buku (kitab) dan buku (bagian dari ruas), bisa (racun) dan bisa
(dapat/mampu).
c) Homograf ialah kelompok kata yang mempunyai kesamaan huruf tetapi
pengucapannya berbeda.
Misalnya: teras (teras rumah) dan teras (inti), sedan (mobil) dan sedan
(tangis).
2) Makna Denotatif
Denotatif ialah makna dalam alam wajar, yaitu makna objektif,
konseptual, sebenranya. Secara eksplisit, denotatif merupakan hasil observasi
dapat diukur, dapat dibatasi. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung
sebuah kata secara objektif. Makna denotatif sering juga disebut makna
konseptual. Bahasa ilmiah, menggunakan makna denotatif dalam
mengungkapkan pikiran. Misalnya Kata makan bermakna memasukkan
sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata makan seperti ini
adalah makna denotative.
13
3) Makna Asosiatif
Makna asosiatif ialah makna yang bukan sebenarnya, misalnya:
a) Makna konotatif ialah makna tambahan, sikap sosial, pribadi. Makna yang
timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan
yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.
Misalnya: wanita dan perempuan secara konseptual memiliki makna
manusia berjenis kelamin betina, tetapi ada yang memaknai bahwa wanita
memiliki makna modern, berpofesi dan aktif jika dibandingkan dengan
perempuan.
b) Makna stilistik adalah makna yang berhubungan dengan lingkungan
pemakai. Misalnya: kediaman, istana (resmi), rumah (umum) pondok
(puitis).
c) Makna afektif berhubungan dengan perasaan lawan bicara.
Misalnya: tutup mulutmu!
d) Makna reflektif, yaitu makna yang lebih terbatas dan pribadi.
Misalnya: kemaluan (bukan berarti mendapatkan malu).
e) Makna kolokatif yaitu makna yang timbul oleh relasi dalam frase.
Misalnya: gadis cantik bukan pria cantik (seharusnya: pria tampan)
f) Makna interpretatif, yaitu adanya perbedaan penafsiran
Mislanya: si pada orang batak dan orang sunda.
4) Perubahan Makna
Dalam perjalananya, kata dapat berubah maknanya. Perubahan dapat
meluas atau menyempit atau berubah sama sekali. Misalnya: kata ibu dulu
hanya mengandung makna perempuan yang melahirkan, sekarang menjadi
kata umum sebagai sebutan perempuan yang sudah dewasa.
5) Jargon/Slang
Jargon ialah kata-kata yang digunakan secara terbatas dalam bidang
ilmu, profesi, atau kelompok. Termasuk dalam jargon ialah sandi, kode rahasia
untuk kalangan tertentu (kedokteran, militer). Misalnya sikon (situasi dan
kondisi), kap. (kapten), dok (dokter), prik (suntik).
14
Slang adalah kata-kata tidak baku yang dibentuk secara khas sebagai
cetusan keinginan untuk tampil beda, jika telah usang akan muncul kata-kata
baru. misalnya asoy, mana tahan, lebay, dsb. Slang juga bermakna sosial,
yaitu: kata yang terdapat di daerah pertemuan dua buah bahasa daerah,
misalnya dialek tegal.
c. Pilihan Kata dalam Kaidah Sosial
Dalam memilih kata, harus disesuaikan dengan lingkungan pemakai,
yang dibedakan atas:
1) Kata abstrak /umum dan kata konkret/khusus. Misalnya: keadaan,
kesehatan, penyakit, penyakit darah, leukemia. Sebaiknya kita
menggunakan kata yang konktret atau khusus.
2) Kata ilmiah dan kata populer, misalnya arang-karbon, bisul-akses.
3) Kata baku dan nonbaku, misalnya ijazah-ijasah, batin-bathin
4) Kata asing dan kata serapan, misalnya option, gap, stem, dan sakalar;
pasien, etalase, akuarium deskripsi dsb.
5) Kata-kata baru misalnya piranti, laik, fail, Internet dsb.
2. Makna Kata dalam Kalimat
Setiap kata mempunyai konteksnya, artinya kata-kata digunakan dalam
hubungan yang lebih luas, misalnya kalimat, paragraph, wacana. Makna kata
pada dasarnya bergantung pada konteks yang mencakup situasi fisik/verbal
pada kondisi suatu kata dipergunakan. Kata yang sama dapat mempunyai
makna berbeda apabila kondisinya berbeda.
Konteks fisik adalah latar belakang geografi, sejarah pada waktu kata
digunakan. Makna kata, akan terlihat jelas jika digunakna dalam kalimat atau
konteks verbalnya, yaitu hubungan kata dengan kata-kata yang
mendahuluinya.
Contoh:
Mereka mengikuti perlombaan jalan cepat (menunjukkan gerak).
Kursus cepat lebih disukai orang desa (menunjukkan jangka waktu).
3. Fungsi Diksi atau Pilihan Kata
a) Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
15
b) Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat, misalnya sangat resmi,
resmi,dan tidak resmi sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
c) Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
d) Menciptakan suasana yang tepat.
e) Mencegah perbedaan penafsiran.
f) Mencegah salah pemahaman.
g) Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.
4. Kriteria Ketepatan Diksi atau Pilihan Kata
Ketepatan pilihan kata dapat diukur berdasarkan tiga kriteria, yaitu tepat
konsep, tepat nilai rasa, dan tepat konteks. Perhatikanlah uraian ketiga kriteria
tersebut berikut ini.
a. Tepat Konsep
Kata yang tepat konsep adalah kata yang dapat mengungkapkan
pengertian suatu objek secara tepat. Perhatikanlah contoh di bawah ini!
- Setiap akhir tahun, penjual pakaian selalu memberikan garasi kepada
pembeli.
- Aku masih sanksi akan kemampuanmu memanjat pohon itu.
- Para pelamar harus membawa kartu ujian yang syah ketika ujian.
Tiga kalimat di atas tidak efektif karena mengandung pilihan kata yang
tidak tepat konsep. Perhatikanlah kata yang dicetak tebal! Garasi mengandung
makna tempat menyimpan mobil. Sanksi mengandung makna tanggungan
(tindakan, hukuman). Syah mengandung makna raja.
Kalimat di atas dapat diperbaiki dengan mengganti kata yang dicetak
tebal. Perhatikan perbaikannya di bawah ini!
- Setiap akhir tahun, penjual pakaian selalu memberikan garansi kepada
pembeli.
- Aku masih sangsi akan kemampuanmu memanjat pohon itu.
- Para pelamar harus membawa kartu ujian yang sah ketika ujian.
Kata garansi mengandung makna memberi jaminan atau tanggungan.
Sangsi mengandung makna ragu-ragu atau bimbang. Sah mengandung makna
asli atau diakui kebenarannya. Untuk itu, hati-hati dalam memilih kata.
Mengapa? Karena kata yang tidak tepat konsep akan menghasilkan makna
16
yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kuasailah makna kata terlebih
dahulu! Selanjutnya, pilih dan gunakanlah kata yang tepat konsep!
b. Tepat Nilai Rasa
Kata yang tepat nilai rasa adalah kata yang dapat mengungkapkan
perasaan penutur atau penulis secara tepat. Nilai rasa berkaitan dengan rasa
sopan, halus, terhormat, bersih, kasar, nista, jorok, dan lain-lain. Ketepatan nilai
rasa berkaitan dengan sopan santun. Perhatikanlah contoh di bawah ini!
- Bekas kepala sekolah kami tinggal di Jakarta sekarang.
- Raja tewas di rumahnya karena penyakit jantung.
Kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas tidak bernilai rasa sopan,
halus dan terhormat. Mengapa? Karena kata tersebut tidak tepat
penggunaannya untuk kalimat di atas. Kata bekas bernilai rasa kurang sopan
atau tidak santun. Penggunaan kata tersebut tidak cocok dipasangkan pada
gabungan kata kepala sekolah. Kata bekas cocok untuk mengungkapkan
barang-barang yang sudah usang atau tidak terpakai, misalnya bekas tempat
pembuangan sampah, dan sebagainya. Bekas artinya tanda yang tertinggal
atau tersisa atau sudah pernah dipakai. Sebaiknya, kata bekas pada kalimat di
atas diganti dengan kata mantan. Kata mantan berarti bekas pemangku jabatan
atau kedudukuna. Jadi, kata tersebut cocok dan bernilai rasa lebih sopan, halus
dan terhormat jika digunakan untuk mengganti kata bekas.
Kata tewas pada kalimat kedua juga memiliki nilai rasa kurang santun
karena kata tersebut tidak sesuai penggunaannya pada konteks kalimat
tersebut. Kata tewas bermakna mati dalam perang atau bencana. Sebaiknya,
kata tewas diganti dengan kata wafat. Kata wafat bernilai rasa lebih sopan,
halus dan terhormat, serta cocok untuk kalimat kedua di atas. Wafat berarti
meninggal dunia (biasanya untuk raja, orang-orang besar ternama).
Perbaikan:
- Mantan kepala sekolah kami tinggal di jakarta sekarang.
- Raja wafat di rumahnya karena penyakit jantung.
c. Tepat Konteks
Kata yang tepat konteks adalah kata yang sesuai dengan konteks
pemakaian. Konteks pemakaian ini berkaitan dengan pertanyaan di bawah ini.
17
- Siapa yang membaca tulisan? - Apa topiknya?
- Di mana tempatnya? - Apa tujuannya?
- Bagaimana suasananya? - Apa ragam bahasanya?
Ketepatan konteks dapat diukur berdasarkan kesesuaian ragam bidang
kegiatan, ragam sarana yang digunakan, dan tingkat keresmian bahasa yang
digunakan. Berdasarkan ragam bidang kegiatan, ragam bahasa
dikelompokkan atas ragam sastra ilmiah, dan komunikasi sehari-hari.
Berdasarkan sarananya, ragam bahasa dapat dikelompokkan menjadi ragam
lisan dan tulisan. Berdasarkan tingkat keresmiannya, ragam bahasa dapat
dikelompokkan menjadi ragam resmi dan tidak resmi. Perhatikanlah contoh di
bawah ini!
- Penduduk yang bermukim di lereng gunung diharap tetap waspada
terhadap longsor karena hujan turun yang mengguyur bumi tiada
ampun.
Kalimat dalam ragam ilmiah harus bermakna lugas dan akurat. Klausa
hujan turun yang mengguyur bumi tiada ampun tidak cocok untuk ragam ilmiah
karena menggunakan gaya bahasa personifikasi. Kalimat yang dicetak tebal di
atas cocok untuk konteks ragam sastra. Untuk ragam ilmiah tidak sesuai.
Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi kalimat yang tepat konteks.
Klausa hujan turun yang mengguyur bumi tiada ampun dapat diganti menjadi
hujan lebat. Perhatikan perbaikan kalimat berikut ini!
- Penduduk yang bermukim di lereng gunung diharap tetap waspada
terhadap longsor karena hujan lebat.
5. Kompetensi yang Harus Dikuasai Penulis
Untuk mewujudkan pilihan kata yang tepat konsep, tepat nilai rasa, dan
tepat konteks, seorang penulis diharapkan memiliki kemampuan untuk
membedakan kata dan maknanya. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan
sebagai syarat untuk mewujudkannya dijelaskan berikut ini.
a. Membedakan dengan Cermat Kata-kata yang Hampir Bersinonim
Kata-kata yang bersinonim harus dipilih oleh penulis untuk menghindari
pemaknaan berbeda oleh pembaca. Beberapa contoh kata yang hampir
bersinonim, yaitu: kata mati, meninggal dunia, wafat, tewas, menghembuskan
nafas terakhir, mampus, dan sebagainya.
18
b. Membedakan Kata-kata yang Ejaannya Mirip
Kata-kata yang memiliki kemiripan ejaan dalam bahasa Indonesia
sangat banyak. Penulis kadang-kadang kurang teliti melihat kemiripan ejaan
tersebut. Nah, penyunting harus mengetahui kata-kata yang ejaannya mirip
ketika memerbaiki tulisan. Berikut ini dibuat daftar kata-kata yang ejaannya
mirip.
Kata-kata yang ejaannya mirip dalam bahasa Indonesia banyak. Hal itu
sering membuat para penulis kurang teliti memilih kata yang sesuai dengan
tulisannya. Untuk itu, seorang penyunting harus mampu membedakan
penggunaan kata yang ejaannya mirip. Perhatikanlah daftar kata-kata yang
ejaannya mirip di bawah ini!
Kata-kata yang Ejaan Mirip
bahwa bawa Bawah
interferensi inferensi interfensi
preposisi proposisi proporsional
salak salah salat
menyaring menjaring menyalin
koperasi korporasi
sah syah
kelapa kepala
akan makan
kedelai keledai
lajur jalur
pengamalan pengalaman
penertiban penerbitan
c. Menghindari Kata-kata Ciptaan Sendiri
Menciptakan kata-kata sendiri dapat membuat pembaca kebingungan.
Mengapa? Karena arti kata yang Anda ciptakan tidak dimengerti pembaca.
Biasanya, yang sering melakukan hal ini adalah anak-anak muda pada
kelompok tertentu. Jika Anda menemukan hal tersebut dalam tulisan, ubahlah
kata tersebut, atau tanyakanlah arti kata itu! Kemudian, gantilah dengan kata
yang baku! Contoh kata-kata ciptaan sendiri: masbuloh, lalo, cumungutt, dan
sebagainya.
d. Mengetahui Pasangan Kata (Kolokasi) yang Tepat
Pasangan kata (kolokasi) dapat diartikan dua kata dipasangkan secara
khas dan sudah menjadi kebiasaan atau sudah lazim digunakan. Pasangan
kata dikatakan khas karena dua kata yang dipasangkan tersebut sudah tetap
19
dan padu. Penggunaan pasangan kata sering kurang tepat dalam kegiatan
menulis. Untuk itu, penyunting harus mengetahui pasangan kata yang tepat
dan sudah dianggap baku secara konvensional.
Perhatikanlah contoh di bawah ini!
gadis cantik tidak ada gadis tampan
pria ganteng/tampan tidak ada pria cantik
benang putus tidak ada benang patah
e. Membedakan secara Cermat Kata Umum dan Khusus
Kata umum adalah kata-kata yang perlu dijabarkan lebih lanjut dengan
kata-kata yang sifatnya khusus untuk mendapatkan perincian lebih baik. Kata-
kata umum tidak tepat untuk mendeskripsikan sesuatu, tetapi lebih tepat
digunakan untuk mengemukakan alasan dan persuasi (ajakan). Biasanya
untuk mengungkapkan gagasan yang bersifat umum.
Kata khusus adalah kata yang maknanya lebih khusus. Kata khusus
merupakan bagian perincian kata umum. Kata khusus lebih sempit dan lebih
tegas maknanya daripada kata umum.
Contoh:
- Adik saya menyukai bunga.
- Adik saya menyukai mawar.
Jika dilihat dari kejelasan makna, kata bunga maknanya agak kabur
karena sifatnya umum. Orang masih bisa bertanya bunga apa? Sedangkan
kata mawar lebih jelas maknanya menunjuk pada bunga mawar. Meskipun kata
mawar tersebut masih dapat dijabarkan lagi seperti mawar merah, mawar biru,
dan sebagainya. Berikut ini diberikan daftar kata umum dan khusus.
Kata umum Kata khusus
bunga anggrek, mawar, kamboja, dsb.
ikan gurami, lele, tongkol, paus, bandeng, dsb.
buku Kitab, kamus
pemberian sedekah
bersenang- berpesta, jalan-jalan, dsb
senang mangga, pisang, kelapa, mahoni, dsb
pohon
f. Menghindari Kata-Kata Mubazir
Dalam kegiatan menulis, penggunaan kata-kata yang berlebihan
20
(mubazir) sering terjadi. Untuk itu, sangat penting Anda ketahui contoh
penggunaan kata-kata yang dianggap mubazir. Satu hal yang perlu Anda ingat
adalah perbaikilah kata-kata mubazir ketika menulis sebuah teks!
Perhatikanlah daftar kata mubazir dan kata tidak mubazir berikut ini!
Kata-kata Mubazir dan Tidak Mubazir
Kata Mubazir Kata Tidak Mubazir Kata Mubazir Kata Tidak
Mubazir
- sangat sempurna - sempurna - maju ke depan
- disebabkan karena - disebabkan - turun ke bawah - maju
- kurang lebih - sekitar - naik ke atas - turun
- anak daripada polisi - anak polisi - sejak dari - naik
- mundur ke belakang - ke belakang - adalah merupakan - sejak
- agar supaya - agar atau supaya - adalah atau
(pilih salah satu) merupakan
(pilih salah
satu)
g. Membedakan Kata Baku dan Tidak Baku
Penulis harus memahami dan menguasai seluk-beluk kebakuan kata-
kata bahasa Indonesia. Kata-kata baku digunakan untuk menjadikan bahasa
Indonesia lebih berharga. Berikut ini disajikan beberapa contoh kata baku dan
tidak baku dalam bahasa Indonesia.
Kata Baku Kata Tidak Baku Kata Baku Kata Tidak Baku
Aktivitas Aktifitas memercayakan mempercayakan
analisis analisa/analisator nasihat nasehat
akta akte negeri negri
apotek apotik objek obyek
bus bis paham faham
cabai cabe peduli perduli
cerita ceritera pikir fikir
dahulu dulu provinsi propinsi
desain disain rezeki rejeki
diagnosis diagnosa roh ruh
esai esei rohani ruhani
familiar familier sekadar sekedar
formal formil silakan silahkan
fotokopi photokopi seluler selular
gua goa tampak nampak
hipotesis hipotesa teknologi tehnologi
ideologi idiologi telantar terlantar
izin ijin terampil trampil
jumat jum’at voucer voucher
junior yunior yodium jodium
legalisasi legalisir zaman jaman
h. Membedakan Ungkapan Idiomatik
Ungkapan idiomatik adalah ungkapan dalam bahasa Indonesia berupa
21
gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat
ditafsirkan dari makna unsur pembentuknya. Unsur-unsur yang membentuk
idiom sudah tepat dan senyawa. Oleh karena itu, unsur-unsur tersebut tidak
boleh dikurangi, ditambah, atau dipertukarkan. Perhatikan contoh berikut ini!
Ungkapan Idiomatik
Pasangan
Pasangan Kata Pasangan Kata Pasangan Kata Kata
yang Dianjurkan
yang Tidak dianjurkan yang Dianjurkan yang Tidak
berbicara tentang
berdasarkan pada dianjurkan
berbicara akan gemar akan gemar dari
berdasarkan atas gemar kepada gemar oleh
berdasarkan kepada berdasarkan tentang hormat akan hormat oleh
insaf oleh
bertanggung jawab atasbertanggung jawab oleh insaf akan percaya dari
cinta oleh
berhubung dengan berhubung tentang percaya akan
bertemu dengan bertemu akan cinta akan
berkenaan dengan berkenaan akan selaras dengan selaras akan
bermanfaat bagi bermanfaat akan
terdiri atas terdiri dari
i. Membedakan dengan Cermat Kata Penghubung
Kata penghubung adalah kata yang berfungsi menghubungkan
antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf. Di dalam bahasa Indonesia, kata
penghubung antarklausa terletak di tengah-tengah kalimat. Kata penghubung
antarkalimat terletak di awal kalimat, dan kata penghubung antarparagraf
terletak di awal paragraf. Perhatikanlah contoh penggunaan kata penghubung
tersebut di bawah ini!
(a) Kata penghubung antarklausa berfungsi menghubungkan unsur-unsur
pembentuk kalimat. Dengan kata lain, kata penghubung tersebut hanya
digunakan dalam satu kalimat, bukan untuk menghubungkan kalimat atau
paragraf yang satu dengan yang lain. Berikut ini disajikan beberapa kata
penghubung antarklausa dan contoh dalam kalimat.
22
Kata Penghubung Antarklausa
Kata penghubung Contoh
antarklausa
Mereka berseragam merah supaya
agar/supaya kalau berbeda dengan yang lain.
hingga kecuali Kami menunggu hingga larut malam.
bahwa lantas Dia mengatakan bahwa penyakit
menular sudah meresahkan warga.
asal/asalkan tetapi
Pak Marto tetap bekerja meski dia
jika padahal sakit-sakitan.
serta meski
(b) Kata penghubung antarkalimat berfungsi menghubungkan kalimat yang
satu dengan kalimat yang lain. Kata penghubung ini juga dapat digunakan
sebagai penghubung antarparagraf. Untuk lebih jelas, perhatikanlah
beberapa contoh kata penghubung antarkalimat di bawah ini!
Kata Penghubung Antarkalimat
akan tetapi, ... oleh karena itu, ... selain itu, ...
akhirnya, ... oleh sebab itu, ... selanjutnya, ...
akibatnya, ... pada dasarnya, ... sementara itu, ...
berkaitan dengan itu, ... pada hakikatnya, ... sesudah itu, ...
dalam hal ini, ... pada prinsipnya, ... setelah itu, ...
dengan demikian, ... sebagai kesimpulan, ... sesungguhnya, ...
dengan kata lain, ... sebaliknya, ... sungguhpun begitu, ...
jadi, ... sesudah itu, ... sungguhpun demikian,
kemudian, ... sebelumnya, ... ...
meskipun demikian, ... sebenarnya, ... tambahan lagi, ...
namun, ... sehubungan dengan itu, ... untuk itu, ...
Contoh dalam Kalimat
- Saudara tunggu di sini dan baca majalah ini. Sementara itu, saya selesaikan
dulu pekerjaan saya.
- Kompetisi debat antarperguruan tinggi sangat meriah. Akan tetapi, dibalik
kemeriahan itu ada yang sering kehilangan barang dan dompet.
- Sekolah sampai saat ini banyak yang belum memiliki perpustakaan. Akhirnya,
mahasiswa beralih ke bacaan berupa artikel jurnal ilmiah.
23
C. Pengembangan Kalimat Efektif dalam Artikel Ilmiah
1. Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki potensi untuk
menyampaikan pesan, ide, gagasan, atau informasi secara utuh, jelas dan
tepat, sehingga pendengar atau pembaca dapat memahami maksud yang
diungkapkan oleh pembicara atau penulis. Kalimat efektif mampu
menimbulkan kesamaan gagasan antara pembicara atau penulis dengan
pendengar atau pembaca. Kalimat efektif tidak bertele-tele, mengungkapkan
gagasan secara teratur dan logis.
Secara garis besar, ada tiga hal yang perlu diperhatikan berhubungan
dengan keefektifan kalimat, yaitu penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar, penggunaan bahasa Indonesia baku, dan penggunaan ejaan yang
disempurnakan. Ketiga hal itu tidak dapat dipisahkan ketika membuat kalimat
efektif. Jika salah satu diabaikan, maka akan menimbulkan ketidakefektifan
kalimat.
2. Ciri-ciri Kalimat Efektif
Ciri-ciri kalimat efektif adalah gramatikal, sesuai dengan tuntutan
bahasa baku, jelas, ringkas dan lugas, adanya hubungan yang baik (koherensi)
antara satu kalimat dengan kalimat yang lain, kalimat bervariasi, dan tidak ada
unsur yang tidak berfungsi. Untuk lebih jelas, perhatikanlah penjelasan di
bawah ini.
a. Gramatikal
Gramatikal, artinya kalimat ditinjau dari aspek tata bahasa. Kalimat yang
disusun sesuai dengan pola kalimat bahasa Indonesia yang benar. Unsur
subjek dan predikat harus tampak. Kehadiran unsur pelengkap disesuaikan
dengan keperluan. Selain itu, boleh menggunakan pola kalimat majemuk asal
tetap terpelihara sistem gramatikalnya.
b. Sesuai dengan Tuntutan Bahasa Baku
Sesuai dengan tuntutan bahasa baku, artinya kalimat ditulis dengan
24
memerhatikan cara pemakaian ejaan yang tepat, menggunakan kata atau
istilah yang baku atau sudah umum digunakan, sesuai dengan kaidah tata
bahasa.
c. Jelas
Jelas, artinya kalimat mudah ditangkap maksudnya. Maksud yang
diterima pembaca sama dengan maksud yang diinginkan penulis.
d. Lugas
Lugas, artinya kalimat tidak berbelit-belit. Dengan menggunakan kata-
kata yang sedikit, tetapi dapat mengungkapkan banyak gagasan.
e. Adanya Hubungan yang Baik (koherensi)
Adanya hubungan yang baik (koherensi), artinya kalimat-kalimat yang
digunakan memperlihatkan suatu hubungan kesatuan dengan kalimat yang
lain.
f. Kalimat Tidak Kaku
Kalimat tidak kaku, artinya penggunaan kalimat divariasikan, baik dari
segi pilihan kata, urutan tata kalimat, bentuk kalimat, gaya bahasa,
perumpamaan dan perbandingan, serta panjang pendek kalimat.
g. Tidak Ada Unsur yang Tidak Berfungsi
Tidak ada unsur yang tidak berfungsi, artinya setiap kata yang
digunakan ada fungsinya, setiap kalimat yang digunakan mempunyai fungsi
tertentu.
3. Syarat Kalimat Efektif
a. Penekanan
Penekanan adalah upaya memberi tekanan pada kalimat yang
merupakan upaya menonjolkan atau mementingkan pikiran pokok. Dalam
bahasa lisan, sering digunakan intonasi atau acting, sedangkan dalam bahasa
tulis dapat digunakan dengan cara alih bangun, pengulangan kata,
pertentangan, dan urutan logis.
25
1) Alih Bangun
Alih bangun adalah pemindahan unsur kalimat biasanya kata yang
berada di awal kalimat merupakan kata yang dipentingkan.
Contoh:
- Pancasila harus kita amalkan dengan penuh tanggung jawab.
- Kita harus mengamalkan pancasila dengan penuh tanggung jawab.
- Pengamalan pancasila harus kita laksanakan dengan penuh tanggung
jawab
2) Pengulangan Kata
Pengulangan kata dalam sebuah kalimat kadang-kadang diperlukan
untuk memberikan penekanan pada bagian ujaran yang dianggap penting.
Pengulangan kata ini dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas, dan
jika dihilangkan, kalimat akan menjadi kabur maknanya.
Contoh:
- Jurusan teknik di Politeknik Universitas Indonesia ialah teknik mesin, teknik,
sipil dan teknik elektro.
Bandingkan dengan
- Jurusan teknik di Politeknik Universitas Indonesia ialah teknik mesin, sipil
dan elektro.
Penggunaan kata ulang yang tidak efektif
- Bertamu ke rumah orang jangan terlalu lama karena kalau sekiranya hanya
sekedar bertamu saja, paling lama kita bertamu kira-kira setengah jam saja.
3) Pertentangan
Pertentangan dapat digunakan untuk memberi tekanan pada pikiran
dengan cara menggunakan kata yang tidak langsung pada pikiran utama.
Contoh:
- Kekuasaan presiden tidak tak terbatas.
- Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
- Perusahaan itu tidak menghendaki perbaikan yang bersifat tambal sulam.
Bandingkan
- Kekuasaan presiden terbatas.
- Mencari kekayana halal.
- Perusahaan itu itu menghendaki perbaikan secara menyeluruh.
26
4) Urutan Logis
Urutan logis dalam kalimat berarti mengurutkan secara logis/kronologis
unsur-unsur kalimat yang mengandung urutan kejadian atau proses.
Contoh:
- Telekomunikasi cepat vital/dimaksudkan untuk keamanan, mobilitas,
pengajuan, hipotesis, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan.
- Penelitian dimulai dengan perumusan masalah, pengajuan hipotesis,
pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan.
b. Kesejajaran
Kesejajaran ialah menempatkan gagasan yang sama penting dan
fungsinya ke dalam struktur kebahasaan yang sama. Macam-macam
kesejajaran dijelaskan sebagai berikut:
1) Kesejajaran Bentuk
Bila salah satu gagasan ditempatkan dalam struktur kata benda, maka
kata lain yang berfungsi sama juga dalam struktur kata benda, begitu
seterusnya. Jika kata kerja juga kata kerja, jika frase juga frase.
Perhatikan contoh berikut!
- Penyakit alzhemimer atau pikun adalah satu segi usia tua yang paling
mengerikan dan berbahaya sebab pencegahan dan cara mengobatinya
belum ditemukan.
Dalam kalimat tersebut, gagasan yang sama yaitu mengerikan dengan
berbahaya dan pencegahan dengan cara mengobatinya, kata-kata tersebut
sebaiknya dibuat paralel, sehingga menjadi seperti contoh berikut ini:
- Penyakit alzhemimer atau pikun adalah satu segi usia tua yang paling
mengerikan dan membahayakan sebab pencegahan dan
pengobatannya belum ditemukan.
Berikut contoh kalimat yang mempunyai kesejajaran
- Seorang teknolog bertugas memecahkan suatu masalah dengan cara
tertentu dan membuat masyarakat mau memilih dan memakai cara
pemecahan yang dibuatnya.
27
2) Kesejajaran Makna
Kesejajaran makna timbul oleh adanya relasi makna antarsatuan dalam
kalimat (subjek, predikat, dan objek). Perhatiakan contoh berikut.
- Adik memetiki setangkai bunga.
- Selain pelajar SLTA, panitia juga memberikan kesempatan kepada
mahasiswa.
Kata memetiki tidak semakna dengan setangkai. Kalimat pada contoh
kedua jika diubah susunannya maka menjadi: panitia memberi kesempatan
kepada pelajar SLTA dan mahasiswa. Kata kepada mengandung pengertian
“kepada pelajar SLTA dan kepada mahasiswa”. Jadi, kalimat yang benar
adalah
- Adik memetik setangkai bunga.
- Selain kepada pelajar SLTA, panitia juga memberikan kesempatan
kepada mahasiswa.
3) Kesejajaran Rincian Pilihan
Dalam kalimat yang mengandung rincian pilihan, kita sering terjebak
oleh kalimat sebelum rincian sehingga antara kalimat dan rinciannya tidak
mengandung kesejajaran yang benar. Perhatikan contoh berikut.
- Pemasangan telpon akan menyebabkan melancarkan tugas, untuk
menambah wibawa, dan meningkatkan pengeluaran.
Bandingkan dengan
- Pemasangan telpon akan menyebabkan tugas lancar, wibawa bertambah,
dan pengeluaran meningkat.
c. Kehematan
Kehematan juga merupakan unsur penting dalam kalimat efektif.
Kehematan berarti penghematan kata, frasa, atau struktur lain yang dianggap
tidak perlu dalam kalimat. Kehematan dapat dilakukan dengan cara:
1) Penghematan Subjek
Pengulangan subjek tidak akan membuat kalimat bertambah jelas.
Contoh:
- Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui inspektur upacara
memasuki lapangan upacara.
28
Bandingkan dengan
- Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui inspektur upacara memasuki
lapangan upacara.
2) Penghilangan Hiponimi
Hiponimi ialah makna kata yang lebih tinggi, misalnya merah
mengandung makna kelompok warna.
- Mereka turun ke bawah melalui tangga samping kantor.
Bandingkan dengan
- Mereka turun melalui tangga samping kantor.
3) Penghilangan Kata Depan dari dan daripada
Kata depan dari menyatakan arah (tempat) dan asal (asal-usul)
sedangkan kata daripada menyatakan perbandingan dua benda atau dua hal.
kata depan ini banyak dipakai secara tidak tepat. Perhatikan contoh berikut!
- Anak dari tetangga saya, senin ini akan dilantik menjadi dokter.
Bandingkan dengan
- Anak tetangga saya, senin ini akan dilantik menjadi dokter.
4) Penyingkatan Kata
Usaha yang kita lakukan untuk menyingkat kata dalam kalimat ialah
dengan menggantikan kata atau istilah yang panjang menjadi lebih pendek.
Perhatikan kalimat berikut!
- Surat kabar harian Kompas banyak menyediakan ruangan untuk tulisan
tentang bahasa Indonesia.
Bandingkan dengan
- Koran Kompas banyak menyediakan ruangan untuk tulisan tentang bahasa
Indonesia.
5) Penyingkatan Ungkapan
Penyingkatan ungkapan dilakukan untuk menyingkat ungkapan yang
panjang menjadi lebih singkat dan padat.
Contoh menjadi berpendapat
- mempunyai pendapat menjadi berkacamata
- memakai kaca mata menjadi bergaram
- mengandung garam
29
6) Penyingkatan Kalimat
Kalimat yang terlalu panjang akan menyulitkan pembaca dalam
memahami maknanya. Kalimat panjang dapat dipersingkat tanpa mengurangi
makanya.
Contoh
- Perampok itu mengadakan pembunuhan terhadap pemilik rumah.
Bandingkan dengan
- Perampok itu membunuh pemilik rumah.
d. Keterbacaan
Seorang penulis yang baik adalah juga seorang pembaca yang baik,
tetapi bukan berarti seorang pembaca yang baik juga merupakan seorang
penulis yang baik. Penulis harus menyadari bahwa tulisan yang dibuatnya akan
dibaca oleh orang lain. Pembaca ingin mendapatkan informasi dan ia harus
memahami maksud bacaanya. Untuk itu tulisan harus memiliki keterbacaan.
Keterbacaan adalah derajat kemudahan sebuah tulisan untuk mudah dipahami
maksudnya. Semakin tinggi keterbacaan akan semakin mudah tulisan
dipahami, dan semakin rendah keterbacaan akan semakin sulit untuk dipahami
maksudnya.
Keterbacaan ditentukan oleh:
1) Kejelasan
Tulisan akan mudah dipahami jika menggunakan kata-kata yang sudah
umum/dikenal. Keterbacaan sebuah tulisan juga dipengaruhi oleh usia,
pendidikan, dan pengalaman pembaca. Keterbacaan juga dipengaruhi oleh
panjang pendek kalimat. Pada dasarnya, semakin panjang kalimat akan
semakin sulit dipahami. Oleh karena itu, penulis harus mengatur panjang
pendek kalimat yang ditulisnya, disesuaikan dengan calon pembacanya.
2) Bangun Kalimat
Ukuran keterbacaan kalimat bukan hanya ditentukan oleh penggunaan
kata dan panjang pendeknya kalimat, tetapi juga oleh bangun kalimat. Bangun
kalimat dapat menentukan keterbacaan suatu kalimat.
a) Kalimat Susun
- Mobil itu menabrak pohon. Mobil itu rusak.
30
- Mobil itu menabrak pohon dan mobil itu rusak.
Bandingkan dengan
- Mobil itu menabrak pohon sehinga rusak.
b) Informasi Lama Mendahului Informasi Baru
Rencana pembangunan lima tahun ini tidak dengan tegas merumuskan
program penelitian lingkungan jangka panjang. Dalam pasal mengenai
penelitian jangka panjang rencana itu misalnya, menguraikan pengembangan
teknik saja, sedangkan masalah berjangka panjang yang penting-penting tidak
disinggung.
c) Informasi pendek mendahului informasi panjang
- Antara lain kami/telah mengirim/kantor penelitian pengembangan dan
pengkajian di Surabaya/sebuah penganalisis gas.
- Bahwa kita dewasa ini ada dalam krisis energy/sudah jelas.
Bandingkan!
- Antara lain kami/telah mengirim/sebuah penganalisis gas/kepada kantor
penelitian pengembangan dan pengkajian di Surabaya.
- Sudah jelas/bahwa kita desawa ini ada dalam krisis energi.
d) Ketaksaan
Ketaksaan ialah adanya makna ganda dalam sebuah kalimat.
Perhatikan!
- Anak dosen yang cantik (siapa yang cantik? Anak dosen atau dosennya?)
- Ruang kuliah mahasiswa yang baru itu tidak jauh dari sini. Apanya yang
baru? Ruangannya atau mahasiswanya?)
- Orang yang dewasa ini kurang memiliki jika patriotism. (orang dewasa ini
atau dewasa ini, orang?)
Untuk menghindari ketaksaan dapat dilakukan dengan cara berikut.
(1) Memberikan tanda hubung untuk memperjelas tali perhubungan.
(2) Dengan mengubah bangun kalimat
(3) Mengganti istilah menjadi lebih jelas maknanya.
Bandingkan!
- Anak-dosen yang cantik.
- Ruang kuliah bagi mahasiswa baru tidak jauh dari sini.
31