The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Petunjuk Mahasiswa Model Pembelajaran Menulis Artikel Ilmiah Berbasis CTL by Afif Rofii

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rofiiafif69, 2022-07-05 08:08:03

Buku Petunjuk Mahasiswa

Buku Petunjuk Mahasiswa Model Pembelajaran Menulis Artikel Ilmiah Berbasis CTL by Afif Rofii

- Dewasa ini, orang kurang memiliki jiwa patriotism

e. Kevariasian
Sebuah bacaan atau tulisan yang baik merupakan suatu komposisi

yang dapat memikat dan mengikat pembacanya untuk terus membaca
sampai selesai. Untuk menghindari suasana monoton dan rasa bosan, suatu
paragraf dalam tulisan memerlukan bentuk pola dan jenis kalimat yang
bervariasi. Variasi kalimat ini bisa terjadi dalam hal-hal berikut.

1) Cara Memulai Kalimat
a) Subjek pada Awal Kalimat

Contoh:
- Menurut para peneliti, metode itu memungkinkan para pasien untuk tetap berpikir

dengan jernih dan siaga.
- Kesulitan bernafas dapat diatasi dengan cara pasien terus-menerus diawasi

secara ketat di ruang perawatan.
b) Predikat pada Awal Kalimat

Kalimat yang diawali dengan subjek biasanya diikuti dengan predikat
kadang-kadang dilengkapi dengan objek dan keterangan. Sebuah kalimat
dapat juga dimulai dengan predikat.

c) Kata Modal pada Awal Kalimat
Variasi dengan meletakkan kata modal pada awal kalimat sering kita

jumpai. Dengan mempergunakan kata modal tersebut, kita dapat menyatakan
bermacam-macam sikap. Untuk menyatakan kepastian, dapat dipergunakan
kata-kata: pasti, tentu, sering, jarang, kerap kali, dan sebagainya. Untuk
menyatakan ketidakpastian atau keragu-raguan dapat digunakan kata-kata:
mungkin, barangkali, kira-kira, rasanya, tampaknya, dan sebagainya. Untuk
menyatakan kesungguhan dapat digunakan kata-kata: sebenarnya,
sesungguhnya, sebetulnya, benar, sungguh, dan sebagainya.

d) Frasa pada awal kalimat
Contoh:
- Di dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa terlibat dengan berbagai pihak.
- Pada menit ke-50, kapten kesebelasan kembali memasukkan bola untuk

kedua kalinya.

32

e) Panjang Pendek Kalimat
Kalimat pendek tidak selalu mencerminkan kalimat yang baik atau

efektif. Sebaliknya kalimat yang panjang tidak selalu rumit dan tidak efektif.

f) Jenis Kalimat
Variasi kalimat dapat dilakukan melalui berbagai jenis kalimat. Dalam

bahasa Indonesia terdapat tiga macam jenis kalimat. Ketiga jenis kalimat
tersebut adalah kalimat berita, kalimat tanya dan kalimat perintah.

g) Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
Variasi kalimat juga dapat dibentuk melalui penggunaan kalimat aktif

dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan
perbuatan. Kalimat aktif biasa ditandai dengan predikat berupa kata kerja aktif.
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai perkerjaan. Kalimat pasif
ditandai dengan predikat berupa kata kerja pasif

h) Kalimat Langsung dan Kalimat Tidak Langsung
Kalimat langsung biasanya digunakan untuk menyatakan ucapan-

ucapan yang bersifat ekspresif. Tujuannya adalah untuk menghidupkan
paragraph tersebut serta member variasi agar paragraf tersebut tidak terasa
kaku.

4. Pengembangan Kalimat Efektif
Pengembangan kalimat efektif dapat dilakukan untuk menjadikan

kalimat sebagai sarana pengungkap dan penangkap agar komunikasi terjadi
secara efektif. Untuk mengembangkan kalimat efektif, terdapat dua hal yang
perlu diperhatikan, yakni persyaratan kalimat efektif dan kiat pengembangan
kalimat efektif.

Terdapat dua persyaratan kalimat efektif, yakni persyaratan kebenaran
dan persyaratan kecocokan. Persyaratan kebenaran bertolok ukur keberanan
kaidah bahasa. Kebenaran kecocokan bertolok ukur kecocockan atau
kekompakan kalimat-kalimat dalam konteks, baik konteks kebahasaan maupun
dalam konteks nonkebahasaan.

Kalimat efektif dapat dikembangkan dengan kiat-kiat khusus yakni: (1)
pengulangan, (2) pengedepanan, (3) penyejajaran, dan (4) pengaturan variasi
kalimat.

33

Kiat pengulangan digunakan dengan menampilkan informasi penting
dengan menampilkan ulang informasi itu baik dalam kalimat maupun dalam
untaian kalimat. Kiat pengedepanan digunakan untuk menonjolkan informasi
dengan menempatkan unsur yang ditonjolkan itu di bagian depan kalimat.
Kiat penyejajaran digunakan untuk menampilkan unsur kalimat dalam posisi
sejajar. Kiat pengaturan varisai kalimat digunakan untuk menampilkan kalimat-
kalimat secara bervariasi, baik variasi struktur kalimat maupun variasi jenis
kalimat.

D. Pengembangan Paragraf dalam Artikel Ilmiah

1. Pengertian Paragraf
Paragraf adalah unit terkecil sebuah karangan yang terdiri atas ide

pokok (gagasan utama) dan gagasan penjelas (kalimat penjelas). Gagasan
pokok merupakan hal pokok yang diungkapkan dalam paragraf. Gagasan
penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan pokok. Dalam
paragraf, kalimat penjelas setidak-tidaknya terdiri atas dua kalimat. Jadi, jumlah
kalimat dalam satu paragraf minimal tiga kalimat (satu kalimat topik, dua
kalimat penjelas)

2. Fungsi Paragraf
Secara sedehana fungsi paragraf dapat dijelaskan sebagai berikut

a. Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide pokok
keseluruhan karangan.

b. Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok.
c. Memungkinkan pengarang melahirkan jalan pikirannya secara sitematis
d. Mengarahkan pembaca dalam mengikuti alur pikiran pengarang serta

memahaminya.
e. Sebagai alat penyampaian pikiran
f. Sebagai penanda bahwa pikiran baru dimulai.
g. Dalam rangka keseluruhan karangan, paragraf dapat berfungsi sebagai

pengantar, transisi, dan penutup (konklusi).

34

3. Struktur Paragraf
Berdasarkan fungsinya, kalimat yang membangun paragraf pada

umumnya dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu: (1) kalimat topik atau
kalimat pokok, dan (2) kalimat penjelas atau pendukung. Kalimat topik adalah
kalimat yang berisi ide pokok atau ide utama paragraf. Kalimat penjelas adalah
kalimat yang berfungsi menjelaskan atau mendukung ide utama paragraf.
Adapun ciri kalimat topik adalah sebagai berikut:
a. Merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri.
b. Mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih

lanjut.
c. Mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat

lain.
d. Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung dan frasa transisi.

Ciri-ciri kalimat penjelas
a. Sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti);
b. Arti kalimat ini kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan

kalimat lain dalam satu alinea;
c. Pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung dan frasa

transisi.
d. Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lain yang

bersifat mendukung kalimat topik.

4. Ciri-ciri Paragraf
Beberapa ciri atau karakteristik paragraf, antara lain:

a. Setiap paragraf mengandung makna, pesan, pikiran atau ide pokok yang
relevan dengan ide pokok keseluruhan karangan.

b. Paragraf umumnya dibangun oleh sejumlah kalimat.
c. Paragraf adalah satu kesatuan ekspresi pikiran.
d. Paragraf adalah kesatuan yang koheren dan padat.
e. Kalimat-kalimat paragraf tersusun secara logis dan sistematis.

5. Syarat Paragraf yang Baik
Paragraf yang baik adalah paragraf yang memiliki kepaduan antara

unsur-unsurnya baik itu antara gagasan utama dengan gagasan pejelasnya

35

ataupun antara kalimat-kalimatnya. Syarat paragraf yang baik harus memiliki
unsur kepaduan bentuk gramatikal (cohesion in form) seperti penggunaan kata
transisi, penggunaan pronominal, penggunana repetisi, penggunaan sinonimi,
penggunaan elipsasi. Paragraf yang baik juga harus memenuhi unsur
kepaduan makna (coherence in meaning), seperti kejelasan kalimat penjelas,
kelogisan urutan peristiswa, ruang, waktu dan proses.

Selain hal tersebut, paragraf yang baik harus memperhatikan kesatuan,
keefektifan kalimat, dan kejelasan.

a) Kesatuan Paragraf
Setua paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok atau topik.

Fungsi paragraf ialah mengembangkan topik tersebut. Paragraf dianggap
mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam paragraf hanya
membicarakan satu topik.

Contoh:
Pak Budi Bekerja sebagai tukang becak, setiap hari ia mengayuh
becaknya untuk menghidupi keluarganya. Saat fajar tiba hingga matahari
terbenam ia mencari nafkah dengan becak kesayangnnya. Tanpa rasa lelah
dan pantang menyerah Pak Budi tetap bersemangat untuk bekerja sebagai
tukang becak.

b) Keefektifan Kalimat
Kalimat dalam paragraf harus efektif, kalimat yang efektif adalah kalimat

yang memiliki unsur subjek dan predikat yang jelas. Kalimat yang efektif
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Kesepadanan

Keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan sytuktur bahasa yang di
pakai.
b. Keparalelan
Kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kaimat.
c. Ketegasan
Suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok untuk membentuk penekanan
dalam kalimat.
d. Kehematan
Hemat menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak
perlu

36

e. Kecermatan
Kalimat tidak menimbulkan tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kata.

f. Kepaduan
Kepaduan dalam pernyataan kalimat itu sehingga informasi yang
diperoleh tidak terpecah-pecah

g. Kelogisan
Ide kalimat dapat diterima oleh akal dan penulisanya sesuai dengan ejaan
yang berlaku.

c) Kejelasan
Setiap gagasan yang didiskusikan harus dijelaskan dengan cukup dan

didukung oleh fakta perincian yang secara bersama-sama menjelaskan
gagasan pokok.

Sebuah paragraf yang baik memiliki empat syarat yakni: (a) kesatuan,
(b) kepaduan, (c) kekompakan, dan (d) pengembangan paragraf. Penjelasan
lebih lanjut tentang keempat unsur tersebut dijelaskan sebagai berikut:

a) Kesatuan
Kesatuan dalam paragraf adalah bahwa kalimat yang membina paragraf

itu secara bersama-sama menyatakan satu hal, satu tema. Dalam sebuah
paragraph, terdapat hanya satu pokok pikiran. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat
yang membentuk paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satupun
kalimat yang menyimpang dari ide pokok paragraf itu. Kalau terdapat kalimat
yang menyimpang dari pokok pikiran paragraf itu. Paragraf menjadi tidak
berpautan, tidak utuh. Kalimat yang menyimpang itu harus dikeluarkan dari
paragraf.

Contoh:
Sifat kodrati bahasa yang lain yang perlu dicatat di sini ialah
bahwasanya tiap bahasa mempunyai sistem ungkapan yang khusus dan
sistem makna yang khusus pula. Masing-masing lepas terpisah dan tidak
tergantung daripada yang lain. Sistem ungkapan tiap bahasa dan sistem
makna tiap bahasa dibatasi oleh kerangka pikiran yang disebutkan di atas.
Oleh sebab itu, janganlah kecewa apabila bahasa Indonesia tidak
membedakan jamak dan tunggal, tidak mengenal kata dalam sistem kata
kerjanya, gugus fonem juga tentu polanya dan sebagainya. Setiap bahasa
mempunyai sistem fonologi, sistem gramatikal, serta semantik yang khusus.

37

b) Kepaduan

Kepaduan adalah kekompakan kalimat yang satu dengan kalimat yang

lain yang membentuk paragraf. Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui

penyusunan kalimat secara logis dan melalui ungkapan-ungkapan (kata-kata

pengait antarkalimat. Urutan yang logis akan terlihat dalam susunan kalimat-

kalimat dalam paragraf.

Contoh:
“Generasi tahun 1928 adalah generasi pencetus sumpah pemuda yang

berjuang demi keinginan bernegara. Generasi tahun 1945 berjuang untuk
melaksnakan gagasan sumpah pemuda. Generasi tahun 1945 adalah generasi
pelaksana. Generasi zaman kemerdekaan adalah generasi pembina dan
pengembang nilai-nilai nasional.

Tiap generasi mempunyai panggilannya masing-masing sesuai dengan
zamannya. Generasi pencetus dan generasi pelaksana telah menunaikan
tugasnya dengan baik. Yang pertama berhasil membangkitkan semangat
keinginan bernegara; yang kedua berhasil menciptakan negera merdeka.
Generasi Pembina masih dalam ujian. Belum diketahui sampai di mana
kemampuanya untuk membina dan mengembangkan warisan situasi yang
diterima dari angkatan pelaksana. Apabila mereka itu mampu membina dan
menulis nilai-nilai nasional sesuai dengan martabat bangsa yang merdeka,
masih harus dibuktikan.

d) Kekompakan

Kekompakan adalah hal yang mengatur hubungan antarkalimat yang

diwujudkan oleh adanya bentuk-bentuk kalimat dan atau bagian kalimat yang

cocok dalam paragraf. Kekompakan dapat berupa kekompakan struktural dan

kekompakan leksikal. Kekompakan struktural diungkapkan dengan struktur

kalimat yang kompak dan serasi. Salah satunya adalah pengulangan atau

repetisi struktur kalimat dalam pengungkapan gagasan yang berbeda seperti

dalam contoh berikut.

“Rumah yang baru itu rumah saya sendiri. Mobil itu milik saya sendiri
yang saya beli menggunakan duit saya sendiri. Kebun itu milik saya sendiri,
semuanya milik saya sendiri.

Kekompakan leksikal ditandai dengan kata-kata digunakan dalam

paragraf untuk menandai hubungan antar kalimat atau bagian paragraf.

Contoh:

“Pada saat rapat pertanggungjawaban keuangan disampaikan kepada
seluruh anggota, dapat berjalan dengan baik. Pertama-tama, bendahara
merinci jumlah uang yang masuk dari berbagai sumber lengkap dengan tanggal
pemasukan, setelah itu, ia menunjukkan bukti-bukti pengeluaran berupa nota

38

serta kwitansi. Dari jumlah tersebut, ia dapat menunjukkan untung ruginya
kelompok usaha tersebut.

6. Pengembangan Paragraf
Pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian gagasan-

gagasan yang membina alinea atau paragraf itu. Apabila paragraf sudah
memenuhi syarat-syarat di atas, maka paragraf tersebut akan menjadi baik dan
mudah dimengerti isinya oleh para pembaca.

1) Pola Pengembangan Paragraf

a) Paragraf Perbandingan
Paragraf perbandingan adalah paragraf yang kalimat topiknya berisi

perbandingan dua hal. kalimat topik tersebut dikembangkan dengan memerinci
perbandingan antara dua hal dalam bentuk yang konkret atau bagian-bagian
yang kecil.

Contoh:
Struktur suatu karangan atau buku pada hakikatnya mirip atau
bersamaan dengan struktur suatu pohon. Bila pohon dapat diuraikan menjadi
pokok (batang), dahan, ranting, dan daun, maka karangan pun dapat diuraikan
menjadi tubuh (body), bab, subbab, dan paragraf. Batang sebanding dengan
tubuh (body) karangan, cabang sebanding dengan bab, ranting dengan
subbab, dan daun sebanding dengan paragraf.

b) Paragraf Pertanyaan
Paragraf pertanyaan adalah paragraf yang kalimat topiknya dijelaskan

dengan kalimat pengembang berupa kalimat tanya.

Contoh:
Kepala kantor kami, pak Ahmadi, gelisah. Mengapa beliau gelisah?

Tidak puaskah ia dengan kedudukan sekarang? Bukan, bukan itu sebabnya.
Ia sangat puas. Bahkan ia ingin mempertahankan keududukannya sekarang.
Ia resah karena pemimpin pusat telah mencium ketidakberesan
pertanggungjawaban keuangan di kantornya. Banyak pengeluaran yang
menyalahi anggaran. Tidak sedikit kuitansi pembelian barang yang meragukan,
pembangunan kantor baru yang dipercayakan pemimpin pusat kepadanya
tidak selesai menurut jadwal yang telah ditetapkan.

39

c) Paragraf Sebab-Akibat
Paragraf sebab-akibat adalah paragraf yang kalimat topiknya

dikembangkan oleh kalimat-kalimat sebab-akibat.

Contoh:
Nilai ujain akhir Cecep pada semester pertama ini rata-rata baik. Dia
pantas mendapat nilai tersebut karena ia telah bekerja keras dan tekun. Cecep
rajin mengikuti setiap pelajaran yang diberikan oleh guru bidang studi. Ia tidak
lupa membaca dua sampai tiga buku tambahan untuk melengkapi setiap mata
pelajaran. Setiap diskusi yang diadakan oleh teman sekelasnya, ia selalu tampil
sebagai pembicara. Rata rata empat jam setiap hari, ia belajar sendiri di rumah.
Bahkan ia tidak segan-segan bertanya kepada guru bila ada hal-hal yang
belum dimengerti atau belum jelas baginya.

d) Paragraf Contoh
Paragraf contoh adalah paragraf yang kalimat topiknya dikembangkan

dengan contoh-contoh sehingga kalimat topik jelas pengertiannya.

Contoh:
Tes biasanya menilai keterampilan seseorang. Contohnya, bila kita ingin

menilai keterampilan seseorang dalam mengemudikan mobil, orang tersebut
disuruh menjalankan mobil maju, mundur, belok, kencang, lambat, dan
seterusnya. Contoh lain, jika ingin mengukur kemampuan menembak bola dari
seorang pemain, orang tersebut diberikan kesempatan untuk menembakkan
bola ke gawang dari berbagai posisi.

e) Parangraf Perulangan
Paragraf perulangan adalah paragraf yang kalimat topiknya dapat pula

dikembangkan dengan pengulangan kata atau kelompok kata atau bagian-
bagian kalimat penting.

Contoh:
Ada kaitan yang erat antara makan, hidup, dan berpikir pada manusia.

Setiap manusia perlu makan, makan untuk hidup. Namun hidup tidak hanya
untuk makan. Hidup manusia mempunyai tujuan tertentu. Tujuan hidup dapat
berbeda antara satu dan yang lainnya tetapi ada persamaanya, yakni salah
satu diantaranya melangsungkan keturunan. Keturunan sebagai penerus
generasi bangsa. Generasi yang lebih baik dan lebih tangguh. Tangguh
menghadapi segala rintangan dan tantangan. Rintangan dan tantangan
membuat manusia berpikir, terapi berpikir jernih untuk memecahkan berbagai
persoalan hidup dan kehidupan.

40

f) Paragraf Definisi
Paragraf definisi adalah paragraf yang kalimat topiknya berupa definisi

atau pengertian. Definisi atau pengertian yang terkandung dalam kalimat topik
tersebut memerlukan penjelasan panjang lebar agar tepat maknanya ditangkap
oleh pembaca.

Contoh:
Istilah paragraf sering digunakan, baik dalam percakapan maupun

praktik. Paragraf kadang-kadang diartikan garis baru, pembagian karangan,
atau bagian-bagian. Yang jelas, paragraf sebagai wadah pikiran terkecil. Ciri
khas paragraf mengandung makna-ide-pesan yang relevan dengan isi
karangan. Paragraf harus merupakan kesatuan yang perlu dinyatakan dengan
kalimat tersusun logis-sistematis. Berdasarkan keterangan di atas, dapat
disimpulkan bahwa paragraf adalah seperangkat kalimat-kalimat yang tersusun
logis-sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan
dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan.

2) Teknik Pengembangan Paragraf

a) Teknik Pertentangan
Pengembangan paragraf dengan teknik pertentangan ini biasanya

menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berbeda dengan, bertentangan
dengan, sedangkan, akan tetapi, lain halnya dengan, dan bertolak belakang
dari.
Contoh:

Orde 1998-2006 atau orde politik Indonesia kini jauh berbeda dengan
orde 1967-1998. Ini menyebabkan kehidupan dan penegakan hukum dalam
kedua periode orde itu juga berbeda besar. Sejak 1998, orde politik disebut
reformasi bertolak belakang dengan watak orde sebelumnya. Jika sebelumnya
otoriter dan tertutup, orde 1998 mengedepankan akuntabilitas publik dan
keterbukaan. Perubahan besar itu amat berpengaruh terhadap penegakan
hukum atau cara bangsa ini berhukum. Demokratisasi dalam hukum
melahirkan lembaga-lembaga independen, sepeti Komisi Yudisial, Komisi
Pemberantasan Korupsi, dan banyak komisi lainnya.

b) Teknik Perbandingan
Pengembangan paragraf dengan teknik perbandingan biasanya

menggunakan ungkapan seperti: serupa dengan, seperti halnya, demikian
juga, sama dengan, sementara itu, dan sejalan dengan.

41

Contoh:

Indonesia adalah negeri pahlawan, sosok yang dikagumi karena
keberaniannya berkorban bagi bangsa. Pada masa kemerdekaan, pahlawan
dituntut memiliki keberanian membela kaum terjajah dan menantang kaum
penjajah. Berbeda dengan pahlawan pada prakemerdekaan, pahlawan yang
diperlukan di masa pascakemerdekaan adalah pahlawan kebajikan, pahlawan-
pahlawan kehidupan. Pahlawan akan dikenang bukan karena berani mati,
melainkan karena berani mengabdi hidup demi kesejahteraan bangsa.

c) Teknik Analogi
Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan

dengan objek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan. Model
pengembangan dengan teknik analogi bertujuan untuk memperjelas gagasan

yang akan diungkapkan. Model analogi ini biasanya menggunakan kata-kata
kiasan yaiu ibaratnya, seperti dan bagaikan.

Contoh:

Salam pembuka dalam surat menyurat merupakan suatu bentuk tata
krama penulis surat sebelum ia memulai berkomunikasi dengan penerima
surat. Hal ini dapat diibaratkan sebagai ketukan pintu jika seorang akan
memasuki rumah orang lain. Baik salam pembuka maupun ketukan pintu,
keduanya sama-sama merupakan tanda hormat sebelum seseorang mulai
berkomunikasi dengan orang lain, apakah komunikasi itu dilakukan di dalam
surat ataukah di dalam rumah.

d) Teknik Contoh
Pengembangan paragraf dengan contoh merupakan suatu jenis

pengembangan paragraf yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa

contoh sebagai penjelas gagasan yang dikemukakan.

Contoh:

Selain tipe introvert, sifat manusia adalah ekestrover adalah orang-
orang yang perhatiannya lebih diarahkan ke luar dirinya, kepada orang lain,
dan kepada masyarakat. Orang yang tergolong tipe ekstrover memiliki sifat-
sifat tertentu, contohnya berhati terbuka, lancar dalam pergaulan, ramah-
tamah, penggembira mudah memengaruhi, dan mudah dipengaruhi oleh orang
lain.

e) Teknik Sebab Akibat
Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika

menerangkan suatu kejadian baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat.
Ungkapan yang yang digunakan yaitu: padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan

42

karena.

Contoh:

Seharusnya Indonesia telah menerapkan Negara kesejahteraan sejak
awal kemerdekaan. Program jamsostek baru dimulai pada 1976 sehingga
Indonesia tertinggal membentuk tabungan nasional. Padahal, Malaysia sudah
memulainya sejak 1959. Akibatnya, saat krisis melanda Asia pada 1997/1998,
Indonesia paling sulit bangkit lagi, oleh karena itu. Indonesia perlu melakukan
reformasi penyeleggaraan program jaminan sosial.

f) Teknik Definisi

Pengembangan paragraf dengan definisi adalah suatu model

pengembangan paragraf yang dilakukan dengan cara memberikan definisi atau

pengertian terhadap masalah yang sedang dibahas. Kata-kata yang digunakan

dalam mengembangkan paragraf dengan cara definisi adalah: ialah, yaitu, dan

adalah.

Contoh:

Apakah psikologi itu? R.S Woodworth berpendapat, “Psikologi ialah ilmu
jiwa”, sedangkan menurut Crow dan Crow “Psikologi adalah kejiwaan manusia
dalam berinteraksi dengan dunia sekitarnya.” Sementara itu, Santian
mengemukakan bahwa psikologi merupakan perwujudan tingkah laku
manusia.

g) Teknik Klasifikasi

Pengembangan dengan klasifikasi yang dimaksud dalam hal ini adalah

pengembangan paragraf dengan cara mengklasifikasikan atau

mengelompokkan masalah yang dikemukakan.

Contoh:

Penyelidikan tentang temperamen dan watak manusia telah dilakukan
sejak dahulu kala. Hippo Crates dan Galenus megemukakan bahwa manusia
dapat dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat-zat cair yang ada
di dalam tubuhnya. Empat golongan tersebut yaitu sanguitis (banyak darah)
yang sifatnya periang, gembira, optimis dan lekas berubah-ubah. Kemudian
kolerisi (banyak empedu kuning) adalah manusia yang memiliki sifat garang,
hebat lekas marah,dan agresif. Selanjutnya, flogmatis (banyak lendirnya)
adalah manusia yang sifatnya tenang, tidak mudah berubah, dan lamban.
Terakhir, melankolis (banyak empedu hitam) memiliki sifat muram, tidak
gembira dan pesimistis.

h) Teknik Fakta

Pengembangan paragraf dengan fakta merupakan suatu jenis

pengembangan paragraf yang dilakukan dengan cara menyertakan sejumah

43

fakta atau bukti-bukti untuk memperkuat pendapat yang dikemukakan.

Contoh:

Para petani di daerah pada umunya sangat rajin. Setiap pagi ketika
beberapa pegawai kantor sedang berangkat kerja, para petani sudah
bermandikan keringat di sawah-ladangnya masing-masing. Mereka berangkat
sejak fajar hingga matahari hampir terbenam.
i) Teknik Proses

Sebuah paragraf dikatakan memakai metode atau dengan cara proses
apabila isi alinea atau paragraf tersebut menguraikan suatu proses.

Contoh:

Proses pembuatan kue donat adalah sebagai berikut. Mula-mula
disiapkan adonan terigu di campur dengan telur dan gula dengan perbandingan
tertentu yang ideal sesuai dengan banyaknya kue donat yang akan dibuat.
Kemudian adonan dicetak dalam bentuk gelang-gelang. Setelah itu, gelang-
gelang tadi digoreng sampai berwarna kuning kecoklatan. Lalu gorengan itu
diolesi mentega, diberi taburan coklat warna warni, atau ditaburi tepung gula.
Kini donat siap disantap.

E. Menulis Artikel Ilmiah

Untuk menulis artikel ilmiah secara lengkap, langkah-langkah yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Mengidentifikasi Artikel Ilmiah
Adapun hal-hal yang perlu dianalisis dari sebuah karya ilmiah, mencakup

hal-hal berikut.
a. Informasi artikel ilmiah.
b. Tujuan artikel ilmiah.
a. Hal-hal penting dalam artikel ilmiah.

2. Menentukan Topik
Langkah awal menulis artikel ilmiah adalah menentukan masalah atau

sesuatu yang menimbulkan problem ditengah-tengah masyarakat, sebagai
suatu pertanyaan besar yang menuntut penyelesaian.

3. Menganalisis Sistematika Artikel Ilmiah
Secara umum, sistematika artikel ilmiah yang sering digunakan di

44

kalangan akademik adalah sebagai berikut.

a. Bagian awal
Secara umum, bagian awal sebuah artikel ilmiah terdiri atas hal-hal
berikut.
1) judul,
2) identitas penulis,
3) abstrak,
4) kata kunci.

b. Bagian Isi
Adapun bagian isi sebuah karya ilmiah, terdiri atas beberapa hal,
sebagai berikut.
1) pendahuluan yang mencakup: rumusan masalah dan landasan teori,
2) metode (prosedur penelitian)
3) hasil dan pembahasan (rangkaian argumen (pembahasan masalah)
berdasarkan fakta.
4) simpulan (simpulan rekomendasi/penegasan ulang).

c. Bagian Akhir (Daftar pustaka)

4. Menganalisis Kebahasaan Artikel Ilmiah
a. Diksi

1) Kata baku
Kata baku adalah kata yang cara pengucapannya ataupun penulisannya
sesuai dengan kaidah-kaidah standar atau kaidah-kaidah yang dibakukan.
Kaidah standar yang dimaksud adalah berupa Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI).
2) Makna Lugas
Makna lugas atau makna denotatif adalah makna yang tidak mengalami
perubahan ataupun penambahan. Makna tersebut sesuai dengan makna
aslinya atau makna sebenarnya.
3) Penggunan istilah
Istilah adalah kata atau kelompok kata yang pemakaiannya terbatas pada
bidang tertentu. Perbedaan istilah dengan kata terletak pada bidang
pemakaiannya. Jika kata dapat digunakan dalam berbagai bidang
kehidupan, maka istilah hanya digunakan pada bidang-bidang tertentu saja.

45

b. Struktur Kalimat
Struktur kalimat berarti fungsi bagi unsur kalimat itu sendiri. Struktur

kalimat tidak selalu berurutan S, P, O, K dan Pelengkap, tapi banyak kalimat
yang urutan unsurnya menyimpang dari pola urutan tersebut.

1) Subjek
Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh,

sosok (benda), sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok
pembicaraan. Subjek pada umumnya diisi oleh jenis kata atau frasa benda
(nomina), klausa, atau frasa verba. 1982: 159).

Adapun ciri-ciri subjek sebagai berikut
a. Jawaban atas pertanyaan apa atau siapa

Penentuan subyek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas

pertanyaan apaatau siapa yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk

subyek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata

tanya siapa.
b. Biasanya disertai kata itu, ini, yang dan tersebut (sebagai pembatas

antara subyek dan predikat)
c. Didahului kata bahwa

Kata bahwa merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya

adalah anak kalimat pengisi fungsi subyek. Di samping itu,

kata bahwa juga merupakan penanda subyek yang berupa anak kalimat

pada kalimat yang menggunakan kata adalah atau ialah.
d. Mempunyai keterangan pewatas/atribut yang

Kata yang menjadi subyek suatu kalimat dapat diberi keterangan lebih

lanjut dengan menggunakan penghubung yang. Keterangan ini

dinamakan keterangan pewatas.
e. Tidak didahului preposisi

Subyek tidak didahului preposisi,

seperti dari, dalam, di, ke, kepada, pada. Kebanyakn penulis sering

memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata tersebut sehingga

menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak bersubyek.
f. Berupa kata benda atau frase kata benda

46

Subyek kebanyakan berupa kata benda atau frase kata benda. Di
samping kata benda, subyek dapat berupa kata kerja atau kata sifat,
biasanya, disertai kata penunjuk itu.

2) Predikat
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan

(tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku, toko, atau
benda di dalam suatu kalimat). Selain memberi tahu tindakan atau
perbuatan subjek, predikat juga dapat menyatakan sifat, situasi, status, ciri,
atau jati diri subjek. Termasuk juga sebagai predikat dalam kalimat adalah
pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki subjek. Predikat dapat
berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau ajektiva, tetapi
dapat pula numeralia, nomina atau frasa nomina.

Adapun ciri-ciri predikat sebagai berikut.
a. Jawaban atas pertanyaan mengapa atau bagaimana

Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas
pertanyaan mengapa atau bagaimana adalah predikat. Pertanyaan
sebagai apa atau jadi apa dapat digunakan untuk menentukan predikat
yang berupa kata benda penggolong (identifikasi). Kata
tanya berapa dapat digunakan untuk menentukan predikat yang berupa
numeralia (kata bilangan) atau frase numeralia.
b. Kata adalah atau ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Predikat terutama
digunakan jika subyek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga
batas antara subyek dan pelengkap tidak jelas.
c. Dapat diingkarkan

Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran
yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini
digunakan untuk predikat yang berupa kata kerja atau kata sifat. Di
samping tidak sebagai penanda predikat, kata bukan juga
merupakan penanda predikat yang berupa kata benda atau predikat
kata merupakan.
d. Dapat disertai kata-kata aspek atau modalitas

47

Kalimat yang berupa kata kerja atau kata sifat dapat disertai kata-
kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-
kata itu terletak di depan kata kerja atau kata sifat. Kalimat yang
subyeknya berupa kata benda bernyawa dapat juga disertai
modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subyek),
seperti ingin, hendak, dan mau.
e. Unsur pengisi predikat
Predikat suatu kalimat dapat berupa:
(1) Kata, misalnya kata kerja, kata sifat, atau kata benda.
(2) Frase, misalnya frase kata kerja, frase kata sifat, frase kata

benda, frase numeralia (bilangan).

3) Obyek
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada

umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak objek selalu
dibelakang predikat yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut
wajib hadirnya objek.
Adapun ciri-ciri obyek sebagai berikut.
a. Dapat menjadi subyek kalimat pasif

Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subyek
dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan
perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subyek dalam
kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk kata kerja
predikatnya.
b. Tidak didahului preposisi
Objek yang selalu menempati posisi di belakang predikat dan tidak
didahului preposisi. Dengan kata lain, di antara predikat dan objek tidak
dapat disisipkan preposisi.
c. Kategori katanya kata benda/ frase kata benda
d. Dapat dinganti dengan –nya
e. Didahului kata bahwa
f. Anak kalimat pengganti kata benda ditandai oleh kata bahwa dan
anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.

48

g. Sebagian besar kata kerja berawalan ber- atau ter- tidak memerlukan
objek (intransitif)

h. Sebagian besar kerja berawalan me- memerlukan objek (transitif).

4) Pelengkap
Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang

melengkapi P. Letak Pel umumnya dibelakang P yang berupa verba. Posisi
tersebut juga di tempati O dan jenis kata yang mengikuti Pel dan O juga
sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Namun,
antara Pel dan O terdapat perbedaan.
Adapun ciri-ciri pelengkap sebagai berikut.
a. Terletak di belakang predikat, Ciri ini sama dengan objek.

Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan
pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek.
b. Tidak didahului preposisi
Seperti objek, pelengkap tidak didahului preposisi. Unsur kalimat yang
didahului preposisi disebut keterangan.
c. Kategori katanya dapat berupa kata benda, kata kerja, atau kata sifat.

5) Keterangan
Keterangan (Ket) adalah bagian dari kalimat yang menerangkan

berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur Ket ini dapat
menerangkan S, P, O dan Pel. Ket ini memiliki posisi manasuka, atrinya
posisi Ket dapat berasa di awal, di tengah atau di akhir kalimat. Pengisi Ket
adalah frasa nominal, frasa preposional, adverbia, atau klausa.
Adapun ciri-ciri keterangan sebagai berikut.
a. Bukan unsur utama (bersifat manasuka)

Berbeda dari subyek, predikat, objek, dan pelengkap, keterangan
merupakan unsur tambahan yang kehadirannya dalam struktur dasar
kebanyakan tidak bersifat wajib.
b. Dapat dipindah-pindah posisi/letaknya bebas
Di dalam kalimat, keterangan merupakan unsur kalimat yang memiliki
kebebasan tempat. Keterangan dapat menempati posisi di awal atau

49

akhir kalimat, atau di antara subyek dan predikat. Jika tidak dapat di
pindah-pindahkan, maka unsur tersebut tidak termasuk keterangan.
c. Umumnya di dahului oleh kata depan, seperti, di, dari, ke,

d. Jenis Paragraf
Paragraf adalah bagian dari sebuah karangan yang terdiri dari

beberapa kalimat, yang berisikan tentang informasi dari penulis untuk
pembaca dengan pikiran utama sebagai pusatnya dan juga pikiran penjelas
sebagai pendukungnya. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang
berhubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang
menghasilkan sebuah informasi. Paragraf juga dapat disebut sebagai
penuangan ide dari penulis melalui beberapa kalimat yang berkaitan dan
memiliki satu tema. Paragraf juga dapat disebut sebagai karangan yang
singkat.

1) Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi merupakan paragraf yang bertujuan untuk

menginformasikan sesuatu sehingga memperluas pengetahuan pembaca.
Paragraf eksposisi bersifat ilmiah/nonfiksi. Sumber untuk penulisan
paragraf ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian atau
pengalaman.

Paragraf eksposisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
(a) Penjelasannya bersifat informatif.
(b) Pembahasan masalah bersifat objektif.
(c) Tidak mempengaruhi pembaca.
(d) Penjelasan dinyatakan dengan bukti yang konkret (tidak mengada-
ada).
(e) Pembahasannya bersifat logis dan sistematis.

2) Paragraf Deskripsi
Paragraf deskripsi berisi gambaran mengenai suatu objek atau suatu

keadaan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera. Paragraf ini
bertujuan untuk memberikan kesan/impresi kepada pembaca terhadap
objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin
disampaikan penulis (Suladi, 2014:62-63).

50

Paragraf deskripsi memiliki ciri sebagai berikut.
(a) Isinya menggambarkan suatu benda, tempat, makhluk hidup, atau sesama

tertentu.
(b) Penggambaran dilakukan dengan pancaindra, diantaranya indra

penglihatan, indra pendengaran, indra penciuman, indra pengecapan,
atau indra perabaan.
(c) Orang-orang yang membaca atau yang diceritakan ikut merasakan dan
melihat sendiri objek yang dimaksud.
3) Paragraf Persuasi

Paragraf persuasi adalah paragraf yang berisi ajakan. Paragraf
persuasi bertujuan untuk membujuk pembaca agar mau melakukan
sesuatu sesuai dengan keinginan penulisnya. Artinya, jika ingin tujuan
tercapai, penulis harus mampu menyampaikan bukti dengan data dan fakta
pendukung (Suladi, 2014:72).

Paragraf persuasi memiliki ciri sebagai berikut.
(a) Harus menimbulkan kepercayaan pendengar/ pembacanya.
(b) Bertolak atas pendirian bahwa pikiran manusia dapat diubah.
(c) Menciptakan persesuaian melalui kepercayaan antara penulis dan

pembaca.
(d) Menghindari konflik agar kepercayaan tidak hilang dan tujuan tercapai.
(e) Harus ada fakta dan data yang mendukung.

4) Paragraf Argumentasi
Paragraf argumentasi atau paragraf bahasan adalah suatu corak

paragraf yang bertujuan membuktikan pendapat penulis agar pembaca
menerima pendapatnya. Dalam paragraf ini penulis menyampaikan
pendapat yang disertai penjelasan dan alasan yang kuat dan meyakinkan
dengan maksud agar pembaca bisa terpengaruh.

Paragraf argumentasi memiliki ciri sebagai berikut.
(a) Mengandung bukti dan kebenaran.
(b) Memiliki alasan kuat.
(c) Menggunakan bahasa denotatif.
(d) Analisis rasional (berdasarkan fakta).

51

(e) Unsur subjektif dan emosional sangat dibatasi (sedapat mungkin
tidak ada).

5) Paragraf Narasi
Narasi merupakan gaya pengungkapan yang bertujuan

menceritakan atau mengisahkan rangkaian kejadian atau peristiwa (baik
peristiwa kenyataan maupun peristiwa rekaan) atau pengalaman hidup
berdasarkan perkembangannya dari waktu ke waktu sehingga tampak
seolah-olah pembaca mengalami sendiri peristiwa itu.

Ciri Paragraf Narasi
Menurut Keraf (2000:136) yang menjadi ciri dari karangan narasi adalah:
1) Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
2) Dirangkai dalam urutan waktu.
3) Berusaha menjawab pertanyaan (apa yang terjadi?).

5. Proses Menulis Artikel Ilmiah
a. Menulis Secara Grup

Adapun beberapa kegiatan dalam tahap menulis secara grup ini,
sebagai berikut.

1) Pengumpulan bahan /data
Penulis mengumpulkan data-data penting dari laporan hasil penelitian dan
dari berbagai sumber pendukung.

2) Pengelompokkan
Hal yang dilakukan pada tahap ini adalah memilah gagasan untuk
dikelompokkan

3) Pembuatan kerangka tulisan
Gagasan yang telah dikelompokkan tersebut kemudian disusun
membentuk sebuah kerangka tulisan

4) Pengembangan kerangka tulisan
Pada tahap ini, penulis mengembangkan topik/gagasan yang telah
dikelompokkan sebelumnya sesuai dengan keinginan dan kemampuan
penulis tanpa memperhatikan kesalahan-kesalahan pengurutan gagasan
atau kaidah bahasa dalam bentuk paragraf. Semua ide yang muncul di
dalam benak penulis segera dituangkan apa adanya. Cara ini berguna

52

untuk melatih kelancaran di dalam menulis disamping meningkatkan
kecakapan di dalam mengolah orisinalitas ide.
5) Pengembangan Gagasan
Dalam tahap ini penulis mulai mengembangkan gagasan-gagasannya.
Penulis juga memusatkan perhatian pada isi kaidah kebahasaan, seperti
ejaan, tanda baca, diksi, struktur kalimat, dan struktur paragraf.
6) Penilaian Teman Sejawat
Pada tahap ini draf kasar hasil aktivitas menulis diberikan kepada orang lain
atau teman sejawat untuk memperoleh umpan balik berupa kritik dan saran
untuk penyempurnaan tulisan yang dibuat.
7) Perbaikan dan penyuntingan
Pada tahap ini dilakukan perbaikan semua kesalahan ejaan, tanda baca,
dan tata bahasa berdasarkan umpan balik yang diperoleh. Pada tahap ini
juga dilakukan pergantian ide, pemilihan kata, penggunakan kalimat efektif,
penyusunan isi dan penyesuaian sistematika.
8) Penulisan kembali
Draft hasil perbaikan selanjutnya ditulis kembali dengan memperhatikan
susunan isi, sistematika, dan bahasa hasil penyunyingan. Hasil pada proses
ini harus lebih baik dari pada penulisan sebelumnya.
9) Pengevaluasian
Evaluasi merupakan tahap pemeriksaan untuk memastikan bahwa penulis
telah menyelasaikan proses penuangan ide-ide yang yang direncanakan
dan yang ingin disampaikan.
10) Publikasi
b. Menulis Secara Independen/Mandiri

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini, sama dengan
langkah-langkah pada tahap sebelumnya yaitu menggunakan 10 langkah
dalam menulis, sebagai berikut.

1) Pengumpulan bahan/data
2) Pengelompokan
3) Pembuatan kerangka tulisan
4) Pengembangan kerangka tulisan
5) Pengembangan paragraph

53

6) Penilaian teman sejawat
7) Perbaikan dan penyuntingan
8) Penulisan kembali
9) Pengevaluasian
10) Publikasi

54

DAFTAR PUSTAKA

Dalman. (2014). Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Rajawali Pers.
Indriati, Etty. (2001). Menulis Karya Ilmiah: Artikel, Skripsi, dan Disertasi.

Jakarta: Gramedia.
Karsana, Ano. (1986). Buku Materi Pokok Keterampilan Menulis. Jakarta:

Karunika Jakarta UT.
Keraf, Gorys. (2000). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Kosasih, E. (2012). Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Yrama

Widya.
Kosasih, E. (2014). Jenis-Jenis Teks Analisis Fungsi, Struktur, Kaidah, serta

Langkah Penulisannya dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.
Bandung: Yrama Widya.
Kurniasari, Anna Nurlaila. (2014). Sarikata Bahasa dan Sastra Indonesia.
Yogyakarta: Solusi Distribusi.
Nursisto. (1999). Penuntun Mengarang. Yogyakarta: Adi Cita.
Rahardi, Kunjana. (2009). Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang-
Mengarang. Jakarta: Erlangga.
Semi, M.A. (2007). Dasar-Dasar Ketrampilan Menulis. Bandung: Angkasa.
Sitepu, B. (2016). Pedoman Menulis Jurnal (2nd ed.). Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Sujanto. (1988). Ketrampilan Berbahasa Membaca-Menulis-Berbicara untuk
Mata Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Suladi. (2014). Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf. Jakarta: Badan
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Suparno dan Mohammad Yunus. (2007). Ketrampilan Menulis. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Tukan, Paulus. (2006). Mahir Berbahasa Indonesia 3. Jakarta Timur: Yudistira.
Wijayanti, Sri Hapsari, dkk. (2013). Bahasa Indonesia: Tulisan dan Penyajian
Alinea. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Wiyanto, Asul. (2006). Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.

55

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

NILAI-NILAI PEMBENTUK KARAKTER
DALAM CERITA RAKYAT ASAL-USUL WATU DODOL

Character Builder Values in The Origin of Watu Dodol Folktale
Wiwin Indiarti

Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Banyuwangi
Pos-el: [email protected]

Abstrak: Cerita rakyat merupakan salah satu media yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana
membangun karakter positif pada anak melalui nilai-nilai moral dan pendidikan karakter yang
terkandung dalam cerita. Artikel ini didasarkan pada penelitian deskriptif kualitatif yang
mengidentifikasi nilai-nilai pembentuk karakter dalam cerita rakyat Banyuwangi berjudul Asal-
usul Watu Dodol. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca teks cerita rakyat termaksud
yang terdapat dalam buku Cerita Rakyat Banyuwangi secara berulang-ulang dan
mengidentifikasi data berupa kata kunci yang berkaitan dengan nilai-nilai pembentuk karakter
dalam cerita. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis isi. Hasil
penelitian menunjukkan adanya 10 nilai pembentuk karakter dalam cerita rakyat Asal-usul
Watu Dodol; yaitu religius, jujur, kerja keras, ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,
menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Kata-Kata Kunci: cerita rakyat Banyuwangi, nilai-nilai pembentuk karakter, analisis isi

Abstract: Folktale is one of media which can be used as a device in building children’s
positive characters through the moral and educational values in it. This article is based on
a qualitative descriptive research aims at identifying values of character building in a
folktale from Banyuwangi entitled “Asal-Usul Watu Dodol” (The Origin of Watu Dodol).
Data collecting is conducted by reading the folktale text in the book “Banyuwangi
Folktales” repeatedly and identifying data about keywords related to values of character
building. The data, then, are analyzed by using content analysis technique. The result
shows that ten values of character building are found in “Asal-Usul Watu Dodol”, that
are, religiosity, honesty, hardworking, curiosity, citizenship, patriotism, accomplishment,
friendliness, compassion and responsibility.
Keywords: Banyuwangi folktales, values of character building, content analysis

26

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

I. Pendahuluan (berdasarkan sejarah maupun
Sastra lisan (oral literature)
tipologinya) tidaklah hakiki
merupakan bagian dari tradisi lisan
(oral tradition) yang muncul dan (Teeuw, 1988a: 304--305). Dalam
berkembang di tengah kehidupan
rakyat, dengan bahasa sebagai ulasannya yang lain, Teeuw (1998b:
media utamanya, dan di dalamnya
terdapat pesan-pesan, cerita-cerita, 220) menerangkan bahwa
atau kesaksian-kesaksian sehingga
sering juga disebut sebagai sastra keterpaduan antara sastra lisan dan
rakyat. Dalam keseharian sastra
lisan biasanya dituturkan oleh tulis terletak tidak hanya pada
orang tua kepada anaknya, seorang
kakek pada cucunya, seorang medianya, tetapi juga terkait
tukang cerita pada para
pendengarnya, seorang guru pada dengan konvensi (struktur). Oleh
para muridnya, ataupun
antarsesama anggota masyarakat. karena itulah, sastra lisan (sastra
Sesuai dengan penyebutannya, jenis
sastra ini diwariskan secara turun Indonesia lama) merupakan sumber
temurun dari generasi ke generasi
secara lisan karena merupakan bagi penciptaan sastra tulis (sastra
salah satu penanda masyarakat
dengan kelisanan/ tradisi lisan (oral Indonesia modern).
tradition) yang tinggi dan lebih dulu
dilahirkan daripada sastra tulis. Dalam teori klasik, seperti
Dalam konteks sastra Indonesia,
sastra lisan dikenal dengan sebutan yang dipaparkan oleh Taum (2011:
sastra Indonesia lama.
65--68), bahan-bahan tradisi lisan
Dalam perkembangannya
kajian sastra Indonesia modern terbagi ke dalam tiga jenis pokok
lebih banyak didominasi oleh sastra
tulis sehingga muncul anggapan yaitu (1) tradisi verbal (ungkapan
bahwa sastra lisan merupakan
“anak tiri yang dinomorduakan” tradisional, nyanyian rakyat, bahasa
(Suryadi, 1993: 8--9). Hal ini
bertentangan dengan konsepsi dari rakyat, teka-teki, dan cerita rakyat);
A. Teeuw yang mengatakan bahwa
perbedaan sastra lisan dan tulis (2) tradisi setengah verbal (drama

rakyat, tarian rakyat, takhayul,

upacara ritual, permainan dan

hiburan rakyat, adat-kebiasaan,

pesta rakyat, dan sebagainya; dan

(3) tradisi non-verbal (tradisi yang

berciri material dan yang

nonmaterial). Berdasarkan

kategorisasi tersebut, disimpulkan

bahwa cerita rakyat merupakan

sastra lisan/ verbal.

Cerita rakyat memuat kisah

yang berhubungan dengan

peristiwa sehari-hari yang dialami

oleh masyarakat. Dari cerita rakyat,

kita dapat memetik nilai-nilai yang

dialami oleh para tokoh. Cerita

rakyat menjadi menarik karena

dibangun dari beberapa unsur.

27

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

Salah satu unsur yang membangun sebagai media dalam pembentukan
cerita adalah terdapat tokoh dengan karakter positif pada anak. Dengan
berbagai karakter, baik karakter kata lain cerita rakyat dapat
positif maupun negatif. membentuk karakter positif secara
efektif karena nilai-nilai moral yang
Cerita rakyat, sebagaimana terkandung dalam cerita tidak
karya sastra yang lain, dapat disampaikan secara langsung, tetapi
memberikan manfaat sekaligus melalui alur cerita dan metafora
hiburan yang menyenangkan bagi sehingga proses pendidikan
para pembaca (dulce et etile), berlangsung menyenangkan dan
khususnya anak-anak, karena cerita tidak menggurui.
rakyat menampilkan kisah yang
menarik. Kisah-kisah yang ada Penanaman karakter melalui
dalam cerita rakyat tersebut cerita rakyat memang sangat efektif
membuat anak-anak tertawa ketika karena cerita rakyat hidup dan
ada hal yang lucu dan akan larut berkembang di tengah-tengah
dalam kesedihan ketika terdapat masyarakat pendukungnya. Sifat
kisah yang menyedihkan serta anak-anak yang serba ingin tahu
menjadi penasaran dengan akhir menjadikan mereka terus mencari
cerita jika mengisahkan tentang tahu setiap hal yang terjadi dalam
petualangan. cerita rakyat tersebut dan secara
tidak langsung dapat membentuk
Cerita rakyat tidak bisa karakter positif anak. Hidayatullah
dipisahkan dari dunia anak, karena (2010: 13) menyatakan bahwa
dalam cerita rakyat dunia imajinasi karakter merupakan kualitas atau
anak bisa terwakili sehingga dapat kekuatan mental atau moral, akhlak
menambah pengetahuan sekaligus atau budi pekerti individu yang
menanamkan nilai-nilai moral dan merupakan kepribadian khusus
pendidikan kepada anak-anak. Hal yang menjadi pendorong dan
ini seperti diungkapkan Kurniawan penggerak, serta yang membedakan
(2009: 2) yang menyatakan bahwa dengan individu lain. Sementara
cerita rakyat, tanpa disadari, itu, menurut Koesoema (2010: 80),
menjadi sangat efektif dalam karakter dianggap sama dengan
menanamkan pendidikan pada kepribadian. Dengan demikian dapat
anak. disimpulkan bahwa karakter
merupakan bentuk tingkah laku
Melalui para tokoh yang yang sesuai dengan kaidah moral
mengisahkan kehidupan mereka, dan budi pekerti yang membentuk
cerita rakyat --yang memuat nilai- kepribadian khusus seseorang.
nilai kebaikan, kejujuran, kesetiaan,
perjuangan, kesabaran dan
sejenisnya-- dapat digunakan

28

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

Banyuwangi memiliki Penelitian tentang sastra lisan

kekayaan budaya, termasuk di Banyuwangi --khususnya cerita

dalamnya adalah tradisi lisan, yang rakyat Banyuwangi-- pernah

sangat beragam. Namun, dilakukan oleh beberapa peneliti,

inventarisasi beragam tradisi lisan antara lain (1) Heru S.P. Saputra

yang ada di Banyuwangi masih (1998) yang melakukan analisis

kurang memadai, khususnya dalam struktural terhadap legenda Osing

pentransmisian cerita rakyat Banyuwangi, (2) Dian Erlandini

Banyuwangi. Dari hasil (2011) yang menganalis enam cerita

penelusuran pustaka yang rakyat Banyuwangi (Joko Umbaran,

dilakukan, terdapat dua buku Minak Jinggo, Asal-usul Banyuwangi,

kumpulan cerita rakyat Prabu Tawang Alun, Syeh Maulana

Banyuwangi yang pernah Iskak, dan Patih Joto Suro) berdasar

diterbitkan; masing-masing dengan gaya penceritaan dan tema cerita,

judul Cerita Rakyat dari Banyuwangi dan (3) Dina Merdeka Citraningrum

(Hutomo, 2000) dan Cerita Rakyat (2012) yang membahas tentang

Banyuwangi (Fauzi dkk., 2011). representasi nilai moral masyarakat

Sementara itu, cerita rakyat Using dalam cerita rakyat

Banyuwangi yang umum dikenal Banyuwangi.

oleh masyarakat luas adalah Berbeda dengan penelitian

legenda asal mula Banyuwangi atau terdahulu, fokus penelitian ini

Sritanjung dan kisah Damarwulan bertujuan untuk mengungkap

dengan Minak Jinggo. Dua cerita adanya nilai-nilai pembentuk

rakyat tersebut cukup sering karakter yang terdapat dalam Cerita

dimuat dalam buku-buku Rakyat Banyuwangi Asal-usul Watu

kumpulan cerita rakyat Nusantara Dodol (CRBAWD) yang

maupun buku kumpulan cerita mencerminkan aspek sosio-kultural

rakyat Jawa Timur. Padahal, masih masyarakat pendukungnya.

sangat banyak cerita-cerita rakyat

Banyuwangi lainnya yang penting II. Landasan Teori
Cerita rakyat, sebagaimana
untuk ditransmisikan dan
karya sastra lainnya, diyakini lahir
didokumentasikan. Untuk itulah tidak dalam ruang hampa, tetapi
dipengaruhi oleh masyarakat
perlu upaya yang terus-menerus tempat karya tersebut dilahirkan
sehingga karya sastra dianggap
dalam hal merevitalisasi cerita sebagai an imitation of human life;
merupakan cerminan nilai-nilai
rakyat Banyuwangi dalam bentuk kehidupan suatu masyarakat.

pendokumentasian dan penelitian

yang berguna dalam mengungkap

nilai-nilai luhur yang terkandung

dalam tradisi lisan tersebut.

29

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

Sementara itu, hubungan antara pembentuk karakter yang dapat

sastra dan masyarakat adalah saling diteladani dalam kehidupan sehari-

memengaruhi sehingga cerita hari, seperti nilai religius, jujur,

rakyat memiliki kesempatan untuk peduli sosial, kerja keras, tanggung

menjadi sarana dalam mengubah jawab, dan masih banyak nilai

kondisi masyarakatnya. positif lainnya. Nilai-nilai positif

Nilai-nilai yang terkandung tersebut merupakan cerminan

dalam cerita rakyat secara tidak perilaku manusia yang

sadar diresapi oleh pembaca berhubungan dengan Tuhan Yang

khususnya anak-anak; secara tidak Maha Esa, diri sendiri, sesama

sadar runtutan peristiwa dalam manusia, lingkungan, dan

cerita tersebut mampu kebangsaan yang terwujud dalam

memengaruhi sikap dan pikiran, sikap, perasaan, perkataan,

kepribadian mereka. Cerita rakyat dan perbuatan yang berdasarkan

selain sebagai sarana penanaman norma-norma agama, hukum, tata

nilai-nilai dan karakter juga krama, budaya, dan adat istiadat.

menambah pengetahuan serta Secara tidak langsung karakter

merangsang kreativitas anak berhubungan erat dengan tingkah

melalui imajinasi dan cara berpikir laku manusia dan merupakan ciri

kritis melalui rasa penasaran akan khas seseorang.

jalan cerita dan metafora-metafora Sehubungan dengan

yang terdapat di dalamnya. Cerita pentingnya penanaman dan

tidak hanya berperan dalam pembentukan karakter sejak usia

penanaman pondasi keluhuran dini maka Kementerian Pendidikan

budi pekerti, tetapi juga memiliki Nasional di tahun 2010 telah

andil dalam pembentukan karakter membuat identifikasi nilai-nilai

yang baik sejak dini (Noor, 2011). pembentuk karakter bangsa. Dalam

Melalui pergulatan dan pertemuan rangka lebih memperkuat

intensif dengan teks-teks dalam pelaksanaan pendidikan karakter

cerita rakyat, anak-anak akan pada satuan pendidikan telah

mendapatkan bekal pengetahuan diidentifikasi 18 nilai yang

yang mendalam tentang manusia, bersumber dari agama, Pancasila,

hidup dan kehidupan, serta budaya dan Tujuan Pendidikan

berbagai kompleksitas problematika Nasional, yaitu religius, jujur,

hidup. toleransi, disiplin, kerja keras,

Ada banyak nilai luhur kreatif, mandiri, demokratis, rasa

kehidupan yang dapat ditemukan ingin tahu, semangat kebangsaan,

dalam sebuah cerita rakyat karena cinta tanah air, menghargai prestasi,

cerita rakyat memuat nilai-nilai bersahabat/komunikatif, cinta

30

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

damai, gemar membaca, peduli karakter positif dalam cerita.
lingkungan, peduli sosial, dan
tanggung jawab (Pusat Kurikulum Karakter positif dalam cerita rakyat
dan Perbukuan, 2011: 8)
dapat dipandang sebagai amanat,
Cerita rakyat merupakan
hasil imajinasi dan kreativitas pesan atau message. Hikmah yang
pengarang pada masa lampau.
Dengan kreativitas tersebut seorang diperoleh pembaca lewat cerita
pengarang bukan hanya mampu
menyajikan keindahan dalam cerita rakyat selalu dalam pengertian
tersebut, namun juga memberikan
pandangan yang berhubungan yang baik. Karakter baik dan buruk
dengan renungan tentang agama,
filsafat, serta beraneka ragam dalam cerita sengaja ditampilkan
pengalaman tentang masalah
kehidupan sehari-hari. Di dalam supaya pembaca dapat mengambil
cerita rakyat tersebut disampaikan
oleh pengarang tentang berbagai hikmah dari cerita tersebut serta
rangkaian cerita seperti tingkah
laku, watak tokoh, dan karakter tidak mencontoh perilaku yang
yang diperankan oleh para tokoh.
buruk sehingga pembaca
Karakter dalam cerita
biasanya dimaksudkan sebagai termotivasi untuk mencontoh
suatu saran yang berhubungan
dengan ajaran karakter yang karakter baik yang diperankan oleh
bersifat praktis, yang dapat diambil
lewat cerita yang bersangkutan oleh tokoh dalam cerita. Pemahaman
pembaca (Nurgiyantoro, 2010).
Oleh karena itu, karakter dalam atas suatu cerita rakyat hingga
suatu cerita merupakan petunjuk
yang secara sengaja diberikan oleh mendapatkan hikmah tersebut
pengarang mengenai berbagai hal
yang berhubungan dengan masalah merupakan bagian dari penanaman
kehidupan, seperti sikap, tingkah
laku dan etika pergaulan. dan pembentukan karakter serta

Melalui cerita, sikap, dan nilai-nilai pada anak sejak dini.
tingkah laku tokoh-tokoh itulah
pembaca diharapkan dapat Selaras dengan muatan nilai-
mengambil hikmah dan meniru
nilai pendidikan karakter,

Pemerintah RI meneguhkan

kembali pentingnya nilai-nilai

tersebut dan merumuskannya

dalam gerakan Revolusi Mental.

Revolusi Mental merupakan sebuah

gerakan membangun karakter

bangsa yang mengubah cara pikir

menjadi lebih baik, mandiri,

berkarakter, dan nasionalis. Ada

tiga nilai utama yang diusung

dalam Gerakan Revolusi Mental

(GPR Report, 2015: 22) yaitu (1)

Integritas (jujur, dipercaya,

berkarakter dan

bertanggungjawab), (2) Kerja keras

(etos kerja, daya saing, optimis,

inovatif dan produktif) dan (3)

31

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

gotong royong (kerjasama, menunjang dalam fokus penelitian

solidaritas, komunal dan ini, khususnya subjek penelitian

berorientasi pada kemaslahatan). yang ada pada CRBAWD. Bahan

Keseluruhan nilai-nilai bacaan dibaca dengan cermat,

dalam Gerakan Revolusi Mental sungguh-sungguh dan berulang-

dan pendidikan karakter bangsa ulang guna memperoleh

tersebut salah satunya mewujud pemahaman tentang isi cerita rakyat

sejak lama dalam tradisi lisan tersebut. Besamaan dengan hal

Nusantara berupa cerita rakyat. tersebut dilakukan pencatatan

Sebagai warisan budaya, cerita mengenai hal-hal yang

rakyat perlu dilestarikan, diolah, berhubungan dengan masalah

dan dijadikan salah satu media penelitian ini yakni nilai-nilai

penting dalam internalisasi nilai- pembentuk karakter yang terdapat

nilai luhur bangsa. di dalam CRBAWD.

Instrumen yang digunakan

III. Metode Penelitian dalam penelitian adalah peneliti
Penelitian ini merupakan
sendiri dengan kertas pencatat serta
penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Sumber data alat tulis. Peneliti sebagai human
utama dalam penelitian ini adalah
teks CRBAWD yang terdapat dalam instrument berfungsi menetapkan
buku Cerita Rakyat Bayuwangi yang
diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan fokus penelitian, melakukan
dan Pariwisata Kabupaten
Banyuwangi tahun 2011. Buku ini pengumpulan data, menilai kualitas
terdiri dari enam cerita rakyat
Banyuwangi, yaitu “Asal-usul Watu data, analisis data, menafsirkan
Dodol”, “Panji Gimawang”, “Jaka
Bundu 1”, “Jaka Bundu 2”, “Besali data, dan membuat kesimpulan atas
Zarkasi”, dan “Kik Edor”. Penelitian
ini hanya mengambil satu cerita temuannya (Sugiyono, 2012: 222).
rakyat Banyuwangi yang terdapat
dalam buku tersebut sebagai bahan Data yang telah terkumpul
kajian, yaitu Asal-usul Watu Dodol.
selanjutnya dianalisis dengan teknik
Teknik pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian content analysis atau analisis isi
ini adalah studi pustaka dan
pencatatan. Hal ini dilakukan (Jabrohim, 2012). Dalam
dengan cara membaca bacaan yang
menganalisis data, hal yang perlu

diperhatikan adalah, membaca

dengan cermat teks CRBAWD

secara berulang-ulang, mempelajari

kata kunci yang berkaitan dengan

karakter dalam cerita, kemudian

menuliskan karakter tersebut.

Selanjutnya, hasil analisis

data disajikan dengan teknik

informal, yaitu perumusan hasil

analisis dengan menggunakan kata-

32

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

kata. Hasil analisis dideskripsikan Boyolangu. Di tempat tersebut Ki
sedemikian rupa sehingga
diperoleh gambaran yang utuh Jaksa ditemani oleh Nur Iman, anak
mengenai nilai-nilai pembentuk
karakter yang terdapat dalam teks angkatnya.
CRBAWD.
Singkat cerita Tumenggung

Wiroguno I berhasil membujuk Ki

Jaksa untuk membantu membuat

jalan melewati bukit batu. Karena

IV. Hasil dan Pembahasan kebenciannya terhadap penjajah

a. Sekilas Cerita Rakyat “Asal- Belanda, Ki Jaksa tidak turun

Usul Watu Dodol” sendiri. Ia menunjuk anak

CRBAWD berlatar belakang angkatnya, Nur Iman, hingga

masa kolonial pada saat pembuatan berhasil membuat jalan melalui

jalan tembus yang menghubungkan bukit batu tersebut dengan bantuan

Banyuwangi dengan Panarukan. Jin beserta anak buahnya. Konon,

Pada waktu Residen Schophoff bantuan dari bangsa jin ini

hendak melaksanakan proyek diperoleh dengan adanya perjanjian

pengerjaan jalan yang akan atau pra-syarat. Ada tiga syarat

menghubungkan Banyuwangi yang harus dipenuhi, yaitu 1)

dengan Panarukan, proyek tersebut jangan mendodol batu di luar batas

terkendala oleh adanya bukit batu yang diberi tanda oleh bangsa jin, 2)

yang sulit untuk ditembus. harus menyisakan seonggok batu

Tumenggung Wiroguno I, yang untuk tempat duduk mereka di

pada masa itu menjadi bupati di tepian pantai, dan 3) minimal

Banyuwangi, mengadakan setahun sekali, Ki Jaksa dan anak

sayembara yang isinya bahwa siapa cucunya harus menyambangi

saja yang mampu membuat jalan tempat tersebut. Karena

tembus melewati bukit akan diberi keberhasilan menembus bukit batu

hadiah berupa tanah dari bukit batu itu, tempat tersebut dinamakan

itu ke selatan sampai daerah Watu Dodol. “Dodol” atau

Sukowidi, di wilayah utara kota “dhodhol” adalah bahasa Using

Banyuwangi. (bahasa kelompok etnik Using yang

Bersamaan dengan merupakan indegenous people

berlalunya waktu, tidak ada yang Banyuwangi) yang artinya

berani menyanggupi tantangan ‘bongkar’, sedangkan “watu”

tersebut. Sampai pada suatu ketika artinya ‘batu’. Sehingga watu dodol

Sang Tumenggung ingat pada Ki berarti ‘batu hasil dari

Jaksa, seorang sakti bekas pembongkaran’, sebuah benda yang

penasehatnya terdahulu, yang menandai proyek pembuatan jalan

menyepi di pinggiran bukit tembus yang menghubungkan

33

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

Banyuwangi dengan Panarukan di 1. Religius

masa kolonial. Religius atau saleh

Kini setiap tanggal 10 merupakan sikap dan perilaku

Syawal masyarakat Boyolangu, patuh dalam melaksanakan ajaran

sebagai bentuk penghormatan agama yang dianut, toleran

terhadap Ki Jaksa, selalu terhadap pelaksanaan ibadah

berbondong-bondong pergi ke agama lain, dan selalu hidup rukun

Watu Dodol menggunakan dokar dengan pemeluk agama lain. Nilai

(kereta yang ditarik oleh kuda). religius dapat kita lihat dari kutipan

Peristiwa tahunan ini disebut tradisi narasi di bawah ini.

“Puter Kayun” sebagai bentuk (...) Nur Iman yang sejak tadi
diwejangi di dalam langgar
penghormatan atas leluhur mereka. pinggir kali, selesai keperluannya
kembali ke gubuknya. Langgar
b. Nilai-Nilai Pembentuk yang dibuat Ki Jaksa berdinding
tumpukan batu tanpa campuran
Karakter dalam Cerita Rakyat bahan lain (Fauzi, dkk., 2011: 8).

Asal-Usul Watu Dodol

Secara keseluruhan, tema

yang terdapat dalam CRBAWD, Kutipan tersebut

yaitu seorang pemimpin yang lurus memperlihatkan bahwa Ki Jaksa

dan bersih hatinya serta berjiwa memberikan wejangan

cinta tanah air. Amanat dalam cerita (petunjuk/nasehat) kepada Nur

rakyat ini adalah perilaku yang baik Iman di dalam langgar pinggir kali

akan membuahkan kepercayaan (musala di tepi sungai). Pilihan

dan hasil kerja yang baik pula. untuk memakai langgar dalam cerita

Dari hasil analisis isi yang tersebut menunjukkan bahwa

terdapat dalam CRBAWD kedua tokoh tersebut memiliki

ditemukan sebanyak sepuluh nilai karakter saleh atau religius karena

pembentuk karakter, yaitu religius, langgar merupakan tempat ibadah

jujur, kerja keras, ingin tahu, sekaligus belajar ilmu agama dan

semangat kebangsaan, cinta tanah mengaji.

air, menghargai prestasi,

bersahabat/ komunikatif, peduli 2. Jujur
Jujur adalah perilaku yang
sosial, dan tanggung jawab. Berikut
didasarkan pada upaya menjadikan
ini adalah paparan nilai-nilai diri sebagai orang yang dapat
dipercaya dalam perkataan dan
pembentuk karakter yang terdapat perbuatan. Nilai kejujuran dapat
kita lihat dari kutipan narasi di
dalam CRBAWD. berikut ini.

34

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

(...) Ndoro Kanjeng dan VOC Dalam kutipan tersebut
menerima syarat yang diajukan Ki
Jaksa. Tetapi Nur Iman yang terlihat bahwa upaya
menolak syarat kedua itu. Dirinya
menyadari masih kecil tidak pembongkaran bukit batu untuk
mungkin bisa memimpin orang
banyak yang usianya tua-tua melancarkan pengerjaan jalan yang
(Fauzi, dkk., 2011: 7).
dipimpin oleh Nur Iman akhirnya
Dalam kutipan tersebut
terlihat bahwa Nur Iman berterus berhasil setelah membutuhkan
terang tentang keraguannya
terhadap kemampuan dirinya waktu tiga bulan lamanya. Hal
sendiri yang masih belia dalam
pemimpin orang-orang yang tersebut menunjukkan adanya
usianya jauh lebih tua. Meskipun
terhadap gurunya, ia berani untuk usaha yang sungguh-sungguh
jujur mengungkapkan perasaan
hatinya. Dengan berlaku jujur, akan dalam upaya mencapai suatu
lebih mudah baginya sendiri dan
orang lain untuk mencari tujuan atau pencapaian suatu
penyelesaian suatu persoalan.
pekerjaan dengan harapan akan
3. Kerja Keras
Kerja keras adalah perilaku hasil yang baik dan memuaskan.

yang menunjukkan upaya 4. Ingin Tahu
sungguh-sungguh dalam mengatasi Ingin tahu adalah sikap dan
berbagai hambatan belajar dan
tugas, serta menyelesaikan tugas tindakan yang selalu berupaya
dengan sebaik-baiknya. Nilai kerja untuk mengetahui secara lebih
keras dapat kita lihat dari kutipan mendalam dan meluas sesuatu
narasi di bawah ini. yang dipelajari, dilihat dan
didengar. Nilai keingintahuan
(...) Hampir tiga bulan purnama dapat kita lihat dari kutipan
kerja bakti itu berlangsung. Jalan percakapan antara Ki Buyut Jaksa
selatan gunung batu sudah dengan Nur Iman berikut ini.
bertemu dengan ruas jalan di
utaranya. Semua berlega hati dan (...) “Nur Iman, kau jangan
bergembira. Seonggok batu di berkecil hati. Manusia hidup itu
pinggir pantai itu disebut sebagai yang penting lisannya. Meski tua
Watu Dodol (Fauzi, dkk., 2011: umurnya tetapi jelek perilakunya
12). ya tidak bisa dijadikan panutan.”
“Lalu apa yang harus saya
lakukan?”
“Saya akan membimbing kamu
dari jauh. Kamu jangan takut!”
(Fauzi, dkk., 2011: 7).

Dalam kutipan tersebut
terlihat rasa ingin tahu Nur Iman
mengenai apa yang harus
dilakukannya sebagai pemimpin

35

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

dalam pengerjaan pembongkaran dari kutipan ucapan Ki Jaksa di
bukit batu yang dibebankan bawah ini.
kepadanya.
(...) “Saya memang tidak cocok jika
5. Semangat Kebangsaan harus bertemu dengan penjajah
Seseorang dinilai memiliki berambut pirang. Apalagi diajak
bekerja sama kemudian disuruh-
semangat kebangsaan apabila ia suruh seperti juragan pada
memiliki cara berpikir, bertindak pembantunya. Tidak!” (Fauzi,
dan berwawasan yang dkk., 2011: 6).
menempatkan kepentingan bangsa
dan negara di atas kepentingan diri Dalam kutipan tersebut
dan kelompoknya. Semangat terlihat bahwa nilai cinta tanah air
kebangsaan dapat kita lihat dari yang dimiliki oleh Ki Jaksa telah
kutipan narasi di bawah ini. membuatnya berkeras hati untuk
tidak ingin tunduk dan diperbudak
(...) Saat itu karena pengaruh oleh bangsa lain.
VOC dirasa terlalu berlebihan, Ki
Jaksa mengundurkan diri sebagai 7. Menghargai Prestasi
penasehat dan ingin banyak Menghargai prestasi adalah
merenung di pinggiran bukit
Boyolangu (Fauzi, dkk., 2011: 2). sikap dan tindakan yang
mendorong diri untuk
Dalam kutipan narasi cerita menghasilkan sesuatu yang
tersebut terlihat bahwa semangat berguna bagi masyarakat, serta
kebangsaan yang dimiliki oleh Ki mengakui dan menghormati
Jaksa membuatnya lebih memilih keberhasilan orang lain. Nilai
untuk mundur dari jabatan sebagai menghargai prestasi dapat kita lihat
penasehat di Banyuwangi daripada dari kutipan narasi berikut ini:
harus bekerja di dalam
pemerintahan yang tunduk pada (...) Untuk menepati janji yang
kekuasaan VOC (penjajah Belanda). sudah dibuat oleh oleh Raja Demit
dan Ki Jaksa, hingga saat ini setiap
6. Cinta Tanah Air tanggal 10 Syawal masyarakat
Cinta tanah air adalah cara Boyolangu berbondong-bondong ke
Watu Dodol dengan menggunakan
berpikir, bersikap dan berbuat yang kendaraan dokar. Peristiwa yang
menunjukan rasa kesetiaan, berlangsung terus-menerus itu itu
kepedulian dan penghargaan yang kini menjadi salah satu adat tradisi
tinggi terhadap bahasa, lingkungan masyarakat Boyolangu yang
fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan dikenal dengan sebutan “Puter
politik bangsa. Nilai cinta tanah air Kayun” (Fauzi, dkk., 2011: 13).
atau patriotisme dapat kita lihat
Dalam kutipan tersebut
36 terlihat bahwa penghargaan

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

terhadap prestasi ditunjukkan oleh Ki Jaksa sehingga ia mampu
masyarakat Boyolangu yang hingga berkomunikasi dengan Raja Demit
saat ini menghargai hasil karya untuk ikut bekerja sama membantu
leluhur mereka yang telah pengerjaan pembongkaran bukit
memberikan manfaat bagi batu.
masyarakat dan diwujudkan dalam
bentuk tradisi “Puter Kayun.” 9. Peduli Sosial
Peduli sosial adalah sikap
8. Bersahabat/ Komunikatif
dan tindakan yang selalu ingin
Bersahabat adalah tindakan memberi bantuan pada orang lain
dan masyarakat yang
yang memperlihatkan rasa senang membutuhkan. Nilai kepedulian
sosial dapat kita lihat dari kutipan
berbicara, bergaul, dan bekerja sama narasi berikut ini.

dengan orang lain. Nilai (...) Akhirnya, sekeras-keras batu
jika ditetesi air terus-menerus akan
persahabatan dapat kita lihat dari berlubang. Begitu juga hati Ki
Jaksa yang mulai luluh meski
kutipan percakapan antara Raja dengan bersyarat agar orang-orang
VOC harus ikut bekerja bakti
Demit dengan Ki Jaksa berikut ini. mendodol gunung batu di kawasan
utara untuk menembus jalan darat.
(...) “Aku bersedia....ha, ha,ha.... Kedua, yang memimpin kerja bakti
harus anak angkatnya sendiri yaitu
Tetapi ada tiga syarat yang harus Nur Iman yang masih berusia
sebelas tahun. Ndoro Kanjeng dan
kau turuti. Pertama, jangan VOC menerima syarat yang
mendodol gunung watu di luar diajukan ki Jaksa (Fauzi, dkk.,
2011: 7).
batas yang nanti aku beri tanda.
Kedua, sisakan buat aku seonggok Dalam kutipan tersebut
terlihat bahwa kepedulian sosial
batu tempat duduk di pinggir ditunjukkan oleh Ki Jaksa, sehingga
pantai dan ketiga...Hem...Kau dan ia akhirnya mau untuk membantu
pengerjaan pembongkaran bukit
anak cucu harus mau batu. Tujuannya tentu saja bukan
menyambangiku setidaknya untuk membantu VOC, tetapi
karena ingin terwujudnya jalan
setahun sekali!” (Fauzi, dkk., tembus Banyuwangi-Panarukan itu
akan memberikan manfaat bagi
2011: 9). orang banyak.

(...) “Tiga syarat yang engkau
ajukan aku terima,” kata Ki Jaksa.
“Aku minta tolong, kau juga harus
mengerahkan seluruh prajuritmu
agar ikut bekerja bakti. Yang
memimpin pendodolan nanti
anakku Nur Iman, umurnya masih

sebelas tahun (Fauzi, dkk., 2011:

10).

Dalam kutipan tersebut
terlihat bahwa sikap bersahabat/
komunikatif yang ditunjukkan oleh

37

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

10. Tanggung Jawab V. Simpulan

Tanggung jawab adalah Cerita rakyat Banyuwangi

sikap dan perilaku seseorang untuk yang berjudul Asal-usul Watu Dodol

melaksanakan tugas dan bertemakan seorang pemimpin

kewajibannya, yang seharusnya dia yang lurus dan bersih hatinya serta

lakukan, terhadap diri sendiri, berjiwa cinta tanah air. Sedangkan,

masyarakat, lingkungan (alam, amanat dalam cerita rakyat ini

sosial dan budaya), negara dan adalah perilaku yang baik akan

Tuhan Yang Maha Esa. Nilai membuahkan kepercayaan dan

tanggung jawab dapat kita lihat dari hasil kerja yang baik pula.

kutipan narasi berikut ini. Berdasarkan analisis tentang

(...) Dengan hati yang mantap, nilai-nilai pembentuk karakter yang
Nur Iman menerima apa yang
terdapat dalam CRBAWD dapat
diharapkan Ki Jaksa (Fauzi, dkk.,
disimpulkan bahwa dalam cerita
2011: 8).
(...) Hari yang dijanjikan tiba. Para rakyat tersebut ditemukan sepuluh
utusan Ndoro Kanjeng Mas Alit
berniat menjemput Ki Jaksa. nilai pembentuk karakter, yaitu;
Lemani dan anaknya, Nur Iman,
menerima mereka sebagaimana religius, jujur, kerja keras, ingin
layaknya tuan rumah pada
tamunya. Setelah berdialog tahu, semangat kebangsaan, cinta
panjang lebar, para punggawa tadi
mengiring Nur Iman yang tanah air, menghargai prestasi,
mengempit kayu komando kerja
bakti mendodol gunung batu bersahabat, peduli sosial dan

(Fauzi, dkk., 2011: 10). tanggung jawab.

Nilai-nilai pembentuk karakter

bangsa, salah satunya, mewujud

sejak lama dalam tradisi lisan

Nusantara berupa cerita rakyat.

Dalam kutipan tersebut di Sebagai warisan budaya, cerita

atas terlihat bahwa rasa tanggung rakyat perlu dilestarikan, diolah dan

jawab dimiliki oleh Nur Iman yang dijadikan salah satu media penting

mengemban tugas sebagai dalam pendidikan karakter bangsa.

pemimpin pengerjaan Nilai-nilai pembentuk karakter

pembongkaran gunung batu, yang terdapat dalam cerita rakyat

meskipun usianya masih anak- bukan hanya sekadar untuk

anak. Rasa tanggung jawab atas dipahami. Jauh lebih penting dari

tugas yang diberikan kepadanya itu pemahaman adalah penghayatan

mampu ia laksanakan dengan baik dan pengamalan yang kongkret

atas bimbingan dan petunjuk Ki dalam kehidupan sehari-hari di

Jaksa. masyarakat. Pengetahuan,

perasaan, dan perilaku merupakan

38

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

bagian integral dari penerapan tetapi juga harus diterapkan oleh
pendidik. Pendidik yang memiliki
pendidikan karakter bangsa yang dan mengimplemetasikan nilai-nilai
pembentuk karakter tersebut akan
seharusnya dilaksanakan secara membawa dampak positif dalam
menjalankan tugasnya sebagai
harmoni. Dengan keharmonisan pendidik.

ketiga aspek tersebut maka bangsa

dan negara kita akan memiliki

karakter yang tangguh dalam

menghadapi berbagai tantangan

zaman.

Dari paparan nilai-nilai

pembentuk karakter yang terdapat

dalam CRBAWD menunjukkan

bahwa cerita rakyat tersebut

mengandung cukup banyak nilai-

nilai pembentuk karakter yang

perlu dimiliki oleh setiap manusia.

Dengan memiliki nilai-nilai

pembentuk karakter tersebut maka

akan membentuk sikap dan moral

yang lebih baik. Nilai-nilai

pembentuk karakter yang terdapat

dalam CRBAWD merupakan pesan

yang disampaikan pengarang

kepada pembaca agar meniru

karakter baik yang terdapat dalam

tokoh cerita tersebut.

Nilai-nilai pembentuk

karakter harus ditanamkan kepada

siswa dan dimplementasikan secara

nyata dalam kehidupannya,

sehingga akan membentuk sikap

dan perilaku positif. Dengan

tertanamnya nilai-nilai pembentuk

karakter tersebut akan menjadikan

siswa bertanggung jawab dan

peduli dengan tugasnya sebagai

peserta didik. Nilai-nilai pembentuk

karakter tersebut tidak hanya

diterapkan pada peserta didik,

39

Nilai-Nilai Pembentuk Karakter dalam Cerita Rakyat.... (Wiwin Indiarti)

Daftar Pustaka

Citraningrum, Dina Merdeka. 2012. “Representasi Nilai Moral Masyarakat
Using dalam Cerita Rakyat Banyuwangi”. Tesis. Malang: Universitas Negeri
Malang.

Erlandini, Dian. 2011. “Gaya Penceritaan dan Tema Cerita Rakyat
Banyuwangi”. Skripsi. Jember: Universitas Jember.

Fauzi, Abdullah dkk. 2011. Cerita Rakyat Banyuwangi (Cerita Asal Usul Watu
Dodol). Banyuwangi: Dinas Kebudayaan dan Pariwsata Kabupaten
Banyuwangi.

GPR Report. 2015. Revolusi Mental #revolusimental #indonesiabaik. Jakarta:
Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian
Komunikasi dan Informasi Publik RI.

Hidayatullah, Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa.
Surakarta: Yuma Pustaka.

Hutomo, Suripan Sadi dan E. Yono Hudiyono. 2000. Cerita Rakyat dari
Banyuwangi. Jakarta: Grasindo.

Jabrohim (Ed.). 2012. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Koesoema, A. Doni. 2010. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global. Jakarta: PT Grasindo.

Kurniawan, Heru. 2009. Sastra Anak dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi,
Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Noor, Rohinah M. 2011. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra: Solusi Pendidikan
Moral yang Efektif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter.
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdiknas.

Saputra, Heru S.P. 1998. “Legenda Osing Banyuwangi: Suatu Analisis
Struktural”. Laporan Penelitian. Universitas Jember.

40

Jentera, Volume 6, Nomor 1, Juni 2017

Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian
Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University
Press.

Suryadi, 1993. “Ilmu Sastra Lisan di Indonesia: Persoalan Konsep dan Objek
Penelitian”. Makalah Seminar Tradisi Lisan Nusantara, 9-11 Desember 1993.
Jakarta: FS UI.

Taum, Yosef Yapi. 2011. Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode dan Pendekatan
disertai Contoh Penerapannya, Yogyakarta: Penerbit Lamalera.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
________. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya – Giri Mukti Pusaka.

41

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BABAD TANAH JAWA
The Values of Character Education Contained in The Text of Babad Tanah Jawa.

Hidayah Budi Qur’ani
Universitas Muhammadiyah Malang

Pos-el: [email protected]

Naskah Diterima 19 Agustus 2018—Direvisi Akhir 30 November 2018—Disetujui 3 Desember 2018
doi.org/10.26499/jentera.v7i2.918

Abstrak: Penelitian ini membahas nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam
teks Babad Tanah Jawa. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data penelitian ini
adalah Babad Tanah Jawa. Data penelitian ini berupa hasil telaah dokumen naskah
lama Babad Tanah Jawa berupa kutipan-kutipan teks yang menunjukkan bentuk-bentuk
nilai pendidikan karakter. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah teknik noninteraktif dengan metode content analysis. Teknik analisis data
pada penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif.. Dalam teks Babad Tanah
Jawa, terdapat tiga nilai pendidikan karakter yang dominan. Nilai-nilai pendidikan
karakter tersebut di antaranya (1) nilai karakter religius yang digambarkan melalui sikap
yang sesuai dengan agama yang dianut, (2) nilai karakter semangat kebangsaan yang
digambarkan melalui semangat mengusir penjajah di tanah Mataram, dan (3) nilai
karakter cinta tanah air yang digambarkan melalui kegigihan menjaga tanah kerajaan
agar tidak diambil oleh kerajaan lain.
Kata-kata kunci: Nilai Pendidikan Karakter, Babad Tanah Jawa, Naskah Lama

Abstract: This study discusses the values of character education contained in the text of
Babad Tanah Jawa. this type of research is qualitative. The data source of this research
is the Babad Tanah Jawa. The data of this study are in the form of a review of the old
manuscript documents of the Babad Tanah Jawa in the form of text excerpts that show
the forms of character education values. Data collection techniques used in this study
are non-interactive techniques with content analysis methods. The data analysis
technique in this study uses interactive analysis techniques. In the text of the Babad
Tanah Jawa, there are three dominant values of character education. The values of
character education include (1) the value of religious character that is described
through attitudes that are in accordance with the religion embraced, (2) the character
values of the national spirit depicted in the spirit of expelling invaders in the land of
Mataram, and (3) the value of land love character water which is described through the
persistence of guarding the royal land so that it is not taken by other kingdom.
Key words: Value of Character Education, Babad Tanah Jawa, Old Manuscript.
_____________________________________________________________________
How to cite: Qur’ani, Hidayah Budi. (2018). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam
Babad Tanah Jawa. Jentera: Jurnal Kajian Sastra, 7 (2), 182—197.
(https://doi.org/10.26499/jentera.v7i2.918).

182 | Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018

PENDAHULUAN
Sastra (Kanzunnudin, 2012) dapat diartikan sebagai karya seni yang bermediakan
bahasa. Bahasa dalam karya sastra digunakan sebagai sarana mengajar atau memberikan
petunjuk. Oleh karenanya, sastra dapat dinyatakan sebagai seni bahasa untuk
menyampaikan ajaran. Setidaknya, sastra mengungkapkan tiga aspek utama secara
mendasar, diantaranya memberikan sesuatu kepada pembaca atau decore, memberikan
kenikmatan melalui unsur estetik atau declarate, dan mampu menggerakkan kreatuvitas
pembaca atau disebut dengan movore.

Sastra (Z.F., 2014) merupakan sebuah cabang dari seni yang mempunyai unsur
integral kebudayaan dan usianya sudah cukup tua. Sastra telah menjadi bagian dari
pengalaman hidup manusia sejak dahulu, baik dari aspek manusia sebagai penciptanya
maupun aspek manusia sebagai penikmatnya. Karya sastra merupakan curahan
pengalaman batinnya tentang fenomena kehidupan sosial dan budaya masyarakat pada
masanya. Ia juga merupakan ungkapan peristiwa, ide, gagasan, serta nilai-nilai
kehidupan yang diamanatkan di dalamnya. Sastra mempersoalkan manusia dalam segala
aspek kehidupannya sehingga karya itu berguna untuk mengenal manusia dan
budayanya dalam kurun waktu tertentu.

Dari uraian pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sastra merupakan cabang
dari seni yang bermediakan bahasa. Sastra merupakan suatu petunjuk yang baik untuk
mengajarkan kepada manusia. Sastra juga merupakan kebudayaan yang cukup tua yang
berisikan kehidupan manusia dari berbagai aspek persoalan.

(Z.F., 2014) berpendapat bahwa karya sastra bukanlah karya yang ilmiah yang
dapat dirunut kebenaran faktualnya sebagaimana merunut kebenaran berita surat kabar
tentang peristiwa tertentu. Kebenaran pada karya sastra bukanlah kebenaran yang
bersifat faktual tetapi kebenaran yang bersifat kemanusiaan. Saat membaca karya sastra,
kita diperkenalkan kepada kekayaan-kekayaan batin yang memungkinkan kita
mendapatkan insight, persepsi, dan refleksi diri sehingga kita dapat masuk ke dalam
pengalaman nyata hidup. Inilah kenyataan faktual yang terdapat di dalam karya sastra
yang hanya dapat diperoleh dengan hatinya masuk ke dalam karya sastra.

Salah satu karya sastra yang menarik untuk dikaji adalah sastra lama berbentuk
babad. Menurut (Aziz, 2015) babad dapat diartikan sebagai sebuah dongeng yang segaja
digubah menjadi sebuah cerita sejarah. Di dalam sebuah babad, beberapa cerita

Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018 | 183

digambarkan secara berlebihan atau hiperbolis, seperti tokoh, tempat, dan peristiwa.
Karya sastra dalam bentuk babad ini sesungguhnya adalah cerita yang digubah sebagai
cerita sejarah. Dalam tradisi sastra melayu, karya sastra dalam bentuk babad disebut
dengan salasilah dan tambo atau hikayat, misalnya Hikayat Raja-Raja Pasai, dan
Hikayat Salasilah Perak. Karya sastra yang berbentuk babad antar lain adalah Babad
Tanah Jawa, Babad Giyanti, Sejarah Hasanudin, dan Sejarah Banten Rante-Rante,
Babad Cirebon, dan Babad Pakepung.

(Olthof, 2011) berpendapat bahwa babad merupakan cerita klasik yang
mengisahkan asal muasal suatu daerah atau kerajaan. Penelitian ini mengkaji salah satu
babad yang terkenal yaitu Babad Tanah Jawa. Karya ini memuat tentang cikal-bakal
(nenek moyang) raja-raja Mataram Islam yakni bermula dari nabi Adam, dewa-dewa,
hingga raja-raja yang pernah berkuasa di tanah Jawa. Raja-raja yang pernah menguasai
tlatah Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram Islam (Kasunanan
Surakarta). Karya sastra Babad Tanah Djawi yang berunsur mitologi dan pengkultusan
tersebut memiliki keragaman versi. Namun, menurut Hoesein Djajadiningrat,
keragaman versi tersebut disederhanakan menjadi dua. Kelompok pertama: Babad
Tanah Djawi yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Pakubuwono III.
Kelompok kedua: Babad Tanah Djawi bertarikh 1722 yang diterbitkan oleh Pangeran
Adilangu II.

Dari beberapa versi Babad Tanah Jawa yang sudah ada, dipilih cerita Babad
Tanah Jawa yang sudah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia oleh HR.
Sumarsono dan diterbitkan oleh penerbit Narasi, Yogyakarta. Hal tersebut didasarkan
bahwa Babad Tanah Jawa yang dialihbahasakan oleh HR. Sumarono merujuk pada
Babad Tanah Jawa yang disusun oleh W.L. Olthof di Belanda tahun 1941 dan lebih
lengkap dari versi lain. Sebagai sebuah karya sastra, Babad Tanah Jawa juga
memberikan nilai pengajaran yang baik kepada masyarakat. Oleh karena itu, fokus
penelitian ini adalah menganalisis bentuk-bentuk nilai pendidikan karakter yang ada
pada Babad Tanah Jawa.

Penelitian lain yang membahas Babad Tanah Jawa adalah penelitian yang
dilakukan oleh Saddhono & Supeni, 2014 yang membahas “Pengaruh Kolonial pada
Kerajaan Mataram dalam cerita Babad Tanah Jawi”. Pengaruh kolonial ini dapat dilihat
dari segi pemerintahan, politik, hingga mempengaruhi pola pikir perempuan pada saat

184 | Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018

itu. Perempuan-perempuan yang mendapat pengaruh kolonial cenderung mempunyai
keberanian untuk melawan ketidakadilan dan mengemukakan hak-hak mereka.
Perempuan juga ikut andil dalam bidang politik, seperti ikut dalam peperangan.

Penelitian (Birsyada, 2016) berjudul “Keraton Pada Babad Tanah Jawi dalam
Perspektif Pedagogi Kritis” yang dimual dalam jurnal Sejarah dan Budaya juga
membahas Babad Tanah Jawa. Pada penelitian ini diungkapkan bahwa Babad Tanah
Jawi menunjukkan sisi dominasi budaya keraton dengan memaparkan genealogi
keluarga keraton yang penuh dengan cerita mitologi, magis dan penuh kesakralan. Oleh
sebab itu, pengetahuan yang terdapat dalam Babad Tanah Jawi tidak lain hanyalah
representasi dari legitimasi kekuasaan dan budaya keraton. Selain itu, Babad Tanah
Jawi juga menunjukkan upaya imperiumisasi budaya kerajaan dan mengembalikan
sistem kelas atau kasta praIslam.

Persamaan kedua penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah sama-sama
mengangkat objek penelitian karya sastra lama yaitu Babad Tanah Jawa. Penelitian
sebelumnya dengan penelitian ini sama-sama mengangkat keunikan Babad Tanah Jawa
dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian pertama
adalah permasalahan yang diangkat. Jika penelitian pertama mengangkat Babad Tanah
Jawa dari sudut pandang kolonialisme, penelitian ini mengangkat nilai-nilai pendidikan
karakter.

Selanjutnya, perbedaan penelitian ini dengan penelitian kedua pada
permasalahan yang diangkat. Pada penelitian kedua mengangkat permasalahan
legitimasi kekuasaan dan dominasi budaya trah keraton yang dimunculkan dalam
Babad Tanah Jawa. Dominasi tersebut ditunjukkan lewat cerita-cerita mitos, magis,
sakral dan supranatural untuk menumbuhkan kesadaran magis rakyat atau kawula.
Sementara itu, penelitian ini mengangkat nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam
Babad Tanah Jawa sebagai suatu pembelajaran yang dapat diberikan pada masyarakat.

Babad Tanah Jawa menarik untuk dikaji. Hal tersebut disebabkan Babad Tanah
Jawa mempunyai hubungan dengan pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah
maupun lingkungan masyarakat. Hubungannya yaitu bahwa karya sastra lama dapat
digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk memberikan pengajaran yang baik.
Dengan membaca karya sastra lama, baik guru, keluarga, maupun masyarakat dapat

Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018 | 185

mengambil gambaran masyarakat yang terdapat dalam cerita untuk mengambil bagian
yang terbaik guna mengembangkan karakter anak.

LANDASAN TEORI
Babad adalah sebuah karya tulis yang menceritakan pendirian sebuah negara atau
kerajaan. Cerita babad bukan hanya mengenai pendirian negara tersebut, melainkan
juga cerita-cerita yang terjadi pada kerajaan atau negara tersebut. Uraian tersebut juga
berlaku pada cerita dalam Babad Tanah Jawa. Babad Tanah Jawa menceritakan
tentang silsilah raja di kerajaan Mataram. Khususnya dalam buku ini, sejarah Jawa
dipaparkan dengan menarik garis silsilah awal Nabi Adam AS, kemudian dilengkapi
dengan silsilah dewa-dewa agama Hindu, tokoh Mahabharata, cerita Panji di Kediri,
hingga berakhir pada masa Kartasura, tepatnya saat terjadi perselisihan antara Raja
Kartasura dengan Pangeran Purbaya dan Sultan Blitar yang masih sedarah. Menurut
perkiraan penyusunnya, peristiwa ini terjadi di sekitar tahun 1647 (Olthof, 2011).

Menurut (Rohman, 2011) kata babad tanah jawi memberikan pengertian
tentang sejarah wilayah Jawa. Babad Tanah Jawi ditulis secara naratif dalam bahasa
dan huruf Jawa. Ketebalan naskah mencapai 470 halaman. Isi cerita tidak seragam,
tetapi secara umum penulis BTJ menceritakan kepemimpinan pada masa Kerajaan
Demak (abad ke-15) hingga Mataram Islam (abad ke-17). Penulisan sekuen dan
kutipan dalam penelitian ini merupakan transliterasi dari teks asli. Karena tidak
berbentuk tembang, BTJ lebih mirip cerita fiksi dari jenis prosa.

(Birsyada, 2016) menjelaskan bahwa Babad Tanah Jawa selain menunjukkan
upaya dominasi budaya kerajaan juga berusaha mengintegrasikan legitimasi antara
ideologi Hindu dan Islam. Dengan demikian, kekuasaan raja dianggap sah menurut
tradisi Hindu dan Islam karena jalur genealogi raja-raja Jawa sampai dengan Mataram
Islam adalah jalur keturunan Nabi Adam (Islam) juga keturunan para Dewa (Hindu).
Dalam tradisi kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, raja direpresentasikan
sebagai pusat kosmos di muka bumi disimbolkan sebagai khalifatulloh fil ardhi adalah
payung bagi genealogi tradisi Hindu Jawa maupun tradisi Islam. Singkatnya, Babad
Tanah Jawa ingin menghubungkan secara genealogi antara trah versi ideologi Hindu-
Budha dengan Islam. Dengan demikian, dalam tradisi kekuasaan Jawa, dengan
menyatukan trah dari kedua jalur genealogi tersebut diharapkan dapat menundukkan

186 | Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018

rakyat Jawa dari ideologi budaya kedua belah pihak karena telah mendapat keabsahan
dari jalur keturunan baik dari Hindu-Budha lewat dewa-dewa maupun dari jalur Islam
melalui Nabi Adam. Dalam konteks inilah, secara kultural legitimasi kekuasaan raja
lewat genalogi tersebut akan dikukuhkan secara simbolik dalam memerintah serta
mewujudkan ketertiban tatanan masyarakat.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Babad Tanah Jawa merupakan
sebuah cerita sejarah yang menceritakan kisah kerajaan Mataram di tanah Jawa. Sebagai
sebuah cerita sejarah, Babad Tanah Jawa menghadirkan kisah perjalanan berdirinya
kerajaan Mataram dan raja-raja yang menjadi pemimpin di tanah Mataram. Selain itu,
Babad Tanah Jawa juga menghadirkan konflik-konflik yang ada di dalam lingkungan
kerajaan serta nasihat-nasihat yang dapat menjadi pedoman hidup.

Platform pendidikan karakter bangsa Indonesia telah dipelopori oleh tokoh
pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Dalam pendidikan karakter yang digagas oleh Ki
Hadjar Dewantara, tertuang dalam tiga konsep yaitu (1) Ing Ngarsa Sung Tuladha, (2)
Ing Madya Mangun Karsa, dan (3) Tut Wuri handayani. Ketiga konsep tersebut
memiliki arti bahwa yang di depan memberikan teladan, contoh, dan panutan.
Selanjutnya, di tengag membangun kehendak (menyatukan cita-cita dan tujuan agar
dapat diraih bersama). terakhir, di belakang memberikan dorongan.

Guru mempunyai makna digugu lan ditiru (dipercaya dan dicontoh) secara tidak
langusng juga harus memberikan contoh pendidikan karakter kepada siswa atau peserta
didik. Oleh karena itu, guru harus memiliki profil dan penampilan yang mampu
membawa siswanya kea rah pendidikan karakter yang kuat. (Aqib, 2011)

Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai hal positif yang dapat dilakukan
oleh guru yang mempengaruhi siswanya. Pendidikan karakter merupakan upaya untuk
mengajarkan nilai-nilai yang baik kepada siswa yang diajar. Pendidikan karakter harus
mampu mendukung pengembangan sosial, emosional, dan etik siswa (Samani, 2012).

Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan
karakter dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang harus ditumbuhkan dan diajarkan
kepada generasi penerus baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah.
Nilai pendidikan karakter harus diwujudkan dalam kegiatan sehari-hari. Nilai
pendidikan karakter harus terus menerus diajarkan agar generasi penerus bangsa tidak
lupa akan adab dan budaya timur yang dijunjung oleh Indonesia.

Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018 | 187

Unsur religi dalam sastra merupakan sebuah identitas keberadaan sastra tersebut.
Istilah religius mengarah pada kata religios yang bermakna agama. Religius dan agama
sangat berkaitan erat, berdampingan, bahkan dapat melebur sebagai satu kesatuan
meskipun keduanya memiliki makna yang berbeda. Perbedaan tersebut terlihat jika
agama merujuk pada kelembagaan dan religi merujuk pada hati nurani (Nurgiyantoro,
2009). Semangat kebangsaan dapat diartikan sebagai cara berpikir, bertindak, dan
berwawasan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri sendiri.
Semangat kebangsaan dan nasionalisme merupakan sinergi yang seimbang untuk
menciptkan rasa kebanggaan terhadap bangsa. Semangat kebangsaan juga akan
melahirkan rasa kesetiakawanan sosial, semangat rela berkorban, dan menumbuhkan
jiwa patriotisme. Semangat kebangsaan juga menghindarkan dari rasa ketakutan akan
perpecahan bangsa (Lestyarini, 2013).

Cinta tanah air dan bangsa (Erwanti, 2011) merupakan sebuah kebanggan bagi
anak bangsa karena menjadi salah satu orang yang mampu membuat perubahan bagi
negaranya. Cinta tanah air dapat diwujudkan melalui cara berpikir dan bertindak
yang menunjukkan kesetiaan terhadap bangsa dan negara. Selain itu, cinta tanah air
juga dapat dilakukan dengan peduli terhadap permasalahan bangsa seperti ekonomi,
sosial, budaya, Bahasa, dan politik. Rasa semangat pada tanah air disebut juga
patriotisme, sedangkan rasa cinta terhadap negara disebut nasionalisme.
Mewujudkan rasa patriotisme dan nasionalisme merupakan bukti nyata terhadap sila
ketiga yaitu persatuan Indonesia.

Cinta tanah air juga bermakna keseriusan anak bangsa menggali potensi dan
talenta agar dapat berkembang. Bangsa yang memiliki sumber daya manusia rendah,
tidak akan pernah dapat mempertahankan kedaulatan bangsanya. Bangsa yang tidak
memiliki keunggulan kerap menjadi “mangsa” bagi bangsa-bangsa besar lainnya
(Nasution, 2012).

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah Babad
Tanah Jawa. Data penelitian ini berupa hasil telaah dokumen Babad Tanah Jawa
berupa kutipan-kutipan teks yang menunjukkan bentuk-bentuk nilai pendidikan
karakter.

188 | Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
noninteraktif dengan metode content analysis. Content analysis atau analisis isi yang
dipergunakan untuk menganalisis dokumen sehingga diketahui isi dan makna yang
terdapat dalam dokumen tersebut. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan
teknik analisis interaktif. Model analisis interaktif meliputi tiga komponen penting yang
selalu bergerak yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data (data display), dan (3)
penarikan kesimpulan (conclusion drawing).

PEMBAHASAN
Pada pembahasan Babad Tanah Jawa yang selanjutnya disingkat menjadi BTJ,
ditemukan tiga nilai pendidikan karakter yang dominan Tiga nilai pendidikan karakter
tersebut adalah religius, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air. Ketiga nilai
pendidikan karakter tersebut diuraikan dalam pembahasan di bawah ini.

4.1 Religius
Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama
yang dianut. Selain mematuhi ajaran agama yang dianut, sikap religius juga berarti
menghormati dan toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama pemeluk lain. Religius
sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh
dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah
agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

Dalam cerita BTJ, nilai religius ditunjukkan melalui ajaran-ajaran sunan yang
menjadi guru bagi para raja-raja tanah Mataram. Sunan yang terkenal pada saat itu
adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merupakan sunan yang terkenal karena
mempunyai sikap rendah hati, tutur kata yang tidak menyakiti orang lain, dan mampu
mengajari murid-muridnya dengan pandangan kebenaran dalam agama Islam. Sunan
Kalijaga juga mengajarkan bagaimana sikap-sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang
raja sesuai dengan syariat Islam. Sunan Kalijaga juga tidak segan-segan mengingatkan
jika ada raja yang mulai takabur pada kekuatannya.

Sunan Kali Jaga berkata, “Senopati berhentilah bersombong diri memamerkan
kedigdayaan. Itu namanya takabur. Para wali tidak mau berbuat demikian, takut akan
murka Allah (Olthof, 2011: 163).

Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018 | 189

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa seorang ulama mampu memberikan nasihat
kepada Senopati Mataram agar memiliki sikap rendah hati dan tidak menyombongkan
kesaktiannya. Sunan Kalijaga meminta Senopati Mataram agar tidak menjadi orang
yang takabur karena Senopati Mataram hanyalah seorang manusia yang mempunyai
derajad yang sama dengan lainnya. Senopati Mataram dinasihati agar menjadi orang
yang tidak menyombongkan diri atas kehebatannya dan merasa dirinya paling mulia
karena sikap tersebut akan membuat Allah murka.

Nasihat Sunan Kalijaga tentang ajaran Islam juga digambarkan melalui
tindakannya yang menasihati Senopati Mataram untuk membuat pagar rumah. Ketika
Sunan Kalijaga mengunjungi rumah (istana) Senopati Mataram, Sunan Kalijaga melihat
rumah Senopati Mataram belum berpagar. Hal tersebut membuat Sunan Kalijaga
prihatin dan menasihati Senopati Mataram agar membuat pagar.

Lalu mereka berangkat bersama. Sesudah sampai di Mataram, Sunan menyaksikan rumah
Senopati belum berpagar, Sunan berkata, “Rumahmamu tidak berpagar bata. Itu tidak baik.
Kamu dapat disebut orang sombong, sebab tidak ada curiga karena mengandalkan kesaktian,
teguh kedigdayaan (Olthof, 2011: 163).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Sunan Kalijaga menasihati Senopati
Mataram agar tidak bersikap sombong melalui perumpamaan pagar rumah. Pagar rumah
dalam hal ini merupakan perlambangan dari watak seseorang yang selalu waspada akan
bahaya yang mengancam. Orang yang belum membuat pagar rumah merupakan
perumpamaan dari orang yang sombong dan tidak mawas diri. Orang yang sombong
akan selalu mengandalkan diri sendiri dan tidak ingat akan penciptanya yaitu Allah
subhanahu wa taala. Dengan membuat pagar di rumahnya, orang tersebut akan selalu
terlindungi karena berserah diri kepada Allah subhanahu wa taala.

Selain mengingatkan Senopati Mataram agar tidak menjadi orang yang
sombong, Sunan Kalijaga juga memberikan nasihat kepada Senopati Mataram agar
menjadi orang yang selalu bersyukur. Bersyukur merupakan ungkapan rasa terima kasih
kepada Allah subhanahu wa taala, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
nikmat lebih. Bersyukur juga merupakan ungkapan bahwa doanya telah terkabul dan
cita-citanya tercapai.

Jika kamu ingin menjadi raja, selalu bersyukur sebagai makhluk ciptaan-Nya. Marilah
bersama ke Mataram saya ingin melihat rumahmu” (Olthof, 2011: 163).

190 | Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018

Dari kutipan di atas dapat menjelaskan bahwa Sunan Kalijaga memberikan
pemahaman kepada Senopati Mataram untuk selalu bersyukur. Sebagai seorang Raja,
Senopati Mataram harus selalu bersyukur karena ia telah dipilih oleh Allah sebagai
pemimpin rakyat Mataram. Rasa syukur tersebut menunjukkan bahwa ia merupakan
makhluk istimewa yang dipilih oleh Allah sebagai pemimpin rakyat yang akan
membawa rakyat ke jalan Allah. Bersyukur juga dapat menjadikan Senopati Mataram
sebagai raja yang selalu rendah hati dan mengingat kebesaran Allah.

Dalam BTJ, karakter religius juga digambarkan melalui raja-raja yang sudah
melaksanakan ajaran Islam. Raja-raja tersebut digambarkan selalu berdoa memohon
pertolongan Allah jika mendapat kesulitan. Hal tersebut digambarkan oleh Senopati Ing
Alaga yang berdoa meminta petunjuk dari Allah ketika ia sudah melakukan kesalahan
dan ingin memperbaikinya.

“Jika itu menjadi niatmu, bermohonlah kepada Allah secara khusuk agar kelak jika Sultan
sudah mangkat engkau dapat menggantikan takhtanya. Jangan sekali-kali punya pikiran melawan
ayahmu Kanjeng Sultan” (Olthof, 2011: 149).

Dari kutipan itu, dapat digambarkan bahwa Senopati Ing Alaga memang raja yang
memeluk agama Islam dan menjalankan ajaran Islam. Senopati Ing Alaga dalam
menjalankan ajaran Islam terlihat pada saat ia mendapatkan kesulitan ia berdoa kepada
Allah dan meminta petunjuk jalan keluar. Sebagai seorang muslim, ia menunjukkannya
dengan cara berdoa kepada Allah dan bukan meminta bantuan pada yang lain. Akan
tetapi, jalan yang ia tempuh untuk mengerti apakah doanya dikabulkan oleh Allah
tidaklah mudah. Senopati Ing Alaga sempat terkecoh dengan godaan dari bintang yang
bersinar dan dapat berbicara.

Bintang tadi sesudah berbicara demikian lalu musnah. Senopati berkata berkata dalam hati.
“Sekarang permohonan kepada Allah sudah terkabul. Niatku untuk menjadi raja menggantikan
Sultan Pajang, turun-temurun ke anak cucu, menjadi lampunya di tanah Jawa. Semua orang jadi
takhluk kepadaku” (Olthof, 2011: 157).

Kehadiran unsur religi dalam sastra adalah sebuah keberadaan sastra itu sendiri
(Nurgiyantoro, 2009). Istilah “religious” membawa konotasi pada makna agama.
Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur
dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya menyarankan makna bebeda. Agama
lebih menunjuk pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum
resmi. Religi lebih pada hati, nurani, dan pribadi manusia itu sendiri. Dari beberapa

Jentera, 7 (2), 182—197, ©2018 | 191


Click to View FlipBook Version