Seri Bacaan Sastra Anak
Ketulusan Hati
.
r
Ketulusan Hati
&vi
<ileembang ~rum
HADIAH IKJ-ILAS
PT.JSAT B~'..HASA
IH P/\RTEJ\!.EN PENDID!K.ti.N NA ~IONA •,
Ketulusan Hati
&fz
'ikembang ?lrum
Oleh
Nani Darheni
PERPUSTAKAAN
PUSAT ·BAHASA
OEPARTEMEN PENOIDIKAN NASIONAL
PUSAT BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
JAKARTA
2004
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA
Klaslfikasi No.lnduk: Y 1--:>
p6 ~ -'0Ltrl-r
38 g ·:Lo 3 f~B t. Tgl. l';;z
DA~
rtd. : e{,W\
Ketulusan hati Ni Kembang Arum
oleh
Nani Darheni
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta 13220
Pemeriksa Bahasa: Zaenal Hakim
Perwajahan: Sunarto Rudy
Tala rupa sampul dan ilustrasi: Urip Widodo
Diterbitkan pertama kali oleh Pusat Bahasa
Melalui
Bag ian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta
Pusat Bahasa, 2004
lsi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya,
dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun
tanpa izin tertulis dari penerbit,
kecuali dalam hal pengutipan
untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.
ISBN 979-685-425-2
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Di dalam sastra ada ilmu, ada kehidupan, dan ada keindahan.
Oleh karena itu, sastra dapat menjadi media pembelajaran tentang
ilmu dan kehidupan. Hal itu telah terjadi berabad-abad yang lalu.
Untuk lebih meningkatkan peran sastra tersebut dalam kehidupan
generasi ke depan, Pusat Bahasa berupaya meningkatkan pelayanan
kepada anak-anak Indonesia akan kebutuhan bacaan sebagai salah
satu upaya peningkatan minat baca dan wawasan serta pengetahuan
dan apresiasi seni terhadap karya sastra Indonesia.
Sehubungan dengan itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendi-
dikan Nasional, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra
Indonesia dan Daerah Jakarta, secara berkelanjutan menggiatkan
penyusunan buku bacaan sastra anak dengan mengadaptasi dan
memodifikasi teks-teks cerita sastra lama ke dalam bentuk dan format
yang disesuikan dengan selera dan tuntutan bacaan anak masa kini.
Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-
anak Indonesia pada rnasa kini dan pendahulunya pada masa lalu
agar mereka semakin mengenal keragaman budaya bangsa yang
merupakan jati diri bangsa Indonesia.
Bacaan keanekaragaman budaya dalam kehidupan Indonesia
baru dan penyebarluasannya ke anak-anak Indonesia dalam rangka
memupuk rasa saling memiliki dan mengembangkan rasa saling
menghargai diharapkan dapat menjadi salah satu sarana pemben-
tukan jati diri anak bangsa.
vi
Atas penerbitan buku Ketulsan Hati Ni Kembang Arum ini saya
menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para
penyusunnya. Kepada Sdr. Slamet Riyadi Ali, Pemimpin Bagian
Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta
beserta staf, saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah
mereka dalam penyiapan penerbitan buku ini. Ucapan terima kasih
saya sampaikan pula kepada Sdr. Urip Widodo selaku ilustrator
dalam buku ini.
Mudah-mudahan buku Ketulusan Hati Ni Kembang Arum ini
dibaca oleh segenap anak Indonesia, bahkan oleh guru, orang tua,
dan siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap · cerita rakyat
Indonesia demi memperluas wawasan tentang kehidupan masa lalu
yang banyak memiliki nilai yang tetap relevan dengan kehidupan
masa kini.
Jakarta, 22 November 2004
Dr. Dendy Sugono
SEKAPUR SIRIH
Bangsa Indonesia memiliki khazanah budaya yang tidak terni-
lai harganya. Salah satu khazanah budaya itu berupa cerita rakyat
berbentuk lisan, seperti epos, mite, dan legenda. Kekayaan jenis itu
dapat digunakan untuk membantu perkembangan jiwa anak, seba-
gai aset bangsa dan generasi penerus bangsa Kematangan per-
kembangan· generasi muda perlu ditopang oleh beberapa faktor, sa-
lah satunya adalah oleh ragam bacaan yang diambil dari kebuda-
yaan milik bangsa sendiri.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, diperlukan sarana baca-
an yang bermutu. Salah satu upaya tersebut adalah usaha peng-
adaan buku bacaan, yakni cerita anak yang diambil dari cerita-cerita
rakyat masa lalu dengan cara penceritaan ulang.
Pada kesempatan ini akan diketengahkan sebuah cerita legen-
da yang berasal dari daerah Jawa Timur, yakni asal-usul terjadinya
salah satu kota di Jawa Timur, yaitu kota Banyuwangi. Cerita ini
penulis beri judul "Ketulusan Hati Ni Kembang Arum" ditulis untuk
siswa sekolah dasar.
Sebenarnya, cerita-cerita berbentuk legenda dari daerah Jawa
Timur ini bermacam-macam versinya. Versi yang pertama adalah
berbentuk tertulis berasal dari sebuah naskah yang berjudul "Sri-
tanjung" yang ditulis oleh Dr. Srijatno, tahun 1938 (sekarang nas-
kahnya berada di London) berupa cerita wayang, sedangkan versi
yang lain adalah versi lisan yang berasal dari daerah Jawa Timur.
Salah satu temanya adalah menceritakan pengorbanan seorang
perempuan yang bernama Ni Kembang Arum yang tidak disukai
oleh mertuanya, Nyai Pandanwungu. Di samping itu, penulis mema-
parkan cerita berjudul "Ketulusan Hati Ni Kembang Arum" yang ber-
sumber dari bacaan-bacaan siswa yang terdapat dalam buku pela-
jaran bahasa Indonesia untuk sekolah dasar yang diterbitkan tahun
1981 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
Penulis
DAFTAR lSI
Kata Pengantar ... ... ......... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ... ..... v
Sekapur Sirih ............ ........................ ......................... ... vii
Daftar lsi ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ...... ... ... ... ... ... ... ... ... ..... viii
1. Kerajaan Karang Sewu ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. 1
2. Tugas Berat Bagi Patih Sidapaksa ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. 8
3. Patih yang Setia .. .'... .. . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. 14
4. Perjalanan Mencari Bunga ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . 16
5. Siasat Licik Sang Mertua ................................................ 21
6. Tipu Muslihat ................................................................ 25
7. Kehilangan Anak ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. 36
8. Sambutan untuk Kepulangan Patih ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. 40
KERAJAAN KARANG SEWU
Tersebutlah kisah pada zaman dahulu di pesisir pantai utara
Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Kera-
jaan Karang Sewu. Kerajaan itu terkenal sebagai kerajaan yang
subur dan kaya raya. Penduduknya hidup dalam kemakmuran . Me-
reka hid up tentram gemah ripah loh jinawi.
Di pusat pemerintahan, tampak berdiri istana yang indah dan
megah. Hal ini menunjukkan bahwa kerajaan Karang Sewu adalah
kerajaan yang subur makmur. Raja yang memegang tampuk peme-
rintahan adalah raja agung bernama Prabu Sindurejo. Ia seorang
raja yang terkenal sakti mandraguna weruh sadurung winarah.
Kesaktiannya terkenal kemana-mana. Di samping itu, Sang Prabu
juga terkenal sebagai raja yang agung bijaksana sehingga rakyat
yang diperintahnya sangat mencintai, menyukai, dan menjunjung
tinggi segala sabda atau titah dari Sang Prabu.
Biasanya Baginda selalu didampingi oleh Sidapaksa, seorang
patih yang tidak saja arif, tetapi ia juga setia, gagah perkasa, dan
tangkas dalam menjalankan tugas negaranya. Tetapi, siang itu di
ruang istana yang megah itu, yang tampak hanyalah Sri Baginda
bersama permaisurinya, Gusti Ayu Kencanawati. Patih Sidapaksa
tidak terlihat sebab dia memang sedang diberi waktu istirahat oleh
Baginda Sindurejo. Patih Sidapaksa baru saja menyelesaikan suatu
tugasnya yang cukup berat, yaitu menumpas pemberontakan yang
dilakukan oleh Mantri Kanuragan, seorang pejabat negara yang
tidak menyukai penguasa Sindurejo.
Siang itu, pada saat Baginda Sindurejo sedang bercakap-ca-
kap dengan permaisurinya, Gusti Ayu Kencanawati, datanglah se-
2
orang wanita yang cukup tua yang terlihat tergopoh-gopoh. Dilihat
dari cara pakaiannya, ia masih tergolong dalam kerabat kerajaan.
Dan memang tamu itu sudah amat dikenal di dalam kalangan ista-
na. Para prajurit dan pengawal istana memberi hormat kepadanya.
Ternyata beliau adalah ibundanya Patih Sidapaksa.
Sri Baginda dan permaisuri menghentikan percakapannya. Ia
merasa heran dengan kedatangan tamu yang sudah amat dike-
nalnya itu. Kemudian, Baginda berkata kepada permaisurinya.
"Ssst ... , Dinda Ratu, lihat ... , Bibi Pandanwungu datang me-
ngunjungi kita, ada apa, ya?" bisik Sang Prabu kepada permai-
surinya.
"Oh, iya ... , saya sendiri pun ingin bertanya kepada Kanda soal
kedatangan dia? Mungkinkah ada hal-hal yang kurang beres yang
terjadi pada diri Patih Sidapaksa?" kata sang Permaisuri balik her-
tanya kembali kepada Sang Raja.
Belum sempat terjawab pertanyaan yang diajukan oleh Per-
maisuri Kencanawati, ibunya Patih Sidapaksa yang bernama Nyai
Pandanwungu telah menghampiri dan telah duduk bersembah.
Lantas dia berkata, "Maafkan, Bibi, Baginda Prabu, Bibi telah
mengganggu percakapan Sri Baginda dengan Permaisuri," katanya
dengan suara yang terdengar agak serak.
"Saya bermaksud menyampaikan sembah bakti hamba kepada
junjungan, Sri Baginda dan Permaisuri.
"Terima kasih Bibi Pandanwungu," jawab Baginda Sindurejo
sambil tersenyum ramah kepada Nyai Pandanwungu walaupun
dalam hatinya masih tidak terlepas dari keheranan akan kedatang-
an Nyai Pandanwungu tersebut. Bahkan, Sang Prabu menyuruh
duduk Nyai Pandanwungu. Ujarnya kepada Nyai Pandanwungu.
"Silakan, duduk di kursi, Bi. Tidak layak Bibi duduk di bawah.
Pindahlah di kursi kehormatan supaya kita dapat berbicara lebih
leluasa lagi," katanya lagi.
Kemudian, Nyai Pandanwungu menjawab, "Terima kasih, Ba-
. ginda Prabu," kata Nyai Pandanwungu sambil akhirnya mengangkat
badannya untuk duduk di kursi kehormatan raja.
3
Setelah Nyai Pandanwungu terlihat duduk di kursi kehormatan,
Baginda Sindurejo akhirnya bertanya lagi, "Bibi," kata Raja Sin-
durejo, "Saya merasa gembira atas kedatangan Bibi ke istana, di
samping itu, saya pun merasa terkejut. Oleh karena itu, saya lang-
sung saja bertanya, ada apakah gerangan sehingga jauh-jauh Bibi
Pandanwungu menyempatkan diri berkunjung dan apakah ada hal-
hal yang perlu disampaikan kepada saya sehubungan dengan
keadaan Patih Sidapaksa? Ataukah memang ada keperluan Bibi
sendiri yang hendak disampaikan kepada kami?" tanya Baginda
Sindurejo beruntun kepada Nyai Pandanwungu.
"Ampun, Baginda junjungan hamba," kata Bibi Pandanwungu
menyahut lagi, "Sebenarnya keadaan anak Bibi, Patih Sidapaksa,
dalam keadaan baik-baik saja. Kedatangan saya kemari tidak ada
hubungannya dengan keadaan anakku. Kedatangan Bibi adalah
atas kehendak pribadi, Bibi. Akan tetapi, masih ada hubungannya
dengan diri Permaisuri Kencanawati.
Mendengar penuturan Nyai Pandanwungu seperti itu, Sang
Prabu dengan cepat menjawab, "Jadi, kedatangan Bibi kemari
berhubungan dengan Dinda Kencanawati?" kata Sang Prabu sambil
melirik kepada permaisurinya yang duduk di sampingnya. Sejurus
kemudian, Baginda Sindurejo pun berkata kepada Permaisuri
Kencanawati.
"Dinda ... , Bibi Pandanwungu, katanya ingin berbicara dengan-
mu. Masalah apakah yang hendak kalian bicarakan tersebut? tanya
Sang Prabu lagi kepada permaisuri yang dicintainya itu.
Mendengar pertanyaan Sang Raja, Permaisuri Kencanawati
mengerutkan keningnya mengingat-ingat apa kiranya yang pernah
dibicarakan dengan Bibi Pandanwungu. Tidak lama kemudian, Be-
liau berkata, "Saya mungkin lupa Bi, persoalan apakah yang pernah
dibicarakan itu? Bukankah kita Jarang bertemu dan mengadakan
percakapan ... ?" tanya Permaisuri Sintawati sambil wajahnya
menghadap kepada Nyai Pandanwungu.
Nyai Pandanwungu tersenyum, lalu berkata, "Barangkali, Per-
maisuri lupa bahwa kita pernah bercakap-cakap mengenai kern-
bang Kandaga Sangga Buana. Saya, bahkan pernah mengatakan
4
bahwa bunga Kandaga Sangga Buana tersebut memiliki khasiat
yang sangat beraneka ragam. Salah satunya adalah dapat menjaga
dan mempertahankan keawetmudaan paras atau raut wajah dan
menjaga kemolekkan tubuh, apabila meminum sari dari perasan
bunga tersebut ... !" kata Nyai Pandanwungu mengingatkan Per-
maisuru Sintawangi.
Ratu Kencanawati masih mengernyitkan keningnya, bahkan ia
tidak ingat lagi bahwa nama bunga itu pun pernah mereka bica-
rakan. Lalu Sang Ratu menanggapi keterangan Bibi Pandanwungu
tersebut.
"Maafkan saya, ya Bi, mungkin benar saya telah terlupa, tetapi
biarlah. Yang terpenting, selanjutnya, bagaimana keterangan me-
ngenai kembang Kandaga Sangga Buana tersebut ... ?"
Sang Ratu akhirnya menanyakan pula mengenai ihwal bunga
tersebut dan akhirnya merasa tertarik.
Mendengar penuturan dan pertanyaan Sang Ratu Kencana-
wati, Nyai Pandanwungu menjawab dengan hati yang lega karena
perangkap yang dibuatnya dari awal kunjungannya itu telah me-
ngenai sasaran.
"Kembang tersebut menurut keterangan yang Bibi terima dan
Bibi kumpulkan, berada di puncak Gunung ljen. Sri Baginda dan
Sang Ratu dapat memperkirakan seberapa jauh dan seberapa lama
perjalanan yang harus ditempuh oleh orang-orang yang harus
memetik kembang tersebut. Bahkan, untuk memperoleh bunga
tersebut tidak semudah mendapatkan bunga-bunga biasa. Konon,
bunga tersebut dijaga oleh seekor binatang buas serta tidak sem-
barang orang biasa akan dapat mencapai tempat tumbuhnya bunga
tersebut. Bahkan, bunga tersebut telah banyak diperebutkan pula
oleh orang-orang dari luar negeri kita. Hal itu menandakan bahwa
bunga Kandaga Sangga Buana tersebut memiliki khasiat yang
tinggi ... !" penuturan Nyai Pandanwungu panjang Iebar menambah
rasa penasaran kedua petinggi Ke.,rajaan Karang Sewu itu.
. Sepasang suami istri pemimpin Kerajaan Karang Sewu itu
mengangangguk-angguk mendennar penuturan Nyai Pandanwungu
tanda mereka telah mengerti. Ke!mudian, Baginda Sindurejo ber-
5
tanya kepada Nyai Pandanwungu, "Lalu apa maksud ucapan Bibi
itu sekarang?" tanya Sang Raja .
Nyai Pandanwungu menjawab sambil menyembah, "Ampun,
Baginda, menurut hemat saya, bunga tersebut perlu Baginda dan
Permaisuri miliki dan saya kira Sri Ratu pantas dan berhak meng-
gunakan khasiat bunga tersebut," sekali lagi Ny11i Pandanwungu
menegaskan ucapannya.
Sejenak Sang Baginda dan Sang Ratu saling melirik. Kemu-
dian, Baginda Sindurejo bertanya kepada Nyai Pandanwungu, "Bibi
Pandanwungu, kalau perjalanan ke puncak Gunung ljen itu berba-
haya, lalu siapakah gerangan menurut pandangan Bibi yang layak
mengambilnya?"
Nyai Pandanwungu tersenyum penuh arti mendengar perta-
nyaan dari Sang Rajanya karena pertanyaan seperti itulah yang
sebenarnya dari semula ditunggu-tunggu olehnya. Oleh karena itu,
hati Nyai Pandanwungu menjadi sangat gembira. Niat hatinya yang
selama ini dicita-citakan siang dan malam pasti akan segera
terlaksana . Tampak wajahnya berseri dan ia pun berkata kepada
rajanya yang terkenal arif dan bijaksana itu, "Baginda yang saya
junjung tinggi, bukankah Baginda memiliki Patih Sidapaksa yang
terkenal gagah sakti mandraguna? Ia pasti akan berhasil membawa
bunga itu ke hadapan Baginda dan Sri Ratu. Percayalah Baginda,"
Nyai Pandanwungu mulai melancarkan niat hatinya yang busuk.
Baginda Sindurejo segera menjawab pertanyaan Nyai Pandan-
wungu itu, "Bukankah Patih Sidapaksa, anak Bibi itu sekarang
sedang saya beri kesempatan untuk beristirahat karena baru saja
menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang berat di luar kerajaan
kita. Saya sungguh tidak tega dan tidak berani mengganggunya.
Kasihan dia," kata Prabu Sindurejo dengan hati-hati.
Perkataan yang diucapkan Sang Raja Sindurejo memang ma-
suk diakal. Akan tetapi, Nyai Pandanwungu tidak kehilangan akal.
Kemudian, ia berkata lagi kepada Sang Prabu.
"Ampun, Prabu, hal itu tidak akan menjadi persoalan. Anakku,
Patih Sidapaksa tidak akan berani menentang titah Paduka dan Sri
Ratu . Ia pasti mau segera Paduka perintah . Apabila tidak percaya,
6
saya bahkan bersedia untuk menyampaikan titah Paduka tersebut
dan besok pagi pasti ia akan datang ke istana," tambah Nyai
Pandanwungu meyakinkan rajanya.
"Hal tersebut memang benar. Saya mempercayai kesetiaan
Patih Sidapaksa. Ia memang selalu menjunjung tinggi segala perin-
tah kami," kata Raja Sindurejo. Akan tetapi, sungguh tidak adil dan
seolah-olah berlaku semena-mena terhadap Patih Sidapaksa bila
secepat ini saya telah memberinya lagi tugas, apalagi tugas itu saya
pikir sangat berat. Saya telah mengatakan kepadanya agar selama
dua minggu ini tidak usah menghadap ke kerajaan," tandas Raja
Sindurejo lagi.
Nyai Pandanwungu kini memutar otaknya untuk meyakinkan
keterangannya kepada Raja Sindurejo. Akhirnya, ia berkata kepada
Baginda Sindurejo.
"Duh, Baginda yang Bibi hormati, bukankah dalam keadaan
terpaksa dan dalam keadaan tiba-tiba atau ada suatu pekerjaan
yang harus dilakukan secepat mungkin, izin cuti tersebut dapat
ditarik dulu, dan cuti itu dapat diberikan kembali sekaligus nanti bila
tugas baru telah selesai. Bukankah Sang Prabu berkuasa terhadap
semua bawahannya?" dalih Nyai Pandanwungu.
Ucapan Nyai Panda.1wungu tersebut mengena di hati Sri Ba-
ginda dan Sri Ratu merupakan ketidakwajaran dalam arti bahwa
kata-kata Bibi Pandanwungu seakan-akan memaksanya. Kendati
demikian, Raja yang terkenal bijaksana tersebut melirik ke arah
samping dan bertanya kepada permaisurinya, "Dinda Kencanawati,
bagaimana sekarang pendapatmu mengenai bunga tersebut?
Bagaimana pula pendapat Dinda dengan penugasan Patih Sida-
paksa tersebut apakah harus kita lakukan?" tanya Baginda Sindu-
rejo kepada permaisurinya.
Mendapat pertanyaan yang menyulitkan tersebut dari suami-
nya, Permaisuri Kencanawati menjawab dan terlebih dahulu ia me-
narik nafas panjang, "Kanda Prabu, maafkanlah. Kembang Kanda-
ga Sangga Buana memang berkhasiat banyak. Dengan khasiat air
kembang itu dapat meremajakan kecantikan yang abadi pada wajah
yang memakainya. Akan tetapi, bagi saya bunga tersebut tidak
7
menjadi persoalan yang begitu besar. Andaikan Dinda tidak me-
milikinya pun tidak mengapa. Apalagi bila harus ditempuh dengan
perjalanan dan pengorbanan yang begitu banyaknya. Ditambah lagi
kalau memang harus dilakukan oleh Patih Sidapaksa yang tengah
melaksanakan cuti kerajaan sehabis melaksanakan tugas mulianya.
Menurut pendapat Dinda, sebaiknya nanti saja setelah dia selesai
menghabiskan masa cutinya, bukankah begitu sebaiknya, Kanda?"
Sang Ratu menjawab pertanyaan Baginda panjang Iebar dengan
alasan yang sangat arif dan bijaksana. Sang Raja manggut-mang-
gut saja mendengarkan penuturan Sang Ratu seperti itu.
Penuturan Sang Permaisuri tadi jelas terdengar oleh Pandan-
wungu yang segera menukasnya, "Maafkan Sri Ratu dan Sri Ba-
ginda, kalau hal tersebut ditangguhkan berminggu-minggu, saya
kuatir bunga tersebut sudah dipetik orang lain. Menurut saya, tugas
ini sekaligus untuk menguji kesetiaan dan kesaktian anakku, Patih
Sidapaksa," kata Nyai Pandanwungu berkesan memaksa.
Sri Baginda Raja Karang Sewu yang agung itu terperangkap
dan terpengaruh oleh kata-kata Nyai Pandanwungu yang terakhir
untuk menguji kesetiaan Patih Sidapaksa.
Tidak lama kemudian, Raja Sindurejo berkata, "Bibi Pandan-
wungu, silakan sekarang Bibi menemui anakmu, Patih Sidapaksa.
Tawarkanlah dahulu tugas ini. Kalau ia bersedia menjalankan tugas
itu, barulah ia suruh datang kemari untuk menghadap, apabila ia
tidak bersedia menjalankan tugas ini, Bibi jangan memaksa.
Dengan hati yang teramat sukanya, Nyai Pandanwungu me-
ninggalkan istana kerajaan Karang Sewu setelah memohon pamit
kepada Sri Baginda dan Sri Ratu Kencanawati. Segala sesuatu
yang tengah diangan-angankannya dan direncanakannya tentu
akan segera terlaksana. Kemudian, sesampainya di rumah, ia
segera menemui anaknya, Patih Sidapaksa.
2. TUGAS BERAT BAGI PATIH SIDAPAKSA
Sesampainya di rumah anaknya, Nyai Pandanwungu menemui
Patih Sidapaksa, yang terlihat tengah duduk-duduk santai di ruang
tengah rumahnya. Patih Sidapaksa tidak sedang ditemani istrinya,
Ni Kembang Arum. Dia tersenyum lega dan dengan tidak mem-
perdulikan rasa capainya dalam perjalanan dan kunjungannya ke
istana kerajaan Karang Sewu, Nyai Pandanwungu langsung mene-
mui anaknya, Patih Sidapaksa.
Patih Sidapaksa, anaknya Nyai Pandanwungu, adalah seorang
lelaki muda, berpangkat tinggi pada usia semuda itu. Badannya
tinggi kekar kendati tidak gemuk. Wajahnya sangat tampan, kulitnya
kuning kecoklat-coklatan karena sering diterpa sinar matahari saat
memimpin latihan para prajurit Kerajaan Karang Sewu. Dia terkenal
sebagai patih yang sakti tiada tanding. Di samping itu, Patih Sida-
paksa pun seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya
yang tinggal satu-satunya, yakni Nyai Pandanwungu.
Melihat kedatangan ibunya, Nyai Pandanwungu, Patih Sida-
paksa segera bangkit dari duduknya dan mempersilakan ibunya
untuk duduk dan beristirahat di rumahnya.
Nyai Pandanwungu langsung duduk di hadapan Patih Sida-
paksa serta tanpa basa-basi terlebih dahulu, Nyai Pandanwungu
mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah anaknya itu,
seperti yang barusan dia perbincangkan dengan Baginda Sindurejo
dan Ratu Kencanawati di istana Karang Sewu.
"Anakku, Patih Sidapaksa," katanya ketika mereka telah ber-
hadapan.
9
"lbu menerima amanat dari Sri Baginda agar engkau segera
kembali ke istana untuk mengemban tugas baru".
Mendengar perkataan ibunya, Patih Sidapaksa mengernyitkan
alisnya tanda penuh keheranan. Kemudian, dia berkata, "Tugas
baru? Tugas apa pula yang akan Baginda titahkan? Bukankah
Sang Prabu baru saja memberi saya kesempatan untuk beristirahat
di rumah, bersama istriku, setelah saya menunaikan tugas me-
numpas pemberontakan Mantri Kanuragan? Saya baru sehari ada
di rumah," kata Patih Sidapaksa .
"Anakku , demi kebesaran Kerajaan Karang Sewu dan demi
nama baikmu sendiri, dan dem1 baktimu terhadap negara, engkau
tidak boleh menolaknya. Perintah raja harus dijunjung tinggi, Nak!"
kata ibunya kepada Sidapaksa yang belum habis dari rasa kehe-
ranannya.
"Tetapi, lbu, mengapa hal ini begitu mendadak dan mendesak.
Padahal saya kan baru pertama beristirahat di rumah Saya merasa
diperlakukan tidak adil. Beliau sebelumnya tidak pernah meme-
rintah apabila saya dalam keadaan cuti. Beliau pun tidak pernah
menarik kembali ucapannya ... !" jawab Patih Sidapaksa dengan
terus terang.
Bukan Nyai Pandanwungu yang licik apabila menyerah begitu
saja. Nyai Pandanwungu bersikeras walaupun dari nada kata-
katanya terdengar lunak.
"Anakku, dalam hal-hal dan situsasi yang istimewa tentu saja
Baginda akan bertindak begitu.
Nah, tunjukkanlah bahwa kau benar-benar mengabdi kepada-
nya dengan penuh kesetiaan . Pergi dan temuilah Sang Prabu di
istana sekarang juga. Katakanlah, setiap tugas yang akan dititah-
kannya akan selalu dijunjung tinggi!" nasihat ibunya kepada Patih
Sidapaksa.
Sejenak Patih Kerajaan Karang Sewu yang teramat setia ke-
pada rajanya tersebut merenung. Tetapi, tidak lama kemudian ia
berkata, "Baiklah, lbu, saya akan segera ke istana menemui Bagin-
da. Kalau memang tugas itu harus dilaksanakan hari ini juga, saya
akan berangkat," katanya.
PERPUSTAKAAN
10 PUSAT BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
"Nah, begitu, anakku. Lebih cepat lebih baik bila menunaikan
tugas kerajaan lngatlah pada almarhum ayahmu ketika menjadi
patih selalu bertindal< cepat. Ayahmu tida!< pernah melalaikan tugas
yang dibebankan raja dalam sekejap pun." tambah ibunya lagi.
"Bila demikian seharusnya, baiklah Bu, saya berangkat dan
saya titipkan istriku, Ni Kembang Arum kepada lbu ... , kini kan-
dungannya sudah tua. Saya pikir dalam beberapa minggu ini juga
Ni Kembang Arum bakal melahirl<an," kata Patih Sidapaksa.
"Tolong ya, Bu , jaga baik-baik, barangkali tugas saya akan
memakan waktu yang cukup lama".
Alangkah gembiranya hati Nyai Pandanwungu melihat sikap
anaknya yang mengikuti nasihatnya. Wajahnya tampak berseri-seri
dan ia pun berkata, "Jangan terlalu kuatir, anakku. Aku akan menja-
ga istrimu dengan baik, seperti dahulu aku merawat dan menja-
gamu ... !" kata Nyai Pandanwungu dengan nada suara yang dilem-
but-lembutkan.
Setelah berbicara dengan ibunya, Sidapaksa segera menemui
Ni Kembang Arum, istrinya, yang sejak tadi sedang merenda
pakaian--untuk bayinya kelak kalau lahir--di kamarnya.
Melihat suaminya masuk ke dalam kamar, segera Ni Kembang
Arum menyambutnya dengan ramah dan wajah yang berbinar-
binar.
"lstriku, Ni Kembang Arum," kata Patih Sidapaksa kepada istri-
nya. Barusan ibu menyampaikan pesan dari Sang Raja dan Sang
Ratu bahwa Kakang harus kembali menghadap Sang Prabu di is-
tana karena Baginda mendadak memerlukan tenaga Kakang," tam-
bah Sidapaksa kepada istri yang dikasihinya.
Ni Kembang Arum menatap penuh keherana mendengar penu-
turan suaminya itu dan ia pun bertanya kepada suaminya, "Bukan-
kah Kakang Sidapaksa sedang dalam masa istirahat sehabis me-
nyelesaikan tugas kemarin?" tanya Ni Kembang Arum.
"Benar, istriku, tetapi ... tugas negara telah memanggilku lagi.
Aku tidak boleh melalaikan tugas negara. Demi nama baikku se-
bagai seorang patih yang menjadi kebanggaanmu dan anak-anak
kita kelak, istriku," katanya lagi.
1. , . I- .
Patih Sidapaksa sedang berpamitan kepada istrinya, Ni Kembang Arum .
12
Sidapaksa merenung sejenak. Ia merasa kasihan dan heran
karena Ni Kembang Arum tidak segera menyahut. Kemudian, Patih
Sidapaksa menghampiri istrinya dan berkata dengan suara lirih,
"lstriku, jangan bersedih. Sesungguhnya hatiku pun sangat berat
meninggalkanmu, tetapi aku tidak boleh menolak dan melalaikan
perintah raja kita. Oleh karena itu, jagalah dirimu dan calon anak
kita yang berada di dalam rahimmu dengan baik. Kali ini tugasku
akan memakan waktu yang agak lama," hibur suaminya kepada Ni
Kembang Arum.
Ni Kembang Arum tidak menyahut ucapan suaminya. Sejenak
ia menatap wajah suaminya, tetapi, kemudian ia menunduk. Hati-
nya bergejolak, sedih, kecewa, merana, dan perih. Berbagai pera-
saan bergejolak di hatinya. Ia hampir meneteskan air matanya.
Akan tetapi, pada saat itu juga ia berusaha untuk dapat mena-
hannya.
Melihat istrinya, Ni Kembang Arum, tetap diam seribu bahasa,
Patih Sidapaksa pun berkata lagi sambil membelai rambut dan
wajah istrinya yang cantik dan lembut itu.
"lstriku, sabarlah, aku sudah menitipkanmu dan bakal anak
yang sedang kaukandung itu kepada ibu. Ia telah berjanji akan
menjaga dan mengasihimu setelah kepergian Kakang nanti," kata
Patih Sidapaksa menenangkan istrinya.
Wajah Ni Kembang Arum menengadah ke wajah suami yang
dicintainya itu, kemudian, merebahkan kepalanya ke dada suami-
nya dan dengan terbata-bata ia berkata, "Kakang Sidapaksa, saya
tidak tahan lagi untuk berpisah lagi dengan Kakang. Sebaiknya
Kakang jangan dulu pergi jauh. Hanya kepada Kakang saya dapat
berlindung. Sedangkan kepada yang lainnya saya tidak percaya.
Saya kan sudah yatim piatu, tiada sanak dan saudara yang saya
miliki ... " kata Ni Kembang Arum kepada suami yang dicintainya.
Patih Sidapaksa mempererat dekapannya. Kemudian, sambil
membelai-belai perut gendut istrinya, Sidapaksa berkata lagi, "Ni
Kembang Arum, istriku, ibuku adalah ibumu juga," katanya sambil
membelai penuh kasih sayang Ni Kembang Arum. "Beliau pasti
13
dapat menjaga dan menyayangimu. Percayalah!" kata Sidapaksa
lagi menentramkan hati istrinya.
Pada saat mendengarkan penuturan suaminya bahwa mertua-
nya dapat dianggap sebagai ibu kandungnya, hati Ni Kembang
Arum menjerit. Di lubuk hatinya yang paling dalam ada keinginan
untuk menceritakan kenyataan sebenarnya tentang ibu mertuanya
itu kepada Patih Sidapaksa. Akan tetapi, untuk menjaga hubungan-
nya dengan Nyai Pandanwungu, mertuanya, itu tidak meruncing, Ni
Kembang Arum mengurungkan kembali niatnya untuk menceritakan
hal tersebut kepada suaminya, Patih Sidapaksa. Dengan berat hati
Ni Kembang Arum melepaskan dekapan pada suaminya dan mere-
lakan suaminya untuk menghadap ke istana memenuhi perintah
Baginda Sindurejo.
Ni Kembang Arum berkata kepada suami yang dikasihinya,
"Pergilah Kakang, kalau memang demi tugas negara yang
tidak dapat ditolak atau ditangguhkan. Saya berharap agar kita ce-
pat berkumpul kembali dalam keadaan yang seperti saat ini."
Akhirnya Ni Kembang Arum berkata begitu dan melepaskan
kepergian suaminya dengan berlinang air mata.
"Nah, begitulah, istriku yang setia. Sekarang kepergianku akan
lebih tenang dan lega karena terdorong oleh keikhlasan dan ke-
agungan jiwa besarmu. Selamat tinggal, istriku, jagalah dirimu dan
anak kita yang ada dalam rahimmu itu, baik-baik," kata Patih Sida-
paksa dengan suara yang terbata-bata. Kemudian, Patih Sidapaksa
melangkah keluar dan terus menuju ke belakang di mana kuda
kesayangannya, Si Hitam, telah menunggu. Ia segera menge-
luarkan kuda tunggangannya dan dengan cekatan ia naik ke pelana
dan langsung meloncat ke atas punggungnya. Tidak lama kemu-
dian terdengarlah ringkikan dan derap kaki kuda yang semakin
lama semaki menjauh ... menjauh ... dan tidak terdengar lagi oleh
telinga Ni Kembang Arum. Ia menunduk sedih, hampa, dan se-
suatu menghilang dari hidupnya.
3. PATIH YANG SETIA
Kepergian Patih Sidapaksa yang diiringi dengan harapan dan
air mata Ni Kembang Arum, istrinya yang sangat dikasihinya, telah
mendorong niat Patih Sidapaksa untuk menjalankan perintah
Baginda Sindurejo dengan sungguh-sungguh.
Tanpa diceritakan dalam perjalanannya, Patih Sidapaksa telah
tiba di depan pintu gerbang istana Kerajaan Karang Sewu. Patih
Sidapaksa segera menghentikan langkah kudanya dan ia menam-
batkan kudanya di halaman gapura Kerajaan Karang Sewu. Para
prajurit dan pengawal kerajaan menyambutnya dengan penuh
penghormatan kepada Patih yang gagah berani itu.
Patih Sidapaksa berjalan dengan gagahnya menuju istana
kerajaan. Di istana kini telah tampak Sri Baginda Sindurejo yang
sedang berbicara dengan beberapa petinggi kerajaan. Melihat ke-
datangan Patihnya yang terkenal sangat setia kepada raja dan
negara itu, Sang baginda menghentikan pembicaraannya dengan
petinggi kerajaan lainnya. Setelah tiba di hadapan Sang Prabu,
Patih Sidapaksa menyembah menghaturkan sembah baktinya ke
hadapan Paduka Raja Sindurejo, lalu Raja Sindurejo berkata ke-
padanya.
"Wahai, Patih Sidapaksa, rupanya Engkau sudah siap dengan
segala titahku," ujar Sang Raja dengan suara yang berwibawa.
Mendengar sapaan Baginda, lalu Patih Sidapaksa berkata.
"Daulat Baginda, ada apakah Baginda memanggil hamba,"
kata Patih Sidapaksa. Kemudian, katanya lagi, "Tugas apa pun
·yang Baginda perintahkan akan hamba junjung tinggi," kata Patih
Sidapaksa.
15
''Terima kasih, wahai patihku, bagus sekali. Aku telah membi-
carakan tugas yang akan kuberikan kepadamu ini dengan permai-
suriku," Raja mengulang lagi penjelasannya.
"Ampun Baginda, mengapa harus dengan Permaisuri, Bagin-
da?" tanya Patih Sidapaksa terheran-heran.
Sang Raja menjawab pertanyaan patihnya itu dengan bijak-
sana, katanya, "Karena tugas ini sebenarnya adalah untuk kepen-
tingan Sri Ratu. Engkau akan kutugaskan dan kutitahkan untuk per-
gi ke puncah Gunung ljen. Di puncak Gunung ljen terdapat se-
tangkai bunga yang bernama kembang Kandaga Sangga Buana
yang berkasiat untuk meremajakan dan mempertahankan kecan-
tikan yang abadi Sang Ratu, Permaisuri Kencanawati.
Petiklah dan persembahkanlah olehmu kembang tersebut ke-
pada permaisuriku, Ratu Kencanawati. Apabila tugas tersebut telah
selesai dan berhasil, aku sangat bergembira atas jasa dan baktimu
kepada kami. Bagaimana patihku? Apakah kau siap menjalankan
tugas yang saya sebutkan tadi?" kata Raja Sindurejo lagi yang di-
akhiri dengan sebuah pertanyaan dan harus dijawab dengan
pernyataan.
"Ampun, Baginda, walaupun untuk kepentingan Sri Ratu, saya
akan tetap melaksanakannnya dengan segenap kemampuan jiwa
dan raga saya," kata Patih Sidapaksa dengan suara mantap, "Kare-
na titah tersebut disampaikan oleh Sri Baginda," tambahnya lagi.
Tidak terkira senangnya hati Sang Prabu mendengar pernya-
taan patihnya yang begitu setianya mengabdi kepada dirinya, ke-
luarganya, dan negara. Baginda berkata, "Terima kasih, Patih! Ka-
lau kau sudah bersedia, berangkatlah sekarang juga. Saya berpe-
san, berhati-hatilah engkau dalam perjalanan. Semoga kau berhasil
memetik bunga yang dimaksudkan!" kata Sang Prabu. Setelah
menghaturkan sembahnya, Patih Sidapaksa berdiri dan melangkah
ke tempat kudanya ditambatkan. Selanjutnya, berangkatlah Patih
yang terkenal gagah perkasa dan sakti mandraguna itu.
4. PERJALANAN MENCARI BUNGA
KANDAGA SANGGA BUANA
Setelah keluar dari istana kerajaan, Patih Sidapaksa terus
memacu kudanya dengan penuh semangat. Si Hitam kuda kesa-
yangannya berlari dengan kencangnya. Hanya dalam hitungan
waktu beberapa menit ia telah keluar dari jalan utama yang menuju
keluar kerajaan Karang Sewu. Bahkan, ia terus memacu kudanya
ke arah utara. kini ia telah melewati batas perkampungan di luar
kerajaan, tetapi perkampungan itu masih termasuk ke dalam wila-
yah Kerajaan Karang Sewu.
Selanjutnya, beberapa saat kemudian, Patih Sidapaksa mulai
memasuki daerah yang berhutan lebat. Di kanan kirinya ditumbuhi
oleh pepohonan yang rimbun dan lebat, bahkan penuh dengan
semak-semak belukar. Perjalanan kali ini dirasa agak berbeda de-
ngan tugas-tugas yang pernah dijalankannya. Kira-kira dua jam
perjalanan, dia keluar dari hutan itu dan ia kembali memacu kuda-
nya sehingga sampailah ke sebuah tempat yang agak tinggi dari
sekitarnya. Kudanya dilarikannya terus.
Akhirnya lama-kelamaan dirasakan oleh Patih Sidapaksa lari
kudanya mengendur. Binatang itu sudah berlari dan melakukan
perjalanan yang cukup jauh. Bahkan, beberapa kali Si Hitam, kuda
kesayangan yang sering ditungganginya itu meringkik-ringkik.
Sampailah di suatu pohon yang terlihat sangat besar dan tinggi
di antara pohon-pohon lainnya. Ia menghentikan kudanya dan
melompat turun dari punggung kudanya itu. Si Hitam, kuda ke-
. sayangan yang juga se~tia menyertai setiap perjalanan mengemban
tugas negara.
17
"Hitam, mengapa kau meringkik terus? Apakah kau capai?
Lapar? Atau ada hal lain?" Patih Sidapaksa berkata kepada Si
Hitam seolah ia sedang berbicara dengan manusia. Oleh Patih
Sidapaksa terdengar Si Hitam terus meringkik dan akhirnya tahulah
majikannya bahwa perjalanan di depan mereka memerlukan ke-
waspadaan yang ekstra--seolah-olah ringkikan Si Hitam tersebut
merupakan isyarat kewaspadaan bagi dirinya.
Patih Sidapaksa melarak-lirik sekelilingnya dan setelah me-
nemukan yang dirasa cocok untuk melepaskan diri dari penat dan
lelahnya, maka istirahatlah ia beserta kudanya. Selanjutnya, Si
Hitam dibiarkannya memakan rerumputan yang ada di sekitar
tempat itu, tidak jauh dari tempat duduknya.
Angin berhembus melalui celah-celah pepohonan di sekitarnya
menembus badan Sidapaksa yang sangat kelelahan. Patih Sida-
paksa bersandar pada sebuah pohon yang sangat rindang dan
pantas untuk melepaskan letihnya. Di bawah pohon itu terdapat
sebuah batu ampar. Di sanalah ia melepaskan Ieiah sambil sejenak
matanya dilayangkan pada tumpukan daun-daun hijau di balik sana.
Di situ pulalah ia dapat membayangkan istrinya yang sedang hamil
tua, Ni Kembang Arum, yang kini ditinggalkannya.
Mata Patih Sidapaksa terpejam, bibirnya terkatup rapat, tetapi
hatinya terus gelisah teringat akan keadaan istri yang dikasihinya.
Apalagi, Ia tahu bahwa sebelum keberangkatannya memenuhi titah
Sang Baginda, Ni Kembang Arum terlihat sendu dan mengkhawa-
tirkan.
"Oh, Ni Kembang Arum, istriku," katanya dalam hati.
"Aiangkah bahagianya apabila pada saat engkau melahirkan
anak kita, aku telah datang kembali dan telah kumpul bersama
seperti dulu. Akan tetapi, perjalanan yang aku jalani ini belum tahu
sampai kapan, bahkan, aku ini tidak tahu akan seperti apa nasib
dan kendala apa yang akan aku alami yang akan menimpa atas
diriku ini sesampai di puncak Gunung ljen nanti. Kembang Arum,
semoga engkau selamat dalam melahirkan anak kita, buah cinta
kasih kita yang pertama. Apabila ia laki-laki, ia tentu akan seperti
diriku, akan segagah bapaknya, atau mungkin seperti kakeknya.
18
Apabila anak itu perempuan, tentu saja ia akan semanis dan se-
cantik engkau, ibunya Ni Kembang Arum ... !" pikirannya melayang-
layang ke istrinya yang ditinggalkannya.
Patih Sidapaksa tiba-tiba teringat kembali ke masa silam di-
mana ia dan Ni Kembang Arum baru bertemu dan pada saat sebe-
lum melangsungkan pernikahannya. Terbayang pula dalam ingatan-
nya sebuah pertengkaran dengan ibunya, Nyai Pandanwungu, pada
saat ia akan membicarakan perjodohan dirinya dengan Ni Kembang
Arum.
"Jadi yang kaupilih dan yang hendak kaukawini adalah gadis
dusun itu? Dia itu seorang gadis yang tidak tahu malu dan tidak
tahu sopan santun, Sidapaksa!" kata ibunya, Pandanwungu,
kepada dirinya.
"Sidapaksa, sadarkah kamu bahwa kamu telah melanggar ke-
hormatan dan amanat ayahmu semasa hidupnya pada saat masih
menjadi patih? Bahkan, kau telah menurunkan derajat keluarga
Mahapatih Karang Sewu yang telah dipegang dan dirintis oleh
ayahmu?" suara Nyai Pandanwungu tambah marah.
"Tapi, Bu," bantah Patih Sidapaksa mencoba membantah tu-
duhan ibunya yang kelewat batas menghina terhadap gadis yang
dicintainya.
"Bu, Ni Kembang Arum itu berasal dari keluarga yang baik-
baik. Kendati ia tidak berasal dari keluarga yang berkasta tinggi
seperti kita, tetapi ia berbudi luhur, tingkah laku dan perangainya
sangat halus, serta tutur sapanya sangat halus."
"Sidapaksa, anakku, bukalah matamu itu! Sebenarnya kau ha-
nya tertarik akan kecantikan lahiriahnya, bukan? Kau bahkan me-
muji dia setinggi langit dengan budi baik, perangai yang luhur, be-
gitu?" diam-diam ibunya Sidapaksa merasa iri akan kecantikan Ni
Kembang Arum eaton menantunya yang diinginkan anaknya itu.
"lbu, dengarlah saya. Saya berbicara sesungguhnya dan tidak
dibuat-buat," bela Sidapaksa lagi bersikeras kepada ibunya. "Se-
belumnya saya sudah meneliti dan menyelidiki terlebih dahulu
perilaku Ni Kembang Arum tersebut, Bu! Kebetulan saja memang
wajahnya cantik, ayu, dan lembut. Di samping itu, ternyata sifat dan
19
budi bahasanya benar-benar baik dan halus, Bu! " kata Sidapaksa
lagi meyakinkan ibunya bahwa pilihannya itu tidak salah .
"Seharusnya lbu berbangga hati bermenantukan wanita yang
memiliki kepribadian seperti Ni Kembang Arum. Bahkan, ... !" Per-
kataan Patih Sidapaksa terhenti oleh hardikan ibunya.
"Sidapaksa, hentikan pujian dan sanjunganmu yang berlebihan
itu! Aku sampai kapan pun tidak akan menjadi bangga, bahkan,
sebaliknya akan bertambah benci dan muak melihat wajah calon
istrimu itu! Aku tetap t1dak menyetujui kau menikah dengan si Arum
itu!" kata ibunya marah. Lantas , ibunya pergi meninggalkan Patih
Sidapaksa sendirian. Sidapaksa menarik nafas berat dan panjang.
Bagai tersadar dari lamunannya itu, Patih Sidapaksa membuka
kelopak matanya yang sedari tadi terpejam rapat membayangkan
pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Pada saat itu pula ter-
dengar ringkikan Si Hitam. Akhirnya Sidapaksa berhenti mengingat-
ingat kejadian itu.
Bibirnya bergumam pelan , "Oh , mudah-mudahan kejadian
yang sudah-sudah itu tidak teralami lagi oleh dirinya dan istrinya.
Dia berharap kini ibunya telah berubah pikiran dan menyayangi
istrinya, Ni Kembang Arum. Apalagi, peristiwa itu telah berlalu ... !"
bisik hatinya lirih. Kendati ia berusaha menghilangkan pikiran
buruknya, Sidapaksa bergumam lagi.
"Akan tetapi, kenapa hatiku kurang yakin karena istriku selalu
mengatakan agar aku jangan pergi jauh-jauh dan lama-lama me-
ninggalkan rumah, kendati Kembang Arum selalu berusaha menu-
tupi tingkah laku ibunya yang tidak berkenan di hatinya. Kau, me-
mang seorang istri yang bijaksana, Ni Kembang Arum .. . !" bisiknya
lagi.
"Akan tetapi , hatinya berusaha meyakinkan diri akan peru-
bahan perlakuan ibunya kepada Ni Kembang Arum . Bukankah se-
hari sebelum keberangkatan dirinya, tampak ibunya menyayangi
istrinya dan Ni Kembang Arum pun terlihat baik-baik . Jadi, sebe-
narnya tidak ada hal-hal yang patut ia kuatirkan pada istrinya se-
hingga percayalah dirinya kepada ibunya . Oleh karena itu, Sida-
paksa berani menitipkan Ni Kembang Arun kepada ibunya.
20
Kendati hatinya tetap berusaha menentramkan diri, tetapi tetap
saja hati nuraninya belum seratus persen percaya kepada ibunya .
Hatinya berbisik, "Tetapi, ... . Sungguhkah demikian? Sungguh-
sungguhkah ibunya, Nyai Pandanwungu telah berubah pikiran dan
perilakunya terhadap Ni Kembang Arum, istrinya?" seperti yang di-
harapkan dan dilamunkan oleh Ki Patih Sidapaksa?!
5. SIASAT LICIK SANG MERTUA
Di awal cerita telah dikemukakan bahwa Patih Sidapaksa telah
memenuhi titah Sri Baginda Sindurejo untuk mencari dan memetik
bunga Kandaga Sangga Buana di puncak Gunung ljen. Kini ter-
gambarlah keadaan sesungguhnya Ni Kembang Arum , istri Sida-
paksa sepeninggal suaminya.
Pada saat Patih Sidapaksa berangkat ke puncak Gunung ljen,
diceritakanlah bahwa suasana di rumah Patih Sidapaksa itu segera
berubah! Nyai Pandanwungu, ibunya Patih Sidapaksa kini mulai
memasang perangkap dan telah menampakkan benih-benih keben-
ciannya yang selama ada anaknya dipendam terhadap menan-
tunya, Ni Kembang Arum .
Pada satu hari Nyai Pandanwungu memanggil Ni Kembang
Arum.
"Kembang Arum . Rupanya kamu mulai bertingkah, mentang-
mentang kamu telah mendapatkan seorang suami patih kerajaan,
ya?" hardik Nyai Pandanwungu kepada menantunya yang terdiam
bingung .
Pada saat itu N1 Kembang Arum sedang membuat pakaian
bakal anaknya yang akan dilahirkan kelak. Ia menyambut kata-kata
hardikan mertuanya itu dengan tersenyum manis.
"Duh, lbu, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya heran.
"Arum , kamu tahu kan suamimu pergi ke puncak Gunung
ljen?" tanya Pandanwungu kepada Kembang Arum dengan mata
melotot, biji matanya hampir terloncat dua-duanya dari kelopak rna-
tanya .
22
"lya, Bu! Kakang Sidapaksa telah memberitahukan hal tersebut
kepada saya . Lantas, apa maksud lbu itu?" tanya Ni Kembang
Arum belum mengerti ke arah mana perkataan mertuanya itu.
"Kalau memang sudah tahu mengapa kamu tidak pergi ke
istana untuk menarik perhatian Sang Raja dan Sang Ratu?" tanya
Nyai Pandanwungu kembali.
Mendengar pertanyaan atau yang tepatnya perintah dari mer-
tuanya itu, Ni Kembang Arum semakin tidak mengerti dan ketidak-
mengertiannya itu merupakan hal yang wajar. Oleh karena itu, ia
pun bertanya lagi kepada mertuanya.
"Mengapa saya harus pergi ke istana untuk menarik perhatian
Raja dan Ratu?" tanyanya kepada mertuanya.
"Heh, Arum, dasar kamu ini wanita tolol ... !" hardik Pandan-
wungu mulai mengeluarkan kata-kata kasar.
"Kalau memang suamimu pergi sedang mengemban tugas,
engkau itu harus menemui Raja dan Ratu. Dengan demikian,
pergaulan kerabat kerajaan akan tetap terjaga, mengerti. Hal itu
menunjukkan bahwa engkau itu adalah seorang istri yang sangat
setia kepada suaminya. Hah, kamu itu memang dasar dungu! Tidak
tahu adat! Karena hidupmu hanya berasal dari dusun sehingga
tidak mengerti seluk-beluk yang berhubungan dengan negara. Bah-
kan, sebenarnya kamu itu tidak layak menjadi istri seorang maha-
patih seperti anakku itu, yakni Patih Sidapaksa!" tambahnya lagi
lebih menyakitkan hati Ni Kembang Arum.
Kendati mendengar perkataan mertuanya yang menyakitkan
itu, Ni Kembang Arum tetap diam. Ia pun berkata dalam hatinya
bahwa kata-kata Pandanwungu tersebut memang ada juga benar-
nya. Bahkan, hati kecilnya mengakui kebodohannya dalam urusan
negara. Walaupun demikian, ia berusaha menjawab perkataan mer-
tuanya.
"lbu, saya pikir bahwa saya seorang gadis dusun yang tidak
tahu apa-apa itu tidak usah diulangi lagi. Akan tetapi, saya telah
mendapat didikan dari kedua orang tua saya bahwa seorang istri
tidak patut ikut campur dengan urusan suaminya, kecuali apabila
diminta."
23
Ni Kembang Arum untuk sejenak menghentikan ucapannya,
matanya tajam tertuju ke arah Nyai Pandanwungu.
"Lagipula, Kakang Sidapaksa juga tidak pernah membawa
urusan negara ini pada saya sehingga saya tidak berani menda-
hului pembicaraan," tambahnya lagi.
"Halah, ltu karena anakku tahu, kamu tida~. akan bisa diajak
bicara mengenai negara. Apa sebabnya, karena kau itu bodoh dan
dungu," kata Nyai Pandanwungu lagi lebih berang dan menyakitkan
hati menantunya.
Tanpa menghiraukan kata-kata ibu suaminya, Ni Kembang
Arum melanjutkan perkataannya, "lbu, terus terang saya tidak
berani meninggalkan rumah, apalagi suami tidak ada. Saya harus
menjaga diri dari gunjingan orang!" kilah Ni Kembang Arum tegas.
"Tapi, hal itu tergantung pada niat dirinya sendiri, Kembang
Arum karena adat kampung yang kaumiliki berbeda dengan adat-
istiadat kerajaan," debat Pandanwungu lagi.
"Tetapi, Bu, kalau memang Raja dan Ratu membutuhkan agar
saya menghadap ke istana, tentu saja saya akan memenuhinya.
Akan tetapi, selama ini saya tidak pernah mendengar Raja dan
Ratu memanggil saya," tandasnya.
"Jadi, kamu sekarang hendak bertingkah? Menunggu dipang-
gil? Tanya Nyai Pandanwungu lebih kasar dan bengis lagi.
"Lagipula, mengapa kamu itu tidak mau mendekati dan mena-
rik perhatian pihak kerajaan itu sendiri?" tanya Pandanwungu ber-
tambah meninggi.
"Bagi saya, tidak ada gunanya dengan cara-cara seperti itu,"
kata Ni Kembang Arum membela pendiriannya.
"Yah, memang kamu itu wanita yang tidak tahu diri, dasar ... !
Setelah berkata demikian, Nyai Pandanwungu bergegas mening-
galkan rumah kediaman Patih Sidapaksa dan istrinya, Ni Kembang
Arum.
Sambil bersungut-sungut sendiri hatinya penuh ancaman,
"Dasar wanita sialan, lihat saja pembalasanku nanti, Kembang
Arum ....I" ancam hat'mya.
/
24
Menyaksikan tingkah laku mertuanya yang tidak berubah se-
dikit pun dari membenci dirinyal Kembang Arum mengeluh pelanl
"Ohl Dewata penguasa jagat rayal mengapa Engkau pertemukan
aku dengan Kakang Sidapaksa? Hatiku begitu tertekan oleh peri-
laku ibunya. Duh, Kakang Sidapaksal mengapa engkau belum juga
kern bali. Kakang ... I Kakangl ... I aku membutuhkanmul Kakang!"
rintihnya pilu.
6. TIPU MUSLIHAT
Hari demi hari terus berganti, bulan pun terus bertambah puta
hingga sampailah pada suatu malam. Ni Kembang Arum merasa-
kan perutnya sangat nyeri, mules-mules, dan sakit sekali. Ping-
gangnya penat. Sekujur tubuhnya pegal-pegal, apalagi di bagian
pinggangnya terasa ngilu, panas, penat, dan berat. Sebenarnya
perasaan dan keadaan yang dialaminya sudah empat hari yang
lalu, ia tetap bertahan untuk tidak memperlihatkannya. Akan tetapi,
pada malam itu rasa sakit, ngilu, perih, dan mules-mulesnya ber-
tambah-tambah hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta
tolong emban-nya.
"Bi, Bibi Yem, kemarilah cepat." panggil Ni Kembang Arum.
"Aduh, maaf Ndoro Ayu, Bibi agak terlambat," kata emban se-
tianya, Bibi Yem dengan cepat menghampiri majikan perempuan-
nya sambil dilanjutkan dengan mengelus-elus paha dan kaki maji-
kan yang dikasihinya memakai minyak kelapa . Hatinya sudah yakin
bahwa ndoro perempuannya itu akan segera melahirkan. Sambil
memijat-mijat, Bi Yem bertanya kepada Ni Kembang Arum.
"Ndoro Ayu, apakah pinggangnya sakit sekali? Mules-mules?
Bahkan sering ya terasanya?" tanya Bi Yem bertubi-tubi.
"Benar, Bi Yem. Sekarang cepatlah panggilkan saya dukun
beranak. Sepertinya saya sudah tidak tahan lagi, sakit Bi!" tambah
Kembang Arum diiringi suara rintihan kesakitan.
Oengan cepat Bi Yem segera meninggalkan Ndoro Ayu-nya
hendak mencari dan memanggilkan dukun beranak yang memang
sudah tersedia di lingkungan rumah majikannya. Sejurus kemudian,
muncullah Bi Yem diiringi oleh seorang perempuan tua agak gemuk
26
yang biasa menangani proses kelahiran bayi yang berada di
lingkungan kediaman kepatihan yang bernama Mbok Semi.
"Mbok, cepatlah kemari, aku sudah tidak tahan lagi. Sakit rasa-
nya sekujur tubuhku. Ngilu rasanya pinggangku," rintih Ni Kembang
Arum kepada Mbok Semi yang baru saja tiba di dekatnya.
Mbok Semi, dukun beranak yang sudah terkenal sangat pandai
memikat hati para ibu yang akan melahirkan dikarenakan kelem-
butan dan kemahirannya dalam menangani proses persalinan, se-
gera mendekat dan memegang perut Ni Kembang Arum. Tangan-
nya sudah memegang minyak oles perut, biasanya minyak kelapa.
Lalu dia berkata, "Sabarlah, Ndoro Ayu, sebentar lagi semua rasa
yang dialami Den Ayu akan segera berganti dengan rasa syukur
dan kegembiraan," bujuk Mbok Semi menghibur dan menenangkan
Ni Kembang Arum.
Mendengar perkataan Mbok Semi, agak berkuranglah rasa ke-
sakitan yang dialaminya, barangkali inilah salah satu kelebihan
Mbok Semi ini.
Mbok Semi dengan penuh kelembutan dan perhatian terus-te-
rusan mengelus-elus dan memijat-mijat halus kandungan Ni
Kembang Arum, memakai minyak oles kelapa sambil mulutnya
berkomat-kamit membacakan mantra pelancar bagi orang-orang
yang akan melahirkan.
"Ndoro Ayu, ini kandungannya agak membulat sepertinya anak
yang sedang Ndoro lahirkan itu laki-laki," kata Mbok Semi mencoba
merayu dan meringankan rasa sakit yang sedang dialami Ni Kern-
bang Arum berdasarkan pengalaman menangani persalinan.
"Mbok, ini, ini, hhht ... , hhht ... , perutku mulas sekali ... , ssst
... , ssst ... , ssst ... , aduh Mbok, saya sudah tidal< tahan lagi," rintih
lirih Ni Kembang Arum tertahan.
"Terus ... , terus ... , Ndoro, ini pertanda cah bag us akan keluar
dan tidak betah lagi berada di dalam perut," kata Mbok semi me-
nambah semangat Ndoro-nya yang sedang berjuang untuk mela-
hirkan putra pertamanaya.
Ni Kembang Arum terus mengejan sekuat-kuatnya karena rasa
mulas dan ngilu yang dialaminya dibarengi dengan sesuatu yang
27
tengah mendorong menyeruak keluar. Keringat dingin bercucuran di
dahinya bahkan sekujur tubuhnya pun telah dibasahi keringatnya.
Di sampingnyal Mbok Semi dengan sabar mengelus-ngelus perut
Ni Kembang Arum bagian bawahnya, meng-klitik-klitik geli, menurut
ceritanya agar bayi yang ada di dalam perut ibunya merasa geli dan
cepat keluar. Tangannya pun telah basah oleh minyak kelapa untuk
mengelus-elus wanita di hadapannya.
"Den Ayul ayolah sedikit lagi," kata Mbok Semi membangkitkan
semangat Kembang Arum. Dilihatnya sebuah benda tepatnya ke-
pala tengah menyeruak keluar. ltu pasti kepala sang bayi.
Tiba-tiba Kembang Arum meringis dan menjerit keras dibarengi
lengkingan panjang. "Duuh, Mbok ... I sakitl heuugl heuuhgl ssstt
···~ sssstt aaoow ....I" J. en"tnya Iag1..
Mbok Semi berharap-harap cemas menanti kehadiran sang
jabang bayi. Tiba-tiba dari dalam rahim Ni Kembang Arum, sesuatu
menyeruak terus dan akhirnya mak plonyot seorang bayi merahl
mungil, dan lucu. Berbarengan dengan itu terdengar suara tangis
bayi itu, "Oa ... , oa ... I oa ... !" Mbok Semi menadahi kehadiran bayi
mungil tersebut dengan perasaan lega. Setelah keseluruhan proses
kelahiran bocah mungil tersebut sempurna, dengan sigap dan pe-
nuh perhatian, Mbok Semi memotong ari-ari yang menghubungkan
sang bayi dengan ibunya dengan menggunakan sembilu dari
bambu yang telah dibersihkan. Dan tidak lama kemudian selesailah
Mbok Semi membersihkan sang bayi mungil tersebut.
Selanjutnya, Mbok Semi menempatkan bayi tersebut di ranjang
kecil di samping Ni Kembang Arum.
Di sampingnya, Ni Kembang Arum tersenyum penuh kegem-
biraan karena bayi yang dinanti-nantinya telah selamat. Dia melirik
ke arah samping, melihat bayi mungil itu. Seorang bayi mungil,
berkulit kuning bersih, berambut ikal, bermata beningl dan ber-
hidung mancung terus ia pandangi dari arah samping. Hatinya
senang bercampur sedih karena proses kelahiran anaknya tidak
ditunggui oleh suaminya tercintal Patih Sidapaksa.
28
Tiba-tiba terdengar Jagi tangisan keras dari mulut mungil
berbibir merah itu, "Oa ... , ooaaa ... , ooaaa ...., oa ... ," bertambah
kerasnya.
"Mbok, dari tadi Mbok kok tidak bilang, laki-laki atau perem-
puankah bayi saya itu?" tanya Ni Kembang Arum kepada Mbok
Semi yang tengah sibuk membersihkan dan mengulapi badan Ni
Kembang Arum dengan air hangat dari barah yang masih mengalir
di tubuhnya.
Mendengar pertanyaan Ni Kembang Arum, Mbok Semi segera
menjawab seolah dia pun baru menyadarinya.
"Duh, Ndoro Ayu, rasa syukur kita panjatkan kehadirat Dewata
Penguasa Jagat Raya karena ternyata bayi Ndoro Ayu seorang bayi
laki-laki tampan dan molek," tambahnya dengan gembira.
Mendengar keterangan itu, tidak tertahan lagi air mata yang
~edari tadi ditahannya meleleh dan terus membasahi kedua pipinya.
Dia teringat kepada suaminya yang tengah menjalankan titah Sang
Prabu Sindurejo.
"Duh, Kakang Sidapaksa, di mana engkau? lni bayi kita sudah
lahir, Kakang. Laki-laki dan Jucu. Kita pantas untuk bersyukur kepa-
da Sang Hyiang Jagat Raya," bisik hatinya dengan mata terpejam.
Di luar kamar persalinan Ni Kembang Arum, Nyai Pandan-
wungu, tengah menanti kelahiran bayi anaknya Sidapaksa dengan
suatu rencana yang telah tersusun rapi.
Ketika terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar menan-
tunya, Nyai Pandanwungu tertegun dan diam. Dia menunggu bebe-
rapa lama di luar. Setelah agak lama dia pun masuk ke dalam
kamar Ni Kembang Arum untuk melihat bayi yang sebetulnya ada-
lah cucunya sendiri.
Di atas tempat tidur telah tergolek seorang bayi mungil laki-laki
berparas tampan dan berkulit kuning bersih, bermata bulat me-
mancarkan sinar keluguannya. Jelas terlihat bahwa bayi tersebut
mirip dengan anaknya, Patih Sidapaksa. Dia tertegun. Akan tetapi,
dia cepat menghampiri bayi tersebut sambil menunjukkan sifat
munafiknya seolah-olah memperlihatkan rasa kasih dan sayangnya
kepada anak Kembang Arum.
29
Mbok Sem I meneramnpjaantgkaknecbial ydl 1ysaanmgpd·ml.lagh1.irbkuannyaN. i Kembang Arum itu di
30
"Waduh, cucuku sayang, ternyata engkau bayi laki-laki yang
tampan, mari sini cah bagus, Eyang Putri sudah lama merindukan
kehadiranmu!" kata Nyai Pandanwungu penuh dengan nada suara
lembut yang dibuat-buat.
Ni Kembang Arum memejamkan kedua matanya karena rasa
pedihnya. Dia tidak begitu yakin akan ketulusan hati mertuanya itu.
Entahlah. Hati kecilnya tetap belum meyakini dengan segala per-
kataan yang baru didengarnya itu.
Kendati demikian, kini hatinya tengah diliputi rasa suka dan
gembira karena bayi yang selama sembilan bulan dikandungnya
telah lahir dengan selamat. Seorang bayi laki-laki berparas tampan ,
bermata bulat berbinar-binar, dan berkulit kuning bersih itu telah
ada di sampingnya.
Delapan bulan dari kelahiran sang bayi laki-laki buah cinta
kasih Patih Sidapaksa dengan Ni Kembang Arum telah berlalu. Bayi
itu tumbuh subur dan sehat di bawah pengasuhan sang ibu yang
sangat menyayanginya.
Setelah sekian lama menanti dengan penasaran dan harap-
harap cemas, kini bayi itu telah tumbuh sehat, kulitnya bertambah
bersih, matanya berbinar-binar, badannya pun bertambah montok.
Ni Kembang Arum amat senang hatinya.
Kendati demikian, di lubuk hatinya yang paling dalam Ni
Kembang Arum merasa sangat tertekan dan menderita bahkan
tidak mempercayai kenyataan tindakan mertuanya, Nyai Pandan-
wungu, yang selalu menunjukkan kebaikan terhadap dirinya dan
anaknya sekarang ini. Namun, ia berusaha untuk menghilangkan
perasaan dan kekuatiran yang tidak berguna itu dari lubuk hatinya .
"Mudah-mudahan ibu mertuaku memang sudah sadar dan mau
menerimaku dan anakku sebagai menantu dan cucunya," bisik
hatinya penuh harap.
Suatu siang yang tengah menyengat karena matahari sudah
sepenggalah, Ni Kembang Arum dan anaknya tengah berada di
beranda rumahnya. Dia sedang memangku bayi laki-lakinya diiringi
dengan suara nyanyian nina bobo anaknya. Anak laki-laki berparas
tampan itu setengah tertidur di atas pangkuan ibunya. Matanya
31
sebentar terpejam sebentar agak membuka dan akhirnya ia pun
tertidur pulas di pangkuan ibunya.
Setelah tertidur pulas, Ni Kembang Arum masuk ke dalam
rumah untuk meletakkan bayi laki-lakinya itu di atas tempat tidur.
Kemudian, meletakkannya dengan hati-hati dan penuh cinta kasih
di atas tempat tidur.
"Tidurlah, anakku sayang, ibumu akan menjagamu dengan se-
penuh hati. Pada saatnya nanti kita akan bertemu dengan ayahmu,
Nak! Sabarlah, ya Nak, Ayahmu sekarang sedang berdarma bakti
kepada Sri Baginda. lbumu pun telah rindu terhadap ayahmu!" bisik
Ni Kembang Arum pelan kepada anaknya sambil mengusap-usap
dahi anaknya. Sebelum keluar kamar, diciumnya berkali-kali pipi
anaknya dengan perasaan kasih.
Setelah anaknya tertidur, Ni Kembang Arum ke luar kamarnya.
Selang beberapa menit, dari arah pintu terbuka lamat-lamat terlihat
sesosok tubuh yang amat dikenalinya . Sosok tubuh perempuan itu
bertambah dekat, dan ternyata di hadapannya itu adalah mertua-
nya, Nyai Pandanwungu.
"Kembang Arum ... ! Kembang Arum!" teriak Nyai Pandan-
wungu dari luar rumah. Melihat kedatangan mertuanya itu, Ni
Kembang Arum cepat-cepat menghampirinya dan menyambutnya
dengan sopan.
"Oh, lbu, senang sekali saya atas kehadiran lbu, ada apakah
gerangan lbu menyempatkan diri mengunjungi kami?" tutur Ni
Kembang Arum penuh tanda tanya.
"Begini Arum. Aku ke sini hendak melihat cucuku, sayang .
Sudah lama rasanya aku tidak melihat cucuku itu. Di manakah dia,
Arum?" tanya Nyai Pandanwungu lagi.
"Anu, Bu, dia sedang tidur siang di dalam kamar. Silakan, lbu
melihatnya di sana. Atau barangkali, harus saya gendongkan ke
luar, Bu?" tanyanya lagi kuatir ibu mertuanya berubah pikiran tidak
jadi menengok putranya.
"Tidak usahlah, Kembang Arum, aku akan melihatnya lang-
sung. Dan ini makanan kesukaanmu aku bawakan jauh-jauh su-
paya engkau makan.
32
Engkau kan kini sedang jauh dari suamimu, jadi aku sangat
memperhatikan keadaanmu," kata Nyai Pandanwungu lagi seolah-
olah hilang sifat buruk dahulu yang ia miliki sebelum perkawinan
dirinya dengan Patih Sidapaksa.
Nyai Pandanwungu bergegas memasuki kamar di mana terti-
dur cucunya hasil perkawinan Ni Kembang Arum dengan anaknya,
Patih Sidapaksa. Dihampirinya cucunya itu dan didekatinya bocah
mungil tersebut.
"Anak ini memang mirip sekali dengan anakku, Sidapaksa.
Wajahnya juga tampan, setampan bapaknya. Belum lagi rambutnya
yang hitam tebal mewarisi rambut bapaknya," bisik hatinya tidak
menyangkal kenyataan itu.
Memang benar hampir segala yang ada di diri bocah kecil itu
warisan dari bapaknya, Patih Sidapaksa, kecuali bentuk matanya
yang bulat hitam berbinar-binar warisan dari ibunya, Ni Kembang
Arum, yang memang bermata bulat hitam penuh keteduhan.
"Kau memang cucuku, buah perkawinan anakku, Sidapaksa
dengan Kembang Arum. Akan tetapi, tahukah kau, bahwa aku
sangat membenci ibumu itu. Jadi, jangan salahkan aku, kalau
sampai saat ini pun aku tetap membenci ibumu itu, bahkan aku pun
sangat membenci kehadiran dirimu juga. Kamu dan ibumu akan
tahu pembalasan yang akan aku berikan pada diri kalian berdua,"
kata hati Nyai Pandanwungu dengan geram dan dengan bibir
sedikit tersungging sinis ke arah bocah kecil yang sedang tertidur
pulas.
Ternyata sampai detik ini pun Nyai Pandanwungu tetap mem-
benci menantunya itu. Jadi, sikap baik dan perhatian yang selama
ini ia tunjukkan hanyalah kepalsuan belaka. Semua kebaikan yang
ia berikan kepada Ni Kembang Arum dan anaknya itu adalah pura-
pura belaka. Ada niat dan rencana yang tidak baik dibalik se-
muanya itu.
Setelah berbisik begitu, Nyai Pandanwungu keluar dari kamar
. tersebut. Dia duduk-duduk di ruang tengah. Tidak berapa lama dari
dalam kamar terdengar suara tangis anak laki-laki itu. Sebelum ia
bangkit, dari luar rumah sudah terlihat Ni Kembang Arum dengan
33
tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya dan mengambil anaknya
itu. Nyai Pandanwungu mengikutinya dari belakang.
Mengetahui langkahnya diikuti oleh mertuanya , Ni Kembang
Arum merasa aneh. Akan tetapi, dia tidak meneruskan pikirannya .
Lantas, ia memanggil embannya , Bi Darmi, yang sedari tadi tengah
menyelesaikan masaknya di dapur.
"Bibi, Bibi, Bi Darmi, kemari Bi. Aku mau minta tolong pada
Bibi," panggil Ni Kembang Arum dengan suara yang agak keras
kepada pembantunya.
"Ada apa Ndoro Ayu, memanggil Bibi," kata Bi Darmi setelah
dekat dengan Ni Kembang Arum.
"Anu, Bi Darmi, aku mau minta tolong pada Bibi. Aku mau pergi
ke tempat kendurinya Paman Martoloyo di sebelah sana kira-kira
tujuh rumah dari sini. Oleh karena itu, aku hendak menitipkan iki,
cah bagus iki kepada Bibi. Tolong jagakan anak ini baik-baik, ya Bi.
Sebentar saja saya pasti kembali!" kata Ni Kembang Arum panjang
Iebar kepada emban-nya itu. Sambil berkata begitu Ni Kembang
Arum sambil menidurkan kembali putranya yang terbangun karena
pipis tadi. Kemudian, dia pun keluar kamar lagi menghampiri Bi
Darmi yang sedang menunggunya.
"Betul, ya Mbok, aku titip anakku, ya, tolong jangan sampai
tidak dijagakan," kata Ni Kembang Arum lagi.
Bi Darmi mengangguk seraya berkata, "Nggih Ndoro Ayu,
saya akan menjaga Ndoro Putra dengan segenap jiwa raga saya.
Percayalah pada Bibi karena Bibi pun sangat menyayangi cah
bagus iki," tambahnya lagi dengan ucapan penuh ketulusan.
Nyai Pandanwungu yang sedari tadi diam saja mendengarkan
percakapan Ni Kembang Arum dengan Bi Darmi dalam hatinya ter-
senyum penuh kegembiraan. Ada sebersit kelegaan dalam benak-
nya. Rencana yang selama ini ia pendam akan segera ia laksa-
nakan. "Barangkali inilah saatnya aku mewujudkan segala rencana-
ku ini terhadap menantu dan cucu yang tidak tahu diri itu, bisik hati-
nya penuh nada ancaman.
Setelah berkata begitu, Ni Kembang Arum bergegas berdan-
dan seperlunya untuk memenuhi undangan kerabat dekatnya yang
34
akan melaksanakan kenduri. Terlebih dahulu ia pamit kepada mer-
tuanya, Nyai Pandanwungu.
Setelah kepergian menantunya, Nyai Pandanwungu dengan
senangnya segera melancarkan niat jahatnya untuk membalas sakit
hatinya yang sekian lama direncanakan. Di bibirnya tersungging
senyuman sinis dan kebencian.
Nyai Pandanwungu masuk ke dalam kamar menantunya. Dili-
hatnya putra Ni Kembang Arum sedang tertidur nyenyak. Dita-
tapnya pula dengan mata penuh kebencian anak tersebut.
"Anak.Ja hanam ....I
Aku benci pada ibumu ! Kamu seharusnya tidak usah lahir ke
dunia ini! Akan tetapi, karena kau telah terlahir, dengan terpaksa
aku akan melenyapkanmu juga.
"Aku pun akan mengakhiri hidupmu!" bisiknya penuh keben-
cian.
Untuk melaksanakan niat jahatnya itu, Nyai Pandanwungu
terlebih dahulu menyuruh Bi Darmi untuk membeli sirih kesukaan
dirinya. ltulah alas an dirinya untuk menjauhkan bayi itu dari emban
pengasuhnya.
Setelah merasa tidak ada yang mengetahuinya, dengan le-
luasa Nyai Pandanwungu mengambil bayi yang tidak berdosa itu--
anaknya Ni Kembang Arum yang sebetulnya masih cucunya. Dia
membawanya ke luar rumah dengan terlebih dahulu menyumpal
mulut bayi yang tidak berdosa tersebut dengan kain supaya tidak
terdengar tangisannya.
Dengan berjalan tergesa-gesa Nyai Pandanwungu membawa
bayi itu keluar rumah. Hanya dengan dibungkus kain selimutnya itu,
bayi montok Ni Kembang Arum tersebut dibawanya memasuki hu-
tan rnenjauhi tempat tinggalnya.
Akhirnya, sampailah di suatu tempat di mana terdapat sungai
yang sedang mengalir sangat derasnya. Dengan menengok ke sa-
na-kemari, Nyai Pandanwungu meletakkan bayi tersebut dengan
kasarnya.
Kemudian, dengan tidak berperasaan bayi tersebut ditikam
lehernya dengan sebuah pisau belati yang telah ia persiapkan se-
35
belumnya. Dengan tidak bersuara sedikit pun bayi mungil dan
montok tersebut kini tidak bernyawa lagi.
Untuk menghilangkan jejaknya, Pandanwungu segera mem-
bungkus bayi tersebut dan melemparkannya dengan kejam ke
dalam arus air sungai yang deras tersebut. Dan seketika itu pula
lenyaplah jasad bayi Ni Kembang Arum ditelan derasnya arus air
sungai tersebut. Kini Nyai Pandanwungu tersenyum kegirangan
karena maksud hatinya telah terlaksana. Bergegas ia langkahkan
kakinya dari tempat tersebut dan pulanglah ia ke rumahnya.
7. KEHILANGAN ANAK
Kini diceritakanlah tentang Ni Kembang Arum setiba di rumah-
nya. Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam dadanya
Ni Kembang Arum ke sana-kemari melihat ke seluruh ruangan
dalam. Setelah di dalam kamar, dia berlari ke ruangan depan dan
belakang, tetapi tetap hasilnya nihil. Kini anaknya jelas-jelas sudah
tidak ada di tempatnya lagi.
Dengan berbekal satu harapan semoga anaknya sedang ber-
sama embannya, maka dipangillah Bi Darmi embannya itu yang
sedang berada di belakang rumah.
"Bi, Bibi, Bi Darmi, kemarilah dulu Bi," panggil Ni Kembang
Arum agak keras saking paniknya.
"Oh, Ndoro Ayu sudah pulang tho, ada apa Ndoro, memanggil
Bibi?" tanya Bi Darmi kepada majikannya.
"Anu, Bi, anak saya di mana tho, kok tidak ada lagi di tempat-
nya? Sebelum aku pergi ke undangan tadi, aku kan sudah wanti-
wanti supaya Bibi menjaga anak tersebut. Coba Bi cari anakku!"
tanya Ni Kembang Arum dengan perasaan panik.
Sambil mengikuti perintah, Bi Darmi yang terbawa kepanikan
Ni Kembang Arum tanpa banyak suara mencari anaknya Ni
Kembang Arum.
"Ndoro Ayu, anu Bibi mau matur, Ndoro," kata Bi Darmi dengan
hati-hati karena dilihatnya Ni Kembang Arum sedang panic.
"Bibi mau bilang apa tho, katakan saja," ujar Ni Kembang Arum
sambil memalingkan wajahnya ke arah Bi Darmi.
"Anu, Ndoro Ayu, tadi itu seperginya Ndoro Arum, Bibi disuruh
Ndoro Sepuh ke warung sebelah untuk membeli sirih. Bibi langsung
menitipkaan Den Bagus kepada Ndoro Sepuh. Kemudian, Bibi meli-
37
hat Ndoro Sepuh menuju ke tempat tidur Den Bagus," Bi Darmi
menjelaskan perihal yang dilihatnya tadi kepada Ni Kembang Arum.
"Tapi, Bi, bukankah pada saat saya berpamitan hendak pergi
ke luar tadi lbu pun mengatakan akan pulang juga?" tanya Ni
Kembang Arum mencoba untuk menghibur dirinya dari kekalutan.
Bi Darmi menanggapi pernyataan Ndoro-nya dengan nada me-
nandaskan lagi. "Anu, Ndoro Ayu, Ndoro Sepuh tidak jadi pulang-
nya malah menyuruh Bibi membelikan dia sirih".
"Bi, apa mungkin ya lbu mengambil anakku itu?" tiba-tiba ke-
cemasan hatinya bertambah-tambah mengingat dahulu mertuanya
tidak menyukai kehadiran dirinya .
"Atau mungkin anakku ada yang menculiknya, Bi?" tanya Ni
Kembang Arum lagi kepada embannya dengan diikuti tetes air mata
yang mulai menetes di pipinya.
"Ampun, Ndoro Ayu, dari tadi Bibi belum melihat siapa-siapa
selain Ndoro Sepuh karena Bibi pun perginya hanya sebentar tadi!"
tandasnya dibarengi perasaan gugup mendengar kekuatiran Den
bagus-nya diculik orang.
Dengan perasaan yang tak tertahankan lagi, menangislah Ni
Kembang Arum di hadapan Bi Darmi emban-nya sambil memanggi-
manggil nama suaminya yang sampai sekarang belum kembali dari
menunaikan tugas negaranya.
"Oh, Kakang Sidapaksa, tiwas Kakang. Anak kita kini hilang
tidak tentu rimbanya!" rintih Ni Kembang Arum dengan memelas.
Belum hilang dari isak tangisnya, Ni Kembang Arum menengok ke
arah Bi Darmi sambil bertanya lagi.
"Bi, apakah pada saat lbu pulang, Bibi sedang berada di
mana? Apakah Bibi melihat kepulangannya?" tanyanya pula.
"Maaf, Ndoro Ayu, pada saat itu saya sedang disuruh Ndoro
Sepuh membeli sirihnya. Ketika saya pulang, Beliau sudah tidak
ada lagi. Saya pikir Ndoro Sepuh sedang berada di dalam kamar
bersama Den bagus," tambahnya dengan nada agak-agak takut.
"Mengapa Ndoro Ayu menanyakan hal itu kepada saya?"
tanyanya dengan nada heran.
38
Pertanyaan terakhir dari embannya itu tidak dijawabnya. Kecu-
rigaan yang dipendamnya selama ini kini beralasan. Akan tetapi,
untuk menuduhnya secara terang-terangan itu tidak mungkin, ia
tidak berani. Yang dapat dilakukannya adalah segera berlari ke
sana-kemari mencari anaknya. Ke pinggir-pinggir sungai bahkan ke
hutan dekat tempat tinggalnya. Namun, segala usahanya sia-sia.
Anaknya itu tidak ia temukan. Lemas lunglai seluruh sendi-sendi
tulangnya. Akhirnya, ia pun menangis lagi.
Beberapa hari setelah kejadian hilangnya bayi yang dicintainya
itu, kini Ni Kembang Arum mulai terganggu pikirannya. Ia mulai lupa
makan dan lupa minum. Ia pun tidak pernah lagi menghiraukan
saran embannya yang sering menasihatinya untuk menerima coba-
an ini dengan ikhlas.
"Ndoro Ayu, makan dan minumlah Ndoro, jangan menyiksa diri
begitu. Biarlah semuanya terjadi atas kehendak Dewata. Apalagi
harus mengurung diri seperti itu, Ndoro Ayu," setiap saat Bi Darmi
selalu mengingatkan majikannya itu dengan nada cemas. Akan
tetapi, Ni Kembang Arum tetap berbaring lemas di kamar tidurnya.
Ia bingung. Apa yang hendak dikatakannya kepada suaminya nanti
andai ia pulang. Pikirannya semakin kalut.
Berhari-hari ia seperti itu, tidak makan tidak minum. Bahkan,
makanan yang lain pun tidak ada yang melewati tenggorokannya.
Hingga akhirnya tubuhnya semakin mengecil, kurus kering, tinggal
kulit pembungkus tulang karena memikirkan nasib anaknya yang
dicintainya hilang.
Pada suatu hari, berita hilangnya si cucu sudah sampai di
telinga Nyai Pandanwungu. Bahkan, sakitnya Ni Kembang Arum
pun telah ia ketahui. Hingga pada siang itu dengan berlagak seperti
seorang nenek yang sedih kehilangan cucunya serta dengan tam-
pang yang tiada berdosa, mengunjungi menantunya itu.
Nyai Pandanwungu menghampiri menantunya yang sedang
berbaring lemas di tempat tidurnya. Bukannya dengan kata-kata
yang bernada menghibur ia hadapi menantunya yang telah kehi-
langan anaknya, malah sebaliknya kedatangannya hanyalah me-
nambah kepedihan hati Ni Kembang Arum
39
"Arum, Kamu ini gimana tho, lha wong njaga anak kok malah
ke/uyuran tidak karuan sehingga anak hilang kamu tidak tahu .Kamu
itu seorang ibu yang tidak pandai menjaga anak! Kau itu teledor! Di
mana sebetulnya anakmu itu, heh, wanita sialan?" tanyanya dengan
memperlihatkan sifat aslinya yang penuh kebencian.
"Duh, lbu, mengapa lbu menuduh saya sekejam itu?" rintih Ni
Kembang Arum menghiba. Saya tidak seburuk yang ibu pikirkan.
Saya ini manusia normal, Bu. Bukankah lbu pun mengetahui pada
saat kehilangan anak itu saya sedang mengunjungi famili yang
sedang kendurian?" bantahnya dengan suara pelan.
"Saya juga tidak mungkin membunuh anakku sendiri, lbu!"
tambahnya lagi.
"Oh, Dewata yang maha mengetahu segala yang terjadi di
muka bumi ini, tunjukkanlah kebesaran-Mu itu kepada saya!' pinta
Ni Kembang Arum sudah tak terdemgar lagi.
"Bedebah, jangan kau sebut-sebut nama dewata, kamu me-
mang pandai bersandiwara dan menyembunyikan sifat licikmu!"
hardik Pandanwungu keras.
Akhirnya setelah merasa puas mencaci-maki Ni Kembang
Arum dengan kata-kata kotor dan menyakitkan, Nyai Pandanwungu
pergi dan bergegas meninggalkan menantunya yang tengah
dirundung kebingungan.
8. SAMBUTAN UNTUK KEPULANGAN PATIH
Berbulan-bulan sudah pengembaraan Patih Sidapaksa dalam
menemukan dan memperoleh bunga Kandaga Sangga Buana yang
berada di puncak Gunung ljen. Dengan tidak diceritakan bagai-
mana dan seperti apa perjalanan yang telah dilakukan dan dilalui
oleh Patih Kerajaan Karang Sewu itu hingga genap setahun
pengembaraannya, maka pulanglah Patih Sidapaksa ke rumahnya.
Hari itu, setelah genap setahun meninggalkan istrinya yang
sedang hamil tua, Patih Sidapaksa pulang ke rumahnya setelah
menyerahkan bunga Kandaga Sangga Buana yang berhasil ia petik
di puncak Gunung ljen. Bahkan, bunga tersebut telah ia persem-
bahkan kepada Sri Ratu dan Sri Baginda di kerajaan.
Berita keberhasilan Patih Sidapaksa memetik bunga yang
sangat langka itu terdengar di telinga ibunya, Nyai Pandanwungu.
Sebelum sampai di rumahnya, Patih Sidapaksa telah dicegat oleh
ibunya di persimpangan jalan. Begitu melihat sosok ibunya, Sida-
paksa kemudian menghentikan langkah kudanya.
"Mengapa ibu mencegatku di tengah jalan?" bisik hatinya
heran. Mengapa bukan istrinya yang menyambut kehadiran diri-
nya?" tanya batinnya pula.
"Sidapaksa, anakku, syukurlah kau, Nak, telah kembali dengan
selamat. Kau telah menunaikan tugasmu denganbaik, anakku!" kata
ibunya dengan ramah dibuat-buat.
"Terima kasih, Bu," setelah ia turun dari punggung kudanya
dan menghampiri ibunya.
41
Nyai Pandanwungu mencegat Patih Sidapkas di persimpangan jalan.
42
"Bagaimana keadaan istriku, Bu?' Tanya Sidapaksa dengan
nada suara yang tidak sabar lagi untuk mendengarkan keadaan istri
dan anak yang dikandungnya.
Dengan nada sedih dan suara yang dibuat-buat, Nyai Pandan-
wungu berkata dan mengadu kepada anaknya, "Sidapaksa, anak-
ku!" ia berpura-pura sedih dan meneteskan air matanya.
"Apa yang terjadi dengan istri dan anakku, Bu. Coba katakan!"
Patih Sidapaksa memaksa ibunya untuk cepat mengatakannya.
"Sidapaksa, istri pilihanmu itu ternyata seorang ibu yang tidak
berperikemanusiaan, Nak!" lanjutnya penuh kebohongan. "Anakmu
yang baru lahir dari rahimnya sendiri telah dibunuhnya! Kemudian,
dibuangnya ke sungai yang berada di tengah hutan itu. Dan kini
istrimu itu tengah berpura-pura sakit parah di rumahmu," katanya
lagi.
"Oh, benarkah itu, Bu?" tanya Sidapaksa seolah tidak percaya.
"Kalau tidak percaya, kamu bisa membuktikannya sendiri.
Pisau yang digunakan istrimu untuk membunuh anakmu itu pun
masih ia sembunyikan di bawah bantal istrimu. Buktikan saja, Nak!"
hasut ibunya lagi.
Mendengar hasutan palsu yang dibuat oleh ibunya, tanpa pikir
panjang lagi, Sidapaksa melompat ke atas punggung kudanya dan
seketika itu pula melesatlah ia bersama kudanya dari hadapan
ibunya. lbunya tersenyum penuh kemenangan.
Sesampainya di rumah, Patih Sidapaksa segera turun dari
kudanya dan bergegas masuk ke kamar di mana istrinya tampak
tergolek lemah. Ketika mendengar ringkikan suara kuda, mata Ni
Kembang Arum terbuka dan menyambut kedatangan suaminya itu
dengan senyum kegembiraan.
Begitu pintu kamarnya terbuka, di depan pintu tampaklah
berdiri suaminya. Ni Kembang Aum segera menyambutnya.
"Oh, Kakang Sidapaksa, selamat datang, Kakang, aku se-
nang kau telah kembali!" sambutnya dengan kecerahan.
Akan tetapi, karena alam pikiran Sidapaksa telah dirasuki
hasutan yang dilancarkan oleh ibunya sendiri, penyambutan istrinya