The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Agenda Penerapan Tusi ASN di Tempat Kerja

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by itadahri, 2024-02-01 20:51:13

Agenda Penerapan Tusi ASN di Tempat Kerja

Agenda Penerapan Tusi ASN di Tempat Kerja

Oleh: TIM PUSDIKLAT PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI 2023 PELATIHAN ORIENTASI PPPK AGENDA PEMBELAJARAN PENERAPAN TUGAS DAN FUNGSI ASN DI TEMPAT KERJA ETIKA BIROKRASI DISIPLIN PPPK CORE VALUAE ASN BERAKHLAK


Modul Penerapan dan Fungsi ASN di Tempat Kerja Etika Birokrasi, dan Disiplin P3K di Kemdikbudristek Penerapan Core Value BerAKHLAK Penanggung Jawab: Dr. Ir. Mustangimah M.Si Ketua: Dewi Andayani, SE. Ak.M.AB Penyusun Miskuindu AS, S.Pd. M.Pd Suhanda, S.Pd. M.Pd Dr. Sahirman, M.P Ovi Soviaty R Drs. Dedi Karyana Yulia Prihartini, S.Kep. M.Kep Akhmad Hadi. S.Pd. M.Pd Editor: Helmi Azharudin, SH. MH Tata Letak: Depok - Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi 2021 Jl. Raya Ciputat Parung Km.19 Bojongsari


i Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja KATA PENGANTAR Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Latar belakang PPPK yang berasal dari nonAparatur Sipil Negara tentunya memerlukan pemahaman tentang nilai dan fungsi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebelum terjun ke lingkungan birokrasi pemerintahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengenalan dan penyediaan informasi mengenai nilai-nilai Aparatur Sipil Negara diberikan sejak awal penerimaan PPPK dalam bentuk orientasi. Orientasi wajib diikuti oleh semua PPPK yang baru diangkat, dan bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai: (1) Pengenalan Fungsi dan Tugas ASN serta (2) Pengenalan Nilai dan Etika pada Instansi Pemerintah. Penyusunan modul pelatihan orientasi ini merupakan bagian dari tugas yang dipercayakan pemerintah kepada Pusdiklat Pegawai Kemendikbudristek dalam menyelenggarakan dan mengoordinasikan kegiatan pelatihan pegawai di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Ada 4 (empat) modul pelatihan orientasi yang disusun sebagai bahan pembelajaran untuk Pengenalan Nilai dan Etika pada Instansi Pemerintah yaitu: 1) Pengenalan Struktur Organisasi dan Tata Kerja; 2) Pengenalan Jabatan; 3) Pengenalan Manajemen Kinerja Organisasi; dan 4) Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja. Kami merasa masih banyak lagi yang harus dilakukan agar bahan pembelajaran ini memenuhi kebutuhan fasilitator dan peserta pelatihan. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan adanya tanggapan berupa kritik dan saran perbaikan. Depok, September 2023 Pusdiklat Pegawai Kemendikbudristek Kepala, ttd Dr. Ir. Mustangimah, M.Si NIP. 196405241992032001


iii Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .......................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang ........................................................................ 1 B. Deskripsi Singkat .................................................................... 2 C. Tujuan Pembelajaran ............................................................. 2 D. Materi Pokok dan Sub Materi ................................................. 3 BAB II ETIKA BIROKRASI .......................................................................... 4 A. Deskripsi Singkat ..................................................................... 4 B. Indikator Hasil Belajar ............................................................ 4 C. Uraian Materi .......................................................................... 4 D. Rangkuman .............................................................................. 26 E. Tugas ........................................................................................ 28 F. Umpan Balik ............................................................................ 28 BAB III DISIPLIN P3K ................................................................................. 29 A. Deskripsi Singkat ..................................................................... 29 B. Indikator Hasil Belajar ............................................................ 29 C. Uraian Materi ........................................................................... 30 D. Rangkuman .............................................................................. 41 E. Tugas ........................................................................................ 42 F. Umpan Balik ............................................................................. 42 BAB IV PENERAPAN CORE VALUES ASN BerAKHLAK .............................. 43 A. Deskripsi Singkat .................................................................... 43 B. Indikator Keberhasilan ........................................................... 43 C. Uraian Materi ........................................................................... 44 D. Latihan / Tugas ........................................................................ 73 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 60


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja mempunyai hak untuk tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan mendapatkan pengembangan kompetensi sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PP PPPK). Pengembangan Kompetensi adalah pelatihan yang dilakukan dalam rangka pengayaan pengetahuan PPPK sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah. Berdasarkan ketentuan Pasal 39 sampai dengan Pasal 44 PP PPPK diatur bahwa setiap PPPK berhak mendapatkan pengembangan kompetensi paling lama 24 (dua puluh empat) jam pelajaran dalam 1 (satu) tahun masa perjanjian kerja. Pemberian pengembangan kompetensi tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan hasil penilaian kinerja Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang bersangkutan. Selain pengembangan kompetensi tersebut, perlu dilakukan pengenalan dan penyediaan informasi mengenai nilai-nilai Aparatur Sipil Negara diberikan sejak awal penerimaan PPPK dalam bentuk orientasi. Orientasi wajib diikuti oleh semua Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 2 baru diangkat, dan bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai, tugas, dan fungsi Aparatur Sipil Negara kepada Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Orientasi ini penting dilakukan mengingat latar belakang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja tentunya memerlukan pemahaman tentang nilai dan fungsi Aparatur Sipil Negara sebelum terjun ke lingkungan birokrasi pemerintahan. Salah satu materi yang penting untuk pembekalan PPPK adalah etika birokrasi, Disiplin PPPK dan Core Value ASN BerAKHLAK. B. Deskripsi Singkat Materi ini membekali Peserta dengan kemampuan memahami etika birokrasi dan disiplin PPPK serta Core Values ASN BerAKHLAK melalui pemahaman konsep dan contoh-contoh implentatif sehingga Peserta memiliki kemampuan untuk menunjukkan sikap dan prilaku (koede etik dan kode prilaku) yang tepat sesuai tugas jabatan sebagai pelayan masyarakat. C. Tujuan Pembelajaran 1. Hasil Belajar Setelah mengikuti pembelajaran ini, Peserta diharapkan mampu memahami konsep dan contoh-contoh implentatif etika birokrasi dan disiplin PPPK serta Core Values ASN BerAKHLAK melalui penerapan etika birokrasi dan displin PPPK sesuai tugas, fungsi, dan peran jabatannya serta pemaknaan terhadap nilai-nilai core Values BerAKHLAK dalam menjalankan tugas jabatan PPPPK sebagai pelayan masyarakat. 2. Indikator hasil belajar 2.1. Menjelaskan konsep dan sumber etika birokrasi asas-asas cara asas-asas penyelengaraan pemerintahan dan patologi birokrasi.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 3 2.2. Menjelaskan Pengertian Disiplin, Kewajiban dan Larangan, Hukuman Disiplin, Jenis Pelanggaran dan Hukuman, Pejabat yang berwenang menghukum, dan Berlakunya Hukuman dan Pendokumentasian Hukuman Disiplin 2.3. Menjelaskan konsep Core Value ASN BerAKHLAK, menjelaskan Tahapan Penguatan Budaya Kerja Core Value ASN BerAKHLAK di lingkungan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, dan menerapkan core values ASN BerAKHLAK dalam kehidupapan sehari-hari di tempat kerja maupun di masyarakat. D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 4 Materi Pokok Sub Materi Pokok Etika Birokrasi PPPK 1. Konsep dan sumber etika birokrasi 2. Asas-asas cara asas-asas penyelengaraan pemerintahan dan patologi birokrasi Displin PPPK 1. Pengertian Disiplin 2. Kewajiban dan Larangan 3. Hukuman Disiplin 4. Jenis Pelanggaran dan Hukuman 5. Pejabat yang berwenang menghukum 6. Berlakunya Hukuman dan Pendokumentasian Hukuman Disiplin Core Values BerAKHLAK 1. Konsep Core Value ASN BerAKHLAK sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 tahun 2021 tentang Implementasi Core Values dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara. 2. Tahapan Penguatan Budaya Kerja Core Value ASN BerAKHLAK di lingkungan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi,. 3. Core values ASN BerAKHLAK dalam kehidupapan sehari-hari di tempat kerja maupun di masyarakat BAB 2 ETIKA BIROKRASI A. Deskripsi Singkat Aparatur Sipil Negara di dalam pengabdiannya pada bangsa dan Negara hendaknya memahami konsep dan sumber etika birokrasi serta asas-asas penyelengaraan pemerintahan yang efisien dan efektif agar terhindar dari patologi birokrasi dalam melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 5 Modul pelatihan ini meliputi konsep dan sumber etika birokrasi dan asasasas cara asas-asas penyelenggaraan pemerintahan dan patologi birokrasi. . B. Indikator Hasil Belajar: Setelah mempelajari materi ini, peserta pelatihan mampu: 1. Menjelaskan konsep dan sumber etika birokrasi 2. Menjelaskan asas-asas cara asas-asas penyelengaraan pemerintahan dan patologi birokrasi. C. Uraian Materi 1. Pengertian Etika Birokrasi Istilah etika dalam bahasa Inggris disebut “ethics” atau “ethicus” dalam bahasa Latin sebenarnya berasal dari kata “ethos” dalam bahasa Yunani yang berarti adat atau watak kebiasaan. Terdapat beberapa ahli yang menerjemahkan etika ke dalam arti yang lebih jauh khususnya dikaitkan dengan moral. Weihrich dan Koontz (2005) mengartikan etika sebagai “the discipline dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation”, yaitu berkaitan dengan baik dan buruknya perbuatan dengan tugas dan kewajiban moral. Sementara itu Collins Cobuild (1990) memaknai etika sebagai “an idea or moral belief that influences the behaviour, attitudes and philosophy of life of a group of people”, yaitu suatu pemikiran atau kepercayaan moral yang mempengaruhi perilaku, sikap dan kehidupan sekelompok orang. Oleh karena itu, dalam keadaan tertentu kata moral sering dijadikan sinonim dari kata etika. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata etika diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 6 Secara umum etika berisi kesusilaan, yaitu nilai-nilai baik dan buruk yang dapat dilihat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Solomon (1997) mencoba untuk menggambarkan etika secara lebih kompleks, yaitu sebagai studi tata perilaku yang baik dan buruk, kebenaran atas tujuan yang diperjuangkan dan cita-cita yang didambakan, serta hukum yang dianggap baik dan perlu untuk ditaati. Sedangka Ricoeur (1990) mendefinisikan etika secara sederhana, yaitu sebagai tujuan hidup yang baik bersama orang lain di dalam kelembagaan yang adil. Sebenarnya masih ada sejumlah lagi ahli yang mendefinisikan etika dari sudut pandang mereka masing-masing. Berdasarkan beberapa uraian tadi maka etika dapat dikatakan sebagai ilmu yang membicarakan tentang sikap dan perilaku manusia (akhlak) yang dipahami sebagai ungkapan atas baik atau buruk, benar atau salah yang harus dilakukan. Dengan kata lain bahwa etika adalah bagaimana melakukan hal-hal yang baik atau benar dengan moral sebagai acuannya. Istilah birokrasi (bureaucracy) secara etimologis berasal dari perpaduan dua bahasa, yaitu bahasa Perancis dan bahasa Yunani. Dalam bahasa Perancis “bureau” berarti kantor dan akhiran “cratia” yang sebenarnya diambil dari kata bahasa Yunani “kratos” berarti pemerintahan. Jadi, birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan yang dilakukan melalui kantor atau “government by bureau” (Kumorotomo, 2008). Menurut KBBI daring, birokrasi adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah dengan berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 7 Ada sejumlah teori tentang birokrasi. Salah satu di antaranya sangat terkenal dan banyak dianut, dikemukakan oleh Max Weber (1978) seorang ahli dari Jerman. Dalam terjemahan bukunya berjudul Economy and Society yang dipublikasikan pada sekitar tahun 1920-an, terdapat suatu kerangka teori yang disebut dengan domination and legitimacy. Dalam teorinya tersebut Weber berpendapat bahwa birokrasi sebagai sebuah organisasi merupakan suatu sistem otoritas (domination) yang ditetapkan secara rasional oleh berbagai peraturan (legitimacy). Maksudnya bahwa birokrasi merupakan cara untuk mengorganisasikan suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh banyak orang secara teratur. Karena banyak penganutnya, maka teori ini banyak mewarnai berbagai birokrasi yang ada di dunia yang kemudian disebut sebagai penganut birokrasi Weberian. Dari pengertian kata etika dan birokrasi sebagaimana dibahas sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa etika birokrasi merupakan bidang pengetahuan dan penerapan dari ajaran-ajaran moral dan asasasas perilaku yang baik dan benar bagi segenap aparatur birokrasi yaitu ASN dalam melaksanakan tugas atau jabatannya. Dengan kata lain etika birokrasi merupakan ketentuan-ketentuan, standar-standar atau norma-norma yang mengatur perilaku moral ASN dalam menjalankan tugas atau jabatannya. Dalam dunia birokrasi, Denhardt (1988) memberikan makna terhadap etika birokrasi sebagai professional standards (standar profesional), moral atau right rules of conduct (aturan berperilaku benar) yang harus dipatuhi oleh birokrat atau pemberi pelayanan publik. Oleh karena itu etika birokrasi memberikan berbagai asas, ukuran baku, pedoman


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 8 perilaku, dan kebajikan moral yang harus diterapkan oleh setiap aparat dalam birokrasi, dalam hal ini adalah ASN; guna terselenggaranya tugas-tugas pemerintahan yang baik dan bermanfaat bagi kepentingan yang dilayani atau masyarakat. Etika birokrasi sangat berkaitan erat dengan moralitas dan mentalitas ASN dalam melaksanakan fungsi-fungsi pokok pemerintahan itu sendiri yaitu fungsi pelayanan, pengaturan/regulasi dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Etika birokrasi berguna untuk: (i) membantu ASN dalam menentukan respon moral terhadap suatu situasi atau arah tindakan yang tidak jelas; (ii) menuntun ASN dalam memutuskan apa yang harus dilakukan pada berbagai situasi yang berbeda; dan (iii) membantu ASN dalam memutuskan bagaimana merespon tuntutan berbagai stakeholders organisasi yang berbeda. Dengan demikian etika birokrasi dapat diartikan sebagai sistem yang berisikan prinsip-prinsip moral atau aturan-aturan perbuatan yang mengendalikan atau mempengaruhi kebiasaan dan sikap perilaku ASN dalam menjalankan sistem pemerintahan menurut hierarki dan jenjang jabatan. Dengan berpegang pada etika birokrasi yang dimilikinya maka seorang ASN dapat menjalankan fungsi pemerintahan secara optimal dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sesuai dengan harapan mereka, sehingga dapat memelihara bahkan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap ASN dan unit kerjanya itu sendiri. 2. Sumber-sumber Etika Birokrasi Menurut Saefullah (dalam Sufianto, 2016), etika yang menjadi ukuran sikap dan perilaku birokrat atau etika birokrasi bersumber pada berbagai nilai dan norma yang berbeda-beda. Perbedaan itu tergantung pada tata nilai dan norma yang dianut serta prinsip-prinsip moral


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 9 masyarakat ataupun komunitas yang bersangkutan. Ada sebagian orang mempunyai anggapan bahwa etika adalah turunan nilai dari keyakinan beragama. Anggapan seperti ini bisa dikategorikan sebagai pendekatan teologis. Ada sebagian lagi orang beranggapan bahwa etika merupakan hasil dari perenungan atau penalaran murni manusia yang kemudian bisa dikategorikan sebagai pendekatan filosofis. Senada dengan itu Hans Kung (1999), seorang teolog terkemuka dari Jerman menegaskan etika sebagai teori sikap, nilai, norma dan moral secara filosofis atau teologis. Pendapat ini menunjukkan bahwa etika selain bersumber dari hasil murni pemikiran manusia (pendekatan filosofis) dapat juga bersumber dari Tuhan (pendekatan teologis). Berdasarkan sejarah perkembangan kedua pendekatan tersebut di atas, Sosipater (2009) melihat bahwa pada umumnya etika teologis di dunia Barat usianya lebih muda daripada etika filosofis, sedangkan etika teologis di dunia Timur usianya lebih tua daripada etika filosofis. Kemudian ditambahkan pula bahwa kedua pendekatan etika ini ada yang jalannya searah dan beriringan, tetapi ada juga yang jalannya tidak searah bahkan pada aliran-aliran tertentu saling berbenturan. Dalam konteks kemasyarakatan yang dapat dijadikan sumber etika adalah nilai-nilai agama dan nilai-nilai sosial budaya yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat, bangsa atau negara. Kedua nilai ini mempunyai pengaruh terhadap etika birokrasi suatu negara. Di Indonesia agama dijadikan sumber etika birokrasi, selain hasil pemikiran manusia. Sedangkan di negara lain belum tentu, apalagi di negara yang sekuler atau tidak mempercayai Tuhan (atheistis). Ideologi negara juga sering dijadikan sumber etika birokrasi. Oleh karena itu etika birokrasi


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 10 antar negara bisa berbeda bergantung sumber yang dipakainya meskipun dalam hal-hal tertentu ada yang bersifat universal. a. Nilai agama Pengetahuan manusia tentang nilai dan norma etika dengan menggunakan penalarannya sangatlah terbatas. Oleh karena itu bagi penganut agama, nilai dan norma etika yang berasal dari agama diyakini mengandung suatu kebenaran yang absolut atau tidak diragukan lagi kebenarannya, sehingga apabila diterapkan maka diyakini akan memperoleh nilai positif di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Sesuai kodratnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisis berbagai aspek dari suatu masalah secara rinci dan akurat, termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan pribadi-pribadi lain dalam suatu sistem sosial. Itulah sebabnya para penganut agama menganggap kebenaran di dunia ini selalu bersifat relatif. Kebenaran tersebut dianggap sebagai hasil kesepakatan antar manusia. Dalam buku Filsafat dan Etika Pemerintahan (Depdagri, 1996) dijelaskan bahwa di dalam agama terkandung ajaran-ajaran etika, yaitu mengenai apa yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan. Ajaran-ajaran etika dari agama sangat relevan jika diterapkan dalam praktik birokrasi. Bahkan dalam banyak hal nilai-nilai agama ini mempunyai kemampuan untuk mengontrol tindakan atau sebagai tonggak pengendalian diri pribadi birokrat, karena dapat mengikat dalam kehidupan sehari-hari sebagai konsekuensi dari keimanannya. Bertens (2007) berpendapat bahwa banyak nilai dan norma etik


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 11 berasal dari agama. Tidak diragukan lagi, agama merupakan salah satu sumber etika birokrasi yang penting. Sejarah menunjukkan bahwa banyak orang bersedia berkorban apa saja demi keyakinan agamanya. Sejarah juga menunjukkan kemampuan agama dalam beradaptasi ataupun bertransformasi sehingga kompatibel dalam menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu sebagian orang meyakini bahwa kesahihan dan kehandalan agama sebagai sumber etika tertinggi sangatlah kuat. Bagi para pemeluknya, etika yang bersumber dari agama diyakini mempunyai kebenaran yang mutlak dan diyakini dapat menjamin keselamatan hidup di dunia dan akhirat kelak. Menurut Suryalaga (dalam Sufianto, 2016) bahwa para pemeluk agama mempunyai dasar etikanya sendiri menurut ajaran agamanya masing-masing. Dalam Sidang Dewan Perwakilan Agama-agama Dunia (The Parliament of the World’s Religions) yang bertempat di Chicago, Amerika Serikat pada tahun 1993, dihasilkan Deklarasi Menuju Suatu Etik Global (Declaration Towards a Global Ethic) yang pada dasarnya menunjukkan sebuah pengakuan adanya nilai-nilai etika secara umum dari berbagai agama di dunia. Baerkaitan dengan hal ini, Hans Kung (1999) menegaskan bahwa etika global bukan untuk mereduksi ajaran agama-agama ke dalam suatu minimalisme etika, melainkan untuk menghadirkan batas minimal etika yang dimiliki bersama oleh semua agama di dunia. Bagi pribadi-pribadi ASN yang kuat dalam beragamanya, maka ketaatan terhadap etika pelaksanaan tugas dan fungsi birokrasi yang


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 12 diembannya diyakini sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan. Dalam kesehariannya di lingkungan keluarga, masyarakat dan tempat kerja atau di manapun berada, mereka akan tetap berupaya konsisten, yakni selalu memegang teguh nilai agama dan menaati norma akhlak mulia dan menjauhkan diri dari akhlak tercela. b. Nilai sosial budaya Bertens (2007) berpendapat bahwa kebudayaan merupakan sumber etika lain, meskipun seringkali tidak bisa dilepaskan dari agama. Kebudayaan dilihat sebagai suatu keseluruhan (culture as a whole) atau suatu entitas yang kompleks. Karena kebudayaan meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, dan hal-hal lain serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Adat kebiasaan setempat seperti perilaku tentang kepantasan dan ketidakpantasan ataupun sopan santun adalah salah satu nilai yang mengikat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terbentuk karena adanya hubungan horizontal antar sesama manusia, dan kemudian membentuk nilai-nilai sosial budaya yang berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya sesuai dengan perbedaan dimensi waktu dan tempat. Keadaan ini tentu saja mempunyai pengaruh terhadap etika birokrasi yang ada. Sejalan dengan pendapat di atas, Kumorotomo (2008) mengemukakan bahwa untuk merumuskan asas umum etika yang bersifat universal untuk birokrasi yang baik memang cukup sulit. Karena setiap negara mempunyai konteks budaya yang berbeda, kebutuhan rakyat yang selalu berubah, dan dimensi masalah yang dihadapi pun berlainan. Berkaitan dengan konteks budaya,


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 13 Honigman (dalam Koentjaraningrat, 1990) mengemukakan bahwa wujud kebudayaan pada umumnya ada tiga, yaitu: 1) ideas, yakni ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya; 2) activities, yakni aktivitas atau tindakan manusia yang berpola dalam masyarakat; dan 3) artifacts, yakni benda-benda hasil karya manusia. Ketiga wujud kebudayaan tersebut pada setiap masyarakat sangat banyak ragam atau jenisnya. Misalnya dalam sistem bahasa suatu masyarakat terdapat ideas berupa tata bahasa, activities berupa gaya berucap, dan artifacts berupa tulisan yang berbeda antara bahasa suatu masyarakat dengan bahasa masyarakat lainnya. Sesuai dengan uraian di atas bahwa nilai sosial budaya dapat diartikan sebagai kesepakatan kultural dalam suatu masyarakat yang mewarnai pola sikap dan perilaku dari masyarakat yang bersangkutan. Terdapat hubungan interaktif antara nilai-nilai sosial budaya yang berlaku dengan nilai-nilai etika birokrasi. Jika dibandingkan dengan nilai-nilai agama, maka nilai-nilai sosial budaya mungkin dapat dikatakan lebih fleksibel dan adaptif sebagai acuan dasar etika birokrasi karena terbentuk berdasarkan kesepakatan kultural dalam masyarakat tadi. Dalam konteks keindonesiaan yang sangat multikultur, banyak nilainilai luhur dari kebudayaan masyarakat atau suku bangsa Indonesia yang perlu digali, diadopsi atau diadaptasi, dan diaktualisasikan dalam etika birokrasi. Pengetahuan dan pemahaman terhadap norma-norma etika birokrasi yang berbasis kearifan lokal dinilai sangat penting. Nilai-nilai kearifan lokal dari masyarakat tempat ASN


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 14 bertugas diharapkan untuk dapat diangkat dan diterapkan sebagai bagian dari etika birokrasi. Seringkali ketidakpahaman, pengabaian apalagi kalau terjadi kontradiksi terhadap nilai/norma kearifan lokal masyarakat setempat oleh seorang ASN akan dapat menimbulkan citra buruk bahkan konflik bagi dirinya maupun birokrasi tempat dia bekerja. Berbeda dengan konteks kemasyarakatan, dalam konteks kenegaraan atau pemerintahan yang dapat dijadikan sumbersumber etika birokrasi di Indonesia adalah sebagai berikut. a. Pancasila Pancasila merupakan landasan ideal atau ideologi bangsa Indonesia dalam membangun dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa agar NKRI tetap tegak dan utuh. Pancasila adalah perwujudan nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia yang sangat mendalam, tetapi dituangkan dalam kata-kata dan susunansusunan kalimat yang sederhana dan lentur (simple and flexible). Pancasila merupakan lima nilai dasar beretika dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kelima nilai dasar itu mencerminkan penghargaan pada prinsip-prinsip yang keseluruhannya mencerminkan harkat dan martabat manusia yang beradab. Jiwa dan semangat Pancasila pada hakikatnya ialah untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari berbagai bentuk belenggu penjajahan, agar mampu menjadi bangsa yang bebas, mandiri dan berkarakter. Pancasila sampai saat ini diakui masih mampu menjadi dasar falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara di


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 15 Indonesia yang belum tergantikan kedudukannya bahkan telah teruji dan terbukti melalui sejarah perjalanan bangsa. Namun kebanggaan bangsa Indonesia terhadap Pancasila tidaklah cukup hanya dengan mengenang sejarahnya saja, yang lebih penting adalah bagaimana mengimplementasikannya ke dalam berbagai aspek kehidupan bangsa secara aktual. Pancasila sebagai jati diri bangsa sangat diperlukan agar bangsa Indonesia tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan zaman, misalnya oleh arus globalisasi dewasa ini. Keadaan suatu bangsa yang mudah terombang-ambing pada akhirnya akan membuat bangsa tadi tersesat dan tidak berdaya. Tantangan bagi bangsa Indonesia saat ini adalah mengembalikan lagi Pancasila sebagai karakter bangsa yang dahulu terkenal sangat beretika melalui aktualisasi nilai-nilai etika yang terkandung di dalam Pancasila. Dengan mengacu pada Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundangundangan bahwa Pancasila sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber hukum dasar nasional. Pancasila adalah sumber nilai, maka nilai dasar Pancasila dapat dijadikan sebagai sumber dasar etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila adalah nilai moral, oleh karena itu nilai Pancasila juga dapat diwujudkan ke dalam norma-norma moral dan etika. Moral dan etika tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman bersikap dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehadiran dan peranan Pancasila dalam membangun


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 16 etika bernegara sangat besar. Pancasila berperan penting dalam mewujudkan sebuah sistem etika yang baik di negara ini, termasuk di dalamnya etika birokrasi. b. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) UUD 1945 merupakan landasan konstitusional bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan mencermati jiwa pembukaan UUD 1945, maka dapat diyakini bahwa Pembukaan UUD 1945 tidak dapat dipisahkan dengan Pancasila dan eksistensi NKRI. Oleh sebab itu sekalipun isi pasalpasalnya telah mengalami amandemen atau perubahan pada bagian-bagian tertentu, namun Pembukaan UUD 1945 telah disepakati untuk tidak diubah. Batang tubuh UUD 1945 berisi pengaturan berbagai aspek kehidupan kenegaraan, misalnya tentang struktur dan penyelenggaraan kekuasaan, perlindungan terhadap hak asasi manusia, pelayanan terhadap berbagai kebutuhan warga negara, dan bagaimana bangsa Indonesia mengelola alam lingkungannya demi sebesar-besarnya kemakmuran bangsa. Norma etika birokrasi terdapat di dalam batang tubuh UUD 1945, di antaranya yang mewajibkan pemerintah untuk memenuhi hak-hak masyarakat. c. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ketetapan MPR yang sangat erat kaitannya dengan etika birokrasi adalah Ketetapan MPR-RI No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 17 Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) dan Ketetapan MPR-RI No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Kedua ketetapan tersebut menegaskan bahwa arah kebijakan untuk membangun etika kehidupan berbangsa adalah mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara melalui pendidikan formal, nonformal, informal, dan pemberian contoh keteladanan oleh para pemimpin negara, pemimpin bangsa, dan pemimpin masyarakat. d. Undang-Undang dan Berbagai Peraturan Pelaksanaannya Ada sejumlah undang-undang dan berbagai aturan pelaksanaan yang di dalamnya mengandung etika birokrasi antara lain UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Nilai-nilai etika birokrasi yang harus diaktualisasikan seorang ASN dalam sikap dan perilakunya terdapat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN sebagai seorang dosen terdapat dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Selain dari sumber-sumber tadi, etika birokrasi bagi seorang dosen ASN bersumber pula dari Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen, dan kode etik bagi dosen yang dikeluarkan oleh pemimpin masing-masing perguruan tinggi. Sebagai bagian dari etika birokrasi maka kode etik merupakan nilai-nilai yang diterima dan ditaati oleh para aparatur birokrasi


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 18 atau ASN berupa peraturan-peraturan atau hal-hal yang sudah merupakan kebiasaan yang baik dan dianggap sudah diketahui oleh setiap pegawai (Widjaja, 2003). Misalnya Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) mempunyai kode etik yang disebut Panca Prasetya KORPRI merupakan hasil keputusan Musyawarah Nasional VI KORPRI Nomor: KEP-08/MUNAS/2004 tentang Kode Etik KORPRI. Berkaitan dengan kode etik untuk ASN di lingkungan Kemendikbudristek telah dimuat dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 16 Tahun 2012. Peraturan tersebut masih digunakan sampai saat ini setelah perubahan dari Kemendikbud ke Kemendikbudristek. 3. Asas-asas Penyelenggaraan Birokrasi (Pemerintahan) Ketetapan MPR-RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN dan Ketetapan MPR-RI Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa mempunyai erat kaitannya dengan etika birokrasi. Sebagai turunannya, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN telah menetapkan asas-asas umum penyelenggaraan negara adalah sebagai berikut. a. Asas kepastian hukum Asas kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, keputusan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan negara. b. Asas tertib penyelenggaraan negara


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 19 Asas tertib penyelenggaraan negara merupakan asas landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengabdian penyelenggaraan negara. c. Asas kepentingan umum Asas kepentingan umum adalah asas mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan kolektif. d. Asas keterbukaan Asas keterbukaan adalah membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif terhadap penyeleng- gara negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara. e. Asas proporsionalitas Asas proporsionalitas adalah mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggaraan negara. f. Asas profesionalitas Asas profesionalitas adalah mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 20 g. Asas akuntabilitas Asas akuntabilitas adalah menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai upaya terus menerus dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas birokrasi atau penyelenggaraan pemerintahan serta untuk mendukung pelaksanaan reformasi birokrasi maka diterbitkanlah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Dalam undang-undang tersebut pada pasal 13 telah dirumuskan Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB), meliputi: a. Kepastian hukum Yang dimaksud dengan asas kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan ketentuan peraturan perundang-undangan, kepatutan, keajegan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan pemerintahan b. Kemanfaatan Yang dimaksud dengan asas kemanfaatan adalah manfaat yang harus diperhatikan secara seimbang antara: 1) kepentingan individu yang satu dengan kepentingan individu yang lain; 2) kepentingan individu dengan masyarakat; 3) kepentingan warga masyarakat dan masyarakat asing; 4) kepentingan kelompok masyarakat yang satu dan kepentingan kelompok masyarakat yang lain;


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 21 5) kepentingan pemerintah dengan warga masyarakat; 6) kepentingan generasi yang sekarang dan kepentingan generasi mendatang; 7) kepentingan manusia dan ekosistemnya; dan 8) kepentingan pria dan wanita. c. Ketidakberpihakan Yang dimaksud dengan asas ketidakberpihakan adalah mewajibkan badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan dengan mempertimbangkan kepentingan para pihak secara keseluruhan dan tidak diskriminatif. d. Kecermatan Yang dimaksud dengan asas kecermatan mengandung arti bahwa suatu keputusan dan/atau tindakan harus didasarkan pada informasi dan dokumen yang lengkap untuk mendukung legalitas penetapan dan/atau pelaksanaan keputusan dan/atau tindakan sehingga keputusan dan/atau tindakan yang bersangkutan dipersiapkan dengan cermat sebelum keputusan dan/atau tindakan tersebut ditetapkan dan/atau dilakukan. e. Tidak menyalahgunakan kewenangan Yang dimaksud dengan asas tidak menyalahgunakan kewenangan adalah mewajibkan setiap badan dan/atau pejabat pemerintahan tidak menggunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan yang lain dan tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut, tidak melampaui, tidak menyalahgunakan, dan/atau tidak mencampuradukkan kewenangan.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 22 f. Keterbukaan Yang dimaksud dengan asas keterbukaan adalah melayani masyarakat untuk mendapatkan akses dan memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif dalam penyelengaraan pemerintahan dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara. g. Kepentingan umum Yang dimaksud dengan asas kepentingan umum adalah mendahulukan kesejahteraan dan kemanfaatan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, selektif, dan tidak diskriminatif. h. Pelayanan yang baik Yang dimaksud dengan asas pelayanan yang baik adalah memberikan pelayanan yang tepat waktu, prosedur dan biaya yang jelas, sesuai dengan standar pelayanan, dan ketentuan peraturan perundangundangan. 4. Patologi Birokrasi Birokrasi yang selama ini dianggap lebih efektif dan efisien dalam mengelola urusan masyarakat dibandingkan bentuk organisasi lainnya bukanlah tanpa kelemahan. Peran birokrasi sebagai pelaksana dari kebijakan atau sebagai penyelenggara pemerintahan seharusnya merupakan sarana atau alat untuk mempermudah jalannya penerapan kebijakan pemerintah dalam upaya melayani kepentingan masyarakat. Namun persepsi di dalam masyarakat seringkali muncul stigma jika mendengar kata birokrasi. Birokrasi seringkali diidentikkan dengan sesuatu hal yang rumit, prosedural, kaku, berbiaya mahal, dan hal-hal negatif lainnya. Kondisi birokrasi negatif seperti ini diistilahkan sebagai patologi birokrasi.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 23 Para ahli menjelaskan patologi birokrasi atau penyakit birokrasi ini begitu banyak macamnya terutama dalam hal pelaksanaan tugas dan kewenangan sehingga perlu dicarikan atau dirumuskan pencegahannya agar dapat mewujudkan tata kelola birokrasi yang baik (good governance). Ada sebuah aksioma bahwa kekuasaan yang absolut cenderung korup (power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely). Aksioma ini memberikan suatu gambaran bahwa birokrasi dengan kekuasaan yang besar biasanya akan memiliki kecenderungan untuk menyalahgunakan kewenangan yang ada. Hal senada diungkapkan oleh Erzioni (dalam Mustafa, 2013). Dia melihat patologi birokrasi merupakan akibat dari kekuasaan birokrasi publik yang sangat kuat dan luas disebabkan oleh: • Semakin meningkatnya ruang intervensi pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. • Meningkatkan kompleksitas tugas pemerintahan. • Kemampuan untuk memanfaatkan teknologi yang semakin berguna dalam membuat keputusan publik. • Memiliki sumber informasi. • Pejabat politik memiliki sumber daya serta selalu ada. • Pejabat politik tidak selalu memiliki kepentingan atau kontrol terhadap seluruh persoalan birokrasi. • Menurunnya kekuasaan parlemen. • Adanya proses pergantian kepemimpinan yang menjadikan area birokrasi untuk mencari peluang atau pengaruh. Jika patologi birokrasi berkenaan dengan kinerja birokrasi yang buruk, maka dapat diklasifikasikan ke dalam dua konsep, yaitu dysfunction of bureaucracy dan maladministration. Dysfunction of bureaucracy, yaitu


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 24 tidak berfungsinya birokrasi berkaitan dengan struktur, aturan, dan prosedur atau karakteristik kelembagaan yang buruk sehingga tidak mampu mewujudkan kinerja yang baik secara institusional. Sedangkan maladministration atau penyalahgunaan administrasi berkaitan dengan penyelewengan atau perilaku negatif para aparatur birokratnya, misalnya dapat disogok, korup, tidak sensitif, arogan, misinformasi, tidak peduli dan sebagainya yang erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia dari birokrasi itu sendiri. Proses terjadinya patologi birokrasi tidaklah serta merta datang secara tiba-tiba. Patologi birokrasi bisa jadi berasal dari kebiasaan atau adat yang sudah lama/kronis dan merupakan kebiasaan turuntemurun dari para birokrat pendahulunya. Di samping itu masih adanya paradigma dimana birokrasi yang dijadikan sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran untuk mendapatkan pelayanan dari masyarakat, bukan justru sebaliknya yaitu untuk melayani masyarakat. Ada sejumlah bentuk patologi birokrasi, antara lain adalah: • Penggelembungan organisasi Birokrasi yang dirancang cenderung memperbesar struktur dan merekrut lebih banyak aparatur. Dengan semakin besarnya struktur akan memberi pengaruh signifikan, yaitu bertambahnya kewenangan yang dimiliki oleh pimpinan birokrasi dan bertambah besarnya sumber daya finansial yang dikontrol. Penggelembungan birokrasi yang seperti ini dalam literatur disebut sebagai Parkinsonian Bureaucracy. Nama ini merujuk pada penulis yang memperkenalkan istilah tersebut, yaitu Cyril N.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 25 Parkinson (1958) dalam bukunya yang berjudul Parkinson’s Law: The Pursuit of Progress. Dalam buku tersebut Parkinson mempostulasikan bahwa pertumbuhan birokrasi membengkak sebesar 5% s.d. 7% setiap tahunnya. • Duplikasi tugas dan fungsi Birokrasi yang cenderung membengkak seperti tersebut di atas biasanya akan menimbulkan masalah lain berupa duplikasi tugas dan fungsi yang dijalankan oleh unit-unit dalam organisasi birokrasi tersebut. Akibatnya unit-unit dan orang-orang yang ada di dalamnya banyak mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya sama atau dengan kata lain terjadi tumpang tindih (overlapping) sehingga terjadi inefisiensi. • Red tape Red tape merupakan cara kerja birokrasi yang sangat prosedural, lamban dan berbelit-belit. Ada pemeo yang mungkin masih dianut oleh sebagian birokrat, yaitu “Kalau masih bisa dipersulit mengapa harus dipermudah?”. Hal seperti ini membuat para pengguna layanan terpaksa harus mengeluarkan sejumlah additional cost (biaya tambahan berupa suap, sogok, uang pelicin atau uang rokok) dalam rangka mempercepat proses atau memotong prosedur yang telah ditetapkan untuk memperoleh suatu layanan. Gambar 2 mengilustrasikan bagaimana para pelobi (lobbyists) dengan sangat leluasa memotong jalur birokrasi dibandingkan dengan masyarakat umum lainnya karena sudah ada kesepatankesepakatan khusus dengan para birokrat di dalamnya.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 26 Gambar 2: Contoh Patologi Birokrasi: Red Tape • Konflik kewenangan Birokrasi yang cenderung terus-menerus membengkak dari waktu ke waktu dapat mengakibatkan garis batas atau demarkasi antara kewenangan satu unit organisasi dengan yang lain menjadi semakin kabur dan bahkan ada yang tumpang tindih. Jika garis batas kewenangan tersebut tidak terlihat secara tegas dan transparan, pada gilirannya tentu saja akan menimbulkan konflik kewenangan. • Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) Birokrasi yang strukturnya tertutup, hierarkhis, kaku dan penuh dengan aturan akan membuat masyarakat awam sangat sulit


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 27 memahami apalagi mengontrol cara kerja birokrasi. Hal tersebut membuat para birokrat yang berada di dalamnya dengan mudah dan leluasa melakukan berbagai praktik KKN di balik tampilan birokrasi. Kolektivisme birokrasi untuk tujuan-tujuan negatif dalam melanggengkan kekuasaan mereka disebut sebagai Orwellian Bureaucracy. Istilah tersebut merujuk pada nama George Orwell, seorang penulis terkenal yang mengangkat isu tentang oligarki kolektif dalam sebuah buku fiksinya yang berjudul Nineteen Eighty-Four. • Enggan untuk melakukan perubahan. Dengan postur organisasi yang besar dan bekerja atas dasar berbagai peraturan yang rumit cenderung membuat birokrasi enggan untuk bergerak melakukan perubahan atau inovasi. Patologi birokrasi yang seperti ini sering disebut sebagai bureaucratic inertia. Oleh karena itu tidaklah heran jika birokrasi ini akan cenderung status quo yaitu tetap mempertahankan pola pikir, pola sikap, pola kerja dan pola tindak yang sudah lama diadopsi dan dilakukan terus menerus. Situasi yang diciptakan seperti ini membuat mereka selalu dalam zona nyaman (comfort zone) dan menikmati status quo tersebut. D. Rangkuman Etika berasal dari kata “ethos” dalam bahasa Yunani yang berarti watak atau kesusilaan karena erat kaitannya dengan moral. Birokrasi berasal dari kata “bureau” dalam bahasa Perancis berarti kantor dan akhiran “cratie” yang sebenarnya diambil dari kata “kratos” dalam bahasa Yunani yang berarti pemerintahan. Dengan demikian birokrasi dapat diartikan sebagai


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 28 pemerintahan melalui kantor “government by bureau”. Etika birokrasi merupakan norma-norma kesusilaan yang mengatur perilaku moral birokrat atau ASN dalam menjalankan tugas atau jabatannya. Sumber-sumber etika birokrasi dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu dalam konteks kemasyarakatan dan kenegaraan. Dalam konteks kemasyarakatan ada dua sumber utama yang mempengaruhi etika birokrasi, yaitu nilai-nilai agama yang biasanya dilakukan melalui pendekatan teologis dan nilai-nilai sosial budaya melalui pendekatan filsafat. Dalam konteks kenegaraan, sumber etika birokrasi dapat berasal dari: 1. Pancasila 2. Undang-Undang Dasar 1945 3. Ketetapan MPR 4. Perundang-undangan 5. Peraturan-peraturan Dalam mengimplementasikan etika birokrasi diperlukan adanya acuan penyelenggaraan pemerintah yang sejalan dengan reformasi birokrasi. Hal ini tertuang dalam asas-asas umum pemerintahan yang baik (AUPB) sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014. Namun tentu saja banyak tantangannya yang datang dari dalam birokrasi itu sendiri yang biasa lebih kita kenal dengan patologi birokrasi atau “penyakit” birokrasi. Penyebab patologi birokrasi dikategorikan menjadi dua, yaitu tidak berfungsinya birokrasi (dysfunction of bureaucracy) dan adanya penyalahgunaan administrasi (maladministration). Ada beberapa bentuk patologi birokrasi, antara lain: 1. penggelembungan organisasi;


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 29 2. duplikasi tugas dan fungsi; 3. “red tape”; 4. konflik kewenangan; 5. korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN); dan 6. enggan untuk melakukan perubahan. E. Tugas 1. Mengapa etika birokrasi diperlukan dalam tata kelola pemerintahan? 2. Mengapa kata etika seringkali menjadi sinonim kata moral? 3. Apa yang disebut pendekatan teologis dalam etika birokrasi dan bagaimana penerapannya di dunia Barat dan Timur? 4. Sebutkan sumber-sumber etika birokrasi dalam konteks kemasyarakatan dan kenegaraan! 5. Apa yang dimaksud dengan “red tape” dalam patologi birokrasi? F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Coba saudara periksa hasil jawaban saudara pada tugas di atas, apabila jawaban saudara sudah tepat maka saudara dianggap telah menguasai materi pelatihan etika birokrasi. Apabila belum, saudara dapat mengulang untuk mempelajari kembali.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 30 BAB 3 DISIPLIN PPPK A. Deskripsi Singkat Aparatur Sipil Negara di dalam pengabdiannya pada bangsa dan Negara hendaknya memiliki kemampuan pengendalian dan penyatuan tekad, sikap dan tingkah laku untuk kelancaran melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya. Untuk itu PPPK harus memahami disiplin ASN, kewajiban dan larangan, hukuman disiplin, dan sebagainya. sehingga dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai aparatur pemerintah dapat berjalan semestinya, pada akhirnya dapat mendukung pembangunan Indonesia. Modul pelatihan ini meliputi pengertian disiplin, kewajiban dan larangan, hukuman disiplin, jenis pelanggaran dan hukuman, pejabat yang berwenang menghukum, berlakunya hukuman dan pendokumentasian hukuman disiplin. B. Indikator Hasil Belajar: Setelah mempelajari mata pelatihan ini peserta diharapkan dapat : 1) Menjelaskan Pengertian Disiplin 2) Menjelaskan Kewajiban dan Larangan 3) Menjelaskan Hukuman Disiplin 4) Menjelaskan Jenis Pelanggaran dan Hukuman 5) Menjelaskan Pejabat yang berwenang menghukum


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 31 6) Menjelaskan Berlakunya Hukuman dan Pendokumentasian Hukuman Disiplin C. Uraian Materi 1. Pengertian Ada beberapa teori yang membahas disiplin dalam konteks perilaku manusia. Berikut adalah beberapa teori penting yang dapat membantu menjelaskan konsep disiplin: a. Teori Belajar Kondisioning Klasik: Teori ini berfokus pada pembelajaran respons-reflex yang dikaitkan dengan disiplin. Konsepnya adalah bahwa perilaku yang dihubungkan dengan konsekuensi positif atau negatif akan cenderung muncul kembali atau menghilang. Dalam konteks disiplin, konsekuensi negatif atau hukuman dapat digunakan untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. b. Teori Belajar Kondisioning Operant: Teori ini mengemukakan bahwa perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi dari tindakan tersebut. Jika perilaku dipertahankan oleh penguatan atau penghargaan positif, maka perilaku tersebut cenderung meningkat. Dalam hal disiplin, penguatan positif seperti pujian atau hadiah dapat digunakan untuk memperkuat perilaku yang diinginkan. c. Teori Pemrosesan Informasi: Teori ini berfokus pada cara individu memproses informasi dan bagaimana hal itu mempengaruhi perilaku disiplin. Disiplin dipandang sebagai kemampuan untuk mengontrol perhatian, mempertahankan fokus, dan mengatur perilaku sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Proses ini melibatkan pemrosesan informasi yang efisien, pengendalian impuls, dan penilaian konsekuensi jangka panjang.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 32 d. Teori Self-Determination: Teori ini menekankan pentingnya motivasi intrinsik dan kebutuhan psikologis dasar dalam mencapai disiplin yang efektif. Menurut teori ini, individu yang merasa memiliki otonomi, kompetensi, dan hubungan sosial yang memadai akan lebih termotivasi untuk melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan disiplin. e. Teori Kepatuhan Sosial: Teori ini menyoroti peran norma sosial dan tekanan dari lingkungan sosial dalam mendorong perilaku disiplin. Individu cenderung mengikuti aturan dan norma yang ditetapkan oleh masyarakat atau kelompok sosial tertentu karena takut dijauhi atau dihukum oleh kelompok tersebut. Perlu dicatat bahwa teori-teori ini memberikan pemahaman dasar tentang disiplin dan perilaku manusia. Penelitian dan pendekatan lainnya juga dapat memberikan wawasan yang berbeda mengenai disiplin dan implementasinya dalam konteks yang lebih spesifik. Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) Nomor 5 Tahun 2014 di Indonesia tidak secara khusus menjelaskan definisi disiplin. Namun, undang-undang ini mengatur mengenai tata cara disiplin bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia. Dalam Undang-Undang ASN Nomor 5 Tahun 2014, terdapat ketentuan-ketentuan mengenai pelanggaran disiplin, prosedur penyidikan, sanksi disiplin, dan prosedur pengadilan disiplin. Berikut adalah beberapa poin yang relevan dalam undangundang tersebut: a. Pelanggaran Disiplin: Undang-Undang ASN menyebutkan beberapa pelanggaran disiplin yang dapat dilakukan oleh ASN, antara lain: • Pelanggaran kewajiban pokok ASN.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 33 • Pelanggaran kewajiban dalam menjalankan tugas dan wewenang. • Pelanggaran kewajiban dalam menjaga keutuhan dan kerahasiaan informasi. • Pelanggaran kewajiban dalam memenuhi integritas dan profesionalisme. b. Prosedur Penyidikan: Undang-Undang ASN mengatur prosedur penyidikan terhadap pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh ASN. Penyidikan dilakukan oleh instansi yang berwenang, yang meliputi pemeriksaan, klarifikasi, dan pengumpulan bukti terkait pelanggaran yang dilakukan. c. Sanksi Disiplin: Undang-Undang ASN menyebutkan berbagai sanksi disiplin yang dapat diberikan kepada ASN yang terbukti melanggar disiplin, seperti: • Teguran lisan. • Teguran tertulis. • Penundaan kenaikan gaji. • Penurunan pangkat. • Pemberhentian sementara. • Pemecatan. d. Pengadilan Disiplin: Undang-Undang ASN juga mengatur tentang pengadilan disiplin sebagai mekanisme penyelesaian perselisihan terkait sanksi disiplin. Pengadilan disiplin memiliki wewenang untuk memutuskan sengketa dan memberikan keputusan terkait sanksi disiplin yang telah dijatuhkan. Poin-poin di atas merupakan beberapa hal yang dapat ditemukan dalam Undang-Undang ASN Nomor 5 Tahun 2014 yang berkaitan dengan tata cara disiplin bagi ASN di Indonesia.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 34 Dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan Ristek dan Teknologi Nomor 13 Tahun 2023, tentang Disiplin Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, pada Bab I pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa Disiplin PPPK adalah kesanggupan PPPK untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan 2. Kewajiban dan Larangan Kewajiban PPPK • setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan pemerintah; • menjaga persatuan dan kesatuan bangsa; • melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah yang sah • menaati ketentuan peraturan perundang-undangan; • melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab; • menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan, dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun diluar kedinasan; • menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; dan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud di atas, PPPK wajib: • berpenampilan rapi dan sopan;


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 35 • bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi; • menghadiri dan mengucapkan sumpah/ janji PPPK/ jabatan; • mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi seseorang, dan/atau golongan; melaporkan dengan segera kepada atasannya jika mengetahui hal-hal yang dapat membahayakan keamanan negara atau merugikan keuangan negara; • melaporkan harta kekayaan kepada pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; • Masuk Kerja dan menaati ketentuan Jam Kerja Pegawai; • menggunakan dan memelihara barang milik negara dengan sebaikbaiknya; • memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan kompetensi; • menolak segala bentuk pemberian yang berkaitan dengan tugas dan fungsi kecuali penghasilan sesuai dengan ketentuan Peraturan perudang-undangan; dan menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang telah ditetapkan. 3. Hukuman Disiplin Tingkat hukuman disiplin, terdiri dari: • Hukuman disiplin riingan; • Hukuman disiplin sedang, dan • Hukuman disiplin berat. Hukuman disiplin ringan terdiri atas, teguran tertulis dan pernyataan tidak puas secara tertulis.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 36 Hukuman disiplin sedang, terdiri atas: • Pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 3 (tiga) bulan, dan • Pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 6 (enam) bulan. • Hukuman disiplin berat, terdiri atas: • Pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat; • Pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri, dan • Pemutusan hubungan perjanjian kerja tidak dengan hormat. 4. Pelanggaran Terhadap Larangan Hukuman disiplin ringan, sebagaimana dimaksud pasal 7 ayat (2) dijatuhkan kepada pelanggaran terhadap larangan berupa: • Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan jika pelanggaran dilakukan sebanyak 1 (satu) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pernyataan tidak puas secara tertulis, dan • Menghalangi berjalannya tugas kedinasan jika pelanggaran dilakukan sebanyak 1 (satu) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pernyataan tidak puas secara tertulis. Hukuman disiplin sedang sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (3) dijatuhkan pada PPPK yang melanggar ketentuan larangan berupa: • memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang-barang baik bergerak maupun tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah apabila pelanggaran dilakukan sebanyak 1 (satu) kali dihitung pada tahun


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 37 berkenaan berupa pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 6 (enam) bulan; • melakukan pungutan diluar ketentuan peraturan perundangundangan apabila pelanggaran dilakukan sebanyak 1 (satu) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 6 (enam) bulan; • bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan apabila pelanggaran dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 6 (enam) bulan; • menghalangi berjalannya tugas kedinasan apabila pelanggaran dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 3 (tiga) bulan; • melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani apabila pelanggaran dilakukan sebanyak 1 (satu) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 6 (enam) bulan; dan • menyampaikan pendapat dan/atau menyebarluaskan informasi baik lisan maupun tertulis baik secara langsung maupun tidak langsung yang bermuatan ujaran kebencian apabila pelanggaran dilakukan sebanyak 1 (satu) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemberhentian tunjangan yang didasarkan pada kinerja selama 3 (tiga) bulan. Hukuman Disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dijatuhkan bagi PPPK yang melanggar ketentuan larangan yang berupa:


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 38 • menyalahgunakan wewenang berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang lain dengan menggunakan kewenangan orang lain yang diduga terjadi konflik kepentingan dengan jabatan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • menjadi pegawai atau bekerja untuk lembaga, unit kerja lain, instansi lain, perusahaan lain, konsultan, dan/atau organisasi kemasyarakatan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain lembaga atau organisasi internasional, perusahaan asing, konsultan asing, dan/atau organisasi kemasyarakatan asing berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang-barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah jika pelanggaran dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau orang lain di dalam atau di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri;


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 39 • melakukan pungutan diluar ketentuan peraturan perundangundangan jika pelanggaran dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • melakukan kegiatan yang merugikan negara jika pelanggaran dilakukan sebanyak 1 (satu) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan jika pelanggaran dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • menghalangi berjalannya tugas kedinasan jika pelanggaran dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatan dan/atau pekerjaan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • meminta sesuatu yang berhubungan dengan jabatan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; • melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan kerugian bagi yang dilayani jika pelanggaran dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dihitung pada tahun berkenaan berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri;


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 40 • memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat, calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, atau calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan cara: i. ikut kampanye; ii. menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau atribut PPPK; iii. sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PPPK lain; iv. sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara; v. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon sebelum, selama dan sesudah masa kampanye; vi. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan, atau pemberian barang kepada PPK dalam lingkungan unit kerjanya, anggota keluarga, dan masyarakat; dan/atau vii. memberikan surat dukungan disertai fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan Tanda Penduduk, berupa pemutusan hubungan perjanjian kerja dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; 5. Pejabat yang Berwenang Menghukum Pejabat yang berwenang memberikan hukuman adalah PyBM terdiri atas: • Presiden;


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 41 • Menteri; • Sekretaris Jenderal; • pejabat pimpinan tinggi madya; • pejabat pimpinan tinggi pratama; • pemimpin perguruan tinggi negeri; • wakil pemimpin perguruan tinggi negeri; • dekan; • kepala biro yang membidangi urusan kepegawaian di universitas/institut; • pejabat di lingkungan unit pelaksana teknis yang dipimpin oleh pejabat pimpinan tinggi pratama; • kepala lembaga layanan pendidikan tinggi; • kepala bagian yang membidangi urusan kepegawaian di unit pelaksana teknis yang dipimpin oleh pejabat pimpinan tinggi pratama; • kepala bagian yang membidangi urusan kepegawaian di lembaga layanan pendidikan tinggi; • pejabat di lingkungan unit pelaksana teknis yang dipimpin oleh pejabat administrator; dan • pejabat di lingkungan unit pelaksana teknis yang dipimpin oleh pejabat pengawas. 6. Berlakunya Hukuman dan Pendokumentasian Hukuman Disiplin Keputusan hukuman disiplin berlaku pada hari ke-15 (lima belas) sejak diterima oleh PPPK yang bersangkutan. Dan keputusan hukuman disiplin yang diajukan upaya administrasi berlaku sesuai dengan keputusan upaya administratifnya.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 42 Keputusan keputusan Hukuman Disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai salah satu bahan penilaian dalam pembinaan PPPK yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan D. Rangkuman 1. PPPK harus memahami disiplin ASN, kewajiban dan larangan, hukuman disiplin, dan sebagainya. sehingga dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai aparatur pemerintah dapat berjalan semestinya, pada akhirnya dapat mendukung pembangunan Indonesia. 2. Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) Nomor 5 Tahun 2014 di Indonesia tidak secara khusus menjelaskan definisi disiplin. Namun, undang-undang ini mengatur mengenai tata cara disiplin bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia. 3. Dalam Undang-Undang ASN Nomor 5 Tahun 2014, terdapat ketentuanketentuan mengenai pelanggaran disiplin, prosedur penyidikan, sanksi disiplin, dan prosedur pengadilan disiplin 4. Undang-Undang ASN menyebutkan berbagai sanksi disiplin yang dapat diberikan kepada ASN yang terbukti melanggar disiplin, seperti: teguran lisan,teguran tertulis, penundaan kenaikan gaji, penurunan pangkat, pemberhentian sementara, dan pemecatan. 5. Tingkat hukuman disiplin, terdiri dari hukuman disiplin riingan, hukuman disiplin sedang, dan hukuman disiplin berat.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 43 E. Tugas 1. Lakukan pengamatan pada unit kerja sesuai dengan tupoksi saudara dan pelanggaran disiplin apa yang ada di unit kerja Anda, kemudian jelaskan di bawah ini: a. Apa penyebab pelanggaran tersebut b. Apa tingkat pelanggaran yang di lakukan pegawai tersebut dan hukuman displin apa yang perlu diberikan c. Bentuk sanksi disiplin apa yang perlu diberikan terhadap pelanggaran tersebut 2. Menurut Saudara, apabila ada pelanggaran, seharusnya agar tidak kembali terjadi pelanggaran, maka harus dilakukan apa F. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Coba saudara periksa hasil jawaban saudara pada tugas di atas, apabila jawaban saudara sudah tepat maka saudara dianggap telah menguasai materi pelatihan etika birokrasi. Apabila belum, saudara dapat mengulang untuk mempelajari kembali.


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 44 BAB 4 PENERAPAN CORE VALUES ASN BerAKHLAK A. Deskripsi Singkat Mata pelatihan Penerapan Core Values ASN BerAKHLAK ini membekali peserta akan pentingnya memahami konsep Core Values (Nilai-nilai Dasar) ASN BerAKHLAK. Kata BerAKHLAK merupakan singkatan dari nilai-nilai yaitu: Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolabratif. Ada tiga materi pokok yang harus dipahami peserta, yaitu materi Konsep Core Values ASN BerAKHLAK dengan submateri Makna Kata Core Values ASN BerAKHLAK dan Indeks ASN BerAKHLAK; Panduan Perilaku (Kode Etik) ASN BerAKHLAK; serta Implementasi Core Values ASN BerAKHLAK. Materi Core Values ASN BerAKHLAK dalam modul ini disajikan secara sederhana agar mudah dipahami, diinternalisasi, dan dapat diaktualisasikan atau diimplementasikan di unit kerjanya sehingga berdampak pada perubahan perilaku yang memberikan kontribusi pada peningkatan kinerja di unit kerjanya. B. Indikator Keberhasilan Setelah mempelajari materi penerapan core values ASN BerAKHLAK peserta pelatihan orientasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dapat : 1. Memahami konsep Core Value ASN BerAKHLAK sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi


Penerapan Tugas dan Fungsi ASN di Tempat Kerja 45 Birokrasi Nomor 20 tahun 2021 tentang Implementasi Core Values dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara. 2. Menjelaskan Tahapan Penguatan Budaya Kerja Core Value ASN BerAKHLAK 3. Menerapkan core values ASN BerAKHLAK dalam kehidupapan seharihari di tempat kerja maupun di masyarakat C. Uraian Materi 1. Konsep Core Values ASN BerAKHLAK dan Employer Branding ASN Bangga Melayani Bangsa a. Pengertian dan kalimat anfirmasi Core Values ASN BerAKHLAK Nilai-Nilai Utama (Core Values) Aparatur Sipil Negara BerAKHLAK telah secara resmi diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 27 Juli 2021 sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021. Core Values Aparatur Sipil Negara BerAKHLAK yang selanjutnya disebut Core Values ASN BerAKHLAK adalah nilainilai yang berorientasi layanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif yang bertujuan untuk memperkuat budaya kerja yang mendorong pembentukan karakter ASN profesional. Core Values ASN BerAKHLAK merupakan Nilai-nilai utama/Dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disari dari UndangUndang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang ASN. Kata BerAKHLAK meruakan singkatan dari Berorientasi Pelayanan (Ber), Akuntabel (A), Kompeten (K), Harmonis (H), Loyal (L), Adaptif (A), dan Kolaboratif (K).


Click to View FlipBook Version