42 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Jumlah gampong-gampong di Aceh sebagai berikut: Kabupaten/Kota Kecamatan Mukim Gampong Sabang 2 7 18 Banda Aceh 9 17 90 Aceh Besar 23 68 604 Pidie 23 3 730 Pijai 8 75 220 Bireun 17 9 609 Kota Lhoksemawee 4 70 68 Aceh Utara 27 70 652 Kota Langsa 5 - 51 Aceh Timur 24 54 513 Aceh Tamiang 12 27 213 Aceh Tengah 14 16 296 Bener Meriah 10 27 233 Gayo Lues 11 25 144 Aceh Tenggara 16 51 386 Aceh Jaya 6 21 172 Aceh Barat 12 33 322 Nagan Raya 10 30 222 Aceh Selatan 16 43 248 Aceh Barat Daya 9 22 152 Kota Subulussalam 5 8 82 Singkil 11 16 120 Simeulu 10 29 138 Jumlah 284 685 6.483 (Sumber Otentik MAA 2020) “Daftar diatas Catatan Otentik: Gampong untuk seluruh Aceh, sebanyak 6.483 buah, mukim 685, dan kecamatan 284 buah. Sumber MAA: Mukhls dan Sanusi M,Syarif, karena terjadi perubahan, sekarang menjadi 6.497, mukim 755 dan kecamatan 289 buah (MAA, Oktober 2020)” . Secara alami (anugerah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa), setiap kawasam gampong-gampong dalam wilayah Aceh sesuai geografis
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 43 letaknya, sumber daya alamnya (SDA) melimpah ruah, terhampar luas “diatas tanah” bermacam-macam bentuk dan sifatnya. Ada kawasan tanah gampong yang berada dalam kawasan persawahan(blang), tanah-tanah lapang untuk pertanian, perkebunan. Ada kawasan bukit-bukit/ gunung, sungai besar/ kecil dan hutan-hutan kayu, fauna dan flora, menjadi lahan-lahan peternakan. Disitu ada kayu, ada pasir dan batu untuk bahan bangunan. Ada danau atau kolom-kolam kecil untuk perikanan. Ada gampong-gampong memiliki kawasan laut dengan pantainya, hutan bakau, sungai-sungai untuk bangunan tebat-tebat udang, ikan.tiram siput dan kepiting. Laut untuk mencari ikan dan pasir pantai untuk rekreatif wisata Aceh masa dulu, pada masa-masa Sultan Iskandar Muda, sampai memasuki, awal-awal Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, masyarakat/ rakyat pada umumnya kesejahteraan hidupnya kuat dan terpusat pemberdayaan ekonomi dari sumber wilayah gampong-gampong. Dengan kekuatan ekonomi gampong waktu itu, bangsa negara Aceh mampu mempertahankan diri/ membiayai perang melawan kolonialis Portugis di Malaka dan mempertahankan Republik Indonesia dari Aceh melawan Belanda dan mengusir Jepang. Bahkan setelah Kemerdekaan terjadi konflik dengan pemerintah pusat, juga faktanya bekal logistik perjuangan mereka dibebankan/ dipungut dari gampong-gampong . “…Menurut gambaran kronika-kronika Aceh, pembagian ketatanegaraan Aceh dalam bentuk Mukim terjadi pada masa pemerintahan Iskandar Muda (1607-1636), Sebagai seorang raja Islam, baik sebagai kepala urusan-urusan keduniaan maupun kerohanian, cepat-cepat ia menyadari bahwa kerajaan Aceh sebagai negara Islam dapat diandalkan hanya dengan mempererat organisasi kerajaan. Ketika pada masa itu kampung-kampung atau kesatuan masyarakat dalam susunan ketatanegaraan yang diperintah oleh seorang Ketua yang dinamakan Keuchik (Keuchik berasal dari Bahasa Aceh”chik”tua atau yang dituakan, maka Iskandar Muda menetapkan, bahwa tempat-tempat atau kampung-kampung yang penduduknya melakukan sembahyang Jum’at dalam masjid yang sama merupakan daerah yang disebut”mukim”;Jum’at dianggap sah kalau dihadiri oleh sejumlah sekurang-kurangnya 40 orang (van Langen /PDIA,2002: 11) Pada masa Sultan Iskandar Muda, belum ada sistem pemerintahan Kecamatan, saat itu dari gampong-gampong langsung ke Imeum Mukim/
44 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Uleebalang Cut/ Panglima Sagoe dan kemudian langsung ke pemerintahan, sesuai dengan jalur otonomi daerah dan kewenangan masing-masing. Gampong (Desa) memiliki Hak Asal-Usul: Catatan Penting: Meskipun dalam UU ini disebut desa, namun untuk Aceh telah diadopsi namanya dalam kedudukan dan setatus sebagai “gampong” (lihat penjelasan UU ini), Konsideran UU.No. 6 Taun 2016 pada menimbang menentukan: a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa dalam perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, Desa telah berkembang dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera; c. bahwa Desa dalam susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan perlu diatur tersendiri dengan undang-undang; 1. Pastikan nama(nomenklatur): Gampong adat (UUPA dan Penjelasan UU No.6 Tahun 2014) 2. Darat dan laut adalah kawasan natural integrasi yang wajib diselamatkan (kajian filosofis dan historis penguasaan) 3. Manusia wni termasuk Aceh berdasarkan Konstitusi UUD-45 dan Pancasila adalah manusia yang wajib berorientasi kepada nilai-nilai KeTuhanan Yang Maha Esa, yang adil dan beradab, persatuan, kebijakan dalam musyawarah dan berkeadilan sosial, karena itu wajib membangun hubungan dengan Allah SWT(hablum minallah) dan hubungan sesama manusia (hablum minannas)/ lingkungan. Sekarang faktanya rusak di darat dan di laut disebabkan karena tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka, sebagian dari (akibat) perbuatannya, agar mereka kembali (kejalan yang benar (Q, Ar-Rum: 41) 4. Sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, masyarakat bangsa berada dalam wilayah-wilayah(rechtsktrieng) kelompok adat dan hidupnya secara mandiri(cosmos) dengan nilai-nilai
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 45 adat masing-masing etnis bangsa di bawah tirani kolonialis. Kemudian melalui perjuangan berat merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda dan salah satu nilai perjuangan merebut tanah air, dan melaksanakan penerapan hukum adat sebagai salah satu jiwa semangat persatuan Indonesia melalui Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 5. Pasal 33 UUD 45 ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 6. Pasal 33 UUD 45 ayat (4) Perekonomian Nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional Bentuk Masyarakat Hukum Adat dan Dasar Yuridisnya” Dari aspek hukum adat, manusia yang lahir dan tinggal turun temurun disesuatu kawasan daerah (tanah dan lingkungannya) memiliki hak-hak asal-usul dan kewajiban alamiah. Hak asal usul untuk mmenguasai , merawat, memeliha dan memanfaatkan tanah dan laut diseputar jangkauan kekuasaan kewenangannya. Dua faktor memberi hak dan kewenangan untuk membangun kehidupan sejahtera dan berkeadilan, kepada masyarakat adat, yaitu factor genealogis dan factor teritorial. (Surojo Wigjodipuro, 1979:87) Pertanyaannya muncul: manakah “masyarakat hukum adat (kelompok)” yang masih hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia, termasuk Aceh? Ada tiga masyarakat hukum adat yang muncul, yaitu: 1. Persekutuan Desa, segolongan orang yang terikat pada tempat kediaman yang di dalamnya termasuk dukuh-dukuh terpencil yang tidak berdiri sendiri (desa Jawa dan Bali, gampong di Aceh) 2. Persekutuan Daerah , suatu daerah tertentu yang masing-masing mempunyai tata susunan dan pengurus sendiri, tetapi merupakan bagian bawahan (misalnya Mandailing, huta/ kruria dan Mukim di Aceh (di bawah Camat).
46 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 3. Perserikatan beberapa kampung yaitu persekutuan kampung yang berdekatan mengadakan permufakatan bersama ,misal dalam hal pertanian, dll. (Badruzzaman Ismail, 2009: 80-81) Ciri-ciri Pokok Masyarakat Adat Ada 4 ciri-ciri/ bentuk-bentuk masyarakat Adat untuk dikenali sifatnya, yaitu: 1. Komunal/ kebersamaan, 2. Religio magis/ kepercayaan/ beragama, 3. Konkrit yang mengikat batiniyah dan hati nurani/ budi pekerti. satu dalam perkataan dan perbuatan serta berulang-ulang dilaksanakan dalam masyarakat 4. Visual yang nyata dan transparan jelas dan nyata. Atas dasar ciri-ciri itu, maka masyarakat dapat dirumuskan/ didefinisikan sebagai berikut: 1. Masyarakat adat tradisional (asli dengan segala ciri-ciri dan tatanan peraturan-peraturan adat yang diwarisi dari indatunya), masih berlanjut menjadi pedoman hidupnya, seperti: Badui Tengger di Banten, Anak Dalam di Jambi/ Sumatra Selatan, dll 2. Masyarakat Adat (homogen/ hiterogen) yang menerima sistem modern, tetapi tatanan nilai-nilai hukum adat masih dgunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk norma dan kaedah-kaedah hukum adat.(seperti Jawa, Aceh, Minangkabau, Batak, dll ) Hak-hak lembaga adat, pengaturan dan pelaksanaan di atas tanah (lihat UU-PA No.11 Tahun 2006 dan Pasal 18 B ayat(1) dan ayat(2) UUD 45 dan UU.No.6 Tahun 2014) Dalam hukum Tata Negara NKRI, diatur Pasal 33 UUD 45 dan Pasal 46 UUPA N0.5 Tahun 1960 dan Undang-undang Pemerintah Aceh No.11 Tahun 2006 Pasal 16 ayat (2)tentang Urusan wajib lainnya yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh dan Pasal 17 ayat (2) tentang Urusan wajib lainnya yang menjadi wewenang Pemerintah Kab/ Kota dan BAB XXIX tentang Pertanahan. Pasal 213 ayat (2) Pemerintah Aceh dan/ atau pemerintah Kab/ Kota berwenang mengatur dan mengurus peruntukan pemanfaatan dan hubungan hukum berkenaan dengan hak atas tanah
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 47 dengan mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak yang telah ada, termasuk hak-hak adat sesuai dengan norma, standar dan prosedur yang berlaku secara nasional Dalam sistem Tatanegara Pemerintah Aceh terdiri atas “Pemerintah Aceh, Pemerintah Kab/ Kota, Pemerintahan Mukim dan Pemerintahan Gampong. Pemerintah Mukim dan Pemerintah Gampng berdasarkan hukum adat dan budaya adat Aceh, memiliki wewenang di bidang penguasaan atas tanah, terutama tanah ulayat(ulayat istilah Minangkabau) atau tanah umum (Aceh tanah umum). Dalam budaya adat Imeum Mukim memiliki wewenang untuk pengaturan dengan tanah dan wewenang yang berhubungan langsung dengan Hulubalang (Pemerintahan Sultan Aceh), sebagai fungsional adat. Mengacu pada ketentuan ini, maka yang berwenang menguasai territorial tanah wilayah Mukim (laot dan darat (adalah Imeum Mukim), Semua pihak yang akan memanfaatkan tanah harus mendapat izin dari Imeum Mukim dengan segala ketentuan–ketentuan adat yang berlaku. Semua pihak lain sebagai pihak yang akan memanfaatkan wilayah/ kawasan tanah laot dan hutan/ pengguna/ pengelola dan pengusaha yang akan memanfaatkan tanah, laot dan hutan tersebut, seperti hak guna bangunan, hak sewa dan hak-hak pengelolaan hutan. Karena itu untuk menyelematkan darat dan laut menjadi wilayah konservasi bagi terbinanya fauna dan flora, maka fungsi penguasaan atas tanah harus dapat dikembalikan menjadi wewenang Mukim dan atau atas dasar pengaturan bersama.(hak-hak wewenang adat atau bersama lembaga pemerintaha yang berkenaan dengan bidang tugasnya. Hak-hak Masyarakat Adat, Atas Darat dan Laut (Perlindungan terbangunnya kawasan konservasi fauna/flora), seyogianya tak dimarjinalkan dengan masyarakat adat, karena bermanfaat besar dalam pengawasan.Tapi fakta sekarang, masyarakat adat di seputar kawasan itu, termarjinal dan tetap miskin, berada diluar realisasasi pembangunan kepentingan kesejahteraan umum. Bila kawasan tata ruang adat itu diserahkan (diatur penyalurannya), harapan kemakmuran akan menjadi modal pengentasan kemiskinan. Selama ini Pemerintah bersama DPR belum melakukan program pengentasan kemiskinan yang optimal dengan masyarakat adat, sehingga dari sisi politik (menjelang/ dalam kampanye sering dijadikan oleh partai
48 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar politik sebagai objek tawaran konpensasi, untuk kemengan pemilihan umum/ pilkada. Janjinya, kalau pihak mereka menang, program kemiskinan akan dituntaskan dengan kemakmuran yang merata dan berkeadilan. Puluhan kali Pemilu/ Pilkada sudah berjalan, namun nyatanya, kemiskinan? Hak-hak masyarakat adat (miskin) untuk mendapat tanah tetap tak terprogramkan (kaitkan: dengan faktor hak-hak adat genealogis dan territorial). Program pengentasan kemiskinan, biasanya lebih banyak bersifat insidental: hanya menjadi pekerja pada projek-projek pemerintah/ swasta(musiman). Bila habis kontrak/ selesai kerja, rezkinya jadi putus, bersama putusnya hubungan kerja(artinya tidak permanen dan berkelanjutan). Habis projek jadi miskin lagi. Maunya objek kerja permanen, misalnya melalui mendapatkan tanah modal kerja, atau menjadi buruh fabrik atau lapangan kerja lain yang berkelanjutan,s ebagai dampak kehilangan objek lapangan kerja. Masyarakat hukum adat, tanah menjadi satu-satunya modal utama, sumber kehidupan ekonominya. Bagaimana masyarakat miskin itu, mendapatkan tanah bersetifikat untuk modal utama? Itulah sebabnya berbicara masyarakat miskin, maka tak lepas hubungan dengan tanah-tanah (terutama kawasan tanah adat). Fungsi tanah bagi masyarakat adat, menjadi sumber kehidupan dan kematian. Tanah sebagai modal utama: tempat tinggal, tempat bercocok tanam, memelihara ternak, memelihara ikan, tempat bermain, tempat pekuburan (tanoh teumpat lon udeip dan tempat lon matee).
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 49 Tatron u laôt takalôn bintang Tajak u blang luem kutika
50 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Bagian 7 Arsitektur Rumoh Aceh Rayeuk Oleh: Yusriadi11 Rumah Aceh bersifat khas, dan dapat dibedakan tiga macam yaitu Rumoh Aceh, Rumoh Santeut, dan Rangkang. Rumoh Aceh, adalah berbentuk rumah panggung, bertiang yang tingginya antara 2-3 meter. Rumoh Aceh biasanya terdiri atas tiga bagian, yaitu rumoh inong, seuramou, dan rambat, masing-masing dengan fungsi tertentu. Rumoh Santeut, adalah rumah panggung yang lebih rendah dari rumoh Aceh, dengan tinggi tiang sekitar 0,5 – 1 meter dari tanah, tanpa ada perbedaan tinggi antara lantai rumoh inong dengan seuramou dan rambat. Rangkang, adalah rumah kecil yang sederhana, yang tingginya sama dengan rumah santeut dan biasanya dipergunakan untuk tempat pertemuan dan tempat mengaji atau belajar membaca Al-Qur’an, atau sebagai pondok (asrama), yaitu bagian dari dayah tempat tinggal aneuk dayah (santri). Adapun bagian-bagian sebuah Rumoh Aceh dan fungsinya adalah sbb: 1. Rumoh Inong, yaitu rumah induk yang disebut juga rumoh tunggai, adalah bagian rumah yang letaknya di bagian tengah dan lebih tinggi setengah meter dari serambi depan dan serambi belakang. Rumoh inong itu terdiri atas jurei yang terletak di bagian Barat dan menjadi kamar tidur tuan rumah, dan anjong yang terletak di bagian Timur dan menjadi kamar tidur bagi anak-anak perempuan 2. Seuramou Keu (serambi depan), berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan tempat musyawarah. Disini disandarkan sebuah tangga yang biasanya berjumlah 9 atau 7 buah anak tangga. Serambi depan letaknya memanjang sepanjang rumah tanpa ada kamar-kamar. Tangga ditempatkan di bagian tengah rumah sehingga tamu dapat duduk di bagian kiri atau kanan serambi. Jadi serambi depan rumoh Aceh bersifat terbuka, sesuai dengan fungsinya antara lain tempat menerima tamu 11 Yusriadi merupakan pengamat dan pemerhati adat Aceh, mengabdi di lembaga secretariat MAA Provinsi Aceh, dan ikut terlibat dalam produksi pengetahuan adat melalui majalah Jeumala.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 51 laki-laki, tempat mengaji dan tempat belajar anak laki-laki (sekaligus tempat tidur mereka), dan untuk keperluan umum.. 3. Seuramou Likot (serambi belakang), yang berfungsi sebagai tempat duduk tamu di bagian belakang, dipakai juga sebagai gudang. Sebagaimana halnya seuramoe keu, ruangan belakang atau seuramoe likot tidak lagi dibagi menjadi ruangan-ruangn yang lebih kecil. Tetapi ada juga yang membangun seuramoe likot ini sedikit lebih besar dari seuramoe keu dengan cara menambahkan dua buah tiang pada bagian timurnya. Ruang tambahan itu disebut anjong, yang sekali gus berfungsi sebagai dapur. Pada dinding depan di bawah bara bagian luar biasanya dibuat rak tempat meletakkan barang atau perkakas dapur, yang disebut sandeng (saneung) 4. Rambat, gang antara dua kamar kiri dan kanan yaitu bagian rumah yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang. 5. Atap rumah. Kebanyakan atap rumah Aceh adalah atap dengan rabong atau tampong satu, terletak di bagian atas ruangan tengah yang memanjang dari ujung kiri ke kanan, sedangkan cucuran atapnya berada di bagian depan dan belakang rumah. Atap rumah Aceh biasanya dibuat dari daun rumbia yang diikat dengan rotan yang telah dibelah kecil-kecil, ikatan tersebut namanya mata pijeut. Tulang atap terbuat dari batang bambu yang dibelah-belah. Atap itu tersusun rapat sehingga susunannya rapi dan tebal. 6. Ciri lain dari rumoh Aceh ialah bahwa biasanya di setiap rumoh Aceh ada keupok padee (lumbung padi) dan balee (balai). Keupok biasanya terletak di depan, di samping atau di belakang rumah, dan balee sebagai tempat beristirahat di waktu senggang biasanya didirikan di depan atau di samping rumah. Walaupun letaknya terpisah dari rumah, namun keduanya tidak dapat dipisahkan dengan cirri sebuah rumah Aceh. Tiang-tiang rumah Aceh biasanya berjumlah 16, 18, 22, dan 24 buah, dan paling banyak 40 buah, yang berjejer 4 baris, yaitu baris depan, baris tengah depan, baris tengah belakang, dan baris belakang, dengan jarak masing-masing tiang 2,5 meter. Di antara tiang-tiang rumoh Aceh terdapat dua buah tiang yang disebut tameh raja (tiang raja) dan tameh putrou (tiang putri). Kedua tiang itu membatasi kamar tidur dan serambi. Pada bagian sebelah Utara didirikan tiang raja dan di bagian sebelah Selatan didirikan tiang putri.
52 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Pintu rumah Aceh dimana diletakkan tangga terdapat di serambi depan, dengan tinggi pintu 1.8 meter dan lebarnya 0.8 meter. Jendela biasanya dibuat di serambi depan, serambi belakang, dan di rumoh inong (juree), masing-masing dengan ukuran agak kecil, yaitu tinggi 1 meter dan lebar 0.6 meter. Rumah Aceh dibuat dari bahan kayu, dan keistimewaannya ialah bahwa rumah Aceh tidak mempergunakan paku, tetapi memakai tali pengikat (biasanya tali ijuk) sehingga mudah dibongkar apabila diperlukan. Untuk atap dipergunakan daun rumbia yang disusun memanjang sehingga bila ada cucuran air hujan dari atap akan mengalir dari bagian tengah rumah (peurabong atau dhue) ke bagian kanan dan kiri rumah. Setiap rumah Aceh memiliki sungkup atap menurut lebar rumah apa yang dinamakan “tulak angen” berukir motif tradisonal, dan ada ruang menjorok keluar sebagai tempat menyimpan benda-benda/peralatan tradisonal. Adapun tanah untuk mendirikan rumah diutamakan yang terletak di pinggir jalan atau lorong (jurong) yang membujur Timur-Barat, karena kayu-kayu yang dibuat untuk konstruksi rumah letaknya harus menghadap kiblat. Jadi rumah Aceh letaknya selalu membujur Timur-Barat dan menghadap ke Utara atau ke Selatan, sedangkan bangunan mesjid atau meunasah selalu membujur Utara- Selatan dan menghadap ke Barat (arah kiblat). Rumah tradisional Aceh adalah rumah panggung yang disangga oleh tiang-tiang berbentuk bulat, yang terdiri dari bahan kayu yang cukup tahan usia, atap rumbia dan praktis tidak menggunakan paku. Rumah diikat dengan “pateng” atau pasak dan ikatan-ikatan dari rotan dan tali ijuk. Rumah tradisional Aceh dalam ukuranyya disebut “reueng”. Ada rumah 3, 5, 7 dan 9 reung. Makin banyak reung makin besar bentuk bangunan. Reueng dimaksud adalah sela antara tiang ketiang. Tiang rumah Aceh bulat dari kayu keras dan jarak dari tiang ketiang mencapai 4 meter.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 53 Gambar: Arsitektur Rumah Tradisional Aceh Beberapa nama istilah peralatan rumah Aceh sebagai tempat tinggal yaitu No. Indonesia Aceh No. Indonesia Aceh 1 Ambang Tangga/pintu Ampeut 19 Atap Buboung 2 Baji/pasak Bajoe 20 Balok Lantai Lhue 3 Balok Gratan 21 Balok melintang Bara Linteueng 4 Balok menembus bawah tiang rumah Toi 22 Balok panjang melintasi tiang utama rumah Bara Panyang 5 Balok panjang yang disorongkan pada tiang Roe’ 23 Balok Penghubung Tuleung rueng 6 Balok sejajar melintang pada belebas Indreung beuleubah 24 tembus cahaya pada atap atau dinding bagian atas Ceureumeun 7 Cermin Kaca 25 Bubungan Tampoeng 8 Dudukan dinding Neudue’ Binteuh 26 Dudukan belebas Neudue’ Beuleubaih 9 Dinding Binteuh 27 Dudukan kasau Neudue’ Gaseue 10 Dudukan pintu Neudue’Pintoe 28 Ganjal Keunaleueng 11 Jendela Tingkap 29 Kisi-kisi horizontal Pupisang
54 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 12 Gantungan pada loteng rumah Titi Mama 30 Kasau bambu penjepit belebas Gaseue Gantung 13 Kasau dinding atap Gaseue Inong 31 Kasau penopang Gaseue Agam 14 Kasau sepanjang balok melintang Gaseue Agung 32 Kalerai anyaman dari daun kelapa Bleuet 15 Kisi-kisi Eumpung Mirahpati 33 Gundukan tanah tempat alas tiang Teunamba’ 16 Tangga naik dari serambi keruang tengah E’-Troen 34 Ornamen berbentuk petak catur Tapa’ catoe 17 Palang Kasau Geuguloeng; geunuloeng; Peungguloeng 35 Papan dinding luar pada induk Kasau yang dipasak Peuneupi 18 Papan memanjang diatas kaca bingkai dinding Keukindang 36 Papan penutup celah antara Planan No. Indonesia Aceh No. Indonesia Aceh 37 para-para Para 44 Pintu Pintoe 38 Penekan belebas Geuneunton Beuleubai 45 Sambungan tiang/balok lantai Crue’ ; Ceuneurue’ 39 Selasar Seulasa 46 Tangga Reunyeuen 40 Sumbat tiang Tueb Gratan 47 Lantai Aleue 41 Tangka angin Tula’ Angeun 48 Terali Jeureuja’ 42 Ujung para-para yang menancap pada tiang Puteung 49 Tiang penopang bubungan Diri 43 Tiang tengah Rang 50 Tiang Tameuh
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 55 Lailahailallah… Kalimah thaibah payông pagé Taduek-tadong meuranggapat, Allah taingat di dalam haté
56 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Bagian 8 Adat Uteun Pantang di Mukim Janthoe; Sebuah Kearifan yang Tergilas Zaman Oleh: Asnawi Zainun Tatron u laôt takalôn bintang Tajak u blang luem kutika Ternyata orang-orang Aceh dahulu telah memiliki mekanisme beradaptasi dengan lingkungan dengan sangat baik. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka menata kehidupan, menjadikan kehidupan mereka lebih harmonis dan bersahabat dengan alam sekitar. Penghayatan para indatu kita terhadap pentingnya bersahabat dan menyesuaikan diri dengan alam sekitar, diantaranya tercermin dengan hadih maja (pepatah) Aceh berikut ini: tatron u laôt takalôn bintang, Tajak u blang luem kutika, yang maknanya kira-kira adalah, jika hendak melaut perhatikan rasi bintang, jika hendak bersawah perhatikan siklus alam. Pepatah ini pada hakekatnya mengajarkan kita untuk senantiasa memperhatikan, menyesuaikan diri dan bersahabat dengan alam sekitar. Kearifan untuk menyesuaikan diri dan bersahabat dengan alam juga dikenal oleh masyarakat Mukim Jantho Aceh Besar. Mukim Jantho Aceh Besar terdiri dari 12 gampong yang berada di kawasan penyangga Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Jantho. Mata pencaharian utama masyarakat Mukim Jantho adalah pertanian dengan sawah tadah hujan dan perkebunan. Sektor peternakan juga merupakan mata pencaharian penting masyarakat, bahkan dahulu Jantho dikenal sebagai salah satu pusat peternakan ternama di Aceh. Dalam kaitannya dengan pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan, masyarakat Mukim Jantho juga melakukan aktivitas memungut hasil hutan bukan kayu seperti rotan, jernang, damar, gaharu dan madu. Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai petani atau pekebun masyarakat Jantho juga berpegang pada filosofi menyatu atau menyesuaikan diri dengan alam.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 57 Salah satu permasalahan yang paling menonjol dalam kehidupan petani kita termasuk petani yang ada di Mukim Jantho adalah persoalan serangan hama tanaman. Untuk mencegah atau menghadapi serangan hama terhadap tanaman pertanian, masyarakat Mukim Jantho sebagaimana masyarakat Aceh di berbagai kawasan lainnya, sejak dahulu telah memiliki kiat dan mekanisme yang bersahabat dengan lingkungan. Mekanisme atau kiat menghidari dan menghadapi serangan hama antara lain dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu: 1. Menghindari siklus musim hama; 2. Pemasangan Penangkal Hama (pencegahan atau pemulihan secara organik); 3. Pendekatan melokalisir hama dengan menciptakan dan memelihara kawasan Uteun Pantang (Hutan Larangan). Menghindari siklus musim hama adalah upaya mengatur pola tanam khususnya jadwal tanam, agar pada saat tanaman (padi) berbuah terbebas dari siklus hama tertentu, misalnya hama wereng (bahasa Aceh: Geusong). Untuk maksud ini maka jadwal penanaman diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan sistem kelender siklus alam yang dalam masyarakat Aceh dikenal dengan istilah keuneunong. Pengaturan Jadwal tanam berdasarkan kalender keuneunong dalam masyarakat Aceh dapat terlihat dari pepatah keuneunong sebagai berikut: Keunong siblah tabu beujareung Keunong sikureung tabu beurata Keunong tujoh padee lam umong Keunong limong padee ka dara Keunong tujoh jeut chit manteng Keunong Limong geusong seuba Dua bait terakhir bermakna kira-kira pada saat keunong tujoh yaitu pada saat bulan September kita masih diperbolehkan untuk menanam atau menebar benih, namun jika kita menanam atau menabur benih pada saat keunong limong yaitu pada bulan Oktober, maka diyakini saat padi berbuah akan bersamaan dengan siklus geusong atau hama wereng. Untuk menghindari atau mengatasi serangan hama terhadap tanaman terutaman padi, masyarakat Jantho juga memiliki pendekatan lain yakni
58 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar dengan memasang media penangkal hama. Penangkal hama ini biasanya adalah bagian dari tanaman tertentu yang memancarkan warna atau aroma tertentu yang tidak disukai hama, seperti daun pinang merah atau mayang pinang muda (bungong pineung muda). Daun pinang berwarna kuning atau mayang pinang biasanya dipancangkan di sudut sudut sawah agar tanaman padi tidak diserang oleh hama wereng. Disamping itu dikenal juga prosesi penyembelihan ayam di atas bentangan beragam jenis daun tertentu. Pada saat keunduri Blang (selamatan sawah) Teungku Imeum Meunasah melakukan penyembelihan ayam yang darah diteteskan di atas bentangan beberapa jenis daun yakni ôn pineung mirah, ôn geureupéng, ôn krang asèe, ôn culuet, ôn rabon dan ôn kayèe kunyèt-nyèt. Daun-daun yang terkena percikan darah ayam yang disembelih, pada sore hari oleh Teungku Imeum Meunasah ditancapkan pada pintu saluran air (peundah ie) yang dimaksudkan untuk mencegah hama dan menambah kesuburan tanah. Pendekatan yang paling mengesankan, ternyata pada masyarakat Jantho dahulu mengenal adanya Uteun Pantang (Hutan Larangan). Uteun Pantang (Hutan Larangan) adalah kawasan hutan tertentu yang sengaja dijaga dan dipelihara kelestariannya oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai kawasan konsentrasi hama atau kawasan yang digunakan untuk melokalisir hama-hama tertentu seperti tikus dan babi. Pada Musim tanam kawasan ini menjadi kawasan yang dilarang untuk dimasuki, mengambil dan membawa pulang hasil hutan baik berupa kayu, atau hasil hutan non kayu seperti rotan, damar, dan madu. Namun di luar musim tanam dibolehkan untuk memasuki kawasan Uteun Pantang namun hanya untuk mengambil hasil hutan non kayu. Menurut penuturan beberapa tokoh adat di Mukim Jantho, bahwa dahulu ketika akan memasuki musim tanam tokoh adat yang memiliki ilmu (ileumee) baik dari perangkat adat keujruen blang, pawang glée atau ulama (ureung malem) melakukan prosesi untuk melokalisir hama pengganggu tanaman ke dalam kawasan Uteun Pantang (Hutan Larangan) dimaksud. Prosesi penggiringan hama pengganggu tanaman ini ke dalam Uteun Pantang (Hutan Larangan) disamping dilakukan oleh tokoh adat yang memiliki keahlian tertentu, juga harus dilakukan pada waktu-waktu dan dengan mengucapkan do’a atau mantera-mantera (rajah) tertentu. Setelah dilakukan prosesi pembacaan do’a-do’a, kemudian sekeliling area uteun
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 59 pantang itu dipasangkan tongkat atau seumpama goresa garis penangkal yang disebut dengan uréh, agar hama tidak bisa keluar dari area uteun pantang tersebut. Dahulu hampir semua gampong, terutama gampong yang memiliki kawasan persawahan luas dalam wilayah Mukim Jantho memiliki kawasan Uteun Pantang (Hutan Larangan). Nama-nama kawasan Uteun Pantang (Hutan Larangan) di Mukim Jantho antara lain sebagai berikut: 1. di Gampoong Bueng di sebut Uteun Alue Diriek 2. di Gampong Weue disebut Uteun Ruthu’k 3. di gampong Jalin disebut Uteun Madat; 4. di gampong Jantho disebut Uteun Cot Nie Namun sayangnya kearifan lokal dalam menghadapi hama pengganggu tanaman dengan pendekatan yang bersahabat dengan alam sebagaimana dijalankan oleh para orang-orang dahulu, perlahan namun pasti telah ditinggalkan masyarakat kita. Keadaan ini dipicu oleh gencarnya penggunaan pestisida dalam aktivitas pertanian dewasa ini. Pendekatan pertanian dewasa ini yang katanya “pertanian modern” membuat petani kita menjadi manusia yag bernafsu untuk menundukkan alam bukan menyesuaikan diri dengan alam. Hari ini kearifan menyesuaikan atau bersahabat dengan alam dalam kegiatan pertanian semakin kurang mendapat tempat yang layak dalam bingkai pikir masyarakat kita, termasuk dengan kearifan menyediakan Uteun Pantang (Hutan Larangan). Memudarnya adat uteun pantang di Mukim Jantho dipicu oleh beberapa faktor utama antara lain tidak adanya proses pengkaderan pawang glee yang memiliki ilmu (ileumee) dalam upaya melokalisir hama dan pengelolaan uteun pantang. Kondisi ekonomi masyarakat Mukim Jantho yang relatif rendah ternyata ikut mendorong masyarakat untuk melakukan penebangan hutan dan mengambil hasil hutan non kayu di kawasan uteun pantang tersebut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Meningkatnya kebutuhan dan ketergantungan terhadap sumber daya hutan terutama hasil hutan kayu untuk memenuhi kebutuhan pembangunan menjadi faktor pemicu lainnya kegiatan perambahan Uteun Pantang. Perambahan Uteun Pantang didorong juga oleh perubahan cara berfikir masyarakat di kawasan Uteun Patang di Mukim Jantho, dewasa ini yang menganggap larangan mengambil hasil
60 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar hutan kayu maupun non kayu di hutan larangan sebagai aturan yang tidak rasional. Dewasa ini dari empat lokasi uteun pantang yang ada di Mukim Jantho sebagaimana tersebut di atas, hanya satu lokasi yang masih terpelihara dan difungsikan sebagai uteun pantang, yaitu Uteun Ruthu’ di Gampong Weue, sedangkan tiga lokasi lain telah berubah menjadi area garapan masyarakat. Beginilah nasib Uteun Pantang di Mukim Jantho Aceh Besar. Sebuah kearifan yang telah tergilas zaman.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 61 Tueng seumpeuna bak mirapati Sabé gléh tarie tapandang mata Gakiejih mirah ceudah han sakrie Karônya Rabbi sabé seutia
62 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Bagian 9 Liké Dong “Liké Rayeuk;” Tradisi Shalawat yang Hampir Hilang dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh Besar. Oleh: Khumaini Adnan12 Maulid merupakan sebuah perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, pada 12 Rabi’ul Awal penanggalan Hijriah. Kata Maulid atau Milad Berasal dari Bahasa Arab Yang berarti lahir. Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun 570 M atau lebih dikenal dengan tahun gajah. Dinamakan demikian karena pada tahun tersebut pasukan Abrahah dengan menunggang gajah menyerbu kota Makkah untuk menghancurkan Kakbah. Ibu Nabi Muhammad SAW bernama Aminah dan ayahnya bernama Abdullah. Abdul Muthalib adalah kakeknya yang merupakan seorang kepala suku Quraisy yang memiliki pengaruh besar dalam lingkungannya. Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya telah wafat sejak Baginda dalam kandungan. Kemudian Nabi Muhammad diserahkan kepada Halimatus Sa’diyyah, hingga usia 4 tahun. Setelah itu ia kembali kepada ibu kandungnya selama kurang lebih 2 tahun sebelum akhirnya ia menjadi yatim piatu diumur 6 tahun. Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad selama 2 tahun. Setelah Abdul Muthalib wafat ia tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Nabi Muhammad SAW merupakan tauladan bagi umat Islam, di usia mudanya ia telah dijuluki sebagai Al-Amin, orang terpercaya. Dalam perjalanannya yang begitu banyak tantangan untuk menyerukan agama Allah, Nabi Muhammad SAW juga berperan penting dalam hal kemanusiaan, persamaan, keadilan sosial, keadilan, kebajikan dan solidaritas. Memperingati hari lahirnya Baginda Nabi, sebagai ekspresi rasa syukur atas nikmat iman, Islam dan ihsan yang telah diperoleh berkat perjuangan 12 Khumaini Adnan merupakan salah seorang pemerhati adat dan budaya Aceh. Kini ia mengabdi sebagai pelatih Liké Dong di Gampong Lambirah.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 63 Rasulullah Muhammad Saw, umumnya di Aceh sudah menjadi tradisi masyarakat mengadakan kenduri, syukuran biasanya diadakan dalam bentuk acara makan-makan dengan menu yang sangat istimewa seraya diiringi dengan zikir shalawat sesuai dengan kebiasaan daerah masingmasing. Demikian juga yang terdapat pada masyarakat Aceh Besar. Aceh Besar adalah salah satu kabupaten di Indonesia yang memiliki kesenian sebagaimana yang dimiliki oleh suku-suku lainnya di Indonesia. Masyarakat Aceh mayoritasnya beragama Islam dan keseniannya tidak terlepas dari nilai-nilai Islam, seperti seni tari yang dikenal dengan sebutan “Dikee Rayeuk/Dikee Dong” artinya zikir juga ditambah dengan shalawatan secara berdiri sebagai salah satu bentuk seni pada masyarakat Lambirah kecamatan Sukamakmur kabupaten Aceh Besar. Secara etimologi, perkataan dzikir berakar pada kata ذكرا-يذكر-ذكرartinya mengingat, memperhatikan, mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti dan ingatan. Di dalam Ensiklopedi Islam menjelaskan bahwa istilah dzikir memiliki multi interpretasi, di antara pengertian-pengertian dzikir adalah menyebut, menuturkan, mengingat, menjaga, atau mengerti perbuatan baik. Sedangkan menurut Aboe Bakar Atjeh, dalam bukunya Pengantar Ilmu Tarekat Uraian Tentang Mistik. Dzikir adalah ucapan yang dilakukan dengan lidah, atau mengingat Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mensucikan Allah dengan memuji dengan puji-pujian dan sanjungansanjungan dengan sifat yang sempurna, sifat yang menunjukkan kebesaran dan kemurnian. Teungku Hasbie Ash Shiddiqie dalam bukunya Pedoman Dzikir dan Doa, menjelaskan bahwasannya dzikir adalah menyebut nama Allah dengan membaca tasbih (subhanaallah), membaca tahlil (la ilahaillallahu), membaca tahmid (alhamdulillah), membaca taqdis (quddusun), membaca takbir (allahuakkbar), membaca hauqallah (lahawla wala quwwata illa billah), membaca hasbalah (hasbiyallah), membaca basmalah (bismillahirrahmanir rahim), membaca al-qur’an al majid dan membaca doa-doa yang ma’tsur, yaitu doa yang diterima dari Nabi SAW. Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan perintah untuk berdzikir, seperti firman Allah SWT dalam al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 103;
64 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar ْ ُ م ِك ُوب ُ ن ٰ ج ى َ ل َ َ ع ً ا و ُود ع ُ َق ً ا و م ٰ َ ِ قي َ ه َّ ۟ ٱلل ُوا ُ ر ك ْ َ ٱذ ف Artinya: …”ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring”. Adapun bentuk-bentuk dan manfaat dzikir adalah sebagai berikut: Istighfar: (Astaghfirullahal’adzim). Artinya: “aku mohon ampun kepada allah yang maha agung”. Manfaat: 1. Sebab pengampunan dosa Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 135 yang artinya. “Dan orang-orang yang apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” Q.S. (Ali ‘Imran: 135). Dan Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 110 yang artinya. “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya. (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapat bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Q.S. (An-Nisa’:110). 2. Meluaskan rizki seorang hamba Allah SWT. Berfirman dalam Al-Qur’an Surat Nuh Ayat 10-12, menjelaskan seruan Nabi Nuh AS. kepada kaumnya, yang artinya. “Maka saya berkata (kepada mereka) ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian (karena) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan Dia akan melimpatgandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” Q.S.(Nuh:10-12). 3. Menghindarkan hamba dari siksa Allah dan Musibah Allah SWT. Berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal Ayat 33 yang artinya. “Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka dalam keadaan beristighfar. Q.S. (Al-Anfal: 33).
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 65 Allah SWT. Berfirman pula menjelaskan sebab terselamatkannya Nabi Yunus AS. yang artinya. “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk sebagai orang-orang yang bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” Q.S. (Ash-Shaffat: 143-144). Pada ayat lain, Allah Jalla jalaluhu menjelaskan bentuk tasbih Nabi Yunus AS. yang merupakan salah satu makna istighfar, yaitu dalam firman-Nya, yang artinya. “Tiada sembahan (yang hak), kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya termasuk kedalam golongan orang-orang zhalim.” Q.S. (Al-Anbiya’:87). Keberadaanya sudah dikenal oleh masyarakat sekitarnya dan sampai saat ini masih tetap eksis dan terus dilakukan dalam acara peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam agama Islam berdzikir adalah aktivitas mengingat dan menyebut asma Allah SWT. bertujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan cara membaca do’a, bershalawat, memohon ampunan kepada Allah SWT, dan selalu mengingat akan kekuasaan dan kebesarannya sehingga kita dapat terhindar dari hal-hal buruk di dunia ini. Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang menjadi cerminan dari peradaban manusia. Kesenian ada, berkembang, dan dibakukan melalui tradisi-tradisi sosial suatu masyarakat (Rohidi, 2000). Sedangkan menurut (Macaryus 2008) mengatkan bahwa “kesenian cenderung dipandang sebagai ekspresi dan produk budaya yang ada dalam suatu masyarakat. Kesenian terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu seni musik, seni drama, seni tari dan seni rupa. Setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki kesenian yang berbeda-beda, itu semua dapat diketahui dari banyaknya ragam kesenian yang dimiliki Indonesia”. Keberagaman seni yang terdapat dalam suatu masyarakat disebabkan oleh letak geografis, suku, adat istiadat, bahasa dan lain sebagainya. semua jenis kesenian tersebut harus dipertahankan dan dijaga agar tidak hilang seiring berkembangnya zaman dan masuknya pengaruh-pengaruh budaya asing. Berbicara sejarah awal berdirinya grup likee dong/ likee rayeuk di gampong lambirah, pada dasarnya tidak terlepas dari upaya pelestarian budaya warisan leluhur yang berkembang secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya.
66 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Sebenarnya budaya likee dong/likee rayeuk di gampong lambirah kabupaten Aceh besar, sudah ada sejak dari dulu dari generasi ke generasi namun sempat hilang tidak berkembang lagi pada kurun waktu seribu sembilan ratus delapan puluhan. kemudian pada pertengahan tahun sembilan puluhan kembali dihidupkan dan diperkenalkan kembali oleh Tengku Haji Adnan Hasyim Lambirah bersama kawan kawan seperjuangan beliau seperti Tengku Amri Lizan Luthu Dayah Krueng, Tengku Nurdin Calang, dan Muchtar Hasyim Lambirah. Pada upaya pengenalan atau menghidupkan kembali likee dong ini ke masyarakat, pertama sekali dilakukan pelatihan di Mesjid Sungai Limpah sebagai Mesjid Kemukiman. dan Likee ini diikuti oleh sebagian masyarakat kemukiman Sungai Limpah. Like maulid yang ada di gampong Lambirah adalah cetusan daripada ulama besar gampong Lambirah yaitu Tgk Syik Lambirah dan yang dipopulerkan oleh Abu Ateuk Hamzah dan Tengku Hasyim Bin Hasan, tiap malam jumat selalu melakukan latihan bersama para santri dan warga disekitar yang bertempat di dayah Tgk Syik Lambirah atau nama asli beliau yaitu Tgk Abbas. Like maulid tersebut bertujuan untuk mempersatukan dan kekompakan santri dayah Tgk chik Lambirah selain untuk mengingat kelahiran dari nabi Muhammad SAW. Isi daripada like maulod tersebut menceritakan tentang zikir dan salawat kapada Rasulullah. Selanjutnya like maulod tersebut mulai digalakkan di dayah Lambirah dengan Syeikh Tgk Hasyim sebagai Syekh yang pertama yang ada di grup like gampong Lambirah. Selanjutnya likee tersebut ada beberapa kali perubahan yang dilakukan oleh Tgk Hasyim untuk memperbaiki kata-kata dan makna sesuai dengan syariat sehingga dalam melikee tidak keluar dari makna yang bertentangan sengan syariat. Kemudian sering waktu pelatihannya dipindahkan ke meunasah Meunasah Gampong sekemukiman Sungai Limpah Kabupaten Aceh Besar dengan harapan terjalinnya persatuan dan ikatan tali silaturrahmi antar gampong yang ada dalam Kemukiman Sungai Limpah. Perhelatan latihan likee antar gampong secara bersama sama tersebut, akhirnya kembali pudar semenjak kesehatan Tengku H. Adnan Hasyim dan Tengku Nurdin Calang Lambirah yang sudah mulai sakit sakitan karena faktor usia dan pelatihan di lingkungan kemukiman sempat terhenti untuk beberapa kurun waktu Barulah pada akhir tahun seribu sembilan ratus sembilan puluhan likee ini diperkenalkan kembali kepada generasi muda Lambirah yang
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 67 baru dan pelatihannya dipusatkan di Dayah peninggalan Tengku Syik Lambirah dan sejak saat itu sampai sekarang para pemuda Lambirah telah berkomitmen untuk terus menjaga dan mewarisi warisan budaya ini ke generasi selanjutnya di masa depan sejak dibentuknya grup likee dong/ likee rayeuk kembali oleh Tengku Khumaini Adnan S.pd I. M.pd sebagai upaya penyelamatan warisan budaya yang ada di gampong Lambirah dan kemukiman Sungai Limpah yang dikelola secara modern dan penuh tanggung jawab oleh para pengurusnya, grup likee ini sudah dikenal oleh gampong-gampong tetangga sekitar dalam wilayah Aceh Besar dan terkenal sampai ke kota Banda Aceh dan sabang, dengan mengikuti berbagai event perayaan maulid maupun lomba/ musabaqah maulid barzanji tingkat provinsi Aceh. Manfaat Likee Dong/Likee Rayek Manfaat likee dong/likee rayeuk sangat banyak diantaranya ; 1. salah satu sarana ibadah dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui bacaan sholawat kepada Nabi muhammad SAW yang merupakan manifestasi melaksanakan perintah Allah untuk bershalawat kepada nabi. 2. berdoa atau meminta kepada Allah dari berbagai permasalahan hidup di dunia dan akhirat melalui wasilah sholawat. 3. Memperkenalkan sejarah kelahiran dan perjuangan Rasulullah dalam mendakwahkan kalimat tauhid Laa ilaha illallah MuhammadRasulullah SAW. 4. Mempererat tali silaturrahmi antar sesama ummat Islam. 5. Sarana persatuan ummat secara umum dan masyarakat, terutama para pemuda kampung khususnya. 6. Dari segi kesehatan, likee dong/likee rayeuk juga insya Allah dapat menyehatkan jasmani dan rohani. 7. Gerakan badan dalam likee dong/likee rayeuk seiring dan sejalan dengan gerakan gerakan senam pada umumnya. 8. Kegebiraan hati dan fikiran yang tumbuh atau muncul saat prosesi likee dong/ likee rayeuk secara otomatis meningkatkan kesehatan para pelakunya.
68 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 9. Masih banyak manfaat lain yang ditimbulkan budaya likee dong/ likee rayeuk dalam masyarakat tentunya.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 69 Ujeun pih jitrôn awan meutalöe Ka basah bumöe ban sigöm dônya Udép bahgia makmue lam nanggröe Karunia Pöeteuh Tuhan Rabbana
70 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Bagian 10 Pok Teupeun, Budaya Menenun Warisan Indatu Oleh: Asnawi Zainun Meunyoe jeut buet jaroe u công duroë seulamat, meunyoe hanjeut buet jaroe atra lam peutoe kiamat Tayue peuék ie beukah tayeuen tayue pök teupeuen keundôe asoë Sejak dahulu kepulauan nusantara dikenal sebagai kawasan utama penghasil tenun terbaik di dunia dengan keanekaragaman warna, corak, motif dan makna filisofinya. Joseph Fisher, seorang pengamat tekstil dunia, dalam bukunya Threads of Tradition: Textiles of Indonesia and Serawak, menyatakan bahwa seni tenun yang paling kaya dan canggih yang pernah ada di dunia dihasilkan di Indonesia. Tak kalah dengan berbagai daerah lainnya di Indonesia, Aceh juga memiliki kerajinan tenun songket tradisional khas. Kerajinan menenun di Aceh telah hidup dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Aceh sejak berabda-abad yang lalu. Keahlian menenun tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan kebutuhan hidup manusia terutama dalam pemenuhan kebutuhan sandang. Kebutuhan akan sandang ini dalam perkembangannya bukannya sekedar untuk menutupi tubuh, tetapi kemudian juga dibutuhkan sebagai bagian dari gaya hidup. Seringkali pakaian menjadi indikator sosial dari para penggunanya. Sebuah hadih maja atau pepatah Aceh menyebutkan, geutakôt keu angkatan, geumalè keu peukayan, maksudnya ditakuti karena angkatan perangnya, disegani karena pakaiannya. Pekerjaan atau ketrampilan menenun dalam bahasa Aceh disebut dengan Pök Teupeuen. Kata Pök Teupeuen mengandung makna mengantuk papan alat pemintal, bertenun, pök ija, menenun, memintal kain, (Aboe Bakar,dkk, 2008, hal. 734). Pök Teupeuen atau disebut juga Tak teupeuen, berarti kegiatan menenun. Seiring dengan perguliran waktu memiliki ketrampilan termasuk ketrampilan menenun menjadi tuntutan penting bagi rakyat Aceh dalam menjalani kehidupannya. Pepatah Aceh yang
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 71 lain menegaskan, meunyoe jeut buet jaroe, u công duroë seulamat, tapi meunyoe hanjeut buet jaroë, atra lam peutoë kiamat. Dahulu dalam pandangan masyarakat Aceh gadis-gadis yang tidak mahir menenun sangat dicela dalam masyarakat dan dianggap sebagai perempuan yang tidak cakap dalam kehidupan. Hal ini tercermin dalam Hadih Maja (Peribahasa Aceh), tayue peu-ék ie beukah tayeuen, tayue pök teupeun keundô asöe, yang maksudnya kira-kira, disuruh mengangkat air pecah tempayan, disuruh menenun kendur kainnya. A. Sejarah Tenun Songket Aceh Serpihan catatan penting dan tertua yang mengabarkan tentang keberadaan tenunan sutera di Aceh terdapat dalam kitab Sung dari Dinasti Sung (960 -1279) pada penggalan abad ke X dan XI. Kitab Sung mencatat perihal keberadaan dan produksi kain sutera di Aceh terutama di kawasan Pidie dan Aceh Besar, hingga pada penggalan abad ke-19 keberadaan tenun sutera Aceh menyebar ke berbagai wilayah di Aceh. Sutera Aceh dengan bahan sutera yang bermutu tinggi dan dipadu dengan keragaman motif yang indah dipandang sebagai sebuah maha karya sehingga dihargai dengan nilai lebih mahal dibanding dengan kain sutera serupa yang diimpor dari India. Terkait bagaimana produksi sutera di Aceh pada penggalan abad XIV, diceritakan oleh Denys Lombard, seorang sejarawan Perancis dalam bukunya, Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), “sutera tetap dihasilkan dengan hasil yang lumayan banyak di daerah sekitar Aceh. Para petani menghasilkan sutera dalam jumlah yang cukup besar, yang diolah di Aceh menjadi berbagai barang yang sangat digemari di seluruh pulau Sumatra”. Memproduksi kain tenun (teupeun) memang telah menjadi kebijakan Sulthan di Kesultnan Aceh Darussalam. Berdasarkan sebuah manuskrip Pohon Aceh Darussalam yang berisi 21 Kewajiban Rakyat Aceh Darussalam yang disusun pada masa Paduka Seri Sultan Alauddin Johan Ali Ibrahim Mughayat Syah Johan Berdaulat (1514 -1530), Sultan Aceh Darussalam memerintahkan kepada Rakyat Aceh untuk memproduksi kain tenun sutra (teupeun) khususnya kepada kaum perempuan. Pada pasal ke-5 yang berbunyi, “diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang perempuan yaitu mengajar dan belajar membikin teupeun (tenun), bikin kain sutera dan kain
72 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar benang dan menjahit dan menyulam dan melukis bunga-bunga pada kain pakaian dan barang sebagainya.” Tenun sutera Aceh mengalami masa kemunduran bahkan kemudian hilang sama sekali pada era perang Aceh, yakni perang antara Kesultanan Aceh Darussalam melawan Belanda. Perang Aceh dianggap sebagai perang terberat dan terlama dalam sejarah penjajahan Belanda. Denys Lombard menyebutkan bahwa pada zaman Snouck Hourgronje dapat dikatakan tenun sutera Aceh telah hilang. Tenun sutera Aceh perlahan mulai bangkit kembali pada tahun 1973, melalui tangan seorang perempuan gampong Siem, yang bernama Hajjah Maryamu Ali atau yang lebih dikenal dengan Nyakmu. Berbekal ketrampilan yang diwariskan dari orangtuanya dengan pendampingan oleh Dinas Perindustrian Aceh saat itu, Nyakmu mulai memperkenalkan kembali tenun sutera Aceh kepada dunia. Dengan tekun Nyakmu kembali mempertajam skill menenun dan kemudian mengajarkan ilmunya kepada perempuan-perempuan termasuk generasi muda yang ada gampong Siem kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Lebih jauh, tanpa kenal lelah, Nyakmu terus mengembangkan ilmu menenun songket Aceh ini ke beberapa wilayah gampong dalam Kabupaten Aceh Besar seperti Miruek Taman, dan juga beberapa wilayah Aceh lainnya yakni, Lamgugob Banda Aceh, Lamno Aceh Jaya, dan Aceh Timur. Hari ini, dapat dipastikan semua pengrajin tenun yang memiliki ketrampilan menenun di Aceh sanad keilmuannya tersambung kepada Nyakmu. B. Perkembangan dan Sebaran Produksi Tenun Songket Aceh Paska bangkit kembali pada era tahun 70-an, tenun songket Aceh terus berkembang seiring perjalanan waktu. Tenun songket Aceh sempat mengalami masa kejayaan pada saat Prof. Dr. Ibrahim Hasan menjabat gubernur Aceh pada bilangan tahun 1986-1993. Terobosan penting yang dilakukan Prof. Ibrahim Hasan dalam mendongkrak produksi kain songket Aceh adalah dengan mendampingi dan membantu sepenuhnya pemasaran hasil kerajinan penenun songket Aceh. Langkah lebih kongkrit dalam kedudukannya sebagai Gubernur Aceh, beliau juga mendorong dengan kuat agar para pejabat Aceh terutama ibu-ibu pejabat Aceh untuk menggunakan kain songket Aceh pada setiap upacara-upacara resmi daerah dan nasional di Aceh.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 73 Saat ini sebaran sentra produksi tenun songket Aceh yang masih eksis berada di gampong Siem, gampong Miruek Taman dan gampong Krueng Kalee. Ketiga lokasi produksi tenun songket Aceh ini berada di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. C. Alat dan Bahan Teupeuen Teupeuen adalah alat tenun tradisioanal yang terdiri dari rangkaian seperangkat alat yang memiliki fungsi masing-masing dalam tradisi menenun masyarakat Aceh . Bagian-bagian dari seperangkat alat tenun tradisonal Aceh adalah sebagai berikut: 1. Pha Cakah, adalah tiang teupeun yang biasanya terbuat dari batang bambu, yang berguna sebagai tempat menjepit gulungan benang tenun (Lhoh); 2. Lhôh (batang kumpar) adalah kayu balok tipis sepanjang bidang kain yang berfungsi sebagai tempat melilit masing-masing benang lungsi, agar dapat dikaitkan atau dijepit pada pha cakah; 3. Aneuk Idông adalah sepasang kayu kecil bulat sepanjang bidang kain yang digunakan untuk mengikat benang lungsi yang diikat atau dijepit pada batang kumpar (lhôh); 4. Peusha adalah balok gelondongan yang berfungsi sebagai tempat menggulung kain hasil tenunan. 5. Aneuk Klip sepotong kayu kecil dan ringan seukuran jari kelingking yang panjangnya seukuran lebar kain tenun yang berguna untuk mengikat atau menjepit benang lungsi pada balok peusha; 6. Peunök adalah sebilah kayu memanjang dengan salah satu sisnya dibuat lonjong/tumpul dan ujungnya lancip yang berguna untuk memukul benang/kasap supaya kain tenunnya memadat. Peunök juga berfungsi untuk membuat celah antara benang lungsi supaya dapat memasukkan benang atau menyelipkan benang emas (kasap. Peunök terdiri dari dua jenis yakni Peunök Rayek dan Peunök Ubiet; 7. Surie adalah irisan bambu yang disusun memanjang seperti sisir yang berfungsi untuk menyerak benang. 8. Garap adalah irisan benang nilon yang disusun memanjang yang berfungsi untuk menyerak benang lungsi sebelum dimasukkan ke dalam surir;
74 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 9. Tureuk adalah potongan ujung buluh bambu sepanjang lebih kurang 30 cm yang bagian ujungya dibuat melonjong dan berlubang pada sisinya hingga dapat dilalui benang pakan sutra dan benang pakan emas; 10. Nurieng adalah bilahan bambu kecil yang berfungsi untk menggulung benang pakan sutra dan benang pakan emas/perak agar dapat dimasukkan dalam tureuk; 11. Cakoe Bungong adalah perangkat penanda motif pada kain tenun berupa kumparan benang nilon dan rautan batang bambu memanjang sebesar kelingking (aneuk cakoe); 12. Alat Seumiweut, adalah seperangkat alat berupa balok tipis horizontal sepanjang lebih kurang enam meter yang dimasukkan ke dalam lubang pahatan dua tiang vertikal yang berfungsi untuk menghani benang tenun guna memperoleh benang lungsi; 13. Jangka, adalah alat yang terbuat dari rautan belahan bambu tipis sepanjang lebih kurang 40 cm yang memiliki lubang-lubang kecil untuk memasukkan benang tenun dan berfungsi untuk mengulur benang sutra dalam proses seumiweut (menghani); 14. Rasôk, adalah alat yang terbuat dari rautan belahan bambu tipis sepanjang lebih kurang 20 cm dengan salah satu ujungnya dikerat yang berfungsi untuk memasukkan benang lungsi ke dalam surie (sisir benang); D. Proses Menenun Hasil produksi kain tenun songket Aceh dengan paduan warna dan motif indah dipastikan telah melalui tahapan proses yang panjang. Adapun langkah-langkah tahapan prosesnya adalah sebagai berikut: 1. Peuglah Beuneung, adalah proses menggulung benang dari gumpalan benang (sapai beuneng) pada buluh bambu. Alat-alat yang dibutuhkan untuk melakukan proses peuglah beuneung adalah alat peuglah beuneung, lang (tempat menempatkan gumpalan benang (sapai beuneung), buloh (Bambu buluh tempat menggulung benang) dan gunténg (gunting). 2. Seumiweuet adalah proses mengulur benang (tarék beuneung) pada alat seumiweut untuk memperoleh benang lungsi sesuai dengan panjang dan jumlah benang yang dibutuhkan.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 75 3. Peugèt Idông, adalah membuat simpul benang lungsi yang akan ditambatkan pada aneuk idông (anak hidung) yang selanjutnya digulung pada lhôh (batang kumpar). 4. Pasoe beuneung lam garap adalah proses mengisi benang lungsi pada penyerak benang dan selanjutnya benang lungsi di isi (disisip) diantara aneuk surie (sisir). 5. Döng teupeuen adalah tahapan melilit benang lungsi pada lhôh (batang kumpar). Untuk dapat melakukan tahapan dong teupeuen ini paling kurag dibutuhkan 5 (lima) orang (ureung dong teupeuen) dengan pembagian peran masing-masing 2 orang menarik lembaran benang lungsi sampai kencang dan 3 orang menggulung benang lungsi pada aneuk idong dan lhôh (batang kumpar). 6. Tak ule ija adalah menenun tepi kain setelah lembaran benang lungsi terpasang pada alat tenun (teumpeun) secara sempurna pada alat teunun dan sebelum dilakukan desain motif (culek bungong) pada kain. 7. Seumiléh (Culék Bungong) adalah tahapan mendesain motif pada lembaran benang lungsi. 8. Pök Teupeuen adalah tahapan menenun kain dengan menggunakan seperangkat alat pok teupeuen sehinggal menghasilkan lembaran kain songket dengan warna dan motif yang telah didesain sedemikian rupa. Untuk produk tenun songket Aceh berupa kain selendang, setelah proses menenun selesai maka dilanjutkan dengan tahapan berikutnya yang disebut peugèt rumbè yakni membuat rumbai pada kedua sisi ujungnya. Sementara untuk produk teunun ija teungkulôk (kain teungkulôk) tahapan akhirnya adalah keureuyai teungkulok yakni menghias lingkaran tepi kain teungkulôk dengan benang emas atau perak agar terlihat rapi. E. Motif dan Filosofinya Desain motif yang digunakan penenun Aceh mencakup serangkaian garis dan petak. Begitupun Ragam hias motif Teunun Adat Kabupaten Aceh Besar yang sering diilhami oleh ragam bentuk flora (tumbuh-tumbuhan), alam, dan Fauna (binatang). Menurut Tammat dkk (1996:325), “ragam hias flora diambil berdasarkan apa yang mereka lihat atau alami sehari–hari sehingga timbul imajinasi mereka untuk memindahkan bentuk-bentuk tersebut kepada suatu ukiran”.
76 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Motif yang terinspirasi dari fauna selalu ditampilkan secara tidak utuh, hal ini berhubungan dengan keyakinan masyarakat Aceh bahwa dalam agama Islam dilarang menggambar makhluk yang bernyawa dalam hal ini adalah manusia dan hewan. Melalui tangan trampil beliau, Nyakmu kembali menggali dan menciptakan motif-motif tenun Aceh yang terinspirasi dari berbagai bentuk flora seumpama, pucôk reubông, bungông camplie, bungông meulu, bungông pala. Motif-motif tenun songket Aceh diilahami dari bentuk-bentuk penggalan tubuh binatang misalnya dada daruet, dada limpeun, pha cangguk, lidah tiyông. Disamping itu beberapa juga terinspirasi dari bentuk-bentuk alam lainnya,seperti awan siôn, awan meutalöe dan talöe ie. Ragam motif tenun Aceh berhasil digali dan dikembangkan kembali oleh ibu Hj. Maryamu Ali atau Nyakmu saat menghidupakan kembali adat pok teupeuen di gampong Siem sejak tahun 1973. Hingga akhir hayat beliau mampu menggali dan menciptakan lebih dari 63 ragam hias motif teunun Aceh. Aneka ragam hias motif tenun Aceh dimaksud pada dasarnya memiliki seumpeuna (filosofi) yang dapat menjadi nilai, pembelajaran dan visi kehidupan masyarakat Aceh. Keberadaan ragam motif Aceh dimaksud juga melengkapi kesempurnaan berpakaian yang menjadi simbol kepribadian dan kewibawaan penggunanya, sebagai aspek penting dalam berpakaian dalam pandangan ureung Aceh. Nariet Maja Aceh menyebutkan, tatakôt keu angkatan, tamalè keu peukayan, maksudnya, sebuah negara ditakuti karena kekuatan angkatan perangnya, dan seseorang disegani karena kesempurnaan pakaian yang dikenakannya. Namun sayangnya tidak semua motif tenun songket Aceh diketahui atau dapat diungkapkan dengan baik nilai-nilai filosofi yang dikandungnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain sebagaimana diungkapkan oleh Denys Lombard bahwa perang Aceh yang berkepanjangan telah menghancurkan tradisi menenun dikalangan masyarakat Aceh. Kefakuman dalam rentang waktu yang panjang ini menyebabkan tersumbatnya proses pewarisan nilai-nilai dari generasi tua Aceh kepada generasi-generasi berikutnya khususnya dalam bidang pewarisan nilai-nilai simbolis dari motif tenun Aceh. Mengingat pentingnya nilai-nilai filosofi yang terkandung dibalik ragam motif tenun Aceh Besar, perlu upaya serius, terfokus dan berkelanjutan
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 77 untuk menggali serta merumuskan kembali makna filosofi dari motifmotif Aceh dimaksud. Berikut ini adalah makna filosofi (seumpeuna) dari beberapa ragam motif Tenun Aceh Besar melalui kajian perpustakaan, wawancara nara sumber dan diskusi terfokus Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Besar. 1. Motif Gakie Mirapati Motif Gakie Mirapati terinspirasi dari kaki burung merpati yang berbentuk lancip simetris. Bentuk lancip simetris ini melambangkan keseimbangan dan kecekatan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Kaki merpati juga dikaitkan dengan kebersihan dan keindahan, baik dari sisi bentuk maupun warnanya. Dalam tradisi masyarakat Aceh, ketika seorang pemuda ingin mencari jodoh, salah satu aspek yang sering diingatkan oleh orang tua tentang keindahan bentuk kaki dengan ungkapan, “kamita peurumöh nyang meugaki mirapati..!” Burung Mirapati juga dipandang memiliki karakter yang baik untuk diambil seumpeuna (filosofi) seperti sifatnya yang komunikatif dan setia. Tueng seumpeuna bak mirapati Sabé gléh tarie tapandang mata Gakiejih mirah ceudah han sakrie Karônya Rabbi sabé seutia 2. Motif Awan Meutalöe Motif awan meutalöe adalah bentuk garis melengkung yang sisisisi ujungnya saling sambung menyambung. Bentuk melengkung ini melambangkan sifat kelenturan, sementara sisi-sisi yang saling menyambung menggambarkan kehidupan yang saling membantu dan bekerja sama. Awan itu sendiri dalam pandangan masyarakat Aceh merupakan symbol dari pembawa rahmat dari yang Maha Pencipta Allah Swt bagi kehidupan alam semesta. Ujeun pih jitrôn awan meutalöe Ka basah bumöe ban sigöm dônya Udép bahgia makmue lam nanggröe Karunia Pöeteuh Tuhan Rabbana 3. Awan Siôn Motif awan siôn adalah bentuk garis melengkung tunggal yang melambangkan sifat kelenturan dan keteduhan. Bagi masyarakat Aceh
78 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Besar awan dipandang sebagai symbol pembawa rahmat dari Allah Swt. Dalam banyak riwayat diceritakan dengan kuasa Allah Swt, awan menjadi pelindung nabi Muhammad SAW dari teriknya matahari ditengah tengah padang pasir. Awan siôn peulidông nabi Kuasa Rabbi Poteuh Rabbana Geujak lam padang han tutông gaki Teurasa leupie bahpih uröe kha 4. Bu Kulah Motif Bu Kulah adalah motif tenun Aceh yang diilhami dari tradisi bu kulah ( nasi yang dibungkus dengan pisang) yangm berbentuk segitiga sama kaki seperti piramida. Dalam kebiasaan masyarakat Aceh Besar Bu Kulah sering disajikan dalam upacara-upacara adat atau saat berwisata (meuramien) ke tepi pantai atau tempat-tempat wisata lainnya. Motif “bu kulah” ini melambangkan sikap kesetaraan, kebersamaan dan silaturahmi dalam kehidupan bermasyarakat. Bu kulah geubungkôh ngen ôen Peuduek meususôen lam dalông raya Ureung Aceh udép meukawöm Mandum meuhimpôn sabé syèdara 5. Halua Reuteuk Motif Halua Reuteuk diilhami oleh bentuk penganan (peunajoh) Aceh yang biasanya dipotong berbentuk simetris segi empat (peut sagöe) jajaran genjang empat sudut, yang menggambarkan empat penjuru mata angin. Motif halua reuteuk ini mengandung seumpeuna (filosofi) keseimbangan, keadilan, kemakmuran dan silaturrahmi. Halua reuteuk teuduek peut sagöe Beumakmue nanggröe adé seujoahtra Barat timue tunông ngen barôh Pang ulèè peunajôh di Aceh raya 6. Bungong Ayu-Ayu Bungong ayu-ayu adalah motif tenun Aceh yang terinsiprasi dari hiasan pelaminan, dalông dan perangkat perangkat adat lainnya. Bungông ayu-ayu didominasi oleh bentuk garis simetris segi tiga yang sambung-menyambung yang membentuk atap rumah dan kandé
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 79 meugantung. Bentuk bentuk ini mengandung makna perlindungan, kemuliaan, penghormatan dan harapan masa depan yang lebih baik. 7. Bungöng Böh Aneuh Motif bungông böh aneuh diilhami dari bentuk relief kulit buah nenas yang simetris berjajar. Bentuk ini mengambarkan kehidupan yang teratur, kerja sama dan perlindungan diri. Seumpeuna (filosofi) lainnya yang dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan kita adalah buah nenas selalu berdiri tegak di atas tangkainya sendiri. Tamsé böh aneuh tampôk meupayông Teumpat meulindông tubôh mulia Badan meusisék meujurông-jurông Meususôn sambông lam meuseuraya 8. Bungöng Camplie Motif Bungöng Camplie terinspirasi dari bentuk bunga cabe belum mekar yang menggantung di batangnya. Filosofi bungông camplie dikaitkan dengan warnanya yang putih bersih dan peran cabe dalam memberikan rasa terhadap makanan. Seumpeuna yang dapat diambil dari bunga cabe adalah terkait dengan kesucian hati dan keikhlasan dalam kehidupan bermasyarakat. Bungông camplie rupajih putéh Tamsé haté gléh rumèh ie muka Beugèt tapapah kawôm ngen waréh Deungôn haté gléh peutimang rasa 9. Bungöng Ceureupa Bungông Ceureupa adalah motif yang diilhami oleh ceureupa yaitu wadah tempat tembakau yang terbuat dari perak, emas dan suasa. Ceureupa ini berbentuk kotak segi delapan, terdiri atas dua bagian yaitu badan dan tutup. Antara badan dan tutupnya dihubungkan dengan sistim engsel. Sisi luar bagian badan ceureupa dihiasi dengan ukiran motif suluran daun dan bunga. Bagian tutup terdiri dari perak yang sebagian ditutup dengan lempengan suasa dan emas dengan ukiran motif bungông kupula (bunga tanjung) dan suluran daun. Motif bungông ceureupa melambangkan kehidupan yang penuh dengan persaudaraan, persahabatan. Bungông keupula yang menjadi hiasan dari tutup kotak ceureupa juga bermakna keteduhan dan perlindungan.
80 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 10. Bungông Gaséng Motif Bungông Gaséng terinspirasi dari alat permainan tradisional Peupök Gaséng. Böh gaséng dirancang berbentuk bulat bundar simetris, runcing lancip di bagian bawah dan runcing tumpul di bagian atas dimaksudkan untuk menghasilkan gerakan putaran yang tajam, kuat dan efek suara yang nyaring. Mengambil seumpeuna dari buah gasing, motif bungông gaséng ini memiliki simbol kekuatan, keseriusan, kecepatan, ketepatan, kecermatan dan kehalusan. 11. Bungöng Ranté lhèè Motif Bungông meuranté merupakan bentuk motif bunga yang saling bertautan (meuranté) antara satu dengan lainnya. Gambaran ini merupakan filosofi dari kehidupan orang Aceh Besar yang saling bantu membatu, bermusyawarah dan bekerja sama. lam gampông tameusaré lam meuglé tameubila di Lampôh tameutulông-alang di blang tameusyèdara Putôh ngen meupakat kuwat ngen meuseuraya. 12. Bungöng Meulue Motif bungông Meulu terinspirasi dari bentuk bunga melur. Bunga Melur dikenal sebagai jenis bunga yang berwarna putih bersih, wangi dengan kelopak bungannya yang simetris bersusun-susun. Seumpeuna yang dapat diambil dari bunga melur adalah terkait dengan kesucian hati, kerja sama dalam menyebar kebaikan dalam masyarakat. Bungông meulu putéh meususôn Meubèè that harôm di Aceh raya Mandum geutanyöe udép meukawôm Tulông-meunulông geutanyöe beuna 13. Bungöng Reudeup Motif Bungông Reudeup terinspirasi dari daun dedap yang pada umumnya berbentuk hati. Pohon dedap dikalangan masyarakat Aceh sejak dahulu dikenal salah satu fungsinya sebagai pohon penyangga tumbuhan lada. Dalam Nariet Maja Aceh disebutkan, “maté reudeup, maté lada”, nariet maja ini bermakna jika orang tua meninggalkan
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 81 atau mengabaikan anaknya, maka anaknya tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Ungkapan Nariet Maja lain menyebutkan, “maté reudeup ngen sabab reungiet, teuböh aneukmiet ngen sabab ureung tuha.” Makna filosofi atau pembelajaran yang terkandung dalam motif bungông reudeup ini adalah pentingnya system dukungan dan pengasuhan dalam kehidupan manusia. 14. Bungöng Kala Motif Bungông Kala adalah motif tenun Aceh yang diilhami oleh bentuk Bunga Kala (kecombrang). Bungông Kala merupakan bunga majemuk, berkelopak banyak yang berbentuk tampôk (bonggol) dan tumbuh di atas tangkai tegak lurus yang tingginya mencapai 80 cm, karenanya orang Aceh sering menyebutnya dengan tungkat apui (tongkat api). Kelopak (Bahasa Aceh, ulah) bungông kala yang tersusun simetris dipadu dengan warna merah itu membentuk sebuah susunan yang sangat estetis. Kelopak bungông kala terus melekat pada tangkainya, tidak gugur atau rontok (bahasa Aceh, Luröh) sampai bunga mongering. Dalam masyarakat Aceh dikenal juga sebuah petikan sya-è (syair) yang berbunyi: Shallawalé Shallawalé Tatueng tamsé bak bungông kala Tameu-udép beusaré-saré Bèk tameucré siumue masa Seumpeuna (filosofi) yang dikandung dari motif bungông kala adalah kehidupan bersama yang hormanis dan tidak bercerai-berai selama-lamanya. 15. Bungöng Pala Penciptaan Motif Bungông Pala dalam karya tenun Aceh pada dasarnya terinspirasi dari bentuk buah pala. Bentuk buah pala yang belum mekar ini melambangkan keutuhan suatu kaum, di dalam sebuah ikatan kekeluargaan.
82 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 16. Bungöng Peut Sagöe Bungong Peut Sagöe adalah motif tenun Aceh yang terbentuk dari konfigurasi empat sisi (peut sagöe) persegi panjang yang membentuk seperti bintang delapan. 17. Bungöng Ranté Meulapéh Sebagaimana Motif Bungông meuranté, Bungöng Ranté Meulapéh merupakan bentuk motif bunga yang saling bertautan (meuranté) antara satu dengan lainnya. Gambaran ini merupakan filosofi dari kehidupan orang Aceh Besar yang saling bantu membatu, bermusyawarah dan bekerja sama. Lam gampông tameusaré lam meuglé tameubila Di Lampôh tameutulông-alang di blang tameusyèdara Putôh ngen meupakat kuwat ngen meuseuraya. 18. Bungöng Riwat Motif bungông Riwat terinspirasi dari bentuk bunga riwat yakni sejenis bunga melur (melati) namun kelopaknya berbentuk lebih kecil. Seperti halnya Bunga Melur Bungöng Riwat dikenal sebagai jenis bunga yang berwarna putih bersih, wangi dengan kelopak bunganya yang simetris. Dalam kebiasaan masyarakat Aceh Bungöng Riwat sering ditanami dikuburan sebagai lambang kesejukan. Filosofi atau Seumpeuna yang dapat diambil dari motif Bungöng Riwat adalah terkait dengan kesucian hati, kesejukan, kerja sama dalam menyebar kebaikan dalam masyarakat. 19. Bungöng Geulima Meupucôk Penciptaan Motif Bungông Geulima Meupucôk dalam karya tenun Aceh pada dasarnya terinspirasi dari bentuk buah delima. Buah delima memiliki kedudukan penting dalam masyarakat Aceh karena diyakini sebagai buah yang berasal dari syurga. Beberapa upacara adat dalam masyarakat Aceh selalu dilengkapi dengan kehadiran buah delima seperti upacara peucicap aneuk dan peutamat beuet (khatam al-Qur’an). Tetesan air bening dari bji delima diyakini masyarakat Aceh dapat mengobati sakit mata. Falsafah yang diharapkan dari keberadaan buah delima ini adalah agar setiap anak manusia selalu berjalan di atas jalan
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 83 yang benar, bertakwa kepada Allah Swt. Buah delima juga dikaitkan dengan kebeningan dan kesejukan. 20. Bungöng Keupula Motif Bungong Keupula adalah motif tenun Aceh yang diilhami oleh bentuk bunga tanjung yang sedang mekar. Motif Bungông keupula sering juga digunakan sebagai hiasan dari tutup kotak ceureupa. Bungong Keupula bermakna keteduhan dan perlindungan. 21. Kalimah La Ilaha illallah Motif bungong kalimah adalah motif yang berbentuk kaligrafi kalimat tauhid. Penempatan motif kalimah ini pada kain teunun Aceh hanya diterapkan pada kain selendang atau kain penutup kepala kaum perempuan. Filosofi dari motif kalimah ini adalah simbol dari konsistensi orang Aceh dalam mengagungkan keesaan Allah Swt. Ajaran mengtauhidkan Allah Swt senantiasa ditanamkan dalam jiwajiwa anak Aceh sejak mereka kecil melalui syair-syair, seperti: Lailahailallah… Kalimah thaibah payông pagé Taduek-tadong meuranggapat, Allah taingat di dalam haté 22. Meuranté Motif Bungông meuranté merupakan bentuk motif bunga yang saling bertautan (meuranté) antara satu dengan lainnya. Gambaran ini merupakan filosofi dari kehidupan orang Aceh Besar yang saling bantu membatu, bermusyawarah dan bekerja sama. lam gampông tameusaré lam meuglé tameubila Lam meulampôh tameutulông-alang lam meublang tameusyèdara Putôh ngen meupakat kuwat ngen meuseuraya. 23. Pha Cangguek Motif Pha Cangguk yang diimplementasikan pada kain songket Aceh terinspirasi dari bentuk simetris paha kodok. Pha cangguk melambangkan kecekatan dan kedinamisan dalam mengarungi kehidupan.
84 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 24. Pucôk Paku Motif Pucôk Paku, diilhami dari bentuk ujung daun paku atau pakis yang masih muda. Motif Pucôk Paku melambangkan keindahan dan kehidupan yang dinamis. 25. Pucôk Reubông Penerapan motif Pucôk Reubông pada kain teunun Aceh terinspirasi dari bentuk simetris tunas bambu. Tunas bambu melambangkan kelenturan dan kehidupan yang terus tumbuh dan berkembang. Sebuah hadih Maja Aceh menyebutkan, “adat meuköh reubông, hukom meuköh purieh”. Ungkapan ini menggambarkan sifat adat seperti tunas yang elastis dan terus bergerak dinamis sesuai zamannya. Reubông juga mewakili fase kehidupan dini dalam kehidupan anak manusia, sebagai fase yang tepat untuk melakukan proses pembentukan dan pengasuhan hingga menjadi sang anak manusia itu menjadi sosok yang paripurna. Kealpaan dalam melakukan pengasuhan dalam fase reubông ini dipercaya akan berdampak buruk pada masa depan mereka. Pepatah Aceh mengingatkan, “yôh masa reubông han tatém ngieng-ngien, ‘oh ka jeut keu ttrieng han ék taputa.” Hakikatnya semua motif-motif yang dirancang dan diaplikasikan pada kain tenun songket Aceh memiliki makna atau filosofi yang mendalam. Pasti, diperlukan upaya keras terus menerus untuk menyingkap ke akarakarnya kandungan filosofi atau seumpeuna yang terkandung di dalamnya agar menjadi renungan kita bersama dan generasi masa depan. F. Penutup Kerajinan tenun tradisional Aceh merupakan bagian penting dari keanekaragaman kekayaan budaya bangsa yang tidak ternilai harganya. Ketinggian nilai tenunan Aceh tidak hanya terlihat dari ragam warna dan bentuk motifnya saja tetapi juga tercermin dari ketinggian nilai-nilai filosofi yang dikandungnya. Agar kerajinan tenun tradisional Aceh tetap terjaga dan terpelihara keberadaannya dibutuhkan langkah kongkrit dan strategis untuk menjaga, memelihara dan melestarikan ketrampilan menenun di Aceh dan tentunya di kabupaten Aceh Besar khususnya. Diantara langkah-langkah kongkrit adalah dengan memperbanyak pelatihan-pelatihan menenun untuk
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 85 generasi muda di kabupaten Aceh Besar. Melalui pelatihan menenun diharapkan akan melahirkan lebih banyak tangan-tangan trampil yang akann melanjutkan tradisi menenun di Aceh. Semoga tenunan songket Aceh semakin jaya..!
86 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Meunyoe jeut buet jaroe u công duroë seulamat, meunyoe hanjeut buet jaroe atra lam peutoe kiamat Tayue peuék ie beukah tayeuen tayue pök teupeuen keundôe asoë
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 87 Bagian 11 Meumawah dan peumawah perilaku Ekonomi-Budaya Aceh Oleh; Juanda Djamal13 Perkembangan pembangunan ekonomi Aceh kurang menggairahkan, bahkan cenderung bergerak pada stagnasi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tergantung oleh serapan APBA memberikan signal penting bahwa produktifitas ekonomi semakin terpuruk. Pemerintahan Aceh dan Kabupaten/Kota terjebak dalam rutinitas birokrasi namun lemah sekali dalam inovasi entrepreneurship agar program yang dijalankan memiliki multi-affect player disegala sektor ekonomi. Perilaku mereka menunjukkan hampir tidak memiliki jalan keluar atas situasi ini, bahkan politik anggaran terjebak dalam kerangka anggaran pembelanjaan rutin dan aspirasi yang disuarakan oleh wakil rakyat, namun program aspirasi dampaknya sangat kecil pada pemulihan struktur sosialekonomi, cenderung korup. Upaya menciptakan suasana investasi dengan mengundang para investor dalam dan luar negeri selalu patah ditengah jalan, kelihaian promosi investasi selalu berujung pada komitmen dan penandatanganan kerjasama, tetapi sulit ditindaklanjuti dengan berjalannya industri. Katanya Aceh kaya dengan pertambangan dan migas, namun perusahaan-perusahaan yang mengejar konsesi dan Izin usaha Pertammbangan (IUP) maupun blok migas, langkahnya hanya untuk meningkatkan portofolio sehingga nilai saham dan performance perusahaan naik, akhirnya mereka jual ke perusahaan lain lagi. Bahkan pelaku perbankan pun ikut berkontribusi menggali jurang konsumtivisme. Bank Indonesia Banda Aceh sekalipun tidak mampu mendorong lahirnya strategi pembangunan ekonomi produktif yang dapat menjadi kerangka bersama perbankan di Aceh. Perdebatan ekonomi terjebak dalam simbul Syariah namun perilakunya jauh dari nilai-nilai dan prinsip 13 Juanda Djamal adalah aktivis dan penulis yang kerap bergerak dari tema akar rumput. Pernah menjadi salah satu politisi partai lokal di Aceh. Kini, ia mengabdi sebagai Ketua Pengawas KSP Beng Mawah.
88 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar ekonomi Islam itu sendiri. Kemudian, perdebatannya hanya berkenaan dengan Perbankan Syariah, padahal kita dituntut untuk menjalankan perilaku ekonomi Islam lebih luas yang fair, terbuka dan adil. Sedangkan kampus, kreatifitas dan inovasi ilmu pengetahuan yang dapat menjawab tantangan kekinian, pergerakannya masih kurang terlembagakan sehingga produk ilmu pengetahuan cenderung berakhir pada penelitian, sedikit sekali yang dapat diberdayakan menjawab kebutuhan pemulihan sosial-ekonomi paska konflik dan bencana alam. Semestinya peran kelembagaan alumni dapat mengonsolidasikan para jebolan universitas untuk menjadi pioneer karena produktifitas ide dan aksi mereka sangat tinggi. Fenomena masyarakat Konsumtif Salah satu faktor yang mendorong Aceh terpuruk dalam budaya konsumtif adalah besarnya anggaran pembangunan yang dialokasikan pada mata anggaran bantuan sosial. Selama ini, mata anggaran ini menjadi “ruang dan peluang” terhadap munculnya proyek yang tidak strategis, bahkan kecenderungan penyalahgunaan anggaran sangat tinggi. APBA/ APBK masih dipengaruhi oleh ketidakberesan pertanggungjawaban atas bantuan sosial, tentunya ini bukan hanya kerja eksekutif ansih tetapi anggota parlemen ikut bermain didalamnya. Bappeda semestinya dapat membangun sistem perencanaan yang tepat dan strategis, serta menegaskan SKPA untuk mengusulkan anggaran bukan hanya sebatas pengadaan bibit dan pupuk semata, tetapi memastikan bahwa program yang diusulkan dapat menciptakan lapangan kerja, kebijakannya dapat menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kepala pemerintah Aceh, Bupati/Walikota dan Bappeda harus memastikan SKPA/SKPD terkait fokus pada peranan pelayanan publik (public services)dan stimulus ekonomi, jangan sampai SKPA/SKPD beralih menjadi “pedagang” atas program-program pengadaan benih padi, bibit maupun pupuk, pengadaan bebek, ayam, sapi dan sebagainya. Harus disadari bahwa kebijakan dan perilaku demikian dapat membunuh kreatifitas masyarakat, harapan untuk memproduktifkan sektor swasta malah selalu terjebak dalam keuntungan oknum pejabat dan kontraktor dalam jangka waktu sesaat.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 89 Pada dasarnya masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi dalam upaya pemanfaatan dan pengelolaan alat produksi, tetapi sejauh ini mereka hanya mampu memastikan hasil produksinya sebatas memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Keadaan demikian semestinya pemerintah hadir dengan intervensi teknologi dan mendukung pengembangan nilai tambah. Pengalaman di beberapa kawasan, walaupun petani tidak mendapatkan bantuan bibit tetapi mereka mampu menjalankan proses produksinya. Menurut beberapa petani, hal utama kebutuhan mereka adalah akses modal dan jaminan pasar, selama ini akses modal cenderung bergantung dengan “toke bangku”, maka keuntungan yang diperolehnya kecil, karena selain mengembalikan biaya produksi, kemudian mereka juga menutup hutang kebutuhan sehari-hari selama berlangsungnya kegiatan produksi. Peran middle-man pun sudah dipengaruhi pemilik modal luar Aceh yang ingin mengambil marjin, memang keuntungan middle-man tinggi dan berlipat-lipat, misalnya rantai pasar gabah padi dan beras. Hal yang perlu kita kritisi adalah pemasaran, kontrol pasar pemerintah lemah sehingga harga tidak stabil, dan bahkan transaksi yang panjang mengakibatkan harga jual di level petani menjadi murah. Sedangkan pemerintah luput perhatiannya dalam mengontrol harga, biasanya kontrol harga berlangsung menjelang bulan ramadhan saja. Ekonomi – Budaya sebagai solusi Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota semestinya memiliki kepekaan yang tinggi atas permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam menjalankan aktifitas ekonomi ini. Strategi Direct Investment masih kurang relevan untuk saat ini, sebagai wilayah paska konflik dan bencana tsunami tentunya mayoritas masyarakat masih low skills. Maka, agenda prioritasnya adalah memastikan terjadinya perbaikan pendapatan keluarga (quality of income). Langkah strategisnya adalah menjadikan sektor ril sebagai lapangan kerja, ini relevan karena dari 72 % yang tinggal di pedesaan, 65 % adalah petani. Intervensi pemerintah adalah infrastruktur, kapasitas dan teknologi, pendampingan dan penyuluhan, dan jaminan/kontrol pasar. Sedangkan Pemerintah dapat mengarahkan perbankan untuk membuka akses modal bagi petani, pedagang yang menampung hasil pertanian dan modal bagi industri pengolahan.
90 MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar Menjawab kebutuhan masyarakat, ada dua hal yang sangat penting dalam mendukung aktifitas produksi, yaitu akses modal dan Jaminan Pasar. Sebenarnya, kedua permasalahan ini dapat dijawab oleh komitmen pemerintah Aceh melalui Badan usaha perbankan yang dimilikinya. Perbankan dapat menjadi pintu penyaluran Modal Usaha Rakyat (MUR) dengan sistem tanpa bunga. Pemerintah Aceh dan 23 kabupaten/kota pemilik saham Bank Aceh Syariah, tentunya kuasa kebijakan pemegang saham Bank Aceh dapat memprioritaskan program pembiayaan pada sektor ril, bukan hanya kredit jasa bagi pegawai negeri sipil dan para dewan. BAS harus dapat menjadi aktor utama untuk tumbuhnya ekonomi Aceh, baik produksi maupun industri, serta perdagangan. Selain Bank Aceh, Pemerintah Aceh juga memiliki saham 100 % di BPR Mustaqim, BPR ini dapat diarahkan kerjanya dengan menciptakan ekonomi mikro. Bahkan, seluruh mata anggaran Bantuan Soial untuk program pemeberdayaan ekonomi masyarakat dapat disalurkan melalui mekanisme bank ini. Jika bansos dan program pemberdayaan ekonomi seperti penyaluran bibit disalurkan oleh Bank maka dampaknya lebih produktif dan langkah ini dapat menghindari oknum di SKPA menjadi “pedagang”. Jika dana bansos APBA dijalankan oleh perbankan, maka pembiayaan modal dapat disalurkan tanpa bunga, dengan syarat pemerintah juga mengalokasikan biaya operasional dan dana penguatan kapasitas masyarakat petaninya. Pendekatan meminimalisir bantuan sosial dan hibah dapat mengefektifkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang selama ini tidak menunjukkan hasil yang positif, bahkan seperti “menaburkan garam ke laut”, puluhan triliun dialokasikan tetapi kita masih sulit dalam mengambil nilai tambah ekonominya. Sepatutnya, Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota dapat mengkaji pergerakan dan aktifitas ekonomi masyarakat dalam menggerakkan ekonominya. Pola-pola ekonomi seperti Meumawah, Meugala, Meu-Uro dan sebagainya dapat menjadi solusi untuk mengkapitasisasikan 72 % rakyat Aceh yang tinggal di pedesaan menjadi produktif dengan inovasi saudagar yang dapat dikembangkan.
MEUSEURAYA: Antologi Pemikiran Adat-Budaya Aceh Besar 91 Sistem Meumaawah dan Peumawah Pemerintahan Aceh Besar dapat mempopulerkan kembali sistem Meumawah dan Peumawah yang selama ini menghidupkan ekonomi di akar rumput, ini pembelajaran endatu, pendekatan ini sudah mengakar menjadi sistem permodalan antar masyarakat. Pemkab Aceh Besar dapat mempengaruhi Pemerintah Aceh untuk meminta Bappeda Aceh mengkaji kembali system tersebut. Untuk mengTentunya, pendekatan ini penuh nilai sosial-budaya yang dapat memperbaiki kembali mentalitas sosial yang tidak jujur menjadi jujur, personalistik menjadi berkelompok/berjamaah dan kapitalistik menjadi Ekonomi Islam dengan prinsip dan nilai dasarnya adalah “dalam harta kita ada hak orang lain”. Selama ini, transaksi “Meumawah dan Peumawah” dilakukan antar personal, jika pemerintah serius maka sistemnya dapat dilembagakan dengan menerapkan manajemen yang sesuai dengan standar perbankan, sehingga dapat diaplikasikan seutuhnya. Sistem ini juga berkembang di Patani Darussalama dengan sistem “Pawah” atau Brunei Darussalam. Sistem sosial-ekonomi “Meumawah dan peumawah” atau “Pekerja dan Pemodal” dapat diarahkan untuk mendukung seluruh aktifitas agribisnis dari hulu ke hilir, bahkan pendekatan ini dapat menjawab kebutuhan pedagang sayur di pasar-pasar seperti Lambaro yang saban hari semakin dililit oleh rentenir. Selain itu, sistem tersebut juga dapat mendukung kebijakan pembangunan desa melalui UU Desa, terutama untuk program wirausaha dan bisnis masyarakat. Sistem bagi hasil ini sangat membantu masyarakat akar rumput, selain prosesnya yang fair, terbuka, negotiable, dan adil antara Peumawah dengan pihak Meumawah, sistem ini memberikan dampak pada menguatnya kembali persaudaraan antar masyarakat karena pola pendampingannya mengikuti proses Transfer knowledge melalui nilai-nilai seperti kejujuran dan saling membantu yang tinggi pula. Untuk itu, walaupun Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota bersemangat tinggi untuk keliling dunia mempromosikan investasi di Aceh, tetapi jangan lupa bahwa pelaksanaannya mulailah secara rasional, memulai dengan program kecil tetapi berkualitas, dan hasilnya menjadi contoh untuk diikuti oleh banyak masyarakat. Maka mengkualitaskan pendapatan keluarga (quality of income) menjadi prioritas, karena langkah ini yang dapat memastikan keamanan (security guaranty) bagi investor.