Aneka cerita pendek yang dihadirkan dari berbagai eksplorasi kisah, rasa dan pengalaman yang ada di sekitar penulis. Selamat membaca! Ito Lawputra
Daftar Isi Hari Pertama Ben.............................. Audisi Marni........................................ Cinta atau............................................ Pupus.................................................... Ibuku Surti........................................... Perjalanan Re..................................... Sekte Bunga Biru............................... Pasti Bisa............................................. Berani................................................... Hilang................................................... Sang Katak Merindu......................... "C" untuk.............................................. Nanti ini akan jadi Kenangan......... Sedikit lebih lama............................. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Tentang Penulis........................................ 1 5 11 16 20 23 32 45 48 53 56 59 66 71 75
1
2 Hari Pertama Ben “Ben, apakah kamu sudah memasukkan obat di tas pinggang kamu?” kata ibu perlahan dengan sesekali menggerakkan tangannya agar dapat dimengerti oleh putranya tersebut. Ben yang tampak mengamati gerak bibir ibu, kemudian mengangguk. Ia melambaikan tangannya dan melangkah keluar rumah. Ibu terlihat cemas. Ben memegang telepon genggam di tangannya, mengetikkan sejumlah kata dan memperlihatkannya kepada ibu, bertuliskan: Jangan cemas, bu. Saya bisa melakukannya sendiri. Saya sayang ibu. Mata ibu tampak berkaca, tetapi akhirnya diputuskannya tersenyum kepada Ben, putranya yang kini telah berusia dua puluh empat tahun. Meski dengan kondisi keterbatasannya, ibu berusaha meyakinkan diri, bahwa Ben dapat melakukan tugas mudah itu sendirian: pergi ke tempat kerjanya, di hari pertamanya bekerja, di sebuah pabrik sepatu yang hanya berjarak satu kali naik bus dari halte di depan lorong kontrakan mereka. Ben mendapatkan pekerjaan itu setelah direkomendasikan oleh kenalan ibu di Sekolah Luar Biasa. Pekerjaan yang meski tidak digaji seberapa besar, tetapi bermakna, sekadar memeriksa dan mengepak sepatu ke dalam kardus sebelum didistribusikan ke toko-toko.
3 Ben berjalan dengan penuh keyakinan, menyusuri lorong kontrakan tempatnya tinggal, berpapasan dengan beberapa tetangga yang berpapasan dengannya, disapanya dengan tersenyum. Cahaya matahari pagi sesekali mengintip dari jejeran atap seng dan gedung bertingkat di sekitarnya. Ben sampai di halte, di mana telah ada keramaian orang yang juga sedang menunggu.bus selanjutnya. Semua tampak sibuk dengan gawai mereka, dari yang sekadar menonton video di media sosial, hingga yang asyik menelpon, ada juga yang bermain game online. Ben melihat ada tempat yang lowong di pojok, tak jauh dari tiang halte, ia memutuskan berdiri di situ, ikut menunggu. “Mau kemana, anak muda?” tanya seorang pria tua berseragam batik. Ben mencoba tersenyum ramah dan menuliskan jawabannya di layar telepon genggamnya, bertuliskan: ke tempat kerja, pak. Diperlihatkannya kepada pria tua itu. “Anak muda sekarang tidak sopan! Ditanya malah menjawab dengan menggunakan layar handphone!” respon pria tua itu dengan kesal sambil memalingkan kepala dari Ben.
4 Ben hanya bisa tertunduk, sekalipun ia ingin menjelaskan bahwa dirinya seorang tuna wicara, tetapi ia rasa tidak ada gunanya. Ia terbiasa menerima perlakuan seperti itu. Mereka hanya tidak mengerti, katanya dalam hati. Begitu bus tiba, kerumunan orang itu berlomba-lomba untuk segera masuk, mereka rela berjejalan asal dapat segera melanjutkan perjalanan ke tujuan. Ben berhasil mengamankan tempat di samping pintu, berpegangan pada tiang besi di dekatnya. Ketika melihat raut muka orang-orang di sekitarnya, Ben menyadari, mereka semua punya tujuan dan sesuatu yang harus dilakukan di hari itu. Sama seperti dirinya, hari itu akan menentukan segalanya, apakah ia siap melakukan pekerjaan di pabrik, dan apakah ia dapat melakukannya dengan baik. Sebenarnya ia ragu, dan takut. Bagaimana jika orang-orang tidak dapat menerima dirinya dengan kekurangannya? Bagaimana jika semua orang di pabrik itu seperti si pria tua? Beberapa saat kemudian, Ben telah turun dari bus, langkahnya terhenti tepat di depan pos jaga. Ia mengeluarkan telepon genggamnya dan mengetikkan kata-kata: Permisi, saya Ben, dan saya bisu. Hari ini hari pertama saya bekerja di pabrik, atas rekomendasi ibu Nanik keponakan dari pemilik pabrik ini. Ben mendekati satpam di pos jaga, dan memperlihatkan tulisannya tersebut. Satpam itu menganggukkan kepala
5 dan menyuruhnya masuk ke pintu di ujung lorong gedung besar di hadapannya. Seorang wanita berkacamata menyambutnya di depan pintu. Wanita itu menggunakan bahasa isyarat, mengatakan: Selamat datang, Ben. Hari ini kamu mulai bekerja. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu bisa panggil saya kak Serli. Saya akan mengajarkan kamu bagaimana memulai pekerjaan hari ini. Ben tersenyum. Rasa takutnya perlahan hilang. Ia menjabat tangan wanita itu dan masuk ke dalam. Ia tahu, hari itu akan jadi petualangan baru di hidupnya. Ia akan berusaha sebaik-baiknya melewati hari pertamanya di pabrik.
6
7 Audisi Marni “Marni, silahkan masuk, giliran kamu,” kata pria itu yang tibatiba muncul dari ruangan bertuliskan ‘AUDISI’. “Baik,” jawabku sambil segera beranjak dari kursi dan menatap para peserta audisi lainnya. Tatapan mereka terlihat tajam, beberapa melotot melihatku, berharap aku mungkin gagal. Ini merupakan audisi untuk tampil di sebuah film pendek yang disebar di surat kabar yang aku baca beberapa hari lalu. Mereka mencari perempuan muda yang berbakat dan bisa memerankan sosok perempuan dari desa terpencil tetapi menawan. Aku percaya ini merupakan momenku, saat aku akhirnya bisa tampil meniti karirku sebagai aktris. Aku masuk ke dalam ruangan itu, pintunya seketika menutup rapat. Hanya ada sebuah layar hijau, sebuah meja berwarna putih panjang di tengah, lalu sejumlah lampu sorot berwarna putih. Di hadapanku ada pria tadi, dengan seorang rekannya; mereka duduk dan mengamati kamera yang diarahkan ke meja dan layar hijau tadi. “Berdiri di tengah situ, dong,” kata pria itu. “I…iya,” jawabku sambil berjalan perlahan ke meja dan layar hijau. “Berhenti,” kata pria lainnya.
8 Langkah kakiku terhenti tepat di tengah meja putih, membelah simetris ruang antara meja dan layar hijau dan berhadapan dengan mereka. “Usiamu saat ini benar masih dua puluh tujuh tahun?” tanya pria yang pertama. “Iya, mas,” jawabku. “Apa yang kamu harapkan kalau mendapat peran ini?” tanya pria kedua. “Aku ingin menjadi aktris yang terkenal dan bermain di berbagai film,” jawabku. “Tidak mudah lho menjadi aktris, harus siap dan serba bisa,” kata pria pertama. “Aku pasti bisa, mas,” jawabku dengan semangat. “Kamu boleh berbaring di atas meja putih itu, dan berpurapura menjadi mayat,” kata pria kedua. “Hah?” “Kita mau menguji kemampuan kamu berakting. Ikuti apa katanya,” kata pria pertama. “Baik, mas,” jawabku sambil mengambil posisi terbaring, dengan posisi tubuhku terlentang di atas meja putih itu, tangan kiriku terjuntai ke bawah, sementara tangan kananku berpegang di pinggang, lalu mataku menatap kosong ke arah plafon ruangan. “Bagus, pertahankan posisi itu,” kata pria kedua.
9 Aku berusaha diam tak bergeming, lantas entah kenapa, lampu tiba-tiba mati dan seisi ruangan gelap gulita. “Jangan bergerak, Marni, kamera ini tetap merekam posisimu, kira-kira beberapa menit lagi,” kata pria kedua. Samar-samar tatapanku menyadari ada kedip lampu merah, seperti titik yang sedang merekam diriku. Tiba-tiba saja rasa takut berkecamuk di benakku. Ada sesuatu yang tidak beres. Sekujur tubuhku terasa dingin bergetar. Ada sesuatu yang membekap mulutku dan menyumpal sehelai kain setengah basah dengan wangi yang tajam dan membuat kesadaranku perlahan menghilang. “Hanya itu yang kamu ingat?” tanya petugas polisi di hadapanku. “Iya, dan ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Kata perawat, aku ditemukan tergeletak di daerah bukit di sekitaran jalan sepi di belakang kompleks rumah sakit ini,” jawabku. “Kami sudah mengecek semua informasi dan lokasi yang kamu sebutkan itu, dan sayangnya semuanya tidak benar. Tempat audisi itu tidak pernah ada, iklan di surat kabar tidak pernah ada, dan orang-orang termasuk nama agensi dan rumah produksinya juga tidak ada,” kata si petugas. “Tapi bagaimana mungkin? Kalian bisa menjelaskan ini?” kataku yang bangkit berdiri dari kursiku di hadapan si petugas dan melihat ke arah kakiku, tetesan darah segar mengalir dari selangkangan melewati kedua paha dan betisku.
10 Petugas itu tercengang melihat pemandangan di hadapannya, dan kami sama-sama diam membisu. “Cut!” kata pria pertama. Aku berdiri menghadap mereka, dan membungkukkan badanku sebagai tanda hormat sekaligus terima kasih. “Akting kamu bagus sekali,” kata pria kedua. “Kami akan menghubungi kamu segera dalam 1-2 hari ke depan,” kata pria pertama. “Sampai jumpa, Marni,” kata pria kedua. “Terima kasih, mas,” jawabku sambil melangkah keluar dari ruangan audisi itu.
11
12 Cinta atau…. “Ati, apakah kamu mengizinkan aku pergi bersama mereka?” tanyaku kepada Melati kekasihku. Ia hanya tertunduk sedih, ditatapnya aku sesekali, tetapi ia memalingkan wajahnya ke arah jalan yang berdebu di hadapan kami. Sore itu angin bertiup sepoi dari atas bukit tempat kami duduk, teduh tepat di bawah pohon beringin yang menjadi saksi kali pertama perjumpaan sekaligus saat aku memintanya Melati menjadi kekasihku. “Kalau itu memang sudah bulat keputusanmu, bang Togar, aku hanya bisa ikhlas,” jawabnya. “Jepang kalah di perang Pasifik, Ati. Inilah momen yang kita semua tunggu, segera tanpa menunda-nunda, proklamasi kemerdekaan kita sudah dekat. Aku tidak bisa mengabaikan hal itu begitu saja,” kataku. “Seandainya aku berkata tidak mengizinkan kamu, bang Togar, apakah itu berarti kamu tidak akan pergi?” tanya Melati. Aku terdiam mendengar pertanyaannya tersebut. Cahaya matahari senja perlahan menyapa wajah Melati, menyebabkan kilau keemasan di sekitar rambut hitamnya yang dikepang dua, dengan mata yang tampak berkaca-kaca. Aku tertegun, menyaksikan kecantikan,
13 sekaligus rasa bersalah atas keinginanku yang selalu menang dari setiap keinginannya. “Aku hanya tahu, bang Togar, kalau kepergianmu ini akan disertai bahaya yang mungkin juga mengancam nyawamu. Tentara Jepang itu belum tentu semuanya menerima mentah-mentah posisi kita yang katanya dipersilahkan mengurus persiapan kemerdekaan sendiri. Aku harus siap kalau-kalau…” perkataan Melati terhenti. Kami sama-sama termenung. “Maafkan aku, Ati,” kataku sambil meraih dan lantas memegang erat jemari tangan kanannya. Perlahan, jemari Ati menemukan celah di genggaman eratku, menepisnya, menjauh dan kembali ke pangkuannya sendiri. “Bangsa ini lebih butuh kamu, bang Togar. Lebih daripada aku,” kata Melati. Aku menghela napas, memutuskan beranjak dari sisinya, dan bersiap melangkah. “Pada akhirnya kamu harus memilih langkahmu, bang Togar. Aku tidak mau menjadi penghalang dari rencana besarmu,” kata Melati. “Maafkan aku, Ati,” kataku sambil bergegas pergi meninggalkannya.
14 “Bang Togar sudah ditunggu oleh teman-teman yang lain,” sahut salah seorang lelaki yang ada di rombonganku, yang berdiri tidak jauh di dekat kaki bukit. “Aku segera ke sana, bung,” balasku. Aku menoleh ke belakang, melihat Melati yang bahkan tidak melihat kepergianku, ia hanya asyik menatap matahari senja, yang menyisakan jejak merah dan gelap di langit, yang segera menjemput datangnya malam. Selamat jalan, Ati, kataku dalam hati. Entah kenapa, perasaan aneh berkecamuk di dadaku. Tapi aku akhirnya tetap meniatkan langkahku untuk pergi. “Semuanya sudah siap?” tanya Sarmin, ketua rombongan kami, yang telah duduk di mobil jip yang telah dipenuhi oleh sejumlah pemuda. “Sudah, bung,” balasku sambil bergabung ke jip dan duduk bersama yang lainnya. “Kali ini, kita akan memastikan bangsa kita merdeka dan diakui di mata dunia!” kata Sarmin dengan penuh semangat, diikuti seruan ‘merdeka’ dari pemuda lainnya termasuk aku. Mobil jip kami terus berjalan, melewati rumah-rumah penduduk, menuju titik yang telah disepakati, bergabung dengan rombongan pemuda lainnya untuk menunggu komando selanjutnya.
15 Di sepanjang perjalanan, ada masyarakat yang mengeluelukan kami ketika melintasi rumah mereka, memegang obor serta lampu minyak sebagai penerang kala hari mulai gelap. Belum semua rumah memiliki lampu bertenaga listrik yang katanya belum dapat terjangkau oleh semua orang. Satu saat bangsa ini akan makmur dan mampu menerangi rumah-rumah mereka dengan lampu modern itu, kataku dalam hati. Tepat di hadapan kami, persimpangan dengan jalanan yang menikung ke kanan, perasaanku menjadi aneh. Firasat buruk, aku membatin dalam hati. “Bang Togar, jadi nanti Melati…” perkataan Sarmin terputus seketika dengan ledakan keras yang mendadak membuat jip kami terpental. Aku tidak sempat mengambil tindakan, kami semua dalam keadaan tidak siap. Hal terakhir yang aku lihat di tengah bunga api, asap hitam dan darah merah, hanya sosok Melati, berdiri di hadapanku, tersenyum, memanggilku menuju dekapannya. Aku berusaha meraihnya, mendekat, tetapi perlahan, duniaku menjadi gelap, pekat, dan semua menjadi hening seketika. * “Kamu tidak menyesal?” tanya Endah kepada Melati. “Apa gunanya, Mbak,” jawab Melati sambil terisak.
16 “Kamu tidak bilang kalau dia adalah ayah dari bayi di kandunganmu, Ati. Kenapa?” tanya Endah dengan penuh amarah. “Karena dia sudah bulat dengan keputusannya sendiri,” balas Melati. “Pria biadab! Seharusnya dari dulu dia melamarmu. Bukannya menyiksa dan memanfaatkanmu seperti ini!” kata Endah memukul meja di hadapannya. “Dia sudah tiada, Mbak. Aku hanya bisa ikhlas,” jawab Melati. “Dipikirnya dia adalah pahlawan. Mungkin untuk orang lain, tapi pengecut untuk kamu, Ati!” Melati hanya bisa menangis sambil memeluk Endah, sahabatnya. Kematian Togar, kekasihnya, meninggalkan jejak kenangan yang disesali sekaligus melukai hatinya.
17
18 Pupus “Elma, kamu sudah sadar, nak?” kata perempuan itu dengan panik. Perlahan aku membuka mata dan sayup melihat sosok perempuan yang berdiri di samping ranjang tempatku berbaring. “Ta…tante siapa? Aku ada di mana?” tanyaku kebingungan. Perempuan itu menatap pria berseragam putih di dekatnya dengan sedih. “Kenapa aku ada di sini?” pertanyaanku hanya dibalas dengan tangisan perempuan itu, ia bersujud di atas kasur ranjang tempatku terbaring. “Kamu adalah Elma, dan empat hari yang lalu, kamu mengalami kecelakaan tabrak lari di parkiran sebuah supermarket,” terang pria berbaju putih itu. “Elma? Namaku Elma? Tapi aku tidak ingat apa-apa. Siapa perempuan yang menangis itu? Aku tidak mau di sini!” teriakanku mulai membuat pria berseragam putih itu memanggil beberapa orang perempuan yang juga mengenakan pakaian putih masuk ke ruangan dan memegangiku sambil bersiap menyuntikkan sesuatu lewat selang infus yang melekat di tanganku.
19 “A…aku…ingin pulang…” perkataanku terhenti karena seketika badanku lemas, tatapanku kembali kabur, kesadaranku hilang entah kemana. “Maaf, bu, sepertinya anak ibu ini hilang ingatan, dan akan saya periksa lebih lanjut lagi,” kata pria berbaju putih kepada si perempuan yang dibantunya berdiri dan menyimak perkataannya tersebut. “Ingatannya pasti kembali kan, dok?” pertanyaan perempuan itu dibalas dengan reaksi angkat bahu, pertanda tidak yakin atau tidak pasti, yang seketika membuatnya tertunduk kecewa.
20
21 Ibuku Surti Namanya Surti. Usianya tujuh puluh delapan, tapi sering ketika ditanya, dia berkeras mengatakan usianya sudah delapan puluh, dan mudah mengenalinya dari kain sarung usang berwarna merah dan kuning yang sering dikenakannya kemana-mana. Kamu bisa menemuinya di sekitar jalan Juanda, di dekat perempatan lampu merah, di pojok dekat sekolah, lengkap dengan keranjang berisi botol jamu jualannya. Sejak usianya masih muda, dia telah rutin berjualan jamu gendong, di tempat yang sama, dari jam enam pagi sampai jam tiga menjelang sore, tanpa mengenal lelah. Demi menghemat biaya, dia juga selalu membawa bekal sarapannya sendiri yang disiapkan dari rumah, ketika dia sekaligus mengantar putra kesayangannya ke sekolah yang bertempat tidak jauh dari rumahnya. Kalau kamu mungkin bertanya di mana dia tinggal, cukup berjalan kaki sekitar tiga puluh menit dari tempatnya berjualan ke arah Utara, ketika kamu melewati kompleks pasar tradisional yang kini mulai digusur oleh bangunan ruko modern, tepat di sebuah lorong yang masih dijejali aneka rumah dari papan dan seng, persisnya di rumah ke tujuh di sebelah kanan, sebelum akhir lorong buntu itu.
22 Dia selalu bilang, bahwa dalam hidupnya, dia hanya sekali berkeluh, ketika pertama kali, suaminya pergi meninggalkannya dengan tidak sepeserpun menafkahinya. Tetapi dia bersyukur karena memiliki putra kesayangannya yang dibesarkannya dengan susah payah, hingga bisa kuliah, jadi sarjana dan membeli rumah sederhana yang lebih layak untuk ditinggali olehnya. Kamu mungkin bertanya kenapa dia masih berjualan jamu gendong di sana, dan aku, putranya yang sudah bisa memberikannya kehidupan yang lebih baik tetap tidak didengarkannya ketika aku meminta dia beristirahat di rumah. Karena dia tidak ingin kami lupa arti kerja keras dan pengorbanannya, itu jawabnya, dan karena pelanggan setianya akan sangat kehilangan dia, kalau dia tidak berjualan di tempat itu lagi.
23
24 Perjalanan Re Aku tahu bahwa dunia yang kulihat sekarang sama sekali berbeda dengan rupanya seribu lima ratus tahun yang lalu. Setidaknya itu yang aku bayangkan ketika jutaan foto hologram masa lalu bumi itu memenuhi dinding di hadapanku. Mungkin saat itu manusia masih begitu primitif, untuk berkomunikasi saja mereka masih menggunakan kotak kecil yang mereka bawa ke manamana, sedangkan di masaku, kami cukup terhubung lewat panggilan nama di benak kami, mengkonfirmasi suara dan memutuskan panggilan dengan sekadar jari telunjuk kanan ditekankan di daun telinga kanan. Aku tertawa melihat betapa mereka kesulitan membawa kotak kecil itu kemana-mana, belum lagi takut jika baterai mereka habis. “Mereka juga harus bersusah payah untuk mengetik pesan mereka kepada yang dituju,” kata Alina yang menepuk bahuku. Kami sama-sama tergelak tawa. “Siapa yang butuh mengetik kalau kita bisa terhubung langsung dengan suara dan live hologram!” komentarku yang segera diiyakannya. “Tapi aku mendengar sesuatu yang menakutkan dari obrolan tetua kita, Re,” kata Alina yang berdiri dengan
25 tenang sambil membiarkan kapsul mobilernya berjalan mengiringiku. Aku menatap benda berbentuk lingkaran putih gepeng yang melayang di atas lantai marmar gedung ini, tempat kaki Alina berdiri lengkap dengan stoking jala motif biru ungu gelap yang mencuri perhatian. “Kamu lihat apa sih, Re?” tanya Alina. “Sori, aku senang lihat warna stokingmu, Lin, unik,” kataku. “Kembali ke topik kita, Re, please. Jadi aku mendengar obrolan mereka, dan katanya, hantaman asteroid CX45 kembali mengincar planet kita, dengan perkiraan tumbukan keras menghantam tiga puluh lima kilometer arah Barat dari kota ini,” kata Alina yang terlihat cemas. “Kita punya sistem pertahanan terbaik di langit kita, Lin. Jangan khawatir, karena perisai elektromagnetik dan meriam laser kita pasti ampuh untuk menghancurkan asteroid itu!” kataku dengan bangga. “Tapi bagaimana kalau semuanya berakhir, Re? Bagaimana kalau asteroid itu mampu menembus perisai dan melewati meriam laser dan kita semua mati?” tanya Alina. “Apa yang kamu takutkan dengan kematian, Lin? Tidak ada apa-apa setelah kematian. Kamu tahu itu yang diajarkan oleh tetua kita sejak kita lahir,” jawabku.
26 “Kamu tidak mengerti, Re. Aku selalu diganggu mimpi buruk ini, bahwa planet ini akan meledak, hancur berkeping-keping, dan semuanya menjadi penuh genangan darah, merah, lalu perlahan hilang ditelan gelapnya semesta raya. Rasanya begitu sepi dan menakutkan,” kata Alina. “Itu hanya mimpi, tidak nyata sama sekali. Ayo kita pulang, sudah saatnya kembali ke tabung energi kita dan mengembalikan semua negatifitas kamu menjadi Alina yang ceria,” ajakku. “Tapi mimpi ini terus berulang, Re. Firasatku kuat akan sesuatu yang buruk yang akan terjadi,” kata Alina. “Sejak kapan mimpi bisa membunuh manusia?” tanyaku. “Kamu belum mengenalku dengan baik, Re. Aku punya pengalaman khusus dengan mimpi,” jawab Alina. “Ada hal lain yang kamu ingat?” tanyaku. “Dari mimpiku?” tanya Alina, kubalas dengan anggukan. “Ada suara yang mengatakan semakin dekat, seperti sebuah bisikan, pelan tapi terus bergema di kepalaku, Re,” kata Alina. “Apa kamu tahu cara menghentikan bencana di mimpimu itu?” tanyaku. “Sepertinya, Re, tapi tak seorangpun akan percaya kalau kukatakan itu ada di mimpiku. Orang-orang tidak lagi
27 percaya dengan tahayul seperti itu,” katanya dengan ekspresi kecewa. “Ya, orang baru mendengar ketika sesuatu sudah terjadi dan merugikan mereka,” kataku. Kami baru saja melangkah meninggalkan ruangan itu, melewati lorong dan dinding yang terbuat dari kaca, di luar sana terlihat barisan gedung raksasa, serta begitu banyak orang yang berlalu-lalang dengan kapsul mobiler mereka, sebuah dinamika hiruk pikuk dari dunia yang sejujurnya kubenci, ingin kujauhi, berharap ada tempat lain yang bisa menjadi pelarianku selain ruangan hologram sejarah tadi. Aku membayangkan ada tempat bernama laut yang dulu pernah ada di planet ini, duduk di atas pasir putih, mendengarkan suara ombak yang syahdu, dengan angin yang sepoi, mendamaikan hati. Lima ratus tahun yang lalu, planet yang disebut bumi ini telah kehilangan separuh bentuknya, terkikis oleh dua pihak penguasa berseberangan yang memutuskan hidup sendiri-sendiri. Bukan lagi bulat seperti bola, planet ini telah terbelah menjadi dua, di tengahnya ada terowongan penghubung yang sewaktu-waktu menjadi akses transportasi dua sisi planet jika ada kepentingan perjalanan dinas, maupun pertandingan olahraga. “Kamu melamun lagi, Re,” tegur Alina.
28 “Ah, hanya terpikirkan bagaimana bumi di masa itu, Lin, aku sering mengkhayalkan ada di sana, di tempat-tempat yang pernah ada di hologram itu,” kataku. “Tapi itu dunia yang jauh lebih buruk, Re. Manusia saat itu hanya tahu merusak lingkungan mereka, membiarkan sampah dan eksperimen kimia mencemari air serta melenyapkan hewan. Kita bersyukur hidup di zaman di mana kebutuhan kita semuanya dapat terpenuhi dengan teknologi, dan tanpa ada satuan uang sebagai alat tukar barang dan jasa. Kita hanya perlu melakukan tugas yang diberikan tetua setiap harinya dan kita dapat hidup senyaman ini,” kata Alina. “Iya…” langkahku terhenti ketika menatap ke langit yang berwarna coklat dan abu-abu tua. Cahaya kemerahan tampak di langit, berkilau, mendekat. “Itu apa ya, Lin?” tanyaku. Alina terperanjat ketika melihat ke arah yang kutunjuk. “Mimpiku menjadi nyata, Re! Itu kehancuran dunia kita!” kata Alina sambil lari panik dan meraih tanganku. “Kita mau lari ke mana?” tanyaku kebingungan. “Kita harus berlindung sekarang, Re!” kata Alina dengan tergesa-gesa mencoba menghubungi seseorang lewat menyentuhkan telunjuknya ke telinga. “Kamu menghubungi ayahmu?” tanyaku.
29 “Tidak diangkat! Kita harus segera meninggalkan…” perkataan Alina terhenti ketika matanya membelalak, menatap ke luar dari dinding kaca yang membatasi kami dengan dunia luar. Bola besar kemerahan, seperti sebuah batu dengan banyak serpihan mendekat, membesar, dan meluluhlantakkan semua di sekitar kami. Dinding kaca pecah berhamburan, aku dan Alina terhempas, terpisah. Teriakan kami lenyap ditelan suara kehancuran di manamana. Dunia sudah kiamat. “Bangun!” kata suara itu. Perlahan aku sadar dan melihat ke sekelilingku. Deretan kabel memenuhi sekujur tubuhku. Terhubung pada ribuan layar monitor yang memantau entah apa yang ada di dalam diri dan kepalaku. “Kamu belum menemukan petunjuk apapun?” tanya pria berseragam putih yang berdiri di sampingku. Aku menggeleng. Ia tampak kecewa. Pria berambut putih yang usianya sekitar empat puluhan itu, menatap layar kecil yang dipegangnya, memperlihatkan data yang direkam dari pengalaman yang baru saja aku lalui. “Kita harus mengulangnya sekali lagi,” katanya. “Kembali ke masa lalu?” pertanyaanku dijawabnya dengan anggukan.
30 “Mungkin sedikit lebih jauh, sebulan sebelum kamu ke ruangan hologram itu, kita coba mencari kemungkinan yang menyebabkan sistem pertahanan kita gagal melawan Asteroid itu. Kamu harus tetap dekat dengan Alina, karena dia tahu sesuatu yang penting,” kata pria itu. “Baik,” jawabku. “Kita harus selamatkan planet kita, Re, sebelum asteroid selanjutnya menghancurkan sisa planet ini,” kata pria itu sambil memberi aba-aba ke beberapa robot asistennya yang mengendalikan mesin waktu ini. Aku harus rela kembali ke masa lalu, seperti hantu yang mencoba memahami, kejadian apa yang menghubungkan Alina dan tabrakan asteroid itu, atau dunia ini pada akhirnya benar-benar kiamat. Aku tidak pernah jujur kepada pria itu, memberitahu kepadanya, bahwa sekarang pun, dunia ini seperti sudah kiamat, bagiku. Satu-satunya yang kurindukan ketika balik nanti adalah ruangan hologram itu, dan gambaran tentang laut. Aku berharap ini adalah mimpi, dan laut itu duniaku yang nyata. “Jangan lupa misimu, Re,” kata pria itu sambil melambaikan tangannya kepadaku. “Inisiasi perjalanan waktu, percobaan ke tiga puluh satu,” kata salah satu robot asisten yang duduk tidak jauh di dekat kami.
31 Tatapanku kembali kabur, perlahan kesadaranku hilang, ragaku seolah terbang, menerobos ruang dan waktu yang terasa janggal, kembali ke masa lalu. Akankah ini berakhir?
32
33 Sekte Bunga Biru Terilhami dari salah satu episode serial Thailand: Girl from Nowhere. “Jadi sepakat ya, taruhannya?” kata Didot dengan penuh semangat. “Aku ikut,” kata Jena sambil mengibaskan rambutnya yang pirang sebahu. “Aku juga pasti dong ikutan,” kata Rudi menjentikkan jarinya. “Tinggal kamu, Jeff!” kata Didot kepadaku. “Kalian yakin kita akan melakukan hal ini?” tanyaku dengan ragu. “Kamu ini serius gak sih jadi anggota sekte Bunga Biru?” tanya Didot dengan nada kesal. “Ingat, kalau kita mundur, makhluk-makhluk seram ciptaan Silen akan mencabut nyawa kita, Jeff!” kata Jena dengan memohon. “Kamu bisa gak sih jadi lebih macho dari aku, Jeff! Kita sudah sejauh ini, jadi jangan mundur begitu saja!” kata Rudi dengan gaya flamboyannya, telunjuk kanannya menyentuh bahuku.
34 Aku bimbang ketika melihat tatapan mereka. Harus kuakui ini sebuah kesalahan besar ketika kali pertama kami menemukan ruangan rahasia di gedung sekolah tua ini. Kami secara tidak sengaja sama-sama dihukum membersihkan sayap Barat kompleks sekolah yang lama tidak difungsikan karena kedapatan membolos. Tepat di tengah dinding salah satu ruangan yang berlubang, kami menemukan sebuah pintu dari ukiran kayu jati berwarna hitam pekat dan berbentuk menyerupai rangkaian bunga. Jena tidak berpikir panjang ketika memegang gagang pintu dan membukanya, kami seketika tersedot masuk ke dalam sebuah ruangan yang sepertinya telah berabad-abad ada, semua terbuat dari emas permata dan di tengahnya ada sebuah singgasana yang diduduki seorang perempuan cantik! Namanya Silen. Dia memperkenalkan sekte Bunga Biru yang dipimpinnya, dengan janji setiap anggotanya akan diberi kekuatan khusus yang dapat mewujudkan apapun keinginan kami sebagai manusia. Syaratnya sederhana: kelompok kecil yang menjadi anggota secara sukarela wajib memberikan hiburan kepada penguasa alam lain yang dipuja sekte ini, dengan cara bertaruh, seperti sebuah permainan berandai-andai yang diwujudkan menjadi nyata, tetapi imajinasi paling ‘sakit’ dan ‘jahat’ dari anggotanya, akan lebih dominan. Kita tidak akan pernah tahu imajinasi siapa yang diwujudkan menjadi
35 kenyataan, karena hanya Silen dengan ilmu saktinya yang membaca siapa pikiran terjahat dari kami, yang mendapatkan ilmu adalah korban dalam taruhan itu, bukan pencipta pikiran jahatnya. Contoh paling gila di taruhan pertama kami, Jena berakhir menggoda semua tim basket andalan sekolah dan para guru pria. Setelah dia melahirkan dalam tiga hari, dengan penuh darah, di ruang klinik sekolah, dunia khayalan itu hilang, kami kembali ke kondisi yang sebenarnya, dan Jena mendapatkan kekuatan menciptakan uang berapapun yang diinginkannya dengan satu jentikan jari. Waktu aku bilang taruhan, kalau di dunia ciptaan Silen lalu kami tidak melakukan apa yang kami pertaruhkan, maka kami akan terjebak di sana selamanya. Titik. Itu sebabnya kami dipancing membuat pikiran terjahat untuk direalisasikan di dunia ciptaan Silen dan kami mendapat satu kekuatan super apapun jika kami menjadi umpan taruhan utama di situ. Rasanya seperti Silen memakan pikiran jahat yang kami buat, demi sesuatu yang entah apa. Tapi masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Sebagai anggota sekte, kalau kami tidak melakukan taruhan itu minimal seminggu sekali, atau mencoba keluar dari sekte, Silen akan mengirim makhluk gaib ciptaannya untuk membunuh kami. Titik. “Nyawa kita dipertaruhkan di sini, Jeff!” kata Didot lagi kepadaku.
36 “Baik,” jawabku. “Let’s do it.” Kami mendekati Silen dan tangan kanan kami berbarengan menyentuh kedua tangannya, membiarkan dia merapal, membaca pikiran terjahat yang disukainya. Seberkas cahaya biru terasa hangat keluar dari kedua tangannya, lalu menyelimuti kami, seketika gravitasi serasa hilang, tubuh kami melayang lalu lenyap perlahan ke dunia yang diciptakannya di balik cahaya biru yang silau itu. “Kita ada di mana?” tanya Rudi. “Wow rumah yang megah sekali, persis seperti rumah impianku,” kata Jena. “Selamat datang,” kata Didot yang tampil mengenakan setelan hitam, rambut disisir ke belakang, hitam mengkilap berkat pomade. “Ini pasti imajinasi kamu, Dot! Keren banget!” kataku sambil menjabat tangannya. “Bukan, Jeff. Imajinasiku sih pastinya berpetualang di rimba Amazon penuh dengan cewek seksi bertelanjang dada! Yihaaa!” kata Didot sambil menirukan gaya seorang koboy memainkan tali lasso, seketika disusul gelak tawa semuanya. “Perabotannya elit semua, Dot! Persis kayak masuk di galeri Da Vinci!” kata Rudi sambil memelototi sekelilingnya.
37 “Lapar nih, Dot, ayo kita makan dulu di rumah megahmu ini,” kata Jena. Tatapan mereka sama-sama teralihkan ke sebuah lonceng di atas meja kecil di dekat kursi tamu. “Apa ini seperti yang aku pikirkan?” tanya Jena sambil tersenyum. “Aku bahkan belum mencobanya,” kata Didot dengan antusias. Jena memegang lonceng itu dan membunyikannya sebanyak tiga kali. Ia menatapi kami dengan ekspresi sangat senang. “Apa yang bisa kami bantu, Tuan Muda?” seorang pria dan wanita berseragam rapi membungkukkan badannya berdiri tidak jauh di dekat kami. Aku yang tadinya ikut tertawa kagum seketika membelalak ketika melihat pelayan pria dan wanita yang ternyata orang tuaku itu! Mulutku ingin berkata-kata, tetapi segera aku urungkan diri. Aku tersadar kalau ini hanya dunia imajinasi, jadi aku harus bisa menjaga sikapku. Kalau aku merusak skenario dunia ini, kami semua terancam akan terjebak di sini selamanya. “Aku ingin minum whiskey, yang dingin, cepat bawakan!” kata Rudi dengan angkuhnya.
38 “Iya, untuk kita semua di sini, segera!” kata Didot dengan tersenyum bangga. Entah siapa yang sudah memikirkan imajinasi seperti ini, kataku dalam hati. Tidak hanya umpatan tetapi juga sumpah serapah keluar di benakku, untuk siapapun yang punya pikiran sejahat ini! Tentu saja Didot, Jena juga Rudi tidak tahu kalau mereka adalah orang tuaku, karena mereka tidak pernah ke rumahku yang sederhana dan saling menjumpai. Kehidupanku tidak seenak dan senyaman mereka. “Ma…maaf, Tuan Muda. Bukankah Tuan Muda belum bisa minum alkohol? Takutnya nanti Tuan Besar akan marah,” kata pelayan pria. “Kamu gak usah membantah, deh. Kan si Tuan Besar juga sedang tidak ada di sini! Dengarkan perintah kami!” kata Jena dengan kesal. “Si…siap, Nona,” kata pelayan pria itu membungkuk dan segera memberi aba-aba ke pelayan wanita di sampingnya untuk bergegas menyiapkan gelas dan es batu. “Kita sambil makan aja, yuk, Dot, di ruang makan…” kata Jena dengan manja. “Ayuk! Semuanya!” kata Didot dengan semangat. “Kamu kenapa ngelamun, Jeff?” tanya Rudi kepadaku.
39 “Enggak, mungkin karena lapar aja,” jawabku sambil berusaha menyamankan diri. “Minumannya sudah siap, Tuan Muda,” kata si pelayan wanita. “Siapkan di meja makan saja. Kami sudah lapar,” kata Didot. “Bagaimana kalau Nyotaimori?” kata Jena sambil melotot tajam ke arah pelayan wanita itu. “Apa itu, Jen?” tanya Rudi. “Itu populer di zaman Edo Jepang tahun 1603 – 1867. Ketika para samurai pulang merayakan kemenangannya di rumah geisha, perempuan terpilih menjadi nyotaimori, menyajikan aneka sushi di atas tubuh telanjang mereka. Yakuza Jepang kini pun masih sering melakukannya. Kalau untuk laki-laki disebut Nantamoiri. Ini salah satu tradisi khusus yang hanya bisa dinikmati orang-orang tertentu saja,” terang Jena. “Aku mau coba itu!” kata Rudi dengan penuh gaya menjentikkan jarinya. “Tolong siapkan Nyotaimori!” kata Didot kepada para pelayannya yang kini terlihat cemas. “Ma…maaf, Tuan Muda. Saya tidak yakin istri saya bisa melakukan itu,” kata si pelayan pria dengan menunduk.
40 “Kamu lancang sekali membantah perintah kami!” hardik Rudi. Plak! Sebuah tamparan dari tangan Jena melayang di pipi pelayan wanita itu. Emosiku sempat naik, ingin bertindak, tetapi aku terlalu takut untuk mengambil sikap. Aku memilih diam saja. “Tamu-tamuku ingin Nyotaimori, atau kalian kupecat!” kata Didot sambil mencengkeram kerah baju si pelayan pria. “Ba…baik, Tuan Muda,” kata kedua pelayan berbarengan. “Ayo tamu-tamu istimewaku, kita ke ruang makan sekarang!” kata Didot dengan senyum menyeringai. Aku berusaha membuat diriku nyaman, tetapi itu tidak pernah mudah, melihat wanita yang melahirkanku, membesarkanku, berjalan telanjang bulat, naik ke atas meja dan berbaring. Di atas tubuhnya diletakkan sejumlah sajian sushi secara hati-hati oleh pria yang merupakan ayahku, dan disaksikan oleh semua temantemanku! Ini benar-benar mimpi buruk! Sesekali ayah dan ibu seperti sedang menatapku, memperlihatkan kekecewaan, atau entah, mungkin rasa marah. “Ayo kita makan, tunggu apa lagi?” kata Jena dengan antusias.
41 Jena menggunakan sumpitnya mengambil salah satu sushi di dekat bagian dada ibuku, sushi yang diambilnya dihiasi caviar di bagian atasnya. Jena melahapnya dengan nikmat. Tubuh ibuku terlihat gemetar, diikuti rasa takut. “Aku tidak suka melihat wajahnya seperti itu ketika kita makan sushi ini,” kata Rudi sambil mengurungkan niatnya makan. Tetesan air mata mengalir dari wajah ibuku. Tanpa sadar, tubuhnya membuat sebuah gerakan tiba-tiba yang menyebabkan sushi di sekitar pinggang dan tangannya jatuh berhamburan. Jena berteriak histeris. Spontan saja tangannya yang masih memegang sumpit, menjadikan benda itu ibarat senjata dan menancapkannya di mata ibuku. Jeritan kesakitan terdengar, bercampur cipratan darah yang mengenai kami semua. “Kalian sudah keterlaluan!” kata ayahku yang tiba-tiba saja penuh amarah dan memecahkan botol minuman di dekatnya, menjadikannya senjata dan menancapkannya di kepala Didot. “Bangsat! Pelayan tidak tahu diri!” teriak Rudi sambil menyambar pisau makan di sampingnya, menerjang ke arah ayahku dan menikamnya di punggung berkali-kali.
42 Jena tertawa menyaksikannya. Aku hanya duduk terdiam, menyaksikan pemandangan penuh darah di hadapanku. “Kalian benar-benar makhluk penuh dusta,” kata Silen yang tiba-tiba muncul di ruangan itu. “Apa maksud kamu?” tanyaku. Jena tetap asyik tertawa, begitu pula Rudi yang terus menikam ayahku berkali-kali, sementara ibuku sedang kejang meregang nyawa, disusul Didot yang duduk dengan kepala tertunduk, dengan mulut botol menancap di kepalanya, menuangkan darah segar menggenangi piring makannya dan seisi meja. Mereka seperti tidak melihat kehadiran Silen sama sekali. “Mereka tidak bisa melihatku saat ini,” kata Silen. “Apa maksudmu penuh dusta?” tanyaku. “Jeff, kamu sama sekali tidak tersentuh melihat kedua orang tuamu sendiri bersimbah darah di meja ini?” kata Silen. “Bukankah aturannya jelas kalau di dunia ilusi ini semuanya harus mengikuti skenario atau…” perkataanku dihentikannya dengan gestur menyuruh diam. “Siapa yang bilang kalau ini hanya dunia ilusi? Aku hanya menggunakan sihir untuk membuat kalian lupa waktu,” kata Silen sambil terkekeh.
43 Silen berjalan perlahan, mendekatiku yang sedang duduk. “Sejak awal kalian menemukanku, kalian sepenuhnya menjadi milikku. Aku butuh jiwa kalian untuk membuatku semakin kuat,” kata Silen dengan memegang kedua bahuku dari belakang. “Jadi sekte Bunga Biru hanya rekayasa?” tanyaku. “Kalian butuh sesuatu sebagai pegangan keyakinan kalian, kan? Manusia selalu seperti itu,” kata Silen. “Jadi selanjutnya bagaimana?” tanyaku. “Sepertinya aku sudah bosan dengan kalian yang selalu pintar membuat alasan pembenaran, berdusta menutupi kegelisahan kalian sendiri, dan bersembunyi di balik pikiran-pikiran terjahat kalian. Mungkin aku lebih baik menunggu korban baru seperti kalian,” kata Silen sambil melangkah meninggalkanku dan lainnya. “Tunggu, Silen…Tunggu! Ampuni aku!” pintaku kepadanya. “Ampun? Sejak awal bertemu denganku, hukuman kalian sudah dimulai,” kata Silen terkekeh. Silen menjentikkan jarinya dan seketika, tubuhku menjadi kaku, warna di sekitarku berubah perlahan menjadi sapuan kuas di atas kanvas. Silen menggunakan sihirnya mengubah aku dan semua di sekelilingku
44 menjadi lukisan hidup! Terlambat untuk pergi dan melarikan diri! Aku hanya bisa duduk dengan mata membelalak, menatap dunia yang kini menjadi sebuah lukisan dengan darah di hadapanku.
45
46 Pasti Bisa “Masih ingat gak, waktu kita pertama ketemu dulu di anjungan pantai Talise?” tanya Sherly kepadaku, dengan senyuman khasnya, duduk di sampingku. “Kamu masih belum menjawab, Sher, kenapa kamu tibatiba menghilang dari hidupku, justru ketika kita telah mulai dekat, justru ketika aku telah jatuh cinta, tergilagila kepadamu,” keluhku. “Akhirnya kamu tahu kalau penyakitku semakin parah, kan, Do, saat itu pilihanku hanya menjauh dan tidak menyusahkan siapapun,” jawab Sherly dengan tenang. “Tapi aku seharusnya bisa tetap ada di sisimu saat susah maupun senang, Sher, tidak seketika, seenaknya kamu menghilang begitu saja,” kataku dengan emosi. “Tapi kita tidak mungkin kembali ke masa itu, kan, Do?” balas Sherly sambil menepuk pundakku. “Jadi sekarang aku harus bagaimana, Sher?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca, menatapnya. “Tarik napas, lalu hembuskan napas lega, belajar berbahagia,” jawab Sherly menatap ke matahari senja. “Aku masih belum ikhlas, Sher,” balasku dengan menangis terisak.
47 “Kamu pasti bisa, Do, dan aku tidak akan bosan mengingatkanmu,” jawab Sherly sambil mengecup pipiku. Sore yang syahdu di pekuburan umum, aku duduk di samping kuburan kekasihku Sherly, memegangi batu nisannya, menyapa dan mengucap doa untuk kepergiannya dari dunia yang fana ini.