The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Hari Pertama Ben & Cerita Pendek Lainnya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lawputraito, 2023-03-14 02:34:06

Hari Pertama Ben & Cerita Pendek Lainnya

Hari Pertama Ben & Cerita Pendek Lainnya

48


49 Berani Pada suatu malam, aku sedang duduk di teras belakang rumah sahabatku, Anti. Kami asyik membicarakan rencana kami ke depannya. “Kita harus pergi berlibur ke Togean, Yo,” kata Anti kepadaku. “Wah, lucunya kita yang lama besar di provinsi ini, bahkan belum sekalipun menginjakkan kaki di sana, ya?” komentarku disambutnya dengan gelak tawa. “Lalu bagaimana dengan rencanamu menikah tahun depan, Yo?” pertanyaan Anti membuatku tersentak kaget. “Hah? Menikah? Sejak kapan aku ngomong begitu, Ti?” kataku kebingungan. “Bercanda, bego! Mana mungkin aku ikhlas kalau kamu nikah duluan. Dimana-mana itu ladies first, emansipasi!” celoteh Anti membuatku ikut tertawa. “Sudah lama kita tidak duduk bareng dan ngobrol seseru ini, Ti,” kataku. Sorot mata kami saling bertatapan, sekitar tiga, empat, lima detik, dan sumpah, itu kali pertama aku melihat bahwa Anti memiliki kelopak mata yang indah, dengan bola mata yang coklat dan terasa ada sesuatu… aku


50 terburu-buru menegur diriku sendiri, berkeras melupakan pikiran itu, membayangkan bahwa dia adalah perempuan yang selama ini selalu kucintai. Mustahil! “Eh, kok mengheningkan cipta, sih? Hari Senin aku udah harus balik ke Bandung lagi, lho, tenggelam dalam kesibukanku,” keluh Anti. “Ya, kamu sih, ngapain juga pakai kerja jauh-jauh ke Bandung. Memangnya di sini gak ada kerjaan yang sama bagusnya?” tanyaku. “Gajinya lebih gede, Yo! Dan lagian, di sana aku jadi bisa sekalian jalan-jalan, banyak mall, banyak cowok cakep, dan aman dari bencana,” jawabnya dengan kelakar sombong. “Ya, di Bandung kan juga ada sesar berpotensi gempa, tuh. Kamu mungkin gak menyimak berita di tv. Dan jauh di kota orang, lama-lama juga paling kamu rindu kota kita yang tidak semacet di sana, tidak serumit di sana,” ejekku. “Hanya ada satu hal yang bisa buat aku stay di sini, Yo,” kata Anti menatapku serius. “Apaan? Kalau suami kamu orang sini, ya mungkin kamu bakal disuruh jadi ibu rumah tangga, kan, masak di dapur, besarin anak, gak bakal bisa bebas jalan ke sana kemari dan mengejar karir,” perkataanku dibalasnya dengan cubitan di pinggangku.


51 Sontak aku jatuh terguling ke rerumputan di halaman itu. Anti tertawa terbahak-bahak melihatku. “Mana mungkin aku mau disuruh kawin dengan calon suami seperti itu, Yo. Cuma kamu yang ngertiin aku,” katanya melenggak santai berjalan masuk ke rumah. “Eh, kamu mau ke mana?” tanyaku. “Ambil minuman, keles! Takut aku tinggalin, ya?” ejek Anti lagi. Aku tersenyum menatapnya dari belakang. Melihat perempuan yang selalu kucintai, tetapi tidak pernah cukup nyaliku untuk mengatakan kepadanya apa yang kurasakan. Aku hanya bisa menyimpannya dalam hati. Aku hanya bisa berdoa, satu saat nanti, aku akan punya cukup keberanian untuk… “Minum jahe anget ya, biar enak ngobrol-ngobrolnya. Si bibi lagi masakin nasi goreng favorit kita,” kata Anti yang tiba-tiba muncul membuyarkan pikiranku. Ia meletakkan nampan berisikan dua gelas jahe hangat di sampingku, menengahi posisi duduk kami berdua. “Kenapa sih, sampai sekarang kamu tetap belum punya pacar, Ti?” mendadak aku menyesali pertanyaan yang spontan keluar dari mulutku itu. “Karena aku nungguin kamu, bego!” jawab Anti dengan sederhana.


52 Kali ini kami sama-sama bingung, tidak tahu harus berucap apa. Anti tersipu malu menyadari perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya. Mata kami saling beradu pandang. Terlalu banyak basa-basi yang kami habiskan dalam obrolan yang tidak kunjung usai. Seharusnya seperti ini, seharusnya dari dulu aku melakukan hal ini. “Kamu harus tahu sesuatu, Anti,” kataku berinisiatif memberanikan diriku. “Aku di sini, Yo,” jawabnya perlahan. Kali ini, aku bertekad memberitahu kepadanya, betapa aku mencoba menyembunyikan perasaanku selama puluhan tahun persahabatan kami. Harus sekarang, atau kelak aku akan menyesal.


53


54 Hilang Markus berdiri memandangi lilin ungu di hadapannya. Sesekali ia terisak, tetapi egonya membuatnya pantang menangis. “Kamu menyesali semuanya?” tegur Rini yang muncul di sampingnya. Tatapan mereka sama-sama beralih ke arah sebuah foto di belakang lilin itu. Fotor seorang anak perempuan tersenyum, usianya sekitar sepuluh tahun. “Kenapa lilinnya harus ungu?” tanya Markus. “Itu warna kesukaannya. Kamu tahu itu!” balas Rini marah. “Kenapa hanya ada kita di sini?” tanya Markus lagi. “Cuma kita keluarganya, Markus! Kamu ayahnya! Kembalikan ingatanmu itu!” teriak Rini berlinang air mata, ia meronta memukuli Markus yang hanya diam tidak bergeming. Seminggu lalu, mobil yang dikendarai Markus dan putrinya mengalami kecelakaan naas. Sebuah truk besar menabrak mobil mereka dari arah berlawanan jalan. Karena panik, Markus bukannya menginjak rem dan


55 banting setir, ia malah menginjak gas dan melaju menghantam truk yang juga menabrak mereka. Setelah kejadian itu, Markus kehilangan ingatannya. Ia tidak ingat siapa-siapa lagi, termasuk putrinya yang tewas di kecelakaan itu, dan ia bahkan tidak ingat Rini, istrinya sendiri.


56


57 Sang Katak Merindu Pada suatu hari, di sebuah danau di tepi kota, hiduplah seekor katak bernama James. Ia telah hidup seratus tahun lamanya, menjadi saksi perubahan politik, musik, dan lahirnya film di dunia manusia yang tinggal di kota. Setiap hari Sabtu, James akan pergi melihat-lihat seisi kota, mengamati bagaimana manusia hidup di lingkungannya. James jatuh cinta pada sebuah klub bernama Saxocool. Setiap Sabtu, ia akan memastikan Saxocool menjadi tujuan terakhirnya sampai pagi tiba. Klub itu selalu memutar lagu jazz yang dimainkan oleh sekelompok musisi yang disebut The Saints. Lewat lagu-lagu jazz, James menemukan dunia baru tentang cinta, harapan, kekecewaan, bahkan kebebasan. Sebut saja Louis Armstrong, Nat King Cole, Ella Fizgerald, dan deretan penyanyi jazz ternama yang kini dihapalnya. Pada suatu Sabtu, James memutuskan untuk tampil berbeda. Ia mengenakan setelan jas seperti para musisi yang dilihatnya. Ia bahkan sudah menyiapkan sebuah alat musik tuba untuk dipamerkannya pada manusia. Ia ingin menunjukkan bahwa seekor katak dapat menjadi musisi jazz yang hebat. Jazz telah mengubah hidupnya. Lewat hentakan alat musik dan kekuatan lirik lagu yang mencuri dunia seekor katak bernama James.


58 Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, James hanya dapat menunduk sedih. Klub Saxocool kini hanya tinggal abu dan reruntuhan. Dari percakapan manusia di sekitarnya, ia mendengar bahwa seisi klub hangus terbakar sehari sebelumnya. Baru kali ini, James merasakan kecewa, patah hati, seperti lirik lagu-lagu sedih yang pernah didengarnya. Di tepi danau, James meniup alat musik tuba yang dibawanya. Ia memainkan simponi sedih. Tak berapa lama kemudian, hujan turun perlahan, lantas menjadi deras. Hanya hujan yang mengerti perasaanku, kata James dalam hatinya. Seekor katak yang merindu, menyimpan mimpi, tapi kini, pupus sudah.


59


60 “C” untuk… Suit suit! Suara siulan genit menyapa Ayu ketika ia berjalan melewati gang kecil itu. Sekelompok pemuda duduk santai di bangku kayu dan trotoar jalan di dekat gang, melihatnya dengan gemas. Bagi Ayu, tatapan mereka tidak ubahnya sekelompok serigala yang kelaparan, menempatkan dirinya sebagai objek, mangsa yang hendak disantap. Beberapa perempuan mungkin senang diperlakukan seperti itu, seolah menjadi pusat perhatian dan otomatis dianggap menarik. Digituin berarti laku; perkataan Linda, sahabat Ayu di kampus yang tidak pernah bisa dilupakannya. Ayu hanya cuek dan melanjutkan langkahnya. Ia hanya mengenakan kemeja kotak-kotak bermotif biru merah dan celana jeans biru serta sepatu kets putih. Pikirnya, penampilannya sama sekali biasa, tidak mengenakan rok mini atau kemben seksi yang mengundang gairah. Entah kenapa aku memutuskan datang ke kontrakannya, kata Ayu dalam hatinya. Firasat buruk sudah mengganggu konsentrasinya setiap melangkahkan kaki melewati gang yang terlihat kumuh, sesekali berpapasan dengan anak-anak kecil yang berlarian, atau orang-orang yang semua melotot setiap melihatnya.


61 Ayu telah berdiri tepat di depan sebuah pintu kamar kontrakan, berwarna biru tua, nomor 213. Diketuknya pintu itu sambil meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. “Ah, akhirnya kamu datang,” jawab pria yang membuka pintu, hanya mengenakan kaos singlet putih dan sarung. “Ma…maaf kalau sudah mengganggu, pak,” kata Ayu. “Sama sekali tidak mengganggu, kok. Silakan masuk,” kata pria itu. Ayu melangkah masuk, lalu duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu yang kecil tersebut. Beberapa foto tergantung di dinding, memperlihatkan sang pria yang berpose bersama beberapa orang dengan mengenakan almamater kampus. Di dekat meja kursi tamu dari kayu, ada tirai yang memisahkan mereka dengan ruangan lain yang mungkin saja kamar, pikir Ayu. “Apa yang bisa aku bantu, Ayu?” tanya pria itu. “Aku tidak pernah merasa diriku cantik, pak,” kata Ayu. “Kenapa berkata seperti itu? Setiap orang itu cantik dengan keunikan penampilan dan karakternya sendirisendiri. Konsep diri kamu harus diperbaiki, lho. Kata cantik itu tidak selalu harus dikaitkan dengan tampilan perempuan yang jadi gadis sampul majalah, atau tampil di tv dan film,” kata pria itu.


62 Ayu menundukkan kepalanya. Sesekali ia memberanikan diri melihat wajah pria itu lagi. Pak Joko, dosen mata kuliah Filsafat yang sangat dikaguminya. Tampil selalu rapi dengan kemeja berdasi dan celana kain yang ketat di tubuhnya yang kekar. Hanya melihatnya hadir di ruang perkuliahan saja, dengan senyumnya dan caranya berbicara penuh karisma, sangat dewasa, dan seksi di benak liar seorang Ayu. Sudah lama ia tidak melihat sosok laki-laki seperti itu, yang membuatnya teringat pada seseorang yang pernah ada di kehidupannya. “Apa kamu ada masalah, Ayu?” tanya pria itu. Ayu menggigit bibirnya sesekali, berusaha memikirkan kata-kata yang akan terucap dari mulutnya kepada pria itu. “Boleh aku memanggil bapak dengan sebutan mas kalau di sini?” tanya Ayu. “Iya, boleh,” jawab pria itu. “Sejujurnya, aku tidak tahu harus bilang apa, mas. Semuanya terlalu cepat,” kata Ayu. Dengan memberanikan diri, Ayu duduk mendekat, dan diraihnya tangan pria itu, diletakkannya ke payudaranya. “Apa yang kamu coba lakukan, Ayu?” tanya pria itu tanpa melakukan perlawanan sama sekali.


63 “Mas, kalau seperti ini, apa yang mas rasakan? Coba beritahu aku,” tanya Ayu. “Kamu memancing birahiku, Ayu. Tapi mendadak seperti ini, aku juga bingung sekaligus terkejut,” jawab si pria. “Bingung? Terkejut?” kata Ayu sambil tertawa kecil. Tangan pria itu diletakkannya di selangkangannya, seketika ditepis dan ditolak oleh pria itu. “Aku yang seharusnya tidak mengerti, mas. Ingatkah kejadian dua bulan lalu?” tanya Ayu. Pria itu memilih diam saja. “Bibir kita saling cumbu mesra, dan dengan segala nafsu, mas mengajakku melakukan semua hal-hal liar yang bisa terlintas di benak kita berdua, dari pojok ruang perkuliahan, di toilet, sampai di kamar hotel. Lalu tibatiba saja mas menghindar, seolah aku tidak pernah ada. Adilkah itu, mas?” kata Ayu mengeluh. “Maafkan aku, Ayu. Apa yang terjadi di antara kita…” “Tidak seharusnya terjadi, begitu? Jangan munafik, mas! Ingat kalau mas sendiri bilang cinta sama aku. Apa mas lupa dengan kata-kata itu ketika kita dikuasai nafsu dan lebih asyik memikirkan cara untuk orgasme?” “Kamu tahu kalau aku baru saja bercerai dengan istriku, Ayu. Hidupku tidak dalam posisi yang nyaman saat ini. Pindah ke kontrakan sekecil ini,” kata pria itu.


64 “Aku tidak peduli dengan kondisi kehidupan mas. Aku hanya ingin memastikan, mas serius dengan hubungan kita, dan itu semua bukan sekadar nafsu,” kata Ayu. “Apa nanti kata orang, Ayu? Masa depanmu masih panjang, kamu berhak menemukan orang yang lebih baik daripada aku,” sambung pria itu. “Cukup, mas. Kamu bukan laki-laki sejati yang aku bayangkan sejak awal. Sudah kuduga, semuanya palsu. Semua rasa nyaman yang kamu berikan di hidupku, katakata manis yang membuatku berpikir kamu berbeda dari laki-laki lain yang kukenal.” “Kamu berhak marah, Ayu. Tapi aku tidak bisa membahagiakanmu. Aku hanya bisa minta maaf,” kata pria itu pasrah. Ayu berdiri dari kursinya. Ia meraih tasnya, dan bersiap melangkah keluar. “Aku pamit kalau begitu, mas. Terima kasih atas semuanya,” kata Ayu sambil meyakinkan langkah kakinya keluar. Ia berharap dalam hati, pria itu akan menahannya, berkata menyesal dan akan mencintainya dengan sepenuh hati. Tapi itu tidak terjadi. Pria itu memang hanya seorang pengecut. Ayu terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dipandangnya langit senja yang jingga kemerahan


65 bercampur hitam. Ia teringat sosok yang sama dengan pria itu; sosok pria lainnya yang sama brengseknya. Ayah tiri yang memperkosanya ketika masih duduk di bangku SMA, membuatnya kabur dari rumah, dan tinggal dengan bibi kesayangannya, hingga akhirnya masuk kuliah dan bertemu dengan sosok pak Joko. Mungkin ini karma, kata Ayu, sambil tersenyum kecut melihat hiruk pikuk kendaraan di jalan yang dilewatinya. Semoga satu saat nanti kamu tidak seperti ibu ya, nak; kata Ayu mengelus perutnya, dengan langkah gontai ia memutuskan pulang dan menerima semua risiko atas perbuatannya. Ketika tahu bahwa ia hamil, dipikirnya pak Joko akan bertanggung jawab. Ia ingin sekali marah dan berontak dan mengamuk, tapi sekali lagi, Ayu memutuskan untuk menghadapi semuanya sendiri. Baginya, semua laki-laki di dunia ini brengsek. Untungnya, ia masih bisa berpikir positif. Ia masih punya cinta untuk anaknya kelak. Semuanya akan baik-baik saja, nak; kata Ayu dalam hati. Ia berharap janinnya mendengarkan. Sebentar lagi hari gelap. Kita pulang, bisiknya.


66


67 Nanti Ini Akan Jadi Kenangan “Terima kasih untuk hari ini, ya,” kata Merry kepadaku. Ia spontan memelukku, sekitar lima detik, dan aku bersumpah rasanya waktu berhenti saat itu juga. Belum sempat kedua tanganku mengunci tubuhnya di pelukanku, ia sudah tiba-tiba melepasku, berbalik dan melanjutkan langkahnya masuk ke pintu kamarnya. “Sampai jumpa besok,” kataku. Merry menoleh ke diriku yang berdiri kebingungan, mencoba menafsirkan makna pelukan itu. Ia tersenyum dan mengangguk, lantas melambaikan tangannya. Sebenarnya aku tahu kalau ia lelah, sepanjang siang hingga malam ini, kami berjalan di tepi pantai, duduk mengamati deburan ombak dan berbaring diterpa angin sepoi, mendengarkan suara sekawanan burung camar yang ikut menikmati air laut, kesemua semesta dunia yang terasa sunyi, mendengarkan kami bertukar rahasia tentang mimpi-mimpi kami ke depannya. “Aku ingin menjadi buih di ombak itu,” kenangku pada perkataan Merry kala kami bersama menantikan senja datang. “Mengapa buih?” tanyaku.


68 “Karena ia sering tidak diperhatikan, lewat begitu saja. Tapi ia bisa berkelana sesuka hati, menyapa pantai di mana pun yang ia suka,” jawab Merry. “Romantis, coy,” responku membuatnya melotot ke arahku. Kami saling tatap sejenak, lalu tergelak tawa. Waktu itu jahat, kataku dalam hati. Tidak pernah cukup untuk kita, Mer, keluhku. Aku hanya bisa mencoba memaknai kebersamaan kita. “Yakin ini keputusan yang akan kamu ambil, dok?” kenangku akan pertanyaan dari Yayu, salah satu perawat senior di rumah sakit tempatku bertugas. “Aku jatuh cinta sama dia, Yu. Hanya ini yang bisa aku lakukan,” jawabku saat itu. Merry, ia menderita kanker otak stadium akhir. Harapan hidupnya sudah tipis, dan ia tetap berkeras menjalani sisa hidupnya dengan bebas seperti yang diinginkannya. Sahabatnya Tenri yang seorang hairstylist ternama, datang menghadiahkannya wig yang indah beberapa bulan lalu. Ia terlihat cantik mengenakannya. Kepercayaan dirinya seolah lahir kembali, menghapus setiap kerut di raut wajahnya. “Kenapa kamu tetap mau sama aku?” kenangku akan pertanyaan Merry saat itu.


69 “Karena kamu konyol, pura-pura sakit dan pintar berkhayal,” jawabanku sontak membuatnya kesal, melayangkan kepalan tinju di bahuku. “Tapi kalau satu hari, tiba-tiba aku mati, gimana?” pertanyaan Merry membuatku tertegun sejenak. “Kalau aku yang mati duluan, gimana? Hidup dan mati kan di tangan Tuhan. Bukan kita yang tentukan,” jawabanku seketika menghapus gelisah di wajahnya. Aku menghela napas panjang. Melanjutkan langkahku ke parkiran rumah sakit, menyusuri deretan motor dan mobil yang berbaris rapi. Suasana tampak lengang, hanya beberapa orang sesekali lewat di dekatku, selarut ini, biasanya jam besuk pasien sudah tidak diperbolehkan. Aku masuk ke dalam mobil, menutup pintu dan memutuskan diam sejenak. Kaca riben yang cukup gelap mengelilingiku tidak akan membuatku dikenali atau diperhatikan oleh siapapun yang berlalu lalang. Entah apa yang membuatku seperti ini, marah, sedih, senang, semua bercampur aduk. Aku menyandarkan kepalaku ke roda setir mobil. Aku berusaha bernapas dengan ritme satu-dua-satu-dua seperti perempuan yang akan melahirkan. Tanpa sadar, air mataku mengalir membasahi pipiku. Awalnya hanya tetesan kecil, hingga ia mengalir deras, seperti keran air yang sengaja dibuka dan menggenangi permukaan apapun di bawahnya. Seperti itu rasa aneh yang berkecamuk di diriku.


70 “Sampai kapan kamu terus dekat dengan dia?” kenangku akan pertanyaan Yayu si perawat. “Entah, Yu, aku hanya terlanjur…” “Cinta? Tapi kamu juga sedang menyakiti dia dan dirimu sendiri. Kita sama-sama tahu kalau usianya mungkin tinggal beberapa minggu lagi. Nanti…” perkataan Yayu terhenti. “Nanti ini akan jadi kenangan…” Malam itu aku menangis seperti bayi yang baru saja dilahirkan. Aku menjerit dalam tangisku, memikirkan bagaimana Merry, perempuan yang kucintai, sedang berjalan mendekati ajalnya. Entah apa yang sedang kami perjuangkan sekarang. Hanya merajut kenangan, seperti membangun istana megah dari pasir, lalu luluh lantak, dihantam air pasang.


71


72 Sedikit Lebih Lama “Nak, kamu kapan pulang?” kata ibu di telepon. Aku diam sejenak, menatap ke sekelilingku. Aku berdiri tepat di tengah, di kamar kecil dengan tirai anyaman bambu, sebuah ranjang dari kayu dan tikar rotan sederhana, tas koporku tergeletak di sampingnya, lalu meja kecil dengan deretan foto tertempel di dinding yang melekat rapat ke meja itu. “Bu, sepertinya aku masih harus di sini sementara waktu,” jawabku. Nada suara ibu di telepon seperti mengeluh, sedih. Aku mengerti betapa ia menginginkan aku segera pulang ke rumah, menjadi anak perempuan satu-satunya di rumah yang menemani ia di dapur, mengomentari masakannya, dan dibanggakannya di antara dua orang kakak lakilakiku. Aku sendiri rindu dengan suaranya membangunkanku kala imsak, berwudhu dan shalat bersama seisi rumah. Aku rindu dengan nyamannya rumah. “Mereka masih membutuhkanmu, nak?” tanya ibu. “Iya…Setidaknya sampai tahun ajaran baru, izinkan aku di sini dulu ya, bu,” jawabku sambil mengusap air mataku, berharap ia tidak mendengarnya.


73 Aku melihat deretan foto yang menempel di dinding dekat meja kecil itu, ada wajah anak-anak kecil berdiri berkelompok, dengan tawa bahagia, memperlihatkan berbagai kegiatan, belajar bersama di pondok sederhana yang menjadi ruangan kelas kami, aneka warna pakaian yang mereka kenakan karena mahal dan sulitnya mendapatkan seragam sekolah di daerah ini, kami yang sama-sama berbaring dan tersenyum di hamparan padang rumput, memandang ke langit. Aku belum siap kehilangan momen berharga ini. Mereka masih membutuhkanku, setidaknya sampai guru pengganti selanjutnya datang. “Kamu baik-baik di sana ya, nak, rajin kabari ibu,” kata ibu di telepon. “Iya, bu, pastinya. Aku rindu ibu dan semua di sana,” jawabku. “Ibu juga rindu, nak. Ya sudah, kamu istirahat dulu. Jangan lupa makan. Assalamualaikum,” jawab ibu sambil mengakhiri teleponnya. “Walaikumsalam,” jawabku yang seketika menangis tersedu-sedu. Aku tidak menyesali apa yang aku lakukan, menjadi relawan guru di daerah terpencil ini. Bukan hiruk pikuk kota yang kurindukan. Bukan indahnya rasa syukur berbagi bersama anak-anak di sini yang sedang aku abaikan. Aku rindu dengan ibu dan orang-orang di


74 rumah. Tapi aku masih harus tinggal di sini. Aku masih dibutuhkan di sini. Segera kuseka air mataku. Jangan menangis, kataku kepada diriku sendiri. Semua akan baik-baik saja.


Ito Lawputra, S.H., S.I.Kom., M.H mulai menulis sejak usia SMA, berawal dari sekadar catatan berbentuk sajak. Terinspirasi dari tulisan-tulisan karya Seno Gumira Ajidarma serta sosok pegiat literasi Neni Muhidin yang kemudian dianggap sebagai teladan sekaligus mentor, memberi dorongan untuk menulis dan mengeksplorasi tulisantulisan yang sebagian besar fiksi. Beberapa di antaranya telah menjadi buku. Di tengah kesibukannya sebagai dosen, juga aktif mengurus sasana latihan beladiri serta sejumlah organisasi lainnya, ia tetap cinta dengan menulis. Tentang Penulis


Click to View FlipBook Version