The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

contoh laporan PKP (Pemantapan Kemampuan Profesional)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by muhromi91, 2023-05-23 23:11:42

Laporan PKP Universitas Terbuka

contoh laporan PKP (Pemantapan Kemampuan Profesional)

Keywords: PKP,Guru Profesional,Pemantapan,Kemampuan Profesional

I UNIVERSITAS TERBUKA LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP) PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN WRITING DAN SPEAKING MATERI PROCEDURE TEXT PADA SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 1 GAMPING YOGYAKARTA Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional PEFI 4501 Program Strata 1 Non Pendas FKIP Universitas Terbuka DISUSUN OLEH: NAMA : MUHROMI NIM : 017943083 PROGRAM STUDY : PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS MASA UJIAN : 2016.1 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TERBUKA YOGYAKARTA TAHUN 2016


II LEMBAR PENGESAHAN Yang bertanda tangan dibawah ini mengesahkan laporan penelitian tindakan kelas PKP PGSM berjudul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN WRITING DAN SEAKING MATERI PROCEDURE TEXT PADA SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 1 GAMPING YOGYAKARTA” Nama : Muh Romi NIM : 017943083 Mata pelajaran : Bahasa Inggris Tempat Mengajar : SMP Muhammadiyah 1 gamping, Sleman, DIY. Kelas : VII B Alamat : Depok, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta Jl.Wates Km.6 Yk) 55294 Telp.08112645002. Waktu Pelaksanaan : Siklus 1 : 19 dan 26 Maret Siklus II : 26 dan 02 April Masalah yang menjadi fokus perbaikan: “apakah model pembelajaran Example non Example dapat meningkatkan kemampuan writing dan speaking pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gamping, kab. Sleman DIY. Yogyakarta, April 2016 Mengetahui, Menyetujui, Supervisor 1 Peneliti, Dr. Kulsum Nur Hayati, M.Pd., M.Si. Muhromi NIP. 19760923 200604 2 001 NIM. 017943083


III SURAT PERNYATAAN Bismillahirohmanirrohim Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : MUHROMI NIM : 017943083 Tempat Mengajar : SMP Muhammadiyah 1 Gamping, Sleman DIY. Mata pelajaran : Bahasa Inggris Kelas : VII B Alamat : Depok, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta Jl.Wates Km.6 Yk) 55294 Telp.08112645002. Waktu Pelaksanaan : Siklus 1 : 19 dan 26 Maret Siklus II : 26 dan 02 April Masalah yang menjadi fokus perbaikan: “apakah model pembelajaran Example non Example dapat meningkatkan kemampuan writing dan speaking pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gamping, kab. Sleman DIY. Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan ini adalah benar-benar karya peneliti sendiri dan tidak ada unsur plagiat didalamnya. Jika ditemukan terbukti ada plagiat, maka saya siap menerima konsekuensi secara hokum maupun akademik. Demikian pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Yogyakarta, 10 April 2016 Peneliti, materai Muh Romi 017943083


IV PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN WRITING DAN SPEAKING MATERI PROCEDURE TEXT PADA SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 1 GAMPING YOGYAKARTA Oleh: MUHROMI 017943083 Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dalam menulis dan berbicara bahasa inggris. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII/b SMP Muhammadiyah 1 gamping semester 2 terutama dalam pembelajaran procedure text menggunakan model pembelajaran Example non Example. Subyek penelitian ini adalah 36 siswa kelas VII/b SMP Muhammadiyah 1 gamping. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Selama seluruh siklus, siswa bekerja sama dalam kelompok bertiga mendiskusikan gambar yang ditampilkan guru melelui proyektor, kemudian siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok tersebut di tempat duduk masing-masing. Pengumpulan data dilakukan dari hasil presentasi dan tulisan siswa. Dari keadaan semula rata-rata hasil evaluasi writing dan speaking adalah 65 dan 70. Pada siklus pertama menjadi 64.7 dan 70.3. pada siklus ke II peningkatan hasil pembelajaran menjadi 80 dan 74. Jumlah siswa yang mencapai ketuntasan writing dan speaking pada siklus 1 adalah 16 (44%) dan 19 (53%) siswa. Pada siklus II terdapat 29 (80%) dan 30 (83%) siswa mencapai ketuntasan evaluasi writing dan speaking. kesimpulan dari penelitian ini adalah model pembelajaran Example non Example dapat meningkatkan hasil pembelajaran writing dan speaking siswa Keyword : Hasil belajar, Procedure text, Example non Example, Writing, speaking.


V APPLICATION OF LEARNING MODEL EXAMPLE NON EXAMPLE TO IMPROVE STUDENTS’ ABILITY IN WRITING AND SPEAKING OF PROCEDURE TEXT ON STUDENTS OF SMP MUHAMMADIYAH 1 GAMPING YOGYAKARTA By: MUHROMI 017943083 This reseach is a classroom reseach in written and spoken English. The purpose of this research is to improve the learning outcomes of second semester students of VII / b SMP Muhammadiyah 1 Gamping , especially in the learning procedure text using model non Example Example.The subjects of this study were 36 students of class VII / b SMP Muhammadiyah 1 Gamping. This study was conducted in two cycles. During the entire cycle, students work together in groups of threes discussing the images displayed on projector by teacher, then the students presented the results of the discussion group at each seat. Data collection was carried out of the presentations and the students' writing. From previous learning, the average of evaluation in writing and speaking were 65 and 70. In the first cycle became 64.7 and 70.3. In the second cycle, the improvement of learning outcomes became 80 and 74. The number of students who achieved mastery of writing and speaking in cycle 1 was 16 (44%) and 19 (53%) students. In the second cycle there were 29 (80%) and 30 (83%) of students achieving mastery evaluation of writing and speaking. The conclusion of this study is that learning model Example non Example can improve the learning outcomes in students’ spoken and written English. Keyword : learning outcomes, procedure text, Example non Example, writing and speaking.


VI KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillahirobbil ‘Alamin. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya tidak lupa sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi besar kita Muhammad SAW. sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan PKP sebagai syarat Ujian PKP. Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyadari bahwa terselesaikannya laporan ini tidaklah lepas dari bantuan beberapa pihak. Sehubungan dengan hal tersebut, pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Ibu Dr. Tri Dyah Prastiti, M.Pd selaku kepala UPBJJ-UT Yogyakarta yang telah memberikan fasilitas dalam kemudahan sehingga penyusun dapat belajar di Universitas Terbuka. 2. Dr. Kulsum Nur Hayati, M.Pd., M.Si selaku supervisor 1 yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam mengikuti mata kuliah PKP dan penyusunan Laporan Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP). 3. Ibu Umi Rochmiyati S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 1 Gamping yang telah mengijinkan penulis untuk melakukan praktek mengajar. 4. Bp. Ridzki Eka Putra S.Pd yang telah bersedia menjadi supervisor 2 dan memberikan arahan, nasehat serta bimbingan dalam mengajar. 5. Kedua Orang tua, Sarimin dan Rebi yang selalu memberikan motifasi, mengarahkan dan tidak henti-hentinya memberikan kasih sayang kepada penulis. 6. Abi / Bp mujib beserta Ibu asiyatul mahfudloh yang telah mendukung baik moril maupun materiil. 7. Semua pihak dan teman-teman yang telah selalu kompak dalam membantu dan memberikan kemudahan dalam penyusunan laporan ini.


VII DAFTAR ISI Halaman Judul......................................................................................... I Lembar Pengesahan ................................................................................ II Surat Pernyataan...................................................................................... III Abatract................................................................................................... IV Kata Pengantar ........................................................................................ VI Daftar Isi ................................................................................................. VII BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................ 3 C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran.................................. 3 D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran................................ 4 BAB II KAJIAN PUSTAKA.................................................................. 5 A. Model Pembelajaran Kooperatif................................................. 5 1. Pengertian.............................................................................. 5 2. Jenis-Jenis Model Pembelajaran Kooperative ...................... 6 a. Teams-Games-Tournament............................................. 6 b. Student Team Achievement Division............................... 7 c. Numbered-Head Together............................................... 7 d. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw................. 8 e. Think-Pair Share............................................................. 9 f. Two Stay Two Stray......................................................... 10 g. Role Playing.................................................................... 11 h. Model Pembelajaran Example non Example................... 12 B. Kompetensi Bahasa Inggris......................................................... 14 1. Listening................................................................................ 14 2. Speaking................................................................................ 15 3. Reading ................................................................................. 15 4. Writing................................................................................... 15 C. Aspek-Aspek Kemampuan Writing dan Speaking...................... 16 1. Speaking................................................................................ 16 2. Writing................................................................................... 17 BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN............. 19 A. Subyek Penelitian........................................................................ 19 B. Deskripsi per Siklus.................................................................... 20 1. Siklus 1.................................................................................. 20


VIII 2. Siklus 2.................................................................................. 32 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........................ 27 A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran ................... 27 1. Siklus 1.................................................................................. 27 2. . Siklus 2................................................................................ 32 3. Perbandingan hasil persiklus................................................. 40 BAB V SIMPULAN DAN SARAN....................................................... 42 A. Kesimpulan ................................................................................. 42 B. Saran Tindak Lanjut.................................................................... 43 Daftar Pustaka ......................................................................................... 44 Lampiran ................................................................................................. 45 DAFTAR TABEL DAN GAMBAR Tabel I Rubrik Penilaian Speaking.......................................................... 22 Tabel 2 Kategory penilaian Speaking .................................................... 24 Tabel 3 Rubrik Penilaian Writing ........................................................... 24 Tabel 4 Hasil Evaluasi Tulis Siklus 1 ..................................................... 30 Tabel 5 Hasil Evaluasi lisan siklus 1...................................................... 31 Tabel 6 Hasil Evaluasi Tulis Siklus 2 ..................................................... 35 Tabel 7 Hasil Evaluasi Lisan Siklus 2..................................................... 36 Tabel 8 Perbandingan nilai rata-rata persiklus........................................ 37 Tabel 9 Perbandingan Rata-rata Persiklus.............................................. 40 Gambar 1 Perbandingan antara metode awal, siklus I dan II.................. 38 Gambar II Perbandingan Persiklus.......................................................... 41


1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa inggris merupakan bahasa Internasional sebagai alat komunikasi yang menghubungkan atau mempersatukan seluruh Negara. Bahasa inggris, yang merupakan bahasa asing bagi orang-orang Indonesia, sangatlah penting dipelajari agar siswa mampu menguasai 4 skill berbahasa yakni menyimak (listening), membaca (reading), menulis (writing), dan berbicara (speaking). Mengingat pentingnya bahasa inggris untuk kehidupan sehari-hari maka berbagai model pembelajaran harus dikembangkan. Salah satu model pembelajaran adalah Example Non Example sesuai dengan pendapat Buehl (1996). Metode Example Non Example didefinisikan sebagai model pembelajaran yang mempersiapkan dan menggunakan gambar atau diagram maupun tabel yang telah disesuaikan dengan materi bahan ajar dan kompetensi dasar. Dalam pembelajaran bahasa inggris tidaklah selalu berjalan dengan baik. Kebanyakan siswa tidak menyukai pelajaran bahasa inggris. Menurut pandangan mereka, Bahasa Inggris adalah bahasa yang sulit dan menakutkan sehingga mereka cenderung tidak berminat belajar Bahasa Inggris. Kurangnya kepercayaan diri merupakan salah satu penyebab utama kegagalan siswa dalam berbicara bahasa inggris. Seorang siswa yang mahir cenderung tidak mau mempraktikkan berbicara bahasa inggris karena takut dianggap pamer atau bergaya dengan berbicara bahasa Inggris dilingkungan sekolah.Dan terkadang seorang siswa memiliki keinginan besar mampu berbicara bahasa Inggris, namun karena tidak memiliki kawan dalam mempraktekkannya lambat laun bahasa inggris yang telah dikuasai menjadi berkurang. Begitu pula pembelajaran Bahasa Inggris pada siswa kelas VII SMP muhammadiyah 1 Gamping, Sleman, Yogyakarta. Siswa kelas VII semester 2 SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta seharusnya sudah mampu menggunakan kalimat – kalimat sederhana untuk menuliskan suatu dialog dan bertukar informasi mengenai procedure text, contohnya cara memasak, mencuci dll. Namun kenyataan yang terjadi sebagian siswa masih belum mampu dalam menulis dan berkomunikasi menggunakan kalimat sederhana didalam kelas. Kebanyakan dari siswa tersebut merasa takut dan malu dalam praktek bahasa


2 inggris. Beberapa siswa yang aktif memang cenderung saling berebut untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru tetapi bagi siswa yang memerlukan perhatian khusus lebih cenderung tidak peduli dengan soal yang diberikan. Apabila hal ini terus dibiarkan maka hanya siswa yang aktif sajalah yang akan mencapai tujuan pembelajaran sedang siswa yang kurang aktif cenderung tidak memiliki kesempatan dan mungkin juga minder karena tidak yakin dengan jawaban yang mereka punya. Untuk mengatasi hal tersebut model pembelajaran yang tepat harus diterapkan agar tujuan pembelajaran dapat terlaksana dengan cepat secara menyeluruh. Melalui penelitian ini penulis akan mencoba menerapkan model Example non Example untuk meningkatkan memampuan writing dan speaking pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gamping materi procedure text. 1. Identifikasi Masalah Dalam praktik KBM yang berlangsung di SMP Muhammadiyah 1 Gamping serta hasil refleksi dan pengamatan penulis terdapat beberapa masalah dalam pembelajaran bahasa Inggris yaitu a. Beberapa siswa belum mampu dalam menulis dan berbicara bahasa inggris sederhana didalam kelas, b. Tidak ada yang bertanya ketika guru memberikan kesempatan bertanya kepada siswa, c. Metode yang digunakan dalam mengajar adalah metode ceramah. d. Dari hasil pembelajaran menggunakan metode pembelajaran ceramah nilai rata-rata tulis siswa adalah 70 (8 siswa belum mencapai ketuntasan) dan nilai berbicara 65. e. Guru hanya memberi materi secara monoton dengan ceramah. Dari hasil pembelajaran menggunakan metode ceramah yang masih memperoleh nilai rata-rata 70 dan berbicara 65 tersebut peneliti ingin meningkatkan hasil pembelajaran siswa dengan menggunakan metode pembelajaran yang lain, yaitu model Example non Example. Dalam mencapai keberhasilan penelitian, peneliti bekerja sama dengan kepala sekolah, Ibu Umi Rochmiyati dan teman sejawat Bp. Ridzki Eka Putra untuk memberikan ide-ide dalam pelaksanaan siklus 1 dan 2 serta memberikan masukan atas pembelajaran yang dilaksanakan.


3 2. Analisis Masalah Dalam pengalaman dan refleksi yang dilakukan guru,penyebab kegagalan dalam pembelajaran materi Procedure text adalah: a. Model pembelajaran yang monolog dalam memberikan materi dan penjelasan terhadap siswa membuat siswa cenderung bosan dan kurang memperhatikan sehingga siswa melampiaskan kebosanan mereka dengan kegaduhan didalam kelas. b. Guru belum mampu dalam memanfaatkan keaktifan siswa didalam kelas. c. Kurangnya motifasi terhadap siswa. d. Siswa hanya disuguhkan dengan materi dan materi tanpa ada praktek berbicara. 3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan masalah Materi disampaikan dengan model Example non Example (contoh dan noncontoh) menggunakan gambar yang relevan dengan KD sementara siswa melakukan hipotesis terhadap gambar tersebut agar siswa tertarik dan aktif dalam berdiskusi dalam kelompok. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apakah model pembelajaran Example non Example dapat meningkatkan kemampuan Writing pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta? 2. Apakah model pembelajaran Example non Example dapat meningkatkan kemampuan speaking pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta? C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran 1. Untuk mengetahui apakah model pembelajaran Example non Example dapat meningkatkan kemampuan writing pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta.


4 2. Untuk mengetahui apakah model pembelajaran Example non Example dapat meningkatkan kemampuan speaking pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta. D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran 1. Peneliti Menambah wawasan dan pengetahuan tentang metode dan strategi mengajar yang baik yang mudah diterima oleh siswa kususnya siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gamping sehingga dapat menjadi acuan dalam mengajar berikutnya. 2. Siswa Sekolah Menengah Pertama Memperoleh pemahaman yang lebih baik hasil dari metode dan strategi yang diberikan khususnya bmata pelajaran Bahasa Inggris di Kelas VII, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Guru Sekolah Menengah Pertama Memberikan informasi tetang model pembelajaran Example non Example dalam meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gamping, dan dapat juga dijadikan acuan gugu-guru pelajaran Bahasa Inggris dalam menentukan pola belajar yang sesuai.


5 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Kooperatif 1. Pengertian Model pembelajaran Model pembelajaran adalah sebagai suatu desain menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Amri, 2013). Model pembelajaran harus dianggap sebagai kerangka kerja struktural yang juga dapat digunakan sebagai pemandu untuk mengembangkan lingkungan dan aktivitas belajar yang kondusif (Huda, 2013). Menurut Soekamto dalam (Hamruni, 2009) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu desain, kerangka kerja structural serta sebagai pemandu untuk menyesuaikan lingkungan dan aktifitas belajar agar siswa dapat berinteraksi secara kondusif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ciri-ciri khusu model pembelajaran: Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Lingkunngan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran it dapat tercapai (Hamruni, 2009).


6 Model pembelajaran kooperatif Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas (Jay, 1999). Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang didalamnya mengkondisikan para siswa bekerja bersama-sama didalam kelompok-kelompok kecil untuk membantu satu sama lain dalam belajar. Pembelajaran kooperatif didasarkan pada gagasan atau pemikiran bahwa siswa bekerja bersamasama dalam belajar, bertanggung jawab terhadap aktivitas belajar kelompok mereka seperti terhadap diri mereka sendiri. Menurut Slavin dalam (Krismanto, 2003) menyatakan bahwa pendekatan konstruktivis dalam pengajaran secara khusus membuat belajar kooperatif ekstensif, secara teori siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikannya dengan temannya. 2. Jenis – Jenis Model Pembelajaran Kooperative Terdapat beberapa model yang termasuk dalam kooperatif learning yaitu: a. Teams-Games-Tournament Teams-Games-Tournament (TGT) merupakan salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Slavin (1995) untuk membantu siswa mereview dan menguasai materi pembelajaran (Huda, 2013) Langkah-langkah Model Pembelajaran TGT Beri informasi secara klasikal. Bentuk kelompok beranggotakan 4-5 siswa (kemampuan siswa heterogen). Diskusi kelompok untuk penguatan pemahaman materi yang dilaksanakan dengan kuis/latihan yang telah diberikan (mempelajari kembali). Permainan/turnamen (dalam setiap kelompok diwakili satu orang). Beri soal untuk dilombakan. Beri penghargaan pada kelompok yang wakilnya dapat maju terus sampai dengan ketentuan yang telah ditetapkan (Amri, 2013)


7 b. Student Team Achievement Division (STAD) Student Team Achievement Division (STAD) merupakan salah satu strategi pembelajaran cooperatif yang didalamnya beberapa kelompok kecil siswa dengan level kemampuan akademik yang berbeda saling bekerja sama untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran (Huda, 2013). Langkah-langkah model pembelajaran STAD Guru menyampaikan materi pembelajaran ke siswa secara klasikal (paling sering menggunakan pembelajaran langsung). Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok (setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa yang heterogen, baik dari segi kemampuan, agama, jenis kelamin, atau lainnya). Dilanjutkan diskusi kelompok untuk penguatan materi (saling bantu membantu untk memperdalam materi yang sudah diberikan). Guru memberikan tes individual, masing-masing mengerjakan tes tanpa boleh saling bantu membantu diantara anggota kelompok). Guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan pemerolehan nilai peningkatan individual dari skor dasar ke skor kuis) (Amri, 2013). c. Numbered-Head Together (NHT) NHT merupakan diskusi kelompok yang bertujuan untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk untuk saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat (Huda, 2013). Langkah-langkah pelaksanaan NHT Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor. Guru memberi tugas/pertanyaan pada masing-masing kelompok untuk mengerjakannya. Setiap kelompok mulai berdiskusi untuk menemukan jawaban yang dianggap paling tepat dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut. Guru memanggil salah satu nomor secara acak. Siswa dengan nomor yang dipanggil mempresentasikan jawaban dan hasil diskusi kelompok mereka (Huda, 2013).


8 d. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw Model jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson (1975). Metode ini memiliki 2 versi yaitu jigsaw II (Slavin, 1989) dan jigsaw III (Kagan, 1990). Metode ini dapat diterapkan untuk materi-materi yang berhubungan dengan keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Seorang guru harus mampu memahami kemampuan dan pengalaman siswa dan membantu siswa untuk mengaktifkan skema ini agar materi pelajaran menjadi lebih bermakna (Kagan, 1990). Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw Guru membagi topik pelajaran menjadi empat bagian/subtopik. Misalnya, topik tentang novel dibagi menjadi alur, tokoh, latar, dan tema. Sebelum subtopik-subtopik itu diberikan, guru memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas pada pertemuan hari itu. Guru bisa menuliskan topik ini dipapan tulis dan bertanya kepada siswa apa yang mereka ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan kemampuan siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Siswa dibagi dalam kelompok berempat. Bagian/subtopik pertama diberikan pada siswa/anggota 1, sedangkan siswa atau anggora 2 menerima bagian atau subtopik yang kedua. Demikian seterusnya. Kemudian, siswa diminta membaca/mengerjakan bagian / subtopik masing-masing. Setelah selesai, siswa saling berdiskusi mengenai bagian / subtopik yang dibaca/dikerjakan masing-masing bersama rekan-rekan satu anggotanya. Dalam kegiatan ini, siswa bisa saling melengkapi dan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Khusus untuk kegiatan membaca, guru dapat membagi bagianbagian sebuah cerita yang belum utuh kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian-bagian tersebut untuk memprediksikan apa yang dikisahkan dalam cerita tersebut.


9 Kegiatan ini bisa di akhiri dengan diskusi mengenai topik tersebut. Diskusi ini bisa dilakukan antar kelompok atau bersama seluruh siswa (Huda, 2013). e. Think-Pair Share Think-Pair Share (TPS) merupakan strategi pembelajaran yang dikembangkan pertama kali oleh profesor Frank Lyman di University of Maryland pada 1981 dan diadopsi oleh banyak penulis penulis dibidang pembelajaran kooperatif pada tahun-tahun selanjutnya. Strategi ini memperkenalkan gagasan-gagasan tentang waktu ‘tunggu atau berpikir’ (wait or think time) pada elemen interaksi pembelajaran kooperatif yang saat ini menjadi slah satu faktor ampuh dalam meningkatkan respons siswa terhadap pertanyaan. Manfaat TPS antara lain adalah: 1) memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain; 2) mengoptimalkan partisipasi siswa; dan 3) memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Skilskil yang dibutuhkan dalam strategi ini adalah sharing informasi, bertanya, meringkas gagasan orang lain, dan paraphrasing (Huda, 2013). Langkah-langkah model pembelajaran Think Pair and Share Guru menyampaikan materi seperti biasa, alat peraga disarankan. Dengan tanya jawab, guru memberikan contoh soal. Guru memberikan soal yang dikerjakan siswa berdasar persyaratan soal sebagai problem. Siswa dipandu guru untuk menyelesaikan soal. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa. Guru memberi kesimpulan. Penutup.


10 f. Two Stay Two Stray Metode TS-TS dikembangkan oleh Spencer Kagan (1990). Metode TS-TS merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi juga untuk melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik (Huda, 2013). Langkah-langkah metode TS-TS Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari empat siswa. Kelompok yang dibentukpun merupakan kelompok heterogen, misalnya satu kelompok terdiri dari 1 siwa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Hal ini dilakukan agar siswa memperoleh kesempatan untuk saling membelajarkan (Peer Tutoring) dan saling mendukung. Guru memberikan sub pokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompok masing-masing. Siswa bekerja sama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka kepada tamu dari kelompok lain. Tamu mohon diri dan kemnbali kekelompok mereka sendiri untuk melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerjan mereka. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka (Huda, 2013).


11 g. Role Playing Role Playing atau bermain peran adalah sejenis permainan yang didalamnya ada tujuan, aturan, dan edutainment (Fogg, 2001). Role playing adalah suatu cara penguasaan bahan bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankan diri sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan oleh lebih dari satu orang, bergantung pada apa yang diperankan (Huda, 2013). Ada beberapa keunggulan yang bisa diperoleh siswa dengan menggunakan strategi role pleying ini. Diantaranya adalah: 1) dapat memberikan kesan pembelajaran yang kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa; 2) bisa menjadi pengalaman belajar menyenangkan yang sulit untuk dilupakan; 3) membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis dan antusiastis; 4) membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan; dan 5) memungkinkan siswa untuk terjun langsung memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar. Akan tetapi, strategi role playing juga memiliki kelemahannya sendiri, seperti: 1) banyaknya waktu yang dibutuhkan; 2) kesulitan menugaskan peran tertentu kepada siswa jika tidak dilatih dengan baik; 3) ketidakmungkinan menerapkan RP jika suasana kelas tidak kondusif; 4) membutuhkan persiapan yang benar-benar matang yang akan menghabiskan waktu dan tenaga; dan 5) tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui strategi ini (Huda, 2013). Langkah-langkah role playing Guru menyusun/mempersiapkan skenario yang akan ditampilkan. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM). Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.


12 Masing-masing siswa duduk dikelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan. Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk dibahas. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya. Guru memberikan kesimpulan secara umum. Evaluasi. Penutup (Amri, 2013). h. Model Pembelajaran Example Non Example Model Example Non Example adalah strategi pembelajaran yang menggunakan media gambar dalam menyampaikan materi pembelajaran yang bertujuan untuk mendorong siswa untuk belajar berfikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh yang disajikan (Apriani, 2010). Menurut Bruner dalam (Eggen, 2012) model Example Non Example sebuah model yang menunjukkan contoh dan non contoh dari suatu konsep yang dibayangkan sementara siswa membuat hipotesishipotesis mereka dengan melihat contoh dan non contoh, serta akhirnya pada konsep yang dimaksud. Menurut Buehl (1996) dalam (Huda, 2013), strategi Example non Example melibatkan siswa untuk: 1) menggunakan sebuah contoh untuk memperluas pemahaman sebuah konsep dengan lebih mendalam dan lebih komples; 2) melakukan proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka membangun konsep secara progresif melalui pengalaman langsung terhadap contoh-contoh yang mereka pelajari; dan 3) mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non-example yang dimungkinkan masih memiliki karakteristik konsep yang telah dipaparkan pada bagian example. Model Example Non Example merupakan model pembelajaran dengan mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dari kompetensi dasar, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP, dengan petunjuk guru siswa, mencermati sajian,


13 diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan refleksi (Roestiyah, 2001). Kelebihan model pembelajaran example non example menurut Buehl dalam (Apriani, 2010) yaitu: 1) siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih kompleks; 2) siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengamatan dari example dan non example; 3) siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian example. Keunggulan lainnya dalam model example antara lain 1) siswa lebih berfikir kritis dalam menganalisa gambar yang relevan dengan KD; 2)siswa mengetahui aplikasi dan materi berupa contoh gambar yang relevan dengan KD dan 3) siswa diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya yang mengenai analisis gambar yang relevan dengan KD (Apriani, 2010). Kelemahan model pembelajaran Example non Example adalah tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar dan memerlukan waktu yang lama (Apriani, 2010). Langkah-langkah model Example Non Example: Menurut (Suprijono, 2009) langkah-langkah model pembelajaran Example non Example, diantaranya: Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Gambar-gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar. Guru menempelkan gambar dipapan atau ditayangkan melelui LCD/OHP/In Focus


14 Pada tahap ini guru dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar dan membentuk kelompok siswa. Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Peserta didik diberi waktu waktu melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama agar detail gambar dapat dipahami oleh peserta didik, dan guru juga memberi deskripsi tentang gambar yang diamati Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan oleh guru. Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya. Dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melelui perwakilan kelompok masing-masing. Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin discapai. Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran. B. Kompetensi Bahasa Inggris 1. Listening Listening is an activity to get information which has an important role to understand foreign language and as input to learn speaking. Liatening merupakan aktivitas untuk memperoleh informasi yang berperan penting untuk memahami bahasa asing serta sebagai input dalam mempelajari speaking (Wulandari, 2011). 2. Speaking Speaking is one of the four basic competences that the students should gain well. It has an important role in communication. Berbicara merupakan salah satu dari 4 kompetensi dasar yang harus diperoleh oleh siswa dengan baik. Speaking memiliki peran penting dalam berkomunikasi. (Nasional, 2006). Speaking adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa lisan. Pesan yang diterima oleh penyimak bukanlah wujud aslinya,


15 melainkan bunyi bahasa yang kemudian dialihkan menjadi bentuk semula, yaitu ide atau gagasan yang sama seperti yang dimaksudkan oleh pembicara. Disitu ditemukan adanya kaitan antara menyimak dan berbicara. Dengan menyimak, kita menerima informasi dari seseorang. Pada kenyataanya peristiwa menyimak pasti ada dalam berbicara. Ini membuktikan bahwa dalam kegiatan komunikasi keduanya secara fungsional tidak terpisahkan. Dengan demikian komunikasi lisan tidak akan terjadi jika keduanya, berbicara dan menyimak, tidak berlangsung sekaligus atau tidak saling melengkapi (Hairudin, 2007). 3. Reading Membaca merupakan melafalkan suatu ungkapan dalam teks secara lisan yang direncanakan dari buku atau kutipan cetak, biasanya dengan tema atau topik penelitian. 4. Writing Sesuai dengan Standar Isi Bahasa Inggris SMP, Standar kompetensi menulis Berbahasa nggris kelas VII adalah 1) Mengungkapkan makna dalam teks fungsional pendek sangat sederhana untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat dan 2) Mengungkapkan makna dalam teks tulis fungsional dan esei pendek sederhana yang berbentuk deskriptif dan prosedur. Sedangkan Kompetensi Dasar menulis berbahasa Inggris kelas VII pada semester 2 adalah 1) Mengungkapkan makna dalam gagasan dalam teks tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, 2) Mengungkapkan langkah retorika dalam teks tulis fungsional pendek sangat sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, 3) Mengungkapkan makna dalam teks tulis fungsional pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkuungan sekitar, serta 4) Mengungkapkan makna dan langkah retorika dalam esei pendek sangat sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat dalam teks berbentuk deskriptif dan prosedur. Menulis dalam bahasa Inggris tidak hanya merangkai katakata/frasa atau kalimat bahasa inggris, tetapi beberapa seni dan strategi juga harus digunakan agar siswa bisa mengungkapkan makna dalam teks


16 fungsional dan esei pendek sederhana yang berbentuk deskriptif dan prosedur. C. Aspek-Aspek Kemampuan Writing Dan Speaking 1. Speaking Speaking is one of the four basic competences that the students should gain well. It has an important role in communication. Berbicara merupakan salah satu dari 4 kompetensi dasar yang harus diperoleh oleh siswa dengan baik. Speaking memiliki peran penting dalam berkomunikasi (Nasional, 2006). Speaking merupakan penyampaian bahasa menggunakan simbol-simbol bunyi tertentu melalui organ mulut yang mengandung makna. Komponen penilaian speaking terbagi menjadi beberapa kriteria yaitu: a. Pengucapan (Pronounciation) Setiap bahasa mempunyai sistem bunyi, baik itu bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Pengucapan (pronounciation) merupakan pelafalan kata yang didasarkan pada sistem bunyi, misalnya bahasa Inggris menggunakan sistem bunyi Oxford atau American dictionary. Pada penilaian pengucapan, terdapat 5 level nilai, yaitu: - Nilai 1, jika kesalahan tata bahasa begitu parah sehingga sulit dipahami - Nilai 2, jika Sulit dipahami karena ada masalah pengucapan, sering diminta mengulang. - Nilai 3, Ada masalah pengucapan yang membuat pendengar harus konsentrasi penuh dan kadang-kadang ada kesalahpahaman. - Nilai 4, Mudah dipahami meskipun dengan aksen tertentu. - Nilai 5, Mudah dipahami dan memiliki aksen penutur asli. b. Tata bahasa (Grammar) Tata bahasa adalah ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa. Penilaian tata bahasa yang diambil terdapat 5 poin penilaian yang disusun dalm rubrik penilaian Tabel 1.


17 c. Kosa kata (Vocabularies) Memiliki banyak kosa kata dapat memperlancar komunikasi dalam bahasa inggris. Kosa kata yang bervariasi dan tepat mempermudah pendengar dalam memahami makna yang disampaikan. Penilaian kosa kata bahasa inggris tercantum pada BAB III tabel 1. d. Kelancaran (Fluency) Kelancaran merupakan poin utama dalam berbicara. Berbicara yang lancar dapat mempengaruhi diterima atau tidaknya pesan-pesan yang disampaikan. Penilaian dalam hal kelancaran (fluency) diambil berdasarkan 5 tingkat, nilai 1, 2, 3, 4, dan 5 sesuai dengan rubric penilaian pada tabel 1. e. Pemahaman (Comprehension) Dalam berbicara, pemahaman memberikan peran penting dalam penyampaian informasi. Agar pembicaraan berjalan dengan sempurna, baik pembicara ataupun pendengar harus memahami pesan-pesan yang disampaikan oleh masing-masing agar terhindar dari kesalah pahaman. Lihat tabel 1. 2. Writing Menurut Fox dalam (Asih, 2014). Writing didefinisikan sebagai sebuah aktifitas mengekspresikan ide, feeling, dan opini untuk mengkomunikasikan pesan dari pikiran ke bentuk tertulis. Writing memiliki dua step proses yaitu menampilkan makna dari ide dan menyampaikannya dalam bentuk bahasa tulis. Menurut (Hyland, 2003) menulis merupakan cara menyampaikan, mengungkapkan perasaan dan berbagi pengalaman penulis kepada pembaca dengan menggunakan bahasa tulis. Komponen penilaian writing terbagi menjadi beberapa kriteria yaitu: a. Langkah retorika Retorika merupakan seni kemampuan menyampaikan pendapat, mengemukakan gagasan, menyampaikan informasi kepada orang lain secara efektif dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya baik secara lisan maupun tulisan (Syafi'i, 1988). Penilaian langkah retorika didasarkan pada rubrik penilan pada tabel 2. b. Tata bahasa (Grammar)


18 Bukan hanya dalam berbicara, dalam menulis tidaklah terlepas dari tata bahasa. Baik buruknya sebuah tulisan dapat dipengaruhi oleh tata bahasa. Dalam bahasa inggris, berbeda tata bahasa berbeda pula arti yang terkandungnya. Penilaian tata bahasa disesuaikan dengan Tabel 2 pada Bab 3 c. Kosa kata (Vocabularies) Dalam berbicara maupun menulis, kosakata menjadi peran utama kelancarannya. Tanpa adanya kosa kata pembicaraan atau penulisan tidak akan pernah terjadi. Jelas atau tidaknya suatu percakapan dipengaruhi oleh kosa kata. Menggunakan kosakata yang berbeda, berbeda pula arti yang terkandung dalam pembicaraan tersebut. Penilaian kosa kata yg diambil dicantumkan pada rubrik penilaian BAB 3. d. Kejelasan makna (meaning) Dalam menulis, makna yang jelas menjadi hal utama dipahami atau tidaknya sebuah tulisan. Tulisan yang bermakna ganda sering menyulitkan pembaca untuk memahami isi dari suatu bacaan. Penilaian kejelasan makna dimuat dalam bab 3 tabel 2. e. Hubungan antar gagasan Dalam menulis, gagasan disetiap kalimat atau paragraf harus saling berkaitan agar pembaca tidak kebingungan dalam memahami pesan yang terkandung didalamnya.


19 BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. Subyek Penelitian Hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan penelitian seperti tempat, waktu, subyek penelitian didiskripsikan sebagai berikut: 1. Tempat dan Lokasi Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilakukan dikelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gamping yang terletak di Jl. Wates KM. 6, dusun Depok, desa Ambarketawang, kecamatan Gamping, kab. Sleman DIY. 2. Subyek Perbaikan Pembelajaran Subyek perbaikan pembelajaran yang dilakukan di SMP Muhammadiyah 1 Gamping adalah seluruh siswa kelas VII tahun pelajaran 2016 yang berjumlah 36 siswa, 24 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Sebagian besar siswa dikelas ini berasal dari kalangan menengah kebawah; dimana kondisi keluarga kurang mendukung pembelajaran Bahasa Iggris. Pemilihan subyek mata pelajaran Bahasa Inggris pada kelas VII karena karakteristik dan kondisi siswa sesuai identifikasi masalah yang dipaparkan didepan yaitu: a. Beberapa siswa belum mampu menulis bahasa inggris dengan tepat b. Siswa mengalami kesulitan dalam berbicara bahasa inggris atau belum mampu berbicara bahasa inggris sederhana c. Metode yang digunakan adalah metode ceramah sehingga siswa merasa bosan. 3. Waktu Perbaikan Pelaksanaan Pembelajaran Perbaikan pembelajaran dilaksanakan selama 2 bulan pada siswa kelas VII semester 2 tahun ajaran 2015/2016 pada akhir bulam Februari sampai dengan awal bulan April 2016 dengan kriteria sebagai berikut: a. Bulan Februari : Kegiatan pra siklus (mengidentifikasi masalah, menemukan latar belakang masalah, menentukan strategi pembelajaran, mengajukan izin penelitian. b. Bulan Maret : 1) Kegiatan Siklus 1 : tanggal 19 Maret 2016 2) Kegiatan siklus 2 : tanggal 26 April 2016 3) Menyusun laporan


20 B. Deskripsi per Siklus 1. Siklus 1 a. Rencana perbaikan pembelajaran Perbaikan pembelajaran ini melibatkan berbagai penelitian kelas atau lebih sering disebut classroom action research untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP muhammadiyah 1 Gamping semester 2 tahun ajaran 2015/2016 dalam berbicara dan menulis Bahasa Inggris khususnya dalam menyampaikan prosedur. Teman sejawat dalam membantu penelitian ini adalah Ridzki Eka Putra, S.Pd. seorang Guru mata pelajaran Bahasa Inggris SMP Muhammadiyah 1 Gamping. Perbaikan pembelajaran ini dilakukan dalam 2 siklus dimana tiap siklus dilakukan dalam dua kali tatap muka. Refleksi dari pertemuan pertama dijadikan acuan perbaikan untuk siklus ke dua. Metode yang digunakan lebih menekankan pada penggunaan model Example non Example dengan gambar sebagai stimulus untuk siswa dalam mengembangkan sebuah konsep dalam procedure text. Model example non example dilaksanakan dengan cara menggunakan gambar sebagai media pembelajaran untuk mendorong siswa berfikir kritis dengan memecahkan masalah-masalah yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan. Contoh gambar yang diberikan ditempel di papan tulis atau di tayangkan melalui LCD kemudian guru memberikan petunjuk dan kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar. Peserta didik diberi waktu melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama agar detil gambar dapat dipahami oleh peserta didik. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas yang disediakan guru kemudian tiap kelompok diberikan kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya atau mempresentasinkan di depan kelas. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Kemudian guru dan siswa menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran. Disetiap akhir kegiatan pada tiap pertemuan diakhiri dengan mengerjakan evaluasi.


21 b. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (Action) Langkah-langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebagai berikut: 1) Kegiatan pembukaan a) Berdoa dan memberikan salam b) Melakukan presensi siswa pada hari itu. c) Menyampaikan kepada siswa tentang kompetensi yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut. d) Memberikan motivasi kepada siswa agar tertarik dalam mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran. 2) Kegiatan Inti a) Mereview ciri kebahasaan teks procedure. b) Guru menanyakan makanan atau minuman kesukaan siswa. What kind of food/drink do you like? c) Guru menampilkan gambar-gambar setiap langkah dalam membuat kopi. d) Guru meminta siswa untuk menganalisa gambar tersebut. e) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok (setiap kelompok terdiri dari 3 orang siswa) f) Setiap kelompok diminta untuk berdiskusi tentang langkahlangkah dan bahan-bahan dalam membuat kopi dan menuliskan hasil diskusinya didalam kertas yang telah disediakan guru. g) Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya atau membacakan hasil kelompoknya. h) Guru memberikan flash card gambar-gambar makanan/minuman kepada setiap kelompok i) Masing-masing kelompok mendiskusikan gambar berdasarkan flash card yang diberikan. j) Guru meminta setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi didepan kelas. 3) Kegiatan akhir a) Menanyakan apakah siswa sudah mengerti tentang teks procedure. b) Mengerjakan task melengkapi dialog sebagai pekerjaan rumah. c) Guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran.


22 c. Pengamatan (observing) dan Pengumpulan Data Kegiatan perbaikan pembelajaran ini difokuskan pada hasil belajar speaking dan writing siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menilai hasil belajar siswa. 1. Kemampuan Speaking Data tentang kemampuan speaking di kumpulkan menggunakan 2 instrumen a) Lembar pengamatan kemampuan speaking Tabel 1 Rubrik penilaian speaking No ASPEK SKOR KETERANGAN 1 Pengucapan 5 Mudah dipahami dan memiliki aksen penutur asli 4 Mudah dipahami meskipun dengan aksen tertentu 3 Ada masalah pengucapan yang membuat pendengar harus konsentrasi penuh dan kadang-kadang ada kesalahpahaman 2 Sulit dipahami karena ada masalah pengucapan, sering diminta mengulang 1 Masalah pengucapan serius sehingga tidak bisa difahami 2 Tata Bahasa 5 Tidak ada atau sedikit kesalahan tata bahasa 4 Kadang-kadang membuat kesalahan tata bahasa tetapi tidak mempengaruhi makna 3 Sering membuat kesalahan tata bahasa yang mempengaruhi makna 2 Banyak kesalahan tata bahasa yang menghambat makna dan sering menata ulang kalimat 1 Kesalahan tata bahasa begitu parah sehingga sulit dipahami 3 Kosa Kata 5 Menggunakan kosa kata dengan ungkapan seperti penutur asli 4 Kadang-kadang menggunakan kosa kata yang tidak tepat 3 Sering menggunakan kosa kata yang tidak tepat, percakapan menjadi terbatas karena keterbatasan kosa kata 2 Menggunakan kosa kata secara salah dan kosa kata terbatas sehingga sulit


23 No ASPEK SKOR KETERANGAN dipahami 1 Kosa kata sangat terbatas sehingga percakapan tidak mungkin terjadi 4 Kelancaran 5 Lancar seperti penutur asli 4 Kelancaran agak sedikit terganggu 3 Kelancaran agak banyak terganggu oleh masalah bahasa 2 Sering ragu-ragu dan terhenti karena keterbatasan bahasa 1 Berbicara terputus-putus dan terhenti sehingga percakapan tidak mungkin terjadi 5 Pemahaman 5 Memahami semua tanpa mengalami kesulitan 4 Memahami hampir semuanya, walau ada pengulangan pada bagian tertentu 3 Memahami sebagian besar apa yang dikatakan bila bicara agak diperlambat walau ada pengulangan 2 Susah mengikuti apa yang dikatakan 1 Tidak bisa memahami walaupun percakapan sederhana b) Tes hasil belajar kemampuan speaking Tes hasil yang kemampuan speaking merupakan test lisan dimana siswa harus berkomunikasi dalam bahasa inggris saat diadakan evaluasi atau secara lisan menyampaikan suatu topik dalam bahasa Inggris. Tes speaking untuk siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gamping adalah tes performance, yaitu siswa mempraktekkan bahasa inggris dengan cara menyampaikan procedure teks yang telah didiskusikan didalam kelompok masingmasing. Kisi-kisi test speaking - Pengucapan - Tata Bahasa - Kosa Kata - Kelancaran - Pemahaman


24 c) Kategori Penilaian Kemampuan Berbicara Tabel 2. Kategori Nilai Skor Kategori 90 – 100 80 – 89 70 – 79 0 – 69 Sangat Baik Baik Cukup kurang 2. Kemampuan writing Selama kegiatan ini guru mengamati siswa dan mencatatnya. Pengamatan yang diteliti meliputi penggunaan bahasa inggris dalam berdiskusi dalam kelompok, hasil diskusi yang telah di catat dalam kertas yang diberikan oleh guru. a) Lembar kemampuan writing Kemampuan writing siswa di ukur menggunakan instrumen rubrik penilaian berikut: Tabel 3 Rubrik penilaian writing No ASPEK SKOR KETERANGAN Langkah Retorika 4 Berstruktur sesuai jenis deskripsi secara maksimal 3 Berstruktur minimal sesuai jenis deskripsi 2 Pilihan teks tidak jelas 1 Tidak berstruktur dan sulit dipahami ASPEK SKOR KETERANGAN Tata Bahasa 4 Benar dan tepat 3 Terkadang kurang tepat tapi tidak mempengaruhi arti 2 Kurang tepat dan mempengaruhi arti 1 Sulit dimengerti ASPEK SKOR KETERANGAN Kosa Kata 4 Benar dan tepat 3 Terkadang kurang tepat tapi tidak mempengaruhi arti 2 Kurang tepat dan mempengaruhi arti 1 Sulit dimengerti ASPEK SKOR KETERANGAN Kejalasan Makna 4 Sangat jelas dan sangat efektif 3 Cukup jelas dan efektif


25 No ASPEK SKOR KETERANGAN 2 Jelas dan tidak efektif 1 Kurang jelas ASPEK SKOR KETERANGAN Hubungan Antar Gagasan 4 Sangat jelas 3 Cukup jelas 2 Kurang jelas 1 Tidak jelas d. Refleksi Kekuatan dan kelemahan yang ditemukan dalam tindakan perbaikan pembelajaran: 1) Kekuatan - Materi yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa - Mampu memanfaatkan kondisi untuk pembelajaran yang efektif. - Menggunakan metode yang menarik bagi siswa. 2) Kelemahan - Managemen waktu yang tepat atau memerlukan waktu yang terlalu lama. - Dengan siswa yang berjumlah 36, pengelompokan siswa dirasa terlalu banyak sehingga saat salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, kelompok yang lainnya cenderung kurang memperhatikan. 2. Siklus 2 a. Perencanaan Ulang (re-Planning) Berdasarkan perbaikan pembelajaran pada siklus 1, refleksi pada siklus I dapat digunakan untuk menyempurnakan perbaikan pembelajaran pada siklus II. Siklus II dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki tindakan-tindakan atau menyempurnakan siklus I. Pada dasarnya tindakan siklus I tidak jauh berbeda dengan siklus II hanya saja siklus II lebih meningkatkan kualitas perbaikan pembelajaran. b. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (Action) 1) Kegiatan Pembukaan a) Berdo’a atau memberikan salam b) Melakukan presensi siswa


26 c) Menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut d) Memberikan motifasi kepada siswa agar tertarik dalam mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran. 2) Kegiatan Inti a) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. b) Guru menempelkan gambar dipapan atau ditayangkan melalui LCD. c) Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar. d) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan oleh guru. e) Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya. f) Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin discapai. g) Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran. 3) Kegiatan Penutup a) Mengkonfirmasi kefahaman siswa b) Menyimpulkan hasil pembelajaran c) Menutup pertemuan


27 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran a. Deskripsi Kondisi Awal Sebelum diadakan tindakan, beberapa siswa kelas VII-B SMP Muhammadiyah 1 gamping sudah dapat menggunakan beberapa frase sederhana dalam merespon ungkapan yang diberikan guru. Hal ini merupakan suatu langkah yang baik karena guru dapat mengembangkan frase yang sudah dikuasai siswa dalam menulis dan berbicara bahasa inggris. namun ada pula beberapa siswa yang masih kesulitan dalam berbicara bahasa Inggris paling sederhana seperti menanyakan alamat, usia, hobi dan bahasa sederhana lainnya. Begitupula dalam menulis, Kemampuan menulis dalam bahasa inggris siswa masih tergolong rendah. Dari hasil pembelajaran menggunakan metode ceramah yang masih memperoleh nilai rata-rata 72 dan berbicara 65 Berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan siswa dalam menulis dan berbicara Bahasa Inggris adalah kurangnya kosa kata yang dikuasai siswa, serta rasa kepercayaan diri siswa dalam berbicara dan menulis Bahasa Inggris. b. Penjelasan Hasil Pelaksanaan Tindakan Tindakan dalam perbaikan pembelajaran dilaksanakan sebanyak 2 siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari 2x pertemuan. Tindakan dilakukan menggunakan metode Example Non Example. untuk membandingkan sejauh mana metode ini, peneliti menggunakan hasil penelitian 1. Siklus 1 a. Rencana Tindakan Pelaksanaan perbaikan terdiri dari 2 siklus dimana masing-masing siklus dilaksanakan dalam 2x pertemuan. Dalam melaksankan perbaikan pembelajaran ini, langkah awal yang dilakukan peneliti adalah berdiskusi dengan teman sejawat selaku supervisor untuk mentukan tanggal pelaksanaan siklus dan menjelaskan langkahlangkah yang harus dilakukan teman sejawat dalam melakukan


28 prosedur yang yang tersedia. Sesuai dengan jadwal mata pelajaran Bahasa Inggris pada siswa kelas VII-B SMP Muhammadiyah 1 Gamping telah diperoleh kesepakatan antara pihak sekolah dan teman sejawat selaku supervisor bahwa siklus pertama dilakukan pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2016, dan siklus kedua pada hari Sabtu tanggal 26 Maret 2016. b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang diakukan dalam siklus 1 adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan Pembukaan Guru membuka kelas dengan memberikan salam, melakukan presensi siswa, menyampaikan kompetensi yang harus dicapai, memotifasi serta melakukan tanya jawab berkenaan dengan materi yang akan disampaikan. 2) Kegiatan Inti a) Pertemuan pertama: Sabtu, 19 Maret 2016 - Mereview ciri kebahasaan teks procedure - Guru menampilkan gambar-gambar secara acak kemudian meminta siswa mencocokkan gambar tersebut dengan tulisan disampingnya. - Guru meminta siswa untuk menganalisa gambar tersebut. - Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. - Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya. - Mulai dari hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. b) Pertemuan kedua: pertemuan kedua dilakukan pada hari Sabtu, 26 Maret 2016. - Guru bersama siswa mereview materi yng telah disampaikan. - Guru memberikan contoh (Example) teks prosedur kemudian siswa menganalisanya. - Siswa membuat teks prosedur secara individu.


29 - Dari hasil teks prosedur yang telah dibuat, siswa menyampaikan hasil tersebut didepan kelas. 3) Kegiatan Penutup Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah disampaikan. Kemudian guru memastikan siswa telah memahami materi teks prosedur dan memberikan kesempatan siswa untuk bertanya. Siswa mengerjakan latihan sebagai pekerjaan rumah. c. Refleksi Siklus 1: Dalam pelaksanaan siklus 1 ditemukan kekuatan dan kelemahan sebagai berikut 1) Kekuatan: - Siswa mudah memahami materi teks prosedur yang telah disampaikan. - Saat siswa diminta mendiskusikan gambar yang diberikan guru melalui proyektor, banyak kelompok yang cepat selesai. 2) Kelemahan: - Dalam pertemuan pertama, pelaksanaan perbaikan pembelajaran masih jauh dari kesempurnaan. Siswa masih merasa asing dengan metode yang diberikan. - Guru kesulitan membagi kelompok siswa, karena siswa yang terpilih tidak segera bergabung dalam kelompok. - Kurangnya kosa kata yang dikuasai siswa menyulitkan diskusi yang dilakukan siswa dalam bahasa inggris. siswa masih berdiskusi dalam bahasa Indonesia. - Siswa belum terbiasa bekerja sama dalam memecahkan masalah, sehingga hanya siswa yang aktif sajalah yang mengerjakan masalah kelompok tersebut sedangkan yang lain hanyalah pelengkap. d. Keberhasilan dan Kegagalan Siklus 1: Keberhasilan: - Siswa dapat memecahkan masalah yang diberikan guru mengenai penyusunan teks prosedur. - Siswa lebih komunikatif dan berani bertanya daripada kelas lainnya.


30 Kegagalan: - Siswa belum mampu bekerja sama mengutarakan pendapat mengenai masalah yang dihadapi.. - Menggunakan waktu yang lama dalam memberikan interuksi atau dalam istilah lain, alokasi waktu yang direncanakan belum terlaksana dengan baik. e. Pengolahan Data siklus 1: Berbagai data yang berkaitan dengan hasil perbaikan pembelajaran yang dilakukan pada siswa SMP Muhammadiah 1 Gamping adalah sebagai berikut: 1) Hasil evaluasi tulis: Tabel 4 Hasil evaluasi tulis siklus 1 NO NIS NAMA JK Nilai 1 6402 ABDURAHMAN SULISTYO L 75 2 6295 AGUS TRIYANTO L 50 3 6296 AHMAD AZIZ NURROHMAN L 60 4 6297 ALFIAN EKA ADITYA L 50 5 6298 AVIN PRAMANA L 75 6 6299 ASTI NIKTRI LISTIYA P 65 7 6300 ASTRI FINGKINA P 75 8 6301 BADRUS RIANTO L 55 9 6302 BATARA PANGLAYUNGAN NUGROHO PUTRA L 70 10 6303 BUYA RIDHO RAMADHAN L 60 11 6304 DIMAS SYAHRUL AKBAR L 70 12 6305 DWI PRASETYO L 60 13 6306 DWI RIANTI NINGSIH P 65 14 6307 ELSA SAPUTRI P 70 15 6308 ELYSA DEVI ANGGRAINI P 60 16 6309 ERIEN KURNIAWATI P 80 17 6310 FAJAR SETIAWAN L 70 18 6311 FARID FATIN NURROHMAN L 55 19 6312 FIA OGYANINGRUM P 70 20 6313 FRIDA AMANDA RAHMAWATI P 70


31 NO NIS NAMA JK Nilai 21 6314 IRAWAN OKTA PRATAMA P 60 22 6315 ISNAENI AMALIA NURMALITA P 70 23 6316 MAKRUF HIDAYAT L 65 24 6317 MOHAMMAD FIKRI HAIKAL L 65 25 6318 MUHAMMAD ARIF FAKHRUDIN L 55 26 6319 MUHAMMAD ENZO BANDERAS L 70 27 6320 MUHAMMAD HERU SANTOSO L 65 28 6321 NOVA FIORENTINA P 70 29 6322 PUJI LESTARI NINGSIH P 70 30 6323 PUTRA DUTA ALDIANSYAH L 65 31 6324 RAHMALIGA PUTRI GARNISHA P 70 32 6325 RAMADHAN AL FAJRI L 70 33 6326 RUDI WIRANTO L 65 34 6327 TRI PURNOMO L 60 35 6328 WISNU QODARMANSYAH BAYU P. L 55 36 6329 YOGI KURNIA RAMADHAN L 50 Rata-rata 64.7 2) Hasil evaluasi lisan: Tabel 5 Hasil evaluasi lisan siklus 1 NO NIS NAMA JK Per. 1 Pert 2 Ratarata 1 6402 ABDURAHMAN SULISTYO L 75 80 77.5 2 6295 AGUS TRIYANTO L 75 75 75 3 6296 AHMAD AZIZ NURROHMAN L 60 70 65 4 6297 ALFIAN EKA ADITYA L 65 70 67.5 5 6298 AVIN PRAMANA L 80 80 80 6 6299 ASTI NIKTRI LISTIYA P 65 70 67.5 7 6300 ASTRI FINGKINA P 80 85 82.5 8 6301 BADRUS RIANTO L 60 65 62.5 9 6302 BATARA PANGLAYUNGAN NUGROHO PUTRA L 60 60 60 10 6303 BUYA RIDHO RAMADHAN L 60 60 60 11 6304 DIMAS SYAHRUL AKBAR L 70 75 72.5 12 6305 DWI PRASETYO L 60 70 65 13 6306 DWI RIANTI NINGSIH P 65 75 70 14 6307 ELSA SAPUTRI P 70 80 75


32 NO NIS NAMA JK Per. 1 Pert 2 Ratarata 15 6308 ELYSA DEVI ANGGRAINI P 60 75 67.5 16 6309 ERIEN KURNIAWATI P 80 90 85 17 6310 FAJAR SETIAWAN L 70 85 77.5 18 6311 FARID FATIN NURROHMAN L 55 65 60 19 6312 FIA OGYANINGRUM P 70 80 75 20 6313 FRIDA AMANDA RAHMAWATI P 70 75 72.5 21 6314 IRAWAN OKTA PRATAMA P 60 70 65 22 6315 ISNAENI AMALIA NURMALITA P 70 80 75 23 6316 MAKRUF HIDAYAT L 65 70 67.5 24 6317 MOHAMMAD FIKRI HAIKAL L 65 75 70 25 6318 MUHAMMAD ARIF FAKHRUDIN L 55 75 65 26 6319 MUHAMMAD ENZO BANDERAS L 70 80 75 27 6320 MUHAMMAD HERU SANTOSO L 65 75 70 28 6321 NOVA FIORENTINA P 70 85 77.5 29 6322 PUJI LESTARI NINGSIH P 70 80 75 30 6323 PUTRA DUTA ALDIANSYAH L 65 70 67.5 31 6324 RAHMALIGA PUTRI GARNISHA P 70 85 77.5 32 6325 RAMADHAN AL FAJRI L 70 75 72.5 33 6326 RUDI WIRANTO L 65 70 67.5 34 6327 TRI PURNOMO L 60 70 65 35 6328 WISNU QODARMANSYAH BAYU P. L 60 65 62.5 36 6329 YOGI KURNIA RAMADHAN L 60 65 62.5 Rata-rata 66.4 74.3 70.3 2. Siklus 2 a. Rencana Tindakan Dalam melaksanakan siklus 2 peneliti melakukan berbagai upaya dalam memperbaiki kelemahan siklus 1, selain melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran pada siklus 1, peneliti juga melakukan diskusi dalam melakukan perbaikan pada siklus 1 dengan supervisor. Siklus 2 dilaksanakan pada hari Sabtu, 02 April 2016. Pada siklus ini kembali diterapkan pembelajaran menggunakan gambar-gambar yang relevan dengan KD tanpa diberikan definisi pada masing-masing gambar. Siswa langsung melakukan kerja kelompok mendiskusikan gambar yang ditampilkan tersebut.


33 b. Pelaksanaan Tindakan Siklus 2 dilaksanakan seperti siklus pertama hanya saja fokus materi yang diberikan lebih disempurnakan. Berikut merupakan garis besar kegiatan perbaikan pembelajaran: 1) Kegiatan Pembukaan Guru membuka pelajaran dengan salam dan mengabsen. Memberi motivasi dan mengkondisikan kelas 2) Kegiatan Inti a) Pertemuan pertama: - Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. - Guru menampilkan gambar tersebut menggunakan LCD proyektor. - Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan /menganalisa gambar. - Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas yang telah disediakan oleh guru. - Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya. - Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin discapai. - Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran. b) Pertemuan kedua: - Guru menampilkan gambar tata cara menjaga buku setelah dibaca - Guru meminta siswa mendiskusikan tiap langkah dalam menjaga buku sesuai urutan gambar yang ada dalam kelompok. - Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.


34 - Setelah selesai guru meminta siswa menerjemahkan dan mengerjakan teks prosedur yang telah disediakan guru secara individu. 3) Kegiatan Penutup - Setelah siswa selesai dengan diskusinya dan menyampaikan hasil diskusinya, guru memastikan kefahaman siswa mengenai materi teks prosedur dengan cara menyimpulkan atau merangkum pembelajaran yang telah dilaksanakan. c. Refleksi Siklus 2: Berdasarkan hasil refleksi, kekuatan dan kelemahan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Kekuatan - Siswa lebih menguasai teknik dan langkah-langkah dalam menulis procedure text. - Beberapa siswa maulai aktif dalam berbicara bahasa inggris dalam bertanya kepada guru. 2) Kelemahan - Beberapa siswa masih kurang memperhatikan pelajaran - Saat menjelang waktu istirahat siswa mulai kehilangan fokus pelajaran. d. Keberhasilan dan kegagalan siklus 2 Keberhasilan: - Siswa semakin menguasai materi dan semakin cepat dalam menyusun teks prosedur. - Siswa menjadi terbiasa bekerja sama dalam kelompok dalam memecahkan suatu permasalahan. - Siswa yang dalam kesehariannya kurang aktif menjadi meningkat. Kegagalan: Peningkatan speaking siswa masih tergolong kurang banyak. Hal ini disebabkan kurangnya vocabularies atau kosa kata Bahasa Inggris yang dimiliki siswa.


35 e. Pengolahan data siklus 2 Pengelolaan data siklus 2 didasarkan pada 2 aspek yang diamati, yaitu speaking dan writing. Berikut peneliti akan menyajikan data hasil diskusi serta penilaian berbicara siswa. 1) Hasil evaluasi tulis Tabel 6 Hasil evaluasi tulis siklus 2 NO NIS NAMA JK Nilai 1 6402 ABDURAHMAN SULISTYO L 95 2 6295 AGUS TRIYANTO L 100 3 6296 AHMAD AZIZ NURROHMAN L 100 4 6297 ALFIAN EKA ADITYA L 80 5 6298 AVIN PRAMANA L 80 6 6299 ASTI NIKTRI LISTIYA P 80 7 6300 ASTRI FINGKINA P 80 8 6301 BADRUS RIANTO L 85 9 6302 BATARA PANGLAYUNGAN NUGROHO PUTRA L 70 10 6303 BUYA RIDHO RAMADHAN L 85 11 6304 DIMAS SYAHRUL AKBAR L 70 12 6305 DWI PRASETYO L 85 13 6306 DWI RIANTI NINGSIH P 80 14 6307 ELSA SAPUTRI P 100 15 6308 ELYSA DEVI ANGGRAINI P 100 16 6309 ERIEN KURNIAWATI P 100 17 6310 FAJAR SETIAWAN L 70 18 6311 FARID FATIN NURROHMAN L 95 19 6312 FIA OGYANINGRUM P 75 20 6313 FRIDA AMANDA RAHMAWATI P 95 21 6314 IRAWAN OKTA PRATAMA P 65 22 6315 ISNAENI AMALIA NURMALITA P 75 23 6316 MAKRUF HIDAYAT L 45 24 6317 MOHAMMAD FIKRI HAIKAL L 90 25 6318 MUHAMMAD ARIF FAKHRUDIN L 95 26 6319 MUHAMMAD ENZO BANDERAS L 90 27 6320 MUHAMMAD HERU SANTOSO L 45 28 6321 NOVA FIORENTINA P 90 29 6322 PUJI LESTARI NINGSIH P 90 30 6323 PUTRA DUTA ALDIANSYAH L 65


36 NO NIS NAMA JK Nilai 31 6324 RAHMALIGA PUTRI GARNISHA P 65 32 6325 RAMADHAN AL FAJRI L 75 33 6326 RUDI WIRANTO L 70 34 6327 TRI PURNOMO L 65 35 6328 WISNU QODARMANSYAH BAYU P. L 45 36 6329 YOGI KURNIA RAMADHAN L 75 Rata-rata 80 2) Hasil evaluasi lisan Tabel 7 Hasil evaluasi lisan siklus 2 NO NIS NAMA JK Per. 1 Pert 2 Ratarata 1 6402 ABDURAHMAN SULISTYO L 80 85 82.5 2 6295 AGUS TRIYANTO L 75 80 77.5 3 6296 AHMAD AZIZ NURROHMAN L 70 80 75 4 6297 ALFIAN EKA ADITYA L 70 75 72.5 5 6298 AVIN PRAMANA L 80 80 80 6 6299 ASTI NIKTRI LISTIYA P 70 85 77.5 7 6300 ASTRI FINGKINA P 85 90 87.5 8 6301 BADRUS RIANTO L 65 75 70 9 6302 BATARA PANGLAYUNGAN NUGROHO PUTRA L 60 65 62.5 10 6303 BUYA RIDHO RAMADHAN L 60 70 65 11 6304 DIMAS SYAHRUL AKBAR L 75 0 37.5 12 6305 DWI PRASETYO L 70 75 72.5 13 6306 DWI RIANTI NINGSIH P 75 80 77.5 14 6307 ELSA SAPUTRI P 80 85 82.5 15 6308 ELYSA DEVI ANGGRAINI P 75 80 77.5 16 6309 ERIEN KURNIAWATI P 90 90 90 17 6310 FAJAR SETIAWAN L 85 85 85 18 6311 FARID FATIN NURROHMAN L 65 75 70 19 6312 FIA OGYANINGRUM P 80 80 80 20 6313 FRIDA AMANDA RAHMAWATI P 75 80 77.5 21 6314 IRAWAN OKTA PRATAMA P 70 75 72.5 22 6315 ISNAENI AMALIA NURMALITA P 80 85 82.5 23 6316 MAKRUF HIDAYAT L 70 70 70 24 6317 MOHAMMAD FIKRI HAIKAL L 75 75 75


37 NO NIS NAMA JK Per. 1 Pert 2 Ratarata 25 6318 MUHAMMAD ARIF FAKHRUDIN L 75 75 75 26 6319 MUHAMMAD ENZO BANDERAS L 80 80 80 27 6320 MUHAMMAD HERU SANTOSO L 75 75 75 28 6321 NOVA FIORENTINA P 85 85 85 29 6322 PUJI LESTARI NINGSIH P 80 80 80 30 6323 PUTRA DUTA ALDIANSYAH L 70 0 35 31 6324 RAHMALIGA PUTRI GARNISHA P 85 80 82.5 32 6325 RAMADHAN AL FAJRI L 75 75 75 33 6326 RUDI WIRANTO L 70 70 70 34 6327 TRI PURNOMO L 70 75 72.5 35 6328 WISNU QODARMANSYAH BAYU P. L 65 70 67.5 36 6329 YOGI KURNIA RAMADHAN L 65 70 67.5 Rata-rata 74.4 73.7 74 Sesuai dengan data diatas, data perkembangan siswa dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran Example non Example adalah sebagai berikut: Tabel 8. Perbandingan rata-rata persiklus Rata-rata siklus Sebelum tindakan Siklus I Siklus II Writing 65 64.7 80 Speaking 70 70.3 74 Jika ditampilkan pada diagram adalah sebagai berikut:


38 Gambar 1 Perbandingan nilai pada metode ceramah, siklus I dan siklus II B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran 1. Siklus I a. Hasil Belajar writing. Pada siklus 1 yang dilakukan pada tanggal 19 Maret 2016, keberhasilan kemampuan writing belum begitu tampak, nilai hasil tes tulis yang diberikan dengan hasil tertinggi adalah 80 yang diraih oleh 1 siswa , terendah 50 yang diperoleh oleh 3 siswa dan nilai rata-rata 64.7, nilai rata-rata ini belum jauh berbeda dengan nilai yng dilakukan dengan metode ceramah yakni 65. Komponen nilai yang diambil adalah langkah retorika,tata bahasa, kosa kata, kejelasan makna, dan hubungan antar gagasan. Tiap-tiap komponen, poin maksimal adalah 4 kemudian keseluruhan poin yang didapat oleh siswa dijumlahkan, dibagi 2 dan kemudian dikalikan 10 (Jumlah poin/2 X10 : 20/2 10= 100) Pada siklus I hasil pembelajaran siswa mengalami penurunan 0.3. Jumlah siswa yang belum mencapai nilai KKM adalah sebanyak 17 siswa. b. Hasil belajar Speaking Komponen yang diambil pada penilaian speaking adalah pengucapan, tata bahasa, kosa kata, kelancaran dan pemahaman. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Writing Speaking metode lain siklus 1 siklus 2


39 Setiap poin pada komponen penilaian tersebut nilai maksimal yang diambil adalah 5. Setelah diperoleh nilai dari masing-masing poin tersebut jumlah total yang diraih siswa dibagikan 25 dan dikalikan 100 ( n/25 X100). Evaluasi speaking siswa pada siklus I dilakukan sebanyak 2 kali yaitu, pertemuan pertama siklus 1 dan pertemuan ke-2 siklus 1. Hasil evaluasi pertama digunakan sebagai langkah awal dalam mengukur kemampuan siswa dan evaluasi kedua dijadikan sebagai peningkatan awal siklus pertama. Pada pre-evaluasi didapatkan nilai tertinggi 80 yang dicapai oleh 3 siswa, dan nilai terendah adalah 55 yang dicapai oleh 2 siswa, rata-rata nilai keseluruhan siswa adalah 66.4. Jumlah siswa yang belum mencapai KKM adalah 20 orang, dan siswa yang telah mencapai KKM adalah 16 orang. Setelah guru melakukan diskusi dan perbaikan pengajaran pada pertemuan kedua peningkatan hasil belajar mengalami peningkatan, yaitu nilai tertinggi adalah 90 oleh seorang siswa, terendah adalah 60 oleh 2 siswa dan nilai rata-rata siswa adalah 74.3. 2. Siklus 2 a. Hasil Evaluasi writing Siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2016 dengan hasil evaluasi yang meningkat dibandingkan dengan sebelum dilakukan tindakan dan siklus 1. Pada siklus II komponen penilaian yang digunakan dalam evaluasi sama dengan komponen yang digunakan pada siklus I, yaitu langkah retorika,tata bahasa, kosa kata, kejelasan makna, dan hubungan antar gagasan. Tiap-tiap komponen, poin maksimal adalah 4 kemudian keseluruhan poin yang didapat oleh siswa dijumlahkan, dibagi 2 dan kemudian dikalikan 10 (Jumlah poin/2 X10 : 20/2 10= 100). Hasil yang diperoleh siswa pada siklus II dengan nilai ratarata 80. Nilai tertinggi dari siklus II adalah 100 sebanyak 5 siswa dan nilai terendah adalah 45 sebanyak 3 siswa. Siswa yang belum mencapai KKM adalah 6 siswa.


40 b. Hasil Evaluasi Speaking Seperti halnya penilaian writing di siklus I dan II, komponen penilaian speaking pada siklus II masih menggunakan rubric dan komponen yang sama, yaitu pengucapan, tata bahasa, kosa kata, kelancaran dan pemahaman. Setiap poin pada komponen penilaian tersebut nilai maksimal yang diambil adalah 5. Setelah diperoleh nilai dari masing-masing poin tersebut jumlah total yang diraih siswa dibagikan 25 dan dikalikan 100 ( n/25 X100). Pada pertemuan pertama siklus II nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 90 sebanyak 1 siswa dan nilai terendah adalah 60. Nilai rata-rata kelas pada pertemuan pertama siklus ini adalah 74,4. Pada pertemuan kedua sebanyak 2 siswa memperoleh nilai 90 dan hanya 1 siswa yang belum mencapai nilai KKM yaitu msih 65. 3. Perbandingan hasil persiklus Pada setiap siklus yang telah dilaksanakan telah diperoleh peningkatan yang signifikan terutama pada kemampuan writing siswa. Sebelum diaplikasikan model pembelajaran Example non Example, perolehan rata-rata nilai writing dan speaking siswa adalah 65 dan 70. Pada siklus 1 perolehan rata-rata nilai siswa adalah 64.7 dan 70.3, setelah dilakukan siklus ke 2 kenaikan hasil rata-rata siswa meningkat menjadi 80 dan 74. Berikut tabel perbandingan rata-rata persiklus siswa: Tabel 9 Perbandingan rata-rata persiklus Rata-rata siklus Sebelum tindakan Siklus I Siklus II Writing 65 64.7 80 Speaking 70 70.3 74


41 Atau jika ditampilkan dalam diagram adalah sebagai berikut: Gambar 2 Perbandingan metode lain, siklus I dan II 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Writing Speaking metode lain siklus 1 siklus 2


42 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan tentang metode belajar kooperatif Example Non Example dalam meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara pada siswa kelas VII-B semester 2 SMP Muhammadiyah 1 gamping kabupaten Sleman DIY. dapat disimpulkan bahwa: 1. Penerapan model pembelajaran Exampel non Example dapat meningkatkan hasil belajar writing siswa. Pada saat guru menggunakan metode pembelajaran ceramah diperoleh nilai rata-rata kelas untuk evaluasi writing adalah 65. Dan pada saat dilakukan perbaikan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Example non Example, pada siklus 1 siswa memperoleh hasil rata-rata kelas 64.7 dengan jumlah siswa 20 (56%) belum mencapai KKM,, hal ini masih wajar karena pada pertemuan siklus 1 siswa masih merasa asing dengan metode yang diberikan. Setelah dilakukan siklus 2 perolehan nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 80 dengan Jumlah siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 7 siswa (20%). 2. Penerapan model Example non Example dapat meningkatkan hasil belajar speaking siswa. Sebelum diadakan tindakan, siswa masih sulit dalam berbicara bahasa inggris, bahkan dalam menyapa dan menanyakan usia seseorang masih terdapat kesulitan yang mengharuskan guru mengajarkan secara pelan-pelan dan sabar. Jika dibandingkan dengan menggunakan metode ceramah, dimana rata-rata kelasnya adalah 70, model pembelajaran Example non Example sedikit lebih efektif dalam meningkatkan speaking siswa. Pada siklus 1, terdapat 17 belum mencapai KKM dengan nilai rata-rata kelas 70.3 kemudian setelah dilakukan refleksi pada siklus II, hanya terdapat 4 siswa ditambah 2 siswa tidak ikut evaluasi karena tidak hadir belum mencapai KKM. Pada siklus pertama siswa diminta mendiskusikan gambar beruma langkahlangkah dalam membuat kopi, dan guru masih mengalami kesulitan dalam mengelompokkan dan menjelaskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan


Click to View FlipBook Version