43 siswa. Berbagai kesalah pahaman terjadi. Dalam siklus ini terdapat 44% siswa mampu mendiskusikan gambar yang ada dengan hasil diatas 70. Serta dalam berbicara 53% siswa mampu menyampaikannya dengan baik. Pada siklus kedua, siswa masih melakukan hal yang sama yaitu mendiskusikan gambar yang telah disediakan guru kemudian mendiskusikannya dengan teman sekelompok. Dalam siklus kedua peningkatan terjadi dimana dari siklus sebelumnya terdapat 44% dan 53% siswa mampu mencapai hasil diatas 70 berubah menjadi 80% dan 83% siswa mencapai hasil lebih dari 70. B. Saran Tindak Lanjut Setelah peneliti melakukan perbaikan pembelajaran yang dilakukan di SMP Muhammadiyah 1 Gamping, saya menyarankan bagi para peneliti berikutnya atau guru agar mencoba menerapkan model pembelajaran Example non Example di kelasnya untuk mengetahui seberapa besar kontribusi model pembelajaran ini dalam meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara bahasa Inggris dengan lancar dan berterima dalam mengungkapkan makna dalam teks tulis fungsional dan essei pendek sederhana berbentuk procedure text untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Guru juga sepantasnya melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kemampuan siswa dengan melakukan perbaikan-perbaikan model pembelajaran sehingga guru yang lain atau peneliti yang lain dapat ikut serta dalam menggunakan model pembelajaran yang telah berhasil.
44 DAFTAR PUSTAKA Amri, S. S. (2013). Pengembangan & Model Pembelajaran dalam kurikulum 2013. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya. Apriani, A. d. (2010). Implementasi Model Pembelajaran Examples Non Examples. Sumedang: FKIP PGMI. IKIP PGRI. Asih, F. (2014). Kesulitan Pada Aspek-Aspek Writing Mahasiswa Dengan English Proficiency Levels Yang Berbeda. Karawang: FKIP Bahasa Inggris Universitas Singaperbangsa. Eggen, P. d. (2012). Srategi Dan Model Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Fogg, P. (2001). A History Profesor Engages Students by Giving Them A Role in the Action. Chronicle of Higher Edycation. Hairudin. (2007). Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktoratan Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Hamruni, M. P. (2009). Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani . Heaton, J. (1989). Writing English Language Test. New York: Longman Group UK. Huda, M. M. (2013). Model-model Pengajaran Dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hyland, K. (2003). Second Language Writing. London: Cambridge University Press. Jay, P. A. (1999). Teaching secondary Mathematic: Teaching and Enrichment Units. New Jersey: Prantice Hall. Kagan, S. (1990). Cooperative Learning Resources For Teachers. San Juan Capistrano, CA: Resources For Teachers. Krismanto. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi Dalam Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: PPPG Matematika. Nasional, D. P. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Roestiyah. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Slavin, R. (1989). Cooperative Learning. Theory, Research and Practice (edisi ke-2). USA: Alyn and Bacon. Suprijono, A. (2009). Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka pelajar. Syafi'i, I. (1988). Retorika dalam Menulis. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi. Depdiknas. Wulandari, F. (2011). Improving Students' Listening Ability Using Spot the Dictogloss Technique. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
45 LAMPIRAN