The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kompetensi Pekerja Sosial dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial di BalaiLoka pada Era Tatanan Baru (Husmiati, Alit Kurniasari, Ruaida Murni etc.) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by puputakromah01, 2022-10-01 10:44:08

Kompetensi Pekerja Sosial dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial di BalaiLoka pada Era Tatanan Baru (Husmiati, Alit Kurniasari, Ruaida Murni etc.) (z-lib.org)

Kompetensi Pekerja Sosial dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial di BalaiLoka pada Era Tatanan Baru (Husmiati, Alit Kurniasari, Ruaida Murni etc.) (z-lib.org)

KEMENTERIAN SOSIAL
REPUBLIK INDONESIA

817177

Kompetensi Pekerja Sosial dalam
Pelayanan Rehabilitasi Sosial di

Balai / Loka pada Era Tatanan Baru

Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial

ebe H Husmiati, dkk
Th o
e

T

LAPORAN PENELITIAN

KOMPETENSI PEKERJA SOSIAL DALAM PELAYANAN
REHABILITASI SOSIAL DI BALAI/LOKA
PADA ERA TATANAN BARU

PUSLITBANG KESOS KEMENSOS RI

BADAN PENDIDIKAN, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KESEJAHTERAAN SOSIAL
2020

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang keras memperbanyak, memfotokopi sebagian atau seluruh isi
buku ini, serta memperjualbelikannya tanpa mendapat izin tertulis dari

Penerbit

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
Kementerian Sosial RI, Jakarta
(iv, 90 hlm)

Judul Buku : Kompetensi Pekerja Sosial dalam Pelayanan
Rehabilitasi Sosial di Balai/Loka pada Era Tatanan Baru

Editor : Prof. Adi Fahrudin

Penulis : 1. Husmiati
2. Alit Kurniasari
3. Ruaida Murni
4. Setyo Sumarno
5. Delfirman

Penerbit : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan
Sosial
Cetakan I
ISBN : Oktober 2020
: 978-623-7806-08-0

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
karunia kesehatan dan curahan rahmat-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan Penelitian dengan judul “Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Memberikan Pelayanan Rehabilitasi Sosial di Balai/ Loka
Pada Masa Era New Normal” sesuai dengan waktu yang diharapkan.
Hasil penelitian ini merupakan implementasi tugas dan fungsi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial dalam
memberikan kontribusi pengetahuan dalam merumuskan kebijakan
dan program berbasis riset pada unit tehnis Kementerian Sosial RI.

Masa Pandemi Covid yang terjadi sejak awal Maret 2020 di
Indonesia, tidak memberhentikan kegiatan layanan rehabilitasi sosial
yang ada di Balai/ Loka Kementerian Sosial. Hastag #Kemensos
Hadir# yaitu Humanis, Adaptif, Dedikatif, Inklusif dan Responsif,
memiliki pesan Kemensos selalu hadir apapun kondisinya. Penerapan
kebijakan layanan rehabilitasi sosial tetap harus dilaksanakan dan
dilakukan penyesuaian kondisi yang ada dan protokol kesehatan
yang telah ditetapkan.

Khusus pelayanan di dalam Balai/Loka, Kementerian Sosial
perlu menyiapkan sarana dan prasarana yang sesuai dengan kondisi
pandemik. Sumber Daya Manusia pelaksana pelayanan juga perlu
dipersiapkan. Terutama pekerja sosial yang merupakan garda
terdepan pelayanan sosial kepada para penerima manfaat di dalam
Balai/Loka. Kompetensi bagi pekerja sosial adalah modal penting

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial i
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

untuk melaksanakan pelayanan di Balai/Loka. Kompetensi pekerja
sosial menentukan keberhasilan pelayanan sosial di era tatanan
baru, Pelayanan dan program yang bagus tanpa pekerja sosial yang
memiliki kompetensi tidak akan mencapai tujuan maksimal.

Menyadari bahwa buku ini masih memiliki kekurangan, Kami
berharap masukan yang konstruktif untuk agar lebih baik lagi.
Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang terlibat dan menyumbangkan pemikiran dalam pelaksanaan
penelitian ini sehingga bisa dirumuskan suatu rekomendasi terkait
peningkatan kompetensi pekerja sosial dalam melakukan pelayanan
rehabilitasi sosial di Balai/Loka pada era tatanan baru.

Jakarta, Agustus 2020
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial
Kepala,

Justina Dwi Noviantari

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial

ii Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

DAFTAR ISI i
iii
Kata pengantar
Daftar isi 1
1
BAB I : PENDAHULUAN 4
a. Latar Belakang 4
b. Rumusan masalah 5
c. Tujuan penelitian
d. Manfaat penelitian 7
7
BAB II: KERANGKA TEORI 12
a. Pandemi Covid-19 17
b. Pelayanan Rehabilitasi Sosial
c. Kompetensi Pekerja Sosial 31
31
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN 31
a. Metode dan Desain Penelitian 32
b. Teknik Sampel dan Lokasi Penelitian 32
c. Teknik Pengumpulan Data 33
d. Sebaran Jumlah Responden 33
e. Teknik Analisis Data 34
f. Tahapan Penelitian 34
g. Jadwal Penelitian
h. Organisasi Penelitian 35
35
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN 35
A. Hasil Penelitian
iii
1. Karakteristik Responden

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

2. Kondisi Pekerja Sosial dan Pelayanan Rehabilitasi 38
Sosial di Balai/Loka
a. Kompetensi Pekerja Sosial 38
b. Perubahan teknik pelayanan di Balai/Loka yang 40
dilakukan pekerja sosial pada masa pandemic
c. Dukungan yang diterima pekerja sosial dalam 48
melaksanakan pelayanan sosial di Balai / Loka
selama masa pandemic 58
58
3. Pendapat Fungsional Lain Terhadap Pekerja Sosial 61
a. Karakteristik Fungsional Lainnya
b. Pendapat Fungsional Lainnya Terhadap 65
Pekerja Sosial
68
4. Bentuk Dukungan Kepala Balai / Loka dan
Pejabat Structural Lain Terhadap Pekerja Sosial 74
81
5. Pendapat Penerima Manfaat Terhadap Peran 81
Pekerja Sosial 85
88
B. Pembahasan 89

BAB V: PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Rekomendasi
c. Limitasi Kajian

DAFTAR PUSTAKA

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

iv

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Wabah penyakit corona virus (COVID-19) telah dinyatakan

sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat. Virus tersebut sekarang
telah menyebar ke banyak negara dan wilayah termasuk di
Indonesia. Banyak yang masih belum diketahui tentang virus
COVID-19 ini. Kita hanya tahu bahwa itu ditularkan melalui
kontak langsung dengan tetesan (droplet) pernapasan dari
orang yang terinfeksi (dihasilkan melalui batuk dan bersin).
Individu juga dapat terinfeksi dari menyentuh permukaan yang
terkontaminasi dengan virus yang menyentuh wajah mereka
(misalnya, mata, hidung, mulut). Sementara COVID-19 terus
menyebar, adalah penting bahwa masyarakat harus mengambil
tindakan untuk mencegah penularan lebih lanjut, mengurangi
dampak wabah dan mendukung langkah-langkah pengendalian.

Pandemi merupakan sebuah proses dan melalui beberapa
tahapan. Begitu pula dengan pandemi Covid-19 terdiri dari
beberapa tahap. Fahrudin (2020) misalnya menganalisis tahapan
pandemic ke dalam fase yang dibagi atas empat tahap yaitu;
(1) tahap Early Pandemic, (2) Peak Pandemic, (3) Post Peak
Pandemic dan (4) Post Pandemic. Jika melihat kondisi yang ada
pada saat penelitian ini dijalankan kita masih berada di tahap Peak
Pandemic karena nyatanya angka penularan Covid-19 semakin

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 1
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

meningkat dari hari ke hari. Pembahasan tahap pandemic ini
berkaitan dengan reaksi seseorang yang mengalami situasi
pandemic. Goenawan (2020) mengatakan seseorang pada masa
pandemic mengalami (1) tahap disrupsi, (2) tahap kebingunan
dan ketidak pastian, (3) tahap penerimaan. Dan saat ini beberapa
wilayah di Indonesia telah mendeklarasikan sebagai masuk pada
era tatanan baru yang disebut masa transisi atau menuju New
Normal, tetapi ada juga wilayah yang belum atau sedang bersiap
dengan fase ini.

Pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
untuk mengurangi penyebaran Covid-19 beberapa waktu lalu
juga berimbas pada sebagian besar Balai / Loka Rehabilitasi
Sosial milik pemerintah khususnya milik Kementerian Sosial.
Balai/Loka mengambil kebijakan mengembalikan penerima
manfaat kepada keluarganya. Hanya penerima manfaat yang
benar-benar terlantar dan tidak memiliki sanak saudara yang tetap
tinggal didalam Balai/Loka. Manakala bagi pegawai Balai/Loka
pula diberlakukan kebijakan secara berganti-ganti antara Work
From Home (WFH) dan Work From Office (WFO). Kebijakan
ini diberlakukan guna meminimalisir terpapar ataupun tertular
virus Covid-19.

Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah khususnya
Kementerian Sosial ini adalah untuk melindungi penerima
manfaat, dan juga untuk melindungi pegawai Balai/Loka dari
terpapar virus Covid 19. Kesehatan fisik dan mental seseorang

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial

2 Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

pada masa pandemi Covid-19 perlu jadi perhatian. Apabila tidak,
maka akan dapat berdampak pada memburuknya relasi dengan
sesama, seperti hubungan pekerja sosial dengan penerima
manfaat maupun dengan rekan kerja. Kesehatan fisik pekerja
sosial harus didukung dengan pola hidup yang sehat, menjaga
kesehatan mental agar pekerja sosial tidak mengalami depresi
atau ketakutan saat akan melakukan pelayanan pada penerima
manfaat.

Saat ini Pekerja Sosial di Balai/Loka Sosial harus kembali
bertugas memberikan pelayanan kepada penerima manfaat. Kali
ini situasinya sudah berbeda dengan sebelum adanya pandemic,
ada situasi baru yang harus dipahami dan diikuti oleh para petugas.
Memasuki era tatanan baru menjadi tantangan bagi Balai/Loka
yang harus menyesuaikan dan mengadaptasi layanan rehabilitasi
sosial secara optimal dengan tata kelola yang berbeda dan
baru. Agar kebutuhan para penerima manfaat terlayani, proses
rehabilitasi sosial berjalan baik, maka petugas harus memiliki
kompetensi yang baik. Kompetensi pekerja sosial mencakup
pengetahuan, keterampilan dan nilai. Persoalannya apakah
keterampilan pekerja sosial selaras dengan kebutuhan pada
masa pandemic. Selain itu kesiapan lembaga dalam memberikan
pelayanan kepada penerima manfaat dan dukungan lembaga
kepada pekerja sosial agar bisa meningkatkan kompetensinya.

Kompetensi bagi pekerja sosial adalah modal penting untuk
melaksanakan pelayanan di Balai/Loka. Pelayanan dan program

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 3
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

yang bagus tanpa pekerja sosial yang memiliki kompetensi maka
tidak akan mencapai tujuan maksimal. Kompetensi pekerja sosial
adalah penting untuk menentukan keberhasilan pelayanan sosial
di era tatanan baru.

Berdasarkan pemikiran diatas, maka Pusat Penelitian dan
Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbang Kesos)
Kementerian Sosial memandang perlu untuk melaksanakan
penelitian terkait kompetensi pekerja sosial dalam memberikan
layanan rehabilitasi sosial di dalam Balai/Loka di era tatanan
baru atau era new normal ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka pertanyaan penelitian yang
sebagai berikut:
1. Bagaimana kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan nilai)
pekerja sosial dalam memberikan pelayanan
2. Bagaimana bentuk pelayanan rehabilitasi sosial di dalam Balai/
Loka pada era tatanan baru
3. Apakah faktor pendukung dan penghambat pelayanan
rehabilitasi sosial di dalam Balai/Loka.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui dan menganalisis kompetensi pekerja sosial dalam
memberikan pelayanan rehabilitasi sosial pada era tatanan baru.
a. Pengetahuan
Pengetahuan yang berhubungan dengan peraturan, prosedur,

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial

4 Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

proses, teknik yang harus digunakan dalam memberikan
pelayanan rehabilitasi sosial di era tatanan baru
b. Keterampilan
Kemampuan menggunakan teknik-teknik yang tepat dalam
praktik pekerjaan sosial dan juga saat berkomunikasi dengan
penerima manfaat, keluarga, lingkungan sosial, maupun
stake holder.
c. Nilai
Menghargai harkat dan martabat orang lain, menghargai
perbedaan, memahami etika pekerjaan sosial, memiliki
semangat kerja yang tinggi, loyalitas dan mencintai profesi.
2. Mengetahui dan menganalisis bentuk pelayanan rehabilitasi
sosial di dalam Balai/Loka pada era tatanan baru
3. Mengetahui dan menganalisis faktor pendukung dan
penghambat dalam melaksanakan pelayanan rehabilitasi sosial
kepada Penerima Manfaat

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu

bahan masukan bagi pembuatan kebijakan baik ditataran Pusat
(Kementerian Sosial cq Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial)
maupun Daerah (Balai/Loka), terkait kompetensi pekerja sosial
dalam memberikan pelayanan rehabilitasi sosial pada era tatanan
baru (New Normal).

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 5
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial

6 Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

BAB II
KERANGKA TEORI

A. Pandemi Covid-19
Pada Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

menyatakan bahwa wabah penyakit virus corona baru yang
terjadi di Provinsi Hubei, Cina sebagai Darurat Kesehatan
Masyarakat yang merupakan Keprihatinan Internasional. Dua
bulan kemudian, pada 11 Maret 2020, WHO menyatakan wabah
virus Corona COVID-19 sebagai pandemi. Penyakit virus corona
(COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
virus corona yang baru ditemukan dan dikenal sebagai sindrom
pernapasan akut parah virus corona 2 (SARS-CoV-2). Kasus
manusia pertama COVID-19 diidentifikasi di Kota Wuhan, Cina
pada Desember 2019 (WHO, 2020d). Setiap epidemi bersifat
unik dalam berbagai hal. Patogen (penyakit) infeksi bervariasi
secara signifikan dalam tingkat keparahan, kematian, modalitas
penularan, diagnostik, perawatan dan manajemen. Mengenai
distribusi geografis, epidemi dapat terkonsentrasi atau tersebar
luas di tingkat lokal, nasional atau antar-benua. Epidemi
dapat memengaruhi beberapa kelompok rentan atau beberapa
komunitas, atau dapat juga memengaruhi populasi secara
keseluruhan menjadi suatu pandemic.

Secara umum, risiko di tempat kerja adalah kombinasi
dari kemungkinan terjadinya suatu peristiwa berbahaya dan

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 7
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

tingkat keparahan cedera atau kerusakan pada kesehatan orang
yang disebabkan oleh peristiwa tersebut (ILO, 2001). Oleh
karena itu penilaian risiko penularan di tempat kerja harus
mempertimbangkan: Probabilitas terkena penularan, dengan
mempertimbangkan karakteristik penyakit menular (yaitu, pola
penularan) dan kemungkinan bahwa pekerja dapat bertemu dengan
orang yang menulari atau mungkin terpapar dengan lingkungan
atau bahan yang terkontaminasi (misalnya, sampel laboratorium,
limbah) selama mereka bertugas. Keparahan dampak kesehatan
yang dihasilkan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang
memengaruhi individu (termasuk usia, penyakit yang sudah
diderita dan kondisi kesehatan), serta langkahlangkah yang
tersedia untuk mengendalikan dampak infeksi.

Dimasa pandemi ini tiap orang akan mengalami fase-fase
perubahan perilaku yang cukup berarti seperti pada tahap-tahap
sebagai berikut:
1. Tahap disrupsi

Pada tahap ini, seseorang akan mengalami perubahan pola
hidup, perubahan rutinitas sehari-hari, hilangnya kebebasan
karena harus hidup dalam karantina atau di rumah saja dan
tidak bepergian. Berbagai informasi yang beredar membuat
hidup semakin mencekam. Tidak sedikit yang mengalami
kecemasan tinggi karena khawatir tertular, sulit konsentrasi,
yang kemudian diikuti oleh perubahan pola makan dan
pola tidur. Penyakit kronis yang sudah lama dialami mulai

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial

8 Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

kembali dirasakan, termasuk gangguan-gangguan psikis yang
sebelumnya pernah dialami.
2. Tahap kebingungan dan ketidakpastian
Pada tahap ini seseorang akan merasa kelelahan secara mental
karena merasa tidak adanya kepastian, kehilangan kendali, dan
terhentinya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari. Kualitas hidup dengan sendirinya menurun,
berbagai hal yang biasa dengan mudah terpenuhi, saat ini
menjadi mustahil. Di samping daya beli yang menurun
drastis, ketersediaan barang juga menjadi langka. Semua
rencana yang sebelumnya terasa sangat mudah dan bisa
digapai dalam waktu yang terukur, kini hanya menjadi angan
angan belaka. Kehidupan berjalan lambat, penuh kejenuhan,
dan kekhawatiran. Situasi kecemasan ini dapat meningkatkan
konsumsi rokok, alkohol, dan penyalahgunaan obat yang
mungkin pada awalnya dimaksudkan untuk meringankan
beban pikiran. Atau tidak mustahil menjadi pencetus
ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
3. Tahap penerimaan (dengan situasi normal yang baru)
Padasaatseseorangtelahberhasilmelampauitahapsebelumnya,
maka timbul sikap penerimaan tanpa syarat terhadap kondisi
yang ada, dengan diikuti oleh berbagai perubahan dalam
pola hidup dan kebiasaan. Kemampuan adaptasi seseorang
membuatnya mampu untuk mengembangkan kebiasaan
kebiasaan baru dan menjadikan kehidupan dengan cara yang

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 9
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

lebih realistis terhadap situasi yang sebelumnya dianggap
sebagai disrupsi pada semua aspek kehidupannya. “Setelah
melewati tahap penerimaan dalam menghadapi pandemi,
maka Seseorang mulai terbiasa dengan kondisi the new
normal. Pada tahap ini diharapkan Seseorang sepenuhnya
tidak lagi merasa terganggu, bahkan sudah mulai nyaman
dengan semua perubahan yang berhubungan dengan adanya
pandemi.
Menurut WHO pandemi Covid mempunyai tahapan yaitu
ke dalam tiga periode yaitu inter pandemic period, pandemic
alert period dan pandemic period. Inter pandemic period Fase
1: tidak ada subtipe virus influenza baru yang terdetesi pada
manusia. Fase 2: tidak ada subtipe virus influenza baru yang
terdeteksi pada manusia, tetapi ada penyakit hewan yang
mengancam manusia. Pandemic alert period Fase 3: infeksi
manusia dengan subtipe baru tetapi tidak menyebar dari
manusia ke manusia. Fase 4: kelompok kecil dengan transmisi
manusia ke manusia yang terbatas. Fase 5: klaster yang lebih
besar tetapi penyebaran antar manusia masih terlokalisir.
Pandemic period Fase 6 Pandemi: penularan meningkat dan
berkelanjutan pada populasi umum (Arum, 2020).
Sedangkan menurut Fahrudin (2020), fase pandemic dibagi
menjadi empat fase, yaitu early pandemic, peak pandemic,
post peak pandemic dan post pandemic. Antara fase satu
ke fase berikutnya ada masa transisi yang masing-masing

10 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

memiliki karakteristik. Saat ini Indonesia memasuki fase
transisi dari early pandemic ke fase peak pandemic. Pada fase
transisi inilah yang disebut dengan beberapa istilah seperti
New Normal, PSBB Transisi, masa adaptasi, tatanan baru
beradaptasi, dan lain-lain. Fase ini dinyatakan transisi karena
pandemic tidak ketahui kapan akan berakhir. Diawal pandemic
(early pandemic) pemerintah terpaksa mengeluarkan
kebijakan untuk masyarakat melakukan kegiatan dari rumah
(stay at home). Sekolah dari rumah, bekerja dari rumah,
bahkan kegiatan perekonomian menjadi lumpuh karena pasar
dan pusat-pusat perdagangan ditutup, banyak sector swasta
yang kolaps dan banyak pekerjanya yang di PHK. Pemerintah
kemudian mengeluarkan kebijakan untuk kembali melakukaan
membuka kegiatan perekonomian dengan menerapkan pola
kebiasaan baru atau dikenal dengan istilah new normal. Untuk
menyesuaikan dengan kondisi saat ini, dalam penelitian ini
kami menggunakan istilah era tatanan baru.
Era tatanan baru (New normal) adalah masa dimana diperlukan
adanya perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas
normal namun dengan ditambah menerapkan protokol
kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.
Prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat
menyesuaikan dengan pola hidup. Secara sosial kita pasti
akan mengalami sesuatu bentuk new normal atau kita harus
beradaptasi dengan beraktivitas, dan bekerja, dan tentunya

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 11
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan
menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah.
Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku
baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke
depannya sampai tertemukannya vaksin untuk Covid-19
(Dandi BB, 2020)

B. Pelayanan Rehabilitasi Sosial
Rehabilitasi berasal dari dua kata,yaitu re yang berarti kembali

dan habilitasi yang berarti kemampuan. Menurut arti katanya,
rehabilitasi berarti mengembalikan kemampuan. Rehabilitasi
adalah proses perbaikan yang ditujukan pada penderita cacat
agar mereka cakap berbuat untuk memiliki seoptimal mungkin
kegunaan jasmani, rohani, sosial, pekerjaan dan ekonomi.
Rehabilitasi didefinisikan sebagai satu program holistik dan
terpadu atas intervensi-intervensi medis, fisik, psikososial, dan
vokasional yang memberdayakan seorang (individu penyandang
cacat) untuk meraih pencapaian pribadi, kebermaknaan sosial,
dan interaksi efektif yang fungsional dengan dunia” (Banja,1990).
Sedangkan menurut pasal 1 ayat 5 undang-undang No 14
Tahun 2019, Rehabilitasi sosial adalah proses refungsionalisasi
dan pengembangan untuk memungkinkan seseorang mampu
melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan
masyarakat.

Rehabilitasi merupakan pemulihan kesehatan jiwa & raga
yang ditunjukan kepada para pecandu narkoba yang telah
menjalani program kuratif. Adapun tujuannya yakni supaya

12 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

pecandu tidak memakai lagi dan bebas dari penyakit seperti
kerusakan fisik (syaraf, otak, paru-paru, ginjal, hati dan lain
lain), rusaknya mental, perubahan karakter dari positif kearah
yang negatif, anti sosial, penyakit-penyakit ikutan seperti HIV/
AIDS, Hepatitis, sifilis, dan yang lainnya yang karenakan bekas
pemakaian narkoba (Subagyo, 2006)

Rehabilitasi dapat didefinisikan sebagai proses membantu
individu yang memiliki gangguan fisik atau mental untuk
berpartisipasi dalam masyarakat sejauh kemampuannya
sepenuhnya. Hal ini sering digambarkan sebagai fase keempat
dari praktik medis, yang lain adalah pencegahan, diagnosis, dan
perawatan. Pada umumnya rehabilitasi medis menunjuk “fase
perawatan di mana pasien dibantu menuju peran independen
dalam masyarakat yang kompetitif. Rehabilitasi mengikuti
program medis kuratif dan restoratif dan periode pemulihan.
Rehabilitasi berusaha untuk mengatasi dan mengimbangi cacat
fisik yang ada dan untuk hambatan emosional yang mencegah
pasien melakukan yang terbaik. Penekanan utama adalah pada
kemandirian pekerjaan (Braceland, 1966).

Rehabilitasi merupakan upaya yang ditujukan untuk
mengitegrasikan kembali seseorang ke dalam kehidupan
masyarakat dengan cara membantu menyesuaikan diri dengan
keluarga, masyarakat dan pekerjaan. Seseorang dapat berintegrasi
dengan masyarakat apabila memiliki kemampuan fisik,mental dan
sosial serta diberikan kesempatan untuk berpartisipasi. Misalnya
seseorang mengalami permasalahan sosial seperti gelandangan

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 13
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

atau pengemis, maka mereka akan dicoba untuk dikembalikan
kedalam keadaan sosial yang normal seperti orang pada
umumnya. Mereka diberi pelatihan atau keterampilan sehingga
mereka tidak kembali lagi menjadi gelandangan atau pengemis
dan bisa mencari nafkah dari keterampilan yang dimiliki.

Saat ini telah banyak Lembaga pelayanan sosial milik
pemerintah daerah maupun milik masyarakat yang biasa disebut
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Lembaga sosial yang ada
sekarang banyak menampung berbagai orang yang mengalami
gangguan sosial seperti lembaga rehabilitasi sosial anak jalanan,
gelandangan dan pengemis, tuna susila, penyandang disabillitas,
lanjutusia,anak terlantaratauanakyangmemerlukanperlindungan
khusus, dan lain-lain.

Rehabilitasi sosial mempunyai beberapa tujuan, diantaranya
untuk memulihkan kembali rasa harga diri, percaya diri,
kesadaran serta tanggung jawab terhadap masa depan diri,
keluarga maupun masyarakat atau lingkungan sosialnya. Selain
itu tujuan rehabilitasi sosial adalah untuk memulihkan kembali
kemauan dan kemampuan untuk dapat melaksanakan fungsi
sosialnya secara wajar. Rehabilitasi sosial mempunyai beberapa
fungsi, diantaranya untuk:
1. Pelaksanaan kebijakan teknis penyelenggaraan rehabilitasi

sosialbagibalita, anak dan lanjut usia terlantar, serta rehabilitasi
sosial bagi anak nakal, korban napza, penyandang cacat dan
tuna sosial.

14 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

2. Penyusunan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi sosial bagi
balita, anak dan lanjut usia terlantar, serta rehabilitasi sosial
bagi anak nakal, korban napza, penyandang cacat dan tuna
sosial.

3. Pemberian bimbingan teknis penyelenggaraan rehabilitasi
sosial bagi balita, anak dan lanjut usia terlantar, serta rehabilitasi
sosial bagi anak nakal, korban napza, penyandang cacat dan
tuna sosial.

4. Pelaksanaan koordinasi teknis penyelenggaraan rehabilitasi
sosial bagi balita, anak dan lanjut usia terlantar, serta
rehabilitasi sosial bagi anak nakal, korban napza, penyandang
cacat dan tuna sosial.

5. Pengawasan penyelenggaraan rehabilitasi sosial bagi anak
nakal, korban napza, penyandang cacat dan tuna sosial.

Dalam rehabilitasi sosial terdapat tiga model pelayanan yang
diberikan kepada klien, yaitu sebagai berikut:

1. Institutional Based Rehabilitation (IBR), suatu sistem
pelayanan rehabilitasi sosial dengan menempatkan penyandang
masalah dalam suatu institusi tertentu.

2. Extra-institusional Based Rehabilitation, suatu sistem
pelayanan dengan menempatkan penyandang masalah pada
keluarga dan masyarakat.

3. Community Based Rehabilitation (CBR), suatu model
tindakan yang dilakukan pada tingkatan masyarakat dengan
membangkitkan kesadaran masyarakat dengan menggunakan
sumber daya dan potensi yang dimilikinya.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 15
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Di masa pandemic layanan rehabilitasi sosial di dalam Balai/
Loka sebagian besar tidak dilaksanakan. Penerima manfaat
dikembalikan pada keluarganya masing-masing. Hanya Penerima
Manfaat yang tidak memiliki keluarga yang masih tetap bertahan
didalam Balai/Loka. Sedangkan saat ini Pembatasan Sosial
Berskala Besar (PSBB) baru saja dibuka, dan berganti menjadi
tahapan PSBB Transisi atau memasuki era tatanan baru. Beberapa
Balai/Loka sudah mulai menerima penerima manfaat dengan pola
layanan yang sedikit berbeda.

Menghadapi era tatanan baru semua perangkat di dalam
Balai/Loka harus dapat menyesuaikan situasi dan kondisi yang
ada. Kesiapan sumber daya manusia, sarana prasarana sangat
penting. Sumber daya manusia termasuk pekerja sosial, psikolog,
instruktur dan tenaga fungsional maupun pendukung lainnya harus
siap dengan pola layanan baru. Petugas harus bisa meningkatkan
kompetensi pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Kesiapan
fisik maupun mental juga harus diperhatikan. Siap secara fisik
artinya fisik harus sehat, daya tahan imun dalam kondisi baik. Siap
secara mental artinya melakukan layanan tidak dalam kondisi
cemas, ketakutan, galau. Pekerja sosial berhadapan dengan
Penerima Manfaat harus siap pengetahuannya tentang Covid,
sehingga pekerjaan yang dilakukannya lancar.

16 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

C. Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam literature kontemporer pekerjaan sosial dan beberapa

bidang pekerjaan lain, perkataan competence dan competency
selalu digunakan secara berganti ganti, dalam bentuk plural
dan singular (Fahrudin, 2019). Perkataan ‘competency’ bukan
sesuatu yang baru, istilah ini telah digunakan pada kurang lebih
awal tahun 1594, tetapi dengan pengertian berbeda dari yang
sekarang (Ford, 1996). Di British, dalam konteks pelatihan
berbasis kompetensi oleh The National Vocational Qualification
(NVC), kompetensi (competence) diartikan sebagai “the ability
to perform activities within an occupation (Fletcher, 1991) yaitu
kemampuan untuk melakukan aktivitas berkaitan dengan suatu
pekerjaan. Dalam konteks pekerjaan sosial, pengertian yanglebih
detail dikemukakan oleh Cooper (1992) sebagai: A competence
comprises the specification of knowledge and skill, and the
application of that knowledge and skill, within an occupation or
industry to the standard of performance required in employment
(hal. 9)

Zofia Butrym (1976) menggagas model pendidikan pekerjaan
sosial berbasis kompetensi menjelaskan bahwa praktek pekerjaan
sosial merupakan percampuran yang unik (a unique amalgam)
dari pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan nilai-nilai. Hal
yang sama diungkapkan oleh Balgopal (1993) dengan menyebut
kompetensi pekerja sosial abad 21 harus merangkumi tiga aspek
yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Oleh sebab itu dalam
pendidikan dan pelatihan profesional pekerjaan sosial, harusnya

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 17
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

kualifikasi dan kompetensi pekerja sosial yang dihasilkan
tercermin dari kompetensi pekerja sosial dalam hal pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai. Berdasarkan hal tersebut formula
kompetensi pekerjaan sosial adalah sebagai berikut:

Knowledge + Skill + Values = Competences

Oleh sebab itu pengertian kompetensi sebagaimana yang
dikemukakan oleh Cooper (1992) yang menjelaskan dua elemen
yaitu pengetahuan dan keterampilan kurang sesuai dalam konteks
pekerjaan sosial. Hal ini karena dalam pekerjaan sosial terdapat
satu komponen lagi yaitu nilai. Persoalannya tentu bagaimana
mengukur kompetensi nilai dengan ukuran-ukuran yang jelas.
Hal ini karena orang awam sering melihat ukuran sesuatu
terletak pada apa yang orang dapat lakukan (outcome) daripada
bagaimana mereka melakukan (process).

Dalam Undang Undang Nomor. 11 tahun 2009 tentang
kesejahteraan sosial, menyatakan bahwa yang disebut Pekerja
Sosial Profesional adalah seseorang yang bekerja, baik di lembaga
pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi
pekerjaan sosial. Selain itu juga memiliki kepedulian sosial yang
diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan atau pengalaman
praktik pekerjaan sosial. Singkatnya adalah untuk melaksanakan
tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial.
Ditegaskan juga dalam Undang Undang no 14 tahun 2019, bahwa

18 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Praktik Pekerjaan Sosial adalah penyelenggaraan pertolongan
profesional yang terencana, terpadu, berkesinambungan dan
tersupervisi untuk mencegah disfungsi sosial, serta rnemulihkan
dan meningkatkan keberfungsian sosial individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat. Sedangkan Pekerja Sosial adalah
seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai
praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan ‘sertifikat
kompetensi.

Pekerja sosial professional dalam melaksanakan tugasnya
dituntut memiliki kompetensi yang legal (Fahrudin,2017).
Sebagai dasar pengakuan atas etika praktiknya. Dimasa sebelum
pandemic Covid-19 pekerja sosial telah memiliki aturan baku
dalam melakukan intervensi layanan kepada penerima manfaat.
Dimasa pandemic apalagi dimasa transisisi atau di era tananan
baru tentunya akan berbeda dengan model atau cara praktik
pelayanan dengan penerima manfaat. Protokol kesehatan yang
telah ditetapkan WHO dan pemerintah harus dipatuhi. Jaga
jarak dan menggunakan pelindung diri wajib dipatuhi. Tentunya
di awal akan mengalami kesulitan dapam beradapatasi di era
tatanan baru ini. Apalagi menghadapi penerima manfaat yang
tadinya diperlukan sesi konseling, sesi assessment yang tidak
memikirkan jarak, sekarang harus menjaga jarak, bahkan tidak
boleh melakukan sentuhan-sentuhan penyemangat. Lebih
ketatnya lagi diperlukan media untuk melakukan intervensi
dengan penerima manfaat.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 19
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Kondisi era tatanan baru pandemic Covid-19 menuntut
pekerja sosial memiliki pengetahuan yang lengkap tentang
Covid-19 dan cara-cara melakukan intervensi sosial yang tepat.
Tentunya disesuaikan dengan seting pelayanan. Disesuaikan
dengan karakteristik penerima manfaat. Pekerja sosial memiliki
tugas dan tanggung jawabnya sendiri dimasa pandemic.
Melanjutkan memberikan pelayanan di dalam Balai/Loka
meskipun harus dengan menerapkan protocol Kesehatan.
Pekerja sosial harus dapat memanfaatkan sambungan internet
/ video / media sosial untuk mengurangi isolasi dan tetap
terhubung. Menjaga akses ke layanan, terutama akses yang perlu
pelayanan langsung. Selain itu melakukan rujukan, terutama
layanan kesehatan bila ada penerima manfaat yang perlu
penanganan kesehatan. Memberikan dukungan kepada mereka
yang mengalami masalah emosional seperti rasa takut, cemas
akan tertular wabah covid dan membantu penerima manfaat
untuk mengidentifikasi bagaimana menjaga diri mereka tetap
aman, terutama dalam masa pandemic Covid-19. Pekerja sosial
harus juga menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka sendiri.
Menerjemahkan kebijakan pemerintah kepada orang lain dalam
bahasa yang mudah dimengerti. Mendukung para penerima
manfaat untuk mengakses menu yang sehat dan kebutuhan
lainnya. Jika diperlu membantu penerima manfaat mengakses
fasilitas pengujian Covid-19. Selain itu dituntut memiliki sikap
yang baik, penuh semangat dan menghormati orang lain.

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

20

Dampak akibat wabah pandemik COVID-19 bersifat multi
dimensional, tidak hanya pada aspek kesehatan, melainkan pada
aspek sosial. Pekerja sosial menurut UU Nomor 14 Tahun 2019
adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan,
dan nilai praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan
sertifikat kompetensi. Pekerja sosial melalukan penyelenggaraan
pertolongan professional terencana, terpadu, berkesimbangunan
dan tersupervisi untuk mencegah disfungsi sosial, serta
memulihkan dan meningkatkan keberfungsian sosial individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat, khusus dalam konteks ini
adalah masyarakat yang terkena dampak langsung maupun tidak
langsung wabah pandemik COVID-19.

Standar praktik pekerjaan sosial yang dapat dilakukan
dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar di antaranya
dengan mengurangi kunjungan langsung (Home Visit) dengan
memaksimalkan teknologi. Fokus pelayanan sosial yang bisa
diberikan para pekerja sosial, khususnya dalam area kesehatan
jiwa dan advokasi pelayanan sosial (pekerja informal, keluarga
miskin, anak, penyandang disabilitas, lanjut usia) adalah
dengan mengedepankan asas perlindungan hak asasi manusia
korban COVID-19 serta kelompok masyarakat yang terdampak
melalui relationship-based practice. Perangkat teknologi digital
dimaksimalkan dalam melakukan kontak, assesmen, serta review
korban/masyarakat terjangkit COVID-19. Pekerja sosial harus
mampu memahami metode intervensi pekerjaan sosial dalam
jaringan (online); menggunakan system asistensi sosial secara

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 21
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

online, konseling/layanan dukungan psikososial online, video
konseling, memahamikode etik praktik pekerjaan sosial,advokasi
pelayanan sosial, relationship-based practice, serta memahami
legislasi serta regulasi penanganan COVID-19 terkini.

Berdasar kepada kerangka kerja professional, pekerja
sosial menjalankan prinsip dasar praktik pekerjaan sosial
online seperti prosedur praktik secara offline; mengedepankan
confidentiality, informed consent sebelum melakukan intervensi
atau memberitahukan penggunaan informasi personal dengan
menghormati privasi.Kemudian pekerja sosial harus menanyakan
dan mendiskusikan layanan sosial apa dalam jaringan dan
perangkat digital yang telah atau memungkinkan digunakan oleh
penerima manfaat untuk berpartisipasi. Kondisi ini juga harus
mempertimbangkan bahwa ada risiko yang mungkin timbul dari
penggunaan layanan sosial dalam jaringan, potensi ini harus
mampu diidentifikasi. Sebagai contoh, beberapa orang dewasa
mengalami kesulitan dalam beradaptasi, mengenali kemungkinan
perkembangan hidup yang tidak diinginkan dan risiko eksploitasi
fisik atau keuangan.

Pekerja sosial harus mempertimbangkan risiko dan
kemungkinan ini dalam identifikasi faktor perlindungan sosial
yang disusun untuk memberikan manfaat kepada mereka. Ketika
risiko mampu diidentifikasi, pekerja sosial lalu memastikan
rencana pelayanan yang disusun telah mencakup unsur
perlindungan sosial. Contoh lainnya, seorang dewasa yang ingin
keluar dari gangguan kesehatan mental/stress bisa menggunakan

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

22

layanan konseling dalam jaringan yang lebih lama dibanding
orang-orang yang lain, hal ini dikarenakan dia ingin memastikan
seluruh permasalahan sosialnya mampu diindentifikasi dan
diselesaikan. Rencana pelayanan yang sesuai dapat memastikan
bahwa layanan sosial dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan
masyarakat (proporsional), baik dalam ruang lingkup individu,
keluarga, maupun komunitas (BASW, 2020).

Dalam layanan sosial online, pekerja sosial harus mengerti
pula bagaimana cara menggunakan teknologi digital untuk
melindungi masyarakat dari bahaya. Beberapa teknologi digital
yang digunakan dalam memberikan layanan sosial kepada PPKS,
seperti dalam kasus anggota keluarga yang hilang dari rumah yang
mengharuskan pekerja sosial untuk bertukar informasi dengan
profesional yang lain, atau merujuk pihak yang bersangkutan
untuk langsung menghubungi pusat layanan layanan publik/
pusat kesejahteraan sosial (puskesos) yang mampu merespon
masalah secara cepat seperti dalam respon kasus orang yang
sedang mengalami ancaman kekerasan dalam rumah tangga
(Wilkins and Boahen, 2013).

Legislasi dan regulasi yang mengatur peran dan tanggung
jawab antara pekerja sosial dan masyarakat atau PPKS,
diantaranya keamanan data dan penggunaan informasi, serta hak
dari orang tersebut untuk mengakses data dirinya yang dimiliki
oleh organisasi/institusi tertentu. Pekerja sosial bermain peran
sentral dalam hal ini dikarenakan sebagai seorang pegawai/
pekerja, orang tersebut adalah bagian dari organisasi/institusi

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 23
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

yang mempekerjakan mereka. Dalam aktvitas profesional
keseharian, pekerja sosial akan melakukan analisa data dari
orang-orang yang memerlukan layanan sosial. Hal ini tentu
memiliki konsekuensi dan tanggung jawab dari aspek legal.
Pekerja sosial adalah profesi yang didasarkan pada nilai-nilai,
pekerja sosial dapat melakukan advokasi dan mendukung orang
orang yang mengalami disfungsi sosial dalam menjalankan hak
asasinya melalui teknologi digital. Implikasinya, pekerja sosial
harus mengerti dan memahami hukum hak asasi manusia yang
terkait dengan tekonologi digital (Smith, et al, 2019)

Menurut Hornby (1982) kompetensi adalah orang yang
memiliki kesanggupan, kekuasaan, kewenangan, keterampilan,
serta pengetahuan untuk melakukan apa yang diperlukan
(competence is person having ability, power, authority, skill,
knowledge to do what is needed). Sedangkan Sahertian
(1990) melihat bahwa kompetensi adalah kemampuan untuk
melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan
latihan. Dalam hal ini seseorang harus terlebih dahulu melewati
proses pendidikan dan latihan untuk memiliki kompetensi
tertentu. Artinya, ada pemenuhan kualifikasi akademik tertentu
dan keikutsertaan dalam latihan-latihan memungkinkan seseorang
memiliki kompetensi tertentu untuk menjalankan tugas tertentu
atau kelayakan untuk menduduki suatu profesi.

Menurut Wibowo (2007) kompetensi adalah suatu
kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan
atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta

24 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut.
Dengan demikian, kompetensi menunjukkan keterampilan
atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam
suatu bidang tertentu sebagai sesuatu yang terpenting, sebagai
unggulan bidang tertentu, dengan indikatornya adalah (a).
Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan yang berkaitan dengan
pekerjaan meliputi mengetahui dan memahami pengetahuan
dibidang masing-masing. Mengetahui pengetahuan yang
berhubungan dengan peraturan, prosedur, teknik yang baru dalam
pelayanan rehabilitasi sosial. (b). Keterampilan (Skill) meliputi
kemampuan dalam berkomunikasi dengan baik secara tulisan
dan kemampuan berkomunikasi dengan jelas secara lisan. (c)
Sikap (Attitude) Sikap individu, meliputi memiliki kemampuan
dalam berkomunikasi dalam berkreativitas dalam bekerja dan
adanya semangat kerja yang tinggi.

Sedangkan menurut Veithzal (2003) menyebutkan,
kompetensi adalah kecakapan, keterampilan, dan kemampuan.
Kompetensi mengacu kepada atribut/ karakteristik seseorang
yang membuatnya berhasil dalampekerjaannya.Menurut Djaman
satori (2007) menyebutkan kompetensi berasal dari bahasa
inggris competency yang berarti kecakapan, kemampuan dan
wewenang. Jadi kompetensi adalah performan yang mengarah
pada pencapaian tujuan secara tuntas menuju kondisi yang
diinginkannya. Moh. Uzer Usman (2006) menyebutkan bahwa
seseorang disebut kompeten apabila telah memiliki kecakapan
bekerja pada bidang tertentu. Dari hal ini maka kompetensi juga

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 25
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

diartikan sebagai suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau
kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif.

Wibowo (2007) menjelaskan ada beberapa tipe kompetensi
yang dapat dijelaskan sebagai berikut : (1). Planning competency,
dikaitkan dengan tindakan tertentu seperti menetapkan tujuan,
menilai resiko dan mengembangkan urutan tindakan untuk
mencapai tujuan. (2). Influence competency, dikaitkan dengan
tindakan seperti mempunyai dampak pada orang lain, memaksa
melakukan tindakan tertentu atau membuat keputusan tertentu,
dan memberi inspirasi untuk bekerja menuju tujuan organisasi.
(3). Communication competency, dalam bentuk kemampuan
berbicara, mendengarkan orang lain, komunikasi tertulis dan
nonverbal. (4). Interpersonal competency, meliputi, empati,
membangun konsensus, networking, persuasi, negosiasi,
diplomasi, manajemen konflik, menghargai orang lain, dan
jadi team player. (5). Thinking competency, berkenaan dengan,
berpikir strategis, berpikir analitis, berkomitmen terhadap
tindakan, memerlukan kemampuan kognitif, mengidentifikasi
mata rantai dan membangkitkan gagasan kreatif. (6).
Organizational competency, meliputi kemampuan merencanakan
pekerjaan, mengorganisasi sumber daya mendapatkan pekerjaan
dilakukan, mengukur kemampuan, dan mengambil resiko yang
diperhitungkan. (7). Human resouces management competency,
merupakan kemampuan dalam bidang, team building, mendorong
partisipasi, mengembangkan bakat, mengusahakan umpan

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

26

balik kinerja, dan menghargai keberagaman. (8). Leadership
competency, merupakan kompetensi meliputi kecakapan
memosisikan diri, pengembangan organisasional, mengelola
transisi, orientasi strategis, membangun visi, merencanakan masa
depan, menguasai perubahan dan melopori kesehatan tempat
kerja. (9). Client service competency, merupakan kompetensi
berupa : mengidentifikasi dan menganalisis pelanggan,
orientasi pelayanan dan pengiriman, bekerja dengan pelanggan,
tindak lanjut dengan pelanggan, membangun patnership dan
berkomitmen terhadap kualitas. (10). Bussines competency,
merupakan kompetensi yang meliputi: manajemen finansial,
keterampilan pengambilan keputusan bisnis, bekerja dalam
sistem, menggunakan ketajaman bisnis, membuat keputusan
bisnis dan membangkitkan pendapatan. (11). Self management
competency, kompetensi berkaitan dengan menjadi motivasi
diri, bertindak dengan percaya diri, mengelola pembelajaran
sendiri, mendemonstrasikan fleksibilitas, dan berinisiatif. (12).
Technical/operational competency, kompetensi berkaitan dengan
mengerjakan tugas kantor, bekerja dengan teknologi komputer,
menggunakan peralatan lain, mendemonstrasikan keahlian
tekhnis dan profesional dan membiasakan bekerja dengan data
dan angka.

Spencer (dalam Wibowo, 2007) tingkatan kompetensi dapat
dikelompokkan dalam tiga tingkatan, yaitu: (1). Behavior tools,
yang terdiri dari (a) Knowledge merupakan informasi yang
digunakan orang dalam bidang tertentu, misalnya membedakan

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 27
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

antara pekerja sosial senior dan pekerja sosial pemula. (b). Skill
merupakan kemampuan orang untuk melakukan sesuatu dengan
baik. Misalnya, mewawancarai dengan efekttif. (2). Image
attribute yang terdiri dari (a). Sosial role merupakan pola perilaku
orang yang diperkuat oleh sekelompok sosial atau organisasi.
Misalnya, menjadi pemimpin atau pengikut. (b). Self image
merupakan pandangan orang terhadap dirinya sendiri, identitas,
kepribadian, dan harga dirinya. Misalnya melihat dirinya sebagai
pekerja sosial yang berbeda diatas “fast track”. (3). Personal
characteristic yang terdiri dari (a). Traits merupakan aspek
tipika berperilaku. Misalnya, menjadi pendengar yang baik.
(b). Motive merupakan apa yang mendorong perilaku seseorang
dalam bidang tertentu (prestasi, afiliasi, kekuasaan). Misalnya
ingin mempengaruhi perilaku orang lain (penerima manfaat)
untuk kebaikan PM dan keluarganya.

MichaelZwell(dalamWibowo,2007)mengungkapkanbahwa
terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecakapan
kompetensi seseorang, yaitu sebagai berikut: (1). Keyakinan dan
nilai-nilai. Keyakinan orang tentang dirinya maupun terhadap
orang lain akan sangat mempengaruhiperilaku.(2). Keterampilan.
Keterampilan memainkan peran di kebanyakan kompetensi.
Berbicara didepan umum merupakan keterampilan yang dapat
dipelajari, dipraktikkan, dan diperbaiki. (3). Pengalaman.
Pengalaman mengorganisasi orang, berkomunikasi dengan kllien
secara perorangan maupun kelompok, menyelesaikan masalah,
dan sebagainya. (4). Karakteristik kepribadian. Kepribadian dapat

28 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

mempengaruhi keahlian pekerja dalam sejumlah kompetensi,
termasuk dalam penyelesaian konflik, menunjukkan kepedulian
interpersonal, kemampuan bekerja dalam tim, memberikan
pengaruh dan membangun hubungan. (5). Motivasi. Motivasi
merupakan faktor dalam kompetensi yang dapat berubah.
Dengan memberikan dorongan, apresiasi terhadap pekerja
bawahan, memberikan pengakuan, dan perhatian individual dari
atasan dapat mempunyai pengaruh terhadap motivasi seseorang
bawahan. (6). Isu emosional. Hambatan emosional dapat
membatasi penguasaan kompetensi. Takut membuat kesalahan,
menjadi malu, merasa tidak disukai, atau tidak menjadi bagian,
semuanya cenderung membatasi motivasi dan inisiatif. (7).
Kemampuan intelektual. Kompetensi tergantung pada pemikiran
kognitif sepeti pemikiran konseptual dan pemikiran analitis.
Tidak mungkin memperbaiki melalui setiap intervensi yang
diwujudkan suatu organisasi. (8). Budaya organisasi. Budaya
organisasi mempengaruhi kompetensi sumber daya manusia
dalam kegiatan seperti rekrutmen dan seleksi penerima manfaat
serta praktik pengambilan keputusan.

Berdasarkan uraian diatas, pengertian kompetensi dalam
penelitian ini adalah kemampuan pekerja sosial baik dilihat dari
pengetahuan, keterampilan, nilai yang dimiliki maupun sikap
yang ditampilkan, yang mendukung pelaksanaan tugasnya dalam
memberikan pelayanan rehabilitasi sosial kepada Penerima
Manfaat di dalam Balai/Loka pada era tatanan baru (new normal)
pandemic Covid 19.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 29
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

30 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian
Metode dan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah penelitian survey dengan menggunakan pendekatan
penelitian deskriptif kuantitatif

B. Teknik sampel dan lokasi penelitian
Adapun penentuan sampel dan lokasi adalah sebagai berikut:
1. Responden ditentukan berdasarkan populasi yang ada (sensus)
2. Responden dalam penelitian ini adalah pekerja sosial di Balai
/Loka Kementerian Sosial. Selain itu ditambah pimpinan dan
pejabat structural, fungsional lainnya, serta penerima manfaat
sebagai informasi tambahan guna memperkuat data yang
didapat dari responden utama.
3. Lokasi penelitian dilaksanakan di Balai / Loka milik
KpeermdieennncgtiaeanrnpiesareinbnacigSaaonissibeaeblargiakiustel:uruhberikut: wilayah Indonesia dengan

Indonesia

No. KLUSTER JUMLAH

1. Balai / loka disabilitas 18

2. Balai / loka Lanjut usia 3

3. Balai / loka Anak 8

4. Balai / loka Tuna sosial 2

5. Balai / loka Korban penyalahgunaan napza dan HIV 7
Aids 38
Jumlah

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 31
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan e-kuesioner dengan
pertimbangan kondisi pandemic yang menyebabkan tim peneliti
tidak bisa langsung ke lokasi penelitian. Akan tetapi pelaksanaan
pengumpulan data diwakilkan oleh enumerator dari masing
masing lokasi penelitian yang sudah mendapatkan couching
terlebih dahulu. E-kuesioner disusun sendiri oleh tim peneliti
dengan merujuk kepada teori kompetensi pekerjaan sosial
dan dikaitkan dengan kondisi pada era tatanan baru pandemic
Covid-19. Untuk memudahkan pengumpulan data e-kuesioner
maka digunakan aplikasi Survey Monkey.

DS.ebaranSebaranjumlahjumlahrespondenresponden: :

D.

No. Balai / Loka Pekerja Manajerial Fungsional Penerima
lainnya Manfaat
Sosial 2
2 2 2
1. BRSPDM Margo Laras, Pati 13 2 5 3
2 4 3
432. BRSPDM Phala Martha, Sukabumi 12 3 6

BRSPDN Wyata Guna, Bandung 19

BBRSPDF Prof DR Soeharso, 31

Surakarta

987651.0 BBRSPDI Kartini, Temanggung 22 2 34
2 51
BRSPDF Budi Perkasa, Palembang 7 2 24
2 35
BRSPDF Wirajaya, Makassar 8 2 25
2 35
BRSPDSN Mahatmiya, Tabanan 9 2 62
3 50
BRSPDN Tumou Tou, Manado 5 2 20
2 60
BRSPDN Tan Miyat, Bekasi 15 2 25
2 22
11. BRSPDM Budi Luhur, Banjarbaru 12 2 27
2 10 2
122876359401. BRSPDI Ciung Wanara, Bogor 12 2 25
2 94
BRSPDI Nipotowe, Palu 6 2 21
2 43
BRSPDM Dharma Guna, Bengkulu 8 2 63
2 24
BRSPDSRW Melati, Jakarta 10

BRSPDRW Efata, Kupang 11

BBRVPD Cibinong 17

LRSPDSRW Meohai, Kendari 10

BRSLU Budhi Darma Bekasi 20

BRSLU Gau Mabaji Gowa 5

LRSLU Minaula Kendari 7

BRSAMPK Rumbai, Pekanbaru 8

BRSAMPK Handayani, Jakarta 9

24. BRSAMPK Antasena, Magelang 11

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitianDi
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

32

22. BRSAMPK Rumbai, Pekanbaru 82 43

23. BRSAMPK Handayani, Jakarta 92 63

24. BRSAMPK Antasena, Magelang 11 2 2 4

25. BRSAMPK Alyatama, Jambi 92 23

26. BRSAMPK Naibonat, Kupang 10 2 2 3

27. BRSAMPK Paramita, Mataram 72 35

28. BRSAMPK Toddopuli, Makassar 7 2 3 3

29. LRSAMPK Darussa’adah, aceh 82 43

30. BRSEGP Pangudi Luhur, Bekasi 14 2 2 5

31. BRSWATUNAS Mulya Jaya, Jakarta 13 2 5 4

323. LBRSSOKHPINVSaKtarhiuar,iBpaatnu,raSdueknabumi. 8 2 6 3

16 2 5 6

34. BRSOHIV Bahagia, Medan 10 2 1 2

35. BRSOHIV Wasana Bahagia, Ternate 5 2 3 2

36. BRSKPN Bambu Apus, Jakarta 15 2 25

37. BRSKPN Insyaf, Medan 72 55

38. BRSKPN Galih Pakuan, Bogor 14 2 2 4

JUMLAH 430 76 136 126

E. Teknik Analisa Data
Data yang dikumpulkan melalui survey ini dianalisis
menggunakan software SPSS versi 21 dengan mencari mean,
distribusi frequency, cross tabulation, dan sebagainya.

F. Tahapan Penelitian
1. Persiapan (dilaksanakan dengan video conference)
- Pertemuan tim dengan Unit Teknis, perwakilan Loka/balai
- Pertemuan tim dengan Konsultan
- Penyusunan Rancangan dan instrumen Penelitian
- Pembahasan Rancangan dan instrumen Penelitian
2. Pelaksanaan (dilaksanakan dengan video conference)
- Bimbingan Teknis Pengumpul Data (enumerator)
- Pengumpulan data
3. Pengolahan Data dan Penyusunan Laporan
- Editing & Cleaning Data
- Pengolahan Data
- Analisis Data
- Konsultasi Pengolahan dan Analisis Data

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 33
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

- Penyusunan laporan
- Seminar laporan
- Penyempurnaan & Finalisasi Laporan

G.G. JJaaddwawlaPelnePlietniaenlitian

Bulan

No. Tahapan Juni 2020 Juli 2020 Agustus 2020

Minggu Minggu Minggu

1 2 3 4 1 2 3 4 1234

A Pelaksaaan Penelitian

1 Identifikasi Kebutuhan

Penelitian

2 Penyusunan rancangan

dan instrumen

3 Pembahasan rancangan

dan instrument

4 Coaching dan

Pengumpulan data

lapangan)

5 Pengolahan dan

Analisis Data

6 Finalisasi analisis data

B Penyusunan Laporan

1. Penyususunan laporan

2. Penyusunan Policy

Brief dan Hasil

Penelitian

3. Penyusunan Executive

Summary

H. Organisasi PenelitianH. Organisasi Penelitian

Pengarah : Kepala Badan Pendidikan, Penelitian,

Penyuluhan Sosial

Penanggung Jawab : Kepala PusatPenelitiandanPengembangan

Kesejahteraan Sosial

Konsultan : Prof. Adi Fahrudin, Ph.D

Ketua Tim : Husmiati

Anggota Tim : 1. Setyo Sumarno

2. Alit Kurniasari

3. Ruaida Murni

4. Delfirman

34 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
1. Karakteristik Responden

Karakteristik demografi pekerja sosial dalam penelitian ini

dapat dilihat dari beberapa gambar maupun grafik dibawah ini.

gambar maupun grafik dibawah ini.

Gambar 1. Jumlah Responden Di Balai / Loka Rehabilitasi Sosial

31

22 19 20
17
15 16

15 14 13 14
10
12 12 12 13 11
10 11
10 10
9 99 5
88 8 88
76 7 77 7
55

GaGmbaamrb1adriata1s mednijaeltaasskanmBeanlajie/lLaoskkaaynangBmaelnajaidi/lokLaosikpaenelyitaianngbermikeunt juamdlaih

lokasi penelitian berikut jumlah pekerja sosial yang menjadi
responden. Ada 430 orang responden Pekerja Sosial yang
mewakili 38 Balai / Loka Rehabilitasi Sosial Milik Kementerian
Sosial. Balai / Loka ini terdiri dari seting Lanjut Usia, Anak,
Disabilitas, Korban Penyalahguna Napza dan Tuna Sosial.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 35
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Berdasarkan gambar2 diatas, persentase responden
perempuan sebesar 60,9 persen (262 orang) dan responden
laki-laki sebesar 39,1 persen (168 orang). Adapun pada gambar
3 menjelaskan umur responden terbanyak di rentang usia 51 –
60 tahun sebesar 40,3 persen, diikuti rentang usia 41-50 tahun
(23%) dan rentang usia 20-30 tahun sebesar 22,8 persen. Paling
sedikit persentasenya ada direntang usia 31-4- tahun sebesar
13,3 persen.

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

36

Gambar 4 diatas, menggambarkan jenjang pendidikan
responden. Mayoritas responden berlatar belakang pendidikan
sarjana (S1) sebesar 47,7 persen, diikuti jenjang pendidikan
SMPS/SMA/sederajat sebesar 26,7 persen. Responden yang
berlatar belakang pendidikan diploma sebesar 15,3 persen dan
master (S2) sebesar 10,9 persen, selain itu responden dengan
pendidikan doctoral sebesar 0,2 persen.

Sedangkan gambar 5 menggambarkan jenjang jabatan
pekerja sosial. Mayoritas adalah pekerja sosial jenjang pertama
sebesar 37,7 persen, diikuti pekerja sosial muda (15,3%),
pekerja sosial madya (14,7%), pekerja sosial pemula (12,1%),
pekerja sosial pelaksana (6%) dan pekerja sosial pelaksana
lanjuta sebesar 1,6 persen. Selain itu ada juga calon pekerja
sosial sebesar 2,3 persen.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 37
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Berdasarkan gambar 6 masa kerja sebagai pekerja sosial
mayoritas lima tahun atau kurang dari lima tahun sebesar 31,6
persen, kemudian masa kerja 6 – 10 tahun sebesar 28,6 persen.
Diikuti masa kerja sebagai pekerja sosial selama 21-25 tahun
sebesar 14 persen, 11-25 tahun sebesar 11,6 persen, lebih dari 26
tahun sebesar 7,2 persen dan 16-2- tahun sebesar 6.7 persen.

Gambar7menggambarkansertifikasi pekerja sosial.Dari hasil
penelitian didapati 65 persen menyatakan telah mengikuti dan
memiliki sertifikasi sebagai pekerja sosial, 25 persen menyatakan
belum, dalam arti sedang proses mendapatkan sertifikasi, dan
10 persen menyatakan tidak mengikuti dan memiliki sertifikasi
sebagai pekerja sosial.

2. Kondisi Pekerja Sosial dan Pelayanan Rehabilitasi Sosial
didalam Balai/Loka
a. Kompetensi Pekerja Sosial
Kompetensi Pekerja Sosial dalam penelitian ini dengan melihat
tingkat pengetahuan, keterampilan dan nilai yang dimiliki oleh
seorang pekerja sosial dalam melaksanakan tugasnya. Hasil
penelitian terkait kompetensi pekerja sosial dapat dilihat dari
diagram 1, 2 dan3 dibawah ini.

38 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Diagram 1, Kompetensi Keterampilan Pekerja Sosial

Diagram 1 diatas menggambarkan kompetensi pekerja sosial
dilihat dari tingkat pengetahuannya. Dari gambar diatas,
pengetahuan pekerja sosial tinggi dengan nilai mean = 3,
Diagram 2, Kompetensi Keterampilan Pekerja Sosial

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 39
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Berdasarkan diagram 2 diatas, komptensi pekerja sosial diliat
dari tingkat keterampilan yang dimilikinya dalam melaksanakan
tugas ada tinggi dengan nilai rata-rata (mean = 2,98).

Diagram 3, Kompetensi nilai Pekerja Sosial

Sedangkan pada digram 3 diatas, kompetensi pekerja sosial
diukur dari tingkat kompetensi nilai adalah sedang cenderung
rendah, dengan nilai rata-rata (mean = 1,50)

b. Perubahan teknik pelayanan di Balai/Loka yang
dilakukanpekerja sosial pada masa pandemic
Gambar 8 dibawah menggambarkan 74,9 persen menyatakan
setuju, 19,3 persen menyatakan sangat setuju dengan adanya
perubahan cara melakukan asesmen oleh pekerja sosial pada
era tatanan baru.

40 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

tatanan baru.

Gambar 8. Ada perubahan cara melakukan

74,9

asesmen di era tatanan baru

5,6 setuju 19,3
,2
sangat setuju
sangat tidak kurang setuju
setuju

meBnerradpaksanaprrkoatnocoglakemsbehaartan9., sebanyak 59,5 persen menyatakan
setuju, dan 39,1 persen menyatakan sangat setujubila bimbingan
fisik telah mengalami perubahan di era tatanan baru dengan
menerapkan protocol kesehatan.

Gambar 9. Bimbingan fisik mengalami perubahan
dengan menggunakan protokol kesehatan

59,5
39,1

,5 ,2 ,7

sangat tidak tidak setuju kurang setuju sangat
setuju
setuju setuju

Berdasarkan gambar 10, sebanyak 62,3 persen menyatakan
setuju, dan 36.3 persen menyatakan sangat setuju bila
bimbingan keterampilan telah mengalami perubahan di
era tatanan baru dengan menerapkan protocol kesehatan.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 41
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

dengan menerapkan protocol kesehatan.

Gambar 10. Bimbingan keterampilan mengalami
perubahan dengan menggunakan protokol
kesehatan

62,3
36,3

,2 1,2

sangat tidak kurang setuju setuju sangat setuju
setuju

Berdasarkan gambar 11, sebanyak total 39,8 persen menyatakan
kurang setuju setuju dan tidak setuju apabila dalam bimbingan
keterampilan menggunakan cara virtual ataupun dengan video.
Dan sebanyak 59,3 persen menyatakan setuju dan sangat setuju
bila bimbingan keterampilan disampaikan secara virtual.

Gambar 11. Peragaan dalam bimbingan
keterampilan diganti dengan cara virtual atau

melalui video

49,8
33,5

6,3 9,5
,9

sangat tidak tidak setuju kurang setuju sangat
setuju
setuju setuju

Berdasarkan gambar 12, sebanyak 46,3 persen menyatakan
kurang setuju, 19,1 persn tidak setuju dan 2,6 persen
menyatakan sangat tidak setuju bila bimbingan fisik secara

42 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

langsung ditiadakan. Sebaliknya sebanyak 25,3 persen
menyatakan setuju dan 6,7 persen menyatakan sangat setuju
bila bimbingan fisik secara langsung ditiadakan.

Berdasarkan gambar 13, sebanyak 35,3 persen menyatakan
kurang setuju, 7,9 persen tidak setuju dan 2,1 persen menyatakan
sangat tidak setuju bila bimbingan fisik ditayangkan secara
virtual atau menggunakan video. Sebaliknya sebanyak 47,4
persen menyatakan setuju dan 7,2 persen menyatakan sangat
setuju bila bimbingan fisik ditayangkan secara virtual.

Gambar 13. Bimbingan fisik dilakukan dengan
tayangan video atau secara virtual
47,4

35,3

7,9 7,2
2,1
sangat
sangat tidak tidak setuju kurang setuju setuju

setuju setuju

BeDLaarpldoaramasnPaePlernakeylaaintniaanngaRmebhaarbKiolmipettaesnis1iSo4Pse,ikaelsrDjeiabBSaoalsainia/lyloakakP6ad6a,E3rapTeatrasneannBamreu nyatakan setuju, dan 29,3 persen sangat setu

43


Click to View FlipBook Version