The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kompetensi Pekerja Sosial dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial di BalaiLoka pada Era Tatanan Baru (Husmiati, Alit Kurniasari, Ruaida Murni etc.) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by puputakromah01, 2022-10-01 10:44:08

Kompetensi Pekerja Sosial dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial di BalaiLoka pada Era Tatanan Baru (Husmiati, Alit Kurniasari, Ruaida Murni etc.) (z-lib.org)

Kompetensi Pekerja Sosial dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial di BalaiLoka pada Era Tatanan Baru (Husmiati, Alit Kurniasari, Ruaida Murni etc.) (z-lib.org)

Berdasarkan gambar 14, sebanyak 66,3 persen menyatakan
setuju, dan 29,3 persen sangat setuju bila intervensi pada
penerima manfaat tetap dilakukan didalam Balai / Loka dengan
tetap menggunakan protocol kesehatan. Dan hanya 4 persen
yang menyatakan kurang setuju, sisanya 0,5 persen menyatakan
0,5tidakpersen smentyuajtua.kan tidak setuju.

Gambar 14. Intervensi penerima manfaat tetap
didalam balai/loka menggunakan protokol
kesehatan

66,3

29,3

,5 4,0

tidak setuju kurang setuju setuju sangat setuju

BerdasarkanBerdasarkangambar 15,gambarsebanya1k572,,3sebanyakpemresneynatakan72,3 setuju,persendanmenyatakan19,8persensangat

setuju

setuju, dan 19,8 persen sangat setuju bila bimbingan mental

lebih intensif diberikan pada penerima manfaat di era tatanan

baru ini. . Dan hanya 46,5 persen yang menyatakan kurang

setuju, sisanya 1,4 persen menyatakan tidak setuju.

Gambar 15. Bimbingan mental lebih intensif di
era tatanan baru
72,3

6,5 setuju 19,8
1,4 sangat setuju
tidak setuju kurang setuju

Berdasarkan gambar 16, sebanyak 67,9 persen menyatakan setuju, dan 30,9 persen sangat setuju

44 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Berdasarkan gambar 16, sebanyak 67,9 persen menyatakan
setuju, dan 30,9 persen sangat setuju bila konseling masih
dilakukan pada penerima manfaat dengan tetap menggunakan
protocol kesehatan. Dan hanya 0,7 persen yang menyatakan
tidakkurangsetuju. setuju, sisanya 0,5 persen menyatakan tidak setuju.

Gambar 16. Konseling masih dilakukan dengan
memperhatikan protokol kesehatan

67,9

,5 ,7 setuju 30,9
sangat setuju
sangat tidak kurang setuju
setuju

Berddasaarnka2nB0erdgpaasemarrbksaaern ngasmbaasnreg1ba7,tn1ysa7ke,t70u,j9suebabnyiaklpearsehnmoenmyaetakpavnei7s0r,is9testenetmutjeaun,pyadtialk2aa0knpudeakrnsasennetuju,

sangat setuju

pada

kasus-kasus tertentu yang tidak dapat dilakukan dengan video

conference dengan tetap menggunakan protocol kesehatan. Dan

hanya 7,2 persen yang menyatakan kurang setuju, 1,4 persen

tidak setuju dan sisanya 0,5 persen menyatakan sangat tidak

setuju

Gambar 17. Home visit dilakukan pada kasus
kasus tertentu (bila tidak dapat dilakukan dg

vicon)
70,9

7,2 20,0
,5 1,4
sangat
sangat tidak tidak setuju kurang setuju setuju

setuju setuju

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 45
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Berdasarkan gambar 18, sebanyak 45,1 persen menyatakan
setuju, dan 7,4 persen sangat setuju bila video call atau
video conference digunakan untuk menggantikan home visit.
Sebaliknya sebanyak 39,1 persen menyatakan kurang setuju,
6,7 persen tidak setuju dan sisanya 1,6 persen menyatakan
sangat tidak setuju.

Gambar 18. Video conference atau video call
digunakan utk menggantikan home visit
45,1
39,1

6,7 7,4
1,6

sangat tidak tidak setuju kurang setuju setuju sangat setuju
setuju

Berdasarkan gambar 19, sebanyak 48,6 persen menyatakan
setuju, dan 5,6 persen sangat setuju bila sesi konseling
dilakukan dengan video conference. Dan sebaliknya ada 39,5
persen yang menyatakan kurang setuju, 4,9 persen tidak setuju
dan sisanya 1,4 persen menyatakan sangat tidak setuju.

46 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Gambar 19. Konseling menggunakan video
conference

48,6
39,5

4,9 5,6
1,4

sangat tidak tidak setuju kurang setuju setuju sangat setuju
setuju

Berdasarkan gambar 20, sebanyak 62,1 persen menyatakan

setuju, dan 8,8 persen sangat setuju bila sesi cae conference

dilakukan dengan metode daring. Dan sebaliknya ada 25,6

persen yang menyatakan kurang setuju, 3 persen tidak setuju

setuju.

dan sisanya 0,5 persen menyatakan sangat tidak setuju.

Gambar 20. Case conference dilakukan
dengan metode daring (online)

62,1

25,6 8,8
,5 3,0

sangat tidak tidak setuju kurang setuju sangat
setuju
setuju setuju

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 47
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

c. Dukungan yang diterima pekerja sosial dalam
melaksanakan pelayanan sosial di Balai / Loka selama
masa pandemic.

Berdasarkan gambar 21, sebanyak 44,2 persen menyatakan
setuju, dan 54,4 persen sangat setuju bahwa pimpinan
menginstruksikan seluruh pegawai wajib memprioritaskan
protocol kesehatan.

Gambar 21. Pimpinan menginstruksikan seluruh
pegawai untuk memprioritaskan protokol
kesehatan.
54,4
44,2

,7 ,7 Setuju Sangat Setuju

Sangat Tidak Kurang Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 22 dibawah, sebanyak 48,1 persen
menyatakan setuju, dan 49,5 persen sangat setuju bahwa
pimpinan mengharuskan sarana dan prasarana di dalam Balai /
Loka sesuai dengan protocol kesehatan.

48 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

dengan protocol kesehatan.

Gambar 22. Pimpinan mengharuskan sarana
prasarana didalam Balai/loka sesuai dengan

protokol kesehatan.
48,1 49,5

,5 ,5 1,4
Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju

Setuju

Berdasarkan gambar 23 dibawah, sebanyak 59,8 persen
menyatakan setuju, dan 40,5 persen sangat setuju bahwa
pimpinan rutin menginformasikan hal-hal yang penting untuk
dilakkukan pada penerima manfaat terkait aturan di era tatanan
baru.

Gambar 23. Pimpinan rutin menginformasikan
hal-hal yang penting untuk dilakukan pada
penerima manfaat
55,8
40,5

,7 ,7 2,3
Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju

Setuju

Berdasarkan gambar 24, sebanyak 61,9 persen menyatakan
setuju, dan 31,6 persen sangat setuju bahwa pimpinan mau
mendengar ide-ide pekerja sosial terkait pelayanan kepada
penerima manfaat didalam Balai / Loka di era tatanan baru.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 49
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

manfaat didalam Balai / Loka di era tatanan baru..

Gambar 24. Pimpinan mau mendengar ide-ide
pekerja sosial terkait pelayanan di era tatanan

baru
61,9

31,6

1,6 1,4 3,5

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 25, sebanyak 67 persen menyatakan setuju,
dan 24,9 persen sangat setuju bahwa pimpinan mendukung
keputusan yang diambil pekerja sosial terkait pelayanan kepada
penerima manfaat didalam Balai / Loka di era tatanan baru.

Gambar 25. Pimpinan mendukung keputusan
yang diambil Pekerja sosial terkait pelayanan

pada PM di era tatanan baru

67,0

6,3 Setuju 24,9
,7 1,2 Sangat Setuju

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 26, sebanyak 60,2 persen menyatakan
setuju, dan 36,3 persen sangat setuju bahwa Balai / Loka
memiliki SOP pelayanan rehabilitasi sosial yang telah
disesuaikan dengan protocol kesehatan.

Baru
Sosial
PekerjTaatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

50

rotocol kesehatan.

Gambar 26. Balai memiliki SOP pelayanan

rehabilitasi sosial yang telah disesuaikan dengan

protokol kesehatan.

60,2

36,3

,2 ,9 2,3 Setuju Sangat Setuju

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 27, sebanyak 59,3 persen menyatakan
setuju, dan 34,9 persen sangat setuju bahwa pimpinan rutin
memonitor kondisi kesehatan seluruh pegawai dan penerima
manfaat.

Gambar 27. Pimpinan rutin memonitor kondisi
kesehatan seluruh pegawai dan penerima
manfaat.

59,3
34,9

,5 1,4 4,0

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 28, sebanyak 64,2 persen menyatakan
setuju, dan 28,1 persen sangat setuju bahwa sarana danprasarana
pelayanan rehabilitasi sosial telah mengalami perubahan
dengan menyesuaikan ketentuan protocol kesehatan.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 51
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

menyesuaikan ketentuan protocol kesehatan.

Gambar28. Sarana dan prasarana pelayanan
rehabilitasi sosial telah mengalami perubahan

dengan menyesuaikan ketentuan protokol
kesehatan.

64,2

28,1

1,2 6,5

Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju

Berdasarkan gambar 29, sebanyak 57,9 persen menyatakan
setuju, dan 33,7 persen sangat setuju bahwa pimpinan mau
menyediakan jaringan internet untuk pelayanan jarak jauh
dengan keluarga penerima manfaat.

Gambar 29. Jaringan internet selalu tersedia
untuk pelayanan jarak jauh dengan keluarga

penerima manfaat

57,9
33,7

,7 2,1 5,6

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 30, sebanyak 61,4 persen menyatakan
setuju, dan 33,5 persen sangat setuju bahwa pimpinan mau
menyediakan jaringan internet untuk komunikasi dengan mitra
kerja.

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

52

bahwa pimpinan mau menyediakan jaringan internet untuk komunikasi dengan mitra kerja.

Gambar 30. Jaringan internet selalu tersedia
untuk komunikasi dengan mitra kerja

61,4
33,5

,2 1,9 3,0
Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju

Setuju

pimBpeirndaansmaarukamnenygeadmibakaarn 3p1e,mersiekbsaananyakkese5h4a,t2anpbeargsiepnekmeerjnayasotsaiaklan

setuju, dan 35,3 persen sangat setuju bahwa pimpinan mau

menyediakan pemeriksaan kesehatan bagi pekerja sosial dan

bahwa dan petugas

petugas lainnya.

lainnya.

Gambar 31. Menyediakan pemeriksaan kesehatan
bagi Pekerja sosial dan petugas lainnya

54,2

35,3

7,7
,9 1,9

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 32, sebanyak 55,6 persen menyatakan
setuju, dan 36,3 persen sangat setuju bahwa pimpinan mau
menyediakan ruang isolasi sebagai tindakan darurat apabila
penerima manfaat mengalami sakit yang membahayakan orang
lain.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 53
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

manfaat mengalami sakit yang membahayakan orang lain.

Gambar 32. Menyiapkan ruang isolasi sebagai

tindakan darurat apabila PM mengalami sakit
yang membahayakan orang lain

55,6
36,3

,9 1,9 5,3

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 33, sebanyak 47 persen menyatakan
Berdasarkasnetguajmub,adra3n3,51se,b4apnyearkse4n7 spaernsgeantmseentyuajtuakbaanhswetaujhua,sdialnp5e1m,e4rpiekrsseanasnangat setu

kesehatan calon penerima manfaat mutlak untuk diterima di
bahwa hasdilalpeammerBiaklsaaia/nLkoeksae.hatan calon penerima manfaat mutlak untuk diterima di dala

Balai/Loka..

Gambar 33. Hasil pemeriksaan kesehatan calon
PM syarat mutlak untuk diterima di dalam
Balai/loka

47,0 51,4

,7 ,9

Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju

BerdasarkBanergdaambsaarrk34a,nsegbaamnybaakr603,42,pesresebnamneynaykat6ak0a,n2septeujrus,ednanm2e9n,y5apteraskeannsangat setuj

setuju, dan 29,5 persen sangat setuju bahwa Balai/Loka
memiliki sistim untuk memonitor kondisi kesehatan seluruh
penghuni.

54 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Gambar 34. Balai/loka memiliki sistim untuk
memonitor kondisi kesehatan bagi seluruh

penghuni.

60,2

29,5

,2 3,0 7,0

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

BerdasarkaBnegradmabsaarr3k5a,nsebgaanmybakar64,325p,erssenbamnenyyaakta6k4a,n2setpuejur,sdeann m31e,n6ypaetrsaeknasnangat setuj

setuju, dan 31,6 persen sangat setuju bahwa file pemeriksaan

bahwa file pemeriksaan kesehatan penerima manfaat rapi tersimpan dalamdatabase.

kesehatan penerima manfaat rapi tersimpan dalam database.

Gambar 35. File pemeriksaan kesehatan
penerima manfaat rapi tersimpan dalam data

base

64,2
31,6

,9 3,3

Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju

Berdasarkan gambar 36, sebanyak 42,6 persen menyatakan
setuju, dan 56,5 persen sangat setuju bahwa pimpinan
mengutamakan kesehatan pekerja sosial bukan hanya penerima
manfaat saja.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 55
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

bahwa pimpinan mengutamakan kesehatan pekerja sosial bukan hanya penerima manfaat saja.

Gambar 36. Pimpinan mengutamakan kesehatan
pekerja sosial bukan hanya penerima manfaat
saja.

56,5
42,6

,2 ,7 Setuju Sangat Setuju

Sangat Tidak Kurang Setuju
Setuju

Berdasarkan gambar 37, sebanyak 70 persen menyatakan
setuju, dan 18,1 persen sangat setuju bahwa perasaan kuatir
yang mucul karena tidak menjaga jarak dengan penerima
manfaat.

Gambar 37. Perasaan khawatir yang muncul
karena tidak menjaga jarak dengan penerima

manfaat

70,0

18,1

9,1
,5 2,3

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

Bseetgruadjmaub,saadrra3kn8a,n3s6eb,an3yapkgeamrbsa6re2n,388s,paenrgseantsesmbeatnyuyajakuta6bk2aa,nh8wseatujtu,ipenrdseaannkmaennyatakan36,3

erdasarkan persen sangat setuju

preventif

perlu diperhatikan saat sebelum dan sesudah memberikan

pelayanan pada penerima manfaat.

56 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

ada penerima manfaat.

Gambar 38. Tindakan preventif perlu
diperhatikan saat sebelum dan sesudah
memberikan pelayanan pada penerima manfaat

62,8

36,3

,9 Setuju Sangat Setuju
Kurang Setuju

Berdasarkan gambar 39, sebanyak 70 persen menyatakan
setuju, dan 29,1 persen sangat setuju bahwa sesame petugas
Balai / Loka selalu siap membantu petugas lain jika kondisi
petugas tersebut sedang tidak sehat atau sedang berhalangan.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 57
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

3. Pendapat fungsional lain terhadap pekerja sosial
a. Karakteristik fungsional lainnya
Beberapa gambar dibawah merupakan deskripsi factor
demografi pejabat fungsional lainnya yang menjadi responden
dalam penelitian ini.
Seperti gambar 40 dibawah, menggambarkan komposisi jenis

rsen adalakpherplseaermneimnapdudaailmnaanhadlaank3i96-,0l,a1k4i86p.ersenperasednalaadhallaakhi-lpaekir.empuan dan 39, 86

Gambar 40. Jenis Kelamin

39,86 laki-laki
60,14

Gambar 41 dibawah adalah latar belakang pendidikan pejabat
fungsional lainnya, dengan perincian 51,45 persen adalah
sarjan (S1), 39,13 persen diploma dan sisanya 9,42 persen
adalah master / margister (S2).

58 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Gambar 41. Pendidikan Diploma
9,42
39,13 Sarjana (S1)

51,45 Master/Magister
(S2)

Gambar 42 dibawah menggambarkan umur responden, dengan
komposisi terbanyak pada umur 31-35 tahun sebesar 28 persen,
umur 36-40 dan 51-55 masing-masing sebesar 17 persen, umur
26-30 sebanyak 14 persen, umur 41-45 sebesar 9 persen, umur
21-25 sebesar 6 persen, umur 46-50 sebesar 5 persen. Paling
sedikit jumlahnya adalah rentang umur 56-60 tahun sebesar 2
60 tahun persen.sebesa2r persen.

28
Gambar 42. Umur

17 17
149 5

6
2

21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60

GamDLbaapaloarrman4PeP3lenadeylaiintbiaananRwKeohaambhpielmtiteeanssniiSgoPsgeikaaelrmDjiabBSaaolsraiiak/llaokna PkaodampEroasTiatsainajnaBabrautang fungsional lainnya yang ada dalam

59

Gambar 43 dibawah menggambarkan komposisi jabatang
fungsional lainnya yang ada dalam Balai / Loka. Penyuluh sosial
sebanyak 21 persen, perawat 19 persen, psikologi 15 persen.
instruktur 7 persen, calon perawat dan calong penyuluh sosial
masing-masing 6 persen, sisanya adalah pranata computer,
arsiparis, terapis, fasilitator, dan lain-lain.

Gambar 43. Jabatan Fungsional

Penyuluh Sosial 21
Perawat 19
Psikolog 15

Instruktur 7
Calon Perawat 6
6
Calon… 4
Pranata… 4
Arsiparis 3
Terapis 3
Peksos 3
Fasilitator
Lainnya 10

Pada gambar 44 dibawah menggambarkan lama bekerja sebagai fungsional lainnya.

Pada gambar 44 dibawah menggambarkan lama bekerja sebagai
fungsional lainnya. Sebanyak 33,3 persen bekerja lima tahun
kebawah, 6-10 tahun sebanyak 26,1 persen, 11-15 tahun sebesar
23,2 persen, 26-30 tahun sebesar 8,7 persen, 16-20 tahun sebesar
5,1 persen dan terakhir 21-25 tahun sebesar 3,6 persen.

60 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

dan terakhir 21-25 tahun sebesar 3,6 persen.

33,3
26,1Gambar 44.Lama bekerja sebagai fungsional

23,2

8,7

5,1
3,6

0-5 tahun 6-10 tahun 11-15 16-20 21-25 26-30
tahun tahun tahun tahun

b. Pendapat fungsional lain terhadap pekerja sosial
Pada gambar 45 dibawah menggambarkan pendapat fungsional
lain tentang adanya perubahan pola layanan yang dilakukan
oleh pekerja sosial di era tatanan baru. Sebanyak 73,2 persen
menyatakan setuju, 19,6 persen menyatakan sangat setuju, 5,1
persen kurang setuju, sisanya menyatakan tidak setuju (1,4%)
dan sangat tidak setuju (0,7%).

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 61
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Pada gambar 46 dibawah menggambarkan pendapat fungsional
lain tentang banyaknya ide tak terduga dari pekerja sosial di
era tatanan baru. Sebanyak 71,7 persen menyatakan setuju, 3,6
persen menyatakan sangat setuju, 20,3 persen kurang setuju,

setuju (4,3%).

sisanya menyatakan tidak setuju (4,3%).

Gambar 46. Banyak ide tak terduga dari Pekerja Sosial saat
era tatanan baru.
71,7%

20,3% 3,6%
0,0% 4,3%

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju
Setuju

Pada gambar 47 dibawah menggambarkan pendapat fungsional
lain tentang pekerja sosial terkadang sangat tergantung pada
fungsional lainnya. Sebanyak 52,2 persen menyatakan setuju,
8 persen menyatakan sangat setuju, 28,3 persen kurang setuju,
sisanya menyatakan tidak setuju (9,4%) dan sangat tidak setuju
(2,2%).

62 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Gambar 47. Pekerja Sosial terkadang sangat tergantung
pada fungsional lain52,2%

28,3%

9,4% Setuju 8,0%
2,2% Sangat Setuju

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju
Setuju

Psaedtuaju.gambar 48 dibawah menggambarkan pendapat fungsional
lain tentang pekerja sosial yang trampil bermitra dengan pihak
lain terkait kepentingan penerima manfaat. Sebanyak 77,5 persen
menyatakan setuju, 13,8 persen menyatakan sangat setuju,

kurang

sisanya 8,7 persen kurang setuju.

Gambar 48. Pekerja Sosial trampil bermitra dengan pihak
lain terkait kepentingan penerima manfaat

77,5%

8,7% Setuju 13,8%
0,0% 0,0% Sangat Setuju

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju
Setuju

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 63
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Pada gambar 49 dibawah menggambarkan pendapat fungsional
lain tentang pekerja sosial yang bisa memanfaatkan situasi
pandemik ini dengan ide-ide tak terduganya tanpa mengabaikan
protocol kesehatan. Sebanyak 69,6 persen menyatakan setuju,
10,1 persen menyatakan sangat setuju, 15,2 persen kurang setuju,

tidak setuju (0,7%).

sisanya tidak setuju (4,3%) dan sangat tidak setuju (0,7%).

Gambar 49. pekerja sosial bisa memanfaatkan situasi
pandemik ini dengan ide-ide tak terduganya tanpa
mengabaikan protocol kesehatan
69,6%

15,2% 10,1%
Sangat Setuju
0,7% 4,3%

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju
Setuju

Pada gambar 50 dibawah menggambarkan pendapat fungsional

lain tentang pekerja sosial mam[u beradaptasi dalam memberikan

Pada gambar 50 dibawah menggambarkan pendapat fungsional laintentang pekerjasosial

pelayanan di situasi pandemi covid 19. Sebanyak 829,6 persen

menyatakan setuju, 6,5 persen menyatakan sangat setuju, 9,4

persen kurang setuju, sisanya tidak setuju 1,4 persen.

setuju, sisanya tidaksetuju 1,4 persen.

Gambar 50. Pekerja Sosial mampu beradaptasi dalam
memberikan pelayanan di situasi pandemik Covid-19.

82,6%

9,4% Setuju 6,5%
0,0% 1,4% Sangat Setuju

Sangat Tidak Tidak Setuju Kurang Setuju
Setuju

64 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

4. Bentuk Dukungan Kepala Balai / Loka Dan Pejabat Structural
Lain Terhadap Pekerja Sosial

Perhatian pimpinan dan pejabat structural lainnya dalam bentuk
dukungan pada pekerja sosial dapat memperlancar kerja pekerja
sosial. Beberapa pendapat dari pimpinan dan pejabat structural
lainnya bisa dijadikan kategori factor pendukung dan penghambat
terkait kompetensi dan pelaksanaan praktik pekerjaan sosial yang
dilaksanakan oleh pekerja sosial di dalam Balai / Loka dapat
dilihat pada matrik dibawah ini:

Tabel 1. Pendapat Pimpinan Dan Pejabat Structural Lainnya
SosiTaelrkaiBtaDliai/LokaKompetensi Pekerja Sosial Di Balai/Loka

Faktor Pendukung Bagi Pekerja Sosial

Kepala Balai Pejabat Struktural lainnya

1. Pekerja sosial dapat 1. Pekerja sosial mampu menyesuaikan
menyesuaikan/menjalankan tugas/ proses layanan ditengah pandemik
layanan dengan situasi pandemic, covid 19.
disiplin menggunakan protokol
kesehatan

2 Pekerja sosial dapat bekerja rangkap 2 Mampu melaksanakan Tugas dan
(multitasking) Fungsi sesuai profesi dengan

menggunakan Protokol kesehatan.

3 Kdiennegrajna sitPueaksiersjaat insiosial mendukung 3 Pekerja sosial kreatif dalam melakukan

pelayanan rehabilitasi sosial selama

masa new normal.

Faktor Penghambat Bagi Pekerja Sosial

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 65
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

masa new normal.

Faktor Penghambat Bagi Pekerja Sosial

Kepala Balai Pejabat Struktural lainnya

1 Masih terbatas dalam penguasaan 1 Masih kurang memahami konsep
/pemahaman berbasis IT untuk pelayanan pelayanan di era new normal.
menyesuaikan dengan kondisi yang
dituntut pada masa pandemi covid 19.

2 Kurang memiliki daya juang 2 Pekerja sosial berusia lanjut, sulit
3 Kurang mandiri selalu harus diawasi. menyesuaikan dengan kondisi saat ini,
kurang memahami klien karena lebih
mementingkan perjadin.

3 Rendahnya Kemampuan Pekerja sosial
dalam mengaplikasikan tugasnya
sebagai pekerja sosial professional

4 Belum adanya Standar pelayanan yang
extra ordinary (saat kondisi darurat
Covid 19).

Tabel 2. Saran Pimpinan Dan Pejabat Structural Lainnya Terkait

Kompetensi Pekerja Sosial Di Balai/Loka.

SosialDi Balai/Loka

Saran terkait kompetensi pekerja sosial

Kepala Balai / Loka Pejabat Struktural Lainnya

1. Lebih peduli kepada penerima manfaat, 1. Perlu merubah paradigm baru dan

kmeelmupaerrghaatidkaann tlaitanngaknunngeawnnnyoarmadlengan pemahaman intervensi di era tatanan

baru. Dengan menetapkan SOP New

Normal sesuai standar dalam tatanan

new normal dan Pekerja sosial

beradaptasi dengan keadaan new

2. Melaksanakan tugas normal.
dengan 2. Perlu dilakukan Peningkatan kompetensi

pmreontgoukotlamakkaensehakteasenhatan, mengikuti atau pengetahuan di bidang IT sehingga

SpeOmPerdianltamh pdealnakmseanngaiaknutkieygapinaetgdaonmraednhisbdouasant dapat digunakan pada cara membuat

paparan, materi yang menarik, membuat

info grafis, dan penguasaan dan

penyampaian materi berbasis IT,

berkomunikasi secara virtual, selalu

menggunakan media IT. Menulis

laporan menggunakan IT, dan Pekerja

sosial berani mencoba melakukan dan

66 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

berkomunikasi secara virtual, selalu
menggunakan media IT. Menulis
laporan menggunakan IT, dan Pekerja
sosial berani mencoba melakukan dan
mengembangkan layanan melalui
digitalisasi.

3. Meningkatkan kompetensi/pengetahuan 3. Perlu adanya peningkatan kompetensi

sdeahlianmggpaempbeekrerijaansloasyialnapnerbleur:basis IT Pelayanan rehsos dalam menghadapi era

tatanan baru/new normal, terutama pada

• lebih banyak mengikuti webinar • Ilmu dan keterampilan teraphy
atau bintek online yang pada masa tatanan baru.
berhubungan dengan pekerjaan

sosial. • kreatifitas, inovasi dalam

• Terus meng-upgrade ilmu pemberian layanan sesuai

pekerjaan sosial melalui berbagai dengan kondisi saat ini.

media, meskipun sedang • kompetensi komunikasi
WFO/WFH atau tidak menangani pertolongan pekerjaan sosial
klien secara langsung. jarak jauh.
• Belajar melalui youtube,jurnal2

ilmiah dan kanal2 lainnya dengan • pelayanan dan

topik dan tema terkait tusi. rehabilitasi/asistensi kepada PM

• Melakukan pendalaman cara yang rentan (Optimaliasi
melakukan assesment melalui pelayanan pada masa pandemic),

vicon dengan tetap menjalan protokol

• Kreatif dalam membuat kesehatan yang ketat.

konten/kegiatan untuk • Upgrade pola dan tehnik
pendampingan PM pada masa pelayanan rehsos, dalam suasana
pandemic, pandemic.
Inovatif dalam pemberian layanan di era
tatanan baru • Menulis laporan dan tertib dalam
pencatatan penanganan kasus

• Mendalami pedoman pelayanan
sesuai tatanan baru,

Melakukan evaluasi hal-hal yg telah

dilaksanakan saat era new normal dalam

pendampingan kepada PM.

4. Aktif mencari informasi terkini tentang 4. Perlu meng-upgrade Informasi,

perkembangan covid-19, baik dr pusat, mengenai regulasi pada masa pandemi

daerah, gugus tugas. Covid-19, aktif mengikuti

Perkembangan Covid 19. Koordinasi

dengan petugas Satgas Covid. Harus

sering berkoordinasi dan berkomunikasi

dengan berbagai instansi dan organisasi

sosial terkait penanganan Covid 19.

Memperbanyak wawasan dengan

mengikuti seminar2 secara online

sehingga tidak ketinggalan informasi

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 67
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

dengan berbagai instansi dan organisasi
sosial terkait penanganan Covid 19.
Memperbanyak wawasan dengan
mengikuti seminar2 secara online
sehingga tidak ketinggalan informasi
tentang New Normal.
5. Perlu mengikutsertakan Pekerja sosial
pada berbagai Diklat dan pelatihan
melalui virtual, sering mengikuti
bimbingan teknis/pelatihan/seminar
tentang pelayanan diera tatanan baru.
Aktif mengikuti webinar/ vidcom dan
meluangkan waktu untuk mengikuti
webbinar serta bimtek online, baik
pelatihan melalui dinas maupun mandiri
6. Menjaga kesehatan diri sendiri dan
mematuhi aturan pemerintah berkaitan
dengan protokol kesehatan dalam masa
covid-19, mengikuti prosedur kesehatan.
Sehingga dapat tetap beraktivitas
memberikan layanan / melaksanakan
terapi dan pendamping keseharian baik
di kantor dan di rumah. Lebih
meningkatkan kewaspadaan terhadap
adanya pandemi covid-19 yang angka
korbannya masih meningkat.

7. Harus tetap menjaga etika pekerja sosial.

5. Pendapat Penerima Manfaat Terhadap Peran Pekerja Sosial

Bagian ini mendeskripsikan pendapat para penerima manfaat

tentang peran pekerja sosial dalam melayani mereka di era tatanan

baru atau pada masa pandemic Covid-19 ini.

Gambar 51 dibawah menggambarkan komposisi penerima manfaat

yang menjadi responden berdasarkan jenis kelamin. Sebanyak

69,8 persen adalah laki-laki dan 30,32 persen adalah perempuan.

68 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

perempuan.

Gambar 51.
Jenis Kelamin Penerima Manfaat

perempuan laki-laki

30,2%
69,8%

Gambar 52 dibawah menggambarkan komposisi penerima
manfaat yang menjadi responden berdasarkan umur. Sebanyak
34,9 persen direntang umur 20-29 tahun, 5,7 persen dibawah 20
tahun, 16,7 persen direntang 30-39 tahun, 4,8 persen direntang
umur 40-49 tahun, lebih dari 60 tahun 5,5 persen dan antara 50-59

dari 60tahun 5,5 persen dan antara 50-59 tahun sebesar 2,4 persen.

tahun sebesar 2,4 persen.

Gambar 52. Umur Responden Penerima Manfaat
34,9 35,7

16,7

5,5 4,8
2,4

> 60 50 - 59 40 - 49 30 - 39 20 - 29 > 20

Gambar 53 dibawah menggambarkan kondisi penerima manfaat yang menjadi responden.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 69
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Gambar 53 dibawah menggambarkan kondisi penerima manfaat
yang menjadi responden. Sebanyak 62,7 persen merupakan
penerima manfaat lama, 27,8 persen adalah penerima manfaat
baru dan 9,5 persen adalah penerima manfaat yang dipanggil
Loka.kembali masuk Balai / Loka.

Gambar 53. Kondisi Penerima Manfaat

62,7

PM lama 27,8 9,5
PM baru
PM yang dipanggil
kembali

Gambar 54 dibawah menggambarkan lama penerima manfaat
didalam Balai / Loka. Penerima Manfaat yag paling lama tinggal
di dalam Balai / Loka adalah selama 6 bulan – 7 bulan sebanyak
21,4 persen. Dan jumlah yang paling sedikit sebesar 4 persen
adalah penerima manfaat yang tinggal didalam Balai / Loka
selama 7 – 8 bulan.

70 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Gambar 55 dibawah menggambarkan pendidikan penerima
manfaat yang menjadi responden. Sebanyak 41,3 persen
pendidikannya SMA, 20,6 persen pendidikannya SMP, 15,1
persen pendidikannya SD, 7,9 persen sarjana, 7,9 persen tidak
tamat SD, 6,3 persen tidak sekolah dan diploma sebesar 0,8
tidakpersen.sekolahdan diploma sebesar 0,8 persen.

Gambar 55. Pendidikan Penerima Manfaat

41,3

20,6
15,1

7,9 7,9 6,3
0,8

Gambar 56 diSbarajwaanah mDiepnlgogmaambSarMkAan prSoMtPocol kSeDsehataTmniadtaykSaDng Tdiidwakajibkan oleh pekerj

sekolah

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 71
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Gambar 56 dibawah menggambarkan protocol kesehatan yang
diwajibkan oleh pekerja sosial kepada penerima manfaat.
Mayoritas menjawab pekerja sosial sering menyuruh penerima
manfaat untuk mencuci tangan (55,9%), memakai masker (55,1
%) dan menjaga jarak (53,5%).

Gambar 56. Protokol kesehatan yang diwajibkan oleh
pekerja sosial kepada Penerima Manfaat

memakai masker mencuci tangan menjaga jarak

55,155,9
53,5

26
22 22,8

7,1 7,9 13,4 12,6
5,5 7,9

sangat sering sering kadang-kadang pernah

Gambar 57 dibawah menggambarkan perubahan sikap pekerja

Gambar 57dibawah menggambarkan perubahansikap pekerjasosial sebelum dansaat

sosial sebelum dan saat pandemic kepada penerima manfaat.

Mayoritas menjawab ada perubahan sikap pekerja sebesar 70

persen, 17 persen menyatakan tidak ada perubahan dan 13 persen

menyatakan tidak tahu.

72 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

tidak tahu.

Gambar 57. perubahan sikap pekerja sosial
sebelum dan saat pandemi

ya tidak tidak tau
13%

17%

70%

Gambar 58 dibawah menggambarkan pekerja sosial memberikan
informasi terkait kehidupan di era tatana baru. Sebanyak 77
persen menyatakan pekerja sosial memberikan informasi tentang
kehidupan di era tatanan baru, protocol kesehatan dan pandemic
covid 19, 13 persen tidak menjawab apakah pekerja sosial
memberikan informasi atau tidak, dan 10 persen menyatakan
persenpemkernjyaastoaksainalpekerjatidaksosialmemberikmanetmibdaekriinkfoarnmasiinformasiamasama sekali.sekali.

Gambar 58. pekerja Sosial memberika informasi
terkait era tatanan baru pandemi Covid-19
ya tidak tidak menjawab

13%
10%

77%

B. PEMBAHASAN 73

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

B. PEMBAHASAN

Pekerjaan sosial sebagai profesi pertolongan memiliki banyak
kegiatan professional, seperti membantu individu, kelompok,
atau masyarakat, meningkatkan atau mengembalikan kapasitas
mereka untuk dapat berfungsi sosial kembali. Praktek pekerjaan
sosial adalah penerapan pengetahuan sosial, nilai kerja, prinsip,
dan teknik untuk membantu orang mendapatkan pelayanan yang
nyata (NASW, 1973). Berdasarkan hasil penelitian, unsur-unsur
kompetensi yang dimiliki pekerja sosial didalam Balai / Loka
tinggi pada pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan rendah
atau kurang pada unsur nilai dari kompetensi.

Kompetensi pengetahuan tinggi (mean = 3) karena Pekerja
Sosial yang bekerja dibawah Kementerian Sosial adalah mereka
yang berlatar pendidikan pekerjaan sosial. Pengetahuan yang
mereka miliki sudah menjadi dasar dalam menjalankan perannya
sebagai pekerja sosial yang melayani penerima manfaat didalam
Balai / Loka. Apalagi dari 430 responden dalam penelitian ini
sebanyak 65 persen telah memiliki sertifikasi pekerja sosial,
sisanya ada 25 persen sedang proses untuk mendapatkan
sertifikasi dan hanya 10 persen yang tidak mengikuti sertifikasi
dengan alasan masih sebagai calon pekerja sosial.

Kompetensi keterampilan dalam penelitian ini juga
menunjukkan tinggi (mean 2,98) pada pekerja sosial yang
bekerja di Balai / Loka. Keadaan ini didukung dengan latar
belakang pendidikan yang sebagian besar adalah sarjana di
bidang pekerjaan sosial sebesar 46,7 persen dan lulusan Sekolah

74 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) sebesar 26,7 persen. Selain
itu didukung oleh jenjang jabatan yang sebagian besar ada
ditataran pekerja sosial pertama (37,7%), pekerja sosial muda
(15,3%) dan pekerja sosial madya (14,7%). Walaupun sebagian
besar masa kerjanya dibawah 5 tahun (31,6%) dan 6 – 10 tahun
sebesar 23,6 persen namun latar belakang pendidikan dan jenjang
jabatan pekerja sosial sudah bisa menunjukkan bahwa mereka
ada pekerja sosial yang memiliki pengetahuan dan keterampilan
yang baik dalam melaksanakan praktik pekerjaan sosial.

Unsur kompetensi lainnya yang menjadi variable dalam
penelitian ini adalah kompetensi nilai. Hasil penelitian
mendapatkan bahwa kompetensi nilai pekerja sosial ada dalam
tahap sedang cenderung rendah (mean = 1,50). Hal ini menjadi
poin penting yang harus diatasi. Pekerjaan Sosial adalah sebagai
profesi terdepan dalam pemberian pelayanan sosial untuk
membantu orang, baik secara individual, kelompok, keluarga,
maupun masyarakat, dalam memecahkan rnasalah sosial yang
dihadapinya (Zastrow, 2004). Seorang pekerja sosial bekerja
selalu berhadapan dengan manusia. Pekerja sosial yang bekerja
didalam Balai / Loka juga berhadapan dengan para Penerima
Manfaat. Seorang pekerja sosial selain memiliki pengetahuan
dan keterampilan yang baik terkait pelayanan sosial pada
penerima manfaat, harus juga memahami etika dalam melakukan
praktik pekerjaan sosial. Nilai dan etika pekerja sosial antara
lain adalah pelayanan atau penerimaan, menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia, dan integritas.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 75
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Profesionalitas sebuah profesi juga mengacu kepada pedoman
yang mengatur tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang
boleh dan tidak boleh dilakukan. Selain itu profesi tersebut
juga akan berhubungan dengan manusia atau klien, jika tidak
memiliki pedoman dan tidak ada kontrol sudah dapat dipastikan
akan ada kecenderungan yang merugikan. Kecenderungan yang
merugikan tersebut antara lain, melaksanakan praktik yang salah,
berorientasi hanya kepada finansial tanpa mempertimbangkan
kondisi klien, tidak memahami aturan yang berlaku mengenai
hubungan dengan penerima manfaat dan hubungan dengan rekan
sesama Pekerja Sosial maupun fungsional lainnya dan pegawai
dilingkungan Balai / Loka. Hal-hal ini menjadi penting, sebab
sangat memungkinkan kesalahan dapat terjadi

Seperti pendapat Christ Ingrao (2015), bahwa pekerja sosial
memiliki kewajiban untuk berperilaku sesuai etika dan terlibat
dalam pengambilan keputusan berdasarkan etika juga. Selain
itu pekerja sosial harus memiliki pengetahuan tentang dasar
nilai profesi, standar etika, dan hukum yang relevan. Pekerja
sosial harus bisa mengenali dan mengelola nilai-nilai pribadi
dengan cara yang memungkinkan nilai-nilai profesional menjadi
pedoman praktik, membuat keputusan etis dengan menerapkan
standar Kode Etik Asosiasi Nasional Pekerja Sosial.

Pemerintah saat ini menyatakan pandemic Covid 19 telah
memasuki era tatanan baru atau masa adaptasi baru (new normal),
oleh sebab itu pekerja sosial harus dapat menyesuaikan metode
pemberian pelayanan pada penerima manfaat sesuai dengan

76 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

kompetensi yang dimilikinya. Semua ini tentunya tidak terlepas
dari dukungan pimpinan, manajerial dan pegawai lainnya.
Berdasarkanhasil penelitian dukungan yang diperoleh diantaranya
pimpinan mau mendengarkan ide-ide pemikiran pekerja sosial
terkait pelayanan sosial di era tatanan baru (95,5%), adanya
Standar Operasional Prosedur (SOP) rehabilitasi sosial yang
disusun khusus dilaksanakan di era tatanan baru, pimpinan rutin
memonitor kondisi kesehatan pegawai dan penerima manfaat
(94,2%) dan penyediaan pelayanan rehabilitasi sosial sesuai
protocol kesehatan (92,3%). Selain itu pimpinan mengeluarkan
kebijakan bahwa calon penerima manfaat sebelum masuk Balai
/ Loka harus melalui rangkaian kegiatan tes kesehatan (98,4%),
juga menyediakan ruang isolasi untuk penerima manfaat
yang menderita penyakit serius (91,9%). Balai / Loka juga
menyediakan pelayanan kesehatan untuk pegawai dan penerima
manfaat (89,5%) dan yang paling penting adalah pimpinan
sangat menguamakan kesehatan pegawainya (99,1%). Beberapa
temuan penelitan ini menunjukkan bahwa pihak pimpinan sangat
mendukung terciptanya lingkungan kerja yang bersih dan sehat,
terutama wabah Covid-19 yang masih menjadi ancaman serius
saat ini. Bahkan sebanyak 84,3 persen telah melakukan Tracing,
Testing dan Treatment (3T), akan tetapi masih ada Balai /Loka
yang belum melakukannya (15,7%). Beberapa uraian diatas
adalah bentuk-bentuk dukungan Balai/Loka dalam melaksanakan
pelayanan rehabilitasi sosial.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 77
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Persentase dukungan yang ada belum mencapai total 100
persen, sehingga hal ini dianggap menjadi salah satu faktor
penghambat. Akan tetapi tidak semestinya menjadikan pekerja
sosial tidak dapat menjalankan tugasnya, justru menjadikan
semangat untuk menghadapinya. Hal ini bisa ditemui dari
penilaian kelompok fungsional lainnya yang ada di dalam Balai
/ loka menyatakan ada perubahan pola pelayanan Pekerja Sosial
kepada Penerima Manfaat selama masa pandemic Covid-19
(92,8%). Bahkan mereka menilai pekerja sosial juga trampil
dalam bermitra dengan pihak luar terkait kepentingan Penerima
Manfaat (91,3%). Selain itu ada 89,1 persen mengatakan pekerja
sosial mampu beradaptasi dalam bekerja di masa pandemic ini,
bahkan ada 79,7 persen mengatakan pekerja sosial menyampaikan
banyak ide-ide terkait pelayanan kepada penerima manfaat
dimasa pandemic. Walau bagaimanapun sebanyak 60,2 persen
mengatakan pekerja sosial tetap tergantung dengan fungsional
lainnya dalam melaksanakan pelayanan rehabilitasi sosial kepada
penerima manfaat.

Penerima manfaat juga menyatakan bahwa dimasa pandemic
Covid-19 ini ada perubahan cara pekerja sosial dalam memberikan
pelayanan kepada mereka (70%), selalu mengingatkan kepada
penerima manfaat untuk melakukan protocol kesehatan seperti
sering cuci tangan (81,9%), selalu pakai masker (77,1%) dan tetap
menjaga jarak (76,3%). Selain itu 77 persen mengatakan pekerja
sosial juga rajin menginformasikan tentang wabah Covid-19,
protocol kesehatan yang harus dipatuhi, dan menginformasikan

78 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

bagaimana menyikapi kehidupan di era tatanan baru.
Praktik pekerjaan sosial yang dilakukan oleh pekerja sosial

di dalam Balai / Loka harus sejalan dengan prinsip-prinsip
praktik pekerjaan sosial dalam situasi Covid-19 (IPSPI, 2020).
Diantaranya pekerja sosial harus memperlakukan semua orang
dengan hormat dan bermartabat, tidak melakukan hal yang
membahayakan bagi orang lain maupun diri sendiri, membantu
mengurangi rasa takut yang dialami penerima manfaat dengam
memberikan informasi yang benar dan jelas, menyediakan
layanan konseling yang sesuai dan layak, melakukan rujukan
pada layanan yang lebih khusus bila diperlukan, mendengarkan
secara aktif melalui layanan daring atau bila terpaksa melakukan
tatap muka dengan tetap memperhatikan jarak, serta mengikuti
protokol kesehatan.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 79
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

80

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kompetensi Pekerja Sosial Dalam Memberikan Pelayanan
Rehabilitasi Sosial
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kompetensi pekerja
social dalam memberikan pelayanan rehabilitasi social pada era
tatatan baru secara umum relatif tinggi dari segi pengetahuan
dan keterampilan. Namun kompetensi pekerja social dari segi
nilai berada pada tahap sedang. Tentunya hal ini perlu menjadi
perhatian, mencari penyebab dan solusi agar pekerja sosial
memiliki kompetensi yang seimbang antara pengetahuan,
keterampilan dan nilai. Memahami nilai dalam praktik
pekerjaan sosial suatu hal yang penting. Pekerja sosial bekerja
berhadapan dengan manusia yang harus diperlakukan dengan
hormat dan bermartabat, memahami tiap orang berbeda, tidak
memaksakan kehendak, menghargai orang lain dan diri sendiri,
dan lain-lain.
Pekerja Sosial salah satu dari sekian banyak profesi yang
sangat penting di dunia. Pengetahuan dan keterampilan khusus
yang dimiliki para Pekerja Sosial menempatkan pada posisi
strategis dalam berbagai bidang.Terbukti bahwa profesi Pekerja
Sosial merupakan salah satu dari delapan karir terbaik (Ritter,
2009). Kemampuan seorang Pekerja Sosial tentu tidak terlepas

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 81
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

dari nilai, etik, kualitas, pengetahuan dan keterampilan praktik
yang baik. Pekerja sosial sebagai seorang yang memiliki
keahlian harus benar-benar profesional dalam melakukan
pertolongan terhadap penerima manfaat. Dimasa pandemic
Covid-19 ini sikap kehati-hatian dalam menangani penerima
manfaat sangat di butuhkan oleh seorang pekerja sosial karena
penerima manfaat adalah seorang manusia yang sama dengan
kita. Dianalogikan misalnya seorang dokter memberikan resep
yang salah terhadap pasiennya, maka akan menyebabkan hal
yang fatal terhadap pasien. Begitu juga dengan seorang pekerja
sosial yang harus dengan benar memberikan intervensinya
dengan dibekali kompetensi. Kompetensi yang dimaksud
adalah pengetahuan, keterampilan, dan nilai.

Bimbingan teknis, capacity building pekerja sosial,
workshop ataupun pendidikan dan pelatihan yang diberikan
pada pekerja sosial selama ini hanya dititikberatkan pada
peningkatan pengetahuan dan keterampilannya saja. Etika dan
nilai sebagai seorang pekerja sosial cenderung kurang mendapat
perhatian. Padahal prinsip-prinsip etik dan nilai pekerja sosial
selalu tercantum pada beberapa pedoman praktik pekerjaan
sosial yang disusun oleh berbagai organisasi profesi pekerjaan
sosial. Hanya sayang bimbingan atau capacity building terkait
peningkatan kompetensi nilai dan etik Pekerja Sosial masih
diabaikan.

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

82

2. Bentuk Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Dalam Balai/Loka
Pada Era Tatanan Baru

Berdasarkan hasil penelitian, ada perubahan pola layanan
rehabilitasi sosial di dalam Balai/Loka yang dilakukan oleh
pekerja sosial. Pekerja sosial menyadari wabah Covid-19
ini perlu kewaspadaan tinggi. Cara ataupun metode dalam
melaksanakan pelayanan rehabilitasi sosial diddalam Balai/
Loka tidak bisa disamakan seperti saat kondisi normal. Perlu
menerapkan protokol Kesehatan yang telah ditetapkan oleh
Kementerian Kesehatan RI maupun WHO. Paling tidak
berupaya menyesuaikan penggunaan metode pelayanan
sebelum pandemic dan saat era tananan baru pandemic covid
ini. Terutama pada penerima manfaat yang memang harus
ditangani secara langsung (direct services). Kalaupun terpaksa
harus berhadapan langsung dengan penerima manfaat, pekerja
sosial tetap harus melindungi diri dengan Alat Perlindungan
Diri (APD) saat melakukan kontak dengan penerima manfaat.
Hasil penelitian juga mendapati pekerja sosial menggunakan
metode daring saat melakukan case conference ataupun sesi
konsultasi, asesmen dan lain-lain.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 83
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

3. Faktor pendukung dan penghambat pelayanan rehabilitasi
sosial pada era tatanan baru

Saat melaksanakan praktik pekerjaan sosial di dalam
Balai/Loka, pekerja sosial bekerjasama dengan teman sejawat
seperti kelompok fungsional lainnya yang ada di Balai/Loka.
Diantaranya Psikolog, Perawat, Penyuluh Sosial, Arsiparis,
Instruktur, dan lain-lain. Selain itu itu sebagian besar Balai/
Loka telah melakukan 3 T (Tracing, Testing, Treatment) dengan
berbagai cara seperti melakukan rapid test, mematuhi protocol
Kesehatan, melakukan sosialisasi terkait informasi wabah
Covid-19 dan resiko tertular kepada pegawai maupun penerima
manfaat di Balai/Loka. Selain itu menyediakan ruang isolasi,
melakukan penyemprotandesincfectan secara berkaladi seluruh
lingkungan Balai/Loka, mengatur ruang tidur wisma, mengatur
menu makanan sehat untuk penerima manfaat, menyediakan
dan memberikan obat-obatan terutama vitamin untuk daya
tahan tubuh pegawai dan penerima manfaat, menyediakan
tempat cuci tangan di setiap tempat di lingkungan Balai/Loka.
Beberapa Balai/Loka juga telah menyusun SOP pelayanan
rehabilitasi sosial terkait perlindungan dari Covid-19.

Beberapa pimpinan mengakui dimasa pandemic ini pekerja
sosial banyak menemukan ide-ide terkait pelayanan sosial. Ide
ide dan pemikiran pekerja sosial ini tersebut sangat didukung
pimpinan, terutama terkait cara melayani penerima manfaat
yang disesuaikan dengan protocol Kesehatan. Akan tetapi

84 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Sebagian juga mengakui bahwa masih ada pekerja sosial yang
tidak mahir dalam menggunakan tehnologi informatika. Seperti
bila terpaksa harus melakukan konsultasi atau case conference
secara daring, asesmen, melakukan video conference atau
meeting zoom kantor karena yang bersangkutan sedang Work
From Home (WFH), dan lain-lain. Akibatnya proses pelayanan
menjadi sedikit terhambat, komunikasi tidak lancar atau bisa
saja ada kesalahan komunikasi.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa
kompetensi bagi pekerja sosial adalah modal penting untuk
melaksanakan pelayanan di Balai/Loka. Pelayanan dan program
yang hebat tanpa pekerja sosial yang memiliki kompetensi
maka akan sia-sia. Kompetensi pekerja sosial adalah penting
untuk menentukan keberhasilan pelayanan sosial di era tatanan
baru (new normal).

B. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian diatas, maka dipandang
perlu peningkatan kompetensi pekerja sosial agar mampu
menghadapi tantangan dalam memberikan pelayanan sosial
di era tatanan baru (new normal). Beberapa rekomendasi yang
ditawarkan adalah sebagai berikut:

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 85
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

1. Peningkatan Kompetensi Pekerja Sosial dalam
Memberikan Pelayanan Rehabilitasi Sosial.
a. Mengadakan pelatihan untuk peningkatan kompetensi
pekerja sosial di masa-masa kriris. Contohnya Crisis
Intervention atau Critical Insident Stress Management
Training (pelatihan manajemen stress disaat peristiwa
kritis). Gunanya melatih pekerja sosial agar mendapatkan
pengetahuan dan keterampilan mengendalikan stress pada
situasi krisis seperti disaat wabah pandemic Covid-19 ini.
Manfaatnya tidak hanya untuk pekerja sosial tapi nantinya
akan berpengaruh pada tampilan kerja pekerja sosial saat
melaksanakan praktik pekerjaan sosial.
b. Mengadakan bimbingan Teknis, dengan memperhatikan
pentingnya etika dan nilai Pekerja Sosial dalam presentase
berimbang dengan materi lainnya.
c. Menilai kapasitas diri terkait etik dan nilai sebagai Pekerja
Sosial, dengan menggunakan INSTRUMEN PENILAIAN.
Untuk mengingatkan kembali pentingnya etika dan nilai
bagi Pekerja sosial yang banyak berhubungan dengan
manusia.
d. Meningkatkan kemampuan Pekerja Sosial menggunakan
teknologi informatika dan teknologi digital termasuk
berbagai aplikasi perangkat lunak (software) yang dapat
digunakan dalam memberikan pelayanan di era tatanan
baru

86 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

e. Menambahkan pengetahuan tentang pencegahan, risiko
Covid 19 dan tindakan cepat untuk mengatasi Covid-19
melalui sosialisasi dari pimpinan maupun belajar secara
mandiri.

2. Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Dalam Balai/Loka Pada
Era Tatanan Baru
a. Menyusun dan menetapkan kebijakan terkait standar
layanan di masa pandemic yang lebih komprehensif
b. Menyusun dan menetapkan kebijakan dari pimpinan yang
mendukung pelaksanaan tugas pekerja sosial, terutama
pada perubahan anggaran terkait pelayanan rehabilitasi di
Balai/Loka di era tatanan baru pandemic Covid 19.
c. Memperkuat dukungan dan komitmen dari pihak manajerial
terkait dengan model atau metode pelayanan sosial berbasis
daring dengan memperhatikan protocol Kesehatan.

3. Melakukan Penelitian Lanjutan berkaitan dengan.
a. Kompetensi dan kinerja Pekerja Sosial dalam melakukan
Pelayanan rehabilitasi social berdasarkan seting pelayanan
baik didalam Balai maupun Loka.
b. Ketahanan (resilience) para pegawai khususnya pekerja
sosial dan penerima manfaat di masa pandemic Covid-19.
c. Pemetaan dan penyiapan pola pelayanan sosial kepada
penerima manfaat di Balai/Loka pasca pandemic Covid-19

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 87
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

C. Limitasi Kajian

a. Survey online
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
survey monkey secara online sehingga peneliti kesulitan
untuk mengontrol jalan penegumpulan data.

b. Enumerator
Pengumpulan data dibantu oleh enumerator meskipun
sudah dilatih secara coaching tetapi ada keterbatasan
dalam mengontrol kebenaran data yang dikumpulkan oleh
enumerator. Pengumpulan data ini sangat bergantung pada
integritas dan pemahaman enumerator terhadap tujuan
penelitian ini.

c. Tidak dibuat kluster pemasalahan
Survey dilakukan pada semua Balai/Loka yang melakukan
pelayanan rehabilitasi social tanpa membuat klusterisasi
permasalahan anak, lanjut usia, disabilitas, tuna social,
penyalahguna Napza dan HIV AIDS.

88 Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

DAFTAR PUSTAKA

Arum Sutrisni Putri. (2020). Pandemi: Faktor Penyebab dan Tahapan.
diakses 18 Juni 2020 dari https://www.kompas.com/skola/
read/2020/04/25/170000869/pandemi--faktor-penyebab-dan-
tahapan?page=all.,

Chris Ingrao. (2015). 5 Core Competencies of Sosial Work Practice
https://sosialwork.simmons.edu/5-core-competencies-sosial
work-practice/

Dandy Bayu Bramasta. (2020). Mengenal Apa Itu New Normal di
Tengah Pandemi Corona. Diakses 18 Juni 2020 dari https//www.
kompas.com/tren/read/2020/05/20/063100865/mengenal-apa
itu-new-normal-di-tengah-pandemi-corona-?page=all.

Fahrudin, Adi. (2017). Pengantar Kesejahateraan Sosial. Bandung.
Refika Aditama

Fahrudin, Adi (2020). Lanjut Usia Di Masa Pandemi. Bahan Webinar
HLUN. Bandung: Poltekesos

Hornby. (1982). Oxford Advance Dictionary of Current English.
Oxford University Press.

IPSPI. (2020). Panduan Praktik Pekerjaan Sosial Dalam Pandemi
Covid-19 : khusus bagi Pekerja Sosial Indonesia. Jakarta.

Lena Dominelli (2020). Guidelines for Sosial Workers During the
Covid-19 Pandemic. University of Stirling, UK.

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 89
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru

Lena Dominelli. (2020). Sosial Work During a Health Pandemic
University of Stirling, UK

Meiti Subardhini, Adi Fahrudin, Tria Patrianti. (2020). Sosial
Workers Competence in Psychososial Therapy:A Case Study
at the Sosial Rehabilitation Center for People with Mental
Disabilities Phala Martha Sukabumi, West Java. International
Journal of Advanced Science and Technology, 29(04), 2612
- 2621. Retrieved from http://sersc.org/journals/index.php/
IJAST/article/view/21135

Nancy Morrow-Howell, Natalie Galucia & Emma Swinford (2020):
Recovering from the COVID-19 Pandemic: A Focus on Older
Adults, Journal of Aging & Sosial Policy, DOI:10.1080/08959
420.2020.1759758

Republik Indonesia. Undang Undang Pekerja Sosial Nomor 14 tahun
2019.

Ritter. (2009). Careers in Sosial Work. New York. Springer
Publishing Company.

Baru
Sosial
PekerjaTatanan

Era
Pada
Kompetensi
Balai/loka
PenelitiaDn i
Sosial
Laporan
Rehabilitasi

Pelayanan
Dalam

90

Laporan Penelitian Kompetensi Pekerja Sosial 91
Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial Di Balai/loka Pada Era Tatanan Baru


Click to View FlipBook Version