MODUL PEMBELAJARAN
Mata Kuliah
Teknologi Produksi Tanaman Hias Pot
Materi: Teknik Produksi Bonsai
Disusun oleh:
Rizki, S.Si,. M.P.
PROGRAM STUDI BUDI DAYA TANAMAN HORTIKULTURA
JURUSAN BUDI DAYA TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH
Oktober 2020
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis hantarkan ke hadirat Allah SWT, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat melakukan penyusuan
Modul Pembelajaran ini. Penyusunan Modul Pembelajaran Mata
Kulian Teknologi Produksi Tanaman Hias Pot ini dengan tujuan agar
mahasiswa mendapatkan materi yang terarah, dan sesuai dengan
capaian pembelajaran serata merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari upaya untuk mewujudkan kemandirian belajar
mahasiswa di Program Studi Hortikultura Politeknik Pertanian Negeri
Payakumbuh
Penyusuan modul pembelajaran ini tidak terlepas dari bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak
langsung, yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Sehubungan
dengan itu maka melalui pengantar ini penulis menyampaikan terima
kasih dan penghargaan kepada pihak-pihak yang termaksud.
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa modul ini masih perlu
dikembangkan lebih lanjut. Sehubungan dengan itu, saran-saran
yang bersifat konstruktif dari berbagai pihak, penulis nantikan.
Semoga modul ini dapat memberikan kontribusi yang bermakna bagi
peningkatan efektivitas proses dan optimalisasi hasil pembelajaran
dalam lingkup Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, khususnya di
Program Studi Budi Daya Tanaman Hortikultura ke depannya
Tanjung Pati, Oktober 2020
Rizki, S,Si., M.P.
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Petunjuk Bagi Mahasiswa
Untuk memperoleh prestasi belajar secara maksimal, maka langkah-
langkah yang perlu dilaksanakan dalam modul ini antara lain:
1. Bacalah dan pahami materi yang ada pada setiap kegiatan
pembelajaran. Bila ada materi yang belum jelas, mahasiswa
dapat bertanya pada dosen secara langsung atau melalui
pesan di SIAKAD dan EDLINK
2. Kerjakan setiap tugas diskusi terhadap materi-materi yang
dibahas dalam setiap kegiatan pembelajaran.
3. Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi
lagi pada kegiatan pembelajaran sebelumnya atau
bertanyalah kepada dosen pengampu mata kuliah
Petunjuk Bagi Dosen
Dalam setiap kegiatan belajar dosen berperan untuk:
1. Membantu mahasiswa dalam merencanakan proses belajar
2. Membimbing mahasiswa dalam memahami konsep, analisa,
dan menjawab pertanyaan mahasiswa dalam proses
pembelajaran.
3. Memberikan saran kepada mahasiswa untuk mengulang
kembali materi pembelajaran
Petunjuk Evaluasi Modul
1. Soal evaluasi tidak terlepas dari capaian materi yang telah
dipelajari
2. Soal yang disajikan pada modul ini dalam bentuk essay
3. Nilai tertinggi yang dapat diperoleh oleh mahasiswa adalah
100
CAPAIAN PEMBELAJARAN
CAPAIAN PEMBELAJARAN UMUM MATA KULIAH
Mahasiswa mampu melaksanakan budidaya tanaman Hias Pot
CAPAIAN PEMBELAJARAN KHUSUS MATA KULIAH
Mahasiswa mampu Menjelaskan dan melakukan Teknik Produksi
bonsai
CAPAIAN MATERI PEMBELAJARAN
Topik 1 : Kuliah Pengantar Bonsai
Mahasiswa mampu menjelaskan
1. Pengertian Bonsai
2. Kriteria tanaman yang dapat dijadikan bonsai
3. Tanaman yang dapat dibonsai
4. Bentuk dasar bonsai
5. Model-model bonsai
6. Persiapan pembuatan bonsai
7. Langkah-langkah pembuatan bonsai
8. Perawatan dan Memperindah bonsai
Topik 2 : Kuliah Bonsai Kelapa
Mahasiswa mampu
1. Membedakan Varietas kelapa yang dapat dijadikan bonsai
2. Membedakan macam-macam Bentuk dasar bonsai kelapa
3. Menjelaskan Morfologi dan taksonomi kelapa
4. Menjelaskan Langkah-langkah pembuatan bonsai kelapa
5. Melakukan Perawatan bonsai kelapa
6. Menjelaskan Bonsai-bonsai kelapa unik dan model-model
bonsai kelapa
Topik 3 : Praktikum Pembuatan Bonsai Kelapa
Mahasiswa mampu
1. mengetahui komponen media untuk bonsai kelapa
2. membuat media untuk tanaman bonsai kelapa
3. memilih bibit kelapa yang dapat dijadikan sebagai bonsai
4. menjelaskan langkah-langkah dalam membuat bonsai kelapa
Topik 4 : Praktikum Perawatan Bonsai Kelapa
Mahasiswa mampu melakukan teknik yang benar mengenai
1. Penyiraman
2. Pemupukan
3. Penyiangan
4. Pemendekan daun
5. Pengendalian hama dan penyakit
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................. iii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ........................................... iv
CAPAIAN PEMBELAJARAN ...................................................... v
DAFTAR ISI ........................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................... ix
MODUL 1 : PENGANTAR BONSAI ............................................. 1
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN ................................................. 1
B. MATERI PEMBELAJARAN ................................................... 2
1. Pengertian Bonsai ............................................................ 2
2. Kriteria tanaman yang dapat dijadikan bonsai ................... 2
3. Tanaman yang dapat dibonsai ......................................... 6
4. Bentuk dasar bonsai ....................................................... 10
5. Model-model bonsai ....................................................... 13
6. Persiapan pembuatan bonsai ........................................... 15
7. Langkah-langkah pembuatan bonsai ................................ 18
8. Perawatan dan Memperindah bonsai ................................ 21
9. Evaluasi ......................................................................... 26
MODUL 2 : BONSAI KELAPA ................................................... 27
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN ................................................ 27
B. MATERI PEMBELAJARAN .................................................. 28
1. Varietas kelapa yang dapat dijadikan bonsai ................. 28
2. Bentuk dasar bonsai kelapa ......................................... 32
3. Morfologi dan taksonomi kelapa .................................. 33
4. Langkah-langkah pembuatan bonsai kelapa .................. 35
5. Perawatan bonsai kelapa ............................................. 40
6. Bonsai-bonsai kelapa unik ............................................ 43
7. Evaluasi ...................................................................... 48
MODUL 3 : PRAKTIKUM PEMBUATAN BONSAI KELAPA ............. 49
A. Capaian Pembelajaran .................................................. 49
B. Materi Pembelajaran .................................................... 50
C. Alat dan Bahan ............................................................ 51
D. Cara Kerja .................................................................... 51
E. Evaluasi ....................................................................... 54
MODUL 4 : PRAKTIKUM PERAWATAN BONSAI KELAPA ............. 55
A. Capaian Pembelajaran .................................................... 55
B. Materi Pembelajaran ...................................................... 56
C. Alat dan Bahan .............................................................. 57
D. Cara Kerja ..................................................................... 57
E. Evaluasi ....................................................................... 58
DAFTAR GAMBAR
1.1. Tanaman yang sudah di Bonsai .................................. 3
1.2. Bonsai kelapa dari kelompok tanaman monokotil ......... 4
1.3. Ficus retusa Linn di Museum Bonsai Crespi di Italia,
pohon bonsai tertua di dunia berusia lebih
1.000 tahun ............................................................... 5
1.4. Bonsai bugenvil memiliki bentuk bunga yang indah ........ 6
1.5. Tanaman yang dapat dibonsai ..................................... 7
1.6. Tanaman bonsai Boxus/buxus (Buxus arlandii) .............. 8
1.7. a. Bonsai Beringin, b. Bonsai Asam ............................... 8
1.8. Bonsai Bambu Kuning ................................................ 9
1.9. Bentuk-bentuk dasar bonsai a. Tegak lurus (Chokkan),
b. Tegak berkelok-kelok (Mayogi), c. Sarung Angin
(Fukiganashi), d. Menggantung (Kengai), e. Batang bergelung
(Bankan), f. Setengah menggantung (Han Kengai), g.
Berbatang banyak (Takan), h. Pohon sastrawan (Bunjinki),
i. (Sapu tegak (Hokidachi) .......................................... 12
1.10. Model bonsai berdasarkan gaya tumbuhannya yaitu:
a. Formal, b. Informal, c. Slanting ................................ 13
1.11. Alat untuk pembuatan bonsai ....................................... 17
1.12. Pemangkasan bakalan bonsai ....................................... 18
1.13. Teknik Pengkawatan bonsai ......................................... 19
1.14. Penyiraman bonsai ...................................................... 21
1.15. Pemangkasan Bonsai ................................................... 22
1.16. Pembukaan kawat ....................................................... 23
1.17. Repoting tanaman Bonsai ............................................ 24
1.18. Pengendaliah hama ..................................................... 25
2.1. Varietas kelapa untuk bonsai kelapa ............................. 31
2.2. Bentuk dasar bonsai kelapa, a. Horizontal; b. Vertikal;
c. Terbalik .................................................................. 33
2.3. Posisi bibit bonsai kelapa Vertikal ................................ 37
2.4. Penumbuhan tunas bonsai kelapa, a. media tanah,
b. Media air, c. Media sekam ....................................... 38
2.5. Penanaman bonsai kelapa pada media ......................... 39
2.6. Bagian yang dibuang untuk pemendekan daun ............. 39
2.7. Penyiraman bonsai kelapa ............................................ 40
2.8. Repoting bonsai kelapa ke pot dangkal ........................ 42
2.9. Bonsai kelapa bercabang dua ....................................... 43
2.10. Bonsai kelapa terpuntir ................................................ 44
2.11. Bonsai kelapa berbatang tua ........................................ 44
2.12. Bonsai kelapa dengan akuarium ................................... 45
2.13. Bonsai kelapa dengan model hewan ............................. 46
2.14. Bonsai kelapa dengan model lanskap ............................ 47
3.1. Teknik membuka sabut bakalan bonsai kelapa .............. 53
MODUL - 1
PENGANTAR BONSAI
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Mahasiswa mampu menjelaskan
1. Pengertian Bonsai
2. Kriteria tanaman yang dapat dijadikan bonsai
3. Tanaman yang dapat dibonsai
4. Bentuk dasar bonsai
5. Model-model bonsai
6. Persiapan pembuatan bonsai
7. Langkah-langkah pembuatan bonsai
8. Perawatan dan Memperindah bonsai
B. MATERI PEMBELAJARAN
1. Pengertian Bonsai
Bonsai pertama kali berkembang di Jepang yang pelafalannya
penzai, bonsai merupakan tanaman yang berukuran kerdil dan
mempunyai nilai seni karena bentuknya yang unik dalam proses
pembuatan dan bentuknya, bonsai berasal dari istilah bon yang
berarti pot dangkal. Keindahan bonsai bisa dilihat dari dahan,
ranting, daun dan akar pohonnya, dan juga pot yang digunakan
berukuran sangat kecil.
Bonsai mempunyai seni, di sini yang dimaksud adalah dalam hal
pemotongan, pemangkasan, dan pembentukan cabang pohon
dengan cara membentuk dengan kawat sesuai alur yang
diinginkan, di samping itu akarnya bisa dibuat dengan menyebar
di atas batu. Membuat bonsai membutuhkan waktu lama, karena
mempunyai proses dalam hal pemupukan, pemangkasan,
pembentukan ranting, tanah yang digunakan, pot, dan dalam
pemilihannya tidak asal sehingga pembuatan bonsai
membutuhkan waktu yang lama. Untuk mengerdilkan dengan
cara memotong akar atau ranting pohon yang akan dikerdilkan
misalnya pohon beringin bisa dengan memotong ranting atau
akarnya. Setelah memotong akar dan ranting bisa dibentuk
dengan media kawat, sebelum menggoreskan kulit ranting kawat
harus sudah diambil terlebih dahulu.
2. Kriteria tanaman yang dapat dijadikan bonsai
Berikut adalah karakteristik tanaman pot bonsai yang secara
umum biasanya ditemukan :
a. Profil yang tidak sedetail pohon asli tetapi memiliki ciri
yang cukup untuk dengan mudah menunjukkan jenis
pohon dewasa.
b. Kecilnya relatif, dibandingkan dengan pohon-pohon asli,
untuk kemudahan transportasi dan kemampuan untuk
disimpan di mana saja, terutama di dalam rumah.
c. Rasa kealamian yang telah diciptakan oleh intervensi
manusia untuk lanskap.
d. Representasi khusus dari sesuatu yang jauh lebih dari
bentuk itu sendiri, dan memungkinkan setiap orang untuk
menafsirkan apa yang ditampilkan pada bonsai
berdasarkan pengalaman dan ingatan seseorang.
e. Bonsai memiliki makna sesuatu dipegang dengan sangat
hormat dan untuk sementara waktu dibawa ke rumah
untuk tamu terhormat
Gambar 1.1. Tanaman yang sudah di Bonsai
f. Sebuah pohon/taman miniatur portabel atau dapat
diangkut yang dapat mewakili musim dan lanskap favorit
yang dekat untuk meditasi atau kontemplasi (tindakan
mencari sesuatu dengan serius).
g. Umumnya kelompok dikotil ini umumnya memiliki daya
adaptasi yang baik terhadap lahan yang sempit di dalam
pot, berbentuk pohon yang keras dan berkambium.
Sedangkan tumbuhan kelompok monokotil kurang mampu
beradaptasi dengan lahan sempit/pot. Namun, ada juga
jenis tanaman monokotil yang dapat dijadikan bonsai
seperti kelapa gading, kelapa puyuh, dan bambu.
Gambar 1.2. Bonsai kelapa dari kelompok tanaman monokotil
h. Berumur Panjang, Tanaman harus berumur panjang yang
dapat mencapai umur puluhan bahkan ratusan tahun
hidup di alam bebas. Hal ini karena bonsai merupakan seni
yang terus tumbuh sampai ratusan tahun
i. Daya adaptasi yang tinggi, mampu beradaptasi terhadap
hujan dan panas serta tahan (beradaptasi) terhadap
kondisi wadah yang sempit dan terbatas seperti di dalam
pot, dapat hidup terus meskipun jumlah makanan dan
nutrisinya sedikit dengan perkembangan akar dan batang
yang seadanya.
Gambar 1.3. Ficus retusa Linn di Museum Bonsai Crespi di Italia, pohon
bonsai tertua di dunia berusia lebih 1.000 tahun.
j. Memiliki bentuk yang indah secara alami, tanaman harus
sudah memiliki daya tarik atau keindahan, baik pada daun,
batang, akar, bunga maupun buahnya
k. Tahan terhadap perlakuan, Dapat dibentuk dan dipaksa.
tahan terhadap perlakuan (proses penyempurnaan bentuk
pohon) sehingga bentuknya dapat menjadi seperti yang
diinginkan. Perlakuan terhadap tanaman seperti ; tahan
dipahat, dikawat dan juga dipangkas setiap saat
l. Pertumbuhan lambat, Tanaman sebaiknya tidak tumbuh
terlalu cepat sehingga bentuknya juga tidak cepat
berubah.
m. Tanaman yang tidak terlalu cepat tumbuh tinggi
melainkan tumbuh membesar memiliki daun lebat, kecil
dan tidak mudah rontok
n. Akar tunjang dan sulur yang dapat dijadikan ornamen
bonsai
o. Permukaan kulit (texture) yang menarik, dengan bentuk
batang yang berliku-liku secara artistik-dekoratif
p. Memiliki bunga-bunga yang harum, indah, berwarna
terang, kecil-kecil dan buah yg kecil berwarna-warni serta
bentuk dan warna kuncup daun-daun muda yang
mencolok.
Gambar 1.4. Bonsai bugenvil memiliki bentuk bunga yang indah
3. Tanaman yang dapat dibonsai
a. Pinus, Tumbuhan ini sangat baik di daerah dataran tinggi
dengan ketinggian 255-2010 mdpl. Pinus ini memiliki ciri-ciri
batangnya keras, ramping dan juga mempunyai getah. Daunnya
berbentuk jarum, satu ikat terdiri dari dua daun bentuk jarum,
berwarna hijau cerah akan menambah keindahan ketika
dijadikan tanaman bonsai.
b. Cemara Udang, Bakalan bonsai terbaik dan banyak di buru orang
karena bonggolnya yang besar dan bisa berlekuk-lekuk, sangat
indah, kayunya keras dan mempunyai alur yang indah mudah
diukir, sangat tahan penyakit dan mudah perawatannya
Gambar 1.5. Tanaman yang dapat dibonsai a. Pinus, b. Cemara udang
c. Bougenville (Bougainvillea sp), Batangnya memiliki banyak duri
yang tajam dan runcing, hidup baik di dataran rendah dan saat
kekurangan air sekalipun bisa mengeluarkan Seludang bunga
yang warnanya merah muda terang, tanaman perdu batangnya
bisa tumbuh membesar
d. Boxus/buxus (Buxus arlandii), Daun kecil berwarna hijau yang
tumbuhnya lambat, umur yang panjang. Batang sangat padat
dan keras serta mempunyai akar yang kokoh, bisa diperbanyak
dengan biji ataupun setek.
e. Kemuning (Murraya panniculata), Bunganya yang kecil-kecil dan
memiliki aroma yang sangat khas, buah kecil memiliki warna
hijau muda ketika masih muda dan merah ketika sudah tua
f. Bonsai Jeruk, Jenis jeruk yg bisa dijadikan bonsai jeruk keplok,
jeruk bali, dan jeruk kingkit. Keindahannya terletak pada batang,
buah dan daunnya
Gambar 1.6. Tanaman bonsai Boxus/buxus (Buxus arlandii)
g. Adenium, Mempunyai akar dan bonggol yang besar dan
mempunyai daya tahan hidup yang sangat tinggi. Bunga
adenium yang berwarna-warni
h. Beringin, Memiliki pohon yang unik, akarnya gampang dibentuk,
daunnya yang sangat rimbun, serta daya tahan dengan media
tanam yang terbatas
Gambar 1.7. a. Bonsai Beringin, b. Bonsai Asam
i. Asam/Asem (Tamarindus indica), Pohonnya besar, mempunyai
batang cokelat kehitaman, keras, kokoh dengan memiliki daun
menyirip dalam jumlah yang genap
j. Kupalandak (Syzygium cauliflora), Tanaman dikotil, mempunyai
batang berkayu yang tegak bulat, Diminati karena batang, buah
dan daunnya sangat rapi, sangat cantik dan indah
k. Kelapa, Merupakan tanaman monokotil yang memiliki serat yang
keras dan mengayu, memiliki umur yang panjang, daya adatif
yang cukup tinggi, mampu hidup pada media yang miskin unsur
hara,
l. Bambu kuning, Tanaman monokotil memiliki bentuk yng unik,
batang bisa dibentuk sesuai dengan yang diinginkan, ruas dan
buku pada bambu ini menambah kesan indah jika ditanam di
dalam pot bonsai.
Gambar 1.8. Bonsai Bambu Kuning
4. Bentuk dasar bonsai
a. Tegak Lurus (Chokkan)
Batang tegak lurus vertikal ke atas. Pohon
memiliki batang yang ideal bila pohon
memiliki diameter batang makin ke atas makin mengecil,
dimulai dari bagian batang yang dekat akar. Pohon
memiliki dahan yang ideal bila dahan ada di sisi depan-
belakang atau kiri-kanan saling bersilangan satu sama lain.
Jarak antar dahan makin k atas makin sempit. Bentuk akar
ideal apabila akar dilihat dari atas, menjalar ke segala
penjuru.
b. Tegak Berkelok-kelok (Moyogi)
Batang tegak berkelok-kelok ke kiri dan ke kanan. Diameter
batang makin ke atas makin mengecil dengan keseimbangan
kiri dan kanan yang baik. Dahan yang baik adalah yang ada
di bagian puncak lengkungan batang pohon. Dahan yang
berada di bagian dalam lengkungan dipotong. Dari pangkal
batang hingga bagian puncak pohon dapat ditarik garis lurus,
dan orang yang melihat tidak merasa khawatir dengan
keseimbangan pohon tersebut
c. Sarung Angin (Fukiganashi)/Tertiup Angin
Pohon tumbuh (batang dan dahan) hanya condong ke satu
arah. Batang dan dahan pohon yang condong ke satu sisi
jauh lebih panjang daripada tinggi pohon yang diukur dari
pangkal batang ke puncak pohon. Posisi batang dan dahan
mirip dengan bonsai gaya Setengah Menggantung, tetapi
batang dan dahan terlihat membentuk garis paralel.
d. Menggantung (Kengai)
Pohon seperti tumbuh di permukaan dinding terjal yang
berada di tebing tepi laut atau dinding lembah terjal. Batang
pohon tumbuh bagaikan menggantung ke bawah tebing.
Puncak pohon tersebut menggantung jauh hingga melebihi
dasar pot. Bila puncak pohon tidak melebihi dasar pot maka
bonsai disebut Setengah Menggantung (Han Kengai).
e. Batang Bergelung (Bankan)
Batang pohon terlihat sangat dipilin, atau pohon tumbuh
dengan kecenderungan memilin diri. Batang pohon begitu
terlihat dipilin bagaikan ular yang sedang bergelung.
f. Setengah Menggantung (Han Kengai).
Pohon seperti tumbuh di permukaan dinding terjal yang
berada di tebing tepi laut atau dinding lembah terjal. Batang
pohon tumbuh bagaikan menggantung ke bawah tebing.
Puncak pohon tersebut menggantung tidak melebihi dasar
pot.
g. Berbatang Banyak (Takan)
Dari satu pangkal akar tumbuh tegak lebih dari satu batang
pohon. Bila tumbuh dua batang pohon, disebut Berbatang
Dua (Sōkan). Bila ada tiga batang pohon, disebut Berbatang
Tiga (Sankan). Bonsai berbatang lima atau lebih
disebut Tunggul Tegak (Kabudachi). Batang
berjumlah ganjil lebih disukai. Selain bonsai berbatang dua,
bonsai dengan batang berjumlah genap tidak disenangi.
h. Pohon Sastrawan (Bunjinki)/Bebas
Bentuk bonsai ini asal usulnya dari meniru bentuk pohon
dalam nanga. Dinamakan bonsai bentuk Pohon Sastrawan
karena sastrawan zaman Meiji sangat menggemari bonsai
bentuk ini. Pada zaman sekarang, batang kurus, jumlah
dahan sedikit, dan dahan pendek juga disebut Pohon
Sastrawan.
i. Sapu Tegak (Hōkidachi)
Batang tegak lurus hingga di tengah sebelum dahan
dan ranting tumbuh menyebar ke segala arah. Puncak pohon
sulit ditentukan dari sejumlah puncak dahan yang ada
sehingga bentuk bonsai ini mirip sapu dari bambu. Keindahan
bonsai gaya ini dinilai dari percabangan dahan yang rapi, dan
titik dimulainya persebaran dahan dan ranting ke segala arah,
tinggi pohon, dan keseimbangan unsur-unsur tersebut
Gambar 1.9. Bentuk-bentuk dasar bonsai a. Tegak lurus (Chokkan), b. Tegak
berkelok-kelok (Mayogi), c. Sarung Angin (Fukiganashi), d.
Menggantung (Kengai), e. Batang bergelung (Bankan), f.
Setengah menggantung (Han Kengai), g. Berbatang banyak
(Takan), h. Pohon sastrawan (Bunjinki), i. (Sapu tegak
(Hokidachi)
5. Model-model bonsai
Model Bonsai, berdasarkan gaya tumbuhnya yaitu ;
a. Formal, gaya ini mengikuti pertumbuhan normal dari
tanaman yang bersangkutan, seperti ; Chokkan (formal
upright)
b. Informal, gaya ini tidak mengikuti pertumbuhan normal
dari tanaman, seperti ; Tachiki (informal upright),
c. Slanting atau miring, batang pohon tumbuh miring ke satu
sisi atau tumbuh condong ke sisi lain. Ciri khas bentuk ini
berupa dahan yang ada hanya di bagian puncak
lengkungan batang, dan berselang-seling di sisi kiri-kanan
dan depan-belakang, seperti ; Shakan (slanting)
Gambar 1.10. Model bonsai berdasarkan gaya tumbuhannya yaitu:
a. Formal, b. Informal, c. Slanting
Model chokkan/formal upright/tegak lurus
Tanamannya memiliki batang yang tegak lurus dari pangkal
akar sampai ujung batang/pucuk tertinggi. Diameter pangkal batang
besar dan semakin ke atas semakin kecil, Cabang dan ranting
semakin ke ujung semakin mengecil. Bonsai dengan gaya ini
tingginya enam kali diameter pangkal batang. Akarnya kuat dan
menyebar ke segala arah di permukaan media tanam. Pembentukan
bonsai ini di awali dengan menentukan cabang yang akan dijadikan
sebagai top mahkota kemudian batang yang terletak di atasnya
dipotong dengan arah pemotongan menghadap ke samping atau ke
arah belakang agar tidak tampak dari depan. Apabila cabang top
mahkota tidak searah dengan batang pokok pertumbuhannya,
sebaiknya di arahkan dengan dililit menggunakan kawat. Selanjutnya
membentuk percabangan lainnya hingga menggambarkan gaya tegak
lurus, cabang-cabang yang tidak perlu sebaiknya dibuang dan cabang
yang tidak sempurna dikoreksi dengan pengawatan sesuai gaya yang
diinginkan
Model tachiki/informal upright/tegak berliku
Gaya bonsai pada model ini memiliki batang yang tegak tetapi
berlekuk-lekuk. Diameter pangkal batang besar dan semakin ke atas
semakin kecil, dan cabang bagian bawah lebih besar dibandingkan
dengan cabang di bagian atasnya, namun cabang di bagian atas
tersebut tampak tumbuh di setiap lekukan batang. Cabang yang
tumbuh di depan atau di belakang batang dibiarkan tumbuh. Cabang
bagian bawah dibentuk hingga tingginya sepertiga dari tinggi
keseluruhan batang. Lekukan dibuat mengarah ke kiri dan ke kanan
atau sebaliknya. Agar terkesan alami, arah cabang perlu dibuat ke
depan agak menyerong ke kiri atau ke kanan, sehingga lekukannya
tampak dari arah depan.
Model shakan/slanting/miring
Tanaman ini mengesankan sebuah pohon yg tumbuh di lereng
atau tanah yg miring. Pangkal batang lebih besar daripada pucuk
batangnya. Akarnya harus terkesan kuat menahan tegaknya pohon,
jika pohonnya miring ke kanan akarnya harus menyebar kuat ke kiri
dan sebaliknya. Arah tumbuhnya cabang ke kanan bagian depan
tetapi sudut yg terbentuk antara cabang dan batangnya berbeda
untuk setiap cabang. Jika batangnya miring ke kanan, sudut cabang
yg terbentuk ke arah kanan lebih besar dibandingkan dengan yg
tumbuh ke arah kiri. Tujuannya untuk menciptakan keseimbangan
antara pohon dan akarnya. Pembentukan bonsai gaya miring diawali
dengan pengawatan batang. Batang yg tadinya tumbuh tegak, diubah
arah tumbuhnya ke samping dengan pengawatan sehingga
batangnya akan tumbuh miring. Cabang yg tidak diperlukan dibuang
dan cabang yg kurang sempurna dikoreksi dengan pengawatan. Arah
percabangan sebaiknya dibuat sejajar dengan permukaan tanah atau
merunduk ke arah permukaan tanah, sehingga kesan miring terlihat
jelas.
Model Menggantung atau Cascade
Gaya ini berlawanan dengan pertumbuhan normal tanaman.
Tanaman dipilih dari tanaman yang memang sudah menunjukkan
gaya menggantung atau tanaman yang bisa diperlakukan mengikuti
gaya yang diinginkan. Gaya ini dapat dibagai atas 2, yaitu Setengah
Menggantung/Han Kengai/Semi Cascade dan Model
Menggantung/Kengai/Cascade
Selain gaya-gaya di atas terdapat gaya lainnya yaitu:
a. Gaya melingkar, membentuk sapu terbalik, tertiup angin,
terpelintir, menonjolkan akar, merunduk dan gaya bebas.
b. Gaya berdasarkan jumlah batang yang dimilikinya, yakni bonsai
berbatang 1, berbatang 2, berbatang 3, berbatang 5,
berbatang 7 dan berbatang 9.
c. Gaya berdasarkan jumlah pohon yang ditanam, yakni bonsai
dengan 1 pohon, 2 pohon, 3 pohon, 5 pohon, 7 pohon dan 9
pohon
6. Persiapan pembuatan bonsai
Bakalan bonsai dapat bersumber dari lingkungan alami
tempat tumbuhnya. Tanaman yg diinginkan diperoleh dari alam
bebas (pegunungan, hutan, pulau-pulau), misalnya: asam
santigi, delima, cemara, beringin dan lain sebagainya. Bakalan
alami mempunyai tingkat hidup, perakaran dan variasi keunikan
yang lebih baik dan beragam. Tahapan pengambilan bakalan
alami: Pangkas batang, ranting dan daun yang tidak diperlukan.
Gali tanah di sekitar pangkal tanaman sedalam 3 kali diameter
tanaman, kemudian potong ujung akar tunggangnya dan urug
lagi lubang tersebut dengan tanah. Setelah 2 bulan, gali tanah
dan potong akar tunggangnya. Angkat tanaman secara hati-hati
dengan menyisakan tanah yang ada di sekitar akar tanaman.
Masukan tanaman ke dalam pot/polibag yang telah disiapkan.
Sumber tanaman yang akan dijadikan bonsai selain dari
alami, juga bisa berasal dari hasil perbanyakan. Hasil
perbanyakan generatif (biji) ; dipilih biji yang baik, bentuknya
normal, selanjutnya biji disemai di media semai yang sudah
dipersiapkan. Setelah keluar tunas ± 1cm, lalu dipindahkan ke
polibag dan dipelihara sampai diperoleh bakalan bonsai yang
diinginkan, misalnya ; asam, delima, cemara, kemuning, jambu
biji, sawo dan lain-lain. Sedangkan, hasil perbanyakan vegetatif
; setek, okulasi dan cangkok. Cara untuk mendapatkan bakalan
dalam jumlah yang banyak dalam waktu relatif singkat, misalnya
; Cemara, Beringin, Azalea, Bugenvil, dan lain-lain
a. Peralatan yang dibutuhkan
Untuk pembuatan bonsai dibutuhkan beberapa peralatan
yang berguna untuk persiapan untuk mendapatkan bakalan
bonsai, memotong, membentuk dan finising bonsai yang akan
di produksi. Peralatan tersebut antara lain: (1) Gunting, untuk
memotong batang, cabang, ranting, daun dan akar, diperlukan
gunting dengan berbagai ukuran sesuai organ yang dipotong,
(2) Gergaji, untuk memotong organ tanaman yang berukuran
besar dan tidak bisa dipotong dengan gunting. (3) Pahat, untuk
membuat guratan melebar, celah, lubang serta alur pada batang
tanaman. (4) Kawat (mudah dibengkokkan dan tahan karat),
untuk melilit batang,
cabang atau ranting
tanaman yang akan
dibentuk sesuai ukuran
dan keinginan, (5)
Tang, untuk memotong
dan membuka lilitan
kawat serta
membersihkan
serpihan batang atau
cabang tanaman, (6)
Kikir bengkok, untuk
Gambar 1.11. Alat untuk pembuatan bonsai menyempurnakan hasil
pahatan agar tampak
lebih alami. (7) Ampelas, untuk menghaluskan permukaan
pahatan dan guratan-guratan. (8) Tatakan, untuk menjaga
bonsai dan wadahnya tetap pada posisinya ketika sedang
pembentukan
b. Media tanam, pot dan tempat pemajangan bonsai
Media tanam yang digunakan untuk pertumbuhan bonsai
kelapa ini disesuaikan dengan kondisi hidup kelapa yang
umumnya tumbuh baik di pinggir pantai dengan menggunakan
media pasir, tanah humus dan pupuk kandang dengan
perbandingan 2:1:1. Pada perkembangannya media tanam juga
dapat dengan menggunakan campuran Sekam, humus dan
tanah berpasir, dengan perbandingan 1 : 1 : 1 atau media
tanam bonsai yang dikenal dengan bonsai mix yakni campuran
tanah dan bahan pupuk yang gembur.
Pot, bentuk pot untuk bonsai bermacam-macam,
misalnya; pot oval, bundar, geometris, segi enam, dan lain-lain.
Pot terbuat dari tanah liat, kayu, fiber, dan lain-lain dengan
ukuran disesuaikan dengan ukuran bonsai. Tempat memajang
bonsai, berupa rak atau meja pajang agar bonsai terlihat indah.
Tempat pajangan terbuat dari bahan yang kuat dan tahan air
seperti kayu jati, kayu mahoni, aluminium, semen.
7. Langkah-langkah pembuatan bonsai
a. Pemotongan dan pemangkasan
Pemotongan
batang, cabang dan
ranting, pada
Prinsipnya; dasar
pemotongan rata
dengan permukaan
pangkal tumbuhnya,
Bekas pemotongan
yang lebar ditutupi
dengan parafin agar
kambiumnya cepat
kering dan lukanya
tertutup. Jika bekas
pemotongan cabang
atau ranting terlihat
tidak wajar sebaiknya
dipotong sedikit Gambar 1.12. Pemangkasan bakalan
bonsai
cekung ke dalam
batang kemudian
ditempel dengan kulit pada pangkal cabang/ranting yang
dipotong. Arah pemotongan miring ke atas.
Pemotongan akar, Tujuan pemotongan akar agar
mendapatkan perakaran yang menyebar rata ke segala
penjuru pot, Tidak saling tindih dan akar terlihat kokoh dan
kuat. Akar tanaman dipotong atau dipangkas disesuaikan
dengan tempat tumbuhnya yang terbatas agar terlihat serasi
dengan potnya. Pada bonsai yang baru dibentuk pemotongan
dilakukan dengan menyisakan 5-6 cabang akar lateral.
b. Pengkawatan
Proses ini
bertujuan untuk
membentuk
batang, cabang
dan ranting agar
tumbuh sesuai
arah yang
diinginkan.
Ukuran kawat
sepertiga dari
ukuran batang
atau cabang
Gambar 1.13. Teknik Pengkawatan bonsai atau ranting
yang dililit.
Pengawatan jangan terlalu kencang (melukai) dan longgar
(bentuk tidak sesuai dengan yang diinginkan) Pembukaan
kawat dilakukan 6-12 bulan setelah pengawatan dan perlu
pengontrolan agar jangan sampai kulit tanaman
terkelupas/luka. Jika bentuknya belum sesuai, pengawatan
dapat dilanjutkan. Lilitan dibuat searah dengan arah tumbuh
tanaman. Ukuran kawat sesuai, lentur dan tahan karat Ujung
kawat pada pengawatan batang utama ditancapkan ke media
tanah hingga kokoh. Kawat dililitkan dengan sudut 45°
dengan jarak yang relatif sama. Lilitan diatur sesuai dengan
arah pertumbuhan batang yang diinginkan dan jangan saling
tindih. Teknik pengawatan cabang sama dengan pengawatan
batang utama. Pengawatan dilakukan secara berpasangan
antara cabang yang satu dengan cabang yang lainnya agar
terjadi keseimbangan. Pengawatan ranting teknisnya sama
dengan pengawatan cabang yang dilakukan secara
berpasangan
c. Posisi
Posisi bonsai tergantung dengan gaya yang digunakan.
Keserasian arah pertumbuhan, komposisi sisi kiri dan kanan,
depan dan belakang, serta pertimbangan 3 dimensi lainnya
perlu dipahami. Beberapa hal pokok sebagai pertimbangan :
1) Bonsai bergaya tegak atau miring tetapi memiliki dahan
yang lebih berat ke kanan, sebaiknya ditanam di sisi kiri
2) Bonsai bergaya tegak atau miring tetapi memiliki dahan
yang lebih berat ke kiri, sebaiknya ditanam di sisi kanan
3) Jika bonsai memiliki dahan utama dominan menjorok ke
kanan dan berat ke kiri, sebaiknya ditanam di sisi kanan,
dan sebaliknya.
4) yang dijadikan patokan adalah dahan utama yang
dominan
d. Penanaman
Untuk melakukan penanaman siapkan pot, media
tanam dan bakalan bonsai. Kurangi akar bakalan agar sesuai
dengan ukuran pot, masukan sebagian media tanam ke
dalam pot, tanaman bakalan dengan posisi tanam yang pas.
Kemudian media tanam dimasukkan kembali ke dalam pot
untuk menguatkan posisi tanaman tersebut, media di
padatkan dengan menggunakan tangan, dan bonsai harus
dijaga dan dipelihara dengan baik.
e. Menciptakan kesan tua (Ageing)
Proses ini dapat dilakukan dengan melakukan
Penundukan cabang dan ranting. Mengubah arah cabang dan
ranting yang semula mendatar atau agak naik menjadi
merunduk dengan cara pengawatan atau menggunakan tali
rafia yang diikatkan ke dasar pot. Selanjutnya bisa dilakukan
dengan penjalaran akar menjalarkan akar ke permukaan
tanah dengan cara mengorek permukaan tanah atau
menaikkan permukaan akar, sehingga akar tampak menonjol.
Untuk menambah kesan jika tanaman sudah tua juga dapat
dilakukan dengan membuat akar dengan menjalar ke 4 sisi,
yaitu bagian depan, belakang, samping kiri dan kanan.
8. Pemeliharaan, Perawatan dan Memperindah bonsai
a. Penyiraman
Penyiraman
dilakukan agar media
tanam lembap dan
jangan terlalu basah
karena dapat
menyebabkan akar
tanaman menjadi
busuk. Air penyiraman
Gambar 1.14. Penyiraman bonsai harus bersih, jernih,
tidak berbau dan bebas
garam/kaporit. Cara
melakukan penyiraman; 1) secara langsung ke media tanam
dengan menggunakan sprayer atau gembor yang berpori
halus, 2) Mencelupkan pot bersama media tanamnya ke dalam
air hingga air meresap sampai media tanam basah (lembap)
lalu diangkat. Tanaman bonsai perlu juga disiram untuk
membersihkan debu yang menempel dan mungkin membawa
penyakit Penyiraman pada tanaman yang sedang berbunga
atau berbuah dan bunga atau buah tersebut yang diharapkan
untuk keindahan, sebaiknya penyiraman tidak terlalu sering.
b. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan dosis yang tepat, agar
kriteria utama bonsai dapat dipertahankan yaitu kerdil dan
aneh atau menarik. Pupuk yang biasa digunakan adalah NPK
dan Urea dengan perbandingan 1 : 1 yang ditabur di media
tanam secara merata atau menggunakan pupuk daun dengan
menyemprotkan ke daun bonsai menggunakan sprayer.
c. Penyiangan
Proses ini dilakukan jika terlihat adanya gulma
(tumbuhan liar) di media tanam. Untuk menghindari
tumbuhnya gulma disarankan untuk memberi lumut di
permukaan media tanam. Lumut berwarna hijau ini sekaligus
berfungsi sebagai indikator kelembaban. Jika lumut sudah
berwarna kecokelatan berati kelembaban media tanam sudah
berkurang dan saatnya dilakukan penyiraman. Kehadiran
lumut juga mempercantik penampilan karena bonsai akan
tumbuh alami di daerah berlumut.
d. Pemangkasan
Cabang yang
banyak dan tidak
teratur akan
menurunkan kesan
indah pada bonsai.
Untuk itu perlu
dilakukan terhadap
proses pemangkasan
pada batang, cabang
dan ranting untuk
Gambar 1.15. Pemangkasan Bonsai membentuk bonsai
sesuai dengan
keinginan. Frekuensi pemangkasan disesuaikan kebutuhan
atau sesuai dengan kondisi bonsai itu sendiri. Jika bonsai dari
jenis tanaman yang cepat rimbun, seperti lugistrum,
pemangkasan dilakukan sebulan sekali. Sebaliknya, jika
bonsai dari tanaman yang pertumbuhannya lambat, dilakukan
2 – 3 bulan sekali.
e. Pembukaan kawat
Dilakukan
setelah kawat
tampak masuk ke
dalam batang,
cabang, atau
ranting bonsai.
Pembukaan kawat
mengikuti arah
lilitannya dan
diusahakan tidak
terjadi luka pada
tanaman. Jika
kawat sudah
dibuka dan bentuk
batang, cabang
Gambar 1.16. Pembukaan kawat atau ranting
masih kurang
sempurna,
pengawatan perlu
dilakukan lagi dengan menggunakan kawat baru. Untuk
menghilangkan bekas lilitan, dilakukan dengan
menggosokkan lilin pada bekas lilitan tersebut.
f. Repoting
Penggantian
Media Tanam dan
Pemangkasan Akar,
dilakukan jika akar
tumbuh rimbun, saat
bonsai berumur 6
bulan atau 1 tahun
sejak penanaman.
Saat penggantian
media tanam
sebaiknya dilakukan
pemotongan akar.
Caranya, bonsai
beserta media tanam
dilepaskan dari potnya,
Gambar 1.17. Repoting tanaman Bonsai kemudian separuh
dari media tanam yang
menempel di perakaran dibuang dan separuhnya dibiarkan
tetap menempel. akar yang telah tumbuh rimbun dipotong
dan disisakan akar tunggang dan sedikit serabut/cabang kecil
akarnya,Tanaman bonsai perlu juga disiram untuk
membersihkan debu yang menempel dan mungkin membawa
penyakit. Penyiraman pada tanaman yang sedang berbunga
atau berbuah dan bunga atau buah tersebut yang diharapkan
untuk keindahan, sebaiknya penyiraman tidak terlalu sering.
g. Pergantian dan perubahan tata letak tanaman
Penempatan bonsai perlu diperhatikan demi estetika
ruangan atau area pemajangan bonsai. Jika terkesan tidak
menarik lagi perlu dilakukan perubahan. Proses ini dapat
dilakukan bersamaan penggantian media tanam, Idealnya,
setiap 2 kali penggantian media tanam. Namun, ada pula
melakukan penggantian pot setiap 6 bulan sekali. Tata letak
pot juga turut menentukan kelangsungan hidup bonsai karena
pot bonsai sebaiknya di letakan di tempat yang mendapatkan
sinar matahari secara langsung. Jika terpaksa di letakan di
ruangan yang kurang mendapatkan sinar matahari, sebaiknya
secara berkala bonsai dikeluarkan atau dijemur di tempat yang
mendapatkan sinar matahari.
h. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang
sering menyerang
dan mengurangi
keindahan bonsai
adalah wereng
coklat dan ulat.
Mengendalikan
hama ini bisa
dilakukan dengan
penyemprotan
insektisida
(pembasmi insekti)
seperti Ripcord,
Curacron, Decis
Gambar 1.18. Pengendaliah hama dengan dosis
sesuai anjuran
yang tertera di label. Hewan peliharaan seperti anjing, kucing
atau ayam; menginjak atau mencakar bonsai hingga rusak.
Jika pemeliharaannya benar, bonsai jarang terserang
penyakit.
9. Evaluasi
1. Jelaskanlah pengertian bonsai
2. Jelaskanlah mengapa kelompok dikotil sering dijadikan
sebagai bonsai
3. Pinus dan cemara adalah jenis tanaman yang dapat dibonsai,
jelaskanlah mengapa tanaman ini dapat dijadikan sebagai
bonsai
4. Jelaskanlah perbedaan tiga model bonsai berdasarkan gaya
tumbuhnya
5. Bagaimanakah cara memperoleh bakalan bonsai berdasarkan
hasil perbanyakan generatif
6. Jelaskanlah cara pemotongan dan pemangkasan bakalan
tanaman yang akan dijadikan sebagai bonsai
7. Pengkawatan merupakan teknik membentuk batang, cabang
atau ranting tanaman sesuai dengan arah yang diinginkan,
a. jelaskanlah bagaimana cara pengkawatan tanaman untuk
dijadikan bonsai ini
b. bagaimanakah caranya agar kulit tanaman tidak rusak
saat pengkawatan
8. Bonsai yang menarik adalah bonsai yang memiliki kesan
seolah-olah seperti tumbuhan yang sudah tua. Bagaimanakah
cara menciptakan kesan tua pada bonsai tersebut
9. Repoting adalah suatu kegiatan pemindahan tanaman dari pot
yang lama ke pot yang baru, bagaimanakah teknik repoting
untuk tanaman bonsai
MODUL - 2
BONSAI KELAPA
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Membedakan Varietas kelapa yang dapat dijadikan bonsai
2. Membedakan macam-macam Bentuk dasar bonsai kelapa
3. Menjelaskan Morfologi dan taksonomi kelapa
4. Menjelaskan Langkah-langkah pembuatan bonsai kelapa
5. Melakukan Perawatan bonsai kelapa
6. Menjelaskan Bonsai-bonsai kelapa unik dan model-model
bonsai kelapa
B. MATERI PEMBELAJARAN
1. Varietas kelapa yang dapat dijadikan bonsai
Secara karakteristik bonsai kelapa terbilang unik, yang
terdiri dari kelapa sebagai hiasan rumah atau penghijauan
ruangan dan halaman. Sesuai dengan namanya bonsai kelapa
adalah bentuk mini dari tanaman kelapa yang tingginya dapat
mencapai 20-30 meter. Keunikan dari bonsai kelapa ini bukan
hanya dari bentuk batang kelapa yang dipindahkan ke atas pot,
namun yang lebih unik dari itu adalah masih adanya batok kelapa
yang dipertahankan menambah kesan eksotisnya bonsai ini.
tanaman ini jika sudah dibonsaikan tingginya hanya berkisar di
bawah 50 cm saja, bahkan semakin mini kelapa yang dibuat akan
semakin tinggi nilai ekonomisnya.
Pembuatan bonsai kelapa diperlukannya teknik menanam
bonsai agar menghasilkan tunas yang berkualitas. Selain dapat
menghasilkan tunas yang berkualitas ini juga diharapkan dapat
menumbuhkan tunas dengan cepat untuk menghasilkan bonsai
kelapa. Penanaman bonsai tidak hanya sekedar menanam lalu
selesai dan tunas kelapa akan tumbuh begitu saja, diperlukan
teknik khusus dalam penanaman bonsai kelapa.
Pada dasarnya semua kelapa dapat dijadikan bonsai.
Semua ini tergantung pada keahlian seorang pembuat bonsai
dalam mengolahnya menjadi bonsai yang memiliki nilai seni yang
tinggi. Namun tentunya untuk menghasilkan bonsai yang
berkualitas diperlukan juga bibit yang berkualitas. Langkah awal
yang harus dilakukan ketika akan membuat bonsai kelapa adalah
memilih bibit unggulan dari pohon kelapa yang bagus dan sehat.
Ada beberapa jenis kelapa yang dapat dijadikan bonsai. Seperti
kelapa gading merah, kelapa gading susu, dan kelapa albino.
Untuk mengetahui varietas kelapanya, harus mampu melakukan
proses identifikasi kelapa, melalui pengenalan karakteristik
tanaman kelapa tersebut.
Untuk kelapa gading susu mempunyai karakteristik warna
putih dan tanaman ini banyak tumbuh di daerah subtropis. Selain
dijadikan bonsai, kelapa susu juga sering dijadikan sebagai
pengganti pohon palem untuk diletakan di taman. Sedangkan
kelapa albino mempunyai warna yang sama dengan kelapa susu
yakni warna putih. Warna putih pada kelapa albino lebih terang
daripada kelapa susu. Tentu ketika tanaman ini sudah menjadi
bonsai, hasilnya akan terlihat unik dan menarik.
Untuk membuat bonsai kelapa, diperlukan bibit yang bagus
dan berkualitas agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Bibit yang bagus untuk dijadikan bonsai adalah yang sudah agak
tua. Karena kelapa yang sudah berumur akan lebih cepat untuk
tumbuh tunas baru. Alangkah lebih baik jika kamu mengambilnya
langsung dari pohonnya. Jika menggunakan bibit yang sudah
jatuh dikhawatirkan adanya kecacatan pada bibit yang digunakan
sehingga nanti hasilnya juga kurang memuaskan. Atau bisa juga
batok kelapanya sudah rapu dan retak akibat benturan ketika
jatuh. Untuk ukurannya, ambil bibit yang ukurannya tidak terlalu
besar atau kecil. Namun, mempunyai akar yang besar dan kuat.
Bibit dengan ukuran batok yang kecil akan memudahkan ketika
membentuk batang nantinya.
Beberapa varietas kelapa yang banyak dijadikan sebagai bonsai
kelapa adalah:
a. Kelapa genjah
Kelapa ini paling banyak dipilih sebagai bakal bonsai karena
pohonnya kategori rendah yaitu hanya maksimal tujuh meter saja.
Bentuknya juga unik dan merupakan jenis kepala yang cepat
berbuah, yaitu di usia sekitar tiga tahun setelah proses tanam.
Kelapa ini memang tidak banyak dikonsumsi sebab rasanya
kurang enak, namun Sering dimanfaatkan sebagai tanaman
kelapa hias di rumah atau perkantoran. Terdapat empat jenisnya
paling sering dikembangkan sebagai bonsai baik itu jenis kuning,
merah, coklat, atau hijau.
b. Kelapa gading merah
Untuk pohon kelapa gading merah mempunyai warna merah
kekuning-kuningan. Jika sudah menjadi bonsai, kelapa gading
merah akan menjadi bonsai yang indah dan unik. Namun, untuk
mendapatkan hasil yang maksimal dibutuhkan perhatian yang
ekstra dalam proses pembuatannya. Hal yang paling sulit dalam
merawat kelapa gading merah adalah mempertahankan warna
kemerahannya. Untuk mempertahankan warnanya bisa
menggunakan pupuk yang seimbang. Karena jika tanaman ini
kekurangan nutrisi yang terdapat dalam pupuk, warnanya akan
kembali menjadi hijau.
c. Kelapa Gading Susu
Varietas ini memiliki warna putih kekuningan, mampu beradaptasi
sangat baik pada lingkungan tropis dan lingkungan yang kurang
baik, biasanya kelapa ini juga ditanam sebagai hiasan taman, jika
ditanam dari bibit, kelapa ini mampu berbuah dalam waktu tiga
tahun. Hal ini tentunya memudahkan untuk memproduksi bibit
kelapa untuk dijadikan bonsai. Kelapa varietas ini juga produktif
mampu menghasilkan buah 160-220butir per batang dalam kurun
waktu satu tahun. Untuk penanaman dalam satu hektar lahan
dapat ditanam 178 batang kelapa.
d. Kelapa Albino
Memiliki warna putih namun tidak pucat dan polos, warna
putihnya ini cenderung lebih terang dan mendekati silver, namun
juga ada yang sedikit kekuningan dan krem. Kelapa albino ini
cukup susah ditemui, kadang dalam 1000 batang tanaman kelapa
hanya terdapat 1 batang yang menghasilkan bibit kelapa albino.
Oleh karena itu harga jual dari bonsai ini lebih mahal dari yang
lainnya.
Gambar 2.1. Varietas kelapa untuk bonsai kelapa
2. Bentuk dasar bonsai kelapa
Bonsai merupakan perpaduan antara budidaya dan seni menata
dan merawat suatu tumbuhan untuk menghasilkan tanaman yang
memiliki nilai ekonomi tinggi. Bonsai kelapa juga membutuhkan
seni dalam menatanya sehingga kesan indah dan menarik dapat
lahir dari bonsai tersebut. untuk membuat bonsai kelapa harus
memahami terlebih dahulu bentuk dasar dari bonsai yang akan di
buat, secara umum terdapat tiga bentuk dasar bonsai kelapa
antara lain:
1. Posisi Horizontal
Pada posisi ini bonsai akan terlihat seperti rumah siput,
bakalan bonsai ditumbuhkan secara horizontal. Batok kelapa
akan menjadi seperti rumah siputnya sedangkan tu nas
bonsai seolah-olah akan menyerupai badan dan kepala siput
yang sedang keluar dari cangkangnya.
2. Posisi Vertikal
Tanaman tumbuh lurus ke atas searah dengan batok kelapa.
Akar yang tumbuh dari pangkal batang akan tersebar ke
segala arah dan menutup batok ke arah bawah. Batok seolah-
olah terdapat di dalam kungkungan akar kelapa.
3. Posisi Terbalik
Batok ke atas dan tunas dari bawah akan membelok ke arah
tumbuh hal ini sering dikenal juga dengan kelapa nungging.
Bonsai ini terlihat unik karena batok kelapa terletak di atas.
Model ini sering digunakan untuk menonjolkan bentuk batok
yang menarik, kecil dan lonjong, atau bulat dengan bentuk
yang khas dan menarik untuk diletakkan pada posisi yang
lebih tinggi dari batangnya. Untuk membuat bonsai kelapa
model ini biasanya dilakukan terlebih dahulu program
pembentukan akar dengan dibantu media air dan
menggunakan botol air mineral yang besar. Bakalan bonsai
kelapa diletakkan terbalik di atas botol air mineral yang telah
di isi dengan air. Tempat muncul tunas diposisikan ke arah air,
sehingga saat muncul tunas akan membelok ke atas melawan
gravitasi sedangkan akar akan muncul dari pangkal tunas dan
mengarah ke bawah.
Gambar 2.2 Bentuk dasar bonsai kelapa, a. Horizontal; b. Vertikal;
c. Terbalik
3. Morfologi dan taksonomi kelapa
Pohon kelapa memiliki nama ilmiah Cocos nucifera yang
termasuk dalam marga Cocos dari suku Arecaceae. Hampir seluruh
bagian dari tumbuhan ini dapat sehingga banyak yang menyebutnya
bahwa tanaman ini adalah tanaman yang serbaguna. Apalagi bagi
masyarakat yang mendiami kawasan pesisir pantai, seluruh bagian
pohon ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Bagian-bagian
yang bermanfaat dari untuk kehidupan manusia meliputi buah kelapa
untuk bahan makanan atau minuman, alat rumah tangga, bahan
bangunan, dan lainnya. Contohnya adalah bagian tempurung yang
bisa dimanfaatkan sebagai arang tempurung, buahnya untuk bahan
dasar santan, minyak kelapa, serta campuran beragam olahan
makanan. Selain itu, daunnya juga bisa dijadikan bahan dasar untuk
pembuatan sapu lidi.
Secara ilmiah kelapa dikelompokkan ke dalam kingdom/regnum
Plantae, Divisio Spermatophyta, Sub divisio Angiospermae, Classis
Monocotyledoneae, Ordo Arecales, Familia Arecaceae, Genus Cocos
dan Species Cocos nucifera L.
Pohon kelapa mempunyai jenis akar serabut yang cukup tebal
dan berkayu serta bentuknya berkerumun layaknya bonggol. Akar ini
sangat kuat sehingga mampu menopang pertumbuhan kelapa,
bahkan kuat untuk menahan angin. Dalam pengelompokan akar
secara ilmiah akar ini dikenal dengan akar serabut besar-besar kuat,
keras dan kaku. Batang pohon kelapa merupakan kumpulan dari serat
yang menyerupai kayu dan keras. Batang ini mampu tumbuh
mencapai ketinggian 20 m secara tegak. Pohon kelapa adalah
tumbuhan tidak bercabang. Kulit batangnya sangat kasar. Pada
batang kelapa ini dapat terlihat berkas-berkas tangkai daun yang
sudah lepas. Berdasarkan pengelompokan batang, kelapa ini
dikelompokkan ke dalam roset batang, atau tanaman yang jelas
berbatang dengan daunnya tersusun sangat rapat dan terkumpul
pada ujung batang. Daun kelapa merupakan daun lengkap dan
termasuk daun majemuk (terdapat banyak anak daun dalam satu
tangkai). Bentuk daun kelapa adalah bangun garis (linieraris), yaitu
pada penampang melintang pipih dan daun amat panjang, dengan
ujung daun runcing (acutus). Bentuk tepi daunnya seperti pita
(ligulatus) dengan daging daun seperti perkamen perkamenteus) tipis
tetapi cukup kaku, bentuk permukaan daun licin (leavis). Dan bentuk
tulang daun sejajar atau bertulang lurus (rectinervis).
Bunga kelapa termasuk bunga majemuk yang tumbuh di bagian
ketiak daun dengan membentuk tandan. Bunganya terdiri atas bunga
jantan dan bunga betina. Bunga jantan biasanya terdapat di ujung
tandan dan bunga betina terdapat di pangkal tandan. Bunga terdiri
dari 3 kelopak, 6 mahkota, 6 benang sari dan 3 karpel. Bunga ini
berwarna putih agak kekuningan tekstur agak keras. Kumpulan bunga
dalam tandan kelapa ini dilindungi seludang bunga yang berbentuk
memanjang. Panjang bunga ini bisa mencapai 30 cm hingga 1,5 m.
Buah kelapa berbentuk bulat sempurna, namun ada juga yang
lonjong tergantung pada tiap varietas kelapa. Diameter buah kelapa
sekitar 10 hingga 20 cm. Warnanya pun beragam, mulai dari hijau,
kuning, oranye atau merah namun semuanya akan jadi kecokelatan
apabila buah kelapa telah tua.
4. Langkah-langkah pembuatan bonsai kelapa
a. Persiapan alat dan bahan
Alat yang dibutuhkan untuk pembuatan bonsai tidak jauh
berbeda dengan alat-alat yang dibutuhkan dalam pembautan
bonsai bisa, namun pada bonsai kelapa belum membutuhkan
pahat, jika ingin membuat bonsai kelapa dengan mengukir
buah/sabut kelapa, cukup dengan menggunakan pisau yang
tajam saja, begitu juga dalam membentuk batang. Alat
tersebut antara lain; linggis, kampak, pisau scapel, cutter,
gunting tanaman, gergaji, amplas. Sedangkan bahan yag
dibutuhkan antara lain bibit kelapa, media, pot bonsai.
b. Persiapan tanaman bakalan bonsai
Pemilihan Jenis Bibit perlu dilakukan untuk
mendapatkan bonsai yang berkualitas, memiliki bentuk yang
unik dan menarik, serta memiliki umur yang panjang dan
tahan dengan berbagai perlakukan. Untuk mendapatkan
bonsai kelapa yang baik maka harus berasal dari bibit yang
baik. Pada dasarnya semua varietas kelapa dapat dijadikan
bonsai namun ada beberapa varietas kelapa yang sering
dijadikan bonsai adalah kelapa gading merah, kelapa gading
susu dan kelapa albino. Pada pemilihan Kriteria Bibit ada
beberapa faktor yang harus dipertimbangkan antara lai 1)
Kriteria bibit yang bisa digunakan adalah berasal dari buah
kelapa yang tua, 2) Bibit buah harus dipetik langsung dari
pohon dan bukan jatuh dari pohonnya, 3) Sebaiknya pilih buah
kelapa yang memiliki banyak akar dan berbatok kecil, 4) Bibit
bebas hama dan penyakit, 5) Digunakan ketika sudah
kelihatan tunas.
Untuk menumbuhkan tunas agar kuncup kelapa cepat
muncul, bibit harus ditempatkan di tempat yang lembap atau
dapat juga diberi air secara rutin. Kemudian bibit didiamkan
selama dua sampai tiga minggu sampai tunas kelapa tumbuh.
Bibit harus diletakkan di tempat yang setengah ternaung. Jika
tunas kelapa sudah tumbuh kurang lebih sekitar 5 cm, kupas
sabut kelapa yang menempel pada batok sampai bersih dan
hanya menyisakan tunas dan akar. Setelah semua sabut
sudah dikupas, bersihkan sabut-sabut halus yang masih
tersisa. Haluskan permukaan batok menggunakan ampelas
agar tampilannya lebih menarik.
c. Pot dan Media Tanam
Jika bonsai masih dalam tahap awal pembentukan akar,
cukup digunakan polibaq saja, namun jika sudah masuk pada
tahap untuk memperindah bentuk daun dan batang dapat
digunakan pot yang sesuai dengan model bonsai kelapa yang
akan dibuat. Polibaq dan pot harus di sesuaikan dengan
ukuran buah/batok kelapa. Pot yang akan digunakan dapat
terbuat dari berbagai macam bahan, untuk kepraktisan dapat
digunakan pot plastik, namun untuk lebih baiknya dapat
digunakan pot dari bahan tanah atau semen. Untuk media
tanam bonsai kelapa dapat digunakan pasir, tanah, pupuk
kandang dengan perbandingan 2:1:1 atau sekam, tanah dan
kompos 1:1:1. Selain itu juga dapat mengguakan media-
media lainnya seperti tanah yang mengandung humus, tanah
merah, pasir garam, arang, sekam padi, bekas ketaman kayu,
akar pakis dan tanah sisa pembakaran.
d. Posisi bonsai kelapa
Posisi peletakan
harus sesuai dengan
bentuk bibit yang
akan ditanam, apakah
horizontal, vertikal
atau terbalik. Jika
sudah masuk ke
dalam tahap
perlakuan daun, tunas
dan batang maka
Gambar 2.3. Posisi bibit bonsai kelapa Vertikal setelah daun atau
tunas dilukai dengan
pisau maka harus dibungkus dengan menggunakan plastik
atau botol air mineral yang telah dipotong, fungsinya untuk
mempercepat pertumbuhan tunas. Agar batok tidak pecah
harus ditutup dengan kain lembap atau sabut kelapa dan
disiram tiap hari. Namun hal ini dapat di atasi dengan
pemberian vernis atau cat pada batok kelapa dengan catatan
di dalam batok sudah tidak ada lagi air kelapa atau rongga.
Jika masih ada kemungkinan pecah batok cukup tinggi. Untuk
membuat kelapa dengan posisi batok di atas, dapat gunakan
botol air mineral yang telah dilubangi bagian sampingnya
untuk tunas. Untuk program pembentukan akar dapat
digunakan air sebagai medianya.
e. Pembentukan Tunas Kelapa
Proses pertama dalam pembuatan bonsai kelapa yang
sangat penting untuk model dasar bonsai adalah posisi tunas.
Posisi peletakan buah harus disesuaikan dengan bentuk dasar
bonsai yang akan dibuat. Apakah bentuk dasar yang akan
dibuat horizontal, vertikal atau terbalik. Posisi bibit dengan
horizontal nantinya bonsai akan seperti rumah siput, posisi
bibit dengan vertikal nantinya bonsai akan dikelilingi dengan
akar, posisi terbalik, batok ke atas dan tunas dari bawah akan
membelok ke arah tumbuh. Namun secara keseluruhan
lingkungan untuk menumbuhkan tunas untuk bakalan bonsai
ini sama. Buah kelapa yang belum memiliki tunas diletakan di
tanah lembap. Tanah harus memiliki kandungan air yang
banyak agar tunas cepat bertumbuh,.
Gambar 2.4 Penumbuhan tunas bonsai kelapa, a. media tanah, b.
Media air, c. Media sekam
f. Penanaman
Bonsai diletakkan di atas media sesuai dengan posisi yang
akan dibentuk. Jika akar sudah panjang atau banyak, rapikan
akar dengan meninggalkan paling kurang 3 akar utuh. Akar
yang telah tumbuh tidak boleh dipotong horizontal secara
menyeluruh, karena kemungkinan tanaman dapat mati. Akar
yang sudah terbentuk dimasukkan ke dalam media tanam
dengan menyisakan bentuk unik yang akan ditonjolkan,
misalnya batok atau buah kelapa unik yang tidak dikupas
sabutnya. Jika batok masih baru dikupas dan kemungkinan air
didalamnya atau masih ada rongga pada batok nya maka
harus ditutup dengan kain basah atau sabut kelapa yang
sudah direndam sehari sebelumnya agar batok tidak retak
atau pecah.
Gambar 2.5. Penanaman bonsai kelapa pada media
g. Pemendekan daun
Daun yang
pendek dengan tangkai
yang menyempit adalah
daya tarik dari bonsai
kelapa, untuk
mendapatkan model
yang demikian bagian
penutup pelepah daun
harus rutin untuk
dibuang dengan
menggunakan pisau
tajam dan ujung
runcing, pada proses
pembuangan penutup
tunas atau pelepah ini
Gambar 2.6. Bagian yang dibuang harus dengan hati-hati,
untuk pemendekan daun karena bisa saja tunas
akan tergores, patah
bahkan bisa menyebabkan pembentukan bonsai gagal. Untuk
membuang bagian ini harus dilakukan penyayatan bagian kiri
dan kanan dipinggir pelepah dari atas sampai ke pangkal
pelepah
5. Perawatan bonsai kelapa
a. Penyiraman
Penyiraman bisa
dilakukan satu kali
sehari hingga tanaman
lembap namun tidak
terlalu basah. Gunakan
air tanah dan hindari air
yang mengandung
kaporit. Sebaiknya
Penyiraman dilakukan
pada pagi hari agar
pada siang harinya
tanaman tidak terlalu
kekeringanuji air. Saat
melakukan peniraman
jangan sampai air tergenang pada media (tanah) karena akan
menyebabkan pembusukan pada akar dan pangkal batang dan
lebih lanjut akan berakibat pada pembusukan pada tunas. Saat
melakukan penyiraman sebaiknya di gunakan sprayer.
b. Pemupukan
Kelapa merupakan tanaman yang tahan pada kondisi ektrim
atau minim unsur hara, namun untuk pembentukan daun yang
menarik dibutuhkan nutrisi yang seimbang. Jika diperlukan
pemupukan bonsai kelapa dapat dilakukan sekali dalam 4 bulan
dengan pupuk kandang atau urea. Pada dasarnya penggantian
pupuk cukup pada saat repoting dengan mengganti media
dengan media baru sesuai dengan komposisi yang disarankan
untuk bonsai kelapa. Pupuk yang dapat digunakan untuk bonsai
kelapa ini dapat berupa pupuk organik dan anorganik seperti: