E-Modul Etika Profesi dan Estetika
8. Memandang profesi sebagai suatu karier hidup (a live career)
dan menjadi seorang anggota yang permanen.
Secara terperinci, ciri keprofesian ini dikemukakan oleh D.
Westby Gibson (1965) sebagai berikut:
1. Pengakuan oleh masyarakat terhadap layanan tertentu yang
hanya dapat dilakukan oleh kelompok pekerja yang
dikategorikan sebagai suatu profesi.
2. Dimilikinya sekumpulan bidang ilmu yang menjadi landasan
sejumlah teknik dan prosedur yang unik.
3. Diperlukannya persiapan yang sengaja dan sistematis
sebelum orang mampu melaksanakan suatu pekerjaan
profesional.
4. Dimilikinya suatu mekanisme untuk menyaring sehingga
hanya mereka yang dianggap kompeten yang diperbolehkan
bekerja untuk lapangan pekerjaan tertentu.
5. Dimilikinya organisasi profesional yang di samping
melindungi kepentingan anggotanya dari saingan kelompok
luar, juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas layanan
kepada masyarakat, termasuk tindak etis profesional pada
anggotanya.
Setelah kita mempelajari berbagai macam pendapat para
pakar tentang ciri-ciri profesi, kita dapat menyimpulkan bahwa
ciri-ciri profesi, yaitu sebagai berikut:
1. Memiliki standar unjuk kerja yang baku atau dengan kata
lain memiliki aturan yang jelas tentang hal yang
dikerjakannya.
37 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
2. Anggota profesinya memperoleh pendidikan tinggi yang
memberikan dasar pengetahuan yang bertanggung jawab.
3. Memiliki lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan
tenaga profesi yang dibutuhkan. Contohnya: untuk
menghasilkan tenaga guru maka ada perguruan tinggi
keguruan seperti UPI, IKIP, FKIP dan STKIP.
4. Memiliki organisasi profesi yang memperjuangkan hak-hak
anggotanya, serta bertanggung jawab untuk meningkatkan
profesi yang bersangkutan.
5. Adanya pengakuan yang layak dari masyarakat.
6. Adanya sistem imbalan yang memadai sehingga anggota
profesi dapat hidup dari profesinya.
7. Memiliki kode etik yang mengatur setiap anggota profesi.
Syarat-syarat suatu profesi:
1. Melibatkan kegiatan intelektual
2. Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
3. Memerlukan persiapan profesional
4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
5. Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
6. Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin
erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah
kode etik
38 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Pengertian, Prinsip, Tujuan dan Manfaat Etika Profesi
Pengertian Etika Profesi
Etika merupakan aturan, norma, kaidah, atau tata cara yang
biasa digunakan sebagai pedoman dalam melakukan perbuatan
dan tingkah laku sehari-hari. Tak hanya dalam kegiatan
bermasyarakat, etika juga digunakan dalam dunia kerja yang
disebut dengan etika profesi. Pengertian etika profesi adalah
sebuah sikap hidup yang bertujuan untuk memberikan
pelayanan kepada seseorang yang sifatnya profesional. Etika ini
berhubungan dengan masyarakat atau konsumen secara
langsung.
Etika profesi berperan sebagai tata cara atau norma yang
secara tegas menyatakan baik buruknya sikap seorang
profesional untuk bertindak sesuai aturan yang sudah
diterapkan. Etika profesi ini memiliki tujuan, manfaat, dan
contohnya dalam pekerjaan. Untuk mengetahuinya, simak
penjelasan berikut ini.
Prinsip Etika Profesi
Sumber Pixels
Gambar 4. Berinteraksi dalam Profesi
39 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika profesi memiliki prinsip-prinsip dasar untuk melandasi
pelaksanaannya dalam pekerjaan. Beberapa prinsip yang
merupakan etika profesi adalah prinsip otonomi, integritas
moral, tanggung jawab, dan keadilan yang dijabarkan seperti
penjelasan di bawah ini.
Prinsip Otonomi
• Setiap orang memiliki wewenang dan kebebasan bekerja juga
berpendapat sesuai dengan profesi yang dijalankannya. Dalam prinsip
otonomi, seseorang memiliki hak untuk melakukan atau tidak
melakukan pekerjaan atau suatu tugas berdasarkan kode etik yang
berlaku dalam profesi tersebut.
Prinsip Integritas Moral
• Seorang profesional wajib memiliki prinsip moral dan kejujuran yang
masuk ke dalam integritas moral. Kamu harus memiliki sikap yang
adil, mementingkan profesi, dan juga kepentingan konsumen atau
masyarakat.
Prinsip Tanggung Jawab
• Tak hanya dalam kegiatan bermasyarakat, ketika bekerja kita juga
perlu menanamkan sikap tanggung jawab atas tugas atau pekerjaan
yang dilakukan.
• Sebagai seorang pekerja, kamu harus siap menerima hasil, kritik,
saran dari orang lain atau konsumen lalu tanggung jawab secara
profesional.
Prinsip Keadilan
• Seperti sila ke-5, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada
pekerjaan juga, kita perlu menanamkan prinsip keadilan dalam
pekerjaannya kepada rekan kerja atau konsumen.
Tujuan Etika Profesi
Etika profesi dilakukan untuk mejhngembangkan sikap,
norma, atau kebiasaan yang ditunjukkan sesuai dengan profesi
mereka kepada rekan kerja atau konsumen.
40 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika profesi bertujuan untuk meningkatkan keterampilan
intelek dalam berpikir dan juga membuat para profesional dapat
bertindak dengan cara yang diinginkan secara moral untuk
menuju komitmen moral dan perilaku bertanggung jawab.
Secara spesifik, tujuan etika profesi adalah sebagai berikut:
Munculnya kesadaran moral atau kemahiran dalam mengenali
masalah moral dalam profesi,
Memahami dan menilai pandangan berbeda dari pihak lain,
Koherensi moral dengan membentuk sudut pandang konsisten yang
berdasarkan fakta,
Mengungkapkan dan mendukung pandangan seseorang kepada orang
lain secara profesional,
Mampu bertanggung jawab secara profesional,
Menghormati orang lain dengan menunjukkan kepedulian terhadap
kesejahteraan orang lain,
Menerima perbedaan secara wajar dalam perspektif moral profesional
dari segi apapun.
Manfaat Etika Profesi
Etika profesi merupakan sesuatu yang melekat pada diri
seseorang yang bekerja secara profesional. Hal ini memiliki
manfaat dalam menjalankan pekerjaan, yakni sebagai berikut:
41 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Memiliki Tanggung Jawab
• Sebagai orang profesional, kamu perlu memiliki tanggung jawab atas
pekerjaan yang kamu lakukan. Hal ini bermanfaat untuk hasil
pekerjaan yang berkualitas dan kamu dapat dipercaya oleh atasan,
kolega, dan konsumen.
Menjadi Tertib
• Dengan etika profesi, segala pekerjaan yang dilakukan di kantor
akan menjadi tertib. Tugas akan dilaksanakan tepat waktu dan
sesuai deadline yang sudah ditentukan.
Lingkungan Kerja Sehat
• Etika profesi menyangkut sikap dan norma seseorang dalam
berperilaku profesional. Dengan hal ini, lingkungan kerja menjadi
sehat karena semua dilakukan sesuai dengan SOP dan etika dalam
profesinya.
Meningkatkan Produktivitas Kerja
• Berkaitan dengan tertib dan tanggung jawab, etika profesi tentunya
meningkatkan produktivitas kerja karena akan membuat suasana
kerja yang nyaman karena setiap karyawan akan menghargai,
bekerja sama, dan berlaku profesional dengan baik. Tentunya, hal ini
juga akan mendukung situasi produktif para pekerja secara
profesional.
Menyokong Perubahan Lebih Baik
• Dengan keempat manfaat di atas, hal ini tentunya menyokong
perubahan perusahaan dan diri secara profesional menjadi lebih baik
lagi. Kamu bisa menjadi seseorang yang diandalkan, dipercaya, dan
tentunya bertanggung jawab dalam pekerjaan.
42 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Rangkuman
Etika adalah ilmu yang mempelajari baik dan buruknya serta
kewajiban, hak, dan tanggung jawab, baik itu secara sosial maupun
moral, pada setiap individu di dalam kehidupan bermasyarakatnya.
Atau bisa dikatakan juga bahwa etika mencakup nilai yang
berhubungan dengan akhlak individu terkait benar dan salahnya
Etika secara umum dapat dibagi menjadi etika umum dan etika
khusus
Etiket adalah kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan
antar manusia yang beradab. Pendapat lain mengatakan bahwa etiket
adalah tata aturan sopan santun yang disetujui oleh masyarakat
tertentu dan menjadi norma serta panutan dalam bertingkah lake
sebagai anggota masyarakat yang baik dan menyenangkan.
Estetika adalah suatu hal yang mempelajari keindahan dari suatu
bentuk objek atau daya impuls dan pengalaman estetik dari
penciptaan dan pengamatannya.
Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian
(expertise) dari para anggotanya
Etika profesi adalah sebuah sikap hidup yang bertujuan untuk
memberikan pelayanan kepada seseorang yang sifatnya profesional
Etika profesi bertujuan untuk meningkatkan keterampilan intelek
dalam berpikir dan juga membuat para profesional dapat bertindak
dengan cara yang diinginkan secara moral untuk menuju komitmen
moral dan perilaku bertanggung jawab.
43 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Kuis Kegiatan
Pembelajaran I
44 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Kegiatan Pembelajaran II
Kode Etik Profesi
Pendahuluan
Perkuliahan pada unit ini difokuskan pada kode etik profesi,
meliputi pengertian kode etik dan kode etik profesi, sanksi
pelanggaran kode etik, dan tujuan kode etik profesi.
Dalam unit ini mahasiswa mengkaji tentang pengertian kode etik
dan kode etik profesi, sanksi pelanggaran kode etik, dan tujuan
kode etik profesi. Mahasiswa diberi tugas untuk membaca uraian
materi yang ada pada modul kemudian mengerjakan soal kuis
pada akhir kegiatan pemebelajaran sehingga mahasiswa
memahami tentang kode etik profesi.
Peta Konsep
Kode Etik Pofesi
Pengertan Kode Pengertian Kode Sanksi Tujuan Kode
Etik Etik Profesi Pelanggaran Etik Profesi
Kode Etik
Profesi
45 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Uraian materi
Pengertian Kode Etik
Kode; yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa
kata-kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud-
maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita,
keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga
dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis.Kode etik;
yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok
tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di
masyarakat maupun di tempat kerja.
Pengertian Kode Etik Profesi
MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN) Kode
etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan
dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal yang baru.
Sudah lama diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral
suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-
ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh
seluruh kelompok itu. Salah satu contoh tertua adalah; SUMPAH
HIPOKRATES, yang dipandang sebagai kode etik pertama untuk
profesi dokter.Hipokrates adalah doktren Yunani kuno yang
digelari: BAPAK ILMU KEDOKTERAN. Beliau hidup dalam abad
ke-5 SM.
46 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Menurut ahli-ahli sejarah belum tentu sumpah ini
merupakan buah pena Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya
berasal dari kalangan murid-muridnya dan meneruskan
semangat profesional yang diwariskan oleh dokter Yunani ini.
Walaupun mempunyai riwayat eksistensi yang sudah-sudah
panjang, namun belum pernah dalam sejarah kode etik menjadi
fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan tersebar begitu
luas seperti sekarang ini. Jika sungguh benar zaman kita di
warnai suasana etis yang khusus, salah satu buktinya adalah
peranan dan dampak kode-kode etik ini.
Profesi adalah suatu Moral Community (Masyarakat Moral)
yang memiliki citacita dan nilai-nilai bersama. Kode etik profesi
dapat menjadi penyeimbang segi-segi negative dari suatu profesi,
sehingga kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah moral
bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral
profesi itu dimata masyarakat. Kode etik bisa dilihat sebagai
produk dari etika terapan, seban dihasilkan berkat penerapan
pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Tetapi
setelah kode etik ada, pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik
tidak menggantikan pemikiran etis, tapi sebaliknya selalu
didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi
dengan semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode
etik itu dibuat oleh profesi sendiri. Kode etik tidak akan efektif
kalau di drop begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah
atau instansi-instansi lain; karena tidak akan dijiwai oleh
citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam kalangan profesi itu
sendiri.
47 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik
dan barang kali dapat juga membantu dalam merumuskan,
tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus dilakukan oleh
profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik,
kode etik itu sendiri harus menjadi hasil Self Regulation
(pengaturan diri) dari profesi. Dengan membuat kode etik, profesi
sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya untuk
mewujudkan nilai-nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini
tidak akan pernah bisa dipaksakan dari luar. Hanya kode etik
yang berisikan nilai-nilai dan cita-cita yang diterima oleh profesi
itu sendiri yang bis mendarah daging dengannya dan menjadi
tumpuan harapan untuk dilaksanakan untuk dilaksanakan juga
dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi
agar kode etik dapat berhasil dengan baik adalah bahwa
pelaksanaannya di awasi terus menerus.
Sanksi Pelanggaran Kode Etik Profesi
Pada umumnya kode etik akan mengandung sanksi-sanksi
yang dikenakan pada pelanggar kode etik, diantaranya:
Sanksi Moral
Sanksi Pelanggaran Kode
Etik Profesi
Sanksi dikeluarkan
dari organisasi
48 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai
oleh suatu dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk
khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah mencegah
terjadinya perilaku yang tidak etis, seringkali kode etik juga
berisikan ketentuan-ketentuan profesional, seperti kewajiban
melapor jika ketahuan teman sejawat melanggar kode etik.
Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self regulation yang
terwujud dalam kode etik; seperti kode itu berasal dari niat
profesi mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan
kesediaan profesi untuk menjalankan kontrol terhadap
pelanggar. Namun demikian, dalam praktek sehari-hari control
ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam
kuat dalam anggota-anggota profesi, seorang profesional mudah
merasa segan melaporkan teman sejawat yang melakukan
pelanggaran. Tetapi dengan perilaku semacam itu solidaritas
antar kolega ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan
demikian maka kode etik profesi itu tidak tercapai, karena
tujuan yang sebenarnya adalah menempatkan etika profesi di
atas pertimbangan-pertimbangan lain.
Tujuan Kode Etik Profesi
Lebih lanjut masing-masing pelaksana profesi harus
memahami betul tujuan kode etik profesi baru kemudian dapat
melaksanakannya. Kode Etik Profesi merupakan bagian dari
etika profesi. Kode etik profesi merupakan lanjutan dari norma-
norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan
dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas,
49 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih
sempurna walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah
tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi
adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan
tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa
yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang
dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional
Tujuan Kode Etik Profesi diantaranya:
Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
Untuk meningkatkan mutu profesi.
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
Menentukan baku standarnya sendiri.
50 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah:
Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang
prinsip profesionalitas yang digariskan.
Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang
bersangkutan.
Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi
tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Etika
profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai Bidang.
Kode etik yang ada dalam masyarakat Indonesia cukup
banyak dan bervariasi. Umumnya pemilik kode etik adalah
organisasi kemasyarakatan yang bersifat nasional, misalnya
Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat
HUKUM Indonesia, Kode Etik Jurnalistik Indonesia, Kode Etik
Advokasi Indonesia dan lain-lain. Ada sekitar tiga puluh
organisasi kemasyarakatan yang telah memiliki kode etik.
51 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Rangkuman
Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis
Kode etik; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu
kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di
masyarakat maupun di tempat kerja.
Profesi adalah suatu Moral Community (Masyarakat Moral) yang
memiliki citacita dan nilai-nilai bersama
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan
perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan
sehari-hari.
Sanksi elanggran kode etik diantaranya adalah sanksi moral
dan sanksi dikeluarkan dari organisasi
52 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Kuis Kegiatan
Pembelajaran II
53 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Kegiatan Pembelajaran III
Tata Cara dan Etika dalam Pergaulan
Pendahuluan
Perkuliahan pada unit ini difokuskan pada tata cara dan etika dalam
pergaulan, meliputi Tata cara dan etika mahasiswa/pegawai dalam
duduk,berjalan, berkenalan, berjabat tangan,berbicara dan Cara dan
etika berkomunikasi serta menghadapi masalah dalam komunikasi baik
dengan mitra, atasan dan bawahan. Dalam unit ini mahasiswa mengkaji
tentang Tata cara dan etika mahasiswa/pegawai dalam duduk,berjalan,
berkenalan, berjabat tangan,berbicara dan Cara dan etika berkomunikasi
serta menghadapi masalah dalam komunikasi baik dengan mitra, atasan
dan bawahan.
Mahasiswa diberi tugas untuk membaca uraian materi yang ada pada
modul kemudian mengerjakan soal kuis pada akhir kegiatan
pemebelajaran sehingga mahasiswa memahami tentang tata cara dan
etika dalam pergaulan.
Peta Konsep
Tata Cara dan Etika
dalam Pergaulan
Tata cara dan etika Cara dan etika berkomunikasi
mahasiswa/pegawai dalam
duduk,berjalan, berkenalan,
berjabat tangan,berbicara
54 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Uraian Materi
Tata Cara dan Etika dalam Pergaulan
Pergaulan dalam lingkungan masyarakat terikat dengan
norma atau etika. Dalam kehidupan, etika membahas tentang
persoalan baik atau buruknya suatu hal. Etika sangat
berhubungan erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Ada
banyak jenis etika yang dapat ditemui. Salah satu contohnya
etika pergaulan. Etika ini digunakan untuk menjalin pergaulan
atau hubungan dengan masyarakat lainnya dalam kehidupan
sosial. Mengutip dari buku Profesi Kependidikan dan Keguruan
(2020) karya Syarwani Ahmad dan Zahruddin Hodsay, secara
etimologis, etika berasal dari bahasa Yunani, yakni ethikos,
berarti watak atau kebiasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), pergaulan diartikan sebagai kehidupan
bermasyarakat atau perihal bergaul. Maka bisa dikatakan
definisi etika pergaulan adalah watak atau kebiasaan seseorang
dalam bergaul dan menjalin kehidupan bermasyarakat.
Menurut Nanda Eka Saputri, dkk, dalam jurnal
Implementation of Counseling Guidance Services of Social Ethics
in Students of Class V SDN 1 Kebumen (2019), definisi etika
pergaulan adalah segala hal yang mencerminkan moral dan
harus dipahami semua orang dalam menjalin kehidupan sosial
bermasyarakat. Etika pergaulan harus disadari dan dipahami
betul oleh masyarakat. Apabila tidak, hal tersebut akan
melanggar normal yang berlaku di kehidupan masyarakat
tersebut. Etika pergaulan dapat muncul dari faktor internal (diri
55 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
sendiri) maupun faktor eksternal (pengaruh lingkungan sekitar).
Etika pergaulan bisa diterapkan di lingkungan mana saja, seperti
sekolah, lingkungan sekitar rumah, lingkungan kerja, dan masih
banyak lagi. Dalam penerapannya, etika pergaulan bisa berfokus
pada cara berbicara atau menjalin komunikasi hingga etika
bertamu.
Ada lima cara yang dapat dilakukan untuk memelihara etika
pergaulan, yakni:
1. Saling menyapa saat bertemu orang yang dikenal Ketika bertemu
orang yang dikenal di jalan atau tempat umum, usahakan untuk
menyapa dan berbincang sebentar. Contohnya menanyakan kabar,
atau lainnya.
2. Menghormati orang yang lebih tua Dalam etika pergaulan, kita harus
menghormati orang yang lebih tua. Contohnya dengan berbicara
sopan, membungkuk ketika harus berjalan di depan orang yang lebih
tua, dan sebagainya.
3. Menghargai teman sebaya Selain menghormati orang yang lebih tua,
etika pergaulan juga mengajarkan cara menghargai teman sebaya.
Contohnya mendengarkan pembicaraan teman sebaya dengan baik,
memperhatikan penggunaan bahasa, dan lain sebagainya.
4. Bersikaplah sopan kepada siapa saja Berperilaku dan senantiasa
menjaga sikap sopan santun menjadi hal penting yang harus
diterapkan dalam etika pergaulan. Bersikap sopan bisa dengan
menjaga cara bicara, memperhatikan cara berpakaian, etika bertamu,
menyapa, berkenalan, dan lain sebagainya.
5. Punya rasa empati Empati setidaknya harus ditanamkan dalam diri
setiap orang. Empati dibutuhkan dalam pergaulan. Contohnya
menolong orang lain yang merasa kesulitan, menawarkan bantuan,
dan lain sebagainya.
56 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika Duduk
Sikap duduk Anda mempengaruhi penilaian orang lain
terhadap diri Anda. Ini juga sangat berpengaruh pada kesehatan
diri sendiri. Pasti Anda sudah tahu itu. Pertanyaannya
bagaimana memberikan kesan yang baik saat duduk?
Bagaimana cara duduk yang baik? Duduklah tegak dan tidak
merosot di kursi, dalam posisi miring atau segaris dengan kedua
kaki merapat. Kalau Anda mengenakan rok mini atau dengan
belahan di tengah atau di samping, cara ini menutupi kaki Anda
(Ingat, jangan pernah meletakkan benda-benda di atas rok mini
Anda untuk menutupi kaki yang terbuka!) Saat duduk, letakan
tas Anda di samping kiri kursi atau di belakang sandaran kursi.
Tas Anda besar? Letakan saja di kaki kursi. Dilarang keras
meletakkannya di atas meja.
Bila Anda menerima tamu, persilakan tamu Anda duduk
disebelah kanan Anda. Ini artinya anda menghormatinya.
Duduklah sejajar dengan tamu. Ini menunjukan bahwa Anda
tidak menganggap rendah tamu Anda. Duduk mengangkat atau
menumpang kaki tidak dilarang. Tapi, jangan sampai kaki atau
alas sepatunya terlihat. Dia akan terkesan tidak sopan.
Berdirilah bila berjabat tangan dan bila ada seorang wanita yang
masuk ke ruangan kerja atau berjalan menghampiri. Duduklah
dengan sikap tegak, rentang paha tidak melebihi lebar pinggul.
57 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Tata cara duduk yang baik diantaranya:
1. Badan tegak tapi santai
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 5. Posisi Badan Saat Duduk
2. Kaki di bawah tapi rapat
3. Tidak tumpang kaki
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 6. Posisi Duduk dengan Tumpang Kaki
58 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
4. Tidak selonjoran apalagi diatas meja
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 7. Posisi Duduk selonjoran di atas meja
5. Tidak naik ke atas seperti jongkok/bersila
6. Tidak duduk di meja
7. Tidak menggoyang-goyangkan kaki
8. Tidak berpangku tangan
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 8. Posisi Duduk Berpangku Tangan
9. Tangan diatas paha
10. Kaki tidak terbuka apalagi wanita
59 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
11. Tidak menyenderkan tangan diatas kursi
12. Berdiri bila ada yang menyalami
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 9. Berdiri bila ada yang menyalami
13. Jika wanita tutup lutut, kaki diserongkan
14. Mempersilahkan duduk kepada orang tua, jompo & wanita
15. Memberikan tempat duduk bagi mereka yang tidak kebagian
16. Tidak duduk sebelum wanita, orang yang dihormati, orang
tua duduk terlebih dahulu
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 10. Tidak duduk sebelum wanita, orang yang
dihormati, orang tua duduk terlebih dahulu
17. Berdiri jika ada orang yang dihormati
60 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika Berdiri
1. Tidak tolak pinggang
2. Tidak berpangku tangan
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 11. Tidak berpangku tangan
3. Tidak membusungkan dada
4. Tidak menengadahkan wajah
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 12. Tidak menengadahkan wajah
61 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
5. Kaki tidak terlalu lebar
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 13. Kaki tidak terlalu lebar
6. Tidak terlalu rapat
Sumber: antoncharlianetika
Gambar 14. Kaki tidak terlalu rapat
7. Tidak merogoh kantong celana
8. Tidak memegang ikat pinggang
62 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
9. Tidak menghalangi orang/jalan
10. Tidak berdiri ditengah jalan
11. Tidak berdiri didepan pintu
12. Tidak menggerakkan kaki
13. Tidak garuk kaki
Etika Berjalan
Banyak orang menganggap bahwa soal berjalan adalah
remeh. Tetapi apabila kita perhatikan benar-benar, ternyata
masih banyak di antara bangsa kita yang belum memahami
benar tentang bagaimana sikap yang sebaik-baiknya kita harus
berjalan. Yang dimaksud berjalan disini ialah berjalan di jalan
umum, di mana selain kita sendiri, banyak pula orang lain yang
berjalan di situ.
Tiap-tiap bangsa mempunyai gaya sendiri-sendiri. Misalnya
orang Amerika dan Eropa, pada umumnya selalu bergegas-gegas,
seolah-olah ada sesuatu yang mereka kejar.Kebiasaan ini
terpengaruh oleh kehidupan mereka yang segala sesuatunya
serba otomat, dengan demikian maka tindakan-tindakannya pun
serba cepat pula.Memang harus diakui bahwa keadaan dapat
mempengaruhi kebiasaan. Di negara-negara Arab datarannya
kebanyakan terdiri dari padang pasir yang luas, sehingga untuk
mengarunginya dari suatu tempat ke tempat yang lain
memerlukan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa.
Kebanyakan bangsa Arab berjalan lambat-lambat asal
sampai di tempat tujuan dan selamat. Dari kedua keadaan yang
diuraikan di atas, dapat diperoleh perbedaan yang menyolok
dimana yang satu ingin cepat, sedang lainnya terbiasa dengan
63 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
lambat-lambat. Sedangkan keadaan di negara kita, khususnya di
pulau Jawa boleh dikatakan berada di tengah-tengah. Maka
keadaan ini pun mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Sehingga gaya kita berjalanpun menjadi sedang, tidak cepat dan
tidak pula lambat.
Bangsa kita sudah banyak dikenal oleh bangsa-bangsa lain
sebagai bangsa yang halus, ramah-tamah dan memiliki sopan-
santun yang tinggi.Memang, bagi bangsa kita, sopan-santun ini
masih membudaya dalam kehidupan masyarakatnya.Sopan-
santun masih tumbuh dengan subur dan dipelihara baik-baik,
sehingga pada soal-soal yang kecil-kecil sekalipun tidak lepas
dari penilaian kesopanan.Demikian pula martabat seseorang
berkaitan erat dengan adabnya.Jelasnya, orang baru dapat baik,
apabila penilaian terhadap segi adab dan kesopanannya telah
sempurna.
Etika berjalan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Tidak membusungkan dada sehingga terlihat angkuh
2. Tidak membungkuk
3. Langkah tidak diseret
4. Langkah tidak dihentak-hentak
5. Mata tidak jelalatan
6. Tidak memandang mata orang lain apalagi lawan jenis
7. Langkah tidak panjang dan juga tidak pendek
8. Saat melangkah kaki tidak seperti mantul
9. Tidak menendang barang saat berjalan
10. Tidak mengobrol keras sambil berjalan
64 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
11. Tidak berjalan sambil menutup muka
12. Tidak menggerak-gerakan badan/pinggul
13. Tidak berjalan dengan bermesraan
14. Tidak berjalan dengan bergandengan
15. Tidak membawa barang yang kurang pantas
16. Tidak menghalangi jalan
17. Tidak jalan bergerombol
18. Kain celana/rok tidak menapu lantai ketika berjalan
19. Tidak makan/minum
20. Tidak berjalan sambil merokok
21. Tidak berjalan sambil main HP
22. Tidak berjalan sambil tolak pinggang
23. Tidak berjalan mendahului orang tua
24. Tidak berjalan melangkahi orang
25. Tidak melangkahi barang dagangan
26. Tidak berjalan menyenggol orang
27. Tidak berjalan zig zag
28. Tidak mengendap-endap
65 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Cara Berjalan diantaranya adalah:
Waktu berjalan, hendaknya sikap badan lurus dan tegap,
janganmembungkuk, jangan melangkah besar-besar (melempar kaki terlalu
jauh),atau sebaliknya.
Jika berjalan bersama orang tua atau perempuan, laki-laki disebelah kiri,
jangan di depan atau di belakangnya. Kecuali, jika seorangsuami berjalan
bersama dengan istrinya, suami harus di sebelah kananistri,
Jangan berjalan sambil berbicara dan jangan pula sambil melongoke kiri dan
kanan atau selalu menunduk ke bawah,
Jangan berjalan sambil makan, membetulkan pakaian di jalan atau sambil
membaca buku/surat kabar,
Jika melewati orang lain, jangan membelakangi orang tersebut, tapi
menghadap kepadanya sambil menyapa untuk mendahuluinya
66 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Cara duduk dan berdiri juga sesuai dengan video berikut ini:
Video cara duduk, berdiri, dan
berjalan
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=8k54sgrsQME&t=8s
67 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika Berkenalan
Beberapa etika dalam berkenalan diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Ucapkan salam
2. Bersikap ramah
3. Menyebutkan nama lengkap
4. Jgn sekali-kali memberikan identitas yg tdk sebenarnya (nama,
alamat & jabatan palsu)
5. Berikan kartu nama bila
6. Tidak menanyakan hal yang bersifat pribadi seperti umur & status
7. Tidak berkenalan dgn gaya berlebihan
8. Tidak berbicara tinggi/angkuh/sombong
9. Basa-basi sekedarnya, jangan pamer apalagi obral janji
10. Bersikap Rendah hati
68 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
11. Saling memuji satu sama lain tetapi tidak berlebihan
12. Apabila berkenalan dgn lawan jenis tidak bersikap menggoda
13. Tidak bersikap salah tingkah
14. Tempatkan teman baru anda sbg orang penting bagi diri anda
15. Bila perlu adakan acara bersulang (tos minuman bersama)
16. Jgn sampai terlambat pada acara pertemuan pertama
17. Perhatikan etika berbicara
18. Harus bersikap respect terhadap kawan baru anda
19. Jgn bersikap acuh tak acuh, cemberut, sedih hati dalam
suasana perkenalan pertama
20. Menjaga silaturahim selanjutnya setelah adanya perkenalan
tersebut
21. Bila mengakhiri pertemuan, ungkapkan bahwa perkenalan ini
sangat berarti bagi diri anda
69 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika Berjabat tangan
Sumber: detik.com
Gambar 15. Etika Berjabat Tangan
Berjabat tangan bukan hanya sekedar bentuk kesopanan
saat bertemu orang. Jabat tangan juga merupakan faktor
penentu kesuksesan saat interview pekerjaan atau bertemu
klien. Jabat tangan dapat membentuk kesan pertama yang kuat.
Hal ini juga merupakan sikap formal dalam kehidupan
profesional. Agar meninggalkan kesan yang baik dan positif, ikuti
tips berjabat tangan secara profesional berikut ini:
1. Jabat tangan biasanya dilakukan dalam posisi berdiri dan
berhadapan. Hal ini berarti Anda menunjukkan rasa hormat.
Jika sedang duduk, berdirilah saat akan berjabat tangan.
2. Jika akan duduk kembali di kursi, duduklah setelah orang
lain mulai duduk.
3. Saat berjabat tangan, rapatkan jari-jari Anda dan eratkan
genggaman. Letakkan jempol di atas tangan lawan jabat
tangan Anda. Sedangkan jari-jari lainnya dilekatkan di
telapak tangannya, lalu goyangkan dengan gerakan ke atas
70 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
dan bawah sebanyak dua hingga tiga kali. Jangan terlalu
keras dalam menggenggam tangan orang lain, tapi pastikan
posisi tangan Anda mantab menggapai tangan lawan jabat
tangan Anda.
4. Saat berjabat tangan kontak mata perlu dijaga dan berilah
senyuman hangat. Hindari untuk melihat ke arah tangan
saat berjabat tangan. Dengan saling menatap akan
menunjukkan rasa percaya diri Anda.
5. Selama berjabat tangan, Anda bisa mengucapkan kalimat-
kalimat singkat. Seperti ucapan selamat pagi atau siang.
6. Saat mengakhiri pertemuan, jangan lupa untuk kembali
berjabat tangan. Hal ini merupakan tanda perpisahan
dengan gaya profesional.
Hindari gaya berjabat tangan seperti di bawah ini:
1. Lemas dan tangan yang lembab. Kondisi tersebut dapat
memudahkan tangan lepas dari cengkeraman. Maka dari itu,
sebelum berjabat tangan, pastikan tangan Anda kering.
2. Hanya menggunakan jari-jari saat menggenggam tangan
lawan jabat tangan Anda. Jika melakukan jabat tangan
dengan gaya seperti itu, Anda akan dianggap tidak
menghormati lawan jabat tangan Anda dan menimbulkan
kesan bahwa Anda jijik memegang tangannya.
3. Berlebihan saat menggoyangkan tangan lawan jabat tangan
Anda.
4. Berjabat tangan sangat cepat dan hampir tidak menyentuh
lawan jabat tangan Anda.
71 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika dalam Berbicara
Pada saat berbicara maupun membuka pembicaraan, perlu
juga diperhatikan beberapa hal penting mengenai topik/poin
pembicaraan yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Yang menarik 2. Yang mau 3. Membuat 4. Membicarakan
perhatian lawan membuat ia pujian hobby
bercerita tentang
bicara pekerjaanya
Pada saat berbicara, maka suara harus dibuat dengan
semenarik mungkin, ekspresi wajah yang sesuai denga topik
yang dicarakan, serta dibarengi sikap yang menyenangkan dan
keterlibatan yang hangat dengan lawan bicara. Dalam berbicara
maupun pada saat terlibat dalam percakapan, ada baiknya
untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Sikap tenang;
2. Kontak mata;
3. Jangan suka memotong pembicaraan;
4. Jangan cepat memberi pernyataan; salah, bukan begitu;
5. Jangan bertanya kepada seorang wanita terutama orang asing mengenai: usia,
status menikah atau anak;
72 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
6. Percakapan yang menarik yaitu; musik, hobby, peristiwa aktual, olahraga;
7. Jangan bergosip;
8. Pujian dengan senyum dan terima kasih;
9. Jangan menguraikan kesulitan pribadi atau mengeluh tentang penyakit;
10. Bila lawan bicara pemalu, buka pembicaraan tentang hobby, keluarga atau
hal yang menarik;
11. Tiga kalimat ajaib (Three Magic Words) yaitu tolong, terima kasih, dan maaf.
12. Kunci sukses kita dapat pergaulan dan menjadi pembicara yang baik seperti
nyaman dipandang, suara dan intonasi yang sopan, dan erpihan dalam
berbusana.
Dengan menjaga sikap dan cara yang baik dan benar akan
menimbulkan kehangatan serta komunikasi yang baik dengan
lawan bicara kita, sehingga dapat memudahkan kita dalam
melakukan pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Etika dalam Berkomunikasi
Etika Berkomunikasi dengan Dosen/Atasan melalui
Aplikasi Pesan
Fungsi aplikasi pesan (selanjutnya disebut WA) digunakan
untuk berkomunikasi akademik yang berguna untuk
pemberitahuan, membuat perjanjian pertemuan dengan dosen
wali, pembimbing akademik, dosen penguji, koordinator,
kaprodi/sekprodi, staf tendik atasan,dsb. Aplikasi digunakan
73 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
pula untuk hal yang bersifat genting atau darurat. Sifat WA:
bersifat penting, singkat dan membutuhkan balasan segera dari
penerima. Maksud penggunaan: Penggunaan WA memiliki
maksud bahwa pengirim memiliki harapan bahwa pesan harus
segera dibalas, namun disisi sebaliknya penerima akan
mendapatkan kesan bahwa pengirim meminta segera
memberikan balasan.
Berikut tata cara mengirim pesan melalui aplikasi chat,
whatsapp:
1. Perhatikan waktu berkirim pesan.
Sebaiknya hindari mengirim pesan pada waktu istirahat,
beribadah, atau di hari libur.
2. Hindari pengiriman dokumen akademik melalui WA,
gunakan aplikasi Email.
3. Mengawali pesan dengan salam dan perkenalan diri.
Selalu awali pesan dengan salam dan sapaan dengan
menyebutkan pihak yang dituju. Dilanjutkan dengan
perkenalan diri secara singkat. Sebutkan nama dan
angkatan.
4. Sampaikan maksud dan tujuan dengan memperhatikan
penggunaan bahasa yang formal.
Maksud dan tujuan disampaikan secara singkat, formal dan
jelas. Hindari penyebutan “aku” dan menyingkat kata.
Alangkah lebih sopan lagi, sebut nama anda sbg pengganti
“aku”. Perhatikan penggunaan tanda baca, huruf kapital,
penulisan nama yg dituju, dan pastikan tidak ada kesalahan
dalam penulisan (typo).
74 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
5. Hindari penggunaan huruf kapital pada seluruh kalimat
anda.
6. Akhiri pesan dengan singkat dan ucapan terimakasih
serta salam.
7. Baca kembali pesan anda sebelum dikirim.
8. Berikan waktu para dosen untuk menjawab.
Video Etika Berkomunikasi
dengan Dosen
Sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=eNQtH_LBeko&t=11s
75 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Etika Berkomunikasi dalam Rapat/Diskusi
Etika rapat/diskusi diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hormati pimpinan rapat/moderator
2. Bicara jika sudah dipersilahkan
3. Jangan memotong pembicaraan
4. Jangan mendominasi pembicaraan
5. Jangan mau menang sendiri
6. Mau terima saran orang lain
7. Bicara tidak bertele-tele, singkat, padat, langsung pada
tujuan, jelas, tegas tapi santun
8. Tidak menggurui
9. Tidak memojokkan, menghina, meremehkan orang lain
10. Dilarang bicara sambil menunjuk orang lain
11. Tidak bicara kasar, keras, tapi tegas dan berwibawa
12. Tidak mengobrol sendiri
13. Memperhatikan dengan serius
14. Jangan sampai ngantuk/tidur
15. Tidak merokok diruang rapat
16. Duduk dengan sopan
17. Tidak subyektif tapi obyektif
18. Hindari penggunaan bahasa asing yang tidak dimengerti
19. Selingi dengan humor cerdas
20. Diskusi sebaiknya mampu membuat solusi yang tepat
21. Mampu melahirkan keputusan –keputusan yang realistis
dan praktis
22. Jangan bicara sambil makan
76 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
23. Jangan bicara sambil memalingkan muka
24. Jangan bicara sambil menyilangkan tangan
25. Jangan meninggalkan ruangan sebelum selesai
26. Tidak walk out karena tidak setuju pendapat audience
27. Tidak memukul-mukul meja saat bicara
28. Hormati & dukung bila sudah menjadi keputusan bersama
dengan konsekuen
29. Pantangan sampai adu fisik gara-gara berbeda pendapat
30. Persiapkan data & fakta seakurat mungkin
31. Pendapat bisa berbeda tapi jika selesai harus berbesar hati
dan tidak memperpanjang masalah diluar rapat atau sampai
masuk hati
Menghadapi Masalah dalam Komunikasi baik
dengan Mitra, Atasan, dan Bawahan
Masalah komunikasi merupakan hal yang umum terjadi
dalam proses komunikasi. Komunikasi dalam perusahaan
melibatkan banyak orang baik dari lapisan mitra, atasan
maupun bawahan. Bayangkan jika masalah komunikasi terjadi
dalam lapisan tersebut berlarut-larut. Pasti menyebabkan
masalah lain dalam perusahaan. Masalah komunikasi sering
juga disebut sebagai miskonsepsi yang dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia berarti salah penerimaan atau salah
penanggapan dari suatu komunikasi. Misalkan, Si A
menyampaikan suatu pesan kepada Si B. Namun, Si B tidak
menangkap pesan Si A secara keseluruhan. Maka, kejadian
tersebut dapat dikategorikan sebagai masalah komunikasi. Pada
77 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
akhirnya, masalah komunikasi akan berdampak pada rendahnya
penyelesaian project internal perusahaan dan akan berdampak
lagi kepada proses bisnis perusahaan.
Komunikasi modern sudah menggunakan berbagai macam
platform dan gadget canggih seperti e-mail, video call, text
messenger, dan lainnya. Penggunaan platform dan gadget
tercanggih pun tak luput dari kemungkinan masalah
komunikasi. Penyebab masalah komunikasi jika diuraikan
adalah sebagai berikut:
1. Kurang Pemahaman Atas Konteks
Dalam lingkungan bisnis, konteks yang dimaksud adalah
latar belakang, lingkungan atau kerangka kerja yang
mengelilingi suatu peristiwa atau kejadian. Konteks
memberikan tugas dan tanggung jawab yang bermakna dan
berfungsi sebagai klarifikasi. Tanpa pemahaman konteks
bisnis yang tepat, kesalahan dapat terjadi selama proses
komunikasi. Kurangnya pemahaman terhadap konteks
bisnis juga dapat berbahaya dan menyebabkan kerusakan
hubungan bisnis baik secara internal maupun eksternal.
Selain itu, kegagalan untuk memperhitungkan konteks
mengurangi kepercayaan.
2. Asumsi
Asumsi dalam komunikasi bisnis terjadi ketika berbagai
faktor dianggap benar tetapi tidak pernah dikonfirmasi dan
terjadi pada setiap tahap siklus komunikasi. Para pemimpin
bisnis harus mendengarkan masukan tim mereka dan
melakukan riset pasar untuk mendukung asumsi mereka
sebelum bergerak maju dengan suatu produk atau
78 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
keputusan. Membuat asumsi adalah hal yang lumrah dalam
bisnis untuk strategi dan pengambilan keputusan
berdasarkan standar tertentu. Namun, adalah hal yang
keliru jika asumsi yang disimpulkan adalah asumsi yang
kurang tepat. Dalam beberapa kasus, yang terbaik adalah
tidak berasumsi terhadap suatu proses dalam bisnis.
Sebaiknya langsung saja bertanya untuk memastikan
apakah asumsi tersebut tepat atau tidak.
3. Ketidakjelasan atau Ambiguitas
Ketidakjelasan dan ambiguitas terjadi ketika pesan tidak
sepenuhnya disampaikan, pengirim meninggalkan informasi
berharga atau penerima gagal mengajukan pertanyaan
klarifikasi. Ambiguitas dan ketidakjelasan meningkatkan
kesulitan suatu tugas, mengurangi kemampuan untuk
membuat keputusan dan memecahkan masalah.
Diperlukan komunikasi intense secara internal dan eksternal
serta mengidentifikasi masalah dengan jelas dan
menggunakan bahasa yang spesifik dan konkret.
4. Kelebihan Informasi
Sesuatu yang berlebihan dan terlalu kurang memang tidak
baik. Salah satu penyebab utama masalah komunikasi
dalam bisnis dapat dikaitkan dengan supply informasi yang
berlebihan. Ketika informasi dikirim melalui beberapa pesan
dalam jangka waktu yang lama dan akhirnya menumpuk,
pengambilan inti dari dapat dengan mudah dilewatkan. Ini
dapat mengakibatkan masalah komunikasi di kemudian hari
dalam proses yang dapat berdampak buruk pada suatu
produk atau layanan.
79 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Karena dapat membahayakan proses bisnis perusahaan,
masalah komunikasi tidak dapat dibiarkan begitu saja. Cara
yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah komunikasi
adalah:
1. Berikan Instruksi Jelas dan Ringkas
Masalah komunikasi terjadi ketika kedua belah pihak gagal
untuk memahami arahan yang sebenarnya. Sangatlah
penting untuk memberikan instruksi dengan jelas dan
ringkas dalam untuk menghindari masalah komunikasi.
Jangan berbicara berputar-putar pada suatu topik karena
akan membuat kebingungan. Rincian yang tidak relevan dan
terlalu banyak detail juga cukup membingungkan dan
mendorong terjadinya masalah komunikasi. Berbicaralah
dengan jelas dan langsung ke pokok permasalahan dengan
menghadirkan instruksi langkah demi langkah. Jangan
memberikan satu set instruksi yang terperinci dan sangat
panjang karena kebanyakan orang tidak akan membacanya
sepenuhnya. Lebih baik sederhanakan pesan kemudian
ucapkan kalimat pendek dan lebih bermakna.
2. Berhenti berasumsi
Asumsi adalah penyebab sesungguhnya masalah
komunikasi. Dalam kebanyakan kasus ketika seorang
karyawan bertanya kepada karyawan yang lain mengapa ia
tidak mengikuti instruksi yang diberikan, jawabannya sudah
jadi bahwa ia berasumsi bahwa itu harus dilakukan dengan
cara ini. Masalah komunikasi terjadi ketika dua peserta dari
percakapan yang sama menafsirkan semuanya sesuai
dengan pemahaman dasar mereka. Ini menimbulkan konflik
80 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
karena kedua belah pihak gagal menyampaikan dan
mendengar secara ringkas. Sebaiknya periksa lagi apakah
orang yang terlibat dalam komunikasi telah memahami arah
komunikasi dengan benar atau tidak. Ingat, mendengarkan
secara aktif sangat berbeda dari mendengar sesuatu secara
pasif. Penting untuk meluangkan waktu memahami masalah
sesuai dengan serangkaian instruksi dan berhenti berasumsi
bahwa persepsi yang muncul dalam kepala adalah
kebenaran yang sebenarnya.
3. Perhatikan Gaya Komunikasi
Beberapa orang memerlukan instruksi terperinci sedangkan
yang lain senang dengan pedoman khusus. Beberapa lainnya
menginginkan instruksi verbal sedangkan beberapa
menginginkannya secara tertulis. Seorang karyawan harus
mengetahui audiens yang dihadapi jika ingin menghindari
masalah masalah komunikasi.
4. Jadilah pendengar yang baik
Mendengarkan dengan cermat dapat dengan mudah
menghindari masalah komunikasi dan mampu dengan cepat
memahami arahan tepat serta menghilangkan hambatan
yang dapat menimbulkan masalah masalah komunikasi.
Luangkan waktu yang diperlukan untuk memahami umpan
balik verbal dan nonverbal untuk memahami masalah ini.
Dengarkan bahasa tubuh orang yang berbicara. Misalnya,
apakah ia gelisah, menghindari kontak mata, bagaimana
postur tubuhnya, dan sebagainya. Ini akan memberi ide yang
baik apakah orang lain telah memahami arah komunikasi
yang dimaksud atau tidak.
81 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
5. Berpikirlah Sebelum Berbicara
Jika ingin menghindari masalah komunikasi, seseorang
perlu mengucapkan kata-kata yang bermakna dan itu
mungkin dengan mengaturnya secara tertib. Dalam sebuah
percakapan, penting untuk tetap fokus pada topik dan
mempertahankan nada yang seimbang dan sikap positif.
Alih-alih melemparkan diri ke dalam percakapan, ambillah
jeda untuk menenangkan pikiran dan merenungkan kata-
kata yang akan dikeluarkan saat berkomunikasi.
6. Diskusikan Ekspektasi
Sebelum meluncurkan proyek baru, pemilik bisnis atau
manajer proyek harus memantau setiap anggota tim yang
terlibat dalam proyek dan berbicara tentang tugas dan
sasaran spesifiknya. Pemilik atau pemimpin harus dengan
jelas menetapkan harapan dan bagaimana pekerja akan
cocok dengan anggota tim lainnya. Izinkan anggota tim
untuk mengajukan pertanyaan dan mengklarifikasi apa pun
yang tidak jelas. Hal ini harus dilakukan kapan saja setiap
ada perubahan proyek dalam proses bisnis. Semakin lama
menunggu untuk melakukan perubahan, semakin sulit
karena pekerjaannya telah menjadi menumpuk. Segera
setelah menemukan kesalahan atau perubahan, hal tersebut
harus dikomunikasikan ke seluruh tim.
7. Mengajukan Pertanyaan
Cara terbaik untuk menghindari masalah komunikasi adalah
dengan mengajukan pertanyaan yang relevan. Pertanyaan
membuat konsep jauh lebih jelas dan membantu
mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Jangan menyela
82 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
seseorang ketika dia berbicara. Catat dan tulis poin-poin
utama sehingga mengajukan pertanyaan terkait dapat
dilakukan dengan mudah. Jika ragu untuk bertanya, bahkan
mintalah klarifikasi jika memang diperlukan. Semua pihak
yang terlibat dalam suatu proyek harus diberi contoh waktu
untuk mengajukan pertanyaan dan meninjau pekerjaan
mereka. Pertimbangkan untuk melibatkan ahli materi
pelajaran untuk memastikan proyek tersebut akan berhasil
secara efektif.
8. Bersikap Sopan
Ketika Bersikap sopan dan bersahabat, karyawan lain
sebagai lawan bicara akan berusaha lebih keras untuk
mendengarkan dengan baik. Cobalah untuk berbicara dalam
bahasa yang bisa dipahami oleh orang lain. Pastikan untuk
menjauh dari nada dan kata-kata yang bersifat sarkastik
karena dapat menimbulkan masalah komunikasi.
9. Periksa dan Tindak Lanjuti
Terus periksa dan tinjau proses bisnis berjalan untuk
memastikan bahwa karyawan telah memahami komunikasi
dengan baik. Penting untuk memastikan komunikasi dan
pemahaman yang lengkap untuk menghindari masalah
komunikasi. Kalau memang diperlukan, berikan ringkasan
singkat di bagian akhir komunikasi atau diskusi. Ketika
melakukan pemeriksaan dan peninjauan mengenai
komunikasi, berarti karyawan tersebut menunjukkan minat
dan kemauan untuk bekerja ekstra membina berkomunikasi
dengan benar.
83 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Rangkuman
Etika pergaulan adalah segala hal yang mencerminkan
moral dan harus dipahami semua orang dalam menjalin
kehidupan sosial bermasyarakat.
Sikap duduk mempengaruhi penilaian orang lain dan juga
sangat berpengaruh pada kesehatan diri sendiri.
Beberaa etika lain yang daat dierhatikan yaitu etika berdiri,
etika berjalan, etika berjabat tangan, etika berbicara,vetika
berkenalan, dan etika berkomunikasi,
84 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Kuis Kegiatan
Pembelajaran III
85 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku
E-Modul Etika Profesi dan Estetika
Kegiatan Pembelajaran IV
Etika dan Estetika Berbusana
Pendahuluan
Perkuliahan pada unit ini difokuskan pada konsep etika dan
estetika berbusana. Dalam unit ini mahasiswa mengkaji tentang
pembagian busana, pengelompokan busana, fungsi busana, dan
etika berbusana. Mahasiswa diberi tugas untuk membaca uraian
materi yang ada pada modul kemudian mengerjakan soal kuis pada
akhir kegiatan pemebelajaran sehingga mahasiswa memahami
tentang etika dan estetika berbusana.
Peta Konsep
Etika dan Estetika
Berbusana
Pembagian Pengelompokan Fungsi Busana EtikaBerbusana
Busana Busana
86 Departemen Tata Rias Dan Kecantikan Febri Silvia, S.Pd., M.Pd.T.
faku