Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
kasih sayang Allah SWT kepada pemuda tersebut, mengingat kesolehannya di dunia.
Namun, ketika ia menyakiti orang tuanya, yaitu ibunya, maka semua amalnya seolah
tanpa guna, sehingga Allah masih memberikan suatu peluang terakhir kepada dirinya
agar ibunya mau memaafkannya. Kalau tidak, maka sia-sialah semua upaya amal
pemuda itu selama ia hidup di dunia. Sesoleh apapun pemuda itu, tanpa maaf orang
tua maka akupun akan sejenak menunggu sampai ibunya memaafkannya. Apakah hal
ini adzab atau kemurahan Allah? Maka jelaslah hal ini merupakan kemurahan Allah
untuk memberikan kesempatan bagi ibu pemuda tersebut untuk memberikan maafnya.
Kendati si anak berdosa, sebagai orang tua, maka diapun memiliki tanggung jawab
untuk memaafkannya. Orang tua bagaimanapun juga memiliki tanggung jawab
kenapa seorang anak bisa begini atau begitu. Karena, sebagai orang tua yang
bertanggung jawab, ia sebenarnya menjadi bagian kenapa si anak menjadi tersesat,
atau terhalang amalnya. Yang dibutuhkan sebenarnya adalah ridha orang tua sebagai
orang tua, dan menyadari bahwa orang tualah yang berperan dalam menentukan
apakah seorang anak dikemudian hari menjadi majusi, nasrani, atau yang lainnya.
Aku masih meresapi cerita Izrail tentang hubungan anak dan orangtua, serta
akibat-akibatnya di kemudian hari. Bayang-bayang keretakan dalam keluarga yang
makin hari makin sering kudengar atau kulihat sendiri menjadi jelas, bahwa dalam
keadaan apapun, silaturahim harus tetap dijaga. Dalam skala yang luas, retaknya
silaturahim adalah retaknya suatu jalinan sosial. Maka, bila silaturahim sudah terjadi
dalam skala yang luas, ancaman keretakan akan terlihat dipermukaan sebagai
jatuhnya masyarakat ke dalam cengkeraman ketimpangan sosial dan ketidakadilan.
Ketimpangan sosial dan ketidakadilan adalah sumber dari segala angkara murka,
sumber dari iri dan dengki, sumber permusuhan yang memperlebar jurang antara
yang kaya dan yang miskin, yang berpangkat dan yang tidak berpangkat, sehingga
yang nampak hanyalah kesombongan-kesombongan yang dikenakan untuk menutupi
kekurangan-kekurangan; yang kaya akan mengenakan kekayaannya untuk menutupi
kekurangannya; yang miskin akan menutupi kemiskinannya dengan kesombongan
sebagai si miskin untuk menutupi kekurangannya. Banyak masalah sosial yang terjadi
di negeri ini dan di zaman ini muncul karena ketidakadilan, ketika yang satu
mengabaikan yang lainnya, yang satu menelantarkan hak-hak hidup yang lainnya,
maka jangan heran bila selalu akan terjadi pergesekan-pergesekan sosial yang
menghancurkan tali-tali silaturahim.
Namaku Izrail!______________________________________________________51
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Ketidakadilan adalah juga ketidakseimbangan. Maka ketika hal itu terjadi juga kepada
alam lingkungan dimana manusia hidup, maka ketidakadilan itu akan menimbulkan
ketidakselarasan dengan hukum-hukum alam (sunnatullah) sebagai suatu kehendak
Allah. Maka hati-hatilah, ketika ketidakadilan bersinggungan dengan alam lingkungan
yang kadarnya tidak mungkin diubah manusia, maka bencana-bencana alam akan
mengintai sebagai gempa bumi, kehancuran fisik, longsor, banjir, kebakaran, kabut
asap, penyakit, dan bencana-bencana alam lainnya. Ketika bencana alam itu
mengharubirukan semua manusia di muka Bumi, maka jangan salahkan keadilan
Tuhan. Dia Maha Adil dan Bijaksana sesuai dengan apa yang sudah Dia firmankan
dalam kitab wahyu Al Qur’an. Tinjaulah alam semesta dan dirimu sendiri dan
selaraslah dengan kehendak Allah dengan ridha, sehingga sebuah bencana ataupun
malapetaka yang memutuskan semua harapan dan angan-angan-mu, yang
membangkitkan semua rasa takutmu akan adzab yang menimpa suatu kaum, tak lebih
dari suatu peringatan atas kelalaian dan kebodohanmu karena mengabaikan keadilan
yang sudah ditetapkan sebagai hukum-hukum alam yang mestinya dipahami oleh
manusia.
Tiba-tiba Izrail menyela lamunanku. Ia sepertinya memang bisa membaca apa yang
kupikirkan.
Ada kalanya aku mencabut nyawa orang yang disesatkan Allah SWT dalam keadaan
yang mengerikan. Seolah adzab neraka disegerakan terhadap orang-orang yang
sesat dan murtad. Mereka termasuk golongan yang disesatkan Iblis semata-mata
karena kesombongan dirinya. Biasanya orang yang demikian, menurut tolok ukuran
kamu dianggap sukses dan pandai, padahal itulah manusia yang paling bodoh yang
termanifestasikan dari kebodohan dan kesombongan Iblis. Kebodohan dan
Kesombongan adalah dua sisi mata uang yang sama, yaitu mata uang Iblis Sang
pendurhaka. Orang yang demikian dikatakan sebagai orang yang benar-benar sakit
jiwa dan terpenjara dalam rumah sakit jiwa yang disebut dunia. Ia sakit jiwa karena
terbelenggu oleh akalnya. Sementara, dirinya terbelenggu akalnya, nafsu nya pun
membentengi dirinya sehingga iapun mengisolasi diri, jauh dari fitrah asal dan
mengira akalnya adalah tuhannya.
Namaku Izrail!______________________________________________________52
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS
45:23)”
Hati-hatilah dengan orang yang seperti itu, karena mereka biasanya menebar bau
busuknya neraka dalam kehidupan kamu. Mereka tidak segan untuk bermanis muka,
namun menikammu dari belakang, memfitnah, dan menebarkan kejahatan dalam
kehidupan kamu. Kendati akalnya seperti berjalan, ia sebenarnya makhluk bodoh
seperti robot yang hanya digerakkan oleh nafsu syahwatnya, yang sudah menjadi
tuhannya. Ia termasuk manusia yang menjadi syeitan karena menuhankan nafsu dan
syahwatnya, merobohkan sendi-sendi agama, dan tidak segan untuk berdusta. Ia
dapat berada disekitar kehidupanmu sebagai kawan, sebagai boss-mu, teman
mainmu, sebagai lawan, sebagai pejabat, sebagai guru, sebagai kiai, sebagai ustad,
sebagai pengusaha, sebagai pengacara, sebagai dukun, sebagai artis, sebagai
penyiar, sebagai pedagang, sebagai petani, sebagai pengemis, sebagai maling,
sebagai polisi, sebagai tentara, dan banyak lagi yang lainnya.
Aku mencabut mereka sesuai dengan keadaanya. Maka ia yang kucabut dalam
kesesatan dan kemurtadan adalah ia yang merasakan hawa panas dan busuknya api
neraka. Akan sering kautemui bagaimana mereka akhirnya. Mata melotot, tubuh
disana-sini meregang kaku, bau yang busuk, kadang disertai keganjilan, mayat yang
sangat berat karena jasadnya menyimpan beban perbuatannya, dan
keadaan-keadaan lainnya yang mengerikan. Kalau saja engkau mampu mendengar
dan melihat sesuai dengan keadaan mereka, maka akan kau lihat kengerian paling
mengerikan yang dihadapi mereka ketika aku temui dengan tanpa basa-basi. Lantas,
kuhempaskan dia dalam kubur dengan kerelaan bumi ataupun tidak. Disana, ia akan
menghadapi siksa kubur yang tak pernah berhenti sampai kiamat tiba. Dalam barzakh
yang sempit, maka penantiannya sampai kiamat tiba adalah kengerian abadi yang
akan disesalinya.
Namaku Izrail!______________________________________________________53
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Ketahuilah, ketika aku mencabut mereka yang sesat dan murtad, aku mewujud
sesuai dengan perbuatan mereka yang bodoh. Manusia yang paling kuat dan
beranipun tak akan akan sanggup melihat wujudku ketika aku mencabut orang yang
penuh dosa. Dulu, Nabi Ibrahim a.s pernah juga ingin mengetahui rupa asliku ketika
aku mencabut nyawa si pendosa. Kendati aku memperingatkannya bahwa dia tidak
akan sanggup melihat wujudku, namun ia memaksaku. Akhirnya akupun
menampakkan wujudku kepadanya dalam bentuk seorang yang berkulit hitam legam,
dengan rambut berdiri, berbau busuk, dengan pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan
lubang hidungku keluar jilatan api . Melihat wujudku yang mengerikan itu, Nabi Ibrahim
a.s. pun klenger 21 . Ketika sadar kembali, ia kemudian berkata, “Wahai Izrail,
seandainya seorang pelaku kejahatan pada saat kematiannya tidak menghadapi
sesuatu yang lain kecuali wajahmu, niscaya cukuplah itu sebagai hukuman atas
dirinya.”
Itu baru melihat rupa asliku untuk si pendosa. Ketika aku mencabut ruh si pendosa,
kamu tidak akan bisa membayangkan bagaimana siksaku ketika sakratul maut
sebelum aku cabut nyawanya, siksa kubur yang akan diembannya, dan siksa neraka
yang akan dialaminya.
Tubuhku bergetar membayangkan kengerian dari mereka yang sesat dan murtad
ketika Izrail mendatanginya. Aku masih menggigil ketika kulihat wajah Izrail tampak
seperti udang direbus, kemerahan menahan gejolak saat-saat ia mencabut manusia
yang sesat dan murtad. Kemudian, dia menoleh kepadaku dan berkata “apalagikah
yang ingin kau tanyakan”, katanya.
Aku masih berfikir, kira-kira apalagikah yang ingin kuketahui. Selama ini, apa yang
selalu kukhawatirkan di dunia adalah menyusupnya hal-hal yang diharamkan dalam
kehidupanku. Salah satunya adalah melalui profesi yang kugeluti. Menurutku, profesi
yang sebenarnya ideal untuk mendapatkan rezeki halal adalah berdagang. Karena
dengan berdagang orang sebenarnya dapat menentukan sendiri tingkat kehalalan
yang ia jual belikan. Tentunya dengan norma-norma yang sesuai dengan ajaran Islam.
Namun, anehnya, banyak pedagang kulihat tidak mau tahu dengan hal ini, sehingga
21 klenger=pingsan
Namaku Izrail!______________________________________________________54
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
dalam banyak aspek, apa yang semestinya halal menjadi haram karena praktek
perdagangannya yang tidak jujur dan tidak wajar. Seolah hanya keuntunganlah yang
dipikirkan sehingga tega-teganya ia menaikkan harga komoditas dan barang ketika
bulan Ramadhan, lalu kemudian ia turunkan lagi setelah lebaran usai, kemudian ia
naikkan lagi. Ah demikian bodohnya para pedagang itu sehingga tanpa sadar ia
meracuni dirinya dan keluarganya dengan hal-hal yang semestinya dijauhi dan
dihindari. Nah aku mau menanyakan hal ini sajalah. “Bagaimana dengan pedagang
yang curang? “, lanjutku.
Yang mati dengan mengerikan salah satunya adalah mereka yang curang dalam
berdagang. Aku akan ceritakan sebuah kisah bagaimana aku mencabut nyawa
pedagang yang menggunakan dua timbangan, yaitu timbangan saat menjual dan saat
membeli. Ini juga berlaku untuk mereka yang berdagang dengan keuntungan yang
semena-mena yang sering terjadi di zamanmu. Contohnya ketika gaji pegawai
pemerintah naik, pedagang dengan seenaknya menaikkan harga bahan pokok. Tanpa
pernah turun lagi. Ketika Ramadhan atau Lebaran tiba, harga-harga komoditas yang
dibutuhkan masyarakat naik tanpa kompromi. Demikian juga, ini berlaku bagi mereka
yang menipu dalam berdagang, menimbun barang sehingga harga melonjak,
menggoreng saham, calo-calo yang menaikkan harga seenaknya, menjual komoditas
yang jelas-jelas haram, menimbun minyak, atau aktivitas perdagangan yang curang
lainnya. Bagi pedagang yang demikian, maka segala perbuatannya itu akan tampak
sebagai dua gunung api dari neraka yang sangat panas dan menyala-nyala, sehingga
akan membuat yang melihatnya menggigil ketakutan. Pedagang yang sekarat akan
disuruh untuk mendaki kedua gunung itu. Setelah itu barulah aku mencabut
nyawanya tanpa ampun.
Membayangkan dua gunung api yang menyala-nyala memang mengerikan. Lha wong
kita sering melihat tukang sulap berjalan di atas bara-bara api saja membuat kita
meringis, maka membayangkan kondisi seperti berjalan di atas gunung api sebelum
nyawa dicabut Izrail benar-benar tidak habis pikir bagaimana rasanya. Mungkin panas
yang tidak berkesudahan, badan yang kelojotan menahan panas seperti ikan
dipanggang, lidah yang mengelu, hidung seperti tersumbat asap yang tidak bisa keluar,
persis ketika kita flu burung dan hidung kita tersumbat, betapa tersiksanya. Entah
berapa lama siksaan itu akan berlangsung. Mungkin dalam bentuk sakit yang tidak
Namaku Izrail!______________________________________________________55
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
berkesudahan, yang tidak tersembuhkan bahkan dengan dokter termahal maupun
dukun tersakti sekalipun. Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh kondisi mereka
yang curang dalam berdagang ini ketika Izrail mulai mengincarnya.
“Mungkin kamu pernah mendengar cerita bagaimana susahnya orang dalam sakratul
maut mengucapkan syahadat”, Izrail meneruskan ceritanya tanpa kuminta. Aku masih
tetap mendengarkannya dengan takjub.
Ya, mereka yang kelu lidah saat aku akan mencabut nyawanya umumnya
dikarenakan sifat mereka selama ini yang suka bergunjing, memfitnah, iri dan
pemabuk. Berkali-kali sebenarnya kitab-kitab suci mengingatkan penyakit-penyakit
iblis yang satu ini. Tapi, entahlah, barangkali kaummu memang susah dibilangin.
Kegiatan yang merupakan warisan penyakit Iblis itu malah akhir-akhir ini menjadi
semacam profesi saja. Wartawan, tukang gunjing di radio, televisi, di pasar dan di
rumah, malah disukai. Padahal aktivitas itu sangat berpotensi untuk menggelincirkan
manusia kedalam dosa seperti di atas.
Dulu pernah ada seorang murid alim ulama terkenal yaitu Imam Fudhail Bin Iyad yang
sedang menghadapi sakaratul maut. Terdorong oleh rasa sayang dan tanggung
jawabnya, Sang Guru mengunjungi muridnya yang nampak sedang kepayahan
tersebut. Iapun kemudian membacakan surah Yasin. Tapi bukannya bacaan itu
menentramkannya malah bacaan surah Yasin itu membuat si murid menjadi gelisah
dan susah meninggal dengan tenang. Fudhail pun kebingungan. Kemudian si guru
pun membacakan syahadat. Namun, bacaan tauhid tersebut tetap tidak bisa
menolongnya.
Begitulah, telinga terasa budeg, lidah kelu dan mata membuta ketika aku mulai
bertugas. Setelah dengan susah payah, akhirnya aku pun mencabut nyawanya dan
menyerahkannya ke pada malaikat yang bertanggung jawab dalam penghisaban di
kuburan. Sang Guru menangis tersedu-sedu karena muridnya ternyata telah
kehilangan keimanannya karena suka memfitnah, bergunjing, iri dan minum arak.
Aku masih menatapnya dalam diam sambil melayangkan imajinasi pada berbagai
infotainment yang sepertinya sudah menjadi komoditas hiburan. Membuang waktu
Namaku Izrail!______________________________________________________56
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
dengan membicarakan aib orang lain. Wah, repot juga. Padahal, hampir sebagian
besar acara televisi yang disukai tidak lepas dari membicarakan orang lain. Apakah itu
suatu kebenaran, atau cuma sekedar bumbu penyedap untuk mendongkrak rating
sebuah acara yang membuat orang lain naik pitam. Namun, dilain pihak mungkin akan
membuat orang lain meraih kekayaan, hidup makmur diatas penderitaan orang lain
atau dengan mempermainkan hidup orang lain. Aku menggigil ngeri.
Ah, betapa lalainya manusia kalau sudah menyinggung yang satu ini. Kekayaan.
Sehingga iapun lupa bahwa kekayaan yang diraihnya dari membicarakan orang lain
seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Hmm, aku masih
memikirkan mereka yang meraih kekayaan dengan cara-cara yang tidak etis seperti
itu. Di negeri ini, menjadi kaya memang jadi impian banyak orang. Sehingga seringkali
tidak peduli lagi bagaimana kekayaannya itu ia kumpulkan, ia raih, dan kemudian
menjerumuskan dirinya sendiri.
Aku menatap Izrail sekali lagi, seolah masih tidak percaya bahwa aku dapat
bercengkerama dengannya seperti ini. Kemudian aku bertanya, “Wahai Izrail
bagaimanakah engkau mencabut nyawa orang yang kaya raya?”
“Orang kaya?”, Izrail sedikit mengernyitkan keningnya. Alisnya terangkat sedikit,
amboi indahnya alis itu.
Yah orang kaya tidak beda sebenarnya dengan makhluk Allah lainnya. Saat kematian
menjemput, maka kekayaannya tidak akan berarti apa-apa. Sebab, kekayaan yang
akan dinilai oleh-Nya adalah amaliah yang muncul dari dasar hatinya. Kekayaan
duniawi hanya berguna untuk anak cucu dan jandanya (dudanya) saja.
“Yang paling menyebalkan adalah kalau aku mencabut nyawa orang yang kaya
karena menggadaikan kemanusiaannya”, Izrail menegaskan. Kelihatan benar dia
geregetan dan gemas.
Itulah kekayaan yang diraih dari jalan yang diharamkan Allah. Mereka yang korupsi,
menipu, merampas harta anak yatim, membohongi publik, pura-pura membangun
Namaku Izrail!______________________________________________________57
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
yayasan, karena riba, dan cara-cara lain pengambilan kekayaan yang tidak sah.
Mereka sebenarnya sebodoh-bodohnya manusia. Mereka bisa dikatakan terkelabui.
Mungkin kaummu sering mengucapkan pepatah “Muda Foya-foya, Tua Kaya Raya,
Mati masuk Surga”. Itulah peribahasa kaum hedonis yang mengira dengan tipu
muslihatnya bisa menipu Allah SWT. Mereka lupa bahwa dari mulai bapak-ibunya
bertemu sampai ajal menjemput, Allah menggenggam kehidupan mereka, baik
digenggam dalam Kebaikan-Nya maupun Kemurkaan-nya. Bodohlah manusia yang
mengira kekayaaan yang diperoleh dengan jalan haram, bisa ditebus dengan aktivitas
amal-amal lahir, apakah itu dengan berzakat , berumroh dan berhaji, mendirikan
rumah yatim piatu, atau mendirikan masjid-masjid dengan tiang-tiang yang besar.
Selama kesyirikan dan riya masih menempel dalam lubuk hati mereka yang terdalam,
meskipun sebesar zarah atom sekalipun (QS 99:7-8), kesyirikannya dan kekurang
ajarannya dengan menyogok Allah akan berdampak mengerikan. Orang yang kaya
seperti ini, seakan membawa kesombongannya selama di dunia dengan menganggap
Allah pun bisa disogok. Padahal Kesombongan adalah Selendang-Nya.
Karena itu, akupun tidak sungkan untuk menampakkan diri dalam bentuk yang paling
mengerikan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku akan cabut nyawa
mereka sesuai dengan tindakan-tindakan mereka. Aku akan menyeret roh mereka dari
dalam tubuhnya yang membusuk secara perlahan-lahan. Agar ia bisa mencium sendiri
kebusukannya itu sebelum sakratul maut tuntas menunaikan tugasnya. Rohnya akan
kuseret seperti diseretnya tubuh melalui dinding bergerigi, yang sakit dan sangat
menyakitkan. Banyak yang tidak kuat melalui fase ini, dan menangis meraung-raung,
tidak saja dalam wujud jasadnya yang membusuk. Namun, juga ruhnya akan meraung
dan bersedih, sekaligus juga tidak rela meninggalkan kekayaannya yang tersisa yang
tidak sempat dinikmatinya.
Keringat dingin meleleh didahiku, ketakutanku muncul. Lalu terbata-bata aku
berkata, ”Tttapi kan tidak semua orang kaya diperoleh dari tipu menipu dan kejahatan,”
protesku.
Namaku Izrail!______________________________________________________58
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
“O, ya jelas. Ada juga orang kaya yang tidak seperti itu. Tapi kebanyakan, kekayaan
telah membutakan matahati seseorang sehingga alpa dari menelusuri dan
menggunakan kekayaannya.” Ujar Izrail menjelaskan.
Dia melanjutkan,” Hanya sedikit orang kaya yang menyadari apa arti kekayaannya itu.”.
“Dari yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang lolos dengan mulus”, tegasnya.
“Kekayaan cenderung menghalangi tugas-tugasku.” Ucap Izrail sedikit iba.
Pernah suatu ketika aku mendatangi orang kaya raya. Karena ia tahu kedatanganku,
maka ia pun gemetar dan memerintahkan semua harta bendanya untuk dikumpulkan
dihadapanku. Setelah semua hartanya berada didepan matanya, dia berkata mencaci
maki harta bendanya ”Semoga Allah mengutukmu sebab engkau telah memalingkan
aku dari beribadah kepada Tuhanku dan menghalang-halangi aku dari pengabdian
kepada-Nya”.
Allah kemudian membuat harta bendanya berbicara,
”Mengapa engkau menghinaku, sedangkan karena akulah engkau bisa
diterima oleh presiden, para pejabat, pengusaha, selebritis, kalangan jet-set,
dan golongan yang mengandalkan kekayaan dunia lainnya, padahal
orang-orang yang bertakwa kepada Allah malah diusir dari pintu rumahmu?
Karena akulah engkau bisa mengawini wanita-wanita lacur, duduk bersama
raja-raja, pelesiran ke tempat-tempat yang hina, dan membelanjakan aku di
jalan keburukan. Namun, aku tidak pernah membantah.
Seandainya saja engkau membelanjakan aku di jalan kebajikan, niscaya aku
akan memberi manfaat kepadamu. Engkau dan semua anak Adam diciptakan
dari tanah, kemudian sebagian dari mereka memberikan sedekah, sedang
yang lain berbuat keji seperti dirimu yang bodoh dan terkelabui oleh gemerlap
diriku.”
Aku pun tanpa basa-basi lagi mencabut orang kaya yang bodoh itu, maka robohlah ia
ke tanah dengan penyesalan yang mendalam.
Namaku Izrail!______________________________________________________59
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
“Lalu bagaimana dengan orang yang miskin secara duniawi, secara materi?”, lanjutku
menanyakan.
“Ketahuilah, dimata Rabb-mu, kekayaan dan kemiskinan tidak dapat dijadikan alasan
dari lalai terhadap-Nya”, Izrail berkata sebelum melanjutkan ceritanya.
Orang miskin, sebenarnya memiliki peluang besar untuk merasakan nikmatnya kasih
sayang Allah. Tapi, kemiskinan tidak jarang juga menyebabkan kekufuran. Di
zamanmu ini, kemiskinan sudah seperti kekayaan, mereka yang merasa miskin
kebanyakan jatuh ke dalam kekufuran karena kemiskinannya tidak identik dengan
kezuhudan dan kejujuran, tidak identik dengan ridha terhadap semua ketentuan Allah
SWT.
Bila kekufuran menimpa si miskin, maka ini tak ubahnya si orang kaya yang mencari
kekayaan dengan cara-cara yang tidak halal. Disinilah pentingnya mereka yang miskin
mengetahui. Jangan sampai sudah miskin di dunia, di akhirat jauh lebih miskin lagi.
Nabi Muhammad Yang Ummi mengatakannya sebagai “orang yang bangkrut total”. Ini
ibarat merubuhkan rumah di dunia dan rumah diakhirat. Dunia tak dapat, akhirat tak
selamat. Sangat merugi, sangat merugi, benar-benar sangat merugi.
Maka, jangan jadikan kemiskinan menjadi alasan dan tameng kekufuran dan
kemungkaran. Ia yang miskin dan terikat dengan kemiskinannya, akan cenderung
tergelincir dalam jerat-jerat nafsu si bodoh Iblis. Jadi, gunakankah kemiskinamu pada
materi untuk memupuk kekayaanmu disisi-Nya. Engkau boleh jadi si fakir dunia, tapi
disisi-Nya semua itu tidak berarti apa-apa. Maka dekatilah Dia dengan kehambaanmu,
jangan dekati Dia dengan kesombonganmu atau keluh kesahmu. Jangan jadikan
kemiskinan menjadikan dirimu lalai atas semua perintah Allah, larangan-larangan-Nya,
sunnatullah-Nya, dan petunjuk dari Nabi Muhammad SAW.
Jangan dikira bahwa kemiskinan manusia itu menjadi belenggu sehingga ia harus
bertahan hidup dengan melupakan Allah. Jangan dikira bahwa kemiskinan menjadi
alasan yang bagus untuk menghadapi murka Allah. Percayalah, kalau mau
dibandingkan dengan kehidupan Nabi SAW dan sebagian sahabat yang berbaju bulu
Namaku Izrail!______________________________________________________60
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
domba, yang hidup di emperan masjid Nabi dahulu (Asy Shufa), menggelandang di
padang pasir nan panas, maka kemiskinan yang dialami oleh masyarakat di zamanmu
saat ini tidak seberapa. Galilah hikmah dari kehidupan Nabi SAW yang bersahaja. Ia
yang pernah mengganjal perutnya dengan batu selama tiga hari dua malam, tidak
pernah mengeluh atas kelaparannya. Lha, manusia di zaman ini memang aneh.
Kendati peradaban mampu memberikan kemudahan-kemudahan, namun seringkali
ini malah menjadi godaan kesenangan. Maunya serba instan, sehingga ketika Allah uji
dengan kepapaan, kemiskinan, kemelaratan, dan kekurangan lainnya, sebagian besar
manusia semakin jatuh ke dalam kemiskinan dan kekufuran. Sebagian lagi malah
benar-benar jadi seperti binatang, menghalalkan segala cara, demi isi perut belaka.
Sungguh ini sangat bodoh, seolah hidup sekedar untuk makan saja. Padahal, kalimat
bijak sering mampir di telinga bahwa makanlah secukupnya hanya untuk menegakkan
tubuh dan meneruskan kehidupan.
Aku yang mencabut nyawa si miskin, kadangkala tidak habis mengerti. Kenapa
manusia bisa begitu bodoh. Padahal, kemampuannya melebihi kemampuan kaumku
(malaikat). Yah, akhirnya sering sekali aku mencabut nyawa si miskin dalam
kebusukan dunia dan kebusukan akhirat. Benar-benar orang yang merugi.
Izrail mengakhiri cerita bagaimana mengurus si kaya dan si miskin yang terkelabui
oleh bedak-bedak duniawi. Ia sekarang sudah duduk disampingku, menatap dengan
kelembutan malaikatnya. Pertanyaan selanjutnya bergulir begitu saja menyambung
dari kekayaan, kemiskinan, dan kekuasaan. Ketiganya dapat menjadi berkah bagi
manusia, namun dapat juga dapat menjadi pembawa bencana. “Bagaimana penguasa
yang meninggal?”, lanjutku, meneruskan pertanyaan.
Penguasa sebenarnya diberi mandat oleh Allah untuk membawa rakyatnya ke jalan
yang diridhai-Nya. Ia yang mampu menjalankan kekuasaanya di bawah naungan
Cahaya Ilahi, maka ia sebenarnya khalifah Allah.
Akan tetapi, kalau penguasa lupa diri, cenderung memperkaya diri, lebih
mementingkan keluarganya, kelompoknya daripada kepentingan rakyat banyak, maka
Allah sebenarnya menyiapkan adzab yang menyengsarakan sebelum aku mencabut
rezekinya yang terakhir baginya dan seluruh rakyatnya. Itulah saat kematian.
Namaku Izrail!______________________________________________________61
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Penguasa yang lalim, akan tersiksa oleh kelalimannya yang maujud dalam bentuk
rasa takut mati, kepikunan yang berlarut-larut, sakit yang menahun, sampai tubuhnya
yang tak lebih dari bangkai membusuk yang menunggu tebasan pedang waktu. Saat
itulah, akupun harus menutup hidung ketika ruhnya kucabut degan paksa. Dan
dikembalikan kepada-Nya, lantas dihempaskan-nya ke dalam adzab akhirat yang
kekal.
Ketahuilah, aku berjalan bersama Sang Waktu, melihat banyak kerusakan di muka
bumi karena penguasa yang lupa diri. Dahulu, sepeninggal nabi yang Ummi,
kepongahan jahiliyah muncul kembali dalam bentuk ketamakan atas kekuasaan,
kesombongan atas kesukuan, dan kejahilan jahiliyah yang sebenarnya ingin di
hapuskan oleh Nabi Muhammad SAW. Maka, kehancuran Umat Islam pun kemudian
dimulai ketika sebagian mencela sebagian lainnya, sebagian merasa diri paling benar,
sebagian sangat buta mata hati sehingga tidak mampu berfikir jernih tentang
kebenaran yang sudah di ajarkan Nabi Muhammad SAW.
Sudah banyak zaman kulalui, maka keruntuhan peradaban karena lemahnya
penguasa sering aku lihat. Dan selama itu pula berbagai jenis penguasa yang lalai dan
lupa diri sering kucabut nyawanya dalam penderitaan dirinya. Lucunya, banyak juga
yang masih buta matahati, kendati kucabut nyawanya dalam kesesatannya, anak
cucunya makin terjebak ilusi dengan membangun istana-istana kesia-siaan. Mereka
bangun kuburan-kuburan yang megah untuknya, mereka kira kemegahan kuburan itu
dapat menyelamatkan si mati. Tidak tahukah mereka bahwa hanya amal salehlah
yang dapat menerangi ruh simati di alam kubur sana? Dungu, sungguh dungu
perilaku penguasa yang lupa diri itu. Ia kira bisa menyogok Ilahi dengan membangun
tiang-tiang besar di kuburannya.
Izrail kemudian bercerita tentang tugasnya mencabut penguasa lalim Bani Israil.
Ketika itu Sang Tiran sedang duduk-duduk seorang diri di istananya tanpa ditemani
oleh salah seorang istrinya. Aku kemudian masuk melalui istananya dengan tiba-tiba.
Penguasa Tiran itu marah dan berkata dengan pongah, ”Siapakah Engkau? Siapa
yang mengizinkanmu masuk kedalam istanaku?”
Namaku Izrail!______________________________________________________62
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Aku menjawab,
”Yang mengizinkanku masuk kedalam rumah ini adalah pemilik istana ini.
Sedangkan aku adalah yang tak bisa dihalangi oleh seorang pengawalpun
dan tidak butuh izin apapun untuk masuk kesini.
Bahkan terhadap raja-raja sekalipun,
aku tak perlu izin apapun,
tidak pernah takut pada kekuatan raja-raja yang perkasa,
dan tidak pernah diusir oleh penguasa tiran yang keras kepala
atau setan pembangkang sekalipun.”
Mendengar seruanku, penguasa lalim itu menutup mukanya. Agaknya ia sadar siapa
yang dihadapinya. Dia pun jatuh tersungkur. Kemudian bangkit dengan memelas dan
mengiba-iba.
”Jadi Engkau adalah Malaikat Maut?” , katanya.
Aku menjawab “Ya”.
Kemudian dia menawar dengan cengeng, ”Sudikah engkau memberiku kesempatan
agar aku bisa memperbaiki kelakukanku?”.
Aku menjawab, ”Alangkah bodohnya engkau ini; waktumu telah habis; nafas dan
masa hidupmu telah berakhir; tidak ada jalan lagi untuk memperoleh penangguhan.”
Penguasa tiran itu menangis tersedu-sedu, lalu ia bertanya,”kemana engkau akan
membawaku?”
Aku menjawab, “Kepada amal-amalmu yang telah engkau kerjakan sebelumnya dan
juga ke tempat tinggal yang telah engkau dirikan sebelumnya.”
Sang tiran menjawab bingung, “Bagaimana mungkin? Aku belum pernah
mempersiapkan amal baik dan rumah baik apapun juga.”
Aku menjawab, ”Kalau begitu, ke neraka, yang menggigit hingga ke pinggir-pinggir
tulang kamu akan ditempatkan.”
Akupun kemudian mencabut nyawa penguasa tiran itu yang jatuh mati
ditengah-tengah keluarganya dengan mata melotot penuh penyesalan, di
tengah-tengah mereka yang kemudian meratap-ratap dan menjerit-jerit. Andai saja
Namaku Izrail!______________________________________________________63
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
mereka mengetahui bagaimana buruknya neraka bagi si lalim itu, mungkin mereka
akan menangis lebih keras lagi.
Keringat dingin tanpa terasa makin menderas, membasahi dahi dan leherku. Izrail
kulihat masih berdiam diri seolah tahu aku masih mempunyai beberapa pertanyaan
lain yang menggelayut di pikiranku.
“Ketika engkau mencabut nyawa seseorang, baik dalam waktu yang berlainan
maupun bersamaan, engkau nampaknya tidak memiliki kesukaran apapun juga.
Bagaimanakah dengan kematian di medan perang dimana terdapat puluhan bahkan
mungkin puluhan ribu nyawa yang secara bersamaan melayang?”, pertanyaanku
meluncur begitu saja. Izrailpun nampaknya masih tenang-tenang saja dan tidak
terburu-buru. Ia merapikan rambutnya yang berkilauan, setelah melontarkan
senyumnya, ia kembali bercerita.
Peperangan adalah bagian dari sunnatullah Tuhan. Bagian dari keseimbangan
alamiah karena kaummu seringkali overdosis dalam banyak hal. Itulah senyatanya
kejelekan manusia yang utama karena dicengkeram ketidakadilan dan
keangkaramurkaan.
Peperangan, meskipun kamu seringkali tidak terima akan adanya peperangan, tapi
Tuhan punya timbangan sendiri, yang semestinya diperhatikan oleh umat manusia.
Namun, sudah menjadi ketentuan sejak awal penciptaan bahwa manusia pada
akhirnya terbelenggu dengan berbagai persoalan karena ketidakmampuannya
mengenal dirinya sendiri. Belenggu kepemilikan, penguasaan, keserakahan, dan
nafsu ingin menguasai lainnya akhirnya akan menyeret umat manusia ke dalam
peperangan demi peperangan.
Peperangan jangan ditangisi. Kalau timbangan sunnatullah sudah bergeser ke titik
yang tak dapat balik, maka setekun apapun doa-doamu, sunnatullah tetap terjadi.
Ambil saja contoh di Afghanistan, Irak, Palestina, atau di belahan dunia lainnya.
Kendati di situ banyak Umat Islam, namun sunnatullah tidak pernah bisa dikelabui, ia
akan berjalan apa adanya, sesuai ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkannya.
Ketika umat lalai akan arti pentingnya peradaban, ukhuwah, ilmu pengetahuan,
Namaku Izrail!______________________________________________________64
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
keadilan, lupa arti pentingnya kesatuan, maka peperangan dapat menjadi guru untuk
mengingatkan manusia, bahwa itulah akibat kalau umat menjadi bodoh dan bercerai
berai. Mereka seperti buih-buih yang akan mudah menjadi bulan-bulanan gelombang
zaman yang tidak menentu. Apakah engkau lupa kalau dulupun adzab peperangan
menimpa Umat Islam ketika Jenghis Khan dan tentara Mongolnya mengamuk di
kawasan Jazirah Arab, menghancurleburkan negeri-negeri Islam dari India sampai
Baghdad karena kelemahan umat? Manusia mungkin berkewajiban meminimalisir
dampak-dampak perang, itu perbuatan mulia. Tapi apakah perang lantas berhenti,
serahkan saja kepada-Nya. Karena justru dengan peperangan manusia semestinya
akan mengerti bagaimana dampak-dampak perbuatannya, kebodohannya,
keangkaramurkaan, dan kesombongannya. Namun, manusia itu seringkali mirip
keledai. Meskipun, perang demi perang dilalui. Toh tetap saja terjadi dan celakanya
dianggap sebagai solusi.
Dalam peperangan, manusia itu seperti onggokan kacang yang dimasukkan ke dalam
kuali. Aku lebih mudah melakukan tugas saat itu, karena sekali sentil dengan kedua
jariku maka ribuan orang akan mati. Persis kacang dalam kuali, dengan sekali pukul
puluhan kacang dalam kuali remuk redam. Wujud pukulanku bermacam-macam.
Seringkali peluru, meriam, roket, rudal, bahkan pernah juga bom Atom.
Tapi, peperangan zaman sekarang lebih kejam dari dahulu. Dahulu, sekali tebas
badan terbelah atau leher terputus mempercepat kematian. Memang bagi manusia
terlihat kejam. Tapi manusia sudah mengembangkan kekejaman dalam beberapa
format yang terlihat halus, berbudi, namun sebenarnya lebih kejam dan mengerikan.
Lha sekarang, peperangan di satu tempat memberikan dampak di tempat lain dimana
orang tidak tahu menahu masalah yang terjadi. Belum lagi penderitaan rakyat tak
berdosa. Apalagi kalau para spekulan ekonomi mulai bermain mata, seperti
menggoreng saham, melambungkan harga bahan pangan, minyak, menjual senjata,
dan lain sebagainya. Maka penderitaan peperanganpun akan menjalar ke seluruh
dunia.
Nyawa yang kucabut saat perang di masa kamu tidak seberapa dibandingkan
peperangan jaman dulu. Tapi nyawa yang meregang-regang di telan penderitaan
akibat dampak perang dan pasca perang seperti keracunan, kelaparan, kemiskinan,
Namaku Izrail!______________________________________________________65
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
penyakit, cacat, sakit mental, dan lain-lainnya malah tumbuh subur, memperpanjang
usia penderitaan banyak orang.
Perang sekarang sudah menjadi komoditas. Alasan perang pun kebanyakan tak lagi
berhubungan dengan kebenaran di Jalan Allah. Tapi sekedar memenuhi kebutuhan
ekonomi semata. Jadi sebenarnya tidak jauh-jauh dari urusan perut. Bahkan tidak
jarang perang muncul karena kedunguan manusia, hingga perangpun berkecamuk
karena adu domba dan fitnah. Urusan perut yang sederhana bisa menjadi bencana
perang yang membuat merana.
Maka, sudah jarang sebenarnya prajurit-prajurit yang berperang dijalan Tuhan.
Padahal, ada kemuliaan bagi mereka yang murni berjihad di jalan Tuhan. Meski
mereka disebut mati, tetapi mereka sebenarnya hidup dan sudah memilih kehidupan
yang lain.
Aku pun seringkali trenyuh, penderitaan manusia semakin memanjang dari satu nasib
ke nasib lainnya. Dari takdir buruk yang satu ke takdir buruk lainnya. Seolah keledai di
penggilingan masa. Tapi, semua itu adalah takdir dan sunnatullah.
Dan semua itu bukan lagi menjadi tugasku, karena sebenarnya itu adalah karena
kebodohan kaummu sendiri. Tuhan cuma sekedar menetapkan hukum-hukumNya.
Manusia menjalaninya, kalau mereka berbuat kebaikan, selaras dengan ruang dan
waktunya, dalam arti selaras dengan kehendak Allah, maka hasilnya pun baik dan
semata-mata karena anugerah-Nya. Tapi ketika kalian berbuat tanpa keselarasan,
menolak harmoni dalam kedinamisan alam semesta, dirinya dan dengan Tuhannya,
maka itulah akibat ulah kalian sendiri. Sama halnya dengan mereka yang tidak
mempercayai akhirat setelah aku datang. Mereka memang pastas dijuluki “penjudi
yang bodoh”, yang berspekulasi dapat menciptakan kesejahteraan dengan
peperangan demi isi perut sendiri.
Aku setengah terpana mendengar uraiannya tentang peperangan. Sebagai pencabut
nyawa, aku sendiri tidak pernah mengira bahwa Izrail dapat menangkap banyak
makna-makna tersembunyi di balik peperangan, mulai dari keseimbangan alam,
sebagai suatu contoh buat manusia, maupun sebagai suatu pengajaran bagi manusia
Namaku Izrail!______________________________________________________66
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
untuk menarik hikmah tentang kehidupan. Yah, peperangan memang sepertinya
sudah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak dahulu kala, apapun alasannya,
peperangan sepertinya sudah menjadi bagian solusi manusia. Aku membatin.
Seberapa berharga sebenarnya manusia menghargai kehidupannya, memang suatu
misteri. Di satu sisi ada yang mati-matian tidak menyerah dengan kehidupannya,
bahkan dengan jalan peperangan sekalipun, namun ada juga sebenarnya yang malah
menyia-nyiakan kehidupannya. Seolah dirinya sudah menjadi Tuhan untuk
menentukan nasib sendiri. Sehingga dalam titik yang ekstrim, maka bunuh diri
kadangkala menjadi suatu solusi. “Bagaimanakah engkau mencabut nyawa orang
yang bunuh diri?”, setengah nyeletuk aku kembali bertanya kepada Izrail.
Bunuh diri sangat dicela oleh Tuhan. Karena tidak saja mengabaikan tugas dan
amanat, tetapi selemah-lemahnya manusia. Bahkan binatang yang tak berakal pun
jauh lebih mulia dari mereka yang mengambil jalan pintas untuk bunuh diri. Tidak ada
ampun untuk mereka yang bunuh diri dengan semena-mena. Kenapa begitu? Karena
Tuhan tidak menginginkan ruh manusia yang bunuh diri. Senyatanya, bunuh diri
adalah perbuatan Setan dan Iblis. Oleh karena itu, sebenarnya aku tidak segan-segan
mengambilnya, dan mencampakkannya kedalam jahanam yang kekal. Tetapi karena
kebodohan manusia saja maka ia melakukan bunuh diri. Aku cuma instrumen yang
digerakkan oleh kehendak Allah. Ruh yang bunuh diri tidak akan pernah menjadi ruh
penasaran, tapi ia akan ditempatkan di alam barzakh yang sempit dan gelap. Itulah
alam kegaiban tempatnya semua arwah yang melupakan Tuhan. Orang yang bunuh
diri adalah mereka yang tidak saja menyalahi amanat Ilahi. Tetapi, menjadi sangat
dimurkai Allah SWT. Bunuh diri ibarat kebodohan dan pembangkangan Iblis yang
menolak perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam. Dalam konteks demikian
kemurkaan Allah SWT begitu besar sehingga Ia tidak lagi menerima arwah atau roh
ditempat semestinya. Ketahuilah, Allah telah berfirman tentang mereka yang bunuh
diri, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu (QS 4:29)”.
“Aku tidak dapat bercerita banyak tentang orang bunuh diri”, Ujar Izrail setengah
bersedih. Ia kemudian melanjutkan.
Namaku Izrail!______________________________________________________67
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Karena sudah bukan lagi menjadi tanggung jawabku sejak ia memutuskan untuk
mematikan diri sendiri. Yang patut kamu ketahui adalah, bunuh diri adalah buah dari
kesesatan manusia yang sesesatnya. Amal ibadah dan kebaikannya akan musnah
seperti debu-debu beterbangan. Persis seperti musnahnya amal dan ibadah Iblis yang
sudah mengabdi kepada-Nya selama ribuan tahun.
Bagi yang bunuh diri, maka di akhirat ia akan mengalami siklus bunuh diri yang terus
menerus tanpa henti sebagai wujud siksaannya di akhirat. Ia yang minum racun akan
terus menerus minum racun, ia yang bunuh diri dengan belati akan disiksa sesuai
dengan cara bagaimana ia bunuh diri. Akibatnya, siklus penyiksaan dengan cara
bunuh dirinya akan terus menerus dialami sebagai siksa yang tidak pernah berhenti.
Ia yang bunuh diri, akan abadi dengan siklus bunuh dirinya di akhirat, namun dengan
siksa yang lebih berat.
Izrail mengakhiri penjelasan tentang orang yang bunuh diri dengan sedikit masgul,
kemudian ia mengatakan, ”Aku akan meneruskan bagaimana aku mencabut nyawa
mereka yang dibunuh, baik dalam kesesatannya, mempertahankan kehormatannya,
maupun dalam keadaan yang tidak diinginkannya.”
Pembunuhan tanpa alasan yang jelas merupakan tindakan manusia yang dimurkai
oleh Allah. Dimurkai dalam arti bukan saja menghilangkan nyawa manusia tetapi
dalam arti merusak makhluk ciptaan-Nya yang merupakan citra diri-Nya yang
sempurna. Pembunuhan di luar arena peperangan sangat diharamkan, bahkan Allah
mengatakan harus menebusnya dengan taubatan nasuha.
Bila si pembunuh sadar. Ia harus menebusnya dengan penghambaan kepada-Nya
sepanjang hidupnya. Bila ia semakin tersesat, menganggap nyawa manusia seperti
miliknya sendiri, maka ia akan dihempaskan kedalam kenestapaan neraka dunia. Ia
akan semakin diselimuti nafsu ammarah yang sudah menjelma menjadi Iblis sang
Durjana. Yang menafikan semua perintah-Nya, yang membangkang karena
kesombongan dirinya. Ia pun sudah menjadi budak si Iblis.
Mereka yang dibunuh akan mati dalam banyak keadaan. Ada yang dibunuh karena
kesesatannya, dan ini merupakan hukuman Allah yang disegerakan. Ada yang
Namaku Izrail!______________________________________________________68
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
dibunuh karena kesewenang-wenangan, ada yang dibunuh karena membela
kehormatan, ada pula yang dibunuh karena membela keluarganya, atau agamanya
bukan dalam peperangan. Mereka yang dibunuh dalam rangka membela agama,
keluarga, kehormatannya, tanah air, dan dibunuh karena memegang keyakinan di
jalan Allah akan menjadi syahid. Dia akan hidup disisi Allah.
Demikian juga, hati-hatilah dalam bersikap. Sebenarnya makhluk lain tidak berhak
untuk menentukan hidup makhluk lainnya. Temasuk disini meminta kematian atas
makhluk lainnya. Di zamanmu, keinginan untuk meminta kematian22 terlihat seperti
sesuatu yang wajar, lumrah dan manusiawi. Tapi hati-hatilah, kematian yang
dipaksakan tanpa alasan tidaklah dibenarkan oleh Islam. Semenderita apapun engkau
rasakan suatu penderitaan, tanpa kesadaran diri bahwa itu semua adalah ujian
dari-Nya, maka celakalah bagi mereka yang meminta kematian baik untuk dirinya
maupun orang lain. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan melewati batas dalam menguji
semua manusia (QS 2:286). Dia sudah menentukan suatu keadaan yang optimum
bahwa penderitaan yang ditanggung oleh seseorang adalah ujian yang masih dalam
batas-batas kemampuannya. Ketika kamu menyerah, dengan alasan tidak sanggup
lagi, maka ketahuilah bahwa apa yang muncul di pikiranmu senyatanya
bisikan-bisikian syeitan yang akan membawamu kepada penyangkalan atas
kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ketika engkau menyerah dengan alasan
tidak sanggup menanggung derita yang engkau alami, maka waspadailah atas
keputusan yang akan membawa penyesalan di kemudian hari. Sesungguhnya apa
yang engkau sebut penderitaan adalah suatu ujian. Ketika engkau menyadari hal ini,
dan lolos dari ujian yang berupa penderitaan, maka engkau sebenarnya telah
melewati suatu fase kritis dalam kehidupanmu, yaitu fase bertambahnya keimananan
dirimu akan Keadilan dan Kebijaksaaan Tuhan, Rahmat, dan Kasih Sayang-Nya.
Ingatlah penderitaan seorang anak manusia bernama “Ahad”23, seorang anak berkulit
hitam yang hidup di Amerika sana, yang kehilangan setengah dari otaknya karena
letusan Magnum kaliber 3,2. Setengah dari batok kepala sebelah kanannya hancur
karena letusan peluru. Namun, semangatnya untuk hidup tak pernah padam. Bahkan
22 Eutanasia
23 Kisah tentang Ahad, seorang kulit hitam dari keluarga muslim Amerika, pernah ditayangkan stasiun TV Indosiar
dalam acara Guinness Book Of Records pada tanggal 28 November 2004, pagi hari seusai subuh.
Namaku Izrail!______________________________________________________69
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
semangat hidupnya tidak pernah padam kendati para dokter ahli yang merawatnya
memperkirakan harapan hidupnya sangat kecil. Pernahkah engkau bayangkan
seorang manusia dapat hidup tanpa otak kanannya dengan sebelah batok kepalanya
menganga lebar-lebar. Namun, itulah buah dari mentalitas tahan ujian seorang anak
manusia. Kendati tanpa tanpa otak kanan, yang menyebabkan tubuh sebelah kirinya
lumpuh, ia berhasil melalui suatu fase krisis dalam kehidupannya. Ia mampu menjalani
semua itu dengan ketabahan seorang manusia yang berakal, yang mampu
menyelaraskan diri dengan sunnatullah, mampu memahami pengetahuan, dengan
dukungan tim-medis pemerintahnya yang menghargai kehidupan, dengan bantuan
kasih sayang orang tua dan kerabatnya yang tak pernah padam. Maka Ahad yang
malang pun menjalani kehidupan kembali dengan normal, dengan kepala yang
setengah darinya telah digantikan dengan batok kepala buatan. Ia, keluarganya, dan
mereka yang bertangguh jawab terhadap kesehatan masyarakatnya, menghargai
kehidupan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga dengan ikhtiar dan
keyakinan dirinya akan kasih sayang Tuhan yang melimpah tanpa batas, Ahad dapat
menjalani kehidupan seperti manusia normal umumnya. Aku saat itu, terus terang saja,
bersiap-siap untuk menjemputnya. Tetapi, Allah berkehendak lain, maka Ahad pun
tetap menjalani kehidupannya dengan hikmah yang lebih mendalam tentang arti
rahmat dan kasih sayang Tuhan.
Ingat juga penderitaan seseorang yang berada dalam keadaan antara hidup dan mati,
yang koma selama berbulan-bulan. Namun, dengan ketabahan seseorang yang
menyadari arti upaya manusia dan kasih sayang Tuhan. Hanya keridhaanlah yang
akhirnya mengakhiri kehidupan seorang anak manusia dalam rengkuhan kasih
sayang Tuhan. Jadi, jangan cengeng menyikapi semua penderitaanmu. Engkau dan
kaummu yang sudah dianugerahi akal dan pikiran, semestinya dapat memahami
hikmah-hikmah kehidupan. Bukannya menyerah dan meminta kematian, sedangkan
Dia yang memberikan dan memiliki kehidupan belum menetapkan kematian pada
mereka yang mengalami penderitaan seberat apapun menurut ukuran kamu. Jangan
pernah merasa bahwa keinginan untuk mematikan adalah suatu jalan terbaik. Selama
Dia belum menetapkan, maka keinginanmu tidak lebih dari putusnya harapanmu atas
rahmat dan anugerah-Nya. Ketika engkau menginginkan kematian untuk dirimu atau
pun orang lain, maka ketahuilah bahwa engkau tak lebih dari pengecut yang lari dan
lalai bahwa rahmat dan anugerah-Nya melimpah tanpa batas.
Namaku Izrail!______________________________________________________70
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Ada banyak hikmah ketika seseorang mesti mati dalam peristiwa-peristiwa yang
disebut manusia sebagai tragedi. Banyak hikmah yang tersembunyi disana. Aku tidak
mengetahui apakah hikmah yang dirahasiakan Allah dariku. Itu adalah hak
prerogatif-Nya yang cuma Dialah yang mengetahuinya. Ada kematian tragis di usia
muda, di usia remaja, di usia paruh baya, dalam sakit yang tak terkira, sampai di usia
tua, atau kematian masal karena bencana-bencana alam atau keteledoran manusia.
Aku sekedar menjalankan perintah-Nya sehingga aku pun tak tahu kenapa si A mati
muda, mati remaja, kenapa seseorang harus koma, atau kematian lainnya. Bagiku
semuanya sama saja, karena tugasku sekedar mencabut nyawa.
“Pernahkah engkau dapati mereka yang ingin kau habisi berusaha bersembunyi”,
tanyaku. Izrail, mengernyitkan alisnya yang rapih. Lucu juga melihat wajahnya dalam
posisi itu. Persis tokoh-tokoh game animasi Jepang “Final Fantasy”.
“Hmm, ya rasanya pernah juga tuh. Dulu sekali sewaktu aku mengunjungi Nabi
Sulaiman setiap hari”, ujarnya kalem. Dia sekarang sudah duduk disamping ranjangku,
seperti seorang Bapak mendongeng disamping tempat tidur anaknya.
Ya dulu aku setiap hari diperintahkan oleh Allah untuk mengunjungi Sulaiman. Setiap
hari, aku tanyakan kepadanya apakah ada yang bisa kubantu sekedar ini atau itu.
Kalau dia bilang “ya”, maka aku menyelesaikan perintahnya dengan tuntas. Kalau
“tidak”, ya aku cuma celingukan saja jalan-jalan di istananya yang indah. Terus balik
kembali ketempatku. Begitu saja setiap hari.
Suatu hari, seperti biasanya aku mengunjungi dia. Di balairung, ia sedang
bercengkerama dengan rakyatnya. Tiba-tiba pandanganku tertuju kepada seseorang
yang hadir di balairung itu. Lama sekali kuperhatikan orang itu. Orang itu pun menoleh
kepadaku, dan terlihat makin lama dia semakin tegang dan ketakutan. Akupun
kemudian mengalihkan perhatian darinya, supaya dia tidak terlalu tegang. Setelah
seharian di istana Sulaiman, aku kemudian berpamitan.
Namaku Izrail!______________________________________________________71
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Esoknya, aku pun kembali ke kerajaan Sulaiman, dan melihat pada keramaian di
balairung seperti kemarin. Aku mencari-cari orang yang kemarin kutatap itu, namun
tidak ketemu juga. Setelah pertemuan usai, kutemui Nabi Sulaiman a.s.
“Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang kemarin kulihat ada di balairung”.
“Ohh si Polan yang kamu pelototin itu...”, ujar Nabi Sulaiman.
“Ya benar, si Polan kemanakah dia perginya?”.
“Lho memang kenapa kamu tanyakan orang itu.”, ujar Nabi Sulaiman tidak menjawab
pertanyaanku.
“Lusa kemarin, aku diperintahkan oleh Allah untuk mengambilnya hari ini, tapi kok
aneh dia kemarin masih disini.”, aku bertanya sedikit bingung.
“Ya, memang dia ketakutan melihatmu dan menanyakan kamu.” Nabi menjawab.
“Lalu, ketika kuberitahu bahwa kamu adalah malaikat pencabut nyawa, dia memohon
kepadaku untuk dikirimkan ke India.”
“Maka dengan ilmuku, kukirimlah dia ke suatu tempat di India sesuai dengan
permintaannya.” Nabi Sulaiman menjelaskan.
“O, ya benar India, aku memang heran kemarin itu. Karena Allah memerintahkan aku
untuk mencabut nyawa si Polan itu di India hari ini”, kemudian akupun segera
berpamitan kepada Nabi Sulaiman a.s. Dalam sekejap aku berada di India. Kulihat si
Polan sedang sekarat menggelepar-gelepar di suatu dataran tinggi di India. Lantas
akupun mencabut nyawanya. Begitulah, kalau ajal sudah mendekat, tak ada tempat
untuk sembunyi.
“Bagaimana dengan wali Allah?” Aku kembali bertanya padanya. Ia melihat kepadaku.
Tersenyum.
“Seorang wali mempunyai kedudukan yang istimewa di mata Allah”, ia mengawali
ceritanya.
Setelah Nabi Muhammad SAW menutup era para Nabi dan rasul. Tidak ada lagi
nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya, maka akupun sudah tidak pernah lagi mencabut
nyawa dengan kebahagiaan seperti saat mengantarkan ruh para nabi kepada-Nya.
Kecuali para kekasih Allah yang gugur dan berjihad di jalan-Nya dan yang menjadi
guru manusia dengan keikhlasan tanpa batas. Itulah para Wali Allah yang jumlahnya
dalam setiap zaman beribu-ribu. Kadang ada yang kaya, yang miskin, yang jadi
Namaku Izrail!______________________________________________________72
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
penguasa, yang jadi karyawan, yang jadi tukang sapu, yang jadi gembel, yang jadi
prajurit, yang jadi tukang sol sepatu, yang jadi pemelihara makhluk-Nya yang
disia-siakan manusia, yang diperkenalkan kepada umum, yang tersembunyi, dan lain
sebagainya.
Merekalah yang menegakkan warisan Nabi terakhir Muhammad SAW. Meneruskan
rahmatnya kepada semua makhluk. Biasanya aku dititipin sesuatu oleh yang Maha
Kuasa kalau aku menerima daftar wali-wali-Nya yang harus kucabut nyawanya. Allah
biasanya menitipkan salam seperti ini,
”Salam kesejahteraan bagimu, wahai wali Allah.
Berdiri dan keluarlah dari rumahmu yang engkau robohkan
menuju rumahmu yang engkau makmurkan!”
Biasanya para wali itu bergegas-gegas kalau aku sudah berteriak-teriak di halaman
rumahnya seperti itu. Dan begitulah, akupun kemudian masuk dengan senyum
sumringah Wali Allah. Seringkali, aku mencabut nyawa Sang Wali dalam berbagai
keadaan. Ada kalanya aku mencabut dalam kegilaannya kepada Allah. Seringkali juga
ada yang kucabut dalam kefakirannya terhadap dunia, menggelandang di
emper-emper toko atau masjid. Ada pula yang telanjang bulat dan tanpa pakaian,
kecuali cintanya kepada Allah yang membuatnya menjadi majnun. Ada juga yang
sedang enak-enaknya membaca ayat-ayat suci kucabut. Juga ada yang sedang
istirahat dengan tenang sambil duduk-duduk minum kopi seusai subuh. Ada juga yang
melalui sakit menahun yang dinikmatinya karena semata-mata ridhanya atas semua
ketentuan Allah SWT.
Demikian juga dalam peperangan. Wali yang langsung kuraih dengan lemparan peluru
atau dentuman meriam sang maut. Badannya hancur lebur, tapi ruhnya terbang
bersamaku dengan kegembiraan tak terkira.
Yang sadispun ada. Seperti terpotong-potong tubuhnya di tiang gantungan karena
sudah tidak merasakan lagi segala macam kesakitan yang menimpanya. Itulah si
Mansyur al-Hallaj yang gelagapan di telan kebaqaan-Nya. Darah yang muncrat
Namaku Izrail!______________________________________________________73
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
berceceran dari tubuh Wali Allah kadangkala, dengan kehendak-Nya, seperti menjadi
saksi dan menuliskan lafaz Allah ..Allah..Allah...
Mencekam memang, tapi begitulah keadaan wali-wali yang sering kutemui saat Allah
sudah menghendakinya kembali kepada-Nya. Bagiku, mencabut nyawa Sang Wali
seperti mendapat kehormatan dan barokah Allah, karena dari situ aku bisa merasakan
gairah cintanya pada Allah SWT.
Hamba Allah yang diridhai Allah mengalami kondisi yang menakjubkan. Seperti
pernah disabdakan oleh Nabi SAW ketika menceritakan bagaimana hamba Allah
yang diridahi Allah menjelang kematiannya. “Jika Allah SWT ridha terhadap
hamba-Nya, maka Dia kan berfirman, ’Wahai Malaikat Maut, pergilah kepada si Anu
dan bawalah kepadaku ruhnya untuk kuanugerahi kebahagiaan. Amalnya kupandang
sudah mencukupi: Aku telah mengujinya dan mendapatinya seperti yang kuinginkan.’”
Kalau Allah sudah menghendaki begitu, maka akupun turun dengan limaribu malaikat
lain. Semuanya membawa tongkat yang terbuat dari kayu manis dan akar-akar
tanaman safron, setiap malaikat itu menyampaikan pesan dari Tuhannya. Kemudian,
para malaikat itu membentuk dua barisan untuk mempersiapkan keberangkatan
ruhnya. Ketika setan melihat mereka, dia meletakkan tangannya di atas kepala
mereka dan menjerit keras-keras. Para bala tentaranya bertanya, “Ada apa Tuanku?”
Setan menjawab, “Tidakkah kamu melihat kehormatan yang telah diberikan manusia
ini?”. Mereka menjawab, ”Kami telah berusaha sekeras-kerasnya terhadapnya, tapi
dia tak bisa dipengaruhi.”
Ketahuilah, ketika aku hendak mengambil nyawa orang arif, maka Allah Ta’ala
menampakkan pada telapak tanganku “Bismillahirrrahmaanirrahiim”, dengan tulisan
dari cahaya yang berpendar dan bersinar, lalu Dia memerintahkan aku untuk
membentangkan tanganku kepada orang arif itu, sehingga iapun melihat tulisan itu.
Bila ruh orang arif itu melihatnya, tulisan itu terbang kepadanya lebih cepat dari
kejapan mata. Itulah tanda Rahmat dan Kasih Sayang Allah kepadanya. Al Hasan
berkata,
Tidak ada yang kebahagiaan bagi mereka yang beriman
kecuali perjumpaan dengan Allah,
Namaku Izrail!______________________________________________________74
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
dan barangsiapa dianugerahi perjumpaan tersebut,
maka hari kematiannya adalah
hari kegembiraannya,
kebahagiaannya,
keterpesonaannya,
keagungannya,
dan kehormatannya
Itulah sekelumit kemuliaan yang diperoleh para Wali Allah yang bisa kuceritakan. Ada
banyak kemuliaan disana, baik yang dapat kamu tangkap dengan tanda-tanda lahiriah,
maupun batiniah, gaib maupun nyata.
Sedangkan bagi yang bukan wali, atau mengaku-ngaku wali, akupun akan berteriak
kepadanya,
”Berdiri! Keluarlah dari rumahmu yang engkau makmurkan
menuju rumahmu yang engkau robohkan!”
Kalau sudah kuteriakkan begitu, maka mereka yang mengaku wali, atau ulama yang
lupa diri, akan menggigil, gemetaran dan pucat pasi di ranjangnya. Tapi aku tak peduli
dan aku akan menampakkan diri sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, yaitu
menipu manusia atas nama Tuhan.
Kendati para wali dan kaum arifin merasakan kengerian juga menjelang ajal tiba,
namun bagi mereka saat kematian merupakan undangan yang ditunggu-tunggu,
sehingga banyak diantara mereka malah membuat syair-syair yang syahdu tentang
aku.
Izrail nampak terlihat sumringah. Senyum di wajahnya yang halus dan luar biasa
terlihat mengembang. Sesekali ia mengerlingkan matanya keatas, kemudian ia
menatapku dan bersyair dengan untaian syair kaum arifin :
Kerinduan hati para arifin adalah kepada zikir,
dan zikir mereka ada dalam kesunyian munajat.
Namaku Izrail!______________________________________________________75
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Cangkir takdir diedarkan diantara mereka,
dan mereka berpaling dari dunia bagai orang mabuk.
Rasa rindu mereka berkeliling di perkemahan,
Jika ada pecinta Tuhan yang bersinar bagai bintang gemilang.
Jasad mereka terbujur karena cinta-Nya,
dan ruh ruh mereka yang tertabir,
pergi di malam hari menuju keagungan.
Perhentian mereka hanyalah disisi Sang Kekasih;
Dan mereka tak lagi disimpangkan kesengsaraan atau bahaya
(Abu Said al-Kharraz)
Demi kebenaranMu, tak akan kupandang selain Engkau
dengan mata cinta
Hingga aku bertemu denganMu
Aku melihat-Mu sebagai Penyiksaku,
Yang melemahkan penglihatanku,
Dan membuat pipiku merah karena rasa malu pada-Mu.
(Abu Ali Al-Rudzbari)
Rumah yang kau tempati, tak lagi perlu lentera.
Wajah-Mu yang kami harap jadi bukti
Di hari ketika manusia memerlukan bukti.
Semoga Tuhan tidk memberikan kebahagiaan kepadaku
Jika baru hari ini aku bersimpuh memohon.
(Al-Syibli)
Ketika hatiku mengeras dan jalanku menyempit,
Kujadikan harapan-harapanku sebagai titian menuju ampunan-Mu
Dosaku begitu besar, namun, kubandingkan dengan ampunan-Mu,
Ternyata ampunan-Mu lebih besar.
Engkau selalu mengampuni dosa,
Dan Engkau selalu bermurah hati
dan pemaaf karena sifat-Mu yang Pemurah.
Tetapi, seandainya bukan karena Engkau,
Namaku Izrail!______________________________________________________76
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Tak seorangpun yang akan digoda Iblis;
Maka bagaimana,
sedangkan dia telah menggoda insan pilihan-Mu,
Adam?
(Al-Syafii)
Lucu juga melihat malaikat bersyair, ia terbang mengelilingi kamarku, meliuk-liuk dan
menari-nari dengan gemulai seolah alunan nada syair itu mengombak dan
menggelombang seirama dengan gerakan tubuhnya. Pakaiannya yang putih kemilau
dibawah sinar lampu kamarku semakin cemerlang dengan diikuti percikan
bintang-bintang.
Aku tersenyum-senyum bahagia terbawa arus syair yang ia lantunkan. Beberapa
jenak kemudian, ia sudah kembali disampingku, sambil memegang tanganku yang
lemas seperti tanpa tenaga.
“Kalau para Nabi bagaimana?”, tanyaku sedikit merajuk seperti masa kanak-kanak
dulu aku merajuk minta dongengan pada ibundaku dulu.
“Para Nabi mempunyai kisah yang berbeda-beda”, tuturnya melanjutkan seolah ingin
memuaskan rasa ingin tahuku yang tak pernah berhenti.
Nabi Musa misalnya, galaknya minta ampun. Dulu aku mendatangi manusia
terang-terangan. Aku mendatangi Musa waktu itu. Aku kira Allah sudah
menginformasikan Musa akan kudatangi. Tidak tahunya, dia menempeleng dan
mencungkil mataku.
Akupun lalu kembali dan mengadu kepada-Nya, ”Wahai Tuhanku, Musa telah
mencungkil mataku. Kalau bukan kemuliaan atas-Mu, pastilah aku akan
menyusahkannya.”
Allah kemudian berfirman, ”Pergilah kepada hamba-Ku (Musa) dan katakan padanya
agar meletakkan tangannya di atas kulit sapi, maka setiap rambut yang disentuh
tangannya umurnya akan bertambah selama setahun”.
Namaku Izrail!______________________________________________________77
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Akupun kemudian kembali dan menyampaikan firman Allah itu kepada Musa.
Lalu Musa bertanya,”Lalu apakah setelah itu?”.
Aku menjawab , “Kematian”.
Musa kemudian tergesa-gesa berkata, ”Kalau begitu, sekarang saja.”
Lalu aku menciumnya dan mencabut nyawanya. Allah pun kemudian mengembalikan
mataku. Setelah kejadian itu, aku pun kemudian mendatangi manusia secara
diam-diam. Maka akupun menyamar jadi bermacam-macam hal. Ada wabah penyakit,
kecelakaan, peperangan, kegembiraan, kesedihan, dan lain sebagainya. Disetiap
kesempatan, di setiap waktu, aku bisa saja membuka penyamaranku, dan mencabut
nyawa setiap makhluk.
Nabi Ibrahim a.s juga mempunyai jalinan kisah yang menarik ketika aku
mendatanginya. Aku datang kepada Ibrahim a.s. dengan mengatakan kepadanya
bahwa Tuhan sudah memerintahkan diriku untuk mencabut nyawanya dengan cara
yang paling ringan, seperti ketika aku mencabut nyawa seorang Mukmin.
Ibrahim kemudian menjawab,”Sesungguhnya aku memintamu dengan hak Yang
Mengutusmu untuk memohon pertimbangan kepada-Nya tentang penundaan
kematianku”.
Mendengar ia berkata begitu, akupun kembali menghadap Allah SWT dan berkata
pada-Nya, “Sesungguhnya kekasih-Mu meminta agar aku meminta pertimbangan
kepada-Mu tentang menunda kematiannya.”
Allah kemudian berfirman, “Datangilah dia dan katakan padanya, ‘Sesungguhnya
Sang Kekasih sangat ingin bertemu dengan kekasih-Nya’.”
Aku kemudian kembali kepada Ibrahim a.s. dan menyampaikan firman Allah tersebut.
Ibrahim a.s kemudian berkata, ”Laksanakanlah apa yang diperintahkan-Nya!”.
Aku juga kemudian bertanya padanya, ”Wahai Ibrahim, pernahkah engkau minum
minuman keras?”
Dia menjawab, ”Belum pernah sama sekali”.
Namaku Izrail!______________________________________________________78
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Aku kemudian menciumkan bau wanginya arak dari surga dan mencabut nyawa
Ibrahim Khalil Allah dalam keadaan seperti itu. Mabuk oleh harumnya bau wangi arak
surgawi. 24
“Adakah saat-saat yang mengesankan ketika engkau menunaikan perintah-Nya?”,
aku masih melanjutkan pertanyaan tentang caranya mengambil ruh para nabi.
Yang paling berkesan? Wah apa ya yang paling berkesan. Barangkali kalau kuingat -
ingat ada tiga peristiwa pengambilan yang paling berkesan sepanjang karirku. Yang
pertama mungkin sewaktu aku mengambil nenek moyangmu, Adam.
Ya, aku ingat saat itu.
Itulah tugas resmiku yang pertama kali dilakukan saat mencabut manusia sempurna
yang pertama. Adam yang malang, kelalaianya menyebabkan Dia mengusirnya dari
Alam Surgawi yang tak terkira indahnya. Padahal, dulu kami pernah bersama-sama
disana. Aku pernah melihatnya ketika awal mula, sejenak setelah materi
pembentuknya selesai dibuat oleh-Nya.
Ia diajar langsung oleh-Nya, dari perbendaharaan-Nya yang tersembunyi. Tentang
nama-nama, hukum-hukum alam, dan tentang manusia itu sendiri. Itulah
asmaa-a-kulahaa yang ia pelajari dari Dia Yang Memiliki Perbendaharaan
Tersembunyi. Dan dengan pengetahuan-Nya itu, Adam mengalahkan semua
pengetahuan kami.
Ketika kami protes pada-Nya, dan kamipun harus tahu diri dengan keluasan
pengetahuannya, kami pun mengerti, Dia lebih tahu segalanya. Karena kami
sesungguhnya tidak tahu apa-apa atas keluasan Ilmu-Nya. Itupun lebih banyak
disebabkan karena kadar yang sudah kami terima sebagai penyampai pengetahuan
belaka atau sebagai spesialis untuk tugas-tugas tertentu. Kami tidak memiliki memori
yang mampu dikembangkan lebih jauh. Menthok! Cuma sebatas kadar saya sebagai
malaikat semata – sebagai pencabut nyawa. Lebih dari itu, cuma Adamlah yang
24 Diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh dari ref 10, hal. 62
Namaku Izrail!______________________________________________________79
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
memilikinya, namun karena itu pula Adam dan anak cucunya memerlukan
ruang-waktu. Tanpa ruang waktu, Adam tak bedanya dengan kami. Sebab itulah
Adam yang merupakan tajali-Nya yang sempurna, harus menanggung beban karena
ilmu dan kelemahannya. Dan lalai, rupanya bakal menjadi sifat anak cucunya di dunia.
Itulah tugasku yang terberat, sekaligus menjadi kewajibanku.
Oh terkutuklah si Iblis yang membangkang. Ia jerumuskan Adam dan Hawa untuk
menanggung beban di dunia. Ketika ilusi kesombongannya mencuat, Iblis berkata:
"Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia
Engkau ciptakan dari tanah"(QS 38:76). Allah pun mengusirnya dari surga, Allah
berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang
terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan" (QS
38:77-78). Iblis yang ngeyel putus asa, karena ia tahu kutukan-Nya adalah tak
terbantahkan, maka Iblis kembali berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai
hari mereka dibangkitkan" (QS 38:79). Allah yang Maha Bijaksana kemudian
berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai
kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)" (QS 38:80-81). Iblis
menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (QS 38:82-83). Allah Yang
Maha Benar berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran
itulah yang Ku-katakan". (QS 38:84). Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka
Jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara
mereka kesemuanya (QS 38:85). Begitulah, Iblis pun terusir dari surga dengan
mengancam anak cucu Adam sampai kiamat, katanya "Karena Engkau telah
menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari
jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS 7:16-17)
Tapi, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, pemberi rahmat bagi semua
makhluknya, kemudian membukakan pintu-pintu ampunan-Nya setiap saat 25 ,
walaupun kemudian banyak manusia-manusia bodoh yang mengabaikannya. Padahal
25 QS 2:37 Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Namaku Izrail!______________________________________________________80
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
pintu itu selalu Dia buka, dan terus terbuka, sampai aku diperintahkan-Nya untuk
menutupnya. Itu terjadi kalau ruh manusia sudah berada dalam genggamanku,
dikerongkongannya, dimana ia meregang nyawa, mempertahankan nafas terakhirnya.
Maka pintu tobat itupun akan menutup, menghapus semua harapan.
Manusia paling bodoh sajalah yang menyia-nyiakan hidayah Dia Yang Maha Memberi.
Hingga senjata pamungkas untuk melawan tipu daya Iblis pun di sia-siakannya.
Malang benar nasib anak cucu Adam, dan Adam pun seringkali menangis manakala ia
menengok kesebelah kirinya. Ia melihat milyaran manusia menjadi arang bara
Jahanam. Tapi itulah jalan ceritanya, yang akupun tak sanggup mencerna
Kebijaksaan-Nya. Hanya mereka yang ingat jalan kembalilah yang akan mengetahui
rahasia-rahasia penciptaan makhluk-Nya.
Diusianya yang keseribu, aku kemudian diperintahkan-Nya untuk mencabut nyawa
manusia sempurna yang pertama. Itulah Adam. Moyang semua manusia.
Ia yang kudatangi saat itu, sudah tua renta. Guratan nasib menghiasi wajahnya. Disitu
aku melihat guratan kesedihan seorang makhluk, yang karena kelalainya terpaksa
menjalani kehidupan di ruang terbatas yang ilutif. Disitu aku lihat jejak kesedihan
tragedi Qabil dan Habil, yang menjadi drama pembunuhan pertama, yang terekam
dalam ingatan sejarah manusia yang pelupa, yang menghitamkan bulu-bulu si gagak,
manakala ia menjadi saksi muncratnya darah anak Adam yang pertama, oleh
sudaranya sendiri. Si gagak adalah Utusan Allah yang menjadi saksi melihat
kengerian pertama kalinya, dari makhluk yang membuas bernama manusia. Ia pun
seperti memperoleh kutukan, untuk mengikuti setiap langkahku, ketika nyawa harus
dicabutkan dari tubuh anak cucu Adam.
Di wajah Adam, aku melihat guratan-guratan nasib anak cucunya dimasa depan,
seolah Dia telah mewaskitakan kepadanya, bahwa milenium demi milenium akan
terlewati dengan simbahan darah. Persis seperti apa yang pernah kami lihat dan kami
khawatirkan sebelumnya. Kami melihat ke masa depan dan kemasa lalu tak ada
bedanya, makanya bagi kami apa yang akan terjadi pada manusia cuma sekedar
sekelebatan saja. Kami telah melihat simbahan darah manusia di muka bumi sebelum
bumi itu sendiri terbentuk menjadi planet kehidupan. Abad demi abad, anak cucunya
Namaku Izrail!______________________________________________________81
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
mandi darah dengan peperangan, dengan penyakit, dengan khayal dan angan-angan
akal, dengan kesombongan Iblis dan kebodohan-kebodohannya sendiri. Iblis yang
telah bersumpah menyesatkan anak cucunya dari depan, belakang, kiri, dan
kanannya berpesta pora. Ketika kesuksesan demi kesuksesan diraihnya.
Menjerumuskan anak cucu Adam dan Hawa. Virus kesombongan yang ia buat
pertama kali, akhirnya menyebar menjadi benih-benih penyakit hati, yang mengendap
ke banyak dada manusia; yang menumbuhkan rantai kepemilikan, kesombongan,
kedengkian, keserakahan, kemaksiatan, diseluruh penjuru dada anak cucunya.
Tapi, diantara anak cucunya pula muncul pahlawan-pahlawan kemanusiaan, yang
menjadi petunjuk jalan, menjadi guru manusia, untuk kembali mengingatkan bahwa
asal dari manusia adalah dari Kehendak-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Hanya ia
yang berpikir dan berakal sesuai fitrahnya saja yang kemudian akan tersadar akan
dirinya; ia yang membukakan matahatinya dihening malam, memikirkan penciptaan
dirinya, memikirkan penciptaan alam semesta, memikirkan Tuhannya, akan
menemukan jalan kembali kepada-Nya, dengan ridha dan ridha-Nya.
Adam masih tercenung ketika aku hadir dihadapannya. Sekilas, aku melihat air mata
kesedihan meleleh di pipinya. Nenek moyang manusia itu menangis. Rupanya ia
sudah mendapat waskita, kalau kemanusiaanya dibatasi oleh sangkar ruang-waktu.
Ia tak lagi bisa abadi di dunia. Ia harus kembali.
Takdir-Nya akan berjalan sesuai dengan ketetapan-Nya. Ketika aku memperkenalkan
diri kepadanya, ia pelan-pelan menganggukkan kepalanya, kemudian ia berkata
“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan
sesungguhnya kepada-Nya kami kembali) (QS 2:156 )”
Akupun mengiringi ruhnya untuk kembali kepada-Nya. Di surga sana, Adam tinggal di
langit pertama, sebagai pintu gerbang menuju keabadian al-malakut.
Setelah Adam, tinggalah Hawa yang dicekam kesedihan. Ia yang selama ini dibimbing
oleh Adam menjadi pemurung. Hari demi hari ia lalui dengan merenungkan perjalanan
kehidupannya. Adam yang ia cinta, yang ia jadikan pendampingnya, yang
Namaku Izrail!______________________________________________________82
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
membimbingnya, yang memperkenalkannya tentang ini dan itu, telah kembali
kepada-Nya. Air matanya perlahan jatuh meleleh. Sunyi dan sepi alam ini tanpanya.
Ia yang sudah menjadi Ibu dari puluhan anak-anak zaman, mengingat kembali
masa-masa awalnya dulu. Disana, di suatu taman yang tertutup, yang keindahannya
tidaklah ia bisa lupakan begitu saja.
Kesedihan Hawa berimbas kelingkungannya, angin seolah enggan berhembus
mengiringi kesendiriannya, pohon enggan berbisik, daun-daunnya diam, kuda, lembu,
rusa, kodok, kadal, ular, kalajengking enggan beringsut seolah ingin meresapi
kesedihan alam atas kembalinya Bapak Para Manusia Adam. Ia terawangkan kembali
kebodohannya dulu, kemanjaannya dan bujuk rayunya dulu yang memaksa Adam
untuk melahap buah yang terlarang, karena bujuk rayu, khayal dan angan-angan
kekekalan, tapi itulah yang ciptakan kesengsaraan.
Ohhh, menyesalnya dia. Ular yang terkutuk desisnya. Iblis dajal pendengki, yang telah
menjerumuskan aku. Ia membujuk dengan kemalaikatan dan kekekalan. Ia pun
mengaku-ngaku sebagai penasehat buat kami. “Sesungguhnya aku ini adalah
penasehat bagi kamu bedua (QS 2:21)”, begitu bujuknya. Dan akupun termakan tipu
dayanya. Sang penipu itu telah lari begitu dahan buah terlarang ia sentuh. Seolah
takut diciprati getah dahan pohon terlarang, yang sudah terlanjur ia petik. Begitulah
perilakunya di setiap zaman, menjadi ciri dari setiap tipu daya yang ia ciptakan. Bagai
kutukan, Iblis dan sekutunya selalu akan berkata :
"Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu;
kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat,
kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau,
mereka sekali-kali tidak menyembah kami". (QS 28:63)
(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan
ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu",
maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata:
"Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut
kepada Allah Tuhan semesta alam". (QS 56:19)
Namaku Izrail!______________________________________________________83
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
...setan itu balik ke belakang seraya berkata:
“Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat
melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut
kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS 8:48)
Itulah yang mereka katakan setelah berhasil menyesatkan manusia. Maka hati-hatilah
manusia terhadap siapa dan kepada siapa kamu bertaklid dengan membuta.
Waspadalah!
Ohh, benih kesombongan dan kedengkian itu, merasuk begitu dalam, begitu dahsyat,
menggoncangkan keseimbangan jagat. Disetiap waktu, di setiap tempat. Manusia
yang tidak waspada akan masuk ke dalam perangkap Iblis dan sekutunya.
Hawa yang malang, kesedihannya adalah kesedihan dari keindahan. Keindahan yang
seringkali begitu gampang memurukkan dan melupakan. Hawa yang malang, ia
mengingat kembali serbuk-serbuk buah terlarang yang kadangkala diam-diam masih
ia gunakan. Menjadi bedak, menjadi permata, menjadi perhiasan dunia lainnya. Ia
terawangkan matanya menembus ke masa depan. Disana, ia melihat anak cucu dari
kaum sejenisnya masih menyukai pahitnya buah terlarang.
Ia melihat pemandangan yang membuatnya makin bersedih. Ia lihat melihat Cleopatra,
Matahari, Marylin Monroe, Madonna, Britney Spear, dan lain-lainnya yang masih
melekatkan serbuk-serbuk buah terlarang ketubuhnya. Ia melihat kaumnya mengikuti,
mencintai, menyukai, bahkan sampai-sampai menggadaikan kemanusiaannya,
akidahnya, berlomba-lomba mengecap pahitnya sisa-sisa racun buah terlarang. Ilusi
tentang keabadian.
“Ohhh, kaumku yang malang”, Hawa mengeluh iba. Iblis yang terusir, telah membuat
tipu daya dengan memulas pahitnya buah terlarang itu dengan ilusi kemewahan. Yang
berubah wujud menjadi kesenangan, kemaksiatan, keangkuhan, kesombongan,
bahkan dengan kecantikan. Ia melihat anak cucunya semakin tertutup bedak-bedak
pohon terlarang, ia melihat pantat bergoyang, ia melihat aurat tergelar dimana-mana,
di televisi, di jalanan, di bioskop, di mall-mall, diwarung-warung, diremang-remang
Namaku Izrail!______________________________________________________84
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
malam; bahkan ia melihat di rumah-rumah, bahkan di rumah-rumah Tuhanpun,
kaumnya masih suka berbedak pohon terlarang.
Hawa menangis. Disela tangisnya ia kadang tersenyum dan tertawa ketika melihat
Siti Khadijah, Aisyah, Fatimah Az Zahra, Rabiah, Joan D’Arc, Kartini, Bunda Teresa,
dan yang lainnya. Lalu ia kembali hanyut dalam kesedihannya.
Sedih, siapa lagikah yang akan membimbingku? Kepergianmu bagaikan lenyapnya
separoh dari hatiku. Hawa menangis kembali dan terus menangis.
Aku masih berdiri dihadapan Hawa. Melihatnya menangis, melihatnya bersedih,
melihatnya ketakutan, dicekam kengerian, akan kesendiriannya di dunia ini. Setelah
tangis dan kesedihan itu kulihat mereda, kuhampiri Ibu semua manusia itu.
“Wahai Hawa, Aku akan membawamu juga”, sapaku dengan lembut.
Hawa menoleh, matanya yang menua masih memperlihatkan pesonanya yang
menundukkan Adam sehingga ia pun petik buah terlarang untuknya.
“Engkaukah Izrail?”, tanyanya.
“Ya.”, aku menjawab pendek.
Senyumnya mengembang. Seketika itu, ia meraih tanganku.
“Bawalah aku pergi.”, mohonnya.
Akupun mengangguk. Lalu kubawalah Hawa pergi.
Kembali ke Sang Kekasih, kepada Adam di alam tinggi sana.
Bumi serasa berhenti berputar kala itu. Anak-anak dan cucu-cucunya meraung,
getarkan semua dahan dan ranting tumbuhan di muka bumi, sebagian menangis sedih,
sebagian lagi marah, sebagian lagi bergembira, karena lepas sudah kekang terakhir
atas tingkah lakunya, Ibunda Semua Manusia.
Aku termenung, melihat kepada Izrail yang juga termenung mengenang
pengalamannya membawa Adam dan Hawa kepada sang Khaliq. Kemudian, ia
memecahkan keheningan :
“Sekali waktu, aku ditugaskan untuk mengambil ruh paling mulia, yang sebenarnya
menyebabkan aku dan alam semesta ada. Dialah benih kun yang sebenarnya,
Namaku Izrail!______________________________________________________85
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Muhammad SAW – Utusan Allah, yang cahayanya sudah ditakdirkan
mengguncangkan kelahiran semesta sejak awal mula”. Izrail meneruskan seolah-olah
mencabut pertanyaan yang masih menggantung di kepalaku.
Pemimpin orang-orang yang baik itu diperintahkan untuk mengakhiri usianya dengan
kebaikan. Kulihat ia dikelilingi sahabat dan keluarganya. Makhluk yang sempurna
itupun terbujur menanti diriku. Di pembaringan, sekilas ia masih terlihat ragu dan
melihat kesekelilingnya. Seakan, ia khawatir akan umat yang ditinggalkannya.
“Umatku...umatku..umatku..”, sesekali ia seperti ngeri melihat umatnya di masa
depan.
Ketahuilah, bahkan Nabi Muhammad pun menghadapi kematian sebagai manusia
biasa, dengan kegelisahan, rasa takut, dan kengerian. Allah seperti hendak
menunjukkan kepada manusia bahwa bahkan seorang Nabi Yang Paling Sempurna
diantara semua Nabi pun kematian menjadi suatu hal yang memang sepantasnya
ditakuti. Apalagi bagi manusia biasa. Maka sungguh lalai bila manusia mengabaikan
hal ini. Ketahuilah bahwa dalam kematian Nabi Muhammad SAW terdapat suri
tauladan tentang kehidupan dan kematian, tentang perkataan dan perbuatan. Tidak
ada manusiapun yang lebih mulia dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW yang
menjadi Habib Allah (Kekasih Allah), sehingga pada kematiannya tidak ada
keistimewaan tertentu kecuali dari keagungannya yang ditangisi oleh seluruh alam
dan seisinya.
Allah menugaskan malaikat-malaikat yang mulia untuk menjemput ruh beliau yang
suci dan membawanya keridhaan-Nya, puncak kebaikan, kesempurnaan, kepada
Singhasana Kebenaran di Hadirat Yang Pengasih. Namun, bersamaan dengan itu
penderitaan yang dirasakan beliau saat sakratul maut sangatlah berat. Apa yang dia
rasakan saat itu, penderitaan yang dia alami sangat terdengar jelas bagi semua yang
melihatnya. Kegelisahannya memuncak dan suaranya mengeras ketika mengerang.
Menahan rasa takut dan sakit, yang tak seorangpun boleh menanggungnya kecuali
dirinya sendiri, sebagai suatu pelajaran bahwa kematian dan sakratul maut tak boleh
diabaikan. Warna kulitnya berubah, dahinya basah oleh keringat dan tarikan maupun
hembusan nafasnya mengguncangkan tulang-tulang rusuk kiri dan kanannya,
Namaku Izrail!______________________________________________________86
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
sehingga siapapun yang hadir ketika itu menangis menyaksikan beliau berjuang
menahan rasa sakit [11].
Perhatikanlah, bahwa jabatan kenabian tidak mengecualikan beliau dari ketentuan
Ilahi, dari dahsyatnya sakratul maut menjelang kematian. Semua yang dirasakannya,
tidak mendorongnya untuk memohon kekecualian dari Allah SWT karena beliau
adalah penolong Kebenaran dan pembawa kabar gembira dan peringatan kepada
umat manusia. Beliau melaksanakan yang telah diperintahkan dan mengikuti yang
tertulis pada Lauh Mahfuzh. Demikianlah keadaan Nabi SAW ketika menjelang
kematiannya, meskipun beliau memiliki tempat terpuji – Al-Maqam al-Mahmūd (QS
17:79) - di sisi Allah, dan telaga kemuliaan yang tak pernah surut - Al-Haudh al-Maurūd.
Maka ketahuilah bahwa apa yang dialami Nabi SAW saat-saat menjelang
meninggalkan kefanaan dunia adalah suatu pelajaran bagi semua manusia, bahwa
semua amaliah kita tidak menjamin keistimewaan tertentu saat-saat maut mendekat.
Jadi cermatilah, mawas dirilah atas apa yang telah dilakukan di dunia, sadarilah
bahwa betapa sulitnya perjalanan menuju Surga Abadi.
Tapi Sang Kekasih sudah lama menunggu. Akupun turun kebumi saat itu. Langit yang
cerah mendadak sepi dan hening, awan berhenti berarak, semesta seakan berhenti
bernafas, dengusnya yang biasanya kudengar menderu-deru, saat itu terlihat diam
terhenyak. Hari ini aku ditugaskan mencabut nyawa makhluk pembawa rahmat bagi
seluruh alam. Bahkan dari semua jenis makhluk yang hidup di semua alam,
rahmatnya itu tak akan pernah berhenti sepanjang waktu, sepanjang zaman.
Muhammad Utusan Allah, hamba Allah yang Insan Kamil, Maujud sempurna dari
semua penampakkan Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifatNya, Harus kembali juga
kepada-Nya. Tak ada yang perlu ditangisi, apalagi keagungannya disalahgunakan
dengan mengkultuskannya. Ia tetaplah manusia. Hanya dalam format kesempurnaan,
menjadi Insan Kamil, menjadi Adimanusia, menjadi Logos, menjadi Gurujati.
Ia menjadi hamba Allah sejati, menjadi guru semua manusia, menjadi khalifah semua
makhluk; Ia adalah maujud tentang segala sesuatu yang terjadi di semesta. Yang
mengikutinya akan selamat sampai akhirat. Karena ia sebenarnya menjadi petunjuk
dalam membangun titian kehidupan yang setipis rambut dibelah tujuh. Titian Shiraat
Namaku Izrail!______________________________________________________87
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
al Mustaqiim. Jalan yang lurus, jalan Ilahiah, jalan para Nabi dan Rasul yang
berserah diri, jalan yang diridhai oleh-Nya. Siapa yang mengabaikan fakta-fakta ini,
maka ia akan menyia-nyiakan suatu peluang untuk menemukan jalan kehidupan yang
sebenarnya.
Izrail terdiam sejenak seperti mengenang apa yang sudah ia laksanakan. Kemudian ia
melanjutkan.
Ketika aku akan menjemputnya, di hari-hari akhirnya di dunia, aku mendatanginya.
Cukup lama aku bercakap-cakap dengannya. Akupun mengatakan kepadanya bahwa
Allah telah mengutusku dan kukatakan bahwa aku diperintahkan oleh-Nya agar tidak
masuk ke rumahnya tanpa seizinnya. Jika beliau tidak mengizinkan maka aku akan
kembali, tetapi jika dia mengizinkan maka aku akan masuk. Allah juga
memerintahkanku untuk tidak mencabut nyawanya bila beliau tidak berkenan. Jadi
aku tanyakan saja apa yang dia inginkan sekarang. Kemudian Nabi SAW berkata
untuk menunggu kedatangan Jibril, karena di waktu itulah dia biasanya datang
mengunjunginya.
Saat itu, tak seorangpun sanak saudara Rasulullah SAW yang berbicara karena
peliknya persoalan itu dan rasa takut yang hinggap dihati mereka. Kemudian Jibril
datang dan menyampaikan salam Allah kepada-Nya serta menanyakan keadaannya.
Apa yang dirasakan Rasulullah saat itu kemudian dijelaskan Jibril bahwa keadaannya
itu adalah suatu kehormatan baginya karena derajatnya berada jauh di atas semua
makhluk lainnya, agar beliau menjadi suri tauladan bagi umatnya. Nabi merasakan
kesakitan. Lantas, dijelaskan oleh Jibril bahwa beliau harus bergembira karena Allah
telah berkehendak untuk membawanya kepada yang telah dipersiapkan-Nya.
Beliau kemudian menceritakan kedatanganku kepada Jibril. Kemudian Jibril
berkata, ”Wahai Muhammad! Tuhanmu merindukanmu! Apakah dia tidak
memberitahukan maksud-Nya kepadamu? Sesungguhnya Izrail (Malaikat Maut) sama
sekali belum pernah meminta izin dari siapapun kalau hendak melaksanakan
tugasnya. Hal itu semata-mata karena Tuhanmu berkehendak menyempurnakan
kehormatanmu dan ia merindukanmu”.
Namaku Izrail!______________________________________________________88
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Lalu Nabi SAW berkata supaya Jibril jangan meninggalkannya sampai aku datang
kembali kepadanya. Setelah Nabi SAW memberikan izin kepada sanak saudaranya
masuk dan bercakap-cakap beberapa waktu lamanya, akupun datang kepadanya
dengan mengucapkan salam dan meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya,
dan akupun masuk kemudian bertanya kepadanya sekiranya beliau menginginkan
sesuatu. “Bawalah aku sekarang kepada Tuhanku”, katanya kepadaku. “Ya”, jawabku
singkat.
Kemudian aku berkata kepadanya, ”Hari ini, sungguh Tuhan Anda rindu kepadamu.
Belum pernah Dia memperhatikan seorang manusia seperti ia memperhatikan Anda.
Belum pernah pula Dia melarang saya masuk tanpa izin untuk menemui siapapun
yang lain. Tapi sekarang, saat kematian Anda berada di depan Anda.” Kemudian aku
keluar lagi dari kamarnya. Lalu Jibril kembali masuk, dia berkata, ”Assalamualaikum,
wahai Rasulullah! Ini adalah kali yang terakhir saya turun ke dunia. Wahyu telah
ditutup, dunia telah dilipat, dan saya tidak punya urusan lagi selain dengan Anda. Saya
tidak punya tujuan apa-apa kecuali hadir di dekat Anda. Setelah itu saya akan tetap
berada di tempat saya. Tidak! Demi Dia yang telah mengutus Muhammad dengan
kebenaran, tak seorangpun di dalam rumah ini yang dapat mengubah satu katapun
dari yang telah saya sampaikan. Dia tidak akan pernah diutus kembali kepada
umatnya betapapun pentingnya berita yang akan disampaikannya dan meskipun
dengan adanya kasih sayang maupun simpati kami.”
Saat itu aku dapat melihat bagaimana manusia yang disempurnakan oleh-Nya itu
akhirnya pingsan di dada Aisyah. Dari keningnya keringat mengucur dengan deras.
Bau harum keringatnya semerbak memenuhi kamarnya. Ketika beliau sadar kembali,
dia berkata kepada Aisyah, ”Wahai Aisyah, ruh orang beriman keluar bersama
keringatnya, sedangkan ruh orang kafir keluar melalui kedua rahangnya seperti nyawa
keledai”.
Mendengar itu Aisyah takut dan memanggil keluarganya. Namun sebelum semuanya
berdatangan, aku melakukan tugasku. Ketahuilah, Rasulullah wafat sebelum
kedatangan siapapun kecuali Aisyah karena Tuhan telah menahan mereka dari beliau
dan telah menyerahkan beliau ke tangan Jibril dan Mikail. Sebelum pingsan, masih
kuingat beliau selalu mengatakan,”Bahkan, sahabat tertinggi!”, seolah-olah pilihan
Namaku Izrail!______________________________________________________89
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
telah dijatuhkan kepada-Nya. Dan ketika beliau mampu berbicara kembali, beliau
mengatakan “Shalat!shalat!Kalian semua akan bersatu jika kalian senantiasa shalat
bersama-sama”. “Shalat! Shalat! ”, beliau terus berpesan mengenai hal itu hingga
ruhnya kucabut dalam keadaan mengatakan “Shalat!Shalat!”[11].
Maka menjelang tengah hari, pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1 H, dengan
usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari, kubawalah Muhammad SAW pergi
kembali kepada Sang Kekasih Yang Maha Tinggi. Kulihat, ia sekilas melihat
kedatanganku. Kemudian ia tersenyum.
Kematian Nabi Yang Ummi, yang membawa rahmat bagi seluruh alam memang
menggoncangkan Umat Islam saat itu. Sehingga umat saat itupun kebingungan dan
meratap kehilangan. Sampai kedatangan Al-Khidhr a.s dan Alyasa (Elias) a.s yang
kemudian berkata [11]:
“Assalammualaikum, wahai Ahli Bait!26.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan.(QS 3:185).
Sesungguhnya Allah menyediakan pengganti bagi setiap orang,
pencapaian setiap keinginan,
dan keterbebasan dari setiap rasa takut.
Oleh karena itu, pautkanlah harapanmu
dan sikap tawakalmu kepada Allah.”
“Wahai Ahli Bait! Ingatlah kepada Allah
dan pujilah Dia dalam setiap keadaan.
Sesungguhnya, disisi Allah terdapat pelipur lara
dan penggant ibagi kekasih yang hilang.
26 Ahli Bait, sebutan untuk sanak keluarga Nabi Muhammad SAW
Namaku Izrail!______________________________________________________90
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Oleh karena itu, taatilah Allah.
Bekerjalah atas dasar perintah-Nya.”
“Demikilanlah ceritaku ketika aku menjemput Nabi Muhammad SAW”, Izrail
mengakhiri ceritanya.
Namaku Izrail!______________________________________________________91
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
6. Kematian Izrail
Aku masih termangu-mangu mendengar semua kisahnya. Kematian, betapapun juga
pada akhirnya memang akan menghampiri semua makhluk. Secara tabiat, manusia
memang membenci bahkan takut dengan kematian. Saking takutnya maka
manusiapun kemudian berangan-angan bahwa akhirat itu tidak ada. Merekapun
kemudian menjadi ateis. Mereka berangan-angan kosong dan mengira Tuhan tidak
ada. Sungguh bodoh sekali manusia seperti itu. Bahkan, saking bodohnya manusia
yang menafikan akhirat dan ateis, Sayyidina Ali bin Abu Thalib pernah berkata bahwa
“Jika apa yang Anda katakan tentang tidak adanya akhirat itu benar, maka Anda akan
selamat begitu pula kami. Tetapi jika yang kami katakan bahwa akhirat itu benar
adanya, maka kami akan selamat, sedangkan Anda akan binasa.” Mereka memang
seperti penjudi yang bodoh. Disebut demikian karena mereka berani bertaruh “untuk
tidak mendapatkan apa-apa” atau “doing for nothing” atau untuk kesia-siaan. Padahal,
keimanan sekecil apapun akan tetap diakui sebagai tanda pengakuan atas
keberadaan Realitas Absolut yaitu Tuhan Yang Maha Esa[21].
Kematian memang sudah ketentuan Allah. Seperti pernah diriwayatkan oleh Nabi
SAW melalui Abu Hurairah bahwa Allah berfirman : “Aku tidak pernah ragu dalam
sesuatu yang Kukerjakan, seperti halnya ketika mencabut jiwa hamba-hamba-Ku
yang beriman yang membenci kematian dan Aku benci untuk menyakitinya. Tetapi hal
itu meskti kulakukan.” Sehingga kematian adalah suatu realitas sebenarnya bagi
semua orang, baik dia nabi, rasul, wali, dan manusia lainnya. Kematian adalah kiamat
sebenarnya bagi manusia yang sadar akan hal ini. Kiamat yang pasti datang dalam
waktu yang sangat dekat. Berapa lamakah usia manusia? 1,5,10, 20, 63, 75, 80,
ataupun seribu tahun, Izrail pastilah akan datang. Maka risaukanlah kedatangan Izrail.
Ucapku membatin, mengenang peran dan tugas malaikat Izrail yang seringkali
dilupakan banyak orang.
Aneh, pikirku, seringkali kulihat manusia ketakutan pada datangnya kiamat besar yang
juga pasti datang. Namun entah kapan. Namun, manusia seringkali lupa pada kiamat
kecil yang nyata sekali pasti datang setiap saat kalau memang sudah diinginkan Allah.
Namaku Izrail!______________________________________________________92
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Kematian. Jadi sungguh aneh bila manusia makin lama kok makin tidak takut mati,
lupa diri, seolah dirinya akan hidup selamanya. Padahal, sudah jelas bahwa semua
orang diperingatkan tentang dekatnya ajalnya oleh uban dan keriputnya kulit disekujur
tubuhnya, itulah tanda-tanda perubahan masa karena akan datangnya kematian.
Cukuplah, ajal yang mendekat ditunjukkan dengan hilangnya masa muda
dan bertambahnya uban di kepala, juga berubahnya masa
Dan apakah setelahnya, orang-orang yang berakal menghendaki kekekalan
Ketika kebeliaan terus berubah dan keadaan hidup terus berputar [17].
Makin anehlah aku kalau melihat manusia yang dengan kesombongan dan
kepongahan Iblis berbuat semena-mena dengan mengabaikan apa yang sudah begitu
jelas menjadi petunjuk kepada jalan keselamatan : mengabaikan perintah Allah,
melanggar larangan-larangan-Nya, melanggar sunnatullah, mengabaikan apa yang
sudah dicontohkan oleh Rasulullah berupa akhlak yang mulia. Manusia tidak
segan-segan melakukan berbagai kemaksiatan dan tidak malu-malu pula
mempertontonkannya tanpa takut mati, seolah dirinya akan selamat dari sergapan dan
siksa sakratul maut dan sergapan Izrail Sang Maut. Aku menghela nafasku yang
kurasakan semakin berat. Keringat dinginku sudah membasahi bajuku. Semilir
hembusan angin malam yang masuk ke kamarku menyebabkan tubuhku semakin
mendingin.
Lantas aku memberanikan diri untuk bertanya “Bagaimanakan kamu mati?”
“Semua makhluk pastilah akan binasa, karena hanya Allah lah yang kekal. Akupun
demikian pula, akan binasa ketika waktunya tiba. Aku termasuk makhluk paling akhir
yang akan dibinasakan oleh-Nya”, ujar Izrail mengawali cerita bagaimana iapun akan
binasa.
Aku (Izrail), Jibril, Mikail, dan Israfil adalah makhluk-makhluk Allah yang pertama kali
diciptakan-Nya, terakhir kali dimatikan-Nya, dan pertama kali dihidupkan-Nya kembali.
Karena kamilah yang membagi-bagi segala urusan. Kami termasuk kelompok
malaikat yang dimuliakan Allah. Jibril adalah pengurus peperangan dan para rasul,
Namaku Izrail!______________________________________________________93
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Mikail adalah pengurus setiap tetesan hujan dan daun yang tumbuh dan jatuh, yang
membawa rezeki kepada semua makhluk-Nya di dunia. Israfil adalah malaikat
kepercayaan Allah antara-Nya dan para malaikat lainnya, sedangkan aku ditugasi
mencabut nyawa setiap hamba, di manapun ia berada27.
Sesuai dengan tugas yang kuemban, maka aku akan ada di setiap saat Sang Waktu
lewat, mengintip setiap rumah kalau-kalau ada seseorang yang harus kucabut
nyawanya. Tugasku memang berat, kadang-kadang akupun merasa menzalimi
semua yang bernyawa. Namun apa daya, aku hanya makhluk yang tidak menzalimi ,
tidak bisa menangguhkan ajal, tidak mempercepat takdir, dan kamipun tidak berdosa
dalam mencabut nyawa semua yang mesti kucabut ketika saatnya tiba. Bahkan untuk
mencabut nyawa seekor nyamukpun aku sebenarnya tidak kuasa sebelum Allah
memberi izin mencabutnya. Ketahuilah, aku sendiri sebenarnya tidak mengetahui
siapa-siapa yang akan kucabut. Aku hanya diberi sebuah buku catatan yang di
dalamnya ada beberapa nama.
Izrail kemudian mengeluarkan sebuah lembaran dimana disitu kulihat daftar
nama-nama yang akan dihampirinya. Kemudian ia melanjutkan.
Aku biasanya menerima lembaran kematian pada pertengahan bulan Sya’ban, Allah
mewahyukan kepadaku untuk mencabut setiap nyawa manusia yang diinginkan-Nya
pada tahun itu 28 . Maka jangan heran kalau Nabi Muhammad SAW seringkali
berpuasa di bulan itu.
Setelah semua makhluk mati, termasuk semua malaikat pun dimusnahkan, maka
akulah yang akan terakhir dimatikan langsung oleh Allah SWT. Dalam arti yang harfiah,
maka semua yang mewujud di alam semesta, yang masih memerlukan intervensi
kaumku akan dimusnahkan. Setelah itu, adalah hal yang menentukan bagaimana
semua makhluk akan kembali dalam penghisaban. Ketika saat kematianku tiba, maka
27 Diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dari Ikrimah bin Khalid bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasul,
kemudian ia menjelaskannya seperti itu. Dikutip dari Ref 10 hal 29
28 Diriwayatkan oleh ad-Dainuri di dalam al-Mujasalah dari Rasyid bin Said, ref 10 hal. 60
Namaku Izrail!______________________________________________________94
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Dia berkata “Wahai Malaikat Maut, matilah engkau!” Akupun berteriak keras, yang
bila penghuni langit penghuni langit dan bumi mendengarnya, pastilah mereka akan
mati ketakutan. Akupun kemudian matilah. Kematian yang menimpa diriku bisa
dikatakan sebagai kematian terdahsyat dari kematian semua makhluk29.
29 Diriwayatkan oleh Ibnu Amid Dunya, ref. 10 hal. 63
Namaku Izrail!______________________________________________________95
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
7. Epilog
Kami berdua terdiam. Mungkin cuma sejenak, tapi keheningan yang mencekam
seperti keheningan berhentinya detik sang waktu. Khususnya bagi diriku yang tergolek
tanpa daya dihadapannya. Akhirnya nuansa keheningan itu seperti tanpa makna,
kekosongan yang maha luas dan hamparan tak bertepi seperti menyelimuti diriku.
Kehampaanku terhadap dunia makin terasa. Tanpa sadar aku berguman
pelan, ”Bawalah aku..”, lalu syahadat meluncur begitu saja “La iIlaaha Illaa Allaah,
Muhammadurrasulullah”.
Sesaat aku cuma merasakan betotan dahsyat yang diceritakannya tentang kematian,
lalu tidak kurasakan lagi aksi dan reaksi dari ujung kakiku. Aku seperti buntung tanpa
kaki, kemudian tanpa paha, kemudian tanpa tubuh, kemudian tanpa tangan, kemudian
tanpa leher, dan akhirnya semua kesadaran tentang ruang-waktu lenyap sama sekali.
Kulihat berkas-berkas cahaya melesat dan meluas dalam sekejap, kemudian padam
dan memasuki zona tanpa batas-batas yang jelas, apakah aku berada dalam suatu
ruang, aku tidak tahu. Sejenak kesadaran yang kurasakan kembali tanpa nuansa
duniawi menggugah diriku, aku masih celingukan mencari Izrail. Kudengar lagi
suaranya tanpa rupa “Aku cuma mengantarmu sampai disini, selamat jalan, temuilah
Rabb-Mu yang mengasihimu”. Sayup-sayup masih kudengar suaranya bersenandung
Akulah Izrail Sang Elmaut,
datang tanpa diundang,
pulang tanpa diantar.
Aku jemput siapa pun yang harus kujemput.
Aku antar siapa pun yang harus kuantar.
Dengan kelembutan-Nya.
ataupun dengan Kemurkaan-nya.
Hanya ia yang berjalan di jalan-Nya
saja akan selamat dari kedahsyatanku,
rasa takutnya akan hadir menjadi rindunya
Namaku Izrail!______________________________________________________96
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
karena hanya si perindu saja yang akan
menganggap diriku berkah keabadian dalam rengkuhan keabadian cinta-Nya.
Dia yang menyia-nyiakan waktunya didunia,
terlena dalam ilusi dan kesombongan Sang Durjana,
akan merana dalam keabadian Murka-Nya.
Sebelum ia lenyap dari kesadaranku, aku sempat meneriakkan pertanyaan terakhir
kepadanya, “kamu mau kemana setelah aku?”. Suaraku langsung lenyap dalam
gaung yang menjauh senyap. Sayup-sayup masih kudengar suara Izrail menjawab,
“Menemui salah satu pembaca risalahmu ini”.
“innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (QS 2:156)”
Cintailah siapa saja yang ingin engkau cintai,
namun ingatlah bahwa pasti engkau akan berpisah dengannya;
hiduplah dengan gaya kehidupan yang engkau inginkan,
namun ingatlah bahwa engkau akan mati;
dan berbuatlah apa saja yang engkau kehendaki,
namun ingatlah bahwa engkau pasti dibalas
[Sabda rasullullah SAW; HR Hakim, Thabrani]
Atmonadi, [email protected]
Lebak Bulus, 27 November 2004
Namaku Izrail!______________________________________________________97
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Referensi :
1. Al Qur’an Terjemahan Departemen Agama, 1984
2. Al Qur’an Terjemah Indonesia, PT Sari Agung, Cetakan ke-13, 1999
3. HB Yassin, “Al Qur’an Bacaan Mulia”, Yalco Jaya, Cetakan ke-4, 2002
4. Choiruddin Hadhiri SP, “Klasifikasi Kandungan Al Qur’an”, Gema Insani Press,
1999
5. Syaikh Hamami Zadah, “Menyelami Lubuk Al Qur’an: Tafsir Surah Yasiin”,
Penerbit IIMAN & Penerbit Hikmah, Februari 2003.
6. M. Quraish Shihab, “Tafsir Al Mishbah”, Jilid 1 & 11, Lentera Hati, 2003
7. Imam Az-Zabidi, “Ringkasan Shahih Al-Bukhari”, Mizan, Cetakan ke-4, 2000
8. Rachmat Taufik Hidayat et al, ”Almanak Alam Islami”, Pustaka Jaya, 2000
9. Faruq Sherif, “Al Quran Menurut Al; Quran”, Serambi, November, 2001
10. Imam Jalaludin as-Suyuthi, “Menjelajah Alam Malaikat”, Pustaka Hidayah,
Januari 2003
11. Al Ghazali, “Metode Menjemput Maut”, Mizan, 2001
12. Ahmad Barizi, “Malaikat Diantara Kita”, Hikmah, Januari 2004
13. Khawaja Muhammad Islam, “Mati Itu Spektakuler”, Serambi, April, 2001
14. Al-Harits bin Assad al-Muhasibi, “Menuju Hadirat Ilahi”, Al bayan-Mizan, 2003
15. Al-Harits bin Assad al-Muhasibi, “Menjelajah Alam Akhirat”, Arasy-Mizan, Mei,
2003
16. Ibnu Qayyim Al jauziyah,”Roh”, Pustaka Al Kautsar, 1999
17. Ibnu Rajab Al Hanbali, “Setahun Bersama Nabi”, Pustaka Hidayah, 2002
18. Yunasril Ali, “Ruh dan Jenjang-jenjang Ruhani”, Serambi, 2003
19. Salim Said Bawazier, “Memahami Hakikat Takdir”, Iqra Insan Press, 2003
20. M. Quraish Shihab, “Yang Tersembunyi : Jin, Iblis, Setan dan Malaikat”,
Lentera Hati, 1999
21. Atmonadi, “Kun fa Yakuun: Mengenal Diri, Mengenal Ilahi”, Kunfayakuun
Publishing, e-Book Release 3, Oktober, 2004
22. Ibnu Arabi, “Menghampiri Sang Mahakudus”, Mizan, Maret 2002
23. Fariduddin Al-Attar, “Warisan Para Awliya”, Penerbit Pustaka, Cetakan ke III,
2000 M
Namaku Izrail!______________________________________________________98
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Riwayat Hidup Penulis
Atmonadi, sehari-hari biasa dipanggil “Atmo” atau nickname di Internet “Atmoon”, di
situs myquran memperkenalkan diri sebagai "myQadmin" karena memang yang
membuat dan menggagasnya pada pertengahan 1999. Dilahirkan kurang lebih 4
dasawarsa yang lalu di sebuah kota yang dulu dikenal sebagai Kota Udang, pada
tanggal sebelas bulan lima di tahun yang kemudian menjadi tahun duka cita bagi
Bangsa Indonesia, tahun dimana disebut oleh seorang sineas asing menjadi “The
Years Living Dangerously”, 1965. Saat ini, berprofesi sebagai konsultan Teknologi
Informasi dan Internet independen.
Dalam segmen-segmen kehidupan yang dilalui, menulis memang bukan sesuatu yang
asing. Pengalaman menulis yang intensif sebenarnya terjadi selama periode menjadi
mahasiswa pada sekitar tahun 1988 sampai 1992, sebagai penulis lepas untuk bidang
teknologi penerbangan dan militer. Selama periode tersebut, tulisan yang dibuat
umumnya berhubungan dengan desain pesawat udara penumpang, pesawat tempur
siluman, pesawat mata-mata tanpa awak, sistem radar, telekomunikasi, dan sistem
persenjataan yang dimuat di rubrik iptek pada beberapa harian nasional seperti
Kompas, Bisnis Indonesia, Pikiran Rakyat, majalah Teknologi, dan majalah Teknologi
& Strategi Militer (TSM). Dalam urusan tulis menulis, pernah mendapatkan
penghargaan karya tulis dari PT Telkom Indonesia dengan judul “Menuju Perusahaan
Adaptif Menjadi Urat Nadi Globalisasi” (1990). Kemudian, bersama salah satu rekan
kuliahnya, menulis artikel iptek populer dan tulisannya meraih penghargaan karya tulis
populer Ristek (1991) yang membahas masalah pesawat N-250. Setelah bosan
menjadi mahasiswa, ia menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar kesarjanaan dari
jurusan Teknik Aeronautika ITB (1992); setengah tahun kemudian (1993) bekerja di
Sempati Air sebagai Engineer; tiga tahun kemudian (1995) ia memutuskan beralih
profesi menjadi software development supervisor di perusahaan yang sama.
Tahun 1996 internet mulai marak di Tanah Air. Terpesona dengan kemampuan
hyperlink jejaring global tersebut, iapun memutuskan mengundurkan diri dari Sempati
Air dan bekerja sebagai web developer di sebuah perusahaan yang dibangun oleh
kenalannya di Internet yaitu Bubu Internet. Akhir dasawarsa sembilan puluhan,
Namaku Izrail!______________________________________________________99
Atmonadi_______________________________________________Namaku Izrail!
Internet semakin populer dan bisnis dot.com booming, komunitas gaul di internet
bermunculan, namun sayangnya belum ada komunitas gaul yang khusus untuk
remaja Islam, maka ia pun nekat membangun Komunitas Islam Online myQuran.com
(1999, http://www.myquran.com) dan kemudian setidaknya mampu menggugah
banyak orang bahwa Umat Islam perlu memanfaatkan Internet baik untuk tujuan
pergaulan maupun dakwah. Setelah beberapa tahun mengelola situs independen
myQuran, dibantu dengan pengunjung yang rajin menulis artikel, puisi ataupun
sekedar numpang nulis, iapun kemudian menjadi tidak terlalu aktif mengelola myquran
karena kesibukkannya. Sebagai gantinya, pengelolaan myQuran diserahkan ke salah
satu anggota dan fans beratnya Hasanudin.
Pada tahun 2000 ia mengundurkan diri dari Bubu Internet dan bekerja di beberapa
proyek perusahaan sebagai Technology Advisor, menjadi nara sumber tetap di radio
MSTRI FM Jakarta (2000-2002), radio Ramako Jakarta, dan Metro TV untuk acara
yang berhubungan dengan teknologi informasi dan internet. Akhir tahun 2001 kembali
bekerja di Bubu untuk menangani Production & Development, kemudian
mengundurkan diri pada akhir tahun 2003 dan awal 2004 mendirikan Getwo Advanced
sebuah biro konsultan teknologi informasi, internet dan multimedia.
Sejak akhir tahun 2002 sampai sekarang ikut aktif dalam majelis pengajian tasawuf
Al-Hikam tarekat Syadziliyah Jakarta dengan ustad Bapak M. Luqman Hakiem dan
Guru mursyid almarhum Syeik KH Abdul Djalil Mustaqiim dan Syeikh Hadlir
Shalahuddin Al Ayyubi Pengasuh Pondok Pesatren Thariqot Agung (Peta)
Tulungagung Jawa Timur. Dalam perjalanannya kemudian menulis risalah "Kun Fa
Yakuun" sebagai sebuah perenungan panjang tentang diri, perjalanan kehidupan,
alam semesta, dan Penciptanya. Risalah “Kun!” kemudian menjadi sebuah Risalah
Mawas Diri bagi seorang hamba dan juga sebuah risalah yang dimaksudkan untuk
semua Umat Islam (tentunya bagi yang mau membacanya), khususnya yang menjadi
bagian dari Bangsa Indonesia yang memang masih perlu banyak belajar dan
istiqamah (konsisten dan teguh) di jalan yang lurus, atau Shiraat al-Mustaqiim, agar
tidak mudah “Digoda” oleh goyangan ke kiri dan ke kanan yang memabukkan, yang
dapat menyelewengkannya dari jalan lurus yang di ridhai Ilahi. Setelah itu
tulisan-tulisan lainnya meluncur begitu saja yang baru berani didistribusikan kepada
teman-temannya saja karena berbagai masalah yang dibahas terhitung sangat pelik.
Namaku Izrail!______________________________________________________100