NUANSA PENDIDIKAN 2020
KATA PENGANTAR
Pembaca Yth.
Tidak terasa jurnal ilmiah Nuansa Pendidikan LPMP Lampung yang berperan sebagai media
informasi dan wahana publikasi ilmiah bagi pendidik dan tenaga kependidikan di provinsi
Lampung khususnya, telah berkiprah selama kurang lebih tujuh belas tahun. Kami amat
bersyukur bahwa upaya kami untuk mensosialisasikan berbagai informasi, kebijakan, maupun
program-program pemerintah di bidang pendidikan mendapat sambutan hangat khususnya
dari kalangan pendidik dan tenaga kependidikan. Demikian pula dalam penerbitan jurnal
ilmiah, ditengah kondisi kurangnya minat dan motivasi pendidik dan tenaga kependidikan di
provinsi Lampung pada umumnya dalam melakukan penelitian dan menyusun karya tulis
ilmiah, sepanjang tahun kami masih menerima karya-karya tulis dari kalangan pendidik dan
tenaga kependidikan untuk dipublikasikan dalam jurnal kami.
Dengan segala keterbatasan yang ada, kami berupaya untuk hadir sebagai media informasi
dan wahana ilmiah yang berkualitas bagi kalangan pendidikan di provinsi Lampung dan
masyarakat luas pada umumnya. Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak sekali
kekurangan pada tiap-tiap edisi penerbitan kami. Oleh karena itu, saran dan kritik yang
membangun senantiasa kami harapkan dari para pembaca sekalian demi perbaikan dan
peningkatan kualitas penerbitan kami di waktu-waktu mendatang.
Akhirnya, atas nama Tim Redaksi Jurnal Ilmiah dan Majalah Nuansa Pendidikan, serta
keluarga besar LPMP Lampung, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam penerbitan jurnal
maupun majalah ini. Semoga sambutan hangat dari kalangan pendidikan khususnya dan
masyarakat luas pada umumnya dapat menjadi dorongan motivasi yang lebih kuat bagi Tim
Redaksi Nuansa Pendidikan LPMP Lampung untuk bekerja lebih giat dalam manghadirkan
Majalah dan Jurnal Ilmiah yang lebih berkualitas dan bermanfaat.
Bandar Lampung, November 2020
~Kepala LPMP Lampung~
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 1
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
TIM REDAKSI
JURNAL/MAJALAH NUANSA LPMP LAMPUNG
Pembina/Penanggung Jawab
Drs. Hi. Zukirman, M.M.
Pimpinan Redaksi
Mahmud Akrom
Penyunting/Editor
Dr. Rinderiyana, M.Pd.
Hardian Ashari, M.Pd.
Fawziana RM, M.Psi.
Syahrul Fatriansah, S.Sos. M.Pd.
Layout dan Fotografer
Sapto Edi Susetyo, S.S., M.Pd.
Desain dan Produksi
Deni Herpan, S.Kom. M.M.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 2
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Halaman
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI MATERI DINAMIKA KEPENDUDUKAN DI 4
INDONESIA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEAMS GAMES
TOURNAMENT (TGT) MEDIA TEKA-TEKI SILANG PADA SISWA KELAS XI IPS 3
SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2019/2020………………………………………………………………………………
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR PKn MELALUI METODE 14
PEMBERIAN TUGAS PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 RAJABASA BANDAR
LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2019/2020……………………………………………………………………………….
PENINGKATAN KINERJA GURU DALAM MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS
DI SMA NEGERI 1 KATIBUNG SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2017/2018……………………………. 23
IMPLEMENTASI PROGRAM BELAJAR DARI RUMAH (BDR) DI MASA PANDEMI COVID-19
STUDI PADA MADRASAH TSANAWIYAH DI KABUPATEN WAY KANAN TAHUN
PELAJARAN 2020/2021…………………………………………………………………………………………………………………… 33
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL 43
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA
KELAS XII IPA SEMESTER GANJIL SMA NEGERI 1 NATAR TAHUN PELAJARAN 2019-2020….
PENGGUNAAN MEDIA REALIA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
BENTUK DAN WUJUD BENDA PADA SISWA KELAS II SD NEGERI 59 GEDONG TATAAN
KABUPATEN PESAWARAN TAHUN PELAJARAN 2017/2018……………………………………
56
MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MENGEMBANGKAN BAHAN AJAR MELALUI 67
KEGIATAN KKG DI SD NEGERI 35 GEDONGTATAAN KABUPATEN PESAWARAN TAHUN
PELAJARAN 2018/2019…………………………………………………………………………………………………………………….
PENERAPAN METODE PARTISIPATORI MELALUI PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR
UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X-2 SMA NEGERI
1 NATAR TAHUN PELAJARAN 2011/2012………………………………………………………………………..
77
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MATERI HUKUM
NEWTON II UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
KELAS X IPA-2 SEMESTER GENAP SMAN 1 NATAR TAHUN PELAJARAN 2017/2018…………….. 90
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 3
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI MATERI
DINAMIKA KEPENDUDUKAN DI INDONESIA DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEAMS GAMES TOURNAMENT
(TGT) MEDIA TEKA-TEKI SILANG PADA SISWA KELAS XI IPS 3
SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2019/2020
Hari Sahida
SMA Negeri 1 Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPS 3
SMAN 1 Blambangan Umpu pada pembelajaran geografi melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) menggunakan media teka-teki silang (TTS).
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam dua
siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 3 SMAN 1 Blambangan Umpu pada semester 2
tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa 34 orang yang terdiri atas 14 siswa laki-laki dan
20 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi dan
tes. Uji validitas data menggunakan teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber data, metode, dan
teori. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif sedangkan prosedur penelitiannya
menggunakan model spiral. Hasil penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa model pembelajaran
Teams Games Tournament dengan media teka-teki silang dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa kelas kelas XI IPS 3 SMAN 1 Blambangan Umpu Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.
Kata Kunci : aktivitas, prestasi belajar, TGT, teka-teki silang.
A. PENDAHULUAN
Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam melaksanakan
pendidikan di sekolah. Dalam proses pembelajaran, komponen utama adalah guru dan siswa. Agar
proses pembelajaran berhasil, guru harus membimbing siswa. Oleh karena itu diperlukan suatu
metode pembelajaran yang tepat, karena metode pembelajaran merupakan sarana interaksi
antara guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Penggunaan metode yang kurang tepat
dapat menimbulkan kebosanan, kurang dipahami dan monoton, sehingga siswa tidak teraktivitas
untuk belajar.
Keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh peserta
didik. Hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik yang dapat diukur dari nilai siswa
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 4
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
setelah mengerjakan soal yang diberikan oleh guru pada saat evaluasi dilaksanakan. Keberhasilan
siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun dari luar individu.
Ada dua faktor yang mempengaruhi belajar siswa, yaitu: (1) Faktor internal, merupakan faktor
didalam diri siswa yang meliputi faktor fisik, misalnya kesehatan, (2) Faktor eksternal, merupakan
faktor yang ada di luar diri siswa, misalnya keluarga, masyarakat, sekolah dan lain lain. Herman
Hudoyo (2003:6-7) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa
dalam belajar adalah sebagai berikut (1) Peserta didik, meliputi kemampuan, kesiapan, minat,
aktivitas, serta kondisi siswa saat mengikuti kegiatan belajar. (2) Pengajar, meliputi pengalaman,
kepribadian, penguasaan materi dan cara penyampaian yang diberikan guru. (3) Prasarana dan
sarana meliputi ruangan, alat bantu belajar, buku tulis dan sumber belajar yang membantu
kelancaraan proses belajar-mengajar. (4) Penilaian digunakan untuk melihat hasil belajar siswa
sehingga diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar dan memperbaiki hasil belajar
selanjutnya.
Keterbatasan media dan anggapan mata pelajaran georgrafi kurang menarik dirasakan guru
menjadi kendala, sehingga guru kurang maksimal dalam menyampaikan materi karena itu guru
lebih memilih menggunakan metode yang mudah seperti ceramah dan diskusi. Guru mengalami
kesulitan dalam menumbuhkan semangat belajar siswa serta menyampaikan materi kepada siswa,
kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara guru dan siswa sehingga apa yang disampaikan
guru pada siswa tidak tepat sasaran. Kegiatan pembelajaran berupa penyampaian materi dengan
menggunakan skala sederhana dengan metode ceramah saja dan tanpa kegiatan aktif bagi siswa,
sehingga membosankan dan siswa sulit menyerap materi. Siswa yang kurang aktif dalam
pembelajaran seperti ketidakberanian dalam mengungkapkan ketidakpahaman materi melalui
pertanyaan akan semakin menyulitkan guru untuk membuat mereka paham akan materi
khususnya dinamika kependudukan di Indonesia dengan menggunakan skala sederhana tersebut.
Rendahnya minat siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran geografi dan rendahnya
pemahaman siswa terhadap konsep materi yang diajarkan, berdampak dengan rendahnya hasil
belajar siswa pada mata pelajaran geografi. Siswa belum mampu memenuhi batas kriteria
ketuntasan minimal (KKM).
Pencapaian nilai ulangan formatif mata pelajaran Geografi pada siswa di SMAN 1 Blambangan
Umpu khususnya siswa XI IPS 3 yang masih rendah. Data pra siklus pada mata pelajaran Geografi
di kelas XI IPS 3, hanya lima (5) siswa atau 14,71% memperoleh nilai mata pelajaran Geografi yang
memenuhi kriteria ketuntasan minimum (KKM)= 65 pada materi dinamika kependudukan di
Indonesia dengan dari jumlah siswa secara keseluruhan sebanyak 34 siswa.
Berdasarkan fakta yang terjadi di kelas tersebut maka peneliti berinisiatif untuk menerapkan
metode pembelajaran yang lebih menyenangkan dengan diberi unsur permainan, sehingga
diharapkan siswa XI IPS 3 lebih teraktivitas dengan begitu hasil belajarnya dapat memenuhi KKM.
Peneliti bersama teman sejawat/observer berinisiatif menetapkan alternatif tindakan untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran Geografi yaitu dengan menerapkan model pembelajaran
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 5
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
kooperatif Team Game Tournament (TGT) dengan media teka-teki silang pada pada saat
pembelajaran Geografi. Model pembelajaran Kooperatif Team Game Tournament adalah salah
satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas
seluruh siswa tanpa ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, dan
mengandung unsur permainan dan reinforcement (Hamdani, 2011:92).
Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi
guru. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, prestasi belajar merupakan saat terselesikannya bahan
pelajaran (Dimyati&Mudjiono, 1999:250). Tingkat perkembangan tersebut dapat diartikan
terjadinya peningkatan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Pengukuran prestasi
belajar dapat dilakukan dengan tes atau evaluasi. Sudjana (2009:22) mengemukakan bahwa
”Prestasi belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya”.
Berdasarkan teori Taxonomy Bloom (Darsono. Max, Sugandhi, Martensi, Rusda&Nugroho,
2000:32) belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan individu secara keseluruhan, baik fisik
maupun psikis, untuk mencapai suatu tujuan, dan dalam mencapai tujuan tersebut tiap orang
mengalami perubahan dalam dirinya.
Pembelajaran Kooperatif Team Games Tournament (TGT)
Menurut Nurulhayati (dalam Rusman 2011:203) Pembelajaran kooperatif adalah sterategi
pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil untuk saling berinteraksi.
Menurut Slavin (dalam Rusman 2011:205) bahwa : (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial,
menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif
dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan
mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.
Pembelajaran Teams Games Tournament adalah salah satu tipe atau model pembelajaran
kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan
status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan
reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran Teams
Games Tournament memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan
tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Dalam model
pembelajaran Teams Games Tournament, permainan tidak berupa kuis melainkan turnamen
mingguan, dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk
menyumbangkan poin bagi skor timnya. Pembelajaran model Teams Games Tournament akan
memanfaatkan game atau permainan akademik yang dimainkan dalam suatu turnamen. Dalam
turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja
akademik mereka.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 6
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT ini kelas terbagi dalam kelompok-kelompok kecil
yang beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis
kelamin, dan latar belakang etniknya, kemudian siswa akan bekerjasama dalam kelompok-
kelompok kecilnya. Dalam turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim
lain yang setara dalam kinerja akademik mereka.
Menurut Suarjana (dalam Istiqomah 2006), kelebihan model pembelajaran Teams Games
Tournament yaitu: 1) adanya turnamen akan membuat aktivitas belajar siswa lebih tinggi karena
model pembelajaran yang berupa permainan memang lebih menarik bagi siswa; 2) guru akan lebih
mudah menguasai kelas secara menyeluruh karena guru sebagai fasilitator pada saat turnamen
berlangsung; 3) proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan siswa, adanya turnamen
dapat meningkatkan keaktifan siswa di kelas karena siswa akan berlomba-lomba untuk menjadi
yang terbaik; 4) mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain; 5) TGT
meningkatkan kerjasama dengan teman yang lain, dengan adanya tim yang mempunyai tingkat
kemampuan berbeda-beda memungkinkan siswa yang lebih pandai akan membantu siswa yang
kurang pada saat memahami materi; 6) semua siswa berpartisipasi penuh pada saat proses belajar
mengajar berlangsung.
Media Teka-Teki Silang
Menurut Rinaldi Munir (2005:18), Permainan teka-teki silang atau cross word puzzle adalah suatu
permainan dimana kita harus mengisi ruang-ruang kosong berbentuk kotak-kotak dengan huruf-
huruf yang membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Petunjuk permainan
biasanya dibagi kedalam kategori mendatar dan menurun tergantung arah kata yang harus diisi.
Permainan ini dapat disisipkan pada saat tahap turnamen. Permainan teka-teki silang dapat
digunakan sebagai variasi dalam model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament
karena dapat menumbuhkan rasa kebersamaan siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Hal
ini sesuai dengan kelebihan dari model pembelajaran Teams Games Tournament yaitu dapat
meningkatkan kerjasama dengan teman yang lain.
Permainan teka-teki silang diterapkan pada pembelajaran geografi, maka akan terasa lebih
menyenangkan bagi peserta didik sehingga anak akan teraktivitas untuk mengikuti kegiatan
pembelajaran dengan baik sehingga hasil belajar dan aktivitas belajar siswa, serta keterampilan
guru meningkat. Model pembelajaran Team Game Tournament dengan media permainan teka-
teki silang dinilai sangat efektif untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran IPS materi dinamika
kependudukan di Indonesia, karena melalui model pembelajaran tersebut siswa dituntut untuk
bekerja secara berkelompok (team) untuk memahami materi yang diajarkan dan adanya
permainan yang berupa turnamen. Dengan adanya turnamen (gametournament) akan
menimbulkan persaingan sehingga aktivitas belajar siswa dapat meningkat. Sedangkan variasi
permainan teka-teki silang dalam model pembelajaran Teams Games Tournament bertujuan
untuk mengasah kemampuananak berfikir cepat dalam memahami materi-materi dalam
pembelajaran Geografi, melatih konsentrasi para siswa, mengusir kebosanan dan merupakan jenis
permainan yang tepat untuk mengingatkan kembali terhadap materi pelajaran yang telah
diajarkan.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 7
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena bertujuan untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan
masalah pembelajaran di sekolah (Muslich, 2010). Dalam penelitian tindakan kelas terdapat
langkah-langkah kegiatan seperti: a) perencanaan atau planning; b) tindakan atau acting; c)
pengamatan atau observing; dan d) refleksi ataureflecting. (Arikunto, 2010).
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini merupakan suatu penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di kelas XI IPS 3
SMAN 1 Bambangan Umpu pada semester dua tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian tindakan
kelas ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu dari bulan Januari 2020 sampai dengan bulan Maret
2020. Tahapan pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan kelas terlampir pada bagian lampiran 2
tentang Jurnal Kegiatan Penelitian.
Subjek Penelitian
Kelas yang dikenai tindakan dalam penelitian ini adalah kelas XI IPS 3 SMAN 1 Blambangan Umpu
pada semester 2 tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa 34 orang yang terdiri atas 14
siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah
teknik tes dan non tes yang meliputi observasi dan dokumentasi. Teknik tes dalam penelitian ini
digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi belajar. Tes diberikan
kepada siswa secara individu untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa. Tes ini dilaksanakan
setiap siklusnya.
Observasi dalam penelitian ini berisi catatan yang menggambarkan bagaimana keterampilan guru
dan aktivitas siswa dalam pembelajaran geografi melalui model pembelajaran Kooperatif tipe
Teams Games Tournament dengan media teka-teki silang di kelas XI IPS-3 SMAN 1 Blambangan
Umpu.
Dokumentasi dilakukan untuk memperkuat data yang diperoleh dalam observasi. Dokumen yang
digunakan dalam penelitian ini berupa daftar kelompok siswa dan daftar nilai siswa. Untuk
memberikan gambaran secara konkret mengenai kegiatan kelompok siswa dan menggambarkan
suasana kelas ketika aktivitas belajar berlangsung digunakan dokumen berupa foto.
Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kuantitatif dan teknik analisis data
kualitatif. Analisis data yang berkaitan dengan hasil belajar siswa dalam pembelajaran, dalam
penelitian ini menggunakan teknik penskoran dimana setiap jawaban benar diberi skor satu
(tergantung dari bobot butir soal) dan setiap jawaban salah diberi skor nol sehingga jumlah skor
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 8
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
yang diperoleh siswa adalah dengan menghitung banyaknya butir soal yang dijawab benar yaitu
dengan menggunakan rumus dalam (Poerwanti, 2010:63)
Data kuantitatif berupa hasil belajar yang mengukur tingkat kognitif siswa dianalisis dengan teknik
analisis dekriptif yaitu menentukan presentasi ketuntasan belajar dan nilai rata-rata kelas.
Penyajian data kuantitatif dalam bentuk persentasi dan angka.
Indikator Keberhasilan
Indikator kinerja yang ditetapkan oleh pelaksana tindakan (peneliti) mengacu pada kurikulum yang
berlaku. Dengan demikian, maka indikator kinerja yang ditetapkan adalah sebagai berikut:
1. Proses pelaksanaan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila minimal 85% dari keseluruhan
siswa tuntas belajarnya dengan KKM 65
2. Pelaksanaan proses pembelajaran dengan model TGT mencapai kategori Baik
C. HASIL PENELITIAN
Kondisi Awal
Observasi pra siklus dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui jalannya pembelajaran dan
kondisi siswa selama pembelajaran geografi pada materi dinamika kependudukan di Indonesia
tersebut berlangsung. Berdasarkan hasil observasi pada kegiatan prasiklus pembelajaran geografi
kelas XI IPS 3 SMAN 1 Blambangan Umpu dapat diketahui memiliki permasalahan dan kendala-
kendala. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya siswa kelas XI IPS 3 yang belum mencapai standar
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65 untuk mata pelajaran geografi pada materi dinamika
kependudukan di Indonesia. Nilai ulangan formatif yang dilakukan mendapat rata-rata yang
rendah.
Data menunjukan bahwa dari 34 orang siswa yang dikenai tindakan 5 orang siswa (14,71%)
memperoleh nilai 65 ke atas, sedangkan 29 orang siswa (85,29%) memperoleh nilai di bawah 65.
Nilai rata-rata kelas sebesar 50,00. Artinya prestasi belajar siswa belum mencapai target seperti
pada indikator yang diharapkan yaitu 85% dinyatakan tuntas belajarnya atau mendapat nilai
minimal sama dengan KKM=65.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran juga dipengaruhi oleh aktivitas guru dalam melaksanakan
proses pembelajaran. Sehingga selain melakukan pengamatan terhadap siswa, peneliti juga
melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru di kelas. Guru telah berusaha menciptakan
suasana pelajaran yang kondusif. Hal ini terlihat adanya peningkatan peran guru pada setiap
pertemuan, bahkan pada pertemuan 3 dan 4 peran guru dalam kelas dapat dikatakan sempurna.
Hanya saja pada pertemuan 1 sampai 2 ada aktivitas guru yang belum muncul (belum dilakukan).
Hal ini terjadi karena guru baru pertama kali sehingga masih ada yang lupa. Selain itu aktivitas
guru memberi kesimpulan tidak mencukupi.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 9
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Siswa mempelajari sendiri materi pelajaran dengan metode pemecahan masalah dalam kelompok
masing-masing. Tujuannya agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar sendiri tanpa diberikan
terlebih dahulu oleh guru, disini guru hanya mengarahkan dan membimbing saja. Siklus II metode
yang digunakan model pembelajaran kooperatif metode TGT dengan media teka-teki silang dan
dipadukan dengan ceramah dan tanya jawab, sehingga hasilnya mengalami peningkatan
dibandingkan dengan siklus-siklus sebelumnya.
Hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif metode TGT dengan media teka-teki silang untuk meningkatkan
pengelolaan, aktivitas guru dan hasil belajar siswa serta prestasi belajar geografi pada siswa kelas
XI IPS 3 SMAN 1 Blambangan Umpu telah berhasil. Hal ini dapat dibuktikan dengan perolehan
nilai rata-rata pada setiap siklus, yaitu kondisi awal sebesar 50,00 menjadi 64,12, dan 74,41 pada
siklus kedua, serta peningkatan ketuntasan belajar dari 14,71% atau 5 siswa menjadi 52,94%
atau 18 siswa pada siklus kedua dan 88,24% atau 30 siswa pada siklus terakhir.
Penggunaan model pembelajaran teams games tournament (TGT) dalam proses pembelajaran ini
sangat efektif karena pada saat proses belajar mengajar siswa dapat aktif dalam pembelajarannya.
Hasil belajar meningkat dengan waktu yang sedikit. Siswa dapat menguasi materi yang sedang
dipelajari, melatih siswa untuk dapat bersosialisasi dengan temannya karena dalam model
pembelajaran ini pembentukan kelompoknya yang bersifat heterogen.
Sesuai menurut Slavin (2009 : 170) mengemukakan dalam teorinya bahwa model pembelajaran
teams games tournament (TGT) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat
membantu siswa dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Model pembelajaran ini
siswa mempunyai peluang untuk berkompetisi secara sehat dengan siswa lain, sehingga dapat
mengasah pengetahuan yang dimiliki.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, terlihat bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar siswa
dan aktivitas guru, dalam pembelajaran geografi dengan model Teams Games Tournament dengan
media teka-teki silang dikelas XI IPS 3 SMAN 1 Blambangan UMPU, dalam penelitian ini juga
terdapat implikasi hasil penelitian yang dilakukan yaitu implikasi teoritis, imlikasi praktis, dan
implikasi pedagogis. Implikasi teoritis dari penelitian ini adalah adanya keterkaitan antara hasil
penelitian dengan teori pendukung yang digunakan peneliti.
Selain itu, melalui penelitian ini juga menjadi salah satu alternative baru yaitu dengan
menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament dengan media teka-teki silang
dalam memperbaiki kualitas pembelajaran agar lebih optimal. Implikasi praktis dari penelitian ini
yaitu menunjukkan adanya peningkatan kualitas pembelajaran yang ditunjukkan dengan
meningkatnya keterampilan guru, dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran geografi dengan
menggunakan model Teams games Tournament dengan media teka teki silang. Peningkatan
keterampilan guru dalam menerapkan model pembelajaran Teams Games Tournament dengan
media teka-teki silang terlihat pada saat guru mengelola kelas pada saat games tournament
dengan menggunakan media teka-teki silang. Selain itu, dengan menggunakan model Teams
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 10
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Games Tournament dengan media teka-teki silang juga dapat meningkatkan keaktivitas siswa
dalam pembelajaran, terutama saat pelaksanaan games tournament. Pada saat dilangsungkan
games tournament teka-teki silang, seluruh siswa antusias untuk berebut menjawab soal yang
diajukan guru untuk memperoleh skor bagi kelompoknya masing-masing. Secara tidak langsung,
hal ini membuat siswa menjadi tertarik dan lebih mudah mempelajari materi yang disampaikan,
sehingga prestasi belajar siswapun meningkat. Implikasi pedagogis dari penelitian ini yaitu
memberikan gambaran yang jelas tentang keberhasilan pembelajaran geografi dengan
menggunakan model Teams Games Tournament dengan media teka-teki silang pada siswa kelas XI
IPS 3 SMAN 1 Blambangan Umpu.
Keberhasilan pembelajaran ini meliputi meningkatnya keterampilan guru yang berpengaruh pada
meningkatnya aktivitas siswa pada saat pembelajaran. Ketika guru dapat mengoptimalkan
pembelajaran pada setiap kegiatan pembelajaran, maka secara otomatis siswa akan lebih tertarik
dalam mengikuti pembelajaran. Dengan begitu, akan berdampak langsung pada prestasi belajar,
peningkatan aktivitas siswa akan berpengaruh pada tingkat pemahaman siswa terhadap suatu
materi menjadi lebih baik. Jika pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran menjadi lebih
baik, maka prestasi belajar mereka juga akan meningkat. Dapat disimpulkan bahwa melalui
metode pembelajaran Teams Games Tournament dengan media teka-teki silang efektif diterapkan
dalam pembelajaran geografi karena terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang
meliputi keterampilan guru, aktivitas siswa dan prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan
hasil observasi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan prestasi belajar padasiklus I, siklus II telah
sesuai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan, maka penelitian ini dihentikan.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS 3 SMAN 1
Blambangan Umpu pada pembelajaran geografi materi dinamika kependudukan di Indonesia
dengan model pembelajaran Teams Games Tournament dengan media teka-teki silang dapat
disimpulkan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe TGT dengan media TTS dalam pembelajaran geografi di kelas XI IPS 3 SMAN 1
Blambangan Umpu dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Saran
Berdasarkan simpulan yang dibuat peneliti terhadap pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam
pembelajaran geografi dengan model Teams Games Tournament dengan media teka-teki silang
pada siswa kelas XI IPS 3 SMAN 1 Blambangan Umpu pada semester 2 tahun pelajaran 2019/2020,
peneliti memberikan saran sebagai berikut: Bagi Siswa, Keaktifan dan interaksi siswa pada saat
pembelajaran agar lebih ditingkatkan lagi, khususnya pada saat menggunakan model Teams
Games Tournament dengan media teka-teki silang pada mata pelajaran geografi dan model-model
pembelajaran inovatif di mata pelajaran lain pada umumnya. Dalam mengikuti pembelajaran
melalui TGT sebaiknya siswa bisa bekerjasama dengan temannya, aktif bertanya apabila ada
materi yang belum dipahami, ikut bekerja dalam kelompok, mau menyampaikan pendapatnya
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 11
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
saat diskusi, dan mengikuti dengan baik pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Bagi
Guru. Menciptakan suasana yang harmonis dan menyenangkan sehingga dapat memotivasi siswa
agar aktif dalam mengembangkan kemampuannya. Guru dapat menerapkan model pembelajaran
Teams games Tournament dengan media teka-teki silang sebagai salah satu alternatif untuk
meningkatkan kualitas mengajar guru dalam suatu pembelajaran,
khususnya pada pembelajaran geografi. Melakukan penelitian lanjutan dari penelitian ini dengan
aspek yang lain untuk mengembangkan kualitas pembelajaran.
Bagi sekolah, penelitian dengan model Teams Games Tournament dengan media
teka-teki silang dapat dikembangkan lebih lanjut disekolah dengan harapan kualitas pembelajaran
akan meningkat yang akan berdampak pada peningkatan kualitas atau mutu sekolah itu sendiri.
Kepada pihak Sekolah hendaknya memberikan semangat dan dukungan kepada guru untuk terus
mendukung pengembangan kualitas pembelajaran di dalam kelas dengan cara mengikut sertakan
guru dalam penelitian atas pemberian bimbingan terkait dengan kemajuan pembelajaran yang
saat ini sedang berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Zainal. 2010. Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi. Revisi). Jakarta : Rineka
Cipta
Darsono, Sugandhi, Martensi, Rusda, & Nugroho. 2000. Belajar dan
Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.
Dimyati, dan Mudjiono. 1999; Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta dan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka
Cipta.
Ghannoe, M. 2010. Asah Otak Anda Dengan Permaian Teka-Teki Yang Dirancang Khusus Untuk
Kecerdasan. Yogyakarta: Buku Biru
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Herrhyanto, Nar, H. M. Akib Hamid. 2008. Statistika Dasar. Jakarta: Universitas terbuka
Hudoyo,Herman. 2003. Pengembangan dan Pembelajaran. Universitas Negeri Malang. JICA
Isjoni. 2012. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Istiqomah. 2006. Pembelajaran Teams Game Tournaments. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Jamal Ma’mur Asmani. 2010. Sekolah Life Skill Lulus Siap kerja. Yogyakarta : Diva press
Munir, Rinaldi. 2005. Strategi Algoritmik. Teknik Informatika ITB : Bandung.
Nasution, S. 2002. ”Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar”. Bandung : PT. Bumi
Aksara.
Nunnally, J.C. 1978. Psychometric Theory. McGraw.
Nur, M dan Wikandari P.R. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis
dalam Pengajaran. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Press
Poerwanti, Endang, dkk. Assesmen Pembelajaran SD. 2010. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 12
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:
Rajawali.
Sardiman, Arief, dkk. 2011. Media Pendidikan. Jakarta: RajagrafindoPersada.
Sagala, Syaiful. 2011. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Slameto, 2003, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Slavin, E.Robert. Cooperative Learning. Translated by Yusron, Narulita. 2009. Bandung: Nusa
Media.
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar mengajar. Rosdakarya. Bandung.
Susilo, Herawati, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Bayumedia.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi
Pustaka.
Zaini, Hisyam dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 13
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR
PKn MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS
PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 RAJABASA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
Harmiyati
SD Negeri 2 Rajabasa, Bandar Lampung
Abstrak: Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar PKn pada
siswa kelas IV SDN 2 Rajabasa Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dilaksanakan menggunakan 3 siklus. Pengumpulan data pada penelitian ini
menggunakan pedoman observasi dan tes. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantatif. Hasil
analis data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa siklus I diperoleh 23%,
siklus II diperoleh 43%, dan siklus III diperoleh 86%. Peningkatan aktivitas siswa siklus I meningkat
23%, dan siklus III meningkat 44%. Prestasi belajar siswa siklus I meningkat 20%, siklus II
diperoleh 47%, dan siklus III diperoleh 87%. Peningkatan aktivitas siswa siklus I meningkat 20%,
siklus II diperoleh 43%, dan siklus III meningkatt 44% diperoleh 87%. Kesimpulan penelitian bahwa
pembelajaran menggunakan metode pemberian tugas dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi
belajar PKn siswa kelas IV SDN 2 Rajabasa TP 2019/2020 .
Kata Kunci: aktivitas, prestasi belajar, dan metode pemberian tugas
A. PENDAHULUAN
Penyelenggaraan pendidikan saat ini telah diberlakukan desentralisasi, pemerintah telah memberi
kebebasan kepada para penyelenggara pendidikan agar di lembaganya dapat mengatur sesuai
dengan karakteristik masing-masing. Dalam undang-undang RI No 20 Tahun 2003 (sistem
pendidikan nasional). Pemerintah telah menetapkan 8 Standar Nasional Pendidikan yaitu : standar
isi, standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar tenaga kependidikan, standar sarana
dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan penilaian.
Guru memegang peranan penting dalam upaya membentuk watak siswa sebagai generasi penerus
bangsa. Pembelajaran merupakan kegiatan formal yang dilakukan di sekolah. Kegiatan belajar
mengajar sebagai suatu interaksi antara siswa dan guru untuk mencapai tujuan.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 14
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Tujuan dari pembelajaran adalah menciptakan siswa yang cerdas spiritual, emosional, dan
intelektual. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran tersebut diperlukan metode yang tepat.
Salah satu indikator keberhasilan metode dapat dilihat pada prestasi belajar siswa dibandingkan
dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Pendidikan kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang berfokus pada pembentukan
watak siswa sebagai generasi muda. Siswa diharapkan mampu memahami, menghayati, dan
mengaktualisasikan hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang cerdas, terampil, dan
berkarakter sesuai amanat pancasila dan UUD 1945.
Pelajaran PKn juga berhubungan dengan kehidupan masyarakat tentang cara bersikap dengan
orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan kewarganegaraan diharapkan dapat
menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitar serta
prospek pengembangan lebih lanjut penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses
pembelajarannya menekan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan
kompetensi agar menjelajahi dan memahami tentang keadaan lingkungan sekitar. Namun
kenyataan di lapangan guru masih mengajar dengan konvensional yang monoton, penggunaan
alat peraga dalam proses pembelajaran yang masih kurang dan aktivitas guru lebih dominan
daripada siswa. Pelaksanaan pembelajaran masih menekankan pada tugas-tugas rutin dan hafalan
semata, Sehingga prestasi belajar siswa sangat rendah. Metode konvensional menghambat proses
pencapaian sasaran belajar PKn karena dalam pembelajaran diperlukan proses interaksi mengajar
yang baik antara guru dan siswa serta pemilihan pendekatan yang tepat dalam proses
pembelajaran PKn membutuhkan metode yang menekankan pada pemberian pengalaman
langsung untuk mengembangkan kompetensi secara optimal.
Metode pemberian tugas adalah suatu pembelajaran yang akan memberikan pengalaman
langsung kepada siswa. Pengalamann yang diperoleh siswa dapat memberikan kreatifitas bagi
siswa untuk dapat terus meningkatkan prestasi. Siswa diberikan tugas yang kompleks, sulit,
lengkap, tetapi realistis/autentik dan kemudian diberikan bantuan secukupnya agar mereka dapat
menyelesaikan tugas mereka bukan diajar sedikit demi sedikit komponen-komponen suatu tugas
kompleks yang padu suatu diharapkan akan terwujud menjadi suatu kemampuan untuk
menyelesaikan tugas kompleks tersebut. Prinsip ini digunakan untuk menunjang pemberian tugas
kompleks di kelas. Istilah situated learning digunakan untuk menggambarkan pembelajaran yang
terjadi di dalam kehidupan nyata, tugas-tugas outentik/asli yang sebenarnya. Tidak memandang
apakah suatu tugas harus dikerjakan sebagai pekerjaan kelas atau sebagai pekerjaan rumah.
Badan Standar Nasional/BSNP (2006:484), menjelaskan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi
Dasar (KD) PKn di SD merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh
peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan.
Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun
kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi guru. Di tingkat SD
diharapkan ada penekanan pembelajaran yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk
merancang bekerja ilmiah secara bijaksana.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 15
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Catatan dalam dokumen sekolah nilai mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.1 Nilai Ujian Tengah Semester PKn Siswa Kelas IV
No Nilai Kriteria Jumlah siswa Persentas
e
1 60 > 100 Tinggi 7 23 %
2 50 > 60 Sedang 8 27 %
3 ≤ 50 Rendah 15 50 %
Jumlah 30 100 %
Tabel 1.1 di atas menjelaskan tentang nilai rata-rata prestasi mata pelajaran PKn siswa kelas IV
SDN 2 Rajabasa pada ujian tengah semester tahun pelajaran 2019/2020 dari 30 siswa yang belum
mencapai ketuntasan adalah 23 siswa (77%) sedangkan seharusnya ketuntasan dicapai oleh ≥ 18
siswa (60%). Kondisi di atas menunjukkan bahwa prestasi belajar PKn siswa kelas IV rendah. Selain
prestasi belajar siswa dalam pelajaran PKn yang masih sangat rendah, metode yang digunakan
guru dalam proses pembelajaran masih bersifat konvensional dan penggunaan alat peraga dalam
proses pembelajaran masih kurang.
Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut, maka dalam penelitian ini penulis
mengambil judul “ Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar PKn melalui Metode Pemberian
Tugas Pada Siswa Kelas IV Semester 2 SDN 2 Rajabasa Kec. Rajabasa Bandar Lampung TP
2019/2020 ”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan prestasi belajar PKn
melalui metode pemberian tugas pada siswa kelas IV Semester 2, SD Negeri 2 Rajabasa
Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung TP 2019/2020 ”.
Pengertian Belajar
Ngalim Purwanto (1992) menyatakan belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam
tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalaman. Hal ini sejalan dengan
Slameto bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk mendapatkan
perubahan melalui pengalaman.
Prestasi Belajar
Prestasi adalah suatu hasil yang dicapai oleh seseorang setelah mengalami pembelajaran. Prestasi
akan menjadi baik jika siswa bersungguh-sungguh dalam pelaksanaan pembelajarannya dan
sebaliknya. Belajar adalah mempelajari sesuatu untuk mendapatkan ilmu dan perubahan tingkah
laku melalui berbagai pengalaman dan pembelajaran. Prestasi belajar berasal dari kata “Prestasi”
dan “Belajar” Prestasi berarti hasil yang telah dicapai (Depdikbud,1995:787) sedangkan pengertian
belajar adalah berusaha memperoleh pengetahuan atau ilmu (Depdikbud,1995:14). Jadi dapat
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 16
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
disimpulkan prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan
oleh guru.
Aktivitas Belajar
Menurut Abdurrahman (2006:34), menyatakan bahwa aktivitas belajar adalah seluruh kegiatan
siswa baik kegiatan jasmani maupun rohani yang mendukung keberhasilan belajar. Sedangkan arti
aktivitas menurut Munir Yusuf adalah suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam
menyelesaikan urusannya. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa aktivitas belajar adalah suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam
menyelesaikan urusannya baik kegiatan jasmani maupun rohani.
Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan ditetapkan atas dasar ketentuan yang tersirat dalam undang-undang
nomor 2 tahun 1989 pasal 39 ayat (1) Penjelasan pasal tersebut menyatakan “Pendidikan
kewarganegaraan mengarahkan perhatian pada model yang diharapkan dapat diwujudkannya
dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan nilai-nilai Pancasila”, Dirjen
Dikdasmen (1989:5). Pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya merupakan suatu pendidikan
untuk membekali peserta didik dengan kemampuan dan sikap serta pengetahuan dan
ketrampilan dasar agar dapat tumbuh menjadi pribadi, anggota masyarakat, dan warga Negara
yang dapat diandalkan oleh bangsa dan Negara dengan didasari nilai dan norma Pancasila. Sejalan
dengan pengertian itu, pendekatan kemampuan tanpa mengabaikan adanya pemahaman
terhadap konsep-konsep pengetahuannya.
Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas merupakan suatu metode mengajar yang diterapkan dalam proses
belajar mengajar. Roestiyah mengatakan dalam buku yang berjudul Startegi Belajar Mengajar hal
1996 :132, teknik pemberian tugas memiliki tujuan agar siswa menghasilkan prestasi belajar yang
lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga
pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu menjadi lebih terintegrasi. Metode pemberian
tugas diberikan dari guru kepada siswa untuk diselesaikan dan dipertanggung jawabkan. Prinsip ini
digunakan untuk menunjang pemberian tugas kompleks di kelas seperti proyek, simulasi,
penyelidikan masyarakat, menulis untuk disajikan kepada forum mendengar yang sesungguhnya
dan tugas-tugas autentik lainnya.
B. METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di
masyarakat yang bersangkutan (Arikunto, Suharsimi 2002:82). Ciri atau karakteristik utama dalam
penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota
kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah suatu strategi pemecahan masalah yang
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 17
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil
jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah.
Tempat dan Subyek Penelitian
Penelitian ini bertempat di SDN 2 Rajabasa Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung. Waktu
penelitian ini dilaksanakan pada bulan Pebruari sampai Maret Semester 2, TP 2019/2020. Subyek
penelitian ini adalah siswa-siswi kelas IV berjumlah 30 orang yang terdiri dari 10 orang siswa laki-
laki dan 20 orang siswa perempuan.
Instrumen Penelitian
Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah :
1. Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam
waktu tertentu.
2. Untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai.
3. Untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149).
Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individu
maupun secara klasikal. Di samping itu untuk mengetahui letak kesalahan yang dilakukan siswa,
sehingga dapat dilihat kelemahan pada bagian mana indikator yang belum tercapai. Untuk
memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode observasi (pengamatan) yang
dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam
proses belajar mengajar.
Teknik Analisis Data
Dalam rangka menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu
kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan maka digunakan analisis data kuantitatif. Cara
perhitungan ini untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar
sebagai berikut :
1. Merekapitulasi hasil tes
2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya
Dalam Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya bagi masing- masing siswa
dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk
teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal
65, dan dicapai oleh ≥ 65 % dari 30 siswa.
3. Menganalisis hasil observasi
yang dilakukan oleh teman sejawat pada aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar
mengajar berlangsung.
Indikator Keberhasilan PTK
Kriteria keberhasilan dalam PTK ini didasarkan kepada pencapaian peserta didik untuk
membangun kemampuan dan pengetahuan yang difasilitasi oleh guru, sehingga siswa dapat lebih
memahami pembelajaran PKn dengan menerapkan pembelajaran pemberian tugas di dalam
kehidupan sehari-hari. Di dalam penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil jika aktivitas
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 18
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
belajar siswa ≥ 75% dari 30 siswa, dan prestasi belajar siswa di sekolah telah mencapai KKM yaitu
65, dan dicapai oleh ≥ 75 % dari 30 siswa.
C. HASIL PENELITIAN
Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
Guru memegang peranan penting dalam pembelajaran di sekolah. Setiap siswa memiliki prilaku
yang berbeda-beda, maka seorang guru harus dapat memahami setiap karakter siswa agar prilaku
siwa tersebut dapat kita kendalikan. Dalam kelas ada siswa yang aktif ada juga yang pasif maka
seorang guru harus dapat membeirkan motivasi dan semangat bagi siswa dalam pembelajaran.
Guru harus dapat memilh dan menggunakan metode yang tepat pada siswa agar pembelajaran
menjadi menyenangkan.
Penulis menggunakan metode pemberian tugas pada siswa karena dengan menggunakan metode
ini dapat meningkatkan aktivitas siswa yaitu : Siswa yang pemalu menjadi pemberani untuk maju
ke depan mengerjakan tugas sekolah yang sudah dikerjakan di rumah, Siswa yang pasif menjadi
aktif, baik aktif bertanya, aktif menjawab, aktif mengeluarkan pendapat, dan aktif dalam
mengungkapkan pendapatnya, Siswa yang malas menjadi rajin mengerjakan tugas di rumah,
Pembelajaran menjadi menyenangkan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan III siklus, hasil analisis dari penelitian siklus I yaitu
aktivitas siswa adalah dari 30 siswa yang aktif dalam bertanya hanya 13 siswa atau 43%,
mengemukakan pendapat hanya 13 siswa atau 43% dan menjawab pertanyaan hanya 10 siswa
atau 33%. Rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 40%. Maka dapat disimpulkan bahwa pada siklus I
sebanyak 23% siswa yang aktif dan jumlah siswa yang tidak aktif sebanyak 77%. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas dalam beraktivitas.
Pada siklus ke II ada peningkatan yaitu aktivitas siswa adalah dari 30 siswa yang aktif dalam
bertanya hanya 21 siswa atau 70%, mengemukakan pendapat hanya 20 siswa atau 67% dan
menjawab pertanyaan hanya 20 siswa atau 67%. Rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 68%. Maka
dapat disimpulkan bahwa pada siklus II sebanyak 43% siswa yang aktif dan 57%. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa pada siklus kedua secara klasikal telah mengalami peningkatan namun belum
maksimal dan sesuai dengan KKM yang telah ditentukan.
Peneliti melakukan penelitian siklus ke III untuk ternyata banyak peningkatan yaitu aktivitas siswa
adalah dari 30 siswa yang aktif dalam bertanya sebanyak 28 siswa atau 93%, mengemukakan
pendapat 30 siswa atau 100% dan menjawab pertanyaan 28 siswa atau 93%. Rata-rata aktivitas
belajar siswa yaitu 95,5%. Maka dapat disimpulkan bahwa pada siklus III sebanyak 86% siswa yang
aktif dan 14% siswa yang tidak aktif. Hasil pada siklus ke III ini mengalami peningkatan lebih baik
dari siklus II. Adanya peningkatan aktivitas belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya
peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran pemberian tugas sehingga siswa
termotivasi untuk bersikap aktif dalam pembelajaran. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 19
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
bahwa metode pemberian tugas sangat memberikan pengaruh positif bagi pembelajaran siswa
pelajaran PKn.
Prestasi Siswa dalam Pembelajaran
Seorang guru pasti mengharapkan semua anak didiknya menjadi anak yang berprestasi dalam
segala bidang mata pelajaran. Guru harus dapat memilih dan menentukan metode serta alat
peraga yang akan diginakan sehingga mudah didapat dan digunakan oleh siswa. Dengan metode
dan alat peraga yang tepat maka pembelajaran menjadi menyenangkan bagi siswa. Dalam
penelitian ini penulis menggunakan metode pemberian tugas pada pelajaran PKn dengan materi
Desa dan Kelurahan.
Penelitian ini menggunakan III siklus, melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pembelajaran pemberian tugas memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar
siswa. Metode ini sangat baik bagi siswa karena memiliki berbagai kelebihan diantaranya : Hasil
pelajaran lebih tahan lama dan membekas dalam ingatan siswa. Siswa belajar dan
mengembangkan inisiatif dan sikap mandiri. Memberikan kebiasaan untuk disiplin dan giat belajar.
Dapat mempraktekkan hasil teori/konsep dalam kehidupan yang nyata/ masyarakat. Dapat
memperdalam pengetahuan siswa dalam spesialisasi tertentu. Dapat menumbuhkan kreatifitas
siswa, Dapat menjadikan siswa mandiri/
Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan 3 siklus, dengan menerapkan metode pemberian
tugas. Hasil analisis dari penelitian siklus I yaitu diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa
adalah 61 dan ketuntasan belajar mencapai 23% atau ada 7 siswa dari 30 siswa, dan 23 siswa
belum tuntas atau 77%. Hasil analisis dari penelitian siklus II yaitu nilai rata-rata prestasi belajar
siswa adalah 63,5 dengan ketuntasan belajar mencapai 47% atau ada 14 siswa dari 30 siswa, dan
16 siswa belum tuntas atau 53%. Dari hasil nilai rata-rata di atas menunjukkan bahwa adanya
peningkatan prestasi dari siklus yang sebelumnya, Namun hasil yang didapat belum mencapai
KKM sehingga masih perlu diadakan perbaikan pada siklus selanjutnya. Penulis kemudian
melakukan penelitian kembali dan hasil analisis dari penelitian siklus III yaitu nilai rata-rata
prestasi belajar siswa adalah 71 dengan ketuntasan belajar mencapai 87% atau ada 26 siswa dari
30 siswa, dan 4 siswa belum tuntas atau 13%. Hal ini menujukkan bahwa adanya peningkatan
prestasi dari siklus yang sebelumnya. Hasil yang didapat telah mencapai KKM sehingga penulis
tidak perlu mengadakan perbaikan pada siklus selanjutnya.
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pemberian
tugas sangat tepat digunakan dalam pembelajaran karena dapat meningkatkan aktivitas dan
prestasi belajar PKn pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 2 Rajabasa Kecamatan Rajabasa
Bandar Lampung TP 2019/2020 .
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 20
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan dari tujuan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang
terjadi di kelas, serta berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tigas siklus, hasil
seluruh pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pembelajaran
pendidikan dan kewarganegaraan dengan metode pemberian tugas dapat meningkatkan aktivitas
belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Rajabasa Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung TP 2019/2020 ,
yang ditunjukkan oleh siklus I yaitu sebanyak 23% siswa yang aktif , siklus ke II sebanyak 43% siswa
yang aktif dan siklus III sebanyak 86% siswa yang aktif. Pembelajaran pendidikan dan
kewarganegaraan dengan metode pemberian tugas dapat meningkatkan prestasi siswa kelas IV
SDN 2 Rajabasa Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung TP 2019/2020 , yang ditandai dengan
peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I tuntas 23%, siklus II tuntas
47% , dan siklus III 87%. Penerapan pembelajaran pemberian tugas mempunyai pengaruh positif,
yaitu dapat meningkatkan bertanya, mengemukakan pendapat, dan menjawab pertanyaan.
Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar
Kewarganegaraan lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka penulis
menyarakan kepada : Guru. Sebaiknya seorang guru dalam setiap pembelajaran harus senantiasa
menggunakan metode yang tepat agar menghasilkan prestasi yang baik. Sebaiknya seorang guru
harus meningkatkan kualitas keterampilan mengajar dengan menggunakan alat peraga dalam
pembelajaran, Sebaiknya seorang guru bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran.
Selanjutnya siswa, harus lebih aktif dalam pembelajaran PKn sehingga mendapatkan prestasi
belajar yang baik. Siswa harus memiliki motivasi dalam belajar PKn. Siswa harus terampil dalam
menggunakan alat peraga yang telah disediakan. Sebaiknya sekolah harus selalu meningkatkan
mutu pendidikan bagi pembelajaran. Sebagai informasi baru untuk ditindak lanjuti di SDN 2
Rajabasa Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 21
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman. 2006:34. Aktivitas. http.www.Google.com.(2 Oktober 2011)
Arikunto, Suharsimi, 2002:149. Instrumen Penelitian. Jakarta; Rikena Cipta
BNSP. 2006:484. http.www. Standar Kompetensi.com.(2 Oktober 2011)
Depdikbud. 1994:1. Fungsi PKn. http.www.Google.com. (4 Oktober 2011)
Dirjen Dikdasmen. 1989:5. Pegertian PKn. http.www.Google.com. (4 Oktober 2011)
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007. http.www.Copyright © 2008. Mitrapulsa.com
Munir, Yusuf. 2008.http.www. Aktivitas. Copyright © 2008. Mitrapulsa.com
Ngalim Purwanto. 1992. Psikologi Pendidikan. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.
Roestiyah. 1996. Strategi Belajar Megajar. http://alhafizh84 wordpress.com/ metode-pemberian-
tugas-resitasi/
Slameto, Djamarah, Syaiful Bahri. 1999. Psikologi Belajar , Jakarta : PT. Rineka Cipta
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 22
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
PENINGKATAN KINERJA GURU DALAM MENERAPKAN
MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING
AND LEARNING (CTL) MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DI
SMA NEGERI 1 KATIBUNG SEMESTER 1
TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Idhamsyah
SMA Negeri 1 Katibung, Lampung Selatan
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran
menggunakan model pembelajaran CTL melalui supervisi klinis di SMAN 1 Katibung Kecamatan
Katibung Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah
(School Action Research), penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah proses pembelajaran
di sekolah dan dilaksanakan dalam 2 siklus yang diawali pra siklus dengan 2 kali pertemuan pada
setiap siklusnya. Subjek penelitian adalah guru mata pelajaran di SMAN 1 Katibung pada Tahun
Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 6 orang.
Berdasarkan analisis data hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi kelas oleh
kepala sekolah terbukti berhasil meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran
dengan menerapkan model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) dibuktikan
dengan peningkatan hasil observasi yang dilakukan pada 3 apsek penilaian. Pada aspek penilaian
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) meningkat dari 54,46 menjadi 75,60 dan 94,35
sedangkan aspek penilaian kemampuan merencanakan pembelajaran meningkat dari 54,63
menjadi 70,83 dan 87,96 dan aspek kemampuan melaksanakan dan evaluasi, tindak lanjut dari
58,33 menjadi 71,15 dan 88,14 pada akhir siklus kedua. Dengan demikian dapat ditarik
kesimpulan bahwa pelaksanaan supervisi klinis terbukti efektif dalam meningkatkan kinerja guru
SMAN 1 Katibung Tahun Pelajaran 2019/2020 dalam menerapkan model pembelajaran contextual
teaching and learning (CTL).
Kata Kunci : kinerja, contextual teaching and learning (CTL), supervisi klinis.
A. PENDAHULUAN
Guru merupakan pemegang peranan penting terhadap tercapainya mutu pembelajaran.
Keberhasilan guru dalam mewujudkan tujuan pembelajaran, tidak terlepas dari peranan kepala
sekolah, yang mana sebagai pimpinan tertinggi kepala sekolah adalah penanggung jawab
pelaksanaan pendidikan di sekolah, harus dapat menghadapi permasalahan yang sesuai dengan
fungsinya sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 23
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
(EMASLIM) sehingga kepala sekolah dapat meningkatkan kinerja dan kemampuan guru dalam
proses pembelajaran di kelas.
Kepala sekolah sejatinya harus senantiasa memberikan pembinaan secara berkesinambungan
dan terprogram terhadap guru-gurunya agar mutu yang diinginkan oleh tuntutan baru yang
sedang berkembang. Bantuan professional untuk mengembangkan kemampuan guru dalam
bekerja merupakan sebuah kondisi yang sangat diperlukan jika guru ingin berkembang kearah
yang lebih baik sesuai dengan perubahan lembaga yang diinginkan. Kemampuan dasar yang
mereka miliki dapat dikembangkan lebih lanjut di lapangan dengan bantuan supervisi oleh kepala
sekolah untuk disesuaikan dengan kebutuhan sesuai dengan tugas yang dihadapi.
Berdasarkan hasil pengamatan dan dialog peneliti dengan beberapa guru di SMAN 1 Katibung,
kebanyakan guru-guru kurang menguasai pembelajaran CTL, keterampilan penggunaan media dan
sumber belajar yang ada sehingga pembelajaran yang mereka laksanakan masih didominasi
dengan cara mentrasfer pengetahuan dari pada menciptakan pembelajaran yang memberi
kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Apabila kebiasaan seperti itu tetap
dipraktekkan oleh para guru di kelas selama proses pembelajaran, maka dapat dipastikan bahwa
peningkatan mutu pendidikan akan sulit dicapai.
Berdasarkan uraian di atas, model dan strategi pembelajaran yang tepat akan berdampak positif
bagi siswa. Kenyataan yang ada di sekolah tempat peneliti bertugas sebagai kepala sekolah
menunjukkan hal yang terbalik. Dari hasil supervisi yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa 90%
guru di SMAN 1 Katibung masih dominan belum menggunakan strategi pembelajaran yang tepat
sesuai dengan karaketristik siswa dan situasi kelas. Bila ditelusuri lebih lanjut, faktor yang
meyebabkan guru belum mampu melaksanakan strategi pembelajaran dengan tepat karena
pengetahuan dan kinerja menyusun strategi model pembelajaran CTL belum optimal,
Supervisi klinis merupakan suatu keperluan mutlak bagi guru untuk memperoleh pengetahuan,
kesadaran dan menilai tingkah laku dalam profesinya sendiri. Bagi guru berdasar kemampuannya
sendiri untuk mengubah tingkah laku mengajarnya di kelas kearah yang lebih baik dan terampil.
Apabila kelemahan atau kesulitan guru dapat diperbaiki, berarti mutu pembelajaran dapat
ditingkatkan, dan pada akhirnya tujuan pendidikan dapat dicapai secara optimal.
Diharapkan dengan kegiatan supervisi klinis dapat memberikan bantuan kepada guru ke arah
usaha pemecahan masalah dan perbaikan kualitas proses pembelajaran secara sistematis,
contineu, dan komprehensif. Mengoptimalkan penerapan pembelajaran CTL oleh guru sehingga
meningkatkan kinerja guru dalam pembelajran. Adapun yang menjadi tujuan dari pelaksanaan
penelitian tindakan sekolah ini adalah :
1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan supervisi klinis dalam pembelajaran menggunakan
model pembelajaran CTL bagi Guru-guru di SMAN 1 Katibung Semester 1 Tahun Pelajaran
2019/2020.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 24
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
2. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran menggunakan model
pembelajaran CTL melalui supervisi klinis di SMAN 1 Katibung Semester 1 Tahun Pelajaran
2019/2020.
Pengertian Kinerja Guru
Kinerja adalah performance atau unjuk kerja. Kinerja dapat pula diartikan prestasi kerja,
pelaksanan kerja atau hasil unjuk kerja. Menurut August W Smith (Rusman, 2009 : 50) ‘kinerja
merupakan hasil dari suatu proses yang dilakukan manusia’. “Wujud perilaku kinerja guru yang
dimaksud adalah kegiatan dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana seorang guru
merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran dan menilai hasil belajar”,
(Rusman, 2010 : 50).
Dari paparan definisi di atas, maka ruang lingkup kinerja guru dalam penelitian ini meliputi:
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan menilai hasil belajar.
Pengertian Model Pembelajaran
Model secara harfiah berarti “bentuk”, dalam pemakaian secara umum model merupakan
interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukurannya yang diperoleh dari beberapa sistem.
Sedangkan menurut Agus Suprijono (2011:45), model diartikan sebagai bentuk representasi akurat
sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak
berdasarkan model itu.
Pengertian menurut Syaiful Sagala (2005:175), mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai
pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan
aktivitas belajar mengajar. Model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman
dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial (Agus Suprijono, 2011: 46).
Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah
kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran untuk mencapai
tujuan tertentu.
Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
CTL merupakan strategi yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Siswa
didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pelajaran yang akan dipelajarinya. Mulyasa
(2009:217-218) menyatakan: CTL merupakan konsep yang menekankan pada keterkaitan antara
matari pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta
didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-
hari. Sejalan dengan pengertian tersebut Sanjaya (2009: 255) menjelaskan bahwa: “CTL adalah
strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk
dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata
sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 25
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Berdasarkan pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran CTL yaitu Proses
pembelajaran yang melibatkan siswa dalam belajar sehingga siswa dapat mengkonstruksi sendiri
pengetahuan serta keterampilan belajar mereka yang diperoleh dengan berpengalaman secara
langsung sehingga proses belajar akan lebih efektif dan bermakna, karena belajar di sini bukan
hanya menghafal tetapi memahami.
Supervisi Klinis
Supervisi klinis sebagai bagian dari model supervisi menurut Willem (dalam Acheson dan Gall,
1980 : 1) adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui
siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat
tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara
yang rasional (Sahertian, 2000 : 36). Sergiovanni (dalam Ekosusilo, 2003 : 25) menyatakan bahwa
pembinaan guru dengan pendekatan klinik adalah suatu pertemuan tatap muka antara pembina
dengan guru, membahas tentang hal mengajar di dalam kelas guna perbaikan pengajaran dan
pengembangan profesi.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis adalah salah satu bentuk
supervisi yang difokuskan pada upaya peningkatan sistem pembelajaran yang baik dan sistematik
dan memperkecil kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku
mengajar yang ideal melalui observasi dan analisis data secara objektif.
Tujuan Supervisi Klinis
Tujuan supervisi secara umum adalah memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan
situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas untuk meningkatkan kualitas mengajar guru
di kelas, dan pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa.
Ada beberapa faktor yang mendorong dikembangkannya supervisi klinis bagi guru-guru,
sebagaimana dikemukakan oleh Sahertian (2008 : 37) antara lain : 1) Kenyataannya yang dilakukan
dalam supervisi, para supervisor hanya melakukan evaluasi guru-guru semata. 2) Pusat
pelaksanaan supervisi adalah supervisor, bukan berpusat pada apa yang dibutuhkan guru, baik
kebutuhan profesional sehingga guru-guru tidak memperoleh sesuatu yang berguna bagi
pertumbuhan profesinya. 3) Dengan menggunakan merit rating (alat penilaian kemampuan guru),
maka aspek-aspek yang diukur terlalu umum. Hal semacam ini sukar sekali untuk mendeskripsikan
tingkah laku guru yang paling mendasar seperti yang mereka rasakan, karena diagnosisnya tidak
mendalam, tetapi sangat bersifat umum dan abstrak. 4) Umpan balik yang diperoleh dari hasil
pendekatan, bersifat memberi arahan, petunjuk, instruksi, dan tidak menyentuh masalah manusia
yang terdalam yang dirasakan guru-guru, sehingga hanya bersifat di permukaan. 5) Tidak
diciptakan hubungan identifikasi dan analisis diri, sehingga guru-guru melihat konsep dirinya. 6)
Melalui diagnosis dan analisis dirinya sendiri guru menemukan jati dirinya. Ia harus sadar akan
kemampuan dirinya dengan menerima dirinya dan timbul motivasi untuk memperbaiki dirinya
sendiri.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 26
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
B. METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan oleh kepala sekolah kepada 6 guru di SMAN 1
Katibung Katibung terdiri dari guru mata pelajaran Sejarah, bahasa Indonesia, kimia dan fisika,
matematika dan mata pelajaran Geogafi.Waktu penelitian akan dilaksanakan dari bulan Agustus
2019 sampai dengan bulan November 2019 dengan kisaran waktu pelaksanaan sebanyak 12
minggu.
Penelitian ini mengambil bentuk penelitian tindakan sekolah (PTS) yaitu peningkatan kinerja guru
melalui kunjungan kelas dalam rangka mengimplementasikan standar proses, yang terdiri dari 2
siklus dan masing masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) tahap perencanaan program
tindakan, (2) pelaksanaan program tindakan, (3) pengamatan program, (4) refleksi.
Teknik Pengumpulan Data
Keberhasilan dalam pengumpulan data merupakan syarat keberhasilan penelitian. Sedangkan
keberhasilan dalam pengumpulan data tergantung pada metode yang digunakan. Pengumpulan
data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan dokumentasi.
Teknik Analisis Data
Data dikumpulkan sejak awal penelitian dengan memperhatikan semua proses yang terlihat,
dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan
yang terjadi pada saat kegiatan.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian tindakan sekolah, dengan empat langkah pokok, yaitu :
perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi, dengan
melibatkan 6 guru mata pelajaran di SMAN 1 Katibung dan dilaksankaan dalam 2 siklus dengan
penjelasan perlangkah pokok sebagai berikut: Perencanaan tindakan, Pelaksanaan tidakan,
Pengamatan (observasi), dan Refleksi.
Perencanaan Tindakan
Tahap perencanaan tindakan Siklus I, yaitu sebagai berikut.
1) Peneliti merencanakan tindakan pada siklus 1 (melakukan komunikasi dengan guru,
menentukan jadwal observasi, pemilihan topic dan melakukan review silabus untuk
mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran).
2) Pelaksanaan Tindakan
Peneliti melaksanakan rencana pelaksanaan kegiatan dengan beberapa tahap, antara lain:
tahap pertemuan awal, tahap observasi mengajar, dan tahap pertemuan balikan.
3) Pengamatan (Observasi)
Peneliti melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar observasi.
4) Refleksi
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 27
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Refleksi dilakukan secara kolaborasi antara kepala sekolah, guru, maupun observer turut
memikirkan hasil tindakan serta bagaimana langkah tindak lanjut ke depan, agar terjadi
peningkatan yang lebih baik.
Tahap perencanaan tindakan Siklus II
Kegiatan pada siklus II merupakan tindak lanjut dari hasil refleksi siklus I dan dikaitkan dengan
hasil yang telah dicapai pada tindakan siklus I sebagai upaya perbaikan dari siklus tersebut,
termasuk perwujudan tahap pelaksanaan, observasi, analisis dan refleksi yang juga mengacu pada
siklus sebelumnya.
Kriteria Keberhasilan
Untuk mengetahui peningkatan kinerja guru di SMAN 1 Katibung Semester 1 Tahun Pelajaran
2019/2020 dalam menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
dengan pendekatan supervisi klinis secara individual ditentukan bahwa minimal hasil pengamatan
yang dilakukan berada pada rentang 76% - 100% atau masuk kriteria baik, sedangkan secara
klasikal minimal 85% dari jumlah seluruh guru meningkat kinerjanya dalam menerapkan model
pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL).
C. HASIL PENELITIAN
Keberhasilan tindakan ini disebabkan oleh pemahaman menyeluruh tentang peningkatan kinerja
6 guru mata pelajaran yang menjadi subjek penelitian dalam menerapkan model pembelajaran
contextual teaching and learning (CTL). Dengan kinerja yang baik, maka pelaksanaan supervisi
klinis yang bersifat instruktif kepada para guru dengan mengoptimalkan pemahaman guru
terhadap metode mengajar yang inovatif melalui pembinaan secara intensif dengan menerapkan
salah satu jenis metode mengajar yaitu model pembelajaran contextual teaching and learning
(CTL) sebagai sumber belajarnya.
Pelaksanaan supervisi klinis sebagai wujud pembinaan dalam rangka menerapkan variasi
penggunaan metode-metode dalam pembelajaran. Mengingat setiap guru kelas mempunyai
permasalahan tentang mata pelajaran maupun metode mengajar menurut jenjang kelas masing-
masing, maka pelaksanaan supervisi klinis mutlak dilaksanakan. Kesesuaian persepsi tentang
pentingnya variasi penerapan metode-metode pembelajaran menjadi kunci pokok keberhasilan
pelaksanaan kegiatan supervisi yang dilakukan oleh peneliti yang berkolaborasi dengan guru kelas
dengan didukung oleh semua sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Dalam bentuk tabel, peningkatan kinerja 6 guru mata pelajaran yang menjadi subjek penelitian
dalam menerapkan metode pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) pada kondisi
awal sampai dengan pelaksanaan siklus kedua sebagaimana dijelaskan tabel di bawah ini.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 28
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Tabel Analisis Hasil Observasi Penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada Kondisi
Awal, Siklus I dan II
No Siklus Rerata Hasil Penilaian
Riil Nilai (%) Kriteria
1 Awal 30,50 54,46 K
2 Siklus I 42,33 75,60 C
3 Siklus II 52,83 94,35 B
Dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini.
100 75.6 94.35
90 42.33 52.83
80
70 Siklus I Siklus II
60 54.46
50
40 30.5
30
20
10
0
Awal
Riil Nilai
Grafik Analisis Hasil Observasi Penilaian Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Penjelasan mengenai peningkatan kinerja 6 guru mata pelajaran yang menjadi subjek penelitian
dalam kemampuan melaksanakan pembelajaran sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
Tabel Analisis Hasil Observasi Penilaian Kemampuan Melaksanakan
Pembelajaran pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No Siklus Riil Rerata Hasil Penilaian Kriteria
19,33 Nilai (%) K
1 Awal 25,50 54,63 C
2 Siklus I 31,67 70,83 B
3 Siklus II 87,96
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 29
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini.
100 72.44 88.46
90 37.67 46
80
70 58.97 Siklus I Siklus II
60
50
40 30.67
30
20
10
0
Awal
Riil Persentase
Grafik Analisis Hasil Observasi Penilaian Kemampuan Merencanakan Pembelajaran pada Kondisi
Awal, Siklus I dan Siklus II
Penjelasan mengenai peningkatan kinerja 6 guru mata pelajaran yang menjadi subjek penelitian
dalam kemampuan melaksanakan evaluasi dan tindak lanjut sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
Tabel Analisis Hasil Observasi Penilaian Kemampuan Melaksanakan Evaluasi dan Tindak
Lanjut pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No Siklus Rerata Hasil Penilaian
Riil Nilai (%) Kriteria
1 Awal 30,33 58,33 C
2 Siklus I 37,00 71,15 C
3 iklus II 45,83 88,14 B
Dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini.
100.00 58.33 71.15 88.14
80.00 30.33 37.00 45.83
60.00
40.00
20.00
0.00 Siklus I Siklus II
Awal
Series1 Series2
Grafik Analisis Hasil Observasi Penilaian Kemampuan Melaksanakan Evaluasi dan Tindak
Lanjut pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 30
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Berdasarkan data dan paparan di atas pelaksanaan supervisi klinis terbukti dapat meningkatkan
kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) dalam
pembelajaran khususnya bagi 6 guru mata pelajaran yang menjadi subjek penelitian.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil kegiatan tindakan dan analisis data maka kegiatan penelitian tindakan sekolah
yang dilaksanakan dalam 2 siklus yang diawali kegiatan pra siklus, dapat disimpulkan bahwa :
1. Penerapan supervisi klinis oleh kepala sekolah terbukti berhasil meningkatkan kinerja 6 guru
mata pelajaran yang menjadi subjek penelitian di SMAN 1 Katibung dalam mengelola proses
pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran contextual teaching and learning
(CTL). Dengan meningkatnya kinerja 6 guru mata pelajaran bahasa Indonesia, Sejarah,
Matematika, Fisika, Kimia dan Geografi yang menjadi subjek penelitian di SMAN 1 Katibung
dalam mengelola proses pembelajaran, proses belajar siswa lebih bermakna dan hasil
belajarnya pun turut meningkat.
3. Peningkatan kinerja 6 guru mata pelajaran yang menjadi subjek penelitian di SMAN 1 Katibung
dalam mengelola pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran contextual teaching
and learning (CTL) dibuktikan dengan peningkatan hasil observasi yang dilakukan pada 3 aspek
penilaian. Pada aspek penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) meningkat dari
54,46 menjadi 75,60 dan 94,35 sedangkan aspek penilaian kemampuan melaksanakan
pembelajaran meningkat dari 54,63 menjadi 70,83 dan 87,96 dan aspek kemampuan
melaksanakan evaluasi dan tindak lanjut dari 58,33 menjadi 71,15 dan 88,14 pada akhir siklus
kedua.
Saran
Berdasarkan simpulan di atas, penulis dapat merekomendasikan beberapa saran sebagai berikut.
1. Sebaiknya, pengawas ikut serta dalam melaksanakan supervisi kelas bersama dengan kepala
sekolah SMAN 1 Katibung.
2. Sebaiknya,, untuk ke depan supervisi kelas oleh kepala sekolah dilakukan atas permintaan
guru SMAN 1 Katibung.
3. Sebaiknya,, untuk program supervisi kelas yang akan datang, khususnya di SMAN 1 Katibung
dibuat bersama-sama dengan melibatkan berbagai pihak terkait, terutama pengawas, kepala
sekolah, guru, dan bahkan stakeholders sekolah.
4. Bagi pengambil kebijakan di lingkungan Dinas Pendidikan disarankan untuk menjadikan hasil
penelitian ini sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kemampuan Kepala Sekolah
yang berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 31
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
DAFTAR PUSTAKA
Andang. 2014. Manajemen dan Kepemimpian Kepala Sekolah. Ar-Ruzz Media Yogyakarta.
Asmani, J.M. 2012. Tips Efektif Supervisi Pendidikan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Eko Susilo, Madyo. 2003. Hasil Penelitian Kualitatif Sekolah Unggul Berbasis Nilai, Semarang.
Penerbit Effhar.
Masaong, A.K. 2013. Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru. Bandung:
Alfabeta.
Sagala, S. 2012. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Kependidikan. Bandung: Alfabeta.
Sahertian. 2008. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka Pengembanagan
Sumber daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 32
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
IMPLEMENTASI PROGRAM BELAJAR DARI RUMAH
(BDR) DI MASA PANDEMI COVID-19 STUDI PADA
MADRASAH TSANAWIYAH
DI KABUPATEN WAY KANAN
TAHUN PELAJARAN 2020/2021
Iis Haerunisa
Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan
Abstrak: Penelitian ini mengkaji pengembangan kurikulum berdasarkan pembelajaran online di
masa pandemi covid-19 pada jenjang Madrasah Tsanawiyah di kabupaten Way Kanan. Sejumlah
penelitian telah menyarankan bahwa kurikulum pendidikan harus dikembangkan berdasarkan
perkembangan di era revolusi industri 4.0. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis
perspektif pendidik tentang penggunaan informasi dan Teknologi serta pengembangan kurikulum
pada jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyah di kabupaten Way Kanan. Responden yang
dijadikan sampel dalam penelitian ini berjumlah 200 orang. Data ini diperoleh untuk menguji
persepsi mereka tentang pengembangan kurikulum berdasarkan pembelajaran online di masa
pandemi covid-19. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pendapat tenaga pendidik
tentang kurikulum dan aktivitas pembelajaran yang dikembangkan selama covid-19. Desain
penelitian ini didasarkan pada studi analisis kualitatif survei online melalui angket. Data survei
dianalisis untuk menunjukkan konsensus yang mendukung aktivitas pembelajaran online.
Hasilnya menunjukkan bahwa pendidik sangat bervariasi dalam memanfaatkan IT dalam
kegiatan pembelajaran di masa Pandemi covid-19 serta rumusan kurikulum yang bisa digunakan
dalam proses pembelajaran secara online selama covid-19.
Kata kunci: belajar dari rumah, pandemi covid 19, madrasah tsanawiyah.
A. PENDAHULUAN
Pandemi Covid-19 melanda Indonesia sejak awal bulan Maret 2020. Imbasnya bagi dunia
pendidikan di Indonesia harus mengalami perubahan dari sistem pendidikan tatap muka di kelas
menjadi belajar dalam jaringan (on line). Pemerintah membuat program belajar jarak jauh selama
pandemi Covid-19, sehingga siswa tetap bisa belajar meskipun dari rumah. Pembelajaran jarak
jauh ini tetap mendapatkan kontrol dari guru dibantu oleh orang tua. Penerapan pembelajaran
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 33
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
jarak jauh ini dimaksudkan untuk menghindari kerumunan sehingga mampu memutuskan mata
rantai penularan Covid-19.
Surat edaran Mendikbud nomor 4/2020 menyatakan bahwa fokus pembelajaran jarak jauh ini
bukan pada pencapaian akademik, namun pada pembelajaran literasi, numerasi, dan pendidikan
karakter. Aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi
masing-masing, termasuk dalam hal kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah. Bukti atau
produk aktivitas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa
diharuskan memberi skor atau nilai kuantitatif. Walaupun banyak sekolah menerapkan belajar dari
rumah, bukan berarti guru hanya memberikan pekerjaan saja kepada siswa, tetapi juga ikut
berinteraksi dan berkomunikasi membantu siswa dalam mengerjakan tugas-tugas mereka. Guru
tetap perlu berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswa meskipun tidak dari dalam kelas.
Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Makarim mengintruksikan bahwa selama pembelajaran
dalam masa pandemi Covid-19, guru tidak wajib menyelesaikan materi yang terdapat dalam
kurikulum, tetapi lebih menekankan pada pembelajaran hidup, kesehatan dan empati. Guru
dihimbau untuk membekali siswa dengan kemampuan hidup yang sarat dengan nilai-nilai
karakter. Akan tetapi, himbauan mendikbud ini ditanggapi berbeda oleh guru dan siswa, karena
berbagai hambatan dari segi materi, cara pembelajaran dan biaya menjadi kendala dalam
pelaksaaan pembelajaran secara daring. Guru dan siswa merasa kesulitan dalam pembelajaran
daring yang tidak fokus pada materi tetapi lebih kepada pembentukan karakter. Selain itu,
pembelajaran daring juga membutuhkan kemampuan penguasaan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) baik oleh guru juga siswa. Hal lain yang tak kalah penting adalah biaya untuk
pembelian kuota akses internet serta biaya untuk kepemilikan alat komunikasi berupa Hand
Phone (HP), laptop atau komputer yang dirasa cukup berat bagi orang tua siswa terutama mereka
golongan ekonomi lemah dan masyarakat pedesaan seperti di kabupaten Way Kanan.
Kehadiran pandemi Covid-19 yang membuat perubahan pola pembelajaran dari sekolah ke rumah
membuat orang tua kesulitan beradaptasi. Sejak pandemi ini, berjuta pelajar dan mahasiswa
dirumahkan. Semua perkumpulan yang melibatkan banyak orang ditiadakan. Kita terpaksa
menggunakan laptop hingga telepon pintar masing-masing untuk mengerjakan hal yang biasanya
kita lakukan secara tatap muka. Pendidikan kita hari ini, bahkan mungkin sedari awal seharusnya
tidak mudah terintervensi oleh perubahan situasi dan kondisi. Seharusnya, pendidikan kita mampu
lebih lincah dan adaptif dalam situasi dan kondisi apapun yang ditawarkan oleh kehidupan karena
perubahan tersebut adalah keniscayaan.
Sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang ruang kelas sebagai sekolah yang
sesungguhnya yang perannya tidak bisa digantikan oleh kelas online. Masyarakat belum
menganggap kelas daring dapat membantu dalam pendidikan anak. Penutupan ruang kelas karena
pandemi Covid-19 berdampak terhadap guru, siswa, dan orang tua di mana pun. Jika sebelumnya
tidak banyak sekolah yang menggunakan teknologi dalam pembelajaran, maka dalam kondisi yang
tidak biasa ini, semua sekolah di Indonesia dipaksa untuk menerapkan teknologi dalam proses
belajar mengajar. Padahal teknologi tidak sepenuhnya dapat membantu proses belajar dari jarak
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 34
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
jauh menjadi lebih mudah untuk diterapkan. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh siswa dalam
menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh, khususnya untuk para siswa dan
guru yang tinggal di daerah terpencil, mereka yang tinggal di pedalaman, ditambah lagi dengan
kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan orang tua siswa untuk memiliki HP smartphone dan
harus membeli kuota internet guna mengakses internet setiap hari.
Salah satu ajaran yang terkenal dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “
Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah.” Mengintegrasikan ajaran beliau dengan
tujuan kurikulum 2013, maka setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran. Pertama bahwa
setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual, sosial,
pengetahuan, dan keterampilan. Kedua bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat bagi
setiap anggota keluarga, khususnya anak-anak, untuk bisa memperoleh sikap spiritual, sosial,
pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa depan. Sikap
spiritual dan sosial inilah yang akan membentuk karakter siswa.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa responden yang terdiri dari orang tua siswa,
siswa dan guru tingkat madrasah tsanawiyah, diketahui pembelajaran melalui pemanfaatan IT
dengan sistem online terasa memberatkan dan memunculakn berbagai permasalahan. Mereka
yakin bahwa pembelajaran tatap muka adalah yang terbaik bagi para siswa. Munculnya kebijakan
belajar dari rumah membuat peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ”
Implementasi Program Belajar Dari Rumah (BDR) di Masa Pandemi Covid-19 pada Madrasah
Tsanawiyah di Kabupaten Way Kanan ”
Pandemi Covid-19
Corona Virus Disease (COVID-19) sangat meresahkan masyarakat dunia selama beberapa bulan
terakhir ini. Wabah ini disebabkan oleh Novel Coronavirus (SARS-Cov-2). COVID-19 merupakan
penyakit yang tegolong baru dimana penyebab, asal muasal virus ini belum diketahui secara pasti.
Virus ini berkembang dengan cepat menginfeksi manusia melalui sistem pernafasan. Per April
2020, sekitar 1.8 juta jiwa terinfeksi oleh virus ini dan sekitar ratusan ribu jiwa tersebut tidak
mampu bertahan terhadap virus tersebut atau mengalami kematian di sekitar 213 negara di dunia.
Virus ini sangatlah berbahaya, sangat mudah menular terhadap sesama manusia.
Pemerintah berupaya keras untuk menanggulangi penyebaran COVID-19 ini karena hingga saat ini
belum ditemukan obat dan vaksin untuk penyakit ini sehingga jalan satu-satunya hanyalah
memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Cara yang paling ampuh untuk memutus rantai
penyebaran wabah. ini adalah dengan melakukan pembatasan sosial (sosial distancing) dan
pembatasan fisik (physical distancing). Pembatasan sosial ialah menjaga jarak dalam
bersosialisasi, menjaga jarak dalam melakukan aktivitas sosial, termasuk membatasi diri untuk
melakukan sosialisi di masyarakat meminimalisir kotak dengan individu yang lain. Begitu pula
pembatasan fisik maksudnya ialah pembatasan dengan menjaga tubuh secara fisik dengan jarak 1-
2 meter ketika melakukan kontak atau bersinggungan dengan individu lainnya. Disamping itu pola
hidup bersih dan sehat juga sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini
seperti selalu menggunakan masker, rajin mencuci tangan.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 35
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Pembelajaran di Masa Pandemi Covid 19
Menyikapi perkembangan situasi pandemi Covid-19, pemerintah telah dengan tegas
mengeluarkan berbagai kebijakan di segala bidang. Di bidang kesehatan, pemerintah telah
mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penerapan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di bidang pendidikan, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 tahun
2020 sebagai dasar bagi pengalihan proses pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran
secara Daring (Dalam Jaringan) dalam kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) selama masa pandemi
Covid 19.
Pembelajaran jarak jauh yang terpaksa menjadi satu-satunya pilihan ini sesungguhnya tidak
mudah dilakukan, karena hal ini amat berbeda dengan pola pembelajaran tatap muka yang biasa
dilakukan di dalam kelas. Perbedaan yang paling mendasar tentu siswa tidak bisa melakukan
interaksi langsung dengan guru, sehingga komunikasi yang terjalin sangatlah terbatas.
Keterbatasan komunikasi menyebabkan terjadinya pemerolehan informasi dan intruksi dari guru
sangatlah terbatas. Memang pembelajaran jarak jauh seyogyanya menitik beratkan pada
kemandirian siswa. Kemandirian inilah yang nantinya harus dipupuk di dalam pandemi ini. Tentu
pembelajaran ini akan memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya, siswa akan lebih
fleksibel dalam belajar, tidak mesti harus on time, dan tempatnyapun bisa dikondisikan tergantung
situasi dan kondisi. Siswa juga akan lebih leluasa menentukan atau mencari sumber belajarnya
sendiri bisa mengakses internet.
Pembelajaran secara Daring menuntut kesiapan pada berbagai aspek, baik teknis maupun non
teknis. Tidak hanya diperlukan ketersediaan sarana dan prasarana untuk menunjang pelaksanaan
pembelajaran secara Daring, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, dalam hal ini para guru
untuk menerapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komputer (TIK). Selain itu dari
segi konten, pembelajaran secara Daring membutuhkan penyesuaian-penyesuaian tertentu,
karena tidak semua substansi materi dan aktifitas pembelajaran yang tadinya dirancang unruk
disampaikan secara tatap muka dapat disampaikan secara Daring. Pembelajaran Daring tidak
hanya menuntut kemampuan guru menguasai aplikasi-aplikasi pembelajaran online, tetapi juga
mampu berinovasi dalam mengembangkan model dan strategi pembelajaran secara Daring agar
pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan menyenangkan bagi siswa.
Berbagai aplikasi online yang tersedia dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan pembelajaran
secara Daring seperti Rumah Belajar, Google Classroom, Microsoft 365, dan lain-lain. Untuk
pelaksanaan kegiatan tatap muka secara virtual, guru dapat menggunakan aplikasi-aplikasi video
conference seperti Zoom, Webex, Teams, Google Meet, dan sebagainya. Selain itu sekolah juga
bisa mengembangkan Learning Management System (LMS)-nya sendiri dengan berbagai platform
yang tersedia seperti Moodle, Edmodo, Schoology, dan lain-lain. Kesemuanya itu tentu saja selain
menuntut ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung, juga kemampuan sumber daya
manusia, dalam hal ini baik guru maupun siswa untuk dapat menggunakan berbagai aplikasi dan
platform pembelajaran secara Daring tersebut.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 36
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
B. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berbentuk
kata-kata dan gambar, bukan angka-angka. Penelitian ini mendeskripsikan atau menggambarkan
fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun rekayasa manusia. Data
penelitian dikumpulkan sesuai teori Denzin dan Lincoln yang menggunakan latar alami (natural
setting) sebagai sumber data langsung. Penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan dan
menemukan secara komprehensif dan utuh mengenai pengembangan kurikulum berdasarkan
pembelajaran online di masa pandemi covid-19 pada jenjang Madrasah Tsanawiyah di kabupaten
Way Kanan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perspektif pendidik tentang penggunaan
informasi dan Teknologi serta pengembangan kurikulum pada jenjang pendidikan Madrasah
Tsanawiyah di kabupaten Way Kanan. Setelah melakukan penelitian, penulis berharap dapat
membangun suatu teori secara induktif yang akan digunakan untuk mendapatkan temuan
substantif sesuai dengan fokus penelitian. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field
Research) yaitu penulis melakukan penelitian langsung melalui survei yang disebar secara virtual
dengan aplikasi Google Form untuk mendapatkan dan mengumpulkan data sehingga penelitian ini
berlandaskan pada kondisi yang objektif dan alami. Penelitian ini melibatkan dua ratus (200)
orang guru jenjang Madrasah Tsanawiyah di kabupaten Way Kanan.
Subjek penelitian adalah guru mata pelajaran di Madrasah Tsanawiyah kabupaten Way Kanan,
yang mengampu sebelas (11) mata pelajaran yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Pendidikan
Agama Islam, Pendidkan Pancasila dan Kewarganegaan, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam,
Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Seni Budaya dan
Keterampilan, Prakarya, dan Bahasa Lampung. Aspek yang ditanyakan dalam survei meliputi
penyelanggraaan belajar online saat pandemi Covid-19, keterampilan penggunaan aplikasi dalam
penyelanggaraan belajar online, penggunaan media dalam pelaksanaan pembelajaran online dan
hambatan yang ditemukan saat pelaksanaan pembelajaran online. Data penelitian di analisis
menggunakan model menggunakan model analisis Miles & Huberman yang terdiri dari terdiri dari
tiga tahapan, yaitu reduksi data, display data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Model
analisis data penelitian di gambarkan sebagai berikut:
Reduksi Data Display data Penampilan dan
Verifikasi
Langkah analisis data penelitian diawali dengan tahap reduksi data, yaitu tahap mengumpulkan
seluruh informasi yang dibutuhkan dari hasil survei kemudian dilakukan pengelompokkan data.
Langkah selanjutnya yaitu tahap display data sebagai paparan data pengembangan kurikulum
dalam pelaksanaan pembelajaran online dimasa pandemi Covid -19. Langkah terakhir adalah
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 37
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
tahap penarikan dan verifikasi kesimpulan yang merupakan interpretasi data penelitian untuk
penarikan kesimpulan.
C. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil survei terhadap dua ratus (200) orang guru Madrasah Tsanawiyah di kabupaten
Way Kanan diketahui bahwa pembelajaran terhadap siswa dilakukan melalui sistem jarak jauh
yaitu Belajar Dari rumah atau di singkat BDR. Kegiatan belajar dengan tatap muka atau dikenal
dengan istilah PTM (Pembelajaran Tatap Muka) tidak bisa dilaksanakan karena situasi
penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Teknis dari pelaksanaan BDR ini dengan cara guru masing-masing mata pelajaran membuat Grup
Whatsapp (WAG) sebagai sarana berkomunikasi dengan siswa juga mengirim tugas dan menerima
tugas harian. Setiap guru mata pelajaran mempunyai jadwal belajar dalam jaringan (Online) per
minggu. Alokasi waktu jam belajar melalui WAG ini tidak seperti masa normal pembelajaran tatap
muka di kelas, tetapi waktu dikurangi dari satu jam pelajaran 40 menit menjadi 1 jam pelajaran
hanya 20 menit. Dalam satu hari siswa hanya belajar secara online masing-masing jenjang kelas
adalah dua (2) mata pelajaran dengan waktu mulai dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul
12.00 WIB. Khusus hari Jum’at hanya satu mata pelajaran mulai dari pukul 08.00 WIB sampai
dengan pukul 10.00 WIB. Pelaksaan pembelajaran dari rumah turut melibatkan orang tua dalam
pendampingan siswa sehingga penggunaan gadget berupa Hand Phone bisa di awasi sehingga
fokus pada pembelajaran.
Berdasarkan hasil survei terhadap guru, diketahui bahwa sistem Belajaran Dari Rumah (BDR)
memiliki beberapa kendala antaralain tidak semua siswa memiliki gadget untuk sarana belajar,
selain itu kuota internet yang harus disediakan terasa memberatkan orang tua juga kondisi
geografis kabupaten Way Kanan yang sering menyebabkan kendala sinyal provider sulit di jangkau.
Hambatan tersebut membuat proses pembelajaran secara Online pada masa pandemi Covid-19
dirasa kurang efektif dan sangat tidak efisien.
Selain kendala dari siswa, kendala juga dirasakan oleh guru karena tidak semua guru mampu dan
familiar dalam menggunakan teknologi berbasis internet baik melalui gadget ataupun laptop.
Banyak guru-guru yang hanya mengetahui satu aplikasi seperti Whatsapp, sedangkan aplikasi
lainnya sepert Google Class Room, Google Form dan lain sebagainya tidak diketahui oleh guru. Hal
tersebut mengakibatkan pembelajaran terbatas pada aplikasi WhatsApp dan guru cukup kesulitan
untuk melakukan pembelajaran virtual melalui aplikasi Zoom meeting ataupun aplikasi virtual
lainnya, padahal siswa sangat memerlukan penjelasan dari guru terkait materi pembelajaran yang
seyogyanya bisa disampaikan dengan aplikasi meeting virtual.
Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa 100% responden atau berjumlah 200 orang guru berasal
dari guru mata pelajaran jenjang Madrasah Tsanawiyah di kabupaten Way Kanan. Kelompok guru
yang berpartisipasi dalam survei ini adalah guru dari 11 mata pelajaran yaitu 11, 4% guru mata
pelajaran Bahasa Inggris, 13,9% guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, 34,9% guru mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam, 3,6% guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan,
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 38
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
7,8% guru mata pelajaran Maematika, 6,6% guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, 7,8%
guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, 4,8% guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani
olahraga dan Kesehatan, 3,6% guru mata pelajaran Seni Budaya dan Kesenian, 3,6% guru mata
pelajaran Prakarya dan 1,8% guru mata pelajaran Bahasa Lampung.
Pernyataan guru terkait proses penyelenggaran Belajar Dari Rumah (BDR) selama pandemi Covid-
19 secara online, sebanyak 3% menyatakan belum pernah melaksanakan, 22,9% menyatakan baru
sesekali melaksanakan dan 74,1% menyatakan telah rutin melaksanakan pembelajaran online.
Penyelenggaran belajar online melalui aplikasi Whats App sebanyak 98,2%, Google Class Room
sebanyak 4,8%, Google Form sebanyak 3%, Video Conference (Vicon) Zoom sebanyak 2,4%, Blog
pembelajaran sebanyak 3,6%, Email sebayak 2,6% dan youtube sebanyak 7,2%.
Keterampilan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran online dengan aplikasi Whatsapp
diakui sebanyak 1,2% belum pernah mengunakan, sebanyak 21,1% sudah menggunakan tetapi
masih kurang terampil, sebanyak 45,2% sudah menggunakan dan cukup terampil, dan sebanyak
35,2% sudah terampil menggunakan. Keterampilan menggunakan aplikasi Google Class Room
dalam penyelenggaran belajar online sebanyak 49,4% belum pernah menggunakan, sebanyak
33,1% sudah menggunakan tapi belum terampil, sebanyak 13,9% sudah cukup terampil
menggunakan aplikasi ini dan sebanyak 3,6% guru sudah terampil menggunakan aplikasi Google
Class Room untuk melaksanakan pembelajaran online.
Survei tentang pengembangan kurikulum berdasarkan pembelajaran online masa pandemi Covid-
19 menunjukkan bahwa kemampuan membuat daftar hadir dan menyusun soal menggunakan
google form sebanyak 45,2% guru belum pernah menggunakan,sebanyak 38,6% guru sudah
menggunakan tapi belum terampil, sebanyak 13,9 % guru sudah menggunakan dan cukup
terampil, serta 2,4% guru sudah terampil menggunakan aplikasi ini dalam proses pembelajaran
online. Keterampilan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran menggunakan Video
Conference Zoom mendapatkan hasil bahwa sebanyak 57,2% belum pernah menggunkan,
sebanyak 28,3% sudah menggunakan tapi masih kurang terampil, sebanyak 6,6% sudah
menggunakan dan cukup terampil, dan hanya 0,1% guru yang sudah terampil menggunakan
aplikasi Video Conference Zoom dalam pembelajaran.
Survei tentang Prioritas guru masih ingin mendalami penggunaan media pembelajaran
menunjukkan hasil sebanyak 66,3% ingin mendalami aplikasi Whats App, sebanyak 39,8% ingin
mendalami aplikasi Google Classroom, sebanyak 19,9% ingin mendalami aplikasi Google Form,
sebanyak 24,7% ingin mendalami aplikasi Video Conference (Vicon) Zoom, sebanyak 7,2% guru
ingin mendalami aplikasi Vicon meet.jit.sii, sebanyak 13,9% guru ingin mendalami aplikasi Blog
pembelajaran, sebanyak 6,6% guru ingin mendalami aplikasi Email, dan sebanyak 28,3% guru ingin
mendalami aplikasi Youtube.
Sarana berupa laptop yang dimiliki oleh guru dalam melaksanakan pelatihan online untuk kegiatan
Belajar Dari Rumah (BDR) diakui guru bahwa sebanyak 47% laptop yang digunakan adalah milik
sendiri, sebanyak 27,1% lapto yang digunakan adalah milik sekolah, sebanyak 21,7% laptop yang
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 39
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
digunakan adalah pinjaman, dan sebanyak 4,2% guru tidak bisa menyiapkan laptop untuk
mengikuti kegiatan pelatihan online.
Hasil survei terhadap kemampuan guru dalam menggunakan Aplikasi Ms Word menunjukkan
bahwa sebanyak 33,1% masih kurang terampil, sebanyak 43,4% sudah cukup terampil dan
sebanyak 2,5% sudah terampil menggunakan Aplikasi Ms Word. Kemampuan Bapak/ Ibu dalam
menggunakan Aplikasi Ms excell, menunjukkan bahwa sebanyak 48,8% masih belum terampil,
sebanyak 40,4% sudah cukup terampil dan sebanyak 10,8% guru sudah terampil menggunakan
aplikasi ini.
Berdasarkan hasil survei tentang kemampuan guru dalam menggunakan Aplikasi Power Point
diketahui bahwa sebanyak 43,4% masih kurang terampil, sebanyak 44% cukup terampil dan
sebanyak 12,7% guru sudah terampil menggunakan Aplikasi Power Point untuk mendukung
pembelajaran online. Kemampuan guru dalam menyiapkan media pembelajaran online
menujukkan bahwa sebanyak 21,2% masih kurang terampil, sebanyak 70,3% guru sudah cukup
terampil menyiapkan media pembelajaran online dan 8,5% guru sudah terampil menyiapkan
media pembelajaran online.
Hambatan yang dialami oleh guru dalam menyelenggarakan pembelajaran online tekait dengan
akses internet yaitu sebanyak 51,2% guru menyatakan bahwa kuota internet yang digunakan
untuk pembelajaran online dibeli dengan dana pribadi, sebanyak 38,4% guru merasa terkendala
dengan sinyal provider yang kurang stabil dan sebanyak 10,4% guru menyatakan bahwa di
sekolahnya belum memiliki WIFI. Terkait dengan hambatan tersebut, guru-guru memberikan saran
agar pemerintah dapat membantu siswa dan guru sehingg pembelajaran online bisa berjalan
lancar.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa pengembangan kurikulum berdasarkan
pembelajaran Online di masa pandemi Covid-19 di Madrasah Tsanawiyah kabupaten Way Kanan
memberikan berbagai tanggapan beragam dari para guru. Kelemahan penguasaan Teknologi dan
Informasi yang dimiliki sebagian besar guru Madrasah Tsanawiyah menyebabkan proses
penyelenggaraan Belajar Dari Rumah (BDR) masa pandemi Covid-19 menjadi tidak maksimal.
Ketidaksiapan sekolah dalam memberikan pelatihan terkait pelaksanaan belajar online juga turut
menambah kebingungan guru dalam proses pembelajaran yang dituntut untuk menggunakan
kemampuan IT. Kendala yang dihadapi juga meliputi sinyal provider yang sulit dijangkau baik oleh
seluruh siswa dan guru, juga ketiadaan bantuan dari pemerintah untuk pengadaan kuota internet
yang dirasa memberat bagi guru dan siswa. Berbagai permasalahan tersebut menyebabkan
kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) secara online sangat jauh dari harapan. Akses internet yang
sulit di jangkau dan sarana gadget atau laptop yang tidak dimiliki oleh semua siswa menyebabkan
tidak semua siswa bisa mengikuti proses pembelajaran online, sehingga bisa dikatakan bahwa
pembelajaran secara online tidak efektif dan efisien.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 40
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
D. KESIMPULAN
Pembelajan online di Masa Pandemi Covid-19 di Madrasah Tsanawiyah kabupaten Way Kanan
dilaksanakan dengan menggunakan hasil pengembangan kurikulum yang mengacu pada kurikulum
darurat pembelajaran siswa Madrasah Tsanawiyah di masa pandemi. Kurikulum ini dikembangkan
dan digunakan sebagai upaya untuk menghindari kerumunan dan memutus mata rantai
pencegahan Covid-19, dengan tujaun proses pembelajaran tetap terlaksana dan kesehatan siswa
dan guru tetap terjaga. Pada pelaksanaannya, ditemukan kendala yang membuat pelaksanaan
pembelajaran online ini tidak berjalan dengan maksimal sesuai harapan. Hambatan yang
ditemukan berasal dari terkait masalah teknis berupa sarana dan prasarana kegiatan
pembelajaran online seperti ketiadaan gadget penunjang pembelajaran online juga berupa
kemampuan IT dari guru sebagai pelaksana dalam kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) secara
online pada masa pandemi Covid-19. Kerjasama berbagai pihak baik dari pemerintah, warga
sekolah, orang tua dan stake holder terkait sangat di butuhkan demi terselenggaranya prosee
pembelajaran di masa pandemi Covid-19 secara online. Peran serta dan dukungan dari seluruh
masyarakat dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19 sangat diperlukan, sehingga
kegiatan proses pembelajaran bisa berjalan secara efektif dan efisien dan kesehatan warga tetap
terjaga.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, Michael. 2013. Michael Allen’s Guide to E-learning. Canada : John Wiley & Sons.
Ardiansyah, Ivan. 2013. Eksplorasi Pola Komunikasi dalam Diskusi Menggunakan Moddle pada
Perkuliahan Simulasi Pembelajaran Kimia. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
Armai Arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press. hal.
31
Arifin, M. 1991. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara. hal. 183.
Chan, J. F., Yuan, S., Koh, K. H., To, K. K., Chu, H., Yang J., … Yuen, K. Y. A Familial Cluster of
Pneumonia Associated with The 2019 Novel Coronavirus Indicating 287 Person-To-Person
Transmission: A Study Of Family Cluster. (Lancet. 395(10223), 2020).Page 514- 523.
Diana, P. Z., Wirawati, D., Rosalia, S. 2020. Blended learning dalam pembentukan kemandirian
belajar. Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran , 9(1), hlm. 16-22.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020
Tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Covid-19,
https://kemdikbud.go.id/main/blog/2020/03/mendikbud-terbitkanse-tentang-pelaksanaan-
pendidikan dalam-masa-darurat-covid-19. Diakses 12 Juli 2020
Lexy. J. Moleong. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm. 3
Menteri Pendidikan. (2020). Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Pendidikan
dalam Masa Darurat CoronaVirus (COVID-19).
Miles, M. B., & Huberman, M. 1994. Qualitative Data Analysis Second Edition. London: Sage
Publications.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 41
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Pelajar. hal.182.
Mukhtar. 2003. Merambah Manajemen Baru Pendidikan Tinggi Islam. Jakarta: CV. Misaka Gazila.
hal. 63.
Nasution, S. 1988. Pengembangan Kurikulum. Bandung: Citra Aditya Bhakti. hal. 9
Nursalam dan Ferry Efendi. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Oemar Hamalik. 2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
hal. 183-184.
Pranoto, Alvini.dkk. 2009. Sains dan Teknologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, Dasar Hukum Penanganan COVID-19. Laman Sekretaris
Kabinet Republik Indonesia,
https://setkab.go.id/?s=Dasar+hukum+penanganan+covid&lang=id. Diakses 10 Juli 2020
Sudarwan Danim. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif Rancangan Metodologi, Presentasi, dan
Publikasi Hasil Penelitian untuk Mahapeserta didik dan Penelitian Pemula Bidang Ilmu Sosial,
Pendidikan, dan Humaniora. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet. I, hlm. 51.
Tim Kerja Kementerian Dalam Negeri, Pedoman Umum Menghadapi Pandemi COVID-19 Bagi
Pemerintah Daerah; Pencegahan, Pengendalian, Diagnosis dan Manajemen. Kementerian
Dalam Negeri Republik Indonesia, (Jakarta, 2020).
World Health Organization, Coronavirus Diseas 2019 (COVID-19). Situation Report-85 World Health
Organization, (2020a), https://www.who.int/docs/defaultsource/coronaviruse/situation
reports/20200414-sitrep-85-covid19.pdf?sfvrsn=7b8629bb_4. Diakses 18 April 2020
Yurmaini Mainuddin. 1994. Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Yang Menjiwai
Tercapainya Lulusan Yang Kreatif Dalam Konveksi Nasional II, Kurikulum Untuk Abad 21.
Jakarta: Grasindo hal. 48.
Zhou, W, Buku panduan pencegahan coronavirus: 101 tips berbasis sains yang dapat
menyelamatkan hidup anda, (Fin e-book. https://fin.co.id, 2020), diakses 15 Juli 2020.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 42
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA SISWA KELAS XII
IPA SEMESTER GANJIL SMA NEGERI 1 NATAR
TAHUN PELAJARAN 2019-2020
Paizin Priyatna
SMA Negeri 1 Natar, Kabupaten Lampung Selatan
Abstrak: Pembelajaran fisika yang dilaksanakan oleh guru di SMAN 1 Natar masih belum efektif
dan belum memenuhi harapan. Pembelajaran masih bersifat konvensional, berpusat pada guru
(teacher centered). Berdasarkan hasil ulangan blok siswa kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Natar
Lampung Selatan, nilai rata-rata penguasaan konsep fisika siswa pada KD 2.4 Tahun Pelajaran
2019-2020 masih rendah yaitu 60,87; hanya 14 siswa yang mendapat nilai ≥ 78 dan Aktivitas siswa
dalam proses pembelajaran fisika juga masih rendah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan persentase tiap jenis aktivitas belajar siswa dan
meningkatkan nilai rata-rata penguasaan konsep Fisika siswa model pembelajaran kooperatif tipe
Numbered Head Together (NHT).. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Data dalam
penelitian ini terdiri dan data kuantitif yang berupa data aktivitas belajar siswa dan kinerja guru.
Data kuantitatif berupa data penguasaan konsep fisika siswa.
Berdasarkan hasil penelitian, penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT pada kelas XII IPA-1
berhasil meningkatkan aktivitas siswa on task dan menurunkan aktivitas off task. Persentase jenis
aktivitas yang relevan dengan pembelajaran (on task) siswa dari siklus ke siklus mengalami
peningkatan. Peningkatan persentase pada sikus I 70,13 % meningkat pada siklus II 84,84% dan
meningkatapada siklus III menjadi 92,71%. Aktivitas yang tidak relevan (off task).mengalami
penurunan persentase setiap siklusnya. Rerata pada siklus I 32,22 % menurun pada siklus II
m,enjadi 16,11 % dan paa sikus III menurun menjadi 8,33 %. Persentase nilai rata-rata penguasaan
konsep fisika siswa mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Dari siklus I rerata 71,85
meningkat pada siklus II rerata menjadi 76,97 dan meningkat pada siklus III rerata menjadi 82,19
dan prosentase ketuntasan siswa siklus I 53%, siklus II 75% dan siklus III menjadi 86.
Kata kunci: aktivitas, hasil belajar, fisika, NHT.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 43
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di kelas menjadi kunci dan penentu keberhasilan
belajar siswa, oleh karena itu guru dituntut untuk membuat perencanaan yang baik sehingga
pembelajaran menjadi efektif, efesien, dan menarik. Pembelajaran yang diselenggarakan oleh
guru di kelas hendaklah menggunakan strategi, pendekatan, dan metode yang tepat dengan
materi ajar, sehingga dapat mendorong aktivitas belajar siswa. Makin tinggi aktivitas belajar siswa
makin banyak pula yang bisa dipelajari oleh siswa, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat,
sehingga tujuan pembelajan lebih mudah dapat tercapai.
Kenyataan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di SMAN 1 Natar khususnya pada mata
pelajaran fisika masih belum efektif dan belum memenuhi harapan. Pembelajaran fisika masih
bersifat tradisional, pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered), metode yang
diguanakan masih terbatas pada metode ceramah, sedangkan aktivitas siswa terbatas pada
dengar dan catat. Siswa kurang koordinasi satu sama lain artinya tidak saling membantu pada
kawannya yang kurang memahami konsep fisika dan soal latihan yang diberikan guru.
Berdasarkan hasil ulangan blok sesama guru mata pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Natar Lampung
Selatan, diperoleh bahwa nilai rata-rata penguasaan materi fisika siswa kelas XII IPA-1 pada
Kompetensi dasar 2.1 Memformulasikan gaya listrik, kuat medan listrik, fluks, potensial listrik,
energi potensial listrik serta penerapannya pada keping sejajar dengan materi listrik statis pada
semester ganjil masih rendah dan belum mencapai ketuntasan belajar. Secara klasikal siswa belum
tuntas, rata-rata nilai ulangan blok tercapai 60,11, hanya 35,5 % siswa yang memperoleh nilai ≥
75.
Sedangkan Standar Kriteria Ketuntasan Minimal (SKKM) yang ditetapkan di SMA Negeri 1 Natar
Lampung Selatan yaitu untuk pelajaran fisika siswa memperoleh nilai > 78 atau 85 % siswa wajib
tuntas. Selain nilai rata-rata penguasaan konsep fisika siswa yang masih rendah, aktivitas siswa
dalam proses pembelajaran fisika juga masih rendah siswa lebih banyak diam, mencatat dan
mendengarkan penjelasan guru. Aktivitas yang tidak relevan yang sering muncul dalam proses
pembelajaran seperti mengantuk, asyik sendiri dengan kegiatannya, keluar masuk kelas dan
mengobrol dengan teman sebangkunya.
Adanya masalah dalam proses pembelajaran terutama aktivitas dan hasil belajar siswa, menuntut
guru untuk berupaya memperbaiki pembelajaran fisika dengan memilih model pembelajaran yang
membuat siswa belajar lebih aktif dalam menemukan konsep dari materi yang sedang dipelajari
selama proses pembelajaran berlangsung, salah satunya adalah dengan memilih model
pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Together).
Menurut Kagan (dalam Muslimin, dkk. 2000: 38) model pembelajaran kooperatif tipe NHT
merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah
materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi
pelajaran tersebut. Metode Numbered Head Together (NHT) memiliki beberapa kelebihan,
diungkapkan oleh Krismanto (2003:63) bahwa “Model pembelajaran Numbered Head Together
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 44
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
(NHT) memiliki beberapa kelebihan yaitu: 1) Melatih siswa untuk dapat bekerja sama dan
menghargai pendapat orang lain, 2) melatih siswa untuk bisa menjadi tutor Sebaya, 3) memupuk
rasa kebersamaan, 4) membuat siswa menjadi terbiasa dengan perbedaan”.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mencoba untuk menerapkan pembelajaran kooperatif
tipe NHT (Numbered Head Together) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dan penguasaan
konsep fisika siswa di kelas XII IPA-1 semester ganjil di SMA Negeri 1 Natar Lampung Selatan
tahun pelajaran 2019-2020.
Aktivitas Belajar
Dalam belajar diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas belajar itu tidak mungkin berlangsung
dengan baik. Aktivitas dalam proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi
keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, berfikir, membaca, dan segala kegiatan yang dilakukan
yang dapat menunjang prestasi belajar.
Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang direncanakan dan disadari untuk mencapai
tujuan belajar, yaitu perbaikan pengetahuan dan keterampilan pada sis- wa yang melakukan
kegiatan belajar. Keberhasilan kegiatan pembelajaran ditentukan dari bagaimana kegiatan
interaksi dalam pembelajaran tersebut, semakin aktif siswa tersebut dalam belajar semakin ingat
anak akan pembelajaran itu, dan tujuan pembelajaran akan lebih cepat tercapai. Aktivitas belajar
adalah rangkaian kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan
mengakibatkan adanya perubahan dalam dirinya baik yang nampak maupun yang tidak nampak.
Seperti yang dikemukakan oleh Sardiman (2010:25), bahwa aktivitas belajar adalah aktivitas fisik
(jasmaniah) dan mental (rohani). Salah satu manfaat aktivitas siswa dalam pembelajaran adalah
siswa mendapatkan pengalaman sendiri secara langsung sehingga pemahaman yang didapat dari
pengalaman akan lebih lama dalam memori siswa (Hamalik, 2010).
Aktivitas siswa yang tidak sesuai dengan pembelajaran (off task) akan lebih mudah untuk diamati
ketika proses pembelajaran berlangsung dibandingkan jika aktivitas yang sesuai dengan
pembelajaran (on task) yang harus diamati. Siswa dikatakan aktif belajar (on task) jika dalam
belajamya siswa sedikit melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan pembelajaran. Dengan
melakukan banyak aktivitas yang sesuai dengan pembelajaran maka siswa mampu memahami,
mengingat dan mengaplikasikan materi yang telah diajarkan (Natalia, 2009).
Hasil Belajar
Menurut Depdiknas dalam kamus besar bahasa indonesia (2008:486), hasil adalah sesuatu yang
diadakan. Sedangkan belajar berasal dari kata ajar yang artinya petunjuk yang diberikan kepada
orang supaya diketahui (Depdiknas, 2008:23). Jika dihubungkan hasil belajar adalah sesuatu yang
diadakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang sudah mengetahui sebuah petunjuk atau
pengetahuan. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sebuah
tindakan atau perlakuan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa setelah
menerima pembelajaran atau pengalaman belajar. Sudjana (2010:22) menyatakan bahwa hasil
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 45
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman
belajarnya.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dikembangkan oleh Spencer
Kagan (Lie, 2010). Tipe ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide
dan menimbang jawaban yang paling tepat. Selain itu, tipe ini juga mendorong siswa untuk
meningkatkan kerjasama mereka. Tipe ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk
semua tingkatan usia anak didik. Tipe ini melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi
yang tercakup dalam suatu pelajaran untuk mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran
tersebut.
Muslimin (2000:65) yang mengemukakan bahwa: “Numbered Head Together adalah satu tipe dari
pembelajaran kooperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa
memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (tiap kelompok sama tetapi untuk
tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor yang sama mendapat
tugas yang sama) kemudian bekerja dalam kelompok, presentasi kelompok dengan nomor siswa
yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor
perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penggunaan
model pembelajaran NumberedHead Together adalah membagi siswa menjadi beberapa
kelompok, memberi nomor pada masing-masing anggota kelompok, menjelaskan materi
pembelajaran, memberikan kuis berupa beberapa buah soal, memberikan kesempatan kepada
siswa untuk membahas bersama kelompoknya, memanggil salah satu nomor untuk melaporkan
dan kelompok lain menanggapinya dan dilanjutkan dengan menyimpulkan pelajaran. Setiap
anggota kelompoknya bertanggung jawab atas tugas kelompoknya, sehingga tidak ada pemisahan
antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dalam satu kelompok untuk saling memberi dan
menerima antara satu dengan yang lainnya.
B. METODE PENELITIAN
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA-1 semester ganjil SMA Negeri 1 Natar
Lampung Selatan tahun pelajaran 2019-2020, sebanyak 36 siswa dengan jumlah laki-laki 12 orang
dan jumlah siswa perempuan 24 orang.
Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti yaitu:
1. Pelaksanaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dalam
meningkatkan aktivias dan hasil belajar siswa pada KD 2.4 Menerapkan medan magnetik dan
gaya magnetik pada beberapa produk teknologi pada materi gejala kemagnetan, Medan
magnetik dan gaya magnet.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 46
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
2. Aktivitas belajar siswa, dapat diamati saat proses diskusi kelas berlangsung menggunakan LKS
dan lembar observasi.
3. Hasil belajar siswa meliputi kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hasil belajar kognitif diukur
melalui tes tertulis, sedangkan hasil belajar psikomotorik dan afektif diamati dengan lembar
observasi.
Prosedur Penelitian (Planning)
Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan.
Prosedur pelaksanakan setiap siklus pada penelitian ini adalah perencanaan, pelaksanaan
tindakan/pembelajaran, observasi dan refleksi.
1. Perencanaan
Persiapan yang dilakukan pada tahap ini adalah :
a. Menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
b. Menyiapkan media pembelajaran yaitu lembar kerja siswa (LKS) dan alat praktikum berupa
KIT magnet SMA
c. Membentuk kelompok kooperatif berdasarkan kemampuan akademik siswa pada bab
sebelumnya yang bersumber dari data dokumentasi guru mata pelajaran Fisika.
Pengelompokkan mengacu pada model yang dikembangkan oleh Lie (2010) yaitu
mengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil secara heterogen menjadi 7
kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang.
d. Menyusun lembar observasi aktivitas siswa dalam pembelajaran dan menyusun lembar
observasi kinerja guru.
e. Menyusun soal-soal tes formatif untuk mengukur penguasaan konsep siswa.
2. Pelaksanaaan Pembelajaran (Acting)
Tahap-tahap pelaksanaan tiap siklusnya adalah:
Siklus I dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan selama 4 jam pelajaran (4x45 menit) dan sub
materi pokok yang akan diberikan adalah Pola keruangan kota dan desa, serta industri dan
persebarannya.
Siklus II dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan selama 4 jam pelajaran (4 x 45 menit) dan
submateri pokok yang akan diberikan adalah persamaan medan magnetik dan gaya magnetik
pada kawat berarus listrik. Prosesnya hampir sama dengan siklus I
Siklus III dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan selama 4 jam pelajaran (4 x 45 menit) dan
submateri persamaan gaya magnetik pada muatan yang bergerak dalam medan magnet dan
penerapan medan magnetik dan gaya magnetik pada beberapa produk teknologi.
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 47
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
3. Pengamatan (Observing)
Kegiatan observasi dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan guru mitra. Pengamatan yang
dilakukan yaitu mengamati dan merekam segala peristiwa yang terjadi selama tindakan untuk
memantau sejauh mana efek tindakan pembelajaran NHT terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa
setiap siklus. Pada kegiatan pengamatan ini dilakukan perekaman data aktivitas siswa, hasil belajar
kognitif dan aktivitas guru.
4. Refleksi (Reflecting)
Setelah pembelajaran selesai pada setiap siklus dilakukan refleksi, yaitu analisis hasil evaluasi dan
hasil observasi proses pembelajaran. Refleksi didasarkan pada lembar observasi kinerja guru,
lembar observasi aktivitas siswa dan hasil tes formatif siswa. Refleksi bertujuan untuk mengetahui
apakah indikator kinerja telah tercapai atau belum dan mengetahui kekurangan-kekurangan yang
ada selama proses pembelajaran berlangsung. Apabila terdapat kekurangaan dalam proses
pembelajaran yang telah berlangsung, maka dicari solusi yang tepat untuk mengatasinya guna
perbaikan proses pembelajaran siklus berikutnya.
Data Peneltian
Data kualitatif berupa data aktivitas siswa dan data kinerja guru selama proses pembelajaran
diperoleh dengan menggunakan lembar observasi siswa.
Data ini berupa data penguasaan konsep atau hasil belajar fisika siswa, berupa nilai ulangan
harian.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Observasi
Lembar observasi digunakan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Lembar observasi ini
berbentuk list pengamatan yang diisi oleh guru berdasarkan pengamatan.
Observasi yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah observasi langsung terhadap aktivitas
siswa yang relevan (on task) dan aktivitas siswa yang tidak relevan (off task) serta kinerja guru
selama kegiataan belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan lembar aktivitas siswa dan
lembar kinerja guru yang dibantu oleh satu orang guru mitra.
2. Tes
Tes merupakan tipe pengumpulan data yang bersifat mengukur. Menurut Arikunto (2006: 150) tes
merupakan serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau
kelompok. Tes digunakan pada penelitian ini untuk mengetahui penguasaan kognitif konsep fisika
berupa soal pilihan ganda dan uraian, dilakukan pada setiap akhir siklus pada pertemuan ke dua.
Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah:
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 48
November 2020
NUANSA PENDIDIKAN 2020
1. Adanya peningkatan persentase tiap jenis aktivitas yang relevan (on task) yang ditunjukkan
dengan adanya penurunan persentase tiap jenis aktivitas yang tidak relevan (off task) dari
siklus ke siklus.
2. Peningkatan rerata penguasaan konsep fisika/hasil tes siswa pada KD 2.4 Menerapkan medan
magnetik dan gaya magnetik pada beberapa produk teknologi pada materi gejala
kemagnetan, medan magnetik dan gaya magnet pada lawat lurus dan muatan bergerak.
3. Tercapainya Standar Kriteria Ketuntaan Minimal (SKKM) sekolah yaitu 85% siswa memperoleh
nilai ≥ 78.
Analisis Data
1. Analisis data aktivitas siswa
Lembar aktivitas siswa digunakan untuk mengamati keterampilan yang dicapai dalam suatu
pembelajaran.
Aktivitas yang diamati adalah aktivitas off task dengan menggunakan
rumus:
%An = An x100%
N
Keterangan : An = Persentase tiap jenis aktivitas off task
An = Jumlah siswa yang melakukan setiap aktivitas off task
N = Jumlah siswa
%Bn = 100% - %An
Bn = Persentase tiap jenis aktivitas on task (Sudjana; 2009)
2. Analisis penguasaan konsep siswa
Untuk menghitung rata-rata penguasaan konsep Fisika siswa digunakan rumus
X n = Xn
N
Keterangan:
X n = rata-rata nilai penguasaan konsep siswa setiap siklus ke-n
∑Xn = jumlah nilai penguasaan konsep siswa se ap siklus ke-n
N = jumlah siswa keseluruhan (Sudjana; 2009)
Untuk menghitung Persentase peningkatan penguasaan konsep siswa digunakan rumus:
% Xn = X Xn x 100%
Xn
Keterangan : Xn = persentase peningkatan penguasaan konsep siswa
X = Rata-rata penguasaan konsep siklus ke-n+l
Xn = Rata-rata penguasaan konsep siklus ke-n (Sudjana; 2009)
3. Pembentukan dan Penghargaan Kelompok
VOL. XVIII, EDISI 3 Page 49
November 2020