The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook "LEADERSHIP DAN GAYA KEPEMIMPINAN WANITA"

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Faisal Fahri, 2022-08-15 02:27:16

LEADERSHIP DAN GAYA KEPEMIMPINAN WANITA

Ebook "LEADERSHIP DAN GAYA KEPEMIMPINAN WANITA"

Keywords: Education

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

hasil kerja individu yang penuh pengabdian. Fokus kepemimpinan berada pada kepercayaan

dan penghargaan antara sesama anggota organisasi, 4) Gaya Task; artinya memandang

efisiensi kerja sebagai faktor utama untuk keberhasilan organisasi. Fokus kepemimpinan

terletak pada penampilan individu dalam organisasi, dan 5) Gaya Midle road; artinya tengah-

tengah. Fokus kepemimpinan pada keseimbangan yang optimal antara tugas dan hubungan

manusia.

Keseluruhan gaya yang dikemukakan Blake & Mounton menampilkan perilaku
pemimpin dalam mempengaruhi pengikut untuk melaksanakan tugas melalui cara membina
hubungan kemanusian dengan menunjukkan keteladanan, kompensasi (penghargaan),
kepercayaan, dan mendorong performa individu dan kekompakan dalam organisasi.
Kepemimpinan yang mendorong lahirnya partisifasi aktif anggota dalam pengambilan
keputusan sangat ditentukan oleh karakteristik pemimpin. Umumnya pemimpin yang
integratif memiliki karakteristik terbuka, siap berdiskusi, bertukar pikiran dan menerima
saran dari bawahannya. Dengan demikian tercipta kerjasama dan kesatuan tindakan dalam
pelaksanaan tugas. Pemimpin demikian disebut sebagai pemimpin visioner.

Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu
perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam
memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu.
Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan
oleh Davis dan Newstrom (1995)64. Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin
secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal
sebagai gaya kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan (leadership style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi
kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya tersebut bisa
berbeda-beda atas dasar motivasi, kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.

Terdapat gaya lainnya yaitu gaya otokratik, partisipatif, dan bebas kendali (free
rein atau laissez faire)65 yaitu :
1) Gaya pemimpin otokratik memusatkan kuasa dan pengambilan keputusan bagi dirinya

sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi pegawai sehingga mau melakukan apa

64 Davis, K dan Newstrom. (1995). Perilaku dalam Organisasi. Erlangga : Jakarta.
65 https://www.patikab.go.id/v2/id/2012/10/16/definisi-kepemimpinan-dan-macammacam-gaya-

kepemimpinan/

46

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

saja yang diperintahkannya. Kepemimpinan ini pada umumnya negatif, yang berdasarkan
atas ancaman dan hukuman. Meskipun demikian, ada juga beberapa manfaatnya antara
lain: memungkinkan pengambilan keputusan dengan cepat serta memungkinkan
pendayagunaan pegawai yang kurang kompeten.
2) Gaya pemimpin partisipatif lebih banyak mendesentralisasi-kan wewenang yang
dimilikinya sehingga keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak.
3) Gaya pemimpin bebas kendali menghindari kuasa dan tanggungawab, kemudian
menggantungkan kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi
masalahnya sendiri. Diantara ketiganya, kecenderungan umum yang terjadi adalah kearah
penerapan praktek partisipasi secara lebih luas karena dianggap paling konsisten dengan
perilaku organisasi yang supportif.

Selanjutnya dilihat dari orientasi si pemimpin, terdapat dua gaya kepemimpinan
yang diterapkan, yaitu gaya konsideran dan struktur, atau dikenal juga sebagai
orientasi pegawai dan orientasi tugas. Beberapa hasil penelitian para ahli menunjukkan
bahwa prestasi dan kepuasan kerja pegawai dapat ditingkatkan apabila konsiderasi
merupakan gaya kepemimpinan yang dominan. Sebaliknya, para pemimpin yang berorientasi
tugas yang terstruktur, percaya bahwa mereka memperoleh hasil dengan tetap membuat
orang-orang sibuk dan mendesak mereka untuk berproduksi.

Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi konsiderasi, tidak selamanya
merupakan pemimpin yang terbaik. Fiedler telah mengembangkan suatu model pengecualian
dari ketiga gaya kepemimpinan diatas, yakni model kepemimpinan kontingensi. Model ini
menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bergantung pada situasi dimana
pemimpin bekerja. Dengan teorinya ini Fiedler ingin menunjukkan bahwa keefektifan
pemimpin ditentukan oleh interaksi antara orientasi pegawai dengan tiga variabel yang
berkaitan dengan pengikut, tugas dan organisasi.

Ketiga variabel itu adalah hubungan antara pemimpin dengan anggota (leader –
member relations), struktur tugas (task structure), dan kuasa posisi pemimpin (leader position
power). Variabel pertama ditentukan oleh pengakuan atau penerimaan (akseptabilitas)
pemimpin oleh pengikut, variabel kedua mencerminkan kadar diperlukannya cara spesifik
untuk melakukan pekerjaan, dan variabel ketiga menggambarkan kuasa organisasi yang
melekat pada posisi pemimpin.

Model kontingensi Fiedler ini serupa sekali dengan gaya kepemimpinan situasional
dari Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin

47

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat
kematangan (maturity) pengikutnya. Perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk
mengetahui kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa
menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok, pengikut dapat
menentukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin

Menurut Hersey dan Blanchard (dalam Ludlow dan Panton, 1996 : 18 dst), masing-
masing gaya kepemimpinan ini hanya memadai dalam situasi yang tepat – meskipun disadari
bahwa setiap orang memiliki gaya yang disukainya sendiri dan sering merasa sulit untuk
mengubahnya meskipun perlu66.

Directing adalah gaya yang tepat apabila Anda dihadapkan dengan tugas yang rumit
dan staf Anda belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk mengerjakan tugas tersebut ;
atau apabila Anda berada di bawah tekanan waktu penyelesaian. Anda menjelaskan apa yang
perlu dan apa yang harus dikerjakan. Dalam situasi demikian, biasanya terjadi over-
communicating (penjelasan berlebihan yang dapat menimbulkan kebingungan dan
pembuangan waktu). Coaching adalah gaya yang tepat apabila staf Anda telah lebih
termotivasi dan berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Disini Anda perlu
memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengerti tentang tugasnya, dengan
meluangkan waktu membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan mereka.

Selanjutnya, gaya kepemimpinan supporting akan berhasil apabila karyawan telah
mengenal teknik-teknik yang dituntut dan telah mengembangkan hubungan yang lebih dekat
dengan Anda. Dalam hal ini, Anda perlu meluangkan waktu untuk berbincang- bincang,
untuk lebih melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan kerja, serta mendengarkan
saran-saran mereka mengenai peningkatan kinerja. Adapun gaya delegating akan berjalan
baik apabila staf Anda sepenuhnya telah paham dan efisien dalam pekerjaan, sehingga Anda
dapat melepas mereka menjalankan tugas atau pekerjaan itu atas kemampuan dan inisiatifnya
sendiri.

Dalam hal ini terdapat 4 gaya kepemimpinan didasarkan versi House of the theory
incorporated yang dikutip Fred Luthan (1998 :280) 67yaitu:
1) Directive Leadership: Pengikut mengetahui dengan tepat segala hal yang diinginkan

pimpinan dan pemimpin memberikan arah khusus. Pada tipe kepemimpinan ini bawahan
tidak mempunyai partisipasi.

66 https://tribratanews.kepri.polri.go.id/2020/05/07/hakikat-kepemimpinan-dan-teori-kepemimpinan-2/
67 Luthan, Fred. 1998. Organizational Behavior. 8th Ed, Irwin, Mc Graw-Hill

48

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

2) Supportive Leadership: Pimpinan ramah, dekat dengan bawahan dan memberikan
perhatian pada pengikut.

3) Participate Leadership: Pimpinan menanyakan dan meminta saran dari bawahan,
namun pengambilan keputusan merupakan wewenang pimpinan.

4) Achievement-Oriented Leadership: pimpinan mengatur tujuan untuk bawahan dan
menunjukkan tujuan dan berkinerja baik.

Gaya kepemimpinan menurut As’ad (1991) telah diketahui secara luas68, yaitu:
(1) Tipe otokratik adalah pemimpin yang sangat egois dengan menunjukkan sikap
“keakuannya”. Pemimpin ini selalu menggunakan cara yang lebih dianggap pantas dari
dirinya sendiri sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh pemimpin pasti benar dan ide
atau gagasan karyawan atau bawahan tidak diakui.

Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri
sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai milik pribadi, Mengidentikkan tujuan
pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau
menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam
tindakan penggerakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur
paksaan dan bersifat menghukum.

(2) Tipe karismatik adalah tipe yang memiliki daya tarik, dan pembawaan yang luar
biasa untuk mempengaruhi orang lain sehingga ia mempunyai bawahan yang bisa dipercaya
serta pengikut yang setia dan jumlahnya besar. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang
demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai
pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak
dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.

Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin
yang karismatik maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi
dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat
dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma.

(3) Tipe Paternalistik atau Maternalistik adalah kepemimpinan dengan sifat kebapakan
atau keibuan. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah

68 As’ad. 1991. Seri Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia Psikologi Indsutri. Bandung : Alumni

49

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang
tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan
kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan
kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan
kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap
maha tahu.

(4) Tipe Militeristik, tipe ini mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter dengan sistem
satu komando atau satu perintah yang berasal dari pimpinan puncak dan harus dilaksanakan
oleh bawahan. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang
memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering
dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan
jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan
kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara- upacara
untuk berbagai keadaan.69

(5) Tipe Demokratis, mengutamakan manusia adalah makhluk hidup yang mulia
sehingga selalu melibatkan bawahan. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki
karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari
pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha
mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan
pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari
bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai
tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat
kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang
sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk
menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas
diri pribadinya sebagai pemimpin. Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi
pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang
demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi
seorang pemimpin yang demokratis.

69 ibid

50

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

(6) Tipe Laissez Faire atau delegatif, tipe ini bersifat permisif dan memberikan
kepercayaan berupa tanggungjawab pekerjaan secara penuh kepada bawahan. Keterkaitan
antara berbagai pihak di dalam organisasi membentuk interaksi yang dilakukan secara rutin
sehingga membentuk suatu budaya organisasi.

Menurut West dan Turner (2008:322) budaya terbentuk akibat dari rutinitas
serangkaian kegiatan berupa lama kerja, identitas organisasi, dan kegiatan lain yang
dijalankan oleh seluruh anggota organisasi bertujuan untuk meningkatkan kinerja para
anggotanya tak terkecuali pemimpin menjadi lebih baik. Pembentukan budaya organisasi
terjadi tidak semata karena aktifitas rutin saja melainkan anggota organisasi berupaya
menciptakan, mempertahankan perasaan yang dimiliki bersama mengenai realitas organisasi,
untuk pemahaman yang lebih baik mengenai nilai-nilai sebuah organisasi. Budaya dalam
organisasi tersebut bisa bervariasi sehingga interpretasi tindakan dalam budaya ini juga
beragam.70

Budaya sendiri berarti sebagai hasil tindakan dari manusia. Jika dihubungkan dengan
organisasi maka perwujudan dari semangat atau suasana dan kepercayaan yang dilakukan
dalam organisasi tersebut. Menurut Robins (2003) budaya organisasi didefinisikan sebagai
sistem nilai dan kepercayaan para anggota yang saling beriteraksi dengan anggota, struktur
organisasi dan sistem pengawasan untuk menghasilkan norma perilaku. Budaya organisasi
atau perusahaan bersifat sangat persuasif dan mempengaruhi hampir keseluruhan aspek
kehidupan organisasi.

2.5 KEPEMIMPINAN WANITA

Peran wanita dalam kehidupan bermasyarakat dalam pembangunan bukan hanya
sebagai proses pembangunan, tapi juga sebagai fondasi yang berstruktur kuat. Perjuangan
akan figure R.A. Kartini dapat dirasakan dengan adanya pergerakkan emansipasi wanita.
Keberadaan peran wanita sebagai pimpinan kinimulai dihargai dan disetarakan. Sejalan
dengan gerakan emansipasi dan gerakan kesetaraan gender yang intinya berusaha menuntut
adanya persamaan hak wanita dalam berbagai bidang kehidupan, maka setahap demi Setahap
telah terjadi pergeseran dalam mempersepsi tentang sosok wanita.71

Mereka tidak dipandang lagi sebagaisosok lemah yang selalu berada pada garis
belakang, namun mereka bisa tampil di garis depan Sebagai pemimpin yang sukses dalam

70 West, Richard, Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi Edisi 3. Jakarta:

Salemba Humanika.
71 Fitriani , Annisa . 2015. Gaya Kepemimpinan Perempuan . Jurnal TAPIs Vol.11 No.2

51

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

berbagai sektor kehidupan, yang selama ini justru dikuasai oleh kaum lakilaki.Wanita
memiliki kemampuan yang sama untuk berada di posisi puncak dalam karier,” Faktanya,
dalam berbagai organisasi saat ini, saatgaya kepemimpinan yang keras dan kaku tidak lagi
sesuai untuk karyawan, gaya kepemimpinan wanitayang komprehensif serta nilai-nilai positif
lainnya membuat mereka lebih cocok untuk menduduki Posisi puncak.Wanita dapat menjadi
pemimpin bila dididik dengan cara berbeda dan tidak melulu menganggapdiri mereka sebagai
wanita melainkan bagian dari sesama manusia.

Dewasa ini, makin banyak wanita yang bekerja di bidang pekerjaan laki-laki. Mereka
tidak saja bisabertahan, namun juga sukses menjadi pemimpin. Kaum wanita pun bisa
menunjukkan dirinya sebagai makhluk yang luar biasa kuat dan berani, dan tidak kalah dari
kaum pria. Secara esensial dalam manajemen dan kepemimpinan pun pada dasarnya tidak
akan jauh berbeda dengan kaum pria.

Beberapa tokoh perempuan yang berhasil menjadi pemimpin, Margareth Tatcher di
Inggris yang dijuluki sebagai “SiWanita Besi”, Indira Gandhi di India, Cory Aquino di
Philipina. Emansipasi bukan diartikan pertukaran fungsi karena seorang pemimpin wanita
yang memahami posisi dirinya sebagai wanita jangan diartikan sebagai sebuah kelemahan
melainkan kekuatan &kecerdasan dalam menempatkan diri di rumah, dunia kerja, tempat
ibadah, dan lingkungan masyarakat sekitar. Peran sebagai wanita tidak dapat digantikan oleh
kaum pria, maka secara tidak Langsung pemimpin wanita sudah memiliki ekstra posisi yang
tidak dapat digantikan.

Dengan memberi kesempatan dan menyemangati wanita untuk berperan sebagai
pemimpin,pemerintah dan organisasi dapat memperluas bakat yang ada,” Berdasarkan dari
hasil penelitian terdahulu, peneliti menemukan lima ciri yang banyak dimiliki oleh
wanita pemimpin72:
1) Kemampuan untuk membujuk, wanita pemimpin umumnya lebih persuasif bila

dibandingkan dengan pria, la cenderung lebih berambisi dibandingkan pria –
keberhasilannya dalam membujuk orang lain untuk berkata “ya” akan meningkatkan
egonya dan memberinya kepuasan. Meskipun demikian,Saat memaksakan kehendaknya,
sisi sosial, feminin, dan sifat empatinya tidak akan hilang,
2) Membuktikan kritikan yang salah, mereka “belum bermuka tebal”, wanita pemimpin
memiliki tingkat kekuatan ego yang lebih rendah dibandingkan pria, artinya mereka
masih bisa merasakan rasa sakit akibat penolakandan kritik. Namun, tingkat keberanian,

72 Fitriani , Annisa . 2015. Gaya Kepemimpinan Perempuan . Jurnal TAPIs Vol.11 No.2

52

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

empat, keluwesan, dan keramahan yang tinggi membuat merekacepat pulih, belajar dari
kesalahan, dan bergerak maju dengan sikap postif “akan saya buktikan”,
3) Semangat kerja tim, wanita pemimpin yang hebat cenderung menerapkan gaya
kepemimpinan secarakomprehensif saat harus menyelesaikan masalah dan membuat
keputusan. Mereka juga lebih fleksibel,penuh pertimbangan, dan membantu stafnya.
Bagaimanapun, wanita masih harus banyak belajar dari priadalam hal ketelitian saat
memecahkan masalah dan membuat keputusan.
4) Sang pemimpin, wanita pemimpin yang hebat umumnya memiliki karisma yang kuat,
begitu juga pria. Mereka persuasif, percayadiri, serta berkemauan kuat untuk
menyelesaikan tugas dan energik,
5) Berani mengambil risiko, tidaklagi berada di wilayah yang aman, wanita pemimpin pada
dasarnya berani melanggar aturan danmengambil risiko, sama seperti pria sekaligus
memberi perhatian yang sama pada detail. Mereka berspekulasi di luar batas-batas
perusahaan, dan tidak sepenuhnya menerima aturan struktural yang ada,seperti peraturan
dan kebijakan perusahaan.

Wanita adalah mahluk yang mampu mengerjakan banyak hal (multi tasking) dan
seluruhnya bias dilakukan dengan konsentrasi yang sama. Ini tidak ditemui pada lelaki yang
kurang mampu Menghadapi kompleksitas masalah dan cenderung memperbaikinya satu-satu,
sementara perempuan ingin semua bias cepat selesai dengan baik serta memahami masalah
lebih prioritas agar solusi makin cepat.Wanita juga mampu mengontrol emosinya. Dia tidak
sembarangan mengucurkan air mata ataumarah berlebihan di depan orang banyak.

Kepemimpinan seringkali membutuhkan figur seperti ini sehingga dalam mengambil
keputusan lebih matang terutama soal kebijakan luar negeri.Karakter alami, banyak wanita
menyukai keindahan, kedamaian, ketenangan, dan tentunyakondisi ini bisa menyejukkan
hawa panas dunia tengah bergejolak lantaran konflik di pelbagai belahanbumi.Namun perlu
diakui sentuhan Wanita diperlukan agar pemerintah mempunyai banyak pertimbanganuntuk
menentukan kebijakan.

Pada dasarnya, wanita memiliki sifat-sifat dasar untuk sukses sebagai pemimpin.
Merekacenderung lebih sabar, memiliki empati, dan multitasking—mampu mengerjakan
beberapa hal sekaligus. Wanita juga memiliki bakat untuk menjalin networking dan
melakukan negosiasi. Demikian menurutHelen Fisher, seorang penulis dan profesor di
Rutgers University. Kemampuan-kemampuan itu tentu saja tidak eksklusif hanya ada pada
wanita.

53

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Namun ketimbang laki-laki, kaum wanita yang cenderung lebihsering menunjukkan
sifat-sifat tersebut.Wanita juga bertanggung jawab dan suka Mengatasi tantangan-tantangan
dalam pekerjaannya.Ada banyak tantangan yang dihadapi kaum wanita dalam mendaki
puncak karier di organisasi.

Salah satu yang utama adalah faktor budaya. Sejak jaman dahulu, wanita dan laki-laki
telah melakukan pekerjaan yang berbeda. Tugas-tugas yang mereka kerjakan membutuhkan
keahlian yang berbeda. Faktorbudaya ini juga mempengaruhi bagaimana cara wanita dan
laki-laki bertindak dan berpikir. Faktor budayaini juga terlihat dalam organisasi. Laki-laki
dituntut untuk bersikap tegas dalam memimpin. Tetapi ketikawanita bersikap tegas, dia kerap
disebut agresif.73

Kebanyakan pemimpin laki-laki juga mementor anak buahnya yang laki-laki. Masih
jarang ada pemimpin laki-laki yang Mementor wanita. Dari contoh tersebut, termelihat
bahwa masalah budaya menjadi faktor utama dalam kemajuan perempuan Faktor lain yang
menghambat kemajuan perempuan adalah kurangnya kebijakan dalam organisasi yang
mendukung keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan, khususnya bagi wanita yang
Telah berkeluarga.

Kendati demikian, sudah mulai banyak perusahaan yang women-friendly. Perusahaan
perusahaan itu memberikan kesempatan bagi wanita untuk meniti kariernya, serta
menghasilkan Para wanita yang sukses dalam karier dan keluarga. Mereka sadar bahwa
memberikan kesempatan bagi wanitauntuk naik ke posisi kepemimpinan merupakan salah
satu langkah strategis dan humanis untuk memajukan organisasi. Ada beberapa hal yang
dapat dilakukan wanita untuk mengembangkan kariernya, yaitu:
1) Mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion.
2) Mencari mentor untuk membimbing ke posisipuncak.
3) Meningkatkan visibilitas dengan menunjukkan prestasi kerja.

Kepemimpinan wanita juga pernah dialami sistem pemerintahan Indonesia. Kejadian
ini mengingatkan kita pada beberapa waktu menjelang pemilu dan beberapa saat sebelum
Sidang Umum MPR tahun 1999 lalu yang diwarnai oleh penolakan keras khususnya dari
kalangan parpol-parpol Islam tentang kemungkinan wanita menjadi presiden. Kini parpol-
parpol Islam itu telah “merevisi” pendapatnya. Melalui berbagai rekayasa konstruktif, mereka
mencoba mengesahkan kepemimpinan wanita dalamkonteks negara.74

73 Fitriani , Annisa . 2015. Gaya Kepemimpinan Perempuan . Jurnal TAPIs Vol.11 No.2
74 Fitriani , Annisa . 2015. Gaya Kepemimpinan Perempuan . Jurnal TAPIs Vol.11 No.2

54

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Tabel :

Ciri-Ciri Kepemimpinan Feminim Dan Maskulin

Feminim Makulin

Tidak Agresif Sangat Agresif

Tergantung Tidak Tergantung

Emosional Tidak Emosional

Sangat Subjektif Sangat Objektif

Mudah Terpengaruh Tidak Mudah Terpengaruh

Pasif Aktif Aktif

Tidak Kompetitif Sangat Kompetitif

Sulit mengambil keputusan Mudah mengambil keputusan

Tidak Mandiri Mandiri

Mudah Tersinggung Tidak Mudah Tersinggung

Tidak suka Spekulasi Sangat suka Spekulasi

Kurang Percaya pada Diri Sendiri Sangat Percaya pada Diri Sendiri

Membutuhkan Rasa Aman Tidak Sangat Membutuhkan Rasa aman

Sangat Memperhatikan penampilan dirinya Tidak memperhatikan penampilan dirinya

2.6 CIRI-CIRI KEPEMIMPINAN DALAM PANDANGAN ISLAM
Riset mengenai kepemimpinan menurut Collons tidak mengungkapkan satu sifat

tunggal yang dimiliki semua pemimpin yang berhasil, tetapi sejumlah ciri umum yang
dimiliki banyak diantara mereka.

Diantaranya memiliki sifat: (1) manusiawi; (2) memandang jauh ke depan; (3)
inspiratif (kaya akan gagasan); (4) percaya diri. Pemimpin yang manusiawi adalah
penting, karena dalam lembaga pendidikan kita bersinggungan dengan manusia. Jika
tidak memperlakukan dengan manusiawi maka akan timbul perawanan. Pemimpin yang
tidak punya visi sekaligus tidak percaya diri dipastikan lembaga yang dipimpinnya tidak
akan kompetitif dengan sekolah lainnya, karena bergerak dalam ranah rutinan saja75.

Fenomena kedua yang ditemukan dalam Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia
karya Ainun Najib dengan judul Konstruksi Pemimpin Ideal untuk Indonesia
menyebutkan berberapa kriteria pokok atau patokan utama untuk menjadi pemimpin
yang ideal yang ditawarkan oleh Islam untuk negara Indonesia yang plural antara lain

75 Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, (Bandung: Alfabeta, 2013), hal. 148-149.

55

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

sebagaimana penjelasan di bawah:
1. Pemimpin yang Memiliki Talenta Kepemimpinan

Pada dasarnya mengetahui secara pasti atau memberikan penilaian pada calon
pemimpin yang memiliki talenta kepemimpinan adalah hal yang sangat subjektif dan
relatif. Nemun demikian, dalam masalah memilih pemimpin, Islam memberikan
perhatian intens dalam memberikan solusinya.
2. Pemimpin yang Bertanggung Jawab

Pemimpin yang ada di Indonesia pada saat ini, meskipun tidak merata pada jumlah
keseluruhannya namun masih banyak yang mengambil kesempatan dari amanah
jabatan untuk meraup keuntungan. Sehingga kesan nyata adalah pemimpin yang
mengumpulkan harta kekayaan bukan untuk mengayomi dan mengurus rakyat dan
tatanan kenegaraan. Akibatnya masyarakat yang sengsara dan negara pun tidak
berkembang karena dirugikan oleh pemimpin yang memperkaya diri ini padahal ia
diangkat menjadi pemimpin oleh rakyat yang seperti ini lah salah satu contoh dari
pemimpin yang tidak bertanggung jawab hanya memikirkan kepentingan pribadi.
3. Pemimpin yang Berakhlak Mulia dan Penyayang
Seorang pemimpin selain harus memiliki sifat tegas, talenta dalam kepemimpanan,
dan kreatif, ia juga harus memiliki prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan
bernegara. Karena pemimpin adalah panutan atau teladan bagi yang dipimpin, maka
bagaiamana nasib suatu bangsa jika pemimpinnya tidak bermoral, tentu akan
berdampak negatif pada kehidupan rakyatnya. Dalam arti, dampak dari peran seorang
pemimpin baik dari aspek baik dan buruknya dapat berpengaruh kepada orang-orang
yang dipimpin atau rakyat76.

Berpindah dari yang bersifat umum, ke fenomena yang terjadi di lembaga
bendidikan khususnya sekolah. Pada tingkat sekolah, kepala sekolah sebagai figur
kunci dalam mendorong perkembangan dan kemajuan sekolah. Kepala sekolah tidak
hanya meningkatkan tanggung jawab dan otoritasnya dalam program-program
sekolah, kurikulum dan keputusan personel, tetapi juga memiliki tanggung jawab
untuk meningkatkan akuntabilitas keberhasilan siswa dan programnya. Kepala
sekolah harus pandai dalam memimpin kelompok dan pendelegasian tugas dan
wewenang.

Pada jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran yang terbit tahun 2015 lalu

76 Akbar Tanjung, Islam, “Demokrasi dan Tantangan Global Akademik”, dalam Jurnal Kebudayaan, vol, 4, No. I,
(November, 2009), hal. 102.

56

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

dibahas mengenai sosok kepala sekolah yang ideal dengan upaya profesionalisme
yang dilakukannya. Kepala sekolah dianggap sebagai salah satu unsur yang strategis
dalam meningkatkan mutu pendidikan. Upaya peningkatan profesionalisme kepala
sekolah merupakan proses yang berkaitan dengan keseluruhan organisasi

sekolah, serta harus dilakukan secara berkesinambungan. Profesionalisme kepala
sekolah harus secara sinergis dilaksanakan dengan melibatkan pengawas sekolah.

Upaya peningkatan profesionalisme kepala sekolah tidak akan terwujud, tanpa
adanya motivasi dan kesadaran internal dari kepala sekolah, serta semangat untuk
mengabdi, yang akan melahirkan visi sekolah maupun kemampuan konsepsional
yang jelas dari kepala sekolah. Ini merukan faktor yang penting, tanpa adanya
kesadaran dan motivasi semangat untuk mengabdi, maka semua usaha yang
dilakukan tidak akan memberikan hasil yang optimal, yang akan menyebabkan
realisasinya juga tidak optimal.

Beberapa penelitian dan hasil karya ilmiyah yang berupa buku, juga belum penulis
temukan yang lebih spesifik membahas syarat dan ciri-ciri kepemimpinan yang ideal dan
bisa diterapkan disegala situasi dan kondisi yang ada, hal tersebut sangat mustahil karena
tidak ada satupun manusia yang sempurna. Namun terkait hal ini terdapat beberapa
indikator yang penulis peroleh dari beberapa reverensi untuk syarat dan ciri-ciri
kepemimpinan ideal:
1. Memiliki pengetahuan yang luas dan kemampuan analitik yang kuat.

Pengetahuan seseorang ini, diperoleh berdasarkan informasi yang didapatkan, semakin
banyak pemimpin mencari informasi, semakin banyak pula yang ia ketahui. Hal ini ke
depannya akan menambah rasa hormat tenaga pendidik yang lainnya, karena pemimpin
berpengetahuan luas, dan juga mampu menganalisis informasi tersebut dengan akurat
Mengumpulkan informasi, menganalisis pembentukan konsep. Mengumpulkan latar
belakang informasi dari berbagai sumber sebelum berpendapat tentang suatu peristiwa
atau masalah. Hal itu dilakukan secara terus menerus untuk selalu memperoleh
informasi yang baru.77
2. Kapasitas integratif, keterampilan komunikatif dan keterampilan mendidik. Membuat
pembaharuan dengan menggabungkan beberapa aspek yang sesuai, mampu
berkomunkasi dan mengajarkan bawahan yang belum mengetahui dengan benar.
3. Rasionalitas, obyektivitas dan pragmatis Berpikir rasional dan melakukan penilaian

77 Mar’at, Pemimpin dan Kepemimpinan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, tt), hal. 72

57

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

secara objektif, tidak berat sebelah dan membuat semuanya lebih praktis tanpa
berbelit-belit.
4. Keteladanan, adaptabilitas dan fleksibilitas.
Pemimpin menjadi teladan dalam lembaga yang dipimpin. Ibarat kaca pemimpinlah
yang menjadi panutan atau kiblat bagi bawahannya. Lalu harus memiliki sikap
adaptabilitas dan fleksibilitas kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Kemampuan beradaptasi dan tahu sebanyak mungkin situasi yang dapat
dimasuki.78 Mampu mempergunakan berbagai konsep, dan pandangan-pandangan jika
memecahkan masalah atau sedang mengambil suatu keputusan
5. Ketegasan, keberanian dan orientasi masa depan.
Ketegasan adalah kemampuan untuk dapat menhadapi orang lain tanpa menimbulkan
penghinaan. Ketegasan juga diartikan sebagai kemampuan untuk melaksanakan hal yang
tepat pada watunya. Menunjukkan dirinya selalu siap untuk mengambil suatu keputusan.
dan memiliki kemampuan untuk mengetahui bahwa suatu keputusan diperlukan.

2.7 KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBAGAI PEMIMPIN DALAM ISLAM
1. Perempuan Boleh Menjadi Pemimpin

Berkaitan dengan nilai kesetaraan dan keadilan, Islam tidak mentolerir adanya
perbedaan atau perlakuan diskriminasi di antara umat manusia. Berdasarkan surah al-
Ahzab ayat 35,79 yaitu :

Artinya :
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang

mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan
yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki tertentu. Bahkan dalam
masyarakat dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-
laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara
kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.80

78 Erman Anom, “Kepemimpinan Visioner dalam Mewujudkan Keutuhan NKRI” Lex Jurnalica Vol.5 No. 3,
Agustus 2008, hal. 157.
79 Agesna, Widya. 2018. Kedudukan Pemimpin Perempuan Dalam Perspektif Hukum Islam. Jurnal
Pemerintahan dan Politik Islam 122 Vol. 3, No. 1,
80 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung : PT Syigma Examedia Arkanleema, 2010), h.
422.

58

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Dari ayat ini terlihat jelas bahwa Allah SWT. tidak membedakan antara laki- laki
dan perempuan. Siapa saja diantara mereka akan mendapat ganjaran setimpal dengan apa
yang telah mereka perbuat. Tidak ada perbedaan ataupun diskriminasi dalam hal ini.
Mengenai boleh tidaknya perempuan jadi pemimpin, dapat dipahami menurut Abu Hanifah
seorang perempuan dibolehkan menjadi hakim. Ketika perempuan diperbolehkan
memberikan kesaksian dalam urusan harta, berarti memberikan keputusan dalam wilayah
tersebut juga sudah semestinya diperbolehkan. Oleh karena itu seorang perempuan juga
boleh menjadi pemimpin.

Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma‟ruf Amin, mengatakan bahwa MUI Pusat belum
pernah mengeluarkan fatwa tentang larangan perempuan menjadi pemimpin.
Kepemimpinan wanita baik di level pemimpin tingkat atas (imamat al udhma) ataupun
tingkat bawah. Sebab, persoalan kepemimpinan perempuan termasuk masalah yang
diperselisihkan diantara ulama. “Terjadi perbedaan pendapat. Ada yang membolehkan dan
ada yang melarang”. Sekalipun kelak dibahas di MUI, maka hasil akhirnya bisa dipastikan
terjadi perbedaan.

Ketua Umum DD, A. Muiz Kabri, mengungkapkan pada awalnya memang
menganggap seorang perempuan tidak bisa menjadi presiden. Tapi belakangan ini, ia
berpikir bisa saja seorang perempuan menjadi presiden. Karena bukan dia sendiri yang
mengurusi negara. Presiden mempunyai banyak staf-staf yang membantu dalam mengurus
permasalahan negara.

Pendapat yang membolehkan perempuan menjadi pemimpin negara juga datang
dari Ahmadiyah. Naib Amir Ahmadiyah Indonesia, H. Sayuti Azis, memandang tidak ada
perbedaan antara perempuan dan laki-laki, karena dalam pandangan Allah perbedaan itu
terletak pada ketaqwaan seseorang. Tidak ada masalah jika perempuan menjadi pemimpin
negara. Hal ini menurut Sayuti adalah juga keputusan Ahmadiyah Pusat di London. Sebab,
ketika terjadi pro-kontra tentang boleh - tidaknya perempuan menjadi kepala negara,
Ahmadiyah Indonesia langsung meminta fatwa dari London. Ternyata, pimpinan di
sana tidak mempersoalkannya. Yang penting, calon presiden perempuan tadi memang
benar-benar mempunyai kemampuan dan memenui persyaratan.81 Selain itu sudah cukup
banyak pos penting yang pernah dan sedang dipegang oleh kaum perempuan, seperti

81 Jamhari, Ismatu Ropi, Citra Perempuan…, h. 126.

59

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

presiden, wakil presiden, menteri, hakim, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Gubernur
dan jabatan-jabatan penting lainnya.

2. Perempuan Tidak Boleh Menjadi Pemimpin

Walaupun dalam sejarah dunia telah muncul banyak perempuan sebagai presiden
dan perdana menteri di berbagai negara di seluruh dunia, disamping ratu di negara
berbentuk kerajaan, sejumlah orang menganggap kurang cocok utuk menduduki posisi
jabatan kepemimpinan tertentu. Bahkan dalam masyarakat tradisional, wanita masih ditolak
menjadi pemimpin.82

Mayoritas ulama yaitu Imam Syafi‟i, Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat
bahwa seorang pemimpin harus laki-laki begitu juga dengan presiden haruslah laki-laki
berdasarkan surah an-Nisa‟ ayat 34. Ditambah lagi dengan hadis dari Abi Bakrah yang
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, yang juga menjadi alasan yang dijadikan dasar bagi
fatwa yang melarang perempuan menjadi pemimpin, yaitu ketika Nabi SAW. mendapatkan
informasi bahwa bangsa persia menjadikan putri Kisra sebagai raja (ratu) mereka setelah
Kisra meninggal dunia. Para ulama di semua negara Islam telah menerima hadist ini dan
menjadikannya dasar hukum bahwa seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin laki-laki
dalam wilayah kepemimpinan umum.

Imam Al-Baghawi mengatakan dalam kitab Syarhus-Sunnah bahwa seorang
perempuan tidak sah menjadi seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin itu harus keluar
untuk berjihad dan selalu berada pada urusan atau perkara orang-orang Muslim. Sedangkan
perempuan itu lemah serta tidak mampu melakukan banak urusan, karena perempuan itu
kurang. Alasan lain yang melarang pencalonan wanita juga mengemukakan bahwa wanita
itu menghadapi kendala yang sudah merupakan tabiat atau pembawaan mereka, seperti
menstruasi setiap bulan beserta keluhan-keluhannya, mengandung dengan segala
penderitaannya, melahirkan dengan segala resikonya, menyusui dengan segala bebannya,
dan sebagai ibu dengan segala tugasnya. Semua itu menjadikan mereka secara fisik, psikis,
dan pemikiran tidak mampu mengemban tugas sebagai undang-undang dan mengawasi

82 Wirawan, Kepemimpinan : Teori, Psikologi, Perilaku Organiasasi, Aplikasi dan Penelitian, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2013), h. 488.

60

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

pemerintah.83
Persoalannya adalah, hingga saat ini tak banyak perempuan yang mau dan tertarik

bergabung di dunia politik. Mereka beralasan karena image politik yang kejam, penuh
pertarungan kekuasaan, sering kali dihinggapi kasus korupsi, dan sebagainya. Ini membuat
sebagian besar perempuan memandang lemah diri dan kemampuannya karena melihat
konstelasi politik sebagai hal yang menakutkan. Selain itu, image bahwa seorang pemimpin
mesti tegar, berkuasa, kompetitif, rasional, mampu “mematikan” musuhnya (maskulinitas),
membuat perempuan dan laki-laki menempatkan posisi ini memang pantasnya untuk laki-
laki.

3. Perbedaan Pendapat mengenai Pemimpin Perempuan

a. Perbedaan Penafsiran Ayat al-Qur‟an
Pendapat yang tidak membolehkan kaum perempuan menjadi pemimpin didasari

oleh pemahaman tekstual terhadap ayat-ayat al-Qur‟an yang secara subtantif telah
memposisikan kaum laki-laki menjadi pemimpin bagi kaum perempuan. Kalangan fuqaha
berendapat demikian mengacu kepada QS. an-Nisaa‟ ayat 34 yang berbunyi 84:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena
mereka (laki- laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. an-Nisaa‟
[4]: 34).

Karena pertimbangan begitu sentralnya jabatan ini, maka para ulama klasik sepakat
bahwa jabatan khalifah harus dipegang oleh lelaki berdasarkan surah an-Nisa‟ ayat 34
tersebut. Abu Ya‟la al-Fara‟ menyebutkan salah satu persyaratan kepala negara harus
memenuhi persyaratan menjadi hakim yang salah satu persyaratannya adalah lelaki.
Sedangkan pendapat yang membolehkan pemimpin perempuan menjawab argumen pada
firman Allah SWT. surah An Nisaa‟ ayat 34 tersebut. Berdasarkan asbab al-nuzulnya,
ayat ini turun berkenaan dengan kasus istri Sa‟ad bin Rabi‟ yaitu Habibah binti Zaid bin
Abi Zuhair, yang tidak taat kepada suaminya (nusyuz). Lalu Sa‟ad menamparnya. Maka
istri Sa‟ad bersama ayahnya datang mengadu kepada Nabi Muhammad SAW.85

Ayahnya berkata, “Dia izinkan menikahi puteriku, tetapi kemudian ia

83 Abi Muhammad bin Mas‟ud alBaghawi, Syarhus-Sunnah, ( Darul Kitab „Amaliyah, 436-516 H), h. 322.
84 Hussein Muhammad, Fiqh Perempuan, (Yogyakarta: Lkis, 2001), h. 36.
85 Al-Wahidi an-Nisaburi, Asbabun Nuzul; sebab-sebab turunnya ayat–ayat al-Qur’an, (Surabaya: Amelia, 2014),
h. 230-231

61

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

menamparnya.” Nabi Muhammad SAW. bersabda,” suaminya mendapatkan hukum balas
(qishas).” Ketika si wanita itu ingin kembali pulang bersama ayahnya hendak
melaksanakan qishash pada suaminya.” Tiba- tiba Nabi SAW. bersabda: kembalilah, ini
dia Jibil baru saja datang padaku menurunkan ayat ini “Kaum laki-laki itu pemimpin bagi
kaum perempuan.” (Q.S. An-Nisa‟: 34). Selanjutnya beliau bersabda, “kami berkehendak
akan suatu perkara, tetapi Allah SWT. berkehendak lain. Maka yang dikehendaki Allah
itulah yang lebih baik. Lalu beliau memcabut qishash.”

Jadi, ayat tersebut turun sebab khusus, yaitu berkenaan dengan kasus tertentu, masalah
keluarga, dan tidak ada kaitan dengan keterlibatannya dengan kepemimpinan perempuan
dalam hal politik.

b. Perbedaan Penafsiran pada Hadist
Terdapat hadis shahih ahad yang dari segi substansi matan haditsnya melarang
perempuan sebagai kepala negara yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, dan
An-Nasa‟i dari Abu Bakrah R.A. lebih lengkapnya dapat dilihat pada terjemahan redaksinya
sebagai berikut :

Menceritakan kepada kami Usman bin al- Haitsam, menceritakan kepada kita „Auf
dari Hasan dari Abi Bakrah ra, beliau berkata: Allah telah memberiku manfaat dengan
kalimat yang aku dengar dari Rasulullah SAW. pada Perang Jamal setelah aku menganggap
bahwa yang benar adalah pemilik unta (Aisyah ra) sehingga aku berperang di pihaknya.
Kalimat yang aku dengar tersebut adalah ketika ada kabar yang sampai kepada Rasulullah
SAW. bahwa penduduk Persia telah mengangkat anak perempuan Kisra sebagai raja mereka
maka Nabi SAW. bersabda :

Tidak akan berjaya suatu kaum yang menyerahkan urusan kepada
perempuan.”(HR. Bukhari, Tirmidzi, dan An-Nasa‟i).86

Jadi, yang dimaksud oleh hadits ini menurut Yusuf Qardhawy adalah larangan buat
wanita untuk menjadi khalifah, pemimpin umum kaum muslim. Imam al-Syawkani
mengatakan berdasarkan hadis yang telah disebutkan tersebut bahwa perempuan itu tidak
ahli dalam hal pemerintahan dan tidak boleh suatu kaum menjadikan mereka sebagai

86 Abi Muhammad bin Mas‟ud alBaghawi, Syarhus-Sunnah, ( Darul Kitab „Amaliyah, 436-516 H), h. 322. Imam
Syawkani, Naiul Awtar, (Darul hadis, 1426 H / 2005 M), h. 591.

62

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

pemimpin. Ibnu Jarir pun mengatakan bahwa pemikiran perempuan itu kurang dan tidak
sempurna, terlebih lagi pada urusan laki-laki. Mushoni juga mengambil hadis yang telah
disebutkan, ia mengatakan bahwa : jika dikatakan laki-laki dan laki-laki. Maka dapat
dipahami bahwa perempuan tidak termasuk dalam hal ini.

Kelompok yang membolehkan pemimpin perempuan pun menanggapi pada hadis Nabi
Muhammad SAW., “Tidak akan berjaya suatu kaum kalau menyerahkan urusan kepada
perempuan.”. Asbab al-wurud (sebab turun) hadis tersebut bertalian dengan keputusan Ratu
Kisra, Penguasa Persia, yang mengangkat anak perempuannya menjadi ratu, padahal waktu
itu ia juga memiliki anak laki-laki, yang menurut cerita tidak disukainya. Disamping itu,
Nabi Muhammad tidak melarang perempuan menjadi pemimpin. Ia hanya mengatakan
tidak bahagia suatu kaum jika dipimpin oleh perempuan. Apalagi kalau didasarkan pada
pilian like and dislike, sebagaimana kisa Ratu Kisra tadi.

Menanggapi hadits tersebut, dari sudut metodologis, hadits itu dinyatakan sahih, tetapi
dari segi periwayatan tergolong hadits ahad. Hukum hadis-hadis ahad tidak mendatangkan
keyakinan („ilmul-yaqin), melainkan hanya mendatangkan dengan kuat (zhann) saja. Oleh
karena itu, tidak boleh bersandar pada hadis ahad dalam hukum- hukum yang sangat
penting. Terlebih lagi partisipasi perempuan dalam hak-hak politik dianggap sebagai
masalah yang memiliki landasan konstitusional yang mencakup larangan dan
kepentingan.87

c. Berdasarkan Ijma
Pendapat yang tidak membolehkan pemimpin perempuan ini pun didasarkan pada

ijma untuk menguatkan pendapat tersebut dan mengatakan bahwa hal itu sudah
dipraktekkan pada beberapa masa. Atau setidaknya pada masa Rosulullah SAW. dan masa
Khulafaur Rasyidin yang berlaku tanpa kesertaan perempuan dalam kehidupan politik
negara. Kendati ada sejumlah besar kaum perempuan yang terlibat di bidang budaya dan
intelektual pada masa awal Islam, seperti istri-istri Nabi Muhammad SAW., tetapi mereka
tidak berpartisipasi dalam masalah-masalah kenegaraan. Mereka didasarkan pada pilian
like and dislike, sebagaimana kisa Ratu Kisra tadi.

Menanggapi hadits tersebut, dari sudut metodologis, hadits itu dinyatakan sahih, tetapi
dari segi periwayatan tergolong hadits ahad. Hukum hadis-hadis ahad tidak mendatangkan
keyakinan („ilmul-yaqin), melainkan hanya mendatangkan dengan kuat (zhann) saja. Oleh

87 Ira D. Aini, Milastri Muzakkar, Perempuan Pembelajar…, h. 98.

63

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

karena itu, tidak boleh bersandar pada hadis ahad dalam hukum- hukum yang sangat
penting. Terlebih lagi partisipasi perempuan dalam hak-hak politik dianggap sebagai
masalah yang memiliki landasan konstitusional yang mencakup larangan dan kepentingan.

Pendapat yang tidak membolehkan pemimpin perempuan ini pun didasarkan pada
ijma untuk menguatkan pendapat tersebut dan mengatakan bahwa hal itu sudah
dipraktekkan pada beberapa masa. Atau setidaknya pada masa Rosulullah SAW. dan masa
Khulafaur Rasyidin yang berlaku tanpa kesertaan perempuan dalam kehidupan politik
negara. Kendati ada sejumlah besar kaum perempuan yang terlibat di bidang budaya dan
intelektual pada masa awal Islam, seperti istri-istri Nabi Muhammad SAW., tetapi mereka
tidak berpartisipasi dalam masalah-masalah kenegaraan. Mereka pun tidak diminta untuk
berpartisipasi dalam masalah itu.

Sedangkan, pendapat yang membolehkan pemimpin perempuan memandang tidak
demikian. Pada kenyataannya, hal itu tidaklah benar. Jelas-jelas Rasulullah SAW. mengajak
kaum perempuan bermusyawarah tentang berbagai hal.

Setiap mujtahid mengemukakan pendapatnya yang jelas dan semua sepakat terhadap
ketentuan hukum dalam masalah tersebut. Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan adanya
ijma sharih ataupun sukuti yang melarang perempuan menggunakan hak-hak politik.88

d. Berdasarkan Qiyas
Dalam bersandar pada qiyas, para pencetus pendapat yang tidak membolehkan

pemimpin perempuan ini melihat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena
itu, memungkinkan dilakukan qiyas dalam hal itu. Di antara contoh-contohnya adalah :

a. Tidak adanya perempuan untuk menjadi pemimpin bagi masyarakat umum dalam
sholat lima waktu, sholat Jum‟at, dan sholat Id

b. Perempuan tidak mempunyai hak menentukan talak yang ditetapkan syariat
melekat pada laki-laki, bukan pada perempuan.

c. Perempuan tidak boleh bepergian sendiri tanpa disertai muhrimnya atau teman
yang dipercaya.

d. Perempuan tidak diwajibkan sholat Jum‟at dalam jama‟ah. Sebab dalam hadis
disebutkan : “Sholat Jum’at diwajibkan kepada setiap Muslim secara berjamaah
kecuali empat orang, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil, dan orang

88 Ikhwan Fauzi, Perempuan dan Kekuasaan…, h. 60.

64

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

sakit.”89

Kelompok yang membolehkan pemimpin perempuan mengatakan, mengingat bahwa
perempuan tidak punya hak talak, tidak boleh ditegaskan dalam ijma. Akan tetapi, dalam
kaitannya dengan hukum yang ditegaskan dengan ijma, para ulama berbeda pendapat
apakah boleh diqiyaskan masalah lain padanya atau tidak. Yang berkaitan dengan hukum
syariat yang ditegaskan dengan teks Alqur‟an, maka hukum-hukum ini semua hanya
disebutkan dalam teks-teks yang menetapkan prinsip-prinsip umum tanpa penjelasan
terhadap hal-hal parsial. Demikian pula halnya dalam pelaksanaan hukum- hukum
konstitusional yang berdiri sendiri. Ia bersumber pada aspek-aspek khusus (parsial) dan
tidak dianggap sebagai syariat yang umum. Pada gilirannya, tidak boleh menggunakan
qiyas dalam hal itu. Secara umum dapat dikatakan secara ringkas bahwa tidak boleh
menggunakan qiyas dalam hukum-hukum konstitusional. Sebab, hal itu termasuk bidang-
bidang yang hanya ditetapkan melalui ijtihad.

e. Berdasarkan Faktor Budaya
Masih dijumpainya praktik marjinalisasi peran perempuan dalam kehidupan sosial kita

agaknya berakar pada masih dominannya budaya patrilineal. 90Kondisi sosio-historis dan
budaya pada masa sebelum dan awal datangnya Islam menunjukkan adanya suatu hegemoni
budaya patriarki, yang mana kaum laki-laki lebih tinggi daripada kaum perempuan. Budaya
patriarki memposisikan perempuan pada peran-peran domestik seperti peran pegasuhan,
pendidik dan penjaga moral. Sementara itu, peran laki- laki sebagai kepala rumah tangga,
pengambil keputusan, dan pencari nafkah. Perpanjangan dari berbagai peran yang dilekatkan
pada perempuan tersebut maka, arena politik yang sarat dengan peran pengambil kebijakan
terkait erat dengan isu-isu kekuasaan identik dengan dunia laki-laki. Apabila perempuan
masuk ke panggung politik kerap dianggap sesuatu yang kurang lazim atau tidak pantas
bahkan arena politik dianggap dunia yang keras, sarat dengan persaingan bahkan terkesan
sangat ambisius.

Menghadapi nilai budaya patriarki, lengkap dengan pemahaman bias gender tersebut
tentunya tidak seperti membalikkan telapak tangan. Mengubah cara pandang dan pola pikir
(mind set) masyarakat yang telah mendarah daging dan terpola pengkondisiannya pada benak
pikirannya tidaklah mudah, memerlukan kerja keras yang tentunya harus dimulai dari
penyadaran diri sendiri. Persoalannya adalah tidak banyak kaum perempuan berminat atau

89 Ikhwan Fauzi, Perempuan dan Kekuasaan…, h. 64.
90 Zubaedi, Islam dan Benturan Peradaban, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), h. 224

65

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

tertarik pada dunia politik; diawali dari pola penempatan yang telah dikotak-kotakkan dan
stereotype, perempuan tepat dan pantasnya ada di ranah domestik, sebaliknya laki-laki ada di
ranah publik.

Belum lagi dunia politik di asumsikan sebagai dunia maskulin (keras, kasar, rasional,
kompetitif, menakutkan) sehingga pantasnya hanya dimiliki laki-laki. Sementara ranah
domestik berwatak feminim, lemah, lembut, emosional, ngalah, nurut, halus, ramah; inilah
fungsi dan tugas yang tepat dan cocok bagi perempuan; dia di rumah mengurus dan
membereskan permasalahan di rumah tangga.91

f. Berdasarkan Mitos Kejadian Manusia

Di antara penyebab timpangnya hubungan laki-laki dan perempuan yang berujung pada
ketidakadilan terhadap perempuan ini antara lain mitos-mitos yang disebarluaskan melalui
nilai-nilai dan tafsir- tafsir ajaran agama yang keliru mengenai keunggulan kaum laki-laki.
Sebaliknya, tentang perempuan adalah mitos-mitos yang melemahkan kaum perempuan.
Laki-laki selalu digambarkan sebagai makhluk yang cerdas, kuat, tidak emosional.
Sementara perempuan adalah mahkluk yang lemah, bodoh, emosional dan tidak mandiri.92

Ada pandangan dasar yang menyebabkan munculnya ketidaksetaraan laki-laki dan
perempuan berdasarkan cerita-cerita Israiliyat dalam agama Yahudi dan Kristen. Pertama,
perempuan diyakini telah diciptakan dari tulang rusuk Adam, sehingga ia dianggap
bukanlah yang utama tanpa kehadiran Adam. Keberadaan perempuan karenanya bersifat
pelengkap dan dianggap ada hanya karena laki-laki dan untuk laki- laki. Sebaliknya, laki-
lakilah yang dianggap sebagai ciptaan yang utama, karena ia diciptakan secara utuh, dan
bukan berasal dari manusia lain. Kedua, perempuan diyakini sebagai sumber dari terusirnya
manusia dari surga. Oleh sebab itu, selayaknyalah perempuan dipandang dengan rasa benci,
curiga dan jijik, bahkan lebih jauh sebagai sumber malapetaka.

Berdasarkan pembahasan yang telah dijabarkan mengenai kedudukan pemimpin
perempuan dalam Islam, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kedudukan pemimpin perempuan dalam Islam sampai saat ini masih menuai pro dan

kontra. Ada yang membolehkan perempuan menjadi pemimpin, sebaliknya ada juga
yang tidak membolehkan. Akan tetapi mayoritas ulama lebih banyak yang tidak

91 Djazimah Muqoddas, Kontroversi Hakim Perempuan..., h. 95.
92 Ratna Batara Munti, Perempuan sebagai Kepala Rumah Tangga, (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan

Gender, 1999), h. 37.

66

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

membolehkan.
2. Perbedaan pendapat mengenai pemimpin perempuan tersebut muncul karena beberapa

faktor, baik karena faktor berbedanya penafsiran terhadap ayat al- Quran dan Hadist,
Ijma‟ dan Qiyas, maupun karena budaya patriarki yang belum hilang dari masyarakat,
serta mitos-mitos kejadian manusia mengenai perempuan itu sendiri.93

TOKOH-TOKOH BAB
KEPEMIMPINAN
3
WANITA

93 Agesna , Widya. 2018. Kedudukan Pemimpin Perempuan Dalam Perspektif Hukum Islam. Jurnal
Pemerintahan dan Politik Islam 122 Vol. 3, No. 1

67

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

3.3 TOKOH – TOKOH KEPEMIMPINAN WANITA
a. RATU ELIZABETH I

Elizabeth I (7 September 1533 – 24 Maret 1603) adalah ratu Kerajaan Inggris dan
Irlandia dari 17 November 1558 hingga kematiannya. Ia kadang-kadang dijuluki "The Virgin
Queen" (Ratu Perawan), "Gloriana", atau "Good Queen Bess". Elizabeth adalah penguasa
monarki kelima dan terakhir dari Dinasti Tudor. Ia merupakan putri dari Henry VIII dan
Anne Boleyn, tetapi ibunya dihukum mati dua setengah tahun setelah kelahirannya, dan
pernikahan Anne dengan Henry VIII dibatalkan, sehingga Elizabeth dianggap sebagai anak
yang tidak sah (https://id.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_I_dari_Inggris).94

Saudara tirinya, Edward VI, menjadi raja hingga kematiannya pada tahun 1553, dan
sebelum meninggal ia menyerahkan takhta kepada Lady Jane Grey, yang bertentangan
dengan undang-undang yang berlaku saat itu dan menyingkirkan Elizabeth dan Mary.
Namun, keinginan Edward diabaikan; Mary menjadi ratu dan Lady Jane Grey dihukum mati.
Pada tahun 1558, Elizabeth menggantikan saudara tirinya, walaupun sebelumnya Elizabeth
dipenjara hampir selama setahun karena diduga mendukung pemberontak Protestan.

Elizabeth mencoba memerintah berdasarkan nasihat yang baik,[1] sehingga ia sangat
bergantung pada penasihat-penasihat tepercayanya yang dipimpin oleh William Cecil, Baron
Burghley. Salah satu tindakan pertamanya adalah mendirikan kembali gereja Protestan
Inggris, dengan Elizabeth sebagai Gubernur Tertinggi (Supreme Governor). Gereja ini akan
berkembang menjadi Gereja Inggris saat ini. Elizabeth diharapkan akan menikah dan

94 id.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_I_dari_Inggris

68

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

menghasilkan keturunan sehingga melanjutkan garis keturunan Tudor. Namun, ia tidak
pernah menikah, walaupun pernah beberapa kali berpacaran. Elizabeth kemudian dikenal
akan keperawanannya, dan muncul kultus yang dapat dilihat dalam bentuk potret, arak-
arakan, dan sastra.95

Saat memerintah, Elizabeth lebih moderat dari ayah dan saudara-saudaranya.[2] Salah
satu semboyannya adalah "video et taceo" ("Saya melihat dan tidak mengatakan apa-apa").[3]
Ia relatif toleran terhadap kepercayaan lain dan tidak melakukan penganiayaan atas dasar
tersebut. Setelah tahun 1570, saat paus menyatakan bahwa ia adalah penguasa yang tidak sah
dan bawahan-bawahannya tidak harus patuh kepadanya, beberapa konspirasi mengancam
nyawanya. Namun, semua upaya untuk menjatuhkan Elizabeth digagalkan berkat agen
rahasia menteri-menterinya.

Dalam urusan luar negeri, Elizabeth cukup berhati-hati dan berpindah-pindah antara
Prancis dan Spanyol. Ia setengah hati dalam mendukung sejumlah kampanye militer yang
tidak efektif dan kurang dibiayai di Belanda, Prancis, dan Irlandia. Pada pertengahan tahun
1580-an, perang dengan Spanyol tak dapat lagi dihindari, dan ketika Spanyol memutuskan
akan menaklukkan Inggris pada tahun 1588, Armada Spanyol dikalahkan oleh Inggris, dan
kemenangan ini menjadi salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah Inggris.

Masa kekuasaan Elizabeth disebut era Elizabeth dan dikenal karena perkembangan
drama Inggris oleh beberapa pujangga seperti William Shakespeare dan Christopher
Marlowe. Selain itu, penjelajah-penjelajah Inggris seperti Francis Drake juga tersohor.
Namun, beberapa sejarawan menyatakan bahwa Elizabeth mudah marah, kadang-kadang
tidak tegas, dan hanya beruntung saja. Menjelang akhir kekuasaannya, akibat berbagai
masalah ekonomi dan militer, popularitasnya berkurang. Namun, ia tetap dikenal sebagai
seorang reformis yang karismatik dan berhasil bertahan pada masa ketika pemerintahan
Inggris hampir roboh dan saat penguasa di negara-negara tetangga menghadapi masalah
internal yang mengancam kekuasaannya. Hal ini terjadi pada musuh Elizabeth, Mary, Ratu
Skotlandia, yang dipenjara oleh Elizabeth pada tahun 1568 dan akhirnya dihukum mati pada
tahun 1587. Empat puluh empat tahun masa kekuasaan Elizabeth telah membawa stabilitas
pada Inggris dan membantu membentuk identitas nasional.

Elizabeth lahir di Istana Greenwich dan dinamai dari kedua neneknya, Elizabeth dari
York dan Elizabeth Howard.[5] Ia adalah anak kedua raja Henry VIII dari Inggris. Ibunya,
Anne Boleyn, adalah istri kedua Henry. Saat lahir, ia menjadi calon penerus takhta Inggris.

95 id.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_I_dari_Inggris

69

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Kakak tirinya, Mary, tidak menjadi penerus yang sah karena Henry telah membatalkan
pernikahannya dengan ibu Mary, Catherine dari Aragon, agar dapat menikahi Anne dan
memperoleh penerus laki-laki. Elizabeth dibaptis pada tanggal 10 September; Kepala Uskup
Thomas Cranmer, Marquess Exeter, Adipati Wanita Norfolk, dan Dowager Marchioness
Dorset menjadi empat sponsor pembaptisannya.96

Saat Elizabeth berusia dua tahun dan delapan bulan, ibunya dihukum mati pada
tanggal 19 Mei 1536.[8] Elizabeth dinyatakan sebagai anak yang tidak sah dan tidak lagi
menjadi calon penerus.[9] Sebelas hari setelah kematian Anne Boleyn, Henry menikahi Jane
Seymour, tetapi ia meninggal segera setelah melahirkan anak laki-laki yang bernama Edward
pada tahun 1537. Semenjak kelahirannya, Edward menjadi calon penerus takhta yang tak
terbantahkan. Elizabeth ditempatkan di rumah tangganya dan membawa chrisom (kain
baptis) saat Edward dibaptis.

Pengajar dan pengasuh pertama Elizabeth adalah Margaret Bryan.[11] Pada musim
gugur tahun 1537, Elizabeth diurus oleh Blanche Herbert hingga ia pensiun pada akhir tahun
1545 atau awal tahun 1546.[12] Catherine Champernowne, yang lebih dikenal dengan nama
Catherine "Kat" Ashley, menjadi pengajar dan pengasuh Elizabeth pada tahun 1537, dan ia
tetap menjadi teman Elizabeth hingga kematiannya pada tahun 1565.[13] Champernowne
mengajari Elizabeth empat bahasa: bahasa Prancis, Vlaams, Italia, dan Spanyol.[14] Pada
saat William Grindal menjadi pengajarnya pada tahun 1544, Elizabeth dapat menulis dalam
bahasa Inggris, Latin, dan Italia. Di bawah pengajaran Grindal, kemampuan bahasa Prancis
dan Yunani Elizabeth juga mengalami kemajuan.[15] Setelah Grindal meninggal pada tahun
1548, Elizabeth dididik oleh Roger Ascham.[16] Pada saat pendidikan resminya berakhir
pada tahun 1550, ia adalah salah satu perempuan paling terdidik pada generasinya.[17] Pada
akhir hayatnya, Elizabeth juga diketahui dapat menuturkan bahasa Welsh, Kernowek,
Scots,[18] dan Irlandia. Duta besar Venesia pada tahun 1603 menyatakan bahwa ia
menguasai bahasa-bahasa tersebut hingga seolah bahasa tersebut merupakan bahasa
aslinya.[19] Sejarawan Mark Stoyle menyatakan bahwa ia mungkin mempelajari bahasa
Kernowek dari William Killigrew.97

b. RATU BALQIS

96 id.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_I_dari_Inggris
97 id.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_I_dari_Inggris

70

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Ratu Sheeba Bilqis digambarkan dalam Alquran (Surat al-Naml 27: 20-44) sebagai
seorang yang bijaksana dan berpengaruh. Dirinya, adalah pemimpin sejati yang demokratis
dan memilih berkonsultasi dengan konselornya sebelum mengambil keputusan. Pada suatu
waktu, Nabi Sulaiman diberitahu mengenai kepemimpinan dari kerajaan dan takhta Ratu
Sheeba itu. Sayang, Nabi Sulaiman juga mendapat kabar rakyat Ratu Bilqis tidak percaya
pada Allah SWT dan memilih menyembah matahari. Atas pertimbangan tersebut, ia bersurat
pada Bilqis dan mengundangnya untuk bercakap dan beriman pada Allah SWT. Undangan
itu, dituliskan dalam sebuah surat An-Naml.98

“Dengan nama Allah Yang Maha Penyayang, dan pengasih! Jangan bertindak
sombong, dan datanglah kepada saya untuk berkomitmen (hidup dalam) damai," (27: 30-31).
Tak langsung mendatanginya, Bilqis memilih menghubungi penasihatnya menyoal pesan dari
Nabi Sulaiman itu. Alih-alih menyarankan kedatangan, para perwira militer Bilqis
menyarankan tindakan militer dan membalas suratnya Nabi Sulaiman;

“Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan
berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan,” (27:33).

Jawaban Bilqis saat itu, juga diketahui sangat bijak. Dia berkata jika Sulaiman hanya
seorang raja, mereka akan memuaskannya dengan hadiah. Tetapi, jika dia adalah seorang
Nabi, seperti yang disebutkannya pada Bilqis, maka Bilqis menyatakan untuk menghadapinya
dengan sangat hati-hati. Mendapat kabar tersebut, Nabi Sulaiman tegas menolak hadiah
tersebut. Sehingga, satu-satunya cara yang disadari Bilqis adalah dengan datang ke kerajaan
Nabi Sulaiman.

98 www.republika.co.id/berita/qnsef9366/kisah-bilqis-ratu-bijaksana-yang-menjadi-mualaf

71

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Dalam kisah di Alquran, mereka diceritakan berakhir dalam pertemuan itu, dan Bilqis
yang menjadi Muslimah. Namun, cerita selanjutnya, dikisahkan jika mereka akhirnya
menikah. Ratu Sheeba Bilqis adalah salah satu wanita dengan kepribadian yang baik dalam
Alquran. Dia berbakat dalam berdiplomasi, dan merupakan pemimpin yang berhati-hati serta
tidak akan menempatkan rakyatnya dalam situasi yang tidak berdaya.99

Bilqis atau Balqis. Ketika mendengar nama itu yang tergambar dalam benak
mayoritas kita adalah penguasa Negeri Saba, pemilik istana megah, perempuan super kaya,
dan perempuan penyembah matahari. Iya betul, sebab begitulah Hud-hud mengadukan alasan
kealpaannya tatkala Nabi Sulaiman memeriksa kumpulan burung. Kalau saja Hud-hud datang
tanpa alasan yang jelas niscaya ia bakal disiksa atau disembelih. Beruntung Hud-hud kembali
merapat ke barisan dengan kabar yang istimewa.

Kisah ini terekam dalam Al-Quran Surah an-Naml ayat 20 sampai dengan 44. Setelah
Nabi Sulaiman mengirim surat melalui Hud-hud kepada Balqis, Nabi yang mengerti semua
jenis bahasa itu mengumpulkan seluruh tentaranya baik dari kalanagan bangsa Jin dan
manusia untuk memindahkan istana Balqis ke hadapannya.

Setelah singgasana Balqis didatangkan kepada Nabi Sulaiman sebelum Balqis tiba di
hadapannya, maka Nabi Sulaiman memerintahkan agar singgasana itu dirubah sebagian ciri
khasnya untuk menguji pengetahuan dan kekuatan daya ingat Balqis saat melihat
singgasananya yang telah diubah itu. Apakah Balqis dapat menebak bahwa itu adalah
singgasananya ataukah tidak?

Dia berkata, "Ubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia
mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).” (QS. an-Naml: 41).
Ibnu Abbas mengatakan, Sebagian aksesoris singgasana itu dilepas. Mujahid mengatakan
bahwa Sulaiman a.s. memerintahkan agar apa yang tadinya berwarna merah diubah dengan
warna kuning, yang tadinya berwarna kuning diubah menjadi merah, dan yang tadinya
berwarna hijau diubah menjadi merah, semua warna diubah dari keadaan semula.100

Ikrimah mengatakan bahwa mereka melakukan penambahan dan pengurangan pada
singgasana tersebut. Qatadah mengatakan bahwa yang tadinya diletakkan di bagian atas
ditaruh di bawah, dan yang tadinya ditaruh di belakang diletakkan di muka, lalu mereka

99 www.republika.co.id/berita/qnsef9366/kisah-bilqis-ratu-bijaksana-yang-menjadi-mualaf
100 www.ibnukatsironline.com/2015/07/tafsir-surat-naml-ayat-41-44.html

72

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

melakukan sedikit modifikasi penambahan dan pengurangan pada istana Balqis. Sebagaimana
ayat selanjutnya yang berbunyi:

Dia berkata, "Ubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia
mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).” (QS. an-Naml: 41).
Ibnu Abbas mengatakan, Sebagian aksesoris singgasana itu dilepas. Mujahid mengatakan
bahwa Sulaiman a.s. memerintahkan agar apa yang tadinya berwarna merah diubah dengan
warna kuning, yang tadinya berwarna kuning diubah menjadi merah, dan yang tadinya
berwarna hijau diubah menjadi merah, semua warna diubah dari keadaan semula.

Ikrimah mengatakan bahwa mereka melakukan penambahan dan pengurangan pada
singgasana tersebut. Qatadah mengatakan bahwa yang tadinya diletakkan di bagian atas
ditaruh di bawah, dan yang tadinya ditaruh di belakang diletakkan di muka, lalu mereka
melakukan sedikit modifikasi penambahan dan pengurangan pada istana Balqis. Sebagaimana
ayat selanjutnya yang berbunyi:

Maka ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya, "Apakah ini singgasanamu?” Dia
menjawab, "Sepertinya ini singgasanaku..." (QS. an-Naml: 42).

Ditampilkan ke hadapan Balqis singgasananya yang telah diubah dan yang telah
dimodifikasi dengan sedikit penambahan dan pengurangan. Disinilah sang Ratu Negeri Saba
teruji. Akan tetapi, dalam keadaan pangling Ratu Balqis tidak lantas kehilangan
kecerdasannya. Selain Ratu berwibawa, Balqis rupanya juga cerdik dan teliti.

Buktinya, saat ditanya oleh Nabi Sulaimam, Balqis tidak menjawab bahwa "ia itu
adalah singgasanaku," mengingat jarak perjalanan yang sangat jauh (antara Yaman dan Baitul
Maqdis). Balqis juga tidak menjawab, "tidak, ini bulan singgasanaku," mengingat masih
banyak terdapat ciri-ciri khas singgasana miliknya yang masih utuh, hanya telah mengalami
modifikasi dan perubahan. Maka ia menjawab, "Sepertinya ia, ini singgasanaku yakni, mirip
dengan istananya. Ungkapan ini menunjukkan kecerdikan dan kecermatan Ratu Balqis.

c. NYI AGENG SERANG, PANGLIMA SAKTI PERANG JAWA

73

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Ia adalah putri seorang Kiai Ageng Derpoyudhi, seorang kiai terkemuka dari
Majangjati Sragen. Kiai Ageng Derpoyudho sendiri adalah putra dari Kiai Ageng Datuk
Sulaiman atau sering akrab disebut Kiai Sulaiman Bekel. Kealimannya juga tak lepas dari
darah yang mengalir dari silsilah keturunannya. Silsilahnya sampai pada Sultan Abdul Kahir
I, Sultan Bima yang bertakhta di Sumbawa pada 1621-1640.101

Peter Carey (2016) menyebutnya sebagai sosok perempuan Tangguh; ia mendampingi
suaminya, Sultan Hamengkubuwono I, dalam Perang Giyanti (1746-1755). Setelah Perjanjian
Giyanti, dia bersama sang suami membentuk Kesultanan Yogyakarta, melahirkan pewaris
takhta Sultan. Nyi Ageng Ratu bukan saja sebagai perempuan istri raja yang lemah lembut,
dia adalah perempuan perkasa. Ini terlihat dari posisinya sebagai panglima pasukan kawal
istimewa perempuan kerajaan yang merupakan satu-satunya barisan pasukan militer Keraton
Yogya.

Selain itu dia adalah sosok perempuan yang agamis dengan kemampuan spiritual
yang tinggi. Ia dikenal sebagai salah satu ulama perempuan di Jawa yang disegani karena
ilmunya dan kemampuan spiritualitasnya. Sebagai seorang ulama, kegemarannya ialah
membaca kitab-kitab agama. Ia juga merupakan seorang penganut tarekat Syattariyah. Dia
belajar tasawwuf dan ilmu agama dari orang tua dan kakeknya yang juga seorang ulama dan
mursyid tarekat.

Sikap Zuhud Nyi Raru Ageng terlihat dari keberaniannya meninggalkan hingar bingar
dunia istana ketika terjadi konflik dengan anaknya, Sundoro (kelak HB II) yang dianggap
telah menyepelekan tatanan dan ajaran Islam. Ia kemudian memilih menyingkir dan tinggal
di Tegalrejo, sebuah desa yang terletak di tenggara Keraton. Karena itulah Nyi Ratu Ageng
kemudian dikenal dengan sebutan Nyai Ageng Tegalrejo Di Tegalrejo. Nyai Ageng Tegalrejo
giat bertani tanpa meninggalkan ibadah. Tidak hanya itu, dari padepokan Tegalrejo ini, dia

101 swararahima.com/2020/03/03/nyi-ratu-ageng-ahli-agama-dan-ahli-strategi-perang-dari-sragen/

74

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

membangun kekuatan untuk menyebarkan dan mengajarkan Islam serta melakukan
perlawanan terhadap tindakan yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Meski dia seorang alim yang menguasai khazanah kitab kuning dan pengamal tarekat
yang konsisten, namun sebagai keturunan bangsawan Jawa, kehidupannya juga tidak bisa
dilepaskan dari filosofi dan tradisi Jawa. Dalam sebuah artikel bertajuk “Ratu Ageng
Tegalrejo: Wanita Perkasa yang Tercuri Sejarah”, Nyi Ageng Tegalrejo adalah nenek buyut
Pangeran Diponegoro.

Milal Bizawi (2018) menyebut Nyi Ageng Tegalrejo-lah yang mengasuh dan
mendidik Pangeran Diponegoro baik di dalam ilmu agama, tarekat maupun politik. Dalam
beberapa sumber juga disebutkan sang nenek inilah yang menjadi mursyid tarekat dan
membaiat Diponegoro dalam tarekat.102

Selain sebagai guru agama dan tarekat, Nyi Ageng Tegarejo ini juga seorang ahli
strategi perang. Pengalaman sebagai Panglima Pasukan Kawal Kerajaan Perempuan telah
menampatkan dirinya daam posisi yang vital dan strategis dalam perang Jawa. Nyi Ratu
Ageng yang juga disebut Nyi Ageng Tegalrejo tidak saja menjadi penasehat spiritual dan
guru agama bagi Diponegoro, tetapi sekaligus juga penasehat perang dan pengatur strategis
yang menggerakkan kekuatan para kyai dan pesantren di Jawa dalam Perang Jawa yang
dipimpin oleh Diponegoro.

3.2 ANALISIS KOMPETENSI KEPEMIMPINAN WANITA

Pemimpin wanita, restu dan dukungan dari suami sangat dibutuhkan (bahkan hal yang
utama). Hal ini penting baginya agar pemimpin wanita bisa fokus dan maksimal dalam
menjalankan kepemimpinannya. Dukungan keluarga besar juga dibutuhkan karena
menghadle beberapa tugasnya sebagai ibu dalam mengurusi anak-anaknya (terutama jika
anaknya masih belum mampumandiri). 103

Subyek (pemimpin BUMN) menceritakan dirinya tidak bisa lebaran dan tahun Baru
dengan keluarga demi menyelesaikan laporan sesuai dengan target yang ada. Namun suami
dan anak sangat memahami posisinya sehingga yang awalnya marah namun seiring dengan
waktu menjadi mampu memahaminya. Sementara pemimpin yang dipenitipan anak membuat
kebijakan bahwa karyawan tidak boleh membawa anak dibawah 3 tahun ke kantor karena
dikhawatirkan akan mengganggu kinerjanya dalam melayani anak titipan.

102 swararahima.com/2020/03/03/nyi-ratu-ageng-ahli-agama-dan-ahli-strategi-perang-dari-sragen/
103 Basti, dkk. 2016. Analisis Kompetensi Kepemimpinan Wanita. Jurnal Ilmiah psikologi terapan, Vol. 04, No.02

75

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Kebijakan yang lain, hari sabtu diliburkan supaya anak-anak dekat dengan
orangtuanya dan demikian juga karyawannya memiliki waktu yang cukup bersama keluarga.
Hal ini menunjukkan dedikasi yang kuat para pemimpin wanita dalam menjalankan tugas dan
perannya dikantor sehingga cenderung mengkikis empatinya terhadap masalah pribadi
bawahan. Berbeda dengan pemimpin laki-laki, karyawan pelindo merasa lebih fleksibel dan
dapat diajak komunikasi untuk kepentingan pribadi karyawan. Karyawan wanita diberikan
ijin untuk antar jemput anaknya, hal ini karena ia mengingat anak dan istrinya. Sikap empati
justru dimiliki oleh pemimpin laki-laki, sementara pemimpin wanita menjadi kurang empati
karena mengukur dari kemampuan dirinya yang berhasil fokus dengan instansi meskipun
memiliki anak-anak yang harus diurusnya.

Di samping itu, kemampuan lain yang mendukung pemimpin wanita adalah
menejemen waktu karena harus berperan ganda yang keduanya berjalan bersamaan sehingga
butuh perencanaan yang bersinergi dalam menyelesaikan tuntutan tugas keduanya. Subyek
harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja, dan mampir kerumah ibunya
menitipkan anaknya yang masih balita dan lanjut perjalanan menuju tempat kerja. Menjelang
senja bahkan malam hari pulang menjemput dulu anak-anak dan bersama suami pulang
kerumah dengan memilih jalan yang melewati toko atau pasar untuk kebutuhan dirumah.

Hal utama dalam menjalankan tugas kepemimpinan adalah kompetensi baik itu
pemimpin laki-laki maupun pemimpin wanita. Namun, ada 2 hal yang dibutuhkan yakni:
pertama, wanita harus memiliki juga sifat maskulin (percaya diri, tegas dan berani mengambil
keputusan). Hal ini karena tugas pemimpin harus mampu mengatur dan membuat kebijakan
secara tepat bahkan cepat. Menurut Wirawan (2013) Struktur otak manusia terdiri dari otak
kanan dan otak kiri. Berbeda artikel menguraikan perbedaan antara otak laki-laki dan otak
perempuan. Laki-laki memproses sesuatu lebih baik di otak kirinya sedangkan wanita
keduabelah otaknya mempunyai kemampuan memproses yang sama. Perbedaan ini
menjelaskan mengapa laki-laki lebih kuat dalam aktivitas otak kirinya dan pendekatan
pemecahan masalah, sedangkan wanita menyelesaikan problem lebih kreatif dan lebih sadar
terhadap perasaan ketika berkomunikasi. Kondisi ini yang menjadikan wanita mampu bekerja
dengan tuntutan yang ganda dalam waktu bersamaan.104

1. Perbedaan Kepemimpinan Laki-laki dan Wanita menurut Bawahan
Secara umum bawahan tidak lagi memperdebatkan jenis kelamin seorang pemimpin,

104 Basti, dkk. 2016. Analisis Kompetensi Kepemimpinan Wanita. Jurnal Ilmiah psikologi terapan, Vol. 04, No.02

76

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

yang lebih utama adalah kompetensi dan kepribadiannya. Namun jika dianalisa lebih dalam,
maka terdapat 3 perbedaan mendasar yang didapatkan dari hasil analisa penelitian ini, yakni:

Perbedaan Pemimpin laki-laki dan Wanita

Hal ini sesuai dengan penelitian Kenneth (dalam Soetjipto, 2006), penelitian meta
analisis dan kajian lebih dari 160 penelitian menyimpulkan wanita cenderung lebih banyak
memakai kepemimpinan partisipatif dan transformasional karena lebih emosional dan
demokratis dan sebaliknya, pemimpin laki-laki cenderung ke transformasional. Namun data
penelitian diatas justru kebalikannya.105

105 Basti, dkk. 2016. Analisis Kompetensi Kepemimpinan Wanita. Jurnal Ilmiah psikologi terapan, Vol. 04, No.02

77

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Berikut ini perbedaan detail tentang gaya kepemimpinan Transformasional dan
Transaksional.

Jika melihat ciri-ciri diatas dan dihubungkan dengan hasil penelitian ini, maka justru
terbalik kejadiannya. Kinerja pemimpin wanita yang detail, berorientasi proses,
mendahulukan kepentingan institusi adalah ciri khas dari gaya kepemimpinan
trasformasional. Sementara pemimpin laki-laki, berempati dengan keperluan karyawannya,
dan orientasi kerjanya lebih pada hasil yang dicapai tanpa peduli proses yang dilalui
bawahan.106

Pada penelitian, Eagly, dan Johannesen (2001) menyatakan bahwa perempuan
semakin mampu dalam hal peran kepemimpinan yang secara sebelumnya telah diduduki oleh
laki-laki, kemungkinan bahwa gaya kepemimpinan perempuan dan laki-laki berbeda terus
menarik perhatian. Selain itu perempuan mampu memiliki gaya transformasional,

106 Basti, dkk. 2016. Analisis Kompetensi Kepemimpinan Wanita. Jurnal Ilmiah psikologi terapan, Vol. 04, No.02

78

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

transaksional, dan laissez-faire leadership styles. Selain itu, Ryan, dan Haslam, (2005)
membuktikan bahwa perempuan mampu mengatasi masa kritis dalam sebuah kepemimpinan
dan mampu menjalankan berbagai rintangan yang ditemukan dalam proses
kepemimpinannya.

Eagly, dan Carli, (2003) menyatakan bahwa di Amerika Serikat, perempuan semakin
dipuji karena memiliki kemampuan yang sangat baik untuk kepemimpinan dan, pada
kenyataannya, perempuan, lebih dari laki-laki, gaya kepemimpinan terasa nyata terkait
dengan kinerja yang efektif sebagai pemimpin.

Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang khas yang ditentukan oleh
kompetensi, kepribadian, pengalaman dan kondisi instansi yang dipimpinnya. Jenis instansi
yang dipimpinnya juga berpengaruh bagaimana pemimpin melakukan fungsinya. Dalam
penelitian ini nampak tergambar 2 instansi yang berbeda, yang berorientasi pada keuntungan
(BUMN) akan lebih banyak menguras energi, waktu dan pikirannya karena dipenuhi dengan
target dan tantangan. Sementara untuk penitipan anak, lebih pada rutinitas dan pelayanan.
Kepribadian pemimpin juga berpengaruh terhadap iklim organisasi.

Selanjutnya perbedaan jenis kelamin tidak terlalu dipermasalahkan karena yang
terpenting adalah kompetensi dan kepribadian pemimpin tersebut dalam menjalankan
perannya. Yang berbeda adalah gaya kerja, wanita lebih teliti dan detail, sementara laki-laki
lebih berorientasi pada proses. Perbedaan yang lain adalah empati pimpinan terhadap kondisi
bawahan. Perempuan justru kurang empati karena merasa dirinya memiliki peran yang sama
dengan bawahan yakni sebagai wanita karier namun mampu membagi waktu dengan baik107

107 Basti, dkk. 2016. Analisis Kompetensi Kepemimpinan Wanita. Jurnal Ilmiah psikologi terapan, Vol. 04, No.02

79

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

KEPEMIMPINAN BAB
DAN GAYA
4
KEPEMIMPINAN
WANITA

4.1 GAYA KEPEMIMPINAN RATU ELIZABETH I
Ratu Elizabeth 1 adalah ratu Inggris yang memerintah selama 45 tahun (1558-1603).

Ia dianggap ratu paling terkemuka. Dibawah pemerintahannya, Inggris mencapai masa
kemakmuran ekonomi, kemajuan dibidang kesusastraan dan kekuatan militer. Inggris
memiliki armada laut paling kuat di dunia. Bahkan persemakmuran Virginia, bekas koloni
Inggris di Amerika Utara yang saat ini maenjadi salah satu dari 13 negara bagian pertama
Amerika Serikat dinamakan sesuai dengan julukan Elizabeth I, “the Virgin Queen”.108

Awal Kepemimpinan Ratu Elizabeth I, Pada usia 13 tahun tepatnya tahun 1547,
ayahnya Henry VIII tutup usia. Saudara tiri Elizabeth Edward VI naik tahta dan berkuasa
anatara tahun 1547-1553. Saat itu terjadi konflik antara kelompok protestan dan katholik
roma dan Edward VI lebih mendukung golongan protestan. Namun setelah Ratu Mary naik
kerajaan Inggris kembali mendukung katholik roma. Golongan protestan sitindas dan banyak
pengikutnya yangt dihukum mati. Ratu Mary tutup usia pada tahun 1558 dan digantikan
Elizabeth I.

Banyak masalah yang menghalang ratu yaitu peperangan melawan Prancis, hubungan
tegang dengan Skotlandia dan Spanyol, kondisi moneter pemerintah dan perpecahan agama.
Tak lama setelah Elizabeth naik tahta, ia membuat undang undang tentang “Supremasi dan

108 Novita, Tria Hikma. 2015. Analisis Tipe Kepemimpinan Ratu Elizabeth 1 . Makalah Kewirausahaan,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

80

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Persamaan” yang disahkan tahun 1559 yang berisi menetapkan Anglican sebagai agama
resmi Inggris dan berhasil meredam perpacahan agama di Inggris.

Pertentangan dengan Prancis juga berakhir dengan hubungan baik dikedua Negara.
Namun Inggris terlibat pertentangan dengan Spanyol dan perang antara Inggris dengan
Spanyol pun tak terhindarkan walaupun Ratu Elizabeth tidak menginginkan peperangan.
Pemberontakan di negeri Belanda melawan penguasa Spanyol juga menjadi faktor pembantu
karena pemberontak Belanda menganut protestan dan Elizabeth membantu Belanda. Karena
itu ketika perang dengan Spanyol yang terjadi 1588 Elizabeth mendapat dukungan penuh.
Elizabeth membangun Angkatan Laut Inggris hingga memiliki armada yang kuat. Dan
keadaan ini membuat Raja Philip II dari Spanyol merasa tersaingi oleh Inggris dan akhirnya
membangun Angkatan Laut dengan kekuatan yang sama dengan Inggris.

Gaya kepemimpinan Ratu Elizabeth I

Elizabeth adalah seorang politikus yang cakap, tegas, punya pandangan luas. Dia juga
bersikap sangat hati-hati dan konservatif. Dia tidak suka perang dan pertumpahan darah
meskipun dia bisa melakukannya. Dalam pemerintahan, dia sangat kooperatif dengan
parlemen. Beliau memimpin inggris dengan gaya kepemimpinan “Demokrasi” yaitu gaya
kepemimpinan yang memberikan wewenang secara luas kepada bawahan, serta tidak
mengambil sebuah keputusan berdasarkan kehendak pribadinya. Setiap ada permasalahan
selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh.

Dalam bidang politik luar negeri, ia terkenal sebagai tokoh yang cermat, luwes dan
berpandangan jauh. Pada awal tahun 1560 dia mengadakan “perjanjian Edinburgh” yang
menjamin penyelesaian konflik dengan Skotlandia dan Pertentangan dengan Prancis juga
berakhir dengan baik.109

Kekurangan gaya kepemimpinan Ratu Elizabeth I

Kekurangan Elizabeth terbesar adalah ketidakbersediaan menyediakan peluang untuk
pergantian tahtanya. Dia selalu menghindari menetapkan penggantinya. Apa pun alasan
Elizabeth tidak mau menyebut penggantinya jika dia mati muda (atau kapan saja sebelum
matinya Mary dari Skotlandia), memungkinkan Inggris terlibat perang saudara setelah adanya
pergantian raja/ratu. Akhirnya Elizabeth hidup sampai umur tujuh puluh tahun, di atas tempat

109 Novita, Tria Hikma. 2015. Analisis Tipe Kepemimpinan Ratu Elizabeth 1 . Makalah Kewirausahaan,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

81

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

tidur menjelang rohnya melayang, dia menyeebut bahwa Raja James II dari Skotlandia
(putera Mary dari Skotlandia) menjadi penggantinya. Meskipun ini berarti persatuan antara
Inggris dan Skotlandia di bawah satu mahkota, ini merupakan pilihan yang membingungkan.
Baik James maupun puteranya Charles I terlampau otoriter untuk Inggris, sehingga di abad
pertengahan perang saudara pun tak dapat dihindari.

Kelebihan gaya kepemimpinan Ratu Elizabeth I

Kelebihannya Elizabeth punya kecerdasan yang melebihi orang biasa dan seorang
politikus yang cakap, tegas, punya pandangan luas. Selain itu Elizabeth merupakan orang
yang sangat berhati-hati dan konservatif. Dia tidak menyukai peperangan dan pertumpahan
darah meskipun jika diperlukan dia akan bersiteguh melakukannya. Seperti halnya ayahnya,
dia menjalankan pemerintahan dengan kerjasama parlemen dan bukan melawannya. Karena
dia tidak menikah. Elizabeth memiliki kemampuan memilih menteri-menteri yang memiliki
kemampuan baik. Pencapaiannya antara lain merupakan berkat Williarn Cecil (Lord
Burghley), yang menjadi penasihat utamanya sejak tahun 1558 hingga matinya di tahun
1598.110

Pembahasan
Hal Pokok-pokok keberhasilan dari kepemimpinan Ratu Elizabeth I bisa sebagai

berikut:
a. Pertama, dia memimpin Inggris selama tahap kedua jaman pembaharuan tanpa

pertumpahan darah yang berarti. (Berbeda dengan Jerman di mana tiga puluh tahun
perang (1618-1648) hingga membunuh lebih dari dua puluh lima persen penduduk).
b. Kedua, Elizabeth meredakan rasa benci keagamaan antara Katolik Inggris dan Protestan
Inggris, dia berhasil pula menjaga persatuan bangsa.
c. Ketiga, empat puluh lima tahun pemerintahannya –Era Elizabeth– umumnya dianggap
jaman keemasan suatu bangsa besar di dunia.
d. Keempat, di masa pemerintahannya Inggris muncul menjadi kekuatan pokok, posisi yang
bisa dipertahankannya berabad-abad berikutnya.

4.2 GAYA KEPEMIMPINAN RATU BALQIS

110 Novita, Tria Hikma. 2015. Analisis Tipe Kepemimpinan Ratu Elizabeth 1 . Makalah Kewirausahaan,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

82

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Ratu Balqis; Profil Perempuan Perkasa

1) Surat Sakti; Simbol Pemimpin Demokratis

Dalam fragmen ini diuraikan QS. al-Naml (27): 29- 35. Fragmen ini mengisahkan
tentang kondisi Ratu Balqissetelah ia menerima surat ”sakti” di tempat tidurnya. Dikatidakan
sakti karena tidak ada seorangpun yang mengetahui siapa pengantar surat tersebut, termasuk
juga dirinya. Hanya saja, dalam konteks ini, al-Qur’an tidak menjelaskan bahasa yang
digunakan oleh Nabi Sulaiman dalam surat tersebut, sehingga Ratu Balqis dengan mudah
memahami isinya dan segera mengumpulkan pejabat terasnya. Boleh jadi surat itu ditulis
oleh Nabi Sulaiman a.s.111 dengan menggunakan bahasa Ibrani dan Balqis memang
memahaminya. Boleh jadi surat tersebut juga ditulis dengan bahasa Arab Qah}t}a>niyah atau
boleh jadi surat itu telah diterjemahkan oleh petugas penerjemah kerajaan sebelum Balqis
menyampaikan pada pejabat terasnya. Tiga kemungkinan ini, semuanya bisa diterima akal,
sebab kebesaran dan kehebatan kerajaan Nabi Sulaiman a.s. tidak akan pernah sepi dari
seorang sekretaris yang pandai dan ahli dalam berbagai bahasa (Ibn Ashur, 1984: 259).
Namun apapun kemungkinannya, satu hal yang jelas, bahwa surat tersebut berbunyi sebagai
berikut; (al-Fasi: 1423:327).

Dari hamba Allah swt, Sulaiman bin Daud Kepada Balqis, penguasa negeri Saba’
Dengan menyebut nama Allah swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk Sesudah itu,.... Janganlah kalian
bersikap sombong terhadapku dan datanglah menyerahkan diri kepadaku

Setelah surat dibaca dan dipahami oleh Ratu Balqis, ia mengumpulkan pejabat
terasnya, kemudian menyampaikan pada mereka dengan menyebut surat tersebut sebagai
surat mulia (kita>bun kari>m). Penyebutan sebagai ”surat mulia”, mengacu pada dua hal;
Pertama, sang ratu telah membaca isi surat tersebut sehingga ia dengan tegas menyatidakan
sebagai surat mulia. Kedua, sang ratu menyadari bahwa surat itu telah memenuhi sifat-sifat
terpuji yang sesuai dengan tata cara surat menyurat (korespondensi), mulai dari keindahan
tulisannya, kerapian sampulnya dan keserasian isinya, serta kemuliaan pengirimnya bahwa ia
ditulis oleh sang penguasa yang bernama Sulaiman.

Berbeda dengan pembacaan secara heuristik di atas, pernyataan Balqis sebagai ”surat
mulia” jika dibaca secara retroaktif, maka penyebutan tersebut mengacu pada makna upaya
sang ratu untuk menghindari permusuhan dan perselisihan (al-muqa>wamah wa al-
khus}u>mah), meskipun rasa phobi ini tidak disebutkan secara gamblang. (Qutb, t.th: 374).

111 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

83

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Ketidakutan akan terjadi konflik tersebut tampak sekali ketika Balqis memberikan
pertimbangan akan dampak negatif peperangan yang disampaikan dalam majelis musyawarah
bersama pejabat terasnya, sebagaimana akan diuraikan nanti. 112

Potongan ayat di atas, walaupun mendeskripsikan tentang eksistensi musyawarah
yang dilakukan Ratu Balqis, namun ayat ini tidak dapat dijadikan dasar argumentatif untuk
menyatidakan bahwa Islam menganjurkan musyawarah (Shihab, 2002: 221). Karena ayat ini
tidak berbicara dalam konteks hukum, tidak juga untuk memujinya. Ayat ini hanya uraian
tentang peristiwa yang terjadi di tengah suatu masyarakat yang tidak menganut ajaran
berdasar wahyu Illahi. Namun demikian, perlu diingat bahwa al-Qur’a>n memaparkan satu
kisah adalah agar dipetik dari kisahnya pengajaran dan keteladanan dan atas dasar
pertimbangan itu bisa saja ditarik dari ayat-ayat ini simbol-simbol tentang baik dan perlunya
bermusyawarah.

Adapun isi surat yang ditulis oleh Nabi Sulaiman a.s. yaitu; Pertama,
memperkenalkan pada Ratu Balqis tentang Allah swt SWT serta penetapan sifat-sifat-Nya
yang ditandai dengan klausa bismilla>hirrah}ma>nirrah}i>m. Menurut mufassir Ibn ’Ashur,
(1984: 260) bahwa sejak insiden ini, kalimat basmalah akhirnya menjadi kalimat yang
disunnahkan untuk dibaca dan ditulis sebagai pembuka setiap akan memulai pekerjaan yang
baik. Hal ini dikarenakan, kebiasaan Nabi Muhammad saw menulis surat selalu dimulai
dengan kalimat ”bismika alla>humma”. Namun ketika ayat ini diturunkan, maka sejak saat
itu beliau memulai redaksi tulisannya dengan kalimat ”bismilla>hirroh}ma>nirroh}i>m”.
Selain itu, kalimat basmalah dengan ketiga kata yang menunjuk kepada Allah swt SWT telah
dikenal jauh sebelum turunnya al- Qur’an. Basmalah, diucapkan oleh para nabi sejak zaman
Nabi Ibrahim a.s. (Shihab, 2002: 217).

Kedua, melarang Ratu Balqis berperilaku sombong yang notabene dapat
mengakibatkan terhalangnya kebenaran dalam jiwa yang direpresentasikan dengan tanda
berupa frasa anla ta‘lu> ‘alayya. Ketiga, memerintahkan pada Ratu Balqis agar menyerahkan
diri dalam rangka mengikuti sistem teologi monoteisme yang ditandai dengan frasa
wa’tu>ni> muslimi>n. Teologi monoteisme yang dimaksudkan bukan sistem teologi yang
termaktub dalam kitab Taurat mengingat kitab tersebut hanya berlaku pada ummat Nabi
Musa saja, tetapi sistem teologi secara umum, seperti pada masa Nabi Adam, Nabi Nuh dan
Nabi Ibrahim yang bertujuan untuk membasmi perilaku syirik dan memperkenalkan Allah
swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Sebab Nabi Sulaiman a.s. merupakan seorang nabi yang

112 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

84

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

notabene diutus dan diperintahkan oleh Allah swt untuk memberikan petunjuk kebenaran
pada semua makhluk (Ibn Ashur, 1984: 260).

Oleh karena itu, klausa anla> ta‘lu> ‘alayya wa’tu>ni> muslimi>n merupakan
permintaan Nabi Sulaiman agar mereka tidak angkuh dan datang kepada beliau menyerahkan
diri, lebih banyak bertujuan untuk menunjukkan kepatuhan bukan kepada kapasitas beliau
sebagai raja, tetapi kepada Allah swt seru sekalian alam. Tujuan inilah kemungkinan menjadi
salah-satu alasan mendasar bagi sang ratu menolak usul para pejabat teras dan penasihatnya,
sebagaimana akan diuraikan pada ayat selanjutnya.113

Dari ketiga point isi surat di atas, ditambah lagi dengan sumber surat dan cara
penerimaannya, maka wajar jika secara psikologis Ratu Balqis merasa ”terganggu” dengan
surat tersebut mengingat isinya merongrong stabilitas kekuasaannya, sehingga dalam kondisi
yang demikian, ia mengajak para pejabat terasnya untuk ikut andil mencari jalan keluar dan
mencari solusi terbaik dalam satu majelis untuk dimusyawarahkan secara bersama-sama.
Klausa ma> kuntu qa>t}i‘atan amran h}atta> tashhadu>n merupakan pernyataan tulus yang
keluar dari seorang pemimpin perempuan bernama Balqis. Dalam pernyataannya tersebut, ia
menyampaikan bahwa setiap persoalan yang terkait dengan kenegaraan, selalu dirunding
bersama pejabat terasnya dalam majelis musyawarah.

Dengan demikian, pernyataan Ratu Balqis di atas merupakan simbol pernyataan
seorang pemimpin yang demokratis. Sebab kepemimpinan yang demokratis adalah sebuah
model kepemimpinan yang mana pemimpinnya berusaha untuk melakukan sinkronisasi
antara kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan orang yang
dipimpinnya. Karakteristik pemimpin ini lebih bersifat inklusif dan aspiratif serta selalu
mengutamakan musyawarah (Mustaqim, 2008: 13). Adapun penundaan keputusan yang
dilakukannya, dalam hal ini bukanlah karena ketidakmampuannya mengambil keputusan,
melainkan demi alasan protokoler dan diplomasi (Engineer, 2003: 76).

Adapun frasa qa>lu> nah}nu merupakan respon pejabat teras atas ajakan sang
ratu untuk bermusyawarah. Frasa tersebut yang pada pembacaan heuristik mengacu pada
sekelompok orang yang ahli dalam medan peperangan tanpa disebutkan siapa yang menjadi
juru bicaranya (jubir), maka pada pembacaan retroaktif, mengacu pada dua jubir, yaitu;
Pertama, jubir yang bersedia melancarkan agresi peperangan. Kedua, jubir yang besedia
menyuarakan aksi perdamaian.

113 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

85

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Kedua jubir tersebut menyampaikan pendapatnya yang dilandasi dengan
argumentasi dari masing-masing pihak. Jubir pertama siap memilih melancarkan agresi
perang lantaran kekuatan fisik dan keberanian yang ada pada mereka. Hal ini ditandai dengan
klausa ulu> quwwatin wa ulu> ba’sin sadi>din. Jubir kedua lebih memilih melakukan aksi
perdamaian yang ditandai dengan frasa wa al-’amru ilaiki yang berarti ”sedang keputusan
diwakilkan kepadamu”. Frasa ini mengacu pada kepasrahan dan ketaatan para pejabat teras
terhadap keputusan terakhir yang akan diambil oleh sang Ratu.

Adapun klausa ”Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri,
niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan
demikian pulalah yang akan mereka perbuat” merupakan ucapan Ratu Balqis tentang sikap
raja-raja yang didasarkan pada pengalaman sejarah masa lampau. Biasanya, mereka
membunuh, atau paling tidak menawan dan mengusir para pembesar kerajaan atau
pemerintahan yang mereka kalahkan, dengan demikian mereka menghina dan
mempermalukannya. Di samping itu, dampak negatif agresi perang pasti mengakibatkan
kehancuran bangunan, pengungsian penduduk atau pembunuhan. Semua ini terjadi secara
umum jika yang melakukan agresi tersebut adalah seorang raja yang biasanya bersifat tiranik
dan diktator (Shihab, 2002: 220).114

Dengan demikian, klausa yang dinyatidakan oleh ratu di atas merupakan simbol
keinginan Ratu Balqis untuk memilih melakukan aksi perdamaian dari pada memilih
melancarkan agresi perang. Hanya saja, biar tidak ada ”barisan yang sakit hati” mengingat
ada sekelompok yang berambisi memilih berperang, maka untuk mengakomodir pendapat
kelompok tersebut, Ratu Balqis mengambil sikap dengan menggunakan logika analogi.
Logika tersebut disampaikan oleh Ratu Balqis dengan cara mendeskripsikan panjang lebar
tentang dampak negatif dari semua konsekuensi logis jika pilihannya jatuh pada agresi
perang, seperti pengalaman buruk yang pernah dialami oleh para penguasa sebelumnya.

Adapun kebijakan menggunakan logika analogi di atas dilakukan Balqis dalan
rangka menghindari konflik internal di antara prajurit itu sendiri, terlebih lagi pecahnya
perang saudara, sehingga barisan yang berbeda pendapat bisa menerima dengan lapang dada.
Karena itu, pada penghujung ayat, Balqis menyatidakan dengan tegas berupa frasa
”kadha>lika yaf‘alu>n”. Artinya, Nabi Sulaiman a.s. sebagai seorang raja yang akan
memasuki negeri Saba’, juga akan melakukan tindakan yang sama seperti perilaku penguasa
sebelumnya, sehingga negeri Saba’ menjadi negeri yang porak-poranda.

114 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

86

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

2. Reaksi Ratu Balqis; Manuver Politik Konspiratif
Begitu Ratu Balqis menyadari sepenuhnya, bahwa peperangan akan menuai banyak

masalah, bahkan yang paling fatal akan mendatangkan malapetidaka, maka dengan hati yang
mantap tanpa ada intervensi dari pihak lain, Ratu Balqis mendeklarasikan statemen politik
yang berbeda, yaitu berupa pesan, ”Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada
mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa
kembali oleh utusan-utusan itu”. (Qs. al-Naml (27): 35). 115

Kebijakan ini, selain mengacu pada strategi politik yang anggun, juga mencerminkan
kepribadian perempuan yang tidak menyukai peperangan, anarkisme, dan lebih memilih
menggunakan tipu daya dan cara- cara halus sebelum menggelar kekuatan senjata. Dengan
cara seperti ini, tentu saja solusi ini lebih baik dan lebih menguntungkan kedua belah pihak,
yaitu kerajaan Saba’ dan kerajaan Sulaiman a.s. (Engineer, 2003: 77).

Kata hadiyyatan yang pada tingkat pembacaan heuristik, menurut al-Bagawi,
(1417:160) menunjukkan pada suatu pemberian atau hadiah yang dibawa oleh seorang kurir
dengan tujuan sebagai bahan atau alat rayuan (al-mula>t}afat) untuk menggagalkan ajakan
Nabi Sulaiman a.s., maka pada tingkat pembacaan retroaktif mempunyai pengertian yang
berbeda. Dalam konteks ini, kata hadiyyatan mengacu pada suatu pemberian atau hadiah
yang dibawa oleh seorang kurir dengan tujuan sebagai bahan atau ”alat jebakan” untuk
mengungkap kedok misi Nabi Sulaiman a.s., sebagaimana termaktub dalam surat yang
dikirimkannya. Dengan demikian, hadiah tersebut sebenarnya merupakan simbol manuver
politik yang konspiratif.

Dikatidakan sebagai manuver politik yang konspiratif karena dengan hadiah tersebut,
Ratu Balqis akan leluasa mengetahui posisi dan tujuan Nabi Sulaiman a.s.. Itulah sebabnya
mengapa Ratu Balqis pada statemen berikutnya menyampaikan pesan berupa klausa fa
na>z}iratun bima yarji‘u al-mursalu>n. Artinya, dengan dikirimkannya bingkisan tersebut,
Ratu Balqis dapat mengetahui apakah Sulaiman betul-betul seorang nabi ataukah ia seorang
raja saja. Jika Sulaiman merupakan seorang nabi, maka ia akan menolak mentah-mentah
hadiah yang dikirimkan olehnya. Akan tetapi sebaliknya, jika ia hanyalah seorang raja, maka
dengan tanpa sungkan ia akan menerima hadiah tersebut. Dengan begitu, maka Ratu Balqis
dapat mengetahui, bahwa Sulaiman hanyalah seorang raja yang ingin mengeruk dan

115 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

87

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

mengeksploitasi kekayaan, sehingga bisa dipastikan seberapa besar pajak dan upeti yang
harus dibayar setiap tahunnya (Sha’rawi, 1991: 1780). 116

Menurut catatan Ibn ‘Abbas, setelah Ratu Balqis menyampaikan statemen politiknya,
ia melanjutkan pesan-pesan politisnya, ”Kalau saja hadiahku diterima, maka kita perangi saja
dia (faqa>tilu>hu), sebab dia hanyalah seorang raja. Sebaliknya, jika hadiahku ditolak, maka
kita harus ikuti dia (fattabi‘u>hu), sebab dia adalah seorang nabi” (Ibn Katsir, 1420: 1990).
Dengan sikap yang demikian, maka pengiriman hadiah tersebut merupakan cermin seorang
penguasa yang cerdik, inovatif dan kreatif.

3. Resistensi dan Ultimatum Agresi Nabi Sulaiman a.s.)
Fragmen kisah ini merupakan jabaran dari QS. al-Naml (27): 36-37 yang

menceritidakan tentang konflik sosial-keagamaan antara Nabi Sulaiman a.s. dengan Ratu
Balqis yang menunjukkan benar-benar telah mencapai puncak klimaks. Kedatangan delegasi
Ratu Balqis ke istana Nabi Sulaiman a.s. untuk mempersembahkan “bingkisan” yang
notabene sebagai alat jebakan, ternyata menuai kegagalan. Hal ini ditandai dengan tiga pesan
yang disampaikan oleh baginda Nabi Sulaiman a.s. kepada mereka, sebagaimana berikut;

Pertama, pesan resistensi (li al-daf‘ aw al-inka>r). Pesan Nabi Sulaiman a.s. ”apakah
kamu mendukung aku dengan harta?”, beliau tunjukkan kapada semua delegasi untuk
disampaikan kepada ratu. Maksud ucapan ini adalah menolak hadiah tersebut. Hal ini karena
Nabi Sulaiman a.s. merasa, bahwa hadiah tersebut bagaikan suap yang bertujuan
menghalangi beliau melaksanakan suatu kewajiban. Sebab kalau tidak, maka menerima
hadiah dalam rangka menjalin hubungan baik walau dengan negara non muslim dapat saja
dibenarkan. Bahkan, Nabi Muh}ammad saw menerima sekian banyak hadiah dari berbagai
kepala negara, seperti hadiah yang diterimanya dari penguasa Mesir yang mengirim untuk
beliau antara lain Mariyah al-Qibtiyyah yang pada akhirnya menjdi ibu putra beliau Ibrahim
(Shihab, 2002: 222).

Kedua, pesan penghinaan (li al-istikhfa>f aw al-istis}g}a>r). Pesan ini disampaikan
berupa klausa, ”maka apa yang diberikan Allah swt kepadaku lebih baik daripada apa yang
diberikan-Nya kepadamu”. Namun jika mengacu pada tujuan hadiah yang dikirimkannya
sebagai ”alat jebakan” untuk mengetahui apakah Sulaiman seorang nabi ataukah seorang raja,

116 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

88

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

maka pesan ini tidak hanya berupa penghinaan an-sich, tetapi juga berisi protes bahwa alat
jebakan tersebut tidak berhasil. Dalam konteks ini, Nabi Sulaiman a.s. justru
memproklamasikan pada mereka bahwa dirinya betul-betul seorang nabi dan juga raja,
sehingga mereka harus mengikuti semua misi dakwah yang telah disampaikannya, seperti
tertuang dalam surat yang telah disampaikannya. Sebab kalimat fama> a>ta>niya Alla>h
menurut al-Khazin (1399: 147), merupakan pesan pengakuan tulus Nabi Sulaiman a.s. yang
merujuk pada pemberian berupa kenabian dan kekuasaan (al-nubuwwah wa al-mulk). Karena
itu, wajar jika pada pesan berikutnya Nabi Sulaiman a.s. mengultimatum mereka apabila
tidak segera tunduk dan datang menghadapnya.117

Ketiga, pesan ultimatum (li al-tah}di>d). Pada pesan ini, Nabi Sulaiman a.s.
menyatidakan dengan tegas bahwa dirinya akan menggelar agresi perang, baik beliau terlibat
dan terjun secara massal atau hanya sebagai instruktur saja jika saja Ratu Balqis dan kaumnya
tidak segera datang mengikuti ajakan dakwah beliau. Ultimatum tidak hanya berhenti dengan
agresi perang semata, beliau juga menyatidakan dengan nada optimis akan mengusir mereka
dari negeri Saba’ pasca digelarnya perang dalam kondisi tunduk dan patuh pada kekuasaan
Nabi Sulaiman a.s..

Perpindahan Singgasana; Simbol Daya Intelegensia)
Fragmen ini dimulai dari QS. Al-Naml (27): 38-41. Dalam ayat ini merupakan reaksi
Nabi Sulaiman a.s. pertama kali setelah mendapatkan informasi tentang kunjungan delegasi
kerajaan Saba’. Sebab menurut catatan riwayat, bahwa sewaktu sang Ratu Saba’ menyadari
bahaya yang mengancam stabilitas diri dan kerajaannya, maka dia-pun mengirimkan surat
yang berisi inisiatif mengunjungi kerajaan Nabi Sulaiman a.s.. Ia kemudian berangkat dengan
ribuan pengikutnya setelah terlebih dahulu menutup rapat istananya dan menyimpan
sedemikian rupa singgasananya yang dinilai oleh burung Hud-hud sangat istimewa. (Shihab,
2002: 224). Menyadari realita demikian, maka Nabi Sulaiman a.s. menggelar ”rapat darurat”
bersama para pejabat terasnya yang terdiri dari jin dan manusia. Beliau menyampaikan
inisiatifnya agar singgasana kerajaan Saba’ yang ada di Yaman segera dipindah ke istananya
yang berada di Palestina dalam waktu relatif singkat, yaitu sebelum Ratu Balqis tiba di
tempat.

117 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

89

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Pada saat rapat darurat digelar, Nabi Sulaiman a.s. menanyakan siapa di antara
mereka yang sanggup menyelesaikan agenda besar pemindahan singgasana Ratu Balqis
sebelum tiba di istana beliau. Maka pada saat itu pula, salah seorang anggota pasukan yang
berasal dari kalangan jin bernama Ifrit memberikan respon positif. Ia berjanji bahwa agenda
pemindahan tersebut sanggup diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Janji tersebut
disampaikan Ifrit dengan menggunakan klausa berupa, ”aku akan datang kepadamu
dengannya sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu (ana a>ti>ka bihi> qabla
antaqu>ma min maqa>mik)” yang pada makna tingkat pertama mengacu pada tempo
setengah hari.118

Kesanggupan dan kemampuan Ifrit memindahkan singgasana dalam waktu setengah
hari bukanlah sesumbar semata. Kemampuan tersebut juga didukung dengan fakta bahwa
dalam prosesi pemindahannya, Ifrit menyakinkan Nabi Sulaiman a.s. akan keterjaminan
kuantitas dan kualitas singgasana yang akan dipindahkannya. Hanya saja, upaya Ifrit belum
mendapat persetujuan dari Nabi Sulaiman a.s.. Sebab beliau masih memberikan kesempatan
pada yang lain, barangkali ada yang lebih hebat dan lebih canggih dalam memindahkannya.
Namun ketika semua anggota rapat tidak ada yang ”berani menantangnya”, maka pada saat
itu pula, terdapat tokoh terpelajar atau yang disebut dalam al-Quran sebagai alladzi> indahu>
‘ilmun min al-Kita>b menjadikan keheningan itu sebagai momentum menyuarakan dengan
gagah berani kecanggihan dan kehebatannya menandingi ”kehebatan” Ifrit. Beberapa tafsir
mengidentifikasi tokoh ini dengan identifikasi beragam di antaranya ada yang menyebutnya
sebagai Asif atau Jibril.

Di hadapan Nabi Sulaiman, dengan mantap ia menyampaikan ”aku akan datang
kepadamu dengannya sebelum matamu berkedip (ana a>ti>ka bihi> qabla an yartadda ilaika
t}arfuk)”. Klausa ini pada tingkat pembacaan heuristik mengacu pada waktu yang relatif
singkat dengan hanya sekejap mata sebagai klausa oposisi binner dari ”kehebatan” Ifrit yang
sanggup memindahkan singgasana dalam tempo setengah hari.

Berdasarkan fenomena di atas, klausa qabla antaqu>ma min maqa>mik yang
disampaikan oleh Ifrit merupakan penanda (signifiant) yang mengacu pada kemampuan
mendatangkan singgasana dalam waktu setengah hari, sedangkan unsur petandanya (siginifie)
mengacu pada manajemen waktu untuk mendatangkan singgasan dalam waktu yang cepat
(al-asra‘). Adapun klausa qabla an yartadda ilaika t}arfuk merupakan penanda (signifiant)
yang mengacu pada kemampuan mendatangkan singgsana dalam waktu sekejap mata, sedang

118 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

90

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

unsur petandanya (siginifie) mengacu pada manajemen waktu mendatangkan singgasana
dalam waktu yang lebih cepat (al-asra‘iyyah). Dengan demikian, selain mengacu pada
simbol manajemen waktu, menurut Ibn Ashur (1984: 271) juga merupakan simbol
kemenangan kemampuan berdasarkan ilmu pengetahuan dari pada kemampuan berdasarkan
kekuatan (tag}allubu al-‘ilmi ‘ala> al-quwwah). 119

Simbol kemenangan ilmu pengetahun atas kekuatan, hemat penulis merupakan ideal
moral yang disampaikan dalam ayat ini. Artinya, kehebatan apa-pun yang dimiliki seseorang
dan hanya didukung dengan kekuatan, maka tetap tidak bisa mengalahkan kehebatan yang
didukung dengan ilmu pengetahuan. Sebab mengetahui dan mengamalkan ilmu yang
bersumber dari Allah swt SWT, maka seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemampuan
jauh melebihi kapasitas kekuatan dan kemampuan yang cerdik dan jenius walau dari jenis jin
sekalipun. Semua ini, dikarenakan manusia paling tidak memiliki empat daya pokok, yaitu;

Pertama, daya fisik (al-quwwah al-jasadiyah) yang akan melahirkan aneka
keterampilan dan olahraga. Kedua, daya pikir (al-quwwah al-’aqliyyah) yang dapat
menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kemampun teknologi, benda kecil
yang populer saat ini dengan nama handphone, seseorang dapat berinteraksi dengan teman
sejawatnya dalam kondisi dan situasi apa-pun tanpa ”batas”. Ketiga, daya kalbu (al-quwwah
al-qalbiyyah) yang membuahkan iman serta dampak-dampaknya yang luar biasa. Keempat,
daya hidup (al-quwwah al-h{aya>h) yang menjadikan pemiliknya mampu menghadapi
berbagai tantangan hidup. (Shihab: 2002,227).

Ha2) >dza> Min Fad}li Rabbi>; Simbol Sikap Wira’i

Klausa ha>dha> min fad}li rabbi> merupakan ungkapan tulus Nabi Sulaiman a.s.
setelah impian dan harapannya untuk mendatangkan singgasana Balqis dalam waktu sekejap
mata sesuai dengan kenyataan. Singgasana tersebut, dalam waktu relatif singkat betul-betul
berdiri dengan megah dan kokoh di hadapan sang baginda. Keberadaan singgasana kerajaan
Saba’ itu, diakui oleh Sulaiman a.s. bukanlah semata-mata karena faktor kehebatan dirinya
semata, tetapi jauh semua itu lantaran anugerah dari Allah swt.
Selain mempunyai makna denotif anugerah Allah swt, klausa di atas juga bermakna
konotatif, bahwa interaksi manusia dengan Allah swt bisa mengikuti hukum relativisme.

119 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

91

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Artinya, pesan-pesan ketuhanan bisa diterima manusia sesuai dengan kecanggihan jiwa yang
dimiliki masing-masing.120

Akan tetapi, kalau jiwa manusia mengalami disfungsional, maka pesan-pesan itu tidak
akan mampu ditangkap sekalipun Allah swt begitu dekat. Sebaliknya, jika jiwa manusia
fungsional dan punya kelayakan, bukan saja ia mampu menangkap pesan itu dengan mudah,
bahkan ia akan mampu mengikuti ”program-program di alam malaku>t” (Irfan, 2008: 114).
Dengan demikian, apabila Allah swt sudah mencintai seseorang hamba, maka Allah swt akan
menjadi kekuatan dan sumber energi pada diri hamba tersebut, sehingga ia dapat
menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar dan luar biasa yang menyalahi kebiasaan
(kha>riqun li al-‘A<dah) karena jiwanya bersih tanpa noda, seperti fenomena kehebatan Nabi
Sulaiman a.s..

Manusia fungsional dan berjiwa bersih, tidak akan pernah sesekali dalam setiap
tindakan hingga kesuksesannya mengklaim sebagai kehebatan dirinya. Ketika semua impian,
harapan dan cita-cita hidupnya berjalan secara sinergis sesuai dengan kenyataan, ia segera
bersujud dan mengakuinya semata-mata karena anugerah dari Allah swt. Jiwa semacam ini
betul-betul mengkristal dalam diri Nabi Sulaiman a.s., sehingga begitu idealisme
mendatangkan singgasana dalam tempo sesingkat-singkatnya dapat direalisasikan secara
nyata, maka ungkapan pertama yang beliau ucapkan adalah pengakuan tulus atas nikmat
Allah swt dengan harapan agar nikmat tersebut dapat terus bertambah apabila beliau pandai
mensyukurinya.

Ratu Balqis; Simbol Perempuan Diplomatis)
Fragmen ini, merupakan epilog kisah dari seluruh rangkaian kisah kerajaan Ratu
Balqis. Semua cerita dalam fragmen ini termaktub dalam QS. al-Naml (27): 42-44. Model
komunikasi yang digunakan dalam fragmen ini yaitu komunikasi interaksional yang dalam
hal ini posisi Nabi Sulaiman sebagai pengirim pesan (sender) dan Ratu Balqis bertindak
sebagai penerimanya (receiver). 121

Sebagaimana telah dijabarkan pada fragmen sebelumnya, tujuan modifikasi ornamen
singgasana itu adalah dalam rangka “uji kelayakan” kecerdasan Ratu Balqis dan ketepatan
cara berfikirnya dalam menjawab pertanyaan. Ada dua bentuk ujian yang digunakan yaitu
kognisi dan ujian psikomotor, sebagaimana berikut;

120 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.
121 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

92

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

Pertama, kecerdasan kognitif. Ujian tersebut diekspresikan dengan klausa berupa
pertanyaan “aha>kadha> ‘arshuk (inikah singgasanamu)?”. Pilihan redaksi pertanyaan
tersebut merupakan klausa yang sengaja dipilih oleh Nabi Sulaiman a.s. untuk menggiring
opini dan kecerdasan Ratu Balqis dalam situasi yang serba dilematis-kritis. Karenanya, dalam
konteks ujian ini tidak menggunakan redaksi pertanyaan berupa klausa, ”inikah
singgasanamu?”, karena pertanyaan yang demikian hanya mengundang jawaban ”ya” atau
”tidak” dan tentu saja TIDAK mempunyai efek tekanan tersendiri pada psikologis.

Dikatidakan dilematis-kritis karena jika saja sang Ratu memilih jawaban ”ya”, maka
dirinya khawatir jawaban itu mengandung kebohongan (al-Kidhb), sebab ia meninggalkan
istananya dalam kondisi aman dan terkendali, serta berada dalam penjagaan dan pengawasan
yang ketat. Sebaliknya, jika jawaban ”tidak” yang menjadi alternatifnya, maka ia-pun tidakut
dituduh sebagai pembohong (al-Tidakdhi>b), sebab ia teramat mengenali bentuk dan
ornamen singgasananya, meski terdapat modifikasi, tetapi tidak dalam bentuk perubahan
yang sangat drastis dan dalam skala besar-besaran (al-Qadir, 1382: 329). Dalam kondisi
psikologis yang demikian, ternyata Ratu Balqis tidak serta merta mengatidakan ”tidak” atau
”ya”. Namun, dia justru menjawab dengan perkataan ka annahu> huwa -seakan-akan ia dia
(singgasanaku).

Dari analisis di atas, maka pilihan Ratu Balqis dengan jawaban ”seakan-akan ia dia
(singgasanaku)” dalam perspektif pembacaan heuristik merupakan penanda (signifiant) yang
menunjukkan kehati-hatian dan kecerdasan luar biasa yang dimilikinya, serta
kekuatan mentalnya karena ia memilih menjawabnya dengan tepat pada situasi kritis
yang dialaminya itu. Sedangkan apabila dibaca secara retroaktif, maka unsur petandanya
(signifie) menyatidakan bahwa Ratu Balqis merupakan sosok yang cerdas, hati-hati dan
memiliki mental yang kuat. (Syamsuddin, 2009: 99). Dengan demikian, maka pada tahapan
ujian kognitif ini, Ratu Balqis sukses melewatinya dengan menunjukkan kecerdasan
otidaknya, sehingga ia menjawabnya dengan nada diplomatis-kritis.122

Jawaban diplomatis-kritis tersebut sengaja ditampilkan Ratu Balqis untuk
mengimbangi kehebatan Nabi Sulaiman a.s. dalam memindahkan singgasa miliknya, sebab
jauh sebelum mengadakan kunjungan pribadi ke istana Nabi Sulaiman a.s., ia telah
mengetahui tentang kehebatan dan mukjizat Nabi Sulaiman a.s. sebelum menyaksikan sendiri
kejadian ini, seperti persoalan ”surat sakti” serta isinya dan berita ultimatum yang dibawa
delegasi tersebut. Karena itu, maka wajar jika setelah menjawab dengan diplomatis, ia

122 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

93

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

langsung melontarkan pernyataan berikutnya berupa klausa, ”dan kami telah diberi
pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri” (QS. al-Naml
(27): 42).

Kedua, ujian kecerdasan psikomotorik. Ujian ini direpresentasikan berupa klausa,
”udkhuli> al-s{arha (masuklah ke dalam istana)”. Ujian ini digelar oleh Nabi Sulaiman a.s.
setelah keberhasilan Ratu Balqis melewati ujian kecerdasan kognitif. Namun sayang sekali,
dalam menjalani ujian yang kedua ini, tidak semulus ujian yang pertama. Pada tahap ini, Ratu
Balqis mengalami kegagalan, sebab ia kurang cermat dan tidak selektif dalam membedakan
antara lantai orisinil namun di atasnya terdapat air dengan lantai kristal yang di bawahnya
diberi air. Dalam situasi dan kondisi yang demikian, maka yang terlintas pertama kali di
benak Ratu Balqis yaitu lantai pendopo tersebut dikiranya kolam air yang besar (h}asibathu
lujjatan), sehingga secara spontan ia menyingsingkan ujung pakaiannya agar tidak terkena air
yang ditandai dengan klausa, ”wa kashafat ‘an sa>qaiha>” (al-Sha’rawi, 1991: 1792).

Dengan demikian, klausa ”wa kashafat ‘an sa>qaiha>” merupakan simbol kegagalan
Ratu Balqis dalam menjalani ujian psikomotoriknya. Hanya saja kegagalan di sini tidak
berarti menunjukkan kelemahan kecerdasan kognitifnya dalam melakukan seleksi, tetapi
kegagalan tersebut lebih diwarnai suasana mentalitas yang -dalam istilah medis- disebut
skizofrenia, yaitu kondisi mental yang tidak padu, ambigu dan kontraproduktif, sehingga
jiwanya mudah terbelah, goyah dan gundah.

Kegagalan tersebut didukung dengan fakta adanya klarifikasi dari Nabi Sulaiman a.s.
terkait kekeliruan persepsi Ratu Balqis tentang lantai yang diduga kolam air. Nabi Sulaiman
a.s. menyampaikan gagasannya dengan mantap bahwa lantai itu adalah istana licin yang
terbuat dari kristal (innahu> s}arhun mumarradun min qawa>ri>r). Dengan klarifikasi
tersebut, Balqis menyadari bahwa dirinya gagal menjalani ujian psikomotorik, sehingga yang
tersisa saat ini hanyalah penyesalan belaka terhadap pengalaman tragis masa lalunya.

Ratu Balqis; Profil Feminis Sejati
Begitu Ratu Balqis menyadari kegagalan dalam menempuh ujian di atas, ia menyebut
dua penyesalan; Pertama, penyesalan yang diekspresikan dengan klausa rabbi inni>
z}alamtu nafsi>. Dalam perspektif kajian semiotika, klausa tersebut merupakan unsur
penanda yang mengacu pada rasa penyesalan atas kesalahan sistem teologi yang selama ini
diyakininya, sedangkan unsur petandanya merupakan simbol penyucian diri dari segala

94

Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...

keyakinan yang salah serta aneka kedurhakaan lainnya. Kedua, penyesalan yang
direpresentasikan berupa klausa wa aslamtu ma‘a sulaima>n li Alla>h rabb al-‘A<lami>n
dimana unsur penandanya mengacu pada pengakuan Ratu Balqis untuk mengikuti ajaran
Nabi Sulaiman a.s., sedang pada unsur petandanya merupakan simbol-simbol upaya
menghiasi diri dengan keyakinan yang benar serta pengalaman yang baik (Shihab, 2002:
232). 123

Selain mengacu pada makna signifikansi di atas, klausa wa aslamtu ma‘a sulaima>n,
juga mengacu pada simbol-simbol kesetaraan (equality) gender antara laki-laki dan
perempuan. Dalam konteks ayat ini, Ratu Balqis tampil sebagai simbol feminis sejati dengan
cara mempertegas kepasrahan dan ketundukannya hanya kepada Allah swt, bukan kepada
Nabi Sulaiman. Sebab keduanya sama-sama hamba Allah swt yang notabene tidak boleh ada
yang mengaku sebagai pihak yang superior, sementara yang lain ditindas sebagai pihak
inferior. Keterlibatan Nabi Sulaiman a.s. dalam pengakuan Balqis hanya semata-mata sebagai
faktor dan mediator yang menjadikan dirinya menganut sistem teologi monoteisme. Itulah
sebabnya pada penghujung fragmen ini, Balqis dengan tegas menyatidakan, ”dan aku
berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah swt, Tuhan semesta alam”. (Qs. Al-Naml (27):
44).

Pernyataan Ratu Balqis di atas, secara kontekstual merupakan legitimasi tentang
konsep kesetaraan gender. Hal ini dikarenakan diskursus posisi perempuan dalam Islam
mendapat perhatian cukup serius. Term al-Nisa>’ yang berarti perempuan dan term al-
rajul/al-rija>l yang mengacu pada laki-laki, keduanya sama-sama dipergunakan dalam al-
Qur’an sebanyak 75 kali. Demikian juga term al-untha> yang berpasangan dengan al-dhakar.
Perimbangan ini selintas memberikan indikasi, bahwa antara kedua jenis kelamin tersebut
diperlakukan dan diperhatikan secara berimbang oleh Islam (Siraj, 1999: 17). Keduanya
mendapatkan hak dan kewajiban yang sama karena mereka setara di hadapan Allah swt
(equal before Allah swt), baik dalam kehidupan spiritualitasnya, interaksi sosialnya maupun
dalam partisipasi politiknya. Kalaupun terlihat adanya sisi perbedaan, semuanya tidak lebih
disebabkan faktor konstruksi dan warisan budaya patriarkhi yang hegemonik yang populer
dengan terminologi bias gender124

123 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.
124 Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN, Vol. 6, No. 2.

95


Click to View FlipBook Version