Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Karakteristik Kepemimpinan Perempuan yang Ideal dalam Surat al-Naml: 23-
44 Berikut adalah karakteristik kepemimpinan Balqis dalam memimpin kerajaan
Saba’ yang digambarkan dalam Alquran.125
1) Pemimpin yang Bijaksana dan Demokrasi
Setelah Hud-hud memaparkan dan memberitahukan tentang kerajaan Saba’ kepada
Sulaiman. Sulaiman tidak langsung mempercayai apa yang telah disampaikan oleh Hud-hud.
Beliau ingin menguji kebenaran berita yang disampaikannya dengan cara mengirimkan surat
kepada Balqis dan memerintahkan kepada Hud-hud untuk mengantarkan surat tersebut.
Ketika Balqis menerima surat tersebut, ia tidak langsung memutuskan keputusan dengan
sendirinya, akan tetapi ia mengumpulkan para menteri kerajaannya untuk meminta pendapat
mengenai surat tersebut. Berikut adalah sikap Balqis terhadap surat yang dikirimkan oleh
nabi Sulaiman, sebagaimana Firman Allah dalam surat an-Naml: 29-32:
Artinya:”Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan
kepadaku sebuah surat yang mulia.”Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyanyang, Janganlah engkau berlaku
sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diriku”.
Dia (Balqis) berkata,”Wahai para pembesar!, berilah aku pertimbangan dalam perkara(ku)
ini. Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis (ku).”
(Q.S. an-Naml [27] : 29-32).
Ketika Balqis menerima surat tersebut ia langsung memberitahukan para menterinya
dan membacakan surat tersebut dihadapan mereka ia pun meminta pendapat para
pembesarnya dan bermusyawarah kira-kira apa yang akan dilakukan terhadap surat tersebut.
Dalam kitab tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa Balqis selalu meminta pendapat para
menterinya terhadap suatu permasalahan baik permasalahan yang kecil, maupun
permasalahan yang besar.126 Hal ini menunjukkan bahwa ia seorang pemimpin yang ideal
yag tidak menyembunyikan sesuatu dari rakyatnya.
Setiap ada permasalahan dan informasi ia langsung memberitahukan kepada
rakyatnya baik berita yang menggembirakan maupun berita yang menyedihkan, meminta
125 Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-Naml: 23-44).
Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1
126 Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, h. 213.
96
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
pendapat mengenai segala sesuatu dalam hal mengambil sebuah keputusan, tidak memaksa
kehendak yaitu sama-sama memikirkan kesejahteraan rakyatnya dan memakmurkan
rakyatnya, tidak memikirkan urusan pribadi dan tidak egois terhdap dirinya sendiri.127
Ratu adalah seorang pemimpin dan mempunyai kedudukan yang tinggi dalamsuatu
pemerintahan. Seorang pemimpin memberikan perintah kepada bawahannya, dan
bawahannya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasanya. Dengan adanya
musyawarah, maka akan tejalin hubungan yang harmonis demi meningkatkan suatu
pemrintahan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Pesan yang ingin disampaikan dalam ayat tersebut adalah apabila terdapat suatu
permasalahan yang tidak dapat diselesaikan, maka cara yang ditempuh adalah dengan
cara musyawarah. Ini menunjukkan akan perintah musyawarah apabila ada suatu perkara
tertentu dan membutuhkan siasat atau stategi yang bagus dalam menyelesaikan suatu
persoalan- persoalam atau permasalahan yang tidak dapat dapat dipecahkan dengan sendiri,
maka persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah yang menunjukkan sisi
demokratisnya. 128
Maka dari itu, metode yang digunakan Balqis dapat menyelesaikan suatu
permasalahan yaitu dengan meminta pendapat para pembesar kerajaan, sehingga ia dapat
mendengarkan pendapat-pendapat para pembesar sehingga dapat menambah wawasan aatu
pandanagn baru terhadap permasalahan tersebut.
Sikap bijaksananya Balqis terhadap surat tersebut adalah ketika ia menerima suarat
Nabi Sulaiamn ia menyebutnya dengan kita>bun kari>m, ia tidak emosi serta tidak merobek-
robek surat tersebut sebagaimana kebiasaan tradisi raja-raja sebelumnya. Tetapi ia
menghargai surat tersebut dan memutuskan apa yang akan ia lakukan terhadap surat
tersebut. Nampak sikap bijaksana yang terlihat dari Balqis serta memanggil para pembesar
kerajaannya ketika terdapat suatu permasalahan.
2) Pemimpin yang Diplomasi dan Cinta Damai
Dalam ayat selanjutnya akan terjadi dialog antar Balqis dan menteri kerajaan
mengenai reaksi dan sikap terhadap surat tersebut. Para pembesar kerajaan menyampaikan
pendapat mereka bahwa kerajaannya memiliki kekuatan yang besar dan memiliki keberanian
127 Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-Naml: 23-44).
Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1,
128 Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-Naml: 23-44).
Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1
97
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
untuk berperang. Namun tetap menyerahkan keputusan akhir kepada Balqis, sebagaimana
Firman Allah129:
Artinya:”Dia (Balqis) berkata,”Wahai para pembesar!, berilah aku pertimbangan dalam
perkara(ku) ini. Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir
dalam majelis ku. Mereka menjawab”kita memiliki kekuatan dan keberanian yang
luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu, maka
pertimbangkan apa yang engkau perintahkan. Dia (Balqis)
Berkata,”Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri merekatentu
membinasakan dan menjadikan penduduknya mulia jadi hina dan demikian yang
mereka perbuay. Dan sungguh, aku akan mmengirimkan utusan kepada mereka
dengan (membawa) hadiah dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa
kembali oleh utusan tersebut.” (Q.S.an-Naml [27] : 32-36)
Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir dijeaskan bahwa Balqis mengatakan kepada menterinya
apabila mereka memasuki suatu negeri untuk menagadakan penyerangan dan mereka pasti
menghancurkannya dan membinasakannya. Mereka mengincar para pembesar dan
tentaranya untuk dihinakan serendah-rendahnya baik dengan cara membunuh atau
menwannya130. Hal ini menunjukkan bahwa Balqis mengetahui serta menganalisis bahwa
kebiasaan para raja sebelumnya dan merupakan perilaku seorang raja apabila telah
memasuki suatu negeri maka mereka akan membuat kerusakan dan menghalalkan darah
penduduknya, merusak kehormatan, menghancurkan kekuatan pemimpinnya.
Mereka membuat para pemimpinnya menjadi hina, karena mereka merupakan unsur
perlawanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Balqis belajar dari pengalaman dan
kebiasaanraja-raja sebelumnya, dan ia tidak menginginkan hal yang sama juga terjadi pada
kerajaannya. Dialog yang terjadi antara Balqis dan para menteri kerajaannya menunjukkan
bahwa ia seorang yang diplomatis serta sangat menjaga ketentraman rakyatnya.131
Dalam ayat tersebut menggunakan kata wa al-amru ilaiki (tetapi keputusan berada di
tanganmu). Kalimat ini menarik untuk dilihat lebih lanjut. Kalimat tersebut menujukkan
adanya etika atau suatu adab para pembesar kerajaan kepada Balqis selaku pemimpinnya,
rasa hormat dan patuh terhadap perintahnya, menunjukkan akan para rakyatnya sangat setia,
tunduk serta patuh kepada Balqis selaku pemimpin. Rasa hormat mereka kepada Balqis
selaku pemimpin menunjukkan bahwa pemimpin meraka adalah seorang pemimpin yang
129 Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-Naml: 23-44).
Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1,
130 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’a>n al-Az{i>m, h. 403.
131 Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-Naml: 23-44).
Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1,
98
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
baik dan disegani. Maksudnya adalah jika pemimpinnyabaik, maka rakyatnya pun kan segan,
hormat serta menaati perintahnya dan tidak ada unsur paksaaan. Hal ini menunjukkan
bahwa Balqis adalah pemimpin yang baik dimata rakyatnya, sehingga rakyatnya menjadi
sejahtera dan makmur.
Balqis mencoba untuk melakukan diplomasi, perundingan sehingga mempunyai
stategi dan trik lainnya yaitu dengan mengirimkan hadiah. Beliau tidak ingin berperang,
karena mengetahui akan mengalami kerugian besar dan akan menyiksa penduduknya.
Balqis akan mengutus seseorang untuk membawa hadiah yang pantas dan dia akan
menunggu apa yang akan dijawabnya. Menurutnya hadiah dapat melunakkan hati,
menyatakan cinta dan terkadang berhasil menghindari peperangan ini sekaligus merupakan
ujian bagi Sulaiman.
Hal ini menujukkan bahwa nampak kepribadian seorang perempuan, dibalik
kepribadian pgenghancuran seorang pemimpin yaitu sosok perempuan yang membenci
perang dan penghancuran tapi lebih mengedepankan trik dan senjata stategis lainnya yaitu
dengan senjata kelembutan dan tidak menggunakan senjata kekuasaan dan kekerasan.
Qatadah berkata bahwa Balqis adalah wanita yang paling cerdik, baik pada masa keislaman
maupun pada saat dia sebelum Islam. Ia mengetahui bahwa hadiah sangat berpengaruh
terhdap manusia serta ingin menguji Sulaiman yaitu jika menerima pemberian tersebut
berarti ia dalah seorang raja maka memeranginya dan apabila ia tidak menerimanya,
berarti ia seorag rasul dan mengikuti ajaran yang dibawanya.132
Mengenai kata hadiyyah dalam ayat tersebut menarik untuk kita teliti lebih lanjut.
Kata hadiyyah berasal dari akar kata yang terdiri dari huruf ha, dal dan ya. Asalkatanya
adalah hada>- yahdi-> hadyan-hudan-hidyatan-hida>yatan yang artinya memberi petunjuk
133
kepadanya. Frase hada> lahu atau ahda> ilaihi mempunyai arti memberikan hadiah atau
menghadirkan kepadanya. Dalam ayat tersebut menggunakan kata hadiyyah yang
merupakan mufrad (tunggal), jamaknya adalah hadaya. 134
Menurut Quraish Shihab maknanya berkisar atas dua hal. Pertama, tampil kedepan
memberi petunjuk dan kedua, menyampaikan dengan lemah lembut. Dari makna kedua ini
lahir kata hadiah yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna
memberikan simpati kepada orang yang diberikan.135
132 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Az>i{m, h. 455.
133 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, h. 18
134 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, h. 234
135 Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, h. 213.
99
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tergiur dan terlena dengan hadiah
padahal itu hanyalah kesenangan dunia dan hanya bersifat sementara. Dengan adanya hadiah
sesorang akan lunak dan luluh akan mengerjakan apa yang diperintahkan dikarenakan ada
sesuatu yang diharapkan dan sesorang tersebut pun akan diam dan tidak bisa berkata
apa-apa. Hal ini menunjukkan bahwa sangat hebat dan ajaibnyasuatu pemberian hadiah
serta juga bisa menguji seseorang.
3) Pemimpin yang Cerdas dan Teliti
Sikap ketelitian dan kecerdasan balqis dapat kita lihat ketika Balqis dalam
memutuskan sesuatu, ia menimbang dan menganalisis terlebih dahulu bagaimna kebiasan
para raja terdahulu, sehinngga dapat mengambil pelajaran darinya, tidak secara terburu-
buru langsung memutuskan dan langsung ingin berperang, akan tetapi Balqis mempunyai
trik sendiri bahwa ia ingin mengirimkan hadiah kepada Sulaiman, kemudian ingin melihat
apa reaksi dari Sulaiman btersebut. Hal ini menunjukkan akan kecerdasan dan ketelitian
Balqis dalam memutuskan suatu permasalahan. Ia tidak terburu-buru dalam mengambil
keputusan akan berakibat fatal dan di kemudian hari. Oleh karena itu, ia harus
dipertimbangkan dengan sebaik mungkin. Hal ini menunjukkan akan ketelitian dan
kecerdasan serta kebijaksanaan Balqis dalam mengambil suatu keputusan.
Sikap ketelitian dan kecerdasan Balqis juga terlihat ketika Balqis dalam menjawab
sebuah pertanyaan dari Sulaiman, sebagaimana firman Allah dalam Q.S.An-Naml: 42
Artinya :”Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakan (kepadanya), “Serupa inikah
singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, ”Seakan-akan itulah dia, (Dan dia Balqis
berkata,”Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah). (Q.S.an-Naml [27] : 42).
Ketika Balqis sampai di kerajaan Sulaiman, ia bertanya: “Aha>kaz{a> ‘arsyuki?’
(serupa inikah singgsanamu?” dalam kalimat tersebut terdapat alif istifh}a>m yang
menunjukkan akan pertanyaan Sulaiman kepada Balqis. Balqis menjawab pertanyaan
tersebut dengan kalimat “ka’annahu> huwa” (seakan-akan itulah dia). Ka’anna adalah
huruf tasybih (menyerupai atau seperti). Ia tidak menjawab dengan kalimat innahu>
huwa atau dengan kalimat yang lain yang menunjukkan bahwa itu bukan singgsananya. Ia
menjawab dengan jawaban ka’annahu> huwa, jawaban tersebut sesuai dengan pertanyaan
dari Sulaiman dan juga sesuai kondisi yang dialaminya pada saat itu.136
136 Sahiron Sayamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an (WonoSari: Pesantren Nawesa
Pres, 2009), h. 96.
100
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Ketika singgasana tersebut diperlihatkan kepada Balqis ia tidak langsung mengatakanitu
sebagai singgsananya, karena kejauhan jaraknya, dan ia pun tidak mengatakan itu bukan
singgasananya, karen ia melihat sifat-sifat dan tanda-tanda yang sama, sekalipun telah
diubah dan ditambah. Ia menjawab ka’annahu huwa yaitu keserupaan dan hampir samanya
dengan singgasana yang ditinggalkannya di kerajaan Saba’. Jawaban tersebut menunjukkan
akan kecerdasan dan kepandaain yang luar biasa. Ia tidak langsung terkecohdengan ciri-ciri
singgasananya yang sama dengan singgasananya. Singgasananya pun telah dijaga oleh
prajurit dengan aman dan kuat sehingga tidak mungkin singgasananya berada di
hadapannya. Hal ini mengisyarakatkan bahwa Balqis sangat teliti, maksudnya adalah iatidak
sembarangan menjawab tetapi memikirkan dan memutuskan dengan sebaik-baiknaya apa
yang akan dijawabnya.
Setelah Balqis menyaksikan dan melihat langsung akan kemegahan Sulaiman,
kekuasaan serta kebesaran Allah, ia meyatakan masuk islam bersama Sulaiman,
sebagaimana Firman Allah:
Artinya: Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana, maka ketika ia Balqis
melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkan (penutup) kedua
betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi
kaca.”Dia (Balqis) berkata “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku.
Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (Q.S.An- Naml
[27] : 44)
Ayat ini menunjukkan bahwa Balqis pada mulanya menjadi pemimpin Saba’ dalam
keadaan tidak berimana kepada Allah. Ketika Balqis melihat kebesaraan Allah dan
kekuasaan Allah yang diberikan kepada Sulaiman, ia menyatakan Islam yaitu berserah diri
bersama Sulaiman kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum beriman saja Balqis
mampu memimpin dan memakmurkan negerinya, apalagi, setelah beriman bersama
Sulaiman.137
Berdasarkan uraian tersebut dan penjelasan terdahulu menunjukkan bahwa Alquran
telah menggambarkan bagaimana karakteristik kepemimpinan Balqis dalam memimpin
negeri Saba’ yang mendapat julukan baldatun t{ayyibatun wa rabbun ghafu>r.
137 Sahiron Sayamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an (WonoSari: Pesantren Nawesa
Pres, 2009), h. 96.
101
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Pembahasan:
Melalui pembacaan kode bahasa sebagaimana yang ditawarkan Riffaterre di atas,
maka kisah tentang Ratu Balqis jika hanya fokus pada pembacaan heuristik, skripturalis-
tektualis tentu akan melahirkan pemahaman yang dangkal, repetitif, dan ekslusif. Namun jika
”teks” ayat tersebut dilanjutkan pada wilayah pembacaan yang retroaktif, tentu pemahaman
tentang relasi antara lelaki dan perempuan akan menularkan sikap yang inklusif dan humanis.
Ini dapat dibuktikan dengan klausa wa aslamtu ma‘a sulaima>n, yang mengacu pada simbol-
simbol kesetaraan (equality) gender antara laki-laki dan perempuan. Dalam konteks ayat ini,
Ratu Balqis tampil sebagai simbol feminis sejati dengan cara mempertegas kepasrahan dan
ketundukannya hanya kepada Allah swt, bukan kepada Nabi Sulaiman. Sebab keduanya
sama-sama hamba Allah swt yang notabene tidak boleh ada yang mengaku sebagai pihak
yang superior, sementara yang lain ditindas sebagai pihak inferior. Keterlibatan Nabi
Sulaiman a.s. dalam pengakuan Balqis hanya semata-mata sebagai faktor dan mediator yang
menjadikan dirinya menganut sistem teologi monoteisme. Itulah sebabnya pada penghujung
fragmen ini, Balqis dengan tegas menyatidakan, ”dan aku berserah diri bersama Sulaiman
kepada Allah swt, Tuhan semesta alam”. (Qs. Al-Naml (27): 44).
Secara eksplisit, Alquran tidak menjelaskan secara tegas tentang kepemimpinan
perempuan. Oleh karena itu, terjadinya kontroversi serta perbedaan pendapat mengenai isu
tentang kepemimpinan perempuan, dikarenakan pemahaman yang berbeda dalam
memahami ayat tersebut. Akan tetapi, Alquran telah mendokumentasikan keberadaan
kepemimpinan perempuan yaitu Balqis yang diabadikan dalam surat al-Naml: 23-44. Hal
ini menunjukkan bahwa pernah ada sosok perempuan yang menjadi pemimpin138.
Alquran surat al-Naml: 23-44 bukan hanya mengambarkan keberadaan
kepemimpinan perempuan saja, aka tetapi juga memaparkan karakteristik Balqis dalam
memimpin negeri Saba’, seperti demokratis, bijaksana, cerdas, teliti, cinta damai dan
diplomasi. Ini menunjukkan bahwa dalam diri Balqis mempunyai karakteristik dan sifat-
sifat kepemimpinan dalam memimpin suatu pemerintahan. Karakteristik kepemimpinan
yang dimiliki oleh Balqis juga bagus. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan
peluang atau tidak membatasi ruang gerak perempuan dalam berkratifitas dan berprestasi
sesuai dengan skill dan keahliannya.
sosok perempuan yang memimpin yang diceritakan secara khusus dalam Alquran,
sehingga dapat menjadi pencerahan serta dapat mengubah cara pikir masyarakat agar tidak
mendiskriminasikan sosok pemimpin perempuan. Apabila terdapat sosok perempuan yang
mampu dan memiliki karakteristik kepemimpinaanyang baik, maka tidak ada salahnya ia
menjadi seorang pemimpin. Bagi kaum perempuan lainnya walaupun aktif dan eksis dalam
sektor publik, tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan yaitu ibu atau istri, dan tidak
138 Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-Naml: 23-44).
Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1,
102
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
melenceng norma-norma agama. Apabila telah diembankan suatu amanah harus disyukuri
dan tetap terus berkarya untuk menghasilkan segala sesuatu yang bermanfaat yang
dapat dirasakanoleh masyarakat pada umumnya dan untuk kemajuan suatu pemerintahan.
4.3 GAYA KEPEMIMPINAN PEREMPUAN: PERAN RATU AGENG
TERHADAP PANGERAN DIPONEGORO DALAM PERANG JAWA 1825-
1830
Memaknai Kepemimpinan: Ratu Ageng Pemimpin Perempuan di Tengah Hegemoni
Kolonial .Kata “pemimpin” dalam Bahasa Arab disebut “Imamah”, artinya kepala, penghulu,
ketua asrama, kepemimpinan secara umum. Dua Menurut istilah ilmu Fiqih, Imamah
diartikan dengan kepemimpinan dalam hal menjadi ketua dalam memimpin suatu pekerjaan
seperti Jama’ah Shalat atau pemerintah.139
Ibnu Khaldun mendifinisikan kepemimpinan adalah “tanggung jawab kaum yang
dikehendaki oleh peraturan Syariat untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat bagi
ummat. Karena kemaslahatan akhirat adalah tujuan akhir, maka kemaslahatan dunia
seluruhnya harus berpedoman kepada syariat dalam memelihara urusan agama dan mengatur
politik keduniaan”.
Tiga dari difinisi ini dapat dipahami bahwa kepemimpinan adalah suatu tugas yang
menyeluruh, mengurus segala urusan, baik agama maupun politik untuk satu tujuan yakni
kemaslahatan hidup ummatnya (Putry, 2015: 629). Masih dalam konteks kepemimpinan
perempuan, Ratu Ageng atau lebih dikenal Nyai Ageng Tegalrejo lahir pada tahun 1735
merupakan istri dari Sultan Hamengku Buwono I.
Sosoknya dalam sejarah tercatat sebagai pejuang perempuan. Salah satu peran yang
menonjol ialah dalam bidang militer. Bakat militernya merupakan warisan dari Sultan Abdul
Qahir Bima. Pada Perang Giyanti, Ratu Ageng disebut-sebut sebagai pendamping suaminya
dalam bergerilya (Arizky, 2021: 40). Ratu Ageng Tegalrejo merupakan anak dari Kiai Ageng
Derpoyudhi yang berasal dari Majangjati, Sragen. Kiai Agen Derpoyudhi adalah seorang kiai
masyhur pada waktu itu. Ia merupakan putra dari Kiai Ageng Datuk Sulaiman atau lebih
akrab dengan sebutan Kiai Sulaiman Bekel. Kealiman yang dimiliki Kiai Sulaiman Bekel
merupakan warisan yang tertanam dari silsilah keturunannya.
139 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
103
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Terkait kisah Ratu Ageng Tegalrejo dalam kehidupan keluarga Keraton Yogyakarta,
pada suatu waktu ia memilih keluar dari keraton setelah suaminya mangkat karena hubungan
buruk dengan anaknya Sundoro (kelak menjadi Hamengku Buwono II) (Dewi, Hartanto, &
Puji, 2020: 149) dan kemudian ia lebih memilih tinggal di Tegalrejo, sebuah desa yang
terletak di sebelah tenggara keraton. Ratu Ageng Tegalrejo dalam keputusannya
meninggalkan keraton dilandasi oleh sikap anaknya yang dinilai mulai menyepelekkan
perintah agama. Kehidupan di Tegalrejo, Ratu Ageng Tegalrejo jalani sebagai seorang petani.
Semasa menjadi petani, ia melakoninya dengan giat tanpa meninggalkan ibadah.140
Sebagai keturunan aristokrasi Jawa, kehidupan Ratu Ageng juga tidak bisa
dilepaskan dari filosofi dan tradisi Jawa. Pada sebuah catatan artikel bertajuk “Ratu Ageng
Tegalrejo: Wanita Perkasa yang Tercuri Sejarah” disebutkan bahwa Ratu Ageng memegang
filosofi Jawa dalam memilih pasangan hidup, yaitu mempertimbangan bebet, bibit, dan
bobot. Ia juga tercatat pernah menjadi komando korp prajurit estri yang terdiri dari para
pendekar perempuan.
Pada masa kepemimpinanya, Korp Prajurit Estri ini mengalami kemajuan. Bahkan
beberapa tahun menjelang Perang Jawa, korps ini membuat utusan negara dan Eropa
terkagum-kagum dengan kemampuan para pendekar perempuan dalam menaiki kuda,
melepaskan tembakan salvo dan ketepatan membidik (Carey & Houben, 2015: 87-90). Tidak
hanya itu, cucu dari Ki Ageng Sulaiman Bekel Jamus ini dikenal sebagai perempuan yang
sangat mencintai ilmu pengetahuan.
Kecintaannya tersebut kemudian ditularkan kepada Pangeran Diponegoro sebagai
orang yang diasuhnya. Hal ini kemudian mengantarkan Ratu Ageng disebut-sebut dalam
berbagai sumber sebagai seorang tokoh yang memiliki andil besar dibalik kesohoran
Pangeran Diponegoro. Berkat didikan dan asuhan Ratu Ageng, pada kemudian hari Pangeran
Diponegoro tumbuh-kembang menjadi sosok yang banyak mempelajari kitab-kitab fikih.
Adapun pelajaran tersebut didapatinya melalui para ulama yang sering diundang
berdiskusi di Balairung, kediamannya di Tegalrejo (Kuncoro, 2013: 123). Kenyataan
demikian memberikan penegasan bahwa peran besar Ratu Ageng dalam diri Pangeran
Diponegoro sangat begitu kentara dan terasa.
Keharmonisan antara Ratu Ageng dan Pangeran Diponegoro, jelas begitu terlihat
ketika sosok pembimbingnya wafat pada 17 Oktober 1803 (Armantono, 2019: 36). Ia merasa
kehilangan pembimbing utama sejak usia remaja hingga dewasa. Kendati demikian, rasa
140 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
104
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
kehilangannya tersebut tidak membuat Pangeran Diponegoro lemah dan putus semangat.
Justru, ia bangkit dan menjadi lebih dekat dengan rakyat.
Peran Ratu Ageng terhadap Pendidikan Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro tumbuh dalam lingkungan yang sarat tradisi kepesantrenan dan
keagamaan yang kuat. Sejak masa kanak-kanak, ia sudah berbaur dengan kaum santri dan
korps Suranatan (Masjid Suranatan Kesultanan), sebuah kelompok keagamaan bersenjata di
Istana Yogyakarta yang merupakan bagian dari kesatuan militer di kadipaten, tempat
kediaman ayah Diponegoro. Kediamannya disana terdapat warga kauman, penerima zakat
dari istana yang terdaftar dalam catatan keraton sebagai penghuni kadipaten dan Tegalrejo
pada akhir 1970-an. 141
Beberapa tokoh agama di Yogyakarta yang juga tinggal di Tegalrejo menemani Ratu
Ageng diantaranya penghulunya sendiri yaitu Kiai Muhammad Bahwi yang nantinya dikenal
Muhammad Ngusman Ali Basah dalam Perang Jawa, dan Kiai Badaruddin (komandan korps
Suranatan) yang memiliki pengetahuan tentang Sistem pemerintahan Ottoman di kota-kota
suci (Bizawie, 2019: 173).
Ratu Ageng adalah nenek buyut Pangeran Diponegoro, istri Hamengku Buwono I
yang ikut mendampingi suaminya manakala bergerilya dalam Perang Giyanti. Ia adalah cucu
Ki Ageng Sulaiman Bekel Jamus, dan punya bakat militer kuat warisan genetika Sultan
Abdul Qahir, Bima. Ratu Ageng, istri Hamengku Buwono I, berasal dari tradisi keislaman
yang kuat. Nama lain dari GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Ageng yaitu GKR Tegalrejo.
Penyebutan GKR Tegalrejo karena kediamannya yang berada di Tegalrejo.
GKR Tegalrejo adalah putri Kiai dan Nyai Drepayuda. Menurut garis ibu, Nyai
Drepayuda adalah putra Ki Ageng Datuk Suleman Bekel Jamus bin Sultan Abdul Qahir,
Bima. Selama di bawah komando Ratu Ageng, korps Prajurit Estri yang terdiri dari para
pendekar perempuan, mengalami kemajuan. Selain sebagai pejuang estri, menurut Oman
Fathurahman, berdasarkan penelitian atas naskah Jav. 69 (Silsilah Syattariyah) dari koleksi
Colin Mackenzie di British Library, London, Ratu Ageng yang disebut juga merupakan
pengikut dari tarekat syattariyah yang dibaiat oleh Kiai Abdullah (Kiai Muhammad Kastuba)
Pesantren Alang-Alang Ombo Bagelen (Bizawie, 2019: 174).
Selama bertempat di Tegalrejo selain mendapatkan bimbingan langsung dari Ratu
Ageng. Diponegoro yang mempunyai nama kecil Raden Mas Ontowiryo Mustahar oleh Ratu
Ageng juga dihubungan dengan beberapa guru ulama diantaranya adalah Syekh Taptojani,
141 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
105
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Kiai Hasan Besari Tegalsari dan Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah al-Ansari seorang ulama
dari Arab yang menikah dengan putri Pangeran Blitar I (1784-1827) yang menjadi putra
Hamengku Buwono I (Ma’ruf, 2018: 68).
Bahkan salah satu putranya yang bernama Ahmad, tewas ketika mempertahankan
benteng persembunyian Diponegoro di Selarong pada awal Oktober 1825. Ulama Arab ini
merupakan penasihat penting dalam masa persiapan menjelang Perang Jawa. Selama di
Tegalrejo bersama Ratu Ageng, berbagai ragam teks bacaan dipelajari oleh Pangeran
Diponegoro. Beberapa karya Islam yang dipelajari antara lain kitab Tuhfah yang menjadi
favoritnya, berisi ajaran sufisme tentang “tujuh tahap eksistensi”(Ma’ruf, 2018: 70).142
Diponegoro juga ngaji kitab-kitab tasawuf, suluk, serat Anbiya, Tafsir Qur’an. Pada
bidang politik, Diponegoro mengaji kitab Siratus Salatin dan Tajus Salatin. Sedangkan dalam
hukum Islam, mengaji Taqrib, Lababul Fiqh, Muharrar, dan Taqarrub. Atas penguasaan
khazanah Islam tersebutlah, Diponegoro cukup kritis terhadap reformasi hukum 1812 yang
diberlakukan Inggris (1811-1816) yang memangkas kewenangan pengadilan agama Jawa
(Surambi) (Carey, 1987: 274-288).
Menurut Carey, tulisan-tulisan Diponegoro lebih memperlihatkan sebagai seorang
mistikus Jawa dibanding seorang pembaharu Islam yang ortodoks. Hal ini didasarkan pada
pengakuan Kyai Mojo sebagai pengikut tarekat syattariyah bahwa Diponegoro berupaya
mencapai tingkat kemanunggalan mistik dalam sufi. Meski banyak mengutip ayat-ayat
alQur’an, Diponegoro tidak berminat pada tafsir tekstual melainkan pada penggunaan zikir
dan melakukan dan khalwat (menyepi).
Ia juga cukup menguasai olah pernafasan dalam berzikir dengan menggambarkan
diagram dan berbagai ritual yang dilakukan pengikut tarekat naqshabandiyah dan syattariyah.
(Lor, 1832: 408). Pada usia 20-an setelah April 1805, sebelum berziarah ke Pantai Selatan,
Diponegoro melakukan safari atau kunjungan ke masjid-masjid dan pesantren-pesantren di
Yogyakarta sebagaimana santri dalam pengembaraan mencari ilmu (Ambaristi &
Marduwiyota, 1983: 2).
Semasa dalam perjalanan tersebut, ia menggunakan nama Syekh Ngabdurahim yang
barangkali atas saran Syekh al-Anshari, koleganya selama di Tegalrejo. Ia juga mengganti
pakaiannya dengan busana Jawa berkerah tinggi dengan selendang yang dililitkan di
pinggang dan penutup kepala dari batik tulis, dengan busana sehari-hari kaum santri abad ke
18, yakni kain sarung kasar yang dipadu dengan baju putih tanpa kancing dan tak berkerah
142 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
106
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
(kebaya), dan sorban hijau atau putih sebagai penutup kepala. Diponegoro menjalahi
kehidupan santri yang berkelana dengan mengunjungi masjid-masjid dan pesantren-pesantren
serta makan tidur bersama para santri biasa.143
Beberapa pesantren yang dikunjungi berada di wilayah Yogyakarta, seperti Gading,
Grojogan, Sewon, Wonokromo, Jejeran, Turi, Pulo Kadang, dan pathok negari, kasongan dan
Dongkelan (Bizawie, 2019: 174). Diponegoro juga berhubungan dengan Kiai Gedhe Dadapan
dekat Tempel. Bahkan pada 1802 Diponegoro menikahi putri Kiai Gedhe Dadapan, Raden
Ayu Retno Madubrongto yang nantinya melahirkan putra bungsunya Raden Mantri
Muhammad Ngarip dan bergelar Pangeran Diponegoro II, penulis Babad Dipanagara Surya
Ngalam. Sepeninggal nenek buyutnya, sosok penting bagi Diponegoro yang menjadi simpul
utama jejaring santrinya adalah Kiai Mojo dan salah satu ulama guru spiritualnya adalah Kiai
Taptojani. Kedua sosok ini memiliki pengaruh untuk mendapatkan dukungan dari kaum
ulama Pajang, Madiun, Kedu, Bagelen, Pacitan dan wilayah-wilayah lainnya di pantai utara
Jawa (Rahman & Mas’ud, 2012: 25).
Peran Ratu Ageng terhadap Pangeran Diponegoro pada masa muda sangat terlihat
saat kondisi Kasultanan Yogyakarta mulai diracuni gaya Eropa oleh Belanda dengan budaya
konsumerisme ala Barat sehingga Ratu Ageng sebagai figur yang paham agama menolak
tradisi tersebut dan memandang perlu untuk menyelamatkan Ontowiryo (nama kecil
Diponegoro) untuk hijrah ke Tegalrejo.
Dari situlah Pangeran Diponegoro tumbuh di bawah asuhan Ratu Ageng dan dari situ
pula Pangeran Diponegoro bergerak melawan penjajahan. Pengaruh Kepemimpinan Ratu
Ageng dalam Perang Jawa Salah satu faktor terjadinya Perang Jawa adalah
meletupnya huru-hara di Istana Yogyakarta yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan
Hamengku Buwono II yang memerintah dari tahun 1792-1810. Sultan sepuh adalah nenek
dari Pangeran Diponegoro yang dinobatkan menjadi raja sebagai pengganti Sultan Hamengku
Buwono I.
Pangeran Diponegoro lahir pada masa pemerintahan Hamengku Buwono I wafat,
maka permaisurinya Kanjeng Ratu Ageng, tetap tinggal di istana sambil mengasuh cicitnya
Pangeran Diponegoro waktu itu berusia 3 tahun (Poesponegoro, Marwati, & Notosusanto,
1993: 188). Huruhara atau perselisihan tersebut bermula ketika Sultan Hamengku Buwono II
memecat dan menggeser pegawai istana dan bupati-bupati yang dahulu dipilih oleh Sultan
143 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
107
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Hamengku Buwono I semacam terjadi praktek nepotisme yang dilakukan Hamengku
Buwono II yang memilih orang-orang terdekatnya (Kartodirdjo, 2014: 126). 144
Berpindahnya Pangeran Diponegoro ke Tegalrejo, mendorong Ratu Ageng mendidik
dan melatih serta mewariskan beragam ketrampilan perangnya kepada Pangeran Diponegoro.
Adapun ketrampilan perang tersebut ialah menembak, memanah dan berkuda sebagaimana
penjelasan sebelumnya yang mengatakan bahwa Ratu Ageng merupakan korps Pasukan Estri
Kasultanan Yogyakarta yang sebelum akhirnya pindah ke Tegalrejo dengan membawa
Pangeran Diponegoro.
Pendapat tersebut diperkuat oleh Peter Carey yang mengatakan bahwa sejak kecil
Pangeran Diponegoro dipengaruhi lingkungan yang religius, ia sering mengunjungi berbagai
Pesantren di wilayah Yogyakarta. Pangeran Diponegoro dikirim oleh ibunya ke Tegalrejo
untuk diasuh neneknya yang bernama Ratu Ageng.
Peter Carey dalam tulisannya menjelaskan bahwa nenek buyut Diponegoro ini selain
dikenal sebagai perempuan yang memiliki pengetahuan agama Islam, juga dihormati karena
keperkasaannya saat mendampingi Sultan Hamengku Buwono I ketika berjuang menghadapi
Belanda selama Perang Giyanti (1746-1755) (Carey, 2012: 319). Beberapa definisi
kepemimpinan menggambarkan ‘asumsi’ bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
orang baik individu maupun kelompok. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif
membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan
untuk mencapai tujuan bersama (Fitriani, 2015: 22).
Dalam konteks Indonesia, RA Kartini merupakan tokoh penting bagi perempuan
Indonesia. Beliau adalah tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan seperti hak untuk
belajar di sekolah dan hak untuk memimpin sebuah organisasi. Terkait dengan korelasi peran
Ratu Ageng dengan kepemimpinan perempuan jelas terlihat ketika sosok perempuan
yang tangguh tersebut mempengaruhi pengikut setianya agar menentang kebijakan
kesultanan yang berkoalisi dengan penjajah Belanda bahkan tidak sedikit yang
mengikuti kehidupan glamour gaya Eropa seperti minum whine, bir dan taritarian khas
Barat. Hal itu yang menyebabkan ia beserta pengikutnya memutuskan keluar kerajaan untuk
menciptakan pola kehidupan baru yang islami.
Ratu Ageng, yang suka membaca kitab berbahasa Arab dan Jawa, juga menjadi
komandan pertama barisan perempuan pengawal raja alias korps prajurit estri, satu-satunya
formasi militer yang membuat Daendels terkesan manakala berkunjung ke keraton ini pada
144 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
108
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Juli 1809. Peter Carey dalam karyanya yang lain, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro
(1785-1855).145
Peter Carey menengarai, didikan dari perempuan hebat inilah yang membuat Raden
Mas Ontowiryo (nama kecil Diponegoro) mampu berpikir kritis menyikapi dominasi Belanda
di Keraton Yogyakarta serta membuatnya mampu mengenal dekat jejaring para ulama di
wilayah Mataram (Carey, 2012: 320). Pada proses perkembanganya, Ratu Ageng untuk
pertama kalinya mengkader Pangeran Diponegoro di Tegalrejo untuk belajar agama dan tidak
berambisi menjadi raja serta lebih memilih hidup merakyat yang jauh dari hiruk pikuk
kekuasaan Mataram.
Akibat kondisi keraton yang carut marut pengaruh Belanda. Perlu diketahui bahwa
Tegalrejo-Yogyakarta sebelumnya merupakan sebuah desa dengan penduduk yang sangat
sedikit, akan tetapi setelah kehadiran Ratu Ageng untuk menetap di sini dan disusul oleh
Pangeran Diponegoro, kawasan ini menjadi ramai. Umumnya mereka adalah para petani,
ulama, dan santri.
Keramaiannya tersebut pada tahap berikutnya memunculkan perkembangan masjid-
masjid dan langgar di kawasan Tegalrejo sehingga desa tersebut tumbuh menjadi tempat
tinggal yang religius. Hal ini dibuktikan dengan perilaku para petani yang giat dalam
mengerjakan sawah, namun masih tetap mengindahkan perintah agama (Poesponegoro et al.,
1993: 189). Adapun yang menjadi sebab meletusnya Perang Diponegoro adalah kekacauan
yang terjadi di istana.
Salah satu pemicunya adalah sikap nepotisme Sultan Hamengku Buwono II yang
menginginkan staff pemerintahan diisi dan dibantu oleh orang-orang terdekat (Warto, 2016:
218). Kecenderungan ini terlihat pada saat pengangkatan para menantunya sebagai pembantu,
misalnya Raden Adipati Danuraejo II sebagai patih, Raden Tumenggung Sumodiningrat
sebagai wedana lebet dan Raden Ronggo Prawirodirdjo III (meski nantinya Raden Ronggo
akan memberontak), sebagai bupati-wedana mancanegara timur.
Tindakan sultan ini mengakibatkan sebagai pegawai yang telah berpengalaman dalam
hal pemerintahan mengundurkan diri. Kanjeng Ratu Ageng telah memperingatkan hal
tersebut kepada kanjeng sultan, akan tetapi tidak mendapatkan tindakan yang baik. Golongan
yang disisihkan meminta perlindungan kepada putra mahkota yaitu ayah Pangeran
Diponegoro Sultan Hamengku Buwono III.
145 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
109
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Keadaan menjadi tidak tenteram sehinga kanjeng Ratu Ageng meninggalkan istana
dengan diikuti oleh Pangeran Diponegoro sendiri yang waktu itu masih berusia 6 tahun
menuju ke arah barat Yogyakarta yakni daerah Tegalrejo (Poesponegoro et al., 1993: 190).
Pangeran Diponegoro mulai muncul di panggung politik Kesultanan Yogyakarta pada tahun
1812 membantu ayahnya Pangeran Adipati Mangkunegoro dalam konflik melawan kakeknya
Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh). 146
Setelah ayahnya diangkat menjadi sultan, ia kembali menghilang dan jarang muncul
di depan publik. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak ingin memperoleh jabatan dan sengaja
menolak akan diangkat sebagai putra mahkota. Sebagai pengganti ia menunjuk adiknya
Raden Mas Ambyah yang masih kecil dan memilih untuk tinggal di Tegalrejo bersama
buyutnya Ratu Ageng (janda Sultan Hamengku Buwono I) (Djamhari, 2014: 120).
Menurut Peter Carey, keunikan pada masa pendidikan dan pengasuhan Pangeran
Diponegoro oleh buyutnya Ratu Ageng yang terkenal keras di Tegalrejo banyak berperan di
sini, sehingga komitmen pribadi pangeran terhadap Islam dan kontak-kontaknya yang luas
dengan para santri di Jawa Tengah bagian selatan menjadikannya seorang bangsawan Jawa
yang tidak seperti bangsawan pada umumnya (Carey, 2012: 290).
Setelah Belanda mengetahui kampung Tegalrejo dijadikan marketplace (tempat jual
beli) gagasan dan ide yang dilakukan oleh Nyai Ratu Ageng untuk melawan hedonisme
Keraton Yogyakarta yang berkoalisi dengan penjajah Belanda, maka ada upaya
pembumihangusan oleh pihak Belanda dan juga para pejabat Keraton Yogyakarta yang
nepotis dengan melakukan pembakaran kampung Tegalrejo Yogyakarta sebagai basis awal
kekuatan Pasukan Diponegoro.
Kampung tersebut didirikan oleh Ratu Ageng nenek buyut Pangeran Diponegoro
yang menjauh meninggalkan Keraton Yogyakarta akibat konflik internal keluarga keraton
dan intervensi Belanda. Pada akhirnya, pasca diketahui oleh Belanda bahwa Tegalrejo
sebagai basis penyusunan kekuatan pasukan Diponegoro, pada pertengahan tahun 1825
tempat tersebut diserang dan berhasil dikuasai oleh Belanda hingga dibakar habis.
Sebagai perempuan keturunan ulama dari Bima dan sebaga istri dari HB I, Nyai
Ageng begitu kuat dalam menanamkan basis pendidikan dan ideologi terutama setelah
berhijrah di Tegalrejo yang menjadi awal embrio Perang Jawa. Salah satu upayanya untuk
menanamkan nilai-nilai pendidikan di Tegalejo adalah mendatangkan guru ulama ahli agama
untuk mendidik Diponegoro dan pejuang Tegalrejo sebagaimana tradisi pesantren pada
146 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
110
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
umumnya. Tradisi pesantren adalah sistem pendidikan Islam yang tumbuh sejak awal
kedatangan Islam di indonesia, dalam perjalanan sejarahnya telah menjadi objek penelitian
para sarjana yang mempelajari Islam di wilayah nusantara ini (Dhofier, 2011: 38). 147
Tradisi keilmuan khas pesantren yang dikembangkan di Pesantren tidak berbeda
dengan sistem pengajaran sebagaimana disebutkan Zamakhsyari yakni datangnya santri
menghadap pada kyai yang kitab kuning berbahasa Arab dan menerjemahkannya ke dalam
Jawa (bahasa daerah) (Dhofier, 2011: 40).
Dalam kaitannya dengan penguatan intelektual spiritual oleh Pangeran Diponegoro
dan para laskarnya, sekilas dengan membaca riwayat Sang Pangeran dalam beberapa sumber
lain disebutkan bahwa kitab Topah alias Tohfah yang menjadi salah satu kitab favorit
Pangeran Diponegoro adalah kitab Tuhfat al-Muhtaaj karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami,
atau mungkin Tuhfat at-Thullaab karya Imam Zakariya al-Anshari, bisa jadi juga Tuhfat al-
Habib karya Imam al-Bujairimi.
Sudah sejak muda sang pangeran telah banyak melalap kitab-kitab fikih melalui para
ulama yang sering berdiskusi di Balairung kediaman buyutnya Ratu Ageng di Tegalrejo.
Pengaruh Ratu Ageng dalam perang yang berkobar selama lima tahun di Jawa tersebut adalah
sebagai inisiator awal hijrahnya para laskar di Kasultanan Yogyakarta yang masih memegang
teguh ajaran agama dan adiluhung Jawa, sehingga tidak mau mengikuti gaya kerajaan yang
kebarat-baratan dan lebih memilih untuk keluar dari situ.
Melalui Ratu Ageng Tegalrejo yang dulunya perkampungan biasa menjadi
perkampungan kosmopolitan sehingga awal kejadian Perang Jawa juga bermula di kampung
tersebut. Adapun sebab terjadinya perang diakibatkan oleh pengrusakan makam leluhur
Tegalrejo dan provokasi batas tanah di sana merupakan puncak episode kemarahan rakyat
Tegalrejo yang sudah menyusun langkah dan strategi melawan kezaliman penjajah dan
oknum kerajaan yang dipimpin oleh Patih Danurejo. Dari kampung Tegalrejo yang dirancang
oleh Nyai Ageng tersebut kemudian terjadilah serangan pembumihangusan awal hingga
eskalasinya terus meningkat sampai perang tersebut meluas ke seluruh Jawa sehingga dikenal
dengan Perang Jawa ata Perang Diponegoro.
Pembahasan:
Berdasarkan pembahasan mengenai kepemimpinan perempuan dengan melihat
tinjauan peran Ratu Ageng Tegalrejo, dapat disimpulkan bahwa: pertama, sudah banyak
147 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
111
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
ditemukan tokoh-tokoh perempuan di Indonesia berkarakter menjadi pemimpin seperti Ratu
Ageng Tegalrejo, RA. Kartini, Cut Nyak Dien, dan lain sebagainya yang pergerakannya
cukup berpengaruh di dalam melawan penindasan kolonial. Kepemimpinan perempuan yang
dimaksud adalah berkaitan dengan peran dan kontribusinya dalam mempengaruhi massa
untuk melakukan tindakan non-kooperatif terhadap segala bentuk kezaliman dan penindasan.
Kedua, peran Ratu Ageng dalam mendidik Pangeran Diponegoro terlihat saat ia
menyelamatkan Diponegoro muda ke Tegalejo agar tidak terpengaruh dengan budaya
hedonis Kesultanan Yogyakarta yang sudah berkoalisi dengan penjajah Belanda.148
Sejak kecil Diponegoro dididik olehnya ilmu agama dan ilmu perang seperti
memanah dan berkuda dengan harapan agar Pangeran Diponegoro mampu menjadi pemimpin
Jawa melawan kesewenang-wenangan penjajah dan oknum kerajaan. Terbukti berkat
pendidikannya, Pangeran Diponegoro menjadi sosok pemimpin yang berkarakter Ratu Adil
yang mewarisi kepemimpinan Ratu Ageng.
Ketiga, kontribusi Ratu Ageng dalam perang Jawa bukan hanya terlihat dari perannya
dalam mendidik Pangeran Diponegoro, namun juga terlihat saat Ratu Ageng membangun
basis kekuatan Tegalrejo. Sebagai mantan parjurot estri keraton, ia menjadikan wilayah
tesebut menjadi marketplace atau tempat jual beli ide gagasan dan strategi melawan
kezaliman Belanda.
Dari basis kekuatan Tegalrejo tersebut, kekuatan pasukan Perang Jawa semakin
meluas di luar Yogyakarta atas dasar kesadaran bersama. Dari narasi kesimpulan di atas dapat
dijelaskan bahwa sosok Ratu Ageng merupakan pemimpin perempuan yang sangat
berpengaruh atau aktor dibalik layar dalam mensukseskan perlawanan terhadap penjajah
sehingga hal ini cukup menginspirasi perempuan yang terkesan tersubordinasi.
4.4 GAYA KEPEMIMPINAN DINASTI MING
Dinasti Ming (Hanzi: 明朝, hanyu pinyin: ming chao) (1368 - 1644) adalah dinasti
satu dari dua dinasti yang didirikan oleh pemberontakan petani sepanjang sejarah Cina.
Dinasti ini adalah dinasti bangsa Han yang terakhir memerintah setelah Dinasti Song. Pada
tahun 1368, Zhu Yuanzhang sukses mengusir bangsa Mongol kembali ke utara dan
menghancurkan Dinasti Yuan yang mereka dirikan. Beliau mendirikan dinasti Ming (大明國;
Dà Míng Guó), dengan ibukotanya di Yingtian (sekarang Nanjing) sebelum putranya, Zhu
148 Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol. 6, Nomor 2
112
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Di, yang dijadikan kaisar ke-3 memindahkan ibukota ke Shuntian (sekarang Beijing).
Yingtian kemudian beralih nama dijadikan Nanjing (ibukota selatan).149
Pada tahun itu juga, Kaisar Hongwu memainkan ekspedisi ke utara bagi
mempersatukan Cina. Kekaisaran Yuan yang kala itu telah melemah tidak dapat menghambat
tentara Ming yang kala itu bermoral tinggi karena kemenangan demi kemenangan. Ibukota
Yuan, Dadu sukses dikuasai dan dibumi-hanguskan atas perintah Kaisar Hongwu. Suku
Mongol kemudian sukses diusir kembali ke padang rumput Mongol.
Setelah sukses menghancurkan Dinasti Yuan, Kaisar Hongwu menaklukan
pemberontak Ming Yuzhen di Sichuan pada tahun 1371. Sepuluh tahun kemudian, hancurnya
kekuatan Raja Liang dari Dinasti Yuan di Yunnan mengukuhkan penyatuan Cina daratan di
bawah Dinasti Ming.
Masa kejayaan awal (1368-1436) Pemerintahan Hongwu,
Setelah sukses mendirikan Dinasti Ming, Kaisar Hongwu melaksanakan kebijakan
bagi menenangkan rakyat. Di selangnya dengan mengembalikan gerak roda perekonomian,
memainkan reformasi birokrasi Dinasti Yuan, meringankan pajak dan beban petani dan
menghukum berat para pejabat yang korup. Masa ini dikenal sebagai pemerintahan Hongwu
dalam sejarah.150
Kaisar Hongwu juga merupakan kaisar yang penuh kecurigaan terhadap para
menterinya. Beliau takut pejabat kekaisaran menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan
mereka bagi kepentingan diri sendiri yang pada kesudahannya dapat mengancam dan
membahayakan kekuasaannya. Dalam pada itu, beliau terkenal sebagai kaisar yang kerap
menjatuhkan hukuman kepada para menterinya.
Pada menteri terkenal yang dibunuh selang lain adalah Liau Yongzhong, Zhu
Liangxiang, Li Wenzhong, Hu Weiyong, Lan Yu dan Chen Ning. Pada kesudahannya,
hampir seluruh pejabat kekaisaran yang berbuat afal baik dalam pendirian Dinasti Ming
kecuali Tang He dihukum mati oleh Kaisar Hongwu. Setelah ini, Kaisar Hongwu juga
membentuk badan intelijen yang selanjutnya makin mengukuhkan kekuasaan absolut di
tangannya.
Insiden Jingnan
Insiden Jingnan adalah peristiwa kudeta berdarah karena perebutan tahta kekaisaran
selang Kaisar Jianwen dan Raja Yan, Zhu Di yang selanjutnya dijadikan Kaisar Yongle.
149 https://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Ming
150 Wanli Shiwu Nian《萬曆十五年|万历十五年》,Huang Renyu 黄仁宇,生活·读书·新知三联书店,ISBN
7-108-00982-X/K·211
113
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Kaisar Jianwen, Zhu Yunwen adalah cucu tertua dari Zhu Yuanzhang. Zhu Yunwen sendiri
adalah anak dari Zhu Biao, anak sulung Zhu yang mati muda sebelum sempat naik tahta.
Tahun 1398, Kaisar Hongwu wafat dan digantikan oleh Kaisar Jianwen. Kaisar Jianwen atas
petuah menterinya, Qi Tai memainkan pembersihan lawan-lawan politiknya yang masing-
masing memiliki kekuatan sendiri di seluruh negeri. Lawan politik yang dimaksud adalah
para raja yang sebenarnya masih merupakan pamannya sendiri, anak dari mendiang Kaisar
Hongwu.151 Lima raja sukses diturunkan dari tahta dan menjalani hukuman sebagai rakyat
biasa. Raja Yan, Zhu Di adalah anak keempat dari Kaisar Hongwu, mempunyai kekuatan
paling luhur kemudian memainkan kudeta kala mendengar bahwa kekuatannya akan
dijadikan target pembersihan selanjutnya oleh Kaisar Jianwen.
Zhu Di kesudahannya memainkan penyerangan ke ibukota Nanjing pada tahun 1399
atas saran dari penasihatnya Yao Guangxiao. Perang saudara pecah selang Kaisar Jianwen
dan Zhu Di, namun kesudahannya sukses dimenangkan oleh Zhu Di pada tahun 1402. Kaisar
Jianwen lenyap dan tidak diketahui nasibnya setelah insiden berdarah ini. Zhu Di lalu naik
tahta dengan gelar Chengzu, menetapkan era pemerintahan sebagai Yongle sehingga dikenal
juga sebagai Kaisar Yongle.152
Era kejayaan Yongle
Di masa pemerintahan Kaisar Yongle, Ming mengalami masa kejayaan awal.
Ekspedisi militer dilakukan oleh Kaisar Yongle bagi mempertahankan kejayaan ini. Annam
(sekarang Vietnam) sukses ditaklukkan dan kemudian dijadikan protektorat Ming. Kaisar
Yongle juga memimpin ekspedisi ke utara bagi memukul mundur bangsa Mongol ke Asia
Tengah demi mencegah ancaman dari mereka.
Tahun 1405, Kaisar Yongle juga memerintahkan Zheng He bagi memimpin ekspedisi
maritim ke lautan selatan. Tujuh kali ekspedisi melayari lautan sampai ke Madagaskar. Pada
tahun 1406, istana kekaisaran dibangun di Beiping (sekarang Beijing) dan menggunakan
Beiping sebagai basis bagi memainkan ekspedisi ke Mongolia. Sampai pada tahun 1422,
pembangunan dan perkembangan Beiping sangat pesat dan Kaisar Yongle kemudian
menitahkan bagi memindahkan ibukota dari Nanjing ke Beiping. Beiping kemudian beralih
nama dijadikan Beijing.153
151 http://p2k.unkris.ac.id/en3/3065-2962/Dinasti-Ming_84999_p2k-unkris.html
152 http://p2k.unkris.ac.id/en3/3065-2962/Dinasti-Ming_84999_p2k-unkris.html
153 ibid
114
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Masa pemerintahan Yongle ditandai dengan kedamaian dan kemajuan yang pesat di
seluruh negeri. Dalam catatan sejarah, masa ini dikenal sebagai era kejayaan Yongle (永樂勝
世). Namun, di belakang masa kejayaan ini, Kaisar Yongle bukanlah seorang kaisar yang
pengasih. Hukuman yang dijatuhkan kepada lawan politik dan oposisi tidak susut, ditandai
dengan peristiwa penjatuhan hukuman mati sepuluh kerabat kepada Fang Xiaoru. Ini
merupakan peristiwa satu-satunya di dalam sejarah Tiongkok yang biasanya hanya
membunuh sampai sembilan kerabat. Kaisar Yongle wafat pada tahun 1424 dan digantikan
oleh anaknya, Zhu Gaochi.
Pemerintahan Renxuan
Setelah Kaisar Yongle wafat pada tahun 1424, anak sulungnya Zhu Gaochi naik tahta
menggantikannya sebagai kaisar. Era pemerintahan diwakili dijadikan Hongxi. Malangnya,
beliau meninggal tahun berikutnya dalam usia 48 tahun. Walau era pemerintahannya sangat
pendek, namun Kaisar Hongxi memainkan banyak keputusan yang penting di selangnya
menghentikan ekspedisi maritim Zheng He dan ekspedisi militer. Beliau juga
menyebarluaskan produksi rakyat demi perkembangan ekonomi, mengampuni banyak
tawanan politik, meringankan hukuman penjara dan memainkan penghematan di banyak
aspek.154
Setelah Kaisar Hongxi mangkat, anaknya Zhu Zhanji meneruskan tahta kekaisaran
dan kebijakan yang dihindarkan sang ayah. Beliau bertahta sebagai Kaisar Xuande dan
terkenal akan kemahirannya dalam seni lukis. Beberapa lukisannya dijadikan lukisan ternama
dalam sejarah Tiongkok.
Pada tahun 1431, Kaisar Xuande merasakan bahwa pengiriman upeti dari negara-
negara protektorat Ming menyusut. Oleh karenanya, beliau memerintahkan Zheng He bagi
mempersiapkan ekspedisi maritim ketujuh. Ekspedisi ini dijadikan ekspedisi terakhir bagi
Zheng He karena beliau kemudian meninggal di Guli, sebuah kota di pesisir India.
Masa pemerintahan Kaisar Xuande diwarnai dengan campur tangan kasim dalam
keputusan kekaisaran yang dilarang sejak masa pemerintahan Kaisar Hongwu. Kaisar
Xuande juga dijuluki sebagai kaisar jangkrik karena beliau sangat gemar memelihara dan
154 http://p2k.unkris.ac.id/en3/3065-2962/Dinasti-Ming_84999_p2k-unkris.html
115
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
berlaga jangkrik. Hal ini menyebabkan para menteri dan kasim di istana berlomba-lomba
bagi memberikan hadiah jangkrik kepada sang kaisar.155
Walaupun berlaku berbagai kekurangan di atas, namun pada masa ini rakyat Ming
mengalami kehidupan yang relatif terlindung dan tenteram. Era ini dikenal sebagai
pemerintahan Renxuan (仁宣之治) diambil dari gelar kedua kaisar yang memerintah,
Renzong dan Xuanzong.
Era pertengahan (1436-1573)
Invasi Mongol
Pada tahun 1435, Zhu Qizhen naik tahta dengan gelar Yingzong dan era tahun
Zhengtong. Kaisar Zhengtong adalah satu-satunya kaisar dinasti Ming yang memerintah
dengan dua era pemerintahan, Zhengtong dan Tianshun setelah restorasi tahta kekaisaran.
Masa pemerintahan Kaisar Zhengtong diwarnai dengan penyalahgunaan wewenang oleh
kasim ternama, Wang Zhen. Wang adalah seorang guru kekaisaran yang kemudian dikebiri
bagi dijadikan kasim di dalam istana. Wang secara terang-terangan melanggar peraturan
Kaisar Hongwu bahwa kasim tidak diperbolehkan bagi mencampuri urusan kenegaraan.
Selama kurun waktu tujuh tahun dengan latar belakang sebagai kasim kesayangan kaisar,
tindak-tanduknya yang korup semakin merajalela.156
Seiring dengan ini, kekuatan suku Oirat di Asia Tengah makin meningkat. Pada tahun
1449, Esen Khan dari Oirat menginvasi Beijing. Wang Zhen lalu memaksa Kaisar Zhengtong
bagi memimpin langsung 500.000 tentara keluar dari Beijing bagi menahan serangan
Mongol. Karena pasukan ini tidak terlatih dan juga bermoral rendah menyebabkan garis
depan dapat dikalahkan oleh pasukan Mongol.
Mendengar kekalahan ini, Wang Zhen lalu takut bagi meneruskan pertempuran
melawan Mongol dan memerintahkan seluruh pasukan bagi mundur. Kuatir kampung
halamannya akan luluh lantak setelah dilewati pasukan Ming, beliau mengambil rute jalan
yang lebih jauh sehingga menyebabkan pasukan Oirat sukses mengejar pasukan Ming
sesampai Kastil Tumu.157
Dalam pertempuran di kastil Tumu ini, Kaisar Zhengtong sukses ditawan oleh Esen
Khan, sedangkan Wang tewas dalam pertempuran. Dalam beberapa catatan sejarah tidak
resmi, dikatakan bahwa Wang tewas karena dibunuh oleh jenderal Fan Zhong, pengawal
kekaisaran yang tidak puas akan tindak tanduk Wang. Namun kebenaran peristiwa ini tidak
155 ibid
156 Xishuo Mingchao《细说明朝》,Li Dongfang 黎東方,上海人民出版社,ISBN 7-208-02512-6
157 http://p2k.unkris.ac.id/en3/3065-2962/Dinasti-Ming_84999_p2k-unkris.html
116
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
diakui oleh sejarah resmi kekaisaran. Peristiwa ini dikenal sebagai Insiden Tumu dalam
catatan sejarah.
Setelah kabar bahwa insiden ini sampai ke Beijing, menteri-menteri kuatir akan
keselamatan mereka bila Beijing jatuh ke tangan Oirat mengusulkan bagi memindahkan
ibukota ke Nanjing dan menyerahkan Beijing. Namun usulan ini disorongkan oleh salah
seorang menteri, Yu Qian yang kemudian menyarankan supaya adinda dari Kaisar
Zhengtong, Zhu Qiyu bagi meneruskan tahta kekaisaran demi kelanjutan dinasti. Zhu
kemudian naik tahta dengan gelar Daizong dan era pemerintahan Jingtai.
Esen Khan sampai ke Beijing namun tidak sukses menguasai Beijing karena
pertahanan kota yang relatif kuat karena strategi pertahanan Yu Qian. Yu Qian kemudian
memimpin pasukan Ming keluar Beijing dan memukul mundur pasukan Oirat. Esen Khan
kemudian mundur bersama pasukannya dengan membawa Kaisar Zhengtong sebagai
tawanan.158
Yu Qian tidak menghiraukan tawaran damai dari Esen Khan sebagai tebusan atas
Kaisar Zhengtong, namun menyusun strategi pertahanan yang lebih kuat dan selanjutnya
mengusir pasukan Oirat lebih jauh ke utara. Esen Khan memperlakukan Kaisar Zhengtong
dengan baik dan kemudian melepaskannya setelah merasa bahwa tidak berlaku artinya lagi
menawan sang kaisar pada tahun 1450.
Restorasi Kaisar Zhengtong
Kaisar Zhengtong yang dihindarkan oleh Esen Khan kemudian pulang ke Beijing.
Malangnya, kepulangannya ini tidak disambut gembira oleh Kaisar Jingtai, sang adinda yang
bertahta menggantikannya selama dijadikan tawanan.
Walaupun atas saran para menteri, Kaisar Jingtai memberikan gelar Maha Kaisar,
namun beliau tidak keluar menyambut Kaisar Zhengtong di gerbang kota, malah
menjatuhkannya sebagai tahanan rumah di Istana Selatan. Lebih jauh, Zhu Jianshen yang
sebelumnya adalah putra mahkota dicabut gelarnya dan digantikan oleh anak Kaisar Jingtai,
Zhu Jianji yang tak lama kemudian meninggal karena sakit.
Sepeninggal Zhu Jianji, Kaisar Jingtai yang tidak mempunyai putra lainnya tidak juga
mengembalikan posisi Zhu Jianshen sebagai putra mahkota. Pada tahun 1457, Kaisar Jingtai
sakit parah dan beberapa menteri merencanakan kudeta bagi merestorasi Yingzong sebagai
kaisar. Kudeta ini menyebabkan beberapa menteri yang setia kepada Jingtai dijatuh hukuman
mati, di selangnya Yu Qian. Kaisar Jingtai kemudian diturunkan posisinya dijadikan raja dan
158 Xishuo Mingchao《细说明朝》,Li Dongfang 黎東方,上海人民出版社,ISBN 7-208-02512-6
117
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
meninggal sebulan kemudian. Sebaliknya, Yingzong bertahta kembali sebagai kaisar dengan
era tahun Tianshun.159
4.5 GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DASAR DI DAERAH
TERPENCIL (STUDI MULTI KASUS DI SDN 2 BAKALAN DAN SDN 2
KEPYAR PURWANTORO KABUPATEN WONOGIRI)
Temuan lintas kasus gaya kepemimpinan di SDN 2 Bakalan dan SDN 2 Kepyar, yaitu
gaya kepemimpinan yang dipakai adalah gaya partisipasi dan gaya delegatting. Penggunaan
gaya kepemimpinan disesuaikan dengan kondisi bawahan. Penerapan gaya kepemimpinan
berhubungan dengan kondisi bawahan. Kondisi bawahan di kedua kasus memiliki perbedaan.
Gaya partisipasi digunakan pada tugas pokok guru, yaitu yang berkaitan langsung dengan
proses belajar mengajar, dengan alasan, yaitu berkaitan dengan salah satu fungsi kepala
sekolah sebagai supervisor. Gaya delegatting dilakukan pada tugas tambahan guru.
Alasannya kepala sekolah sebelum memberikan tugas tambahan guru tersebut telah
memahami karakteristik dan kompetensi guru yang akan diberikan tugas tambahan tersebut.
Kepala sekolah senantiasa mendahulukan komunikasi personal dan keteladanan dalam
kepemimpinannya.160
Dukungan eksternal penerapan gaya kepemimpinan kepala sekolah berasal dari
instansi pendidikan, masyarakat dan guru. Dukungan instansi pendidikan terkait adalah
dengan adanya tunjangan khusus untuk guru yang masuk dalam kategori daerah khusus.
Dukungan masyarakat sekitar melalui komite sekolah memberikan bantuan materi non materi
terhadap program sekolah. Dukungan dari dengan memiliki tenaga guru yang masih muda
dan keharmonisan hubungan antar individu. Dukungan internal penerapan gaya
kepemimpinan kepala sekolah dari pribadi kepala sekolah, yaitu pengalaman organisasi
kepala sekolah, bekal pendidikan jenjang S2, kemandirian, dan sikap inovatif.
Hambatan kepala sekolah dalam menerapkan gaya kepemimpinan yaitu kondisi
geografis sekolah, bekal keilmuan yang dimiliki kepala sekolah, serta tuntutan dan
keterlibatan masyarakat sekitar. Upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam mengatasi
hambatan kepemimpinan, yaitu kebijakan pemerataan tunjangan khusus, meningkatkan
hubungan personal antar individu, dan meningkatkan intensitas komunikasi dengan wali
159 http://p2k.unkris.ac.id/en3/3065-2962/Dinasti-Ming_84999_p2k-unkris.html
160 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
118
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
murid dan komite. Hasil akhir dari upaya menyelesaikan hambatan penerapan gaya
kepemimpinan adalah dengan meningkatnya kualitas pendidikan terutama pada sekolah dasar
di daerah terpencil
119
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar di Daerah Terpencil
Gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah dasar di daerah terpencil
yaitu gaya partisipasi dan delegasi. Gaya partisipatif digunakan oleh kepala sekolah terutama
dalam hal yang berkaitan dengan administrasi tugas mengajar. Di dalam pendekatan gaya ini,
pemimpin tidak hanya fokus pada tujuan, tetapi menggunakan perilaku pemberi dukungan
yang membuat bawahan menunjukkan keterampilan untuk melaksanakan tugas yang
ditetapkan. Gaya partisipatif ini tampak pada saat kepala sekolah senantiasa mengajak
komunikasi, diskusi, terbuka terhadap masukan, meminta pendapat dan pertimbangan dari
bawahan. Ciri-ciri tersebut sesuai dengan penggunaan gaya mendukung Northouse (2013)
gaya mendukung mencakup mendengarkan, memuji, meminta masukan, dan memberi umpan
balik. 161
Gaya delegasi digunakan pada saat berkaitan dengan tugas tambahan guru.
Penggunaan gaya pendelegasian nampak pada saat guru melaksanakan tugas tambahan, yaitu
selain tugas pokoknya sebagai seorang pengajar dalam dan telah dituangkan dalam SK
pembagian tugas mengajar. Kepala sekolah dalam menentukan tugas tambahan kepada guru
dengan mempertimbangkan kompetensi dan hobinya. Sebelum dituangkan dalam SK, setiap
guru akan dimintai pertimbangan secara pribadi berkaitan dengan tugas tambahannya
tersebut. Jika tugas tambahan diberikan sesuai dengan kompetensi dan hobinya, dalam
pelaksanaannya guru tidak akan merasa terbebani, bahkan akan muncul ide-ide kreatif untuk
keberhasilannya. Hal ini sesuai dengan Northouse (2013) bahwa tipe bawahan pada tahapan
ini adalah memiliki keterampilan untuk melakukan pekerjaan dan memiliki motivasi untuk
menyelesaikan pekerjaan itu.
Penerapan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar di Daerah Terpencil
Penerapan gaya kepemimpinan dari kepala sekolah dasar di daerah terpencil, yaitu (1)
gaya partisipasi digunakan dalam kegiatan yang berkaitan langsung dengan tugas pokok guru
dan (2) gaya delegasi dilakukan dalam kegiatan yang berkaitan dengan tugas tambahan guru,
dan (3) kepala sekolah mendahulukan komunikasi dan keteladanan. Dalam kasus di SDN 2
Kepyar, kepala sekolah dibantu oleh tenaga pendidik yang bervariatif secara usia biologis
maupun usia kerja. Guru yang muda, terutama yang telah PNS, memiliki kompetensi dan
motivasi yang baik untuk mencari solusi terhadap permasalahannya secara mandiri. Kondisi
161 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
120
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
berbeda pada guru muda yang belum PNS, dimana dari sisi kompetensi pada dasarnya sudah
baik, namun dari sisi motivasi masih rendah. Hal ini dikarenakan guru tersebut sudah
berkeluarga yang harus memenuhi kebutuhan finansial keluarganya dari sumber yang lain
sehingga menyebabkan guru tersebut tidak bisa fokus untuk melaksanakan tugasnya. Pada
dasarnya guru yang lebih senior telah memiliki komitmen dan pengetahuan yang cukup.
Perkembangan zaman dan perubahan paragidma pendidikan, menyebabkan guru senior
secara kemampuan perlu diberikan arahan. Terlebih pada guru yang akan masuk usia
pensiun, kemauan untuk meningkatkan kompetensi semakin menurun. Pada guru dengan
tingkat perkembangan seperti ini kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif
dengan mengedepankan keteladanan.
Penerapan gaya gaya delegatif pada tugas tambahan guru adalah upaya dari kepala
sekolah untuk memaksimalkan potensi guru. Pada kasus di SDN 2 Bakalan, kepala sekolah
mendapat dukungan dari guru-guru yang secara umur relatif masih muda dan hampir seusia.
Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan hubungan personil antara guru berjalan harmonis.
Kepala sekolah menerapkan gaya delegatif, baik dalam hal tugas pokok mengajar maupun
tugas tambahan. Meskipun dalam pengalaman mengajar jika dibandingkan dengan kepala
sekolah masih jauh, namun tingkat perkembangan guru termasuk dalam kategori dengan
kompetensi dan motivasi yang baik. Penerapan gaya delegatif semakin melekat jika melihat
kepala sekolah SDN 2 Bakalan seorang perempuan.
Kepala sekolah perempuan lebih mengutamakan rasa sehingga membuat
nyaman bawahan dalam menyampaikan pendapat, baik dalam pertemuan formal
maupun non formal. Robbins (2010) berpendapat bahwa wanita cenderung mengambil
atau menggunakan gaya kepemimpinan yang lebih demokratis. Mereka mendorong
partisipasi, berbagai kekuasaan dan informasi serta berupaya meningkatkan harga diri
pengikutnya. Mereka lebih suka memimpin lewat keterlibatan dan mengandalkan karisma,
kepakaran, kontak, dan keterampilan antarpribadi mereka untuk memengaruhi orang lain. 162
Pengetahuan akan karakteristik setiap guru mutlak diperlukan oleh kepala sekolah
dalam kepemimpinannya. Berbagai sumber yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik
guru yang dilakukan oleh kedua kepala sekolah tersebut di antaranya yaitu komunikasi
dengan kepala sekolah sebelumnya, komunikasi dengan ketua komite, dan memperkuat
hubungan personal dengan guru. Dengan mengetahui karakteristik setiap guru, maka kepala
162 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
121
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
sekolah dapat menerapkan pendekatan yang tepat, sehingga menimbulkan kenyamanan guru
dalam melaksanakan tugasnya.
Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Bafadal (2003) tentang bentuk
operasional dan pelaksanaan tugas untuk menciptakan suasana menyenangkan sehingga
menumbuhkan moral kerja guru, yaitu (1) Berusaha memahami karakteristik setiap guru dan
staf lainnya berupa perasaan, keinginan, pola pikir, dan sikap; (2) Menciptakan kondisi kerja
yang menyenangkan, baik kondisi fisik maupun sosialnya sehingga mereka betah di sekolah;
(3) memupuk rasa kerja sama yang baik antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan
guru, maupun staf lainnya, sehingga tercipta suatu kelompok kerja yang produktif dan
kohesif; (4) Memupuk rasa ikut memiliki, rasa adanya peranan yang cukup penting, dan rasa
sebagai orang yang berhasil pada setiap guru maupun staf lainnya163.
Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengelola dan mencapai tujuan lembaga
bukan karena ia memiliki kemampuan dalam menangani beragam masalah, tetapi karena ia
memahami bagaimana cara menyatukan dan memanfaatkan individu-individu di sekitarnya.
Ia mampu menggerakkan orang-orang di sekitarnya untuk bekerja penuh dedikasi
mewujudkan tujuan lembaga dan ia sendiri bekerja. Bersikap yang tepat terhadap tiap
individu yang memiliki kompetensi dan komitmen yang berbeda merupakan salah satu
kuncinya.
Dukungan Eksternal dan Internal Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar di
Daerah Terpencil
Temuan penelitian menunjukkan bahwa dukungan penerapan gaya kepemimpinan
berasal dari eksternal dan internal, yaitu (1) dukungan eksternal terdiri atas tunjangan khusus
dari pemerintah, komite membantu materi dan non materi program sekolah, dan guru muda
serta suasana harmonis dan (2) dukungan internal yaitu pengalaman organisasi kepala
sekolah, pendidikan S2, kemandirian, dan tanggap inovasi baru.
Dukungan eksternal kepemimpinan kepala sekolah dasar di daerah terpencil.
Perhatian dan dukungan dari pemerintah dengan memberikan tunjangan khusus pada guru
dengan maksud agar guru bisa lebih meningkatkan perhatian kegiatan belajar mengajar.
Kebijakan ini cukup berhasil karena di Kabupaten Wonogiri terbentuk sebuah forum yang
mewadahi guru-guru penerima tunjangan khusus ini. Melalui forum itu, pemerintah setempat
163 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
122
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
senantiasa menghimbau agar bantuan yang diberikan digunakan untuk meningkatkan
kompetensi guru. Pemerintah setempat melakukan pantauan khusus terhadap guru-guru yang
mendapat tunjangan khusus, agar setiap tahunnya meningkatkan kompetensi, baik dengan
mengikuti diklat, mengikuti lomba antar guru penerima tunjangan khusus, maupun membuat
karya ilmiah. 164
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sulaksono, dkk (2009) bahwa dukungan
pemerintah daerah dengan memberikan bantuan kesejahteraan ternyata mampu meningkatkan
efektivitas program. Di Kabupaten Sukabumi, misalnya selain bankes, pemerintah provinsi
dan kabupaten juga menyediakan tunjangan untuk guru di daerah terpencil yang didukung
kebijakan kabupaten untuk mengangkat guru yang berasal dari desa lokasi sekolah.
Dukungan dari bawahan, dimana bawahan dengan usia yang relatif muda dengan
pendidikan strata 1 memalui jalur perkuliahan reguler menjadikan guru memiliki kompetensi
dan motivasi yang baik. Hal ini berimbas pada pelaksanaan program-program sekolah dapat
berjalan dengan baik sesaui dengan tujuan dan targetnya. Untuk menjadi tenaga guru mulai
guru taman kanak-kanak sampai dengan sekolah menengah memerlukan persyaratan yang
cukup kompleks, yaitu (1) memiliki kualifikasi pendidikan minimal sarjana atau diploma
empat; (2) memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan
kompetensi profesional; (3) memiliki sertifikasi pendidik; (4) sehat jasmani dan rohani; (5)
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (UU Nomor 14 Tahun
2005 tentang guru dan dosen).
Dukungan masyarakat sekitar terhadap kepemimpinan kepala sekolah menunjukkan
bentuk dukungan yang positif. Dukungan yang baik dari masyarakat ini tidak lepas dari
faktor pendidikan yang dimiliki oleh orangtua atau wali murid. Sebuah fenomena yang terjadi
di dua desa tersebut, Bakalan dan Kepyar, bahwa banyak orangtua siswa yang dahulu dalam
menempuh pendidikan selepas SD dengan ikut orang di luar Purwantoro, sering disebut
ngenger. Ngenger atau mungkin dalam bahasa yang lain bisa disbut anak asuh adalah seorang
anak selepas SD (SMP atau SMA) ikut orang, untuk tinggal disana, dengan imbalan anak
tersebut disekolahkan oleh orang yang diikuti tersebut. Sampai sekarang khususnya alumni
dari Kepyar masih banyak yang ikut orang, tetapi sekarang beralih di panti asuhan atau
pondok pesantren.
164 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
123
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Solusi untuk meningkatkan taraf pendidikan warga di Bakalan dan Kepyar adalah
dengan dibukanya SMP Terbuka. Lokasi SMP terbuka ini berada di SDN 3 Bakalan, dimana
kegiatan belajar mengajarnya berlangsung 3 kali dalam seminggu. SMP terbuka ini
menyelenggarakan pendidikan untuk kelas 7 dan 8, sedangkan kelas 9 dilaksanakan di SMP
N 1 Purwantoro. Lulusan dari SDN 2 Bakalan dan SDN 2 Kepyar yang tidak ngenger, ke
panti, ke pesantren atau ke SMP negeri, akhirnya melanjutkan ke SMP terbuka tersebut.
Dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat di sekitar SDN 2 Bakalan dan
SDN 2 Kepyar menyebabkan tingkat perhatian orangtua terhadap pendidikan anaknya juga
semakin baik. 165
Dukungan internal kepemimpinan kepala sekolah dasar di daerah terpencil. Berdasar
temuan penelitian bahwa kedua kepala sekolah semenjak masih menjadi guru, telah aktif
dalam berbagai kegiatan organisasi. Kepemimpinan berkaitan dengan bagaimana
memengaruhi orang lain untuk dapat bergerak bersama mencapai visi, misi dan tujuan
organisasi. Bagaimana berinteraksi dengan orang lain, mengelola setiap konflik yang terjadi,
mencari dukungan dan hubungan dengan pihak-pihak lain merupakan pengalaman
keorganisasian yang sangat penting, terutama bagi seorang pemimpin. Pengalaman
berorganisasi yang cukup banyak telah memberikan bekal untuk mengelola organisasi
sekolah.
Dukungan internal lainnya berasal dari kesiapan secara pribadi untuk menjadi kepala
sekolah baik secara teori maupun mental. Secara bekal keilmuan, Bapak Sudarno, S.Pd.M.Pd
telah mempersiapkan sebelum diangkat menjadi kepala sekolah dengan melanjutkan studinya
ke jenjang S2, sedangkan Ibu Endang Sawalsih, S.Pd. SD begitu diangkat menjadi kepala
sekolah kemudian melanjutkan studi ke jenjang S2. Prestasi yang dicapai ketika menjadi
guru, menjadi faktor internal lain yang mendukung penerapan gaya kepemimpinan. Adanya
berbagai dukungan internal tersebut, sesuai dengan pendapat Soetopo (2010) yang
mengemukakan bahwa seseorang yang menduduki profesi pemimpin pendidikan, dalam
menjalankan tugasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (1) faktor legalitas; (2) faktor
sosial ekonomi dan konsep pendidikan; (3) faktor hakikat dan atau ciri sekolah; (4) faktor
kepribadian dan latihan; (5) faktor perubahan yang terjadi dalam teori pendidikan; (6) faktor
kepribadian dan training kepala sekolah.
165 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
124
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Berkaitan dengan inovasi yang tinggi dari kepala sekolah, dalam temuan tersebut
telah terbukti meskipun usia menjabat sebagai kepala sekolah kedua kepala sekolah telah
menghasilkan produk baru. Di SDN 2 Kepyar dengan pemasangan wifi baru, penanaman
pohon beringin di sekitar lokasi sekolah, dan rencana pembangunan mushola. Sementara itu,
di SDN 2 Bakalan dijadikan sekolah sebagai tempat studi banding, administrasi, dan
pengelolaan sekolah. Hal ini sesuai pendapat dari Supriadi (1999:349) tentang tujuh sikap
atau perilaku yang harus dimiliki kepala sekolah agar tercipta kehidupan sekolah yang sehat,
kondusif, dan menunjang kinerja sekolah, dimana salah satunya, yaitu responsif dan proaktif
dalam menanggapi apa yang terjadi di luar sekolah.
Hambatan Penerapan Gaya Kepemimpinan
Berdasarkan temuan penelitian, hambatan yang dihadapi kepala sekolah dalam
penerapan kepemimpinan, yaitu (1) kondisi geografis sekolah, (2) bekal keilmuan, (3)
keadaan guru, dan (4) tuntutan dan dukungan masyarakat. Hambatan yang dihadapi oleh guru
dan kepala sekolah di daerah terpencil yang paling utama adalah kendala geografis.166
Pemerintah secara bertahap telah melakukan perbaikan akses jalan ke suluruh wilayah di
Kabupaten Wonogiri, termasuk di Kecamatan Purwantoro. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Diah dan Pramesti tentang Reseliensi Guru di Daerah Terpencil Tahun 2012
menunjukkan bahwa beberapa tindakan nyata yang dilakukan yaitu tetap berangkat ke
sekolah, meskipun dengan perasaan berat dikarenakan medan yang ditempuh cukup sulit
karena terikat pada janji kepegawaian yang harus tetap menjalankan tugas di manapun.
Hambatan ini oleh pemerintah telah diakomodir dengan pemberian tunjangan khusus pada
beberapa guru yang bertugas di daerah khusus.
Temuan dalam penelitian menunjukkan bekal keilmuan yang berbeda dari kedua
kepala sekolah. Dimana kepala sekolah SDN 2 Kepyar telah memiliki bekal studi strata S2,
sedangkan kepala sekolah SDN 2 Bakalan belum. Kesadaran akan bekal keilmuan ini cepat
disadari oleh kepala sekolah SDN 2 Bakalan dimana kemudian melanjutkan studi ke strata S2
di UNWIDA Klaten. Jenjang studi strata S2 dalam proses pendidikannya sangat
166 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
125
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
mengutamakan kemandirian dalam belajar. Proses inilah yang secara langsung maupun tidak
langsung dapat meningkatkan kompetensi kepala sekolah. 167
Kompetensi kepala sekolah menurut PP Nomor 19 tahun 2005 tentang standar
nasional pendidikan, dapat dikelompokan menjadi empat kompetensi, yaitu kompetensi
kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial. Kompetensi kepribadian seorang kepala
sekolah haruslah seorang guru yang memiliki integritas kepribadian yang baik. Kompetensi
pedagogik, kepala sekolah harus tetap mampu menjalankan peran dan fungsinya sebagai
pendidik atau educator. Kompetensi profesional, kepala sekolah harus mampu menjalankan
perannya sebagai pemimpin/leader, manajer/manager, supervisor, dan inovator. Kompetensi
sosial, kepala sekolah harus mampu menjalin kerjasama sekolah dengan masyarakat, baik
secara internal maupun eksternal.
Keberadaan guru di sekolah belum menunjukkan ideal. Dari sisi jumlah, untuk SDN 2
Kepyar guru kelas yang sudah PNS terdapat 4 orang guru, sedangkan di SDN 2 Bakalan
terdapat 3 orang guru kelas yang berstatus PNS. Permendiknas Nomor 15 tahun 2010 tentang
standar pelayanan minimal pendidikan dasar di kabupaten/kota menyebutkan bahwa jumlah
guru pendidikan dasar adalah 6 orang dan 4 orang untuk daerah terpencil. Dari sisi jumlah,
maka SDN 2 Kepyar telah terpenuhi, sedangkan SDN 2 Bakalan belum terpenuhi.
Jika dilihat dari jenis kelamin guru, didapatkan bahwa di SDN 2 Kepyar semua guru
termasuk kepala sekolahnya adalah laki-laki. Pendidik di SDN 2 Bakalan 2 orang laki-laki
dan 7 orang guru perempuan termasuk kepala sekolah, dimana semua guru kelas adalah
perempuan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh M. Saunan Al Faruq tentang perbandingan
efektivitas kepemimpinan kepala sekolah laki-laki dan perempuan di SD Negeri Se-
Kabupaten Lamongan Tahun 2016 yang menghasilkan kepemimpinan kepala sekolah
perempuan lebih efektif dibandingkan dengan lawan jenisnya, ditunjukkan dengan adanya
temuan melalui studi dokumentasi yang memberikan hasil bahwa persentase prestasi kepala
sekolah perempuan dan bawahan yang dipimpin lebih baik daripada kepala sekolah laki-laki.
Hambatan selanjutnya adalah berkenaan dengan adanya tuntutan masyarakat untuk
meningkatkan mutu pendidikan, karena guru telah diberikan tunjangan khusus. Guru yang
bertugas di daerah khusus, secara kesejahteraan telah mendapat tiga kali gaji, yaitu gaji rutin
tiap bulannya, tunjangan sertifikasi (bagi yang telah mendapatkan), dan tunjangan daerah
167 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
126
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
khusus. Keberadaan tunjangan tersebut sudah menjadi hal yang wajar jika masyarakat
menuntut peningkatan mutu pendidikan.
Upaya Menyelesaikan Hambatan Kepemimpinan
Temuan penelitian menunjukkan bahwa upaya kepala sekolah dalam menyelesaikan
hambatan, yaitu (1) membuat kebijakan pemerataan tunjangan khusus, (2) memperkuat
hubungan personal, dan (3) komunikasi intensif dengan komite dan wali murid. Dalam
temuan penelitian didapatkan bahwa tunjangan khusus tidak diberikan kepada semua guru.
Kondisi geografis ke sekolah yang sama, sangat mungkin terjadi kerawanan konflik jika tidak
dibuat sebuah kebijakan yang mengakomodir semuanya. Dalam temuan penelitian didapatkan
bahwa dari dinas pendidikan kabupaten, didampingi upt kecamatan datang langsung ke
sekolah untuk mengantisipasi terjadinya gejolak yang diakibatkan adanya tunjangan khssus
yang tidak semua dapat, bahkan membuat surat pernyataan tentang tidak adanya konflik
internal yang terjadi. 168
Kepala sekolah berdasarkan hal tersebut, membuat kebijakan untuk memotong
sebagian dari tunjangan khusus yang diterima oleh guru penerima, untuk diberikan kepada
guru non penerima baik PNS maupun non PNS, sehingga dapat sedikit meringankan beban
guru yang bertugas di daerah khusus terutama berkaitan dengan kondisi geografis sekolah.
Setiap sekolah memiliki persoalan yang berbeda dengan sekolah yang lain, demikian juga
setiap kepala sekolah menghadapi hambatan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya.
Salah satu upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam menghilangkan hambatan tersebut
adalah dengan menjalin hubungan personal yang baik dengan semua guru dan tenaga
kependidikan lainnya. Dengan hubungan dekat, maka kepala sekolah dapat mengetahui
karakteristik tiap guru serta dapat mengambil akar permasalahan yang dihadapi.
Komunikasi yang intensif dengan komite sekolah harus dilakukan secara beriringan
dengan pengetahuan akan karakteristik guru. Masukan dan saran dari komite sekolah sebagai
perwakilan dari orangtua sangat penting dalam rangka membangun dan meningkatkan mutu
sekolah. Komunikasi yang dilakukan sekolah dengan komite yaitu dengan senantiasa
168 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
127
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
meminta masukan dan pertimbangan dalam program-program yang berhubungan dengan wali
murid, menghadirkan wali murid secara berkala ke sekolahan, dan melibatkan secara
langsung komite sekolah atau wali murid dalam program fisik sekolah. 169
Pola komunikasi ini sesuai dengan apa yang dikatakan Pidarta (1995) bahwa kepala
sekolah senantiasa berusaha membangun keakraban di antara personalia sekolah, terutama
guru dengan guru. Keakraban itu bisa dilakukan, antara lain (1) dengan menghargai dan
menjunjung tinggi prestise seseorang, (2) dengan berbagai kesuksesan, dan (3) dengan
memberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
Pembahasan
Pertama, gaya kepemimpinan kepala sekolah yang dipakai adalah gaya partisipatif dan
delegatif.
Kedua, penerapan gaya kepemimpinan partisipatif lebih banyak dalam tugas-tugas
pokok guru. Hal ini dikarenakan, berkaitan langsung dengan tugas utama guru sebagai
pendidik profesional yang mengharuskan setiap guru selalu siap dengan segala
administrasinya. Penerapan gaya delegatif dalam hal tugas tambahan guru, dimana dalam
menentukan tugas tambahan guru, kepala sekolah senantiasa mengajak diskusi dan menerima
masukan terlebih dahulu, serta mempertimbangkan kompetensi dan hobi guru.
Ketiga, Dukungan eksternal terhadap pendidikan di daerah terpencil, yaitu (a) dengan
diberikannya tunjangan khusus kepada guru yang bertugas di daerah khusus, (b) hubungan
sekolah dengan komite yang harmonis, (c) kondisi bawahan guru dimana komunikasi antar
guru yang harmonis, dan (d) keberadaan guru-guru muda. Dukungan internal yang membantu
penerapan gaya kepemimpinan, yaitu (a) pengalaman berorganisasi, (b) kemandirian kepala
sekolah, (c) tanggap inovasi baru, dan (d) bekal keilmuan yang dimiliki. Keempat, hambatan
yang dialami kepala sekolah dasar di daerah terpencil, yaitu (a) kondisi geografis sekolah, (b)
bekal keilmuan, (c) keadaan guru, dan (d) tuntutan dan dukungan masyarakat. Kelima, upaya
yang dilakukan kepala sekolah untuk mengatasi hambatan penerapan gaya kepemimpinan,
yaitu (a) dengan kebijakan pemerataan tunjangan khusus, (b) memperkuat hubungan
169 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
128
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
personal, dan (c) menjalin komunikasi yang intensif serta menghadirkan komite sekolah dan
orangtua secara berkala ke sekolah.170
BAB
SIMPULAN DAN 5
SARAN
5.1 SIMPULAN
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang-orang atau
kelompok dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan. (Ainurrafiq Dawam & Ahmad
170 Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi Kasus Di Sdn 2
Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal
1464—1472
129
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Ta’arifin, 2004: 66-67) Jadi pengertian kepemimpinan di atas menggambarkan setiap upaya
seseorang atau perilaku kelompok yang bertindak dalam suatu manajemen dalam upaya
untuk mencapai suatu tujuan.
Aneka teori kepemimpinan, sehingga dapat memaknai dengan jelas dan baik peranan
dan pentingnya kepemimpinan dalam organisasi. Menurut Luthan (2005:641-656), sejumlah
teori kepemimpinan melandasi perilaku pemimpin dalam organisasi, terdiri dari teori
kepemimpinan: 1) situasional, 2) kompetensi, 3) pertukaran, 4) motivasi, 5) kharismatik, 6)
transformasional, 7) kognitif sosial, 8) jalur tujuan.
Jenis, gaya dan model kepemimpian yang dipraktekkan pemimpin. Beragam jenis
kepemimpinan disebutkan para ahli (Bush, Yulk, Luthan, Gibson, Daft, dan Maulana) yang
lazim dipraktekkan oleh pemimpin organisasi, diantaranya:
Kepemimpinan kharismatik,
Kepemimpinan manajerial,
Kepemimpinan transformasional,
Kepemimpinan transaksional,
Kepemimpinan kontingensi,
Kepemimpinan moral,
Kepemimpinan pelayan,
Kepemimpinan interaktif,
Kepemimpinan otentik,
Kepemimpinan resonansi dan disonansi.
Secara umum terdapat macam gaya kepemimpinan yang relevan dalam organisasi,
diantaranya adalah: 1) gaya otokratis, 2) gaya demokratis, 3) gaya partisipatif, 4) gaya
orientasi pada tujuan, dan 5) gaya situasional.
Terdapat tokoh-tokoh kepemimpinan wanita antara lain:
Ratu Elizabeth I
Ratu Balqis
Nyi Ageng Serang
Menurut Tjiptono & Anastasia (2003:161), gaya kepemimpinan adalah suatu cara
yang digunakan pemimpin dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan bawahan. Secara
130
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
umum terdapat macam gaya kepemimpinan yang relevan dalam organisasi, diantaranya
adalah: 1) gaya otokratis, 2) gaya demokratis, 3) gaya partisipatif, 4) gaya orientasi pada
tujuan, dan 5) gaya situasional.
Peran wanita dalam kehidupan bermasyarakat dalam pembangunan bukan hanya
sebagai proses pembangunan, tapi juga sebagai fondasi yang berstruktur kuat. Perjuangan
akan figure R.A. Kartini dapat dirasakan dengan adanya pergerakkan emansipasi wanita.
Keberadaan peran wanita sebagai pimpinan kinimulai dihargai dan disetarakan. Sejalan
dengan gerakan emansipasi dan gerakan kesetaraan gender yang intinya berusaha menuntut
adanya persamaan hak wanita dalam berbagai bidang kehidupan, maka setahap demi Setahap
telah terjadi pergeseran dalam mempersepsi tentang sosok wanita.
Riset mengenai kepemimpinan menurut Collons tidak mengungkapkan satu sifat
tunggal yang dimiliki semua pemimpin yang berhasil, tetapi sejumlah ciri umum yang
dimiliki banyak diantara mereka.
Diantaranya memiliki sifat: (1) manusiawi; (2) memandang jauh ke depan; (3) inspiratif
(kaya akan gagasan); (4) percaya diri
Pendapat yang membolehkan perempuan menjadi pemimpin negara juga datang dari
Ahmadiyah. Naib Amir Ahmadiyah Indonesia, H. Sayuti Azis, memandang tidak ada
perbedaan antara perempuan dan laki-laki, karena dalam pandangan Allah perbedaan itu
terletak pada ketaqwaan seseorang. Tidak ada masalah jika perempuan menjadi pemimpin
negara.
Ini membuat sebagian besar perempuan memandang lemah diri dan kemampuannya
karena melihat konstelasi politik sebagai hal yang menakutkan. Selain itu, image bahwa
seorang pemimpin mesti tegar, berkuasa, kompetitif, rasional, mampu “mematikan”
musuhnya (maskulinitas), membuat perempuan dan laki-laki menempatkan posisi ini
memang pantasnya untuk laki-laki.
131
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Pemimpin wanita, restu dan dukungan dari suami sangat dibutuhkan (bahkan hal yang
utama). Hal ini penting baginya agar pemimpin wanita bisa fokus dan maksimal dalam
menjalankan kepemimpinannya. Dukungan keluarga besar juga dibutuhkan karena
menghadle beberapa tugasnya sebagai ibu dalam mengurusi anak-anaknya (terutama jika
anaknya masih belum mampumandiri).
Hal Pokok-pokok keberhasilan dari kepemimpinan Ratu Elizabeth I bisa sebagai
berikut:
Pertama, dia memimpin Inggris selama tahap kedua jaman pembaharuan tanpa
pertumpahan darah yang berarti. (Berbeda dengan Jerman di mana tiga puluh tahun
perang (1618-1648) hingga membunuh lebih dari dua puluh lima persen penduduk).
Kedua, Elizabeth meredakan rasa benci keagamaan antara Katolik Inggris dan Protestan
Inggris, dia berhasil pula menjaga persatuan bangsa.
Ketiga, empat puluh lima tahun pemerintahannya –Era Elizabeth– umumnya dianggap
jaman keemasan suatu bangsa besar di dunia.
Keempat, di masa pemerintahannya Inggris muncul menjadi kekuatan pokok, posisi yang
bisa dipertahankannya berabad-abad berikutnya.
Sosok perempuan yang memimpin yang diceritakan secara khusus dalam Alquran,
sehingga dapat menjadi pencerahan serta dapat mengubah cara pikir masyarakat agar tidak
mendiskriminasikan sosok pemimpin perempuan. Apabila terdapat sosok perempuan yang
mampu dan memiliki karakteristik kepemimpinaan yang baik, maka tidak ada salahnya ia
menjadi seorang pemimpin.
Bagi kaum perempuan lainnya walaupun aktif dan eksis dalam sektor publik, tidak
melupakan kodratnya sebagai perempuan yaitu ibu atau istri, dan tidak melenceng norma-
norma agama. Apabila telah diembankan suatu amanah harus disyukuri dan tetap terus
berkarya untuk menghasilkan segala sesuatu yang bermanfaat yang dapat dirasakanoleh
masyarakat pada umumnya dan untuk kemajuan suatu pemerintahan.
Berdasarkan pembahasan mengenai kepemimpinan perempuan dengan melihat
132
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
tinjauan peran Ratu Ageng Tegalrejo, dapat disimpulkan bahwa: pertama, sudah banyak
ditemukan tokoh-tokoh perempuan di Indonesia berkarakter menjadi pemimpin seperti Ratu
Ageng Tegalrejo, RA. Kartini, Cut Nyak Dien, dan lain sebagainya yang pergerakannya
cukup berpengaruh di dalam melawan penindasan kolonial.
Kepemimpinan perempuan yang dimaksud adalah berkaitan dengan peran dan
kontribusinya dalam mempengaruhi massa untuk melakukan tindakan non-kooperatif
terhadap segala bentuk kezaliman dan penindasan. Kedua, peran Ratu Ageng dalam mendidik
Pangeran Diponegoro terlihat saat ia menyelamatkan Diponegoro muda ke Tegalejo agar
tidak terpengaruh dengan budaya hedonis Kesultanan Yogyakarta yang sudah berkoalisi
dengan penjajah Belanda.
Dinasti Ming (Hanzi: 明朝, hanyu pinyin: ming chao) (1368 - 1644) adalah dinasti
satu dari dua dinasti yang didirikan oleh pemberontakan petani sepanjang sejarah Cina.
Dinasti ini adalah dinasti bangsa Han yang terakhir memerintah setelah Dinasti Song. Pada
tahun 1368, Zhu Yuanzhang sukses mengusir bangsa Mongol kembali ke utara dan
menghancurkan Dinasti Yuan yang mereka dirikan. Beliau mendirikan dinasti Ming (大明國;
Dà Míng Guó), dengan ibukotanya di Yingtian (sekarang Nanjing) sebelum putranya, Zhu
Di, yang dijadikan kaisar ke-3 memindahkan ibukota ke Shuntian (sekarang Beijing).
Yingtian kemudian beralih nama dijadikan Nanjing (ibukota selatan).
Gaya kepemimpinan kepala sekolah yang dipakai adalah gaya partisipatif dan
delegatif. penerapan gaya kepemimpinan partisipatif lebih banyak dalam tugas-tugas pokok
guru. Hal ini dikarenakan, berkaitan langsung dengan tugas utama guru sebagai pendidik
profesional yang mengharuskan setiap guru selalu siap dengan segala administrasinya.
Penerapan gaya delegatif dalam hal tugas tambahan guru, dimana dalam menentukan tugas
tambahan guru, kepala sekolah senantiasa mengajak diskusi dan menerima masukan terlebih
dahulu, serta mempertimbangkan kompetensi dan hobi guru.
5.2 SARAN
133
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Saran penelitian ini ditujukan kepada kementerian pendidikan, kepala dinas
pendidikan, pemerintah daerah, dan kepala sekolah serta guru. Pertama, kepada kementerian
pendidikan agar mengefektifkan pemberian tunjangan khusus yaitu dengan membuatnya satu
paket dalam sebuah program untuk peningkatan kompetensi guru, seperti diklat,
pembimbingan, dan sejenisnya. Kedua, kepada dinas pendidikan kabupaten agar dalam
penempatan guru disesuaikan dengan kebutuhan guru di sekolah, sehingga standar pelayanan
minimal pendidik dan tenaga kependidikan dapat terpenuhi.
Ketiga, kepada pemerintah daerah setempat agar dalam program pembangunan dan
perbaikan jalan diutamakan untuk akses jalan ke sekolah, serta program untuk mengatasi
hambatan alam yang mengganggu secara langsung maupun tidak langsung terhadap proses
kegiatan belajar mengajar di sekolah. Keempat, kepala sekolah dan guru agar senantiasa
membuat program dan target pencapaian program pendidikan, menjalin komunikasi, dan
kerjasama dengan stakeholder sekolah.
Saran untuk mahasiswa terkhusus mahasiswa Strata- 2 sebaiknya membaca buku
ini karena buku ini dapat dijadikan referensi untuk mata kuliah kepemimpinan.
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Lubis, M. Joharis dkk. 2019. Komitmen Membangun Pendidikan Tinjauan Krisis Hingga
Perbaikan Menurut Teori. Medan: CV. Widya Puspita
Nurkholis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah.Jakarta:Grasindo
Purwangono, Cuk Jaka. 2020. Kepemimpinan. Semarang: Universitas Wahid Yasim
Chaniago, Aspizain. 2015. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta Pusat : Lentera Ilmu
Cendekia
Haryono, Siswoyo. 2015. Intisari Teori Kepemimpinan. Bekasi : PT. Intermedia Personalia
Utama
Syamsu, dkk. 2017. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Gorontalo: Ideas
134
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Febrianty, dkk. 2020. Kepemimpinan & Perilaku Organisasi (Konsep Dan Perkembangan).
Bandung: Widina Bhakti Persada
Nizomi, Khairin. 2019. Gaya Kepemimpinan Perempuan dalam Budaya Organisasi.
Dessler, Gary. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jilid 1 & Jilid 2. Terjemahan oleh
Triana Iskandarsyah. 1997. PT Prenhallindo. Jakarta.
Gellerman, Saul W. 1970. Motivation and Produktivity, BD Taravorevals Sons & Co.
Bombay.
Ginnett, Curphy. 1996. Leadership. Second Edition. Higher Education Group. USA. Gordon,
Thomas. 1997. Menjadi Pemimpin Efektif. Terjemahan oleh Alex Tri Kantjono
Widodo. 1999. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hayden, Catherine. 1996. Leksikon Manajemen Strategi. Terjemahan oleh Susanto
Budidarmo. 1999. PT Gramedia. Jakarta.
Hunger, J.David & Wheelen, Thomas L. 1996. Manajemen Strategis. Terjemahan oleh
Julianto Agung. 2001. PT Andi. Yogyakarta.
Mangkuprawiro, Sjafri. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. PT Ghalia
Indonesia. Jakarta.
Mitchell, Stewwart, 1994. Empowering People. Terjemahan oleh Agus M Hardjana. 2002.
Kanisius. Yogyakarta.
Tichy, Noel. 1997. Strategic planning & Leadership. Human Resource Management
International Digest (HRMD). Vol: 5 Iss. USA.
Tricahyono, Bambang. 1999. Kasus-kasus Manajemen Sumber Daya Manusia. CV Agung.
Semarang.
135
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Usmara, A. 2002. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Amara Books.
Jakarta.
Waldman, D.A, and Yammarino, F.J. 1999. CEO Charismatic Leadership. Level of
management and level of analysis effects. Academy of Management review, 24:266-285.
Ali Musthofa Ya’kub. 2006.Imam Perempuan .Jakarta. Pustaka Firdaus.
Cecilia Reymond (ed). 2002. Women and Leadership International Leadership.New York;
State University of New York Press.
Eagly, A. H. & Carli, L. L. 2003. The female leadership advantage: An evaluation of the
evidence. The Leadership Quarterly
Burle’ (1978) . 2003. Feminist-Transformational Work For. Psychological Bulletin.
Fiona Gell. 2005.Women’s Leadership and Participation Case studies on learning for action
London; Routledge.
Fletcher, Joyce K.2004.“The Paradox of Post Heroic Leadership: An Essay on Gender,
Power and Transformational Change.” LeadershipQuarterly
JoanaHoare & Fiona Gell. 2003. The female leadership advantage: An evaluation of the
evidence. The Leadership Quarterly
Tannenbaum, A.S. and Schmitt, W.H.. 1958. How To Choose A Leadership Pattern. Harvard
Business Review.
Vroom, V.H. and Yetton, P.W., 1973, Leadership And Decision-Making. Pittsburg:
University of Pittsburg Press
Wah, Sheh Seow, 2013, Chinese Leadership, Mulai dari Zaman Klasik Sampai Zaman
Modern, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
136
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Watson M. Graig, 2001, Dynamics of Leadership, Jaico Publishing House, India.
Wirawan, 2013, Kepemimpinan: Teori, psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan
Penelitian, PT. Rajawali Grafindo Press, Jakarta
Yukl, Garry, 2010, Leadership in Organizations. Global Edition, The Seventh Edition,
Pearson, Pearson.
Ansoff, H. Igor. Strategic Management. New York, John Wiley & Sons. 1981. Astin,
Alexander W.
Danim, Sudarman, Dr. Prof. . 2004.. Motivasi kepemimpinan & efektivitas kelompok,
Bengkulu, Penerbit Rineka Cipta,
Baldridge, J. Victor. 1978. Policy Making and Effective Leadership. Washington D.C.
Jossey Bass
Bridges, Franchise J. 1971. Management Decision Making and Organizational Policy.
Boston, Allyn & Baccon.
Winardi, SE, DR. 1979. Pemimpin dan Kepemimpinan dalam management, Bandung,
penerbit Alumni.
A. Nunuk P. Murniati. 2004. Getar gender: buku kedua, perempuan Indonesia dalam
perspektif agama, budaya dan keluarga. Magelang: Indonesiatera.
Hughes, Richard L, et al. 1999. Leadership: enhancing the lesson of experience. Singapore:
McGraw-Hill International Editions
Indonesia. 2010. Undang-Undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 tentang
Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI1
Kartini Kartono. 1998. Pemimpin dan Kepemimpinan: apakah pemimpin abnormal itu?.
Jakarta: Raja Grafindo Persada
137
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Lasa HS. 2008. Manajemen Perpustakaan. Yogyakarta: Gama Media
Rudman, Laurie A., and Peter Glick. 2008. The psychology of gender: how power and
intimacy shape gender relationship. New York: The Guilford Press
Trisakti Handayani dan Sugiarti. 2001. Konsep dan Teknik Penelitian Gender. Malang: Pusat
Studi Wanita dan Kemasyarakatan Universitas Muhammadiyah Malang.
Kartini, R.A. 2017. Habis Gelap Terbitlah Terang. Yogyakarta: Penerbit Narasi
Pane, Armijin. 2008. Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta : Balai Pustaka.
Rifa’i, Muhammad. 2011. Sejarah Pendidikan Indonesia: Dari Masa Klasik Hingga Modern.
Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Stuers, Cora vreede. 2017. Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian. Depok:
Komunitas Bambu.
Sutrisno, Sulastin. 2014. Emansipasi: surat-surat kepada bangsanya 1899-1904.
Yogyakarta: Jalasutra.
Ulul Rasyad, Ratu Ageng Tegalrejo : Wanita Perkasa yang Tercuri dari Sejarah
Wanli Shiwu Nian《萬曆十五年|万历十五年》,Huang Renyu 黄仁宇,生活·读书·新知
三联书店,ISBN 7-108-00982-X/K·211
Xishuo Mingchao《细说明朝》,Li Dongfang 黎東方,上海人民出版社,ISBN 7-208-
02512-6
Usmawati, Satriawati, and R. Irman. 2018."Strategi Belajar Mengajar." Makassarz: Rizky
Artha Mulia.
Usmawati, Satriawati, and R. Irman. 2018."Strategi Belajar Mengajar." Makassarz: Rizky
Artha Mulia.
Aufa, N. (2017). Using Movie to Increase Students' Pronunciation (Doctoral dissertation,
UIN Ar-Raniry Banda Aceh).
Sutarno. (2012). Serba Serbi Manajemen Bisnis. Yogyakarta: Graha Ilmu
138
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Dawam, Ainurrafiq & Ta’arifin, Ahmad, 2004. Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren.
Jakarta: Listafariska Putra.
Wahjosumidjo. 2003. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan
Permasalahannya. Jakarta: PT Radja Grafindo Persada
Abdul Azis Wahab. 2008. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS). Bandung: Alfabeta
Sagala, Syaiful. (2013). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alvabeta
Rivai, Veithzal dan Sylviana Murni. 2009. Education Management. Jakarta: Rajawali Pers
Handoko, T.H., (1987), Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Edisi 2 BPFE,
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Armstrong, Michael. 1994. Manajemen Sumber Daya Manusia: A Handbook Of Human
Resource Management. PT Elex Mediakomputindo. Jakarta.
Luthans, Fred. 2005. Perilaku Organisasi Edisi Sepuluh. Yogyakarta : Penerbit Andi
Goerg, Odile. "Salm, Steven J. & Falola, Toyin (eds.). 2007. –African Urban Spaces in
Historical Perspective. Rochester-Woodbridge, University of Rochester Press, 2005, xl+ 397
p., index." Cahiers d’études africaines 47.185: 200-203.
Yulk, Gary. 2001. Kepemimpinan dalam Organisasi. Alih Bahasa: Budi Supriyanto
Luthan, Fred. 1998. Organizational Behavior. 8th Ed, Irwin, Mc Graw-Hill
Greenberg, Jerald & BaronRobert, A. 2003. Behavior in Organization : Understanding and
Managing The Human side of work.
Gibson, James L. et al. (1996). Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Diterjemahkan oleh
Ninuk Adriani. Jakarta: Binarupa Aksara.
Ali, M.2013. Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi. Bandung: CV. Angkasa.
Bush, T. 2007. Educational leadership and management: Theory, policy and practice. South
African Journal of Education 27(3): 391–406.
Yukl, Gary. 2001. Leadership in Organization. Alih bahasa: Sampe Maselinus, Rita Tondok
Andarika. Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Bush T 2007. Educational leadership and management: Theory, policy, and practice. South
African Journal of Education, 27:391-406.
Daft, Richard L. 2006. Manajemen, Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat
139
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Abman, Steven H. 2007. Fetal and neonatal physiology(4th ed.). Philadelphia:
Elsevier/Saunders.
Gibson dan Ivancevich Donnely. 1996. Organisasi jilid 1 edisi 8, Jakarta : Binarupa Aksara
Fred Luthans. 2006. Perilaku Organisasi. Edisi Sepuluh, PT. Andi: Yogyakarta.
Ali, M .2013. Penelitian Kependidikan Prosedur & Strategi. Bandung: CV. Angkasa.
Tjiptono Fany dan Anatasia Diana. 2003. Total Quality Management. Penerbit Andi:
Yogyakarta
Yusuf Hamali, Arif dan Sari Budihastuti, Eka. 2007. Pemahaman Praktis Administrasi
Organisasi, dan Manajemen : Strategi Mengelola Kelangsungan Hidup Organisasi . Jakarta :
Kencana
Hamali, A. Y., & Budihastuti, E. S. (2017). Pemahaman Kewirausahaan (Strategi Mengubah
Pola Pikir Orang Kantoran Menjadi Pola Pikir Wirausahawan Sukses). Depok: Kencana.
Daft, Richard L. 2008. Manajemen, Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat
Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan. (2010). Pengelolaan Pendidikan. Bandung:
Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
Davis, K dan Newstrom. (1995). Perilaku dalam Organisasi. Erlangga : Jakarta.
Luthan, Fred. 1998. Organizational Behavior. 8th Ed, Irwin, Mc Graw-Hill
As’ad. 1991. Seri Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia Psikologi Indsutri. Bandung :
Alumni
West, Richard, Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi
Edisi 3. Jakarta: Salemba Humanika.
Syaiful Sagala. 2013. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta
Akbar Tanjung, Islam, “Demokrasi dan Tantangan Global Akademik”, dalam Jurnal
Kebudayaan, vol, 4, No. I, (November, 2009), hal. 102.
Departemen Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Terjemahan. Bandung : PT Syigma Examedia
Arkanleema.
Wirawan. 2013. Kepemimpinan : Teori, Psikologi, Perilaku Organiasasi, Aplikasi dan
Penelitian, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Al-Wahidi an-Nisaburi, Asbabun Nuzul. 2014. Sebab-sebab turunnya ayat–ayat al-Qur’an.
Surabaya: Amelia
Abi Muhammad bin Mas‟ud alBaghawi, Syarhus-Sunnah, ( Darul Kitab „Amaliyah, 436-516
H), h. 322. Imam Syawkani, Naiul Awtar, (Darul hadis, 1426 H / 2005 M), h. 591.
140
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Zubaedi. 2007. Islam dan Benturan Peradaban.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Ratna Batara Munti. 1999. Perempuan sebagai Kepala Rumah Tangga. Jakarta: Lembaga
Kajian Agama dan Gender.
Novita, Tria Hikma. 2015. Analisis Tipe Kepemimpinan Ratu Elizabeth 1 . Makalah
Kewirausahaan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN,
Vol. 6, No. 2.
Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-
Naml: 23-44). Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1
Sahiron Sayamsuddin. 2009. Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an. WonoSari:
Pesantren Nawesa Pres.
Jurnal:
Joharis, M. 2017. The Effect Of Leadership, Organizational Culture, Work Motivation And
Job Satisfaction On Teacher Organizational Commitment At Senior High School In Medan.
Journal of Design, Art and Communication TOJDAC,
Faturahman,Burhanudin Mukhamad. 2018. Kepemimpinan dalam Budaya Organisasi. Jurnal
politik dan sosial kemasyarakatan, Vol. 10 No. 1 2018 (1-11)
Suherman, Usep Deden. 2019. Pentingnya Kepemimpinan dalam Organisasi. Jurnal Ilmu
Akuntansi dan Bisnis Syariah, Volume I/ Nomor 02
Latifah, Zauhar. 2021. Pentingnya Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jurnal magister
managemen pendidikan UNISKA MAB, Vol 1, No. 1
Syahril, Sulthon. 2019. Teori -Teori Kepemimpinan. Jurnal RI’AYAH, Vol. 04, No. 02
Ghufron. 2020. Teori-Teori Kepemimpinan. Jurnal FENOMENA, Vol. 19 No. 1
Udik Budi Wibowo. 2011. Teori Kepemimpinan.Makalah : Pembekalan Ujian Dinas Tahun
2011, Badan Kepegawaian Daerah
Dahlvig, Jolyn., Longman, Karen A., 2014, “ Contributors To Women’s Leadership
Development In Christian Higher Education: A Model and EmergingTheory”,Journal of
Research on Christian Education, Vol. 23, pp, 5-28.
141
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Dowling, Jacqueline S., Melillo, Karen Devereaux., 2015,“Transitioning From Departemens
to Schools of Nursing: A Qualitative Analysis of Journey By Ten Deans”, Journal of
Professional Nursing, Vol.31, No.6. Pp. 467-474.
Evans, David P., 2014,“Aspiring To Leadership...A Woman’s World?”,Procedia Social and
Behavioral Sciences, Vol. 148, pp. 543-550.
Glass, Christy., Cook, Alison., 2016, “Leading At The Top: Understanding
Women’sChallenges Above The Glass Ceiling”, The Leadership Quarterly, Vol. 27, pp.51-
63.
Hasan, Anwar.,Othman, Abdullah.,2013, “When It Comes To Leadership, Does Gender
Matter?”,Arabian Journal Of Business And Management Review (Oman Chapter),Vol.2,
No.10.
Alice H. Eagly and Mary C. Johannesen-Schmidt Marloes L. van Engen (2003),
“Transformational, Transactional, and Laissez-Faire Leadership Styles: A Meta-Analysis
Comparing Women and Men”, Psychological Bulletin Copyright 2003 by the American
Psychological Association, Inc. 2003, Vol. 129, No. 4, 569–591.
George B. Graen & Mary Uhl-Bien (1995), “Relationship-Based Approach to Leadership:
Development of Leader-Member Exchange (LMX) Theory of Leadership over 25 Years:
Applying a Multi-Level Multi-Domain Perspective”, Published in Leadership Quarterly 6:2
(1995).
Khusnul Khotimah (2009), “Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan Dalam Sektor
Pekerjaan”, Vol.4 No.1 Jan-Jun 2009.
Sumartono,eko.2012.tipekepemimpinan.https://ekosumartono.wordpress.com/2012/03/20/6-
tipe-kepemimpinan/ Di download tanggal 6 januari 2014. Pukul 14.54.
Karlina, Hudaidah (2020), “Pemikiran Pendidikan dan Perjuangan Raden Ayu Kartini Untuk
Perempuan Indonesia”, Vol.7 No. 1, Desember 2020, Hal.35-44. Jurnal Humanitas.
Thaief, Ilham. 2010. "Karakteristik Pemimpin Terhadap Perilaku Kepemimpinan, Kinerja
Bawahan, Dan Pertumbuhan Usaha Industri Kecil." Journal of Management and
Business 9.2.
142
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
George B. Green dan Mary Uhl-Bien, “Development of Leader-Member Exchange (LMX)
Theory of Leadership over 25 Years: Applying a Multi-Level-Domain Perspective,”
Leadership Quarterly, Vol.6, No.2, 1995, hlm. 224 (dalam Fred Luthans. Perilaku Organiasi,
Edisi Sepuluh, Edisi Bahasa Indonesia. Yogyakarta, Andi, 2006, hlm 645)
Jane M.Howell dan Bruce J. Avolio, “The Ethic of Charismatic Leadership : Submission or
Liberation?” Academy of Management Excecutive, Mei 1992, hlm. 45 Digunakan dengan
izin, (dalam Luthan, 2006:653).
Mc Shane, Stephen L and Von Glinow, Mary Ann. 2005. Organizational Behaviour:
Emerging Realities for the Workplace Revolution, second Ed, Mc Graw Hill, Irwin. hlm.436
Jay A. Conger dan Rabindra N.Kanungo, “Behavioral Dimensions of Charismatic
Leadership,” in Charismatic Leadership, ed.Jay A. Conger, Rabindra N. Kanugo dan Rekan-
San Fransisco: Jossey-Bass, 1988 (dalam Gibson, dkk. Ed.Indonesia, hlm.82).
Jay A. Conger dan Rabindra N.Kanungo“Towand a Behavioral Theory of Charismatic
Leadership in Organizational Settings,” Academy of Management Review, oktober 1987
(dalam Gibson, dkk. 1996:82)
Bush T 2007. Educational leadership and management: Theory, policy, and practice. South
African Journal of Education, 27(3):391-406
Fred Luthan dan Bruce Avolio. 2003. “Perkembangan Kepemimpinan Otentik,” dalam K.S,
Cameron,S.E., Dutton, dan R.E, Quinn (Eds.), Positif Organizational Scholarship, Berrett-
Koehler,San Fransisko, hlm.251.
Koniswara, Sanjung. 2019. Gaya Kepemimpinan Situasional Terhadap Motivasi Kerja
Karyawan Pada Pt Garuda Indonesia (Persero) Tbk Cabang Kupang. EKOBIS : Jurnal Ilmu
Manajemen dan Akuntansi Vol. 7 No. 1.
Fitriani , Annisa . 2015. Gaya Kepemimpinan Perempuan . Jurnal TAPIs Vol.11 No.2
Akbar Tanjung, Islam, “Demokrasi dan Tantangan Global Akademik”, dalam Jurnal
Kebudayaan, vol, 4, No. I, (November, 2009), hal. 102.
Erman Anom, “Kepemimpinan Visioner dalam Mewujudkan Keutuhan NKRI” Lex Jurnalica
Vol.5 No. 3, Agustus 2008, hal. 157.
Agesna, Widya. 2018. Kedudukan Pemimpin Perempuan Dalam Perspektif Hukum Islam.
Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam 122 Vol. 3, No. 1,
Agesna , Widya. 2018. Kedudukan Pemimpin Perempuan Dalam Perspektif Hukum Islam.
Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam 122 Vol. 3, No. 1
Basti, dkk. 2016. Analisis Kompetensi Kepemimpinan Wanita. Jurnal Ilmiah psikologi
terapan, Vol. 04, No.02
143
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
Fathurrosyid. 2013. Ratu Balqis dalam Narasi Semiotika al qur’an. Jurnal PALASTREN,
Vol. 6, No. 2.
Syafieh. 2018. Potret Karakteristik Kepemimpinan Perempuan (Analisis Semiotika Surat Al-
Naml: 23-44). Jurnal At-Tibyan Volume 3 No. 1
Musyafa , Mokhammad Fadhil, dkk. 2021. Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng
Terhadap Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Jurnal Buana Gender, Vol.
6, Nomor 2
Muhani, dkk. 2016. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dasar Di Daerah Terpencil (Studi Multi
Kasus Di Sdn 2 Bakalan Dan Sdn 2 Kepyar Purwantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal
Pendidikan, Vol. 1, No. 8, Bln Agustus, Hal 1464—1472
Internet (Situs Web)
https://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Ming
https://www.kompasiana.com/bungaazzahra/552a9dc5f17e61b726d623be/menyikapi-
kelemahan-pemimpin-perempuan
Kompas.com, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/10/070000426
https://www.patikab.go.id/v2/id/2012/10/16/definisi-kepemimpinan-dan-macammacam-gaya-
kepemimpinan/
https://tribratanews.kepri.polri.go.id/2020/05/07/hakikat-kepemimpinan-dan-teori-
kepemimpinan-2/
id.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_I_dari_Inggris
www.republika.co.id/berita/qnsef9366/kisah-bilqis-ratu-bijaksana-yang-menjadi-mualaf
www.ibnukatsironline.com/2015/07/tafsir-surat-naml-ayat-41-44.html
swararahima.com/2020/03/03/nyi-ratu-ageng-ahli-agama-dan-ahli-strategi-perang-dari-
sragen/
https://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Ming
http://p2k.unkris.ac.id/en3/3065-2962/Dinasti-Ming_84999_p2k-unkris.html
Raditalestari, http://raditut.blogspot.com/2013/01/raden-adjeng-kartini.html
144
Leadership dan Gaya Kepemimpinan Wanita ...
RIWAYAT PENULIS
Dr. M. Joharis Lubis, M.M., M.Pd. Lahir di Medan 12
Februari 1962. Anak kedua dari tujug bersaudara dari
ayahanda H.M. Arifin Lubis dan Ibunda Hj. Harmani
Nasution. Menikah dengan Julia Chayanti Sitompul, S.H.
dan dikaruniai tiga orang anak: Risya Harfini Lubis,
S.Pd., Ahmad Anugerah Lubis, S.H., M.H., dan Dinda
Rizky Yolanda Lubis, S.E. Pendidikan dasar sampai
pendidikan menengah ditamatkan dari SD Negeri No. 8
Medan lulus tahun 1974, SMP Negeri 15 Medan lulus
tahun 1980, SMA Swasta Helvetia Medan lulus tahun
1982. Pendidikan Tinggi Program S1 Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Medan lulus tahun
1989, Magister (S2) Program Studi Manajemen Sumber
Daya Manusia STIE Ganesha Jakarta lulus tahun 2000,
Magister (S2) Program Studi Administrasi Pendidikan
Universitas Negeri Medan lulus tahun 2007. Doktor (S3)
Program Studi Manajemen Pendidikan Universitas Negeri
Medan lulus tahun 2018.
Riwayat pekerjaan: sejak tahun 1990 menjadi Dosen di FBS Universitas Negeri
Medan. Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan. Pernah menjadi Dosen di
Universitas Islam Sumatera Utara (1989-1992). Senat FPBS IKIP Medan (1999-2003).
Kepala Laboratorium Sanggar Bahasa Indonesia IKIP Medan (1999-2003). Kepala Humas
IKIP Medan (2000-2002). Sekretaris Program Pengembangan dan Kuliah Kerja Nyata IKIP
Medan (2000). Koordinator Pembimbing Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) Dirjen P4TK
Jakarta (2007-2008). Ketua Studium General Profesionalitas Pendidikan “Antara Harapan
dan Kenyataan” LPM Sumut (2009). Pernah menjadi Direktur Eksekutif Lembaga Kajian
Pelayanan Publik Sumatera Utara (LKPP-SUMUT). Ketua tim Teknis/Asistensi Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumut. Ketua tim Teknis Sarjana Penggerak
Pembangunan Pedesaan (SP3) Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara (DISPORA-SU).
Ketua tim seleksi pemuda pelopor Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara (DISPORA-
SU). Wakil ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI-WIL-SUMUT).
Ketua I Dewan Pendidikan Kota Medan. Sekretaris Asosiasi Rumah Makan dan
Minuman Kota Medan. Ketua Generasi Muda Mathlaul Anwar Sumut. Wakil Sekretaris
Majelis Pemuda Indonesia (MPI KNPI – SUMUT). Ketua Federasi Olahraga Masyarakat
Indonesia (FORMI SUMUT) . Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Komputer STMIK-
AMIK Globalindo, ketua Konsultan Manajemen Pendidikan Kantor Dinas Pendidikan
Provinsi Sumatera Utara. Divisi Penataan Organisasi dan SDM Ikatan Sarjana Manajemen
Pendidikan Indonesia. Ketua Lembaga Konsultan Pendidikan Indonesia (KOPINDO).
Asosiasi Sarjana dan Praktisi Administrasi Perkantoran Indonesia (ASPAPI) sebagai wakil
ketua. Tim ahli Dinas Pariwisata Sumatera Utara tahun 2017-2018.
145