The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by phenyrue, 2023-06-09 23:20:22

Mencinta Hingga Terluka E-book

Mencinta Hingga Terluka E-book

Julianto Simanjuntak Roswitha Ndraha Mencinta Hingga Terluka Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2013


Buku ini kami dedikasikan kepada kedua Ibunda kami. Jasmine Hulu Dan Nurmala br Simorangkir Mereka mencinta, mereka terluka Mereka berjuang, dan mereka menang. Ebook ini hanya terdiri dari 5 bab, jika ingin memesan hard copy hubungi: [email protected]


Daftar Isi Pengantar Ucapan Terimakasih Bab 1 Jangan Takut Terluka Bab 2 Cinta Itu Memaafkan Bab 3 Mengampuni Tak Harus Melupakan Bab 4 Cinta Itu Memulihkan Bab 5 Cinta Harus Berkorban Bab 6 Cinta Itu Sabar Bab 7 Cinta Itu Tangguh Bab 8 Merawat Cinta Refleksi Akhir Tentang Penulis


Pengantar Edisi Revisi Mencinta sampai terluka. Tema ini terinspirasi dari Mother Teresa yang sangat dikenal dengan gerakannya di Calcutta. Dikisahkan, suatu hari, Bunda Teresa berkeliling dari gang ke gang di kampung-kampung Calcutta. “Bunda Teresa!” teriak seorang pengemis yang sambil menggelesotkan kakinya mendekat pada Bunda Teresa. “Ini untukmu. Aku ingin memberikannya padamu,” kata pengemis itu sambil memberikan semangkuk uang receh rupee hasil jerih payahnya mengemis hari itu Mother Theresa menolak halus dan berkata, “Mengapa, Bu? Bukankah ini untuk makan Ibu hari ini? Tidak usah, Bu.” Pengemis itu memandang Bunda Teresa dengan mata berkaca-kaca. Dia memang belum makan dari pagi. Teresa memperhatikan baju yang lusuh dan kulit berbalut tulang yang berlutut di depannya. Bunda Teresa mendekat. “Tapi, Bunda,” bujuk pengemis itu, ”ada yang jauh lebih menderita dari pada aku. Terimalah, Bunda. Berikan uang ini kepadanya,” kata si Pengemis itu penuh harap. Bunda Teresa tidak berani menolak. “Baik, baik aku terima. Terimakasih,” ucap Bunda Teresa, menepuk haru bahu pengemis itu, tanda menghargai jerih payahnya. Suatu pesan dia tangkap dari hadiah sang pengemis itu. Betapa ia memberikan hartanya dengan segala cinta demi membahagiakan orang lain. Inilah mencintai sampai terluka. Pengemis itu tidak mengindahkan keringat, keletihan dan luka goresan di jalanan berdebu dan panas, yang dialaminya hari itu. Ia memberikan dengan cintanya. Dalam buku ini Anda akan belajar beberapa kekuatan cinta. Cinta bukanlah sekedar perasaan, keinginan atau pikiran. Cinta bukanlah sekedar harapan atau cita-cita dalam diri kita. Cinta adalah ketrampilan. Cinta sejati


adalah cinta yang dihidupi dan dimiliki lewat berbagai ujian. Cinta sejati justru diuji oleh peristiwa dan orang, yang menaburkan hal-hal yang bertentangan dengan cinta itu sendiri. Beberapa bagian buku ini ada penjelasan sederhana dan kesaksian tentang aspek cinta: cinta itu sabar, cinta memaafkan, cinta itu tangguh, cinta itu keras, cinta itu berkorban dan cinta itu memulihkan. Dari pengalaman konseling, kami akhirnya menyadari bahwa cinta itu membutuhkan latihan; ujian cinta juga membutuhkan model dan pembelajaran yang konsisten. Selamat membaca! Maret 2011 Julianto dan Roswitha


Ucapan Terima kasih Sejak kami mendapatkan banyak respon dari para para pembaca buku kami ”Seni Merayakan Hidup yang Sulit”, kami mulai menyadari salah satu kesulitan besar yang dialami klien dan pembaca kami adalah masalah relasi. Minimnya skill mengampuni, rendahnya harga diri serta rendahnya kemampuan berempati telah menimbulkan banyak luka dan sakit hati pada mereka. Masalah utama klien kami adalah bukan seberapa besar lukanya, tetapi seberapa besar cintanya menanggung luka hatinya. Terima kasih pada setiap klien dan sahabat yang sudah berbagi luka dengan kami di ruang-ruang konseling kami. Terimakasih khususnya untuk rekan yang bersedia menampilkan kisah lukanya dalam buku ini. Semua nama kami samarkan. Memang tidak gampang menceritakan ulang luka hidup kita, karena seperti mengorek luka lama. Terimakasih untuk Persekutuan Pembaca Alkitab yang memberikan izin kepada kami mengutip sebagian dari halaman-halaman buku ”Berdoa Sesuai Firman”. Terima kasih kami kepada semua sahabat pendukung, pengurus serta staf kantor Pelikan. Terima kasih untuk banyak lembaga yang memungkinkan pelayanan konseling kami tersebar luas hingga ke seantero negeri ini. Terima kasih untuk Prof. Yohanes Surya, yang banyak memberikan inspirasi dan motivasi baik saat mengajar di komunitas Pelikan maupun saat sharing pribadi. Bapak telah memberikan kami semangat lebih untuk terus menulis dan bergiat dalam pelayanan konseling kami. Juga untuk lebih seratus fasilitator ahli yang pernah menyempatkan mengajar di Komuntas Pelikan. Penghargaan kami yang tulus kepada Bapak Jakob Oetama, yang berkenan sharing tentang pelayanan


konseling dengan kami dan menerbitkan buku-buku ini dan lainnya. Terima kasih kepada pihak Gramedia Pustaka Utama yang bersedia mencetak buku ini yang kini sudah dicetak 9 kali dan menjadi best-seller Untuk anak kami Josephus dan Moze, permata hati dan milik pusaka kami. Mereka anak-anak yang penuh toleransi dan mengerti beban hati kami dalam pelayanan konseling. Mereka memberi kami semangat dan inspirasi dalam pelayanan konseling kami. 2011 Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha


BAB I Jangan Takut Terluka Berbahagialah kamu yang sekarang menangis karena kamu kelak akan tertawa Suatu hari saya nyaris frustrasi karena anak bungsu kami yang waktu itu sudah lebih dari lima tahun usianya, belum juga bisa naik sepeda. Hampir tiap hari saya menuntun sepedanya ke lapangan rumput di depan rumah. “Naik, ya. Papa pegang di belakang. Kamu tidak akan jatuh. Papa jaga,” kata saya. Selama beberapa hari dia taat. Saya memegang bagian belakang sepedanya sambil berlari-lari kecil, sementara dia belajar mengayuh. Mulamula agak kaku, lama-lama terbiasa. Saya tetap memegang sepedanya. Tetapi dia langsung berhenti dan turun kalau merasa ada tanda-tanda saya mau melepaskan pegangan saya. “Jangan dilepasin, Pa,” pintanya sambil melihat ke belakang. Saya mengangguk, maka dia belajar lagi. Lama-lama saya berpikir, sudah saatnya melepas Moze. Dia nampaknya mau bermain saja, sementara saya terengah-engah di belakang. Tetapi sejak dia tahu saya mencoba melepaskan pegangan saya, Moze sama sekali tidak mau main sepeda lagi. Saya hampir putus asa. Bagaimana caranya sehingga Moze mau berlatih naik sepeda? Saya dapat ide. Beberapa hari setelah itu saya mengajaknya ke lapangan lagi. Kami duduk-duduk di pinggir lapangan, dekat sepeda. Moze masih tidak mau mencoba naik. “Nanti aku jatuh, luka, berdarah,” kilahnya. Tiba-tiba saya memandang lutut saya. “Lihat lutut Papa,” kata saya kepadanya. Dengan antusias anak saya


memerhatikannya. “Wah, ini bekas luka ya, Pa? Kapan Papa luka?” tanyanya. Maka saya pun bercerita. “Waktu Papa seumur kamu, Papa juga belajar naik sepeda. Tetapi, suatu kali waktu sedang belajar, Papa jatuh. Lutut Papa luka.” “Banyak darahnya, Pa? Sakit?” “Lumayan-lah. Sakit juga. Papa meringis-ringis. Tapi Papa tidak berhenti belajar. Setelah lukanya diobati, Papa kembali belajar. Akhirnya Papa bisa naik sepeda. Papa senang sekali, main sepeda dengan teman-teman Papa.” “O....” kata Moze sambil mengelus-elus bekas luka saya. “Papa juga pernah luka, ya. Papa pernah kesakitan....” Tiba-tiba anak saya naik ke atas sepedanya. “Pegangin sebentar ya, Pa. Nanti kalau sudah sampai di tengah coba Papa lepaskan. Aku juga mau belajar. Jatuh nggak apa-apa, ya Pa.” Sejak saat itu, Moze bisa naik sepeda. Hari itu saya menjadi sadar bahwa ternyata luka saya waktu naik sepeda dulu sangat berguna bagi Moze sekarang. Bekas luka saya telah memberikan kepada ana saya keberanian untuk terluka. Dari pengalaman ini kami belajar satu kebenaran, kami belajar bahwa luka hidup kita, (karena dihina, dikhianati, dilecehkan, dan lain-lain) tak pernah sia-sia. Luka hati itu kelak berguna dan memberi keberanian terluka pada sesama kita. Kami memimpin satu pertemuan dari mereka yang sedang menghadapi masalah perceraian dan perselingkuhan. Lewat kelompok ini mereka belajar bagaimana mencinta, hingga terluka. Sharing di antara mereka menjadi sarana mendapat pencerahan, pembelajaran baru, atau menerima sesuatu yang baru. Biasanya setelah mendengarkan curhat teman lain, ada komentar peserta baru :” Ah.....ternyata ada yang jauh lebih menderita daripada saya...sharing Ibu menguatkan saya...terima kasih..” Pengalaman luka anggota lama yang sudah sembuh justru menjadi penyembuh bagi rekan yang


lain. Pertemuan sharing saling membagi luka itu ternyata bisa menjadi salep mujarab yang menyembuhkan. Cinta Kami Tumbuh Lewat Konflik Lima tahun pernikahan saya dan Roswitha penuh dengan konflik. Berbeda di tahun keenam dan seterusnya setelah kami belajar banyak lewat konseling. Saya sering sekali melukai hati Roswitha dengan cara mendiamkannya berhari-hari. Kami sering menangis bersama, tak tahu harus berbuat apa bila konflik itu sudah menusuk tajam hati kami berdua. Meski di Gereja saya adalah Pendeta yang dihormati, dan di dalam pelayanan dihargai, namun berbeda sekali saat berada di rumah. Rasanya seperti neraka. Roswitha menuliskan pengalaman ini demikian: Inilah hal pertama yang memicu pertengkaran kami sebagai suami dan istri yang baru dua minggu menikah. Seperti tradisi Batak, selama minggu pertama sesudah acara pernikahan, kami harus tinggal di rumah keluarga laki-laki. Mertuaku (dua-duanya) sudah tidak ada. Jadi, di minggu pertama kami menginap di rumah abang tertua suami saya. Di situ ada beberapa abang dan adik yang datang dari Sumatera untuk menghadiri pernikahan kami. Walaupun berat hati, aku menerima hal ini. Aku menghibur diri dengan mengatakan, inilah kesempatan berkenalan dengan keluarga suamiku. --- sebenarnya, aku lebih senang menghabiskan minggu pertama hanya dengan suamiku; menebus hari-hari yang hilang selama masa pacaran kami yang tiga tahun, berpisah kota. Setiap hari kakak iparku memasak makanan khas Batak. Enak, dan kami menikmatinya. Setelah masa bulan madu berakhir dan kami kembali ke tempat kos, suamiku menganjurkan aku belajar masakan Batak pada kakak iparku. Itu usul yang tidak popular buatku, karena aku segan ke rumah iparku. Belum lagi, sekali sebulan kami mesti ikut arisan keluarga. Setelah kurenungkan sekarang,


mungkin itu baik juga, karena merupakan kesempatan mengenal keluarga suamiku lebih baik. Tetapi waktu itu aku menolaknya mentah-mentah. Aku berangkat kerja pukul enam, tiba di rumah lagi pukul lima. Hampir setiap malam ada kegiatan gereja yang harus kami ikuti. Hari Minggu aku mesti ke rumah keluargaku, mengambil barang-barangku yang tersisa. Kapan lagi bertandang ke rumah saudara? Aku merasa penolakanku beralasan. Untuk arisan keluarga yang sekali sebulan, dengan setengah hati aku menjalaninya. Aku merasa itu kegiatan membuang waktu. Kami pulang gereja pukul 11, langsung ke arisan. Pukul 3 kami harus pamit karena sorenya pelayanan gereja. Padahal keluarga lain baru pada datang pukul 2. Belum lagi, aku sangat keberatan dengan asap rokok yang dikepulkan tak henti, yang membuatku pilek-batuk berhari-hari. Karena dalam hal belajar masak itu suamiku terus mendesak, aku nggak tahan. “Pergi saja, sana!” kataku, “tinggal sama kakakmu!” Kalimatku ini memicu pertengkaran kami. “Aku ini orang Batak. Kalau sudah menikah kita mesti mengikuti acara-acara keluarga seperti arisan. Kalau kamu nggak bisa menyesuaikan diri dengan keluargaku, kita pisah saja,” kata suamiku. Aku terhenyak. Cuma begitu saja? Berpisah? Kami baru menikah dua minggu! “Aku keluar dari gereja. Aku mau kembali ke pekerjaanku yang lama di Semarang. Kamu di Jakarta saja. Kita bertemu sekali dua bulan,” suamiku menambahkan. Aku tidak menjawab. Berhari-hari kami tidak bercakapan. Ini suasana neraka buatku. Hatiku berbicara sendiri: Siapa pria yang kunikahi ini? Kok aku tidak kenal dia. Sikap diam begini tidak lazim dalam keluarga kami. Berkali-kali aku mengajaknya bicara, tapi dia diam saja. Seolah-olah aku tidak ada di sana. Di rumah orangtuaku, kami terbiasa membicarakan masalah di antara kami dalam acara persekutuan doa malam. Sehebat-hebatnya orangtuaku bertengkar, aku seringkali mendengar mereka cekikikan di kamar sebelum tidur.


Setelah beberapa hari baku diam, entah ada apa, malam itu suamiku memelukku. Bagiku, itu sudah cukup. Kami baru mulai saling mengerti. Duabelas tahun kemudian barulah aku tahu isi hatinya berkaitan dengan peristiwa tersebut. Dia menulis demikian kepada saya: Akhirnya saya tahu istri saya tidak merasa nyaman di lingkungan baru. Mula-mula saya kira karena dia tidak menyukai keluarga saya. Tetapi akhirnya saya mengerti bahwa istri saya punya masalah di situ. Dia tidak biasa berkunjung ke mana pun. Keluarga istri saya nyaman bergaul di antara mereka sendiri, dan jarang berkunjung ke rumah keluarga lain. Setelah beberapa minggu, saya mendapat insight baru. Saya tidak bisa memaksa istri saya berubah. Jadi, sayalah yang berubah. Saya menunda kunjungan ke keluarga saya. Saya tunggu istri saya siap. Saya bantu mempersiapkan dia. Apa gunanya kami memaksakan diri, tetapi istri saya kehilangan sejahtera. Dengan abang saya, kami hanya bertemu beberapa jam. Tetapi sehari-hari saya bersama istri saya. Perubahan itu menolong istri saya terbuka dan belajar bersosialisasi. Saya juga menyadari bahwa sikap memaksa istri pada mula-mula pernikahan kami sebenarnya adalah manifestasi dari kecemburuan saya. Keluarga istri saya hangat dan saling peduli. Berbeda dengan keluarga asal saya yang pecandu. Ayah-ibu saya alcoholic, saudarasaudara saya pecandu drugs. Sikap diam saya dalam konflik dengan istri saya sebenarnya adalah cara saya menahan diri. Saya tidak mau memperlakukan istri saya seperti papaku memperlakukan mamaku dengan kekerasan. Tapi saya tidak tahu cara menghadapinya. Jadi, sebenarnya saya pun tersiksa dengan diam itu. Dalam rumah tangga, masalah yang dilatarbelakangi oleh perbedaan tradisi memang muncul silih berganti. Saya bersyukur, kami menemukan cara menjembatani


perbedaan itu. Pada tahun kedua dan ketiga kami mengalami hal lain. Tuhan memberi aku seorang anak laki-laki, bagus dan sehat. Aku bertekad mengasuh sendiri anakku. Seperti Mamaku, kataku pada suamiku. Mama bisa mengasuh tujuh anak tanpa pembantu, masa aku tidak bisa! Suamiku berpendapat, kami harus punya pembantu dan pengasuh anak. Dia berniat mengambil anak ito-nya (kakak perempuan) yang tamat SMA dan belum bekerja, untuk mengasuh Josephus. Aku kurang setuju, tapi merasa tidak berdaya. Mary, keponakan kami, tiba beberapa hari sebelum aku kerja kembali. Aku tidak mau mengajari dia mengurus bayi. Bahkan aku tidak mau berakrab-akrab dengan dia. Mauku, Jo dimandikan papanya. Mary paling-paling memberi susu saja. Hari pertama aku kerja, aku geli mendengar bagaimana suamiku memandikan Jo. Lantas Mary mengajak Jo di panas matahari. Jo tidur, sore dia bangun, kembali papanya memandikannya. Begitu terus selama beberapa hari. Kemudian suamiku mengajakku berkunjung ke jemaat. Karena aku tidak mau meninggalkan Jo pada Mary, aku terpaksa membawanya. Masalah mulai timbul kalau kami mengunjungi jemaat yang sakit. Bagaimana kalau bayi kami tertular? Lagipula, aku sudah capek kerja, masih diajak kunjungan. Belum lagi kalau akhirnya Jo sakit, akulah yang harus begadang bermalam-malam. Akhirnya aku menolak diajak kunjungan. Ada saja alasanku. Aku takut anakku tertular penyakit. Itu alasan yang sering kusampaikan. Benar, kan? Kami sering bertengkar. Suatu kali suamiku sampai mengeluarkan kata-kata, “Tuhan ambil nanti anakmu, ya!” Hatiku sedih sekali. Aku ingin mendukung pekerjaan suamiku, tapi aku tidak mau menelantarkan anakku ke tangan orang lain. Tidak mungkin. Hatiku berkata-kata: Mudah bagi suamiku untuk membiarkan anaknya diasuh orang lain; sebab dia pun mengalami demikian. Ibunya Mary adalah pengasuh suamiku saat dia kecil. Bagiku


tidak gampang melakukannya. Ibuku sampai keluar dari pekerjaan waktu aku lahir. Akhirnya toh aku memang keluar dari pekerjaan, demi keluargaku. Tetapi tidak lama setelah itu, suamiku pun keluar dari pelayanan gereja penuh-waktu, salah satu penyebabnya adalah karena saya sulit mendukung pelayanannya. Tentang hal ini suami saya menjelaskan, “Sesudah saya belajar konseling keluarga, saya mengerti bahwa apa pun yang saya lakukan, haruslah membangun keluarga saya. Jadi, kalau istri saya tidak mendukung, saya harus “meninjau kembali” keputusan saya bekerja di tempat itu. Pelayanan gereja cukup menuntut pendampingan istri. Padahal istri saya tidak siap. Jadi, setelah lima tahun menjadi gembala jemaat, saya memutuskan meninggalkan pelayanan gereja, demi keluarga saya. Melalui keputusan itu saya mengerti bahwa Tuhan sedang memimpin saya untuk menggumuli pelayanan baru, yaitu konseling. Itulah pekerjaan yang saya tekuni sampai hari ini.” Begitulah. Kami menjalani hari demi hari. Membangun komunikasi kami sebagai suami dan istri, belajar dari setiap kesalahan dan mencoba melihat tangan Tuhan ada dalam setiap pengalaman kami. Kami bersyukur, justru lewat semua ujian cinta dan luka itu cinta kami bertumbuh.


BAB 2 Cinta Itu Memaafkan Mengampuni adalah seperti bunga Natninole yang memberikan keharumannya kepada orang yang menginjaknya Dalam pengalaman konseling kami masalah utama klien kami adalah bukan pada seberapa besar luka yang ia alami, tetapi seberapa besar cinta yang ia miliki untuk menjalani luka itu. Kalau cintanya kecil, maka luka kecilpun menjadi masalah besar. Tetapi kalau ia berjiwa besar dan memiliki cinta yang besar juga, maka dia lebih kuat menanggung luka hati yang ia terima dari orang lain. Banyak orang salah mendefinisikan apa itu memaafkan. Salah satunya adalah sebagian orang dengan mudah mengatakan : memaafkan adalah melupakan kesalahan orang lain. Sebagai orang yang normal dan belum pikun atau ingatan belum terganggu, tidak mungkin kita lupa terhadap orang atau peristiwa yang melukai hati kita. Jadi sebaiknya jangan gunakan lagi defisini tersebut. Definisi pengampunan yang terbaik bagi saya adalah sebuah kalimat yang saya temukan di sebuah bukit doa di Tarutung Sumatera Utara. Waktu itu saya baru saja memberi pelatihan konseling pada staf anak jalanan sebuah LSM di Medan. Saya tidak tahu siapa yang menuliskannya, dan saya juga tidak ingat nama bunga yang dimaksudkan: “Mengampuni adalah seperti bunga natnitnole yang memberikan keharumannya kepada orang yang menginjaknya”. Kalimat itu mirip dengan perkataan yang akrab di benak saya, ”berbuat baiklah pada musuhmu”. Kalimat itu benar-benar menggelitik, sebab saya (Julianto) tumbuh menjadi seorang yang sangat sulit


memaafkan orang. Saya orang yang sensitif, mudah tersinggung dan menyimpan kesalahan serta slit memaafkan. Johan Arnold memberikan definisi lain. Ia berkata1 ”memaafkan adalah pintu perdamaian dan kebahagiaan. Pintu itu kecil, sempit dan tidak dapat dimasuki tanpa membungkuk.” Benar sekali. Kalau mau menjadi pribadi yang bahagia dan penuh damai, milikilah roh yang memaafkan. Hati yang tidak memaafkan seperti penjara yang membelenggu jiwa seseorang. Dan penjara itu kejam sekali, karena dapat merampas seluruh kebahagiaan hidup. Namun untuk punya jiwa memaafkan tidak mungkin tanpa kesediaan merendahkan diri, atau mengosongkan diri. Kristus sudah menjadi contoh klasik. Untuk mendamaikan kita dengan diriNya, maka turun menjadi manusia, sama seperti kita. Dia merendahkan diriNya bahkan sampai mati di atas kayu salib. Pengampunan membutuhkan pengorbanan dari yang memaafkan bagi orang yang dimaafkan. Penyangkalan diri, pengakuan bahwa kita ikut bertanggungjawab terhadap masalah yang terjadi menjadi bagian penting dalam proses memaafkan dan menerima maaf. Salah satu pepatah menarik “sing waras ngalah” menguatkan hal ini. Tak ada jalan lain untuk berdamai dengan seseorang yang kita kasihi, kecuali dengan mengalah. Menyangkal diri, dan rela berbagi pengampunan. Pengampunan juga berarti memberi orang lain kesempatan yang kedua serta berani memulai hubungan yang baru. Di kampung kelahiran saya dulu di banyak 1 Arnold, Johan, Why Forgive.


warung kopi ada tulisan : ”hari ini kontan, besok boleh bon”. Kalau kita datang besok hari, tulisan itu masih terpajang. Itu berarti kita tidak akan pernah ada kesempatan ngebon atau ngutang. Prinsip itu dekat dengan apa yang ditegaskan kitab suci tentang kemarahan. Paulus dalam Ef.4:26-27 menegaskan, ”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu, dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis”. Kemarahan jangan pernah lama disimpan. Setiap hari kita perlu membayar kemarahan dengan melepaskan pengampunan pada orang yang membuat kita marah. Dulu saat saya belum punya skill menyatakan kerahan pada istri, saya lebih suka menyimpannya berhari-hari lamanya. Saya menyimpan lalu menghitung kesalahan istri. Sampai suatu hari kemarahan itu meledak dalam perilaku yang tidak terpuji, misalnya mendiamkan istri atau membenatk istri dengan kemarahan besar. Firman di atas menegaskan, menyimpan kemarahan hanya memberi kesempatan kepada Iblis. Setiap kita perlu belajar mengungkapkan kemarahan dengan pas, secara sertif kepada orang yang kita kasihi. Kalau kita menyimpan, maka kita merusak emosi dan pikiran kita sendiri. Jadi kalau marah, bayarlah dengan pengampunan. Jangan pernah ngebonin orang dengan kesalahan yang tidak diampuni. Kalau kita menyimpan kemarahan atau kepahitan kepada seseorang, salah satu yang muncul (godaan setan) adalah keinginan membalas. Membalas yang jahat dengan jahat adalah tendensi manusia pada umumnya. Kuasa benci mirip dengan cinta. Ada kuasa negatif yang mendorong kita ingin melakukan hal yang jahat, atau memikirkan atau mengharapkan agar terjadi hal yang buruk pada seseorang yang kita benci. Ini tentunya mengambil sebagian energi kita, dan lama kelamaan merusak emosi dan pikiran kita. Kebencian dan


kemarahan yang tersimpan bisa menimbulkan banyak akibat buruk, termasuk berbagai penyakit dalam tubuh kita. Saya teringat pepatah china mengatakan : orang yang mau membalas dendam, sebaiknya dia menggali dua lubang kubur. Atau pepatah kita yang terkenal berkata : orang yang ribut, menang jadi arang yang kalah jadi abu. Tidak ada gunanya balas dendam. Sebaliknya ampunilah! Tiga Jenis Manusia Dalam pengalaman konseling, kami menemukan tiga jenis orang. Pertama, ada orang yang tahu bahwa dia harus memaafkan. Dia tahu, memaafkan itu adalah hal yang baik dan diperkenan Tuhan. Namun dalam hatinya dia tetap tidak mau memberi maaf. Ada banyak alasan mengapa seseorang berat hati memaafkan. Satu di antaranya adalah seperti seorang ibu muda yang pasangannya berselingkuh. Saat dia diajak untuk memaafkan suaminya, dia langsung mengatakan, ”Wah....kalau saya maafkan kesalahan suaminya saya nanti dia ngelunjak (menindas), dan akan berbuat serong lagi sesuka hatinya...saya tidak akan maafkan kesalahannya.” Kedua, adalah orang yang mau memaafkan tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Meskipun ingin, tetapi mereka merasa tidak mampu. Kemarahan dan dendam terus menguasai hati mereka. Ada dua penyebab mengapa orang sulit memaafkan: Pertama, kita sulit memaafkan karena kita memandang status orang yang melukai kita. Mungkin dia adalah ayah kandung kita atau mertua kita, dan sebagainya. Umumnya orang terluka dengan orang terdekat, seperti adik, kakak, orangtua, anak, mantu, terhadap atasan, dan sebagainya. Benarlah apa kata Raja Salomo : ”besi menajamkan besi manusia menajamkan sesamanya” Perjumpaan yang intens membuat konflik sering tak terhindarkan. Namun bagaimana kita


mengelola konflik tadi menjadi bahasan kita. Beberapa klien kami sulit sekali memaafkan ibu kandung mereka yang bersikap membeda-bedakan anak-anaknya. Beberapa yang lain menympan dendam pada sang ayah karena si ayah keras dan cenderung kejam pada saat dia masih kecil. Menghadapi situasi ini kami mengajak klien dan sahabat kami untuk merenungkan kembali tentang siapa manusia itu. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (3:23) menegaskan bahwa semua manusia sudah berdosa. Dia bisa berbuat salah, bisa melukai kita. Siapapun dia dan apapun statusnya setiap orang punya potensi berbuat salah dan melukai kita. Kedua, kita sulit memaafkan karena orang yang melukai kita adalah orang yang pernah kita tolong dan berbuat baik. Kalau kita cenderung menghitung jasa, maka sakit hati kita terpelihara. Beberapa kasus yang kami layani misal: Seorang Ibu sakit hati luar biasa kepada anaknya, yang setelah sukses tidak tahu berbuat baik kepada sang Ibu. Maka si Ibu yang mengingat betapa dia sudah bersusah payah membesarkannya, menjadi kecewa luar biasa. Seorang istri sakit hati luar biasa kepada suaminya yang menyeleweng. Dia ingat telah berusaha menjadi seorang istri yang baik, tetapi suami membalas dengan penghianatan. Contoh lain, seorang jemaat sakit hati kepada pendetanya, karena dia sudah merasa mengorbankan segala sesuatu untuk mengembangkan gereja, tetapi nsuatu hari si Gembala tidak menghargai dirinya lagi. Solusinya, daripada menghitung jasa kita, marilah kita ingat bahwa kita pun punya kekurangan. Dalam setiap konflik kita selalu punya andil sehingga masalah itu muncul. Jauh lebih baik kita mencoba mengingat kebaikan daripada orang yang sedang melukai kita. Kalau kita mau memaafkan, lakukanlah dua hal: hitung kekurangan Anda dan hitung kelebihan orang yang sedang melukai Anda.


Tipe ketiga adalah orang yang tidak saja tahu mengampuni itu baik dan memiliki motivai untuk memaafkan, tetapi dia terus belajar untuk bisa memaafkan orang lain. Dalam pengalaman saya sampai mampu memaafkan saya di bantu dua orang konselor. Selama setahun saya dikonseling. Pertama saya dibantu mengeluarkan uneg-uneg dan kepahitan saya dari masa lalu. Kedua, saya dilatih untuk memiliki cara pandang baru terhadap luka dan kepahitan masa lalu. Melalui training dan sekoah konseling pemahaman saya tentang realita hidup menjadi lain. Saya melihat bahwa setiap pengalaman negatif pun bisa menjadi positif, karena ada maksud Tuhan di dalamnya. Ketiga, saya dibantu lewat proses yang kami sebut reparenting. Saya mencari da bergaul dengan beberapa pria dewasa yang saya anggap seperti ayah saya sendiri. Karena buruknya pengalaman saya dengan ayah kandung, maka saya mencoba menyerap melalui beberapa orang yang memiliki figur ayah yang baik. Pengalaman itu membuat saya berkesimpulan baru, bahwa tidak semua ayah buruk. Ada ayah yang baik, dan saya belajar dari mereka pengalaman baru menjadi seorang ayah. Disamping itu saya memperbaiki hubungan dengan Tuhan sebagai seorang Bapa yang baik. Ketiga pengalaman ini : konseling, training dan reparenting, telah mengubah dan membaharui hidup saya. Pintu Untuk Memaafkan Seorang bijak mengatakan: bersalah itu manusiawi dan memaafkan itu Ilahi. Kalau kita mau memaafkan dengan tuntas, pertama-tama kita merubah cara pandang kita akan manusia. Paulus telah menjelaskan kepada kita bahwa, ”Semua orang sudah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah2. Jika semua orang disekitar kita, termasuk orang terdekat adalah orang 2 Roma 3:23


berdosa, maka selalu ada kemungkinan dia melukai kita. Selalu ada saja kemungkinan orang lain berbuat salah kepada kita. Sebaliknya kitapun bisa melukai orang lain. Dengan lain perkataan semua orang butuh maaf. Kedua, kita perlu memahami bahwa orang yang melukai itu justru menyadarkan kita bahwa kita adalah orang berdosa yang bisa marah, kecewa, dan sakit hati. Tanpa mereka (yang menyakiti kita) mungkin kita akan sombong. Kita adalah orang yang baik hati dan tak pernah membenci atau sakit hati. Akibat yang lebih buruk adalah kita akan merasa tidak membutuhkan Tuhan dan Juruselamat. Seringkali kita menjadi lebih dekat dan mencari Tuhan karena ada gesekan dengan sesama kita. Kita membutuhkan pengampunan dan kemampuan untuk memaafkan. Ketiga, memberi maaf adalah bukti kualitas hidup orang yang mengenal Tuhan. Memaafkan adalah tanda yang paling jelas dari seorang anak Tuhan. Dalam Kotbah Di Bukit, Yesus menegaskan kepada pendengar-Nya demikian, ”Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian3?” Dalam ayat yang lain Yesus berkata, ”Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar 4.” Bagaimana Melihat Orang yang Melukai Anda Dalam mengampuni proses lebih pentingh daripada hasil. Ada beberapa langkah yang perlu kita alami sebelum mampu memaafkan. Pertama, kita sendiri sudah mengalami dan menerima pengampunan Tuhan. Tanpa kesadaran ini 3 Matius 5:46 4 Matius 5:45


maka kita sulit memberi pengampunan. Makin besar kita menerima pengampunan Tuhan maka lebih besar kemungkinan kita cepat memaafkan. Rasul Paulus punya kesadaran yang baik akan hal ini. Dia berkata dalam suratnya kepada Timotius, ”... di antara orang berdosa akulah yang paling berdosa5”. Kesadaran ini membangun pribadi Paulus yang pemaaf. Dia berhasil menangani begitu banyak konflik yang ia hadapi dalam pelayanannya. Siapakah dari antara kita yang berani berkata, ”saya tidak pernah bersalah”? Alasan kita memaafkan adalah karena hanya itulah jalan untuk menunjukkan kasih Allah pada sesama kita. Sebelum mengampuni orang lain, kita harus mampu menerma dan mencintai diri kita sendiri tanpa syarat. Kita mampu menerima dan memaafkan orang lain karena kita sudah melakukannya untuk diri kita sendiri. Mengampuni adalah tanda bahwa kita sudah merdeka. Kedua, kita perlu lebih dulu memaafkan diri sendiri. Artinya menerima dan berdamai dengan masa lalu kita sendiri. Mengatasi semua rasa bersalah dan menangani ketidakpuasan yang masih ada dalam diri kita. Apakah anda masih mempunyai kebiasaan menghakimi dan menyalahkan diri sendiri? Hal ini akan menghambat kemampuan Anda mengampuni orang lain. Jika Anda masih belum berdamai dengan diri sendiri, baik sekali jika Anda pergi menemui seorang konselor profesional. Ada contoh yang unik dalam pengalaman konseling saya. Seorang Ibu yang begitu marah pada suaminya yang berselingkuh, setelah menjalani konseling sikapnya berubah. Dia akhirnya berkata, “Apapun yang dilakukan suami saya, saya akan tetap mencintainya. Aku harus memaafkan suamiku. Aku sudah memilih dia sebagai suami, aku harus siap menerima kesalahan dan kelemahannya juga. Aku harus memaafkan diriku sendiri, 5 I Timotius 1:15


mengapa aku memilih dia sebagai suami. Aku harus membantu dia mengatasi masalah ini.” Proses Memaafkan Ada lima tahap penting dalam proses kita mengampuni orang lain. Pertama, adalah kemampuan menyadari dan menerima rasa sakit hati kita akibat perbuatan orang lain. Jangan menolak, menyangkal atau menganggap remeh sakit hati anda itu. Sadari juga akibat-akibat yang sudah ditimbulkan rasa sakit itu. Kedua, cobalah memahami alasan orang itu menyakiti hati anda. Mengampuni hanya akan terjadi bila kita mengulurkan tangan kita kembali kepada pihak yang bersalah. Berusaha melihat nilai-nilai baik yang ada pada orang yang melukai kita. Belajar memahami dari perspektif orang tersebut, meski hal ini tidaklah mudah. Ketiga sadarilah bahwa ada kalanya anda tidak sanggup memikul akibat itu sendirian. Anda perlu membagikan kesusahan dan penderitaan anda pada seseorang yang anda percayai. Ada kalanya anda frustrasi menghadapi kenyataan itu dan kadang menjadi begitu sayang diri. Misalnya muncullah pertanyaan, ”Mengapa saya harus mengalami hal ini?” Kita juga perlu ingat bahwa masa lalu adalah kenyataan yang tidak dapat diubah, kita harus belajar menerimanya dan bahkan menjadikannya bagian penting dari pembentukan diri kita seutuhnya. Dengan kesadaran ini akan muncul kekuatan dan kemauan untuk membangun kembali hubungan dengan orang yang sudah melukai kita. Pengampunan berarti kita membuka dan membangun kembali hubungan yang sudah rusak dan retak tadi. Keempat, kadang juga timbul kemarahan. Kita tidak mau menjadi korban dari kesalahan orang lain. Tahap kelima adalah, anda mulai menerima kenyataan anda terluka dan harus menghadapi itu secara riel. Pada tahap ini anda berusaha menjadi pribadi yang


tetap bahagia meski mengalami kesusahan akibat ulah orang lain. Satu hal yang kita syukuri adalah bahwa pengalaman terluka ini akan membuat kita punya kekuatan untuk menghadapi luka yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dalam sebuah relasi yang dekat dan kuat akan selalu ada kemungkinan untuk kita saling mengecewakan. Tidak Memaafkan Adalah Kejahatan Memaafkan atau tidak adalah sebuah pilihan. Memaafkan atau tidak adalah sebuah pencobaan yang besar. Kita harus memutuskan bagi diri kita sendiri, kita mengampuni atau tidak. Mengampuni memang berisiko. Kita berkorban perasaan, harga diri, dan lainnya. Tetapi bila kita memutuskan tidak mau mengampuni, itu juga pilihan yang berisiko. Ini dapat menyita energi, semangat bahkan kesehatan kita. Jika kita tidak mengampuni, itu justru menghukum diri kita sendiri. Dendam akan menghukum kita, merampas energi, waktu kita, menghancurkan kesenangan dan juga kesehatan kita. Pepatah Cina berkata, ”Siapa bermaksud membalas dendam, ia harus menggali dua lubang kubur”. Dendam juga dapat merusak hubungan pribadi kita dengan Allah. Di samping itu bila kita merenungkan bagian Doa Bapa Kami, ada tertulis demikian ”.... dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat6.” Tidak mengampuni adalah sebuah kejahatan. Kualitas kejahatan ini jelas dalam kisah tentang seorang hamba yang tak rela memaafkan hutang temannya yang hanya 100 dinar. Sementara hutangnya yang 10.000 talenta telah dihapuskan. Camkanlah kisah ini secara lengkap, temukanlah dalam diri Anda, apakah jiwa hamba yang jahat ini masih menguasai diri Anda. 6 Matius 6:13


Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hambahambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masingmasing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu7 ." 7 Matius 18:23-35


Selain suatu kejahatan, tidak mengampuni adalah sebuah ikatan, sebuah penjara yang paling kejam. Hanya kuasa cinta Tuhan dapat membebaskan kita. Beberapa Langkah Praktis Untuk Memaafkan : Ada beberapa langkah praktis yang perlu untuk mengolah hati, emosi dan pikiran, serta perilaku baru. Sangat baik jika dilakukan dalam group counseling. Kami sudah memberikan pelatihan ini di beberapa kota seperti Aceh, Bali, Medan, Bandung, dan Jakarta. Jika Anda tertarik, Anda dapat mengikuti sesi ini di Kantor LK3. Anda dapat juga mengundang LK3 memberikan pelatihan dalam bentuk in house training di Gereja atau Lembaga saudara. Banyak dari mereka yang mempraktekkan modul how to forgive ini merasakan kelepasan dari kepahitan. Demikian beberapa saran praktis untu dapat mengampuni : 1. Mengakui kebutuhan anda untuk disembuhkan Bagi banyak orang hal ini bukan masalah, tetapi jika kita terluka dan tidak mengakui, maka jelas tidak ada tempat untuk pertolongan. Mengakui kebutuhan kita merupakan suatu tanda kesehatan mental yang baik dan bukti sikap yang jujur. Seringkali kita ingin mengakui tapi kita takut untuk ditolak. Kerelaan untuk belajar dan kerendahan-hatilah yang akan mengizinkan kesembuhan dimulai. Mulailah bersikap jujur dengan Allah, kemudian cari teman yang bisa mengerti keadaan anda. Kejujuran akan mendatangkan kasih karunia Allah dalam hidup kita. 2. Mengakui emosi yang negatif


Beberapa di antara kita mengarungi kehidupan dengan mengumpulkan emosi yang negatif. Kita tidak diajarkan bagaimana mengenali atau mengkomunikasikan perasaan kita sehingga kita menimbun kemarahan, kekecewaan, ketakutan, kepahitan dan emosi negatif lain sejak kanak-kanak. Kita menindih emosi negatif yang satu di atas yang lain, sama seperti menumpuk sampah. Proses penimbunan emosi ini menghasilkan akibat yang tragis. Emosi itu sendiri bukanlah dosa. Emosi dapat menghasilkan sikap berdosa jika diarahkan dengan cara yang negatif kepada Allah, diri sendiri, dan orang lain. Untuk memutuskan lingkaran penindasan emosi mintalah Allah untuk memberi Anda kesempatan mengungkapkannya kepada orang yang mengerti anda dan memberikan dorongan untuk jujur dengan perasaan anda. 3. Belajar mengampuni Mengampuni bukan sekedar melupakan kesalahan yang dilakukan seseorang terhadap kita. Mengampuni berarti memaafkan orang untuk kesalahan yang telah diperbuatnya. Mengampuni berarti menunjukkan kasih dan penerimaan, meskipun disakiti. Mengampuni seringkali merupakan suatu proses dan bukan suatu tindakan „sekali jadi‟. Pengampunan adalah membuat keputusan secara sadar untuk berhenti membenci karena kebencian itu sama sekali tidak ada gunanya. Kita terus mengampuni sampai rasa sakit itu hilang. Semakin dalam lukanya, semakin besar energi atau daya pengampunan itu diperlukan. Memaafkan bukanlah tindakan yang dilakukan kadang-kadang saja, melainkan merupakan sikap yang permanen. Sama seperti seorang dokter harus membersihkan


luka di tubuh kita dan menjaga agar jangan terkena infeksi supaya dapat sembuh dengan baik. Begitu pula kita harus menjaga kebersihan luka-luka batin kita dari kepahitan supaya luka itu cepat sembuh. Mengampuni adalah antiseptik bagi luka batin kita. Jika kita sudah menerima pengampunan secara cuma-cuma oleh korban Kristus,Tuhan meminta kita memaafkan sesama kita yang bersalah kepada kita. Tetapi itu tidak cukup. Sang Penebus, meminta kita menjadi “agen” penebus yang mendistribusikan kasih dan pengampunan-Nya itu kepada sebanyak mungkin orang. Inilah tugas konseling. Anda dipanggil untuk melatih sesama mengampuni sesamanya. Akhirnya, Menerima Maaf Melegakan Hati. Memaafkan Diri Sendiri itu Sehat. Memaafkan Sesama, itu Ilahi. Melatih Orang Memaafkan, itu Mulia. Membantu Orang Menerima Pengampunan Tuhan, itu memberinya Hidup Kekal. BERDOA SESUAI FIRMAN: Beberapa Doa Sebagai Terapi Untuk Hati yang Sulit mengampuni Dalam buku “Berdoa Sesuai Firman” yang diterjemahkan oleh Persekutuan Pembaca Alkitab8 ada beberapa doa alternatif yang ditawarkan kepada kita selama proses mengampuni. Doa ini bisa dipilih dan didoakan sesering Anda bisa. Tentu ini bukan jimat atau mantera, tetapi hanya menjadi contoh betapa Firman kalau kita gunakan sebagai doa, sangat berkuasa. Inilah beberapa contoh doa yang bisa Anda praktekan: Tuhan, sesulit apa pun aku mencoba untuk mengerti, firman-Mu jelas: jika aku mengampuni orang lain yang berdosa terhadap aku, Engkau juga akan mengampuni 8 Moore, Beth. Berdoa Sesuai Firman. Jakarta, Persekutuan Pembaca Alkitab, 2004, hal. 200-210.


aku (Mat. 6:14). Ya Tuhan Allah, jika aku tidak mengampuni dosa-dosa orang lain, Engkau Bapaku, tidak akan mengampuni dosa-dosaku (Mat. 6:15). Ya Bapa, sesuai dengan firmanMu, jika aku menghakimi orang lain, akupun akan dihakimi, dan dengan ukuran yang kupakai, demikian juga itu akan diukurkan kepadaku (Mat. 7:1-2). Tuhan, pada titik manapun ketika aku menghakimi orang lain, firman-Mu berkata bahwa aku sedang menghukum diriku sendiri, karena siapa pun dari kami yang memberikan penghukuman atas sesuatu, melakukan juga hal-hal yang sama. Sekarang aku tahu bahwa penghakimanmu terhadap mereka yang melakukan halhal tersebut didasarkan atas kebenaran. Sehingga, ketika aku, yang hanya seorang manusia saja, memberikan penghukuman kepada orang lain tetapi melakukan hal-hal yang sama, apakah aku berpikir bahwa aku akan luput dari penghukuman-Mu? (Rm.2:1-2). Tuhan, aku harus menanyakan diriku sendiri mengapa aku dapat melihat setitik serpihan kayu di mata orang lain dan tidak menaruh perhatian pada balok yang ada dimataku sendiri. Bagaimana aku dapat berkata kepada saudaraku, “Biarkan aku mengambil serpihan itu dari matamu,” sementara masih ada balok di mataku? Ya Tuhan, tolonglah aku supaya tidak menjadi seorang munafik! Berikan kepadaku kejujuran dan keberanian untuk pertama-tama mengeluarkan balok dari mataku sendiri, dan aku dapat melihat dengan jelas untuk dapat mengeluarkan serpihan kayu dari mata orang lain (Mat. 7:3-5). Ya Tuhan, firman-Mu, memberitahukan aku bahwa ketika aku berdiri untuk berdoa, jika aku masih mengingat kesalahan orang lain, aku harus mengampuninya, supaya engkau, Bapaku yang di sorga, boleh mengampuni dosadosaku (Mrk. 11:25). Tuhan, hati nuraniku jernih, tetapi itu tidak berarti bahwa aku tidak berdosa. Engkaulah yang menghakimi aku. Dengan demikian aku tidak dapat menghakimi


apapun sebelum waktu yang ditentukan; firman-Mu memberitahukanku agar aku menunggu sampai Engkau datang. Engkau akan menerangi apa yang tersembunyi di dalam kegelapan dan akan menyingkapkan maksudmaksud dari hati manusia. Pada saat itu masing-masing orang akan menerima pujian dari Allah (1 Kor. 4:4-5). Jika aku tidak menghakimi, aku tidak akan dihakimi. Jika aku tidak menghukum, aku tidak akan dihukum. Jika aku mengampuni, aku akan diampuni (Luk.6:37). Tolonglah aku, ya Tuhan, supaya aku dapat menunjukkan belas kasihan yang lebih banyak lagi, supaya aku dapat terus menerima lebih banyak belas kasihan! Ya Tuhan Allah, ampunilah dosa-dosaku, karena aku juga memaafkan mereka yang berbuat salah terhadapku. Dan jangan bawa aku ke dalam pencobaan (Luk.11:4). Tuhan, aku mengaku kepada-Mu bahwa salah satu dari cobaan terbesar bagiku adalah untuk menolak memberikan pengampunan kepada orang lain. Tolonglah aku agar dapat melihat kenyataan yang sesungguhnya dari kehendak-Mu dalam hal ini. Allah Bapa, firman-Mu berkata bahwa jika seseorang berbuat salah terhadapku tujuh kali dalam satu hari, dan tujuh kali ia kembali kepadaku dan berkata, “aku menyesal,” maka aku harus mengampuninya (Luk.17:4). Aku berkeinginan untuk menaati Engkau. Kuatkan aku, ya Tuhan. Ya Bapa, tolong aku agar dapat mengerti bahwa penghukuman dan akibat-akibat yang terjadi pada orangorang ketika mereka berbuat salah, sering kali setimpal bagi mereka. Ketimbang menimbulkan kesusahan yang lebih banyak lagi, firman-Mu berkata bahwa aku harus mengampuni dan menghibur orang tersebut, sehingga ia tidak akan dikuasai oleh rasa sesal yang berlebihan (2Kor.2:7). Tuhan, tolong aku agar dapat menjadi seperti sosok yang dapat melayani aku seperti yang kuinginkan bila aku gagal. Tuhan, Engkau menyuruh aku untuk memaafkan orang lain di hadapan Kristus supaya setan tidak dapat


memperdayai aku. Tolonglah aku agar terus peka terhadap rancangan-rancangannya (2Kor.2:11). Tolonglah aku untuk dapat melihat seberapa besar musuh mendapatkan keuntungan dari ketidakmauanku untuk mengampuni. Aku menawarkan kepada dirinya setapak tempat berpijak setiap kali aku menolak untuk mengampuni. Tuhan Allah, kuatkan aku untuk dapat sabar dengan orang lain dan mengampuni apapun kesusahan yang kurasakan karena orang lain. Tolong aku untuk dapat mengampuni sebagaimana Engkau, ya Tuhan, telah mengampuni aku (Kol.3:13). Tuhan, Engkau telah mengaruniakan anugerah yang sedemikian besar kepadaku. Engkau telah mengampuni kebejatanku dan tidak lagi mengingat dosa-dosaku (Ibr. 8:12). Tolong aku agar dapat mendemonstrasikan rasa syukurku dengan cara mengampuni orang lain! Tuhan, aku telah mendengar bahwa “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Akan tetapi Engkau memerintahkan aku untuk mengasihi musuhmusuhku dan berdoa bagi mereka yang menganiaya aku, sehingga aku boleh menjadi anak Bapaku yang di surga (Mat.5:43-44). Jika Engkau, O Tuhan, mencatat dosa-dosa, siapakah yang dapat bertahan? Akan tetapi, bersama-Mu ada pengampunan; karena itu engkau ditakuti (Mzm.103:4). Tuhan, setelah segala sesuatu yang telah Engkau lakukan bagiku dan setelah semua dosa yang telah engkau ampuni di dalam kehidupanku, tolonglah aku agar aku memiliki ketakutan dan penghormatan kepadaMu yang demikian sehingga aku tidak akan menunda pengampunan kepada orang lain. Tuhan Allah, tolong aku agar tidak kalah oleh kejahatan, tetapi agar aku mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Rm.12:21). Tuhan Yesus, darah perjanjian-Mu yang berharga telah dicurahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa (Mat.26:28). Setelah Engkau mencurahkan darahMu sendiri bagi pengampunanku, tolong aku agar aku


tidak berespons dengan hati yang terlalu mengeras untuk dapat memaafkan orang lain. Di dalam Engkau, ya Yesus, aku memiliki penebusan melalui darah-Mu, pengampunan dosa-dosa menurut kekayaan anugerah Allah (Ef.1:7). Aku memiliki kekayaan anugerah-Mu sehingga aku akan selalu dapat memberikan pengampunan kepada mereka yang telah melukai aku. Berbahagialah aku karena pelanggaranpelanggaranku diampuni. Berbahagialah aku karena dosadosaku ditutupi (Mzm.32:1). Biarlah rasa syukurku yang dalam dapat tampak melalui cara aku berelasi dengan orang lain, o Tuhan. Ya Tuhan, aku berkehendak untuk tidak membuat sedih Roh Kudus dari Allah, yang dengan-Nya aku dimeteraikan untuk hari penebusan. Melalui kuasa RohMu, tolong aku agar dapat menyingkirkan semua kepahitan, murka dan amarah, cercaan dan celaan, beserta berbagai bentuk itikad jahat. Aku berkeinginan untuk bersikap baik dan berbelas kasih kepada orang-orang lain, memaafkan orang lain, sebagaimana juga di dalam Kristus Engkau telah mengampuni aku (Ef.4:30-32). Tuhan, sesuai dengan firman-Mu, kasih itu sabar, kasih itu baik. Ia tidak iri hati, ia tidak menyombongkan diri, ia tidak tinggi hati. Ia tidak kasar, ia tidak mencari kepentingan sendiri, ia tidak mudah dibuat marah, ia tidak mengingat kesalahan-kesalahan. Kasih tidak menyukai kejahatan tetapi bersukacita dalam kebenaran. Ia selalu melindungi, selalu percaya, selalu berharap, selalu bertekun. Kasih tidak pernah gagal (1 Kor.13:4-8). Bapa, aku mengaku kepadaMu bahwa aku belum memiliki kasih seperti ini dalam diriku. Satu-satunya cara aku dapat mengalami dan mengekspresikan kasih seperti ini adalah dengan menyerahkan hatiku kepada-Mu dan meminta Engkau untuk mengosongkannya dari segala isi kedagingannya dan membuatnya menjadi bejana kasihMu. Gunakan hatiku untuk mengasihi mereka yang sukar dikasihi dan mereka yang telah melukai aku, ya Tuhan


kekasihku. Aku menanti-nantikan Engkau melakukan sebuah mukjizat didalam dan melalui hatiku. Aku tahu siapa yang kupercaya, dan aku yakin bahwa Engkau, Tuhan, mampu menjaga apa yang telah kupercayakan kepada-Mu (2 Tim.1:12). Aku mempercayakan situasi ini kepada-Mu, ya Tuhan. Ya Bapa, tolong agar kasih Kristus menguasaiku untuk melakukan apa yang benar di dalam situasi yang menantang ini (2 Kor.5:14). Ya Tuhan Allah, kuatkan aku untuk berusaha sekeras mungkin untuk hidup dalam kedamaian dengan semua orang dan hidup kudus; tanpa kekudusan tidak ada seorang pun yang akan melihat Tuhan. Tolong aku agar aku dapat melihat bahwa aku tidak menjauhkan diri dari anugerah Allah dan tidak ada akar pahit yang bertumbuh sehingga menyebabkan permasalahan dan mencemarkan banyak orang (Ibr.12:14-15).


Bab 3 Mengampuni Tak Harus Melupakan Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Yusuf) Beberapa klien kami di LK3 masih ada yang beranggapan bahwa untuk bisa mengampuni kita harus melupakan peristiwa dan orang yang melukai kita. Ini jelas anggapan yang salah. Kita tak mungkin bisa melupakan, kecuali kita terkena amnesia atau pikun. Peristiwa dan orang yang memahitkan hidup kita bisa saja terus kita ingat. Tetapi pengampunan yang kita berikan akan membuat kita tidak merasa sakit lagi dengan kenangan itu. Kenangan itu justru akan mengajar kita untuk tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain. Pengampunan Menurut Meninger, sebagaimana dikutip Anastasia Adelina9 berarti : ketetapan hati yang menyatakan tidak ada gunanya lagi membalas dendam. Pengampunan adalah melepaskan semua emosi negatif yang berkaitan dengan peristiwa masa lampau. Pengampunan merupakan tanda dan landasan adanya harga diri yang positif dan selanjutnya membuatnya semakin kokoh. Karena energi yang ada di dalam diri tidak digunakan untuk membalas dendam, tetapi untuk mengerjakan hal-hal yang lebih baik dan mencari jalan keluar yang lebih positif. 9 Anastasia, Adelina. Intervensi pengampunan Dalam Terapi Rasional Emotif Terhadap Penurunan Emosi Negatif dan Peningkatan Emosi Posiif. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Katolk Sugijaparanata, Semarang, 2002.


Dengan pengampunan, diri menjadi bebas untuk menempuh jalan yang memungkinkan perkembangan sejati menuju kematangan, mengembangkan diri sebagaimana seharusnya. Pengampunan membuat kita mampu untuk melihat diri kita sendiri, orang lain, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita sebagaimana adanya. Pengampunan tidak berarti menyangkal, tidak ambil pusing, mengecilkan, berpurapura atau tidak menganggap serius apa yang telah dilakukan orang lain terhadap kita atau penderitaan yang kita tanggung karena tindakan itu. Kalau kita mengampuni, kita membuat diri kita sendiri mampu melihat luka-luka serta bekas-bekas luka dalam diri kita seperti adanya. Kita dapat melihat betapa banyak energi yang sudah terbuang karena kita tidak mengampuni dan kita mulai sadar seberapa jauh kita melangkah dalam perjalanan hidup ini . Saya (Julianto) tidak akan pernah bisa melupakan apa yang ayah dan ibu saya lakukan kepada saya waktu saya kecil. Saya ditolak, dan dibedakan dari saudarasaudara saya. Tetapi kini saya tidak lagi menyimpan dendam atau kemarahan, saya justru belajar banyak dari penolakan orangtua saya. Pengalaman pahit itu justru mendorong saya melakukan pelayanan konseling kepada orang-orang yang hidupnya pahit dan sulit. Pengalaman saya pribadi justru ikut membantu proses pemulihan klien saya. Beginilah kisah saya: Bulan Desember 1962 ibuku hamil muda. Kehamilan ini ia ceritakan pada suaminya (ayahku), seorang polisi dan alkoholik yang sangat keras dan kasar, "Pa, aku hamil anak kita keenam." Suaminya (papaku) bukannya menyambut senang, tapi dengan kasar mengancam ibuku, "Aku tidak mau anak laki-laki lagi. Beri saya anak perempuan!” Memang, sudah lima kali ibu kami melahirkan, semuanya laki-laki.


Ibu menjawab, "Kalau laki-laki lagi, gimana?" "Kamu saya ceraikan!" Aduh! Ibu sangat stres dengar kalimat Ayah. Dia tahu benar sifat Papa yang keras. Saat aku duduk di kelas III SMA Mama cerita padaku, "Julianto, waktu Mama melahirkan kamu, mama stress, akhirnya blooding (pendarahan) dan hampir meninggal dunia." Saat aku masih kecil, sulit bagiku mengerti perlakuan mama dan papaku. Papa seorang pejabat kepala keuangan polisi. Kami sering dikunjungi famili dan tamu kantor papa. Juga para tetangga. Biasanya mama dengan bangga memperkenalkan anak-anaknya, mulai dari yang sulung, “Ini Johnny, ini Albert. Ini nomor tiga Helman, lalu Jerry dan anak kelima Agustinus. Ini? Witner, anak ketujuh.” Lhaaaa? Saya kok tidak dikenalkan? Hatiku berbisik dan protes keras. Lalu para tamu spontan bertanya dengan menunjuk kepadaku, "Yang ini siapa?" Ibuku menjawab ketus, "Tanya aja sendiri!" Para tamu pun bertanya kepadaku, "Ucok (panggilan akrab bocah Batak), siapa namamu?" Dengan polos, aku menjawab, "Aku Julianto, Om. Aku nomor enam!" Peristiwa seperti itu kerap terjadi jika ada tamu baru datang ke rumah. Yang lebih tidak nyaman dan membuat batinku berontak keras adalah, saat papa memaksaku memakai rok. Papa membelikan beberapa baju perempuan. Baju dan rok perempuan itu aku harus kenakan sehabis mandi sore. Sambil tertawa dan melucu Papa, Mama dan para abangku memanggilku dengan nama “Puan”. Rupanya itu singkatan dari “perempuan”. Aku merasa begitu dilecehkan, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Usiaku masih balita. Pada tahun kelima, aku mulai sadar, bahwa aku dipermainkan dan diolok-olok. Baju dan rok perempuan yang


sedang dipakaikan padaku, segera kubuka. Dengan rasa marah dan jengkel, aku lemparkan itu jauh-jauh sambil menangis. Setelah sadar, aku menjadi marah setiap kali diminta pakai rok. Kemarahanku kutampakkan dengan tidak mau ke sekolah. Orangtuaku memaksaku sekolah di Taman Kanak-kanak pada usia 6 tahun. Tapi aku selalu menangis dan lari dari kelas. Barulah di usia 7 aku mau ke sekolah. Penolakan Ibu kurasakan bertahun-tahun. Bahkan tak akan pernah saya lupakan ketika suatu hari Ibu lagi bentrok keras dengan Ayah (orangtuaku sering bertengkar). Beberapa tamu datang ke rumah. Lalu ada yang menanyakan nama-nama kami. Ibu memperkenalkan kelima abang dan satu adik saya. Namun ia tetap tidak mempedulikan saya. Tamu bertanya sambil menunjuk ke saya, “Yang ini namanya siapa dan nomor berapa?” Mamaku dengan ketus menjawab, “Tanya sendiri! Anak dari tong sampah itu!” Saya sangat terkejut, dan perkataan itu masih terngiang-ngiang sampai hari ini. Masa remajaku sangat buruk. Tidak beda jauh dengan abang-abangku. Akrab dengan kartu, alcohol dan dunia preman. Syukurlah, saat aku duduk di kelas II SMA Negeri I Medan, Kristus menjamahku lewat retreat yang diadakan Persekutuan Doa sekolah kami. Hari kedua retreat yang kami adakan di Binjai itu, mengubah hatiku. Aku menerima Kristus secara pribadi. Singkat cerita, setelah menamatkan SMA, aku mendapat kesempatan kuliah di Institut Injil Indonesia di Batu. Selesai itu aku memutuskan mendalami konseling di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan studi lanjut bidang di Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili (STTRII) Jakarta. Selama belajar konseling, aku terus belajar


mengampuni orangtuaku. Aku merasa cukup berhasil, namun sesungguhnya belum. Pada tahun 2001, saat masih bekerja sebagai konselor di Reformed AfterCare (RACE), sebuah pusat konseling narkoba, aku sempat menonton sebuah VCD bersama dengan beberapa residen. Lewat VCD itu barulah aku sadar, bahwa aku belum sepenuhnya memaafkan Mamaku. Dalam VCD Sex Education yang disampaikan Pam Stenzel itu menceritakan pengalaman unik Pam. Pam ternyata berlatar belakang seorang anak hasil perkosaan. Dia bersaksi, betapa ia mengagumi ibunya yang memilih tidak menggugurkan Pam, tetapi memilih melahirkannya. Selanjutnya Pam berkata dalam VCD itu10: Ayah biologisku adalah pemerkosa. Aku bahkan tak tahu kebangsaanku. Tapi aku tetap manusia dan punya nilai. Nilai hidupku tak kurang sedikitpun dari kalian karena caraku dikandung. Dan aku tak layak dihukum mati akibat kejahatan ayahku. Aku sudah dengar gelak tawa mereka. Di Mineapolis mereka berkata, ”Anak selalu diinginkan dan direncanakan. Dirimu adalah kesalahan!” Aku tak percaya itu. Aku percaya setiap anak diinginkan seseorang dan Tuhan mengasihinya. Aku tak mampu menjelaskannya sampai bertemu muka dengan-Nya nanti. Tapi aku percaya Tuhan punya rencana untukku, dan Tuhanku amat mempesona. Dia mampu mengambil rasa sakitmu yang paling parah. Apa pun pilihan buruk yang kau ambil atau perlakuan orang merusak dirimu. Dia mampu menjadikan hal itu indah jika kalian menyerahkannya pada-Nya. 10 Stenzel, am. Sex, Love & Relationship, VCD Ceramah Edukasi Tentang Seks Remaja.


Aku belum bertemu ibu kandungku, kuharap suatu hari nanti bisa. Jika tak bisa di bumi, mungkin di sorga. Itu doaku sejak umur 4 tahun. Jika nanti kami bertemu, akan kugenggam tangannya dan berkata, betapa aku sangat mencintainya karena dia mencintaiku. Dia cukup mencintaiku untuk memberiku hidup dan juga hadiah paling istimewa yang pernah diberikan kepadaku: keluargaku. Aku tak tahu apa diriku hari ini jika Ibu memutuskan menggugurkanku. Aku amat bersyukur, dia cukup mencintaiku dan memberiku keluarga. Aku tertegun mendengar perkataan perkataan Pam Stenzel di atas. Air mataku pun mulai mengalir. Barulah aku sungguh tersadar, berkat terbesar yang diberikan ibu dan ayahku adalah HIDUP. Aku teringat kata kata Yesus, “Bukankah HIDUP itu lebih penting daripada makanan, pakaian (fasilitas hidup)….”. Ya, hidup itu lebih penting dari fasilitas hidup, kegagalan hidup, kebanggaan hidup, keberhasilan hidup dan dari apa pun di dunia ini. Orangtuaku telah memberikan hidup kepada ku....Saat itu aku merasa lega dan berdoa, bersyukur untuk Ibu yang pernah mengandung dan melahirkanku. Seperti ada batu-batu kerikil, terjatuh dari hatiku. Meski ia pernah menolak, mengabaikan, dan melecehkanku, hari itu aku baru memaafkan Ibuku dengan tuntas. Aku juga berpikir, toh orangtuaku tak sengaja melakukannya. Mereka tak pernah belajar menjadi ayah dan ibu. Sebagai tanda kasih dan mengenang Ibuku awal Mei tahun 2001 aku menuliskan sebuah syair lagu untuknya : Kasih Ibu Kan Kukenang Selalu Be-ta- pa mu-lia cin-ta ka- sih-mu Be-ta- pa dah-syat pengorba – nan mu yang ku –tri-ma dari – mu I – bu Yg Allah b‟rikan ba - gi – ku


Darah ter- curah, mela-hir - kanku Tanganmu lelah, membesar – kanku Kasih I - bu s‟panjang hi - dupku A-kan ku kenang se - la – lu Reff. Meski I - bu ki-ni t‟lah ti-a-da Na-mun kasih – mu takkan kulupa Bagiku kasih I bu ti- a-da du-anya Kasih Ibu wa-ri-san mu-li- a Mengampuni bukan untuk melupakan kesalahan, tetapi untuk menjadikan hal itu sebagai pembelajaran. Mengampuni adalah kita masih mengingat tetapi ntidak lagi sakit. Kini setiap kali aku mengingat dan menceritakan pengalaman ini kepada orang lain hati saya tidak lagi sakit, malah bersykur bahwa Tuhan mengizinkan masa laluku yang pahit. Hal inilah memberiku dorongan menjalani karir sebagai konelor. Aku bersyukur dan tidak pernah menyesal lahir dari kedua orangtuaku. Mereka ikut memberi warna dan melukis kepribadianku. Aku percaya Tuhan terlibat dalam semua pengalaman itu. Ia sanggup membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Kepahitan, Virus yang Mematikan Ada kalanya seseorang bisa mengampuni, tapi tak jarang ada yang menyimpan kepahitan bertahun-tahun lamanya. Meskipun ingin mengampuni tapi tak ada daya yang cukup untuk itu. Sementara akibat kepahitan itu tak terasa, tetapi lama kelamaan dia menyebar bagaikana racun yang merusak semua sendi kehidupan kita. Ada juga dari kita sengaja menunda pengampunan dengan tujuan memberi sedikit hukuman kepada orang yang melukai kita. Tetapi sesungguhnya, menunda pengampunan adalah sebuah bentuk pembalasan dendam


yang halus. Mengapa? Karena berbuat demikian adalah berharap bahwa orang yang berbuat salah itu akan merasa sakit sedikit juga, supaya ia dapat mengerti. Akan tetapi jenis pembalasan dendam seperti ini menghilangkan kemerdekaan Anda dan membiarkan orang yang bersalah atas Anda tersebut tetap mengendalikan Anda. Kepahitan adalah virus yang mematikan. Ironisnya virus ini umumnya tidak disadari sebagian kita. Tiba-tiba virus itu menggerogoti seluruh hidup orang yang memeliharanya. Salah satu sahabat kami Arie, menceritakan satu pengalaman saat ia masih di asrama seminari. Begini kisahnya : Beberapa hari sebelum wisuda, kami mengadakan sharing dengan beberapa teman sekamar. Waktu itu kami sedang membahas tentang saat-saat kita bahagia. Kami semua saling bercanda dan bercerita, tetapi ada satu teman kami yang tetap bungkam tak bersuara. Keesokan harinya dia mendatangi saya dan saya dikejutkan dengan satu pertanyaan, “Apakah kamu ingin tahu kapan saya merasa sangat bahagia?” Saya mengangguk dan melihat sesuatu yang aneh. Dia tersenyum namun ada satu kepedihan yang selama ini terkunci dan siap meledak. “Saat paling bahagia dalam hidupku adalah saat aku berusia 16 tahun, yakni saat itu aku mendengar bahwa kedua orangtuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta api. Aku sangat senang mereka mati, dan melihat mereka dikubur adalah satusatunya keinginanku. Sudah lama itu kudambakan.” Dari percakapan sahabat saya dengan temannya itu, ternyata kematian kedua orangtuanya menjadi saat yang paling membahagiakannya karena dia adalah seorang anak yang tidak diinginkan. Setiap hari orangtuanya selalu mengatakan hal-hal yang menyakitinya. Saat mengandung, ibunya berusaha


menggugurkannya namun gagal. Kebenciannya pada orang tuanya begitu dalam, hatinya terluka dan tersimpan hingga dewasa. Peristiwa-peristiwa negatif yang kita alami, seringkali meninggalkan luka yang dalam; bisa jadi itu pengkhianatan, penolakan, ataupun pemerkosaan; bisa juga penganiayaan, kecemburuan, perasaan tersinggung yang tidak diselesaikan, dan disiplin tanpa kasih. Jika hal ini tidak diatasi dengan benar dapat menimbulkan akar pahit yang bisa merusak kesehatan mental dan fisik kita, juga spiritualitas kita. Kepahitan bisa menjadi satu lobang hitam yang menyeret kita masuk kedalamnya dan menghancurkan hidup kita. Luka hati bagaikan satu perangkap atau penjara yang dapat mengurung hidup kita. Ketika terluka, kita cenderung menyalahkan orang lain untuk membenarkan kebencian, amarah, dan dendam kita kepada orang yang membuat kita menjadi “korban”. Atau kita memilih untuk menyembunyikan luka hati itu rapatrapat dan berusaha melupakannya. Ini sama halnya dengan menimbun sampah atau kotoran yang menyebarkan banyak virus dan kuman dalam relasi kita dengan sesama. Memang alamiah, jika ketika kita terluka, kita telusuri sumber luka itu. Tak ada yang salah dalam hal ini. Namun apabila kita melakukannya hanya dengan maksud mengkambinghitamkan orang lain, maka luka kita malah berubah menjadi dendam dan kemurkaan. Begitu sakit hati itu kita pelihara, maka secara perlahan ia akan menggerogoti sehingga kita terjatuh dan merusak semua yang ada di sekeliling kita. Orang yang terluka mempunyai ingatan yang tajam tentang persoalan yang menyakitkan hingga detailnya. Mereka menjadi bergumul dalam rasa kasihan kepada diri sendiri. Mereka mencatat setiap serangan yang ditujukan padanya dan siap memperlihatkan kepada orang lain betapa mereka


telah terluka. Dari luar mereka kelihatan begitu tenang dan sabar, tetapi di bagian dalam mereka siap menyemburkan dorongan perasaan yang meledak-ledak. Orang yang terluka menyimpan dendam mereka secara terus-menerus. Mereka merasa dilukai hingga sedemikian dalam, sehingga membuat mereka tersingkir dari kebutuhan untuk mengampuni. Hati mereka dipenuhi dengan amarah dan dendam sehingga tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mencintai. Kepahitan lebih dari sekedar pandangan negatif terhadap hidup. Kepahitan merupakan kekuatan yang merusak relasi kita dengan siapapun tetapi terutama menghancurkan diri kita sendiri. Seperti bisul yang semakin meradang, demikianlah kepahitan yang dipelihara. Akibat luka batin sangat kompleks, dapat membuat fisik kita sakit, menghambat pertumbuhan rohani kita, merusak kesehatan emosi kita, sehingga kita tak dapat menikmati hidup. Orang yang terluka dan punya akar pahit cenderung menyendiri, karena merasa tidak dapat mempercayai orang lain. Cenderung posesif, manipulatif, sulit diajar atau dikritik; sebaliknya suka mengkritik orang lain. Apakah masih ada akar kepahitan, kebencian, dendam atau amarah tersembunyi kepada seseorang dalam jiwa saudara? Pilihan mengampuni atau menyimpan kepahitan ada di tangan saudara. Pemaafan Selalu Memberi Kesempatan Kedua Salah satu kisah memaafkan yang menyentuh hati kami adalah pengalaman dari almarhumah Corrie ten Boom dan keluarganya. Mereka mengalami kekejaman selama tahun tahun terakhir perang dunia ke II. Ia dan keluarganya dikirim oleh Nazi ke kamp pembantaian di Ravensbruck, Jerman. Akhirnya, hanya Corrie yang selamat. Sesudah perang, ia menjadi penulis terkenal dan sering berbicara tentang kasih Allah. Namun di dalam


hatinya, ia masih merasakan kepahitan terhadap Nazi atas apa yang sudah mereka perbuat terhadap dirinya dan keluarganya. Dua tahun sesudah perang, Corrie berbicara di Munich, Jerman, tentang topik pengampunan Allah. Sesudah kebaktian, ia melihat seorang pria yang ikut menyiksa dirinya bersama keluarganya berjalan ke arahnya. Beginilah kisahnya11 : Pria yang sedang berjalan menghampirinya adalah seorang penjaga – salah seorang dari penjaga yang paling keji. Sekarang orang ini ada di hadapan Corrie dengan tangan terulur. Pia itu berkata, “Pesan yang bagus Ibu! Betapa senangnya mengetahui bahwa, seperti Anda katakan, semua dosa kita sudah dibuang ke dasar laut!” Dan saya, yang baru saja berbicara dengan fasih tentang pengampunan. Saya tak kuasa menerima salamnya. Aku hanya , meraba-raba buku saya, bukannya menyambut tangan yang terulur itu. Tentu saja orang ini tidak akan mengingat saya – bagaimana mungkin ia ingat seorang tahanan di antara ribuan wanita itu? Namun, saya ingat kepadanya dan cambuk kulit yang mengayun dari ikat pinggangnya. Darah saya serasa membeku. “Anda menyebutkan Ravesbruck dalam ceramah Anda,” orang itu berkata. “Saya dulu menjadi penjaga di sana.” Tidak, ia tidak ingat saya. “Tapi, sejak saat itu, “ ia melanjutkan, “saya menjadi orang Kristen. Saya tahu Allah sudah mengampuni saya untuk hal-hal keji yang saya lakukan di sana. Tetapi saya ingin mendengar dari bibir Anda juga ibu,” – sekali lagi tangan itu terulur – “maukah Anda mengampuni saya?” 11 Moore, Beth. Berdoa Sesuai Firman (Jakarta : Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005)


Saya berdiri di sana – saya tidak sanggup mengampuni. Betsie saudaraku meninggal di tempat itu – dapatkah orang ini menghapus kepahitannya hanya dengan meminta maaf? Tidak mungkin lebih dari beberapa detik orang itu beridiri di sana dengan tangan terulur, tetapi bagi saya rasanya berjam-jam sementara saya bergumul dengan perkara paling sulit yang harus saya lakukan. Karena saya harus melakukannya – saya tahu itu. Pesan bahwa Allah mengampuni didahului dengan kondisi : bahwa kita harus mengampuni mereka yang sudah menyakiti kita. “Jika engkau tidak mengampuni kesalahan orang lain,” Yesus berkata, “maka Bapamu yang di sorga tidak akan mengampuni dosamu juga.” Saya tahu itu bukan hanya sebagai perintah Allah, tetapi juga sebagai pengalaman sehari-hari. Sesederhana itukah? Dan saya masih berdiri di sana dengan hati yang membeku. Namun pengampunan bukanlah emosi – saya juga tahu itu. Pengampunan adalah tindakan dari kehendak, dan kehendak dapat berfungsi lepas dari suhu hati saat itu. “Yesus, tolong saya!” Saya berdoa dalam hati. “Saya dapat mengangkat tangan saya. Saya dapat berbuat sejauh itu. Engkaulah memberikan perasaan itu.” Dengan kaku dan seperti mesin, saya pun mengulurkan tangan untuk menyambut tangan yang terulur itu. Ketika saya melakukannya, suatu kejadian luar biasa terjadi. Ada aliran yang timbul dimulai dari bahu saya, merambat turun ke lengan saya. Lalu menyebar ke tangan kami yang saling menggenggam. Kemudian, kehangatan yang menyembuhkan ini tampak membanjiri seluruh diri saya sehingga mata saya banjir dengan air mata. “Saya mengampunimu, Saudara,” saya berseru, “dengan segenap hati saya.”


Untuk waktu yang lama kami saling menggenggam tangan satu sama lain, mantan penjaga dan mantan tahanan. Saya tidak pernah mengetahui kasih Allah begitu kuat, seperti yang saya rasakan saat itu. Namun, meskipun begitu, saya sadar itu bukan kasih saya. Saya sudah berusaha dan tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Itu adalah kuasa Roh Kudus seperti tercatat dalam Roma 5:5, “… karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Memaafkan selalu memberi orang kesempatan kedua. Mengampuni adalah jalan terbaik orang dapat melihat Kristus dalam diri kita yang sesungguhnya. Mengampuni adalah sisi mutiara kasih Kristus yang paling nampak sinarnya bagi kita yang melihatnya. Kami belajar banyak dari pengalaman Corrie di atas. Kiranya hati anda tersentuh membaca kisah tersebut dan mengambil keputusan memberikan pengampunan pada seseorang yang menantikannya dari diri saudara.


Bab 4 Cinta itu Memulihkan Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib. Sebagai orang percaya yang ditebus menjadi anakanak Tuhan kita tak luput dari kesalahan dan pelanggaran. Bahkan setelah mengalami karya penebusan Tuhan dan kelahiran baru, kesadaran kita akan dosa semakin tajam. Dosa dan kebiasaan buruk yang tadinya kita anggap biasa, sekarang kita sadari merupakan sesuatu yang buruk dan harus kita tanggalkan. Namun tak semudah itu. Seringkali kita tahu apa yang baik dan kudus, tetapi kita tak mampu menjalani. Kadang sebalinya yang kita hidupi dan lakukan. Juga tak ada jaminan, bahwa kalau kita telah menjadi orang percaya dan di baptis jalan hidup kita akan selalu aman dari godan dan cobaan. Sebaliknya, godaan dan cobaan yang datang akan semakin berat seiring dengan dekatnya hubungan kita dengan Tuhan. Tantangan dan tekanan akan semakin keras seiiring dengan jabatan dan pelayanan kita. Kita tentu mengenal istilah purna jual atau after sales. Setiap kali kita membeli barang elektronik selalu ada kartu garansi. Ada jaminan produk setahun atau lebih. Jika barang rusak, maka kita bisa membawa barang itu ke pusat servis dan akan diperbaiki atau diganti. Umumnya perusahaan yang punya nama baik seperti Toyota dikenal memiliki after sales yang baik. Kita mudah mendapatkan spare part, pusat servis dan ahli yang memperbaiki. Hal yang sama berlaku dalam hidup kita sebagai anak-anak tebusan. Tuhan yang menebus juga memberi garansi atau


jaminan. Salah satu garansi itu kita baca dalam I Korintus 10:13 ”Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya”. Tuhan selalu setia menolong kita saat cobaan datang. Dia akan mengangkat saat kita jatuh. Memulihkan saat hidup kita gagal. Namun untuk itu Tuhan membutuhkan orang yang melakukan pemulihan itu. Kami menyebutnya orang demikian bekerja sebagai ”agen penebus”. Orang yang menghibur, menguatkan dan melatih anak-anak Tuhan yang jatuh dosa kembali ke jalan Tuhan. Orang yang bersedia dipakai untuk meneguhkan kembali iman orang kristen yang tawar. Orang yang mau memotivasi dan meneguhkan kembali orang percaya yang jatuh ke dalam dosa. Semua ini adalah bagian dari pelayanan kasih yang memulihkan. Dalam peristiwa kejatuhan Raja Daud berzinah dengan Batsyeba, ada seorang yang membantu pemulihan Daud. Seorang yang bijak, sabar dan tenang. Seorang pribadi yang tidak menghakimi, tetapi penuh empati. Namanya adalah Natan. Lewat sebuah kisah sederhana Natan berhasil memulihkan kembali hati Daud kepada Tuhan. Pemulihan Raja Daud telah membawa arti yang besar bagi pemulihan kerajaan-Nya. Untunglah ada satu pribadi yang bernama Natan. Pribadi yang penuh kasih. Bagaimana cara Natan memulihkan Daud? Sangat sederhana lewat sebuah cerita. Begini ceritanya : TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin


tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan." Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu!...(II Samuel 12:1-7) Luar biasa, kisah sederhana itu menggugah hati Raja Daud sedemikian kuatnya. Cerita itu membawa Daud kepada pertobatan sejati. Pelayanan Natan sangat dibutuhkan dewasa ini. Pelayanan yang memulihkan anak-anak Tuhan, para Hamba Tuhan dan pemimpin bangsa yang tak berdaya dengan dosa. Pelayanan ini membutuhkan kematangan emosi dan pribadi, serta skill berkomunikasi yang baik. Salah satu media pelayanan ini adalah pelayanan konseling. Sejak tahun 1996 kami memutuskan menekuni pelayanan konseling. Salah satu aspek pelayanan ini adalah membantu pemulihan orang percaya dari dosa dan kegagalan hidup mereka. Banyak orang yang datang ke kantor kami adalah para pimpinan gereja dan orang-orang percaya serta aktifis gereja. Ada yang karena pernikahannya gagal, anak mereka kecanduan narkoba


Click to View FlipBook Version