The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by phenyrue, 2023-06-09 23:20:22

Mencinta Hingga Terluka E-book

Mencinta Hingga Terluka E-book

dan ada beberapa kasus perselingkuhan. Kami ingin menceritakan salah satunya, tentu dengan nama dan peristiwa disamarkan. Pada suatu hari saya menerima sebuah email yang cukup panjang. Dia seorang aktifis sebuah gereja. Kami kagum, sebab dia tidak malu membagikan masalahnya kepada kami. Dia menceritakan kehancuran hidup dan keretakan rumah tangganya kepada kami lewat email. Di antaranya dosa melakukan hubungan seks dengan beberapa wanita yang bukan istrinya. Demikian sebagian sharing-nya : Saya mulai melayani Tuhan sejak masih usia saya sangat muda. Saya bahkan sempat belajar Alkitab walau tidak tamat. Di akhir 1980-an, saya pindah ke Jakarta. Disana saya bertemu dengan Rita yang kemudian menjadi istri saya. Dia adalah seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta. Saya sendiri bekerja di sebuah Yayasan Kristen. Sejak awal pernikahan banyak miskomunikasi antara saya dan istri. Pernikahan kami disfungsi. Tentu ini mengganggu kegiatan pelayanan saya. Kami berbeda dalam visi hidup kami. Saya senang memulai hal-hal baru, istri saya lebih senang dengan kemapanan. Kadang istri saya meninggalkan rumah, atau saya yang pergi meninggalkan rumah. Begitu parahnya pernikahan kami. Untuk memulihkan diri sendiri, saya mencoba kembali masuk sekolah Alkitab. Saya rindu meningkatkan skill pelayanan saya. Suatu hari saya mengalami kecelakaan. Saya terpukul. Semangat pelayanan saya menjadi hilang. Apalagi saat keuangan keluarga kami menipis. Akhirnya saya memaksakan diri bekerja di bidang jasa yang bukan bidang saya. Pergaulan dalam dunia kerja yang baru itu membuat saya terjatuh. Sebab saya sering tugas keluar kota. Saya tergoda berhubungan dengan


wanita. Karena sering keluar kota komunikasi saya dengan istri memburuk. Kalau kami bertemu, kami hanya ribut. Untuk melupakan konflik itu saya menghabiskan waktu di depan komputer. Tanpa saya sadari, akhirnya lewat chatting saya berkenalan dengan seorang gadis yang sedang bermasalah dengan calon suaminya. Wanita itu sangat memperhatikan saya, sampai kami sangat dekat. Akhirnya kami menjadi sangat intim. Sementara itu istri saya makin ngotot minta bercerai. Proses itu kami coba jalani. Sementara mempersiapkan proses perceraian kami, saya berhubungan lagi dengan wanita muda tak jauh dari tempat saya bekerja. Wanita itu sangat baik dalam pandangan saya. Namun lama kelamaan saya merasa dia sangat dominan mendikte saya. Hubungan ini lama dan on-off (sambung-putus). Sampai suatu hari saya menderita sakit sesak nafas luar biasa. Mau mati rasanya. Saat itulah terasa ada kerinduan memperbaiki relasi dengan istri saya. Di sini titik balik rohani saya. Kesehatan saya berangsur pulih, tetapi emosi belum. Untuk membantu emosi saya saya mencari bantuan konseling. Lewat konseling dan bimbingan akhirnya saya dipulihkan. Saya bersyukur Tuhan menerima saya apa adanya. Tuhan sungguh baik, Dia tidak meninggalkan saya yang sudah berkali-kali mendukakan roh-Nya. Pemulihan yang alami sungguh mendorong saya untuk memberi hidup melayani Tuhan lebih sungguh. Istriku juga belajar menerimaku apa adanya. Penerimaan dan dukungannya membantuku pulih dan bersemangat lagi. Saat ini sahabat saya ini sudah kembali bekerja penuh waktu di ladang Tuhan. Dari kisah ini kita melihat bagaimana Cinta itu memulihkan. Memulihkan adalah mengembalikan posisi seseorang pada posisi semula.


Menerima orang yang gagal seperti dia tak pernah gagal. Cinta yang memulihkan berarti kita tidak menyimpan kesalahan orang yang pernah melukai kita. Sikap hati demikian akan membuat kita tidak lagi mengungkitungkit kesalahan masa lalu. Kita tidak terjebak pada kecurigaan yang tak berdasar pada pasangan atau anggota keluarga kita. Hati yang pulih akan membuat kita semangat untuk menjaga diri agar tidak jatuh pada hal yang sama. Demikianlah cinta itu memulihkan. Cinta yang memulihkan juga adanya kerelaan mendorong dan memotivasi orang yang gagal dan bersalah untuk bangkit kembali. Membantu Pemulihan Suami Salah satu klien kami yang memahami arti menjadi agen penebus adalah Alin. Alin dan Adi (suaminya, nama samaran) berpacaran selama 4,5 tahun. Mereka teman sekampus. Orangtua keduanya tidak keberatan. Mereka menikah tahun 1989. “Awalnya semua baik-baik saja,” kata Ibu Alin. Suaminya seorang yang jujur dan bertanggung jawab. Pandangan mereka sejalan dalam banyak hal. Adi seorang yang supel dan pandai bergaul, berbeda dengan Alin. Tetapi ini tidak menjadi masalah. Adi juga bukan suami yang rewel. Nampaknya masalah mulai muncul di tahun ketiga. Bulan Februari putri sulung mereka lahir. Karena Alin bekerja, mereka pindah ke rumah orangtua Alin. Opa dan Oma dengan senang hati membantu merawat cucu mereka. Tetapi dalam hubungan Alin dan Adi sebagai suami dan istri, mulai muncul kerikil. “Kami mulai jarang melakukan hubungan intim. Bisa-bisa sekali seminggu atau sekali dua minggu,” kata Alin. Makin bertambah tahun pernikahan, makin jarang. Pada tahun ke-10, paling-paling dua-tiga bulan sekali.


Tanpa terasa, Alin merasa hampa dalam hubungannya dengan Adi. “Saya berusaha keras bersikap terbuka, mengingat sifat saya yang introvert. Saya sangat kecewa dengan sikap Adi yang tidak menanggapi dan menuduh saya mengada-ada. Adi merasa tidak dapat membahagiakan saya. Padahal saya nggak merasa begitu, lho,” bantah Alin, “saya merasa cukup dan bisa menerima kekurangannya.” Perasaan-perasaan itu diungkapkan Alin kepada suaminya. Tetapi sebagai suami mungkin sulit bagi Adi untuk menerima kondisinya sendiri. Alin mengajaknya ke dokter, tapi menolak. Komunikasi yang sulit ini membuat Alin sering emosi. “Saya merasa, usul saya tidak ditanggapi. Hubungan kami sudah sangat tawar. Ketika saya mengajak dia membicarakan hal ini, suami saya tidak terima dan menjadi marah,” kata Alin lagi. Alin juga merasa suaminya kurang tegas dan tidak jelas maunya. Dia sering bilang “terserah” kalau ada masalah. Menurut Alin, suaminya tidak peduli terhadap keluarga serta selalu menyerahkan urusan anak kepada istri. “Pernah suatu kali saya minta suami meluangkan lebih banyak waktu untuk anak-anak. Dia menolak. Kalau di rumah, suami saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton TV, dia tidak peduli keadaan sekitar,” cerita Alin. Lama-lama, Adi mulai sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya, main kartu. Sebenarnya sebelum menikah pun Adi sering main judi. Tapi luput dari pengamatan Alin. Setelah kebiasaan ini berkembang makin serius, Alin menuntut suaminya berkomitmen untuk tiba di rumah sebelum tengah malam. Masalah-masalah yang tidak terselesaikan ini mencapai puncaknya pada awal Februari 2002. Seorang ibu menelepon Alin, memberi informasi bahwa Adi selingkuh. “Saya kaget dan tidak percaya,” Alin mengungkapkan perasaannya. Dia bingung dan tidak tahu harus bersikap bagaimana. “Dalam beberapa hari saja berat badan saya turun sampai 5 kilogram. Saya tidak


ingin membicarakan ini dengan keluarga saya maupun mertua.” Alin berusaha mendapatkan pertolongan ke pendeta dan pengerja gereja, tapi mereka sibuk. Akhirnya melalui salah seorang temannya, dia bertemu dengan konselor. Alin disarankan untuk mengkonfirmasikan berita itu kepada suaminya. “Saya bersyukur, suami saya tidak berbelit-belit. Dia mengaku punya wanita idaman lain (WIL). Saya sangat terpukul, kosong, sedih, kecewa, disepelekan, dicampakkan, terhina!” Alin mengakui. Apalagi ketika suaminya mengatakan, WIL-nya sedang hamil, dia mencintainya, tidak main-main dan tidak menyesal. Adi juga minta izin untuk menikahi wanita itu. Dia sudah melamarnya dan ingin punya keluarga lain. Alin betul-betul merasa hancur! Adi berkenalan dengan wanita lain itu ketika ayah wanita ini menolongnya dalam suatu kecelakaan di Jawa Tengah. Menurut Adi, dia kasihan kepada wanita itu karena terpaksa menjadi pekerja rendahan di desanya. Dalam per-curhat-annya, Adi mengakui ketidakmampuannya membahagiakan Alin dalam hal seks. Wanita itu berusaha meyakinkan Adi bahwa dia mampu. “Dia bilang aku mampu, aku masih muda. Dia tidak percaya aku tidak bisa,” Adi bercerita kepada istrinya. Itulah awalnya. Sekarang semuanya sudah terjadi. Mulanya Adi bermaksud bercerai, tapi Alin menolak. Dia mau tetap bertahan. Kalau perlu, Alin bersedia mengadopsi anak suaminya dari wanita lain itu. Apa yang mendorongnya bertahan? Alin menjawab, “Saya percaya, pernikahan kami diberkati Tuhan. Dia selalu setia pada firman-Nya. Saya percaya janji-janji-Nya. Saya percaya ada rencana Tuhan di atas semua ini. Saya juga punya andil dalam kejatuhan suami saya, saya ingin memperbaikinya. Saya ingin tetap setia pada janji nikah kami. Saya ingin membantu suami saya mengenal Tuhan. Saya ingin anakanak saya belajar dari cara saya mengatasi kemelut


keluarga ini; agar tali perzinahan, perselingkuhan, dan kawin-cerai yang mentradisi selama ini di dalam keluarga suami saya, dapat diputuskan.” Kisah Mantan Waria Cinta Tuhan yang memulihkan juga dialami sahabat kami Yani. Dia pernah salah jalan dan mengampil keputusan hidup yang salah. Namun dia tak mau terus menyesali apa yang sudah terjadi. Dia terus meyerahkan diri agar Cinta Tuhan memulihkan jiwanya yang lama terluka karena penolakan yang hebat, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Yani saat ini tinggal dan bekerja dengan usaha salon di Surabaya. Puluhan tahun dia menderita karena pergumulan dan pemberontakan jiwanya. Dia seorang pria, tetapi jiwanya hampir seratus persen wanita. Orang menyebut dia dan kaumnya sebagai waria (wanita tapi pria). Namun pengembaraan pergumulannya akhirnya tuntas berkat cinta Tuhan yang setia membimbingnya. Pengalamannya menerima kasih Tuhan yang tak bersyarat itu mendorongnya membentuk persekutuan doa di antara kaum gay dan waria di Surabaya. Dalam sebuah acara persekutuan gabungan LK3, Yani hadir memberikan kesaksiannya. ”Sebelum kenal Tuhan, saya penyembah berhala,” Yani bercerita. ”Usaha salon saya laris, saya punya cukup banyak uang. Jujur sejak saya memilih untuk menjadi waria, keinginan saya adalah menjadi wanita yang sempurna. Itu sebabnya saya mulai mengoperasi wajah, payudara dan akhirnya kelamin. Tahun 1989 saya bertobat. Saya benar-benar menyesal mengapa bertobat sesudah operasi. Seandainya saya bertobat sebelumnya, saya tidak akan pernah operasi kelamin. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, saya harus menerimanya. Bagaimana sisa hidup saya bisa


mempermuliakan nama Tuhan. Menjadikan bubur itu menjadi bubur kepiting nan lezat.” Tuhan akhirnya memberi Yani kesempatan dan beban untuk membawa berita keselamatan bagi temanteman senasib, yakni para gay dan waria di Surabaya. Awalnya dalam bentuk persekutuan doa dengan anggota 7 orang, sekarang ada sekitar 80 orang, di beberapa kota. Pertobatan Yani terjadi karena Tuhan menyembuhkan ibunya dari penyakitnya yang parah. ”Saat itu juga mami percaya Yesus dan dibaptis. Dari situlah saya ingin menyerahkan hidup saya pada Tuhan,” Yani melanjutkan kesaksiannya. ”Namun ketika saya mengajukan diri untuk dibaptis ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Pendeta mempertanyakan status saya. Apakah gereja boleh membaptis waria? Melalui proses yang agak alot, akhirnya saya dibaptis juga.” Kehidupan Yani sesudah menjadi Kristen dan ”wanita sempurna” juga tidak mudah. Masalah tetap ada dan pandangan negatif itu masih melekat. Sebelum kenal Tuhan Yani marah sekali, namun sesudah kenal Tuhan saya hanya bisa bersyukur dan mendoakan mereka. Di akhir kesaksiannya Yani memberikan ”tips” untuk melayani waria. Katanya, jangan memaksa mereka untuk berubah. Belajarlah menerima mereka apa adanya, sambil tetap memberitakan kebenaran dan kasih anugerah. Kita hanya berserah pada Tuhan, biar Tuhan sendiri yang mengubah. Dalam pengalaman Yani, tidak sedikit temantemannya yang waria akhirnya berubah tanpa dipaksa. Mereka mulai nggak nyaman dengan pakaian wanita dan mulai berganti dengan pakaian laki-laki, tidak dandan dan memotong rambut panjangnya. Sampai sekarang, demikian sharing Yani masih sisa penyesalan saya mengapa saya harus operasi kelamin. Tapi ya sudah, nasi sudah jadi bubur, saya jadikan bubur ayam yang enak. Bagi Yani, penyesalan karena operasi kelamin atau pengaruh pilihan yang diambilnya sebagai waria, sampai sekarang tetap dipikulnya. Tetapi itu menguatkan dia


untuk mencari jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah. ”Jangan sampai menyesal seperti saya,” kata Yani jika ada yang menanyakan boleh-tidaknya operasi kelamin. Inilah ciriciri pemulihan Allah. Kita bisa menerima diri kita sendiri apa adanya, kemudian bersyukur untuk semua yang sudah dikerjakan Tuhan dalam hidup kita. Hal-hal apa yang Tuhan sedang kerjakan untuk memulihkan hidup Anda sekarang ini? Jangan menolak kesulitan yang Tuhan izinkan, karena itu bagian dari pembentukan Tuhan yang akan memulihkan hidup kita. Belajar menerima jalan hidup sebagai anugerah Tuhan, akan membuat kita pulih. (*)


Bab 5 Cinta itu Berkorban Kita bisa memberi tanpa mencintai, tetapi kita tak bisa mencintai tanpa memberi Masa kecil saya (Roswitha) cukup menyenangkan kalau saya pikirkan sekarang. Walaupun, pada saat saya menjalaninya saya merasa sayalah bocah paling malang sedunia. Bayangkan! Saya punya enam adik yang dilahirkan dalam tempo sepuluh tahun. Ibu saya tidak cocok dengan semua pembantu yang bekerja di rumah kami, sehingga kami hampir-hampir tidak punya pembantu. Keadaan ini membuat Ibu saya harus bekerja keras, dan kami membantunya sebisa mungkin. Pekerjaan saya yang terutama saat itu adalah menjaga adik. Tidak ada waktu bermain dengan teman-teman sebaya. Kalau adik-adik saya tidur, saya bertugas membersihkan sayur. Maka sampai sekarang saya paling benci sayur, walaupun saya berusaha juga memakannya demi kesehatan saya sendiri. Di akhir usia saya yang keenam, lahirlah adik saya nomor lima. Dia adik yang paling ditunggu, sebab empat di atasnya perempuan. Waktu kecil adik ini cukup sering sakit. Saya masih ingat serangkaian “upacara ritual” kalau ada di antara kami yang sakit. Mama akan menggendong si sakit, sambil berjalan mondar-mandir, dia terusmenerus mengucapkan doa “Bapa Kami” dan “Pengakuan Iman Rasuli”, dalam bahasa Nias dan bahasa Indonesia. Kalau sakitnya demam tinggi, dekat tempat tidur pasti ada


air kompres dan sebuah sendok. Suatu kali, iseng-iseng saya tanya Mama, apa guna sendok itu? “O itu,” jawab Mama, “untuk menolong adikmu kalau dia step (kejang).” Walaupun percakapan itu dilakukan sambil lalu, kata-kata Mama tetap saya ingat. Saya tidak tahu bahwa rasa ingin tahu saya itu akan menyelamatkan jiwa anak saya sendiri kelak. Begini ceritanya : Josephus, anak saya pertama, lahir dengan operasi caesar 20 Agustus 1993. Dia sehat, gemuk, dan menyenangkan. Waktu dia berusia setahun, dia mengalami step yang pertama. Panasnya belum terlalu tinggi sebenarnya, hanya sekitar 39, tapi dia sudah mulai hilang sadar. Saya teringat percakapan dengan Ibu saya, tapi tidak sempat menyiapkan sendok. Untung, ada tetangga menolong dengan gel dingin yang dikompreskan di dahi dan kepala belakang. Beberapa menit kemudian Josephus tenang kembali. Sejak itu, kalau Josephus panas, saya selalu siapkan sebuah sendok dekat bantalnya. Kejadian yang sama berulang setahun kemudian. Saya tidak akan lupa tanggalnya, 20 Desember 1995. Tengah malam, suami saya tidur di samping Josephus. Dia kecapaian setelah memimpin sebuah acara Natal. Saya ke ruang makan untuk membuatkan Josephus susu. Saya memperhatikan nafasnya teratur tapi dia agak gelisah. Waktu sedang mengocok susu tiba-tiba saya tertegun, kok sepertinya nafas Joseph terdengar lain? Saya berlari ke kamar. Yang saya lihat betul-betul menegakkan bulu roma: Josephus sedang kejang-kejang, matanya terbalikbalik, mukanya membiru, mulutnya terkatup rapat. Dia berusaha bernafas tetapi sulit sekali. “Pa!” saya teriak memanggil suami saya, sambil berusaha memasukkan gagang sendok di antara giginya. Mulutnya terbuka, tapi sendok itu tidak bisa mencapai tenggorokannya. Jadi saya menyelipkan telunjuk kiri saya ke mulut Josephus, supaya mulutnya tidak terkatup lagi.


“Sendok besar! Sendok besar!” teriak saya pada suami saya yang terbengong di situ. Suami saya melompat mengambil sendok. Dengan tangan kanan saya mendorong gagang sendok besar sampai mencapai tenggorokan Joseph, terus saya tekan pangkal lidahnya. Barulah dia bisa bernafas biasa kembali. Terlambat beberapa detik lagi kami akan kehilangan dia. Suami saya berdoa dengan suara keras, “Jangan ambil dia, Tuhan Yesus. Selamatkan dia!” Kemudian saya memberi Josephus stesolid yang dimasukkan lewat duburnya. Dia tertidur tenang kembali. Saya periksa luka di tangan saya, putih sampai kelihatan tulang; dan baru terasa sangat sakit – sampai sekarang, sudah sebelas tahun lewat, bekas luka itu masih kelihatan jelas. Untung, saya pernah ditugaskan Mama menjaga adik-adik saya. Jadi saya bisa merawat anak-anak saya sendiri tanpa canggung. Walaupun dulu saya melakukan tugas itu dengan bersungut-sungut, “Saya terus, saya terus,” pada Mama saya, saya bersyukur bahwa saya menikmati buahnya sekarang. Ini namanya bahagia yang tertunda … Mencinta memang harus berkorban. Tak ada cinta tanpa pengorbanan. Izinkan kami mengutip sebuah kisah ilustrasi yang kami terima dari sebuah e-mail di milis kami. Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan sehingga di mana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin. "Apa kabar daun hijau!" katanya. Tersentak, daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. "Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?" tanya daun hijau.


"Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?" kata ulat kecil. "Tentu ... tentu ... mendekatlah ke mari." Daun hijau berpikir, jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan belobang-lobang, tapi tak apalah. Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terimakasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana sini, namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang, daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar. Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai "hati" bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah.


Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang, namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi "daun hijau", berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh. Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik: kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati. Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa dilakukan. Jangan lupa bahwa kita pernah menerima pengorbanan yang tiada taranya dari Yesus hingga kita bisa diselamatkan seperti sekarang ini. Amin Menjadi Agen Penebus Siapa yang tidak kenal produk alat-alat rumah tangga merek tupper ware? Mengapa produk ini cukup laku dan digemari para ibu meski harganya mahal? Kenapa produk TOYOTA dan NOKIA menjadi No.1 merebut konsumen. Salah satu daya tariknya adalah garansi atau jaminan serta pelayanan After sales nya yang terjamin. Tempat servis dan tenaga teknis banyak, serta spare parts yang relatif mudah diperoleh. Bagi pembeli umumnya, pelayanan


purna jual atau after sales menjadi sangat penting. Untuk layanan purna jual ini perusahaan mengeluarkan biaya yang mahal. Tetapi inilah yang kurang diperhatikan komunitas gereja & oleh kita semua. Kita menawarkan “produk” kasih Kristus yang begitu mahal dan luar biasa, yakni penebusan & pengampunan. Kristus membayar mahal untuk itu. Penebusan ini dibutuhkan banyak orang, namun sebagian orang belum atau tidak tertarik. Lalu penawaran penebusan itu dikemas dengan banyak cara. Gereja membenahi gedung dan fasilitasnya. Sebagian memprogramkan acara acara Kebangunan Rohani, dan segala cara lainnya. Tujuannya orang mendengar Injil dan menerima “produk” cinta Kristus, yakni penebusan. Lalu orang ditantang menerima Kristus, dengan segala janji dan jaminan yang indah-indah. Namun apa yang terjadi saat mereka yang sudah menerima Kristus, jatuh dan rusak ke dalam dosa. Ada banyak kemungkinan “kerusakan” terjadi dalam diri orang percaya. Diantaranya : hamil diluar nikah, kecanduan zat/judi/seks, dan lainnya; bercerai, berzinah, korupsi, masuk penjara. Bisa juga mereka mengalami penyakitpenyakit yang sulit, seperti terinfeksi virus HIV. Apa yang gereja dan kita siapkan menolong mereka? Tersediakah tenaga “purna jual” yang siap melayani mereka dengan cinta kasih. Adakah komunitas dan tenaga profesional konseling yang siap membantu mereka di gereja ? Sebagian aktifis gereja, anak-anak Tuhan, dan hamba Tuhan yang konseling ke LK3 merasa kecewa, karena “kerusakan” mereka, hanya menerima cemoohan dan penolakan. Tidak cukup tersedia tenaga profesional yang dapat “mereparasi” atau memulihkan hidup mereka. Yesus adalah penebus, kita dipanggil menjadi agen penebus. Dia memberi contoh dalam pelayananNya sesuai misi hidupNya, mencari orang yang sakit, hilang dan berdosa. Yesus memberi waktu khusus pada Zakheus. Mengunjungi perempuan Samaria punya lima suami, mencari dan melayani orang sakit mental/ jiwa dan


kerasukan di kota Gerasa. Menyembuhkan si kusta dan memulihkan perempuan yang berbuat zinah. Yesus adalah penebus, Dia membutuhkan para agen-agen penebus yang siap “mereparasi” atau memulihkan UmatNya yang rusak dan jatuh dalam dosa. Nurma, Menjadi ”Agen Penebus” Bagi Suaminya Salah satu kisah yang menjelaskan pengorbanan cinta adalah kisah cinta Tiurma dan Theo. Tiurma setia mendampingi suaminya yang belasan tahun hidup sebagai pemabuk dan penjudi yang berat. Seluruh harta terkuras, harga diri Tiurma terhempas. Dia pernah melarikan diri dan terpaksa tidur di kuburan anaknya demi menghindarkan pukulan sadis suaminya. Kesetiaan Tiurma menghasilkan pemulihan keluarganya. Empat anaknya yang juga sempat menjadi pemabuk, bertobat dan dipulihkan. Tiurma berkenalan dengan Theo tatkala dia sedang bertugas sebagai perawat di sebuah rumahsakit. Cinta mereka berkembang bak sinetron. Ketika itu si cantik Tiurma juga “ditaksir” pria lain. Sampai-sampai Theo dan sang pesaing sempat “duel” memperebutkan cinta Tiurma. Alhasil, Theo-lah pemenangnya, walaupun dia harus mengorbankan telinganya yang robek dalam duel. Sejak hari itu Theo selalu memperingati hari “ulangtahun kuping”. Peristiwa ini juga diceriterakan kepada ketujuh anak-anak mereka, yang lahir dari perkawinan Tiurma dan Theo kemudian. Sayangnya, romantisme ini tidak berlangsung lama. Theo punya kebiasaan judi dan minum. Seperti umumnya mereka yang punya kebiasaan demikian, kekerasan menjadi sesuatu yang akrab. Kalau dia sudah marah, semua yang dalam rumah kena imbasnya. Ditempeleng, dicambuk dengan ikat pinggang, atau dilempari kursi. Tiurma pun diperlakukan sewenang-


wenang oleh suaminya. Hal-hal kecil saja seringkali memicu amarah pria yang bekerja sebagai polisi ini. Kalah judi, marah. Tiap hari Theo pulang dari kantor, makan siang, lantas pergi ke rumah teman-temannya. Kadangkadang, teman-teman mereka bertandang ke rumah. Itu berarti judi dan mabuk. Dalam situasi ini, Tiurma harus selalu waspada, jangan sampai membuat suaminya marah. Selain mendampingi suaminya sebagai istri polisi dan aktif di persatuan ibu-ibu Bhayangkara, Tiurma membuka toko kelontong di sebelah rumah mereka. Bakat Tiurma sebagai pedagang mulai nampak. Kehidupan ekonomi keluarga mereka membaik. Mereka membeli televisi, yang membuat rumah mereka selalu ramai dengan anak-anak tetangga yang ikut menonton. Kaum kerabat pun kerap menumpang di rumah dan beberapa bahkan disekolahkan. Mereka dikenal sebagai keluarga yang pandai bergaul dan murah hati. Pasangan Tiurma dan Theo dikaruniai delapan anak, laki-laki semua. Waktu anak pertama lahir, laki-laki, tidak terkatakan sukacita mereka. Sudah ada penerus marga. Dalam waktu yang tidak lama lahir berturut-turut lima anak laki-laki. Theo mulai berpikir, “Tidak ada boru (anak perempuan)-ku?” Theo sendiri adalah anak bungsu dari tiga bersaudara laki-laki semua. “Anak ini harus perempuan,” kata Theo kepada istrinya ketika Tiurma hamil untuk keenam kalinya. “Kalau tidak, kuceraikan kamu!” Aduh, Tuhan! teriak Tiurma dalam hati. Bagaimana ini? Apa aku yang menentukan kelamin anak ini? Bagaimana kalau suamiku benar-benar menceraikan aku? Apa kata keluarga? Betapa malunya! Tidak ada yang bercerai dalam keluarga kami. Ke mana aku harus berlindung? Sepanjang masa kehamilannya yang sembilan bulan sepuluh hari, Tiurma hidup dalam ketakutan akan diceraikan oleh Theo. Belum lagi tekanan-tekanan dan kekerasan yang dilakukan suaminya kalau kalah judi atau pulang dalam keadaan mabuk.


Akhir Juli 1963 Tiurma melahirkan anak laki-laki lagi. Stress berat yang dialaminya selama ini membuat Tiurma mengalami pendarahan hebat dan hampir meninggal. Atas saran dokter, semua keluarga sudah berkumpul, siap “melepas” Tiurma mengakhiri penderitaannya. Tapi Tuhan belum memanggilnya. Beberapa hari kemudian, Tiurma sembuh dan boleh membawa bayinya pulang. Melihat keadaan istrinya demikian, Theo tidak tega menceraikan Tiurma. Theo masih tetap menantikan hadirnya seorang anak perempuan. Dua tahun kemudian Tiurma hamil anak ketujuh. Tetapi yang datang laki-laki. Tidak sampai setahun, Tuhan memanggil si Bungsu ini. Tiurma sangat sedih. Entah mengapa, perasaannya kepada putra bungsunya sangat mendalam, sehingga dia merasa kehilangan sekali. Teddy (nama samaran) dimakamkan tidak jauh dari rumah mereka, di pemakaman umum. Suatu kali dalam keadaan mabuk, Theo marah besar. Entah apa masalahnya, Tiurma tidak ingat. Tapi demikian marahnya suaminya sampai dia tidak puas hanya menendang dan menempeleng istrinya sampai ke luar rumah. Waktu Theo masuk untuk mengambil gagang sapu, Tiurma melarikan diri dari rumah. Malam itu Tiurma tidur di atas nisan (kuburan) Teddy. “Nak, mengapa kau tidak mengajak Mama?” tangisnya terisak-isak, sambil membelai batu itu. “Mengapa aku tidak mati saja, Tuhan?” Dia tidak peduli kegelapan malam. Paginya, anak-anaknya menemukan ibu mereka, pulang dengan wajah babak belur. “Mama dari mana?” tanya si anak nomor enam. “Dari kuburan adikmu.” Waktu terus berjalan. Anak-anak mereka tumbuh dewasa. Sifat buruk Theo “menurun” kepada anak-anak mereka. Judi dan mabuk dengan mudah mereka pelajari dari ayahnya. Rumah mereka seperti hotel. Anak-anak tidak pernah di rumah, kecuali untuk mandi, makan dan


tidur. Dalam situasi seperti ini, lahirlah anak ke delapan tahun 1968. Tidak lama setelah itu, karier Theo di kepolisian mengalami masalah. Rupanya selama lima tahun terakhir Theo menggunakan gaji polisi yang dipercayakan kepadanya untuk main judi. Negara dirugikan tujuh puluh juta rupiah pada tahun 1975. Kepadanya diberi pilihan: mengembalikan uang negara atau dibui selama dua tahun dan dipecat dari kepolisian. Theo memilih yang pertama. Dalam tempo singkat mereka jatuh miskin. Linglung, seperti tidak berpijak di tanah, Tiurma membawa ke pegadaian, emas dan berlian yang dikumpulkannya selama puluhan tahun, dalam sebuah kaleng biskuit. Beratnya hampir 20 kilogram. Ini dilakukannya untuk menebus suaminya dari bui. Semua tanah dijual. Toko kelontong bangkrut. Keluarga yang tadinya sering dibantu, memalingkan diri. Mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Gaji pun masih dipotong untuk membayar sisa hutang. Tetapi kehidupan mesti jalan terus. Anak-anak baru satu yang bekerja. Maka, Tiurma kembali menjadi penyelamat. Dia membuka usaha jualan warung nasi soto di pasar bagi penjual sayur dan kuli pasar. Tiurma menanggalkan semua kebanggaannya sebagai istri perwira polisi. Dia turun ke pasar, bergaul dengan tukang becak dan kuli. Bertahun-tahun, dia berjuang. Saat orang-orang mulai lelap di peraduan, Tiurma bangun, dan mulai memasak, subuh sudah jualan. Lepas tengah hari Tiurma pulang sambil membawa belanjaan untuk didagangkan besoknya. Tidak sempat istirahat, Tiurma masih harus mengurus suami dan ketujuh anaknya; membersihkan rumah, mencuci, dan semua pekerjaan rumahtangga lainnya. Selain itu, Tiurma juga melayani kekejaman suaminya yang menghebat sejak Theo mengalami masalah di kantor. Selain masalah di kantor suaminya, Tiurma juga harus menghadapi masalah anak-anaknya. Mereka tidak serius belajar sehingga mendapat pendidikan seadanya.


Kebiasaan buruk yang sudah menurun membuat tiga anak-anaknya yang terbesar seringkali pulang dalam keadaan mabuk. Suatu ketika di tahun 1981, Tiurma dirawat di Rumah Sakit, tak lama setelah Tuhan menjamah anak keenamnya. Anak yang masih kelas 2 SMU ini bertobat. Hatinya yang baru disentuh Injil sangat menggebu-gebu untuk melayani keluarganya, terutama Mama yang dikasihinya. Saat Tiurma dalam keadaan putus asa karena penyakit yang tidak kunjung sembuh, putranya berkata, “Ma, berdoalah. Minta kesembuhan dari Tuhan.” “Tuhan tidak ada!” jawab Tiurma ketus. “Kalau Tuhan ada, saya mau Dia mengeluarkan saya dari sini.” “Yakinlah,” tantang putranya. “Dia akan memberi.” Walaupun ragu-ragu, Tiurma berdoa. Dia memohon Tuhan mengasihaninya. Tuhan menjawab. Malam itu dokter menemui Nurma dan berkata, “Besok Ibu boleh pulang.” Sejak saat itu, hidup Tiurma berubah. Anugerah Tuhan belum berhenti. Dia juga menjamah Theo. Melihat perubahan besar dalam diri istri dan putranya, Theo digerakkan mencari Tuhan. Dia mengalami pembaruan dalam sebuah kebangunan rohani di Medan. Theo menjadi sangat rajin membaca Alkitab, melayani dan banyak memberitakan Injil. Buah pertobatannya membuat anak-anaknya ikut berubah dan akhirnya menerima Kristus. Sejak itu kehidupan rumahtangga mereka sungguh berubah. Kesabaran Tiurma membuahkan hasil. Anakanak mereka dan banyak anggota keluarga lain akhirnya mengenal Kristus melalui pertobatan mereka. Sampai suatu saat Tiurma jatuh sakit. Dia mengalami komplikasi maag dan berbagai penyakit lainnya. Kelelahan, telat makan dan banyak pikiran, membuat kesehatan Tiurma anjlok drastis. Akhirnya Tiurma meninggal lebih dulu seminggu sebelum Theo juga dijemput ajal. Tiurma melakukan komitmennya, berjuang mengurus suaminya yang sedang sakit. Suami


yang dulu sering menyiksa hidupnya. Itulah kuasa cinta. Menebus keluarga. Itulah yang dilakukan Tiurma. Keluarga yang sudah mati perlu dihidupkan. Tuhan adalah penebusnya, tetapi Ia membutuhkan agen-agen penebus. Setiap kita dipanggil menjadi agen penebus. Menjadi agen penebus di tengah keluarga, terutama bagi pasangan kita yang menyakiti hati kita membutuhkan pengorbanan. Cinta sejati membutuhkan pengorbanan dan harga yang mahal. Seandainya, di tengah perjalanan Tiurma menjadi putus asa dan bercerai dari Theo, tentu keluarga, tetangga, dan anak-anaknya tidak akan menyaksikan akhir cerita yang demikian dramatis. Banyak orang bersyukur. Pengorbanan Tiurma menjadi teladan bagi putra-putranya dan banyak orang lain. (*)


Tentang Penulis Julianto Simanjuntak menyelesaikan pendidikan doctor teologia di STT Jaffray, Jakarta. Sedangkan Magister Divinitas di bidang konseling diselesaikan di Sekolah Tinggi Teologia Reformed Injili Indonesia (STTRII). Gelar Magister Sains diraihnya Fakultas Teologia Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Saat ini Julianto bekerja sebagai terapis untuk masalahmasalah keluarga dan kesehatan mental. Juga menjadi tenaga pengajar bidang konseling dan rutin memberikan seminar pemberdayaan di bidang konseling dan pendidikan di lebih 80 kota. Julianto Simanjuntak menikah dengan Roswitha Ndraha tahun 1991. Mereka dikaruniai dua putra, Josephus (21) dan Moze (17). Mereka mendirikan Yayasan LK3 dan Yayasan Pelikan, dengan visi: rindu melihat berdirinya pusat konseling di setiap kota di Indonesia serta tersedianya secara merata tenaga psikolog, psikiater dan konselor di seluruh tanah air. Untuk itu Julianto Simanjuntak dan tim melakukan kampanye lewat seminar konseling di kota-kota, serta mengajar Program Strata-2 Konseling di beberapa tempat. Selain itu memberi konseling edukasi dengan menulis buku-buku konseling yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Penerbit Visi dan Andi Offset. Roswitha Ndraha adalah alumna Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Jurusan Jurnalistik. Dia melanjutkan studi Strata Dua di STT Jaffray Jakarta dan meraih gelar Magister Pendidikan Kristen (M.Pd.K.). Saat ini Roswitha adalah dosen tetap PAK di STT Jaffray, Jakarta. Judul buku Julianto dan Roswitha: 1. Seni Merayakan Hidup yang Sulit (Pelikan) 2. Mencinta Hingga Terluka (Gramedia) 3. Kesehatan Mental dan Masa Depan Anak (Gramedia)


4. Perlengkapan Seorang Konselor (Pelikan) 5. Transformasi Perilaku Seksual (Pelikan) 6. Mendisiplin Anak Dengan Cerita 7. Tidak Ada Anak yang Sulit 8. Mengambil Hati Remaja (Pelikan) 9. Mengubah Pasangan Tanpa Perkataan (Visi) 10. Membangun Harga Diri Anak (Pelikan) 11. Mendidik Anak Utuh Menuai Keturunan Tangguh (editor) 12. Banyak Cocok Sedikit Cekcok (Visi) 13. Ketrampilan Perkawinan (Pelikan) 14. Mengenali Monster Pribadi: Seni pemulihan diri dari trauma, emosi negatif dan kebiasaan buruk (Pelikan) 15. Konseling dan Amanat Agung: dari konseling intervensi ke edukasi 16. Alat Peraga Di Tangan Tuhan: Mengapa hal buruk menimpa keluarga baik-baik? (Pelikan) 17. Perlengkapan Seorang Konselor (Pelikan) 18. Hidup Berguna Mati Bahagia (Pelikan) 19. Ayah yang Hilang: Membawa kembali hati ayah kepada keluarganya (Pelikan) 20.Istriku, Matahariku (Pelikan) 21. Membangun Karakter Seksual Anak (Pelikan) Apresiasi terhadap buku Julianto dan Roswitha datang dari Jakob Oetama (Preskom Kompas Gramedia), Agung Adiprasetyo (CEO Kompas Gramedia), Prof. Yohanes Surya (Fisikawan), Prof. Irwanto, Ph.D. (Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atmajaya), James Riady (CEO Lippo Group), Andrias Harefa, Jonathan Parapak, Ph.D., Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, Prof. Taliziduhu Ndraha, Prof. Mesach Krisetya, Ph.D., Pdt. Paul Gunadi, Ph.D., dan lain-lain.


Julianto mendapatkan piagam penghagaan dari Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) di Denpasar pada tahun 2006 atas kiprah pelayanan di antara keluarga pecandu narkoba. Sejak 2004 Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha rutin memberikan pelatihan konseling keluarga dan kesehatan mental di pelbagai kota dan negara. KONTAK Website : www.juliantosimanjuntak.com Twitter: @PeduliKeluarga dan @DrJSimanjuntak Appstore: http://juliantobooks.mahoni.com www.TokoBukuRohani.Mahoni.com Jika Saudara rindu berpartisipasi untuk mendukung pelayanan konseling kami, silakan mengirimkan donasi sukarela ke rekening: BCA Indocement A/C 4593046543 An. Yayasan Layanan Konseling Keluarga dan Karier


TESTIMONI BUKU-BUKU JULIANTO DAN ROSWITHA Jakob Oetama (Preskom Kompas-Gramedia) “Sungguh suatu paradoks yang menggetarkan: Tuhan hadir justru ketika pencobaan hidup menimpa kita. Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit berisi kisah nyata tentang akrabnya penderitaan dan kehadiran Tuhan.” Agung Adiprasetyo (CEO Kelompok KompasGramedia) “Buku Mencinta Hingga Terluka mengajarkan kekuatan cinta dalam pengampunan yang memulihkan dan menghidupkan.” Prof. Yohanes Surya, Ph.D. “Tanpa masalah dunia ini terasa hambar dan tidak akan muncul penemuan dan orang-orang besar. Sdr Julianto & Roswitha dalam bukunya Seni Merayakan Hidup Yang Sulit, telah begitu jeli melihat masalah dari sisi positifnya dan menyadarkan kita bahwa Tuhan selalu bersama kita saat menghadapi masalah.” Paul Gunadi PhD, (Gembala Sidang, Dosen dan Konselor, tinggal di California) “Secara pribadi saya menikmati buku Banyak Cocok Sedikit Cekcok. Tuhan telah melengkapi Julianto dan Roswitha bukan saja dengan pengetahuan yang dalam tentang dinamika pernikahan dan persiapannya, tetapi juga pengalaman yang kaya dalam menangani masalah keluarga. Buku ini sangat baik digunakan sebagai panduan pranikah, dan bahkan bagi yang sudah menikah. Kisah-kisah pribadi ini menyentuh sekaligus menambah pemahaman kita akan dinamika pernikahan.”


Prof. Irwanto, Ph.D. (Guru Besar Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta) “Buku Mencinta Hingga Terluka tidak sekedar berteori tetapi bertutur tentang hidup, contoh nyata, dan keimanan yang berakar pada rasa yang dapat kita maknai bersama.” Prof. Dr. FG. Winarno “Buku Seni Pemulihan Diri karya Julianto meski sederhana tetapi sangat menyentuh hati saya.” Jonathan Parapak (Rektor UPH) “Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit memberikan kita inspirasi untuk selalu berpengharapan dalam mengarungi berbagai tan-tangan kehidupan.” James Riady (CEO Lippo Group) “Tuhan punya tujuan untuk setiap kesulitan kita. Dia yang Maha Kasih tidak mungkin mengizinkan kesulitan tanpa maksud baik. Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit memberikan kita wawasan bagaimana kita menjalani penderitaan dari perspektif Tuhan.” Anne Parapak, M.A. (Praktisi Pelayanan Keluarga) “Membina anak adalah misi yang berdampak kekal. Alangkah pentingnya kita mempunyai visi yang jelas dan membekali diri mengemban tugas yang mulia ini. Buku Tidak Ada Anak Yang Sulit mengajarkan kita banyak hal tentang mendidik anak.” Dr. Dwidjo Saputro, Sp.KJ. (Psikiater) “Buku Bebas dari Gangguan Jiwa karya Julianto sangat bermanfaat bagi para konselor di Indonesia dalam melakukan konseling, terutama masalah gangguan jiwa.”


Prof. Dr. Mesach Krisetya (Guru Besar Emeritus Bidang Konseling - UKSW) "Karunia membedakan roh, merupakan salah satu karunia rohani yang kita butuhkan untuk mendiagnosa gangguan jiwa. Buku Bebas dari Gangguan Jiwa ini menolong pembaca bagaimana melaksanakannya." Prof. Taliziduhu Ndraha (Kybernolog): ”Buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit sungguh bernilai karena isinya tidak sekedar pengetahuan tetapi pengalaman jatuh-bangun hidup penulis sendiri. Di sini Penulis membagikan nilai-nilai hidup yang bermakna bagi sesama ”pengembara” agar dapat merayakan Hidup Yang Sulit.”. Prof. Irwanto, Ph.D (Guru Besar Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta) ”Dalam buku Seni Pemulihan Diri ini Anda akan berkenalan dengan teman-teman Penulis yang berbagi pengalaman hidup. Pengalaman yang dapat membawa para pembaca ke dalam proses belajar untuk mengenal diri sendiri dan menggunakan pengetahuan itu untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup yang menggelayuti Anda bertahun-tahun.” Andrias Harefa : ”Buku Seni Merayakan Hidup Yang Sulit sarat dengan kesaksian-kesaksian dari orang-orang yang diterpa badai-badai kehidupan. Penulis menantang pembaca untuk mendefinisikan ulang makna kesulitan dan masalah-masalah kehidupan, agar dapat tetap merayakan dan mensyukuri hidup itu sendiri sebagai anugerah dan rahmat besar.”


Click to View FlipBook Version