SD St. Ursula 2021
P E N GAN TAR
Enam tahun belajar di SD Santa Ursula BSD, tentu tak asing lagi dengan
10 nilai . Kesepuluh nilai tersebut adalah :
1. Kedisiplinan
2. Kerjasama
3. Kemandiria
4. Kejujuran
5. Kepekaan
6. Religiusitas
7. Daya Juang
8. Penghargaan
9. Tanggung jawab
10. Cinta Lingkungan
Di dalam buku ini, memuat cerita pendek yang ditulis oleh anak-anak kelas
VI Tahun Pelajaran 2020-2021 beserta para pendamping, yang rela
meluangkan waktu setelah ujian sekolah untuk membuat karya. Dalam
setiap cerita memuat salah satu atau beberapa nilai yang ingin diangkat
(diteladankan). Mohon maaf jika dalam penulisan masih banyak
kekurangan.
Selamat membaca ☺
BSD, Juni 2021
Silvi, Vera, Irina
DAFTAR ISI
1. Berkebun …………………………………………………………………….. K e ona
2. Mencintai Alam Dengan Tindakan Sederhana ……….. Ch ika
3. Tugas yang Tertunda ……………………………………………… Carlo
4. Kisah Kalyani Kaylani ………………………………………………. Edith
5. Duh Kok Jadi Kayak Gini Ya? ………………………………. Jerry
6. Kemenangan Sebenarnya ……………………………………….
7. Mulut Dapat Mengubah Segalanya ………………………. L ovely
8. Peristiwa Sedih Dodi ……………………………………………….. Ivannov
9. Liburan ke Rumah Nenek ………………………………………… Joanne
10. Bisakah Kamu Lebih Peka ……………………………………… Julio
11. Jangan Malas Dong …………………………………………… L i dwina
12. Mukena Baru untuk Mbak Sri ………………………………. D i andra
13. Kanvas Tanpa Warna ……………………………………………… Frey
14. Bertanding Sepak Bola ……………………………………………….
15. Indahnya Berbagi di Tengah Pandemi ……………….. N a ta nia
16. Tetap Semangat, Kawan ………………………………………. D h iaz
17. Sekolah Online yang Menyenangkan ……………………. Silvi
Vera
Irina
Berkebun
Oleh : Alexandra Keona Anindita Putri
“ Selamat pagi, Lena! “ sapa ibunya Pagi hari itu Lena
keluar dari kamarnya. Saat sampai di lantai bawah ia tidak
melihat ada orang, tetapi ia mendengar suara. Lena mengikuti
asal suara tersebut dan melihat ibu dan adiknya sedang berkebun di
halaman belakang rumah mereka
“ Selamat pagi, Kak! “ sapa adiknya dengan senyuman.
“ Pagi “ Jawab Lena dengan singkat. Ia juga melihat bahwa ibunya
dan adiknya sedang berkebun bersama. “ Baiklah kau begitu aku masuk
ke dalam rumah ya “ kata Lena
Di dalam rumah Lena hanya duduk di sofa sambil menonton TV,
sementara ibu dan adiknya berada di halaman belakang rumahnya
untuk berkebun. Tak terasa Lena sudah duduk di sofa selama kurang
lebih 30 menit. Lena pun merasa mengantuk. Selanjutnya, Lena
memutuskan untuk mematikan TV dan tidur di sofa itu.
Tak berselang lama kemudian Lena terbangun. Ia mendengar suara
dari halaman belakang. Lenacepat-cepat beranjak pergi ke arah sumber
suara itu. Ketika sampai di halaman belakang rumahnya ia melihat
tangan adiknya penuh tanah dan terlihat berantakan. Tak perlu berpikir
panjang, Lena sebgera membantu ibu dan adiknya.
“ Sini aku saja yang bawakan, Bu “ kata Lena kepada ibunya yang
sedang membawa pot berisi bunga. Ia pun berkebun bersama ibu dan
adiknya hingga siang hari. Hari itu merupakan hari yang menyenangkan
bagi Lena karena ia bisa merasakan kebersamaan dalam keluarga
melalui kegiatan berkebun.
***
☺Terkadang ada orang yang kesulitan dan membutuhkan bantuan tetapi orang itu tidak
meminta bantuan jadi kita sendirilah yang harus peka pada orang itu.
Mencintai Alam Dengan Tindakan Sederhana
Oleh: Anastasia Sachika Umboh
Halo, kalian bisa memanggilku Kira. Siswi SD 6 berambut pendek
yang pintar menghafal. Temanku tidak banyak, dan terkadang mereka
datang pergi. Tetapi teman yang selalu setia dan sangat dekat denganku
namanya Sisca.
Hari ini Sisca menjemputku pukul 06.00 untuk pergi ke sekolah. “Yuk
kita pergi!” kata Sisca dari kejauhan namun tetap terdengar. “Masih pagi
sekali dan sepertinya dia sudah sangat semangat.” aku bergumam. Aku
menghampiri sosok perempuan berambut panjang hitam dengan tinggi
yang tidak melebihi leherku dan kami berangkat bersama.
“Hari ini ada ulangan IPS lho, kamu sudah belajar? Kemarin saat
diumumkan bahwa akan ada ulangan, kamu terlihat setengah tertidur
haa..haa” Sisca berkata dengan semangat. “Eits..hari ini ada ulangan?”
aku bertanya setengah tidak percaya. “Itu yang baru saja kuberitahu.
Kenapa ditanya ulang sih?” Sisca menjawab pertanyaanku lalu mencibir
karena fakta bahwa aku bertanya hal yang sudah ia katakan. Yah, ia
tidak sepenuhnya salah. “Kau kenapa tidak memberitahu saat kita
pulang?” aku bertanya berusaha untuk tidak kesal sedikitpun, karena
nyatanya aku yang salah. “Kamu kan pintar IPS, kukira tidak apa-apa
jika aku tidak memberitahu kamu. Pasti kamu bisa kok, he..he!” Aku
yang tadinya berusaha tidak kesal pada akhirnya menjadi kesal juga.
Kami memasuki kelas yang saat itu masih sepi, lalu menaruh tas
bersebelahan. Sejujurnya aku masih merasa gugup akan ulangan nanti
tapi aku percaya diri saja dan mempelajari sebisa mungkin sebelum bel
berbunyi.
"Hmm aku bosan" aku mendengar Sisca berkata. "Sayangnya kamu
tega sekali melupakan untuk memberitahuku ada ulangan sehingga aku
harus belajar sekarang. Dengan kata lain, hari ini aku tidak bisa bermain
bersamamu,ya" aku berkata panjang lebar tanpa melepas pandanganku
dari buku IPS sedikitpun. "Kamu kan yang salah tidak mendengarkan"
Sisca mengatakan sembari mencibir. "Kamu tidak salah. Maaf" aku
mengatakan merasa sedikit bersalah. Sekolah berlalu dan terasa sangat
lama. Untungnya semua pertanyaan saat ulangan itu adalah semua yang
sudah dipelajari dan aku tidak merasa kesusahan sedikitpun. “Puji
Tuhan” gumanku dalam hati.
Aku dan Sisca keluar sekolah hendak pulang. “Uhuk-uhuk” aku
mendengar Sisca batuk. "Kamu tidak apa-apa?" tanyaku agak khawatir.
Mengingat bahwa Sisca juga memiliki penyakit asma aku dengan cepat
membantu mengambil Inhaler, alat membantu pernapasan portabel, dan
dengan cekatan memberikannya kepada Sisca. Beberapa detik ia
menghirupnya lalu keadaan menjadi baik-baik lagi. “Haah..” aku
menghembuskan nafas setelah kepanikan itu. “Sudah, yuk nergegas kita
pulang. Kau butuh isttirahat” aku berkata kepada Sisca. “Oke, terima
kasih ya!” aku mendengar Sisca menjawabku.
Aku mengantar Sisca pulang duluan. "Sampai bertemu besok Kira!"
Sisca berkata. Aku melambaikan tangan, "sampai jumpa" lalu aku
beranjak pulang. Aku sampai rumah dengan selamat dan tidak terasa
sudah malam. Aku pun mencuci muka dan berganti pakaian lalu pergi
menuju kamarku dan terlelap dalam tidur yang sunyi.
Sekarang sudah pukul setengah tujuh pagi di hari Senin. Biasanya
Sisca menjemputku untuk ke sekolah pukul enam, tetapi melihat
kenyataan, ia belum datang. Maka aku akan bertukar peran dengannya
dan menjemputnya. Setelah 3 menit berjalan aku sampai di depan rumah
Sisca.
Rumah Sisca sangat besar dan megah. Orangtua Sisca memang
pekerja keras. 'Tok tok' aku mengetuk pintu besar di depan rumah Sisca.
"Sebentar ya!" aku mendengar suara dari dalam rumah, sepertinya itu
suara Ibunya Sisca. 'Kreek' pintu besar itu terbuka memperlihatkan Ibu
Sisca yang di belakang pintu.
"Oh iya, kamu Kira ya? Maaf sepertinya Sisca tidak bisa bersekolah
hari ini. Asma Sisca kambuh lagi pagi ini saat mau keluar menjemputmu.
Kemarin juga tante dan om ajak Sisca pergi ke taman dan asmanya
kambuh lagi hingga 3 kali berturut-turtut. Maka tante sarankan
kepadanya untuk beristirahat hari ini." Ibu Sisca menjawab seperti
membaca pikiranku yang penuh tanda tanya.
"Baik Tante, salam sehat buat Sisca dan keluarga tante." aku
menjawab dengan senyum dan melambaikan tangan. Ibunya Sisca pun
membalas senyumku dengan senyum manisnya. Huh,.. sepertinya hari
ini akan sangat sepi tanpa Sisca. Aku beruntung karena rumah Sisca
dekat dengan sekolah, paling tidak sampai di sekolah hanya lima menit
lagi.
Dalam perjalanan 5 menit itu aku mulai memikirkan mengenai asma
Sisca itu. Biasanya Asma kambuh saat mencium bau polusi atau rokok
berlebihan. Sambil berjalan, aku menengok ke kiri. Di situ ada bapak
dengan pakaian kerja, aku tebak bapak itu sedang menuju tempat
kerjanya. Bapak itu berjalan dan membuka sesuatu, lalu merokok.
Aku tidak tahu mengapa waktunya bisa setepat ini karena aku juga
sedang memikirkan asma Sisca, tapi itu membuatku kesal. Aku hendak
menghampiri bapak itu tetapi Ia memanggil menaiki taxi yang ada di
dekatnya. "Menjengkelkan" bisikku.
Aku sampai di sekolah dengan selamat. Selamat secara fisik dan juga
selamat karena tidak telat. Di kelas tampak sepi, namun sudah banyak
tas yang ditaruh di setiap kursi. Terlihat teman-teman bermain di luar
kelas. Aku menaruh tasku di sebelah tempat duduk kosong.
Saat pelajaran berlangsung,..
“Maka jika bilangan ini dijumlah…” terdengar suara guru
menjelaskan sayup-sayup. Aku bersandar pada tangan tidak berusaha
mengerti materi matematika sedikitpun. “Haah.. kalau Sisca di sini pasti
lebih seru.” aku berkata dengan suara kecil agar tidak terdengar.
Pikiranku melayang. “Sialan hai kalian perokok dan polusi. Tapi yah
bagaimanapun juga mereka tidak mungkin berhenti saat diberitahu
untuk berhenti. Maka dari itu mengapa juga aku berusaha? Aku akan
menunggu saja hingga Sisca kembali sembuh dan kita bisa bermain
bersama kembali.” kataku dalam hati.
“Baik itu saja pelajaran hari ini. Kalian sudah boleh pulang” ibu guru
memberi tahu. Aku mengambil tas dan beranjak pulang. Di perjalanan
aku melihat toko buah. Hmm.. Aku beli buah saja untuk Sisca, agar dia
semakin sehat dan kuat. Aku masuk ke toko buah lalu mengambil 2 buah
apel dan pir.
“Itu saja, Kak?” tanya kasir memastikan. “Iya mba.”jawabku singkat.
“Baik, totalnya menjadi Rp. 20.000,00 ya. Kak!” Si Mba kasira menyatakan
harganya dengan antusias, sepertinya Mba kasir ini menyukai
pekerjaanya. Syukurlah untuk dia.
Aku membuka dompet kecil bermotif bunga dan mengeluarkan uang
cash Rp.20.000,00. “Baik, terima kasih, Kak” Mba kasir itu mengambil
uangku dan memberikan buah belanjaanku. “Terima kasih juga” aku
membalas terima kasihnya. Aku harap mba itu diberi kesenangan
sebagai balasan keramahannya.
‘Tok-tok’ aku mengetuk pintu besar di rumah Sisca. “Sebentar!” aku
mendengar teriakan dari dalam rumah. Sepertinya yang akan membuka
pintu ibunya Sisca lagi.
‘Kreek’ pintu besar bergeser dan Ibu Sisca keluar. Oh Kira yaa? Ada
apa datang kemari sehabis sekolah? Apakah mau memberikan Sisca
sesuatu agar cepat sembuh? Hahaha padahal tidak perlu lho!” ibu Sisca
bertanya, lagi-lagi seperti membaca pikiranku yang galau.
“Iya tante. Ini Kira bawakan apel dan pir, semoga dapat dinikmati
satu keluarga ya.” kataku sambil memberikan sekantung plastic berisi 2
buah apel dan 2 buah pir. “Wah kau sopan dan baik sekali ya, Nak! Masuk
saja dulu nanti tante bisa buatkan makan siang jika mau” ibu Sisca
menawarkan dengan senyum lembut. Walau terkadang menyeramkan,
Ibu Sisca ini benar-benar seorang ibu yang baik dan lembut.
“Tidak perlu tante, terima kasih, aku harus pulang” aku berkata
berharap ibu Sisca tidak kecewa karena aku tidak dapat bergabung
makan siang dengannya. “Oh begitu, sangat disayangkan. Ya sudah hati-
hati di jalan Kira!” kata ibu Sisca bersemangat. “Terima kasih, Tante”
aku membalas perkataan ibu Sisca lalu beranjak pulang.
Keesokan harinya aku bangun lalu mandi dan beranjak ke ruang
makan untuk sarapan. “Kira kamu tidak bersekolah hari ini?” aku
mendengar Mama bertanya. “Tidak Ma, hari ini ada pelatihan untuk
guru sekolah Kira, maka sekolah diliburkan” aku menjelaskan kepada
Mama.
‘Duk.. duk …duk’ aku mendengar suara barang-barang terjatuh.Suara
itu berasal dari kamar atas. Hmm yang di kamar atas hanya ada Papa,
maka papalah yang pasti menyebabkan kericuhan tersebut. “Haah..” aku
mendengar Mama menghembuskan nafasnya. “Papamu itu pasti baru
sadar dia telat ke kantor. Padahal sudah Mama bangunkan. Awas saja
kalau Papa menyalahkan Mama karena tidak membangunkan.” Mama
menggerutu yang menyebabkan aku tertawa.
Aku melihat Papa setengah berlari turun tangga. “Ini dia si tukang
tidur” Mama berkata. “Kemarin pula Papa sudah telat kerja, bagaimana
kalau telat berturut-turut? Haduh manager Papa pasi marah nih… haha”
Papa berkata pelan. Papa menunjukkan ekspresi sedikit panik.
“Papa panik karena takut dimarahi manager atau takut diceramahi
Mama?” aku menggoda Papa. “Mamamu tuh yang paling menakutkan”
jawab Papa. Perkataan Papa membuatku tertawa lebih kencang hingga
susah bernafas. “Sudahlah. Nih makananmu mama sudah siapkan. Sana
pergi nanti semakin telat lho” Mama memperingatkan sembari
memberikan kotak bekal dengan nasi goreng terenak di dunia. Masakan
Mama selalu terenak untukku dan aku rasa papapun berpikir seperti itu.
“Ya sudah, Papa berangkat. Hati-hati kalian berdua, jangan merusak
rumah ya” kata Papa. Aku dan Mama pun menyantap sarapan bersama
sembari mengobrol mengenai banyak hal, seperti kerja papa, sekolah,
guru, teman, hingga pada topik insiden Sisca kemarin. Aku bercerita
kepada Mama bahwa kemarin Sisca bepergian ke taman bersama
keluarganya dan asma Sisca kambuh lagi hingga 3 kali berturut-turut
hingga kemarin tidak pergi ke sekolah.
“Kasihan sekali Sisca.. Mama akan menelepon, ingin tahu keadaanya
sekarang.” Mama mengatakan dengan raut wajah khawatir. "Eh
sepertinya tidak perlu, Ma.. Biarkan Sisca dan keluarganya
beristirahat.”jawabku. "Tidak apa-apa, hanya bertanya saja kok." Mama
menjawab dengan santai.
"Haloo?" Aku mendengar Mama memulai percakapan di telepon. Aku
berdiri dan melanjutkan pekerjaanku mencuci piring. 'Prang' suara
piring bersih saat kutumpuk kembali dan menaruhnya bersama dengan
tumpukan piring yang lain di rak.
"Mama tidak bercanda?! Rumah sakit?!” aku mendengar sayup-sayup
suara Mama. "Rumah sakit?" gumamku. Mama sedang menelepon Ibunya
Sisca kalau tidak salah. Jangan-jangan..
'Brak! Brakk!' Aku mencoba tidak mendengar suara barang-barang ku
jatuh. Aku panik dan menyenggol banyak barang. Kuakui, saat panik
terkadang tindakanku ceroboh. Tapi walau aku sadar pun aku tidak bisa
menghindari sifat ceroboh itu. Aku bergegas berganti baju lalu berlari
turun tangga menuju Mama yang sedang menyalakan mobil. Kami
bergegas ke rumah sakit terdekat, dimana Sisca berada.
"Jadi.. apa yang terjadi kepada Sisca, Ma?" aku bertanya, mencoba
untuk terlihat dan terdengar tenang walau pastinya aku sangat tidak
tenang. Panik akan kehilangan sahabat adalah rasa yang sangat tidak
aku suka. Karena aku tahu pasti aku tidak akan dapat hidup tanpanya,
paling tidak saat masa SD ini.
"Dikarenakan polusi dan hal-hal lain, asma Sisca kambuh kembali Ra.
Tapi sepertinya kali sedikit lebih parah dari sebelumnya. Maka dari itu
Sisca dibawa ke rumah sakit" Mama menjelaskan.
Sesampainya di rumah sakit, kami mencari kamar Sisca. "Maaf Suster,
kamar 104 ada di mana ya?" Aku dengar Mama bertanya kepada salah
satu susternya di counter depan. Suster tersebut memanggil salah satu
suster lain lalu kita diantarkan ke kamar Sisca.
Mama menggeser pintu kamarnya lalu masuk mendahuluiku. Di
ranjang rumah sakit itu Sisca sedang menghabiskan pisang yang
diberikan dokter. "Oh kau datang!! Kemarin kita tidak bertemu sama
sekali hehe, aku beruntung bisa bertemu denganmu lagi hari ini" Sisca
memberi salam dengan semangat dan tersenyum. "Kau.. tidak pernah
berubah ya? Sudah di rumah sakit , namun tetap semangat" aku
mengomentari salamnya itu.
Aku mengamati ruangan itu. Ada selang yang disambungkan pada
lengan Sisca. Setelah itu ada pula sofa di dekat jendela dan piring-piring
yang sepertinya bekas dari sarapan Sisca tadi pagi. Di sebelah ranjang
Sisca, orang tua kami juga sedang berbincang. "Kau sudah di rumah
sakit sejak kapan? Kemarin?" aku bertanya kepada Sisca. "Yap! Kemarin
malam" Sisca menjawab. Kami pun berbincang hingga tak terasa, jam
kunjugan habis.
"Sampai jumpa, cepat sembuh ya" ucapku sambil melambaikan
tangan. "Sampai jumpa juga! Terima kasih sudah menjenguk aku ya"
Sisca berkata. Aku dan mama pun kembali ke dalam mobil lalu melaju
pulang ke rumah.
Di mobil aku mulai memikirkan hal yang sama di saat Sisca tidak
bersekolah. "Ma." aku memanggil Mama. Sepertinya aku akan
mendiskusikannya kepada mama saja. "Iya sayang?" jawab Mama lirih.
"Aku ingin membantu Sisca, seperti menghentikan orang-orang merokok
atau membuat polusi. Tapi bagaimana caranya?" aku bertanya kepada
Mama.
"Hmm.. kau bisa mulai sedikit tidak apa-apa. Walau hanya satu orang
yang kau hentikan merokok, itu bisa memengaruhi sekitarnya juga,
sehingga mulai dari satu orang saja bisa membuat lebih banyak orang
berhenti merokok. Kamu juga mungkin bisa menanam hijau-hijau agar
udara dapat menjadi lebih segar. Dengan kau memungut sampah dari
pepohonan atau rumput pun dapat membantu pohon dan daun tersebut
tumbuh dengan subur dan menghasilkan pula udara segar." Mama
menjawab dengan lengkap dan dalam sekejap menjawab semua
pertanyaanku.
"Terima kasih, Ma." kataku pelan. "Tidak usah khawatir, Nak." bisik
Mama. "Apakah kita boleh mengunjungi toko kebun sebentar?" aku
bertanya kepadaMama. "Boleh, tentu saja!" jawab Mama pelan.
Keesokan harinya, aku mulai melakukan yang mama sarankan. Aku
menanam pohon dan tanaman di kebunku yang kosong dan subur. Saat
menanam, ada beberapa anak tetangga yang menghampiriku dan
bertanya apa yang kulakukan. "A-aku sedang ehm.. menanam.." aku
menjawab seperlunya saja.
Aku sebetulnya tidak begitu berbakat berbincang kepada orang yang
baru kukenal ataupun kepada yang aku tidak dekat. Sepertinya hal itu
yang membuat aku tidak memiliki banyak teman. "Ohh sepertinya seru!
Mau ajari kami tidak?" Salah satunya berseru. "Iya, Sepertinya seru!"
anak-anak lain pun ikut meminta diajarkan olehku. "Boleh kok. Sini aku
ajarkan." aku menjawab dan mereka berseru senang. Jarang sekali orang
yang kutemui tidak menghindariku. Aku senang.
Aku terkadang memberanikan diri untuk berteman kepada beberapa
anak di sekolah. Walau itu lebih sulit dari yang kubayangkan, karena
tidak sedikit dari mereka sudah memiliki kelompok pertemanan, tetapi
beberapa teman pun tertarik akan aku yang mau membuat lingkungan
sekitar menjadi lebih bersih dan segar dan aku memperoleh beberapa
teman.
Beberapa saat kemudian Sisca pun sudah boleh kembali bersekolah.
"Wah kamu sudah berubah banyak sekali saat aku di rumah sakit. Hebat
aku bangga!" Sisca berseru senang lalu memelukku. Waktu terus berjalan
dan aku semakin mencintai dan ingin menjaga alam. Teman-teman yang
kudapatkan di sekolah pun setia dan tentunya Sisca adalah salah satu
dari teman-teman itu.
Kita pun terkadang memungut sampah, mendaur ulang, dan pastinya
mengurangi pemakaian plastik. Ternyata seru juga serta itu hanya
tindaka sederhana, tetapi pasti itu merubah bumi dan alam menjadi
lebih bersih. Asma Sisca pun mulai berkurang drastis kambuhnya dan
sudah dinyatakan sembuh dari asma.
Walau tindakan sederhana mau itu negatif ataupun positif, itu pasti
akan mempengaruhi lingkungan sekitar. Kalau kita tidak melindungi
dan mencintai alam, aku yakin itu juga akan memakan nyawa seseorang
bahkan bisa jadi lebih dari hanya satu orang. Maka mari kita cintai alam
dan lingkungan kita !
***
☺ Mencintai dan menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama.
Tugas Tertunda
Oleh : Carlo Marville Harefa
Sebentar lagi sekolah akan selesai. Boni tidak sabar karena besok
libur akhir pekan. Namun, sebelum pulang sekolah, Bu Yanti memberi
sebuah pengumuman.
“Anak-anak, jangan lupa untuk membuat mading mengenai Hari Ibu.
Ditunggu hari Selasa minggu depan.” perintah Bu Yanti. “Iya bu.” jawab
anak-anak.
Mendengar hal tersebut, senyum Boni cenderung menghilang. Ia
merasa sedih karena diberi tugas oleh gurunya. Pada akhir pekan, ia
ingin bermain bersama temannya di lapangan, berlari dan tertawa
bersama. Teman Boni bertanya kepada Boni.
“Bon, kok mukamu cemberut sih? Kan sebentar lagi akhir pekan.”
tanya Dika.
“Gara-gara ada PR, Di. Padahal tadinya Boni mau main bareng kalian.”
jawab Boni dengan berat hati. “Hmm… mending kamu kerjakan dulu lah
PR-mu sepulang sekolah. Besoknya kita bisa deh main bareng! Gimana?”
lanjut Dika. “Nanti aku pikirkan deh ,Di.” jawab Boni.
Boni pun berjalan pulang ke rumah. Mukanya tetap saja cemberut.
Sesampainya di rumah, Ibu Boni menyapa Boni dengan ramah.“Halo
sayang,..bagaimana pelajaran kamu di sekolah hari ini?” tanya Ibu.
“Tidak seru Bu! Boni dapat PR. Padahal akhir pekan mau main bareng
teman.” jawab Boni kesal. “Oh jadi kamu mendapat tugas dari guru?
Sesudah ganti baju dan makan siang Boni kerjakan ya. Agar cepat
selesai.” lanjut Ibu.
Boni pun segera berganti baju dan makan siang. Setelah itu ia
bergegas ke kamarnya untuk mengerjakan tugas. Ia sedang berpikir ciri-
ciri mading yang akan dibuatnya. Setelah sekian lama berpikir, ia masih
belum mendapatkan ide. Ia mulai merasa resah, karena tugasnya sangat
sulit. “Aduh… bagaimana nih? Kok masih belum ada ide? Kan temanya
tentang Ibu, jadi aku harus menambahkan… Umm… Ahh! Aku bingung!”
gumam Boni.
Setelah lama bergumam sendiri, ia akhirnya menyerah. Ia ingin
bersantai. Setelah itu, muncullah sebuah ide! Ia segera menelepon
teman-temannya, dimulai dengan Dika.
“Hai Dika! Mau main tidak? Main Minecraft bersama. Aku sudah
siapin servernya lho… Mau tidak?” tanya Boni. “Maaf ya Bon, aku belum
bisa. Kata Ibuku aku tidak boleh main sampai madingku selesai. Maaf ya
Bon… mungkin nanti malam aku bisa.” jawab Dika. “Ya sudah deh, nanti
malem yaa.” respon Boni.
Begitulah jawab teman-temannya. Terakhir ia menelepon
Jonathan. Walau menelepon Jonathan, Boni mulai berprasangka bahwa
Jonathan tidak bisa bermain.
“Mau main? Ayuk! Tapi 30 menit saja ya, setelah itu aku mau
mengerjakan tugas mading ya, jangan lama-lama!” jawab Jonathan.
Boni merasa senang. Ia mendapat satu teman untuk bermain
bersama. Namun selama bermain, Jonathan bercerita mengenai mading.
Hal tersebut membuat Boni merasa gelisah. Waktu berjalan sangat cepat.
Mereka baru saja membuat rumah yang bagus dan kemudian Jonathan
harus berhenti bermain. Boni merasa sedih, namun ia tetap lanjut
bermain sendiri. Anehnya, ia merasa gelisah bahwa akan terjadi sesuatu
yang buruk.
Selama akhir pekan ia banyak bermain dengan temannya. Bermain
game online maupun sepak bola. Namun, ia mempunyai rasa gelisah di
dalamnya. Keesokan harinya, Boni pun masuk ke sekolah. Setelah itu ia
melihat sesuatu yang mengejutkan.
“Wow! Mading kalian keren sekali! Punyamu di mana, Dik?” kata
Boni dengan merasa terkejut dan sedikit ketakutan. “Madingku belum
selesai, tapi sebentar lagi beres! Aku tinggal menghias dengan spidol
warna-warniku dan selesai deh! Besok akan aku kumpulkan! Bagaimana
denganmu Bon? Punyamu terlihat seperti apa?” jawab Dika.
Boni teringat dengan tugas madingnya. Ia belum membuat apa-
apa! Selama akhir pekan, teman-temannya membuat mading yang sangat
keren, dengan atribut-atribut yang terbuat dari bahan-bahan seperti
stiker, perhiasan, dan bahkan lipatan origami. Namun bagaimana
dengan Boni? Ia sama sekali tidak peduli dan membiarkan tugasnya
lewat begitu saja. Namun sebentar lagi, Boni akan merasa lebih
ketakutan.
“Wah, banyak sekali yang sudah menyelesaikan madingnya! Ayoo…
5 anak lagi yang belum mengumpulkan. Dika… di mana madingmu?”
kata Bu Yanti.
“Punya saya masih di rumah, Bu. Saya hanya harus menambahkan
hiasan dengan spidol Bu, besok pasti selesai!” jawab Dika. “Baiklah Dika,
ditunggu ya… Bagaimana denganmu Boni?” lanjut Ibu Yanti. “Ee-ee-
hmm… mm-maaf b-bu s..saya masih be-belum se-le-sai…” jawab Boni. “Ok
Boni, ditunggu ya…” kata Bu Yanti.
Sepulang sekolah, Boni bercerita kepada Ibunya. “Ibu… boleh
bantu Boni membuat mading?” tanya Boni. “Hmm… boleh! Pasti sudah
mau selesai… Ibu mau lihat ah madingnya Boni. Ayuk tunjukkan kepada
Ibu!” jawab Ibu Boni.
“Eh-ehmm bu-bukan bu… Bo-boleh bantu buat dari aa-awal ti-tidak?”
jawab Boni dengan gelisah. “Hah?! Dari awal? Jadi kemarin pulang
sekolah kamu tidak kerjakan tugasmu? Wah tanggung jawab sendiri
Boni! Kamu juga dihukum! Tidak boleh bermain game online selama 4
hari!” tegas Ibu Boni dengan nada marah.
Boni pun menangis di kamarnya sambil mengerjakan tugasnya. Ia
belajar bahwa jika berbuat kesalahan, ia harus bertanggung jawab.
Tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, namun juga sekeliling,
termasuk tugas-tugas menanti.
☺ Kita harus bertanggung jawab atas
segala hal yang kita lakukan, sengaja
maupun tidak sengaja.
Kisah Kalyani Kaylani
Oleh : Edith Debora Laras Kasih
“Tok tok tok” suara ketukan jendela
terdengar oleh Kalyani “ MASUKK!!” sahut
Kalyani yang sedang sibuk dengan laptopnya
karena sedang mengerjakan tugas.
“ Jadi gimanaa ? “ tanya Jordan sambil memasuki kamar Kalyani
dan mengambil tempat duduk untuk duduk di sebelahnya.
“ Ga ngerti lagii periksain dongg “ harap Kalyani serentak
menyodorkan laptopnya ke Jordan dan bertelungkup di atas meja.
Kalyani sedang mengerjakan tugas sekolah pemberian guru
bahasanya. Sudah sehari Kalyani hanya menatap pekerjaanya dan
ia kurang yakin untuk memberi balik tugasnya. Oleh karena itu
Kalyani meminta sahabatnya Jordan, si anak pintar, pandai, dan
rajin. Ia berharap, Jordan mau memeriksa pekerjaanya dan
sekalian menemani Kalyani yang sendirian dirumah.
Jordan menatap Kalyani dengan muka penuh “bukan main”.
Jordan menghelakan nafasnya sekaligus menaruh tas hitam
favortinya, di sela kakinya dan mengambil laptop Kalyani. Jordan
mengacak rambut Kalyani dengan tanganya. Jordan tertawa kecil
melihat Kalyani sudah pasrah, menyeeah dengan pekerjaannhya.
Jordan memeriksa pekerjaan Kalyani yang berhalaman – halaman.
Kalyani bernyanyi – nyanyi sedikit, mengagumi mukanya di kaca
besar yang ada di kamarnya, bermain dengan rambut Jordan yang
panjang melebihi telinganya, atau mengintip – intip pekerjaanya
yang sedang diperiksa.
“ Gimana sihh, Malika Kalyani Santosoooo ”, ejek Jordan
menggunakan nama lengkap Kalyani. “ Aih emang kenapa sih, coba
kulihat. “ sahut Kalyani yang ingin mengambil laptopnya balik,
namun direbut Jordan duluan. “ Hahahhaha, ngga apa-apa kok,
hanyaaa … gimana sih “ kekeh Jordan sambil melihat muka
Kalyani yang tampak serius. Sepuluh menit berlalu, akhirnya
selesailah tugas Kalyani. Pada lima menit terakhirnya Jordan
sempat mengajarkan beberapa hal kepada Kalyani tentang hal –
hal yang harus lebih teliti diperhatikan
“ Sudah ya terakhir nih ya, aku periksa pekerjaanmuu dan
plus koreksi – koreksian unnecessary things dan juga bantuin
menjawab pertanyaan yang anak kecil kelas SD 1 pun bisa jawab.
Okay Kayla ???? “. Ucap Jordan mengacungkan jari telunjuknya ke
ujung hidung Kalyani. Jordan merasa nyaman memanggil
sahabatnya ini dengan panggilan Kayla. Terkadang ia
memanggilnya dengan Kalyani..kadang-kadang juga dengan
sebutan Kaylani.
“Aawwwwwwaahhhh…” sahut Kaylani dengan muka yang
tidak senang.
“Eenough lah ya, udah berkali – kali lebih kamu tuuuh. Dan ini
terakhir deh. Lagipula semester sudah mau selesai. Sisa materinya
tidak begitu sulit untuk dipahami karena sudah pernah dibahas
kan ? Lebih mendingan kali materinya. Aku juga ada hal – hal tugas
yang harus dikerjakan juga. “ Jordan memberikan wink.
Sering kali Kaylani meminta bantuan Jordan untuk tugasnya.
Pernah juga ia pernah meminta Jordan mengerjakan PR – nya
karena Kayla merasa “ Otaknya tersumbat, dan tak bisa memikir
lebih jauh lagi“. Tetapi yang lebih sering adalah, meminta bantuan
mengerjakan PR– nya sekaligus memeriksa pekerjaanya yang
berlembar-lembar, atau menanyakan pertanyaan sebetulnya
mudah. Kaylani sendiri sudah pernah tahu namun selalu lupa.
Jordan kadang pun mundur untuk menolak karena ia hanya
menganggapnya sebagai “ bantuan sederhana “, tetapi kali ini
Jordan mempunyai pekerjaan – pekerjaan yang harus dikerjaan.
Kaylani semulanya tidak ingin mengganggu aktivitas Jordan.
Hanya Kaylaninya yang memang bermalas - malasan
“ Okey deh, janji. Makasih”. jawab Kaylani kecil.
“Yaaaaa makasihh banyakk Joo !! “ ucap Kalyani dan memeluk
Jordan dari samping, dan berterima kasih lagi. Joo adalah
panggilan akrab Kaylani kepada Jordan.
“ Yaaaa sama – samaa “ balas Jordan dan memeluk balik Kaylani
sembari mengelus kepalanya dan mengacak – acak rambutnya. “
Ish ganggu saja “. kata Kaylani sambil menunjukkan muka yang
kesal dan merapikan rambutnya. “ Turun yuk, ke bawah. Temenin
makan. Kamu juga ikut makan yah ? “ tanya Kaylani sambil
merapikan barang barangnya. “ Ya boleh deh “ jawab Jordan
Sesampainya di kitchen bar, Kaylani mengeluarkan nugget
dinosaurus yang ada di stok freezer – nya dan menggoreng
beberapa potong nugget. “ Tuh kan, bisa aku masak “ senyum
Kaylani dengan hati yang bangga. “ Sepatah nugget doang gitu ???
“ ganggu Jordan. “ Jangan merusak suasan deh, Jo. “ ucap Kaylani
sambil berpose seperti ibu – ibu yang ingin memukul anaknya yang
bandel.
Sambil Kalyani mengggoreng nugget, Jordan meminta izin
memasak telor goreng di sebelah kompor Kalyani untuk menambah
lauk “ jangan nugget kecap doang ”, Kalyani pun mengizinkan.
Setelah selesai masak – memasak. Jordan dan Kalyani pun
mengambil masakan masing – masing dan memakanya di ruang TV
sambil menonton.
“ Ding Dong !!!! “
“ Oh. Yaaaa coming !!! “ Kaylani segera berdiri dari tempat
duduknya dan berlari menuju pintunya untuk membukanya dan
menyambut tamu yang datang.
“ Loh ! Mah ?? Pahh ??? Sedang apa disini ??? AAAAA miss you guysss
“ ucap Kaylani yang tidak berekspektasi orangtuanya untuk
datang kemari untuk menemuinya. Kaylani lantas memeluk kedua
orangtuanya dengan erat.
Sebulan atau dua bulan sekali orangtua Kayla selalu datang
menjenguknya.Kayla tinggal di seberang kota dimana orangtuanya
tinggal. Kebetulan siang hari ini orangtuanya menjenguk Kayla
untuk pertama kalinya di bulan April ini.
“ Ini motor siapa Kayla ??? ” Papah Kayla menunjuk motor hitam
yang dipakirkan di teras rumah yang ditinggali Kayla. “ Oh ! Om,
tante ??? “ sapa Jordan.
Jordan memutuskan untuk mengecek ke depan pintu rumah
Kalyani untuk memastikan apa yang terjadi. Ternyata orangtua
Kalyani yang dating. Ia juga tidak berekspektasi kepada orangtua
Kalyani untuk hadir. Jordan dan orangtua Kalyani cukup dekat
juga. Jordan adalah teman pertama buat Kalyani semenjak Kalyani
pindah ke kota Surabaya ini. Jordanlah yang mengenalkan isi kota
Surabaya kepada Kalyani dan orang tuanya.
“ Jordan ??? Ehh kamu ngapainn di sinii ?? “ tanya mamanya
sambil masuk ke dalam rumah dan diikuti papanya. Kemudian
mereka duduk di tempat duduk yang tersedia di ruang tamu. “ Tadi
disuruh Kalya untuk mampir temenin, bantuin tugas tante..
sekalian makan siang juga, hehehhe “ kata Jordan.
“ Ohh gituu, kalo gitu sini tante sekalian masakin, kebetulan
tante baru belanja di supermarket depan “ ucap mama Kalyani dan
beranjak berdiri ke dapur dan cepat kilat mengeluarkan barang –
barang belanjaan.
“ Eh eh tante, tidak perlu kok tante, saya, Kalya barusan juga
sudah makan “ kata Jordan berdiri dengan ragu – ragu dan
menoleh ke aarah Kalyani.“ Sudah tidak apa – apa sebentar aja yuk
! Sini bantu tante masak “ ucap mamanya Kalyani.
Kalyani dan Jordan pun segera ke dapur dan mulai
membantu mama Kalyani. Sementara Papa Kalyani duduk di sofa
ruang tamu selonjoran, beristirahat. Selesai bermasak, Kalyani
mengambilkan piring Jordan dan punya Kalyani sendiri yang ada
di ruang TV bekas makan siang kecil sebelum orangtua Kalyani
datang. Dan menggunakanya piringnya lagi agar tidak menambah
cucian piring.
Setelah selesai makan, Kalyani meletakkan piringnya di
wastafel dapur tempat mencuci piring dan hanya meletakkanya
begitu saja tanpa di cuci bilas. Kalyani memang terbiasa seperti itu,
ia mencuci piring hanya jika disuruh.
“ Kayylaaa cuci piringnya gihh “ suruh mamahnya “ Engg nanti,
Ma “ sahut Kalyani dan langsung pergi ke kulkas untuk
menmgambikl minuman dingin. “ Ihhh kamuu maluin ada tamu,
sana beresin duluuu “ ucap mamanya cepat “ Okayy deh, Mam “
jawab Kalyani dan segera mencuci piringya.“ Gitu dong anak papa
“kata papanya Kalya.
Jordan hanya duduk di ruang TV terkekeh – kekeh melihat
kelakuan Kalya dan respon – respon orantuanya. “ Kamu tuh
belajar mandiri Kalya, selesai makan langsung cuci piring, gak
usah disuruh – suruh lagi. Langsung saja, sudah besarkan yaa jadi
tidak usah disuruh – suruh lagi “, jelas Mama. “ Okayyy, Ma “ jawab
Kalyani singkat.
“ Ingetin dia ya, Jo… untuk belajar mandiri tuh. Kalau misalnya
habis selesai makan ingetin untuk dicuci piringnya. Hal – hal yang
lain juga yang bisa dikerjakan sendiri.. suruh untuk kerjakan
sendiri saja, mandiri ! “ ucap mamah ke Jordan. “ Ah, iya tante baik-
“ jawabn Jordan dengan tawa kecil di akhir
Jordan melihat kea rah Kalyani dan melihat Kalyani yang
“sudah deh”. Jordan tertawa kecil kemudian ia berdiri untuk
meletakkan piringnya dan mencuci sendirinya. Ia iseng agar
mencontohkan ke Kalyani untuk mandiri mencuci piring tanpa
diminta atau disuruh. Kalyani menjulurkan lidah. Hari – hari
kemudian Kalyani mulai mencontohkan sikap mandiri, Jordan pun
kaget dan suka iseng mengejek Kalyani yang berubah seketika.
***
☺ Pesan moral yang didapatkan dari cerita diatas adalah untuk belajar mandiri, melakukan
hal yang bisa dilakukan sendiri dengan mandiri dan belajar mengerjakan sesuatu tanpa
diberitahukan orang lain.
Duh Kok Jadi Kayak Gini Ya?
Oleh : Gregorius Jerry S
Kringgg!!! Alarm berbunyi menunjukkan pukul
06.40 pagi. “Hah!! Udah jam segini? Terlambat sekolah
deh” kata Edi dengan terkejut. Ia seorang siswa kelas
5 yang suka membaca buka sampai larut malam.
Tetapi karena hal itulah Edi menjadi sering terlambat
sekolah. Alarm di kamarnya tak mampu membuatnya bangung dan dia
sering protes kepada orang tuanya tentang hal tersebut. “Ayah, alarm
kamarku tidak mempan, suaranya kekecilan, aku nggak pernah bangun
kalau bunyi.” Ayahnya menjawab dengan nada memperingatkan,” Kamu
yang seharusnya menganti jadwal tidurmu bukannya salahin alarmnya.
Jam maupun alarm kondisinya baik-baik aja dan melaksanakan
tugasnya dengan baik, kamu yang suka ngotot mau tidur malam-malam
terus janji buat bangun tepat waktu. Harusnya kamu tidur sesuai
jadwalmu.”
Edi segera pergi ke kamar mandi dan menyegarkan diri. Ia turun
ke dapur dan mengambil buah pisang yang ada. Ia segera bersiap
menyalakan laptop dan buku pelajaran. “Hari ini pelajaran pertamanya
dengan Pak Hadi. Beliau guru paling tegas yang tak suka ada yang
terlambat. Yah, berharap saja semoga internetnya lancar jadi bisa cepat
msuk ke kelas” pikir Edi dengan cemas. Tetapi sesuatu yang tidak
diinginkan muncul. Laptop Edi menunjukan notifikasi bahwa zoomnya
harus diupdate. Update Zoom biasanya hanya sebentar. Namun karena
sudah panik Edi melihat pembaharuan tersebut dengan sangat lama. Ia
menunggu dengan khawatir. Begitu pembaruan selesai ia bergegas
masuk ke zoom. Ternyata pertemuan sudah berlangsung. Pak Hadi
sudah memutarkan video senam kepada anak – anak. Edi pun segera
minta maaf karena keterlambatannya. “Maaf ya Pak, saya terlambat
zoom karena laptop update dulu. “Permintaan maafmu diterima
meskipun kau bisa mengupdate zoom lebih pagi” kata Pak Hadi
Sore harinya Edi mengikuti les programing. Tutor yang mengajar
mereka memberikan PR untuk membuat sebuah game sederhana. Tutor
tersebut memberikan beberapa peraturan wajib yang harus dituruti
karena kalau tidak, hasilnya bisa kacau. Maka Edi segera memulai
membuat game tersebut. Ia ingin membuat balapan mobil dengan
aplikasinya. Ia mengerjakan game tersebut sampai waktu tidur. Karena
sudah lelah ia pun beristirahat. Keesokan harinya ia pergi kesekolah dan
belajar seperti biasanya. Hari ini gurunya memberikan PR kepada para
siswa untuk membuat video tentang alat pernapasan makhluk hidup.
Mereka harus mengumpulkan video tersebut dalam waktu satu minggu.
Edi mulai fokus dengan tugas sekolahnya karena semakin banyak
tugas sekolah yang datang. Ia melupakan kedisiplinan di rumahnya
karena sering tidak fokus. Ia lupa membersihkan tempat tidur dan
menyirami tanaman. Ia juga sering terlambat karena membaca buku
sampai larut malam. Edi mendapat banyak teguran dari gurunya bahkan
orangtuanya. “Kenapa kamu sering tidur malam, gurumu berkata kau
sudah terlalu sering terlambat. Benarkah itu, kamu bilang jadwalnya
diubah. Kamu sangat tidak disiplin tau tidak!!!” tegur ibunya. Ayahnya
juga sama marahnya dengan Edi karena ia melalaikan tugas sehari – hari
rumahnya. Edi yang putus asa segera masuk kamarnya. Ia melanjutkan
tugas sekolahnya dengan cepat. Mengirim semua tugasnya meskipun ia
merasa tidak terlalu bagus… tetapi ia sudah tidak punya waktu lagi. Ia
pun mulai sadar bahwa besok merupakan hari terakhir untuk
mengumpulkan tugas programingnya. Edi mengerjakan tugas tersebut
dengan cepat – cepat, hati berdebar – debar, dan perasaan tegang serta
panik. Bila ia tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik maka ia
tidak dapat melanjutkan ke tingkat yang selanjutnya.
Dua jam berlalu. Edi masih belum menyelesaikan tugasnya. Ia
mulai melupakan peraturan-peraturan yang diberikan oleh tutornya.
Maka ia menyelesaikannya dengan cepat. Saat tugas coding selesai, Edi
langsung mengumpulkannya . Ia tidak memeriksanya lagi, karena sudah
terburu-buru. “Berees, selesai… lega deh aku. Nah… sekarang apa ya
yang harus dilakukan? Oh ya aku akan membereskan kamarku dahulu”
kata Edi pelan. Edi pun membersihkan kamarnya, ia melipat selimutnya
dengan rapi. “Wah ternyata lebih lega dan nyaman ya kalau kamar sudah
bersih. Kenapa aku tidak pernah memikirkannya ya?” guman Edi dalam
hatinya. Kini, Ia pun merasa sangat mengantuk maka ia tidur dengan
nyenyak. Ia terbangun saat ibunya memanggil setengah berteriak,
mengingatkannya untuk mandi pagi. Setelah mandi, badan Edi terasa
lebiht segar dan ia siap memulai hari baru.
Edi pun membuka laptopnya dan dan membuka aplikasi
codingnya. Ia melihat game yang sudah ia buat. Saat melihatnya ia
terkejut karena hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Gamenya telah
gagal total. “Duuuuh kok kayak gini ya jadinya” keluhnya. ”Oh, pasti aku
tidak mengikuti instruksi. Ia merasa akibat ketidakdisiplinnya telah
mengakibatkan kejadian ini.” pikir Edi dengan gelisah. Hari itu, Edi
mengikuti les codingnya dengan gelisah. Gurunya menampilkan semua
game milik teman – teman Edi tetapi tidak dengan game miliknya.
Akhirnya les coding berakhir. Ia dipanggil oleh tutornya. “Edi kamu tahu
tidak seberapa besar kesalahan yang kamu buat, kamu tidak disiplin
dalam mengerjakan tugasmu. Game yang kamu buat tidak sesuai aturan.
Kamu harus mengulang game lagi dan harus membuatnya sesuai
instruksi yang telah kuberikan” tegur sang Tutor. “Baiklah Bu, saya akan
membuat yang lebih baik” kata Edi.
Edi tetap berjuang. Edi kembali mengulang membuat gamenya
dengan sungguh-sungguh dan ternyata bias. Hasilnya lebih baik dari
sebelumnya. Edi bersyukur..ia telah mendapat pelajaran sangat
berharga dalam hidupnya , yaitu tentang disiplin dalam berbagai hal.
Kini. Edi telah berubah menjadi anak yang lebih baik dan disiplin.
***
☺ Bila kita berdisiplin dalam melakukan apapun, maka kita akan mendapatkan hasil yang
paling baik.
Kemenangan Sebenarnya
Oleh : Hubertus Lovely S
Di suatu waktu, di tahun 2021 wabah virus corona
melanda dunia.
Pada saat itu ada dua sahabat bernama Dio dan Windah
yang tinggal di rumah dikarenakan wabah tersebut. Mereka sedang
bermain game online team bersama-sama, tetapi mereka kalah terus
dalam permainan tersebut. “Windah, aku dikeroyok nih… bantu dong!”
kata Dio. “Bentar, aku mau ambil base orng,.. kerjain sendiri dulu yaa ”
jawab Windah. Bisa ditebak, karakter Dio pun mati karena dikeroyok
dan base mereka diambil musuh. “Oy,.. Dio… napa mati, aku lagi ambil
base orng, jangan jadi beban dong …aku juga lagi di keroyok lagi
nih…tolooonglah”. sahut Windah. “Lah Win, tadi kamu gak bantu aku
tadi pas aku dikeroyok, rasain sekarang susahkan makanya bantu dong”
kata Dio gak kalah keras. Merekapun beradu mulut sampai marah.
Merekapun tidak melanjutkan permainan online karena sama-
sama kesal akibat keegoisanmasing-masing. Mereka tidak mau saling
memaafkan satu sama lain dan bekerja sama bahu membahu untuk
mengalahkan lawan yang dihadapi didalam permainan online tersebut
Kesokan harinya,..
“Halo Win, mau main gak” tanya Dio. “Enggak deh, males main sama
kamu gak mau bantu” jawab Winda ketus. “Loh Win, bukannya kamu
kemarin yang egois ya” jawab Dio cepat. Pertengkaran kedua sahabat itu
tetap berlanjut.
Selama masa permusuhan antara dua sahabat tersebut mereka
mencoba bermain tim random tetapi mereka malah semakin tidak bisa
main dan kalah dikarenakan timnya berpencar atas kemauan diri
sendiri dan tidak mau diajak kerjasama. Merekapun sebal karena
karakternya mati terus sehingga membuat mereka sedikit tersadar akan
kondisi waktu main dengan sahabatnya yang membuat mereka sedikit
mengerti mengapa sahabatnya sampai begitu.
Hal tersebut membuat kedua sahabat mencoba untuk bermain
bersama dan mencoba mulai memahami satu sama lain untuk dapat
bekerja sama mengalahkan musuh. Mereka sama-sama merenungkan
apa yang telah terjadi selama ini terhadap sahabatnya. Dan, mereka
menemukan solusi.
Merekapun mencoba untuk berkomunikasi lagi untuk bermain
bersama dan mencoba memperbaiki hubungan yang terasa renggang.
“Oy Win, main yuk kita akan coba kalahkan musuh bersama-sama dan
bekerja sama untuk meraih kemenangan” Dio membuka pembicaraan.
Winda sebenarnya juga ingin segera memperbaiki situasi ini. Untunglah,
Dio menyapanya duluan. “Ok Dio, bentar aku masuk ke permainan”
jawab Winda. Satu ronde terlewat kalah dua ronde terlewat kalah “ Win,
kamu bisa coba bantu sambil serang entar kalau ada orang aku majuin,
ok?” kata Dio. “Siap bro,.. tenang aja” jawab Winda. Merekapun terus
mencoba dan akhirnya mereka menang. “Yes… Win kita menang … kita
berhasil mengalahkan mereka bersama-sama” teriak Dio penuh
semangat. “Horee….Dio, akhirnya kerja sama dan perjuangan kita
membuahkan hasil!” teriak Winda girang.
Di dalam perjuangan untuk mendapat kemenangan tak selalu
mulus, terkadang ada banyak kesulitan. Tetapi jangan menyerah, harus
tetap kompak. Kedua sahabat itu menyadari bahwa kalah bukanlah
masalah. Namun, bekerja sama tetap harus dilakukan. Andaikan tetap
kalah mereka sudah menjadi tim yang hebat karena mereka dapat
mengalahkan “ego” mereka. Kemenangan sebenarnya bagi mereka
adalah saat setiap orang bisa mengendalikan ego dalam dirinya. Tak
perlu saling menyalahkan.
“Dio, aku mau ngomong ke kamu” kata Winda saat bertemu Dio
esok harinya. “Kenapa Win?” tanya Dio. Winda melanjutkan kata-
katanya, “Maaf ya Dio, kemarin aku berbuat yang tidak seharusnya dan
menyalahkan kamu atas semua kesalahan kemarin” “Iya Win, lupakan
saja. Aku juga minta maaf banget ke kamu kemaren sudah
mengecewakanmu. Kita bersahabat lagi kan ?” kata Dio. Winda menghela
nafas ,lalu berkata “Ya iyalah Dio..sampai kapan pun kita adalah
sahabat.” Setelah itu mereka saling meminta maaf sambil berjabat
tangan. Kejadian tersebut membuat dua sahabat itu semakin dekat dan
mau saling memahami serta bekerja sama dalam segala hal.
***
☺ Pengendalian diri itu penting
agar tidak egosi, cobalah
mengerti orang lain agar mampu
bekerja sama
Mulut Dapat Mengubah Segalanya
Oleh : Ivannov Restu Sudrajat
Di pagi hari yang cerah Dodi sarapan roti
bakar isi coklat. Selanjutnya, Dodi sudah bersiap
untuk berangkat ke sekolah. Ia diantar ibunya
dengan meggunakan mobil. Sesampai di sekolah,
Ibunya selalu mengingatkan dia untuk selalu jujur dan bersikap baik.
Dodi pun menyapa teman dan guru. Sepuluh menit kemudian bel sekolah
berbunyi tanda siswa bersiap masuk kelas untuk belajar. Dodi dikenal
teman-temannya sebagai anak yang sangat jujur.
Saat Dodi masuk ke sekolah. ia berada di barisan terakhir bersama
Yudi teman baiknya. Saat itu, kejadian tak terduga terjadi kepada Yudi.
Tak sengaja, Yudi menjatuhkan vas bunga karena tersenggol tas
miliknya. Dodi persis dekat sekali dengan Yudi. Kebetulan, teman-teman
lain tidak ada yang melihatnya karena mereka berada dalam posisi
berbaris dan segera masuk kelas.
Yudi pun langsung berkata, “Aku melihat dengan mata kepalaku
bahwa Dodi yang menjatuhkanya.” Dodi yang merasa tidak bersalah
berusaha membela diri. Ia berkata, “Aku bersumpah tidak
melakukanya.” Yudi sengaja berkata bohong agar tidak kena marah
gurunya. Ia takut kalau diminta mengganti vas yang pecah itu.
Perdebatan pun tak terhindarkan. Dodi dan Yudi saling beradu
argument. Saat itu Ibu guru pun datang . Ibu Guru mereka bernama
tersebut bernama Bu Beti. Bu Beti bertanya
“Apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa semuanya ribut?”
“Ada yang menjatuhkan vas bunga di antara mereka berdua,Bu !” kata
teman-teman hampir bersamaan sambil menunjuk ke arah Dodi dan
Yudi. Bu Beti pun menyuruh mereka berdua menjelaskan kejadiannya.
Dodi berkata, “Aku tadi di barisan paling belakang bersama Yud i, dan
saat aku berjalan di depan Yudi. Tiba-tiba vas bunga tersebut terjatuh”
Bu Beti menyuruh mereka jujur agar pembelajaran dapat segera
dilaksanakan. Yudi tetap saja tidak mau jujur,tetapi jauh di hati
huraninya berkata “Yudi, apakah kau akan terus berbohong seperti ini
terus?” Yudi pun resah karna telah berbohong.
Bu Beti berkata lagi,“Jika tak ada yang mau jujur,hanya, Tuhan dan
dirimu saja yang tahu. Mungkin Ibu tidak tahu tetapi hanya kalian
berdua yang dapat menentukan kejujuran!” Setelah itu, Bu Beti diam
sambil memandang wajah mereka satu persatu.
Yudi yang melakukan kebohongan terlihat semakin gelisah. Akhirnya ia
mengikuti suara hatinya. Yudi pun terbuka untuk mengatakan “Saya
yang memecahkan vas tersebut. “ Dodi, Bu beti dan teman-teman semua
,maafkan saya telah berbohong. Karena kelakuan saya ini, waktu belajar
kita tersita, tak bias segera mulai.”. Tampak suara Yudi agak tersendat ,
ia menahan tangis yang hampir keluar namun ia coba menahan. Mata
Yudi tampak berkaca-kaca, sedikit basah oleh air mata.
Bu Beti berkata “Ibu dan teman-teman memaafkan kamu. Nak!”
Karna kejujuran dan penyesalan dari Yudi, maka Yudi tidak perlu
mengganti vas bunga yang sudah dipecahkan”
Yudi pun berterimakasih kepada Bu Beti dan teman-teman
semuanya. Yudi juga meminta maaf kepada Dodi. Awalnya Dodi tidak
memafkan Yudi . Namun setelah dipikir-pikir, pada akhirnya ia
memaafkan. Dodi selalu ingat nasehat orang tuanya untuk memberi
maaf kepada orang lain yang secara jujur telah mengakui salah dan
meminta maaf. Selama beberapa hari, Dodi pun merefleksikan dirinya
agar dapat menerima Yudi kembali sebagai sahabat, meskipun Yudi
telah bersalah padanya. Dodi tak menyimpan dendam. Mereka berdua
pun akhirnya kembali berteman dan bermain. Mereka berjanji untuk
selalu jujur, meski ada resiko yang harus siap ditanggungnya.
***
☺ Sikap jujur bisa membantu menyelesaikan masalah lebih cepat♥
Peristiwa Sedih Dodi
Oleh : Joanne Cally Atmadja
Dodi adalah seorang anak laki-laki beragama
katolik dan berasal dari keluarga beragama katolik.
Seluruh keluarganya sangat rajin berdoa dan
beribadah ke gereja. Namun sangat disayangkan, Dodi
berbeda dari anggota keluarga yang lain. Ia tidak rajin berdoa. Sebelum
makan, tidur, dan sesudah bangun Dodi tidak pernah berdoa ataupun
sekedar mengucap syukur. Dodi selalu membuat alasan untuk tidak ikut
orangtuanya ke gereja.
Pada suatu sore, Dodi sedang membaca buku komik dalam
kamarnya. Tiba-tiba handphone milik Dodi bergetar, menandakan ada
panggilan dari seseorang. “Halo ?” sapa Dodi. Dodi mematikan panggilan
tersebut dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Yang menelpon
ternyata ibunya. Ibu memberikan kabar keadaan Ayah. Ternyata ayah
sedang dalam keadaab koma setelah mengalami kejang-kejang. Dodi
segera menemui ibu di rumah sakit.
Dodi berlari sekeliling koridor rumah sakit dan akhirnya melihat
ibu. “Ibuuu…!” panggilnya. “Dodi? Kamu naik apa ke sini, Nak ?” tanya
ibu. “Aku naik motor, Bu. Ayah bagaimana?” tanya Dodi. Ibu hanya
menatapnya dengan tatapan sendu. “Ayahmu di dalam. Banyak berdoa
kepada Tuhan, ya Nak. Supaya keadaan ayah dapat membaik,” ucap ibu.
Dodi masuk dalam ruangan ayahnya. Wajah pucat dan selang infus
di tangan ayah membuat Dodi sangat sedih. Dodi pun mengecek
handphone miliknya untuk memeriksa pesan dari temannya, Bagas.
Ternyata, ayah Bagas meninggal dunia tadi siang. Saat pulang dari
rumah sakit, Dodi menghampiri Bagas di kediaman keluarganya.
Bagas memeluk sahabatnya sambil terisak. Dodi menenangkan
Bagas. “Sabar ya, Gas. Mungkin ini yang terbaik,” Dodi pun bertemu
seluruh keluarga Bagas. “Turut berduka cita ya, Tante,” ucap Dodi
kepada ibu Bagas. Setelah berbincang-bincang sebentar, Dodi pamit dari
rumah Bagas.
Dodi pulang ke rumah pada malam hari. Ibu sedang memasak. “Ma,
ayah Bagas meninggal dunia. Aku benar-benar kasihan melihat
kesedihan dari wajah Bagas dan ibunya,” ucap Dodi. “Kamu harus
bersyukur, Dodi. Kamu harus besyukur, memintga ampun dan
mengatakan harapanmu dalam doa. Kamu harus rajin berdoa, Nak.
Berjanjilah dengan ibu bahwa kamu akan berdoa setiap malam sebelum
tidur, sebelum makan, dan bersykur saat bangun tidur,” ucap ibu. “Aku
akan coba, Bu. Aku akan berusaha karena aku sudah sadar bahwa hidup
kita di tangan Tuhan ” ucap Dodi lalu pelan. Setelah itu ia bergegas
mandi.
Waktunya untuk Dodi tidur. Ia teringat dengan perkataan ibu tadi.
Ia berdoa. Ia mengucap syukur kepada Tuhan atas keadaan ayahnya
yang masih berada di dunia ini. Ia juga mengucap syukur karena
kesehatannya dan ibunya. Semua kelebihan yang ia punya. Ia berharap
sang ayah bangun, sehat lagi, dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Sekitar seminggu kemudian, ayah Dodi bangun dari koma. Dodi
sangat bersyukur kepada Tuhan. Tuhan mendengar dan mengabulkan
doanya. Secara perlahan, ayah Dodi berangsur membaik kesehatannya.
Dodi belajar dari situasi yang dia alami untuk menjadi anak Tuhan yang
baik dan sopan. Sekarang Dodi menjadi rajin berdoa. Ia juga rajin
menyalakan lilin di goa Bunda Maria dan berdoa di sana. Dodi telah
belajar banyak hal dalam hidup melalui peristiwa yang terjadi dalam
keluarganya.
Sekarang Dodi tahu mengapa ibu ingin mengajak Dodi rajin
berdoa. Dengan berdoa, kita dapat mencurahkan hati kita kepada
Tuhan. Beberapa persoalan terkadang terasa sangat sulit untuk dilewati.
Dengan rajin berdoa, dan berpasrah pada Tuhan, Dodi yakin bahwa
semua akan baik-baik saja. Dodi ingin menceritakan kisah hidupnya
kepada teman-temannya. Dodi akan selalu bersyukur dan berterima
kasih kepada Tuhan terlebih dahulu. Dodi sadar bahwa selama ini hanya
bisa menuntut, memohon dan terus memohon. Melalui peristiwa yang
dialami , Dodi mampu merefleksikan bahwa Tuhan selalu hadir dalam
hidup setiap manusia.
☺ Hidup ini anugerah Tuhan,jangan lupa bersyukur ♥
Liburan ke Rumah Nenek
Oleh : Julio Christian
Pada suatu hari aku pergi kerumah nenek untuk
berlibur. Aku pergi ke rumah nenek sendirian karena
bapak dan ibuku sedang bekerja. Ayahku memesankan
taxi untukku sehingga bisa sampai ke rumah nenek
dengan cepat. Akupun akhirnya sampai di rumah nenek.
Saat di rumah nenek aku juga bertemu dengan kakekku. Tapi
sayangnya kakekku sudah lanjut usia. Kakek sudah banyak kehilangan
memori ingatannya. Di rumah nenek aku membantu bersih-bersih
rumah. “Aduuh, nenek kelelahan!” ucap nenek. “Tidak apa-apa, Nek!
Nenek istirahat saja. Saya bisa menyelesaikan perkerjaan nenek hari ini
sehingga” kataku. Tampak nenek menganggukkan kepalanya tanda
setuju.
Hari itu aku lumayan berkeringat tetapi hatiku senang. Aku bisa
melakukan pekerjaan nenek. Menyapu halaman di sekitar rumah nenek
cukup menguras tenaga karena dalaman rumah nenek ada beberapa
pohon mangga. Daun-daun mangga yang jatuh sangat banyak. Namun
semua sudah kusapu bersih.
Di halaman depan juga banyak tumpukan kayu yang sedikit
berantakan. Semua sudah aku rapikan. Aku bahagia melihat nenek
tersenyum dengan hasil kerjaku. Sesudah itu aku makan bersama kakek
dan nenek sambil menonton TV. Hari berikutnya, ayah menjemputku.
Terlihat wajah nenek sedih saat aku pamit pulang. Aku berjanji jika ada
libur lagi, akan kembali datang. Di perjalanan, aku bercerita kepada
ayah tentang aktivitasku di rumah nenek. Ayah merasa bangga, akupun
senang.
***
☺ Sekecil apapun peran kita jika dilakukan dengan tulus dan pikiran positif akan menjadi
sangat berarti
Bisakah Kamu Lebih Peka?
Oleh : Lidwina Pratistha
Sinar matahari pagi yang keemasan menyorot
menembus kaca jendela dan menerangi seisi kamar
Lyssa yang temaram. Dari sinar matahari yang tersorot
dari kaca jendela, terlihat jelas ribuan debu
berterbangan di kamar, ini sudah membuktikan bahwa
Lyssa tidak pernah mau membereskan kamarnya sendiri sehingga debu
menumpuk. Kamar Lyssa begitu berantakan. Buku buku, entah itu buku
pelajaran atau buku buku dongeng berserakan di meja, tas-tas dan kotak
pensil terbuka, menyebabkan alat tulis dan benda benda pribadi Lyssa
jatuh ke permukaan lantai dan ikut berserakan. Jika dilihat secara
langsung, kamar Lyssa cenderung mirip seperti kapal pecah, atau rumah
yang sehabis dilanda gempa atau sebuah pertengkaran. Sayangnya,
Lyssa tidak pernah mau untuk merapikan kamarnya sendiri. Dia
cenderung bersifat tidak peduli dan selalu membuat Ibunya pusing.
Jam alarm berbunyi, melantunkan sebuah lagu piano yang cukup
keras dan menganggu. Lyssa membuka matanya dengan cepat, kemudian
tangannya meraba jam alarm, mematikannya dan menjatuhkan jam
alarm itu ke lantai. Lyssa duduk di ranjangnya dan melirik jam alarm
yang pecah jatuh ke lantai. Baterai jam terpisah dari jam, berserakan ke
mana mana.
Lyssa hanya menyipitkan matanya dan menguap, kemudian turun
dari ranjang. Tidak ada niat untuk membereskan jam alarm yang jatuh
sama sekali. Setelah meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat
tidur malam, Lyssa langsung melenggang ke kamar mandi dengan santai.
Kakinya dengan lincah berjalan melewati barang barang yang
berserakan di lantai kamar, kemudian langsung menuju kamar mandi
dan membersihkan diri. Setelah berpakaian dengan seragam sekolah,
Lyssa mulai mencari buku buku dan alat tulis untuk dimasukkan ke tas.
Sayangnya, Lyssa tidak bisa menemukan buku buku dan alat tulis itu di
kamarnya! Semua barang berserakan di lantai, dan dia begitu pusing
dalam mencari alat alat sekolahnya sendiri. Dia ingat, bahwa Bibi Anna,
pelayan rumah tangganya, sedang pulang kampung dan akan balik dua
hari lagi. Biasanya Bibi Anna yang merapikan kamar Lyssa, sehingga
walaupun dirinya tidak peduli, semua barang selalu tertata rapi dan
tidak ada barang yang hilang.
Butuh setengah jam untuk menemukan buku dan alat tulis sekolah,
sampai akhirnya ketika merasa sudah siap, Lyssa turun ke lantai bawah
rumah dengan cepat. Dirinya sampai di dapur rumah dan terbebelak,
menyaksikan Ibunya hanya sibuk mencuci piring tanpa menyediakan
sarapan apapun untuk dirinya. “Tidak ada sarapan? Aku akan makan
apa pagi ini?” tanya Lyssa kepada Ibunya yang sedang mencuci piring.
Ibunya menengok dan tersenyum. “Lyssa, Sayang, kamu bisa merebus
sayur atau mengoleskan roti dengan selai?”
Lyssa cemberut. “Tidak mungkin aku melakukan itu semua. Ngomong-
ngomong, aku akan berangkat ke sekolah. Mana bekalku?”
Ibunya berhenti mencuci piring dan berbalik menatap Lyssa. “Kamu bisa
membuat roti lapis dan bawa makanan itu di kotak bekal. Ini sedikit
darurat, Lyssa.”
Lyssa bisa mendengar emosi kesal yang ikut mengalir dalam
perkataan Ibunya. Diam-diam dirinya ikut kesal, karena Ibunya benar
benar pemalas dan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga
dengan cukup baik seperti Bibi Anna. Lyssa mengangkat alisnya.
“Seharusnya Ibu bangun lebih pagi dan siapkan sarapan serta bekal
sekolah untukku. Itu tugas seorang Ibu jika Bibi Anne pulang kampung,
bukan?”
Ibunya terkesiap. “Lyssa! Saya hampir telat masuk kantor karena
mencuci piring! Tidak bisakkah kamu lebih peka sedikit? Siapkan bekal
sekolahmu sendiri! Mengoleskan selai ke permukaan roti atau
menggoreng telur tidak lebih sulit daripada mengerjakan soal
matematika!” “Kalau begitu aku langsung pergi ke sekolah saja tanpa
sarapan atau bekal!” jerit Lyssa, kemudian berjalan keluar rumah lalu
menutup pintu keras-keras.
Lyssa menarik sepedanya dari garasi dan mulai mengayuh. Jarak
dari rumah ke sekolah cukup jauh, tidak ada waktu untuk berjalan
sehingga dia mengambil tranportasi paling cepat yang bisa
dikendarainya, yaitu sepedanya sendiri. Lyssa mengayuh dan mengayuh
sepeda, dia melewati hutan hutan dan perumahan tetangga, kemudian
menyebrangi jalan raya dan pasar, lalu melewati jembatan kecil yang
menjulang di atas sungai kehijauan yang dipenuhi bebek yang sedang
melahap roti. Sepertinya kali ini Lyssa lebih memilih berangkat sekolah
menggunakan sepeda, karena selain lebih cepat, Lyssa juga dapat
menikmati pemandangan yang dia lewati secara lebih luas dan indah.
Pikirannya seketika beralih kearah pemandangan daripada perutnya
yang keroncongan.
Akhirnya Lyssa tiba di sekolah tanpa telat sedikitpun. Dia
memarkirkan sepedanya dan berjalan masuk menuju gedung sekolah
yang megah dan luas. Teman-teman dan guru menyambutnya dengan
senyuman, namun Lyssa tidak membalas senyuman-senyuman manis
yang dilemparkan padanya. Kali ini pikirannya kembali fokus kearah
sarapan dan bekal, serta perutnya yang keroncongan menahan lapar.
Hari ini ada pelajaran berolahraga, bisa bisanya dia sampai tidak
sarapan karena Ibunya pemalas dan pelupa!
Lyssa masuk ke kelasnya sendiri dan berpapasan dengan Karen.
“Hai. Selamat pagi, Lyssa!” sapa Karen ramah. “Pagi.” balas Lyssa datar.
Lyssa berjalan menuju bangkunya sendiri di kelas dan membenamkan
wajahnya di tas. Oh, dia benar benar kelaparan sekarang.
Pelajaran pertama dimulai dengan lancar. Sampai akhirnya
pelajaran olahraga dimulai. Lyssa benar benar kelaparan di bawah sinar
matahari yang terik, keringatnya menetes membasahi punggungnya.
Lyssa sangat haus dan ingin minum sebotol air putih, sayangnya dia
mengingatkan diri bahwa dirinya tidak membawa bekal apapun ke
sekolah. Sepanjang pelajaran berolah raga, Lyssa hanya berlari asal -
asalan dan menggerutu keras keras sampai guru menegurnya dan
menyuruh dirinya untuk lari mengelilingi lapangan sepuluh kali.
Sepuluh kali, sepertinya bukan angka yang sedikit. Untunglah,
setelah dirinya dihukum, Karen mau berbaik hati dan memberikan air
minumnya kepada Lyssa. Lyssa segera menenggak habis air minum
Karen, dan meninggalkan Karen terbelalak. Setelah pelajaran olahraga
selesai, maka dimulailah pelajaran ilmu pengetahuan alam.
Bu Ratna, guru Ilmu Pengetahuan Alam mengelompokkan murid
murid menjadi sepuluh kelompok. Senyum Lyssa sedikit melebar ketika
mendengar bahwa dirinya sekelompok dengan Karen, namun dirinya
juga sekelompok dengan Bryan. Ketika kerja kelompok dimulai, Lyssa
dan Karen sama sekali tidak menemukan Bryan. “Mungkin Bryan tidak
masuk.” cetus Karen.
“Tanpa Bryan, tugas kelompok kita tidak sempurna.” Ujar Lyssa
serius. “Kita butuh Bryan untuk menggambar binatang yang akan kita
amati. Hanya dia yang bakat menggambar, kamu tidak tahu itu? Tugasku
adalah meneliti binatang, kamu mencatat, dan Brian menggambar
binatang yang kuteliti. Itu sudah aturan, Bu Ratna berkata begitu. Tiga
anak dalam satu kelompok, satu anak meneliti, satu anak mencatat, satu
anak lagi menggambar binatang yang diteliti.” “Sayangnya Bryan tidak
masuk.” desis Karen, mulai memanas.
Lyssa dan Karen akhirnya bekerja berdua tanpa Bryan. Pekerjaan
mereka selesai dalam waktu yang cepat, kali ini yang mereka butuhkan
adalah gambar binatang. Karen mengusulkan dirinya saja yang mencoba
menggambar, namun Lyssa menolak dan tidak suka. Dirinya sendiri
apalagi, menggambar pohon saja tidak rapi. Sampai akhirnya, terdengar
suara seorang murid melangkah masuk ke kelas. Ternyata, murid
tersebut adalah Bryan. Bryan mendekati Karen dan Lyssa.
“Selamat siang, teman teman. Kata Bu Ratna, aku sekelompok dengan
kalian berdua. Tugasku menggambar, bukan? Ayo, mulai sekarang.” kata
Bryan tanpa wajah bersalah sedikitpun. Wajah Lyssa memerah. “Kamu
telat! Kamu sudah melewati dua pelajaran! Kenapa masih boleh masuk
sekolah?”
Bryan terlihat gugup. Dia berusaha mengucapkan beberapa kata,
namun Lyssa terus mengomel dan tidak peduli. Karen berusaha
menenangkan, sayangnya Lyssa benar benar kurang peka. Sampai
akhirnya, sudah waktunya tugas kelompok dikumpulkan, namun hasil
kerjasama kelompok Lyssa, adalah satu satunya yang tidak memiliki
gambar. Akibatnya, nilai kelompok mereka 70. “Bagus sekali.” gertak
Lyssa marah. “Aku belum sarapan, tidak bawa bekal, sekarang nilai
kelompok 70.”
Ketika sekolah sudah selesai, sepertinya Lyssa masih marah. Dia
berjalan dengan langkah kasar dan keras menuju gerbang sekolah.
Bryan dan Karen tergopoh-gopoh mengikutinya dari belakang. Lyssa
benar- benar tidak tahan sekarang. Seharian penuh dirinya belum
memakan apapun. Kali ini dia akan mengayuh sepedanya kencang-
kencang, pulang ke rumah dan mengamuk kepada Ibunya yang
menurutnya adalah pemalas.
“Lyssa, tunggu!” teriak Karen.
Lyssa pura pura tidak mendengarkan dan langsung mengayuh
sepedanya pergi dari sekolah. Sepanjang perjalanan, Lyssa tidak
menikmati pemandangan dan menabrak seorang anak laki laki sebaya
dengan Lyssa, sayangnya, Lyssa tidak menolong anak itu, dengan sikap
tidak peduli langsung mengayuh sepedanya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Lyssa langsung mencari-cari Ibunya.
Ibunya tidak ada di rumah. Lyssa mencari-cari Ibunya ke kamar, dapur,
kamar mandi sampai garasi rumah, namun dia tidak bisa menemukan
Ibunya di mana saja. Ini hari terburuk yang pernah ada! Andai saja Bibi
Anna tidak pulang kampung! Ini semua sangat konyol ketika dia
menyadari bahwa Ibunya sendiri pergi ke kantor untuk bekerja. Jadi,
kesimpulannya, dia terpaksa sendirian di rumah sampai jam enam sore,
di mana, seperti biasanya, Ibunya sudah sampai di rumah.
Lyssa pun terpaksa membuat nasi goreng dan memakannya
sendirian. Dia benar benar begitu kelaparan, sangat kelaparan. Sejak
pagi dia belum makan apapun. Untuk pertama kali dalam hidupnya,
Lyssa merasa sangat lapar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lyssa
sangat marah dan dia begitu marah, sampai sampai dia mengomel
sendirian dan menggerutui Ibu, Karen, Bryan, Bibi Anna dan anak kecil
yang tadi ditabraknya ketika pulang naik sepeda.
Lyssa hanya bisa diam menunggu Ibunya pulang kerja dari kantor.
Dia melakukan banyak kegiatan, termasuk menyetel musik keras-keras
dan bermain bola di rumah, yang membuat kamarnya semakin
berantakan, barang-barang berserakan di mana saja dan dirinya hanya
diam tanpa peduli sedikitpun. Ketika Lyssa berjalan mengelilingi
kamarnya, kakinya sendiri menginjak lego yang cukup tajam sehingga
dia berteriak cukup keras. Bibir Lyssa semakin cemberut ketika
menyadari kakinya berdarah. Dia segera membalut lukanya dengan
secarik plester.
Pukul empat sore, terdengar ketukan pintu yang cukup keras.
Lyssa membuka pintu, dan ternyata, Karen, datang mengunjunginya.
“Dari mana kamu tahu alamat rumahku?” tanya Lyssa. “Kepala sekolah.”
jawab Karen singkat.Lyssa baru ingin bertanya mengapa Karen
mengunjunginya sendirian. Karen benar -benar pergi ke rumah Lyssa
tanpa ditemani orangtua. Lyssa bisa melihat sepeda ungu Karen dari
jendela rumah. Ternyata dia naik sepeda ke rumahku, batin Lyssa.
Beberapa menit kemudian, Karen dan Lyssa berada di ruang tamu
rumah. Kedua sahabat itu duduk berdekatan di sofa, dan Lyssa bisa
melihat Karen menyerngit masam melihat keadaan rumah yang
berantakan. “Kamu anak perempuan, bukan?” cetus Karen. “Seharusnya
kamu bisa bersikap lebih rapi lagi.” “Berhenti mengkritik.” semprot
Lyssa. “Sekarang, mengapa kamu ingin ke rumahku?”
Tiba tiba sikap Karen mendadak serius dan dingin. Gadis itu
menyipit menatap Lyssa dan seisi rumah yang berantakan, kemudian
mulai berbicara. Kata kata pertama Karen langsung membuat Lyssa
tercekat. “Sepertinya kamu anak yang kurang peka.” ujar Karen.
Lyssa mengangkat alis. “Kenapa? Apa buktinya?” Karen mengambil
posisi paling nyaman untuk mulai berbicara. Lyssa merasa, bahwa,
sepertinya, Karen datang ke rumahnya hanya untuk menasehatinya dan
mengomel panjang lebar.
“Begini, Lyssa.” Karen memulai percakapan. “Ketika tadi kerja
kelompok di sekolah, kamu marah ketika Bryan telat masuk sekolah,dan
membuat kerja kelompok kita sedikit kacau. Tidak bisakah kamu lihat
Bryan terlihat lelah? Seragamnya berantakan, rambutnya belum disisir,
bahkan, resleting tas sekolahnya setengah terbuka. Ketika kamu mulai
marah kepada Bryan tadi, Bryan berusaha menjelaskan sesuatu, tapi
perkataannya terus kamu potong. Sampai setelah kamu pulang dari
sekolah, Bryan menceritakan semuanya kepadaku. Dia memang
diizinkan untuk telat sekolah, dan masuk sekolah di pelajaran terakhir.
Kenapa? Kudengar bahwa adiknya sakit ketika Bryan hendak berangkat
ke sekolah. Adiknya muntah-muntah, bahkan muntah darah, kemudian
Bryan harus mengurus adiknya dulu sebelum pergi ke sekolah. Bryan
meminta tolong kepada tetangga dan mengantarkan adiknya ke rumah
sakit.”
“Bagaimana dengan orangtua Bryan?” bantah Lyssa.
“Bryan yatim piatu. Dia tinggal bersama kakek dan neneknya yang
sudah sangat tua dan tidak bisa berbuat apapun.” balas Karen galak.
Lyssa terdiam. Dia bahkan memarahi Bryan tadi. Dia tidak
mengizinkan Bryan untuk berbicara, bahkan dirinya sendiri pun tidak
mengetahui bahwa Bryan adalah anak yang yatim piatu? Rasa bersalah
menghantam Lyssa bagai ombak ganas, membuatnya sama sekali tidak
bisa berkata-kata sedikitpun. “Tindakanmu tadi…ketika kamu
memarahi Bryan tanpa melihat penampilannya terlebih dahulu…kamu
anak yang kurang peka, sepertinya.” kata Karen.
“Kamu anak yang kurang peka”, kata-kata itu langsung menerjang Lyssa
bagai ombak yang lebih ganas lagi. “Selanjutnya.” Karen menghela
napas. “Kamu bahkan tidak peduli padaku ketika aku berteriak
memanggilmu, saat kamu menarik sepeda untuk pulang ke rumahmu
sendiri. Ingat itu, Lyssa?”
“Ingat.” jawab Lyssa serak. Setelah itu, Karen lanjut berbicara. “Aku pun
langsung bertanya kepada kepala sekolah. Di mana alamat rumahmu?
Dia bilang alamat rumahmu ada di kompleks Taman Anggrek, blok N8
Nomor 10. Aku langsung mengayuh sepedaku sendiri dari sekolah dan
pergi menuju rumahmu, berniat untuk menceritakan semuanya. Aku
bertanya kepada orang sekitar, bertanya seperti ini: ‘Ada yang tahu di
mana Kompleks Rumah Taman Anggrek? Saya harus lewat mana?’. Aku
mengajukan pertanyaan itu kepada orang sekitar, mereka yang tahu
jawabannya berkata kepadaku bahwa aku harus terus lurus, kemudian
belok untuk menyebrangi jembatan yang berdiri di atas sebuah sungai
kecil yang cukup deras.” ujar Karen.
“Lanjutkan ceritanya.” Lyssa memijit keningnya.
“Ketika aku menyebrangi jembatan yang berdiri di atas sungai kecil
itu,” kata Karen. “Aku melihat seorang anak laki laki, dia terbaring di
atas pelukan Ibunya di pinggir jembatan. Anak laki laki itu terus
menangis, kakinya bengkok, bengkak, dan biru. Aku mengetahui bahwa
anak laki laki itu sudah lebih dari satu jam menangis karena kakinya
patah, dan tidak ada yang menolongnya karena daerah sekitar di situ
sepi. Sampai akhirnya Ibu si anak laki laki datang dan memeluknya.
Cerita yang cukup sedih bukan?”
Lyssa terbebalak. Ini terdengar familiar.
“Aku menanyakan sesuatu kepada si anak laki laki.” cetus Karen.“Yah,
anak laki-laki patah tulang itu berkata, bahwa, seorang anak perempuan
yang lebih tua darinya yang sedang naik sepeda, menabraknya keras-
keras dan langsung pergi tanpa meminta maaf. Anak laki- laki itu juga
menambahkan, bahwa anak perempuan yang menabraknya
mengendarai sepeda berwarna merah.” Jantung Lyssa serasa berhenti
berdetak. Lyssa melirik sepedanya sendiri yang berwarna merah.
“Sepertinya yang menabrak anak laki laki di jembatan itu kamu, ya?”
semprot Karen. Lyssa berusaha berbicara, mulutnya terbuka dengan
lebar. Namun, tidak satupun kata kata yang keluar. Suara yang keluar
dari kerongkongannya hanyalah desahan lirih dan serak.
“Kamu memang kurang peka dan tidak peduli.” Karen menatap tajam.
Akhirnya, Lyssa mulai berbicara.
“Oh, astaga! Aku sangat minta maaf!” seru Lyssa. “A-aku bahkan tidak
menyangka bahwa Bryan anak yatim dan sama sekali tidak bersalah!
Lalu, untuk anak laki laki patah tulang tadi, sepertinya semua itu
memang salahku. Aku memang menabraknya namun tidak menolongnya
karena…”
“Yah, karena sikapmu kurang peka dan tidak peduli.” gertak Karen.
Lyssa memutar bola matanya, dia harus segera membuat Karen
memaklumi dirinya dan merasa kasihan. “Dengar.” kata Lyssa. “Aku
belum sarapan sejak pagi, bahkan tidak membawa bekal ke sekolah.
Jadi, mungkin aku lebih pemarah karena itu.”
“Lyssa, kamu meminum air minum pemberianku sampai habis! Kamu
tidak peka, ya? benar benar tidak PEKA?” jerit Karen. “Aku minta maaf
untuk itu.”
“Uh.” gerutu Karen. “Eh, mengapa kamu tidak sarapan dan tidak
membawa bekal ke sekolah?” Tiba-tiba, Lyssa merasa bahwa ini adalah
kesempatannya untuk mulai bercerita dan membuat Karen merasa
luluh. “Bibi Anna, pelayan rumah tangga rumahku pulang kampung.”
kata Lyssa. “Ibuku tidak membuatkanku sarapan ataupun bekal
sekolah.”
Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore lebih tiga puluh
menit. Karen dan Lyssa terdiam di ruang tamu, Karen sama sekali tidak
membalas jawaban Lyssa. Lyssa bisa melihat wajah kesal Karen ketika
menatap seisi rumah yang berantakan. Diam-diam, pandangan Karen
jatuh ke telapak kaki Lyssa. “Kakimu kenapa?” tanya Karen.
“Berdarah. Tidak sengaja menginjak sekeping lego.” jawab Lyssa datar.
“Ah, aku mengerti sekarang.” kata Karen. “Pertama-tama, kamu pergi
ke sekolah tanpa sarapan ataupun membawa bekal, karena, Ibumu tidak
menyiapkan sarapan dan bekal, karena Bibi Anna pulang kampung.
Kedua, kamu menghabiskan air minumku di sekolah, ketiga, kamu
memarahi Bryan tanpa melihatnya terlebih dahulu. Kali ini, kakimu
berdarah karena menginjak lego.” “Kuulangi sekali lagi.” bisik Karen.
“Kamu memang kurang peka.”Suara Karen begitu halus dan kecil seperti
desisan ular. Lyssa tercekat.
“Begini.” ujar Karen lagi. “Seharusnya kamu bisa lebih PEKA dan
mengerti. Kali ini Bibi Anna pulang kampung, kamu seharusnya bisa
melihat kalau, mungkin saja Ibumu kerepotan mengurus pekerjaan
rumah tangga, oleh karena itu dia tidak sempat menyiapkan sarapan dan
bekal sekolah untukmu. Lagi pula, umurmu sudah dua belas tahun. Pasti
kamu bisa menyiapkan sarapan dan bekal sekolah sendiri, kan?
Mengoleskan selai ke permukaan roti atau menggoreng telur tidak lebih
sulit daripada mengerjakan soal matematika! ”
‘Mengoleskan selai ke permukaan roti atau menggoreng telur tidak lebih
sulit daripada mengerjakan soal matematika’ kata kata ini sangat
familiar di kepala Lyssa.
Tiba-tiba Lyssa terdiam, dia merasa bersalah. Benar sekali, bukan?
Tadi pagi dirinya bisa melihat Ibunya mondar mandir di dapur untuk
mencuci piring. Ibunya sudah mendapat tugas dari kantor, dan tugas itu
sudah cukup sulit, banyak, dan tentu saja memakan waktu lebih.
Kemudian, Ibunya juga mendapat tugas baru untuk membersihkan seisi
rumah sekaligus menyiapkan makanan di meja. Bibir Lyssa cemberut.
Yah, memang seharusnya dirinya membantu Ibunya, bukannya marah
kepada Ibunya. Karen tersenyum. “Kulihat rumahmu ini berantakan.”
“Uh, ya. Terus kenapa?” Lyssa memanas.
“Mungkin ini bisa menjadi penyebab kamu menginjak lego dan membuat
kakimu sendiri berdarah.” semprot Karen.
Lyssa kembali terdiam. Ya, benar sekali. Dia tidak pernah mau
membereskan sesuatu jika berantakan. Matanya melirik ke telapak kaki
yang berdarah, kemudian diam diam merasa malu. Dia menginjak
legonya sendiri. Akibat dari tidak mau membersihkan kamar atau
rumah. “Seharusnya kamu lebih peka.” kata Karen. “Kamu bisa
menatap sekeliling lingkungan. Apakah lingkungan ini berantakan?
Rapi? Atau sepi atau ramai? Ajukan pertanyaan ini di kepala. Lalu,kalau
kamu mengetahui bahwa rumahmu berantakan, seharusnya kamu mulai
bergerak untuk membersihkan rumah. Ini manfaat dari sikap
kepekaan.”
Lyssa bergeming. “Ah, ya. Kamu alergi debu, Lyssa?” tanya Karen.
Tiba- tiba Lyssa melonjak. Dia baru ingat sekarang. Dia baru ingat
bahwa dirinya menginap alergi debu stadium empat. Bahkan, selama ini,
dia tidak peduli kepada dirinya sendiri bahwa dia mengidap sebuah
alergi yang sudah cukup parah!
“Aku tahu kalau kamu alergi debu.” lanjut Karen. “Seharusnya kamu
harus lebih sering membereskan barang barang yang berceceran. Kalau
tidak, debu-debu akan mengumpul dan alergimu akan sering kambuh.”
Karen tersenyum dengan riang. “Hanya menasehati. Sebaiknya
kamu menjadi orang yang lebih peka, oke? Aku harus pulang, Teman.
Sudah hampir jam enam sore. Ibuku akan sangat khawatir. Sampai
jumpa lagi!” Lyssa mengawasi sahabatnya membuka pintu rumahnya
untuk pergi. Tiba-tiba Karen menoleh. “Terkadang, kalau kita peka.
Kita bisa lebih peduli dan bertanggung jawab sehingga masalah cepat
diselesaikan. Ingat itu.” kata Karen. Kemudian Karen mengayuh
sepedanya pergi dari rumah Lyssa.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil hitam datang dan, ternyata
itu Ibunya Lyssa yang baru pulang kantor. “Selamat sore, sayang.” sapa
Ibunya. “Sore.” balas Lyssa. Tiba tiba ada sesuatu yang mengusik
dirinya. Ibunya terlihat sangat lelah. Lyssa tersenyum. Dia tahu apa yang
harus dilakukan. “Ibu duduk saja di sofa.” balas Lyssa.
Kemudian, Lyssa pergi ke dapur dan menyiapkan makan malam.
Menu yang cukup sederhana, namun hanya itu yang bisa disiapkan Lyssa
untuk Ibunya. Ibunya duduk di sofa dan menatap Lyssa dengan wajah
heran. “Waw.” kata Ibunya ketika Lyssa memberikan menu makan
malam. “Ada apa ini?” tanya Ibunya lagi.
“Aku berusaha peka. Ibu lelah, kan? Aku buatkan makan malam!”
Ibunya hanya tersenyum.
Sejak saat itu ada yang berubah dalam diri Lyssa. Ia bisa menjadi
seorang anak yang selalu peka terhadap orang lain.
***
☺ Jadilah pribadi yang lebih
peka. Dari bersikap peka,
kamu bisa menjadi orang
yang bertanggung
jawab dan mandiri. Lihatlah
lingkungan di
sekelilingmu,
apakah berantakan? Jika
kamu berbicara kepada seseorang atau ingin berbicara kepada orang itu, lihatlah terlebih
dahulu, apakah orang itu sedang sibuk atau lelah? Mari kita lebih peka lagi dalam bertindak,
sehingga kita lebih sadar akan keadaan sekitar dan menentukan tindakan yang paling baik .
Jangan Malas, Dong
Oleh : Maria Diandra
Nadia Sekar Anggraini, atau biasa dipanggil
Nadia adalah seorang murid kelas 6 di SD Mentari. Ia
dikenal sangat pemalas dan cuek terhadap pelajaran
di sekolahnya. Ia juga sering mendapatkan nilai
dibawah rata-rata. Entahlah, menurut Nadia dirinya
bukan malas belajar, itu salah boy group kesukaannya, NCT yang terlalu
banyak merilis konten, sehingga fokusnya teralihkan. Huft.. padahal
‘kan sama saja. Suatu hari di sekolah, Nadia masuk ke kelasnya sambil
mengucek matanya berkali-kali. Nadia menonton konten NCT
semalaman, jadi ia telat bangun hari ini. Aduh..
“Selamat pagi, Pak Dilan!” sapa Nadia. Pak Dilan adalah guru
Bahasa Indonesia. Ah.. pelajaran pasti sudah dimulai. Oh, iya! Jangan
tertipu ya.. gurunya ini bukan Dilan yang romantis seperti di seri buku
Dilan, gurunya ini cukup galak, lhoo..
“Selamat pagi… lho? Nadia? Kamu telat lagi? Aduh! Gemas saya lama-
lama! Disiplinlah, Nadia! Jangan telat mulu! Ya sudah, karena saya
sedang baik, duduklah” ucap Pak Dilan. Nadia mengangguk. “Baik, saya
akan membagikan hasil ulangan Bahasa Indonesia kalian 3 minggu lalu”
ucap Pak Dilan melanjutkan ucapannya. “Terima kasih, Pak” jawab para
murid serempak.
Nadia melihat hasil ulangannya, dan hasilnya… haah? 50?
Mukanya langsung pucat, ia menubrukan kepalanya ke meja, merasa
sebal. Ia mendengarkan sorakan bahagia teman-teman yang lain,
sepertinya nilai mereka memuaskan, tak terkecuali sang bintang kelas,
Salma. Nadia merasa iri atas nilai teman-temannya. Hahh.. coba saja ia
belajar lebih giat, coba saja ia tidak mengalihkan fokusnya, coba saja ia
lebih teliti. Tuh, ‘kan.. benar kata orang lain, penyesalan selalu datang
terakhir.
Nadia pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik, ia
segera makan siang karena ingin langsung tidur siang. Ia malas
menerima pertanyaan yang dilontarkan ibunya setiap kali ia pulang
sekolah. Contohnya menanyakan kegiatannya, perasaannya, dan lain
lain. Oh, ayolah.. itu bosan sekali! Setelah tidur siang, Nadia turun
tangga dan makan malam.
“Papa dapat kabar dari sekolah bahwa kau telat sekolah hari ini”
ucap Papa membuka suara. Mati deh! “Kenapa kau selalu telat, Nadia?”
tanya Mama
“Itu loh, Ma.. Nadia kan sibuk nonton oppa Korea sampai malam
buanget” celetuk Nadine, kakak Nadia. “Ish! Apaan sih Kak? Berisik
banget! Daripada Kakak, nonton kartun-kartun aneh itu.. apa sih itu
namanya? Anomi? Anemi? Amine?” jawab Nadia tidak mau kalah
“Anime kali” ucap Nadine membenarkan. “Sudah sudah…
makanannya bakal dingin kalau kalian berantem mulu” ucap Mama
melerai. “Nadia, jangan malas, dong.. disiplinlah. Sekolah itu untuk masa
depan kamu. Papa juga tahu, kok kalau nilai kamu sering dibawah KKM”
ucap Papa menasehati.
“Ya abis gimana Pa.. salah NCT merilis konten terlalu banyak, aku
jadi malas belajar gitu loh.. kayak.. NCT itu lebih menyenangkan” keluh
Nadia. “Yeuuu.. gimana sih, sama saja itu malas kamunya” ucap Nadine,
Nadia hanya diam, ia malas beradu mulut dengan kakaknya.
“Bagaimana kalau begini.. Papa akan belikan merchandise NCT
kalau nilaimu diatas nilai 90?” tawar Papa. Mata Nadia langsung
berbinar-binar. Merchandise NCT? Beneran? Oh ayolah.. pasti kalau
begini Nadia tergoda. “Ya ampun, Paaaa… mana mungkin bisa diatas 90
sih?” keluh Nadia. “Ya, kalau kamunya serius belajar pasti bisa, kok”
ucap Mama. “Huft.. ya sudah deh.. deal ya, Pa? tanya Nadia. “Deal.”
jawab Papa dengan mantap
Sudah selang 2 minggu sejak Nadia dan papanya menyetujui
kesepakatan mereka dan Nadia belum melawan rasa malasnya itu. Ia
masih saja tidur larut malam dan menunda pekerjaan rumahnya. Hahh..
rasanya sulit sekali melawan rasa malas belajar ini. Fokusnya selalu
teralihkan kepada hal lain. Ia lebih menyukai hal-hal yang lebih
menyenangkan daripada belajar. Suatu hari di sekolah, saat pelajaran
Bahasa Indonesia, Pak Joni mengumumkan ulangan yang akan
dilaksanakan minggu depan. Nadia yang daritadi sibuk sendiri
mendongak, ia rasa inilah saatnya belajar dengan giat.
“Inilah momenku!” ucap Nadia dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Tinggal 1 hari lagi ulangan Bahasa Indonesia dan Nadia masih belum
mempersiapkan apa-apa. Dari kemarin ia hanya membuka bukunya,
tanpa ada niat untuk membacanya. Huft.. melihat 1 halaman begini saja
sudah membuatnya muak. Berkali-kali ia berusaha untuk membaca dan
mendalami materi itu, tetapi tetap saja tidak bisa.
“Aduuhhhh.. ada apa dengan diriku? Mengapa sulit sekali untuk
belajar?” keluh Nadia
TING! Suara notifikasi dari handphone Nadia berdering.
“Astaga! Video klip NCT Dream?! Aku harus menontonnya!” Nadia
langsung berbaring di kasurnya, ia menonton sampai larut malam.
Meninggalkan buku pelajaran yang tergeletak menyedihkan di mejanya.
Bagaimana dengan belajarmu, Nadia?
Keesokan harinya, ulangan Bahasa Indonesia pun dilaksanakan.
Nadia bingung sekali, ia sama sekali tidak mengingat materi pelaj aran
ini. Oh, astaga! Ia lupa belajar kemarin!
“Sulit sekali! Ya Tuhan… aku malah menonton YouTube semalaman.
Aduh.. bagaimana ini?” ucap Nadia dalam hati.
Akhirnya, Nadia menjawab asal soal soal tersebut, ia sama sekali
tidak ingat materinya. Selang 2 minggu, akhirnya hasil ulangan Bahasa
Indonesia dibagikan. Nadia sangat gugup. Teman sekelasnya, Mark
menyerahkan hasil ulangan Nadia. Astaga! Hasilnya… 45?! Nadia
menyesal sekali, tidak seharusnya ia meninggalkan kegiatan belajarnya
kala itu. Ia merasa kecewa dan iri mendengar sorakan gembira teman
lain.
Sepulang sekolah, Nadia menangis sejadi-jadinya. Ia sangat
menyesal karena malas belajar. Kalau begini hasilnya, bagaimana ia bisa
mendapatkan merchandise NCT? “Nadia? Kamu tidak apa-apa?” tanya