The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

10 nilai dikemas dalam Cerpen kelas 6

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by silvisilviana1973, 2021-06-23 21:01:09

cerita inspiratif

10 nilai dikemas dalam Cerpen kelas 6

Mama dari luar kamar. Mendengar isakan Nadia, ia masuk kedalam
kamar putrinya. “Ada apa?” tanya Mama lembut

“Itu ma.. hiks.. ulangan Bahasa Indonesia hiks.. Nadia hasilnya 45
hiks..” ucap Nadia sambil terisak. “Lho.. kenapa? Kamu nggak belajar?”
tanya Mama sekali lagi, sedikit kaget kali ini. “Aku mencoba belajar, tapi
susah banget, Ma.. banyak banget godaannya” keluh Nadia. “Ya, dengan
begitu, kamu harus punya cara untuk mengtasi kesulitan dan rasa malas
belajarmu” ucap Mama menasehati
“Tapi gimana caranya?” tanya Nadia. Mata dan hidungnya masih
memerah karena habis menangis.

“Misalnya menutup notifikasi handphone kamu, menyisipkan waktu
untuk belajar. Misalnya 1 jam sehari, atau membuat rangkuman supaya
belajarnya jadi mudah” saran Mama
“Hm.. baiklah, Ma terima kasih sarannya” ucap Nadia. Ia langsung
memeluk Mama. Memang benar, ya.. ibu memang selalu tahu yang
terbaik.

Sejak satu minggu lalu, Nadia mulai memikirkan cara untuk
memotivasinya belajar. Mulai saat ini, ia akan semangat belajar.
Pertama, ia mulai mengatur alarm-nya agar bisa bangun lebih awal dan
tidak terlambat ke sekolah. Wajahnya terllihat cerah pagi ini, entahlah,
ia sangat ceria hari ini.

“Loh? Nadia? Tumben datangnya pagi. Lo sakit ya? Mana mukanya
cerah banget gitu lagi.. serem banget sumpah” ucap Yeri
“Hahahaha apaan sih? Lagi niat jadi lebih baik aja, Yer” jawab Nadia.
“Waduh.. keren dong.. semangat ya!” ucap Yeri dan diangguki oleh Nadia
Setelah sampai di rumah, Nadia langsung membuka buku pelajarannya.
Ia mengatur handphone-nya ke mode pesawat. Nadia mendengarkan
lagu sebentar. Kemudian, Nadia mencatat materi pelajaran dan
merangkumnya. Ia juga membagi waktu belajar dan hiburan. 1 jam
untuk belajar dan 1 jam untuk hiburan. Kemudian sisa waktunya ia
gunakan untuk membantu orangtua dan melakukan kegiatan
bermanfaat lainnya. Kebiasaan ini tentu beda dengan sebelumnya. Dulu,

Nadia hanya akan menghabiskan waktu di kamarnya untuk tidur atau
bermain handphone.

Beberapa waktu berlalu, hari ini Pak Dilan masuk kelas untuk
mengumumkan ulangan Matematika mendatang. Nadia sudah giat
belajar, ia sangat ingin mendapatkan nilai yang bagus.

“Semoga aku bisa mengerjakannya” gumam Nadia saat ulangan
dimulai
Nadia mengerjakan dengan serius. Ia mampu mengerjakan semua soal
dengan lancar. Tidak lupa, Nadia juga memeriksa jawabannya berkali-
kali. Hingga tiba saat pembagian nilai ulangan, Nadia mendapatkan nilai
98.

“Pa, Ma.. lihat! Nilai Nadia 98 tuh!” ucap Nadia semangat
“Nah.. kalau nilainya bagus siapa yang bangga? Kamu ‘kan? Makanya,ini
kenapa Papa suruh kamu belajar terus” goda Papa. “Hehe.. iya Pa” jawab
Nadia sambil cekikikan. “Jadi… aku dapat hadiahnya ‘kan Pa?” tanya
Nadia. “Ya pasti dong” jawab Papa disertai sorakan bahagia Nadia

***

☺ Tidak ada yang mudah di dunia ini, demi mendapatkan sesuatu kita harus berjuang.
Hilangkan rasa malasmu dan mulai kejarlah cita-citamu setinggi langit .

Mukena Baru untuk Mbak Sri

Oleh : Michaeal Frey

Tak seperti biasanya, hari ini Mbak Sri datang ke rumah lebih
siang dari biasanya. Padahal hari ini ibuku ada online
meeting di kantornya. Mbak Sri adalah asisten rumah
tangga yang bekerja di rumahku. Dengan wajah
kelelahan Mbak Sri meminta maaf kepada ibuku, “Maaf
Bu, saya kesiangan bangun. Semalam saya tidak bisa

tidur, memikirkan bagaimana caranya bisa bisa pulang kampung tanpa
melewati pemeriksaan. Saya harus pulang lebaran ini, karena anak saya
tidak ingin merayakan lebaran tanpa ibunya,” kata Mbak Sri dengan
logat Banyumas-nya. Sebelumnya ibuku pernah menawarkan
bantuannya untuk memesankan tiket kereta api atau travel untuk
kepulangan Mbak Sri, tetapi ditolaknya karena Mbak Sri takut
mengikuti tes rapid antigent. Hari itu berlalu dengan lambat bagi Mbak
Sri karena datang kesiangan.

Malam hari saat kami hendak tidur, aku dan kedua kakakku, Finn
dan Ferris, membahas rencana kepulangan Mbak Sri, di kamar. “Kak,
Mbak Sri sudah banyak berjasa untuk membantu pekerjaan kita di
rumah. Apalagi Mbak Sri sayang juga kepada kita. Kira-kira apa ya yang
bisa kita lakukan untuk membalas jasa Mbak Sri?” ujarku. “Iya ya,
hmmm… apa ya yang bisa kita berikan?” tanya Ferris. “Oh aku tahu…
Bagaimana kalau kita membelikan mukena dan sajadah baru untuk
Mbak Sri, agar nanti bisa dia pakai untuk ibadah Sholat Ied di
kampungnya?” sahutku. Finn menjawab,”Wah, ide bagus itu, Frey.
Tapi… ke mana kita harus beli?” “Kan kita bisa mencarinya di
Tokopedia, Finn” sahut Ferris lagi. Akhirnya setelah diskusi yang
panjang, kami memutuskan untuk mencarinya di Tokopedia.

Keesokan harinya, Mbak Sri tiba-tiba meminta ijin kepada ibu
untuk pulang kampung di hari Minggu, 25 April 2021. Mbak Sri bercerita
bahwa dia dapat tiket travel untuk pulang kampung di hari Minggu.Aku,

Ferris, dan Finn yang sedang makan siang, jelas sangat kaget
mendengarnya, karena kami masih belum mendapatkan mukena dan
sajadah sebagai hadiah untuk Mbak Sri. Kamipun segera mengadakan
“rapat penting” hari itu. Ferris bertugas mencari beberapa referensi
toko di Tokopedia yang menjual mukena dan sajadah yang murah
harganya dan penilaian yang baik dari para pembeli. Aku bertugas
memilih warna dan motif mukena dan sajadah yang hendak dibeli,
sedangkan Finn bertugas mencari kemasan pembungkus mukena dan
sajadah tersebut. Ternyata tugas tersebut termasuk salah satu tugas
terberat kami. Kami berulang kali beda pendapat, dan karena kami tidak
mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai mukena dan sajadah
yang baik bagi pemeluk agama Islam.

Akhirnya kami menyerah dan meminta pertolongan ibu untuk
memilihkan mukena dan sajadah yang terbaik dari beberapa pilihan
yang kami tentukan. Reaksi ibu pertama kali mendengar rencana kami
adalah terharu sekaligus bangga. Ibu memuji rencana kami dan
mendukungnya. Setelah beberapa lama, akhirnya kami memutuskan
untuk memilih mukena berenda dengan warna putih dan sajadah
berwarna coklat bergambar Masjid. Pertimbangan kami, di Hari
Lebaran, umat muslim merayakan Hari Kemenangan, dimana semuanya
disucikan menjadi baru lagi. Warna putih melambangkan kesucian,
karena telah menang melawan hawa nafsu, menahan lapar dan haus.

Ini adalah belanja online pertama kami. Kamipun begitu
bersemangat. Setiap kali ada ketukan di pintu pagar, kami bertiga
berlari keluar rumah untuk melihat siapa yang datang. Akhirnya Sabtu
siang, barang pesanan kamipun tiba. Kami langsung membawanya ke
kamar, khawatir Mbak Sri melihat hadiah kami. Tak lupa kami
menyelipkan kartu ucapan sebelum membungkusnya. Sore hari sebelum
pulang, Mbak Sri pun pamit kepada kami untuk pulang kampung selama
satu bulan.

“Finn, Ferris, Frey, Mbak Sri mau pulang kampung dulu ya besok.
Tolong nanti kalian bantu ibu untuk mengerjakan tugas rumah bersama-

sama, kasihan ibu jika semua dikerjakan sendiri. Selama Mbak Sri
pulang kampung, kalian harus rukun, jangan bertengkar apalagi berebut
barang,” kata Mbak Sri sambil berkaca-kaca. Dipeluknya kami satu
persatu. “Mbak, kami punya sedikit hadiah untuk Mbak Sri,” kata Finn.
Ferrispun meyerahkan bungkusan mukena dan sajadah yang kami beli.
“Ini untuk Mbak Sri. Terima kasih sudah sabar menghadapi kami selama
ini” kata Ferris. “Iya Mbak, kami minta maaf jika selama ini kami selalu
merepotkan Mbak Sri, dan sering jahil, tapi sebenarnya kami sayang
Mbak Sri,” ujarku melanjutkan. Finn pun menambahkan, “Mungkin
harganya tidak seberapa, tapi kami memberinya dari hati kami, Mbak,
sebagai penghargaan atas semua kebaikan Mbak Sri selama ini.”

Mbak Sri pun meneteskan air mata yang sejak tadi ditahannya.
“Aduuhh, kalian begitu baik hati, perhatian juga. Terima kasih Finn,
Ferris, Frey. Semoga Tuhan yang membalas kebaikan kalian,” sahut
Mbak Sri. Hari itu kami mengantar Mbak Sri pulang ke kontrakannya
karena membawa terlalu banyak barang. Ada parcel dari kami
sekeluarga, sembako, dan hadiah dari kami bertiga. Kami lega, puas, dan
sangat senang, karena akhirnya kami bisa memberikan mukena dan
sajadah baru untuk Mbak Sri pakai di hari Lebaran. Semoga Mbak Sri
menyukainya dan selalu mengingat kami saat Mbak Sri beribadah di
kampungnya, dan semoga Tuhan yang membalas segala kebaikan Mbak
Sri.

***

☺ Kita harus tahu balas budi. Memberi tanda kasih
/penghargaan kepada mereka yang sangat berjasa
dalam hidup kita secara tulus akan mendatangkan
kebahagian dalam batin.

Kanvas Tanpa Warna

Oleh : Natania Nalini Dewanto

Siska adalah seorang siswa yang memiliki bakat
dalam melukis dan menggambar. Gambar-gambarnya
di kelas KTK selalu membuat guru dan teman-
temannya takjub. Semua gambarnya terlihat sangat
detail. Dari gambar pemandangan sampai gambar
orang, semuanya kelihatan sangat realistis. Melihat bakat yang dimiliki
putrinya itu, orangtua Siska sering sekali mendaftarkan Siska untuk
mengikuti bermacam-macam lomba menggambar dan melukis, dan
kebanyakan hasil dari lomba-lomba yang Siska ikuti dapat membuat
orangtuanya tersenyum bangga.

Tahun ini, Siska ingin mencoba hal baru. Ia ingin masuk ke sekolah
seni ternama di Perancis, sehinnga ia memilih untuk mencoba ikut
lomba melukis di luar negeri, supaya mendapat pengalaman baru.
Negara yang ia pilih untuk lombanya kali ini adalah Inggris. Untuk
informasi tambahan, sejak pandemi, lomba melukis sekarang sudah
berbeda. Cara mengikuti lombanya adalah dengan mengfoto hasil
lukisannya yang lalu dikirimkan ke juri.

Lomba melukis kali ini mengambil tema film kesukaan. Film
kesukaan Siska adalah Harry Potter. Siska kepikiran untuk melukis
Harry, Hermonie, dan Ron, karakter-karakter kesukaannya dalam film
tersebut. Namun, Siska takut akan gagal menggambarnya.

Sudah dua bulan sejak Siska mendaftarkan diri untuk ikut lomba
itu. Akan tetapi, kanvasnya masih kosong. Tidak terlihat sedikit pun
warna di kanvas itu. Ia masih takut akan gagal.

Siska sebenarnya takut akan gagal karena teringat dengan
kejadian yang terjadi dalam lomba sebelumnya. Di lomba sebelumnya,
Siska diberi tema untuk menggambar atlet. Siska yang menyukai
olahraga tenis memilih untuk menggambar Serena Williams, idolanya.

Namun sayangnya, hasil gambarnya kali itu kurang bagus. Ia tidak
menang lomba itu dan ia malah diejek teman-temannya karena
gambarnya itu sama sekali tidak mirip dengan muka idolanya itu. Oleh
karena itu, Siska ketakutan untuk menggambar muka orang lagi. Ia
takut akan gagal lagi.

Tiga bulan berlalu dan tenggat waktu lombanya sudah mulai dekat.
Tinggal 1 bulan lagi! Ibu yang melihat kanvas melukis anaknya itu tidak
dilukis apapun menjadi bingung. “Kenapa belum dilukis? Kok tumben”,
pikir ibu.

Sudah seminggu ibu bolak-balik lewat kamar Siska, dan masih
bingung kenapa kanvas itu sama sekali tidak disentuh. Ibu akhirnya
memilih untuk bertanya Siska. “Siska, kok belum dilukis? Kan waktunya
tinggal bentar lagi”, tanya ibu.

“Hehehe, Siska bingung dan takut bu”, jawab Siska. “Loh kok
takut?”tanya Ibu. “Itu bu, kan kemarin itu Siska gambar muka Serena
Williams. Akhirnya ternyata beda banget sama aslinya, jadi malah gak
menang dan dijelek-jelekkin sama teman-teman. Siska takut salah lagi,
Siska gak mau diejek-ejek teman-teman lagi, kan gak enak” ,jawab Siska.
“Siska ga mau ikut lombanya deh Bu, kalau mungkin, mau berhenti
menggambar saja”, tambah Siska.

Mendengar perkataan puterinya ini, Ibu terkejut sekali dan
hampir marah. Ia tidak pernah lihat putri kesayangannya putus asa
seperti ini. Biasanya, Siska selalu senang dan bersemangat saat melukis.

“Siska! Siska pikir daftarin kamu untuk ikut lomba-lomba itu
murah? Siska kira gampang untuk ikut lomba-lomba melukis di luar
negeri? Ya pasti susah. Masa gara-gara diejek teman aja takut. Bakat
bagus gini malah mau dibuang aja. Nanti Siska malah nyesal loh karena
bakat bagus ini tidak diasah dan dikembangkan,” kata ibu dengan nada
tinggi. Siska terkejut sekali, ia tidak pernah melihat ibunya sekecewa ini.

“Ibu emangnya pernah ngajarin kamu kata menyerah? Setahu ibu
ya, ibu selalu ngajarin Siska untuk mau mencoba. Walaupun gak

berhasil, coba aja terus. Biarin banyak kertas dibuang-buang, kamu
harus coba sampai kamu puas dengan gambarmu sendiri. Jangan
ketakutan sendiri dengan perkataan teman-temanmu! Lagian, harusnya
kamu ambil ejekan temanmu itu sebagai semangat. Kamu harusnya mau
membuktikan ke temanmu kalau perkataan mereka salah. Lukis kanvas
itu sebagus yang kamu bisa dan dapat piala. Lalu tunjukkin piala itu ke
teman-temanmu! Pasti mereka akan sadar dan meminta maaf!” lanjut
ibu.

Siska mendengar perkataan ibu menjadi sadar. “Kenapa gara-gara
perkataan beberapa teman saja malah membuatku takut begini?”pikir
Siska dalam kepalanya.

“Udahlah, pokoknya Siska gaboleh putus asa. Di keluarga ini tak ada
yang namanya putus asa”, kata ibu sebelum ia keluar kamar Siska. Siska
merefleksikan perkataan ibu.

“Benar ya, ngapain juga aku mikirin perkataan teman-teman.
Kalau aku emang suka melukis, ya aku melukis aja. Ngapa juga aku
harus nyerah saat ada orang lain yang menghalangi hobiku!” ucap Siska
ke dirinya sendiri. Setelah mendengar kata-kata ibu, Siska langsung
mengambil pensilnya dan mengsketsa di kanvasnya itu. Iya benar, Siska
gagal beberapa kali. Akan tetapi, apakah dia menyerah? Tentu tidak.Dia
mencoba terus.

Sudah banyak kertas yang dia habiskan untuk membuat lukisan
itu. Namun akhirnya, di kertasnya yang kedua puluh, sebuah senyuman
dapat terlihat di muka Siska. Gambarnya itu membuatnya senang,
hasilnya sangat mirip dengan orang-orang yang ia ingin gambar. Ia
bangga sekali dengan dirinya sendiri.

Tiga minggu sudah berlalu, dan hasil lomba akan diumumkan hari
ini. Siska dan keluarganya sedang menunggu didepan laptop dengan
perasaan campur aduk, ada perasaan takut, ada perasaan tidak sabar,
dan juga perasaan-perasaan lainnya. Tak lama kemudian, ada email
muncul di laptop Siska.

Siska membuka email tersebut dan sangat terkejut. Ia menang
dengan peringkat juara pertama! Semua perasaan campur aduk di
ruangan tersebut berubah menjadi bahagia dan bangga. Orangtua Siska
bangga sekali dengan putri tunggalnya itu. Siska sendiri pun merasa
bersyukur karena tidak menyerah. Ia juga bersyukur kepada ibunya
yang telah membangkitkan semangatnya.

“Bu, makasih ya, udah semangatin Siska”, ucap Siska sambil memeluk
ibunya. “Hahaha iya Siska, sekarang gak nyesal kan?” kata Ibu. Siska
mengangguk-angguk dan senyum ke ibunya. “Hasil tak akan
mengkianati proses !” kata Ibu sambil tersenyum lega.

☺ Sesulit-sulitnya tugas, *** kita harus mengerjakannya
sampai akhir dan tidak berikutnya. boleh putus asa. Belajarlah
dari kesalahan kita untuk memperbaikinya di hari-hari

Bertanding Sepak Bola

Oleh : Wilfridus Dhiaz

Pada pagi yang cerah Tono, Indro, dan teman-teman sedang
bertanding sepak bola dengan Tim Biru. Mereka
sudah tertinggal skor yaitu Tim Merah 1-3 Biru.
Penyebab kekalahn mereka karena kurang kerja
sama.

“Gimana nih, kita ketinggalan skor yang
banyak” kata Tono.

“Yaa gimana, terkadang ada yang egois mau ambil sendiri” kata Indro
“Itu karena aku jarang dapat bola !!!” kata Andre.
“Apaaaa…., kamu itu diem doing, jadi kami tidak tau kalau kamu mau
dapet bola”sahut Tono. Mereka merasa diri mereka tidak salah.

Saat istirahat sebelum masuk permainan ke babak kedua,..
“Guys, kita harus kerja sama! Kalau gini terus, kita akan kalah lagi ” kata
Tono
“Iya, iya, tapi kan kita semua suka rebutan bola, kalau tidak dikasih
malah masalah. Sebab itu harus ada strategi yang cukup untuk kita!”
kata Indro. Akhirnya Tono pun mulai menyusun strategi untuk
kemenangan tim mereka.

Pertandingan babak ke -2 sudah dimulai. Mereka bermain penuh
semangat.
“Ayoo semuaa… semangat” teriak Tono. Tampak semua berusaha untuk
menggiring bola ke arah gawang. Namun sayangnya, ada satu dari tim
mereka yang tampak tak sejalan. Andre terlihat kurang bias bekerja
sama. Ia malah bermain mengikuti kemauan sendiri. Akhirnya mereka
tertinggal satu skor kembali. Mereka kalah. Tono tampak tak senang
dengan sikap Andre di lapangan. Ia mendatangi Andre.

“Kenapa kamu main sendiri, bukankah kita satu tim” kata Tono
dengan nada tinggi. Andre terdiam sesaat, ia menyadari kesalahannya

lalu jawabnya dengan pelan. “maafkan aku teman, aku lupa.” Tono
menghela nafas panjang menahan kekesalannya pada Andre. “Maaf…
maaf… enak saja bilang maaf.. kan aku udah kasih tau bahwa ini
pertandingan betulan…bukan mainan” kata Tono dengan menahan
emosi marah. Tapi pada akhirnya, Tono memaafkan Andre. Mereka
kembali masuk babak selanjutnya.

Team merah mulai mencetak “goal” yang cukup untuk mendapatkan
skor mereka Kembali skor Tim merah 3 - 4 untuk tim Biru.

Mereka masih kekurangan 1 skor lagi. Tim mereka sedikit rusak
dalam strategi. Hal ini disebabkan olek Andre yang selalu ingin main
sendiri atau egois. Akhirnya Tono memikirkan cara agar Andre tidak
bermain dengan egois dalam pertandingan.

“Andre, coba ikut aku bentar” kata Tono. “oke, siap ” jawab Andre.

Tono pun coba untuk mengatur permainan Andre. Tetapi Andre tidak
mau mengikuti strategi yang disarankan Tono. “Andre, tolong
yaa..pleasee…ketika kamu dapet bola kasihkan, opeeerlaah ke teman
yang cukup dekat” kata Tono.

“Apa! Kaga mau, enak aja aku mau dapet bola” jawab Andre penuh emosi.

“Help ..please.. lah tolong .. demi tim kita … ini tinggal sedikit lagi untuk
mendapatkan kemenangan” kata Tono dengan nada memohon.

“Oke aku akan mengikuti cara mu” jawab Andre dengan agak manyun.
Setelah itu, tim mereka siap kembali berlaga di lapangan.

Pertandingan berlanjut ternyata berhasil dengan strategi yang
diusulkan Tono. Namun ada sedikit kesalahan lain yaitu bola malah
keluar dari lapangan. Mereka terlihat mulai capek sebab pertandingan
terus berlanjut. Satu sama lain tetap saling memberi semangat. Mereka
coba bermain lebih focus dan akhirnya mereka mendapatkan
kemenangan.

“HORE!!!” teriakan para supporter dari Tim Merah. Ada yang
melonpat-lompat dan menari di pinggir lapangan. Pertandingan sepak
bola pun selesai.

“Akhirnya kita bisa mendapatkan kemenangan” kata Tono.

“Mantap kerja sama kita bisa” kata Indro. Andre ikut bergembira.
Mereka saling bergandengan tangan dan berjanji akan lebih kompak
lagi. Mereka membawa pulang piala dengan hati bahagia. Tidak lupa,
mereka berfoto bersama dengan tim lawan. Tim lawan pun memberi
ucapan selamat kepada mereka. Tak ada kemarahan satu sama lain
karena dalam mereka menyadari bahwa dalam suatu pertandingan,
pasti ada yang menang dan ada yang kalah.

***

☺ Kerja sama sangat diperlukan
untuk meraih keberhasilan
dalam sebuah tim

Indahnya Berbagi di Tengan Pandemi

Oleh : Silvi Silviana1975

Sore itu aku sedang bersantai garasi depan rumah. Garasi yang
berada di bawah pohon mangga berdaun lebat
membuat udara terasa segar. Biasanya jam-jam
segitu, aku selalu melihat tetanggaku yang bernama
Pak Wawan dan istrinya sedang menyiram tanaman

ataupun menyapu halaman. Namun kali ini, mereka tidak tampak.
Rumah pun terlihat sepi. Anak-anaknya juga tak kelihatan. “Mungkin
mereka sedang bepergian!” pikirku.

Aku masuk rumah ketika terdengar suara magrib dari masjid yang
tak jauh dari rumah. Kulanjutkan aktivitasku sore itu, mulai dari mandi,
menyiapkan makan malam, dan beres-beres rumah seperlunya. Tanpa
terasa sudah pukul sembilan malam. Alarm HP yang berbunyi
mengingatkanku untuk segera tidur. Saat kuambil HP, aku
kaget..ratusan WA masuk. Hal paling membuat kaget adalah saat aku
membaca WA Pak Wawan. Pesan singkatnya berbunyi demikian,
“Bu,..mohon maaf, kami berdua positif covid berdasarkan hasil tes
antigen. Jadi disuruh isolasi mandiri di rumah dahulu !” Aku terdiam,
panik, namun berusaha untuk tetap tenang. Malam itu, aku tak dapat
tidur. Walau bagaimanapun, kami bertetangga dekat. Ada ketakutan
merasuki jiwa, namun semua aku satukan dalam doa di malam itu.
“Tuhan, jauhkan kami dari mara bahaya!” ucapku lirih.

Kesokan harinya, begitu bangun aku mencoba menelpon keluarga
Pak Wawan. “Hallo,..bagaimana keadaan Pak Wawan dan Ibu ? tanyaku.
Pak Wawan menjawab, “ Waduh Bu, saya sama sekali gak bisa mencium
bau apa-apa..tenggorokan terasa kering, apa yang harus saya lakukan ?”
Belum sempat aku menjawab, aku mendengar samar suara Bu Wawan
mengeluh bahwa badannya semua lemas dan perut mual. “Pak,
bagaimana kalau saya bantu untuk melapor ke satgas covid wilayah kita,

agar Bapak/Ibu segera ditindaklanjuti ?” ucapku. Pak Wawan sangat
senang, beliau setuju.

Sambil menunggu informasi lanjutan dari tim penanganan covid,
aku mencoba membantu dengan sedikit yang aku bisa, misalnya
mengirim sarapan pagi, makan siang, dan beberapa buah. Aku juga
mengirimkan telur ayam kampung satu pack. Dari berita yang kubaca,
telur ayam kampung sangat baik untuk kesehatan. Semua makanan aku
gantungin di pagar Pak Wawan. Aku tak menyadari bahwa diam-diam
ada tetangga lain yang melihat apa yang sudah kulakukan, sebut saja
namanya Bu Niki.

Saat aku kembali dari menggantung makanan di pagar Pak
Wawan, Bu Niki menanyaiku, “Buu ..maaf kepo nih..kok Ibu gantungin
bungkusan di rumah Pak Wawan, ada apa ?” Aku dekatin Bu Niki dan
kujawab “ Pak Wawan dan istrinya kena covid dan sedang isolasi
mandiri. Mereka butuh bantuan karena tak boleh keluar. Bu Niki
mengangguk tanda mengerti. Pada akhirnya, kami para tetangga
menjadi tahu dan bergantian membantu keluarga Pak Wawan untuk
kebutuhan harian selama mereka isolasi di rumah.

Dua hari kemudian, terdengar kabar bahwa Pak Wawan sudah
dibawa ke rumah isolasi khusus pasien covid yang ada di wilayah kami.
Di sana penanganan akan lebih baik karena dilayani oleh dokter dan
tenaga medis khusus pasien covid. Sekarang, fokus kami beralih kepada
istri dan dua anak Pak Wawan yang isolasi di rumah. Tanpa dikomando
lagi, kami para warga sepakat untuk tetap membantu mereka.

Ada perasan bahagia menyelip di relung hati, ketika aku bisa
membantu sesama yang sedang terkena musibah. Besar kecil bantuan
tidak jadi soal, yang terpenting adalah ketulusan dan kerelaan berbagi.
Kami pun sadar, virus covid ini bisa menghampiri siapa saja. Semoga
untuk hari-hari selanjutnya, kami semakin mampu untuk mewujudkan
sikap peduli dalam hidup bermasyarakat, agar relasi semakin baik dan
tali persaudaraan semakin erat.

☺ Hidup bertetangga harus peduli satu sama lain.
Jika ada yang butuh bantuan, berikan segera,
lakukan apa yang kita bisa, jangan menunggu

***

Tetap Semangat Kawan

Oleh : Lusi Veranita

“Meilani? Oya? Wah, kasihan sekali!” terdengar
sepenggal percakapan yang didengar Ibu dari dapur.

Sesaat kemudian, Dina menutup telepon
genggamnya. Ia segera lari menuju dapur. Ia segera
menceritakan percakapannya dengan Lola tadi
kepada Ibunya.
“Bu, tadi Lena mengatakan jika ibu dan ayah Meilani positif Covid-19.
Kasihan Meilani, dia sekarang harus tinggal bersama neneknya. Padahal
neneknya sudah tidak lincah lagi,” paparnya.
“Semoga Tuhan beri kelancaran dan orang tua Meilani segera pulih,”
ujar Ibu.

***
Setelah mandi dan sarapan, Dina segera bersiap diri di depan layar
laptopnya untuk sekolah. Ya, sejak pandemi memang sekolah dilakukan
secara daring. Segala aktivitas lebih banyak dilakukan di rumah.
“Selamat pagi, Anak-anak,” sapa Ibu Tiara.
“Selamat pagi, Bu Tiara,” balas Dina dan teman-temannya.
Teman-teman Dina masuk ke kelas daring satu persatu. Sampai waktu
doa mulai, tetapi Meilani tidak muncul juga.
“Mungkin Meilani terkendala sinyal,” pikir Dina.
Waktu belajar pun dimulai. Dina dan teman-temannya belajar dengan
baik. Sampai pembelajaran selesai, Meilani tak kunjung masuk juga.

***
Setelah tidur siang, seperti biasa Dina bersepeda mengelilingi
kompleknya bersama Lola dan Cindy. Tak lupa mereka memakai masker.
Mereka berkeliling komplek sambil bercanda dan sesekali mereka saling
salip seolah mereka sedang berlomba naik sepeda. Tak sadar, mereka
melewati rumah Meilani. Di pintunya tertempel sebuah kertas yang
menurut mereka itu sebuah pemberitahuan jika keluarga Meilani sedang

melakukan isolasi mandiri. Dina sepintas melihat Meilani dari balik
jendela sedang memperhatikan mereka. Tampak ia sangat sedih karena
tidak bisa keluar rumah.

“Ah, ayo kita cepat-cepat! Nanti terlular lho, hiiiii…” seru Cindy
sambil mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga.
Dina terkejut mendengar ucapan Cindy yang menurutnya pasti Meilani
mendengarnya. Betul dugaan Dina. Meilani tampak menundukkan
kepalanya dan menangis. Segera Meilani berlari menjauh dari jendela
itu. Lola dan Dina hanya saling tatap dan segera mengayuh sepedanya
pulang ke rumah masing-masing.

“Permisi, Dina pulang, Bu!” teriak Dina dari teras rumah setelah
meletakkan sepedanya di garasi.
Dia lalu mencuci tangan menggunakan sabun di depan rumahnya.
Perlengkapan itu memang sengaja disiapkan oleh orang tua Dina untuk
pencegahan penularan virus yang saat ini banyak menyebar. Setelah
cuci tangan, ia lalu masuk ke rumah. Segera dia menuju kamar mandi
untuk mencuci kakinya.

“Sudah sore, Din! Segeralah mandi!” teriak Ibu dari dapur.
“Iya, Bu!” sahut Dina sambil berlari ke atas menuju kamarnya.
Ia segera mandi dan berpakaian.
Dina keluar dari kamarnya lalu turun. Ia melihat ibunya sedang di
ruang keluarga. Ibunya sedang menonton televisi. Dina lalu menyusul
dan ikut menonton televisi. Dia duduk berhadapan dengan ibunya. Dia
meraih toples yang berisi kacang di meja. Sambil mengunyah kacangnya,
ia mulai menceritakan pengalamannya bersepeda dengan Cindy dan
Lola sore tadi. Ibu mendengarkan dengan serius.
“Wah, kasihan sekali Meilani, Din. Pasti dia sangat sedih,” tanggapan
Ibu saat mendengar cerita tentang perkataan Cindy saat di depan rumah
Meilani tadi.
“Sebaiknya besok kamu beritahu Cindy supaya tidak mengulang lagi
hal tersebut. Meilani pasti juga tidak ingin orang tuanya terpapar virus
ini, kan?” tambah Ibu.

Dina tertegun mendengar perkataan ibunya. Ia tambah merasa kasihan
kepada Meilani.

“Ibu, bolehkan aku menelepon Meilani, Bu? Aku hanya ingin menyapa
dan mengetahui kabarnya saja,” pinta Dina kepada ibunya.
Ibunya mengangguk. Segera Dina menghubungi Meilani. Mereka cukup
lama berbincang-bincang. Sesekali tampak Dina tertawa sambil
menceritakan hal-hal yang lucu kepada Meilani. Dia berusaha
menghibur Meilani agar tak kesepian.

“Aku akan berusaha sering menghubungimu, Mei. Tetap semangat,
Kawan!” tutur Dina sesaat sebelum ia menutup teleponnya.
Ibu tersenyum melihatnya.

***
Sore hari berikutnya, Cindy, Lola, dan Dina sedang duduk di bawah
pohon di taman komplek rumah mereka. Dina bercerita kepada kedua
temannya itu bahwa dia menelepon Meilani kemarin sore. Lola pun
mengatakan akan menelepon Meilani nanti sepulang mereka dari
bersepeda.
“Ih, aku tidak mau. Kalian sajalah yang menelepon dia!” sahut Cindy
ketus.
Lola dan Dina hanya berpandangan melihat sikap Cindy itu. Segera Dina
teringat pesan ibunya agar memberitahu Cindy untuk tidak mengulangi
sikapnya itu. Dina mengulang pesan ibunya. Cindy sesaat terdiam, lalu
segera ia mengatakan bahwa ia akan pulang karena sudah sore. Dina dan
Lola pun menyusulnya untuk segera pulang. Sepertia biasa sesampai di
rumah, Dina lalu menceritakan pengalaman sore itu kepada ibunya.

***
Tak terasa dua minggu sudah berlalu. Orang tua Meilani sudah
dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Lola dan Dina senang
mendengar kabar itu.
“Aku tidak mau bermain dengan Meilani. Takut tertular. Kalau kalian
mau bermain dengannya, silakan. Tapi maaf ya, aku tidak akan bermain
dengan kalian,” ujar Cindy.

“Tapi kan orang tua Meilani sudah sembuh, dan yang terpapar virus
kan hanya orang tuanya. Meilani kan tidak terpapar,” kata Lola.

“Kata ibuku rumah Meilani juga sudah didisinfektan kok. Jadi sudah
aman,” tambah Dina.
Akan tetapi, Cindy tidak mau mendengarkan alasan itu. Segera dia
berlari pulang. Dina dan Lola hanya geleng-geleng.

Dina dan Lola berjalan pulang. Saat itu, mereka melihat Meilani
menemani neneknya berjalan-jalan di sekitar rumahnya. Sesaat mereka
ragu umtuk menghampiri mereka. Namun, Dina dan Lola percaya
dengan pesan orang tua mereka. Mereka pun segera menghampiri
Meilani dan neneknya. Mereka berbincang dan saling menanyakan
kabar. Karena hari sudah mulai petang, Dina dan Lola pun berpamitan.
Mereka pulang ke rumah masing-masing.

“Nah, begitu, itu baru namanya anak, Ibu,” puji ibunya setelah Dina
bercerita tentang peristiwa Dina dan Lola bersama Meilani tadi.

***
Hujan turun dengan deras. Dina dan teman-temannya tidak dapat
bermain sepeda. Mereka lalu membuat janji untuk berbincang melalui
zoom. Kali ini Dina yang membuat link-nya. Pukul 13.00 tepat mereka
memulainya. Kali ini Meilani tidak bisa bergabung karena harus
mengantar neneknya untuk mengecek kesehatannya.
Perbincangan mereka sangat seru. Banyak yang dibicarakan, dari
bintang Korea idola mereka sampai menu makan siang tadi. Mereka
bahkan bisa berdebat karena membela idola masing-masing. Kali ini
mereka juga membicarakan berita-berita hangat di sekitar mereka.
Termasuk keadaan di komplek mereka. Orang tua Meilani pun tak luput
dari pembicaraan mereka. Terutama Cindy. Ia masih sangat khawatir
jika Meilani akan menularkan virus itu. Apalagi dia mendengar jika
virus dapat bertahan berjam-jam di benda-benda sekitar si penderita.
Ibu Dina mendengar percakapan mereka yang seru itu dengan serius.
Sesekali beliau ikut tertawa karena topik lucu atau tingkah mereka saat
membela artis idola masing-masing. Namun, saat beliau mendengar
kekhawatiran Cindy, beliau segera mencari informasi berkaitan virus

Corona dan mengunduh video pendukungnya. Ibu lalu mengirimkannya
kepada Dina melalui WhatsApp.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Tak terasa sudah dua jam
mereka berbincang-bincang. Mereka segera menyudahi pertemuan
mereka itu. Mereka pun melanjutkan aktivitas masing-masing.
Dina mulai belajar sore itu. Tugas-tugas sudah menanti untuk
dikerjakan dan segera dikumpulkan.

Ia selalu ingat kata-kata ibunya, “Semakin cepat tugas diselesaikan,
maka kita akan lebih tenang, santai, dan tanggung jawab kita semakin
ringan.”

Selesai belajar, ia segera keluar kamar dan turun untuk makan
malam. Setelah membereskan semua peralatan makannya, ia menuju
ruang keluarga. Ibu segera memberitahu tujuan Ibu memberikan
informasi dan video pendukung tersebut kepada Dina. Dina pun
memahami maksud ibunya. Mereka berbincang sampai pukul 20.00.
Segera Dina bangkit dan menuju kamarnya untuk berangkat tidur.

***
“Teman-teman, nanti kita zoom lagi, yuk!” ajak Dina.
Tentu saja ajakan Dina langsung disambut oleh teman-temannya dengan
girang.
Kali ini Meilani bisa ikut bergabung dengan mereka. Akan tetapi, sengaja
Dina mengajak Meilani dengan jam yang berbeda, Ia tidak mau suasana
seru mereka akan berubah ketika Cindy tahu Meilani ikut bergabung.
“Eh, teman-teman! Aku punya film seru dan pengetahuan yang bagus
lho untuk kita ketahui,” ujar Dina membuat teman-temannya penasaran.
“Apa itu, Din? Ayo, segera putarkan!” kata Cindy.
“Iya, ayolah Din! Semoga jaringan kita bagus ya hari ini,” kata Lola
berharap-harap cemas.
“Jaringan kitaaa? Jaringanmu sendiri maksudnya ya, La?” timpal
Cindy disambut tawa mereka.
Memang dari antara mereka, jaringan Lola paling sering mengalami
kendala.

Dina pun memutarkan video lalu mengajak teman-temannya berdiskusi
tentang isi video tersebut. Dina juga mengajak teman-temannya untuk
memahami bersama informasi dari ibunya semalam.
Tak hanya itu, ternyata sesaat kemudian, Tante Yola dan Meilani Dina
admit untuk bergabung dengan mereka. Cindy merasa canggung ketika
mengetahui Meilani bergabung dengan mereka. Akan tetapi, semua itu
segera tertutupi oleh celoteh Tante Yola yang ramai dan ceria itu.

Tante Yola adalah teman ibunya yang menjadi seorang perawat di
sebuah rumah sakit. Tentu saja, Tante Yola menguasai sekali informasi
berkaitan dengan virus Corona.
Tante Yola, apakah virus Corona bisa menular jika penderitanya sudah
sembuh?
Apakah kita bisa tertular virus itu jika kita naik bus?
Dan banyak lagi pertanyaan yang mereka ajukan. Mereka berebut untuk
mengajukan pertanyaan karena rasa ingin tahu mereka yang besar.
Tante Yola sangat senang dengan antusias mereka. Beliau pun menjawab
dan menjelaskan satu persatu pertanyaan demi pertanyaan dengan
sabar. Sesekali terdengar bunyi “ooo…” yang kompak dari mulut mereka.

“O jadi begitu ya, Tante,” kata Dina sambil mengangguk-anggukan
kepala tanda paham.

“Baiklah, saya sudah paham, Tante,”kata Lola.
“Wah, saya jadi lega, nih!” kata Cindy.
“Jadi saat ini, kuncinya, kita harus menaati protokol kesehatan
dengan melakukan 5M ya, Tante,” sambung Meilani.
Cindy lalu melihat ke arah Meilani. Dia merasa tidak enak kepada
Meilani atas sikapnya selama ini kepadanya. Dia pun segeera meminta
maaf kepada Meilani.
“Maaf ya, Mei,” katanya.
“Tidak apa-apa kok, Cin. Itu kan karena kita belum memahami betul
tentang Corona ini,” balas Meilani.
“Terima kasih ya, teman-teman. Selama keluargaku isolasi mandiri
beberapa waktu lalu, kalian menemani dan menghiburku dengan

bergiliran meneleponku. Karena itu, aku jadi semangat dan ceria
kembali,” tambahnya.

“Wah, lihatlah. Karena kepekaan kalian, Meilani jadi semangat dan
ceria lagi. Tante senang mendengarnya. Janganlah mereka dijauhi,
tetapi haruslah mereka kita motivasi,” papar Tante Yola.

“Kalian juga jangan menjauhi mereka ya,” tambahnya.
“Baik, Tante,” jawab mereka serempak.

***

☺ Kepekaan kita terhadap teman sangat m em bantu m ereka walaupun hanya berupa
penghiburan dan doa kita untuk mereka.

Sekolah Online yang Menyenangkan

Oleh : Irina Susilaningrum

Malam itu, Seika Dinda Iswara seorang gadis
kecil sedang duduk merenung di sudut kamarnya.
Ia biasa dipanggil Dinda. Ia merasa sedih dan
kesepian, karena tidak bisa sekolah seperti
biasanya. Dinda harus mengikuti sekolah online karena pandemi virus
corona. Dinda rindu bertemu dengan teman-temannya di sekolah. Tiba-
tiba Bunda menghampiri Dinda.
“Dinda kok belum tidur?” tanya Bunda. Dinda merasa terkejut
mendengar sapaan Bundanya.
“Belum Bun, Dinda merasa sedih. Rindu ingin kembali ke sekolah,” kata
Dinda dengan raut sedih.
“Sabar, Dinda berdoa ya supaya pandemi covid 19 segera berakhir dan
Dinda bisa kembali bersekolah,” nasihat Bunda kepada Dinda.
“Iya Bun, malam ini Dinda berdoa untuk Dinda dan teman-teman supaya
besok semangat belajarnya,” ucap Dinda dengan nada bersemangat
kembali.
Pagi hari sebelum mulai sekolah online Dinda membuat suatu
karya. Ia menggambar suasana sekolah online bersama guru dan teman-
temannya. Setelah selesai memberi warna pada gambarnya, ia juga
membingkai di setiap tepi gambar miliknya. Dinda memiliki rencana
menunjukkan gambarnya pada saat sekolah online. Ia ingin memberi
semangat kepada guru dan teman-temannya. Dinda saat ini duduk di
bangku Sekolah Dasar. Sekolah online dimulai pukul 08.00 WIB. Dinda
sudah siap sejak pukul 07.00 WIB. Pada saat sekolah online dimulai
Dinda sangat antusias untuk mengikutinya karena semalam ia sudah
berdoa.
“ Selamat pagi anak-anak kelas 3 Humanis, selamat bertemu kembali.
Bagaimana perasaannya hari ini?” sambut Ibu guru.
“ Senanggggggg,” sahut anak-anak serentak.

Setelah itu beberapa dari mereka mulai menceritakan perasaan
dan pendapatnya masing-masing. Dinda mendapatkan kesempatan dari
Ibu guru untuk bercerita. Dinda menunjukkan gambar yang ia buat dan
mengajak teman-temannya untuk semangat mengikuti sekolah online.
“ Terima kasih Dinda, sudah bersemangat untuk belajar secara online
bersama. Dinda juga sudah membuat gambar yang sangat indah,” puji
Ibu guru.
“ Sama-sama Ibu, Dinda sudah berdoa agar kita bisa bertemu lagi di
sekolah,” jelas Dinda dengan wajah berbinar.
Semua teman-temannya mengamini ucapan Dinda. Meskipun Dinda
mendapat pujian dari Ibu guru, ia tidak sombong dan tetap rendah hati.

Tiba-tiba saat pembelajaran online berlangsung, jaringan internet
Ibu guru sedang tidak bagus. Ibu guru keluar dari zoom. Suasana
berubah menjadi sangat ribut.
“Teman-teman tolong diammmmmm!” teriak Dinda mengingatkan.
“Ibu guru mana?” teriak Boni.
“Ibu guru sepertinya jaringannya sedang tidak bagus, kita tunggu saja
sambil baca buku,” pinta Yesi.
Kondisi kelaspun kembali tenang, mereka membaca materi yang
diberikan. Lima menit kemudian Ibu guru sudah berhasil masuk kembali
ke dalam zoom.

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Dinda sudah selesai sekolah
online. Ia menghampiri Bundanya yang sedang mempersiapkan makan
siang.
“ Selamat siang Bunda, Dinda sudah selesai belajar online,” sapa Dinda.
“Halo Nak, bagaimana tadi belajarnya?” tanya Bunda.
“Menyenangkan sekali Bunda, hari ini aku bangga karena bisa mengajak
teman-teman untuk belajar dengan semangat,” ujar Dinda.
“Wah hebat kamu Dinda,” puji Bunda.
Setelah selesai makan siang Dinda dan ibu berbincang bersama. Ia
teringat akan tugas yang diberikan pada saat pembelajaran online.
Sebelumnya Dinda membantu Bunda membereskan meja makan terlebih
dahulu.

Hari menjelang sore, Dinda sudah selesai mengerjakan tugasnya.
Ia mempersiapkan perlengkapan untuk belajar besok pagi. Meskipun Ia
harus menjalani rutinitas sekolah secara online, Dinda tidak merasa
sedih lagi dan tetap semangat mengikuti sekolah secara online. Ibu
gurunya selalu menciptakan suasana yang menyenangkan pada saat
pelajaran online. Dinda selalu berdoa setiap malam untuk Ibu guru dan
teman-temannya.

***

TERIMA KASIH
1. Untuk anak-anak kelas VI Tahun Pelajaran 2020-2021 yang terlibat aktif dalam

kegiatan menulis cerpen ini.
2. Untuk SD Santa Ursula BSD yang telah memberikan kesempatan untuk “belajar

menulis” setelah ujian sekolah selesai
3. Untuk semua yang berkenan membaca cerita-cerita di dalam buku ini.

Jika terdapat kesamaan tokoh maupun tempat, itu bukan kesengajaan. Kami
mohon maaf. Semoga cerita yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam hidup kita

sehari-hari.

***


Click to View FlipBook Version