The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

DARI OPERASI BERSENJATA KE POLISI HUMANIS

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by book, 2024-06-28 12:31:41

7th_draft_Budi_28_JUNI_2024_20.20_PM (2)

DARI OPERASI BERSENJATA KE POLISI HUMANIS

Keywords: BUKU,KEPOLISIAN,HUMANIS,SEJARAH

[Type here]


ii DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto DAFTAR ISI PENGANTAR (Komjen (purn) Tono Suratman......................................................................................................................................1 ac·knowl·edge; dari Medan Bersenjata ke Palagan Penyidik .................................................................................................................2 RIWAYAT HIDUP (infografis)...................................................................................................................................................................3 RIWAYAT TUGAS/OPERASI dan JABATAN (infografis)....................................................................................................................4 PANGKAT (infogrfis)...................................................................................................................................................................................5 ABREVIASI...................................................................................................................................................................................................6 ===== CONTENT dari..OPERASI BERSENJATA Menuju POLISI HUMANIS Telor Asin Kelapa Dua dan Pelor Perdana Letnan Dua Budi di Ujungpandang..................................................................................9 - KELAKAR TUGAS SETAHUN ……………………………………………………………………………………………………………………. 13 Operasi Referendum Tim-Tim Bertukar Operasi Sadar Rencong di Tangga Kapal......................................................................... 16 - SARUNG TINJU LETKOL JOHNY WAINAL USMAN ......................................................................................... 19 - PERTUKARAN di TANGGA KAPAL LAUT. ............................................................................................................ 20 - TRAGEDI Rindu Anak di Helipad Marinir Lhoksemauwe...................................................................................... 22 Kompi Tak Bersenjata Menghalau Massa Pembebasan Habib Rizieq di LP Salemba ..................................................................... 25 Debut Karier Penyidik Kasus Demo Hari Buruh; Kerja Dibawah Tekanan ..................................................................................... 29 Gulung Gembong Bandit Berpistol, Suherman dan Marsadi .............................................................................................................. 34 Hadiah Kapolres Termuda di Jawa itu Justru ‘Datang’ ke Tulang Bawang, Lampung ................................................................... 38 Mediator Konflik Lindu Aji dan Ormas Partai Politik........................................................................................................................... 44 Negara Fiktif di Purworejo Meronrong Kedaulatan Negara................................................................................................................ 48 Penyidik Humanis untuk Pelaku Kriminal Jalanan ala Makassar...................................................................................................... 51 Hikmah Tak Pilih TNI AU di Upacara HUT 47 ABRI di Lembah Tidar .......................................................................................... 60 PENUTUP.................................................................................................................................................................................................. 63 TERIMA KASIH


iii DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto PENGANTAR (Komjen (purn) Tono Suratman….)


[Type here] PENGANTAR PENGANTAR (Komjen (purn) Tono Suratman …


2 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto


3 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto


4 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Abbreviasi (daftar singkatan) ABRI: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia AJENDAM: Ajudan Jenderal Kodam AKABRI: Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia AKBP: Ajun Komisaris Besar Polisi AKMIL: Akademi Militer AKP: Ajun Komisaris Polisi AKPOL: Akademi Polisi AMARAH: April Makassar Berdarah ASI: Air Susu Ibu BAGBINKAR: Bagian Pembinaan Karir BAGTAH: Bangunan dan Tanah BARESKRIM: Badan Reserse Kriminal BRIGJEN : Brigadir Jenderal BRIMOB: Brigade Mobil CATAR: Calon Taruna COVID-19: Corona Virus Disease - 2019 CCTV: Camera Circuit Television DAN: Komandan DANKI: Komandan Kompi DANMEN: Komandan Resimen DANREM: Komandan Resimen Militer DANSAT: Komandan Satuan DEN: Detasemen DENMA: Detasemen Markas DIKREG: Pendidikan Reguler DIKJUR: Pendidikan Jurusan DITRESKRIMUM: Direktorat Reserse Kriminal Umum DIRRESKRIMUM: Direktur Reserse Kriminal Umum DITTIPIDTER: Direktorat Tindak Pidana Tertentu DOM: Daerah Operasi Militer DKI: Daerah Khusus Ibukota DPR: Dewan Perwakilan Rakyat DPRD: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah GAFATAR: Gerakan Fajar Nusantara GAM: Gerakan Aceh Merdeka GPK: Gerakan Pemuda Kakbah FORKOMPINDA: Forum Komunikasi Pimpinan Daerah FPI: Front Pembela Islam HANSIP: Pertahanan Sipil HUT: Hari Ulang Tahun HMI: Himpunan Mahasiswa Islam IAIN: Institut Agama Islam Negeri IDIK: PenyIDIKan INTERFET: International Force for East Timor IPDA: Inspektur Dua IPTU: Inspektur Satu IPA: Ilmu Pengetahuan Alama IPS: Ilmu Pengetahuan Sosial IPW: Indonesia Police Watch IRJEN: Inspektur Jenderal


5 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto ILO: International Labour Organisation JATANRAS: Kejahatan dan Kekerasan JATENG : Jawa Tengah JUR: Jurusan JPU: Jaksa Penuntut Umum HARKAM: Pertahanan dan Keamanan HARKANTIMBAS: Pertahanan, Keamanan, dan Ketertiban Masyarakat IDIK: penyIDIKan KABAGBIN : Kepala Bagian Pembinaan KABAHARKAM: Kepala Badan Pertahanan dan Keamanan KABIDPROPAM: Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan KBP: Komisaris Besar Polisi KAPOLDA: Kepala Polisi Daerah (provinsi) KAPOLRES: Kepala Polisi Resort (kabupaten) KAPOLRESTABES: Kepala Polisi Resort Kota Besar KAPOLRI: Kepala Polisi Republik Indonesia KAPOLSEK : Kepala Polisi Sektor (kecamatan) KANIT: Kepala Unit KAS: Keraton Agung Sejagat KASUBDEN: Kepala Sub Detasemen KASUBDIT : Kepala Sub Direktorat KASATRESKRIM: Kepala Satuan Reserse dan Kriminal KASUBBAGMUTJAB : Kepaka Sub Bagian Mutasi Jabatan KESBANGPOL: Kesatuan Bangsa dan Politik KODAM: Komando Daerah Militer KORBRIMOB: Korps Brigade Mobile KORWAS: Koordinator Pengawas KOMJEN: Komisaris Jenderal KOMPOL: Komisaris Polisi KUHP: Kitab Undang Undang Hukum Pidana KSPSI: Konfederasi Sarikat Pekerja Seluruh Indonesia LAN: Lembaga Administrasi Negara LEMDIKPOL: Lembaga Pendidikan Polisi LEMDIKLAT: Lembaga Pendidikan & Latihan LEMHANAS: Lembaga Pertahanan Nasional LETDA: Letnan Dua LETKOL: Letnan Kolonel LETTU: Letnan Satu LKBN: Lembaga Kantor Berita Nasional LP: Lembaga Pemasyarakatan MABES: Markas Besar MAKO: Markas Komando MAKODAM: Markas Komando Daerah Militer MAYJEN: Mayor Jenderal MUI: Majelis Ulama Indonesia NKRI: Negara Kesatuan Republik Indonesia NRP: Nomor Register Pokok NTB: Nusa Tenggara Barat NTT: Nusa Tenggara Timur ORMAS: Organisasi Kemasyarakatan PA: Perwira PARPOL: Partai Politik PANGDAM: Panglima Daerah Militer PAMA: Perwira Pertama PAMEN: Perwira Menengah PASGANA: Pasukan Gegana


6 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto PASKHAS: Pasukan Khas PERJA: Peraturan Jaksa Agung PERMA: Peraturan Mahkamah Agung POL: Polisi POLDA: Kepolisian Daerah POLRESTABES: Kepolisian Resort Kota Besar POLRES: Kepolisian Resort POLRI: Kepolisian Republik Indonesia POLSEK: Kepolisian Sektor POLWILTABES: Polisi Wilayah Kota Besar PUSBRIMOB: Pusat Brigade Mobil PBB: Perserikatan Bangsa- Bangsa\ PDH: Pakaian Dinas Harian PHH: Pasukan anti Huru Hara PJS: Pejabat Sementara PJU: Pejabat Utama PMDK: Penelusuran Minat dan Kemampuan PS: Penjabat Sementara PSH: Persaudaraan Setia Hati PSHT: Persaudaraan Setia Hati Terate PPA: Perlindungan Perempuan dan Anak PPRM: Pasukan Penindak Rusuh Massa PPNS: Penyidik Pegawai Negeri Sipil PPP: Partai Persatuan Pembangunan PS DIRRESKRIMUM : Pejabat Sementara Direktur Reserse Kriminal Umum PTIK: Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian RANMOR: Kendaraan Bermotor REG: Reguler/ Registrasi\ RENAKTA: Remaja Anak dan Wanita RESMOB: Reserse Mobile RUTAN: Rumah Tahanan ROKORWAS : Biro Koordinator Pengawas RO: Biro RB: Restorative Bathiniyah RJ: Restorative Justice SARA: Suku Agama Ras dan AntarGolongan SABHARA: Satuan Bhayangkara SATBRIMOB : Satuan Brigade Mobile SESPIMMEN: Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah SESPIMTI: Sekolah Staf Pimpinan Tinggi SUBDENPAS: Sub Detasemen Pasukan SUBDITKAMNEG: Sub Direktur Keamanan Negara SATBRIMOB : Satuan Brigade Mobile SERTU: Sersan Satu SUBDENPAS: Sub Detasemen Pasukan SUBDITKAMNEG: Sub Direktur Keamanan Negara SULSEL: Sulawesi Selatan SUMUT: Sumatera Utara SBSI: Sarikat Buruh Seluruh Indonesia SD: Sekolah Dasar SDM: Sumber Daya Manusia SH: Sarjana Hukum SMA: Sekolah Menengah Atas SMAN: Sekolah Menengah Atas Negeri SMP: Sekolah Menengah Pertama STIK: Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian


7 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto TIH: Pelatih/ Pelatihan TIM-TIM: Timor Timur TK: Taman Kanak_Kanak TKP: Tempat Kejadian Perkara TMT: Tanggal Mulai Terhitung TPU: Tempat Pemakaman Umum TVRI: Televisi Republik Indonesia UKM: Usaha Kecil dan Menengah UMI: Universitas Muslim Indonesia UNDIP: Universitas Diponegoro UNAMET: United Nation Mission in East Timor UNS: Universitas Negeri Sebelas Maret UNSOED: Universitas Jenderal Soedirman UNPAD: Universitas Padjajaran WADAN: Wakil Komandan WADANYON: Wakil Komandan Batalyon WADIRRESKRIMUM: Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum WAKAPOLRI: Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia WAKAPOLRES : Wakil Kepala Polisi Resort WAKETBIDKERMADIANMAS: Wakil Ketua Bidang Kerjasama dan Pengabdian Masyarakat WARTEL: Warung Telekomunikasi WIB: Waktu Indonesia Barat WIT: Waktu Indonesia Timut WITA: Waktu Indonesia Tengah YANMA: Layanan Markas


8 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto ac·knowl·edge Dari Medan Bersenjata ke Palagan Penyidik KINERJA, karier, takdir dan doa oleh Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol Budi Haryanto SIK., MH (51), diyakini terus mengalir di setengah abad usianya. Hingga Maret 2024, Budi satu dari 439 perwira tinggi Polri. Dari 256 taruna angkatannya di Akademi Polisi (Akpol 1995), Budi adalah jenderal ke-14, di awal April 2023 lalu. Telegram promosi pangkat jenderal turun hanya dua hari jelang ulang tahun 50- nya, tanggal 29 Maret 2023. Hari Senin, 27 Maret 2023, jadi momen tanggal mulai tugas (TMT) Budi sebagai Wakil Ketua Bidang Kerja sama dan Pengabdian Masyarakat (Waketbidkermadianmas) di STIK Lemdiklat Polri. Bintang itu turun kala dia menjabat Kapolrestabes Makassar. “Pas, promosi pati-nya amanat takdir kita masuk sekolah (STIK) lagi,” ujar Budi. Baginya, Makassar membekas di ingatan. Debut operasinya sebagai personel Gegana Brimob, 27 tahun lalu, tepatnya 16 September 1997 dimulai saat kerusuhan SARA, di kota terbesar timur Indonesia ini. "Saya pertama naik pesawat ya ke Makassar, naik pesawat charter, dan menembakkan peluru pertama dalam tugas operasi ya di Ujungpandang itu." Kala itu, nama resmi Kota Makassar masih Kotamadya Ujung Pandang.Pangkat resminya pun juga masih letnan dua; dan di bawah otoritas Panglima ABRI. “Sebulan pulang dari operasi rusuh SARA di Ujungpandang, saya baru naik pangkat reguler jadi letnan satu.” Makassar adalah kota keempat tugas teritorial dan satuan unit tugas ketujuh dalam 28 tahun on progress karier aktifnya sebagai Bhayangkara. Pria kelahiran Semarang ini, tugas pertama di Kelapa Dua, Depok, Jakarta, lalu ke Medan, dan kembali ke ibu kota, Jakarta.Tujuh teritori tugasnya antara lain; Mako Brimob, Mabes Polri, STIK Lemdiklat, Polda Metro Jaya, Polda Sumatera Utara, Polda Jawa Tengah, Polda Sulsel, dan kembali ke Lemdiklat Polri. Dari 28 tahun karier abdi bhayangkara, 7 tahun (1995-2003) dihabiskan di medan operasi. Enam tahun jadi komandan teritorial di polsek, polres, hingga polresta, dan di lembaga pendidikan.Sisanya, 15 tahun Budi mengabdi jadi penyidik di reserse. Karier pencabangan penyidik ia mulai saat rusuh hari buruh Mei 2005 di gedung Parlemen Senayan, Jakarta. Sebanyak 43 aktivis buruh yang membobol gerbang utama DPR, disidik dan jadi tersangka pengrusakan obyek vital negara. Itulah kali pertama ‘benteng depan Senayan’ bobol digeruduk massa. Kala itu bertugas sebagai Kepala Unit Sub Direktur Keamanan Negara Ditreskrimum Polda Metro Jaya.“Kala itu, kapoldanya Abang (Irjen Pol) Firman Gani, kami ditarget dan ditekan terus. Berkas P21 harus rampung dalam seminggu.”Seperti air mengalir, alur tugas, jabatan dan karier ia lalui laiknya amanat Ibu Pertiwi. “Begitulah jalan takdir. Tegangnya, susah, senangnya kita jalani,” ujar ayah tiga anak ini.<!> Jakarta, 24 Juni 2o24 penulis: H Zakir Sabara HW (Prof. Dr. Ir. ST., MT., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng.)


9 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto dari.. OPERASI BERSENJATA Menuju POLISI HUMANIS


10 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto OPERASI Rusuh SARA di Makassar (1997-1998) JABATAN: Wadan Unit II Subdenpas Gegana PASGEGANA KORBRIMOB POLRI Presiden: M Soeharto (1967-21 Mei 1998) Kapolri: Jenderal Pol Dr Drs Dibyo Widodo (1996 – 1998) Dankor Sat Brimob Polri: Brigjen Pol Drs Sutiyono (1993-1997) Pangdam VII Wirabuana: Mayjen TNI Agum Gumelar (1996-1998) Kapolda Sulsel: Brigjen Pol Ali Hanafiah (1996-1998) Gubernur Sulsel: Mayjen TNI (purn) Zainal Basri Palaguna (1993-2003) Danmen I Pusbrimob Polri: - Kolonel (Pol) Jusuf Manggabarani (1996-1998) - - Kolonel Jacky Ully (1998-2000) Telor Asin Kelapa Dua dan Pelor Perdana Letnan Dua Budi di Ujungpandang SENIN, 15 September 1997, Ujungpandang lagi membara. Tujuh ratus ribu warganya, dirudung cemas dan takut. Api, asap, dan massanya semua tak terkendali. Rumah, toko, fasilitas ekonomi dan perdagangan milik warga Tionghoa, di Makassar diamuk massa. Tempat tinggal dan usaha mereka dirusak, dilempari, bahkan hangus dibakar. Penjarahan toko, warung, di kawasan dan pusat perbelanjaan, memaksa sebagian besar warga, sembunyi dan menyingkir. Jalan-jalan lengang. Sepanjang penglihatan, Ujung Pandang sepi, membara dalam cekam.


11 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Sepanjang sejarah Kota Anging Mammiri -meski sebelumnya pernah terjadi tiga kerusuhan SARA serupa (1965, 1978 dan 1980)- peristiwa 1997 inilah kerusuhan massa bereskalasi paling luas. Paling luar biasa. “Kerugian akibat kerusuhan itu Rp17.5 Miliar,” tulis harian SUARA PEMBARUAN, edisi Jumat (19/9/1997). Harian KOMPAS, majalah TEMPO dan harian lokal FAJAR, mencatat, ada 1.471 rumah toko hancur, 80 unit mobil, 168 unit sepeda motor ludes terbakar. Lima warga tewas terpanggang bara api, 13 mahasiswa terkena tembakan, dan 116 orang ditahan aparat. Media lokal dan nasional, menggambarkan suasana Kota Ujungpandang dan sekitarnya kala itu dengan frasa; “Black September, atau “September Berdarah.” Frasa ini merujuk sinonim beberapa bulan sebelumnya, April Makassar Berdarah. Ini dipicu kebijakan Pemerintah Kotamadya Ujungpadang menaikkan tarif petepete (angkot) pada 27 Mei 1997. Sejak saat itulah, mahasiswa dan media massa memperingatinya dengan spanduk ‘AMARAH di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Namun, bara 15 September 1997 kembali terkipas. Kabar tewasnya bocah Anny Mujahidah Rasunnah (9 tahun), sehari sebelumnya, jadi pemantik. Bocah kelas tiga SD itu meninggal setelah ditebas parang milik Benny Karre (42), di taman air mancur bundaran Jl Veteran Selatan, Pa’baeng-baeng, selatan kota. Kabar itu kian terkibas dan cepat tertiup angin karena Anny adalah putri dosen IAIN Alauddin Ujungpandang. Sang ayah juga adalah pentolan aktivis HMI. Sementara, Benny adalah warga peranakan Tionghoa. Isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) itu pun muncul. Woow! Konteks dan fakta berita bahwa Benny baru beberapa bulan pulih dari perawatan di Rumah Sakit Jiwa Dadi, Jl Lanto Daeng Pasewang, Kotamadya Ujungpandang, sudah tak dipedulikan warga. Beberapa bulan sebelumnya, ketenteraman warga kota Ujungpadang memang lagi tidak baik-baik saja. Krisis ekonomi tengah melanda negeri. Harga barang kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) juga sudah kadung naik. Opini kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia, termasuk di Ujungpandang, tengah dikendalikan politisi, aktivis, mahasiswa, dan barisan kontra-Orde Baru. Sejak akhir tahun, keberingasan kelompok mahasiswa lintas kampus, tertuang di jalan, gedung parlemen dan pemerintahan. Mayjen TNI Agum Gumelar, kala itu menjabat Panglima Kodam VII Wirabuana, menyebut konflik SARA di Makassar, sebagai salah satu letupan dalam konteks transisi politik level tinggi. “Insiden SARA itu oleh pihak-pihak tertentu yang memancing di air keruh,” kata Agum Gumelar, dalam biografinya; Jenderal Bersenjata Nurani (2004; hal 61). —**— KELAPADUA, Cimanggis, Depok, Selasa, 16 September 1997, pagi. Markas Komando (Mako) Satuan Gegana Pusat Brimob Polri, damai dan lengang. Pagi itu, rumah prajurit pasukan polisi khusus antiteror itu, laiknya kampung agraris. “Ayah..., belikan telur asin, Dong! Aku mau sarapan,” ujar Preti Erica, kepada suaminya, Letnan Dua Budi Haryanto.


12 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Potongan dialog itu berlangsung di ruang tamu, rumah kopel komandan kompi Blok Pasukan Gegana (Pasgana) Brimob. “Baik, Maaah…” jawab si letnan ceking dan kulit sawo kecokletan itu. Romantisme dan dialog manja diantara mereka juga jadi bumbu sarapan, santap siang dan makan malam. Harap maklum; Preti, wanita berdarah Batak, berkulit kuning langsat, dan hidung mancung itu, baru beberapa bulan dinikahi Letda Polisi Budi. Berkendara motor bebek, Letnan Budi meninggalkan gerbang markas. Ia keliling Pasar Cimanggis, warung, toko di Anyelir, hingga Gang Pasir, tapi telor asin tetap kosong. “Tumben, sepertinya semua warga Kelapa Dua ingin sarapan pakai telur asin,” keluh Budi. Setengah jam berlalu, Budi putar balik masuk markas. Namun, tetiba di gerbang markas, seorang bintara provost mencegatnya. “Hii, Letda Budi langsung ikut apel. Komandan Jusuf (Manggabarani) menunggu di lapangan.” “Siap,” jawab Budi, membelokkan motor 4 tak ke lapangan utama. Betul saja, di bahu lapangan, Komandan Detasemen I Pusat Brimob Polri (Danmen I Pusbrimob) Kolonel (Pol) Jusuf Manggabarani, tengah bersiap memberi pengarahan. Itu apel mendadak dan serius. Kabar bisik-bisik menyeruak di antara barisan. Kondisi dan eskalasi di Ujungpandang, ibu kota Sulawesi Selatan terbaru, digambarkan “mencekam”. Mata, telinga, sekitar 100-an perwira muda, bintara senior, dan tamtama terlatih, dalam sikap siaga dengan kedua tangan di belakang. Setelah 15 menit berlalu, Sang Kolonel berlogat khas Makassar itu, mulai memberi perintah. “Kamu-kamu,kamu... kamu, kamu… bawa motor. “Kamu Budi, kamu, kamu Heru bawa itu Steyer penembak.”


13 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Letnan Budi, yang kala itu menjabat wakil komandan kompi II, salah satu perwira pilihan untuk diterjunkan ke Makassar. Dia masuk kompi pilihan. Bersama 20 bintara, tamtama dan perwira muda Bhayangkara pilihan dia sigap dan juga tegang. “Siaaappp,” begitulah jawaban setengah teriak yang terdengar dari mulut Letda Budi dan kawanan kompi asuhannya. “Sekarang, kalian pulang. Kemas barang-barangmu. Nanti siang kita langsung ke (bandara) Halim (Perdanakusuma).” KELAKAR TUGAS SETAHUN Matahari sudah meninggi. Sinarnya mulai menusuk kulit. Pukul 9 pagi waktu Mako Brimob, sejatinya teduh mendamaikan. Namun pikiran Letnan Dua Budi berkecamuk dengan emosi. Ia mulai dikendalikan frasa; Ujungpandang, rusuh SARA, perintah komandan, senjata, peluru, siaga, ransel, dan patriotisme, siap mati, dan damai. Inilah tugas operasi tempur perdananya, sejak jadi personel Gegana Brimob, dua tahun lalu. Tak ada lagi telor asin di kepalanya. Tergesa-gesa Letnan Budi masuk pelataran rumah. Di teras, Preti berdaster cerah berbunga, terlihat murung dalam penantian. “Mana, telur asinnya Yaah…?” tanya Preti. Bukan jawaban, Budi malah bergerak cepat masuk kamar. “Sudah, siapin baju saya, sana,” ketus Letnan Budi ke Preti. Ransel dan lima potong baju, celana dan kolor dihambur di ruang tengah, depan dapur samping kamar tidur. Seragam operasi, hitam pekat, rim kopel berkepala emas, baret hitam, pistol dan laras di meja. “Mau kemana Yaaah..?” tanya Preti setengah panik. “Ke Makassar, Ujungpandang,” jawab Budi. Preti mulai paham, suaminya sudah dikendalikan struktur komando pasukan. Tugas negara sudah diatas segalanya. Si istri balik bertanya, “Berapa lama, Yaah..” Budi pun berseloroh lugas setengah judes; “Setahuuuuun.. Tiii..” Bukan lagi kalimat atau kata, kali ini Preti merespon dengan mata berlinang. Dan…, Budi tidak melihat itu. Letnan Budi pun, bergabung dengan kompi sniper di lapangan, menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Total personel Bhayangkara pilihan saat itu 20, termasuk 10unit motor trail hitam pekat. Dan, Preti hanya menatap dengan air mata. Punggung Letnan Dua Budi berlalu bersama keinginan sarapan telor asin. Pukul 14.00 WIB, Bandara Halim Peranakesuma, Kecamatan Makassar, Kota Jakarta Timur. Letnan Dua Budi, sudah bergabung dengan 19 rekannya. Tanpa senyum, Kolonel Jusuf Manggabarani hanya menatap siaga ke 20 prajurit pilihannya. Dia mengingat, teman kompi pilihan kala itu antara lain; Kombes Johannes (93, Polda Jateng), Kombes Susnadi (Palembang), (almarhum) Kombes Guruh (Polda Jatim), Kombes Yopi Sepang (Mako Brimob).


14 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto “Saya bonceng tandem dengan Pratu Khariruddin (bintara).” Mereka sudah bersenapan semi otomatik anyar diselempang depan bersama 4 pack magasin peluru. Ransel gemuk padat sudah di punggung. Pesawat Mandala charter-an sudah di pelataran dekat taxi way bandara. Sepuluh unit trail hitam, didorong masuk kabin modifikasi. Mereka gantian pegang motor saat pesawat terbang membela Laut Jawa dan melintasi ujung selatan Selat Makassar. Itulah kali pertama dalam seumur hidupnya, Letnan Budi “numpak (naik) pesawat. Di kabin pesawat, Kolonel Polisi Jusuf, kembali memberi arahan dan perintah lugas, padat dan jelas. Letnan Budi mengenang persis, potongan tegas perintah komandannya itu, “Pokoknya, perintah hanya datang dari saya.” Jelang Magrib, pesawat sudah di langit Kota Makassar. “Saya masih, dengar, Pak Jusuf minta pilot putas di atas kota.” Letnan Budi bercerita, saat third flight round up, putaran ketiga, mereka melihat jelas, Makassar membara dari langit +500 meter diatas permukaan laut (mdpl). “Di mana-mana, asap seperti sekam padi terbakar di sawah kampungku.” Pukul 18.20 Wita, Mandala flight chartered itu, mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Mandai, Maros, sekitar 24 km timur Ujungpandang. Di pelataran parkir bandara, Kolonel Jusuf Manggarabani, Letnan Dua Budi dan 19 rekannya, disambut aksi massa. Bandara ditutup seratusan orang. Mata Letnan Budi nanar ke depan, kala Kolonel Polisi Jusuf Manggabarani bernegosiasi dengan pimpinan massa. Dia siaga dengan mata dan telinga. Tunggu perintah selama 30 menit stand by di jok motor dengan mesin menyala. Knalpot motor trail 2 tak meraung-raung. Pengendaranya diam, siaga dalam senyap temaran. Negosiasi mandek. Dan, setelah itu, Kolonel Polisi Jusuf beri perintah lantang, “Tembakkk..” Senapan model baru itu menyalak-nyalak. Lubang senapan mengarah ke langit Mandai. Massa kontan bubar, membuka jalan untuk 10 unit motor. Aksi itu diikuti takjub dan pertanyaan massa. “Siapa gerangan pasukan hantu hitam, bermotor trail itu,” begitu pertanyaan di benak warga. Dan, bagi Letnan Dua Budi, tembakan ke atas laiknya salvo itu, bukan sekadar peringatan ke massa. Itu adalah pelor pardananya. “Itulah peluru pertama saya dalam tugas resmi.” Motor melaju mengikuti mobil komando yang ditumpangi Kolonel Polisi Jusuf menuju pusat kota. Budi mengenang, sepanjang perjalanan, dia melihat kota Makassar lumpuh. Aktivitas warga terhenti. Toko, rumah, perkantoran tutup. Transportasi publik tak beroperasi normal. Hanya beberapa mobil dan roda dua di sepanjang jalan. Jurnalis harian FAJAR, Zainuddin Saleha (1962-2014), menggambarkan kondisi kota dengan ungkapan; “lebih banyak aparat TNI dan polisi dari pada warga di kota.”


15 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Sejatinya, tugas kompi khusus Gegana Brimob Kelapa Dua ini taktis dan sederhana. Tiap ada pemblokiran jalan dan massa berkerumun, langsung dibubarkan. “Jika ngotot tak mau bubar dan buka blokir jalan langsung kasi tembakan peringatan terukur.” Hampir 20 jam, Letnan Budi dan rekan sekompi, keliling kota. Dua hari dua malam, mereka nyaris tanpa tidur nyenyak terlentang. Bahan bakar cadangan di motor dan dipasok khusus dan dibagikan di tengah jalan. Tiap lima jam, motor berhenti, mampir mengisi bahan bakar. Hari itu, Selasa 16 September 1997, aktivitas operasi pemulihan Kota Daeng berhenti demi memenuhi kebutuhan personel semata. “Kami makan malam, jam 10 lewat,” ujar Budi. Mereka balik istirahat ke aula Mapolwiltabes Makassar, jelang azan Subuh. Keesokan harinya, usai sarapan, operasi keliling kota mencari kerumunan massa dan pemalakan jalan, berlanjut. Tujuh belas September, kota diumumkan aman terkedali. Patroli Gegana pun jadi buah bibir warga. Pasukan sniper dari atas motor ibarat hantu dan momok keliling. Hari ke-4: sekitar 200 personel Brimob Anti Huru Hara (PHH) datang dari Jakarta. Mereka menumpang kapal laut dari Tanjung Priuk ke Ujungpandang. Saat itu, kota mulai kondusif. Ujungpandang sudah aman terkendali. Media surat kabar, televisi nasional, memberi porsi angle khusus untuk pasukan yang dikomandoi kolonel polisi kelahiran Gowa, Sulsel itu. Jabatan Jusuf Manggabarani adalah Komandan Detasemen (Danmen) I Pusat Brigade Mobil (Brimob) Polri. Sebulan setelah meredam konflik itu, Jusuf Manggabarani dilantik menjadi Kapolwiltabes Makassar, Oktober 1997. "Kami banyak belajar dari Jenderal Jusuf Manggabarani saat itu. Tegas, disiplin dan tahu emosi orang-orang sekampungnya," tuturnya. Pascarusuh SARA, Jusuf kemudian dipromosi menjadi Kapolwiltabes Makassar dan Wakapolda Sulsel lalu jabat Kapolda Sulsel, dan Irwasum Polri. Jusuf Manggabarani pensiun dengan jenderal bintang tiga, dengan jabatan terakhir wakil kepala kepolisian Indonesia (wakapolri). Lima hari kemudian, kala kondisi kota mulai terkendali. Budi mulai ada waktu mengingat istri. Dia memilih “interlokal” (menelpon lintas privonisi) kepada istri dari warung telekomunikasi (wartel) dekat Markas Polwiltabes Makassar, Jl Ahmad Yani. Setelah mengabari kondisinya sehat-bugar, Budi menanyakan kabar istrinya di Kelapa Dua, Depok. Preti mengingatkan soal permintaan sarapan telur asin, awal pekan. “Yaah, pagi itu saya ngindam telor asin,” ujar istri. Letnan Budi, kaget bercampur bahagia. Dia lalu mengenang dialog sesaat sebelum apel siaga di rumah prajurit. Dia mendengar dan membayangkan, air mata istrinya, saat berkata ‘setahun” saat menjawab pertanyaan isri, “berapa lama di Makassar?”


16 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Letnan Budi tetiba rindu rumah. Air matanya mengalir tipis. Haru, gembira, bercampur “penyesalan telor asin.” Empat bulan, lebih kompi khusus Gegana itu bertugas di Ujungpandang. Puji Tuhan, Budi bisa merayakan Natal bersama istri yang tengah mengandung anak pertama mereka, Sakti Ferdinand.(*) LESSON VALUE: 1. Prajurit harus taat tugas, disiplin. 2. Taat perintah garis komando di tengah suasana tegang 3. Keselamatan publik adalah utama 4. Keluarga adalah kasih sayang dan penyejuk jiwa. Link Source 1. Sebelum Jakarta Kerusuhan Rasial Pecah di Makassar pada 1997. https://sulsel.idntimes.com/news/sulsel/abdurrahman/sebelum-jakarta-kerusuhan-rasial-pecah-di-makassarpada 2. Kompasiana.com "Dua Mutiara Agum Gumelar dari Makassar", https://www.kompasiana.com/amt/ 55008959a333119f6f5115b9/dua-mutiara-agum-gumelar-dari-makassar 3. Jusuf Manggabarani Jadi Guru Kombes Budi Haryanto Kawal Kerawanan Makassar: https://makassar.tribunnews.com/2022/11/17/jusuf-manggabarani-jadi-guru-kombes-budhi-haryanto-kawalkerawanan-makassar 4. Kisah Kombes Budi Gagal Dapat Telur Asin untuk Istri dan Tugas Mendadak ke Makassar: https://sulsel.herald.id/2022/01/13/kisah-kombes-budhi-gagal-dapat-telur-asin-untuk-istri-dan-tugasmendadak-ke-makassar/


17 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Misi Pemulihan PascaDOM Lhoksemawe, Aceh (1998-2002) JABATAN: Wadan Unit II Subdenpas Gegana PASGEGANA KORBRIMOB POLRI Presiden RI: Soeharto (1968 - 21 Mei 1998) BJ Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999) Abdurrahman Wahid (20 Oktober 1999- Juli 2001) Megawati Soekarnoputri (Juli 2001 - Oktober 2004) Kepala Staf Angkatan Kepolisian RI/ Kapolri Jenderal Pol Dr Drs Dibyo Widodo (1996 – 1998) Jenderal Pol Roesmanhadi (29 Juni 1998 – 3 Januari 2000) Jenderal Pol Rusdihardjo (4 Januari 2000 – 22 September 2000) Jenderal Pol Suryo Bimantoro (23 Sept 2000 – 29 Nov 2001) Jenderal Chairuddin Ismail (20 Juli 2001–3 Agus2001, pjs. de facto) Jenderal Pol Da’i Bachtiar (29 November 2001 – 7 Juli 2005) Dankor Sat Brimob Polri: Brigjen Pol Drs. Sutiyono (1993-1998) Brigjen Pol Sylvanus Yulian Wenas (1998-1999) Brigjen Pol Firman Gani (1999-2000) Brigjen Pol Nurudin Usman (2000-2001) Brigjen Pol Jusuf Manggabarani (2001-2002) Irjen Pol Sylvanus Yulian Wenas (2002-2009) Kapolda Aceh: (1997-2003) Kolonel Polisi Djuharnus Wiradinata (1997-1999) Brigjen Pol Bahchrumsyah kasman (1999) Brigjen Pol Doody sumatywan (1999-2000) Irjen Pol Chairul R Rasyidi (2000-10 Juni 2003) Pangdam Iskandar Muda: Mayjen TNI Ismed Yuzairi Chaniago (1998-1999) Mayjen TNI Abdul Rahman Gaffar (1999) <* Mayjen TNI Affandi (1999-2000) <* Mayjen TNI I Gede Purnawa (2000-2001) <* Mayjen TNI M. Idris Gassing (2002-2003) <* Mayjen TNI M. Djali Yusuf (2002-2003) Gubernur Aceh Syamsudin Mahmud (1998-2000) Ramli Ridwan (2000) Abdullah Puteh (2000-2004) Danmen I Pusbrimob Polri: Kolonel (Pol) Jusuf Manggabarani (1996-1998) 1998-2001: Kolonel Pol Jacky Ully *> Komando Pangdam I Iskandar Muda (di Banda Aceh) dilebur dengan Kodam I Bukit Barisan dari 1985-2002) di Medan. Operasi Referendum Tim-Tim Bertukar Operasi Sadar Rencong di Tangga Kapal JELANG millenium 2000, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menghadapi cobaan disintegrasi kelas berat. Krisis moneter 1997 merembes ke politik, ekonomi, sosial, pemerintahan hingga budaya. Di Jakarta, pusat pemerintahan, 32 tahun kepemimpinan Orde Baru di bibir jurang. Soeharto (1921-2008) terus dironrong aksi demonstrasi. Tuntutannya bulat; segera turun dari tampuk kepemipinan nasional. Puncaknya pada tanggal 21 Mei 1998. Di timur Indonesia, Timor Timur, segera lepas dari NKRI. Di ujung barat, Daerah Istimewa Aceh, benih-benih disintegrasi terus disuarakan kelompok separatis GAM, sayap militer Aceh Merdeka di Eropa.


18 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Di tengah benih diistegrasi ini, Soeharto digantikan wakilnya, BJ Habibie (1936- 2019). Aksi proReformasi dari aktivis mahasiswa, elite politik dan dukungan media massa mempercepat realisasi tuntutan itu. Tumbangnya rezim Orde Baru dan mundurnya Soeharto, Mei 1998 turut mendorong angin perubahan di Timor Timur. Difasilitasi lembaga adhoc misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Timtim (Unamet), jajak pendapat (referendum) pun disepakati. Dua pekan sebelum dilantik jadi presiden, BJ Habibie sudah mengajukan surat resmi ke Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan untuk segera menggelar referendum. Opsi referendum adalah setuju atau tidak setuju melepas provinsi ke-27 Indonesia, Timor Timur itu menjadi negara independen. Hasil Referendum Timor Timur pun akhirnya diumumkan 30 Agustus 1999. Sebanyak 94.388 suara (21,5%) warga menerima pernyataan bahwa Timtim tetap bergabung ke Indonesia. Sementara 344.580 suara (78,5%) sisanya menyatakan menolak. Mereka setuju berpisah dengan Indonesia. Pro-Kontra berlanjut ke konflik horizontal. Kota Dili dan kabupaten sekitarnya, rusuh. Konsekuensi dari hasil referendum ini, 94 ribu pro-intergrasi, jadi pengungsi. Sebagian besar menyeberang ke provinsi terdekat; NTT, NTB, Jawa, hingga Sulawesi. Berdasarkan publikasi Penanganan Pengungsi Timor Timur di NTT, jumlah pengungsi eksodus ke wilayah NTT dalam kurun waktu 4 September 1999 hingga 19 Oktober 1999, tercatat mencapai 284.414 jiwa. Sebagian besar adalah perantau asal Indonesia.Mereka ditampung di Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, hingga 100 km ke Kota Kupang. Pascareferendum di Timor Timur, Indonesia coba bekerjasama dengan pasukan multinasional Interfet (International Force for East Timor). Akibat salah paham, patroli pertama, 10 Oktober 1999 di daerah perbatasan Motaain. Patroli Peleton-8 Kompi C Batalion-2 Royal Australian Regiment pimpinan Letda Infanteri P.J Halleday baku tembak dengan personel TNI-Polri. Di daerah perbatasan,


19 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto satu pleton Brimob pimpinan Letnan Dua M Wahid, hanya berjarak belasan meter dengan kompi patroli pasukan Australia. Adu tembak 8 menit pun tak terhindarkan. Anggota Brimob Bharada Ari Sudibyo gugur. Dua personel lain; Sertu Sudarto dan Sertu Agus Susanto luka tembak. Sementara di pihak Interfet nihil korban. Pos lintas batas negara Motaain terletak di desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pos ini dijaga satu peleton personel TNI dan 10 personel brigade mobil Polda Jawa Timur. Di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, sejak setahun sebelumnya, suasana siaga tegang, berubah jadi perintah operasi ke Timor Timur. Sembilan kompi Gegana Brimob pun sudah bergerak sekitar 41 km, dari selatan ke utara Jakarta, Pelabuhan Tanjung Priok. Letnan Satu Budi Haryanto, yang kala itu menjabat Wadan Unit II Gegana Pasgegana Satbrimob Polri, diperintah ikut bergabung bersama lebih 900 personel Brimob dan Sabara Polri. Mereka tergabung dalam 9 kompi operasi. Budi bergabung di kompi ke-9. Kala mereka berbaris di pelataran pelabuhan itu, tiba-tiba turun perintah mengejutkan. Dankor Brimob kala itu, Brigjen Pol Sylvanus Yulian Wenas (1998-1999) memerintahkan 1 kompi operasi Timtim, untuk siaga menjaga ibu kota negara, Jakarta. “Saya dan kompi 9 sudah mau naik tangga kapal, tiba-tiba ada perintah balik kiri,” ujar Budi, mengingat ketegangan di bandar laut terbesar Indonesia itu. Kombinasi pasukan, satu kompi tak berlayar ke Timor Leste. Hanya delapan kompi yang kemudian menjalankan misi perdamaian dan pemulihan di Timor Timor.


20 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Momen ini hanya berselang kurang lebih dua bulan, setelah pulang dari operasi pemulihan keamanan rusuh SARA di Ujungpandang. Baginya, pengalihan tugas operasi itu dari Timor Timur ke ibu kota negara, adalah amanat tanpa bantahan. Selama tiga bulan, Budi dan kompinya ikut backup tugas di gedung DPR-RI, Istana Negara, dan obyek vital di ibu kota bersama satuan lain dari Polri dan TNI. Di kesatuan Brimob, kondisi ini disebut on call, siaga tunggu perintah komando. Dalam suasana itu, Letnan Budi mengenang masa pendidikan kejuaran awal di satuan Gegana dan sejarah Brimob di akademi. Perubahan logo Ghegono (awang-awang/Gegena) dari Rangers (simbol petir) menjadi burung walet hitam pun jadi bahan renungan. Pengetahuan, skill pasukan selama 13 bulan pendidikan jadi bhayangkara Brimob, masih membekas dan siap diamalkan sesuai amanat komando. Walet Hitam melambangkan sifat fisik dan mental anggota Gegana yang kuat dan kukuh dalam menghadapi hujan / panas tanpa kenal lelah dalam tugas lapangan.
Di periode “on call” itulah, tiba-tiba turun perintah operasi pemilihan pascapencabutan status daerah operasi militer (DOM) di Aceh. SARUNG TINJU LETKOL JOHNY WAINAL USMAN Budi mengenang momen itu, dengan kegundahan batin. Istrinya, tengah hamil empat bulan untuk anak pertama. Sementara durasi tugas di Aceh, tidak jelas. Bisa setahun, tiga tahun, atau lima tahun, bahkan bisa jadi pulang dalam peti jenazah. Budi pun memutuskan menitip istri di rumah orangtuanya di Bawen, Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. “Saya ingat perintah ke (Aceh) turun hari Jumat. Kapal yang akan membawa ke Aceh berangkat hari Minggu, saya punya waktu Sabtu, ke Semarang.” Perang batin antara tugas negara dan tanggung jawab keluarga, memaksanya mengambil keputusan berani. “Saya harus minta izin ke komandan.” Kala itu, Letnan Budi berpikir realistis. Tak mungkin naik kereta, apalagi menumpang bus. Pilihan untuk tiba kembali dari Jakarta hari Sabtu malam, hanya pesawat udara. Itu artinya, dia harus menabung gaji dua bulan. Berat. Bagi Letnan Budi, dia sudah berperang dengan waktu sebelum ke medan tempur melawan GAM di Aceh. Dia lalu coba cari pinjaman ke teman, kerabat, dan kenalan. Hasilnya nihil. “Saya sudah nekat. Ada izin atau tanpa izin komandan saya akan tetap ke Semarang, bawa istri.” Dengan setengah gemetar, Budi menghadap ke Wakil Komandan Danmen I Gegana, Letkol Pol Johny Wainal Usman. Di ruangan, komandan juga sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan pasukan ke Aceh. Di sisi kanan ruangan komandannya, Budi melihat sarung tinju dan sand sack, karung sasaran tinju. Letkol Johny juga tegang, tapi tak setegang Letnan Budi. Alumnus Akademi Militer (AKMIL) angkatan 1981 itu berargumen, tak memberi izin ke Budi. “Bagaimana kalau saya tak beri izin.”


21 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto “Siap, Saya tetap berangkat komandan. Tidak dikasi izin saya berangkat. Diberi izin, terima kasih komadan.” “Ok, kau ambil ini,” kata Johny seraya melempar sarung tinju ke arah Budi. Bukannya, bergeming, Budi lantas memakai sarung tinju itu. Karena, sudah nekat, Letnan Budi seolah-olah siap menantang. Dia juga sudah siap dipukul. “Memang perut saya dipukul, tapi saya tahu diri. Tak melawanlah,” ujar Budi depan komandannya. “Kalau, kamu pergi saya hajar mau?” tanya Wainal. “Siap, komandan, Saya tetap ke Semarang.” Karena kegigihan Budi, tetap ingin mengantar istri ke rumah mertua di Semarang, akhirnya hati Sang Komandan luluh. Tawa lalu membahana di salah satu ruangan di Mako Brimob itu. Bahkan, Budi diberi surprise. “Nah ini, uang satu juta. Kau pulang sana. Hari Sabtu sudah di barak,” tukas Johny dengan tegas. Letnan Budi pun meninggalkan ruangan komandannya dengan hati riang. Berkah dan panjatan doanya selama ini, untuk senantiasa dimudahkan dalam tugas dan kehidupan terkabul. “Saya naik pesawat sama istri, Rp 200 ribu. Tiket pesawat dari Jakarta ke Semarang kala itu, Rp 100 ribu. Saya ada jajan Rp100 (ribu) jajan, dan beri ibu (kandung) dan istri Rp700 ribu dikasih ke istri untuk persalinan.” Johny Wainal Usman, menjadi Wakil Kabaharkam Mabes Polri dengan pangkat jenderal bintang dua. Johny sempat Kapolda Sulsel mulai 31 Agustus 2010 hingga 24 Februari 2012. PERTUKARAN di TANGGA KAPAL LAUT Misi operasi Timtim pun bertukar jadi operasi militer pasca Aceh lepas status DOM. Untuk diketahui, sebelum 2001, Polri masih berada di bawah garis komando panglima ABRI dan menteri pertahanan. Polri belum mandiri, sebelum adanya tuntutan Reformasi, pembubaran Dwifungsi ABRI. “Seingat saya masuk setelah operasi PPRM, masuk tiga operasi Sadar Rencong, lalu (operasi) Cinta Meunasah dan Cinta Damai,” ujar Budi, mengenang enam operasi selama hampir 4 tahun tugas di Aceh. Dia masuk ke Aceh dan kompinya ditempatkan di Lhoksemawe, daerah pedalaman dan pantai berbatasan Aceh Utara, ini berjarak sekitar 275 km dari Banda Aceh, ibu kota provinsi paling barat Indonesia. Selain operasi Cinta Meunasah dan Cinta Damai ada juga Operasi Wibawa. Otoritas militer menggelar enam operasi gabungan TNI-Polri itu adalah; I. Operasi Sadar Rencong I (Mei 1999 - Januari 2000), II. Operasi Sadar Rencong II (Februari 2000 - Mei 2000), III. Operasi Sadar Rencong III (Juni 2000 - 18 Februari 2001), IV. Operasi Cinta Meunasah (Juni 2000-2001), V. Operasi Cinta Damai (2001 - 2002).


22 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Budi bergabung dalam misi pertama Polri di Aceh pasca-DOM. Pasukan TNI hanya membackup, polisi. Ino berbeda dengan tiga dekade operasi yang sepenuhnya di bawah kendali militer. Operasi ini dideklarasikan 2 Januari 1999. Komandannya dari Polri; Letkol Pol Iskandar Hasan (Kapolres Aceh Utara). Sedangkan wakilnya dari TNI, Kolonel Infanteri Johny Wahab (Danrem Lilawangsa). Perubahan skema operasi dari TNI ke Polri ini juga mengkonfirmasikan perubahan dan penggantian tampuk pimpinan nasional. Selama empat tahun, Letnan Budi tugas di Aceh, ada presiden; dari Soeharto, BJ Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999), lau Abdurrahman “Gus Dur” Wahid (20 Oktober 1999- Juli 2001) dan Megawati Soekarnoputri (Juli 2001 - Oktober 2004). Di pimpinan tertinggi Polri, bahkan ada enam suksesi jenderal. Dia ke Aceh saat Kapolri dijabat Jenderal Dibyo Widodo (1996-1998), dilanjutkan Jenderal Roesmanhadi (29 Juni 1998 – 3 Januari 2000), Jenderal Pol Rusdihardjo (4 Januari 2000 – 22 September 2000), Jenderal Pol Suryo Bimantoro (23 September 2000 – 29 November 2001), Jenderal Chairuddin Ismail (20 Juli 2001–3 Agustus 2001, pjs. de facto), dan Jenderal Pol Da’i Bachtiar (29 November 2001 – 7 Juli 2005). Di korps Budi, Brimob, juga terjadi enam kali sirkulasi kepemimpinan “Saya ke Aceh saat transisi (Brigjen) Jenderal Setyono ke Brigjen SY Wenas, dan kembali ke mako saat Dankor Pak SY Wenas bintang dua (Irjen Pol) tahun 2002.” Sirkulasi serupa juga terjadi di level Kapolda Aceh, Pangdam Islandar Muda dan Gubernur Aceh. “Kita yang di lapangan hanya dapat kabar, komandan ganti lagi, ganti lagi. Pokoknya, jalankan tugas saja.” ujar Budi. Misi operasi Gegana di Lhoksemawe untuk meyakinkan warga Aceh, dan mata internasional, bahwa Aceh aman terkendali.“Misi kita dari komadan, adalah bagaimana Aceh tak referendum, seperti Timtim,” ujar Budi. JULUKAN TIGER DI BENTENG KARUNG PASIR Selama misi operasi di Aceh, Budi mengakui banyak belajar pengalaman kepemimpinan, dan mengeksekusi persoalan laten. Dia membangun pos di sejumlah kecamatan. Itu antara lain; di Kandang, Nizam, Lhoksukun, Biren dan markas utama di Kota Lhoksemawe. “Lhoksemawe itu dikenal sebagai salah satu basis GAM. Di situlah kampung Ahmad “Kandang” Rasyid, punggawa perlawanan gerakan kemerdekaan Aceh menjadi negara berazas Islam. Selain itu ini juga wilayah jelajah pentolan panglima perang GAM Abdullah Syafeii. Di sana, Budi membawahi lima peleton. Dia membagi waktunya, tiap pekan mengunjugi dua hingga tiga peleton. Satu peleton berisi 25-30 personel. Di Lhoksemawe pula, Letnan Satu Budi dipromosi dadakan menjadi komandan kompi, meski belum sesuai jenjang pangkat. Ceritanya, komandan kompi Brimob Resimen ada satu perwira yang pindah tugas. Satu perwira, dengan wakil komandannya ke Langkat.


23 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Sementara teritori operasi di Lhoksemawe dan Pidie. “Wadanyon-nya turun jadi danki (komandan kompi).” Dia mengingat, seniornya saat itu adalah Kapten Pol Kamaruddin. Kini, medio tahun 2024, Kamaruddin berpangkat inspektur enderal dan bertugas di Lemhanas. Ketegangan tiap hari teror ke aparat polisi dan TNI. Bertugas di Lhoksemawe, Aceh utara ini pulalah Letnan Budi mendapat julukan, Tiger. Julukan ini merujuk macan khas Pulau Sumatera yang juga banyak berkembamg biak di kwasan pegunungan utama di Sumatera bagian utara, Bukit Barisan. “Tiger itu panggilan anak buah, karena suasananya selalu mencekam, namun kita dapat solusi.” Tugas utamanya, adalah mengontrol tenda berpagar karung pasir, sebagai benteng pertahanan. Di tenda-tenda komando itulah, Budi dan anak buahnya tidur, makan, mengatur strategi operasi menegakkan Wibawa NKRI. “Banyak tenda-tenda kita yang diserang GAM. Benteng pasir itu, kita susun hingga 2 meter, seperti benteng kecil.” Di Lhoksemawe, Letnan Budi lebih banyak menggunakan motor, meski komando menyiapkan mobil operasional, Kijang. Mobil itu digunakan, saat membawa personel diatas lima orang. “Saya ingat, yang selalu menemani itu Bintara Darmanto, pendamping, kadang juga jadi supir.” pasti diserang. bikin pertahanan dari karung pasir. Disusun bentuk pagar benteng kecil si tiap kecamatan. Kini di Lhoksemauwe ada 12 polsek. Sebagian adalah bekas area benteng kecil dari karung. Ke12 polsek di Lhoksemawe itu antara lain; Banda Sakti, Blang Mangat, Muara Satu, Dewantara, Kuta Makmur, Meurah Mulia, Nisam, Sawang, Simpang Keramat, dan Syamtalira Bayu. Selusin polsek inilah dulu menjadi wilayah operasi Gegana Brimob di Lhoksemawe. TRAGEDI RINDU ANAK DI HELIPAD MARINIR Penugasan di Lhoksemawe juga jadi ajang Budi mendewasakan diri. Dia mengaku karakter prajurit bhayangkara banyak dibentuk di Aceh. Dikisahkan, sekitar tahun kedua bertuga di Aceh, dia dapat kabar dari Semarang, anak keduanya akan lahir. Saat malam tiba, atau lagi jeda operasi dia merasakan drama ingin ketemu anak. “Rindunya bikin nangis, Lurrr,” ujar Budi seraya memperlihatkan bulu kuduknya yang berdiri. Puncaknya drama rindu anak itu, saat insiden wafatnya perwira Letnan Satu Polisi Heri, salah satu komandan kompi di Aceh. Lettu Heri, angkatannya di AKPOL Semarang, meninggal dunia setelah kena tembakan bagian kepala di Lhoksemawe. Sebagai teman, dia berinisiatif mengantar jenazah temannya ke Jakarta. Dia pun berkoordinasi dan meminta persetujuan komandan. Budi juga mulai menyiapkan


24 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto struktur backup operasional harian kepada periwa muda dan bintara senior lain, selama ia meninggalkan Lhoksemawe. Dikenangnya, kala itu di pangkalan Marinir TNI-AL di Lhoksemawe. “Saya sudah mau naik ke heli Puma TNI untuk terbang ke Jakarta, transit dului Palembang, untuk isi bahan bakar.” Suasana bathin galau, rindu anak, siaga jalankan tugas, dan siaga harus ada pendamping perwira. Dia lalu menghadap komandan operasi tertinggi di Lhoksemawe. Kalau itu, Letnan Kolonel Polisi Syefeii Aksal yang juga Kapolres Lhoksemawe. Malamnya, Budi sudah dapat izin lisan dari komandan. Namun, tetiba saat pagi, saat sudah di pelataran helipad, suara keras terdengar. “Hei, Budi mau kemana, pasukanmu kau mau kemanakan?” Budi pun merespon lugas, “Mau ikut ngantar Lettu Heri ke Jakarta.” Bayangan, bertemu anak istri di Jakarta dan Semarang sudah di ubun-ubun hasrat. Namun, bayangan itu ambyar dengan kalimat; “Sana, kau balik. Pasukan nunggu kamu.” Rencana menjenguk istri dan bertemu anak itu batal. Namun, sebagai prajurit di medan operasi, perintah atasan adalah segalanya.Terakhir, Letkol Pol Syafei Aksal menjabat Komandan Korps Brimob. Selepas jeda Operasi Aceh Desember 2000, Letnan Budi sempat dapat cuti dua pekan, guna menjenguk keluarga di Semarang dan Jakarta. Februari 2001 anak keduanya lahir. Dia sempat pulang, namun kembali lagi ke Aceh, hingga 2002. Saking jarangnya bertemu anak, “Saya sempat dipanggil Om sama Dinan, (Sakti Ferdinand). Habis itu dia ngumpat lari.”


25 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Ferdinan kala itu sudah berusia dua tahun. Sepulang dari Aceh, 2002, Budi sudah berpangkat letnan satu. Baru, seminggu menjalani cuti di Mako Brimob, pagi hari seorang bintara provost Brimob mendatangi rumahnya. “Saya dijemput untuk diberitahu segera siaga, ada tugas ke Ambon.” Saat itu, Polri sudah melepaskan diri dari TNI. Di saat bersamaan, Budi juga mengikuti tes seleksi untuk masuk PTIK, untuk kenaikan pangkat menjadi ajun komisaris kepala atau di TNI setara dengan kapten. Seleksi itu, Budi dinyatakan lulus. Otomatis, penugasan operasi pascakerusahan Ambon juga batal. Yang menggantijkan saya sebagai danki ke operasi kerusuhan Ambon itu, Letnan Satu Bambang Widjanarko. Saat, Budi bertugas jadi Kapolrestabes di Makassar, tahun 2022 dia bertemu Bambang. Kebetulan Bambang sudah menjabat sebagai Kepala Biro Operasi Polda Sulsel. “Kami terbahak, saat ingat kenangan misi operasi saya ke Timur Indonesia, dua kali selalu batal.” (*) LESSON VALUE: 1. Prajurit harus taat tugas, disiplin tanpa peduli dengan suksesi kepemimpinan nasional atau tour of duty di korps, kesatuan unit tugas 2. Perintah komandan adalah segalanya dalam operasi. 3. Koordinasi dengan kesatuan eksternal 4. Tabah, sabar dan tetap waspada LINK SOURCES Insiden Motaain 1999. Skripsi; 5] Cunino, Maria Antonia. (2015). Referendum dan Kemerdekaan Timor Timur 1999-2002. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. http://library.stik-ptik.ac.id/file?file=digital/37882-Bulsak.4-98-034.pdf Aceh Damai: https://kontras.org/wp-content/uploads/2019/07/aceh-damai-dengankeadilan.pdf Hasil Referendum Timor Timur tersebut disepakati dalam Sidang MPR pada 19 Oktober 1999. LINK FOTO; https://www.kompas.id/baca/foto/2023/05/23/perjalanan-23- tahun-timor-timur-menjadi-bagian-dari-indonesia


26 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Operasi AntiHuruhara Bebasnya Habib Rizieq di Salemba JABATAN: KASUBDEN II DEN C SATBRIMOB POLDA METRO JAYA Presiden RI: Megawati Soekarnoputri (Juli 2001 - Oktober 2004) Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar (29 November 2001 – 7 Juli 2005) Dankor Sat Brimob Polri: Irjen Pol Sylvanus Yulian Wenas (2002-2009) Kapolda Metro Jaya: Irjen Pol Makbul Padmanagara (2001-Juli 2004) Dansat Brimob Polda Metro Jaya: Kombes Pol Beno J Kilapong (2003-2005) Komandan Batalyon C : AKP Eddy Maryanto Pangdam Jaya : Mayjen TNI Djoko Santoso (2003-2004) Gubernur DKI Jakarta 2003 Letjen TNI Sutiyoso (2002-2007) Kompi Tak Bersenjata Menghalau Massa Pembebasan Habib Rizieq di LP Salemba TAHUN 2003, mungkin jadi periode puncak kedua kontroversi Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab (58 tahun). Di periode ini, Rizieq menjadi ‘newsmaker’ di Indonesia, setelah 2011, sosok penuh kontroversi ideologis, sekaligus momok bagi aparat keamanan dan ketertiban publik. Dalam catatan pusat data yang diarsipkan Wikipedia, setelah lima tahun mendirikan Front Pembela Islam (FPI; 18 Agustus 1998), pada tahun 2003, setidaknya pecah 16 rangkaian aksi di ibu kota, Jakarta. Sedangkan pada 2011 tercatat 25 aksi massa kontroversi di sejumlah kota utama Indonesia. Motif aksi massa ini penegakan syariah Islam, tuntutan aksi penutupan sarana hiburan, bahkan hingga kedai makan yang beroperasi di bulan Ramadhan. Polisi, dalam hal ini, Satuan Brimob pun senantiasa menjadi garda terdepan pengamanan dan ketertiban publik.


27 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Dari puluhan rangkaian kontroversi dan aksi kelompoknya, setidaknya belasan kali jadi terperiksa, empat kali berstatus tersangka dan tiga kali status terpidana; Pertama: 20 April 2003 di kasus penghinaan ke lembaga dan pimpinan Polri. Kedua, 30 Oktober 2008, Rizieq divonis 1,5 tahun penjara terkait kerusuhan pada tanggal 1 Juni di Monas karena terbukti secara sah menganjurkan orang lain dengan terang-terangan dan dengan sengaja, Bersama untuk menghancurkan barang atau orang lain sesuai dengan Pasal 170 ayat (1) jo Pasal 55 KUHP. Status ketiga, 24 Juni 2021 di kasus berita bohong hasil uji usap COVID-19 di Rumah Sakit Ummi Bogor, untuk kepentingan pesta perkawinan kerabat dekatnya. Di kasus tahun 2003 inilah, Komisaris Polisi Budi Haryanto menjadi salah satu perwira pengamanan. Kala itu, Kompol Budi, menjabat Komandan Sub Detasemen II Detasemen C Satuan Brimob Polda Metro Jaya. Budi dan kompi yang dibawahinya bermarkas di Batalyon C Pelopor di Ciputat, Tangerang Selatan, dengan markas komando di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Di periode ini, korps Bhayangkara Polri, sudah mandiri dan tak lagi berada dibawah garis komando ABRI. Di awal masa tugasnya ini pula, hampir tiap bulan massa FPI turun ke jalan memprotes rangkaian kebijakan pemerintah, dan instrumennya. Puncaknya, Minggu 20 dan 21 April 2003. Sat itu Rizieq Shihab dieksekusi penahanan karena dianggap menghina kepolisian lewat dialog di SCTV dan Trans TV. Kapolrinya saat itu adalah Jenderal Pol Makbul Padmanagara, dan Kapoldanya Irjen Pol Dai Bachtiar. Insiden pun pecah. Sekitar 500-an pendukung, Rizieq bentrok dengan aparat Polri. Ulama ini sempat dibawa kabur pendukungnya ke markas FPI di Petamburan, Jakarta Barat. Padahal, saat itu Rizieq akan serah-eksekusi masuk ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Salemba dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Senin (21/04/2003). Majalah TEMPO mendiskripsikan, kejadian itu: begitu mendengar Rizieq akan dibawa dengan mobil tahanan ke LP Salemba, massa pendukungnya langsung menerobos masuk, meski sudah dihalangi petugas kejaksaan dan Polda. Terjadi ketegangan dan teriakan dan saling memukul antara massa dengan para petugas. Mereka memaksa mengeluarkan Rizieq dari lift. Dari sisi tangga tampak anak Rizieq menangis melihat aksi itu yang berlangsung selama 15 menit. Massa histeris dan meneriakkan Allahu Akbar, “jangan sakiti ulama kami.” Rupanya mereka sudah menyiapkan bis Kopaja untuk melarikan Rizieq markas Petamburan. Terjadi aksi kejar mengejar, baik wartawan, polisi, petugas kejaksaan dan dan massa pendukung Rizieq yang berhasil membopong pimpinannya masuk ke dalam bus Kopaja nomor polisi B 7921 A. Ketika seorang polisi hendak mengeluarkan tembakan peringatan di jalanan, bus itu tetap melaju meski dihadang wartawan, polisi dan petugas kejaksaan. Teriakan


28 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto histeris dari massa dengan wajah menangis meminta supaya polisi tidak mengeluarkan tembakan. Bus tetap melaju dan saat ini dalam perjalanan menuju markas FPI di Petamburan. Sementara ekspresi dari Rizieq Sihab sendiri tampak tegang, pasrah dan tidak kuasa menghadapi ulah para pendukung. Selama tiga bulan masa sidang, rangkaian aksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terus berlanjut. Drama ketegangan mencuat lagi, saat Rizieq divonis 7 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 29 Juli 2003. Saat pembacaan vonis, massa pendukung emosi dan merusak bangku ruang sidang. Kala dipenjara, Rizieq menyindir masa itu dengan ungkapan, “Penjara ini rasanya seperti di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) saja," menjadi puncak drama konflik aparat polisi degan massa FPI kembali terjadi lima bulan kemudian. Tepatnya, Rabu 19 November 2003. Kompi Brimob, pimpinan Kompol Budi, sudah dapat perintah siaga sejak pagi dari markas Satbrimob Polda Metro Jaya di Kwitang. Sekitar 1.000 orang dilaporkan akan menyambut bebasnya, Rizieq. Perintah kapolda personel lapangan harus memakai pendekatan persuasif. “Kita yang di lapangan turun tanpa senjata. Tanpa pentungan dan hanya tameng.” Sekitar 500 massa yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) memadati rumah tahanan Salemba. Mereka menyambut kebebasan Ketua FPI Habib Rizieq, Rabu (19/11/2003) pukul 09.00 WIB, setelah menjalani masa tahanan tujuh bulan. “Kita siaga pagi, hingga sejak jam 3 subuh,” ujar Budi. Ustadz Djafar Sidiq, wakil ketua FPI kala itu, menegaskan akan mengarak bebasnya pimpinan mereka. Mulai dari Salemba, keliling kota Jakarta, sebelum pulang ke markas FPI di Petamburan. Drama ketegangan bertambah, sebab di dalam LP Salemba, malam harinya, Rizieq menggelar pengajian dan tauziyah perpisahan bersama Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, terpidana kasus terorisme, di LP Salemba. Di pekarangan Rutan Salemba, Laskar FPI bershalawat dengan iringan gendang. Seperangkat pengeras suara untuk berorasi disetting di mobil bak terbuka. Di luar pekarangan rutan, beberapa buah truk dan mobil bak terbuka, telah siap untuk keliling Jakarta mengangkut para laskar FPI. “Tugas kita, perintahnya, bagaimana memecah dan menghalau massa untuk tidak pawai.” Dengan misi personel tak bersenjata, oleh Budi operasi digambarkan dengan kata; “melelahkan, penuh peluh, bahkan darah. Setidaknya 12 anggota terluka terkena lemparan batu, dan belasan prajurit lain tumbang kelelahan dilarikan ke RS Polri.” Di suasana seperti inilah, kesetiaan kepada komando, ketabahan, daya tahan, dan menyemangati anak buah adalah modal utama. “Perasaan di lapangan kami saat itu, kita jadi perisai hidup. Jujur saat itu, kita hanya mengandalkan doa.” ujar Budi.


29 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Sebulan, setelah aksi pembebasan, Rizieq pun mengumumkan perubahan paradigma perjuangan FPI. Usai bertemu Wakil Presiden Republik Indonesia Hamzah Haz di Istana Wakil Presiden, Jl Merdeka Selatan, 8 Desember 2003, Rizieq menyatakan laskar FPI akan fokus ke dakwah, majelis taklim dan pendidikan, bukan lagi aksi parlemen jalanan, atau eksekusi berdalih penegakan syariat Islam. Dalam deklarasi itu FPI mengklaim akan menempuh jalur hukum dalam upayaupaya menghentikan "praktik-praktik kemaksiatan". Paradigma baru itu diputuskan dalam musyawarah nasional pertama FPI, 19-21 Desember 2003, di Jakarta. Pada Januari 2017, Rizieq dilaporkan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono atas tuduhan penghinaan terhadap profesi hansip karena Rizieq berkata; “Pangkat jenderal otak Hansip" dan "Sejak kapan jenderal bela palu arit, jangan-jangan ini jenderal enggak lulus litsus." Satu bulan setelahnya, Februari 2017, tersiar rumor percakapan pornografi antara Rizieq dengan seorang perempuan bernama FirzaHussein. Foto-foto panas Firza bersama Sang Habib juga beredar di banyak grup WhatsApp. Di kasus ini, pada tanggal 29 Mei 2017, Rizieq ditetapkan sebagai tersangka. Pada 29 September 2017, Rizieq dicekal saat akan meninggalkan Arab Saudi. Kebetulan masa berlaku visa-nya juga sudah habis. Selepas jadi komandan II detasemen C Brimob Polda Metro, Jaya, Kompol Budi dipromosi menjadi Kapolsek Cikarang, di Polresta Bekasi, Polda Metro Jaya.(‘) LESSONS VALUE: 1. Misi operasi lapangan pasukan tak selamanya menggunakan senjata 2. Setia, Tabah, dan doa adalah modal utama menjalankan tugas. 3. Saat bertugas di lapangan sejak awal siaplah dengan segala risiko. 4. Dalam tugas, jangan menunjukkan kebencian personal terbuka. LINK SOURCE 1. Daftar Aksi Front Pembela Islam: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_aksi_Front_Pembela_Islam#2004 2. Pusat Data dan Analisis TEMPO, Diolah dari berbagai sumber, NI, (Selasa, 14 Februari 2012 16:35 WIB): https://nasional.tempo.co/read/news/2012/02/14/078383964/rentetan-aksi-fpidari-masa-ke-masa 3. Hitam Putih PFI: Rosadi, Andri. Hitam-putih FPI: mengungkap rahasia-rahasia mencengangkan ormas keagamaan paling kontroversial (dalam bahasa Indonesia). Nun Publisher. https://books.google.co.id/books/about/Hitam_putih_FPI.html?id=Dc7XAAAAMAAJ&redir_esc=y


30 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Penyidikan Kasus Pengrusakan Pagar Gedung DPR RI (2006) JABATAN: KANIT SUBDITKAMNEG DITRESKRIMUM POLDA METRO JAYA Presiden RI: Megawati Soekarnoputri (Juli 2001 - Oktober 2004) Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar (29 November 2001 – 7 Juli 2005) Dankor Sat Brimob Polri: Irjen Pol Sylvanus Yulian Wenas (2002-2009) Kapolda Metro Jaya: Irjen Pol Makbul Padmanagara (2001-Juli 2004) Irjen Pol Firman Gani (2001-2002) Pangdam Jaya : Mayjen TNI Djoko Santoso (2003-2004) Gubernur DKI Jakarta 2003 Letjen TNI Sutiyoso (2002-2007) Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Carlow Teweu Dansat Brimob Polda Metro Jaya: Kombes Pol Bono “Benny” J Kilapong (2003-2005) Kasubdit Kamneg: AKBP Tomsi Tohir Debut Karier Penyidik Kasus Demo Hari Buruh; Kerja Dibawah Tekanan BANYAK sudah polisi Indonesia memitigasi, mengamankan, menyelidiki, dan memproses hokum aksi massa di momen peringatan Hari Buruh Internasional, saban tanggal 1 Mei. Namun, aksi sekitar 100 ribu massa di peringatan Hari Buruh, Rabu (3/5/2006), delapan belas tahun silam, akan selalu tercatat dalam sejarah pergerakan buruh Indonesia. Aksi dua hari sebelumnya, 1 Mei 2006, DPR, aman damai belaka.Ke-100 ribu massa itu gabungan dari sekitar 21 kelompok aliansi buruh berorasi menolak revisi UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Namun, karena pimpinan DPR dan komisi XI menolak tuntutan buruh, dua hari kemudian, buruh berkonsolidasi. Sebelum isu ketenagakerjaan dibawa ke DPR, sesuai Pasal 144 Konvensi ILO (Organisasi Buruh Dunia) yang diratifikasi pemerintah Indonesia.


31 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Apalagi KSPSI mengklaim mendapat dukungan dari 19 gubernur, 92 wali kota dan bupati, serta 78 DPRD tingkat II untuk revisi UU membatasi masa kerja, kontrak dan kesejahteraan buruh. Akhirnya, dua hari kemudian, konflik massa aparat gedung DPR, tak terhindarkan. Setidaknya, 14 aparat polisi terluka. Belasan buruh, termasuk 2 wartawan juga dikabarkan terluka. Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno dari partai oposisi, kala itu, menyebut kerusuhan ditunggangi “pihak tertentu. Dampak terparah adalah rusaknya gerbang pagar depan gedung DPR RI Senayan, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sebelumnya, aksi itu memacetkan total hampir 1/3 ruas jalan utama di pusat, selatan, dan barat Jakarta. Inilah kali kedua, gerbang itu rusak setelah aksi sebulan pendudukan sekitar 200 ribu aktivis mahasiswa pendukung Reformasi, Mei 1997 silam. Pagar setinggi 4 meter dan senilai Rp 3,1 miliar itu dirusak massa yang mengklaim dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI). Sebelumnya, alokasi biaya renovasi pagar sepanjang 1.200 meter (750 meter pagar belakang dan 530 m pagar depan) telah menuai kontroversi biaya raksasa kala itu, Rp 5,1 Miliar. Jalan bebas hambatan dan jalan arteri Gatot Subroto ditutup total. Lebih luas, pagar tol yang rusak, fasilitas lain di jalan bebas hambatan itu juga rusak, seperti tanaman, papan pengumuman, reklame dan juga 374 lembar pembatas jalan tol rusak. PT Jasa Marga, pihak pengelola jalan tol Gatot Subroto, mengklaim rugi hingga Rp 185 juta. Sekjen DPR Faisal Djamal pada wartawan di gedung DPR Jakarta, menyebut kerugian ditaksir Rp 150 juta. Keesokan harinya, Kamis (4/5/2006), sampah berserakan di sepanjang 3,2 km di Jl Gatot Subroto. Suku Dinas Kebersihan Pemprov DKI jakarta, mengerahkan 92 unit kendaraan pengangkut sampah, dan membersihkan sisa kerusuhan. Di hari yang sama, 4 Mei 2006, aparat direskrimum Polda Metro Jaya justru mulai bekerja. “Itu bulan kelima saya tugas sebagai Kanit Subditkamneg di (Polda) Metro dan hanya ada 3 bintara penyidik,” ujar Budi, yang saat itu masih berpangkat komisaris polisi (kompol). Kanit Subditkamneg adalah singkatan dari kepala unit sub direktur keamanan negara. Ini adalah penyidik kasus-kasus khusus yang bekerja di bawah komando direktorat reserse dan kriminal umum (direskrimum) Polda Metro Jaya. Subdirektorat ini menangani urusan keamanan negara dalam struktur organisasi Ditreskrimum Polda dengan Tipe A Khusus, kala itu. Nomenklatur di situs resmi Polda Metro Jaya, subdirektorat ini bertugas menyelenggarakan penyelidikan, penyidikan dan pengawasan penyidikan tindak pidana umum, termasuk fungsi identifikasi dan laboratorium forensik lapangan pada kasus terkait ‘meronrong” wibawa aparat dan obyek vital negara.


32 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Dit Reskrimum Polda Metro Jaya, kala itu, secara struktural memiliki 2 (dua) Bagian, 6 (enam) Sub Direktorat (Sub Dit) dan 1 seksi sebagai satuan tugas di bawahnya bertugas, berwenang dan tanggung jawab berbeda. Sub direktorat itu; sub direktorat keamanan negara (non operasional), sub direktorat harta benda bangtah (non operasional), sub direktorat reserse mobile (Resmob) (operasional), sub direktorat kejahatan umum-Jatanras (operasional), sub direktorat remaja anak dan wanita <renakta> (non operasional) dan sub direktorat ranmor (operasional). Bagi Budi, kasus ini adalah debutnya sebagai penyidik (reserse) di 10 tahun kariernya di kepolisian. Itu selepas 13 bulan menjabat sebagai Kapolsek Cikarang di Polresta Bekasi, (10-12-2004 hingga 23 Januari 2006). Budi dan tiga bintara penyidik di unitnya ini, pun mulai bekerja delam tekanan ekstra. “Kapoldanya (Irjen) Jenderal Firman Gani. Senior jauh pernah jadi dansat Brimob, Polda Sulsel, dan Polda Jawa Timur.” Sebelum penyidikan dimulai, bersama direskrimum Polda Metro Jaya, dia menerima arahan dan perintah langsung dari kapolda. Budi mengenang, tekanan psikologis verbal itu hanya berupa cerita mutasi sejumlah perwira menengah di jajaran Polda Metro Jaya. Dalam ruangan, "Kamu tahu senior mu ini.? Minggu lalu dipindah ke Sentani, Papua..!" Belum lagi Budi menjawab, sang jenderal melanjutkan; “Kamu tahu, seniormu yang angkatan ini..?“ tanya Firman Gani. “Siap, tahu jenderal,” jawab Budi. “Heii, dia tak lama lagi akan dimutasi ke Polda Ambon." “Siap dilaksanakan!” tukas Budi. Di tengah, bayangan mutasi jauh ke timur Indonesia itu, Budi tertunduk dengan badan tegap. Tiba-tiba, terdengar kalimat atasan selanjutnya; “Kalau seminggu ini tak selesai. Kamu akan susul mereka. Ya…" suara jenderal bintang dua itu mendengung di telinga si perwira muda. Budi pun, meninggalkan ruangan komandan dengan langkah terbata-bata. Baginya, tekanan itu adalah semangat. Budi dan tiga bintara penyidik ditargetkan merampungkan berkas perkara dan berita acara pemeriksaan kasus “heboh’ nasional itu hanya dalam sepekan. Itu artinya masa kerja mereka hanya tujuh hari. Agenda untuk berakhir pekan bersama istri dan dua anaknya, terpaksa tinggal janji. Saat itu, dia langsung berpikir, kerja bersama dan menyemangati tiga anggota timnya. Ketegangan, kian membuncah, sebab laporan dari reserse mobile reskrimum, ada 30 buruh ditangkap dan diperiksa sebagai saksi dalam kasus itu. Tiga puluh buruh itu, ditangkap karena dari sejumlah video, foto, kumpulan keterangan saksi di lapangan, mereka ada di depan gerbang pagar gedung DPR. Tantangannya, dengan 3 penyidik, berkas hasil pemeriksaan harus berstatus P21. Istilah P-21 merupakan kode formulir yang digunakan dalam proses penanganan dan penyelesaian perkara tindak pidana.


33 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Kode khas ini semacam pemberitahuan bahwa hasil penyidikan sudah lengkap. Jika perkara belum dinyatakan P-21 (belum lengkap), maka perkara belum siap dilimpahkan ke kejaksaan, otoritas penuntut perkara. Artinya, pelaku yang diduga melakukan tindak pidana itu masih berstatus tersangka. Sementara, tersangka itu tidak bisa dilepaskan dan dibebaskan begitu saja dari segala proses hukum yang menjeratnya. Seseorang bisa tidak lagi menyandang statusnya sebagai tersangka, jika terhadap penyidikan perkaranya bisa dihentikan. Dalam tekanan, Budi mengakui banyak membaca, dan konsultasi dengan senior. Di sisi ini, Budi mengakui pelajaran awal berharga. “Bintara penyidik senior adalah tempat belajar dalam penanaganan kasus. Paling cepat.” Sepanjang tiga hari pertama, Budi dan tim memilah peran para saksi dan bakal tersangka. Akhirnya, dari awalnya 30 buruh, hanya 8 yang dinyatakan berstatus P21. Kedelapan buruh itu antara lain, Ceh Elih Ahmad Iskandar (buruh PT KIA Keramik Karawang), Mohammad Syaiful (PT Danes Cilongo), Priyanto (PT Gajah Tunggal), Ismansyah (PT KMK II Cikupa), Zulkipli (PT KMK I, Curug), Herman Josep (PT Trio Wira, Kalimantan), Suyanto (PT WS Tangerang), dan Didin Samsudin (PT KMK I Bitun).Penyidikan dan pemberkasan kasus, selesai hanya enam hari. Berkas perkara pun dilimpahkan ke penuntut umum, tim jaksa di Kejati DKI Jakarta. Dua bulan kemudian, perkara pun di sidangkan. Dari delapan tersangka yang diajukan, enam tersangka kemudian dinyatakan bebas, setelah menjalani 110 hari masa penahanan. “Akibat perbuatan terdakwa, negara mengalami kerugian kurang lebih Rp 540 juta," ujar Khairul dalam persidangan di PN Jakarta Pusat, Jl Gadjah Mada, Jakarta, Senin (24/7/2006). Di ruang sidang, enam tersangka didakwa dengan 3 dakwaan alternatif. Pertama, mereka diancam pidana berdasar pasal 170 ayat 1 KUHP. Pasal ini menyatakan “Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan. Atau kedua, diancam pidana berdasar pasal 214 ayat 1 KUHP. Pasal ini isinya; “Paksaan dan perlawanan berdasarkan pasal 211 dan 212 jika dilakukan dua orang atau lebih dengan bersekutu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun ”.Atau ketiga, diancam pidana berdasar pasal 218 KUHP. isinya, setiap orang yang menyerang kehormatan/harkat dan martabat presiden atau wakil presiden bisa mendapat pidana penjara. Hukuman penjara bagi pelaku yaitu paling lama 3 tahun dan/atau denda paling banyak kategori IV. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rini Hartati, SH menuntut keenam buruh itu hukuman empat bulan penjara dan denda Rp.100.000 atas tuduhan melanggar Pasal 218, 160, 170 dan 214 Kitab Undang Hukum Pidana (KUHP). Para buruh jadi tersangka karena dinilai memprovokasi para buruh, sehingga terjadi tindak anarkis. Sidang di pengadian, menyatakan mencari aktor intelektual di balik aksi rusuh ini.Enam dari delapan buruh tersangka perusak pagar kantor DPR Senayan, Jakarta, Kamis, dibebaskan setelah ditahan lebih tiga bulan dan menjalani sidang enam kali.


34 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Keenam buruh yakni, Didin Syamsudin (22), Cep Elih, Suyanto (42), Priyanto (31), Herman Yosep (50) dan Zulkifli (21). Mereka dianggap bertanggung jawab dalam perusakan sejumlah barang saat demo buruh. Majelis hakim PN Jakarta Pusat yang diketuai Kusriyanto, SH menyatakan keenam buruh tersebut bersalah dan menghukum penjara selama tiga bulan dua puluh hari, dipotong masa penahanan. Majelis dalam pertimbangannya menyatakan para terdakwa sangat kooperatif dalam penyidikan, tertib dan sopan selama persidangan, serta para buruh merupakan tulang punggung keluarga. Salah seorang buruh, Cep Elih menyatakan senang dan bangga karena pada saat maraknya kabar tentang mafia peradilan, ternyata masih ada keadilan.(‘) LESSONS VALUE: 1. Berbeda dengan operasi lapangan, penyidik membutuhkan referensi hukum dan kemampuan memilah pokok perkara. 2. Tekanan dari atasan bukan ancaman, namun harapan dan tantangan. 3. Belajar dan terus belajar dari senior, anak buah, dan mitra kerja adalah kamutlakan dalam penanganan penyidikan dan penyelidikan perkara. LINK SOURCE: • "DPR Renovasi Pagar yang Dirobohkan Buruh" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-587936/dpr-renovasi-pagar-yang-dirobohkan-buruh. • Massa Buruh Rubuhkan Gerbang Gedung DPR https://www.antaranews.com/berita/32949/massa-buruh-robohkan-gerbang-gedungdpr • "Perusak Pagar DPR Diancam Hukuman 5,5 Tahun Penjara" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-647018/perusak-pagar-dpr-diancam-hukuman-5-5- tahun-penjara.


35 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Penumpasan Komplotan Perampok Bersenjata di Medan JABATAN: KASAT RESKRIM POLRESTABES MEDAN, POLDA SUMUT ((2006-2008) Presiden RI: Susilo Bambang Yudhoyono (Oktober 2004-Oktober 2009) Kapolri Jenderal Polisi Sutanto (8 Juli 2005 – 30 September 2008) Kapolda Sumatera Utara: Irjen Pol Bambang Hendarso Danuri (10 Desember 2005-27 Desember 2006) Irjen Pol Nurudin Usman (27 Desember 2006-25 Agustus 2008) Direskrimum Polda Sumut: Kombes Pol Ronny Sompie (2006-2008) Kapolrestabes Medan Komisaris Besar Polisi Drs. Irawan Dahlan (2005-2007) Komisaris Besar Polisi Drs H Bambang Sukamto, SH, MH (2007-2008) Gulung Gembong Bandit Berpistol, Suherman dan Marsadi di Medan LIMA bulan pasca-menuntaskan kasus pengrusakan gerbang utama gedung DPR-RI di Senayan, Jakarta, Budi Haryanto, naik pangkat, menjadi ajun komisaris besar polisi (AKBP). Telegram promosi turun, 13 Oktober 2006. Bukan lagi di ibu kota, Budi dimutasi menjadi perwira menengah (pamen) di Polda Sumatera Utara (Sumut). “Saya dapat atensi khusus membantu penumpasan perampokan bersenjata api yang lagi marak di Medan,” ujar Budi. Ia masih bertemu sekitar dua bulan dengan Irjen Pol Bambang Hendarso Danuri, Kapolda Sumut (10 Desember 2005-27 Desember 2006). BHD, akronim sang jenderal, dua tahun kemudian menjabat Kepala Kepolisian Rebuplik Indonesia (1 Oktober 2008 hingga 22 Oktober 2010). “Pas lagi, wakapoldanya Jenderal Johny Wainal Usman. Johny adalah senior dan komandan Budi saat jadi komandan kompi di Mako Brimob Kepala Dua, dan sebelum Budi ditugaskan 3 tahun di operasi pemulihan keamanan pascaDOM di Lhoksemawe,


36 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Aceh. Tour of duty ke utara Sumatera ini, adalah provinsi daerah tugas kedua Budi, setelah Polda Metro Jaya. Penugasan ini menantang sekaligus menenangkan bathin. Dia pun mengajak istri dan dua anaknya, pulang dan menetap sementara di kampung leluhur istri sekaligus tanah rantau kelahiran Mbah dari ibunya. Preti istri Budi, lahir di Brastagi, Sumatera Utara, 21 Agustus 1979. Nenek Budi dari ibunya, lahir di sebuah perkebunan teh milik Jepang di Deli Serdang. Delapan belas hari, Budi standby di Mapolda Sumatera Utara. Di masa ini, dia beradaptasi dan berkonsultasi dengan senior, membaca dan mempelajari rangkaian kasus perampokan bersenjata di kota terbesar pertama di luar Pulau Jawa itu. Tepat 31 Oktober 2006, telegram jabatan sebagai Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (kasat reskrim) Polrestabes Medan, turun. Kala itu, atasan langsungnya adalah Kombes Pol Irawan Dahlan. Tantangan pertama Budi adalah mengungkap, menggulung, dan meredakan jaringan perampokan bersenjata api di ibu kota provinsi penduduk 14,8 juta jiwa itu. “Sejak 2002, hampir tiap bulan ada berita perampokan bersenjata, sasaran rumah warga, took hingga bank. ”Banyak kasus kriminal lain di Medan, namun Budi fokus ke misi penugasannya.Budi memilih dan memilah langsung personel misinya. Tim Jatanras Polrestabes Medan pun mulai menyelediki rangkaian kasus perampokan di TKP. “Enam bulan jadi beban. Saya bahkan sempat sakit beberapa pekan, karena malu dan tidak bisa memberikan hasil.” Apalagi, saat itu kasus perampokan di Medan, masih jadi atensi khusus dan perhatian langsung dari Jenderal BHD saat itu menjabat Kabareskrim di Mabes Polri. Penjajakan kasus ini, dimulai dengan menyidik hampir 200 TKP dan lebih 60 laporan perkara perampokan. Modus, tempus, locus kasus ini dipelajari hampir lima bulan. Puncaknya, Rabu 11 April 2007, dini hari. Rumah pimpinan komplotan ini kawasan Mandala, Jl Tang Guk Bongkar, Kota Medan, digerebek. Awalnya tim bergerak ke rumah orangtua Suherman, berjarak 600 meter dari rumah Suherman (38) dan tangan kanannya, Marsudi Triwijaya (31). Saat akan ditangkap, mereka melawan dengan mengacungkan pistol jenis FN ke aparat. Tak pelak lagi, polisi melepaskan tembakan terarah ke bagian dada. Keduanya pun tersungkur. Mereka tewas bersimbah darah. Di rumah Suherman, polisi menyita sejumlah barang bukti, uang tunai Rp 16 juta, ratusan butir peluru, 1 pucuk senjata FN, sejumlah senjata tajam, dan paspor atas nama Suherman. Kapoltabes Medan AKBP Bambang S Sukamto didampingi Kasat Reskrim Kompol Budi Haryanto kepada pers mengatakan, kedua tersangka disinyalir sudah sering merampok dengan senjata api. Terakhir, mereka merampok pada hari Jumat (6/4) di sebuah rumah di Jl Katapang No 6A, Kota Medan.


37 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Bahkan di antara aksi penjahat ini mengakibatkan beberapa korban jiwa. Dalam pengembangan kasus, ditemukan Suherman and the gangs setidaknya teridentifiksi terlibat dalam 47 laporan polisi. Pengembangan ini melibatkan tim jatanras, Brimob dan backup dari personel Densus 88. Sebagian besar di Medan, Deli Serdang, dan bahkan hingga ke Riau. Dalam peta kejahatan bersenjata api Indonesia, Jakarta masuk peringkat atas. Dua wilayah lain yang bisa menjadi contoh gawatnya aksi bandit berpistol adalah Medan, Palembang dan Lampung. Nah, total kasus kejahatan dengan senjata api di Ibu Kota selama Januari hingga pertengahan Oktober mencapai 171 kasus. Sementara yang terungkap baru separuhnya, masih ada 42 kasus. Setelah Suherman dan Marsidi tertembak mati, selama beberapa bulan, laporan perampokan bandit bersenjata di wilayah Sumut, mereda. Setahun kemudian, Senin (22/9/2008) malam, kas Bank Mandiri di Jl Syailendra Medan diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp1,2 miliar. Jumlah diketahui berdasarkan sisa uang di kas Bank Mandiri Jl Syailendra Medan setelah aksi perampokan itu, kata Kapoltabes Medan, AKBP Aton Suhartono kepada wartawan di Medan, Selasa (23/9/2008). Menurut Aton, berdasarkan keterangan pegawai Bank Mandiri Jl Syailendra Medan, transaksi di tempat itu berkisar Rp1,4 miliar sebelum perampokan terjadi. Kala itu, Budi sudah dimutasi menjadi Wakapolres Labuan Batu. Kabupaten ini berjarak sekitar 7 jam perjalanan darat bus. Dan empat jam dengan kereta api. Baginya, promosi ke Labuan Batu ini jadi dilema keluarga. Istri dan dua anaknya, tetap ingin menetap di Medan. Alasannya, kenyamanan lokasi Pendidikan, “Tiap bulan terpaksa saya ngelaju ke Medan-Labuan Batu, itu sekitar 360 km.” Namun, dari penugasan ini, Budi banyak mendapat teman dan kenalan baru. Dia bertemu dengan teman seperantauan dari instansi lain, seperti bankir, aparat kejaksaan, hakim di pengadilan, TNI, pegawai/karyawan bank dari Jawa. Hingga saat ini, teman-teman itu masih tetap kontak, dan terjalin saat tugas di Jakarta, Semarang, dan Makassar. Masa tugas tujuh bulan di Labuan Batu, beralih mutasi ke jabatan non-operasional lapangan. Akhir Maret 2009, Budi dimutasi menjadi Kepala Sub Bagian Mutasi Jabatan Bagian Pembinaan di Biro SDM Polda Sumut. Hampir setahun, Budi jadi pekerja administratif. Toh, di sini, Budi banyak belajar dan memperdalam ilmu penyidikan dan lebih dekat dengan keluarga. Di akhir tahun 2010, Budi dimutasi menjadi Pamen di Polda Jawa Tengah. Tugasnya di Semarang, kota kelahirannya. Tak lama berselang, kasus perampokan heboh pecah di Medan. Kantor Kas Bank CIMB Jl Arif Rahman Hakim, Medan, dijarah 16 perampok bersenjata api pada 18 Agustus 2010. Seorang polisi tewas dalam peristiwa ini. Para pelaku menggunakan senjata api AK 47, dan pistol. Aksi mereka selain terekam CCTV, juga dipotret seseorang saat beraksi di luar bank. Anggota Reserse Polda


38 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Sumatera Utara bekerja sama dengan Mabes Polri sudah menyusup ke dalam kelompok kriminal yang ada di Sumatera. Termasuk Detasemen Khusus 88 Anti Teror.(*) LESSONS VALUE: 1. Saat bertugas, pelajari profiling dan karakter anak buah 2. Meski tekanan tugas berat, tetaplah prioritaskan kesehatan dan kebugaran 3. Kala bertugas jauh dari keluarga carilah teman dan sahabat dekat. LINK SOURCE: "Perampok Sisakan Rp200 Juta di Brankas" https://nasional.kompas.com/read/2008/09/23/14390754/~Regional~Sumatera. Polisi Tembak Mati Dua Perampok Bersenjata Api di Medan. https://m.antaranews.com/berita/58669/polisi-tembak-mati-dua-perampok-bersenjataapi-di-medan
 "Perampok Bersenjata Api Tembak Mati Ayah dan Anak" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-728945/perampok-bersenjata-api-tembak-mati-ayah-dan-anak.


39 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Perampok Toko Emas di Selatan Jawa & Tradisi Perang Lebaran di Pantura JABATAN: WADIRRESKRIMUM POLDA JATENG (2015), KAPOLRES PATI POLDA JATENG (2014), KAPOLRES BOYOLALI POLDA JATENG (2012), KASUBDIT 1 & 3 DITRESKRIMUM POLDA JATENG (2010) Presiden RI: Susilo Bambang Yudhoyono (Oktober 2009-Oktober 2014) Joko Widodo (Oktober 2014- Petahana) Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, (2008 - 2010) Jenderal (Pol) Timur Pradopo (2010-2013) Jenderal (Pol) Sutarman (2013-2015) Kapolda Jateng Irjen Pol Edward Aritonang (Agustus 2010 - Juli 2011) Irjen Pol Didiek Sutomo Triwidodo (Juli 2011 - Juni 2013) Irjen Pol Dwi Priyatno (Juni 2013- Maret 2014) DIRESKRIMSUS (Komisaris Besar Polisi) Komisaris Besar Polisi Drs. Irawan Dahlan (2005-2007) DIRESKRIMUM ( (Komisaris Besar Polisi) Kombes Pol Didit Wijayardi (2010-2012) Kombes Pol Bambang Rudi (2012-2014) Hadiah Kapolres Termuda di Jawa ‘Datang’ Saat Kejar Perampok ke Sungai Tulang Bawang USAI merampungkan pendidikan 8 bulan di sekolah staf dan pimpinan (sespim) di Lemdiklat Polri, Jakarta, AKBP Budi Haryanto, dapat amanah ke kampung halaman, Semarang. Bukan lagi di kantor, seperti kala setahun menjabat kepala sub bagian mutasi jabatan di biro SDM Polda Sumatera Utara, Budi dapat tugas operasional lapangan. Jabatan pertamanya di Polda Jateng, tahun 2010 hingga 2012 adalah kepala sub direktorat I dan 3 kriminal umum (krimum). Publik dan jurnalis mengenal jabatan di dirkrimum ini dengan “Tim Jatanras”; anti-kejahatan dengan kekerasan. Kasus kriminal skala provinsi dan memicu keresahan publik di Jawa Tengah pun menjadi prioritas. Tiga tahun sebelumnya, perampok bersenjata api, seolah menyisir toko dan pedagang emas di jalur selatan Jawa Tengah di perbatasan Jawa Barat; Purbalingga,


40 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Purwokarto, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen, hingga Purworejo yang berbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski judul ‘TR’ pulang kampung halaman, namun hampir setengah tahun, Budi lebih banyak menghabiskan waktu di gugus kabupaten berjarak 350-an km selatan Semarang, ibu kota provinsi Jawa Tengah. Usia AKBP Budi saat itu di awal periode matang, 37 tahun. Dua anaknya sudah berumur kelas besar SD dan jelang mendaftar di bangku SMP. “Saya ingat betul, itu menjelang ulang tahun ke-37,” ujar Budi mengenang momen perintah pemberantasan kawanan rampok 5 kg perhiasan emas di Purbalingga. Hampir semua media massa di Jawa Tengah, Yogya dan media online ‘bertiras’ nasional, menjadikan berita perampokan dua toko emas di jalur selatan Jawa. “Kawanan perampok berpistol menyatroni Toko Mas Adil dan Toko Mas Nur 2 di kompleks Pasar Kejobong, Kabupaten Purbalingga, Selasa (20/3/2012) pukul 14.15 WIB. Sebanyak lima kilogram emas yakni dua kilogram emas dari Toko Mas Nur 2 dan tiga kilogram emas dari Toko Mas Adil dibawa kabur perampok berjumlah enam orang itu.” Demikian salah satu potongan paragrap berita perampokan toko emas itu. Toko emas sasaran perampokan adalah toko emas Adil milik Muhammad Ali (40) warga Bukateja, Purbalingga dan toko emas Nur 2 milik Gatot (40) warga Sinduraja, Kecamatan Pengadegan. Lokasi dua toko emas ini berhadapan. Dalam analisa Budi, kawanan perampok ini berani, brutal namun sarat hitunghitungan. “Bayangkan mereka merampok siang hari dan lokasi ramai, pasar. ”Enam perampok bersenjata api ini juga melukai korbannya serta menembakan pistol beberapa kali. “Artinya, mereka sudah berpengalaman,” Budi menganalisa. Budi dan tim lantas mengumpulkan fakta-fakta kejadian sebelumnya.Kamis 26 Juli 2012, Budi terbang ke Lampung. Ia bahkan membawa seorang bintara dari Polres Cilacap, Briptu Andik (23), untuk terbang ke Lampung. Perburuan gembong pencurian emas ini ternyata bersembunyi di kampung terpencil bantaran sungai Way Tulang Bawang. Daerah Tulang Bawang berjarak 78 km dari Bandar Lampung, ibu kota Lampung. Kampung salah satu otak pelaku tinggal di kampung yang berjarak 32 km dari kota Tulang Bawang. Rumahnya pas di pinggir sungai terpanjang (136 km) di Lampung. Budi, Andrik, dan lima bintara dari Polsek Tulang Bawang, dengan berjalan kaki. “Kalau naik mobil, kita bakal dicegat kawan dan jaringan rampok,” ujar Budi. Perburuan di Tulang Bawang ini sekitar 3 hari, mulai Jumat (27/7/2012) hingga Minggu (29/7/2012). Mereka menumpang truk pengangkut sawit bertenda. Keheboan terjadi, karena Budi salah beri kode. Kepada anak buah yang berada di bak belakang, Budi memerintahkan “kalau mobil sudah berhenti kalian lompat.” Nah, di kilometer 21, ada kawanan sapi. Supir pun terpaksa berhenti. Dan, kontan saja, enam anggota pemburu dari Jatanras Polda Jateng, Polres Cilacap, Polda Lampung dan Polsek Tulang Bawang, loncat dalam posisi siaga.


41 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto “Itu jadi hiburan kita, sebelum menangkap pelaku yang tengah tidur nyenyak di rumahnya.” Sebelumnya, di Jateng dan Jogya, mereka mulai dari fakta lapangan. Jenis senjata api laras pendek, ciri fisik, kendaraan bermotor, kode ‘H” Semarang. Namun, bagi Budi, kode pelat motor hanya ‘penyemaran sekaligus pengalihan perhatian penyidik. Kawanan perampok itu kabur ke arah Bukateja dengan sepeda motor Yamaha Jupiter, Honda Vario, Honda Supra, dan Honda Beat dengan membawa 5 kg emas, puluhan juta uang hasil rampokan di dua toko. Berdasarkan laporan LKBN Antara, Toko Emas "Adil" pernah disatroni kawanan perampok bersenjata api pada 20 Maret 2012.Dalam peristiwa sebelumnya, kawanan perampok yang berjumlah enam orang itu membawa kabur 3 kilogram emas dari Toko Emas "Adil" dan 2 kilogram emas dari Toko Emas "Nur 2" yang berlokasi di kompleks Pasar Kejobong. Hampir sebulan lebih, Budi dan tim bekerja dengan tensi durasi 7/24.Karena wilayah jalur selatan tengah Jawa ini berbatasan dua provinsi, Jawa Barat dan DI Yogyakarta. Budi senantiasa berkoordinasi dengan atasan langsung, direskrimum. “Kita harus tahu batas kewenangan dan otoritas kita.” Melalui direskrim dan kapolda inilah, Budi membuka jalur komunukasi dengan perwira operasional di dua polda bertetangga ini, termasuk ke Mabes Polri. Setelah sebulan, tepatnya Sabtu 28 April 2012, Budi dan tim menggulung sindikat perampok bersenjata api ini. Bersama tim gabungan dari reskrimum Polda DIY, Jawa Barat, dan Jateng, diumumkankan ke publik operasi ini secara terpisah. Tersangka Adi Suhendri dan Mistoyo ditangkap di Ciamis, Jawa Barat, sedangkan Turohan ditangkap di Banjarnegara. Mereka merupakan bagian dari kelompok perampok Sumatera, Jateng, Jatim yang melakukan aksi di beberapa lokasi. Jumlah komplotan tersebut ada 11 orang. Hadiah Kapolres dari Jenderal Didiek Penggulungan sindikat perampok emas di perbatasan tiga provinsi di Jawa ini, lantas jadi tangga karier Budi.Hanya setahun jadi perwira menengah operasional di Direskrimum, 30 Juli 2012, Budi dipromosikan menjadi Kapolres Boyolali. Jabatan kapolres itu mentereng dan jadi pembicaraan. Pasalnya, Budi menjadi kapolres kelas B dan tercatat paling muda. Dari Akpol 95, Budi perwira pertama yang ‘loncat” jabatan. Bahkan, seniornya AKBP Ferdi Sambo (Akpol 94) yang kala itu menjabat Kapolres Cilacap, sampai menelpon, menyelamati, sambil mengorek perihal jabatan itu. Level kapolres di Cilacap itu lebih rendah setingkat dibanding jabatan Kapolres di Boyolali. Tentang kenapa Budi, tetiba jadi Kapolres termuda ini punya cerita dan terkait heroisme memburu jaringan perampok emas bersenjata api hingga ke Tulang Bawang Lampung. Sebulan sebelumnya, “Saya ingat, itu hari Jumat, saya lagi olah raga dan dipanggil menghadap Kapolda (Irjen Pol Didiek Sutomo).”


42 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Budi sendiri kaget. Kenapa pangkat kompol yang baru saja ditinggalkan tiba-tiba dipanggil menghadap jenderal bintang dua. Alasan pemanggilan juga tak jelas. Pas tiba di mapolda, para PJU sudah siap ke masjid. “Sajadah sudah di pundak para PJU, saya dipanggil menghadap kapolda bersama direskrimum Kombes Pol Didit Wijadardi.” Kapolda tak mengenal Budi, yang kala itu clingak-clinguk dengan potongan ceking dan kulit hitam berkeringat. “Hi, kamu siapa,” tanya Kapolda. “Siap, AKBP Budi Haryanto, kasubdit 3 Jatanras Direskrimum,” jawab Budi. Budi memperkenalkan diri dengan sikap tegap. “Itu ada pencurian emas di Purbalingga, Jogya, Cilacap.Ungkap, tangkap. Kalau tidak kamu saya mutasi jauh,” ujar kapolda memberi atensi. Budi memberi alasan, jika butuh waktu setidaknya 12 jam untuk mengungkap jaringan dan pola komunikasinya di TKP. “Pokoknya, secepatnya,” ujar Kapolda sambil berlalu. Usai berkemas dan menyampaikan perintah siaga ke anggota Jatanras, Budi pun hari itu, bergegas ke Cilacap. Dan, penangkapan jaringan rampok emas di Tulang Bawang, Lampung pun terungkap. Nah, pekan itu juga bersamaan Kapolres Boyolali dicopot, karena ada perintah dari Mabes Polri di Jakarta. Di Mapolda Jateng, kapolda kasak-kusuk mencari pengganti. Dikumpulkanlah para PJU terkait. Di saat bersamaan, Budi masih di Lampung. Beberapa jam sebelumnya, melalui sambungan telepon, dia baru melaporkan penangkapan pelaku perampokan emas di Tulang Bawang ke atasannya di Direskrimum Kombes Pol Didit Wijanardi di Semarang. Di ruang kapolda, beberapa nama diusulkan. Namun, setelah ditracking kapolda, kabarnya tak sregg. “Hi, Didit siapa nama perwira jatanras yang menghadap saya Jumat kemarin. Coba itu saja (kapolres) di Boyolali. Kita kasi dia hadiah karena tangkap perampok emas,” ujar Budi, menirukan perkataan Kapolda yang disitir dari Wakapolda Jateng. Budi sendiri mengetahui “hadiah kapolres” itu sebab beberapa jam sebelum pelantikan dia dipanggil menghadap wakapolda di ruangannya. Saat itu, pula Kapolda memerintahkan biro SDM untuk menyiapkan skep penetapan Budi sebagai Kapolda. Sementara Budi masih di Lampung, dan dalam perjalanan udara ke Semarang, via Jakarta.“Pokoknya, kau menghadap saat pesawat mendarat di Semarang,” ujar perwira senior dari Biro SDM. Budi kala itu penasaran, kenapa dia dipanggil menghadap.Dia lantas, mengingat sepekan sebelum terbang ke Lampung, dia ada insiden pemukulan ke seorang oknum perwira senior TNI. “Saya khawatir, pemanggilan saya pulang cepat karena kasus itu.” Sesampai di Bandara Jenderal Ahmad Yani, hari Minggu Budi langsung melapor. Keesokan harinya, karena Budi sudah bergegas ke Mapolda. Dia mengenakan pakaian non-dinas, batik lengan panjang. Di perjalanan, Wakapolda Jateng menelpon memintanya menghadap dengan pakaian seragam resmi. Budi pun balik ke rumahnya di Wologito, Semarang Barat. Karena sudah tahunan tak pakai seragam, pakai PDH resminya sudah tak karuan. “Kancingnya ada yang lepas, karena sudah lama tak pakaian dinas.


43 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto ”Dia juga, masih bertanya-tanya kenapa dia dipanggil menghadap dengan seragam dinas. Sebelum ke ruangan Kapolda, dia mampir di ruangan samping, ruang kerja wakapolda. Di ruangan itu, jenderal bintang satu itu pun mengisahkan alasan kenapa dia akan dilantik mendadak jadi Kapolres Boyolali. Alasan utamanya, Budi membongkar kasus perampokan emas di selatan Jawa hingga ke Lampung. Budi pun dilantik sendiri di ruangan Kapolda sebagai kapolres termuda di Jateng. Karena berkasa perkasa kasus perampokan emas belum tuntas, dia juga masih bolak-balik Boyolali ke Semarang yang hanya berjarak sekitar 60 km arah Solo. Di kabupaten perbatasan Solo, Salatiga dan Semarang inilah, Budi dapat cobaan karier. Dia dituduh oleh seorang guru besar di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, menerima suap. Namun, karena yakin tak bersalah atas tuduhan sepihak itu, Budi melaporkan si profesor ke mapolda Jateng.Kasus ini heboh. Inilah kali pertama, seorang perwira menengah polisi melaporkan guru besar kampus ternama di Jateng. Boyolali jadi kawah candradimuka Budi mengasah leadership, kepemimpinan secara kompleks. Dia sadar, memimpin tak hanya memberi contoh, namun juga harus punya dasar pengetahuan. Di sela-sela tugas teritorial di kabupaten berjarak 80 km dari Semarang ini, Budi memutuskan melanjutkan kuliah magister hukum di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. “Dituduh menerima suap itu, seperti titik balik karier saya, sekaligus menyemangati saya untuk kuliah lagi,.” Dua tahun di Boyolali, Budi lalu dipromosi jadi Kapolres Pati. Di kabupaten berjarak 86 km utara Semarang ini, rangkaian pengalaman operasi bersenjata di Makassar, Aceh, Medan dan selatan Jawa, dan bangku kuliah mulai diakumulasi dengan kebijaksanaan. Budi tak lagi melihat hukum sebagai efek jera semata. Budi mulai memandang penegakan hukum, sebagai satu kesatuan dengan pemerintahan, instansi terkait, dan diseminasi publik. “Memimpin itu adalah menginspirasi anak buah, dan meyakinkan orang sekitar,” Nilai inilah yang digunakan Budi saat menangani kasus ‘tradisi” perang antarkampung di jalur Pantura saban masa Mudik Lebaran. Disebut tradisi, sebab perang ini sudah hampir dua dekade. Saban, mudik Lebaran, para perantau asal Pati dari Sumatera, Jakarta, Kalimantan, balik kampung. Dendam lebaran-lebaran tahun sebelumnya, terlampiaskan. Budi pun mulai terjun ke lapangan. Berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, Kodim, dan tetua kampung. Baginya, perkelahian antarkampung memang kerap menyisakan derita dan keresahan. Terutama bagi warga y`ang tak tahu-menahu mengenai pangkal keributan. Kondisi mengenaskan ini terlihat jelas di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dua tahun sebelumnya, tahun 2010 misalnya, puluhan warga mengalami luka tembak senapan angin, bom molotov dan luka bakar dalam tawuran antara warga Desa Wotan dengan Dukuh Bombong, Baturejo, Kecamatan Sukolilo.


44 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Perang ini biasanya pecah di akhir Ramadan, dan puncaknya, malam takbiran.Budi melihat, himbauan dari polisi tak menyelesaikan masalah. Dia pun berkoordinasi dan intens komunikasi dengan Bupati Pati Haryanto. Dia menyarankan, Pemkab mengeluarkan larangan takbir keliling. “Kita usul, takbiran hanya di masjid-masjid kamoung. Sekaligus, warga siaga dan mudah kita identifikasi. Usulan Budi, disambut dengan peraturan dan imbauan bupati. “Alhamdulillah, dua lebaran nyaris takada lagi perang.” Kebijakan Budi ini pun dilanjutkan, penggantinya., AKBP Setijo Nugroho Hasto HP SIK (2014-2016). (*) LESSONS VALUE: 1. Sebagai perwira menengah muda, saat bertugas di lapangan, harus tahu batas keweanangan. Apalagi saat bertugas di daerah perbatasan. 2. Pengalaman tak cukup untuk menyelesaikan masalah. Wawasan dan ilmu pengetahuan, akan menguatkan keyakinan kita menghadapi masalah berat. 3. Kepemimpinan itu bisa dipelajari bukan dari garis jabatan dan keturunan. Untuk memerintah anak buah, tak cukup dengan kata, melainkan dengan teladan dan kebijaksanaan. 4. Masalah kantimbas tak bisa diselesaikan oleh polisi semata. Butuh koordinasi dan bantuan dari pemerintah daerah, instansi lain seperti TNI, dan terjun ke masyarakat. LINK SOURCES: • https://jateng.antaranews.com/berita/103241/kawanan-perampok-toko-emas-di-purbalingga-dikejar • "Perampok Bersenpi Gasak 6 Kg Emas di Purbalingga" https://news.detik.com/berita/d1872779/perampok-bersenpi-gasak-6-kg-emas-di-purbalingga. • Bandit Bersenjata Kuras Dua Toko Emas di Purbalingga, https://jogja.tribunnews.com/2012/03/20/banditbersenjata-kuras-dua-toko-emas-di-purbalingga. • "Tawuran Antar desa, Puluhan Warga Luka", https://nasional.kompas.com/read/2010/09/18/20243794/~Regional~Jawa. • https://www.polrestapati.com/en/user/34 • "Perampok Gunungkidul-Purbalingga satu komplotan”. https://daerah.sindonews.com/berita/623589/7/perampok-gunungkidul-purbalingga-satu-komplotan


45 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Sindikat Preman Berkedok Padepokan Silat dan Konflik Ormas Politik JABATAN: DIRRESKRIMSUS POLDA JATENG Presiden RI: Joko Widodo (Oktober 2014- Petahana) Kapolri Jenderal (pol) Prof. Drs. H. Tito Karnavian, M.A., Ph.D. (2016-2019) Komjen Pol Drs. Ari Dono Sukmanto, S.H. (23 Oktober - 1 Nov 2019) Jenderal Pol Drs. Idham Azis, M.Si (Nov 2019 - 27 Januari 2021) Kapolda Jateng Irjen Pol Noer Ali (2014 - Maret 2016) Irjen Pol Condro Kirono (14 April 2016 – 26 April 2019) Irjen (Pol) Rycko Amelza Dahniel (2019 - 1 Mei 2020) DIRESKRIMSUS (Komisaris Besar Polisi) Komisaris Besar Polisi Ahmad Lutfhi DIRESKRIMUM ( (Komisaris Besar Polisi) Kombes Pol Purwadi Haryanto Mediator Konflik Lindu Aji dan Ormas Partai Politik dan Jenazah COVID-19 KRIMINAL jalanan kerap diidentifikasi sebagai satu ciri efek sosial dari tengah bertumbuhnya ekonomi satu daerah. Di paruh tengah dekade 2010, BPS Jawa Tengah mencatat, tahun 2015 hingga 2018, ekonomi Jawa Tengah, tumbuh hampir 2 persen dari 5,1 % menjadi 5,5 %. Sumbu ekonomi pusat Jawa ini, digerakkan dengan kontribusi tertinggi di wilayah keresidenan; Kota Semarang, Cilacap (Banyumas), Kudus (Pati) dan Surakarta. Nah, di empat gugus wilayah inipula angka kriminal jalanan menonjol.Bentrok antarkampung, perebutan lahan parkir, pencurian dengan kekerasan, penggandaan


46 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto uang bermotif dukun palsu, perkelahian kelompok, hingga konflik ormas pemuda, pun meningkat. Dengan tingkat kepadatan penduduk urban, perluasan wilayah investasi, dan pembangunan infratruktur utama (jalan tol Jawa), skala kriminal kerap beririsan dengan eskalasi konflik berbau politik lokal (pilkada) dan nasional. Fenomena sosial, ekonomi, politik dan budaya itulah menjadi tantangan penegakan hukum dan Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Harkamtibmas) bagi Polri. Di periode inilah, Budi mendapat amanat teritorial sebagai kapolres di dua kabupaten (Pati dan Boyolali), wakil direktur reserse dan kriminal umum (wadireskrimum), pejabat sementara direskrimum Polda Jateng. Di Semarang dan sekitarnya, kasus penipuan bermotif dukun palsu marak di Semarang, Pati, perampokan bersenjata di selatan, dan kriminal jalanan marak di Solo. Penggulungan jaringan dukun palsu ini misalnya, di Genuk, Semarang.Dua pelaku Aris Ardhianto (45), warga Kampung Ngablak Indah RT 5 RW IV, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang dan Eko Wiyanto (38) warga jalan Dewi Sartika, Sampangan, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, ditangkap bersama barang bukti; kembang setaman yang sudah mengiring, tiga buah boneka jenglot, minyak wangi misik, rantai babi dan pusaka berupa keris nogopetolo. Sang dukun meminta mahar dari para korban mulai Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Dari mahar itulah itu korban dijanjigandakan jadi Rp 1 miliar. Modus awal menguras korban misalnya, harga boneka jinglot dijual Rp 200 ribu. Wewangian Rp150 ribu. Padahal itu hanya barang bekas yang diberi rambut ijuk, namun diyakini sebagai Bathara Kolo dan kemenyan pasar. Agar, kasus ini tak terulang dan jadi pelajaran ke masyakat, aparat bukan hanya menerapkan pasal efek jera KUHP penipuan, Pasal 378, atau ancamana pidana maksimal 5 tahun. “Kita melibatkan pendekatan harkantimbas dengan memenfaatkan babinkantibmas dan tokoh masyarakat,” ujarnya. Tantangan tugas tak kalah menantang adalah konflik ormas Lindu Aji dengan ormas Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), dalam periode 2017 hingga 2019. Salah satu pemantik konflik ormas ini adalah penganiayaan warga perguruan silat PSHT, Robet Setianto (23) di arena Halal Bihalal Lindu Aji di Gunung Kemukus, Pendem, Sumberlawang, Sragen, Sabtu (7/7/2018) dinihari. Konflik ini memicu konflik parsial di daerah berbeda di Temanggung. Dengan skala ormas yang menyebar di sejumlah daerah kunci di Jawa Tengah, Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel pun turun tangan jadi mediator. Budi yang kala itu menjabat direskrimum, ikut dalam rombongan kapolda bersama Dirintelkam Polda Jateng Kombes Pol Yuda Gustawan, Dirsamapta Polda Jateng Kombes Pol Heri Purnomo, Dansatbrimob Kombes Pol Tory Kristianto, Kabidhumas Polda Jateng Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutisna dan Kabidropam Kombes Mukiya. ]Tokoh dari GPK Farid Ibrahim (Gerakan Pemuda Ka’bah) dan Ahmad Romadlon (Lindu Aji) ini didamaikan di Mapolres Temanggung.


47 DARI OPERASI BERSENJATA MENUJU POLISI HUMANIS Budi Haryanto Namun, tambah Budi, jalan menuju meja perdamaian ini lebih seru, tidak menggunakan penegakan hukum formil, namun dengan pendekatan harkantibmas. “Bersama PJU Polda, kami bergerilya, sowan ke tokoh masyarakat, termasuk pimpinan parpol,” ujar Budi. Sekadar diketahui, GPK adalah sayap ormas Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sedangkan Lindu Aji juga banyak berafiliasi personal ke parpol lain. Lain lubuk, lain ikannya. Di Keresidenan Solo (Boyolali, Sukoharjo, Surakarta hingga Kartasuro, aksi premanisme jalanan berkedok perguruan silat, juga marak. Kelompok preman ini melegitimasi diri dengan perguruan silat di wilayah urban.Namun, sasaran utamanya adalah perebutan lahan ekonomi urban, dan dendam antar-ormas. "Perkiraan ada sekitar 50 pelaku, ini yang tertangkap baru 11," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Budi Haryanto, dalam jumpa pers di Mapolda Jateng, Senin (4/11/2020). Di periode 2019 hingga 2000 Polda Jawa Tengah, menerima sekitar 57 laporan tindak pidana penganiayaan dari berbagai wilayah di provinsi ini, paling banyak dari wilayah Solo dan sekitarnya," katanya. Para preman ini, kata dia, merupakan kumpulan sejumlah orang yang membentuk kelompok dan menjadi brutal. "Mereka penggunakan grup Whatsapp untuk berkoordinasi," katanya. Di Pacitan misalnya, 3 korban pengeroyokan dari kelompok pemuda dengan baju berlambang perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Ini ternyata bentrok antar kelompok silat. Dari 50 pelaku yang teridentifikasi selain dari PSHT berkonflik dengan perguruan silat Persaudaraan Setia Hati (PSH) Winongo. Kelompok perguruan silat PSHT dan PSH Winongo, ini juga marak kelompok lain dengan nama Laskar.Bahkan teridentifikasi, beberapa kelompok aliran silat ini, berafiliasi ke salah satu sayap ormas partai politik. Sebelumnya, bentrok antara PSHT dan PSH Winongo juga terjadi di Wonogiri, 8 Mei lalu. Bahkan, dalam kerusuhan itu mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Kompol Aditia Mulya Ramadhani, menjadi korban. Aditia mengalami luka di bagian kepala hingga tak sadarkan diri dan harus menjalani perawatan intensif hingga Singapura. “Saking sadisnya, kasat reskrim di Wonogiri itu belum sadar hingga sekarang. Dan seluruh, kasar reskroim se-Indonesia banyun solidaritas dengan saweran biaya pengobatan dan pemilihan,” ujar Budi. Lagi-lagi penerapan hukum tidaklah cukup. Selain penerapan Pasal 170 atau Pasal 351 tentang penaniayaan dengan ancaman lima tahun penjara. Aparat juga kenakan Pasal 335 atau 363 KUHP, ancamannya 5 tahun 6 bulan penjara. Dan terakhir, Pasal 1251 UU Darurat ancamannya 10 tahun penjara. Itupun tak cukup. Sebab agar ini tak berulang, kita keliling ormas, padepokan silat resmi, tokoh dan kiai pesantren, untuk mengumpulkan pimpinan ormas dan mengingatkan mereka, bahwa di negara ini tidak ada hukum rimba. Selain tangkaian kasus criminal umum dan khusus, di periode ini Budi juga menangani kasus penolakan warga atas pemakaman jenazah COVID-19 di TPU Sewakul, Ungaran Barat, Semarang.Saat itu, baru awal COVID-19 dan Sigit P Lestiyanto


Click to View FlipBook Version