The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Senyuman di Batas Senja ini adalah buku keempat sekaligus buku solo pertama saya yang merupakan rangkaian kisah percintaan selama kuliah. Buku ini dapat terangkai berkat cerita dari salah satu pembaca blog saya yang menjadi ujung tombak seluruh tulisan dalam buku ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hapsaripuspita9, 2021-07-21 11:05:59

Senyuman di Batas Senja

Senyuman di Batas Senja ini adalah buku keempat sekaligus buku solo pertama saya yang merupakan rangkaian kisah percintaan selama kuliah. Buku ini dapat terangkai berkat cerita dari salah satu pembaca blog saya yang menjadi ujung tombak seluruh tulisan dalam buku ini.

PITADIARIST

“Senyuman di Batas Senja”

Puspita Hapsari Nugraheni

Kupikir dilukai yang sulit disembuhkan tapi ternyata
melukai juga tak mudah dipulihkan

Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan
nikmat kepada hambaNya. Sholawat serta salam
tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW.

PITADIARIST “Senyuman di Batas Senja” adalah buku
self improvement yang berisi kisah cinta penulis selama
duduk dibangku perkuliahan. Dimana sebuah kegagalan
yang disebut patah hati bisa dirubahnya menjadi karya.
Oleh karena itu, buku ini ditulis dengan harapan agar
generasi selanjutnya terutama para muslimah tidak
mengalami hal yang sama. Penulis berharap agar Allah
selalu melimpahkan karunia pada muslimah pejuang
cinta dengan mengisi hari-harinya penuh warna sekaligus
hal-hal positif dengan niat semata-mata hanya untuk
meraih ridhoNya.

Ada kalanya seseorang malu jika orang lain tahu
privasinya tapi, menumpahkannya dalam karya menjadi
alternatif untuk melakukan dendam positif. Penulis
menyadari masih banyak kekurangan dalam buku ini.
Kadang kala setiap tulisan yang dirangkai memang tidak
mencerminkan dirinya tapi bisa menjadi pengingat untuk
senantiasa berada dijalanNya.

Thanks to

Allah SWT segala sumber dan energi positif
dalam kehidupan yang sangat luar biasa.
Nabi Muhammad SAW suri tauladan yang
selalu menjadi inspirasi.
Nur Hidayati dan Drajad Prayitno kedua
orang tuaku yang selalu menjadi support system
terbaik dalam hidupku.
Keluarga tercinta Alifah dan Sarnam (kakek
dan nenek) Sri Mujiati dan Muhammad
Halim (bulek dan paklek) serta adik-adikku
tercinta Drajad Kusuma Adi, Namira Ulaiyah
Afaf, dan Muhammad Reiga Kaifan Halim yang

mana tanpa mereka aku bukanlah apa-apa didunia
ini.
Keluarga Cemana, Mega Chrismonika dan
Much Faisal Hermawan saudara yang selalu
menemani suka duka kehidupanku.
Ida Silfia, partner berbagi yang setia menemani
perjalananku meraih cita dan cinta.
Rekan-rekan PGSD A2017, UKM
Penalaran, HMPS PGSD, dan KKN

Unikama Desa Wonosari 2020.

Para muslimah yang telah mendapatkan
titipan cinta dariNya tim Solidaritas Peduli

Jilbab, Komunitas Mahasiswi Tanpa Pacaran

dan Sisterlillah.

Penerbit Kertasentuh yang telah

menyelenggarakan seleksi nasional terbit
naskah gratis.

Para Pembaca yang sudah meluangkan

waktunya membaca buku ini.

ORANG-ORANG YANG SUDAH

MEMBUATKU JATUH HINGGA PATAH

HATI, terimakasih untuk sepenggal kisah yang

sudah ditorehkan.

Serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, semoga Allah membalas setiap
perbuatan baik yang kita lakukan.

Daftar Isi

Kata Pengantar
Daftar Isi
Thanks To
Prolog
Diperambangan Move On
Mendadak Viral
Jebakan Rasa
Faith
Film Pendek Pemegang Botol
Podcast
Kota Industri
Senyuman di Batas Senja
Manajemen Hati
Cahaya Mentari
Charger Iman
Epilog
Tentang Penulis

Goresan tinta dalam buku ini kupersembahkan
untuk para muslimah pejuang cinta semoga terus

istiqomah mengejar cintaNya.

Assalamualaikum warahmatullah wabarokatuh

Kukirimkan salam terindah penghuni surga yang
merdunya merasuk halus kedalam raga.

Cinta selalu penjadi pembahasan paling
fenomenal disepanjang perjalanan hidup
manusia. Dimulai dari kisah cinta manusia
pertama Nabi Adam dan Hawa yang dipisahkan
selama 500 tahun akhirnya bertemu kembali di
Jabal Rahmah gunung suci yang kini menjadi
salah satu tempat bersejarah. Kisah cinta Nabi
Yusuf dan Zulaikha yang sempat menuai fitnah
tapi Allah punya cara untuk mempersatukannya.
Kisah cinta Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis,
dimana Ratu Balqis menganut kepercayaan
dengan menyembah matahari namun, kuasa
Allah menjodohkannya.

Namun, kisah cinta tidak selalu indah. Kita pasti
sudah sering mendengar cerita Romeo dan Juliet
yang berakhir tragis dengan meminum racun dan
tusukan pisau. Kisah Oase yang terbakar api cinta

kepada seorang gadis bernama Laila hingga
membuatnya gila dan orang-orang menyebutnya
majnun. Tak perlu jauh kesana, di Indonesia kita
mengenal Sangkuriang yang jatuh cinta pada
ibunya sendiri atau Jaka Tarub yang jatuh cinta
pada makhluk fiktif bidadari.

Kisah cinta lain bisa kita temui dalam cerita-cerita
fiksi yang beredar saat ini. Novel Habbiburahman
El Shirazy yang berjudul “Ketika Cinta Bertasbih”
dan berhasil difilmkan pun juga melahirkan
sebuah kisah cinta. Oki Setiana Dewi pemeran
utama film tersebut bercerita dalam vlog video
youtube yang diunggah jika Ory Vitrio sang suami
jatuh cinta dengan OSD saat tahu penayangan
film KCB 2.

Mantan personil Cherrybelle Anisa Rahma pun
juga bertemu dengan suaminya Anandito Dwis
saat mereka menjadi pengisi acara dalam seminar
pranikah dan menjadi talent singelillah project.

Begitu banyak cerita cinta didunia ini yang
mayoritas menceritakan sepasang insan memadu
kasih. Tapi, manakah cerita cinta yang
sesungguhnya. Jika cinta bisa membawa
kebahagiaan kenapa kisah cinta Romeo dan Juliet
harus berakhir tragis kenapa pula Oase menjadi
gila karena begitu mencintai Laila?
Melewati masa-masa pubertas membuatku
berhasil melalui ujian para remaja dalam dunia

percintaan. Tapi, ketika sudah saatnya aku
menentukan siapakah dia yang akan menjadi
imam masa depanku bertubi-tubi ujian datang
menghampiri. Hampir saja aku putus asa dan tak
lagi membuka hati.

Akal sehatku berhenti
Kala menantap indah matamu

Hingga melumpuhkan jiwa
Kau mencuri perhatian dan sayangku

Takkan lagi kupungkiri semua

~Ada Band~

Prolog

Tubuhku terkapar diatas sajadah dengan diiringi
linangan air mata sembari bibir ini masih terus
bermunajat.

“Ya Allah.... kenapa ini terjadi lagi. Aku tidak mau terus
seperti ini.”

Aku tak lagi sanggup berkata-kata, cukup dalam
hati aku hanya ingin luka ini sembuh. Sungguh,
jatuh cinta memang kecelakaan paling indah.
Membuatku terbang keruang hampa penuh
angan padahal bagaimana bisa sesuatu itu
terbang tanpa sayap?

Sejauh ini aku selalu selalu gagal dalam hal
percintaan. Rasanya diri ini memang payah jika
dihadapkan dengan cinta. Seolah tak ada lagi
semangat hidup untukku, aku tak tahu apa yang
harus kulakukan. Aku hanya bisa menangis,
meratapi yang terjadi, selalu stagnan disana
bersama alunan melodi syahdu. Memang kala diri
ini tersandung cinta selalu saja aku dengan
mudah menghasilkan karya. Untaian bait-bait
puisi membuatku semakin dikenal sebagai

manusia yang selalu terbawa perasaan setiap

menjalani hidup.

Dalam rinai dan bait rindu
Aku memilih mundur dan hancur
Mengurai semua angan pilu
Yang kelam lagi kelabu
Disetiap langit yang kau tatap
Ada caraku bercermin pada kesedihan
Caraku bertahan pada keraguan
Dan caraku menyerah dalam keputusasaan
Kau kira aku akan kalah
Nyatanya akulah pemenangnya
Tak lagi kurasakan gundah
Atau sekedar luka nestapa
Disetiap lantunan firmanNya
Disetiap sujud yang kulakukan
Disetiap doa yang kupanjatkan
Kumemohon ampun padaNya
Berharap IA mengobati luka hati yang kian menyayat
Dan kini aku kembali menemukan cintaNya
Harapanku tak lagi dikecewakan
Keinginanku selalu dikabulkan
Dan impianku tak sekedar menjadi angan
Aku kembali menemukan cintaNya
Cinta yang melahirkan sejuta kebahagiaan
(Lomba Musikalisasi Puisi Sisterlillah – Festival Muslimah Merdeka 2020)

Diperambangan
Move ON

Sebenarnya aku sudah pernah mengabadikan
cerita ini dalam blog pribadiku yang pada
akhirnya memunculkan energi baru menulis.
Tidak hanya sekedar menulis diary atau curahan
hati tapi aku merubahnya menjadi kisah motivasi,
semoga menginspirasi .

Selain aku berbagi cerita itu diblog pribadi, aku
juga membaginya melalui konten youtube
mahasiswi tanpa pacaran salah satu komunitas
yang aku ikut diluar kampus.

Semua dimulai dibangku kuliah tepatnya saat aku
akan memasuki semester 3. Kala itu, aku tengah
dekat dengan salah seorang kakak tingkat yang
berhasil mencuri perhatianku. Pagi hariku selalu
dimulai dengan mengucapkan selamat pagi
untuknya dan malam pun ditutup dengan
mengucapkan selamat tidur padanya. Seolah
duniaku hanya tentang dia bahkan, aku rela
mengorbankan orang-orang terdekatku demi dia.

Dua tahun yang lalu tepatnya saat usiaku
memasuki kepala dua aku merasa kehadirannya
adalah hadiah terindah dari Tuhan. Seumur hidup
belum pernah aku mendapatkan kejutan ulang
tahun. Tapi kala itu, baru saja kusandarkan badan
ini diatas kursi sembari menikmati segarnya es
krim cokelat setelah membantu Bulek

menyiapkan berkas akreditasi sekolah. Tiba-tiba
dering ponsel membuyarkan suasana siang itu.

Sayang, bisa ke kampus gak? minta tolong ambilin flashdiskku ya di mbak
Riri (nama samaran) soalnya besok dia mau pulkam.

Segera aku mengambil kunci sepeda motor dan
bergegas ke kampus. Sebelum aku sampai diteras
rumah kulihat ibu tengah bercengkerama dengan
tetangga belakang rumah.

Ibu “Mau kemana nduk, ini Bu Jum mau ngecilin baju.”

Aku “Ke kampus sebentar.”

Seolah aku menjadi anak yang tidak mengerti
adab. Mengabaikan begitu saja keberadaan
orang-orang yang lebih tua dihadapanku. Padahal
sudah jelas terlihat, disitu Allah mendatangkan
rezeki untukku tapi bodohnya aku lebih memilih
pergi ke kampus untuk urusan yang tidak begitu
penting jika dibandingkan orang tuaku.

Sesampainya dikampus aku melihat dia berdiri
disebelah Mbak Riri. Padahal semalam dia bilang
kalau libur latihan dan tidak ke kampus karena
pada saat itu memang tengah libur semester dan
perkuliahan belum dimulai.

Aku “Lho bukannya?” (tanyaku diselimuti tanda tanya besar)

Tak lama kemudian dia berjalan kearahku dengan
membawa sekotak kue bertaburan keju yang
dihiasi dengan lilin dibagian tengahnya. Aku tak
bisa berkata apa-apa selain ingin berteriak dan
melompat kegirangan.

He “make a wish dulu ya ”

Entah doa apa yang kuucapkan yang jelas kala itu
hatiku sangat bahagia tak terkira. Tak berhenti
sampai disitu, setelah dia berhasil membuatku
speechless dengan sekotak kue keju tepat dihari
itu dia datang kerumah dan bertemu kedua orang

tuaku. Walau tidak lama tapi, kedua orang tuaku
pasti tahu dengan siapa anaknya kini menjalin
hubungan.

Saat adegan klimaks film bioskop dimulai
ponselku pun bergetar. Awalnya aku tak
menghiraukan namun, berkali-kali getarannya
membuatku berfikir “sepertinya penting”. Satu
pesan masuk dari Paklek yang meminta tolongku
untuk menjemput putrinya tapi dengan
mudahnya aku hanya berkata sedang tidak ada
dirumah.

Hubungan tak halal itu semakin terlihat indah
dimataku. Walau sempat renggang tapi kita tetap
bisa bersama lagi dan itu membuatku merasa
dialah yang terbaik dan dipilihkan Allah untukku.
Dia memang terbaik yang dipilihkan Allah
untukku tapi, hanya untuk memberiku pelajaran
bukan untuk hidup bersama denganku.

Semua tentangnya tak pernah berubah bahkan
semakin membuat diriku candu dengan perhatian

yang selalu diberikannya. Hal itu membuat diri ini
kian terobsesi, membuat segala hal tentang dia
terlihat indah walau tak satu dua orang saja yang
berkata,

“Pita, aku feeling sih dia gak cocok sama kamu.”

Ah, namanya juga orang lagi jatuh cinta segala
yang buruk tetap saja terlihat indah kalau kata
teh Dewi Nur Aisyah,

Orang jatuh cinta itu ibarat mau lompat dari atas gedung.

Logika berkata “Gila, kamu bisa mati.” Tapi hati

berkata “Tenang, kamu kan bisa terbang.”

Wkwkwk, yakali terbang. Emang tinker bell atau
peri-peri disney yang simsalabim aja langsung
bisa terbang kesana kemari hello.......... ini bukan
dongeng Puspita sadarlah dirimu.

Tapi tetap saja dia terlihat sangat indah
dimataku. Seolah dia adalah harta yang paling
berharga dalam hidupku. Hal itu, membuat diriku
takut kehilangan dia dan muncullah rasa takut

kehilangan itu dalam hati ini negatif thinking,
possesif, over protektif, dan cemburu saat dia
bersama wanita lain seperti itulah bentuk rasa
takut kehilanganku padanya.

Ternyata benar, dia benar-benar meninggalkan.
Selama ini dia hanya mampir, mengobrak-abrik
hati ini lalu pergi tanpa mau memperbaiki. Kala
itu, hatiku benar-benar jatuh berkeping-keping.
Rasanya aku sudah tidak lagi semangat menjalani
hidup. Aku tidak punya tujuan bagaimana
langkah ini kedepannya. Kejadian itu ada
dipenghujung tahun, harusnya aku bahagia
karena orang tuaku menggelar hajatan khitan
untuk adikku, harusnya aku semangat karena
sebentar lagi aku memasuki semester 4, harusnya
aku totalitas karena banyak program kerja
organisasi yang harus diselesaikan. Tapi, duniaku
sudah hancur semua terasa gelap gulita, impian
yang menjadi penyemangat hidupku satu persatu
mulai redup, pikiran ini serasa kosong. Aku tidak
bisa konsentrasi saat kuliah, banyak tugas

organisasi dan pekerjaan freelance yang tidak
maksimal aku kerjakan, aku tidak bisa membantu
dengan baik saat orang tuaku menggelar hajatan.
Pada akhirnya, aku bisa melanjutkan ke semester
berikutnya dengan IPK yang sangat minim.

Aku merasa semester ini gagal. Saat KHS (Kartu
Hasil Studi) sudah keluar aku hanya menatapnya
melalui siakad dilayar laptop. Aku sama sekali
tidak berani memberitahu kedua orang tuaku.
Aku sudah mengingkari janji pada mereka.

Bapak “Lek wes kuliah, sembayang e sing sregep. Lek krungu

adzan langsung sembayang ojo ditunda-tunda.”

Ibu “Iyo, lek wes kuliah sing temenanan. Kuliah iki bayar e larang, ojo

mek gawe dulin kluyuran rono rene.”

Air mata kepergiannya kini berkolaborasi dengan
air mata rasa bersalahku pada ibu dan bapak.
Parahnya, aku takut bercerita kesiapapun karena

tak jarang dikala keceriaanku mulai pudar teman-
temanku berkata

“Halah cuma masalah gitu aja”

“Udahlah jangan mikirin cowok.”

“Ya kamu sih terlalu possesif di jadinya ilfil”

Iya, aku tahu itu salah. Tapi, kalimat-kalimat itu
tidak memberikan solusi yang tepat untuk
menyembuhkan luka hati ini. Semua luka itu
akhirnya kutorehkan dalam rangkaian kata.
Namun, kali ini tak lagi dalam secarik kertas
bersama pena tapi aku memanfaatkan blog
pribadiku yang sudah lama vakum. Siapa sangka,
banyak sekali komentar positif yang masuk
bahkan tak sedikit yang pada akhirnya mereka
juga mulai menulis setelah membaca tulisanku.
Dari situlah cahaya itu mulai bersinar, cerita yang
awalnya hanya sebuah curahan hati kini kuubah
menjadi kisah inspirasi. Aku pun aktif menulis
diblog tapi, beberapa orang menyarankan supaya
tulisan itu dijadikan buku atau diikut sertakan
lomba karena tulisan diblog mudah dicopy paste.

Aku pun mulai mengikuti lomba-lomba fiksi yang
bertebaran dimedia sosial. Saat namaku lolos
seleksi betapa bahagianya aku dan kini dua
buku antologi puisi bersama dengan pialanya
sudah berada dalam genggamanku. Masyaallah,
betapa indah rencanaNya Allah merubah luka itu
menjadi sebuah karya. Tentangnya, perlahan
mulai sirna akan tetapi beberapa bulan
kemudian, memasuki semester akhir ada
beberapa mata kuliah tambahan yang harus
ditempuh oleh mahasiswa PGSD salah satunya
yaitu KMD (Kursus Mahir Dasar) atau Pendidikan
Kepramukaan. Tahun ini UKM Pramuka dikampus
mengadakan program kerja tersebut. Aku dan
beberapa teman sekelas pun mengikutinya.
Karena KMD ini bukan dilaksanakan dari program
studi maka, semua angkatan bisa mengikutinya.
Dan, iya aku pun harus melalui mata kuliah ini
bersamanya.

Ibaratnya orang jatuh cinta yang terbang
keangkasa lalu patah hati dengan diterjunkan

kelautan terdalam kini aku sudah bisa move on
dan berenang kepermukaan hanya
diperambangan aku belum sampai daratan.

Mendadak
Viral

Sejak aku sadar bahwa cintaNya bisa
mengalahkan segalanya kini aku lebih fokus
dengan kuliah dan amanah yang harus kuemban.
Tahun ini aku didelegasikan mengikuti LKMM
(Latihan Kepemimpinan dan Manajemen
Mahasiswa) sebelum acara dimulai, semua
peserta pasti sibuk dengan gadget masing-
masing. Begitu juga aku, walau sekedar iseng
mengecek status whatsapp. Saat jariku menekan
tombol next kenapa banyak sekali status yang
idem. Kuperhatikan dengan seksama tersebutlah
tiga orang ikhwan lembaga dakwah kampus yang
mengcover sebuah lagu. Aku mengenali mereka
oh, tidak dengan dia yang berada dibagian paling
ujung. Setelah aku menelisik lebih dalam ternyata
ia salah seorang yang penting diormawa kampus.
Singkat cerita, akhirnya teman-temanku tahu jika
aku mengaguminya. Dan siapa sangka, orang
tuaku juga bisa mengenalnya melalui sebuah
event yang mengharuskan dia berinteraksi
dengan bapak. Dia menjadi orang yang selalu
ditanyakan bapak setiap aku berbincang-bincang

dengannya. Ditambah justifikasi banyak orang
jika dia mantan santri. Oh, betapa tidak
meluluhkan hatiku. Dan aku menyimpulkan
dialah yang akan mendapat titipan cintaNya.

Jebakan
Rasa

Obsesiku pada dia yang mendadak viral tenyata
membuat banyak orang salah paham. Sebutlah
kakaknya yang mengira aku dan dia berpacaran.
Semua berawal dari direct message instagram
yang berlanjut pada chatting whatsapp. Ternyata
kita salah paham. Dikala aku tengah mendamba
keseriusan seseorang ternyata dia hadir dengan
maksud lain. Mendekatkan aku dengan dia yang
mendadak viral,

Hatiku pun kembali patah saat perasaanku
terjebak pada hatinya. Tangisan itu kembali
tumpah. Semangat yang awalnya membara
perlahan mulai meredup walau tak sampai
kehilangan sinarnya.

Faith

Setelah berhasil melewati kerumunan massa
ditengah pemilihan presiden mahasiswa, aku dan
Mbak Mega menyusuri tangga dilantai dua
sebelah rektorat. Saat melewati sekret senat
fakultas bahasa dan sastra aku mengenali
seseorang dan reflek aku menyapanya.

“Hai, lagi ngapain ?”

“Ini lagi nganter surat.”

“Buat UKMP ada gak, sini sekalian aku bawa.”

“Oh,udah aku kasih kok.”

“Hmm, oke yaudah duluan ya.”

“Eh, Pita tunggu.”

“Iya, kenapa?”

“Oh, gak jadi deh.”

Tanpa berkata apapun aku berlalu. Sesampainya
disekret aku segera melanjutkan aktivitas,
mengedit video sebagai tugas akhir mata kuliah
Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bersama

rintik hujan, aku dan beberapa temanku
menunggu pengumpulan video. Sembari
menunggu, seperti biasa tanganku mengotak atik
ponsel dan iseng membuat status whatsapp
bertema rintik hujan. Ternyata dia yang kutemui
tadi siang disekret fakultas bahasa dan sastra
menjadi orang pertama yang melihat dan
meninggalkan komentar.

“Aku tadi mau bilang sesuatu tapi malu.”
“Apaan ?”

“Gak jadi deh malu aku”
“Apa sih?”

“Aku suka sama kamu.”

Singkat cerita aku kembali menjalin hubungan tak
halal bersama dengannya.

Keluarga Cemana “masa ikut komunitas tanpa

pacaran tapi kamu sendiri pacaran ?”

Kuucapkan istigfar berkali-kali seolah aku tidak
komitmen dengan pilihanku. Aku tidak mau

kembali mengambil langkah yang salah, aku takut
jika nanti aku kembali menduakan cintaNya.
Setelah aku melipat mukena sembari menikmati
senja sore hari, kuungkapkan seluruh yang
mengganjal tepatnya aku berkata agar hubungan
ini berakhir. Tak ada balasan yang kudapat, hanya
dua centang biru yang tertera dalam chat panjang
yang terkirim.

Film
Pendek
Pemegang
Botol

Bab 5 “Film Pendek Pemegang Botol”

Hatiku sangat lega setelah resmi menyandang
gelar singelillah. Serasa terbebas dari jeruji
rasagundah karena jatuh cinta. Tapi, setiap
manusia selalu membutuhkan teman hidup
karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk
sosial yang tidak bisa melakukan semua
aktivitasnya sendiri. Malam menjelang, sembari
menunggu mata ini terpejam aku melihat status
whatsapp tanganku dengan cepat menekan
tombol next karena sepertinya semua isinya
sama saja menampilkan jadwal penayangan film
pendek anak FST (Fakultas Sains dan Teknologi).

Tak lama kemudian kurasakan getar ponsel
berkali-kali. Saat kulihat, kontak asing yang
hampir tidak pernah chatting denganku mengirim
beberapa gambar. Dan itulah awal mula finishing
rasa ini terjadi. Setelah aku mengakhiri hubungan
yang berbeda agama dengan alasan aku
tergabung dikomunitas tanpa pacaran tapi, aku
masih belum sepenuhnya menjaga iffah dan izzah
sebagai seorang muslimah.

Pesan promosi malam itu berlanjut pada hari-hari
berikutnya bahkan hingga bulan-bulan berikutnya
sampai aku menempuh kuliah kerja nyata (KKN).
Memang benar, Allah akan selalu

membalas setiap perbuatan tanpa

diminta. Mungkin saja keputusan sepihakku

pada dia yang percaya pada simbol salib melukai
hatinya dan Allah seketika mendatangkan
balasan pada dia yang ternyata lebih memilih
sahabat dekatku.
Hatiku kembali patah tak berbentuk. Bedanya
kini, aku tak lagi punya tempat untuk
menumpahkan air mata selain mengadu dalam
sujud pada Sang Pencipta.

“Ya Allah..... kenapa aku selalu gagal dalam masalah percintaan ?”

Tak hanya itu, lagi-lagi aku kembali salah langkah.
Setiap hatiku patah, aku selalu berusaha mencari
penggantinya dengan cepat. Padahal itu hanya
membuka luka baru tanpa bisa memperbaiki luka
hatiku sebelumnya.

Langit sore mulai meredup, kumandang adzan
magrib pun terdengar merdu. Aku dan beberapa
teman yang berhalangan sholat duduk diruang
tamu dengan kesibukan kami masing-masing.
Kala itu, menjelang hari terakhir KKN dan
terbesitlah dalam pikiranku membuat QNA.

Setelah selesai sholat magrib, berbondong-
bondonglah mereka menuliskan pertanyaannya
padaku. Namun, adzan isya’ seolah menjadi rem
yang menghentikan kegiatan itu.

“Oke, aku jawab semua pertanyaannya tapi kalau udah selesain sholat.”

Ekspresi kecewa terekam jelas diwajah mereka
tapi, mereka tetap menjadikan Allah pilihan yang
utama. Dalam hatiku sebenarnya juga terbesit
rasa kecewa kenapa aku buat QNA padahal
tujuanku karena itu menjelang hari terakhir KKN
agar mereka menyampaikan uneg-unegnya
padaku selama kurang lebih tiga minggu ini. Ya
sudahlah, karena sudah terlanjur aku membuat
permainan konyol itu.

“Siapa orang di KKN ini yang kamu suka dan itu memakai
perasaan ?”

“Ada, tapi masa iya aku sebutin siapa dia.”

“Yaudah kalau gitu orangnya kamu kasih pensil ini aja.”

Awalnya aku malu-malu tapi, akhirnya pensil
berhiaskan lolipop berpita itu mendarat didepan
seseorang yang memegang botol. Pipi merona
dengan jantung berdegup menambah suasana
malam itu. Walau aku menutup sebagian
wajahku tapi bisa terekam jelas bagaimana
ekspresi kaget teman-temanku.

“Sejak kapan kamu suka sama dia?”

Pertanyaan yang selalu menghantuiku setelah
kecerobohan membuat games QNA kala itu.

PODCAST

“Pita, why you dont ceria. Why you cry ?”

Grammar Bahasa Inggris yang kurang tepat itu
mengundang gelak tawa suasana dapur malam
itu. Begitu pun denganku, seketika hilang begitu
saja luka hati yang membuat keceriaanku pudar.

“Pit, kamu hidup gak sendirian. Kalau ada apa-apa cerita
kalau kamu gak cerita ya gimana masalahmu bisa selesai ?”

Tapi, masih dengan bebalnya aku hanya
tersenyum simpul sembari menutupi kesedihan.
#pura-pura bahagia

Jam hampir menunjukkan pukul 9 malam.
Sebagian anak-anak masih mengerjakan proker
diruang tamu sebagian lagi sudah bersiap-siap
kembali keposko laki-laki. Namun, sebelum
mereka kembali salah satu dari mereka berkata
padaku.

“Pit, pokoknya kamu harus podcast sama aku.”

_____ ... _____

“Emang sejak kapan kamu suka sama dia.”

“Pas dia main film waktu itu dia kirimi aku pamfletnya nah,
sorenya aku baru aja putus sama anak fakultas ekonomi.”

“Hmmm, pantesan. Kalau gak mau dibuat sakit hati ya
jangan bikin sakit hati orang lain.”

Kalimat itu membuatku seketika berfikir.
Mencoba meraba setiap kejadian yang sudah
kulalui selama ini. Ternyata aku memang salah,
saat aku masih berada diperambangan move on
tapi aku sudah membuka hatiku untuk banyak
orang. Hal itu bukannya menyelesaikan masalah
justru mengundang masalah baru. Aku masih
belum berdamai dengan masa lalu tapi aku sudah
berlari kencang menuju masa depan.

Kota
Industri

Walau hatiku masih diselimuti luka mau tidak
mau aku harus tetap menjalankan tugas
mengantar surat dan mencari sponsorship untuk
acara diesnatalis. Diatas sepeda motor dengan
semilir angin sore yang menemani kegalauanku
Rudi berkata,

“Biar lupa sama dia kamu harus nemuiin orang baru.”
“Ah, gak ada Rud tapi ya emang aku sama dia udah gak
bisa lanjut.”

_____ ... _____

Aku “Kamu asalnya dari mana sih?”

Dia “Kota industri”

Aku “Hah, masa’ tapi wajahmu lho kelihatannya kayak orang

Jawa.”

Dia “Iya, aku dari kota industri.”

Aku “Orang tuaku juga pernah lho kerja disana tapi gak lama sih.

Eh, kamu bisa betulin laptop gini dulu dari SMK ya ?”

Dia “SMA aku.”

Aku “Oh... angkatan berapa.”

Dia “2017. Ini bisa kok dibetulin tapi, drivernya ada dirumah

sekarang aku masih ada acara.”

Aku “Yaudah gpp, kapan-kapan aja kan masih bisa dipakai buat

ngerjaiin yang lain.”

Dalam hati (ya ampun, kenapa bisa nyaman banget
ngobrol sama dia) Disisi lain (kenapa dia tega banget

ninggalin aku pas lagi sayang-sayangnya )

Dia “Laptopmu udah bisa belum?” Aku “Belum.”
Dia “Buka laptopmu tak ajarin.”

Aku “Ah, aku bingung.”

Dia “Yaudah besok aja tak betulin.”
Bersama dengan gerimis sisa hujan deras
menjelang malam hari aku berdiri didepan
gedung pascasarjana. Tak lama kemudian
datanglah seseorang berjalan kearahku bersama
dengan sepeda motor yang melaju sedang.
Sebagai ucapan terima kasih, suatu hari aku
mengajaknya jalan-jalan dengan modus
mengambil orderan dipercetakan.

Dia “Kamu deket sama siapa sekarang ?”

Aku “Gak ada, aku baru putus.”

Berceritalah aku semua tentangnya. Tentang dia yang membuatku berada
diperambangan move on. Dia benar-benar serius mendengar ceritaku
dibuktikan dengan tangannya yang dilipat dan menyimpan ponselnya.

Dia “Kalau punya hubungan emang orang tua harus tau dulu.”

Tidak sampai disitu, dalam perjalanan pulang aku
dan dia terus berbagi cerita. Dan saat itu pula aku
seolah lupa jika diri ini tengah terluka. Ibarat
sebuah puzzle, walaupun berbeda bentuk tapi
bisa menyatu. Bagaimana tentang perasaannya
saat itu aku tidak tahu tapi, sepanjang perjalanan
pulang kerumah senyum manis tersungging
dibibirku. Tidak, masih tetap dia yang terindah.
#gagal move on

Luka itu masih basah tapi aku sangat berani
menyiraminya hingga cucuran darah itu semakin
deras. Menjelang akhir tahun, aku mencoba
membuat kejutan untuknya. Aku menulis
namanya diatas kertas dengan dihiasi lilin-lilin
disampingnya. Aku melakukan itu seolah dialah
yang paling spesial padahal diri ini tidak sadar jika
masih menyimpan nama orang lain dilubuk hati
terdalam. Tidak berhenti sampai disitu, aku selalu
mengirimkan pesan singkat padanya walau
sekedar mengomentari statusnya yang muncul
diberanda. Mungkin saja semua itu membuatnya

terbawa perasaan tapi, ia masih bisa
mengendalikan. Sementara aku, semakin
terjebak pada kesalahan. Dengan penuh percaya
diri hati yang masih terluka ini terus kubuka dan
itu jelas-jelas makin menambah luka.

Berbagai cara untuk move on sudah kulakukan.
Perlahan aku mulai mengenal syariatNya. Aku
mulai memperbaiki diri salah satunya dengan
merubah caraku berpakaian. Kini bukan lagi
celana panjang atau jilbab pashmina yang
melekat ditubuh ini. Gamis berwarna ungu
dengan kombinasi putih dan jilbab segiempat
syari ungu menemaniku menunggu waktu kuliah
sembari membaca buku didepan gedung
multikultural 2. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan
ketukan tangan tepat didepan wajahku.

Dia mengatakan kagum dengan penampilanku
saat itu bahkan, kekagumannya muncul sejak
beberapa hari yang lalu ketika dia mengajakku
bersalaman tapi aku hanya menelangkupkan
tangan. Dia tidak berkedip dan lama sekali


Click to View FlipBook Version